<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muslim.Or.Id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah &#187; Ramadhan</title>
	<atom:link href="http://muslim.or.id/tag/ramadhan/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muslim.or.id</link>
	<description>Pesantren online agama Islam berdasarkan Qur&#039;an dan Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih</description>
	<lastBuildDate>Sat, 11 Feb 2012 04:00:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Momen Lebaran, Kesempatan Mempraktekan Akhlak Karimah</title>
		<link>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/momen-lebaran-kesempatan-mempraktekan-akhlak-karimah.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/momen-lebaran-kesempatan-mempraktekan-akhlak-karimah.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Aug 2011 22:30:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yulian Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq dan Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=6791</guid>
		<description><![CDATA[Saling mengunjungi antar-kerabat, antar-tetangga dan teman baik menjadi aktifitas yang rutin dilakukan ketika lebaran. Pada tulisan terdahulu, telah dijelaskan bahwa aktifitas ini dibolehkan dalam syari&#8217;at bahkan merupakan perbuatan yang memiliki landasan dalil. Dengan aktifitas ini,<a class="more" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/momen-lebaran-kesempatan-mempraktekan-akhlak-karimah.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p align="LEFT">Saling mengunjungi antar-kerabat, antar-tetangga dan teman baik menjadi aktifitas yang rutin dilakukan ketika lebaran. Pada <a href="http://muslim.or.id/ramadhan/bolehkah-mengkhususkan-momen-lebaran-untuk-mengunjungi-kerabat.html">tulisan terdahulu</a>, telah dijelaskan bahwa aktifitas ini dibolehkan dalam syari&#8217;at bahkan merupakan perbuatan yang memiliki landasan dalil.</p>
<p align="LEFT">Dengan aktifitas ini, anggota keluarga dan kerabat pun saling bertemu atau bahkan berkumpul di satu tempat. Para tetangga pun saling berjumpa satu sama lain, juga dengan teman-teman yang dikenal. Berangkat dari semua ini, momen lebaran tentunya menjadi kesempatan tersendiri bagi seorang muslim untuk mempraktekan akhlak <em>karimah</em>, tentunya tanpa harus melanggar aturan syari&#8217;at.</p>
<p align="LEFT">Terlebih lagi bagi para penuntut ilmu agama dan orang-orang yang berpegang teguh pada sunnah Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>, momen ini adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa anda berpegang teguh pada sunnah Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>bukan hanya dalam aqidah dan ibadah namun juga dalam akhlak, dan akhlak mulia adalah hasil dari pelajaran tauhid yang anda terapkan.</p>
<p align="LEFT">Diantara akhlak mulia yang dapat dipraktekkan antara lain:</p>
<p align="LEFT"><strong>Memperbanyak senyum</strong></p>
<p align="LEFT">Wajah yang penuh senyuman adalah akhlak Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>. Sahabat Jarir bin Abdillah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> berkisah:</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right; font-family: Traditional Arabic;">مَا حَجَبَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُنْذُ أَسْلَمْتُ، وَلاَ رَآنِي إِلَّا تَبَسَّمَ فِي وَجْهِي</p>
<p align="LEFT">“<em>Sejak aku masuk Islam, Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam tidak pernah menghindari aku jika aku ingin bertemu dengannya, dan tidak pernah aku melihat beliau kecuali beliau tersenyum padaku</em>” (HR. Bukhari, no.6089).</p>
<p align="LEFT">Beliau juga memerintahkan hal tersebut kepada ummatnya. Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right; font-family: Traditional Arabic;">تبسمك في وجه أخيك لك صدقة</p>
<p align="LEFT">“<em>Senyummu terhadap wajah saudaramu adalah sedekah</em>” (HR. Tirmidzi 1956, ia berkata: “Hasan gharib”. Di-<em>shahih</em>-kan oleh Al Albani dalam <em>Shahih At Targhib</em>)</p>
<p align="LEFT"><strong>Bermuka cerah dan ramah</strong></p>
<p align="LEFT">Tidak sepatutnya seorang muslim bermuka masam kepada saudaranya. Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right; font-family: Traditional Arabic;">لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ</p>
<p align="LEFT">“<em>Janganlah engkau meremehkan kebaikan sekecil apapun, walaupun itu berupa cerahnya wajahmu terhadap saudaramu</em>” (HR. Muslim, no. 2626)</p>
<p align="LEFT"><strong>Berkata-kata yang baik dan sopan</strong></p>
<p align="LEFT">Allah memerintahkan hamba-Nya berkata yang baik. Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right; font-family: Traditional Arabic;">&gt;وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا</p>
<p align="LEFT">“<em>&#8230; dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia</em>” (QS. Al Baqarah: 83)</p>
<p align="LEFT">Para da&#8217;i serta penuntut ilmu agama lebih ditekankan lagi untuk mampu berkata baik dan sopan. Allah <em>Ta&#8217;ala</em> juga berfirman:</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right; font-family: Traditional Arabic;">وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا</p>
<p align="LEFT">“<em>Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih</em>” (QS. Fushilat: 33)</p>
<p align="LEFT">Jika tidak mampu berkata baik, maka diam itu lebih baik. Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right; font-family: Traditional Arabic;">مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ</p>
<p align="LEFT">“<em>Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah mengganggu tetangganya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, muliakanlah tamunya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, katakanlah yang baik atau diam</em>” (HR. Bukhari 6018, Muslim 47)</p>
<p align="LEFT"><strong>Banyak memberi bantuan</strong></p>
<p align="LEFT">Ketika berinteraksi dengan para kerabat, bersemangatlah memberikan bantuan-bantuan walaupun kecil, seperti menuangkan minuman pada orang-orang yang lebih tua, membukakan pintu, memarkirkan kendaraan, membawakan barang para tetamu, dll. Demikianlah akhlak seorang muslim. Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right; font-family: Traditional Arabic;">كُلُّ مَعْرُوفٍ صَدَقَةٌ، وَإِنَّ مِنَ المَعْرُوفِ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ، وَأَنْ تُفْرِغَ مِنْ دَلْوِكَ فِي إِنَاءِ أَخِيكَ</p>
<p align="LEFT">“<em>Setiap perbuatan baik adalah sedekah. Dan diantara bentuk perbuatan baik itu adalah bermuka cerah kepada saudaramu, serta menuangkan air ke bejana saudaramu</em>” (HR. Tirmidzi 1970, ia berkata: “hadits ini hasan shahih”)</p>
<p align="LEFT">Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> juga bersabda</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right; font-family: Traditional Arabic;">كُلُّ سُلاَمَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ، كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيهِ الشَّمْسُ، يَعْدِلُ بَيْنَ الِاثْنَيْنِ صَدَقَةٌ، وَيُعِينُ الرَّجُلَ عَلَى دَابَّتِهِ فَيَحْمِلُ عَلَيْهَا، أَوْ يَرْفَعُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ</p>
<p align="LEFT">“<em>Setiap persendian manusia diwajibkan untuk bersedakah setiap harinya dari mulai matahari terbit. Mendamaikan dua orang yang berselisih adalah sedekah, menolong seseorang naik ke atas kendaraannya atau mengangkat barang-barangnya ke atas kendaraannya adalah sedekah&#8230;</em>” (HR. Bukhari 2989, Muslim 1009)</p>
<p align="LEFT">Bantuan-bantuan yang anda berikan kepada kerabat atau saudara anda itu akan menjadi sebab datangnya bantuan Allah untuk anda kelak. Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right; font-family: Traditional Arabic;">وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ</p>
<p align="LEFT">“<em>Pertolongan Allah itu senantiasa diberikan kepada seorang hamba selama hamba tersebut memberikan pertolongan kepada saudaranya</em>” (HR. Muslim, no. 2699)</p>
<p align="LEFT"><strong>Banyak bersedekah</strong></p>
<p align="LEFT">Keluarga dan kerabat adalah orang yang lebih utama daripada yang lain untuk mendapatkan sedekah anda. Terutama bila diantara kerabat anda ada yang tergolong kurang mampu. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman:</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right; font-family: Traditional Arabic;">إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى</p>
<p align="LEFT">“<em>Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat … </em>“ (QS. An Nahl: 90)</p>
<p align="LEFT">Orang yang bersedekah akan dilipat-gandakan pahalanya. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman:</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right; font-family: Traditional Arabic;">إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضاً حَسَناً يُضَاعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ</p>
<p align="LEFT">“<em>Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.</em>” (Qs. Al Hadid: 18)</p>
<p align="LEFT">Sedekah juga bisa menghapus dosa-dosa anda. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right; font-family: Traditional Arabic;">والصدقة تطفىء الخطيئة كما تطفىء الماء النار</p>
<p align="LEFT">“<em>Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api</em>.” (HR. Tirmidzi, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi, 614)</p>
<p align="LEFT"><strong>Bersalaman</strong></p>
<p align="LEFT">Ketika bertemu dengan kerabat, sambutlah ia dengan jabatan erat tangan anda. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right; font-family: Traditional Arabic;">مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَتَفَرَّقَاَ</p>
<p align="LEFT">“<em>Tidaklah dua orang muslim yang bertemu lalu berjabat tangan, melainkan dosa keduanya sudah diampuni sebelum mereka berpisah</em>” (HR. Abu Dawud no. 5.212 dan at-Tirmidzi no. 2.727, dishahihkan oleh al-Albani)</p>
<p align="LEFT">Namun perlu menjadi catatan, anda tidak diperkenankan berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram anda, walaupun ia termasuk kerabat. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right; font-family: Traditional Arabic;">لَأَنْ يُطْعَنُ فِيْ رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيْدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لاَ تَحِلُّ لَهُ</p>
<p align="LEFT">“<em>Andai kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum besi, itu masih lebih baik daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya</em>”. (HR. Baihaqi dalam <em>Syu’abul Iman </em>no. 4544, dishahihkan oleh Al Albani dalam <em>Ash-Shahihah </em>no. 226)</p>
<p align="LEFT">Anda bisa memberikan anggukan, senyuman atau isyarat lain yang bisa menggantikan fungsi jabat tangan menurut adat di tempat anda.</p>
<p align="LEFT"><strong><em>Tawadhu&#8217;</em> dan tidak pamer kekayaan</strong></p>
<p align="LEFT">Ketika berkumpul di tengah banyak orang, seringkali hati kita mengajak untuk pamer harta dan kelebihan yang ia miliki. Ini adalah sifat yang tercela. Allah <em>Ta&#8217;ala </em>berfirman:</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right; font-family: Traditional Arabic;">أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ</p>
<p align="LEFT">“<em>Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur, Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu)</em>” (QS. At Takatsur 1-3)</p>
<p align="LEFT">Sebaliknya, seorang muslim itu hendaknya bersikap <em>tawadhu&#8217;</em> (rendah hati). Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right; font-family: Traditional Arabic;">مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ</p>
<p align="LEFT">“<em>Sedekah tidak akan mengurangi harta seseorang. Allah akan menambahkan kewibawaan seseorang hamba yang pemaaf. Tidaklah seorang hamba itu bersikap tawadhu kecuali Allah akan tinggikan ia</em>” (HR. Muslim, no.2588)</p>
<p align="LEFT">Sifat suka pamer, sombong dan tidak <em>tawadhu</em> itu akan menumbuhkan kedengkian, persaingan dan bahkan kezhaliman. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right; font-family: Traditional Arabic;">وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلَا يَبْغِ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ</p>
<p align="LEFT">“<em>Sungguh Allah mewahyukan kepadaku agar kalian saling merendah diri agar tidak ada seorang pun yang berbangga diri pada yang lain dan agar tidak seorang pun berlaku zhalim pada yang lain</em>” (HR. Muslim no. 2865)” (HR. Muslim no. 2865)</p>
<p align="LEFT"><strong>Memperbanyak salam</strong></p>
<p align="LEFT">Menebar salam lebih baik dari sapaan-sapaan gaul atau pun <em>greets </em>ala barat. Karena saling mengucapkan salam akan menumbuhkan kecintaan terhadap hati sesama muslim serta dengan sendirinya membuat suasana Islami di tengah kerabat dan keluarga anda. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right; font-family: Traditional Arabic;">لا تدخلون الجنة حتى تؤمنوا. ولا تؤمنوا حتى تحابوا أولا أدلكم على شيء إذا فعلتموه تحاببتم ؟ أفشوا السلام بينكم</p>
<p align="LEFT">“<em>Tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Dan kalian tidak dikatakan beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang jika dilakukan akan membuat kalian saling mencintai? Sebarkan salam diantara kalian</em>” (HR. Muslim, no.54)</p>
<p align="LEFT"><strong>Sesekali bercanda untuk mencairkan suasana</strong></p>
<p align="LEFT">Bercanda untuk mencairkan suasana agar timbul kedekatan dan terikatnya silaturahim adalah hal yang dianjurkan. Selama bercanda ini tidak dijadikan kebiasaan atau terlalu sering dilakukan. Bahkan Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> pun terkadang bercanda. Sahabat Anas ibnu Malik berkisah,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right; font-family: Traditional Arabic;">جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم يستحمله فقال أنا حاملك على ولد ناقة قال يا رسول الله وما أصنع بولد ناقة فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم وهل تلد الإبل إلا النوق</p>
<p align="LEFT">“<em>Seseorang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meminta beliau memboncengnya, lalu Nabi berkata, ‘Saya akan menaikkanmu di atas anak unta betina!’ (padahal yang dimaksud adalah unta dewasa). Orang itu berkata, ‘Wahai Rasulullah! Apa yang dapat saya lakukan terhadap anak unta betina?’ Rasulullah menjawab,’Bukankah setiap unta yang dilahirkan itu disebut anak unta?</em>’ (HR. Abu Daud no.4998, di-shahih-kan Al Albani dalam <em>Shahih Abi Daud</em>)</p>
<p align="LEFT">Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata:</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right; font-family: Traditional Arabic;">قالوا : يا رسول الله إنك تداعبنا قال إني لا أقول إلا حقا</p>
<p align="LEFT">“<em>Para sahabat berkata: &#8216;Wahai Rasulullah! Sungguh engkau terkadang mencandai kami&#8217;. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, “Sungguh aku tidak akan berkata kecuali kebenaran</em>” (HR. Tirmidzi, no.1990, ia berkata: “Hasan shahih”)</p>
<p align="LEFT">Dari Bakr bin Abdillah, ia berkata,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right; font-family: Traditional Arabic;">انَ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَبَادَحُونَ بِالْبِطِّيخِ، فَإِذَا كَانَتِ الْحَقَائِقُ كَانُوا هُمُ الرِّجَالَ</p>
<p align="LEFT">“<em>Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah saling melempar kulit semangka, padahal mereka adalah sebenarnya mereka adalah orang-orang terhormat</em>” (HR. Bukhari dalam <em>Adabul Mufrad</em> 226, dishahihkan Al Albani dalam <em>Shahih Adabil Mufrad</em>)</p>
<p align="LEFT"><strong>Mendahulukan orang lain dalam perkara non-ibadah</strong></p>
<p>Kita diperintahkan untuk berlomba-lomba untuk dalam perkara ibadah dan kebaikan akhirat, namun dalam perkara duniawi, keuntungan dunia, kesenangan dunia, yang lebih utama adalah mendahulukan orang lain dan membiarkan orang lain menikmatinya lebih dahulu daripada kita. Allah <em>Ta&#8217;ala</em> memuji kaum Anshar:</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right; font-family: Traditional Arabic;">وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ</p>
<p align="LEFT">“<em>mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung</em>” (QS. Al Hasyr: 9)</p>
<p align="LEFT">Jika anda menyukai untuk mendapatkan sesuatu yang bagus, dan anda juga senang bila saudara anda semuslim bisa mendapatkannya, itulah salah satu tanda keimanan anda. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right; font-family: Traditional Arabic;">لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه</p>
<p align="LEFT">“<em>Tidak beriman seseorang hingga mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya</em>” (HR. Bukhari no.13, Muslim no.45)</p>
<p align="LEFT"><strong>Memuliakan tamu</strong></p>
<p align="LEFT">Ketika anda dikunjungi kerabat, anda sebagai tuan rumah hendaknya memuliakan mereka yang berstatus sebagai tamu. Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right; font-family: Traditional Arabic;">مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ</p>
<p align="LEFT">“<em>Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah mengganggu tetangganya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, muliakanlah tamunya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, katakanlah yang baik atau diam</em>” (HR. Bukhari 6018, Muslim 47)</p>
<p align="LEFT"><strong>Menjaga pandangan</strong></p>
<p align="LEFT">Terkadang ada sebagian kerabat atau keluarga kita yang tidak menutup auratnya dengan baik atau membawa hal-hal yang tidak sepatutnya dilihat. Allah <em>Ta&#8217;ala </em>memerintahkan kaum lelaki yang beriman untuk menjaga pandangan mereka dari yang haram:</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right; font-family: Traditional Arabic;">قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ</p>
<p align="LEFT">“<em>Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: &#8220;Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat</em>&#8220;. (QS. An Nuur: 30)</p>
<p align="LEFT">Kepada kaum wanita yang beriman, selain diperintahkan juga untuk menjaga pandangan juga diperintahkan untuk memakai busana muslimah yang syar&#8217;i agar kaum lekaki bisa menjaga pandangan mereka. Allah <em>Ta&#8217;ala </em>berfirman:</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right; font-family: Traditional Arabic;">وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ</p>
<p align="LEFT">“<em>Katakanlah kepada wanita yang beriman: &#8220;Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung</em>” (QS. An Nuur: 31)</p>
<p align="LEFT"><strong>Saling menasehati dalam kebaikan</strong></p>
<p align="LEFT">Ketika bertemu dengan keluarga dan kerabat, itu adalah kesempatan emas untuk mendakwahkan mereka kepada agama yang benar sesuai dengan Al Qur&#8217;an, sunnah serta pemahaman para salaf. Jangan buang kesempatan ini, walaupun itu sekedar memberikan majalah, memberikan info <em>channel </em>radio sunnah, website sunnah, menghadiahkan jilbab yang lebar, mengajak shalat, mengajak berzakat atau semacamnya. Karena Islam adalah agama nasehat, Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right; font-family: Traditional Arabic;">الدين النصيحة قلنا : لمن ؟ قال : لله ولكتابه ولرسوله ولأئمة المسلمين وعامتهم</p>
<p align="LEFT">“<em>Agama adalah nasehat”. Para sahabat bertanya: “Untuk siapa?”. Beliau menjawab: “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para imam kaum muslimin dan umat muslim seluruhnya</em>” (HR. Muslim, 55)</p>
<p align="LEFT">Ilmu yang anda sampaikan sekecil apapun akan menjadi amal <em>jariyah</em> anda yang terus mengalir kelak jika orang yang dakwahkan senantiasa mengamalkan dan mendakwakannya lagi kepada orang lain. Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right; font-family: Traditional Arabic;">إذا مات الإنسان انقطع عمله إلا من ثلاث صدقة جارية أو علم ينتفع به أو ولد صالح يدعو له</p>
<p align="LEFT">“<em>Jika seorang manusia mati, terputuslah semua amalnya kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya</em>” (HR. Muslim no.1631)</p>
<p align="LEFT">Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> juga bersabda:</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right; font-family: Traditional Arabic;">من دل على خير كان له مثل أجر فاعله</p>
<p align="LEFT">“<em>Barangsiapa menunjukkan kepada suatu kebaikan, ia akan mendapatkan pahala orang yang melakukannya</em>” (HR. Muslim no.1893)</p>
<p align="LEFT">Demikianlah beberapa akhlak mulia yang bisa anda praktekan ketika momen lebaran. Semoga Allah menolong kita untuk dapat menerapkan akhlak mulia ini sehingga menjadi hamba-Nya yang sempurna imannya. Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> juga bersabda:</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right; font-family: Traditional Arabic;">أكمل المؤمنين إيمانا أحسنهم خلقا</p>
<p>“<em>Orang beriman yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaq-nya</em>” (HR. Tirmidzi no.1162, ia berkata: “Hasan shahih”)</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: Yulian Purnama<br />
Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-6791"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fmomen-lebaran-kesempatan-mempraktekan-akhlak-karimah.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fmomen-lebaran-kesempatan-mempraktekan-akhlak-karimah.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fmomen-lebaran-kesempatan-mempraktekan-akhlak-karimah.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/momen-lebaran-kesempatan-mempraktekan-akhlak-karimah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dokumentasi Ramadhan di Merapi 1432 H</title>
		<link>http://muslim.or.id/dari-redaksi/dokumentasi-ramadhan-di-merapi-1432-h.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/dari-redaksi/dokumentasi-ramadhan-di-merapi-1432-h.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Aug 2011 16:11:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yhouga</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Redaksi]]></category>
		<category><![CDATA[Donasi]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=6776</guid>
		<description><![CDATA[Kegiatan Ramadhan 1432 H di Lereng Merapi pelaksanaanya dibagi menjadi 5 hari yaitu dimulai pada tanggal 5, 6, 12, 13, dan 14 Agustus 2011. Secara keseluruhan kegiatan ini meliputi : Pengajian Jelang Buka Kegiatan ini<a class="more" href="http://muslim.or.id/dari-redaksi/dokumentasi-ramadhan-di-merapi-1432-h.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Kegiatan Ramadhan 1432 H di Lereng Merapi pelaksanaanya dibagi menjadi 5 hari yaitu dimulai pada tanggal 5, 6, 12, 13, dan 14 Agustus 2011. Secara keseluruhan kegiatan ini meliputi :</p>
<ul>
<li>Pengajian Jelang Buka</li>
</ul>
<p>Kegiatan ini mendatangkan penceramah dari ustadz-ustadz Pondok Pesantren Jamilurrahman as-Salafy di Bantul. Dalam penyampaian ceramah digunakan bahasa Jawa untuk mempermudah warga dalam memahami materi Pengajian tersebut. Materi yang disampaikan meliputi materi-materi tentang ibadah di bulan Ramadhan.</p>
<ul>
<li>Buka Puasa Bersama</li>
</ul>
<p>Kegiatan buka bersama ini dilaksanakan setelah Pengajian Jelang Buka atau setelah pelaksanaan TPA. Di setiap tempat rata-rata membutuhkan hingga 100 s.d. 150 bungkus nasi. Jumlah ini disesuaikan dengan jumlah penduduk yang berada di sana.</p>
<ul>
<li>Kultum Tarawih</li>
</ul>
<p>Kegiatan selanjutnya adalah kultum tarawih. Kegiatan ini juga diisi oleh ustadz-ustadz Pondok Pesantren Jamilurrahman as-Salafy di Bantul.</p>
<ul>
<li>TPA</li>
</ul>
<p>Di sebagian tempat juga diadakan kegiatan TPA menjelang buka puasa. TPA ini juga diajar oleh santri-santri dari Pondok Pesantren Jamilurrahman as-Salafy di Bantul.</p>
<p>Secara keseluruhan kegiatan tersebut dilaksanakan di masjid atau mushola di beberapa dusun, yaitu:</p>
<ol>
<li>Masjid An-Nur Pagerjurang</li>
<li>Muhola Shelter Gondang 1</li>
<li>Masjid Shelter Gondang 1</li>
<li>Mushola Shelter Gondang 2</li>
<li>Masjid Shelter Gondang 2</li>
<li>Masjid Mujahidin Bronggang</li>
<li>Masjid Shelter Dongkelsari</li>
<li>Masjid Mujahidin Plosokerep</li>
<li>Masjid An-Nashr Karanggeneg</li>
<li>Masjid Grambetan</li>
<li>Masjid Balong</li>
<li>Mushola Al-Hikmah Plosokerep</li>
<li>Mushola Shelter Jenggala</li>
</ol>
<p>Foto-foto dokumentasi secara lengkap dapat diunduh di link <a href="http://www.archive.org/download/DokumentasiRamadhanDiMerapi1432H/DokumentasiRamadhanDiMerapi1432h.pdf">ini</a>.</p>
<div class="shr-publisher-6776"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fdari-redaksi%2Fdokumentasi-ramadhan-di-merapi-1432-h.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fdari-redaksi%2Fdokumentasi-ramadhan-di-merapi-1432-h.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fdari-redaksi%2Fdokumentasi-ramadhan-di-merapi-1432-h.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/dari-redaksi/dokumentasi-ramadhan-di-merapi-1432-h.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fiqih Ringkas I&#8217;tikaf (4)</title>
		<link>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Aug 2011 08:06:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yulian Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh dan Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[I'tikaf]]></category>
		<category><![CDATA[Lailatul Qadar]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=6765</guid>
		<description><![CDATA[Pembatal I’tikaf a. Jima’ (bersetubuh) Allah ta’ala berfirman, وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ “(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu ber-i&#8217;tikaf dalam mesjid.” (Al Baqarah: 187). Al Qurthubi rahimahullah mengatakan, بين جل تعالى أن الجماع يفسد الاعتكاف واجمع أهل<a class="more" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><strong>Pembatal I’tikaf</strong></p>
<p><strong>a. </strong><strong><em>Jima’</em> (bersetubuh)</strong></p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ</p>
<p><em>“(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu ber-i&#8217;tikaf dalam mesjid.” </em>(Al Baqarah: 187).</p>
<p>Al Qurthubi <em>rahimahullah</em> mengatakan,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">بين جل تعالى أن الجماع يفسد الاعتكاف واجمع أهل العلم على أن من جامع امرأته وهو معتكف عامدا لذلك في فرجها أنه مفسد لاعتكافه</p>
<p><em>“Allah ta’ala menjelaskan bahwa berjima’ membatalkan i’tikaf dan para ulama telah bersepakat ahwa seorang yang berjima’ dengan istrinya secara sengaja sementara dia sedang ber-i&#8217;tikaf, maka dia telah membatalkan i’tikafnya.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Ibnu Hazm mengatakan, <em>“Mereka (para ulama) sepakat jima’ membatalkan i’tikaf.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn2">[2]</a></p>
<p><strong>b. </strong><strong>Bercumbu</strong></p>
<p>Bercumbu dengan pasangan yang disertai syahwat diharamkan bagi <em>mu’takif</em> berdasarkan kesepakatan ulama.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn3">[3]</a>Namun, para ulama berselisih apakah hal itu membatalkan <em>i’tikaf</em>-nya.</p>
<p><strong>Pendapat yang kuat</strong> dalam permasalahan ini adalah pendapat Jumhur yang menyatakan bercumbu tidaklah membatalkan i’tikafnya kecuali bercumbu tersebut menyebabkan dirinya orgasme (maaf: mengeluarkan mani).</p>
<p>Ath Thabari <em>rahimahullah</em> ketika mengomentari firman Allah <em>ta’ala</em> ” وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ “, beliau mengatakan,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">وأولى القولين عندي بالصواب قول من قال : معنى ذلك : الجماع أو ما قام الجماع مما أوجب غسلا إيجابه وذلك أنه لا قول في ذلك إلا أحد قولين : إما جعل حكم الاية عاما أو جعل حكمها في خاص من معاني المباشرة وقد تظاهرت الأخبار عن رسول الله صلى الله عليه وسلم : أن نساءه كن يرجلنه وهو معتكف فلما صح ذلك عنه علم أن الذي عنى به من معاني المباشرة البعض دون الجميع</p>
<p><em>“Pendapat yang paling benar menurutku adalah pendapat yang menyatakan bahwa maknanya adalah jima’ dan segala hal yang serupa dengan itu yang mengharuskan pelakunya mandi. Kemungkinan yang ada hanya dua, yaitu memberlakukan ayat tersebut secara umum atau mengkhususkan ayat tersebut untuk sebagian makna dari mubasyarah. Banyak hadits dari rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara jelas menginformasikan bahwa istri-istri beliau menyisir rambut beliau ketika sedang ber-i&#8217;tikaf, maka dapat diketahui bahwa makna mubasyarah dalam ayat ini hanya mencakup sebagian maknanya, bukan seluruhnya.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn4">[4]</a></p>
<p><strong>c. </strong><strong>Keluar dari Masjid</strong></p>
<p>Mu’takif diperkenankan keluar dari masjid jika terdapat <em>udzur</em> syar’i atau hendak menunaikan suatu kebutuhan yang mendesak. Contoh akan hal ini, mu’takif diperbolehkan keluar dari masjid untuk makan dan minum, jika tidak ada orang yang membawakan makanan dan minuman baginya ke masjid. Demikian pula, dia diperbolehkan keluar masjid untuk mandi janabah atau berwudhu, jika tidak mungkin dilakukan di dalam masjid.</p>
<p>‘Aisyah <em>radhiallahu ‘anha</em> mengatakan, <em>“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memasukkan kepala beliau ke dalam kamarku, sementara beliau berada di dalam masjid, dan saya pun menyisirnya. Beliau tidak akan masuk ke dalam rumah ketika sedang ber-i&#8217;tikaf, kecuali ada kebutuhan mendesak.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Ibnu Hazm <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Para ulama sepakat bahwa mu’takif yang keluar dari tempat i’tikafnya di dalam masjid tanpa ada kebutuhan yang mendesak, tidak pula karena darurat, atau melakukan suatu perkara kebaikan yang diperintahkan atau dianjurkan, maka i’tikaf yang dilakukannya telah batal.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn6">[6]</a></p>
<p><strong>d. </strong><strong>Memutus Niat untuk ber-i&#8217;tikaf</strong></p>
<p>Telah dipaparkan sebelumnya bahwa niat untuk ber-i&#8217;tikaf termasuk syarat i’tikaf. Dengan demikian, mu’takif yang tidak lagi berniat untuk ber-i&#8217;tikaf, maka batallah i’tikafnya. Hal ini berdasarkan keumuman sabda nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ</p>
<p><strong>“</strong><em>Sesungguhnya seluruh amalan itu bergantung pada niatnya</em><strong> “</strong><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn7">[7]</a><strong></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Berbagai Perkara yang Dianjurkan ketika ber-i&#8217;tikaf</strong></p>
<p><strong>a. </strong><strong>Memperbanyak ibadah <em>mahdhah</em></strong></p>
<p><em>Mu’takif</em> (orang yang ber-i&#8217;tikaf) disyari’atkan memperbanyak ibadah mahdhah (ritual) seperti shalat, membaca Al-Quran, dzikir, dan ibadah yang semisal. Berbagai ibadah ini dapat membantu seorang untuk merealisasikan tujuan dan hikmah I’tikaf, yaitu memfokuskan hati dalam beribadah kepada-Nya dan memutus kesibukan dengan makhluk.</p>
<p>Demikian pula, yang termasuk dianjurkan adalah berpuasa ketika ber-i&#8217;tikaf di luar bulan Ramadhan menurut kalangan yang berpendapat bahwa puasa tidak termasuk sebagai syarat i’tikaf.</p>
<p><strong>b. </strong><strong>Melakukan ibadah <em>muta’addiyah</em></strong></p>
<p>Melakukan ibadah <em>muta’addiyah</em> (ibadah yang berdampak sosial) disyari’atkan bagi mu’takif apabila hukum ibadah <em>muta’adiyah</em> tersebut wajib dan tidak memakan waktu yang lama seperti mengeluarkan zakat, amar ma’ruf nahi mungkar, membalas salam, memberi fatwa, dan yang semisal.</p>
<p>Ulama berbeda pendapat mengenai hukum ibadah muta’addiyah ketika ber-i&#8217;tikaf apabila tidak wajib dan memakan waktu yang lama, seperti melaksanakan kajian atau berdiskusi dengan seorang ‘alim, dan yang semisal. Sebagian ulama berpendapat hal tersebut disyari’atkan, sebagian yang lain berpendapat sebaliknya.</p>
<p>Ibnu Rusyd mengatakan, <em>“Akar perbedaan pendapat para ulama dalam hal ini adalah dikarenakan hal tersebut tidak disebutkan hukumnya. Maka, ulama yang berpandangan bahwa yang dimaksud i’tikaf adalah mengekang diri di masjid dengan melakukan aktivitas yang khusus, maka mereka berpendapat seorang mutakif hanya boleh melakukan ibadah shalat dan membaca Al-Quran. Sedangkan yang berpandangan bahwa yang dimaksud i’tikaf adalah mengekang diri dengan melakukan seluruh kegiatan ukhrawi, maka mereka membolehkan hal tersebut.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn8">[8]</a></p>
<p><strong>Pendapat yang kuat</strong> adalah hal tersebut disyari’atkan dan hal ini merupakan pendapat madzhab Hanafi<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn9">[9]</a> dan Syafi’i<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn10">[10]</a>. Pendapat ini berlandaskan pada beberapa dalil berikut:</p>
<p>Pertama, hadits Shafiyah <em>radhiallahu ‘anha</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn11">[11]</a>, di dalamnya disebutkan bahwa nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>berbincang-bincang dengan para istri beliau.</p>
<p>Kedua, hadits Abu Sa’id Al Khudri <em>radhiallahu ‘anhu</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn12">[12]</a>, di dalamnya disebutkan bahwa nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berbicara dan memberi pengarahan kepada para sahabatnya.</p>
<p>Hukum yang terkandung dalam kedua hadits ini juga dapat diterapkan pada aktivitas kajian ketika ber-i&#8217;tikaf.</p>
<p>Ketiga, hadits ‘Aisyah <em>radhiallahu ‘anha</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn13">[13]</a> yang menyisirkan rambut nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tatkala beliau tengah ber-i&#8217;tikaf. Segi pendalilan dari hadits ini, jika menyisirkan rambut yang hukumnya mubah diperbolehkan tentulah melakukan ibadah selain shalat dan tilawah Al Quran lebih diperbolehkan.</p>
<p><strong>c. </strong><strong>Membuat Sekat atau Tenda di dalam Masjid</strong></p>
<p>Disunnahkan bagi <em>mu’takif</em>, baik pria maupun wanita, membuat sekat atau tenda yang bisa dipergunakan untuk mengisolir diri dari para mu’takif lainnya. Hal ini berdasarkan perbuatan nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn14">[14]</a> dan para istri beliau<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn15">[15]</a>.</p>
<p>Hal ini lebih ditekankan bagi wanita yang ber-i&#8217;tikaf di masjid yang digunakan untuk shalat berjama’ah agar dirinya tidak terlihat oleh para pria sehingga tidak menimbulkan fitnah.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn16">[16]</a></p>
<p><strong>d. </strong><strong>Meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat</strong></p>
<p>Mu’takif hendaknya meninggalkan perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn17">[17]</a> Hal ini berdasarkan dalil berikut:</p>
<ul>
<li>Hadits Abu Sa’id <em>radhiallahu ‘anhu</em> yang telah lalu disebutkan bahwa nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ber-i&#8217;tikaf di sebuah tenda kecil yang berpintukan lembaran tikar.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn18">[18]</a></li>
<li>Hadits ‘Aisyah <em>radhiallahu ‘anha</em> yang menyebutkan bahwa apabila rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin ber-i&#8217;tikaf, beliau melaksanakan shalat Subuh kemudian masuk ke tempat i’tikafnya).<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn19">[19]</a></li>
<li>Kedua hadits ini menunjukkan bahwa seorang mu’takif hendaknya menyendiri agar bisa fokus beribadah dan hal itu baru dapat tercapai jika dia meninggalkan berbagai perkara yang tidak bermanfaat.</li>
<li> Hadits Abu Hurairah <em>radhiallahu ‘anhu</em>, nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</li>
</ul>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ</p>
<p><em>“Merupakan tanda baiknya keislaman seorang adalah meninggalkan segala yang tidak bermanfaat baginya.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn20">[20]</a></p>
<p><strong>e. </strong><strong>Bergegas Menunaikan Shalat Jum’at</strong></p>
<p><em>Mu’takif</em> yang tidak beri’tkaf di masjid Jami’ dianjurkan untuk bergegas menunaikan shalat Jum’at berdasarkan keumuman hadits yang menganjurkan seorang untuk bersegera pergi ke masjid untuk menunaikan shalat Jum’at.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn21">[21]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>f. </strong><strong>Tetap Berdiam di Masjid ketika Malam ‘Ied</strong></p>
<p>Sebagian ulama menganjurkan agar <em>mu’takif</em> tetap berdiam di masjid pada malam ‘Ied dan baru keluar ketika hendak menunaikan shalat ‘Ied.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn22">[22]</a></p>
<p><strong>Berbagai Perkara yang Diperbolehkan ketika ber-i&#8217;tikaf</strong></p>
<p><strong>a. </strong><strong>Minum, Makan, dan Tidur</strong></p>
<p>Ulama sepakat bahwa <em>mu’takif</em> diperbolehkan makan, minum, dan tidur di dalam masjid.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn23">[23]</a> Dalil akan hal ini adalah sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>Firman Allah <em>ta’ala</em>,
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ</p>
<p><em>(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu ber-i&#8217;tikaf dalam mesjid.”</em> (Al Baqarah: 187).</p>
<p>Ayat ini menunjukkan bahwa seorang <em>mu’takif</em> haruslah berada di dalam masjid, dengan demikian hal tersebut berkonsekuensi dirinya makan, minum, dan tidur di dalam masjid.</li>
<li>Hadits ‘Aisyah <em>radhiallahu ‘anha</em> yang menyebutkan bahwa nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ketika ber-i&#8217;tikaf tidak masuk ke dalam rumah kecuali terdapat kebutuhan yang mendesak.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn24">[24]</a> Sehingga dapat dipahami bahwa beliau makan, minum, dan tidur di dalam masjid.</li>
</ul>
<p><strong>b. </strong><strong>Dikunjungi Keluarga</strong></p>
<p><em>Mu’takif</em> boleh menerima kunjungan keluarganya berdasarkan Hadits Shafiyah <em>radhiallahu ‘anha</em> yang datang menjenguk beliau ketika ber-i&#8217;tikaf. <a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn25">[25]</a></p>
<p>Namun, kunjungan tersebut hendaklah tidak terlalu lama dan tidak sering dilakukan sehingga tidak mengurangi nilai dan tujuan ber-i&#8217;tikaf.</p>
<p><strong>c. </strong><strong>Menikah dan Menikahkan</strong></p>
<p>Mu’takif juga diperbolehkan untuk menikah, menikahkan, menjadi saksi dalam pernikahan yang dilangsungkan di dalam masjid tempat dirinya ber-i&#8217;tikaf.</p>
<p>Dalil bagi hal ini adalah dalil-dalil yang membolehkan seorang mu’takif menjenguk orang sakit dan menyalati jenazah di dalam masjid. Selain itu, semua hal tersebut merupakan ketaatan dan pada umumnya tidak banyak menyita waktu, sehingga tidak menafikan tujuan ber-i&#8217;tikaf.</p>
<p>An Nawawi <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Seorang mu’takif diperbolehkan menikah dan menikahkan. Hal ini telah ditegaskan oleh Asy Syafi’i dalam <em>Al Muktashar</em> dan para rekan (beliau) sepakat akan hal ini serta saya tidak tahu ada khilaf akan hal ini.”<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn26">[26]</a></p>
<p><em>Waffaqaniyallahu wa iyyakum</em>.</p>
<p>Buaran Indah, Tangerang.</p>
<p><strong>Maraji’ :</strong></p>
<ol>
<li><em>Al Ijma’</em> karya Imam Ibnul Mundzir; Asy Syamilah.</li>
<li><em>Al Inshaf fi Ahkamil I’tikaf</em> karya Syaikh ‘Ali Hasan al Halabi.</li>
<li><em>Al Jami’ li Ahkam Al Quran</em> karya Imam Al Qurthubi; Asy Syamilah.</li>
<li><em>Al Majmu</em>’ karya Imam An Nawawi; Asy Syamilah.</li>
<li>Al Qur-an dan Terjemahannya</li>
<li><em>Fiqhul I’tikaf</em> karya Syaikh Dr. Khalid bin ‘Ali Al Musyaiqih.</li>
<li><em>Majmu’ Fatawa wa Rasaa-il Ibn ‘Utsaimin</em> karya Syaikh Muhammad al ‘Utsaimin; Asy Syamilah.</li>
<li><em>Shahih Fiqhis Sunnah</em> jilid 2 karya Syaikh Abu Malik Kamal bin As Sayyid Salim</li>
<li><em>Syarh Al Arba’in an Nawawi</em> karya Syaikh Shalih alusy Syaikh.</li>
<li><em>Tafsir Quran al-’Azhim</em> 2/308 karya Imam Ibnu Katsir; Asy Syamilah.</li>
<li><em>Tafsir Surat Al Baqarah</em> 2/358 karya Syaikh Muhammad al ‘Utsaimin.</li>
<li><em>Taisir Karim ar Rahman</em> karya Syaikh Abdurrahman As Sa’di.</li>
<li><em>‘Umdah al-Qari</em> karya Imam Al ‘Aini; Asy Syamilah.</li>
<li><em>‘Uudu ila Khairil ‘Ibad</em> karya Syaikh Dr. Muhammad bin Isma’il Al Muqaddam.</li>
<li><em>Zaadul Ma’ad</em> karya Imam Ibnul Qayyim.</li>
<li>Dll.</li>
</ol>
<hr size="1" />
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref1">[1]</a> <em>Al Jami’ li Ahkamil Quran</em> 2/324.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref2">[2]</a> <em>Maratibul Ijma</em>’ hlm. 41.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref3">[3]</a> <em>Al Jami’ li Ahkamil Quran</em> 2/332; <em>Tafsir Ibnu Katsir</em> 1/298; Asy Syamilah.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref4">[4]</a> <em>Jami’ul Bayan</em> 2/181.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref5">[5]</a> HR. Bukhari: 1925; Muslim: 297.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref6">[6]</a> <em>Maratibul Ijma’</em> hlm. 48.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref7">[7]</a> HR. Bukhari: 1, Muslim: 1907.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref8">[8]</a> <em>Bidayatul Mujtahid</em> 1/312.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref9">[9]</a> <em>Fathul Qadir</em> 2/396.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref10">[10]</a> <em>Al Umm</em> 2/105; <em>Al Majmu</em>’ 6/528.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref11">[11]</a> HR. Bukhari: 1933.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref12">[12]</a> HR. Muslim: 1167.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref13">[13]</a> HR. Bukhari: 1925; HR. Muslim: 297.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref14">[14]</a> HR. Muslim: 1167.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref15">[15]</a> HR. Bukhari: 1929.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref16">[16]</a> <em>Asy Syarhul Kabir ma’al Inshaf</em> 7/582.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref17">[17]</a> <em>Badai’ush Shana’i</em> 2/117; <em>Al Majmu’</em> 6/533.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref18">[18]</a> HR. Muslim: 1167.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref19">[19]</a> HR. Muslim: 1172.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref20">[20]</a> HR. Tirmidzi: 2318.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref21">[21]</a> HR. Bukhari: 841; Muslim: 850.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref22">[22]</a> <em>Al Muwaththa</em>:1/315; <em>Al Majmu</em> 6/475; Asy Syamilah.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref23">[23]</a> <em>Badai’ush Shana’i</em> 2/117; <em>Al Mudawwanah</em> 1/206; <em>Raudhatut Thalibin</em> 2/393; <em>Al Mughni</em> 4/383.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref24">[24]</a> HR. Bukhari: 1925; Muslim: 297.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref25">[25]</a> HR. Bukhari: 1933.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref26">[26]</a> <em>Al Majmu</em>’ 6/559.</p>
<div class="shr-publisher-6765"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Ffiqih-ringkas-itikaf-4.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Ffiqih-ringkas-itikaf-4.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Ffiqih-ringkas-itikaf-4.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fiqih Ringkas I&#8217;tikaf (3)</title>
		<link>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Aug 2011 00:30:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yulian Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh dan Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[I'tikaf]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=6755</guid>
		<description><![CDATA[Syarat I’tikaf Syarat-syarat i’tikaf adalah sebagai berikut: 1. Islam وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَلا يَأْتُونَ الصَّلاةَ إِلا وَهُمْ كُسَالَى وَلا يُنْفِقُونَ إِلاوَهُمْ كَارِهُونَ (٥٤) “Dan tidak ada yang<a class="more" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><strong>Syarat I’tikaf</strong></p>
<p>Syarat-syarat i’tikaf adalah sebagai berikut:</p>
<p><strong>1. Islam</strong></p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَلا يَأْتُونَ الصَّلاةَ إِلا وَهُمْ كُسَالَى وَلا يُنْفِقُونَ إِلاوَهُمْ كَارِهُونَ (٥٤)</p>
<p><em>“Dan tidak ada yang menghalangi untuk diterimanya nafkah-nafkah mereka, melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mereka tidak mengerjakan sembahyang melainkan dengan malas, dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.”</em> (At Taubah: 54).</p>
<p>Al ‘Allamah Abdurrahman as Sa’di <em>rahimahullah</em> mengatakan,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">والأعمال كلها شرط قبولها الإيمان، فهؤلاء لا إيمان لهم</p>
<p><em>“Persyaratan agar seluruh amal ibadah diterima adalah iman, sedangkan mereka yang tersebut dalam ayat ini tidak memiliki keimanan.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn1">[1]</a></p>
<p><strong>2. </strong><strong>Niat, Berakal, dan Tamyiz</strong></p>
<p>I’tikaf seorang yang gila, mabuk, dan pingsan tidaklah sah karena mereka tidak mampu berniat, tidak pula berakal. Padahal rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ</p>
<p><strong>“</strong><em>Sesungguhnya seluruh amalan itu bergantung pada niatnya</em><strong> “</strong><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn2">[2]</a><strong></strong></p>
<p>Maksud dari hadits tersebut adalah keabsahan dan diterimanya suatu amalan adalah karena niat yang melandasinya, sehingga sabda beliau ini berkaitan dengan keabsahan suatu amalan.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Seorang yang masuk ke dalam masjid memiliki beraneka ragam tujuan, diantara mereka ada yang hendak shalat, mendengarkan ta’lim, beri’tikaf, dan sebagainya. Dengan demikian, seorang yang hendak beri’tikaf membutuhkan niat untuk membedakan tujuan dari ibadah selainnya yang juga turut dikerjakan di masjid seperti shalat. Dan niat tersebut hanya mampu dilakukan oleh seorang yang berakal. <em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p><strong>3. </strong><strong>Suci dari Haidh dan Nifas</strong></p>
<p>Para ulama mengemukakan bahwa dalil yang menyatakan bahwa suci dari haidh, nifas, dan junub merupakan syarat i’tikaf adalah dalil-dalil yang menyatakan terlarangnya orang yang haidh, nifas, dan junub untuk berdiam di masjid. Berikut beberapa diantaranya,</p>
<p>Pertama, firman Allah <em>ta’ala</em>,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَقْرَبُوا الصَّلاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلا جُنُبًا إِلا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا (٤٣)</p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula menghampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi.”</em> (An Nisa: 43).</p>
<p>Ibnu Katsir <em>rahimahullah </em>mengatakan,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">ينهى تبارك وتعالى عباده المؤمنين عن فعل الصلاة في حال السكر الذي لا يدري معه المصلي ما يقول وعن قربان محالها التي هي المساجد للجنب إلا أن يكون مجتازا من باب إلى باب من غير مكث</p>
<p><em>“Allah tabaraka wa ta’ala melarang para hamba-Nya yang beriman mengerjakan shalat dalam keadaan mabuk sehingga dia tidak mengetahui makna surat yang dibacanya. Demikian pula Dia melarang mereka yang junub mendekati tempat shalat, yaitu masjid kecuali hanya sekedar lewat dari satu pintu ke pintu yang lain tanpa berdiam di dalamnya.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Sisi pendalilan dari ayat ini adalah ketika Allah <em>ta’ala</em> melarang seorang yang junub mendekati masjid, maka hukum ini juga berlaku pada wanita yang sedang mengalami haidh, karena haidh yang dialaminya merupakan hadats yang jauh lebih berat daripada sekedar junub. Oleh karena itu, seorang yang haidh dilarang bercampur dengan suami, berpuasa, dan kewajiban shalat digugurkan darinya.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Kedua, sabda nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> kepada ‘Aisyah <em>radhiallahu ‘anha</em> yang tengah melaksanakan ihram kemudian tertimpa haidh,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">افْعَلِى مَا يَفْعَلُ الْحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِى بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِى</p>
<p><em>“Kerjakanlah apa yang dikerjakan seorang yang berhaji, namun janganlah engkau berthawaf di Bait al-Haram hingga kamu suci.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Ketiga, perkataan ‘Aisyah <em>radhiallahu ‘anhu</em>,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">كُنَّ الْمُعْتَكِفَاتُ إذَا حِضْنَ أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِإِخْرَاجِهِنَّ<strong> </strong>عَنْ الْمَسْجِدِ</p>
<p><em>“Kami wanita yang beri’tikaf, apabila mengalami haidh, maka rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memerintahkan untuk mengeluarkannya dari masjid.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn7">[7]</a></p>
<p><strong>Pertanyaan: Bagaimanakah hukum seorang wanita yang mengalami istihadhah, bolehkah dia beri’tikaf?</strong></p>
<p>Jawab:</p>
<p>Seorang wanita yang mengalami <em>isthadhah</em> diperbolehkan beri’tikaf berdasarkan hadits ‘Aisyah <em>radhiallahu ‘anha</em>,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">اعْتَكَفَتْ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – امْرَأَةٌ مِنْ أَزْوَاجِهِ ، فَكَانَتْ<strong> </strong>تَرَى الدَّمَ وَالصُّفْرَةَ ، وَالطَّسْتُ تَحْتَهَا وَهْىَ تُصَلِّى</p>
<p><em>“Salah seorang istri nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf bersama beliau dalam keadaan beristihadhah. Istri beliau tersebut mengeluarkan darah dan lendir berwarna kuning, dia mengerjakan shalat dan di bawah tubuhnya terdapat bejana (untuk menampung darah tersebut).”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Al ‘Aini <em>rahimahullah</em> mengatakan,</p>
<p><em>“Diantara kesimpulan hukum yang dapat dipetik adalah wanita yang mengalami istihadhah boleh beri’tikaf dan shalat, karena kondisinya adalah kondisi suci. Wanita tersebut meletakkan bejana (di bawahnya) agar darah tersebut tidak mengenai baju atau masjid. Selain itu, darah istihadhah juga encer, tidak seperti darah haidh. Hukum bolehnya I’tikaf bagi wanita yang mengalami istihadhah ini juga diberlakukan bagi kondisi yang semisal seperti seorang yang sering mengeluarkan urin (beser), madzi, wadi, dan mengalami luka yang senantiasa mengalirkan darah.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn9">[9]</a></p>
<p><strong>4. </strong><strong>Bagi wanita, memperoleh Izin dari suami dan aman dari fitnah</strong></p>
<p>‘Aisyah <em>radhiallahu ‘anha</em>. Dia mengatakan,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ ، وَإِذَا صَلَّى الْغَدَاةَ دَخَلَ مَكَانَهُ الَّذِى اعْتَكَفَ فِيهِ – قَالَ – فَاسْتَأْذَنَتْهُ عَائِشَةُ أَنْ تَعْتَكِفَ فَأَذِنَ لَهَا فَضَرَبَتْ فِيهِ قُبَّةً</p>
<p><em>“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa beri’tikaf di bulan Ramadhan. Apabila beliau selesai melaksanakan shalat Subuh, beliau masuk ke dalam tempat I’tikaf.</em> (Salah seorang perawi hadits ini mengatakan), <em>“Maka ‘Aisyah pun meminta izin kepada nabi untuk beri’tikaf. Beliau pun mengizinkannya dan ‘Aisyah pun membuat kemah di dalam masjid.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn10">[10]</a></p>
<p>Hadits ini juga menjadi dasar bahwa seorang wanita harus terlebih dahulu meminta izin kepada suami jika hendak beri’tikaf.</p>
<p>Dalam riwayat yang lain tercantum lafadz</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">وَسَأَلَتْ حَفْصَةُ عَائِشَةَ أَنْ تَسْتَأْذِنَ لَهَا</p>
<p><em>“Hafshah meminta bantuan ‘Aisyah agar memintakan izin baginya kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (untuk beri’tikaf).”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn11">[11]</a></p>
<p>Ibnu Qudamah <em>rahimahullah</em> mengatakan,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">وليس للزوجة أن تعتكف إلا بإذن زوجها ولا للمملوك أن يعتكف إلا بإذن سيده لأن منافعها مملوكة لغيرهما والاعتكاف يفوتها ويمنع استيفاءها وليس بواجب عليهما بالشرع فكان لها المنع منه</p>
<p><em>“Istri tidak boleh beri’tikaf kecuali diizinkan oleh suami. Begitupula dengan budak, dia tidak boleh beri’tikaf kecuali diizinkan oleh majikannya. Hal ini dikarenakan manfaat yang ada pada diri mereka juga dimiliki oleh selain mereka (yaitu suami dan majikan). I’tikaf akan menghilangkan dan menghambat manfaat tersebut. Selain itu, I’tikaf tidaklah wajib bagi mereka. Dengan demikian, I’tikaf menjadi terlarang bagi mereka (kecuali setelah diizinkan).”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn12">[12]</a></p>
<p><strong>5. </strong><strong>Dilaksanakan di Masjid</strong></p>
<p>Dalil akan hal tersebut adalah sebagai berikut:</p>
<p>a. Firman Allah <em>ta’ala</em>,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ (١٨٧)</p>
<p><em>“Dan janganlah kalian mencampuri mereka (para wanita), sedang kalian beri’tikaf dalam masjid.”</em> (Al Baqarah: 187).</p>
<p>Ayat ini menyatakan bahwa i’tikaf disyari’atkan di masjid.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn13">[13]</a></p>
<p>Ibnu Hajr Al Asqalani <em>rahimahullah</em> mengatakan,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">وَوَجَدَ الدَّلَالَة مِنْ الْآيَة أَنَّهُ لَوْ صَحَّ فِي غَيْر الْمَسْجِد لَمْ يَخْتَصَّ تَحْرِيم الْمُبَاشَرَةِ بِهِ ، لِأَنَّ الْجِمَاع مُنَافٍ لِلِاعْتِكَافِ بِالْإِجْمَاعِ ، فَعُلِمَ مِنْ ذِكْرِ الْمَسَاجِدِ أَنَّ الْمُرَادَ أَنَّ الِاعْتِكَافَ لَا يَكُون إِلَّا فِيهَا</p>
<p><em>“Indikasi hukum yang terdapat pada ayat ini adalah jika i’tikaf sah dilakukan di selain masjid, maka tentulah pengharaman mubasyarah (jima’) tidak dikhususkan di dalam masjid. Hal ini dikarenakan jima’ membatalkan i’tikaf secara ijma’. Dengan demikian, dapat diketahui maksud penyebutan masjid di dalam ayat tersebut adalah i’tikaf tidaklah sah kecuali dikerjakan di dalam masjid.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn14">[14]</a></p>
<p>b. Hadits ‘Aisyah <em>radhiallahu ‘anha</em> menyatakan bahwa ketika nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> beri’tikaf, beliau mengeluarkan kepalanya dari masjid agar dapat disisir oleh ‘Aisyah dan beliau tidak masuk ke dalam rumah kecuali ada kebutuhan yang mendesak.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn15">[15]</a></p>
<p>c. Ijma’ yang diklaim oleh sejumlah ulama. Al Qurthubi <em>rahimahullah</em> mengatakan,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">أجمع العلماء على أن الاعتكاف لا يكون في إلا في المسجد</p>
<p><em>“Ulama bersepakat bahwa I’tikaf hanya boleh dikerjakan di dalam masjid.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn16"><em><strong>[16]</strong></em></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Pertanyaan: Bagaimana kriteria masjid yang dapat dipakai untuk beri’tikaf?</strong></p>
<p>Jawab:</p>
<p>Kriteria masjid yang dipakai oleh pria untuk beri’tikaf adalah masjid yang di dalamnya ditegakkan shalat berjama’ah, mengingat pria diwajibkan untuk menunaikan shalat wajib secara berjama’ah di masjid.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn17">[17]</a></p>
<p>Ibnu ‘Abbas <em>radhiallahu ‘anhu</em> mengatakan,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">لا اعتكاف إلا في مسجد تجمع فيه الصلوات</p>
<p><em>“Tidak ada I’tikaf melainkan di masjid yang di dalamnya ditegakkan shalat berjama’ah.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn18">[18]</a></p>
<p>Lebih disukai jika hal itu dilaksanakan di masjid Jami’ (masjid yang juga digunakan untuk shalat Jum’at).<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn19">[19]</a></p>
<p>Jika seorang diperkenankan untuk beri’tikaf di masjid yang di dalamnya tidak ditegakkan shalat wajib secara berjama’ah, maka hal ini akan menimbulkan dua dampak negatif bagi seorang, yaitu,</p>
<ul>
<li>Meninggalkan shalat wajib secara berjama’ah yang diwajibkan kepada setiap pria.</li>
<li>Atau menggiring seorang untuk keluar dari masjid yang digunakannya beri’tikaf untuk menunaikan shalat berjama’ah di masjid yang di dalamnya ditegakkan shalat wajib secara berjama’ah. Tindakan itu akan senantiasa terulang, padahal sangat memungkinkan dia tidak melakukannya, yaitu dengan memilih masjid yang ditegakkan shalat berjama’ah di dalamnya. Tindakannya tersebut justru akan menafikan tujuan i’tikaf, karena esensi I’tikaf adalah berdiam diri dan menegakkan ketaatan di dalam masjid.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn20">[20]</a></li>
</ul>
<p><strong>Pertanyaan: “Terdapat hadits Hudzaifah ibn al-Yaman <em>radhiallahu ‘anhu</em> yang menyatakan “<em>Tidak ada i’tikaf kecuali di tiga masjid.</em>” Sebagian ulama berdalil dengan hadits ini dan menyatakan bahwa I’tikaf hanya sah dilakukan di ketiga masjid, yaitu masjid al-Haram, masjid Nabawi, dan masjid al-Aqsha?”</strong></p>
<p>Jawab:</p>
<p>Teks lengkap hadits Hudzaifah tersebut adalah sebagai berikut, Ath Thahawi <em>rahimahullah</em> berkata Muhammad bin Sinan Asy Syairazi<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn21">[21]</a> memberitakan kepada kami, Hisyam bin ‘Ammar<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn22">[22]</a> memberitakan kepada kami, Sufyan ibn ‘Uyainah memberitakan kepada kami, riwayat dari Jami’ bin Abi Rasyid dari Abu Wail, dia mengatakan, Hudzaifah berkata kepada Abdullah,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">الناس عكوف بين دارك ودار أبي موسى لا تغير؟! ، وقد علمت أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : « لا اعتكاف إلا في المساجد الثلاثة : المسجد الحرام ومسجد النبي صلى الله عليه وسلم ومسجد بيت المقدس » قال : عبد الله لعلك نسيت وحفظوا ، وأخطأت وأصابوا</p>
<p><em>“Terdapat sekelompok orang yang beri’tikaf di antara rumahmu dan rumah Abu Musa, dan anda tidak menegurnya, padahal anda tahu rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,<br />
Tidak ada I’tikad kecuali di tiga masjid, yaitu masjid al-Haram, masjid Nabi, dan masjid Bait al-Maqdis? Abdullah bin Mas’ud menjawab, “Mungkin anda yang lupa dan mereka yang mengingatnya, dan mungkin anda yang keliru dan merekalah yang benar.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn23">[23]</a></p>
<p>Jawaban akan hal tersebut adalah sebagai berikut:<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn24">[24]</a></p>
<p><strong>Pertama</strong>, hadits tersebut masih diperselisihkan apakah berstatus <em>marfu’</em> (bersambung kepada nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>) atau <em>mauquf</em> (hanya sampai kepada Hudzaifah <em>radhiallahu ‘anhu</em> saja), yang tepat hadits tersebut berstatus <em>mauquf</em>.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn25">[25]</a></p>
<p><strong>Kedua</strong>, dalam riwayat tersebut, sahabat Ibnu Mas’ud <em>radhiallahu ‘anhu</em> tidak menerima riwayat Hudzaifah <em>radhiallahu ‘anhu</em>. Hal ini tidak mungkin terjadi seandainya Ibnu Mas’ud mengetahui bahwa hadits tersebut memang sanadnya bersambung sampai kepada nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Hal ini menunjukkan bahwa hal tersebut berasal dari ijtihad Hudzaifah <em>radhiallahu ‘anhu</em> semata.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn26">[26]</a></p>
<p><strong>Ketiga</strong>, jika memang benar riwayat Hudzaifah tersebut shahih dan <em>marfu’</em>, maka hadits tersebut menjelaskan keutamaan yang lebih jika I’tikaf dilakukan di ketiga masjid tersebut. Al Kasani <em>rahimahullah</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn27">[27]</a> mengatakan, “I’tikaf yang paling utama dikerjakan di masjid al-Haram, kemudian di masjid Madinah, masjid al-Aqsha, dan masjid besar yang banyak jama’ahnya.”</p>
<p><strong>Keempat</strong>, Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin <em>rahimahullah</em> mengatakan,</p>
<p>“I’tikaf di selain masjid yang tiga, yaitu masjid al-Haram, masjid an-Nabawi, dan masjid al-Aqsha, disyari’atkan pada waktunya dan tidak hanya khusus di tiga masjid tersebut. Bahkan, I’tikaf itu dapat dilakukan di masjid selain ketiga masjid tersebut.</p>
<p>Inilah pendapat para imam kaum muslimin, para imam madzhab yang diikuti oleh kaum muslimin, yaitu imam Ahmad, Malik, Asy Syafi’i, Abu Hanifah, dan selain mereka <em>rahimahumullah</em> berdasarkan firman Allah <em>ta’ala</em>,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;"> وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ  اللَّهِ فَلاَ تَقْرَبُوهَا كَذالِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ</p>
<p>Kata “المساجد” dalam ayat tersebut umum dan mencakup seluruh masjid di penjuru bumi. Redaksi ayat ini berada dalam urutan akhir dari rentetan ayat-ayat puasa yang hukumnya mencakup seluruh umat Islam di penjuru bumi.</p>
<p>Dengan demikian, redaksi ayat ini, -yang menyebutkan perihal i’tikaf-, (juga) merupakan seruan kepada setiap orang yang diseru untuk menunaikan puasa. Oleh karena itu, berbagai hukum yang saling terkait ini ditutup dalam redaksi dan seruan yang berbunyi,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلاَ تَقْرَبُوهَا كَذالِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ</p>
<p>Sangat mustahil, Allah memerintahkan umat ini dengan sebuah seruan yang hanya mencakup sebagian kecil dari umat ini (padahal di awal rentetan ayat, Allah menyeru semua umat ini).</p>
<p>Adapun hadits Hudzaifah ibn al-Yaman <em>radhiallahu ‘anhu</em> dengan redaksi “لا اعتكاف إلا في المساجد الثلاثة”, jika memang selamat dari berbagai cacat, maksudnya adalah menafikan kesempurnaan (i’tikaf yang dilaksanakan di selain ketiga masjid tersebut). Dengan demikian, maknanya adalah I’tikaf yang paling sempurna adalah yang dilakukan di tiga masjid tersebut, dikarenakan kemuliaan dan keutamaan ketiga masjid tersebut daripada masjid-masjid yang lain.</p>
<p>Redaksi seperti ini banyak contohnya dalam hadits nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Maksud saya bahwa penafian (yang terdapat dalam redaksi sebuah hadits) terkadang maksudnya penafian kesempurnaan, bukan (semata-mata) penafian hakikat (eksistensi) dan keabsahan sesuatu.</p>
<p>Hal ini seperti sabda nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">لا صلاة بحضرة طعام</p>
<p><em>&#8220;Tidak sempurna shalat seorang ketika makanan telah dihidangkan baginya&#8221;</em></p>
<p>dan hadits yang lain. Tidak diragukan lagi bahwa hukum asal penafian yang terdapat dalam suatu nash adalah penafian keabsahan dan eksistensi sesuatu. Akan tetapi, apabila terdapat dalil yang tidak mendukung hal tersebut, maka wajib berpegang dengannya. Hal ini sebagaimana hadits Hudzaifah, jika memang hadits tersebut selamat dari berbagai cacat. <em>Wallahu a’alam.</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn28">[28]</a></p>
<p><strong>Pertanyaan: Bagaimana dengan puasa, bukankah puasa termasuk syarat i’tikaf berdasarkan perbuatan nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang senantiasa mengerjakan I’tikaf dengan berpuasa?</strong></p>
<p>Jawab:</p>
<p>Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai hal ini. Namun, pendapat yang terkuat adalah puasa bukanlah syarat untuk mengerjakan I’tikaf. Hal ini didasarkan pada beberapa dalil berikut:<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn29">[29]</a></p>
<p>Pertama, firman Allah <em>ta’ala</em>,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ (١٨٧)</p>
<p><em>“Sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid.”</em> (Al Baqarah: 187).</p>
<p>Ayat ini menunjukkan pensyari’atan puasa tanpa dibarengi puasa karena tercantum secara mutlak tanpa ada pembatasan.</p>
<p>Kedua, firman Allah <em>ta’ala</em>,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْا عَلَى قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَى أَصْنَامٍ لَهُمْ قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ (١٣٨)</p>
<p><em>“Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu<strong>, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang bertapa (beri’tikaf) menyembah berhala mereka</strong>, Bani lsrail berkata: “Hai Musa. buatlah untuk Kami sebuah Tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa Tuhan (berhala)”. Musa menjawab: “Sesungguh-nya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan).”</em> (Al A’raaf: 138).</p>
<p>Pada ayat ini Allah menyebut tindakan kaum musyrikin yang berdiam di samping berhala mereka dengan sebutan i’tikaf, meskipun mereka tidak berpuasa. Maka seorang yang mengekang diri untuk Allah di rumah-Nya (yakni masjid), bisa juga disebut seorang yang beri’tikaf, meskipun dia tidak berpuasa.</p>
<p>Ketiga, hadits Ibnu ‘Umar yang menceritakan bahwa ‘Umar <em>radhiallahu ‘anhu</em>, bertanya kepada nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em></p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">كُنْتُ نَذَرْتُ فِى الْجَاهِلِيَّةِ أَنْ أَعْتَكِفَ لَيْلَةً فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ قَالَ « فَأَوْفِ بِنَذْرِكَ »</p>
<p><em>“Pada masa jahiliyah, saya pernah bernadzar untuk beri’tikaf semalam di Masjid al-Haram.” Maka nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memerintahkannya untuk menunaikan nadzar tersebut</em>.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn30">[30]</a></p>
<p>Hadits di atas menunjukkan bahwa I’tikaf dapat dilakukan tanpa dibarengi dengan puasa, karena malam bukanlah waktu untuk berpuasa. Jika puasa merupakan syarat I’tikaf, tentulah nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidak mengijinkan ‘Umar <em>radhiallahu ‘anh</em> untuk beri’tikaf.</p>
<p>Keempat, pada hadits ‘Aisyah <em>radhiallahu ‘anha</em> disebutkan bahwa nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> meninggalkan I’tikaf di bulan Ramadhan dan baru melaksanakannya pada sepuluh hari pertama di bulan Syawwal.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn31">[31]</a></p>
<p>Hadits ini menunjukkan bahwa puasa bukanlah syarat I’tikaf, karena nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> beri’tikaf pada sepuluh hari pertama di bulan Syawwal dan hari ‘Ied termasuk di dalam rentang waktu tersebut. Telah dimaklumi bersama bahwa berpuasa ketika hari ‘Ied tidak diperbolehkan, karena nabi melarang hal tersebut.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn32">[32]</a></p>
<p>Kelima, Thawus <em>rahimahullah</em> meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas <em>radhiallahu ‘anh</em> dengan sanad yang shahih, bahwa beliau berpendapat bahwa seorang yang beri’tikaf tidak wajib berpuasa kecuali dia mewajibkan puasa atas dirinya.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn33">[33]</a></p>
<p>Keenam, seorang yang beri’tikaf lebih dari sehari, maka tentu dia akan beri’tikaf di siang dan malam hari. Konsekuensi pendapat yang menyatakan puasa merupakan syarat I’tikaf adalah status I’tikaf yang dilakukan orang tersebut pada malam hari tidaklah sah.</p>
<p>Adapun tindakan nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang senantiasa berpuasa ketika beri’tikaf, maka bisa kita menjawabnya bahwa nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tentulah lebih memilih kondisi yang paling afdhal dalam I’tikaf yang dilakukannya. Oleh karena itu, beliau beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, padahal beri’tikaf di selain waktu tersebut diperbolehkan. Demikian pula, beliau beri’tikaf selama sepuluh hari, padahal beri’tikaf dalam rentang waktu yang lebih pendek dari itu juga diperbolehkan.</p>
<p><em>-bersambung insya Allah-</em></p>
<hr size="1" />
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref1">[1]</a> <em>Taisir Karim ar Rahman</em> hlm. 340.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref2">[2]</a> HR. Bukhari: 1, Muslim: 1907.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref3">[3]</a> <em>Syarh Al Arba’in an Nawawi</em> karya Syaikh Shalih alu Asy Syaikh.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref4">[4]</a> <em>Tafsir Quran al-’Azhim</em> 2/308; Asy Syamilah.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref5">[5]</a> <em>Al Hawi</em> 1/384. Dikutip dari Fiqh Al I’tikaf hlm. 73.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref6">[6]</a> HR. Bukhari: , Muslim:  .</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref7">[7]</a> Ibnu Jarir dalam Al Mughni 5/174 menisbatkan riwayat ini pada Abu Hafsh al ‘Akbari dan dia berkata, “sanad riwayat ini jayyid.”</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref8">[8]</a> HR. Bukhari: 304.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref9">[9]</a> <em>‘Umdah al-Qari</em> 3/280; Asy Syamilah.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref10">[10]</a> HR. Bukhari: 1936.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref11">[11]</a> HR. Bukhari: 1940.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref12">[12]</a> <em>Al Mughni</em> 3/151.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref13">[13]</a> Tafsir Surat Al Baqarah 2/358.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref14">[14]</a> <em>Fath al Baari</em> 4/345.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref15">[15]</a> HR. Bukhari: 1925, Muslim: 297.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref16">[16]</a> <em>Al Jami’ li Ahkam Al Quran</em> 2/324; Asy Syamilah.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref17">[17]</a> Salah satu dalil akan hal ini adalah sabda nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلاَةِ فَتُقَامَ ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى مَنَازِلِ قَوْمٍ لاَ يَشْهَدُونَ الصَّلاَةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ</p>
<p><em>“Saya sangat berkeinginan memerintahkan agar shalat ditegakkan, kemudian saya bertolak ke rumah para pria yang tidak menghadiri shalat berjama’ah, lalu saya bakar mereka.”</em> (HR. Bukhari: 2288).</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref18">[18]</a> HR. Abdullah ibn Ahmad dalam Masailnya 2/673 dari ayah beliau (imam Ahmad).</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref19">[19]</a> <span style="text-decoration: underline;"><em>Al Majmu’</em></span> 6/480; Asy Syamilah.</p>
<p><strong>Catatan:</strong> Seorang yang tidak beri’tikaf di masjid Jami’, maka wajib keluar untuk shalat Jum’at. Keluarnya tersebut terhitung sebagai udzur syar’i sehingga tidak membatalkan i’tikafnya, lagipula hal itu hanya dilakukan sekali dalam seminggu, tidak berulangkali. Al Kasani <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Demikian pula keluar untuk menunaikan shalat Jum’at termasuk darurat, karena hukum menunaikan shalat Jum’at adalah fa<em>radhiallahu ‘anhu</em>u ‘ain dan tidak mungkin dilaksanakan di setiap masjid. Sehingga, seorang harus keluar (ke masjid Jami’) untuk menunaikannya seperti (seorang yang keluar dari masjid tempatnya beri’tikaf) untuk menunaikan hajat. Keluarnya tersebut tidaklah membatalkan i’tikafnya.” (Badai’ Ash-Shanai’ 2/114).</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref20">[20]</a> <em>Al Mughni</em> 3/187. Dikutip dari ‘Uudu ilaa Khair al-Hadyi hlm. 64.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref21">[21]</a> Adz Dzahabi <em>rahimahullah</em> dalam <em>al Mizan</em> 3/575 menyifati beliau dengan “صاحب مناكر”, perawi yang sering membawakan riwayat mungkar.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref22">[22]</a> Memiliki kelemahan dalam hafalan dan tatkala memasuki usia senja hafalan beliau mulai berubah. Lihat <em>at-Tahdzib</em> 11/51-54.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref23">[23]</a> HR. Ath Thahawi dalam <em>Musykil al-Atsar</em> 6/265; Asy Syamilah.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref24">[24]</a> Bagi para pembaca yang ingin memperluas pembahasan hal ini, dapat melihat <em>Fiqh al-I’tikaf</em> hlm. 120-123, <em>‘Uudu ilaa Khair al-Hadyi</em> hlm. 66-69, <em>al-Inshaf fi Ahkam al-I’tikaf</em> hlm. 26-41.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref25">[25]</a> HR. Abdurrazzaq dalam <em>Mushannaf</em>-nya 4/348.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref26">[26]</a> Asy Syaukani <em>rahimahullah</em> ketika mengomentari perkataan Ibnu Mas’ud <em>radhiallahu ‘anhu</em> yang mengingkari Hudzaifah <em>radhiallahu ‘anhu</em>, berkata,</p>
<p>“Perkataan beliau (Ibnu Mas’ud) ini menunjukkan bahwa dalam permasalahan ini, Hudzaifah tidak berdalil dengan satu hadits pun yang berasal dari nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. (Hal itu diperkuat karena) Abdullah (Ibnu Mas’ud) menyelisihinya dan (malah) membolehkan I’tikaf dilakukan di setiap masjid. Jika terdapat hadits nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> (yang menerangkan hal itu) tentulah Abdullah bin Mas’ud tidak menyelisihinya.” (<em>Nailul Authar</em> 4/360).</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref27">[27]</a> <em>Badai’ ash Shanai’</em> 2/113.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref28">[28]</a> <em>Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibni ‘Utsaimin</em> 20/112; Asy Syamilah.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref29">[29]</a> Diadaptasi dari <em>Fiqh Al I’tikaf</em> hlm. 98-106.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref30">[30]</a> HR. Bukhari: 1927.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref31">[31]</a> HR. Muslim: 1172.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref32">[32]</a> HR. Muslim: 1140.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref33">[33]</a> HR. Baihaqi dalam <em>Sunan Al Kubra</em>:  8370.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Penulis: M. Nur Ichwan Muslim<br />
Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-6755"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Ffiqih-ringkas-itikaf-3.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Ffiqih-ringkas-itikaf-3.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Ffiqih-ringkas-itikaf-3.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fiqih Ringkas I&#8217;tikaf (2)</title>
		<link>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-2.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Aug 2011 08:00:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yulian Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh dan Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[I'tikaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=6750</guid>
		<description><![CDATA[Waktu Minimal Beri’tikaf Waktu minimal seorang untuk ber-i’tikaf adalah setengah hari, dalam artian dia boleh ber-i’tikaf ketika siang hari, dari selepas shalat Subuh hingga matahari terbenam, atau dia boleh memulai ber-i’tikaf ketika malam, yaitu dari<a class="more" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-2.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><strong>Waktu Minimal Beri’tikaf</strong></p>
<p>Waktu minimal seorang untuk ber-i’tikaf adalah setengah hari, dalam artian dia boleh ber-i’tikaf ketika siang hari, dari selepas shalat Subuh hingga matahari terbenam, atau dia boleh memulai ber-i’tikaf ketika malam, yaitu dari matahari terbenam hingga terbit fajar. Hal ini berdasarkan beberapa alasan sebagai berikut<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-2.html#_ftn1">[1]</a>:</p>
<p><strong>Pertama</strong>, nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengizinkan ‘Umar <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> untuk menunaikan nadzarnya beri’tikaf selama semalam di Masjid Al-Haram<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-2.html#_ftn2">[2]</a>.<br />
<strong>Kedua</strong>, terdapat berbagai riwayat dari para sahabat <em>radhiallahu ‘anhum</em> dan para salaf yang menyatakan puasa sebagai syarat i’tikaf dan sebaliknya terdapat riwayat yang menyatakan puasa bukanlah syarat i’tikaf. Telah diketahui bahwa puasa tidak akan terealisasi ketika dilaksanakan kurang dari setengah hari.<em><br />
</em><strong>Ketiga</strong>, Jika i’tikaf disyari’atkan dilaksanakan dalam waktu kurang dari setengah hari, maka tentu terdapat riwayat valid dari nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> akan hal tersebut dan beliau akan memerintahkan para sahabatnya serta hal itu tentu sangat <em>ma’ruf</em> di tengah-tengah mereka, karena mereka senantiasa hilir mudik ke masjid.<br />
<strong>Keempat</strong>, para sahabat <em>radhiallahu ‘anhum</em> sering duduk di masjid untuk menunggu shalat, mendengarkan khutbah atau siraman ilmu dari nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, dan kegiatan lainnya, namun tidak terdapat riwayat valid yang menyatakan ketika mereka melakukan kegiatan itu semua, mereka juga berniat untuk beri’tikaf di masjid.</p>
<p>Berdasarkan hal ini, seorang yang masuk masjid dan berniat untuk ber-i’tikaf selama dia berada di dalam masjid tersebut, meski hanya sesaat,-sebagaimana pendapat ulama madzhab Syafi’i dan Hambali-, maka perbuatan tersebut tidaklah disyari’atkan.</p>
<p>Di dalam <em>al Fatawa al Kubra</em> tercantum, <em>“Abu al’Abbas (Ibnu Taimiyah) rahimahullah tidak mendukung pendapat yang menganjurkan agar seorang yang pergi ke masjid untuk shalat atau tujuan selainnya, berniat I’tikaf selama berada di dalam masjid.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-2.html#_ftn3">[3]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Waktu Maksimal Beri’tikaf</strong></p>
<p>Para ulama sepakat tidak ada batas waktu maksimal bagi seorang untuk ber-i’tikaf.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-2.html#_ftn4">[4]</a> Ibnu Mulaqqin <em>rahimahullah</em>mengatakan, “Di dalam hadits ‘Aisyah yang redaksinya berikut, <em>“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan hingga Allah mewafatkannya”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-2.html#_ftn5">[5]</a> memiliki kandungan bahwa I’tikaf tidak dibenci jika dilakukan di setiap waktu dan ulama telah sepakat bahwa tidak ada batas waktu maksimal untuk beri’tikaf.”<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-2.html#_ftn6">[6]</a><strong></strong></p>
<p><strong>Mungkin ada pertanyaan, “</strong><strong> Bukankah nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melakukan ber-i’tikaf selama sepuluh hari?</strong><strong>“</strong></p>
<p>Hal ini dapat dijawab sebagai berikut:</p>
<p><em>“Tindakan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan tidaklah menunjukkan pengkhususan waktu. Namun, hal tersebut dilakukan karena adanya sebab lain, yaitu dalam rangka mencari Lailat al-Qadr, karena malam tersebut terdapat pada malam-malam tersebut. Oleh karena itu, pada hadits Abu Sa’id radhiallahu ‘anhu dinyatakan bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari pada pertengahan Ramadhan kemudian diwahyukan kepada beliau bahwa malam tersebut terdapat pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sehingga beliau pun beri’tikaf pada waktu tersebut untuk mencarinya.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-2.html#_ftn7">[7]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Pertanyaan: “Ketika beri’tikaf di bulan Ramadhan, kapankah seorang dianjurkan untuk memulai i’tikaf?”</strong></p>
<p>Jawab:</p>
<p>Seorang dianjurkan untuk masuk ke dalam masjid ketika matahari terbenam pada malam ke-21 Ramadhan. Hal ini berdasarkan pendapat ulama ketika meneliti berbagai dalil terkait hal ini.</p>
<p>Dalilnya adalah hadits Abu Sa’id al-Khudri <em>radhiallahu ‘anhu</em>, beliau mengatakan bahwa nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda pada para sahabat,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">إِنِّى اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الأَوَّلَ أَلْتَمِسُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ ثُمَّ اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الأَوْسَطَ ثُمَّ أُتِيتُ فَقِيلَ لِى إِنَّهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فَمَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يَعْتَكِفَ فَلْيَعْتَكِفْ ». فَاعْتَكَفَ النَّاسُ مَعَهُ</p>
<p><em>“Sesungguhnya saya beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dalam rangka mencari malam Lailat al-Qadr. Kemudian saya beri’tikaf di sepuluh hari pada pertengahan Ramadhan, dan saya didatangi oleh (Jibril) dan diberitahu bahwa malam tersebut terletak pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Oleh karena itu, siapa diantara kalian yang ingin beri’tikaf, silahkan beri’tikaf. Maka para sahabat pun beritikaf bersama beliau.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-2.html#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Dalam satu riwayat tercantum dengan lafadz,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">مَنْ كَانَ اعْتَكَفَ مَعِى فَلْيَعْتَكِفِ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ</p>
<p><em>“Barangsiapa yang (ingin) beri’tikaf, hendaknya beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-2.html#_ftn9">[9]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sepuluh hari pertama yang dimaksud dimulai pada malam ke-21 Ramadhan karena malam ke-21 Ramadhan termasuk malam ganjil yang turut dinyatakan sebagai malam turunnya Lailatul Qadr.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-2.html#_ftn10">[10]</a> Oleh karena itu, nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> –sebagaimana tersebut dalam hadits Abu Sa’id al-Khudri di atas-, beri’tikaf semenjak pertengahan Ramadhan untuk mencari malam tersebut dan dilanjutkan pada sepuluh hari terakhir Ramadhan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Pertanyaan: Bukankah disana terdapat hadits ‘Aisyah <em>radhiallahu ‘anh</em>a yang redaksinya</strong></p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا أَرَادَ أَنْ يَعْتَكِفَ صَلَّى الْفَجْرَ ثُمَّ دَخَلَ مُعْتَكَفَهُ</p>
<p><em>Apabila rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin beri’tikaf, beliau melaksanakan shalat Subuh kemudian masuk ke tempat i’tikafnya</em>.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-2.html#_ftn11">[11]</a><br />
Sebagian ulama berdalil dengan hadits ini untuk menyatakan bahwa I’tikaf dimulai ketika selesai Shalat Subuh pada hari ke-21?</p>
<p>Jawab:</p>
<p>Hal ini telah dijawab oleh dua ulama ternama, yaitu imam an Nawawi dan al ‘Allamah Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin <em>rahimahumallah</em>. Berikut jawaban mereka berdua,</p>
<p>An Nawawi <em>rahimahullah</em> menjawab hal tersebut dengan mengatakan sebenarnya nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>telah lebih dahulu beri’tikaf di masjid. Hadits ‘Aisyah <em>radhiallahu ‘anh</em>a tersebut bukanlah menunjukkan nabi memulai I’tikaf pada saat itu, namun nabi sebenarnya telah beri’tikaf dan tinggal di masjid sebelum waktu Maghrib, tatkala beliau melaksanakan shalat Subuh (pada hari setelahnya) barulah beliau menyendiri di tempat I’tikaf yang khusus dibuatkan untuk beliau (mu’takaf).<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-2.html#_ftn12">[12]</a></p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin <em>rahimahullah</em> mengatakan,</p>
<p>“Seorang yang beri’tikaf mulai beri’tikaf ketika terbenamnya matahari pada malam ke-21 Ramadhan, karena pada saat itulah sepuluh hari terakhir yang dimaksud dalam hadits dimulai. Hal ini tidaklah bertentangan dengan hadits ‘Aisyah dan hadits Abu Sa’id <em>radhiallahu ‘anhu</em>, meskipun redaksi kedua hadits tersebut memiliki perbedaan.</p>
<p>(Ketika terjadi hal seperti ini), maka (redaksi hadits) yang dijadikan pegangan adalah redaksi yang lebih dekat pada indikasi (kandungan) bahasa, yaitu hadits yang diriwayatkan Bukhari dari ‘Aisyah yang merupakan hadits pertama dalam bab “Al I’tikaf fi Syawwal” hal 382 juz 4 yang terdapat dalam kitab Fathul Baari. ‘Aisyah <em>radhiallahu ‘anha</em>mengatakan,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">انَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ ، وَإِذَا صَلَّى الْغَدَاةَ دَخَلَ مَكَانَهُ الَّذِى اعْتَكَفَ فِيهِ</p>
<p>“<em>Rasulullah senantiasa beri’tikaf di bulan Ramadhan. Apabila beliau melaksanakan shalat Subuh, beliau masuk ke dalam tempat I’tikaf yang digunakan untuk beri’tikaf.”</em></p>
<p>Demikian pula hadits Abu Sa’id, hadits kedua pada bab “<em>Taharri Lail al Qadr fi al Witr min Al ‘Usyr al Awakhir</em> hal. 952″, dia mengatakan,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يُجَاوِرُ فِى رَمَضَانَ الْعَشْرَ الَّتِى فِى وَسَطِ الشَّهْرِ ، فَإِذَا كَانَ حِينَ يُمْسِى مِنْ عِشْرِينَ لَيْلَةً تَمْضِى ، وَيَسْتَقْبِلُ إِحْدَى وَعِشْرِينَ ، رَجَعَ إِلَى مَسْكَنِهِ وَرَجَعَ مَنْ كَانَ يُجَاوِرُ مَعَهُ . وَأَنَّهُ أَقَامَ فِى شَهْرٍ جَاوَرَ فِيهِ اللَّيْلَةَ الَّتِى كَانَ يَرْجِعُ فِيهَا ، فَخَطَبَ النَّاسَ ، فَأَمَرَهُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ ، ثُمَّ قَالَ « كُنْتُ أُجَاوِرُ هَذِهِ الْعَشْرَ ، ثُمَّ قَدْ بَدَا لِى أَنْ أُجَاوِرَ هَذِهِ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ ، فَمَنْ كَانَ اعْتَكَفَ مَعِى فَلْيَثْبُتْ فِى مُعْتَكَفِهِ ، وَقَدْ أُرِيتُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ ثُمَّ أُنْسِيتُهَا فَابْتَغُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ وَابْتَغُوهَا فِى كُلِّ وِتْرٍ ، وَقَدْ رَأَيْتُنِى أَسْجُدُ فِى مَاءٍ وَطِينٍ » . فَاسْتَهَلَّتِ السَّمَاءُ فِى تِلْكَ اللَّيْلَةِ ، فَأَمْطَرَتْ ، فَوَكَفَ الْمَسْجِدُ فِى مُصَلَّى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – لَيْلَةَ إِحْدَى وَعِشْرِينَ ، فَبَصُرَتْ عَيْنِى رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – وَنَظَرْتُ إِلَيْهِ انْصَرَفَ مِنَ الصُّبْحِ ، وَوَجْهُهُ مُمْتَلِئٌ طِينًا وَمَاءً</p>
<p><em>“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah beri’tikaf di sepuluh hari pada pertengahan Ramadhan. Ketika berada pada waktu sore di hari ke-20, malam menjelang dan hari ke-21 akan segera tiba, beliau kembali ke rumah dan orang-orang yang beri’tikaf bersama beliau juga turut kembali.</em></p>
<p><em>Pada malam itu,-dimana beliau beri’tikaf dan kemudian kembali ke rumah-, beliau berkhutbah kepada manusia kemudian memerintahkan mereka dengan apa yang dikehendaki Allah, beliau kemudian berkata kepada mereka, “Semula, saya beri’tikaf pada sepuluh hari ini (yaitu pada pertengahan Ramadhan), kemudian diwahyukan kepadaku agar beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir (agar memperoleh Lailat al-Qadr). Barangsiapa yang ingin beri’tikaf bersamaku, maka hendaklah dia tetap tinggal di tempat i’tikafnya. Sesungguhnya malam tersebut telah diperlihatkan kepadaku, namun aku terlupa. Oleh karena itu, carilah malam tersebut pada sepuluh hari terakhir, di malam yang ganjil, dan sungguh (pada saat Lailatul Qadr tersebut) saya melihat diriku sujud di atas tanah dan air.”</em></p>
<p>Anas mengatakan,<em> “Pada malam tersebut (yakni ketika beliau berkhutbah kepada para sahabat-pen), langit menurunkan hujan yang sangat lebat dan air hujan menembus atap masjid dan mengucur di tempat shalat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, (saat itu) pada malam ke-21. Pandangan saya memperhatikan rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan saya melihat ketika beliau selesai menunaikan shalat Subuh, wajahnya dipenuhi tanah dan air.”</em></p>
<p>(Syaikh Utsaimin mengatakan), “Pada hadits ‘Aisyah tercantum redaksi berikut ” دخل مكانه الذي اعتكف فيه “. Redaksi ini berkonsekuensi bahwa nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah terlebih dahulu berada di masjid sebelum masuk ke dalam <em>mu’takaf</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-2.html#_ftn13">[13]</a>, karena perkataan ‘Aisyah “اعتكف” merupakan <em>fi’il madhi</em> (kata kerja lampau) dan hukum asalnya kata tersebut digunakan sesuai dengan hakikatnya.</p>
<p>Pada hadits Abu Sa’id tercantum redaksi:</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">فإذا كان حين يمسي من عشرين ليلة تمضي ويستقبل إحدى وعشرين</p>
<p>sore merupakan akhir siang dan merupakan waktu tiba bagi malam selanjutnya. Berdasarkan hal ini, khutbah nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> terjadi di akhir siang pada hari ke-20 Ramadhan, hal ini dikuatkan oleh riwayat kedua dalam hadits beliau, yaitu hadits ketiga pada bab “<em>Al I’tikaf fi al ‘Usyr al Awakhir wa Al I’tikaf fi Al Masajid Kulliha</em>” hlm. 172. Anas mengatakan, <em>“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah beri’tikaf pada suatu tahun kemudian pada malam ke-21 beliau mengatakan, “Barangsiapa yang ingin beri’tikaf bersamaku, hendaklah dia beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir. Sungguh telah diwahyukan kepadaku waktu Lailatul Qadr, namun kemudian saya dilupakan mengenai waktunya. Dan sungguh (pada saat Lailatul Qadr tersebut), saya melihat diriku bersujud di air dan tanah (dalam kondisi becek-pen) pada waktu Subuh.” Anas mengatakan, “Maka pada malam tersebut, turunlah hujan yang sangat lebat, dan di waktu Subuh pada hari ke-21, saya melihat dahi rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat bekas air dan tanah.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-2.html#_ftn14">[14]</a></p>
<p>Dari pemaparan di atas, kita bisa melihat bahwa I’tikaf dianjurkan dilakukan pada malam ke-21 Ramadhan. Inilah pendapat yang paling hati-hati dalam masalah ini sebagaimana dikemukakan oleh Syaikh Dr. Khalid al Musyaiqih <em>hafizhahullah</em>.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-2.html#_ftn15">[15]</a><strong></strong></p>
<p><strong>Pertanyaan: “Ketika beri’tikaf di bulan Ramadhan, kapankah seorang dianjurkan mengakhiri I’tikaf?”</strong></p>
<p>Jawab:</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin mengatakan, “Seorang yang beri’tikaf mengakhiri i’tikafnya apabila bulan Ramadhan telah berakhir, dan bulan Ramadhan berakhir ketika matahari terbenam pada malam ‘Ied.”<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-2.html#_ftn16">[16]</a></p>
<p>Sebagian ulama salaf menganjurkan agar seorang tetap tinggal beri’tikaf pada malam ‘Ied dan baru mengakhirinya ketika hendak melaksanakan shalat ‘Ied. Imam Malik menyatakan bahwa dia melihat sebagian ulama apabila beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, mereka tidak pulang ke keluarga mereka hingga mereka menghadiri shalat ‘Ied bersama manusia.”<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-2.html#_ftn17">[17]</a></p>
<p>Imam An Nawawi <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Asy Syafi’i dan murid-murid beliau mengatakan, “Barangsiapa yang ingin mengikuti tuntunan nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, maka hendaknya dia memasuki masjid sebelum matahari terbenam pada malam ke-21 agar dia tidak terluput (untuk memperoleh <em>Lailat al-Qadr</em>). Dan dia keluar dari masjid setelah terbenamnya matahari pada malam ‘Ied, baik bulan Ramadhan telah berakhir sempurna, atau tidak. Dan yang lebih afdhal, dia tetap tinggal di masjid (pada malam ‘Ied) sampai menunaikan shalat “Ied di masjid atau dia (tetap tinggal di masjid di malam ‘Ied) dan keluar dari masjid ketika hendak menuju tanah lapang untuk mengerjakan shalat ‘Ied, jika dia mengerjakannya disana.”<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-2.html#_ftn18">[18]</a></p>
<p><em>-bersambung insya Allah-</em></p>
<hr size="1" />
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-2.html#_ftnref1">[1]</a> <em>Fiqh Al I’tikaf</em> hlm. 54-55.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-2.html#_ftnref2">[2]</a> HR. Bukhari: 1927.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-2.html#_ftnref3">[3]</a> <em>Al Fatawa al Kubra</em> 5/380</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-2.html#_ftnref4">[4]</a> <em>Fath al-Baari</em> 4/272, <em>al Minhaj Syarh Shahih Muslim</em> 8/78, <em>Bidayah al Mujtahid</em> 1/445.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-2.html#_ftnref5">[5]</a> HR. Bukhari: 1922 dan Muslim: 1172.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-2.html#_ftnref6">[6]</a> <em>Al I’lam bi Fawaid ‘Umdah al Ahkam</em> 5/430; dikutip dari <em>Fiqh al I’tikaf</em> hlm. 56.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-2.html#_ftnref7">[7]</a> Fiqh al-I’tikaf hlm. 56.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-2.html#_ftnref8">[8]</a> HR. Muslim: 1167.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-2.html#_ftnref9">[9]</a> HR. Bukhari: 1923.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-2.html#_ftnref10">[10]</a> HR. Ahmad: 22815, Tirmidzi: 792.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-2.html#_ftnref11">[11]</a> HR. Muslim: 1172.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-2.html#_ftnref12">[12]</a> <em>Al Minhaj Syarh Shahih Muslim</em> 4/207.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-2.html#_ftnref13">[13]</a> Tempat yang digunakan orang yang beri’tikaf untuk menyendiri agar bisa beribadah di dalamnya.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-2.html#_ftnref14">[14]</a> <em>Majmu’ Fatawa wa Rasaa-il Ibn ‘Utsaimin</em> 20/121; Asy Syamilah.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-2.html#_ftnref15">[15]</a> <em>Fiqh al-I’tikaf</em> hlm. 61</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-2.html#_ftnref16">[16]</a> <em>Majmu’ Fatawa wa Rasaa-il Ibn ‘Utsaimin</em> 20/119; Asy Syamilah.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-2.html#_ftnref17">[17]</a> <em>Al Muwaththa</em>:1/315.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-2.html#_ftnref18">[18]</a> <em>Al Majmu</em> 6/475; Asy Syamilah.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: M. Nur Ichwan Muslim<br />
Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-6750"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Ffiqih-ringkas-itikaf-2.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Ffiqih-ringkas-itikaf-2.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Ffiqih-ringkas-itikaf-2.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fiqih Ringkas I&#8217;tikaf (1)</title>
		<link>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Aug 2011 01:35:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yulian Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh dan Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[I'tikaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=6745</guid>
		<description><![CDATA[Definisi I’tikaf Secara literal (lughatan), kata “الاعْتِكاف” berarti “الاحتباس” (memenjarakan)[1]. Ada juga yang mendefinisikannya dengan: حَبْسُ النَّفْسِ عَنْ التَّصَرُّفَاتِ الْعَادِيَّةِ &#8220;Menahan diri dari berbagai kegiatan yang rutin dikerjakan&#8221; [2]. Dalam terminologi syar’i (syar’an), para ulama<a class="more" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><strong>Definisi I’tikaf</strong><br />
Secara literal (<em>lughatan</em>), kata “الاعْتِكاف” berarti “الاحتباس” (memenjarakan)<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html#_ftn1"><sup><sup>[1]</sup></sup></a>. Ada juga yang mendefinisikannya dengan:</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">حَبْسُ النَّفْسِ عَنْ التَّصَرُّفَاتِ الْعَادِيَّةِ</p>
<p>&#8220;Menahan diri dari berbagai kegiatan yang rutin dikerjakan&#8221; <a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html#_ftn2"><sup><sup>[2]</sup></sup></a>.</p>
<p>Dalam terminologi syar’i (<em>syar’an</em>), para ulama berbeda-beda dalam mendefinisikan i’tikaf  dikarenakan perbedaan pandangan dalam penentuan syarat dan rukun i’tikaf<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html#_ftn3"><sup><sup>[3]</sup></sup></a>. Namun, kita bisa memberikan definisi yang umum bahwa i’tikaf adalah:</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">الْمُكْث فِي الْمَسْجِد لعبادة الله مِنْ شَخْص مَخْصُوص بِصِفَةٍ مَخْصُوصَة</p>
<p>&#8220;Berdiam diri di dalam masjid untuk beribadah kepada Allah yang dilakukan oleh orang tertentu dengan tata cara tertentu&#8221; <a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html#_ftn4">[4]</a>.</p>
<p><strong>Dalil Pensyari’atan</strong></p>
<p>I’tikaf  disyari’atkan berdasarkan dalil dari Al Quran, sunnah, dan ijma’. Berikut dalil-dalil pensyari’atannya.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Dalil dari Al Quran</span></p>
<p>a. Firman Allah <em>ta’ala</em>,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ</p>
<p><em>“Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud.”</em> (Al Baqarah: 125).</p>
<p>b. Firman Allah <em>ta’ala</em>,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ</p>
<p><em>“(tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid.” </em>(Al Baqarah: 187).</p>
<p>Penyandaran i’tikaf kepada masjid yang khusus digunakan untuk beribadah dan perintah untuk tidak bercampur dengan istri dikarenakan sedang beri’tikaf merupakan indikasi bahwa i’tikaf merupakan</p>
<p>ibadah.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html#_ftn5">[5]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Dalil dari sunnah</span></p>
<p>a. Hadits dari Ummu al-Mukminin, ‘Aisyah <em>radhiallahu ‘anhu</em>, beliau mengatakan,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ</p>
<p><em>“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan hingga beliau wafat, kemudian para istri beliau beri’tikaf sepeninggal beliau.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html#_ftn6">[6]</a></p>
<p>b. Hadits dari sahabat Ibnu ‘Umar <em>radhiallahu ‘anhu</em>, beliau mengatakan,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ</p>
<p><em>“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html#_ftn7">[7]</a></p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Dalil Ijma’</span></p>
<p>Beberapa ulama telah menyatakan bahwa kaum muslimin telah berijma’ bahwa i’tikaf merupakan ibadah yang disyari’atkan. Diantara mereka adalah:</p>
<p>a. Ibnul Mundzir <em>rahimahullah</em> dalam kitab beliau Al Ijma’. Beliau mengatakan,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">وأجمعوا على أن الاعتكاف لا يجب على الناس فرضا إلا أن يوجبه المرء على<strong> </strong>نفسه فيجب عليه</p>
<p><em>“Ulama sepakat bahwa i’tikaf tidaklah berhukum wajib kecuali seorang yang bernadzar untuk beri’tikaf, dengan demikian dia wajib untuk menunaikannya.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html#_ftn8">[8]</a></p>
<p>b. An Nawawi <em>rahimahullah</em> mengatakan,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">فالاعتكاف سنة بالاجماع ولا يجب إلا بالنذر بالاجماع</p>
<p><em>“Hukum i’tikaf adalah sunnah berdasarkan ijma dan ulama sepakat bahwa i’tikaf tidak berhukum wajib kecuali seorang yang bernadzar untuk beri’tikaf.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html#_ftn9">[9]</a></p>
<p>c. Al Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“I’tikaf tidaklah wajib berdasarkan ijma’ kecuali bagi seorang yang bernadzar untuk melakukan I’tikaf.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html#_ftn10">[10]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Hukum I’tikaf</strong></p>
<p>Hukum asal i’tikaf adalah sunnah (<em>mustahab</em>) berdasarkan sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em></p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">إِنِّى اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الأَوَّلَ أَلْتَمِسُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ ثُمَّ اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الأَوْسَطَ ثُمَّ أُتِيتُ فَقِيلَ لِى إِنَّهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فَمَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يَعْتَكِفَ فَلْيَعْتَكِفْ ». فَاعْتَكَفَ النَّاسُ مَعَهُ</p>
<p><em>“Sungguh saya beri’tikaf di di sepuluh hari awal Ramadhan untuk mencari malam kemuliaan (lailat al-qadr), kemudian saya beri’tikaf di sepuluh hari pertengahan Ramadhan, kemudian Jibril mendatangiku dan memberitakan bahwa malam kemuliaan terdapat di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. <strong>Barangsiapa yang ingin beri’tikaf, hendaklah dia beri’tikaf </strong>(untuk mencari malam tersebut). Maka para sahabat pun beri’tikaf bersama beliau.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html#_ftn11">[11]</a></p>
<p>Dalam hadits di atas, nabi memberikan pilihan kepada para sahabat untuk melaksanakan i’tikaf. Hal ini merupakan indikasi bahwa i’tikaf pada asalnya tidak wajib.</p>
<p>Status sunnah ini dapat menjadi wajib apabila seorang bernadzar untuk beri’tikaf berdasarkan hadits ‘Aisyah, beliau mengatakan bahwa nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ</p>
<p><em>“Barangsiapa bernadzar untuk melakukan ketaatan kepada Allah, dia wajib menunaikannya.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html#_ftn12">[12]</a></p>
<p>‘Umar <em>radhiallahu ‘anhu</em> pernah bertanya kepada nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, <em>“Wahai rasulullah! Sesungguhnya saya pernah bernadzar untuk beri’tikaf selama satu malam di Masjid al-Haram.” Nabi pun menjawab, “Tunaikanlah nadzarmu itu!”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html#_ftn13">[13]</a></p>
<p>Al Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani mengatakan, <em>“I’tikaf tidaklah wajib berdasarkan ijma’ kecuali bagi seorang yang bernadzar untuk melakukan I’tikaf.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html#_ftn14">[14]</a><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html#_ftn15">[15]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Pertanyaan: Bagaimanakah hukum i’tikaf bagi wanita?</strong></p>
<p>Jawab:</p>
<p>Dalam permasalahan ini terdapat dua pendapat ulama.</p>
<p><strong>Pendapat pertama</strong> adalah pendapat jumhur yang menyatakan itikaf dianjurkan juga bagi wanita sebagaimana dianjurkan bagi pria. Dalil bagi pendapat pertama ini diantaranya adalah:</p>
<ul>
<li>Keumuman berbagai dalil mengenai pensyari’atan i’tikaf yang turut mencakup pria dan wanita. Asalnya, segala peribadatan yang ditetapkan bagi pria, juga ditetapkan bagi wanita kecuali terdapat dalil yang mengecualikan.</li>
<li>Firman Allah <em>ta’ala</em>,
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ</p>
<p><em>“Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab…” </em>(Ali ‘Imran: 37).</li>
<li>dan firman-Nya,
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">فَاتَّخَذَتْ مِنْ دُونِهِمْ حِجَابًا</p>
<p><em>“Maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka…”</em> (Maryam: 17).<br />
Ayat ini memberitakan bahwa Maryam telah membaktikan dirinya untuk beribadah dan berkhidmat kepada-Nya. Dia mengadakan tabir dan menempatkan dirinya di dalam mihrab untuk menjauhi manusia. Hal ini menunjukkan bahwa beliau beri’tikaf. Meskipun perbuatan Maryam itu merupakan syari’at umat terdahulu, namun hal itu juga termasuk syari’at kita selama tidak terdapat dalil yang menyatakan syari’at tersebut telah dihapus.</li>
<li>Hadits Ummul Mukminin, ‘Aisyah dan Hafshah <em>radhiallahu ‘anhuma</em>, yang keduanya memperoleh izin untuk beri’tikaf sedang mereka berdua masih dalam keadaan belia saat itu.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html#_ftn16">[16]</a></li>
</ul>
<p><strong>Pendapat kedua </strong>menyatakan bahwa i’tikaf dimakruhkan bagi pemudi. Dalil yang menjadi patokan bagi pendapat ini diantaranya adalah sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>Hadits ‘Aisyah <em>radhiallahu ‘anhu</em> yang menerangkan bahwa nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memerintahkan untuk melepas kemah-kemah istrinya ketika mereka hendak beri’tikaf bersama beliau<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html#_ftn17">[17]</a></li>
<li>Hadits ‘Aisyah <em>radhiallahu ‘anhu</em>, beliau mengatakan,
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">لَوْ أَدْرَكَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – مَا أَحْدَثَ النِّسَاءُ لَمَنَعَهُنَّ كَمَا مُنِعَتْ نِسَاءُ بَنِى إِسْرَائِيلَ</p>
<p><em>“Seandainya rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui apa kondisi wanita saat ini tentu beliau akan melarang mereka (untuk keluar menuju masjid) sebagaimana Allah telah melarang</em> <em>wanita Bani Israil.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html#_ftn18">[18]</a></li>
</ul>
<p><strong>Pendapat yang kuat</strong> adalah pendapat <em>jumhur </em>yang menyatakan bahwa i’tikaf juga disunnahkan bagi wanita berdasarkan beberapa alasan berikut:</p>
<ul>
<li>Berbagai dalil menyatakan bahwasanya wanita juga turut beri’tikaf dan tidak terdapat dalil tegas yang menerangan bahwa pemudi dimakruhkan untuk beri’tikaf.</li>
<li>Hadits ‘Aisyah yang menyatakan bahwa nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memerintahkan untuk melepas kemah para istri beliau ketika mereka beri’tikaf bukanlah menunjukkan ketidaksukaan beliau apabila para pemudi turut beri’tikaf. Namun, motif beliau memerintahkan hal tersebut adalah kekhawatiran jika para istri beliau saling cemburu dan berebut untuk melayani beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa</em><em>sallam</em>. Oleh karena itu, dalam hadits tersebut beliau mengatakan, “Apakah kebaikan yang dikehendaki oleh mereka dengan melakukan tindakan ini?”. Akhirnya beliau pun baru beri’tikaf di bulan Syawwal.</li>
<li>Hadits ‘Aisyah ini justru menerangkan bolehnya pemudi untuk beri’tikaf, karena ‘Aisyah dan Hafshah di dalam hadits ini diizinkan nabi untuk beri’tikaf dan pada saat itu keduanya berusia belia.</li>
<li>Adapun perkataan ‘Aisyah yang menyatakan nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> akan melarang wanita untuk keluar ke masjid apabila mengetahui kondisi wanita saat ini, secara substansial, bukanlah menunjukkan bahwa i’tikaf tidak disyari’atkan bagi pemudi. Namun, perkataan beliau tersebut menunjukkan akan larangan bagi wanita untuk keluar ke masjid apabila dikhawatirkan terjadi fitnah.</li>
</ul>
<p><strong>Hikmah I’tikaf</strong></p>
<p>Seluruh peribadatan yang disyari’atkan dalam Islam pasti memiliki hikmah, baik itu diketahui oleh hamba maupun tidak. Tidak terkecuali ibadah i’tikaf ini, tentu mengandung hikmah. Hikmah yang terkandung di dalamnya berusaha diuraikan oleh imam Ibn al-Qayyim <em>rahimahullah</em> dalam kitab beliau Zaadul Ma’ad<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html#_ftn19">[19]</a>. Beliau mengatakan, <em>“</em><em>Kebaikan dan konsistensi hati dalam berjalan menuju Allah tergantung kepada terkumpulnya kekuatan hati kepada Allah dan menyalurkannya dengan menghadapkan hati secara total kepada-Nya, -karena hati yang keruh tidak akan baik kecuali dengan menghadapkan hati kepada Allah ta’ala secara menyeluruh-, sedangkan makan dan minum secara berlebihan, terlalu sering bergaul, banyak bicara dan tidur, merupakan faktor-faktor yang mampu memperkeruh hati, dan semua hal itu bisa memutus perjalanan hati menuju kepada-Nya, atau melemahkan, menghalangi, dan menghentikannya.</em></p>
<p><em>(Dengan demikian), rahmat Allah yang Maha Perkasa dan Maha Penyayang menuntut pensyari’atan puasa bagi mereka, yang mampu menyebabkan hilangnya makan dan minum yang berlebih.</em></p>
<p><em>(Begitupula) hati yang keruh tidak dapat disatukan kecuali dengan menghadap kepada Allah, padahal (kegiatan manusia banyak yang memperkeruh hati seperti) makan dan minum secara berlebih, terlalu sering bergaul dengan manusia, serta banyak bicara dan tidur. (Semua hal itu) memporakporandakan hati, memutus, atau melemahkan, atau mengganggu dan menghentikan hati dari berjalan kepada Allah. Maka rahmat Allah kepada hamba-Nya menuntut pensyari’atan puasa untuk mereka yang mampu mengikis makan dan minum yang berlebih serta mengosongkan hati dari campuran syahwat yang menghalangi jalan kepada Allah. Allah mensyariatkannya sesuai dengan kadar kemaslahatan yang dapat bermanfaat bagi hamba di dunia dan akhirat. Namun, tidak merugikan dan memutus kemaslahatan dunia dan akhiratnya.</em></p>
<p><em>Demikian pula, Allah mensyariatkan i’tikaf bagi mereka yang bertujuan agar hati dan kekuatannya fokus untuk beribadah kepada-Nya, berkhalwat dengan-Nya, memutus diri dari kesibukan dengan makhluk dan hanya sibuk menghadap kepada-Nya. Sehingga, berdzikir, kecintaan, dan menghadap kepada-Nya menjadi ganti semua faktor yang mampu memperkeruh hati. Begitupula, kesedihan dan kekeruhan hati justru akan akan terhapus dengan mengingat-Nya dan berfikir bagaimana cara untuk meraih ridha-Nya dan bagaimana melakukan amalan yang mampu mendekatkan diri kepada-Nya. Berkhalwat dengan-Nya menjadi ganti dari kelembutannya terhadap makhluk, yang menyebabkan dia berbuat demikian adalah karena (mengharapkan) kelembutan-Nya pada hari yang mengerikan di alam kubur, tatkala tidak ada lagi yang mampu berbuat lembut kepadanya dan tidak ada lagi yang mampu menolong (dirinya) selain Allah. Inilah maksud dari i’tikaf yang agung itu.</em><em>“</em></p>
<p><strong>Waktu I’tikaf</strong></p>
<p>Jumhur (mayoritas ulama) berpendapat i’tikaf dianjurkan setiap saat untuk dilakukan dan tidak terbatas pada bulan Ramadhan atau di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. <a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html#_ftn20">[20]</a> Berikut beberapa dalil yang menunjukkan hal tersebut:</p>
<p>a. Terdapat riwayat yang shahih dari <em>Ummu al-Mukminin</em>, yang menyatakan bahwasanya nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> beri’tikaf di sepuluh hari pertama bulan Syawwal dan dalam satu riwayat beliau melaksanakannya di sepuluh hari terakhir bulan Syawwal.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html#_ftn21">[21]</a></p>
<p>b. Hadits Ibnu ‘Umar yang menceritakan bahwa ‘Umar <em>radhiallahu ‘anhu</em>, bertanya kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>:</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">كُنْتُ نَذَرْتُ فِى الْجَاهِلِيَّةِ أَنْ أَعْتَكِفَ لَيْلَةً فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ</p>
<p><em>“Pada masa jahiliyah, saya pernah bernadzar untuk beri’tikaf semalam di Masjid al-Haram.” Maka nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memerintahkannya untuk menunaikan nadzar tersebut</em>.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html#_ftn22">[22]</a></p>
<p>c. Hadits Anas bin Malik <em>radhiallahu ‘anhu</em>, beliau mengatakan,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">إِذَا كَانَ مُقِيماً اعْتَكَفَ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ وَإِذَا سَافَرَ اعْتَكَفَ مِنَ<strong> </strong>الْعَامِ الْمُقْبِلِ عِشْرِينَ.</p>
<p>“Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan ketika dalam kondisi mukim. Apabila beliau bersafar, maka beliau beri’tikaf pada tahun berikutnya selama dua puluh hari.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html#_ftn23"><em><strong>[23]</strong></em></a></p>
<p>Begitupula hadits Ubay bin Ka’ab <em>radhiallahu ‘anhu</em>, beliau mengatakan,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَعْتَكِفُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ<strong> </strong>رَمَضَانَ فَسَافَرَ سَنَةً فَلَمْ يَعْتَكِفْ فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْماً</p>
<p><em>“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Kemudian beliau pernah bersafar selama setahun dan tidak beri’tikaf, akhirnya beliau pun beri’tikaf pada tahun berikutnya selama dua puluh hari.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html#_ftn24">[24]</a></p>
<p>Sisi argumen dari hadits di atas adalah nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> beri’tikaf selama dua puluh hari. Hal ini menunjukkan pensyari’atan beri’tikaf pada selain sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Tindakan beliau ini bukanlah qadha, karena kalau terhitung sebagai qadha tentu nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> akan bersegera menunaikannya sebagaimana kebiasaan nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>d. Adanya berbagai riwayat dari nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan para sahabat <em>radhiallahu ‘anhu</em> yang menyatakan puasa sebagai syarat i’tikaf dan sebaliknya terdapat riwayat yang menyatakan puasa bukanlah syarat i’tikaf. Hal ini mengisyaratkan bahwa i’tikaf disyari’atkan di setiap waktu, tidak hanya di bulan Ramadhan atau pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Karena jika I’tikaf tidak boleh dilaksanakan kecuali pada bulan Ramadhan atau sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, maka adanya perbedaan pendapat dalam penentuan puasa sebagai syarat atau tidak tidak akan mencuat.</p>
<p>Tujuan i’tikaf adalah mengumpulkan hati kepada Allah <em>ta’ala</em>, menghadap kepada-Nya, dan berpaling dari selain-Nya dan hal ini tentunya dapat terealisasi di segala waktu. Namun, pada waktu-waktu tertentu, seperti di bulan Ramadhan terutama pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, ibadah I’tikaf lebih ditekankan untuk dilakukan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>-bersambung insya Allah-</em></p>
<hr size="1" />
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html#_ftnref1">[1]</a> <em>Mukhtar ash-Shihhah</em> 1/467.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html#_ftnref2">[2]</a> <em>Al Mishbah al Munir</em> 2/424.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html#_ftnref3">[3]</a> <em>Fiqh al-I’tikaf</em> hal.24.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html#_ftnref4">[4]</a> <em>Syarh Shahih Muslim</em> 8/66, dikutip dari <em>al-Inshaf fi Hukm al-I’tikaf</em> hlm. 5.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html#_ftnref5">[5]</a> <em>Fiqh al-I’tikaf</em> hal. 31</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html#_ftnref6">[6]</a> HR. Bukhari dan Muslim</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html#_ftnref7">[7]</a> HR. Bukhari dan Muslim</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html#_ftnref8">[8]</a> <em>Al Ijma’</em> hlm. 7; Asy Syamilah.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html#_ftnref9">[9]</a> <em>Al Majmu’</em> 6/475; Asy Syamilah</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html#_ftnref10">[10]</a> <em>Fath al-Baari</em> 4/271</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html#_ftnref11">[11]</a> HR. Muslim: 1167.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html#_ftnref12">[12]</a> HR. Bukhari: 6318.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html#_ftnref13">[13]</a> HR. Bukhari: 1927.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html#_ftnref14">[14]</a> <em>Fath al-Baari</em> 4/271</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html#_ftnref15">[15]</a> Ibnu Rusyd dalam <em>Bidayah al-Mujtahid</em> 1/312 menyatakan bahwa imam Malik menganggap makruh ibadah i’tikaf. Imam Malik berganggapan tidak ada sahabat yang melakukan I’tikaf. Namun, kita dapat mengetahui bahwa pendapat beliau tersebut bertentangan dengan dalil-dalil yang telah dipaparkan. Silahkan melihat <em>Fiqh al-Itikaf</em> hal. 34-37 untuk melihat pembahasan yang lebih luas.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html#_ftnref16">[16]</a> HR. Bukhari: 1940.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html#_ftnref17">[17]</a> HR. Ibnu Khuzaimah: 2224.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html#_ftnref18">[18]</a> HR. Bukhari: 831 dan Muslim: 445</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html#_ftnref19">[19]</a> <em>Zaad al-Ma’ad</em> 2/82.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html#_ftnref20">[20]</a> <em>Badai’ ash-Shanai’</em> 2/273, <em>Kifayah al Akhyar</em> 1/297, <em>Al Mughni</em> 3/122.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html#_ftnref21">[21]</a> HR. Bukhari: 1936 dan Muslim: 1172. Hal ini dilakukan karena beliau pernah meninggalkan i’tikaf di bulan Ramadhan dan menggantinya di bulan Syawwal.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html#_ftnref22">[22]</a> HR. Bukhari: 1927.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html#_ftnref23">[23]</a> HR. Ahmad: 12036.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html#_ftnref24">[24]</a> HR. Ahmad: 21314.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Penulis: M. Nur Ichwan Muslim<br />
Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-6745"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Ffiqih-ringkas-itikaf-1.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Ffiqih-ringkas-itikaf-1.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Ffiqih-ringkas-itikaf-1.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Semakin Semangat Ibadah di Akhir Ramadhan</title>
		<link>http://muslim.or.id/ramadhan/semakin-semangat-ibadah-di-akhir-ramadhan.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/ramadhan/semakin-semangat-ibadah-di-akhir-ramadhan.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Aug 2011 09:00:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Lailatul Qadar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=6736</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Sebagian kaum muslimin di akhir Ramadhan malah tersibukkan dengan hal-hal dunia. Dirinya lebih memikirkan pulang mudik, baju baru<a class="more" href="http://muslim.or.id/ramadhan/semakin-semangat-ibadah-di-akhir-ramadhan.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><em>Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.</em></p>
<p>Sebagian kaum muslimin di akhir Ramadhan malah tersibukkan dengan hal-hal dunia. Dirinya lebih memikirkan pulang mudik, baju baru dan silaturahmi kepada kerabat. Contoh dari suri tauladan kita tidaklah demikian. Di akhir Ramadhan, Rasul shallallahu &#8216;alaihi wa sallam lebih tersibukkan dengan ibadah, apalagi shalat malam.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Raih Lailatul Qadar</strong></span></p>
<p>Selayaknya bagi setiap mukmin untuk terus semangat dalam beribahadah di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan lebih dari lainnya. Di sepuluh hari terakhir tersebut terdapat lailatul qadar. Allah Ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p style="text-align: center;">لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ</p>
<p>&#8220;<em>Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan</em>&#8221; (QS. Al Qadar: 3). Lailatul qadar adalah malam yang penuh kemuliaan. Telah terdapat keutamaan yang besar bagi orang yang menghidupkan malam tersebut. Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p style="text-align: center;">مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ</p>
<p>“<em>Barangsiapa melaksanakan shalat pada lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni</em>.” (HR. Bukhari no. 1901)</p>
<p>An Nakho’i mengatakan, “Amalan di lailatul qadar lebih baik dari amalan di 1000 bulan.” (Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 341). Mujahid, Qotadah dan ulama lainnya berpendapat bahwa yang dimaksud dengan lebih baik dari seribu bulan adalah shalat dan amalan pada lailatul qadar lebih baik dari shalat dan puasa di 1000 bulan yang tidak terdapat lailatul qadar (Zaadul Masiir, 9/191).</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kapan Lailatul Qadar Terjadi?</strong></span></p>
<p>Lailatul Qadar itu terjadi pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,</p>
<p style="text-align: center;">تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ</p>
<p>“<em>Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan</em>.” (HR. Bukhari no. 2020 dan Muslim no. 1169)</p>
<p>Terjadinya lailatul qadar di malam-malam ganjil lebih memungkinkan daripada malam-malam genap, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,</p>
<p style="text-align: center;">تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ</p>
<p>“<em>Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan</em>.” (HR. Bukhari no. 2017)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Tidak Perlu Mencari Tanda</strong></span></p>
<p>Sebagian orang sibuk mencari tanda kapan lailatul qadar terjadi. Namun sebenarnya tanda tersebut tidak perlu dicari. Tugas kita di akhir Ramadhan, pokoknya terus perbanyak ibadah. Karena kalau sibuk mencari tanda malam tersebut, kita malah tidak akan memperbanyak ibadah. Walaupun memang ada tanda-tanda tertentu kala itu.  Tanda tersebut di antaranya:</p>
<p><em>Pertama</em>, udara dan angin sekitar terasa tenang. Sebagaimana dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “<em>Lailatul qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar tidak begitu cerah dan nampak kemerah-merahan</em>.” (HR. Ath Thoyalisi dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, lihat Jaami’ul Ahadits 18/361, shahih)</p>
<p><em>Kedua</em>, malaikat turun dengan membawa ketenangan sehingga manusia merasakan ketenangan tersebut dan merasakan kelezatan dalam beribadah yang tidak dirasakan pada hari-hari yang lain.</p>
<p><em>Ketiga</em>, manusia dapat melihat malam ini dalam mimpinya sebagaimana terjadi pada sebagian sahabat.</p>
<p><em>Keempat</em>, matahari akan terbit pada pagi harinya dalam keadaan jernih, tanpa sinar yang menyorot. Dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata, “<em>Malam itu adalah malam yang cerah yaitu malam ke dua puluh tujuh (dari bulan Ramadlan). Dan tanda-tandanya ialah pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa sinar yang menyorot</em>.” (HR. Muslim no. 762)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Jika Engkau Dapati Lailatul Qadar</strong></span></p>
<p>Sangat dianjurkan untuk memperbanyak do’a pada lailatul qadar, lebih-lebih do’a yang dianjurkan oleh suri tauladan kita –Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagaimana terdapat dalam hadits dari Aisyah. Beliau radhiyallahu ‘anha berkata,</p>
<p style="text-align: center;">يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ « قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى</p>
<p>”<em>Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang mesti aku ucapkan saat itu?” Beliau menjawab, ”Katakanlah: ‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ (Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku).</em>” (HR. Tirmidzi no. 3513, Ibnu Majah no. 3850, dan Ahmad 6/171, shahih)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Lebih Giat Ibadah di Akhir Ramadhan</strong></span></p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> terlihat lebih rajin di akhir Ramadhan lebih dari hari-hari lainnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits,</p>
<p style="text-align: center;">كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ.</p>
<p>“<em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya</em>.” (HR. Muslim no. 1175)</p>
<p>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi contoh dengan memperbanyak ibadahnya saat sepuluh hari terakhir Ramadhan. Untuk maksud tersebut beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai menjauhi istri-istri beliau dari berhubungan intim. Beliau pun tidak lupa mendorong keluarganya dengan membangunkan mereka untuk melakukan ketaatan pada malam sepuluh hari terakhir Ramadhan.</p>
<p>‘Aisyah mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;">كَانَ النَّبِىُّ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ</p>
<p>“<em>Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya</em>.” (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174). Imam Nawawi rahimahullah berkata, &#8220;Disunnahkan untuk memperbanyak ibadah di akhir Ramadhan dan disunnahkan pula untuk menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah.&#8221; (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 8:71)</p>
<p>Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Aku sangat senang jika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan untuk bertahajud di malam hari dan giat ibadah pada malam-malam tersebut.” Sufyan pun mengajak keluarga dan anak-anaknya untuk melaksanakan shalat jika mereka mampu. (Latho-if Al Ma’arif, hal. 331)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Menghidupkan Malam Penuh Kemuliaan</strong></span></p>
<p>Adapun yang dimaksudkan dengan menghidupkan lailatul qadar adalah menghidupkan mayoritas malam dengan ibadah dan tidak mesti seluruh malam. Bahkan Imam Asy Syafi’i dalam pendapat yang dulu mengatakan, “Barangsiapa yang mengerjakan shalat Isya’ dan shalat Shubuh di malam qadar, ia berarti telah dinilai menghidupkan malam tersebut”. (Latho-if Al Ma’arif, hal. 329). Menghidupkan malam lailatul qadar pun bukan hanya dengan shalat, bisa pula dengan dzikir dan tilawah Al Qur’an (‘Aunul Ma’bud, 4/176). Namun amalan shalat lebih utama dari amalan lainnya di malam lailatul qadar berdasarkan hadits, “<em>Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.</em>” (HR. Bukhari no. 1901).</p>
<p>Jika seorang meraih lailatul qadar dengan i&#8217;tikaf, itu lebih bagus. Namun i&#8217;tikaf bukanlah syarat untuk dapati malam kemuliaan tersebut. Begitu pula bukanlah syarat mesti di masjid untuk dapati lailatul qadar. Juwaibir pernah mengatakan bahwa dia pernah bertanya pada Adh Dhohak, “Bagaimana pendapatmu dengan wanita nifas, haidh, musafir dan orang yang tidur (namun hatinya tidak lalai dalam dzikir), apakah mereka bisa mendapatkan bagian dari lailatul qadar?” Adh Dhohak pun menjawab, “Iya, mereka tetap bisa mendapatkan bagian. Siapa saja yang Allah terima amalannya, dia akan mendapatkan bagian malam tersebut.” (Latho-if Al Ma’arif, hal. 341).</p>
<p>Semoga Allah beri taufik kepada kita sekalian untuk terus perbanyak ibadah di akhir-akhir Ramadhan dan moga kita juga termasuk hamba yang mendapatkan malam penuh kemuliaan, lailatul qadar. Wallahu waliyyut taufiq.</p>
<p style="text-align: center;"><em>Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.</em></p>
<p>Panggang-Gunung Kidul, 17 Ramadhan 1432 H (17/08/2011)</p>
<p>Penulis: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-6736"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Framadhan%2Fsemakin-semangat-ibadah-di-akhir-ramadhan.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Framadhan%2Fsemakin-semangat-ibadah-di-akhir-ramadhan.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Framadhan%2Fsemakin-semangat-ibadah-di-akhir-ramadhan.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/ramadhan/semakin-semangat-ibadah-di-akhir-ramadhan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengumuman Pemenang Lomba Penulisan Naskah Kultum Ramadhan 1432 H</title>
		<link>http://muslim.or.id/dari-redaksi/pengumuman-pemenang-lomba-penulisan-naskah-kultum-ramadhan-1432-h.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/dari-redaksi/pengumuman-pemenang-lomba-penulisan-naskah-kultum-ramadhan-1432-h.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Aug 2011 04:31:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yhouga</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Redaksi]]></category>
		<category><![CDATA[kultum. lomba]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=6726</guid>
		<description><![CDATA[Kepada: Segenap peserta Lomba Penulisan Naskah Kultum Tingkat Nasional -semoga mendapatkan curahan rahmat-Nya- &#160; Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Bismillah, alhamdulillah… Atas nikmat dan anugrah dari Allah subhanahu wa ta’ala, maka Lomba Penulisan Naskah Kultum Ramadhan 1432 H dapat<a class="more" href="http://muslim.or.id/dari-redaksi/pengumuman-pemenang-lomba-penulisan-naskah-kultum-ramadhan-1432-h.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Kepada:<br />
Segenap peserta Lomba<br />
Penulisan Naskah Kultum Tingkat Nasional<br />
<em>-semoga mendapatkan curahan rahmat-Nya-</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh</p>
<p>Bismillah, alhamdulillah… Atas nikmat dan anugrah dari Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em>, maka Lomba Penulisan Naskah Kultum Ramadhan 1432 H dapat terlaksana. Kami ucapkan <em>jazakumullahu khairan</em>atas partisipasi para kaum muslimin yang telah mengirimkan naskah, dan telah dilakukan penilaian terhadap naskah yang diterima. <strong>Kami mohon ma’af sebesar-besarnya atas keterlambatan pengumuman ini</strong>.</p>
<p>Dengan ini, kami sampaikan pengumuman untuk hadiah utama dan  hadiah hiburan. Sebagaimana pengumuman yang telah disampaikan pada website muslim.or.id, bahwa ada 5 kategori yang akan didapatkan juara utamanya. Yaitu kategori: aqidah, tafsir, hadits, fiqh, dan akhlaq.</p>
<p><strong>Pemenang Hadiah Utama</strong></p>
<p>Pemenang untuk hadiah utama untuk masing-masing kategori</p>
<p>1. Kategori Aqidah:<br />
Johan Saputra asal Lombok Barat, NTB dengan judul tulisan <strong>Manajemen Pahala di Bulan Ramadhan Yang Mulia</strong>.</p>
<p>2. Kategori Tafsir:<br />
Tomo Abu Yunus asal Sukoharjo, Jawa Tengah dengan judul <strong>Menggapai Surga di Malam Lailatul Qadr</strong>.</p>
<p>3. Kategori Hadits:<br />
Muhammad Cholid Abdurrohman asal Bojong Rawalumbu, Bekasi dengan judul <strong>Ramadhan Kau Mengalihkan Duniaku</strong></p>
<p>4. Kategori Fiqh:<br />
Imroatul Azizah asal Kota Gede, Yogyakarta dengan judul tulisan <strong>Mengingat Kembali Hadits-Hadits Sifat Sahur Nabi Untuk Meraih Surga di Bulan Mulia</strong> .</p>
<p>5. Kategori Akhlaq:<br />
Muhammad Julianto asal Wonogiri dengan judul tulisan <strong>Profil Waladun Sholihun</strong></p>
<p><strong>Pemenang Hadiah Hiburan:</strong></p>
<p>Selain pemenang hadiah utama, juga ada pemenang hadiah hiburan. Pada pengumuman yang sudah disampaikan bahwa ada 5 pemenang hadiah hiburan untuk masing-masing kategori (jadi, total pemenang hadiah hiburan seharusnya <strong>25 orang</strong>). Tapi, dengan pertimbangan dari juri dan penentuan kadar minimal kecukupan, <strong>hanya ada 17 pemenang untuk hadiah hiburan</strong>. Berikut ini nama pemenang dan judul naskahnya.</p>
<p>1. Mustafa Kamal judul naskah <em>Menggapai Surga di Bulan Mulia</em><br />
2. Lina Hidayatun Nisak judul naskah <em>Syukuri Ramadhan dengan Kesederhanaan</em><br />
3. Yhouga Ariesta M dengan judul <em>Tiga Sifat Orang Bertakwa</em><br />
4. Sunardi judul naskah <em>Syariat Puasa</em><br />
5. Muhammad Iqbal judul naskah <em>Empat Kelompok Manusia Penghuni Dunia</em><br />
6. Zaky Karami judul naskah <em>Menggapai Surga dengan Amalan-Amalan Mulia</em><br />
7. Himyar Bahalawan judul naskah <em>Menggapai Surga di Bulan Mulia</em><br />
8. Didin Abidin judul naskah <em>Menggapai Surga di Bulan Mulia</em><br />
9. Hedi Sumantri judul naskah <em>4 Amal Pembuka Pintu Surga</em><br />
10. Frendy Ahmad Afandi judul naskah <em>Meningkatkan Kualitas dan Kuantitas Ibadah</em><br />
11. Harrys Pratama Teguh judul naskah <em>Ramadhan Momentum Tepat untuk Taubat</em><br />
12. Hanifudin judul naskah <em>Bersihkan Ibadah, Murnikan Ibadah, dan Raihlah Berkah</em><br />
13. Minanurrohman judul naskah <em>Kita Belum Bertaqwa Setelah Ramadhan</em><br />
14. Shofa Robbani judul naskah <em>Menggapai Surga Dengan Akhlak Karimah di Bulan Penuh   Berkah</em><br />
15. Irwan Syaputra L judul naskah <em>Ramadhan Momentum Untuk Menempa Akhlak Mulia</em><br />
16. Sukahar Ahmad Syafii judul naskah <em>Ramadhan, Bulan membentuk Akhlak dan Meraih Rahmat</em><br />
17. Abu Ibrahim Haris Hananto judul naskah <em>Puasa Mendidik Hawa Nafsu</em></p>
<p><strong>Pengambilan Hadiah</strong></p>
<p>Pemenang lomba telah kami hubungi langsung melalui ponsel, dan sudah kami beritahu mengenai tata cara pengambilan hadiah.</p>
<p><strong>Permohonan Maaf</strong></p>
<p>Kami juga menyampaikan permintaan maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan dan kekhilafan yang secara sengaja atau tidak sengaja telah dilakukan oleh panitia/penyelenggara Lomba Penulisan Naskah Kultum Ramadhan 1432 H.</p>
<p>Saran dan kritik dari para pembaca akan kami terima sebagai perbaikan berkelanjutan bagi panitia pada khususnya dan bagi kita semua pada umumnya.</p>
<p>Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh</p>
<p>Yogyakarta, 15 Ramadhan 1432 H/15 Agustus 2011</p>
<p><strong>Panitia</strong></p>
<div class="shr-publisher-6726"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fdari-redaksi%2Fpengumuman-pemenang-lomba-penulisan-naskah-kultum-ramadhan-1432-h.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fdari-redaksi%2Fpengumuman-pemenang-lomba-penulisan-naskah-kultum-ramadhan-1432-h.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fdari-redaksi%2Fpengumuman-pemenang-lomba-penulisan-naskah-kultum-ramadhan-1432-h.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/dari-redaksi/pengumuman-pemenang-lomba-penulisan-naskah-kultum-ramadhan-1432-h.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Laporan Donasi Semarak Ramadhan 1432 H Per 24 Ramadhan (24/8/2011)</title>
		<link>http://muslim.or.id/dari-redaksi/laporan-donasi-semarak-ramadhan-1432-h-per-11-ramadhan-1182011.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/dari-redaksi/laporan-donasi-semarak-ramadhan-1432-h-per-11-ramadhan-1182011.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Aug 2011 14:47:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yhouga</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Redaksi]]></category>
		<category><![CDATA[Donasi]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[ypia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=6707</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, salawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah. Amma ba&#8217;du. &#160; Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari mengadakan serangkaian kegiatan dakwah selama bulan Ramadhan 1432 H ini. Mudah-mudahan kegiatan yang direncanakan bisa terlaksana dengan baik<a class="more" href="http://muslim.or.id/dari-redaksi/laporan-donasi-semarak-ramadhan-1432-h-per-11-ramadhan-1182011.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Segala puji bagi Allah, salawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah. <em>Amma ba&#8217;du</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari mengadakan serangkaian kegiatan dakwah selama bulan Ramadhan 1432 H ini. Mudah-mudahan kegiatan yang direncanakan bisa terlaksana dengan baik dan diberkahi oleh Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Bentuk Kegiatan</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kegiatan ini mencakup:</p>
<ol>
<li>Penerbitan Buku Panduan Ramadhan</li>
<li>Kultum Ramadhan</li>
<li>Buletin Kultum Ramadhan</li>
<li>Kajian Tematik Ramadhan</li>
<li>Kajian Kitab Sore Hari</li>
<li>Bantuan Buka Puasa</li>
<li>Buka Bersama Wisma Muslim</li>
<li>Pendadaran (Pendidikan Bahasa Arab Dasar Ramadhan)</li>
<li>Daurah Shorof Dasar dan Baca Kitab</li>
<li>Bimbingan Tahsin al-Qur’an</li>
<li>SMS Tausiyah</li>
<li>Penerbitan Brosur Mudik dan Idul Fitri</li>
<li>Bingkisan Hari Raya</li>
<li>Ramadhan di Lereng Merapi</li>
</ol>
<p><strong>Link Download Proposal</strong>:</p>
<p>http://www.4shared.com/document/gtKnCHhn/Prop_Ramadhan-1432H.html</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Laporan Donasi</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Berikut ini adalah laporan sementara donasi kegiatan ramadhan yang terkumpul per 24<strong> Ramadhan 1432 H</strong>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>1 Agustus 2011::Iqbal//1000000/via mandiri// untuk muslim or.id dan attauhid</p>
<p>1 Agustus 2011::Abu Abdillah Mega//500000//via mandiri// Untuk Buku panduan Romadhon</p>
<p>1 Agustus 2011::Srihadi Agungpriyono//250000// via mandiri//Untuk Buku Panduan Romadhon</p>
<p>1 Agustus 2011::rekening an nurul//500000//via bca//untuk semarak Romadhon</p>
<p>1 Agustus 2011::Nurul Hadi &#8211; Riau//1150000//via mandiri//Untuk YPIA</p>
<p>1 Agustus 2011::Yunita P//100000//via mandiri// Untuk Mobil Dakwah</p>
<p>1 Agustus 2011::Muhaimin Ashuri//300000//langsung// Untuk Buku Panduan Romadhon</p>
<p>1 Agustus 2011::Hamba Allah//100000/langsung//Untuk Buku Panduan Romadhon</p>
<p>2 Agustus 2011::Ekawanto(Abu Zacky)//100000//bca//Untuk Buku Panduan Romadhon</p>
<p>2 Agustus 2011::x2//100000//via bca//untuk semarak romadhon</p>
<p>2 Agustus 2011::fadhil/100000//via mandiri//untuk semarak romadhon</p>
<p>3 Agustus 2011::Abdul Haq/200000//via mandiri/untuk semarak romadhon</p>
<p>3 Agustus 2011::Bu Elly//300000/via bca//untuk buletin attauhid</p>
<p>3 Agustus 2011::Romadhona//150000//via mandiri//untuk semarak romadhon</p>
<p>3 Agustus 2011::Bu Erika//900000//langsung//untuk semarak romadhon</p>
<p>3 Agustus 2011::Anisa Tangerang//100000//via mandiri//semarak romadhon</p>
<p>3 Agustus 2011::Hamba Allah Bekasi//50000//langsung/uuntuk mobil dakwah</p>
<p>3 Agustus 2011::Hamba Allah//100000//via mandiri/untuk semarak romadhon</p>
<p>3 Agustus 2011::Suganda//150000/via rekening bni/ semarak romadhon</p>
<p>3 Agustus 2011:: Bu Ayus Siti/1000000//Via Rek Mandiri//Untuk Semarak Romadhon</p>
<p>3 Agustus 2011:: Abahnya Nabil//200000//via BNI//Untuk buku panduan romadhon</p>
<p>3 Agustus 2011:: Januardo//100.000//via bni syariah//semarak romadhon</p>
<p>4 Agustus 2011:: Abu Muhammad//100.000//via mandiri/FKKA</p>
<p>4 Agustus 2011:: Hamba Allah//50.000//via mandiri/ypia</p>
<p>4 Agustus 2011:: Pak Djarwo//50.000/via bni syariah//untuk radio</p>
<p>4 Agustus 2011:: Arif//100.000//via bni syariah//untuk semarak romadhon</p>
<p>4 Agustus 2011:: Intan Singapore//702.000/rek bca radio muslim// untuk radio &amp; semarak romadhon</p>
<p>5 Agustus 2011:: Hamba Allah// 500.000//via Bni//Untuk SMS Tausiyah</p>
<p>5 Agustus 2011:: Ummu Asma&#8217;//200.000//via mandiri//untuk semarak romadhon</p>
<p>5 Agustus 2011:: Wahyu Winarto//100.000//via mandiri//untuk semarak romadhon</p>
<p>5 Agustus 2011:: Taslim//1.000.000//via mandiri//untuk semarak romadhon</p>
<p>6 Agustus 2011:: Pranoto Budi//400.000// via mandiri//Untuk YPIA</p>
<p>6 Agustus 2011:: Rumaysho.com//5.000.000//langsung//untuk buka bersama di merapi</p>
<p>6 Agustus 2011:: Hamba Allah//250.000//Langsung//semarak romadhon</p>
<p>7 Agustus 2011:: 0811121***//100.000//untuk mobil dakwah</p>
<p>7 Agustus 2011:: Farsa//100.000//via bni//untuk semarak romadhon</p>
<p>7 Agustus 2011:: Hamba Allah///221.000/via  mandiri//semarak romadhon</p>
<p>7 Agustus 2011:: Hamba Allah//221.000//via  mandiri//buka bersama wisma muslim</p>
<p>7 Agustus 2011:: Hamba Allah/101.000//via  mandiri//ramadhan di merapi</p>
<p>7 Agustus 2011:: Keluarga Supramana//1.000.000//via  mandiri//untuk buka bersama di mpr</p>
<p>7 Agustus 2011:: Muhammad Richard s//350.000//via bca//semarak romadhon</p>
<p>7 Agustus 2011:: Abdullah cilegon//100/ via bca// semarak romadhon</p>
<p>8 Agustus 2011:: Ikhwan Bogor//50.000//via Bca//untuk semarak romadhon</p>
<p>8 Agustus 2011:: Hamba Allah Qatar//500.000//Via BCA//untuk semarak romadhon</p>
<p>8 Agustus 2011:: Pak Nidzar//50.000//via Bni//untuk mobil dakwah</p>
<p>9 Agustus 2011:: Ellen///150.000/via Bca/untuk mobil dakwah</p>
<p>9 Agustus 2011:: Hamba Allah//500.000//via mandiri//untuk semarak romadhon-Bukber Wisma Muslim</p>
<p>10 Agustus 2011:: Hamba Allah//500.000//via mandiri//untuk semarak romadhon</p>
<p>10 Agustus 2011:: Hamba Allah//400.000//via mandiri//untuk semarak romadhon</p>
<p>10 Agustus 2011:: Yuan// 100.000//via Mandiri//Untuk Semarak Romadhon</p>
<p>10 Agustus 2011:: Andi I//600.000//via Mandiri//Untuk YPIA</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>11 Agustus 2011:: Hamba Allah//50.000//langsung//untuk semarak romadhon</p>
<p>11 Agustus 2011:: Staff Mediu//400.000//langsung//untuk buletin attauhid</p>
<p>11 Agustus 2011:: Staff Mediu//760.000//langsung//untuk YPIA</p>
<p>11 Agustus 2011:: Crew Radio Muslim//700.000//langsung//Bingkisan untuk ustadz</p>
<p>11 Agustus 2011:: Haryo Abu Faqih//635.298//via bca//semarak romadhon-bukber wisma muslim</p>
<p>11 Agustus 2011:: Andes//300.000//via bca//untuk semarak romadhon</p>
<p>11 Agustus 2011:: Abdurrahman//500.000//langsung//untuk semarak romadhon-merapi</p>
<p>11 Agustus 2011:: Andi I//2.000.000//langsung//buka bersama merapi</p>
<p>11 Agustus 2011:: Rudianto//500.000//via mandiri// semarak romadhon</p>
<p>12-Aug-2011//Crew Muslim.or.id//500.00//langsung//semarak romadhon-bingkisan untuk tokoh masyarkat</p>
<p>12-Aug-2011//Hamba Allah//500.000//via bni//untuk semarak romadhon-bukber</p>
<p>12-Aug-2011//Muhtar Arifin//500.002//via mandiri//untuk bukber di merapi</p>
<p>12-Aug-2011//wahyu arif dermawan//250.000//via bca//untuk semarak romadhon</p>
<p>13-Aug-2011//Hamba Allah//50.000// via bni//semarak romadhon</p>
<p>13-Aug-2011//Iswanto//200.000//langsung// mobil dakwah</p>
<p>13-Aug-2011//Abu Keisha//150.000// via bni/semarak romadhon</p>
<p>15-Aug-2011//Bu Mayang//50.000//via bni//radio muslim</p>
<p>15 Aug 2011//Hamba Allah//100.000//langsung//semarak romadhon</p>
<p>15-Aug-2011//Bayu//50.000//mandiri// semarak romadhon</p>
<p>16-Aug-2011//Ayu Siti Nurul//500.000//via Bca Syarif// Buku Panduan</p>
<p>16-Aug-2011//Ayu Siti Nurul//300.000//via Bca syarif//semarak romadhon</p>
<p>16-Aug-2011//Tingkir//50.000//langsung//buku panduan dan attauhid</p>
<p>16-Aug-2011//Yuli//50.000//via mandiri//untuk mobil dakwah</p>
<p>16-Aug-2011//Pak Tri A//500.000//via bni//santri jamilurrahman</p>
<p>16-Aug-2011//Hamba Allah//394.000//via bni//Radio Muslim</p>
<p>16-Aug-2011//Hamba Allah//303.000//via bni//semarak romadhon</p>
<p>16-Aug-2011//Hamba Allah//303.000//via bni//Kegiatan Merapi</p>
<p>17-Aug-2011//Abdullah//150.000/langsung//buku panduan</p>
<p>17-Aug-2011//08564890****//100.000//via mandiri//semarak romadhon</p>
<p>18-Aug-2011//Pengajian Al Hujjah//3.000.000//via bca//semarak romadhon</p>
<p>18-Aug-2011//No name//250.00//via bni//semarak romadhon</p>
<p>18-Aug-2011//Hamba Allah//50.000//langsung//semarak romadhon</p>
<p>19-Aug-2011//Bagus Gunung Putri//Rp50.000//BCA//Semarak Romadhon</p>
<p>19-Aug-2011//Rumaysho.com//Rp6.500.000//Langsung//Buka Bersama di Merapi</p>
<p>19-Aug-2011//Bu Barkah//Rp1.000.000//Langsung//YPIA</p>
<p>19-Aug-2011//Hamba Allah//Rp1.000.000//Mandiri//Buka Puasa</p>
<p>19-Aug-2011//Hamba Allah Qatar//Rp3.000.000//Mandiri//mobil Dakwah</p>
<p>19-Aug-2011//Hamba Allah//Rp2.500.000//BCA//Mobil Dakwah</p>
<p>19-Aug-2011//Hamba Allah// Rp17.500.000//BCA//Pinjaman untuk Mobil Dakwah</p>
<p>19-Aug-2011//Arinto//Rp504.720//BCA//Mobil Dakwah</p>
<p>20-Aug-2011//Ummu Ahmad//Rp500.000 //BCA//Buku Panduan Romadhon</p>
<p>20-Aug-2011//081215035781//Rp850.000//BCA//semarak romadhon</p>
<p>21-Aug-2011//Bu Kusmarlina//Rp1.000.000//Mandiri//YPIA</p>
<p>21-Aug-2011//Hamba Allah//Rp100.000//Langsung//Semarak Romadhon</p>
<p>22-Agust-11//Pengadilan Agama Munkid MGL//Rp400.000//BNI//buku Panduan Romadhon</p>
<p>23-Agust-11//Pranoto Budi//Rp400.000//Mandiri//YPIA</p>
<p>23-Agust-11//Bambang S//Rp300.000//BNI//YPIA</p>
<p>23-Agust-11//Nu Cholifah//Rp100.000//Mandiri//YPIA</p>
<p>23-Aug-2011//Hamba Allah//Rp500.000//Mandiri//Semarak Romadhon</p>
<p>23-Aug-2011//Hamba Allah//Rp100.000//Langsung//Semarak Romadhon</p>
<p>23-Aug-2011//Bu Sugeng//Rp500.000//Langsung//YPIA</p>
<p>23-Aug-2011//wahyu DC//Rp200.000//Langsung//YPIA</p>
<p>24-Aug-2011//No name//Rp50.000//Mandiri//YPIA</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Total Hingga 24 Agustus 2011, pukul 22:50</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Rp.70.593.020 </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ttd.</p>
<p><strong>Kepala Biro Donasi</strong></p>
<p>Abu Hasan Putra</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>NB: Bagi kaum muslimin yang tertarik untuk berpartisipasi dalam donasi kegiatan ramadhan ini, silahkan mengirimkan ke salah satu rekening donasi kegiatan ini :</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Rekening Donasi</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>:: Rekening Bank Mandiri cabang UGM (Yogyakarta). Atas Nama : Satria Buana – muslim.or.id.</p>
<p>No. Rekening : <strong>137 00 0503568 4</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>:: Rekening Bank BNI Syari’ah. Atas Nama : Syarif Mustaqim QQ LBIA.</p>
<p>No. Rekening : <strong>0105338917</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>:: Rekening Bank BCA. Atas Nama : Satria Buana – muslim.or.id.</p>
<p>No. Rekening : <strong>2951825893</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>:: Western Union (pos) dan Money Gram. Atas Nama : Retno Syaputra.,ST. Alamat : Wisma Misfallah Tholabul Ilmi, Pogung Kidul No. 8C RT. 01 RW. 49. Sleman, Yogyakarta, Indonesia 55284</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>:: PIN BBM :: 308F4D20</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Catatan</strong>: Setiap donatur harap mengkonfirmasikan donasinya ke nomor: 0856 644 00 941  (Abu Hasan Putra) atau via Yahoo Messenger (YM): mhasan_fadhilah.</p>
<div class="shr-publisher-6707"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fdari-redaksi%2Flaporan-donasi-semarak-ramadhan-1432-h-per-11-ramadhan-1182011.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fdari-redaksi%2Flaporan-donasi-semarak-ramadhan-1432-h-per-11-ramadhan-1182011.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fdari-redaksi%2Flaporan-donasi-semarak-ramadhan-1432-h-per-11-ramadhan-1182011.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/dari-redaksi/laporan-donasi-semarak-ramadhan-1432-h-per-11-ramadhan-1182011.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Konsumsi Obat Penghalang Haidh Ketika Ramadhan</title>
		<link>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/konsumsi-obat-penghalang-haidh-ketika-ramadhan.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/konsumsi-obat-penghalang-haidh-ketika-ramadhan.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Aug 2011 23:00:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh dan Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[haidh]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=6703</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi wa sallam. Kita telah mengetahui bersama bahwa puasa adalah amalan mulia. Ganjaran di balik amalan tersebut pun bisa jadi tak terhingga. Oleh karena<a class="more" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/konsumsi-obat-penghalang-haidh-ketika-ramadhan.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><em>Alhamdulillah, wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi wa sallam.</em></p>
<p>Kita telah mengetahui bersama bahwa puasa adalah amalan mulia. Ganjaran di balik amalan tersebut pun bisa jadi tak terhingga. Oleh karena itu, setiap orang yang beriman dengan benar pasti tidak ingin luput dari amalan yang mulia ini. Termasuk pula para wanita muslimah, mereka pun sangat ingin sekali menunaikan puasa sebulan penuh, tanpa luput sehari pun juga. Padahal selama belum monopause, si wanita sesuai ketentuan Allah, biasanya mengalami haidh setiap bulannya. Di bulan Ramadhan pun ia akan mendapati masa haidh tersebut. Sehingga ia mesti mengqodho’nya di luar Ramadhan. Yang jadi permasalahan, apabila si wanita menggunakan obat-obatan untuk menghalangi datangnya haidh agar ia dapat berpuasa secara sempurna. Atau sebagian wanita juga punya keinginan untuk bisa menikmati lailatul qadar di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sehingga ia pun menggunakan obat-obatan tersebut untuk menghalangi datang bulan. Apakah menggunakan obat-obatan semacam itu dibolehkan?</p>
<p>Inilah pembahasan yang akan kami angkat pada kesempatan kali ini.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Pendapat Ulama Masa Silam</strong></span></p>
<p>‘Abdur Rozaq telah menceritakan pada kami, (ia berkata) telah menceritakan Ibnu Jarir pada kami,  (ia berkata) bahwa ‘Atho’ ditanya mengenai seorang wanita yang datang haidh lantas ia menggunakan obat-obatan untuk menghilangkan haidhnya padahal itu di masa haidnya, apakah ia boleh melakukan thowaf?</p>
<p dir="RTL" align="center">نعم إذا رأت الطهر فإذا هي رأت خفوقا ولم تر الطهر الأبيض فلا</p>
<p>“Ia boleh thowaf jika ia telah suci. Jika ia melihat suatu yang kering, namun belum terlihat tanda suci, maka ia tidak boleh thowaf”, jawab ‘Atho’. (Mushonnaf ‘Abdur Rozaq, 1219)</p>
<p>‘Abdur Rozaq telah menceritakan pada kami, (ia berkata) telah menceritakan Ma’mar pada kami,  (ia berkata) telah menceritakan pada kami Washil, bekas budak Ibnu ‘Uyainah, (ia berkata) ada seseorang yang bertanya pada Ibnu ‘Umar mengenai wanita yang begitu lama mengalami haidh lalu ia ingin mengkonsumsi obat yang dapat menghentikan darah haidhnya. Washil berkata,</p>
<p dir="RTL" align="center">فلم ير بن عمر بأسا</p>
<p>“Ibnu ‘Umar menganggap hal itu tidak masalah.”</p>
<p>Ma’mar berkata,</p>
<p dir="RTL" align="center">وسمعت بن أبي نجيح يسأل عن ذلك فلم ير به بأسا</p>
<p>“Aku mendengar Abu Najih menanyakan hal ini. Lantas ia menganggap perbuatan semacam itu tidak mengapa.” (Mushonnaf ‘Abdur Rozaq, 1220). Syaikh Musthofa Al ‘Adawi <em>hafizhohullah</em> berkata bahwa yang benar riwayat ini adalah perkataan Abu Najih.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3136-konsumsi-obat-penghalang-datang-haidh-ketika-ramadhan.html#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Dalam Al Mughni, Ibnu Qudamah <em>rahimahullah </em>menyebutkan,</p>
<p dir="RTL" align="center">رُوِيَ عَنْ أَحْمَدَ رَحِمَهُ اللَّهُ ، أَنَّهُ قَالَ : لَا بَأْسَ أَنْ تَشْرَبَ الْمَرْأَةُ دَوَاءً يَقْطَعُ عَنْهَا الْحَيْضَ ، إذَا كَانَ دَوَاءً مَعْرُوفًا .</p>
<p>Diriwayatkan dari Imam Ahmad <em>rahimahullah</em>, beliau berkata, “Tidak mengapa seorang wanita mengkonsumsi obat-obatan untuk menghalangi haidh, asalkan obat tersebut baik (tidak membawa efek negatif).”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3136-konsumsi-obat-penghalang-datang-haidh-ketika-ramadhan.html#_ftn2">[2]</a> <a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3136-konsumsi-obat-penghalang-datang-haidh-ketika-ramadhan.html#_ftn3">[3]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Penjelasan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin</strong></span></p>
<p>Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin <em>rahimahullah</em> pernah ditanya, “Sebagian wanita ada yang bersengaja menggunakan obat-obatan untuk menghalangi datangnya haidh yang rutin setiap bulannya. Mereka melakukan seperti ini dengan tujuan supaya tidak lagi mengqodho’ puasa selepas bulan Ramadhan. Apakah perbuatan seperti ini dibolehkan? Apakah ada syarat yang tidak membolehkan wanita menggunakan obat semacam itu?”</p>
<p>Beliau <em>rahimahullah</em> menjawab, “Dalam masalah ini aku berpandangan bahwa hendaklah wanita tersebut tidak melakukan semacam itu. Hendaklah ia menjalankan ketetapan Allah yang telah digariskan pada para wanita. Kebiasaan datang haidh setiap bulannya di sisi Allah memiliki hikmah yang amat banyak jika kita mengetahuinya. Hikmah yang dimaksud adalah bahwa kebiasaan datang haidh ini termasuk kebiasaan yang normal, di mana haidh ini terjadi untuk tujuan menghalangi si wanita dari berbagai bahaya yang dapat memudhorotkan dirinya. Para pakar kesehatan telah menjelaskan efek negatif dari penggunaan obat semacam itu. Padahal Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah bersabda, “<em>Laa dhororo wa laa dhiroor (Tidak ada bahaya dalam syari’at ini dan tidak boleh mendatangkan bahaya tanpa alasan yang benar)</em><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3136-konsumsi-obat-penghalang-datang-haidh-ketika-ramadhan.html#_ftn4">[4]</a>.” Oleh karena itu, dalam masalah ini aku berpandangan bahwa wanita hendaklah tidak menggunakan obat-obatan untuk mengahalangi datangnya haidh. Alhamdulillah berkat karunia Allah, jika datang haidh, wanita muslimah diperkenankan untuk tidak mengerjakan puasa dan shalat. Ketika ia kembali suci, ia boleh kembali mengerjakan puasa dan shalat. Jika berakhir Ramadhan, ia hendaklah mengqodho’ puasanya yang luput tadi.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3136-konsumsi-obat-penghalang-datang-haidh-ketika-ramadhan.html#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Pernah pula diajukan pertanyaan pada Syaikh Ibnu ‘Utsaimin <em>rahimahullah</em>, “Jika wanita (kemungkinan) datang haidh di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, apakah boleh ia menggunakan obat-obatan penghalang hamil supaya ia tetap bisa menjalankan ibadah di hari-hari utama?”</p>
<p>Syaikh <em>rahimahullah </em>menjawab, “Kami beranggapan tidak boleh menggunakan obat-obatan tersebut untuk menolong dalam melakukan ketaatan pada Allah. Karena datangnya haidh adalah ketetapan Allah pada kaum hawa.</p>
<p>Ada kisah bahwa ‘Aisyah pernah ditemui Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dan ketika itu ia sedang menemani beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dalam haji wada’. Ia pun hendak melaksanakan umroh. Namun ia datang haidh sebelum masuk Makkah. Lantas ketika ‘Aisyah pun menangis. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pun bertanya, “Kenapa engkau sampai menangis?” ‘Aisyah pun menjawab bahwa ia mendapati haidh. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em> menjelaskan bahwa itu sudah menjadi ketetapan Allah bagi kaum hawa. Jika seorang wanita mendapati haidh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, maka pasrahlah dengan ketetapan Allah. Janganlah menggunakan obat-obat tersebut . Ada informasi dari pakar kesehatan yang sampai ke telinga kami, bahwa obat-obatan membawa efek negatif pada rahim dan darah. Terkadang darah tersebut merupakan sumber makanan bagi janin. Oleh karena itu, kami sarankan untuk menjauhi obat-obatan semacam ini. Ketika datang haidh, hendaklah wanita tersebut meninggalkan shalat dan puasa. Datangnya haidh ini sama sekali bukan kreasi manusia, namun itu adalah ketentuan Allah.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3136-konsumsi-obat-penghalang-datang-haidh-ketika-ramadhan.html#_ftn6">[6]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Jika Tetap Menggunakan Obat Penghalang Datang Bulan</strong></span></p>
<p>Syaikh Abu Malik –penulis kitab Shahih Fiqh Sunnah- menerangkan, “Haidh adalah ketetapan Allah bagi kaum hawa. Para wanita di masa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>tidak pernah menyusahkan diri mereka supaya dapat berpuasa sebulan penuh (dengan mengahalangi datangnya haidh, pen). Oleh karena itu, menggunakan obat-obatan untuk menghalangi datangnya haidh <strong>tidak dianjurkan</strong>. Akan tetapi, jika wanita muslimah tetap menggunakan obat-obatan semacam itu dan tidak memiliki dampak negatif, maka tidak mengapa. Jika ia menggunakan obat tadi dan darah haidhnya pun berhenti, <strong>maka ia dihukumi seperti wanita yang suci, artinya tetap dibolehkan puasa dan tidak ada qodho’ baginya</strong>. <em>Wallahu a’lam</em>.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3136-konsumsi-obat-penghalang-datang-haidh-ketika-ramadhan.html#_ftn7">[7]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Wahai Wanita, Ridholah pada Ketetapan Allah!</strong></span></p>
<p>Jika tidak mengkonsumsi obat-obatan penghalang datang bulan tidak membawa dampak negatif, maka tidak mengapa menggunakannya. Namun sikap yang lebih baik adalah setiap wanita muslimah ridho dengan ketetapan Allah, tanpa mesti menggunakan obat-obatan semacam itu. Setiap ketetapan Allah pasti ada hikmah yang luar biasa di balik itu semua. Lihatlah bagaimana sikap ‘Aisyah ketika ia mendapati haidh padahal ia ingin melaksanakan haji.</p>
<p>Dari &#8216;Aisyah, ia berkata, &#8220;Kami keluar bersama Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan tidak ada yang kami ingat kecuali untuk menunaikan haji. Ketika kami sampai di suatu tempat bernama Sarif aku mengalami haid. Lalu Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa</em><em> </em><em>sallam</em> masuk menemuiku saat aku sedang menangis. Maka beliau bertanya, &#8220;Apa yang membuatmu menangis?&#8221; Aku jawab, &#8220;Demi Allah, pada tahun ini aku tidak bisa melaksanakan haji!&#8221; Beliau berkata, &#8220;Barangkali kamu mengalami haidh?&#8221; Aku jawab, &#8220;Benar.&#8221; Beliau pun bersabda,</p>
<p dir="RTL" align="center">فَإِنَّ ذَلِكَ شَىْءٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ ، فَافْعَلِى مَا يَفْعَلُ الْحَاجُّ ، غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِى بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِى</p>
<p>&#8220;<em><strong>Yang demikian itu adalah perkara yang sudah Allah tetapkan buat puteri-puteri keturunan Adam</strong>. Maka lakukanlah apa yang dilakukan orang yang berhaji kecuali th</em><em>o</em><em>waf di Ka&#8217;bah hingga kamu suci.</em>&#8221; (HR. Bukhari no. 305 dan Muslim no. 1211)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Bagaimana Wanita Haidh dan Nifas Mengisi Hari-Harinya di Bulan Ramadhan dan Lailatul Qadar?</strong></span></p>
<p>Karena wanita haidh dan nifas tidak boleh melaksanakan shalat ketika kondisi seperti itu, maka dia boleh melakukan amalan ketaatan lainnya. Yang dapat wanita haidh dan nifas lakukan ketika itu adalah,</p>
<ol>
<li>Membaca Al Qur’an tanpa menyentuh mushaf.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3136-konsumsi-obat-penghalang-datang-haidh-ketika-ramadhan.html#_ftn8">[8]</a></li>
<li>Berdzikir dengan memperbanyak bacaan tasbih (<em>subhanallah</em>), tahlil (<em>laa ilaha illallah</em>), tahmid (<em>alhamdulillah</em>) dan dzikir lainnya.</li>
<li>Memperbanyak istighfar.</li>
<li>Memperbanyak do’a.</li>
<li>Memperbanyak sedekah dan kebaikan lainnya.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3136-konsumsi-obat-penghalang-datang-haidh-ketika-ramadhan.html#_ftn9">[9]</a></li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Semoga pembahasan ini bermanfaat bagi kaum muslimin sekalian.</p>
<p><em>Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Disusun di Panggang-GK, 16 Sya’ban 1431 H (29 Juli 2010)</p>
<p>Penulis: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<hr />
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3136-konsumsi-obat-penghalang-datang-haidh-ketika-ramadhan.html#_ftnref1">[1]</a> Jaami’ Ahkamin Nisa’, 1/199, terbitan Darus Sunnah.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3136-konsumsi-obat-penghalang-datang-haidh-ketika-ramadhan.html#_ftnref2">[2]</a> Al Mughni, 1/450, terbitan Dar ‘Alam Kutub.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3136-konsumsi-obat-penghalang-datang-haidh-ketika-ramadhan.html#_ftnref3">[3]</a> Riwayat-riwayat ini dibawakan oleh Syaikh Musthofa Al ‘Adawi dalam Jaami’ Ahkamin Nisa’, 1/198-200.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3136-konsumsi-obat-penghalang-datang-haidh-ketika-ramadhan.html#_ftnref4">[4]</a> Ini adalah salah satu tafsiran dari hadits tersebut. Lihat Jaami’ul Ulum wal Hikam, hal. 364 (penjelasan hadits Arba’in An Nawawiyah no. 32).</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3136-konsumsi-obat-penghalang-datang-haidh-ketika-ramadhan.html#_ftnref5">[5]</a> Sumber: Fatwa Al Islam Sual wa Jawab no. 7416, <a href="http://islamqa.com/ar/ref/7416/">http://islamqa.com/ar/ref/7416/</a></p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3136-konsumsi-obat-penghalang-datang-haidh-ketika-ramadhan.html#_ftnref6">[6]</a> Sumber: Fatwa Al Islam Sual wa Jawab no. 13738, <a href="http://islamqa.com/ar/ref/13738">http://islamqa.com/ar/ref/13738</a></p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3136-konsumsi-obat-penghalang-datang-haidh-ketika-ramadhan.html#_ftnref7">[7]</a> Shahih Fiqh Sunnah, 2/128.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3136-konsumsi-obat-penghalang-datang-haidh-ketika-ramadhan.html#_ftnref8">[8]</a> Dalam at Tamhid (17/397, Syamilah), Ibnu Abdil Barr berkata, “Para pakar fiqh dari berbagai kota baik Madinah, Iraq dan Syam tidak berselisih pendapat bahwa mushaf tidaklah boleh disentuh melainkan oleh orang yang suci dalam artian berwudhu. Inilah pendapat Imam Malik, Syafii, Abu Hanifah, Sufyan ats Tsauri, al Auzai, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahuyah, Abu Tsaur dan Abu Ubaid. Merekalah para pakar fiqh dan hadits di masanya.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3136-konsumsi-obat-penghalang-datang-haidh-ketika-ramadhan.html#_ftnref9">[9]</a> Lihat Fatwa Al Islam Su-al wa Jawab pada link <a href="http://www.islam-qa.com/ar/ref/26753">http://www.islam-qa.com/ar/ref/26753</a></p>
<div class="shr-publisher-6703"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Fkonsumsi-obat-penghalang-haidh-ketika-ramadhan.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Fkonsumsi-obat-penghalang-haidh-ketika-ramadhan.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Fkonsumsi-obat-penghalang-haidh-ketika-ramadhan.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/konsumsi-obat-penghalang-haidh-ketika-ramadhan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

