<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muslim.Or.Id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah &#187; Muslimah</title>
	<atom:link href="http://muslim.or.id/tag/muslimah/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muslim.or.id</link>
	<description>Pesantren online agama Islam berdasarkan Qur&#039;an dan Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Feb 2012 09:43:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Kajian Muslimah Yogyakarta (11 Desember 2011): “Menggapai Pintu Surga dengan Berbakti pada Ayah dan Bunda”</title>
		<link>http://muslim.or.id/info-dauroh-dan-kajian/kajian-muslimah-yogyakarta-11-desember-2011-%e2%80%9cmenggapai-pintu-surga-dengan-berbakti-pada-ayah-dan-bunda%e2%80%9d.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/info-dauroh-dan-kajian/kajian-muslimah-yogyakarta-11-desember-2011-%e2%80%9cmenggapai-pintu-surga-dengan-berbakti-pada-ayah-dan-bunda%e2%80%9d.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Dec 2011 06:30:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wiwit Hardi Priyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Dauroh dan Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=7621</guid>
		<description><![CDATA[Ikutilah kajian khusus muslimah di Yogyakarta Judul : “Menggapai Pintu Surga dengan Berbakti pada Ayah dan Bunda” Hari/Tanggal : Ahad/ 11 Desember 2011 Tempat : Masjid Ibnu Sina, Fakultas Kedokteran UGM Waktu : Pukul 07.30-10.00<a class="more" href="http://muslim.or.id/info-dauroh-dan-kajian/kajian-muslimah-yogyakarta-11-desember-2011-%e2%80%9cmenggapai-pintu-surga-dengan-berbakti-pada-ayah-dan-bunda%e2%80%9d.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Ikutilah kajian khusus muslimah di Yogyakarta</p>
<p>Judul : “<em>Menggapai Pintu Surga dengan Berbakti pada Ayah dan Bunda</em>”<br />
Hari/Tanggal : Ahad/ 11 Desember 2011<br />
Tempat : Masjid Ibnu Sina, Fakultas Kedokteran UGM<br />
Waktu : Pukul 07.30-10.00 WIB<br />
Pemateri : Ustadzah Ummu Yasir</p>
<p>Kontak Info : 085228016597</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/wp-content/uploads/2011/12/MM-11-12-11-1.jpg"><img class="alignnone size-large wp-image-7624" title="MM 11 12 11 (1)" src="http://muslim.or.id/wp-content/uploads/2011/12/MM-11-12-11-1-467x1024.jpg" alt="" width="280" height="614" /></a></p>
<div class="shr-publisher-7621"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Finfo-dauroh-dan-kajian%2Fkajian-muslimah-yogyakarta-11-desember-2011-%25e2%2580%259cmenggapai-pintu-surga-dengan-berbakti-pada-ayah-dan-bunda%25e2%2580%259d.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Finfo-dauroh-dan-kajian%2Fkajian-muslimah-yogyakarta-11-desember-2011-%25e2%2580%259cmenggapai-pintu-surga-dengan-berbakti-pada-ayah-dan-bunda%25e2%2580%259d.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Finfo-dauroh-dan-kajian%2Fkajian-muslimah-yogyakarta-11-desember-2011-%25e2%2580%259cmenggapai-pintu-surga-dengan-berbakti-pada-ayah-dan-bunda%25e2%2580%259d.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/info-dauroh-dan-kajian/kajian-muslimah-yogyakarta-11-desember-2011-%e2%80%9cmenggapai-pintu-surga-dengan-berbakti-pada-ayah-dan-bunda%e2%80%9d.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berhaji Tanpa Mahram</title>
		<link>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/berhaji-tanpa-mahram.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/berhaji-tanpa-mahram.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Nov 2011 23:00:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh dan Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[akhwat]]></category>
		<category><![CDATA[berhaji]]></category>
		<category><![CDATA[Haji]]></category>
		<category><![CDATA[mahram]]></category>
		<category><![CDATA[mahrom]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[tanpa mahram]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=7206</guid>
		<description><![CDATA[An Nawawi rahimahullah berkata, “Para ulama berijma’ (sepakat) bahwa seorang wanita dinilai wajib menunaikan haji dalam Islam jika ia telah berkemampuan. Hal ini berdasarkan keumuman firman Allah Ta’ala, وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ<a class="more" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/berhaji-tanpa-mahram.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>An Nawawi <em>rahimahullah </em>berkata, “Para ulama berijma’ (sepakat) bahwa seorang wanita dinilai wajib menunaikan haji dalam Islam jika ia telah berkemampuan. Hal ini berdasarkan keumuman firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<div style="text-align: center;">وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا</div>
<p>“<em>Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, Yaitu (bagi) orang yang sanggup Mengadakan perjalanan ke Baitullah</em>” (QS. Ali Imron: 97).</p>
<p>Mengenai kemampuan di sini sebenarnya sama halnya dengan pria. Namun para ulama berselisih pendapat apakah pada wanita disyaratkan harus adanya mahrom ataukah tidak.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3220-berhaji-tanpa-mahrom.html#_ftn1">[1]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Khilaf Ulama</strong></span></p>
<p>Berikut adalah beberapa pendapat para ulama mengenai hukum berhaji tanpa mahrom.</p>
<p>Disyaratkan seorang wanita dalam safar hajinya untuk ditemani oleh suami atau mahromnya jika memang ia telah menempuh jarak safar ke Makkah selama tiga hari. Jarak seperti ini adalah jarak minimal untuk dikatakan bersafar, demikian pendapat ulama Hanafiyah dan Hambali.</p>
<p>Mereka berdalil dengan hadits Ibnu ‘Umar, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL">لاَ تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ ثَلاَثًا إِلاَّ وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ</p>
<p>“<em>Tidak boleh seorang wanita bersafar tiga (hari perjalanan) melainkan harus bersama mahromnya.</em>” (HR. Muslim no. 1338 dan 1339, dari Ibnu ‘Umar)</p>
<p>Ulama Syafi&#8217;iyah dan ulama Malikiyah membolehkan mahrom tersebut diganti. Ulama Syafi&#8217;iyah berpendapat bahwa jika ada para wanita yang tsiqoh&#8211;dua atau lebih&#8211;yang memberikan rasa aman, maka ini cukup sebagai pengganti mahrom atau suami. Hal ini ditinjau jika wanita tersebut sudah dikenai kewajiban untuk berhaji dalam Islam. Menurut mereka, “Yang paling tepat, tidak disyaratkan adanya mahrom bagi para wanita tersebut (yang akan berhaji). Sudah cukup sebenarnya jika sudah ada jama’ah yang jumlahnya banyak.”</p>
<p>Namun jika didapati satu wanita tsiqoh, maka tidak wajib bagi mereka untuk berhaji (yang selain wajib). Akan tetapi boleh baginya berhaji jika hajinya adalah haji fardhu (wajib) atau haji nadzar. Bahkan boleh baginya keluar sendirian untuk menunaikan haji yang wajib atau untuk menunaikan nadzar, selama aman.</p>
<p>Ulama Malikiyah menambahkan yang intinya membolehkan. Mereka mengatakan bahwa jika wanita tidak mendapati mahrom atau tidak mendapati pasangan (suami untuk menemaninya), walaupun itu memperolehnya dengan upah, maka ia boleh bersafar untuk haji yang wajib atau haji dalam rangka nadzar selama bersama orang-orang (dari para wanita atau para pria yang sholih) yang memberikan rasa aman.</p>
<p>Ad Dasuqi (sala seorang ulama Malikiyah) berkata bahwa kebanyakan ulama Malikiyah mempersyaratkan wanita harus disertai mahrom.</p>
<p>Adapun haji yang sunnah <em>para ulama sepakat</em> bahwa tidak boleh seorang wanita bersafar untuk haji kecuali bersama suami atau mahromnya. Untuk haji yang sunnah tidak boleh ia bersafar dengan selain mahromnya, bahkan ia bisa terjerumus dalam dosa jika nekad melakukannya.</p>
<p>Demikian kami sarikan dari Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah. <a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3220-berhaji-tanpa-mahrom.html#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Terdapat tambahan dari penjelasan An Nawawi <em>rahimahullah</em> dalam <em>Syarh Shahih Muslim</em>. An Nawawi berkata, “’Atho’, Sa’id bin Jubair, Ibnu Sirin, Imam Malik Al Auza’i dan pendapat Imam Asy Syafi’i yang masyhur berpendapat bahwa tidak disyaratkan adanya mahrom. Yang disyaratkan adalah <em>si wanita mendapatkan rasa aman</em>. Ulama Syafi’iyah menerangkan bahwa rasa aman tersebut bisa tercapai dengan adanya suami, mahrom atau wanita-wanita yang tsiqoh (terpercaya). Haji tidaklah diwajikan menurut madzhab kami kecuali dengan ada rasa aman dari salah satu hal tadi. Jika didapati satu wanita tsiqoh saja, maka haji tidak menjadi wajib. Akan tetapi wanita yang akan berhaji boleh bersafar dengan wanita lain walaupun bersendirian. Ini yang tepat. &#8230;</p>
<p>Pendapat yang masyhur dari Imam Asy Syafi’i dan mayoritas ulama Syafi’iyah adalah pendapat di atas. Ulama Syafi’iyah kemudian berselisih pendapat mengenai hukum wanita berhaji yang sunnah tanpa adanya mahrom atau untuk safar dengan tujuan ziaroh atau berdagang atau semacam itu yang tidak wajib. Sebagian ulama Syafi’iyah katakan bahwa hal-hal yang tidak wajib tadi dibolehkan sebagaimana haji (yang wajib). Namun pendapat mayoritas ulama, “<em>Tidak boleh seorang wanita bersafar kecuali dengan suami atau mahromnya. Inilah yang tepat karena didukung oleh hadits-hadits yang shahih</em>.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3220-berhaji-tanpa-mahrom.html#_ftn3">[3]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Titik Beda Pendapat</strong></span></p>
<p>Al Qurthubi <em>rahimahullah </em>berkata,</p>
<p>Sebab perselisihan ulama dalam masalah ini adalah karena adanya pemahaman yang berbeda dalam menkompromikan berbagai hadits (yang melarang bersafar tanpa mahrom, pen) dengan firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL">وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا</p>
<p>“<em>Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, Yaitu (bagi) orang yang sanggup Mengadakan perjalanan ke Baitullah</em>” (QS. Ali Imron: 97).</p>
<p>Secara zhohir, yang dimaksud <em>istitho’ah</em> (dikatakan mampu dalam haji) adalah <em>mampu pada badan (fisik)</em>.  Jadi jika secara fisik mampu, maka diwajibkan untuk haji. Barangsiapa yang tidak mendapati mahrom namun ia sudah memiliki kemampuan secara fisik, maka ia tetap diwajibkan untuk haji. Dari sini, ketika terjadi pertentangan antara tesktual ayat dan hadits, maka muncullah beda pendapat di antara para ulama.</p>
<p>Imam Abu Hanifah dan para ulama yang sependapat dengannya menjadikan hadits (tentang larangan safar wanita tanpa mahrom) sebagai penjelas dari dalil yang menjelaskan <em>istitho’ah</em> (kemampuan) pada hak wanita.</p>
<p>Imam Malik dan ulama yang sependapat dengannya berpendapat bahwa <em>istitho’ah</em> (kemampuan) yang dimaksudkan adalah bisa dengan cukup wanita tersebut mendapatkan rasa aman dari para pria atau wanita lainnya. Sedangkan hadits (yang melarang wanita bersafar tanpa mahrom) tidaklah bertentangan jika memang safarnya adalah wajib (untuk menunaikan haji yang wajib, pen).</p>
<p>Demikian sarian dari penjelasan Al Qurthubi <em>rahimahullah</em>.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3220-berhaji-tanpa-mahrom.html#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Intinya dari penjelasan Al Qurthubi <em>rahimahullah</em>, ada perbedaan dalam memahami dua dalil berikut. Dalil pertama tentang istitho’ah (kemampuan dalam berhaji).</p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL">وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا</p>
<p>“<em>Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, Yaitu (bagi) orang yang sanggup Mengadakan perjalanan ke Baitullah</em>” (QS. Ali Imron: 97).</p>
<p>Dalil kedua adalah tentang larangan bersafar tanpa mahram.</p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL">لاَ تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ ثَلاَثًا إِلاَّ وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ</p>
<p>“<em>Tidak boleh seorang wanita bersafar tiga (hari perjalanan) melainkan harus bersama mahromnya.</em>” (HR. Muslim no. 1338 dan 1339, dari Ibnu ‘Umar)</p>
<p>Jadi ada ulama yang katakan bahwa ia tetap berangkat haji meskipun hanya mendapatkan rasa aman saja dengan ditemani para pria sholeh atau wanita yang tsiqoh (terpercaya). Karena para ulama yang berpendapat demikian menilai hajinya tetap ditunaikan, jika memang hajinya itu wajib. Sedangkan larangan untuk bersafar tanpa mahrom dinilai sebagai saddu dzari’ah, yaitu larangan yang bukan tertuju pada dzatnya akan tetapi terlarang karena dapat mengantarkan pada sesuatu yang terlarang. Dan mereka punya kaedah fiqh (yang tentu ini dibangun di atas dalil), “<em>Sesuatu yang terlarang karena saddu dzari’ah dibolehkan jika dalam keadaan hajjah (butuh)</em>.” Dan mereka menganggap bahwa kondisi haji yang sudah wajib dilihat dari segi finansial dan fisik ini tetap dikatakan wajib meskipun akhirnya berangkatnya tanpa mahrom dan ditemani dengan para pria atau para wanita lain yang tsiqoh.</p>
<p>Sedangkan ulama yang menganggap tetap harus dengan mahrom—seperti pendapat ulama Hanafiyah dan ulama Hambali&#8211;, menyatakan bahwa mahrom itu sebagai syarat <em>istitho’ah</em> karena mereka menyatakan ayat yang membicarakan tentang istitho’ah (kemampuan) dalam berhaji dijelaskan dengan hadits larangan bersafar tanpa mahrom.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Riwayat Haji Tanpa Mahrom</strong></span></p>
<p>Disebutkan Ibnu Hazm <em>rahimahullah </em>dalam <em>Al Muhalla</em>,</p>
<p>Sebagian ulama mengatakan bahwa seorang wanita boleh berhaji jika ia ditemani oleh orang-orang yang memberikan rasa aman, meskipun wanita tersebut kala itu tidak ditemani suami dan tidak ditemani mahromnya. Sebagaimana kami riwayatkan dari jalan Ibnu Abi Syaibah, ia berkata bahwa Waki’, dari Yunus (Ibnu Yazid), dari Zuhri, ia berkata, “Ada yang menanyakan pada ‘Aisyah—Ummul Mukminin—wanita, apakah betul seorang wanita tidak boleh bersafar kecuali dengan mahromnya?” ‘Aisyah menjawab,</p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL">ليس كل النساء تجد محرما</p>
<p>“Tidak setiap wanita memiliki mahrom.”</p>
<p>Dari jalur Sa’id bin Manshur, ia berkata bahwa Ibnu Wahb, dari ‘Amr bin Al Harits, dari Bukair bin Asyja’, dari Nafi’ (bekas budak Ibnu ‘Umar), beliau berkata,</p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL">كان يسافر مع عبد الله بن عمر موليات (له) (1) ليس معهن محرم،</p>
<p>Para bekas budak wanita milik ‘Abdullah bin ‘Umar pernah bersafar bersama beliau dan tidak ada bersama mereka mahrom.</p>
<p>Pendapat di atas juga menjadi pendapat Ibnu Sirin, ‘Atho’, nampak dari pendapat Az Zuhri, Qotadah, Al Hakam bin ‘Utaibah, ini juga menjadi pendapat Al Auza’i, Imam Malik, Imam Asy Syafi’i dan Abu Sulaiman dan beberapa sahabat.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3220-berhaji-tanpa-mahrom.html#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Ibnu Hazm <em>rahimahullah </em>pun memberikan sanggahan terhadap pendapat Imam Abu Hanifah (yang mensyaratkan wanita harus berhaji dengan mahrom). Beliau <em>rahimahullah</em> berkata, “Adapun pendapat Imam Abu Hanifah dalam penentuan yang kami sebutkan (tidak boleh bersafar lebih dari tiga hari kecuali bersama mahrom), maka pendapat ini tidak diketahui adanya salaf dari para sahabat yang berpendapat seperti itu, tidak pula diketahui adanya pendapat tabi’in. Bahkan kami tidak mengetahui ada ulama yang berpendapat sebelum mereka seperti itu.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3220-berhaji-tanpa-mahrom.html#_ftn6">[6]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Pentarjihan Pendapat</strong></span></p>
<p>Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah </em>berkata, “Wanita tidak wajib bersafar untuk haji dan tidak boleh ia melakukannya kecuali jika bersama suami atau mahromnya.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3220-berhaji-tanpa-mahrom.html#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Lalu Ibnu Taimiyah membawakan di antara dalilnya sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL">لاَ تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ ثَلاَثًا إِلاَّ وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ</p>
<p>“<em>Seorang wanita tidak boleh bersafar lebih dari tiga hari kecuali bersama dengan mahromnya</em>.” (Muttafaqun ‘alaih, dari Ibnu ‘Umar <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>)</p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL">لاَ تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ ، وَلاَ يَدْخُلُ عَلَيْهَا رَجُلٌ إِلاَّ وَمَعَهَا مَحْرَمٌ » . فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى أُرِيدُ أَنْ أَخْرُجَ فِى جَيْشِ كَذَا وَكَذَا ، وَامْرَأَتِى تُرِيدُ الْحَجَّ . فَقَالَ « اخْرُجْ مَعَهَا »</p>
<p>“<em>Tidak boleh seorang wanita bersafar kecuali bersama mahromnya. Tidak boleh berkhalwat<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3220-berhaji-tanpa-mahrom.html#_ftn8"><strong>[8]</strong></a> (berdua-duaan) dengan wanita kecuali bersama mahromnya.” Kemudian ada seseorang yang berkata, “Wahai Rasulullah, aku ingin keluar mengikuti peperangan ini dan itu. Namun istriku ingin berhaji.” Beliau bersabda, “Lebih baik engkau berhaji bersama istrimu.</em>” (Diriwayatkan oleh Bukhari, dari Ibnu ‘Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>)</p>
<p>Setelah membawakan dalil-dalil tersebut, Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah </em>berkata, “Dalil-dalil dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tersebut menunjukkan diharamkannya safar wanita tanpa mahrom. Dan dalil-dalil tersebut tidak menyatakan satu safar pun sebagai pengecualian. Padahal safar untuk berhaji sudah masyhur dan sudah  seringkali dilakukan. Sehingga tidak boleh kita menyatakan ini ada pengecualian dengan niat tanpa ada lafazh (pendukung). Bahkan para sahabat, di antara mereka memasukkan safar haji dalam hadits-hadits larangan tersebut. Karena ada seseorang yang pernah menanyakan mengenai safar haji tanpa mahrom, ditegaskan tetap terlarang.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3220-berhaji-tanpa-mahrom.html#_ftn9">[9]</a></p>
<p>Intinya, sejak dulu masalah ini ada silang pendapat karena beda dalam memahami dalil. Sehingga yang lebih kuat adalah yang lebih merujuk pada dalil. Alasan Ibnu Taimiyah ini lebih memuaskan karena didukung langsung oleh hadits yang shahih. Pendapat Ibnu Hazm cukup disanggah dengan alasan yang dikemukakan oleh Ibnu Taimiyah di atas. <em>Jadi, pendapat yang  menyatakan terlarangnya haji tanpa mahrom itu yang lebih kuat.</em></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Dukungan dari Fatwa Al Lajnah Ad Daimah</strong></span></p>
<p>Komisi Fatwa di Saudi Arabia, Al-Lajnah Ad-Daimah ditanya, “Seorang wanita shalihah setengah usia atau mendekati tua di Saba&#8217; ingin haji dan tidak mempunyai mahram. Tapi di daerahnya ada seorang lelaki yang sholeh yang ingin haji bersama beberapa wanita dari mahramnya. Apakah wanita tersebut sah hajinya jika pergi bersama seorang lelaki sholeh yang pergi bersama beberapa wanita mahramnya dan lelaki tersebut sebagai pembimbingnya? Ataukah dia gugur dari kewajiban haji karena tidak ada mahram yang mendampingi padahal dia telah mampu dari sisi materi? Mohon fatwa tentang hal tersebut, sebab kami berselisih dengan sebagian kawan kami dalam hal tersebut.”</p>
<p>Jawaban:</p>
<p>Wanita yang tidak mempunyai mahram yang mendampingi dalam haji maka dia tidak wajib haji. Sebab mahram bagi seorang wanita merupakan istitho’ah (bentuk kemampuan) dalam melakukan perjalanan haji. Sedangkan kemampuan melakukan perjalanan merupakan syarat dalam haji. Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL">وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا</p>
<p>&#8220;<em> Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah</em>&#8221; (QS. ‘Ali Imran : 97)</p>
<p>Seorang wanita tidak boleh pergi haji atau lainnya kecuali bersama suami atau mahramnya, sebagaimana hadits yang dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Abbas, ia mendengar Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Janganlah sekali-kali seorang laki-laki berduaan (berkhalwat) dengan seorang wanita kecuali wanita itu disertai muhrimnya. Dan seorang wanita juga tidak boleh bepergian sendirian, kecuali ditemani oleh mahramnya.&#8221; Tiba-tiba berdirilah seorang laki-laki dan bertanya, &#8220;Ya, Rasulullah, sesungguhnya isteriku hendak menunaikan ibadah haji, sedangkan aku ditugaskan pergi berperang ke sana dan ke situ; bagaimana itu?&#8221; Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam pun menjawab, &#8220;Pergilah kamu haji bersama isterimu.</em>&#8221;</p>
<p>Demikian ini adalah pendapat Hasan Al Bashri, An Nakho&#8217;i, Ahmad, Ishaq, Ibnul Mundzir dan Ahli Ra&#8217;yi (madzhab Abu Hanifah). Pendapat ini adalah pendapat yang lebih tepat karena sesuai dengan keumuman hadits-hadits yang melarang wanita bepergian tanpa suami atau mahramnya. Pendapat tersebut berbeda dengan pendapat Imam Malik, Imam Asy Syafi&#8217;i dan Al-Auza&#8217;i. Di mana mereka menyebutkan syarat yang tidak bisa dijadikan hujjah. Ibnul Mundzir berkata, &#8220;<em>Mereka meninggalkan pendapat yang begitu nampak jelas pada hadits. Masing-masing mereka menyebutkan syarat yang tidak bisa dijadikan hujjah</em>&#8220;.</p>
<p>Wabillahit taufiq. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3220-berhaji-tanpa-mahrom.html#_ftn10">[10]</a></p>
<p>Demikian yang kami sajikan sebatas ilmu kami. Semoga kajian ini bermanfaat.</p>
<p style="text-align: center;"><em>Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>12 Dzulqo’dah 1431 H (20/10/2010)</p>
<p>KSU, Riyadh, Kingdom of Saudi Arabia</p>
<p>Penulis: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<hr />
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3220-berhaji-tanpa-mahrom.html#_ftnref1">[1]</a> Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, Dar Ihya’ At Turots, 1392, 9/104</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3220-berhaji-tanpa-mahrom.html#_ftnref2">[2]</a> Kami sarikan dari Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, index “hajj”, point 25, 17/35-36.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3220-berhaji-tanpa-mahrom.html#_ftnref3">[3]</a> Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 9/104.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3220-berhaji-tanpa-mahrom.html#_ftnref4">[4]</a> ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, Al ‘Azhim Abadi Abuth Thoyib, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, 1415, 5/103-104.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3220-berhaji-tanpa-mahrom.html#_ftnref5">[5]</a> Al Muhalla, Ibnu Hazm, Mawqi’ Ya’sub (sesuai standar cetakan), 7/47-48</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3220-berhaji-tanpa-mahrom.html#_ftnref6">[6]</a> Al Muhalla, 7/48</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3220-berhaji-tanpa-mahrom.html#_ftnref7">[7]</a> Syarh Al ‘Umdah, Ibnu Taimiyah, Maktabah Al ‘Ubaikan, 1413 H, 2/172</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3220-berhaji-tanpa-mahrom.html#_ftnref8">[8]</a> Tafsiran seperti ini lihat Fathul Bari, Ibnu Hajar, Darul Ma’rifah, 1379, 4/77</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3220-berhaji-tanpa-mahrom.html#_ftnref9">[9]</a> Syarh Al ‘Umdah, 2/174.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3220-berhaji-tanpa-mahrom.html#_ftnref10">[10]</a> Yang menandatangani fatwa ini: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz sebagai ketua, Syaikh ‘Abdur Rozaq ‘Afifi sebagai wakil ketua, Syaikh ‘Abdullah Ghudayan dan Syaikh ‘Abdullah bin Mani’ sebagai anggota. Fatwa no. 1173, 11/90</p>
<div class="shr-publisher-7206"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Fberhaji-tanpa-mahram.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Fberhaji-tanpa-mahram.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Fberhaji-tanpa-mahram.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/berhaji-tanpa-mahram.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shalat Tarawih bagi Wanita</title>
		<link>http://muslim.or.id/muslimah/shalat-tarawih-bagi-wanita.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/muslimah/shalat-tarawih-bagi-wanita.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Aug 2011 00:00:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[akhwat]]></category>
		<category><![CDATA[Shalat]]></category>
		<category><![CDATA[tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=6674</guid>
		<description><![CDATA[Manakah yang lebih baik bagi wanita, shalat tarawih di masjid ataukah di rumah? Terlebih dahulu kita lihat bersama penjelasan para ulama mengenai shalat tarawih bagi wanita. Fatwa Komisi Tetap dalam Riset Ilmiyyah dan Fatwa di<a class="more" href="http://muslim.or.id/muslimah/shalat-tarawih-bagi-wanita.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Manakah yang lebih baik bagi wanita, shalat tarawih di masjid ataukah di rumah?<em><br />
</em></p>
<p>Terlebih dahulu kita lihat bersama penjelasan para ulama mengenai shalat tarawih bagi wanita.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Fatwa Komisi Tetap dalam Riset Ilmiyyah dan Fatwa di Saudi Arabia</strong></span><br />
<em> </em></p>
<p><em>Soal</em>: Apakah boleh bagi seseorang melaksanakan shalat tarawih sendirian jika dia luput dari shalat berjama’ah? Dan apakah shalat tarawih untuk wanita lebih baik di rumah ataukah di masjid?<br />
<em> </em></p>
<p><em>Jawab</em>: Disyariatkan untuk laki-laki –apabila luput dari shalat jama’ah tarawih-, maka dia menunaikannya sendirian. Adapun shalat tarawih untuk wanita lebih baik dilakukan di rumah daripada di masjid. <em>Wa billahi taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shohbihi wa sallam.</em><br />
Yang menandatangani fatwa ini: Abdullah bin Qo’ud dan Abdullah bin Ghudayan sebagai anggota, ‘Abdur Rozaq ‘Afifi sebagai Wakil Ketua, dan ‘Abdul Aziz bin Baz sebagai Ketua. [1]<br />
<strong> </strong></p>
<p><strong>Penjelasan Syaikh Musthofa Al ‘Adawiy</strong></p>
<p>Jika menimbulkan godaan ketika keluar rumah (ketika melaksanakan shalat tarawih), maka shalat di rumah lebih utama  bagi wanita daripada di masjid. Hal ini berdasarkan hadits dari Ummu Humaid, istri Abu Humaid As Saa’idiy. Ummu Humaid pernah mendatangi Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan berkata bahwa dia sangat senang sekali bila dapat shalat bersama beliau. Kemudian Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<div style="text-align: center;">قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلاَةَ … وَصَلاَتُكِ فِى دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى مَسْجِدِ قَوْمِكِ وَصَلاَتُكِ فِى مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى مَسْجِدِى</div>
<p><em>”Aku telah mengetahui bahwa engkau senang sekali jika dapat shalat bersamaku. &#8230;  Shalatmu di rumahmu lebih baik dari shalatmu di masjid kaummu. Dan shalatmu di masjid kaummu lebih baik daripada shalatmu di masjidku.”</em> [2]</p>
<p>Namun jika wanita tersebut merasa tidak sempurna mengerjakan shalat tarawih tersebut di rumah atau malah malas-malasan, juga jika dia pergi ke masjid akan mendapat faedah lain bukan hanya shalat (seperti dapat mendengarkan nasehat-nasehat agama atau pelajaran dari orang yang berilmu atau dapat pula bertemu dengan wanita-wanita muslimah yang sholihah atau di masjid para wanita yang saling bersua bisa saling mengingatkan untuk banyak mendekatkan diri pada Allah, atau dapat menyimak Al Qur’an dari seorang qori’ yang bagus bacaannya), maka dalam kondisi seperti ini, wanita boleh saja keluar rumah menuju masjid. Hal ini diperbolehkan bagi wanita asalkan dia tetap menutup aurat dengan menggunakan hijab yang sempurna, keluar tanpa memakai harum-haruman (parfum), dan keluarnya pun dengan izin suami. Apabila wanita berkeinginan menunaikan shalat jama’ah di masjid (setelah memperhatikan syarat-syarat tadi), hendaklah suami tidak melarangnya. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<div style="text-align: center;">لاَ تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ</div>
<p>“<em>Janganlah kalian melarang istri-istri kalian untuk ke masjid, namun shalat di rumah mereka (para wanita) tentu lebih baik.</em>” [3]<br />
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,</p>
<div>إِذَا اسْتَأْذَنَكُمْ نِسَاؤُكُمْ إِلَى الْمَسَاجِدِ فَأْذَنُوا لَهُنَّ</div>
<p>“<em>Jika istri kalian meminta izin pada kalian untuk ke masjid, maka izinkanlah mereka.</em>” [4]. Inilah penjelasan Syaikh Musthofa Al Adawi <em>hafizhohullah</em> yang penulis sarikan. [5]<br />
<span style="color: #ff6600;"><strong>Menarik Pelajaran</strong></span></p>
<p>Dari penjelasan para ulama di atas dapat kita simpulkan bahwa shalat tarawih untuk wanita lebih baik adalah di rumahnya apalagi jika dapat menimbulkan fitnah atau godaan. Lihatlah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> masih mengatakan bahwa shalat bagi wanita di rumahnya lebih baik daripada di masjidnya yaitu Masjid Nabawi. Padahal kita telah mengetahui bahwa pahala yang diperoleh akan berlipat-lipat apabila seseorang melaksanakan shalat di masjid beliau yaitu Masjid Nabawi.</p>
<p>Namun apabila pergi ke masjid tidak menimbulkan fitnah (godaan) dan sudah berhijab dengan sempurna, juga di masjid bisa dapat faedah lain selain shalat seperti dapat mendengar nasehat-nasehat dari orang yang berilmu, maka shalat tarawih di masjid diperbolehkan dengan memperhatikan syarat-syarat ketika keluar rumah. Di antara syarat-syarat tersebut adalah:<br />
<strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em>Pertama</em></strong>, menggunakan hijab dengan sempurna ketika keluar rumah sebagaimana perintah Allah agar wanita memakai jilbab dan menutupi seluruh tubuhnya selain wajah dan telapak tangan.<br />
<strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em>Kedua</em></strong>, minta izin kepada suami atau mahrom terlebih dahulu dan hendaklah suami atau mahrom tidak melarangnya.<br />
Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,</p>
<div style="text-align: center;">إِذَا اسْتَأْذَنَكُمْ نِسَاؤُكُمْ إِلَى الْمَسَاجِدِ فَأْذَنُوا لَهُنَّ</div>
<p>“<em>Jika istri kalian meminta izin pada kalian untuk ke masjid, maka izinkanlah mereka.</em>” (HR. Muslim). An Nawawi membawakan hadits ini dalam Bab “Keluarnya wanita ke masjid, jika tidak menimbulkan fitnah dan selama tidak menggunakan harum-haruman.”<br />
<strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em>Ketiga</em></strong>, tidak menggunakan harum-haruman dan perhiasan yang dapat menimbulkan godaan.<br />
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<div style="text-align: center;">أَيُّمَا امْرَأَةٍ أَصَابَتْ بَخُورًا فَلاَ تَشْهَدْ مَعَنَا الْعِشَاءَ الآخِرَةَ</div>
<p>“<em>Wanita mana saja yang memakai harum-haruman, maka janganlah dia menghadiri shalat Isya’ bersama kami</em>.” (HR. Muslim)<br />
Zainab -istri ‘Abdullah- mengatakan bahwa Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam mengatakan pada para wanita,</p>
<div style="text-align: center;">إِذَا شَهِدَتْ إِحْدَاكُنَّ الْمَسْجِدَ فَلاَ تَمَسَّ طِيبًا</div>
<p>“<em>Jika salah seorang di antara kalian ingin mendatangi masjid, maka janganlah memakai harum-haruman</em>.” (HR. Muslim)<br />
<strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em>Keempat</em></strong>, jangan sampai terjadi <em>ikhtilath</em> (campur baur yang terlarang antara pria dan wanita) ketika masuk dan keluar dari masjid.<br />
Dalilnya adalah hadits dari Ummu Salamah:</p>
<div style="text-align: center;">كَانَ رَسُولُ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; إِذَا سَلَّمَ قَامَ النِّسَاءُ حِينَ يَقْضِى تَسْلِيمَهُ ، وَيَمْكُثُ هُوَ فِى مَقَامِهِ يَسِيرًا قَبْلَ أَنْ يَقُومَ . قَالَ نَرَى &#8211; وَاللَّهُ أَعْلَمُ &#8211; أَنَّ ذَلِكَ كَانَ لِكَىْ يَنْصَرِفَ النِّسَاءُ قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُنَّ أَحَدٌ مِنَ الرِّجَالِ</div>
<p>“<em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam salam dan ketika itu para wanita pun berdiri. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tetap berada di tempatnya beberapa saat sebelum dia berdiri. Kami menilai –wallahu a’lam- bahwa hal ini dilakukan agar wanita terlebih dahulu meninggalkan masjid supaya tidak berpapasan dengan kaum pria.</em>” (HR. Bukhari)</p>
<p>Demikian penjelasan kami mengenai shalat tarawih bagi wanita. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita sekalian.</p>
<p>***</p>
<p>Selesai disusun 8 Ramadhan 1430 H di Panggang, Gunung Kidul</p>
<p>Penulis: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-6674"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmuslimah%2Fshalat-tarawih-bagi-wanita.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmuslimah%2Fshalat-tarawih-bagi-wanita.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmuslimah%2Fshalat-tarawih-bagi-wanita.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/muslimah/shalat-tarawih-bagi-wanita.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Memakai Cadar dalam Pandangan 4 Madzhab</title>
		<link>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/hukum-memakai-cadar-dalam-pandangan-4-madzhab.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/hukum-memakai-cadar-dalam-pandangan-4-madzhab.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 May 2011 05:00:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh dan Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[cadar]]></category>
		<category><![CDATA[jilbab]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=6207</guid>
		<description><![CDATA[Wanita bercadar seringkali diidentikkan dengan orang arab atau timur-tengah. Padahal memakai cadar atau menutup wajah bagi wanita adalah ajaran Islam yang didasari dalil-dalil Al Qur&#8217;an, hadits-hadits shahih serta penerapan para sahabat Nabi Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam serta<a class="more" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/hukum-memakai-cadar-dalam-pandangan-4-madzhab.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Wanita bercadar seringkali diidentikkan dengan orang arab atau timur-tengah. Padahal memakai cadar atau menutup wajah bagi wanita adalah ajaran Islam yang didasari dalil-dalil Al Qur&#8217;an, hadits-hadits shahih serta penerapan para sahabat Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> serta para ulama yang mengikuti mereka. Sehingga tidak benar anggapan bahwa hal tersebut merupakan sekedar budaya timur-tengah.</p>
<p>Berikut ini sengaja kami bawakan pendapat-pendapat para ulama madzhab, tanpa menyebutkan pendalilan mereka, untuk membuktikan bahwa pembahasan ini tertera dan dibahas secara gamblang dalam kitab-kitab fiqih 4 madzhab. Lebih lagi, ulama 4 madzhab semuanya menganjurkan wanita muslimah untuk memakai cadar, bahkan sebagiannya sampai kepada anjuran wajib. Beberapa penukilan yang disebutkan di sini hanya secuil saja, karena masih banyak lagi penjelasan-penjelasan serupa dari para ulama madzhab.</p>
<p><strong>Madzhab Hanafi</strong></p>
<p>Pendapat madzhab Hanafi, wajah wanita bukanlah aurat, namun memakai cadar hukumnya sunnah (dianjurkan) dan menjadi wajib jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah.</p>
<p>* Asy Syaranbalali berkata:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">وجميع بدن الحرة عورة إلا وجهها وكفيها باطنهما وظاهرهما في الأصح ، وهو المختار</p>
<p>“Seluruh tubuh wanita adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan dalam serta telapak tangan luar, ini pendapat yang lebih shahih dan merupakan pilihan madzhab kami“ (Matan <em>Nuurul Iidhah</em>)</p>
<p>* Al Imam Muhammad &#8216;Alaa-uddin berkata:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">وجميع بدن الحرة عورة إلا وجهها وكفيها ، وقدميها في رواية ، وكذا صوتها، وليس بعورة على الأشبه ، وإنما يؤدي إلى الفتنة ، ولذا تمنع من كشف وجهها بين الرجال للفتنة</p>
<p>“Seluruh badan wanita adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan dalam. Dalam suatu riwayat, juga telapak tangan luar. Demikian juga suaranya. Namun bukan aurat jika dihadapan sesama wanita. Jika cenderung menimbulkan fitnah, dilarang menampakkan wajahnya di hadapan para lelaki” (<em>Ad Durr Al Muntaqa</em>, 81)</p>
<p>* <em>Al Allamah</em> Al Hashkafi berkata:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">والمرأة كالرجل ، لكنها تكشف وجهها لا رأسها ، ولو سَدَلَت شيئًا عليه وَجَافَتهُ جاز ، بل يندب</p>
<p>“Aurat wanita dalam shalat itu seperti aurat lelaki. Namun wajah wanita itu dibuka sedangkan kepalanya tidak. Andai seorang wanita memakai sesuatu di wajahnya atau menutupnya, boleh, bahkan dianjurkan” (<em>Ad Durr Al Mukhtar</em>, 2/189)</p>
<p>* Al Allamah Ibnu Abidin berkata:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">تُمنَعُ من الكشف لخوف أن يرى الرجال وجهها فتقع الفتنة ، لأنه مع الكشف قد يقع النظر إليها بشهوة</p>
<p>“Terlarang bagi wanita menampakan wajahnya karena khawatir akan dilihat oleh para lelaki, kemudian timbullah fitnah. Karena jika wajah dinampakkan, terkadang lelaki melihatnya dengan syahwat” (<em>Hasyiah &#8216;Alad Durr Al Mukhtaar</em>, 3/188-189)</p>
<p>* Al Allamah Ibnu Najiim berkata:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">قال مشايخنا : تمنع المرأة الشابة من كشف وجهها بين الرجال في زماننا للفتنة</p>
<p>“Para ulama madzhab kami berkata bahwa terlarang bagi wanita muda untuk menampakkan wajahnya di hadapan para lelaki di zaman kita ini, karena dikhawatirkan menimbulkan fitnah” (<em>Al Bahr Ar Raaiq</em>, 284)</p>
<p>Beliau berkata demikian di zaman beliau, yaitu beliau wafat pada tahun 970 H, bagaimana dengan zaman kita sekarang?</p>
<p><strong>Madzhab Maliki</strong></p>
<p>Mazhab Maliki berpendapat bahwa wajah wanita bukanlah aurat, namun memakai cadar hukumnya sunnah (dianjurkan) dan menjadi wajib jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah. Bahkan sebagian ulama Maliki berpendapat seluruh tubuh wanita adalah aurat.</p>
<p>* Az Zarqaani berkata:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">وعورة الحرة مع رجل أجنبي مسلم غير الوجه والكفين من جميع جسدها ، حتى دلاليها وقصَّتها . وأما الوجه والكفان ظاهرهما وباطنهما ، فله رؤيتهما مكشوفين ولو شابة بلا عذر من شهادة أو طب ، إلا لخوف فتنة أو قصد لذة فيحرم ، كنظر لأمرد ، كما للفاكهاني والقلشاني</p>
<p>“Aurat wanita di depan lelaki muslim ajnabi adalah seluruh tubuh selain wajah dan telapak tangan. Bahkan suara indahnya juga aurat. Sedangkan wajah, telapak tangan luar dan dalam, boleh dinampakkan dan dilihat oleh laki-laki walaupun wanita tersebut masih muda baik sekedar melihat ataupun untuk tujuan pengobatan. Kecuali jika khawatir timbul fitnah atau lelaki melihat wanita untuk berlezat-lezat, maka hukumnya haram, sebagaimana haramnya melihat <em>amraad</em>. Hal ini juga diungkapkan oleh Al Faakihaani dan Al Qalsyaani” (<em>Syarh Mukhtashar Khalil</em>, 176)</p>
<p>* Ibnul Arabi berkata:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">والمرأة كلها عورة ، بدنها ، وصوتها ، فلا يجوز كشف ذلك إلا لضرورة ، أو لحاجة ، كالشهادة عليها ، أو داء يكون ببدنها ، أو سؤالها عما يَعنُّ ويعرض عندها</p>
<p>“Wanita itu seluruhnya adalah aurat. Baik badannya maupun suaranya. Tidak boleh menampakkan wajahnya kecuali darurat atau ada kebutuhan mendesak seperti persaksian atau pengobatan pada badannya, atau kita dipertanyakan apakah ia adalah orang yang dimaksud (dalam sebuah persoalan)” (<em>Ahkaamul Qur&#8217;an</em>, 3/1579)</p>
<p>* Al Qurthubi berkata:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">قال ابن خُويز منداد ــ وهو من كبار علماء المالكية ـ : إن المرأة اذا كانت جميلة وخيف من وجهها وكفيها الفتنة ، فعليها ستر ذلك ؛ وإن كانت عجوزًا أو مقبحة جاز أن تكشف وجهها وكفيها</p>
<p>“Ibnu Juwaiz Mandad – ia adalah ulama besar Maliki &#8211; berkata: Jika seorang wanita itu cantik dan khawatir wajahnya dan telapak tangannya menimbulkan fitnah, hendaknya ia menutup wajahnya. Jika ia wanita tua atau wajahnya jelek, boleh baginya menampakkan wajahnya” (<em>Tafsir Al Qurthubi</em>, 12/229)</p>
<p>* Al Hathab berkata:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">واعلم أنه إن خُشي من المرأة الفتنة يجب عليها ستر الوجه والكفين . قاله القاضي عبد الوهاب ، ونقله عنه الشيخ أحمد زرّوق في شرح الرسالة ، وهو ظاهر التوضيح</p>
<p>“Ketahuilah, jika dikhawatirkan terjadi fitnah maka wanita wajib menutup wajah dan telapak tangannya. Ini dikatakan oleh Al Qadhi Abdul Wahhab, juga dinukil oleh Syaikh Ahmad Zarruq dalam Syarhur Risaalah. Dan inilah pendapat yang lebih tepat” (<em>Mawahib Jaliil</em>, 499)</p>
<p>* Al Allamah Al Banaani, menjelaskan pendapat Az Zarqani di atas:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">وهو الذي لابن مرزوق في اغتنام الفرصة قائلًا : إنه مشهور المذهب ، ونقل الحطاب أيضًا الوجوب عن القاضي عبد الوهاب ، أو لا يجب عليها ذلك ، وإنما على الرجل غض بصره ، وهو مقتضى نقل مَوَّاق عن عياض . وفصَّل الشيخ زروق في شرح الوغليسية بين الجميلة فيجب عليها ، وغيرها فيُستحب</p>
<p>“Pendapat tersebut juga dikatakan oleh Ibnu Marzuuq dalam kitab <em>Ightimamul Furshah</em>, ia berkata: &#8216;Inilah pendapat yang masyhur dalam madzhab Maliki&#8217;. Al Hathab juga menukil perkataan Al Qadhi Abdul Wahhab bahwa hukumnya wajib. Sebagian ulama Maliki menyebutkan pendapat bahwa hukumnya tidak wajib namun laki-laki wajib menundukkan pandangannya. Pendapat ini dinukil Mawwaq dari Iyadh. Syaikh Zarruq dalam kitab <em>Syarhul Waghlisiyyah</em> merinci, jika cantik maka wajib, jika tidak cantik maka sunnah” (<em>Hasyiyah &#8216;Ala Syarh Az Zarqaani, </em>176)</p>
<p><strong>Madzhab Syafi&#8217;i</strong></p>
<p>Pendapat madzhab Syafi&#8217;i, aurat wanita di depan lelaki ajnabi (bukan mahram) adalah seluruh tubuh. Sehingga mereka mewajibkan wanita memakai cadar di hadapan lelaki ajnabi. Inilah pendapat <em>mu&#8217;tamad</em> madzhab Syafi&#8217;i.</p>
<p>* Asy Syarwani berkata:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">إن لها ثلاث عورات : عورة في الصلاة ، وهو ما تقدم ـ أي كل بدنها ما سوى الوجه والكفين . وعورة بالنسبة لنظر الأجانب إليها : جميع بدنها حتى الوجه والكفين على المعتمد وعورة في الخلوة وعند المحارم : كعورة الرجل »اهـ ـ أي ما بين السرة والركبة ـ</p>
<p>“Wanita memiliki tiga jenis aurat, (1) aurat dalam shalat -sebagaimana telah dijelaskan- yaitu seluruh badan kecuali wajah dan telapak tangan, (2) aurat terhadap pandangan lelaki ajnabi, yaitu seluruh tubuh termasuk wajah dan telapak tangan, menurut pendapat yang <em>mu&#8217;tamad</em>, (3) aurat ketika berdua bersama yang mahram, sama seperti laki-laki, yaitu antara pusar dan paha” (<em>Hasyiah Asy Syarwani &#8216;Ala Tuhfatul Muhtaaj</em>, 2/112)</p>
<p>* Syaikh Sulaiman Al Jamal berkata:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">غير وجه وكفين : وهذه عورتها في الصلاة . وأما عورتها عند النساء المسلمات مطلقًا وعند الرجال المحارم ، فما بين السرة والركبة . وأما عند الرجال الأجانب فجميع البدن</p>
<p>“Maksud perkataan An Nawawi &#8216;aurat wanita adalah selain wajah dan telapak tangan&#8217;, ini adalah aurat di dalam shalat. Adapun aurat wanita muslimah secara mutlak di hadapan lelaki yang masih mahram adalah antara pusar hingga paha. Sedangkan di hadapan lelaki yang bukan mahram adalah seluruh badan” (<em>Hasyiatul Jamal Ala&#8217; Syarh Al Minhaj</em>, 411)</p>
<p>* Syaikh Muhammad bin Qaasim Al Ghazzi, penulis <em>Fathul Qaarib</em>, berkata:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">وجميع بدن المرأة الحرة عورة إلا وجهها وكفيها ، وهذه عورتها في الصلاة ، أما خارج الصلاة فعورتها جميع بدنها</p>
<p>“Seluruh badan wanita selain wajah dan telapak tangan adalah aurat. Ini aurat di dalam shalat. Adapun di luar shalat, aurat wanita adalah seluruh badan” (<em>Fathul Qaarib</em>, 19)</p>
<p>* Ibnu Qaasim Al Abadi berkata:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">فيجب ما ستر من الأنثى ولو رقيقة ما عدا الوجه والكفين . ووجوب سترهما في الحياة ليس لكونهما عورة ، بل لخوف الفتنة غالبًا</p>
<p>“Wajib bagi wanita menutup seluruh tubuh selain wajah telapak tangan, walaupun penutupnya tipis. Dan wajib pula menutup wajah dan telapak tangan, bukan karena keduanya adalah aurat, namun karena secara umum keduanya cenderung menimbulkan fitnah” (<em>Hasyiah Ibnu Qaasim &#8216;Ala Tuhfatul Muhtaaj</em>, 3/115)</p>
<p>* Taqiyuddin Al Hushni, penulis <em>Kifaayatul Akhyaar</em>, berkata:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">ويُكره أن يصلي في ثوب فيه صورة وتمثيل ، والمرأة متنقّبة إلا أن تكون في مسجد وهناك أجانب لا يحترزون عن النظر ، فإن خيف من النظر إليها ما يجر إلى الفساد حرم عليها رفع النقاب</p>
<p>“Makruh hukumnya shalat dengan memakai pakaian yang bergambar atau lukisan. Makruh pula wanita memakai niqab (cadar) ketika shalat. Kecuali jika di masjid kondisinya sulit terjaga dari pandnagan lelaki ajnabi. Jika wanita khawatir dipandang oleh lelaki ajnabi sehingga menimbulkan kerusakan, haram hukumnya melepaskan niqab (cadar)” (<em>Kifaayatul Akhyaar</em>, 181)</p>
<p><strong>Madzhab Hambali</strong></p>
<p>* Imam Ahmad bin Hambal berkata:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">كل شيء منها ــ أي من المرأة الحرة ــ عورة حتى الظفر</p>
<p>“Setiap bagian tubuh wanita adalah aurat, termasuk pula kukunya” (Dinukil dalam <em>Zaadul Masiir</em>, 6/31)</p>
<p>* Syaikh Abdullah bin Abdil Aziz Al &#8216;Anqaari, penulis <em>Raudhul Murbi&#8217;</em>, berkata:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">« وكل الحرة البالغة عورة حتى ذوائبها ، صرح به في الرعاية . اهـ إلا وجهها فليس عورة في الصلاة . وأما خارجها فكلها عورة حتى وجهها بالنسبة إلى الرجل والخنثى وبالنسبة إلى مثلها عورتها ما بين السرة إلى الركبة</p>
<p>“Setiap bagian tubuh wanita yang baligh adalah aurat, termasuk pula sudut kepalanya. Pendapat ini telah dijelaskan dalam kitab <em>Ar Ri&#8217;ayah</em>&#8230; kecuali wajah, karena wajah bukanlah aurat di dalam shalat. Adapun di luar shalat, semua bagian tubuh adalah aurat, termasuk pula wajahnya jika di hadapan lelaki atau di hadapan banci. Jika di hadapan sesama wanita, auratnya antara pusar hingga paha” (<em>Raudhul Murbi&#8217;</em>, 140)</p>
<p>* Ibnu Muflih berkata:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">« قال أحمد : ولا تبدي زينتها إلا لمن في الآية ونقل أبو طالب :ظفرها عورة ، فإذا خرجت فلا تبين شيئًا ، ولا خُفَّها ، فإنه يصف القدم ، وأحبُّ إليَّ أن تجعل لكـمّها زرًا عند يدها</p>
<p>“Imam Ahmad berkata: &#8216;Maksud ayat tersebut adalah, <em>janganlah mereka (wanita) menampakkan perhiasan mereka kecuali kepada orang yang disebutkan di dalam ayat</em>&#8216;. Abu Thalib menukil penjelasan dari beliau (Imam Ahmad): &#8216;Kuku wanita termasuk aurat. Jika mereka keluar, tidak boleh menampakkan apapun bahkan <em>khuf</em> (semacam kaus kaki), karena <em>khuf</em> itu masih menampakkan lekuk kaki. Dan aku lebih suka jika mereka membuat semacam kancing tekan di bagian tangan&#8217;” (<em>Al Furu&#8217;</em>, 601-602)</p>
<p>* Syaikh Manshur bin Yunus bin Idris Al Bahuti, ketika menjelaskan matan <em>Al Iqna&#8217;</em> , ia berkata:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">« وهما » أي : الكفان . « والوجه » من الحرة البالغة « عورة خارجها » أي الصلاة « باعتبار النظر كبقية بدنها »</p>
<p>“&#8217;Keduanya, yaitu dua telapak tangan dan wajah adalah aurat di luar shalat karena adanya pandangan, sama seperti anggota badan lainnya” (<em>Kasyful Qanaa&#8217;</em>, 309)</p>
<p>* Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">القول الراجح في هذه المسألة وجوب ستر الوجه عن الرجال الأجانب</p>
<p>“Pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah wajib hukumnya bagi wanita untuk menutup wajah dari pada lelaki <em>ajnabi</em>” (<em>Fatawa Nurun &#8216;Alad Darb</em>, <a href="http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_4913.shtml">http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_4913.shtml</a>)</p>
<p><strong>Cadar Adalah Budaya Islam</strong></p>
<p>Dari pemaparan di atas, jelaslah bahwa memakai cadar (dan juga jilbab) bukanlah sekedar budaya timur-tengah, namun budaya Islam dan ajaran Islam yang sudah diajarkan oleh para ulama Islam sebagai pewaris para Nabi yang memberikan pengajaran kepada seluruh umat Islam, bukan kepada masyarakat timur-tengah saja. Jika memang budaya Islam ini sudah dianggap sebagai budaya lokal oleh masyarakat timur-tengah, maka tentu ini adalah perkara yang baik. Karena memang demikian sepatutnya, seorang muslim berbudaya Islam.</p>
<p>Diantara bukti lain bahwa cadar (dan juga jilbab) adalah budaya Islam :</p>
<p>1.     Sebelum turun ayat yang memerintahkan berhijab atau berjilbab, budaya masyarakat arab Jahiliyah adalah menampakkan aurat, bersolek jika keluar rumah, berpakaian seronok atau disebut dengan <em>tabarruj</em>. Oleh karena itu Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ</p>
<p>“<em>Hendaknya kalian (wanita muslimah), berada di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian ber-tabarruj sebagaimana yang dilakukan wanita jahiliyah terdahulu</em>” (QS. Al Ahzab: 33)</p>
<p>Sedangkan, yang disebut dengan jahiliyah adalah masa ketika Rasulullah <em>Shallalahu&#8217;alihi Wasallam</em> belum di utus. Ketika Islam datang, Islam mengubah budaya buruk ini dengan memerintahkan para wanita untuk berhijab. Ini membuktikan bahwa hijab atau jilbab adalah budaya yang berasal dari Islam.</p>
<p>2.     Ketika turun ayat hijab, para wanita muslimah yang beriman kepada Rasulullah <em>Shallalahu&#8217;alaihi Wasallam </em>seketika itu mereka mencari kain apa saja yang bisa menutupi aurat mereka.  ‘Aisyah <em>Radhiallahu&#8217;anha</em> berkata:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">مَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ ( وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ ) أَخَذْنَ أُزْرَهُنَّ فَشَقَّقْنَهَا مِنْ قِبَلِ الْحَوَاشِي فَاخْتَمَرْنَ بِهَا</p>
<p>“(Wanita-wanita Muhajirin), ketika turun ayat ini: “<em>Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada (dan leher) mereka.</em>” (QS. <del>Al Ahzab</del> An Nuur: 31), mereka merobek selimut mereka lalu mereka berkerudung dengannya.” (HR. Bukhari 4759)</p>
<p>Menunjukkan bahwa sebelumnya mereka tidak berpakaian yang menutupi aurat-aurat mereka sehingga mereka menggunakan kain yang ada dalam rangka untuk mentaati ayat tersebut.</p>
<p>Singkat kata, para ulama sejak dahulu telah membahas hukum memakai cadar bagi wanita. Sebagian mewajibkan, dan sebagian lagi berpendapat hukumnya sunnah. Tidak ada diantara mereka yang mengatakan bahwa pembahasan ini hanya berlaku bagi wanita muslimah arab atau timur-tengah saja. Sehingga tidak benar bahwa memakai cadar itu aneh, ekstrim, berlebihan dalam beragama, atau ikut-ikutan budaya negeri arab.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penukilan pendapat-pendapat para ulama di atas merupakan kesungguhan dari akhi Ahmad Syabib dalam forum <em>Fursanul Haq</em> (<a href="http://www.forsanelhaq.com/showthread.php?t=83503">http://www.forsanelhaq.com/showthread.php?t=83503</a>)</p>
<p>Penerjemah: <a href="http://kangaswad.wordpress.com">Yulian Purnama</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-6207"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Fhukum-memakai-cadar-dalam-pandangan-4-madzhab.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Fhukum-memakai-cadar-dalam-pandangan-4-madzhab.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Fhukum-memakai-cadar-dalam-pandangan-4-madzhab.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/hukum-memakai-cadar-dalam-pandangan-4-madzhab.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kajian Umum untuk Muslimah “Kado Terindah untuk Saudariku Muslimah” (Yogyakarta, Mei 2011)</title>
		<link>http://muslim.or.id/info-dauroh-dan-kajian/kajian-umum-untuk-muslimah-%e2%80%9ckado-terindah-untuk-saudariku-muslimah%e2%80%9d-yogyakarta-mei-2011.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/info-dauroh-dan-kajian/kajian-umum-untuk-muslimah-%e2%80%9ckado-terindah-untuk-saudariku-muslimah%e2%80%9d-yogyakarta-mei-2011.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 May 2011 01:35:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yhouga</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Dauroh dan Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[akhwat]]></category>
		<category><![CDATA[kajian]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=6084</guid>
		<description><![CDATA[Kajian Umum untuk Muslimah “Kado Terindah untuk Saudariku Muslimah” Hari dan Tanggal : Hari Sabtu, Ahad, Selasa, Sabtu tanggal 14, 15, 17, 21 Mei 2011. Waktu : 08.00 – 11.30 WIB Tempat : Masjid Ibnu<a class="more" href="http://muslim.or.id/info-dauroh-dan-kajian/kajian-umum-untuk-muslimah-%e2%80%9ckado-terindah-untuk-saudariku-muslimah%e2%80%9d-yogyakarta-mei-2011.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><strong>Kajian Umum untuk Muslimah</strong></p>
<p><strong><em>“Kado Terindah untuk Saudariku Muslimah”</em></strong></p>
<p><strong>Hari dan Tanggal : </strong></p>
<p>Hari Sabtu, Ahad, Selasa, Sabtu tanggal 14, 15, 17, 21 Mei 2011.</p>
<p><strong>Waktu :</strong></p>
<p>08.00 – 11.30 WIB</p>
<p><strong>Tempat :</strong></p>
<p>Masjid Ibnu Sina, Fakultas Kedokteran UGM</p>
<p><strong>Pemateri :</strong></p>
<p>Sabtu, 14 Mei 2011 :</p>
<p>Ustadz Abdussalam, tema: Pentingnya Menuntut Ilmu Syar’i bagi Muslimah</p>
<p>Ahad, 15 Mei 2011  :</p>
<p>Ustadz Abu Sa’ad, tema : Memahami Islam dengan Pemahaman para Shahabat</p>
<p>Selasa, 17 Mei 2011 :</p>
<p>Ustadzah Ummu Yasir, tema : Muslimah Penggenggam Bara Api</p>
<p>Sabtu, 21 Mei 2011 :</p>
<p>Ustadzah Ummu Hindun, tema : Peran Muslimah dalam Dakwah</p>
<p><strong>Sifat Kajian :</strong></p>
<p>Gratis, dan Khusus bagi Muslimah</p>
<p><strong>Penyelenggara :</strong></p>
<p>Forum Kegiatan Kemuslimahan Al-Atsary (FKKA)</p>
<p>Sekretariat: Wisma Roudhotul Ilmi</p>
<p>Pogung Dalangan SIA XVI RT 10/50 No 27A Sinduadi  Mlati  Sleman Yogyakarta.</p>
<p>CP: 0852 2801 6597 / 0852 9299 5015</p>
<p><img class="aligncenter" title="Dauroh Muslimah Mei" src="http://andisgallery.files.wordpress.com/2011/05/kado-untuk-muslimah.png" alt="" width="453" height="640" /></p>
<p><strong> </strong></p>
<div class="shr-publisher-6084"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Finfo-dauroh-dan-kajian%2Fkajian-umum-untuk-muslimah-%25e2%2580%259ckado-terindah-untuk-saudariku-muslimah%25e2%2580%259d-yogyakarta-mei-2011.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Finfo-dauroh-dan-kajian%2Fkajian-umum-untuk-muslimah-%25e2%2580%259ckado-terindah-untuk-saudariku-muslimah%25e2%2580%259d-yogyakarta-mei-2011.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Finfo-dauroh-dan-kajian%2Fkajian-umum-untuk-muslimah-%25e2%2580%259ckado-terindah-untuk-saudariku-muslimah%25e2%2580%259d-yogyakarta-mei-2011.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/info-dauroh-dan-kajian/kajian-umum-untuk-muslimah-%e2%80%9ckado-terindah-untuk-saudariku-muslimah%e2%80%9d-yogyakarta-mei-2011.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ibadah Bagi Wanita di Masa Haidh</title>
		<link>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/ibadah-bagi-wanita-di-masa-haidh.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/ibadah-bagi-wanita-di-masa-haidh.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Dec 2010 00:00:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh dan Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[akhwat]]></category>
		<category><![CDATA[haidh]]></category>
		<category><![CDATA[membaca al quran]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[nifas]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=5267</guid>
		<description><![CDATA[Apa saja ibadah yang dibolehkan bagi wanita di kala haidh? Ada penjelasan amat bagus dari seorang ulama besar saat ini, Syaikh Kholid Al Mushlih, murid senior Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah. Syaikh Kholid<a class="more" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/ibadah-bagi-wanita-di-masa-haidh.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Apa saja ibadah yang dibolehkan bagi wanita di kala haidh? Ada penjelasan amat bagus dari seorang ulama besar saat ini, Syaikh Kholid Al Mushlih, murid senior Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin <em>rahimahullah</em>.</p>
<p>Syaikh Kholid bin ‘Abdillah Al Mushlih <em>hafizhohullah </em>menerangkan:</p>
<p>Haidh dan nifas adalah suatu ketetapan Allah bagi kaum hawa karena ada hikmah dan rahmat di balik itu semua. Para ulama telah sepakat (baca: ijma’) bahwa wanita haidh dan nifas dilarang melakukan shalat yang wajib maupun yang sunnah, serta tidak perlu mengqodho’ (mengganti) shalatnya.  Begitu pula para ulama sepakat bahwa wanita haidh dan nifas dilarang berpuasa yang wajib maupun yang sunnah selama masa haidhnya. Namun mereka wajib mengqodho’ puasanya tersebut. Para ulama pun sepakat bahwa wanita haidh dan nifas boleh untuk berdzikir dengan bacaan <em>tasbih</em> (subhanallah), <em>tahlil</em> (laa ilaha illallah), dan dzikir lainnya. Adapun membaca Al Qur’an tentang bolehnya bagi wanita haidh dan nifas terdapat perselisihan pendapat. Yang tepat dalam hal ini, <em>tidak mengapa wanita haidh dan nifas membaca Al Qur’an sebagaimana akan datang penjelasannya</em>. Begitu pula tidak mengapa wanita haidh dan nifas melakukan amalan sholih lainnya selain yang telah kami sebutkan ditambah thowaf.</p>
<p>Dalam riwayat Bukhari (294) dan Muslim (1211) dari jalur ‘Abdurrahman bin Al Qosim, dari Al Qosim bin Muhammad, dari ‘Aisyah, ia berkata, “Aku pernah keluar, aku tidak ingin melakukan kecuali haji. Namun ketika itu aku mendapati haidh. Lalu Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> akhirnya mendatangiku sedangkan aku dalam keadaan menangis. Belia berkata, “Apa engkau mendapati haidh?” Aku menjawab, “Iya.” Beliau bersabda, “Ini sudah jadi ketetapan Allah bagi kaum hawa. Lakukanlah segala sesuatu sebagaimana yang dilakukan orang yang berhaji kecuali thowaf keliling Ka’bah.”</p>
<p>Dari sini maka hendaklah laki-laki dan perempuan bersemangat untuk melakukan berbagai kebaikan. Tidak sepantasnya melarang wanita di masa haidh dan nifasnya dari berbagai kebaikan lainnya karena ini merupakan tipu daya syaithon. Mereka hanya terlarang melakukan shalat, puasa, dan thowaf, sedangkan yang lainnya mereka boleh menyibukkan diri dengannya.</p>
<p>Adapun khusus untuk membaca Al Qur’an bagi wanita haidh, maka di sini terdapat perselisihan di kalangan para ulama <em>rahimahullah</em>. Ada tiga pendapat dalam masalah ini:</p>
<p><em>Pendapat pertama</em>: Bolehnya membaca Al Qur’an bagi wanita haidh dan nifas, asalkan tidak menyentuh mushaf Al Qur’an. Inilah pendapat dari Imam Malik, juga salah satu pendapat dari Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad. Pendapat ini juga dipilih oleh Imam Al Bukhari, Daud Azh Zhohiri, dan Ibnu Hazm.</p>
<p><em>Pendapat kedua</em>: Bolehnya membaca sebagian Al Qur’an, satu atau dua ayat, bagi wanita haidh dan nifas. Ada yang menyebutkan bahwa tidak terlarang membaca Al Qur’an kurang dari satu ayat.</p>
<p><em>Pendapat ketiga</em>: Diharamkan membaca Al Qur’ab bagi wanita haidh dan nifas walaupun hanya sebagian saja. Inilah pendapat mayoritas ulama, yakni ulama Hanafiyah, ulama Syafi’iyah, ulama Hambali dan selainnya. Imam At Tirmidzi mengatakan bahwa inilah pendapat kebanyakan ulama dari kalangan sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, kalangan tabi’in dan ulama setelahnya.</p>
<p>Setiap pendapat di atas memiliki dalil pendukung masing-masing. <em>Namun yang terkuat menurut kami adalah bolehnya membaca Al Qur’an bagi wanita haidh dan nifas</em>. Inilah pendapat yang lebih mendekati kebenaran. Seandainya wanita haidh terlarang membaca Al Qur’an, tentu saja Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> akan menjelaskannya dengan penjelasan yang benar-benar gamblang, lalu tersampaikanlah pada kita dari orang-orang yang tsiqoh (terpercaya). Jika memang benar ada pelarangan membaca Al Qur’an bagi wanita haidh dan nifas, tentu akan ada penjelasannya sebagaimana diterangkan adanya larangan shalat dan puasa bagi mereka. Kita tidak bisa berargumen dengan dalil pelarangan hal ini karena para ulama sepakat akan kedho’ifannya. Hadits yang dikatakan bahwa para ulama sepakat mendho’ifkannya adalah hadits yang diriwayatkan oleh At Tirmidzi dari Ibnu ‘Umar <em>radhiyallahu ‘anhu </em>secara marfu’ (sampai pada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>),</p>
<p>لا تقرأ الحائض ولا الجنب شيئاً من القرآن</p>
<p>“<em>Tidak boleh membaca Al Qur’an sedikit pun juga bagi wanita haidh dan orang yang junub</em>.” Imam Ahmad telah membicarakan hadits ini sebagaimana anaknya menanyakannya pada beliau lalu dinukil oleh Al ‘Aqili dalam Adh Dhu’afa’ (90), “<em>Hadits ini batil. Isma’il bin ‘Iyas mengingkarinya</em>.” Abu Hatim juga telah menyatakan hal yang sama sebagaimana dinukil oleh anaknya dalam Al ‘Ilal (1/49). Begitu pula Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Fatawanya (21/460), “<em>Hadits ini adalah hadits dho’if sebagaimana kesepakatan para ulama pakar hadits</em>.”</p>
<p>Ibnu Taimiyah mengatakan dalam Fatawanya (26/191), “Hadits ini tidak diketahui sanadnya sampai Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Hadits ini sama sekali tidak disampaikan oleh Ibnu ‘Umar, tidak pula Nafi’, tidak pula dari Musa bin ‘Uqbah, yang di mana sudah sangat ma’ruf banyak hadits dinukil dari mereka. Para wanita di masa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga sudang seringkali mengalami haidh, seandainya terlarangnya membaca Al Qur’an bagi wanita haidh/nifas sebagaimana larangan shalat dan puasa bagi mereka, maka tentu saja Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> akan menerangkan hal ini pada umatnya. Begitu pula para istri Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengetahuinya dari beliau. Tentu saja hal ini akan dinukil di tengah-tengah manusia (para sahabat). Ketika tidak ada satu pun yang menukil larangan ini dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, maka tentu saja membaca Al Qur’an bagi mereka tidak bisa dikatakan haram. Karena senyatanya, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melarang hal ini. Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak melarangnya padahal begitu sering ada kasus haidh di masa itu, maka tentu saja hal ini tidaklah diharamkan.”</p>
<p>Syaikhul Islam telah menjelaskan secara global tentang pembolehan membaca Al Qur’an bagi wanita haidh dengan menyebutkan kelemahan hadits yang membicarakan hal itu. Syaikhul Islam mengatakan dalam Majmu’ Al Fatawa (21/460), “Sudah begitu maklum bahwa wanita sudah seringkali mengalami haidh di masa beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, namun tidak ditemukan bukti beliau melarang membaca Al Qur’an kala itu. Sebagaimana pula beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidak melarang berdzikir dan berdo’a bagi mereka. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri memerintahkan kepada para wanita untuk keluar saat ied, lalu bertakbir bersama kaum muslimin. Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pun memerintahkan kepada wanita haidh untuk menunaikan seluruh manasik kecuali thawaf keliling ka’bah. Begitu pula wanita boleh bertalbiyah meskipun ia dalam keadaan haidh. Mereka bisa melakukan manasik di Muzdalifah dan Mina, juga boleh melakukan syi’ar lainnya.”</p>
<p>Fatwa 22-8-1427</p>
<p>Sumber: <a href="http://www.islamway.com/?iw_s=Fatawa&amp;iw_a=view&amp;fatwa_id=33636">http://www.islamway.com/?iw_s=Fatawa&amp;iw_a=view&amp;fatwa_id=33636</a></p>
<p><strong>Kesimpulannya</strong>: Wanita haidh dan nifas masih boleh membaca Al Qur’an namun tidak boleh menyentuhnya. Jika ingin menyentuhnya hendaknya menggunakan sarung tangan dan pembatas lainnya sebagaimana pernah diterangkan di website ini <a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/menyentuh-mushaf-al-quran-bagi-orang-yang-berhadats.html"><strong>di sini</strong></a>.</p>
<p>Penyusun: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-5267"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Fibadah-bagi-wanita-di-masa-haidh.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Fibadah-bagi-wanita-di-masa-haidh.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Fibadah-bagi-wanita-di-masa-haidh.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/ibadah-bagi-wanita-di-masa-haidh.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perselisihan Ulama Mengenai Puasa Wanita Hamil dan Menyusui</title>
		<link>http://muslim.or.id/ramadhan/perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/ramadhan/perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Aug 2010 07:00:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[fidyah]]></category>
		<category><![CDATA[hamil]]></category>
		<category><![CDATA[ibu hamil]]></category>
		<category><![CDATA[ibu menyusui]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[qodho]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=4478</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Di antara kemudahan dalam syar’at Islam adalah memberi keringanan kepada wanita hamil dan menyusui untuk tidak berpuasa. Jika<a class="more" href="http://muslim.or.id/ramadhan/perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><em>Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. </em></p>
<p>Di antara kemudahan dalam syar’at Islam adalah memberi keringanan kepada wanita hamil dan menyusui untuk tidak berpuasa. Jika wanita hamil takut terhadap janin yang berada dalam kandungannya dan wanita menyusui takut terhadap bayi yang dia sapih –misalnya takut kurangnya susu- karena sebab keduanya berpuasa, maka boleh baginya untuk tidak berpuasa, dan hal ini tidak ada perselisihan di antara para ulama. Dalil yang menunjukkan hal ini adalah sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p style="text-align: center;">إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَضَعَ عَنِ الْمُسَافِرِ شَطْرَ الصَّلاَةِ وَعَنِ الْمُسَافِرِ وَالْحَامِلِ وَالْمُرْضِعِ الصَّوْمَ أَوِ الصِّيَامَ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya Allah &#8216;azza wa jalla meringankan setengah shalat untuk musafir dan meringankan puasa bagi musafir, wanita hamil dan menyusui.</em>”<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Perselisihan Ulama</strong></span></p>
<p>Namun apa kewajiban wanita hamil dan menyusui jika tidak berpuasa, apakah ada qodho’ ataukah mesti menunaikan fidyah? Inilah yang diperselisihkan oleh para ulama.</p>
<p>Al Jashshosh <em>rahimahullah </em>mengatakan, “Para ulama salaf telah berselisih pendapat dalam masalah ini menjadi tiga pendapat. ‘Ali berpendapat bahwa wanita hamil dan menyusui wajib qodho’ jika keduanya tidak berpuasa dan tidak ada fidyah ketika itu. Pendapat ini juga menjadi pendapat Ibrahim, Al Hasan dan ‘Atho’. Ibnu ‘Abbas berpendapat cukup keduanya membayar fidyah saja, tanpa ada qodho’. Sedangkan Ibnu ‘Umar dan Mujahid berpendapat bahwa keduanya harus menunaikan fidyah sekaligus qodho’.”<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Lengkapnya dalam masalah ini ada lima pendapat.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Pendapat pertama</span>: wajib mengqodho’ (mengganti) puasa dan memberi makan kepada orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan. Inilah pendapat Imam Asy Syafi’i, Imam Malik dan Imam Ahmad. Namun menurut ulama Syafi’iyah dan Hanabilah, jika wanita hamil dan menyusui takut sesuatu membahayakan dirinya (tidak anaknya), maka wajib baginya mengqodho’ puasa saja karena keduanya disamakan seperti orang sakit.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Pendapat kedua</span>: cukup mengqodho’ saja. Inilah pendapat Al Auza’i, Ats Tsauriy, Abu Hanifah dan murid-muridnya, Abu Tsaur dan Abu ‘Ubaid.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Pendapat ketiga</span>: cukup memberi makan kepada orang miskin tanpa mengqodho’. Inilah pendapat Ibnu Abbas, Ibnu ‘Umar, Ishaq, dan Syaikh Al Albani.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Pendapat keempat</span>: mengqodho’ bagi yang hamil sedangkan bagi wanita menyusui adalah dengan mengqodho’ dan memberi makan kepada orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan. Inilah pendapat Imam Malik dan ulama Syafi’iyah.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Pendapat kelima</span>: tidak mengqodho’ dan tidak pula memberi makan kepada orang miskin. Inilah pendapat Ibnu Hazm.<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Dalil Ulama yang Mengharuskan Penunaian Fidyah</strong></span></p>
<p>Firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p style="text-align: center;">وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ</p>
<p>“<em>Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin</em>” (QS. Al Baqarah: 184). Menurut ulama yang berpendapat seperti ini, mereka mengatakan bahwa kewajiban fidyah masih berlaku bagi orang yang sudah tua renta, juga bagi wanita hamil dan menyusui.</p>
<p>Dari Ibnu ‘Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>, beliau berkata,</p>
<p style="text-align: center;">رخص للشيخ الكبير والعجوز الكبيرة في ذلك وهما يطيقان الصوم أن يفطرا إن شاءا ويطعما كل يوم مسكينا ولا قضاء عليهما ثم نسخ ذلك في هذه الاية : ( فمن شهد منكم الشهر فليصمه ) وثبت للشيخ الكبير والعجوز الكبيرة لذا كانا لا يطيقان الصوم والحبلى والمرضع إذا خافتا أفطرتا وأطعمتا كل يوم مسكينا</p>
<p>“Keringanan dalam hal ini adalah bagi orang yang tua renta dan wanita tua renta, lalu mereka mampu berpuasa. Mereka berdua berbuka jika mereka mau dan memberi makan kepada orang miskin setiap hari yang ditinggalkan, pada saat ini tidak ada qodho’ bagi mereka. Kemudian hal ini dihapus dengan ayat (yang artinya): “<em>Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu</em>”. Namun hukum fidyah ini masih tetap ada bagi orang yang tua renta dan wanita tua renta jika mereka tidak mampu berpuasa. Kemudian bagi wanita hamil dan menyusui jika khawatir mendapat bahaya, maka dia boleh berbuka (tidak berpuasa) dan memberi makan orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan.” <a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Dalam riwayat Abu Daud,</p>
<p style="text-align: center;">عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ (وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ) قَالَ كَانَتْ رُخْصَةً لِلشَّيْخِ الْكَبِيرِ وَالْمَرْأَةِ الْكَبِيرَةِ وَهُمَا يُطِيقَانِ الصِّيَامَ أَنْ يُفْطِرَا وَيُطْعِمَا مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا وَالْحُبْلَى وَالْمُرْضِعُ إِذَا خَافَتَا &#8211; قَالَ أَبُو دَاوُدَ يَعْنِى عَلَى أَوْلاَدِهِمَا &#8211; أَفْطَرَتَا وَأَطْعَمَتَا.</p>
<p>Dari Ibnu ‘Abbas, mengenai firman Allah (yang artinya), “<em>Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin</em>,”<a href="#_ftn5">[5]</a> beliau mengatakan, “Ayat ini menunjukkan keringanan bagi laki-laki dan perempuan yang sudah tua renta dan mereka merasa berat berpuasa, mereka dibolehkan untuk tidak berpuasa, namun mereka diharuskan untuk memberi makan setiap hari satu orang miskin sebagai ganti tidak berpuasa. Hal ini juga berlaku untuk wanita hamil dan menyusui jika keduanya khawatir –Abu Daud mengatakan: khawatir pada keselamatan anaknya-, mereka dibolehkan tidak berpuasa, namun keduanya tetap memberi makan (kepada orang miskin).”<a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Dalam perkataan lainnya, Ibnu &#8216;Abbas menyamakan wanita hamil dan menyusui dengan tua renta yaitu sama dalam membayar fidyah. Dari Ibnu ‘Abbas, beliau dulu pernah menyuruh wanita hamil untuk tidak berpuasa di bulan Ramadhan. Beliau mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;">أنت بمنزلة الكبير لا يطيق الصيام ، فأفطري وأطعمي عن كل يوم نصف صاع من حنطة</p>
<p>“Engkau seperti orang tua yang tidak mampu berpuasa, maka berbukalah dan berilah makan kepada orang miskin setengah sho’ gandum untuk setiap hari yang ditinggalkan.”<a href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Begitu pula hal yang sama dilakukan oleh Ibnu ‘Umar. Dari Nafi’, dia berkata,</p>
<p style="text-align: center;">كانت بنت لابن عمر تحت رجل من قريش وكانت حاملا فأصابها عطش في رمضان فأمرها إبن عمر أن تفطر وتطعم عن كل يوم مسكينا</p>
<p>“Putri Ibnu Umar yang menikah dengan orang Quraisy sedang hamil. Ketika berpuasa di bulan Ramadhan, dia merasa  kehausan. Kemudian Ibnu ‘Umar memerintahkan putrinya tersebut untuk berbuka dan memberi makan orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan.”<a href="#_ftn8">[8]</a> <a href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Dalil Ulama yang Mengharuskan Qodho’</strong></span></p>
<p><strong>Alasan pertama</strong>: Dari Anas bin Malik, ia berkata,</p>
<p style="text-align: center;">إِنَّ اللَّهَ وَضَعَ عَنْ الْمُسَافِرِ نِصْفَ الصَّلَاةِ وَالصَّوْمَ وَعَنْ الْحُبْلَى وَالْمُرْضِعِ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya Allah meringankan separuh shalat dari musafir, juga puasa dari wanita hamil dan menyusui.</em>”<a href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p>Al Jashshosh <em>rahimahullah </em>menjelaskan,</p>
<p>“Keringanan separuh shalat tentu saja khusus bagi musafir. Para ulama tidak ada beda pendapat mengenai wanita hamil dan menyusui bahwa mereka tidak dibolehkan mengqoshor shalat. &#8230; Keringanan puasa bagi wanita hamil dan menyusui sama halnya dengan keringanan puasa bagi musafir. &#8230; Dan telah diketahui bahwa keringanan puasa bagi musafir yang tidak berpuasa adalah mengqodhonya, tanpa adanya fidyah. Maka berlaku pula yang demikian pada wanita hamil dan menyusui. Dari sini juga menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara wanita hamil dan menyusui jika keduanya khawatir membahayakan dirinya atau anaknya (ketika mereka berpuasa) karena Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sendiri tidak merinci hal ini.”<a href="#_ftn11">[11]</a></p>
<p>Perkataan Al Jashshosh ini sebagai sanggahan terhadap pendapat keempat yaitu ulama yang berpendapat wajib mengqodho’ bagi yang hamil sedangkan bagi wanita menyusui adalah dengan mengqodho’ dan memberi makan kepada orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan.</p>
<p><strong>Alasan kedua</strong>: Selain alasan di atas, ulama yang berpendapat cukup mengqodho’ saja (tanpa <a href="http://muslim.or.id/ramadhan/perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html">fidyah</a>) menganggap bahwa wanita hamil dan menyusui seperti orang sakit. Sebagaimana orang sakit boleh tidak puasa, ia pun harus mengqodho’ di hari lain. Ini pula yang berlaku pada wanita hamil dan menyusui. Karena dianggap seperti orang sakit, maka mereka cukup mengqodho’ sebagaimana disebutkan dalam firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p style="text-align: center;">فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ</p>
<p>“<em>Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain</em>.” (QS. Al Baqarah: 184)</p>
<p>Pendapat ini didukung pula oleh ulama belakangan semacam Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz <em>rahimahullah<a href="#_ftn12"><strong>[12]</strong></a></em>. Syaikh Ibnu Baz <em>rahimahullah </em>berkata,</p>
<p>“Hukum wanita hamil dan menyusui jika keduanya merasa berat untuk berpuasa, maka keduanya boleh berbuka (tidak puasa). Namun mereka punya kewajiban untuk mengqodho (mengganti puasa) di saat mampu karena mereka dianggap seperti orang yang sakit. Sebagian ulama berpendapat bahwa cukup baginya untuk menunaikan fidyah (memberi makan kepada orang miskin) untuk setiap hari yang ia tidak berpuasa. Namun pendapat ini adalah pendapat yang lemah. Yang benar, mereka berdua punya kewajiban qodho’ (mengganti puasa) karena keadaan mereka seperti musafir atau orang yang sakit (yaitu diharuskan untuk mengqodho’ ketika tidak berpuasa, -pen). Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “<em>Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain</em>.” (QS. Al Baqarah: 184)<a href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Sanggahan untuk Ulama yang Menggabungkan antara Fidyah dan Qodho’</strong></span></p>
<p>Syaikh Musthofa Al ‘Adawi <em>hafizhohullah </em>ketika menjelaskan perselisihan ulama mengenai puasa wanita hamil dan menyusui, beliau mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;">فمنهم من ذهب إلى أنهما تفطران وتطعمان وتقضيان من هؤلاء سفيان ومالك والشافعي وأحمد ، ولا أعلم لهذا الفريق دليلا من الكتاب والسنة</p>
<p>“Di antara para ulama ada yang berpendapat bahwa wanita hamil dan menyusui boleh tidak puasa, namun ia harus menggantinya dengan menunaikan fidyah dan mengqodh0’ (mengganti) puasanya. Yang berpendapat seperti ini adalah Sufyan, Malik, Asy Syafi’i dan Ahmad. Aku tidak mengetahui adanya dari Al Kitab (Al Qur’an) dan As Sunnah mengenai pendapat ini.”<a href="#_ftn14">[14]</a></p>
<p>Sedangkan ulama yang berpendapat bahwa diharuskannya mengqodho’ bagi yang hamil sedangkan bagi wanita menyusui adalah dengan mengqodho’ dan memberi makan kepada orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan, maka disanggah oleh Ibnu Hazm <em>rahimahullah. </em>Beliau mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;">وقال مالك: أما المرضع فتفطر وتطعم عن كل يوم مسكنا وتقضى مع ذلك، وأما الحامل فتقضى ولا اطعام عليها ولا يحفط هذا التقسيم عن احد من الصححابة والتابعين</p>
<p>“Imam Malik berpendapat bahwa adapun wanita menyusui, maka ia dibolehkan untuk tidak berpuasa dan diharuskan untuk mengganti puasannya dengan menunaikan fidyah dengan memberi makan kepada orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan, dan ia juga diharuskan untuk mengqodho’ puasanya. Sedangkan untuk wanita hamil ia cukup mengqodho’, tanpa menunaikan fidyah. Mengenai pembagian semacam ini sama sekali tidak diketahui adanya sahabat dan tabi’in yang berpegang dengannya.”<a href="#_ftn15">[15]</a></p>
<p>Ibnu Rusyd Al Maliki <em>rahimahullah </em>mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;">ومن أفرد لهما أحد الحكمين أولى &#8211; والله أعلم &#8211; ممن جمع كما أن من أفردهما بالقضاء أولى ممن أفردهما بالاطعام فقط، لكون القراءة غير متواترة فتأمل هذا، فإنه بين.</p>
<p>“Barangsiapa yang memilih qodho’ saja atau fidyah saja itu lebih utama –wallahu a’lam- daripada menggabungkan antara keduanya. Adapun memilih mengqodho’ saja itu lebih utama daripada memilih menunaikan fidyah saja. Alasannya karena qiro’ah (yang menyebabkan adanya hukum fidyah saja bagi wanita hamil-menyusui) adalah riwayat yang <strong>tidak mutawatir</strong>. Renungkanlah hal ini karena hal tersebut begitu jelas.”<a href="#_ftn16">[16]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Sanggahan untuk Ulama yang Menyatakan Tidak Ada Qodho’ dan Tidak Ada Fidyah</strong></span></p>
<p>Yang berpendapat semacam ini adalah Ibnu Hazm <em>rahimahullah</em>. Pendapat ini beralasan bahwa hukum asalnya adalah seseorang terlepas dari kewajiban. Ibnu Hazm <em>rahimahullah </em>–nama kunyahnya Abu Muhammad- berkata,</p>
<p style="text-align: center;">فلم يتفقوا على ايجاب القضاء ولا على ايجاب الاطعام فلا يجب شئ من ذلك إذ لا نص في وجوبه ولا اجماع</p>
<p>“Para ahli fiqih pun belum sepakat adanya kewajiban qodho’ dan fidyah (memberi makan pada orang miskin). Sehingga tidak ada sama sekali kewajiban (bagi wanita hamil dan menyusui yang tidak berpuasa, -pen) karena tidak ada satu pun dalil yang mewajibkannya dan tidak ada pula klaim ijma’ (kesepakatan ulama) dalam hal ini.”<a href="#_ftn17">[17]</a></p>
<p>Namun perkataan di atas dapat saja disanggah dengan kita katakan bahwa sesungguhnya perselisihan semata tidak bisa menggugurkan suatu dalil, namun hendaknya mengambil pendapat dari orang yang memiliki dalil yang lebih kuat. Seandainya setiap perselisihan yang terjadi antara ahli fiqh itu dijadikan sebab untuk menghukumi gugurnya suatu dalil yang menjadi sandaran hukum, niscaya tidak akan ada hukum syar’i yang bertahan kecuali sedikit.</p>
<p>Pendapat Ibnu Hazm juga disanggah oleh Syaikh Ibnu Baz <em>rahimahullah </em>dalam perkataannya,</p>
<p style="text-align: center;">فمن المسائل المنسوبة إليكم القول بسقوط القضاء والإطعام عن الحامل والمرضع مع أنه لا قائل من أهل العلم بسقوط القضاء والإطعام عنهما سوى ابن حزم في المحلى ، وقوله هذا شاذ مخالف للأدلة الشرعية ولجمهور أهل العلم فلا يلتفت إليه ولا يعول عليه ، مع العلم بأن أرجح الأقوال في ذلك وجوب القضاء عليهما من دون إطعام لعموم الأدلة الشرعية في حق المريض والمسافر ، وهما من جنسهما ، ولحديث أنس بن مالك الكعبي في ذلك .</p>
<p>“Tidak ada satu pun ulama yang berpendapat gugurnya qodho’ dan fidyah bagi wanita hamil dan menyusui selain Ibnu Hazm dalam Al Muhalla. Pendapatnya ini adalah pendapat yang syadz (menyimpang), yaitu menyelisihi dalil-dalil syar’i yang digunakan oleh mayoritas ulama. Oleh karena itu, pendapat tersebut tidak perlu diperhatikan dan tidak perlu diikuti. Pendapat yang terkuat dalam masalah ini adalah diwajibkan untuk qodho’ bagi wanita hamil dan menyusui, tanpa perlu menunaikan fidyah. Hal ini berdasarkan keumuman hadits-hadits syar’i yang membicarakan wajibnya qodho’ bagi orang yang sakit dan musafir (ketika ia tidak berpuasa). Wanita hamil dan menyusui adalah semisal orang sakit dan musafir. Dasar dari hal ini disebutkan dalam hadits Anas bin Malik Al Ka’bi.”<a href="#_ftn18">[18]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Mengkritisi Pendapat Ibnu ‘Abbas</strong></span></p>
<p>Sebagaimana yang telah kami nukilkan di awal tulisan, Ibnu ‘Abbas berpendapat bahwa hukum yang disebutkan dalam surat Al Baqarah ayat 184 belumlah dihapus yaitu masih disyariatkan fidyah pada wanita hamil dan menyusui. Inilah alasan ulama yang menyatakan bahwa wanita hamil dan menyusui yang tidak berpuasa cukup menunaikan fidyah saja, tanpa mengqodho’. Ayat yang dimaksud adalah,</p>
<p style="text-align: center;">وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ</p>
<p>“<em>Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin</em>” (QS. Al Baqarah: 184).</p>
<p>Namun pendapat yang benar, ayat di atas telah dinaskh (dihapus) dengan ayat,</p>
<p style="text-align: center;">فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ</p>
<p>“<em>Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.</em>” (QS. Al Baqarah: 185)<a href="#_ftn19">[19]</a>. Surat Al Baqarah ayat 184 yang disebutkan di atas menerangkan bahwa orang yang mampu untuk berpuasa, maka ia punya pilihan untuk berpuasa ataukah menunaikan fidyah. Ayat ini telah dihapus dengan ayat setelahnya, yaitu ayat 185, yang menerangkan mengenai penegesan wajibnya puasa. Inilah yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar dan Salamah bin Al Akwa’<a href="#_ftn20">[20]</a>.</p>
<p>Namun kenapa Ibnu ‘Abbas berpendapat adanya fidyah bagi wanita hamil dan menyusui yang tidak berpuasa?</p>
<p>Ini berasal dari qiro’ah ayat 184 yang dipilih oleh Ibnu ‘Abbas. Sebagaimana disebutkan riwayat dalam Shahih Al Bukhari,</p>
<p style="text-align: center;">حَدَّثَنِى إِسْحَاقُ أَخْبَرَنَا رَوْحٌ حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ بْنُ إِسْحَاقَ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ دِينَارٍ عَنْ عَطَاءٍ سَمِعَ ابْنَ عَبَّاسٍ يَقْرَأُ ( وَعَلَى الَّذِينَ يُطَوَّقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ) . قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ لَيْسَتْ بِمَنْسُوخَةٍ ، هُوَ الشَّيْخُ الْكَبِيرُ وَالْمَرْأَةُ الْكَبِيرَةُ لاَ يَسْتَطِيعَانِ أَنْ يَصُومَا ، فَلْيُطْعِمَانِ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا</p>
<p>Dari ‘Atho’, ia mendengar Ibnu ‘Abbas membaca ayat tersebut dengan bacaan,</p>
<p style="text-align: center;">وَعَلَى الَّذِينَ يُطَوَّقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ</p>
<p>“<em>Dan wajib bagi <strong>orang-orang yang dibebani menjalankannya (yuthowwaquunahu)<a href="#_ftn21"><strong>[21]</strong></a></strong> membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin</em>” Lantas Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Ayat ini tidaklah dimansukh (dihapus). Ayat ini masih berlaku pada laki-laki yang sudah tua renta, pada perempuan yang sudah tua renta yang tidak mampu lagi berpuasa. Maka mereka punya kewajiban untuk menunaikan fidyah, yaitu memberi makan pada orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan.<a href="#_ftn22">[22]</a></p>
<p>Ibnu Hajar dalam <em>Al Fath</em> ketika menjelaskan riwayat di atas, beliau menerangkan,</p>
<p style="text-align: center;">هَذَا مَذْهَب اِبْن عَبَّاس ، وَخَالَفَهُ الْأَكْثَر ، وَفِي هَذَا الْحَدِيث الَّذِي بَعْده مَا يَدُلّ عَلَى أَنَّهَا مَنْسُوخَة</p>
<p>“Inilah yang menjadi pendapat Ibnu ‘Abbas, namun qiro’ah ini diselisihi oleh kebanyakan ulama. Hadits yang disebutkan oleh Al Bukhari setelah ini menunjukkan bahwa ayat tersebut (surat Al Baqarah ayat 184) telah dimansukh.”<a href="#_ftn23">[23]</a></p>
<p>Selain berargumen dengan alasan di atas, mengenai pendapat yang menyatakan bahwa wanita hamil dan menyusui cukup menunaikan fidyah saja ketika tidak berpuasa, kita katakan bahwa <strong>pendapat tersebut hanyalah pendapat sahabat yaitu Ibnu ‘Abbas dan Ibnu ‘Umar, dan bukanlah riwayat marfu’ sampai pada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em></strong>.<a href="#_ftn24">[24]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kritikan Lainnya Dari Sisi Riwayat</strong></span></p>
<p>Terdapat riwayat dalam Al Mushannaf Abdurrazaq (4/218) bahwa Ibnu ‘Abbas <em>radhiallahu’anhu</em> memiliki pendapat lain yaitu beliau mewajibkan qadha tanpa fidyah.</p>
<p style="text-align: center;">عن الثوري ، وعن ابن جريج عن عطاء عن ابن عباس قال : تفطر الحامل والمرضع في رمضان ، وتقضيان صياما ولا تطعمان</p>
<p>“Dari Ats Tsauri, dari Ibnu Juraij, dan Atha’, dari Ibnu Abbas, beliau berkata: ‘Wanita hamil dan menyusui boleh berbuka di bulan Ramadhan, mereka berdua wajib meng-qadha tanpa fidyah‘”</p>
<p>Riwayat ini sanadnya <strong><em>shahih</em></strong>, semua perawinya tsiqah dan merupakan para perawi yang dipakai Bukhari-Muslim. Adapun Ibnu Juraij yang sering melakukan <em>tadlis</em>, karena dalam riwayat ini ia meriwayatkan secara <em>‘an’anah</em> dari ‘Atha, maka dianggap sebagai sima’ dan tetap diterima. Sebagaimana diketahui dalam ilmu hadits, jika <em>mudallis</em> meriwayatkan dengan <em>‘an’anah</em> dari orang yang ia biasa diambil haditsnya oleh perawinya, maka tetap diterima.</p>
<p>Karena tidak diketahui mana pendapat Ibnu ‘Abbas yang terakhir, maka dapat kita katakan bahwa dalam hal ini Ibnu ‘Abbas memiliki 2 pendapat. <em>Wallahu’alam.</em></p>
<p>Terdapat juga riwayat lain dalam Sunan Al Kubra Al Baihaqi, dari Ibnu ‘Umar bahwa beliau meralat pendapatnya. Beliau ruju’ kepada pendapat mewajibkan qadha saja tanpa fidyah.</p>
<p style="text-align: center;">عن ابن عمر أن امرأة حبلى صامت في رمضان فاستعطشت ، فسئل عنها ابن عمر : فأمرها أن تفطر وتطعم كل يوم مسكينا مدا ثم لا يجزيها فإذا صحت قضت</p>
<p>“<em>Dari Ibnu Umar, ada seorang wanita hamil yang berpuasa di bulan Ramadhan, kemudian ia melahirkan. Wanita ini bertanya kepada Ibnu ‘Umar, lalu beliau memerintahkan wanita tersebut untuk tidak berpuasa dan membayar fidyah. Kemudian setelah itu, Ibnu ‘Umar tidak membolehkannya, ia memerintahkan jika ia sudah sehat ia wajib meng-qadha</em>” (HR. Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubra, 4/230)</p>
<p>Syaikh Abu ‘Umar Usamah Al’Utaibi<a href="#_ftn25">[25]</a> menyatakan bahwa sanad riwayat tersebut terdapat kritikan. Karena dalam sanadnya terdapat Muhammad bin Abdirrahman bin Abi Labibah. Ibnu Hajar berkata: “Ia lemah, sering memursalkan hadits” (Taqrib At Tahdzib, no.6080).</p>
<p>Terdapat penguat dari riwayat lain untuk riwayat Ibnu ‘Abbas dalam Al Muhalla (4/251) milik Ibnu Hazm:</p>
<p style="text-align: center;">كَمَا رُوِّينَا مِنْ طَرِيقِ عَبْدِ الرَّزَّاقِ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: تُفْطِرُ الْحَامِلُ، وَالْمُرْضِعُ فِي رَمَضَانَ وَيَقْضِيَانِهِ صِيَامًا وَلا إطْعَامَ عَلَيْهِمَا</p>
<p>“Sebagaimana yang kami riwayatkan, dari Abdurrazaq, dari Ibnu Juraij, dari ‘Atha, dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata: ‘Wanita hamil dan menyusui boleh berbuka di bulan Ramadhan, mereka berdua wajib meng-qadha tanpa fidyah‘”</p>
<p>Menurut Syaikh Abu ‘Umar Usamah Al’Utaibi, adanya kesamaan sanad antara riwayat ini dengan riwayat Ibnu ‘Umar dalam Sunanul Kubra Al Baihaqi, ada 2 kemungkinan:</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Pertama</span>, mungkin ‘Abdurrazaq salah dalam menyebut Ats Tsauri</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Kedua</span>, mungkin Ats Tsauri memiliki fatwa serupa dengan Ibnu ‘Abbas.<a href="#_ftn26">[26]</a></p>
<p>Kedua kemungkinan ini tidak menafikan keshahihan sanadnya.</p>
<p>Dengan demikian, pendapat yang menyatakan wajib qadha tanpa fidyah untuk semua keadaan didukung pula oleh Ibnu ‘Abbas dan Ibnu ‘Umar, bahkan Ibnu ‘Abbas menyatakan meralat pendapatnya. Ini pun sekaligus membantah klaim sebagian ulama bahwa fatwa Ibnu Abbas dan Ibnu &#8216;Umar tentang wajib fidyah saja adalah <em>ijma&#8217; sukuti</em>.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Penutup</strong></span></p>
<p>Setelah panjang lebar membahas dalil-dalil yang digunakan oleh masing-masing pihak dan menyanggah pendapat yang dinilai kurang tepat, maka kami menyimpulkan bahwa pendapat yang menyatakan bahwa wanita hamil dan menyusui –ketika tidak berpuasa- cukup mengqodho’ tanpa menunaikan fidyah karena kuatnya dalil yang disampaikan oleh ulama yang berpegang dengan pendapat ini. Ulama belakangan yang berpendapat seperti ini adalah Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin<a href="#_ftn27">[27]</a>, Syaikh Shalih Fauzan Al Fauzan,   Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz <em>rahimahumallah, </em>juga merupakan pendapat <em>Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhut Wal Ifta</em>.</p>
<p>Kondisi ini berlaku bagi keadaan wanita hamil dan menyusui yang masih mampu menunaikan qodho’<a href="#_ftn28">[28]</a>. Dalam kondisi ini dia dianggap seperti orang sakit yang diharuskan untuk mengqodho’ di hari lain ketika ia tidak berpuasa. Namun apabila mereka tidak mampu untuk mengqodho’ puasa, karena setelah hamil atau menyusui dalam keadaan lemah dan tidak kuat lagi, maka kondisi mereka dianggap seperti orang sakit yang tidak kunjung sembuhnya. Pada kondisi ini, ia bisa pindah pada penggantinya yaitu menunaikan fidyah, dengan cara memberi makan pada satu orang miskin setiap harinya.<a href="#_ftn29">[29]</a> <strong>Penjelasan ini didukung oleh fatwa Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin <em>rahimahullah</em>. </strong>Beliau ditanya,  “Ada seorang wanita di mana ia mengalami nifas di bulan Ramadhan, atau dia mengalami hamil atau dia sedang menyusui ketika itu. Apakah wajib baginya qodho’ ataukah dia menunaikan fidyah (memberi makan bagi setiap hari yang ditinggalkan)? Karena memang ada yang mengatakan pada kami bahwa mereka tidak perlu mengqodho’, namun cukup menunaikan fidyah saja. Kami mohon jawaban dalam masalah ini dengan disertai dalil.”</p>
<p>Beliau <em>rahimahullah</em> menjawab, “Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari pembalasan.</p>
<p>Allah subhanahu wa ta’ala telah mewajibkan bagi hamba-Nya puasa Ramadhan dan puasa ini adalah bagian dari rukun Islam. Allah telah mewajibkan bagi orang yang memiliki udzur tidak berpuasa untuk mengqodho’nya ketika udzurnya tersebut hilang. Allah ‘azza wa jalla berfirman (yang artinya),  “<em>(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa yang menyaksikan hilal, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajib baginya mengqodho’ puasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur</em>.” (QS. Al Baqarah: 185)</p>
<p>Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menjelaskan bahwa siapa saja yang tidak berpuasa karena ada udzur maka hendaklah ia mengqodho’ (mengganti) puasanya di hari yang lain. Wanita hamil, wanita menyusui, wanita nifas, wanita haidh, kesemuanya meninggalkan puasa Ramadhan karena ada udzur. Jika keadaan mereka seperti ini, maka wajib bagi mereka mengqodho’ puasa karena diqiyaskan dengan orang sakit dan musafir. Sedangkan untuk haidh telah ada dalil tegas tentang hal tersebut. Disebutkan dalam Bukhari Muslim dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwasanya beliau ditanya oleh seorang wanita, “Mengapa wanita hadih diharuskan mengqodho’ puasa dan tidak diharuskan mengqodho’ shalat?” ‘Aisyah menjawab, “Dulu kami mendapati haidh. Kami diperintahkan (oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) untuk mengqodho’ puasa dan kami tidak diperintahkan untuk mengqodho’ shalat.” Inilah dalilnya.</p>
<p>Adapun ada riwayat dari sebagian ulama salaf yang memerintahkan wanita hamil dan menyusui (jika tidak puasa) cukup fidyah (memberi makan) dan tidak perlu mengqodho’, maka yang dimaksudkan di sini adalah untuk mereka yang tidak mampu berpuasa selamanya. Dan bagi orang yang tidak dapat berpuasa selamanya seperti pada orang yang sudah tua dan orang yang sakit di mana sakitnya tidak diharapkan sembuhnya, maka wajib baginya menunaikan fidyah. Pendapat ini adalah pendapat Ibnu ‘Abbas ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “<em>Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankan puasa (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan satu orang miskin (bagi satu hari yang ditinggalkan). Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka Itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui</em>.” (QS. Al Baqarah: 184)</p>
<p>Allah Ta’ala telah menjadikan fidyah sebagai pengganti puasa di awal-awal diwajibkannya puasa, yaitu ketika manusia punya pilihan untuk menunaikan fidyah (memberi makan) dan berpuasa. Kemudian setelah itu, mereka diperintahkan untuk berpuasa saja.<a href="#_ftn30">[30]</a></p>
<p><span style="color: #ff00ff;"><strong>Catatan penting yang perlu diperhatikan</strong></span> bahwa wanita hamil dan menyusui boleh tidak berpuasa jika memang ia merasa kepayahan, kesulitan, takut membahayakan dirinya atau anaknya. Al Jashshosh <em>rahimahullah </em>mengatakan, “Jika wanita hamil dan menyusui berpuasa, lalu dapat membahayakan diri, anak atau keduanya, maka pada kondisi ini lebih baik bagi keduanya untuk tidak berpuasa dan terlarang bagi keduanya untuk berpuasa. Akan tetapi, jika tidak membawa dampak bahaya apa-apa pada diri dan anak, maka lebih baik ia berpuasa, dan pada kondisi ini tidak boleh ia tidak berpuasa.”<a href="#_ftn31">[31]</a></p>
<p style="text-align: center;"><em>Kami menghargai pendapat lainnya dalam masalah ini. Silahkan para pembaca memilih pendapat yang dirasa paling kuat, namun tentu saja bukan sekedar ikuti hawa nafsu, tetapi mengikuti manakah yang lebih dekat pada dalil. Pendapat yang kami sampaikan dalam tulisan kali ini pun bukan memaksa.</em></p>
<p><em>Hanya Allah yang memberi taufik. Semoga bermanfaat. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.</em></p>
<p>Disempurnakan di Markaz Radiomuslim, 11 Ramadhan 1431 H</p>
<p>Penulis: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal</a> dan <a href="http://kangaswad.wordpress.com">Yulian Purnama</a></p>
<p>Artikel <a href="http://www.muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> HR. An Nasai no. 2275, Ibnu Majah no. 1667, dan Ahmad 4/347. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Ahkamul Qur’an, Ahmad bin ‘Ali Ar Rozi Al Jashshosh, 1/224, Dar Ihya’ At Turots Al ‘Arobi, Beirut, 1405.</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Lihat Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, Ibnu Rusyd Al Qurthubi Al Andalusi, hal. 276, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah, cetakan ketiga, 1428 H;  Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik Kamal bin As Sayid Salim, 2/125-126, Al Maktabah At Taufiqiyah.</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Dikeluarkan oleh Ibnul Jarud dalam Al Muntaqho dan Al Baihaqi. Lihat Irwa’ul Gholil 4/18</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> QS. Al Baqarah: 184.</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> HR. Abu Daud no. 2318. Ibnul Mulaqqin mengatakan bahwa hadits ini <em>shahih atau hasan</em> sebagaimana dalam Tuhfatul Muhtaaj, 2/102.</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Diriwayatkan oleh ‘Abdur Razaq dengan sanad yang shahih</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Lihat Irwa’ul Gholil, 4/20. Sanadnya shahih</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> Pendapat ini menyatakan: Tidak diketahui ada sahabat lain yang menyelisihi pendapat Ibnu ‘Abbas dan Ibnu ‘Umar ini. Juga dapat kita katakan bahwa hadits Ibnu ‘Abbas yang membicarakan surat Al Baqarah ayat 185 dihukumi marfu’ (sebagai sabda Nabi shallallallahu ‘alaihi wa sallam). Alasannya, karena ini adalah perkataan sahabat tentang tafsir yang berkaitan dengan sababun nuzul (sebab turunnya surat Al Baqarah ayat 185). Maka hadits ini dihukumi sebagai sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana sudah dikenal dalam ilmu mustholah.  (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2/126-127)</p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> HR. An Nasai no. 2274 dan Ahmad 5/29. Syaikh Al Albani dan Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan.</p>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> Ahkamul Qur’an, Ahmad bin ‘Ali Ar Rozi Al Jashshosh, 1/224</p>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> Pernah menjabat sebagai ketua komisi Fatwa di Saudi Arabia (Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’).</p>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> Majmu’ Al Fatawa Ibnu Baz, 15/225</p>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a> Jaami’ Ahkamin Nisa’, Syaikh Musthofa Al ‘Adawi, 5/223-224, Darus Sunnah, cetakan pertama, 1413 H.</p>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a> Al Muhalla, Ibnu Hazm, 6/264, Mawqi’ Ya’sub.</p>
<p><a href="#_ftnref16">[16]</a> Lihat Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, hal. 277.</p>
<p><a href="#_ftnref17">[17]</a> Al Muhalla, 6/264</p>
<p><a href="#_ftnref18">[18]</a> Sumber: <a href="http://www.ibnbaz.org.sa/mat/8423">http://www.ibnbaz.org.sa/mat/8423</a></p>
<p><a href="#_ftnref19">[19]</a> Lihat Adhwaul Bayan, Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi, hal. 2054, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, cetakan kedua, 1427 H. Lihat pula pendapat yang dipilih oleh Syaikh Musthofa Al ‘Adawi dalam Jaami’ Ahkamin Nisaa’, 5/224.</p>
<p><a href="#_ftnref20">[20]</a> Lihat Shahih Al Bukhari pada Bab firman Allah Ta’ala “Wa ‘alalladziina yuthiqunahu fidyah”.</p>
<p><a href="#_ftnref21">[21]</a> Demikianlah maksud <strong><em>yuthowwaquunahu</em></strong> yaitu orang yang dibebani sedangkan ia tidak mampu. Berarti wanita hamil dan menyusui pun masih dikenakan fidyah berdasarkan qiro’ah Ibnu ‘Abbas ini. Lihat Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 8/180, Darul Ma’rifah, 1379.</p>
<p><a href="#_ftnref22">[22]</a> HR. Bukhari no. 4505, Bab firman Allah “Ayyamam Ma’duudaat &#8230;”</p>
<p><a href="#_ftnref23">[23]</a> Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 8/180, Darul Ma’rifah, 1379.</p>
<p><a href="#_ftnref24">[24]</a> Keterangan dari Salman bin Fahd Al Audah dalam forum www.ahlalhdeeth.com , tertanggal 15/9/1423</p>
<p><a href="#_ftnref25">[25]</a> Beliau salah seorang ‘alim pengasuh forum sahab, silakan membaca biografi dan tulisan beliau di web beliau <a href="http://www.otiby.net/">http://www.otiby.net/</a></p>
<p><a href="#_ftnref26">[26]</a> Penjelasan ini dinukil dari forum sahab: <a href="http://www.sahab.net/forums/showthread.php?p=669233">http://www.sahab.net/forums/showthread.php?p=669233</a> ,terakhir diakses tanggal 4 Agustus 2010.</p>
<p><a href="#_ftnref27">[27]</a> Majmu’ Fatawa wa Rosail Ibni ‘Utsaimin, 17/121-122, Asy Syamilah.</p>
<p><a href="#_ftnref28">[28]</a> Wanita yang dalam kondisi semacam ini menunaikan qodho’ di saat dia mampu. Jika sampai dua tahun ditunda karena masih butuh waktu untuk menyusui, maka tidak mengapa dia tunda qodho’nya sampai dia mampum meskipun setelah dua atau tiga tahun selama masih ada udzur.</p>
<p><a href="#_ftnref29">[29]</a> Lihat Panduan Ibadah Wanita Hamil, Yahya bin Abdurrahman Al Khatib, hal. 46, Qiblatuna.</p>
<p><a href="#_ftnref30">[30]</a> Majmu’ Fatawa wa Rosail Ibni ‘Utsaimin, 17/121-122, Asy Syamilah</p>
<p><a href="#_ftnref31">[31]</a> Ahkamul Qur’an, Al Jashshosh, 1/223.</p>
<div class="shr-publisher-4478"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Framadhan%2Fperselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Framadhan%2Fperselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Framadhan%2Fperselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/ramadhan/perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Soal-53: Hukum Wanita Mewarnai Kuku</title>
		<link>http://muslim.or.id/soal-jawab/soal-53-hukum-wanita-mewarnai-kuku.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/soal-jawab/soal-53-hukum-wanita-mewarnai-kuku.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 May 2010 08:00:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muslim.Or.Id</dc:creator>
				<category><![CDATA[Soal Jawab]]></category>
		<category><![CDATA[Cat Kuku]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=3064</guid>
		<description><![CDATA[Memakai kuku pacar apakah diperbolehkan? Dijawab Oleh Ust Aris Munandar. SS Jawabannya Klik Player: Download]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Memakai kuku pacar apakah diperbolehkan?</p>
<p>Dijawab Oleh <a href="http://ustadzaris.com">Ust Aris Munandar. SS</a></p>
<p>Jawabannya Klik Player:</p>
<p><a href="http://www.archive.org/download/soal41-54/soal-53.mp3">Download</a></p>
<div class="shr-publisher-3064"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fsoal-jawab%2Fsoal-53-hukum-wanita-mewarnai-kuku.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fsoal-jawab%2Fsoal-53-hukum-wanita-mewarnai-kuku.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fsoal-jawab%2Fsoal-53-hukum-wanita-mewarnai-kuku.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/soal-jawab/soal-53-hukum-wanita-mewarnai-kuku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
<enclosure url="http://www.archive.org/download/soal41-54/soal-53.mp3" length="88398" type="audio/mpeg" />
		</item>
		<item>
		<title>Soal-47: Jilbab Yang Dibordir Termasuk Pakaian Perhiasan?</title>
		<link>http://muslim.or.id/soal-jawab/soal-47-jilbab-yang-dibordir-termasuk-pakaian-perhiasan.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/soal-jawab/soal-47-jilbab-yang-dibordir-termasuk-pakaian-perhiasan.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 May 2010 08:00:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muslim.Or.Id</dc:creator>
				<category><![CDATA[Soal Jawab]]></category>
		<category><![CDATA[jilbab]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Tabarruj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=3047</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimanakah hukumnya bordir pada jilbab, kerudung atau himar, apakah termasuk pakaian perhiasan? Dijawab Oleh Ust Aris Munandar. SS Jawabannya Klik Player: Download]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Bagaimanakah hukumnya bordir pada jilbab, kerudung atau himar, apakah termasuk pakaian perhiasan?</p>
<p>Dijawab Oleh <a href="http://ustadzaris.com">Ust Aris Munandar. SS</a></p>
<p>Jawabannya Klik Player:</p>
<p><a href="http://www.archive.org/download/soal41-54/soal-47.mp3">Download</a></p>
<div class="shr-publisher-3047"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fsoal-jawab%2Fsoal-47-jilbab-yang-dibordir-termasuk-pakaian-perhiasan.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fsoal-jawab%2Fsoal-47-jilbab-yang-dibordir-termasuk-pakaian-perhiasan.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fsoal-jawab%2Fsoal-47-jilbab-yang-dibordir-termasuk-pakaian-perhiasan.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/soal-jawab/soal-47-jilbab-yang-dibordir-termasuk-pakaian-perhiasan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
<enclosure url="http://www.archive.org/download/soal41-54/soal-47.mp3" length="76382" type="audio/mpeg" />
		</item>
		<item>
		<title>Soal-29: Tentang Wanita Haid</title>
		<link>http://muslim.or.id/soal-jawab/soal-29-tentang-wanita-haid.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/soal-jawab/soal-29-tentang-wanita-haid.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Apr 2010 02:00:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muslim.Or.Id</dc:creator>
				<category><![CDATA[Soal Jawab]]></category>
		<category><![CDATA[Haid]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=2933</guid>
		<description><![CDATA[Apakah seorang wanita yang haid akan dituliskan baginya pahala atas amalan-amalan yang biasa dilakukan ketika tidak haid, seperti puasa shalat dan lain-lainnya? Dijawab Oleh Ust Aris Munandar. SS Jawabannya Klik Player: Download]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Apakah seorang wanita yang haid akan dituliskan baginya pahala atas amalan-amalan yang biasa dilakukan ketika tidak haid, seperti puasa shalat dan lain-lainnya?</p>
<p>Dijawab Oleh <a href="http://ustadzaris.com">Ust Aris Munandar. SS</a></p>
<p>Jawabannya Klik Player:</p>
<p><a href="http://www.archive.org/download/soal26-40/soal-29.mp3">Download</a></p>
<div class="shr-publisher-2933"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fsoal-jawab%2Fsoal-29-tentang-wanita-haid.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fsoal-jawab%2Fsoal-29-tentang-wanita-haid.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fsoal-jawab%2Fsoal-29-tentang-wanita-haid.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/soal-jawab/soal-29-tentang-wanita-haid.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
<enclosure url="http://www.archive.org/download/soal26-40/soal-29.mp3" length="117447" type="audio/mpeg" />
		</item>
	</channel>
</rss>

