<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muslim.Or.Id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah &#187; Salaf</title>
	<atom:link href="http://muslim.or.id/tag/salaf/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muslim.or.id</link>
	<description>Pesantren online agama Islam berdasarkan Qur&#039;an dan Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Feb 2012 09:43:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Meneladani Sahabat Nabi, Jalan Kebenaran</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/meneladani-sahabat-nabi-jalan-kebenaran.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/meneladani-sahabat-nabi-jalan-kebenaran.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Sep 2010 17:00:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[ahlus sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[al atsari]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=4680</guid>
		<description><![CDATA[Di tengah maraknya pemikiran dan pemahaman dalam agama Islam, klaim kebenaran begitu larisnya bak kacang goreng. Setiap kelompok dan jama&#8217;ah tentunya menyatakan diri sebagai yang lebih benar pemahamannya terhadap Islam, menurut keyakinannya. Kebenaran hanya milik<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/meneladani-sahabat-nabi-jalan-kebenaran.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Di tengah maraknya pemikiran dan pemahaman dalam agama Islam, klaim kebenaran begitu larisnya bak kacang goreng. Setiap kelompok dan jama&#8217;ah tentunya menyatakan diri sebagai yang lebih benar pemahamannya terhadap Islam, menurut keyakinannya.</p>
<p>Kebenaran hanya milik Allah. Namun kebenaran bukanlah suatu hal yang semu dan relatif. Karena Allah <em>Ta&#8217;ala </em>telah menjelaskan kebenaran kepada manusia melalui Al Qur&#8217;an dan bimbingan Nabi-Nya <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>. Tentu kita wajib menyakini bahwa kalam ilahi yang termaktub dalam Al Qur&#8217;an adalah memiliki nilai kebenaran mutlak. Lalu siapakah orang yang paling memahami Al Qur&#8217;an? Tanpa ragu, jawabnya adalah Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>. Dengan kata lain, Al Qur&#8217;an sesuai pemahaman Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dan sabda-sabda <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>itu sendiri keduanya adalah sumber kebenaran.</p>
<p>Yang menjadi masalah sekarang, mengapa ketika semua kelompok dan jama&#8217;ah mengaku telah berpedoman pada Al Qur&#8217;an dan Hadits, mereka masih berbeda keyakinan, berpecah-belah dan masing-masing mengklaim kebenaran pada dirinya? Setidaknya ini menunjukkan Al Qur&#8217;an dan sabda Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> ternyata dapat ditafsirkan secara beragam, dipahami berbeda-beda oleh masing-masing individu. Jika demikian maka pertanyaannya adalah, siapakah sebetulnya di dunia ini yang paling memahami Al Qur&#8217;an serta sabda-sabda Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>? Jawabnya, merekalah para sahabat Nabi <em>radhi&#8217;allahu &#8216;anhum ajma&#8217;in</em>.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Pengertian Sahabat Nabi</strong></span></p>
<p>Yang dimaksud dengan istilah &#8216;sahabat Nabi&#8217; adalah:</p>
<p style="text-align: center;">من رأى رسول الله صلى الله عليه وسلم في حال إسلام الراوي، وإن لم تطل صحبته له، وإن لم يرو عنه شيئاً</p>
<p>“Orang yang melihat Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>dalam keadaan Islam, yang meriwayatkan sabda Nabi. Meskipun ia bertemu Rasulullah tidak dalam tempo yang lama, atau Rasulullah belum pernah melihat ia sama sekali” <a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Empat sahabat Nabi yang paling utama adalah Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin &#8216;Affan dan &#8216;Ali bin Abi Thalib <em>radhiallahu&#8217;ahum ajma&#8217;in</em>. Tentang jumlah orang yang tergolong sahabat Nabi, Abu Zur&#8217;ah Ar Razi menjelaskan:</p>
<p style="text-align: center;">شهد معه حجة الوداع أربعون ألفاً، وكان معه بتبوك سبعون ألفاً، وقبض عليه الصلاة والسلام عن مائة ألف وأربعة عشر ألفاً من الصحابة</p>
<p>“Empat puluh ribu orang sahabat Nabi ikut berhaji wada bersama Rasulullah. Pada masa sebelumnya 70.000 orang sahabat Nabi ikut bersama Nabi dalam perang Tabuk. Dan ketika Rasulullah wafat, ada sejumlah 114.000 orang sahabat Nabi”<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Keutamaan Sahabat</strong></span></p>
<p>Para sahabat Nabi adalah manusia-manusia mulia. Imam Ibnu Katsir menjelaskan keutamaan sahabat Nabi:</p>
<p style="text-align: center;">والصحابة كلهم عدول عند أهل السنة والجماعة، لما أثنى الله عليهم في كتابه العزيز، وبما نطقت به السنة النبوية في المدح لهم في جميع أخلاقهم وأفعالهم، وما بذلوه من الأموال والأرواح بين يدي رسول الله صلى الله عليه وسلم</p>
<p>“Menurut keyakinan Ahlussunnah Wal Jama&#8217;ah, seluruh para sahabat itu orang yang adil. Karena Allah <em>Ta&#8217;ala </em>telah memuji mereka dalam Al Qur&#8217;an. Juga dikarenakan banyaknya pujian yang diucapkan dalam hadits-hadits Nabi terhadap seluruh akhlak dan amal perbuatan mereka. Juga dikarenakan apa yang telah mereka korbankan, baik berupa harta maupun nyawa, untuk membela Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>”<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Pujian Allah terhadap para sahabat dalam Al Qur&#8217;an diantaranya:</p>
<p style="text-align: center;">وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ</p>
<p>“<em>Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar</em>” (QS. At Taubah: 100)</p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>pun memuji dan memuliakan para sahabatnya. Beliau bersabda:</p>
<p style="text-align: center;">لا تزالون بخير ما دام فيكم من رآني وصاحبني ومن رأى من رآني ومن رأى من رأى من رآني</p>
<p>“<em>Kebaikan akan tetap ada selama diantara kalian ada orang yang pernah melihatku dan para sahabatku, dan orang yang pernah melihat para sahabatku (tabi&#8217;in) dan orang yang pernah melihat orang yang melihat sahabatku (tabi&#8217;ut tabi&#8217;in)</em>”<a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Beliau <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>juga bersabda:</p>
<p style="text-align: center;">خير الناس قرني ، ثم الذين يلونهم ، ثم الذين يلونه</p>
<p>“<em>Sebaik-baik manusia adalah yang ada pada zamanku, kemudian setelah mereka, kemudian setelah mereka</em>”<a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Dan masih banyak lagi pujian dan pemuliaan dari Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>terhadap para sahabatnya yang membuat kita tidak mungkin ragu lagi bahwa merekalah umat terbaik, masyarakat terbaik, dan generasi terbaik umat Islam. Berbeda dengan kita yang belum tentu mendapat ridha Allah dan baru kita ketahui kelak di hari kiamat, para sahabat telah dinyatakan dengan tegas bahwa Allah pasti ridha terhadap mereka. Maka yang layak bagi kita adalah memuliakan mereka, meneladani mereka, dan tidak mencela mereka. Imam Abu Hanifah berkata:</p>
<p style="text-align: center;">أفضل الناس بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم : أبوبكر وعمر وعثمان وعلي , ثم نكف عن جميع أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم إلا بذكر جميل</p>
<p>“Manusia yang terbaik setelah Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> adalah Abu Bakar, lalu Umar, lalu Utsman lalu Ali. Kemudian, kita wajib menahan lisan kita dari celaan terhadap seluruh sahabat Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>, kita tidak boleh menyebut mereka kecuali dengan sebutan-sebutan yang indah”<a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Lebih lagi Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>bersabda:</p>
<p style="text-align: center;">لا تسبوا أصحابي ، فلو أن أحدكم أنفق مثل أحد ذهبا ، ما بلغ مد أحدهم ولا نصيف</p>
<p>“<em>Jangan engkau cela sahabatku, andai ada diantara kalian yang berinfaq emas sebesar gunung Uhud, tetap tidak akan bisa menyamai pahala infaq sahabatku yang hanya satu mud (satu genggam), bahkan tidak menyamai setengahnya</em>”<a href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Pemahaman Sahabat Nabi, Sumber Kebenaran</strong></span></p>
<p>Jika kita telah memahami betapa mulia kedudukan para sahabat Nabi, dan kita juga tentu paham bahwa tidak mungkin ada orang yang lebih memahami perkataan dan perilaku Nabi selain para sahabat Nabi,  maka tentu pemahaman yang paling benar terhadap agama Islam ada para mereka. Karena merekalah yang mendakwahkan Islam serta menyampaikan sabda-sabda Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>hingga akhirnya sampai kepada kita, <em>walhamdulillah</em>. Merekalah &#8216;penghubung&#8217; antara umat Islam dengan Nabinya.</p>
<p>Oleh karena ini sungguh aneh jika seseorang berkeyakinan atau beramal ibadah yang sama sekali tidak diyakini dan tidak diamalkan oleh para sahabat, lalu dari mana ia mendapatkan keyakinan itu? Apakah Allah <em>Ta&#8217;ala </em>menurunkan wahyu kepadanya? Padahal turunnya wahyu sudah terhenti dan tidak ada lagi Nabi sepeninggal Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>. Dari sini kita perlu menyadari bahwa mengambil metode beragama Islam yang selain metode beragama para sahabat, akan menjerumuskan kita kepada jalan yang menyimpang dan semakin jauh dari ridha Allah <em>Ta&#8217;ala</em>. Sedangkan jalan yang lurus adalah jalan yang ditempuh oleh para sahabat Nabi. Setiap hari kita membaca ayat:</p>
<p style="text-align: center;">اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ</p>
<p>“<em>Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.</em>” (QS. Al Fatihah: 6-7)</p>
<p>Al Imam Ibnu Katsir menjelaskan: “Yang dimaksud dengan &#8216;<em>orang-orang yang telah Engkau beri nikmat</em>&#8216; adalah yang disebutkan dalam surat An Nisa, ketika Allah berfirman:</p>
<p style="text-align: center;">وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا</p>
<p>“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”<a href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Seorang ahli tafsir dari kalangan tabi&#8217;ut tabi&#8217;in, Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, menafsirkan bahwa yang dimaksud dalam ayat ini adalah Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dan para sahabatnya<a href="#_ftn9">[9]</a>.</p>
<p>Oleh karena itulah, seorang sahabat Nabi, Abdullah Ibnu Mas&#8217;ud <em>radhiallahu&#8217;anhu </em>berkata:</p>
<p style="text-align: center;">من كانَ منكم مُتأسياً فليتأسَّ بأصحابِ رسول ِاللهِ صلى اللهُ عليهِ وسلمَ, فإنهم كانوا أبرَّ هذهِ الأمةِ قلوباً، وأعمقـُها عِلماً، وأقلـُّهَا تكلـُّفَا، وأقومُها هَديَا، وأحسنـُها حالاً، اختارَهُمُ اللهُ لِصُحبةِ نبيِّهِ صلى اللهُ عليهِ وسلمَ وإقامَةِ دينِهِ، فاعرفوا لهم فضلـَهُم، واتـَّبـِعُوهم في آثارِهِم، فإنهم كانوا على الهُدى المُستقيم</p>
<p>“Siapa saja yang mencari teladan, teladanilah para sahabat Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>. Karena merekalah orang yang paling baik hatinya diantara umat ini, paling mendalam ilmu agamanya, umat yang paling sedikit dalam berlebihan-lebihan, paling lurus bimbingannya, paling baik keadaannya. Allah telah memilih mereka untuk mendampingi Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>dan menegakkan agama-Nya. Kenalilah keutamaan mereka, dan ikutilah jalan mereka. Karena mereka semua berada pada <em>shiratal mustaqim</em> (jalan yang lurus)”<a href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p>Beliau juga berkata:</p>
<p style="text-align: center;">إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ فَاخْتَارَ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَعَثَهُ بِرِسَالَتِهِ، وَانْتَخَبَهُ بِعِلْمِهِ، ثُمَّ نَظَرَ فِي قُلُوبِ النَّاسِ فَاخْتَارَ أَصْحَابَهُ فَجَعَلَهُمْ وُزَرَاءَ نَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَنْصَارَ دِينِهِ، فَمَا رَآهُ الْمُؤْمِنُونَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ حَسَنٌ، وَمَا رَآهُ الْمُؤْمِنُونَ قَبِيحًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ قَبِيحٌ</p>
<p>“Allah Ta&#8217;ala memperhatikan hati-hati hambanya, lalu Ia memilih Muhammad <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>dan mengutusnya dengan risalah. Allah <em>Ta&#8217;ala </em>memperhatikan hati-hati manusia, lalu Ia memilih para sahabat Nabi, kemudian menjadikan mereka sebagai pendamping Nabi-Nya dan pembela agama-Nya. Maka segala sesuatu yang dipandang baik oleh kaum Mu&#8217;minin -yaitu Rasulullah dan para sahabatnya-, itulah yang baik di sisi Allah. Maka segala sesuatu yang dipandang buruk oleh kaum Mu&#8217;minin, itulah yang buruk di sisi Allah”<a href="#_ftn11">[11]</a></p>
<p>Dalam matan <em>Ushul As Sunnah</em>, Imam Ahmad bin Hambal <em>rahimahullah</em> berkata:</p>
<p style="text-align: center;">أصول السنة عندنا التمسك بما كان عليه أصحاب رسول الله صلى الله عليه و سلم والاقتداء بهم&#8230;</p>
<p>“Asas Ahlussunnah Wal Jama&#8217;ah menurut kami adalah berpegang teguh dengan pemahaman para sahabat Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dan meneladani mereka&#8230; dst.”</p>
<p>Jika demikian, layaklah bila Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>menjadikan solusi dari perpecahan ummat, solusi dari mencari hakikat kebenaran yang mulai samar, yaitu dengan mengikuti sunnah beliau dan pemahaman para sahabat beliau. Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>bersabda:</p>
<p style="text-align: center;">إن بني إسرائيل تفرقت على ثنتين وسبعين ملة ، وتفترق أمتي على ثلاث وسبعين ملة كلهم في النار إلا ملة واحدة ، قال من هي يا رسول الله ؟ قال : ما أنا عليه وأصحابي</p>
<p>“<em>Bani Israil akan berpecah menjadi 74 golongan, dan umatku akan berpecah menjadi 73 golongan. Semuanya di nereka, kecuali satu golongan</em>”</p>
<p>Para sahabat bertanya: “Siapakah yang satu golongan itu, ya Rasulullah?”</p>
<p>“<em>Orang-orang yang mengikutiku dan para sahabatku</em>”<a href="#_ftn12">[12]</a></p>
<p>Beliau juga bersabda menjelang hari-hari wafatnya:</p>
<p style="text-align: center;">أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة ، وإن كان عبدا حبشيا فإنه من يعش منكم فسيرى اختلافا كثيرا ، فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين ، فتمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ ، وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة )</p>
<p>“<em>Aku wasiatkan kalian agar bertaqwa kepada Allah. Lalu mendengar dan taat kepada pemimpin, walaupun ia dari kalangan budak Habasyah. Sungguh orang yang hidup sepeninggalku akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk mengikuti sunnnahku dan sunnah khulafa ar raasyidin yang mereka telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dan gigitlah ia dengan gigi geraham. Serta jauhilah perkara yang diada-adakan, karena ia adalah bid&#8217;ah dan setiap bid&#8217;ah itu sesat</em>” (HR. Abu Daud no.4609, Al Hakim no.304, Ibnu Hibban no.5)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Jika Sahabat Berselisih Pendapat</strong></span></p>
<p>Sebagaimana yang telah kita bahas, jika dalam suatu permasalahan terdapat penjelasan dari para sahabat, lalu seseorang memilih pendapat lain di luar pendapat sahabat, maka kekeliruan dan penyimpangan lah yang sedang ia tempuh. Namun jika dalam sebuah permasalahan, terdapat beberapa pendapat diantara para sahabat, maka kebenaran ada di salah satu dari beberapa pendapat tersebut, yaitu yang lebih mendekati kesesuaian dengan Al Qur&#8217;an dan sunnah Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>.</p>
<p>Imam Asy Syafi&#8217;i <em>rahimahullah </em>berkata:</p>
<p style="text-align: center;">: قد سمعت قولك في الإجماع والقياس بعد قولك في حكم كتاب الله وسنة رسوله أرأيت أقاويل أصحاب رسول الله إذا تفرقوا فيها ؟</p>
<p style="text-align: center;">[ فقلت : نصير منها إلى ما وافق الكتاب أو السنة أو الإجماع أو كان أصحَّ في القياس</p>
<p>“Jika ada orang yang bertanya, Wahai Imam Syafi'i, aku dengar engkau mengatakan bahwa setelah Al Qur'an dan Sunnah, ijma dan qiyas juga merupakan dalil. Lalu bagaimana dengan perkataan para sahabat Nabi jika mereka berbeda pendapat?</p>
<p>Imam Asy Syafi'i berkata: Bimbingan saya dalam menyikapi perbedaan pendapat di antara para sahabat adalah dengan mengikuti pendapat yang paling sesuai dengan Al Qu'an atau Sunnah atau Ijma' atau Qiyas yang paling shahih”<a href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p>Semoga Allah senantiasa menunjukkan kita jalan yang lurus, yaitu jalan yang ditempuh oleh Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> serta para sahabatnya</p>
<p>Penulis: Yulian Purnama</p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a><em> Al Ba&#8217;its Al Hatsits Fikhtishari &#8216;Ulumil Hadits</em>, Ibnu Katsir (1/24)</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a><em> Al Ba&#8217;its Al Hatsits </em>(1/25)</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a><em> Al Ba&#8217;its Al Hatsits</em> (1/24)</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Diriwayatkan oleh Abu Nu&#8217;aim Al Ashabani dalam <em>Fadhlus Shahabah. </em>Di-hasan-kan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani dalam <em>Fathul Baari</em> (7/7)</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> HR. Bukhari no.3651, Muslim no.2533</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a><em> Nur Al Laami&#8217;</em> (199), dinukil dari kitab <em>I&#8217;tiqad A&#8217;immatil Arba&#8217;ah</em>, Dr. Muhammad bin Abdurrahman Al Khumais, (1/7)</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> HR. Bukhari no. 3673, Muslim no. 2540</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Tafsir Ibnu Katsir (1/140)</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> Tafsir At Thabari (1/179)</p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> Tafsir Al Qurthubi (1/60)</p>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> HR. At Thabrani dalam <em>Mu&#8217;jam Al Kabir</em> no.8504. Dalam <em>Majma&#8217; Az Zawaid</em> (8/453), Al Haitsami berkata: “Semua perawinya tsiqah”</p>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> HR. Tirmidzi no. 2641. Dalam <em>Takhrij Al Ihya </em>(3/284)<em> </em>Al&#8217;Iraqi berkata: “Semua sanadnya jayyid”</p>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a><em> Ar Risalah</em> (1/597)</p>
<div class="shr-publisher-4680"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fmeneladani-sahabat-nabi-jalan-kebenaran.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fmeneladani-sahabat-nabi-jalan-kebenaran.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fmeneladani-sahabat-nabi-jalan-kebenaran.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/meneladani-sahabat-nabi-jalan-kebenaran.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jalan yang Lurus</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/jalan-yang-lurus.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/jalan-yang-lurus.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Sep 2010 02:00:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[ahlus sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[firqah]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=4604</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan jalan yang lurus dan mengangkat hamba terkasih-Nya sebagai pemandu menuju-Nya. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Muhammad sebaik-baik nabi dan utusan, dan juga bagi para sahabat serta pengikutnya<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/jalan-yang-lurus.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan jalan yang lurus dan  mengangkat hamba terkasih-Nya sebagai pemandu menuju-Nya. Salawat dan  salam semoga tercurah kepada Muhammad sebaik-baik nabi dan utusan, dan  juga bagi para sahabat serta pengikutnya yang setia hingga akhir zaman. <em>Amma  ba’du</em>.</p>
<p>Ayat-ayat al-Qur’an yang begitu indah dan menakjubkan, memberikan  kepada kita gambaran yang jelas mengenai karakter dan hakekat jalan yang  lurus. Jalan yang setiap hari kita mohon kepada Allah untuk ditunjuki  kepadanya. Jalan yang akan mengantarkan penempuhnya menuju surga dan  kebahagiaan, serta melemparkan orang yang melenceng darinya menuju  neraka dan kesengsaraan.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Memadukan antara ilmu dan amal</strong></span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Yaitu jalannya  orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan orang-orang  yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang tersesat.”</em> (<strong>QS.  al-Fatihah: 7</strong>).</p>
<p>Syaikh as-Sa’di <em>rahimahullah</em> menerangkan bahwa hakekat jalan  yang lurus itu akan diperoleh dengan cara mengenali kebenaran dan  mengamalkannya (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 39).  Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Dengan ucapan  anda ‘Ihdinash shirathal mustaqim’ itu artinya anda telah meminta kepada  Allah ta’ala ilmu yang bermanfaat dan amal yang saleh.”</em> (<em>Tafsir  Juz ‘Amma</em>, hal. 12).</p>
<p>Syaikh Abdurrazzaq al-Badr <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Maka  orang yang diberi nikmat atas mereka yaitu orang yang berilmu sekaligus  beramal. Adapun orang-orang yang dimurkai yaitu orang-orang yang berilmu  namun tidak beramal. Sedangkan orang-orang yang tersesat ialah  orang-orang yang beramal tanpa landasan ilmu.”</em> (<em>Tsamrat  al-’Ilmi al-’Amalu</em>, hal. 14). Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> menjelaskan bahwa penyebab orang terjerumus dalam kesesatan ialah  rusaknya ilmu dan keyakinan. Sedangkan penyebab orang terjerumus dalam  kemurkaan ialah rusaknya niat dan amalan (lihat <em>al-Fawa’id</em>,  hal. 21)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Memadukan antara tauhid dan ketaatan </strong></span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman memberitakan ucapan Nabi ‘Isa <em>‘alaihis  salam</em> (yang artinya), <em>“Maka bertakwalah kalian kepada Allah  dan taatilah aku. Sesungguhnya Allah adalah Rabbku dan Rabb kalian, maka  sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus.” </em>(<strong>QS. Ali Imran:  50-51, </strong>lihat juga<strong> QS. Az-Zukhruf: 63-64</strong>).</p>
<p>Syaikh as-Sa’di <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Inilah, yaitu  penyembahan kepada Allah, ketakwaan kepada-Nya, serta ketaatan kepada  rasul-Nya merupakan ‘jalan lurus’ yang mengantarkan kepada Allah dan  menuju surga-Nya, adapun yang selain jalan itu maka itu adalah  jalan-jalan yang menjerumuskan ke neraka.”</em> (<em>Taisir al-Karim  ar-Rahman</em>, hal. 132). Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“…Sesungguhnya  kebenaran itu hanya satu, yaitu jalan Allah yang lurus, tiada jalan  yang mengantarkan kepada-Nya selain jalan itu. Yaitu beribadah kepada  Allah tanpa mempersekutukan-Nya dengan apapun, dengan cara menjalankan  syari’at yang ditetapkan-Nya melalui lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi  wa sallam, bukan dengan [landasan] hawa nafsu maupun bid’ah-bid’ah…”</em> (<em>at-Tafsir al-Qayyim</em>, hal. 116-117)</p>
<p>Dalam surat Maryam, Allah <em>ta’ala</em> juga memberitakan ucapan  Isa <em>‘alaihis salam</em> tersebut (yang artinya), <em>“Dan  sesungguhnya Allah adalah Rabbku dan Rabb kalian, maka sembahlah Dia.  Inilah jalan yang lurus.”</em> (<strong>QS. Maryam: 36</strong>).</p>
<p>Syaikh as-Sa’di <em>rahimahullah</em> menerangkan, bahwa makna <em>‘sembahlah  Dia’</em> adalah: ikhlaskan ibadah kepada-Nya, bersungguh-sungguhlah  dalam <em>inabah</em> (taubat dan semakin taat) kepada-Nya. Di dalam  ungkapan <em>‘Sesungguhnya Allah adalah Rabbku dan Rabb kalian maka  sembahlah Dia’</em> terkandung penetapan <em>tauhid rububiyah</em> dan <em>tauhid  uluhiyah</em>, serta berargumentasi dengan tauhid yang pertama  (rububiyah) untuk mewajibkan tauhid yang kedua (uluhiyah) (lihat <em>Taisir  al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 493)</p>
<p>Bahkan, Allah sendiri telah menegaskan bahwa tauhid dan ketaatan  kepada-Nya inilah jalan yang lurus itu, bukan penyembahan dan ketaatan  kepada syaitan. Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Bukankah  Aku telah berpesan kepada kalian, wahai keturunan Adam; Janganlah  kalian menyembah syaitan. Sesungguhnya dia adalah musuh yang nyata bagi  kalian. Dan sembahlah Aku. Inilah jalan yang lurus.”</em> (<strong>QS.  Yasin: 60-61</strong>). Syaikh as-Sa’di <em>rahimahullah</em> menerangkan, bahwa yang dimaksud ‘mentaati syaitan’ itu mencakup segala  bentuk kekafiran dan kemaksiatan. Adapun jalan yang lurus itu adalah  beribadah kepada Allah, taat kepada-Nya, dan mendurhakai syaitan (lihat <em>Taisir  al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 698)</p>
<p>Perlu diingat, bahwa ketaatan kepada Rasul pada hakekatnya merupakan  ketaatan kepada Allah, tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya.  Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang  taat kepada rasul itu, sesungguhnya dia telah taat kepada Allah.”</em> (<strong>QS.  an-Nisaa’: 80</strong>). Ayat ini menunjukkan bahwa semua orang yang  taat kepada Rasulullah dalam hal perintah dan larangannya sesungguhnya  telah taat kepada Allah <em>ta’ala</em>. Karena rasul tidaklah  memerintah dan melarang kecuali dengan perintah dari Allah, dengan  syari’at dan wahyu dari-Nya. Sehingga hal ini menunjukkan <em>‘ishmah</em>/keterpeliharaan  diri Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Karena Allah  memerintahkan taat kepada beliau secara mutlak (lihat <em>Taisir  al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 189)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kata Kunci</strong></span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa ada empat kata kunci  agar seorang hamba bisa berjalan di atas jalan yang lurus, yaitu:</p>
<ol>
<li><strong>Ilmu</strong>,      karena dengan ilmu ini maka dia akan  bisa membedakan mana yang benar dan      mana yang salah, mana tauhid  mana syirik, mana sunnah mana bid’ah, mana      taat mana maksiat, dst.</li>
<li><strong>Amal</strong>,      karena dengan mengamalkan ilmunya dia  akan terbebas dari kemurkaan Allah,      bahkan dia akan mendapatkan  tambahan petunjuk karenanya. Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang  artinya), <em>“Orang-orang yang mengikuti petunjuk itu,      maka Allah  akan menambahkan kepada mereka petunjuk dan Allah berikan      kepada  mereka ketakwaan mereka.”</em> (<strong>QS. Muhammad: 17</strong>). Di  dalam      ayat yang mulia ini Allah menjanjikan dua balasan bagi orang  yang      mengikuti petunjuk (baca: mengamalkan ilmunya), yaitu: ilmu  yang      bermanfaat dan amal yang saleh (lihat <em>Taisir al-Karim  ar-Rahman</em>,      hal. 787)</li>
<li><strong>Tauhid</strong>,      karena dengan memahami dan  melaksanakan tauhid maka seorang hamba telah mewujudkan      tujuan  hidupnya dan berada di atas jalan yang akan mengantarkannya ke       surga, jika dia istiqomah di atasnya hingga ajal tiba.</li>
<li><strong>Taat</strong>,      karena dengan menjalankan perintah dan  menjauhi larangan berarti dia telah      menunjukkan penghambaannya  kepada Allah dan kepatuhannya kepada      Rasulullah, sehingga dia akan  mendapatkan keberuntungan -di dunia maupun      di akherat- sebagaimana  yang dijanjikan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya      yang taat  kepada-Nya. <em>Allahu a’lam</em>.</li>
</ol>
<p>Penulis:<a href="http://abumushlih.com"> Abu Mushlih Ari Wahyudi</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-4604"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fjalan-yang-lurus.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fjalan-yang-lurus.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fjalan-yang-lurus.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/jalan-yang-lurus.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kajian Umum Jogja (14-22 Agustus 2010): RAMADHAN BERSAMA PARA SALAF</title>
		<link>http://muslim.or.id/info-dauroh-dan-kajian/kajian-umum-jogja-14-22-agustus-2010-ramadhan-bersama-para-salaf.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/info-dauroh-dan-kajian/kajian-umum-jogja-14-22-agustus-2010-ramadhan-bersama-para-salaf.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Aug 2010 22:50:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muslim.Or.Id</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Dauroh dan Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=4387</guid>
		<description><![CDATA[Hadirilah Rangkaian Kajian Tematik Ramadhan &#8220;RAMADHAN BERSAMA PARA SALAF&#8221; Setiap Sabtu dan Ahad 14 &#8211; 22 Agustus 2010 Pukul 08.30 &#8211; 11.00 WIB Di Masjid Al-Ashri, Pogungrejo (utara Fak. Teknik UGM) Kajian 1: Sabtu, 14<a class="more" href="http://muslim.or.id/info-dauroh-dan-kajian/kajian-umum-jogja-14-22-agustus-2010-ramadhan-bersama-para-salaf.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Hadirilah Rangkaian Kajian Tematik Ramadhan</p>
<p><strong>&#8220;RAMADHAN BERSAMA PARA SALAF&#8221;</strong></p>
<p><strong>Setiap Sabtu dan Ahad<br />
14 &#8211; 22 Agustus 2010<br />
Pukul 08.30 &#8211; 11.00 WIB<br />
Di Masjid Al-Ashri, Pogungrejo (utara Fak. Teknik UGM)</strong></p>
<p><strong>Kajian 1:<br />
Sabtu, 14 Agustus 2010</strong><br />
Tema: &#8220;Ramadhan Bersama Salafus Shalih&#8221;<br />
Pemateri: Ustadz Abdussalam Busyro</p>
<p><strong>Kajian 2:<br />
Ahad, 15 Agustus 2010</strong><br />
Tema: &#8220;Qiyamul Lail Bersama Salafus Shalih&#8221;<br />
Pemateri: Ustadz Afifi Abdul Wadud</p>
<p><strong>Kajian 3:<br />
Sabtu, 21 Agustus 2010</strong><br />
Tema: &#8220;Berinteraksi dengan Al-Qur&#8217;an Bersama Salafus Shalih&#8221;<br />
Pemateri: Ustadz Abu Ali Noor Akhmad Setiawan</p>
<p><strong>Kajian 4:<br />
Ahad, 22 Agustus 2010</strong><br />
Tema: &#8220;Berburu Lailatul Qadr&#8221;<br />
Pemateri: Ustadz Arifin Ridin, Lc.</p>
<p>Informasi:<br />
<strong>0813.2426.1341 (Faisal)</strong></p>
<p>Penyelenggara:<br />
<strong>Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Yogyakarta</strong></p>
<p>Selengkapnya:<br />
<a rel="nofollow" href="http://infokajian.com/kajian-umum/kajian-umum-ramadhan-bersama-para-salaf-yogyakarta-14-22-agustus-2010/" target="_blank">http://infokajian.com/kajian-umum/kajian-umum-ramadhan-bersama-para-salaf-yogyakarta-14-22-agustus-2010/</a></p>
<div class="shr-publisher-4387"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Finfo-dauroh-dan-kajian%2Fkajian-umum-jogja-14-22-agustus-2010-ramadhan-bersama-para-salaf.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Finfo-dauroh-dan-kajian%2Fkajian-umum-jogja-14-22-agustus-2010-ramadhan-bersama-para-salaf.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Finfo-dauroh-dan-kajian%2Fkajian-umum-jogja-14-22-agustus-2010-ramadhan-bersama-para-salaf.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/info-dauroh-dan-kajian/kajian-umum-jogja-14-22-agustus-2010-ramadhan-bersama-para-salaf.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Soal-70: Ulama Salaf Membolehkan Perayaan Maulid?</title>
		<link>http://muslim.or.id/soal-jawab/soal-70-ulama-salaf-membolehkan-perayaan-maulid.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/soal-jawab/soal-70-ulama-salaf-membolehkan-perayaan-maulid.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 May 2010 08:00:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muslim.Or.Id</dc:creator>
				<category><![CDATA[Soal Jawab]]></category>
		<category><![CDATA[maulid]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=3356</guid>
		<description><![CDATA[Ulama salaf, sebagian ada yang membolehkan perayaan maulid nabi, namun maulid nabi yang dibolehkan mereka berbeda dengan dilakukan orang sekarang , mohon dijelaskan seperti apa maulid yang diperbolehkan Dijawab Oleh Ust Aris Munandar. SS Jawabannya Klik<a class="more" href="http://muslim.or.id/soal-jawab/soal-70-ulama-salaf-membolehkan-perayaan-maulid.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Ulama salaf, sebagian ada yang membolehkan perayaan maulid nabi, namun maulid nabi yang dibolehkan mereka berbeda dengan dilakukan orang sekarang , mohon dijelaskan seperti apa maulid yang diperbolehkan<br />
Dijawab Oleh <a href="http://ustadzaris.com">Ust Aris Munandar. SS</a></p>
<p>Jawabannya Klik Player:</p>
<p><a href="http://www.archive.org/download/soal70-78/soal-70.mp3">Download</a></p>
<div class="shr-publisher-3356"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fsoal-jawab%2Fsoal-70-ulama-salaf-membolehkan-perayaan-maulid.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fsoal-jawab%2Fsoal-70-ulama-salaf-membolehkan-perayaan-maulid.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fsoal-jawab%2Fsoal-70-ulama-salaf-membolehkan-perayaan-maulid.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/soal-jawab/soal-70-ulama-salaf-membolehkan-perayaan-maulid.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
<enclosure url="http://www.archive.org/download/soal70-78/soal-70.mp3" length="600398" type="audio/mpeg" />
		</item>
		<item>
		<title>Salah Paham dengan Istilah Salafi</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/salah-paham-dengan-istilah-salafi.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/salah-paham-dengan-istilah-salafi.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Apr 2010 03:00:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[ahlus sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Wahabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=2966</guid>
		<description><![CDATA[Syaikh Dr. Muhammad bin Khalifah at-Tamimi hafizhahullah -beliau adalah guru besar Aqidah di Universitas Islam Madinah- menerangkan di dalam kitabnya ‘Mu’taqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah fi Tauhid Asma’ wa Shifat’ [halaman 53-54] bahwa para ulama<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/salah-paham-dengan-istilah-salafi.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Syaikh Dr. Muhammad bin Khalifah at-Tamimi hafizhahullah -beliau adalah guru besar Aqidah di Universitas Islam Madinah- menerangkan di dalam kitabnya ‘Mu’taqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah fi Tauhid Asma’ wa Shifat’ [halaman 53-54] bahwa para ulama memiliki pandangan yang beragam tentang makna istilah salafush shalih. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan salafush shalih adalah para sahabat radhiyallahu’anhum saja. Sebagian berpendapat bahwa yang dimaksud salafush shalih adalah sahabat dan tabi’in. Dan ada pula yang mengatakan bahwa salafush shalih meliupti sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in.</p>
<p>Beliau juga menyatakan [halaman 54] bahwa pendapat yang benar lagi populer ialah pendapat jumhur ulama Ahlis Sunnah wal Jama’ah yaitu yang menyatakan bahwa salafush shalih itu mencakup tiga generasi yang diutamakan dan telah dipersaksikan kebaikannya oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya, “<em>Sebaik-baik manusia adalah di jamanku, kemudian sesudah mereka, kemudian sesudahnya lagi.</em>” (HR. Bukhari dan Muslim). Sehingga istilah salafush shalih itu mencakup sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in.</p>
<p>Syaikh at-Tamimi mengatakan, “<em>Dan setiap orang yang meniti jalan mereka dan berjalan di atas metode/manhaj mereka maka dia disebut salafi, sebagai penisbatan kepada mereka</em>.” (Mu’taqad, hal. 54).</p>
<p>Beliau juga memaparkan [halaman 54] bahwa salafiyah adalah manhaj yang ditempuh oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta generasi yang diutamakan sesudah beliau. Nabi telah memberitakan bahwa manhaj salaf ini akan tetap ada hingga datangnya hari kiamat. Sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Akan senantiasa ada segolongan manusia di antara umatku yang selalu menang di atas kebenaran. Tidak akan membahayakan mereka orang-orang yang menelantarkan mereka sampai datang ketetapan Allah sementara mereka tetap dalam keadaan menang.” (HR. Muslim)</p>
<p>Kemudian, Syaikh at-Tamimi juga menegaskan [halaman 55] bahwa perkara yang dibenarkan apabila seorang menyandarkan diri kepada manhaj salaf ini selama dia konsisten menetapi syarat-syarat dan kaidah-kaidahnya. Maka siapa pun yang menjaga keselamatan aqidah dan amalnya sehingga sesuai dengan pemahaman tiga generasi yang utama tersebut, maka dia adalah orang yang bermanhaj salaf.</p>
<p>Di tempat yang lain [halaman 63] beliau mengatakan, “Terkadang para ulama menggunakan istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah sebagai pengganti istilah salaf.”</p>
<p>Dari pemaparan ringkas di atas maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa istilah<strong> salaf atau salafi sebenarnya adalah istilah yang sudah sangat terkenal dalam pembicaraan para ulama</strong>. Mereka itu tidak lain adalah para sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Maka sungguh sebuah penipuan yang amat jelas apabila ada orang yang mengatakan bahwa istilah salafi adalah istilah yang diada-adakan, tidak ada sumbernya dalam al-Kitab maupun as-Sunnah, apalagi sampai mengatakan bahwa istilah itu tidak perlu dihiraukan.</p>
<p>Dengarkanlah ucapan seorang tokoh pergerakan yang patut untuk kita cermati, “<em>Salafiyah bukanlah istilah teknik untuk suatu jamaah, melainkan bentuk pemahaman terhadap Islam dalam menghadapi berbagai faham lain dari berbagai kelompok yang menyimpang. Pemahaman ini ada sejak awal sejarah Islam. Pada dasarnya seluruh du’at harus menjalani manhaj salaf ridhwanullahi ‘alaihim, bergerak dengannya baik secara pemahaman, amalan, maupun aqidah. Salafiyah bukan sebuah jama’ah dari jama’ah-jama’ah, dan bukan merupakan satu hizb dari berbagai hizb yang ada.</em>” (Ikhwanul Muslimin, Deskripsi, Jawaban, Tuduhan, dan Harapan, penerjemah Hawari Aulia, di bawah judul ‘Tuduhan dan Jawabannya’). Alangkah benar apa yang diucapkannya, maka marilah kita ikuti para ulama salaf, tidak hanya dalam hal aqidah namun juga dalam hal dakwah dan siyasah, sadarlah wahai saudaraku…</p>
<p>Termasuk kekeliruan pula apabila ada orang yang mengatakan bahwa salaf sekarang sudah tidak ada karena mereka sudah meninggal dengan maksud menjauhkan umat dari manhaj salaf. Memang, salafush shalih -dalam artian tiga generasi terbaik- sudah berlalu, namun sebagaimana sudah dijelaskan di muka oleh Syaikh at-Tamimi bahwa manhaj mereka masih tetap hidup.</p>
<p>Aduhai, alangkah banyak gaya-gaya hizbiyah yang ditampilkan oleh manusia pada masa sekarang ini demi menjauhkan umat dari para ulama dan pemahaman mereka! Maka berhati-hatilah wahai saudaraku dari tipu daya mereka… Janganlah tertipu oleh silat lidah mereka yang lincah, tutur kata yang manis namun di dalamnya ternyata berbisa… Ikutilah para ulama Sunnah dan para penimba ilmu yang mengikuti jalan mereka! Semoga Allah menjadikan kita salafi yang sejati. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdu lillahi Rabbil ‘alamin.</p>
<p>Penulis: <a href="http://abumushlih.com">Abu Mushlih Ari Wahyudi</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-2966"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fsalah-paham-dengan-istilah-salafi.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fsalah-paham-dengan-istilah-salafi.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fsalah-paham-dengan-istilah-salafi.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/salah-paham-dengan-istilah-salafi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>30</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kasih Sayang Manhaj Salaf (3)</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/kasih-sayang-manhaj-salaf-3.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/kasih-sayang-manhaj-salaf-3.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Apr 2010 23:00:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=2896</guid>
		<description><![CDATA[Kelima, Kasih Sayang dalam Amar Ma’ruf Nahi Mungkar. Allah Ta&#8217;ala berfirman, كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/kasih-sayang-manhaj-salaf-3.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kelima, Kasih Sayang dalam Amar Ma’ruf Nahi Mungkar.</strong></span></p>
<p>Allah <em>Ta&#8217;ala </em>berfirman,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ</p>
<p><em>“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” </em>(QS. Ali Imron : 110)</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Amar ma’ruf (mengajak kepada yang ma’ruf) dan nahi mungkar (mencegah dari kemungkaran) merupakan sebab Allah menurunkan kitab-kitabNya dan mengutus para rasul-Nya. Dan dia (amar ma’ruf nahi mungkar) merupakan bagian dari agama.” (<em>Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar </em>hal. 9. Sebagaimana dalam <em>Haqiqotul Amri bil Ma’ruf wan Nahyi ‘anil Mungkar, </em>Syaikh Dr.  Hamd Al ‘Ammar hal. 34-35)</p>
<p>Amar ma’ruf nahi mungkar termasuk asas terpenting dalam Islam karena hakekat Islam adalah melaksanakan kema’rufan (kebaikan) dan meninggalkan kemungkaran, dan itu semua tidak akan tegak bila tidak ada yang memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang dari kemungkaran.</p>
<p>Bila tidak ada amar ma’ruf, manusia akan meninggalkan kewajiban agama yang dibebankan kepada mereka. Bila tidak ada nahi mungkar, mereka akan bebas berbuat kemungkaran, baik kesyirikan , kebid’ahan, maupun kemaksiatan, sebab tidak ada yang melarang mereka.</p>
<p>Maka kami wasiatkan kepada setiap orang yang masih memiliki semangat menjalankan agamanya, hendaknya mereka memperhatikan asas ini serta menerapkannya, tentu diharuskan berbekal ilmu syar’i terlebih dahulu. Hendaknya kita tidak hanya beramar ma’ruf saja, namun kemudian meninggalkan nahi mungkar dengan alasan yang dibuat-buat, semisal takut akan membuat umat lari, perpecahan, pertikaian, dan sebagainya.</p>
<p>Hendaknya pula berbekal dengan ilmu syar’i sebelum melakukannya. Janganlah seperti orang yang tidak tahu jalan tetapi memberanikan diri menunjukkan jalan kepada orang lain, sehingga menyesatkannya. Tidak mungkin orang yang tidak tahu dapat memberi tahu orang lain.</p>
<p>Inilah kasih sayang manhaj salaf, mereka menunjukkan umat kepada kebaikan, mencegah dari kemungkaran, dan itu semua dilandasi dengan ilmu. Mereka tidak rela melihat saudara mereka terjerumus ke dalam kebinasaan,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">ما من رجلٍ يكون في قومٍ يعمل فيهم بالمعاصي يقدرون على أن يغيروا عليه فلا يغيروا إلا أصابهم اللّه بعذابٍ من قبل أن يموتوا</p>
<p><em>“Tidaklah seseorang berada di tengah kaum yang melakukan kemaksiatan, di mana mereka mampu untuk merubah kemaksiatan tersebut, namun tidak mau merubahnya, kecuali pasti Allah akan menimpakan adzab kepada mereka sebelum mereka mati.”</em> (HR. Abu Daud, kitab <em>Al Malahim</em>. Dishohihkan oleh Syaikh Al Albani dalam <em>Shohih Sunan Abu Daud</em> 3/819 no. 4339)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Keenam, Kasih Sayang Mereka Terhadap Ahlu Bid’ah.</strong></span></p>
<p>Sebagian kalangan menganggap bahwa bantahan dan nasehat salafiyyun kepada para pelaku kebid’ahan dan kesesatan merupakan bentuk kekerasan, kebiadaban, serta merasa paling benar sendiri.</p>
<p>Padahal demi Allah tidaklah demikian. Bantahan mereka terhadap ahlul bid’ah merupakan wujud kasih sayang, dengan beberapa alasan :</p>
<ol>
<li>Agar mereka      mau bertaubat, sehingga tidak mati dalam keadaan membawa dosa bid’ah yang      membinasakan.</li>
<li>Agar      manusia mengetahui kebid’ahan mereka dan menjauhinya, sehingga jumlah      orang yang mengikuti mereka di dalam kesesatan dapat terminimalisir.      Karena bila tidak, maka akan bertambah banyak dosa mereka. Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>bersabda,</li>
</ol>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">من دعا إلى ضلالة، كان عليه من الإثم مثل آثام من تبعه، لا ينقص ذلك من آثامهم شيئا</p>
<p><em>“Barangsiapa yang menyeru kepada kesesatan, maka ia memikul dosa semisal dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.”</em> (HR. Muslim 2674, Abu Daud 4609, At Tirmidzi 2676, Ibnu Majah 206)</p>
<p>Bahkan di dalam bantahan ahlus sunnah terhadap ahlul bid’ah sebenarnya terdapat kasih sayang terhadap seluruh kaum muslimin, agar mereka tidak mengikuti ahlul bid’ah dalam kesesatan. (<em>Kasyfusy Syubuhat Al ‘Ashriyah </em>hal. 102-103, dengan perubahan)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Ketujuh, Kasih Sayang Mereka Terhadap Waliyyul Amr.</strong></span></p>
<p>Wujud kasih sayang salafiyyun kepada <em>waliyyul amr</em> (penguasa atau pemerintah) adalah ketaatan mereka terhadap penguasa, baik ia seorang yang adil maupun lalim, serta mendo’akan kebaikan bagi mereka.</p>
<p>Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ</p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.”</em> (QS. An Nisaa’ : 59)</p>
<p>Imam Ahmad berkata, “(Diantara pokok-pokok sunnah ialah) mendengar dan taat kepada para pemimpin dan amirul mukminin baik ia seorang yang baik maupun lalim.” (<em>Ushulus Sunnah </em>hal. 64)</p>
<p>Berkata Imam Abu Utsman Ash Shobuni, “Ahlussunnah menganjurkan untuk mendoakan penguasa agar mereka mampu melakukan perbaikan, mendapatkan taufiq dari Allah, kesholihan, serta menebarkan keadilan kepada rakyat.” (<em>Aqidah As Salaf Ash-habul Hadits</em> hal. 106)</p>
<p>Mereka tidak mencabut ketaatan terhadap penguasa <span style="text-decoration: underline;">meskipun ia seorang yang lalim</span>, <span style="text-decoration: underline;">karena seratus tahun dipimpin oleh penguasa yang lalim lebih baik daripada satu hari tanpa penguasa</span>. Bila tidak ada penguasa, manusia akan berbuat seenaknya, saling menjatuhkan satu sama lain, saling memakan harta satu sama lain secara zholim, saling membunuh, saling berebut kekuasaan. Maka kerusakan yang diakibatkan sehari tanpa pemimpin, itu lebih parah daripada kerusakan yang diakibatkan seratus tahun dipimpin oleh seorang yang lalim.</p>
<p>Mereka tidak mencabut ketaatan selama pemimpin masih menegakkan sholat. Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">)يكون أمراء تشمئز منهم القلوب وتقشعر منهم الجلود (فقال رجل : أفلا نقاتلهُمْ؟ قال) : لا ما أَقَاموا الصَّلاةَ(</p>
<p><em>“Akan ada para pemimpin yang membuat hati takut, membuat bulu kulit merinding<a href="#_ftn1"><strong>[1]</strong></a>.” </em>Seseorang bertanya,”Apakah kami boleh memerangi mereka?” Beliau menjawab : <em>“Tidak boleh, selama mereka masih menegakkan sholat.” </em>(HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam <em>As Sunnah </em>1077. Dishohihkan oleh Syaikh Al Albani tatkala mengomentari hadits tersebut)</p>
<p>Mereka tidak mencabut ketaatan kecuali bila melihat kekufuran yang jelas dari pemimpin, serta memiliki kemampuan untuk mencabut kekuasaan. Ubadah bin Shomit mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">دعانا رسول الله صلى الله عليه وسلم فبايعناه. فكان فيما أخذ علينا، أن بايعنا على السمع والطاعة، في منشطنا ومكرهنا، وعسرنا ويسرنا، وأثرة علينا. وأن لا ننازع الأمر أهله. قال (إلا أن تروا كفرا بواحا عندكم من الله فيه برهان)</p>
<p>“Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>menyeru kami, kemudian kami membaiat (mengucapkan janji setia) kepada beliau. Di antara isi baiat yang Beliau perintahkan kepada kami ialah : ‘Kami berbaiat untuk mendengar dan taat (kepada pemimpin), baik di saat susah maupun senang, di saat sempit maupun lapang, meskipun pemimpin menahan hak kami<a href="#_ftn2">[2]</a>. Dan kami tidak boleh menggugat kekuasaan (berontak), Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>bersabda,<em>” kecuali bila kalian melihat kekufuran yang jelas, dimana kalian memiliki bukti yang nyata di sisi Allah”.</em>” (HR. Bukhori <em>Kitabul Fitan</em>/6 no. 6647, Muslim <em>Kitabul Imaroh</em>/42 no. 1709)</p>
<p>Bila melihat kekufuran yang jelas pada diri penguasa, namun tidak memiliki kemampuan untuk mencabut kekuasaan, maka tidak boleh memberontak, terlebih lagi bila dengan pemberontakan itu malah mengakibatkan kerusakan yang lebih besar. Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin berkata, “Akan tetapi dengan syarat kita harus memiliki kemampuan. Bila kita tidak memiliki kemampuan, maka tidak boleh memberontak.” (<em>Syarh Riyadhush Sholihin </em>4/515)</p>
<p>Ahlus sunnah juga memandang diharamkannya mengumbar kesalahan pemimpin di depan umum, baik di atas mimbar, podium, media massa, terlebih lagi dengan demonstrasi, karena hal itu akan menyebabkan tidak dihargai dan ditaatinya pemimpin. Bila pemimpin sudah tidak dihargai dan ditaati, maka kerusakan yang terjadi tidak dapat dibayangkan. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">من أهان سلطان الله في الدُّنْيَا أهانه الله يَوْم الْقِيَامَةِ</p>
<p><em>“Barangsiapa menghinakan pemimpin yang Allah pilih di dunia, maka Allah akan membuat dia terhina pada hari kiamat.” </em>(HR. At Tirmidzi <em>Al Fitan</em> no. 2325, Ahmad 5/42,49. Dishohihkan oleh Syaikh Al Albani dalam <em>Silsilah Ash Shohihah </em>no. 2297)</p>
<p>Bila pemimpin <span style="text-decoration: underline;">memerintahkan kemaksiatan</span>, maka tidak boleh ditaati dalam hal ini, karena tidak diperbolehkan ketaatan dalam hal maksiat. Namun tetap tidak boleh menggugat kekuasaan kecuali bila melihat kekufuran yang jelas, sebagaimana diterangkan pada hadits di muka. Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">فإذا أمر بمعصية فلا سمع ولا طاعة</p>
<p><em>“Bila (seorang muslim) diperintahkan untuk melakukan kemaksiatan, maka tidak boleh mendengar dan taat.”</em> (HR. Bukhori <em>Kitabul Ahkam</em> 6725, Muslim <em>Kitabul Imaroh </em>1839)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kedelapan, Tidak Serampangan dalam Menuduh Orang Lain dengan Kekafiran.</strong></span></p>
<p>Diantara kasih sayang manhaj salaf ialah kehati-hatian mereka dalam menuduh orang lain dengan tuduhan “kafir”. Mereka tidak tergesa-gesa menvonis orang yang berbuat kekufuran dengan vonis “kamu telah kafir” sebelum terpenuhi syarat-syarat serta hilangnya penghalang-penghalang vonis tersebut. Mereka takut kepada ancaman Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam,</em></p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">لا يرمي رجل رجلاً بالفسوق، ولا يرميه بالكفر، إلا ارتدت عليه، إن لم يكن صاحبه كذلك</p>
<p><em>“Tidaklah seseorang menuduh saudaranya dengan tuduhan ‘fasik’ atau ‘kafir’, kecuali tuduhan itu akan kembali kepadanya bila saudaranya tidak seperti yang ia tuduhkan.”</em> (HR. Bukhori <em>Kitabul Adab </em>bab 44 no. 5698, Ahmad 5/181)</p>
<p>Para ulama’ salaf sangat berhati-hati dalam masalah ini. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata tatkala membantah tuduhan dusta bahwa beliau mudah mengkafirkan, serta tuduhan bahwa beliau mengkafirkan orang yang tidak mau bergabung dan berperang bersama beliau, dengan perkataanya, “<em>Bila kami tidak mengkafirkan para penyembah berhala yang ada di kuburan Abdul Qodir, Ahmad Badawi, dan yang semisalnya, dikarenakan kebodohan mereka dan tidak adanya orang yang menegur mereka; maka bagaimana mungkin kami mengkafirkan orang yang tidak berbuat syirik kepada Allah hanya karena ia tidak mau ikut-ikut mengkafirkan dan berperang (bersama kami)??! Maha Suci Engkau ya Allah, ini adalah kedustaan yang keji</em>.” (<em>Ad Duror As Saniyah </em>1/104)</p>
<p>Ahlus sunnah meyakini bahwa hanya para ulama’-lah yang berhak dalam urusan mengkafirkan seorang muslim yang melakukan kufur akbar (besar). Hal ini ditinjau dari beberapa sisi :</p>
<p><em>Pertama, </em>dalam masalah kufur dan iman, pembahasannya adalah mengenai ada dan tidaknya <em>ashlul iman</em> (pokok penentu ada tidaknya iman itu sendiri), dan masalah keimanan ini adalah masalah <em>ushul</em>. <em> </em>Sedangkan dalam masalah halal dan haram, pembahasannya adalah mengenai cabang-cabang dan bagian-bagian iman, serta ibadah-ibadah yang dihukumi sah tidaknya dengan acuan ada tidaknya <em>ashlul iman</em>, dan ini merupakan masalah <em>furu’ </em>(cabang).  Apabila dalam masalah <em>furu’</em> yang berhak terjun (ijtihad) di dalamnya hanyalah para ulama’, maka bagaimana lagi dalam masalah <em>ushul</em>? Tentu hanya mereka yang berhak.</p>
<p><em> Kedua, </em>Pengkafiran seorang muslim menghantarkan kepada <span style="text-decoration: underline;">perkara-perkara besar dalam masalah hukum</span>, seperti keyakinan bahwa orang yang divonis kafir tersebut telah murtad (keluar dari islam), wajibnya dia untuk dibunuh, jatuhnya hak kewaliannya, haramnya untuk menikah dengannya dan memakan sembelihannya, larangan untuk waris-mewarisi, larangan mensholati jenazahnya, larangan mendo’akan rahmat dan ampunan untuknya, serta anggapan bahwa bila ia mati –dalam keadaan belum bertaubat- maka Allah tidak akan mengampuninya dan ia kekal  selamanya di neraka, tidak bermanfaat baginya do’a dan syafa’at. Maka kesalahan dalam masalah pengkafiran akibatnya lebih berbahaya daripada kesalahan dalam masalah <em>furu’ </em>lainnya, serta akan mengakibatkan mafsadah-mafsadah yang sangat banyak. Karena itulah, lebih berhak untuk kita katakan bahwa masalah pengkafiran hanyalah para ulama’ yang berhak terjun di dalamnya.</p>
<p><em> Ketiga, </em>Masalah pengkafiran termasuk masalah besar yang rumit bagi kebanyakan manusia, bahkan bagi sebagian ulama’. Ini disebabkan karena sebagian mereka salah dengan tidak membedakan antara pengkafiran secara mutlak dan secara <em>ta’yin</em> (kepada orang tertentu). Serta sebab-sebab lain yang sangat rumit dalam masalah ini (<em>At Takfir wa Dhowabithuhu </em>hal. 300-301 –dengan sedikit perubahan)</p>
<p><em> Keempat</em>, Dalam masalah pengkafiran, harus diketahui terlebih dahulu apakah perbuatan yang dilakukan oleh seorang muslim tersebut termasuk kufur akbar (besar) yang dapat mengeluarkannya dari Islam ataukah tidak. Dan masalah ini tidak diketahui pula oleh kebanyakan manusia.</p>
<p><em> Kelima,</em> Harus diketahui syarat-syarat yang harus dipenuhi serta hilangnya penghalang-penghalang dalam masalah pengkafiran. Sedangkan pada setiap orang, bisa jadi penghalangnya berbeda-beda, dan ini merupakan masalah yang sangat rumit dimana hanya para ulma’-lah yang berhak berijtihad di dalamnya. (<em>Tahdzib Tas-hil al Aqidah al Islamiyah </em>hal. 103 –dengan sedikit perubahan)</p>
<p>Kesimpulannya, masalah mengkafirkan seorang muslim pelaku kufur akbar adalah masalah besar yang tidak boleh terjun di dalamnya kecuai para ulama’ yang telah kokoh ilmunya.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kesembilan, Kasih Sayang Mereka Terhadap Para Sahabat.</strong></span></p>
<p><strong> </strong>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Dan di antara pokok ahlus sunnah wal jama’ah ialah selamatnya hati dan lisan mereka dari (menjelekkan) para sahabat Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>, sebagaimana Allah mensifati mereka (ahlus sunnah) dalam firmannya,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ</p>
<p><em>“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa: ‘Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang’.&#8221; </em>(QS. Al Hasyr : 10)</p>
<p>Dan mereka mentaati sabda Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam,</em></p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">لا تسبوا أصحابي. لا تسبوا أصحابي. فوالذي نفسي بيده! لو أن أحدكم أنفق مثل أحد ذهبا، ما أدرك مد أحدهم، ولا نصيفه</p>
<p><em>“Janganlah kalian mencela sahabatku, janganlah kalian mencela sahabatku. Demi Dzat Yang jiwaku ada ditangan-Nya! Seandainya salah seorang dari kalian berinfaq sebesar Gunung Uhud berupa emas, maka tidak akan dapat menyamai infaq satu atau setengah mud<a href="#_ftn3"><strong>[3]</strong></a> dari mereka.”<a href="#_ftn4"><strong>[4]</strong></a></em> (<em>Al ‘Aqidah Al Wasithiyah </em>hal. 32)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kesepuluh, Kasih Sayang Mereka Kepada Ahlu Bait.</strong></span></p>
<p><strong> </strong>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Dan mereka (ahlus sunnah) mencintai <em>ahlul bait </em>(keluarga dan keturunan) Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>, mengasihi mereka, serta menjaga wasiat Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em> yang memerintahkan untuk berbuat baik kepada mereka, dimana Beliau bersabda pada hari <em>Ghodir Khum<a href="#_ftn5"><strong>[5]</strong></a></em> :</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">أذكركم الله في أهل بيتي</p>
<p><em>“Aku ingatkan kalian akan perintah Allah untuk berbuat baik terhadap ahlu bait-ku.”<a href="#_ftn6"><strong>[6]</strong></a> </em>(<em>Al Aqidah Al Wasithiyah</em> hal. 34)</p>
<p>Beliau menambahkan, “Dan mereka (ahlus sunnah) mencintai istri-istri Rasulullah, yaitu para ibunda kaum yang beriman. Dan ahlus sunnah meyakini bahwa mereka adalah para istri Rasulullah di akherat kelak.” (<em>Al Aqidah Al Wasithiyah</em> hal. 34)</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin berkata,“Di antara pokok-pokok (aqidah) ahlus sunnah wal jama’ah ialah mereka mencintai <em>ahlul bait</em> Rasulullah, cinta karena dua hal : keimanan (ahlul bait)<a href="#_ftn7">[7]</a> dan kekerabatan mereka dengan Rasulullah. Ahlus sunnah tidak membenci mereka selamanya.” (<em>Syarh Al’Aqidah Al Wasithiyyah</em> hal.608)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kesebelas, Kasih Sayang Mereka Kepada Para Ulama’ Ahlus Sunnah.</strong></span></p>
<p><strong> </strong>Salafiyyun mencintai para ulama’ ahlus sunnah baik dari kalangan pendahulu maupun belakangan. Mereka mengamalkan sabda Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam,</em></p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">ليس منا من لم يجل كبيرنا ويرحم صغيرنا ويعرف لعالمنا حقه</p>
<p><em>“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan orang tua kalangan kami (Islam), tidak menyayangi anak kecil, serta tidak mengetahui hak-hak ulama’ kami (Islam).”</em> (HR. Ahmad dan selainnya. Dihasankan oleh Al Mundziri, juga Al Albani dalam <em>Shohih At Targhib wat Tarhib</em> 95)</p>
<p>Imam Ath Thohawi berkata, “Dan para ulama’ salaf dari kalangan terdahulu, dan orang-orang setelah mereka yang mengikuti mereka dengan baik –yaitu ahlul khoir dan atsar, ahli fiqih dan nazhor- maka mereka semua <span style="text-decoration: underline;">tidak boleh disebut kecuali dengan pujian</span>. Barangsiapa yang menyebut mereka dengan kejelekan, maka ia tidak berada di atas jalan yang lurus.” (<em>Al Aqidah Ath Thohawiyah</em> hal. 30)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Keduabelas, Kasih Sayang Mereka Terhadap Manusia Secara Umum.</strong></span></p>
<p>Mereka menyeru manusia kepada kebaikan dan melarang dari kejelekan, menunjukkan kepada mereka agama yang lurus, menjelaskan jalan-jalan kebatilan agar manusia menghindar dan waspada. Itu semua diiringi dengan cara yang baik lagi lemah lembut. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">إن الرفق لا يكون في شيء إلا زانه. ولا ينزع من شيء إلا شانه</p>
<p><em>“Sesungguhnya tidaklah kelembutan berada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya. Dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu kecuali akan merusaknya.”</em> (HR. Muslim 2594)</p>
<p>Meskipun terkadang sikap keras dalam mengingkari kemungkaran itu perlu, setelah menimbang antara mashlahat dan madhorot yang ada. Rasulullah pun pernah bersikap keras tatkala melihat seorang sahabatnya (laki-laki) yang memakai cincin emas, Beliau melepas cincin tersebut dan membuangnya<a href="#_ftn8">[8]</a>. Dan masih banyak lagi hadits yang menunjukkan hal itu. Namun yang perlu diingat, sikap dakwah secara asal adalah dengan lemah lembut, dan semua harus dilandasi dengan pertimbangan antara mashlahat dan madhorot yang matang.</p>
<p>Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Ahlus sunnah ialah orang-orang yang paling tahu akan kebenaran lagi paling sayang terhadap makhluk.” (<em>Minhajus Sunnah </em>5/158)</p>
<p>Syaikh Al Albani berkata, “Orang yang paling berhak kita gunakan sikap hikmah ini kepadanya adalah orang yang paling keras permusuhannya terhadap kita, baik pada dasar-dasar (dakwah) kita ataupun menyelisihi aqidah kita. Sehingga kita tidak menggabungkan beratnya dakwah yang benar –yang telah Allah karuniakan kepada kita- dengan beratnya metode yang buruk dalam berdakwah kepada Allah. Oleh karenanya saya mengharap kepada semua ikhwah di seluruh negeri Islam agar mereka beradab dengan adab-adab Islami ini, kemudian mereka mengharapkan wajah Allah tatkala mengamalkan adab-adab ini, tidak mengharap balas jasa atau ucapan terima kasih.” (Lerai Pertikaian Sudahi Permusuhan, hal. 260-261)</p>
<p>Inilah di antara pokok dan ciri manhaj salaf yang dapat kami kumpulkan. Sebagai penutup, kami nukilkan ucapan emas Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Tidak ada cela bagi orang yang menampakkan madzhab salaf, mengikuti dan menisbatkan diri kepada madzhab salaf tersebut. Bahkan wajib menerima hal itu darinya. <span style="text-decoration: underline;">Karena sesungguhnya madzhab salaf tidaklah ia kecuali kebenaran</span>.” (<em>Majmu’ Al Fatawa </em>4/149)</p>
<p><em>Semoga Allah menjadikan kita semua orang-orang yang bangga dengan manhaj salaf, serta menjadikan kita pengikut para salafush sholih yang sebenarnya. Amin…</em></p>
<p style="text-align: center;"><strong> &#8211; Selesai</strong> -</p>
<p>Penulis: Ustadz Muhammad bin Badr Al Umari</p>
<p>Kata Pengantar: Ustadz Arif Fathul Ulum (Pengasuh Majalah Al Furqon Gresik)</p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<p><strong>Maroji’ :</strong></p>
<ol>
<li>Al Qur’anul Karim</li>
<li>Kitab-kitab hadits : Shohih Bukhori, Shohih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan At Tirmidzi, Sunan Ibnu majah, Sunan An  Nasa&#8217;i, Musnad Ahmad, dan lainnya.</li>
<li><em>‘Aqidah As Salaf Ash-habul Hadits</em>, Imam Abu Utsman Ash Shobuni (wafat 449H). Tahqiq : Syaikh Badr bin Abdillah Al Badr. Maktabah Al Ghuroba’ Al Atsariyah, Madinah An Nabawiyah.</li>
<li><em>Al ‘Aqidah Al Wasithiyah</em>, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (wafat 721H), Cet. 1 Dar Ibnul Atsir, Riyadh, KSA.</li>
<li><em>Al ‘Aqidah Ath Thohawiyah,</em> Imam Abu Ja’far Ath Thohawi (wafat 321H),  Cet. 1 Muassasah Ar Resalah, Beirut, Lebanon.</li>
<li><em>Al I’tishom</em>, Imam Asy Syathibi, Darul Kutub, Beirut,  Lebanon.</li>
<li><em>Al Mulakh-khosh fi Syarhi Kitabit Tauhid</em>, Syaikh Dr. Sholih bin Fauzan Al Fauzan, Darul ‘Ashimah.</li>
<li><em>Al Wajiz fi ‘Aqidatis Salafish Sholih</em>, Syaikh Abdullah bin Abdul Hamid Al Atsari, Cet. 2, Dar Ar Royah, Riyadh, KSA.</li>
<li><em>At Takfir wa Dhowabithuhu</em>, Syaikh Prof. Dr. Ibrohim bin ‘Amir ar Ruhaili. Cet 2, 1428 H, Darul Imam Ahmad, Kairo.</li>
</ol>
<p>10.  <em>Basho’ir Dzawisy Syarof bi Syarhi Marwiyat Manhajis Salaf</em>, Syaikh Salim bin Ied Al Hilali, Cet. 2, Maktabah Al Furqon.</p>
<p>11.  <em>Haqiqoh Al Amri bil Ma’ruf wan Nahyi ‘anil Mungkar</em>, Syaikh Dr. Hamd bin Nashir Al ‘Ammar, Dar Isybiliya.</p>
<p>12.  <em>Ilmu Ushulil Bida’</em>, Syaikh Ali bin Hasan Al Halabi, Cet. 2, Dar Royah, Riyadh, KSA.</p>
<p>13.  <em>Kasyfusy Syubuhat Al ‘Ashriyyah ‘anid Da’wah Al Ishlahiyyah As Salafiyyah</em>, Syaikh Abdul Aziz bin Royyis Ar Royyis, Cet. 1, Darul Imam Ahmad, Kairo.</p>
<p>14.  <em>Kun Salafiyyan ‘alal Jaadah</em>, Syaikh Dr. Abdus Salam bin Salim As Suhaimi, Cet. 1 Darul Minhaj, Kairo.</p>
<p>15.  <em>Lammud Durril Mantsur</em>, Syaikh Abu Abdillah Jamal Al Haritsi, Cet. 1, Darus Salaf, Riyadh, KSA.</p>
<p>16.  <em>Lerai Pertikaian Sudahi Permusuhan</em>, Abu Abdil Muhsin Firanda ibnu Abidin. Pustaka Cahaya Islam, Bogor,  Indonesia.</p>
<p>17.  <em>Limadza Ikhtartu Al Manhaj As Salafi</em>, Syaikh Salim bin Ied Al Hilali, Cet. 1, Markaz Ad Dirosat Al Manhajiyah As Salafiyah.</p>
<p>18.  <em>Nashihatun lisy Syabab</em>, Syaikh Prof. Dr. Ibrohim bin ‘Amir Ar Ruhaili.</p>
<p>19.  <em>Syarh Al’Aqidah Al Wasithiyyah (Majmu’ Fatawa wa Rosa’il).</em> Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin. Cet. 2 Dar Ats Tsurayya, Riyadh, KSA.</p>
<p>20.  <em>Syarh Riyadhush Sholihin</em>, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, Cet. 1, Darul Wathon, KSA.</p>
<p>21.  <em>Syarhul ‘Aqidah Al Wasithiyyah</em>, Syaikh Dr. Sholih bin Fauzan Al Fauzan, Cet. Th. 1418 H, Jami’ah Imam Muhammad bin Su’ud Al Islamiyah, KSA.</p>
<p>22.  <em>Syarhul Arba’in An Nawawi</em>, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, Darul ‘Aqidah, Kairo.</p>
<p>23.  <em>Tahdzib Tas-hil al Aqidah al Islamiyah</em>, Syaikh Prof. Dr. Abdulloh bin Abdul Aziz al Jibrin. Cet 1, 1425 H.</p>
<p>24.  <em>Taisirul Karimir Rohman (Tafsir As Sa’di)</em>, Syaikh Abdur Rohman bin Nashir As Sa’di, Cet. 1, Dar Ibnu Hazm, Beirut, Lebanon.</p>
<p>25.  <em>Ushulus Sunnah</em>, Imam Ahmad bin Hanbal. Syarah dan tahqiq : Syaikh Al Walid Saifun Nashr. Cet. 1, Maktabah Ibnu Taimiyah, Kairo.</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Maksudnya : dikarenakan kezholiman mereka.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> <em>Al Atsaroh</em> maknanya adalah sikap pemimpin yang memberikan hak hanya kepada sebagian pihak, namun melupakan pihak lain.</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Mud : takaran seukuran dua telapak tangan orang Arab yang disatukan.</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> HR. Bukhori 3362, Muslim 2541.</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Ghodir Khum : Sebuah tempat kumpulan air yang Rasulullah singgahi sepulang dari Haji Wada’. Di tempat tersebut Beliau berkhutbah di hadapan para sahabat, di antara isinya adalah hadits di atas.</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> HR. Muslim no. 2408.</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Adapun terhadap orang yang mengaku sebagai keturunan Nabi, akan tetapi malah mengotori keimanannya dengan perbuatan syirik dan bid’ah, maka Ahlus sunnah berpaling darinya. Sebagaimana Allah telah menegaskan kepada Nabi Nuh -yang memohonkan keselamatan puteranya kepada Allah serta mengatakan bahwa ia termasuk keluarga Beliau- dengan firman-Nya,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">وَنَادَى نُوحٌ رَبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ. قَالَ يَا نُوحُ <span style="text-decoration: underline;">إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ</span> إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلا تَسْأَلْنِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ</p>
<p><em>“Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku, termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.’ Allah berfirman: ‘Hai Nuh, <span style="text-decoration: underline;">sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu</span>, sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikat) nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan’.&#8221;</em> (QS. Hud : 45-46)<strong> </strong></p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> HR. Muslim 2090.</p>
<div class="shr-publisher-2896"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fkasih-sayang-manhaj-salaf-3.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fkasih-sayang-manhaj-salaf-3.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fkasih-sayang-manhaj-salaf-3.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/kasih-sayang-manhaj-salaf-3.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kasih Sayang Manhaj Salaf (2)</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/kasih-sayang-manhaj-salaf-2.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/kasih-sayang-manhaj-salaf-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Apr 2010 11:00:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=2892</guid>
		<description><![CDATA[Orang-orang yang memegang teguh manhaj salaf, ialah mereka yang menjadikan perikehidupan para salaf sebagai pedoman, baik dalam masalah aqidah (keyakinan), amal, akhlak, serta sendi-sendi kehidupan lainnya. Mereka adalah orang-orang yang paling giat mencari ilmu dari<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/kasih-sayang-manhaj-salaf-2.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Orang-orang yang memegang teguh manhaj salaf, ialah mereka yang menjadikan perikehidupan para salaf sebagai pedoman, baik dalam masalah aqidah (keyakinan), amal, akhlak, serta sendi-sendi kehidupan lainnya.</p>
<p>Mereka adalah orang-orang yang paling giat mencari ilmu dari sumbernya, yaitu Al Qur’an dan As Sunnah sesuai yang dipahami para salaf. Sehingga dengan itu, mereka menjadi orang-orang yang paing berilmu, paling hikmah, selamat sampai tujuan, serta menebar kasih sayang kepada seluruh alam,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ</p>
<p><em>“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”</em> (QS. Al Anbiyaa’ : 107)</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ketika menjelaskan siapa itu ahlus sunnah, beliau berkata :</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">هُمْ أَعْلَمُ بِالْحَق وَأرحم بِالْخَلْقِ</p>
<p>“Mereka adalah orang-orang yang paling tahu akan kebenaran lagi paling sayang terhadap makhluk.” (<em>Minhajus Sunnah An Nabawiyah </em>5/158)</p>
<p>Berikut ini merupakan di antara pokok dan ciri manhaj salaf ahlus sunnah wal jama’ah, di mana itu semua merupakan wujud kasih sayang mereka terhadap makhluk. Sebagian orang menganggap dakwah salaf sebagai dakwah ekstrim, penuh kejahatan dan keburukan. Maka dari itu kami hadirkan tulisan ini sebagai bukti kasih sayang manhaj salaf, bahwa manhaj salaf bukanlah manhaj yang ekstrim, namun penuh ilmu, hikmah, dan kasih sayang.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Pertama, Menyeru Kepada Tauhid dan Mencegah dari Syirik.</strong></span></p>
<p><strong> </strong>Salafiyyun –orang-orang yang berpegang teguh dengan manhaj salaf- senantiasa menyeru kepada tauhid<a href="#_ftn1">[1]</a> dan mencegah dari perbuatan syirik<a href="#_ftn2">[2]</a>. Inilah salah satu bentuk kasih sayang terbesar mereka terhadap umat manusia. Sebagaimana pula Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> diutus dalam rangka memberantas kesyirikan dan mendakwahkan ketauhidan, Beliau mengeluarkan manusia dari gelapnya syirik menuju cahaya tauhid, menggiring jiwa-jiwa yang hendak tergelincir ke lembah jurang kebinasaan menuju kampung keselamatan. Allah befirman,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا</p>
<p><em>“Dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya.”</em> (QS. Ali Imron : 103)</p>
<p>Dakwah tauhid merupakan prioritas yang paling diutamakan dalam manhaj salaf, karena merupakan dakwah yang dibawa oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, bahkan oleh semua rasul,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ</p>
<p><em>“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu’ .&#8221;</em> (QS. An Nahl : 36)</p>
<p>Thaghut merupakan segala yang disembah selain Allah. Syaikh Sholih Al Fauzan berkata, “Seluruh apa yang disembah selain Allah –sedangkan dia ridho untuk disembah- maka dia adalah <strong>thaghut</strong>.”</p>
<p>Kemudian beliau menambahkan, “(Ayat di atas menunjukkan) bahwa dakwah kepada tauhid serta mencegah dari perbuatan syirik merupakan prioritas utama seluruh rasul dan para pengikut mereka.” (<em>Al Mulakh-khosh fi Syarhi Kitabit Tauhid </em>hal. 11)</p>
<p>Salafiyyun tergerak rasa kasih sayang mereka di kala melihat fenomena umat manusia yang bergelimang dengan kesyirikan. Mereka sadar betul bahwa syirik merupakan dosa yang paling besar. Bila pelakunya mati sedangkan ia belum betaubat dari kesyirikannya itu, maka tidak akan diampuni dosa syiriknya, dan ia pun kekal di neraka selamanya,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ</p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” </em>(QS. An Nisaa’ : 48)</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ</p>
<p><em>“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun.”</em> (QS. Al Maidah : 72)</p>
<p>Karena itulah, para ulama’ ahlus sunnah pengibar panji tauhid bermunculan, mereka bangkit berjuang mendakwahkan tauhid dan memberantas syirik. Semisal Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, dan lainnya.</p>
<p>Mereka menyeru manusia agar memurnikan ibadah hanya kepada Allah serta menjauhi kesyirikan. Mereka adalah imam-imam dakwah salafiyah, penerus estafet perjuangan dakwah tauhid yang diemban oleh para rasul. Siang dan malam mereka lalui demi tugas mulia ini, tidak bergeming sedikitpun meski orang-orang jahil berusaha merintangi dakwah yang diberkahi ini,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ</p>
<p><em>“Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.”</em> (QS. Ash Shaff : 8)</p>
<p><strong>Kedua, Menyeru Kepada Sunnah, Serta Melarang dari Bid’ah.</strong></p>
<p>Salafiyyun melarang dari perbuatan bid’ah, serta menyeru kepada sunnah yang merupakan lawan dari bid’ah. Berkata Al Imam Asy Syathibi dalam menjelaskan makna bid’ah, “Setiap amal ibadah yang tidak ada dasarnya dari syari’at (Islam), maka ia dinamakan bid’ah.” (<em>Al I’tishom </em>hal. 27)<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Sedangkan sunnah, ia merupakan jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> beserta para sahabat beliau, jalan yang diterangi oleh lentera-lentera <em>bashiroh</em> (dalil yang nyata), sebagaimana firman Allah,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي</p>
<p><em>“Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata’ .”</em> (QS. Yusuf : 108)</p>
<p>Orang-orang  yang berjalan di atas sunnah ini disebut ahlus sunnah wal jama’ah. Mereka menapakinya dengan penuh keyakinan, karena mereka sedang menempuh jalan yang diterangi oleh hujjah/dalil yang jelas.</p>
<p>Berkebalikan dengan ahlul bid’ah, mereka ibarat orang buta, berjalan di malam gelap gulita, di samping kanan dan kirinya terbentang jurang yang membinasakan. Itu dikarenakan mereka menjalankan agama ini tanpa dalil, sehingga amalan mereka tertolak, dan pada akhirnya mereka menghadap Allah dengan tangan hampa. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ  رَدٌّ</p>
<p><em>“Barangsiapa mengada-adakan hal baru dalam perkara kami ini (perkara agama)<a href="#_ftn4"><strong>[4]</strong></a> maka ia tertolak.” </em>(HR. Bukhori 2697, Muslim 1718)</p>
<p>Dalam riwayat Imam Muslim,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ</p>
<p><em>“Barangsiapa mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka ia tertolak.”</em></p>
<p>Bukan hanya itu, mereka akan menanggung beban dosa akibat kelancangan mengada-adakan atau mengamalkan amalan yang tidak ada dasarnya, karena pada hakekatnya mereka telah menuduh bahwa Rasulullah mengkhianati tugas kerasulannya, yaitu tugas mengajarkan kepada umat semua amalan yang dapat mendekatkan kepada surga dan menjauhkan dari neraka. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">إنه لم يكن نبي قبلي إلا كان حقا عليه أن يدل أمته على خير ما يعلمه لهم، وينذرهم شر ما يعلمه لهم</p>
<p><em>“Sesungguhnya tidak ada seorang Nabi pun sebelumku, melainkan wajib baginya untuk menunjukkan kepada umatnya kebaikan yang ia ketahui untuk mereka, serta memperingatkan mereka dari keburukan yang diketahui bagi mereka.”</em> (HR. Muslim 1844)</p>
<p>Beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga bersabda,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">مابقي شيء يقرب منْ الْجَنَّة ويباعد منْ النَّار إلا وقد بين لكم</p>
<p><em>“Tidak tersisa suatu (amalan) pun yang dapat mendekatkan kepada surga dan menjauhkan dari neraka, kecuali sudah dijelaskan semuanya kepada kalian.” </em>(HR. Thobroni dalam <em>Al Mu’jamul Kabir</em> 1647, dishohihkan oleh Syaikh Ali Hasan Al Halabi dalam <em>Ilmu Ushulil Bida’</em> hal. 19)</p>
<p>Para ahlul bid’ah pada hakekatnya –sadar atau tidak sadar- telah menuduh bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>tidak mengajarkan amalan-amalan tersebut secara keseluruhan, dan mereka beranggapan bahwa di sana masih banyak amalan-amalan yang beliau sembunyikan. Alangkah kejinya tuduhan ini!</p>
<p>Imam Malik berkata, “Barangsiapa membuat ajaran baru dalam agama Islam, kemudian ia anggap sebagai bid’ah hasanah (bid’ah yang baik), maka ia telah menuduh bahwa Muhammad (Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>) telah mengkhianati tugas kerasulan. Hal itu karena Allah berfirman,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ</p>
<p><em>“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu.” </em>(QS. Al Maidah : 3)<strong> </strong></p>
<p>Maka perkara apa pun yang bukan termasuk bagian dari agama pada hari (diturunkannya ayat) ini, maka pada hari ini bukan termasuk bagian dari agama pula.” (<em>Al I’tishom </em>hal. 37. Imam Asy Syathibi menukilnya dari Ibnu Majisyun yang mendengar langsung ucapan tersebut dari Imam Malik)</p>
<p>Salafiyyun tidak sampai hati melihat saudaranya bergelimang dengan bid’ah, yang kelak menghadap Rabbnya dengan tangan hampa bahkan memikul dosa besar. Maka sebagai wujud kasih sayang, mereka menyeru kepada sunnah dan melarang dari bid’ah.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"> <strong>Ketiga, Mengajak Kepada Persatuan dan Mencegah dari Perpecahan.</strong></span></p>
<p><strong> </strong>Telah dijelaskan di muka bahwa perpecahan merupakan sunnatulloh yang sudah pasti terjadi. Namun usaha untuk menghindari perpecahan serta mengajak kepada persatuan merupakan sebuah keharusan dan kewajiban. Allah Ta&#8217;ala berfirman ,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ</p>
<p><em>“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” </em>(QS. Ali Imron : 105)</p>
<p>Mu’tazilah memiliki manhaj tersendiri, begitu pula dengan Syi’ah, Qodariyah, Jahmiyah, Shufiyah, Khowarij, serta seluruh kelompok yang ada. Semuanya memiliki manhaj tersendiri dan membanggakan manhajnya masing-masing. Tatkala mereka ditanya, “Apa landasan manhaj kalian?”</p>
<p>Niscaya mereka akan menjawab, “Landasan manhaj kami adalah Al Qur’an dan As Sunnah/Al Hadits.”</p>
<p>Semua kelompok akan mengatakan hal yang sama. Lalu, bagaimana bisa mereka berpecah belah, padahal landasan mereka sama?? Jawabnya : Karena tatkala berdalil dengan Al Qur’an dan As Sunnah, mereka memahami keduanya dengan pemahaman mereka sendiri, akal mereka sendiri, hawa nafsu mereka sendiri. Sehingga Al Qur’an dan As Sunnah yang sebenarnya menunjukkan kepada kebenaran, mereka tafsirkan sekehendak hawa nafsu agar dalil-dalil tersebut mendukung pemahaman mereka yang sesat.</p>
<p>Inilah yang menjadi penyebab perpecahan, sebab pemahaman setiap orang itu berbeda. Bila Al Qur’an dan As Sunnah dipahami menurut pemahaman masing-masing orang, niscaya akan muncul bermacam tafsiran sebanyak jumlah manusia di muka bumi ini, serta akan terjadi perpecahan sebanyak itu pula.</p>
<p>Adapun Salafiyyun, maka mereka menawarkan kepada umat satu-satunya jalan menuju persatuan, yaitu dengan cara mengajak umat untuk memahami Al Qur’an dan As Sunnah sesuai yang dipahami oleh para sahabat. Inilah yang diperintahkan oleh Rasulullah tatkala umat menghadapi perpecahan dan perselisihan. Beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّهَا ضَلَالَةٌ فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ</p>
<p><em>“Siapa saja yang hidup diantara kalian (setelahku), niscaya ia akan melihat perselisihan yang banyak. Dan jauhilah perkara-perkara baru (bid’ah dalam agama), karena ia adalah kesesatan. Jika kalian menjumpai hal itu (perselisihan dan bid’ah), maka pegang teguhlah sunnahku serta sunnah para khulafa’ur rasyidin, gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian.” </em>(HR. Abu Daud 4607, At Tirmidzi 2676, Ibnu Majah 43&amp;44. Dishohihkan oleh Syaikh Salim Al Hilali dalam <em>Limadza Ikhtartu Al Manhaj As Salafi</em> hal. 70)</p>
<p>Telah jelas dari hadits di atas, tatkala umat menghadapi perselisihan, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tidak hanya menyuruh mereka untuk berpegang dengan sunnah Beliau saja, tetapi juga menyuruh untuk berpegang kepada sunnah para <em>khulafa’ur rasyidin</em>. Yaitu dengan merujuk pemahaman Al Qur’an dan As Sunnah kepada pemahaman mereka, juga pemahaman seluruh sahabat rasul, sebagaimana sabda Beliau tatkala menjelaskan siapa itu ahlus sunnah wal jama’ah,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">ما أنا عليه وأصحابي</p>
<p><em>“(Yaitu) golongan yang menempuh jalanku dan jalan para sahabatku.”<a href="#_ftn5"><strong>[5]</strong></a></em></p>
<p>Bila umat Islam mau berpegang dengan pemahaman para sahabat (<em>salafush sholih</em>), niscaya tidak akan ada lagi perselisihan kecuali hanya dalam masalah <em>furu’</em> (cabang ilmu fiqih) yang tidak membahayakan persatuan umat.</p>
<p>Inilah Salafiyyun, rasa kasih sayang membuat mereka bersemangat mempersatukan umat di atas tali agama Allah, di atas aqidah dan manhaj yang benar,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا</p>
<p><em>“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.”</em> (QS. Ali Imron : 103)</p>
<p>Ya, persatuan di atas agama yang lurus, bukan persatuan yang dipaksa-paksakan antara kelompok-kelompok yang masih berseberangan aqidah mereka, alias persatuan ala Yahudi, persatuan sebatas zhohirnya saja, namun aqidah/keyakinan mereka bercerai-berai,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّى</p>
<p><em>“Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah.”</em> (QS. Al Hasyr : 14)</p>
<p>Bukan pula persatuan yang diusung oleh para penyampai hadits palsu,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">اختلاف أمتي رحمة</p>
<p><em>“Perselisihan umatku adalah rahmat.”</em></p>
<p>Hadits ini <em>laa ashla lahu </em>(tidak ada asal-usulnya), tidak ditemukan sanadnya sama sekali, bahkan sanad yang palsu sekalipun. Bahkan bertentangan dengan banyak ayat dan hadits yang memerintahkan kepada persatuan dan menjaui perselisihan.</p>
<p>Maka yang benar adalah : perselisihan umat merupakan sebuah adzab yang diakibatkan tidak maunya mereka merujuk kepada pemahaman <em>salafush sholih </em>dalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah. Sehingga perpecahan tersebut melemahkan kekuatan mereka,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">وَلا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ</p>
<p><em>“Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu.”</em> (QS. Al Anfaal : 36)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Keempat, Dakwah Salafiyah Mengajak Kepada Kejayaan Islam</strong></span></p>
<p><strong> </strong>Allah <em>Ta&#8217;ala </em>berfirman,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا</p>
<p><em>“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang <strong>beriman</strong> di antara kamu <strong>dan mengerjakan amal-amal yang saleh</strong> bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. <strong>Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku</strong>.”</em> (QS. An Nuur : 55)</p>
<p>Dalam ayat ini dijelaskan, bahwa kekuasaan Islam (<em>khilafah Islamiyah</em>) akan tegak di muka bumi bila umat Islam mau memperbaiki iman dan amal sholih, serta menegakkan tauhid dan menjauhi kesyirikan.</p>
<p>Perbaikan <strong>iman</strong> tidak akan tegak kecuali dengan meluruskan aqidah, yaitu dengan cara merujuk pemahaman Al Qur’an dan As Sunnah sesuai pemahaman <em>salafush sholih</em>, karena aqidah para salaf merupakan aqidah yang lurus, murni, belum tercampur dengan noda-noda penyimpangan. Perbaikan <strong>amal sholih</strong> tidak akan terwujud kecuali dengan mengajak manusia  kepada sunnah dan menjauhi bid’ah, karena suatu amalan tidak dapat dikatakan “sholih” kecuali bila dilandasi dengan dalil yang jelas, dan bila suatu amalan tidak dilandasi dengan dalil maka itu bukanlah amal sholih melainkan amal bid’ah. Kemudian <strong>penegakan tauhid </strong>dan <strong>pemberantasan syirik </strong>tidak akan terwujud kecuali dengan cara mendakwahkannya.</p>
<p>Dan <strong>perbaikan iman</strong> yang merujuk kepada pemahaman salaf, <strong>perbaikan amal sholih </strong>dengan merujuk kepada sunnah, serta <strong>penegakan tauhid </strong>dengan mendakwahkannya, ketiganya merupakan pokok-pokok manhaj salaf sebagaimana telah diterangkan pada bab-bab sebelumnya.</p>
<p>Maka dari sini telah jelas, dakwah salafiyah merupakan satu-satunya jalan menuju kejayaan umat Islam. Ini merupakan bentuk kasih sayang manhaj salaf kepada umat, yang mengajak mereka menuju kejayaan setelah sekian lama terpuruk dan dihinakan oleh musuh-musuhnya.</p>
<p style="text-align: center;"><strong><em>- bersambung insya Allah -</em></strong></p>
<p>Penulis: Ustadz Muhammad bin Badr Al Umari</p>
<p>Kata Pengantar: Ustadz Arif Fathul Ulum (Pengasuh Majalah Al Furqon Gresik)</p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Tauhid : meng-esakan Allah dalam <em>rububiyah</em> (perbuatan Allah), <em>uluhiyah</em> (ibadah kepada Allah), serta <em>asma’ wa sifat</em> (nama dan sifat Allah)</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Syirik : menyekutukan atau membuat tandingan bagi Allah baik dalam hal <em>rububiyah, uluhiyah, </em>atau<em> asma’ wa sifat.</em></p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Kami pilihkan pengertian yang lebih ringkas agar lebih mudah dipahami, <em>wallahu a’lam</em>.</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Ditegaskan oleh Nabi bahwa bid’ah yang dilarang hanyalah bid’ah dalam masalah agama. Adapun bid’ah dalam masalah dunia seperti pembuatan pesawat, mobil, senjata canggih, serta perkembangan teknologi lainnya, maka bukanlah bid’ah yang terlarang, selama tidak digunakan untuk hal-hal yang diharamkan.</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Takhrij hadits ini telah disebutkan di muka.</p>
<div class="shr-publisher-2892"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fkasih-sayang-manhaj-salaf-2.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fkasih-sayang-manhaj-salaf-2.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fkasih-sayang-manhaj-salaf-2.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/kasih-sayang-manhaj-salaf-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kasih Sayang Manhaj Salaf (1)</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/kasih-sayang-manhaj-salaf-1.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/kasih-sayang-manhaj-salaf-1.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Apr 2010 23:00:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=2889</guid>
		<description><![CDATA[KATA PENGANTAR Oleh : Al Ustadz Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifulloh إن الحمد لله ، نحمده ونستعينه  ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا . من يهده الله فلا مضل له ،<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/kasih-sayang-manhaj-salaf-1.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><strong>KATA PENGANTAR</strong></p>
<p><strong>Oleh : Al Ustadz Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifulloh</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">إن الحمد لله ، نحمده ونستعينه  ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا .</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">من يهده الله فلا مضل له ، ومن يضلل فلا هادي له ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمداً  عبده ورسوله.</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ}(آل عمران:102)</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">{يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً}(النساء:1)</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً} (الأحزاب:70-71) .</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">وبعد</p>
<p>Segala puji bagi Allah pemilik nama Ar-Rahman Ar-Rahim, Dialah yang memiliki rahmat yang luas meliputi semua makhluknya :</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">] وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ [</p>
<p>“<em>Dan rahmatKu meliputi segala sesuatu</em> “ ( QS. Al-A'raf : 156).</p>
<p>Di antara rahmat Allah terhadap manusia bahwa Dia telah menyempurnakan Islam dan menjadikannya sebagai satu-satunya agama yang diridhaiNya sebagaimana dalam firmanNya :</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">] الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا[</p>
<p>“<em>Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Ku-cukupkan kepada kalian ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagi kalian</em> “ (QS. Al-Maidah : 3 ).</p>
<p>Adalah umat ini dalam keadaan dirahmati oleh Allah pada generasi awalnya, Allah jaga mereka dari berbagai macam hawa nafsu dan penyelewengan, mereka selalu istiqomah dalam ketaatan kepada Allah dan RasulNya, mereka adalah para sahabat Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang tidak dikenal diri mereka kecuali ittiba’ kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em> dan kepada Kitab yang diturunkan oleh Allah kepadanya.</p>
<p>Demikian juga jejak mereka diikuti oleh generasi penerus mereka dari para tabi’in dan para imam yang berada di atas petunjuk – semoga Allah meridhai mereka semuanya -.</p>
<p>Kemudian datanglah sesudah mereka generasi-generasi belakangan yang tidak merasa cukup dengan syari’at Islam yang dibawa oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, mereka gunakan akal mereka untuk mengada-adakan perkara-perkara baru di dalam agama, seakan-akan mereka mengatakan bahwa agama Islam ini masih belum sempurna hingga perlu dilengkapi, dan seakan-akan mereka katakan bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, telah berkhianat kepada Allah sehingga belum lengkap di dalam menyampaikan risalah Allah kepada umatnya !!.</p>
<p>Akan tetapi Allah dengan rahmatNya telah menjadikan di setiap zaman sebuah kelompok yang tetap berjalan di atas agama yang haq, agama yang dibawa oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan yang ditempuh oleh para sahabatnya, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda :</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">لن تزال طائفة من أمتي   منصورين  لا يضرهم من خذلهم حتى تقوم الساعة</p>
<p>“<em>Tidak henti-hentinya sekelompok dari umatku yang mendapat pertolongan ( dari Alloh ) tidak ada yang bisa membahayakan mereka siapapun yang menelantarkan mereka hingga tegaknya kiamat “</em> ( Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya 5/34, Tirmidzi dalam Sunannya 4/485 , dan Ibnu Majah dalam Sunannya 1/5 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam <em>Shahih Sunan Ibnu Majah</em> ).</p>
<p>Ath-Thoifah Al-Manshuroh ini adalah Ahli Sunnah wal Jama&#8217;ah sebagaimana dinashkan oleh para imam seperti Al-Imam Bukhari , Al-Imam Ahmad bin Hanbal, dan Qadhi ‘Iyadh (  Lihat <em>Syarah Nawawi atas Muslim</em> 13/66-67 dan <em>Fathul Bari</em> 1/164 ).</p>
<p>Ahli Sunnah wal Jama&#8217;ah adalah orang-orang yang berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan apa yang disepakati oleh <em>As-Sabiqunal Awwalun</em> dari kalangan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik</p>
<p>Di antara karakteristik Ahli Sunnah wal Jam&#8217;ah bahwa mereka selalu melaksanakan perintah yang tegas dari Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> agar selalu berpegang teguh kepada Sunnahnya dan agar selalu menjauhi segala kebid’ahan yang datang sesudahnya sebagaimana dalam hadits ‘Irbadh bin Sariyah :</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي عضوا عليها بالنواجذ وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة و كل بدعة ضلالة</p>
<p>“ <em>Wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk sepeninggalku, dan awaslah kalian dari perkara-perkara yang baru, karena setiap perkara yang yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan “</em> ( Hadits Shahih Riwayat Ahmad dan Ashabus Sunan ).</p>
<p>Di antara keraktersitik Ahli Sunnah bahwa mereka menebar kasih sayang kepada manusia sebagaimana Alloh jadikan Rasulullah e sebagaimana rahmat bagi semesta alam :</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ</p>
<p><em>“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”</em> (QS. Al Anbiyaa’ : 107)</p>
<p>Maka Ahli Sunnah adalah orang-orang yang paling mengetahui al-haq lagi paling penyayang terhadap manusia. Dakwah Ahli Sunnah wal Jama&#8217;ah adalah dakwah yang penuh kasih sayang terhadap manusia, dan bukanlah dakwah yang ekstrim dan menyeramkan.</p>
<p>Banyak sekali bentuk-bentuk kasih sayang Ahli Sunnah wal Jama&#8217;ah didalam Dakwahnya kepada manusia sebagaimana dijelaskan oleh Saudara kami yang mulia <span style="text-decoration: underline;">Al-Ustadz Muhammad bin Badr Al Umari &#8211; Hafizhohullah –</span> yang telah memaparkan hal tersebut dengan bagus dan rinci di dalam risalahnya yang berjudul <em>Kasih Sayang Manhaj Salaf</em>.</p>
<p>Maka kami dapati risalah ini penting sekali dibaca oleh setiap muslim yang ingin menempuh jalan yang haq yang diridhai oleh Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala.</p>
<p>Semoga risalah tersebut bisa memberikan manfaat khususnya kepada penulisnya, pembacanya dan kepada kaum muslimin semuanya. Amin.</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">و صلى الله عليه وسلم تسليما كثيرا و آخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين .</p>
<p>(Kediri, <span style="text-decoration: underline;">26 Dzul Qa’dah 1430 H,</span>13 Nopember 2009 M)</p>
<p><strong>MUQODDIMAH</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله</p>
<p>Segala puji hanya milik Allah, kita memuji-Nya, memohon pertolongan, serta memohon ampunan kepada-Nya. Dan kita berlindung kepada-Nya dari keburukan diri kita, kejelekan perbuatan kita. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Nya, maka tidak ada yang sanggup menyesatkannya. Namun barangsiapa yang disesatkan oleh Nya, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.</p>
<p>Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak untuk disembah melainkan Dia. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba sekaligus rasul-Nya. Allah berfirman :</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ</p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”</em> (QS. Ali Imron : 102)</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا</p>
<p><em>“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”</em> (QS. An Nisaa’ : 1)</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا</p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” </em>(QS. Al Ahzab : 70-71)</p>
<p><strong> </strong>Tulisan ini merupakan penjelasan seputar pokok dan ciri dakwah salafiyyah ahlus sunnah wal jama’ah yang pada akhir-akhir ini dicela dan dihujat, baik karena tuduhan dusta dari orang-orang yang dengki terhadap dakwah yang diberkahi ini, maupun karena sikap sebagian person yang menyimpang dari pokok dan ciri dakwah ini. Sehingga banyak orang menghukumi dakwah salafiyyah secara tidak benar, yaitu menghukumi menurut perbuatan sebagian personnya.</p>
<p>Maka di sini perlu kami jelaskan kepada semua pihak, bahwa dakwah salafiyyah merupakan dakwah yang penuh kasih sayang, sangat jauh dari yang dituduhkan oleh sebagian kalangan bahwa dakwah ini ekstrim, sesat, merasa paling benar sendiri, dan sebagainya. Dan tulisan ini kami tujukan kepada tiga pihak :</p>
<p>Pertama, kepada orang-orang yang membenci salafiyyun,  kami  haturkan kepada kalian,  bagaimanapun kalian membenci kami -dimana kami hanyalah sebatas orang-orang yang bersemangat meniti jejak salaf-, yang kami harapkan dari kalian hanyalah agar kalian mau bersemangat meniti jejak salaf yang sholih. Silakan membenci kami, silakan mencela person kami, tapi jangan jadikan kebencian tersebut sebagai pendorong untuk menolak manhaj salaf, karena manhaj salaf adalah kebenaran. Amalkanlah pokok dan ciri manhaj salaf dengan sebenar-benarnya, niscaya persatuan haqiqi akan terwujud.</p>
<p>Kedua, kepada orang-orang yang mengaku bersemangat meniti manhaj salaf, marilah kita memperbaiki kualitas dalam mengamalkan pokok dan ciri manhaj salaf tersebut. Agar keindahan manhaj salaf ini semakin menyeruak, membuktikan kepada dunia bahwa manhaj salaf adalah manhaj yang penuh kasih.</p>
<p>Ketiga, kepada manusia secara umum, inilah manhaj salaf yang penuh kasih, yang menghantarkan kepada ajaran islam yang murni, serta keselamatan di dunia dan akherat.</p>
<p>Semoga usaha yang sedikit ini dinilai dengan pahala yang melimpah disisi-Nya, pada hari yang tiada bermanfaat harta dan anak keturunan, kecuali bagi orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat dari noda-noda dosa.</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">يَوْمَ لا يَنْفَعُ مَالٌ وَلا بَنُونَ. إِلا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ</p>
<p><em>“(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”</em> (QS. Asy Syu’araa’ : 88-89)</p>
<p>Tak lupa kami ucapkan <em>jazakumuLLOH khoiro</em> kepada Ustadzuna Al Fadhil Al Ustadz Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifulloh –hafizhohuLloh-, yang berkenan mengoreksi tulisan ini serta memberikan pengantar yang begitu berharga. Semoga Allah membalas beliau dengan karunia yang banyak, serta semoga Dia mencurahkan barokah ilmu beliau kepada kami, serta kaum muslimin semuanya. Amin…</p>
<p>18 Rabi’ Tsani 1430 H/14 April 2009</p>
<p>Hamba yang senantiasa mengaharap ampunan-Nya,</p>
<p>Muhammad bin Badr al ‘Umari</p>
<p>Semoga Allah mengampuninya, kedua orang tuanya,</p>
<p>para gurunya, serta kaum muslimin semuanya.</p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>MANHAJ SALAF</strong></span></p>
<p>Manhaj merupakan sebuah jalan atau metode dalam beragama. Dimana setiap kelompok yang terpecah dari umat Islam ini pasti memilki manhaj/metode, yang mereka jadikan sebagai patokan dalam menjalani kehidupan.</p>
<p>Sudah menjadi sunnatulloh, umat Islam terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, sebagaimana pula Yahudi dan Nasrani terpecah menjadi tujuh puluh golongan lebih. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;">((افترقت اليهود على إحدى وسبعين فرقة. فواحدة في الجنة. وسبعون في النار, وافترقت النصارى على ثنتين وسبعين فرقة. فإحدى وسبعون في النار، وواحدة في الجنة. والذي نفس محمد بيده! لتفترقن أمتي على ثلاث وسبعين فرقة. واحدة في الجنة و ثنتان سبعون في النار)).<strong><br />
</strong> قيل: يا رسول الله! من هم؟ قال ((الجماعة)).</p>
<p><em>“Yahudi telah terpecah menjadi 71 golongan, satu golongan masuk surga dan 70 lainnya ke neraka. Nasrani terpecah menjadi 72 golongan, 71 golongan ke neraka, hanya satu yang masuk surga. Dan demi Dzat Yang jiwaku ada ditangan-Nya, sungguh umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, satu golongan akan masuk surga dan 72 lainnya ke neraka.”</em></p>
<p>Rasulullah ditanya : “Siapa golongan yang selamat itu wahai Rasulullah?”</p>
<p>Beliau menjawab : <em>“Al Jama’ah.”</em> (HR. Ibnu Majah no. 3992, Ibnu Abi ‘Ashim dalam <em>As Sunnah</em> no.63, Al Lalika’i dalam <em>Syarh Ushul I’tiqod Ahlus Sunnah wal Jama’ah</em> no.149, Al Ashbahani dalam <em>Al Hujjah </em>(19-20). Dinyatakan <em>hasan</em> oleh Syaikh Salim bin Ied Al Hilali dalam <em>Bashoir Dzawisy Syarof</em> hal. 92-93)</p>
<p>Umat Islam terpecah menjadi 73 golongan. Setiap golongan saling membanggakan manhaj yang ada pada dirinya masing-masing,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ</p>
<p><em>“Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan  apa yang ada pada golongan mereka.”</em> (QS. Ar Ruum : 32)</p>
<p>Akan tetapi mereka semua bangga di atas kesesatan, segala macam kebanggaan itu akan hilang dan lenyap, karena ujung kebanggaan mereka akan berakhir kepada neraka. Kecuali satu golongan, yang berada di atas jalan terang benderang. Mereka bangga memegang teguh kebenaran tersebut, kebenaran manhaj/jalan ahlus sunnah wal jama’ah. Sebagaimana sabda Rasulullah tatkala ditanya siapa golongan yang akan masuk surga tersebut, Beliau menjawab : <em>“Al Jama’ah.”</em>, dan dalam riwayat lain Beliau menjelaskan siapa itu ahlus sunnah wal jama’ah dengan sabdanya :</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">ما أنا عليه وأصحابي</p>
<p><em>“(Yaitu) golongan yang menempuh jalanku dan jalan para sahabatku.” </em>(HR. At Tirmidzi 2641, Al Hakim 1/128-129, Ibnu Wadh-dhoh dalam <em>Al Bida’ wan Nahyu ‘Anha</em> 15-16, Al Ajurri dalam <em>Asy Syari’ah </em>16. Dihasankan oleh Syaikh Salim Al Hilali dalam <em>Al Bashoir</em> hal. 74-75)</p>
<p>Ya, ahlus sunnah wal jama’ah ialah golongan yang berpegang teguh dengan manhaj Rasulullah dan para sahabat Beliau. Perlu diketahui, seluruh golongan sesat yang ada, mereka mengatakan bahwa manhaj mereka berlandaskan Al Qur’an dan As Sunnah. Akan tetapi mereka menyetir dalil-dalil Al Qur’an dan As Sunnah sesuai hawa nafsu dan kepentingan kelompok.</p>
<p>Adapun Ahlus sunnah wal jama’ah, dalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah, mereka merujuk kepada pemahaman para sahabat, sebagaimana sabda Rasul di atas : <em>“(Yaitu) golongan yang menempuh jalanku dan jalan para sahabatku.”</em></p>
<p>Itulah manhaj salaf, manhaj ahlus sunnah wal jama’ah, yang merupakan manhaj para sahabat, para <em>salafush sholih </em>(para pendahulu yang sholih). Barangsiapa memegang teguh manhaj tersebut, niscaya ia akan berjumpa dengan Rabbnya dalam keadaan ridho, Allah ridho kepadanya dan ia ridho kepada Allah.</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ</p>
<p><em>“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.”</em> (QS. At Taubah : 100)</p>
<p style="text-align: center;"><em> -bersambung insya Allah-</em></p>
<p>Penulis: Ustadz Muhammad bin Badr al Umari</p>
<p>Kata Pengantar: Ustadz Arif Fathul Ulum<strong> </strong>(Pengasuh Majalah Al Furqon Gresik)<strong><br />
</strong></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<p><strong><strong><br />
</strong></strong></p>
<div class="shr-publisher-2889"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fkasih-sayang-manhaj-salaf-1.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fkasih-sayang-manhaj-salaf-1.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fkasih-sayang-manhaj-salaf-1.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/kasih-sayang-manhaj-salaf-1.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kemuliaan, Hanya dengan Kembali kepada Manhaj Salaf</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/kemuliaan-hanya-dengan-kembali-kepada-manhaj-salaf.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/kemuliaan-hanya-dengan-kembali-kepada-manhaj-salaf.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jan 2010 17:00:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muslim.Or.Id</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=1864</guid>
		<description><![CDATA[“Barang siapa yang menentang rasul setelah jelas baginya petunjuk dan dia mengikuti jalan selain jalan orang-orang yang beriman maka Kami akan membiarkan dia terombang-ambing dalam kesesatannya dan Kami akan memasukkannya ke dalam Jahannam, dan sesungguhnya Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. an-Nisa’: 115).]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><em>Segala puji adalah milik Allah. Pujian dan keselamatan semoga terlimpah kepada Nabi akhhir zaman Muhammad bin Abdullah, para sahabatnya, dan segenap pengikut mereka yang setia. Amma ba’du.</em></p>
<p>Saudaraku, semoga Allah menyadarkan hati kita dari kelalaian dan penyimpangan, sesungguhnya kemuliaan yang didambakan oleh kaum muslimin tidak akan pernah diraih kecuali dengan menjunjung tinggi ajaran al-Qur’an. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam –yang tidak berbicara dengan hawa nafsunya- telah mengabarkan kepada kita, “<em>Sesungguhnya Allah akan mengangkat sebagian orang dengan sebab kitab ini dan akan merendahkan sebagian yang lain dengan sebab kitab ini pula</em>.” (HR. Muslim)</p>
<p>Barang siapa yang menyangka kebangkitan dan kemuliaan Islam akan bisa diraih dengan meninggalkan al-Qur’an dan memecah belah kaum muslimin menjadi bergolong-golongan serta membiarkan mereka hanyut dalam kebid’ahan maka sungguh dia telah salah. Sebab Allah jalla wa ‘ala –yang ucapannya adalah ucapan yang paling jujur dan paling sesuai dengan realita- telah berfirman (yang artinya), “<em>Barang siapa yang menentang rasul setelah jelas baginya petunjuk dan dia mengikuti jalan selain jalan orang-orang yang beriman maka Kami akan membiarkan dia terombang-ambing dalam kesesatannya dan Kami akan memasukkannya ke dalam Jahannam, dan sesungguhnya Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali</em>.” (QS. an-Nisa’: 115). Maka mengikuti jalan para sahabat –yang mereka itu adalah jajaran terdepan kaum mukminin pengikut Nabi- merupakan sebuah keniscayaan. Inilah jembatan emas yang akan mengantarkan kaum muslimin yang cinta kepada Allah dan rasul-Nya untuk meraih surga di akhirat dan kejayaan di dunia.</p>
<p>Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “<em>Orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maka Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya dan Allah sediakan untuk mereka surga-surga, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang sangat besar.</em>” (QS. at-Taubah: 100). Inilah ayat yang akan memecahkan telinga para hizbiyyun dan ahli bid’ah. Sebuah ayat yang meleraikan segala pertikaian yang dikobarkan oleh syaitan dari kalangan jin dan manusia di tengah-tengah barisan umat Islam. Sahabat yang mulia Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Ikutilah tuntunan dan jangan kalian mereka-reka ajaran baru. Sebab sesungguhnya kalian telah dicukupkan dengan tuntunan yang ada.”</p>
<p>Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “<em>Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah rasul dan juga ulil amri di antara kalian. Kemudian apabila kalian berselisih tentang sesuatu hal maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir…</em>” (QS. an-Nisa’: 58-59). Maka mengikuti pemahaman para sahabat dalam beragama merupakan sebuah keniscayaan. Bagaimana tidak? Sementara mereka adalah orang yang paling paham tentang sebab turunnya ayat-ayat al-Qur’an dan orang-orang yang paling besar pembelaannya kepada perjuangan dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita tidak bisa menemukan solusi semata-mata dengan mencomot ayat dan hadits –untuk membela pendapat kita- tanpa mengikuti metode para sahabat dalam memahami dalil-dalil yang ada. Sebuah generasi yang telah mendapatkan tazkiyah/rekomendasi dari utusan Rabb semesta alam, “Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian sesudahnya, dan kemudian sesudahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Maka seruan sebagian orang -yang tidak tahu diri- untuk meninggalkan manhaj para sahabat dengan alasan sudah tidak cocok lagi dengan perkembangan jaman yang ada, atau dengan alasan mereka sudah tinggal kenangan saja, sungguh merupakan penghinaan kepada al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidakkah kita ingat bagaimana pembelaan Allah kepada para sahabat ketika orang-orang munafik mengatakan bahwa mereka –para sahabat- adalah orang-orang yang dungu [?!]. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “<em>Apabila dikatakan kepada mereka (orang munafik), Berimanlah sebagaimana orang-orang itu –para sahabat- beriman. Maka mereka menjawab, Akankah kami beriman sebagaimana orang-orang dungu itu beriman? Ketahuilah, sesungguhnya mereka itulah –orang munafik- orang-orang yang dungu…</em>” (QS. al-Baqarah: 13).</p>
<p>Kaum muslimin sekalian –semoga Allah meneguhkan kaki kita di atas kebenaran- sesungguhnya mengikuti jalan hidup para sahabat adalah perjuangan yang akan selalu digembosi oleh musuh-musuh Sunnah. Mereka tahu bahwa apabila kaum muslimin kembali kepada pemahaman para sahabat maka makar mereka untuk memporak-porandakan barisan kaum muslimin akan menjadi sia-sia. Tidakkah kita ingat ucapan emas dari Imam Malik rahimahullah, “Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan sesuatu yang memperbaiki generasi awalnya.” Mereka –musuh-musuh Sunnah- sangat takut apabila kaum muslimin kembali kepada Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Sunnah para sahabatnya. Mereka kira kaum muslimin bisa ditipu dengan ucapan-ucapan batil mereka yang dipoles sedemikian rupa dengan kutipan ayat dan hadits. Mereka lupa bahwa kaum muslimin senantiasa mengingat pesan Nabi mereka, “<em>Wajib bagi kalian untuk mengikuti Sunnahku dan Sunnah khulafau’ur rasyidin yang berada di atas petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya. Dan gigitlah ia dengan gigi geraham, dan jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan. Karena sesungguhnya setiap perkara yang diada-adakan itu adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah pasti sesat.</em>” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, disahihkan al-Albani dalam Shahih al-Jami’).</p>
<p>Oleh sebab itu, mereka –musuh-musuh Sunnah- sangat gatal telinganya apabila kaum muslimin senantiasa mendengungkan ucapan Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah di masanya, Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Beliau berkata, “Barang siapa yang menentang hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka sesungguhnya dia berada di tepi jurang kehancuran.” Ucapan beliau ini didukung oleh Imam Nashir as-Sunnah/Sang pembela Sunnah asy-Syafi’i rahimahullah yang dengan tegas mengatakan, “Kaum muslimin telah sepakat bahwa barang siapa yang telah jelas baginya Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka tidak halal baginya meninggalkan Sunnah itu hanya karena mengikuti perkataan seseorang.” Mereka –musuh-musuh Sunnah- juga sangat geram apabila kaum muslimin senantiasa mengingat nasihat Imam Syafi’i rahimahullah dalam ucapannya, “Apabila suatu hadits itu sahih maka itulah madzhabku.” Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tidaklah anda temui seorang ahli bid’ah pun kecuali dia pasti memendam rasa benci kepada sunnah yang tidak sesuai dengan bid’ahnya.”</p>
<p>Oleh sebab itu –ikhwah sekalian- para ulama ahli hadits adalah benteng-benteng keimanan di atas muka bumi ini. Salah seorang ulama salaf berkata, “Malaikat adalah penjaga-penjaga langit, sedangkan para ahli hadits adalah penjaga-penjaga bumi.” Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah mengatakan tentang jati diri golongan yang mendapatkan pertolongan Allah, “Apabila mereka itu bukan ahli hadits maka aku tidak tahu lagi siapakan mereka itu.” Imam Bukhari rahimahullah mengatakan bahwa mereka itu –golongan yang selalu mendapatkan pertolongan Allah- adalah ahli ilmu. Inilah bukti kebenaran sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “<em>Barang siapa yang dikehendaki baik oleh Allah maka dia akan dipahamkan dalam urusan agamanya.</em>” (HR. Bukhari dan Muslim). Inilah bukti yang gamblang tentang kebenaran sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “<em>Barang siapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menimba ilmu –agama- maka Allah akan mudahkan jalannya menuju surga</em>.” (HR. Muslim).</p>
<p>Tidakkah kita ingat prestasi para sahabat di sisi Allah ta’ala? Orang-orang yang telah dikabarkan akan menghuni surga sementara jasad-jasad mereka masih berjalan di atas muka bumi. Sebuah generasi yang diabadikan di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah dengan ukiran prestasi yang harum dan menakjubkan. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “<em>Sungguh Allah telah ridha kepada orang-orang beriman ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon. Dia mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka, lalu Dia memberikan ketenangan atas mereka dan memberi balasan dengan kemenangan yang dekat.</em>” (QS. al-Fath: 18).</p>
<p>Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “<em>Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya bersikap keras kepada orang-orang kafir dan saling berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya. Demikianlah sifat-sifat mereka yang diungkapkan di dalam Taurat dan sifat-sifat mereka yang diungkapkan di dalam Injil, yaitu seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu semakin kuat, lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir…</em>” (QS. al-Fath: 29).</p>
<p>Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan di dalam Tafsirnya tentang ayat ini, “Berdasarkan ayat ini Imam Malik rahmatullah ‘alaih -dalam sebuah riwayat yang dinukil dari beliau- mengambil kesimpulan hukum untuk mengkafirkan kaum Rafidhah/Syi’ah yang mereka itu membenci para sahabat radhiyallahu’anhum. Imam Malik beralasan, ‘Sebab para sahabat itu telah membuat mereka -yaitu orang Syi’ah- menjadi murka. Maka barang siapa yang marah kepada para sahabat, itu artinya dia telah kafir menurut ayat ini.’.”</p>
<p>Alangkah indah dan tegas ucapan Imam Malik. Inilah petir yang akan menghanguskan segala upaya musuh-musuh Sunnah untuk memadamkan cahaya kebangkitan dakwah salafiyah di bumi pertiwi ini, yakinlah apabila kita benar-benar membela agama Allah maka Allah tidak segan-segan untuk mengerahkan bala tentara-Nya demi membela pasukan-pasukan Sunnah. Namun sebaliknya, apabila ternyata perjuangan kita telah terkotori oleh motif-motif yang rendah dan hina maka jangan salahkan siapa-siapa atas keterpurukan nasib kita. Bukankah Allah ta’ala telah mengingatkan kita (yang artinya), “<em>Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri.</em>” (QS. ar-Ra’d: 11).</p>
<p>Ikhwah sekalian, apa yang kita lakukan ini belum seberapa apabila dibandingkan dengan jasa besar para sahabat dalam menegakkan dakwah Islam di muka bumi ini. Janganlah kita lupa daratan dan menganggap diri kita suci. Para sahabat telah mencontohkan kepada kita bahwa sedikit saja noda syirik mengotori hati manusia maka kekalahan tidak jauh dari mereka, ingatlah kejadian di perang Hunain, ketika banyaknya jumlah pasukan Islam telah membuat hati sebagian mereka ujub dan bangga diri seolah tak akan terkalahkan. Mereka lupa bahwa kemenangan bukan di tangan mereka, namun kemenangan itu adalah milik Allah yang akan diberikan-Nya kepada hamba-hamba yang bertauhid dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “<em>Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal salih di antara kalian, bahwa Dia akan memberikan kekuasaan kepada mereka sebagaimana yang telah diberikan-Nya kepada orang-orang sebelum mereka, dan sungguh Dia akan meneguhkan agama yang telah Dia ridhai untuk mereka, serta Dia akan menukar rasa takut mereka dengan keamanan, mereka beribadah kepada-Ku dan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apapun.</em>” (QS. an-Nur: 55). Inna wa’dallahi haqq, walakinna aktsaran naasi laa ya’lamuun.</p>
<p>Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi</p>
<p>Artikel <a href="http://www.muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-1864"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fkemuliaan-hanya-dengan-kembali-kepada-manhaj-salaf.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fkemuliaan-hanya-dengan-kembali-kepada-manhaj-salaf.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fkemuliaan-hanya-dengan-kembali-kepada-manhaj-salaf.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/kemuliaan-hanya-dengan-kembali-kepada-manhaj-salaf.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa Harus Manhaj Salaf ?</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/mengapa-harus-manhaj-salaf.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/mengapa-harus-manhaj-salaf.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Aug 2008 11:39:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=292</guid>
		<description><![CDATA[Pernahkah terbetik pertanyaan ketika kita membaca, &#8220;Tunjukilah kami jalan yang lurus&#8221; (QS. Al Fatihah : 6), bagaimana jalan yang lurus itu? Itulah jalan yang telah Allah jelaskan pada ayat berikutnya, &#8220;(yaitu) jalan orang-orang yang telah<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/mengapa-harus-manhaj-salaf.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Pernahkah terbetik  pertanyaan ketika kita membaca, <em>&#8220;Tunjukilah kami jalan yang lurus&#8221;</em> (QS. Al Fatihah : 6), bagaimana jalan yang lurus itu? Itulah jalan yang telah  Allah jelaskan pada ayat berikutnya, <em>&#8220;(yaitu) jalan orang-orang yang  telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka &#8230;&#8221; </em> Begitu pula dalam  surat lain, <em>&#8220;Dan barang siapa yang  mentaati Allah dan Rasul(-Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan <strong>orang-orang  yang telah dianugerahi nikmat oleh Allah</strong>, yaitu: para nabi, para shiddiqqin,  orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman  yang sebaik-baiknya&#8221; </em>(QS. An  Nisaa&#8217;: 69)<br />
<span id="more-292"></span><br />
<strong>Siapakah </strong><em><strong>Salaf</strong></em><strong> Itu?</strong></p>
<p>Secara bahasa, <em>salaf</em> artinya <em>pendahulu</em> dan secara istilah yang dimaksud dengan <em>salaf </em> itu adalah Rasulullah dan para sahabatnya. Ini bukan klaim tanpa bukti, jika  kita cermati ayat di atas, yang dimaksud dengan <em>orang-orang yang telah  dianugerahi nikmat oleh Allah</em> tidak lain adalah Rasulullah dan para sahabatnya,  generasi <em>salaf</em>. Nabi yang paling utama ialah Nabi Muhammad<em>,</em> imamnya shiddiqin ialah Abu Bakar, imamnya para syuhada&#8217; ialah Hamzah bin  &#8216;Abdil Muthalib, &#8216;Umar bin Al Khaththab, &#8216;Utsman bin &#8216;Affan dan &#8216;Ali bin Abi Thalib.  Dan orang saleh yang paling saleh adalah seluruh sahabat Nabi. Merekalah salaf  kita, yang jalan mereka (baca: manhaj) dalam beragama itulah yang seharusnya  kita ikuti, baik dalam akidah, muamalah maupun dakwah.</p>
<p><strong>Manhaj Salaf Adalah Jalan Kebenaran</strong></p>
<p>Allah berfirman, <em>&#8220;Dan  barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas petunjuk baginya. dan mengikuti  jalan yang bukan <strong>jalan orang-orang mu&#8217;min</strong>, Kami biarkan ia leluasa  terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam  Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali&#8221;</em> (QS. An  Nisaa&#8217;: 115)</p>
<p>Ketika ayat ini  diturunkan, orang-orang mu&#8217;min yang dimaksud adalah para sahabat Nabi. Bahkan  Allah telah meridhai mereka dan orang-orang sesudahnya yang mengikuti mereka  serta menjanjikan untuk mereka balasan yang besar. <em>&#8220;Orang-orang yang  terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara <strong>orang-orang  Muhajirin dan Anshar</strong> dan <strong>orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik</strong>,  Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah, Allah telah  menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya;  mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar&#8221;</em> (QS. At Taubah: 100). Demikianlah, <em>Salafiyyah</em> adalah Islam itu sendiri  yang murni dari pengaruh-pengaruh peradaban lama dan warisan berbagai kelompok  sesat. Islam yang sesuai dengan pemahaman <em>salaf</em> telah banyak dipuji oleh  nash-nash al-Qur&#8217;an dan as-Sunnah.</p>
<p><strong>Manhaj Salaf Adalah Manhaj Ahlus Sunnah</strong></p>
<p>Penamaan <em>salaf</em> bukanlah suatu hal yang bid&#8217;ah. Bahkan Rasulullah telah menegaskan saat beliau  sakit mendekati wafatnya, di mana beliau bersabda kepada putrinya, Fathimah, <em>&#8220;Bertakwalah  kepada Allah dan bersabarlah, dan sesungguhnya aku adalah sebaik-baik <strong>salaf</strong> bagimu&#8221;</em> (HR. Muslim). Para ulama ahlus sunnah dulu dan sekarang banyak  menggunakan istilah <em>salaf </em>dalam ucapan dan kitab-kitab mereka. Seperti  contohnya ketika mereka memerangi kebid&#8217;ahan, mereka mengatakan, &#8220;Dan  setiap kebaikan itu dengan mengikuti kaum <em>salaf</em>, sedangkan semua  keburukan berasal dari bid&#8217;ahnya kaum <em>kholaf</em> (belakangan)&#8221;. Syaikhul  Islam Ibnu Taimiyyah berkata dalam <em>Majmu’ fatawa</em>nya bahwa tidak ada aib  bagi yang menampakkan madzhab salaf dan bernasab padanya, bahkan wajib  menerimanya secara ijma’, karena madzhab salaf itulah kebenaran.</p>
<p><strong>Kembali Kepada Manhaj Salaf, Solusi Problematika Umat</strong></p>
<p>Sungguh, kehinaan dan  ketertindasan umat ini akan tercabut dengan kembalinya umat pada agama Islam  yang murni, yaitu dengan meniti manhaj <em>salaf</em>. Di tengah maraknya  perpecahan umat ini di mana banyak dijumpai cara beragama yang berbeda-beda dan  saling bertentangan, maka hanya ada satu jalan yang benar yaitu jalan yang  sesuai dengan petunjuk Nabi s<em>hallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</em> Inilah yang  kemudian disebut dengan <em>kembali kepada pemahaman yang benar,</em> pemahamannya Rasulullah dan tiga generasi awal umat ini, para sahabatnya, para  tabi&#8217;in, tabi&#8217; tabi&#8217;in, serta para pengikut mereka yang setia dari kalangan  para imam dan ulama. Tidak ada jalan lain untuk mencari kebenaran dan <em>ishlah</em> (perbaikan) yang hakiki melainkan harus kembali kepada pemahaman <em>salaf</em>.  Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Malik, &#8220;Tidak akan baik keadaan umat  terakhir ini kecuali dengan apa yang menjadi baik dengannya generasi pertama.&#8221;</p>
<p><em>Wallahu a&#8217;lam</em>.</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Abu Yazid Nurdin<br />
Artikel www.muslim.or.id</p>
<div class="shr-publisher-292"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fmengapa-harus-manhaj-salaf.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fmengapa-harus-manhaj-salaf.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fmengapa-harus-manhaj-salaf.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/mengapa-harus-manhaj-salaf.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

