<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muslim.Or.Id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah &#187; Palestina</title>
	<atom:link href="http://muslim.or.id/tag/palestina/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muslim.or.id</link>
	<description>Pesantren online agama Islam berdasarkan Qur&#039;an dan Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih</description>
	<lastBuildDate>Fri, 25 May 2012 11:23:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Mengembalikan Kejayaan Umat Islam</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/mengembalikan-kejayaan-umat-islam.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/mengembalikan-kejayaan-umat-islam.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Jun 2010 17:00:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Hizbiyyah]]></category>
		<category><![CDATA[Kejayaan Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Palestina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=3534</guid>
		<description><![CDATA[Kejayaan Islam dan umatnya adalah harapan yang harus ada dalam benak semua orang yang benar-benar beriman kepada Allah Ta&#8217;ala dan hari kemudian. Karena di antara perkara yang bisa membatalkan keislaman seseorang adalah merasa senang dengan<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/mengembalikan-kejayaan-umat-islam.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Kejayaan Islam dan umatnya adalah harapan yang harus ada dalam benak semua orang yang benar-benar beriman kepada Allah <em>Ta&#8217;ala</em> dan hari kemudian. Karena di antara perkara yang bisa membatalkan keislaman seseorang adalah merasa senang dengan kejatuhan dan kemunduran agama Islam dan justru tidak mengharapkan kejayaan dan ketinggian Islam tersebut. Sebagaimana termasuk konsekwensi keimanan seorang muslim adalah ikut merasakan apa yang dirasakan oleh saudaranya sesama muslim, dengan turut merasa prihatin dan berduka atas semua penderitaan yang mereka alami, kemudian berusaha membantu meringankan beban mereka, minimal dengan berdo&#8217;a, serta berusaha mencari jalan keluar terbaik untuk mengatasi masalah-masalah tersebut.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em> bersabda, &#8220;<em>Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam kecintaan dan kasih sayang di antara mereka adalah seperti satu badan, jika salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh (anggota) tubuh lainnya ikut merasakan (sakit tersebut) karena susah tidur dan demam</em>&#8220;<a href="#_ftn1">[1]</a>. Dalam hadits shahih lainnya Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, &#8220;<em>Tidaklah sempurna keimanan seseorang sampai dia menyukai (kebaikan) untuk saudaranya (sesama muslim) sebagaimana dia menyukai (kebaikan tersebut) untuk dirinya sendiri</em>&#8220;<a href="#_ftn2">[2]</a>.</p>
<p>Bukan merupakan rahasia lagi, apa yang kita dengar dan saksikan pada jaman sekarang ini, yaitu kondisi yang memprihatinkan dan penderitaan yang menimpa kaum muslimin di berbagai penjuru dunia saat ini, berupa penindasan, penganiayaan, penghinaan dan lain-lain. Semua ini seolah-olah mengesankan bahwa agama Islam ini bukanlah agama yang tinggi dan mulia, dan tidak adanya pertolongan dari Allah <em>Ta&#8217;ala</em> kepada kaum muslimin, sehingga mereka tidak memiliki daya dan kekuatan untuk menghadapi musuh-musuh mereka.</p>
<p>Padahal dalam banyak ayat Al Qur&#8217;an, Allah <em>Ta&#8217;ala</em> menegaskan bahwa ketinggian, kemuliaan dan kejayaan serta pertolongan dari-Nya hanyalah peruntukkan-Nya bagi agama-Nya yang benar dan bagi orang-orang yang berpegang teguh dengan agama ini.</p>
<p><span style="color: #800000;"><strong>Dalil-dalil yang Menunjukkan Kejayaan dan Ketinggian Umat Islam</strong></span></p>
<p>Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">{هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ}</p>
<p>&#8220;<em>Dialah (Allah Ta&#8217;ala) yang mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya (agama itu) atas semua agama (lainnya), walupun orang-orang musyrik tidak menyukainya</em>&#8220;. (QS At Taubah:33, dan QS Ash Shaff:9).</p>
<p>Dalam ayat lain Allah <em>Ta&#8217;ala </em>berfirman,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">{وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لا يَعْلَمُونَ}</p>
<p>&#8220;<em>…Padahal kemuliaan itu hanyalah milik Allah, milik Rasul-Nya dan milik orang-orang yang beriman, tetapi orang-orang munafik itu tidak memahaminya</em>&#8221; (QS Al Munaafiquun:8).</p>
<p>Juga dalam firman-Nya,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">{وَلا تَهِنُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ}</p>
<p>&#8220;<em>Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu (benar-benar) beriman</em>&#8221; (QS Ali &#8216;Imraan:139).</p>
<p>Dan dalam firman-Nya,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">{وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ}</p>
<p>&#8220;<em>Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merubah (keadaan) mereka setelah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa, mereka senantiasa menyembah-Ku (samata-mata) dan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apapun, dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang yang fasik</em>&#8221; (QS An Nuur:55).</p>
<p><span style="color: #800000;"><strong>Syarat Terwujudnya Janji Allah tersebut</strong></span></p>
<p>Akan tetapi, kalau kita perhatikan dan renungkan dengan seksama ayat-ayat tersebut di atas, kita dapati bahwa Allah <em>Ta&#8217;ala</em> tidak hanya menyebutkan janji-Nya untuk memberikan kemuliaan, ketinggian dan pertolongan-Nya bagi kaum muslimin, tetapi Allah <em>Ta&#8217;ala </em>juga mengisyaratkan adanya syarat yang harus dipenuhi oleh kaum muslimin agar janji Allah <em>Ta&#8217;ala </em> tersebut dapat terwujud. Syarat itu adalah berpegang teguh dengan petunjuk dan agama Allah <em>Ta&#8217;ala</em>, dengan kembali kepada Al Qur&#8217;an dan Sunnah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em> dengan pemahaman dan pengamalan yang benar.</p>
<p>Dalam ayat yang pertama Allah <em>Ta&#8217;ala</em> menggandengkan <em>&#8220;Azh Zhuhur&#8221;</em> (kemenangan/kejayaan) bagi agama ini dengan <em>petunjuk dan agama yang benar </em>yang di bawa oleh Rasul-Nya <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Ini berarti bahwa umat Islam tidak akan mendapatkan kemenangan dan kejayaan yang Allah <em>Ta&#8217;ala</em> janjikan dalam ayat tersebut, kecuali jika mereka berpegang teguh dengan <em>petunjuk dan agama yang benar</em> tersebut. Makna <em>petunjuk dan agama yang benar</em> adalah ilmu yang bermanfaat dan amalan shaleh<a href="#_ftn3">[3]</a>.</p>
<p>Syaikh Abdurrahman As Sa&#8217;di dalam menafsirkan ayat di atas berkata, &#8220;…Adapun agama Islam sendiri, maka sifat (yang Allah sebutkan dalam ayat) ini (kemenangan dan ketinggian) akan terus ada padanya di setiap waktu, karena tidak mungkin ada yang mampu mengalahkan dan melawannya, (kalau ada yang berusaha untuk melawannya) maka Allah akan mengalahkannya dan menjadikan ketinggian serta kemenangan untuk agama ini. Sedangkan orang-orang yang menisbatkan diri kepada agama ini (kaum muslimin), jika mereka menegakkan agama ini, dan mengambil petunjuk serta bimbingan dari cahayanya untuk kebaikan agama dan (urusan) dunia mereka, maka demikian pula tidak ada seorangpun yang mampu melawan mereka, dan mereka pasti akan mengalahkan pemeluk agama lainnya, (akan tetapi) jika mereka tidak memperdulilkan agama ini, dan hanya mencukupkan diri dengan menisbatkan diri kepadanya (tanpa berusaha memahami dan mengamalkannya dengan benar), maka yang demikian tidak bermanfaat bagi mereka (untuk menguatkan kedudukan mereka), (bahkan) ketidakperdulian mereka terhadap agama ini merupakan sebab (utama) kekalahan dan kerendahan mereka di hadapan musuh-musuh mereka, kenyataan ini diketahui oleh orang yang mencermati keadaan manusia dan mengamati kondisi kaum muslimin di awal (kedatangan Islam) sampai di akhirnya&#8221;<a href="#_ftn4">[4]</a>.</p>
<p>Demikian pula dalam ayat yang kedua Allah <em>Ta&#8217;ala</em> menggandengkan <em>&#8220;Al &#8216;Izzah&#8221;</em> (kemuliaan) dengan ketaatan kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> serta keimanan yang benar. Sebagaimana dalam ayat yang ketiga Allah I menggandengkan <em>&#8220;Al &#8216;Uluw&#8221;</em> (ketinggian) juga dengan keimanan yang kuat dan benar.</p>
<p>Kemudian, lebih jelas dalam ayat yang keempat Allah menyebutkan bahwa janji kekuasaan di muka bumi, keteguhan agama dan keamanan hanya Allah peruntukkan bagi orang-orang yang beriman (dengan benar) dan mengerjakan amal shaleh, yang mana landasan utama iman yang benar dan amal shaleh yang terbesar adalah mentauhidkan (mengesakan) Allah dalam beribadah dan menjauhi perbuatan syirik, sehingga Allah menyebutkan keadaan orang-orang yang terwujud pada mereka janji Allah tersebut: &#8220;…Mereka senantiasa menyembah-Ku (samata-mata) dan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apapun&#8221;.</p>
<p>Imam Ibnu Katsir ketika mengomentari ayat di atas, beliau berkata, &#8220;Ini adalah janji dari Allah <em>Ta&#8217;ala </em>kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em> bahwa Dia akan menjadikan umat Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em> penguasa di muka bumi, yaitu pemimpin umat manusia, yang dengan mereka akan baik (keadaan) seluruh negeri dan semua manusia akan tunduk. Dan Dia akan menggantikan rasa takut mereka kepada manusia menjadi rasa aman, bahkan (merekalah yang menjadi) penegak hukum bagi manusia. Allah <em>Ta&#8217;ala</em> telah mewujudkan janji-Nya ini – dan hanya milik-Nyalah segala puji dan karunia –, karena sebelum Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> wafat Allah telah menundukkan untuk beliau negeri Mekkah, Khaibar, Bahrain, dan seluruh daratan Arab, serta semua wilayah Yaman…(Kemudian) para sahabat <em>radhiyallahu &#8216;anhum </em>karena mereka setelah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah orang-orang yang paling kuat dalam melaksanakn perintah Allah U dan paling taat kepada-Nya, maka (besarnya) pertolongan (yang Allah berikan kepada) mereka sesuai dengan (besarnya ketaatan) mereka. Mereka menegakkan kalimat (agama) Allah di belahan bumi bagian timur maupun barat, maka Allah benar-benar meneguhkan mereka (dengan pertolongan besar), sehingga mereka berhasil menguasai seluruh umat manusia dan berbagai negeri. Dan tatkala umat Islam sepeninggal mereka kurang dalam melaksanakan perintah Allah, maka kejayaan merekapun berkurang sesuai dengan (kurangnya ketaatan) mereka&#8221;<a href="#_ftn5">[5]</a>.</p>
<p>Kesimpulannya, janji yang Allah <em>Ta&#8217;ala</em> sampaikan dalam Al Qur&#8217;an untuk memberikan kejayaan, kemulian dan pertolongannya bagi kaum muslimun adalah janji yang benar dan tidak akan dilanggar, dengan catatan jika syarat yang Allah <em>Ta&#8217;ala</em> tentukan dipenuhi oleh kaum muslimin. Karena Allah <em>Ta&#8217;ala</em> mensifati diri-Nya dalam Al Qur&#8217;an dengan firman-nya,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">{وَعْدَ اللَّهِ لا يُخْلِفُ اللَّهُ وَعْدَهُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ}</p>
<p>&#8220;<em>(Sebagai) janji yang sebenar-benarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui</em>&#8221; (QS. Ar Ruum:6).</p>
<p>Juga dengan firman-Nya,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">{وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثاً}</p>
<p>&#8220;<em>Dan siapakah yang lebih benar perkataan(nya) daripada Allah</em>&#8221; (QS. An Nisaa&#8217;:87).</p>
<p><span style="color: #800000;"><strong>Pelajaran Berharga Dari Sejarah Islam</strong></span></p>
<p>Sejarah Islam telah mencatat berbagai kemenangan gemilang yang dicapai oleh para sahabat <em>radhiyallahu &#8216;anhum</em> bersama Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ketika berperang menghadapi musuh-musuh mereka, karena Rasulullah dan para sahabat <em>radhiyallahu &#8216;anhum</em> adalah orang-orang yang paling kuat dalam menegakkan agama Allah <em>Ta&#8217;ala</em>, sebagaimana keterangan Imam Ibnu Katsir di atas. Pada diri merekalah terwujud dengan sesungguhnya makna firman Allah <em>Ta&#8217;ala</em>,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">{وَلَيَنصُرَنَّ الله مَن يَنصُرُهُ إِنَّ الله لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ}</p>
<p>&#8220;<em>Seseungguhnya Allah pasti akan menolong orang yang menolong-Nya, sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa</em>&#8221; (QS Al Hajj:40).</p>
<p>Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqiiti berkata, &#8220;Dalam ayat yang mulia ini Allah Ta&#8217;ala menjelaskan bahwa Dia bersumpah akan sungguh-sungguh menolong orang yang menolong-Nya, dan sudah diketahui bahwa (makna) &#8220;menolong Allah&#8221; tidak lain adalah dengan mengikuti syariat-Nya, dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya…&#8221;<a href="#_ftn6">[6]</a>.</p>
<p>Dan inilah sebab utama yang menjadikan gentar dan takutnya musuh-musuh Islam menghadapi Rasulullah r dan para sahabatnya y, sebagaimana yang Allah <em>Ta&#8217;ala</em> nyatakan dalam firman-Nya,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">{سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَاناً وَمَأْوَاهُمُ النَّارُ وَبِئْسَ مَثْوَى الظَّالِمِينَ}</p>
<p>&#8220;<em>Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut/gentar (menghadapi orang-orang beriman), disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim</em>&#8221; (QS Ali &#8216;Imraan:151).</p>
<p>Imam Ibnu Katsir berkata, &#8220;(Dalam ayat ini) Allah memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman bahwa Dia akan memasukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut/gentar dan rendah di hadapan orang-orang yang beriman, disebabkan perbuatan kafir dan syirik mereka, ditambah dengan azab dan sikasaan (pedih) yang Allah sediakan bagi mereka di akhirat (nanti)&#8221;<a href="#_ftn7">[7]</a>.</p>
<p>Kemudian Ibnu Katsir membawakan sebuah hadits shahih dari Jabir bin Abdillah <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em> bersabda, &#8220;Allah memberikan kepadaku lima perkara yang tidak diberikan-Nya kepada seorang nabipun sebelumku: aku ditolong (oleh Allah dalam menghadapi musuh-musuhku) dengan rasa gentar (yang Allah masukkan ke dalam hati mereka) sebelum berhadapan denganku (sejauh jarak) sebulan perjalanan…&#8221;<a href="#_ftn8">[8]</a>.</p>
<p>Sehubungan dengan pembahasan ini, ada dua peristiwa perang besar yang terjadi di jaman Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, yang dapat kita petik hikmah dan pelajaran berharga darinya, tentang bagaimana Allah <em>Ta&#8217;ala</em> menguji kaum mu&#8217;minin dengan menangguhkan sementara pertolongan-Nya kepada mereka disebabkan perbuatan maksiat sebagian dari mereka.</p>
<p>Yang pertama, perang Hunain<a href="#_ftn9">[9]</a> yang terjadi pada tahun kedelapan hijriyah. Ketika itu sebagian dari kaum mu&#8217;minin merasa bangga dengan jumlah mereka yang banyak sehingga mereka lalai bahwa pertolongan itu semata-mata dari Allah dan bukan hanya karena jumlah yang banyak<a href="#_ftn10">[10]</a>. Allah <em>Ta&#8217;ala</em> mengisahkan peristiwa ini dalam firman-Nya,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">{لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئاً وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ، ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَى رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنْزَلَ جُنُوداً لَمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا وَذَلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ}</p>
<p>&#8220;<em>Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (wahai kaum mu&#8217;minin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu ketika kamu merasa bangga dengan banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dan bercerai-berai. Kemudian Allah memberi ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada oang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikian pembalasan kepada mereka</em>&#8221; (QS At Taubah:25-26).</p>
<p>Yang kedua, perang Uhud yang terjadi pada tahun ketiga hijriyah. Ketika itu Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memerintahkan kepada pasukan pemanah yang dipimpin oleh Abdullah bin Jubair <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>, untuk tidak meninggalkan tempat mereka apapun yang terjadi pada pasukan kaum muslimin. Beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, &#8220;Janganlah kalian meninggalkan tempat kalian meskipun kalian melihat kami telah mengalahkan musuh, atau meskipun kalian melihat musuh telah mengalahkan kami maka janganlah kalian menolong kami&#8221;. Dalam riwayat lain, &#8220;…meskipun kalian melihat kami disambar burung&#8221;. Kemudian setelah mereka melihat pasukan musuh berlari mundur, sebagian dari pasukan pemanah berlari meninggalkan tempat mereka menuju pasukan muslimin untuk bersama mengumpulkan harta rampasan perang, padahal pemimpin mereka Abdullah bin Jubair telah mengingatkan mereka akan perintah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Akibatnya pasukan musuh berbalik menyerang pasukan muslimin sehingga terbunuh tujuh puluh orang dari pasukan muslimin, bahkan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sendiri terluka wajahnya yang mulia pada perang tersebut<a href="#_ftn11">[11]</a>. Meskipun kemudian Allah <em>Ta&#8217;ala</em> menurunkan pertolongan-Nya kepada mereka sehingga pasukan musuh mundur.</p>
<p>Perhatikan dan renungkanlah kedua peristiwa di atas, bagaimana Allah <em>Ta&#8217;ala</em> menunda turunnya pertolongan-Nya kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan para sahabat <em>radhiyallahu &#8216;anhum</em> hanya karena perbuatan maksiat sebagian dari mereka, padahal mereka secara keseluruhan adalah orang-orang yang paling kuat dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya<a href="#_ftn12">[12]</a>.</p>
<p>Dalam perang Hunain sebagian mereka merasa bangga dengan jumlah mereka yang banyak, sehingga mereka lalai sesaat dari Allah <em>Ta&#8217;ala</em>, yang akibatnya mereka mulanya dikalahkan pasukan musuh, meskipun kemudian Allah <em>Ta&#8217;ala</em> menurunkan pertolongan-Nya kepada mereka<a href="#_ftn13">[13]</a>. Demikian pula dalam perang Uhud, sebab kekalahan mereka di awalnya adalah karena sebagian mereka menyelisihi perintah Rasulullah  <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em><a href="#_ftn14">[14]</a>.</p>
<p>Maka kalau keadaan ini bisa menimpa para sahabat Rasulullah <em>shallalahu &#8216;alaihi wa sallam </em> yang sangat kuat dalam berpegang teguh dengan agama Islam, disebabkan sekali kesalahan sebagian mereka ketika lalai dari bersandar kepada Allah, yang ini menyangkut masalah tauhid, dan ketika menyelisihi perintah Rasulullah <em>shallalahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, maka bagaimana lagi dengan orang-orang yang banyak melanggar syariat Allah <em>Ta&#8217;ala</em>, serta tidak memperhatikan upaya pemurnian tauhid (mengesakan Allah <em>Ta&#8217;ala</em> dalam beribadah) dan <em>al ittiba&#8217;</em> (semata-mata mengikuti petunjuk dan sunnah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>)? Mungkinkah pertolongan dan kemenangan akan Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berikan kepada mereka?</p>
<p>Sebagai tambahan penjelasan, marilah kita renungkan bersama kisah berikut ini,</p>
<p>Imam ahmad dalam kitab &#8220;Az Zuhd&#8221; (hal. 142) dan Abu Nu&#8217;aim dalam kitab &#8220;Hilyatul Auliya&#8217;&#8221; (1/216-217) meriwayatkan dengan sanad mereka berdua dari Jubair bin Nufair<a href="#_ftn15">[15]</a> beliau berkata, &#8220;Ketika (kaum muslimin) berhasil menaklukkan (wilayah) <em>Qibrus</em> (Cyprus, sebuah pulau di kawasan eropa saat ini) dan membuat lari bercerai berai penduduknya, (waktu itu) semua pasukan muslimin menangis satu sama lainnya. Aku melihat (sahabat yang mulia) Abu Darda&#8217; <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> terduduk sendirian sambil menangis, maka aku bertanya, &#8220;Wahai Abu Darda&#8217;, apa sebabnya kamu menangis di hari yang Allah muliakan/menangkan agama Islam dan kaum muslimin?&#8221; Beliau  berkata, &#8220;Celaka kamu wahai Jubair, (lihatlah) alangkah hinanya manusia di hadapan Allah jika mereka meninggalkan perintah-Nya, padahal penduduk negeri ini adalah orang-orang yang perkasa, unggul dan memiliki kerajaan (besar), tetapi mereka meninggalkan perintah Allah <em>Ta&#8217;ala</em>, maka jadilah mereka seperti yang kamu saksikan (saat ini)&#8221;.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><span style="color: #800000;"><strong>Upaya Untuk Mengembalikan Kejayaan Umat</strong></span></p>
<p>Berdasarkan keterangan di atas, maka upaya terbaik yang harus dilakukan oleh kaum muslimin untuk mengatasi semua masalah yang mereka hadapi, serta mengembalikan kejayaan dan kemuliaan mereka adalah berusaha mewujudkan syarat yang telah Allah <em>Ta&#8217;ala</em> tentukan dalam ayat-ayat tersebut di atas, yaitu dengan kembali mengoreksi pemahaman dan pengamalan kita terhadap Al Qur&#8217;an dan Sunnah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, utamanya pemahaman dan pengamalan terhadap dua kalimat syahadat (<em>Laa ilaaha illallah</em>) dan (<em>Muhammadur Rasulullah </em><em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>) yang merupakan landasan agama Islam ini.</p>
<p>Sementara itu, kita dapati sebagian kaum muslimin saat ini banyak yang melakukan cara-cara dengan mengatasnamakan upaya mengembalikan kejayaan umat, ada yang menempuh jalur politik, ada yang berupaya menggulingkan pemerintah yang berkuasa, ada yang mengutamakan kemajuan teknologi, ada yang menitikberatkan pada upaya menghimpun massa sebanyak-banyaknya, dan cara-cara lain yang tidak bersumber dari petunjuk Allah dan Rasul-Nya <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Padahal kalau kita amati dengan seksama peristiwa sejarah yang kami nukilkan di atas, jelas sekali menunjukkan bahwa kemajuan teknologi, kekuasaan besar dan jumlah pasukan yang besar sama sekali <strong>tidak bermanfaat tanpa adanya landasan iman dan ketaatan yang kuat kepada Allah <em>Ta&#8217;ala</em> dan Rasul-Nya <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em></strong>. Bukankah negeri <em>Qibrus</em> yang ditaklukkan oleh kaum muslimin adalah negeri yang unggul dalam teknologi dan persenjataan saat itu, serta memiliki pasukan yang perkasa dan kekuasaan yang besar, sebagaimana ucapan Abu Darda&#8217; di atas? Bukankah jumlah pasukan muslimin dalam perang Hunain sangat banyak akan tetapi tidak bermanfaat karena sebagian mereka lalai dari bersandar kepada Allah <em>Ta&#8217;ala</em>?</p>
<p>Dalam sebuah hadits shahih dari Tsauban, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>bersabda, &#8220;<em>Tidak lama lagi umat-umat lain akan saling menyeru untuk mengeroyok kalian seperti orang-orang yang makan mengerumuni nampan (berisi hidangan makanan)</em>&#8220;. Salah seorang sahabat  bertanya: &#8220;<em>Apakah dikarenakan jumlah kita sedikit kala itu?</em>&#8221; Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjawab, &#8220;<em>Bahkan kalian saat itu berjumlah banyak, akan tetapi kalian buih (tidak memiliki iman yang kokoh) seperti buih air bah, sungguh (pada saat itu) Allah akan menghilangkan rasa takut/gentar terhadap kalian dari jiwa musuh-musuh kalian dan Dia akan menimpakan (penyakit)</em> <em>al wahnu ke dalam hati kalian</em>.&#8221; Maka ada yang bertanya, &#8220;<em>Wahai Rasulullah, apakah (penyakit) al wahnu itu? Rasulullah </em><em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em><em> menjawab: &#8220;Cinta (kepada perhiasan) dunia dan benci (terhadap) kematian</em>&#8220;<a href="#_ftn16">[16]</a>.</p>
<p>Perhatikanlah dengan seksama hadits yang agung ini! Bagaimana besarnya jumlah kaum muslimin secara kuantitas tidak bermanfaat sedikitpun dalam menghadapi musuh-musuh mereka, bahkan sekedar membuat takut musuh-musuh mereka juga tidak bisa. Hal ini disebabkan kualitas keimanan mereka sangat lemah, sehingga Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menyerupakan mereka dengan buih yang mudah terbawa aliran air, karena tidak mempunyai pijakan yang kuat di atas tanah. Seandainya kaum muslimin benar-benar beriman dan mentauhidkan Allah <em>Ta&#8217;ala</em>, maka mestinya mereka tidak akan seperti buih, karena iman dan tauhid akan menjadikan pemiliknya kokoh dan kuat dalam hidupnya, disebabkan dia selalu bersandar kepada Allah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa.</p>
<p>Oleh karena itulah, Allah <em>Ta&#8217;ala</em> menyerupakan kalimat tauhid (<em>laa ilaaha illallah</em>) dengan pohon indah yang akarnya menancap kokoh ke dalam tanah, dalam firman-Nya,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">{أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ}</p>
<p>&#8220;<em>Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya (menancap) kokoh (ke dalam tanah) dan cabangnya (menjulang) ke langit</em>&#8221; (QS Ibrahim:24).</p>
<p>Makna &#8220;kalimat yang baik&#8221; di sini adalah kalimat tauhid <em>laa ilaaha illallah</em> (tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah)<a href="#_ftn17">[17]</a>.</p>
<p>Syaikh Abdurrahman As Sa&#8217;di berkata ketika menafsirkan ayat di atas,&#8221;Demikianlah (keadaan) pohon iman (tauhid), akarnya (menancap) kokoh di dalam hati seorang mu&#8217;min dalam ilmu dan keyakinannya, sedangkan cabangnya yang berupa ucapan yang baik, amal shaleh, akhlak dan tingkah laku yang terpuji selalu (menjulang) ke langit…&#8221;<a href="#_ftn18">[18]</a>.</p>
<p>Maka dengan ini, jelaslah bahwa satu-satunya cara untuk mengembalikan kejayaan dan kemuliaan umat Islam adalah dengan mengajak mereka kembali kepada agama mereka, dengan mengoreksi kembali pemahaman dan pengamalan mereka terhadap dua kalimat syahadat (<em>Laa ilaaha illallah</em>) dan (<em>Muhammadur Rasulullah </em><em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>).</p>
<p>Adapun cara-cara lain yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin, maka tidak akan mendatangkan kebaikan sedikitpun, bahkan justru semakin memperparah dan merusak kondisi umat Islam. Karena cara-cara itu adalah menyimpang dari petunjuk Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan merupakan perbuatan <em>bid&#8217;ah<a href="#_ftn19"><strong>[19]</strong></a></em> dalam agama, yang berarti itu adalah perbuatan maksiat kepada Allah <em>Ta&#8217;ala</em>, dan maksiat merupakan sebab terjadinya kerusakan dan bencana di muka bumi ini. Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">{ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ}</p>
<p>&#8220;<em>Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat)<a href="#_ftn20">[20]</a> manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)</em>&#8221; (QS Ar Ruum:41).</p>
<p>Inilah yang dipahami oleh para ulama salaf, sehingga Imam Abu Bakar Ibnu &#8216;Ayyasy Al Kuufi<a href="#_ftn21">[21]</a> ketika ditanya tentang makna firman Allah <em>Ta&#8217;ala,</em></p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">{وَلا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلاحِهَا}</p>
<p>&#8220;<em>Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya…</em>&#8220;. Beliau berkata: &#8220;Sesungguhnya Allah mengutus Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> kepada umat manusia, (sewaktu) mereka dalam keadaan rusak, maka Allah memperbaiki (keadaan) mereka dengan (petunjuk yang dibawa) Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, sehingga barangsiapa yang mengajak (manusia) kepada selain petunjuk yang dibawa Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> maka dia termasuk orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi&#8221;<a href="#_ftn22">[22]</a>.</p>
<p>Kesimpulannya, inilah satu-satunya cara untuk mengembalikan kejayaan dan kemuliaan umat Islam, yang telah dinyatakan langsung oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam sabda beliau, &#8220;Jika kalian telah melakukan jual beli dengan cara <em>&#8216;iinah</em> (salah satu bentuk jual-beli riba), membuntuti ekor-ekor sapi (disibukkan dengan peternakan) dan merasa puas dengan (hasil) pertanian (sehingga lalai dari agama), serta meninggalkan jihad di jalan Allah <em>Ta&#8217;ala</em>, maka niscaya sungguh Allah <em>Ta&#8217;ala</em> akan menimpakan kehinaan dan kerendahan kepada kalian, dan Dia tidak akan menghilangkan kehinaan itu sampai kalian kembali kepada agama kalian&#8221;. Dalam riwayat Imam Ahmad, &#8220;…sampai kalian bertobat kepada Allah…&#8221;<a href="#_ftn23">[23]</a>.</p>
<p>Oleh karena itu, senada dengan hadits di atas, sahabat yang mulia Umar bin Khattab berkata dalam ucapannya yang terkenal, &#8220;Dulunya kita adalah kaum yang paling hina, kemudian Allah <em>Ta&#8217;ala</em> memuliakan kita dengan agama Islam, maka kalau kita mencari kemuliaan dengan selain agama Islam ini, pasti Allah <em>Ta&#8217;ala</em> akan menjadikan kita hina dan rendah&#8221;<a href="#_ftn24">[24]</a>.</p>
<p>Akhirnya, kami menutup tulisan ini dengan memohon kepada Allah <em>Ta&#8217;ala</em> agar Dia memperbaiki keadaan kaum muslimin dan melimpahkan taufik-Nya kepada mereka supaya mereka mau kembali kepada pemahaman dan pengamalan agama Islam yang benar, sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Berkuasa atas segala sesuatu.</p>
<p style="text-align: center;">وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلىِ آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم القيامة، والحمد لله رب العالمين.</p>
<p style="text-align: left;" dir="rtl">
<p style="text-align: left;" dir="rtl">Kota Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, 26 Shafar 1430 H</p>
<p>Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim Al Buthoni, MA</p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> HSR Muslim (4/1999) dari Nu&#8217;man bin Basyir t.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> HSR Al Bukhari 1/14 dan Muslim (1/67) dari Anas bin Malik t.</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Taisiirul Kariimir Rahmaan (hal. 631).</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Taisiirul Kariimir Rahmaan (hal. 631).</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Tafsir Ibnu Katsir (3/401).</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Adhwaa-ul bayaan (5/272).</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Tafir Ibnu Katsir (1/545).</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> HSR Al Bukhari (no. 328) dan Muslim (no. 521).</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> Kisah perang Hunain dalam HSR Muslim (no. 1775).</p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> Lihat &#8220;Tafsir Ibnu Katsir&#8221; (2/452).</p>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> Lihat kisah selengkapnya dalam HSR Al Bukhari (no. 3817).</p>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> Lihat kitab &#8220;As Sabiilu ilai &#8216;izzi wat tamkiin&#8221; (hal. 33), tulisan syaikh Abdul Malik Ramadhani.</p>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> Ibid (hal. 15).</p>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a> Ibid (hal. 33-34).</p>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a> Beliau adalah seorang tabi&#8217;in senior yang mulia dan terpercaya dalam meriwayatkan hadits Rasulullah r (wafat tahun 80 H), lihat kitab &#8220;Taqriibut tahdziib&#8221; (hal. 91).</p>
<p><a href="#_ftnref16">[16]</a> HR Abu Dawud (no. 4297), Ahmad (5/278) dan lain-lain, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam &#8220;Silsilatul ahaadiitsish shahihah&#8221; (no. 958).</p>
<p><a href="#_ftnref17">[17]</a> Lihat &#8220;Tafsir Ibnu Katsir&#8221; (2/698).</p>
<p><a href="#_ftnref18">[18]</a> Taisiirul Kariimir Rahmaan (hal. 297).</p>
<p><a href="#_ftnref19">[19]</a> Yaitu mengada-adakan sesuatu yang baru dalam agama, yang tidak dicontohkan oleh Nabi r.</p>
<p><a href="#_ftnref20">[20]</a> Lihat &#8220;Tafsir Ibnu Katsir&#8221; (3/576).</p>
<p><a href="#_ftnref21">[21]</a> Beliau adalah imam dari kalangan atba&#8217;ut tabi&#8217;in senior, seorang ahli ibadah dan terpercaya dalam meriwayatkan hadits Rsulullah r (wafat 194 H), lihat kitab &#8220;Taqriibut tahdziib&#8221; (hal. 576).</p>
<p><a href="#_ftnref22">[22]</a> &#8220;Tafsir Ibni abi Hatim Ar Raazi&#8221; (6/74) dan &#8220;Ad Durrul mantsuur&#8221; (3/477).</p>
<p><a href="#_ftnref23">[23]</a> HR Abu Dawud (no. 3462), Ahmad (2/42) dan lain-lain, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam &#8220;Silsilatul ahaadiitsish shahihah&#8221; (no. 11).</p>
<p><a href="#_ftnref24">[24]</a> Riwayat Al Hakim dalam &#8220;Al Mustadrak&#8221; (1/130), dinyatakan shahih oleh Al Hakim dan disepakati oleh Adz Dzahabi.</p>
<div class="shr-publisher-3534"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fmengembalikan-kejayaan-umat-islam.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/mengembalikan-kejayaan-umat-islam.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pelajaran dari Jalur Gaza</title>
		<link>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/pelajaran-dari-jalur-gaza.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/pelajaran-dari-jalur-gaza.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Jan 2009 08:48:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq dan Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Palestina]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=518</guid>
		<description><![CDATA[Petaka yang sedang menimpa umat Islam secara umum, dan yang sedang diderita oleh saudara-saudara kita di Jalur Gaza adalah menuntut kita untuk berpikir serius nan tulus. Kita mencari sumber permasalahan, kelemahan dan kekalahan, lalu kita<a class="more" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/pelajaran-dari-jalur-gaza.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Petaka yang sedang menimpa umat Islam secara umum, dan yang sedang diderita  oleh saudara-saudara kita di Jalur Gaza adalah menuntut kita untuk berpikir  serius nan tulus. Kita mencari sumber permasalahan, kelemahan dan kekalahan,  lalu kita membenahinya, satu demi satu.</p>
<p><span id="more-518"></span></p>
<p>Betapa tidak, jumlah umat Islam pada zaman ini telah mencapai seperlima  dari penduduk dunia. Akan tetapi mengapa di berbagai belahan dunia, umat Islam  senantiasa tertindas, terampas hak-haknya? Bukankah Allah <em>ta&#8217;ala</em> telah  berjanji akan melimpahkan kejayaan, kemakmuran, dan kedamaian kepada mereka?</p>
<p>وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا  الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ  مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ  وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا  يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ  الْفَاسِقُونَ</p>
<p><em> &#8220;Dan Allah telah  berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan  amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa  di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka sebagai  penguasa, dan Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah di ridhai-Nya  untuk mereka, dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, sesudah  mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku  dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang  (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang yang fasik.&#8221; </em> (QS. An Nur: 55)</p>
<p>Mengapa sekarang ini, umat Islam di  seluruh belahan bumi tidak mampu berbuat apa-apa untuk menghentikan kebengisan  dan kekejaman zionis terhadap saudara kita di Jalur Gaza? Mengapa umat Islam  saat ini hanya bisa berteriak, mengutuk? Bahkan karena merasa putus asa, mereka  malah ikut menambah derita dengan demonstrasi yang mereka adakan? Jalan-jalan  menjadi macet, berbagai sarana umum menjadi rusak. Tidak cukup sampai di situ,  demonstrasi mereka semakin menambah lemah  pemerintahan mereka sendiri. Pemerintah-pemerintahan negeri Islam saat ini  menjadi disibukkan dengan kegiatan meredam berbagai aksi demonstrasi  masyarakatnya.</p>
<p>Tidakkah ini semua menggugah hati nurani  kita untuk berpikir dan mencari akar permasalahan?! Akankah hingga saat ini,  kita hanya mampu menyalahkan musuh, dan mencari bukti tentang adanya permusuhan  dan kekejaman mereka?!. Kapankah kita dapat mempercayai kabar Allah <em>ta&#8217;ala</em> bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah tenteram menyaksikan  umat Islam hidup di dunia?</p>
<p>مَّا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَلاَ  الْمُشْرِكِينَ أَن يُنَزَّلَ عَلَيْكُم مِّنْ خَيْرٍ مِّن رَّبِّكُمْ</p>
<p><em> &#8220;Orang-orang  kafir dari ahlul kitab dan orang-orang musyrikin tiada menginginkan  diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu.&#8221; </em>(QS. Al Baqarah: 105)</p>
<p>Syaikh  Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin berkata: <em>&#8220;Andai orang-orang kafir, dari  kalangan Yahudi, Nasrani dan kaum musyrikin mampu untuk menghalangi turunnya  hujan dari umat Islam, niscaya akan mereka lakukan. Itu karena mereka tidak senang  bila kita mendapatkan kebaikan, walau hanya sedikit. Andai mereka mampu  menghalangi kita dari memperoleh ilmu yang bermanfaat, niscaya pasti mereka  melakukannya. Perangai buruk ini bukan hanya ada ahlul kitab dan kaum musyrikin  yang hidup semasa dengan Rasulullah shallallahu &#8216;alihi wa sallam saja, akan  perangai ini senantiasa ada pada mereka di sepanjang zaman. Oleh karena itu  pada ayat ini Allah ta&#8217;ala mengungkapkan fakta ini dengan fi&#8217;il mudhari&#8217; (</em><em>ما يود ) yang berartikan bahwa perangai ini bersifat  &#8220;terus menerus.&#8221;</em></p>
<p>Pada ayat lain Allah berfirman:</p>
<p>وَلَن تَرْضَى عَنكَ الْيَهُودُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى  تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ</p>
<p><em> &#8220;Orang-orang  Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu, hingga kamu mengikuti agama  mereka.&#8221; </em>(QS. Al Baqarah 120)</p>
<p>Oleh karena itu pada kesempatan ini saya  mengajak saudara-saudaraku untuk bersama-sama mencari akar permasalahan yang  sedang kita hadapi:</p>
<p><strong>Permasalahan Pertama: Lalai Akan Kehidupan Akhirat</strong></p>
<p>Pada suatu hari Rasulullah <em>shallallahu  &#8216;alihi wa sallam</em> menggambarkan fakta yang sedang kita alami ini kepada para  sahabatnya:</p>
<p>(يوشك الأمم أن تداعى عليكم كما تداعى الأكلة إلى قصعتها ، فقال  قائل: و من قلة نحن يومئذ ؟ قال: بل أنتم يومئذ كثير و لكنكم غثاء كغثاء السيل و  لينزعن الله من صدور عدوكم المهابة منكم و ليقذفن الله في قلوبكم الوهن ، فقال  قائل: يا رسول الله و ما الوهن ؟ قال حب الدنيا و كراهية الموت ). روا أحمد وأبو  داود وغيرهما.</p>
<p><em> &#8220;Tidak lama lagi umat-umat lain  akan saling menyeru untuk menggerogoti kalian bak para penyantap makanan saling  menyeru sesama mereka untuk menyantap hidangannya.&#8221; Salah seorang sahabat  bertanya: Apakah dikarenakan  kita  berjumlah sedikit kala itu? Rasulullah </em><em>shallallahu &#8216;alihi wa sallam</em><em> menjawab: Bahkan kalian kala itu berjumlah banyak, akan  tetapi kalian buih bak buih air bah. Allah sungguh akan menyirnakan rasa segan  terhadap kalian dari jiwa musuh-musuhmu, dan Ia akan menimpakan penyakit <strong>&#8220;al  wahanu&#8221; </strong>pada jiwa kalian. Salah seorang sahabat bertanya: Ya  Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan penyakit &#8220;<strong>al wahanu&#8221;? </strong>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alihi wa sallam</em> menjawab: &#8220;Cinta kepada kehidupan dunia  dan benci terhadap kematian.&#8221;</em> (Riwayat Ahmad, Abu Dawud dan lain-lain)</p>
<p>Pada hadits lain, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p>(إذا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ  الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ الله عَلَيْكُمْ  ذُلاًّ لَا يَنْزِعُهُ حتى تَرْجِعُوا إلى دِينِكُمْ.)  رواه أحمد وأبو داود والبيهقي وصححه الألباني</p>
<p><em> &#8220;Bila kalian telah  berjual beli dengan cara &#8216;Inah, membuntuti ekor sapi, merasa puas dengan hasil pertanian,  dan meninggalkan jihad, niscaya  Allah  akan menimpakan kepada kalian kehinaan yang tidak pernah Ia angkat hingga  kalian kembali kepada agama kalian.&#8221; </em>(Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Al Baihaqy dan dishohihkan oleh  Al Albani)</p>
<p>Gambaran transaksi <em>&#8216;inah</em> adalah: A menjual barang  dagangan, misalnya, seekor sapi, kepada B yang sedang membutuhkan uang, seharga  Rp 2.000.000,- dengan pembayaran di hutang selama 5 bulan. Setelah transaksi  jual beli ini selesai, dan sapi telah berpindah tangan kepada pembeli, yaitu B,  pada gilirannya B menjual kembali sapi tersebut kepada A seharga Rp.  1.500.000,- dengan pembayaran kontan. Sehingga pada gambaran transaksi ini, A  berhasil mendapatkan kembali sapinya, dan mendapatkan bunga/riba sebesar Rp.  500.000,- atas piutangnya.</p>
<p>Inilah akar permasalahan pertama,  kita terlalu disibukkan dengan urusan dunia sehingga lalai dengan urusan  akhirat kita. Untuk sedikit membuktikan akan penyakit ganas yang sedang  menggerogoti kita ini, saya mengajak saudara-saudaraku seiman untuk  bersama-sama menjawab pertanyaan berikut:</p>
<ol>
<li>Setiap kali adzan dikumandangkan,  berapakah jumlah orang yang menghentikan kegiatannya dan mendirikan shalat  berjama&#8217;ah di masjid?</li>
<li>Berapakah jumlah  penonton konser suatu klub musik dan pertandingan sepak bola?</li>
<li>Berapakah wanita yang  berjilbab dengan baik dan benar?</li>
<li>Pernahkah kita  memikirkan bagaimana dan dengan apa kita memperjuangkan kemajuan dan kejayaan  umat Islam?</li>
<li>Berapa banyak jumlah  bar, pabrik rokok, tempat &#8220;remang-remang&#8221; di negeri Islam?</li>
<li>Pernahkah kita tatkala  sedang menyendiri lalu memanjatkan doa kepada Allah untuk saudara-saudara kita  seiman dan seakidah?</li>
</ol>
<p>Tidak heran bila salah seorang ahli ibadah mendengar berbagai pemberitaan  tentang kebengisan kaum Zionis di <a title="Pelajaran dari jalur Gaza" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/pelajaran-dari-jalur-gaza.html">Jalur Gaza</a>, berkata:</p>
<p>أي نصر يرجى لأمة عند  صلاة الفجر نائمون وعند صلاة العصر لاعبون وعند صلاة العشاء أمام المسلسلات  ساهرون.</p>
<p><em> &#8220;Kemenangan bagaimanakah, yang kita harapkan akan  terwujud bagi umat yang bila shalat subuh tiba, larut dalam tidur nyenyak, bila  shalat ashar tiba, sedang hanyut dalam permainan, dan bila shalat &#8216;Isya&#8217; tiba,  asyik menonton sinetron.&#8221;</em></p>
<p>Singkat kata, umat islam saat ini belum memenuhi persyaratan Allah <em>ta&#8217;ala</em>,  karenanya Allah <em>ta&#8217;ala</em> belum memenuhi janji-Nya pada ayat di atas:</p>
<p>وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا  الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ  مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ  وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا  يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ  الْفَاسِقُونَ</p>
<p><em> &#8220;Dan Allah telah  berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan  amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa  di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka sebagai  penguasa, dan Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya  untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merobah (keadaan) mereka, sesudah mereka  berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan  tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap)  kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang yang fasik.&#8221;</em> (QS. An Nur: 55)</p>
<p>Ibnu Katsir <em>rahimahullah </em> berkata: &#8220;Karena para sahabat <em>-semoga  Allah meridhoi mereka-</em> sepeninggal Nabi <em>shallallahu &#8216;alihi wa sallam</em> adalah orang paling banyak menegakkan perintah-perintah Allah, dan paling taat  kepada Allah <em>azza wa Jalla, </em> maka  pertolongan yang mereka dapatkan sesuai dengan amalan mereka. Mereka menegakkan  kalimat Allah di belahan bumi bagian timur dan barat, maka Allah benar-benar  meneguhkan mereka. Sehingga mereka berhasil menguasai umat manusia dan berbagai  negeri. Dan tatkala umat Islam sepeninggal mereka melakukan kekurangan dalam  sebagian syari&#8217;at, maka kejayaan mereka berkurang selaras dengan amalan  mereka.&#8221;</p>
<p><strong>Permasalahan Kedua: Terperdaya Oleh Kemajuan Musuh</strong></p>
<p>Tidak kita pungkiri bahwa musuh-musuh umat Islam berhasil mencapai kemajuan  dalam hal materi, ilmu pengetahuan dan persenjataan. Sebagaimana, kita juga  mengakui bahwa saat ini umat Islam dalam   keterbelakangan dalam berbagai aspek kehidupan. Begitu jauhnya  keterbelakangan umat Islam, sampai-sampai jarum jahitpun harus didatangkan dari  negeri kafir.</p>
<p>Fenomena ini menjadikan banyak dari kita ditimpa <em>down mental, </em>sehingga  kita berusaha mengais kemuliaan dengan membeo dan bahkan &#8220;mengabdi&#8221;  kepada mereka. Berbagai lapisan masyarakat Islam menyerukan agar kita  meneladani berbagai peradaban barat. Kita senantiasa siap untuk mengorbankan  berbagai prinsip dan akidah kita demi mengais apa yang disebut dengan kemajuan  dan tekhnologi. Kita beranggapan bahwa kejayaan pasti tercapai bila kita meniru  mereka.</p>
<p>Tidak hanya berhenti pada meniru, bahkan pada saat-saat ditimpa musibah dan  petaka seperti sekarang ini, umat Islam mengemis pertolongan dan pembelaan  kepada mereka.</p>
<p>Kita lalai bahwa kejayaan, kemuliaan hidup dan pertolongan hanya dapat  terwujud dengan iman dan ibadah kepada Allah <em>ta&#8217;ala</em>:</p>
<p>الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاء مِن دُونِ  الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِندَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ العِزَّةَ لِلّهِ  جَمِيعًا</p>
<p><em> &#8220;Orang-orang yang  menjadikan orang-orang kafir sebagai teman penolong (pembela) dengan  meninggalkan orang-orang yang beriman. Apakah mereka mencari kemuliaan di sisi  orang-orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kemuliaan itu hanyalah kepunyaan  Allah.&#8221; </em>(QS. An Nisa 139)</p>
<p>Tidakkah  umat Islam merenungkan pesan Khalifah Umar bin Al Khatthab <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> tatkala datang ke Baitul Maqdis untuk menerima langsung kunci pintu Baitul  Maqdis dari para pendeta ?</p>
<p>Setiba  Khalifah Umar bin Al Khatthab <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> di Palestina, beliau  segera menuju ke Baitul Maqdis. Di tengah perjalanan, beliau melewati suatu  parit. Tanpa pikir panjang, beliau segera menuntun untanya dan melepas kedua  terompahnya lalu meletakkan keduanya di bahu beliau. Menyaksikan pemandangan  yang demikian ini, sahabat Abu Ubaidah Al Jarrah berkomentar: Wahai Amirul  Mukminin, Engkau melakukan hal ini, melepas kedua terompahmu, lalu meletakkan  keduanya di atas bahumu, serta menyeberangi parit sambil menuntun unta. Sungguh  aku mengkhawatirkan bila saat ini ada penduduk setempat yang menyaksikanmu.  Mendengar ucapan ini, Khalifah Umar bin Al Khatthab menjadi tersentak dan  berkata: Aduh! Andai yang berkata demikian adalah selain engkau, niscaya aku  akan menghukumnya. Lalu beliau berkata:</p>
<p>إنا كنا أذل قوم  فأعزنا الله بالإسلام فمهما نطلب العز بغير ما أعزنا الله به أذلنا الله .  رواه الحاكم</p>
<p><em> &#8220;Sesungguhnya  dahulu, kita adalah orang yang paling hina, lalu Allah memuliakan kita dengan  menurunkan agama Islam, maka acapkali kita mencari kemuliaan dengan selain  agama Islam, niscaya Allah akan menimpakan kehinaan kepada kita.&#8221; </em>(HR. Al Hakim)</p>
<p>Saudaraku, tidakkah kita menyimak  lalu mengamalkan wasiat pemimpin umat Islam pertama  yang berhasil membebaskan Masjid Al Aqsha  ini?</p>
<p>Sejarah telah menjadi bukti nyata  akan wasiat Khalifah Umar <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> ini. Tatkala Shalahuddin Al  Ayyubi hendak membebaskan Baitul maqdis dari belenggu pasukan salib, beliau  memulainya dengan mendidik pasukannya untuk meningkatkan iman dan amal saleh,  terutama shalat malam. Setiap kali beliau melewati sebagian pasukannya yang  sedang membaca Al Qur&#8217;an atau shalat malam beliau berkata:</p>
<p>من هنا يأتي النصر</p>
<p><em> &#8220;Dari  sinilah kemenangan akan datang.&#8221; </em></p>
<p>Sebaliknya bila ia melewati sebagian  pasukannya yang sedang terlelap tidur, beliau berkata:</p>
<p>من هنا تأتي الهزيمة</p>
<p><em> &#8220;Dari  sinilah kekalahan akan datang.&#8221;</em></p>
<p><strong>Permasalahan Ketiga: Mempercayai Setiap Penebar  Semangat</strong></p>
<p>Pada saat terjadi petaka atau  kejadian besar semacam ini, setiap orang memberikan ulasan, dan pandangannya.  Setiap pengamat dengan berbagai latar belakang, aliran, dan bahkan kepentingan,  mengutarakan ulasannya. Hal ini tidak mengherankan, yang mengherankan adalah  bila umat Islam mempercayai dan membeo dengan setiap pahlawan kesiangan  tersebut. Akibat dari sikap tidak terpuji ini, umat Islam di mana saja sering  menjadi kelinci percobaan, bahkan tumbal bagi berbagai kalangan untuk  mewujudkan kepentingannya.</p>
<p>Terlebih-lebih di negeri seperti negeri  kita tercinta, Indonesia, terlebih lagi pada saat-saat pemilu. Berbagai partai  menggunakan nama Islam, dan mengesankan sebagai pahlawan yang siap hidup dan  mati demi umat Islam. Berbagai slogan, semboyan, dan janji diumbar, sehingga  kebanyakan umat Islam menjadi terbuai karenanya. Akan tetapi bila masa-masa  kampanye telah berlalu, semuanya sirna bak fatamorgana. Bahkan dengan tanpa  rasa malu sedikitpun, berbagai partai Islam atau tokoh muslim menikmati jabatannya,  tanpa menengok sedikitpun kepada kepentingan umat islam.</p>
<p>Saudaraku, pada saat-saat seperti  ini, Allah <em>ta&#8217;ala</em> telah mengajarkan agar umat Islam senantiasa  menyerahkan urusan mereka kepada <em>waliyul amri </em>di antara mereka<em>.  Waliyul amri</em> dari kalangan ulama&#8217; dan juga <em>waliyul amri</em> dari  kalangan pemimpin mereka. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p>وَإِذَا جَاءهُمْ أَمْرٌ مِّنَ الأَمْنِ  أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُواْ بِهِ وَلَوْ  رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُوْلِي الأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ  الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلاَ فَضْلُ اللّهِ عَلَيْكُمْ  وَرَحْمَتُهُ لاَتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلاَّ قَلِيلاً</p>
<p><em> &#8220;Dan  apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan,  mereka lalu menyiarkannya. Dan kalaulah mereka menyerahkannya kepada Rasul dan  ulil amri diantara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui  kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil amri).  Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu  mengikuti syetan, kecuali sebagian sedikit saja (diantaramu).&#8221; </em>(QS. An Nisa&#8217;: 83)</p>
<p>Ibnu Katsir mengomentari ayat ini  dengan berkata: &#8220;<em>Ayat ini mengingkari perbuatan sebagian orang yang  terburu-buru dalam mempublikasikan setiap kejadian, padahal ia belum  mendapatkan kejelasan dan duduk perkaranya dengan baik.</em>&#8221;</p>
<p><strong>Permasalahan Keempat: Perpecahan Umat Islam Biang Kehinaan</strong></p>
<p>Menjaga persatuan dan kesatuan umat Islam  di atas <em>al haq</em> (kebenaran) adalah salah satu prinsip pokok dalam syariat  Islam, sebagaimana telah ditegaskan dalam firman Allah <em>ta&#8217;ala</em>:</p>
<p>واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا واذكروا الله نعمة الله عليكم  إذ كنتم أعداء فألف بينكم فأصبحتم بنعمته إخوانا</p>
<p><em> &#8220;Dan berpegang  teguhlah kamu semua dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai  berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu  bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena  nikmat Allah orang-orang yang bersaudara.&#8221; </em>(QS. Ali Imran 103)</p>
<p>Lebih detil, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa  sallam</em> menggambarkan persatuan yang seyogyanya dibina oleh umat  islam melalui sabdanya</p>
<p>عن  النعمان بن بشير قال : قال رسول الله (مثل  المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم مثل الجسد إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر  الجسد بالسهر والحمى) رواه مسلم</p>
<p><em> &#8220;Dari sahabat Nu&#8217;man bin Basyir </em><em>radhiyallahu &#8216;anhu</em><em> ia menuturkan: Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam  bersabda: Perumpamaan kaum mukminin dalam hal kecintaan, kasih sayang, dan  bahu-membahu sesama mereka, bagaikan satu tubuh, bila ada anggota tubuh itu  yang menderita, niscaya anggota tubuh lainnya akan sama-sama merasakan susah  tidur dan demam.&#8221;</em> (Riwayat Muslim)</p>
<p>Sebaliknya,  perpecahan dan perselisihan adalah suatu hal yang terlarang dalam <em>syari&#8217;at </em>Islam,  sebagaimana  ditegaskan pada ayat di  atas, dan juga pada firman Allah berikut:</p>
<p>ولا تكونوا كالذين تفرقوا واختلفوا من بعد ما جاءهم البينات وألئك  لهم عذاب عظيم يوم تبيض وجوه وتسود وجوه</p>
<p><em> &#8220;Dan janganlah  kamu menyerupai orang-orang yang bercerai berai dan berselisih sesudah datang  kepada mereka keterangan yang jelas. Mereka itulah orang-orang yang mendapat  siksa yang berat pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri dan  ada pula muka yang hitam muram.&#8221;</em> (QS Ali Imran 105)</p>
<p>Ayat-ayat  yang melarang perpecahan dan memerintahkan persatuan sangatlah banyak. Ini  menunjukkan akan betapa pentingnya persatuan bagi kelangsungan umat Islam dan  betapa besar kerusakan yang akan menimpa mereka bila mereka berpecah-belah.  Bahkan Allah <em>ta&#8217;ala</em> telah menegaskan bahwa perpecahan adalah sumber  utama bagi kehancuran dan runtuhnya kejayaan umat Islam:</p>
<p>وَأَطِيعُواْ  اللّهَ وَرَسُولَهُ وَلاَ تَنَازَعُواْ فَتَفْشَلُواْ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ  وَاصْبِرُواْ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ</p>
<p><em>Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya, serta janganlah engkau saling berselisih,  akibatnya engkau akan mengalami kegagalan dan akan sirna kekuatanmu serta  bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.&#8221; </em>(QS. Al Anfal 46)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam banyak kesempatan juga senantiasa  mengingatkan umatnya akan kewajiban bersatu di atas kebenaran dan haramnya  segala macam bentuk perpecahan.</p>
<p>Walau  demikian adanya, umat islam di segala penjuru dunia kurang mengindahkan  syari&#8217;at Allah ini. Kita dapatkan bahwa umat Islam terpetak-petak ke dalam  berbagai kelompok, partai  dan sekte. Ini  semua membuktikan akan kebenaran sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>:</p>
<p>(إن هذه الملة ستفترق على ثلاث وسبعين ثنتان وسبعون في النار  وواحدة في الجنة وهي الجماعة) رواه أحمد وأبو داود وابن أبي عاصم والحاكم وصححه  الألباني</p>
<p><em> &#8220;Dan (pemeluk)  agama ini akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, tujuh puluh  dua golongan akan masuk neraka, dan (hanya) satu golongan yang masuk surga,  yaitu Al Jama&#8217;ah.&#8221;</em> (HRS Ahmad, Abu Dawud, Ibnu  Abi &#8216;Ashim dan Al Hakim, dan dishohihkan oleh Al Albani)</p>
<p>Inilah di  antara penyebab utama bagi terjadinya petaka yang menimpa saudara kita di Jalur  Gaza. Dalam satu negara ada dua kepemimpinan, dan dua partai yang saling  bertentangan dan berperang.</p>
<p>Oleh  karena itu, solusi pertama yang harus kita tempuh untuk mengentaskan  penderitaan saudara kita adalah dengan menyatukan mereka. Sudah saatnya bagi  umat Islam untuk menempuh segala macam cara untuk menyatukan berbagai kekuatan  dan aliran yang ada di Palestina. Sudah saatnya bagi segala kekuatan yang ada  di Palestina untuk meninggalkan segala kepentingan pribadi dan golongan, serta  mendahukan  kepentingan umat islam.</p>
<p>Sudah  saatnya umat Islam untuk kembali meneladani uswah kaum Aus dan Khajraj. Dahlu,  kaum Aus dan Khajraj senantiasa berperang dan bertikai demi merebutkan kepemimpinan.  Akan tetapi setelah mereka memeluk agama Islam, mereka bersatu dan melupakan  segala perbedaan, dendam kabilah dan kepentingan. Mereka bersatu padu, seiya  dan sekata, tiada kepentingan yang mereka perjuangkan selain keridhaan Allah.</p>
<p>وَاعْتَصِمُواْ  بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُواْ وَاذْكُرُواْ نِعْمَتَ اللّهِ  عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاء فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم  بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىَ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ  فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ  تَهْتَدُونَ</p>
<p><em> &#8220;Dan berpeganglah kamu semua kepada tali (agama)  Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah  kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan  hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara.  Dan kamu telah berada di tepi jurang neraka. Lalu Allah menyelamatkan kamu  darinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu  mendapat petunjuk.&#8221; </em>(QS. Ali Imran 103)</p>
<p>Tidakkah tiba saatnya bagi umat Islam untuk mengambil pelajaran dari  jatuhnya kembali bumi Andalus yang indah nan permai ke tangan penyembah salib?  Perpecahan antara umat Islam, dan masing-masing kelompok berusaha menjatuhkan  kelompok lainnya. Bahkan masing-masing kelompok tidak segan-segan untuk  bersekongkol dengan kaum nasrani  guna  meruntuhkan saudaranya sesama muslim. Suatu fenomena yang memilukan,  sampai-sampai salah seorang penyair berkata:</p>
<p>مما يزهدني في أرض  أندلس * سماع معتصم فيها ومعتضد</p>
<p>ألقاب مملكة في غير  موضعها * كالهر يحكي انتفاخا صولة الاسد</p>
<p><em>Diantara yang  menjadikanku meninggalkan bumi Andalusia</em></p>
<p><em>Adanya julukan  Mu&#8217;tashim dan Mu&#8217;tadhid.</em></p>
<p><em>Julukan para raja yang  tidak pada tempatnya</em></p>
<p><em>Bak Kucing yang meniru  kegagahan singa.</em></p>
<p>Demikianlah yang kita rasakan di negeri Islam saat ini, berbagai organisasi  yang menamakan dengan nama-nama Islam, partai islam, pembela islam, pejuang  islam, persatuan mujahidin dan lainnya. Akan tetapi bila kita periksa dengan  seksama, niscaya kita dapatkan tak lebih dari para pengais jabatan dan uang.</p>
<p>Bila ada yang tidak percaya, maka silakan mengoreksi berbagai partai islam  dan ormas islam yang ada. Semuanya dipimpin oleh orang yang tidak berilmu, atau  kalaupun ada yang berilmu, maka itu hanya sedikit. Penampilan anggotanya tidak  mencerminkan sebagai seorang muslim, bahkan tidak jarang sebagian anggotanya  dari penganut agama lain, terutama  di  cabang-cabang yang ada di wilayah Indonesia timur.</p>
<p><strong>Permasalahan Kelima: Berperang  Tanpa Mempersiapkan Kekuatan</strong></p>
<p>Andai Allah menghendaki agar para nabi dan pengikutnya berjaya dan  menguasai dunia tanpa harus berperang melawan musuh, niscaya hal itu akan  terjadi. Akan tetapi Allah <em>ta&#8217;ala</em> telah menentukan bahwa dunia adalah  alam percobaan dan ujian. Para nabi dan pengikutnya diuji dengan adanya  orang-orang yang kufur, orang yang kaya di uji dengan yang miskin, dan  demikianlah seterusnya.</p>
<p>وَلَوْ شَاء رَبُّكَ لآمَنَ مَن فِي الأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا</p>
<p><em> &#8220;Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah  beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya.&#8221; </em>(QS. Yunus 99)</p>
<p>Pada ayat lain Allah  berfirman:</p>
<p>ذَلِكَوَلَوْ يَشَاء  اللَّهُ لَانتَصَرَ مِنْهُمْ وَلَكِن لِّيَبْلُوَ بَعْضَكُم بِبَعْضٍ</p>
<p><em> &#8220;Demikianlah, andai Allah menghendaki, niscaya  Allah akan mengalahkan/membinasakan mereka, akan tetapi Allah hendak menguji  sebagian kalian dengan sebagian yang lain.&#8221; </em>(QS. Muhammad 4)</p>
<p>Bila demikian adanya, tidak heran  bila pada ayat selanjutnya Allah <em>ta&#8217;ala</em> memberikan umat Islam resep yang  manjur untuk mengalahkan musuh-musuhnya:</p>
<p>يَا أَيُّهَا  الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ</p>
<p><em> &#8220;Hai orang-orang yang beriman,jika kamu menolong  (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu, dan meneguhkan kedudukanmu.&#8221;</em> (QS. Muhammad 7)</p>
<p><strong>Inilah sumber kekuatan pertama</strong> yang harus dipersiapkan oleh umat Islam. Umat Islam berjuang dan berperang  dengan menggunakan kekuatan iman dan amal sholeh mereka. Mereka senantiasa  bertawakkal dan mengharapkan pertolongan kepada Allah.</p>
<p>Inilah yang mendasari Kholifah Umar bin Abdul Aziz untuk berpesan kepada  salah seorang panglima perangnya sebagaimana berikut:</p>
<p>&#8220;Hendaknya engkau senantiasa bertakwa  kepada Allah dalam setiap situasi yang engkau hadapi, karena ketakwaan kepada  Allah adalah senjata paling ampuh, taktik paling bagus, dan kekuatan paling  hebat. <strong><em>Janganlah engkau dan kawan-kawanmu lebih waspada dalam menghadapi  musuh dibanding menghadapi perbuatan maksiat kepada Allah.</em> </strong>Karena  perbuatan dosa lebih aku khawatirkan atas masyarakat dibanding tipu daya musuh  mereka. <strong><em>Kita memusuhi musuh kita dan mengharapkan kemenangan atas mereka  berkat tindak kemaksiatan mereka.</em></strong> Kalaulah bukan karena itu, niscaya  kita tidak kuasa menghadapi mereka, karena jumlah kita tidak seimbang dengan  jumlah mereka, kekuatan kita tidak setara dengan kekuatan mereka. Bila kita  tidak mendapat pertolongan atas mereka berkat kebencian kita terhadap  kemaksiatan mereka, niscaya kita tidak dapat mengalahkan mereka hanya dengan  kekuatan kita.</p>
<p>Jangan sekali-kali kalian lebih mewaspadai  permusuhan seseorang dibanding kewaspadaanmu terhadap dosa-dosamu sendiri.  Janganlah kalian lebih serius menghadapi mereka dibanding menghadapi dosa-dosa  kalian.</p>
<p>Ketahuilah bahwa kalian senantiasa diawasi  oleh para malaikat pencatat amalan. Mereka mengetahui setiap perilaku kalian sepanjang  perjalanan dan peristirahatan kalian. Hendaknya kalian merasa malu dari mereka,  dan berlaku santun dihadapan mereka. Jangan sekali-kali menyakiti mereka dengan  tindak kemaksiatan kepada Allah, padahal kalian mengaku sedang berjuang di  jalan Allah.</p>
<p>Janganlah sekali-kali kalian beranggapan  bahwa: <strong><em>&#8220;Sesungguhnya (perbuatan) musuh-musuh kita lebih jelek  dibanding kita, sehingga tidak mungkin mereka dapat mengalahkan kita, walaupun  kita berbuat dosa. Betapa banyak kaum yang telah dikuasai oleh orang-orang yang  lebih jelek, akibat dari perbuatan dosa kaum tersebut.&#8221;</em></strong></p>
<p>Mohonlah pertolongan kepada Allah dalam  menghadapi diri kalian, sebagaimana kalian memohon pertolongan kepada-Nya dalam  menghadapi musuh kalian. Sebagaimana kamipun turut memohon hal tersebut untuk  diri kita dan juga untuk kalian.&#8221; (<em>Hilyatul Auliya&#8217;</em>, oleh Abu  Nu&#8217;aim Al Ashbahaany 5/303)</p>
<p><strong>Kekuatan kedua</strong> yang belum dipersiapkan oleh umat Islam  saat ini ialah kekuatan materi, persenjataan, dan teknologi. Tidak dapat  dipungkiri bahwa umat Islam dimanapun mereka berada menggantungkan diri kepada  musuh-musuh mereka dalam hal persenjataan. Saat ini, Negara Islam terkuat dalam  hal persenjataan adalah negara kafir terlemah. Betapa tidak, sebagian besar  atau bahkan seluruh persenjataan yang dimiliki oleh negara Islam adalah hasil  beli atau bahkan piutang dari negara kafir.</p>
<p>Kita semua ingat tatkala negara kita  dikenai embargo persenjataan oleh Amerika dan Inggris, hampir setiap bulan,  satu demi satu pesawat tempur kita jatuh, dan yang tidak jatuh pun tidak dapat  digunakan.</p>
<p>Dan saya juga yakin bahwa antum juga  mengetahui bahwa berbagai radar yang dipasang di negeri kita adalah hasil hibah  atau bahkan piutang dari negara-negara kafir.</p>
<p>Sebagaimana kita juga tidak dapat pungkiri  bahwa negara kita adalah negara Islam terbesar dan termasuk negara Islam yang  cukup kuat bila dibanding dengan negara-negara Islam lainnya.</p>
<p>Saya juga yakin bahwa kita semua tahu  bahwa negara kafir tetangga, yaitu Singapura, yang penduduknya tidak sampai  satu juta, jauh lebih canggih dan lebih kuat persenjataannya bila dibanding  dengan negara Islam manapun.</p>
<p>Bila demikian adanya, maka mana mungkin  bagi umat Islam mampu menakut-nakuti negara kafir, apalagi mengalahkannya.</p>
<p>Semua ini kita alami, padahal Allah <em>ta&#8217;ala</em> telah memerintahkan kita agar senantiasa membekali diri dengan persenjataan  yang dapat menjadikan musuh segan atau takut terhadap kita:</p>
<p>وَأَعِدُّواْ لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن  رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدْوَّ اللّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِن  دُونِهِمْ لاَ تَعْلَمُونَهُمُ اللّهُ يَعْلَمُهُمْ</p>
<p><em> &#8220;Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka, kekuatan  apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang dipersiapkan untuk  berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu  dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedangkan Allah  mengetahuinya.&#8221; </em>(QS. Al Anfaal: 60)</p>
<p>Syaikh Abdurrahman As Sa&#8217;dy berkata: <em>&#8220;Apabila pada zaman sekarang  telah ada persenjataan yang lebih menakutkan musuh dibanding kuda dan memanah,  misalnya: kendaraan tempur darat ataupun udara (pesawat tempur) yang  dipersiapkan untuk berperang. Dengan senjata-senjata itu kita lebih mudah untuk  meruntuhkan musuh, maka kita diperintahkan untuk mempersiapkan dan berusaha  untuk memilikinya. Sampai pun bila persenjataan itu tidak dapat diperoleh  melainkan dengan terlebih dahulu mempelajari ilmu perindustrian, maka  mempelajari ilmu itu wajib hukumnya. Yang demikian itu berdasarkan kaidah:</em></p>
<p>ما لا يتم الواجب إلا  به، فهو واجب</p>
<p><em> &#8220;Apabila  ada suatu hal yang suatu amalan wajib tidak dapat terlaksana melainkan  dengannya, maka hal tersebut adalah wajib</em><em>.&#8221; </em></p>
<p>Apalah gunanya senapan, bebatuan bila berhadapan dengan pesawat tempur,  tank lapis baja, kapal perang dan berbagai persenjataan canggih lainnya.  Mungkinkah musuh akan merasa takut dan gentar bila berhadapan dengan umat Islam  yang hanya berbekalkan senapan, katapel, dan beberapa jenis kendaraan perang  ringan?</p>
<p>Berdasarkan penjelasan ini, kita semua dapat menyimpulkan bahwa kejayaan  umat Islam bukan hanya menjadi tanggung jawab kelompok tertentu saja. Agama  Islam bukan hanya milik para ustadz, atau negara arab saja, akan tetapi agama  Islam adalah milik dan tanggung jawab kita bersama. Masing-masing dari kita  wajib untuk memperjuangkan agamanya, dan berkorban untuk akidahnya. Kita semua  berjuang sesuai dengan potensi kita masing-masing, tanpa perlu saling  mendahului, atau berebut.</p>
<p>Para da&#8217;i berjuang dengan ilmu agamanya, para konglomerat muslim berjuang dengan  hartanya, para ilmuwan berjuang dengan ilmunya, para pejabat berjuang dengan  jabatannya, wartawan muslim berjuang dengan penanya, dan demikian seterusnya.</p>
<p>Betapa indahnya gambaran yang diberikan oleh Rasulullah <em>shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em> tentang kerjasama yang saling melengkapi ini. Beliau <em>shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p>(إن الله عز وجل يدخل بالسهم الواحد  ثلاثة نفر الجنة صانعه يحتسب في صنعته الخير والرامي به ومنبله) رواه أحمد وأبو  داود وغيرهما.</p>
<p><em> &#8220;Sesungguhnya Allah azza wa Jalla dengan satu anak  panah, memasukkan tiga orang ke dalam surga: pembuatnya yang mengharapkan  pahala ketika ia membuatnya, pemanahnya, dan orang yang membantu pemanah dengan  mengambilkan anak panahnya.&#8221;</em> (HR. Ahmad, Abu Dawud  dan lainnya)</p>
<p><strong>Kabar Gembira</strong></p>
<p>Sedahsyat apapun musibah yang menimpa umat Islam, sekejam apapun kejahatan  musuh-musuh Islam, dan dengan cara apapun mereka berusaha menumpas umat Islam,  kejayaan pasti menghampiri umat Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>يُرِيدُونَ لِيُطْفِؤُوا نُورَ  اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ</p>
<p><em> &#8220;mereka menginginkan untuk memadamkan cahaya  (agama) Allah dengan mulut (ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan  cahaya-Nya, meskipun orang-orang kafir benci.&#8221; </em>(QS. As Shaff: 8)</p>
<p>Dan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p>(لا تزال طائفة من أمتي ظاهرين على  الحق لا يضرهم من خذلهم حتى يأتي أمر الله وهم كذلك). رواه مسلم</p>
<p><em> &#8220;Akan terus ada sekelompok dari umatku yang akan  berjaya di atas kebenaran, tiada membahayakan mereka perilaku orang-orang yang  mengkhianati mereka. Mereka terus berjaya hingga datang urusan Allah (hari kiamat),  sedangkan mereka tetap berjaya.&#8221; </em>(HR. Muslim)</p>
<p>Berdasarkan ini semua, tidak ada alasan bagi umat Islam untuk berputus asa,  atau keluar dari syariat Allah dalam mengupayakan kejayaan Islam. Marilah kita  merajut kembali kejayaan dan kemenangan umat Islam dengan kembali mengobarkan  iman dan amal saleh. Kita memulai rajutan ini dari diri kita, keluarga,  kerabat, tetangga dan masyarakat sekitar. Hanya dengan demikian, kita dapat  mempersiapkan diri bagi turunnya pertolongan Allah dan kerahmatan-Nya:</p>
<p>إِنَّا لَنَنصُرُ رُسُلَنَا  وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ</p>
<p><em> &#8220;Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan  orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya  saksi-saksi (hari kiamat).&#8221; </em>(QS. Al Mukmin: 51)</p>
<p>Pada ayat lain Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p>وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ  مِن بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ</p>
<p><em> &#8220;Dan  sungguh-sungguh telah Kami tuliskan (tetapkan) di dalam Zabur sesudah (Kami  tuliskan dalam Lauh Mahfuzh) bahwasannya bumi ini akan di warisi oleh  hamba-hambaKu yang saleh.&#8221; </em>(QS. Al Anbiya&#8217;: 105)</p>
<p>Bila masing-masing kita benar-benar telah memulai rajutan iman dan amal saleh,  niscaya pertolongan Allah akan segera turun. Tidak sepantasnya bagi umat yang  beriman kepada Allah <em>ta&#8217;ala</em> untuk berputus asa, berkecil hati,  sebagaimana tidak sepantasnya berlaku terburu-buru dalam perjuangan. Sikap  terburu-buru hanyalah akan mendatangkan kegagalan.</p>
<p>من  استعجل شيئا قبل أوانه عوقب بحرمانه</p>
<p><em> &#8220;Barang siapa  yang tergesa-gesa dalam mencapai sesuatu, niscaya akan diganjar dengan  kegagalan.&#8221; </em></p>
<p>Imam Bukhari meriwayatkan dari sahabat  Khabbab bin Arat <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>, bahwa pada suatu hari beliau  mendatangi Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang sedang  berbaring di bawah naungan Ka&#8217;bah berbantalkan selimutnya. Lalu sahabat Khabbab  berkata kepada beliau: <em>Tidakkah engkau memohonkan pertolongan untuk kami?  Tidakkah engkau berdoa kepada Allah untuk kami? </em>Maka beliau menjawab:  Dahulu pada umat sebelum kalian ada orang yang ditimbun dalam tanah, kemudian  didatangkan gergaji, lalu diletakkan di atas kepalanya hingga terbelah menjadi  dua. Siksa itu tidaklah menjadikan ia berpaling dari agamanya. Dan ada yang  disisir dengan sisir besi, hingga terkelupas daging, dan nampaklah tulang atau  ototnya, akan tetapi hal itu tidaklah menjadikan ia berpaling dari agamanya. <em>Sungguh  demi Allah, urusan ini akan menjadi sempurna, sehingga akan ada penunggang  kendaraan dari Sanaa&#8217; hingga ke Hadramaut, sedangkan ia tidaklah merasa takut  kecuali kepada Allah atau serigala atas dombanya. <strong>Akan tetapi kalian adalah  orang-orang yang terburu-buru</strong>.</em>&#8221;</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa  sallam</em> pada kisah ini kembali menggugah keimanan Khabbab kepada janji  Allah. Sebagaimana Beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga menegur  sahabat Khabbab agar meninggalkan sikap terburu-buru dalam perjuangan di jalan  Allah.</p>
<p>Sahabat Khabbab <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> yang hanya meminta agar Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memohonkan  pertolongan sebelum ada faktor pendukung terwujudnya kemenangan, dinyatakan  sebagai sikap terburu-buru, maka bagaimana halnya dengan sikap banyak dari umat  Islam pada zaman ini. Dari mereka ada yang menempuh jalan demonstrasi,  pengeboman, pendirian partai politik, dan menggalang dukungan dari siapapun,  serta berkoalisi dengan partai apapun, tanpa perduli dengan asas dan ideologinya.  Semua ini mereka lakukan di bawah slogan: menyegerakan kejayaan bagi umat  Islam?!! Mengusahakan jaminan hidup bermartabat bagi umat Islam?!  Memperjuangkan nasib kaum muslimin?!! Bahkan dari mereka ada yang berkata: Bila  umat islam tidak masuk parlemen, maka siapakah yang akan menjamin nasib  mereka?!</p>
<p>Seakan-akan mereka tidak pernah mendengar  jaminan dan janji Allah di atas.</p>
<p>Seusai perjanjian Hudaibiyyah  ditandatangani, sahabat Umar bin Khatthab <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> yang tidak  kuasa melihat sahabat Abu Jandal <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> diserahkan kembali  ke orang-orang Quraisy, berkata kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa  sallam</em>: Bukankah engkau adalah benar-benar Nabiyullah? Rasulullah <em>shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em> menjawab: Ya. Umar pun kembali berkata: Bukankah kita di  atas kebenaran, sedangkan musuh kita di atas kebatilan? Nabi pun menjawab: Ya!  Umar pun berkata: Lalu mengapa kita pasrah dengan kehinaan dalam urusan agama  kita, bila demikian adanya? Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjawab: Sesungguhnya Aku adalah Rasulullah, dan <strong><em>aku tidak akan  menyelisihi perintah-Nya, dan Allah adalah Penolongku.</em></strong> Umar kembali  berkata: Bukankah engkau pernah mengabarkan kepada kami bahwa kita akan  mendatangi Ka&#8217;bah, kemudian berthawaf di sekelilingnya? Rasulullah <em>shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em> menjawab: <strong><em>Iya, dan apakah aku pernah mengabarkan  bahwa kita akan mendatangi Ka&#8217;bah pada tahun ini?</em></strong>Umar pun  menjawab: Tidak. Maka Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menimpalinya: <strong><em>Sesungguhnya engkau akan mendatanginya, dan akan bertawaf  mengelilinginya</em></strong>. (<em>Muttafaqun &#8216;alaih</em>)</p>
<p>Pada  kisah ini, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berusaha meneguhkan  kembali keimanan Umar bin Khatthab kepada janji Allah agar tidak tergoyah. Dan  mengingatkannya agar bersabar dalam menanti datangnya pertolongan Allah, yaitu  dengan tetap taat kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.  Demikianlah seyogyanya pertolongan Allah <em>ta&#8217;ala</em> digapai. Yaitu dengan  keimanan yang benar dan kokoh dan kesabaran yang teguh. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p>وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً  يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ</p>
<p><em> &#8220;Dan Kami  jadikan dari mereka pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah  Kami, ketika mereka bersabar dan adalah mereka selalu meyakini ayat-ayat  Kami.&#8221; </em> (QS. As Sajdah: 24)</p>
<p>Ibnul Qayyim berkata: &#8220;Pada ayat ini  Allah <em>ta&#8217;ala</em> mengabarkan bahwa Ia telah menjadikan mereka (pengikut nabi  Musa -pen) sebagai pemimpin-pemimpin yang dijadikan panutan oleh generasi  setelah mereka, berkat kesabaran dan keyakinan mereka. <strong><em>Sebab dengan  kesabaran dan keyakinan, kepemimpinan dalam hal agama dapat dicapai</em></strong>.  Karena seorang penyeru kepada jalan Allah <em>ta&#8217;ala</em>, tidaklah akan  terealisasi cita-citanya, melainkan bila ia benar-benar yakin akan kebenaran  misi yang ia surukan, ia menguasai ilmu tentangnya. Ia juga bersabar dalam  menjalankan dakwah menuju jalan Allah, yaitu dengan tabah menahan beban dakwah  dan menahan diri dari segala hal yang akan meluluhkan tekad dan cita-citanya.  Barang siapa demikian ini halnya, maka ia termasuk para pemimpin yang telah  mendapat petunjuk dari Allah <em>ta&#8217;ala</em>.&#8221;</p>
<p>Pada akhir tulisan ini, saya  hanya dapat berdoa kepada Allah <em>ta&#8217;ala</em> agar senantiasa melimpahkan taufik  dan <em>&#8216;inayah</em>-Nya kepada kita semua, sehingga kita dapat istiqamah di atas  kebenaran.</p>
<p>اللهم  ربَّ جبرائيلَ وميكائيلَ وإسرافيلَ فاطَر السَّماواتِ والأرضِ، عالمَ الغيبِ  والشَّهادة، أنتَ تحْكُمُ بين عِبَادِك فيما كانوا فيه يَخْتَلِفُون، اهْدِنَا  لِمَا اخْتُلِفَ فيه من الحق بإِذْنِكَ؛ إنَّك تَهْدِي من تَشَاء إلى صراط مستقيم.  وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين. والله أعلم بالصَّواب،  وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين.</p>
<p><em> &#8220;Ya Allah, Tuhan  malaikat Jibril, Mikail, Israfil, Dzat Yang telah Menciptakan langit dan bumi,  Yang Mengetahui hal yang gaib dan yang nampak, Engkau mengadili antara  hamba-hambamu dalam segala yang mereka perselisihkan. Tunjukilah kami –atas  izin-Mu- kepada kebenaran dalam setiap hal yang diperselisihkan, sesungguhnya  Engkau-lah Yang menunjuki orang yang Engkau kehendaki menuju kepada jalan yang  lurus. Shalawat dan salam dari Allah semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi  kita Muhammad, keluarga, dan seluruh sahabatnya. Shalawat  dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga, sahabat  dan seluruh pengikutnya. Dan Allah-lah Yang Lebih Mengetahui kebenaran,  dan akhir dari setiap doa kami adalah: &#8220;segala puji hanya milik Allah, Tuhan  semesta alam&#8221;.</em> Amin</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ustadz Muhammad Arifin Bin Badri<br />
Artikel <a title="Pelajaran dari jalur Gaza" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/pelajaran-dari-jalur-gaza.html">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-518"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fpelajaran-dari-jalur-gaza.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/pelajaran-dari-jalur-gaza.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>40</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengumuman Donasi Palestina</title>
		<link>http://muslim.or.id/dari-redaksi/pengumuman-donasi-palestina.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/dari-redaksi/pengumuman-donasi-palestina.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Jan 2009 09:46:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muslim.Or.Id</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Redaksi]]></category>
		<category><![CDATA[Palestina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=510</guid>
		<description><![CDATA[PENGUMUMAN: Alhamdulillah donasi untuk Palestina yang disalurkan melalui muslim.or.id hingga saat ini, tanggal 20 Januari 2009 pukul 16.45 WIB sudah terkumpul sebanyak Rp 76.321.899. Penyaluran donasi melalui rekening muslim.or.id ditutup mulai besok, tanggal 21 Januari<a class="more" href="http://muslim.or.id/dari-redaksi/pengumuman-donasi-palestina.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><strong>PENGUMUMAN:</strong></p>
<p>Alhamdulillah donasi untuk Palestina yang disalurkan melalui muslim.or.id hingga saat ini, tanggal 20 Januari 2009 pukul 16.45 WIB sudah terkumpul sebanyak <strong>Rp 76.321.899. </strong></p>
<p><strong>Penyaluran donasi melalui rekening muslim.or.id ditutup mulai besok, tanggal 21 Januari 2009.</strong> Untuk selanjutnya penyaluran donasi Palestina dapat dikirim langsung melalui rekening berikut ini:</p>
<p>BCA cab Kwitang: No. Rek. 686.0153678<br />
BSM cab. Kramat: No. Rek. 009.0121.773<br />
(a.n. Medical Emergency Rescue Committee)<br />
BMI cab. Arthaloka: No. Rek. 301.00521.15 (a.n. MER-C)</p>
<div class="shr-publisher-510"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fdari-redaksi%2Fpengumuman-donasi-palestina.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/dari-redaksi/pengumuman-donasi-palestina.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kami Tidak Tinggal Diam Wahai Palestina!!!</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/kami-tidak-tinggal-diam-wahai-palestina.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/kami-tidak-tinggal-diam-wahai-palestina.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Jan 2009 05:41:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Palestina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=501</guid>
		<description><![CDATA[Bismillaahirrahmaanirrahiim… Alhamdulillaahi –l Khaaliqil kauni wa maa fiih, wa jaami&#8217;in naasi li yaumin laa raiba fiih. Asyahadu an laa ilaaha illallaah, wa anna Muhammadan rasuulullaah&#8230; wa ba&#8217;d&#8230; Perhatian dunia dalam beberapa hari ini tertuju pada<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/kami-tidak-tinggal-diam-wahai-palestina.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Bismillaahirrahmaanirrahiim…</p>
<p><em>Alhamdulillaahi –l Khaaliqil kauni wa maa fiih, wa jaami&#8217;in naasi li yaumin laa raiba fiih. Asyahadu an laa ilaaha illallaah, wa anna Muhammadan rasuulullaah&#8230; wa ba&#8217;d&#8230;</em></p>
<p>Perhatian dunia dalam beberapa hari ini tertuju pada Jalur Gaza. Invasi tentara Yahudi ke Gaza menelan banyak korban terutama wanita dan anak-anak. Korban luka-luka semakin memperbanyak deretan korban meninggal dunia. Dunia pun merespon dengan berbagai macam aksi.</p>
<p><span id="more-501"></span></p>
<p>Di antara aksi sebagai bentuk kepedulian atas musibah yang menimpa kaum muslimin di Palestina itu adalah aksi berupa bantuan kemanusiaan. Yang paling menonjol dalam hal bantuan tersebut adalah Saudi Arabia, di bawah pimpinan Raja Abdullah bin Abdul Aziz –<em>ayyadahullah</em>-. Ini bukan klaim tanpa bukti. Sebagai contoh: Program &#8220;Donasi Untuk Palestina&#8221; digencarkan, walaupun sudah sejak lama dicanangkan. Rumah-rumah sakit ternama di pusat kerajaan Saudi difokuskan untuk menangani korban luka-luka akibat serangan kaum Yahudi tersebut. Bantuan berupa makanan, pakaian dan obat-obatan juga terus mengalir sampai tulisan ini diturunkan. Kalangan ulama pun tidak tinggal diam. Baik perseorangan maupun lembaga/organisasi. Syeikh Abdul Aziz Alu Syeikh dan Syeikh Abdurrahman As Sudais mengecam dengan keras aksi serangan tersebut dalam khutbah jum&#8217;at mereka. Mereka dan umumnya para khatib di Saudi tidak lupa mendo&#8217;akan kaum muslimin Palestina secara khusus. Lajnah Daa&#8217;imah juga mengeluarkan pernyataan dalam menyikapi tragedi di Jalur Gaza tersebut. Dan masih banyak lagi bentuk bantuan baik materi maupun moril/spirit.</p>
<p>Namun ada segelintir orang menutup mata dengan kenyataan ini dan berkomentar, <em>&#8220;Saudi Arabia adalah negara yang takut dengan Amerika dan kurang memberikan bantuan yang konkrit kepada kaum muslimin di Palestina.&#8221;</em> atau kalimat yang semisalnya.</p>
<p>Terhadap siapa saja yang berkomentar seperti di atas, saya katakan:</p>
<p>Apakah maksud Anda dengan kata &#8216;konkrit&#8217; bahwa Anda menginginkan agar Pemerintah Saudi mengirimkan tentaranya ke Palestina untuk menghantam pasukan Israel? Baiklah jika memang demikian, apakah Amerika akan tinggal diam? Padahal Allah berfirman (yang artinya), <em>&#8220;&#8230;dan janganlah kalian menjatuhkan diri-diri kalian dalam kebinasaan&#8230;&#8221;</em> (Qs. Al Baqarah: 195)</p>
<p>Taruhlah seperti apa yang Anda inginkan bahkan lebih dari itu -semua pemerintah negara muslim mengizinkan rakyatnya untuk berjihad ke palestina dan saya berhusnudzdzan Anda akan ikut serta di dalamnya-, maka Anda akan berjihad di bawah bendera siapa di Palestina? Di bawah bendera HAMAS kah? Atau berspandukkan AL FATH? Atau barangkali di bawah komando Jihad Islami Palestina (JIP)? Atau Anda memimpin laskar jihad yang Anda buat sendiri? Tahukah Anda bahwa jihad bukan hanya perkara mengucapkan dan meneriakkan, <em>&#8220;&#8230;&#8217;Isy kariiman&#8230; aw Mut syahiidan&#8230;&#8221;</em> (Hiduplah dalam kemuliaan atau matilah sebagai syahid)? Namun jihad membutuhkan seorang imam dan <em>tandhim</em> (taktik dan siasat perang).  Dan yang lebih penting lagi, apakah Anda yakin bahwa masing-masing front/partai/hizb itu berperang untuk meninggikan kalimat Laa ilaaha illallaah? <em>Qul Haatu burhaanakum in kuntum shaadiqiin.</em></p>
<p>Jika Anda mengatakan, <em>&#8220;Kaum muslimin harus berada dalam satu barisan dalam menghadapi dan menyikapi Yahudi.&#8221;</em>, maka saya tidak berbeda pendapat dengan Anda. Bahkan tidak ada dua orang muslim yang berselisih pendapat tentangnya. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya (yang artinya): <em>&#8220;Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.&#8221;</em> (Qs. Ash Shaff: 4)</p>
<p>Namun bagaimana Anda bisa mempersatukan barisan kaum muslimin untuk berjihad, sedangkan di tengah-tengah mereka masih banyak kaum muslimin yang menyembah kuburan, menghambakan diri kepada dukun (dengan mematuhi persyaratannya atau menjalankan lelaku walaupun bertentangan dengan syari&#8217;at), paranormal (dengan membenarkan berita gaib yang sampai  kepadanya), dan tukang pelet? Bagaimana pula halnya kalau kaum muslimin yang terjun di medan jihad, banyak di antara mereka yang memakai jimat, atau membaca mantera-mantera yang telah dirajah oleh mbah-mbah dukun supaya kebal senjata api dan agar tidak terdeteksi oleh radar?! Bagaimana Anda akan mempersatukan kaum muslimin dalam rangka <a title="Kami tidak tinggal diam wahai Palestina!!!" href="http://muslim.or.id/manhaj-salaf/kami-tidak-tinggal-diam-wahai-palestina.html">jihad</a>, kalau segolongan di antara mereka tidak akan berangkat perang sebelum melakukan thawaf (mengelilingi) kuburan seseorang yang dianggap wali? Atau bagaimana pula jika segolongan yang lain tidak akan berperang kalau yang menjadi imam bukan dari golongannya? Atau bagaimana kaum muslimin akan bersatu padu dalam medan jihad, kalau mereka ketika dikumandangkan seruan azan <em>&#8220;Mari mencapai kemenangan&#8230;&#8221;</em> 2x bermalas-malasan mendatangi masjid (terutama waktu fajr/shubuh)?</p>
<p>Rasulullah <em>shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>&#8220;Pondasi segala sesuatu adalah Al Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad.&#8221;</em> (HR. At Tirmidzi, Hasan Shahih). <em>Al Islam</em> itu sendiri adalah <em>istislam </em>(berserah diri) kepada Allah dengan mentauhidkanNya, dan <em>inqiyaad</em> (patuh) dengan mentaatiNya, dan <em>baraa&#8217;ah</em> (berlepas diri) dari kesyirikan dan pelakunya. Berdasarkan hadits ini, kaum muslimin tidak akan berhasil menggapai puncak kejayaan, jikalau pondasi dan tiangnya keropos.</p>
<p>Jika Anda bersikap adil, mengapa Anda hanya menggugat Saudi Arabia? Bukankah negara yang berbatasan dengan Palestina adalah Mesir, Yordania, Libanon serta Syiria? Seharusnya negara-negara tersebut yang paling mudah untuk mengirim pasukan-pasukannya mengepung dan meremukkan artileri dan infanteri Yahudi. Namun pertanyaan politis yang harus Anda jawab terlebih dahulu adalah: Apakah negara-negara Arab yang disebutkan terakhir (sebagai misal saja) politik luar negerinya merupakan politik anti Amerika???</p>
<p>Dalam lingkup yang lebih sempit, idealnya negara-negara Arab seharusnya bersatu dalam menyikapi tragedi berdarah tersebut. Namun, kenyataannya tidak seperti yang diharapkan. Buktinya salah satu negara yang berbatasan dengan Jalur Gaza menilai Hamas lah yang menyebabkan tragedi berdarah di kota yang berhadapan dengan laut Mediterrania (<em>Al Bahru -l Mutawassith</em>) itu. Sedangkan Saudi Arabia dan beberapa negara arab lainnya menilai Israel telah melakukan sesuatu yang tidak berprikemanusiaan. Lihatlah! Sesama negara Arab berbeda pandangan dan sikap. Dan yang demikian itu bukanlah hal yang baru. Telah terjadi jauh sebelumnya pengkhianatan di kalangan negara Arab dalam menghadapi Israel pada tahun 1967 dalam perang yang dikenal sejarah sebagai Perang Enam Hari. Berbeda halnya dengan yang terjadi pada tahun 1973, di mana bangsa Arab bersatu padu di bawah komando Raja Faisal bin Abdul Aziz –<em>rahimahullah</em>- akhirnya berhasil memukul mundur dan mengusir Israel keluar dari Sainaa&#8217;.</p>
<p>Oleh karena itu bersikaplah adil dan bijaksana dalam menilai segala sesuatu. Jangan sembarangan menuduh tanpa bukti dan fakta. Mengapa kita disibukkan dengan menilai dan mensifati orang lain dan lalai menilai diri kita sendiri? Mengapa kita tidak berlomba-lomba melebihi Saudi Arabia dalam membantu korban kedzaliman Yahudi tersebut? Silahkan saja bandingkan antara Saudi Arabia dengan negara mana saja dalam hal donasi untuk Program Peduli Palestina.</p>
<p>Akhirnya, mari kita mendo&#8217;akan kaum muslimin yang muwahhid yang menjadi korban kedzaliman tentara Yahudi di Jalur Gaza khususnya, dan Palestina umumnya, agar mendapatkan syahadah <em>fii sabiilillah</em> dan semoga kita dikumpulkan bersama para Nabi, shiddiiqiin, para syuhada&#8217; dan orang-orang shalih.</p>
<p><em>Washallallaahu &#8216;alaa nabiyyinaa Muhammad, wa aakhiru da&#8217;waanaa anil hamdulillaahi rabbil &#8216;aalamiin.</em></p>
<p>Riyadh, 14 Muharram 1430 H</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Abu Yazid (dari Riyadh, Saudi Arabia)<br />
Artikel <a title="Kami tidak tinggal diam wahai Palestina!!!" href="http://muslim.or.id/manhaj-salaf/kami-tidak-tinggal-diam-wahai-palestina.html">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-501"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fkami-tidak-tinggal-diam-wahai-palestina.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/kami-tidak-tinggal-diam-wahai-palestina.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>76</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Modal Utama Meraih Kemenangan di Palestina (2)</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/modal-utama-meraih-kemenangan-di-palestina-2.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/modal-utama-meraih-kemenangan-di-palestina-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Jan 2009 02:39:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Palestina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=500</guid>
		<description><![CDATA[Problema Ketiga: Permasalahan selanjutnya adalah adanya perbedaan hati. Inilah sebab terbesar yang membuat umat Islam semakin rendah. Mereka semakin lemah di hadapan musuh-musuh mereka. Kekuatan mereka pun sirna, begitu pula dengan kekuasaan mereka pun hilang.<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/modal-utama-meraih-kemenangan-di-palestina-2.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><strong>Problema Ketiga:</strong></p>
<p>Permasalahan selanjutnya adalah adanya perbedaan <a title="Modal utama meraih kemenangan di Palestina" href="http://muslim.or.id/uncategorized/modal-utama-meraih-kemenangan-di-palestina-2.html">hati</a>. Inilah sebab terbesar yang membuat umat Islam semakin rendah. Mereka semakin lemah di hadapan musuh-musuh mereka. Kekuatan mereka pun sirna, begitu pula dengan kekuasaan mereka pun hilang. Hal ini sebagaimana difirmankan oleh Allah Ta&#8217;ala,</p>
<p>وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ</p>
<p><em>&#8220;Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu.&#8221;</em> (QS. Al Anfal: 46)</p>
<p><span id="more-500"></span><br />
Jika engkau melihat umat Islam saat ini di berbagai penjuru dunia, mereka menyembunyikan permusuhan dan kebencian satu dan lainnya, namun senyatanya keramahan yang ada pada mereka hanyalah pura-pura saja. Mereka mungkin terlihat saling ramah, namun dalam hati mereka sebenarnya terdapat perselisihan.</p>
<p>Allah Ta&#8217;ala telah menerangkan hal ini dalam Surat Al Hasyr bahwa sebab penyakit perpecahan di tengah-tengah umat ini terjadi karena kurangnya akal. Allah Ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p>تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّى</p>
<p><em>&#8220;Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah.&#8221;</em> Kemudian setelah itu, Allah menyebutkan sebab kenapa hati mereka bisa terpecah (berselisih) yaitu dalam firman-Nya,</p>
<p>ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ</p>
<p><em>&#8220;Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti.&#8221;</em> (QS. Al Hasyr: 14)</p>
<p>Telah kita ketahui bersama bahwa penyakit lemahnya akal yang menimpa kaum muslimin, membuat mereka menjadi lemah dalam memahami hakikat, juga sulit membedakan antara yang benar dan yang bathil, yang manfaat dan yang membahayakan, serta membedakan antara yang baik dan yang jelek. Tidak ada obat untuk penyakit ini selain cahaya wahyu. Cahaya wahyu inilah yang nanti akan menghidupkan hati-hati yang mati dan menerangi jalan jika berpegang dengannya. Akhirnya dengan cahaya wahyu seseorang akan terbuka matanya, sehingga dia dapat melihat yang benar itu nampak benar, yang keliru itu nampak keliru, yang bermanfaat itu nampak bermanfaat, yang bahaya itu akan nampak berbahaya.</p>
<p>Allah Ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p>أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا</p>
<p><em>&#8220;Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya?&#8221;</em> (QS. Al An&#8217;am: 122)</p>
<p>Allah Ta&#8217;ala juga berfirman,</p>
<p>اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آَمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ</p>
<p><em>&#8220;Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman).&#8221;</em> (QS. Al Baqarah: 257)</p>
<p>Barangsiapa keluar dari kegelapan menuju cahaya, maka dia akan melihat kebenaran. Karena cahaya inilah yang akan membuat seseorang melihat kenyataan sehingga dia dapat mengetahui yang benar itu benar dan yang bathil itu bathil.</p>
<p>Allah Ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p>أَفَمَنْ يَمْشِي مُكِبًّا عَلَى وَجْهِهِ أَهْدَى أَمْ مَنْ يَمْشِي سَوِيًّا عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ</p>
<p><em>&#8220;Maka apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih banyak mendapatkan petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?&#8221;</em> (QS. Al Mulk: 22)</p>
<p>وَمَا يَسْتَوِي الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ (19) وَلَا الظُّلُمَاتُ وَلَا النُّورُ (20) وَلَا الظِّلُّ وَلَا الْحَرُورُ (21) وَمَا يَسْتَوِي الْأَحْيَاءُ وَلَا الْأَمْوَاتُ</p>
<p><em>&#8220;Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat. dan tidak (pula) sama gelap gulita dengan cahaya, dan tidak (pula) sama yang teduh dengan yang panas, dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati.&#8221;</em> (QS. Fathir: 19-22)</p>
<p>مَثَلُ الْفَرِيقَيْنِ كَالْأَعْمَى وَالْأَصَمِّ وَالْبَصِيرِ وَالسَّمِيعِ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلًا</p>
<p><em>&#8220;Dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati.&#8221;</em> (QS. Hud: 24)</p>
<p>Masih banyak ayat lainnya yang menunjukkan bahwa dengan iman, seseorang bisa memperoleh kehidupan sebagai ganti dari kematian dan bisa memperoleh cahaya sebagai ganti dari kegelapan. (Lihat <em>Adhwaul Bayan</em>, 3/54)</p>
<p>Selanjutnya komentar dan penjelasan mengenai permusuhan Yahudi dan kaum muslimin di Palestina, kami sampaikan dalam beberapa point berikut ini:</p>
<p>Pertama: marilah seluruh kaum muslimin kembali kepada agama mereka, menyerahkan setiap urusan kepada Allah, <a title="Modal utama meraih kemenangan di Palestina" href="http://muslim.or.id/uncategorized/modal-utama-meraih-kemenangan-di-palestina-2.html">menghilangkan perselisihan</a> dan mendo&#8217;akan mereka kaum muslimin, juga menolong mereka sesuai dengan kemampuan dengan harta dan obat-obatan. Inilah ajakan yang lebih tepat yang ada dalam Al Qur&#8217;an dan ajaran Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> karena sebab-sebab tadi disebabkan oleh maksiat.</p>
<p>Kedua: ajakan yang serampangan yang diarahkan pada kepentingan-kepentingan Yahudi di dunia ini tidak ragu lagi adalah ajakan yang tidak bertanggung jawab yang muncul dari orang-orang yang tidak memiliki hikmah dan tidak tahu aturan. Bahkan terkadang perbuatan semacam ini berakibat buruk kepada kaum muslimin khususnya di Saudi Arabia. Akhirnya berbaliklah tuduhan yang tidak menyenangkan dari negara adikuasa dengan tuduhan teroris yang negeri Saudi sendiri telah terselamatkan dari tuduhan semacam ini selama beberapa tahun yang silam. Seruan-seruan tadi tidaklah jauh dari seruan-seruan yang ingin memecah belah Ahlus Sunnah dan menginginkan Ahlus Sunnah seperti saat ini. Seruan taktik semacam ini sebenarnya karena tidak paham dengan tujuan-tujuan syari&#8217;at dan kaedah syariat yang umum.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, &#8220;Orang yang pemberani bukanlah dengan kuatnya badan. Boleh jadi seseorang kuat badannya, namun hatinya lemah. Orang yang pemberani adalah yang kuat dan kokoh hatinya. Kekuatan dalam peperangan adalah dengan kuatnya badan dan kemampuan untuk berperang, juga kuatnya, disertai pula dengan pengalaman. Yang terpuji di antara orang yang kuat hatinya dan yang kuat badannya tadi adalah orang yang berada di atas ilmu, bukan orang yang sering serampangan yang tidak mau berpikir manakah perkara yang terpuji dan tercela. Oleh karena itu, orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan dirinya ketika marah. Orang seperti ini akan melakukan perkara yang baik baginya bukan yang membahayakannya. Orang yang tidak mampu menahan amarahnya bukanlah orang yang pemberani dan bukanlah orang yang kuat.&#8221; (<em>Al Istiqomah</em>, 2/271)</p>
<p>Ketiga: ajakan yang diserukan kepada pemerintah Saudi untuk mengeluarkan Yahudi dari Palestina adalah ajakan yang terburu-buru dan jauh dari memahami kenyataan kaum muslimin dalam agama maupun strategi, juga karena tidak mengetahui kedudukan orang yang dihadapi yang begitu kuat.</p>
<p>Akhirnya, saya mengajak kepada saudaraku para da&#8217;i dan juga para penuntut ilmu, marilah kita tertarik untuk mengkaji Al Kitab dan As Sunnah serta melihat jalan hidup salafush sholeh. Dan ketahuilah bahwa di alam ini, Allah memiliki ketetapan (sunnah) yang tidak mungkin berubah dan tergantikan sebagaimana yang terjadi pada ketetapan kauniyah (sunnah kauniyah),</p>
<p>لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ</p>
<p><em>&#8220;Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.&#8221;</em> (QS. Ar Ra&#8217;du: 11). Hendaklah kita mengambil pelajaran dari kajian-kajian yang telah lewat, lalu pahamilah.</p>
<p>Perlu diketahui pula bahwa syari&#8217;at ini datang untuk mendatangkan berbagai macam maslahat dan menolak berbagai macam bahaya atau menguranginya sesuai dengan kemampuan. Saya akan menjelaskan pula pada kalian mengenai kaedah syariat ini, bagaimana jika ada maslahat yang bertentangan, atau ada mafsadat yang saling bertentangan atau bagaimana jika ada maslahat dan mafsadat saling bertentangan.</p>
<p>Ketahuilah bahwa kebaikan dan keburukan itu bertingkat-tingkat. Orang yang berakal pasti akan menolak kejelekan yang lebih besar dengan kejelekan yang lebih sedikit dan akan merasa puas jika mendapatkan kebaikan yang sedikit dan tidak mendapatkan kebaikan yang banyak. Kalau tidak memperhatikan hal ini pasti kita akan menderita peperangan yang lebih besar.</p>
<p>Semoga Allah memperbaiki keadaan kaum muslimin, menyatukan hati-hati mereka di atas petunjuk, tauhid dan sunnah. Semoga Allah melindungi kaum muslimin dari tipu daya dan kejelekan orang kafir dan munafik sebagai musuh-musuh mereka. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan seluruh sahabatnya.</p>
<p>***</p>
<p>Itulah fatwa dari Syaikh Abdullah Al Ubailan. Inti dari penjelasan beliau adalah:</p>
<p>Kaum muslimin –termasuk yang berada di Palestina- bisa menang dalam peperangan, jika mereka memiliki keimanan yang kokoh. Sebab lemahnya kaum muslimin saat ini adalah karena imannya yang lemah dan lebih senang berbuat maksiat dan mendurhakai Allah. Lihatlah di Perang Uhud, karena kedurhakaan kepada Allah dan Rasul-Nya, kaum muslimin menjadi kalah.</p>
<p>Seorang alim mengatakan:<br />
<em>&#8220;Siapakah yang mengatakan bahwa batu bisa menghancurkan tank-tank? Siapa yang mengatakan bahwa ketapel bisa mengalahkan rudal, sedangkan Engkau dan musuhmu sama-sama berbuat maksiat kepada Allah Ta&#8217;ala?&#8221;</em></p>
<p>Alim tersebut menceritakan bahwa ada seseorang mengunjungi para korban perang yang terluka. Orang tadi mengataka bahwa dari 32 orang yang dia temui, 30 orang di antara mereka tidak shalat. Orang yang terluka tersebut mengatakan: Siapa saja yang ikut revolusi maka dia pasti syahid. Biarpun orang tersebut berbuat syirik, berzina dan sering mabuk-mabukan, asalkan dia ikut revolusi, pasti dia mati syahid.</p>
<p>Palestina tidak akan menang hanya dengan angan-angan. Palestina tidak akan bebas hanya dengan slogan-slogan. Modal utama untuk meraih kemenangan tersebut adalah dengan iman dan bukan dengan bermaksiat pada Allah.</p>
<p>Marilah saat ini kita benahi keimanan, memperbaiki aqidah kita dan marilah kita bersatu di atas aqidah yang benar sehingga hati dan badan kita pun benar-benar bersatu.</p>
<p>Semoga dengan petunjuk Allah, kita dapat dikembalikan kepada agama kita dengan baik dan semoga berbagai kehinaan diangkat dari kita. Semoga Allah menolong kaum muslimin di berbagai negeri atas musuh-musuhnya.</p>
<p><em>Alhamdulillahilladzi  bi ni&#8217;matihi tatimmush sholihat.</em></p>
<p>Pangukan, Sleman, 11 Muharram 1430 H<br />
Yang selalu mengharapkan ampunan dan rahmat Rabbnya<br />
Muhammad Abduh Tuasikal, S.T.</p>
<p>***</p>
<p>Oleh: Syaikh Abdullah Al &#8216;Ubailan <em>hafizhohullah</em><br />
Diterjemahkan oleh: Muhammad Abduh Tuasikal, S.T.<br />
Sumber: http://www.islamancient.com/fatawa<br />
Artikel <a title="Modal utama meraih kemenangan di Palestina" href="http://muslim.or.id/uncategorized/modal-utama-meraih-kemenangan-di-palestina-2.html">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-500"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fmodal-utama-meraih-kemenangan-di-palestina-2.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/modal-utama-meraih-kemenangan-di-palestina-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Modal Utama Meraih Kemenangan di Palestina (1)</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/modal-utama-meraih-kemenangan-di-palestina-1.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/modal-utama-meraih-kemenangan-di-palestina-1.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Jan 2009 02:25:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Palestina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=499</guid>
		<description><![CDATA[Syaikh &#8216;Abdullah Al &#8216;Ubailan ditanya: Apa tanggapan Anda terhadap peperangan yang terjadi di tengah-tengah kaum muslimin, lalu apa fatwa dan penjelasan mengenai hal ini? Syaikh hafizhohullah menjawab: Bismillahir rahmanir rohim Segala puji hanyalah milik Allah,<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/modal-utama-meraih-kemenangan-di-palestina-1.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Syaikh &#8216;Abdullah Al &#8216;Ubailan ditanya:</p>
<p>Apa tanggapan Anda terhadap peperangan yang terjadi di tengah-tengah kaum muslimin, lalu apa fatwa dan penjelasan mengenai hal ini?<br />
<span id="more-499"></span><br />
Syaikh <em>hafizhohullah</em> menjawab:</p>
<p><em>Bismillahir rahmanir rohim</em></p>
<p>Segala puji hanyalah milik Allah, kami memuji-Nya, kami meminta pertolongan pada-Nya, kami memohon ampunan dari-Nya dan kami pun bertaubat kepada-Nya. Kami meminta perlindungan kepada Allah dari kejelekan diri kami dan kejelekan amal kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada seorang pun yang bisa menyesatkannya. Barangsiapa yang disesatkan oleh-Nya, maka tidak ada seorang pun yang bisa memberi petunjuk padanya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang disembah dengan benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. <em>Amma ba&#8217;du</em>, sesungguhnya perkataan yang paling jujur adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Sejelek-jelek perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam agama). Setiap perkara yang diada-adakan dalam agama itulah bid&#8217;ah dan setiap bid&#8217;ah adalah sesat.</p>
<p>Sebelum menjelaskan perkataan ulama mengenai hal ini, saya terlebih dahulu menyebutkan perkataan para ulama Ahlus Sunnah di zaman ini. Di antara ulama-ulama tersebut adalah: Yang mulia Syaikh Abdul &#8216;Aziz bin Abdillah bin Baz, pakar hadits abad ini Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, pakar fikih abad ini Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin, peneliti handal Syaikh Sholeh bin Fauzan Al Fauzan, yang mulia Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah Alusy Syaikh, dan di antaranya lagi adalah Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi, juga ulama-ulama lainnya yang mengikuti jalan hidup mereka dengan meniti syariat ini. Para ulama inilah yang senantiasa menolong kaum muslimin saat ini bahkan di setiap masa. Setelah itu, aku katakan –dengan taufik Allah-:</p>
<p>Perlu diketahui bahwa Al Qur&#8217;an telah memberi petunjuk kepada kita untuk menyelesaikan tiga problema, di mana dengan penjelasan Al Qur&#8217;an akan menyelematkan berbagai negeri Islam.</p>
<p><strong>Problema Pertama:</strong></p>
<p>Kelemahan kaum muslimin di setiap penjuru dunia dari sisi jumlah dibanding orang kafir. Sungguh, Al Qur&#8217;an telah memberi petunjuk pada kita untuk menyelesaikan problema ini dengan solusi yang paling bagus dan adil. Al Qur&#8217;an telah menjelaskan bahwa untuk menyembuhkan penyakit lemahnya kaum muslimin dari orang kafir adalah dengan penuh kesungguhan menghadap Allah, dengan menguatkan keimanan, dan bertawakkal pada-Nya karena Dia-lah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa, dan Yang Maha Kuasa terhadap segala sesuatu. Siapa saja yang beriman dengan sebenar-benarnya, maka tidaklah mungkin orang-orang kafir mengalahkannya walaupun mereka (orang kafir) menang dalam hal kekuatan dari kaum muslimin.</p>
<p>Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah:</p>
<p>Di perang Ahzab, orang-orang kafir memerangi kaum muslimin dan pada saat itu kaum muslimin sudah dalam keadaan terkepung dengan pasukan orang kafir yang sangat besar, sebagaimana hal ini disebutkan dalam firman Allah Ta&#8217;ala,</p>
<p>إِذْ جَاءُوكُمْ مِنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَا (10) هُنَالِكَ ابْتُلِيَ الْمُؤْمِنُونَ وَزُلْزِلُوا زِلْزَالًا شَدِيدًا (11)</p>
<p><em>&#8220;(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam sangkaan. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat.&#8221;</em> (QS. Al Ahzab: 10-11)</p>
<p>Lihatlah kondisi perang ketika itu. Kaum muslimin sudah dikepung oleh pasukan orang kafir yang sangat banyak dan begitu kuat. Seluruh manusia saat ini pasti sudah kehilangan strategi. Jadi yang patut engkau tahu bahwa solusi ketika menghadapi problema yang sulit semacam ini telah Allah Ta&#8217;ala jelaskan dalam surat Al Ahzab pada firman-Nya,</p>
<p>وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا</p>
<p><em>&#8220;Dan tatkala orang-orang mu&#8217;min melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: &#8216;Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.&#8217; Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.&#8221;</em> (QS. Al Ahzab: 22)</p>
<p>Jadi, dengan <a title="Modal utama meraih kemenangan di Palestina" href="http://muslim.or.id/manhaj-salaf/modal-utama-meraih-kemenangan-di-palestina-1">keimanan</a> yang sempurna dan ketundukan yang sebenar-benarnya kepada Allah Ta&#8217;ala, juga kuat dalam tawakkal, itulah sebab untuk menyelesaikan problema yang sulit ini.</p>
<p>Allah sendiri telah menegaskan mengenai hasil dari penyembuhan seperti ini (yaitu karena adanya keimanan yang kokoh, pen) dalam firman-Nya,</p>
<p>وَرَدَّ اللَّهُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِغَيْظِهِمْ لَمْ يَنَالُوا خَيْرًا وَكَفَى اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ الْقِتَالَ وَكَانَ اللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزًا (25) وَأَنْزَلَ الَّذِينَ ظَاهَرُوهُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مِنْ صَيَاصِيهِمْ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ فَرِيقًا تَقْتُلُونَ وَتَأْسِرُونَ فَرِيقًا (26) وَأَوْرَثَكُمْ أَرْضَهُمْ وَدِيَارَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ وَأَرْضًا لَمْ تَطَئُوهَا وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرًا (27)</p>
<p><em>&#8220;Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mu&#8217;min dari peperangan. Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memesukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan. Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak. Dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu.&#8221;</em> (QS. Al Ahzab: 25-27)</p>
<p>Begitulah pertolongan Allah terhadap musuh-musuh kaum muslimin. Mereka tidak menyangka bahwa yang menolong mereka adalah (para tentara dari) malaikat dan juga ditolong melalui angin (topan). Allah Ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَاءَتْكُمْ جُنُودٌ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا وَجُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَكَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا</p>
<p><em>&#8220;Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan.&#8221;</em> (QS. Al Ahzab: 9)</p>
<p>Begitu pula Allah Ta&#8217;ala mengetahui keikhlasan yang sempurna dari orang-orang yang melakukan Bai&#8217;atur Ridwan, sebagaimana dalam firman-Nya,</p>
<p>لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu&#8217;min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon , maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka.&#8221;</em> (QS. Al Fath: 18). Yang dimaksudkan dengan &#8216;apa yang dalam hati mereka&#8217; adalah keimanan dan keikhlasan. Karena keimanan dan keikhlasan inilah menghasilkan buah sebagaimana yang Allah Ta&#8217;ala sebutkan dalam firman-Nya,</p>
<p>وَأُخْرَى لَمْ تَقْدِرُوا عَلَيْهَا قَدْ أَحَاطَ اللَّهُ بِهَا وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرًا</p>
<p><em>&#8220;Dan (telah menjanjikan pula kemenangan-kemenangan) yang lain (atas negeri-negeri) yang kamu belum dapat menguasainya yang sungguh Allah telah menentukan-Nya. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.&#8221;</em> (QS. Al Fath: 21). Dalam ayat ini, Allah Ta&#8217;ala menegaskan bahwa kaum muslimin belum dapat menaklukan negeri-negeri lainnya, namun Allah-lah yang menetapkan sehingga mereka pun mampu menguasai negeri-negeri tersebut. Itulah buah dari kuatnya iman dan ikhlas.</p>
<p>Ayat tadi menjelaskan bahwa <a title="Modal utama meraih kemenangan di Palestina" href="http://muslim.or.id/manhaj-salaf/modal-utama-meraih-kemenangan-di-palestina-1">ikhlas</a> yang murni kepada Allah dan kuatnya keimanan adalah sebab kaum yang lemah bisa mengalahkan kaum yang jauh lebih kuat. Itulah yang difirmankan oleh Allah Ta&#8217;ala,</p>
<p>كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ</p>
<p><em>&#8220;Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.&#8221;</em> (QS. Al Baqarah: 249)</p>
<p><strong>Problema Kedua:</strong></p>
<p>Mengapa orang kafir bisa mengalahkan orang-orang beriman dengan membunuh, melukai dan bentuk kerugian lainnya, padahal kaum muslimin berada di atas agama yang benar sedangkan mereka orang kafir berada dalam kebatilan?</p>
<p>Problema seperti ini juga pernah dialami oleh sahabat Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Allah Ta&#8217;ala sendiri menjelaskan problema ini melalui wahyu dari langit yang senantiasa dibaca dalam Kitabullah (Al Qur&#8217;an).</p>
<p>Kejadian yang dialami sahabat adalah ketika berada di perang Uhud. Pada saat itu, paman Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> terbunuh, begitu pula anak dari pamannya. Ketika itu pula beberapa kaum muhajirin terbunuh dan 70 kaum Anshor pun terbunuh. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pun terluka,  bibirnya sobek dan giginya (yaitu gigi yang terletak antara gigi seri dan gigi taring) patah, dan dahinya pun terluka.</p>
<p>Para sahabat ketika itu merasa heran dengan kejadian ketika itu. Mereka berujar, <em><strong>&#8220;Bagaimana mungkin kaum musyrikin sekarang bisa mengalahkan kita, padahal kita berada di atas kebenaran sedangkan mereka berada dalam kebatilan?&#8221;</strong></em> Kemudian Allah Ta&#8217;ala menurunkan firman-Nya,</p>
<p>أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ</p>
<p><em>&#8220;Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: &#8216;Dari mana datangnya (kekalahan) ini?&#8217; Katakanlah: Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.&#8221;</em> (QS. Ali Imran: 165)</p>
<p>Lihatlah bahwa Allah Ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p>قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ</p>
<p><em>&#8220;Katakanlah: Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.&#8221;</em> (QS. Ali Imran: 165)</p>
<p>Ayat di atas masih global dan kesalahan mereka ini dijelaskan lagi dalam firman Allah Ta&#8217;ala,</p>
<p>وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُمْ بِإِذْنِهِ حَتَّى إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي الْأَمْرِ وَعَصَيْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا أَرَاكُمْ مَا تُحِبُّونَ مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الْآَخِرَةَ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ</p>
<p><em>&#8220;Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu.&#8221;</em> (QS. Ali Imran: 152)</p>
<p>Inilah keterangan langsung dari langit, penjelasan yang sangat jelas bahwa sebab kemenangan orang kafir terhadap kaum muslimin adalah karena kelemahan kaum muslimin sendiri, perselisihan mereka dalam suatu urusan dan kedurhakaan mereka terhadap perintah Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, dan di antara mereka ada yang lebih mementingkan dunia daripada perintah beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Sudah tidak samar lagi bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya.</p>
<p>-bersambung insya Allah-</p>
<p>***</p>
<p>Oleh: Syaikh Abdullah Al &#8216;Ubailan <em>hafizhohullah</em><br />
Diterjemahkan oleh: Muhammad Abduh Tuasikal, S.T.<br />
Sumber: http://www.islamancient.com/fatawa<br />
Artikel <a title="Modal utama meraih kemenangan di Palestina" href="http://muslim.or.id/manhaj-salaf/modal-utama-meraih-kemenangan-di-palestina-1">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-499"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fmodal-utama-meraih-kemenangan-di-palestina-1.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/modal-utama-meraih-kemenangan-di-palestina-1.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengajian Umum: Palestina (Sukoharjo, 11 Januari 2009)</title>
		<link>http://muslim.or.id/info-dauroh-dan-kajian/pengajian-umum-palestina.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/info-dauroh-dan-kajian/pengajian-umum-palestina.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Jan 2009 10:04:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Dauroh dan Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[Palestina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=498</guid>
		<description><![CDATA[Pemateri: Ust Abu Fawwaz Wasithoh Waktu: Ahad, 11 Januari 2009, Jam 09.00-12.00 (insya Allah) Tempat: Di Ma&#8217;had Al Ukhuwah Sukoharjo Membahas kitab: As Salafiyyun WaQodliyyah Filisthin Karya Syaikh Masyhur Alu Salman Hafidlohullah Dengarkan di Radio<a class="more" href="http://muslim.or.id/info-dauroh-dan-kajian/pengajian-umum-palestina.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Pemateri:<br />
Ust Abu Fawwaz Wasithoh</p>
<p>Waktu:<br />
Ahad, 11 Januari 2009, Jam 09.00-12.00 (insya Allah)</p>
<p>Tempat:<br />
Di Ma&#8217;had Al Ukhuwah Sukoharjo</p>
<p>Membahas kitab:<br />
<em>As Salafiyyun WaQodliyyah Filisthin</em><br />
Karya Syaikh Masyhur Alu Salman <em>Hafidlohullah</em></p>
<p>Dengarkan di Radio SuaraQuran 94.4FM</p>
<div class="shr-publisher-498"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Finfo-dauroh-dan-kajian%2Fpengajian-umum-palestina.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/info-dauroh-dan-kajian/pengajian-umum-palestina.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pelajaran dari Palestina</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/pelajaran-dari-palestina.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/pelajaran-dari-palestina.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Jan 2009 02:32:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Palestina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=490</guid>
		<description><![CDATA[Dengan menyebut nama Allah yang Maha pemurah lagi Maha penyayang Assalamu&#8217;alaikum warahmatullahi wabarakatuh Amma Ba&#8217;du Sesungguhnya kejadian yang menimpa saudara-saudara kita sesama muslim di Gaza berupa pembunuhan, penghancuran, serta penjajahan atas mereka yang dilakukan oleh<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/pelajaran-dari-palestina.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Dengan menyebut nama Allah yang Maha pemurah lagi Maha penyayang</p>
<p><em>Assalamu&#8217;alaikum warahmatullahi wabarakatuh</em></p>
<p><em>Amma Ba&#8217;du</em></p>
<p>Sesungguhnya kejadian  yang menimpa saudara-saudara kita sesama muslim di Gaza berupa pembunuhan,  penghancuran, serta penjajahan atas mereka yang dilakukan oleh kaum Yahudi  terlaknat, tentu dirasakan pedih dan sakit oleh setiap mukmin dan membuat hati  mereka teriris.</p>
<p>Ya Allah, alangkah  murah dan sepele darah kaum muslimin [di mata mereka].</p>
<p>Maha suci Allah, betapa  menyakitkan gambaran mayat-mayat [orang-orang tak bersalah itu] di dalam hati  orang-orang yang beriman. Alangkah banyak nyawa yang telah melayang, darah yang  tertumpahkan, kaum wanita yang ternodai [kehormatannya], dan begitu banyak  rumah-rumah yang dihancurkan.</p>
<p><span id="more-490"></span></p>
<p>Sesungguhnya  kejahatan-kejahatan Yahudi di negeri Palestina yang terampas itu bukan perkara  yang aneh dilakukan oleh orang-orang semacam mereka (baca: Yahudi). Lebih parah  daripada itu, mereka adalah kaum yang berani mencela dan mengejek al-Bari  (Allah) Yang Maha suci. Sebagaimana yang difirmankan oleh-Nya (yang artinya), <em>&#8220;Orang-orang  Yahudi berkata; &#8216;Tangan Allah terbelenggu&#8217;. Justru tangan-tangan mereka itulah  yang terbelenggu dan mereka dilaknat akibat ucapan yang mereka lontarkan.  Bahkan, kedua tangan Allah itu terbentang, Dia akan memberi bagaimanapun yang  dia suka.&#8221;</em> (QS. al-Maa&#8217;idah [5]: 64)</p>
<p>Mereka adalah para  pembunuh nabi-nabi Allah. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>&#8220;Hal  itu terjadi karena mereka senantiasa mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh  para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu terjadi akibat kedurhakaan  mereka dan karena mereka selalu saja melampaui batas.&#8221;</em> (QS. al-Baqarah  [2]: 61)</p>
<p>Mereka adalah saudara  kera-kera dan babi-babi yang berusaha untuk mengelabui Allah. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>&#8220;Dan tanyakanlah kepada Bani Israel tentang  negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari  Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka  terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan  itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan  mereka berlaku fasik.&#8221;</em> (QS. al-A&#8217;raaf [7]: 163)</p>
<p>Selaras dengan ikatan  persaudaraan di atas keimanan, maka sudah semestinya setiap muslim memberikan  bantuan sekuat kemampuannya dan memohon dengan sangat kepada Allah dengan doa  yang diiringi rasa penuh harap kepada-Nya agar Allah berkenan segera  menyingkirkan kesulitan dan musibah yang mencekam saudara-saudara kita [di  sana]. Berkaitan dengan kejadian yang begitu memilukan ini, saya ingin  mengingatkan kepada saudara-saudaraku kaum muslimin dengan beberapa pelajaran  manhaj dari kejadian yang menimpa daerah Gaza <a title="Pelajaran dari Palestina" href="http://muslim.or.id/manhaj-salaf/pelajaran-dari-palestina.html">Palestina</a>:</p>
<p><strong>Pelajaran Pertama</strong></p>
<p>Sesungguhnya kejadian  yang menyedihkan ini semakin menguatkan kebenaran berita yang disebutkan oleh  Allah <em>subhanahu</em> <em>wa</em> <em>ta&#8217;ala</em> mengenai orang-orang kafir  berupa permusuhan mereka yang sengit kepada kaum mukminin. Dan yang harus kita  lakukan adalah memusuhi seluruh golongan orang kafir dari kalangan Yahudi,  Nasrani, Majusi, dan lainnya, dikarenakan mereka adalah orang-orang kafir. Dan  apabila mereka menyakiti dan memerangi kita, maka kebencian kita kepada mereka  pun semakin memuncak. Hal ini tentu berbeda dengan apa yang dilontarkan oleh  sebagian orang yang menganjurkan untuk tidak memberikan pertolongan yang  mengatakan, &#8220;Sesungguhnya kita tidak akan memusuhi orang-orang kafir  kecuali apabila mereka menyakiti dan memerangi kita.&#8221; Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>&#8220;Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak  akan pernah merasa puas/ridha kepada kalian sampai kalian mau mengikuti millah  (ajaran agama) mereka.&#8221;</em> (QS. al-Baqarah [2]: 120).</p>
<p>Ayat ini menunjukkan  bahwa permusuhan mereka kepada kita akan terus berlangsung sampai kita ikut  menjadi kafir seperti mereka. Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya) <em>&#8220;Sungguh telah terdapat suri teladan yang baik pada diri Ibrahim dan  orang-orang yang bersamanya, ketika mereka berkata kepada kaumnya; Sesungguhnya  kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah.  Kami mengingkari kalian dan telah tampak dengan jelas antara kami dengan kalian  permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya, sampai kalian mau beriman kepada  Allah semata.&#8221;</em> (QS. al-Mumtahanah [60]: 4). Maka kita pun harus  memusuhi dan membenci mereka untuk selama-lamanya dikarenakan mereka kafir,  sampai mereka mau meninggalkan kekafiran mereka dan beriman kepada Allah  semata. Jadi, permusuhan [kita] tidak hanya terbatas kepada orang yang  memerangi kita di antara mereka, sebagaimana yang diserukan oleh sebagian da&#8217;i  yang bersikap lembek [silakan dengar kajian berjudul 'Surat-surat kepada  gerakan HAMAS' http://www.islamancient.com/lectures,item,346.html, yang disampaikan  oleh Syaikh untuk menasihati mereka, pent]</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> menegaskan kewajiban permusuhan kita kepada mereka karena mereka adalah  orang-orang kafir. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>&#8220;Tidak  akan kamu temukan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir justru  berkasih sayang dengan orang-orang yang memusuhi Allah dan rasul-Nya, meskipun  orang-orang itu adalah ayah-ayah mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara  mereka, atau kerabat mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah ditetapkan Allah  keimanan di dalam hati mereka.&#8221;</em> (QS. al-Mujadilah [58]: 22)</p>
<p>Di antara konsekuensi  hal itu adalah kita tidak boleh menyerupai ciri khas mereka, baik dalam hal  pakaian atau yang lainnya. Dan ini sekaligus merupakan ajakan kepada para  pemuda kita, agar mereka meninggalkan pakaian-pakaian olah raga yang padanya  terdapat nama-nama pemain (olah raga) yang kafir itu. Bahkan ini juga ajakan  kepada segenap kaum muslimin untuk merasa mulia dan bangga dengan keislaman  mereka. Agar kaum muslimin memandang kepada orang-orang kafir dengan pandangan  permusuhan dan kerendahan, maka tidak benar perkataan bahwa orang kafir itu  juga saudara kita sebagaimana yang dilontarkan oleh sebagian da&#8217;i yang lembek.  Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>&#8220;Muhammad adalah utusan  Allah, dan orang-orang yang bersamanya, mereka bersikap keras kepada  orang-orang kafir, dan berkasih sayang dengan sesama mereka.&#8221;</em> (QS.  al-Fath [48]: 29). Allah juga berfirman (yang artinya), <em>&#8220;Maka Allah  akan mendatangkan suatu kaum, Allah mencintai mereka dan mereka pun  mencintai-Nya, berlemah lembut dengan orang-orang mukmin dan keras kepada  orang-orang kafir.&#8221;</em> (QS. al-Maa&#8217;idah [5]: 54)</p>
<p>Salah satu perkara yang  sangat-sangat mengherankan yaitu anda dapat melihat sebagian orang yang  dinisbatkan (disandarkan) kepada kalangan para <em>da&#8217;i ila Allah</em> -namun itu  adalah penisbatan yang dusta- mereka itu tidak mau mengafirkan Yahudi dan  Nasrani. Maka sungguh dia telah mendustakan al-Qur&#8217;an yang jelas-jelas telah  mengafirkan mereka, maka orang seperti itu kafir berdasarkan ijma&#8217; ulama  sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Ibnu Taimiyah dan Imam Abdul Aziz bin Baz <em>rahimahumallah</em>. Sebagai tambahan, guru kami Ibnu Baz menyebutkan bahwa  tidak benar menamai orang-orang Nasrani dengan istilah <em>Masihiyyin</em> (pengikut Isa).</p>
<p><strong>Pelajaran Kedua</strong></p>
<p>Sesungguhnya tindakan  melampaui batas yang berlangsung secara beruntun dan terus-menerus serta  penghinaan atas nyawa kaum muslimin yang suci, [dirampasnya] harta dan  kehormatan mereka yang bersih termasuk bencana dan musibah besar yang menimpa  kita. Sungguh banyak kalangan aktivis di medan dakwah yang telah keliru dalam  mendiagnosa penyakit ini. Dibangun di atasnya, mereka pun keliru dalam menempuh  jalan penyembuhannya. Saya telah menerangkan hal itu di dalam mukadimah kitab  saya &#8216;Muhimmat fi al-Jihad&#8217; [<a href="http://www.islamancient.com/books,item,50.html">http://www.islamancient.com/books,item,50.html</a>].</p>
<p>Intisari dari penyakit  ini adalah kemaksiatan kepada Allah. Dan yang paling besar di antaranya adalah  meninggalkan tauhid dan sunnah serta tersebarnya syirik dan bid&#8217;ah di antara  barisan kaum muslimin yang dinamakan dengan istilah tasawuf dan lainnnya. Dan  keadaan ini semakin bertambah parah ketika muncul berbagai kelompok dakwah yang  menelantarkan dakwah tauhid dan melalaikan peringatan agar menjauhi kesyirikan  serta mengikis aqidah al-Bara&#8217; (kebencian kepada musuh Islam) yang seharusnya  tertuju kepada bid&#8217;ah dan para penyebarnya.</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>&#8220;Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah  (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat  kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar) kamu berkata: &#8216;Dari mana datangnya  (kekalahan) ini?&#8217; Katakanlah: &#8216;Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri&#8217;.  Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.&#8221;</em> (QS. Ali Imran  [3]: 165). Allah juga berfirman (yang artinya), <em>&#8220;Telah tampak kerusakan  di daratan dan di lautan dikarenakan ulah tangan manusia, Allah ingin  memberikan pelajaran dengan menimpakan sebagian akibat perbuatan mereka, semoga  mereka mau kembali(ke jalan yang benar).&#8221;</em> (QS. ar-Ruum [30]: 41). Maka  kedua ayat tersebut dan ayat-ayat yang lainnya secara tegas menjelaskan bahwa  semua musibah -di antaranya adalah berupa kelemahan dan dikuasai oleh  orang-orang kafir- adalah akibat dari dosa-dosa yang kita perbuat.</p>
<p>Untuk mengatasi hal  itu, maka obat dan penyembuhnya adalah dengan kembali kepada Allah, sebagaimana  yang difirmankan oleh Allah <em>ta&#8217;ala</em> (yang artinya), <em>&#8220;Allah  menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan beramal salih,  niscaya Allah akan menjadikan mereka benar-benar berkuasa di atas muka bumi  ini, sebagaimana halnya Allah telah mengangkat orang-orang sebelum mereka  menjadi pemimpin, Allah benar-benar akan meneguhkan untuk mereka agama mereka yang  telah Allah ridhai bagi mereka, dan Allah akan menggantikan rasa takut yang  mencekam mereka dengan keamanan; mereka senantiasa beribadah kepada-Ku dan  tidak mempersekutukan-Ku sama sekali.&#8221;</em> (QS. an-Nuur [24]: 55). Ini  adalah janji dari Allah, sedangkan Allah tidak mungkin menyelisihi janji-Nya. <em>&#8220;Itulah  janji Allah, Allah tidak akan pernah menyelisihi janji-Nya. Akan tetapi  kebanyakan manusia tidak mengetahui.&#8221;</em> (QS. ar-Ruum [30]: 6)</p>
<p>Termasuk kekeliruan  yang sangat fatal dan dosa yang sangat buruk yaitu [usaha sebagian orang] untuk  memberikan posisi bagi Syi&#8217;ah Rafidhah untuk berada di antara barisan Ahlus  Sunnah; sehingga mereka dapat dengan leluasa menyebarkan ajaran kekafiran dan  kesesatan mereka, dan pada akhirnya mereka pun membahayakan Ahlus Sunnah.  Sungguh mengherankan! Bagaimana bisa dibenarkan bagi seorang da&#8217;i yang mengajak  untuk <em>ishlah</em> (perbaikan) kok malah memberikan tempat bagi Rafidhah yang  mengafirkan umat terbaik setelah Nabi-Nya yaitu para sahabat yang mulia seperti  Abu Bakar, Umar, dan Utsman, mereka jugalah orang-orang yang berani menuduh  ibunda kaum mukminin -sosok yang sangat dicintai oleh Rasulullah <em>shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam</em> dan istri beliau- telah melakukan perzinaan, mereka  (baca: Syi&#8217;ah) juga melampaui batas dalam mengangkat kedudukan para imam mereka  sampai menduduki derajat sebagaimana halnya derajat Allah, sebagaimana sudah  saya terangkan dalam bantahan untuk mereka dalam risalah <em>al-Qaul al-Mubin li  maa &#8216;alaihi ar-Rafidhah min ad-Din al-Masyin</em> [http://www.islamancient.com/books,item,70.html].</p>
<p><strong>Dahulu saya telah memberikan  nasihat kepada organisasi HAMAS beserta pimpinan mereka -semoga Allah  memberikan petunjuk kepada kami dan mereka- dan saya peringatkan mereka  mengenai dampak [buruk] yang akan muncul akibat memberikan posisi bagi  orang-orang Rafidhah di Palestina dan akibat buruk dari menyanjung mereka,  sebagaimana telah kami sampaikan dalam sebuah pelajaran yang telah  didokumentasikan dan disebarkan dengan judul <em>&#8216;Rasa&#8217;il ila Hamas&#8217;</em>, di  antara tindakan mereka yang keliru itu adalah kunjungan Khalid Masy&#8217;al ke Iran  dan meletakkan karangan bunga di atas kubur orang yang binasa yaitu  al-Khumaini, dan pernyataannya bahwa Khumaini adalah bapak ruhani yang menjiwai  dakwah mereka (HAMAS) di Palestina[?!].</strong></p>
<p><strong>Pelajaran Ketiga</strong></p>
<p>Wajib bagi kaum  muslimin untuk menyadari ukuran diri dan kekuatan mereka. Hendaknya mereka bisa  membedakan antara kondisi lemah dan kondisi kuat, dan sudah seharusnya mereka  pun mengetahui hukum-hukum yang menjadi konsekuensi atasnya. Hendaknya mereka  menjadi orang yang bertindak realistis, bukan menjadi tukang khayal yang gemar  berandai-andai. Maka tidak dibenarkan bagi siapapun mengharuskan kaum muslimin  mengikuti keputusan-keputusan yang tidak cocok dengan kondisi mereka [sekarang  ini] dan kelemahan mereka; yang itu semua dibangun di atas impian persatuan dan  kesatupaduan mereka [yang belum terwujud]. Akan tetapi, yang harus dilakukan  adalah hendaknya kaum muslimin bertindak sesuai dengan kondisi mereka saat ini,  sebagaimana Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memilih perdamaian  ataupun peperangan dengan mempertimbangkan kemaslahatan, yaitu mempertimbangkan  kekuatan dan kelemahan yang ada serta faktor-faktor lainnya. Tatkala beliau  masih berada di Mekah, Allah belum mensyariatkan kepadanya jihad. Karena pada  saat itu beliau sedang dalam kondisi yang lemah, sebagaimana yang telah  dipaparkan oleh para pemimpin Islam, di antaranya Imam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em>.  Anda bisa menemukan keterangan mereka dengan jelas di dalam buku saya <em>&#8216;Muhimmat  fi al-Jihad&#8217;</em> dan dalam pelajaran yang berjudul <em>&#8216;al-Jihad baina al-ghuluw  wa al-Jafaa&#8217;</em> [http://www.islamancient.com/lectures,item,550.html]</p>
<p><strong>Betapa sering seorang  muslim harus merasakan sakit akibat melayangnya nyawa kaum muslimin yang lain  disebabkan kobaran semangat yang tak terkendali oleh ilmu sehingga menimbulkan  kezaliman orang-orang kafir kepada kaum muslimin yang lemah justru menjadi  berlipat ganda, maka jadilah mereka sebagai korban sembelihan orang-orang kafir  yang sangat gemar menganiaya, dan mereka [orang kafir] itu adalah orang-orang  Yahudi. Dan jadilah kaum muslimin sebagai korban akibat tindakan yang salah  dari sebagian kaum muslimin, dan mereka itu adalah para pemimpin HAMAS. Saya  tidak mengerti sama sekali apa yang mendorong organisasi HAMAS untuk melakukan  tindakan-tindakan perlawanan secara terang-terangan kepada orang-orang Yahudi  kafir terlaknat itu, padahal mereka juga mengetahui bahwa kekuatan mereka sama  sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kekuatan orang-orang Yahudi.  Bahkan, tindakan mereka itu justru -pada ujungnya- mengakibatkan semakin  kerasnya penyiksaan kaum Yahudi kepada orang-orang yang lemah di antara kaum  muslimin di Gaza. Sementara para pemimpin HAMAS bisa saja selamat karena mereka  bisa membuat perlindungan di sekelilingnya untuk menyelamatkan diri. Kemudian,  yang lebih aneh lagi adalah tindakan HAMAS yang tetap bersikeras meneruskan  perang, sampai-sampai orang yang melihat mengira bahwa mereka memiliki kekuatan  dan kemampuan yang memadai untuk menghancurkan Yahudi. Maka hal itu tidak lain  justru semakin menambah sakit dan luka [pada diri kaum muslimin] akibat  terjadinya berbagai pembantaian berdarah yang sangat keji [yang dilakukan oleh  Yahudi, pent].</strong></p>
<p><strong>Salah satu contoh  tindakan yang membuat orang tertawa sekaligus menangis adalah pernyataan HAMAS  yang mendalili perbuatan mereka itu -serangan kepada Yahudi secara  terang-terangan- dengan alasan terpaksa karena mereka berada sedang dalam  kondisi terkepung. Sehingga hal itu mendorong mereka untuk memilih meninggalkan  bahaya yang timbul akibat kepungan musuh menuju suatu bahaya yang lebih berat  dan lebih mengerikan, yaitu menggabungkan antara [bahaya] pengepungan dan  terjadinya pembantaian berdarah. Memang benar, menetapnya Yahudi di bumi  Palestina adalah kejahatan dan kezaliman yang tidak boleh diakui sama sekali.  Mereka pun harus diusir dan dibuat angkat tangan [menyerah] agar tidak lagi  menjajah al-Quds. Akan tetapi, kekeliruan ini tidak boleh disembuhkan dengan  kekeliruan lain yang lebih fatal yaitu dengan menyebabkan tertumpahnya darah  orang-orang yang tidak bersalah dalam jumlah yang sangat banyak.</strong></p>
<p><strong>Saya benar-benar  mengajak kepada para pemimpin organisasi HAMAS untuk selalu bertakwa dan takut  kepada Allah dan mengambil pelajaran dari para pendahulu mereka yaitu al-Ikhwan  al-Muslimun (IM). Betapa banyak kerugian yang timbul akibat letupan semangat dan  tindakan-tindakan membahayakan yang mereka perbuat sehingga menyebabkan  melayangnya banyak nyawa sebagaimana yang dahulu mereka lakukan di daerah  Hamat. Kejadian yang menimpa mereka ketika itu belum jauh berlalu dari ingatan  kita. Hendaknya mereka takut kepada Allah demi terjaganya keselamatan kaum  muslimin yang lemah di Gaza yang terdiri dari orang-orang tua yang sudah jompo,  anak-anak yang masih menyusu. Lihatlah, sekarang darah itu sudah tertumpah,  para wanita telah ternodai kehormatannya, demikian pula anak-anak telah menjadi  yatim. Apa yang bisa kalian lakukan selain mengeluh dan mengadu. Lihatlah, apa  yang bisa kalian harapkan dari Iran yang Syi&#8217;ah itu yang katanya siap  memberikan bantuan kepada kalian kecuali sekedar melemparkan urusan [tanggung  jawab] mereka kepada pihak lain dan menebarkan keragu-raguan kepada  negara-negara Islam Sunni yang lainnya. Apa yang telah diperbuat oleh kaum  Rafidhah (Syi&#8217;ah) di Irak berupa pembunuhan terhadap kaum Ahlus Sunnah dan  menyerahkan urusan mereka kepada negara kafir Amerika merupakan bukti paling  besar yang menunjukkan kekejian mereka, dan tidak mungkin kita berharap bantuan  dari mereka untuk melawan kaum Yahudi dan Nasrani.</strong></p>
<p>Syaikh al-Islam Ibnu  Taimiyah <em>rahimahullah</em> mengatakan di dalam bukunya <em>&#8216;Minhaj as-Sunnah  an-Nabawiyah&#8217;</em> [3/377] berkata, &#8220;Banyak di antara mereka -Rafidhah/Syi&#8217;ah-  justru menaruh rasa kasih sayang kepada orang-orang kafir dari dalam lubuk  hatinya lebih daripada kecintaan mereka kepada kaum muslimin. Oleh sebab itulah  ketika pasukan Turki keluar sedangkan orang-orang kafir datang dari arah timur  kemudian membunuhi kaum muslimin dan menumpahkan darah mereka di negeri  Khurasan, Irak, Syam, jazirah Arab, dan negeri yang lainnya, maka kaum Rafidhah  justru memberikan bantuan kepada mereka (orang kafir) untuk membunuh kaum  muslimin. Dan menteri Baghdad saat itu yang sudah ma&#8217;ruf (dikenal) yaitu Alqami  dan orang-orang yang sepertinya, mereka itulah orang-orang yang paling besar  perannya dalam memberikan bantuan kepada mereka untuk menghancurkan kaum  muslimin. Demikian pula orang-orang Rafidhah yang dahulu tinggal di Syam,  mereka itu adalah orang-orang yang paling besar perannya dalam membantu orang  kafir untuk memerangi kaum muslimin. Begitu pula orang-orang Nasrani yang  dahulu diperangi oleh kaum muslimin di Syam, ternyata kaum Rafidhah pun  termasuk pembantu mereka yang sangat berjasa. Demikian pula tatkala Yahudi berhasil  memiliki pemerintahan di Irak dan negeri yang lainnya, maka jadilah kaum  Rafidhah sebagai pembantu mereka yang paling besar perannya. Mereka itu selalu  memberikan loyalitasnya kepada orang-orang kafir dari kalangan orang-orang  musyrik maupun Yahudi dan Nasrani. Mereka membantu orang-orang kafir itu dalam  rangka memerangi kaum muslimin dan memusuhi mereka&#8230;&#8221; Selesai ucapan  beliau.</p>
<p>Sekarang kalian, wahai  <a title="Pelajaran dari Palestina" href="http://muslim.or.id/manhaj-salaf/pelajaran-dari-palestina.html">HAMAS</a>. Kalian telah membuka jalan untuk kaum Rafidhah guna merusak  keyakinan-keyakinan Ahlus Sunnah dan mengubahnya menjadi [aqidah] Syi&#8217;ah. Dan  sebaliknya, kalian justru melarang para da&#8217;i salafi [ikut serta memperbaiki kekeliruan  kalian, pent]. Bahkan, sudah terbukti kalian berani melakukan pembunuhan kepada  sebagian di antara mereka (da&#8217;i salafi) dengan mengatasnamakan kemaslahatan  yang diada-adakan. Barangsiapa yang ingin mendapatkan tambahan bukti dan  keterangan yang lebih lengkap silakan merujuk kepada pelajaran <em>&#8216;Rasa&#8217;il ila  Harakati Hamas&#8217;</em> [masih dalam bentuk ceramah audio, belum di transkrip,  pent]. Saya memohon kepada Allah agar Dia mematikan kita sebagai syuhada&#8217; di  jalan-Nya dan menyejukkan hati kita dengan hancurnya Yahudi. Saya pun memohon  kepada-Nya dengan segenap kekuatan yang dimiliki-Nya demi terjaganya darah  saudara-saudara kami kaum muslimin di Gaza dan di semua tempat, dan semoga  Allah memberikan hidayah kepada para pemimpin HAMAS untuk meniti jalan yang lurus.</p>
<p><em>Wassalamu&#8217;alaikum warahmatullahi  wabarakatuh</em></p>
<p>Abdul Aziz bin Rays ar-Rays</p>
<p>Pengawas situs al-Islam al-&#8217;Atieq</p>
<p><a href="http://www.islamancient.com">http://www.islamancient.com</a></p>
<p>Permulaan tahun 1430 H</p>
<p>diterjemahkan dari:</p>
<p><em>Durus Manhajiyah Min Ahdats Ghazah al-Filisthiniyah</em></p>
<p><a href="http://islamancient.com/mod_stand,item,26.html">http://islamancient.com/mod_stand,item,26.html</a><br />
***</p>
<p>Penerjemah: Abu Mushlih Ari Wahyudi<br />
Artikel <a title="Pelajaran dari Palestina" href="http://muslim.or.id/manhaj-salaf/pelajaran-dari-palestina.html">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-490"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fpelajaran-dari-palestina.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/pelajaran-dari-palestina.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>73</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Laporan Hasil Donasi Palestina</title>
		<link>http://muslim.or.id/dari-redaksi/laporan-hasil-donasi-palestina.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/dari-redaksi/laporan-hasil-donasi-palestina.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Jan 2009 09:00:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Redaksi]]></category>
		<category><![CDATA[Palestina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=488</guid>
		<description><![CDATA[PENGUMUMAN: Penyaluran donasi melalui rekening muslim.or.id ditutup mulai tanggal 21 Januari 2009. Untuk selanjutnya penyaluran donasi Palestina dapat dikirim langsung melalui rekening berikut ini: BCA cab Kwitang: No. Rek. 686.0153678 BSM cab. Kramat: No. Rek.<a class="more" href="http://muslim.or.id/dari-redaksi/laporan-hasil-donasi-palestina.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><strong>PENGUMUMAN:</strong><br />
<strong>Penyaluran donasi melalui rekening muslim.or.id ditutup mulai tanggal 21 Januari 2009.</strong> Untuk selanjutnya penyaluran donasi Palestina dapat dikirim langsung melalui rekening berikut ini:</p>
<p>BCA cab Kwitang: No. Rek. 686.0153678<br />
BSM cab. Kramat: No. Rek. 009.0121.773<br />
(a.n. Medical Emergency Rescue Committee)<br />
BMI cab. Arthaloka: No. Rek. 301.00521.15 (a.n. MER-C)</p>
<p>Info: www.mer-c.org</p>
<p>***<br />
Berikut ini kami laporkan hasil donasi untuk kaum muslimin di Palestina,  Insya Allah laporan pada halaman ini akan terus kami update:</p>
<p><em><strong>Update tanggal 1 Februari 2009 pukul 00.56 WIB</strong></em></p>
<ol>
<li>2-Jan-09 Hamba Allah Bogor Rp 500.000</li>
<li>3-Jan-09 Abu Umaimah Bandung Rp 100.000</li>
<li>3-Jan-09 Hamba Allah Rp 300.000</li>
<li>3-Jan-09 Abu &#8216;Afif Rp 400.000</li>
<li>3-Jan-09 Hamba Allah Rp 100.000</li>
<li>3-Jan-09 Muhammad Rp 500.000</li>
<li>3-Jan-09 Hamba Allah Rp 500.000</li>
<li>3-Jan-09 Hamba Allah Bontang Rp 300.000</li>
<li>3-Jan-09 Hamba Allah Rp 500.000</li>
<li>4-Jan-09 Hamba Allah Rp 1.000.000</li>
<li>4-Jan-09 Hamba Allah Rp 50.000</li>
<li>4-Jan-09 Hamba Allah Rp 300.000</li>
<li>4-Jan-09 Hamba Allah Rp 100.000</li>
<li>5-Jan-09 Hamba Allah Rp 1.500.000</li>
<li>5-Jan-09 Hamba Allah Yogyakarta Rp 50.000</li>
<li>5-Jan-09 Hendra Rp 100.000</li>
<li>5-Jan-09 Hamba Allah Cakung Rp 100.000</li>
<li>5-Jan-09 Abdullah Rp 100.000</li>
<li>5-Jan-09 Hamba Allah Rp 50.000</li>
<li>3-Jan-09 H. Abdullah Klaten Rp 2.000.000</li>
<li>5-Jan-09 Sugiarto Rp 50.000</li>
<li>5-Jan-09 Hamba Allah Rp 100.000</li>
<li>5-Jan-09 Hamba Allah Rp 100.000</li>
<li>5-Jan-09 Hamba Allah Rp 200.000</li>
<li>5-Jan-09 Hamba Allah Bumi Allah Rp 200.000</li>
<li>5-Jan-09 Hamba Allah Rp 200.000</li>
<li>6-Jan-09 Hamba Allah Rp 500.000</li>
<li>6-Jan-09 Hamba Allah Jakarta Rp 600.000</li>
<li>6-Jan-09 Hamba Allah Rp 200.000</li>
<li>6-Jan-09 Hamba Allah Rp 205.000</li>
<li>6-Jan-09 Hamba Allah Rp 100.000</li>
<li>6-Jan-09 Abu Ridho Rp 1.000.000</li>
<li>6-Jan-09 Hamba Allah Jakarta Rp 500.000</li>
<li>6-Jan-09 Abu Zahroh Kuala Lumpur Rp 1.000.999</li>
<li>6-Jan-09 Abu Zahroh Kuala Lumpur Rp 1.000.999</li>
<li>6-Jan-09 Hamba Allah Rp 200.000</li>
<li>6-Jan-09 Catur Purnomo Rp 100.000</li>
<li>6-Jan-09 Hamba Allah Pekayon, Bekasi Rp 200.000</li>
<li>6-Jan-09 Arifin Saefullah Bondowoso Rp 50.000</li>
<li>6-Jan-09 Wily Fitriandari Rp 110.000</li>
<li>7-Jan-09 Hamba Allah Rp 200.000</li>
<li>7-Jan-09 Djoko Birmano Rp 50.000</li>
<li>7-Jan-09 Ipaw Rp 500.000</li>
<li>7-Jan-09 Faisal Rp 50.000</li>
<li>7-Jan-09 Hamba Allah Tangerang Rp 200.000</li>
<li>7-Jan-09 Hamba Allah Rp 150.000</li>
<li>7-Jan-09 Hamba Allah Rp 300.000</li>
<li>7-Jan-09 Hamba Allah Tuban Rp 100.000</li>
<li>7-Jan-09 Reynard Rp 20.000</li>
<li>7-Jan-09 Hamba Allah Rp 200.000</li>
<li>7-Jan-09 Hamba Allah Rp 50.000</li>
<li>7-Jan-09 Ari Ismail Sulawesi Rp 500.000</li>
<li>7-Jan-09 Abu Yazid Rp 50.000</li>
<li>7-Jan-09 Yudi Wasito Rp 50.000</li>
<li>7-Jan-09 Hamba Allah Rp 1.460.000</li>
<li>7-Jan-09 Akhi IPDN Rp 170.488</li>
<li>8-Jan-09 Hamba Allah Yogyakarta Rp 500.000</li>
<li>8-Jan-09 Hamba Allah Rp 150.000</li>
<li>8-Jan-09 Hamba Allah Rp 200.000</li>
<li>8-Jan-09 Hamba Allah Balikpapan Rp 100.000</li>
<li>8-Jan-09 Iman S Rp 100.000</li>
<li>8-Jan-09 Hamba Allah Rp 300.000</li>
<li>8-Jan-09 Abu Musa Lahat Rp 200.000</li>
<li>8-Jan-09 Hamba Allah Rp 150.000</li>
<li>9-Jan-09 Nerry Sunaryo Sabang Rp 75.000</li>
<li>9-Jan-09 Hamba Allah Karawang Rp 550.000</li>
<li>9-Jan-09 Hamba Allah Rp 100.000</li>
<li>9-Jan-09 Hamba Allah Rp 500.000</li>
<li>9-Jan-09 Hamba Allah Bintaro Rp 1.000.000</li>
<li>9-Jan-09 Hamba Allah Rp 350.000</li>
<li>9-Jan-09 Wily Fitriandari Rp 300.000</li>
<li>9-Jan-09 Hamba Allah Padjajaran Rp 2.190.000</li>
<li>9-Jan-09 Carno Karawang Rp 400.000</li>
<li>9-Jan-09 Ummi Ijam Tambun Rp 200.000</li>
<li>9-Jan-09 Hamba Allah Pomala Sultra Rp 250.000</li>
<li>9-Jan-09 Hamba Allah Rp 500.000</li>
<li>10-Jan-09 Hamba Allah Rp 300.100</li>
<li>10-Jan-09 Hamba Allah Rp 200.000</li>
<li>10-Jan-09 Abu Zahid Rp 300.099</li>
<li>10-Jan-09 Hamba Allah Rp 100.000</li>
<li>10-Jan-09 Hamba Allah Rp 300.000</li>
<li>10-Jan-09 Hamba Allah Rp 500.000</li>
<li>11-Jan-09 Abu Aisyah Rp 300.000</li>
<li>11-Jan-09 Hamba Allah Rp 100.000</li>
<li>11-Jan-09 Abu Baihaqi Rp 500.000</li>
<li>11-Jan-09 Abu Abdillah Rp 300.000</li>
<li>11-Jan-09 Hamba Allah Sidoarjo Rp 300.000</li>
<li>11-Jan-09 Hamba Allah Pondok Zire Rp 2.000.000</li>
<li>11-Jan-09 Hamba Allah Rp 250.000</li>
<li>12-Jan-09 Hamba Allah Rp 150.000</li>
<li>12-Jan-09 Ikhwan Limus Rp 350.000</li>
<li>12-Jan-09 Abdullah Rp 300.000</li>
<li>12-Jan-09 Hamba Allah Rp 2.065.000</li>
<li>12-Jan-09 MN Nafis Bandung Rp 200.000</li>
<li>12-Jan-09 Hamba Allah Rp 200.000</li>
<li>12-Jan-09 Hamba Allah Sukoharjo Rp 200.000</li>
<li>12-Jan-09 Hamba Allah Rp 50.000</li>
<li>12-Jan-09 Abu Urwah Rp 75.000</li>
<li>12-Jan-09 Abu Shidiq Rp 250.000</li>
<li>12-Jan-09 Dewi P Rp 50.000</li>
<li>12-Jan-09 Roza Amelia Jepang Rp 2.000.000</li>
<li>12-Jan-09 Hamba Allah Rp 100.000</li>
<li>13-Jan-09 Abu Abdillah Rp 100.000</li>
<li>13-Jan-09 Hamba Allah Rp 50.000</li>
<li>13-Jan-09 Hamba Allah Rp 50.000</li>
<li>13-Jan-09 Zaid Syarif Rp 500.000</li>
<li>13-Jan-09 Maria Rp 200.000</li>
<li>13-Jan-09 Adit Susan Rp 400.000</li>
<li>13-Jan-09 Eko Tangerang Rp 60.000</li>
<li>13-Jan-09 IBP Rp 300.000</li>
<li>14-Jan-09 Abdullah Rp 100.000</li>
<li>14-Jan-09 Adi Prasetyo Rp 100.000</li>
<li>14-Jan-09 Abu Mirzana Medan Rp 200.000</li>
<li>14-Jan-09 Hamba Allah Rp 250.000</li>
<li>14-Jan-09 Hamba Allah Rp 50.000</li>
<li>14-Jan-09 Abu Ridho Bandung Rp 1.000.000</li>
<li>14-Jan-09 Hamba Allah Rp 4.500.000</li>
<li>14-Jan-09 Hamba Allah Jepang Rp 2.700.000</li>
<li>14-Jan-09 Abu Muhammad Rp 100.000</li>
<li>14-Jan-09 Hamba Allah Rp 315.000</li>
<li>14-Jan-09 Subhan Umar Papua Rp 250.000</li>
<li>14-Jan-09 Hamba Allah Rp 100.000</li>
<li>14-Jan-09 Hamba Allah Rp 2.229.000</li>
<li>14-Jan-09 Aditya Permana Rp 450.000</li>
<li>15-Jan-09 Hamba Allah Rp 100.000</li>
<li>15-Jan-09 Abu Ammar Rp 150.000</li>
<li>15-Jan-09 Hamba Allah Rp 2.500.000</li>
<li>15-Jan-09 Agus Klaten Rp 500.000</li>
<li>15-Jan-09 Syaiful Batam Rp 500.000</li>
<li>15-Jan-09 Muhammad Fuad Rp 500.000</li>
<li>16-Jan-09 Hamba Allah Sengkang Sumsel Rp 200.113</li>
<li>16-Jan-09 Hamba Allah Rp 300.000</li>
<li>16-Jan-09 Zaki Yamani Rp 250.000</li>
<li>16-Jan-09 Hamba Allah Rp 300.000</li>
<li>16-Jan-09 Hamba Allah Banyuwangi Rp 250.000</li>
<li>16-Jan-09 Hamba Allah Bekasi Rp 50.000</li>
<li>16-Jan-09 Kasdi Sukoharjo Rp 150.000</li>
<li>16-Jan-09 Ian Jakarta Rp 50.000</li>
<li>16-Jan-09 Hamba Allah Bogor Rp 140.000</li>
<li>16-Jan-09 Hamba Allah Jakarta Rp 250.000</li>
<li>16-Jan-09 Hamba Allah Rp 150.000</li>
<li>16-Jan-09 Hamba Allah Rp 100.000</li>
<li>17-Jan-09 Supriadi Rp 100.000</li>
<li>17-Jan-09 Hamba Allah Sangata Kaltim Rp 1000.000</li>
<li>17-Jan-09 Hamba Allah Rp 100.000</li>
<li>18-Jan-09 Syahrul Rp 300.000</li>
<li>18-Jan-09 Hamba Allah Rp 130.000</li>
<li>18-Jan-09 Ikhwan Jamil Yogyakarta Rp 2.010.000</li>
<li>18-Jan-09 Andi Yogyakarta Rp 350.000</li>
<li>18-Jan-09 Akhwat LPK Yogyakarta Rp 236.000</li>
<li>18-Jan-09 Adi Prasetyo Rp 100.000</li>
<li>18-Jan-09 Ricky Wahyudi Rp 50.000</li>
<li>19-Jan-09 Risky Trinugroho Rp 500.000</li>
<li>19-Jan-09 Deni Juzaily Jakarta Rp 20.000</li>
<li>19-Jan-09 Hamba Allah Jakarta Rp 300.000</li>
<li>19-Jan-09 Muslim Tembagapura Timika Rp 500.000</li>
<li>20-Jan-09 Danish Rp 50.001</li>
<li>20-Jan-09 Abu Muhammad Bandung Rp 200.000</li>
<li>20-Jan-09 Hamba Allah Rp 4.500.000</li>
<li>20-Jan-09 Donasi Kajian YPIA 18 Jan Rp. 3.488.100</li>
<li>20-Jan-09 Hamba Allah Yogyakarta Rp 1.000.000</li>
<li>20-Jan-09 Hamba Allah Rp 200.000</li>
<li>20-Jan-09 Hamba Allah Rp 15.000</li>
<li>20-Jan-09 Hamba Allah Rp 30.000</li>
<li>20-Jan-09 Faisal Rp 200.000</li>
<li>20-Jan-09 Deni Juzaily Jakarta Rp 145.000</li>
<li>20-Jan-09 KPP Pratama Sukoharja Rp 1.500.000</li>
<li>20-Jan-09 Achmadi Rp 200.000</li>
<li>20-Jan-09 Ummahat Bontang Rp 265.000</li>
<li>20-Jan-09 SS Rp 1.000.000</li>
<li>21-Jan-09 Hamba Allah Rp 1.622.500</li>
<li>21-Jan-09 Hamba Allah Tegal Rp 190.000</li>
<li>21-Jan-09 Hamba Allah Rp 200.000</li>
<li>21-Jan-09 Hamba Allah Rp 100.000</li>
<li>21-Jan-09 Ibu Sudinarto Rp 50.000</li>
<li>21-Jan-09 Hamba Allah Rp 500.000</li>
<li>21-Jan-09 Hamba Allah Rp 500.000</li>
<li>21-Jan-09 Hamba Allah Yogyakarta Rp 100.000</li>
<li>22-Jan-09 Hamba Allah Rp 50.000</li>
<li>22-Jan-09 Hamba Allah Rp 20.000</li>
<li>23-Jan-09 Hamba Allah Rp 400.000</li>
<li>24-Jan-09 Hamba Allah Rp 2.000.000</li>
<li>26-Jan-09 Hamba Allah Yogyakarta Rp 23.000</li>
<li>27-Jan-09 Hamba Allah Rp 100.000</li>
<li>31-Jan-09 Hamba Allah Semarang Rp 100.000</li>
<li>31-Jan-09 Hamba Allah Yogyakarta Rp 42.000</li>
<li>31-Jan-09 Hamba Allah Kehutanan Rp 1.300.000</li>
</ol>
<p><em>Alhamdulillah</em>, Total Donasi Hingga Saat Ini telah terkumpul:  <strong>Rp 85.703.399</strong></p>
<p><em>Jazakumullahu Khairan&#8230;</em></p>
<p>***</p>
<p><strong>PENGUMUMAN:</strong><br />
<strong>Penyaluran donasi melalui rekening muslim.or.id ditutup mulai besok, tanggal 21 Januari 2009.</strong> Untuk selanjutnya penyaluran donasi Palestina dapat dikirim langsung melalui rekening berikut ini:</p>
<p>BCA cab Kwitang: No. Rek. 686.0153678<br />
BSM cab. Kramat: No. Rek. 009.0121.773<br />
(a.n. Medical Emergency Rescue Committee)<br />
BMI cab. Arthaloka: No. Rek. 301.00521.15 (a.n. MER-C)</p>
<p>Laporan hasil donasi dapat melihat ke www.mer-c.org</p>
<p><strong>Pengumuman Tambahan:</strong></p>
<p>Sesuai pengumuman di atas donasi untuk palestina melalui website muslim.or.id telah di tutup sejak tanggal 21 Januari 2009, akan tetapi karena informasi telah menyebar luas beberapa donatur masih mengirimkan ke rekening muslim.or.id di atas sehingga kami masih menampilkan laporannya walaupun asalnya <strong>donasi telah melalui rekening muslim.or.id di tutup</strong>. Bagi saudara yang ingin mengirimkan donasinya ke Palestina silakan transfer ke rekening di atas. Info: <a title="donasi palestina" href="http://mer-c.org" target="_blank">www.mer-c.org</a></p>
<div class="shr-publisher-488"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fdari-redaksi%2Flaporan-hasil-donasi-palestina.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/dari-redaksi/laporan-hasil-donasi-palestina.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Donasi Palestina: Ulurkan Tangan Anda, Ringankan Duka Muslimin Palestina!!!</title>
		<link>http://muslim.or.id/dari-redaksi/donasi-palestina-ulurkan-tangan-anda-ringankan-duka-muslimin-palestina.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/dari-redaksi/donasi-palestina-ulurkan-tangan-anda-ringankan-duka-muslimin-palestina.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Jan 2009 07:03:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muslim.Or.Id</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Redaksi]]></category>
		<category><![CDATA[Palestina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=487</guid>
		<description><![CDATA[Musuh-musuh agama Allah tidak akan pernah ridha kepada umat Islam sampai umat Islam mau mengikuti jejak langkah mereka langkah demi langkah dan akhirnya menjadi bagian dari mereka. Beragam cara mereka lakukan untuk menghancurkan Islam mulai<a class="more" href="http://muslim.or.id/dari-redaksi/donasi-palestina-ulurkan-tangan-anda-ringankan-duka-muslimin-palestina.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Musuh-musuh agama Allah tidak akan pernah ridha kepada umat Islam sampai umat Islam mau mengikuti jejak langkah mereka langkah demi langkah dan akhirnya menjadi bagian dari mereka. Beragam cara mereka lakukan untuk menghancurkan Islam mulai cara-cara halus yang tidak disadari kecuali oleh orang-orang yang Allah buka mata hatinya, hingga kekerasan yang secara vulgar dipertontonkan kepada seluruh dunia. Inilah salah satu bukti kebenaran firman Allah Yang Maha Tinggi:</p>
<p><em>&#8220;Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridha pada kalian sampai kalian mengikuti agama mereka. Katakanlah: sesungguhnya petunjuk Allah itu adalah petunjuk yang sebenarnya.&#8221;</em> (Qs. Al-Baqarah: 120)</p>
<p>Kekerasan tersebut dipertontonkan kepada dunia melalui serangan militer tentara Zionis  Israel kepada kaum muslimin di Palestina pada Sabtu, 29 Dzulhijjah 1429 H/27 Desember 2008. Terlebih lagi, kekerasan tersebut dipertontonkan pada bulan Haram yang Allah ta&#8217;ala telah mengharamkan pembunuhan dan peperangan pada bulan-bulan tersebut.</p>
<p>Allah berfirman, <em>&#8220;Mereka bertanya tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar&#8230;&#8221; </em>(Qs. Al Baqarah: 217)</p>
<p>Allah juga berfirman, <em>&#8220;Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan Haram&#8230;&#8221;</em> (Qs. Al Maaidah: 2). Sungguh satu kezaliman di atas kezaliman&#8230;!!!</p>
<p>Saudaraku, sesungguhnya umat Islam di bumi Allah ini adalah ibarat satu bangunan, mereka akan saling menguatkan satu dengan yang lainnya. Umat Islam di bumi Allah ini ibarat adalah satu tubuh, jika satu anggota badan sakit, maka seluruh tubuh akan merasakannya.</p>
<p>Saudaraku, apakah Kita tidak merasa merugi ketika sekarang satu bagian bangunan kita di Palestina diserang? Apakah kita tidak merasa sakit ketika satu  bagian tubuh kita di bumi para Nabi sedang terluka? Maka, mari kita kuatkan Saudara kita!! Mari kita obati jasad dan hati mereka!!</p>
<p>Saudaraku, mari kita bantu mereka dengan segenap kemampuan kita. Doakan dengan hati dan lisan kita, bantu mereka dengan sebagian harta kita, bantu mereka dengan segenap kemampuan dan keahlian. Ya Allah, bantu dan selamatkan saudara kami kaum muslimin di Palestina. Ya Allah, timpakanlah kekalahan kepada orang-orang Yahudi terlaknat dan penolong-penolong dan sekutu-sekutu mereka&#8230;</p>
<p><strong>PENGUMUMAN:</strong><br />
<strong>Penyaluran donasi melalui rekening muslim.or.id ditutup mulai besok, tanggal 21 Januari 2009.</strong> Untuk selanjutnya penyaluran donasi Palestina dapat dikirim langsung melalui rekening berikut ini:</p>
<p>BCA cab Kwitang: No. Rek. 686.0153678<br />
BSM cab. Kramat: No. Rek. 009.0121.773<br />
(a.n. Medical Emergency Rescue Committee)<br />
BMI cab. Arthaloka: No. Rek. 301.00521.15 (a.n. MER-C)</p>
<p>Laporan hasil donasi bisa melihat melalui link ini:<br />
<a href="http://muslim.or.id/dari-redaksi/laporan-hasil-donasi-palestina.html">Laporan Hasil Donasi Palestina</a></p>
<div class="shr-publisher-487"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fdari-redaksi%2Fdonasi-palestina-ulurkan-tangan-anda-ringankan-duka-muslimin-palestina.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/dari-redaksi/donasi-palestina-ulurkan-tangan-anda-ringankan-duka-muslimin-palestina.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

