<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muslim.Or.Id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah &#187; Salafy</title>
	<atom:link href="http://muslim.or.id/tag/salafy/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muslim.or.id</link>
	<description>Pesantren online agama Islam berdasarkan Qur&#039;an dan Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih</description>
	<lastBuildDate>Fri, 25 May 2012 11:23:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Manhaj Salaf dalam Akidah</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/manhaj-salaf-dalam-akidah.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/aqidah/manhaj-salaf-dalam-akidah.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Apr 2012 08:00:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[ahlus sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[akidah]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8830</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Syaikh ‘Abdussalam bin Salim As Suhaimi Manhaj generasi Salafus Shalih dalam masalah aqidah secara ringkas adalah sebagai berikut: Membatasi sumber rujukan dalam masalah aqidah hanya pada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam serta<a class="more" href="http://muslim.or.id/aqidah/manhaj-salaf-dalam-akidah.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Oleh Syaikh ‘Abdussalam bin Salim As Suhaimi</p>
<p>Manhaj generasi Salafus Shalih dalam masalah aqidah secara ringkas adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Membatasi sumber rujukan dalam masalah aqidah hanya pada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> serta memahaminya dengan pemahaman Salafus Shalih</li>
<li>Berhujjah dengan hadits-hadits shahih dalam masalah aqidah, baik hadits-hadits tersebut mutawatir maupun ahad.</li>
<li>Tunduk kepada wahyu serta tidak mempertentangkannya dengan akal. Juga tidak panjang lebar dalam membahas perkara gaib yang tidak dapat dijangkau oleh akal.</li>
<li>Tidak menceburkan diri dalam ilmu kalam dan filsafat</li>
<li>Menolak ta’wil yang batil</li>
<li>Menggabungkan seluruh nash yang ada dalam membahas suatu permasalahan [1]</li>
</ol>
<p>Inilah aqidah yang lurus yang berasal dari sumber yang murni, yaitu Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>, yang jauh dari hawa nafsu dan syubhat. Orang yang berpegang teguh dengan aqidah yang demikian, maka ia telah mengagungkan nash-nash Qur’an dan Sunnah karena ia mengetahui bahwa apa yang ada di dalamnya itu benar.</p>
<p>Imam Al Barbahari <em>rahimahullah</em> berkata:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">واعلم رحمك الله أن الدين إنـما جاء من قبل الله تبارك وتعالى لم يوضع على عقول الرجال وآرائـهم وعلمه عند الله وعند رسوله فلا تتبع شيئاً يهواك فتمرق من الدين فتخرج من الإسلام فإنه لا حجة لك فقد بين رسول الله صلى الله عليه وسلم لأمته السنة وأوضحها لأصحابه وهم الجماعة وهم السواد الأعظم والسواد الأعظم الحق وأهله</p>
<p>“Ketahuilah saudaraku, semoga Allah merahmatimu, bahwa agama Islam itu datang dari Allah <em>Tabaaraka Wa Ta’ala</em>. Tidak disandarkan pada akal atau pendapat-pendapat seseorang. Janganlah engkau mengikuti sesuatu hanya karena hawa nafsumu. Sehingga akibatnya agamamu terkikis dan akhirnya keluar dari Islam. Engkau tidak memiliki hujjah. Karena Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> telah menjelaskan As Sunnah kepada ummatnya, dan juga kepada para sahabatnya. Merekalah (para sahabat) <em>As Sawaadul A’zham</em>. Dan <em>As</em> <em>Sawaadul A’zham</em> itu adalah al haq dan ahlul haq” [2].</p>
<p>Sebelum itu, beliau juga berkata:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">والأساس الذي تبني عليه الجماعة وهم أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم وهم أهل السنة والجماعة فمن لم يأخذ عنهم فقد ضل وابتدع وكل بدعة ضلالة</p>
<p>“Pondasi dari <em>Al Jama’ah</em> adalah para sahabat Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>. Merekalah Ahlussunnah Wal Jama’ah. Barang siapa yang cara beragamanya tidak mengambil dari mereka, akan tersesat dan berbuat bid’ah. Padahal setiap bid’ah itu kesesatan” [3].</p>
<p>Beliau juga berkata:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">قال عمر بن الخطاب رضي الله عنه : لا عذر لأحد في ضلالة ركبها حسبها هدى ولا في هدى تركه حسبه ضلالة فقد بُينت الأمور وثبتت الحجة وانقطع العذر وذلك أن السنة والجماعة قد أحكما أمر الدين كله وتبين للناس فعلى الناس الإتباع</p>
<p>“Umar bin Al Khattab <em>Radhiallahu’anhu</em> berkata: Tidak ada toleransi bagi seseorang untuk melakukan kesesatan, karena petunjuk telah cukup baginya. Tidaklah seseorang meninggalkan petunjuk agama, kecuali baginya kesesatan. Perkara-perkara agama telah dijelaskan, hujjah sudah ditetapkan, tidak ada lagi toleransi. Karena As Sunnah dan Al Jama’ah telah menetapkan hukum agama seluruhnya serta telah menjelaskannya kepada manusia. Maka bagi manusia hendaknya mengikuti petunjuk mereka” [4].</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penerjemah: <a href="https://kangaswad.wordpress.com/2012/03/16/manhaj-salaf-dalam-aqidah/">Yulian Purnama</a><br />
Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<p>—</p>
<p>[1] Diringkas oleh syaikh dari kajian kitab <em>Al Minhaj</em> yang diasuh oleh Syaikh Abdullah Al ‘Ubailan. Dan poin-poin ini sudah ma’lum dari pengamatan terhadap manhaj para salafus shalih</p>
<p>[2] Syarhus Sunnah, 1/66.</p>
<p>[3] Syarhus Sunnah, 1/65.</p>
<p>[4] Syarhus Sunnah, 1/66.</p>
<p>Sumber: http://www.almenhaj.net/tawheed/text.php?linkid=7621</p>
<div class="shr-publisher-8830"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fmanhaj-salaf-dalam-akidah.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/aqidah/manhaj-salaf-dalam-akidah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meneladani Sahabat Nabi, Jalan Kebenaran</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/meneladani-sahabat-nabi-jalan-kebenaran.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/meneladani-sahabat-nabi-jalan-kebenaran.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Sep 2010 17:00:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[ahlus sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[al atsari]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=4680</guid>
		<description><![CDATA[Di tengah maraknya pemikiran dan pemahaman dalam agama Islam, klaim kebenaran begitu larisnya bak kacang goreng. Setiap kelompok dan jama&#8217;ah tentunya menyatakan diri sebagai yang lebih benar pemahamannya terhadap Islam, menurut keyakinannya. Kebenaran hanya milik<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/meneladani-sahabat-nabi-jalan-kebenaran.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Di tengah maraknya pemikiran dan pemahaman dalam agama Islam, klaim kebenaran begitu larisnya bak kacang goreng. Setiap kelompok dan jama&#8217;ah tentunya menyatakan diri sebagai yang lebih benar pemahamannya terhadap Islam, menurut keyakinannya.</p>
<p>Kebenaran hanya milik Allah. Namun kebenaran bukanlah suatu hal yang semu dan relatif. Karena Allah <em>Ta&#8217;ala </em>telah menjelaskan kebenaran kepada manusia melalui Al Qur&#8217;an dan bimbingan Nabi-Nya <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>. Tentu kita wajib menyakini bahwa kalam ilahi yang termaktub dalam Al Qur&#8217;an adalah memiliki nilai kebenaran mutlak. Lalu siapakah orang yang paling memahami Al Qur&#8217;an? Tanpa ragu, jawabnya adalah Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>. Dengan kata lain, Al Qur&#8217;an sesuai pemahaman Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dan sabda-sabda <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>itu sendiri keduanya adalah sumber kebenaran.</p>
<p>Yang menjadi masalah sekarang, mengapa ketika semua kelompok dan jama&#8217;ah mengaku telah berpedoman pada Al Qur&#8217;an dan Hadits, mereka masih berbeda keyakinan, berpecah-belah dan masing-masing mengklaim kebenaran pada dirinya? Setidaknya ini menunjukkan Al Qur&#8217;an dan sabda Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> ternyata dapat ditafsirkan secara beragam, dipahami berbeda-beda oleh masing-masing individu. Jika demikian maka pertanyaannya adalah, siapakah sebetulnya di dunia ini yang paling memahami Al Qur&#8217;an serta sabda-sabda Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>? Jawabnya, merekalah para sahabat Nabi <em>radhi&#8217;allahu &#8216;anhum ajma&#8217;in</em>.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Pengertian Sahabat Nabi</strong></span></p>
<p>Yang dimaksud dengan istilah &#8216;sahabat Nabi&#8217; adalah:</p>
<p style="text-align: center;">من رأى رسول الله صلى الله عليه وسلم في حال إسلام الراوي، وإن لم تطل صحبته له، وإن لم يرو عنه شيئاً</p>
<p>“Orang yang melihat Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>dalam keadaan Islam, yang meriwayatkan sabda Nabi. Meskipun ia bertemu Rasulullah tidak dalam tempo yang lama, atau Rasulullah belum pernah melihat ia sama sekali” <a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Empat sahabat Nabi yang paling utama adalah Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin &#8216;Affan dan &#8216;Ali bin Abi Thalib <em>radhiallahu&#8217;ahum ajma&#8217;in</em>. Tentang jumlah orang yang tergolong sahabat Nabi, Abu Zur&#8217;ah Ar Razi menjelaskan:</p>
<p style="text-align: center;">شهد معه حجة الوداع أربعون ألفاً، وكان معه بتبوك سبعون ألفاً، وقبض عليه الصلاة والسلام عن مائة ألف وأربعة عشر ألفاً من الصحابة</p>
<p>“Empat puluh ribu orang sahabat Nabi ikut berhaji wada bersama Rasulullah. Pada masa sebelumnya 70.000 orang sahabat Nabi ikut bersama Nabi dalam perang Tabuk. Dan ketika Rasulullah wafat, ada sejumlah 114.000 orang sahabat Nabi”<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Keutamaan Sahabat</strong></span></p>
<p>Para sahabat Nabi adalah manusia-manusia mulia. Imam Ibnu Katsir menjelaskan keutamaan sahabat Nabi:</p>
<p style="text-align: center;">والصحابة كلهم عدول عند أهل السنة والجماعة، لما أثنى الله عليهم في كتابه العزيز، وبما نطقت به السنة النبوية في المدح لهم في جميع أخلاقهم وأفعالهم، وما بذلوه من الأموال والأرواح بين يدي رسول الله صلى الله عليه وسلم</p>
<p>“Menurut keyakinan Ahlussunnah Wal Jama&#8217;ah, seluruh para sahabat itu orang yang adil. Karena Allah <em>Ta&#8217;ala </em>telah memuji mereka dalam Al Qur&#8217;an. Juga dikarenakan banyaknya pujian yang diucapkan dalam hadits-hadits Nabi terhadap seluruh akhlak dan amal perbuatan mereka. Juga dikarenakan apa yang telah mereka korbankan, baik berupa harta maupun nyawa, untuk membela Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>”<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Pujian Allah terhadap para sahabat dalam Al Qur&#8217;an diantaranya:</p>
<p style="text-align: center;">وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ</p>
<p>“<em>Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar</em>” (QS. At Taubah: 100)</p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>pun memuji dan memuliakan para sahabatnya. Beliau bersabda:</p>
<p style="text-align: center;">لا تزالون بخير ما دام فيكم من رآني وصاحبني ومن رأى من رآني ومن رأى من رأى من رآني</p>
<p>“<em>Kebaikan akan tetap ada selama diantara kalian ada orang yang pernah melihatku dan para sahabatku, dan orang yang pernah melihat para sahabatku (tabi&#8217;in) dan orang yang pernah melihat orang yang melihat sahabatku (tabi&#8217;ut tabi&#8217;in)</em>”<a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Beliau <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>juga bersabda:</p>
<p style="text-align: center;">خير الناس قرني ، ثم الذين يلونهم ، ثم الذين يلونه</p>
<p>“<em>Sebaik-baik manusia adalah yang ada pada zamanku, kemudian setelah mereka, kemudian setelah mereka</em>”<a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Dan masih banyak lagi pujian dan pemuliaan dari Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>terhadap para sahabatnya yang membuat kita tidak mungkin ragu lagi bahwa merekalah umat terbaik, masyarakat terbaik, dan generasi terbaik umat Islam. Berbeda dengan kita yang belum tentu mendapat ridha Allah dan baru kita ketahui kelak di hari kiamat, para sahabat telah dinyatakan dengan tegas bahwa Allah pasti ridha terhadap mereka. Maka yang layak bagi kita adalah memuliakan mereka, meneladani mereka, dan tidak mencela mereka. Imam Abu Hanifah berkata:</p>
<p style="text-align: center;">أفضل الناس بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم : أبوبكر وعمر وعثمان وعلي , ثم نكف عن جميع أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم إلا بذكر جميل</p>
<p>“Manusia yang terbaik setelah Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> adalah Abu Bakar, lalu Umar, lalu Utsman lalu Ali. Kemudian, kita wajib menahan lisan kita dari celaan terhadap seluruh sahabat Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>, kita tidak boleh menyebut mereka kecuali dengan sebutan-sebutan yang indah”<a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Lebih lagi Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>bersabda:</p>
<p style="text-align: center;">لا تسبوا أصحابي ، فلو أن أحدكم أنفق مثل أحد ذهبا ، ما بلغ مد أحدهم ولا نصيف</p>
<p>“<em>Jangan engkau cela sahabatku, andai ada diantara kalian yang berinfaq emas sebesar gunung Uhud, tetap tidak akan bisa menyamai pahala infaq sahabatku yang hanya satu mud (satu genggam), bahkan tidak menyamai setengahnya</em>”<a href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Pemahaman Sahabat Nabi, Sumber Kebenaran</strong></span></p>
<p>Jika kita telah memahami betapa mulia kedudukan para sahabat Nabi, dan kita juga tentu paham bahwa tidak mungkin ada orang yang lebih memahami perkataan dan perilaku Nabi selain para sahabat Nabi,  maka tentu pemahaman yang paling benar terhadap agama Islam ada para mereka. Karena merekalah yang mendakwahkan Islam serta menyampaikan sabda-sabda Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>hingga akhirnya sampai kepada kita, <em>walhamdulillah</em>. Merekalah &#8216;penghubung&#8217; antara umat Islam dengan Nabinya.</p>
<p>Oleh karena ini sungguh aneh jika seseorang berkeyakinan atau beramal ibadah yang sama sekali tidak diyakini dan tidak diamalkan oleh para sahabat, lalu dari mana ia mendapatkan keyakinan itu? Apakah Allah <em>Ta&#8217;ala </em>menurunkan wahyu kepadanya? Padahal turunnya wahyu sudah terhenti dan tidak ada lagi Nabi sepeninggal Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>. Dari sini kita perlu menyadari bahwa mengambil metode beragama Islam yang selain metode beragama para sahabat, akan menjerumuskan kita kepada jalan yang menyimpang dan semakin jauh dari ridha Allah <em>Ta&#8217;ala</em>. Sedangkan jalan yang lurus adalah jalan yang ditempuh oleh para sahabat Nabi. Setiap hari kita membaca ayat:</p>
<p style="text-align: center;">اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ</p>
<p>“<em>Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.</em>” (QS. Al Fatihah: 6-7)</p>
<p>Al Imam Ibnu Katsir menjelaskan: “Yang dimaksud dengan &#8216;<em>orang-orang yang telah Engkau beri nikmat</em>&#8216; adalah yang disebutkan dalam surat An Nisa, ketika Allah berfirman:</p>
<p style="text-align: center;">وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا</p>
<p>“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”<a href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Seorang ahli tafsir dari kalangan tabi&#8217;ut tabi&#8217;in, Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, menafsirkan bahwa yang dimaksud dalam ayat ini adalah Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dan para sahabatnya<a href="#_ftn9">[9]</a>.</p>
<p>Oleh karena itulah, seorang sahabat Nabi, Abdullah Ibnu Mas&#8217;ud <em>radhiallahu&#8217;anhu </em>berkata:</p>
<p style="text-align: center;">من كانَ منكم مُتأسياً فليتأسَّ بأصحابِ رسول ِاللهِ صلى اللهُ عليهِ وسلمَ, فإنهم كانوا أبرَّ هذهِ الأمةِ قلوباً، وأعمقـُها عِلماً، وأقلـُّهَا تكلـُّفَا، وأقومُها هَديَا، وأحسنـُها حالاً، اختارَهُمُ اللهُ لِصُحبةِ نبيِّهِ صلى اللهُ عليهِ وسلمَ وإقامَةِ دينِهِ، فاعرفوا لهم فضلـَهُم، واتـَّبـِعُوهم في آثارِهِم، فإنهم كانوا على الهُدى المُستقيم</p>
<p>“Siapa saja yang mencari teladan, teladanilah para sahabat Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>. Karena merekalah orang yang paling baik hatinya diantara umat ini, paling mendalam ilmu agamanya, umat yang paling sedikit dalam berlebihan-lebihan, paling lurus bimbingannya, paling baik keadaannya. Allah telah memilih mereka untuk mendampingi Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>dan menegakkan agama-Nya. Kenalilah keutamaan mereka, dan ikutilah jalan mereka. Karena mereka semua berada pada <em>shiratal mustaqim</em> (jalan yang lurus)”<a href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p>Beliau juga berkata:</p>
<p style="text-align: center;">إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ فَاخْتَارَ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَعَثَهُ بِرِسَالَتِهِ، وَانْتَخَبَهُ بِعِلْمِهِ، ثُمَّ نَظَرَ فِي قُلُوبِ النَّاسِ فَاخْتَارَ أَصْحَابَهُ فَجَعَلَهُمْ وُزَرَاءَ نَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَنْصَارَ دِينِهِ، فَمَا رَآهُ الْمُؤْمِنُونَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ حَسَنٌ، وَمَا رَآهُ الْمُؤْمِنُونَ قَبِيحًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ قَبِيحٌ</p>
<p>“Allah Ta&#8217;ala memperhatikan hati-hati hambanya, lalu Ia memilih Muhammad <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>dan mengutusnya dengan risalah. Allah <em>Ta&#8217;ala </em>memperhatikan hati-hati manusia, lalu Ia memilih para sahabat Nabi, kemudian menjadikan mereka sebagai pendamping Nabi-Nya dan pembela agama-Nya. Maka segala sesuatu yang dipandang baik oleh kaum Mu&#8217;minin -yaitu Rasulullah dan para sahabatnya-, itulah yang baik di sisi Allah. Maka segala sesuatu yang dipandang buruk oleh kaum Mu&#8217;minin, itulah yang buruk di sisi Allah”<a href="#_ftn11">[11]</a></p>
<p>Dalam matan <em>Ushul As Sunnah</em>, Imam Ahmad bin Hambal <em>rahimahullah</em> berkata:</p>
<p style="text-align: center;">أصول السنة عندنا التمسك بما كان عليه أصحاب رسول الله صلى الله عليه و سلم والاقتداء بهم&#8230;</p>
<p>“Asas Ahlussunnah Wal Jama&#8217;ah menurut kami adalah berpegang teguh dengan pemahaman para sahabat Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dan meneladani mereka&#8230; dst.”</p>
<p>Jika demikian, layaklah bila Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>menjadikan solusi dari perpecahan ummat, solusi dari mencari hakikat kebenaran yang mulai samar, yaitu dengan mengikuti sunnah beliau dan pemahaman para sahabat beliau. Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>bersabda:</p>
<p style="text-align: center;">إن بني إسرائيل تفرقت على ثنتين وسبعين ملة ، وتفترق أمتي على ثلاث وسبعين ملة كلهم في النار إلا ملة واحدة ، قال من هي يا رسول الله ؟ قال : ما أنا عليه وأصحابي</p>
<p>“<em>Bani Israil akan berpecah menjadi 74 golongan, dan umatku akan berpecah menjadi 73 golongan. Semuanya di nereka, kecuali satu golongan</em>”</p>
<p>Para sahabat bertanya: “Siapakah yang satu golongan itu, ya Rasulullah?”</p>
<p>“<em>Orang-orang yang mengikutiku dan para sahabatku</em>”<a href="#_ftn12">[12]</a></p>
<p>Beliau juga bersabda menjelang hari-hari wafatnya:</p>
<p style="text-align: center;">أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة ، وإن كان عبدا حبشيا فإنه من يعش منكم فسيرى اختلافا كثيرا ، فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين ، فتمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ ، وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة )</p>
<p>“<em>Aku wasiatkan kalian agar bertaqwa kepada Allah. Lalu mendengar dan taat kepada pemimpin, walaupun ia dari kalangan budak Habasyah. Sungguh orang yang hidup sepeninggalku akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk mengikuti sunnnahku dan sunnah khulafa ar raasyidin yang mereka telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dan gigitlah ia dengan gigi geraham. Serta jauhilah perkara yang diada-adakan, karena ia adalah bid&#8217;ah dan setiap bid&#8217;ah itu sesat</em>” (HR. Abu Daud no.4609, Al Hakim no.304, Ibnu Hibban no.5)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Jika Sahabat Berselisih Pendapat</strong></span></p>
<p>Sebagaimana yang telah kita bahas, jika dalam suatu permasalahan terdapat penjelasan dari para sahabat, lalu seseorang memilih pendapat lain di luar pendapat sahabat, maka kekeliruan dan penyimpangan lah yang sedang ia tempuh. Namun jika dalam sebuah permasalahan, terdapat beberapa pendapat diantara para sahabat, maka kebenaran ada di salah satu dari beberapa pendapat tersebut, yaitu yang lebih mendekati kesesuaian dengan Al Qur&#8217;an dan sunnah Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>.</p>
<p>Imam Asy Syafi&#8217;i <em>rahimahullah </em>berkata:</p>
<p style="text-align: center;">: قد سمعت قولك في الإجماع والقياس بعد قولك في حكم كتاب الله وسنة رسوله أرأيت أقاويل أصحاب رسول الله إذا تفرقوا فيها ؟</p>
<p style="text-align: center;">[ فقلت : نصير منها إلى ما وافق الكتاب أو السنة أو الإجماع أو كان أصحَّ في القياس</p>
<p>“Jika ada orang yang bertanya, Wahai Imam Syafi'i, aku dengar engkau mengatakan bahwa setelah Al Qur'an dan Sunnah, ijma dan qiyas juga merupakan dalil. Lalu bagaimana dengan perkataan para sahabat Nabi jika mereka berbeda pendapat?</p>
<p>Imam Asy Syafi'i berkata: Bimbingan saya dalam menyikapi perbedaan pendapat di antara para sahabat adalah dengan mengikuti pendapat yang paling sesuai dengan Al Qu'an atau Sunnah atau Ijma' atau Qiyas yang paling shahih”<a href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p>Semoga Allah senantiasa menunjukkan kita jalan yang lurus, yaitu jalan yang ditempuh oleh Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> serta para sahabatnya</p>
<p>Penulis: Yulian Purnama</p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a><em> Al Ba&#8217;its Al Hatsits Fikhtishari &#8216;Ulumil Hadits</em>, Ibnu Katsir (1/24)</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a><em> Al Ba&#8217;its Al Hatsits </em>(1/25)</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a><em> Al Ba&#8217;its Al Hatsits</em> (1/24)</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Diriwayatkan oleh Abu Nu&#8217;aim Al Ashabani dalam <em>Fadhlus Shahabah. </em>Di-hasan-kan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani dalam <em>Fathul Baari</em> (7/7)</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> HR. Bukhari no.3651, Muslim no.2533</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a><em> Nur Al Laami&#8217;</em> (199), dinukil dari kitab <em>I&#8217;tiqad A&#8217;immatil Arba&#8217;ah</em>, Dr. Muhammad bin Abdurrahman Al Khumais, (1/7)</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> HR. Bukhari no. 3673, Muslim no. 2540</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Tafsir Ibnu Katsir (1/140)</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> Tafsir At Thabari (1/179)</p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> Tafsir Al Qurthubi (1/60)</p>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> HR. At Thabrani dalam <em>Mu&#8217;jam Al Kabir</em> no.8504. Dalam <em>Majma&#8217; Az Zawaid</em> (8/453), Al Haitsami berkata: “Semua perawinya tsiqah”</p>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> HR. Tirmidzi no. 2641. Dalam <em>Takhrij Al Ihya </em>(3/284)<em> </em>Al&#8217;Iraqi berkata: “Semua sanadnya jayyid”</p>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a><em> Ar Risalah</em> (1/597)</p>
<div class="shr-publisher-4680"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fmeneladani-sahabat-nabi-jalan-kebenaran.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/meneladani-sahabat-nabi-jalan-kebenaran.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mari Mendakwahkan Tauhid</title>
		<link>http://muslim.or.id/aqidah/mari-mendakwahkan-tauhid.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/aqidah/mari-mendakwahkan-tauhid.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 May 2010 01:00:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=2986</guid>
		<description><![CDATA[Tidak diragukan lagi bahwa tauhid merupakan permasalahan yang paling penting dalam agama ini. Maka mendakwahkannya juga merupakan perkara yang penting yang tidak boleh disepelekan. Namun sangat disayangkan, banyak di antara para dai yang meremehkan dakwah<a class="more" href="http://muslim.or.id/aqidah/mari-mendakwahkan-tauhid.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Tidak diragukan lagi bahwa tauhid merupakan permasalahan yang paling penting dalam agama ini. Maka mendakwahkannya juga merupakan<span style="text-decoration: underline;"> perkara yang penting yang tidak boleh disepelekan</span>. Namun sangat disayangkan, banyak di antara para dai yang meremehkan dakwah tauhid, mereka justru disibukkan dengan permasalahan lainnya tanpa mempedulikan dakwah yang satu ini. Sementara orang yang berkonsentrasi mendakwahkan tauhid dianggap ketinggalan zaman dan memecah belah umat. Padahal inilah inti dakwah para rasul <em>‘alaihimus salam. </em></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Bukti Benarnya Tauhid Seseorang</strong></span></p>
<p>Setelah sesorang bertauhid dengan benar dan berusaha untuk menyempurnakan tauhidnya, kewajiban selanjutnya adalah <span style="text-decoration: underline;">berusaha untuk mendakwahkan tauhid</span>. Karena keimanan seseorang tidak akan sempurna kecuali jika disertai ajakan dakwah kepada tauhid. Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">وَالْعَصْرِ {1} إِنَّ الإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ {2} إِلاَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ {3}</p>
<p>“<em>Demi masa(1). Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian(2). Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran(3)</em>.” (QS. Al Ashri :1-3)</p>
<p>Di samping menyempurnakan tauhid juga harus ada ajakan kepada tauhid. Jika tidak, maka ada yang kurang dalam tauhid tersebut. Tidak diragukan lagi bahwa orang yang meniti jalan tauhid disebabkan dia mengetahui bahwa jalan tauhid adalah jalan yang terbaik. Kalau memang dia benar dalam keyakinannya, maka dia juga harus mendakwahkan tauhid. Mengajak kepada seruan tauhid <em>Laa ilaaha ilallah</em> adalah termasuk kesempurnaan tauhid seseorang, dan tidak akan sempurna tauhid seseorang kecuali dia berusaha untuk mendakwahkan tauhid tersebut. (Lihat <em>Al Qoulul Mufiid</em> I/ 82, Syaikh ‘Utsaimin, cet. Darul ‘Aqidah)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Dakwahnya Pengikut Nabi <em>Shalallahu ‘alaihi wa salam</em></strong></span></p>
<p>Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;">قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُوا إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاوَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللهِ وَمَآأَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ {108}</p>
<p>“<em>Katakanlah: &#8220;Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik&#8221;</em>.” (QS. Yusuf:108)</p>
<p>Dalam ayat ini Allah <em>Ta’ala</em> memerintahkan Nabi-Nya untuk memberitahukan kepada manusia tentang penjelasan manhaj (metode berdakwah) para nabi dan pengikutnya, yakni berdakwah kepada Allah di atas dasar ilmu.  Hal ini menunjukkan barang siapa yang tidak mengajak kepada Allah di atas ilmu maka dia bukanlah pengikut Nabi yang sejati walupun dia seorang fakih yang berilmu.</p>
<p>Yang dimaksud dengan firman Allah <strong>أَدْعُوا إِلَى اللهِ</strong> (menyeru kepada Allah) adalah <span style="text-decoration: underline;">berdakwah kepada tauhidullah <em>‘Azza wa Jallla</em> </span>yaitu dengan  beribadah hanya kepada Allah dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya, serta berdakwah terhadap perkara syariat agama yang lainnya. Sehingga dakwah berlaku untuk orang kafir agar masuk ke dalam Islam dan juga dakwah kepada kaum muslimn yang bermaksiat kepada Allah agar kembali bertaubat kepada Allah, mau melaksanakan perintah, memperingatkan mereka dari syirik dan meninggalkan maksiat. Dakwah tidak hanya terbatas pada mendakwahi orang kafir, bahkan kaum muslimin juga membutukan dakwah. Dakwah bersifat umum, yakni dakwah untuk mengenal tauhid dan lawannya yaitu syirik. (Lihat <em>I’aanatul Mustafiid</em> I/93-94, Syaikh Shalih Fauzan, cet. Markaz Fajr)</p>
<p>Ayat di atas mengandung dua faedah penting :</p>
<p><strong>Pertama</strong>. Bahwa yang dimaksud dakwah kepada Allah adalah <span style="text-decoration: underline;">dakwah kepada tauhid</span>. Inilah yang dipraktekkan Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wa salam</em> ketika mengutus sahabat Mu’adz bin Jabal <em>radhiyallahu ‘anhu</em> ke Yaman.</p>
<p><strong>Kedua</strong>. Peringatan untuk senantiasa <span style="text-decoration: underline;">ikhlas dalam berdakwah</span> . Seseorang yang berdakwah harus ikhlas dalam berdakwah, sebagaimana firman Allah <strong>أَدْعُوا إِلَى اللهِ</strong> (menyeru kepada Allah), karena kebanyakan juru dakwah sekarang mengajak kepada dirinya dan kelompoknya. (Lihat <em>At Tamhiid </em>hal 65, Syaikh Shalih Alu Syaikh, cet. Daarut Tauhid)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Para Nabi Mendakwahkan Tauhid</strong></span></p>
<p>Setiap Rasul yang diutus oleh Allah <em>Ta’ala</em> pasti semua mendakwahkan tauhid dan memperingatkan tentang syirik. Hal ini sebagaimana dijelaskan Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p style="text-align: center;">وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ &#8230;{36}</p>
<p>“<em>Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): &#8220;Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu</em>&#8221; (QS. An Nahl:36).</p>
<p>Al Imam Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> menjelaskan tentang ayat ini, “Seluruh para rasul menyeru untuk beribadah hanya kepada Allah dan melarang untuk menujukan ibadah kepada selain-Nya. Allah <em>Ta’ala</em> tidak mengutus seorang rasul pun sejak terjadinya kesyirikan pada kaum Nuh yang diutus rasul kepada mereka kecuali untuk tujuan tersebut (hanya beribadah kepada Allah semata). Rasul yang pertama diutus ke muka bumi sampai penutup para Rasul, Muhammad <em>shalallahu ‘alaihi wa salam</em>, semuanya mendakwahkan sebagaimana yang Allah perintahkan,</p>
<p style="text-align: center;">وَمَآأَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّنُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لآ إِلَهَ إِلآ أَنَا فَاعْبُدُونِ {25}</p>
<p>“<em>Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: &#8220;Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku&#8221;.” </em>(QS. Al Anbiya’:25)”( Fathul Majiid hal 24. Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh, cet. Muasasah al Mukhtar.)</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;">شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَاوَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ وَمَاوَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلاَتَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَاتَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَن يَشَآءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَن يُنِيبُ {13}<strong> </strong></p>
<p>“<em>Dia telah mensyari&#8217;atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu : Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).</em> “ (QS. Asy Syura’:13)</p>
<p>Inilah dakwah seluruh para Nabi, di antara mereka adalah para <em>Ulul ‘Azmi</em>. Mereka berjalan di atas manhaj dakwah yang satu yaitu tauhid. Inilah kewajiban paling agung yang merupakan materi dakwah yang diusung oleh para nabi kepada bani adam apaun kondisi yang mereka hadapi walaupun mereka menghadapi kondisi kaum, negeri, dan waktu yang berbeda-beda. Materi dakwah yang mereka sampaiakn satu yang merupakan kewajiban yang harus ditempuh ketika mengajak manusia kepada Allah <em>‘Azza wa Jalla</em>. Dan ini juga merupakan jalan dakwah yang ditempuh para penerus dakwah rasul. Tidak boleh mengganti dan berpaling dari jalan dakwah ini. (<em>Usus Manhaj Salaf fii Da’wah ilallah</em> hal 86, Syaikh Fawwaz bin Haliil as Suhaimi, cet. Daar Ibnul Qayyim )</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Tauhid Asas Perbaikan Umat</strong></span></p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata, &#8220;Barangsiapa yang ingin meninggikan suatu bangunan, hendaklah ia memantapkan pondasinya, menguatkannya, dan harus lebih memperhatikannya. Karena sesungguhnya tingginya bangunan itu sesuai dengan kuatnya pondasi dan kemantapannya. Amal perbuatan serta derajat kemuliaan manusia adalah sebuah bangunan, sedangkan  pondasinya adalah iman. Semakin kokoh suatu pondasi akan menghasilkan bangunan yang tinggi dan kuat. Jika suatu bangunan roboh mudah untuk memperbaikinya. Namun jika pondasinya tidak kokoh, bangunan itu tidak akan tinggi dan kuat. Jika suatu pondasi telah hancur, maka bangunannya pun akan roboh . Orang yang bijaksana akan lebih memperhatikan perbaikan pondasi. Sedangkan orang yang bodoh akan meninggikan bangunan tanpa memperhatikan kondisi pondasinya, sehingga tidak berapa lama lagi bangunan itu akan hancur&#8221;.</p>
<p>Beliau melanjutkan : “Maka buatlah bangunanmu di atas pondasi iman yang kokoh. Jika rusak bagian dari bangunan yang tinggi  maka memperbaikinya lebih mudah bagimu daripada hancurnya suatu pondasi. Pondasi ini terdiri dari dua macam. Pondasi pertama yaitu benarnya pengenalan terhadap Allah, perintah-perintah-Nya serta nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Yang kedua adalah ketundukan dan ketaatan hanya kepada Allah dan rasul-Nya dengan sebenar-benarnya. Inilah pondasi terkuat yang bisa digunakan oleh seseorang untuk menegakkan bangunannya dan ia bisa meninggikan bangunannya sesuka dia. Oleh karena itu, perkokohlah pondasi bangunan kalian, jagalah kekuatannya dan senantiasalah memeliharanya” (<em>Al Fawaaid</em> hal 149-150, Ibnul Qayyim al Juziyah, cet. Daarul ‘Aqidah)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Contohlah Dakwah Nabi Kita</strong></span></p>
<p>Barangsiapa yang mau meneliti sejarah Rasulullah <em>shalaallahu ‘alaihi wa salam</em>, dia akan dapat mengambil pelajaran manhaj berdakwah kepada Allah. Bahwasanya yang pertama kali yang diserukan kepada manusia adalah aqidah tentang beribdaha hanya kepada Allah semata dan tidak menyekutukannya serta meninggalkan peribadatan kepada selain-Nya, sebagaimana ini merupakan makna dari kalimat <em>Laa ilaaha ilallah</em>.</p>
<p>Sesungguhnya Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wa salaam</em> adalah uswah dalm segala hal . termasuk dalam melaksankan dakwah.  Beliau  tinggal di Mekah selama tiga belas tahun setelah diutus menjadi rasul, menyeru kepada manusia untuk memperbaiki aqidah dengan menyembah Allah semata dan meninggalakan peribadatan kepada berhala. Seruan ini beliau lakukan sebelum memerintahkan mereka untuk sholat, zakat, puasa, haji, dan meninggalkan kemaksiatan seperti riba, zina, meminum khomer, dan perjudian.</p>
<p>Hal ini menunjukkan dengan jelas kesalahan sebgian jamaah dakwah pada zaman ini yang tidak memprioritaskan aqidah dan hanya mementingkan dakwah terhadap perbaikan akhlak (dengan mengenyampingkan dakwah tauhid, ed). Mereka melihat kebanyakan manusia  melakukan perbuatan syirik akbar  di sekitar kuburan di negeri-negeri Islam namun tidak mengingkarinya, tidak melarang darinya, baik dengan perkataan, pada saat ceramah, atau dengan tulisan, kecuali hanya sebagian kecil saja. Bahkan terkadang mereka berada di antara barisan orang-orang yang melakukan syirik, bersatu dengan orang-orang yang menyimpang, tidak melarang dan memperingatkan mereka! (<em>Al Irsyaad ilaa shahiihil I’tiqad</em> hal 15, Syaikh Shalih Fauzan, cet. Maktabah Salsabil)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Tauhid Prioritas Utama</strong></span></p>
<p>Bukti bahwa dakwah tauhid yang seharusnya jadi prioritas adalah sabda Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wa salam</em> ,</p>
<p style="text-align: center;">إنك تأتي قوماً من أهل الكتاب فليكن أول ما تدعوهم إليه شهادة أن لا إله إلا الله ـ وفي رواية: إلى أن يوحدوا الله ـ فإن هم أطاعوك لذلك، فأعلمهم أن الله افترض عليهم خمس صلوات في كل يوم وليلة، فإن هم أطاعوك لذلك: فأعلمهم أن الله افترض عليهم صدقة تؤخذ من أغنيائهم فترد على فقرائهم، فإن هم أطاعوك لذلك فإياك وكرائم أموالهم، واتق دعوة المظلوم، فإنه ليس بينها وبين الله حجاب</p>
<p>“<em>Sesungguhnya kamu akan mendatangi suatu kaum dari Ahli Kitab, maka ajaklah mereka kepada persaksian bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah –dalam riwayat lain: kepada tauhidullah-. Jika mereka mentaatimu untuk hal tersebut, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu setiap siang dan malam. Jika mereka mentaatimu untuk hal tersebut maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka zakat yang diambil dari orang kaya mereka lalu dibagikan kepada orang-orang fakir di antara mereka. Jika mereka mentaatimu untuk hal tersebut maka kamu jauhilah harta mulia mereka. Takutlah kamu terhadap doa orang yang terzhalimi, karena tidak ada penghalang antara dia dan Allah</em>” (H.R Bukhari 1395 dan Muslim 19)</p>
<p>Dalam hadist ini terdapat pelajaran tentang tahapan dalam berdakwah, yakni memulai dari yang paling penting kemudian baru yang lainnya. Inilah jalan dakwah para rasul, mereka memulainya dengan dakwah kepada kalimat <em>Laa ilaaha ilallah</em>, karena hal ini merupakan pokok dan asas bangunan agama seseorang. Jika telah kokoh syahadat <em>Laa ilaaha ilallah</em>, maka memungkinkan dibangun di atasanya perkara yang lainnya. Adapun jika syahadatnya belum kokoh, maka tidak bermanfaat amal yang lainnya. Tidak mungkin Engkau memerintahkan manusia shalat sementara mereka masih musyrik, Engkau juga tidak bisa memerintahkan puasa, shodaqoh, menyambung silaturahmi sementara mereka masih menyekutukan Allah, karena Engkau tidak meletakkan asas yang pertama.</p>
<p>Hal ini berbeda dengan kondisi para dai hari ini yang tidak memperhatikan tentang dakwah terhadap syahadat <em>Laa ilaaha ilallah</em>. Mereka mengajak manusia untuk meninggalkan riba, bergaul dengan baik sesama manusia, berhukum dengan hukum yang Allah turunkan, dan permasalaha yang lain, namun mereka tidak mengingatkan tentang perkara tauhid dan tidak memperhatikannya seolah-olah ini bukan sesuatu yang wajib. Bagaimana pun mereka susah payah berjuang namun amalan mereka tidak bermanfaat sehingga mereka memperkokoh pondasi dan pokok yang mendasari  perkara-perkara agama yang lain berupa hukum-hukum, sholat, zakat, haji, dan sebaginya. Inilah manjahj para Nabi  sebagaimana firman Allah,</p>
<p style="text-align: center;">وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ &#8230;{36}</p>
<p>“<em>Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): &#8220;Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu</em>&#8221; (An Nahl:36).(<em>I’aanatul Mustafiid</em> I/ 99-100)</p>
<p>Mengapa para juru dakwah sekarang justru meremehkan hak Allah ini?! Bukankah hak Allah lebih pantas untuk didahulukan? Bukankah dakwah tauhid merupakan kunci dakwahnya para rasul, sebagaimana yang telah Allah abadikan dalam banyak ayat-Nya?</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Dakwah Tauhid Dari Awal Sampai Akhir</strong></span></p>
<p>’Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> menceritakan,</p>
<p style="text-align: center;">قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى مَرَضِهِ الَّذِى لَمْ يَقُمْ مِنْهُ « لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ ». قَالَتْ فَلَوْلاَ ذَاكَ أُبْرِزَ قَبْرُهُ غَيْرَ أَنَّهُ خُشِىَ أَنْ يُتَّخَذَ مَسْجِدًا. وَفِى رِوَايَةِ ابْنِ أَبِى شَيْبَةَ وَلَوْلاَ ذَاكَ لَمْ يَذْكُرْ قَالَتْ</p>
<p>&#8220;Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda ketika sakit yang menyebabkan beliau tidak bisa bangkit lagi, &#8216;<em>Allah melaknat kaum Yahudi dan Nashrani yang menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid&#8217;</em>.&#8221; Aisyah berkata, &#8220;Kalau bukan karena itu, niscaya kuburan beliau dipertontonkan, padahal tindakan itu dikhawatirkan akan dijadikannya kuburan beliau sebagai masjid.&#8221;(H.R Muslim 529)</p>
<p>Demikianlah Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wa salam</em> memulai dakwahnya dengan tauhid, mengiringi dengan tauhid dan mengakhiri pula dengan tauhid. Dan beliau <em>shalallahu ‘alaihi wassalam</em> senantiasa mewasiatkan umatnya dengan tauhid di akhir hidup beliau.Wasiat merupakan pesan terakhir dalam kehidupan seseorang. Tentunya yang akan disampaikan adalah perkara yang paling utama dan paling penting karena ia tidak akan sempat lagi menyampaikan sesuatu apapun setelah itu. Dari sini dapat terlihat apa yang dianggap paling penting oleh seseorang dalam hidupnya. Demikian pula  wasiat para nabi adalah tauhid, yang menunjukkan bahwa yang paling penting bagi mereka adalah tauhid. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;">وَوَصَّى بِهَآإِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبَ يَابَنِيَّ إِنَّ اللهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ {132}</p>
<p><em>“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kalian mati kecuali dalam (keadaan) Islam”</em> (Al Baqarah: 132)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Metode Mendakwahkan Tauhid</strong></span></p>
<p>Syaikh Shalih Alu Syaikh <em>hafidzahullah</em> menjelaskan bahwa dakwah kepada syahadat <em>Laa ilaaha ilallah</em> adalah dakwah yang terperinci. Ini adalah satu hal yang penting. Banyak orang yang berilmu menyerukan dakwah tauhid secara global. Namun jika datang penjelasan rinci tentang permasalahan tauhid atau syirik mereka menyelisihinya. Demikianlah seharusnya penerapan dakwah tauhid, yakni dakwah yang terperinci, bukan hanya secara global. Adapun kebanyakan orang mereka menyeru dakwah tauhid secara global. Mereka mengatakan :” Kami berpegang teguh dengan tauhid dan berlepas diri dari syirik”, namun tidak menyebutkannya secara terperinci. (Lihat <em>At Tamhiid</em> hal 63)</p>
<p>Inilah yang diterapkan oleh para ulama <em>robbani</em> dalam mendakwahkan tauhid. Contohnya adalah dakwah yang dilakukan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab <em>rahimahullah</em>. Dapat kita lihat dalam kitab beliau yang sangat bagus yaitu Kitab Tauhid. Dalam kitab ini beliau menjelasakan permasalahan tauhid dan syirik secara terperinci. Kitab ini diangggap oleh para ulama sebagai kitab yang paling bagus dan paling lengkap menjelasakan semua permasalahan tauhid. Oleh karena itu, kaum muslimin, khususnya para dai dan penuntut ilmu, hendaknya mempelajari kitab ini beserta penjelasan para ulama dengan benar dan mengajarkannya kepada umat.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Dakwah Tauhid Memecah Belah Umat?</strong></span></p>
<p>Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan <em>hafidzahullah</em> ditanya : Sungguh telah menyebar -<em>Alhamdulillah</em>- seruan kepada manhaj salaf dan berpegang teguh dengannya, akan tetapi ada orang yang mengatakan: &#8220;Sesungguhnya dakwah ini (dakwah salafiyah) tidak lain hanyalah akan memecah belah barisan (kaum muslimin, pent) dan mengkoyak-koyakkan, serta menjadikan sebagian mereka memerangi sebagian yang lain. Sehingga mereka sibuk dengan urusan mereka sendiri dan meninggalkan (memerangi, pent) musuh-musuh mereka yang hakiki. Apakah ini benar, dan apa nasehat Syaikh?</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Jawaban</span> :</p>
<p>Ini adalah pemutarbalikan hakekat (fakta), karena sesungguhnya berdakwah kepada tauhid dan manhaj <em>salafus shalih</em> itulah yang mampu menyatukan kalimat, dan menyatukan barisan (kaum muslimin) sebagaimana firman Allah <em>Ta&#8217;ala</em>,</p>
<p style="text-align: center;">وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا &#8230; {103}</p>
<p>&#8220;<em>Dan berpegang teguhlah dengan tali Allah secara keseluruhan, dan jangan kalian berpecah-belah.</em>&#8221; [Ali-Imran: 103]</p>
<p>Dan firman-Nya,</p>
<p style="text-align: center;">إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ {92}</p>
<p>&#8221; <em>Sesungguhnya ini adadalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Rabbmu, maka beribadahlah kepadaKu.</em>&#8221; [Al-Anbiya: 92]</p>
<p>Maka tidak mungkin kaum muslimin bisa bersatu kecuali di atas kalimat tauhid dan manhaj salaf, karena apabila mereka dibolehkan memilih manhaj-manhaj yang menyelisihi manhaj salaf maka bercerai berai dan berselisihlah mereka, sebagaimana kenyataannya demikian.Siapa yang menyeru kepada tauhid dan manhaj salaf, itulah orang yang menyeru kepada persatuan, sedangkan orang yang menyeru (umat) untuk menyelisihi manhaj salaf maka dialah yang menyeru kepada perpecahan dan perselisihan. Apabila kaum muslimin di atas tauhid dan manhaj salaf, maka mereka berdiri di depan musuh, dalam satu barisan. Dan apabila mereka berpecah-belah dalam berbagai manhaj maka mereka tidak akan mampu menghadapi musuh mereka.<br />
[Disalin dari kitab al Ajwibatu al Mufidah ‘an As-ilah al Manahij al Jadidah, edisi Indonesia Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah, Pengumpul Risalah Abu Abdillah Jamal bin Farihan Al-Haritsi, Penerjemah Muhaimin, Penerbit Yayasan Al-Madinah]</p>
<p>Demikian pembahasan singkat tentang pentingnya dakwah tauhid. Semoga Allah senantiasa membimbing kita di atas jalan tauhid, mempelajari dan mengamalkan serta berusaha semampu kita untuk mendakwahkannya. Khususnya kepada para pengemban tugas dakwah, marilah kita memprioritaaskan dakwah tauhid yang merupakan inti dakwah para nabi dan merupakan poros perbaikan umat. <em>Wallahul musta’an</em>.</p>
<p>Penulis: Abu ‘Athifah Adika Mianoki</p>
<p>Muroja&#8217;ah: M.A. Tuasikal</p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-2986"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Faqidah%2Fmari-mendakwahkan-tauhid.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/aqidah/mari-mendakwahkan-tauhid.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bukan Salafi Karena Beda Guru Ngaji</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/bukan-salafi-karena-beda-guru-ngaji.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/bukan-salafi-karena-beda-guru-ngaji.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Jul 2009 16:40:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=984</guid>
		<description><![CDATA[Sebagian kalangan bermudah-mudah dalam menilai seorang itu Ahli Sunnah ataukah bukan. Seakan-akan Ahli Sunnah itu perusahaan pribadinya, sehingga siapa yang dia sukai itulah ahli sunnah. Namun ketika dia tidak lagi dia sukai maka dia keluarkan<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/bukan-salafi-karena-beda-guru-ngaji.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Sebagian kalangan bermudah-mudah dalam menilai seorang itu Ahli Sunnah ataukah bukan. Seakan-akan Ahli Sunnah itu perusahaan pribadinya, sehingga siapa yang dia sukai itulah ahli sunnah. Namun ketika dia tidak lagi dia sukai maka dia keluarkan orang tersebut dari Ahli Sunnah. Benarkah sikap semacam ini. Temukan jawabannya dalam tulisan ini.<br />
<span id="more-984"></span><br />
Tentang masalah ini terdapat penjelasan yang sangat bagus yang disampaikan oleh Syaikh Abdul Aziz ar Rais, seorang ulama Ahli Sunnah dari Riyadh Saudi Arabia. Pada awal bulan Muharram 1428, masjid al Khalil Ibrahim yang terletak di Dubai, Emirat Arab beliau menyampaikan sebuah ceramah ilmiah yang berjudul <em>Tamassuk bis Sunnah</em> yang artinya berpegang teguh dengan sunnah. Dalam ceramah tersebut tepatnya pada menit 9:26-16:13 beliau menyampaikan bahasan tentang kapankah seorang itu divonis sebagai ahli bid&#8217;ah dan tidak lagi menjadi Ahli Sunnah atau Salafi. Rekaman ceramah tersebut ada pada kami yang diambil dari www.al-sunna.net.</p>
<p>Berikut ini transkrip dari bagian ceramah beliau tentang kapankan seorang itu dinilai sebagai Ahli Bid&#8217;ah. Moga bermanfaat.</p>
<p style="text-align: right;">و مما ينبغي أن يعلم و هو من أهم المهمات و من أشد الضروريات<br />
متي يخرج الرجل من السنة إلي البدعة. فإن إخراج الرجل من السنة إلي البدعة أمر شديد.<br />
قال ألإمام أحمد-كما في السنة للخلال-:&#8221;إخراج الرجل من السنة شديد&#8221;. ليس سهلا إخراج الرجل من السنة إلي البدعة لكن ليس معني كونه صعبا أنه لا يقع. بل يقع لكن إذا تلبس بما يوجب إخراجه.</p>
<p>&#8220;Di antara hal yang perlu diketahui karena hal tersebut termasuk perkara yang sangat penting dan sangat vital untuk diketahui. Hal tersebut adalah kapankah seorang itu dinilai keluar dari Ahli Sunnah dan divonis sebagai ahli bid&#8217;ah. Sesungguhnya mengeluarkan seseorang dari golongan Ahli Sunnah dan memvonisnya sebagai Ahli Bid&#8217;ah adalah suatu perkara yang berat.</p>
<p>Dalam kitab <em>as Sunnah</em> karya al Khallal, Imam Ahmad mengatakan, &#8220;Mengeluarkan seseorang dari golongan Ahli Sunnah adalah suatu perkara yang berat.&#8221;</p>
<p>Bukanlah termasuk perkara yang mudah mengeluarkan seseorang dari barisan Ahli Sunnah dan memvonisnya sebagai Ahli Bid&#8217;ah.</p>
<p>Akan tetapi sulitnya hal ini bukanlah berarti hal ini tidak pernah terjadi. Bahkan hal ini bisa saja terjadi jika orang tersebut melakukan suatu hal yang mengeluarkannya dari barisan ahli sunnah.</p>
<p style="text-align: right;">و مما ينبغي أن يعلم ليس كل من تلبس ببدعة صار مبتدعا.<br />
قال الإمام أبو العباس ابن تيمية-رحمه الله تعالي- &#8220;و القاضي شريح أول صفة العجب و أنكر قراءة &#8220;بل عجبت&#8221;. قال: &#8220;و مع ذلك (هو) إمام من الأئمة باتفاق&#8221;</p>
<p>Juga diantara hal yang perlu diketahui bahwa tidaklah semua orang yang melakukan hal yang bid&#8217;ah itu otomatis divonis sebagai Ahli Bid&#8217;ah.</p>
<p>Imam Abul Abbas Ibnu Taimiyyah mengatakan, &#8220;Qadhi Syuraih itu melakukan perbuatan menyelewengkan makna salah satu sifat Allah yaitu heran. Beliau mengingkari qiraah &#8216;bal &#8216;ajibtu&#8217; yang artinya &#8216;bahkan aku yaitu Allah merasa heran.&#8217; Meski demikian beliau adalah salah satu imam Ahli Sunnah dengan sepakat semua Ahli Sunnah.&#8221;</p>
<p style="text-align: right;">فلاحظ! أن القاضى شريح وقع في خطإ و تلبس ببدعة و مع ذلك لم يخرج بهذه البدعة من السنة. رحمه الله تعالي.<br />
و كرر هذه القاعدة كثيرا الإمام أبو العباس أبن تيمية-رحمه الله تعالي- و غيره من أئمة الإسلام. و قد ذكرها أئمة العصر الثلاثة و هو الإمام عبد العزيز بن عبد الله بن باز و ألإمام محمد ناصر الدين الألباني و الإمام محمد بن صالح العثيمين. رحمهم الله تعالي.<br />
كرروا هذه القاعدة كثيرا و رددوها و ذكروها في مناسبات مختلفة.</p>
<p>Perhatikanlah! Qadhi Syuraih telah terjerumus dalam kesalahan dan telah melakukan bid&#8217;ah meski demikian bidah yang beliau lakukan tersebut tidak mengeluarkan beliau dari barisan Ahli Sunnah.</p>
<p>Kaedah ini sangat sering disebutkan oleh Imam Abul Abbas Ibnu Taimiyyah dan para imam Islam yang lain.</p>
<p>Kaedah ini juga disebutkan oleh tiga imam Ahli Sunnah di zaman ini yaitu Imam Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Imam Muhammad Nashiruddin al Albani dan Imam Muhammad bin Shalih al Utsaimin.</p>
<p>Beliau-beliau berulang kali menyebutkan kaedah ini dalam berbagai kesempatan.</p>
<p style="text-align: right;">إذا تبين لك هذا و هو أنه لا يلزم من وقوع الرجل في البدعة أن يكون مبتدعا. لكن أيضا في المقابل قد يخرج الرجل من السنة بوقوعه في البدعة. فما الضابط في الباب؟</p>
<p>Jika hal ini telah kita ketahui yaitu terjerumusnya seseorang ke dalam tidaklah mesti menjadikan orang tersebut sebagai Ahli Bid&#8217;ah. Sebaliknya terkadang seorang itu divonis keluar dari barisan ahli sunnah gara-gara dia terjerumus dalam bid&#8217;ah.</p>
<p>Jika demikian, apa yang menjadi tolak ukur dalam hal ini?</p>
<p style="text-align: right;">الضابط في الباب امران.<br />
الأمر الأول ذكره العالم المالكي الشاطبي-رحمه الله تعالي- في كتابه الاعتصام<br />
لما تكلم عن متي تخرج فرقة من الفرقة الناجية إلي عموم ثتين و سبعين فرقة الضالة.<br />
قال –رحمه الله تعالي- &#8220;و ذلك إذا خالف في أمر كلي&#8221;. أما إذا خالف في أمر جزئي فلا يخرج الرجل من السنة إلي البدعة بمجرد الخلاف في أمر جزئي. و إنما يخرج إذا خالف في أمر كلي. و ذكر أيضا أنه إذا خالف في جزئيات كثيرة توازن كلية واحدة.</p>
<p>Parameter dalam hal ini ada dua:</p>
<p>Pertama, kaedah yang disampaikan oleh seorang ulama bermazhab Maliki yaitu Syathibi dalam kitabnya <em>al I&#8217;tishom</em> tatkala membahas kapankah sebuah kelompok divonis telah keluar dari &#8216;golongan yang selamat&#8217; sehingga termasuk bagian dari tujuh puluh dua golongan yang sesat.</p>
<p>Beliau mengatakan, &#8220;Itu terjadi jika kelompok tersebut menyelisihi ahli sunnah dalam perkara <em>kulli</em> (perkara yang memuat banyak derivat)&#8221;</p>
<p>Artinya orang yang menyelisihi ahli sunnah dalam perkara <em>juz&#8217;i</em> atau parsial (perkara yang tidak memiliki derivat) itu tidak dinilai keluar dari ahli sunnah dan menjadi Ahli Bid&#8217;ah. Seorang itu dinilai keluar dari <a title="Bukan Salafi karena beda guru ngaji" href="http://muslim.or.id/manhaj/bukan-salafi-karena-beda-guru-ngaji.html">Ahli Sunnah</a> jika menyelisihi Ahli Sunnah dalam perkara <em>kulli</em>.</p>
<p>Syathibi juga menyebutkan bahwa jika seorang itu menyelisihi ahli sunnah dalam banyak perkara <em>juz&#8217;i</em> yang sebanding dengan sebuah perkara <em>kulli</em> maka orang tersebut juga dinilai telah keluar dari Ahli Sunnah.</p>
<p style="text-align: right;">و المهم من كلامه و المعتمد إذا خالف الرجل أهل السنة في أمر كلي فإنه يخرج من السنة إلي البدعة بخلاف من يخالف أهل السنة في أمر جزئي.</p>
<p>Yang penting dari penjelasan Syathibi dan yang dijadikan pegangan adalah penjelasan beliau yang pertama. Yaitu jika seseorang itu menyelisihi ahli sunnah dalam perkara <em>kulli</em> maka dia dinilai keluar dari barisan ahli sunnah. Vonis ini tidak berlaku untuk orang yang menyelisihi ahli sunnah dalam perkara <em>juz&#8217;i</em>.</p>
<p style="text-align: right;">و قد تقول: ما معني كلي و جزئي؟ فيقال: الكلي هو الأمر الذي تندرج تحته جزئيات.<br />
فمثلا, لو أن رجلا يؤول الصفات الفعلية. هذا الرجل قد وقع في خطإ كلي لأن الصفات الكلية يدخل تحتها صفة الرضا و صفة الغضب و صفة الرحمة الي غير ذلك من الصفات الفعلية. فهذا يعتبر أمرا كليا.</p>
<p>Jika ada yang bertanya apa yang dimaksud dengan perkara <em>kulli</em> dan perkara <em>juz&#8217;i</em> maka jawaban adalah sebagai berikut. Perkara <em>kulli</em> adalah perkara yang membuat banyak perkara <em>juz&#8217;i</em>.</p>
<p>Misalnya adalah orang yang mentakwil (menyelewengkan makna) semua sifat fi&#8217;liyyah bagi Allah. (Sifat fi&#8217;liyyah adalah sifat yang ada pada Allah jika Allah mau dan tidak ada pada Allah jika Allah tidak menghendakinya, pent). Orang yang melakukan hal ini telah terjerumus dalam kesalahan yang bersifat <em>kulli</em>. Dengan tindakkannya ini maka dia berarti menolak sifat rela, marah, kasih sayang dll yang masuk dalam kategori sifat fi&#8217;liyyah. Oleh karena itu orang tersebut dinilai telah menyelisihi ahli sunnah dalam perkara yang bersifat <em>kulli</em>.</p>
<p style="text-align: right;">أما لو أنه أول صفة العجب أو غيرها كصفة واحدة و نحوها فإنه يكون قد وقع في خطإ جزئي لأنه لا يندرج تحت هذا الجزئي أجزاء.</p>
<p>Sedangkan orang yang menyelewengkan sifat heran untuk Allah atau sebuah sifat Allah yang lain maka orang tersebut telah terjerumus dalam kesalahan parsial karena kesalahan semisal ini tidak memiliki banyak turunan.</p>
<p>و الضابط الثاني ما ذكره الإمام أبو العباس ابن تيمية –رحمه الله تعالي- كما في مجموع الفتاوي. سئل –رحمه الله تعالي- متي يخرج الرجل من السنة إلي البدعة؟ قال-رحمه الله تعالي- كلاما. و منه و هو الشاهد إذا خالف في أمر اشتهر فيه خلاف أهل السنة لأهل البدعة. فمن خالف أهل السنة في بعض الجزئيات و قد اشتهر فيها خلاف أهل السنة لأهل البدعة فإن الرجل يبدع و يضلل.</p>
<p>Parameter kedua adalah kaedah yang disebutkan oleh Imam Abul Abbas Ibnu Taimiyyah di <em>Majmu Fatawa</em>. Beliau mendapatkan pertanyaan kapankan seorang itu divonis telah keluar dari Ahli Sunnah dan menjadi Ahli Bid&#8217;ah. Beliau memberikan penjelasan panjang. Diantara yang beliau jelaskan adalah jika ada seseorang yang menyelisihi Ahli Sunnah dalam suatu perkara yang terkenal sebagai pembeda antara Ahli Sunnah dengan Ahli Bid&#8217;ah maka orang tersebut adalah Ahli Bid&#8217;ah. Sekali lagi, jika seorang itu menyelisihi Ahli Sunnah dalam sebuah perkara parsial namun perkara tersebut terkenal sebagai pembeda antara Ahli Sunnah dan Ahli Bid&#8217;ah maka orang tersebut divonis sebagai Ahli Bid&#8217;ah dan orang yang sesat.</p>
<p style="text-align: right;">مثال ذلك لو أن رجلا رأي جواز الخروج علي الحاكم الظالم فإنه يبدع لأنه خالف أهل السنة في أمر اشتهر فيه خلاف أهل السنة لأهل البدعة.</p>
<p>Contohnya adalah orang yang punya pendapat membolehkan pemberontakan terhadap penguasa muslim yang zalim. Orang ini dinilai sebagai Ahli Bid&#8217;ah disebabkan dia telah menyelisihi Ahli Sunnah dalam sebuah perkara yang terkenal sebagai pembeda antara Ahli Sunnah dengan Ahli Bid&#8217;ah.</p>
<p style="text-align: right;">لذلك نص ألإمام أحمد و الإمام سفيان بن سعيد بن مسروق الثوري علي أن الحسن بن صالح بن الحي مبتدع. و ذلك إنه رأي الخروج علي سلطان.<br />
قال الذهبي –كما في كتابه السير- قال: لم يخرج و إنما رأي الخروج و أن لا يصلي الجمعة خلف إمام الجور و مع ذلك بدعه هذان الإمامان.</p>
<p>Oleh sebab itu Imam Ahmad dan Imam Sufyan bin Said bin Masruq ats Tsauri menegaskan bahwa al Hasan bin Shalih al Huyai itu Ahli Bid&#8217;ah. Hal ini dikarenakan dia membolehkan pemberontakan terhadap penguasa muslim.</p>
<p>Dalam kitab <em>as Siyar</em> adz Dzahabi menyebutkan bahwa al Hasan ini belum pernah memberontak. Dia hanya membolehkan pemberontakan dan tidak mau sholat Jumat dengan bermakmum di belakang penguasa yang zalim. Meski demikian dua imam ahli sunnah di atas menyatakan secara tegas bahwa orang itu Ahli Bid&#8217;ah.</p>
<p style="text-align: right;">دلك هذا علي أن الرجل إذا خالف أهل السنة في أمر جزئي وقد اشتهر خلاف أهل السنة فيه لأهل البدعة فإنه يبدع.<br />
بهذين الضابطين يخرج الرجل من السنة إلي البدعة.</p>
<p>Praktik imam ahli sunnah di atas menunjukkan bahwa jika ada seorang yang menyelisihi Ahli Sunnah dalam perkara parsial namun perkara parsial tersebut terkenal sebagai pembeda antara Ahli Sunnah dan Ahli Bid&#8217;ah maka orang tersebut dinilai sebagai Ahli Bid&#8217;ah.</p>
<p>Dengan dua tola ukur di atas seorang itu bisa dinilai keluar dari barisan Ahli Sunnah dan menjadi Ahli Bid&#8217;ah.</p>
<p style="text-align: right;">إذا تبين لك هذا و عرفته أي أنه فلا بد أن تكون في الباب حذرا سائرا علي خطا أهل العلم و أن لا يصير باب التبديع بابا يتلاعب فيه من شاء و يتسلط فيه من شاء علي من يشاء. و إنمايكون المتكلم في هذا الباب متكلما بضوابط أهل العلم, منطلقا من منطلقات أهل العلم حتي يضبط الباب.</p>
<p>Jika hal ini telah anda ketahui dan anda pahami dengan baik maka penjelasan di atas mengharuskan kita untuk bersikap waspada dan berjalan mengikuti langkah para ulama. Sehingga masalah vonis bid&#8217;ah tidak menjadi bahan permainan semua orang akhirnya semua orang bisa menuduh sembarang orang sebagai Ahli Bid&#8217;ah.</p>
<p>Orang yang hendak memvonis orang lain sebagai Ahli Bid&#8217;ah hanya boleh berbicara berdasarkan kaedah-kaedah yang telah dirumuskan oleh para ulama serta bertitik tolak dari dari panduan para ulama. Dengan demikian tidak akan ada kesemrawutan dalam masalah ini.</p>
<p style="text-align: right;">قد يأتي الرجل فيخرج رجلا من أهل السنة في مسألة فتنظر في هذه المسألة فتراها مما يسوغ الخلاف فيها. فمثل هذا, لا يجوز التبديع فيه.</p>
<p>Terkadang ada seorang yang berani mengeluarkan seseorang dari Ahli Sunnah karena sebuah permasalahan padahal jika kita telaah permasalahan tersebut ternyata masalah tersebut adalah permasalahan yang ada ruang untuk berbeda pendapat di dalamnya. Tidak boleh ada vonis Ahli Bid&#8217;ah dalam masalah seperti ini.&#8221;</p>
<p>Sampai di sini penjelasan Syeikh Abdul Aziz ar Rais.</p>
<p>***</p>
<p>Benar apa yang beliau katakan. Tidak sedikit kita jumpai orang yang memvonis orang lain sebagai Ahli Bid&#8217;ah atau Hizbi itu menjawab tidak tahu jika kita tanya apa parameter untuk mengeluarkan seorang dari barisan Ahli Sunnah.</p>
<p>Bahkan setelah diselidiki ternyata vonis tersebut keluar dikarenakan perbedaan yayasan atau menyikapi yayasan tertentu atau guru ngaji atau tempat ngaji atau majalah yang rajin dibaca dan pelajari. <em>Innaa lillahi wa innaa ilahi raji&#8217;un.</em></p>
<p>Sungguh beda orang yang bertindak dan menilai dengan dasar ilmu dan orang yang bertindak dan menilai dengan sekedar dasar perasaan.</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ustadz Aris Munandar<br />
Artikel <a title="Bukan Salafi karena beda guru ngaji" href="http://muslim.or.id/manhaj/bukan-salafi-karena-beda-guru-ngaji.html">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-984"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fbukan-salafi-karena-beda-guru-ngaji.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/bukan-salafi-karena-beda-guru-ngaji.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Solusi Problematika Umat Islam</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/solusi-problematika-umat-islam.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/solusi-problematika-umat-islam.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Jul 2009 07:54:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Adab-Adab Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=885</guid>
		<description><![CDATA[Sungguh musibah silih berganti menimpa kaum muslimin. Realita ini mengharuskan kita semua untuk berpikir keras mencari solusi permasalahan. Banyak analisis yang diberikan beberapa pihak untuk mengidentifikasi problem yang sebenarnya dihadapi oleh kaum muslimin. Jika identifikasi<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/solusi-problematika-umat-islam.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Sungguh musibah silih berganti menimpa kaum muslimin. Realita ini mengharuskan kita semua untuk berpikir keras mencari solusi permasalahan. Banyak analisis yang diberikan beberapa pihak untuk mengidentifikasi problem yang sebenarnya dihadapi oleh kaum muslimin. Jika identifikasi yang diajukan tidak tepat, tentu solusi yang ditawarkan juga tidak pas.<br />
<span id="more-885"></span><br />
Ada yang mengatakan bahwa problema umat Islam yang paling mendasar adalah konspirasi musuh-musuh Islam yaitu orang-orang kafir dan kemenangan orang kafir atas kaum muslimin. Pihak pertama ini menawarkan solusi berupa menyibukan kaum muslimin dengan strategi-strategi orang-orang kafir, perkataan dan penegasan mereka.</p>
<p>Ada juga yang mengatakan bahwa permasalahan kaum muslimin yang paling pokok adalah berkuasanya para pemimpin yang zalim di berbagai negeri kaum muslimin. Sehingga pihak kedua ini menawarkan solusi berupa upaya menggulingkan pemerintahan yang ada dan menyibukkan kaum muslimin dengan hal ini.</p>
<p>Di sisi lain ada juga yang berpendapat bahwa masalah kita yang paling pokok adalah perpecahan kaum muslimin. Oleh karenanya solusi tepat adalah menyatukan kaum muslimin sehingga kaum muslimin unggul dalam kuantitas.</p>
<p>Ada juga analisis keempat. Analisis ini mengatakan bahwa penyakit akut umat ini adalah meninggalkan jihad sehingga obat penyakit ini adalah mengibarkan bendera jihad dan menabuh genderang perang melawan orang-orang kafir.</p>
<p>Marilah kita telaah bersama pendapat-pendapat di atas dengan dua panduan kita yaitu <a title="Solusi problematika umat" href="http://muslim.or.id/manhaj/solusi-problematika-umat-islam.html">Al Qur&#8217;an dan Sunnah</a>.<br />
Terkait dengan pendapat pertama, kita jumpai firman Allah,</p>
<p class="arab">وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا</p>
<p><em>&#8220;Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu.&#8221;</em> (Qs. Ali Imran: 120)</p>
<p>Ayat di atas dengan tegas menunjukkan bahwa jika kita benar-benar bertakwa kepada Allah maka konspirasi musuh bukanlah ancaman yang berarti.</p>
<p>Tentang pendapat kedua, kita jumpai firman Allah,</p>
<p class="arab">وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ</p>
<p><em>&#8220;Dan demikianlah, kami jadikan orang yang zalim sebagai pemimpin bagi orang zalim disebabkan maksiat yang mereka lakukan.&#8221;</em> (Qs. Al An&#8217;am: 129)</p>
<p>Ayat ini menunjukkan bahwa penguasa yang zalim hukuman yang Allah timpakan kepada rakyat yang juga zalim disebabkan dosa-dosa rakyat. Jika demikian, penguasa yang zalim bukanlah penyakit bahkan penyakit sebenarnya adalah keadaan rakyat.</p>
<p>Sedangkan untuk pendapat ketiga kita dapati firman Allah,</p>
<p class="arab">وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا</p>
<p><em>&#8220;Dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah (mu), Maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun.&#8221;</em> (Qs. At Taubah: 25)</p>
<p>Ayat ini menunjukkan bahwa persatuan dan jumlah yang banyak tidaklah bermanfaat jika kemaksiatan tersebar di tengah-tengah mereka. Kita lihat dosa ujub telah menghancurkan faedah dari jumlah yang banyak sehingga para shahabat menuai kekalahan pada saat perang Hunain. Di antara maksiat adalah menyatukan barisan bersama orang-orang yang membenci sunnah Nabi karena sikap tepat terhadap mereka adalah memberikan nasihat, bukan mendiamkan kesalahan. Sikap minimal adalah mengingkari dengan hati dalam bentuk tidak menghadiri acara-acara yang menyimpang dari sunnah bukan malah menikmati.</p>
<p>Untuk pendapat keempat kita katakan bahwa jihad itu bukanlah tujuan namun yang menjadi tujuan adalah menegakkan agama Allah di muka bumi. Oleh karena itu, ketika kaum muslimin lemah dari sisi agama dan persenjataan maka menabuh genderang perang pada saat itu lebih banyak bahayanya dari pada manfaatnya. Oleh karena itu, Allah tidak mewajibkan jihad kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> saat beliau masih berada di Mekah dikarenakan berperang ketika itu lebih banyak bahayanya dari pada manfaatnya.</p>
<p>Oleh karena itu, identifikasi yang tepat untuk penyakit yang membinasakan umat dan menjadikan kaum muslimin terbelakang adalah dosa-dosa kita sendiri. Banyak dalil dari al Qur&#8217;an yang menunjukkan hal ini. Di antaranya adalah firman Allah,</p>
<p class="arab">أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ</p>
<p><em>&#8220;Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), Padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: &#8220;Dari mana datangnya (kekalahan) ini?&#8221; Katakanlah, &#8220;Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.&#8221; Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.&#8221;</em> (Qs. Ali Imran: 165)</p>
<p>Oleh sebab itu, obat yang mujarab adalah membersihkan diri kita dan seluruh umat dari dosa. Sedangkan dosa yang paling berbahaya adalah syirik dan bid&#8217;ah. Demikian pula kita berusaha dengan penuh kesungguhan untuk mengembalikan umat kepada panduan hidup mereka yaitu Al Qur&#8217;an dan sunnah Rasul sebagaimana pemahaman salaf. Kita habiskan umur dan harta kita untuk menegakan bendera tauhid dan sunnah dan menghancurkan bendera syirik dan bid&#8217;ah dengan berbagai sarana dan media yang kita miliki.</p>
<p>Jika bendera tauhid dan sunnah telah tegak berkibar dan bendera syirik dan bid&#8217;ah hancur maka saat itu kita berhak mendapatkan janji Allah yaitu kemenangan.</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ustadz Aris Munandar<br />
Artikel <a title="Solusi problematika umat" href="http://muslim.or.id/manhaj/solusi-problematika-umat-islam.html">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-885"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fsolusi-problematika-umat-islam.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/solusi-problematika-umat-islam.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manfaat dan Keutamaan Mengikuti Manhaj (Metode Pemahaman) Salaf</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/manfaat-dan-keutamaan-mengikuti-manhaj-metode-pemahaman-salaf.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/manfaat-dan-keutamaan-mengikuti-manhaj-metode-pemahaman-salaf.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Mar 2009 04:32:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=572</guid>
		<description><![CDATA[بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله وآله وصحبه أجمعين، أما بعد Prolog Manhaj salaf adalah satu-satunya manhaj yang diakui kebenarannya oleh Allah ta&#8217;ala dan Rasul-Nya shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, karena<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/manfaat-dan-keutamaan-mengikuti-manhaj-metode-pemahaman-salaf.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p class="arab" align="center">بسم الله الرحمن الرحيم</p>
<p>الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله وآله وصحبه  أجمعين، أما بعد</p>
<p><strong>Prolog</strong></p>
<p>Manhaj salaf  adalah satu-satunya manhaj yang diakui kebenarannya oleh Allah <em>ta&#8217;ala</em> dan Rasul-Nya <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, karena manhaj ini  mengajarkan pemahaman dan pengamalan islam secara lengkap dan menyeluruh,  dengan tetap menitikberatkan kepada masalah tauhid dan pokok-pokok keimanan  sesuai dengan perintah Allah <em>ta&#8217;ala</em> dan Rasul-Nya <em>shallallahu &#8216;alaihi  wa sallam</em>, Allah berfirman:</p>
<p class="arab" align="right">{وَالسَّابِقُونَ  الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ  بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ  تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ  الْعَظِيمُ}</p>
<p><em>&#8220;Orang-orang yang  terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari (kalangan) orang-orang  muhajirin dan anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah  ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada-Nya, dan Allah menyediakan bagi  mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di  dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.&#8221;</em> (Qs. At Taubah: 100)</p>
<p><span id="more-572"></span></p>
<p>Dalam ayat lain, Allah <em>ta&#8217;ala</em> memuji keimanan para sahabat <em>radhiyallahu  &#8216;anhum</em> dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam firman-Nya:</p>
<p class="arab" align="right">فَإِنْ  آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا</p>
<p><em>&#8220;Dan jika mereka  beriman seperti keimanan kalian, maka sungguh mereka telah mendapatkan petunjuk  (ke jalan yang benar).&#8221;</em> (Qs. Al Baqarah: 137)</p>
<p>Dalam hadits yang shahih tentang perpecahan umat ini menjadi 73 golongan,  Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda: <em>&#8220;Semua  golongan tersebut akan masuk neraka, kecuali satu golongan, yaitu <strong>Al Jama&#8217;ah</strong>&#8220;</em>.  Dalam riwayat lain: <em>&#8220;Mereka (yang selamat) adalah orang-orang yang  mengikuti petunjukku dan petunjuk para sahabatku.&#8221;</em> (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ad Darimy dan imam-imam  lainnya, dishahihkan oleh Ibnu Taimiyyah, Asy Syathiby dan Syaikh Al Albany. Lihat <em>&#8220;Silsilatul Ahaaditsish Shahihah&#8221;</em> no. 204)</p>
<p>Maka mengikuti manhaj salaf adalah satu-satunya cara untuk bisa meraih  keselamatan di dunia dan akhirat, sebagaimana hanya dengan mengikuti manhaj  inilah kita akan bisa meraih semua keutamaan dan kebaikan yang Allah <em>ta&#8217;ala</em> janjikan dalam agama-Nya, sebagaimana sabda Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi  wa sallam</em>: &#8220;Sebaik-baik umatku adalah generasi yang aku diutus di masa  mereka (para sahabat <em>radhiyallahu &#8216;anhum</em>), kemudian generasi yang datang  setelah mereka, kemudian generasi yang datang setelah mereka.&#8221; (HR. Al Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Berkata Imam Ibnul Qayyim dalam menjelaskan hadits di atas: &#8220;Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memberitakan (dalam hadits ini) bahwa  generasi yang terbaik secara mutlak adalah generasi di masa Beliau <em>shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em> (para sahabat <em>radhiyallahu &#8216;anhum</em>), dan ini  mengandung pengertian keterdepanan mereka dalam seluruh aspek kebaikan (dalam  agama ini), karena kalau kebaikan mereka (hanya) dalam beberapa aspek (tidak  sempurna dan menyeluruh) maka mereka tidak akan dinamakan (oleh Nabi <em>shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em> sebagai) generasi yang terbaik secara mutlak&#8221;. Maksud  terbaik secara mutlak yaitu kebaikan yang ada pada mereka adalah kebaikan yang  sempurna dan menyeluruh pada semua aspek kebaikan dalam agama. (Lihat Kitab <em>I&#8217;laamul  muwaqqi&#8217;iin,</em> 4/136- cet. <em>Daarul Jiil</em>, Beirut, 1973)</p>
<p>Untuk lebih jelasnya pembahasan masalah ini, berikut ini kami akan  menyebutkan dan menjelaskan beberapa contoh/poin penting yang menunjukkan  besarnya manfaat dan keutamaan yang bisa kita capai dengan berusaha memahami  dan mengamalkan manhaj salaf dengan baik dan benar, serta mustahilnya mencapai  semua itu dengan mengikuti selain manhaj yang benar ini:</p>
<p><strong>1- Keteguhan iman dan  keistiqamahan dalam agama di dunia dan akhirat</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p class="arab" align="right">{يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا  بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ  اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ}</p>
<p><em>&#8220;Allah meneguhkan  (iman) orang-orang yang beriman dengan &#8216;ucapan yang teguh&#8217; dalam kehidupan di  dunia dan di akhirat, dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan  memperbuat apa yang Dia kehendaki.&#8221;</em> (Qs. Ibrahim: 27)</p>
<p>Makna &#8216;ucapan yang teguh&#8217; dalam ayat di atas ditafsirkan sendiri oleh  Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam hadits shahih yang  diriwayatkan oleh seorang sahabat yang mulia Al Bara&#8217; bin &#8216;Aazib <em>radhiyallahu  &#8216;anhu</em>, bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda: <em>&#8220;Seorang  muslim ketika ditanya di dalam kubur (oleh Malaikat Munkar dan Nakir) maka dia  akan bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah (Laa Ilaaha  Illallah) dan bahwa Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam adalah utusan Allah  (Muhammadur Rasulullah), itulah (makna) firman-Nya: {Allah meneguhkan (iman)  orang-orang yang beriman dengan &#8216;ucapan yang teguh&#8217; dalam kehidupan di dunia  dan di akhirat}.&#8221;</em>. (HR. Al Bukhari dalam <em>Shahih Al Bukhari</em>, no.  4422- cet. Daar Ibni Katsir, Beirut, 1407 H. Hadits yang semakna juga  diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam <em>Shahih Muslim,</em> no. 2871- cet. <em>Daar  Ihya-it turats al &#8216;araby</em>, Beirut)</p>
<p>Ayat dan hadits di atas menunjukkan bahwa keteguhan iman dan keistiqamahan  dalam agama hanyalah Allah <em>ta&#8217;ala</em> anugerahkan kepada orang beriman yang  memiliki &#8216;ucapan yang teguh&#8217;, yaitu dua kalimat syahadat yang dipahami dan  diamalkan dengan baik dan benar.</p>
<p>Maka berdasarkan keterangan di atas, jelaslah bagi kita salah satu  keutamaan dan manfaat besar mengikuti manhaj salaf, karena tidak diragukan lagi  hanya manhaj salaf-lah satu-satunya manhaj yang benar-benar memberikan  perhatian besar kepada pemahaman dan pengamalan dua kalimat syahadat dengan baik  dan benar, dengan selalu mengutamakan pembahasan tentang kalimat Tauhid (<em>Laa  Ilaaha Illallah</em>), keutamaannya, kandungannya, syarat-syaratnya,  rukun-rukunnya, hal-hal yang membatalkan dan mengurangi kesempurnaannya,  disertai peringatan keras untuk menjauhi perbuatan syirik dan semua perbuatan  yang bertentangan dengan tauhid.</p>
<p>Demikian pula perhatian besar manhaj salaf terhadap kalimat syahadat (<em>Muhammadur  Rasulullah</em>), dengan selalu mengutamakan pembahasan tentang keindahan dan  kesempurnaan Sunnah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, disertai  peringatan keras untuk menjauhi perbuatan <em>bid&#8217;ah</em> dan semua perbuatan  yang bertentangan dengan Sunnah.</p>
<p>Berkata Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu: &#8220;Al Firqatun Naajiyah  (golongan yang selamat dari ancaman azab Allah <em>ta&#8217;ala</em> / orang-orang yang  mengikuti manhaj salaf) adalah orang-orang yang (sangat) mengutamakan Tauhid,  yaitu mengesakan Allah dalam beribadah, seperti berdoa, meminta pertolongan,  memohon keselamatan dalam keadaan susah maupun senang, berkurban, bernazar, dan  ibadah-ibadah lainnya, serta keharusan menjauhi syirik dan fenomena-fenomenanya  yang terlihat nyata di kebanyakan negara Islam&#8230; Dan mereka adalah orang-orang  yang selalu menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa  sallam</em> dalam ibadah, tingkah laku dan (semua sisi) kehidupan mereka,  sehingga jadilah mereka sebagai orang-orang yang asing di tengah masyarakat,  sebagaimana sabda Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang  menggambarkan keadaan mereka: <em>&#8220;Sesungguhnya islam awalnya datang dalam  keadaan asing, dan nantinya pun (di akhir jaman) akan kembali asing, maka  beruntunglah (akan mendapatkan surga) orang-orang yang asing (karena berpegang  teguh dengan sunnah Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam)&#8221;</em> (HR. Muslim).  Dalam riwayat lain: <em>&#8220;&#8230; Mereka adalah orang-orang yang berbuat  kebaikan ketika manusia dalam keadaan rusak&#8221;</em>. Berkata Syaikh Al  Albani: Hadits ini diriwayatkan oleh Abu &#8216;Amr Ad Daani dengan sanad yang shahih.&#8221;  (<em>Minhaajul Firqatin Naajiyah</em>, hal. 7-8 &#8211; cet. Daarush Shami&#8217;i, Riyadh)</p>
<p><strong>2- Meraih Kenikmatan tertinggi  di Surga, yaitu Melihat Wajah Allah <em>ta&#8217;ala</em> yang Maha Mulia dan Maha Tinggi</strong></p>
<p>Dalam hadits shahih dari seorang sahabat yang mulia Shuhaib bin Sinan <em>radhiyallahu  &#8216;anhu</em> bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda: <em>&#8220;Jika  penghuni surga telah masuk surga, Allah ta&#8217;ala Berfirman: &#8220;Apakah kalian  (wahai penghuni surga) menginginkan sesuatu sebagai tambahan (dari kenikmatan  surga)? Maka mereka menjawab: Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah  kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan  kami dari (azab) neraka? Maka (pada waktu itu) Allah Membuka hijab (yang  menutupi wajah-Nya Yang Maha Mulia), dan penghuni surga tidak pernah mendapatkan  suatu (kenikmatan) yang lebih mereka sukai dari pada melihat (wajah) Allah ta&#8217;ala&#8221;</em>, kemudian Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi  wa sallam</em> membaca ayat berikut:</p>
<p class="arab" align="right">للذين  أحسنوا الحسنى وزيادة</p>
<p><em> &#8220;Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan, ada  pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (melihat wajah Allah ta&#8217;ala)&#8221;</em> (QS Yunus: 26). (HR. Muslim dalam <em>Shahih Muslim,</em> no. 181)</p>
<p>Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam kitab beliau <em>&#8220;Ighaatsatul  lahafaan&#8221;</em> (Hal. 70-71, <em>Mawaaridul amaan</em>, cet. Daar Ibnil Jauzi,  Ad Dammaam, 1415 H) menjelaskan bahwa kenikmatan tertinggi di akhirat ini  (melihat wajah Allah <em>ta&#8217;ala</em>) adalah balasan yang Allah <em>ta&#8217;ala</em> berikan kepada orang yang merasakan kenikmatan tertinggi di dunia, yaitu  kesempurnaan dan kemanisan iman, kecintaan yang sempurna dan kerinduan untuk  bertemu dengan-Nya, serta perasaan tenang dan bahagia ketika mendekatkan diri  dan berzikir kepada-Nya. Untuk lebih jelas pembahasan masalah ini, silakan baca  tulisan kami yang berjudul &#8220;Indahnya Islam Manisnya Iman&#8221;. Dalam  sebuah ucapannya yang tersohor Ibnu Taimiyyah berkata: &#8220;Sesungguhnya di dunia  ini ada jannnah (surga), barangsiapa yang belum masuk ke dalam surga di dunia  ini maka dia tidak akan masuk ke dalam surga di akhirat nanti.&#8221; (<em>Al  Waabilush Shayyib</em>, 1/69)</p>
<p>Beliau menjelaskan hal ini berdasarkan lafazh doa Rasulullah <em>shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam sebuah hadits yang shahih: &#8220;Aku meminta  kepada-Mu (ya Allah) kenikmatan memandang wajah-Mu (di akhirat nanti) dan aku  meminta kepada-Mu kerinduan untuk bertemu dengan-Mu (sewaktu di dunia)&#8230;&#8221;  (HR. An Nasa-i dalam <em>&#8220;As Sunan&#8221;</em> (3/54 dan 3/55), Imam Ahmad  dalam <em>&#8220;Al Musnad&#8221;</em> (4/264), Ibnu Hibban dalam &#8220;Shahihnya&#8221;  (no. 1971) dan Al Hakim dalam <em>&#8220;Al Mustadrak&#8221;</em> (no. 1900), dishahihkan  oleh Ibnu Hibban, Al Hakim, disepakati oleh Adz Dzahabi dan Sykh Al Albani  dalam <em>&#8220;Zhilaalul Jannah Fii Takhriijis Sunnah&#8221;</em> (no. 424))</p>
<p>Dari keterangan di atas juga terlihat jelas besarnya keutamaan dan manfaat  mengikuti manhaj salaf. Karena kemanisan iman, kecintaan yang sempurna dan  kerinduan untuk bertemu dengan Allah <em>ta&#8217;ala</em> merupakan buah yang paling  utama dari <strong><em>ma&#8217;rifatullah</em> </strong>(pengenalan/pengetahuan yang benar dan  sempurna tentang Allah <em>ta&#8217;ala</em> dan sifat-sifat-Nya),  yang mana <em>ma&#8217;rifatullah</em> yang benar dan sempurna tidak akan mungkin  dicapai kecuali dengan mempelajari dan memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah <em>ta&#8217;ala</em> dalam Al Qur-an dan Hadits Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa  sallam</em> dengan metode pemahaman yang benar, yang ini semua hanya didapatkan  dalam manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama&#8217;ah/<a title="Manhaj Salaf" href="http://muslim.or.id/manhaj-salaf/manfaat-dan-keutamaan-mengikuti-manhaj-metode-pemahaman-salaf.html">manhaj Salaf</a>.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: &#8220;Ini adalah ideologi golongan  yang selamat dan selalu mendapatkan pertolongan dari Allah <em>ta&#8217;ala</em> sampai  hari kiamat, (yang mereka adalah) Ahlus Sunnah wal jama&#8217;ah (orang-orang yang  mengikuti manhaj salaf), yaitu beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya,  kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, (hari) kebangkitan setelah kematian, dan  beriman kepada takdir Allah yang baik maupun yang buruk.</p>
<p>Termasuk iman kepada Allah (yang diyakini Ahlus Sunnah wal jama&#8217;ah) adalah  mengimani sifat-sifat Allah <em>ta&#8217;ala</em> yang Dia tetapkan bagi diri-Nya dalam  Al Qur-an dan yang ditetapkan oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> (dalam hadits-hadits yang shahih), tanpa <em>tahriif</em> (menyelewengkan  maknanya), tanpa <em>ta&#8217;thiil</em> (menolaknya), tanpa <em>takyiif</em> (membagaimanakan/menanyakan bentuknya), dan tanpa <em>tamtsiil</em> (menyerupakannya  dengan sifat-sifat makhluk). Ahlus Sunnah wal jama&#8217;ah mengimani bahwa Allah <em>ta&#8217;ala</em>:</p>
<p class="arab" align="right">{لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ  السَّمِيعُ الْبَصِيرُ}</p>
<p><em> &#8220;Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan  Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.&#8221;</em> (Qs. Asy Syuura:11)</p>
<p>Maka Ahlus Sunnah wal jama&#8217;ah tidak menolak sifat-sifat yang Allah tetapkan  bagi diri-Nya, tidak menyelewengkan makna firman Allah dari arti yang  sebenarnya, tidak menyimpang (dari kebenaran) dalam (menetapkan) nama-nama  Allah (yang maha indah) dan dalam (memahami) ayat-ayat-Nya. Mereka tidak  membagaimanakan /menanyakan bentuk sifat Allah dan tidak menyerupakan sifat-Nya  dengan sifat makhluk. Karena Allah <em>ta&#8217;ala</em> tiada yang serupa, setara dan  sebanding dengan-Nya, Dia <em>ta&#8217;ala</em> tidak boleh dianalogikan dengan  makhluk-Nya, dan Dia-lah yang paling mengetahui tentang diri-Nya dan tentang  makhluk-Nya, serta Dia-lah yang paling benar dan baik perkataan-Nya dibanding  (semua) makhluk-Nya. Kemudian (setelah itu) para Rasul-Nya <em>shallallahu &#8216;alaihi  wa sallam</em> orang-orang yang benar (ucapannya) dan dibenarkan, berbeda dengan  orang-orang yang berkata tentang Allah <em>ta&#8217;ala</em> tanpa pengetahuan. Oleh  karena itulah Allah <em>ta&#8217;ala</em> Berfirman:</p>
<p class="arab" align="right">{سبحان ربك رب العزة عما يصفون وسلام  على المرسلين والحمد لله رب العالمين}</p>
<p><em> &#8220;Maha Suci Rabbmu Yang mempunyai kemuliaan dari  apa yang mereka katakan, Dan keselamatan dilimpahkan kepada para Rasul, Dan  segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam.&#8221;</em> (Qs. Ash Shaaffaat: 180-182)</p>
<p>Maka (dalam ayat ini) Allah menyucikan diri-Nya dari apa yang disifatkan  orang-orang yang menyelisihi (petunjuk) para Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa  sallam</em>, kemudian Allah menyampaikan salam (keselamatan) kepada para Rasul <em>shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em> karena selamat (suci)nya ucapan yang mereka sampaikan  dari kekurangan dan celaan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> telah menghimpun antara <em>an  nafyu</em> (meniadakan sifat-sifat buruk) dan <em>al itsbat </em>(menetapkan  sifat-sifat yang maha baik dan sempurna) dalam semua nama dan sifat yang Dia  tetapkan bagi diri-Nya, maka Ahlus Sunnah wal jama&#8217;ah sama sekali tidak  menyimpang dari petunjuk yang dibawa oleh para Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa  sallam</em>, karena itulah jalan yang lurus; jalannya orang-orang yang  dianugerahi nikmat oleh Allah <em>ta&#8217;ala</em>, yaitu para Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi  wa sallam</em>, para shiddiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang  yang shaleh.&#8221; (Kitab <em>&#8220;Al &#8216;Aqiidatul Waasithiyyah&#8221;</em> (hal. 6-8))</p>
<p><strong>3- Menggapai taufik  dari Allah <em>ta&#8217;ala</em> yang merupakan kunci  pokok segala kebaikan</strong></p>
<p>Berkata Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah: &#8220;Kunci pokok segala kebaikan  adalah dengan kita mengetahui (meyakini) bahwa apa yang Allah kehendaki (pasti)  akan terjadi dan apa yang Dia tidak kehendaki maka tidak akan terjadi. Karena  pada saat itulah kita yakin bahwa semua kebaikan (amal shaleh yang kita  lakukan) adalah termasuk nikmat Allah (karena Dia-lah yang memberi kemudahan  kepada kita untuk bisa melakukannya), sehingga kita akan selalu mensyukuri  nikmat tersebut dan bersungguh-sungguh merendahkan diri serta memohon kepada  Allah agar Dia tidak memutuskan nikmat tersebut dari diri kita. Sebagaimana  (kita yakin) bahwa semua keburukan (amal jelek yang kita lakukan) adalah karena  hukuman dan berpalingnya Allah dari kita, sehingga kita akan memohon dengan  sungguh-sungguh kepada Allah agar menghindarkan diri kita dari semua perbuatan  buruk tersebut, dan agar Dia tidak menyandarkan (urusan) kita dalam melakukan  kebaikan dan meninggalkan keburukan kepada diri kita sendiri.</p>
<p>Telah bersepakat <em>al &#8216;Aarifun</em> (orang-orang yang memiliki pengetahuan  yang dalam tentang Allah dan sifat-sifat-Nya) bahwa asal semua kebaikan adalah  taufik dari Allah <em>ta&#8217;ala</em> kepada hamba-Nya, sebagaimana asal semua  keburukan adalah <em>khidzlaan</em> (berpalingnya) Allah <em>ta&#8217;ala</em> dari  hamba-Nya. Mereka juga bersepakat bahwa (arti) taufik itu adalah dengan Allah  tidak menyandarkan (urusan) kita kepada diri kita sendiri, dan (sebaliknya  arti) <em>al khidzlaan</em> (berpalingnya Allah <em>ta&#8217;ala</em> dari hamba) adalah  dengan Allah membiarkan diri kita (bersandar) kepada diri kita sendiri (tidak  bersandar kepada Allah <em>ta&#8217;ala</em>)&#8230;&#8221;</p>
<p>Oleh karena itulah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berlindung dari hal ini dalam doa beliau yang terkenal dan termasuk doa yang  dianjurkan untuk dibaca pada waktu pagi dan petang: <em>&#8220;&#8230; (Ya Allah!) jadikanlah  baik semua urusanku dan janganlah Engkau membiarkan diriku bersandar kepada  diriku sendiri (meskipun cuma) sekejap mata.&#8221;</em> (HR. An Nasa-i dalam <em>&#8220;As  Sunan&#8221;</em> (6/147) dan Al Hakim dalam <em>&#8220;Al Mustadrak&#8221;</em> (no.  2000), dishahihkan oleh Al Hakim, disepakati oleh Adz Dzahabi dan dihasankan  oleh Syaikh Al Albani dalam <em>Silsilatul Ahaaditsish Shahihah</em> (1/449,  no. 227)) (Kitab <em>Al Fawa-id</em> (hal. 133- cet. Muassasah ummil Qura, Mesir  1424 H))</p>
<p>Dari keterangan Imam Ibnul Qayyim di atas jelaslah bagi kita bahwa kunci  pokok segala kebaikan adalah memahami dan mengimani bahwa apa yang Allah kehendaki  (pasti) akan terjadi dan apa yang Dia tidak kehendaki maka tidak akan terjadi,  yang ini merupakan kesimpulan makna iman kepada takdir Allah <em>ta&#8217;ala</em> yang  baik maupun yang buruk. Dan sekali lagi ini menunjukkan besarnya manfaat dan  keutamaan mengikuti manhaj salaf, karena pemahaman yang benar terhadap masalah  takdir Allah <em>ta&#8217;ala</em> hanya ada pada manhaj salaf. Untuk lebih jelasnya,  baca keterangan Ibnu Taimiyyah dalam <em>Al &#8216;Aqiidatul waasithiyyah </em>(hal. 22) tentang lurusnya pemahaman Ahlus Sunnah wal jama&#8217;ah dalam masalah  iman kepada takdir Allah dan sesatnya pemahaman-pemahaman lain yang menyimpang  dari pemahaman Ahlus Sunnah wal jama&#8217;ah.</p>
<p><strong>4- Mendapatkan semua kemuliaan yang Allah <em>Ta&#8217;ala</em> sediakan di akhirat</strong></p>
<p>Imam Ibnu Katsir ketika menjelaskan kewajiban mengimani keberadaan <em>Al  Haudh</em> (telaga milik Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> di  akhirat nanti) yang merupakan bagian dari iman kepada hari akhir, beliau  berkata: &#8220;Penjelasan tentang telaga Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa  sallam</em> –semoga Allah Memudahkan kita meminum dari telaga tersebut pada hari  kiamat– (yang disebutkan) dalam hadits-hadits yang telah dikenal dan  (diriwayatkan) dari banyak jalur yang kuat, meskipun ini tidak disukai oleh  orang-orang ahlul bid&#8217;ah yang bersikeras kepala menolak dan mengingkari  keberadaan telaga ini. Mereka inilah yang paling terancam untuk dihalangi  (diusir) dari telaga tersebut (pada hari kiamat) (Sebagaimana yang disebutkan  dalam hadits shahih riwayat Imam Al Bukhari (no. 6211) dan Muslim (no. 2304) dari  Anas bin Malik <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>.), sebagaimana ucapan salah seorang  ulama salaf: &#8220;Barangsiapa yang mendustakan (mengingkari) suatu kemuliaan  maka dia tidak akan mendapatkan kemuliaan tersebut&#8230;&#8221; (Kitab <em>An  Nihayah Fiil Fitani Wal Malaahim </em>(hal. 127))</p>
<p>Ucapan yang dinukil oleh Imam Ibnu Katsir ini menunjukkan bahwa semua  kemuliaan yang Allah <em>ta&#8217;ala</em> sediakan di akhirat,  seperti kenikmatan di alam kubur, meminum dari telaga Rasulullah <em>shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em>, mendapatkan Syafa&#8217;at Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi  wa sallam</em> dan orang-orang yang diizinkan Allah <em>ta&#8217;ala</em> untuk  memberikan syafaat bahkan termasuk kenikmatan di dalam surga, hanyalah Allah <em>ta&#8217;ala</em> anugerahkan kepada orang-orang yang tidak mengingkari dan mengimaninya dengan  benar. Ini juga menunjukkan besarnya manfaat dan keutamaan mengikuti manhaj  salaf, karena hanya dengan mengikuti manhaj salaflah kita bisa memahami dan  mengimani  hal-hal tersebut dengan baik  dan benar, sehingga orang-orang yang memahami dan mengimani hal-hal tersebut  berdasarkan manhaj salaf merekalah yang paling diutamakan untuk meraih semua  kemuliaan tersebut dengan sempurna. Adapun orang-orang yang tidak memahami dan  mengimani hal-hal tersebut dengan benar karena tidak mengikuti manhaj salaf,  maka mereka sangat terancam untuk terhalangi dari mendapatkan  kemuliaan-kemuliaan tersebut, minimal akan berkurang kesempurnaannya,  tergantung dari jauh dekat pemahaman tersebut dari pemahaman salaf.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Contoh-contoh di atas jelas sekali menunjukkan besarnya manfaat dan  keutamaan yang bisa kita raih di dunia dan akhirat dengan mengikuti manhaj  salaf, masih banyak contoh lain yang tidak mungkin kami sebutkan semua. Semoga  dengan contoh-contoh ini kita semakin termotivasi untuk lebih giat mengkaji dan  mengamalkan petunjuk para ulama salaf dalam beragama, agar kita semakin  sempurna mendapatkan manfaat dan kebaikan yang Allah <em>ta&#8217;ala</em> sediakan  bagi hamba-hambanya yang menjalankan agamanya dengan baik dan benar.</p>
<p>Sebagai penutup, alangkah indahnya ucapan seorang penyair yang berkata:</p>
<p><em>Semua kebaikan (hanya  dapat dicapai) dengan mengikuti (manhaj) salaf</em><br />
<em>Dan semua keburukan ada pada perbuatan bid&#8217;ah orang-orang khalaf</em></p>
<p>Khalaf adalah orang-orang  yang menyelisihi manhaj salaf.</p>
<p class="arab" align="right">وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله  وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين</p>
<p>Kota Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>,  5 Dzulqa&#8217;dah 1429 H</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Abdullah bin Taslim Al  Buthoni<br />
Artikel <a title="Manhaj Salaf" href="http://muslim.or.id/manhaj-salaf/manfaat-dan-keutamaan-mengikuti-manhaj-metode-pemahaman-salaf.html">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-572"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fmanfaat-dan-keutamaan-mengikuti-manhaj-metode-pemahaman-salaf.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/manfaat-dan-keutamaan-mengikuti-manhaj-metode-pemahaman-salaf.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>46</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mari Mengenal Manhaj Salaf</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/mari-mengenal-manhaj-salaf.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/mari-mengenal-manhaj-salaf.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Nov 2008 13:04:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=430</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah yeng telah mengutus Nabi Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan membangkitkan para sahabat sebagai pendamping dan pembela dakwah beliau. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Muhammad, keluarga dan para pengikutnya<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/mari-mengenal-manhaj-salaf.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Segala puji bagi Allah yeng telah mengutus Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan membangkitkan para sahabat sebagai pendamping dan pembela dakwah beliau. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Muhammad, keluarga dan para pengikutnya yang setia hingga akhir masa.<em> Amma ba&#8217;du</em>. Kaum muslimin sekalian, semoga Allah melimpahkan hidayah dan taufik-Nya kepada kita. Seringkali masyarakat dibingungkan oleh sebuah istilah yang belum mereka mengerti dengan baik. Nah, dibangun di atas kebingungan inilah kemudian muncul berbagai persangkaan dan bahkan tuduhan bukan-bukan kepada sesama saudara seiman. Perlu kita ingat bersama bahwa cek dan ricek merupakan bagian dari keindahan ajaran Islam yang harus kita jaga. Allah ta&#8217;ala berfirman yang artinya, <em>&#8220;Wahai orang-orang yang beriman jika orang fasik datang kepada kalian membawa berita maka telitilah kebenarannya&#8230;&#8221;</em> (QS. Al Hujuraat: 6) (Silakan baca penjelasan ayat ini di dalam rubrik Tafsir Majalah As Sunnah Edisi 01/Thn X/1427 H/2006 M, hal. 11-15).</p>
<p><span id="more-430"></span></p>
<p>Saudara-saudara sekalian, di hadapan kita ada sebuah istilah yang cukup populer namun sering disalahpahami oleh sebagian orang. Istilah yang dimaksud adalah kata <strong>salaf</strong> atau <strong>salafi</strong> dan <strong>salafiyah</strong>. Menimbang pentingnya hakikat permasalahan ini untuk diungkap dan dijelaskan maka kami memohon pertolongan kepada Allah ta&#8217;ala untuk turut berpartisipasi mengurai &#8220;benang kusut&#8221; ini. Semoga Allah menjadikan amal-amal kita ikhlas untuk mengharapkan wajah-Nya semata. <em>Wallahu waliyyut taufiiq</em>.</p>
<p>Syaikh Salim Al Hilaly -salah satu murid senior Ahli Hadits abad ini Syaikh Al Albani- <em>hafizhahullah</em> telah membeberkan perkara ini dengan gamblang dalam buku beliau <strong>Limadza Ikhtartul Manhaj Salafy</strong> yang sudah diterjemahkan oleh Ustadz Kholid Syamhudi, Lc. <em>hafizhahullah</em> dengan judul <strong>Mengapa Memilih Manhaj Salaf</strong> penerbit Pustaka Imam Bukhari, Solo. Kami sangat menganjurkan kepada para pembaca sekalian untuk memiliki atau membaca langsung buku tersebut. Orang bilang, <em>&#8220;Tak kenal maka tak sayang&#8230;&#8221;</em></p>
<p><strong>Pemahaman yang Benar dan Niat Baik</strong></p>
<p>Pada awal risalah ini kami ingin menukilkan sebuah perkataan berharga dari Imam Ibnul Qayyim demi mengingatkan kaum muslimin sekalian agar menjaga diri dari dua bahaya besar, yaitu kesalah pahaman dan niat yang buruk. Imam Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> mengatakan, &#8220;Pemahaman yang benar dan niat yang baik adalah termasuk nikmat paling agung yang dikaruniakan Allah kepada hamba-Nya. Bahkan tidaklah seorang hamba mendapatkan pemberian yang lebih utama dan lebih agung setelah nikmat Islam daripada memperoleh kedua nikmat ini. Bahkan kedua hal ini adalah pilar tegaknya agama Islam, dan Islam tegak di atas pondasi keduanya. Dengan dua nikmat inilah hamba bisa menyelamatkan dirinya dari terjebak di jalan orang yang dimurkai (<em>al maghdhuubi &#8216;alaihim</em>) yaitu orang yang memiliki niat yang rusak. Dan juga dengan keduanya ia selamat dari jebakan jalan orang sesat (<em>adh dhaalliin</em>) yaitu orang-orang yang pemahamannya rusak. Sehingga dengan itulah dia akan termasuk orang yang meniti jalan orang yang diberi nikmat (<em>an&#8217;amta &#8216;alaihim</em>) yaitu orang-orang yang memiliki pemahaman dan niat yang baik. Mereka itulah pengikut <em>shirathal mustaqim</em>&#8230;&#8221; (<em>I&#8217;laamul Muwaqqi&#8217;iin</em>, 1/87, dinukil dari <em>Min Washaaya Salaf</em>, hal. 44).</p>
<p>Oleh sebab itu di sini kami katakan: Hendaknya kita semua berusaha seoptimal mungkin untuk memahami persoalan yang kita hadapi ini sebaik-baiknya dengan dilandasi niat yang baik yaitu untuk mencari kebenaran dan kemudian mengikutinya. Hal ini sangatlah penting. Karena tidak sedikit kita saksikan orang-orang yang memiliki niat yang baik namun karena kurang bisa mencermati hakikat suatu permasalahan akhirnya dia terjatuh dalam kekeliruan, sungguh betapa banyak orang semacam ini&#8230; Di sisi lain adapula orang-orang yang apabila kita lihat dari sisi taraf pendidikan atau gelar akademis yang sudah didapatkannya (meskipun itu bukan menjadi parameter pemahaman) adalah termasuk golongan orang yang &#8216;mengerti&#8217;, namun amat disayangkan ilmu yang diperolehnya tidak melahirkan ketundukan terhadap manhaj salaf yang haq ini. Sehingga kita temui adanya sebagian da&#8217;i yang lebih memilih manhaj/metode selain manhaj salaf, padahal ia termasuk lulusan Universitas Islam Madinah Saudi Arabia (Ini sekaligus mengingatkan bahwa tempat sekolah seseorang bukanlah ukuran kebenaran). Bahkan ada di antara mereka yang berhasil mendapatkan predikat <em>cum laude</em> di sana, namun tatkala pulang ke Indonesia, kembalilah dia ke pangkuan hizbiyyah (kepartaian) dan larut dalam kancah politik ala Yahudi, ikut berebut kursi dan memperbanyak jumlah acungan jari&#8230; <em>Wallahul musta&#8217;aan</em>. Semoga Allah mengembalikan mereka kepada kebenaran.</p>
<p>Marilah kita ingat sebuah ayat yang sangat indah yang akan menunjukkan jalan untuk memecahkan segala macam masalah. Allah ta&#8217;ala berfirman yang artinya, <em>&#8220;Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul serta Ulul amri di antara kalian. Kemudian apabila kalian berselisih tentang suatu urusan maka kembalikanlah pemecahannya kepada Allah dan Rasul, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu pasti lebih baik bagi kalian dan lebih bagus hasilnya.&#8221;</em> (QS. An Nisaa&#8217;: 59)</p>
<p>Imam Ibnu Katsir menyebutkan bahwa yang dimaksud <em>ulul amri</em> adalah mencakup <em>umara&#8217;</em> (penguasa/pemerintah) dan juga <em>ulama</em> (ahli ilmu agama). Beliau juga menjelaskan bahwa makna taatilah Allah artinya ikutilah Kitab-Nya (Al Qur&#8217;an). Sedangkan makna taatilah Rasul adalah ambillah ajaran (Sunnah) beliau. Adapun makna ketaatan kepada ulul amri adalah dalam rangka ketaatan kepada Allah bukan dalam hal maksiat. Karena Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pernah bersabda dalam hadits yang shahih, <em>&#8220;Sesungguhnya ketaatan itu hanya boleh dalam perkara ma&#8217;ruf (bukan kemungkaran).&#8221;</em> (HR. Bukhari dan Muslim). Kemudian apabila kalian berselisih dalam suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul. Kalimat tersebut maknanya adalah kembali merujuk kepada Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya, demikianlah tafsiran Mujahid dan para ulama salaf yang lain.</p>
<p>Kemudian Imam Ibnu Katsir berkata, &#8220;Ini merupakan perintah dari Allah &#8216;azza wa jalla bahwa segala sesuatu yang diperselisihkan oleh manusia yang berkaitan dengan permasalahan pokok-pokok agama maupun cabang-cabangnya hendaknya perselisihan tentang hal itu harus dikembalikan kepada Al Kitab dan As Sunnah. Ini sebagaimana firman Allah ta&#8217;ala (yang artinya), <em>&#8220;Dan apa saja yang kalian perselisihkan maka keputusannya kembali kepada Allah.&#8221;</em> (QS. Asy Syuura: 10). Maka segala keputusan yang diambil oleh Al Kitab dan As Sunnah serta dipersaksikan keabsahannya oleh keduanya itulah al haq (kebenaran). Dan tidak ada sesudah kebenaran melainkan kesesatan&#8230;&#8221; (lihat <em>Tafsir Al Qur&#8217;an Al &#8216;Azhim</em>, II/250).</p>
<p><strong>Kata Salaf Secara Bahasa</strong></p>
<p>Salaf secara bahasa artinya orang yang terdahulu, baik dari sisi ilmu, keimanan, keutamaan atau jasa kebaikan. Seorang pakar bahasa Arab Ibnu Manzhur mengatakan, &#8220;Kata salaf juga berarti orang yang mendahului kamu, yaitu nenek moyangmu, sanak kerabatmu yang berada di atasmu dari sisi umur dan keutamaan. Oleh karenanya maka generasi awal yang mengikuti para sahabat disebut dengan salafush shalih (pendahulu yang baik).&#8221; (<em>Lisanul &#8216;Arab</em>, 9/159, dinukil dari <em>Limadza</em>, hal. 30). Makna semacam ini serupa dengan kata salaf yang terdapat di dalam ayat Allah yang artinya, <em>&#8220;Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya di laut dan Kami jadikan mereka sebagai salaf (pelajaran) dan contoh bagi orang-orang kemudian.&#8221;</em> (QS. Az Zukhruf: 55-56). Artinya adalah: Kami menjadikan mereka sebagai pelajaran pendahulu bagi orang yang melakukan perbuatan sebagaimana perbuatan mereka supaya orang sesudah mereka mau mengambil pelajaran dan mengambil nasihat darinya. (lihat <em>Al Wajiz fi &#8216;Aqidati Salafish Shalih</em>, hal. 20).</p>
<p>Dengan demikian kita bisa serupakan makna kata salaf ini dengan istilah nenek moyang dan leluhur dalam bahasa kita. Dalam kamus Islam kata ini bukan barang baru. Akan tetapi pada jaman Nabi kata ini sudah dikenal. Seperti terdapat dalam sebuah sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> kepada puterinya Fathimah <em>radhiyallahu &#8216;anha</em>. Beliau bersabda, <em>&#8220;Sesungguhnya sebaik-baik <strong>salaf</strong>mu adalah aku.&#8221;</em> (HR. Muslim). Artinya <strong>sebaik-baik pendahulu</strong>. (lihat <em>Limadza</em>, hal. 30, baca juga <em>Syarah &#8216;Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah</em> karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas <em>hafizhahullah</em>, hal. 7). Oleh sebab itu <ins datetime="2007-01-19T13:15:56+00:00">secara bahasa</ins>, semua orang terdahulu adalah salaf. Baik yang jahat seperti Fir&#8217;aun, Qarun, Abu Jahal maupun yang baik seperti Nabi-Nabi, para syuhada dan orang-orang shalih dari kalangan sahabat, dll. Adapun yang akan kita bicarakan sekarang bukanlah makna bahasanya, akan tetapi makna istilah. Hal ini supaya jelas bagi kita semuanya dan tidak muncul komentar, <em>&#8220;Lho kalau begitu JIL juga salafi dong..! Mereka kan juga punya pendahulu&#8221;</em>. Maaf, Mas&#8230; bukan itu yang kami maksudkan&#8230;</p>
<p>Kemudian apabila muncul pertanyaan <em>&#8220;Kenapa harus disebutkan pengertian secara bahasa apabila ternyata pengertian istilahnya menyelisihi pengertian bahasanya?&#8221;</em>. Maka kami akan menjawabnya sebagaimana jawaban Syaikh Ibnu &#8216;Utsaimin <em>rahimahullah</em>. Beliau mengatakan, &#8220;Faidahnya adalah supaya kita mengetahui keterkaitan makna antara objek penamaan syari&#8217;at dan objek penamaan <em>lughawi</em> (menurut bahasa). Sehingga akan tampak jelas bagi kita bahwasanya istilah-istilah syari&#8217;at tidaklah melenceng secara total dari sumber pemaknaan bahasanya. Bahkan sebenarnya ada keterkaitan satu sama lain. Oleh sebab itulah anda jumpai para <em>fuqaha&#8217;</em> (ahli fikih atau ahli agama) <em>rahimahumullah</em> setiap kali hendak mendefinisikan sesuatu maka mereka pun menjelaskan bahwa pengertiannya secara etimologi (bahasa) adalah demikian sedangkan secara terminologi (istilah) adalah demikian; hal ini diperlukan supaya tampak jelas bagimu adanya keterkaitan antara makna <em>lughawi</em> dengan makna <em>ishthilahi</em>.&#8221; (lihat <em>Syarh Ushul min Ilmil Ushul</em>, hal. 38).</p>
<p><strong>Istilah Salaf di Kalangan Para Ulama</strong></p>
<p>Apabila para ulama akidah membahas dan menyebut-nyebut kata salaf maka yang mereka maksud adalah salah satu di antara 3 kemungkinan berikut:</p>
<p>Pertama: Para Shahabat Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Kedua: Shahabat dan murid-murid mereka (<em>tabi&#8217;in</em>).</p>
<p>Ketiga: Shahabat, <em>tabi&#8217;in</em> dan juga para Imam yang telah diakui kredibilitasnya di dalam Islam yaitu mereka yang senantiasa menghidupkan sunnah dan berjuang membasmi bid&#8217;ah (lihat <em>Al Wajiz</em>, hal. 21).</p>
<p>Syaikh Salim Al Hilaly <em>hafizhahullah</em> menerangkan, &#8220;Adapun secara terminologi kata salaf berarti sebuah karakter yang melekat secara mutlak pada diri para sahabat r<em>adhiyallahu &#8216;anhum</em>. Adapun para ulama sesudah mereka juga tercakup dalam istilah ini karena sikap dan cara beragama mereka yang meneladani para sahabat.&#8221; (<em>Limadza</em>, hal. 30).</p>
<p>Syaikh Doktor Nashir bin Abdul Karim Al &#8216;Aql mengatakan, &#8220;Salaf adalah generasi awal umat ini, yaitu para sahabat, tabi&#8217;in dan para imam pembawa petunjuk pada tiga kurun yang mendapatkan keutamaan (sahabat, <em>tabi&#8217;in</em> dan <em>tabi&#8217;ut tabi&#8217;in</em>, -red). Dan setiap orang yang meneladani dan berjalan di atas manhaj mereka di sepanjang masa disebut sebagai salafi sebagai bentuk penisbatan terhadap mereka.&#8221; (<em>Mujmal Ushul Ahlis Sunnah wal Jama&#8217;ah fil &#8216;Aqidah</em>, hal. 5-6).</p>
<p>Al Qalsyani mengatakan di dalam kitabnya <em>Tahrirul Maqalah min Syarhir Risalah</em>, &#8220;Adapun Salafush shalih, mereka itu adalah generasi awal (Islam) yang mendalam ilmunya serta meniti jalan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan senantiasa menjaga Sunnah beliau. Allah ta&#8217;ala telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya dan menegakkan agama-Nya. Para imam umat ini pun merasa ridha kepada mereka. Mereka telah berjihad di jalan Allah dengan penuh kesungguhan. Mereka kerahkan daya upaya mereka untuk menasihati umat dan memberikan kemanfaatan bagi mereka. Mereka juga mengorbankan diri demi menggapai keridhaan Allah&#8230;&#8221; ( lihat <em>Limadza</em>, hal. 31). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>&#8220;Sebaik-baik orang adalah di jamanku (sahabat), kemudian orang sesudah mereka (</em><em>tabi&#8217;in</em>) dan kemudian orang sesudah mereka (<em>tabi&#8217;ut tabi&#8217;in</em>).&#8221; (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Sehingga Rasul beserta para sahabatnya adalah salaf umat ini. Demikian pula setiap orang yang menyerukan dakwah sebagaimana mereka juga disebut sebagai orang yang menempuh manhaj/metode salaf, atau biasa disebut dengan istilah salafi, artinya pengikut Salaf. Adapun pembatasan istilah salaf hanya meliputi masa sahabat, <em>tabi&#8217;in</em> dan <em>tabi&#8217;ut tabi&#8217;in</em> adalah pembatasan yang keliru. Karena pada masa itupun sudah muncul tokoh-tokoh pelopor bid&#8217;ah dan kesesatan. Akan tetapi kriteria yang benar adalah kesesuaian akidah, hukum dan perilaku mereka dengan Al Kitab dan As Sunnah serta pemahaman <em>salafush shalih</em>. Oleh karena itulah siapapun orangnya asalkan dia sesuai dengan ajaran Al Kitab dan As Sunnah maka berarti dia adalah pengikut salaf. Meskipun jarak dan masanya jauh dari periode Kenabian. Ini artinya orang-orang yang semasa dengan Nabi dan sahabat akan tetapi tidak beragama sebagaimana mereka maka bukanlah termasuk golongan mereka, meskipun orang-orang itu sesuku atau bahkan saudara Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> (lihat <em>Al Wajiz</em>, hal. 22, <em>Limadza</em>, hal. 33 dan <em>Syarah Aqidah Ahlus Sunnah</em>, hal. 8).</p>
<p><strong>Contoh-Contoh Penggunaan Kata &#8220;Salaf&#8221;</strong></p>
<p>Kata salaf sering digunakan oleh Imam Bukhari di dalam kitab Shahihnya. Imam Bukhari <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>&#8220;Rasyid bin Sa&#8217;ad berkata: Para salaf menyukai kuda jantan. Karena ia lebih lincah dan lebih berani.&#8221;</em> Al Hafizh Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> menafsirkan kata salaf tersebut, &#8220;Maksudnya adalah para sahabat dan orang sesudah mereka.&#8221; Syaikh Salim mengatakan, &#8220;Yang dimaksud (oleh Rasyid) adalah para sahabat <em>radhiyallahu&#8217;anhum</em>. Karena Rasyid bin Sa&#8217;ad adalah seorang <em>tabi&#8217;in</em> (murid sahabat), sehingga orang yang disebut salaf olehnya adalah para sahabat tanpa ada keraguan padanya.&#8221; Demikian pula perkataan Imam Bukhari, &#8220;Az Zuhri mengatakan mengenai tulang bangkai semacam gajah dan selainnya: Aku menemui sebagian para ulama salaf yang bersisir dengannya (tulang) dan menggunakannya sebagai tempat minyak rambut. Mereka memandangnya tidaklah mengapa.&#8221; Syaikh Salim mengatakan, &#8220;Yang dimaksud (dengan salaf di sini) adalah para sahabat <em>radhiyallahu&#8217;anhum</em>, karena Az Zuhri adalah seorang tabi&#8217;in.&#8221; (lihat <em>Limadza</em>, hal. 31-32).</p>
<p>Kata salaf juga digunakan oleh Imam Muslim di dalam kitab Shahihnya. Di dalam mukaddimahnya Imam Muslim mengeluarkan hadits dari jalan Muhammad bin &#8216;Abdullah. Ia (Muhammad) mengatakan: Aku mendengar &#8216;Ali bin Syaqiq mengatakan: Aku mendengar Abdullah bin Al Mubarak mengatakan di hadapan orang banyak, <em>&#8220;Tinggalkanlah hadits (yang dibawakan) &#8216;Amr bin Tsabit. Karena dia mencaci kaum salaf.&#8221;</em> Syaikh Salim mengatakan, &#8220;Yang dimaksud adalah para sahabat <em>radhiyallahu &#8216;anhum</em>.&#8221; (<em>Limadza</em>, hal. 32).</p>
<p>Kata salaf juga sering dipakai oleh para ulama akidah di dalam kitab-kitab mereka. Seperti contohnya sebuah riwayat yang dibawakan oleh Imam Al Ajurri di dalam kitabnya yang berjudul <em>Asy Syari&#8217;ah</em> bahwa Imam Auza&#8217;i pernah berpesan, &#8220;Bersabarlah engkau di atas Sunnah. Bersikaplah sebagaimana kaum itu (salaf) bersikap. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan. Tahanlah dirimu sebagaimana sikap mereka menahan diri dari sesuatu. Dan titilah jalan salafmu yang shalih. Karena sesungguhnya sudah cukup bagimu apa yang membuat mereka cukup.&#8221; Syaikh Salim mengatakan, &#8220;Yang dimaksud adalah sahabat <em>ridhwanullahi &#8216;alaihim</em>.&#8221; (lihat <em>Limadza</em>, hal. 32) Hal ini karena Al Auza&#8217;i adalah seorang <em>tabi&#8217;in</em>.</p>
<p><strong>Kerancuan Seputar Istilah Salafiyah</strong></p>
<p>Sedangkan yang dimaksud dengan <strong>salafiyah</strong> adalah penyandaran diri kepada kaum salaf. Sehingga bukanlah makna salafiyah sebagaimana yang disangka sebagian orang sebagai aliran pesantren yang menggunakan metode pengajaran yang kuno. Yang dengan persangkaan itu mereka anggap bahwa salafiyah bukan sebuah manhaj (metode beragama) akan tetapi sebagai sebuah sistem belajar mengajar yang belum mengalami modernisasi. Dan yang terbayang di pikiran mereka ketika mendengarnya adalah sosok para santri yang berpeci hitam dan memakai sarung kesana kemari dengan menenteng kitab-kitab kuning. Sebagaimana itulah kenyataan yang ada pada sebagian kalangan yang menisbatkan pondoknya sebagai pondok salafiyah, namun realitanya mereka jauh dari tradisi ilmiah kaum salaf. Syaikh Salim mengatakan, &#8220;Adapun salafiyah adalah penisbatan diri kepada kaum salaf. Ini merupakan penisbatan terpuji yang disandarkan kepada manhaj yang lurus dan bukanlah menciptakan sebuah madzhab yang baru ada.&#8221; (lihat <em>Limadza</em>, hal. 33).</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> mengatakan, &#8220;Dan tidaklah tercela bagi orang yang menampakkan diri sebagai pengikut madzhab salaf, menyandarkan diri kepadanya dan merasa mulia dengannya. Bahkan wajib menerima pengakuannya itu dengan dasar kesepakatan (para ulama). Karena sesungguhnya madzhab salaf tidak lain adalah kebenaran itu sendiri.&#8221; (<em>Majmu&#8217; Fatawa</em>, 4/149, lihat <em>Limadza</em>, hal. 33). Maka sungguh aneh apabila ada orang zaman sekarang ini yang menggambarkan kepada umat bahwasanya salafiyah adalah sebuah aliran baru yang dicetuskan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab atau Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahumallah</em> yang &#8216;memberontak&#8217; dari tatanan yang sudah ada dengan berbagai aksi penghancuran dan pengkafiran yang membabi buta. Sehingga apabila mereka mendengar istilah salafiyah maka yang tergambar di benak mereka adalah kaum Wahabi yang suka mengacaukan ketentraman umat dengan berbagai aksi penyerangan dan tindakan-tindakan tidak sopan. Atau ada lagi yang menganggap bahwa salafiyah adalah gerakan reformasi dakwah yang dipelopori oleh Jamaluddin Al Afghani bersama Muhammad &#8216;Abduh pada era penjajahan Inggris di Mesir. Padahal ini semua menunjukkan bahwa mereka itu sebenarnya tidak paham tentang sejarah munculnya istilah ini.</p>
<p>Syaikh Salim mengatakan, &#8220;Orang yang mengeluarkan pernyataan semacam ini atau yang turut menyebarkannya adalah orang yang tidak mengerti sejarah kalimat ini menurut tinjauan makna, asal-usul dan perjalanan waktu yang hakikatnya tersambung dengan para salafush shalih. Oleh karena itu sudah menjadi kebiasaan para ulama pada masa terdahulu untuk mensifati setiap orang yang mengikuti pemahaman sahabat <em>radhiyallahu &#8216;anhum</em> dalam hal akidah dan manhaj sebagai seorang salafi (pengikut Salaf). Lihatlah ucapan seorang ahli sejarah Islam Al Hafizh Al Imam Adz Dzahabi di dalam kitabnya <em>Siyar A&#8217;laamin Nubalaa&#8217;</em> (16/457) ketika membawakan ucapan Al Hafizh Ad Daruquthni, &#8220;Tidak ada yang lebih kubenci selain menekuni ilmu kalam/filsafat.&#8221; Maka Adz Dzahabi pun mengatakan (dengan nada memuji, red), &#8220;Orang ini (Ad Daruquthni) belum pernah terjun dalam ilmu kalam sama sekali begitu pula tidak menceburkan dirinya dalam dunia perdebatan (yang tercela) dan beliau juga tidak ikut meramaikan perbincangan di dalam hal itu. Akan tetapi beliau adalah seorang salafi.&#8221; (<em>Limadza</em>, hal. 34-35).</p>
<p>Perlu kita ketahui bersama bahwa Imam Ad Daruquthni yang disebut sebagai &#8216;salafi&#8217; oleh Imam Adz Dzahabi di atas hidup pada tahun 306-385 H. Sedangkan Ibnu Taimiyah hidup pada tahun 661-728 H. Adapun Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab hidup pada tahun 1115-1206 H. Nah, pembaca bisa menyaksikan sendiri siapakah yang lahir terlebih dahulu. <strong>Apakah Ibnu Taimiyah atau bahkan Muhammad bin Abdul Wahhab itu lahir sebelum Ad Daruquthni sehingga beliau layak untuk disebut sebagai pengikut mereka berdua. Apakah dengan penukilan semacam ini kita akan menafsirkan bahwa Imam Ad Daruquthni adalah pengikut Ibnu Taimiyah atau Muhammad bin Abdul Wahhab??</strong> Jawablah wahai kaum yang berakal&#8230; Anak kelas 5 SD pun (bukan bermaksud meremehkan, red) tahu kalau yang namanya pengikut itu adanya sesudah keberadaan yang diikuti, bukan sebaliknya. <em>Wallaahul musta&#8217;aan</em>.</p>
<p><strong>Penamaan Salafiyah Bukan Bid&#8217;ah</strong></p>
<p>Kalau ada orang yang mengatakan bahwa istilah salafiyah adalah istilah bid&#8217;ah karena ia tidak digunakan pada masa sahabat <em>radhiyallahu&#8217;anhum</em>. Maka jawabannya ialah: Kata salafiyah memang belum digunakan oleh Rasul dan para sahabat karena pada saat itu hal ini belum dibutuhkan. Pada saat itu kaum muslimin generasi awal masih hidup di dalam pemahaman Islam yang shahih sehingga tidak dibutuhkan penamaan khusus seperti ini. Mereka bisa memahami Islam dengan murni tanpa perlu khawatir akan adanya penyimpangan karena Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> masih berada di antara mereka. Hal ini sebagaimana mereka mampu berbicara dengan bahasa Arab yang fasih tanpa perlu mempelajari ilmu Nahwu, Sharaf dan Balaghah. Apakah ada di antara para ulama yang membid&#8217;ahkan ilmu-ilmu tersebut karena semata-mata tidak ada di zaman Nabi ?! Oleh karena itulah tatkala muncul berbagai kekeliruan dan penyimpangan dalam penggunaan bahasa Arab maka muncullah ilmu-ilmu bahasa Arab tersebut demi meluruskan kembali pemahaman dan menjaga keutuhan bahasa Arab. Maka demikian pula dengan istilah salafiyah.</p>
<p>Di saat sekarang ini ketika sekian banyak penyimpangan pemahaman bertebaran di udara kaum muslimin maka sangat dibutuhkan adanya rambu-rambu yang jelas demi mengembalikan pemahaman Islam kepada pemahaman yang masih murni dan lurus. Apalagi mayoritas kelompok yang menyerukan pemahaman yang menyimpang itu juga mengaku sebagai pengikut Al Qur&#8217;an dan As Sunnah. Berdasarkan realita inilah para ulama bangkit untuk berupaya memisahkan pemahaman yang masih murni ini dengan pemahaman-pemahaman lainnya dengan nama pemahaman ahli hadits dan salaf atau salafiyah (lihat <em>Limadza</em>, hal. 36).</p>
<p>Kalaupun masih ada orang yang tetap <em>ngotot</em> mengingkari istilah ini maka kami akan katakan kepadanya: Kalau dia konsekuen dengan pengingkaran ini maka dia pun harus menolak penamaan lainnya yang tidak ada di zaman Nabi seperti istilah Hanbali (pengikut fikih Ahmad bin Hanbal), Hanafi (pengikut fikih Abu Hanifah), Nahdhiyyiin (pengikut Nahdhatul Ulama), dll. Kalau dia mengatakan, &#8220;<em>Oo, kalau ini berbeda&#8230;!&#8221;</em> Maka kami katakan: Baiklah, anggap istilah salafiyah berbeda dengan istilah-istilah itu, namun kami tetap mengatakan bahwa penamaan salafiyah lebih layak untuk dipakai daripada istilah Hanbali, Hanafi atau Nahdhiyyiin. Alasannya adalah karena salafiyah adalah penisbatan kepada generasi Shahabat yang sudah dipuji oleh Allah dan Rasul-Nya dan terjaga secara umum dari bersepakat dalam kesalahan. Adapun Hanbali, Hanafi dan Nahdhiyyiin adalah penisbatan kepada individu dan kelompok yang tidak terdapat dalil tegas tentang keutamaannya serta tidak terjamin dari kesalahan mereka secara kelompok. Maka bagaimana mungkin kita bisa menerima penisbatan kepada pribadi dan kelompok yang tidak ma&#8217;shum (terpelihara dari kesalahan) dan justru menolak penisbatan kepada pribadi dan kelompok yang ma&#8217;shum&#8230;?? <em>Laa haula wa laa quwwata illa billaah&#8230;</em> (lihat <em>Silsilah Abhaats Manhajiyah As Salafiyah</em> 5 hal. 66-67 karya Doktor Muhammad Musa Nashr <em>hafizhahullah</em>, silakan baca juga fatwa para ulama tentang wajibnya berpegang teguh dengan manhaj Salaf di dalam Rubrik Fatwa, Majalah Al Furqan Edisi 8 Tahun V/Rabi&#8217;ul Awwal 1427 H/April 2006 M hal. 51-53. Bacalah&#8230;!).</p>
<p><strong>Meninggalkan Salaf Berarti Meninggalkan Islam</strong></p>
<p>Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani <em>rahimahullah</em> pernah ditanya: <em>Kenapa harus menamakan diri dengan salafiyah? Apakah ia sebuah dakwah yang menyeru kepada partai, kelompok atau madzhab tertentu. Ataukah ia merupakan sebuah </em><em>firqah</em> (kelompok) baru di dalam Islam? Maka beliau <em>rahimahullah</em> menjawab, &#8220;Sesungguhnya kata Salaf sudah sangat dikenal dalam bahasa Arab. Adapun yang penting kita pahami pada kesempatan ini adalah pengertiannya menurut pandangan syari&#8217;at. Dalam hal ini terdapat sebuah hadits shahih dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tatkala beliau berkata kepada Sayyidah Fathimah <em>radhiyallahu &#8216;anha</em> di saat beliau menderita sakit menjelang kematiannya, <em>&#8220;Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah. Dan sesungguhnya sebaik-baik salaf (pendahulu)mu adalah aku.&#8221;</em> Begitu pula para ulama banyak sekali memakai kata salaf. Dan ungkapan mereka dalam hal ini terlalu banyak untuk dihitung dan disebutkan. Cukuplah kiranya kami bawakan sebuah contoh saja. Ini adalah sebuah ungkapan yang digunakan para ulama dalam rangka memerangi berbagai macam bid&#8217;ah. Mereka mengatakan, &#8220;Semua kebaikan ada dalam sikap mengikuti kaum salaf&#8230; dan semua keburukan bersumber dalam bid&#8217;ah yang diciptakan kaum khalaf (belakangan).&#8221; &#8230;&#8221;</p>
<p>Kemudian Syaikh melanjutkan penjelasannya, &#8220;Akan tetapi ternyata di sana ada orang yang mengaku dirinya termasuk ahli ilmu; ia mengingkari penisbatan ini dengan sangkaan bahwa istilah ini tidak ada dasarnya di dalam agama, sehingga ia mengatakan, <em>&#8220;Tidak boleh bagi seorang muslim untuk mengatakan saya adalah seorang salafi.&#8221;</em> Seolah-olah dia ini mengatakan, &#8220;Seorang muslim tidak boleh mengatakan: Saya adalah pengikut <em>salafush shalih</em> dalam hal akidah, ibadah dan perilaku.&#8221; Dan tidak diragukan lagi bahwasanya penolakan seperti ini -meskipun dia tidak bermaksud demikian- memberikan konsekuensi untuk berlepas diri dari Islam yang shahih yang diamalkan oleh para <em>salafush shalih</em> yang mendahului kita yang ditokohi oleh Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, sebagaimana disinggung di dalam hadits <em>mutawatir</em> di dalam <em>shahihain</em> dan selainnya dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bahwa beliau bersabda, <em>&#8220;Sebaik-baik manusia adalah di zamanku (sahabat), kemudian diikuti orang sesudah mereka, dan kemudian sesudah mereka.&#8221;</em> Oleh sebab itu maka tidaklah diperbolehkan bagi seorang muslim untuk berlepas diri dari menisbatkan dirinya kepada salafush shalih. Berbeda halnya dengan penisbatan (salafiyah) ini, seandainya dia berlepas diri dari penisbatan (kepada kaum atau kelompok) yang lainnya niscaya tidak ada seorang pun di antara para ulama yang akan menyandarkannya kepada kekafiran atau kefasikan&#8230;&#8221; (<em>Al Manhaj As Salafi &#8216;inda Syaikh Al Albani</em>, hal. 13-19, lihat <em>Silsilah Abhaats Manhajiyah As Salafiyah</em> 5 hal. 65-66 karya Doktor Muhammad Musa Nashr <em>hafizhahullah</em>).</p>
<p><strong>Cinta Salaf Berarti Cinta Islam</strong></p>
<p>Ketahuilah saudaraku, sesungguhnya salaf atau para sahabat adalah generasi pilihan yang harus kita cintai. Sebagaimana kita mencintai Nabi maka kita pun harus mencintai orang-orang pertama yang telah mengorbankan jiwa, harta dan pikiran mereka untuk membela dakwah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Mereka itulah para sahabat yang terdiri dari Muhajirin dan Anshar. Inilah akidah kita, tidak sebagaimana akidah kaum Rafidhah/Syi&#8217;ah yang membangun agamanya di atas kebencian kepada para sahabat Nabi. Imam Abu Ja&#8217;far Ath Thahawi <em>rahimahullah</em> mengatakan di dalam kitab &#8216;Aqidahnya yang menjadi rujukan umat Islam di sepanjang zaman, &#8220;Kami mencintai para sahabat Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Kami tidak melampaui batas dalam mencintai salah satu di antara mereka. Dan kami juga tidak berlepas diri dari seorangpun di antara mereka. Kami membenci orang yang membenci mereka dan kami juga membenci orang yang menceritakan mereka dengan cara tidak baik. Kami tidak menceritakan mereka kecuali dengan kebaikan. Mencintai mereka adalah termasuk agama, iman dan ihsan. Sedangkan membenci mereka adalah kekufuran, kemunafikan dan pelanggaran batas.&#8221; (<em>Syarah &#8216;Aqidah Thahawiyah</em> cet. Darul &#8216;Aqidah, hal. 488). Pernyataan beliau ini adalah kebenaran yang dibangun di atas dalil-dalil syari&#8217;at, bukan sekedar omong kosong dan bualan belaka sebagaimana akidahnya kaum Liberal. Marilah kita buktikan&#8230;</p>
<p>Berikut ini dalil-dalil hadits yang menunjukkan bahwa mencintai kaum Anshar adalah tanda keimanan seseorang. Imam Bukhari rahimahullah membuat sebuah bab di dalam kitabul Iman di kitab Shahihnya dengan judul <strong>&#8216;Bab tanda keimanan ialah mencintai kaum Anshar&#8217;</strong>. Kemudian beliau membawakan sebuah hadits dari Anas, dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, beliau bersabda, <em>&#8220;Tanda keimanan adalah mencintai kaum Anshar, dan tanda kemunafikan adalah membenci kaum Anshar.&#8221;</em> (Bukhari no. 17). Imam Muslim juga mengeluarkan hadits ini di dalam <em>Kitabul Iman</em> dengan lafazh, <em>&#8220;Tanda orang munafik adalah membenci Anshar. Dan tanda orang beriman adalah mencintai Anshar.&#8221;</em> (Muslim no. 74) di dalam bab <em>Fadha&#8217;il Anshar</em> (Keutamaan kaum Anshar). Imam bukhari juga membawakan hadits Barra&#8217; bin &#8216;Azib bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>&#8220;Kaum Anshar, tidak ada orang yang mencintai mereka kecuali orang beriman.&#8221;</em> Imam Muslim juga meriwayatkan di dalam kitab shahihnya dari Abu Sa&#8217;id bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>&#8220;Tidak ada seorang pun yang beriman kepada Allah dan hari akhir lantas membenci kaum Anshar.&#8221;</em> (Muslim no. 77). Dalam riwayat lain dikatakan, <em>&#8220;Tidaklah mencintai mereka kecuali orang beriman dan tidaklah membenci mereka kecuali orang munafik. Barangsiapa yang mencintai mereka maka Allah mencintainya. Dan barangsiapa yang membenci mereka maka Allah juga membencinya.&#8221;</em> (Muslim no. 75). Begitu pula Imam Ahmad mengeluarkan hadits dari Abu Sa&#8217;id di dalam Musnadnya, bahwa Nabi bersabda, <em>&#8220;Mencintai kaum Anshar adalah keimanan dan membenci mereka adalah kemunafikan.&#8221;</em> (lihat <em>Fathul Bari</em>, 1/80, <em>Syarah Muslim</em>, 2/138-139).</p>
<p>Imam Nawawi <em>rahimahullah</em> ketika menjelaskan sebagian hadits di atas mengatakan, &#8220;&#8230;Makna hadits-hadits ini adalah barangsiapa yang mengakui kedudukan kaum Anshar, keunggulan mereka dalam hal pembelaan terhadap agama Islam, upaya mereka dalam menampakkannya, dan melindungi umat Islam (dari serangan musuhnya), dan juga kesungguhan mereka dalam menunaikan tugas penting dalam agama Islam yang dibebankan kepada mereka, kecintaan mereka kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> serta kecintaan Nabi kepada mereka, kesungguhan mereka dalam mengerahkan harta dan jiwa di hadapan beliau, peperangan dan permusuhan mereka terhadap semua umat manusia (yang menentang dakwah Nabi, red) demi menjunjung tinggi Islam&#8230;.maka ini semua menjadi salah satu tanda kebenaran iman dan ketulusannya dalam memeluk Islam&#8230;&#8221; (<em>Syarah Muslim</em>, 2/139).</p>
<p>Selain itu dalil-dalil dari Al Qur&#8217;an juga lebih jelas lagi menunjukkan kepada kita bahwa mencintai para sahabat adalah bagian keimanan yang tidak bisa dipisahkan. Syaikh Shalih Al Fauzan <em>hafizhahullah</em> mengatakan, &#8220;Para sahabat adalah generasi terbaik, ini berdasarkan sabda Nabi <em>&#8216;alaihis shalatu was salam</em>, <em>&#8220;Sebaik-baik kurun (masa) adalah masaku. Kemudian orang-orang yang mengikuti sesudah mereka. Dan kemudian generasi berikutnya yang sesudah mereka.&#8221;</em> Maka mereka itu adalah kurun terbaik karena keutamaan mereka dalam bersahabat dengan Nabi <em>&#8216;alaihish shalatu was salam</em>. Sehingga mencintai mereka adalah keimanan dan membenci mereka adalah kemunafikan. Allah ta&#8217;ala berfirman yang artinya, <em>&#8220;&#8230;Supaya Allah membuat orang-orang kafir benci dengan adanya mereka (para sahabat).&#8221;</em> (QS. Al Fath: 29). Maka kewajiban seluruh umat Islam adalah mencintai keseluruhan para sahabat dengan dalil tegas dari ayat ini. Karena Allah &#8216;azza wa jalla sudah mencintai mereka dan juga kecintaan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam kepada mereka. Dan juga karena mereka telah berjihad di jalan Allah, menyebarkan agama Islam ke berbagai belahan timur dan barat bumi, mereka muliakan Rasul dan beriman kepada beliau. Mereka juga telah mengikuti cahaya petunjuk yang diturunkan bersamanya. Inilah akidah Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah.&#8221; (<em>Syarah &#8216;Aqidah Thahawiyah</em>, hal. 489-490).</p>
<p><strong>Catatan:</strong></p>
<p>Perlu kita perhatikan riwayat yang dibawakan oleh Syaikh Shalih Al Fauzan di atas yaitu hadits yang bunyinya, <em>&#8220;Sebaik-baik kurun (masa) adalah masaku dst&#8221;</em> dengan lafazh <em>khairul quruun&#8230;</em>. Syaikh Salim Al Hilaly mengatakan, &#8220;Hadits ini tersebar di dalam banyak kitab dengan lafazh <em>khairul  quruun</em> (sebaik-baik masa). Saya (Syaikh Salim) katakan: Lafazh ini tidak terpelihara keotentikannya. Adapun yang benar adalah yang sudah kami sebutkan (yaitu <em>Khairunnaas</em>; sebaik-baik manusia, red).&#8221; (lihat <em>Limadza Ikhtartul Manhaj Salafi</em>, hal. 87).</p>
<p><strong>Benci Salaf Berarti Benci Islam</strong></p>
<p>Allah ta&#8217;ala berfirman yang artinya, <em>&#8220;Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu lihat mereka ruku&#8217; dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya Karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.&#8221;</em> (QS. Al Fath: 29). Di dalam ayat ini disebutkan bahwa salah satu ciri para sahabat yaitu membuat jengkel dan marah orang-orang kafir.</p>
<p>Imam Ibnu Katsir mengatakan di dalam tafsirnya terhadap ayat yang mulia ini, &#8220;Dan berdasarkan ayat inilah Imam Malik <em>rahimahullah</em> menarik sebuah kesimpulan hukum sebagaimana tertera dalam salah satu riwayat darinya untuk mengkafirkan kaum Rafidhah (bagian dari Syi&#8217;ah) yang membenci para sahabat <em>radhiyallahu&#8217;anhum</em>. Beliau (Imam Malik) mengatakan, &#8220;Hal itu karena mereka (para sahabat) membuat benci dan jengkel mereka (kaum Rafidhah). Barangsiapa yang membenci para sahabat <em>radhiyallahu&#8217;anhum</em> maka dia telah kafir berdasarkan ayat ini.&#8221; Dan sekelompok ulama <em>radhiyallahu&#8217;anhum</em> pun ikut menyetujui sikap beliau ini&#8230;&#8221; (lihat Tafsir <em>Al Qur&#8217;an Al &#8216;Azhim</em>, 7/280).</p>
<p>Dari perkataan Imam Malik dan penjelasan Imam Ibnu Katsir ini teranglah bagi kita bahwasanya konflik yang terjadi antara kaum Syi&#8217;ah (yang dulu maupun para pengikut Khomeini yang ada sekarang ini) dengan Ahlus Sunnah/Sunni bukanlah konflik politik atau perebutan kekuasaan yang diselimuti dengan jubah agama sebagaimana yang dikatakan oleh Gus Dur -semoga Allah memberinya petunjuk-, Kyai ini mengatakan di dalam sebuah wawancaranya dengan JIL (yang sama-sama suka menebarkan syubhat kepada umat Islam), <em>&#8220;Konflik itu (maksudnya antara Syi&#8217;ah dan Sunni, red) muncul akibat doktrin agama yang dimanipulasi secara politis. Sejarah mengabarkan pada kita, dulu muncul peristiwa penganiyaan terhadap menantu Rasulullah, Ali bin Abi Thalib dan anak cucunya. Keluarga inilah yang disebut Ahlul Bayt, dan mereka memiliki pendukung fanatik. Pendukung atau pengikut di dalam bahasa Arab disebut syî&#8217;ah. Selanjutnya kata syî&#8217;ah ini menjadi sebutan dan identitas bagi pengikut Ali yang pada akhirnya menjadi salah satu firkah teologis dalam Islam. Sedangkan pihak yang menindas Ali dan pengikutnya dikenal dengan sebutan Sunni. Persoalan sesungguhnya waktu itu adalah tentang perebutan kekuasaan atau persoalan politik. Namun doktrin agama dibawa-bawa.&#8221;</em> (wawancara JIL dengan Gus Dur tentang RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi) Ini adalah kedustaan&#8230; !!! (silakan baca tulisan Ustadz Abdul Hakim Abdat dalam <em>Al Masaa&#8217;il</em> jilid 3 Masalah 66, hal 42-72 yang membongkar kedok kaum Syi&#8217;ah dengan menyertakan fatwa-fatwa para ulama tentang Rafidhah/Syi&#8217;ah. Baca juga Majalah Al Furqon Edisi 6 Tahun V/Muharram 1427 dengan tema Agama Syi&#8217;ah Semoga Allah memberikan ganjaran yang besar kepada ustadz-ustadz kita karena jasa mereka ini. Bacalah!!).</p>
<p>Imam Ibnu Katsir juga mengatakan, &#8220;&#8230;Para sahabat itu memiliki keutamaan lebih, begitu pula lebih dahulu (berjasa bagi umat Islam) dan lebih sempurna, yang tidak ada seorangpun di antara umat ini yang mampu menyamai kehebatan mereka, semoga Allah meridhai mereka dan aku pun ridha kepada mereka. Allah telah menyiapkan surga-surga Firdaus sebagai tempat tinggal mereka, dan Allah telah menetapkan hal itu. (Imam) Muslim mengatakan di dalam shahihnya: Yahya bin Yahya menceritakan kepada kami, Abu Mu&#8217;awiyah menceritakan kepada kami dari Al A&#8217;masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>. Beliau mengatakan: Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>&#8220;Janganlah kalian mencaci para sahabatku. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya, seandainya ada salah seorang di antara kalian yang berinfak emas sebesar Gunung Uhud niscaya itu tidak bisa mencapai (pahala) satu mud sedekah mereka, bahkan setengahnya juga tidak.&#8221;</em> (HR. Muslim dalam Fadha&#8217;il Shahabah, diriwayatkan juga Al Bukhari dalam kitab <em>Al Manaaqib</em> no. 3673).&#8221; (lihat <em>Tafsir Ibnu Katsir</em> 7/280).</p>
<p><strong>Allah Meridhai Salaf dan Para Pengikutnya</strong></p>
<p>Di dalam ayat yang lain Allah ta&#8217;ala juga berfirman yang artinya, <em>&#8220;Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.&#8221;</em> (QS. At Taubah: 100). Di dalam ayat ini Allah memuji tiga golongan manusia yaitu: kaum Muhajirin, kaum Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Maka kita katakan bahwa Muhajirin dan Anshar itulah generasi salafsuh shalih. Sedangkan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik itulah yang disebut sebagai <strong>salafi</strong>. Al Ustadz Abdul Hakim Abdat <em>hafizhahullah</em> mengatakan, &#8220;Ayat yang mulia ini merupakan sebesar-besar ayat yang menjelaskan kepada kita pujian dan keridhaan Allah kepada para Shahabat <em>radhiyallahu &#8216;anhum</em>. Bahwa Allah &#8216;azza wa jalla telah ridha kepada para Shahabat dan mereka pun ridha kepada Allah &#8216;azza wa jalla. Dan Allah &#8216;azza wa jalla juga meridhai orang-orang yang mengikuti perjalanan para Shahabat dari <em>tabi&#8217;in</em>, <em>tabi&#8217;ut tabi&#8217;in</em> dan setrusnya dari orang alim sampai orang awam di timur dan di barat bumi sampai hari ini. <em>Mafhum</em>-nya, mereka yang tidak mengikuti perjalanan para Shahabat, apalagi sampai mengkafirkannya, maka mereka tidak akan mendapatkan keridhaan Allah subhanahu wa ta&#8217;ala.&#8221; (<em>Al Masaa&#8217;il</em> jilid 3, hal. 74).</p>
<p>Imam Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> mengatakan tentang tafsir ayat ini, &#8220;Allah ta&#8217;ala mengabarkan bahwa keridhaan-Nya tertuju kepada orang-orang yang terlebih dahulu (masuk Islam) yaitu kaum Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Sedangkan bukti keridhaan-Nya kepada mereka adalah dengan mempersiapkan surga-surga yang penuh dengan kenikmatan serta kelezatan yang abadi bagi mereka&#8230;&#8221; (<em>Tafsir Ibnu Katsir</em>, 4/140). Imam Al Alusi menerangkan bahwa yang dimaksud dengan <em>As Saabiquun</em> adalah seluruh kaum Muhajirin dan Anshar (<em>Ruuhul Ma&#8217;aani, Maktabah Syamilah</em>). Imam Syaukani menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan, &#8220;Orang-orang yang mengikuti&#8221; di dalam ayat ini adalah orang-orang sesudah mereka (para sahabat) hingga hari kiamat. Adapun kata-kata, &#8220;dengan baik&#8221; merupakan ciri pembatas yang menunjukkan jati diri mereka. Artinya mereka adalah orang-orang yang mengikuti para sahabat dengan senantiasa berpegang teguh dengan kebaikan dalam hal perbuatan maupun perkataan sebagai bentuk peniruan mereka terhadap <em>As Sabiquunal Awwaluun</em>, tafsiran serupa juga disampaikan oleh Syaikh As Sa&#8217;di di dalam tafsirnya (Lihat <em>Fathul Qadir</em> dan <em>Taisir Karimir Rahman</em>, <em>Maktabah Syamilah</em>). Imam Ibnu Jarir Ath Thabari mengatakan di dalam tafsirnya bahwa yang dimaksud dengan <em>&#8220;Orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik&#8221;</em> di dalam ayat ini adalah: Orang-orang yang meniti jalan mereka dalam beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta berhijrah dari negeri kafir menuju negeri Islam dalam rangka mencari keridhaan Allah..&#8221; (<em>Tafsir Ath Thabari, Maktabah Syamilah</em>).</p>
<p>Imam Asy Syinqithi <em>rahimahullah</em> mengatakan, &#8220;(Ayat) Ini merupakan dalil tegas dari Al Qur&#8217;an yang menunjukkan bahwasanya barangsiapa mencaci mereka (para sahabat) dan membenci mereka maka dia adalah orang yang sesat dan menentang Allah jalla wa &#8216;ala, dimana dia telah berani membenci suatu kaum yang telah diridhai Allah. Dan tidak diragukan lagi bahwa kebencian kepada orang yang sudah diridhai Allah merupakan sikap penentangan kepada Allah jalla wa &#8216;ala, tindakan congkak dan melampaui batas.&#8221; (lihat <em>Adhwaa&#8217;ul Bayaan, Maktabah Syamilah</em>). Masih dalam konteks penafsiran ayat ini Imam Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> memberikan sebuah komentar pedas yang akan membakar telinga ahlul bid&#8217;ah pencela shahabat. Beliau mengatakan, &#8220;Duhai alangkah celaka orang yang membenci atau mencela mereka (semua sahabat), sungguh celaka orang yang membenci atau mencela sebagian mereka&#8230;&#8221; Setelah memberitakan sikap orang-orang Rafidhah yang memusuhi, membenci dan mencela orang-orang terbaik sesudah Nabi (diantaranya Abu Bakar dan &#8216;Umar) Imam Ibnu Katsir mengatakan, &#8220;Sikap ini (yaitu permusuhan, kebencian dan celaan kaum Rafidhah atau Syi&#8217;ah) menunjukkan bahwa akal mereka sudah terbalik dan hati mereka juga sudah terbalik. Lalu dimanakah letak keimanan mereka terhadap Al Qur&#8217;an sehingga berani-beraninya mereka mencela orang-orang yang telah diridhai oleh Allah?&#8230;&#8221; (<em>Tafsir Ibnu Katsir</em>, 4/140) Maka hanguslah telinga-telinga ahlul bid&#8217;ah;&#8230; mereka yang membenci dan mencaci maki para shahabat; generasi terbaik yang pernah hidup di permukaan bumi ini, <em>radhiyallahu &#8216;anhum wa ardhaahum</em> (Allah ridha kepada mereka dan saya pun ridha kepada mereka).</p>
<p><strong>Pemahaman Salaf Adalah Jalan Keluar Perselisihan</strong></p>
<p>Abu Naajih &#8216;Irbadh bin Saariyah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> mengatakan, <em>&#8220;Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pernah memberikan sebuah nasihat kepada kami dengan nasihat yang membuat hati bergetar dan air mata bercucuran. Maka kamipun mengatakan kepada beliau, &#8220;Wahai Rasulullah. Seolah-olah ini merupakan nasihat dari orang yang hendak berpisah. Maka sudilah kiranya anda memberikan wasiat kepada kami&#8221;. Beliau pun bersabda: &#8220;Aku wasiatkan kepada kalian supaya senantiasa bertakwa kepada Allah. Dan tetaplah mendengar dan taat (kepada pemimpin). Meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak. Karena sesungguhnya barangsiapa yang hidup sesudahku niscaya akan menyaksikan banyak perselisihan. Maka berpeganglah dengan Sunnahku, dan Sunnah para khalifah yang lurus dan berpetunjuk. Gigitlah sunnah itu dengan gigi-gigi geraham. Serta jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan (di dalam agama). Karena semua bid&#8217;ah (perkara yang diada-adakan dalam agama) adalah sesat.&#8221;</em></p>
<p>Imam Nawawi mengatakan: (hadits ini) diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi. Beliau (Tirmidzi) menilainya &#8216;Hadits hasan shahih&#8217;. Pen-<em>takhrij</em> <em>Ad Durrah As Salafiyah</em> menyebutkan bahwa derajat hadits ini: shahih. Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad (4/126), Abu Dawud (4607), Tirmidzi (2676), Al Haakim (1/174), Ibnu Hibaan (1/179) serta dinyatakan shahih oleh Al Albani dalam <em>Shahihul Jaami&#8217;</em> hadits no. 2549 (lihat <em>Ad Durrah As Salafiyyah Syarh Al Arba&#8217;in An Nawawiyah</em>, cet. Markaz <em>Fajr lith Thab&#8217;ah</em> hal. 199, Lihat juga <em>Lau Kaana Khairan</em>, hal. 164).</p>
<p>Di dalam hadits yang mulia ini Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> telah memberikan sebuah solusi bagi umat tatkala menyaksikan sekian banyak perselisihan yang ada sesudah beliau wafat: yaitu berpegang teguh dengan Sunnah Nabi dan Sunnah <em>Khulafa&#8217;ur Rasyidin</em>. Imam Nawawi menerangkan bahwa yang dimaksud <em>Khulafa&#8217;ur Rasyidin</em> adalah para khalifah yang empat yaitu; Abu Bakar, &#8216;Umar, &#8216;Utsman dan &#8216;Ali <em>radhiyallahu&#8217;anhum</em> (lihat <em>Ad Durrah As Salafiyah</em>, hal. 201). Imam Ibnu Daqiqil &#8216;Ied juga menjelaskan bahwa mereka adalah keempat khalifah tersebut berdasarkan <em>ijma&#8217;</em> (lihat <em>Ad Durrah As Salafiyah</em>, hal. 202). Syaikh Muhammad bin Shalih Al &#8216;Utsaimin mengatakan, &#8220;Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memerintahkan kita tatkala melihat perselisihan ini (yaitu banyaknya perselisihan, sebagaimana disebutkan di dalam hadits) supaya berpegang teguh dengan Sunnah beliau. Arti dari ungkapan <em>&#8216;alaikum bi sunnatii</em> ialah; Berpegang teguhlah dengannya (dengan Sunnah Nabi)&#8230;&#8221;. Beliau <em>rahimahullah</em> juga berkata, &#8220;Sedangkan makna kata <strong>Sunnah</strong> beliau <em>&#8216;alaihish shalaatu was salaam</em> adalah: jalan yang beliau tempuh, yang mencakup akidah, akhlak, amal, ibadah dan lain sebagainya. Kita harus berpegang teguh dengan Sunnah (ajaran) beliau. Dan kita pun berhakim kepadanya. Sebagaimana yang difirmankan Allah ta&#8217;ala yang artinya, <em>&#8220;Maka demi Tuhanmu, mereka pada hakikatnya tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap keputusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.&#8221;</em> (QS. An Nisaa&#8217;: 65). Dengan demikian Sunnah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah satu-satunya jalan keselamatan bagi orang yang dikehendaki Allah untuk selamat dari berbagai perselisihan dan berbagai macam kebid&#8217;ahan&#8230;&#8221; (<em>Syarh Riyadhush Shalihin</em>, I/603).</p>
<p>Di dalam keterangan beliau terhadap Hadits Arba&#8217;in Syaikh Muhammad bin Shalih Al &#8216;Utsaimin <em>rahimahullah</em> mengatakan, &#8220;&#8230;Kemudian beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memerintahkan supaya kita berpegang teguh dengan Sunnah-nya; yaitu jalan beliau, dan juga supaya berpegang teguh dengan jalan <em>Khulafa&#8217;ur Rasyidin Al Mahdiyyin</em>. Dan juga termasuk di dalamnya (<em>Khulafa&#8217;ur Rasyidin</em>) adalah para khalifah/pengganti Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam hal ilmu, ibadah dan dakwah pada umatnya, dan sebagai pemuka mereka ialah empat orang Khalifah; yaitu Abu Bakar, &#8216;Umar, &#8216;Utsman dan &#8216;Ali <em>radhiyallahu&#8217;anhum</em>.&#8221; (lihat <em>Ad Durrah As Salafiyah</em>, hal. 203). Keterangan Syaikh &#8216;Utsaimin ini serupa dengan keterangan Imam Al Mubarakfuri. Beliau mengatakan, &#8220;Sesungguhnya hadits itu umum berlaku bagi setiap khalifah yang lurus dan tidak dikhususkan bagi dua orang Syaikh (Abu Bakar dan &#8216;Umar) saja. Dan telah dimaklumi berdasarkan kaidah-kaidah syari&#8217;at bahwa seorang khalifah yang lurus tidak diperkenankan untuk menetapkan suatu jalan selain jalan yang ditempuh oleh Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.&#8221; (<em>Tuhfatul Ahwadzi</em>, 3/50-51, dinukil dari <em>Limadza</em>, hal. 74-75).</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan (<em>Majmu&#8217; Fatawa</em>, 1/282), &#8220;Adapun yang dimaksud dengan <strong>Sunnah</strong> (ajaran) <em>Khulafa&#8217;ur Rasyidin</em> maka sebenarnya mereka tidaklah menggariskan sebuah ajaran kecuali berdasarkan perintah beliau (Nabi), maka dengan begitu ia termasuk bagian dari Sunnah beliau&#8230;&#8221; (dinukil dari <em>Limadza</em>, hal. 73). Di dalam <em>Tuhfatul Ahwadzi</em> (3/50 dan 7/420) Al Mubarakfuri juga mengatakan, &#8220;Bukanlah yang dimaksud dengan <strong>Sunnah </strong><em>Khulafa&#8217;ur Rasyidin</em> kecuali jalan hidup mereka yang sesuai dengan dengan jalan hidup Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>&#8230;&#8221; (dinukil dari <em>Limadza</em>, hal. 73).</p>
<p>Kesimpulan dari penjelasan para ulama di atas ialah sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Salim Al Hilali. Beliau mengatakan, &#8220;Dengan demikian kesimpulan semua keterangan ini menunjukkan bahwa Sunnah <em>Khulafa&#8217;ur Rasyidin</em> adalah pemahaman para Shahabat <em>radhiyallahu &#8216;anhum</em> terhadap agama, karena mereka senantiasa meniti jalan sebagaimana jalan pemahaman dan penerapan Islam yang diajarkan oleh Nabi mereka&#8230;&#8221; (<em>Limadza</em>, hal. 75) Maka kita juga mengatakan bahwasanya jalan keluar bagi umat Islam dari sekian banyak perselisihan yang dapat kita saksikan dengan mata kepala kita pada hari ini berupa munculnya berbagai macam <em>firqah</em> dan aliran-aliran adalah memegang teguh Sunnah (ajaran) Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dengan mengikuti pemahaman para Shahabat radhiyallahu&#8217;anhum. Atau dengan kalimat yang ringkas kita katakan &#8216;Dengan mengikuti manhaj salaf&#8217;. Inilah hakikat dari istilah Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah. Barangsiapa tidak mengikuti pemahaman para Shahabat maka dia telah menentang Sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang agung ini.</p>
<p><strong>Hakikat Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah</strong></p>
<p><strong>As Sunnah</strong> secara bahasa artinya jalan. Adapun secara istilah As Sunnah adalah ajaran Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> beserta para sahabatnya, baik berupa keyakinan, perkataan maupun perbuatan. Dalam hal ini Sunnah menjadi <ins datetime="2007-01-19T13:15:56+00:00">lawan dari bid&#8217;ah</ins>. Bukan sunnah dalam terminologi fikih. Karena sunnah menurut istilah fikih adalah segala perbuatan ibadah yang bila dikerjakan berpahala akan tetapi bila ditinggalkan tidak berdosa. Maka sunnah yang dimaksud dalam istilah Ahlus Sunnah adalah seluruh ajaran Rasul dan para sahabat, baik yang hukumnya wajib maupun sunnah!! (silakan baca <em>Lau Kaana Khairan</em> karya Ustadz Abdul Hakim, hal. 14-17 baca juga <em>Panduan Aqidah Lengkap</em> penerbit Pustaka Ibnu Katsir hal. 36-40).</p>
<p><strong>Al Jama&#8217;ah</strong> secara bahasa artinya kumpulan orang yang bersepakat untuk suatu perkara. Sedangkan menurut istilah syar&#8217;i, <em>al jama&#8217;ah</em> berarti orang-orang yang bersatu di atas kebenaran yaitu jama&#8217;ah para sahabat beserta orang-orang sesudah mereka hingga hari kiamat yang meniti jejak mereka dalam beragama di atas Al Kitab dan As Sunnah secara lahir maupun batin. Oleh karena itu seorang Sahabat yang mulia Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> pernah mengatakan, <strong>&#8220;Al Jama&#8217;ah adalah segala yang sesuai dengan al haq walaupun engkau seorang diri.&#8221;</strong> (lihat <em>Al Wajiz fi &#8216;Aqidati Salafish Shalih</em>, hal. 29 dan 30). Ukuran seseorang berada di atas jama&#8217;ah bukanlah jumlah. Akan tetapi ukurannya adalah sejauh mana dia berpegang teguh dengan kebenaran yaitu Islam yang murni yang dipahami oleh para sahabat <em>radhiyallahu ta&#8217;ala &#8216;anhum</em>. Sebagaimana hal ini telah diisyaratkan oleh Rasul ketika menceritakan akan terjadi perpecahan umat ini menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu yaitu <em>al jama&#8217;ah</em>. Dalam riwayat lain dijelaskan bahwa mereka itu adalah orang-orang yang beragama sebagaimana Nabi dan para sahabat. Hadits perpecahan umat adalah hadits yang sah menurut ulama ahli hadits. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> mengatakan di dalam <em>Majmu&#8217; Fatawa</em> (3/345), &#8220;Hadits tentang perpecahan umat adalah hadits yang shahih dan sangat populer di dalam kitab-kitab sunan dan musnad.&#8221; (lihat <em>Al Minhah Al Ilahiyah fi Tahdzib Syarh Ath Thahawiyah</em>, hal. 348, <em>Silsilah Ash Shahihah</em> no. 203 dan 204 karya Al Imam Al Albani <em>rahimahullah</em>, baca keterangan tentang status dan faidah-faidah dari hadits perpecahan umat di dalam buku <em>Lau Kaana Khairan</em>, hal. 190-196).</p>
<p>Sehingga hakikat <a title="Mengenal Manhaj Salaf" href="http://muslim.or.id/manhaj-salaf/mari-mengenal-manhaj-salaf.html">Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah</a> adalah orang-orang yang berpegang teguh dengan Sunnah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan Sunnah para sahabatnya dan juga orang-orang yang mengikuti mereka dan menempuh jalan mereka dalam berkeyakinan, berucap dan mengerjakan amalan, demikian pula orang-orang yang konsisten di atas jalur <em>ittiba&#8217;</em> (mengikuti Sunnah) dan menjauhi jalur <em>ibtida&#8217;</em> (mereka-reka bid&#8217;ah). Mereka senantiasa ada, eksis dan mendapatkan pertolongan (dari Allah) hingga datangnya hari kiamat. Oleh sebab itu maka mengikuti mereka adalah hidayah sedangkan menyelisihi mereka adalah kesesatan. Mereka itulah yang disebut dengan istilah &#8216;salaf&#8217; (lihat <em>Al Wajiz fi &#8216;Aqidati Salafish Shalih</em>, hal. 30, <em>Panduan Aqidah Lengkap</em> hal. 40, baca juga definisi Ahlus Sunnah di dalam <em>Ma&#8217;alim Ushul Fiqh &#8216;inda Ahlis Sunnah wal Jama&#8217;ah</em> hal. 17-18, karya Syaikh Doktor Muhammad bin Husain Al Jizani <em>hafizhahullah</em>).</p>
<p>Sedangkan lawan dari Ahlus Sunnah adalah Ahlul bid&#8217;ah yaitu orang-orang yang tetap mengerjakan bid&#8217;ah sesudah ditegakkan hujjah atas mereka, baik bid&#8217;ah <em>i&#8217;tiqadiyyah</em> (keyakinan) maupun bid&#8217;ah <em>amaliyah</em> (amalan), tetapi kemudian mereka tetap istiqamah dengan bid&#8217;ahnya (lihat <em>Lau Kaana Khairan</em>, hal. 170). Kita tidak boleh sembarangan dalam menghukumi seseorang atau jama&#8217;ah sebagai ahli bid&#8217;ah. Syaikh Al Albani berkata, &#8220;Terjatuhnya seorang ulama dalam bid&#8217;ah tidaklah secara otomatis menjadikannya sebagai seorang ahli bid&#8217;ah&#8230;.&#8221; &#8220;&#8230;Ada dua persyaratan agar seseorang dikatakan sebagai ahli bid&#8217;ah:</p>
<ol>
<li>Ia bukanlah seorang mujtahid, namun seorang pengikut hawa nafsu.</li>
<li>Berbuat bid&#8217;ah merupakan kebiasaannya (<em>Silsilah Huda wa Nur</em>, kaset no. 785)</li>
</ol>
<p>Syaikh Abdul Muhsin Al &#8216;Abbad (Ahli hadits Madinah saat ini) berkata, &#8220;Tidak semua orang yang melakukan bid&#8217;ah secara otomatis menjadi ahli bid&#8217;ah. Hanyalah dikatakan ahli bid&#8217;ah bagi orang yang telah jelas dan dikenal dengan bid&#8217;ahnya. Sebagian orang sangat berani dalam pembid&#8217;ahan sampai-sampai mentabdi&#8217; orang yang memiliki kebaikan dan memberi manfaat yang banyak bagi masyarakat. Sebagian orang menyebut setiap orang yang menyelisihinya sebagai ahli bid&#8217;ah.&#8221; (dinukil dari Ringkasan buku <em>Lerai Pertikaian, Sudahi Permusuhan</em> karya Ustadz Abu Abdil Muhsin <em>hafizhahullah</em>).</p>
<p>Syaikh Ibnu &#8216;Utsaimin <em>rahimahullah</em> pernah ditanya: Siapakah yang dimaksud dengan  Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah? Beliau menjawab, &#8220;Yang disebut sebagai Ahlus Sunnah wal jama&#8217;ah hanyalah orang-orang yang benar-benar berpegang teguh dengan As Sunnah (ajaran Nabi) dan mereka bersatu di atasnya. Mereka tidak menyimpang kepada selain ajaran As Sunnah, baik dalam urusan keyakinan ilmiah maupun dalam masalah amal praktik hukum. Oleh sebab inilah mereka disebut dengan Ahlus Sunnah, yaitu karena mereka bersatu padu di atasnya (di atas Sunnah). Dan apabila anda cermati keadaan ahlul bid&#8217;ah niscaya anda dapatkan mereka itu berselisih dalam hal metode akidah dan amaliah, ini menunjukkan bahwa mereka itu sangat jauh dari petunjuk As Sunnah, tergantung dengan kadar kebid&#8217;ahan yang mereka ciptakan.&#8221; (<em>Fatawa Arkanul Islam</em>, hal. 21).</p>
<p>Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah memiliki sebutan lain di kalangan para ulama yaitu: <em>Ash-habul Hadits</em> atau Ahlul Hadits (pengikut dan pembela hadits), <em>Ahlul Atsar</em> (pengikut jejak salaf), <em>Ahlul Ittiba&#8217;</em> (Peniti Sunnah Nabi), <em>Al Ghurabaa&#8217;</em> (Orang-orang yang terasing dari berbagai keburukan), <em>Ath Thaa&#8217;ifah Al Manshurah</em> (Kelompok yang mendapatkan pertolongan Allah) dan <em>Al Firqah An Najiyah</em> (Golongan yang selamat). Dan pada saat sekarang ini ketika banyak kelompok dalam tubuh umat Islam yang mengaku sebagai Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah dan pengikut Al Kitab dan As Sunnah namun ternyata praktik dan ajarannya jauh menyimpang dari prinsip-prinsip Salafush Shalih maka bangkitlah para ulama untuk memberikan sebuah istilah pembeda yaitu Salafiyun (para pengikut Salaf) (lihat <em>Mujmal Ushul Ahlis Sunnah</em>, hal. 6, <em>Limadza</em> hal. 36-38, <em>Minhaaj Al Firqah An Najiyah</em>, hal. 6-17 dan <em>Syarah &#8216;Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah</em> karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, hal. 7-14). Apabila para pembaca ingin mengetahui lebih dalam tentang sejarah munculnya istilah Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah maka kami sarankan untuk membaca <strong>Syarah &#8216;Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah</strong> karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas yang diterbitkan Pustaka At Taqwa hal. 14-17. Di sana beliau sudah menerangkan hal ini, semoga Allah memberikan balasan sebaik-baiknya kepada beliau. Dan bagi para pembaca yang ingin membaca keterangan yang menjelaskan bahwa <em>Al Firqatun Najiyah</em> adalah <em>Ath Tha&#8217;ifah Al Manshurah</em> juga sama dengan <em>Ahlul Hadits</em> maka silakan baca buku <strong>Mereka Adalah Teroris</strong> cet. I hal. 77-95. Semoga Allah merahmati para ustadz kita dan menyatukan mereka dalam barisan dakwah Salafiyah dalam membumihanguskan gerombolan dakwah Ahlul bid&#8217;ah, &#8230;Aammiin.</p>
<p><strong>Hanya Satu yang Selamat!</strong></p>
<p>Syaikh Ibnu &#8216;Utsaimin <em>rahimahullah</em> pernah ditanya: Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pernah memberitakan tentang terjadinya perpecahan umatnya sesudah beliau wafat. Kami sangat mengharapkan keterangan dari yang mulia tentang hal itu? Beliau menjawab, &#8220;Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> telah memberitakan dalam hadits-hadits yang sah (riwayat Abu Dawud di Kitab <em>As Sunnah</em> bab <em>Syarhu Sunnah</em> (4596), At Tirmidzi di <em>Kitabul Iman</em> bab <em>Iftiraqu Hadzihihil Ummah</em> (2642), Ibnu Majah di <em>Kitabul Fitan</em> bab <em>Iftiraqul Ummah</em> (3991)). Hadits-hadits itu menceritakan bahwa kaum Yahudi berpecah belah menjadi 71 kelompok/<em>firqah</em>. Sedangkan kaum Nashara berpecah menjadi 72 <em>firqah</em>. Dan umat ini akan berpecah menjadi 73 <em>firqah</em>. Seluruh firqah ini terancam berada di neraka kecuali satu <em>firqah</em>. <em>Firqah</em> tersebut terdiri dari orang-orang yang berpegang teguh dengan ajaran dan pemahaman agama sebagaimana yang diajarkan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> beserta para sahabatnya. Kelompok inilah yang disebut dengan <strong>Al Firqah An Najiyah</strong> (kelompok yang selamat). Mereka selamat dari kebid&#8217;ahan ketika berada di dunia. Dan mereka terselamatkan dari api neraka ketika di akhirat kelak. Inilah <strong>Ath Thaa&#8217;ifah Al Manshuurah</strong> (kelompok yang diberi pertolongan dan dimenangkan) yang akan tetap eksis hingga datangnya hari kiamat. Mereka senantiasa menang dan mendapatkan ketegaran dalam menegakkan agama Allah &#8216;azza wa jalla.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tujuh puluh tiga <em>firqah</em> ini, salah satunya berada di atas kebenaran sedangkan selainnya berada di atas kebatilan. Sebagian ulama berusaha untuk merincinya satu persatu dan menyimpulkannya menjadi lima aliran utama <em>ahlul bida&#8217; </em>(kaum pembela bid&#8217;ah). Dari setiap aliran itu mereka bagi lagi menjadi beberapa sekte sampai bisa mencapai total bilangan tersebut yang telah disebutkan oleh Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Sedangkan ulama yang lainnya memandang bahwa dalam hal ini sikap yang lebih baik ialah menahan diri untuk tidak merincinya. Mereka beralasan karena bukan hanya <em>firqah-firqah</em> yang sudah ada ini saja yang tersesat. Tetapi telah banyak kelompok orang yang tersesat dalam jumlah kelompok yang lebih besar di masa sebelumnya. Begitu pula banyak firqah baru yang muncul setelah tujuh puluh dua firqah yang ada sekarang. Mereka berpendapat bahwa bilangan ini tidak akan pernah terhenti dan tidak mungkin bisa diketahui sampai kapan berakhirnya kecuali nanti di akhir zaman ketika hari kiamat datang. Oleh sebab itu sikap yang lebih baik ialah kita sebutkan secara global saja bilangan yang sudah disebutkan secara global oleh Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Dan kita katakan bahwasanya umat ini akan berpecah belah menjadi 73 firqah, semuanya berada di neraka kecuali satu. Kemudian kita katakan bahwa setiap orang yang menyimpang dari petunjuk dan pemahaman Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan para sahabatnya adalah termasuk dalam <em>firqah-firqah</em> ini. Dan bisa juga Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memberikan gambaran tentang pokok-pokok aliran sesat yang belum bisa kita ketahui keberadaannya sekarang ini kecuali hanya sebatas sepuluh aliran saja yang baru bisa kita lihat. Atau bisa juga beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengisyaratkan beberapa pokok aliran sesat yang di dalamnya terkandung cabang-cabang sebagaimana pendapat demikian dipilih oleh sebagian ulama. Adapun ilmu yang sebenarnya ada di sisi Allah &#8216;azza wa jalla.&#8221; (<em>Fatawa Arkaanul Islaam</em>, hal. 21-22).</p>
<p><strong>Firqah-Firqah yang Menyimpang</strong></p>
<p>Setelah kita mengetahui bersama bahwasanya satu-satunya jalan yang diridhai Allah dalam beragama adalah pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jama&#8217;ah; yaitu tegak di atas Al Qur&#8217;an dan As Sunnah dengan pemahaman <em>salafush shalih</em>. Maka tidak kalah pentingnya sekarang adalah mengetahui berbagai kelompok Islam atau <em>firqah</em> yang menyimpang dari pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah. Di sini kami ingin mengingatkan kembali perkataan Imam Ibnul Qayyim yang sangat penting untuk kita cermati. Beliau <em>rahimahullah</em> mengatakan, &#8220;Pemahaman yang benar dan niat yang baik adalah termasuk nikmat paling agung yang dikaruniakan Allah kepada hamba-Nya. Bahkan tidaklah seorang hamba mendapatkan pemberian yang lebih utama dan lebih agung setelah nikmat Islam daripada memperoleh kedua nikmat ini. Bahkan kedua hal ini adalah pilar tegaknya agama Islam, dan Islam tegak di atas pondasi keduanya. Dengan dua nikmat inilah hamba bisa menyelamatkan dirinya dari terjebak di jalan orang yang dimurkai (<em>al maghdhuubi &#8216;alaihim</em>) yaitu orang yang memiliki niat yang rusak. Dan juga dengan keduanya ia selamat dari jebakan jalan orang sesat (<em>adh dhaalliin</em>) yaitu orang-orang yang pemahamannya rusak. Sehingga dengan itulah dia akan termasuk orang yang meniti jalan orang yang diberi nikmat (<em>an&#8217;amta &#8216;alaihim</em>) yaitu orang-orang yang memiliki pemahaman dan niat yang baik. Mereka itulah pengikut <em>shirathal mustaqim</em>..&#8221; (<em>I&#8217;laamul Muwaqqi&#8217;iin</em>, 1/87, dinukil dari <em>Min Washaaya Salaf</em>, hal. 44) Dari perkataan beliau ini kita bisa menarik kesimpulan berharga bahwasanya sumber penyimpangan manusia dari jalan yang lurus adalah buruknya pemahaman dan buruknya niat. Inilah dua pokok kesesatan yang ada, baik di dalam Islam maupun di luar Islam.</p>
<p>Sebagian besar kelompok menyimpang yang ada sekarang ini pada hakikatnya mewarisi penyimpangan-penyimpangan yang ada pada para pendahulunya, sedikit maupun banyak. Ada di antara mereka yang murni mengikuti sebuah aliran masa silam tapi ada juga yang menggabung-gabungkan penyimpangan dari berbagai aliran masa silam ke dalam tubuh kelompok mereka. Dan kebanyakan dari mereka sudah tidak lagi memakai nama lama. Akan tetapi mereka kelabui umat dengan nama-nama yang indah dan mempesona. Ada lagi orang-orang yang merasa tidak puas dengan referensi-referensi Islam dan mencoba menggali &#8216;tambahan pelajaran&#8217; dari produk pemikiran orang-orang Kafir. Di antara mereka ada yang masih berada dalam lingkaran Islam. Tetapi ada juga yang sudah mental keluar karena bosan dengan manhaj para ulama Salaf dan lebih senang dengan ajaran Orientalis. Maka jadilah orang-orang seperti ini sebagai orang-orang yang merasa memperjuangkan keagungan nilai ajaran agama Islam. Berdasarkan persangkaan ini maka mereka pun mengumpulkan manusia dan menyebarkan ide-ide mereka dalam bentuk ceramah maupun tulisan. Mereka bangun sekolah demi mengkader para penerus kesesatan mereka. Mereka racuni pikiran para generasi muda dan kaum cerdik cendekia. Bahkan tidak jarang ada di antara mereka yang nekat turun ke jalan dan mengerahkan massa. Atau lebih sangar lagi ada yang berani mengangkat senjata dan menumpahkan darah manusia tanpa hak. <em>Subhaanallaah&#8230;!!</em></p>
<p>Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisi <em>rahimahullah</em> mengatakan, &#8220;Setiap golongan yang menamakan dirinya dengan selain identitas Islam dan Sunnah adalah <em>mubtadi&#8217;</em> (ahli bid&#8217;ah) seperti contohnya: Rafidhah (Syi&#8217;ah), Jahmiyah, Khawarij, Qadariyah, Murji&#8217;ah, Mu&#8217;tazilah, Karramiyah, Kullabiyah, dan juga kelompok-kelompok lain yang serupa dengan mereka. Inilah firqah-firqah sesat dan kelompok-kelompok bid&#8217;ah, semoga Allah melindungi kita darinya.&#8221; (<em>Lum&#8217;atul I&#8217;tiqad</em>, dinukil dari <em>Al Is&#8217;ad fi Syarhi Lum&#8217;atil I&#8217;tiqad</em> hal 90. Namun di sana tidak disebutkan nama Khawarij, dugaan saya ini adalah salah cetak, sebagaimana tampak dari syarahnya yang juga menjelaskan <em>firqah</em> Khawarij. Silakan bandingkan dengan <em>Syarah Lum&#8217;atul I&#8217;tiqad</em> Syaikh Al &#8216;Utsaimin, hal. 161). Setelah membawakan perkataan Imam Ibnu Qudamah ini Syaikh Muhammad bin Shalih Al &#8216;Utsaimin <em>rahimahullah</em> menyebutkan mengenai sebagian ciri-ciri Ahlul bid&#8217;ah. Beliau mengatakan, &#8220;Kaum Ahlul bid&#8217;ah itu memiliki beberapa ciri, di antara cirinya adalah:</p>
<ol>
<li>Mereka memiliki karakter selain karakter Islam dan Sunnah sebagai akibat dari bid&#8217;ah-bid&#8217;ah yang mereka ciptakan, baik yang menyangkut urusan perkataan, perbuatan maupun keyakinan.</li>
<li>Mereka sangat fanatik kepada pendapat-pendapat golongan mereka. Sehingga mereka pun tidak mau kembali kepada kebenaran meskipun kebenaran itu sudah tampak jelas bagi mereka.</li>
<li>Mereka membenci para Imam umat Islam dan para pemimpin agama (ulama) (<em>Syarah Lum&#8217;atul I&#8217;tiqad</em>, hal. 161).</li>
</ol>
<p>Kemudian Syaikh Al &#8216;Utsaimin menjelaskan satu persatu gambaran firqah sesat tersebut secara singkat. Berikut ini intisari penjelasan beliau dengan beberapa tambahan dari sumber lain. Mereka itu adalah:</p>
<ol>
<li><strong>Rafidhah (Syi&#8217;ah)</strong>, yaitu orang-orang yang melampaui batas dalam mengagungkan ahlul bait (keluarga Nabi). Mereka juga mengkafirkan orang-orang selain golongannya, baik itu dari kalangan para Shahabat maupun yang lainnya. Ada juga di antara mereka yang menuduh para Shahabat telah menjadi fasik sesudah wafatnya Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Mereka ini pun terdiri dari banyak sekte. Di antara mereka ada yang sangat ekstrim hingga berani mempertuhankan &#8216;Ali bin Abi Thalib, dan ada pula di antara mereka yang lebih rendah kesesatannya dibandingkan mereka ini. Tokoh mereka di zaman ini adalah Khomeini beserta begundal-begundalnya. (Silakan baca Majalah Al Furqon Edisi 6 Tahun V/Muharram 1427 hal. 49-53).</li>
<li><strong>Jahmiyah</strong>. Disebut demikian karena mereka adalah penganut paham Jahm bin Shofwan yang madzhabnya sesat. Madzhab mereka dalam masalah tauhid adalah menolak sifat-sifat Allah. Sedangkan madzhab mereka dalam masalah takdir adalah menganut paham Jabriyah. Paham Jabriyah menganggap bahwa manusia adalah makhluk yang terpaksa dan tidak memiliki pilihan dalam mengerjakan kebaikan dan keburukan. Adapun dalam masalah keimanan madzhab mereka adalah menganut paham Murji&#8217;ah yang menyatakan bahwa iman itu cukup dengan pengakuan hati tanpa harus diikuti dengan ucapan dan amalan. Sehingga konsekuensi dari pendapat mereka ialah pelaku dosa besar adalah seorang mukmin yang sempurna imannya. <em>Wallaahul musta&#8217;aan.</em></li>
<li><strong>Khawarij</strong>. Mereka ini adalah orang-orang yang memberontak kepada khalifah &#8216;Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> karena alasan pemutusan hukum. Di antara ciri pemahaman mereka ialah membolehkan pemberontakan kepada penguasa muslim dan mengkafirkan pelaku dosa besar. Mereka ini juga terbagi menjadi bersekte-sekte lagi. (Tentang Pemberontakan, silakan baca Majalah Al Furqon Edisi 6 Tahun V/Muharram 1427 hal. 31-36).</li>
<li><strong>Qadariyah</strong>. Mereka ini adalah orang-orang yang berpendapat menolak keberadaan takdir. Sehingga mereka meyakini bahwa hamba memiliki kehendak bebas dan kemampuan berbuat yang terlepas sama sekali dari kehendak dan kekuasaan Allah. Pelopor yang menampakkan pendapat ini adalah Ma&#8217;bad Al Juhani di akhir-akhir periode kehidupan para Shahabat. Di antara mereka ada yang ekstrim dan ada yang tidak. Namun yang tidak ekstrim ini menyatakan bahwa terjadinya perbuatan hamba bukan karena kehendak, kekuasaan dan ciptaan Allah, jadi inipun sama sesatnya.</li>
<li><strong>Murji&#8217;ah</strong>. Menurut mereka amal bukanlah bagian dari iman. Sehingga cukuplah iman itu dengan modal pengakuan hati saja. Konsekuensi pendapat mereka adalah pelaku dosa besar termasuk orang yang imannya sempurna. Meskipun dia melakukan kemaksiatan apapun dan meninggalkan ketaatan apapun. Madzhab mereka ini merupakan kebalikan dari madzhab Khawarij.</li>
<li><strong>Mu&#8217;tazilah</strong>. Mereka adalah para pengikut Washil bin &#8216;Atha&#8217; yang beri&#8217;tizal (menyempal) dari majelis pengajian Hasan Al Bashri. Dia menyatakan bahwa orang yang melakukan dosa besar itu di dunia dihukumi sebagai orang yang berada di antara dua posisi (manzilah baina manzilatain), tidak kafir tapi juga tidak beriman. Akan tetapi menurutnya di akhirat mereka akhirnya juga akan kekal di dalam Neraka. Tokoh lain yang mengikuti jejaknya adalah Amr bin &#8216;Ubaid. Madzhab mereka dalam masalah tauhid Asma&#8217; wa Shifat adalah menolak (<em>ta&#8217;thil</em>) sebagaimana kelakuan kaum Jahmiyah. Dalam masalah takdir mereka ini menganut paham Qadariyah. Sedang dalam masalah pelaku dosa besar mereka menganggapnya tidak kafir tapi juga tidak beriman. Dengan dua prinsip terakhir ini pada hakikatnya mereka bertentangan dengan Jahmiyah. Karena Jahmiyah menganut paham Jabriyah dan menganggap dosa tidaklah membahayakan keimanan. Inilah anehnya bid&#8217;ah, dua prinsip aliran sesat yang bertentangan bisa bertemu dalam satu tubuh. <em>Tahsabuhum jamii&#8217;an wa quluubuhum syattaa</em>. Kalian lihat mereka itu bersatu padu akan tetapi sebenarnya hati mereka tercerai-berai. (lihat QS. Al Hasyr: 14).</li>
<li><strong>Karramiyah</strong>. Mereka adalah pengikut Muhammad bin Karram yang cenderung kepada madzhab Tasybih (penyerupaan sifat Allah dengan makhluk) dan mengikuti pendapat Murji&#8217;ah, mereka ini juga terdiri dari banyak sekte.</li>
<li><strong>Kullabiyah</strong>. Mereka ini adalah pengikut Abdullah bin Sa&#8217;id bin Kullab Al Bashri. Mereka inilah yang mengeluarkan statemen tentang Tujuh Sifat Allah yang mereka tetapkan dengan akal. Kemudian kaum Asya&#8217;irah (yang mengaku mengikuti Imam Abul Hasan Al Asy&#8217;ari) pada masa ini pun mengikuti jejak langkah mereka yang sesat itu. Perlu kita ketahui bahwa Imam Abul Hasan Al Asy&#8217;ari pada awalnya menganut paham Mu&#8217;tazilah sampai usia sekitar 40 tahun. Kemudian sesudah itu beliau bertaubat darinya dan membongkar kebatilan madzhab Mu&#8217;tazilah. Di tengah perjalanannya kembali kepada manhaj Ahlus Sunnah beliau sempat memiliki keyakinan semacam ini yang tidak mau mengakui sifat-sifat Allah kecuali tujuh saja yaitu: hidup, mengetahui, berkuasa, berbicara, berkehendak, mendengar dan melihat. Kemudian akhirnya beliau bertaubat secara total dan berpegang teguh dengan madzhab Ahlus Sunnah, semoga Allah merahmati beliau. (lihat <em>Syarh Lum&#8217;atul I&#8217;tiqad</em>, hal. 161-163).</li>
</ol>
<p>Syaikh Abdur Razzaq Al Jaza&#8217;iri <em>hafizhahullah</em> mengatakan, &#8220;Dan firqah-firqah sesat tidak terbatas pada beberapa firqah yang sudah disebutkan ini saja. Karena ini adalah sebagiannya saja. Di antara firqah sesat lainnya adalah: Kaum Shufiyah dengan berbagai macam tarekatnya, Kaum Syi&#8217;ah dengan sekte-sektenya, Kaum Mulahidah (atheis) dengan berbagai macam kelompoknya. Dan juga kelompok-kelompok yang gemar ber-<em>tahazzub</em> (bergolong-golongan) pada masa kini dengan berbagai macam alirannya, seperti contohnya: <strong>Jama&#8217;ah Hijrah wa Takfir</strong> yang menganut aliran Khawarij; yang dampak negatif ulah mereka telah menyebar kemana-mana (yaitu dengan maraknya pengeboman dan pemberontakan kepada penguasa, red), <strong>Jama&#8217;ah Tabligh</strong> dari India yang menganut aliran Sufi, Jama&#8217;ah-jama&#8217;ah Jihad yang mereka ini termasuk pengusung paham Khawarij tulen, kelompok <strong>Al Jaz&#8217;arah</strong>, begitu juga (gerakan) <strong>Al Ikhwan Al Muslimun</strong> baik di tingkat internasional maupun di kawasan regional (bacalah buku <strong>Menyingkap Syubhat dan Kerancuan Ikhwanul Muslimin</strong> karya Ustadz Andy Abu Thalib Al Atsary <em>hafizhahullah</em>). Sebagian di antara mereka (Ikhwanul Muslimin) ada juga yang tumbuh berkembang menjadi beberapa <strong>Jama&#8217;ah Takfiri</strong> (yang mudah mengkafirkan orang). Dan kelompok-kelompok sesat selain mereka masih banyak lagi.&#8221; (lihat <em>Al Is&#8217;aad fii Syarhi Lum&#8217;atul I&#8217;tiqaad</em>, hal. 91-92, bagi yang ingin menelaah lebih dalam tentang hakikat dan bahaya di balik jama&#8217;ah-jama&#8217;ah yang ada silakan membaca buku <strong>Jama&#8217;ah-Jama&#8217;ah Islam</strong> karya Syaikh Salim bin &#8216;Ied Al Hilali <em>hafizhahullah</em>).</p>
<p><strong>Haram Berpecah Belah Menjadi Berbagai Jama&#8217;ah dan Partai</strong></p>
<p>Berikut ini sebagian fatwa para ulama yang mengecam keras tindakan mendirikan berbagai jama&#8217;ah dan mengkotak-kotakkan umat Islam dalam sekat-sekat partai dan kelompok keagamaan. Komite Tetap urusan fatwa Kerajaan Saudi Arabia yang diketuai oleh Syaikh Abdul &#8216;Aziz bin Baz rahimahullah pernah ditanya, <em>&#8220;Apakah hukum berbilangnya jama&#8217;ah dan hizb/partai di dalam Islam, dan apakah hukum berloyalitas kepadanya ?&#8221;</em> Komite tersebut menjawab: &#8220;Tidak diperbolehkan kaum muslimin terpecah belah dalam agama mereka menjadi berbagai kelompok dan golongan&#8230; Karena sesungguhnya perpecahan ini tergolong perkara yang dilarang Allah kepada kita. Allah mencela orang yang menciptakan dan juga orang yang mengikuti orang yang mencetuskannya. Dan Allah telah mengancam pelakunya dengan siksaan yang sangat besar. Allah ta&#8217;ala berfirman yang artinya, <em>&#8220;Berpegang teguhlah kalian dengan tali Allah dan janganlah berpecah belah..&#8221;</em> (QS. Ali &#8216;Imran : 103) sampai firman Allah ta&#8217;ala, <em>&#8220;Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang berpecah belah dan senantiasa berselisih sesudah datang berbagai macam keterangan kepada mereka. Dan bagi mereka itulah siksaan yang sangat besar.&#8221;</em> (QS. Ali &#8216;Imran: 105). Allah ta&#8217;ala juga berfirman, <em>&#8220;Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama mereka sehingga mereka pun menjadi bergolong-golongan tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka.&#8221;</em> (QS. Al An&#8217;am : 159). Adapun apabila pemegang urusan kaum muslimin (Pemerintah, red) yang melakukan upaya pengaturan terhadap mereka serta memilah-milah mereka dalam berbagai kegiatan agama atau keduniaan (bukan untuk memecah belah, red) maka tindakan semacam ini disyari&#8217;atkan.&#8221; (Fatwa No. 1674 tertanggal 7/10/1397 H, lihat <em>Silsilah Abhats Manhajiyah Salafiyah</em>, hal. 52-53).</p>
<p>Nasihat serupa juga disampaikan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al &#8216;Utsaimin <em>rahimahullah</em>. Beliau mengatakan, &#8220;Tidak terdapat dalil baik di dalam Al Kitab maupun di dalam As Sunnah yang membolehkan munculnya berbagai macam jama&#8217;ah dan <em>hizb</em>/partai. Akan tetapi yang ada di dalam Al Kitab dan As Sunnah justru mencela hal itu. Allah ta&#8217;ala berfirman yang artinya, <em>&#8220;Kemudian mereka (pengikut-pengikut Rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing).&#8221;</em> (QS. Al Mu&#8217;minuun: 53). Dan tidak ragu lagi bahwasanya keberadaan <em>hizb-hizb</em> ini bertentangan dengan perintah Allah, bahkan ia juga bertolak belakang dengan anjuran yang disinggung di dalam firman Allah ta&#8217;ala, <em>&#8220;Sesungguhnya (agama Tauhid) Ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, Maka sembahlah Aku.&#8221;</em> (QS. Al Anbiyaa&#8217;: 92)&#8221; (lihat <em>Silsilah Abhats Manhajiyah Salafiyah</em>, hal. 54).</p>
<p>Syaikh Abdul &#8216;Aziz bin Baz <em>rahimahullah</em> yang dulunya pernah membolehkan orang untuk <em>khuruj</em> (keluar daerah untuk berdakwah ala Tablighi dalam rentang waktu tertentu) bersama Jama&#8217;ah Tabligh pun dalam fatwa terakhirnya mengatakan, &#8220;Jama&#8217;ah Tabligh tidak memiliki <em>bashirah</em> (ilmu dan keterangan) dalam berbagai permasalahan akidah, sehingga tidak diperbolehkan untuk <em>khuruj</em> bersama mereka, kecuali bagi orang yang sudah mempunyai bekal ilmu dan bashirah (pemahaman yang dalam) dalam hal akidah lurus yang dipegang oleh Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah supaya dia bisa mengarahkan dan menasihati mereka.&#8221; (Majalah Ad Da&#8217;wah, Riyadh No. 1438 tertanggal 13/1/1414 H dan tercantum dalam <em>Majmu&#8217; Fatawa</em> beliau 8/331, dinukil dengan sedikit perubahan dari <em>Silsilah Abhats Manhajiyah Salafiyah</em>, hal. 55-56). Dalam permasalahan ini para ulama lainnya juga memberikan fatwa yang melarang terbentuknya berbagai <em>jama&#8217;ah</em> dan <em>hizb</em> semacam ini, di antara mereka adalah Syaikh Shalih Al Fauzan (anggota Lembaga Ulama Besar kerajaan Saudi Arabia), Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani (<em>mujaddid</em> dan ahli hadits abad ini), Syaikh Bakr Abu Zaid dan ulama-ulama yang lainnya dari negeri Saudi, Yaman, Yordan, dan negeri lain, semoga Allah menjaga mereka semua.</p>
<p>Maka pada masa ini di negeri yang kita tempati, kita sungguh dibuat terheran-heran oleh ulah sebagian kelompok umat Islam yang menyerukan persatuan dan mengajak untuk mempererat jalinan ukhuwah di antara sesama muslim namun di saat yang sama mereka justru asyik mendengung-dengungkan kehebatan partainya sembari mengibar-ngibarkan bendera partainya, mengenakan kaos dan beraneka atribut partai,  merentangkan spanduk kebanggaannya serta memobilisasi massa untuk mencoblos partai mereka dan tidak memilih partai Islam yang lainnya. Inilah salah satu keajaiban <strong>Harakah Islamiyah</strong> (Gerakan Islam) abad 21 yang berusaha <strong>&#8216;menegakkan benang basah&#8217;</strong> dan rela untuk merengek-rengek kepada <strong>Demokrasi</strong> demi mendapatkan jatah kursi. <em>Wallahul musta&#8217;aan</em>. Adakah orang yang mau merenungkan?</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Di akhir tulisan ini kami ingin menegaskan ulang bahwa Salaf artinya para sahabat Nabi dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik,&gt;Salaf bukanlah pabrik atau partai atau organisasi atau yayasan atau perkumpulan atau perusahaan&#8230; jangan salah paham. Nabi <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> telah bersabda mensifati sebuah golongan yang selamat dari perpecahan di dunia dan siksa di akhirat, yang biasa disebut dengan istilah <strong>Al Firqah An Najiyah</strong> (golongan yang selamat) atau <strong>Ath Thaa&#8217;ifah Al Manshuurah</strong> (kelompok yang mendapat pertolongan) atau <strong>Al Jama&#8217;ah</strong> atau <strong>Al Ghurabaa&#8217;</strong> (orang-orang yang asing), beliau bersabda, <em>&#8220;Mereka adalah orang-orang yang beragama sebagaimana caraku dan cara para sahabatku pada hari ini.&#8221;</em> (HR. Ahmad, dinukil dari <em>Kitab Tauhid</em> Syaikh Shalih Fauzan hal. 11).</p>
<p>Maka sebenarnya pertanyaan yang harus kita tujukan pertama kali kepada diri-diri kita sekarang adalah; apakah akidah kita, ibadah kita, dakwah kita, garis perjuangan kita sudah selaras dengan petunjuk Rasul dan para sahabat ataukah belum? Pikirkanlah baik-baik dengan hati dan pikiran yang tenang: Benarkah apa yang selama ini kita peroleh dari para ustadz dan Murabbi serta Murabbiyat sudah sesuai dengan pemahaman sahabat ataukah belum? Kalau iya mana buktinya? Marilah kita ikuti jejak dakwah Rasul serta para sahabat dan juga para ulama Salaf dari zaman ke zaman. Ukurlah keadaan kita dengan timbangan Al Kitab dan As Sunnah dengan pemahaman Salaf. Ingat, jangan <em>ta&#8217;ashshub</em> (fanatik buta). Pelajari dulu akidah dan manhaj yang benar, baru saudara akan bisa menilai apakah manhaj dan dakwah saudara-saudara sudah cocok dengan pemahaman sahabat ataukah belum cocok tapi dipaksa-paksa biar kelihatan cocok?! Orang yang bijak mengatakan: &#8216;Kenalilah kebenaran maka engkau akan mengenal siapa yang benar!&#8217; Kenapa kita harus ngotot membela seorang tokoh, beberapa individu, sebuah partai, atau yayasan, atau organisasi, atau pergerakan, atau perhimpunan, atau kesatuan aksi, atau apapun namanya kalau ternyata itu semua menyimpang dari jalan Rasul dan para sahabat? Pikirkanlah ini baik-baik sebelum anda bertindak, berorasi, menulis, atau menggalang massa, sadarilah kita semua telah mendapatkan larangan dari Allah Ta&#8217;ala dari atas langit sana dengan firman-Nya yang artinya, <em>&#8220;Dan janganlah kamu mengikuti apa-apa yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya, karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semua itu pasti akan dimintai pertanggungjawaban.&#8221;</em> (QS. Al Israa&#8217; : 36). Peganglah akidah ini kuat-kuat!!</p>
<p>Allah ta&#8217;ala berfirman yang artinya, <em>&#8220;Katakanlah: &#8220;Inilah jalan (agama) ku, Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan Aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.&#8221;</em> (QS. Yusuf: 108)</p>
<p>Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> berkata, &#8220;Allah Ta&#8217;ala berfirman kepada Nabi-Nya <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>: [katakanlah] kepada manusia [inilah jalanku] artinya: jalan yang kutempuh dan kuajak kamu untuk menempuhnya. Yaitu suatu jalan yang akan mengantarkan menuju Allah dan negeri kemuliaan-Nya (surga). Jalan itu mencakup ilmu terhadap kebenaran dan mengamalkannya, menjunjung tinggi kebenaran serta mengikhlashkan ketaatan beragama hanya untuk Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya. [aku mengajak kamu kepada Allah] artinya: aku memotivasi seluruh makhluk dan hamba-hamba agar menempuh jalan menuju Tuhan mereka. Aku senantiasa mendorong mereka untuk itu, dan aku memperingatkan mereka dari bahaya yang dapat menjauhkan dari jalan itu. Bersama itu akupun memiliki [<em>hujjah</em> yang nyata] dari ajaran agamaku, (dakwahku) tegak di atas landasan ilmu dan keyakinan, tidak ada keraguan, kebimbangan dan ketidakpastian. [dan] begitu pula [orang-orang yang mengikutiku], mereka mengajakmu kepada Allah sebagaimana ajakanku, berdasarkan hujjah yang nyata dari agama-Nya. [dan Maha suci Allah] dari segala sesuatu yang disandarkan kepada-Nya tapi tidak sesuai bagi kemuliaan-Nya atau mengurangi kesempurnaan-Nya. [dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik] dalam segala urusanku, tetapi aku menyembah Allah dengan mengikhlashkan agama untuk-Nya.&#8221; (<em>Taisir Karimir Rahman</em>, hal. 406).</p>
<p>Demikianlah yang dimudahkan bagi kami untuk menyusun tulisan ini. Tulisan ini memang masih jauh dari kesempurnaan. Yang benar bersumber dari Allah. Sedangkan yang salah berasal dari kami dan dari syaithan, Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari kesalahan kami. Dan kami memohon ampun kepada Allah atasnya. Nasihat dan kritik membangun dari para pembaca yang budiman sangat kami harapkan demi tegaknya kebenaran dan untuk mengharapkan limpahan ridha, rahmat dan barakah dari Allah subhanahu wa ta&#8217;ala. Semoga Allah menerima amal-amal kita. Shalawat beriring salam semoga selalu tercurah kepada teladan kita Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, keluarga, para sahabat dan seluruh pengikut mereka yang setia. Segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam.</p>
<p>Jogjakarta, Jum&#8217;at 23 Rabi&#8217;ul Awwal 1427 Hijriyah</p>
<p><strong>Catatan:</strong></p>
<p><em>Mohon kepada ikhwah sekalian untuk menyebarluaskan risalah ini secara utuh tanpa merubah content dan memenggal tulisan di dalamnya, serta jangan lupa untuk tetap mencantumkan sumbernya (muslim.or.id). Jazaakumullahu khoiron&#8230;</em></p>
<p>***</p>
<p><strong>Disusun oleh:</strong><br />
Departemen Ilmiah Divisi Bimbingan Masyarakat, Lembaga Bimbingan Islam Al-Atsary Yogyakarta (2006)</p>
<p>Artikel <a title="Mengenal Manhaj Salaf" href="http://muslim.or.id/manhaj-salaf/mari-mengenal-manhaj-salaf.html">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="entry"></div>
<div class="shr-publisher-430"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fmari-mengenal-manhaj-salaf.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/mari-mengenal-manhaj-salaf.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>47</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Racun Fiqhul Waqi&#8217;</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/racun-fiqhul-waqi.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/racun-fiqhul-waqi.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Nov 2008 08:13:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=428</guid>
		<description><![CDATA[Allah Ta&#8217;ala telah menyempurnakan agama kita ini, sebagai mana yang dinyatakan dengan tegas dalam firman-Nya: اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا &#8220;Pada hari ini, telah Aku sempurnakan untukmu agama mu,<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/racun-fiqhul-waqi.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Allah Ta&#8217;ala telah menyempurnakan agama kita ini, sebagai mana yang dinyatakan dengan tegas dalam firman-Nya:</p>
<p>اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا</p>
<p><em>&#8220;Pada hari ini, telah Aku sempurnakan untukmu agama mu, dan telah Aku cukupkan atasmu kenikmatan-Ku, dan Aku ridlo Islam menjadi agamamu.&#8221;</em></p>
<p>Ibnu Katsir mengomentari ayat ini dengan berkata: &#8220;Disempurnakannya agama islam merupakan kenikmatan Allah Ta&#8217;ala yang paling besar atas umat ini, karena Ia telah menyempurnakan agama mereka, sehingga mereka tidak memerlukan lagi kepada agama lainnya, dan tidak pula kepada seorang nabi selain Nabi mereka sendiri <em>shollallahu &#8216;alaihi wasallam</em>. Oleh karena itu Allah Ta&#8217;ala menjadikannya sebagai penutup para nabi, dan mengutusnya kepada seluruh jin dan manusia. Dengan demikian tidak ada suatu yang halal, melainkan yang beliau halalkan, dan tidak ada yang haram, melainkan yang beliau haramkan, dan tidak ada agama, melainkan agama yang beliau syari&#8217;atkan, setiap  yang beliau kabarkan pasti benar lagi jujur, tidak ada mengandung kedustaan sedikitpun, dan tidak akan menyelisihi realita.&#8221; (<em>Tafsirul Qur&#8217;anil Adlim</em> 2/12)</p>
<p><span id="more-428"></span></p>
<p>Ayat ini, sebagaimana telah diketahui, diturunkan kepada Rasulullah <em>shollallahu &#8216;alaihi wasallam</em> pada hari arafah, pada <em>hajjatul wada&#8217;</em>. Imam Al Bukhori meriwayatkan dari Thoriq bin Syihab, ia mengkisahkan: <em>&#8220;Orang-orang Yahudi berkata kepada Umar bin Khottab rodiallahu &#8216;anhu: &#8216;Sesungguhnya kalian membaca satu ayat, seandainya ayat itu turun pada kami kaum Yahudi, niscaya (hari diturunkannya ayat itu) akan kami jadikan I&#8217;ed (perayaan).&#8217; Maka Umar berkata: &#8216;Sungguh aku mengetahui kapan dan dimana ayat itu diturunkan, dan dimana Rasulullah shollallahu &#8216;alaihi wasallam berada disaat ayat itu diturunkan, yaitu di padang arafah, dan kami juga sedang berada di padang arafah, yaitu firman Allah:</em></p>
<p>اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا</p>
<p><em>&#8220;Pada hari ini, telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah aku cukupkan atasmu kenikmatan-Ku, dan Aku ridlo Islam menjadi agamamu.&#8217;&#8221;</em> (Shohih Bukhori, 4/1683, hadits no: 4330)</p>
<p>Pada riwayat ini, dapat kita ketahui, bahwa kesempurnaan agama islam ini bukan hanya diketahui dan disadari oleh kaum muslimin saja, bahkan orang-orang Yahudi pun mengetahuinya, bukan hanya sebatas itu, mereka berangan-angan seandainya ayat ini diturunkan kepada mereka, niscaya mereka akan merayakannya.</p>
<p>Sebagai bukti lain bahwa orang-orang non islam menyadari akan kesempurnan agama islam, ialah kisah berikut: Ada sebagian orang musyrikin berkata kepada sahabat Salman Al Faris <em>rodiallahu &#8216;anhu</em>:<em> &#8220;Sungguh Nabi kalian telah mengajarkan kalian segala sesuatu, hingga pun tata cara buang hajat,&#8221;</em> maka Sahabat Salman menimpalinya dengan berkata: <em>&#8220;Benar, beliau sungguh telah melarang kami untuk menghadap ke arah kiblat di saat buang air besar atau buang air kecil, atau beristinja&#8217; menggunakan tangan kanan, atau beristijmar dengan bebatuan kurang dari tiga batu, atau beristijmar menggunakan kotoran binatang atau dengan tulang-belulang.&#8221;</em> (Shohih Muslim, 1/223, hadits no: 261)</p>
<p>Bila kesempurnaan agama islam dalam segala aspek kehidupan telah diakui dan diketahui oleh orang-orang non islam, maka betapa sengsara dan bodohnya bila ada orang islam yang masih merasa perlu untuk mencari alternatif lain dalam beragama, yaitu dengan cara menambah, atau memodifikasi, atau menggabungkan, atau dengan cara mengadopsi teori-teori dan ajaran-ajaran umat lain, baik asalnya dari negeri India, atau Mesir, atau Yunani dan Barat. (*)</p>
<p>(*) <em>Suatu fakta yang memilukan, di saat di negeri kita sedang menjamur sekolahan-sekolahan islam, dimulai dari SDIT hingga perguruan tinggi, akan tetapi ternyata teori-teori pendidikan yang diterapkan, ialah teori pendidikan barat, dan bukan teori pendidikan islam, diantaranya ialah teori pendidikan yang melarang seorang guru mengajarkan muridnya dengan metode perintah, juga melarang dari memberikan hukuman fisik -misalnya: pukulan dll-, ini semua tidak selaras dengan prinsip dan tahapan amar ma&#8217;ruf dan nahi mungkar dalam agama islam, wallahul musta&#8217;an.</em></p>
<p>Dan pada firman-Nya yang lain, Allah menegaskan bahwa pada Al Qur&#8217;an Allah telah menjelaskan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia:</p>
<p>ونزلنا عليك الكتاب تبيانا لكل شيء وهدى ورحمة وبشرى للمسلمين</p>
<p><em>&#8220;Dan telah Kami turunkan kepadamu Al Kitab ( Al Qur&#8217;an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.&#8221;</em> (QS. An Nahel: 89)</p>
<p>Ibnu mas&#8217;ud <em>rodiallahu &#8216;anhu</em> berkata: Telah dijelaskan kepada kita dalam Al Qur&#8217;an ini seluruh ilmu dan segala sesuatu.</p>
<p>Dan Al Mujahid berkata: Seluruh halal dan haram telah dijelaskan.</p>
<p>Setelah Ibnu Katsir menyebutkan dua pendapat ini, belaiu berkata: &#8220;Pendapat Ibnu Mas&#8217;ud lebih umum dan menyeluruh, karena sesungguhnya Al Qur&#8217;an mencakup segala ilmu yang berguna, yaitu berupa kisah-kisah umat terdahulu, dan yang akan datang. Sebagaimana Al Qur&#8217;an juga mencakup segala ilmu tentang halal dan haram, dan segala sesuatu yang dibutukan oleh manusia, dalam urusan kehidupan dunia dan agama mereka.&#8221; (<em>Tafsirul Qur&#8217;anil &#8216;Adlim</em> 2/582).</p>
<p>Oleh karena itu, orang yang paling hafal dan memahami ilmu Al Qur&#8217;an dan sunnah-sunnah Nabi <em>shollallahu &#8216;alaihi wasallam</em>, kemudian mengamalkannya adalah orang yang paling berguna bagi perjalanan umat, baik untuk masa kini atau masa depan mereka, di dunia atau di akhirat. Mereka itulah para ulama&#8217; <em>rabbaniyyin</em>, yang ucapannya patut dijadikan panutan dan fatwanya dijadikan pedoman. Merekalah yang akan dapat menegakkan kebenaran, dan memperjuangkannya. Merekalah yang akan menepis dan menyingkap tabir dan kedok setiap musuh yang menyusup ke barisan umat. Dan mereka pulalah yang memadamkan api dalam sekam, dan menangkap musuh dalam selimut, dan mereka pulalah tonggak kekuatan umat islam. Karena mereka adalah ahli waris Nabi <em>shollallahu &#8216;alaihi wasallam</em>, yang mewarisi ilmu dan semangat perjuangan beliau.</p>
<p>العلماء ورثة الأنبياء وإن الأنبياء لم يورثوا دينارا ولا درهما إنما ورثوا العلم فمن أخذ به أخذ بحظ وافر</p>
<p><em>&#8220;Para ulama&#8217; ialah ahli waris para nabi, dan sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan dinar, juga tidak dirham, yang mereka wariskan hanyalah ilmu, maka barang siapa yang mendapatkan ilmu, maka ia telah mendapatkan bagian warisan yang banyak.&#8221;</em> (Hadits Abi Ad Darda&#8217;, dan diriwayatkan oleh Imam Ahmad 5/196, Abu Dawud, 3/317, hadits no: 3641, At Tirmizy 5/48, hadits no: 2682, Ibnu Majah 1/81, hadits no: 223, dll.)</p>
<p>Inilah sebabnya, mengapa setan dan ahli warisnya paling berang bila melihat ulama&#8217; yang benar-benar komitmen dengan Al Qur&#8217;an dan As Sunnah, sehingga mereka berusaha menghalang-halangi setiap usaha dan gerak para ulama&#8217; dan menjauhkan mereka dari kehidupan masyarakat, dengan berbagai cara. Semua ini mereka lakukan agar mereka dapat dengan leluasa menebarkan makar dan tipu muslihatnya. Kadang kala, dengan kekuatan, dan kadang kala pula dengan cara-cara yang lembut, yaitu dengan melontarkan berbagai tuduhan buruk kepada ahli waris Nabi <em>shollallahu &#8216;alaihi wasallam</em>. Sebagaimana dahulu mereka telah melakukan usaha-usaha ini guna menghadapi dakwah Nabi <em>shollallahu &#8216;alaihi wasallam</em>.</p>
<p>Diantara sebab terjadinya perolok-olokan terhadap ulama&#8217; ialah merajalelanya kebodohan terhadap ilmu syari&#8217;at, dalam pepatah arab dinyatakan:</p>
<p>الإنسان عدو لما يجهله</p>
<p><em>&#8220;Manusia itu akan senantiasa memusuhi setiap yang tidak ia ketahui.&#8221;</em></p>
<p>Sebagaimana yang kita rasakan, betapa banyak dari kaum muslimin pada zaman ini yang menentang syari&#8217;at islam dan mengatakan bahwa islam itu keji, dan tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Ini semua salah satu bukti bahwa kaum muslimin telah jauh dan bodoh tentang ajaran islam, dan bahwa islam senantiasa relevan dengan perkembangan zaman. Sehingga tidak heran bila mereka memusuhi ulama&#8217; yang komitmen dengan ajaran Al Qur&#8217;an dan As Sunnah.</p>
<p>Dan seandainya masyarakat mengetahui bahwa peran ulama&#8217; sangat besar, dan tugas yang mereka emban suci lagi berat, dan berkat -setelah rahmat dari Allah- perjuangan dan jasa mereka Allah menurunkan berbagai kenikmatan dan kerahmatannya, sehingga seluruh penghuni langit dan bumi senantiasa memohonkan ampunan untuk mereka (*), niscaya tidak akan ada orang yang memperolok-olokkan mereka.</p>
<p>(*) <em>Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Abi Ad Darda&#8217; rodiallahu &#8216;anhu: &#8220;Barang siapa yang menempuh suatu perjalanan guna menuntut ilmu, niscaya dengannya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju ke surga. Dan para malaikat akan menutupkan sayapnya, karena ia suka dengan seorang penuntut ilmu. Dan sungguh seorang ulama&#8217; akan dimohonkan ampunan oleh seluruh penghuni langit dan bumi, sampai pun ikan di lautan&#8230;.&#8221; (Lihat takhrij hadits ini pada footnote sebelumnya).</em></p>
<p>Dan diantara perangkap yang mereka pasang dan upaya yang mereka tempuh guna menjauhkan masyarakat dari ulama&#8217; ialah tuduhan baru tapi kuno. Baru, karena dikemas dengan ungkapan-ungkapan yang seakan-akan sopan, kuno karena kandungannya keji dan jahat dan tujuannya sama dengan tujuan setiap ahli waris setan di setiap zaman. Tuduhan ini ialah mengatakan: bahwa mereka para ulama&#8217; tua sudah kadaluwarsa, habis masa berlakunya, mereka hanya dapat membaca kitab-kitab kuning yang telah usang diterpa zaman, sehingga mereka tidak memahami realita dan perkembangan zaman. Mereka hanya mampu memahami dan mengajarkan berbagai masalah seputar haid dan nifas, atau ilmu mereka tidak lebih dari sebatas celana dalam wanita. Bahkan ada lagi yang lebih keji tuduhannya dengan mengatakan: mereka hanya memahami kulit luar agama islam, sedangkan inti dan kandungannya belum atau tidak mereka pahami. (*)</p>
<p>(*) <em>Syeikh Ahmad bin Yahya An Najmi berkata: &#8220;Agama islam semuanya haq, tidak ada salahnya, benar lagi jujur tidak ada dustanya, sunguh-sungguh tidak ada faktor main-main, dan semuanya inti tidak ada kulitnya. Saya takutkan orang yang menyangka bahwa dalam ajaran agama islam ada yang dianggap kulit, ia telah keluar dari keislaman dan telah menjadi murtad.&#8221; (Al Maurid Al Azbu Al Zulaal 235).</em></p>
<p>Syeikh Sholeh bin Fauzan Al Fauzan mengatakan tentang kenyataan ini dengan berkata: &#8220;Ada oknum-oknum yang berusaha menjatuhkan kedudukan para ulama&#8217;, melalui media elektronik, dan koran-koran, di sana juga ada orang yang mencela ulama&#8217;-ulama&#8217; terdahulu, seperti Imam Ahmad, Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Syeikhul Islam Muhammad bin Abdil Wahhab, dan lainnya. Di sana juga ada oknum-oknum yang meremehkan peran ulama&#8217;-ulama&#8217; sekarang, dengan mengatakan: mereka ekstrim, dangkal pemikiran, picik pandangan, tidak memahami realita, mereka hanya ulama&#8217; picisan, gila jabatan, kaki tangan pemerintah, dan julukan-julukan jelek lainnya. Kemudian mereka berusaha mempropagandakan para penyeru pembaharuan dan intelek, yang tidak menguasai hukum-hukum syari&#8217;at, dan hanya memiliki pengetahuan umum, tidak mampu membedakan antara akidah yang benar dan yang salah.&#8221; (<em>Majalah Al Jazirah</em> edisi 12 rajab 1424)</p>
<p>Mungkin ada yang mengatakan, ah ini kan hanya sebatas tuduhan saja. Guna membuktikan bahwa orang semacam ini ada dan bahkan banyak berkeliaran di mana-mana, akan saya nukilkan perkataan salah seorang dari mereka.</p>
<p>Penulis buku (خطوط رئيسية لبعث الأمة الإسلامية) berkata: &#8220;Dan pada hari ini, -sangat disayangkan- kita memiliki ulama&#8217; (<em>syuyukh</em>) yang hanya memahami kulit agama islam, layaknya ia sedang hidup pada zaman dahulu, padahal sistem kehidupan dan metode transaksi masyarakat telah berubah. Apa gunanya seorang ulama&#8217; yang membaca ayat-ayat riba&#8217; sedangkan ia tidak memahami berbagai transaksi riba&#8217; yang berjalan pada zaman sekarang, dan apa gunanya seorang ulama&#8217; yang tidak mampu untuk membantah perkataan seorang atheis yang mengatakan bahwa hukuman potong tangan bagi pencuri ialah tindakan bengis, dan menikah dengan empat wanita itu gaya hidup orang-orang rimba dan tidak moderen &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8221; (Dinukil melalui kitab <em>Al Maurid Al Azbu Az Zulaal</em>, hal. 234)</p>
<p>Tuduhan ini dalam bahasa arab sering disebut dengan (فقه الواقع)</p>
<p>Syeikh Ibnu Baz <em>-rahimahullah</em>- tatkala mengomentari tuduhan-tuduhan ini berkata: &#8220;Kewajiban setiap orang muslim untuk selalu menjaga lisannya dari hal-hal yang tidak layak, dan hendaknya ia tidak berbicara kecuali dengan dasar pengetahuan. Ucapan bahwa si fulan tidak memahami <a title="Racun Fiqhul Waqi" href="http://muslim.or.id/manhaj-salaf/racun-fiqhul-waqi.html">realita</a>, memerlukan pengetahuan, dan tidak boleh dikatakan kecuali oleh orang yang berilmu, hingga ia dapat menghukumi bahwa dia benar-benar tidak memahami realita. Adapun mengucapkannya dengan tanpa dasar, dan mengklaim atas dasar pemikiran sendiri tanpa ada bukti, maka ini adalah kemungkaran besar, tidak boleh dilakukan. Dan untuk mengetahui bahwa pemberi fatwa ternyata tidak memahami realita, membutuhkan bukti, dan ini tidak dapat dilakukan kecuali oleh para ulama&#8217;.&#8221; (<em>Majalah Rabithoh Alam Islamy</em>, edisi 313, dengan perantara kitab: <em>Qowaid fi Ta&#8217;amul ma&#8217;a Al Ulama&#8217;</em>, oleh Syeikh Dr. Abdur Rahman bin Mu&#8217;alla Al Luwauhiq)</p>
<p>Komentar beliau ini singkat tapi padat dan penuh dengan pelajaran penting, diantaranya:</p>
<p>Pelajaran Pertama: Bahwa menuduh ulama&#8217; dengan tuduhan semacam ini ialah suatu tindakan yang tidak layak, bahkan haram hukumnya, karena ucapan ini selain merupakan penghinaan terhadap orang lain, juga berakibat terwujudnya jurang pemisah antara ulama&#8217; para panutan umat dengan masyarakat. Dan bila antara mereka telah terbentang jurang pemisah, niscaya yang akan terjadi ialah seperti yang Rasulullah <em>shollallahu &#8216;alaihi wasallam</em> sabdakan:</p>
<p>إن الله لا يقبض العلم انتزاعا ينتزعه من العباد ولكن يقبض العلم بقبض العلماء حتى إذا لم يبق عالما اتخذ الناس رؤوسا جهالا فسئلوا فأفتوا بغير علم فضلوا وأضلوا</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya Allah tidaklah mengangkat ilmu dengan cara mencabutnya dari manusia, akan tetapi Ia mengangkat ilmu dengan cara mematikan para ulama&#8217;, hingga bila Allah tidak menyisakan lagi seorang ulama&#8217;-pun, niscaya manusia akan mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin mereka, kemudian mereka ditanya, dan mereka pun menjawab dengan tanpa ilmu, maka mereka pun sesat dan menyesatkan.&#8221;</em> (Hadits Abdullah bin &#8216;Amer Al &#8216;Ash <em>rodiallahu &#8216;anhu</em>, diriwayatkan oleh Al Bukhori 1/50, hadits no: 100, dan Muslim 4/2058, hadits no: 2673)</p>
<p>Syeikh Sholeh bin Fauzan Al Fauzan berkata: &#8220;Orang-orang yang melontarkan tuduhan-tuduhan tersebut kepada para ulama&#8217;, berkeinginan untuk mengeser kepercayaan masyarakat kepada mereka, dan memisahkan mereka -terutama para pemuda- dari para ulama&#8217;, dan ini merupakan tindak penghancuran dan pengrusakan. Seorang penyair berkata:</p>
<p>متى يبلغ البنيان يوم تمامه		إذا كنت تبني وغيرك بهدم</p>
<p><em>Kapan pembangunan akan dapat terlaksana</p>
<p>Bila engkau membangun, sedang orang lain merusaknya</em></p>
<p>Penyair lain berkata:</p>
<p>أرى ألف بان لا تقوم لهادم	فكيف ببان خلفه ألف هادم</p>
<p><em>Ku kira seribu pembangun tak kuasa menghadapi seorang perusak</p>
<p>Bagaimana halnya seorang pembangun dengan seribu perusak</em></p>
<p>Bila problematika umat tidak dikembalikan kepada para ulama&#8217; yang telah mendalam ilmunya, dan orang-orang yang memiliki pemikiran jernih, niscaya akan kacau dan rusak tolok ukur mereka, sebagaimana disinyalir oleh seorang penyair:</p>
<p>لا يصلح الناس فوضى لا سراة لهم		ولا سراة إذا جهالهم سادوا</p>
<p><em>Masyarakat tak layak tuk hidup kacau, tanpa pemimpin</p>
<p>Dan tiada kepemimpinan bila orang pandirlah yang memimpin.&#8221; </em>(<em>Fatawa al Aimmah fi An Nawazil al Mudlahimmah</em> 291)</p>
<p>Pelajaran Kedua: Bahwa ucapan semacam ini tidak boleh diucapkan kecuali oleh orang-orang yang berilmu, sehingga ucapannya dapat dipercaya dan dipertanggung jawabkan. Karena perlu kita ingat bahwa kata (الفقه) dalam bahasa arab semakna dengan kata (الفقه) pemahaman. Dan pemahaman atau fiqih, dalam ilmu syari&#8217;at terbagi menjadi dua, sebagaimana yang dinyatakan oleh Ibnul Qayyim dalam perkataannya berikut:</p>
<p>&#8220;Seorang mufti atau hakim tidak akan dapat berfatwa dan menghakimi dengan benar, melainkan dengan dua jenis pemahaman:</p>
<ol>
<li>Pemahaman terhadap kasus atau kejadian, dan mengetahui hakikat kejadian itu dengan menggunakan berbagai <em>qorinah</em>, tanda dan bukti-bukti hingga ia benar-benar menguasai ilmu tentang kejadian itu.</li>
<li>Pemahaman tentang kewajiban yang berhubungan dengan kejadian itu, yaitu memahami hukum Allah yang Allah sebutkan dalam Al Qur&#8217;an atau melalui lisan Rasul-Nya tentang kejadian itu.</li>
</ol>
<p>Kemudian ia (mufti atau hakim) mencocokkan keduanya, maka barang siapa yang telah mengerahkan seluruh daya dan upayanya guna menguasai dua hal ini, niscaya ia tidak akan luput dari dua atau satu pahala. Karena ulama&#8217; ialah orang yang menjadikan pemahamannya tentang kejadian sebagai sarana guna mengenali hukum Allah dan Rasul-Nya.&#8221; (<em>I&#8217;ilamul Muwaqi&#8217;in</em> 1/87-88)</p>
<p>Kemudian permasalahannya bukan hanya sebatas ini saja, karena pemahaman jenis pertama masih terbagi menjadi dua, sebagaimana yang dijelaskan oleh Syeikh Sholeh in Abdil Azizi Alu As Syeikh, dalam perkataannya berikut ini:</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya memahami realita  (realita) -menurut &#8216;ulama- terbagi menjadi dua bagian:</p>
<p>Bagian pertama: Pemahaman terhadap realita yang dibangun di atasnya hukum syari&#8217;at, dan ini merupakan suatu keharusan, dan harus dipahami, dan barangsiapa yang menghukumi suatu masalah, tanpa memahami realitanya, maka dia telah salah. Dan Jika realita tersebut, memiliki pengaruh dalam menentukan hukum, maka kita wajib untuk memahaminya.</p>
<p>Bagian kedua: Realita yang tidak memiliki pengaruh dalam menentukan hukum syari&#8217;at, misalnya: kejadiannya demikian dan demikian, dan kisah cerita yang panjang lebar&#8230;, akan tetapi realita dan kisah tersebut, tidak ada pengaruhnya sama sekali dalam menentukan hukum syari&#8217;at. Ketika itulah, para &#8216;ulama tidak memperdulikannya, walaupun mereka memahami realita tersebut. Dengan demikian tidak setiap realita yang diketahui dibangun di atasnya hukum syari&#8217;at.&#8221; (<em>Ad Dhowabith As Syar&#8217;iyyah Li Mauqifi Al Muslim fi Al Fitan</em> hal: 45)</p>
<p>Realita jenis kedua ini dalam ilmu ushul fiqih disebut dengan (الأوصاف الطردية). Tentu kita semua tahu bahwa realita jenis ini tidak ada pengaruhnya dalam menentukan hukum sesuatu, atau dengan kata lain &#8220;ilmu yang bila diketahui tidak ada manfaatnya, dan bila tidak diketahui juga tidak merugikan&#8221;. Untuk dapat membedakan antara realita yang berpengaruh dalam menentukan hukum dengan realita yang tidak berpengaruh sama sekali, kita harus mengetahui hal apa saja yang diperhatikan oleh syaria&#8217;at dalam seluruh permasalahan dalam fiqih, dan hal apa saja yang diperhatikan oleh syari&#8217;at dalam bab tertentu -misalnya bab ibadat- dalam ilmu fiqih, dan hal apa saja yang diperhatikan oleh syari&#8217;at dalam sub bab tertentu, -misalnya bab wudlu dan menghilangkan najis/<em>thoharoh</em>- dalam ilmu fiqih.</p>
<p>Untuk memperjelas penjelasan di atas, akan saya contohkan dengan beberapa contoh berikut:</p>
<p>Contoh realita bagian pertama:</p>
<p>A. Para ulama&#8217; berbeda pendapat dalam hal riba&#8217;, apakah berlakunya riba&#8217; dalam jual beli emas dan perak, karena faktor dijadikannya kedua benda ini sebagai alat untuk transaksi jual beli, sehingga setiap hal yang menggantikan peranan emas dan perak dalam hal ini berlaku pula hukum riba&#8217;, sehingga mata uang yang kita gunakan sekarang ini berlaku padanya hukum-hukum riba&#8217;. Ataukah karena faktor yang ada pada emas dan perak itu sendiri, sehingga selain keduanya tidak berlaku hukum-hukum riba&#8217;? Ataukah karena keduanya adalah logam berharga yang selalu ditimbang bila diperjual belikan? Bila ada orang yang hendak berbicara tentang hukum-hukum riba&#8217; pada zaman ini, kemudian tidak mengetahui realita ini, niscaya ia akan berbicara dengan sembarangan dan terjerumus ke dalam jurang kebinasaan dan berfatwa tanpa dasar ilmu.</p>
<p>B. Kapankah seseorang dapat diklaim kafir, dan bagaimana tahapan-tahapan untuk dapat sampai kepada kesimpulan bahwa si fulan kafir? Bila ada suatu kejadian -misalnya- : ada si fulan yang bersujud kepada selain Allah, kemudian kita ditanya apakah si fulan telah kafir dengan perbuatannya itu? Maka kita harus tahu tentang realita si fulan itu saat dia bersujud kepada selain Allah. Apakah saat itu dia sedang sadar, berakal, baligh, tahu bahwa sujud kepada selain Allah itu kufur? Atau barang kali ia saat bersujud kepada selain Allah sedang tertidur, atau dipaksa seseorang, atau tidak paham bila sujud itu hanya ditujukan kepada Allah semata&#8230;dst?. Bila seseorang hendak menghukumi orang ini tanpa mengetahui realita ini semua, niscaya keputusan hukum yang ia ambil salah dan menyelisihi kebenaran.</p>
<p>Contoh realita bagian kedua:</p>
<p>A. Berlakunya hukum riba&#8217; pada emas perak (dinar dan dirham) tidak ada kaitannya dengan warna dan bentuk keduanya. Sehingga tidak setiap yang berwarna kuning dan putih berkilau berlaku padanya hukum riba&#8217;, walaupun realita emas berwarna kuning, dan perak berwarna putih berkilau.</p>
<p>B. Divonisnya seseorang telah kafir karena ia bersujud kepada selain Allah, atau tidak, tidak ada kaitannya, apakah ia seorang lelaki atau perempuan, ia sujud sekali, atau dua kali, ia sujud di waktu pagi atau sore, ia orang seorang intelektual ahli baca koran atau bukan? Karena syari&#8217;at islam tidak membedakan manusia berdasarkan hal-hal itu, akan tetapi syariat memiliki tahapan-tahapan dan syarat-syarat yang telah jelas dan baku dalam menghukumi seseorang. (Tahapan-tahapan yang dimaksud ialah: (1) ditegakkannya hujjah kepada orang itu bahwa perbuatannya  itu benar-benar perbuatan kufur, (2) Di saat ia melakukan perbuatan itu ia telah berakal baligh, (3) Disaat ia melakukan tindakan itu dalam keadaan bebas, tidak dalam ancaman seseorang, (4) Di saat ia melakukannya ia tahu dan sadar bahwa tindakan itu ialah kufur, dan ia tidak memiliki takwil atau alasan sedikit pun. Untuk mendapatkan penjelasan lebih luas, silahkan baca buku: <em>Mauqif Ahlis Sunnah Wal Jama&#8217;ah min Ahlil Ahwa&#8217; wal Bida&#8217;</em>, oleh DR. Ibrahim Ar Ruhaily, 1/163-222)</p>
<p>C. Sebagai contoh lain, diharamkannya khomer, apakah hanya karena ia terbuat dari jus anggur, sehingga minuman yang terbuat dari bahan-bahan lain tidak haram, walaupun memabokkan? Apakah minuman yang diolah dengan cara-cara yang moderen, dan disterilisasi, dan dikemas dengan kemasan yang bagus lagi menarik, kemudian diminum di tempat-tempat yang terhormat, di masjid misalnya, tidak dikatakan khomer sehingga halal? Tentu orang yang memahami hukum syari&#8217;at tentang keharaman khomer tidak akan berubah fatwanya hanya karena adanya perubah dalam hal-hal ini, sebab Syari&#8217;at mengharamkan khomer, bukan karena bahan bakunya, akan tetapi sifat memabokkan yang ada pada minuman itu. Dengan demikian, setiap  yang memabokkan dalam syariat disebut khomer, dan setiap yang memabokkan ialah haram hukumnya.</p>
<p>عن بن عمر رضي اله عنهما قال: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : (كل مسكر خمر وكل مسكر حرام). رواه مسلم</p>
<p><em>&#8220;Dari Ibnu Umar rodiallahu &#8216;anhu, ia berkata: Rasulullah shollallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda: (Setiap yang memabokkan adalah khomer, dan setiap yang memabokkan adalah haram.&#8221;</em> (HR. Muslim)</p>
<p>Untuk lebih jelasnya, saya anjurkan kawan-kawan untuk mempelajari ilmu ushul fiqih, dan secara khusus pembahasan qiyas, dan secara lebih khusus lagi pembahasan (العلة ومسالكها).</p>
<p>Pelajaran Ketiga: Orang yang menuduh ulama&#8217; dengan tuduhan ini, ia harus dapat mendatangkan bukti, bahwa mereka benar-benar tidak memahami realita. Bila ia tidak dapat membuktikannya, berarti ia adalah pendusta dan pembohong. Bila ucapan ini hanya sebatas berbicara bukti, menduga tanpa dasar dari kenyataan, maka betapa mudahnya, dan setiap orang dapat melakukannya, akan tetapi bila datang saatnya dituntut untuk membuktikan, apalagi membuktikannya di depan pengadilan, maka tidak semudah yang dibayangkan.</p>
<p>Kemudian bila kita sedikit mengikuti keinginan orang-orang yang mendengungkan fiqhul waqi&#8217; ini, dan kita bertanya kepada mereka: Waqi&#8217; dan realita yang mana dan bagaimana yang anda maksudkan? Niscaya kita akan dapatkan bahwa yang mereka maksudkan secara khusus ialah seputar permasalahan politik nasional atau internasional dan berbagai kebijakan pemerintah.</p>
<p>Dan bila kita bertanya kepada orang-orang yang mendakwakan dirinya memahami realita (waqi&#8217;): Dari manakah anda dapat mengetahui waqi&#8217; atau realita? Niscaya kita dapatkan jawabannya ialah: dari berita radio, televisi, koran, majalah, ulasan si fulan dan si fulan yang di siarkan di stasiun tertentu, yang tidak jarang bila kita teliti lebih mendetail bahwa pengulas berita tersebut ialah orang fasik atau bahkan kafir, atau orang yang memiliki kepentingan tertentu. Bahkan seringnya mereka mengandalkan stasiun-stasiun berita milik orang kafir, semisal: BBC London, CNN Amerika, dll, yang jelas-jelas memusuhi agama islam.</p>
<p>Ini adalah suatu kesalahan besar, karena telah mempercayai berita dan ulasan atau pemikiran orang-orang yang dalam syari&#8217;at islam tidak dapat dipercaya. Allah Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>يأيها الذين أمنوا إن جاءكم فاسق بنبإ فتبينوا أن تصيبوا قوما بجهالة فتصبحوا على  ما فعلتم نادمين</p>
<p><em>&#8220;Wahai orang-orang yang beriman, bila datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menjadikanmu menyesali perbuatanmu itu.&#8221;</em> (QS. Al Hujurat: 6)</p>
<p>Bila kita dilarang menelan bulat-bulat berita yang disampaikan oleh orang-orang fasik, apalagi bila yang menyampaikannya adalah orang-orang kafir.</p>
<p>Sebagian ulama&#8217; tatkala membahas kaidah (الحكم على الشيء فرع عن تصوره), mereka menyebutkan bahwa tashowwur (gambaran/penjabaran tentang realita suatu kejadian) yang dapat dijadikan dasar dan pedoman dalam berfatwa ialah satu dari dua bentuk gambaran/penjabaran berikut:</p>
<p>1. Gambaran yang disampaikan oleh orang yang meminta fatwa, sebab orang tersebutlah yang sedang menghadapi masalah itu, jika dia bertanya atau menjelaskan permasalahannya, niscaya akan didapatkan gambaran yang jelas darinya, maka sang mufti akan dapat menjelaskan hukum agama, sesuai dengan pertanyaannya.</p>
<p>2. Gambaran tersebut diperoleh dari penjelasan orang muslim adil dan terpercaya, dan ahli dalam bidangnya sehingga tidak ada kerancuan sedikitpun dalam penjelasannya. cara ini haruslah diambil dari orang muslim adil dan berkompeten dalam masing-masing permasalahan.</p>
<p>Sebagai contoh misalnya yang diterapkan oleh Hai&#8217;ah Kibarul Ulama&#8217; di Kerajaan Arab Saudi, Majma&#8217; Al Fiqh Al Islami dibawah OKI, dan Al Majma&#8217; Al Fiqhy Al Islamy di bawah pengawasan Rabithoh Al &#8216;Alam Al Islamy. Dimana tatkala mereka hendak mengeluarkan suatu fatwa tentang permasalahan tertentu, baik yang berhubungan dengan berbagai transaksi dalam dunia perbankan, atau kedokteran atau lainnya, mereka mendatangkan para pakar dan ahli dalam masing-masing bidangnya. Dengan demikian penjelasan dan gambaran tentang setiap permasalahan yang hendak mereka hukumi telah jelas dan terpercaya. (Ibid).</p>
<p>Para ulama&#8217; -semisal anggota Hai&#8217;ah Kibarul Ulama&#8217;- mereka telah menguasai ilmu syari&#8217;at, dan sistem islami dalam berbagai aspek kehidupan, <em>siyasah</em>, transaksi perdagangan (<em>mu&#8217;amalah</em>), tatanan rumah tangga (<em>munakahat</em>), hukum pidana dan perdata dll, sehingga acapkali disampaikan kepada mereka sitem dan metode hasil karya pemikiran orang non muslim, mereka dapat mengetahuinya dan membeberkan titik kesalahannya, ini berkat ilmu syari&#8217;at yang telah mereka kuasai. Sehingga ilmu syari&#8217;at mereka telah menjadi timbangan atau barometer dalam menghukumi setiap hal baru atau kontemporer. Oleh karenanya mereka tidak merasa perlu untuk mempelajari setiap sistem dan metode kehidupan orang-orang non islam, dan mengikuti berita-berita yang disiarkan di berbagai mass media.</p>
<p>Sebagai penutup tulisan ini, saya akan sebutkan hukum memperolok-olok ulama&#8217;. Para ulama&#8217; membagi sikap mencela ulama&#8217; kepada dua bagian:</p>
<p>1.Mencela badan dan pribadi mereka, maka ini ialah perbuatan haram, berdasarkan firman Allah:</p>
<p>يأيها الذين أمنوا لا يسخر قوم من قوم عسى أن يكونوا خيرا منهم ولا نساء من نساء عسى أن يكن خير منهن ولا تلمزوا أنفسكم ولا تنابزوا بالألقاب بئس الاسم الفسوق بعد الإيمان ومن لم يتب فأولئك هم الظالمون</p>
<p><em>&#8220;Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum memperolok-olokkan kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diperolok-olok lebih baik dari mereka (yang memperolok-olokan), dan jangan pula wanita memperolok-olok wanita lain, boleh jadi mereka yang diperolok-olok lebih baik dari yang memperolok-olokkan. Dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar (julukan-julukan) buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah panggilan kefasikan sesudah keimanan, dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.&#8221;</em> (QS. Al Hujurat: 11)</p>
<p>Dan ini merupakan kesombongan, sebagaimana disebutkan dalam hadits:</p>
<p>الكبر بطر الحق وغمط الناس</p>
<p><em>&#8220;Kesombongan itu ialah menolak kebenaran dan meremehkan  orang lain.&#8221;</em> (Riwayat Imam Muslim, 1/93, hadits no: 90)</p>
<p>2. Mencela mereka disebabkan keimanan, ilmu, amalan, dakwah, dan komitmen mereka terhadap Al Qur&#8217;an dan As Sunnah, maka celaan macam ini adalah kekufuran, dan menjadikan pelakunya dikatakan murtad. Karena ini pada hakekatnya adalah celaan terhadap Allah, Rasul-Nya <em>shollallahu &#8216;alaihi wasallam</em>, dan  agama-Nya. Allah Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>ولئن سألتهم ليقولن إنما كنا نخوض ونلعب قل أبالله وأياته ورسوله كنتم تستهزؤون لا تعتذروا قد كفرتم بعد إيمانكم</p>
<p><em>&#8220;Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu) tentulah mereka akan menjawab: &#8216;Sesungguhnya kami hanyalah bersendagurau, dan bermain-main saja.&#8217; Katakanlah: &#8216;&#8221;Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.&#8217;&#8221;</em> (QS. At Taubah: 65-66)</p>
<p>Al Lajnah Ad Da&#8217;imah berfatwa:</p>
<p>&#8220;Mencela agama, dan memperolok-olok sebagian dari Al Qur&#8217;an dan As Sunnah, dan memperolok-olok orang yang berpegang teguh dengan keduanya, karena sikapnya mengamalkan keduanya, misalnya karena ia memanjangkan jenggotnya, dan seorang muslimah karena ia berjilbab, maka ini bila dilakukan oleh orang yang mukallaf adalah kekufuran, dan harus dijelaskan kepada pelakunya bahwa ini adalah kekufuran, bila ia tetap nekad setelah mengetahuinya, maka ia telah kafir. Allah Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>ولئن سألتهم ليقولن إنما كنا نخوض ونلعب قل أبالله وأياته ورسوله كنتم تستهزؤون لا تعتذروا قد كفرتم بعد إيمانكم</p>
<p><em>&#8220;Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu) tentulah mereka akan menjawab: &#8216;Sesungguhnya kami hanyalah bersendagurau, dan bermain-main saja.&#8217; Katakanlah: &#8216;&#8221;Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.&#8217;&#8221;</em> (QS. At Taubah: 65-66) (<em>Fatawa Al Lajnah Ad Da&#8217;imah</em> 2/24)</p>
<p>Pada akhir tulisan ini, akan saya sebutkan perkataan dua orang ulama&#8217; besar tentang perbuatan mencela ulama&#8217;, semoga menjadi peringatan bagi kita semua:</p>
<p>Abdullah bin Mubarak -<em>rahimahullah</em>- berkata: &#8220;Wajib atas setiap orang yang berakal sehat untuk tidak meremehkan tiga macam orang: Para ulama&#8217;, pemerintah, dan kawan, karena orang yang meremehkan ulama&#8217; niscaya kehidupan akhiratnya akan rusak, dan orang yang meremehkan pemerintah, niscaya kehidupannya di dunia akan rusak pula, dan orang yang meremehkan kawan, niscaya kewibawaannya akan sirna.&#8221; (<em>Siyar A&#8217;alam An Nubala&#8217;</em> 17/251)</p>
<p>Al Hafiz Ibnu &#8216;Asakir  <em>-rahimahullah</em>- berkata: &#8220;Ketahuilah -wahai saudaraku, semoga Allah senantiasa membimbing kita kepada keridhoaan-Nya, dan menjadikan kita semua sebagai orang yang benar-benar bertaqwa kepada-Nya- sesungguhnya daging (menggunjing) para ulama&#8217; itu beracun, dan kebiasaan Allah dalam menyingkap kedok para pencela mereka (ulama&#8217;) telah diketahui bersama. Karena mencela mereka dengan sesuatu yang tidak ada pada mereka, merupakan petaka besar, dan melecehkan kehormatan mereka dengan cara dusta dan mengada-ada merupakan kebiasaan buruk, dan menentang mereka yang telah Allah pilih untuk menebarkan ilmu, merupakan perangai  tercela.&#8221; (<em>Tabyiin Kazibil Muftary</em>: 28)</p>
<p>Semoga Allah senantiasa membimbing kita kepada kebenaran, menjaga lisan kita dari kedustaan, dan hati kita dari kemunafikan.</p>
<p>اللهم أرنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وأرنا الباطل باطلا وارزقنا اجتنابه</p>
<p><em>-Wallahu a&#8217;alam bis showaab-</em></p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Muhammad Arifin Badri, M.A.<br />
Artikel <a title="Racun Fiqhul Waqi" href="http://muslim.or.id/manhaj-salaf/racun-fiqhul-waqi.html">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-428"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fracun-fiqhul-waqi.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/racun-fiqhul-waqi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beginilah Seharusnya Seorang Salafy</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/seorang-salafy.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/seorang-salafy.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Nov 2008 04:46:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=427</guid>
		<description><![CDATA[Sebagian orang berpandangan bahwasanya dakwah Salafiyah atau Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah di negeri kita ini terkesan sebagai dakwahnya orang-orang yang gemar bikin ribut dan tidak pernah akur, bahkan di antara sesama mereka sendiri. Mereka saling<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/seorang-salafy.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Sebagian orang berpandangan bahwasanya dakwah Salafiyah atau Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah di negeri kita ini terkesan sebagai dakwahnya orang-orang yang gemar bikin ribut dan tidak pernah akur, bahkan di antara sesama mereka sendiri. Mereka saling menjatuhkan. Kelompok yang satu mencela dan mendiskreditkan kelompok yang lain. Padahal mereka sama-sama mengaku Salafi (pengikut Sahabat Nabi). Buku-buku mereka pun sama, para ulama yang mereka jadikan rujukan juga sama. Namun ternyata mereka justru saling gontok-gontokan. Anggapan ini tidaklah seratus persen benar. Akan tetapi itulah sebagian fakta yang ada di dalam pandangan masyarakat.</p>
<p><span id="more-427"></span></p>
<p>Saudaraku, kita semua perlu bercermin kembali. Penisbatan kepada Salaf adalah penisbatan yang sangat mulia. Salaf bukanlah sebuah pabrik atau yayasan, yang dengan mudah pihak atasan memecat anak buahnya yang dinilai bandel dan ngeyelan (suka ngotot dan membantah). Oleh sebab itulah pada kesempatan ini kami ingin menyampaikan sebuah fatwa salah seorang Imam Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah pada masa kini yaitu Syaikh Muhammad bin Shalih Al &#8216;Utsaimin <em>rahimahullah</em> sebagai pelajaran dan koreksi bagi kita semua. Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk menggapai apa yang dicintai dan diridhai-Nya.</p>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al &#8216;Utsaimin <em>rahimahullah</em> pernah ditanya, <em>&#8220;Apakah karakteristik paling menonjol dari Golongan Yang Selamat (Al Firqah An Najiyah)? Dan apakah adanya kekurangan (yang ada pada diri seseorang) dalam salah satu di antara karakter ini lantas mengeluarkan orang tersebut dari Golongan Yang Selamat?&#8221; </em></p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Beliau <em>rahimahullah</em> menjawab, &#8220;Karakter paling menonjol yang dimiliki oleh Golongan Yang Selamat adalah berpegang teguh dengan ajaran Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam hal akidah (keyakinan), ibadah (ritual), akhlak (budi pekerti), dan mu&#8217;amalah (interaksi sesama manusia). Dalam keempat perkara inilah anda dapatkan Golongan Yang Selamat sangat tampak menonjol ciri mereka:</p>
<p>Adapun dalam hal akidah: Anda bisa jumpai mereka senantiasa berpegang teguh dengan keterangan dalil Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yaitu meyakini tauhid yang murni dalam hal Uluhiyah Allah, Rububiyah-Nya serta Nama-Nama dan Sifat-Sifat-Nya.</p>
<p>Adapun dalam hal ibadah: Anda jumpai golongan ini tampak istimewa karena sikap mereka yang begitu berpegang teguh dan berusaha keras menerapkan ajaran-ajaran Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam menunaikan ibadah, yang meliputi jenis-jenisnya, cara-caranya, ukuran-ukurannya, waktu-waktunya dan sebab-sebabnya. Sehingga anda tidak akan menjumpai adanya perbuatan menciptakan kebid&#8217;ahan dalam agama Allah di antara mereka. Akan tetapi mereka adalah orang-orang yang sangat beradab terhadap Allah dan Rasul-Nya, mereka tidak mendahului Allah dan Rasul-Nya dengan menyusupkan suatu bentuk ibadah yang tidak diijinkan oleh Allah.</p>
<p>Sedangkan dalam hal akhlak: Anda pun bisa menjumpai ciri mereka juga seperti itu. Mereka tampil istimewa dibandingkan selain mereka dengan akhlak yang mulia, seperti contohnya: mencintai kebaikan bagi umat Islam, sikap lapang dada, bermuka ramah, berbicara baik dan pemurah, pemberani dan sifat-sifat lain yang termasuk bagian dari kemuliaan akhlak dan keluhurannya.</p>
<p>Dan dalam hal mu&#8217;amalah: Anda bisa jumpai mereka menjalin hubungan dengan sesama manusia dengan sifat jujur dan suka menerangkan kebenaran. Dua sifat inilah yang diisyaratkan oleh Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> di dalam sabdanya, <em>&#8220;Penjual dan pembeli mempunyai hak pilih selama keduanya belum berpisah. Apabila mereka berdua bersikap jujur dan menerangkan apa adanya niscaya akan diberkahi jual beli mereka. Dan apabila mereka berdusta dan menyembunyikan (cacat barangnya) maka akan dicabut barakah jual beli mereka berdua.&#8221;</em> (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Adanya kekurangan pada sebagian karakter ini tidak lantas mengeluarkan individu tersebut dari keberadaannya sebagai bagian dari Golongan Yang Selamat, namun setiap tingkatan orang akan mendapatkan balasan sesuai amal yang mereka perbuat. Sedangkan kekurangan dalam sisi tauhid terkadang bisa mengeluarkan dirinya dari Golongan Yang Selamat, seperti contohnya hilangnya keikhlasan. Demikian pula dalam masalah bid&#8217;ah, terkadang dengan sebab bid&#8217;ah-bid&#8217;ah yang diperbuatnya membuatnya keluar dari keberadaannya sebagai bagian dari Golongan Yang Selamat.</p>
<p>Adapun dalam masalah akhlak dan mu&#8217;amalah maka tidaklah seseorang dikeluarkan dari <a title="Sikap Seorang Salafy" href="http://muslim.or.id/manhaj-salaf/seorang-salafy.html">Golongan Yang Selamat</a> ini semata-mata karena kekurangan dirinya dalam dua masalah ini, meskipun hal itu menyebabkan kedudukannya menjadi turun.</p>
<p>Kita perlu untuk memperinci permasalahan akhlak karena salah satu faidah dari akhlak ialah terwujudnya kesatuan kata dan bersatu padu di atas kebenaran yang diperintahkan Allah ta&#8217;ala kepada kita di dalam firman-Nya (yang artinya), <em>&#8220;Allah mensyari&#8217;atkan kepada kalian ajaran agama yang juga diwasiatkan kepada Nuh dan yang Kami wasiatkan kepadamu dan Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu agar kalian tegakkan agama dan janganlah berpecah belah di dalamnya.&#8221;</em> (QS. Asy Syura: 13)</p>
<p>Dan Allah memberitakan bahwasanya Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> lepas tanggung jawab dari perbuatan orang-orang yang memecah belah agama mereka sehingga mereka menjadi bergolong-golongan. Allah &#8216;azza wa jalla berfirman (yang artinya), <em>&#8220;Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama mereka maka tidak ada tanggung jawabmu atas mereka.&#8221;</em> (QS. Al An&#8217;am: 159). Sehingga kesatuan kata dan keterikatan hati merupakan salah satu karakter paling menonjol yang dimiliki oleh Golongan Yang Selamat -Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah- Oleh sebab itu apabila muncul perselisihan di antara mereka yang bersumber dari ijtihad dalam berbagai perkara ijtihadiyah maka hal itu tidaklah membangkitkan rasa dengki, permusuhan ataupun kebencian di antara mereka. Akan tetapi mereka meyakini bahwasanya mereka adalah bersaudara meskipun terjadi perselisihan ini di antara mereka. Sampai-sampai salah seorang di antara mereka mau shalat di belakang imam yang menurutnya dalam status tidak wudhu sementara si imam berpendapat bahwa dirinya masih punya status wudhu.</p>
<p>Atau contoh lainnya adalah orang yang tetap mau shalat bermakmum kepada imam yang baru saja memakan daging onta. Si imam berpendapat bahwa hal itu tidak membatalkan wudhu. Sedangkan si makmum berpendapat bahwa hal itu membatalkan wudhu. Namun dia tetap berkeyakinan bahwa shalat bermakmum kepada imam tersebut adalah sah. Walaupun seandainya jika dia sendiri yang shalat maka dia menilai shalatnya dalam keadaan seperti itu tidak sah. Ini semua bisa terwujud karena mereka memandang bahwa perselisihan yang bersumber dari ijtihad dalam persoalan yang diijinkan untuk ijtihad pada hakikatnya bukanlah perselisihan. Alasannya adalah karena masing-masing individu dari dua orang yang berbeda pendapat ini sudah berusaha mengikuti dalil yang harus diikuti olehnya dan dia tidak boleh untuk meninggalkannya. Oleh sebab itu, apabila mereka melihat saudaranya berbeda pendapat dengannya dalam suatu perbuatan karena mengikuti tuntutan dalil maka sebenarnya saudaranya itu telah sepakat dengan mereka, karena mereka mengajak untuk mengikuti dalil dimanapun adanya. Sehingga apabila dengan menyelisihi mereka itu menjadikan dirinya sesuai dengan dalil yang ada (dalam pandangannya), maka pada hakikatnya dia telah bersepakat dengan mereka, karena dia sudah meniti jalan yang mereka serukan dan tunjukkan yaitu keharusan untuk berhukum dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Dan terjadinya  perbedaan pendapat dalam masalah-masalah seperti ini di kalangan para sahabat tidaklah tersembunyi di kalangan banyak ulama, bahkan sudah ada juga di jaman Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Dan ternyata tidak ada seorangpun di antara mereka yang bersikap keras kepada yang lainnya. Ketika Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pulang dari perang Ahzab dan Jibril datang kepada beliau menyuruh beliau agar memberangkatkan para sahabat ke Bani Quraizhah yang telah membatalkan perjanjian. Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pun berpesan kepada para sahabatnya, <em>&#8220;Janganlah kalian shalat &#8216;Ashar kecuali di Bani Quraizhah.&#8221;</em> (HR. Bukhari dan Muslim), maka mereka berangkat dari Madinah menuju Bani Quraizhah namun di tengah perjalanan mereka waktu shalat &#8216;Ashar sudah hampir habis. Di antara mereka ada yang mengakhirkan shalat &#8216;Ashar sampai tiba di Bani Quraizhah sesudah keluar waktu. Mereka beralasan karena Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> telah bersabda, <em>&#8220;Janganlah kalian shalat &#8216;Ashar kecuali di Bani Quraizhah.&#8221;</em> Dan ada juga di antara mereka yang mengerjakan shalat pada waktunya. Mereka ini mengatakan bahwa yang dimaksud oleh Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ialah perintah agar mereka bersegera berangkat ke sana dan bukan bermaksud agar kita mengakhirkan shalat di luar waktunya -dan mereka inilah yang benar- akan tetapi meskipun demikian Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tidak bersikap keras terhadap salah satu di antara kedua kelompok tersebut. Dan hal itu tidaklah membuat mereka memusuhi dan membenci shahabat lain semata-mata karena perbedaan mereka dalam memahami dalil ini.</p>
<p>Oleh sebab itulah saya berpandangan bahwa menjadi kewajiban kaum muslimin yang menisbatkan dirinya kepada Sunnah supaya menjadi umat yang bersatu padu dan janganlah terjadi <em>tahazzub</em> (tindakan bergolong-golongan). Yang ini membela suatu kelompok, sedangkan yang lain membela kelompok lainnya, dan pihak ketiga membela kelompok ketiga dan seterusnya, yang mengakibatkan mereka saling bergontok-gontokan dan melontarkan ucapan-ucapan yang menyakitkan, saling memusuhi dan membenci gara-gara perselisihan dalam masalah-masalah yang diperbolehkan untuk berijtihad di dalamnya. Dan saya tidak perlu untuk menyebutkan tiap-tiap kelompok itu secara detail, akan tetapi orang yang berakal pasti bisa memahami dan memetik kejelasan perkaranya.</p>
<p>Saya juga berpandangan bahwasanya Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah wajib untuk bersatu, bahkan meskipun mereka berbeda pendapat dalam hal-hal yang mereka perselisihkan, selama hal itu memang dibangun berdasarkan dalil-dalil menurut pemahaman yang mereka capai. Karena hal ini (perbedaan pendapat dalam masalah ijtihadiyah, red) sesungguhnya adalah perkara yang lapang, dan segala puji hanya bagi Allah. Maka yang terpenting adalah terwujudnya keterikatan hati dan kesatuan kalimat (di antara sesama Ahlus Sunnah, red). Dan tidaklah perlu diragukan bahwasanya musuh-musuh umat Islam sangat senang apabila di antara umat Islam saling berpecah belah, entah mereka itu musuh yang terang-terangan maupun musuh yang secara lahiriyah menampakkan pembelaan terhadap kaum muslimin atau mengaku loyal kepada agama Islam padahal sebenarnya mereka tidak demikian. Maka wajib bagi kita untuk menonjolkan karakter istimewa ini, sebuah karakter yang menjadi ciri keistimewaan kelompok yang selamat; yaitu bersepakat di atas satu kalimat.&#8221; (<em>Fatawa Arkanul Islam</em>, Daruts Tsuraya, hal. 22-26)</p>
<p>Demikianlah fatwa seorang alim yang sudah sama-sama kita akui kedalaman ilmu dan ketakwaannya. Duhai, alangkah jauhnya sifat-sifat kita dengan sifat-sifat elok yang beliau gambarkan&#8230; Kalau saja masing-masing dari kita bisa menerapkan dengan baik isi nasihat beliau di atas maka niscaya tidak akan terjadi baku hantam di antara sesama Ahlus Sunnah. Sebagaimana para sahabat <em>radhiyallahu ta&#8217;ala &#8216;anhum</em> bisa bersikap arif tatkala menyaksikan saudaranya menyelisihi dirinya demi mengikuti tuntutan dalil yang sampai kepada mereka. Selain itu umat Islam di negeri ini tentu akan lebih merasa gembira dan tenang dalam menerima dakwah, karena mereka bisa menyaksikan sosok-sosok da&#8217;i yang pandai menyikapi keadaan, tidak grusah-grusuh dan terlalu cepat mengambil tindakan tanpa kenal perhitungan. Apa salahnya jika kebenaran itu berada di pihak lain di luar kelompok kita? Apa salahnya jika yang menyampaikan kebenaran itu bukan ustadz kita? Bukankah hikmah itu adalah barangnya orang beriman yang hilang? Apakah semata-mata karena kebenaran itu datang dari selain kelompok kita lantas kebenaran itu boleh kita tolak. Lalu apakah bedanya kita dengan orang-orang yang taklid buta dan mengagung-agungkan kyai-kyainya? Renungkanlah saudaraku&#8230; Terkadang musuh yang cerdas itu jauh lebih bermanfaat bagi kita daripada teman-teman yang bungkam dari ketergelinciran kita.</p>
<p>Bagaimana bisa kita menyerukan umat Islam untuk kembali bersatu di atas pangkuan manhaj Salaf sementara kita sendiri justru memporakporandakan persatuan itu dengan menerkam saudara-saudara kita sesama Ahlus Sunnah dengan dalih menyelamatkan umat dan membantah Ahlul bida&#8217; wal ahwa&#8217;? Sedangkan para ulama mewasiatkan kepada kita untuk memperbaiki akhlak demi terjalinnya persatuan dan keterkaitan hati. Adakah yang mau mengambil pelajaran? Hamba memohon kepada-Mu ya Allah, bukakanlah hati-hati kami untuk menerima kebenaran. Engkau lah Yang Maha tahu kekurangan dan dosa-dosa kami. Kami mengakuinya dan kami mohon ampunan kepada-Mu, ya Rabbi. Kembalikanlah persatuan dakwah yang mulia ini di atas kebenaran dan bimbingan para ulama yang Rabbani. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa dan Maha Mengabulkan do&#8217;a. Semoga shalawat dan keselamatan senantiasa terlimpah kepada panutan kita Nabi Muhammad, keluarga, para sahabat dan seluruh pengikut mereka kaum Salafiyin yang ada di sepanjang masa hingga tegaknya hari kiamat. Dan akhirnya segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam.</p>
<p>***</p>
<p>Penyusun: Abu Muslih Ari Wahyudi<br />
Artikel <a title="Sikap Seorang Salafy" href="http://muslim.or.id/manhaj-salaf/seorang-salafy.html">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-427"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fseorang-salafy.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/seorang-salafy.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>68</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa Harus Manhaj Salaf ?</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/mengapa-harus-manhaj-salaf.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/mengapa-harus-manhaj-salaf.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Aug 2008 11:39:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=292</guid>
		<description><![CDATA[Pernahkah terbetik pertanyaan ketika kita membaca, &#8220;Tunjukilah kami jalan yang lurus&#8221; (QS. Al Fatihah : 6), bagaimana jalan yang lurus itu? Itulah jalan yang telah Allah jelaskan pada ayat berikutnya, &#8220;(yaitu) jalan orang-orang yang telah<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/mengapa-harus-manhaj-salaf.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Pernahkah terbetik  pertanyaan ketika kita membaca, <em>&#8220;Tunjukilah kami jalan yang lurus&#8221;</em> (QS. Al Fatihah : 6), bagaimana jalan yang lurus itu? Itulah jalan yang telah  Allah jelaskan pada ayat berikutnya, <em>&#8220;(yaitu) jalan orang-orang yang  telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka &#8230;&#8221; </em> Begitu pula dalam  surat lain, <em>&#8220;Dan barang siapa yang  mentaati Allah dan Rasul(-Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan <strong>orang-orang  yang telah dianugerahi nikmat oleh Allah</strong>, yaitu: para nabi, para shiddiqqin,  orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman  yang sebaik-baiknya&#8221; </em>(QS. An  Nisaa&#8217;: 69)<br />
<span id="more-292"></span><br />
<strong>Siapakah </strong><em><strong>Salaf</strong></em><strong> Itu?</strong></p>
<p>Secara bahasa, <em>salaf</em> artinya <em>pendahulu</em> dan secara istilah yang dimaksud dengan <em>salaf </em> itu adalah Rasulullah dan para sahabatnya. Ini bukan klaim tanpa bukti, jika  kita cermati ayat di atas, yang dimaksud dengan <em>orang-orang yang telah  dianugerahi nikmat oleh Allah</em> tidak lain adalah Rasulullah dan para sahabatnya,  generasi <em>salaf</em>. Nabi yang paling utama ialah Nabi Muhammad<em>,</em> imamnya shiddiqin ialah Abu Bakar, imamnya para syuhada&#8217; ialah Hamzah bin  &#8216;Abdil Muthalib, &#8216;Umar bin Al Khaththab, &#8216;Utsman bin &#8216;Affan dan &#8216;Ali bin Abi Thalib.  Dan orang saleh yang paling saleh adalah seluruh sahabat Nabi. Merekalah salaf  kita, yang jalan mereka (baca: manhaj) dalam beragama itulah yang seharusnya  kita ikuti, baik dalam akidah, muamalah maupun dakwah.</p>
<p><strong>Manhaj Salaf Adalah Jalan Kebenaran</strong></p>
<p>Allah berfirman, <em>&#8220;Dan  barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas petunjuk baginya. dan mengikuti  jalan yang bukan <strong>jalan orang-orang mu&#8217;min</strong>, Kami biarkan ia leluasa  terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam  Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali&#8221;</em> (QS. An  Nisaa&#8217;: 115)</p>
<p>Ketika ayat ini  diturunkan, orang-orang mu&#8217;min yang dimaksud adalah para sahabat Nabi. Bahkan  Allah telah meridhai mereka dan orang-orang sesudahnya yang mengikuti mereka  serta menjanjikan untuk mereka balasan yang besar. <em>&#8220;Orang-orang yang  terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara <strong>orang-orang  Muhajirin dan Anshar</strong> dan <strong>orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik</strong>,  Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah, Allah telah  menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya;  mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar&#8221;</em> (QS. At Taubah: 100). Demikianlah, <em>Salafiyyah</em> adalah Islam itu sendiri  yang murni dari pengaruh-pengaruh peradaban lama dan warisan berbagai kelompok  sesat. Islam yang sesuai dengan pemahaman <em>salaf</em> telah banyak dipuji oleh  nash-nash al-Qur&#8217;an dan as-Sunnah.</p>
<p><strong>Manhaj Salaf Adalah Manhaj Ahlus Sunnah</strong></p>
<p>Penamaan <em>salaf</em> bukanlah suatu hal yang bid&#8217;ah. Bahkan Rasulullah telah menegaskan saat beliau  sakit mendekati wafatnya, di mana beliau bersabda kepada putrinya, Fathimah, <em>&#8220;Bertakwalah  kepada Allah dan bersabarlah, dan sesungguhnya aku adalah sebaik-baik <strong>salaf</strong> bagimu&#8221;</em> (HR. Muslim). Para ulama ahlus sunnah dulu dan sekarang banyak  menggunakan istilah <em>salaf </em>dalam ucapan dan kitab-kitab mereka. Seperti  contohnya ketika mereka memerangi kebid&#8217;ahan, mereka mengatakan, &#8220;Dan  setiap kebaikan itu dengan mengikuti kaum <em>salaf</em>, sedangkan semua  keburukan berasal dari bid&#8217;ahnya kaum <em>kholaf</em> (belakangan)&#8221;. Syaikhul  Islam Ibnu Taimiyyah berkata dalam <em>Majmu’ fatawa</em>nya bahwa tidak ada aib  bagi yang menampakkan madzhab salaf dan bernasab padanya, bahkan wajib  menerimanya secara ijma’, karena madzhab salaf itulah kebenaran.</p>
<p><strong>Kembali Kepada Manhaj Salaf, Solusi Problematika Umat</strong></p>
<p>Sungguh, kehinaan dan  ketertindasan umat ini akan tercabut dengan kembalinya umat pada agama Islam  yang murni, yaitu dengan meniti manhaj <em>salaf</em>. Di tengah maraknya  perpecahan umat ini di mana banyak dijumpai cara beragama yang berbeda-beda dan  saling bertentangan, maka hanya ada satu jalan yang benar yaitu jalan yang  sesuai dengan petunjuk Nabi s<em>hallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</em> Inilah yang  kemudian disebut dengan <em>kembali kepada pemahaman yang benar,</em> pemahamannya Rasulullah dan tiga generasi awal umat ini, para sahabatnya, para  tabi&#8217;in, tabi&#8217; tabi&#8217;in, serta para pengikut mereka yang setia dari kalangan  para imam dan ulama. Tidak ada jalan lain untuk mencari kebenaran dan <em>ishlah</em> (perbaikan) yang hakiki melainkan harus kembali kepada pemahaman <em>salaf</em>.  Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Malik, &#8220;Tidak akan baik keadaan umat  terakhir ini kecuali dengan apa yang menjadi baik dengannya generasi pertama.&#8221;</p>
<p><em>Wallahu a&#8217;lam</em>.</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Abu Yazid Nurdin<br />
Artikel www.muslim.or.id</p>
<div class="shr-publisher-292"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fmengapa-harus-manhaj-salaf.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/mengapa-harus-manhaj-salaf.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

