<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muslim.Or.Id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah &#187; Salafi</title>
	<atom:link href="http://muslim.or.id/tag/salafi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muslim.or.id</link>
	<description>Pesantren online agama Islam berdasarkan Qur&#039;an dan Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Feb 2012 09:43:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Ciri-Ciri Pengikut Kebenaran</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/ciri-ciri-pengikut-kebenaran.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/ciri-ciri-pengikut-kebenaran.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Nov 2011 23:00:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[ahlus sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[pengikut kebenaran]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=7245</guid>
		<description><![CDATA[Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan: Ciri-ciri ahlul haq (pengikut kebenaran) ialah: Tidak terkenal dengan nama tertentu di tengah-tengah manusia, yang nama tersebut menjadi simbol golongan tersebut. Mereka tidak mengikat dirinya dengan satu amalan, sehingga dijuluki karena<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/ciri-ciri-pengikut-kebenaran.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p align="left">Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> mengatakan:</p>
<p align="left">Ciri-ciri ahlul haq (pengikut kebenaran) ialah:</p>
<ul>
<li>Tidak terkenal dengan nama tertentu di tengah-tengah manusia, yang nama tersebut menjadi simbol golongan tersebut.</li>
<li>Mereka tidak mengikat dirinya dengan satu amalan, sehingga dijuluki karena amalan tersebut, dan dikenal dengan amalan tersebut tanpa dikenal dengan amal lainnya. Ini merupakan penyakit dalam beribadah, yaitu ibadah yang terikat (ubudiyyah muqayyadah). Adapun ibadah yang mutlak (ubudiyyah muthlaqah) akan menjadikan pelakunya tidak dikenal dengan nama tertentu dari jenis-jenis ibadah yang dilakukannya. Ia akan memenuhi setiap panggilan ibadah apa pun bentuknya. Dia memiliki ‘saham’ bersama setiap kalangan ahli ibadah. Dia tidak terikat dengan model, isyarat, nama, pakaian, maupun cara-cara buatan.</li>
<li>Jika ditanya: “Siapa ustadzmu?” jawabnya: “Rasulullah”.</li>
<li>Jika ditanya: “Apa jalanmu?” jawabnya: “ittiba’ ”.</li>
<li>Jika ditanya: “Apa pakaianmu?” jawabnya: “ketakwaan”.</li>
<li>Jika ditanya: “Apa maksudmu?” jawabnya: “Mencari ridha Allah”.</li>
<li>Jika ditanya: “Di mana markasmu?” jawabnya:</li>
</ul>
<p style="text-align: center;" dir="RTL" align="left">﴿ فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ رِجَالٌ لا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْماً تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ﴾(النور:36_37)</p>
<p align="left"><em>Di mesjid-mesjid yang Allah perintahkan agar dibangun dan dimuliakan, serta banyak disebut nama-Nya di sana lewat tasbih dan shalat di pagi maupun petang hari. Merekalah lelaki sejati yang tidak tersibukkan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut terhadap hari Kiamat yang kedahsyatannya dapat memutar balikkan hati dan penglihatan (An Nur: 36-37).</em></p>
<ul>
<li>Jika ditanya: “Keturunan siapa kamu?”, jawabnya: “Keturunan Islam”.</li>
<li>Jika ditanya: “Apa makanan dan minumanmu?” jawabnya (sambil menyitir hadits Nabi tentang unta temuan):</li>
</ul>
<p style="text-align: center;" dir="RTL" align="left">ما لك ولها ؟! معها حذاؤها وسقاؤها،ترد الماء وترعى الشجر حتى تلقى ربها.</p>
<p align="left"><em>“Apa urusanmu dengannya? Dia punya alas kaki dan tempat minum pribadi… dia bisa mencari makan dan minum sendiri, sampai bertemu dengan pemiliknya kembali”</em></p>
<p style="text-align: center;" align="left"><strong> (Disadur dari: Madarijus Salikin, 3: 174).</strong></p>
<p align="left">Penulis: <a href="http://basweidan.wordpress.com/2011/09/27/ciri-ciri-ahlul-haq-pengikut-kebenaran/">Ustadz Abu Hudzaifah Al Atsary, Lc</a></p>
<p align="left">Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-7245"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fciri-ciri-pengikut-kebenaran.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fciri-ciri-pengikut-kebenaran.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fciri-ciri-pengikut-kebenaran.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/ciri-ciri-pengikut-kebenaran.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pujian dalam Hujatan bagi Wahabi</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/pujian-dalam-hujatan-bagi-wahabi.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/pujian-dalam-hujatan-bagi-wahabi.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Mar 2011 04:00:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Wahabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=5729</guid>
		<description><![CDATA[Ketika aku putuskan untuk beramal sesuai AlQuran &#38; Sunnah dengan faham As Salafush Shaleh, Aku pun dipanggil Wahabi Ketika aku minta segala hajatku hanya kepada Allah subhaanahu wa ta’ala tidak kepada Nabi &#38; Wali .…<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/pujian-dalam-hujatan-bagi-wahabi.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Ketika aku putuskan untuk beramal sesuai AlQuran &amp; Sunnah dengan faham As Salafush Shaleh, Aku pun dipanggil Wahabi<br />
Ketika aku minta segala hajatku hanya kepada Allah subhaanahu wa ta’ala tidak kepada Nabi &amp; Wali .… Aku pun dituduh Wahabi</p>
<p>Ketika aku meyakini Alquran itu kalam Ilahi, bukan makhluq …. Aku pun diklaim sebagai Wahabi<br />
Ketika aku takut mengkafirkan dan memberontak penguasa yang dzalim, Aku pun dipasangi platform Wahabi</p>
<p>Ketika aku tidak lagi shalat, ngaji serta ngais berkah di makam-makam keramat… Aku pun dijuluki Wahabi<br />
Ketika aku putuskan keluar dari tarekat sekte sufi yang berani menjaminku masuk surga… Aku pun diembel-embeli Wahabi</p>
<p>Ketika aku katakan tahlilan dilarang oleh Imam Syafi’i<br />
Akupun dihujat sebagai Wahabi<br />
Ketika aku tinggalkan maulidan karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah ajarkan … Aku pun dikirimi “berkat”  Wahabi</p>
<p>Ketika  aku takut mengatakan bahwa Allah subhaanahu wa ta’ala itu dimana-mana  sampai ditubuh babipun ada…  Aku pun dibubuhi stempel Wahabi<br />
Ketika  aku mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memanjangkan jenggot,  memotong celana diatas dua mata kaki, …,…., Aku pun dilontari kecaman  Wahabi</p>
<p>Ketika aku tanya apa itu <a href="http://muslim.or.id/manhaj/pujian-dalam-hujatan-bagi-wahabi.html">Wahabi</a>…?<br />
Merekapun gelengkan kepala tanda tak ngerti<br />
Ketika ku tanya siapa itu wahabi…?<br />
merekapun tidak tahu dengan apa harus menimpali</p>
<p>Tapi…!<br />
Apabila Wahabi mengajakku beribadah sesuai dengan AlQuran dan Sunnah… Maka aku rela mendapat gelar  Wahabi !<br />
Apabila  Wahabi mengajakku hanya menyembah dan memohon kepada Allah subhaanahu  wa ta’ala … Maka aku Pe–De memakai mahkota Wahabi !</p>
<p>Apabila Wahabi menuntunku menjauhi syirik, khurafat dan bid’ah… Maka aku bangga menyandang baju kebesaran Wahabi !<br />
Apabila  Wahabi mengajakku taat kepada Allah subhaanahu wa ta’ala dan RasulNya  <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> … Maka akulah pahlawan <a href="http://muslim.or.id/manhaj/apa-itu-wahabi-1.html">Wahabi</a> !</p>
<p>Ada yang bilang.…. Kalau pengikut setia Ahmad shallallahu ‘alaihi wa sallam digelari Wahabi, maka aku mengaku sebagai Wahabi.<br />
Ada yang bilang….. Jangan sedih wahai “Pejuang Tauhid”, sebenarnya musuhmu sedang memujimu, Pujian dalam hujatan….!</p>
<p>Oleh: Ahmad Zainuddin</p>
<p>Dicopy dari web <a href="http://firanda.com">Ustadz Firanda, Lc, MA</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-5729"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fpujian-dalam-hujatan-bagi-wahabi.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fpujian-dalam-hujatan-bagi-wahabi.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fpujian-dalam-hujatan-bagi-wahabi.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/pujian-dalam-hujatan-bagi-wahabi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>40</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meneladani Sahabat Nabi, Jalan Kebenaran</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/meneladani-sahabat-nabi-jalan-kebenaran.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/meneladani-sahabat-nabi-jalan-kebenaran.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Sep 2010 17:00:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[ahlus sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[al atsari]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=4680</guid>
		<description><![CDATA[Di tengah maraknya pemikiran dan pemahaman dalam agama Islam, klaim kebenaran begitu larisnya bak kacang goreng. Setiap kelompok dan jama&#8217;ah tentunya menyatakan diri sebagai yang lebih benar pemahamannya terhadap Islam, menurut keyakinannya. Kebenaran hanya milik<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/meneladani-sahabat-nabi-jalan-kebenaran.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Di tengah maraknya pemikiran dan pemahaman dalam agama Islam, klaim kebenaran begitu larisnya bak kacang goreng. Setiap kelompok dan jama&#8217;ah tentunya menyatakan diri sebagai yang lebih benar pemahamannya terhadap Islam, menurut keyakinannya.</p>
<p>Kebenaran hanya milik Allah. Namun kebenaran bukanlah suatu hal yang semu dan relatif. Karena Allah <em>Ta&#8217;ala </em>telah menjelaskan kebenaran kepada manusia melalui Al Qur&#8217;an dan bimbingan Nabi-Nya <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>. Tentu kita wajib menyakini bahwa kalam ilahi yang termaktub dalam Al Qur&#8217;an adalah memiliki nilai kebenaran mutlak. Lalu siapakah orang yang paling memahami Al Qur&#8217;an? Tanpa ragu, jawabnya adalah Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>. Dengan kata lain, Al Qur&#8217;an sesuai pemahaman Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dan sabda-sabda <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>itu sendiri keduanya adalah sumber kebenaran.</p>
<p>Yang menjadi masalah sekarang, mengapa ketika semua kelompok dan jama&#8217;ah mengaku telah berpedoman pada Al Qur&#8217;an dan Hadits, mereka masih berbeda keyakinan, berpecah-belah dan masing-masing mengklaim kebenaran pada dirinya? Setidaknya ini menunjukkan Al Qur&#8217;an dan sabda Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> ternyata dapat ditafsirkan secara beragam, dipahami berbeda-beda oleh masing-masing individu. Jika demikian maka pertanyaannya adalah, siapakah sebetulnya di dunia ini yang paling memahami Al Qur&#8217;an serta sabda-sabda Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>? Jawabnya, merekalah para sahabat Nabi <em>radhi&#8217;allahu &#8216;anhum ajma&#8217;in</em>.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Pengertian Sahabat Nabi</strong></span></p>
<p>Yang dimaksud dengan istilah &#8216;sahabat Nabi&#8217; adalah:</p>
<p style="text-align: center;">من رأى رسول الله صلى الله عليه وسلم في حال إسلام الراوي، وإن لم تطل صحبته له، وإن لم يرو عنه شيئاً</p>
<p>“Orang yang melihat Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>dalam keadaan Islam, yang meriwayatkan sabda Nabi. Meskipun ia bertemu Rasulullah tidak dalam tempo yang lama, atau Rasulullah belum pernah melihat ia sama sekali” <a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Empat sahabat Nabi yang paling utama adalah Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin &#8216;Affan dan &#8216;Ali bin Abi Thalib <em>radhiallahu&#8217;ahum ajma&#8217;in</em>. Tentang jumlah orang yang tergolong sahabat Nabi, Abu Zur&#8217;ah Ar Razi menjelaskan:</p>
<p style="text-align: center;">شهد معه حجة الوداع أربعون ألفاً، وكان معه بتبوك سبعون ألفاً، وقبض عليه الصلاة والسلام عن مائة ألف وأربعة عشر ألفاً من الصحابة</p>
<p>“Empat puluh ribu orang sahabat Nabi ikut berhaji wada bersama Rasulullah. Pada masa sebelumnya 70.000 orang sahabat Nabi ikut bersama Nabi dalam perang Tabuk. Dan ketika Rasulullah wafat, ada sejumlah 114.000 orang sahabat Nabi”<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Keutamaan Sahabat</strong></span></p>
<p>Para sahabat Nabi adalah manusia-manusia mulia. Imam Ibnu Katsir menjelaskan keutamaan sahabat Nabi:</p>
<p style="text-align: center;">والصحابة كلهم عدول عند أهل السنة والجماعة، لما أثنى الله عليهم في كتابه العزيز، وبما نطقت به السنة النبوية في المدح لهم في جميع أخلاقهم وأفعالهم، وما بذلوه من الأموال والأرواح بين يدي رسول الله صلى الله عليه وسلم</p>
<p>“Menurut keyakinan Ahlussunnah Wal Jama&#8217;ah, seluruh para sahabat itu orang yang adil. Karena Allah <em>Ta&#8217;ala </em>telah memuji mereka dalam Al Qur&#8217;an. Juga dikarenakan banyaknya pujian yang diucapkan dalam hadits-hadits Nabi terhadap seluruh akhlak dan amal perbuatan mereka. Juga dikarenakan apa yang telah mereka korbankan, baik berupa harta maupun nyawa, untuk membela Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>”<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Pujian Allah terhadap para sahabat dalam Al Qur&#8217;an diantaranya:</p>
<p style="text-align: center;">وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ</p>
<p>“<em>Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar</em>” (QS. At Taubah: 100)</p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>pun memuji dan memuliakan para sahabatnya. Beliau bersabda:</p>
<p style="text-align: center;">لا تزالون بخير ما دام فيكم من رآني وصاحبني ومن رأى من رآني ومن رأى من رأى من رآني</p>
<p>“<em>Kebaikan akan tetap ada selama diantara kalian ada orang yang pernah melihatku dan para sahabatku, dan orang yang pernah melihat para sahabatku (tabi&#8217;in) dan orang yang pernah melihat orang yang melihat sahabatku (tabi&#8217;ut tabi&#8217;in)</em>”<a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Beliau <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>juga bersabda:</p>
<p style="text-align: center;">خير الناس قرني ، ثم الذين يلونهم ، ثم الذين يلونه</p>
<p>“<em>Sebaik-baik manusia adalah yang ada pada zamanku, kemudian setelah mereka, kemudian setelah mereka</em>”<a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Dan masih banyak lagi pujian dan pemuliaan dari Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>terhadap para sahabatnya yang membuat kita tidak mungkin ragu lagi bahwa merekalah umat terbaik, masyarakat terbaik, dan generasi terbaik umat Islam. Berbeda dengan kita yang belum tentu mendapat ridha Allah dan baru kita ketahui kelak di hari kiamat, para sahabat telah dinyatakan dengan tegas bahwa Allah pasti ridha terhadap mereka. Maka yang layak bagi kita adalah memuliakan mereka, meneladani mereka, dan tidak mencela mereka. Imam Abu Hanifah berkata:</p>
<p style="text-align: center;">أفضل الناس بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم : أبوبكر وعمر وعثمان وعلي , ثم نكف عن جميع أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم إلا بذكر جميل</p>
<p>“Manusia yang terbaik setelah Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> adalah Abu Bakar, lalu Umar, lalu Utsman lalu Ali. Kemudian, kita wajib menahan lisan kita dari celaan terhadap seluruh sahabat Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>, kita tidak boleh menyebut mereka kecuali dengan sebutan-sebutan yang indah”<a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Lebih lagi Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>bersabda:</p>
<p style="text-align: center;">لا تسبوا أصحابي ، فلو أن أحدكم أنفق مثل أحد ذهبا ، ما بلغ مد أحدهم ولا نصيف</p>
<p>“<em>Jangan engkau cela sahabatku, andai ada diantara kalian yang berinfaq emas sebesar gunung Uhud, tetap tidak akan bisa menyamai pahala infaq sahabatku yang hanya satu mud (satu genggam), bahkan tidak menyamai setengahnya</em>”<a href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Pemahaman Sahabat Nabi, Sumber Kebenaran</strong></span></p>
<p>Jika kita telah memahami betapa mulia kedudukan para sahabat Nabi, dan kita juga tentu paham bahwa tidak mungkin ada orang yang lebih memahami perkataan dan perilaku Nabi selain para sahabat Nabi,  maka tentu pemahaman yang paling benar terhadap agama Islam ada para mereka. Karena merekalah yang mendakwahkan Islam serta menyampaikan sabda-sabda Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>hingga akhirnya sampai kepada kita, <em>walhamdulillah</em>. Merekalah &#8216;penghubung&#8217; antara umat Islam dengan Nabinya.</p>
<p>Oleh karena ini sungguh aneh jika seseorang berkeyakinan atau beramal ibadah yang sama sekali tidak diyakini dan tidak diamalkan oleh para sahabat, lalu dari mana ia mendapatkan keyakinan itu? Apakah Allah <em>Ta&#8217;ala </em>menurunkan wahyu kepadanya? Padahal turunnya wahyu sudah terhenti dan tidak ada lagi Nabi sepeninggal Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>. Dari sini kita perlu menyadari bahwa mengambil metode beragama Islam yang selain metode beragama para sahabat, akan menjerumuskan kita kepada jalan yang menyimpang dan semakin jauh dari ridha Allah <em>Ta&#8217;ala</em>. Sedangkan jalan yang lurus adalah jalan yang ditempuh oleh para sahabat Nabi. Setiap hari kita membaca ayat:</p>
<p style="text-align: center;">اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ</p>
<p>“<em>Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.</em>” (QS. Al Fatihah: 6-7)</p>
<p>Al Imam Ibnu Katsir menjelaskan: “Yang dimaksud dengan &#8216;<em>orang-orang yang telah Engkau beri nikmat</em>&#8216; adalah yang disebutkan dalam surat An Nisa, ketika Allah berfirman:</p>
<p style="text-align: center;">وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا</p>
<p>“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”<a href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Seorang ahli tafsir dari kalangan tabi&#8217;ut tabi&#8217;in, Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, menafsirkan bahwa yang dimaksud dalam ayat ini adalah Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dan para sahabatnya<a href="#_ftn9">[9]</a>.</p>
<p>Oleh karena itulah, seorang sahabat Nabi, Abdullah Ibnu Mas&#8217;ud <em>radhiallahu&#8217;anhu </em>berkata:</p>
<p style="text-align: center;">من كانَ منكم مُتأسياً فليتأسَّ بأصحابِ رسول ِاللهِ صلى اللهُ عليهِ وسلمَ, فإنهم كانوا أبرَّ هذهِ الأمةِ قلوباً، وأعمقـُها عِلماً، وأقلـُّهَا تكلـُّفَا، وأقومُها هَديَا، وأحسنـُها حالاً، اختارَهُمُ اللهُ لِصُحبةِ نبيِّهِ صلى اللهُ عليهِ وسلمَ وإقامَةِ دينِهِ، فاعرفوا لهم فضلـَهُم، واتـَّبـِعُوهم في آثارِهِم، فإنهم كانوا على الهُدى المُستقيم</p>
<p>“Siapa saja yang mencari teladan, teladanilah para sahabat Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>. Karena merekalah orang yang paling baik hatinya diantara umat ini, paling mendalam ilmu agamanya, umat yang paling sedikit dalam berlebihan-lebihan, paling lurus bimbingannya, paling baik keadaannya. Allah telah memilih mereka untuk mendampingi Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>dan menegakkan agama-Nya. Kenalilah keutamaan mereka, dan ikutilah jalan mereka. Karena mereka semua berada pada <em>shiratal mustaqim</em> (jalan yang lurus)”<a href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p>Beliau juga berkata:</p>
<p style="text-align: center;">إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ فَاخْتَارَ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَعَثَهُ بِرِسَالَتِهِ، وَانْتَخَبَهُ بِعِلْمِهِ، ثُمَّ نَظَرَ فِي قُلُوبِ النَّاسِ فَاخْتَارَ أَصْحَابَهُ فَجَعَلَهُمْ وُزَرَاءَ نَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَنْصَارَ دِينِهِ، فَمَا رَآهُ الْمُؤْمِنُونَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ حَسَنٌ، وَمَا رَآهُ الْمُؤْمِنُونَ قَبِيحًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ قَبِيحٌ</p>
<p>“Allah Ta&#8217;ala memperhatikan hati-hati hambanya, lalu Ia memilih Muhammad <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>dan mengutusnya dengan risalah. Allah <em>Ta&#8217;ala </em>memperhatikan hati-hati manusia, lalu Ia memilih para sahabat Nabi, kemudian menjadikan mereka sebagai pendamping Nabi-Nya dan pembela agama-Nya. Maka segala sesuatu yang dipandang baik oleh kaum Mu&#8217;minin -yaitu Rasulullah dan para sahabatnya-, itulah yang baik di sisi Allah. Maka segala sesuatu yang dipandang buruk oleh kaum Mu&#8217;minin, itulah yang buruk di sisi Allah”<a href="#_ftn11">[11]</a></p>
<p>Dalam matan <em>Ushul As Sunnah</em>, Imam Ahmad bin Hambal <em>rahimahullah</em> berkata:</p>
<p style="text-align: center;">أصول السنة عندنا التمسك بما كان عليه أصحاب رسول الله صلى الله عليه و سلم والاقتداء بهم&#8230;</p>
<p>“Asas Ahlussunnah Wal Jama&#8217;ah menurut kami adalah berpegang teguh dengan pemahaman para sahabat Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dan meneladani mereka&#8230; dst.”</p>
<p>Jika demikian, layaklah bila Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>menjadikan solusi dari perpecahan ummat, solusi dari mencari hakikat kebenaran yang mulai samar, yaitu dengan mengikuti sunnah beliau dan pemahaman para sahabat beliau. Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>bersabda:</p>
<p style="text-align: center;">إن بني إسرائيل تفرقت على ثنتين وسبعين ملة ، وتفترق أمتي على ثلاث وسبعين ملة كلهم في النار إلا ملة واحدة ، قال من هي يا رسول الله ؟ قال : ما أنا عليه وأصحابي</p>
<p>“<em>Bani Israil akan berpecah menjadi 74 golongan, dan umatku akan berpecah menjadi 73 golongan. Semuanya di nereka, kecuali satu golongan</em>”</p>
<p>Para sahabat bertanya: “Siapakah yang satu golongan itu, ya Rasulullah?”</p>
<p>“<em>Orang-orang yang mengikutiku dan para sahabatku</em>”<a href="#_ftn12">[12]</a></p>
<p>Beliau juga bersabda menjelang hari-hari wafatnya:</p>
<p style="text-align: center;">أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة ، وإن كان عبدا حبشيا فإنه من يعش منكم فسيرى اختلافا كثيرا ، فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين ، فتمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ ، وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة )</p>
<p>“<em>Aku wasiatkan kalian agar bertaqwa kepada Allah. Lalu mendengar dan taat kepada pemimpin, walaupun ia dari kalangan budak Habasyah. Sungguh orang yang hidup sepeninggalku akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk mengikuti sunnnahku dan sunnah khulafa ar raasyidin yang mereka telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dan gigitlah ia dengan gigi geraham. Serta jauhilah perkara yang diada-adakan, karena ia adalah bid&#8217;ah dan setiap bid&#8217;ah itu sesat</em>” (HR. Abu Daud no.4609, Al Hakim no.304, Ibnu Hibban no.5)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Jika Sahabat Berselisih Pendapat</strong></span></p>
<p>Sebagaimana yang telah kita bahas, jika dalam suatu permasalahan terdapat penjelasan dari para sahabat, lalu seseorang memilih pendapat lain di luar pendapat sahabat, maka kekeliruan dan penyimpangan lah yang sedang ia tempuh. Namun jika dalam sebuah permasalahan, terdapat beberapa pendapat diantara para sahabat, maka kebenaran ada di salah satu dari beberapa pendapat tersebut, yaitu yang lebih mendekati kesesuaian dengan Al Qur&#8217;an dan sunnah Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>.</p>
<p>Imam Asy Syafi&#8217;i <em>rahimahullah </em>berkata:</p>
<p style="text-align: center;">: قد سمعت قولك في الإجماع والقياس بعد قولك في حكم كتاب الله وسنة رسوله أرأيت أقاويل أصحاب رسول الله إذا تفرقوا فيها ؟</p>
<p style="text-align: center;">[ فقلت : نصير منها إلى ما وافق الكتاب أو السنة أو الإجماع أو كان أصحَّ في القياس</p>
<p>“Jika ada orang yang bertanya, Wahai Imam Syafi'i, aku dengar engkau mengatakan bahwa setelah Al Qur'an dan Sunnah, ijma dan qiyas juga merupakan dalil. Lalu bagaimana dengan perkataan para sahabat Nabi jika mereka berbeda pendapat?</p>
<p>Imam Asy Syafi'i berkata: Bimbingan saya dalam menyikapi perbedaan pendapat di antara para sahabat adalah dengan mengikuti pendapat yang paling sesuai dengan Al Qu'an atau Sunnah atau Ijma' atau Qiyas yang paling shahih”<a href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p>Semoga Allah senantiasa menunjukkan kita jalan yang lurus, yaitu jalan yang ditempuh oleh Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> serta para sahabatnya</p>
<p>Penulis: Yulian Purnama</p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a><em> Al Ba&#8217;its Al Hatsits Fikhtishari &#8216;Ulumil Hadits</em>, Ibnu Katsir (1/24)</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a><em> Al Ba&#8217;its Al Hatsits </em>(1/25)</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a><em> Al Ba&#8217;its Al Hatsits</em> (1/24)</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Diriwayatkan oleh Abu Nu&#8217;aim Al Ashabani dalam <em>Fadhlus Shahabah. </em>Di-hasan-kan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani dalam <em>Fathul Baari</em> (7/7)</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> HR. Bukhari no.3651, Muslim no.2533</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a><em> Nur Al Laami&#8217;</em> (199), dinukil dari kitab <em>I&#8217;tiqad A&#8217;immatil Arba&#8217;ah</em>, Dr. Muhammad bin Abdurrahman Al Khumais, (1/7)</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> HR. Bukhari no. 3673, Muslim no. 2540</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Tafsir Ibnu Katsir (1/140)</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> Tafsir At Thabari (1/179)</p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> Tafsir Al Qurthubi (1/60)</p>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> HR. At Thabrani dalam <em>Mu&#8217;jam Al Kabir</em> no.8504. Dalam <em>Majma&#8217; Az Zawaid</em> (8/453), Al Haitsami berkata: “Semua perawinya tsiqah”</p>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> HR. Tirmidzi no. 2641. Dalam <em>Takhrij Al Ihya </em>(3/284)<em> </em>Al&#8217;Iraqi berkata: “Semua sanadnya jayyid”</p>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a><em> Ar Risalah</em> (1/597)</p>
<div class="shr-publisher-4680"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fmeneladani-sahabat-nabi-jalan-kebenaran.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fmeneladani-sahabat-nabi-jalan-kebenaran.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fmeneladani-sahabat-nabi-jalan-kebenaran.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/meneladani-sahabat-nabi-jalan-kebenaran.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jalan yang Lurus</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/jalan-yang-lurus.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/jalan-yang-lurus.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Sep 2010 02:00:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[ahlus sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[firqah]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=4604</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan jalan yang lurus dan mengangkat hamba terkasih-Nya sebagai pemandu menuju-Nya. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Muhammad sebaik-baik nabi dan utusan, dan juga bagi para sahabat serta pengikutnya<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/jalan-yang-lurus.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan jalan yang lurus dan  mengangkat hamba terkasih-Nya sebagai pemandu menuju-Nya. Salawat dan  salam semoga tercurah kepada Muhammad sebaik-baik nabi dan utusan, dan  juga bagi para sahabat serta pengikutnya yang setia hingga akhir zaman. <em>Amma  ba’du</em>.</p>
<p>Ayat-ayat al-Qur’an yang begitu indah dan menakjubkan, memberikan  kepada kita gambaran yang jelas mengenai karakter dan hakekat jalan yang  lurus. Jalan yang setiap hari kita mohon kepada Allah untuk ditunjuki  kepadanya. Jalan yang akan mengantarkan penempuhnya menuju surga dan  kebahagiaan, serta melemparkan orang yang melenceng darinya menuju  neraka dan kesengsaraan.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Memadukan antara ilmu dan amal</strong></span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Yaitu jalannya  orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan orang-orang  yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang tersesat.”</em> (<strong>QS.  al-Fatihah: 7</strong>).</p>
<p>Syaikh as-Sa’di <em>rahimahullah</em> menerangkan bahwa hakekat jalan  yang lurus itu akan diperoleh dengan cara mengenali kebenaran dan  mengamalkannya (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 39).  Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Dengan ucapan  anda ‘Ihdinash shirathal mustaqim’ itu artinya anda telah meminta kepada  Allah ta’ala ilmu yang bermanfaat dan amal yang saleh.”</em> (<em>Tafsir  Juz ‘Amma</em>, hal. 12).</p>
<p>Syaikh Abdurrazzaq al-Badr <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Maka  orang yang diberi nikmat atas mereka yaitu orang yang berilmu sekaligus  beramal. Adapun orang-orang yang dimurkai yaitu orang-orang yang berilmu  namun tidak beramal. Sedangkan orang-orang yang tersesat ialah  orang-orang yang beramal tanpa landasan ilmu.”</em> (<em>Tsamrat  al-’Ilmi al-’Amalu</em>, hal. 14). Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> menjelaskan bahwa penyebab orang terjerumus dalam kesesatan ialah  rusaknya ilmu dan keyakinan. Sedangkan penyebab orang terjerumus dalam  kemurkaan ialah rusaknya niat dan amalan (lihat <em>al-Fawa’id</em>,  hal. 21)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Memadukan antara tauhid dan ketaatan </strong></span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman memberitakan ucapan Nabi ‘Isa <em>‘alaihis  salam</em> (yang artinya), <em>“Maka bertakwalah kalian kepada Allah  dan taatilah aku. Sesungguhnya Allah adalah Rabbku dan Rabb kalian, maka  sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus.” </em>(<strong>QS. Ali Imran:  50-51, </strong>lihat juga<strong> QS. Az-Zukhruf: 63-64</strong>).</p>
<p>Syaikh as-Sa’di <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Inilah, yaitu  penyembahan kepada Allah, ketakwaan kepada-Nya, serta ketaatan kepada  rasul-Nya merupakan ‘jalan lurus’ yang mengantarkan kepada Allah dan  menuju surga-Nya, adapun yang selain jalan itu maka itu adalah  jalan-jalan yang menjerumuskan ke neraka.”</em> (<em>Taisir al-Karim  ar-Rahman</em>, hal. 132). Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“…Sesungguhnya  kebenaran itu hanya satu, yaitu jalan Allah yang lurus, tiada jalan  yang mengantarkan kepada-Nya selain jalan itu. Yaitu beribadah kepada  Allah tanpa mempersekutukan-Nya dengan apapun, dengan cara menjalankan  syari’at yang ditetapkan-Nya melalui lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi  wa sallam, bukan dengan [landasan] hawa nafsu maupun bid’ah-bid’ah…”</em> (<em>at-Tafsir al-Qayyim</em>, hal. 116-117)</p>
<p>Dalam surat Maryam, Allah <em>ta’ala</em> juga memberitakan ucapan  Isa <em>‘alaihis salam</em> tersebut (yang artinya), <em>“Dan  sesungguhnya Allah adalah Rabbku dan Rabb kalian, maka sembahlah Dia.  Inilah jalan yang lurus.”</em> (<strong>QS. Maryam: 36</strong>).</p>
<p>Syaikh as-Sa’di <em>rahimahullah</em> menerangkan, bahwa makna <em>‘sembahlah  Dia’</em> adalah: ikhlaskan ibadah kepada-Nya, bersungguh-sungguhlah  dalam <em>inabah</em> (taubat dan semakin taat) kepada-Nya. Di dalam  ungkapan <em>‘Sesungguhnya Allah adalah Rabbku dan Rabb kalian maka  sembahlah Dia’</em> terkandung penetapan <em>tauhid rububiyah</em> dan <em>tauhid  uluhiyah</em>, serta berargumentasi dengan tauhid yang pertama  (rububiyah) untuk mewajibkan tauhid yang kedua (uluhiyah) (lihat <em>Taisir  al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 493)</p>
<p>Bahkan, Allah sendiri telah menegaskan bahwa tauhid dan ketaatan  kepada-Nya inilah jalan yang lurus itu, bukan penyembahan dan ketaatan  kepada syaitan. Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Bukankah  Aku telah berpesan kepada kalian, wahai keturunan Adam; Janganlah  kalian menyembah syaitan. Sesungguhnya dia adalah musuh yang nyata bagi  kalian. Dan sembahlah Aku. Inilah jalan yang lurus.”</em> (<strong>QS.  Yasin: 60-61</strong>). Syaikh as-Sa’di <em>rahimahullah</em> menerangkan, bahwa yang dimaksud ‘mentaati syaitan’ itu mencakup segala  bentuk kekafiran dan kemaksiatan. Adapun jalan yang lurus itu adalah  beribadah kepada Allah, taat kepada-Nya, dan mendurhakai syaitan (lihat <em>Taisir  al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 698)</p>
<p>Perlu diingat, bahwa ketaatan kepada Rasul pada hakekatnya merupakan  ketaatan kepada Allah, tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya.  Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang  taat kepada rasul itu, sesungguhnya dia telah taat kepada Allah.”</em> (<strong>QS.  an-Nisaa’: 80</strong>). Ayat ini menunjukkan bahwa semua orang yang  taat kepada Rasulullah dalam hal perintah dan larangannya sesungguhnya  telah taat kepada Allah <em>ta’ala</em>. Karena rasul tidaklah  memerintah dan melarang kecuali dengan perintah dari Allah, dengan  syari’at dan wahyu dari-Nya. Sehingga hal ini menunjukkan <em>‘ishmah</em>/keterpeliharaan  diri Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Karena Allah  memerintahkan taat kepada beliau secara mutlak (lihat <em>Taisir  al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 189)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kata Kunci</strong></span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa ada empat kata kunci  agar seorang hamba bisa berjalan di atas jalan yang lurus, yaitu:</p>
<ol>
<li><strong>Ilmu</strong>,      karena dengan ilmu ini maka dia akan  bisa membedakan mana yang benar dan      mana yang salah, mana tauhid  mana syirik, mana sunnah mana bid’ah, mana      taat mana maksiat, dst.</li>
<li><strong>Amal</strong>,      karena dengan mengamalkan ilmunya dia  akan terbebas dari kemurkaan Allah,      bahkan dia akan mendapatkan  tambahan petunjuk karenanya. Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang  artinya), <em>“Orang-orang yang mengikuti petunjuk itu,      maka Allah  akan menambahkan kepada mereka petunjuk dan Allah berikan      kepada  mereka ketakwaan mereka.”</em> (<strong>QS. Muhammad: 17</strong>). Di  dalam      ayat yang mulia ini Allah menjanjikan dua balasan bagi orang  yang      mengikuti petunjuk (baca: mengamalkan ilmunya), yaitu: ilmu  yang      bermanfaat dan amal yang saleh (lihat <em>Taisir al-Karim  ar-Rahman</em>,      hal. 787)</li>
<li><strong>Tauhid</strong>,      karena dengan memahami dan  melaksanakan tauhid maka seorang hamba telah mewujudkan      tujuan  hidupnya dan berada di atas jalan yang akan mengantarkannya ke       surga, jika dia istiqomah di atasnya hingga ajal tiba.</li>
<li><strong>Taat</strong>,      karena dengan menjalankan perintah dan  menjauhi larangan berarti dia telah      menunjukkan penghambaannya  kepada Allah dan kepatuhannya kepada      Rasulullah, sehingga dia akan  mendapatkan keberuntungan -di dunia maupun      di akherat- sebagaimana  yang dijanjikan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya      yang taat  kepada-Nya. <em>Allahu a’lam</em>.</li>
</ol>
<p>Penulis:<a href="http://abumushlih.com"> Abu Mushlih Ari Wahyudi</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-4604"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fjalan-yang-lurus.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fjalan-yang-lurus.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fjalan-yang-lurus.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/jalan-yang-lurus.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Salah Paham dengan Istilah Salafi</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/salah-paham-dengan-istilah-salafi.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/salah-paham-dengan-istilah-salafi.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Apr 2010 03:00:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[ahlus sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Wahabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=2966</guid>
		<description><![CDATA[Syaikh Dr. Muhammad bin Khalifah at-Tamimi hafizhahullah -beliau adalah guru besar Aqidah di Universitas Islam Madinah- menerangkan di dalam kitabnya ‘Mu’taqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah fi Tauhid Asma’ wa Shifat’ [halaman 53-54] bahwa para ulama<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/salah-paham-dengan-istilah-salafi.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Syaikh Dr. Muhammad bin Khalifah at-Tamimi hafizhahullah -beliau adalah guru besar Aqidah di Universitas Islam Madinah- menerangkan di dalam kitabnya ‘Mu’taqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah fi Tauhid Asma’ wa Shifat’ [halaman 53-54] bahwa para ulama memiliki pandangan yang beragam tentang makna istilah salafush shalih. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan salafush shalih adalah para sahabat radhiyallahu’anhum saja. Sebagian berpendapat bahwa yang dimaksud salafush shalih adalah sahabat dan tabi’in. Dan ada pula yang mengatakan bahwa salafush shalih meliupti sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in.</p>
<p>Beliau juga menyatakan [halaman 54] bahwa pendapat yang benar lagi populer ialah pendapat jumhur ulama Ahlis Sunnah wal Jama’ah yaitu yang menyatakan bahwa salafush shalih itu mencakup tiga generasi yang diutamakan dan telah dipersaksikan kebaikannya oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya, “<em>Sebaik-baik manusia adalah di jamanku, kemudian sesudah mereka, kemudian sesudahnya lagi.</em>” (HR. Bukhari dan Muslim). Sehingga istilah salafush shalih itu mencakup sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in.</p>
<p>Syaikh at-Tamimi mengatakan, “<em>Dan setiap orang yang meniti jalan mereka dan berjalan di atas metode/manhaj mereka maka dia disebut salafi, sebagai penisbatan kepada mereka</em>.” (Mu’taqad, hal. 54).</p>
<p>Beliau juga memaparkan [halaman 54] bahwa salafiyah adalah manhaj yang ditempuh oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta generasi yang diutamakan sesudah beliau. Nabi telah memberitakan bahwa manhaj salaf ini akan tetap ada hingga datangnya hari kiamat. Sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Akan senantiasa ada segolongan manusia di antara umatku yang selalu menang di atas kebenaran. Tidak akan membahayakan mereka orang-orang yang menelantarkan mereka sampai datang ketetapan Allah sementara mereka tetap dalam keadaan menang.” (HR. Muslim)</p>
<p>Kemudian, Syaikh at-Tamimi juga menegaskan [halaman 55] bahwa perkara yang dibenarkan apabila seorang menyandarkan diri kepada manhaj salaf ini selama dia konsisten menetapi syarat-syarat dan kaidah-kaidahnya. Maka siapa pun yang menjaga keselamatan aqidah dan amalnya sehingga sesuai dengan pemahaman tiga generasi yang utama tersebut, maka dia adalah orang yang bermanhaj salaf.</p>
<p>Di tempat yang lain [halaman 63] beliau mengatakan, “Terkadang para ulama menggunakan istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah sebagai pengganti istilah salaf.”</p>
<p>Dari pemaparan ringkas di atas maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa istilah<strong> salaf atau salafi sebenarnya adalah istilah yang sudah sangat terkenal dalam pembicaraan para ulama</strong>. Mereka itu tidak lain adalah para sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Maka sungguh sebuah penipuan yang amat jelas apabila ada orang yang mengatakan bahwa istilah salafi adalah istilah yang diada-adakan, tidak ada sumbernya dalam al-Kitab maupun as-Sunnah, apalagi sampai mengatakan bahwa istilah itu tidak perlu dihiraukan.</p>
<p>Dengarkanlah ucapan seorang tokoh pergerakan yang patut untuk kita cermati, “<em>Salafiyah bukanlah istilah teknik untuk suatu jamaah, melainkan bentuk pemahaman terhadap Islam dalam menghadapi berbagai faham lain dari berbagai kelompok yang menyimpang. Pemahaman ini ada sejak awal sejarah Islam. Pada dasarnya seluruh du’at harus menjalani manhaj salaf ridhwanullahi ‘alaihim, bergerak dengannya baik secara pemahaman, amalan, maupun aqidah. Salafiyah bukan sebuah jama’ah dari jama’ah-jama’ah, dan bukan merupakan satu hizb dari berbagai hizb yang ada.</em>” (Ikhwanul Muslimin, Deskripsi, Jawaban, Tuduhan, dan Harapan, penerjemah Hawari Aulia, di bawah judul ‘Tuduhan dan Jawabannya’). Alangkah benar apa yang diucapkannya, maka marilah kita ikuti para ulama salaf, tidak hanya dalam hal aqidah namun juga dalam hal dakwah dan siyasah, sadarlah wahai saudaraku…</p>
<p>Termasuk kekeliruan pula apabila ada orang yang mengatakan bahwa salaf sekarang sudah tidak ada karena mereka sudah meninggal dengan maksud menjauhkan umat dari manhaj salaf. Memang, salafush shalih -dalam artian tiga generasi terbaik- sudah berlalu, namun sebagaimana sudah dijelaskan di muka oleh Syaikh at-Tamimi bahwa manhaj mereka masih tetap hidup.</p>
<p>Aduhai, alangkah banyak gaya-gaya hizbiyah yang ditampilkan oleh manusia pada masa sekarang ini demi menjauhkan umat dari para ulama dan pemahaman mereka! Maka berhati-hatilah wahai saudaraku dari tipu daya mereka… Janganlah tertipu oleh silat lidah mereka yang lincah, tutur kata yang manis namun di dalamnya ternyata berbisa… Ikutilah para ulama Sunnah dan para penimba ilmu yang mengikuti jalan mereka! Semoga Allah menjadikan kita salafi yang sejati. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdu lillahi Rabbil ‘alamin.</p>
<p>Penulis: <a href="http://abumushlih.com">Abu Mushlih Ari Wahyudi</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-2966"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fsalah-paham-dengan-istilah-salafi.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fsalah-paham-dengan-istilah-salafi.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fsalah-paham-dengan-istilah-salafi.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/salah-paham-dengan-istilah-salafi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>30</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manfaat dan Keutamaan Mengikuti Manhaj (Metode Pemahaman) Salaf</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/manfaat-dan-keutamaan-mengikuti-manhaj-metode-pemahaman-salaf.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/manfaat-dan-keutamaan-mengikuti-manhaj-metode-pemahaman-salaf.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Mar 2009 04:32:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=572</guid>
		<description><![CDATA[بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله وآله وصحبه أجمعين، أما بعد Prolog Manhaj salaf adalah satu-satunya manhaj yang diakui kebenarannya oleh Allah ta&#8217;ala dan Rasul-Nya shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, karena<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/manfaat-dan-keutamaan-mengikuti-manhaj-metode-pemahaman-salaf.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p class="arab" align="center">بسم الله الرحمن الرحيم</p>
<p>الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله وآله وصحبه  أجمعين، أما بعد</p>
<p><strong>Prolog</strong></p>
<p>Manhaj salaf  adalah satu-satunya manhaj yang diakui kebenarannya oleh Allah <em>ta&#8217;ala</em> dan Rasul-Nya <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, karena manhaj ini  mengajarkan pemahaman dan pengamalan islam secara lengkap dan menyeluruh,  dengan tetap menitikberatkan kepada masalah tauhid dan pokok-pokok keimanan  sesuai dengan perintah Allah <em>ta&#8217;ala</em> dan Rasul-Nya <em>shallallahu &#8216;alaihi  wa sallam</em>, Allah berfirman:</p>
<p class="arab" align="right">{وَالسَّابِقُونَ  الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ  بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ  تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ  الْعَظِيمُ}</p>
<p><em>&#8220;Orang-orang yang  terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari (kalangan) orang-orang  muhajirin dan anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah  ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada-Nya, dan Allah menyediakan bagi  mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di  dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.&#8221;</em> (Qs. At Taubah: 100)</p>
<p><span id="more-572"></span></p>
<p>Dalam ayat lain, Allah <em>ta&#8217;ala</em> memuji keimanan para sahabat <em>radhiyallahu  &#8216;anhum</em> dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam firman-Nya:</p>
<p class="arab" align="right">فَإِنْ  آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا</p>
<p><em>&#8220;Dan jika mereka  beriman seperti keimanan kalian, maka sungguh mereka telah mendapatkan petunjuk  (ke jalan yang benar).&#8221;</em> (Qs. Al Baqarah: 137)</p>
<p>Dalam hadits yang shahih tentang perpecahan umat ini menjadi 73 golongan,  Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda: <em>&#8220;Semua  golongan tersebut akan masuk neraka, kecuali satu golongan, yaitu <strong>Al Jama&#8217;ah</strong>&#8220;</em>.  Dalam riwayat lain: <em>&#8220;Mereka (yang selamat) adalah orang-orang yang  mengikuti petunjukku dan petunjuk para sahabatku.&#8221;</em> (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ad Darimy dan imam-imam  lainnya, dishahihkan oleh Ibnu Taimiyyah, Asy Syathiby dan Syaikh Al Albany. Lihat <em>&#8220;Silsilatul Ahaaditsish Shahihah&#8221;</em> no. 204)</p>
<p>Maka mengikuti manhaj salaf adalah satu-satunya cara untuk bisa meraih  keselamatan di dunia dan akhirat, sebagaimana hanya dengan mengikuti manhaj  inilah kita akan bisa meraih semua keutamaan dan kebaikan yang Allah <em>ta&#8217;ala</em> janjikan dalam agama-Nya, sebagaimana sabda Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi  wa sallam</em>: &#8220;Sebaik-baik umatku adalah generasi yang aku diutus di masa  mereka (para sahabat <em>radhiyallahu &#8216;anhum</em>), kemudian generasi yang datang  setelah mereka, kemudian generasi yang datang setelah mereka.&#8221; (HR. Al Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Berkata Imam Ibnul Qayyim dalam menjelaskan hadits di atas: &#8220;Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memberitakan (dalam hadits ini) bahwa  generasi yang terbaik secara mutlak adalah generasi di masa Beliau <em>shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em> (para sahabat <em>radhiyallahu &#8216;anhum</em>), dan ini  mengandung pengertian keterdepanan mereka dalam seluruh aspek kebaikan (dalam  agama ini), karena kalau kebaikan mereka (hanya) dalam beberapa aspek (tidak  sempurna dan menyeluruh) maka mereka tidak akan dinamakan (oleh Nabi <em>shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em> sebagai) generasi yang terbaik secara mutlak&#8221;. Maksud  terbaik secara mutlak yaitu kebaikan yang ada pada mereka adalah kebaikan yang  sempurna dan menyeluruh pada semua aspek kebaikan dalam agama. (Lihat Kitab <em>I&#8217;laamul  muwaqqi&#8217;iin,</em> 4/136- cet. <em>Daarul Jiil</em>, Beirut, 1973)</p>
<p>Untuk lebih jelasnya pembahasan masalah ini, berikut ini kami akan  menyebutkan dan menjelaskan beberapa contoh/poin penting yang menunjukkan  besarnya manfaat dan keutamaan yang bisa kita capai dengan berusaha memahami  dan mengamalkan manhaj salaf dengan baik dan benar, serta mustahilnya mencapai  semua itu dengan mengikuti selain manhaj yang benar ini:</p>
<p><strong>1- Keteguhan iman dan  keistiqamahan dalam agama di dunia dan akhirat</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p class="arab" align="right">{يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا  بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ  اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ}</p>
<p><em>&#8220;Allah meneguhkan  (iman) orang-orang yang beriman dengan &#8216;ucapan yang teguh&#8217; dalam kehidupan di  dunia dan di akhirat, dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan  memperbuat apa yang Dia kehendaki.&#8221;</em> (Qs. Ibrahim: 27)</p>
<p>Makna &#8216;ucapan yang teguh&#8217; dalam ayat di atas ditafsirkan sendiri oleh  Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam hadits shahih yang  diriwayatkan oleh seorang sahabat yang mulia Al Bara&#8217; bin &#8216;Aazib <em>radhiyallahu  &#8216;anhu</em>, bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda: <em>&#8220;Seorang  muslim ketika ditanya di dalam kubur (oleh Malaikat Munkar dan Nakir) maka dia  akan bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah (Laa Ilaaha  Illallah) dan bahwa Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam adalah utusan Allah  (Muhammadur Rasulullah), itulah (makna) firman-Nya: {Allah meneguhkan (iman)  orang-orang yang beriman dengan &#8216;ucapan yang teguh&#8217; dalam kehidupan di dunia  dan di akhirat}.&#8221;</em>. (HR. Al Bukhari dalam <em>Shahih Al Bukhari</em>, no.  4422- cet. Daar Ibni Katsir, Beirut, 1407 H. Hadits yang semakna juga  diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam <em>Shahih Muslim,</em> no. 2871- cet. <em>Daar  Ihya-it turats al &#8216;araby</em>, Beirut)</p>
<p>Ayat dan hadits di atas menunjukkan bahwa keteguhan iman dan keistiqamahan  dalam agama hanyalah Allah <em>ta&#8217;ala</em> anugerahkan kepada orang beriman yang  memiliki &#8216;ucapan yang teguh&#8217;, yaitu dua kalimat syahadat yang dipahami dan  diamalkan dengan baik dan benar.</p>
<p>Maka berdasarkan keterangan di atas, jelaslah bagi kita salah satu  keutamaan dan manfaat besar mengikuti manhaj salaf, karena tidak diragukan lagi  hanya manhaj salaf-lah satu-satunya manhaj yang benar-benar memberikan  perhatian besar kepada pemahaman dan pengamalan dua kalimat syahadat dengan baik  dan benar, dengan selalu mengutamakan pembahasan tentang kalimat Tauhid (<em>Laa  Ilaaha Illallah</em>), keutamaannya, kandungannya, syarat-syaratnya,  rukun-rukunnya, hal-hal yang membatalkan dan mengurangi kesempurnaannya,  disertai peringatan keras untuk menjauhi perbuatan syirik dan semua perbuatan  yang bertentangan dengan tauhid.</p>
<p>Demikian pula perhatian besar manhaj salaf terhadap kalimat syahadat (<em>Muhammadur  Rasulullah</em>), dengan selalu mengutamakan pembahasan tentang keindahan dan  kesempurnaan Sunnah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, disertai  peringatan keras untuk menjauhi perbuatan <em>bid&#8217;ah</em> dan semua perbuatan  yang bertentangan dengan Sunnah.</p>
<p>Berkata Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu: &#8220;Al Firqatun Naajiyah  (golongan yang selamat dari ancaman azab Allah <em>ta&#8217;ala</em> / orang-orang yang  mengikuti manhaj salaf) adalah orang-orang yang (sangat) mengutamakan Tauhid,  yaitu mengesakan Allah dalam beribadah, seperti berdoa, meminta pertolongan,  memohon keselamatan dalam keadaan susah maupun senang, berkurban, bernazar, dan  ibadah-ibadah lainnya, serta keharusan menjauhi syirik dan fenomena-fenomenanya  yang terlihat nyata di kebanyakan negara Islam&#8230; Dan mereka adalah orang-orang  yang selalu menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa  sallam</em> dalam ibadah, tingkah laku dan (semua sisi) kehidupan mereka,  sehingga jadilah mereka sebagai orang-orang yang asing di tengah masyarakat,  sebagaimana sabda Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang  menggambarkan keadaan mereka: <em>&#8220;Sesungguhnya islam awalnya datang dalam  keadaan asing, dan nantinya pun (di akhir jaman) akan kembali asing, maka  beruntunglah (akan mendapatkan surga) orang-orang yang asing (karena berpegang  teguh dengan sunnah Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam)&#8221;</em> (HR. Muslim).  Dalam riwayat lain: <em>&#8220;&#8230; Mereka adalah orang-orang yang berbuat  kebaikan ketika manusia dalam keadaan rusak&#8221;</em>. Berkata Syaikh Al  Albani: Hadits ini diriwayatkan oleh Abu &#8216;Amr Ad Daani dengan sanad yang shahih.&#8221;  (<em>Minhaajul Firqatin Naajiyah</em>, hal. 7-8 &#8211; cet. Daarush Shami&#8217;i, Riyadh)</p>
<p><strong>2- Meraih Kenikmatan tertinggi  di Surga, yaitu Melihat Wajah Allah <em>ta&#8217;ala</em> yang Maha Mulia dan Maha Tinggi</strong></p>
<p>Dalam hadits shahih dari seorang sahabat yang mulia Shuhaib bin Sinan <em>radhiyallahu  &#8216;anhu</em> bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda: <em>&#8220;Jika  penghuni surga telah masuk surga, Allah ta&#8217;ala Berfirman: &#8220;Apakah kalian  (wahai penghuni surga) menginginkan sesuatu sebagai tambahan (dari kenikmatan  surga)? Maka mereka menjawab: Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah  kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan  kami dari (azab) neraka? Maka (pada waktu itu) Allah Membuka hijab (yang  menutupi wajah-Nya Yang Maha Mulia), dan penghuni surga tidak pernah mendapatkan  suatu (kenikmatan) yang lebih mereka sukai dari pada melihat (wajah) Allah ta&#8217;ala&#8221;</em>, kemudian Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi  wa sallam</em> membaca ayat berikut:</p>
<p class="arab" align="right">للذين  أحسنوا الحسنى وزيادة</p>
<p><em> &#8220;Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan, ada  pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (melihat wajah Allah ta&#8217;ala)&#8221;</em> (QS Yunus: 26). (HR. Muslim dalam <em>Shahih Muslim,</em> no. 181)</p>
<p>Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam kitab beliau <em>&#8220;Ighaatsatul  lahafaan&#8221;</em> (Hal. 70-71, <em>Mawaaridul amaan</em>, cet. Daar Ibnil Jauzi,  Ad Dammaam, 1415 H) menjelaskan bahwa kenikmatan tertinggi di akhirat ini  (melihat wajah Allah <em>ta&#8217;ala</em>) adalah balasan yang Allah <em>ta&#8217;ala</em> berikan kepada orang yang merasakan kenikmatan tertinggi di dunia, yaitu  kesempurnaan dan kemanisan iman, kecintaan yang sempurna dan kerinduan untuk  bertemu dengan-Nya, serta perasaan tenang dan bahagia ketika mendekatkan diri  dan berzikir kepada-Nya. Untuk lebih jelas pembahasan masalah ini, silakan baca  tulisan kami yang berjudul &#8220;Indahnya Islam Manisnya Iman&#8221;. Dalam  sebuah ucapannya yang tersohor Ibnu Taimiyyah berkata: &#8220;Sesungguhnya di dunia  ini ada jannnah (surga), barangsiapa yang belum masuk ke dalam surga di dunia  ini maka dia tidak akan masuk ke dalam surga di akhirat nanti.&#8221; (<em>Al  Waabilush Shayyib</em>, 1/69)</p>
<p>Beliau menjelaskan hal ini berdasarkan lafazh doa Rasulullah <em>shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam sebuah hadits yang shahih: &#8220;Aku meminta  kepada-Mu (ya Allah) kenikmatan memandang wajah-Mu (di akhirat nanti) dan aku  meminta kepada-Mu kerinduan untuk bertemu dengan-Mu (sewaktu di dunia)&#8230;&#8221;  (HR. An Nasa-i dalam <em>&#8220;As Sunan&#8221;</em> (3/54 dan 3/55), Imam Ahmad  dalam <em>&#8220;Al Musnad&#8221;</em> (4/264), Ibnu Hibban dalam &#8220;Shahihnya&#8221;  (no. 1971) dan Al Hakim dalam <em>&#8220;Al Mustadrak&#8221;</em> (no. 1900), dishahihkan  oleh Ibnu Hibban, Al Hakim, disepakati oleh Adz Dzahabi dan Sykh Al Albani  dalam <em>&#8220;Zhilaalul Jannah Fii Takhriijis Sunnah&#8221;</em> (no. 424))</p>
<p>Dari keterangan di atas juga terlihat jelas besarnya keutamaan dan manfaat  mengikuti manhaj salaf. Karena kemanisan iman, kecintaan yang sempurna dan  kerinduan untuk bertemu dengan Allah <em>ta&#8217;ala</em> merupakan buah yang paling  utama dari <strong><em>ma&#8217;rifatullah</em> </strong>(pengenalan/pengetahuan yang benar dan  sempurna tentang Allah <em>ta&#8217;ala</em> dan sifat-sifat-Nya),  yang mana <em>ma&#8217;rifatullah</em> yang benar dan sempurna tidak akan mungkin  dicapai kecuali dengan mempelajari dan memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah <em>ta&#8217;ala</em> dalam Al Qur-an dan Hadits Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa  sallam</em> dengan metode pemahaman yang benar, yang ini semua hanya didapatkan  dalam manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama&#8217;ah/<a title="Manhaj Salaf" href="http://muslim.or.id/manhaj-salaf/manfaat-dan-keutamaan-mengikuti-manhaj-metode-pemahaman-salaf.html">manhaj Salaf</a>.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: &#8220;Ini adalah ideologi golongan  yang selamat dan selalu mendapatkan pertolongan dari Allah <em>ta&#8217;ala</em> sampai  hari kiamat, (yang mereka adalah) Ahlus Sunnah wal jama&#8217;ah (orang-orang yang  mengikuti manhaj salaf), yaitu beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya,  kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, (hari) kebangkitan setelah kematian, dan  beriman kepada takdir Allah yang baik maupun yang buruk.</p>
<p>Termasuk iman kepada Allah (yang diyakini Ahlus Sunnah wal jama&#8217;ah) adalah  mengimani sifat-sifat Allah <em>ta&#8217;ala</em> yang Dia tetapkan bagi diri-Nya dalam  Al Qur-an dan yang ditetapkan oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> (dalam hadits-hadits yang shahih), tanpa <em>tahriif</em> (menyelewengkan  maknanya), tanpa <em>ta&#8217;thiil</em> (menolaknya), tanpa <em>takyiif</em> (membagaimanakan/menanyakan bentuknya), dan tanpa <em>tamtsiil</em> (menyerupakannya  dengan sifat-sifat makhluk). Ahlus Sunnah wal jama&#8217;ah mengimani bahwa Allah <em>ta&#8217;ala</em>:</p>
<p class="arab" align="right">{لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ  السَّمِيعُ الْبَصِيرُ}</p>
<p><em> &#8220;Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan  Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.&#8221;</em> (Qs. Asy Syuura:11)</p>
<p>Maka Ahlus Sunnah wal jama&#8217;ah tidak menolak sifat-sifat yang Allah tetapkan  bagi diri-Nya, tidak menyelewengkan makna firman Allah dari arti yang  sebenarnya, tidak menyimpang (dari kebenaran) dalam (menetapkan) nama-nama  Allah (yang maha indah) dan dalam (memahami) ayat-ayat-Nya. Mereka tidak  membagaimanakan /menanyakan bentuk sifat Allah dan tidak menyerupakan sifat-Nya  dengan sifat makhluk. Karena Allah <em>ta&#8217;ala</em> tiada yang serupa, setara dan  sebanding dengan-Nya, Dia <em>ta&#8217;ala</em> tidak boleh dianalogikan dengan  makhluk-Nya, dan Dia-lah yang paling mengetahui tentang diri-Nya dan tentang  makhluk-Nya, serta Dia-lah yang paling benar dan baik perkataan-Nya dibanding  (semua) makhluk-Nya. Kemudian (setelah itu) para Rasul-Nya <em>shallallahu &#8216;alaihi  wa sallam</em> orang-orang yang benar (ucapannya) dan dibenarkan, berbeda dengan  orang-orang yang berkata tentang Allah <em>ta&#8217;ala</em> tanpa pengetahuan. Oleh  karena itulah Allah <em>ta&#8217;ala</em> Berfirman:</p>
<p class="arab" align="right">{سبحان ربك رب العزة عما يصفون وسلام  على المرسلين والحمد لله رب العالمين}</p>
<p><em> &#8220;Maha Suci Rabbmu Yang mempunyai kemuliaan dari  apa yang mereka katakan, Dan keselamatan dilimpahkan kepada para Rasul, Dan  segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam.&#8221;</em> (Qs. Ash Shaaffaat: 180-182)</p>
<p>Maka (dalam ayat ini) Allah menyucikan diri-Nya dari apa yang disifatkan  orang-orang yang menyelisihi (petunjuk) para Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa  sallam</em>, kemudian Allah menyampaikan salam (keselamatan) kepada para Rasul <em>shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em> karena selamat (suci)nya ucapan yang mereka sampaikan  dari kekurangan dan celaan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> telah menghimpun antara <em>an  nafyu</em> (meniadakan sifat-sifat buruk) dan <em>al itsbat </em>(menetapkan  sifat-sifat yang maha baik dan sempurna) dalam semua nama dan sifat yang Dia  tetapkan bagi diri-Nya, maka Ahlus Sunnah wal jama&#8217;ah sama sekali tidak  menyimpang dari petunjuk yang dibawa oleh para Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa  sallam</em>, karena itulah jalan yang lurus; jalannya orang-orang yang  dianugerahi nikmat oleh Allah <em>ta&#8217;ala</em>, yaitu para Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi  wa sallam</em>, para shiddiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang  yang shaleh.&#8221; (Kitab <em>&#8220;Al &#8216;Aqiidatul Waasithiyyah&#8221;</em> (hal. 6-8))</p>
<p><strong>3- Menggapai taufik  dari Allah <em>ta&#8217;ala</em> yang merupakan kunci  pokok segala kebaikan</strong></p>
<p>Berkata Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah: &#8220;Kunci pokok segala kebaikan  adalah dengan kita mengetahui (meyakini) bahwa apa yang Allah kehendaki (pasti)  akan terjadi dan apa yang Dia tidak kehendaki maka tidak akan terjadi. Karena  pada saat itulah kita yakin bahwa semua kebaikan (amal shaleh yang kita  lakukan) adalah termasuk nikmat Allah (karena Dia-lah yang memberi kemudahan  kepada kita untuk bisa melakukannya), sehingga kita akan selalu mensyukuri  nikmat tersebut dan bersungguh-sungguh merendahkan diri serta memohon kepada  Allah agar Dia tidak memutuskan nikmat tersebut dari diri kita. Sebagaimana  (kita yakin) bahwa semua keburukan (amal jelek yang kita lakukan) adalah karena  hukuman dan berpalingnya Allah dari kita, sehingga kita akan memohon dengan  sungguh-sungguh kepada Allah agar menghindarkan diri kita dari semua perbuatan  buruk tersebut, dan agar Dia tidak menyandarkan (urusan) kita dalam melakukan  kebaikan dan meninggalkan keburukan kepada diri kita sendiri.</p>
<p>Telah bersepakat <em>al &#8216;Aarifun</em> (orang-orang yang memiliki pengetahuan  yang dalam tentang Allah dan sifat-sifat-Nya) bahwa asal semua kebaikan adalah  taufik dari Allah <em>ta&#8217;ala</em> kepada hamba-Nya, sebagaimana asal semua  keburukan adalah <em>khidzlaan</em> (berpalingnya) Allah <em>ta&#8217;ala</em> dari  hamba-Nya. Mereka juga bersepakat bahwa (arti) taufik itu adalah dengan Allah  tidak menyandarkan (urusan) kita kepada diri kita sendiri, dan (sebaliknya  arti) <em>al khidzlaan</em> (berpalingnya Allah <em>ta&#8217;ala</em> dari hamba) adalah  dengan Allah membiarkan diri kita (bersandar) kepada diri kita sendiri (tidak  bersandar kepada Allah <em>ta&#8217;ala</em>)&#8230;&#8221;</p>
<p>Oleh karena itulah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berlindung dari hal ini dalam doa beliau yang terkenal dan termasuk doa yang  dianjurkan untuk dibaca pada waktu pagi dan petang: <em>&#8220;&#8230; (Ya Allah!) jadikanlah  baik semua urusanku dan janganlah Engkau membiarkan diriku bersandar kepada  diriku sendiri (meskipun cuma) sekejap mata.&#8221;</em> (HR. An Nasa-i dalam <em>&#8220;As  Sunan&#8221;</em> (6/147) dan Al Hakim dalam <em>&#8220;Al Mustadrak&#8221;</em> (no.  2000), dishahihkan oleh Al Hakim, disepakati oleh Adz Dzahabi dan dihasankan  oleh Syaikh Al Albani dalam <em>Silsilatul Ahaaditsish Shahihah</em> (1/449,  no. 227)) (Kitab <em>Al Fawa-id</em> (hal. 133- cet. Muassasah ummil Qura, Mesir  1424 H))</p>
<p>Dari keterangan Imam Ibnul Qayyim di atas jelaslah bagi kita bahwa kunci  pokok segala kebaikan adalah memahami dan mengimani bahwa apa yang Allah kehendaki  (pasti) akan terjadi dan apa yang Dia tidak kehendaki maka tidak akan terjadi,  yang ini merupakan kesimpulan makna iman kepada takdir Allah <em>ta&#8217;ala</em> yang  baik maupun yang buruk. Dan sekali lagi ini menunjukkan besarnya manfaat dan  keutamaan mengikuti manhaj salaf, karena pemahaman yang benar terhadap masalah  takdir Allah <em>ta&#8217;ala</em> hanya ada pada manhaj salaf. Untuk lebih jelasnya,  baca keterangan Ibnu Taimiyyah dalam <em>Al &#8216;Aqiidatul waasithiyyah </em>(hal. 22) tentang lurusnya pemahaman Ahlus Sunnah wal jama&#8217;ah dalam masalah  iman kepada takdir Allah dan sesatnya pemahaman-pemahaman lain yang menyimpang  dari pemahaman Ahlus Sunnah wal jama&#8217;ah.</p>
<p><strong>4- Mendapatkan semua kemuliaan yang Allah <em>Ta&#8217;ala</em> sediakan di akhirat</strong></p>
<p>Imam Ibnu Katsir ketika menjelaskan kewajiban mengimani keberadaan <em>Al  Haudh</em> (telaga milik Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> di  akhirat nanti) yang merupakan bagian dari iman kepada hari akhir, beliau  berkata: &#8220;Penjelasan tentang telaga Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa  sallam</em> –semoga Allah Memudahkan kita meminum dari telaga tersebut pada hari  kiamat– (yang disebutkan) dalam hadits-hadits yang telah dikenal dan  (diriwayatkan) dari banyak jalur yang kuat, meskipun ini tidak disukai oleh  orang-orang ahlul bid&#8217;ah yang bersikeras kepala menolak dan mengingkari  keberadaan telaga ini. Mereka inilah yang paling terancam untuk dihalangi  (diusir) dari telaga tersebut (pada hari kiamat) (Sebagaimana yang disebutkan  dalam hadits shahih riwayat Imam Al Bukhari (no. 6211) dan Muslim (no. 2304) dari  Anas bin Malik <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>.), sebagaimana ucapan salah seorang  ulama salaf: &#8220;Barangsiapa yang mendustakan (mengingkari) suatu kemuliaan  maka dia tidak akan mendapatkan kemuliaan tersebut&#8230;&#8221; (Kitab <em>An  Nihayah Fiil Fitani Wal Malaahim </em>(hal. 127))</p>
<p>Ucapan yang dinukil oleh Imam Ibnu Katsir ini menunjukkan bahwa semua  kemuliaan yang Allah <em>ta&#8217;ala</em> sediakan di akhirat,  seperti kenikmatan di alam kubur, meminum dari telaga Rasulullah <em>shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em>, mendapatkan Syafa&#8217;at Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi  wa sallam</em> dan orang-orang yang diizinkan Allah <em>ta&#8217;ala</em> untuk  memberikan syafaat bahkan termasuk kenikmatan di dalam surga, hanyalah Allah <em>ta&#8217;ala</em> anugerahkan kepada orang-orang yang tidak mengingkari dan mengimaninya dengan  benar. Ini juga menunjukkan besarnya manfaat dan keutamaan mengikuti manhaj  salaf, karena hanya dengan mengikuti manhaj salaflah kita bisa memahami dan  mengimani  hal-hal tersebut dengan baik  dan benar, sehingga orang-orang yang memahami dan mengimani hal-hal tersebut  berdasarkan manhaj salaf merekalah yang paling diutamakan untuk meraih semua  kemuliaan tersebut dengan sempurna. Adapun orang-orang yang tidak memahami dan  mengimani hal-hal tersebut dengan benar karena tidak mengikuti manhaj salaf,  maka mereka sangat terancam untuk terhalangi dari mendapatkan  kemuliaan-kemuliaan tersebut, minimal akan berkurang kesempurnaannya,  tergantung dari jauh dekat pemahaman tersebut dari pemahaman salaf.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Contoh-contoh di atas jelas sekali menunjukkan besarnya manfaat dan  keutamaan yang bisa kita raih di dunia dan akhirat dengan mengikuti manhaj  salaf, masih banyak contoh lain yang tidak mungkin kami sebutkan semua. Semoga  dengan contoh-contoh ini kita semakin termotivasi untuk lebih giat mengkaji dan  mengamalkan petunjuk para ulama salaf dalam beragama, agar kita semakin  sempurna mendapatkan manfaat dan kebaikan yang Allah <em>ta&#8217;ala</em> sediakan  bagi hamba-hambanya yang menjalankan agamanya dengan baik dan benar.</p>
<p>Sebagai penutup, alangkah indahnya ucapan seorang penyair yang berkata:</p>
<p><em>Semua kebaikan (hanya  dapat dicapai) dengan mengikuti (manhaj) salaf</em><br />
<em>Dan semua keburukan ada pada perbuatan bid&#8217;ah orang-orang khalaf</em></p>
<p>Khalaf adalah orang-orang  yang menyelisihi manhaj salaf.</p>
<p class="arab" align="right">وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله  وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين</p>
<p>Kota Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>,  5 Dzulqa&#8217;dah 1429 H</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Abdullah bin Taslim Al  Buthoni<br />
Artikel <a title="Manhaj Salaf" href="http://muslim.or.id/manhaj-salaf/manfaat-dan-keutamaan-mengikuti-manhaj-metode-pemahaman-salaf.html">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-572"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fmanfaat-dan-keutamaan-mengikuti-manhaj-metode-pemahaman-salaf.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fmanfaat-dan-keutamaan-mengikuti-manhaj-metode-pemahaman-salaf.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fmanfaat-dan-keutamaan-mengikuti-manhaj-metode-pemahaman-salaf.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/manfaat-dan-keutamaan-mengikuti-manhaj-metode-pemahaman-salaf.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>45</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

