<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muslim.Or.Id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah &#187; Lailatul Qadar</title>
	<atom:link href="http://muslim.or.id/tag/lailatul-qadar/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muslim.or.id</link>
	<description>Pesantren online agama Islam berdasarkan Qur&#039;an dan Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih</description>
	<lastBuildDate>Sat, 11 Feb 2012 04:00:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Fiqih Ringkas I&#8217;tikaf (4)</title>
		<link>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Aug 2011 08:06:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yulian Purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh dan Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[I'tikaf]]></category>
		<category><![CDATA[Lailatul Qadar]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=6765</guid>
		<description><![CDATA[Pembatal I’tikaf a. Jima’ (bersetubuh) Allah ta’ala berfirman, وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ “(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu ber-i&#8217;tikaf dalam mesjid.” (Al Baqarah: 187). Al Qurthubi rahimahullah mengatakan, بين جل تعالى أن الجماع يفسد الاعتكاف واجمع أهل<a class="more" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><strong>Pembatal I’tikaf</strong></p>
<p><strong>a. </strong><strong><em>Jima’</em> (bersetubuh)</strong></p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ</p>
<p><em>“(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu ber-i&#8217;tikaf dalam mesjid.” </em>(Al Baqarah: 187).</p>
<p>Al Qurthubi <em>rahimahullah</em> mengatakan,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">بين جل تعالى أن الجماع يفسد الاعتكاف واجمع أهل العلم على أن من جامع امرأته وهو معتكف عامدا لذلك في فرجها أنه مفسد لاعتكافه</p>
<p><em>“Allah ta’ala menjelaskan bahwa berjima’ membatalkan i’tikaf dan para ulama telah bersepakat ahwa seorang yang berjima’ dengan istrinya secara sengaja sementara dia sedang ber-i&#8217;tikaf, maka dia telah membatalkan i’tikafnya.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Ibnu Hazm mengatakan, <em>“Mereka (para ulama) sepakat jima’ membatalkan i’tikaf.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn2">[2]</a></p>
<p><strong>b. </strong><strong>Bercumbu</strong></p>
<p>Bercumbu dengan pasangan yang disertai syahwat diharamkan bagi <em>mu’takif</em> berdasarkan kesepakatan ulama.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn3">[3]</a>Namun, para ulama berselisih apakah hal itu membatalkan <em>i’tikaf</em>-nya.</p>
<p><strong>Pendapat yang kuat</strong> dalam permasalahan ini adalah pendapat Jumhur yang menyatakan bercumbu tidaklah membatalkan i’tikafnya kecuali bercumbu tersebut menyebabkan dirinya orgasme (maaf: mengeluarkan mani).</p>
<p>Ath Thabari <em>rahimahullah</em> ketika mengomentari firman Allah <em>ta’ala</em> ” وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ “, beliau mengatakan,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">وأولى القولين عندي بالصواب قول من قال : معنى ذلك : الجماع أو ما قام الجماع مما أوجب غسلا إيجابه وذلك أنه لا قول في ذلك إلا أحد قولين : إما جعل حكم الاية عاما أو جعل حكمها في خاص من معاني المباشرة وقد تظاهرت الأخبار عن رسول الله صلى الله عليه وسلم : أن نساءه كن يرجلنه وهو معتكف فلما صح ذلك عنه علم أن الذي عنى به من معاني المباشرة البعض دون الجميع</p>
<p><em>“Pendapat yang paling benar menurutku adalah pendapat yang menyatakan bahwa maknanya adalah jima’ dan segala hal yang serupa dengan itu yang mengharuskan pelakunya mandi. Kemungkinan yang ada hanya dua, yaitu memberlakukan ayat tersebut secara umum atau mengkhususkan ayat tersebut untuk sebagian makna dari mubasyarah. Banyak hadits dari rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara jelas menginformasikan bahwa istri-istri beliau menyisir rambut beliau ketika sedang ber-i&#8217;tikaf, maka dapat diketahui bahwa makna mubasyarah dalam ayat ini hanya mencakup sebagian maknanya, bukan seluruhnya.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn4">[4]</a></p>
<p><strong>c. </strong><strong>Keluar dari Masjid</strong></p>
<p>Mu’takif diperkenankan keluar dari masjid jika terdapat <em>udzur</em> syar’i atau hendak menunaikan suatu kebutuhan yang mendesak. Contoh akan hal ini, mu’takif diperbolehkan keluar dari masjid untuk makan dan minum, jika tidak ada orang yang membawakan makanan dan minuman baginya ke masjid. Demikian pula, dia diperbolehkan keluar masjid untuk mandi janabah atau berwudhu, jika tidak mungkin dilakukan di dalam masjid.</p>
<p>‘Aisyah <em>radhiallahu ‘anha</em> mengatakan, <em>“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memasukkan kepala beliau ke dalam kamarku, sementara beliau berada di dalam masjid, dan saya pun menyisirnya. Beliau tidak akan masuk ke dalam rumah ketika sedang ber-i&#8217;tikaf, kecuali ada kebutuhan mendesak.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Ibnu Hazm <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Para ulama sepakat bahwa mu’takif yang keluar dari tempat i’tikafnya di dalam masjid tanpa ada kebutuhan yang mendesak, tidak pula karena darurat, atau melakukan suatu perkara kebaikan yang diperintahkan atau dianjurkan, maka i’tikaf yang dilakukannya telah batal.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn6">[6]</a></p>
<p><strong>d. </strong><strong>Memutus Niat untuk ber-i&#8217;tikaf</strong></p>
<p>Telah dipaparkan sebelumnya bahwa niat untuk ber-i&#8217;tikaf termasuk syarat i’tikaf. Dengan demikian, mu’takif yang tidak lagi berniat untuk ber-i&#8217;tikaf, maka batallah i’tikafnya. Hal ini berdasarkan keumuman sabda nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ</p>
<p><strong>“</strong><em>Sesungguhnya seluruh amalan itu bergantung pada niatnya</em><strong> “</strong><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn7">[7]</a><strong></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Berbagai Perkara yang Dianjurkan ketika ber-i&#8217;tikaf</strong></p>
<p><strong>a. </strong><strong>Memperbanyak ibadah <em>mahdhah</em></strong></p>
<p><em>Mu’takif</em> (orang yang ber-i&#8217;tikaf) disyari’atkan memperbanyak ibadah mahdhah (ritual) seperti shalat, membaca Al-Quran, dzikir, dan ibadah yang semisal. Berbagai ibadah ini dapat membantu seorang untuk merealisasikan tujuan dan hikmah I’tikaf, yaitu memfokuskan hati dalam beribadah kepada-Nya dan memutus kesibukan dengan makhluk.</p>
<p>Demikian pula, yang termasuk dianjurkan adalah berpuasa ketika ber-i&#8217;tikaf di luar bulan Ramadhan menurut kalangan yang berpendapat bahwa puasa tidak termasuk sebagai syarat i’tikaf.</p>
<p><strong>b. </strong><strong>Melakukan ibadah <em>muta’addiyah</em></strong></p>
<p>Melakukan ibadah <em>muta’addiyah</em> (ibadah yang berdampak sosial) disyari’atkan bagi mu’takif apabila hukum ibadah <em>muta’adiyah</em> tersebut wajib dan tidak memakan waktu yang lama seperti mengeluarkan zakat, amar ma’ruf nahi mungkar, membalas salam, memberi fatwa, dan yang semisal.</p>
<p>Ulama berbeda pendapat mengenai hukum ibadah muta’addiyah ketika ber-i&#8217;tikaf apabila tidak wajib dan memakan waktu yang lama, seperti melaksanakan kajian atau berdiskusi dengan seorang ‘alim, dan yang semisal. Sebagian ulama berpendapat hal tersebut disyari’atkan, sebagian yang lain berpendapat sebaliknya.</p>
<p>Ibnu Rusyd mengatakan, <em>“Akar perbedaan pendapat para ulama dalam hal ini adalah dikarenakan hal tersebut tidak disebutkan hukumnya. Maka, ulama yang berpandangan bahwa yang dimaksud i’tikaf adalah mengekang diri di masjid dengan melakukan aktivitas yang khusus, maka mereka berpendapat seorang mutakif hanya boleh melakukan ibadah shalat dan membaca Al-Quran. Sedangkan yang berpandangan bahwa yang dimaksud i’tikaf adalah mengekang diri dengan melakukan seluruh kegiatan ukhrawi, maka mereka membolehkan hal tersebut.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn8">[8]</a></p>
<p><strong>Pendapat yang kuat</strong> adalah hal tersebut disyari’atkan dan hal ini merupakan pendapat madzhab Hanafi<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn9">[9]</a> dan Syafi’i<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn10">[10]</a>. Pendapat ini berlandaskan pada beberapa dalil berikut:</p>
<p>Pertama, hadits Shafiyah <em>radhiallahu ‘anha</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn11">[11]</a>, di dalamnya disebutkan bahwa nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>berbincang-bincang dengan para istri beliau.</p>
<p>Kedua, hadits Abu Sa’id Al Khudri <em>radhiallahu ‘anhu</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn12">[12]</a>, di dalamnya disebutkan bahwa nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berbicara dan memberi pengarahan kepada para sahabatnya.</p>
<p>Hukum yang terkandung dalam kedua hadits ini juga dapat diterapkan pada aktivitas kajian ketika ber-i&#8217;tikaf.</p>
<p>Ketiga, hadits ‘Aisyah <em>radhiallahu ‘anha</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn13">[13]</a> yang menyisirkan rambut nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tatkala beliau tengah ber-i&#8217;tikaf. Segi pendalilan dari hadits ini, jika menyisirkan rambut yang hukumnya mubah diperbolehkan tentulah melakukan ibadah selain shalat dan tilawah Al Quran lebih diperbolehkan.</p>
<p><strong>c. </strong><strong>Membuat Sekat atau Tenda di dalam Masjid</strong></p>
<p>Disunnahkan bagi <em>mu’takif</em>, baik pria maupun wanita, membuat sekat atau tenda yang bisa dipergunakan untuk mengisolir diri dari para mu’takif lainnya. Hal ini berdasarkan perbuatan nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn14">[14]</a> dan para istri beliau<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn15">[15]</a>.</p>
<p>Hal ini lebih ditekankan bagi wanita yang ber-i&#8217;tikaf di masjid yang digunakan untuk shalat berjama’ah agar dirinya tidak terlihat oleh para pria sehingga tidak menimbulkan fitnah.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn16">[16]</a></p>
<p><strong>d. </strong><strong>Meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat</strong></p>
<p>Mu’takif hendaknya meninggalkan perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn17">[17]</a> Hal ini berdasarkan dalil berikut:</p>
<ul>
<li>Hadits Abu Sa’id <em>radhiallahu ‘anhu</em> yang telah lalu disebutkan bahwa nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ber-i&#8217;tikaf di sebuah tenda kecil yang berpintukan lembaran tikar.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn18">[18]</a></li>
<li>Hadits ‘Aisyah <em>radhiallahu ‘anha</em> yang menyebutkan bahwa apabila rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin ber-i&#8217;tikaf, beliau melaksanakan shalat Subuh kemudian masuk ke tempat i’tikafnya).<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn19">[19]</a></li>
<li>Kedua hadits ini menunjukkan bahwa seorang mu’takif hendaknya menyendiri agar bisa fokus beribadah dan hal itu baru dapat tercapai jika dia meninggalkan berbagai perkara yang tidak bermanfaat.</li>
<li> Hadits Abu Hurairah <em>radhiallahu ‘anhu</em>, nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</li>
</ul>
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ</p>
<p><em>“Merupakan tanda baiknya keislaman seorang adalah meninggalkan segala yang tidak bermanfaat baginya.”</em><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn20">[20]</a></p>
<p><strong>e. </strong><strong>Bergegas Menunaikan Shalat Jum’at</strong></p>
<p><em>Mu’takif</em> yang tidak beri’tkaf di masjid Jami’ dianjurkan untuk bergegas menunaikan shalat Jum’at berdasarkan keumuman hadits yang menganjurkan seorang untuk bersegera pergi ke masjid untuk menunaikan shalat Jum’at.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn21">[21]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>f. </strong><strong>Tetap Berdiam di Masjid ketika Malam ‘Ied</strong></p>
<p>Sebagian ulama menganjurkan agar <em>mu’takif</em> tetap berdiam di masjid pada malam ‘Ied dan baru keluar ketika hendak menunaikan shalat ‘Ied.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn22">[22]</a></p>
<p><strong>Berbagai Perkara yang Diperbolehkan ketika ber-i&#8217;tikaf</strong></p>
<p><strong>a. </strong><strong>Minum, Makan, dan Tidur</strong></p>
<p>Ulama sepakat bahwa <em>mu’takif</em> diperbolehkan makan, minum, dan tidur di dalam masjid.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn23">[23]</a> Dalil akan hal ini adalah sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>Firman Allah <em>ta’ala</em>,
<p style="font-size: 22px; text-align: right;">وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ</p>
<p><em>(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu ber-i&#8217;tikaf dalam mesjid.”</em> (Al Baqarah: 187).</p>
<p>Ayat ini menunjukkan bahwa seorang <em>mu’takif</em> haruslah berada di dalam masjid, dengan demikian hal tersebut berkonsekuensi dirinya makan, minum, dan tidur di dalam masjid.</li>
<li>Hadits ‘Aisyah <em>radhiallahu ‘anha</em> yang menyebutkan bahwa nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ketika ber-i&#8217;tikaf tidak masuk ke dalam rumah kecuali terdapat kebutuhan yang mendesak.<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn24">[24]</a> Sehingga dapat dipahami bahwa beliau makan, minum, dan tidur di dalam masjid.</li>
</ul>
<p><strong>b. </strong><strong>Dikunjungi Keluarga</strong></p>
<p><em>Mu’takif</em> boleh menerima kunjungan keluarganya berdasarkan Hadits Shafiyah <em>radhiallahu ‘anha</em> yang datang menjenguk beliau ketika ber-i&#8217;tikaf. <a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn25">[25]</a></p>
<p>Namun, kunjungan tersebut hendaklah tidak terlalu lama dan tidak sering dilakukan sehingga tidak mengurangi nilai dan tujuan ber-i&#8217;tikaf.</p>
<p><strong>c. </strong><strong>Menikah dan Menikahkan</strong></p>
<p>Mu’takif juga diperbolehkan untuk menikah, menikahkan, menjadi saksi dalam pernikahan yang dilangsungkan di dalam masjid tempat dirinya ber-i&#8217;tikaf.</p>
<p>Dalil bagi hal ini adalah dalil-dalil yang membolehkan seorang mu’takif menjenguk orang sakit dan menyalati jenazah di dalam masjid. Selain itu, semua hal tersebut merupakan ketaatan dan pada umumnya tidak banyak menyita waktu, sehingga tidak menafikan tujuan ber-i&#8217;tikaf.</p>
<p>An Nawawi <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Seorang mu’takif diperbolehkan menikah dan menikahkan. Hal ini telah ditegaskan oleh Asy Syafi’i dalam <em>Al Muktashar</em> dan para rekan (beliau) sepakat akan hal ini serta saya tidak tahu ada khilaf akan hal ini.”<a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftn26">[26]</a></p>
<p><em>Waffaqaniyallahu wa iyyakum</em>.</p>
<p>Buaran Indah, Tangerang.</p>
<p><strong>Maraji’ :</strong></p>
<ol>
<li><em>Al Ijma’</em> karya Imam Ibnul Mundzir; Asy Syamilah.</li>
<li><em>Al Inshaf fi Ahkamil I’tikaf</em> karya Syaikh ‘Ali Hasan al Halabi.</li>
<li><em>Al Jami’ li Ahkam Al Quran</em> karya Imam Al Qurthubi; Asy Syamilah.</li>
<li><em>Al Majmu</em>’ karya Imam An Nawawi; Asy Syamilah.</li>
<li>Al Qur-an dan Terjemahannya</li>
<li><em>Fiqhul I’tikaf</em> karya Syaikh Dr. Khalid bin ‘Ali Al Musyaiqih.</li>
<li><em>Majmu’ Fatawa wa Rasaa-il Ibn ‘Utsaimin</em> karya Syaikh Muhammad al ‘Utsaimin; Asy Syamilah.</li>
<li><em>Shahih Fiqhis Sunnah</em> jilid 2 karya Syaikh Abu Malik Kamal bin As Sayyid Salim</li>
<li><em>Syarh Al Arba’in an Nawawi</em> karya Syaikh Shalih alusy Syaikh.</li>
<li><em>Tafsir Quran al-’Azhim</em> 2/308 karya Imam Ibnu Katsir; Asy Syamilah.</li>
<li><em>Tafsir Surat Al Baqarah</em> 2/358 karya Syaikh Muhammad al ‘Utsaimin.</li>
<li><em>Taisir Karim ar Rahman</em> karya Syaikh Abdurrahman As Sa’di.</li>
<li><em>‘Umdah al-Qari</em> karya Imam Al ‘Aini; Asy Syamilah.</li>
<li><em>‘Uudu ila Khairil ‘Ibad</em> karya Syaikh Dr. Muhammad bin Isma’il Al Muqaddam.</li>
<li><em>Zaadul Ma’ad</em> karya Imam Ibnul Qayyim.</li>
<li>Dll.</li>
</ol>
<hr size="1" />
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref1">[1]</a> <em>Al Jami’ li Ahkamil Quran</em> 2/324.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref2">[2]</a> <em>Maratibul Ijma</em>’ hlm. 41.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref3">[3]</a> <em>Al Jami’ li Ahkamil Quran</em> 2/332; <em>Tafsir Ibnu Katsir</em> 1/298; Asy Syamilah.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref4">[4]</a> <em>Jami’ul Bayan</em> 2/181.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref5">[5]</a> HR. Bukhari: 1925; Muslim: 297.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref6">[6]</a> <em>Maratibul Ijma’</em> hlm. 48.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref7">[7]</a> HR. Bukhari: 1, Muslim: 1907.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref8">[8]</a> <em>Bidayatul Mujtahid</em> 1/312.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref9">[9]</a> <em>Fathul Qadir</em> 2/396.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref10">[10]</a> <em>Al Umm</em> 2/105; <em>Al Majmu</em>’ 6/528.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref11">[11]</a> HR. Bukhari: 1933.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref12">[12]</a> HR. Muslim: 1167.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref13">[13]</a> HR. Bukhari: 1925; HR. Muslim: 297.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref14">[14]</a> HR. Muslim: 1167.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref15">[15]</a> HR. Bukhari: 1929.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref16">[16]</a> <em>Asy Syarhul Kabir ma’al Inshaf</em> 7/582.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref17">[17]</a> <em>Badai’ush Shana’i</em> 2/117; <em>Al Majmu’</em> 6/533.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref18">[18]</a> HR. Muslim: 1167.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref19">[19]</a> HR. Muslim: 1172.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref20">[20]</a> HR. Tirmidzi: 2318.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref21">[21]</a> HR. Bukhari: 841; Muslim: 850.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref22">[22]</a> <em>Al Muwaththa</em>:1/315; <em>Al Majmu</em> 6/475; Asy Syamilah.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref23">[23]</a> <em>Badai’ush Shana’i</em> 2/117; <em>Al Mudawwanah</em> 1/206; <em>Raudhatut Thalibin</em> 2/393; <em>Al Mughni</em> 4/383.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref24">[24]</a> HR. Bukhari: 1925; Muslim: 297.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref25">[25]</a> HR. Bukhari: 1933.</p>
<p><a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html#_ftnref26">[26]</a> <em>Al Majmu</em>’ 6/559.</p>
<div class="shr-publisher-6765"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Ffiqih-ringkas-itikaf-4.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Ffiqih-ringkas-itikaf-4.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Ffiqih-ringkas-itikaf-4.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-4.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Semakin Semangat Ibadah di Akhir Ramadhan</title>
		<link>http://muslim.or.id/ramadhan/semakin-semangat-ibadah-di-akhir-ramadhan.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/ramadhan/semakin-semangat-ibadah-di-akhir-ramadhan.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Aug 2011 09:00:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Lailatul Qadar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=6736</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Sebagian kaum muslimin di akhir Ramadhan malah tersibukkan dengan hal-hal dunia. Dirinya lebih memikirkan pulang mudik, baju baru<a class="more" href="http://muslim.or.id/ramadhan/semakin-semangat-ibadah-di-akhir-ramadhan.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p><em>Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.</em></p>
<p>Sebagian kaum muslimin di akhir Ramadhan malah tersibukkan dengan hal-hal dunia. Dirinya lebih memikirkan pulang mudik, baju baru dan silaturahmi kepada kerabat. Contoh dari suri tauladan kita tidaklah demikian. Di akhir Ramadhan, Rasul shallallahu &#8216;alaihi wa sallam lebih tersibukkan dengan ibadah, apalagi shalat malam.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Raih Lailatul Qadar</strong></span></p>
<p>Selayaknya bagi setiap mukmin untuk terus semangat dalam beribahadah di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan lebih dari lainnya. Di sepuluh hari terakhir tersebut terdapat lailatul qadar. Allah Ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p style="text-align: center;">لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ</p>
<p>&#8220;<em>Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan</em>&#8221; (QS. Al Qadar: 3). Lailatul qadar adalah malam yang penuh kemuliaan. Telah terdapat keutamaan yang besar bagi orang yang menghidupkan malam tersebut. Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p style="text-align: center;">مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ</p>
<p>“<em>Barangsiapa melaksanakan shalat pada lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni</em>.” (HR. Bukhari no. 1901)</p>
<p>An Nakho’i mengatakan, “Amalan di lailatul qadar lebih baik dari amalan di 1000 bulan.” (Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 341). Mujahid, Qotadah dan ulama lainnya berpendapat bahwa yang dimaksud dengan lebih baik dari seribu bulan adalah shalat dan amalan pada lailatul qadar lebih baik dari shalat dan puasa di 1000 bulan yang tidak terdapat lailatul qadar (Zaadul Masiir, 9/191).</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kapan Lailatul Qadar Terjadi?</strong></span></p>
<p>Lailatul Qadar itu terjadi pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,</p>
<p style="text-align: center;">تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ</p>
<p>“<em>Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan</em>.” (HR. Bukhari no. 2020 dan Muslim no. 1169)</p>
<p>Terjadinya lailatul qadar di malam-malam ganjil lebih memungkinkan daripada malam-malam genap, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,</p>
<p style="text-align: center;">تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ</p>
<p>“<em>Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan</em>.” (HR. Bukhari no. 2017)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Tidak Perlu Mencari Tanda</strong></span></p>
<p>Sebagian orang sibuk mencari tanda kapan lailatul qadar terjadi. Namun sebenarnya tanda tersebut tidak perlu dicari. Tugas kita di akhir Ramadhan, pokoknya terus perbanyak ibadah. Karena kalau sibuk mencari tanda malam tersebut, kita malah tidak akan memperbanyak ibadah. Walaupun memang ada tanda-tanda tertentu kala itu.  Tanda tersebut di antaranya:</p>
<p><em>Pertama</em>, udara dan angin sekitar terasa tenang. Sebagaimana dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “<em>Lailatul qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar tidak begitu cerah dan nampak kemerah-merahan</em>.” (HR. Ath Thoyalisi dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, lihat Jaami’ul Ahadits 18/361, shahih)</p>
<p><em>Kedua</em>, malaikat turun dengan membawa ketenangan sehingga manusia merasakan ketenangan tersebut dan merasakan kelezatan dalam beribadah yang tidak dirasakan pada hari-hari yang lain.</p>
<p><em>Ketiga</em>, manusia dapat melihat malam ini dalam mimpinya sebagaimana terjadi pada sebagian sahabat.</p>
<p><em>Keempat</em>, matahari akan terbit pada pagi harinya dalam keadaan jernih, tanpa sinar yang menyorot. Dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata, “<em>Malam itu adalah malam yang cerah yaitu malam ke dua puluh tujuh (dari bulan Ramadlan). Dan tanda-tandanya ialah pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa sinar yang menyorot</em>.” (HR. Muslim no. 762)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Jika Engkau Dapati Lailatul Qadar</strong></span></p>
<p>Sangat dianjurkan untuk memperbanyak do’a pada lailatul qadar, lebih-lebih do’a yang dianjurkan oleh suri tauladan kita –Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagaimana terdapat dalam hadits dari Aisyah. Beliau radhiyallahu ‘anha berkata,</p>
<p style="text-align: center;">يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ « قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى</p>
<p>”<em>Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang mesti aku ucapkan saat itu?” Beliau menjawab, ”Katakanlah: ‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ (Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku).</em>” (HR. Tirmidzi no. 3513, Ibnu Majah no. 3850, dan Ahmad 6/171, shahih)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Lebih Giat Ibadah di Akhir Ramadhan</strong></span></p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> terlihat lebih rajin di akhir Ramadhan lebih dari hari-hari lainnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits,</p>
<p style="text-align: center;">كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ.</p>
<p>“<em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya</em>.” (HR. Muslim no. 1175)</p>
<p>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi contoh dengan memperbanyak ibadahnya saat sepuluh hari terakhir Ramadhan. Untuk maksud tersebut beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai menjauhi istri-istri beliau dari berhubungan intim. Beliau pun tidak lupa mendorong keluarganya dengan membangunkan mereka untuk melakukan ketaatan pada malam sepuluh hari terakhir Ramadhan.</p>
<p>‘Aisyah mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;">كَانَ النَّبِىُّ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ</p>
<p>“<em>Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya</em>.” (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174). Imam Nawawi rahimahullah berkata, &#8220;Disunnahkan untuk memperbanyak ibadah di akhir Ramadhan dan disunnahkan pula untuk menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah.&#8221; (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 8:71)</p>
<p>Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Aku sangat senang jika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan untuk bertahajud di malam hari dan giat ibadah pada malam-malam tersebut.” Sufyan pun mengajak keluarga dan anak-anaknya untuk melaksanakan shalat jika mereka mampu. (Latho-if Al Ma’arif, hal. 331)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Menghidupkan Malam Penuh Kemuliaan</strong></span></p>
<p>Adapun yang dimaksudkan dengan menghidupkan lailatul qadar adalah menghidupkan mayoritas malam dengan ibadah dan tidak mesti seluruh malam. Bahkan Imam Asy Syafi’i dalam pendapat yang dulu mengatakan, “Barangsiapa yang mengerjakan shalat Isya’ dan shalat Shubuh di malam qadar, ia berarti telah dinilai menghidupkan malam tersebut”. (Latho-if Al Ma’arif, hal. 329). Menghidupkan malam lailatul qadar pun bukan hanya dengan shalat, bisa pula dengan dzikir dan tilawah Al Qur’an (‘Aunul Ma’bud, 4/176). Namun amalan shalat lebih utama dari amalan lainnya di malam lailatul qadar berdasarkan hadits, “<em>Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.</em>” (HR. Bukhari no. 1901).</p>
<p>Jika seorang meraih lailatul qadar dengan i&#8217;tikaf, itu lebih bagus. Namun i&#8217;tikaf bukanlah syarat untuk dapati malam kemuliaan tersebut. Begitu pula bukanlah syarat mesti di masjid untuk dapati lailatul qadar. Juwaibir pernah mengatakan bahwa dia pernah bertanya pada Adh Dhohak, “Bagaimana pendapatmu dengan wanita nifas, haidh, musafir dan orang yang tidur (namun hatinya tidak lalai dalam dzikir), apakah mereka bisa mendapatkan bagian dari lailatul qadar?” Adh Dhohak pun menjawab, “Iya, mereka tetap bisa mendapatkan bagian. Siapa saja yang Allah terima amalannya, dia akan mendapatkan bagian malam tersebut.” (Latho-if Al Ma’arif, hal. 341).</p>
<p>Semoga Allah beri taufik kepada kita sekalian untuk terus perbanyak ibadah di akhir-akhir Ramadhan dan moga kita juga termasuk hamba yang mendapatkan malam penuh kemuliaan, lailatul qadar. Wallahu waliyyut taufiq.</p>
<p style="text-align: center;"><em>Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.</em></p>
<p>Panggang-Gunung Kidul, 17 Ramadhan 1432 H (17/08/2011)</p>
<p>Penulis: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-6736"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Framadhan%2Fsemakin-semangat-ibadah-di-akhir-ramadhan.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Framadhan%2Fsemakin-semangat-ibadah-di-akhir-ramadhan.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Framadhan%2Fsemakin-semangat-ibadah-di-akhir-ramadhan.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/ramadhan/semakin-semangat-ibadah-di-akhir-ramadhan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keutamaan Menyebarkan Ilmu Agama</title>
		<link>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/keutamaan-menyebarkan-ilmu-agama.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/keutamaan-menyebarkan-ilmu-agama.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Oct 2010 17:00:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq dan Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Lailatul Qadar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=4703</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abu Umamah al-Baahili radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، حَتَّى النَّمْلَةَ فِى جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ، لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ » “Sesungguhnya Allah dan<a class="more" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/keutamaan-menyebarkan-ilmu-agama.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Dari Abu Umamah al-Baahili <em>radhiyallahu ‘anhu</em> bahwa Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;">« إِنَّ   اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ،  حَتَّى   النَّمْلَةَ فِى جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ، لَيُصَلُّونَ عَلَى    مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ »</p>
<p><em>“Sesungguhnya    Allah dan para Malaikat, serta semua makhluk di langit dan di bumi,    sampai semut dalam lubangnya dan ikan (di lautan), benar-benar    bershalawat/mendoakan kebaikan bagi orang yang mengajarkan kebaikan    (ilmu agama) kepada manusia”</em>[1].</p>
<p>Hadits yang agung ini menunjukkan  besarnya keutamaan seorang yang  mempelajari ilmu agama[2] yang  bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah  Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, kemudian menyebarkannya kepada umat manusia[3]. Imam Abdullah bin al-Mubarak <em>rahimahullah</em> berkata, “Aku tidak mengetahui setelah (tingkatan) kenabian, kedudukan yang lebih utama dari menyebarkan ilmu (agama)”[4].</p>
<p>Dalam hadist lain yang semakna dari Abu Darda’ <em>radhiyallahu ‘anhu</em> bahwa Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda: “Sesungguhnya orang yang memahami ilmu (agama dan    mengajarkannya kepada manusia) akan selalu dimohonkan (kepada Allah <em>Ta’ala</em>) pengampunan (dosa-dosanya) oleh semua makhluk yang ada di langit dan di bumi, termasuk ikan-ikan di lautan”[5].</p>
<p><strong>Beberapa faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:</strong></p>
<p>- Makna shalawat dari Allah <em>Ta’ala</em> kepada hamba-Nya adalah  limpahan rahmat, pengampunan, pujian,  kemuliaan dan keberkahan  dari-Nya[6]. Ada juga yang mengartikannya  dengan taufik dari Allah <em>Ta’ala</em> untuk mengeluarkan hamba-Nya dari kegelapan (kesesatan) menuju cahaya (petunjuk-Nya), sebagaimana dalam firman-Nya:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">{هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ  وَمَلائِكَتُهُ   لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ  بِالْمُؤْمِنِينَ   رَحِيمًا}</p>
<p><em>“Dialah yang bershalawat kepadamu (wahai manusia) dan    malaikat-Nya (dengan memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia    mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah    Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman”</em> (QS al-Ahzaab:43)[7].</p></blockquote>
<p>- Orang yang mengajarkan ilmu agama kepada manusia berarti telah menyebarkan petunjuk Allah <em>Ta’ala</em> yang merupakan sebab utama terwujudnya kemakmuran dan kesejahteraan    alam semesta beserta semua isinya, oleh karena itu semua makhluk di alam    semesta berterima kasih kepadanya dan mendoakan kebaikan baginya,    sebagai balasan kebaikan yang sesuai dengan perbuatannya[8].</p>
<p>- Sebagian dari para ulama ada yang menjelaskan makna hadits ini bahwa Allah <em>Ta’ala</em> akan menetapkan bagi orang yang mengajarkan <a href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/keutamaan-menyebarkan-ilmu-agama.html">ilmu agama</a> pengabulan bagi    semua permohonan ampun yang disampaikan oleh seluruh makhluk   untuknya[9].</p>
<p>- Tentu saja yang keutamaan dalam hadits  ini khusus bagi orang yang   mengajarkan ilmu agama dengan niat ikhlas  mengharapkan wajah Allah <em>Ta’ala</em>, bukan untuk tujuan mencari popularitas atau imbalan duniawi[10].</p>
<p>- Para ulama yang menyebarkan ilmu agama adalah pewaris para Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>[11], karena merekalah yang menggantikan tugas para Nabi dan Rasul <em>‘alaihis salam</em>, yaitu menyebarkan petunjuk Allah <em>Ta’ala</em> dan menyeru manusia ke jalan yang diridhai-Nya, serta bersabar dalam    menjalankan semua itu, maka merekalah orang-orang yang paling mulia    kedudukannya di sisi Allah <em>Ta’ala</em> setelah para Nabi dan Rasul <em>‘alaihis salam</em>[12].</p>
<p>- Imam Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata, “Menyampaikan/menyebarkan sunnah (petunjuk) Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> kepada umat manusia lebih utama daripada menyampaikan (melemparkan)    panah ke leher musuh (berperang melawan orang kafir di medan jihad),    karena menyampaikan panah ke leher musuh banyak orang yang (mampu)    melakukannya, sedangkan menyampaikan sunnah (petunjuk) Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> kepada umat manusia hanya (mampu) dilakukan oleh (para ulama) pewaris para Nabi <em>‘alaihis salam</em> dan pengemban tugas mereka di umat mereka, semoga Allah <em>Ta&#8217;ala</em> menjadikan kita termasuk golongan mereka dengan karunia dan kemurahan-Nya”[13].</p>
<p style="text-align: center;">وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين</p>
<p>Kota Kendari, 13 Ramadhan 1431 H</p>
<p>Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA</p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<p>Catatan Kaki:</p>
<hr size="1" />[1] HR at-Tirmidzi (no. 2685) dan  ath-Thabrani dalam  “al-Mu’jamul kabiir”  (no. 7912), dalam sanadnya ada  kelemahan, akan  tetapi hadits ini  dikuatkan oleh hadits lain yang  semakna. Hadits ini  dinyatakan hasan  shahih oleh imam at-Tirmidzi dan  Syaikh al-Albani <em>rahimahullah</em> dalam “Silsilatul ahaditsish shahihah” (4/467).</p>
<p>[2] Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (5/525).</p>
<p>[3] Lihat keterangan  imam Ibnul Qayyim dalam kitab “Miftaahu daaris sa’aadah” (1/63).</p>
<p>[4] Dinukil oleh imam al-Khathib al-Baghdadi dalam kitab “Tarikh Bagdad” (10/160).</p>
<p>[5] HR Abu Dawud (no. 3641), at-Tirmidzi  (no. 2682) dan Ibnu Hibban  (no.  88), dishahihkan oleh imam Ibnu  Hibban dan Syaikh al-Albani <em>rahimahkumullah</em>, serta dinyatakan hasan oleh imam Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> dalam kitab “Miftaahu daaris sa’aadah” (1/63).</p>
<p>[6] Lihat kitab “Zaadul masiir” (6/398).</p>
<p>[7] Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (6/169).</p>
<p>[8] Lihat keterangan  Imam Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> dalam kitab “Miftaahu daaris sa’aadah” (1/64) dan al-Muanawi dalam kitab “Faidhul Qadiir” (4/268).</p>
<p>[9] Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (4/268).</p>
<p>[10] Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (5/525).</p>
<p>[11] Sebagaimana dalam HR Abu Dawud (no.  3641), at-Tirmidzi (no.  2682) dan  Ibnu Hibban (no. 88), dishahihkan  oleh imam Ibnu Hibban dan  Syaikh  al-Albani <em>rahimahkumullah</em>.</p>
<p>[12] Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> dalam kitab “Miftaahu daaris sa’aadah” (1/64).</p>
<p>[13] Kitab “Jala-ul afhaam” (hal. 415).</p>
<div class="shr-publisher-4703"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fkeutamaan-menyebarkan-ilmu-agama.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fkeutamaan-menyebarkan-ilmu-agama.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fkeutamaan-menyebarkan-ilmu-agama.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/keutamaan-menyebarkan-ilmu-agama.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Panduan I&#8217;tikaf Ramadhan</title>
		<link>http://muslim.or.id/ramadhan/panduan-itikaf-ramadhan.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/ramadhan/panduan-itikaf-ramadhan.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Aug 2010 17:00:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[I'tikaf]]></category>
		<category><![CDATA[Lailatul Qadar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=4455</guid>
		<description><![CDATA[I’tikaf secara bahasa berarti menetap pada sesuatu. Sedangkan secara syar’i, i’tikaf berarti menetap di masjid dengan tata cara yang khusus disertai dengan niat.[1] Dalil Disyari’atkannya I’tikaf Ibnul Mundzir mengatakan, “Para ulama sepakat bahwa i’tikaf itu<a class="more" href="http://muslim.or.id/ramadhan/panduan-itikaf-ramadhan.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>I’tikaf secara bahasa berarti menetap pada sesuatu. Sedangkan secara syar’i, i’tikaf berarti menetap di masjid dengan tata cara yang khusus disertai dengan niat.<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Dalil Disyari’atkannya I’tikaf</strong></span></p>
<p>Ibnul Mundzir mengatakan, “Para ulama sepakat bahwa i’tikaf itu sunnah, bukan wajib kecuali jika seseorang mewajibkan bagi dirinya bernadzar untuk melaksanakan i’tikaf.”<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Dari Abu Hurairah, ia berkata,</p>
<p style="text-align: center;">كَانَ النَّبِىُّ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ عَشْرَةَ أَيَّامٍ ، فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِى قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا</p>
<p>“<em>Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam biasa beri&#8217;tikaf pada bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Namun pada tahun wafatnya, Beliau beri&#8217;tikaf selama dua puluh hari</em>”.<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Waktu i’tikaf yang lebih afdhol adalah di akhir-akhir ramadhan (10 hari terakhir bulan Ramadhan) sebagaimana hadits ‘Aisyah, ia berkata,</p>
<p style="text-align: center;">أَنَّ النَّبِىَّ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ</p>
<p>“<em>Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam beri&#8217;tikaf pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadhan hingga wafatnya kemudian isteri-isteri beliau pun beri&#8217;tikaf setelah kepergian beliau</em>.”<a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dengan tujuan untuk mendapatkan malam lailatul qadar, untuk menghilangkan dari segala kesibukan dunia, sehingga mudah bermunajat dengan Rabbnya, banyak berdo’a dan banyak berdzikir ketika itu.<a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>I’tikaf Harus Di</strong><strong>lakukan di </strong><strong>Masjid </strong></span></p>
<p>Hal ini berdasarkan firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p style="text-align: center;">وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ</p>
<p>“<em>(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka sedang kamu beri&#8217;tikaf dalam masjid</em>”(QS. Al Baqarah: 187). Demikian juga dikarenakan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> begitu juga istri-istri beliau melakukannya di masjid, dan tidak pernah di rumah sama sekali. Ibnu Hajar <em>rahimahullah </em>berkata, “Para ulama sepakat bahwa disyaratkan melakukan i’tikaf di masjid.”<a href="#_ftn6">[6]</a> Termasuk wanita, ia boleh melakukan i’tikaf sebagaimana laki-laki, tidak sah jika dilakukan selain di masjid.<a href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>I’tikaf Boleh Dilakukan di Masjid Mana Saja</strong></span></p>
<p>Menurut mayoritas ulama, i’tikaf disyari’atkan di semua masjid karena keumuman firman Allah di atas (yang artinya)<em> “Sedang kamu beri&#8217;tikaf dalam masjid”</em>. <a href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Imam Bukhari membawakan Bab dalam kitab Shahihnya, “I’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramdhan dan i’tikaf di seluruh masjid.” Ibnu Hajar menyatakan, “Ayat tersebut (surat Al Baqarah ayat 187) menyebutkan disyaratkannya masjid, tanpa dikhususkan masjid tertentu”<a href="#_ftn9">[9]</a>.<a href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p>Para ulama selanjutnya berselisih pendapat masjid apakah yang dimaksudkan. Apakah masjid biasa di mana dijalankan shalat jama’ah lima waktu<a href="#_ftn11">[11]</a> ataukah masjid jaami’ yang diadakan juga shalat jum’at di sana?</p>
<p>Imam Malik mengatakan bahwa i’tikaf boleh dilakukan di masjid mana saja (asal ditegakkan shalat lima waktu di sana, pen) karena keumuman firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p style="text-align: center;">وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ</p>
<p>“<em>sedang kamu beri&#8217;tikaf dalam masjid</em>”(QS. Al Baqarah: 187). Ini juga menjadi pendapat Imam Asy Syafi’i. Namun Imam Asy Syafi’i <em>rahimahullah </em>menambahkan syarat, yaitu masjid tersebut diadakan juga shalat Jum’at.<a href="#_ftn12">[12]</a> Tujuannya di sini adalah agar ketika pelaksanaan shalat Jum’at, orang yang beri’tikaf tidak perlu keluar dari masjid.</p>
<p>Kenapa disyaratkan di masjid yang ditegakkan shalat jama’ah? Ibnu Qudamah katakan, “Shalat jama’ah itu wajib (bagi laki-laki). Jika seorang laki-laki yang hendak melaksanakan i’tikaf tidak berdiam di masjid yang tidak ditegakkan shalat jama’ah, maka bisa terjadi dua dampak negatif: (1) meninggalkan shalat jama’ah yang hukumnya wajib, dan (2) terus menerus keluar dari tempat i’tikaf padahal seperti ini bisa saja dihindari. Jika semacam ini yang terjadi, maka ini sama saja tidak i’tikaf. Padahal maksud i’tikaf adalah untuk menetap dalam rangka melaksanakan ibadah pada Allah.”<a href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Wanita Boleh Beri’tikaf </strong></span></p>
<p>Sebagaimana Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengizinkan istri beliau untuk beri’tikaf.  ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> berkata,</p>
<p style="text-align: center;">كَانَ رَسُولُ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ ، وَإِذَا صَلَّى الْغَدَاةَ دَخَلَ مَكَانَهُ الَّذِى اعْتَكَفَ فِيهِ &#8211; قَالَ &#8211; فَاسْتَأْذَنَتْهُ عَائِشَةُ</p>
<p>“<em>Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam biasa beri&#8217;tikaf pada bulan Ramadhan. Apabila selesai dari shalat shubuh, beliau masuk ke tempat khusus i&#8217;tikaf beliau. Dia (Yahya bin Sa&#8217;id) berkata: Kemudian &#8216;Aisyah radhiyallahu &#8216;anha meminta izin untuk bisa beri&#8217;tikaf bersama beliau, maka beliau mengizinkannya</em>.”<a href="#_ftn14">[14]</a></p>
<p>Dari ‘Aisyah, ia berkata,</p>
<p style="text-align: center;">أَنَّ النَّبِىَّ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ</p>
<p>“<em>Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam beri&#8217;tikaf pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadhan hingga wafatnya kemudian isteri-isteri beliau pun beri&#8217;tikaf setelah kepergian beliau</em>.”<a href="#_ftn15">[15]</a></p>
<p>Namun wanita boleh beri’tikaf di masjid asalkan memenuhi 2 syarat: (1) Meminta izin suami dan (2) Tidak menimbulkan fitnah (godaan bagi laki-laki) sehingga wanita yang i’tikaf harus benar-benar menutup aurat dengan sempurna dan juga tidak memakai wewangian.<a href="#_ftn16">[16]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Lama Waktu Berdiam di Masjid </strong></span></p>
<p>Para ulama sepakat bahwa i’tikaf tidak ada batasan waktu maksimalnya. Namun mereka berselisih pendapat berapa waktu minimal untuk dikatakan sudah beri’tikaf. <a href="#_ftn17">[17]</a></p>
<p>Bagi ulama yang mensyaratkan i’tikaf harus disertai dengan puasa, maka waktu minimalnya adalah sehari. Ulama lainnya mengatakan dibolehkan kurang dari sehari, namun tetap disyaratkan puasa. Imam Malik mensyaratkan minimal sepuluh hari. Imam Malik  juga memiliki pendapat lainnya, minimal satu atau dua hari. Sedangkan bagi ulama yang tidak mensyaratkan puasa, maka waktu minimal dikatakan telah beri’tikaf adalah selama ia sudah berdiam di masjid dan di sini tanpa dipersyaratkan harus duduk.<a href="#_ftn18">[18]</a></p>
<p>Yang tepat dalam masalah ini, i’tikaf tidak dipersyaratkan untuk puasa, hanya disunnahkan<a href="#_ftn19">[19]</a>. Menurut mayoritas ulama, i’tikaf tidak ada batasan waktu minimalnya, artinya boleh cuma sesaat di malam atau di siang hari.<a href="#_ftn20">[20]</a> Al Mardawi <em>rahimahullah </em>mengatakan, “Waktu minimal dikatakan i’tikaf pada i’tikaf yang sunnah atau i’tikaf yang mutlak<a href="#_ftn21">[21]</a> adalah selama disebut berdiam di masjid (walaupun hanya sesaat).”<a href="#_ftn22">[22]</a><strong><em> </em></strong></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Yang Membatalkan I’tikaf</strong></span></p>
<ol>
<li>Keluar masjid tanpa alasan syar’i dan tanpa ada      kebutuhan yang mubah yang mendesak.</li>
<li>Jima’ (bersetubuh) dengan istri berdasarkan Surat Al      Baqarah ayat 187. Ibnul Mundzir telah menukil adanya ijma’ (kesepakatan      ulama) bahwa yang dimaksud mubasyaroh dalam surat Al Baqarah ayat 187      adalah jima’ (hubungan intim)<a href="#_ftn23">[23]</a>.</li>
</ol>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Yang Dibolehkan Ketika I’tikaf</strong></span></p>
<ol>
<li>Keluar masjid disebabkan ada hajat yang mesti      ditunaikan seperti keluar untuk makan, minum, dan hajat lain yang tidak      bisa dilakukan di dalam masjid.</li>
<li>Melakukan      hal-hal mubah seperti mengantarkan orang yang mengunjunginya sampai pintu      masjid atau      bercakap-cakap dengan orang lain.</li>
<li>Istri      mengunjungi suami yang beri’tikaf dan berdua-duaan dengannya.</li>
<li>Mandi dan      berwudhu di masjid.</li>
<li>Membawa      kasur untuk tidur di masjid.</li>
</ol>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Mulai Masuk dan Keluar Masjid</strong></span></p>
<p>Jika ingin beri’tikaf selama 10 hari terakhir bulan Ramadhan, maka seorang yang beri’tikaf mulai memasuki masjid setelah shalat Shubuh pada hari ke-21 dan keluar setelah shalat shubuh pada hari ‘Idul Fithri menuju lapangan. Hal ini sebagaimana terdapat dalam hadits ‘Aisyah, ia berkata,</p>
<p style="text-align: center;">كَانَ رَسُولُ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ ، وَإِذَا صَلَّى الْغَدَاةَ دَخَلَ مَكَانَهُ الَّذِى اعْتَكَفَ فِيهِ &#8211; قَالَ &#8211; فَاسْتَأْذَنَتْهُ عَائِشَةُ</p>
<p>“<em>Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam biasa beri&#8217;tikaf pada bulan Ramadhan. Apabila selesai dari shalat shubuh, beliau masuk ke tempat khusus i&#8217;tikaf beliau. Dia (Yahya bin Sa&#8217;id) berkata: Kemudian &#8216;Aisyah radhiyallahu &#8216;anha meminta izin untuk bisa beri&#8217;tikaf bersama beliau, maka beliau mengizinkannya</em>.”<a href="#_ftn24">[24]</a></p>
<p>Namun para ulama madzhab menganjurkan untuk memasuki masjid menjelang matahari tenggelam pada hari ke-20 Ramadhan. Mereka mengatakan bahwa yang namanya 10 hari yang dimaksudkan adalah jumlah bilangan malam sehingga seharusnya dimulai dari awal malam.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Adab I’tikaf</strong></span></p>
<p>Hendaknya ketika beri’tikaf, seseorang menyibukkan diri dengan melakukan ketaatan seperti berdo’a, dzikir, bershalawat pada Nabi, mengkaji Al Qur’an dan mengkaji hadits. Dan dimakruhkan menyibukkan diri dengan perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat.<a href="#_ftn25">[25]</a></p>
<p>Penulis: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/1699.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Al Mughni, 4/456.</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> HR. Bukhari no. 2044.</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> HR. Bukhari no. 2026 dan  Muslim no. 1172.</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> <em>Latho-if Al Ma’arif</em>, hal. 338</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Fathul Bari, 4/271.</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/13775.</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2/151.</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> Fathul Bari, 4/271.</p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> Adapun hadits marfu’ dari Hudzaifah yang mengatakan, ”Tidak ada i’tikaf kecuali pada tiga masjid yaitu masjidil harom, masjid nabawi dan masjidil aqsho”; perlu diketahui, hadits ini masih diperselisihkan statusnya, apakah marfu’ (sabda Nabi) atau mauquf (perkataan sahabat). (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2/151). Jika melihat perkataan Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah, beliau lebih memilih bahwa hadits tersebut hanyalah perkataan Hudzaifah ibnul Yaman. Lihat Fathul Bari, 4/272.</p>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> Walaupun namanya beraneka ragam di tempat kita, baik dengan sebutan masjid, musholla, langgar, maka itu dinamakan masjid menurut istilah para ulama selama diadakan shalat jama’ah lima waktu di sana untuk kaum muslimin. Ini berarti jika itu musholla rumahan yang bukan tempat ditegakkan shalat lima waktu bagi kaum muslimin lainnya, maka ini tidak masuk dalam istilah masjid. Sedangkan dinamakan masjid Jaami’ jika ditegakkan shalat Jum’at di sana. Lihat penjelasan tentang masjid di Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/13754.</p>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> Lihat Al Mughni, 4/462.</p>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> Al Mugni, 4/461.</p>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a> HR. Bukhari no. 2041.</p>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a> HR. Bukhari no. 2026 dan  Muslim no. 1172.</p>
<p><a href="#_ftnref16">[16]</a> Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2/151-152.</p>
<p><a href="#_ftnref17">[17]</a> Lihat Fathul Bari, 4/272.</p>
<p><a href="#_ftnref18">[18]</a> Idem.</p>
<p><a href="#_ftnref19">[19]</a> Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2/153.</p>
<p><a href="#_ftnref20">[20]</a> Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2/154.</p>
<p><a href="#_ftnref21">[21]</a> I’tikaf mutlak, maksudnya adalah i’tikaf tanpa disebutkan syarat berapa lama.</p>
<p><a href="#_ftnref22">[22]</a> Al Inshof, 6/17.</p>
<p><a href="#_ftnref23">[23]</a> Fathul Bari, 4/272.</p>
<p><a href="#_ftnref24">[24]</a> HR. Bukhari no. 2041.</p>
<p><a href="#_ftnref25">[25]</a> Lihat pembahasan I’tikaf di Shahih Fiqh Sunnah, 2/150-158.</p>
<div class="shr-publisher-4455"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Framadhan%2Fpanduan-itikaf-ramadhan.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Framadhan%2Fpanduan-itikaf-ramadhan.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Framadhan%2Fpanduan-itikaf-ramadhan.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/ramadhan/panduan-itikaf-ramadhan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menanti Malam 1000 Bulan</title>
		<link>http://muslim.or.id/ramadhan/menanti-malam-1000-bulan.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/ramadhan/menanti-malam-1000-bulan.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Aug 2010 09:00:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Lailatul Qadar]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=1327</guid>
		<description><![CDATA[Mengenai pengertian lailatul qadar, para ulama ada beberapa versi pendapat. Ada yang mengatakan bahwa malam lailatul qadr adalah malam kemuliaan. Ada pula yang mengatakan bahwa lailatul qadar adalah malam yang penuh sesak karena ketika itu<a class="more" href="http://muslim.or.id/ramadhan/menanti-malam-1000-bulan.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Mengenai pengertian lailatul qadar, para ulama ada beberapa versi pendapat. Ada yang mengatakan bahwa malam lailatul qadr adalah malam kemuliaan. Ada pula yang mengatakan bahwa lailatul qadar adalah malam yang penuh sesak karena ketika itu banyak malaikat turun ke dunia. Ada pula yang mengatakan bahwa malam tersebut adalah malam penetapan takdir. Selain itu, ada pula yang mengatakan bahwa lailatul qadar dinamakan demikian karena pada malam tersebut turun kitab yang mulia, turun rahmat dan turun malaikat yang mulia.<a href="#_ftn1">[1]</a> Semua makna lailatul qadar yang sudah disebutkan ini adalah benar.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Keutamaan Lailatul Qadar</strong></span></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Pertama</strong></span>, lailatul qadar adalah malam yang penuh keberkahan (bertambahnya kebaikan). Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;">إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ , فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi. dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah</em>.” (QS. Ad Dukhan: 3-4). Malam yang diberkahi dalam ayat ini adalah malam lailatul qadar sebagaimana ditafsirkan pada surat Al Qadar. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;">إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan</em>.” (QS. Al Qadar: 1)</p>
<p>Keberkahan dan kemuliaan yang dimaksud disebutkan dalam ayat selanjutnya,</p>
<p style="text-align: center;">لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ , تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ , سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْر</p>
<p>“<em>Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar</em>.” (QS. Al Qadar: 3-5). Sebagaimana kata Abu Hurairah, malaikat akan turun pada malam lailatul qadar dengan jumlah tak terhingga.<a href="#_ftn2">[2]</a> Malaikat akan turun membawa kebaikan dan keberkahan sampai terbitnya waktu fajar.<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kedua</strong></span>, lailatul qadar lebih baik dari 1000 bulan. An Nakho’i mengatakan, “Amalan di <a href="http://muslim.or.id/ramadhan/menanti-malam-1000-bulan.html">lailatul qadar</a> lebih baik dari amalan di 1000 bulan.”<a href="#_ftn4">[4]</a> Mujahid, Qotadah dan ulama lainnya berpendapat bahwa yang dimaksud dengan lebih baik dari seribu bulan adalah shalat dan amalan pada lailatul qadar lebih baik dari shalat dan puasa di 1000 bulan yang tidak terdapat lailatul qadar.<a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Ketiga</strong></span>, menghidupkan malam lailatul qadar dengan shalat akan mendapatkan pengampunan dosa. Dari Abu Hurairah, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;">مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ</p>
<p>“<em>Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni</em>.”<a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kapan Lailatul Qadar Terjadi?</strong></span></p>
<p>Lailatul Qadar itu terjadi pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, sebagaimana sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p style="text-align: center;">تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ</p>
<p>“<em>Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan</em>.”<a href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Terjadinya lailatul qadar di malam-malam ganjil itu lebih memungkinkan daripada malam-malam genap, sebagaimana sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p style="text-align: center;">تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ</p>
<p>“<em>Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan</em>.”<a href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Lalu kapan tanggal pasti lailatul qadar terjadi? Ibnu Hajar Al Asqolani <em>rahimahullah </em>telah menyebutkan empat puluhan pendapat ulama dalam masalah ini. Namun pendapat yang paling kuat dari berbagai pendapat yang ada sebagaimana dikatakan oleh beliau adalah lailatul qadar itu terjadi pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan dan waktunya berpindah-pindah dari tahun ke tahun<a href="#_ftn9">[9]</a>. Mungkin pada tahun tertentu terjadi pada malam kedua puluh tujuh atau mungkin juga pada tahun yang berikutnya terjadi pada malam kedua puluh lima, itu semua tergantung kehendak dan hikmah Allah <em>Ta’ala</em>. Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p style="text-align: center;">الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى تَاسِعَةٍ تَبْقَى ، فِى سَابِعَةٍ تَبْقَى ، فِى خَامِسَةٍ تَبْقَى</p>
<p>“<em>Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan pada sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa</em>.”<a href="#_ftn10">[10]</a> Para ulama mengatakan bahwa hikmah Allah menyembunyikan pengetahuan tanggal pasti terjadinya lailatul qadar adalah agar orang bersemangat untuk mencarinya. Hal ini berbeda jika lailatul qadar sudah ditentukan tanggal pastinya, justru nanti malah orang-orang akan bermalas-malasan.<a href="#_ftn11">[11]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Do’a di Malam Qadar</strong></span></p>
<p>Sangat dianjurkan untuk memperbanyak do’a pada lailatul qadar, lebih-lebih do’a yang dianjurkan oleh suri tauladan kita –Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>- sebagaimana terdapat dalam hadits dari Aisyah. Beliau radhiyallahu ‘anha berkata,</p>
<p style="text-align: center;">قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ « قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى</p>
<p>”<em>Katakan padaku wahai Rasulullah, apa pendapatmu, jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang aku katakan di dalamnya?” Beliau menjawab,”Katakanlah: ‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni</em>’ (Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku).”<a href="#_ftn12">[12]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Tanda Malam Qadar</strong></span></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Pertama</strong></span>, udara dan angin sekitar terasa tenang. Sebagaimana dari Ibnu Abbas, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;">لَيْلَةُ القَدَرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلَقَةٌ لَا حَارَةً وَلَا بَارِدَةً تُصْبِحُ الشَمْسُ صَبِيْحَتُهَا ضَعِيْفَةٌ حَمْرَاء</p>
<p>“Lailatul qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar tidak begitu cerah dan nampak kemerah-merahan.”<a href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kedua</strong></span>, malaikat turun dengan membawa ketenangan sehingga manusia merasakan ketenangan tersebut dan merasakan kelezatan dalam beribadah yang tidak didapatkan pada hari-hari yang lain.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Ketiga</strong></span>, manusia dapat melihat malam ini dalam mimpinya sebagaimana terjadi pada sebagian sahabat.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Keempat</strong></span>, matahari akan terbit pada pagi harinya dalam keadaan jernih, tidak ada sinar. Dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata,</p>
<p style="text-align: center;">هِىَ اللَّيْلَةُ الَّتِى أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِقِيَامِهَا هِىَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِى صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لاَ شُعَاعَ لَهَا.</p>
<p>“<em>Malam itu adalah malam yang cerah yaitu malam ke dua puluh tujuh (dari bulan Ramadlan). Dan tanda-tandanya ialah, pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa sinar yang menyorot</em>. <a href="#_ftn14">[14]</a>”<a href="#_ftn15">[15]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Bagaimana Seorang Muslim Menghidupkan Malam Lailatul Qadar?</strong></span></p>
<p>Lailatul qadar adalah malam yang penuh berkah. Barangsiapa yang terluput dari lailatul qadar, maka dia telah terluput dari seluruh kebaikan. Sungguh merugi seseorang yang luput dari malam tersebut. Seharusnya setiap muslim mengecamkan baik-baik sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,</p>
<p style="text-align: center;">فِيهِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ</p>
<p>“<em>Di bulan Ramadhan ini terdapat lailatul qadar yang lebih baik dari 1000 bulan. Barangsiapa diharamkan dari memperoleh kebaikan di dalamnya, maka dia akan luput dari seluruh kebaikan</em>.”<a href="#_ftn16">[16]</a></p>
<p>Oleh karena itu, sudah sepantasnya seorang muslim lebih giat beribadah ketika itu dengan dasar iman dan tamak akan pahala melimpah di sisi Allah. Seharusnya dia dapat mencontoh Nabinya yang giat ibadah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. ‘Aisyah menceritakan,</p>
<p style="text-align: center;">كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ.</p>
<p>“<em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya</em>.”<a href="#_ftn17">[17]</a></p>
<p>Seharusnya setiap muslim dapat memperbanyak ibadahnya ketika itu, menjauhi istri-istrinya dari berjima’ dan membangunkan keluarga untuk melakukan ketaatan pada malam tersebut. ‘Aisyah mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;">كَانَ النَّبِىُّ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ</p>
<p>“<em>Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’<a href="#_ftn18"><strong>[18]</strong></a>), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya</em>.”<a href="#_ftn19">[19]</a></p>
<p>Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Aku sangat senang jika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan untuk bertahajud di malam hari dan giat ibadah pada malam-malam tersebut.” Sufyan pun mengajak keluarga dan anak-anaknya untuk melaksanakan shalat jika mereka mampu.<a href="#_ftn20">[20]</a></p>
<p>Adapun yang dimaksudkan dengan menghidupkan malam lailatul qadar adalah menghidupkan mayoritas malam dengan ibadah dan tidak mesti seluruh malam. Bahkan Imam Asy Syafi’i dalam pendapat yang dulu mengatakan, “Barangsiapa yang mengerjakan shalat Isya’ dan shalat Shubuh di malam qadar, maka ia berarti telah dinilai menghidupkan malam tersebut”.<a href="#_ftn21">[21]</a> Menghidupkan malam lailatul qadar pun bukan hanya dengan shalat, bisa pula dengan dzikir dan tilawah Al Qur’an.<a href="#_ftn22">[22]</a> Namun amalan shalat lebih utama dari amalan lainnya di malam lailatul qadar berdasarkan hadits, “<em>Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.</em>”<a href="#_ftn23">[23]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Bagaimana Wanita Haidh Menghidupkan Malam Lailatul Qadar?</strong></span></p>
<p>Juwaibir pernah mengatakan bahwa dia pernah bertanya pada Adh Dhohak, “Bagaimana pendapatmu dengan wanita nifas, haidh, musafir dan orang yang tidur (namun hatinya dalam keadaan berdzikir), apakah mereka bisa mendapatkan bagian dari lailatul qadar?” Adh Dhohak pun menjawab, “Iya, mereka tetap bisa mendapatkan bagian. Siapa saja yang Allah terima amalannya, dia akan mendapatkan bagian malam tersebut.”<a href="#_ftn24">[24]</a></p>
<p>Dari riwayat ini menunjukkan bahwa wanita haidh, nifas dan musafir tetap bisa mendapatkan bagian lailatul qadar. Namun karena wanita haidh dan nifas tidak boleh melaksanakan shalat ketika kondisi seperti itu, maka dia boleh melakukan amalan ketaatan lainnya. Yang dapat wanita haidh lakukan ketika itu adalah,</p>
<ol>
<li>Membaca      Al Qur’an tanpa menyentuh mushaf.<a href="#_ftn25">[25]</a></li>
<li>Berdzikir      dengan memperbanyak bacaan tasbih (subhanallah), tahlil (laa ilaha      illallah), tahmid (alhamdulillah) dan dzikir lainnya.</li>
<li>Memperbanyak      istighfar.</li>
<li>Memperbanyak      do’a.<a href="#_ftn26">[26]</a></li>
</ol>
<p>Penulis: <a href="http://rumaysho.com">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Lihat Zaadul Masiir, 9/182.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Lihat Zaadul Masiir, 9/192.</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Lihat Zaadul Masiir, 9/194.</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 341</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Zaadul Masiir, 9/191.</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> HR. Bukhari no. 1901.</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> HR. Bukhari no. 2020 dan Muslim no. 1169.</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> HR. Bukhari no. 2017.</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> Fathul Bari, 4/262-266.</p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> HR. Bukhari no. 2021.</p>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> Fathul Bari, 4/266.</p>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> HR. Tirmidzi no. 3513, Ibnu Majah no. 3850, dan Ahmad 6/171. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Adapun tambahan kata “kariim” setelah “Allahumma innaka ‘afuwwun &#8230;” tidak terdapat satu dalam manuskrip pun. Lihat Tarooju’at hal. 39.</p>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> HR. Ath Thoyalisi dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, lihat Jaami’ul Ahadits 18/361. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahihul Jaami’ no. 5475.</p>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a> HR. Muslim no. 762.</p>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a> Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2/149-150.</p>
<p><a href="#_ftnref16">[16]</a> HR. Ahmad 2/385, dari Abu Hurairah. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih.</p>
<p><a href="#_ftnref17">[17]</a> HR. Muslim no. 1175.</p>
<p><a href="#_ftnref18">[18]</a> Inilah pendapat yang dipilih oleh para salaf dan ulama masa silam mengenai maksud hadits tersebut. Lihat Lathoif Al Ma’arif, hal. 332.</p>
<p><a href="#_ftnref19">[19]</a> HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174.</p>
<p><a href="#_ftnref20">[20]</a> Latho-if Al Ma’arif, hal. 331.</p>
<p><a href="#_ftnref21">[21]</a> Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 329.</p>
<p><a href="#_ftnref22">[22]</a> ‘Aunul Ma’bud, 4/176.</p>
<p><a href="#_ftnref23">[23]</a> HR. Bukhari no. 1901.</p>
<p><a href="#_ftnref24">[24]</a> Latho-if Al Ma’arif, hal. 341</p>
<p><a href="#_ftnref25">[25]</a> Dalam at Tamhid (17/397), Ibnu Abdil Barr berkata, “Para pakar fiqh dari berbagai kota baik Madinah, Iraq dan Syam tidak berselisih pendapat bahwa mushaf tidaklah boleh disentuh melainkan oleh orang yang suci dalam artian berwudhu. Inilah pendapat Imam Malik, Syafii, Abu Hanifah, Sufyan ats Tsauri, al Auzai, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahuyah, Abu Tsaur dan Abu Ubaid. Merekalah para pakar fiqh dan hadits di masanya.”</p>
<p><a href="#_ftnref26">[26]</a> Lihat Fatwa Al Islam Su-al wa Jawab no. 26753.</p>
<div class="shr-publisher-1327"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Framadhan%2Fmenanti-malam-1000-bulan.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Framadhan%2Fmenanti-malam-1000-bulan.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Framadhan%2Fmenanti-malam-1000-bulan.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/ramadhan/menanti-malam-1000-bulan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>31</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lailatul Qadar dan I&#8217;tikaf</title>
		<link>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/lailatul-qadar-dan-itikaf.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/lailatul-qadar-dan-itikaf.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Sep 2008 22:44:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh dan Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Lailatul Qadar]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=356</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah atas berbagai macam nikmat yang Allah berikan. Shalawat dan salam atas suri tauladan kita Nabi Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam kepada keluarganya dan para pengikutnya. Bersemangatlah di Sepuluh Hari Terakhir Bulan<a class="more" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/lailatul-qadar-dan-itikaf.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Segala puji  bagi Allah atas berbagai macam nikmat yang Allah berikan. Shalawat dan salam atas suri tauladan kita Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> kepada keluarganya dan para pengikutnya.</p>
<p><strong>Bersemangatlah di Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadhan</strong></p>
<p>Para pembaca -yang semoga dimudahkan Allah untuk melakukan ketaatan-. Perlu diketahui bahwa sepertiga terakhir bulan Ramadhan adalah saat-saat yang penuh dengan kebaikan dan keutamaan serta pahala yang melimpah. Di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan. Oleh karena itu suri tauladan kita -Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>- dahulu bersungguh-sungguh untuk menghidupkan sepuluh hari terakhir tersebut dengan berbagai amalan melebihi waktu-waktu lainnya.</p>
<p><span id="more-356"></span></p>
<p>Sebagaimana istri beliau -Ummul Mu&#8217;minin Aisyah <em>radhiyallahu &#8216;anha</em>- berkata,</p>
<p>كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ.</p>
<p><em>&#8220;Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.&#8221;</em> (HR. Muslim)</p>
<p>Aisyah <em>radhiyallahu &#8216;anha</em> juga mengatakan,</p>
<p>كَانَ النَّبِىُّ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ</p>
<p><em>&#8220;Apabila Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima&#8217;, pen), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.&#8221;</em> (HR. Bukhari &amp; Muslim)</p>
<p>Maka perhatikanlah apa yang dilakukan oleh suri tauladan kita! Lihatlah, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bukanlah malah mengisi hari-hari terakir Ramadhan dengan berbelanja di pusat-pusat perbelanjaan untuk persiapan lebaran (hari raya). Yang beliau lakukan adalah bersungguh-sungguh dalam melakukan ibadah seperti shalat, membaca Al Qur&#8217;an, dzikir, sedekah dan lain sebagainya. Renungkanlah hal ini!</p>
<p><strong>Keutamaan Lailatul Qadar</strong></p>
<p>Saudaraku, pada sepertiga terakhir dari bulan yang penuh berkah ini terdapat malam <a title="Lailatul Qadar dan I'tikaf" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/lailatul-qadar-dan-itikaf.html">Lailatul Qadar</a>, suatu malam yang dimuliakan oleh Allah melebihi malam-malam lainnya. Di antara kemuliaan malam tersebut adalah Allah mensifatinya dengan malam yang penuh keberkahan. Allah Ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p>إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ (3) فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al Qur&#8217;an) pada suatu malam yang diberkahi. dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.&#8221;</em> (QS. Ad Dukhan [44]: 3-4)</p>
<p>Malam yang diberkahi dalam ayat ini adalah malam lailatul qadar sebagaimana ditafsirkan pada surat Al Qadar. Allah Ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p>إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.&#8221;</em> (QS. Al Qadar [97]: 1)</p>
<p>Keberkahan dan kemuliaan yang dimaksud disebutkan dalam ayat selanjutnya,</p>
<p>لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ</p>
<p><em>&#8220;Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.&#8221;</em> (QS. Al Qadar [97] : 3-5)</p>
<p><strong>Catatan:</strong> Perhatikanlah bahwa malam keberkahan tersebut adalah lailatul qadar. Dan Al Qur&#8217;an turun pada bulan Ramadhan sebagaimana firman Allah Ta&#8217;ala,</p>
<p>شَهْرُ رَمَضَانَ الذي أُنْزِلَ فِيهِ القرآن</p>
<p><em>&#8220;(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran.&#8221;</em> (QS. Al Baqarah [2] : 185)</p>
<p>Maka sungguh sangat keliru yang beranggapan bahwasanya Al Qur&#8217;an itu turun pada pertengahan bulan Sya&#8217;ban atau pada 17 Ramadhan lalu diperingati dengan hari NUZULUL QUR&#8217;AN. Padahal Al Qur&#8217;an itu turun pada lailatul qadar. Dan lailatul qadar -sebagaimana pada penjelasan selanjutnya- terjadi pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Renungkanlah hal ini!</p>
<p><strong>Kapan Malam Lailatul Qadar Terjadi ?</strong></p>
<p>Lailatul Qadar itu terjadi pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, sebagaimana sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>,</p>
<p>تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ</p>
<p><em>&#8220;Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.&#8221;</em> (HR. Bukhari)</p>
<p>Terjadinya lailatul qadar di malam-malam ganjil itu lebih memungkinkan daripada malam-malam genap, sebagaimana sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>,</p>
<p>تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ</p>
<p><em>&#8220;Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.&#8221;</em> (HR. Bukhari)</p>
<p>Terjadinya lailatul qadar di tujuh malam terakhir bulan ramadhan itu lebih memungkinkan sebagaimana hadits dari Ibnu Umar bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ &#8211; يَعْنِى لَيْلَةَ الْقَدْرِ &#8211; فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلاَ يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِى</p>
<p><em>&#8220;Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir, namun jika ia ditimpa keletihan, maka janganlah ia dikalahkan pada tujuh malam yang tersisa.&#8221;</em> (HR. Muslim)</p>
<p>Dan yang memilih pendapat bahwa lailatul qadar adalah malam kedua puluh tujuh sebagaimana ditegaskan oleh Ubay bin Ka&#8217;ab <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>. Namun pendapat yang paling kuat dari berbagai pendapat yang ada sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari bahwa lailatul qadar itu terjadi pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir dan waktunya berpindah-pindah dari tahun ke tahun. Mungkin pada tahun tertentu terjadi pada malam kedua puluh tujuh atau mungkin juga pada tahun yang berikutnya terjadi pada malam kedua puluh lima tergantung kehendak dan hikmah Allah Ta&#8217;ala. Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam,</em></p>
<p>الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى تَاسِعَةٍ تَبْقَى ، فِى سَابِعَةٍ تَبْقَى ، فِى خَامِسَةٍ تَبْقَى</p>
<p><em>&#8220;Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan pada sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa.&#8221;</em> (HR. Bukhari)</p>
<p><strong>Catatan:</strong> Hikmah Allah menyembunyikan pengetahuan tentang terjadinya malam lailatul qadar di antaranya adalah agar terbedakan antara orang yang sungguh-sungguh untuk mencari malam tersebut dengan orang yang malas. Karena orang yang benar-benar ingin mendapatkan sesuatu tentu akan bersungguh-sungguh dalam mencarinya. Hal ini juga sebagai rahmat Allah agar hamba memperbanyak amalan pada hari-hari tersebut dengan demikian mereka akan semakin bertambah dekat dengan-Nya dan akan memperoleh pahala yang amat banyak. Semoga Allah memudahkan kita memperoleh malam yang penuh keberkahan ini. <em>Amin Ya Sami&#8217;ad Da&#8217;awat.</em></p>
<p><strong>Do&#8217;a di Malam Lailatul Qadar</strong></p>
<p>Sangat dianjurkan untuk memperbanyak do&#8217;a pada lailatul qadar, lebih-lebih do&#8217;a yang dianjurkan oleh suri tauladan kita -Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>- sebagaimana terdapat dalam hadits dari Aisyah. Beliau <em>radhiyallahu &#8216;anha</em> berkata,</p>
<p>قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ « قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى »</p>
<p><em>&#8220;Katakan padaku wahai Rasulullah, apa pendapatmu, jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang aku katakan di dalamnya?&#8221; Beliau menjawab, &#8220;Katakanlah: &#8216;Allahumma innaka &#8216;afuwwun tuhibbul &#8216;afwa fa&#8217;fu &#8216;anni&#8217; (artinya &#8216;Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku).&#8221;</em> (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani. Lihat <em>Ash Shohihah</em>)</p>
<p><strong>Tanda Malam Lailatul Qadar</strong></p>
<p>[1] Udara dan angin sekitar terasa tenang. Sebagaimana dari Ibnu Abbas, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>لَيْلَةُ القَدَرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلَقَةٌ لَا حَارَةً وَلَا بَارِدَةً تُصْبِحُ الشَمْسُ صَبِيْحَتُهَا ضَعِيْفَةٌ حَمْرَاء</p>
<p><em>&#8220;Lailatul qadar adalah malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar lemah dan nampak kemerah-merahan.&#8221;</em> (HR. Ath Thoyalisi. Haytsami mengatakan periwayatnya adalah tsiqoh/terpercaya)</p>
<p>[2] Malaikat menurunkan ketenangan sehingga manusia merasakan ketenangan tersebut dan merasakan kelezatan dalam beribadah, yang tidak didapatkan pada hari-hari yang lain.</p>
<p>[3] Manusia dapat melihat malam ini dalam mimpinya sebagaimana terjadi pada sebagian sahabat.</p>
<p>[4] Matahari akan terbit pada pagi harinya dalam keadaan jernih, tidak ada sinar. Dari Abi bin Ka&#8217;ab bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda yang artinya, <em>&#8220;Shubuh hari dari malam lailatul qadar matahari terbit tanpa sinar, seolah-olah mirip bejana hingga matahari itu naik.&#8221;</em> (HR. Muslim) (Lihat <em>Shohih Fiqh Sunnah</em> II/149-150)</p>
<p><strong>I&#8217;tikaf dan Pensyari&#8217;atannya</strong></p>
<p>Dalam sepuluh hari terakhir ini, kaum muslimin dianjurkan (disunnahkan) untuk melakukan i&#8217;tikaf. Sebagaimana Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> biasa beri&#8217;tikaf pada setiap Ramadhan selama 10 hari dan pada akhir hayat, beliau melakukan i&#8217;tikaf selama 20 hari. (HR. Bukhari)</p>
<p>Lalu apa yang dimaksud dengan i&#8217;tikaf? Dalam kitab <em>Lisanul Arab</em>, i&#8217;tikaf bermakna merutinkan (menjaga) sesuatu. Sehingga orang yang mengharuskan dirinya untuk berdiam di masjid dan mengerjakan ibadah di dalamya disebut mu&#8217;takifun atau &#8216;akifun. (Lihat <em>Shohih Fiqh Sunnah</em> II/150)</p>
<p>Dan paling utama adalah beri&#8217;tikaf pada hari terakhir di bulan Ramadhan. Aisyah <em>radhiyallahu &#8216;anha</em> mengatakan bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> biasa beri&#8217;tikaf pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan sampai Allah &#8216;azza wa jalla mewafatkan beliau. (HR. Bukhari &amp; Muslim)</p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga pernah beri&#8217;tikaf di 10 hari terakhir dari bulan Syawal sebagai qadha&#8217; karena tidak beri&#8217;tikaf di bulan Ramadhan. (HR. Bukhari &amp; Muslim)</p>
<p><strong>I&#8217;tikaf Harus di Masjid dan Boleh di Masjid Mana Saja</strong></p>
<p>I&#8217;tikaf disyari&#8217;atkan dilaksanakan di masjid berdasarkan firman Allah Ta&#8217;ala,</p>
<p>وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ</p>
<p><em>&#8220;(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid.&#8221;</em> (QS. Al Baqarah [2]: 187)</p>
<p>Demikian juga dikarenakan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> begitu juga istri-istri beliau melakukannya di masjid, dan tidak pernah di rumah sama sekali.</p>
<p>Menurut mayoritas ulama, i&#8217;tikaf disyari&#8217;atkan di semua masjid karena keumuman firman Allah di atas (yang artinya) <em>&#8220;Sedang kamu beri’tikaf dalam masjid&#8221;</em>.</p>
<p>Adapun hadits marfu&#8217; dari Hudzaifah yang mengatakan, <em>&#8220;Tidak ada i&#8217;tikaf kecuali pada tiga masjid&#8221;</em>, hadits ini masih dipersilisihkan apakah statusnya marfu&#8217; atau mauquf. (Lihat <em>Shohih Fiqh Sunnah</em> II/151)</p>
<p><strong>Wanita Juga Boleh Beri&#8217;tikaf</strong></p>
<p>Dibolehkan bagi wanita untuk melakukan i&#8217;tikaf sebagaimana Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengizinkan istri tercinta beliau untuk beri&#8217;tikaf. (HR. Bukhari &amp; Muslim)</p>
<p>Namun wanita boleh beri&#8217;tikaf di sini harus memenuhi 2 syarat: [1] Diizinkan oleh suami dan [2] Tidak menimbulkan fitnah (masalah bagi laki-laki). (Lihat <em>Shohih Fiqh Sunnah</em> II/151-152)</p>
<p><strong>Waktu Minimal Lamanya I&#8217;tikaf</strong></p>
<p>I&#8217;tikaf tidak disyaratkan dengan puasa. Karena Umar pernah berkata kepada Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, <em>&#8220;Ya Rasulullah, aku dulu pernah bernazar di masa jahiliyah untuk beri&#8217;tikaf semalam di Masjidil Haram?&#8221;</em> Lalu Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengatakan, <em>&#8220;Tunaikan nadzarmu.&#8221;</em> Kemudian Umar beri&#8217;tikaf semalam. (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Dan jika beri&#8217;tikaf pada malam hari, tentu tidak puasa. Jadi puasa bukanlah syarat untuk i&#8217;tikaf. Maka dari hadits ini boleh bagi seseorang beri&#8217;tikaf hanya semalam, <em>wallahu a&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Yang Membatalkan I&#8217;tikaf</strong></p>
<p>Beberapa hal yang membatalkan i&#8217;tikaf adalah: [1] Keluar dari masjid tanpa alasan syar&#8217;i atau tanpa ada kebutuhan yang mubah yang mendesak (misalnya untuk mencari makan, mandi junub, yang hanya bisa dilakukan di luar masjid), [2] Jima&#8217; (bersetubuh) dengan istri berdasarkan Surat Al Baqarah: 187 di atas. (Lihat <em>Shohih Fiqh Sunnah</em> II/155-156)</p>
<p>Perbanyaklah dan sibukkanlah diri dengan melakukan ketaatan tatkala beri&#8217;tikaf seperti berdo&#8217;a, dzikir, dan membaca Al Qur&#8217;an. Semoga Allah memudahkan kita untuk mengisi hari-hari kita di bulan Ramadhan dengan amalan sholih yang ikhlas dan sesuai dengan petunjuk Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p><em>Alhamdulillahilladzi bi ni&#8217;matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu &#8216;ala nabiyyina Muhammad wa &#8216;ala alihi wa shohbihi wa sallam.</em></p>
<p><strong>Sumber Rujukan:</strong></p>
<ol>
<li><em>Shohih Fiqh Sunnah</em> II</li>
<li><em>Majalis Syahri Ramadhan</em></li>
<li><em>Adwa&#8217;ul Bayan</em></li>
</ol>
<p>***</p>
<p>Disusun oleh: Muhammad Abduh Tuasikal<br />
Dimuroja&#8217;ah oleh: Ustadz Abu Sa&#8217;ad, M.A.<br />
<a title="Lailatul Qadar dan I'tikaf" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/lailatul-qadar-dan-itikaf.html"> Artikel www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-356"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Flailatul-qadar-dan-itikaf.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Flailatul-qadar-dan-itikaf.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Flailatul-qadar-dan-itikaf.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/lailatul-qadar-dan-itikaf.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>56</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lailatul Qadar</title>
		<link>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/lailatul-qadar.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/lailatul-qadar.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Sep 2008 14:00:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh dan Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Lailatul Qadar]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=354</guid>
		<description><![CDATA[Sesungguhnya dalam setahun terdapat beberapa hari dan waktu tertentu yang memiliki keutamaan, apabila doa dipanjatkan pada saat itu maka keutamaan yang lebih besar akan diperoleh, dan lebih memungkinkan untuk dikabulkan dan diterima oleh Allah. Bagi-Nya-lah<a class="more" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/lailatul-qadar.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start LikeButtonSetTop --><!-- End LikeButtonSetTop --><p>Sesungguhnya dalam setahun terdapat beberapa hari dan waktu tertentu yang memiliki keutamaan, apabila doa dipanjatkan pada saat itu maka keutamaan yang lebih besar akan diperoleh, dan lebih memungkinkan untuk dikabulkan dan diterima oleh Allah. Bagi-Nya-lah hikmah yang sempurna.</p>
<p>وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ</p>
<p><em>&#8220;Dan Rabb-mu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya.&#8221;</em> (QS. Al Qashash: 68)</p>
<p><span id="more-354"></span>Dengan kesempurnaan hikmah-Nya, kekuasaan-Nya serta kesempurnaan ilmu dan pengetahuan-Nya, Dia memilih di antara sekian makhluk-Nya, berbagai waktu, tempat dan individu kemudian mengistimewakan mereka dengan tambahan keutamaan, perhatian lebih dan karunia  yang melimpah. Hal ini merupakan salah satu tanda terbesar akan kekuasaan Rububiyah-Nya, bukti terkuat akan keesaan-Nya dan ketunggalan-Nya dalam sifat kesempurnaan. Segala urusan diatur oleh-Nya, sebelum dan sesudahnya, Dia menentukan segala sesuatu bagi ciptaan-Nya sesuai yang dikehendaki-Nya dan menetapkan bagi mereka apa yang Dia kehendaki.</p>
<p>فَلِلَّهِ الْحَمْدُ رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَرَبِّ الأرْضِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (٣٦)وَلَهُ الْكِبْرِيَاءُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ</p>
<p><em>&#8220;Maka bagi Allah-lah segala puji, Rabb langit, Rabb bumi dan Rabb semesta alam. Bagi-Nya-lah keagungan di langit dan bumi, Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.&#8221;</em> (QS. Al Jatsiyah: 36-37)</p>
<p>Di antara waktu yang Allah istimewakan dengan karunia dan kemuliaan yang melimpah adalah bulan Ramadhan, Allah memuliakannya daripada yang lain. Allah juga mengutamakan sepuluh hari terakhir ketimbang hari-hari yang lain dalam bulan tersebut dan Dia mengutamakan malam Al-Qadr dengan tambahan karunia dan kedudukan yang agung di sisi-Nya daripada seribu bulan, memuliakan dan meninggikan kedudukan malam tersebut di sisi-Nya. Allah menurunkan wahyu dan firman-Nya yang mulia pada malam tersebut, sebagai petunjuk bagi orang yang bertakwa, sebagai pembeda baik dan buruk bagi mereka yang beriman, sebagai sinar, cahaya dan rahmat.</p>
<p>Allah ta&#8217;ala  berfirman:</p>
<p>إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ (٣)فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ (٤)أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ (٥)رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (٦)رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا إِنْ كُنْتُمْ مُوقِنِينَ (٧)لا إِلَهَ إِلا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ رَبُّكُمْ وَرَبُّ آبَائِكُمُ الأوَّلِينَ (٨)</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi kami. sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rasul-rasul, sebagai rahmat dari Rabbmu. Sesungguhnya Dialah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui,  Rabb yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, jika kamu adalah orang yang meyakini. Tidak ada Rabb (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang menghidupkan dan yang mematikan (Dialah) Rabb-mu dan Rabb bapak-bapakmu yang terdahulu.&#8221;</em> (QS. Ad Dukhaan: 3-8)</p>
<p>Allah ta&#8217;ala juga berfirman:</p>
<p>إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (١)وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (٢)لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (٣)تَنَزَّلُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (٤)سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (٥)</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Rabb-nya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) keselamatan hingga terbit fajar.&#8221;</em> (QS. Al Qadr: 1-5)</p>
<p>Alangkah agungnya (kedudukan) malam tersebut dibandingkan malam yang lain, alangkah mulia kebaikannya, dan alangkah melimpahnya keberkahan di malam tersebut. Malam tersebut lebih baik daripada seribu bulan yang setara dengan 83 tahun dari umur seseorang. Waktu 83 tahun adalah waktu yang lama seandainya seorang muslim menghabiskan waktu tersebut dalam ketaatan kepada Allah &#8216;azza wa jalla, namun (beribadah pada) malam Al-Qadr lebih baik daripada hal tersebut, inilah (keuntungan) bagi mereka yang menggapai keutamaan dan karunia pada malam tersebut.</p>
<p>Mujahid <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>&#8220;(Keutamaan) Lailatul Qadr lebih baik daripada keutamaan seribu bulan yang di dalamnya tidak terdapat Lailatul Qadr.&#8221;</em> Perkataan serupa diucapkan oleh Qatadah, Asy Syafi&#8217;i dan selainnya.</p>
<p>Pada malam yang mulia ini, para malaikat akan lebih banyak turun ke dunia dikarenakan melimpahnya berkah pada malam tersebut, karena malaikat akan turun seiring turunnya berkah, yaitu keselamatan (yang ditebarkan) hingga terbitnya fajar, seluruh kebaikan terkandung dalam malam tersebut, tidak ada keburukan hingga terbitnya fajar. Pada malam ini, segala urusan yang penuh hikmah dirinci, maksudnya segala kejadian selama setahun ke depan ditentukan dengan izin Allah yang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana. Penentuan takdir pada malam tersebut adalah penentuan takdir tahunan, adapun penentuan takdir secara umum yang tercantum dalam Lauhul Mahfuzh, maka hal tersebut telah tercatat sejak 50.000 tahun sebelum langit dan bumi  diciptakan sebagaimana yang tertera dalam sebuah hadits Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Sepatutnya seorang muslim bersemangat dalam menelusuri suatu malam yang memiliki kedudukan seperti ini, agar mendapatkan keberuntungan dengan pahala yang terdapat pada malam tersebut, mendulang kebaikannya, memperoleh ganjarannya, dan merengkuh berkahnya. Orang yang merugi adalah mereka yang tidak mendapatkan pahala pada malam tersebut. Barang siapa yang melewatkan momen-momen kebaikan, hari-hari tersebarnya keberkahan dan karunia, sedangkan dirinya senantiasa bergelimang dalam dosa dan kesesatan serta asyik dalam kedurhakaan, karena dirinya telah dibinasakan oleh kelalaian dan penyimpangan, kesesatan telah menghalanginya (dari pintu kebaikan), maka betapa besar kerugian dan penyesalan yang menimpanya. Seorang yang tidak bersemangat dalam mencari keuntungan pada malam yang mulia ini, kapankah dirinya akan bersemangat lagi? Seorang yang tidak bertaubat kepada Allah pada malam yang mulia ini, kapankah dia akan bertaubat? Dan seorang yang senantiasa malas dalam melakukan kebaikan di malam ini, maka kapan lagi dirinya akan beramal?</p>
<p>Sesungguhnya bersemangat dalam mencari malam yang penuh berkah ini, serta beribadah dan berdoa di dalamnya merupakan ciri orang pilihan dan mereka yang berbakti kepada Allah. Bahkan dalam malam tersebut mereka berdoa dengan penuh kesungguhan kepada Allah Dia memberikan ampunan dan perlindungan bagi mereka, karena segala sesuatu yang akan terjadi pada diri seseorang selama setahun ke depan ditetapkan pada malam tersebut. Di malam inilah mereka berdoa dan memohon kepada Allah, dan mereka bersungguh-sungguh (dalam berbuat kebajikan) selama setahun ke depan penuh, hanya kepada Allah semata mereka memohon pertolongan dan taufik.</p>
<p>Tirmidzi, Ibnu Majah dan selainnya meriwayatkan dari Ummul Mukminin &#8216;Aisyah <em>radliallahu &#8216;anha</em>, beliau berkata,</p>
<p>قلت يا رسول الله أرأيت إن علمت أي ليلة ليلة القدر ما أقول فيها ؟ قال قولي اللهم إنك عفو كريم تحب العفو فاعف عني</p>
<p><em>Aku berkata kepada Rasulullah, &#8220;Wahai Rasulullah, apabila aku mengetahui waktu malam Al Qadr, apakah yang mesti aku ucapkan pada saat itu?&#8221; Beliau menjawab, &#8220;Katakanlah, Allahumma innaka &#8216;afuwwun, tuhibbul &#8216;afwa, fa&#8217;fu&#8217;anni (Yaa Allah sesungguhnya engkau Maha pemberi ampunan, suka memberi pengampunan, maka ampunilah diriku ini).&#8221;</em> (HR. Tirmidzi nomor 3513, Ibnu Majah nomor 3850 dan dishahihkan oleh Al Albani <em>rahimahullah</em> dalam <em>Shahih Ibnu Majah</em> nomor 3105)</p>
<p>Doa yang penuh berkah ini memiliki kandungan makna yang agung, indikasi yang mendalam, manfaat dan pengaruh yang besar serta sangat selaras dengan malam yang mulia ini. (Bagaimana tidak?) Bukankah pada malam tersebut akan di rinci segala urusan yang penuh hikmah, yaitu segala amalan para hamba ditentukan untuk setahun yang akan datang hingga malam Al Qadr berikutnya. Maka barang siapa yang diberi rezeki pada malam itu berupa perlindungan dan pengampunan dari Rabb-nya pada malam tersebut, maka sungguh dirinya telah beruntung dan mendapatkan laba yang teramat besar. Barang siapa yang diberikan perlindungan di dunia dan akhirat, sungguh dirinya telah memperoleh seluruh kebaikan, karena tidak ada yang setara dengan perlindungan dari Allah.</p>
<p>Bukhari telah meriwayatkan dalam <em>Al Adabul Mufrad</em> dan Tirmidzi dalam <em>Sunan</em>-nya sebuah riwayat dari Al &#8216;Abbas bin Abdil Muththallib <em>radliallahu &#8216;anhu</em>, beliau berkata:</p>
<p>يا رسول الله علمني شيئا أسأل الله عز و جل قال: الله العافية ثم مكثت أياما ثم جئت فقلت يا رسول الله علمني شيئا أسأل الله, فقال يا عباس يا عم رسول الله سلوا الله العافية في الدنيا والآخرة</p>
<p><em>Aku berkata, &#8220;Wahai Rasulullah, ajarilah aku sebuah kalimat yang aku gunakan untuk memohon kepada Allah &#8216;azza wa jalla.&#8221; Maka beliau menjawab, &#8220;Mintalah perlindungan kepada Allah!&#8221; Selang selama beberapa hari, aku kembali mendatangi beliau dan berkata, &#8220;Wahai Rasulullah, ajarilah aku sebuah kalimat yang aku gunakan untuk memohon kepada Allah &#8216;azza wa jalla,&#8221; maka beliau berkata kepadaku, &#8220;Wahai &#8216;Abbas, paman Rasulullah, mintalah perlindungan di dunia dan akhirat kepada Allah!&#8221;</em> (HR. Bukhari dalam <em>Al Adabul Mufrad</em> nomor 726, Tirmidzi nomor 3514 dan dishahihkan Al Albani <em>rahimahullah</em> dalam <em>Shahihul Adab</em> nomor 558)</p>
<p>Bukhari dalam <em>Al Adab</em> dan Tirmidzi dalam <em>Sunan</em>-nya meriwayatkan hadits dari Anas bin Malik <em>radliallahu &#8216;anhu</em>, dirinya berkata:</p>
<p>أتى النبي صلى الله عليه وسلم رجل فقال يا رسول الله أي الدعاء أفضل؟ قال سل الله العفو والعافية في الدنيا والآخرة. ثم أتاه الغد فقال يا نبي الله أي الدعاء أفضل؟ قال سل الله العفو والعافية في الدنيا والآخرة, فإذا أعطيت العافية في الدنيا والآخرة فقد أفلحت</p>
<p><em>Seseorang mendatangi Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan berkata, &#8220;Wahai Rasulullah! doa apakah yang paling afdhol?&#8221; Maka beliau menjawab, &#8220;Mintalah kepada Allah pengampunan dan perlindungan di dunia dan akhirat!&#8221;, Kemudian orang tersebut kembali mendatangi beliau pada esok harinya dan bertanya, &#8220;Wahai nabi Allah! Doa manakah yang paling afdhol?&#8221; Maka beliau berkata, &#8220;Mintalah kepada Allah pengampunan dan perlindungan di dunia dan akhirat, karena apabila engkau diberi pengampunan dan perlindungan di dunia dan akhirat, maka sungguh engkau telah beruntung.&#8221;</em> (HR. Bukhari dalam <em>Al Adabul Mufrad</em> no. 637, Tirmidzi no. 3512 dan dishahihkan oleh Al Albani dalam <em>Shahihul Adab</em> no. 495)</p>
<p>Bukhari dalam <em>Al Adabul Mufrad</em> meriwayatkan dari Ausath bin Isma&#8217;il, dirinya berkata, <em>Aku mendengar Abu Bakr Ash Shiddiq radhiallahu &#8216;anhu setelah nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam wafat berkata:</em></p>
<p>قام النبي صلى الله عليه وسلم عام أول مقامي هذا ثم بكى أبو بكر ثم قال : عليكم بالصدق فإنه مع البر وهما في الجنة وإياكم والكذب فإنه مع الفجور وهما في النار وسلوا الله المعافاة فإنه لم يؤت بعد اليقين خير من المعافاة ولا تقاطعوا ولا تدابروا ولا تحاسدوا ولا تباغضوا وكونوا عباد الله إخوانا</p>
<p><em>&#8220;Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pernah berdiri di tempatku ini, kemudian Abu Bakar menangis. Lalu Nabi berkata, &#8216;Berlaku jujurlah kalian! Karena sesungguhnya kejujuran akan diiringi oleh kebaikan dan keduanya akan (menggiring pelakunya ke dalam) surga. Jauhilah dusta! Karena dusta akan senantiasa diiringi oleh kemaksiatan dan keduanya (akan menggiring pelakunya menuju) neraka. Mintalah kepada Allah perlindungan, karena sesungguhnya tidak ada karunia yang lebih baik, setelah keimanan daripada perlindungan dari Allah. Janganlah kalian saling memboikot, saling tidak memperdulikan dan janganlah kalian saling mendengki dan membenci. Hendaknya kalian menjadi wahai hamba-hamba Allah menjadi orang-orang yang bersaudara.&#8217;&#8221;</em> (HR. Bukhari dalam <em>Al Adabul Mufrad</em> nomor 724 dan dishahihkan oleh Al Al Albani <em>rahimahullah</em> dalam <em>Shahihul Adab</em> no. 557)</p>
<p>Oleh karena itu, suatu hal yang baik bagi seorang muslim untuk memperbanyak doa yang penuh berkah ini di setiap waktu dan kondisi, terlebih di malam Al-Qadr, yang di dalamnya segala urusan yang penuh hikmah ditetapkan agar seorang muslim mengetahui bahwa Allah &#8216;azza wa jalla (adalah Dzat yang) maha pengampun dan maha mulia lagi suka memberi ampunan,</p>
<p>وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ</p>
<p><em>&#8220;Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan.&#8221;</em> (QS. Asy Syuuraa: 25)</p>
<p>Allah terkenal senantiasa memberikan ampunan, dan memiliki sifat Maha pemaaf dan Maha pengampun. Setiap individu membutuhkan ampunan-Nya. Tidak ada seorang pun yang merasa tidak membutuhkan ampunan-Nya sebagaimana tidak ada seorang pun yang merasa tidak membutuhkan rahmat dan karunia-Nya.</p>
<p>Kita memohon kepada Allah agar menaungi diri kita dengan ampunan-Nya, memasukkan diri kita ke dalam rahmat-Nya, membimbing kita untuk taat kepada-Nya dan memberi hidayah-Nya kepada kita untuk senantiasa berjalan di atas jalan yang lurus. [Diterjemahkan dari Buku Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al Badr, <em>Fiqhul Ad'iyyah wal Adzkar, Al Qismuts Tsalits halaman 258-262, sub bab Ad Du'a Lailatal Qadr</em>]</p>
<p>Segala puji bagi Allah<br />
Selesai diterjemahkan pada tanggal 11 Ramadhan 1428 H</p>
<p>***</p>
<p>Penerjemah: Muhammad Nur Ichwan Muslim<br />
Muroja&#8217;ah: Ustadz Aris Munandar<br />
<a title="Lailatul Qadar" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/lailatul-qadar.html">Artikel www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-354"></div><!-- Start LikeButtonSetBottom --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' shr_layout='button_count' shr_showfaces='false' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Flailatul-qadar.html'></a><a class='shareaholic-fbsend' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Flailatul-qadar.html'></a><a class='shareaholic-googleplusone' shr_size='medium' shr_count='true' shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Flailatul-qadar.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 2px; width: 100%;"></div><!-- End LikeButtonSetBottom -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/lailatul-qadar.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

