<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muslim.Or.Id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah &#187; Maulid Nabi</title>
	<atom:link href="http://muslim.or.id/tag/maulid-nabi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muslim.or.id</link>
	<description>Pesantren online agama Islam berdasarkan Qur&#039;an dan Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih</description>
	<lastBuildDate>Sat, 11 Feb 2012 04:00:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Kumpulan Penjelasan Mengenai Perayaan Maulid Nabi</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/kumpulan-penjelasan-mengenai-perayaan-maulid-nabi.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/kumpulan-penjelasan-mengenai-perayaan-maulid-nabi.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Jan 2012 02:00:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yulian Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Maulid Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=5584</guid>
		<description><![CDATA[Berikut ini kami sajikan kumpulan penjelasan mengenai perayaan Maulid Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam. Semoga permasalahan yang selalu menjadi polemik setiap tahunnya ini dapat dipahami secara ilmiah dan juga menyeluruh. Bagi pihak yang kontra, harap menyimak penjelasan-penjelasan berikut dengan seksama, hati yang tenang dan pikiran yang  jernih agar tidak muncul prasangka-prasangka buruk, semisal prasangka bahwa melarang perayaan Maulid adalah mengkafirkan dan menyesatkan setiap orang yang mengikuti perayaan tersebut. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Berikut ini kami sajikan kumpulan penjelasan mengenai perayaan Maulid Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>. Semoga permasalahan yang selalu menjadi polemik setiap tahunnya ini dapat dipahami secara ilmiah dan juga menyeluruh. Bagi pihak yang kontra, harap menyimak penjelasan-penjelasan berikut dengan seksama, hati yang tenang dan pikiran yang  jernih agar tidak muncul prasangka-prasangka buruk, semisal prasangka bahwa melarang perayaan Maulid adalah mengkafirkan dan menyesatkan setiap orang yang mengikuti perayaan tersebut.</p>
<p>Semoga Allah melimpahkan hidayah-Nya kepada kita semua.</p>
<p><strong>Kewajiban Cinta Kepada Nabi Muhammad <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em></strong></p>
<ul>
<li><a href="http://muslim.or.id/manhaj/cinta-sejati-kepada-sang-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam.html">Cinta Sejati Kepada Sang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam</a></li>
<li><a href="http://muslim.or.id/manhaj/mana-bukti-cintamu-pada-nabi.html">Mana Bukti Cintamu pada Nabi?</a></li>
<li><a href="http://muslim.or.id/manhaj/hak-dan-kewajiban-umat-terhadap-rasulullah-shallallahu-alaihi-wa-sallam-1.html">Hak dan Kewajiban Umat Terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (1)</a></li>
<li><a href="http://muslim.or.id/manhaj/hak-dan-kewajiban-umat-terhadap-rasulullah-shallallahu-alaihi-wa-sallam-2.html">Hak dan Kewajiban Umat Terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (2)</a></li>
<li><a href="http://muslim.or.id/manhaj/ensiklopedia-maulid-nabi-1-cinta-rasul.html">Ensiklopedia Maulid Nabi (1): Cinta Kepada Rasul, Dahulu dan Sekarang</a></li>
</ul>
<p><strong>Antara Cinta Nabi dan Maulid Nabi</strong></p>
<ul>
<li><a href="http://muslim.or.id/manhaj/antara-cinta-nabi-dan-perayaan-maulid-nabi-1.html">Antara Cinta Nabi dan Perayaan Maulid Nabi (1)</a></li>
<li><a href="http://muslim.or.id/manhaj/antara-cinta-nabi-dan-perayaan-maulid-nabi-2.html">Antara Cinta Nabi dan Perayaan Maulid Nabi (2)</a></li>
<li><a href="http://muslim.or.id/manhaj/antara-cinta-nabi-dan-perayaan-maulid-nabi-3.html">Antara Cinta Nabi dan Perayaan Maulid Nabi (3)</a></li>
<li><a href="http://muslim.or.id/manhaj/ensiklopedia-maulid-nabi-2-antara-cinta-rasul-perayaan-maulid.html">Ensiklopedia Maulid Nabi (2): Antara Cinta Rasul &amp; Perayaan Maulid</a></li>
<li><a href="http://muslim.or.id/manhaj/merayakan-maulid-dalam-rangka-mengagungkan-nabi.html">Merayakan Maulid dalam Rangka Mengagungkan Nabi</a></li>
</ul>
<p><strong>Hukum Merayakan Maulid</strong></p>
<ul>
<li><a href="http://muslim.or.id/manhaj/apa-hukum-merayakan-maulid-nabi.html">Apa Hukum Merayakan Maulid Nabi?</a></li>
<li><a href="http://muslim.or.id/manhaj/tanggal-kelahiran-nabi.html">Tanggal Kelahiran Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam</a></li>
<li><a href="http://muslim.or.id/manhaj/hukum-menghadiri-perayaan-maulid-nabi.html">Hukum Menghadiri Perayaan Maulid Nabi</a></li>
<li><a title="1 February 2011" href="http://muslim.or.id/soal-jawab/berbuat-bidah-karena-tidak-tahu.html" rel="bookmark">Soal-151: Berbuat Bid’ah Karena Tidak Tahu</a></li>
</ul>
<p><strong>Maulid Nabi Adalah Bid&#8217;ah Hasanah? </strong></p>
<ul>
<li><a title="14 October 2008" href="http://muslim.or.id/manhaj/mengenal-seluk-beluk-bidah-1.html" rel="bookmark">Mengenal Seluk Beluk BID’AH (1): Pengertian Bid’ah</a></li>
<li><a href="http://muslim.or.id/manhaj/mengenal-seluk-beluk-bidah-2.html">Mengenal Seluk Beluk BID’AH (2): Adakah BID’AH HASANAH?</a></li>
<li><a href="http://muslim.or.id/manhaj/mengenal-seluk-beluk-bidah-3.html">Mengenal Seluk Beluk BID’AH (3): Berbagai Alasan Dalam Membela Bid’ah</a> (Internet, HP, pesawat terbang, dll apakah  bid&#8217;ah? Silakan baca artikel ini)</li>
<li><a href="http://muslim.or.id/manhaj/mengenal-seluk-beluk-bidah-4.html">Mengenal Seluk Beluk BID’AH (4): Dampak Buruk BID’AH</a></li>
<li><a title="15 June 2010" href="http://muslim.or.id/manhaj/jadilah-perintis-sunnah-hasanah-bukan-bidah-hasanah.html" rel="bookmark">Jadilah Perintis Sunnah Hasanah Bukan Bid’ah Hasanah!</a></li>
<li><a href="http://muslim.or.id/manhaj/apakah-anda-tidak-takut-berbuat-bidah.html">Apakah Anda Tidak Takut Berbuat Bid’ah?</a></li>
<li><a href="http://muslim.or.id/manhaj/ibnu-taimiyah-ibnu-hajar-shalahuddin-al-ayubi-pro-maulid-nabi.html">Ibnu Taimiyah, Ibnu Hajar, Shalahuddin Al Ayubi Pro Maulid Nabi?</a></li>
<li><a href="http://muslim.or.id/manhaj/tidak-semua-pendapat-dalam-khilafiyah-ditoleransi.html">Tidak Semua Pendapat Dalam Khilafiyah Ditoleransi</a></li>
<li><a href="http://muslim.or.id/soal-jawab/soal-70-ulama-salaf-membolehkan-perayaan-maulid.html">Soal-70: Ulama Salaf Membolehkan Perayaan Maulid?</a></li>
<li><a href="http://muslim.or.id/soal-jawab/soal-130-hukum-maulidhukum-pemberian-harokat.html">Soal-130: Hukum Maulid=Hukum Pemberian Harokat?</a></li>
<li><a href="http://muslim.or.id/soal-jawab/soal-131-hukum-maulidhukum-kultum-tarawih.html">Soal-131: Hukum Maulid=Hukum Kultum Tarawih?</a></li>
<li><a href="http://muslim.or.id/soal-jawab/soal-132-maulid-nabi-merupakan-adat.html">Soal-132: Maulid Nabi Merupakan Adat?</a></li>
<li><a href="http://muslim.or.id/soal-jawab/soal-133-maulid-nabi-merupakan-sarana-sebagaimana-internet.html">Soal-133: Maulid Nabi Merupakan Sarana Sebagaimana Internet?</a></li>
<li><a href="Soal-145: Maulid Boleh Karena Ijtihad Ulama?">Soal-145: Maulid Boleh Karena Ijtihad Ulama?</a></li>
<li><a title="29 July 2010" href="http://muslim.or.id/soal-jawab/soal-146-pengumpulan-al-quranbidah-hasanah.html" rel="bookmark">Soal-146: Pengumpulan Al-qur’an=Bid’ah Hasanah?</a></li>
</ul>
<div class="shr-publisher-5584"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fkumpulan-penjelasan-mengenai-perayaan-maulid-nabi.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fkumpulan-penjelasan-mengenai-perayaan-maulid-nabi.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fkumpulan-penjelasan-mengenai-perayaan-maulid-nabi.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/kumpulan-penjelasan-mengenai-perayaan-maulid-nabi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>35</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merayakan Maulid dalam Rangka Mengagungkan Nabi</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/merayakan-maulid-dalam-rangka-mengagungkan-nabi.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/merayakan-maulid-dalam-rangka-mengagungkan-nabi.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Feb 2011 00:00:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[hari raya]]></category>
		<category><![CDATA[Maulid Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=5575</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Apa hukum merayakan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Rabi’ul Awwal dalam rangka mengagungkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam? Jawaban: Mengagungkan dan memuliakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dengan mengimani wahyu<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/merayakan-maulid-dalam-rangka-mengagungkan-nabi.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><span style="color: #ff0000;"><strong>Pertanyaan:</strong></span></p>
<p>Apa hukum merayakan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Rabi’ul Awwal dalam rangka mengagungkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam?</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Jawaban:</strong></span></p>
<p>Mengagungkan dan memuliakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dengan mengimani wahyu yang Allah wahyukan pada beliau dan mengikuti syari’at yang beliau bawa baik dalam hal aqidah, ucapan, amalan dan akhlak. Memuliakan beliau bukanlah dengan melakukan bid’ah dalam agama. Yang termasuk bid’ah dalam agama adalah merayakan maulid nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p>Wa billahit taufiq, shalawat dan salam kepada nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.</p>
<p>Fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ no. 3257, pertanyaan pertama</p>
<p>Fatwa ini ditandatangani oleh:</p>
<p>Ketua: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz</p>
<p>Wakil Ketua: Syaikh ‘Abdur Rozaq ‘Afifi</p>
<p>Anggota: Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayan, Syaikh ‘Abdullah bin Qu’ud</p>
<p>Penerjemah: Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>Artikel <a href="http://www.muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-5575"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fmerayakan-maulid-dalam-rangka-mengagungkan-nabi.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fmerayakan-maulid-dalam-rangka-mengagungkan-nabi.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fmerayakan-maulid-dalam-rangka-mengagungkan-nabi.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/merayakan-maulid-dalam-rangka-mengagungkan-nabi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Menghadiri Perayaan Maulid Nabi</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/hukum-menghadiri-perayaan-maulid-nabi.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/hukum-menghadiri-perayaan-maulid-nabi.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Feb 2011 00:00:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[hari raya]]></category>
		<category><![CDATA[Maulid Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[perayaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=5573</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Bolehkah seseorang menghadiri perayaan yang bid’ah seperti perayaan maulid nabi, isro’ mi’roj, malam nishfu sya’ban, namun ia tidak meyakini bahwa perayaan-perayaan tadi disyari’atkan, ia cuma bertujuan menjelaskan kebenaran? Jawaban: Pertama, perayaan yang disebutkan dalam<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/hukum-menghadiri-perayaan-maulid-nabi.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><span style="color: #ff0000;"><strong>Pertanyaan:</strong></span></p>
<p>Bolehkah seseorang menghadiri perayaan yang bid’ah seperti perayaan maulid nabi, isro’ mi’roj, malam nishfu sya’ban, namun ia tidak meyakini bahwa perayaan-perayaan tadi disyari’atkan, ia cuma bertujuan menjelaskan kebenaran?</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Jawaban:</strong></span></p>
<p>Pertama, perayaan yang disebutkan dalam pertanyaan di atas adalah perayaan yang tidak boleh dirayakan bahkan perayaan yang bid’ah yang mungkar.</p>
<p>Kedua, jika memang kita bermaksud untuk menghadiri perayaan-perayaan tersebut dalam rangka menasehati dan mengingatkan bahwa perayaan tersebut termasuk bid’ah (perkara yang diada-adakan dalam agama), maka itu adalah suatu hal yang disyari’atkan, lebih-lebih lagi jika yakin memiliki argumen yang kuat dan yakin selamat dari fitnah. Namun jika menghadirinya tidak dalam rangka demikian, hanya bersenang-senang saja, maka seperti itu tidak dibolehkan karena termasuk dalam berserikat dengan mereka dalam hal yang mungkar dan malah menambah tersebar serta semakin meriahnya bid’ah mereka.</p>
<p>Wa billahit taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa aalihi wa shohbihi wa sallam</p>
<p>Fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ no. 6524, 3/38</p>
<p>Fatwa ini ditandatangani oleh:</p>
<p>Ketua: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz</p>
<p>Wakil Ketua: Syaikh ‘Abdur Rozaq ‘Afifi</p>
<p>Anggota: Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayan, Syaikh ‘Abdullah bin Qu’ud</p>
<p>Penerjemah: <a href="http://muslim.or.id">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://www.muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-5573"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fhukum-menghadiri-perayaan-maulid-nabi.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fhukum-menghadiri-perayaan-maulid-nabi.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fhukum-menghadiri-perayaan-maulid-nabi.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/hukum-menghadiri-perayaan-maulid-nabi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>37</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ibnu Taimiyah, Ibnu Hajar, Shalahuddin Al Ayubi Pro Maulid Nabi?</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/ibnu-taimiyah-ibnu-hajar-shalahuddin-al-ayubi-pro-maulid-nabi.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/ibnu-taimiyah-ibnu-hajar-shalahuddin-al-ayubi-pro-maulid-nabi.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 22:00:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[cinta nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Maulid Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=2212</guid>
		<description><![CDATA[Sebagian orang selalu mencari-cari dalil untuk membenarkan amalan tanpa tuntunan yang ia lakukan. Di antara cara yang dilakukan adalah menjadikan perkataan ulama Ahlus Sunnah sebagai argumen untuk mendukung bid’ah mereka. Inilah yang terjadi dalam perayaan<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/ibnu-taimiyah-ibnu-hajar-shalahuddin-al-ayubi-pro-maulid-nabi.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Sebagian orang selalu mencari-cari dalil untuk membenarkan amalan tanpa tuntunan yang ia lakukan. Di antara cara yang dilakukan adalah menjadikan perkataan ulama Ahlus Sunnah sebagai argumen untuk mendukung bid’ah mereka. Inilah yang terjadi dalam perayaan Maulid Nabi. Di antara perkataan ulama Ahlus Sunnah yaitu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, disalahpahami oleh sebagian kalangan sehingga beliau pun disangka mendukung perayaan Maulid. Begitu pula ada perkataan lain dari Ibnu Hajar Al ‘Asqolani mengenai hal ini. Ibnu Hajar adalah di antara ulama yang memiliki ketergelinciran dalam masalah Maulid. Nantinya kami juga akan membahas syubhat (kerancuan) lainnya yang sengaja disuarakan oleh para simpatisan Maulid seperti pemutarbalikkan sejarah Maulid yang disangka dipelopori oleh Shalahuddin Al Ayubi. <em>Semoga Allah memudahkan untuk mengungkap yang benar dan yang batil. Allahumma yassir wa a’in (Ya Allah, mudahkan dan tolonglah).</em></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Kerancuan Pertama: Salah Paham dengan Perkataan Ibnu Taimiyah</strong></span></p>
<p>Di salah satu website yang kami telusuri, ada perkataan Syaikhul Islam sebagai berikut, “M<em>erayakan maulid dan menjadikannya sebagai kegiatan rutin dalam setahun sebagaimana yang telah dilakukan oleh sebagian orang, akan mendapatkan pahala yang besar sebab tujuannya baik dan mengagungkan Rasulullah SAW.</em>”<em> </em></p>
<p>Perkataan beliau inilah yang menjadi dasar sebagian kalangan yang menyatakan bahwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mendukung Maulid.<em> </em><a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Kalimat selengkapnya terdapat dalam kitab <em>Iqtidho’ Ash Shirothil Mustaqim</em> sebagai berikut.</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">فتعظيم المولد واتخاذه موسما قد يفعله بعض الناس ويكون له فيه أجر عظيم لحسن قصده وتعيظمه لرسول الله صلى الله عليه وآله وسلم كما قدمته لك أنه يحسن من بعض الناس ما يستقبح من المؤمن المسدد ولهذا قيل للامام أحمد عن بعض الأمراء إنه أنفق على مصحف ألف دينار ونحو ذلك فقال دعه فهذا أفضل ما أنفق فيه الذهب أو كما قال  مع أن مذهبه أن زخرفة المصاحف مكروهة وقد تأول بعض الأصحاب أنه أنفقها في تجديد الورق والخط وليس مقصود أحمد هذا وإنما قصده أن هذا العمل فيه مصلحة وفيه أيضا مفسدة كره لأجلها فهؤلاء إن لم يفعلوا هذا وإلا اعتاضوا الفساد الذي لا صلاح فيه مثل أن ينفقها في كتاب من كتب الفجور ككتب الأسماء أوالأشعار أو حكمة فارس والروم</p>
<p>“<em>Adapun mengagungkan maulid dan menjadikannya acara tahunan, hal ini terkadang dilakukan oleh sebagian orang. <strong>Mereka pun bisa mendapatkan pahala yang besar karena tujuan baik dan pengagungannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam</strong>, sebagaimana yang aku telah jelaskan sebelumnya bahwasanya hal itu dianggap baik oleh sebagian orang tetapi tidak dianggap baik oleh mukmin yang mendapat taufik.</em></p>
<p><em>Oleh karena itu, diceritakan kepada imam Ahmad mengenai beberapa pemimpin (umaro’) bahwasanya mereka menginfaqkan 1000 dinar untuk pencetakan Mushaf. Maka beliau berkata, “Biarkan mereka melakukan itu, itulah infaq terbaik yang dapat mereka lakukan dengan emas” atau sebagaimana yang Imam Ahmad katakan. Padahal menurut madzhab Imam Ahmad, makruh hukumnya memperindah mushaf. Namun sebagian pengikut Imam Ahmad menafsirkan maksud Imam Ahmad adalah beliau memakruhkan memperbaharui kertas dan khothnya. Namun sebenarnya maksud Imam Ahmad bukanlah seperti yang ditafsirkan ini. Imam Ahmad memaksudkan bahwa memperindah mushaf ini ada mashlahat (manfaat) di satu sisi dan ada pula mafsadatnya (bahayanya). Inilah yang beliau makruhkan. </em></p>
<p><em>Namun perlu diketahui bahwa jika mereka (para umara’) tidak melakukan hal  ini (yaitu memperindah mushaf), tentu mereka akan melakukan hal-hal lain yang tidak berfaedah. Misalnya para umara’ tersebut malah menyalurkan infaq mereka untuk mencetak buku-buku tidak bermoral: buku cerita yang hanya menghabiskan waktu, buku sya’ir (yang sia-sia belaka) dan buku filsafat dari Persia dan Romawi.</em>”<a href="#_ftn2">[2]</a> Demikian perkataan beliau <em>rahimahullah</em>.</p>
<p>Jika seseorang membaca teks di atas secara utuh, insya Allah dia tidak memiliki pemahaman yang keliru. Lihat baik-baik perkataan beliau di atas: ”<em>Mereka pun bisa mendapatkan pahala yang besar karena tujuan baik dan pengagungannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang aku telah jelaskan sebelumnya bahwasanya hal itu dianggap baik oleh sebagian orang tetapi tidak dianggap baik oleh mukmin yang mendapat taufik</em>”. Dari perkataan beliau ini menunjukkan bahwa perayaan Maulid tidak dianggap baik oleh orang-orang yang mendapat taufik. Jika ada yang menganggap amalan Maulid itu baik, maka dia adalah orang yang keliru. Maka ini menunjukkan bahwa Maulid bukanlah amalan yang baik.</p>
<p>Coba kita lihat kembali perkataan Syaikhul Islam lainnya dalam kitab yang sama (<em>Iqtidho’ Ash Shirothil Mustaqim</em>) agar kita tidak salah keliru dengan perkataan beliau di atas. Dalam beberapa lembaran sebelumnya, Syaikhul Islam mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">وكذلك ما يحدثه بعض الناس إما مضاهاة للنصارى في ميلاد عيسى عليه السلام وإما محبة للنبي صلى الله عليه و سلم وتعظيما له والله قد يثيبهم على هذه المحبة والاجتهاد لا على البدع من اتخاذ مولد النبي صلى الله عليه و سلم عيدا مع اختلاف الناس في مولده فإن هذا لم يفعله السلف مع قيام المقتضى له وعدم المانع منه ولو كان هذا خيرا محضا أو راجحا لكان السلف رضي الله عنهم أحق به منا فإنهم كانوا أشد محبة لرسول الله صلى الله عليه و سلم وتعظيما له منا وهم على الخير أحرص وإنما كمال محبته وتعظيمه في متابعته وطاعته واتباع أمره وإحياء سنته باطنا وظاهرا ونشر ما بعث به والجهاد على ذلك بالقلب واليد واللسان فإن هذه هي طريقة السابقين الأولين من المهاجرين والأنصار والذين اتبعوهم بإحسا</p>
<p>“<em>Begitu pula halnya dengan kebiasaan yang dilakukan oleh sebagian orang. Boleh jadi perbuatan mereka menyerupai tingkah laku Nashrani sebagaimana Nashrani pun memperingati kelahiran (milad) ‘Isa ‘alaihis salam. Boleh jadi maksud mereka adalah mencintai dan mengagungkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Boleh jadi Allah memberi ganjaran kepada mereka dikarenakan kecintaan dan kesungguhan mereka, dan bukan bid’ah maulid Nabi yang mereka ada-adakan sebagai perayaan. Padahal perlu diketahui bahwa para ulama telah berselisih pendapat mengenai tanggal kelahiran beliau. Apalagi merayakan maulid sama sekali tidak pernah dilakukan oleh para salaf (sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in). Padahal ada faktor pendorong (untuk memuliakan nabi) dan tidak ada faktor penghalang di kala itu. Seandainya merayakan maulid terdapat maslahat murni atau maslahat yang lebih besar, maka para salaf tentu lebih pantas melakukannya daripada kita. Karena sudah kita ketahui bahwa mereka adalah orang yang paling mencintai dan mengagungkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada kita. Mereka juga tentu lebih semangat dalam kebaikan dibandingkan kita. Dan perlu dipahami pula bahwa cinta dan pengagungan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sempurna adalah dengan ittiba’ (mengikuti)  dan mentaati beliau yaitu dengan mengikuti setiap perintah, menghidupkan ajaran beliau secara lahir dan batin, menyebarkan ajaran beliau dan berjuang (berjihad) untuk itu semua dengan hati, tangan dan lisan. Inilah jalan hidup para generasi utama dari umat ini, yaitu kalangan Muhajirin, Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik</em>.”<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Kami rasa sudah jelas jika kita memperhatikan penjelasan beliau yang kedua ini. Jelas sekali beliau menyatakan perayaan Maulid itu tidak ada salafnya (pendahulunya) artinya amalan yang tidak ada tuntunannya, bahkan merayakan Maulid sama halnya dengan Natal yang dirayakan oleh Nashrani. Lantas dengan penjelasan beliau ini apakah masih menuduh beliau rahimahullah mendukung maulid?!</p>
<p>Mohon jangan menukil perkataan beliau sebagian saja, cobalah pahami perkataan beliau secara utuh di halaman-halaman lainnya dalam kitab <em>Iqtidho’</em>. Simak baik-baik perkataan beliau di atas: “<em>Boleh jadi Allah memberi ganjaran kepada mereka dikarenakan kecintaan dan kesungguhan mereka, dan bukan bid’ah maulid Nabi yang mereka ada-adakan sebagai perayaan</em>.” Dari sini, beliau menggolongkan maulid sebagai bid’ah karena memang tidak pernah diadakan oleh para salaf dahulu (sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in). Namun perayaan ini dihidupkan dan diada-adakan oleh <strong>Dinasti ‘Ubaidiyyun</strong><a href="#_ftn4">[4]</a>. Dan ingat, beliau katakan bahwa mudah-mudahan mereka mendapat pahala karena mengangungkan dan mencintai beliau, namun bukan pada acara bid’ah maulid yang mereka ada-adakan. <em>Mohon pahami baik-baik perkataan beliau ini. Semoga Allah beri kepahaman.</em></p>
<p>Lebih tegas lagi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan mengenai Maulid Nabi dapat dilihat dalam <em>Majmu’ Al Fatawa</em> sebagai berikut.</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">وَأَمَّا اتِّخَاذُ مَوْسِمٍ غَيْرِ الْمَوَاسِمِ الشَّرْعِيَّةِ كَبَعْضِ لَيَالِي شَهْرِ رَبِيعٍ الْأَوَّلِ الَّتِي يُقَالُ : إنَّهَا لَيْلَةُ الْمَوْلِدِ أَوْ بَعْضِ لَيَالِيِ رَجَبٍ أَوْ ثَامِنَ عَشَرَ ذِي الْحِجَّةِ أَوْ أَوَّلِ جُمْعَةٍ مِنْ رَجَبٍ أَوْ ثَامِنِ شَوَّالٍ الَّذِي يُسَمِّيهِ الْجُهَّالُ عِيدَ الْأَبْرَارِ فَإِنَّهَا مِنْ الْبِدَعِ الَّتِي لَمْ يَسْتَحِبَّهَا السَّلَفُ وَلَمْ يَفْعَلُوهَا وَاَللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ .</p>
<p>“Adapun melaksanakan perayaan tertentu selain dari hari raya yang disyari’atkan (yaitu Idul Fithri dan Idul Adha) seperti <span style="text-decoration: underline;">perayaan pada sebagian malam dari bulan Rabi’ul Awwal (yang disebut dengan malam Maulid Nabi)</span>, perayaan pada sebagian malam Rojab, hari ke-8 Dzulhijjah, awal Jum’at dari bulan Rojab atau perayaan hari ke-8 Syawal -yang dinamakan orang yang sok pintar (alias bodoh) dengan ‘Idul Abror (lebaran ketupat)-; <span style="text-decoration: underline;">ini semua adalah bid’ah yang tidak dianjurkan oleh para salaf (sahabat yang merupakan generasi terbaik umat ini) dan mereka juga tidak pernah melaksanakannya</span>. <em>Wallahu subhanahu wa ta’ala a’lam.</em>”<a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Renungkan perkataan beliau baik-baik. Apakah bisa dipahami dari perkataan terakhir ini bahwa beliau mendukung Maulid? <em>Semoga Allah memberikan taufiknya kepada kita sekalian agar bisa membedakan mana yang benar dan mana yang keliru.</em></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Kerancuan </strong><strong>Kedua: </strong><strong>Ibnu Hajar Al ‘Asqolani</strong><strong> Membolehkan Maulid Nabi</strong></span></p>
<p>Perkataan berikut kami nukil dari kitab <em>Al Hawiy</em> yang ditulis oleh Imam As Suyuthi.<a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">وقد سئل شيخ الإسلام حافظ العصر أبو الفضل بن حجر عن عمل المولد فأجاب بما نصه: أصل عمل المولد بدعة لم تنقل عن أحد من السلف الصالح من القرون الثلاثة ولكنها مع ذلك قد اشتملت على محاسن وضدها فمن تحرى في عملها المحاسن وتجنب ضدها كان بدعة حسنة وإلا فلا قال وقد ظهر لي تخريجها على أصل ثابت وهو ما ثبت في الصحيحين من أن النبي صلى الله عليه وسلم قدم المدينة فوجد اليهود يصومون يوم عاشوراء فسألهم فقالوا هو يوم أغرق الله فيه فرعون ونجى موسى فنحن نصومه شكرا لله تعالى فيستفاد منه فعل الشكر لله على ما من به في يوم معين من إسداء نعمة أو دفع نقمة ويعاد ذلك في نظير ذلك اليوم من كل سنة والشكر لله يحصل بأنواع العبادة كالسجود والصيام والصدقة والتلاوة وأي نعمة أعظم من النعمة ببروز هذا النبي نبي الرحمة في ذلك اليوم وعلى هذا فينبغي أن يتحرى اليوم بعينه حتى يطابق قصة موسى في يوم عاشوراء ومن لم يلاحظ ذلك لا يبالي بعمل المولد في أي يوم من الشهر بل توسع قوم فنقلوه إلى يوم من السنة وفيه ما فيه &#8211; فهذا ما يتعلق بأصل عمله، وأما ما يعمل فيه فينبغي أن يقتصر فيه على ما يفهم الشكر لله تعالى من نحو ما تقدم ذكره من التلاوة والإطعام والصدقة وإنشاد شيء من المدائح النبوية والزهدية المحركة للقلوب إلى فعل الخير والعمل للآخرة وأما ما يتبع ذلك من السماع واللهو وغير ذلك فينبغي أن يقال ما كان من ذلك مباحا بحيث يقتضي السرور بذلك اليوم لا بأس بإلحاقه به وما كان حراما أو مكروها فيمنع وكذا ما كان خلاف الأولى</p>
<p>Syaikhul Islam Hafizh di masa ini, Abul Fadhl Ibnu Hajar ditanya mengenai amalan Maulid, beliau pun menjawab dengan redaksi sebagai berikut:</p>
<p>“Asal  melakukan maulid adalah bid&#8217;ah, tidak diriwayatkan dari ulama salaf dalam tiga abad pertama, akan tetapi didalamnya terkandung kebaikan-kebaikan dan juga kesalahan-kesalahan. Barangsiapa melakukan kebaikan di dalamnya dan menjauhi kesalahan-kesalahan, maka ia telah melakukan buid&#8217;ah yang baik (bid&#8217;ah hasanah). Saya telah melihat landasan yang kuat dalam hadist sahih Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> datang ke Madinah, beliau menemukan orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura, maka beliau bertanya kepada mereka, dan mereka menjawab, &#8220;Itu hari dimana Allah menenggelamkan Firaun, menyelamatkan Musa, kami berpuasa untuk mensyukuri itu semua.” Dari situ dapat diambil kesimpulan bahwa boleh melakukan syukur pada hari tertentu di situ terjadi nikmat yang besar atau terjadi penyelamatan dari mara bahaya, dan dilakukan itu tiap bertepatan pada hari itu. Syukur bisa dilakukan dengan berbagai macam ibadah, seperti sujud, puasa, sedekah, membaca al-Qur&#8217;an dll. Apa nikmat paling besar selain kehadiran Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> di muka bumi ini. Maka sebaiknya merayakan maulid dengan melakukan syukur berupa membaca Qur&#8217;an, memberi makan fakir miskin, menceritakan keutamaan dan kebaikan Rasulullah yang bisa menggerakkan hati untuk berbuat baik dan amal sholih. Adapun yang dilakukan dengan mendengarkan musik dan memainkan alat musik, maka hukumnya dikembalikan kepada hukum pekerjaan itu. Kalau perkara yang dilakukan ketika itu mubah maka hukum merayakannya mubah, kalau itu haram maka hukumnya haram dan kalau itu kurang baik maka begitu seterusnya&#8221;.<a href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Sanggahan untuk kerancuan di atas:</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Pertama</span>: Yang harus dipahami dari setiap perkataan ulama bahwa mereka tidaklah <em>ma’shum</em>, artinya mereka tidaklah luput dari kesalahan dan ketergelinciran. Oleh karenanya, seharusnya yang jadi pegangan adalah dalil. Janganlah bersikap mengambil pendapat mereka yang ganjil berdasarkan selera dan hawa nafsu. Jika ketergelinciran dan kekeliruan mereka yang diambil, maka pasti kita pun akan menuai kejelekan.</p>
<p>Sulaiman At Taimi mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">لَوْ أَخَذْتَ بِرُخْصَةِ كُلِّ عَالِمٍ اِجْتَمَعَ فِيْكَ الشَّرُّ كُلُّهُ</p>
<p>“<em>Seandainya engkau mengambil setiap ketergelinciran ulama, maka pasti akan terkumpul padamu kejelekan</em>.” Setelah mengemukakan perkataan ini, Ibnu ‘Abdil Barr mengatakan, ”Ini adalah ijma’ (kesepakatan) para ulama, saya tidak mengetahui adanya perselisihan dalam hal ini.”</p>
<p>Al Auza’i mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">مَنْ أَخَذَ بِنَوَادِرِ العُلَمَاءِ خَرَجَ مِنَ الإِسْلاَمِ</p>
<p>“<em>Barangsiapa yang mengambil pendapat yang ganjil dari para ulama, maka ia bisa jadi keluar dari Islam</em>.” Asy Syatibi menyampaikan adanya ijma’ (kesepakatan para ulama) bahwa mencari-cari pendapat yang ganjil dari para ulama tanpa ada pegangan dalil syar’i adalah suatu kefasikan dan hal ini jelas tidak dibolehkan.<a href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Kedua</span>: Ibnu Hajar <em>rahimahullah </em> telah mengatakan di atas: “Asal  melakukan maulid adalah bid&#8217;ah, tidak diriwayatkan dari ulama salaf dalam tiga abad pertama”, maka sebenarnya perkataan beliau ini sudah cukup untuk menyatakan tercelanya perayaan Maulid. Cukup sebagai sanggahannya,</p>
<p style="text-align: center;">لَوْ كَانَ خَيرْاً لَسَبَقُوْنَا إِلَيْهِ</p>
<p>“<em>Seandainya amalan tersebut (perayaan maulid) baik, tentu mereka (para sahabat dan tabi’in) sudah mendahului kita untuk melakukannya</em>.”</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Ketiga</span>: Justru dalil  puasa Asyura di atas bisa berbalik pada orang yang pro Maulid. Jika puasa Asyura adalah dalil untuk memperingati Maulid, maka tentu para salaf dahulu akan menjadikannya sebagai dalil. Sudah dipastikan bahwa mereka telah berijma’ (bersepakat) tidak merayakan maulid karena tidak satu pun di antara generasi awal Islam yang merayakannya. Argumen yang dikemukakan oleh Ibnu Hajar <em>rahimahullah </em>sebenarnya telah menyelisihi ijma’ (kesepakatan) para ulama salaf dari sisi pemahaman dan pengamalan. Siapa saja yang menyelisihi ijma’ salaf, berarti ia telah keliru. Karena para salaf tidaklah mungkin bersatu melainkan dalam petunjuk.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Keempat</span>: Menyimpulkan dibolehkannya perayaan Maulid dari puasa Asyura adalah pendalilan yang terlalu memberat-beratkan diri dan pendalilan semacam ini tertolak. Karena ingatlah bahwa Maulid adalah ibadah dan bukan amalan sosial sebagaimana kata sebagian orang. Buktinya adalah yang merayakan maulid ingin merealisasikan cinta Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam, </em>namun lewat jalan yang keliru. Dan juga setiap yang merayakannya pasti ingin cari pahala. Bagaimana mungkin ini dikatakan bukan ibadah?! Jika perayaan tersebut adalah ibadah, maka landasannya adalah dalil dan mengikuti tuntunan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam, </em>bukan hanya sangkaan baik semata. Jika masih mengklaim bahwa Maulid adalah bid’ah hasanah, maka cukup kami sanggah dengan perkataan Ibnu Mas’ud <em>radhiyallahu ‘anhu</em>,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ</p>
<p>“<em>Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya</em>.”<a href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p>Ibnu ‘Umar mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً</p>
<p>“<em>Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.</em>”<a href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Kelima</span>: Ingatlah bahwa mengenai puasa Asyura ada dorongan dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>untuk melakukannya. Hal ini jauh berbeda dengan perayaan Maulid yang Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>sama sekali tidak mendorong untuk melakukannya.<a href="#_ftn11">[11]</a></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Kerancuan </strong><strong>Ketiga</strong><strong>: Shalahuddin Al Ayubi Mempelopori Peringatan Maulid</strong></span></p>
<p>Di negeri ini lebih terkenal kalau Shalahuddin Al Ayubi adalah pelopor Maulid Nabi dalam rangka menyemangati para pemuda.</p>
<p>Kami merasa aneh kenapa pejuang Sunnah yang anti Rafidhah (Syi’ah) malah diklaim sebagai pemrakarsa perayaan Maulid. Perlu diketahui bahwa Shalahuddin Al Ayubi adalah seorang raja dan panglima Islam. Beliau bahkan yang melenyapkan perayaan Maulid yang sebenarnya diprakarsai oleh Dinasti Fatimiyyun sebagaimana dinyatakan oleh banyak ahli sejarah. Berikut perkataan ahli sejarah mengenai Maulid Nabi.</p>
<p>Al Maqriziy, seorang pakar sejarah mengatakan, “Para khalifah Fatimiyyun memiliki banyak perayaan sepanjang tahun. Ada perayaan tahun baru, hari ‘Asyura, maulid (hari kelahiran) Nabi, maulid Ali bin Abi Thalib, maulid Hasan dan Husain, maulid Fatimah al Zahra, maulid khalifah yang sedang berkuasa, perayaan malam pertama bulan Rajab, perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Sya’ban, perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Ramadhan, perayaan malam penutup Ramadhan, perayaan ‘Idul Fithri, perayaan ‘Idul Adha, perayaan ‘Idul Ghadir, perayaan musim dingin dan musim panas, perayaan malam Al Kholij, hari Nauruz (Tahun Baru Persia), hari Al Ghottos, hari Milad (Natal), hari Al Khomisul ‘Adas (3 hari sebelum paskah), dan hari Rukubaat.”<a href="#_ftn12">[12]</a></p>
<p>Asy Syaikh Bakhit Al Muti’iy, mufti negeri Mesir dalam kitabnya Ahsanul Kalam (hal. 44) mengatakan bahwa yang pertama kali mengadakan enam perayaan maulid yaitu: perayaan Maulid (hari kelahiran) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maulid ‘Ali, maulid Fatimah, maulid Al Hasan, maulid Al Husain –radhiyallahu ‘anhum- dan maulid khalifah yang berkuasa saat itu yaitu Al Mu’izh Lidinillah (keturunan ‘Ubaidillah dari dinasti Fatimiyyun) pada tahun 362 H.</p>
<p>Begitu pula Asy Syaikh ‘Ali Mahfuzh dalam kitabnya Al Ibda’ fi Madhoril Ibtida’ (hal. 251) dan Al Ustadz ‘Ali Fikriy dalam Al Muhadhorot Al Fikriyah (hal. 84) juga mengatakan bahwa yang mengadakan perayaan Maulid pertama kali adalah ‘Ubaidiyyun (Fatimiyyun).<a href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p><strong><em>Lalu siapakah sebenarnya ‘Ubaidiyyun (Fatimiyyun)?</em></strong></p>
<p>Al Qodhi Al Baqillaniy menulis kitab khusus untuk membantah Fatimiyyun yang beliau namakan “Kasyful Asror wa Hatkul Astar (Menyingkap rahasia dan mengoyak tirai)”. Dalam kitab tersebut, beliau membuka kedok Fatimiyyun dengan mengatakan, “Mereka adalah suatu kaum yang menampakkan pemahaman Rafidhah (Syi’ah) dan menyembunyikan kekufuran semata.”</p>
<p>Ahmad bin ‘Abdul Halim Al Haroni Ad Dimasqiy mengatakan, “Tidak disangsikan lagi, jika kita melihat pada sejarah kerajaan Fatimiyyun, kebanyakan dari raja (penguasa) mereka adalah orang-orang yang zholim, sering menerjang perkara yang haram, jauh dari melakukan perkara yang wajib, paling semangat dalam menampakkan bid’ah yang menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah, dan menjadi pendukung orang munafik dan ahli bid’ah. Perlu diketahui, para ulama telah sepakat bahwa Daulah Bani Umayyah, Bani Al ‘Abbas (‘Abbasiyah) lebih dekat pada ajaran Allah dan Rasul-Nya, lebih berilmu, lebih unggul dalam keimanan daripada Daulah Fatimiyyun. Dua daulah tadi lebih sedikit berbuat bid’ah dan maksiat daripada Daulah Fatimiyyun. Begitu pula khalifah kedua daulah tadi lebih utama daripada Daulah Fatimiyyun.”</p>
<p>Beliau rahimahullah juga mengatakan, “Bani Fatimiyyun adalah di antara manusia yang paling fasik (banyak bermaksiat) dan paling kufur.”<a href="#_ftn14">[14]</a></p>
<p>Bani Fatimiyyun atau ‘Ubaidiyyun juga menyatakan bahwa mereka memiliki nasab (silsilah keturunan) sampai Fatimah. Ini hanyalah suatu kedustaan. Tidak ada satu pun ulama yang menyatakan demikian.</p>
<p>Ahmad bin ‘Abdul Halim juga mengatakan dalam halaman yang sama,  “Sudah diketahui bersama dan tidak bisa disangsikan lagi bahwa siapa yang menganggap mereka di atas keimanan dan ketakwaan atau menganggap mereka memiliki silsilah keturunan sampai Fatimah, sungguh ini adalah suatu anggapan tanpa dasar ilmu sama sekali. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “<em>Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya</em>.” (QS. Al Israa’: 36). Begitu juga Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “<em>Kecuali orang yang bersaksi pada kebenaran sedangkan mereka mengetahuinya</em>.” (QS. Az Zukhruf: 86). Allah Ta’ala juga mengatakan saudara Yusuf (yang artinya), “<em>Dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui</em>.” (QS. Yusuf: 81). Perlu diketahui bahwa tidak ada satu pun ulama yang menyatakan benarnya silsilah keturunan mereka sampai pada Fatimah.”<a href="#_ftn15">[15]</a></p>
<p>Begitu pula Ibnu Khallikan mengatakan, “Para ulama peneliti nasab mengingkari klaim mereka dalam nasab [yang katanya sampai pada Fatimah].”<a href="#_ftn16">[16]</a></p>
<p>‘Abdullah At Tuwaijiriy mengatakan, “Al Qodhi Abu Bakr Al Baqillaniy dalam kitabnya ‘yang menyingkap rahasia dan mengoyak tirai Bani ‘Ubaidiyyun’, beliau menyebutkan bahwa Bani Fatimiyyun adalah keturunan Majusi. Cara beragama mereka lebih parah dari Yahudi dan Nashrani. Bahkan yang paling ekstrim di antara mereka mengklaim ‘Ali sebagai ilah (Tuhan yang disembah) atau ada sebagian mereka yang mengklaim ‘Ali memiliki kenabian. Sungguh Bani Fatimiyyun ini lebih kufur dari Yahudi dan Nashrani.</p>
<p>Al Qodhi Abu Ya’la dalam kitabnya Al Mu’tamad menjelaskan panjang lebar mengenai kemunafikan dan kekufuran Bani Fatimiyyun. Begitu pula Abu Hamid Al Ghozali membantah aqidah mereka dalam kitabnya Fadho-ihul Bathiniyyah (Mengungkap kesalahan aliran Batiniyyah).”<a href="#_ftn17">[17]</a></p>
<p>Bagaimana mungkin Shalahuddin menghidupkan perayaan Maulid sedangkan beliau sendiri yang menumpas ‘Ubaidiyyun?! Ahmad bin ‘Abdul Halim Al Haroni <em>rahimahullah </em>mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">صَلَاحِ الدِّينِ الَّذِي فَتَحَ مِصْرَ ؛ فَأَزَالَ عَنْهَا دَعْوَةَ العبيديين مِنْ الْقَرَامِطَةِ الْبَاطِنِيَّةِ وَأَظْهَرَ فِيهَا شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ</p>
<p>“<em>Sholahuddin-lah yang menaklukkan Mesir. <span style="text-decoration: underline;">Beliau menghapus dakwah ‘Ubaidiyyun yang menganut aliran Qoromithoh Bathiniyyah (aliran yang jelas sesatnya, pen)</span>. Shalahuddin-lah yang menghidupkan syari’at Islam di kala itu.</em>”<a href="#_ftn18">[18]</a></p>
<p>Dalam perkataan lainnya, Ahmad bin ‘Abdul Halim Al Haroni <em>rahimahullah </em>mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">فَتَحَهَا مُلُوكُ السُّنَّة مِثْلُ صَلَاحِ الدِّينِ وَظَهَرَتْ فِيهَا كَلِمَةُ السُّنَّةِ الْمُخَالِفَةُ لِلرَّافِضَةِ ثُمَّ صَارَ الْعِلْمُ وَالسُّنَّةُ يَكْثُرُ بِهَا وَيَظْهَرُ</p>
<p>“Negeri Mesir kemudian ditaklukkan oleh raja yang berpegang teguh dengan Sunnah yaitu Shalahuddin. Beliau yang menampakkan ajaran Nabi yang shahih di kala itu, berseberangan dengan ajaran Rafidhah (Syi’ah). Di masa beliau, akhirnya ilmu dan ajaran Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> semakin terbesar luas.”<a href="#_ftn19">[19]</a><a href="#_ftn20"><strong><strong>[20]</strong></strong></a></p>
<p>Dari penjelasan ini, sangat mustahil jika kita katakan bahwa Shalahuddin Al Ayubi yang menjadi pelopor perayaan Maulid, padahal beliau sendiri yang menumpas ‘Ubaidiyyun. Sungguh, jika ada yang menyatakan bahwa Shalahuddin sebagai pelopor Maulid, maka ini sama saja memutar balikkan sejarah. Sejarah yang benar, Shalahuddin itu menumpas ‘Ubaidiyyun sebelum diadakan perang salib karena ‘Ubaidiyyun yang sebenarnya melemahkan kaum muslimin dengan maulid yang mereka ada-adakan. Namun inilah kenyataan sejarah yang direkayasa yang diputarbalik dan disebar di negeri ini. <em>Hanya Allah yang beri taufik.</em></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Kerancuan </strong><strong>Keempat</strong><strong>: Argumen Peringatan Maulid dengan Puasa Senin Kamis</strong></span></p>
<p>Berikut adalah kerancuan lainnya dari kalangan pro Maulid. Mereka mengatakan, “Rasulullah SAW sendiri mensyukuri atas kelahirannya. Dalam sebuah hadits dinyatakan:</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">عَنْ أَبِيْ قَتَادَةَ الأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الْإِثْنَيْنِ فَقَالَ فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ . رواه مسلم</p>
<p>&#8220;Dari Abi Qotadah al-Anshori RA sesungguhnya Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai puasa hari senin. Rasulullah SAW menjawab: Pada hari itu aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku&#8221;. (H.R. Muslim, Abud Dawud, Tirmidzi, Nasa&#8217;I, Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Ibnu Abi Syaibah dan Baghawi).”<a href="#_ftn21">[21]</a></p>
<p>Sanggahan terhadap syubhat di atas:</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Pertama</span>: Bagaimana mungkin dalil di atas menjadi pendukung untuk merayakan hari kelahiran beliau[?] Ini sungguh tidak tepat dalam berdalil. Lihatlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melaksanakan puasa pada tanggal kelahirannya yaitu tanggal 12 Rabiul Awwal, dan itu kalau benar pada tanggal tersebut beliau lahir. Karena dalam masalah tanggal kelahiran beliau masih terdapat perselisihan. Yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan adalah puasa pada hari Senin bukan pada 12 Rabiul Awwal[!] Seharusnya kalau mau mengenang hari kelahiran Nabi dengan dalil di atas, maka perayaan Maulid harus setiap pekan bukan setiap tahun.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Kedua</span>: Ingatlah bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bukan hanya menjadikan hari Senin untuk berpuasa namun juga hari kamis. Dari ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>, beliau mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَتَحَرَّى صِيَامَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ.</p>
<p>“<em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menaruh pilihan berpuasa pada hari senin dan kamis.</em>”<a href="#_ftn22">[22]</a> Sehingga hadits yang dikemukakan kalangan pro Maulid bukan menunjukkan bahwa beliau ingin memperingati hari kelahirannya.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Ketiga</span>: Jika memperingati maulid adalah dalam rangka bersyukur kepada Allah atas kelahiran Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam, </em>maka cara memperingatinya adalah dengan berpuasa sebagaimana yang beliau contohkan. Namun kami belum ketahui ada yang bersyukur dengan cara seperti ini. Yang ada bentuk syukurnya adalah dengan membaca shalawat tanpa tuntunan, bahkan ada pula yang memperingatinya dengan bermusik ria.<a href="#_ftn23">[23]</a></p>
<p>Demikian pembahasan kami mengenai beberapa syubhat yang ada dari para simpatisan Maulid. Namun masih banyak syubhat dan kerancuan lainnya, moga-moga lain waktu bisa kami lengkapi insya Allah. Kerancuan dan jawaban lainnya bisa dilihat di artikel kami sebelumnya <a href="http://muslim.or.id/manhaj/antara-cinta-nabi-dan-perayaan-maulid-nabi-3.html"><strong>di sini</strong></a>. Intinya, syubhat yang dimunculkan tidak terlepas dari dua kemungkinan, yaitu boleh jadi dengan anggapan baik semata (tanpa dalil) dan boleh jadi dengan dalil namun salah dalam memahami.</p>
<p>Semoga apa yang kami sajikan ini bermanfaat bagi kaum muslimin sekalian. Cukuplah maksud kami ini sebagaimanan yang dikatakan oleh Nabi Syu’aib,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ</p>
<p>“<em>Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali</em>.” (QS. Huud: 88)</p>
<p><em>Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.</em></p>
<p>Disempurnakan berkat pertolongan Allah di Pangukan-Sleman, Jum’at &#8211; 12 Rabi’ul Awwal 1431 H (26/02/2010)</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>Artikel <a href="http://www.muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Syubhat ini dikemukakan di salah satu web pro Maulid Nabi. Silakan lihat link berikut &gt;&gt; <a href="http://www.pesantrenvirtual.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=1150&amp;Itemid=1">http://www.pesantrenvirtual.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=1150&amp;Itemid=1</a> . Begitu pula Syubhat ini dilontarkan oleh pemilik blog Salafytobat di sini &gt;&gt; <a href="http://salafytobat.wordpress.com/2009/03/04/sunnah-maulid-nabi-allah-pun-merayakan-maulid-nabi-nabi/">http://salafytobat.wordpress.com/2009/03/04/sunnah-maulid-nabi-allah-pun-merayakan-maulid-nabi-nabi/</a> .</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Lihat <em>Iqtidho’ Ash Shirothil Mustaqim li Mukholafati Ash-haabil Jahiim</em>, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Tahqiq &amp; Ta’liq: Dr. Nashir ‘Abdul Karim Al ‘Aql, 2/126-127, Wizarotusy Syu’un Al Islamiyah, cetakan ketujuh, tahun 1419 H</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Lihat <em>Iqtidho’ Ash Shirothil Mustaqim</em>, 2/123-124.</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Coba lihat pembahasan tentang “<strong>Sejarah Kelam Maulid Nabi”</strong> di sini &gt;&gt; <a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/jalan-kebenaran/2925-sejarah-kelam-maulid-nabi.html">http://rumaysho.com/belajar-islam/jalan-kebenaran/2925-sejarah-kelam-maulid-nabi.html</a> atau di sini &gt;&gt; <a href="../manhaj/antara-cinta-nabi-dan-perayaan-maulid-nabi-2.html">http://muslim.or.id/manhaj/antara-cinta-nabi-dan-perayaan-maulid-nabi-2.html</a> . Insya Allah akan kami singgung pula dalam penjelasan selanjutnya.</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> <em>Majmu’</em><em> Al</em><em> Fatawa</em>, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,  25/298, Darul Wafa’,</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Lihat <em>Al Hawi Lil Fatawa</em>, As Suyuthi, 1/282, Asy Syamilah</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Syubhat ini disampaikan dari web pro Maulid Nabi di link berikut &gt;&gt; <a href="http://www.pesantrenvirtual.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=1150&amp;Itemid=1">http://www.pesantrenvirtual.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=1150&amp;Itemid=1</a></p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Lihat <em>Kasyful Jaani</em>, Muhammad At Tiijani, hal. 96, Asy Syamilah.</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> HR. Ad Darimi. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayid.</p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> Lihat Al Ibanah Al Kubro li Ibni Baththoh, 1/219, Asy Syamilah</p>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> Sanggahan ini kami olah dengan beberapa tambahan dari <em>Al Bida’ Al Hawliyah</em>, ‘Abdullah bin ‘Abdil ‘Aziz bin Ahmad At Tuwaijiri, hal. 159-161, Darul Fadhilah, cetakan pertama, tahun 1421 H.</p>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> Al Mawa’izh wal I’tibar bi Dzikril Khutoti wal Atsar, 1/490. Dinukil dari Al Maulid, hal. 20 dan Al Bida’ Al Hawliyah, hal. 145-146</p>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> Dinukil dari Al Maulid, hal. 20</p>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a> Majmu’ Al Fatawa, 35/127</p>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a> Idem.</p>
<p><a href="#_ftnref16">[16]</a> Wafayatul A’yan, 3/117-118</p>
<p><a href="#_ftnref17">[17]</a> Al Bida’ Al Hawliyah, 142-143</p>
<p><a href="#_ftnref18">[18]</a> Majmu’ Al Fatawa, 35/138</p>
<p><a href="#_ftnref19">[19]</a> Majmu’ Al Fatawa, 3/281.</p>
<p><a href="#_ftnref20">[20]</a> Untuk mengetahui selengkapnya mengenai Shalahuddin Al Ayubi apakah mendukung Maulid, silakan baca di buku “<strong><em>Benarkan Shalahudin Al Ayubi mengerjakan Maulid Nabi?</em></strong>”, yang ditulis oleh Al Ustadz Ibnu Saini bin Muhammad bin Musa, Maktabah Muawiyah bin Abi Sofyan.</p>
<p><a href="#_ftnref21">[21]</a> Syubhat ini dijadikan dalil bolehnya perayaan Maulid Nabi di web pada link berikut &gt;&gt; <a href="http://www.pesantrenvirtual.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=1150&amp;Itemid=1">http://www.pesantrenvirtual.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=1150&amp;Itemid=1</a> .</p>
<p><a href="#_ftnref22">[22]</a> HR. An Nasai no. 2360 dan Ibnu Majah no. 1739. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat <em>Shahihul Jaami’</em> no. 4897.</p>
<p><a href="#_ftnref23">[23]</a> Lihat sanggahan dalam kitab <em>Al Bida’ Al Hawliyah</em>, hal. 176.</p>
<div class="shr-publisher-2212"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fibnu-taimiyah-ibnu-hajar-shalahuddin-al-ayubi-pro-maulid-nabi.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fibnu-taimiyah-ibnu-hajar-shalahuddin-al-ayubi-pro-maulid-nabi.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fibnu-taimiyah-ibnu-hajar-shalahuddin-al-ayubi-pro-maulid-nabi.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/ibnu-taimiyah-ibnu-hajar-shalahuddin-al-ayubi-pro-maulid-nabi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>55</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mana Bukti Cintamu pada Nabi?</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/mana-bukti-cintamu-pada-nabi.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/mana-bukti-cintamu-pada-nabi.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Feb 2010 08:00:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[cinta nabi]]></category>
		<category><![CDATA[maulid]]></category>
		<category><![CDATA[Maulid Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=2150</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi akhir zaman, kepada keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman. Dengan berbagai macam cara seseorang akan mencurahkan<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/mana-bukti-cintamu-pada-nabi.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><em>Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi akhir zaman, kepada keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.</em></p>
<p>Dengan berbagai macam cara seseorang akan mencurahkan usahanya untuk membuktikan cintanya pada kekasihnya. Begitu pula kecintaan pada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Setiap orang pun punya berbagai cara untuk membuktikannya. Namun tidak semua cara tersebut benar, ada di sana cara-cara yang keliru. Itulah yang nanti diangkat pada tulisan kali ini. Semoga Allah memudahkan dan memberikan kepahaman.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kewajiban Mencintai Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em></strong></span></p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ</p>
<p><em>“Katakanlah: &#8220;Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah <span style="text-decoration: underline;">lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-</span>Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya&#8221;. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” </em>(QS. At Taubah: 24). Ibnu Katsir <em>rahimahullah </em>mengatakan,  “Jika semua hal-hal tadi lebih dicintai daripada Allah dan Rasul-Nya, serta berjihad di jalan Allah, maka tunggulah musibah dan malapetaka yang akan menimpa kalian.”<a href="#_ftn1">[1]</a> Ancaman keras inilah yang menunjukkan bahwa mencintai Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dari makhluk lainnya adalah <strong>wajib</strong>.</p>
<p>Bahkan tidak boleh seseorang mencintai dirinya hingga melebihi kecintaan pada nabinya. Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ</p>
<p>“<em>Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri</em>.” (QS. Al Ahzab: 6). Syihabuddin Al Alusi <em>rahimahullah </em>mengatakan, “Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>tidaklah memerintahkan sesuatu dan tidak ridho pada umatnya kecuali jika ada maslahat dan mendatangkan keselamatan bagi mereka. Berbeda dengan jiwa mereka sendiri. Jiwa tersebut selalu mengajak pada keburukan.”<a href="#_ftn2">[2]</a> Oleh karena itu, kecintaan pada beliau mesti didahulukan daripada kecintaan pada diri sendiri.</p>
<p>‘Abdullah bin Hisyam berkata, “Kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau memegang tangan Umar bin Khaththab <em>radhiyallahu</em><em> ’anhu</em>. Lalu Umar berkata, ”<em>Wahai</em><em> Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali terhadap diriku sendiri.</em>” Kemudian Nabi <em>shallallahu ’alaihi wa sallam </em>berkata,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">لاَ وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ</p>
<p>”<em>Tidak, demi yang jiwaku berada di tangan-Nya (imanmu belum sempurna). Tetapi aku harus lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri</em>.” Kemudian ’Umar berkata, ”<em>Sekarang, demi Allah. Engkau (Rasulullah) lebih aku cintai daripada diriku sendiri.</em>” Kemudian Nabi <em>shallallahu ’alaihi wa sallam </em>berkata, ”<em>Saat ini pula wahai Umar, (imanmu telah sempurna)</em>.”<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Mengapa Kita Harus Mencintai Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>?</strong></span></p>
<p>Mencintai seseorang dapat kembali kepada 2 alasan :</p>
<p><span style="color: #ff00ff;"><strong>Alasan p</strong><strong>ertama</strong></span>: berkaitan dengan sosok yang dicintai</p>
<p>Semakin sempurna orang yang dicintai, maka di situlah tempat tumbuhnya kecintaan. Sedangkan Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> adalah manusia yang paling luar biasa dan sempurna dalam akhlaq, kepribadian, sifat dan dzatnya. Di antara sifat beliau adalah begitu perhatian pada umatnya, begitu lembut dan kasih sayang pada umatnya. Sebagaimana Allah <em>Ta’ala</em> mensifati beliau dalam firman-Nya,</p>
<p dir="rtl">لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ</p>
<p>”<em>Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin</em>.” (QS. At Taubah: 128)</p>
<p><span style="color: #ff00ff;"><strong>Alasan k</strong><strong>edua</strong></span>: berkaitan dengan faedah yang akan diperoleh jika seseorang mencintai nabinya <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam. </em>Di antara faedah tersebut adalah:</p>
<p><strong>[1] M</strong><strong>endapatkan manisnya iman</strong></p>
<p>Dari Anas <em>radhiyallahu ’anhu</em> , Nabi <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ</p>
<p>“<em>Tiga perkara yang membuat seseorang akan mendapatkan manisnya iman yaitu: Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya</em><em>;</em><em> mencintai saudaranya</em><em> hanya</em><em> karena Allah</em><em>;</em><em> dan benci kembali pada kekufuran sebagaimana benci dilemparkan dalam api.</em>”<a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p><strong>[2] A</strong><strong>kan menjadikan seseorang bersama beliau di akhirat</strong></p>
<p>Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan bahwa seseorang bertanya pada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, “<em>Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?</em>” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “<em>Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?</em>” Orang tersebut menjawab, “<em>Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya.</em>” Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berkata,</p>
<p style="text-align: center;">أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ</p>
<p>“(<em>Kalau begitu) engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai</em>.”<a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Dalam riwayat lain, Anas mengatakan, “Kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>: <em>Anta ma’a man ahbabta</em> (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai).” Anas pun mengatakan, “<em>Kalau begitu aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar. Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka</em>.”<a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p><strong>[3] A</strong><strong>kan memperoleh kesempurnaan iman</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ</p>
<p>“<em>Seseorang tidaklah beriman (dengan sempurna) hingga aku lebih dicintainya dari anak dan orang tuanya serta manusia seluruhnya</em>.”<a href="#_ftn7"><sup><sup>[7]</sup></sup></a></p>
<p>Dengan dua alasan inilah tidak ada alasan bagi siapa pun untuk tidak mencintai beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam.</em><a href="#_ftn8"><sup><sup>[8]</sup></sup></a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Bukti Cinta Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em></strong></span></p>
<p><span style="color: #ff00ff;"><strong>Pertama</strong></span>: Mendahulukan dan mengutamakan beliau dari siapa pun</p>
<p>Hal ini dikarenakan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah makhluk pilihan dari Allah <em>Ta’ala</em>. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِى هَاشِمٍ وَاصْطَفَانِى مِنْ بَنِى هَاشِمٍ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya Allah telah memilih Kinanah yang terbaik dari keturunan Isma’il. Lalu Allah pilih Quraisy yang terbaik dari Kinanah. Allah pun memilih Bani Hasyim yang terbaik dari Quraisy. Lalu Allah pilih aku sebagai yang terbaik dari Bani Hasyim.</em>”<a href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p>Di antara bentuk mendahulukan dan mengutamakan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dari siapa pun yaitu apabila pendapat ulama, kyai atau ustadz yang menjadi rujukannya bertentangan dengan hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam, </em>maka yang didahulukan adalah pendapat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam. </em>Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Asy Syafi’i <em>rahimahullah</em>, “Kaum muslimin telah sepakat bahwa siapa saja yang telah jelas baginya ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya karena perkataan yang lainnya.”<a href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p><strong><span style="color: #ff00ff;">Kedua</span>: </strong>Membenarkan segala yang disampaikan oleh Nabi <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em></p>
<p>Termasuk prinsip keimanan dan pilarnya yang utama ialah mengimani kemaksuman Nabi <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> dari dusta atau <em>buhtan</em> (fitnah) dan membenarkan segala yang dikabarkan beliau tentang perkara yang telah berlalu, sekarang, dan akan datang. Karena Allah <em>Ta’ala </em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى (1) مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى (2) وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (4)</p>
<p>”<em>Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)</em>.” (QS. An Najm: 1-4)</p>
<p><span style="color: #ff00ff;"><strong>Ketiga</strong></span>: Beradab di sisi Nabi <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em></p>
<p>Di antara bentuk adab kepada Nabi <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> adalah memuji beliau dengan pujian yang layak baginya. Pujian yang paling mendalam ialah pujian yang diberikan oleh Rabb-nya dan pujian beliau terhadap dirinya sendiri, dan yang paling utama adalah shalawat dan salam kepada beliau. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">الْبَخِيلُ الَّذِي مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ</p>
<p><em>“Orang yang bakhil </em><em>(pelit) </em><em>adalah orang yang apabila namaku disebut di sisinya, dia tidak bershalawat kepadaku.</em>”<a href="#_ftn11">[11]</a></p>
<p><span style="color: #ff00ff;"><strong>Keempat</strong></span>: Ittiba’ (mencontoh) Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>serta berpegang pada petunjuknya.</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ</p>
<p>“<em>Katakanlah: &#8220;Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu&#8221;.”</em> (QS. Ali Imron: 31)</p>
<p>Ibnu Mas’ud <em>radhiyallahu ‘anhu</em> berkata,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ</p>
<p>“Ikutilah (petunjuk Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>), janganlah membuat bid’ah. Karena (ajaran Nabi) itu sudah cukup bagi kalian. <span style="text-decoration: underline;">Semua amalan yang tanpa tuntunan Nabi (baca: bid’ah) adalah sesat</span> .”<a href="#_ftn12">[12]</a></p>
<p><span style="color: #ff00ff;"><strong>Kelima</strong></span>: Berhakim kepada ajaran Nabi <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em></p>
<p>Sesungguhnya berhukum dengan ajaran Nabi <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> adalah salah satu prinsip <em>mahabbah </em>(cinta) dan <em>ittiba’ </em>(mengikuti Nabi <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em>). Tidak ada iman bagi orang yang tidak berhukum dan menerima dengan sepenuhnya syari’atnya. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا</p>
<p><em>“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”</em> (QS. An-Nisa’: 65)</p>
<p>Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah </em>mengatakan, “Setiap orang yang keluar dari ajaran dan syariat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> maka Allah telah bersumpah dengan diri-Nya yang disucikan, bahwa dia tidak beriman sehingga ridha dengan hukum Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam segala yang diperselisihkan di antara mereka dari perkara-perkara agama dan dunia serta tidak ada dalam hati mereka rasa keberatan terhadap hukumnya.”<a href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p><span style="color: #ff00ff;"><strong>Keenam</strong></span>: Membela Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em></p>
<p>Membela dan menolong Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah salah satu tanda kecintaan dan pengagungan. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;">لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ</p>
<p>“<em>(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan RasulNya. Mereka itulah orang-orang yang benar.</em>” (QS. Al Hasyr: 8)</p>
<p>Di antara contoh pembelaaan terhadap Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>seperti diceritakan dalam kisah berikut. Ketika umat Islam mengalami kekalahan, Anas bin Nadhr pada perang Uhud mengatakan, ”Ya Allah, aku memohon ampun kepadamu terhadap perbuatan para sahabat dan aku berlepas diri dari-Mu dari perbuatan kaum musyrik.”  Kemudian ia maju lalu Sa’ad menemuinya. Anas lalu berkata, ”Wahai Sa’ad bin Mu’adz, surga. Demi Rabbnya Nadhr, sesungguhnya aku mencium bau surga dari Uhud.” ”Wahai Rasulullah, aku tidak mampu berbuat sebagaimana yang diperbuatnya,” ujar Sa’ad. Anas bin Malik berkata, ”Kemudian kami dapati padanya 87 sabetan pedang, tikaman tombak, atau lemparan panah. Kami mendapatinya telah gugur dan kaum musyrikin telah mencincang-cincangnya. Tidak ada seorang pun yang mengenalinya kecuali saudara perempuannya yang mengenalinya dari jari telunjuknya.”<a href="#_ftn14">[14]</a></p>
<p>Bentuk membela Nabi <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> mengharuskan beberapa hal, di antaranya:</p>
<p><strong>[</strong><strong>1</strong><strong>] </strong><strong> Membela para sahabat Nabi –<em>radhiyallahu ’anhum-</em></strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallahu ’alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">لَا تَسُبُّوا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِي فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ</p>
<p>”<em>Janganlah mencaci maki salah seorang sahabatku. Sungguh, seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, maka itu tidak menyamai satu mud (yang diinfakkan) salah seorang mereka dan tidak pula separuhnya.</em>”<a href="#_ftn15">[15]</a></p>
<p>Di antara hak-hak para sahabat adalah mencintai dan meridhoi mereka. Sebagaimana Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ</p>
<p>“<em>Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: &#8220;Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.</em>” (QS. Al Hasyr: 10)</p>
<p>Sungguh aneh jika ada yang mencela sahabat sebagaimana yang dilakukan oleh Rafidhah (Syi’ah). Mereka sama saja mencela Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Imam Malik dan selainnya <em>rahimahumullah</em> mengatakan, “<em>Sesungguhnya Rafidhah hanyalah ingin mencela Rasul. Jika seseorang mengatakan bahwa orang itu jelek, maka berarti sahabat-sahabatnya juga jelek. Jika seseorang mengatakan bahwa orang itu sholih, maka sahabatnya juga demikian.</em>”<a href="#_ftn16">[16]</a> Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Adapun Rafidhah, maka merekalah orang-orang yang sering mencela sahabat Nabi dan perkataan mereka. Hakikatnya, apa yang ada di batin mereka adalah mencela risalah Muhammad.”<a href="#_ftn17">[17]</a></p>
<p><strong>[</strong><strong>2</strong><strong>]</strong><strong> Membela para isteri Nabi, para <em>Ummahatul Mu’minin –radhiyallahu ’anhunna-</em></strong></p>
<p>Imam Malik <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Siapa saja yang mencela Abu Bakr, maka ia pantas dihukum cambuk. Siapa saja yang mencela Aisyah, maka ia pantas untuk dibunuh.” Ada yang menanyakan pada Imam Malik, ”Mengapa bisa demikian?” Beliau menjawab, ”Barangsiapa mencela mereka, maka ia telah mencela Al Qur’an karena Allah <em>Ta’ala</em> berfirman (agar tidak lagi menyebarkan berita bohong mengenai Aisyah, pen),</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">يَعِظُكُمَ اللَّهُ أَنْ تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ</p>
<p>“<em>Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman.”</em> (QS. An Nur: 17)”<a href="#_ftn18">[18]</a></p>
<p><span style="color: #ff00ff;"><strong>Ketujuh</strong></span>: Membela ajaran (sunnah) Nabi <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em></p>
<p>Termasuk membela ajaran beliau <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> ialah memelihara dan menyebarkannya, menjaganya dari ulah kaum batil, penyimpangan kaum yang berlebih-lebihan dan <em>ta’wil</em> (penyimpangan) kaum yang bodoh, begitu pula dengan membantah syubhat kaum zindiq  dan pengecam sunnahnya, serta menjelaskan kedustaan-kedustaan mereka. Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> telah mendo’akan keceriaan wajah bagi siapa yang membela panji sunnah ini dengan sabdanya,</p>
<p style="text-align: center;">نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا شَيْئًا فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَهُ فَرُبَّ مُبَلِّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ</p>
<p><em>“Semoga Allah </em><em>memberikan kenikmatan pada </em><em>seseorang yang mendengar </em><em>sabda </em><em>kami lalu ia menyampaikannya sebagaimana ia mendengarnya. </em><em>Betapa banyak</em><em> orang yang diberi berita lebih paham daripada orang yang mendengar</em>.”<a href="#_ftn19"><sup><sup>[19]</sup></sup></a></p>
<p><span style="color: #ff00ff;"><strong>Kedelapan</strong></span>: Menyebarkan ajaran Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em></p>
<p>Di antara kesempurnaan cinta dan pengagungan kepada Nabi <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> ialah berkeinginan kuat untuk menyebarkan ajaran (sunnah)nya. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً</p>
<p>“<em>Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.</em>”<a href="#_ftn20"><sup><sup>[20]</sup></sup></a> Yang disampaikan pada umat adalah yang berasal dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bukan sesuatu yang tidak ada tuntunannya<em>.</em></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Bukti Cinta Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>Bukanlah dengan Berbuat Bid’ah</strong></span></p>
<p>Sebagaimana telah kami sebutkan di atas bahwa di antara bukti cinta Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>adalah dengan menyebarkan sunnah (ajaran) beliau. Oleh karenanya, konsekuensi dari hal ini adalah dengan mematikan bid’ah, kesesatan dan berbagai ajaran menyimpang lainnya. Karena sesungguhnya melakukan bid’ah (ajaran yang tanpa tuntunan) dalam agama berarti bukan melakukan kecintaan yang sebenarnya, walaupun mereka menyebutnya cinta.<a href="#_ftn21">[21]</a> Oleh karenanya, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ</p>
<p>“<em>Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.</em>”<a href="#_ftn22">[22]</a></p>
<p>Kecintaan pada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>yang sebenarnya adalah dengan tunduk pada ajaran beliau, mengikuti jejak beliau, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan serta bersemangat tidak melakukan penambahan dan pengurangan dalam ajarannya.<a href="#_ftn23">[23]</a></p>
<p>Contoh cinta Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam </em>yang keliru adalah dengan melakukan bid’ah maulid nabi. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Adapun melaksanakan perayaan tertentu selain dari hari raya yang disyari’atkan (yaitu Idul Fithri dan Idul Adha) seperti perayaan pada sebagian malam dari bulan Rabi’ul Awwal (yang disebut dengan malam Maulid Nabi), perayaan pada sebagian malam Rojab, hari ke-8 Dzulhijjah, awal Jum’at dari bulan Rojab atau perayaan hari ke-8 Syawal -yang dinamakan orang yang sok pintar (alias bodoh) dengan ’Idul Abror-; <span style="text-decoration: underline;">ini semua adalah bid’ah yang tidak dianjurkan oleh para salaf (sahabat yang merupakan generasi terbaik umat ini) dan mereka juga tidak pernah melaksanakannya</span>.”<a href="#_ftn24">[24]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Pandangan Ulama Ahlus Sunnah Tentang Maulid Nabi</strong></span></p>
<p><span style="color: #ff00ff;"><strong>[Pertama</strong><strong>]</strong></span> Muhammad bin ‘Abdus Salam Khodr Asy Syuqairiy membawakan pasal “Di bulan Rabi’ul Awwal dan Bid’ah Maulid”. Dalam pasal tersebut, beliau rahimahullah mengatakan, “Bulan Rabi’ul Awwal ini tidaklah dikhusukan dengan shalat, dzikr, ‘ibadah, nafkah atau sedekah tertentu. Bulan ini bukanlah bulan yang di dalamnya terdapat hari besar Islam seperti berkumpul-kumpul dan adanya ‘ied sebagaimana digariskan oleh syari’at. &#8230; Bulan ini memang adalah hari kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sekaligus pula bulan ini adalah waktu wafatnya beliau. Bagaimana seseorang bersenang-senang dengan hari kelahiran beliau sekaligus juga kematiannya[?] Jika hari kelahiran beliau dijadikan perayaan, maka itu termasuk perayaan yang bid’ah yang mungkar. Tidak ada dalam syari’at maupun dalam akal yang membenarkan hal ini.</p>
<p>Jika dalam maulid terdapat kebaikan,lalu mengapa perayaan ini dilalaikan oleh Abu Bakar, ‘Umar, Utsman, ‘Ali, dan sahabat lainnya, juga tabi’in dan yang mengikuti mereka [?] Tidak disangsikan lagi, perayaan yang diada-adakan ini adalah kelakuan orang-orang sufi, orang yang serakah pada makanan, orang yang gemar menyiakan waktu dengan permainan sia-sia dan pengagung bid’ah. &#8230;”</p>
<p>Lalu beliau melanjutkan dengan perkataan yang menghujam, “Lantas faedah apa yang bisa diperoleh, pahala apa yang bisa diraih dari penghamburan harta yang memberatkan [?]”<a href="#_ftn25">[25]</a></p>
<p><span style="color: #ff00ff;"><strong>[Kedua]</strong> </span>Seorang ulama Malikiyah, Syaikh Tajuddin ‘Umar bin ‘Ali –yang lebih terkenal dengan Al Fakihaniy- mengatakan bahwa maulid adalah <em>bid’ah madzmumah</em> (bid’ah yang tercela). Beliau memiliki kitab tersendiri yang beliau namakan “<em>Al Mawrid fil Kalam ‘ala ‘Amalil Mawlid</em> (Pernyataan mengenai amalan Maulid)”.</p>
<p>Beliau rahimahullah mengatakan, “Aku tidak mengetahui bahwa maulid memiliki dasar dari Al Kitab dan As Sunnah sama sekali. Tidak ada juga dari satu pun ulama yang dijadikan qudwah (teladan) dalam agama menunjukkan bahwa maulid berasal dari pendapat para ulama terdahulu. Bahkan maulid adalah suatu bid’ah yang diada-adakan, yang sangat digemari oleh orang yang senang menghabiskan waktu dengan sia-sia, sangat pula disenangi oleh orang serakah pada makanan. Kalau mau dikatakan maulid masuk di mana dari lima hukum taklifi (yaitu wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram), maka yang tepat perayaan maulid bukanlah suatu yang wajib secara ijma’ (kesepakatan para ulama) atau pula bukan sesuatu yang dianjurkan (sunnah).  Karena yang namanya sesuatu yang dianjurkan (sunnah) tidak dicela orang yang meninggalkannya. Sedangkan maulid tidaklah dirayakan oleh sahabat, tabi’in dan ulama sepanjang pengetahuan kami. Inilah jawabanku terhadap hal ini. Dan tidak bisa dikatakan merayakan maulid itu mubah karena yang namanya bid’ah dalam agama –berdasarkan kesepakatan para ulama kaum muslimin- tidak bisa disebut mubah. Jadi, maulid hanya bisa kita katakan terlarang atau haram.”<a href="#_ftn26">[26]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Penutup</strong></span></p>
<p>Cinta pada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bukanlah dengan merayakan Maulid. Hakikat cinta pada Nabi <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> adalah dengan mengikuti (ittiba’) setiap ajarannya dan mentaatinya. Semakin seseorang mencintai Nabinya maka dia juga akan semakin mentaatinya. Dari sinilah sebagian salaf mengatakan:</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">لهذا لما كَثُرَ الأدعياء طُولبوا بالبرهان ,قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمْ اللَّهُ</p>
<p>Tatkala banyak orang yang mengklaim mencintai Allah, mereka dituntut untuk mendatangkan bukti. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman (yang artinya): ”<em>Katakanlah: &#8220;Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.&#8221; Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang</em>.” (QS. Ali Imron: 31).<a href="#_ftn27">[27]</a> Orang yang cinta Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>tentu hanya mau mengikuti ajaran yang beliau syariatkan dan bukan mengada-ada dengan melakukan amalan yang tidak ada tuntunan, alias membuat bid’ah.</p>
<p><em>Insya Allah</em>, pada kesempatan selanjutnya kita akan membahas kerancuan yang dikemukakan oleh orang-orang yang menyatakan bahwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mendukung acara Maulid Nabi. Semoga Allah mudahkan.</p>
<p><em>Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.</em></p>
<p>Diselesaikan pada tanggal 8 Rabi’ul Awwal 1431 H, di Pangukan-Sleman.</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>Artikel <a href="http://www.muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> <em>Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim</em>, Ibnu Katsir, 7/164, Muassasah Al Qurthubah.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> <em>Ruhul Ma’ani</em>, Syihabuddin Al Alusi, 16/42, Mawqi’ At Tafaasir.</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> HR. Bukhari no. 6632.</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> HR. Bukhari no. 16 dan Muslim no. 43.</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> HR. Bukhari no. 6171 dan Muslim no. 2639</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> HR. Bukhari no. 3688.</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> HR. Muslim no. 44</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Pembahasan ini diringkas dari <em>Huququn Nabi bainal Ijlal wal Ikhlal</em>, hal.40-46, <em>Hubbun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wa ‘alamatuhu</em>, hal. 13-15. Kami pernah memuat tulisan ini dalam risalah kecil yang berjudul Mengenal Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>Antara Mencintai dan Melecehkan, diterbitkan oleh Pustaka Muslim, Jumadats Tsaniyah, 1428 H</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> HR. Muslim no. 2276, Watsilah bin Al Asqo’</p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> <em>I’lamul Muwaqi’in ‘an Robbil ‘Alamin</em>, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, 1/7, Darul Jail, 1973.</p>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> HR. Tirmidzi no. 3546 dan Ahmad (1/201). At Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan shohih ghorib. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shahih</p>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8770. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya adalah perawi yang dipakai dalam kitab shohih.</p>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> <em>Majmu’ Al Fatawa</em>, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 28/471, Darul Wafa’, cetakan ketiga, tahun 1426 H.</p>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a> HR. Bukhari no. 2805, 4048 dan Muslim no. 1903.</p>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a> HR. Muslim no. 2541.</p>
<p><a href="#_ftnref16">[16]</a> <em>Minhajus Sunnah An Nabawiyah, </em>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 7/459, Muassasah Qurthubah, cetakan pertama, tahun 1406 H.</p>
<p><a href="#_ftnref17">[17]</a> <em>Minhajus Sunnah An Nabawiyah</em>, 3/463.</p>
<p><a href="#_ftnref18">[18]</a> <em>Ash Shorim Al Maslul ‘ala Syatimir Rosul</em>, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 568, Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1417 H.</p>
<p><a href="#_ftnref19">[19]</a> HR. Abu Daud no. 3660, At Tirmidz no. 2656, Ibnu Majah no. 232 dan Ahmad (5/183). Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini <em>shahih. </em>Lihat makna hadits ini dalam <em>Faidul Qodir</em>, Al Munawi, 6/370, Mawqi’ Ya’sub.</p>
<p><a href="#_ftnref20">[20]</a> HR. Bukhari no. 3461</p>
<p><a href="#_ftnref21">[21]</a> Lihat penjelasan dalam tulisan <em>Mahabbatun Nabi wa Ta’zhimuhu</em> (yang terdapat dalam kumpulan risalah <em>Huququn Nabi baina Ijlal wal Ikhlal</em>), ‘Abdul Lathif bin Muhammad Al Hasan, hal. 89, Maktabah Al Mulk Fahd, cetakan pertama, 1422 H.</p>
<p><a href="#_ftnref22">[22]</a> HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718</p>
<p><a href="#_ftnref23">[23]</a> Lihat <em>Mahabbatun Nabi wa Ta’zhimuhu, </em>hal. 89.</p>
<p><a href="#_ftnref24">[24]</a> <em>Majmu’ Fatawa</em>, 25/298.</p>
<p><a href="#_ftnref25">[25]</a> <em>As Sunan wal Mubtada’at Al Muta’alliqoh Bil Adzkari wash Sholawat</em>, 138-139</p>
<p><a href="#_ftnref26">[26]</a> <em>Al Hawiy Lilfatawa Lis Suyuthi</em>, 1/183</p>
<p><a href="#_ftnref27">[27]</a> <em>Syarh Al ‘Aqidah Ath Thohawiyah</em>, Syaikh Sholih Alu Syaikh, 1/266, Asy Syamilah.</p>
<div class="shr-publisher-2150"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fmana-bukti-cintamu-pada-nabi.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fmana-bukti-cintamu-pada-nabi.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fmana-bukti-cintamu-pada-nabi.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/mana-bukti-cintamu-pada-nabi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>28</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencintai dan Mengagungkan Sunnah Nabi</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/mencintai-dan-mengagungkan-sunnah-nabi.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/mencintai-dan-mengagungkan-sunnah-nabi.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Jun 2009 04:28:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Hak-Hak Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam]]></category>
		<category><![CDATA[Maulid Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=831</guid>
		<description><![CDATA[Sunnah Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, yang berarti segala sesuatu yang bersumber dari Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, baik ucapan, perbuatan maupun penetapan beliau, memiliki kedudukan yang sangat agung dalam Islam, karena Allah Ta&#8217;ala menjadikan<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/mencintai-dan-mengagungkan-sunnah-nabi.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Sunnah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, yang berarti segala sesuatu yang bersumber dari Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, baik ucapan, perbuatan maupun penetapan beliau, memiliki kedudukan yang sangat agung dalam Islam, karena Allah Ta&#8217;ala menjadikan sunnah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sebagai penjelas dan penjabar dari Al Qur&#8217;an yang mulia, yang merupakan sumber utama syariat Islam. Oleh karena itu, tanpa memahami sunnah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dengan baik, seseorang tidak mungkin dapat menjalankan agama Islam dengan benar.<br />
<span id="more-831"></span><br />
Allah Ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p class="arab">وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ</p>
<p><em>&#8220;Dan Kami turunkan kepadamu al-Qur&#8217;an, agar kamu menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka (dari Allah Ta&#8217;ala), supaya mereka memikirkan.&#8221;</em> (Qs. An Nahl: 44)</p>
<p>Ketika Ummul mu&#8217;minin &#8216;Aisyah <em>radhiyallahu &#8216;anha</em> ditanya tentang ahlak (tingkah laku) Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, beliau menjawab, <em>&#8220;Sungguh akhlak Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam adalah Al Qur&#8217;an.&#8221;</em> (HSR Muslim no. 746). Ini berarti Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah orang yang paling sempurna dalam memahami dan mengamalkan isi al-Qur&#8217;an, menegakkan hukum-hukumnya dan menghiasi diri dengan adab-adabnya. (Lihat keterangan imam an-Nawawi dalam kitab <em>Syarh Shahih Muslim</em> 6/26). Maka orang yang paling sempurna dalam memahami dan mengamalkan sunnah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, dialah yang paling sempurna dalam berpegang teguh dan mengamalkan Al Qur&#8217;an dan agama Islam secara keseluruhan.</p>
<p>Imam Ahmad bin Hambal –semoga Allah Ta&#8217;ala merahmatinya– berkata, &#8220;(Termasuk) landasan (utama) sunnah (syariat Islam) menurut (pandangan) kami (Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah) adalah: bahwa sunnah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah penafsir dan argumentasi (yang menjelaskan makna) al-Qur&#8217;an.&#8221; (<em>Ushuulus Sunnah</em>, hal. 3)</p>
<p>Oleh karena itulah, para ulama Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah mendefinisikan sunnah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sebagai sesuatu yang mencakup syariat Islam secara keseluruhan, baik ucapan, perbuatan maupun keyakinan. (Lihat <em>Jaami&#8217;ul Uluumi wal Hikam</em>, hal. 321)</p>
<p>Imam Abu Muhammad al-Barbahari berkata, &#8220;Ketahuilah, bahwa Islam itu adalah sunnah dan sunnah itu dialah Islam, yang masing-masing dari keduanya tidak akan tegak tanpa ada yang lainnya.&#8221; (<em>Syarhus Sunna</em>h, hal. 59)</p>
<p><strong>Arti Mencintai dan Mengagungkan Sunnah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang Sebenarnya</strong></p>
<p>Allah &#8216;azza wa jalla berfirman,</p>
<p class="arab">قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ</p>
<p><em>&#8220;Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah (sunnah/petunjuk)ku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.&#8221;</em> (Qs. Ali &#8216;Imran: 31)</p>
<p>Imam Ibnu Katsir, ketika menafsirkan ayat ini berkata, &#8220;Ayat yang mulia ini merupakan hakim (pemutus perkara) bagi setiap orang yang mengaku mencintai Allah, akan tetapi dia tidak mengikuti jalan (sunnah) Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, maka dia adalah orang yang berdusta dalam pengakuan tersebut dalam masalah ini, sampai dia mau mengikuti syariat dan agama (yang dibawa oleh) Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam semua ucapan, perbuatan dan keadaannya.&#8221; (<em>Tafsir Ibnu Katsir</em>, 1/477)</p>
<p>Imam Al Qadhi &#8216;Iyadh Al Yahshubi berkata, &#8220;Ketahuilah bahwa barangsiapa yang mencintai sesuatu, maka dia akan mengutamakannya dan berusaha meneladaninya. Kalau tidak demikian, maka berarti dia tidak dianggap benar dalam kecintaanya dan hanya mengaku-aku (tanpa bukti nyata). Maka orang yang benar dalam (pengakuan) mencintai Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah jika terlihat tanda (bukti) kecintaan tersebut pada dirinya. Tanda (bukti) cinta kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang utama adalah (dengan) meneladani beliau shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, mengamalkan sunnahnya, mengikuti semua ucapan dan perbuatannya, melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangannya, serta menghiasi diri dengan adab-adab (etika) yang beliau (contohkan), dalam keadaan susah maupun senang dan lapang maupun sempit.&#8221; (<em>Asy Syifa bi Ta&#8217;riifi Huquuqil Mushthafa</em>, 2/24)</p>
<p>Berdasarkan keterangan di atas, jelaslah bahwa mencintai dan mengagungkan sunnah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang sebenarnya adalah dengan meneladani petunjuk dan sunnah beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, dengan berusaha mempelajari dan mengamalkannya dengan baik. Dan bukanlah mencintai dan mengagungkan sunnah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dengan melakukan perbuatan-perbuatan bid&#8217;ah (yaitu setiap perbuatan yang diada-adakan dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah, yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, pen) dengan mengatasnamakan cinta kepada beliau, atau memuji dan mensifati beliau  secara berlebihan, dengan menempatkan beliau  melebihi kedudukan yang telah Allah Ta&#8217;ala tempatkan beliau padanya. (<em>Mahabbatur Rasul  bainal Ittibaa&#8217; wal Ibtidaa&#8217;</em>, hal. 65-71)</p>
<p>Dalam sebuah hadits shahih Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>&#8220;Janganlah kalian memuji diriku secara berlebihan dan melampaui batas, sebagaimana orang-orang Nashrani melampaui batas dalam memuji (Nabi Isa) bin Maryam, karena sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba Allah, maka katakanlah: hamba Allah dan Rasul-Nya.&#8221;</em> (HSR Al Bukhari no. 3261)</p>
<p>Inilah makna cinta kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang dipahami dan diamalkan oleh generasi terbaik umat ini, para sahabat <em>radhiyallahu &#8216;anhum</em>.</p>
<p>Anas bin Malik <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> berkata, <em>&#8220;Tidak ada seorang pun yang paling dicintai oleh para sahabat Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam melebihi beliau shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Akan tetapi jika mereka melihat beliau shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, mereka tidak berdiri (untuk menghormati beliau shallallahu &#8216;alaihi wa sallam), karena mereka mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam membenci perbuatan tersebut.&#8221;</em> (HR At Tirmidzi 5/90 dan Ahmad 3/132, dinyatakan shahih oleh At Tirmidzi dan Syaikh Al Albani)</p>
<p><strong>Bagaimana Menyempurnakan Cinta kepada Sunnah Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam Dalam Diri Kita?</strong></p>
<p>Imam Ibnu Rajab Al Hambali membagi derajat (tingakatan) <a title="Mengagungkan sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam" href="http://muslim.or.id/manhaj/mencintai-dan-mengagungkan-sunnah-nabi.html">cinta kepada Rasulullah</a> <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjadi dua tingakatan, yang berarti dengan menyempurnakan dua tingkatan ini seorang akan memiliki kecintaan yang sempurna kepada sunnah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, yang ini merupakan tanda kesempurnaan iman dalam dirinya.</p>
<p>Dua tingkatan tersebut adalah:</p>
<ol>
<li>Tingkatan yang fardhu (wajib), yaitu kecintaan (kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>) yang mengandung konsekuensi menerima dan mengambil semua petunjuk yang dibawa oleh beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dari sisi Allah dengan (penuh rasa) cinta, ridha, hormat dan patuh, serta tidak mencari petunjuk dari selain jalan (sunnah) beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> secara utuh. Kemudian mengikuti dengan baik agama yang beliau<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sampaikan dari Allah, dengan membenarkan semua berita yang beliau sampaikan, mantaati semua kewajiban yang beliau perintahkan, meninggalkan semua perbuatan haram yang dilarangnya, serta menolong dan berjihad (membela) agamanya, sesuai dengan kemampuan unutk (mengahadapi) orang-orang yang menentangnya. Tingkatan ini harus dipenuhi (oleh setiap muslim) dan tanpanya keimanan (seseorang) tidak akan sempurna.</li>
<li>Tingkatan fadhl (keutamaan/kemuliaan), yaitu kecintaan (kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>) yang mengandung konsekuensi meneladani beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dengan baik, mengikuti sunnah beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dengan benar, dalam tingkah laku, adab (etika), ibadah-ibadah sunnah (anjuran), makan, minum, pakaian, pergaulan yang baik dengan keluarga, serta semua adab beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang sempurna dan akhlak beliau yang suci. Demikian juga memberikan perhatian (besar) untuk memahami sejarah dan perjalanan hidup beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, rasa senang dalam hati dengan mencintai, mengagungkan dan memuliakan beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, senang mendengarkan ucapan (hadits) beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, dan selalu (mendahulukan) ucapan beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> di atas ucapan selain beliau. Dan termasuk yang paling utama dalam tingkatan ini adalah meneladani beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam sikap zuhud terhadap dunia, mencukupkan diri dengan hidup seadanya (sederhana) di dunia, dan kecintaan beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> kepada (balasan yang sempurna) di akhirat (kelak)&#8221;  (<em>Istinyaaqu Nasiimil Unsi min Nafahaati Riyaadhil Qudsi</em>, hal. 34-35)</li>
</ol>
<p><strong>Keutamaan Mengikuti Sunnah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em></strong></p>
<p>Allah Ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p class="arab">لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (balasan kebaikan pada) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.&#8221;</em> (Qs. Al Ahzaab: 21)</p>
<p>Ayat yang mulia ini menunjukkan kemuliaan dan keutamaan besar mengikuti sunnah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, karena Allah Ta&#8217;ala sendiri yang menamakan semua perbuatan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sebagai  &#8220;teladan yang baik&#8221;, yang ini menunjukkan bahwa orang yang meneladani sunnah beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berarti dia telah menempuh ash-shirathal mustaqim (jalan yang lurus) yang akan membawanya mendapatkan kemuliaan dan rahmat Allah Ta&#8217;ala. (Lihat keterangan Syaikh &#8216;Abdurrahman As Sa&#8217;di ketika menafsirkan ayat di atas, hal. 481)</p>
<p>Ketika menafsirkan ayat ini, Imam Ibnu Katsir berkata, &#8220;Ayat yang mulia ini merupakan landasan yang agung dalam meneladani Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dalam semua ucapan, perbuatan dan keadaan beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.&#8221; (<em>Tafsir Ibnu Katsir</em>, 3/626)</p>
<p>Kemudian firman Allah Ta&#8217;ala di akhir ayat ini mengisyaratkan satu faidah yang penting untuk direnungkan, yaitu keterikatan antara meneladani sunnah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dengan kesempurnaan iman kepada Allah dan hari akhir, yang ini berarti bahwa semangat dan kesungguhan seorang muslim untuk meneladani sunnah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> merupakan pertanda kesempurnaan imannya.</p>
<p>Syaikh Abdurrahman As Sa&#8217;di ketika menjelaskan makna ayat di atas, beliau berkata, &#8220;Teladan yang baik (pada diri Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>) ini, yang akan mendapatkan taufik (dari Allah Ta&#8217;ala) untuk mengikutinya hanyalah orang-orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (balasan kebaikan) di hari akhir. Karena (kesempurnaan) iman, ketakutan pada Allah, serta pengharapan balasan kebaikan dan ketakutan akan siksaan Allah, inilah yang memotivasi seseorang untuk meneladani (sunnah) Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.&#8221;</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Dari keterangan di atas, jelaslah bagi kita makna mencintai sunnah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang sebenarnya, dan jelaslah besarnya keutamaan dan kemuliaan mengikuti sunnah beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Maka mestinya, seorang muslim yang mengaku mencintai Rasululah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, terlebih lagi yang mengaku sebagai ahlus sunnah wal jama&#8217;ah, adalah orang yang paling semangat dalam mempelajari dan menerapkan sunnah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam sikap dan tingkah lakunya. Khususnya, di zaman sekarang ketika sunnah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjadi asing dan jarang diamalkan di tengah-tengah kaum muslimin sendiri. Karena seorang muslim yang mengamalkan satu sunnah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang telah dilupakan, dia akan mendapatkan dua keutamaan (pahala) sekaligus, yaitu keutamaan mengamalkan sunnah itu sendiri dan keutamaan menghidupkannya di tengah-tengah manusia yang telah melupakannya.</p>
<p>Syaikh Muhammad bih Sholeh Al &#8216;Utsaimin berkata, &#8220;Sesungguhnya sunnah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> jika semakin dilupakan, maka (keutamaan) mengamalkannya pun semakan kuat (besar), karena (orang yang mengamalkannya) akan mendapatkan keutamaan mengamalkan (sunnah itu sendiri) dan (keutamaan) menyebarkan (menghidupkan) sunnah di kalangan manusia.&#8221; (<em>Manaasikul Hajji wal &#8216;Umrah</em>, hal. 92)</p>
<p>Sebagai penutup, marilah kita camkan bersama nasehat imam Al Khatiib Al Baghdadi dalam kitab beliau <em>Al Jaami&#8217; li Akhlaaqir Raawi wa Aadaabis Saami&#8217;</em> (1/215) berikut ini:</p>
<p>&#8220;Seyogyanya para penuntut ilmu hadits (pengikut manhaj Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah), berusaha untuk membedakan dirinya dari kebiasaan orang-orang awam dalam semua urusan tingkah laku dan sikapnya, dengan berusaha mengamalkan petunjuk Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> semaksimal mungkin, dan membiasakan dirinya mengamalkan sunnah-sunnah beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, karena sesungguhnya Allah Ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p class="arab">لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.&#8221;</em> (Qs. Al Ahzaab: 21)&#8221;</p>
<p class="arab">وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين</p>
<p>Kota Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, 15 Jumadal ula 1430 H</p>
<p>Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim Al Buthoni, Lc.<br />
Artikel <a title="Mengagungkan sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam" href="http://muslim.or.id/manhaj/mencintai-dan-mengagungkan-sunnah-nabi.html">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-831"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fmencintai-dan-mengagungkan-sunnah-nabi.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fmencintai-dan-mengagungkan-sunnah-nabi.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fmencintai-dan-mengagungkan-sunnah-nabi.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/mencintai-dan-mengagungkan-sunnah-nabi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tanggal Kelahiran Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/tanggal-kelahiran-nabi.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/tanggal-kelahiran-nabi.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Mar 2009 11:07:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Maulid Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=570</guid>
		<description><![CDATA[Dalam kitab-kitab sejarah dan siroh dikatakan bahwa Nabi shallallahu'alaihi wa sallam lahir pada hari Senin tanggal 10, atau 8, atau 12 dan ini yang dipilih oleh mayoritas ulama.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Tanggal Kelahiran Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> diperselisihkan secara tajam. Ada yang mengatakan bahwa beliau lahir tanggal 2 Rabiul Awal, 8 Rabiul Awal, 10 Rabiul Awal, 12 Rabiul Awal, 17 Rabiul Awal (Lihat <em>al-Bidayah wa Nihayah</em> karya Ibnu Katsir: 2/260 dan <em>Latho&#8217;iful Ma&#8217;arif</em> karya Ibnu Rojab hlm. 184-185). Semua pendapat ini tidak berdasarkan hadits yang shahih. Adapun hadits Jabir dan Ibnu Abbas <em>radhiallahu &#8216;anhuma</em> yang menerangkan bahwa tanggal kelahiran Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah tanggal 12 Rabiul Awal <strong>tidak shahih</strong>. Kalaulah shahih, tentu akan menjadi hakim (pemutus perkara) dalam masalah ini. Akan tetapi, Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> berkata tentang hadits tersebut, &#8220;Sanadnya terputus.&#8221; (<em>al-Bidayah wan Nihayah</em> karya Ibnu Rajab hlm. 184-185)</p>
<p><span id="more-570"></span><br />
Berhubung penentuan hari kelahiran beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tidak ada yang shahih, tidak mengapa kalau kita menukil pendapat ahli falak. Banyak ahli falak berpendapat bahwa hari kelahiran beliau adalah pada tanggal 9 Rabiul Awal, seperti al-Ustadz Mahmud Basya al-Falaki, al-Ustadz Muhammad Sulaiman al-Manshur Fauri (Sebagaimana dinukil oleh Shofiyurrohman al-Mubarokfuri dalam <em>ar-Rahiqul Makhtum</em> hlm. 62), dan al-Ustadz Abdullah bin Ibrahim bin muhammad as-Sulaim, beliau mengatakan,</p>
<p>&#8220;Dalam kitab-kitab sejarah dan siroh dikatakan bahwa Nabi <em>shallallahu&#8217;alaihi wa sallam</em> lahir pada hari Senin tanggal 10, atau 8, atau 12 dan ini yang dipilih oleh mayoritas ulama. Telah tetap tanpa keraguan bahwa kelahiran beliau adalah pada 20 April 571 M (tahun Gajah), sebagaimana telah tetap juga bahwa beliau wafat pada 13 Rabiul Awal 11 H yang bertepatan dengan 6 Juni 632 M. Selagi tanggal-tanggal ini telah diketahui, maka dengan mudah dapat diketahui hari kelahiran dan hari wafatnya dengan jitu, demikian juga usia Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Dengan mengubah tahun-tahun ini pada hitungan hari akan ketemu 22.330 hari dan bila diubah ke tahun qamariyyah akan ketemulah bahwa umur beliau 63 tahun lebih tiga hari. Dengan demikian, hari kelahiran beliau adalah hari Senin 9 Rabiul Awal tahun 53 sebelum hijriah, bertepatan dengan 20 April 571 M. (<em>Taqwimul Azman</em> hlm. 143, cet pertama 1404 H)</p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin berkata, &#8220;Sebagian ahli falak belakangan telah meneliti tentang tanggal <a title="Maulid Nabi: Tanggal Kelahiran Nabi" href="http://muslim.or.id/manhaj-salaf/tanggal-kelahiran-nabi.html">kelahiran Nabi</a> <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ternyata jatuh pada tanggal 9 Rabiul Awal, bukan 12 Rabiul Awal.&#8221; (<em>al-Qaulul Mufid &#8216;ala Kitab Tauhid</em>: 1/491. Dinukil dari <em>Ma Sya&#8217;a wa Lam Yatsbut fis Sirah Nabawiyyah</em> hlm. 7-8 oleh Muhammad bin Abdullah al-Ausyan)</p>
<p>Dengan demikian, apa yang dirayakan oleh sebagian kaum muslimin pada tanggal 12 Rabiul Awal setiap tahunnya? (-ed muslim.or.id)</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi<br />
Dikutip oleh <a title="Maulid Nabi: Tanggal Kelahiran Nabi" href="http://muslim.or.id/manhaj-salaf/tanggal-kelahiran-nabi.html">muslim.or.id</a> dari artikel <em>8 Faedah Seputar Tarikh</em> Majalah Al-Furqon Edisi 08 th. ke-8 1430 H/2009 M</p>
<div class="shr-publisher-570"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Ftanggal-kelahiran-nabi.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Ftanggal-kelahiran-nabi.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Ftanggal-kelahiran-nabi.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/tanggal-kelahiran-nabi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>37</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ensiklopedia Maulid Nabi (2): Antara Cinta Rasul &amp; Perayaan Maulid</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/ensiklopedia-maulid-nabi-2-antara-cinta-rasul-perayaan-maulid.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/ensiklopedia-maulid-nabi-2-antara-cinta-rasul-perayaan-maulid.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Mar 2009 04:50:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Maulid Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=567</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya adakah kaitan antara cinta Rasul dan perayaan maulid, alias hari kelahiran beliau? Pertanyaan ini mungkin terdengar aneh bagi mereka yang kerap merayakannya. Bagaimana tidak, sedang disana dibacakan sejarah hidup beliau, diiringi dengan syair-syair pujian<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/ensiklopedia-maulid-nabi-2-antara-cinta-rasul-perayaan-maulid.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Sebenarnya adakah kaitan antara cinta Rasul dan perayaan maulid, alias hari kelahiran beliau? Pertanyaan ini mungkin terdengar aneh bagi mereka yang kerap merayakannya. Bagaimana tidak, sedang disana dibacakan sejarah hidup beliau, diiringi dengan syair-syair pujian dalam bahasa Arab untuk beliau (yang dikenal dengan nama burdah), yang kesemuanya tak lain demi mengenang jasa beliau dan memupuk cinta kita kepadanya&#8230;?<br />
<span id="more-567"></span><br />
Dalam sebuah muktamar negara-negara Islam sedunia, salah seorang dai kondang dari Saudi yang bernama Dr. Said bin Misfir Al Qahthani, berjumpa dengan seorang tokoh Islam (syaikh) dari negara tetangga. Melihat pakaiannya yang khas ala Saudi, Syaikh tadi memulai pembicaraan (Sebagaimana yang dituturkan sendiri oleh Dr. Said Al Qahthani ketika berkunjung ke kampus kami, Universitas Islam Madinah dan memberikan ceramah di sana.):</p>
<p>Syaikh: <em>&#8220;Assalaamu &#8216;alaikum&#8230;&#8221;</em><br />
Dr. Said: <em>&#8220;Wa&#8217;alaikumussalaam warahmatullah wabaraatuh&#8230;&#8221;</em><br />
Syaikh: <em>&#8220;Nampaknya Anda dari Saudi ya?&#8221;</em><br />
Dr. Said: <em>&#8220;Ya, benar.&#8221;</em><br />
Syaikh: <em>&#8220;Oo, kalau begitu Anda termasuk mereka yang tidak cinta kepada Rasul&#8230;!&#8221;</em><br />
(kaget bukan kepalang dengan ucapan Syaikh ini, ia berusaha menahan emosinya sembari bertanya):<br />
Dr. Said: <em>&#8220;Lho, mengapa bisa demikian?&#8221;</em><br />
Syaikh: <em>&#8220;Ya, sebab seluruh negara di dunia merayakan maulid Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam kecuali negara Anda; Saudi Arabia&#8230; ini bukti bahwa kalian orang-orang Saudi tidak mencintai Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.&#8221;</em><br />
Dr. Said: <em>&#8220;Demi Allah&#8230; tidak ada satu hal pun yang menghalangi kami dari merayakan maulid Beliau, kecuali karena kecintaan kami kepadanya!&#8221;</em><br />
Syaikh: <em>&#8220;Bagaimana bisa begitu??&#8221;</em><br />
Dr. Said: <em>&#8220;Anda bersedia diajak diskusi&#8230;?&#8221;</em><br />
Syaikh: <em>&#8220;Ya, silakan saja..&#8221;</em><br />
Dr. Said: <em>&#8220;Menurut Anda, <a title="Ensiklopedia Maulid Nabi: Cinta Rasul" href="http://muslim.or.id/manhaj-salaf/ensiklopedia-maulid-nabi-2-antara-cinta-rasul-perayaan-maulid.html">perayaan Maulid</a> merupakan ibadah ataukah maksiat?&#8221;</em><br />
Syaikh: <em>&#8220;Ibadah tentunya!&#8221;</em> (dengan nada yakin).<br />
Dr. Said: <em>&#8220;Baik&#8230; apakah ibadah ini diketahui oleh Rasul shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, ataukah tidak?&#8221;</em><br />
Syaikh: <em>&#8220;Tentu beliau tahu akan hal ini!&#8221;</em><br />
Dr. Said: <em>&#8220;Jika beliau tahu akan hal ini, lantas beliau sembunyikan ataukah beliau ajarkan kepada umatnya?&#8221;</em><br />
(&#8230;. Sejenak syaikh ini terdiam. Ia sadar bahwa jika ia mengatakan &#8220;ya&#8221;, maka pertanyaan berikutnya ialah: Mana dalilnya? Namun ia juga tidak mungkin mengatakan tidak, sebab konsekuensinya <em>Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> masih menyembunyikan sebagian ajaran Islam. Akhirnya dengan terpaksa ia menjawab )<br />
Syaikh: <em>&#8220;Iya&#8230; beliau ajarkan kepada umatnya&#8230;&#8221;</em><br />
Dr. Said: <em>&#8220;Bisakah Anda mendatangkan dalil atas hal ini?&#8221;</em><br />
(Syaikh pun terdiam seribu bahasa&#8230; ia tahu bahwa tidak ada satu dalil pun yang bisa dijadikan pegangan dalam hal ini&#8230;)<br />
Syaikh: <em>&#8220;Maaf, tidak bisa&#8230;&#8221;</em><br />
Dr. Said: <em>&#8220;Kalau begitu ia bukan ibadah, tapi maksiat.&#8221;</em><br />
Syaikh: <em>&#8220;Oo tidak, ia bukan ibadah dan bukan juga maksiat, tapi bidáh hasanah.&#8221;</em><br />
Dr. Said: <em>&#8220;Bagaimana Anda bisa menyebutnya sebagai bid&#8217;ah hasanah, padahal Rasul shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mengatakan bahwa setiap bid&#8217;ah itu sesat??&#8221; </em></p>
<p>Setelah berdialog cukup lama, akhirnya syaikh tadi mengakui bahwa sikap sahabatnyalah yang benar, dan bahwa maulid Nabi yang selama ini dirayakan memang tidak berdasar kepada dalil yang shahih sama sekali.</p>
<p>Ini merupakan sepenggal dialog yang menggambarkan apa yang ada di benak sebagian kaum muslimin terhadap sikap sebagian kalangan yang enggan merayakan maulid Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Dialog singkat di atas tentunya <strong>tidak mewakili</strong> sikap seluruh kaum muslimin terhadap mereka yang tidak mau ikut maulidan. Kami yakin bahwa di sana masih ada orang-orang yang berpikiran terbuka dan obyektif, yang siap diajak berdiskusi untuk mencapai kebenaran sesungguhnya tentang hal ini.</p>
<p>Namun demikian, ada juga kalangan yang bersikap sebaliknya. Menutup mata, telinga, dan fikiran mereka untuk mendengar argumentasi pihak lain. Karenanya kartu truf terakhir mereka ialah memvonis pihak lain sebagai &#8216;wahhabi&#8217; yang selalu dicitrakan sebagai &#8216;sekte Islam sempalan&#8217;, yang konon diisukan sebagai kelompok yang gampang membid&#8217;ahkan, mengkafirkan, mengingkari karomah para wali, dan sederet tuduhan lainnya.</p>
<p>Cara seperti ini bukanlah hal baru. Sejak dahulu pun mereka yang tidak senang kepada dakwah tauhid, selalu berusaha memberikan gelar-gelar buruk kepada para dainya. Tujuannya tak lain ialah agar masyarakat awam antipati terhadap mereka. Simaklah bagaimana Fir&#8217;aun dan kaumnya menggelari Musa dan Harun <em>&#8216;alaihimassalam</em>:</p>
<p><em>(57) Fir&#8217;aun mengatakan: &#8220;Adakah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami dengan sihirmu hai Musa? (58) Sungguh kami pasti mendatangkan pula kepadamu sihir semacam itu, maka buatlah suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak pula kamu di suatu tempat yang pertengahan (letaknya).&#8221; (59) Musa menjawab: &#8220;Waktu pertemuan itu ialah di hari raya dan hendaklah manusia dikumpulkan pada waktu dhuha.&#8221; (60) Maka Fir&#8217;aun meninggalkan (tempat itu), lalu mengatur tipu dayanya, kemudian dia datang. (61) Musa berkata kepada mereka: &#8220;Celakalah kamu, janganlah kamu mengadakan kedustaan terhadap Allah, hingga Dia membinasakanmu dengan siksa.&#8221; Dan sesungguhnya telah merugi orang yang mengada-adakan kedustaan. (62) Maka mereka berbantah-bantahan tentang urusan mereka di antara mereka, dan mereka merahasiakan percakapan (mereka). (63) Mereka berkata: &#8220;Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kalian dari negeri kalian dengan sihirnya, dan hendak melenyapkan kedudukan kalian yang utama&#8230;&#8221;</em> (Qs. Thaha: 57 &#8211; 63)</p>
<p>Dalam ayat lain Allah berfirman:</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya telah Kami utus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata, (24) kepada Fir&#8217;aun, Haman dan Qarun; maka mereka berkata: &#8220;Ia (Musa)  adalah seorang ahli sihir yang pendusta.&#8221;</em> (Qs. Ghafir: 23-24)</p>
<p>Simak pula bagaimana kaum Nabi Luth <em>&#8216;alaihissalam</em> hendak mengusir beliau dan para pengikutnya dengan tuduhan &#8216;orang-orang yang sok menyucikan diri&#8217;:</p>
<p><em>Maka tidak lain jawaban kaumnya melainkan mengatakan: &#8220;Usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu; karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang (mendakwakan dirinya) bersih.&#8221;</em> (Qs. An Naml: 56)</p>
<p>Atau Nabi Shalih <em>&#8216;alaihissalam</em> yang dianggap sombong dan pembohong oleh kaumnya&#8230; Allah berfirman:</p>
<p><em>(23) Kaum Tsamudpun telah mendustakan ancaman-ancaman (itu). (24) Mereka berkata: &#8220;Bagaimana kita akan mengikuti saja seorang manusia (biasa) di antara kita? Sesungguhnya kalau begitu kita benar-benar berada dalam keadaan sesat dan gila&#8221;, (25) Apakah wahyu itu diturunkan kepadanya -yakni Nabi Shaleh &#8216;alaihissalam- di antara kita? Sebenarnya dia seorang yang amat pendusta lagi sombong.&#8221; (26) Kelak mereka akan tahu siapakah yang sebenarnya amat pendusta lagi sombong.</em> (Qs. Al Qamar: 23 &#8211; 26)</p>
<p>Sampai junjungan kita Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pun tak luput dari julukan-julukan buruk kaumnya. Allah berfirman:</p>
<p><em>(1) Shaad, demi al-Qur&#8217;an yang mempunyai keagungan (2) Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit. (3) Betapa banyaknya ummat sebelum mereka yang telah kami binasakan, lau mereka meminta tolong padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk lari melepaskan diri. (4) Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata: &#8220;ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta.&#8221;</em> (Qs. Shaad: 1 &#8211; 4)</p>
<p>Jadi, banyaknya tuduhan-tuduhan jelek terhadap suatu golongan, mestinya tidak menghalangi kita untuk bersikap adil dan obyektif terhadap mereka. Karena boleh jadi kebenaran justeru berpihak kepada mereka, dan dalam hal ini yang menjadi patokan adalah dalil-dalil dari Al Qur&#8217;an dan Hadits yang shahih.</p>
<p>Berangkat dari sini, penulis ingin mengajak para pembaca yang budiman untuk mendudukkan masalah perayaan maulid Nabi, benarkah ia merupakan <a title="Ensiklopedia Maulid Nabi: Cinta Rasul" href="http://muslim.or.id/manhaj-salaf/ensiklopedia-maulid-nabi-2-antara-cinta-rasul-perayaan-maulid.html">bid&#8217;ah hasanah</a>? Benarkah ia merupakan perwujudan cinta kepada Rasul yang dibenarkan? Apakah asal muasal perayaan ini? dan berbagai masalah lainnya seputar maulid Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Tentunya semua akan disajikan secara ilmiah dengan merujuk kepada Al Qur&#8217;an dan Sunnah, sesuai dengan pemahaman As Salafus shaleh.</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ustadz Sufyan bin Fuad Baswedan, Lc. (<em>Mahasiswa Pasca Sarjana, Fakultas Hadits &amp; Dirosah Islamiyyah, Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia</em>)<br />
Artikel <a title="Ensiklopedia Maulid Nabi: Cinta Rasul" href="http://muslim.or.id/manhaj-salaf/ensiklopedia-maulid-nabi-2-antara-cinta-rasul-perayaan-maulid.html">www.muslim.or.id</a></p>
<p><strong>Catatan:</strong><br />
Lanjutan artikel Ensiklopedia Maulid Nabi ini <em>insya Allah</em> akan diposting pada website <a title="Website manhaj.or.id" href="http://manhaj.or.id">www.manhaj.or.id</a> secara berseri.</p>
<div class="shr-publisher-567"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fensiklopedia-maulid-nabi-2-antara-cinta-rasul-perayaan-maulid.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fensiklopedia-maulid-nabi-2-antara-cinta-rasul-perayaan-maulid.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fensiklopedia-maulid-nabi-2-antara-cinta-rasul-perayaan-maulid.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/ensiklopedia-maulid-nabi-2-antara-cinta-rasul-perayaan-maulid.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>39</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ensiklopedia Maulid Nabi (1): Cinta Kepada Rasul, Dahulu dan Sekarang</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/ensiklopedia-maulid-nabi-1-cinta-rasul.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/ensiklopedia-maulid-nabi-1-cinta-rasul.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Mar 2009 02:27:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Maulid Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=566</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai seorang muslim, mencintai Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam adalah suatu keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar. Hal ini merupakan konsekuensi dari kesaksian kita akan kerasulan beliau shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Bagaimana tidak? melalui beliau lah<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/ensiklopedia-maulid-nabi-1-cinta-rasul.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Sebagai seorang muslim, mencintai Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah suatu keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar. Hal ini merupakan konsekuensi dari kesaksian kita akan kerasulan beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Bagaimana tidak? melalui beliau lah kita terbebas dari segudang warisan jahiliyah yang telah mengakar begitu lama. Kalau lah tidak karena hidayah Allah, kemudian karena pengorbanan beliau dalam mendakwahkan Islam, niscaya sampai hari ini kita masih terjerat dalam belenggu syirik dan jahiliyah.</p>
<p><span id="more-566"></span><br />
Segala puji bagi-Mu ya Allah, atas hidayah dan taufiq yang Kau curahkan kepada kami, dan semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah padamu ya Rasulullah, atas setiap pengorbananmu demi menegakkan dien ini&#8230;</p>
<p>Sungguh, berbicara mengenai kepribadian beliau adalah suatu kenikmatan tersendiri, berkisah tentang pernak pernik kehidupan beliau benar-benar menimbulkan decak kagum dan membesarkan hati&#8230;</p>
<p>Beliau lah manusia pilihan yang lahir dari manusia-manusia terpilih. Berbekal hati sanubari yang disucikan dari segala noda dan dosa, beliau beranjak menjadi manusia terhebat sepanjang sejarah. Perilakunya sungguh luar biasa, tak dapat dilukiskan dengan kata-kata&#8230; sorot wajahnya benar-benar mencerminkan seorang pemimpin agung yang amat welas kasih terhadap rakyatnya&#8230; siapa pun yang menatap wajah beliau pastilah jatuh cinta diliputi perasaan segan karena wibawanya yang demikian besar.</p>
<p>Singkatnya, beliaulah sosok insan kaamil sejati yang tak mungkin ada tandingannya. Maka pantaslah jika para sahabat benar-benar <a title="Ensiklopedia Maulid Nabi: Cinta Rasul" href="http://muslim.or.id/manhaj-salaf/ensiklopedia-maulid-nabi-1-cinta-rasul.html">jatuh cinta</a> kepada beliau. Mereka mencintai kekasihnya yang satu ini lebih dari orang tua, anak dan isteri mereka; bahkan lebih dari diri mereka sendiri!</p>
<p>Setiap kegembiraan yang beliau rasakan adalah kegembiraan bagi mereka, dan setiap kesedihan yang beliau rasakan merupakan kesedihan bagi mereka. Mereka ikut sakit tatkala beliau sakit, mereka kelaparan tatkala beliau kelaparan, dan mereka tak dapat tidur sebelum kedua mata beliau terpejam&#8230;</p>
<p><strong>Dahulu&#8230;</strong></p>
<p><strong>Dahulu</strong>, diriwayatkan dari Sayyidina &#8216;Umar bin Khatthab <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>, katanya: &#8220;Dahulu aku mempunyai seorang tetangga Anshari dari Bani Umayyah bin Zaid, sebuah kabilah yang bermukim di dataran tinggi kota Madinah. Kami berdua senantiasa bergantian mengunjungi Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Kalau hari ini dia yang turun maka keesokannya gantian aku yang turun. Usai turun menemui Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, kukabarkan kepadanya apa-apa yang disampaikan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> hari itu, baik itu berupa wahyu atau lainnya. Demikian pula halnya kalau ia yang turun, ia melakukan hal serupa.</p>
<p>Sebagai lelaki Quraisy, kami adalah orang yang memiliki supremasi terhadap istri-istri kami. Akan tetapi setiba kami di Madinah, kami dapati bahwa orang Anshar adalah orang yang kalah oleh istri-istri mereka. Akibatnya istri-istri kami mulai terpengaruh dengan tabiat wanita Anshar. Pernah suatu ketika aku membentak istriku&#8230; tapi ia malah membantah. Aku pun jadi berang begitu tahu ia berani membantahku.</p>
<p>&#8220;Mengapa kamu marah atas sikapku, padahal demi Allah, istri-istri Nabi saja berani membantah beliau&#8230;? Bahkan ada di antara mereka yang sampai meninggalkan beliau seharian ini hingga malam&#8230;&#8221; sanggah istriku.</p>
<p>Aku pun tercengang mendengarnya&#8230; &#8220;Benar-benar merugilah kalau sampai ada dari istri beliau yang berbuat demikian&#8221; gumamku.</p>
<p>Saat itu juga aku menyingsingkan gamisku dan bergegas menuju rumah Hafshah. Setibaku di rumahnya, kukatakan kepadanya:</p>
<p>&#8220;Hai Hafshah, benarkah ada diantara kalian yang membikin kesal Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> seharian ini hingga malam?&#8221;</p>
<p>&#8220;Benar&#8230;&#8221; jawabnya.</p>
<p>&#8220;Alangkah meruginya kamu kalau begitu&#8230; Apa kamu merasa aman dari murka Allah setelah kamu membikin kesal Rasul-Nya, hingga boleh jadi kamu celaka karenanya&#8230;? Jangan minta macam-macam kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, dan jangan sekali-kali membantahnya atau meninggalkannya. Mintalah kepadaku apa yang kau inginkan dan jangan kamu terpengaruh oleh madumu, karena ia lebih cantik darimu dan lebih dicintai oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> -yakni Aisyah-&#8221;.</p>
<p>Konon ketika itu warga Madinah sedang ramai membicarakan isu santer bahwa Raja Ghassan tengah menyiapkan pasukan berkudanya untuk menyerbu Madinah.</p>
<p>Suatu ketika, tibalah giliran tetanggaku yang Anshari itu untuk turun menemui Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Di petang harinya, ia mendatangiku sembari menggedor pintu rumahku keras-keras&#8230;&#8221;Hoi, apa kamu ada di dalam?&#8221; teriaknya.</p>
<p>Aku pun tersentak kaget dan bergegas keluar menemuinya&#8230; tanpa basa-basi, ia pun langsung memulai pembicaraan:</p>
<p>&#8220;Wah, ada perkara besar yang barusan terjadi!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ada apa? Apa Ghassan telah tiba?&#8221; tanyaku.</p>
<p>&#8220;Oo.. jauh lebih besar dan lebih mengerikan dari itu&#8230; Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> telah menceraikan istri-istrinya!!&#8221; katanya.</p>
<p>&#8220;Alangkah meruginya si Hafshah kalau begitu&#8230; aku telah menduga bahwa hal ini bakal terjadi&#8230;&#8221; gumamku&#8230;&#8221; (HR. Bukhari no 5191)</p>
<p>Lihatlah, bagaimana kehidupan para sahabat sangat terpengaruh dengan rumah tangga Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Bagi mereka, penyerbuan pasukan berkuda Raja Ghassan ke Madinah tidak ada apa-apanya, dibanding kesedihan mereka atas apa yang terjadi dengan rumah tangga kekasih mereka saat itu. Raut muka dan kondisi si Anshari tadi seakan mengatakan: &#8220;Biarlah Ghassan menyerbu Madinah dan merampas harta benda yang kami miliki, yang penting Rasulullah ceria kembali&#8230;&#8221;</p>
<p><strong>Dahulu</strong>, ketika sebagian kaum muslimin terpukul mundur dan meninggalkan  Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam perang Uhud, ada seorang sahabat yang bernama Abu Thalhah yang berdiri tegar di hadapan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, melindungi beliau dengan perisainya&#8230;</p>
<p>Anas bin Malik <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> mengisahkan: Konon Abu Thalhah adalah seorang pemanah ulung yang busurnya terkenal kuat, dan hari itu ia telah mematahkan dua atau tiga buah busurnya. Di sampingnya ada seorang lelaki yang membawa sejumlah anak panah, maka perintah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> kepadanya:</p>
<p>&#8220;Berikan semua anak panahmu kepada Abu Thalhah&#8230;&#8221;, sembari Beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengamati pergerakan musuhnya.</p>
<p>&#8220;Demi ayah dan ibuku yang menjadi tebusanmu, janganlah engkau menampakkan dirimu kepada musuh agar engkau tak terkena panah&#8230; biarlah dadaku yang melindungi dadamu&#8230;!!&#8221; seru Abu Thalhah <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. (Lihat <em>Shahih Bukhari</em>, hadits no 3811 &amp; 4064; dan <em>Shahih Muslim</em>, hadits no: 1811)</p>
<p><em>Subhaanallaah</em>, betapa besar kecintaan mereka kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> hingga nyawa pun menjadi murah demi keselamatan beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>&#8230; benar-benar gambaran kecintaan yang sejati.</p>
<p><strong>Dahulu</strong>, ada seorang sahabat yang bernama Muhaiyishah bin Mas&#8217;ud Al Khazraji Al Anshari, julukannya Abu Sa&#8217;ad. Ia tergolong warga Madinah. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pernah mengutusnya ke daerah Fadak untuk mengajak penduduknya masuk Islam. Ia termasuk salah seorang sahabat yang ikut serta dalam perang Uhud, Khandaq dan berbagai peperangan berikutnya. Ia memiliki saudara kandung yang lebih tua usianya, yaitu Huwaiyishah bin Mas&#8217;ud; akan tetapi Muhaiyishah lebih cerdas dan lebih afdhal dari saudaranya ini, bahkan ialah yang menjadi sebab keislaman saudaranya.</p>
<p>Ada sebuah kisah menakjubkan yang terjadi antara Muhaiyishah dan Huwaiyishah. Kisah ini disebutkan oleh Ibnu Ishaq dalam Kitab <em>Al Maghazi</em> dengan sanadnya dari Ibnu &#8216;Abbas <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>, yang berkenaan dengan kisah pembunuhan seorang Yahudi keparat yang senantiasa menyakiti Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melalui syair-syairnya, namanya Ka&#8217;ab Ibnul Asyraf. Si Yahudi ini berusaha memprovokasi orang-orang Arab untuk memerangi Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Usai terbunuhnya Ka&#8217;ab, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda kepada para sahabatnya: <em>&#8220;Jika kalian berpapasan dengan orang Yahudi siapa pun di sana, maka bunuh saja!&#8221;</em> Maka segeralah Muhaiyishah bin Mas&#8217;ud menghabisi Ibnu Sunainah, salah seorang saudagar Yahudi yang dahulu bergaul erat dan berjual beli dengannya. Ketika itu, Huwaiyishah bin Mas&#8217;ud belum masuk Islam dan ia lebih tua dari Muhaiyishah. Begitu ia tahu Muhaiyishah membunuh si Yahudi tadi, Huwaiyishah langsung memukul dan menghardiknya:</p>
<p>&#8220;Hai musuh Allah, sampai hati kau membunuhnya?! Padahal demi Allah, sebagian lemak yang ada di perutmu adalah berasal dari hartanya!&#8221;, bentak Huwaiyishah.</p>
<p>&#8220;Demi Allah, aku diperintahkan untuk membunuhnya oleh seseorang yang bila ia memerintahkanku untuk membunuhmu, niscaya akan kupenggal juga lehermu!&#8221; jawab Muhaiyishah tegas.</p>
<p>Huwaiyishah tertegun sejenak mendengarnya&#8230;</p>
<p>&#8220;Kalau begitu, agama yang menjadikanmu seperti ini benar-benar luar biasa&#8230;&#8221; gumam Huwaiyishah.</p>
<p>Maka Huwaiyishah pun menyatakan keislamannya, dan inilah awal keisalaman dirinya. Seketika itulah Muhaiyishah mengucapkan syair:</p>
<p>يلوم ابن أمي لو أمرت بقتله      لطبقت ذفراه بأبيض قاضب</p>
<p><em>Ia mencelaku, padahal kalau disuruh membunuhnya,<br />
pastilah kutebaskan pedangku pada tengkuknya.</em><br />
حسام كلون الملح أخلص صقله      متى ما أصوبه فليس بكاذب</p>
<p><em>Pedang nan putih bak garam yang berkilau sinarnya,<br />
yang bila kuhunus maka tak akan lagi berdusta.</em><br />
وما سرني أني قتلتك طائعا    وأن لنا ما بين بصرى ومأرب</p>
<p><em>Aku tak suka bila membunuhmu karena taat kepadanya,<br />
diganti dengan apa yang terdapat antara Ma&#8217;rib dan Bushra</em><strong>*</strong></p>
<p>(Lihat <em>Al Istie&#8217;aab fi Ma&#8217;rifatil As-Haab</em>, 4/1463-1464, oleh Al Hafizh Ibnu &#8216;Abdil Bar; <em>Dalailun Nubuwwah</em> 3/200, oleh Imam Al Baihaqy; <em>Sirah Ibnu Hisyam</em>, 3/326; dan yang lainnya.)</p>
<p>(*) Ma&#8217;rib adalah nama sebuah kota di Yaman, sedangkan Bushra adalah nama sebuah daerah di Syam.</p>
<p>Wuiihh&#8230; benar-benar sulit dipercaya! Benar-benar kecintaan yang tiada tara&#8230; adakah diantara kita yang sanggup menirunya? Alih-alih ingin seperti mereka, disuruh ikut sunnahnya saja setengah mati susahnya, apalagi disuruh seperti mereka? mustahil rasanya&#8230;</p>
<p><strong>Sekarang&#8230;</strong></p>
<p><strong>Sekarang</strong>, <a title="Ensiklopedia Maulid Nabi: Cinta Rasul" href="http://muslim.or.id/manhaj-salaf/ensiklopedia-maulid-nabi-1-cinta-rasul.html">cinta Rasul</a> kebanyakan hanyalah slogan yang sulit dicari wujudnya di lapangan. Cinta Rasul sering kali diidentikkan dengan shalawatan, perayaan maulid, isra&#8217; mi&#8217;raj, dan yang sejenisnya.</p>
<p><strong>Sekarang</strong>, orang yang dianggap cinta Rasul ialah mereka yang mengagungkan beliau dengan bertawassul kepadanya dalam do&#8217;a. Atau mereka yang mengirimkan Al Fatehah kepada beliau, atau mereka yang menggelari beliau dengan gelar yang bermacam-macam: seperti Sayyidina, Habibina, dan lain-lain.</p>
<p><strong>Sekarang</strong>, &#8216;Cinta Rasul&#8217; merupakan judul kaset yang sering kita dengar dimana-mana&#8230; yang dinyanyikan oleh pria dan wanita, tua dan muda&#8230; semua merasa khusyuk ketika melantunkan kata-kata: <em>Shalaatullaah salaamullaah&#8230; &#8216;alal habiibi Rasuulillaah&#8230; </em></p>
<p>Akan tetapi jangan tanya soal sunnah beliau kepada mereka&#8230; karena mereka akan menjawab bahwa yang mereka lakukan tadilah yang namanya sunnah. Cinta Rasul kini telah berubah menjadi klaim yang diperebutkan setiap golongan. Cinta Rasul yang dahulu diwujudkan dengan ittiba&#8217; kepadanya, kini semakin luas maknanya hingga mencakup bid&#8217;ah segala. Menurut mereka, perayaan maulid, isra&#8217; mi&#8217;raj, shalawatan bid&#8217;ah, dan yang sejenisnya merupakan perwujudan nyata akan kecintaan seseorang kepada Nabinya. Sehingga otomatis bila ada orang yang mengingkari hal-hal semacam itu, serta-merta dituduhlah ia sebagai orang yang tidak cinta Rasul, atau wahhabi, dan lain sebagainya.</p>
<p>Di sisi lain, mereka berusaha mencari &#8216;pembenaran&#8217; -dan bukannya kebenaran- atas apa yang selama ini mereka lakukan. Mereka berusaha meyakinkan bahwa apa yang mereka lakukan selama ini tidaklah bertentangan dengan sunnah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Mereka mengumpulkan sebanyak mungkin &#8216;dalil&#8217; (baca: syubhat) untuk melegitimasi praktik &#8216;sunnah&#8217; (baca: bid&#8217;ah) mereka.</p>
<p>Memang zaman kita ini penuh dengan keanehan&#8230; orang yang berusaha menghidupkan sunnah dan membasmi bid&#8217;ah justeru dicap macam-macam; seperti tidak cinta Rasul&#8230;! atau wahhabi&#8230;! Namun sebaliknya, mereka yang melestarikan berbagai bid&#8217;ah khurafat dengan kedok &#8216;Cinta Rasul&#8217; justeru mengklaim dirinya sebagai ahlussunnah wal jama&#8217;ah.</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ustadz Sufyan bin Fuad Baswedan, Lc. (<em>Mahasiswa Pasca Sarjana, Fakultas Hadits &amp; Dirosah Islamiyyah, Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia</em>)<br />
Artikel <a title="Ensiklopedia Maulid Nabi: Cinta Rasul" href="http://muslim.or.id/manhaj-salaf/ensiklopedia-maulid-nabi-1-cinta-rasul.html">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-566"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fensiklopedia-maulid-nabi-1-cinta-rasul.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fensiklopedia-maulid-nabi-1-cinta-rasul.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fensiklopedia-maulid-nabi-1-cinta-rasul.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/ensiklopedia-maulid-nabi-1-cinta-rasul.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa Hukum Merayakan Maulid Nabi?</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/apa-hukum-merayakan-maulid-nabi.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/manhaj/apa-hukum-merayakan-maulid-nabi.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Mar 2009 00:00:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Maulid Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=563</guid>
		<description><![CDATA[Syaikh Muhammad bin Shalih Al-&#8217;Utsaimin rahimahullah menjawab: Pertama, malam kelahiran Rasul shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tidak diketahui secara pasti kapan. Bahkan sebagian ulama masa kini menyimpulkan hasil penelitian mereka bahwa sesungguhnya malam kelahiran beliau adalah<a class="more" href="http://muslim.or.id/manhaj/apa-hukum-merayakan-maulid-nabi.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al-&#8217;Utsaimin<em> rahimahullah</em> menjawab:</p>
<p>Pertama, malam kelahiran Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tidak diketahui secara pasti kapan. Bahkan sebagian ulama masa kini menyimpulkan hasil penelitian mereka bahwa sesungguhnya malam kelahiran beliau adalah pada tanggal 9 Robi&#8217;ul Awwal dan bukan malam 12 Robi&#8217;ul Awwal. Oleh sebab itu maka menjadikan perayaan pada malam 12 Robi&#8217;ul Awwal tidak ada dasarnya dari sisi latar belakang historis.</p>
<p><span id="more-563"></span></p>
<p>Kedua, dari sisi tinjauan syariat maka merayakannya pun tidak ada dasarnya. Karena apabila hal itu memang termasuk bagian syariat Allah maka tentunya Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melakukannya atau beliau sampaikan kepada umatnya. Dan jika beliau pernah melakukannya atau menyampaikannya maka mestinya ajaran itu terus terjaga, sebab Allah ta&#8217;ala berfirman yang artinya, <em>&#8220;Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Quran dan Kami lah yang menjaganya.&#8221;</em> (QS. Al-Hijr: 9)</p>
<p>Sehingga tatkala ternyata sedikit pun dari kemungkinan tersebut tidak ada yang terbukti maka dapat dimengerti bahwasanya hal itu memang bukan bagian dari ajaran agama Allah. Sebab kita tidaklah diperbolehkan beribadah kepada Allah &#8216;azza wa jalla dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan cara-cara seperti itu. Apabila Allah ta&#8217;ala telah menetapkan jalan untuk menuju kepada-Nya melalui jalan tertentu yaitu ajaran yang dibawa oleh Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> maka bagaimana mungkin kita diperbolehkan dalam status kita sebagai hamba yang biasa-biasa saja kemudian kita berani menggariskan suatu jalan sendiri menurut kemauan kita sendiri demi mengantarkan kita menuju Allah? Hal ini termasuk tindakan jahat dan pelecehan terhadap hak Allah &#8216;azza wa jalla tatkala kita berani membuat syariat di dalam agama-Nya dengan sesuatu ajaran yang bukan bagian darinya. Sebagaimana pula tindakan ini tergolong pendustaan terhadap firman Allah &#8216;azza wa jalla yang artinya,</p>
<p>الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي</p>
<p><em>&#8220;Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian dan Aku telah cukupkan nikmat-Ku kepada kalian.&#8221;</em> (QS. Al-Maa&#8217;idah: 3)</p>
<p>Oleh sebab itu kami katakan bahwasanya apabila perayaan ini termasuk dari kesempurnaan agama maka pastilah dia ada dan diajarkan sebelum wafatnya Rasul <em>&#8216;alaihish shalatu wa salam</em>. Dan jika dia bukan bagian dari kesempurnaan agama ini maka tentunya dia bukan termasuk ajaran agama karena Allah ta&#8217;ala berfirman yang artinya, <em>&#8220;Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian.&#8221;</em> Barang siapa yang mengklaim acara maulid ini termasuk kesempurnaan agama dan ternyata ia terjadi setelah wafatnya Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> maka sesungguhnya ucapannya itu mengandung pendustaan terhadap ayat yang mulia ini. Dan tidaklah diragukan lagi kalau orang-orang yang merayakan kelahiran Rasul <em>&#8216;alaihis shalatu was salam</em> hanya bermaksud mengagungkan Rasul <em>&#8216;alaihis shalaatu was salaam</em>. Mereka ingin menampakkan kecintaan kepada beliau serta memompa semangat agar tumbuh perasaan cinta kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melalui diadakannya <a title="Hukum merayakan maulid nabi" href="http://muslim.or.id/manhaj-salaf/apa-hukum-merayakan-maulid-nabi.html">perayaan</a> ini. Dan itu semua termasuk perkara ibadah. Kecintaan kepada Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah ibadah. Bahkan tidaklah sempurna keimanan seseorang hingga dia menjadikan Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sebagai orang yang lebih dicintainya daripada dirinya sendiri, anaknya, orang tuanya dan bahkan seluruh umat manusia. Demikian pula pengagungan Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> termasuk perkara ibadah. Begitu pula membangkitkan perasaan cinta kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga termasuk bagian dari agama karena di dalamnya terkandung kecenderungan kepada syariatnya. Apabila demikian maka merayakan maulid Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah serta untuk mengagungkan Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah suatu bentuk ibadah. Dan apabila hal itu termasuk perkara ibadah maka sesungguhnya tidak diperbolehkan sampai kapan pun menciptakan ajaran baru yang tidak ada sumbernya dari agama Allah. Oleh sebab itu merayakan maulid Nabi adalah bid&#8217;ah dan diharamkan.</p>
<p>Kemudian kami juga pernah mendengar bahwa di dalam perayaan ini ada kemungkaran-kemungkaran yang parah dan tidak dilegalkan oleh syariat, tidak juga oleh indera maupun akal sehat. Mereka bernyanyi-nyanyi dengan mendendangkan qasidah-qasidah yang di dalamnya terdapat ungkapan yang berlebih-lebihan (<a title="Hukum merayakan maulid nabi" href="http://muslim.or.id/manhaj-salaf/apa-hukum-merayakan-maulid-nabi.html"><em>ghuluw</em></a>) terhadap Rasul <em>&#8216;alaihish sholaatu was salaam</em> sampai-sampai mereka mengangkat beliau lebih agung daripada Allah -<em>wal &#8216;iyaadzu billaah</em>-. Dan kami juga pernah mendengar kebodohan sebagian orang yang ikut serta merayakan maulid ini yang apabila si pembaca kisah Nabi sudah mencapai kata-kata &#8220;telah lahir Al-Mushthafa&#8221; maka mereka pun serentak berdiri dan mereka mengatakan bahwa sesungguhnya ruh Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> hadir ketika itu maka kita berdiri demi mengagungkan ruh beliau. Ini adalah tindakan yang bodoh. Dan juga bukanlah termasuk tata krama yang baik berdiri ketika menyambut orang karena beliau tidak senang ada orang yang berdiri demi menyambutnya. Dan para sahabat beliau pun adalah orang-orang yang paling dalam cintanya kepada Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> serta kaum yang lebih hebat dalam mengagungkan beliau daripada kita. Mereka itu tidaklah berdiri tatkala menyambut beliau karena mereka tahu beliau membenci hal itu sementara beliau dalam keadaan benar-benar hidup. Lantas bagaimanakah lagi dengan sesuatu yang hanya sekedar khayalan semacam ini?</p>
<p>Bid&#8217;ah ini -yaitu bid&#8217;ah Maulid- <strong>baru terjadi setelah berlalunya tiga kurun utama</strong>. Selain itu di dalamnya muncul berbagai kemungkaran ini yang merusak fondasi agama seseorang. Apalagi jika di dalam acara itu juga terjadi campur baur lelaki dan perempuan dan kemungkaran-kemungkaran lainnya. (Diterjemahkan Abu Muslih dari <em>Fatawa Arkanil Islam</em>, hal. 172-174).</p>
<p>***</p>
<p>Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin<br />
Penerjemah: Abu Mushlih Ari Wahyudi<br />
Artikel <a title="Hukum merayakan maulid nabi" href="http://muslim.or.id/manhaj-salaf/apa-hukum-merayakan-maulid-nabi.html">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-563"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fapa-hukum-merayakan-maulid-nabi.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fapa-hukum-merayakan-maulid-nabi.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fmanhaj%2Fapa-hukum-merayakan-maulid-nabi.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/manhaj/apa-hukum-merayakan-maulid-nabi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>111</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

