<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muslim.Or.Id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah &#187; Sahabat Nabi</title>
	<atom:link href="http://muslim.or.id/tag/sahabat-nabi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muslim.or.id</link>
	<description>Pesantren online agama Islam berdasarkan Qur&#039;an dan Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih</description>
	<lastBuildDate>Sat, 11 Feb 2012 04:00:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Jangan Kau Cela Sahabat Nabimu</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/jangan-kau-cela-sahabat-nabimu.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/jangan-kau-cela-sahabat-nabimu.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Dec 2011 23:00:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[rafidhah]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[syiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=7704</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Rabbul ‘Alamin. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/jangan-kau-cela-sahabat-nabimu.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala </em>dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya <em>Rabbul ‘Alamin.</em> Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi was sallam.</em></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Agama adalah Nasihat</strong></span></p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam </em>bersabda sebagaimana yang diriwayatkan dari sahabat Abu Rayyah Tamiim bin Aus Ad Daariy <em>rodhiyallahu ‘anhu,</em></p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">« الدِّينُ النَّصِيحَةُ » قُلْنَا لِمَنْ قَالَ « لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ <span style="text-decoration: underline;">وَعَامَّتِهِمْ</span> »</p>
<p style="text-align: left;" align="center">“<em>Agama adalah nasihat. Kami (para sahabat bertanya), “Kepada siapa wahai Rosul?” Beliau menjawab, “Kepada Allah, KitabNya, RasulNya, Penguasa Kaum Muslimin dan <strong><span style="text-decoration: underline;">Kaum Muslimin secara umum</span></strong></em>”<a title="" href="#_ftn1">[1]</a>.</p>
<p>Para ulama menafsirkan tentang yang dimaksud oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam </em>dalam hadits ini. Salah satu penafsirannya adalah mengingikan kebaikan untuk orang yang dinasihati (<strong>إِرَادَةُ الْخَيْرِ لِلْمَنْصُوْحِ لَهُ</strong>)<a title="" href="#_ftn2">[2]</a>. Maka inilah yang menjadi dasar dan tujuan kami menuliskan tulisan ini, mudah-mudahan Allah <em>&#8216;Azza wa Jalla </em>menjaga niat kami.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Pengertian Sahabat Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi was sallam</em></strong></span></p>
<p>Al Hafidz Abul Fida’ ‘Isma’il bin ‘Umar bin Katsir Ad Dimasyqiy Asy Syafi’i <em>rahimahullah </em>(terkenal dengan sebutan Ibnu Katsir) mengatakan,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">والصَّحَابِيُ: مَنْ رَأَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ حَالِ إِسْلَامِ الرَّاوِي، وَإِنْ لَمْ تَطُلْ صُحْبَتُهُ لَهُ، وَإِنْ لَمْ يَرْوِ عَنْهُ شَيْئاً.هَذَا قَوْلُ جُمْهُوِر الْعُلَمَاءِ، خَلَفاً وَسَلَفاً.</p>
<p>“Sahabat adalah orang yang melihat Rosulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi was sallam </em>dan ia dalam keadaan islam, walaupun masa kebersamaannya dengan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi was sallam </em>tidak dalam jangka waktu yang lama, walaupun ia tidak meriwayatkan satu haditspun. Inilah pengertian sahabat menurut mayoritas ulama terdahulu maupun belakangan”<a title="" href="#_ftn3">[3]</a>.</p>
<p>Sedangkan Al Hafizh Abul Fadhl Ahmad bin ‘Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Hajar Al Asqolaniy Asy Syafi’i <em>rahimahullah </em>(terkenal dengan Ibnu Hajar Al Asqalaniy) mengatakan,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">مَنْ لَقِيَ النَّبِيَ صَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَ عَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ مُؤْمِنًا بِهِ وَ مَاتَ عَلَى الْإِسْلَامِ وَلَوْ تَخَلَّلَتْ رِدَّةٌ فِيْ الْأَصَحِّ</p>
<p>“Orang yang bertemu Nabi <em>Shallallahu Ta’ala ‘Alaihi wa ‘Ala Alihi wa Sallam </em>dalam keadaan berimman kepadanya dan mati dalam keadaan islam walau diantarai dengan kemurtadan (yaitu diantara bertemu Nabi dan kematiannya dalam islam) menurut pendapat yang paling kuat”<a title="" href="#_ftn4">[4]</a>.</p>
<p>Secara umum inilah pengertian sahabat menurut para ulama’. Allahu a’lam pendapat yang lebih tepat dalam masalah ini adalah pendapat kedua adalah pendapat yang lebih kuat sehingga Abdullah bin Ummi Maktum dan Al Asy’ats bin Qois <em>rodhiyallahu ‘anhuma</em>.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Keutamaan Para Sahabat</strong></span></p>
<p>Salah satu gambaran yang dapat memberikan kepada kita tentang keutamaan para sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam </em>adalah pertanyaan berikut. Ketika ummat selain islam ditanya, “Siapakah manusia yang paling mulia setelah para Nabi?” Maka kemungkinan besar jawaban mereka adalah para sahabat Nabi atau orang-orang yang menjadi murid Nabi. Maka seandainya hal ini saja kita renungkan maka sudah mencukupi <em>insya Allah</em>.</p>
<p>Namun Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam </em>adalah orang yang paling kasih sayang kepada ummatnya dan orang yang mendapat kabar dari Allah tentang hal yang akan terjadi pun telah mempertegas hal ini. Seakan-akan beliau hendak mengabarkan kepada kita bahwa kelak ada sekelompok orang yang akan membenci para sahabatnya <em>rodhiyallahu ‘anhum.</em> Beliau <em>shallallahu ‘alaihi was sallam </em>mengatakan,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِى ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ<strong></strong></p>
<p>“<em>Manusia yang paling baik adalah (manusia pada) kurun waktuku (para sahabat), kemudian orang-orang setelah mereka (tabi’un) kemudian orang setelah mereka (tabi’ut tabi’in)</em>”<a title="" href="#_ftn5">[5]</a>.</p>
<p>Jika kita menulusuri kitab-kitab hadits maka akan sangat banyak kita temukan hadits-hadits yang menunjukkan keutamaan para sahabat secara umum dan personal mereka secara khusus.</p>
<p>Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala </em>berfirman tentang para sahabat yang menunjukkan betapa kedudukan mereka di sisi Allah <em>&#8216;Azza wa Jalla</em>,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ <span style="text-decoration: underline;">رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ</span> وَ<span style="text-decoration: underline;">أَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ </span>تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ <span style="text-decoration: underline;">خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا</span> ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ</p>
<p>“<em>Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshor (yaitu para sahabat Perang Badar atau Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam seluruhnya)<a title="" href="#_ftn6">[6]</a> dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, <strong><span style="text-decoration: underline;">Allah ridho kepada mereka dan merekapun ridho kepada Allah</span></strong> dan <strong><span style="text-decoration: underline;">Allah menyediakan bagi mereka surga-surga</span></strong> yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. <strong><span style="text-decoration: underline;">Mereka kekal di dalamnya</span></strong>. Itulah kemenangan yang besar</em>”. (QS. At Taubah [9] : 100).</p>
<p>Seandainya tidak ada ayat yang lain dan hadits lainnya maka tidak berlebihan jika kita mengatakan cukuplah dalil dari ayat dan hadits di atas yang menunjukkan betapa agungnya kedudukan para sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam </em>di sisi Allah <em>&#8216;Azza wa Jalla</em>, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam</em> dan agama ini.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Keyakinan Ahlus Sunnah tentang Para Sahabat</strong></span></p>
<p>Al Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi’i <em>rahimahullah </em>yang terkenal dengan sebutan Imam Syafi’i (150-204 H) mengatakan,</p>
<p>“Tidaklah aku melihat orang yang tertimpa musibah berupa mencaci para Sahabat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi was sallam </em>melainkan Allah akan tambahkan kepada mereka (para sahabat) pahala di saat telah terputusnya amal mereka”. Dalam sebuah riwayat dari Ar Robi’ yang maknanya “Melainkan Allah akan ganjar mereka (para sahabat) dengan kebaikan meskipun mereka telah mati”<a title="" href="#_ftn7">[7]</a>. Beliau juga mengatakan, “Manusia yang paling utama setelah kedudukan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam </em>adalah Abu Bakar kemudian ‘Umar kemudian ‘Utsman kemudian ‘Ali <em>ridwanullah ‘alaihim</em>”<a title="" href="#_ftn8">[8]</a>.</p>
<p>Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad bin Salamah Al Azdiy Ath Thohawiy <em>rahimahullah </em>(239-321 H) mengatakan, “Kami (Ahlus Sunnah) mencintai para sahabat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi was sallam</em>. Kami tidak berlebih-lebihan salah seorang dari mereka dan tidak membenci salah seorang dari mereka. Kami membenci orang yang membenci mereka dan tidak menyebut kebaikan orang-orang yang membenci mereka ketika menyebut nama orang-orang yang membenci mereka. Kami tidaklah menyebut-nyebut sahabat melainkan hanya dengan kebaikan-kebaikan mereka. Mencintai mereka merupakan bagian dari agama, iman dan ihsan sedangkan membenci mereka merupakan bagian dari kekafiran, kemunafikan dan perbuatan melampaui batas yang ditentukan syari’at”<a title="" href="#_ftn9">[9]</a>.</p>
<p>Seorang ulama ahlus sunnah wal jama’ah Imam Abu Utsman Isma’il bin Abdir Rahman Ash Shabuni Asy Syafi’i <em>rahimahullah </em>(373-449 H) mengatakan,</p>
<p>“Para Ashabul Hadits (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) bersaksi dan meyakini bahwasanya sahabat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi was sallam </em>yang paling utama adalah Abu Bakar kemudian setelahnya ‘Umar kemudian setelahnya ‘Utsman kemudian setelahnya ‘Ali dan mereka semua adalah khulafaur rosyidun yang Rosulullah<em> shallallahu ‘alaihi was sallam </em>sebutkan tentang kekhalifan mereka sebagaimana yang diriwayatkan Sa’id bin Jamhan dari Safinah (budak Rosulullah <em>shallallahu ‘alaihi was sallam</em>) “Khilfah setelahku tiga puluh tahun&#8230;”<a title="" href="#_ftn10">[10]</a>.</p>
<p>Maka cukuplah perkataan imam-imam di atas menjadi penjelas bagi kita tentang bagaimana aqidah ahlus sunnah terhadap para sahabat.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Keyakinan Ahlus Sunnah tentang Kekhalifahan Abu Bakar</strong></span></p>
<p>Imam Syafi’i <em>rahimahullah </em>mengatakan, “Abu Bakar adalah khalifah (pengganti) Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam </em>dan ‘amil setelah wafatnya beliau”<a title="" href="#_ftn11">[11]</a>. Beliau juga mengatakan, “Kekhalifahan Abu Bakar adalah sebuah kebenaran yang Allah tentukan dari atas langit yang ke tujuh”<a title="" href="#_ftn12">[12]</a>.</p>
<p><strong>Hukum Membenci Para Sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam</em></strong></p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam </em>bersabda sebagaimana yang diriwayatkan Abu Sa’id Al Khudri <em>rodhiyallahu ‘anhu</em>,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">كَانَ بَيْنَ خَالِدِ بْنِ الْوَلِيدِ وَبَيْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ شَىْءٌ فَسَبَّهُ خَالِدٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لاَ تَسُبُّوا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِى فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ ».</p>
<p style="text-align: left;" align="center">“<em>Dahulu terjadi sesuatu hal antara Kholid bin Walid dan Abdur Rohman bin ‘Auf. Kemudian Khalid bin Walid mencaci Abdur Rahman bin ‘Auf”. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam bersabda, “Janganlah kalian mencaci salah seorang dari sahabatku karena seandainya seseorang dari kalian berinfaq dengan emas seukuran Gunung Uhud maka (pahalanya) tidak dapat menyamai infaq para sahabatku dengan ukuran 1 mud (takaran untuk dua gengaman tangan normal) ataupun setengahnya</em>”<a title="" href="#_ftn13">[13]</a>.</p>
<p>Tidak diragukan lagi bahwa kedua orang di atas yaitu Khalid bin Walid dan Abdur Rahman bin ‘Auf adalah dua orang sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam </em>yang mulia. Namun suatu hal yang juga tidak diragukan bahwa Abdur Rahman bin ‘Auf memiliki kemulian yang lebih karena ia lebih dahulu masuk islam daripada Khalid bin Walid <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>. Namun walaupun kedudukan yang mulia yang dimiliki Khalid bin Walid sebagai sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam </em>beliau melarang keras mencaci para sahabat yang lebih dahulu masuk islam padahal mereka berdua adalah orang-orang yang diridhai Allah dan mereka ridho kepada Allah. Maka bagaimanakah lagi kerasnya larangan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam </em>kepada oranng-orang yang jauh berada di bawah Sahabat Khalid bin Walid yang jasanya sangat besar dalam islam dan penyebaran agama ini ?! Selannjutnya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam </em>memisalkan jika seandainya Khalid bin Walid berinfaq emas sebesar Uhud maka pahalanya tidak akan melampaui pahala infaq Abdur Rahman bin ‘Auf walaupun dengan satu mud ataupun setengahnya infaq beliau. Para ulama berselisih pendapat infaq 1 mud apa yang dimaksud, ada yang mengatakan emas dan ada yang mengatakan makanan pokok, namun yang lebih kuat adalah makanan pokok karena yang ditakar dengan mud adalah makanan pokok bukan emas<a title="" href="#_ftn14">[14]</a>.</p>
<p>Berdasarkan hadits di atas dan hadits-hadits lainnya dan ayat-ayat Al Qur&#8217;an para ulama menetapkan hukum mencaci para sahabat. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin <em>rahimahullah </em>mengatakan, “Larangan ini menunjukkan konsekuensi hukum haram. Maka seseorang tidak boleh mencaci sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam </em>secara umum dan secara khusus personal mereka. Jika dia mencaci para sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam </em>secara umum maka ia telah kafir bahkan tidaklah diragukan kafirnya orang yang meragukan kekafiran orang yang semisal ini. Adapun jika ia mencaci salah seorang atau para sahabat secara personalnya maka dilihat apa yang menjadi faktor pendorongnya. Jika ia mencacinya karena alasan bentuk tubuhnya, tabiatnya atau agamanya maka masing-masing hal ini memiliki konsekuensi hukum tersendiri”<a title="" href="#_ftn15">[15]</a>.</p>
<p>Dalam kesempatan lain beliau <em>rahimahullah </em>pernah ditanya sebuah pertanyaan apakah kita mengkafirkan orang-orang yang mencela para sahabat, maka beliau memberikan jawaban sebagai berikut,</p>
<p>“Permasalahan pengkafiran mereka ataupun tidak mungkin saja terjadi pada mereka dari sisi yang lain yang jauh lebih besar dari perkara mencela para sahabat. Karena sebagian mereka yang sangat parah kesesatannya mengatakan bahwa para imam mereka adalah yang mengatur alam semesta padahal yang benar Allah <em>&#8216;Azza wa Jalla</em> lah yang mengaturnya. Mereka mengatakan para imam mereka mampu mengatur alam semesta. Mereka juga mengklaim bahwa sebagian imam mereka berada pada tingkatan yang tidak mampu dicapai malaikat dan para Nabi. Maka keyakinan semisal ini adalah sebuah hal yang lebih parah daripada sekedar mencela para sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi was sallam</em>”<a title="" href="#_ftn16">[16]</a>.</p>
<p>Syaikh Prof. DR. Ibrahim Ar Ruhailiy <em>hafidzahullah </em>mengatakan, “Adapun masalah pengkafiran mereka (Syi’ah Rafidhah yang gemar mencaci maki para sahabat terutama Abu Bakar dan ‘Umar –ed.) maka hal ini telah disebutkan Syaikhul Islam bahwa para ulama memiliki dua pendapat yang terkenal seputar pengkafiran mereka dan khowarij. Kemudian Syaikhul Islam mengatakan, “Yang benar bahwa pendapat-pendapat yang mereka katakan yang diketahui bahwa semua itu bertentangan dengan ajaran yang dibawa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi was sallam </em>merupakan kekufuran. Demikian juga tindakan-tindakan mereka yang merupakan jenis perbuatan orang-orang kuffar kepada kaum muslimin juga merupakan bentuk kekufuran&#8230;.. Akan tetapi mengkafirkan individu tertentu dari mereka dan memberikan vonis kekal di neraka tergantung pada apakah telah benar-benar tegak pada mereka syarat-syarat pengkafiran dan tidak adanya faktor yang memalingkannya”<a title="" href="#_ftn17">[17]</a>.</p>
<p>Sebagai tambahan agar kita lebih takut dan menjaga lisan kita dari perbuatan mencaci para sahabat kami sampaikan penutup sebagai berikut.</p>
<p>Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi was sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا الْلَعَّانِ وَلَا الْفَاحِش وَلَا الْبَذِى</p>
<p style="text-align: left;" align="center">“<em><strong>Bukanlah orang yang beriman orang yang suka mencela</strong>, orang yang suka melaknat, orang yang fahisy (sengaja menambah kata-kata keji dan melakukan perbuatan keji) dan orang yang tidak punya malu</em>”<a title="" href="#_ftn18">[18]</a>.</p>
<p>Hadits ini ditujukan umum kepada kaum muslimin yang mencela muslim lainnya. Lalu bagaimana jika yang dicela adalah orang-orang yang senantiasa bersama Rosulullah <em>shollallahu &#8216;alaihi was sallam</em> ?! <em>Laa Hawla wa Laa Quwwata Illabillah</em> !!</p>
<p>Sigambal, Setelah Subuh 07 Muharram 1432 H / 03 Desember 2011</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Aditya Budiman bin Usman<br />
Artikel <a href="http://www.muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></p>
<div>
<p>&nbsp;</p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> HR. Muslim no. 55.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Lihat Syarh Al Arba’in An Nawawiyah oleh Syaikh Sholeh bin Abdul Aziz Alu Syaikh hal. 125 terbitan Darul Mustaqbal, Mesir.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Lihat Ba’itsul Hatsits oleh Ibnu Katsir dengan tahqiq Syaikh Ali bin Hasan Al Halabiy hal. 491/I terbitan Maktabah Ma’arif Riyadh.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> Lihat An Nukat ‘ala Nuzhatun Nadzor oleh Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqolaniy dengan tahqiq Syaikh ‘Ali bin Hasan Al Halabiy hal. 149 terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> HR. Bukhori no. 3651 dalam Bab Keutamaan Para Sahabat Nabi.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a> Lihat Tafsir Jalalain</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a> Lihat Manaqib Asy Syafi’i oleh Al Baihaqi hal. 331/I.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a> Idem hal. 433/I.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref9">[9]</a> Lihat Syarh Aqidah Thohawiyah oleh Ibnu Abil ‘Izz dengan tahqiq DR. ‘Abdullah At Turkiy dan Syu’aib Al Arnauth ha. 704/II, terbitan Mu’asasah Risalah, Beirut Lebanon.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref10">[10]</a> Lihat Aqidatus Salaf wa Ashabul Hadits oleh Abu ‘Utsman Ash Shobuni dengan tahqiq DR. Nashir bin ‘Abdur Rohman hal. 289 terbitan Darul ‘Ashimah, Riyadh, KSA.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref11">[11]</a> Lihat Manaqib Asy Syafi’i oleh Al Baihaqi hal. 434/I.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref12">[12]</a> Idem hal. 435/I.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref13">[13]</a> HR. Bukhori no. 3673 dan Muslim no. 2541 dan redaksi ini milik Muslim.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref14">[14]</a> Disarikan dengan perubahan redaksi dari Syarh Aqidah Wasitiyah oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin hal. 460, terbitan Dar Ibnu Jauziy, Riyadh, KSA.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref15">[15]</a> Sumber Idem hal. 461.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref16">[16]</a> Lihat Syarh Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin yang ditakhrij oleh Muhammad Samih hal. 293 terbitan Darul Qudsi.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref17">[17]</a>Lihat Mauqif Ahlis Sunnah wal Jama’ah min Ahlil Ahwa’ wal Bida’ oleh Syaikh Prof. DR. Ibrohim Ar Ruhailiy hal. 147/I terbitan Maktabah al Uluw wal Hikam, Madinah, KSA.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref18">[18]</a> HR. Ahmad no. 404/I, Tirmidzi dalam Kitab al Bir washilah Bab Maa Ja’a fil La’nah no. 1977, Ibnu Majah no. 192, al Hakim no. 12/I dan Al Bukhori dalam Adabul Mufrod no. 312 dan dinilai shohih oleh Al Albani.</p>
</div>
</div>
<div class="shr-publisher-7704"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fjangan-kau-cela-sahabat-nabimu.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fjangan-kau-cela-sahabat-nabimu.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fjangan-kau-cela-sahabat-nabimu.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/jangan-kau-cela-sahabat-nabimu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keutamaan Para Sahabat Nabi</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/keutamaan-para-sahabat-nabi.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/keutamaan-para-sahabat-nabi.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Nov 2011 23:00:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[fadhilah]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[rafidhah]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[syiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=7201</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, para sahabat dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa berpegang teguh pada sunnah Beliau sampai hari<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/keutamaan-para-sahabat-nabi.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Segala puji hanya bagi Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, para sahabat dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa berpegang teguh pada sunnah Beliau sampai hari kiamat.</p>
<p>Kaum muslimin yang kami muliakan, para sahabat Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah orang yang bertemu dengan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam keadaan beriman kepada beliau, dan mati dalam keadaan muslim. Mereka adalah generasi terbaik dari umat ini.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL">خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ</p>
<p><em>“Sebaik-baik manusia ialah pada generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.”</em> (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 3651, dan Muslim, no. 2533)</p>
<p>Para sahabat Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah <em>Ta&#8217;ala</em>. Mereka telah diberikan anugerah yang begitu besar yakni kesempatan bertemu dan menemani Nabi-Nya <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Allah <em>Ta’ala</em> telah memilih mereka untuk mendampingi dan membantu Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam menegakkan agama-Nya. Orang-orang pilihan Allah ini, tentunya memiliki kedudukan istimewa di bandingkan manusia yang lain. Karena Allah Ta&#8217;ala tidak mungkin keliru memilih mereka.</p>
<p>&#8216;Abdullah Ibnu Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL">إِنَّ اللهَ نَظَرَ فِي قُلُوْبِ الْعِبَادِ فَوَجَدَ قَلْبَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرَ قُلُوْبِ الْعِبَادِ، فَاصْطَفَاهُ لِنَفْسِهِ فَابْتَعَثَهُ بِرِسَالَتِهِ، ثُمَّ نَظَرَ فِي قُلُوْبِ الْعِبَادِ بَعْدَ قَلْبِ مُحَمَّدٍ، فَوَجَدَ قُلُوْبَ أَصْحَابِهِ خَيْرَ قُلُوْبِ الْعِبَادِ فَجَعَلَهُمْ وُزَرَاءَ نَبِيِّهِ يُقَاتِلُوْنَ عَلَى دِيْنِهِ، فَمَا رَأَى الْمُسْلِمُوْنَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ، وَمَا رَأَوْا سَيِّئًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ سَيِّئٌ</p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah memperhatikan hati para hamba-Nya. Allah mendapati hati Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam adalah hati yang paling baik, sehingga Allah memilihnya untuk diri-Nya dan mengutusnya sebagai pembawa risalah-Nya. Kemudian Allah melihat hati para hamba-Nya setelah hati Muhammad. Allah mendapati hati para sahabat beliau adalah hati yang paling baik. Oleh karena itu, Allah menjadikan mereka sebagai para pendukung Nabi-Nya yang berperang demi membela agama-Nya. Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin (para sahabat), pasti baik di sisi Allah. Apa yang dipandang buruk oleh mereka, pasti buruk di sisi Allah.”</em> (Diriwayatkan oleh Ahmad dalam <em>al-Musnad</em>, I/379, no. 3600. Syaikh Ahmad Syakir mengatakan bahwa sanadnya shohih).</p>
<p>Para sahabat Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah orang-orang yang paling tinggi ilmunya. Merekalah yang paling paham perkataan dan perilaku Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Merekalah manusia yang paling paham tentang Al-Qur&#8217;an, karena mereka telah mendampingi Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tatkala wahyu diturunkan, sehingga para sahabat benar-benar mengetahui apa yang diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</em></p>
<p><strong>Keberkahan Para Sahabat <em>radhiyallahu ‘anhum</em></strong></p>
<p>Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> telah melimpahan keberkahan kepada Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dengan para sahabat yang begitu taat dan besar cintanya kepada beliau. Tidak ada satupun Nabi maupun para raja yang mendapatkan keberkahan seperti ini dari umatnya.</p>
<p>&#8216;Urwah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>, tatkala dulu masih kafir, dia berkata kepada kaumnya dan menceritakan bagaimana para sahabat <em>radhiyallahu &#8216;anhum</em> begitu memuliakan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Dia mengatakan, “Wahai kaumku! Demi Allah, sungguh aku telah datang kepada para raja. Aku telah bertemu Kaisar, Kisra, dan an-Najasyi. Demi Allah, aku tidak pernah melihat seorang raja pun yang diagungkan oleh para sahabatnya melebihi apa yang dilakukan para sahabat Muhammad kepada Muhammad. Demi Allah, tidaklah Muhammad membuang dahak melainkan dahak itu jatuh ke tangan salah seorang dari mereka, lalu dia mengusapkannya ke wajah dan kulitnya. Jika Muhammad memerintahkan sesuatu kepada mereka, niscaya mereka melaksanakannya dengan segera. Jika Muhammad berwudhu, mereka hampir berkelahi memperebutkan tetesan airnya. Jika mereka berbicara, mereka memelankan suara di hadapannya. Mereka tidak berani menatapnya karena penghormatan mereka yang besar kepadanya.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Kitab <em>Asy-Syuruuth</em>, V/329-332).</p>
<p>Bandingkanlah kemuliaan mereka dengan para sahabat Nabi Musa <em>‘alaihis salam</em>. Tatkala Nabi Musa mengajak mereka untuk beriman, mereka mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL">يَا مُوسَى لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّى نَرَى اللهَ جَهْرَةً (55)</p>
<p><em>“Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas.”</em> (QS. Al-Baqarah: 55)</p>
<p>Demikian pula ketika mereka diajak berjuang di jalan Allah, mereka berkata kepada Nabi Musa <em>‘alaihis salam</em>,</p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL">يَا مُوْسَى إِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا أَبَدًا مَا دَامُوْا فِيْهَا فَاذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلاَ إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُوْنَ (24)</p>
<p><em>“… Pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja.”</em> (QS. Al-Maidah: 24)</p>
<p>Padahal orang-orang yang Allah <em>Ta’ala</em> ceritakan dalam ayat ini adalah 70 orang terbaik dari kaumnya Nabi Musa. Sebagaimana Allah <em>Ta’ala</em> berfirman:</p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL">وَاخْتَارَ مُوْسَى قَوْمَهُ سَبْعِيْنَ رَجُلاً لِمِيْقَاتِنَا &#8230; (155)</p>
<p><em>“Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya..” </em>(QS. Al-A&#8217;raaf: 155).</p>
<p>Ayat ini menunjukkan bahwa 70 orang ini adalah manusia terbaik dari Bani Israil dan manusia pilihan dari kaum Nabi Musa <em>‘alaihis salam</em>. Akan tetapi, lihatlah sikap mereka kepada Nabinya, sampai-sampai Allah memberi teguran kepada mereka dengan bergetarnya bumi yang mereka pijak, sehingga Nabi Musa pun berkata kepada Allah Ta’ala,</p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL">أَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ السُّفَهَاءُ مِنَّا (155)</p>
<p><em>“Apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang</em><em> </em><em>yang kurang berakal di antara kami?”</em> (QS. Al-A&#8217;raaf: 155)</p>
<p>Nabi Musa <em>‘</em><em>alaihis salam</em> menyebut mereka sebagai orang-orang yang  kurang akal (bodoh), sekali pun mereka adalah orang-orang pilihan dari kaumnya. Lantas, bagaimana menurut Anda dengan orang-orang yang bersama Nabi Musa, yang bukan pilihan?</p>
<p>Tentang penghormatan para sahabat <em>radhiyallahu ‘anhum</em> kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, kita tidak akan mendapatkan bandingannya selama-lamanya. Bagaimana mereka menundukkan pandangannya dan memelankan suara di hadapan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam.</em> Demikian pula bagaimana mereka begitu semangat meraih berkah dari riak dan sisa air wudhu Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, sampai mereka berebut.</p>
<p>Kaum muslimin <em>rahimakumullah</em>, perlu kami ingatkan bahwa mengambil berkah dari riak dan air bekas wudhu ini hanya berlaku bagi Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan tidak berlaku pada orang lain. Tidak diperbolehkan seorang muslim mengambil berkah dari riak, sisa air wudhu atau sisa air minum ulama, kyai atau ustadznya. Oleh karena itu suatu kekeliruan jika para santri berebut sisa air minum kyainya karena dianggap ada berkah khusus pada minumannya. Semoga Allah memberikan hidayah-Nya kepada kita ke jalan yang lurus.</p>
<p><strong>Kemuliaan Hati Para Sahabat</strong></p>
<p>Diriwayatkan dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam,</em> maka Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengutus seseorang untuk bertanya kepada para istri beliau.</p>
<p>Mereka menjawab, “Kami hanya punya air.” Maka Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa salam</em> bersabda: <em>“Siapa berkenan menerima orang ini sebagai tamunya?”</em> Maka seorang laki-laki dari Anshar (yakni Abu Thalhah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>) mengatakan, “Saya bersedia.”</p>
<p>Lalu dia pulang membawa tamunya ke rumah. Dia berkata kepada istrinya, “Muliakanlah tamu Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.” Istrinya berkata, “Tapi kita tidak mempunyai makanan apa pun selain makanan anak-anak.”</p>
<p>Laki-laki itu berkata kepada istrinya, “Siapkan makanan, nyalakan lampu, tidurkanlah anak-anakmu jika kami hendak makan malam.” Maka istrinya menyiapkan makanan, menyalakan lampu, dan menidurkan anak-anaknya.</p>
<p>Kemudian istrinya berdiri seolah-olah hendak memperbaiki lampunya, namun justru memadamkannya. Lalu laki-laki itu bersama istrinya menampakkan kepada tamunya bahwa mereka berdua juga ikut makan (padahal tidak makan). Di malam itu, keduanya bermalam dalam keadaan menahan lapar.</p>
<p>Di pagi hari, laki-laki itu berangkat kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Maka Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “Tadi malam Allah takjub kepada perbuatan kalian berdua. Maka Allah <em>Ta’ala</em> menurunkan (firman-Nya):</p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL">وَيُؤْثِرُوْنَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوْقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ (9)</p>
<p><em>“Dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri,</em><em> </em><em>meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari</em><em> </em><em>kekikiran, maka mereka itulah orang orang yang beruntung.”</em> (QS.  Al-Hasyr: 9). (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 3798 dan Muslim, no. 2054)</p>
<p>Kedermawanan dan sifat mulia ini bukan hanya milik beberapa orang saja. Namun inilah sifat para sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Penulis: Muhaimin Ashuri</p>
<p>Muroja&#8217;ah: <a href="http://ustadzaris.com">Ustadz Aris Munandar, MA</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-7201"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fkeutamaan-para-sahabat-nabi.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fkeutamaan-para-sahabat-nabi.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fkeutamaan-para-sahabat-nabi.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/keutamaan-para-sahabat-nabi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meneladani Sahabat Nabi, Jalan Kebenaran</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/meneladani-sahabat-nabi-jalan-kebenaran.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/meneladani-sahabat-nabi-jalan-kebenaran.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Sep 2010 17:00:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[ahlus sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[al atsari]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=4680</guid>
		<description><![CDATA[Di tengah maraknya pemikiran dan pemahaman dalam agama Islam, klaim kebenaran begitu larisnya bak kacang goreng. Setiap kelompok dan jama&#8217;ah tentunya menyatakan diri sebagai yang lebih benar pemahamannya terhadap Islam, menurut keyakinannya. Kebenaran hanya milik<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/meneladani-sahabat-nabi-jalan-kebenaran.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Di tengah maraknya pemikiran dan pemahaman dalam agama Islam, klaim kebenaran begitu larisnya bak kacang goreng. Setiap kelompok dan jama&#8217;ah tentunya menyatakan diri sebagai yang lebih benar pemahamannya terhadap Islam, menurut keyakinannya.</p>
<p>Kebenaran hanya milik Allah. Namun kebenaran bukanlah suatu hal yang semu dan relatif. Karena Allah <em>Ta&#8217;ala </em>telah menjelaskan kebenaran kepada manusia melalui Al Qur&#8217;an dan bimbingan Nabi-Nya <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>. Tentu kita wajib menyakini bahwa kalam ilahi yang termaktub dalam Al Qur&#8217;an adalah memiliki nilai kebenaran mutlak. Lalu siapakah orang yang paling memahami Al Qur&#8217;an? Tanpa ragu, jawabnya adalah Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>. Dengan kata lain, Al Qur&#8217;an sesuai pemahaman Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dan sabda-sabda <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>itu sendiri keduanya adalah sumber kebenaran.</p>
<p>Yang menjadi masalah sekarang, mengapa ketika semua kelompok dan jama&#8217;ah mengaku telah berpedoman pada Al Qur&#8217;an dan Hadits, mereka masih berbeda keyakinan, berpecah-belah dan masing-masing mengklaim kebenaran pada dirinya? Setidaknya ini menunjukkan Al Qur&#8217;an dan sabda Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> ternyata dapat ditafsirkan secara beragam, dipahami berbeda-beda oleh masing-masing individu. Jika demikian maka pertanyaannya adalah, siapakah sebetulnya di dunia ini yang paling memahami Al Qur&#8217;an serta sabda-sabda Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>? Jawabnya, merekalah para sahabat Nabi <em>radhi&#8217;allahu &#8216;anhum ajma&#8217;in</em>.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Pengertian Sahabat Nabi</strong></span></p>
<p>Yang dimaksud dengan istilah &#8216;sahabat Nabi&#8217; adalah:</p>
<p style="text-align: center;">من رأى رسول الله صلى الله عليه وسلم في حال إسلام الراوي، وإن لم تطل صحبته له، وإن لم يرو عنه شيئاً</p>
<p>“Orang yang melihat Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>dalam keadaan Islam, yang meriwayatkan sabda Nabi. Meskipun ia bertemu Rasulullah tidak dalam tempo yang lama, atau Rasulullah belum pernah melihat ia sama sekali” <a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Empat sahabat Nabi yang paling utama adalah Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin &#8216;Affan dan &#8216;Ali bin Abi Thalib <em>radhiallahu&#8217;ahum ajma&#8217;in</em>. Tentang jumlah orang yang tergolong sahabat Nabi, Abu Zur&#8217;ah Ar Razi menjelaskan:</p>
<p style="text-align: center;">شهد معه حجة الوداع أربعون ألفاً، وكان معه بتبوك سبعون ألفاً، وقبض عليه الصلاة والسلام عن مائة ألف وأربعة عشر ألفاً من الصحابة</p>
<p>“Empat puluh ribu orang sahabat Nabi ikut berhaji wada bersama Rasulullah. Pada masa sebelumnya 70.000 orang sahabat Nabi ikut bersama Nabi dalam perang Tabuk. Dan ketika Rasulullah wafat, ada sejumlah 114.000 orang sahabat Nabi”<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Keutamaan Sahabat</strong></span></p>
<p>Para sahabat Nabi adalah manusia-manusia mulia. Imam Ibnu Katsir menjelaskan keutamaan sahabat Nabi:</p>
<p style="text-align: center;">والصحابة كلهم عدول عند أهل السنة والجماعة، لما أثنى الله عليهم في كتابه العزيز، وبما نطقت به السنة النبوية في المدح لهم في جميع أخلاقهم وأفعالهم، وما بذلوه من الأموال والأرواح بين يدي رسول الله صلى الله عليه وسلم</p>
<p>“Menurut keyakinan Ahlussunnah Wal Jama&#8217;ah, seluruh para sahabat itu orang yang adil. Karena Allah <em>Ta&#8217;ala </em>telah memuji mereka dalam Al Qur&#8217;an. Juga dikarenakan banyaknya pujian yang diucapkan dalam hadits-hadits Nabi terhadap seluruh akhlak dan amal perbuatan mereka. Juga dikarenakan apa yang telah mereka korbankan, baik berupa harta maupun nyawa, untuk membela Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>”<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Pujian Allah terhadap para sahabat dalam Al Qur&#8217;an diantaranya:</p>
<p style="text-align: center;">وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ</p>
<p>“<em>Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar</em>” (QS. At Taubah: 100)</p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>pun memuji dan memuliakan para sahabatnya. Beliau bersabda:</p>
<p style="text-align: center;">لا تزالون بخير ما دام فيكم من رآني وصاحبني ومن رأى من رآني ومن رأى من رأى من رآني</p>
<p>“<em>Kebaikan akan tetap ada selama diantara kalian ada orang yang pernah melihatku dan para sahabatku, dan orang yang pernah melihat para sahabatku (tabi&#8217;in) dan orang yang pernah melihat orang yang melihat sahabatku (tabi&#8217;ut tabi&#8217;in)</em>”<a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Beliau <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>juga bersabda:</p>
<p style="text-align: center;">خير الناس قرني ، ثم الذين يلونهم ، ثم الذين يلونه</p>
<p>“<em>Sebaik-baik manusia adalah yang ada pada zamanku, kemudian setelah mereka, kemudian setelah mereka</em>”<a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Dan masih banyak lagi pujian dan pemuliaan dari Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>terhadap para sahabatnya yang membuat kita tidak mungkin ragu lagi bahwa merekalah umat terbaik, masyarakat terbaik, dan generasi terbaik umat Islam. Berbeda dengan kita yang belum tentu mendapat ridha Allah dan baru kita ketahui kelak di hari kiamat, para sahabat telah dinyatakan dengan tegas bahwa Allah pasti ridha terhadap mereka. Maka yang layak bagi kita adalah memuliakan mereka, meneladani mereka, dan tidak mencela mereka. Imam Abu Hanifah berkata:</p>
<p style="text-align: center;">أفضل الناس بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم : أبوبكر وعمر وعثمان وعلي , ثم نكف عن جميع أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم إلا بذكر جميل</p>
<p>“Manusia yang terbaik setelah Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> adalah Abu Bakar, lalu Umar, lalu Utsman lalu Ali. Kemudian, kita wajib menahan lisan kita dari celaan terhadap seluruh sahabat Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>, kita tidak boleh menyebut mereka kecuali dengan sebutan-sebutan yang indah”<a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Lebih lagi Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>bersabda:</p>
<p style="text-align: center;">لا تسبوا أصحابي ، فلو أن أحدكم أنفق مثل أحد ذهبا ، ما بلغ مد أحدهم ولا نصيف</p>
<p>“<em>Jangan engkau cela sahabatku, andai ada diantara kalian yang berinfaq emas sebesar gunung Uhud, tetap tidak akan bisa menyamai pahala infaq sahabatku yang hanya satu mud (satu genggam), bahkan tidak menyamai setengahnya</em>”<a href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Pemahaman Sahabat Nabi, Sumber Kebenaran</strong></span></p>
<p>Jika kita telah memahami betapa mulia kedudukan para sahabat Nabi, dan kita juga tentu paham bahwa tidak mungkin ada orang yang lebih memahami perkataan dan perilaku Nabi selain para sahabat Nabi,  maka tentu pemahaman yang paling benar terhadap agama Islam ada para mereka. Karena merekalah yang mendakwahkan Islam serta menyampaikan sabda-sabda Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>hingga akhirnya sampai kepada kita, <em>walhamdulillah</em>. Merekalah &#8216;penghubung&#8217; antara umat Islam dengan Nabinya.</p>
<p>Oleh karena ini sungguh aneh jika seseorang berkeyakinan atau beramal ibadah yang sama sekali tidak diyakini dan tidak diamalkan oleh para sahabat, lalu dari mana ia mendapatkan keyakinan itu? Apakah Allah <em>Ta&#8217;ala </em>menurunkan wahyu kepadanya? Padahal turunnya wahyu sudah terhenti dan tidak ada lagi Nabi sepeninggal Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>. Dari sini kita perlu menyadari bahwa mengambil metode beragama Islam yang selain metode beragama para sahabat, akan menjerumuskan kita kepada jalan yang menyimpang dan semakin jauh dari ridha Allah <em>Ta&#8217;ala</em>. Sedangkan jalan yang lurus adalah jalan yang ditempuh oleh para sahabat Nabi. Setiap hari kita membaca ayat:</p>
<p style="text-align: center;">اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ</p>
<p>“<em>Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.</em>” (QS. Al Fatihah: 6-7)</p>
<p>Al Imam Ibnu Katsir menjelaskan: “Yang dimaksud dengan &#8216;<em>orang-orang yang telah Engkau beri nikmat</em>&#8216; adalah yang disebutkan dalam surat An Nisa, ketika Allah berfirman:</p>
<p style="text-align: center;">وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا</p>
<p>“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”<a href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Seorang ahli tafsir dari kalangan tabi&#8217;ut tabi&#8217;in, Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, menafsirkan bahwa yang dimaksud dalam ayat ini adalah Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dan para sahabatnya<a href="#_ftn9">[9]</a>.</p>
<p>Oleh karena itulah, seorang sahabat Nabi, Abdullah Ibnu Mas&#8217;ud <em>radhiallahu&#8217;anhu </em>berkata:</p>
<p style="text-align: center;">من كانَ منكم مُتأسياً فليتأسَّ بأصحابِ رسول ِاللهِ صلى اللهُ عليهِ وسلمَ, فإنهم كانوا أبرَّ هذهِ الأمةِ قلوباً، وأعمقـُها عِلماً، وأقلـُّهَا تكلـُّفَا، وأقومُها هَديَا، وأحسنـُها حالاً، اختارَهُمُ اللهُ لِصُحبةِ نبيِّهِ صلى اللهُ عليهِ وسلمَ وإقامَةِ دينِهِ، فاعرفوا لهم فضلـَهُم، واتـَّبـِعُوهم في آثارِهِم، فإنهم كانوا على الهُدى المُستقيم</p>
<p>“Siapa saja yang mencari teladan, teladanilah para sahabat Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>. Karena merekalah orang yang paling baik hatinya diantara umat ini, paling mendalam ilmu agamanya, umat yang paling sedikit dalam berlebihan-lebihan, paling lurus bimbingannya, paling baik keadaannya. Allah telah memilih mereka untuk mendampingi Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>dan menegakkan agama-Nya. Kenalilah keutamaan mereka, dan ikutilah jalan mereka. Karena mereka semua berada pada <em>shiratal mustaqim</em> (jalan yang lurus)”<a href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p>Beliau juga berkata:</p>
<p style="text-align: center;">إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ فَاخْتَارَ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَعَثَهُ بِرِسَالَتِهِ، وَانْتَخَبَهُ بِعِلْمِهِ، ثُمَّ نَظَرَ فِي قُلُوبِ النَّاسِ فَاخْتَارَ أَصْحَابَهُ فَجَعَلَهُمْ وُزَرَاءَ نَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَنْصَارَ دِينِهِ، فَمَا رَآهُ الْمُؤْمِنُونَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ حَسَنٌ، وَمَا رَآهُ الْمُؤْمِنُونَ قَبِيحًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ قَبِيحٌ</p>
<p>“Allah Ta&#8217;ala memperhatikan hati-hati hambanya, lalu Ia memilih Muhammad <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>dan mengutusnya dengan risalah. Allah <em>Ta&#8217;ala </em>memperhatikan hati-hati manusia, lalu Ia memilih para sahabat Nabi, kemudian menjadikan mereka sebagai pendamping Nabi-Nya dan pembela agama-Nya. Maka segala sesuatu yang dipandang baik oleh kaum Mu&#8217;minin -yaitu Rasulullah dan para sahabatnya-, itulah yang baik di sisi Allah. Maka segala sesuatu yang dipandang buruk oleh kaum Mu&#8217;minin, itulah yang buruk di sisi Allah”<a href="#_ftn11">[11]</a></p>
<p>Dalam matan <em>Ushul As Sunnah</em>, Imam Ahmad bin Hambal <em>rahimahullah</em> berkata:</p>
<p style="text-align: center;">أصول السنة عندنا التمسك بما كان عليه أصحاب رسول الله صلى الله عليه و سلم والاقتداء بهم&#8230;</p>
<p>“Asas Ahlussunnah Wal Jama&#8217;ah menurut kami adalah berpegang teguh dengan pemahaman para sahabat Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> dan meneladani mereka&#8230; dst.”</p>
<p>Jika demikian, layaklah bila Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>menjadikan solusi dari perpecahan ummat, solusi dari mencari hakikat kebenaran yang mulai samar, yaitu dengan mengikuti sunnah beliau dan pemahaman para sahabat beliau. Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>bersabda:</p>
<p style="text-align: center;">إن بني إسرائيل تفرقت على ثنتين وسبعين ملة ، وتفترق أمتي على ثلاث وسبعين ملة كلهم في النار إلا ملة واحدة ، قال من هي يا رسول الله ؟ قال : ما أنا عليه وأصحابي</p>
<p>“<em>Bani Israil akan berpecah menjadi 74 golongan, dan umatku akan berpecah menjadi 73 golongan. Semuanya di nereka, kecuali satu golongan</em>”</p>
<p>Para sahabat bertanya: “Siapakah yang satu golongan itu, ya Rasulullah?”</p>
<p>“<em>Orang-orang yang mengikutiku dan para sahabatku</em>”<a href="#_ftn12">[12]</a></p>
<p>Beliau juga bersabda menjelang hari-hari wafatnya:</p>
<p style="text-align: center;">أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة ، وإن كان عبدا حبشيا فإنه من يعش منكم فسيرى اختلافا كثيرا ، فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين ، فتمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ ، وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة )</p>
<p>“<em>Aku wasiatkan kalian agar bertaqwa kepada Allah. Lalu mendengar dan taat kepada pemimpin, walaupun ia dari kalangan budak Habasyah. Sungguh orang yang hidup sepeninggalku akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk mengikuti sunnnahku dan sunnah khulafa ar raasyidin yang mereka telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dan gigitlah ia dengan gigi geraham. Serta jauhilah perkara yang diada-adakan, karena ia adalah bid&#8217;ah dan setiap bid&#8217;ah itu sesat</em>” (HR. Abu Daud no.4609, Al Hakim no.304, Ibnu Hibban no.5)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Jika Sahabat Berselisih Pendapat</strong></span></p>
<p>Sebagaimana yang telah kita bahas, jika dalam suatu permasalahan terdapat penjelasan dari para sahabat, lalu seseorang memilih pendapat lain di luar pendapat sahabat, maka kekeliruan dan penyimpangan lah yang sedang ia tempuh. Namun jika dalam sebuah permasalahan, terdapat beberapa pendapat diantara para sahabat, maka kebenaran ada di salah satu dari beberapa pendapat tersebut, yaitu yang lebih mendekati kesesuaian dengan Al Qur&#8217;an dan sunnah Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>.</p>
<p>Imam Asy Syafi&#8217;i <em>rahimahullah </em>berkata:</p>
<p style="text-align: center;">: قد سمعت قولك في الإجماع والقياس بعد قولك في حكم كتاب الله وسنة رسوله أرأيت أقاويل أصحاب رسول الله إذا تفرقوا فيها ؟</p>
<p style="text-align: center;">[ فقلت : نصير منها إلى ما وافق الكتاب أو السنة أو الإجماع أو كان أصحَّ في القياس</p>
<p>“Jika ada orang yang bertanya, Wahai Imam Syafi'i, aku dengar engkau mengatakan bahwa setelah Al Qur'an dan Sunnah, ijma dan qiyas juga merupakan dalil. Lalu bagaimana dengan perkataan para sahabat Nabi jika mereka berbeda pendapat?</p>
<p>Imam Asy Syafi'i berkata: Bimbingan saya dalam menyikapi perbedaan pendapat di antara para sahabat adalah dengan mengikuti pendapat yang paling sesuai dengan Al Qu'an atau Sunnah atau Ijma' atau Qiyas yang paling shahih”<a href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p>Semoga Allah senantiasa menunjukkan kita jalan yang lurus, yaitu jalan yang ditempuh oleh Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> serta para sahabatnya</p>
<p>Penulis: Yulian Purnama</p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a><em> Al Ba&#8217;its Al Hatsits Fikhtishari &#8216;Ulumil Hadits</em>, Ibnu Katsir (1/24)</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a><em> Al Ba&#8217;its Al Hatsits </em>(1/25)</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a><em> Al Ba&#8217;its Al Hatsits</em> (1/24)</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Diriwayatkan oleh Abu Nu&#8217;aim Al Ashabani dalam <em>Fadhlus Shahabah. </em>Di-hasan-kan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani dalam <em>Fathul Baari</em> (7/7)</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> HR. Bukhari no.3651, Muslim no.2533</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a><em> Nur Al Laami&#8217;</em> (199), dinukil dari kitab <em>I&#8217;tiqad A&#8217;immatil Arba&#8217;ah</em>, Dr. Muhammad bin Abdurrahman Al Khumais, (1/7)</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> HR. Bukhari no. 3673, Muslim no. 2540</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Tafsir Ibnu Katsir (1/140)</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> Tafsir At Thabari (1/179)</p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> Tafsir Al Qurthubi (1/60)</p>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> HR. At Thabrani dalam <em>Mu&#8217;jam Al Kabir</em> no.8504. Dalam <em>Majma&#8217; Az Zawaid</em> (8/453), Al Haitsami berkata: “Semua perawinya tsiqah”</p>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> HR. Tirmidzi no. 2641. Dalam <em>Takhrij Al Ihya </em>(3/284)<em> </em>Al&#8217;Iraqi berkata: “Semua sanadnya jayyid”</p>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a><em> Ar Risalah</em> (1/597)</p>
<div class="shr-publisher-4680"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fmeneladani-sahabat-nabi-jalan-kebenaran.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fmeneladani-sahabat-nabi-jalan-kebenaran.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fmeneladani-sahabat-nabi-jalan-kebenaran.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/meneladani-sahabat-nabi-jalan-kebenaran.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tuduhlah Akal Kalian!</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/tuduhlah-akal-kalian.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/tuduhlah-akal-kalian.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Apr 2010 14:00:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Khawarij]]></category>
		<category><![CDATA[Radikal]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Syafaat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=2701</guid>
		<description><![CDATA[Yazid al-Faqir (si bungkuk, tabi’in ini dijuluki demikian karena tulang punggungnya cidera) menuturkan: Dahulu aku sempat terseret dalam salah satu pendapat sekte Khawarij -yaitu berkeyakinan bahwa pelaku dosa besar kekal di neraka, dan orang yang<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/tuduhlah-akal-kalian.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Yazid <em>al-Faqir</em> (si bungkuk, tabi’in ini dijuluki demikian karena tulang punggungnya cidera) menuturkan:</p>
<p>Dahulu aku sempat terseret dalam salah satu pendapat <strong>sekte Khawarij</strong> -yaitu berkeyakinan bahwa pelaku dosa besar kekal di neraka, dan orang yang sudah masuk neraka tidak bisa lagi keluar darinya-. Pada suatu ketika, kami bersama serombongan orang banyak berangkat menunaikan ibadah haji.  Kemudian, kami pun keluar di hadapan orang-orang -sembari menyerukan pemikiran <a href="http://muslim.or.id/manhaj/fatwa-ulama-seputar-sikap-ekstrem-pengkafiran-dan-sebagian-ciri-ciri-khawarij-1.html">Khawarij </a>dan menghasut orang-orang untuk mengikutinya-.</p>
<p>Ketika kami melewati Madinah, kami bertemu di sana dengan Jabir bin Abdullah -seorang sahabat Nabi- yang sedang menuturkan hadits dari Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> kepada sekelompok orang sambil dia duduk bersandar kepada sebuah tiang. Ketika itu, dia menyebutkan hadits tentang <em>al-Jahannamiyun</em> (yaitu orang-orang yang dikeluarkan dari neraka lalu dimasukkan ke surga).</p>
<p>Aku pun (Yazid) berkata kepadanya,</p>
<p><em>“Wahai Sahabat Rasulullah, apa-apaan yang kalian ceritakan ini? Bukankah Allah telah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka maka Engkau benar-benar telah menghinakannya.” (QS. Ali Imran: 192). Allah juga menyatakan (yang artinya), “Setiap kali mereka -penduduk neraka- ingin keluar darinya maka mereka pun dikembalikan lagi ke dalamnya.” (QS. as-Sajdah: 20). Lalu apa-apaan yang kalian ucapkan tadi?”. </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Jabir pun menjawab, <em>“Apakah Engkau membaca al-Qur’an?”</em>.</p>
<p>Kujawab, <em>“Iya.”</em></p>
<p>Jabir berkata, <em>“Apakah kamu pernah mendengar (di dalam al-Qur’an) mengenai maqam/kedudukan agung yang dimiliki oleh Muhammad ‘alaihis salam, yaitu yang beliau dibangkitkan oleh Allah di atasnya (maksudnya adalah syafa’at Nabi kepada umatnya kelak di akherat)?”</em>.</p>
<p>Kujawab, <em>“Iya.” </em></p>
<p>Jabir berkata, <em>“Sesungguhnya hal itu -yang aku sampaikan- merupakan kedudukan terhormat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dengan sebab itu Allah berkenan mengeluarkan siapa saja yang ingin dikeluarkan-Nya -yaitu semua orang beriman-.” </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Yazid berkata:</p>
<p>Kemudian Jabir menceritakan kejadian diletakkannya jembatan/shirath -di atas neraka- dan bagaimana keadaan orang-orang yang berjalan di atasnya, namun aku khawatir tidak hafal dengan baik rentetan ceritanya. Yang jelas, dia menceritakan bahwa <strong>ada suatu kaum yang keluar dari neraka yang sebelumnya mereka berada di dalamnya</strong>.</p>
<p>Dia -Jabir- berkisah, <em>“Mereka itu keluar darinya dalam keadaan seperti pucuk-pucuk benih tanaman wijen -yang menghitam karena tersengat sinar matahari- (hal itu disebabkan tubuh mereka terbakar di dalam neraka, sebagaimana diceritakan dalam sebagian riwayat). Kemudian mereka masuk ke dalam sebuah sungai di antara sungai-sungai yang ada di surga dan mandi di dalamnya. Kemudian mereka pun keluar -dalam keadaan putih bersih- seperti lembaran-lembaran kertas.” </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Setelah mendengar -hadits- itu, maka kami pun rujuk -dari pendapat kami-. Kami berkata, <em>“Sungguh celaka kalian ini -maksudnya adalah diri mereka sendiri- apakah kalian mengira orang tua ini (yaitu Jabir bin Abdullah) berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”</em>.</p>
<p>Setelah itu, kami pun  kembali pulang -seusai menunaikan ibadah haji-. Demi Allah, tidak ada di antara kami yang tetap berkeras untuk keluar (memberontak sebagaimana Khawarij) kecuali hanya satu orang.</p>
<p>Demikianlah isi kisah itu, atau sebagaimana yang disampaikan oleh Abu Nu’aim -seorang guru dari gurunya Imam Muslim yang meriwayatkan hadits ini-.</p>
<p>(Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/323-324])</p>
<p>Kisah ini mengandung banyak pelajaran, di antaranya:</p>
<ol>
<li>Kewajiban mengimani adanya neraka dan siksaan pedih yang ada di dalamnya. Sehingga hal itu akan menumbuhkan rasa takut kepada Allah kemudian berupaya senantiasa menjauhkan diri dari meninggalkan kewajiban atau menerjang larangan-Nya.</li>
<li>Semua orang yang beriman pasti masuk ke dalam surga, meskipun di antara mereka ada juga yang terlebih dahulu ‘mampir’ ke neraka untuk dibersihkan dosa-dosanya, <em>semoga Allah menyelamatkan kita dari      siksanya…</em></li>
<li>Keutamaan tauhid yang sangat agung, karena tidak mungkin orang bisa masuk surga tanpa tauhid di dalam dirinya. Orang yang beriman tidak dikatakan beriman jika dia tidak mengikhlaskan (memurnikan ibadahnya) untuk Allah dan menjauhi segala bentuk kesyirikan. Oleh sebab itu Allah berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia akan mengampuni dosa lain yang di bawahnya bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.”</em> (QS. an-Nisaa’: 48)</li>
<li>Sifat<em> &#8216;adl (&#8216;udul) </em>para sahabat, artinya mereka adalah penukil berita dan hadits-hadits yang terpercaya. Oleh sebab itu para tabi’in tidak meragukan kejujuran mereka dalam meriwayatkan hadits-hadits Nabi <em>shallallahu      ‘alaihi wa sallam</em>.</li>
<li>Dakwah yang dikumandangkan oleh para sahabat adalah seruan untuk berpegang teguh dengan Sunnah. Oleh sebab itu mereka adalah orang-orang yang paling giat menyebarkan hadits-hadits Nabi <em>shallallahu      ‘alaihi wa sallam</em> di tengah-tengah manusia, bahkan mereka itulah      narasumber  kunci periwayatan      hadits-hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> kepada      generasi-generasi lain sesudah mereka, <em>semoga Allah membalas jasa-jasa      mereka dengan sebaik-baik balasan</em>.  Oleh sebab itu barangsiapa yang berupaya untuk mendiskreditkan para sahabat dan menjatuhkan kehormatan mereka di mata kaum muslimin -apalagi sampai mengkafirkan mereka- maka pada hakekatnya dia ingin menghancurkan agama Islam yang mulia ini dengan cara menolak riwayat-riwayat mereka! <em>Maha      suci Allah dari perbuatan keji yang mereka lakukan..</em></li>
<li>Kedalaman ilmu para sahabat <em>radhiyallahu ‘anhum</em>. Dimana      mereka senantiasa mengembalikan penafsiran ayat-ayat al-Qur’an kepada      Sunnah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> (hadits). Karena mereka      meyakini bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah manusia yang paling paham tentang al-Qur’an. Dan juga mereka memahami bahwa apa yang disabdakan oleh Rasul tidak mungkin bertentangan dengan al-Qur’an. Karena kewajiban Rasul adalah menyampaikan apa yang diturunkan oleh Allah. Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan Kami telah turunkan kepadamu adz-Dzikra (al-Qur’an) untuk kamu jelaskan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka dan mudah-mudahan mereka mau memikirkannya.”</em> (QS. An-Nahl: 44). Oleh sebab itu siapapun juga yang meninggalkan manhaj para sahabat dalam memahami al-Qur’an dan menerapkannya pasti akan tersesat… Kisah ini sebagai salah satu buktinya!</li>
<li>Menyimpang dari manhaj (metode beragama) para sahabat akan      berujung kepada kesesatan. Bagaimana tidak? Sementara Allah <em>‘azza wa      jalla</em> sendiri telah merekomendasikan mereka di hadapan segenap umat manusia di dalam Kitab-Nya Yang Mulia dalam firman-Nya (yang artinya), <em>“Orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maka Allah ridha kepada mereka dan mereka pun pasti akan ridha kepada-Nya. Allah telah persiapkan untuk mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang sangat besar.”</em> (QS.      at-Taubah: 100)</li>
<li>Bantahan bagi Khawarij yang berpemahaman bahwa pelaku dosa besar kekal di neraka dan tidak mungkin keluar darinya. Dan pembuktian kepada mereka bahwa kesalahan yang mereka lakukan <strong>bukan terletak pada      dalil</strong> (sumber hukum) yang mereka pakai, akan tetapi <strong>letak kesalahan      mereka adalah dalam hal <a href="http://muslim.or.id/manhaj/tuduhlah-akal-kalian.html">istidlal</a></strong><a href="http://muslim.or.id/manhaj/tuduhlah-akal-kalian.html"> </a>(cara penyimpulan hukum) dari dalil      yang ada,  entah itu ayat-ayat      al-Qur’an maupun hadits-hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam. </em>Oleh sebab itu untuk mengikuti kebenaran tidak cukup dengan membawakan dalil tanpa disertai dengan cara pemahaman terhadap dalil yang benar! Dan betapa banyak orang yang <a href="http://muslim.or.id/manhaj/rajin-pengajian-kok-sesat.html">tersesat </a>melalui pintu ini -istidlal yang salah-, <em>maka ambillah pelajaran wahai      saudaraku!</em></li>
<li>Sebab utama sekte Khawarij menyimpang dari jalan yang lurus adalah karena mereka terlalu kagum dengan hasil pikiran mereka dan tidak mau mengikuti cara pemahaman para sahabat <em>radhiyallahu ta’ala ‘anhum.</em> Mereka ahli membaca al-Qur’an, namun mereka tidak memahaminya sebagaimana yang dipahami oleh Rasul dan para sahabat. Oleh sebab itulah mereka itu sesat dan menyesatkan. Bukankah ketika mengkafirkan Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu’anhu</em> mereka juga berdalil dengan ayat al-Qur’an, namun ternyata mereka sendiri      yang tidak paham tentang tafsirannya?!</li>
<li>Tidak boleh mempertentangkan antara dalil al-Qur’an dengan      dalil Hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Sebab keduanya      adalah wahyu yang bersumber dari Allah <em>ta’ala. </em>Adapun sebuah hadits      yang disandarkan kepada Nabi yang bunyinya, <em>“Apa saja datang kepada kalian dariku maka bandingkanlah ia dengan apa yang ada dalam Kitabullah. Apabila ia cocok dengan Kitabullah maka itu berarti aku benar-benar mengucapkannya. Akan tetapi jika ia bertentangan dengan Kitabullah maka itu artinya aku tidak mengucapkannya…”</em> maka ini adalah hadits yang <strong>tidak sahih</strong> yang dibuat-buat oleh kaum Zindiq dan Khawarij, sebagiamana yang diungkapkan oleh Abdurrahman bin Mahdi dan dikutip oleh Ibnu Abdil Barr (lihat kutipannya dalam <em>Ma’alim Ushul Fiqh ‘inda Ahlis Sunnah wal      Jama’ah</em>, Dr. Muhammad bin Husain al-Jizani hal. 126) <em> </em></li>
<li>Meninggalkan bimbingan para ulama Rabbani -dan para sahabat adalah tokoh terdepan dalam barisan mereka- akan menjerumuskan umat ke dalam jurang kehancuran. Salah satu penyebab utama terjadinya hal itu -baik di masa dahulu maupun sekarang- adalah <strong>rasa percaya diri yang      berlebihan dan kekaguman terhadap pendapat pribadi atau kelompoknya</strong> sehingga menganggap diri telah paham perkara agama tanpa terlebih dulu      berkonsultasi kepada para ulama. <em>Maka camkanlah hal ini baik-baik,      wahai para pemuda!</em> Dan ketika ulama sudah ditinggalkan, maka yang      diangkat adalah sosok <em>Ruwaibidhah</em> yaitu orang-orang yang bodoh -meskipun dijuluki dengan Kiyai, Ustadz, atau Cendekiawan- yang nekad berbicara soal urusan orang banyak.. <em>Laa haula wa laa quwwata illa      billaah</em></li>
<li>Syafa’at Nabi bagi para pelaku dosa besar agar dikeluarkan dari neraka adalah benar adanya. Hal itu sebagaimana yang dikisahkan oleh Hammad bin Zaid ketika dia bertanya kepada Amr bin Dinar, <em>“Apakah kamu pernah mendengar Jabir bin Abdullah -radhiyallahu’anhuma- menyampaikan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang isinya: Sesungguhnya Allah akan mengeluarkan sekelompok orang dari neraka dengan sebab syafa’at?”</em>. Maka dia menjawab, <em>“Benar.”</em> (lihat Sahih      Muslim yang dicetak bersama <em>Syarh Muslim</em> [2/322])</li>
<li>Keutamaan ahlul hadits, yaitu orang-orang yang berpegang teguh      dengan hadits-hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Ada di      antara ulama salaf dahulu yang mengatakan, <em>“Para malaikat adalah penjaga-penjaga langit, sedangkan ahlul hadits adalah penjaga-penjaga bumi.” Semoga Allah membalas jasa-jasa mereka dan meneguhan kita untuk berada di dalam rombongan mereka, Allahul musta’an… </em></li>
</ol>
<p>Penulis: <a href="http://abumushlih.com">Abu Mushlih Ari Wahyudi</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-2701"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Ftuduhlah-akal-kalian.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Ftuduhlah-akal-kalian.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Ftuduhlah-akal-kalian.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/tuduhlah-akal-kalian.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kedudukan Sahabat Nabi di Mata Umat Islam (3)</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/kedudukan-sahabat-nabi-di-mata-umat-islam-3.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/kedudukan-sahabat-nabi-di-mata-umat-islam-3.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Apr 2008 09:34:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=36</guid>
		<description><![CDATA[Fatwa Para Sahabat Lebih Layak Untuk Diikuti Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, &#8220;Boleh berfatwa dengan menggunakan atsar/riwayat dari para ulama Salaf dan fatwa para sahabat. Dan itu merupakan fatwa yang lebih layak untuk diambil daripada<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/kedudukan-sahabat-nabi-di-mata-umat-islam-3.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><strong>Fatwa Para Sahabat Lebih Layak Untuk  Diikuti</strong></p>
<p>Imam Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata, &#8220;Boleh berfatwa dengan menggunakan atsar/riwayat dari para ulama  Salaf dan fatwa para sahabat. Dan itu merupakan fatwa yang lebih layak untuk  diambil daripada pendapat-pendapat ulama <em>muta&#8217;akhirin</em> (belakangan) serta  fatwa mereka. Karena sesungguhnya kedekatan mereka terhadap kebenaran itu  tergantung dengan kedekatan masa mereka dengan masa Rasul <em>shalawatullaahi wa  salaamuhu &#8216;alaihi wa &#8216;ala aalihi</em>. Sehingga fatwa-fatwa para Sahabat itu  lebih utama untuk diikuti daripada fatwa para tabi&#8217;in.</p>
<p><span id="more-36"></span></p>
<p>Begitu pula fatwa para tabi&#8217;in itu lebih  utama diambil daripada fatwa tabi&#8217;ut tabi&#8217;in, demikianlah seterusnya. Oleh  karena itu setiap kali suatu masa itu semakin dekat dengan masa Rasul <em>shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em> maka kebenaran yang ada pun juga semakin mendominasi.  Inilah hukum yang berlaku bila ditinjau dari tingkatan orang, bukan menurut  tinjauan perindividu&#8230;&#8221; (dinukil dari Al Bayyinaat As Salafiyah &#8216;ala Anna  Aqwaala Shahabah Hujjah Syar&#8217;iyah karya Ahmad Salam, hal. 11)</p>
<p><strong>Macam-Macam Perkataan Sahabat</strong></p>
<p>Perkataan atau fatwa para sahabat itu  dapat dikategorikan menjadi 4:</p>
<ol>
<li>Masalah yang  disampaikan bukan medan akal. Maka hukum ucapan mereka adalah marfu&#8217; (bersumber  dari Nabi). Ucapan itu dapat dipakai untuk berdalil dan bisa dijadikan  hujjah/argumen. Ia bisa juga dikategorikan dalam hadits yang marfu&#8217; dari Nabi <em>shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em> namun dari sisi periwayatan makna saja (bukan lafadznya).  Akan tetapi jika sisi ini yang diambil maka ucapan mereka itu tidak boleh  disandarkan kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dengan  secara tegas dinyatakan bahwa ucapan itu adalah sabda Rasul <em>shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em>.</li>
<li>Perkataan sahabat yang  tidak diselisihi oleh sahabat yang lain. Maka perkataan sebagian mereka tidak  bisa dijadikan sebagai argumen untuk memaksa sahabat yang lain untuk  mengikutinya. Dan mujtahid sesudah mereka tidak boleh taklid kepada sebagian  mereka saja. Akan tetapi yang harus dilakukan dalam permasalahan itu adalah  mencari pendapat yang lebih kuat berdasarkan dalil yang ada.</li>
<li>Perkataan sahabat yang  populer dan tidak bertentangan dengan perkataan sahabat lainnya, maka ini  termasuk sesuatu yang dihukumi sebagai ijma&#8217; menurut mayoritas para ulama.</li>
<li>Selain ketiga kategori  di atas. Maka inilah yang kita maksudkan dalam pembicaraan ini. Yaitu apabila  ada perkataan sahabat yang tidak ada sahabat lain yang menyelisihinya, tidak  populer, atau tidak diketahui apakah ucapannya itu populer atau tidak,  sedangkan hal yang disampaikan adalah sesuatu yang bisa dijangkau oleh akal  maka para imam yang empat dan mayoritas umat Islam menganggapnya sebagai  argumen/hujjah, berbeda dengan pendapat kaum filsafat yang menyimpang.</li>
</ol>
<p>Para ulama memberikan syarat agar ucapan  sahabat bisa dipakai untuk berhujjah dengan beberapa syarat yaitu:</p>
<ol>
<li>Dalam persoalan  ijtihadiyah, adapun ucapan mereka dalam hal yang tidak boleh berijtihad maka ia  dihukumi marfu&#8217; (bersumber dari Nabi)</li>
<li>Tidak ada seorangpun  sahabat yang menyelisihi pendapatnya. Karena apabila ucapan sahabat tidak  diselisihi oleh sahabat yang lain maka secara otomatis itu menunjukkan bahwa  yang diucapkan oleh sahabat tadi adalah benar, sehingga sahabat yang lain  mendiamkannya. Dan apabila ternyata ada perselisihan dengan sahabat lainnya  maka seorang mujtahid harus berijtihad untuk menguatkan salah satu pendapat  mereka.</li>
<li>Selain itu pendapat  tersebut tidak boleh bertentangan dengan nash/dalil yang tegas dari al-Qur&#8217;an  atau hadits. Poin kedua dan poin ketiga adalah dua hal yang tidak bisa  dipisahkan. Karena apabila ada seorang sahabat yang menentang nash maka sudah  pasti akan ada sahabat lain yang menentang pendapatnya itu.</li>
<li>Fatwa tersebut sudah  sangat populer di kalangan para sahabat sehingga tidak ada sahabat lain yang  menyelisihinya. Apabila suatu pendapat termasuk kategori ini maka dia tergolong  ijma&#8217;/kesepakatan yang harus diikuti menurut pendapat jumhur ulama.</li>
<li>Tidak boleh  bertentangan dengan qiyas/analogi yang benar. Perlu dicatat bahwasanya ucapan  sahabat yang telah disepakati oleh para imam untuk dijadikan sebagai hujjah  tidak mungkin bertentangan dengan analogi. Akan tetapi jika (seandainya !!)  memang ada ucapan mereka yang bertentangan dengan analogi maka kebanyakan ulama  memilih untuk tawaquf/diam. Karena tidak mungkin seorang sahabat menyelisihi  analogi berdasarkan ijtihad dirinya sendiri. Walaupun begitu, menurut mereka  perkataan sahabat yang bertentangan dengan analogi itu tetap harus didahulukan  daripada analogi. Karena ucapan sahabat adalah nash/dalil tegas. Sedangkan  dalil tegas harus didahulukan daripada analogi !!  (lihat <em>Ma&#8217;alim Ushul Fiqih &#8216;inda Ahlis  Sunnah wal Jama&#8217;ah</em>, DR. Muhammad bin Husein Al Jizani <em>hafizhahullah</em>,  hal. 222-225)</li>
</ol>
<p>Lihatlah sikap para ulama, mereka lebih  mendahulukan ucapan seorang sahabat yang bertentangan dengan analogi daripada  pendapat yang dibangun di atas analogi semata !! Itu adalah bukti bahwa mereka  benar-benar menghormati dan memuliakan para sahabat.</p>
<p>Maka sekarang kita akan bertanya kepada  orang-orang yang berupaya menjatuhkan martabat para sahabat di mata kaum  muslimin: Lalu fatwa siapakah yang akan kalian ambil jika para sahabat saja  sudah kalian caci maki ?! <em>laa haula wa laa quwwata illa billaah</em>.</p>
<p>Tidakkah mereka merasa cukup dengan sabda  Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, <em>&#8220;Barang siapa yang mencela  para sahabatku maka dia berhak mendapatkan laknat dari Allah, laknat para  malaikat dan laknat dari seluruh umat manusia.&#8221;</em> (<em>Ash Shahihah</em>:  234) Beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga bersabda, <em>&#8220;Apabila  disebutkan tentang para sahabatku maka diamlah.&#8221;</em> (<em>Ash Shahihah</em>:  24) Duhai para tukang cela, tutuplah mulut-mulut kalian, sebelum kematian  menjemput dan tanah kuburanlah yang akan menyumpal mulut-mulut kalian yang  kotor itu !!!</p>
<p><strong>Ikutilah Pemahaman Sahabat Dan Jauhilah  Bid&#8217;ah</strong></p>
<p>Mu&#8217;adz bin Jabal <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> berkata, &#8220;Wahai manusia, wajib bagi kalian untuk menimba ilmu sebelum ilmu  itu diangkat. Ketahuilah bahwa hilangnya ilmu adalah dengan wafatnya ulama. Dan  berhati-hatilah kalian dari kebid&#8217;ahan, jangan membuat-buat ajaran baru dan  bersikap melampaui batas. Kalian wajib mengikuti urusan generasi awal yang  lebih tua dan utama (para sahabat).&#8221;</p>
<p>Hudzaifah ibnul Yaman <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> mengatakan, &#8220;Segala macam ibadah yang yang tidak pernah dilakukan oleh  para sahabat Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> maka janganlah  kamu beribadah dengannya. Karena sesungguhnya generasi pertama sudah tidak  menyisakan lagi kritikan ajaran untuk generasi belakangan. Oleh sebab itu maka  bertakwalah kalian kepada Allah wahai para ahli baca al-Qur&#8217;an. Ikutilah jalan  para sahabat yang mendahului kalian.&#8221;</p>
<p>Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> mengatakan, &#8220;Barang siapa hendak mencontoh maka teladanilah para ulama  yang telah meninggal. Mereka itulah para sahabat Muhammad <em>shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em>. Mereka adalah orang-orang yang paling baik hatinya di  kalangan umat ini. Ilmu mereka paling dalam serta paling tidak suka  membeban-bebani diri. Mereka adalah suatu kaum yang telah dipilih oleh Allah  untuk menemani Nabi-Nya <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan menularkan  ajaran agama-Nya. Oleh karena itu tirulah akhlak mereka dan tempuhlah  jalan-jalan mereka, karena sesungguhnya mereka berada di atas jalan yang lurus.&#8221;  Beliau juga mengatakan, &#8220;Ikutilah tuntunan, karena sesungguhnya ajaran  untuk kalian sudah cukup. Wajib bagi kalian mengikuti urusan kaum tua/para  sahabat.&#8221;</p>
<p>Abdullah bin &#8216;Umar <em>radhiyallahu &#8216;anhuma</em> mengatakan, &#8220;Umat manusia senantiasa akan berada di atas jalan yang benar  selama mereka terus mengikuti atsar (jejak Rasul dan para sahabat).&#8221;  Beliau juga berkata, &#8220;Semua bid&#8217;ah adalah sesat meskipun orang-orang  memandangnya sebagai kebaikan.&#8221;</p>
<p>Abu Darda&#8217; <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> mengatakan, &#8220;Kamu tidak akan sesat selama kamu tetap konsisten dengan  atsar.&#8221;</p>
<p>Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> berkata, &#8220;Seandainya agama itu dibangun di atas pikiran semata niscaya  bagian bawah dari terompah itu lebih layak untuk diusap daripada bagian  atasnya. Namun karena aku melihat Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengusap permukaan atas kedua terompahnya (maka itulah ajaran yang harus  diikuti).&#8221;</p>
<p>Dari Abbas bin Rabi&#8217;ah, dia mengatakan:  Aku melihat Umar bin Al Khaththab <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> tatkala mencium  hajar aswad berkata, &#8220;Sesungguhnya aku tahu bahwa kamu hanya sekedar batu,  tidak bisa mendatangkan madharat atau manfaat. Seandainya bukan karena aku  melihat bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menciummu niscaya  aku tidak akan menciummu.&#8221;</p>
<p>Khalifah yang adil &#8216;Umar bin Abdul &#8216;Aziz <em>rahimahullah</em> berkata, &#8220;Berhentilah di mana kaum itu (para sahabat) berhenti. Karena  mereka diam dan berhenti dengan landasan ilmu. Mereka menahan diri dengan bekal  pandangan yang cermat dan tajam. Padahal sebenarnya mereka adalah orang yang  paling mampu untuk menyingkap rahasia-rahasianya. Dan tentu saja mereka jauh  lebih dahulu melakukannya jika hal itu memang sesuatu yang lebih utama.  Seandainya ada di antara kalian yang berkata: ada ajaran baru sesudah mereka.  Maka pada hakikatnya tidak ada yang menciptakannya kecuali orang yang menentang  petunjuk mereka serta membenci sunnah mereka. Sesungguhnya mereka telah  membicarakannya dan sudah cukup memberikan jalan pemecahan. Dan apa yang mereka  bicarakan sebenarnya sudah sangat mencukupi. Oleh sebab itu siapapun yang  melampaui mereka maka dia adalah orang yang nekat melanggar batasan. Dan  siapapun yang sengaja mengurang-ngurangi ajaran mereka maka dia adalah orang  yang melecehkan. Sungguh telah ada suatu kaum yang sengaja mengurang-ngurangi  petunjuk mereka sehingga akhirnya mereka pun celaka. Dan ada pula yang nekat  melanggar batas hingga akhirnya mereka pun menjadi ekstrem. Sesungguhnya para  sahabat itu meniti jalan tengah di antara keduanya, mereka senantiasa berada di  atas petunjuk yang lurus.&#8221;</p>
<p>Imam Auza&#8217;i <em>rahimahullahu ta&#8217;ala</em> berkata, &#8220;Kamu harus mengikuti jejak para ulama salaf. Meskipun risikonya  orang-orang menjadi menolak dirimu. Dan jauhilah pendapat-pendapat orang,  meskipun mereka berusaha mengemasnya dengan ucapan-ucapan yang indah. Karena  sesungguhnya urusan agama ini sudah terang dan kamu tetap harus meniti jalan  yang lurus.&#8221;</p>
<p>Abu Ayyub As Sikhtiyani <em>rahimahullah</em> berkata, &#8220;Tidaklah seorang ahli bid&#8217;ah semakin menambah kesungguhannya  melainkan dia pasti akan semakin bertambah jauh dari Allah.&#8221;</p>
<p>Hasan bin &#8216;Athiyah <em>rahimahullah</em> berkata, &#8220;Tidaklah suatu kaum menciptakan kebid&#8217;ahan melainkan akan  dicabut sunnah yang sepadan dengannya.&#8221;</p>
<p>Muhammad bin Sirin <em>rahimahullah</em> berkata, &#8220;Para ulama dahulu mengatakan: Selama seseorang meniti atsar maka  itu berarti dia masih berada di atas jalan yang   benar.&#8221;</p>
<p>Sufyan Ats Tsauri <em>rahimahullah</em> berkata, &#8220;Bid&#8217;ah itu lebih disenangi oleh iblis daripada maksiat. Karena  maksiat masih bisa diharapkan taubatnya. Adapun bid&#8217;ah sangat kecil harapan  taubatnya.&#8221;</p>
<p>Abdullah bin Mubarak <em>rahimahullah</em> berkata, &#8220;Hendaknya pegangan yang harus kau ikuti adalah atsar (hadits),  dan boleh saja kamu mengambil pendapat orang yang benar dalam hal menafsirkan  hadits.&#8221;</p>
<p>Dari Nuh Al Jami&#8217;. Dia mengatakan: Aku  pernah berkata kepada Abu Hanifah <em>rahimahullah</em>, &#8220;Apa pendapatmu  tentang perkara yang diada-adakan oleh sebagian orang yaitu pembicaraan tentang  &#8216;ardh (badan) dan jism (jasad, maksudnya Apakah Allah itu memiliki tubuh, red)  ?&#8221; Maka beliau pun menjawabnya, &#8220;Itu adalah ocehan kaum filsafat.  Kamu harus berpegang dengan atsar/riwayat dan mengikuti jalan kaum Salaf.  Jauhilah semua yang diada-adakan karena ia adalah bid&#8217;ah.&#8221;</p>
<p>Imam Malik bin Anas <em>rahimahullah</em> berkata, &#8220;Sunnah adalah bahtera Nabi Nuh. Barang siapa yang menaikinya  niscaya akan selamat. Dan barang siapa yang tertinggal darinya pasti akan  tenggelam.&#8221; Beliau juga mengatakan, &#8220;Seandainya ilmu kalam/filsafat  itu benar-benar ilmu, pastilah para sahabat sudah membicarakannya dan juga para  tabi&#8217;in. Sebagaimana mereka telah berbicara dalam masalah hukum-hukum. Akan  tetapi ilmu itu memang suatu kebatilan dan akan menjerumuskan ke dalam  kebatilan.&#8221;</p>
<p>Dari Ibnul Majisyun. Dia mengatakan, &#8220;Aku  pernah mendengar Malik berkata: Barang siapa yang menciptakan suatu kebid&#8217;ahan  di dalam Islam dan dia mengiranya sebagai sebuah kebaikan. Maka pada hakikatnya  dia telah menuduh Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> telah  mengkhianati misi kerasulan. Sebab Allah telah berfirman yang artinya, <em>&#8220;Pada  hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian.&#8221;</em> Oleh karena  itu maka sesuatu yang bukan menjadi ajaran agama pada hari itu maka dia juga  tidak boleh dijadikan sebagai ajaran agama pada hari ini.&#8221;</p>
<p>Imam Ahmad bin Hambal <em>rahimahullah</em> berkata, &#8220;Pokok-pokok ajaran As Sunnah menurut kami adalah berpegang teguh  dengan apa yang dipahami oleh para Sahabat Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa  sallam serta meniru mereka, meninggalkan bid&#8217;ah. Dan (kami yakin) bahwa semua  bid&#8217;ah adalah sesat.&#8221;</p>
<p>Imam Syafi&#8217;i <em>rahimahullah</em> berkata, &#8220;Apabila  aku melihat seseorang yang termasuk sebagai kaum Ash-habul hadits (pembela  hadits) maka seolah-olah aku sedang melihat salah seorang sahabat Rasulullah <em>shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em>.&#8221;</p>
<p>Ja&#8217;far bin Muhammad mengatakan; Aku penah  mendengar Qutaibah <em>rahimahullah</em> mengatakan, &#8220;Jika kamu melihat ada  seorang yang mencintai ahli hadits seperti Yahya bin Sa&#8217;id, Abdurrahman bin  Mahdi, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahawaih&#8230;&#8221; beliau juga menyebutkan  nama-nama yang lain. &#8220;Maka ketahuilah bahwa dia berada di atas sunnah. Dan  barang siapa yang menyelisihi mereka maka ketahuilah bahwa dia adalah mubtadi&#8217;  (tukang bid&#8217;ah).&#8221;</p>
<p>Imam Malik <em>rahimahullah</em> telah  memancangkan sebuah kaidah yang sangat agung dan merangkum wasiat para imam di  atas. Beliau mengatakan, &#8220;Tidak akan ada yang bisa memperbaiki generasi  akhir umat ini melainkan dengan sesuatu yang telah berhasil memperbaiki  generasi awalnya. Oleh sebab itu ajaran apapun yang tidak termasuk agama pada  hari itu maka juga bukan termasuk agama pada hari ini.&#8221; (silakan lihat  wasiat-wasiat para ulama ini lebih lengkap di dalam <em>Al Wajiz fii &#8216;Aqidati  Salafish shalih</em>, hal. 197-206) <strong></strong></p>
<p>Oleh sebab itulah maka tidak mengherankan  jika Imam Abu Ja&#8217;far Ath Thahawi rahimahullah mengatakan dengan tegas di dalam  kitab &#8216;Aqidahnya, &#8220;Kami mencintai para sahabat Rasulullah <em>shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em>. Kami tidak melampaui batas dalam mencintai salah satu di  antara mereka. Dan kami juga tidak berlepas diri dari seorangpun di antara  mereka. Kami membenci orang yang membenci mereka dan kami juga membenci orang  yang menceritakan mereka dengan cara yang tidak baik. Kami tidak menceritakan  mereka kecuali dengan kebaikan. Mencintai mereka adalah termasuk agama, iman  dan ihsan. Sedangkan membenci mereka adalah kekufuran, kemunafikan dan  pelanggaran batas.&#8221; (<em>Syarah &#8216;Aqidah Thahawiyah</em> cet. Darul &#8216;Aqidah,  hal. 488)</p>
<p>Maka kita pun akan mengatakan: Cinta  Sahabat berarti cinta Islam. Dan membenci Sahabat berarti membenci Islam. <em>Wallahu  ta&#8217;ala a&#8217;lam bish shawaab</em>.</p>
<p>Yogyakarta, Kamis 27 Rabi&#8217;uts Tsani 1427 Hijriyah</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi<br />
Artikel www.muslim.or.id</p>
<div class="shr-publisher-36"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fkedudukan-sahabat-nabi-di-mata-umat-islam-3.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fkedudukan-sahabat-nabi-di-mata-umat-islam-3.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fkedudukan-sahabat-nabi-di-mata-umat-islam-3.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/kedudukan-sahabat-nabi-di-mata-umat-islam-3.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kedudukan Sahabat Nabi di Mata Umat Islam (2)</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/kedudukan-sahabat-nabi-di-mata-umat-islam-2.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/kedudukan-sahabat-nabi-di-mata-umat-islam-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Apr 2008 00:54:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[Jasa Besar Para Sahabat Terhadap Umat Islam Di antara jasa terbesar yang disumbangkan oleh para sahabat radhiyallahu ta&#8217;ala &#8216;anhum kepada umat Islam adalah sebagai berikut. Pencatatan dan penghafalan wahyu al-Qur&#8217;an di masa Nabi shallallahu &#8216;alaihi<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/kedudukan-sahabat-nabi-di-mata-umat-islam-2.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><strong>Jasa Besar Para Sahabat Terhadap Umat  Islam</strong></p>
<p>Di antara jasa terbesar yang disumbangkan  oleh para sahabat <em>radhiyallahu ta&#8217;ala &#8216;anhum</em> kepada umat Islam adalah  sebagai berikut<strong>.</strong></p>
<p><span id="more-32"></span></p>
<ol>
<li>Pencatatan dan  penghafalan wahyu al-Qur&#8217;an di masa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> masih hidup dan sesudahnya. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah seorang yang ummi/buta huruf. Oleh sebab itu maka beliau memilih  beberapa orang sahabatnya untuk mencatat wahyu, di antara mereka ialah: Ali bin  Abi Thalib, Mu&#8217;awiyah bin Abu Sufyan, Ubai bin Ka&#8217;ab, dan Zaid bin Tsabit.  Sehingga apabila wahyu turun merekalah yang diperintahkan untuk mencatat dan di  samping juga untuk dihafalkan di dalam ingatan mereka. Di antara para sahabat  ada pula yang berinisiatif untuk menulisnya untuk mereka pribadi tanpa perintah  dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Sebagaimana Rasulullah <em>shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em> menyetorkan hafalan Qur&#8217;annya kepada malaikat Jibril  setiap tahun pada setiap malam bulan Ramadhan, maka para sahabat pun  menyetorkan hafalan dan catatan wahyu yang mereka miliki kepada Rasulullah <em>shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em>. Sehingga tatkala Rasul wafat al-Qur&#8217;an itu sudah  terpelihara di dalam dada-dada para sahabat serta tertulis di dalam <em>shuhuf</em>,  kayu, dan lain sebagainya. Kemudian tibalah masa kekhalifahan Abu Bakar Ash  Shiddiq. Ketika itu tahun 12 hijriyah terjadi perang Yamamah antara kaum  muslimin melawan orang-orang yang murtad. Dalam peperangan ini 70 orang sahabat  penghafal al-Qur&#8217;an gugur. Karena itulah Umar bin Khaththab datang menemui Abu  Bakar mendesaknya untuk berupaya mengumpulkan al-Qur&#8217;an yang masih  terpisah-pisah. Hingga akhirnya Abu Bakar pun menerima saran tersebut. Maka Abu  Bakar pun memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk mencatatnya dengan mengurutkan  ayat dan surat-suratnya. Sehingga berkat jasa Abu Bakar dan para sahabat  lainnya inilah terwujud sebuah kumpulan ayat-ayat al-Qur&#8217;an yang sudah  berbentuk mushaf. Kemudian upaya penertiban berikutnya dilakukan di masa  khalifah &#8216;Utsman bin &#8216;Affan <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> (lihat <em>Mabahits fi  &#8216;Ulumil Qur&#8217;an</em>, hal. 118-134)</li>
<li>Pencatatan dan  penghafalan hadits-hadits Nabi. Memang pada awalnya hadits-hadits Nabi belum  boleh dicatat karena ketika itu kaum muslimin masih di awal-awal turunnya al-Qur&#8217;an  dan khawatir akan tercampur dengan catatan ayat. Sehingga Nabi <em>shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em> melarang mereka untuk mencatat selain al-Qur&#8217;an. Akan  tetapi kemudian larangan itu beliau hapus sesudah al-Qur&#8217;an banyak dihafal dan  dicatat dengan baik oleh para sahabat sehingga tidak dikhawatirkan lagi catatan  atau hafalan hadits tercampur dengan al-Qur&#8217;an. Banyak sekali hadits yang  menunjukkan bahwasanya pencatatan hadits itu memang sudah terjadi di jaman Nabi  bahkan beliau sendiri yang memerintahkannya. Di antara dalilnya ialah sabda  beliau pada saat khutbah di tahun pembukaan kota Mekkah ketika Abu Syah meminta  kepada beliau untuk dituliskan ceramah yang beliau sampaikan, <em>&#8220;Tuliskanlah  bagi Abu Syah.&#8221;</em> (HR. Bukhari dan Muslim) Juga hadits Abu Hurairah.  Beliau menceritakan, &#8220;Sesungguhnya dia (Abdullah bin Amr) dahulu mencatat  (hadits) sedangkan aku tidak mencatat.&#8221; (HR. Bukhari) Begitu pula ketika  Nabi ditanya oleh Abdullah bin Amr, &#8220;Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku  mendengar sabdamu dan akupun mencatatnya.&#8221; Maka beliau mengatakan, <em>&#8220;Ya,  (silakan).&#8221;</em> Abdullah berkata, &#8220;Baik pada saat marah maupun ridha?&#8221;  Beliau menjawab, <em>&#8220;Iya, karena sesungguhnya aku tidak berkata kecuali  haq.&#8221;</em> (HR. Ahmad, sanadnya shahih kata Syaikh Ahmad Syakir) (lihat <em>Al  Hadits An Nabawi, Mushthalahuhu, Balaghatuhu, Kutubuhu</em>, hal. 40-49)</li>
</ol>
<p>Dan cukuplah kiranya dua buah jasa besar  ini menjadi sumbangan paling berharga yang mereka berikan bagi pemeliharaan  ajaran Islam yang murni. Sehingga Islam yang diturunkan Allah melalui malaikat  Jibril kepada Nabi dan kemudian diajarkan oleh Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa  sallam</em> kepada para sahabat bisa sampai di tangan kita melalui ribuan ayat al-Qur&#8217;an  dan puluhan ribu hadits Nabi yang tertulis dengan sanad-sanad yang bisa  dipertanggungjawabkan secara ilmiah di dalam kitab-kitab hadits. Yang dari  ayat-ayat dan hadits-hadits itulah umat manusia bisa mengetahui apa yang harus  mereka yakini, apa yang harus mereka ucapkan dan apa yang harus mereka perbuat.  Dari ayat dan hadits itulah para ulama menarik berbagai prinsip dan kesimpulan  hukum dalam bidang akidah, akhlak, muamalah, ibadah dan lain sebagainya.  Sehingga seorang muslim yang hidup di abad 15 Hijriyah bisa mengetahui secara  gamblang dengan tangan yang manakah seharusnya dia makan, dan dengan tangan  yang manakah seharusnya dia mencuci duburnya..!! Sebagaimana kaum muslimin pada  masa sahabat pun mengetahuinya.</p>
<p>Maka sungguh tidak beradab orang-orang  yang mengaku sebagai muslim akan tetapi rela menghinakan dirinya dengan  mencurahkan energi dan pikirannya demi mendiskreditkan dan mencaci maki para  sahabat. Ingatlah&#8230;, malaikat selalu mencatat, dan kejahatan mereka sangat layak  untuk dibalas dan dijatuhi hukuman berat!! Kalau tidak di dunia maka di  akhirat, maka tunggulah wahai orang-orang yang tidak tahu terima kasih ! Atau  segeralah bertaubat, jika kalian memang masih ingin selamat !!</p>
<p><strong>Hukum Mencela Sahabat</strong></p>
<p>Hukum bagi orang yang mencela atau  mendiskreditkan para sahabat terbagi menjadi beberapa tingkatan:</p>
<ol>
<li>Apabila orang tersebut  mencela mereka sehingga celaannya itu melahirkan konsekuensi kafirnya semua  sahabat atau sebagian besar di antara mereka, atau mendudukkan mayoritas mereka  ke dalam golongan orang-orang fasik, maka tindakan semacam ini tidak diragukan  lagi tentang kekafirannya. Karena dia telah berani mendustakan Allah, Rasul-Nya  dan berdusta atas nama agama.</li>
<li>Orang yang mencaci  mereka atau mengolok-olok perbuatan mereka. Dalam hal ini ada dua pendapat  ulama tentang status kekafirannya. Perbedaan ini muncul disebabkan adanya  perbedaan hukuman yang dijatuhkan akibat laknat yang muncul karena kemarahan  temporal dengan laknat yang muncul akibat kemarahan permanen yang bersumber  dari keyakinan hati<strong></strong></li>
<li>Orang yang  mendiskreditkan mereka akan tetapi tidak sampai merusak citra keadilan dan  agama mereka, seperti dengan menyebut mereka sebagai orang yang pengecut, pelit,  tidak zuhud dan semacamnya, maka orang yang melakukan perbuatan seperti itu  berhak menerima ta&#8217;zir (hukuman khusus) yang keras, ditahan dan dibatasi  aktifitasnya oleh pemerintahan Islam. (lihat <em>Al Is&#8217;aad</em>, hal. 79) <strong></strong></li>
</ol>
<p><strong>Urutan Keutamaan Para Sahabat</strong></p>
<p>Syaikh Shalih Al Fauzan <em>hafizhahullah</em> berkata, &#8220;Para sahabat  itu memiliki keutamaan yang bertingkat-tingkat.</p>
<ol>
<li>Yang paling utama di  antara mereka adalah khulafa rasyidin yang empat; Abu Bakar, &#8216;Umar, &#8216;Utsman dan  Ali, <em>radhiyallahu &#8216;anhum al jamii&#8217;</em>. Mereka adalah orang yang telah  disabdakan oleh Nabi <em>&#8216;alaihi shalatu wa salam</em>, <em>&#8220;Wajib bagi  kalian untuk mengikuti Sunnahku dan Sunnah khulafa rasyidin yang berpetunjuk  sesudahku, gigitlah ia dengan gigi geraham kalian.&#8221;</em></li>
<li>Kemudian sesudah mereka  adalah sisa dari 10 orang yang diberi kabar gembira pasti masuk surga selain  mereka, yaitu: Abu &#8216;Ubaidah &#8216;Amir bin Al Jarrah, Sa&#8217;ad bin Abi Waqqash, Sa&#8217;id  bin Zaid, Zubeir bin Al Awwam, Thalhah bin Ubaidillah dan Abdurrahman bin &#8216;Auf <em>radhiyallahu  &#8216;anhum</em>.</li>
<li>Kemudian diikuti oleh  Ahlul Badar, lalu</li>
<li>Ahlu Bai&#8217;ati Ridhwan,  Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman yang  artinya, <em>&#8220;Sungguh Allah telah ridha kepada orang-orang yang beriman  (para sahabat Nabi) ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon  (Bai&#8217;atu Ridwan). Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka. Kemudian  Allah menurunkan ketenangan kepada mereka dan membalas mereka dengan kemenangan  yang dekat.&#8221;</em> (QS. Al Fath [48] : 18)</li>
<li>Kemudian para sahabat  yang beriman dan turut berjihad sebelum terjadinya Al Fath. Mereka itu lebih  utama daripada sahabat-sahabat yang beriman dan turut berjihad setelah Al Fath.  Allah ta&#8217;ala berfirman yang artinya, <em>&#8220;Tidaklah sama antara orang yang  berinfak sebelum Al Fath di antara kalian dan turut berperang. Mereka itu  memiliki derajat yang lebih tinggi daripada orang-orang yang berinfak  sesudahnya dan turut berperang, dan masing-masing Allah telah janjikan kebaikan  (surga) untuk mereka.&#8221;</em> (QS. Al Hadid [57]: 10) Sedangkan yang dimaksud  dengan Al Fath di sini adalah perdamaian Hudaibiyah.</li>
<li>Kemudian kaum Muhajirin  secara umum,</li>
<li>Kemudian kaum Anshar.</li>
</ol>
<p>Sebab Allah telah mendahulukan kaum  Muhajirin sebelum Anshar di dalam al-Qur&#8217;an, Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> berfirman  yang artinya, <em>&#8220;Bagi orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin yang  diusir dari negeri-negeri mereka dan meninggalkan harta-harta mereka karena  mengharapkan keutamaan dari Allah dan keridhaan-Nya demi menolong agama Allah  dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.&#8221;</em> (QS. Al Hasyr  [59]: 8) Mereka itulah kaum Muhajirin. Kemudian Allah berfirman tantang kaum  Anshar, <em>&#8220;Sedangkan orang-orang yang tinggal di negeri tersebut (Anshar)  dan beriman sebelum mereka juga mencintai orang-orang yang berhijrah kepada  mereka (Muhajirin) dan di dalam hati mereka tidak ada rasa butuh terhadap apa  yang mereka berikan dan mereka lebih mengutamakan saudaranya daripada diri  mereka sendiri walaupun mereka juga sedang berada dalam kesulitan. Dan barang siapa  yang dijaga dari rasa bakhil dalam jiwanya maka mereka itulah orang-orang yang  beruntung.&#8221;</em> (QS. Al Hasyr [59] : 9)</p>
<p>Allah mendahulukan kaum Muhajirin dan amal  mereka sebelum kaum Anshar dan amal mereka yang menunjukkan bahwasanya kaum  Muhajirin lebih utama. Karena mereka rela meninggalkan negeri tempat tinggal  mereka, meninggalkan harta-harta mereka dan berhijrah di jalan Allah, itu  menunjukkan ketulusan iman mereka&#8230;&#8221; (<em>Ta&#8217;liq &#8216;Aqidah Thahawiyah</em> yang  dicetak bersama <em>Syarah &#8216;Aqidah Thahawiyah Darul &#8216;Aqidah</em>, hal. 492-494)</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al &#8216;Utsaimin <em>rahimahullah</em> mengatakan, &#8220;Sebab berbedanya martabat para sahabat adalah karena  perbedaan kekuatan iman, ilmu, amal shalih dan keterdahuluan dalam memeluk  Islam. Apabila dilihat secara kelompok maka kaum Muhajirin paling utama  kemudian diikuti oleh kaum Anshar. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman yang artinya, <em>&#8220;Sungguh  Allah telah menerima taubat Nabi, kaum Muhajirin dan kaum Anshar.&#8221;</em> (QS. At Taubah [9] : 117) Hal itu disebabkan mereka (Muhajirin) memadukan  antara hijrah meninggalkan negeri dan harta benda mereka dengan pembelaan  mereka (terhadap dakwah Nabi di Mekkah, red).</p>
<p>Sedangkan orang paling utama di antara  para sahabat adalah Abu Bakar, kemudian Umar. Hal itu berdasarkan ijma&#8217;.  Kemudian &#8216;Utsman, kemudian &#8216;Ali. Ini menurut pendapat jumhur Ahlis Sunnah yang  sudah mantap dan mapan setelah sebelumnya sempat terjadi perselisihan dalam hal  pengutamaan antara Ali dengan &#8216;Utsman. Ketika itu sebagian ulama lebih  mengutamakan &#8216;Utsman kemudian diam, ada lagi ulama lain yang lebih mendahulukan  &#8216;Ali kemudian baru &#8216;Utsman, dan ada pula sebagian lagi yang tawaquf tidak  berkomentar tentang pengutamaan ini. Orang yang berpendapat bahwa &#8216;Ali lebih  utama daripada &#8216;Utsman maka tidak dicap sesat, karena memang ada sebagian  (ulama) Ahlus Sunnah yang berpendapat demikian.&#8221; (<em>Mudzakkirah &#8216;alal  &#8216;Aqidah Wasithiyah</em>, hal. 77)</p>
<p><strong>Menyikapi Polemik Yang Terjadi di Kalangan  Para Sahabat</strong></p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al &#8216;Utsaimin <em>rahimahullah</em> mengatakan, &#8220;Sikap mereka (Ahlus Sunnah) dalam menyikapi hal itu ialah;  sesungguhnya polemik yang terjadi di antara mereka merupakan (perbedaan yang  muncul dari) hasil ijtihad dari kedua belah pihak (antara pihak &#8216;Ali dengan  pihak Mu&#8217;awiyah, red), bukan bersumber dari<strong> </strong>niat yang buruk. Sedangkan  bagi seorang mujtahid apabila ia benar maka dia berhak mendapatkan dua pahala,  sedangkan apabila ternyata dia tersalah maka dia berhak mendapatkan satu  pahala.</p>
<p>Dan polemik yang mencuat di tengah mereka  bukanlah berasal dari keinginan untuk meraih posisi yang tinggi atau bermaksud  membuat kerusakan di atas muka bumi; karena kondisi para sahabat <em>radhiyallahu  &#8216;anhum</em> tidak memungkinkan untuk itu. Sebab mereka adalah orang yang paling  tajam akalnya, paling kuat keimanannya, serta paling gigih dalam mencari  kebenaran. Hal ini selaras dengan sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, <em>&#8220;Sebaik-baik umat manusia adalah orang di jamanku (sahabat).&#8221;</em> (HR. Bukhari dan Muslim) Dengan demikian maka jalan yang aman ialah kita  memilih untuk diam dan tidak perlu sibuk memperbincangkan polemik yang terjadi  di antara mereka dan kita pulangkan perkara mereka kepada Allah; sebab itulah  sikap yang lebih aman supaya tidak memunculkan rasa permusuhan atau kedengkian  kepada salah seorang di antara mereka.&#8221; (<em>Mudzakkirah &#8216;alal &#8216;Aqidah  Wasithiyah</em>, hal. 82)</p>
<p><strong>Keterjagaan para Sahabat</strong></p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al &#8216;Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata, &#8220;(Individu) Para sahabat bukanlah orang-orang yang ma&#8217;shum dan  terbebas dari dosa-dosa. Karena mereka bisa saja terjatuh dalam maksiat,  sebagaimana hal itu mungkin terjadi pada orang selain mereka. Akan tetapi  mereka adalah orang-orang yang paling layak untuk meraih ampunan karena sebab-sebab  sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Mereka berhasil  merealisasikan iman dan amal shalih</li>
<li>Lebih dahulu memeluk  Islam dan lebih utama, dan terdapat hadits shahih dari Nabi <em>shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em> yang menyatakan bahwa mereka adalah sebaik-baik generasi  (sebaik-baik umat manusia, red)</li>
<li>Berbagai amal yang  sangat agung yang tidak bisa dilakukan oleh orang-orang selain mereka, seperti  terlibat dalam perang Badar dan Bai&#8217;atur Ridhwan</li>
<li>Mereka telah bertaubat  dari dosa-dosa, sedangkan taubat dapat menghapus apa yang dilakukan sebelumnya.</li>
<li>Berbagai kebaikan yang  akan menghapuskan berbagai amal kejelekan</li>
<li>Adanya ujian yang  menimpa mereka, yaitu berbagai hal yang tidak disenangi yang menimpa orang;  sedangkan keberadaan musibah itu bisa menghapuskan dan menutup bekas-bekas  dosa.</li>
<li>Kaum mukminin  senantiasa mendoakan mereka</li>
<li>Syafa&#8217;at dari Nabi <em>shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em>, sedangkan mereka adalah umat manusia yang paling berhak  untuk memperolehnya.</li>
</ol>
<p>Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan  itulah maka perbuatan sebagian mereka yang diingkari (karena salah) adalah  sangat sedikit dan tenggelam dalam (lautan) kebaikan mereka. Itu dikarenakan  mereka adalah sebaik-baik manusia setelah para Nabi dan juga orang-orang  terpilih di antara umat ini, yang menjadi umat paling baik. Belum pernah ada dan  tidak akan pernah ada suatu kaum yang serupa dengan mereka.&#8221; (<em>Mudzakkirah  &#8216;alal &#8216;Aqidah Wasithiyah</em>, hal. 83-84)</p>
<p><strong><strong></strong></strong></p>
<p>-bersambung insya Allah-</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi<br />
Artikel www.muslim.or.id</p>
<div class="shr-publisher-32"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fkedudukan-sahabat-nabi-di-mata-umat-islam-2.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fkedudukan-sahabat-nabi-di-mata-umat-islam-2.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fkedudukan-sahabat-nabi-di-mata-umat-islam-2.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/kedudukan-sahabat-nabi-di-mata-umat-islam-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kedudukan Sahabat Nabi di Mata Umat Islam (1)</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/kedudukan-sahabat-nabi-di-mata-umat-islam-1.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/kedudukan-sahabat-nabi-di-mata-umat-islam-1.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Apr 2008 01:22:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Nabi Muhammad, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir masa. Amma ba&#8217;du. Abdullah bin Mas&#8217;ud radhiyallahu &#8216;anhu mengatakan, &#8220;Barang<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/kedudukan-sahabat-nabi-di-mata-umat-islam-1.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam  semoga selalu terlimpah kepada Nabi Muhammad, keluarganya, para sahabatnya, dan  orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir masa. <em>Amma ba&#8217;du</em>.</p>
<p>Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> mengatakan,</p>
<p>&#8220;Barang siapa hendak mengambil  teladan maka teladanilah orang-orang yang telah meninggal. Mereka itulah para  sahabat Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Mereka adalah  orang-orang yang paling baik hatinya di kalangan umat ini. Ilmu mereka paling  dalam serta paling tidak suka membeban-bebani diri. Mereka adalah suatu kaum  yang telah dipilih oleh Allah guna menemani Nabi-Nya <em>shallallahu &#8216;alaihi wa  sallam</em> dan untuk menyampaikan ajaran agama-Nya. Oleh karena itu tirulah  akhlak mereka dan tempuhlah jalan-jalan mereka, karena sesungguhnya mereka  berada di atas jalan yang lurus.&#8221; (<em>Al Wajiz fi &#8216;Aqidati Salafish shalih</em>,  hal. 198)</p>
<p><span id="more-29"></span><strong>Pengertian Sahabat</strong></p>
<p>Sahabat adalah orang yang berjumpa dengan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam keadaan muslim, meninggal dalam  keadaan Islam, meskipun sebelum mati dia pernah murtad seperti Al Asy&#8217;ats bin  Qais. Sedangkan yang dimaksud dengan berjumpa dalam pengertian ini lebih luas  daripada duduk di hadapannya, berjalan bersama, terjadi pertemuan walau tanpa  bicara, dan termasuk dalam pengertian ini pula apabila salah satunya (Nabi atau  orang tersebut) pernah melihat yang lainnya, baik secara langsung maupun tidak  langsung. Oleh karena itu Abdullah bin Ummi Maktum <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> yang buta matanya tetap disebut sahabat (lihat <em>Taisir Mushthalah</em> Hadits,  hal. 198, <em>An Nukat</em>, hal. 149-151)</p>
<p><strong>Sikap Ahlus Sunnah  Terhadap Para Sahabat</strong></p>
<p>Syaikh Abu Musa Abdurrazzaq Al Jaza&#8217;iri <em>hafizhahullah</em> berkata, &#8220;Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah As Salafiyun senantiasa mencintai  mereka (para sahabat) dan banyak menyebutkan berbagai kebaikan mereka. Mereka  juga mendoakan rahmat kepada para sahabat, memintakan ampunan untuk mereka demi  melaksanakan firman Allah <em>ta&#8217;ala</em> yang artinya, <em>&#8220;Dan orang-orang  yang datang sesudah mereka mengatakan; Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan  saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan keimanan. Dan janganlah  Kau jadikan ada rasa dengki di dalam hati kami kepada orang-orang yang beriman,  sesungguhnya Engkau Maha Lembut lagi Maha Penyayang.&#8221;</em> (QS. Al Hasyr  [59]: 10)</p>
<p>Dan termasuk salah satu prinsip yang  diyakini oleh Ahlus Sunnah As Salafiyun adalah menahan diri untuk tidak  menyebut-nyebutkan kejelekan mereka serta bersikap diam (tidak mencela mereka,  red) dalam menanggapi perselisihan yang terjadi di antara mereka. Karena mereka  itu adalah pilar penopang agama, panglima Islam, pembantu-pembantu Rasul <em>shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em>, penolong beliau, pendamping beliau serta pengikut setia  beliau. Perbedaan yang terjadi di antara mereka adalah perbedaan dalam hal  ijtihad. Mereka adalah para mujtahid yang apabila benar mendapatkan pahala dan  apabila salah pun tetap mendapatkan pahala. <em>&#8220;Itulah umat yang telah  berlalu. Bagi mereka balasan atas apa yang telah mereka perbuat. Dan bagi  kalian apa yang kalian perbuat. Kalian tidak akan ditanya tentang apa yang  telah mereka kerjakan.&#8221;</em> (QS. Al Baqarah [2]: 141). Barang siapa yang  mendiskreditkan para sahabat maka sesungguhnya dia telah menentang dalil Al  Kitab, As Sunnah, Ijma&#8217; dan akal.&#8221; (<em>Al Is&#8217;aad fii Syarhi Lum&#8217;atil  I&#8217;tiqaad</em>, hal. 77)</p>
<p><strong>Dalil-dalil Al Kitab Tentang Keutamaan Para Sahabat</strong></p>
<ol>
<li>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman yang artinya, <em>&#8220;Muhammad adalah utusan Allah beserta  orang-orang yang bersamanya adalah bersikap keras kepada orang-orang kafir dan  saling menyayangi sesama mereka. Engkau lihat mereka itu ruku&#8217; dan sujud  senantiasa mengharapkan karunia dari Allah dan keridhaan-Nya.&#8221;</em> (QS. Al  Fath: 29)</li>
<li>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman yang artinya, <em>&#8220;Bagi orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin  yang diusir dari negeri-negeri mereka dan meninggalkan harta-harta mereka  karena mengharapkan keutamaan dari Allah dan keridhaan-Nya demi menolong agama  Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Sedangkan  orang-orang yang tinggal di negeri tersebut (Anshar) dan beriman sebelum mereka  juga mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin) dan di  dalam hati mereka tidak ada rasa butuh terhadap apa yang mereka berikan dan  mereka lebih mengutamakan saudaranya daripada diri mereka sendiri walaupun  mereka juga sedang berada dalam kesulitan.&#8221;</em> (QS. Al Hasyr [59]: 8-9)</li>
<li>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman yang artinya, &#8220;<em>Sungguh Allah telah ridha kepada orang-orang  yang beriman (para sahabat Nabi) ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah  pohon (Bai&#8217;atu Ridwan). Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka.  Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada mereka dan membalas mereka dengan  kemenangan yang dekat.&#8221;</em> (QS. Al Fath [48]: 18)</li>
<li>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman yang artinya, <em>&#8220;Dan orang-orang yang terlebih dulu (berjasa  kepada Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang  mengikuti mereka dengan baik, maka Allah telah ridha kepada mereka dan mereka  pun ridha kepada Allah. dan Allah telah mempersiapkan bagi mereka surga-surga  yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya  selama-lamanya. Itulah kemenangan yang sangat besar.&#8221;</em> (QS. At Taubah  [9]: 100)</li>
<li>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman yang artinya, <em>&#8220;Pada hari di mana Allah tidak akan menghinakan  Nabi dan orang-orang yang beriman bersamanya. Cahaya mereka bersinar di hadapan  dan di sebelah kanan mereka.&#8221;</em> (QS. At Tahrim [66]: 8) (lihat <em>Al  Is&#8217;aad</em>, hal. 77-78)</li>
</ol>
<p><strong>Dalil-dalil Dari As Sunnah Tentang Keutamaan Para Sahabat</strong></p>
<ol>
<li>Rasulullah <em>shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>&#8220;Janganlah kalian mencela seorang pun  di antara para sahabatku. Karena sesungguhnya apabila seandainya ada salah satu  di antara kalian yang bisa berinfak emas sebesar Gunung Uhud maka itu tidak  akan bisa menyaingi infak salah seorang di antara mereka; yang hanya sebesar  genggaman tangan atau bahkan setengahnya.&#8221;</em> (Muttafaq &#8216;alaih)</li>
<li>Beliau juga bersabda, <em>&#8220;Sebaik-baik  umat manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian orang-orang yang mengikuti  mereka (tabi&#8217;in) dan kemudian orang-orang yang mengikuti mereka lagi (tabi&#8217;ut  tabi&#8217;in).&#8221;</em> (Muttafaq &#8216;alaih)</li>
<li>Beliau <em>shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>&#8220;Bintang-bintang itu adalah amanat bagi  langit. Apabila bintang-bintang itu telah musnah maka tibalah kiamat yang  dijanjikan akan menimpa langit. Sedangkan aku adalah amanat bagi para  sahabatku. Apabila aku telah pergi maka tibalah apa yang dijanjikan Allah akan  terjadi kepada para sahabatku. Sedangkan para sahabatku adalah amanat bagi  umatku. Sehingga apabila para sahabatku telah pergi maka akan datanglah sesuatu  (perselisihan dan perpecahan, red) yang sudah dijanjikan Allah akan terjadi  kepada umatku ini.&#8221;</em> (HR. Muslim)</li>
<li>Rasul <em>shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>&#8220;Barang siapa yang mencela para  sahabatku maka dia berhak mendapatkan laknat dari Allah, laknat para malaikat  dan laknat dari seluruh umat manusia.&#8221;</em> (<em>Ash Shahihah</em>: 234)</li>
<li>Rasulullah <em>shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em> juga bersabda, <em>&#8220;Apabila disebutkan tentang para  sahabatku maka diamlah.&#8221;</em> (<em>Ash Shahihah</em>: 24) (lihat <em>Al Is&#8217;aad</em>,  hal. 78)</li>
</ol>
<p><strong>Dalil Ijma&#8217; Tentang Keutamaan Para Sahabat</strong></p>
<ol>
<li>Imam Ibnush Shalah <em>rahimahullah</em> berkata di dalam kitab Mukaddimah-nya, &#8220;Sesungguhnya umat ini telah  sepakat untuk menilai adil (terpercaya dan taat) kepada seluruh para sahabat,  begitu pula terhadap orang-orang yang terlibat dalam fitnah yang ada di antara  mereka. hal ini sudah ditetapkan berdasarkan konsensus/kesepakatan para ulama  yang pendapat-pendapat mereka diakui   dalam hal ijma&#8217;.&#8221;</li>
<li>Imam Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata di dalam kitab <em>Taqrib</em>nya, &#8220;Semua sahabat adalah orang yang  adil, baik yang terlibat dalam kancah fitnah maupun tidak, ini berdasarkan  kesepakatan para ulama yang dapat diperhitungkan.&#8221;</li>
<li>Al Hafizh Ibnu Hajar  berkata di dalam kitab <em>Al Ishabah</em>, &#8220;Ahlus Sunnah sudah sepakat  untuk menyatakan bahwa semua sahabat adalah adil. Tidak ada orang yang menyelisihi  dalam hal itu melainkan orang-orang yang menyimpang dari kalangan ahli bid&#8217;ah.&#8221;</li>
<li>Imam Al Qurthubi  mengatakan di dalam kitab Tafsirnya, &#8220;Semua sahabat adalah adil, mereka  adalah para wali Allah <em>ta&#8217;ala</em> serta orang-orang suci pilihan-Nya, orang  terbaik yang diistimewakan oleh-Nya di antara seluruh manusia ciptaan-Nya  sesudah tingkatan para Nabi dan Rasul-Nya. Inilah madzhab Ahlus Sunnah dan  dipegang teguh oleh Al Jama&#8217;ah dari kalangan para imam pemimpin umat ini.  Memang ada segolongan kecil orang yang tidak layak untuk diperhatikan yang  menganggap bahwa posisi para sahabat sama saja dengan posisi orang-orang selain  mereka.&#8221; (lihat <em>Al Is&#8217;aad</em>, hal. 78)</li>
</ol>
<p><strong>Dalil Akal tentang keutamaan para Sahabat</strong></p>
<p>Syaikh Abdurrazzaq Al Jazaa&#8217;iri <em>hafizhahullah</em> berkata, &#8220;Kaum Rafidhah (Syi&#8217;ah) menganggap bahwasanya semua sahabat  adalah kafir kecuali sebagian saja di antara mereka. Sedangkan kaum Mu&#8217;tazilah  menilai adil mereka semua kecuali para sahabat yang terlibat dalam kancah  fitnah. Duhai, sungguh mengherankan apa yang mereka perbuat !!</p>
<p>Sementara Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman di  dalam kitab-Nya yang artinya, <em>&#8220;Maka Allah telah menurunkan ketenangan  dari-Nya kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang beriman (para sahabat) serta  Allah telah menetapkan kalimat takwa kepada mereka. Mereka itulah (Rasul dan  para sahabat) orang-orang yang memang berhak dan layak untuk menerimanya. Dan  Allah Maha mengetahui atas segala sesuatunya.&#8221;</em> (QS. Al Fath [48]: 26)</p>
<p>(Di dalam ayat ini) Allah telah menjadikan  mereka (para sahabat) sebagai orang-orang yang berhak dan pantas mendapatkan  predikat takwa, sedangkan mereka (Rafidhah dan Mu&#8217;tazilah) justru mencela  mereka!! Kemudian (dalil yang lainnya, red) Pada suatu saat Allah <em>ta&#8217;ala</em> memerintahkan kepada Nabi-Nya <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> supaya  berangkat ke Baqi&#8217; dalam rangka memintakan ampunan bagi para sahabat yang sudah  meninggal di antara mereka dan agar beliau mendoakan mereka. Dan beliau <em>shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em> pun telah meninggal dalam keadaan ridha kepada mereka,  kemudian orang-orang itu justru mencela mereka !!</p>
<p>Kemudian lagi,&#8230; (dalil akal yang lainnya  adalah) begitu banyaknya pujian dari Allah dalam Kitab-Nya yang mulia dan juga  pujian yang keluar dari lisan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> kepada  mereka dalam keadaan Allah Maha tahu tentang perbuatan mereka serta apa yang  akan muncul dari mereka sesudah Nabi meninggal, sementara orang-orang itu  berani mencela mereka dengan seenaknya &#8230;.</p>
<p>Kemudian alasan berikutnya, yaitu Allah  telah menobatkan mereka sebagai para da&#8217;i yang menyampaikan agama-Nya serta  menampakkan syari&#8217;at-Nya dan menjadikan mereka sebagi guru umat manusia setelah  Rasul-Nya sedangkan orang-orang ini justru berani mencaci maki mereka&#8230; Maha  suci Engkau ya Allah, ini adalah kedustaan yang sangat besar.&#8221; (<em>Al  Is&#8217;aad</em>, hal. 79)</p>
<p>-bersambung insya Allah-</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi<br />
Artikel www.muslim.or.id</p>
<div class="shr-publisher-29"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fkedudukan-sahabat-nabi-di-mata-umat-islam-1.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fkedudukan-sahabat-nabi-di-mata-umat-islam-1.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fkedudukan-sahabat-nabi-di-mata-umat-islam-1.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/kedudukan-sahabat-nabi-di-mata-umat-islam-1.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

