<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muslim.Or.Id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah &#187; Shalat</title>
	<atom:link href="http://muslim.or.id/tag/shalat/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muslim.or.id</link>
	<description>Pesantren online agama Islam berdasarkan Qur&#039;an dan Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih</description>
	<lastBuildDate>Fri, 25 May 2012 11:23:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Shalat Istikharah Ketika Ingin Memilih atau Telah Mantap pada Pilihan?</title>
		<link>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/shalat-istikharah-ketika-ingin-memilih-atau-telah-mantap-dalam-pilihan.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/shalat-istikharah-ketika-ingin-memilih-atau-telah-mantap-dalam-pilihan.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 May 2012 07:00:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh dan Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[istikharah]]></category>
		<category><![CDATA[istikhoroh]]></category>
		<category><![CDATA[Shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=9089</guid>
		<description><![CDATA[Dari Shahabat Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا الِاسْتِخَارَةَ فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنْ الْقُرْآنِ يَقُولُ إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالْأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ<a class="more" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/shalat-istikharah-ketika-ingin-memilih-atau-telah-mantap-dalam-pilihan.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Dari Shahabat Jabir bin ‘Abdillah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, beliau berkata,</p>
<p style="text-align: center;" align="right">كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا الِاسْتِخَارَةَ فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنْ الْقُرْآنِ يَقُولُ إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالْأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلْ</p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa salla</em>m, mengajari kami shalat istikharah dalam <strong>setiap perkara /  urusan</strong> yang kami hadapai, sebagaimana beliau mengajarkan kami suatu surah dari Al-Quran. Beliau berkata, “Jika salah seorang di antara kalian <strong>berniat</strong> dalam suatu urusan, maka lakukanlah shalat dua raka’at yang bukan shalat wajib, kemudian berdoalah&#8230;”. (HR. Al-Bukhari)</p>
<p>Para pembaca sekalian, hadits di atas merupakan hadits yang agung. Karena di dalamnya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengajarkan kepada umatnya apabila menemui suatu perkara / urusan, maka hendaknya melakukan shalat istikharah. Namun yang menjadi poin bahasan kali ini adalah dua hal saja, yaitu hanya pada tulisan yang diberi cetak lebih tebal dari yang lain.</p>
<p><strong>Yang pertama</strong>, Nabi mengajarkan shalat istikharah dalam setiap perkara / urusan. Jadi tidak benar ada anggapan bahwa shalat istikharah hanya dilakukan terbatas untuk urusan yang meragukannya, sehingga ia perlu melakukan shalat istikharah. Karena dalam bahasa Arab, kata <strong>كل</strong> memiliki arti setiap / semua.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, sebagian orang salah paham dalam melaksanakan shalat istikharah. Sebagian dari mereka melakukan shalat istikharah ketika dihadapkan kepada pilihan yang sulit atau meragukannya. Padahal ini kurang tepat, karena yang tepat adalah ketika seseorang telah mantap hatinya dengan keputusan yang ia ambil dalam urusan yang dihadapinya.</p>
<p>Kata هَمَّ (sebagaimana yang saya lihat dalam kamus Arab-Indonesia karya Mahmud Yunus) memiliki arti berniat. Karena sebagian orang mengartikannya dengan menghadapi, padahal jika diartikan demikian, maka shalat istikharah dilakukan sebelum hati mantap dengan keputusan. Padahal shalat istikharah dilakukan saat hati telah mantap dengan keputusan.</p>
<p>Apa hikmahnya ketika shalat istikharah dilakukan saat hati telah mantap? Jawaban yang saya dapatkan berasal dari penjelasan Al-Ustadz Aris Munandar dalam sesi tanya-jawab kajian rutin pagi. Beliau menuturkan jawaban dengan dua alasan.</p>
<ol>
<li>Jika seseorang telah mantap dengan suatu urusan, maka ia memohon kepada Allah, apabila urusannya tersebut baik dan diridhai oleh Allah, maka Allah akan mempermudah jalannya untuk mendapatkan perkara tersebut.</li>
<li>Jika perkara tersebut tidaklah baik baginya, Allah akan datangkan penghalang dan pencegah baginya, sehingga ia akan dicegah untuk melaksanakan urusan tersebut.</li>
</ol>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL" align="center">وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ</p>
<p>“<em>Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui</em>.” (QS. Al-Baqarah: 216)</p>
<p>Semoga tulisan singkat ini bermanfaat bagi para pembaca sekalian.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bahasan selengkapnya mengenai <a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/panduan-shalat-istikhoroh.html"><strong>Panduan Shalat Istikhoroh</strong></a>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Penulis: <a href="http://aboeaswad.wordpress.com">Wiwit Hardi P</a>.</p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-9089"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Fshalat-istikharah-ketika-ingin-memilih-atau-telah-mantap-dalam-pilihan.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/shalat-istikharah-ketika-ingin-memilih-atau-telah-mantap-dalam-pilihan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shalat di Masjid yang Ada Kubur</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/shalat-di-masjid-yang-ada-kubur.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/aqidah/shalat-di-masjid-yang-ada-kubur.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Apr 2012 03:30:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[kubur]]></category>
		<category><![CDATA[kuburan]]></category>
		<category><![CDATA[masjid]]></category>
		<category><![CDATA[pemakaman]]></category>
		<category><![CDATA[Shalat]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8926</guid>
		<description><![CDATA[Di beberapa daerah di negeri kita, beberapa masjid nampak bersandingan dengan kuburan. Ada yang kuburnya berada di arah kiblat, di belakang masjid atau di samping masjid. Kubur tersebut bisa berada di dalam masjid, bisa jadi<a class="more" href="http://muslim.or.id/aqidah/shalat-di-masjid-yang-ada-kubur.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Di beberapa daerah di negeri kita, beberapa masjid nampak bersandingan dengan kuburan. Ada yang kuburnya berada di arah kiblat, di belakang masjid atau di samping masjid. Kubur tersebut bisa berada di dalam masjid, bisa jadi untuk diagungkan, bisa jadi pula sebagai wasiat dari pemilik tanah yang mewakafkan tanahnya untuk masjid, di samping ada yang punya tujuan agar si mayit dalam kubur terus didoakan oleh orang-orang yang berkunjung di masjid tersebut. Padahal adanya kuburan di masjid semacam ini adalah wasilah untuk mengagungkan kubur, akan mengarah pada menggantungkan hati pada mayit dan jalan menuju kesyirikan.</p>
<p><strong>Larangan Shalat di Kubur</strong></p>
<p>Seluruh tempat di muka bumi ini bisa dijadikan tempat untuk shalat, itulah asalnya. Dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p>وَجُعِلَتْ لِىَ الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا ، وَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِى أَدْرَكَتْهُ الصَّلاَةُ فَلْيُصَلِّ</p>
<p>“<em>Seluruh bumi dijadikan sebagai tempat shalat dan untuk bersuci. Siapa saja dari umatku yang mendapati waktu shalat, maka shalatlah di tempat tersebut</em>” (HR. Bukhari no. 438 dan Muslim no. 521).</p>
<p>Namun ada tempat-tempat terlarang untuk shalat semisal kuburan atau daerah pemakaman. </p>
<p>Dari Abu Sa’id Al Khudri, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>الأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلاَّ الْمَقْبُرَةَ وَالْحَمَّامَ</p>
<p>“<em>Seluruh bumi adalah masjid (boleh digunakan untuk shalat) kecuali kuburan dan tempat pemandian</em>” (HR. Tirmidzi no. 317, Ibnu Majah no. 745, Ad Darimi no. 1390, dan Ahmad 3: 83. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). </p>
<p>Dari Abu Martsad Al Ghonawi, beliau berkata bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p>لاَ تُصَلُّوا إِلَى الْقُبُورِ وَلاَ تَجْلِسُوا عَلَيْهَا</p>
<p>“<em>Janganlah shalat menghadap kubur dan janganlah duduk di atasnya</em>” (HR. Muslim no. 972).</p>
<p>Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>اجْعَلُوا مِنْ صَلاَتِكُمْ فِى بُيُوتِكُمْ وَلاَ تَتَّخِذُوهَا قُبُورًا</p>
<p>“<em>Jadikanlah shalat (sunnah) kalian di rumah kalian dan jangan menjadikannya seperti kuburan</em>” (HR. Muslim no. 777). Hadits ini, kata Ibnu Hajar menunjukkan bahwa kubur bukanlah tempat untuk ibadah. Hal ini menunjukkan bahwa shalat di pekuburan adalah terlarang (Lihat Fathul Bari, 1: 529).</p>
<p>Para ulama mengatakan bahwa dikecualikan dalam masalah shalat di kubur adalah shalat jenazah. </p>
<p><strong>Larangan Bersatunya Kubur dan Masjid</strong></p>
<p>Dari Jundab, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>أَلاَ وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ أَلاَ فَلاَ تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ إِنِّى أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ</p>
<p>“<em>Ingatlah bahwa orang sebelum kalian, mereka telah menjadikan kubur nabi dan orang sholeh mereka sebagai masjid. Ingatlah, janganlah jadikan kubur menjadi masjid. Sungguh aku benar-benar melarang dari yang demikian</em>” (HR. Muslim no. 532).</p>
<p>Ummu Salamah pernah menceritakan pada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>mengenai gereja yang ia lihat di negeri Habaysah yang disebut Mariyah. Ia menceritakan pada beliau apa yang ia lihat yang di dalamnya terdapat gambar-gambar. Lantas Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, </p>
<p>أُولَئِكَ قَوْمٌ إِذَا مَاتَ فِيهِمُ الْعَبْدُ الصَّالِحُ &#8211; أَوِ الرَّجُلُ الصَّالِحُ &#8211; بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا ، وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ ، أُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ</p>
<p>“<em>Mereka adalah kaum yang jika hamba atau orang sholeh mati di tengah-tengah mereka, maka mereka membangun masjid di atas kuburnya. Lantas mereka membuat gambar-gambar (orang sholeh) tersebut. Mereka inilah sejelek-jelek makhluk di sisi Allah</em>” (HR. Bukhari no. 434).</p>
<p>Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى ، اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسْجِدًا</p>
<p>“<em>Allah melaknat orang Yahudi dan Nashrani di mana mereka menjadikan kubur para nabi mereka sebagai masjid</em>” (HR. Bukhari no. 1330 dan Muslim no. 529).</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin <em>rahimahullah </em>berkata, “Tidak boleh membangun masjid di atas kubur karena seperti itu adalah wasilah (perantara) menuju kesyirikan dan dapat mengantarkan pada ibadah kepada penghuni kubur. Dan tidak boleh pula kubur dijadikan tujuan (maksud) untuk shalat. Perbuatan ini termasuk dalam menjadikan kuburan sebagai masjid. Karena alasan menjadikan kubur sebagai masjid ada dalam shalat di sisi kubur. Jika seseorang pergi ke pekuburan lalu ia shalat di sisi kubur wali –menurut sangkaannya-, maka ini termasuk menjadikan kubur sebagai masjid. Perbuatan semacam ini terlaknat sebagaimana laknat yang ditimpakan pada Yahudi dan Nashrani yang menjadikan kubur nabi mereka sebagai masjid” (Al Qoulul Mufid, 1: 404).</p>
<p>Para ulama menerangkan bahwa jika masjid yang dahulu, setelah itu masuklah kubur, maka kubur yang mesti dimusnahkan. Sedangkan jika kubur lebih dahulu, barulah setelah itu dibangun masjid, berarti masjid tersebut yang mesti dimusnahkan. Inilah jalan untuk menutup pintu dari kesyirikan.</p>
<p><strong>Shalat di Masjid yang Ada Kuburan</strong></p>
<p>Mengenai hadits-hadits di atas, Syaikh Muhammad At Tamimi <em>rahimahullah </em>membawakannya dalam Kitab Tauhid dalam Bab “Peringatan keras terhadap siapa yang beribadah kepada Allah di sisi kubur orang sholeh, lebih-lebih jika beribadah kepada orang sholeh tersebut”. Penulis Fathul Majid, Syaikh ‘Abdurrahman Alu Syaikh berkata, “Jika seseorang beribadah pada orang sholeh (yang ada dalam kubur, pen), maka perbuatan tersebut adalah syirik akbar. Sedangkan beribadah kepada Allah di sisi kubur orang sholeh adalah wasilah (perantara) untuk beribadah padanya dan ini adalah termasuk perantara kepada syirik yang diharamkan. Beribadah di sisi kuburan orang sholeh dapat mengantarkan kepada syirik akbar. Dan itu adalah sebesar-besarnya dosa” (Fathul Majid, hal. 243).  </p>
<p>Penjelasan hadits-hadits di atas menunjukkan larangan shalat di masjid yang ada kubur. Apalagi bertambah jelas dengan penjelasan Syaikh Muhammad At Tamimi dan Syaikh ‘Abdurrahman Alu Syaikh -rahimahumallah- mengenai penafsiran hadits-hadits di atas.<br />
Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rahimahullah menerangkan bahwa yang dimaksud menjadikan kubur sebagai masjid ada dua makna:<br />
1. Membangun masjid di atas kubur.<br />
2. Menjadikan kubur sebagai tempat untuk shalat, di mana kubur menjadi maksud (tujuan) ibadah. Namun jika seseorang shalat di sisi kubur dan tidak menjadikan kubur sebagai maksud (tujuan), maka ini tetap bermakna menjadikan kubur sebagai masjid dengan makna umum. (Al Qoulul Mufid, 1: 411)</p>
<p>Kami pernah mengajukan pertanyaan pada Syaikh Sholeh Al Fauzan <em>hafizhohullah </em>mengenai kasus suatu masjid, yaitu masjid tersebut terdapat satu kuburan di arah kiblat namun di balik tembok, di mana kuburan tersebut masih masuk halaman masjid, bagaimana hukum shalat di masjid semacam itu?<br />
Jawaban beliau <em>hafizhohullah</em>, “Jika kuburan tersebut masih bersambung (muttashil) dengan masjid (artinya: masih masuk halaman masjid), maka tidak boleh shalat di masjid tersebut. Namun jika kuburan tersebut terpisah (munfashil), yaitu dipisah dengan jalan misalnya dan tidak menunjukkan bersambung dengan masjid (artinya bukan satu halaman dengan masjid), maka boleh shalat di masjid semacam itu”. (Durus Syaikh Sholeh Al Fauzan, Al Muntaqo).</p>
<p>Al Lajnah Ad Daimah, komis fatwa di Saudi Arabia menjelaskan,</p>
<p>إذا كان المسجد مبنيًا على القبر فلا تجوز الصلاة فيه وكذلك إذا دفن في المسجد أحد بعد بنائه ، ويجب نقل المقبور فيه إلى المقابر العامة إذا أمكن ذلك ؛ لعموم الأحاديث الدالة على تحريم الصلاة في المساجد التي فيها قبور .</p>
<p>“Jika masjid dibangun di atas kubur, maka tidak boleh shalat di masjid seperti  itu. Begitu pula jika di dalam masjid dikubur seseorang setelah masjid dibangun, maka tidak boleh shalat di masjid semacam itu. Wajib memindahkan mayit yang dikubur ke pemakaman umum karena hal ini ditunjukkan oleh hadits yang mengharamkan shalat di masjid yang ada kubur.” (Fatwa Al Lajnah Ad Daimah no. 4335)</p>
<p><strong>Bagaimana dengan Masjid Nabawi?</strong></p>
<p>Sebagian orang menyampaikan syubhat mengenai masjid Nabawi (di kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Madinah). Jika memang shalat di masjid yang ada kubur terlarang, lantas bagaimana dengan keadaan masjid Nabawi itu sendiri? Bukankah di dalamnya ada kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.<br />
Syaikh Sholeh Al Fauzan hafizhohullah mengatakan bahwa syubhat ini adalah talbis, yaitu ingin menyamarkan manusia. (Durus Syaikh Sholeh Al Fauzan, Al Muntaqo).</p>
<p>Cukup, syubhat di atas dijawab dengan penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin berikut ini:<br />
1. Masjid Nabawi tidaklah dibangun di atas kubur. Bahkan yang benar, masjid Nabawi dibangun di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hidup.<br />
2. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah di kubur di masjid sehingga bisa disebut dengan orang sholeh yang di kubur di masjid. Yang benar, beliau dikubur di rumah beliau.<br />
3. Pelebaran masjid Nabawi hingga sampai pada rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan rumah ‘Aisyah bukanlah hal yang disepakati oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Perluasan itu terjadi ketika sebagian besar sahabat telah meninggal dunia dan hanya tersisa sebagian kecil dari mereka. Perluasan tersebut terjadi sekitar tahun 94 H, di mana hal itu tidak disetujui dan disepakati oleh para sahabat. Bahkan ada sebagian mereka yang mengingkari perluasan tersebut, di antaranya adalah seorang tabi’in, yaitu Sa’id bin Al Musayyib. Beliau sangat tidak ridho dengan hal itu.<br />
4. Kubur Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidaklah di masjid, walaupun sampai dilebarkan. Karena kubur beliau di ruangan tersendiri, terpisah jelas dari masjid. Masjid Nabawi tidaklah dibangun dengan kubur beliau. Oleh karena itu, kubur beliau dijaga dan ditutupi dengan tiga dinding. Dinding tersebut akan memalingkan orang yang shalat di sana menjauh dari kiblat karena bentuknya segitiga dan tiang yang satu berada di sebelah utara (arah berlawanan dari kiblat).  Hal ini membuat seseorang yang shalat di sana akan bergeser dari arah kiblat. (Al Qoulul Mufid, 1: 398-399)</p>
<p>Demikian bahasan kami mengenai hukum shalat di masjid yang ada kubur. Yang nampak dari dalil, bahwa shalat di tempat semacam itu adalah haram. Adapun mengenai kesahan shalat di masjid yang ada kubur, butuh dibahas dalam bahasan lainnya.</p>
<p>Semoga Allah beri hidayah demi hidayah. <em>Wallahu waliyyut taufiq.</em></p>
<p><strong>Referensi:</strong><br />
- Al Muntaqo fil Ahkamisy Syari’ah min Kalami Khoiril Bariyyah, Majduddin Abul Barokat ‘Abdussalam bin Taimiyah Al Haroni, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan kedua, tahun 1431 H.<br />
- Al Qoulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan kedua, 1424 H.<br />
- Fathul Majid Syarh Kitab Tauhid, ‘Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh, terbitan Darul Ifta’, cetakan ketujuh, tahun 1431 H.<br />
- Durus Syaikh Sholeh Al Fauzan <em>hafizhohullah</em>, kitab Al Muntaqo karya Majduddin Abul Barokat ‘Abdussalam bin Taimiyah Al Haroni, 8 Jumadal Ula 1433 H, di Hay Malaz, Riyadh, KSA.</p>
<p>Disusun @ Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 8-9 Jumadal Ula 1433 H</p>
<p>Penulis: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal</a><br />
Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-8926"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fshalat-di-masjid-yang-ada-kubur.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/aqidah/shalat-di-masjid-yang-ada-kubur.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shalat Sunnah Fajar, Jangan Sampai Ditinggalkan</title>
		<link>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/shalat-sunnah-fajar-jangan-sampai-ditinggalkan.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/shalat-sunnah-fajar-jangan-sampai-ditinggalkan.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Feb 2012 23:00:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh dan Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[fajar]]></category>
		<category><![CDATA[qobliyah]]></category>
		<category><![CDATA[rawatib]]></category>
		<category><![CDATA[Shalat]]></category>
		<category><![CDATA[shubuh]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8485</guid>
		<description><![CDATA[Di antara shalat-shalat sunnah, ada shalat sunnah yang memiliki keutamaan yang tak ternilai harganya. Dua rakaat yang memiliki keutamaan, sampai-sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkannya. Sebuah amalan ringan, namun sarat pahala, yang<a class="more" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/shalat-sunnah-fajar-jangan-sampai-ditinggalkan.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Di antara shalat-shalat sunnah, ada shalat sunnah yang memiliki keutamaan yang tak ternilai harganya. Dua rakaat yang memiliki keutamaan, sampai-sampai Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidak pernah meninggalkannya. Sebuah amalan ringan, namun sarat pahala, yang tidak selayaknya disepelekan seorang hamba. Amalan tersebut adalah dua rakaat shalat sunnah sebelum subuh atau disebut juga shalat sunnah fajar.</p>
<p><strong><span style="color: #ff0000;">Keutamaanya</span></strong></p>
<p>Dikisahkan dari ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>, beliau berkata :</p>
<p style="font-size: 18px;" align="right">لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى شَيْءٍ مِنْ النَّوَافِلِ أَشَدَّ مِنْهُ تَعَاهُدًا عَلَى رَكْعَتَيْ الْفَجْر</p>
<p><em>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah melakukan satu shalat sunnah pun yang lebih beliau jaga dalam melaksanakannya melebihi dua rakaat shalat sunnah subuh</em>.” (HR Bukhari 1093 dan Muslim 1191)</p>
<p>Imam Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> mengatakan : “ Ketika safar (perjalanan), Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tetap rutin dan teratur mengerjakan shalat sunnah fajar dan shalat witir melebihi shalat-shalat sunnah yang lainnya. Tidak dinukil dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bahwa beliau melaksankan shalat sunnah  rawatib selain dua shalat tersebut selama beliau melakukan safar (<em>Zaadul Ma’ad</em> I/315)</p>
<p>Keutamaan shalat sunnah subuh ini secara khusus juga disebutkan oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> :</p>
<p style="font-size: 18px;" align="right">رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا</p>
<p><em>“Dua rakaat shalat sunnah subuh lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya.</em>”(HR. Muslim725).</p>
<p>Lihatlah saudaraku, suatu keutamaan yang sangat agung yang merupakan karunia Allah bagi hamba-hamba-Nya. Tidak selayaknya seorang hamba melewatkan kesempatan untuk dapat meraihnya.</p>
<p><strong><span style="color: #ff0000;">Melakukannya dengan Ringkas</span></strong></p>
<p>Di antara petunjuk dan contoh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam melakukan dua rakaat shalat sunnah subuh adalah dengan meringankannya dan tidak memanjangkan bacaannya, dengan syarat tidak melanggar perkara-perkara yang wajib dalam shalat. Hal ini ditunjukkan oleh kisah berikut :</p>
<p style="font-size: 18px;" align="right">عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ حَفْصَةَ أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا سَكَتَ الْمُؤَذِّنُ مِنْ الْأَذَانِ لِصَلَاةِ الصُّبْحِ وَبَدَا الصُّبْحُ رَكَعَ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ تُقَامَ الصَّلَاةُ</p>
<p><em>Dari Ibnu Umar, beliau berkata bahwasanya Hafshah Ummul Mukminin telah menceritakan kepadanya bahwa dahulu bila muadzin selesai mengumandangkan adzan untuk shalat subuh dan telah masuk waktu subuh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat sunnah dua rakaat dengan ringan sebelum melaksanakan shalat subuh.</em>( HR Bukhari 583).</p>
<p>Diceritakan juga oleh ibunda ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> :</p>
<p style="font-size: 18px;" align="right">كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ بَيْنَ النِّدَاءِ وَالْإِقَامَةِ مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ</p>
<p><em>“Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dua rakaat ringan antara adzan dan iqamat shalat subuh</em>.”(HR. Bukhari 584)</p>
<p>‘Asiyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> juga menjelaskan ringannya shalat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dengan menyatakan :</p>
<p style="font-size: 18px;" align="right">كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُخَفِّفُ الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الصُّبْحِ حَتىَّ إِنِّيْ لأَقُوْلُ : هَلْ قَرَأَ بِأُمِّ الْكِتَابِ؟</p>
<p>“<em>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meringankan dua rakaat shalat sunnah subuh sebelum shalat fardhu Subuh, sampai-sampai aku bertanya : “Apakah beliau membaca surat Al-Fatihah?</em>” (HR Bukhari 1095 dan Muslim 1189)</p>
<p>Hadits-hadits di atas menunjukkan sunnahnya memperingan shalat ketika melaksanakan shalat sunnah subuh. Tentu saja yang dimaksud meringankan shalat di sini dengan tetap menjaga rukun dan hal-hal yang wajib dalam shalat.</p>
<p><strong><span style="color: #ff0000;">Bacaan Pada Setiap Rakaat</span></strong></p>
<p>Terdapat beberapa hadits yang menyebutkan bacaan surat yang biasa dibaca Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> setelah membaca surat Al Fatihah dalam shalat sunnah subuh.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Pertama</span>. Hadits dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> yang berbunyi :</p>
<p style="font-size: 18px;" align="right">أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ فِي رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ</p>
<p><em>“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca dalam dua rakaat shalat sunnah subuh surat Al Kafirun dan surat Al Ikhlas” </em>(H.R Muslim 726)</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Kedua</span>. Hadits dari Ibnu ‘Abbas<em> radhiyallahu ‘anhuma</em> yang berbunyi :</p>
<p style="font-size: 18px;" align="right">أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ فِي رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ فِي الْأُولَى مِنْهُمَا قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا الْآيَةَ الَّتِي فِي الْبَقَرَةِ وَفِي الْآخِرَةِ مِنْهُمَا آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ</p>
<p><em>“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam dua rakaat shalat sunnah subuh membaca ayat</em> قُولُواْ آمَنَّا بِاللّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا  <em>(Al Baqarah 136) pada rakaat pertama  dan membaca</em> آمَنَّا بِاللّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ  <em>(Ali Imran 52) pada rakaat kedua”</em> ( HR. Muslim 727).</p>
<p>Ketiga.Hadits dari Ibnu ‘Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma</em> yang berbunyi,</p>
<p style="font-size: 18px;" align="right">عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَالَّتِي فِي آلِ عِمْرَانَ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ</p>
<p><em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam dua rakaat shalat sunnah subuh membaca firman Allah</em> قُولُواْ آمَنَّا بِاللّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا <em>(Al Baqarah 136) dan membaca </em>تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ<em> (Ali Imran 64)</em>” (HR. Muslim 728).</p>
<p>Ringkasnya, ada tiga jenis variasai yang biasa dibaca Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam shalat sunnah subuh, yaitu :</p>
<ol>
<li>Rakaat pertama membaca surat Al Kafirun dan rakaat kedua membaca surat Al Ikhlas</li>
<li>Rakaat pertama membaca  ayat dalam surat Al Baqarah 136:
<p style="font-size: 18px;" align="right">قُولُواْ آمَنَّا بِاللّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ</p>
<p>Rakaat kedua membaca ayat dalam surat Ali Imran 52 :</p>
<p style="font-size: 18px;" align="right">فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَى مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنصَارِي إِلَى اللّهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنصَارُ اللّهِ آمَنَّا بِاللّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ</p>
</li>
<li>Rakaat pertama membaca ayat dalam surat Al Baqarah 136:
<p style="font-size: 18px;" align="right">ُولُواْ آمَنَّا بِاللّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ</p>
<p>Rakaat kedua membaca ayat dalam surat Ali Imran ayat 64 :</p>
<p style="font-size: 18px;" align="right">قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْاْ إِلَى كَلَمَةٍ سَوَاء بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلاَّ نَعْبُدَ إِلاَّ اللّهَ وَلاَ نُشْرِكَ بِهِ شَيْئاً وَلاَ يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضاً أَرْبَاباً مِّن دُونِ اللّهِ فَإِن تَوَلَّوْاْ فَقُولُواْ اشْهَدُواْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ</p>
</li>
</ol>
<p>Itulah beberapa ayat yang biasa dibaca Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam shalat sunnah subuh. Namun demikian tetap dibolehkan juga membaca selain ayat-ayat di atas.</p>
<p><strong><span style="color: #ff0000;">Berbaring Sejenak Setelahnya</span></strong></p>
<p>Terdapat beberapa hadits yang menyebutkan bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> biasa berbaring di sisi tubuh sebelah kanan setelah melakukan shalat sunnah subuh. Di antaranya adalah hadits berikut :</p>
<p style="font-size: 18px;" align="right">كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص اِذَا سَكَتَ اْلمُؤَذّنُ بِاْلأُوْلَى مِنْ صَلاَةِ اْلفَجْرِ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ خَفِيْفَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ اْلفَجْرِ بَعْدَ اَنْ يَسْتَبِيْنَ اْلفَجْرُ ثُمَّ اضْطَجَعَ عَلَى شِقّهِ اْلاَيْمَنِ حَتَّى يَأْتِيَهُ اْلمُؤَذّنُ لِلإِقَامَةِ</p>
<p>“<em>Apabila muadzdzin telah selesai adzan untuk shalat subuh, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum shalat subuh, beliau shalat ringan lebih dahulu dua rakaat sesudah terbit fajar. Setelah itu beliau berbaring pada sisi lambung kanan beliau sampai datang muadzin kepada beliau untuk iqamat shalat subuh</em>.” (HR Bukhari 590)</p>
<p>Para ulama berbeda pendapat tentang hukum berbaring setelah shalat sunnah subuh dalam beberapa pendapat :</p>
<p><strong>Pertama</strong>. Hukumnya sunnah secara mutlak. Ini adalah madzhab Syafi’i dan ini adalah pendapat Abu Musa Al ‘Asy’ari, Rafi’ bin Khadij, Anas bin Malik, dan Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhum</em>.</p>
<p><strong>Kedua</strong>. Hukumnya wajib. Ini adalah madzhab Abu Muhammad bin Hazm <em>rahimahullah</em>. Bahkan beliau terlalu berlebihan  dengan menjadikannya sebagai syarat sahnya shalat subuh. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> berkata sebagaimana dinukil Imam Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> dalam <em>Zaadul Ma’ad</em> I/319 : “ Ini adalah termasuk pendapat yang beliau bersendiri dengan pendapat tersebut dari para imam yang lain”</p>
<p><strong>Ketiga</strong>. Hukumnya makruh. Ini merupakan pendapat kebanyakan para salaf. Di anatarnya adalah Ibnu Mas’ud, Ibnul Musayyib, dan An Nakha’i <em>rahimahumullah</em>. Al Qadhi ‘Iyad <em>rahimahullah</em> menyebutkan ini merupakan pendapat jumhur ulama. Mereka berpendapat bahwa tidak diketahui dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>  bahwa beliau melakukannya di masjid. Seandainya beliau melakukannya, tentu akan dinukil secara mutawatir.</p>
<p><strong>Keempat</strong>. Hukumnya menyelisihi perkara yang lebih utama. Ini adalah pendapat Hasan Al Bashri <em>rahimahullah</em>.</p>
<p><strong>Kelima</strong>. Hukumnya <em>mustahab</em> bagi yang melakukan shalat malam agar dapat beristirahat. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Ibnul ‘Arabi dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahumallah</em>.</p>
<p><strong>Keenam</strong>. Berbaring di sini bukanlah inti yang dimaksud, namun yang dimaksud adalah memisahkan antara shalat sunnah dan shalat wajib. Ini diriwayatkan dari pendapat Imam Syafi’i. Namun pendapat ini tertolak,  sebab pemisahan waktu memungkinkan dilakukan dengan selain berbaring.</p>
<p>Kesimpulannya, yang lebih tepat dari pendapat-pendapat di atas bahwa berbaring setelah shalat sunnah subuh hukumnya <em>mustahab</em> (dianjurkan), asalkan memenuhi dua syarat :</p>
<ol>
<li>Berbaring dilakukan di rumah dan bukan di masjid karena tidak pernah dinukil dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bahwa beliau melakukannya di dalam masjid.</li>
<li>Hendaknya orang yang melakukan sunnah ini, mampu untuk bangun kembali dan tidak tertidur sehingga tidak terlambat untuk melakukan shalat subuh secara berjamaah.</li>
</ol>
<p><strong><span style="color: #ff0000;">Lakukanlah di Rumah</span></strong></p>
<p>Inilah yang dicontohkan oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam melaksanakan shalat-shalat sunnah.. Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> biasa melakukan shalat sunnah di rumah dan memerintahkan agar rumah kita diisi dengan ibadah shalat. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p style="font-size: 18px;" align="right">اجْعَلُوا فِى بُيُوتِكُمْ مِنْ صَلاَتِكُمْ ، وَلاَ تَتَّخِذُوهَا قُبُورًا</p>
<p>“<em>Jadikanlah shalat (sunnah) kalian di rumah kalian. Janganlah jadikan rumah kalian seperti kuburan</em>.” (HR. Bukhari  1187)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam hadits lain, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda :</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="font-size: 18px;" align="right">أَفْضَلُ صَلاَةِ الْمَرْءِ فِى بَيْتِهِ إِلاَّ الْمَكْتُوبَةَ</p>
<p>“<em>Sebaik-baik shalat seseorang adalah shalat di rumahnya kecuali shalat wajib</em>.” (HR. Bukhari no. 731 dan Ahmad 5: 186, dengan lafazh Ahmad)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Termasuk petunjuk Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah melakukan shalat sunnah di rumah, termasuk shalat sunnah subuh. Namun, jika dikhawatirkan ketinggalan shalat berjamaah di masjid atau terluput dari mendapatkan shaf pertama, maka diperbolehkan untuk melaksanakannya di masjid.</p>
<p><strong><span style="color: #ff0000;">Jika Terluput Melakukannya</span></strong></p>
<p>Disyariatkan bagi yang tidak sempat melakukan shalat sunnah subuh untuk melaksanakannya setelah selesai shalat subuh atau setelah terbit matahari. Hal tersebut berdasarkan dalil-dalil di bawah ini.</p>
<p>Hadits Abu Hurairah <em>rahidyallahu ‘anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p style="font-size: 18px;" align="right">مَنْ لَمْ يُصَلِّ رَكْعَتَي الْفَجْرِ ؛ فَلْيُصَلِّهُمَا بَعْدَ مَا تَطْلُعُ الشَّمْسُ</p>
<p><em> “Barangsiapa yang belum shalat sunnah dua rakaat subuh maka hendaknya melakukannya setelah terbit matahari”</em>. (HR. At Tirmidzi  424, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam <em>Shahih Sunan At Tirmidzi</em>: 1/133).</p>
<p>Hadits ini menunjukkan disyariatkan bagi orang yang belum sempat melaksanakan shalat sunnah subuh agar meng-<em>qadha’</em>-nya setelah matahari terbit.</p>
<p>Boleh juga dikerjakan tepat setelah selesai shalat subuh.Dalam hadits yang lain disebutkan :</p>
<p style="font-size: 18px;" align="right">عَنْ قَيْسِ بْنِ قَهْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ؛ أَنَّهُ صَلَّى مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ الصُّبْحَ ، وَلَمْ يَكُنْ رَكَعَ رَكْعَتَي الْفَجْرِ ، فَلَمَّا سَلَّمَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ؛ سَلَّمَ مَعَهُ ، ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَي الْفَجْرِ ، وَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَنْظُرُ إِلَيْهِ ، فَلَمْ يُنْكِرْ ذَلِكَ عَلَيْهِ</p>
<p>Dari Qais bin Qahd <em>radhiyallahu’anhu</em>, bahwasanya ia shalat shubuh bersama Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan belum melakukan shalat sunnah dua rakaat <em>qabliyah</em> subuh. Ketika Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah salam maka ia pun salam bersama beliau, kemudian ia bangkit dan melakukan shalat dua rakaat <em>qabliyah</em> subuh, dan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melihat perbuatan tersebut dan tidak mengingkarinya. (HR. At Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam <em>Shahih Sunan At Tirmidzi:</em> 1/133).</p>
<p>Kesimpulannya, diperbolehkan meng-<em>qadha </em>dua rakaat shalat sunnah <em>qabliyah</em> subuh setelah shalat subuh yang<em> </em>wajib. Pelaksanaannya bisa langsung setelah selesai shalat wajib atau setelah matahari terbit.</p>
<p><strong><span style="color: #ff0000;">Bersemangatlah Menjaganya</span></strong></p>
<p>Saudaraku, bersemangatlah untuk menjaga dua rakaat ini. Amalan yang ringan, namun besar pahalanya. Dan sebaik-baik amalan, adalah amalan yang kontinyu dalam pelaksanaannya. Dari ’Aisyah <em>radhiyallahu ’anha</em>, beliau mengatakan bahwa Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> bersabda :</p>
<p style="font-size: 18px;" align="right"> أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ</p>
<p>“<em>Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinyu, walaupun sedikit.” </em>(HR. Muslim 783)<br />
Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mencela seseorang yang tidak kontinyu dalam beramal. Dikisahkan oleh sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berkata padaku :</p>
<p style="font-size: 18px;" align="right">يَا عَبْدَ اللَّهِ ، لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ ، كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ</p>
<p>“<em>Wahai ‘Abdullah, janganlah engkau seperti si fulan. Dulu dia biasa mengerjakan shalat malam, namun sekarang dia tidak mengerjakannya lagi</em>.” (HR. Bukhari 1152)<br />
Semoga sajian ringkas ini bermanfaat. Semoga Allah <em>Ta’ala</em> memberi taufik kepada kita untuk senantiasa melaksanakan amalan-amalan sunnah. <em>Wallahul musta’an</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Catatan redaksi:</span></p>
<p>Shalat sunnah fajar sama istilahnya dengan shalat sunnah qabliyah shubuh. Sebagian orang membedakan kedua istilah ini karena hanya salah paham. Namun yang benar keduanya itu sama yaitu dikerjakan setelah adzan shubuh.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber    : <em>Shahih Fiqh Sunnah</em> karya Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim <em>hafidzahullah</em></p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penyusun : dr. Adika Mianoki</p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-8485"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Fshalat-sunnah-fajar-jangan-sampai-ditinggalkan.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/shalat-sunnah-fajar-jangan-sampai-ditinggalkan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Larangan Bagi Wanita Haid</title>
		<link>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/larangan-bagi-wanita-haid.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/larangan-bagi-wanita-haid.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Feb 2012 04:00:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh dan Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Haid]]></category>
		<category><![CDATA[haidh]]></category>
		<category><![CDATA[Haji]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan intim]]></category>
		<category><![CDATA[jima']]></category>
		<category><![CDATA[larangan]]></category>
		<category><![CDATA[menstruasi]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[Shalat]]></category>
		<category><![CDATA[thawaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8347</guid>
		<description><![CDATA[Darah haid adalah darah normal pada wanita, berwarna hitam pekat dan berbau tidak enak, keluar dari tempat dan waktu tertentu. Darah ini penting sekali dipahami baik bagi wanita itu sendiri, termasuk pula bagi pria karena<a class="more" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/larangan-bagi-wanita-haid.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Darah haid adalah darah normal pada wanita, berwarna hitam pekat dan berbau tidak enak, keluar dari tempat dan waktu tertentu. Darah ini penting sekali dipahami baik bagi wanita itu sendiri, termasuk pula bagi pria karena ia nantinya menjadi pendamping wanita atau memiliki sanak keluarga  yang mesti ia jelaskan tentang masalah ini. Yang muslim.or.id angkat kali ini mengenai masalah larangan bagi wanita haid. Yaitu hal-hal apa saja yang tidak boleh dilakukan. Dan hal yang dilarang ini juga berlaku bagi wanita nifas. Juga ada sedikit penjelasan mengenai hal-hal yang sebenarnya bukan larangan.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Larangan pertama: Shalat</strong></span></p>
<p>Para ulama sepakat bahwa diharamkan shalat bagi wanita haid dan nifas, baik shalat wajib maupun shalat sunnah. Dan mereka pun sepakat bahwa wanita haid tidak memiliki kewajiban shalat dan tidak perlu mengqodho’ atau menggantinya ketika ia suci.</p>
<p>Dari Abu Sai’d, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p dir="RTL" align="center">أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ ، وَلَمْ تَصُمْ فَذَلِكَ نُقْصَانُ دِينِهَا</p>
<p>&#8220;<em>Bukankah bila si wanita haid ia tidak shalat dan tidak pula puasa?</em> <em>Itulah kekurangan agama si wanita</em>. (Muttafaqun ‘alaih, HR. Bukhari no. 1951 dan Muslim no. 79)</p>
<p>Dari Mu’adzah, ia berkata bahwa ada seorang wanita yang berkata kepada ‘Aisyah,</p>
<p dir="RTL" align="center">أَتَجْزِى إِحْدَانَا صَلاَتَهَا إِذَا طَهُرَتْ فَقَالَتْ أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ كُنَّا نَحِيضُ مَعَ النَّبِىِّ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; فَلاَ يَأْمُرُنَا بِهِ . أَوْ قَالَتْ فَلاَ نَفْعَلُهُ</p>
<p>“<em>Apakah kami perlu mengqodho’ shalat kami ketika suci?” ‘Aisyah menjawab, “Apakah engkau seorang Haruri? Dahulu kami mengalami haid di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup, namun beliau tidak memerintahkan kami untuk mengqodho’nya. Atau ‘Aisyah berkata, “Kami pun tidak mengqodho’nya</em>.” (HR. Bukhari no. 321)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Larangan kedua: Puasa</strong></span></p>
<p>Dalam hadits Mu’adzah, ia pernah bertanya pada ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha,</em></p>
<p dir="RTL" align="center">مَا بَالُ الْحَائِضِ تَقْضِى الصَّوْمَ وَلاَ تَقْضِى الصَّلاَةَ فَقَالَتْ أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ قُلْتُ لَسْتُ بِحَرُورِيَّةٍ وَلَكِنِّى أَسْأَلُ. قَالَتْ كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ.</p>
<p><em>&#8216;Kenapa gerangan wanita yang haid mengqadha&#8217; puasa dan tidak mengqadha&#8217; shalat?&#8217; Maka Aisyah menjawab, &#8216;Apakah kamu dari golongan Haruriyah? &#8216; Aku menjawab, &#8216;Aku bukan Haruriyah, akan tetapi aku hanya bertanya.&#8217; Dia menjawab, &#8216;Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha&#8217; puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha&#8217; shalat&#8217;</em>.&#8221; (HR. Muslim no. 335) Berdasarkan kesepakatan para ulama pula, wanita yang dalam keadaan haid dan nifas tidak wajib puasa dan wajib mengqodho’ puasanya. (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 28/ 20-21)<strong></strong></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Larangan ketiga: Jima’ (Hubungan intim di kemaluan)</strong></span></p>
<p>Imam Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata, “Kaum muslimin sepakat akan haramnya menyetubuhi wanita haid berdasarkan ayat Al Qur’an dan hadits-hadits yang shahih.” (Al Majmu’, 2: 359) Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> berkata, “Menyetubuhi wanita nifas adalah sebagaimana wanita haid yaitu haram berdasarkan kesepakatan para ulama.” (Majmu’ Al Fatawa, 21: 624)</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL" align="center">فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ</p>
<p>“<em>Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari (hubungan intim dengan) wanita di waktu haid</em>.” (QS. Al Baqarah: 222). Imam Nawawi berkata, “<em>Mahidh</em> dalam ayat bisa bermakna darah haid, ada pula yang mengatakan waktu haid dan juga ada yang berkata tempat keluarnya haid yaitu kemaluan. … Dan menurut ulama Syafi’iyah, maksud <em>mahidh</em> adalah darah haid.” (Al Majmu’, 2: 343)</p>
<p>Dalam hadits disebutkan,</p>
<p dir="RTL" align="center">مَنْ أَتَى حَائِضًا أَوِ امْرَأَةً فِى دُبُرِهَا أَوْ كَاهِنًا فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم-</p>
<p>“<em>Barangsiapa yang menyetubuhi wanita haid atau menyetubuhi wanita di duburnya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-</em>.” (HR. Tirmidzi no. 135, Ibnu Majah no. 639. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Al Muhamili dalam Al Majmu’ (2: 359) menyebutkan bahwa Imam Asy Syafi’i <em>rahimahullah</em> berkata, “Barangsiapa yang menyetubuhi wanita haid, maka ia telah terjerumus dalam dosa besar.”</p>
<p>Hubungan seks yang dibolehkan dengan wanita haid adalah bercumbu selama tidak melakukan jima’ (senggama) di kemaluan. Dalam hadits disebutkan,</p>
<p dir="RTL" align="center">اصْنَعُوا كُلَّ شَىْءٍ إِلاَّ النِّكَاحَ</p>
<p>“<em>Lakukanlah segala sesuatu (terhadap wanita haid) selain jima’ (di kemaluan).</em>” (HR. Muslim no. 302)</p>
<p>Dalam riwayat yang <em>muttafaqun ‘alaih</em> disebutkan,</p>
<p dir="RTL" align="center">عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَتْ إِحْدَانَا إِذَا كَانَتْ حَائِضًا ، فَأَرَادَ رَسُولُ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; أَنْ يُبَاشِرَهَا ، أَمَرَهَا أَنْ تَتَّزِرَ فِى فَوْرِ حَيْضَتِهَا ثُمَّ يُبَاشِرُهَا . قَالَتْ وَأَيُّكُمْ يَمْلِكُ إِرْبَهُ كَمَا كَانَ النَّبِىُّ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; يَمْلِكُ إِرْبَهُ</p>
<p>Dari &#8216;Aisyah, ia berkata bahwa di antara istri-istri Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ada yang mengalami haid. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ingin bercumbu dengannya. Lantas beliau memerintahkannya untuk memakai sarung agar menutupi tempat memancarnya darah haid, kemudian beliau tetap mencumbunya (di atas sarung). Aisyah berkata, “<em>Adakah di antara kalian yang bisa menahan hasratnya (untuk berjima’) sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menahannya?</em>”   (HR. Bukhari no. 302 dan Muslim no. 293). Imam Nawawi menyebutkan judul bab dari hadits di atas, “Bab mencumbu wanita haid di atas sarungnya”. Artinya di selain tempat keluarnya darah haid atau selain kemaluannya.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Larangan keempat: Thawaf Keliling Ka’bah</strong></span></p>
<p>Ketika ‘Aisyah haid saat haji, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda padanya,</p>
<p dir="RTL" align="center">فَافْعَلِى مَا يَفْعَلُ الْحَاجُّ ، غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِى بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِى</p>
<p> “<em>Lakukanlah segala sesuatu yang dilakukan orang yang berhaji selain dari melakukan thawaf di Ka’bah hingga engkau suci.</em>”  (HR. Bukhari no. 305 dan Muslim no. 1211)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Larangan kelima: Menyentuh mushaf Al Qur’an</strong></span></p>
<p>Orang yang berhadats (hadats besar atau hadats kecil) tidak boleh menyentuh mushaf seluruh atau sebagiannya. Inilah pendapat para ulama empat madzhab. Dalil dari hal ini adalah firman Allah Ta’ala,</p>
<p dir="RTL" align="center">لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ</p>
<p>“<em>Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan</em>” (QS. Al Waqi’ah: 79)</p>
<p>Begitu pula sabda Nabi <em>‘alaihish sholaatu was salaam</em>,</p>
<p dir="RTL" align="center">لاَ تَمُسُّ القُرْآن إِلاَّ وَأَنْتَ طَاهِرٌ</p>
<p>“<em>Tidak boleh menyentuh Al Qur’an kecuali engkau dalam keadaan suci</em>.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya, beliau mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)</p>
<p>Bagaimana dengan membaca Al Qur’an? Para ulama empat madzhab sepakat bolehnya membaca Al Qur’an bagi orang yang berhadats baik hadats besar maupun kecil selama tidak menyentuhnya.</p>
<p>Syaikh Ibnu Baz <em>rahimahullah </em>berkata, “Diperbolehkan bagi wanita haid dan nifas untuk membaca Al Qur’an menurut pendapat ulama yang paling kuat. Alasannya, karena tidak ada dalil yang melarang hal ini. Namun, seharusnya membaca Al Qur’an tersebut tidak sampai menyentuh mushaf Al Qur’an. Kalau memang mau menyentuh Al Qur’an, maka seharusnya dengan menggunakan pembatas seperti kain yang suci dan semacamnya (bisa juga dengan sarung tangan, pen). Demikian pula untuk menulis Al Qur’an di kertas ketika hajat (dibutuhkan), maka diperbolehkan dengan menggunakan pembatas seperti kain tadi.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 10: 209-210)</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Hal-Hal yang Masih Dibolehkan bagi Wanita Haid dan Nifas</strong></span></p>
<ol>
<li>Membaca Al Qur’an tanpa menyentuhnya.</li>
<li>Berdzikir.</li>
<li>Bersujud ketika mendengar ayat sajadah karena sujud tilawah tidak dipersyaratkan thoharoh menurut pendapat paling kuat.</li>
<li>Menghadiri shalat ‘ied.</li>
<li>Masuk masjid karena tidak ada dalil tegas yang melarangnya.</li>
<li>Melayani suami selama tidak melakukan jima’ (hubungan intim di kemaluan).</li>
<li>Tidur bersama suami.</li>
</ol>
<p>Adapun tentang masalah lainnya, muslim.or.id akan membahasnya di kesempatan yang lain, <em>bi idznillah</em>.</p>
<p align="center"><em>Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>@ Riyadh, KSA, 13 Rabi’ul Awwal 1433 H</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Muhammad Abdul Tuasikal<br />
Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-8347"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Flarangan-bagi-wanita-haid.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/larangan-bagi-wanita-haid.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pria yang Tidak Lalai dari Mengingat Allah</title>
		<link>http://muslim.or.id/tafsir/pria-yang-tidak-lalai-dari-mengingat-allah.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/tafsir/pria-yang-tidak-lalai-dari-mengingat-allah.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jan 2012 04:00:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Shalat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat jama'ah]]></category>
		<category><![CDATA[taat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8203</guid>
		<description><![CDATA[Inilah sifat pria yang tidak lalai dari mengingat Allah. Kesibukan dunia mereka tidak membuat mereka berpaling dari ketaatan dan perintah Allah. Perdagangan dan jual beli pun tidak membuat mereka jauh dari Allah. Ketika ada panggilan<a class="more" href="http://muslim.or.id/tafsir/pria-yang-tidak-lalai-dari-mengingat-allah.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Inilah sifat pria yang tidak lalai dari mengingat Allah. Kesibukan dunia mereka tidak membuat mereka berpaling dari ketaatan dan perintah Allah. Perdagangan dan jual beli pun tidak membuat mereka jauh dari Allah. Ketika ada panggilan shalat, mereka pun memenuhi panggilan tersebut. Dan lisan mereka tidaklah lepas dari <em>dzikrullah</em>.</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL" align="center">رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ</p>
<p>“<em>Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.</em>” (QS. An Nur: 37)</p>
<p>Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di <em>rahimahullah </em>menerangkan,</p>
<p>Ia adalah pria yang dunianya tidak membuatnya jauh dari Rabbnya. Sama sekali kesibukan perniagaan dan mencari nafkah tidaklah mempengaruhinya. <em>Tijaroh</em> (perniagaan) di sini mencakup segala bentuk perdagangan untuk meraih upah. Sedangkan <em>bai’</em> (jual beli) adalah bentuk lebih khusus dari perniagaan. Karena dalam perniagaan lebih banyak ditemukan transaksi jual beli. Pujian pada pria di sini bagi mereka yang berdagang dan melakukan jual beli, dan asalnya perbuatan tersebut tidaklah terlarang. Meskipun tidak terlarang, akan tetapi hal-hal tadi tidaklah mempengaruhi mereka dari mengingat Allah, mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Bahkan mereka menjadikan ibadah dan ketaatan pada Allah sebagian tujuan hidup mereka. Jadi perdagangan tadi tidaklah sama sekali menghalangi mereka menggapai ridho Allah.</p>
<p>Namun hati kebanyakan orang adalah sangat menaruh perhatian pada dunia. Mereka sangat mencintai penghidupan mereka. Dan sangat sulit mereka –pada umumnya- meninggalkan dunia mereka. Bahkan mereka pun bersusah payah hingga meninggalkan kewajiban pada Allah. Berbeda dengan yang disebutkan dalam ayat ini, <em>mereka begitu takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang</em>. Karena mengingat kegoncangan hari kiamat tersebut, akhirnya mereka pun semakin mudah beramal dan meninggalkan hal yang melalaikan mereka dari Allah. (Taisir Al Karimir Rahman, 569)</p>
<p>Yang dimaksud dengan dzikir pada Allah (<em>dzikrullah</em>) dalam ayat di atas, ada tiga pendapat:</p>
<ol start="1">
<li>Shalat lima waktu</li>
<li>Mengerjakan hak Allah</li>
<li>Dzikir pada Allah dengan lisan.</li>
</ol>
<p>Sedangkan yang dimaksud dengan menegakkan shalat adalah mengerjakan tepat waktu dan menyempurnakannya. (Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi)</p>
<p>Sa’id bin Abul Hasan dan Adh Dhohak berkata,</p>
<p dir="RTL" align="center">لا تلهيهم التجارة والبيع أن يأتوا الصلاة في وقتها</p>
<p>“Yang dimaksud ayat tersebut adalah mereka perniagaan dan jual beli tidaklah membuat mereka lalai dari mendatangi shalat tepat pada waktunya.”</p>
<p>Mathor Al Warroq berkata,</p>
<p dir="RTL" align="center">كانوا يبيعون ويشترون، ولكن كان أحدهم إذا سمع النداء وميزانُه في يده خفضه، وأقبل إلى الصلاة.</p>
<p>“Yang dimaksud ayat tersebut adalah mereka biasa melakukan jual beli. Akan tetapi jika mereka mendengar adzan lalu timbangan dagangan mereka berada di tangan mereka, mereka pun meninggalkannya. Lalu mereka memenuhi panggilan shalat.”</p>
<p>As Suddi mengatakan mengenai ayat tersebut,</p>
<p dir="RTL" align="center">عن الصلاة في جماعة</p>
<p>“Mereka tidak lalai dari shalat jama’ah” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 10: 252-253)</p>
<p>Dalam ayat disebutkan,</p>
<p dir="RTL" align="center">تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ</p>
<p><em>“Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang”. </em>Yaitu hati mereka dalam keadaan khawatir apakah mereka akan selamat ataukah celaka. Dan penglihatan mereka pun kebingungan melihat kiri dan kanan. (Tafsir Al Jalalain)</p>
<p>Ayat di atas serupa dengan ayat,</p>
<p dir="RTL" align="center">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ</p>
<p>“<em>Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.</em>” (QS. Al Munafiqun: 9)</p>
<p dir="RTL" align="center">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ</p>
<p>“<em>Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum&#8217;at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui</em>.” (QS. Al Jum’ah: 9)</p>
<p>Apa balasan Allah pada laki-laki yang punya sifat demikian?</p>
<p dir="RTL" align="center">لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ</p>
<p>“<em>(Meraka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.</em>” (QS. An Nur: 38). Jika disebut seseorang berinfak tanpa batas, maksudnya karena saking banyaknya sehingga infak yang diberikan tidak bisa dihitung (Lihat Tafsir Al Jalalain).</p>
<p align="center"><em>Ya Allah, jadikanlah kami seperti yang disebutkan dalam ayat ini. </em></p>
<p align="center"><em>Semoga perdagangan dan kesibukan kami mencari nafkah tidak membuat kami lalai dari mengingat Allah, shalat pada waktunya dan kewajiban lainnya. Semoga lisan ini pun dimudahkan untuk selalu sibuk dengan dzikir mengingat Allah di kala waktu senggang dan waktu sibuk.</em></p>
<p align="center"><em>Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>@ Riyadh KSA, 4 Muharram 1432 H</p>
<p>Penulis: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-8203"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ftafsir%2Fpria-yang-tidak-lalai-dari-mengingat-allah.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/tafsir/pria-yang-tidak-lalai-dari-mengingat-allah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Mengacungkan Telunjuk Saat Duduk Antara Dua Sujud</title>
		<link>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/hukum-mengacungkan-telunjuk-saat-duduk-antara-dua-sujud.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/hukum-mengacungkan-telunjuk-saat-duduk-antara-dua-sujud.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Jan 2012 22:00:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh dan Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Shalat]]></category>
		<category><![CDATA[sifat shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8176</guid>
		<description><![CDATA[Mengacungkan telunjuk di saat shalat, yang lazim dan umum di antara kaum muslimin adalah saat duduk tasyahud, baik awal maupun akhir. Bagaimana dengan mengacungkannya saat duduk di antara dua sujud? Apakah juga disunnahkan untuk melakukan<a class="more" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/hukum-mengacungkan-telunjuk-saat-duduk-antara-dua-sujud.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Mengacungkan telunjuk di saat shalat, yang lazim dan umum di antara kaum muslimin adalah saat duduk tasyahud, baik awal maupun akhir. Bagaimana dengan mengacungkannya saat duduk di antara dua sujud? Apakah juga disunnahkan untuk melakukan hal tersebut?</p>
<p>Dalam hadits di <em>Shahih Muslim, </em>Kitâb al-Masâjid wa Mawâdhi’ ash-Shalât, Bâb Shifat al-Julûs… (V/81 no. 1307) disebutkan bahwa Nabi <em>shallallahu’alaihiwasallam </em><strong>manakala duduk saat shalat, beliau mengacungkan jari telunjuknya.</strong> Berikut redaksi lengkap hadits tersebut:</p>
<p style="text-align: center;">عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ قَالَ: “كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَعَدَ فِي الصَّلَاةِ جَعَلَ قَدَمَهُ الْيُسْرَى بَيْنَ فَخِذِهِ وَسَاقِهِ وَفَرَشَ قَدَمَهُ الْيُمْنَى، وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُسْرَى، وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى، وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ“.</p>
<p>Abdullah bin az-Zubair <em>radhiyallahu’anhuma</em> menuturkan, <em>“Manakala Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam duduk dalam shalat, beliau menyelipkan kaki kirinya di antara paha dan betisnya dan menjulurkan kaki kanannya. Beliau meletakkan tangan kirinya di atas lutut kirinya dan meletakkan tangan kanannya di atas paha kanannya serta mengacungkan jarinya”.</em></p>
<p>Masih di <em>Shahih Muslim </em>juga, dalam Kitab dan Bab yang sama, di (V/81 no. 1308) disebutkan bahwa Rasulullah <em>shallallahu’alaihiwasallam </em>jika <strong>duduk berdoa saat shalat, beliau mengacungkan jari telunjuknya.</strong></p>
<p>Berikut redaksi lengkap haditsnya:</p>
<p style="text-align: center;">عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ قَالَ: “كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَعَدَ يَدْعُو وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَيَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى، وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ السَّبَّابَةِ وَوَضَعَ إِبْهَامَهُ عَلَى إِصْبَعِهِ الْوُسْطَى وَيُلْقِمُ كَفَّهُ الْيُسْرَى رُكْبَتَهُ”.</p>
<p>Abdullah bin az-Zubair <em>radhiyallahu’anhuma</em> bertutur, <em>“Tatkala Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam duduk berdoa, beliau meletakkan tangan kanannya di atas paha kanannya dan tangan kirinya di atas paha kirinya, serta mengacungkan jari telunjuknya sembari menggandengkan antara jempol dengan jari tengahnya, dan mencengkeramkan telapak tangan kirinya ke lututnya”.</em></p>
<p>Dua hadits di atas menunjukkan -secara global- disyariatkannya mengacungkan telunjuk saat duduk ketika shalat. Dan dua hadits tersebut masih bersifat umum, belum menjelaskan secara spesifik, duduk yang mana yang dimaksud.<a id="_ftnref1" name="_ftnref1" href="http://tunasilmu.com/hukum-mengacungkan-telunjuk-saat-duduk-antara-dua-sujud.html#_ftn1"></a><sup>1</sup></p>
<p>Sebagaimana telah maklum bahwa duduk ketika shalat bermacam-macam. Ada duduk tasyahud awal, duduk tasyahud tsani, duduk antara dua sujud dan duduk istirâhah<a id="_ftnref2" name="_ftnref2" href="http://tunasilmu.com/hukum-mengacungkan-telunjuk-saat-duduk-antara-dua-sujud.html#_ftn2"></a><sup>2</sup>. Apakah dua hadits di atas dan yang senada mencakup empat jenis duduk tersebut, atau yang dimaksud hanyalah duduk tasyahud awal dan tasyahud tsani?</p>
<p>Ada <strong>beberapa hadits sahih yang menunjukkan bahwa duduk yang dimaksud di atas adalah duduk tasyahud, baik awal maupun tsani.</strong></p>
<p>Di antaranya: hadits dalam <em>Sunan an-Nasâ’i, </em>Kitâb al-Iftitâh, Bâb al-Isyârah bi al-Ushbu’ fî at-Tasyahhud al-Awwal (II/327), dan dinilai sahih oleh al-Albany dalam <em>Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah </em>(V/313 no. 2248). Hadits tersebut berbunyi:</p>
<p style="text-align: center;">عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ قَالَ: “كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا جَلَسَ فِي الثِّنْتَيْنِ أَوْ فِي الْأَرْبَعِ يَضَعُ يَدَيْهِ عَلَى رُكْبَتَيْهِ ثُمَّ أَشَارَ بِأُصْبُعِهِ“.</p>
<p>Abdullah bin az-Zubair <em>radhiyallahu’anhuma</em> menceritakan, <em>“Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam manakala duduk di raka’at kedua, atau di raka’at keempat, beliau meletakkan kedua tangannya di atas kedua lututnya lalu mengacungkan jarinya”.</em></p>
<p>Senada dengan hadits di atas, hadits dalam <em>Shahîh Ibn Khuzaimah, </em>Kitâb ash-Shalat, Bâb Wadh’i al-Fakhidz al-Yumnâ ‘alâ al-Fakhidz al-Yusrâ… (I/367 no. 697), dengan redaksi berikut:</p>
<p style="text-align: center;">عن وائل بن حجر قال : “صليت مع النبي صلى الله عليه وسلم، فكبر حين دخل في الصلاة، ورفع يديه، وحين أراد أن يركع رفع يديه، وحين رفع رأسه من الركوع رفع يديه ووضع كفيه وجافى يعني في السجود وفرش فخذه اليسرى، وأشار بأصبعه السبابة يعني في الجلوس في التشهد“.</p>
<p>Wa’il bin Hujur <em>radhiyallahu’anhu </em>mengisahkan, <em>“Aku pernah shalat bersama Nabi shallallahu’alaihiwasallam. Beliau bertakbir sembari mengangkat kedua tangannya saat memulai shalat. Tatkala akan ruku’ beliau mengangkat kedua tangannya, juga manakala bangkit dari ruku’. Manakala sujud, beliau meletakkan kedua telapak tangannya dan melebarkannya. Beliau menjulurkan kaki kirinya dan mengacungkan jari telunjuknya, yakni tatkala duduk tasyahud”.</em></p>
<p>Hadits riwayat an-Nasa’i dan Ibn Khuzaimah di atas menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan duduk yang disyariatkan didalamnya mengacungkan jari telunjuk, bukanlah sembarang duduk, namun yang dimaksud adalah duduk saat tasyahud, baik awal maupun tsani.</p>
<p>Kaidah ilmu Ushul Fiqh menyatakan <em>“Yuhmal al-Muthlaq ‘alâ al-Muqayyad” </em>(nas yang bersifat global dipahami berdasarkan nas yang bersifat terperinci).</p>
<p>Adapun duduk antara dua sujud, juga duduk istirâhah, maka tidak disyariatkan mengacungkan telunjuk, sebab tidak adanya dalil yang menunjukkan praktek tersebut. <a id="_ftnref3" name="_ftnref3" href="http://tunasilmu.com/hukum-mengacungkan-telunjuk-saat-duduk-antara-dua-sujud.html#_ftn3"></a><sup>3</sup></p>
<p>Namun demikian, barangkali ada pembaca yang berkomentar bahwa ada ulama yang berpendapat disyariatkannya mengacungkan telunjuk saat duduk antara dua sujud.<a id="_ftnref4" name="_ftnref4" href="http://tunasilmu.com/hukum-mengacungkan-telunjuk-saat-duduk-antara-dua-sujud.html#_ftn4"></a><sup>4</sup> Argumentasinya: hadits yang diriwayatkan dalam <em>Mushannaf Abd ar-Razzâq, </em>Bâb Takbîrah al-Iftitâh wa Raf’i al-Yadain (II/68 no. 2522), bunyinya:</p>
<p style="text-align: center;">عن وائل بن حجر قال: “رمقت النبي صلى الله عليه وسلم … ثم جلس فافترش رجله اليسرى، ثم وضع يده اليسرى على ركبته اليسرى، وذراعه اليمنى على فخذه اليمنى، ثم أشار بسبابته، ووضع الابهام على الوسطى حلق بها، وقبض سائر أصابعه، ثم سجد…”.</p>
<p>Wa’il bin Hujur <em>radhiyallahu’anhu </em>bertutur, <em>“Aku memperhatikan Nabi shallallahu’alaihiwasallam (tatkala shalat) … Beliau duduk dan menjulurkan kaki kirinya, sembari meletakkan tangan kirinya di atas lutut kirinya, dan lengan kanannya di atas paha kanannya, lalu mengacungkan jarinya dan membuat lingkaran dengan mempertemukan ibu jarinya dengan jari tengah, kemudian beliau sujud. </em></p>
<p>Zahir hadits di atas menunjukkan bahwa saat duduk antara dua sujud pun juga disyariatkan mengacungkan telunjuk. Sebab hadits tersebut menyatakan bahwa setelah mengacungkan jari telunjuk, Nabi <em>shallallahu’alaihiwasallam </em>sujud. Ini menunjukkan bahwa acungan telunjuk tersebut dilakukan di antara dua sujud.<a id="_ftnref5" name="_ftnref5" href="http://tunasilmu.com/hukum-mengacungkan-telunjuk-saat-duduk-antara-dua-sujud.html#_ftn5"></a><sup>5</sup></p>
<p><strong>Jawabnya: </strong>hadits tersebut bermasalah dari sisi keabsahannya. Para pakar hadits menjelaskan bahwa tambahan kalimat “kemudian beliau sujud” setelah kalimat “mengacungkan jarinya” hanya ada dalam riwayat Sufyan ats-Tsaury. Dan ini menyelisihi riwayat para perawi lainnya yang tsiqah (terpercaya) dan jumlah mereka lebih banyak, di mana mereka tidak menyebutkan tambahan kalimat “kemudian beliau sujud” setelah kalimat “mengacungkan telunjuknya”. Bahkan banyak hadits yang menjelaskan bahwa acungan jari tersebut dilakukan setelah sujud kedua. Di antara para perawi tersebut: Za’idah bin Qudamah, Bisyr bin al-Mufaddhal, Sufyan bin ‘Uyainah, Syu’bah, Abu al-Ahwash, Khalid, Zuhair bin Mu’awiyah, Musa bin Abi Katsir dan Abu ‘Awanah.<a id="_ftnref6" name="_ftnref6" href="http://tunasilmu.com/hukum-mengacungkan-telunjuk-saat-duduk-antara-dua-sujud.html#_ftn6"></a><sup>6</sup></p>
<p>Dalam ilmu Musthalah Hadits, jenis riwayat bermasalah seperti dicontohkan di atas, diistilahkan dengan hadits Syâdz. Definisinya: riwayat yang dibawakan perawi tsiqah, namun riwayat tersebut menyelisihi riwayat yang disampaikan para perawi lain yang lebih kuat. Dan hadits jenis ini dikategorikan dha’if (lemah).<a id="_ftnref7" name="_ftnref7" href="http://tunasilmu.com/hukum-mengacungkan-telunjuk-saat-duduk-antara-dua-sujud.html#_ftn7"></a><sup>7</sup></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kesimpulan:</strong></p>
<p>Mengacungkan telunjuk saat duduk dalam shalat hanya disyariatkan dalam duduk tasyahud awal dan tasyahud tsani, adapun saat duduk di antara dua sujud maupun duduk istirâhah maka tidak disunnahkan. <em>Wallahu ta’ala a’lam.</em> (Abdullah Zaen).</p>
<p style="text-align: left;" dir="rtl"><strong>@Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 R Tsani 1432 / 31 Maret 2011</strong></p>
<p style="text-align: left;" dir="rtl">
<p style="text-align: left;" dir="rtl">Penulis:<a href="http://tunasilmu.com/hukum-mengacungkan-telunjuk-saat-duduk-antara-dua-sujud.html"> Ustadz Abdullah Zaen, MA<br />
</a>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<p><strong>Bahan Bacaan:</strong></p>
<ul>
<li><em>Tamâm al-Minnah fî at-Ta’lîq ‘alâ Fiqh as-Sunnah, </em>karya Syaikh Muhammad Nashirudin al-Albany, Riyadh: Dar ar-Rayah, cet V, 1419/1998.</li>
<li><em>Al-Mushannaf, </em>karya Imam Abdurrazzaq ash-Shan’any, <em>tahqiq </em>Habiburrahman al-A’zhamy, Beirut: al-Maktab al-Islamy, cet II, 1403/1983.</li>
<li><em>Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah, </em>karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany, Riyadh: Maktabah al-Ma’arif, tc, 1425/1995.</li>
<li><em>Zâd al-Ma’âd fî Hady Khair al-‘Ibâd, </em>karya Imam Ibn al-Qayyim, <em>tahqiq </em>Syu’aib al-Arna’uth dan Abdul Qadir al-Arna’uth, Beirut: Mu’assasah ar-Risalah, cet III, 1421/2000.</li>
<li><em>Shahîh Ibn Khuzaimah, </em>karya Imam Ibn Khuzaimah, <em>tahqiq </em>Dr. Muhammad Mushthafa al-A’zhamy, Beirut: al-Maktab al-Islamy, cet III, 1424/2003.</li>
<li><em>Shahîh Muslim bi Syarh al-Imam an-Nawawy, </em>karya Imam Muslim dan Imam an-Nawawy, <em>tahqiq </em>Khalil Ma’mun Syiha, Beirut: Dar al-Ma’rifah, cet VI, 1420/1999.</li>
<li><em>Sunan an-Nasâ’iy bi Syarh al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthy wa Hasyiyah as-Sindy, </em>Karya Imam an-Nasa’i, as-Suyuthy dan as-Sindy, Beirut: Dar al-Fikr, cet I, 1348/1930.</li>
<li><em>Muqaddimah Ibn Shalâh wa Mahâsin al-Ishtilâh, </em>karya Imam Ibn Shalâh dan al-Bulqiny, <em>tahqiq </em>Dr. Aisyah Abdurrahman,Kairo: Dar al-Ma’arif, tc, tt.</li>
<li><em>An-Nukat ‘alâ Nuz-hah an-Nazhar fî Taudhîh Nukhbah al-Fikr, </em>karya al-Hafizh Ibn Hajar dan Syaikh Ali bin Hasan al-Halaby, Damam: Dar Ibn al-Jauzy, cet III, 1416/1995.</li>
</ul>
<div>
<div id="ftn1">
<p><a id="_ftn1" name="_ftn1"></a> Lihat: <em>Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah </em>karya Syaikh al-Albany (V/309).</p>
</div>
<div id="ftn2">
<p><a id="_ftn2" name="_ftn2"></a> Duduk istirâhah adalah duduk sejenak setelah sujud kedua di raka’at pertama dan ketiga sebelum bangkit ke raka’at kedua dan keempat. Ada sebagian ulama yang memandang bahwa duduk ini disyariatkan dalam shalat ada pula yang memandang sebaliknya. Nampaknya pendapat pertama lebih kuat.</p>
</div>
<div id="ftn3">
<p><a id="_ftn3" name="_ftn3"></a> Cermati: <em>Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah</em> (V/311, 313).</p>
</div>
<div id="ftn4">
<p><a id="_ftn4" name="_ftn4"></a> Lihat: <em>Zâd al-Ma’âd </em>karya Ibn al-Qayyim (I/230-231).</p>
</div>
<div id="ftn5">
<p><a id="_ftn5" name="_ftn5"></a> Periksa: <em>Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah</em> (V/312).</p>
</div>
<div id="ftn6">
<p><a id="_ftn6" name="_ftn6"></a> Untuk detail riwayat para perawi tersebut ada di kitab apa, silahkan merujuk: <em>Tamâm al-Minnah fî at-Ta’lîq ‘alâ Fiqh as-Sunnah </em>karya Syaikh al-Albany (hal. 214-215).</p>
</div>
<div id="ftn7">
<p><a id="_ftn7" name="_ftn7"></a> Lihat: <em>Muqaddimah Ibn ash-Shalâh </em>(hal. 237) dan <em>an-Nukat ‘alâ Nuz-hah an-Nazhar</em> karya Syaikh Ali al-Halaby (hal. 97-98).</p>
</div>
</div>
<div class="shr-publisher-8176"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Fhukum-mengacungkan-telunjuk-saat-duduk-antara-dua-sujud.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/hukum-mengacungkan-telunjuk-saat-duduk-antara-dua-sujud.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tips Khusyu’ dalam Shalat</title>
		<link>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/tips-khusyu%e2%80%99-dalam-shalat.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/tips-khusyu%e2%80%99-dalam-shalat.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jan 2012 23:00:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh dan Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[khusyu]]></category>
		<category><![CDATA[kiat]]></category>
		<category><![CDATA[Shalat]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8092</guid>
		<description><![CDATA[Seiring dengan banyaknya kesibukan duniawi, khusyu’ dalam shalat menjadi sesuatu yang amat sulit dicapai. Padahal shalat adalah induknya seluruh ibadah, yang bila ia baik maka baiklah ibadah-ibadah lainnya. Namun bila ia rusak karena tidak khusyu’<a class="more" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/tips-khusyu%e2%80%99-dalam-shalat.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><div>
<p>Seiring dengan banyaknya kesibukan duniawi, khusyu’ dalam shalat menjadi sesuatu yang amat sulit dicapai. Padahal shalat adalah induknya seluruh ibadah, yang bila ia baik maka baiklah ibadah-ibadah lainnya. Namun bila ia rusak karena tidak khusyu’ umpamanya, maka ibadah-ibadah lainnya akan terpengaruh. Berikut ini adalah tips sederhana yang insya Allah dapat membantu anda untuk khusyu’ dalam shalat. Akan tetapi kuncinya ialah konsentrasi, konsentrasi, dan konsentrasi. Tips ini takkan berguna jika sedari awal anda tidak konsentrasi pada shalat.</p>
<p>Karenanya, usahakan agar sebelum shalat anda dalam kondisi tenang. Lebih baik jika Anda telah berada di mesjid atau mushalla anda sebelum adzan berkumandang, agar memiliki waktu luang untuk konsentrasi dan menenangkan pikiran, baru kemudian ikuti tips di bawah.</p>
<p>Tahukah Anda, bahwa setiap gerakan dan ucapan dalam shalat memiliki makna dan jawaban tertentu?</p>
<p>Tidak tahu? Kalau begitu perhatikan tips berikut dengan baik.</p>
<p><strong>Melepas alas kaki: </strong>lepaslah dunia beserta alas kaki anda.</p>
<p><strong>Ucapan Allahu Akbar:</strong> Tidak ada yang lebih besar dari Allah, camkan itu!</p>
<p><strong>Mengangkat kedua tangan:</strong> lemparkan segala urusan dunia ke belakang.</p>
<p><strong>Berdiri:</strong> ketahuilah, bahwa Anda sedang berdiri menghadap Allah.</p>
<p><strong>Tangan kanan di atas tangan kiri:</strong> Berlaku sopanlah di hadapan Allah.</p>
<p><strong>Al Fatihah:</strong> Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bahwa Allah mengatakan: Aku membagi shalat untuk-Ku dan hamba-Ku dalam dua bagian, dan hamba-Ku akan mendapat apa yang dimintanya. Jika hamba-Ku mengucapkan: <em>Alhamdulillahi rabbil ‘alamien</em> (segala puji bagi Allah penguasa jagat raya), Ku-jawab: “<em>hamidani ‘abdi</em>” (hamba-Ku memuji-Ku).</p>
<p>Jika hamba-Ku megatakan: “<em>Arrahmanirrahim</em>” (Yang Maha pengasih lagi penyayang), Ku-jawab: “<em>Atsna ‘alayya ‘abdi</em>” (hamba-Ku memujiku lagi).</p>
<p>Jika hamba-Ku mengatakan: “<em>Maaliki yaumiddien</em>” (Penguasa di hari pembalasan), Ku-jawab: “<em>Majjadani ‘abdi</em>” (hamba-Ku menyanjung-Ku).</p>
<p>Jika hamba-Ku mengatakan: “<em>Iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’ien</em>” (hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami meminta tolong). Ku-jawab: Inilah batas antara Aku dan hamba-Ku, dan baginya apa yang dia minta…</p>
<p>Jika hamba-Ku mengatakan: “<em>Ihdinassiraatal mustaqiem…</em> dst” (tunjukkanlah kami jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat. Bukan jalan orang-orang yang Kau murkai dan bukan jalan orang-orang yang sesat), Ku-jawab: Inilah bagian hamba-Ku, dan baginya apa yang dia minta (HR. Muslim).</p>
<p>Mulai sekarang, biasakan tiap kali membaca Al Fatihah bersikaplah seakan Anda mendengar jawaban Allah pada tiap ayatnya.</p>
<p><strong>Ruku’</strong>: Bungkukkan punggung Anda untuk Allah saja, dan tundukkan hati Anda bersamanya.</p>
<p><strong>Berdiri dari ruku’</strong>: Segala puji bagi Allah yang menjadikan punggung Anda tegak kembali.</p>
<p><strong>Sujud:</strong> letakkan bagian tubuh Anda yang paling terhormat –yaitu wajah- pada tempat yang paling rendah di bumi –yaitu tanah-. Ingatlah bahwa Anda berasal darinya, dan Anda akan kembali ke sana. Lalu katakan “<em>Subhaana Rabbiyal a’la</em>” (Maha Suci Rabb-ku yang Maha Tinggi) 3x, agar makna tersebut semakin meresap dalam hati, lalu berdoalah sesuka Anda.</p>
<p><strong>Duduk lalu sujud yang kedua: </strong>bersimpuhlah di hadapan Allah, dan sujudlah kembali, sebab sujud tidak cukup hanya sekali !</p>
<p><strong>Tasyahhud: </strong><em>Attahiyyaatu lillaah wasshalawaatu wat thayyibaat</em> (Salam sejahtera, shalawat, dan segala yang baik adalah milik Allah)… rasakan keagungan Allah ketika itu !</p>
<p><em>Assalaamu ‘alaika Ayyuhannabiyyu</em> (salam sejahtera atasmu wahai Nabi)… ucapkan salam atas Nabi dan yakinlah bahwa Nabi membalas salam Anda. Nabi bersabda:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">ما من عبد يصلى ويسلم علي إلا رد الله علي روحي فارد السلام</p>
<p>“<em>Tidak ada seorang hamba pun yang mengucapkan salam dan shalawat atasku, melainkan Allah kembalikan ruhku agar aku membalas salamnya</em>”.</p>
<p>‘<em>Assalaamu ‘alaina wa ‘ala ‘ibaadillaahisshaalihien</em> (Salam sejahtera atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang shalih)… sekarang kedudukanmu mulai terangkat, salamilah dirimu dan kau perlu bersahabat dengan orang-orang shalih.</p>
<p>‘<em>Asyhadu allaa ilaaha illallaah</em>’ (Aku bersaksi bahwa tiada ilah selain Allah)…yakinlah bahwa Allah ada meski engkau tak melihat-Nya.</p>
<p><em>Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad kamaa shallaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala aali Ibrahim</em> (Ya Allah limpahkanlah shalawat atas Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Kau limpahkan atas Ibrahim dan keluarga Ibrahim)…Teladanilah kedua Nabi yang mulia ini, karena keduanyalah suri teladan terbaik. Dan berterima kasihlah kepada mereka yang telah mengajarkan kebaikan untukmu, dengan mendoakan mereka dalam shalatmu.</p>
<p><strong>Salam ke kanan:</strong> tujukan kepada malaikat pencatat kebaikan…</p>
<p><strong>Salam ke kiri: </strong>ucapkan dalam hati “Hai Malaikat di sebelah kiri, aku telah bertaubat !”.</p>
<p><strong> — Penutup Shalat — </strong></p>
<p><strong>Istighfar 3x:</strong> Aku mohon ampun atas segala kekurangan yang terjadi dalam shalatku.</p>
<p><strong>Bacalah:</strong> ‘<em>Allahumma antassalaam waminkassalaam tabaarakta yaa dzal jalaali wal ikraam</em>’ (Ya Allah, engkaulah As Salaam, dan dari-Mu lah keselamatan. Maha berkah Engkau wahai Yang memiliki segala kemuliaan)… ingatlah bahwa kalimat ini akan Anda ucapkan kepada Allah di Surga, tatkala Dia menyingkap tabir-Nya… Allah akan menyeru Anda dengan mengatakan: “Wahai Ahli Surga, Salaamun ‘alaikum”, maka mereka menjawab: “<em>Allahumma antas salaam, wa minkas salaam, tabaarakta yaa dzal jalaali wal ikraam</em>”.</p>
<p><strong>Lalu bacalah:</strong> “<em>Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatik</em>” (Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, mensyukuri-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu)…agar shalat anda yang berikutnya juga sempurna.</p>
<p>Cobalah tips di atas, dan buktikan kemanjurannya karena saya sendiri telah mencobanya ! Semoga bermanfaat.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: <a href="http://basweidan.com/tips-khusyu-dalam-shalat/">Ustadz Sufyan Basweidan, Lc<br />
</a>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
</div>
<div class="shr-publisher-8092"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Ftips-khusyu%25e2%2580%2599-dalam-shalat.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/tips-khusyu%e2%80%99-dalam-shalat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Syarat Sah Shalat Jum&#8217;at</title>
		<link>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/syarat-sah-shalat-jumat.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/syarat-sah-shalat-jumat.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 23:00:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh dan Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[jum'at]]></category>
		<category><![CDATA[Shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8090</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Shalat Jum’at sudah kita ketahui bersama adalah suatu kewajiban. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ “Hai<a class="more" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/syarat-sah-shalat-jumat.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><em>Alhamdulillah, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.</em></p>
<p>Shalat Jum’at sudah kita ketahui bersama adalah suatu kewajiban.</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ</p>
<p>“<em>Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum&#8217;at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah ..</em>.” (QS. Al Jumu’ah: 9)</p>
<p>Shalat ini diwajibkan bagi: (1) orang yang mukim (bukan musafir), (2) pria, (3) sehat, (4) merdeka dan (5) selamat dari lumpuh (<em>Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah</em>, 27: 198-199).</p>
<p>Pelaksanaan shalat Jum’at bisa menjadi sah jika memenuhi syarat-syarat berikut ini:</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Pertama: Adanya khutbah</strong></span></p>
<p>Khutbah jum’at mesti dengan dua kali khutbah karena kebiasaan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>demikian adanya. Ini adalah pendapat mayoritas ulama, yaitu ulama Syafi’iyah, Malikiyah dan Hambali. Ulama Syafi’iyah menambahkan bahwa khutbah Jum’at bisa sah jika memenuhi lima syarat:</p>
<ol start="1">
<li>Ucapan puji syukur pada Allah</li>
<li>Shalawat kepada Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em></li>
<li>Wasiat takwa [tiga syarat pertama merupakan syarat dalam dua khutbah sekaligus]</li>
<li>Membaca satu dari ayat Al Qur’an pada salah satu dari dua khutbah</li>
<li>Do’a kepada kaum muslimin di khutbah kedua</li>
</ol>
<p>Namun sebenarnya khutbah yang dituntunkan adalah yang sesuai petunuk Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam. </em>Di dalamnya berisi nasehat motivasi dan menjelaskan ancaman-ancaman terhadap suatu maksiat. Inilah hakekat khutbah. Jadi syarat di atas bukanlah syarat yang melazimkan (Lihat <em>Shahih Fiqh Sunnah</em>, 1: 583)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kedua: Harus dilakukan dengan berjama’ah</strong></span></p>
<p>Dipersyaratkan demikian karena shalat Jum’at bermakna banyak orang (jama’ah). Dan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>selalu menunaikan shalat ini secara berjama’ah, bahkan hal ini menjadi <em>ijma’</em> (kata sepakat) para ulama.</p>
<p>Ulama Syafi’iyah dan Hambali memberi syarat 40 orang bisa disebut jama’ah Jum’at. Akan tetapi, menyatakan demikian harus ada dalil pendukung. Kenyataannya tidak ada dalil –sejauh yang kami ketahui- yang mendukung syarat ini. Sehingga syarat disebut jama’ah jum’at adalah seperti halnya jama’ah shalat lainnya, yaitu satu orang jama’ah dan satu orang imam (Lihat <em>Shahih Fiqh Sunnah</em>, 1: 593). Yang menyaratkan shalat Jum’at bisa dengan hanya seorang makmum dan seorang imam adalah ulama Hanafiyah (<em>Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah</em>, 27: 202).</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Ketiga: Mendapat izin khalayak ramai yang menyebabkan shalat jum’at masyhur atau tersiar. </strong></span></p>
<p>Sehinga jika ada seorang yang shalat di benteng atau istananya, ia menutup pintu-pintunya dan melaksanakan shalat bersama anak buahnya, maka shalat Jum’atnya tidak sah. Dalil dari hal ini adalah karena diperintahkan adanya panggilan untuk shalat Jum’at sebagaimana dalam ayat,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ</p>
<p>“<em>Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum&#8217;at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah ..</em>.” (QS. Al Jumu’ah: 9)</p>
<p>Panggilan ini menunjukkan shalat Jum’at harus tersiar, tidak sembunyi-sembunyi meskipun dengan berjama’ah.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Keempat: Jama’ah shalat Jum’at tidak lebih dari satu di satu negeri (kampung)</strong></span></p>
<p>Karena hikmah disyariatkan shalat Jum’at adalah agar kaum muslimin berkumpul dan saling berjumpa. Hal ini sulit tercapai jika beberapa jama’ah shalat Jum’at di suatu negeri <span style="text-decoration: underline;">tanpa ada hajat</span>. Imam Asy Syafi’i, Imam Ahmad dan pendapat masyhur di kalangan madzhab Imam Malik, menyatakan bahwa terlarang berbilangnya jamaah shalat jumat di suatu negeri (kampung) besar atau kecil <span style="text-decoration: underline;">kecuali jika ada hajat</span>. Namun para ulama berselisih pendapat tentang batasan negeri tersebut. Ada ulama yang menyatakan batasannya adalah jika suatu negeri terpisah oleh sungai, atau negeri tersebut merupakan negeri yang besar sehingga sulit membuat satu jamaah jum’at.</p>
<p align="center"><em>Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shohbihi wa sallam. Walhamdulillahi Robbil ‘alamin.</em></p>
<p align="center"><em>Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.</em></p>
<p>[Disarikan dari <em>Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah</em>, 27: 201-204]</p>
<p>@ Ummul Hamam (Riyadh-KSA), di waktu penuh barokah, 12 Shofar 1433 H</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Muhammad Abdul Tuasikal, ST.<br />
Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-8090"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Fsyarat-sah-shalat-jumat.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/syarat-sah-shalat-jumat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Larangan Jual Beli Saat Shalat Jum’at</title>
		<link>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/larangan-jual-beli-saat-shalat-jum%e2%80%99at.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/larangan-jual-beli-saat-shalat-jum%e2%80%99at.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jan 2012 23:00:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh dan Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[adzan]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[dagang]]></category>
		<category><![CDATA[Jual Beli]]></category>
		<category><![CDATA[jum'at]]></category>
		<category><![CDATA[perniagaan]]></category>
		<category><![CDATA[Shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8060</guid>
		<description><![CDATA[Di hari Jum’at sejak pagi hari di kota Riyadh terlihat sepi. Toko-toko dan aktivitas di pasar asalnya sunyi dari pembeli. Apalagi menjelang shalat Jum’at dilaksanakan, pintu-pintu toko akan terlihat begitu rapat.  Di kota Riyadh sendiri<a class="more" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/larangan-jual-beli-saat-shalat-jum%e2%80%99at.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Di hari Jum’at sejak pagi hari di kota Riyadh terlihat sepi. Toko-toko dan aktivitas di pasar asalnya sunyi dari pembeli. Apalagi menjelang shalat Jum’at dilaksanakan, pintu-pintu toko akan terlihat begitu rapat.  Di kota Riyadh sendiri yang nampak di jalan-jalan saat menjelang pelaksanaan shalat Jum’at hanyalah para pekerja non muslim seperti dari India dan Filipina. Alasan mengapa di saat shalat Jum’at tidak ada aktivitas dagang, karena ada larangan jual beli kala itu.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Dalil Pendukung</strong></span></p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;" dir="RTL">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ , فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ</p>
<p>“<em>Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum&#8217;at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan <strong>tinggalkanlah jual beli</strong>. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung</em>.” (QS. Al Jumu’ah: 9-10). Perintah meninggalkan jual beli dalam ayat ini menunjukkan terlarangnya jual beli setelah dikumandangkannya azan Jum’at.</p>
<p>Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa larangan jual beli ketika azan Jum’at adalah <strong>haram</strong>. Demikian pendapat ulama Malikiyah, Syafi’iyah dan Hambali.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kapan Dimulai Larangan Jual Beli?</strong></span></p>
<p>Sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas, larangan dimulai saat azan. Namun azan yang dimaksud apakah azan yang pertama ataukah kedua? Di sini ada beda pendapat.</p>
<p>Perlu diketahui bahwa azan kedua sebelum shalat Jum’at adalah azan yang diterapkan oleh <em>khulafaur rasyidin</em>. Sehingga tidak perlu diingkari. Demikian nasehat guru kami, Syaikh Shalih Al Fauzan <em>hafizhahullah</em>. Azan pertama di hari Jum’at ini ditambahkan di masa ‘Utsman bin ‘Affan <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, salah seorang khulafaur rosyidin. Terdapat dalam hadits As Saib bin Yazid <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;" dir="RTL">كَانَ النِّدَاءُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوَّلُهُ إِذَا جَلَسَ الْإِمَامُ عَلَى الْمِنْبَرِ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَلَمَّا كَانَ عُثْمَانُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَكَثُرَ النَّاسُ زَادَ النِّدَاءَ الثَّالِثَ عَلَى الزَّوْرَاءِ &#8221; قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ الزَّوْرَاءُ مَوْضِعٌ بِالسُّوقِ بِالْمَدِينَةِ</p>
<p>“<em>Dahulu azan pada hari Jum’at dilakukan di awal ketika imam di mimbar. Ini dillakukan di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakr dan ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma. Namun di masa ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu karena saking banyaknya jama’ah, beliau menambahkan azan sampai tiga kali di Zawro’.</em>” Abu ‘Abdillah berkata, “<em>Zawro’ adalah salah satu tempat di pasar di Madinah.</em>” (HR. Bukhari no. 912)</p>
<p>Yang dimaksudkan azan sampai tiga kali di sini adalah karena di saat shalat Jum’at ada tiga kali azan. Azan pertama yang ditambahkan di masa ‘Utsman <em>radhiyallahu ‘anhu</em>. Azan kedua adalah azan ketika khutbah. Azan ketiga adalah ketika iqomah. Iqomah disebut pula azan sebagaimana terdapat dalam hadits ‘Abdullah bin Mughoffal Al Muzani, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ</p>
<p>“<em>Di antara dua azan terdapat shalat (sunnah).</em>” (HR. Bukhari no. 624 dan Muslim no. 838)</p>
<p>Jumhur ulama berpendapat bahwa azan mulai terlarangnya jual beli adalah <strong>azan kedua</strong>. Karena di masa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>hanya ada sekali azan, yaitu saat imam duduk di mimbar. Adzan kedua inilah yang dimaksudkan dalam firman Allah pada surat Jumu’ah di atas. Jika jual beli dilakukan pada saat azan kedua ini akan melalaikan para pembeli dan pedagang dari shalat, bahkan bisa sampai luput seluruh atau sebagiannya.</p>
<p>Ibnu Qudamah dalam <em>Al Mughni</em> (2/145) berkata, “Azan di masa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>adalah azan setelah imam duduk di mimbar. Maka hukum dikaitkan dengan azan kedua tersebut, sama saja apakah azan tersebut sebelum atau sesudah <em>zawal</em> (matahari tergelincir ke barat). ”</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Siapa yang Tercakup dalam Larangan Jual Beli?</strong></span></p>
<p>Yang tercakup dalam larangan jual beli di sini adalah:</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Pertama</span>: Para pria yang diwajibkan shalat Jum’at. Sedangkan wanita, anak kecil, dan orang sakit tidak terkena larangan jual beli tersebut. Demikian pendapat jumhur ulama. Alasannya, karena perintah dalam ayat ditujukan pada orang yang pergi Jum’at. Orang selain itu berati tidak terkena larangan jual beli kala itu.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Kedua</span>: Orang yang melakukannya tahu akan larangan melakukan jual beli setelah azan kedua Jum’at. Demikian pendapat ulama Syafi’iyah.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Ketiga</span>: Yang melakukan jual beli bukan bermaksud untuk menghilangkan mudhorot (bahaya) sehingga ia terpaksa melakukan jual beli seperti dalam keadaan darurat harus beli makanan atau dalam keadaan darurat harus beli kafan untuk mayit dan jika ditunda, kondisi mayit akan berubah.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Keempat</span>: Jual beli dilakukan setelah azan Jum’at saat imam naik mimbar. (Lihat <em>Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah</em>, 9/225)</p>
<p><strong>Catatan</strong>: Jumhur ulama bukan hanya melarang jual beli setelah azan kedua shalat Jum’at, termasuk pula nikah dan akad lainnya yang membuat lalai dan luput dari shalat Jum’at.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong><em>Bagaimana jika yang melakukan jual beli salah satunya diwajibkan shalat Jum’at dan yang lain tidak?</em></strong><strong></strong></span></p>
<p>Dalam <em>Al Majmu’</em> (4/500), Imam Nawawi <em>rahimahullah </em>berkata, “Jika dua orang melakukan transaksi jual beli, salah satunya wajib shalat Jum’at dan yang lain tidak, maka kedua-duanya terkena dosa. Karena yang satu telah membuat orang lain lalai dari shalat dan yang lain lalai dari shalat Jum’at itu sendiri. Namun jual beli keduanya tidak batal. Karena larangan yang dimaksud tidak mengarah pada rusaknya akad sehingga tetap sah. Hal ini sebagaimana jika seseorang shalat di tanah rampasan (shalatnya tetap sah, namun berdosa).”</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Apakah Akadnya Sah?</strong></span></p>
<p>Sebagaimana telah disinggung oleh Imam Nawawi di atas, jual beli yang dilakukan setelah azan kedua shalat Jum’at tetap sah, namun berdosa. Alasannya, karena larangan yang dimaksud bukan tertuju pada akad, namun di luar akad, sehingga tetap sah.</p>
<p>Az Zamaksyari dalam <em>Al Kasyaf</em> (7/61) menyebutkan, “Kebanyakan ulama berpendapat bahwa jual beli (setelah azan kedua Jum’at) tidaklah diharamkan (karena akadnya). Akad tersebut diharamkan karena dapat melalaikan dari yang wajib. Statusnya sama dengan shalat seseorang di tanah rampasan, dengan baju rampusan atau dengan air rampasan (artinya: shalatnya tetap sah, namun berdosa).”</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Lanjutkan Jual Beli Setelah Shalat</strong></span></p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;" dir="RTL">فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ</p>
<p>“<em>Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung</em>.” (QS. Al Jumu’ah: 9-10)</p>
<p>Ada riwayat dari sebagian salaf, ia berkata,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;" dir="RTL">من باع واشترى في يوم الجمعة بعد الصلاة، بارك الله له سبعين مرة، لقول الله تعالى: { فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الأرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ }</p>
<p>“Barangsiapa melakukan jual beli setelah shalat Jum’at, maka semoga Allah memberikan ia keberkahan sebanyak 70 kali. Alasannya karena Allah <em>Ta’ala</em> berfirman (yang artinya), ”<em> Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah</em>”. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 13: 563)</p>
<p>Az Zamaksyari dalam <em>Al Kasyaf</em> (7/61) berkata pula,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;" dir="RTL">بادروا تجارة الآخرة ، واتركوا تجارة الدنيا ، واسعوا إلى ذكر الله الذي لا شيء أنفع منه وأربح { وَذَرُواْ البيع } الذي نفعه يسير وربحه مقارب</p>
<p>“<em>Berlomba-lombalah meraih (pahala) perniagaan akhirat dan tinggalkanlah perniagaan dunia. Bersegeralah mengingat Allah yang tidak ada sesuatu pun yang lebih bermanfaat dan lebih beruntung dibanding aktivitas ibadah tersebut. Tinggalkanlah jual beli yang manfaat dan untungnya jika dibanding hanyalah sedikit.</em>” Di balik perintah dan larangan Allah, pasti ada hikmah. Percayalah, keuntungan di akhirat tentu lebih besar. Banyaklah berzikir dan mengingat Allah, jangan sampai aktivitas duniamu membuat engkau lalai dari mengingat-Nya.</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;" dir="RTL">قال مجاهد: لا يكون العبد من الذاكرين الله كثيرا، حتى يذكر الله قائما وقاعدا ومضطجعا.</p>
<p>Mujahid berkata, “<em>Seorang hamba tidaklah termasuk orang yang banyak berzikir pada Allah sampai ia berzikir pada-Nya dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring.</em>” (<em>Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim</em>, 13/564)</p>
<p align="center"><em>Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>@ Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 5 Shafar 1433 H</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal<br />
</a>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-8060"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Flarangan-jual-beli-saat-shalat-jum%25e2%2580%2599at.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/larangan-jual-beli-saat-shalat-jum%e2%80%99at.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Macam – Macam Doa Istiftah</title>
		<link>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/macam-%e2%80%93-macam-doa-istiftah.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/macam-%e2%80%93-macam-doa-istiftah.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Dec 2011 23:00:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh dan Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan]]></category>
		<category><![CDATA[berdoa]]></category>
		<category><![CDATA[do'a]]></category>
		<category><![CDATA[doa iftitah]]></category>
		<category><![CDATA[doa istiftah]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Shalat]]></category>
		<category><![CDATA[tata cara shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=7934</guid>
		<description><![CDATA[Doa Istiftah adalah doa yang dibaca ketika shalat, antara takbiratul ihram dan ta&#8217;awudz sebelum membaca surat Al Fatihah. Hukum Membaca Doa Istiftah Hukum membacanya adalah sunnah. Diantaranya dalilnya adalah hadist dari Abu Hurairah: كان رسول<a class="more" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/macam-%e2%80%93-macam-doa-istiftah.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Doa Istiftah adalah doa yang dibaca ketika shalat, antara takbiratul ihram dan <em>ta&#8217;awudz</em> sebelum membaca surat Al Fatihah.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Hukum Membaca Doa Istiftah</strong></span></p>
<p>Hukum membacanya adalah sunnah. Diantaranya dalilnya adalah hadist dari Abu Hurairah:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">كان رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذا كبَّر في الصلاة؛ سكتَ هُنَيَّة قبل أن يقرأ. فقلت: يا رسول الله! بأبي أنت وأمي؛ أرأيت سكوتك بين التكبير والقراءة؛ ما تقول؟ قال: &#8221; أقول: &#8230; &#8221; فذكره</p>
<p>“<em>Biasanya Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam setelah bertakbir ketika shalat, ia diam sejenak sebelum membaca ayat. Maka aku pun bertanya kepada beliau, wahai Rasulullah, kutebus engkau dengan ayah dan ibuku, aku melihatmu berdiam antara takbir dan bacaan ayat. Apa yang engkau baca ketika itu adalah:&#8230; (beliau menyebutkan doa istiftah)</em>” (<em>Muttafaqun &#8216;alaih</em>)</p>
<p>Setelah menyebut beberapa doa istiftah dalam kitab <em>Al Adzkar</em>, Imam An Nawawi berkata: “Ketahuilah bahwa semua doa-doa ini hukumnya <em>mustahabbah</em> (sunnah) dalam shalat wajib maupun shalat sunnah” (<em>Al Adzkar</em>, 1/107).</p>
<p>Demikianlah pendapat jumhur ulama, kecuali Imam Malik <em>rahimahullah</em>. Beliau berpendapat, yang dibaca setelah <em>takbiratul ihram</em> adalah الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ yaitu surat Al Fatihah. Tentu saja pendapat beliau ini tidak tepat karena bertentangan dengan banyak dalil.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Macam-macam Doa Istiftah</strong></span></p>
<p>Ada beberapa macam jenis doa istiftah yang dibaca oleh Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dan sahabatnya, berdasarkan riwayat-riwayat yang shahih.</p>
<p>Berikut ini macam-macam doa istiftah yang shahih, berdasarkan penelitian Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani <em>rahimahullah</em> terhadap dalil-dalil doa istiftah, yang tercantum dalam kitab beliau <em>Sifatu Shalatin Nabi Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>:</p>
<p><strong>Pertama</strong></p>
<p style="font-size: 20px; text-align: right;">اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ، كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ المَشْرِقِ وَالمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنَ الخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالبَرَدِ</p>
<p>“<em>Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahanku sebagaimana Engkau telah menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, sucikanlah kesalahanku sebagaimana pakaian yang putih disucikan dari kotoran. Ya Allah, cucilah kesalahanku dengan air, salju, dan air dingin</em>” (HR.Bukhari 2/182, Muslim 2/98)</p>
<p>Doa ini biasa dibaca Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dalam shalat fardhu. Doa ini adalah doa yang paling shahih diantara doa istiftah lainnya, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar dalam <em>Fathul Baari</em> (2/183).</p>
<p><strong>Kedua</strong></p>
<p style="font-size: 20px; text-align: right;">وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا، وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي، وَنُسُكِي، وَمَحْيَايَ، وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، لَا شَرِيكَ لَهُ، وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ، اللهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْتَ رَبِّي، وَأَنَا عَبْدُكَ، ظَلَمْتُ نَفْسِي، وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي جَمِيعًا، إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ، لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ، وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ، أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ، تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ</p>
<p>“<em>Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang Maha Pencipta langit dan bumi sebagai muslim yang ikhlas dan aku bukan termasuk orang yang musyrik. Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagiNya. Oleh karena itu aku patuh kepada perintahNya, dan aku termasuk orang yang aku berserah diri. Ya Allah, Engkaulah Maha Penguasa. Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau dan Maha Terpuji. Engkaulah Tuhanku dan aku adalah hambaMu. Aku telah menzhalimi diriku sendiri dan akui dosa-dosaku. Karena itu ampunilah dosa-dosaku semuanya. Sesungguhnya tidak ada yang bisa mengampuni segala dosa melainkan Engkau. Tunjukilah aku akhlak yang paling terbaik. Tidak ada yang dapat menunjukkannya melainkan hanya Engkau. Jauhkanlah akhlak yang buruk dariku, karena sesungguhnya tidak ada yang sanggup menjauhkannya melainkan hanya Engkau. Aka aku patuhi segala perintah-Mu, dan akan aku tolong agama-Mu. Segala kebaikan berada di tangan-Mu. Sedangkan keburukan tidak datang dari Mu. Orang yang tidak tersesat hanyalah orang yang Engkau beri petunjuk. Aku berpegang teguh dengan-Mu dan kepada-Mu. Tidak ada keberhasilan dan jalan keluar kecuali dari Mu. Maha Suci Engkau dan Maha Tinggi. Kumohon ampunan dariMu dan aku bertobat kepadaMu</em>” (HR. Muslim 2/185 – 186)</p>
<p>Doa ini biasa dibaca Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dalam shalat fardhu dan shalat sunnah.</p>
<p><strong>Ketiga</strong></p>
<p style="font-size: 20px; text-align: right;">اللَّهِ أَكْبَرُ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ</p>
<p>“<em>Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang Maha Pencipta langit dan bumi sebagai muslim yang ikhlas dan aku bukan termasuk orang yang musyrik. Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Oleh karena itu aku patuh kepada perintahNya, dan aku termasuk orang yang aku berserah diri. Ya Allah, Engkaulah Maha Penguasa. Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau dan Maha Terpuji</em>”. (HR. An Nasa-i, 1/143. Di shahihkan Al Albani dalam <em>Sifatu Shalatin Nabi </em>1/251)</p>
<p><strong>Keempat</strong></p>
<p style="font-size: 20px; text-align: right;">إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ. اللَّهُمَّ اهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَعْمَالِ وَأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَقِنِي سَيِّئَ الْأَعْمَالِ وَسَيِّئَ الْأَخْلَاقِ لَا يَقِي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Oleh karena itu aku patuh kepada perintahNya, dan aku termasuk orang yang aku berserah diri. Ya Allah, tunjukilah aku amal dan akhlak yang terbaik. Tidak ada yang dapat menujukkanku kepadanya kecuali Engkau. Jauhkanlah aku dari amal dan akhlak yang buruk. Tidak ada yang dapat menjauhkanku darinya kecuali Engkau”. </em>(HR. An Nasa-i 1/141, Ad Daruquthni 112)</p>
<p><strong>Kelima</strong></p>
<p style="font-size: 20px; text-align: right;">سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ تَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ</p>
<p>“<em>Maha suci Engkau, ya Allah. Ku sucikan nama-Mu dengan memuji-Mu. Nama-Mu penuh berkah. Maha tinggi Engkau. Tidak ilah yang berhak disembah selain Engkau</em>” (HR.Abu Daud 1/124, An Nasa-i, 1/143, At Tirmidzi 2/9-10, Ad Darimi 1/282, Ibnu Maajah 1/268. Dari sahabat Abu Sa&#8217;id Al Khudri, dihasankan oleh Al Albani dalam <em>Sifatu Shalatin Nabi </em>1/252)</p>
<p>Doa ini juga diriwayatkan dari sahabat lain secara <em>marfu&#8217;</em>, yaitu dari &#8216;Aisyah, Anas bin Malik dan Jabir  <em>Radhiallahu&#8217;anhum</em>. Bahkan Imam Muslim membawakan riwayat :</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">أن عمر بن الخطاب كان يجهر بهؤلاء الكلمات يقول : سبحانك اللهم وبحمدك . تبارك اسمك وتعالى جدك . ولا إله غيرك</p>
<p>“<em>Umar bin Khattab pernah menjahrkan doa ini (ketika shalat) : (lalu menyebut doa di atas)</em>” (HR. Muslim no.399)</p>
<p>Demikianlah, doa ini banyak diamalkan oleh para sahabat Nabi, sehingga para ulama pun banyak yang lebih menyukai untuk mengamalkan doa ini dalam shalat. Selain itu doa ini cukup singkat dan sangat tepat bagi imam yang mengimami banyak orang yang kondisinya lemah, semisal anak-anak dan orang tua.</p>
<p><strong>Keenam</strong></p>
<p style="font-size: 20px; text-align: right;">سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلَا إِلَهَ غَيْرَكَ</p>
<p style="font-size: 20px; text-align: right;">3x  لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ</p>
<p style="font-size: 20px; text-align: right;">3x  اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا</p>
<p>“<em>Maha suci Engkau, ya Allah. Ku sucikan nama-Mu dengan memuji-Mu. Nama-Mu penuh berkah. Maha tinggi Engkau. Tidak ilah yang berhak disembah selain Engkau, Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah (3x), Allah Maha Besar (3x)</em>” (HR.Abu Daud 1/124, dihasankan oleh Al Albani dalam <em>Sifatu Shalatin Nabi </em>1/252)</p>
<p><strong>Ketujuh</strong></p>
<p style="font-size: 20px; text-align: right;">اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا</p>
<p>“<em>Allah Maha Besar dengan segala kebesaran, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, Maha Suci Allah, baik waktu pagi dan petang</em>” (HR. Muslim 2/99)</p>
<p>Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Umar Radhiallahu&#8217;anhu, ia berkata:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">بينما نحن نصلي مع رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ إذ قال رجل من القوم: &#8230; فذكره. فقال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: &#8221; عجبت لها! فتحت لها أبواب السماء &#8220;. قال ابن عمر: فما تركتهن منذ سمعت رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يقول ذلك</p>
<p>“Ketika kami shalat bersama Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>, ada seorang lelaki yang berdoa istiftah: (lalu disebutkan doa di atas). Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> lalu bersabda: &#8216;<em>Aku heran, dibukakan baginya pintu-pintu langit</em>&#8216;. Ibnu Umar pun berkata:&#8217;Aku tidak pernah meninggalkan doa ini sejak beliau berkata demikian&#8217;”.</p>
<p><strong>Kedelapan</strong></p>
<p style="font-size: 20px; text-align: right;">الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ</p>
<p>“S<em>egala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, pujian yang terbaik dan pujian yang penuh keberkahan di dalamnya</em>” (HR. Muslim 2/99).</p>
<p>Hadits tersebut diriwayatkan oleh Anas bin Malik <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em>, ketika ada seorang lelaki yang membaca doa istiftah tersebut, Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>bersabda:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">لقد رأيت اثني عشر ملكاً يبتدرونها ؛ أيهم يرفعها</p>
<p>“<em>Aku melihat dua belas malaikat bersegera menuju kepadanya. Mereka saling berlomba untuk mengangkat doa itu (kepada Allah Ta’ala)</em>”</p>
<p><strong>Kesembilan</strong></p>
<p style="font-size: 20px; text-align: right;">اللَّهُمَّ لَكَ الحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الحَمْدُ لَكَ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ الحَقُّ وَوَعْدُكَ الحَقُّ، وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ، وَقَوْلُكَ حَقٌّ، وَالجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ، وَمُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ، اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ، فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ المُقَدِّمُ، وَأَنْتَ المُؤَخِّرُ، لاَ إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ</p>
<p>“<em>Ya Allah, segala puji bagi Engkau. Engkau pemelihara langit dan bumi serta orang-orang yang berada di dalamnya. Segala puji bagi Engkau. Engkau memiliki kerajaan langit, bumi dan siapa saja yang berada di dalamnya. Segala puji bagi Engkau. Engkau adalah cahaya bagi langit, bumi dan siapa saja yang berada di dalamnya. Segala puji bagi Engkau. Engkau Raja langit dan bumi dan Raja bagi siapa saja yang berada di dalamnya. Segala puji bagi Engkau. Engkaulah Al Haq. Janji-Mu pasti benar, firman-Mu pasti benar, pertemuan dengan-Mu pasti benar, firman-Mu pasti benar, surga itu benar adanya, neraka itu benar adanya, para nabi itu membawa kebenaran, dan Muhammad Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam itu membawa kebenaran, hari kiamat itu benar adanya. Ya Allah, kepada-Mu lah aku berserah diri.Kepada-Mu lah aku beriman. Kepada-Mu lah aku bertawakal. Kepada-Mu lah aku bertaubat. Kepada-Mu lah aku mengadu. Dan kepada-Mu aku berhukum. Maka ampunilah dosa-dosaku. Baik yang telah aku lakukan maupun yang belum aku lakukan. Baik apa yang aku sembunyikan maupun yang aku nyatakan. Engkaulah Al Muqaddim dan Al Muakhir. Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau</em>” (HR. Bukhari 2/3, 2/4, 11/99, 13/366 &#8211; 367, 13/399, Muslim 2/184)</p>
<p>Doa istiftah ini sering dibaca Rasulullah <em>Shalallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> ketika shalat malam. Namun tetap <em>masyru&#8217;</em> juga dibaca pada shalat wajib dan shalat yang lain.</p>
<p><strong>Kesepuluh</strong></p>
<p style="font-size: 20px; text-align: right;">اللهُمَّ رَبَّ جَبْرَائِيلَ، وَمِيكَائِيلَ، وَإِسْرَافِيلَ، فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ، اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ، إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ</p>
<p>“<em>Ya Allah, Rabb-nya malaikat Jibril, Mikail, dan Israfil. Pencipta langit dan bumi. Yang mengetahui hal ghaib dan juga nyata. Engkaulah hakim di antara hamba-hamba-Mu dalam hal-hal yang mereka perselisihkan. Tunjukkanlah aku kebenaran dalam apa yang diperselisihkan, dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk menuju jalan yang lurus, kepada siapa saja yang Engkau kehendaki</em>” (HR. Muslim 2/185)</p>
<p>Doa istiftah ini juga sering dibaca Rasulullah <em>Shalallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> ketika shalat malam. Namun tetap <em>masyru&#8217;</em> juga dibaca pada shalat wajib dan shalat yang lain.</p>
<p><strong>Kesebelas</strong></p>
<p style="font-size: 20px; text-align: right;">10x الله اكبر</p>
<p style="font-size: 20px; text-align: right;">10x الحمد لله</p>
<p style="font-size: 20px; text-align: right;">10x لا اله الا الله</p>
<p style="font-size: 20px; text-align: right;">10x استغفر الله</p>
<p style="font-size: 20px; text-align: right;">10x اللهُمَّ اغْفِرْ لِي ،وَاهْدِنِي، وَارْزُقْنِي وَعَافِنِي</p>
<p style="font-size: 20px; text-align: right;">10x اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الضِّيقِ يَوْمَ الْحِسَابِ</p>
<p>“Allah Maha Besar” 10x</p>
<p>“Segala pujian bagi Allah” 10x</p>
<p>“Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah” 10x</p>
<p>“Aku memohon ampun kepada Allah” 10x</p>
<p>“Ya Allah, ampunilah aku, berilah aku petunjuk, berilah aku rizki, dan berilah aku kesehatan” 10x</p>
<p>“Ya Allah, aku berlindung dari kesempitan di hari kiamat” 10x</p>
<p>(HR. Ahmad 6/143, Ath Thabrani dalam Al Ausath 62/2. Dihasankan Al Albani dalam Sifatu Shalatin Nabi 1/267)</p>
<p><strong>Kedua Belas</strong></p>
<p style="font-size: 20px; text-align: right;">اللَّهُ أَكْبَرُ [ثلاثاً] ، ذُو الْمَلَكُوتِ، وَالْجَبَرُوتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ</p>
<p>“<em>Allah Maha Besar</em>” 3x</p>
<p>“<em>Yang memiliki kerajaan besar, kekuasaan, kebesaran, dan keagungan</em>” (HR. Ath Thayalisi 56, Al Baihaqi 2/121 – 122)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Adab Membaca Doa Istiftah</strong></span></p>
<p>Beberapa adab membaca doa istiftah dijelaskan oleh Imam An Nawawi dalam kitab <em>Al Adzkar </em>(1/107) :</p>
<ol>
<li>Disunnahkan menggabung beberapa doa istiftah, dalam shalat yang sendirian. Atau juga bagi imam, bila diizinkan oleh makmum. Jika makmum tidak mengizinkan, maka jangan membaca doa yang terlalu panjang. Bahkan sebaiknya membaca yang singkat. Imam An Nawawi nampaknya mengisyaratkan hadits:
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">إذا أم أحدكم الناس فليخفف . فإن فيهم الصغير والكبير والضعيف والمريض . فإذا صلى وحده فليصل كيف شاء</p>
<p>“<em>Jika seseorang menjadi imam, hendaknya ia ringankan shalatnya. Karena di barisan makmum terdapat anak kecil, orang tua, orang lemah, orang sakit. Adapun jika shalat sendirian, barulah shalat sesuai keinginannya</em>” (HR.Muslim 467)</li>
<li>Jika datang sebagai makmum masbuk, tetap membaca doa istiftah. Kecuali jika sudah akan segera ruku’, dan khawatir tidak sempat membaca Al Fatihah. Jika demikian keadaannya, sebaiknya tidak perlu membaca istiftah, namun berusaha menyelesaikan membaca Al Fatihah. Karena membaca Al Fatihah itu rukun shalat.</li>
<li>Jika mendapati imam tidak sedang berdiri, misalnya sedang rukuk, atau duduk di antara dua sujud atau sedang sujud, maka makmum langsung mengikuti posisi imam dan membaca sebagaimana yang dibaca imam. Tidak perlu membaca doa istiftah ketika itu.</li>
<li>Para ulama Syafi&#8217;iyyah berbeda pendapat mengenai anjuran membaca doa istiftah ketika shalat jenazah. Menurut An Nawawi, yang lebih tepat adalah tidak perlu membacanya, karena shalat jenazah itu sudah selayaknya ringan.</li>
<li>Membaca doa istiftah itu hukumnya sunnah, tidak wajib. Jika seseorang meninggalkannya, tidak perlu sujud sahwi.</li>
<li>Yang sesuai sunnah, doa istiftah dibaca dengan <em>sirr </em>(lirih). Jika dibaca dengan <em>jahr </em>(keras) hukumnya makruh, namun tidak membatalkan shalat.</li>
</ol>
<p>Demikian tulisan ringkas ini. Semoga bermanfaat.</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">والحمد لله رب العالمين، وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: <a href="http://kangaswad.wordpress.com">Yulian Purnama<br />
</a>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-7934"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Fmacam-%25e2%2580%2593-macam-doa-istiftah.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/macam-%e2%80%93-macam-doa-istiftah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

