<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muslim.Or.Id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah &#187; Shalat</title>
	<atom:link href="http://muslim.or.id/tag/shalat/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muslim.or.id</link>
	<description>Pesantren online agama Islam berdasarkan Qur&#039;an dan Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Feb 2012 09:43:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Pria yang Tidak Lalai dari Mengingat Allah</title>
		<link>http://muslim.or.id/tafsir/pria-yang-tidak-lalai-dari-mengingat-allah.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/tafsir/pria-yang-tidak-lalai-dari-mengingat-allah.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jan 2012 04:00:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Shalat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat jama'ah]]></category>
		<category><![CDATA[taat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8203</guid>
		<description><![CDATA[Inilah sifat pria yang tidak lalai dari mengingat Allah. Kesibukan dunia mereka tidak membuat mereka berpaling dari ketaatan dan perintah Allah. Perdagangan dan jual beli pun tidak membuat mereka jauh dari Allah. Ketika ada panggilan<a class="more" href="http://muslim.or.id/tafsir/pria-yang-tidak-lalai-dari-mengingat-allah.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Inilah sifat pria yang tidak lalai dari mengingat Allah. Kesibukan dunia mereka tidak membuat mereka berpaling dari ketaatan dan perintah Allah. Perdagangan dan jual beli pun tidak membuat mereka jauh dari Allah. Ketika ada panggilan shalat, mereka pun memenuhi panggilan tersebut. Dan lisan mereka tidaklah lepas dari <em>dzikrullah</em>.</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL" align="center">رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ</p>
<p>“<em>Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.</em>” (QS. An Nur: 37)</p>
<p>Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di <em>rahimahullah </em>menerangkan,</p>
<p>Ia adalah pria yang dunianya tidak membuatnya jauh dari Rabbnya. Sama sekali kesibukan perniagaan dan mencari nafkah tidaklah mempengaruhinya. <em>Tijaroh</em> (perniagaan) di sini mencakup segala bentuk perdagangan untuk meraih upah. Sedangkan <em>bai’</em> (jual beli) adalah bentuk lebih khusus dari perniagaan. Karena dalam perniagaan lebih banyak ditemukan transaksi jual beli. Pujian pada pria di sini bagi mereka yang berdagang dan melakukan jual beli, dan asalnya perbuatan tersebut tidaklah terlarang. Meskipun tidak terlarang, akan tetapi hal-hal tadi tidaklah mempengaruhi mereka dari mengingat Allah, mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Bahkan mereka menjadikan ibadah dan ketaatan pada Allah sebagian tujuan hidup mereka. Jadi perdagangan tadi tidaklah sama sekali menghalangi mereka menggapai ridho Allah.</p>
<p>Namun hati kebanyakan orang adalah sangat menaruh perhatian pada dunia. Mereka sangat mencintai penghidupan mereka. Dan sangat sulit mereka –pada umumnya- meninggalkan dunia mereka. Bahkan mereka pun bersusah payah hingga meninggalkan kewajiban pada Allah. Berbeda dengan yang disebutkan dalam ayat ini, <em>mereka begitu takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang</em>. Karena mengingat kegoncangan hari kiamat tersebut, akhirnya mereka pun semakin mudah beramal dan meninggalkan hal yang melalaikan mereka dari Allah. (Taisir Al Karimir Rahman, 569)</p>
<p>Yang dimaksud dengan dzikir pada Allah (<em>dzikrullah</em>) dalam ayat di atas, ada tiga pendapat:</p>
<ol start="1">
<li>Shalat lima waktu</li>
<li>Mengerjakan hak Allah</li>
<li>Dzikir pada Allah dengan lisan.</li>
</ol>
<p>Sedangkan yang dimaksud dengan menegakkan shalat adalah mengerjakan tepat waktu dan menyempurnakannya. (Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi)</p>
<p>Sa’id bin Abul Hasan dan Adh Dhohak berkata,</p>
<p dir="RTL" align="center">لا تلهيهم التجارة والبيع أن يأتوا الصلاة في وقتها</p>
<p>“Yang dimaksud ayat tersebut adalah mereka perniagaan dan jual beli tidaklah membuat mereka lalai dari mendatangi shalat tepat pada waktunya.”</p>
<p>Mathor Al Warroq berkata,</p>
<p dir="RTL" align="center">كانوا يبيعون ويشترون، ولكن كان أحدهم إذا سمع النداء وميزانُه في يده خفضه، وأقبل إلى الصلاة.</p>
<p>“Yang dimaksud ayat tersebut adalah mereka biasa melakukan jual beli. Akan tetapi jika mereka mendengar adzan lalu timbangan dagangan mereka berada di tangan mereka, mereka pun meninggalkannya. Lalu mereka memenuhi panggilan shalat.”</p>
<p>As Suddi mengatakan mengenai ayat tersebut,</p>
<p dir="RTL" align="center">عن الصلاة في جماعة</p>
<p>“Mereka tidak lalai dari shalat jama’ah” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 10: 252-253)</p>
<p>Dalam ayat disebutkan,</p>
<p dir="RTL" align="center">تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ</p>
<p><em>“Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang”. </em>Yaitu hati mereka dalam keadaan khawatir apakah mereka akan selamat ataukah celaka. Dan penglihatan mereka pun kebingungan melihat kiri dan kanan. (Tafsir Al Jalalain)</p>
<p>Ayat di atas serupa dengan ayat,</p>
<p dir="RTL" align="center">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ</p>
<p>“<em>Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.</em>” (QS. Al Munafiqun: 9)</p>
<p dir="RTL" align="center">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ</p>
<p>“<em>Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum&#8217;at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui</em>.” (QS. Al Jum’ah: 9)</p>
<p>Apa balasan Allah pada laki-laki yang punya sifat demikian?</p>
<p dir="RTL" align="center">لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ</p>
<p>“<em>(Meraka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.</em>” (QS. An Nur: 38). Jika disebut seseorang berinfak tanpa batas, maksudnya karena saking banyaknya sehingga infak yang diberikan tidak bisa dihitung (Lihat Tafsir Al Jalalain).</p>
<p align="center"><em>Ya Allah, jadikanlah kami seperti yang disebutkan dalam ayat ini. </em></p>
<p align="center"><em>Semoga perdagangan dan kesibukan kami mencari nafkah tidak membuat kami lalai dari mengingat Allah, shalat pada waktunya dan kewajiban lainnya. Semoga lisan ini pun dimudahkan untuk selalu sibuk dengan dzikir mengingat Allah di kala waktu senggang dan waktu sibuk.</em></p>
<p align="center"><em>Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>@ Riyadh KSA, 4 Muharram 1432 H</p>
<p>Penulis: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-8203"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftafsir%2Fpria-yang-tidak-lalai-dari-mengingat-allah.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftafsir%2Fpria-yang-tidak-lalai-dari-mengingat-allah.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftafsir%2Fpria-yang-tidak-lalai-dari-mengingat-allah.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/tafsir/pria-yang-tidak-lalai-dari-mengingat-allah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Mengacungkan Telunjuk Saat Duduk Antara Dua Sujud</title>
		<link>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/hukum-mengacungkan-telunjuk-saat-duduk-antara-dua-sujud.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/hukum-mengacungkan-telunjuk-saat-duduk-antara-dua-sujud.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Jan 2012 22:00:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh dan Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Shalat]]></category>
		<category><![CDATA[sifat shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8176</guid>
		<description><![CDATA[Mengacungkan telunjuk di saat shalat, yang lazim dan umum di antara kaum muslimin adalah saat duduk tasyahud, baik awal maupun akhir. Bagaimana dengan mengacungkannya saat duduk di antara dua sujud? Apakah juga disunnahkan untuk melakukan<a class="more" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/hukum-mengacungkan-telunjuk-saat-duduk-antara-dua-sujud.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Mengacungkan telunjuk di saat shalat, yang lazim dan umum di antara kaum muslimin adalah saat duduk tasyahud, baik awal maupun akhir. Bagaimana dengan mengacungkannya saat duduk di antara dua sujud? Apakah juga disunnahkan untuk melakukan hal tersebut?</p>
<p>Dalam hadits di <em>Shahih Muslim, </em>Kitâb al-Masâjid wa Mawâdhi’ ash-Shalât, Bâb Shifat al-Julûs… (V/81 no. 1307) disebutkan bahwa Nabi <em>shallallahu’alaihiwasallam </em><strong>manakala duduk saat shalat, beliau mengacungkan jari telunjuknya.</strong> Berikut redaksi lengkap hadits tersebut:</p>
<p style="text-align: center;">عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ قَالَ: “كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَعَدَ فِي الصَّلَاةِ جَعَلَ قَدَمَهُ الْيُسْرَى بَيْنَ فَخِذِهِ وَسَاقِهِ وَفَرَشَ قَدَمَهُ الْيُمْنَى، وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُسْرَى، وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى، وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ“.</p>
<p>Abdullah bin az-Zubair <em>radhiyallahu’anhuma</em> menuturkan, <em>“Manakala Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam duduk dalam shalat, beliau menyelipkan kaki kirinya di antara paha dan betisnya dan menjulurkan kaki kanannya. Beliau meletakkan tangan kirinya di atas lutut kirinya dan meletakkan tangan kanannya di atas paha kanannya serta mengacungkan jarinya”.</em></p>
<p>Masih di <em>Shahih Muslim </em>juga, dalam Kitab dan Bab yang sama, di (V/81 no. 1308) disebutkan bahwa Rasulullah <em>shallallahu’alaihiwasallam </em>jika <strong>duduk berdoa saat shalat, beliau mengacungkan jari telunjuknya.</strong></p>
<p>Berikut redaksi lengkap haditsnya:</p>
<p style="text-align: center;">عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ قَالَ: “كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَعَدَ يَدْعُو وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَيَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى، وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ السَّبَّابَةِ وَوَضَعَ إِبْهَامَهُ عَلَى إِصْبَعِهِ الْوُسْطَى وَيُلْقِمُ كَفَّهُ الْيُسْرَى رُكْبَتَهُ”.</p>
<p>Abdullah bin az-Zubair <em>radhiyallahu’anhuma</em> bertutur, <em>“Tatkala Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam duduk berdoa, beliau meletakkan tangan kanannya di atas paha kanannya dan tangan kirinya di atas paha kirinya, serta mengacungkan jari telunjuknya sembari menggandengkan antara jempol dengan jari tengahnya, dan mencengkeramkan telapak tangan kirinya ke lututnya”.</em></p>
<p>Dua hadits di atas menunjukkan -secara global- disyariatkannya mengacungkan telunjuk saat duduk ketika shalat. Dan dua hadits tersebut masih bersifat umum, belum menjelaskan secara spesifik, duduk yang mana yang dimaksud.<a id="_ftnref1" name="_ftnref1" href="http://tunasilmu.com/hukum-mengacungkan-telunjuk-saat-duduk-antara-dua-sujud.html#_ftn1"></a><sup>1</sup></p>
<p>Sebagaimana telah maklum bahwa duduk ketika shalat bermacam-macam. Ada duduk tasyahud awal, duduk tasyahud tsani, duduk antara dua sujud dan duduk istirâhah<a id="_ftnref2" name="_ftnref2" href="http://tunasilmu.com/hukum-mengacungkan-telunjuk-saat-duduk-antara-dua-sujud.html#_ftn2"></a><sup>2</sup>. Apakah dua hadits di atas dan yang senada mencakup empat jenis duduk tersebut, atau yang dimaksud hanyalah duduk tasyahud awal dan tasyahud tsani?</p>
<p>Ada <strong>beberapa hadits sahih yang menunjukkan bahwa duduk yang dimaksud di atas adalah duduk tasyahud, baik awal maupun tsani.</strong></p>
<p>Di antaranya: hadits dalam <em>Sunan an-Nasâ’i, </em>Kitâb al-Iftitâh, Bâb al-Isyârah bi al-Ushbu’ fî at-Tasyahhud al-Awwal (II/327), dan dinilai sahih oleh al-Albany dalam <em>Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah </em>(V/313 no. 2248). Hadits tersebut berbunyi:</p>
<p style="text-align: center;">عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ قَالَ: “كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا جَلَسَ فِي الثِّنْتَيْنِ أَوْ فِي الْأَرْبَعِ يَضَعُ يَدَيْهِ عَلَى رُكْبَتَيْهِ ثُمَّ أَشَارَ بِأُصْبُعِهِ“.</p>
<p>Abdullah bin az-Zubair <em>radhiyallahu’anhuma</em> menceritakan, <em>“Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam manakala duduk di raka’at kedua, atau di raka’at keempat, beliau meletakkan kedua tangannya di atas kedua lututnya lalu mengacungkan jarinya”.</em></p>
<p>Senada dengan hadits di atas, hadits dalam <em>Shahîh Ibn Khuzaimah, </em>Kitâb ash-Shalat, Bâb Wadh’i al-Fakhidz al-Yumnâ ‘alâ al-Fakhidz al-Yusrâ… (I/367 no. 697), dengan redaksi berikut:</p>
<p style="text-align: center;">عن وائل بن حجر قال : “صليت مع النبي صلى الله عليه وسلم، فكبر حين دخل في الصلاة، ورفع يديه، وحين أراد أن يركع رفع يديه، وحين رفع رأسه من الركوع رفع يديه ووضع كفيه وجافى يعني في السجود وفرش فخذه اليسرى، وأشار بأصبعه السبابة يعني في الجلوس في التشهد“.</p>
<p>Wa’il bin Hujur <em>radhiyallahu’anhu </em>mengisahkan, <em>“Aku pernah shalat bersama Nabi shallallahu’alaihiwasallam. Beliau bertakbir sembari mengangkat kedua tangannya saat memulai shalat. Tatkala akan ruku’ beliau mengangkat kedua tangannya, juga manakala bangkit dari ruku’. Manakala sujud, beliau meletakkan kedua telapak tangannya dan melebarkannya. Beliau menjulurkan kaki kirinya dan mengacungkan jari telunjuknya, yakni tatkala duduk tasyahud”.</em></p>
<p>Hadits riwayat an-Nasa’i dan Ibn Khuzaimah di atas menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan duduk yang disyariatkan didalamnya mengacungkan jari telunjuk, bukanlah sembarang duduk, namun yang dimaksud adalah duduk saat tasyahud, baik awal maupun tsani.</p>
<p>Kaidah ilmu Ushul Fiqh menyatakan <em>“Yuhmal al-Muthlaq ‘alâ al-Muqayyad” </em>(nas yang bersifat global dipahami berdasarkan nas yang bersifat terperinci).</p>
<p>Adapun duduk antara dua sujud, juga duduk istirâhah, maka tidak disyariatkan mengacungkan telunjuk, sebab tidak adanya dalil yang menunjukkan praktek tersebut. <a id="_ftnref3" name="_ftnref3" href="http://tunasilmu.com/hukum-mengacungkan-telunjuk-saat-duduk-antara-dua-sujud.html#_ftn3"></a><sup>3</sup></p>
<p>Namun demikian, barangkali ada pembaca yang berkomentar bahwa ada ulama yang berpendapat disyariatkannya mengacungkan telunjuk saat duduk antara dua sujud.<a id="_ftnref4" name="_ftnref4" href="http://tunasilmu.com/hukum-mengacungkan-telunjuk-saat-duduk-antara-dua-sujud.html#_ftn4"></a><sup>4</sup> Argumentasinya: hadits yang diriwayatkan dalam <em>Mushannaf Abd ar-Razzâq, </em>Bâb Takbîrah al-Iftitâh wa Raf’i al-Yadain (II/68 no. 2522), bunyinya:</p>
<p style="text-align: center;">عن وائل بن حجر قال: “رمقت النبي صلى الله عليه وسلم … ثم جلس فافترش رجله اليسرى، ثم وضع يده اليسرى على ركبته اليسرى، وذراعه اليمنى على فخذه اليمنى، ثم أشار بسبابته، ووضع الابهام على الوسطى حلق بها، وقبض سائر أصابعه، ثم سجد…”.</p>
<p>Wa’il bin Hujur <em>radhiyallahu’anhu </em>bertutur, <em>“Aku memperhatikan Nabi shallallahu’alaihiwasallam (tatkala shalat) … Beliau duduk dan menjulurkan kaki kirinya, sembari meletakkan tangan kirinya di atas lutut kirinya, dan lengan kanannya di atas paha kanannya, lalu mengacungkan jarinya dan membuat lingkaran dengan mempertemukan ibu jarinya dengan jari tengah, kemudian beliau sujud. </em></p>
<p>Zahir hadits di atas menunjukkan bahwa saat duduk antara dua sujud pun juga disyariatkan mengacungkan telunjuk. Sebab hadits tersebut menyatakan bahwa setelah mengacungkan jari telunjuk, Nabi <em>shallallahu’alaihiwasallam </em>sujud. Ini menunjukkan bahwa acungan telunjuk tersebut dilakukan di antara dua sujud.<a id="_ftnref5" name="_ftnref5" href="http://tunasilmu.com/hukum-mengacungkan-telunjuk-saat-duduk-antara-dua-sujud.html#_ftn5"></a><sup>5</sup></p>
<p><strong>Jawabnya: </strong>hadits tersebut bermasalah dari sisi keabsahannya. Para pakar hadits menjelaskan bahwa tambahan kalimat “kemudian beliau sujud” setelah kalimat “mengacungkan jarinya” hanya ada dalam riwayat Sufyan ats-Tsaury. Dan ini menyelisihi riwayat para perawi lainnya yang tsiqah (terpercaya) dan jumlah mereka lebih banyak, di mana mereka tidak menyebutkan tambahan kalimat “kemudian beliau sujud” setelah kalimat “mengacungkan telunjuknya”. Bahkan banyak hadits yang menjelaskan bahwa acungan jari tersebut dilakukan setelah sujud kedua. Di antara para perawi tersebut: Za’idah bin Qudamah, Bisyr bin al-Mufaddhal, Sufyan bin ‘Uyainah, Syu’bah, Abu al-Ahwash, Khalid, Zuhair bin Mu’awiyah, Musa bin Abi Katsir dan Abu ‘Awanah.<a id="_ftnref6" name="_ftnref6" href="http://tunasilmu.com/hukum-mengacungkan-telunjuk-saat-duduk-antara-dua-sujud.html#_ftn6"></a><sup>6</sup></p>
<p>Dalam ilmu Musthalah Hadits, jenis riwayat bermasalah seperti dicontohkan di atas, diistilahkan dengan hadits Syâdz. Definisinya: riwayat yang dibawakan perawi tsiqah, namun riwayat tersebut menyelisihi riwayat yang disampaikan para perawi lain yang lebih kuat. Dan hadits jenis ini dikategorikan dha’if (lemah).<a id="_ftnref7" name="_ftnref7" href="http://tunasilmu.com/hukum-mengacungkan-telunjuk-saat-duduk-antara-dua-sujud.html#_ftn7"></a><sup>7</sup></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kesimpulan:</strong></p>
<p>Mengacungkan telunjuk saat duduk dalam shalat hanya disyariatkan dalam duduk tasyahud awal dan tasyahud tsani, adapun saat duduk di antara dua sujud maupun duduk istirâhah maka tidak disunnahkan. <em>Wallahu ta’ala a’lam.</em> (Abdullah Zaen).</p>
<p style="text-align: left;" dir="rtl"><strong>@Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 R Tsani 1432 / 31 Maret 2011</strong></p>
<p style="text-align: left;" dir="rtl">
<p style="text-align: left;" dir="rtl">Penulis:<a href="http://tunasilmu.com/hukum-mengacungkan-telunjuk-saat-duduk-antara-dua-sujud.html"> Ustadz Abdullah Zaen, MA<br />
</a>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<p><strong>Bahan Bacaan:</strong></p>
<ul>
<li><em>Tamâm al-Minnah fî at-Ta’lîq ‘alâ Fiqh as-Sunnah, </em>karya Syaikh Muhammad Nashirudin al-Albany, Riyadh: Dar ar-Rayah, cet V, 1419/1998.</li>
<li><em>Al-Mushannaf, </em>karya Imam Abdurrazzaq ash-Shan’any, <em>tahqiq </em>Habiburrahman al-A’zhamy, Beirut: al-Maktab al-Islamy, cet II, 1403/1983.</li>
<li><em>Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah, </em>karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany, Riyadh: Maktabah al-Ma’arif, tc, 1425/1995.</li>
<li><em>Zâd al-Ma’âd fî Hady Khair al-‘Ibâd, </em>karya Imam Ibn al-Qayyim, <em>tahqiq </em>Syu’aib al-Arna’uth dan Abdul Qadir al-Arna’uth, Beirut: Mu’assasah ar-Risalah, cet III, 1421/2000.</li>
<li><em>Shahîh Ibn Khuzaimah, </em>karya Imam Ibn Khuzaimah, <em>tahqiq </em>Dr. Muhammad Mushthafa al-A’zhamy, Beirut: al-Maktab al-Islamy, cet III, 1424/2003.</li>
<li><em>Shahîh Muslim bi Syarh al-Imam an-Nawawy, </em>karya Imam Muslim dan Imam an-Nawawy, <em>tahqiq </em>Khalil Ma’mun Syiha, Beirut: Dar al-Ma’rifah, cet VI, 1420/1999.</li>
<li><em>Sunan an-Nasâ’iy bi Syarh al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthy wa Hasyiyah as-Sindy, </em>Karya Imam an-Nasa’i, as-Suyuthy dan as-Sindy, Beirut: Dar al-Fikr, cet I, 1348/1930.</li>
<li><em>Muqaddimah Ibn Shalâh wa Mahâsin al-Ishtilâh, </em>karya Imam Ibn Shalâh dan al-Bulqiny, <em>tahqiq </em>Dr. Aisyah Abdurrahman,Kairo: Dar al-Ma’arif, tc, tt.</li>
<li><em>An-Nukat ‘alâ Nuz-hah an-Nazhar fî Taudhîh Nukhbah al-Fikr, </em>karya al-Hafizh Ibn Hajar dan Syaikh Ali bin Hasan al-Halaby, Damam: Dar Ibn al-Jauzy, cet III, 1416/1995.</li>
</ul>
<div>
<div id="ftn1">
<p><a id="_ftn1" name="_ftn1"></a> Lihat: <em>Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah </em>karya Syaikh al-Albany (V/309).</p>
</div>
<div id="ftn2">
<p><a id="_ftn2" name="_ftn2"></a> Duduk istirâhah adalah duduk sejenak setelah sujud kedua di raka’at pertama dan ketiga sebelum bangkit ke raka’at kedua dan keempat. Ada sebagian ulama yang memandang bahwa duduk ini disyariatkan dalam shalat ada pula yang memandang sebaliknya. Nampaknya pendapat pertama lebih kuat.</p>
</div>
<div id="ftn3">
<p><a id="_ftn3" name="_ftn3"></a> Cermati: <em>Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah</em> (V/311, 313).</p>
</div>
<div id="ftn4">
<p><a id="_ftn4" name="_ftn4"></a> Lihat: <em>Zâd al-Ma’âd </em>karya Ibn al-Qayyim (I/230-231).</p>
</div>
<div id="ftn5">
<p><a id="_ftn5" name="_ftn5"></a> Periksa: <em>Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah</em> (V/312).</p>
</div>
<div id="ftn6">
<p><a id="_ftn6" name="_ftn6"></a> Untuk detail riwayat para perawi tersebut ada di kitab apa, silahkan merujuk: <em>Tamâm al-Minnah fî at-Ta’lîq ‘alâ Fiqh as-Sunnah </em>karya Syaikh al-Albany (hal. 214-215).</p>
</div>
<div id="ftn7">
<p><a id="_ftn7" name="_ftn7"></a> Lihat: <em>Muqaddimah Ibn ash-Shalâh </em>(hal. 237) dan <em>an-Nukat ‘alâ Nuz-hah an-Nazhar</em> karya Syaikh Ali al-Halaby (hal. 97-98).</p>
</div>
</div>
<div class="shr-publisher-8176"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Fhukum-mengacungkan-telunjuk-saat-duduk-antara-dua-sujud.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Fhukum-mengacungkan-telunjuk-saat-duduk-antara-dua-sujud.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Fhukum-mengacungkan-telunjuk-saat-duduk-antara-dua-sujud.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/hukum-mengacungkan-telunjuk-saat-duduk-antara-dua-sujud.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tips Khusyu’ dalam Shalat</title>
		<link>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/tips-khusyu%e2%80%99-dalam-shalat.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/tips-khusyu%e2%80%99-dalam-shalat.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jan 2012 23:00:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh dan Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[khusyu]]></category>
		<category><![CDATA[kiat]]></category>
		<category><![CDATA[Shalat]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8092</guid>
		<description><![CDATA[Seiring dengan banyaknya kesibukan duniawi, khusyu’ dalam shalat menjadi sesuatu yang amat sulit dicapai. Padahal shalat adalah induknya seluruh ibadah, yang bila ia baik maka baiklah ibadah-ibadah lainnya. Namun bila ia rusak karena tidak khusyu’<a class="more" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/tips-khusyu%e2%80%99-dalam-shalat.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><div>
<p>Seiring dengan banyaknya kesibukan duniawi, khusyu’ dalam shalat menjadi sesuatu yang amat sulit dicapai. Padahal shalat adalah induknya seluruh ibadah, yang bila ia baik maka baiklah ibadah-ibadah lainnya. Namun bila ia rusak karena tidak khusyu’ umpamanya, maka ibadah-ibadah lainnya akan terpengaruh. Berikut ini adalah tips sederhana yang insya Allah dapat membantu anda untuk khusyu’ dalam shalat. Skan tetapi kuncinya ialah konsentrasi, konsentrasi, dan konsentrasi. Tips ini takkan berguna jika sedari awal anda tidak konsentrasi pada shalat.</p>
<p>Karenanya, usahakan agar sebelum shalat anda dalam kondisi tenang. Lebih baik jika Anda telah berada di mesjid atau mushalla anda sebelum adzan berkumandang, agar memiliki waktu luang untuk konsentrasi dan menenangkan pikiran, baru kemudian ikuti tips di bawah.</p>
<p>Tahukah Anda, bahwa setiap gerakan dan ucapan dalam shalat memiliki makna dan jawaban tertentu?</p>
<p>Tidak tahu? Kalau begitu perhatikan tips berikut dengan baik.</p>
<p><strong>Melepas alas kaki: </strong>lepaslah dunia beserta alas kaki anda.</p>
<p><strong>Ucapan Allahu Akbar:</strong> Tidak ada yang lebih besar dari Allah, camkan itu!</p>
<p><strong>Mengangkat kedua tangan:</strong> lemparkan segala urusan dunia ke belakang.</p>
<p><strong>Berdiri:</strong> ketahuilah, bahwa Anda sedang berdiri menghadap Allah.</p>
<p><strong>Tangan kanan di atas tangan kiri:</strong> Berlaku sopanlah di hadapan Allah.</p>
<p><strong>Al Fatihah:</strong> Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bahwa Allah mengatakan: Aku membagi shalat untuk-Ku dan hamba-Ku dalam dua bagian, dan hamba-Ku akan mendapat apa yang dimintanya. Jika hamba-Ku mengucapkan: <em>Alhamdulillahi rabbil ‘alamien</em> (segala puji bagi Allah penguasa jagat raya), Ku-jawab: “<em>hamidani ‘abdi</em>” (hamba-Ku memuji-Ku).</p>
<p>Jika hamba-Ku megatakan: “<em>Arrahmanirrahim</em>” (Yang Maha pengasih lagi penyayang), Ku-jawab: “<em>Atsna ‘alayya ‘abdi</em>” (hamba-Ku memujiku lagi).</p>
<p>Jika hamba-Ku mengatakan: “<em>Maaliki yaumiddien</em>” (Penguasa di hari pembalasan), Ku-jawab: “<em>Majjadani ‘abdi</em>” (hamba-Ku menyanjung-Ku).</p>
<p>Jika hamba-Ku mengatakan: “<em>Iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’ien</em>” (hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami meminta tolong). Ku-jawab: Inilah batas antara Aku dan hamba-Ku, dan baginya apa yang dia minta…</p>
<p>Jika hamba-Ku mengatakan: “<em>Ihdinassiraatal mustaqiem…</em> dst” (tunjukkanlah kami jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat. Bukan jalan orang-orang yang Kau murkai dan bukan jalan orang-orang yang sesat), Ku-jawab: Inilah bagian hamba-Ku, dan baginya apa yang dia minta (HR. Muslim).</p>
<p>Mulai sekarang, biasakan tiap kali membaca Al Fatihah bersikaplah seakan Anda mendengar jawaban Allah pada tiap ayatnya.</p>
<p><strong>Ruku’</strong>: Bungkukkan punggung Anda untuk Allah saja, dan tundukkan hati Anda bersamanya.</p>
<p><strong>Berdiri dari ruku’</strong>: Segala puji bagi Allah yang menjadikan punggung Anda tegak kembali.</p>
<p><strong>Sujud:</strong> letakkan bagian tubuh Anda yang paling terhormat –yaitu wajah- pada tempat yang paling rendah di bumi –yaitu tanah-. Ingatlah bahwa Anda berasal darinya, dan Anda akan kembali ke sana. Lalu katakan “<em>Subhaana Rabbiyal a’la</em>” (Maha Suci Rabb-ku yang Maha Tinggi) 3x, agar makna tersebut semakin meresap dalam hati, lalu berdoalah sesuka Anda.</p>
<p><strong>Duduk lalu sujud yang kedua: </strong>bersimpuhlah di hadapan Allah, dan sujudlah kembali, sebab sujud tidak cukup hanya sekali !</p>
<p><strong>Tasyahhud: </strong><em>Attahiyyaatu lillaah wasshalawaatu wat thayyibaat</em> (Salam sejahtera, shalawat, dan segala yang baik adalah milik Allah)… rasakan keagungan Allah ketika itu !</p>
<p><em>Assalaamu ‘alaika Ayyuhannabiyyu</em> (salam sejahtera atasmu wahai Nabi)… ucapkan salam atas Nabi dan yakinlah bahwa Nabi membalas salam Anda. Nabi bersabda:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">ما من عبد يصلى ويسلم علي إلا رد الله علي روحي فارد السلام</p>
<p>“<em>Tidak ada seorang hamba pun yang mengucapkan salam dan shalawat atasku, melainkan Allah kembalikan ruhku agar aku membalas salamnya</em>”.</p>
<p>‘<em>Assalaamu ‘alaina wa ‘ala ‘ibaadillaahisshaalihien</em> (Salam sejahtera atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang shalih)… sekarang kedudukanmu mulai terangkat, salamilah dirimu dan kau perlu bersahabat dengan orang-orang shalih.</p>
<p>‘<em>Asyhadu allaa ilaaha illallaah</em>’ (Aku bersaksi bahwa tiada ilah selain Allah)…yakinlah bahwa Allah ada meski engkau tak melihat-Nya.</p>
<p><em>Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad kamaa shallaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala aali Ibrahim</em> (Ya Allah limpahkanlah shalawat atas Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Kau limpahkan atas Ibrahim dan keluarga Ibrahim)…Teladanilah kedua Nabi yang mulia ini, karena keduanyalah suri teladan terbaik. Dan berterima kasihlah kepada mereka yang telah mengajarkan kebaikan untukmu, dengan mendoakan mereka dalam shalatmu.</p>
<p><strong>Salam ke kanan:</strong> tujukan kepada malaikat pencatat kebaikan…</p>
<p><strong>Salam ke kiri: </strong>ucapkan dalam hati “Hai Malaikat di sebelah kiri, aku telah bertaubat !”.</p>
<p><strong> — Penutup Shalat — </strong></p>
<p><strong>Istighfar 3x:</strong> Aku mohon ampun atas segala kekurangan yang terjadi dalam shalatku.</p>
<p><strong>Bacalah:</strong> ‘<em>Allahumma antassalaam waminkassalaam tabaarakta yaa dzal jalaali wal ikraam</em>’ (Ya Allah, engkaulah As Salaam, dan dari-Mu lah keselamatan. Maha berkah Engkau wahai Yang memiliki segala kemuliaan)… ingatlah bahwa kalimat ini akan Anda ucapkan kepada Allah di Surga, tatkala Dia menyingkap tabir-Nya… Allah akan menyeru Anda dengan mengatakan: “Wahai Ahli Surga, Salaamun ‘alaikum”, maka mereka menjawab: “<em>Allahumma antas salaam, wa minkas salaam, tabaarakta yaa dzal jalaali wal ikraam</em>”.</p>
<p><strong>Lalu bacalah:</strong> “<em>Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatik</em>” (Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, mensyukuri-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu)…agar shalat anda yang berikutnya juga sempurna.</p>
<p>Cobalah tips di atas, dan buktikan kemanjurannya karena saya sendiri telah mencobanya ! Semoga bermanfaat.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: <a href="http://basweidan.com/tips-khusyu-dalam-shalat/">Ustadz Sufyan Basweidan, Lc<br />
</a>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
</div>
<div class="shr-publisher-8092"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Ftips-khusyu%25e2%2580%2599-dalam-shalat.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Ftips-khusyu%25e2%2580%2599-dalam-shalat.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Ftips-khusyu%25e2%2580%2599-dalam-shalat.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/tips-khusyu%e2%80%99-dalam-shalat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Syarat Sah Shalat Jum&#8217;at</title>
		<link>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/syarat-sah-shalat-jumat.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/syarat-sah-shalat-jumat.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 23:00:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh dan Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[jum'at]]></category>
		<category><![CDATA[Shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8090</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Shalat Jum’at sudah kita ketahui bersama adalah suatu kewajiban. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ “Hai<a class="more" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/syarat-sah-shalat-jumat.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><em>Alhamdulillah, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.</em></p>
<p>Shalat Jum’at sudah kita ketahui bersama adalah suatu kewajiban.</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ</p>
<p>“<em>Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum&#8217;at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah ..</em>.” (QS. Al Jumu’ah: 9)</p>
<p>Shalat ini diwajibkan bagi: (1) orang yang mukim (bukan musafir), (2) pria, (3) sehat, (4) merdeka dan (5) selamat dari lumpuh (<em>Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah</em>, 27: 198-199).</p>
<p>Pelaksanaan shalat Jum’at bisa menjadi sah jika memenuhi syarat-syarat berikut ini:</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Pertama: Adanya khutbah</strong></span></p>
<p>Khutbah jum’at mesti dengan dua kali khutbah karena kebiasaan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>demikian adanya. Ini adalah pendapat mayoritas ulama, yaitu ulama Syafi’iyah, Malikiyah dan Hambali. Ulama Syafi’iyah menambahkan bahwa khutbah Jum’at bisa sah jika memenuhi lima syarat:</p>
<ol start="1">
<li>Ucapan puji syukur pada Allah</li>
<li>Shalawat kepada Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em></li>
<li>Wasiat takwa [tiga syarat pertama merupakan syarat dalam dua khutbah sekaligus]</li>
<li>Membaca satu dari ayat Al Qur’an pada salah satu dari dua khutbah</li>
<li>Do’a kepada kaum muslimin di khutbah kedua</li>
</ol>
<p>Namun sebenarnya khutbah yang dituntunkan adalah yang sesuai petunuk Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam. </em>Di dalamnya berisi nasehat motivasi dan menjelaskan ancaman-ancaman terhadap suatu maksiat. Inilah hakekat khutbah. Jadi syarat di atas bukanlah syarat yang melazimkan (Lihat <em>Shahih Fiqh Sunnah</em>, 1: 583)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kedua: Harus dilakukan dengan berjama’ah</strong></span></p>
<p>Dipersyaratkan demikian karena shalat Jum’at bermakna banyak orang (jama’ah). Dan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>selalu menunaikan shalat ini secara berjama’ah, bahkan hal ini menjadi <em>ijma’</em> (kata sepakat) para ulama.</p>
<p>Ulama Syafi’iyah dan Hambali memberi syarat 40 orang bisa disebut jama’ah Jum’at. Akan tetapi, menyatakan demikian harus ada dalil pendukung. Kenyataannya tidak ada dalil –sejauh yang kami ketahui- yang mendukung syarat ini. Sehingga syarat disebut jama’ah jum’at adalah seperti halnya jama’ah shalat lainnya, yaitu satu orang jama’ah dan satu orang imam (Lihat <em>Shahih Fiqh Sunnah</em>, 1: 593). Yang menyaratkan shalat Jum’at bisa dengan hanya seorang makmum dan seorang imam adalah ulama Hanafiyah (<em>Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah</em>, 27: 202).</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Ketiga: Mendapat izin khalayak ramai yang menyebabkan shalat jum’at masyhur atau tersiar. </strong></span></p>
<p>Sehinga jika ada seorang yang shalat di benteng atau istananya, ia menutup pintu-pintunya dan melaksanakan shalat bersama anak buahnya, maka shalat Jum’atnya tidak sah. Dalil dari hal ini adalah karena diperintahkan adanya panggilan untuk shalat Jum’at sebagaimana dalam ayat,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ</p>
<p>“<em>Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum&#8217;at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah ..</em>.” (QS. Al Jumu’ah: 9)</p>
<p>Panggilan ini menunjukkan shalat Jum’at harus tersiar, tidak sembunyi-sembunyi meskipun dengan berjama’ah.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Keempat: Jama’ah shalat Jum’at tidak lebih dari satu di satu negeri (kampung)</strong></span></p>
<p>Karena hikmah disyariatkan shalat Jum’at adalah agar kaum muslimin berkumpul dan saling berjumpa. Hal ini sulit tercapai jika beberapa jama’ah shalat Jum’at di suatu negeri <span style="text-decoration: underline;">tanpa ada hajat</span>. Imam Asy Syafi’i, Imam Ahmad dan pendapat masyhur di kalangan madzhab Imam Malik, menyatakan bahwa terlarang berbilangnya jamaah shalat jumat di suatu negeri (kampung) besar atau kecil <span style="text-decoration: underline;">kecuali jika ada hajat</span>. Namun para ulama berselisih pendapat tentang batasan negeri tersebut. Ada ulama yang menyatakan batasannya adalah jika suatu negeri terpisah oleh sungai, atau negeri tersebut merupakan negeri yang besar sehingga sulit membuat satu jamaah jum’at.</p>
<p align="center"><em>Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shohbihi wa sallam. Walhamdulillahi Robbil ‘alamin.</em></p>
<p align="center"><em>Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.</em></p>
<p>[Disarikan dari <em>Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah</em>, 27: 201-204]</p>
<p>@ Ummul Hamam (Riyadh-KSA), di waktu penuh barokah, 12 Shofar 1433 H</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Muhammad Abdul Tuasikal, ST.<br />
Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-8090"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Fsyarat-sah-shalat-jumat.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Fsyarat-sah-shalat-jumat.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Fsyarat-sah-shalat-jumat.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/syarat-sah-shalat-jumat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Larangan Jual Beli Saat Shalat Jum’at</title>
		<link>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/larangan-jual-beli-saat-shalat-jum%e2%80%99at.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/larangan-jual-beli-saat-shalat-jum%e2%80%99at.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jan 2012 23:00:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh dan Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[adzan]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[dagang]]></category>
		<category><![CDATA[Jual Beli]]></category>
		<category><![CDATA[jum'at]]></category>
		<category><![CDATA[perniagaan]]></category>
		<category><![CDATA[Shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8060</guid>
		<description><![CDATA[Di hari Jum’at sejak pagi hari di kota Riyadh terlihat sepi. Toko-toko dan aktivitas di pasar asalnya sunyi dari pembeli. Apalagi menjelang shalat Jum’at dilaksanakan, pintu-pintu toko akan terlihat begitu rapat.  Di kota Riyadh sendiri<a class="more" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/larangan-jual-beli-saat-shalat-jum%e2%80%99at.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Di hari Jum’at sejak pagi hari di kota Riyadh terlihat sepi. Toko-toko dan aktivitas di pasar asalnya sunyi dari pembeli. Apalagi menjelang shalat Jum’at dilaksanakan, pintu-pintu toko akan terlihat begitu rapat.  Di kota Riyadh sendiri yang nampak di jalan-jalan saat menjelang pelaksanaan shalat Jum’at hanyalah para pekerja non muslim seperti dari India dan Filipina. Alasan mengapa di saat shalat Jum’at tidak ada aktivitas dagang, karena ada larangan jual beli kala itu.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Dalil Pendukung</strong></span></p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;" dir="RTL">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ , فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ</p>
<p>“<em>Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum&#8217;at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan <strong>tinggalkanlah jual beli</strong>. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung</em>.” (QS. Al Jumu’ah: 9-10). Perintah meninggalkan jual beli dalam ayat ini menunjukkan terlarangnya jual beli setelah dikumandangkannya azan Jum’at.</p>
<p>Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa larangan jual beli ketika azan Jum’at adalah <strong>haram</strong>. Demikian pendapat ulama Malikiyah, Syafi’iyah dan Hambali.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kapan Dimulai Larangan Jual Beli?</strong></span></p>
<p>Sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas, larangan dimulai saat azan. Namun azan yang dimaksud apakah azan yang pertama ataukah kedua? Di sini ada beda pendapat.</p>
<p>Perlu diketahui bahwa azan kedua sebelum shalat Jum’at adalah azan yang diterapkan oleh <em>khulafaur rasyidin</em>. Sehingga tidak perlu diingkari. Demikian nasehat guru kami, Syaikh Shalih Al Fauzan <em>hafizhahullah</em>. Azan pertama di hari Jum’at ini ditambahkan di masa ‘Utsman bin ‘Affan <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, salah seorang khulafaur rosyidin. Terdapat dalam hadits As Saib bin Yazid <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;" dir="RTL">كَانَ النِّدَاءُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوَّلُهُ إِذَا جَلَسَ الْإِمَامُ عَلَى الْمِنْبَرِ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَلَمَّا كَانَ عُثْمَانُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَكَثُرَ النَّاسُ زَادَ النِّدَاءَ الثَّالِثَ عَلَى الزَّوْرَاءِ &#8221; قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ الزَّوْرَاءُ مَوْضِعٌ بِالسُّوقِ بِالْمَدِينَةِ</p>
<p>“<em>Dahulu azan pada hari Jum’at dilakukan di awal ketika imam di mimbar. Ini dillakukan di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakr dan ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma. Namun di masa ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu karena saking banyaknya jama’ah, beliau menambahkan azan sampai tiga kali di Zawro’.</em>” Abu ‘Abdillah berkata, “<em>Zawro’ adalah salah satu tempat di pasar di Madinah.</em>” (HR. Bukhari no. 912)</p>
<p>Yang dimaksudkan azan sampai tiga kali di sini adalah karena di saat shalat Jum’at ada tiga kali azan. Azan pertama yang ditambahkan di masa ‘Utsman <em>radhiyallahu ‘anhu</em>. Azan kedua adalah azan ketika khutbah. Azan ketiga adalah ketika iqomah. Iqomah disebut pula azan sebagaimana terdapat dalam hadits ‘Abdullah bin Mughoffal Al Muzani, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ</p>
<p>“<em>Di antara dua azan terdapat shalat (sunnah).</em>” (HR. Bukhari no. 624 dan Muslim no. 838)</p>
<p>Jumhur ulama berpendapat bahwa azan mulai terlarangnya jual beli adalah <strong>azan kedua</strong>. Karena di masa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>hanya ada sekali azan, yaitu saat imam duduk di mimbar. Adzan kedua inilah yang dimaksudkan dalam firman Allah pada surat Jumu’ah di atas. Jika jual beli dilakukan pada saat azan kedua ini akan melalaikan para pembeli dan pedagang dari shalat, bahkan bisa sampai luput seluruh atau sebagiannya.</p>
<p>Ibnu Qudamah dalam <em>Al Mughni</em> (2/145) berkata, “Azan di masa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>adalah azan setelah imam duduk di mimbar. Maka hukum dikaitkan dengan azan kedua tersebut, sama saja apakah azan tersebut sebelum atau sesudah <em>zawal</em> (matahari tergelincir ke barat). ”</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Siapa yang Tercakup dalam Larangan Jual Beli?</strong></span></p>
<p>Yang tercakup dalam larangan jual beli di sini adalah:</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Pertama</span>: Para pria yang diwajibkan shalat Jum’at. Sedangkan wanita, anak kecil, dan orang sakit tidak terkena larangan jual beli tersebut. Demikian pendapat jumhur ulama. Alasannya, karena perintah dalam ayat ditujukan pada orang yang pergi Jum’at. Orang selain itu berati tidak terkena larangan jual beli kala itu.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Kedua</span>: Orang yang melakukannya tahu akan larangan melakukan jual beli setelah azan kedua Jum’at. Demikian pendapat ulama Syafi’iyah.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Ketiga</span>: Yang melakukan jual beli bukan bermaksud untuk menghilangkan mudhorot (bahaya) sehingga ia terpaksa melakukan jual beli seperti dalam keadaan darurat harus beli makanan atau dalam keadaan darurat harus beli kafan untuk mayit dan jika ditunda, kondisi mayit akan berubah.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Keempat</span>: Jual beli dilakukan setelah azan Jum’at saat imam naik mimbar. (Lihat <em>Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah</em>, 9/225)</p>
<p><strong>Catatan</strong>: Jumhur ulama bukan hanya melarang jual beli setelah azan kedua shalat Jum’at, termasuk pula nikah dan akad lainnya yang membuat lalai dan luput dari shalat Jum’at.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong><em>Bagaimana jika yang melakukan jual beli salah satunya diwajibkan shalat Jum’at dan yang lain tidak?</em></strong><strong></strong></span></p>
<p>Dalam <em>Al Majmu’</em> (4/500), Imam Nawawi <em>rahimahullah </em>berkata, “Jika dua orang melakukan transaksi jual beli, salah satunya wajib shalat Jum’at dan yang lain tidak, maka kedua-duanya terkena dosa. Karena yang satu telah membuat orang lain lalai dari shalat dan yang lain lalai dari shalat Jum’at itu sendiri. Namun jual beli keduanya tidak batal. Karena larangan yang dimaksud tidak mengarah pada rusaknya akad sehingga tetap sah. Hal ini sebagaimana jika seseorang shalat di tanah rampasan (shalatnya tetap sah, namun berdosa).”</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Apakah Akadnya Sah?</strong></span></p>
<p>Sebagaimana telah disinggung oleh Imam Nawawi di atas, jual beli yang dilakukan setelah azan kedua shalat Jum’at tetap sah, namun berdosa. Alasannya, karena larangan yang dimaksud bukan tertuju pada akad, namun di luar akad, sehingga tetap sah.</p>
<p>Az Zamaksyari dalam <em>Al Kasyaf</em> (7/61) menyebutkan, “Kebanyakan ulama berpendapat bahwa jual beli (setelah azan kedua Jum’at) tidaklah diharamkan (karena akadnya). Akad tersebut diharamkan karena dapat melalaikan dari yang wajib. Statusnya sama dengan shalat seseorang di tanah rampasan, dengan baju rampusan atau dengan air rampasan (artinya: shalatnya tetap sah, namun berdosa).”</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Lanjutkan Jual Beli Setelah Shalat</strong></span></p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;" dir="RTL">فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ</p>
<p>“<em>Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung</em>.” (QS. Al Jumu’ah: 9-10)</p>
<p>Ada riwayat dari sebagian salaf, ia berkata,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;" dir="RTL">من باع واشترى في يوم الجمعة بعد الصلاة، بارك الله له سبعين مرة، لقول الله تعالى: { فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الأرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ }</p>
<p>“Barangsiapa melakukan jual beli setelah shalat Jum’at, maka semoga Allah memberikan ia keberkahan sebanyak 70 kali. Alasannya karena Allah <em>Ta’ala</em> berfirman (yang artinya), ”<em> Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah</em>”. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 13: 563)</p>
<p>Az Zamaksyari dalam <em>Al Kasyaf</em> (7/61) berkata pula,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;" dir="RTL">بادروا تجارة الآخرة ، واتركوا تجارة الدنيا ، واسعوا إلى ذكر الله الذي لا شيء أنفع منه وأربح { وَذَرُواْ البيع } الذي نفعه يسير وربحه مقارب</p>
<p>“<em>Berlomba-lombalah meraih (pahala) perniagaan akhirat dan tinggalkanlah perniagaan dunia. Bersegeralah mengingat Allah yang tidak ada sesuatu pun yang lebih bermanfaat dan lebih beruntung dibanding aktivitas ibadah tersebut. Tinggalkanlah jual beli yang manfaat dan untungnya jika dibanding hanyalah sedikit.</em>” Di balik perintah dan larangan Allah, pasti ada hikmah. Percayalah, keuntungan di akhirat tentu lebih besar. Banyaklah berzikir dan mengingat Allah, jangan sampai aktivitas duniamu membuat engkau lalai dari mengingat-Nya.</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;" dir="RTL">قال مجاهد: لا يكون العبد من الذاكرين الله كثيرا، حتى يذكر الله قائما وقاعدا ومضطجعا.</p>
<p>Mujahid berkata, “<em>Seorang hamba tidaklah termasuk orang yang banyak berzikir pada Allah sampai ia berzikir pada-Nya dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring.</em>” (<em>Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim</em>, 13/564)</p>
<p align="center"><em>Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>@ Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 5 Shafar 1433 H</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal<br />
</a>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-8060"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Flarangan-jual-beli-saat-shalat-jum%25e2%2580%2599at.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Flarangan-jual-beli-saat-shalat-jum%25e2%2580%2599at.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Flarangan-jual-beli-saat-shalat-jum%25e2%2580%2599at.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/larangan-jual-beli-saat-shalat-jum%e2%80%99at.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Macam – Macam Doa Istiftah</title>
		<link>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/macam-%e2%80%93-macam-doa-istiftah.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/macam-%e2%80%93-macam-doa-istiftah.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Dec 2011 23:00:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh dan Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan]]></category>
		<category><![CDATA[berdoa]]></category>
		<category><![CDATA[do'a]]></category>
		<category><![CDATA[doa iftitah]]></category>
		<category><![CDATA[doa istiftah]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Shalat]]></category>
		<category><![CDATA[tata cara shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=7934</guid>
		<description><![CDATA[Doa Istiftah adalah doa yang dibaca ketika shalat, antara takbiratul ihram dan ta&#8217;awudz sebelum membaca surat Al Fatihah. Hukum Membaca Doa Istiftah Hukum membacanya adalah sunnah. Diantaranya dalilnya adalah hadist dari Abu Hurairah: كان رسول<a class="more" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/macam-%e2%80%93-macam-doa-istiftah.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Doa Istiftah adalah doa yang dibaca ketika shalat, antara takbiratul ihram dan <em>ta&#8217;awudz</em> sebelum membaca surat Al Fatihah.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Hukum Membaca Doa Istiftah</strong></span></p>
<p>Hukum membacanya adalah sunnah. Diantaranya dalilnya adalah hadist dari Abu Hurairah:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">كان رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذا كبَّر في الصلاة؛ سكتَ هُنَيَّة قبل أن يقرأ. فقلت: يا رسول الله! بأبي أنت وأمي؛ أرأيت سكوتك بين التكبير والقراءة؛ ما تقول؟ قال: &#8221; أقول: &#8230; &#8221; فذكره</p>
<p>“<em>Biasanya Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam setelah bertakbir ketika shalat, ia diam sejenak sebelum membaca ayat. Maka aku pun bertanya kepada beliau, wahai Rasulullah, kutebus engkau dengan ayah dan ibuku, aku melihatmu berdiam antara takbir dan bacaan ayat. Apa yang engkau baca ketika itu adalah:&#8230; (beliau menyebutkan doa istiftah)</em>” (<em>Muttafaqun &#8216;alaih</em>)</p>
<p>Setelah menyebut beberapa doa istiftah dalam kitab <em>Al Adzkar</em>, Imam An Nawawi berkata: “Ketahuilah bahwa semua doa-doa ini hukumnya <em>mustahabbah</em> (sunnah) dalam shalat wajib maupun shalat sunnah” (<em>Al Adzkar</em>, 1/107).</p>
<p>Demikianlah pendapat jumhur ulama, kecuali Imam Malik <em>rahimahullah</em>. Beliau berpendapat, yang dibaca setelah <em>takbiratul ihram</em> adalah الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ yaitu surat Al Fatihah. Tentu saja pendapat beliau ini tidak tepat karena bertentangan dengan banyak dalil.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Macam-macam Doa Istiftah</strong></span></p>
<p>Ada beberapa macam jenis doa istiftah yang dibaca oleh Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dan sahabatnya, berdasarkan riwayat-riwayat yang shahih.</p>
<p>Berikut ini macam-macam doa istiftah yang shahih, berdasarkan penelitian Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani <em>rahimahullah</em> terhadap dalil-dalil doa istiftah, yang tercantum dalam kitab beliau <em>Sifatu Shalatin Nabi Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>:</p>
<p><strong>Pertama</strong></p>
<p style="font-size: 20px; text-align: right;">اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ، كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ المَشْرِقِ وَالمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنَ الخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالبَرَدِ</p>
<p>“<em>Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahanku sebagaimana Engkau telah menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, sucikanlah kesalahanku sebagaimana pakaian yang putih disucikan dari kotoran. Ya Allah, cucilah kesalahanku dengan air, salju, dan air dingin</em>” (HR.Bukhari 2/182, Muslim 2/98)</p>
<p>Doa ini biasa dibaca Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dalam shalat fardhu. Doa ini adalah doa yang paling shahih diantara doa istiftah lainnya, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar dalam <em>Fathul Baari</em> (2/183).</p>
<p><strong>Kedua</strong></p>
<p style="font-size: 20px; text-align: right;">وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا، وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي، وَنُسُكِي، وَمَحْيَايَ، وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، لَا شَرِيكَ لَهُ، وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ، اللهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْتَ رَبِّي، وَأَنَا عَبْدُكَ، ظَلَمْتُ نَفْسِي، وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي جَمِيعًا، إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ، لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ، وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ، أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ، تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ</p>
<p>“<em>Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang Maha Pencipta langit dan bumi sebagai muslim yang ikhlas dan aku bukan termasuk orang yang musyrik. Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagiNya. Oleh karena itu aku patuh kepada perintahNya, dan aku termasuk orang yang aku berserah diri. Ya Allah, Engkaulah Maha Penguasa. Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau dan Maha Terpuji. Engkaulah Tuhanku dan aku adalah hambaMu. Aku telah menzhalimi diriku sendiri dan akui dosa-dosaku. Karena itu ampunilah dosa-dosaku semuanya. Sesungguhnya tidak ada yang bisa mengampuni segala dosa melainkan Engkau. Tunjukilah aku akhlak yang paling terbaik. Tidak ada yang dapat menunjukkannya melainkan hanya Engkau. Jauhkanlah akhlak yang buruk dariku, karena sesungguhnya tidak ada yang sanggup menjauhkannya melainkan hanya Engkau. Aka aku patuhi segala perintah-Mu, dan akan aku tolong agama-Mu. Segala kebaikan berada di tangan-Mu. Sedangkan keburukan tidak datang dari Mu. Orang yang tidak tersesat hanyalah orang yang Engkau beri petunjuk. Aku berpegang teguh dengan-Mu dan kepada-Mu. Tidak ada keberhasilan dan jalan keluar kecuali dari Mu. Maha Suci Engkau dan Maha Tinggi. Kumohon ampunan dariMu dan aku bertobat kepadaMu</em>” (HR. Muslim 2/185 – 186)</p>
<p>Doa ini biasa dibaca Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dalam shalat fardhu dan shalat sunnah.</p>
<p><strong>Ketiga</strong></p>
<p style="font-size: 20px; text-align: right;">اللَّهِ أَكْبَرُ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ</p>
<p>“<em>Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang Maha Pencipta langit dan bumi sebagai muslim yang ikhlas dan aku bukan termasuk orang yang musyrik. Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Oleh karena itu aku patuh kepada perintahNya, dan aku termasuk orang yang aku berserah diri. Ya Allah, Engkaulah Maha Penguasa. Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau dan Maha Terpuji</em>”. (HR. An Nasa-i, 1/143. Di shahihkan Al Albani dalam <em>Sifatu Shalatin Nabi </em>1/251)</p>
<p><strong>Keempat</strong></p>
<p style="font-size: 20px; text-align: right;">إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ. اللَّهُمَّ اهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَعْمَالِ وَأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَقِنِي سَيِّئَ الْأَعْمَالِ وَسَيِّئَ الْأَخْلَاقِ لَا يَقِي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Oleh karena itu aku patuh kepada perintahNya, dan aku termasuk orang yang aku berserah diri. Ya Allah, tunjukilah aku amal dan akhlak yang terbaik. Tidak ada yang dapat menujukkanku kepadanya kecuali Engkau. Jauhkanlah aku dari amal dan akhlak yang buruk. Tidak ada yang dapat menjauhkanku darinya kecuali Engkau”. </em>(HR. An Nasa-i 1/141, Ad Daruquthni 112)</p>
<p><strong>Kelima</strong></p>
<p style="font-size: 20px; text-align: right;">سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ تَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ</p>
<p>“<em>Maha suci Engkau, ya Allah. Ku sucikan nama-Mu dengan memuji-Mu. Nama-Mu penuh berkah. Maha tinggi Engkau. Tidak ilah yang berhak disembah selain Engkau</em>” (HR.Abu Daud 1/124, An Nasa-i, 1/143, At Tirmidzi 2/9-10, Ad Darimi 1/282, Ibnu Maajah 1/268. Dari sahabat Abu Sa&#8217;id Al Khudri, dihasankan oleh Al Albani dalam <em>Sifatu Shalatin Nabi </em>1/252)</p>
<p>Doa ini juga diriwayatkan dari sahabat lain secara <em>marfu&#8217;</em>, yaitu dari &#8216;Aisyah, Anas bin Malik dan Jabir  <em>Radhiallahu&#8217;anhum</em>. Bahkan Imam Muslim membawakan riwayat :</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">أن عمر بن الخطاب كان يجهر بهؤلاء الكلمات يقول : سبحانك اللهم وبحمدك . تبارك اسمك وتعالى جدك . ولا إله غيرك</p>
<p>“<em>Umar bin Khattab pernah menjahrkan doa ini (ketika shalat) : (lalu menyebut doa di atas)</em>” (HR. Muslim no.399)</p>
<p>Demikianlah, doa ini banyak diamalkan oleh para sahabat Nabi, sehingga para ulama pun banyak yang lebih menyukai untuk mengamalkan doa ini dalam shalat. Selain itu doa ini cukup singkat dan sangat tepat bagi imam yang mengimami banyak orang yang kondisinya lemah, semisal anak-anak dan orang tua.</p>
<p><strong>Keenam</strong></p>
<p style="font-size: 20px; text-align: right;">سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلَا إِلَهَ غَيْرَكَ</p>
<p style="font-size: 20px; text-align: right;">3x  لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ</p>
<p style="font-size: 20px; text-align: right;">3x  اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا</p>
<p>“<em>Maha suci Engkau, ya Allah. Ku sucikan nama-Mu dengan memuji-Mu. Nama-Mu penuh berkah. Maha tinggi Engkau. Tidak ilah yang berhak disembah selain Engkau, Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah (3x), Allah Maha Besar (3x)</em>” (HR.Abu Daud 1/124, dihasankan oleh Al Albani dalam <em>Sifatu Shalatin Nabi </em>1/252)</p>
<p><strong>Ketujuh</strong></p>
<p style="font-size: 20px; text-align: right;">اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا</p>
<p>“<em>Allah Maha Besar dengan segala kebesaran, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, Maha Suci Allah, baik waktu pagi dan petang</em>” (HR. Muslim 2/99)</p>
<p>Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Umar Radhiallahu&#8217;anhu, ia berkata:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">بينما نحن نصلي مع رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ إذ قال رجل من القوم: &#8230; فذكره. فقال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: &#8221; عجبت لها! فتحت لها أبواب السماء &#8220;. قال ابن عمر: فما تركتهن منذ سمعت رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يقول ذلك</p>
<p>“Ketika kami shalat bersama Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>, ada seorang lelaki yang berdoa istiftah: (lalu disebutkan doa di atas). Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> lalu bersabda: &#8216;<em>Aku heran, dibukakan baginya pintu-pintu langit</em>&#8216;. Ibnu Umar pun berkata:&#8217;Aku tidak pernah meninggalkan doa ini sejak beliau berkata demikian&#8217;”.</p>
<p><strong>Kedelapan</strong></p>
<p style="font-size: 20px; text-align: right;">الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ</p>
<p>“S<em>egala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, pujian yang terbaik dan pujian yang penuh keberkahan di dalamnya</em>” (HR. Muslim 2/99).</p>
<p>Hadits tersebut diriwayatkan oleh Anas bin Malik <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>, ketika ada seorang lelaki yang membaca doa istiftah tersebut, Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>bersabda:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">لقد رأيت اثني عشر ملكاً يبتدرونها ؛ أيهم يرفعها</p>
<p>“<em>Aku melihat dua belas malaikat bersegera menuju kepadanya. Mereka saling berlomba untuk mengangkat doa itu (kepada Allah Ta’ala)</em>”</p>
<p><strong>Kesembilan</strong></p>
<p style="font-size: 20px; text-align: right;">اللَّهُمَّ لَكَ الحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الحَمْدُ لَكَ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ الحَقُّ وَوَعْدُكَ الحَقُّ، وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ، وَقَوْلُكَ حَقٌّ، وَالجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ، وَمُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ، اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ، فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ المُقَدِّمُ، وَأَنْتَ المُؤَخِّرُ، لاَ إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ</p>
<p>“<em>Ya Allah, segala puji bagi Engkau. Engkau pemelihara langit dan bumi serta orang-orang yang berada di dalamnya. Segala puji bagi Engkau. Engkau memiliki kerajaan langit, bumi dan siapa saja yang berada di dalamnya. Segala puji bagi Engkau. Engkau adalah cahaya bagi langit, bumi dan siapa saja yang berada di dalamnya. Segala puji bagi Engkau. Engkau Raja langit dan bumi dan Raja bagi siapa saja yang berada di dalamnya. Segala puji bagi Engkau. Engkaulah Al Haq. Janji-Mu pasti benar, firman-Mu pasti benar, pertemuan dengan-Mu pasti benar, firman-Mu pasti benar, surga itu benar adanya, neraka itu benar adanya, para nabi itu membawa kebenaran, dan Muhammad Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam itu membawa kebenaran, hari kiamat itu benar adanya. Ya Allah, kepada-Mu lah aku berserah diri.Kepada-Mu lah aku beriman. Kepada-Mu lah aku bertawakal. Kepada-Mu lah aku bertaubat. Kepada-Mu lah aku mengadu. Dan kepada-Mu aku berhukum. Maka ampunilah dosa-dosaku. Baik yang telah aku lakukan maupun yang belum aku lakukan. Baik apa yang aku sembunyikan maupun yang aku nyatakan. Engkaulah Al Muqaddim dan Al Muakhir. Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau</em>” (HR. Bukhari 2/3, 2/4, 11/99, 13/366 &#8211; 367, 13/399, Muslim 2/184)</p>
<p>Doa istiftah ini sering dibaca Rasulullah <em>Shalallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> ketika shalat malam. Namun tetap <em>masyru&#8217;</em> juga dibaca pada shalat wajib dan shalat yang lain.</p>
<p><strong>Kesepuluh</strong></p>
<p style="font-size: 20px; text-align: right;">اللهُمَّ رَبَّ جَبْرَائِيلَ، وَمِيكَائِيلَ، وَإِسْرَافِيلَ، فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ، اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ، إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ</p>
<p>“<em>Ya Allah, Rabb-nya malaikat Jibril, Mikail, dan Israfil. Pencipta langit dan bumi. Yang mengetahui hal ghaib dan juga nyata. Engkaulah hakim di antara hamba-hamba-Mu dalam hal-hal yang mereka perselisihkan. Tunjukkanlah aku kebenaran dalam apa yang diperselisihkan, dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk menuju jalan yang lurus, kepada siapa saja yang Engkau kehendaki</em>” (HR. Muslim 2/185)</p>
<p>Doa istiftah ini juga sering dibaca Rasulullah <em>Shalallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> ketika shalat malam. Namun tetap <em>masyru&#8217;</em> juga dibaca pada shalat wajib dan shalat yang lain.</p>
<p><strong>Kesebelas</strong></p>
<p style="font-size: 20px; text-align: right;">10x الله اكبر</p>
<p style="font-size: 20px; text-align: right;">10x الحمد لله</p>
<p style="font-size: 20px; text-align: right;">10x لا اله الا الله</p>
<p style="font-size: 20px; text-align: right;">10x استغفر الله</p>
<p style="font-size: 20px; text-align: right;">10x اللهُمَّ اغْفِرْ لِي ،وَاهْدِنِي، وَارْزُقْنِي وَعَافِنِي</p>
<p style="font-size: 20px; text-align: right;">10x اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الضِّيقِ يَوْمَ الْحِسَابِ</p>
<p>“Allah Maha Besar” 10x</p>
<p>“Segala pujian bagi Allah” 10x</p>
<p>“Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah” 10x</p>
<p>“Aku memohon ampun kepada Allah” 10x</p>
<p>“Ya Allah, ampunilah aku, berilah aku petunjuk, berilah aku rizki, dan berilah aku kesehatan” 10x</p>
<p>“Ya Allah, aku berlindung dari kesempitan di hari kiamat” 10x</p>
<p>(HR. Ahmad 6/143, Ath Thabrani dalam Al Ausath 62/2. Dihasankan Al Albani dalam Sifatu Shalatin Nabi 1/267)</p>
<p><strong>Kedua Belas</strong></p>
<p style="font-size: 20px; text-align: right;">اللَّهُ أَكْبَرُ [ثلاثاً] ، ذُو الْمَلَكُوتِ، وَالْجَبَرُوتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ</p>
<p>“<em>Allah Maha Besar</em>” 3x</p>
<p>“<em>Yang memiliki kerajaan besar, kekuasaan, kebesaran, dan keagungan</em>” (HR. Ath Thayalisi 56, Al Baihaqi 2/121 – 122)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Adab Membaca Doa Istiftah</strong></span></p>
<p>Beberapa adab membaca doa istiftah dijelaskan oleh Imam An Nawawi dalam kitab <em>Al Adzkar </em>(1/107) :</p>
<ol>
<li>Disunnahkan menggabung beberapa doa istiftah, dalam shalat yang sendirian. Atau juga bagi imam, bila diizinkan oleh makmum. Jika makmum tidak mengizinkan, maka jangan membaca doa yang terlalu panjang. Bahkan sebaiknya membaca yang singkat. Imam An Nawawi nampaknya mengisyaratkan hadits:
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">إذا أم أحدكم الناس فليخفف . فإن فيهم الصغير والكبير والضعيف والمريض . فإذا صلى وحده فليصل كيف شاء</p>
<p>“<em>Jika seseorang menjadi imam, hendaknya ia ringankan shalatnya. Karena di barisan makmum terdapat anak kecil, orang tua, orang lemah, orang sakit. Adapun jika shalat sendirian, barulah shalat sesuai keinginannya</em>” (HR.Muslim 467)</li>
<li>Jika datang sebagai makmum masbuk, tetap membaca doa istiftah. Kecuali jika sudah akan segera ruku’, dan khawatir tidak sempat membaca Al Fatihah. Jika demikian keadaannya, sebaiknya tidak perlu membaca istiftah, namun berusaha menyelesaikan membaca Al Fatihah. Karena membaca Al Fatihah itu rukun shalat.</li>
<li>Jika mendapati imam tidak sedang berdiri, misalnya sedang rukuk, atau duduk di antara dua sujud atau sedang sujud, maka makmum langsung mengikuti posisi imam dan membaca sebagaimana yang dibaca imam. Tidak perlu membaca doa istiftah ketika itu.</li>
<li>Para ulama Syafi&#8217;iyyah berbeda pendapat mengenai anjuran membaca doa istiftah ketika shalat jenazah. Menurut An Nawawi, yang lebih tepat adalah tidak perlu membacanya, karena shalat jenazah itu sudah selayaknya ringan.</li>
<li>Membaca doa istiftah itu hukumnya sunnah, tidak wajib. Jika seseorang meninggalkannya, tidak perlu sujud sahwi.</li>
<li>Yang sesuai sunnah, doa istiftah dibaca dengan <em>sirr </em>(lirih). Jika dibaca dengan <em>jahr </em>(keras) hukumnya makruh, namun tidak membatalkan shalat.</li>
</ol>
<p>Demikian tulisan ringkas ini. Semoga bermanfaat.</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">والحمد لله رب العالمين، وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: <a href="http://kangaswad.wordpress.com">Yulian Purnama<br />
</a>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-7934"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Fmacam-%25e2%2580%2593-macam-doa-istiftah.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Fmacam-%25e2%2580%2593-macam-doa-istiftah.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Fmacam-%25e2%2580%2593-macam-doa-istiftah.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/macam-%e2%80%93-macam-doa-istiftah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Khutbah Shalat Gerhana Syaikh Sholeh Al Fauzan</title>
		<link>http://muslim.or.id/nasehat-ulama/khutbah-shalat-gerhana-syaikh-sholeh-al-fauzan.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/nasehat-ulama/khutbah-shalat-gerhana-syaikh-sholeh-al-fauzan.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Dec 2011 12:00:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasehat Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[gerhana]]></category>
		<category><![CDATA[khutbah]]></category>
		<category><![CDATA[Shalat]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=7729</guid>
		<description><![CDATA[Dalam halaman ini kami transkrip dan terjemahkan khutbah singkat Syaikh Sholeh Al Fauzan hafizhahullah (anggota Al Lajnah Ad Daimah) saat terjadi gerhana bulan di kota Riyadh KSA, Sabtu kemarin, 15 Muharram 1433 H, 10/12/2011 setelah<a class="more" href="http://muslim.or.id/nasehat-ulama/khutbah-shalat-gerhana-syaikh-sholeh-al-fauzan.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Dalam halaman ini kami transkrip dan terjemahkan khutbah singkat Syaikh Sholeh Al Fauzan <em>hafizhahullah</em> (anggota Al Lajnah Ad Daimah) saat terjadi gerhana bulan di kota Riyadh KSA, Sabtu kemarin, 15 Muharram 1433 H, 10/12/2011 setelah shalat Maghrib. Semoga kita bisa mengambil nasehat beliau sebagai pelajaran berharga.</p>
<p><em>Bismillahirrahmanirrahim. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga dan seluruh sahabatnya.</em></p>
<p>Dulu di zaman jahiliyah, orang-orang menyembah matahari dan bulan. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;" dir="RTL">وَمِنْ آَيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ</p>
<p>“<em>Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak sembah</em>.” (QS. Fushilat: 41)</p>
<p>Di zaman jahiliyah dahulu juga terdapat anggapan ketika terjadi gerhana matahari atau bulan, itu terjadi karena kematian atau lahirnya seseorang. Dan memang dahulu terjadi gerhana di masa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> karena kematian anaknya, Ibrahim. Jadi orang-orang mengira gerhana itu terjadi karena kematian anaknya. Itulah keyakinan jahiliyah yang masih ada dahulu. Lantas Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>menerangkan,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;" dir="RTL">إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ</p>
<p>“<em>Matahari dan bulan adalah di antara tanda yang membuktikan kebesaran Allah. Gerhana itu muncul bukan karena sebab kematian seseorang</em>”.<a title="" href="#_ftn1">[1]</a> Ketika terjadi gerhana, Allah ingin menakuti hamba-hamba-Nya. Terjadinya gerhana bukanlah karena kematian seseorang. Allah hanya ingin menakuti hamba-Nya kala itu. Ketika gerhana itu terlihat, maka segeralah shalat dan berdo’alah sampai gerhana tersebut berakhir.</p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;" dir="RTL">إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ</p>
<p>”<em>Matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah</em>. <em>Kedua gerhana tersebut tidak terjadi karena kematian atau lahirnya seseorang.</em>” (HR. Bukhari no. 1060 dan Muslim no. 904). Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> di sini mengingkari aqidah jahiliyah yang keliru ketika terjadinya gerhana matahari dan bulan. Dan hendaklah ketika terjadinya gerhana tadi, setiap orang shalat dan perbanyak do’a kala itu sampai gerhana berakhir.</p>
<p>Gerhana di masa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> hanyalah sekali terjadi di Madinah setelah hijrah. Ketika itu beliau keluar dengan <em>rida’</em> (selendang) dengan penuh khusyu’ dalam keadaan takut pada Allah <em>Ta’ala</em>. Keadaan beliau kala itu seakan-akan terjadi kiamat. Perlu diketahui bahwa tidak ada yang mengetahui hari kiamat selain Allah <em>Ta’ala</em>. Beliau kemudian shalat bersama para sahabatnya, yaitu shalat kusuf (shalat gerhana). Beliau memperpanjang bacaan, ruku’ dan sujudnya. Lama bacaan beliau seperti sedang membaca surat Al Baqarah. Setelah membaca surat, lalu beliau ruku’ dengan ruku’ yang panjang seperti berdiri. Setelah ruku’, (beliau tidak langsung sujud) namun melanjutkan dengan membaca surat Al Fatihah dan surat yang panjang yang lebih ringan dari yang pertama. Lalu setelah itu beliau ruku’ dengan ruku’ yang lebih ringan dari yang pertama. Setelah itu beliau melakukan dua kali sujud. Kemudian beliau berdiri dan melanjutkan raka’at kedua sama dengan cara pada raka’at pertama namun dengan tata cara yang lebih ringan. Kemudian setelah selesai raka’at kedua (seperti shalat lainnya), beliau salam. Gerhana pun selesai, lantas beliau pun memberikan nasehat pada para sahabatnya. Beliau memberi nasehat sesuai kondisi saat itu.</p>
<p>Intinya di atas, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>melakukan shalat sebanyak dua raka’at. Setiap raka’at terdapat 2 kali ruku’ dan 2 kali sujud. Jadi keseluruhan raka’at shalat gerhana terdapat 4 kali ruku’ dan 4 kali sujud. Demikianlah tata cara shalat gerhana Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dan inilah riwayat yang shahih yang lebih kuat dari riwayat lainnya. Namun memang ada berbagai riwayat yang menerangkan shalat kusuf (gerhana). Akan tetapi, yang tepat adalah shalat gerhana yang beliau lakukan cuma sekali. Sehingga tidak mungkin kita katakan kadang beliau melakukan cara yang ini dan waktu lain beliau melakukan cara yang lain lagi. Ingatlah bahwa beliau hanya shalat gerhana sekali saja, sehingga tata cara yang menerangkan shalat gerhana hanyalah satu. Tata cara yang lebih tepat adalah seperti yang diterangkan dalam hadits yang telah kami sebutkan. Siapa yang telah melakukan seperti itu, maka <em>alhamdulillah</em>, segala puji hanya bagi Allah.</p>
<p>Adapun yang dilakukan oleh sebagian orang yang malah ketika terjadinya gerhana, mereka menanti-nanti datangnya gerhana di padang pasir dan meninggalkan shalat gerhana. Ini sungguh perbuatan orang bodoh dan tanda kurangnya iman mereka. Padahal mereka bisa saja shalat.</p>
<p>Perlu dipahami bahwa boleh saja gerhana ini tanda awal-awal datangnya musibah. Perlu dipahami, siapa yang mampu membuat sinar matahari akan terus bersinar, begitu pula dengan rembulan? Siapa pula yang bisa menjamin bahwa sinar matahari yang tertutup tadi bisa kembali, begitu pula rembulan? Bukankah jika sinar keduanya itu hilang menandakan hari kiamat? Bukankah bisa jadi peristiwa ini adalah awal-awal datangnya adzab? <em>Nas-alullaha al ‘afiyah</em> (kita meminta pada Allah keselamatan).</p>
<p>Seorang muslim tentu tidak bisa campur tangan dalam hal-hal tadi, namun ia hanya bisa tunduk dan pasrah serta beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Para pakar memang bisa memperkirakan kapan gerhana itu datang, dapat diketahui dengan perhitung-perhitungan ketika melihat pergerakan bulan dan matahari. Hal ini dapat dikenal dari ilmu falak. Namun hal ini tidaklah menghalangi manusia untuk shalat sebagaimana diperintahkan. Gerhana juga menandakan bahwa sesuatu bisa berubah dengan kehendak Allah, Dia-lah yang menjadikan gerhana tersebut ada.</p>
<p><em>Ringkasnya</em>, kita wajib yakin, patut, dan takut pada Allah saat keadaan seperti ini. Dan sekali lagi perlu dipahami bahwa gerhana adalah di antara tanda-tanda kiamat. Perlu diketahui bahwa setelah nabi berhijrah, gerhana hanya terjadi sekali, itu baru terjadi selama 10 tahun. Coba lihat sekarang, gerhana terjadi setiap tahun, yaitu terjadi gerhana matahari dan bulan silih berganti. Ini semua dengan kehendak Allah demi menakut-nakuti hamba-Nya. <em>Nas-alullaha as salaamah wal ‘afiyah</em> (kita meminta pada Allah keselamatan).</p>
<p>Namun ada sebagian orang yang menyangka terjadinya gerhana hanyalah peristiwa alamiah karena perputaran matahari dan bulan saja. Lalu mereka nyatakan bahwa yang meyakini gerhana itu terjadi karena Allah ingin menakut-nakuti hamba-Nya sehingga diperintahkan shalat (gerhana), itu hanyalah anggapan <em>khurafat</em>. Sungguh mereka yang menyatakan semacam ini, berarti mengutarakan sesuatu kekufuran, tidak lain dan tidak bukan itu adalah pernyataan kufur. <em>Masa’ mereka menyatakan ini khurofat? Dan ini berarti menyatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebarkan khurofat?</em> Kita berlindung pada Allah dari pemahaman sesat semacam itu. Lihatlah bagaimana yang mengutarakan pernyataan sesat di atas benar-benar telah tertipu dan benar-benar bodoh.</p>
<p>Kita mohon pada Allah keselamatan dan moga kita dihilangkan dari berbagai kejelekan. Semoga Allah menganugerahkan pada kita taubat yang ikhlas, dan moga Allah beri kita taufik dalam perkataan dan perbuatan.</p>
<p><em>Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga dan seluruh sahabatnya. </em></p>
<p>[Khutbah Syaikh Shalih di atas diambil dari rekaman di tangan penulis saat membahas kitab fikih “<em>Muntaqal Akhbar</em>”, Bab “Batasan Aurat Laki-Laki”, di Masjid Jaami’ Al Amir Faishol bin Fahd di <em>Hayy Malqo</em>, Riyadh KSA, di hari Sabtu, 15 Muharram 1433 H, 10 Desember 2011. Khutbah berlangsung pada menit 46:33 – 56:15. Durus sementara dihentikan untuk pelaksanaan shalat gerhana kurang lebih setengah jam, dilanjutkan dengan khutbah dari Syaikh Shalih Al Fauzan. Yang menjadi imam shalat gerhana adalah salah satu murid senior beliau dan di dalam shalat gerhana dibacakan tiga surat dalam dua raka’at: surat Al ‘Ankabut, surat Ar Ruum dan setengah surat Luqman. Rekaman khutbah gerhana Syaikh Shalih Al Fauzan dapat didengar secara langsung di web site pribadi beliau <strong><a href="http://alfawzan.ws/sites/default/files/Khusuf_15_01_1433.mp3">di sini</a></strong>]</p>
<p>@ Sabic Lab, Riyadh KSA, 16 Muharram 1433 H</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penerjemah: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal<br />
</a><a href="http://muslim.or.id">Artikel www.muslim.or.id</a></p>
<div>
<p>&nbsp;</p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> HR. Bukhari no. 1044</p>
</div>
</div>
<div class="shr-publisher-7729"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fnasehat-ulama%2Fkhutbah-shalat-gerhana-syaikh-sholeh-al-fauzan.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fnasehat-ulama%2Fkhutbah-shalat-gerhana-syaikh-sholeh-al-fauzan.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fnasehat-ulama%2Fkhutbah-shalat-gerhana-syaikh-sholeh-al-fauzan.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/nasehat-ulama/khutbah-shalat-gerhana-syaikh-sholeh-al-fauzan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
<enclosure url="http://alfawzan.ws/sites/default/files/Khusuf_15_01_1433.mp3" length="4608662" type="audio/mpeg" />
		</item>
		<item>
		<title>Keutamaan Shaf Pertama</title>
		<link>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/keutamaan-shaf-pertama.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/keutamaan-shaf-pertama.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Nov 2011 23:00:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh dan Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[fadhilah]]></category>
		<category><![CDATA[jama'ah]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[shaf pertama]]></category>
		<category><![CDATA[Shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=7492</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, segala puji hanya tertuju kepada Allah subhanahu wa ta’ala, yang telah memberikan berbagai keutamaan di dalam shalat berjamaah bagi seorang muslim. Di antaranya dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari.  Ganjaran 27 Kali Lipat Nabi shallallaahu<a class="more" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/keutamaan-shaf-pertama.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><em>Alhamdulillah</em>, segala puji hanya tertuju kepada Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em>, yang telah memberikan berbagai keutamaan di dalam shalat berjamaah bagi seorang muslim. Di antaranya dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"> <strong>Ganjaran 27 Kali Lipat</strong></span></p>
<p>Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً</p>
<p>“<em>Shalat berjama’ah (di masjid) lebih utama 27 derajat dibanding shalat sendirian (di rumah)</em>” (HR. Bukhari no. 609)</p>
<p>Anggaplah ada orang yang akan memberi Anda Rp 1.000.000 jika shalat di rumah, dan Rp 27.000.000 dengan syarat Anda mau pergi ke masjid untuk shalat berjamaah. Hal apakah yang pertama kali Anda lakukan? Berangkat ke masjid? Jelas. Namun kira-kira, Anda akan berangkat dengan bersegera, atau dengan santai, menunggu sampai iqamat dikumandangkan (sebagaimana kebiasaan sebagian besar kaum muslimin, <em>Allahul musta&#8217;an!</em>). Ini baru permisalan dunia, belum ganjaran akhirat yang tentunya jauh lebih besar daripada itu. Sedangkan Allah sungguh telah memperingatkan, tentang apa yang akan kita bawa esok di hari akhir.</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;"> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ()وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنسَاهُمْ أَنفُسَهُمْ أُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ</p>
<p><em>&#8220;Wahai orang-orang yang ber­iman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah se­tiap diri merenungkan, apalah yang telah diper­buatnya untuk hari esok (yaitu hari akhir). Dan bertakwalah kepada Allah! Sesung­guhnya Allah Maha Menge­tahui apapun yang kamu kerjakan. Dan janganlah keadaan kamu seperti orang-orang yang me­lupakan Allah, lalu Allah pun membuatnya lupa kepada dirinya sendiri; itulah orang-orang yang fasik.&#8221; (Al Hasyr : 18-19)</em></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kebiasaan Nabi Ketika Mendengar Adzan</strong></span></p>
<p>Itulah sikap yang Nabi <em>shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam</em> contohkan. Apapun kesibukan beliau, ketika adzan telah berkumandang, maka beliau bergegas menuju masjid dan shalat berjamaah dengan kaum muslimin. Perhatikan kesaksian &#8216;Aisyah <em>radhiyallahu &#8216;anha</em> tentang beliau,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ فَإِذَا سَمِعَ الْأَذَانَ خَرَجَ</p>
<p>&#8220;<em>Adalah Nabi shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam biasa membantu pekerjaan istrinya, dan jika beliau mendengar adzan, beliau segera keluar (untuk pergi menuju masjid)</em>&#8221; (HR. Bukhari 4944)</p>
<p>Kesibukan yang mulia, yaitu membantu pekerjaan istri beliau. Akan tetapi ketika adzan, beliau langsung bergegas menuju masjid. Apatah lagi dengan kita yang hanya disibukkan dengan perkara duniawi, terkadang bercanda, menonton televisi, bola, namun ketika adzan sungguh panggilan itu kita abaikan.<em> </em><em>Nas&#8217;alullaha salamah wal &#8216;afiyah!</em></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Andai Shaf Awal Harus Diundi, Sungguh Akan Diundi!</strong></span></p>
<p>Maka bersegeralah menuju masjid, dan carilah <a href="http://wp.me/poDHc-1WQ">shaf pertama</a>. Sungguh, dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>, Nabi <em>shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam</em> telah bersabda,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا</p>
<p>&#8220;<em>Seandainya manusia mengetahui apa yang ada (yaitu keutamaan) di dalam seruan (adzan) dan shaf pertama, lalu mereka tidak bisa mendapatkan shaf tersebut kecuali dengan undian, sungguh mereka akan melakukan undian untuk mendapatkannya.</em>&#8221; (HR. Bukhari 580)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Allah dan Para Malaikat Bershalawat Kepada Orang-Orang Di Shaf Awal(!)</strong></span></p>
<p>Dan tidakkah Anda ingin shalat bersama dengan para malaikat?! Diriwayatkan dari Al Barra&#8217; bin &#8216;Adzib bahwa Nabi <em>shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">&#8220;إن الله وملائكته يصلون على الصف المقدم، والمؤذن يغفر له مدى صوته ويصدقه من سمعه من رطب ويابس وله مثل أجر من صلى معه&#8221;</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang di shaf awal, dan muadzin itu akan diampuni dosanya sepanjang radius suaranya, dan dia akan dibenarkan oleh segala sesuatu yang mendengarkannya, baik benda basah maupun benda kering, dan dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang shalat bersamanya”</em> (HR. Ahmad dan An Nasa&#8217;i dengan sanad yang jayyid)</p>
<p>Dalam hadits lain dari Nu&#8217;man bin Basyir <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> beliau berkata, &#8220;Aku mendengar Rasululullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">إن الله وملائكته يصلون على الصف الأول أو الصفوف الأول</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang di shaf pertama, atau di beberapa shaf yang awal&#8221;</em> (HR. Ahmad dengan sanad yang <em>jayyid</em>, diperoleh dari fatwa Syaikh Sulaiman Al Majid di <a href="http://www.salmajed.com/node/6237">http://www.salmajed.com/node/6237</a>)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Ancaman Bagi Mereka yang Mengakhirkan Berangkat Jama&#8217;ah</strong></span></p>
<p>Maka, wahai saudaraku seiman, bergegaslah menuju masjid jika adzan telah dikumandangkan. Segera tinggalkan segala keperluan duniawimu, segeralah mengambil air wudhu&#8217;, sebab Allah dan Rasul-nya telah mengancam dengan tegas lewat sabda Nabi-Nya.</p>
<p>Dari Abu Sa&#8217;id Al Khudri bahwa Rasulullah <em>shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melihat diantara shahabat ada yang mengakhirkan berangkat ke masjid, maka beliau bersabda :</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">  لا يَزَالُ قَوْمٌ يَتَأَخَّرُونَ حَتَّى يُؤَخِّرَهُمْ اللَّهُ</p>
<p>&#8220;<em>Tidaklah suatu kaum mengakhirkan (yaitu menuju masjid) hingga Allah akan mengakhirkan mereka</em>&#8221;</p>
<p>Syaikh Ibnu &#8216;Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">وعلى هذا فيخشى على الإنسان إذا عود نفسه التأخر في العبادة أن يبتلى بأن يؤخره الله عز وجل في جميع مواطن الخير اهـ</p>
<p>&#8220;Oleh karena itu hendaklah orang-orang merasa takut apabila mereka mengakhirkan suatu ibadah, mereka akan diuji dalam bentuk Allah &#8216;azza wa jalla akhirkan dalam segala bentuk kebaikan&#8221; (<em>Ikhtishar Fatawa Ibnu &#8216;Utsaimin</em> 13/54)</p>
<p>Sebagai penutup, hendaklah kita selalu mengingat firman Allah <em>Ta&#8217;ala</em>,</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;"> سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاء وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ</p>
<p><em>&#8220;Berlomba-lombalah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.&#8221;</em> (QS. Al Hadiid : 21)</p>
<p>(diringkas dari khutbah Dr &#8216;Isham bin Hasyim Al Jufri di <a href="http://www.saaid.net/Doat/aljefri/153.htm">http://www.saaid.net/Doat/aljefri/153.htm</a>)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Tambahan : Bagaimana Jika di Masjid Hanya Ada Satu Shaf Saja?</strong></span></p>
<p>Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid mendefinisikan apa yang dimaksud dengan shaf awal, ketika beliau ditanya hal serupa.</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;"> والصف الأول : المراد به ما يلي الإمام مطلقا ، سواء تخلله شيء كمقصورة أو لا . وقيل : هو أول صف تام يلي الإمام ، وقيل : المراد به من سبق إلى الصلاة ولو صلى آخر الصفوف .</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">قال النووي رحمه الله : &#8221; القول الأول هو الصحيح المختار ، وبه صرح المحققون ، والقولان الآخران غلط صريح &#8221; انتهى نقلا عن &#8220;فتح الباري&#8221; (2/244) .</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">ولا فرق بين أن يكون في المسجد صف واحد أو صفوف ، فما يلي الإمام هو الصف الأول ، الموعود أهله بذلك الفضل ، إن شاء الله ، لعموم الأحاديث .</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">والله أعلم</p>
<p>&#8220;Yang dimaksud dengan shaf awal ialah shaf yang berada pertama di belakang imam, sama saja apakah itu untuk masjid besar maupun kecil. Pendapat lain mengatakan : satu shaf penuh yang berada di belakang imam. Pendapat lain : siapa saja yang lebih dulu berada di masjid meskipun ia di akhir shaf.</p>
<p>An Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata : &#8216;Pendapat pertamalah yang shahih dan kami pilih, dan dua pendapat terakhir telah jelas tidak tepat. -sekian perkataan beliau dalam <em>Fathul Bari</em> 2/244-</p>
<p>Sehingga tidak ada perbedaan antara masjid yang shafnya hanya satu saja, atau yang shafnya banyak (yaitu jamaah shalatnya hingga bershaf-shaf -pent).<strong><em> </em></strong><em><strong>Siapa saja yang berada di barisan tepat di belakang imam, itulah shaf awal, dan itulah yang dijanjikan keutamaan, insya Allah, berdasarkan keumuman hadits.</strong></em> <em>Wallahu a&#8217;lam</em>.&#8221; (sumber: <a href="http://www.islamqa.com/ar/ref/67797">http://www.islamqa.com/ar/ref/67797</a>)</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Yhouga Pratama, ST.<br />
Artikel <a href="http://www.muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-7492"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Fkeutamaan-shaf-pertama.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Fkeutamaan-shaf-pertama.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Fkeutamaan-shaf-pertama.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/keutamaan-shaf-pertama.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keutamaan Shalat Shubuh</title>
		<link>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/keutamaan-shalat-shubuh.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/keutamaan-shalat-shubuh.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Nov 2011 23:00:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh dan Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[amalan]]></category>
		<category><![CDATA[fadhilah amal]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Shalat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat jama'ah]]></category>
		<category><![CDATA[shubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=7280</guid>
		<description><![CDATA[Shubuh adalah salah satu waktu di antara beberapa waktu, di mana Allah Ta’ala memerintahkan umat Islam untuk mengerjakan shalat kala itu. Allah Ta’ala berfirman, أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآَنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآَنَ<a class="more" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/keutamaan-shalat-shubuh.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Shubuh adalah salah satu waktu di antara beberapa waktu, di mana Allah <em>Ta’ala</em> memerintahkan umat Islam untuk mengerjakan shalat kala itu. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="font-size: 18px;" dir="RTL" align="center">أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآَنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآَنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا</p>
<p>“<em>Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) Shubuh. Sesungguhnya shalat Shubuh tu disaksikan (oleh malaikat).</em>” (Qs. Al-Isra’: 78)</p>
<p>Betapa banyak kaum muslimin yang lalai dalam mengerjakan shalat shubuh. Mereka lebih memilih melanjutkan tidurnya ketimbang bangun untuk melaksanakan shalat.  Jika kita melihat jumlah jama’ah yang shalat shubuh di masjid, akan terasa berbeda dibandingkan dengan jumlah jama’ah pada waktu shalat lainnya.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Keutamaan Shalat Shubuh</strong></span></p>
<p>Apabila seseorang mengerjakan shalat shubuh, niscaya ia akan dapati banyak keutamaan. Di antara keutamaannya adalah</p>
<p>(1) Salah satu penyebab masuk surga</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="font-size: 18px;" align="center">مَنْ صَلَّى الْبَرْدَيْنِ دَخَلَ الْجَنَّة</p>
<p>“<em>Barangsiapa yang mengerjakan shalat bardain (yaitu shalat shubuh dan ashar) maka dia akan masuk surga</em>.” (HR. Bukhari no. 574 dan Muslim no. 635)</p>
<p>(2) Salah satu penghalang masuk neraka</p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="font-size: 18px;" align="center">لَنْ يَلِجَ النَّارَ أَحَدٌ صَلَّى قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا</p>
<p>“<em>Tidaklah akan masuk neraka orang yang melaksanakan shalat sebelum terbitnya matahari (yaitu shalat shubuh) dan shalat sebelum tenggelamnya matahari (yaitu shalat ashar)</em>.” (HR. Muslim no. 634)</p>
<p>(3) Berada di dalam jaminan Allah</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="font-size: 18px;" align="center">مَنْ صَلَّى صَلَاةَ الصُّبْحِ فَهُوَ فِي ذِمَّةِ اللَّهِ فَلَا يَطْلُبَنَّكُمْ اللَّهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ فَإِنَّهُ مَنْ يَطْلُبْهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ يُدْرِكْهُ ثُمَّ يَكُبَّهُ عَلَى وَجْهِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ</p>
<p>“<em>Barangsiapa yang shalat subuh maka dia berada dalam jaminan Allah. Oleh karena itu jangan sampai Allah menuntut sesuatu kepada kalian dari jaminan-Nya. Karena siapa yang Allah menuntutnya dengan sesuatu dari jaminan-Nya, maka Allah pasti akan menemukannya, dan akan menelungkupkannya di atas wajahnya dalam neraka jahannam</em>.” (HR. Muslim no. 163)</p>
<p>(4) Dihitung seperti shalat semalam penuh</p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="font-size: 18px;" align="center">مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ</p>
<p>“<em>Barangsiapa yang shalat isya` berjama’ah maka seolah-olah dia telah shalat malam selama separuh malam. Dan barangsiapa yang shalat shubuh berjamaah maka seolah-olah dia telah shalat seluruh malamnya</em>.” (HR. Muslim no. 656)</p>
<p>(5) Disaksikan para malaikat</p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="font-size: 18px;" align="center">وَتَجْتَمِعُ مَلَائِكَةُ اللَّيْلِ وَمَلَائِكَةُ النَّهَارِ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ</p>
<p> “<em>Dan para malaikat malam dan malaikat siang berkumpul pada shalat fajar (subuh)</em>.” (HR. Bukhari no. 137 dan Muslim no.632)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Ancaman bagi yang Meninggalkan Shalat Shubuh</strong></span></p>
<p>Padahal banyak keutamaan yang bisa didapat apabila seseorang mengerjakan shalat shubuh. Tidakkah kita takut dikatakan sebagai orang yang munafiq karena meninggalakan shalat shubuh? Dan kebanyakan orang meninggalkan shalat shubuh karena aktivitas tidur. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="font-size: 18px;" align="center">إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا</p>
<p>“<em>Sesungguhnya shalat yang paling berat dilaksanakan oleh orang-orang munafik adalah shalat isya dan shalat subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaan keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak</em>.” (HR. Bukhari no. 657 dan Muslim no. 651)</p>
<p>Cukuplah ancaman dikatakan sebagai orang munafiq membuat kita selalu memperhatikan ibadah yang satu ini.</p>
<p>Semoga Allah selalu memberi hidayah kepada kita semua, terkhusus bagi para laki-laki untuk dapat melaksanakan shalat berjama’ah di masjid.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Wiwit Hardi Priyanto</p>
<p>Artikel <a href="http://www.muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<div class="shr-publisher-7280"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Fkeutamaan-shalat-shubuh.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Fkeutamaan-shalat-shubuh.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Fkeutamaan-shalat-shubuh.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/keutamaan-shalat-shubuh.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bacaan Dzikir Setelah Shalat</title>
		<link>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/bacaan-dzikir-setelah-shalat.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/bacaan-dzikir-setelah-shalat.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Oct 2011 03:00:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh dan Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=7043</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Dzikir akan menguatkan seorang muslim dalam ibadah, hati akan terasa tenang dan mudah mendapatkan pertolongan Allah. Dzikir setelah shalat adalah di antara dzikir yang<a class="more" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/bacaan-dzikir-setelah-shalat.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><em>Alhamdulillah, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. </em></p>
<p>Dzikir akan menguatkan seorang muslim dalam ibadah, hati akan terasa tenang dan mudah mendapatkan pertolongan Allah. Dzikir setelah shalat adalah di antara dzikir yang mesti kita amalkan. Seusai shalat tidak langsung bubar, namun hendaknya kita merutinkan beristighfar dan bacaan dzikir lainnya.</p>
<p><strong>[1]</strong></p>
<p dir="RTL" align="center">أَسْتَغْفِرُ اللهَ (3x) اَللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ.</p>
<p><em>Astaghfirullah (3x). Allahumma antas salaam wa minkas salaam tabaarokta yaa dzal jalaali wal ikrom.</em></p>
<p>“Aku minta ampun kepada Allah,” (3x). Lantas membaca: “Ya Allah, Engkau pemberi keselamatan, dan dariMu keselamatan, Maha Suci Engkau, wahai Tuhan Yang Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.”<a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3565-dzikir-setelah-shalat.html#_ftn1">[1]</a></p>
<p><strong>[2]</strong></p>
<p dir="RTL" align="center">لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ، اَللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ.</p>
<p><em>Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir. Allahumma laa maani’a lima a’thoita wa laa mu’thiya limaa mana’ta wa laa yanfau dzal jaddi minkal jaddu.</em></p>
<p>“Tiada Rabb yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya. BagiNya puji dan bagi-Nya kerajaan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang memberi apa yang Engkau cegah. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan itu bagi pemiliknya (selain iman dan amal shalihnya yang menyelamatkan dari siksaan). Hanya dari-Mu kekayaan dan kemuliaan.” <a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3565-dzikir-setelah-shalat.html#_ftn2">[2]</a></p>
<p><strong>[3]</strong></p>
<p align="center">لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ، وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ.</p>
<p><em>Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah. Lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir. Laa hawla wa laa quwwata illa billah. Laa ilaha illallah wa laa na’budu illa iyyah. Lahun ni’mah wa lahul fadhl wa lahuts tsanaaul hasan. Laa ilaha illallah mukhlishiina lahud diin wa law karihal kaafiruun.</em></p>
<p>“Tiada Rabb (yang berhak disembah) kecuali Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya. BagiNya kerajaan dan pujaan. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali (dengan pertolongan) Allah. Tiada Rabb (yang hak disembah) kecuali Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepadaNya. Bagi-Nya nikmat, anugerah dan pujaan yang baik. Tiada Rabb (yang hak disembah) kecuali Allah, dengan memurnikan ibadah kepadaNya, sekalipun orang-orang kafir sama benci.”<a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3565-dzikir-setelah-shalat.html#_ftn3">[3]</a></p>
<p><strong>[4]</strong></p>
<p dir="RTL" align="center">سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَاللهُ أَكْبَرُ (33 ×) لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ.</p>
<p><em>Subhanallah wal hamdulillah wallahu akbar (33 x). Laa ilaha illallah wahda, laa syarika lah. Lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir.</em></p>
<p>“Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, dan Allah Maha Besar (33 x). Tidak ada Rabb (yang berhak disembah) kecuali Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya. BagiNya kerajaan. BagiNya pujaan. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.”<a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3565-dzikir-setelah-shalat.html#_ftn4">[4]</a></p>
<p><strong>[5]</strong></p>
<p>Membaca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas setiap selesai shalat (fardhu).<a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3565-dzikir-setelah-shalat.html#_ftn5">[5]</a></p>
<p><strong>[6]</strong></p>
<p>Membaca ayat Kursi setiap selesai shalat (fardhu).<a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3565-dzikir-setelah-shalat.html#_ftn6">[6]</a></p>
<p><strong>[7]</strong></p>
<p dir="RTL" align="center">لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. 10× بعد صلاة المغرب والصبح</p>
<p><em>Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah. Lahul mulku wa lahul hamdu yuhyi wa yumiit wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir .</em></p>
<p>“Tiada Rabb yang berhak disembah kecuali Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya, bagiNya kerajaan, bagi-Nya segala puja. Dia-lah yang menghidupkan (orang yang sudah mati atau memberi roh janin yang akan dilahirkan) dan yang mematikan. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Dibaca 10 x setiap sesudah shalat Maghrib dan Subuh)<a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3565-dzikir-setelah-shalat.html#_ftn7">[7]</a></p>
<p><strong>[8]</strong></p>
<p align="center">اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً.</p>
<p><em>Allahumma inni as-aluka ‘ilman naafi’a, wa rizqon thoyyiba, wa ‘amalan mutaqobbala.</em></p>
<p>“Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepadaMu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal dan amal yang diterima.” (Dibaca setelah salam shalat Shubuh).<a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3565-dzikir-setelah-shalat.html#_ftn8">[8]</a></p>
<p align="center"><em>Semoga dzikir yang sederhana ini bisa rutin kita amalkan setelah shalat sehingga Allah berkahi aktivitas harian kita.</em></p>
<p align="center"><em>Wallahu waliyyut taufiq. Walhamdulillah, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shohbihi wa sallam.</em></p>
<p><strong>Referensi:</strong></p>
<p><em>Hish-nul Muslim</em><em> min Adzkar Al Kitab was Sunnah</em>, Syaikh Sa’ad bin Wahf Al Qohthoni</p>
<p><em>Tash-hih Syarh Hish-nul Muslim min Adzkar Al Kitab was Sunnah</em>, Majdi bin ‘Abdul Wahab Al Ahmad, terbitan Maktabah Al Malik Fahd Al Wathoniyah, cetakan keempat, 1430 H</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>@ Ummul Hamam, Riyadh KSA</p>
<p>16 Dzulqo’dah 1432 H (14/10/2011)</p>
<p>Penulis: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-7043"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Fbacaan-dzikir-setelah-shalat.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Fbacaan-dzikir-setelah-shalat.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Fbacaan-dzikir-setelah-shalat.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/bacaan-dzikir-setelah-shalat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

