<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muslim.Or.Id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah &#187; Puasa</title>
	<atom:link href="http://muslim.or.id/tag/puasa/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muslim.or.id</link>
	<description>Pesantren online agama Islam berdasarkan Qur&#039;an dan Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Feb 2012 09:43:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Hukum Puasa Sunnah pada Hari Sabtu</title>
		<link>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/hukum-puasa-sunnah-pada-hari-sabtu.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/hukum-puasa-sunnah-pada-hari-sabtu.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Oct 2011 23:00:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh dan Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[hari sabtu]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[puasa sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[terlarang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=7195</guid>
		<description><![CDATA[Sebagaian kalangan ada yang mempermasalahkan berpuasa pada hari Sabtu. Terutama jika puasa Arofah, puasa Asyuro atau puasa Syawal bertepatan dengan hari Sabtu. Apakah boleh berpuasa ketika itu? Semoga pembahasan berikut bisa menjawab keraguan yang ada.<a class="more" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/hukum-puasa-sunnah-pada-hari-sabtu.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p dir="ltr">Sebagaian kalangan ada yang mempermasalahkan berpuasa pada hari Sabtu. Terutama jika puasa Arofah, puasa Asyuro atau puasa Syawal bertepatan dengan hari Sabtu. Apakah boleh berpuasa ketika itu? Semoga pembahasan berikut bisa menjawab keraguan yang ada.</p>
<p dir="ltr"><span style="color: #ff0000;"><strong>Larangan Puasa Hari Sabtu</strong></span></p>
<p dir="ltr">Mengenai larangan berpuasa pada hari Sabtu disebutkan dalam hadits,</p>
<p dir="ltr" align="center">لاَ تَصُومُوا يَوْمَ السَّبْتِ إِلاَّ فِيمَا افْتُرِضَ عَلَيْكُمْ</p>
<p dir="ltr">“<em>Janganlah engkau berpuasa pada hari Sabtu kecuali puasa yang diwajibkan bagi kalian.</em>”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2781-apakah-puasa-hari-sabtu-terlarang.html#_ftn1">[1]</a> Abu Daud mengatakan bahwa hadits ini <em>mansukh</em> (telah dihapus). Abu Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini <em>hasan</em>.</p>
<p dir="ltr"><span style="color: #ff0000;"><strong>Beberapa Puasa Ada yang Dilakukan pada Hari Sabtu</strong></span></p>
<p dir="ltr">Pertama: Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>sering melakukan puasa pada hari Sabtu dan Ahad.</p>
<p dir="ltr">Dari Ummu Salamah, ia berkata,</p>
<p dir="rtl" align="center">كان أكثر صومه السبت و الأحد و يقول : هما يوما عيد المشركين فأحب أن أخالفهم</p>
<p dir="ltr">“<em>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak berpuasa pada hari Sabtu dan Ahad</em>.” Beliau pun berkata, “<em>Kedua hari tersebut adalah hari raya orang musyrik, sehingga aku pun senang menyelisihi mereka.</em>”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2781-apakah-puasa-hari-sabtu-terlarang.html#_ftn2">[2]</a></p>
<p dir="ltr">Kedua: Boleh berpuasa pada Hari Jum’at dan Sabtu.</p>
<p dir="ltr">Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>pernah mengatakan kepada salah satu istrinya yang berpuasa pada hari Jum’at,</p>
<p dir="ltr" align="center">« أَصُمْتِ أَمْسِ » . قَالَتْ لاَ . قَالَ « تُرِيدِينَ أَنْ تَصُومِى غَدًا » . قَالَتْ لاَ . قَالَ « فَأَفْطِرِى »</p>
<p dir="ltr">“<em>Apakah kemarin (Kamis) engkau berpuasa?</em>” Istrinya mengatakan, “<em>Tidak</em>.”</p>
<p dir="ltr">Kemudian Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berkata lagi, “<em>Apakah engkau ingin berpuasa besok (Sabtu)?</em>” Istrinya mengatakan, “<em>Tidak</em>.” “<em>Kalau begitu hendaklah engkau membatalkan puasamu</em>”, jawab Nabi<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2781-apakah-puasa-hari-sabtu-terlarang.html#_ftn3">[3]</a></p>
<p dir="ltr">Ketiga: Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>membolehkan berpuasa pada hari Jum’at asalkan diikuti puasa pada hari sesudahnya (hari Sabtu).Dari Abu Hurairah, ia mengatakan,</p>
<p dir="rtl" align="center">نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن صوم يوم الجمعة إلا بيوم قبله أو يوم بعده .</p>
<p dir="ltr">“<em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang berpuasa pada hari Jum’at kecuali apabila seseorang berpuasa pada hari sebelum atau sesudahnya</em>.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2781-apakah-puasa-hari-sabtu-terlarang.html#_ftn4">[4]</a> Dan hari sesudah Jum’at adalah hari Sabtu.</p>
<p dir="ltr">Keempat: Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>banyak melakukan puasa di bulan Sya’ban dan pasti akan bertemu dengan hari Sabtu.</p>
<p dir="ltr">Kelima: Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memerintahkan untuk melakukan puasa Muharram dan kadangkala bertemu dengan hari Sabtu.</p>
<p dir="ltr">Keenam: Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menganjurkan berpuasa enam hari di bulan Syawal setelah sebelumnya berpuasa Ramadhan. Ini juga bisa bertemu dengan hari Sabtu.</p>
<p dir="ltr">Ketujuh: Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menganjurkan berpuasa pada ayyamul biid (13, 14, dan 15 Hijriyah) setiap bulannya dan kadangkala juga akan bertemu dengan hari Sabtu.</p>
<p dir="ltr">Dan masih banyak hadits yang menceritakan puasa pada hari Sabtu.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2781-apakah-puasa-hari-sabtu-terlarang.html#_ftn5">[5]</a></p>
<p dir="ltr">Dari hadits yang begitu banyak (<em>mutawatir</em>), Al Atsrom membolehkan berpuasa pada hari Sabtu. Pakar ‘ilal hadits (yang mengetahui seluk beluk cacat hadits), yaitu Yahya bin Sa’id enggan memakai hadits larangan berpuasa pada hari Sabtu dan beliau enggan meriwayatkan hadits itu. Ha ini menunjukkan lemahnya (dho’ifnya) hadits larangan berpuasa pada hari Sabtu.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2781-apakah-puasa-hari-sabtu-terlarang.html#_ftn6">[6]</a></p>
<p dir="ltr">Murid Imam Ahmad –Al Atsrom dan Abu Daud- menyatakan bahwa pendapat tersebut dimansukh (dihapus). Sedangkan ulama lainnya mengatakan bahwa hadits ini <em>syadz</em>, yaitu menyelisihi hadits yang lebih kuat.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2781-apakah-puasa-hari-sabtu-terlarang.html#_ftn7">[7]</a></p>
<p dir="ltr">Namun kebanyakan pengikut Imam Ahmad memahami bahwa Imam Ahmad mengambil dan mengamalkan hadits larangan berpuasa pada hari Sabtu, kemudian mereka pahami bahwa larangan yang dimaksudkan adalah jika puasa hari Sabtu tersebut bersendirian. Imam Ahmad ditanya mengenai berpuasa pada hari Sabtu. Beliau pun menjawab bahwa boleh berpuasa pada hari Sabtu asalkan diikutkan dengan hari sebelumnya.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2781-apakah-puasa-hari-sabtu-terlarang.html#_ftn8">[8]</a></p>
<p dir="ltr">Kesimpulan:</p>
<ol>
<li>Ada ulama yang menilai hadits larangan berpuasa pada hari Sabtu adalah lemah (dho’if) dan hadits tersebut tidak diamalkan. Dari sini, boleh berpuasa pada hari Sabtu.</li>
<li>Sebagian ulama lainnya menilai bahwa hadits larangan berpuasa pada hari Sabtu adalah <em>jayid</em> (boleh jadi <em>shahih</em> atau <em>hasan</em>). Namun yang mereka pahami, puasa hari Sabtu hanya terlarang jika bersendirian. Bila diikuti dengan puasa sebelumnya pada hari Jum’at, maka itu dibolehkan.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2781-apakah-puasa-hari-sabtu-terlarang.html#_ftn9">[9]</a></li>
</ol>
<p dir="ltr"><span style="color: #ff0000;"><strong>Rincian Berpuasa pada Hari Sabtu</strong></span></p>
<p dir="ltr">Dari penjelasan di atas, kesimpulan yang paling bagus jika kita mengatakan bahwa puasa hari Sabtu diperbolehkan jika tidak bersendirian. Sangat bagus sekali jika hal ini lebih dirinci lagi. Rincian yang sangat bagus mengenai hal ini telah dikemukakan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin sebagai berikut.</p>
<p dir="ltr">Keadaan pertama: Puasa pada hari Sabtu dihukumi wajib seperti berpuasa pada hari Sabtu di bulan Ramadhan, mengqodho’ puasa pada hari Sabtu, membayar kafaroh (tebusan), atau mengganti <em>hadyu tamattu’ </em>dan semacamnya. Puasa seperti ini tidaklah mengapa selama tidak meyakini adanya keistimewaan berpuasa pada hari tersebut.</p>
<p dir="ltr">Keadaan kedua: Jika berpuasa sehari sebelum hari Sabtu, maka ini tidaklah mengapa. Sebagaimana Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>pernah mengatakan kepada salah satu istrinya yang berpuasa pada hari Jum’at,</p>
<p dir="ltr" align="center">« أَصُمْتِ أَمْسِ » . قَالَتْ لاَ . قَالَ « تُرِيدِينَ أَنْ تَصُومِى غَدًا » . قَالَتْ لاَ . قَالَ « فَأَفْطِرِى »</p>
<p dir="ltr">“<em>Apakah kemarin (Kamis) engkau berpuasa?</em>” Istrinya mengatakan, “<em>Tidak</em>.”</p>
<p dir="ltr">Kemudian Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berkata lagi, “<em>Apakah engkau ingin berpuasa besok (Sabtu)?</em>” Istrinya mengatakan, “<em>Tidak</em>.” “<em>Kalau begitu hendaklah engkau membatalkan puasamu</em>”, jawab Nabi<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2781-apakah-puasa-hari-sabtu-terlarang.html#_ftn10">[10]</a></p>
<p dir="ltr">Perkataan beliau “<em>Apakah engkau berpuasa besok (Sabtu)?</em>”, ini menunjukkan bolehnya berpuasa pada hari Sabtu asalkan diikuti dengan berpuasa pada hari Jum’at.</p>
<p dir="ltr">Keadaan ketiga: Berpuasa pada hari Sabtu karena hari tersebut adalah hari yang disyari’atkan untuk berpuasa. Seperti berpuasa pada <em>ayyamul bid </em>(13, 14, 15 setiap bulan Hijriyah), berpuasa pada hari Arofah, berpuasa ‘Asyuro (10 Muharram), berpuasa enam hari di bulan Syawal setelah sebelumnya berpuasa Ramadhan, dan berpuasa selama sembilan hari di bulan Dzulhijah. Ini semua dibolehkan. Alasannya, karena puasa yang dilakukan bukanlah diniatkan berpuasa pada hari Sabtu. Namun puasa yang dilakukan diniatkan karena pada hari tersebut adalah hari disyari’atkan untuk berpuasa.</p>
<p dir="ltr">Keadaan keempat: Berpuasa pada hari sabtu karena berpuasa ketika itu bertepatan dengan kebiasaan puasa yang dilakukan, semacam berpapasan dengan puasa Daud –sehari berpuasa dan sehari tidak berpuasa-, lalu ternyata bertemu dengan hari Sabtu, maka itu tidaklah mengapa. Sebagaimana Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengatakan mengenai puasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan dan tidak terlarang berpuasa ketika itu jika memang bertepatan dengan kebiasaan berpuasanya .</p>
<p dir="ltr">Keadaan kelima: Mengkhususkan berpuasa sunnah pada hari Sabtu dan tidak diikuti berpuasa pada hari sebelum atau sesudahnya. Inilah yang dimaksudkan larangan berpuasa pada hari Sabtu, jika memang hadits yang membicarakan tentang hal ini shahih. –Demikian penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin-<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2781-apakah-puasa-hari-sabtu-terlarang.html#_ftn11">[11]</a></p>
<p dir="ltr"><span style="color: #ff0000;"><strong>Keterangan Al Lajnah Ad Da-imah (Komisi Fatwa di Saudi Arabia) Mengenai Puasa pada Hari Sabtu</strong></span></p>
<p dir="ltr">Berikut Fatwa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyyah wal Ifta’.</p>
<p dir="ltr"><strong>Soal: </strong></p>
<p dir="ltr">Kebanyakan orang di negeri kami berselisih pendapat tentang puasa di hari Arofah yang jatuh pada hari Sabtu untuk tahun ini. Di antara kami ada  yang berpendapat bahwa ini adalah hari Arofah dan kami berpuasa karena bertemu hari Arofah bukan karena hari Sabtu yang terdapat larangan berpuasa ketika itu. Ada pula sebagian kami yang enggan berpuasa ketika itu karena hari Sabtu adalah hari yang terlarang untuk diagungkan untuk menyelisihi kaum Yahudi. Aku sendiri tidak berpuasa ketika itu karena pilihanku sendiri. Aku pun tidak mengetahui hukum syar’i mengenai hari tersebut. Aku pun belum menemukan hukum yang jelas  mengenai hal ini. Mohon penjelasannya.</p>
<p dir="ltr"><strong>Jawab:</strong></p>
<p dir="ltr">Boleh berpuasa Arofah pada hari Sabtu atau hari lainnya, walaupun tidak ada puasa pada hari sebelum atau sesudahnya, karena tidak ada beda dengan hari-hari lainnya. Alasannya karena puasa Arofah adalah puasa yang berdiri sendiri. Sedangkan hadits yang melarang puasa pada hari Sabtu adalah hadits yang lemah karena mudhtorib dan menyelisihi hadits yang lebih shahih.</p>
<p dir="ltr">Hanya Allah yang memberi taufik. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.</p>
<p dir="ltr">Yang menandatangani fatwa ini: ‘Abdullah bin Ghodyan sebagai anggota, ‘Abdur Rozaq ‘Afifi sebagai Wakil Ketua, ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz sebagai Ketua.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2781-apakah-puasa-hari-sabtu-terlarang.html#_ftn12">[12]</a></p>
<p dir="ltr">Demikian pembahasan kami yang singkat ini. Semoga dengan pembahasan ini dapat menghilangkan keraguan yang selama ini ada mengenai berpuasa pada hari Sabtu. Semoga bisa menjadi ilmu yang bermanfaat.</p>
<p style="text-align: center;" dir="ltr"><em>Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.</em></p>
<p dir="ltr">Panggang, Gunung Kidul, 27 Dzulqo’dah 1430 H</p>
<p dir="ltr">Yang selalu mengharapkan ampunan dan rahmat Rabbnya</p>
<p dir="ltr">Penulis: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p dir="ltr">Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<p dir="ltr">
<hr />
<p dir="ltr"><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2781-apakah-puasa-hari-sabtu-terlarang.html#_ftnref1">[1]</a> HR. Abu Daud no. 2421, At Tirmidzi no. 744, Ibnu Majah no. 1726. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini <em>shahih</em>. Lihat Al Irwa’ no. 960. Mengenai perselisihan pendapat mengenai hadits ini akan kami singgung insya Allah.</p>
<p dir="ltr"><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2781-apakah-puasa-hari-sabtu-terlarang.html#_ftnref2">[2]</a> <em>Shahih wa Dho’if Al Jami’ Ash Shogir</em>, no. 8934. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini <em>hasan.</em></p>
<p dir="ltr"><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2781-apakah-puasa-hari-sabtu-terlarang.html#_ftnref3">[3]</a> HR. Bukhari no. 1986.</p>
<p dir="ltr"><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2781-apakah-puasa-hari-sabtu-terlarang.html#_ftnref4">[4]</a> HR. Ibnu Majah no. 1723. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini <em>shahih</em>.</p>
<p dir="ltr"><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2781-apakah-puasa-hari-sabtu-terlarang.html#_ftnref5">[5]</a> Lihat <em>Iqtidho’ Ash Shirotil Mustaqim</em>, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 2/73-75, ta’liq: Dr. Nashir bin ‘Abdul Karim Al ‘Aql.</p>
<p dir="ltr"><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2781-apakah-puasa-hari-sabtu-terlarang.html#_ftnref6">[6]</a> Lihat <em>Iqtidho’ Ash Shirotil Mustaqim</em>, 2/75.</p>
<p dir="ltr"><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2781-apakah-puasa-hari-sabtu-terlarang.html#_ftnref7">[7]</a> Idem</p>
<p dir="ltr"><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2781-apakah-puasa-hari-sabtu-terlarang.html#_ftnref8">[8]</a> Lihat <em>Iqtidho’ Ash Shirotil Mustaqim</em>, 2/76.</p>
<p dir="ltr"><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2781-apakah-puasa-hari-sabtu-terlarang.html#_ftnref9">[9]</a> Ini kesimpulan yang kami ambil dari penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam <em>Iqtidho’ Ash Shirothil Mustaqim</em>, 2/75-76.</p>
<p dir="ltr"><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2781-apakah-puasa-hari-sabtu-terlarang.html#_ftnref10">[10]</a> HR. Bukhari no. 1986.</p>
<p dir="ltr"><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2781-apakah-puasa-hari-sabtu-terlarang.html#_ftnref11">[11]</a> <em>Majmu’ Fatawa wa Rosa-il Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin</em>, 20/57-58, Darul Wathon – Darul Tsaroya, cetakan terakhir, tahun 1413 H.</p>
<p dir="ltr"><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2781-apakah-puasa-hari-sabtu-terlarang.html#_ftnref12">[12]</a> <em>Fatwa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyyah wal Ifta’</em> no. 11747, juz 10, hal. 397, Mawqi’ Al Ifta’</p>
<p dir="ltr">
<div class="shr-publisher-7195"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Fhukum-puasa-sunnah-pada-hari-sabtu.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Fhukum-puasa-sunnah-pada-hari-sabtu.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Fhukum-puasa-sunnah-pada-hari-sabtu.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/hukum-puasa-sunnah-pada-hari-sabtu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fiqih Ringkas I&#8217;tikaf (4)</title>
		<link>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Aug 2011 08:06:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yulian Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh dan Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[I'tikaf]]></category>
		<category><![CDATA[Lailatul Qadar]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=6765</guid>
		<description><![CDATA[Pembatal I’tikaf a. Jima’ (bersetubuh) Allah ta’ala berfirman, وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ “(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu ber-i&#8217;tikaf dalam mesjid.” (Al Baqarah: 187). Al Qurthubi rahimahullah mengatakan, بين جل تعالى أن الجماع يفسد الاعتكاف واجمع أهل<a class="more" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><strong>Pembatal I’tikaf</strong></p>
<p><strong>a. </strong><strong><em>Jima’</em> (bersetubuh)</strong></p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ</p>
<p><em>“(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu ber-i&#8217;tikaf dalam mesjid.” </em>(Al Baqarah: 187).</p>
<p>Al Qurthubi <em>rahimahullah</em> mengatakan,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">بين جل تعالى أن الجماع يفسد الاعتكاف واجمع أهل العلم على أن من جامع امرأته وهو معتكف عامدا لذلك في فرجها أنه مفسد لاعتكافه</p>
<p><em>“Allah ta’ala menjelaskan bahwa berjima’ membatalkan i’tikaf dan para ulama telah bersepakat ahwa seorang yang berjima’ dengan istrinya secara sengaja sementara dia sedang ber-i&#8217;tikaf, maka dia telah membatalkan i’tikafnya.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Ibnu Hazm mengatakan, <em>“Mereka (para ulama) sepakat jima’ membatalkan i’tikaf.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn2">[2]</a></p>
<p><strong>b. </strong><strong>Bercumbu</strong></p>
<p>Bercumbu dengan pasangan yang disertai syahwat diharamkan bagi <em>mu’takif</em> berdasarkan kesepakatan ulama.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn3">[3]</a>Namun, para ulama berselisih apakah hal itu membatalkan <em>i’tikaf</em>-nya.</p>
<p><strong>Pendapat yang kuat</strong> dalam permasalahan ini adalah pendapat Jumhur yang menyatakan bercumbu tidaklah membatalkan i’tikafnya kecuali bercumbu tersebut menyebabkan dirinya orgasme (maaf: mengeluarkan mani).</p>
<p>Ath Thabari <em>rahimahullah</em> ketika mengomentari firman Allah <em>ta’ala</em> ” وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ “, beliau mengatakan,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">وأولى القولين عندي بالصواب قول من قال : معنى ذلك : الجماع أو ما قام الجماع مما أوجب غسلا إيجابه وذلك أنه لا قول في ذلك إلا أحد قولين : إما جعل حكم الاية عاما أو جعل حكمها في خاص من معاني المباشرة وقد تظاهرت الأخبار عن رسول الله صلى الله عليه وسلم : أن نساءه كن يرجلنه وهو معتكف فلما صح ذلك عنه علم أن الذي عنى به من معاني المباشرة البعض دون الجميع</p>
<p><em>“Pendapat yang paling benar menurutku adalah pendapat yang menyatakan bahwa maknanya adalah jima’ dan segala hal yang serupa dengan itu yang mengharuskan pelakunya mandi. Kemungkinan yang ada hanya dua, yaitu memberlakukan ayat tersebut secara umum atau mengkhususkan ayat tersebut untuk sebagian makna dari mubasyarah. Banyak hadits dari rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara jelas menginformasikan bahwa istri-istri beliau menyisir rambut beliau ketika sedang ber-i&#8217;tikaf, maka dapat diketahui bahwa makna mubasyarah dalam ayat ini hanya mencakup sebagian maknanya, bukan seluruhnya.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn4">[4]</a></p>
<p><strong>c. </strong><strong>Keluar dari Masjid</strong></p>
<p>Mu’takif diperkenankan keluar dari masjid jika terdapat <em>udzur</em> syar’i atau hendak menunaikan suatu kebutuhan yang mendesak. Contoh akan hal ini, mu’takif diperbolehkan keluar dari masjid untuk makan dan minum, jika tidak ada orang yang membawakan makanan dan minuman baginya ke masjid. Demikian pula, dia diperbolehkan keluar masjid untuk mandi janabah atau berwudhu, jika tidak mungkin dilakukan di dalam masjid.</p>
<p>‘Aisyah <em>radhiallahu ‘anha</em> mengatakan, <em>“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memasukkan kepala beliau ke dalam kamarku, sementara beliau berada di dalam masjid, dan saya pun menyisirnya. Beliau tidak akan masuk ke dalam rumah ketika sedang ber-i&#8217;tikaf, kecuali ada kebutuhan mendesak.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Ibnu Hazm <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Para ulama sepakat bahwa mu’takif yang keluar dari tempat i’tikafnya di dalam masjid tanpa ada kebutuhan yang mendesak, tidak pula karena darurat, atau melakukan suatu perkara kebaikan yang diperintahkan atau dianjurkan, maka i’tikaf yang dilakukannya telah batal.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn6">[6]</a></p>
<p><strong>d. </strong><strong>Memutus Niat untuk ber-i&#8217;tikaf</strong></p>
<p>Telah dipaparkan sebelumnya bahwa niat untuk ber-i&#8217;tikaf termasuk syarat i’tikaf. Dengan demikian, mu’takif yang tidak lagi berniat untuk ber-i&#8217;tikaf, maka batallah i’tikafnya. Hal ini berdasarkan keumuman sabda nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ</p>
<p><strong>“</strong><em>Sesungguhnya seluruh amalan itu bergantung pada niatnya</em><strong> “</strong><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn7">[7]</a><strong></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Berbagai Perkara yang Dianjurkan ketika ber-i&#8217;tikaf</strong></p>
<p><strong>a. </strong><strong>Memperbanyak ibadah <em>mahdhah</em></strong></p>
<p><em>Mu’takif</em> (orang yang ber-i&#8217;tikaf) disyari’atkan memperbanyak ibadah mahdhah (ritual) seperti shalat, membaca Al-Quran, dzikir, dan ibadah yang semisal. Berbagai ibadah ini dapat membantu seorang untuk merealisasikan tujuan dan hikmah I’tikaf, yaitu memfokuskan hati dalam beribadah kepada-Nya dan memutus kesibukan dengan makhluk.</p>
<p>Demikian pula, yang termasuk dianjurkan adalah berpuasa ketika ber-i&#8217;tikaf di luar bulan Ramadhan menurut kalangan yang berpendapat bahwa puasa tidak termasuk sebagai syarat i’tikaf.</p>
<p><strong>b. </strong><strong>Melakukan ibadah <em>muta’addiyah</em></strong></p>
<p>Melakukan ibadah <em>muta’addiyah</em> (ibadah yang berdampak sosial) disyari’atkan bagi mu’takif apabila hukum ibadah <em>muta’adiyah</em> tersebut wajib dan tidak memakan waktu yang lama seperti mengeluarkan zakat, amar ma’ruf nahi mungkar, membalas salam, memberi fatwa, dan yang semisal.</p>
<p>Ulama berbeda pendapat mengenai hukum ibadah muta’addiyah ketika ber-i&#8217;tikaf apabila tidak wajib dan memakan waktu yang lama, seperti melaksanakan kajian atau berdiskusi dengan seorang ‘alim, dan yang semisal. Sebagian ulama berpendapat hal tersebut disyari’atkan, sebagian yang lain berpendapat sebaliknya.</p>
<p>Ibnu Rusyd mengatakan, <em>“Akar perbedaan pendapat para ulama dalam hal ini adalah dikarenakan hal tersebut tidak disebutkan hukumnya. Maka, ulama yang berpandangan bahwa yang dimaksud i’tikaf adalah mengekang diri di masjid dengan melakukan aktivitas yang khusus, maka mereka berpendapat seorang mutakif hanya boleh melakukan ibadah shalat dan membaca Al-Quran. Sedangkan yang berpandangan bahwa yang dimaksud i’tikaf adalah mengekang diri dengan melakukan seluruh kegiatan ukhrawi, maka mereka membolehkan hal tersebut.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn8">[8]</a></p>
<p><strong>Pendapat yang kuat</strong> adalah hal tersebut disyari’atkan dan hal ini merupakan pendapat madzhab Hanafi<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn9">[9]</a> dan Syafi’i<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn10">[10]</a>. Pendapat ini berlandaskan pada beberapa dalil berikut:</p>
<p>Pertama, hadits Shafiyah <em>radhiallahu ‘anha</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn11">[11]</a>, di dalamnya disebutkan bahwa nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>berbincang-bincang dengan para istri beliau.</p>
<p>Kedua, hadits Abu Sa’id Al Khudri <em>radhiallahu ‘anhu</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn12">[12]</a>, di dalamnya disebutkan bahwa nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berbicara dan memberi pengarahan kepada para sahabatnya.</p>
<p>Hukum yang terkandung dalam kedua hadits ini juga dapat diterapkan pada aktivitas kajian ketika ber-i&#8217;tikaf.</p>
<p>Ketiga, hadits ‘Aisyah <em>radhiallahu ‘anha</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn13">[13]</a> yang menyisirkan rambut nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tatkala beliau tengah ber-i&#8217;tikaf. Segi pendalilan dari hadits ini, jika menyisirkan rambut yang hukumnya mubah diperbolehkan tentulah melakukan ibadah selain shalat dan tilawah Al Quran lebih diperbolehkan.</p>
<p><strong>c. </strong><strong>Membuat Sekat atau Tenda di dalam Masjid</strong></p>
<p>Disunnahkan bagi <em>mu’takif</em>, baik pria maupun wanita, membuat sekat atau tenda yang bisa dipergunakan untuk mengisolir diri dari para mu’takif lainnya. Hal ini berdasarkan perbuatan nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn14">[14]</a> dan para istri beliau<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn15">[15]</a>.</p>
<p>Hal ini lebih ditekankan bagi wanita yang ber-i&#8217;tikaf di masjid yang digunakan untuk shalat berjama’ah agar dirinya tidak terlihat oleh para pria sehingga tidak menimbulkan fitnah.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn16">[16]</a></p>
<p><strong>d. </strong><strong>Meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat</strong></p>
<p>Mu’takif hendaknya meninggalkan perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn17">[17]</a> Hal ini berdasarkan dalil berikut:</p>
<ul>
<li>Hadits Abu Sa’id <em>radhiallahu ‘anhu</em> yang telah lalu disebutkan bahwa nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ber-i&#8217;tikaf di sebuah tenda kecil yang berpintukan lembaran tikar.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn18">[18]</a></li>
<li>Hadits ‘Aisyah <em>radhiallahu ‘anha</em> yang menyebutkan bahwa apabila rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin ber-i&#8217;tikaf, beliau melaksanakan shalat Subuh kemudian masuk ke tempat i’tikafnya).<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn19">[19]</a></li>
<li>Kedua hadits ini menunjukkan bahwa seorang mu’takif hendaknya menyendiri agar bisa fokus beribadah dan hal itu baru dapat tercapai jika dia meninggalkan berbagai perkara yang tidak bermanfaat.</li>
<li> Hadits Abu Hurairah <em>radhiallahu ‘anhu</em>, nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</li>
</ul>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ</p>
<p><em>“Merupakan tanda baiknya keislaman seorang adalah meninggalkan segala yang tidak bermanfaat baginya.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn20">[20]</a></p>
<p><strong>e. </strong><strong>Bergegas Menunaikan Shalat Jum’at</strong></p>
<p><em>Mu’takif</em> yang tidak beri’tkaf di masjid Jami’ dianjurkan untuk bergegas menunaikan shalat Jum’at berdasarkan keumuman hadits yang menganjurkan seorang untuk bersegera pergi ke masjid untuk menunaikan shalat Jum’at.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn21">[21]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>f. </strong><strong>Tetap Berdiam di Masjid ketika Malam ‘Ied</strong></p>
<p>Sebagian ulama menganjurkan agar <em>mu’takif</em> tetap berdiam di masjid pada malam ‘Ied dan baru keluar ketika hendak menunaikan shalat ‘Ied.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn22">[22]</a></p>
<p><strong>Berbagai Perkara yang Diperbolehkan ketika ber-i&#8217;tikaf</strong></p>
<p><strong>a. </strong><strong>Minum, Makan, dan Tidur</strong></p>
<p>Ulama sepakat bahwa <em>mu’takif</em> diperbolehkan makan, minum, dan tidur di dalam masjid.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn23">[23]</a> Dalil akan hal ini adalah sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>Firman Allah <em>ta’ala</em>,
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ</p>
<p><em>(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu ber-i&#8217;tikaf dalam mesjid.”</em> (Al Baqarah: 187).</p>
<p>Ayat ini menunjukkan bahwa seorang <em>mu’takif</em> haruslah berada di dalam masjid, dengan demikian hal tersebut berkonsekuensi dirinya makan, minum, dan tidur di dalam masjid.</li>
<li>Hadits ‘Aisyah <em>radhiallahu ‘anha</em> yang menyebutkan bahwa nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ketika ber-i&#8217;tikaf tidak masuk ke dalam rumah kecuali terdapat kebutuhan yang mendesak.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn24">[24]</a> Sehingga dapat dipahami bahwa beliau makan, minum, dan tidur di dalam masjid.</li>
</ul>
<p><strong>b. </strong><strong>Dikunjungi Keluarga</strong></p>
<p><em>Mu’takif</em> boleh menerima kunjungan keluarganya berdasarkan Hadits Shafiyah <em>radhiallahu ‘anha</em> yang datang menjenguk beliau ketika ber-i&#8217;tikaf. <a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn25">[25]</a></p>
<p>Namun, kunjungan tersebut hendaklah tidak terlalu lama dan tidak sering dilakukan sehingga tidak mengurangi nilai dan tujuan ber-i&#8217;tikaf.</p>
<p><strong>c. </strong><strong>Menikah dan Menikahkan</strong></p>
<p>Mu’takif juga diperbolehkan untuk menikah, menikahkan, menjadi saksi dalam pernikahan yang dilangsungkan di dalam masjid tempat dirinya ber-i&#8217;tikaf.</p>
<p>Dalil bagi hal ini adalah dalil-dalil yang membolehkan seorang mu’takif menjenguk orang sakit dan menyalati jenazah di dalam masjid. Selain itu, semua hal tersebut merupakan ketaatan dan pada umumnya tidak banyak menyita waktu, sehingga tidak menafikan tujuan ber-i&#8217;tikaf.</p>
<p>An Nawawi <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Seorang mu’takif diperbolehkan menikah dan menikahkan. Hal ini telah ditegaskan oleh Asy Syafi’i dalam <em>Al Muktashar</em> dan para rekan (beliau) sepakat akan hal ini serta saya tidak tahu ada khilaf akan hal ini.”<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn26">[26]</a></p>
<p><em>Waffaqaniyallahu wa iyyakum</em>.</p>
<p>Buaran Indah, Tangerang.</p>
<p><strong>Maraji’ :</strong></p>
<ol>
<li><em>Al Ijma’</em> karya Imam Ibnul Mundzir; Asy Syamilah.</li>
<li><em>Al Inshaf fi Ahkamil I’tikaf</em> karya Syaikh ‘Ali Hasan al Halabi.</li>
<li><em>Al Jami’ li Ahkam Al Quran</em> karya Imam Al Qurthubi; Asy Syamilah.</li>
<li><em>Al Majmu</em>’ karya Imam An Nawawi; Asy Syamilah.</li>
<li>Al Qur-an dan Terjemahannya</li>
<li><em>Fiqhul I’tikaf</em> karya Syaikh Dr. Khalid bin ‘Ali Al Musyaiqih.</li>
<li><em>Majmu’ Fatawa wa Rasaa-il Ibn ‘Utsaimin</em> karya Syaikh Muhammad al ‘Utsaimin; Asy Syamilah.</li>
<li><em>Shahih Fiqhis Sunnah</em> jilid 2 karya Syaikh Abu Malik Kamal bin As Sayyid Salim</li>
<li><em>Syarh Al Arba’in an Nawawi</em> karya Syaikh Shalih alusy Syaikh.</li>
<li><em>Tafsir Quran al-’Azhim</em> 2/308 karya Imam Ibnu Katsir; Asy Syamilah.</li>
<li><em>Tafsir Surat Al Baqarah</em> 2/358 karya Syaikh Muhammad al ‘Utsaimin.</li>
<li><em>Taisir Karim ar Rahman</em> karya Syaikh Abdurrahman As Sa’di.</li>
<li><em>‘Umdah al-Qari</em> karya Imam Al ‘Aini; Asy Syamilah.</li>
<li><em>‘Uudu ila Khairil ‘Ibad</em> karya Syaikh Dr. Muhammad bin Isma’il Al Muqaddam.</li>
<li><em>Zaadul Ma’ad</em> karya Imam Ibnul Qayyim.</li>
<li>Dll.</li>
</ol>
<hr size="1" />
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref1">[1]</a> <em>Al Jami’ li Ahkamil Quran</em> 2/324.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref2">[2]</a> <em>Maratibul Ijma</em>’ hlm. 41.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref3">[3]</a> <em>Al Jami’ li Ahkamil Quran</em> 2/332; <em>Tafsir Ibnu Katsir</em> 1/298; Asy Syamilah.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref4">[4]</a> <em>Jami’ul Bayan</em> 2/181.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref5">[5]</a> HR. Bukhari: 1925; Muslim: 297.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref6">[6]</a> <em>Maratibul Ijma’</em> hlm. 48.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref7">[7]</a> HR. Bukhari: 1, Muslim: 1907.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref8">[8]</a> <em>Bidayatul Mujtahid</em> 1/312.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref9">[9]</a> <em>Fathul Qadir</em> 2/396.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref10">[10]</a> <em>Al Umm</em> 2/105; <em>Al Majmu</em>’ 6/528.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref11">[11]</a> HR. Bukhari: 1933.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref12">[12]</a> HR. Muslim: 1167.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref13">[13]</a> HR. Bukhari: 1925; HR. Muslim: 297.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref14">[14]</a> HR. Muslim: 1167.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref15">[15]</a> HR. Bukhari: 1929.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref16">[16]</a> <em>Asy Syarhul Kabir ma’al Inshaf</em> 7/582.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref17">[17]</a> <em>Badai’ush Shana’i</em> 2/117; <em>Al Majmu’</em> 6/533.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref18">[18]</a> HR. Muslim: 1167.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref19">[19]</a> HR. Muslim: 1172.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref20">[20]</a> HR. Tirmidzi: 2318.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref21">[21]</a> HR. Bukhari: 841; Muslim: 850.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref22">[22]</a> <em>Al Muwaththa</em>:1/315; <em>Al Majmu</em> 6/475; Asy Syamilah.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref23">[23]</a> <em>Badai’ush Shana’i</em> 2/117; <em>Al Mudawwanah</em> 1/206; <em>Raudhatut Thalibin</em> 2/393; <em>Al Mughni</em> 4/383.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref24">[24]</a> HR. Bukhari: 1925; Muslim: 297.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref25">[25]</a> HR. Bukhari: 1933.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref26">[26]</a> <em>Al Majmu</em>’ 6/559.</p>
<div class="shr-publisher-6765"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Ffiqih-ringkas-itikaf-4.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Ffiqih-ringkas-itikaf-4.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Ffiqih-ringkas-itikaf-4.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fiqih Ringkas I&#8217;tikaf (3)</title>
		<link>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Aug 2011 00:30:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yulian Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh dan Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[I'tikaf]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=6755</guid>
		<description><![CDATA[Syarat I’tikaf Syarat-syarat i’tikaf adalah sebagai berikut: 1. Islam وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَلا يَأْتُونَ الصَّلاةَ إِلا وَهُمْ كُسَالَى وَلا يُنْفِقُونَ إِلاوَهُمْ كَارِهُونَ (٥٤) “Dan tidak ada yang<a class="more" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><strong>Syarat I’tikaf</strong></p>
<p>Syarat-syarat i’tikaf adalah sebagai berikut:</p>
<p><strong>1. Islam</strong></p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَلا يَأْتُونَ الصَّلاةَ إِلا وَهُمْ كُسَالَى وَلا يُنْفِقُونَ إِلاوَهُمْ كَارِهُونَ (٥٤)</p>
<p><em>“Dan tidak ada yang menghalangi untuk diterimanya nafkah-nafkah mereka, melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mereka tidak mengerjakan sembahyang melainkan dengan malas, dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.”</em> (At Taubah: 54).</p>
<p>Al ‘Allamah Abdurrahman as Sa’di <em>rahimahullah</em> mengatakan,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">والأعمال كلها شرط قبولها الإيمان، فهؤلاء لا إيمان لهم</p>
<p><em>“Persyaratan agar seluruh amal ibadah diterima adalah iman, sedangkan mereka yang tersebut dalam ayat ini tidak memiliki keimanan.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn1">[1]</a></p>
<p><strong>2. </strong><strong>Niat, Berakal, dan Tamyiz</strong></p>
<p>I’tikaf seorang yang gila, mabuk, dan pingsan tidaklah sah karena mereka tidak mampu berniat, tidak pula berakal. Padahal rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ</p>
<p><strong>“</strong><em>Sesungguhnya seluruh amalan itu bergantung pada niatnya</em><strong> “</strong><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn2">[2]</a><strong></strong></p>
<p>Maksud dari hadits tersebut adalah keabsahan dan diterimanya suatu amalan adalah karena niat yang melandasinya, sehingga sabda beliau ini berkaitan dengan keabsahan suatu amalan.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Seorang yang masuk ke dalam masjid memiliki beraneka ragam tujuan, diantara mereka ada yang hendak shalat, mendengarkan ta’lim, beri’tikaf, dan sebagainya. Dengan demikian, seorang yang hendak beri’tikaf membutuhkan niat untuk membedakan tujuan dari ibadah selainnya yang juga turut dikerjakan di masjid seperti shalat. Dan niat tersebut hanya mampu dilakukan oleh seorang yang berakal. <em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p><strong>3. </strong><strong>Suci dari Haidh dan Nifas</strong></p>
<p>Para ulama mengemukakan bahwa dalil yang menyatakan bahwa suci dari haidh, nifas, dan junub merupakan syarat i’tikaf adalah dalil-dalil yang menyatakan terlarangnya orang yang haidh, nifas, dan junub untuk berdiam di masjid. Berikut beberapa diantaranya,</p>
<p>Pertama, firman Allah <em>ta’ala</em>,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَقْرَبُوا الصَّلاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلا جُنُبًا إِلا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا (٤٣)</p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula menghampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi.”</em> (An Nisa: 43).</p>
<p>Ibnu Katsir <em>rahimahullah </em>mengatakan,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">ينهى تبارك وتعالى عباده المؤمنين عن فعل الصلاة في حال السكر الذي لا يدري معه المصلي ما يقول وعن قربان محالها التي هي المساجد للجنب إلا أن يكون مجتازا من باب إلى باب من غير مكث</p>
<p><em>“Allah tabaraka wa ta’ala melarang para hamba-Nya yang beriman mengerjakan shalat dalam keadaan mabuk sehingga dia tidak mengetahui makna surat yang dibacanya. Demikian pula Dia melarang mereka yang junub mendekati tempat shalat, yaitu masjid kecuali hanya sekedar lewat dari satu pintu ke pintu yang lain tanpa berdiam di dalamnya.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Sisi pendalilan dari ayat ini adalah ketika Allah <em>ta’ala</em> melarang seorang yang junub mendekati masjid, maka hukum ini juga berlaku pada wanita yang sedang mengalami haidh, karena haidh yang dialaminya merupakan hadats yang jauh lebih berat daripada sekedar junub. Oleh karena itu, seorang yang haidh dilarang bercampur dengan suami, berpuasa, dan kewajiban shalat digugurkan darinya.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Kedua, sabda nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> kepada ‘Aisyah <em>radhiallahu ‘anha</em> yang tengah melaksanakan ihram kemudian tertimpa haidh,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">افْعَلِى مَا يَفْعَلُ الْحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِى بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِى</p>
<p><em>“Kerjakanlah apa yang dikerjakan seorang yang berhaji, namun janganlah engkau berthawaf di Bait al-Haram hingga kamu suci.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Ketiga, perkataan ‘Aisyah <em>radhiallahu ‘anhu</em>,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">كُنَّ الْمُعْتَكِفَاتُ إذَا حِضْنَ أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِإِخْرَاجِهِنَّ<strong> </strong>عَنْ الْمَسْجِدِ</p>
<p><em>“Kami wanita yang beri’tikaf, apabila mengalami haidh, maka rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memerintahkan untuk mengeluarkannya dari masjid.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn7">[7]</a></p>
<p><strong>Pertanyaan: Bagaimanakah hukum seorang wanita yang mengalami istihadhah, bolehkah dia beri’tikaf?</strong></p>
<p>Jawab:</p>
<p>Seorang wanita yang mengalami <em>isthadhah</em> diperbolehkan beri’tikaf berdasarkan hadits ‘Aisyah <em>radhiallahu ‘anha</em>,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">اعْتَكَفَتْ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – امْرَأَةٌ مِنْ أَزْوَاجِهِ ، فَكَانَتْ<strong> </strong>تَرَى الدَّمَ وَالصُّفْرَةَ ، وَالطَّسْتُ تَحْتَهَا وَهْىَ تُصَلِّى</p>
<p><em>“Salah seorang istri nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf bersama beliau dalam keadaan beristihadhah. Istri beliau tersebut mengeluarkan darah dan lendir berwarna kuning, dia mengerjakan shalat dan di bawah tubuhnya terdapat bejana (untuk menampung darah tersebut).”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Al ‘Aini <em>rahimahullah</em> mengatakan,</p>
<p><em>“Diantara kesimpulan hukum yang dapat dipetik adalah wanita yang mengalami istihadhah boleh beri’tikaf dan shalat, karena kondisinya adalah kondisi suci. Wanita tersebut meletakkan bejana (di bawahnya) agar darah tersebut tidak mengenai baju atau masjid. Selain itu, darah istihadhah juga encer, tidak seperti darah haidh. Hukum bolehnya I’tikaf bagi wanita yang mengalami istihadhah ini juga diberlakukan bagi kondisi yang semisal seperti seorang yang sering mengeluarkan urin (beser), madzi, wadi, dan mengalami luka yang senantiasa mengalirkan darah.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn9">[9]</a></p>
<p><strong>4. </strong><strong>Bagi wanita, memperoleh Izin dari suami dan aman dari fitnah</strong></p>
<p>‘Aisyah <em>radhiallahu ‘anha</em>. Dia mengatakan,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ ، وَإِذَا صَلَّى الْغَدَاةَ دَخَلَ مَكَانَهُ الَّذِى اعْتَكَفَ فِيهِ – قَالَ – فَاسْتَأْذَنَتْهُ عَائِشَةُ أَنْ تَعْتَكِفَ فَأَذِنَ لَهَا فَضَرَبَتْ فِيهِ قُبَّةً</p>
<p><em>“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa beri’tikaf di bulan Ramadhan. Apabila beliau selesai melaksanakan shalat Subuh, beliau masuk ke dalam tempat I’tikaf.</em> (Salah seorang perawi hadits ini mengatakan), <em>“Maka ‘Aisyah pun meminta izin kepada nabi untuk beri’tikaf. Beliau pun mengizinkannya dan ‘Aisyah pun membuat kemah di dalam masjid.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn10">[10]</a></p>
<p>Hadits ini juga menjadi dasar bahwa seorang wanita harus terlebih dahulu meminta izin kepada suami jika hendak beri’tikaf.</p>
<p>Dalam riwayat yang lain tercantum lafadz</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">وَسَأَلَتْ حَفْصَةُ عَائِشَةَ أَنْ تَسْتَأْذِنَ لَهَا</p>
<p><em>“Hafshah meminta bantuan ‘Aisyah agar memintakan izin baginya kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (untuk beri’tikaf).”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn11">[11]</a></p>
<p>Ibnu Qudamah <em>rahimahullah</em> mengatakan,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">وليس للزوجة أن تعتكف إلا بإذن زوجها ولا للمملوك أن يعتكف إلا بإذن سيده لأن منافعها مملوكة لغيرهما والاعتكاف يفوتها ويمنع استيفاءها وليس بواجب عليهما بالشرع فكان لها المنع منه</p>
<p><em>“Istri tidak boleh beri’tikaf kecuali diizinkan oleh suami. Begitupula dengan budak, dia tidak boleh beri’tikaf kecuali diizinkan oleh majikannya. Hal ini dikarenakan manfaat yang ada pada diri mereka juga dimiliki oleh selain mereka (yaitu suami dan majikan). I’tikaf akan menghilangkan dan menghambat manfaat tersebut. Selain itu, I’tikaf tidaklah wajib bagi mereka. Dengan demikian, I’tikaf menjadi terlarang bagi mereka (kecuali setelah diizinkan).”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn12">[12]</a></p>
<p><strong>5. </strong><strong>Dilaksanakan di Masjid</strong></p>
<p>Dalil akan hal tersebut adalah sebagai berikut:</p>
<p>a. Firman Allah <em>ta’ala</em>,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ (١٨٧)</p>
<p><em>“Dan janganlah kalian mencampuri mereka (para wanita), sedang kalian beri’tikaf dalam masjid.”</em> (Al Baqarah: 187).</p>
<p>Ayat ini menyatakan bahwa i’tikaf disyari’atkan di masjid.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn13">[13]</a></p>
<p>Ibnu Hajr Al Asqalani <em>rahimahullah</em> mengatakan,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">وَوَجَدَ الدَّلَالَة مِنْ الْآيَة أَنَّهُ لَوْ صَحَّ فِي غَيْر الْمَسْجِد لَمْ يَخْتَصَّ تَحْرِيم الْمُبَاشَرَةِ بِهِ ، لِأَنَّ الْجِمَاع مُنَافٍ لِلِاعْتِكَافِ بِالْإِجْمَاعِ ، فَعُلِمَ مِنْ ذِكْرِ الْمَسَاجِدِ أَنَّ الْمُرَادَ أَنَّ الِاعْتِكَافَ لَا يَكُون إِلَّا فِيهَا</p>
<p><em>“Indikasi hukum yang terdapat pada ayat ini adalah jika i’tikaf sah dilakukan di selain masjid, maka tentulah pengharaman mubasyarah (jima’) tidak dikhususkan di dalam masjid. Hal ini dikarenakan jima’ membatalkan i’tikaf secara ijma’. Dengan demikian, dapat diketahui maksud penyebutan masjid di dalam ayat tersebut adalah i’tikaf tidaklah sah kecuali dikerjakan di dalam masjid.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn14">[14]</a></p>
<p>b. Hadits ‘Aisyah <em>radhiallahu ‘anha</em> menyatakan bahwa ketika nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> beri’tikaf, beliau mengeluarkan kepalanya dari masjid agar dapat disisir oleh ‘Aisyah dan beliau tidak masuk ke dalam rumah kecuali ada kebutuhan yang mendesak.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn15">[15]</a></p>
<p>c. Ijma’ yang diklaim oleh sejumlah ulama. Al Qurthubi <em>rahimahullah</em> mengatakan,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">أجمع العلماء على أن الاعتكاف لا يكون في إلا في المسجد</p>
<p><em>“Ulama bersepakat bahwa I’tikaf hanya boleh dikerjakan di dalam masjid.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn16"><em><strong>[16]</strong></em></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Pertanyaan: Bagaimana kriteria masjid yang dapat dipakai untuk beri’tikaf?</strong></p>
<p>Jawab:</p>
<p>Kriteria masjid yang dipakai oleh pria untuk beri’tikaf adalah masjid yang di dalamnya ditegakkan shalat berjama’ah, mengingat pria diwajibkan untuk menunaikan shalat wajib secara berjama’ah di masjid.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn17">[17]</a></p>
<p>Ibnu ‘Abbas <em>radhiallahu ‘anhu</em> mengatakan,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">لا اعتكاف إلا في مسجد تجمع فيه الصلوات</p>
<p><em>“Tidak ada I’tikaf melainkan di masjid yang di dalamnya ditegakkan shalat berjama’ah.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn18">[18]</a></p>
<p>Lebih disukai jika hal itu dilaksanakan di masjid Jami’ (masjid yang juga digunakan untuk shalat Jum’at).<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn19">[19]</a></p>
<p>Jika seorang diperkenankan untuk beri’tikaf di masjid yang di dalamnya tidak ditegakkan shalat wajib secara berjama’ah, maka hal ini akan menimbulkan dua dampak negatif bagi seorang, yaitu,</p>
<ul>
<li>Meninggalkan shalat wajib secara berjama’ah yang diwajibkan kepada setiap pria.</li>
<li>Atau menggiring seorang untuk keluar dari masjid yang digunakannya beri’tikaf untuk menunaikan shalat berjama’ah di masjid yang di dalamnya ditegakkan shalat wajib secara berjama’ah. Tindakan itu akan senantiasa terulang, padahal sangat memungkinkan dia tidak melakukannya, yaitu dengan memilih masjid yang ditegakkan shalat berjama’ah di dalamnya. Tindakannya tersebut justru akan menafikan tujuan i’tikaf, karena esensi I’tikaf adalah berdiam diri dan menegakkan ketaatan di dalam masjid.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn20">[20]</a></li>
</ul>
<p><strong>Pertanyaan: “Terdapat hadits Hudzaifah ibn al-Yaman <em>radhiallahu ‘anhu</em> yang menyatakan “<em>Tidak ada i’tikaf kecuali di tiga masjid.</em>” Sebagian ulama berdalil dengan hadits ini dan menyatakan bahwa I’tikaf hanya sah dilakukan di ketiga masjid, yaitu masjid al-Haram, masjid Nabawi, dan masjid al-Aqsha?”</strong></p>
<p>Jawab:</p>
<p>Teks lengkap hadits Hudzaifah tersebut adalah sebagai berikut, Ath Thahawi <em>rahimahullah</em> berkata Muhammad bin Sinan Asy Syairazi<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn21">[21]</a> memberitakan kepada kami, Hisyam bin ‘Ammar<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn22">[22]</a> memberitakan kepada kami, Sufyan ibn ‘Uyainah memberitakan kepada kami, riwayat dari Jami’ bin Abi Rasyid dari Abu Wail, dia mengatakan, Hudzaifah berkata kepada Abdullah,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">الناس عكوف بين دارك ودار أبي موسى لا تغير؟! ، وقد علمت أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : « لا اعتكاف إلا في المساجد الثلاثة : المسجد الحرام ومسجد النبي صلى الله عليه وسلم ومسجد بيت المقدس » قال : عبد الله لعلك نسيت وحفظوا ، وأخطأت وأصابوا</p>
<p><em>“Terdapat sekelompok orang yang beri’tikaf di antara rumahmu dan rumah Abu Musa, dan anda tidak menegurnya, padahal anda tahu rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,<br />
Tidak ada I’tikad kecuali di tiga masjid, yaitu masjid al-Haram, masjid Nabi, dan masjid Bait al-Maqdis? Abdullah bin Mas’ud menjawab, “Mungkin anda yang lupa dan mereka yang mengingatnya, dan mungkin anda yang keliru dan merekalah yang benar.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn23">[23]</a></p>
<p>Jawaban akan hal tersebut adalah sebagai berikut:<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn24">[24]</a></p>
<p><strong>Pertama</strong>, hadits tersebut masih diperselisihkan apakah berstatus <em>marfu’</em> (bersambung kepada nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>) atau <em>mauquf</em> (hanya sampai kepada Hudzaifah <em>radhiallahu ‘anhu</em> saja), yang tepat hadits tersebut berstatus <em>mauquf</em>.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn25">[25]</a></p>
<p><strong>Kedua</strong>, dalam riwayat tersebut, sahabat Ibnu Mas’ud <em>radhiallahu ‘anhu</em> tidak menerima riwayat Hudzaifah <em>radhiallahu ‘anhu</em>. Hal ini tidak mungkin terjadi seandainya Ibnu Mas’ud mengetahui bahwa hadits tersebut memang sanadnya bersambung sampai kepada nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Hal ini menunjukkan bahwa hal tersebut berasal dari ijtihad Hudzaifah <em>radhiallahu ‘anhu</em> semata.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn26">[26]</a></p>
<p><strong>Ketiga</strong>, jika memang benar riwayat Hudzaifah tersebut shahih dan <em>marfu’</em>, maka hadits tersebut menjelaskan keutamaan yang lebih jika I’tikaf dilakukan di ketiga masjid tersebut. Al Kasani <em>rahimahullah</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn27">[27]</a> mengatakan, “I’tikaf yang paling utama dikerjakan di masjid al-Haram, kemudian di masjid Madinah, masjid al-Aqsha, dan masjid besar yang banyak jama’ahnya.”</p>
<p><strong>Keempat</strong>, Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin <em>rahimahullah</em> mengatakan,</p>
<p>“I’tikaf di selain masjid yang tiga, yaitu masjid al-Haram, masjid an-Nabawi, dan masjid al-Aqsha, disyari’atkan pada waktunya dan tidak hanya khusus di tiga masjid tersebut. Bahkan, I’tikaf itu dapat dilakukan di masjid selain ketiga masjid tersebut.</p>
<p>Inilah pendapat para imam kaum muslimin, para imam madzhab yang diikuti oleh kaum muslimin, yaitu imam Ahmad, Malik, Asy Syafi’i, Abu Hanifah, dan selain mereka <em>rahimahumullah</em> berdasarkan firman Allah <em>ta’ala</em>,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;"> وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ  اللَّهِ فَلاَ تَقْرَبُوهَا كَذالِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ</p>
<p>Kata “المساجد” dalam ayat tersebut umum dan mencakup seluruh masjid di penjuru bumi. Redaksi ayat ini berada dalam urutan akhir dari rentetan ayat-ayat puasa yang hukumnya mencakup seluruh umat Islam di penjuru bumi.</p>
<p>Dengan demikian, redaksi ayat ini, -yang menyebutkan perihal i’tikaf-, (juga) merupakan seruan kepada setiap orang yang diseru untuk menunaikan puasa. Oleh karena itu, berbagai hukum yang saling terkait ini ditutup dalam redaksi dan seruan yang berbunyi,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلاَ تَقْرَبُوهَا كَذالِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ</p>
<p>Sangat mustahil, Allah memerintahkan umat ini dengan sebuah seruan yang hanya mencakup sebagian kecil dari umat ini (padahal di awal rentetan ayat, Allah menyeru semua umat ini).</p>
<p>Adapun hadits Hudzaifah ibn al-Yaman <em>radhiallahu ‘anhu</em> dengan redaksi “لا اعتكاف إلا في المساجد الثلاثة”, jika memang selamat dari berbagai cacat, maksudnya adalah menafikan kesempurnaan (i’tikaf yang dilaksanakan di selain ketiga masjid tersebut). Dengan demikian, maknanya adalah I’tikaf yang paling sempurna adalah yang dilakukan di tiga masjid tersebut, dikarenakan kemuliaan dan keutamaan ketiga masjid tersebut daripada masjid-masjid yang lain.</p>
<p>Redaksi seperti ini banyak contohnya dalam hadits nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Maksud saya bahwa penafian (yang terdapat dalam redaksi sebuah hadits) terkadang maksudnya penafian kesempurnaan, bukan (semata-mata) penafian hakikat (eksistensi) dan keabsahan sesuatu.</p>
<p>Hal ini seperti sabda nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">لا صلاة بحضرة طعام</p>
<p><em>&#8220;Tidak sempurna shalat seorang ketika makanan telah dihidangkan baginya&#8221;</em></p>
<p>dan hadits yang lain. Tidak diragukan lagi bahwa hukum asal penafian yang terdapat dalam suatu nash adalah penafian keabsahan dan eksistensi sesuatu. Akan tetapi, apabila terdapat dalil yang tidak mendukung hal tersebut, maka wajib berpegang dengannya. Hal ini sebagaimana hadits Hudzaifah, jika memang hadits tersebut selamat dari berbagai cacat. <em>Wallahu a’alam.</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn28">[28]</a></p>
<p><strong>Pertanyaan: Bagaimana dengan puasa, bukankah puasa termasuk syarat i’tikaf berdasarkan perbuatan nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang senantiasa mengerjakan I’tikaf dengan berpuasa?</strong></p>
<p>Jawab:</p>
<p>Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai hal ini. Namun, pendapat yang terkuat adalah puasa bukanlah syarat untuk mengerjakan I’tikaf. Hal ini didasarkan pada beberapa dalil berikut:<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn29">[29]</a></p>
<p>Pertama, firman Allah <em>ta’ala</em>,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ (١٨٧)</p>
<p><em>“Sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid.”</em> (Al Baqarah: 187).</p>
<p>Ayat ini menunjukkan pensyari’atan puasa tanpa dibarengi puasa karena tercantum secara mutlak tanpa ada pembatasan.</p>
<p>Kedua, firman Allah <em>ta’ala</em>,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْا عَلَى قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَى أَصْنَامٍ لَهُمْ قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ (١٣٨)</p>
<p><em>“Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu<strong>, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang bertapa (beri’tikaf) menyembah berhala mereka</strong>, Bani lsrail berkata: “Hai Musa. buatlah untuk Kami sebuah Tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa Tuhan (berhala)”. Musa menjawab: “Sesungguh-nya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan).”</em> (Al A’raaf: 138).</p>
<p>Pada ayat ini Allah menyebut tindakan kaum musyrikin yang berdiam di samping berhala mereka dengan sebutan i’tikaf, meskipun mereka tidak berpuasa. Maka seorang yang mengekang diri untuk Allah di rumah-Nya (yakni masjid), bisa juga disebut seorang yang beri’tikaf, meskipun dia tidak berpuasa.</p>
<p>Ketiga, hadits Ibnu ‘Umar yang menceritakan bahwa ‘Umar <em>radhiallahu ‘anhu</em>, bertanya kepada nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em></p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">كُنْتُ نَذَرْتُ فِى الْجَاهِلِيَّةِ أَنْ أَعْتَكِفَ لَيْلَةً فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ قَالَ « فَأَوْفِ بِنَذْرِكَ »</p>
<p><em>“Pada masa jahiliyah, saya pernah bernadzar untuk beri’tikaf semalam di Masjid al-Haram.” Maka nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memerintahkannya untuk menunaikan nadzar tersebut</em>.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn30">[30]</a></p>
<p>Hadits di atas menunjukkan bahwa I’tikaf dapat dilakukan tanpa dibarengi dengan puasa, karena malam bukanlah waktu untuk berpuasa. Jika puasa merupakan syarat I’tikaf, tentulah nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidak mengijinkan ‘Umar <em>radhiallahu ‘anh</em> untuk beri’tikaf.</p>
<p>Keempat, pada hadits ‘Aisyah <em>radhiallahu ‘anha</em> disebutkan bahwa nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> meninggalkan I’tikaf di bulan Ramadhan dan baru melaksanakannya pada sepuluh hari pertama di bulan Syawwal.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn31">[31]</a></p>
<p>Hadits ini menunjukkan bahwa puasa bukanlah syarat I’tikaf, karena nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> beri’tikaf pada sepuluh hari pertama di bulan Syawwal dan hari ‘Ied termasuk di dalam rentang waktu tersebut. Telah dimaklumi bersama bahwa berpuasa ketika hari ‘Ied tidak diperbolehkan, karena nabi melarang hal tersebut.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn32">[32]</a></p>
<p>Kelima, Thawus <em>rahimahullah</em> meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas <em>radhiallahu ‘anh</em> dengan sanad yang shahih, bahwa beliau berpendapat bahwa seorang yang beri’tikaf tidak wajib berpuasa kecuali dia mewajibkan puasa atas dirinya.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftn33">[33]</a></p>
<p>Keenam, seorang yang beri’tikaf lebih dari sehari, maka tentu dia akan beri’tikaf di siang dan malam hari. Konsekuensi pendapat yang menyatakan puasa merupakan syarat I’tikaf adalah status I’tikaf yang dilakukan orang tersebut pada malam hari tidaklah sah.</p>
<p>Adapun tindakan nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang senantiasa berpuasa ketika beri’tikaf, maka bisa kita menjawabnya bahwa nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tentulah lebih memilih kondisi yang paling afdhal dalam I’tikaf yang dilakukannya. Oleh karena itu, beliau beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, padahal beri’tikaf di selain waktu tersebut diperbolehkan. Demikian pula, beliau beri’tikaf selama sepuluh hari, padahal beri’tikaf dalam rentang waktu yang lebih pendek dari itu juga diperbolehkan.</p>
<p><em>-bersambung insya Allah-</em></p>
<hr size="1" />
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref1">[1]</a> <em>Taisir Karim ar Rahman</em> hlm. 340.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref2">[2]</a> HR. Bukhari: 1, Muslim: 1907.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref3">[3]</a> <em>Syarh Al Arba’in an Nawawi</em> karya Syaikh Shalih alu Asy Syaikh.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref4">[4]</a> <em>Tafsir Quran al-’Azhim</em> 2/308; Asy Syamilah.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref5">[5]</a> <em>Al Hawi</em> 1/384. Dikutip dari Fiqh Al I’tikaf hlm. 73.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref6">[6]</a> HR. Bukhari: , Muslim:  .</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref7">[7]</a> Ibnu Jarir dalam Al Mughni 5/174 menisbatkan riwayat ini pada Abu Hafsh al ‘Akbari dan dia berkata, “sanad riwayat ini jayyid.”</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref8">[8]</a> HR. Bukhari: 304.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref9">[9]</a> <em>‘Umdah al-Qari</em> 3/280; Asy Syamilah.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref10">[10]</a> HR. Bukhari: 1936.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref11">[11]</a> HR. Bukhari: 1940.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref12">[12]</a> <em>Al Mughni</em> 3/151.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref13">[13]</a> Tafsir Surat Al Baqarah 2/358.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref14">[14]</a> <em>Fath al Baari</em> 4/345.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref15">[15]</a> HR. Bukhari: 1925, Muslim: 297.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref16">[16]</a> <em>Al Jami’ li Ahkam Al Quran</em> 2/324; Asy Syamilah.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref17">[17]</a> Salah satu dalil akan hal ini adalah sabda nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلاَةِ فَتُقَامَ ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى مَنَازِلِ قَوْمٍ لاَ يَشْهَدُونَ الصَّلاَةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ</p>
<p><em>“Saya sangat berkeinginan memerintahkan agar shalat ditegakkan, kemudian saya bertolak ke rumah para pria yang tidak menghadiri shalat berjama’ah, lalu saya bakar mereka.”</em> (HR. Bukhari: 2288).</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref18">[18]</a> HR. Abdullah ibn Ahmad dalam Masailnya 2/673 dari ayah beliau (imam Ahmad).</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref19">[19]</a> <span style="text-decoration: underline;"><em>Al Majmu’</em></span> 6/480; Asy Syamilah.</p>
<p><strong>Catatan:</strong> Seorang yang tidak beri’tikaf di masjid Jami’, maka wajib keluar untuk shalat Jum’at. Keluarnya tersebut terhitung sebagai udzur syar’i sehingga tidak membatalkan i’tikafnya, lagipula hal itu hanya dilakukan sekali dalam seminggu, tidak berulangkali. Al Kasani <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Demikian pula keluar untuk menunaikan shalat Jum’at termasuk darurat, karena hukum menunaikan shalat Jum’at adalah fa<em>radhiallahu ‘anhu</em>u ‘ain dan tidak mungkin dilaksanakan di setiap masjid. Sehingga, seorang harus keluar (ke masjid Jami’) untuk menunaikannya seperti (seorang yang keluar dari masjid tempatnya beri’tikaf) untuk menunaikan hajat. Keluarnya tersebut tidaklah membatalkan i’tikafnya.” (Badai’ Ash-Shanai’ 2/114).</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref20">[20]</a> <em>Al Mughni</em> 3/187. Dikutip dari ‘Uudu ilaa Khair al-Hadyi hlm. 64.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref21">[21]</a> Adz Dzahabi <em>rahimahullah</em> dalam <em>al Mizan</em> 3/575 menyifati beliau dengan “صاحب مناكر”, perawi yang sering membawakan riwayat mungkar.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref22">[22]</a> Memiliki kelemahan dalam hafalan dan tatkala memasuki usia senja hafalan beliau mulai berubah. Lihat <em>at-Tahdzib</em> 11/51-54.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref23">[23]</a> HR. Ath Thahawi dalam <em>Musykil al-Atsar</em> 6/265; Asy Syamilah.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref24">[24]</a> Bagi para pembaca yang ingin memperluas pembahasan hal ini, dapat melihat <em>Fiqh al-I’tikaf</em> hlm. 120-123, <em>‘Uudu ilaa Khair al-Hadyi</em> hlm. 66-69, <em>al-Inshaf fi Ahkam al-I’tikaf</em> hlm. 26-41.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref25">[25]</a> HR. Abdurrazzaq dalam <em>Mushannaf</em>-nya 4/348.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref26">[26]</a> Asy Syaukani <em>rahimahullah</em> ketika mengomentari perkataan Ibnu Mas’ud <em>radhiallahu ‘anhu</em> yang mengingkari Hudzaifah <em>radhiallahu ‘anhu</em>, berkata,</p>
<p>“Perkataan beliau (Ibnu Mas’ud) ini menunjukkan bahwa dalam permasalahan ini, Hudzaifah tidak berdalil dengan satu hadits pun yang berasal dari nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. (Hal itu diperkuat karena) Abdullah (Ibnu Mas’ud) menyelisihinya dan (malah) membolehkan I’tikaf dilakukan di setiap masjid. Jika terdapat hadits nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> (yang menerangkan hal itu) tentulah Abdullah bin Mas’ud tidak menyelisihinya.” (<em>Nailul Authar</em> 4/360).</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref27">[27]</a> <em>Badai’ ash Shanai’</em> 2/113.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref28">[28]</a> <em>Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibni ‘Utsaimin</em> 20/112; Asy Syamilah.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref29">[29]</a> Diadaptasi dari <em>Fiqh Al I’tikaf</em> hlm. 98-106.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref30">[30]</a> HR. Bukhari: 1927.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref31">[31]</a> HR. Muslim: 1172.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref32">[32]</a> HR. Muslim: 1140.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html#_ftnref33">[33]</a> HR. Baihaqi dalam <em>Sunan Al Kubra</em>:  8370.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Penulis: M. Nur Ichwan Muslim<br />
Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-6755"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Ffiqih-ringkas-itikaf-3.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Ffiqih-ringkas-itikaf-3.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Ffiqih-ringkas-itikaf-3.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-3.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fidyah Tidak Boleh Diganti Uang</title>
		<link>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fidyah-tidak-boleh-diganti-uang.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fidyah-tidak-boleh-diganti-uang.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Aug 2011 22:00:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh dan Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[fidyah]]></category>
		<category><![CDATA[pembayaran]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=6715</guid>
		<description><![CDATA[Ada sebagian orang yang mendapat kewajiban menunaikan fidyah karena ia sudah berada di usia senja dan sulit jalani puasa. Tentang hal ini disebutkan dalam firman Allah, وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ “Dan wajib bagi<a class="more" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fidyah-tidak-boleh-diganti-uang.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Ada sebagian orang yang mendapat kewajiban menunaikan fidyah karena ia sudah berada di usia senja dan sulit jalani puasa. Tentang hal ini disebutkan dalam firman Allah,</p>
<p style="text-align: center;">وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ</p>
<p><em>“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin</em>” (QS. Al Baqarah: 184).</p>
<p>Ibnu ‘Abbas mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;">هُوَ الشَّيْخُ الْكَبِيرُ وَالْمَرْأَةُ الْكَبِيرَةُ لاَ يَسْتَطِيعَانِ أَنْ يَصُومَا ، فَلْيُطْعِمَانِ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا</p>
<p>“(Yang dimaksud dalam ayat tersebut) adalah untuk orang yang sudah sangat tua dan nenek tua, yang tidak mampu menjalankannya, maka hendaklah mereka memberi makan setiap hari kepada orang miskin.” (HR. Bukhari no. 4505). Haruskah fidyah ini dengan makanan dan tidak boleh diganti uang?</p>
<p>Perlu diketahui bahwa tidak boleh fidyah yang diwajibkan bagi orang yang berat berpuasa diganti dengan uang yang senilai dengan makanan karena dalam ayat dengan tegas dikatakan harus dengan makanan. Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p style="text-align: center;">فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ</p>
<p>“Membayar fidyah dengan memberi makan pada orang miskin.”</p>
<p>Syaikhuna, Syaikh Sholih Al Fauzan hafizhohullah ketika ditanya mengenai bolehkah fidyah dengan uang, beliau menjawab, “Mengeluarkan fidyah tidak bisa digantikan dengan uang sebagaimana yang penanya sebutkan. Fidyah hanya boleh dengan menyerahkan makanan yang menjadi makanan pokok di daerah tersebut. Kadarnya adalah setengah sho’ dari makanan pokok yang ada yang dikeluarkan bagi setiap hari yang ditinggalkan. Setengah sho’ kira-kira 1½ kg. Jadi, tetap harus menyerahkan berupa makanan sebagaimana ukuran yang kami sebut. Sehingga sama sekali tidak boleh dengan uang. Karena Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Membayar fidyah dengan memberi makan pada orang miskin.” Dalam ayat ini sangat jelas memerintah dengan makanan.” (Al Muntaqo min Fatawa Syaikh Sholih Al Fauzan, 3/140. Dinukil dari Fatwa Al Islam Sual wa Jawab no. 66886)</p>
<p style="text-align: center;"><em>Wallahu waliyyut taufiq.</em></p>
<p>Selengkapnya tentang pembayaran fidyah, silakan melihat artikel berikut: <a href="http://muslim.or.id/ramadhan/cara-penunaian-fidyah.html"><strong>Pembayaran Fidyah</strong></a>.</p>
<p>Panggang-Gunung Kidul, 13 Ramadhan 1432 H (13/08/2011)</p>
<p>Penulis: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-6715"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Ffidyah-tidak-boleh-diganti-uang.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Ffidyah-tidak-boleh-diganti-uang.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Ffidyah-tidak-boleh-diganti-uang.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fidyah-tidak-boleh-diganti-uang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Konsumsi Obat Penghalang Haidh Ketika Ramadhan</title>
		<link>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/konsumsi-obat-penghalang-haidh-ketika-ramadhan.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/konsumsi-obat-penghalang-haidh-ketika-ramadhan.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Aug 2011 23:00:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh dan Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[haidh]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=6703</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi wa sallam. Kita telah mengetahui bersama bahwa puasa adalah amalan mulia. Ganjaran di balik amalan tersebut pun bisa jadi tak terhingga. Oleh karena<a class="more" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/konsumsi-obat-penghalang-haidh-ketika-ramadhan.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><em>Alhamdulillah, wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi wa sallam.</em></p>
<p>Kita telah mengetahui bersama bahwa puasa adalah amalan mulia. Ganjaran di balik amalan tersebut pun bisa jadi tak terhingga. Oleh karena itu, setiap orang yang beriman dengan benar pasti tidak ingin luput dari amalan yang mulia ini. Termasuk pula para wanita muslimah, mereka pun sangat ingin sekali menunaikan puasa sebulan penuh, tanpa luput sehari pun juga. Padahal selama belum monopause, si wanita sesuai ketentuan Allah, biasanya mengalami haidh setiap bulannya. Di bulan Ramadhan pun ia akan mendapati masa haidh tersebut. Sehingga ia mesti mengqodho’nya di luar Ramadhan. Yang jadi permasalahan, apabila si wanita menggunakan obat-obatan untuk menghalangi datangnya haidh agar ia dapat berpuasa secara sempurna. Atau sebagian wanita juga punya keinginan untuk bisa menikmati lailatul qadar di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sehingga ia pun menggunakan obat-obatan tersebut untuk menghalangi datang bulan. Apakah menggunakan obat-obatan semacam itu dibolehkan?</p>
<p>Inilah pembahasan yang akan kami angkat pada kesempatan kali ini.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Pendapat Ulama Masa Silam</strong></span></p>
<p>‘Abdur Rozaq telah menceritakan pada kami, (ia berkata) telah menceritakan Ibnu Jarir pada kami,  (ia berkata) bahwa ‘Atho’ ditanya mengenai seorang wanita yang datang haidh lantas ia menggunakan obat-obatan untuk menghilangkan haidhnya padahal itu di masa haidnya, apakah ia boleh melakukan thowaf?</p>
<p dir="RTL" align="center">نعم إذا رأت الطهر فإذا هي رأت خفوقا ولم تر الطهر الأبيض فلا</p>
<p>“Ia boleh thowaf jika ia telah suci. Jika ia melihat suatu yang kering, namun belum terlihat tanda suci, maka ia tidak boleh thowaf”, jawab ‘Atho’. (Mushonnaf ‘Abdur Rozaq, 1219)</p>
<p>‘Abdur Rozaq telah menceritakan pada kami, (ia berkata) telah menceritakan Ma’mar pada kami,  (ia berkata) telah menceritakan pada kami Washil, bekas budak Ibnu ‘Uyainah, (ia berkata) ada seseorang yang bertanya pada Ibnu ‘Umar mengenai wanita yang begitu lama mengalami haidh lalu ia ingin mengkonsumsi obat yang dapat menghentikan darah haidhnya. Washil berkata,</p>
<p dir="RTL" align="center">فلم ير بن عمر بأسا</p>
<p>“Ibnu ‘Umar menganggap hal itu tidak masalah.”</p>
<p>Ma’mar berkata,</p>
<p dir="RTL" align="center">وسمعت بن أبي نجيح يسأل عن ذلك فلم ير به بأسا</p>
<p>“Aku mendengar Abu Najih menanyakan hal ini. Lantas ia menganggap perbuatan semacam itu tidak mengapa.” (Mushonnaf ‘Abdur Rozaq, 1220). Syaikh Musthofa Al ‘Adawi <em>hafizhohullah</em> berkata bahwa yang benar riwayat ini adalah perkataan Abu Najih.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3136-konsumsi-obat-penghalang-datang-haidh-ketika-ramadhan.html#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Dalam Al Mughni, Ibnu Qudamah <em>rahimahullah </em>menyebutkan,</p>
<p dir="RTL" align="center">رُوِيَ عَنْ أَحْمَدَ رَحِمَهُ اللَّهُ ، أَنَّهُ قَالَ : لَا بَأْسَ أَنْ تَشْرَبَ الْمَرْأَةُ دَوَاءً يَقْطَعُ عَنْهَا الْحَيْضَ ، إذَا كَانَ دَوَاءً مَعْرُوفًا .</p>
<p>Diriwayatkan dari Imam Ahmad <em>rahimahullah</em>, beliau berkata, “Tidak mengapa seorang wanita mengkonsumsi obat-obatan untuk menghalangi haidh, asalkan obat tersebut baik (tidak membawa efek negatif).”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3136-konsumsi-obat-penghalang-datang-haidh-ketika-ramadhan.html#_ftn2">[2]</a> <a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3136-konsumsi-obat-penghalang-datang-haidh-ketika-ramadhan.html#_ftn3">[3]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Penjelasan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin</strong></span></p>
<p>Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin <em>rahimahullah</em> pernah ditanya, “Sebagian wanita ada yang bersengaja menggunakan obat-obatan untuk menghalangi datangnya haidh yang rutin setiap bulannya. Mereka melakukan seperti ini dengan tujuan supaya tidak lagi mengqodho’ puasa selepas bulan Ramadhan. Apakah perbuatan seperti ini dibolehkan? Apakah ada syarat yang tidak membolehkan wanita menggunakan obat semacam itu?”</p>
<p>Beliau <em>rahimahullah</em> menjawab, “Dalam masalah ini aku berpandangan bahwa hendaklah wanita tersebut tidak melakukan semacam itu. Hendaklah ia menjalankan ketetapan Allah yang telah digariskan pada para wanita. Kebiasaan datang haidh setiap bulannya di sisi Allah memiliki hikmah yang amat banyak jika kita mengetahuinya. Hikmah yang dimaksud adalah bahwa kebiasaan datang haidh ini termasuk kebiasaan yang normal, di mana haidh ini terjadi untuk tujuan menghalangi si wanita dari berbagai bahaya yang dapat memudhorotkan dirinya. Para pakar kesehatan telah menjelaskan efek negatif dari penggunaan obat semacam itu. Padahal Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah bersabda, “<em>Laa dhororo wa laa dhiroor (Tidak ada bahaya dalam syari’at ini dan tidak boleh mendatangkan bahaya tanpa alasan yang benar)</em><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3136-konsumsi-obat-penghalang-datang-haidh-ketika-ramadhan.html#_ftn4">[4]</a>.” Oleh karena itu, dalam masalah ini aku berpandangan bahwa wanita hendaklah tidak menggunakan obat-obatan untuk mengahalangi datangnya haidh. Alhamdulillah berkat karunia Allah, jika datang haidh, wanita muslimah diperkenankan untuk tidak mengerjakan puasa dan shalat. Ketika ia kembali suci, ia boleh kembali mengerjakan puasa dan shalat. Jika berakhir Ramadhan, ia hendaklah mengqodho’ puasanya yang luput tadi.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3136-konsumsi-obat-penghalang-datang-haidh-ketika-ramadhan.html#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Pernah pula diajukan pertanyaan pada Syaikh Ibnu ‘Utsaimin <em>rahimahullah</em>, “Jika wanita (kemungkinan) datang haidh di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, apakah boleh ia menggunakan obat-obatan penghalang hamil supaya ia tetap bisa menjalankan ibadah di hari-hari utama?”</p>
<p>Syaikh <em>rahimahullah </em>menjawab, “Kami beranggapan tidak boleh menggunakan obat-obatan tersebut untuk menolong dalam melakukan ketaatan pada Allah. Karena datangnya haidh adalah ketetapan Allah pada kaum hawa.</p>
<p>Ada kisah bahwa ‘Aisyah pernah ditemui Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dan ketika itu ia sedang menemani beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dalam haji wada’. Ia pun hendak melaksanakan umroh. Namun ia datang haidh sebelum masuk Makkah. Lantas ketika ‘Aisyah pun menangis. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pun bertanya, “Kenapa engkau sampai menangis?” ‘Aisyah pun menjawab bahwa ia mendapati haidh. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em> menjelaskan bahwa itu sudah menjadi ketetapan Allah bagi kaum hawa. Jika seorang wanita mendapati haidh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, maka pasrahlah dengan ketetapan Allah. Janganlah menggunakan obat-obat tersebut . Ada informasi dari pakar kesehatan yang sampai ke telinga kami, bahwa obat-obatan membawa efek negatif pada rahim dan darah. Terkadang darah tersebut merupakan sumber makanan bagi janin. Oleh karena itu, kami sarankan untuk menjauhi obat-obatan semacam ini. Ketika datang haidh, hendaklah wanita tersebut meninggalkan shalat dan puasa. Datangnya haidh ini sama sekali bukan kreasi manusia, namun itu adalah ketentuan Allah.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3136-konsumsi-obat-penghalang-datang-haidh-ketika-ramadhan.html#_ftn6">[6]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Jika Tetap Menggunakan Obat Penghalang Datang Bulan</strong></span></p>
<p>Syaikh Abu Malik –penulis kitab Shahih Fiqh Sunnah- menerangkan, “Haidh adalah ketetapan Allah bagi kaum hawa. Para wanita di masa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>tidak pernah menyusahkan diri mereka supaya dapat berpuasa sebulan penuh (dengan mengahalangi datangnya haidh, pen). Oleh karena itu, menggunakan obat-obatan untuk menghalangi datangnya haidh <strong>tidak dianjurkan</strong>. Akan tetapi, jika wanita muslimah tetap menggunakan obat-obatan semacam itu dan tidak memiliki dampak negatif, maka tidak mengapa. Jika ia menggunakan obat tadi dan darah haidhnya pun berhenti, <strong>maka ia dihukumi seperti wanita yang suci, artinya tetap dibolehkan puasa dan tidak ada qodho’ baginya</strong>. <em>Wallahu a’lam</em>.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3136-konsumsi-obat-penghalang-datang-haidh-ketika-ramadhan.html#_ftn7">[7]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Wahai Wanita, Ridholah pada Ketetapan Allah!</strong></span></p>
<p>Jika tidak mengkonsumsi obat-obatan penghalang datang bulan tidak membawa dampak negatif, maka tidak mengapa menggunakannya. Namun sikap yang lebih baik adalah setiap wanita muslimah ridho dengan ketetapan Allah, tanpa mesti menggunakan obat-obatan semacam itu. Setiap ketetapan Allah pasti ada hikmah yang luar biasa di balik itu semua. Lihatlah bagaimana sikap ‘Aisyah ketika ia mendapati haidh padahal ia ingin melaksanakan haji.</p>
<p>Dari &#8216;Aisyah, ia berkata, &#8220;Kami keluar bersama Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan tidak ada yang kami ingat kecuali untuk menunaikan haji. Ketika kami sampai di suatu tempat bernama Sarif aku mengalami haid. Lalu Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa</em><em> </em><em>sallam</em> masuk menemuiku saat aku sedang menangis. Maka beliau bertanya, &#8220;Apa yang membuatmu menangis?&#8221; Aku jawab, &#8220;Demi Allah, pada tahun ini aku tidak bisa melaksanakan haji!&#8221; Beliau berkata, &#8220;Barangkali kamu mengalami haidh?&#8221; Aku jawab, &#8220;Benar.&#8221; Beliau pun bersabda,</p>
<p dir="RTL" align="center">فَإِنَّ ذَلِكَ شَىْءٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ ، فَافْعَلِى مَا يَفْعَلُ الْحَاجُّ ، غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِى بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِى</p>
<p>&#8220;<em><strong>Yang demikian itu adalah perkara yang sudah Allah tetapkan buat puteri-puteri keturunan Adam</strong>. Maka lakukanlah apa yang dilakukan orang yang berhaji kecuali th</em><em>o</em><em>waf di Ka&#8217;bah hingga kamu suci.</em>&#8221; (HR. Bukhari no. 305 dan Muslim no. 1211)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Bagaimana Wanita Haidh dan Nifas Mengisi Hari-Harinya di Bulan Ramadhan dan Lailatul Qadar?</strong></span></p>
<p>Karena wanita haidh dan nifas tidak boleh melaksanakan shalat ketika kondisi seperti itu, maka dia boleh melakukan amalan ketaatan lainnya. Yang dapat wanita haidh dan nifas lakukan ketika itu adalah,</p>
<ol>
<li>Membaca Al Qur’an tanpa menyentuh mushaf.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3136-konsumsi-obat-penghalang-datang-haidh-ketika-ramadhan.html#_ftn8">[8]</a></li>
<li>Berdzikir dengan memperbanyak bacaan tasbih (<em>subhanallah</em>), tahlil (<em>laa ilaha illallah</em>), tahmid (<em>alhamdulillah</em>) dan dzikir lainnya.</li>
<li>Memperbanyak istighfar.</li>
<li>Memperbanyak do’a.</li>
<li>Memperbanyak sedekah dan kebaikan lainnya.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3136-konsumsi-obat-penghalang-datang-haidh-ketika-ramadhan.html#_ftn9">[9]</a></li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Semoga pembahasan ini bermanfaat bagi kaum muslimin sekalian.</p>
<p><em>Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Disusun di Panggang-GK, 16 Sya’ban 1431 H (29 Juli 2010)</p>
<p>Penulis: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<hr />
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3136-konsumsi-obat-penghalang-datang-haidh-ketika-ramadhan.html#_ftnref1">[1]</a> Jaami’ Ahkamin Nisa’, 1/199, terbitan Darus Sunnah.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3136-konsumsi-obat-penghalang-datang-haidh-ketika-ramadhan.html#_ftnref2">[2]</a> Al Mughni, 1/450, terbitan Dar ‘Alam Kutub.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3136-konsumsi-obat-penghalang-datang-haidh-ketika-ramadhan.html#_ftnref3">[3]</a> Riwayat-riwayat ini dibawakan oleh Syaikh Musthofa Al ‘Adawi dalam Jaami’ Ahkamin Nisa’, 1/198-200.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3136-konsumsi-obat-penghalang-datang-haidh-ketika-ramadhan.html#_ftnref4">[4]</a> Ini adalah salah satu tafsiran dari hadits tersebut. Lihat Jaami’ul Ulum wal Hikam, hal. 364 (penjelasan hadits Arba’in An Nawawiyah no. 32).</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3136-konsumsi-obat-penghalang-datang-haidh-ketika-ramadhan.html#_ftnref5">[5]</a> Sumber: Fatwa Al Islam Sual wa Jawab no. 7416, <a href="http://islamqa.com/ar/ref/7416/">http://islamqa.com/ar/ref/7416/</a></p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3136-konsumsi-obat-penghalang-datang-haidh-ketika-ramadhan.html#_ftnref6">[6]</a> Sumber: Fatwa Al Islam Sual wa Jawab no. 13738, <a href="http://islamqa.com/ar/ref/13738">http://islamqa.com/ar/ref/13738</a></p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3136-konsumsi-obat-penghalang-datang-haidh-ketika-ramadhan.html#_ftnref7">[7]</a> Shahih Fiqh Sunnah, 2/128.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3136-konsumsi-obat-penghalang-datang-haidh-ketika-ramadhan.html#_ftnref8">[8]</a> Dalam at Tamhid (17/397, Syamilah), Ibnu Abdil Barr berkata, “Para pakar fiqh dari berbagai kota baik Madinah, Iraq dan Syam tidak berselisih pendapat bahwa mushaf tidaklah boleh disentuh melainkan oleh orang yang suci dalam artian berwudhu. Inilah pendapat Imam Malik, Syafii, Abu Hanifah, Sufyan ats Tsauri, al Auzai, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahuyah, Abu Tsaur dan Abu Ubaid. Merekalah para pakar fiqh dan hadits di masanya.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3136-konsumsi-obat-penghalang-datang-haidh-ketika-ramadhan.html#_ftnref9">[9]</a> Lihat Fatwa Al Islam Su-al wa Jawab pada link <a href="http://www.islam-qa.com/ar/ref/26753">http://www.islam-qa.com/ar/ref/26753</a></p>
<div class="shr-publisher-6703"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Fkonsumsi-obat-penghalang-haidh-ketika-ramadhan.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Fkonsumsi-obat-penghalang-haidh-ketika-ramadhan.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Fkonsumsi-obat-penghalang-haidh-ketika-ramadhan.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/konsumsi-obat-penghalang-haidh-ketika-ramadhan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lebih Afdhol Mana Antara Puasa atau Tidak bagi Wanita Hamil?</title>
		<link>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/lebih-afdhol-mana-antara-puasa-atau-tidak-bagi-wanita-hamil.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/lebih-afdhol-mana-antara-puasa-atau-tidak-bagi-wanita-hamil.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Aug 2011 01:00:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh dan Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hamil]]></category>
		<category><![CDATA[menyusui]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=6696</guid>
		<description><![CDATA[Syaikh Ibnu &#8216;Utsaimin rahimahullah menjelaskan, Wanita hamil tidak lepas dari dua hal: 1. Wanita itu kuat dan semangat untuk jalani puasa, tidak sulit baginya jalani puasa dan tidak membawa efek bagi janinnya, maka wajib bagi<a class="more" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/lebih-afdhol-mana-antara-puasa-atau-tidak-bagi-wanita-hamil.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Syaikh Ibnu &#8216;Utsaimin <em>rahimahullah</em> menjelaskan,</p>
<p>Wanita hamil tidak lepas dari dua hal:</p>
<p>1. Wanita itu kuat dan semangat untuk jalani puasa, tidak sulit baginya jalani puasa dan tidak membawa efek bagi janinnya, maka wajib bagi wanita hamil tersebut untuk berpuasa. Karena ketika itu tidak ada udzur baginya untuk tidak berpuasa.</p>
<p>2. Wanita tersebut tidak mampu dan berat jalani puasa atau badannya lemas jika jalani puasa dan sebab lainnya, maka dalam kondisi ini hendaklah ia tidak berpuasa. Apalagi jika membawa efek pada janinnya, kondisi ini juga wajib baginya untuk tidak berpuasa.</p>
<p>[Fatawa Asy Syaikh Ibnu 'Utsaimin, 1/487]</p>
<p>Syaikh &#8216;Abdul &#8216;Aziz bin &#8216;Abdillah bin Baz <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p>Status wanita hamil dan menyusui adalah seperti orang yang sakit. Jika ia sulit jalani puasa, maka ia boleh tidak puasa, namun tetap dirinya harus mengqodho (<em>nyaur</em>) puasanya ketika ia mampu nantinya, statusnya seperti orang sakit. Sebagian ulama berpendapat cukup bagi wanita hamil dan menyusui mengganti puasanya dengan menunaikan fidyah, yaitu memberi makan pada orang miskin bagi hari yang tidak berpuasa. Namun pendapat ini adalah pendapat yang lemah. Yang tepat, tetap baginya menunaikan qodho puasa seperti musafir dan orang sakit. Allah Ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p style="text-align: center;">وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ</p>
<p>“<em>Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain</em>.” (QS. Al Baqarah: 185)</p>
<p style="text-align: center;">إِنَّ اللَّهَ وَضَعَ عَنْ الْمُسَافِرِ نِصْفَ الصَّلَاةِ وَالصَّوْمَ وَعَنْ الْحُبْلَى وَالْمُرْضِعِ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya Allah meringankan separuh shalat dari musafir, juga puasa dari wanita hamil dan menyusui</em>.” (Diriwayatkan oleh yang lima)</p>
<p>[Tuhfatul Ikhwan bi Ajwibah Muhimmah Tata'alluq bi Arkanil Islam, hal. 171]</p>
<p>Semarang, 8 Ramadhan 1432 H (08/08/2011)</p>
<p>Penyusun: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-6696"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Flebih-afdhol-mana-antara-puasa-atau-tidak-bagi-wanita-hamil.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Flebih-afdhol-mana-antara-puasa-atau-tidak-bagi-wanita-hamil.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Flebih-afdhol-mana-antara-puasa-atau-tidak-bagi-wanita-hamil.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/lebih-afdhol-mana-antara-puasa-atau-tidak-bagi-wanita-hamil.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mimpi Basah Ketika Puasa</title>
		<link>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/mimpi-basah-ketika-puasa.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/mimpi-basah-ketika-puasa.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Aug 2011 09:00:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh dan Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[mani]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi basah]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=6691</guid>
		<description><![CDATA[Ada sebuah pertanyaan yang diajukan pada Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah[1], “Jika orang yang berpuasa mimpi basah di siang hari bulan Ramadhan, apakah puasanya batal? Apakah dia wajib untuk bersegera untuk mandi<a class="more" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/mimpi-basah-ketika-puasa.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Ada sebuah pertanyaan yang diajukan pada Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz<em> rahimahullah<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3147-mimpi-basah-ketika-puasa.html#_ftn1"><strong>[1]</strong></a></em>, “Jika orang yang berpuasa mimpi basah di siang hari bulan Ramadhan, apakah puasanya batal? Apakah dia wajib untuk bersegera untuk mandi wajib?”</p>
<p>Beliau <em>rahimahullah </em>menjawab,</p>
<p>“Mimpi basah tidak membatalkan puasa karena mimpi basah dilakukan bukan atas pilihan orang yang berpuasa. Ia punya keharusan untuk mandi wajib (mandi junub) jika ia melihat yang basah adalah air mani. Jika ia mimpi basah <strong>setelah shalat shubuh</strong> dan ia mengakhirkan mandi junub sampai waktu zhuhur, maka itu tidak mengapa.</p>
<p>Begitu pula jika ia berhubungan intim dengan istrinya di malam hari dan ia tidak mandi kecuali setelah masuk Shubuh, maka seperti itu tidak mengapa. Mengenai hal ini diterangkan dalam hadits yang shahih bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah masuk Shubuh dalam keadaan junub karena sehabis berhubungan intim dengan istrinya. Kemudian beliau mandi junub dan masih tetap berpuasa.</p>
<p>Begitu pula wanita haidh dan nifas, jika mereka telah suci di malam hari dan ia belum mandi melainkan setelah masuk Shubuh, maka seperti itu tidak mengapa. Jika mereka berpuasa, puasanya tetap sah. Namun tidak boleh bagi mereka-mereka tadi menunda mandi wajib (mandi junub) dan menunda shalat hingga terbit matahari. Bahkan mereka harus menyegerakan mandi wajib sebelum terbit matahari agar mereka dapat mengerjakan shalat tepat pada waktunya.</p>
<p>Sedangkan bagi kaum pria, ia harus segera mandi wajib sebelum shalat Shubuh sehingga ia bisa melaksanakan shalat secara berjama’ah. Sedangkan untuk wanita haidh dan nifas yang ia suci di tengah malam (dan masih waktu Isya’, pen), maka hendaklah ia menyegerakan mandi wajib sehingga ia bisa melaksanakan shalat Maghrib dan Isya’ sekaligus di malam itu. Demikian fatwa sekelompok sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Begitu pula jika wanita haidh dan nifas suci di waktu ‘Ashar, maka wajib bagi mereka untuk segera mandi wajib sehingga mereka bisa melaksanakan shalat Zhuhur dan Ashar sebelum tenggelamnya matahari.</p>
<p><em>Wallahu waliyyut taufiq.</em></p>
<p>Demikian Fatwa Syaikh Ibnu Baz <em>rahimahullah.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3147-mimpi-basah-ketika-puasa.html#_ftn2"><strong>[2]</strong></a></em></p>
<p>***</p>
<p>Hadits yang menerangkan bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>pernah masuk shubuh dalam keadaan junub adalah sebagai berikut.</p>
<p>Dari ‘Aisyah dan Ummu Salamah <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>, mereka berkata,</p>
<p dir="RTL">أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يُدْرِكُهُ الْفَجْرُ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ أَهْلِهِ ، ثُمَّ يَغْتَسِلُ وَيَصُومُ</p>
<p>“<em>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah </em><em>mendapati</em><em> waktu fajar </em><em>(waktu Shubuh) </em><em>dalam keadaan junub karena bersetubuh dengan istrinya, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi dan tetap berpuasa.</em>”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3147-mimpi-basah-ketika-puasa.html#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Istri tercinta Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha </em>berkata,</p>
<p dir="RTL">قَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُدْرِكُهُ الْفَجْرُ فِى رَمَضَانَ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ غَيْرِ حُلُمٍ فَيَغْتَسِلُ وَيَصُومُ.</p>
<p>“<em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjumpai waktu fajar di bulan Ramadhan dalam keadaan junub bukan karena mimpi basah, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi dan</em><em> tetap</em><em> berpuasa.</em>”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3147-mimpi-basah-ketika-puasa.html#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Pelajaran yang bisa diambil dari fatwa di atas:</p>
<ol start="1">
<li>Mimpi basah tidak membatalkan puasa karena bukan pilihan seseorang untuk mimpi basah.</li>
<li>Jika mimpi basahnya setelah waktu Shubuh, maka orang yang junub boleh menunda mandi wajibnya hingga waktu Zhuhur.</li>
<li>Jika junub karena mimpi basah atau hubungan intim dengan istri di malam hari, maka bagi pria yang <strong><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2726-shalat-jamaah-5-waktu-wajib-ataukah-sunnah.html">wajib menunaikan shalat berjama’ah</a> </strong>diharuskan segera mandi wajib sebelum pelaksanaan shalat Shubuh agar ia dapat menunaikan shalat Shubuh secara berjama’ah di masjid.</li>
<li>Jika wanita suci di malam hari dan setelah berakhir waktu shalat isya’ (setelah pertengahan malam<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3147-mimpi-basah-ketika-puasa.html#_ftn5">[5]</a>), maka ia boleh menunda mandi wajib hingga waktu Shubuh asalkan sebelum matahari terbit supaya ia dapat melaksanakn shalat Shubuh tepat waktu.</li>
<li>Jika wanita haidh dan nifas suci di waktu Isya’ (sampai pertengahan malam), maka ia diharuskan segera mandi, lalu ia mengerjakan shalat Maghrib dan Isya’ sekaligus. Demikian fatwa sebagian sahabat. Begitu pula jika wanita haidh dan nifas suci di waktu Ashar, maka ia diharuskan segera mandi, lalu ia mengerjakan shalat Zhuhur dan Ashar sekaligus.</li>
<li>Jika orang yang junub, wanita haidh dan nifas masuk waktu Shubuh dalam keadaan belum mandi wajib, maka mereka tetap sah melakukan puasa.</li>
</ol>
<p>Mengenai permasalah wanita haidh dan nifas yang suci di waktu shalat kedua, seperti waktu Ashar dan Isya’ lantas ia diwajibkan mengerjakan dua shalat sekaligus (Zhuhur dan Ashar atau Maghrib dan Isya’), insya Allah ada tulisan tersendiri mengenai hal ini. Semoga Allah mudahkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Diselesaikan di Pangukan-Sleman, 23 Sya’ban 1431 H (4 Agustus 2010)</p>
<p>Penulis: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3147-mimpi-basah-ketika-puasa.html#_ftnref1">[1]</a>Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz pernah menjabat sebagai ketua Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’, Komisi Fatwa di Saudi Arabia.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3147-mimpi-basah-ketika-puasa.html#_ftnref2">[2]</a> Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 14/283.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3147-mimpi-basah-ketika-puasa.html#_ftnref3">[3]</a> HR. Bukhari no. 1926.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3147-mimpi-basah-ketika-puasa.html#_ftnref4">[4]</a> HR. Muslim no. 1109.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3147-mimpi-basah-ketika-puasa.html#_ftnref5">[5]</a> Demikian pendapat yang kuat bahwa waktu terakhir shalat Isya’ adalah pertengahan malam.</p>
<div class="shr-publisher-6691"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Fmimpi-basah-ketika-puasa.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Fmimpi-basah-ketika-puasa.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Fmimpi-basah-ketika-puasa.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/mimpi-basah-ketika-puasa.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>11 Amalan Ketika Berbuka Puasa</title>
		<link>http://muslim.or.id/ramadhan/11-amalan-ketika-berbuka-puasa.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/ramadhan/11-amalan-ketika-berbuka-puasa.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Aug 2011 09:00:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[buka puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=6660</guid>
		<description><![CDATA[Ketika berbuka puasa sebenarnya terdapat berbagai amalan yang membawa kebaikan dan keberkahan. Namun seringkali kita melalaikannya, lebih disibukkan dengan hal lainnya. Hal yang utama yang sering dilupakan adalah do&#8217;a. Secara lebih lengkapnya, mari kita lihat<a class="more" href="http://muslim.or.id/ramadhan/11-amalan-ketika-berbuka-puasa.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Ketika berbuka puasa sebenarnya terdapat berbagai amalan yang membawa kebaikan dan keberkahan. Namun seringkali kita melalaikannya, lebih disibukkan dengan hal lainnya. Hal yang utama yang sering dilupakan adalah do&#8217;a. Secara lebih lengkapnya, mari kita lihat tulisan berikut seputar sunnah-sunnah ketika berbuka puasa:</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Pertama</strong>: Menyegerakan berbuka puasa.</span></p>
<p>Yang dimaksud menyegerakan berbuka puasa, bukan berarti kita berbuka sebelum waktunya. Namun yang dimaksud adalah ketika matahari telah tenggelam atau ditandai dengan dikumandangkannya adzan Maghrib, maka segeralah berbuka. Dan tidak perlu sampai selesai adzan atau selesai shalat Maghrib. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p style="text-align: center;">لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ</p>
<p>“<em>Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka</em>.” (HR. Bukhari no. 1957 dan Muslim no. 1098)</p>
<p>Dalam hadits yang lain disebutkan,</p>
<p style="text-align: center;">لَا تَزَالُ أُمَّتِى عَلَى سُنَّتِى مَا لَمْ تَنْتَظِرْ بِفِطْرِهَا النُجُوْمَ</p>
<p>“<em>Umatku akan senantiasa berada di atas sunnahku (ajaranku) selama tidak menunggu munculnya bintang untuk berbuka puasa</em>.” (HR. Ibnu Hibban 8/277 dan Ibnu Khuzaimah 3/275, sanad shahih). Inilah yang ditiru oleh Rafidhah (Syi’ah), mereka meniru Yahudi dan Nashrani dalam berbuka puasa. Mereka baru berbuka ketika munculnya bintang. Semoga Allah melindungi kita dari kesesatan mereka. (Lihat Shifat Shoum Nabi, 63)</p>
<p>Nabi kita <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> biasa berbuka puasa sebelum menunaikan shalat Maghrib dan bukanlah menunggu hingga shalat Maghrib selesai dikerjakan. Inilah contoh dan akhlaq dari suri tauladan kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata,</p>
<p style="text-align: center;">كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ</p>
<p>“<em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya berbuka dengan rothb (kurma basah) sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada rothb, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Dan jika tidak ada yang demikian beliau berbuka dengan seteguk air</em>.” (HR. Abu Daud no. 2356 dan Ahmad 3/164, hasan shahih)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kedua</strong>: Berbuka dengan rothb, tamr atau seteguk air.</span></p>
<p>Sebagaimana disebutkan dalam hadits Anas bin Malik di atas, bahwa Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam sangat menyukai berbuka dengan rothb (kurma basah) karena rothb amat enak dinikmati. Namun kita jarang menemukan rothb di negeri kita karena kurma yang sudah sampai ke negeri kita kebanyakan adalah kurma kering (tamr). Jika tidak ada rothb, barulah kita mencari tamr (kurma kering). Jika tidak ada kedua kurma tersebut, maka bisa beralih ke makanan yang manis-manis sebagai pengganti. Kata ulama Syafi&#8217;iyah, ketika puasa penglihatan kita biasa berkurang, kurma itulah sebagai pemulihnya dan makanan manis itu semakna dengannya (Kifayatul Akhyar, 289). Jika tidak ada lagi, maka berbukalah dengan seteguk air. Inilah yang diisyaratkan dalam hadits Anas di atas.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Ketiga</strong>: Sebelum makan berbuka, ucapkanlah &#8216;bismillah&#8217; agar tambah barokah.</span></p>
<p>Inilah yang dituntunkan dalam Islam agar makan kita menjadi barokah, artinya menuai kebaikan yang banyak.</p>
<p>Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p style="text-align: center;">إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فَإِنْ نَسِىَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِى أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ</p>
<p>&#8220;<em>Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia menyebut nama Allah Ta&#8217;ala (yaitu membaca &#8216;bismillah&#8217;). Jika ia lupa untuk menyebut nama Allah Ta&#8217;ala di awal, hendaklah ia mengucapkan: “Bismillaahi awwalahu wa aakhirohu (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)</em>”.&#8221; (HR. Abu Daud no. 3767 dan At Tirmidzi no. 1858, hasan shahih)</p>
<p>Dari Wahsyi bin Harb dari ayahnya dari kakeknya bahwa para sahabat Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam berkata,</p>
<p>يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَأْكُلُ وَلاَ نَشْبَعُ. قَالَ « فَلَعَلَّكُمْ تَفْتَرِقُونَ ». قَالُوا نَعَمْ. قَالَ « فَاجْتَمِعُوا عَلَى طَعَامِكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ يُبَارَكْ لَكُمْ فِيهِ »</p>
<p>&#8220;<em>Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan dan tidak merasa kenyang?&#8221; Beliau bersabda: &#8220;Kemungkinan kalian makan sendiri-sendiri.&#8221; Mereka menjawab, &#8220;Ya.&#8221; Beliau bersabda: &#8220;Hendaklah kalian makan secara bersama-sama, dan sebutlah nama Allah, maka kalian akan diberi berkah padanya.</em>&#8221; (HR. Abu Daud no. 3764, hasan). Hadits ini menunjukkan bahwa agar makan penuh keberkahan, maka ucapkanlah bismilah serta keberkahan bisa bertambah dengan makan berjama&#8217;ah (bersama-sama).</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Keempat</strong>: Berdo&#8217;a ketika berbuka &#8220;Dzahabazh zhoma-u &#8230;&#8221;</span></p>
<p>Ibnu &#8216;Umar radhiyallahu &#8216;anhuma berkata,</p>
<p>كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا أَفْطَرَ قَالَ « ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ ».</p>
<p>&#8220;<em>Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam ketika telah berbuka mengucapkan: &#8216;Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah (artinya: Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah)&#8217;</em>.&#8221; (HR. Abu Daud no. 2357, hasan). Do&#8217;a ini bukan berarti dibaca sebelum berbuka dan bukan berarti puasa itu baru batal ketika membaca do&#8217;a di atas. Ketika ingin makan, tetap membaca &#8216;bismillah&#8217; sebagaimana dituntunkan dalam penjelasan sebelumnya. Ketika berbuka, mulailah dengan membaca &#8216;bismillah&#8217;, lalu santaplah beberapa kurma, kemudian ucapkan do&#8217;a di atas &#8216;dzahabazh zhoma-u &#8230;&#8217;. Karena do&#8217;a di atas sebagaimana makna tekstual dari &#8220;إِذَا أَفْطَرَ &#8220;, berarti ketika setelah berbuka.</p>
<p><strong>Catatan</strong>: Adapun do’a berbuka, “Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthortu (Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku berbuka)” Do’a ini berasal dari hadits hadits dho’if (lemah).  Begitu pula do’a berbuka, “Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘ala rizqika afthortu” (Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku beriman, dan dengan rizki-Mu aku berbuka), Mula ‘Ali Al Qori mengatakan, “Tambahan “wa bika aamantu” adalah tambahan yang tidak diketahui sanadnya, walaupun makna do’a tersebut shahih. Sehingga cukup do’a shahih yang kami sebutkan di atas (dzahabazh zhomau …) yang hendaknya jadi pegangan dalam amalan.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kelima</strong>: Berdo&#8217;a secara umum ketika berbuka.</span></p>
<p>Ketika berbuka adalah waktu mustajabnya do&#8217;a. Jadi janganlah seorang muslim melewatkannya. Manfaatkan moment tersebut untuk berdo&#8217;a kepada Allah untuk urusan dunia dan akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p>ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ</p>
<p>“<em>Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak : (1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Do’a orang yang terzholimi</em>.” (HR. Tirmidzi no. 2526 dan Ibnu Hibban 16/396, shahih). Ketika berbuka adalah waktu terkabulnya do’a karena ketika itu orang yang berpuasa telah menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri (Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 7: 194).</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Keenam</strong>: Memberi makan berbuka.</span></p>
<p>Jika kita diberi kelebihan rizki oleh Allah, manfaatkan waktu Ramadhan untuk banyak-banyak berderma, di antaranya adalah dengan memberi makan berbuka karena pahalanya yang amat besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p>مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا</p>
<p>“<em>Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga</em>.” (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5/192, hasan shahih)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Ketujuh</strong>: Mendoakan orang yang beri makan berbuka.</span></p>
<p>Ketika ada yang memberi kebaikan kepada kita, maka balaslah semisal ketika diberi makan berbuka. Jika kita tidak mampu membalas kebaikannya dengan memberi yang semisal, maka doakanlah ia.  Dari &#8216;Abdullah bin &#8216;Umar, Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p>وَمَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ</p>
<p>&#8220;<em>Barangsiapa yang memberi kebaikan untukmu, maka balaslah. Jika engkau tidak dapati sesuatu untuk membalas kebaikannya, maka do&#8217;akanlah ia sampai engkau yakin engkau telah membalas kebaikannya.</em>&#8221; (HR. Abu Daud no. 1672 dan Ibnu Hibban 8/199, shahih)</p>
<p>Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi minum, beliau pun mengangkat kepalanya ke langit dan mengucapkan,</p>
<p>اللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِى وَأَسْقِ مَنْ أَسْقَانِى</p>
<p>“<em>Allahumma ath’im man ath’amanii wa asqi man asqoonii</em>” [Ya Allah, berilah ganti makanan kepada orang yang memberi makan kepadaku dan berilah minuman kepada orang yang memberi minuman kepadaku]&#8221; (HR. Muslim no. 2055)</p>
<p><strong><span style="color: #ff0000;">Kedelapan</span></strong>: Ketika berbuka puasa di rumah orang lain.</p>
<p>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika disuguhkan makanan oleh Sa’ad bin ‘Ubadah, beliau mengucapkan,</p>
<p>أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُونَ وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ الأَبْرَارُ وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ</p>
<p>“<em>Afthoro ‘indakumush shoo-imuuna wa akala tho’amakumul abroor wa shollat ‘alaikumul malaa-ikah [Orang-orang yang berpuasa berbuka di tempat kalian, orang-orang yang baik menyantap makanan kalian dan malaikat pun mendo’akan agar kalian mendapat rahmat].</em>” (HR. Abu Daud no. 3854 dan Ibnu Majah no. 1747 dan Ahmad 3/118, shahih)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kesembilan</strong>: Ketika menikmati susu saat berbuka.</span></p>
<p>Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p style="text-align: center;">مَنْ أَطْعَمَهُ اللَّهُ الطَّعَامَ فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَأَطْعِمْنَا خَيْرًا مِنْهُ. وَمَنْ سَقَاهُ اللَّهُ لَبَنًا فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَزِدْنَا مِنْهُ</p>
<p>&#8220;<em>Barang siapa yang Allah beri makan hendaknya ia berdoa: “Allaahumma baarik lanaa fiihi wa ath&#8217;imnaa khoiron minhu” (Ya Allah, berkahilah kami padanya dan berilah kami makan yang lebih baik darinya). Barang siapa yang Allah beri minum susu maka hendaknya ia berdoa: “Allaahumma baarik lanaa fiihi wa zidnaa minhu” (Ya Allah, berkahilah kami padanya dan tambahkanlah darinya). Rasulullah shallallahu wa &#8216;alaihi wa sallam bersabda, &#8220;Tidak ada sesuatu yang bisa menggantikan makan dan minum selain susu</em>.&#8221; (HR. Tirmidzi no. 3455, Abu Daud no. 3730, Ibnu Majah no. 3322, hasan)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kesepuluh</strong>: Minum dengan tiga nafas dan membaca &#8216;bismillah&#8217;.</span></p>
<p>Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,</p>
<p style="text-align: center;">كان يشرب في ثلاثة أنفاس إذا أدنى الإناء إلى فيه سمى الله تعالى وإذا أخره حمد الله تعالى يفعل ذلك ثلاث مرات</p>
<p>“<em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa minum dengan tiga nafas. Jika wadah minuman didekati ke mulut beliau, beliau menyebut nama Allah Ta’ala. Jika selesai satu nafas, beliau bertahmid (memuji) Allah Ta’ala. Beliau lakukan seperti ini tiga kali</em>.” (Shahih, As Silsilah Ash Shohihah no. 1277)</p>
<p><span style="color: #ff0000;">Kesebelas: Berdoa sesudah makan.</span></p>
<p>Di antara do’a yang shahih yang dapat diamalkan dan memiliki keutamaan luar biasa adalah do’a yang diajarkan dalam hadits berikut. Dari Mu’adz bin Anas, dari ayahnya ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p>مَنْ أَكَلَ طَعَامًا فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَطْعَمَنِى هَذَا وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّى وَلاَ قُوَّةٍ. غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ</p>
<p>&#8220;<em>Barang siapa yang makan makanan kemudian mengucapkan: “Alhamdulillaahilladzii ath&#8217;amanii haadzaa wa rozaqoniihi min ghairi haulin minnii wa laa quwwatin” (Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini, dan merizkikan kepadaku tanpa daya serta kekuatan dariku), maka diampuni dosanya yang telah lalu</em>.&#8221; (HR. Tirmidzi no. 3458, hasan)</p>
<p>Namun jika mencukupkan dengan ucapan “alhamdulillah” setelah makan juga dibolehkan berdasarkan hadits Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p style="text-align: center;">إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا</p>
<p>“<em>Sesungguhnya Allah Ta&#8217;ala sangat suka kepada hamba-Nya yang mengucapkan tahmid (alhamdulillah) sesudah makan dan minum</em>” (HR. Muslim no. 2734) An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang mencukupkan dengan bacaan “alhamdulillah” saja, maka itu sudah dikatakan menjalankan sunnah.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 17: 51)</p>
<p>Demikian beberapa amalan ketika berbuka puasa. Moga yang sederhana ini bisa kita amalkan. Dan moga bulan Ramadhan kita penuh dengan kebaikan dan keberkahan. Wallahu waliyyut taufiq.</p>
<p style="text-align: center;"><em>Alhamdulillahilladzi bi ni&#8217;matihi tatimmush sholihaat.</em></p>
<p>Panggang-Gunung Kidul, 27 Sya&#8217;ban 1432 H (29/07/2011)</p>
<p>Penulis: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-6660"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Framadhan%2F11-amalan-ketika-berbuka-puasa.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Framadhan%2F11-amalan-ketika-berbuka-puasa.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Framadhan%2F11-amalan-ketika-berbuka-puasa.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/ramadhan/11-amalan-ketika-berbuka-puasa.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Barakah dalam Makanan Sahur</title>
		<link>http://muslim.or.id/ramadhan/barakah-dalam-makanan-sahur.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/ramadhan/barakah-dalam-makanan-sahur.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Aug 2011 05:00:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[sahur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=6646</guid>
		<description><![CDATA[Pembaca sekalian, makan sahur merupakan salah satu sunnah yang sangat dianjurkan bagi orang yang akan berpuasa. Tidak hanya dalam puasa Ramadhan yang wajib saja, melainkan juga dalam puasa sunnah. Keutamaan yang luar biasa dari makan<a class="more" href="http://muslim.or.id/ramadhan/barakah-dalam-makanan-sahur.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Pembaca sekalian, makan sahur merupakan salah satu sunnah yang sangat dianjurkan bagi orang yang akan berpuasa. Tidak hanya dalam puasa Ramadhan yang wajib saja, melainkan juga dalam puasa sunnah. Keutamaan yang luar biasa dari makan sahur dapat kita cermati dalam pembahasan berikut ini.</p>
<p>Perlu diketahui sebelumnya bahwa yang dimaksud dengan sahuur (السَحُور), secara bahasa Arab berarti makanan yang disantap sebelum berpuasa. Adapun suhuur (سُحُور), adalah perbuatan menyantap makanan sahur. Penyebutan dan penggunaan kedua istilah ini kerap terbalik dalam bahasa Indonesia.</p>
<p>Terdapat beberapa hadits yang menyebutkan tentang keutamaan makanan sahur, diantaranya dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “<em>Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam makanan sahur terdapat barakah</em>” (Muttafaqun ‘alaih)</p>
<p>Barakah maknanya ialah kebaikan yang tetap dan banyak. Barakah dalam hadits ini, mencakup baik makanan sahur (as sahuur), maupun perbuatan sahur itu sendiri (suhuur). Akan tetapi riwayat hadits yang lebih banyak digunakan ialah as sahuur, makanan sahur.</p>
<p><strong><span style="color: #ff0000;">Keutamaan Makanan Sahur</span></strong></p>
<p>Barakah dalam makanan sahur, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Daqiqil ‘Ied rahimahullah, mencakup kebaikan dalam perkara ukhrawiyah, berupa menegakkan sunnah Nabi yang dapat mendatangkan pahala bagi pelakunya, maupun kebaikan duniawi seperti kuatnya badan orang yang makan sahur dan berpuasa, dibandingkan dengan yang tidak makan sahur.</p>
<p>Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan dengan lebih detail lagi tentang berbagai kebaikan dalam makanan sahur, ditinjau dari berbagai sisi, sebagai berikut.</p>
<ul>
<li>Mengerjakan dan meneladani sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam</li>
<li>Menyelisihi ahli Kitab, berdasarkan hadits dari Amru bin Al Ash dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “Pembeda antara puasa kita dengan puasanya Ahli Kitab ialah makan sahur” (HR. Muslim)</li>
<li>Menguatkan badan orang yang berpuasa dalam melaksanakan ibadah</li>
<li>Menambah kekuatan agar semakin rajin beribadah</li>
<li>Menolak buruknya akhlaq yang dapat timbul akibat rasa lapar</li>
<li>Dapat menjadi sebab untuk bershadaqah kepada yang membutuhkan makanan sahur, atau dapat juga menjadi kesempatan untuk makan berjamaah (yang hal tersebut juga merupakan sunnah Nabi –pent)</li>
<li>Menjadi sebab dzikir dan doa pada waktu terkabulkannya doa, waktu sahur juga dapat dimanfaatkan untuk menambah sholat malam</li>
<li>Waktu sahur dapat digunakan untuk berniat puasa, terutama bagi mereka yang sering lalai dan tidak berniat sebelum tidurnya</li>
</ul>
<p>Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Adapun barakah makanan sahur secara dhahir (nampak), yaitu dengan kuatnya badan ketika berpuasa, menjadikannya rajin beribadah, menjadikannya termotivasi ingin menambah lagi amalan puasanya, karena nampak ringan puasa baginya setelah makan sahur, dan inilah makna yang benar dari makan sahur. Kemudian juga dengan bangun sahur dapat menjadikannya berdoa dan berdzikir di waktu yang mulia, yaitu waktu ketika turun Ar Rahmah, dan diterimanya doa dan diampuninya dosa. Seorang yang bangun sahur dapat berwudhu kemudian shalat malam, kemudian mengisi waktunya dengan doa, dzikir, dan shalat malam, dan menyibukkan diri dengan ibadah lainnya hingga terbit fajar.”</p>
<p>Demikian pula, Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang makan sahur. Dari Abu Sa’id Al Khudri dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, “<em>Makanan sahur adalah makanan yang barakah maka janganlah kalian meninggalkannya, walaupun seorang dari kalian hanya sahur dengan meneguk air, karena sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang makan sahur</em>”. (HR. Imam Ahmad dalam Musnadnya 3/44, 12 berkata Al Mundziri dalam At Targhib wa At Tarhib 2/139 : riwayat Ahmad dan sanadnya kuat, dan berkata Al Haitsami dalam Al Majmu’ 3/150 : riwayat Ahmad dan didalamnya terdapat Rifa’ah, aku tidak mendapati keterangan tentang tsiqahnya maupun kritikan atasnya, adapun rijal lainnya shahih)</p>
<p>Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya (5/194) juga meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang makan sahur”</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Beberapa Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Makan Sahur</strong></span></p>
<p>Diutamakan mengakhirkan makan sahur di akhir waktunya, selama tidak khawatir akan terbitnya fajar. Berdasarkan hadits yang marfu’ dari Abu Dzar, “Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka” (HR. Ahmad, sanadnya dha’if). Sedangkan dari hadits Anas bin Malik, dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata, “Kami makan sahur bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, kemudian kami berdiri untuk mengerjakan shalat.” Anas berkata, “Aku berkata kepada Zaid, ‘Berapa rentang waktu antara adzan dan sahur?’ Zaid menjawab, ‘Kira-kira 50 ayat’” (Muttafaqun ‘alaih)</p>
<p>Sebagian orang justru begadang dari awal hingga tengah malam, lalu meninggalkan makan sahur. Perbuatan ini jelas-jelas menyelisihi sunnah, karena makan sahur sangat ditekankan dan dianjurkan, walau dengan makanan atau minuman yang sedikit.<br />
Diantara makanan yang baik untuk sahur ialah kurma, berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, “Makanan sahur yang paling nikmat bagi seorang mukmin, adalah kurma” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Hibban)</p>
<p>Sebagian orang mengira bahwa ketika sahur wajib baginya untuk berhenti, atau minimal mengira bahwa dianjurkan baginya berhenti, sebelum waktu fajar tiba. Anggapan ini tidak ada dalilnya. Bahkan mereka diperintahkan untuk tetap makan dan minum hingga terbit fajar.</p>
<p style="text-align: center;">  وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ</p>
<p>“<em>Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar</em>” [QS. Al-Baqarah : 187]</p>
<p>Sehingga dalam ayat ini jelaslah bagi kita, bahwa akhir waktu bagi makan dan minum adalah terbitnya fajar.<br />
Demikianlah apa yang bisa kami sampaikan mengenai keutamaan makanan sahur. Wa shallallaahu ‘ala nabiyyina muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa sallam.</p>
<p>Rujukan :<br />
“Barakah As Sahuur” http://haddady.com/ra_page_views.php?id=315&amp;page=19&amp;main=7<br />
“Min Barakah As Sahuur” http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=62900</p>
<p>Penulis: Yhouga Pratama</p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-6646"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Framadhan%2Fbarakah-dalam-makanan-sahur.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Framadhan%2Fbarakah-dalam-makanan-sahur.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Framadhan%2Fbarakah-dalam-makanan-sahur.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/ramadhan/barakah-dalam-makanan-sahur.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tuntunan Shalat Tarawih</title>
		<link>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/tuntunan-shalat-tarawih.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/tuntunan-shalat-tarawih.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jul 2011 00:00:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh dan Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[shalat lail]]></category>
		<category><![CDATA[shalat malam]]></category>
		<category><![CDATA[tahajud]]></category>
		<category><![CDATA[tarawih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=6639</guid>
		<description><![CDATA[Shalat tarawih adalah shalat yang hukumnya sunnah berdasarkan kesepakatan para ulama. Shalat tarawih merupakan shalat malam atau di luar Ramadhan disebut dengan shalat tahajud. Shalat malam merupakan ibadah yang utama di bulan Ramadhan untuk mendekatkan<a class="more" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/tuntunan-shalat-tarawih.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Shalat tarawih adalah shalat yang hukumnya sunnah berdasarkan kesepakatan para ulama. Shalat tarawih merupakan shalat malam atau di luar Ramadhan disebut dengan shalat tahajud. Shalat malam merupakan ibadah yang utama di bulan Ramadhan untuk mendekatkan diri pada Allah Ta&#8217;ala. Ibnu Rajab rahimahullah dalam Lathoif Al Ma&#8217;arif berkata, &#8220;Ketahuilah bahwa seorang mukmin di bulan Ramadhan memiliki dua jihadun nafs (jihad pada jiwa) yaitu jihad di siang hari dengan puasa dan jihad di malam hari dengan shalat malam. Barangsiapa yang menggabungkan dua ibadah ini, maka ia akan mendapati pahala yang tak hingga.&#8221;</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Keutamaan Shalat Tarawih</strong></span></p>
<p><strong>Pertama</strong>: Shalat tarawih mengampuni dosa yang telah lewat. Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p style="text-align: center;">مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ</p>
<p>“<em>Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni</em>.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759). Yang dimaksud qiyam Ramadhan adalah shalat tarawih sebagaimana yang dituturkan oleh Imam Nawawi (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6:39). Hadits ini memberitahukan bahwa shalat tarawih bisa menggugurkan dosa dengan syarat dilakukan karena iman yaitu membenarkan pahala yang dijanjikan oleh Allah dan mencari pahala dari Allah, bukan karena riya’ atau alasan lainnya (Lihat Fathul Bari, 4:251). Imam Nawawi menjelaskan, &#8220;Yang sudah ma&#8217;ruf di kalangan fuqoha bahwa pengampunan dosa yang dimaksudkan di sini adalah dosa kecil, bukan dosa besar. Dan mungkin saja dosa besar ikut terampuni jika seseorang benar-benar menjauhi dosa kecil.&#8221; (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6:40).</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Lebih Semangat di Akhir Ramadhan</strong></span></p>
<p>Selayaknya bagi setiap mukmin untuk terus semangat dalam beribahadah di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan lebih dari lainnya. Di sepuluh hari terakhir tersebut terdapat lailatul qadar. Allah Ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p style="text-align: center;">لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ</p>
<p>&#8220;<em>Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan</em>&#8221; (QS. Al Qadar: 3). Telah terdapat keutamaan yang besar bagi orang yang menghidupkan malam tersebut. Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p style="text-align: center;">مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ</p>
<p>“<em>Barangsiapa melaksanakan shalat pada lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni</em>.” (HR. Bukhari no. 1901)</p>
<p>Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam terlihat lebih rajin di akhir Ramadhan lebih dari hari-hari lainnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits,</p>
<p style="text-align: center;">كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ.</p>
<p>“<em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya</em>.” (HR. Muslim no. 1175)<br />
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi contoh dengan memperbanyak ibadahnya saat sepuluh hari terakhir Ramadhan. Untuk maksud tersebut beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai menjauhi istri-istri beliau dari berhubungan intim. Beliau pun tidak lupa mendorong keluarganya dengan membangunkan mereka untuk melakukan ketaatan pada malam sepuluh hari terakhir Ramadhan. ‘Aisyah mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;">كَانَ النَّبِىُّ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ</p>
<p>“<em>Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya</em>.” (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174). Imam Nawawi rahimahullah berkata, &#8220;Disunnahkan untuk memperbanyak ibadah di akhir Ramadhan dan disunnahkan pula untuk menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah.&#8221; (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 8:71)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Semangat Tarawih Berjama&#8217;ah</strong></span></p>
<p>Sudah sepantasnya setiap muslim mendirikan shalat tarawih tersebut secara berjama&#8217;ah dan terus melaksanakannya hingga imam salam. Karena siapa saja yang shalat tarawih hingga imam selesai, ia akan mendapat pahala shalat semalam penuh. Padahal ia hanya sebentar saja mendirikan shalat di waktu malam. Sungguh inilah karunia besar dari Allah Ta&#8217;ala. Dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p style="text-align: center;">مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ</p>
<p>&#8220;<em>Barangsiapa yang shalat bersama imam hingga imam selesai, maka ia dicatat seperti melakukan shalat semalam penuh</em>.&#8221; (HR. Tirmidzi no. 806, shahih menurut Syaikh Al Albani)</p>
<p>Imam Nawawi rahimahullah berkata, &#8220;Para ulama sepakat bahwa shalat tarawih itu sunnah. Namun mereka berselisih pendapat apakah shalat tarawih itu afdhol dilaksanakan sendirian atau berjama&#8217;ah di masjid. Imam Syafi&#8217;i dan mayoritas ulama Syafi&#8217;iyah, juga Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad dan sebagian ulama Malikiyah berpendapat bahwa yang afdhol adalah shalat tarawih dilakukan secara berjama&#8217;ah sebagaimana dilakukan oleh &#8216;Umar bin Al Khottob dan sahabat radhiyallahu &#8216;anhum. Kaum muslimin pun terus ikut melaksanakannya seperti itu.&#8221; (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6:39).</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>11 ataukah 23 Raka&#8217;at?</strong></span></p>
<p>Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya shalat malam tidak memiliki batasan jumlah raka’at tertentu. Shalat malam adalah shalat nafilah (yang dianjurkan), termasuk amalan dan perbuatan baik. Siapa saja boleh mengerjakan sedikit raka’at. Siapa yang mau juga boleh mengerjakan dengan jumlah raka’at yang banyak.” (At Tamhid, 21/70). Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam ditanya mengenai shalat malam, beliau menjawab,</p>
<p style="text-align: center;">صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خَشِىَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً ، تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى</p>
<p>“Shalat malam itu dua raka&#8217;at-dua raka&#8217;at. Jika salah seorang di antara kalian takut masuk waktu shubuh, maka kerjakanlah satu raka&#8217;at. Dengan itu berarti kalian menutup shalat tadi dengan witir.” (HR. Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749). Padahal ini dalam konteks pertanyaan. Seandainya shalat malam itu ada batasannya, tentu Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam akan menjelaskannya.</p>
<p>Al Baaji rahimahullah mengatakan, “Boleh jadi ‘Umar memerintahkan para sahabat untuk melaksanakan shalat malam sebanyak 11 raka’at. Namun beliau memerintahkan seperti ini di mana bacaan tiap raka’at begitu panjang, yaitu imam sampai membaca 200 ayat dalam satu raka’at. Karena bacaan yang panjang dalam shalat adalah shalat yang lebih afdhol. Ketika manusia semakin lemah, ‘Umar kemudian memerintahkan para sahabat untuk melaksanakan shalat sebanyak 23 raka’at, yaitu dengan raka’at yang ringan-ringan. Dari sini mereka bisa mendapat sebagian keutamaan dengan menambah jumlah raka’at.” (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 27/142)</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Semua jumlah raka’at di atas (dengan 11, 23 raka&#8217;at atau lebih dari itu, -pen) boleh dilakukan. Melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan dengan berbagai macam cara tadi itu sangat bagus. Dan memang lebih utama adalah melaksanakan shalat malam sesuai dengan kondisi para jama’ah. Kalau jama’ah kemungkinan senang dengan raka’at-raka’at yang panjang, maka lebih bagus melakukan shalat malam dengan 10 raka’at ditambah dengan witir 3 raka’at, sebagaimana hal ini dipraktekkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri di bulan Ramdhan dan bulan lainnya. Dalam kondisi seperti itu, demikianlah yang terbaik. Namun apabila para jama’ah tidak mampu melaksanakan raka’at-raka’at yang panjang, maka melaksanakan shalat malam dengan 20 raka’at itulah yang lebih utama. Seperti inilah yang banyak dipraktekkan oleh banyak ulama. Shalat malam dengan 20 raka’at adalah jalan pertengahan antara jumlah raka’at shalat malam yang sepuluh dan yang empat puluh. Kalaupun seseorang melaksanakan shalat malam dengan 40 raka’at atau lebih, itu juga diperbolehkan dan tidak dikatakan makruh sedikit pun. Bahkan para ulama juga telah menegaskan dibolehkannya hal ini semisal Imam Ahmad dan ulama lainnya. <span style="color: #0000ff;">Oleh karena itu, barangsiapa yang menyangka bahwa shalat malam di bulan Ramadhan memiliki batasan bilangan tertentu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga tidak boleh lebih atau kurang dari 11 raka’at, maka sungguh dia telah keliru</span>.” (Majmu’ Al Fatawa, 22/272)</p>
<p><strong><span style="color: #ff0000;">Tuntunan Lain Shalat Tarawih</span></strong></p>
<p>Shalat tarawih lebih afdhol dilakukan dua raka&#8217;at salam, dua raka&#8217;at salam. Dasarnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “<em>Shalat malam adalah dua raka’at dua raka’at</em>.” (HR. Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749). Ulama besar Syafi’iyah, An Nawawi ketika menjelaskan hadits “shalat sunnah malam dan siang itu dua raka’at, dua raka’at”, beliau rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud hadits ini adalah bahwa yang lebih afdhol adalah mengerjakan shalat dengan setiap dua raka’at salam baik dalam shalat sunnah di malam atau siang hari. Di sini disunnahkan untuk salam setiap dua raka’at. Namun jika menggabungkan seluruh raka’at yang ada dengan sekali salam atau mengerjakan shalat sunnah dengan satu raka’at saja, maka itu dibolehkan menurut kami.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6:30)</p>
<p>Para ulama sepakat tentang disyariatkannya istirahat setiap melaksanakan shalat tarawih empat raka’at. Inilah yang sudah turun temurun dilakukan oleh para salaf. Namun tidak mengapa kalau tidak istirahat ketika itu. Dan juga tidak disyariatkan untuk membaca do’a tertentu ketika istirahat. (Lihat Al Inshof, 3/117)</p>
<p>Tidak ada riwayat mengenai bacaan surat tertentu dalam shalat tarawih yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, surat yang dibaca boleh berbeda-beda sesuai dengan keadaan. Imam dianjurkan membaca bacaan surat yang tidak sampai membuat jama’ah bubar meninggalkan shalat. Seandainya jama’ah senang dengan bacaan surat yang panjang-panjang, maka itu lebih baik. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1:420)</p>
<p><strong><span style="color: #ff0000;">Menutup Shalat Malam dengan Witir</span></strong></p>
<p>Shalat witir adalah shalat yang dilakukan dengan jumlah raka&#8217;at ganjil (1, 3, 5, 7 atau 9 raka&#8217;at). Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p style="text-align: center;">اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرً</p>
<p>&#8220;<em>Jadikanlah akhir shalat malam kalian adalah shalat witir</em>.&#8221; (HR. Bukhari no. 998 dan Muslim no. 751). Jika shalat witir dilakukan dengan tiga raka&#8217;at, maka dapat dilakukan dengan dua cara: (1) tiga raka’at, sekali salam [HR. Al Baihaqi], (2) mengerjakan dua raka’at terlebih dahulu kemudian salam, lalu ditambah satu raka’at kemudian salam [HR. Ahmad 6:83].</p>
<p>Dituntunkan pula ketika witir untuk membaca do&#8217;a qunut. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah ditanya, &#8221; Apa hukum membaca do’a qunut setiap malam ketika (shalat sunnah) witir?&#8221; Jawaban beliau rahimahullah, &#8220;Tidak masalah mengenai hal ini. Do’a qunut (witir) adalah sesuatu yang disunnahkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun biasa membaca qunut tersebut. Beliau pun pernah mengajari (cucu beliau) Al Hasan beberapa kalimat qunut untuk shalat witir (<span style="color: #0000ff;"><em>Allahummahdiini fiiman hadait, wa&#8217;aafini fiiman &#8216;afait, watawallanii fiiman tawallait, wabaarik lii fiima a&#8217;thait, waqinii syarrama qadlait, fainnaka taqdhi walaa yuqdho &#8216;alaik, wainnahu laa yadzillu man waalait, tabaarakta rabbana wata&#8217;aalait</em></span>, -pen) [HR. Abu Daud no. 1425, An Nasai no. 1745, At Tirmidzi no. 464, shahih kata Syaikh Al Albani]. Ini termasuk hal yang disunnahkan. Jika engkau merutinkan membacanya setiap malamnya, maka itu tidak mengapa. Begitu pula jika engkau meninggalkannya suatu waktu sehingga orang-orang tidak menyangkanya wajib, maka itu juga tidak mengapa. Jika imam meninggalkan membaca do’a qunut suatu waktu dengan tujuan untuk mengajarkan manusia bahwa hal ini tidak wajib, maka itu juga tidak mengapa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengajarkan do’a qunut pada cucunya Al Hasan, beliau tidak mengatakan padanya: “Bacalah do’a qunut tersebut pada sebagian waktu saja”. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa membaca qunut witir terus menerus adalah sesuatu yang dibolehkan. (Fatawa Nur ‘alad Darb, 2:1062)</p>
<p>Setelah witir dituntunkan membaca, “<em><span style="color: #0000ff;">Subhaanal malikil qudduus</span></em>”, sebanyak tiga kali dan mengeraskan suara pada bacaan ketiga (HR. An Nasai no. 1732 dan Ahmad 3/406, shahih menurut Syaikh Al Albani). Juga bisa membaca bacaan “<span style="color: #0000ff;"><em>Allahumma inni a’udzu bika bi ridhooka min sakhotik wa bi mu’afaatika min ‘uqubatik, wa a’udzu bika minka laa uh-shi tsanaa-an ‘alaik, anta kamaa atsnaita ‘ala nafsik</em></span>” [Ya Allah, aku berlindung dengan keridhoan-Mu dari kemarahan-Mu, dan dengan keselamatan-Mu dari hukuman-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian dan sanjungan kepada-Mu, Engkau adalah sebagaimana yang Engkau sanjukan kepada diri-Mu sendiri] (HR. Abu Daud no. 1427, Tirmidzi no. 3566, An Nasai no. 1100 dan Ibnu Majah no. 1179, shahih kata Syaikh Al Albani)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kekeliruan Seputar Shalat Tarawih</strong></span></p>
<p>Berikut beberapa kekeliruan saat pelaksanaan shalat tarawih berjama&#8217;ah dan tidak ada dasarnya dari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p>1. Dzikir berjama&#8217;ah di antara sela-sela shalat tarawih. Syaikh &#8216;Abdul &#8216;Aziz bin &#8216;Abdillah bin Baz berkata, &#8220;Tidak diperbolehkan para jama’ah membaca dzikir secara berjama’ah. Akan tetapi yang tepat adalah setiap orang membaca dzikir sendiri-sendiri tanpa dikomandai oleh yang lain. Karena dzikir secara berjama’ah (bersama-sama) adalah sesuatu yang tidak ada tuntunannya dalam syari’at Islam yang suci ini&#8221;. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 11:190)</p>
<p>2. Melafazhkan niat selepas shalat tarawih. Imam Nawawi berkata, &#8220;Tidaklah sah puasa seseorang kecuali dengan niat. Letak niat adalah dalam hati, tidak disyaratkan untuk diucapkan dan pendapat ini tidak terdapat perselisihan di antara para ulama.&#8221; (Rowdhotuth Tholibin, 1:268).</p>
<p>3. Memanggil jama&#8217;ah dengan &#8216;ash sholaatul jaami&#8217;ah&#8217;. Tidak ada tuntunan untuk memanggil jama’ah dengan ucapan &#8216;ash sholaatul jaami’ah&#8217;. Ini termasuk perkara yang diada-adakan (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 27:140).</p>
<p>4. Mengkhususkan dzikir atau do&#8217;a tertentu antara sela-sela duduk shalat tarawih, apalagi dibaca secara berjama&#8217;ah. Karena ini jelas tidak ada tuntunannya (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 27:144).</p>
<p>Semoga Allah memberikan kita kekuatan dan keistiqomahan untuk menghidupkan malam-malam kita dengan shalat tarawih. <em>Wallahu waliyyut taufiq.</em></p>
<p>Panggang-Gunung Kidul, 28 Sya&#8217;ban 1432 H (30/07/2011)</p>
<p>Penulis: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-6639"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Ftuntunan-shalat-tarawih.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Ftuntunan-shalat-tarawih.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Ftuntunan-shalat-tarawih.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/tuntunan-shalat-tarawih.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>28</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

