<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muslim.Or.Id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah &#187; Isbal</title>
	<atom:link href="http://muslim.or.id/tag/isbal/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muslim.or.id</link>
	<description>Pesantren online agama Islam berdasarkan Qur&#039;an dan Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih</description>
	<lastBuildDate>Fri, 25 May 2012 11:23:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Syubhat Seputar Larangan Isbal</title>
		<link>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/syubhat-seputar-larangan-isbal.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/syubhat-seputar-larangan-isbal.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Apr 2012 07:00:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh dan Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[celana]]></category>
		<category><![CDATA[Isbal]]></category>
		<category><![CDATA[laki-laki]]></category>
		<category><![CDATA[musbil]]></category>
		<category><![CDATA[pakaian]]></category>
		<category><![CDATA[pria]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=8995</guid>
		<description><![CDATA[Isbal artinya menjulurkan pakaian melebihi mata kaki. Isbal terlarang dalam Islam, hukumnya minimal makruh atau bahkan haram. Banyak sekali dalil dari hadits Nabi Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam yang mendasari hal ini. Dalil seputar masalah ini ada dua<a class="more" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/syubhat-seputar-larangan-isbal.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Isbal artinya menjulurkan pakaian melebihi mata kaki. Isbal terlarang dalam Islam, hukumnya minimal makruh atau bahkan haram. Banyak sekali dalil dari hadits Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam </em>yang mendasari hal ini.</p>
<p>Dalil seputar masalah ini ada dua jenis:</p>
<p><strong>Pertama</strong>, mengharamkan isbal jika karena sombong.</p>
<p>Nabi <em>shallallahu‘alaihi wa sallam </em>bersabda:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">من جر ثوبه خيلاء ، لم ينظر الله إليه يوم القيامة . فقال أبو بكر : إن أحد شقي ثوبي يسترخي ، إلا أن أتعاهد ذلك منه ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إنك لن تصنع ذلك خيلاء . قال موسى : فقلت لسالم : أذكر عبد الله : من جر إزاره ؟ قال : لم أسمعه ذكر إلا ثوبه</p>
<p>“<em>Barangsiapa menjulurkan pakaiannya karena sombong, tidak akan dilihat oleh Allah pada hari kiamat. Abu Bakar lalu berkata: &#8216;Salah satu sisi pakaianku akan melorot kecuali aku ikat dengan benar&#8217;. Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam bersabda: &#8216;Engkau tidak melakukan itu karena sombong&#8217;.Musa bertanya kepada Salim, apakah Abdullah bin Umar menyebutkan lafadz &#8216;barangsiapa menjulurkan kainnya&#8217;? Salim menjawab, yang saya dengan hanya &#8216;barangsiapa menjulurkan pakaiannya&#8217;. </em>”. (HR. Bukhari 3665, Muslim 2085)</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">بينما رجل يجر إزاره من الخيلاء خسف به فهو يتجلجل في الأرض إلى يوم القيامة.</p>
<p>“<em>Ada seorang lelaki yang kainnya terseret di tanah karena sombong. Allah menenggelamkannya ke dalam bumi. Dia meronta-ronta karena tersiksa di dalam bumi hingga hari Kiamat terjadi</em>”. (HR. Bukhari, 3485)</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">لا ينظر الله يوم القيامة إلى من جر إزاره بطراً</p>
<p>“<em>Pada hari Kiamat nanti Allah tidak akan memandang orang yang menyeret kainnya karena sombong</em>” (HR. Bukhari 5788)</p>
<p><strong>Kedua</strong>, hadits-hadits yang mengharamkan isbal secara mutlak baik karena sombong ataupun tidak.</p>
<p>Nabi <em>shallallahu‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">ما أسفل من الكعبين من الإزار ففي النار</p>
<p>“<em>Kain yang panjangnya di bawah mata kaki tempatnya adalah neraka</em>” (HR. Bukhari 5787)</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">ثلاثة لا يكلمهم الله يوم القيامة ولا ينظر إليهم ولا يزكيهم ولهم عذاب أليم المسبل والمنان والمنفق سلعته بالحلف الكاذب</p>
<p>“<em>Ada tiga jenis manusia yang tidak akan diajak biacar oleh Allah pada hari Kiamat, tidak dipandang, dan tidak akan disucikan oleh Allah. Untuk mereka bertiga siksaan yang pedih. Itulah laki-laki yang isbal, orang yang mengungkit-ungkit sedekah dan orang yang melariskan barang dagangannya dengan sumpah palsu</em>”. (HR. Muslim, 106)</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">لا تسبن أحدا ، ولا تحقرن من المعروف شيئا ، ولو أن تكلم أخاك وأنت منبسط إليه وجهك ، إن ذلك من المعروف ، وارفع إزارك إلى نصف الساق ، فإن أبيت فإلى الكعبين ، وإياك وإسبال الإزار ؛ فإنه من المخيلة ، وإن الله لا يحب المخيلة</p>
<p>“<em>Janganlah kalian mencela orang lain. Janganlah kalian meremehkan kebaikan sedikitpun, walaupun itu hanya dengan bermuka ceria saat bicara dengan saudaramu. Itu saja sudah termasuk kebaikan. Dan naikan kain sarungmu sampai pertengahan betis. Kalau engkau enggan, maka sampai mata kaki. Jauhilah isbal dalam memakai kain sarung. Karena isbal itu adalah kesombongan. Dan Allah tidak menyukai kesombongan</em>” (HR. Abu Daud 4084, dishahihkan Al Albani dalam <em>Shahih Sunan Abi Daud</em>)</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">مَرَرْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي إِزَارِي اسْتِرْخَاءٌ فَقَالَ: يَا عَبْدَ اللَّهِ ارْفَعْ إِزَارَكَ! فَرَفَعْتُهُ. ثُمَّ قَالَ: زِدْ! فَزِدْتُ. فَمَا زِلْتُ أَتَحَرَّاهَا بَعْدُ. فَقَالَ بَعْضُ الْقَوْمِ: إِلَى أَيْنَ؟ فَقَالَ: أَنْصَافِ السَّاقَيْنِ</p>
<p>“<em>Aku (Ibnu Umar) pernah melewati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sementara kain sarungku terjurai (sampai ke tanah). Beliau pun bersabda, “Hai Abdullah, naikkan sarungmu!”.  Aku pun langsung menaikkan kain sarungku. Setelah itu Rasulullah bersabda, “Naikkan lagi!” Aku naikkan lagi. Sejak itu aku selalu menjaga agar kainku setinggi itu.” Ada beberapa orang yang bertanya, “Sampai di mana batasnya?” Ibnu Umar menjawab, “Sampai pertengahan kedua betis.</em>” (HR. Muslim no. 2086)</p>
<p>Dari Mughirah bin Syu&#8217;bah <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> beliau berkata:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم أخذ بحجزة سفيان بن أبي سهل فقال يا سفيان لا تسبل إزارك فإن الله لا يحب المسبلين</p>
<p>“<em>Aku melihat Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam mendatangu kamar Sufyan bin Abi Sahl, lalu beliau berkata: &#8216;Wahai Sufyan, janganlah engkau isbal. Karena Allah tidak mencintai orang-orang yang musbil&#8217;</em>” (HR. Ibnu Maajah no.2892, dishahihkan Al Albani dalam <em>Shahih Ibni Maajah</em>)</p>
<p>Dari dalil-dalil di atas, para ulama sepakat haramnya isbal karena sombong dan berbeda pendapat mengenai hukum isbal jika tanpa sombong. Syaikh Alwi bin Abdil Qadir As Segaf berkata:</p>
<p>“Para ulama bersepakat tentang haramnya isbal karena sombong, namun mereka berbeda pendapat jika isbal dilakukan tanpa sombong dalam 2 pendapat:</p>
<p><strong>Pertama</strong>, hukumnya boleh disertai ketidak-sukaan (baca: makruh), ini adalah pendapat kebanyakan ulama pengikut madzhab yang empat.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, hukumnya haram secara mutlak. Ini adalah satu pendapat Imam Ahmad, yang berbeda dengan pendapat lain yang masyhur dari beliau. Ibnu Muflih berkata : &#8216;Imam Ahmad <em>Radhiallahu&#8217;anhu Ta&#8217;ala</em> berkata, yang panjangnya di bawah mata kaki tempatnya adalah neraka, tidak boleh menjulurkan sedikitpun bagian dari pakaian melebihi itu. Perkataan ini zhahirnya adalah pengharaman&#8217; (<em>Al Adab Asy Syari&#8217;ah</em>, 3/492). Ini juga pendapat yang dipilih Al Qadhi &#8216;Iyadh, Ibnul &#8216;Arabi ulama madzhab Maliki, dan dari madzhab Syafi&#8217;i ada Adz Dzahabi dan Ibnu Hajar Al Asqalani cenderung menyetujui pendapat beliau.  Juga merupakan salah satu pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, pendapat madzhab Zhahiriyyah, Ash Shan&#8217;ani, serta para ulama di masa ini yaitu Syaikh Ibnu Baaz, Al Albani, Ibnu &#8216;Utsaimin. Pendapat kedua inilah yang sejalan dengan berbagai dalil yang ada.</p>
<p>Dan kewajiban kita bila ulama berselisih yaitu mengembalikan perkaranya kepada Qur&#8217;an dan Sunnah. Sebagaimana firman Allah <em>Ta&#8217;ala</em>:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا</p>
<p>“<em>Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur&#8217;an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya</em>” (QS. An Nisa: 59)</p>
<p>Dan dalil-dalil yang mengharamkan secara mutlak sangat jelas dan tegas”</p>
<p>(Sumber : <a href="http://www.dorar.net/art/144">http://www.dorar.net/art/144</a> )</p>
<p>Jadi Islam melarang isbal, baik larangan sampai tingkatan haram atau tidak. Tapi sungguh disayangkan larangan ini agaknya sudah banyak tidak diindahkan lagi oleh umat Islam. Karena kurang ilmu dan perhatian mereka terhadap agamanya. Lebih lagi, adanya sebagian oknum yang menebarkan syubhat (kerancuan) seputar hukum isbal sehingga larangan isbal menjadi aneh dan tidak lazim di mata umat. Berikut ini beberapa syubhat tersebut:</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Syubhat 1: Memakai pakaian atau celana ngatung agar tidak isbal adalah ajaran aneh dan <em>nyeleneh</em></strong></span></p>
<p>Bagaimana mungkin larangan isbal dalam Islam dianggap <em>nyeleneh </em>padahal dalil mengenai hal ini sangat banyak dan sangat mudah ditemukan dalam kitab-kitab hadits dan buku-buku fiqih. Lebih lagi, larangan isbal dibahas oleh ulama 4 madzhab besar dalam Islam dan sama sekali bukan hal aneh dan asing bagi orang-orang yang mempelajari agama. Berikut ini kami nukilkan beberapa perkataan para ulama madzhab mengenai hukum isbal sebagai bukti bahwa pembahasan larangan isbal itu dibahas oleh para ulama 4 madzhab dari dulu hingga sekarang.</p>
<p><strong>Madzhab Maliki</strong></p>
<p>Ibnu &#8216;Abdil Barr dalam <em>At Tamhid</em> (3/249) :</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">وقد ظن قوم أن جر الثوب إذا لم يكن خيلاء فلا بأس به واحتجوا لذلك بما حدثناه عبد الله بن محمد بن أسد …. قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : «من جر ثوبه خيلاء لم ينظر الله إليه يوم القيامة» فقال أبو بكر: إن أحد شقى ثوبي ليسترخي إلا أن أتعاهد ذلك منه،فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم: «إنك لست تصنع ذلك خيلاء» قال موسى قلت لسالم أذَكر عبد الله من جر إزاره،قال لم أسمعه إلا ذكر ثوبه،وهذا إنما فيه أن أحد شقى ثوبه يسترخي، لا أنه تعمد ذلك خيلاء، فقال له رسول الله صلى الله عليه و سلم: «لست ممن يرضى ذلك» ولا يتعمده ولا يظن بك ذلك</p>
<p>“Sebagian orang menyangka bahwa menjulurkan pakaian jika tidak karena sombong itu tidak mengapa. Mereka berdalih dengan riwayat dari Abdullah bin Muhammad bin Asad (beliau menyebutkan sanadnya) bahwa Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam bersabda: &#8216;<em>Barangsiapa menjulurkan pakaiannya karena sombong, tidak akan dilihat oleh Allah pada hari kiamat&#8217;. Abu Bakar lalu berkata: &#8216;Salah satu sisi pakaianku akan melorot kecuali aku ikat dengan benar&#8217;. Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam bersabda: &#8216;Engkau tidak melakukan itu karena sombong&#8217;. Musa bertanya kepada Salim, apakah Abdullah bin Umar menyebutkan lafadz &#8216;barangsiapa menjulurkan kainnya&#8217;? Salim menjawab, yang saya dengan hanya &#8216;barangsiapa menjulurkan pakaiannya</em>&#8216;.</p>
<p>Dalam kasus ini yang melorot hanya satu sisi pakaiannya saja, bukan karena Abu Bakar sengaja memelorotkan pakaiannya. Oleh karena itulah Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> bersabda: &#8216;<em>Engkau bukanlah termasuk orang yang dengan suka rela melakukan hal tersebut, bersengaja melakukan hal tersebut dan tidak mungkin ada orang yang punya praduga bahwa engkau wahai Abu Bakar melakukan hal tersebut dengan sengaja</em>&#8220;.</p>
<p>Abul Walid Sulaiman Al Baaji dalam <em>Al Muntaqa Syarh Al Muwatha</em> (9/314-315)  :</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">وقوله صلى الله عليه وسلم الذي يجر ثوبه خيلاء يقتضي تعلق هذا الحكم بمن جره خيلاء، أما من جره لطول ثوب لا يجد غيره، أو عذر من الأعذار فإنه لا يتناوله الوعيد&#8230; قوله صلى الله عليه وسلم: «إزارة المؤمن إلى أنصاف ساقيه»، يحتمل أن يريد به والله أعلم أن هذه صفة لباسه الإزار؛ لأنه يلبس لبس المتواضع المقتصد المقتصر على بعض المباح، ويحتمل أن يريد به أن هذا القدر المشروع له ويبين هذا التأويل قوله صلى الله عليه وسلم :لا جناح عليه فيما بينه وبين الكعبين يريد والله أعلم أن هذا لو لم يقتصر على المستحب مباح لا إثم عليه فيه ، وإن كان قد ترك الأفضل</p>
<p>“Sabda Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> &#8216;<em>barangsiapa menjulurkan pakaiannya karena sombong</em>&#8216; ini menunjukkan hukumnya terkait bagi orang yang melakukannya karena sombong. Adapun orang yang pakaiannya panjang dan ia tidak punya yang lain (hanya punya satu), atau orang yang punya udzur lain, maka tidak termasuk ancaman hadits ini. Dan sabda Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>: &#8216;Kainnya orang mu&#8217;min itu sepertengahan betis&#8217;, dimungkinkan -<em>wallahu&#8217;alam</em>- inilah deskripsi pakaian beliau. Karena beliau lebih menyukai memakai pakaian ketawadhu&#8217;an, yaitu yang seadanya, dibanding pakaian lain yang mubah. Dimungkinkan juga, perkataan beliau ini menunjukkan kadar yang masyru&#8217; [baca: yang dianjurkan]. Tafsiran ini diperjelas oleh sabda beliau yang lain: &#8216;Tidak mengapa bagi mereka untuk mengenakan antara paha dan pertengahan betis&#8217;. Beliau ingin mengatakan -wallahu&#8217;alam- bahwa kalau tidak mencukupkan diri pada yang mustahab [setengah betis], maka boleh dan tidak berdosa. Namun telah meninggalkan yang utama”.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Catatan:</span></p>
<p>Perhatikan, Al Baji berpendapat bahwa larangan isbal tidak sampai haram jika tidak sombong. Namun beliau  mengatakan bahwa yang ditoleransi untuk memakai pakaian lebih dari mata kaki adalah yang hanya memiliki 1 pakaian saja dan yang memiliki udzur!!</p>
<p><strong>Mazhab Hambali</strong></p>
<p>Abu Naja Al Maqdisi:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">ويكره أن يكون ثوب الرجل إلى فوق نصف ساقه وتحت كعبه بلا حاجة لا يكره ما بين ذلك</p>
<p>“Makruh hukumnya pakaian seorang lelaki panjangnya di atas pertengahan betis atau melebihi mata kaki tanpa adanya kebutuhan. Jika di antara itu [pertengahan betis sampai sebelum mata kaki] maka tidak makruh” (<em>Al Iqna</em>, 1/91)</p>
<p>Ibnu Qudamah Al Maqdisi :</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">ويكره إسبال القميص والإزار والسراويل ؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم أمر بَرفْع الإزار . فإن فعل ذلك على وجه الخيلاء حَرُم</p>
<p>“Makruh hukumnya isbal pada gamis, sarung atau <em>sarowil</em> (celana). Karena Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> memerintahkan untuk meninggalkan ketika memakai izar (sarung). Jika melakukan hal itu karena sombong, maka haram” (<em>Al Mughni</em>, 1/418)</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">وإن كان الإسبال والجر منهياً عنه بالاتفاق والأحاديث فيه أكثر، وهو محرم على الصحيح، لكن ليس هو السدل</p>
<p>“Walaupun memang isbal dan menjulurkan pakaian itu itu terlarang berdasarkan kesepakatan ulama serta hadits yang banyak, dan ia hukumnya haram menurut pendapat yang tepat, namun isbal itu berbeda dengan <em>sadl</em>” (<em>Iqtidha Shiratil Mustaqim</em>, 1/130)</p>
<p><strong>Madzhab Hanafi </strong></p>
<p>As Saharunfuri :</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">قال العلماء : المستحب في الإزار والثوب إلى نصف الساقين ، والجائز بلا كراهة ما تحته إلى الكعبين ، فما نـزل عن الكعبين فهو ممنوع . فإن كان للخيلاء فهو ممنوع منع تحريم وإلا فمنع تنـزيه</p>
<p>“Para ulama berkata, dianjurkan memakai sarung dan pakaian panjangnya sampai setengah betis. Hukumnya boleh (tanpa makruh) jika melebihi setengah betis hingga mata kaki. Sedangkan jika melebihi mata kaki maka terlarang. Jika melakukannya karena sombong maka haram, jika tidak maka makruh” (<em>Bazlul Majhud</em>, 16/411)</p>
<p>Dalam kitab Fatawa Hindiyyah (5/333) :</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">تَقْصِيرُ الثِّيَابِ سُنَّةٌ وَإِسْبَالُ الْإِزَارِ وَالْقَمِيصِ بِدْعَةٌ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ الْإِزَارُ فَوْقَ الْكَعْبَيْنِ إلَى نِصْفِ السَّاقِ وَهَذَا فِي حَقِّ الرِّجَالِ، وَأَمَّا النِّسَاءُ فَيُرْخِينَ إزَارَهُنَّ أَسْفَلَ مِنْ إزَارِ الرِّجَالِ لِيَسْتُرَ ظَهْرَ قَدَمِهِنَّ. إسْبَالُ الرَّجُلِ إزَارَهُ أَسْفَلَ مِنْ الْكَعْبَيْنِ إنْ لَمْ يَكُنْ لِلْخُيَلَاءِ فَفِيهِ كَرَاهَةُ تَنْزِيهٍ</p>
<p>“Memendekkan pakaian (sampai setengah betis) hukumnya sunnah. Dan isbal pada sarung dan gamis itu bid&#8217;ah. Sebaiknya sarung itu di atas mata kaki sampai setengah betis. Ini untuk laki-laki. Sedangkan wanita hendaknya menurunkan kainnya melebihi kain lelaki untuk menutup punggung kakinya. Isbalnya seorang lelaki melebihi mata kaki jika tidak karena sombong maka hukumnya makruh”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Madzhab Syafi&#8217;i</strong></p>
<p>An Nawawi:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">فما نـزل عن الكعبين فهو ممنوع ، ، فإن كان للخيلاء فهو ممنوع منع تحريم وإلا فمنع تنـزيه</p>
<p>“Kain yang melebihi mata kaki itu terlarang. Jika melakukannya karena sombong maka haram, jika tidak maka makruh” (<em>Al Minhaj</em>, 14/88)</p>
<p>Ibnu Hajar Al Asqalani :</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">وحاصله: أن الإسبال يستلزم جرَّ الثوب، وجرُّ الثوب يستلزم الخيلاء، ولو لم يقصد اللابس الخيلاء، ويؤيده: ما أخرجه أحمد بن منيع من وجه آخر عن ابن عمر في أثناء حديث رفعه: ( وإياك وجر الإزار؛ فإن جر الإزار من المخِيلة</p>
<p>“Kesimpulannya, isbal itu pasti menjulurkan pakaian. Sedangkan menjulurkan pakaian itu merupakan kesombongan, walaupun si pemakai tidak bermaksud sombong. Dikuatkan lagi dengan riwayat dari  Ahmad bin Mani&#8217; dengan sanad lain dari Ibnu Umar. Di dalam hadits tersebut dikatakan &#8216;<em>Jauhilah perbuatan menjulurkan pakaian, karena menjulurkan pakaian itu adalah kesombongan</em>&#8216;” (<em>Fathul Baari</em>, 10/264)</p>
<p>Dengan demikian tidak benar bahwa larangan isbal itu adalah ajaran aneh dan <em>nyeleneh</em>. Lebih lagi jika sampai mencela orang yang menjauhi larangan isbal dengan sebutan &#8216;<em>kebanjiran</em>&#8216;, &#8216;<em>kurang bahan</em>&#8216;, dll. <em>Allahul musta&#8217;an</em>.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Syubhat 2: Masak gara-gara celana saja masuk neraka?</strong></span></p>
<p>Pernyataan ini tidak keluar kecuali dari orang-orang yang enggan taat kepada perintah Allah dan Rasul-Nya. Sungguh Allah Maha Berkehendak menentukan perbuatan apa yang menyebabkan masuk neraka, melalui firman-Nya atau pun melalui sabda Nabi-Nya. Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ</p>
<p>“<em>Allah tidak ditanya oleh hamba, namun merekalah yang akan ditanyai oleh Allah</em>” (QS. Al Anbiya: 23)</p>
<p>Perbuatan yang dianggap sepele oleh manusia ternyata dapat menyebabkan masuk neraka bisa jadi merupakan ujian dari Allah untuk mengetahui mana hamba-Nya yang benar beriman. Karena orang yang beriman kepada Allah-lah yang senantiasa taat dan tunduk kepada hukum agama, Allah berfirman:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ</p>
<p>“<em>Hanya ucapan orang-orang beriman, yaitu ketika mereka diajak menaati Allah dan Rasul-Nya agar Rasul-Nya tersebut memutuskan hukum diantara kalian, maka mereka berkata: Sami’na Wa Atha’na (Kami telah mendengar hukum tersebut dan kami akan taati). Merekalah orang-orang yang beruntung</em>” (QS. An Nuur: 51)</p>
<p>Bukan hanya masalah isbal, Islam mengatur hukum-hukum kehidupan sampai perkara terkecil. Ketika Salman Al Farisi ditanya:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">قد علمكم نبيكم صلى الله عليه وسلم كل شيء . حتى الخراءة . قال ، فقال : أجل . لقد نهانا أن نستقبل القبلة لغائط أو بول . أو أن نستنجي باليمين . أو أن نستنجي بأقل من ثلاثة أحجار . أو أن نستنجي برجيع أو بعظم</p>
<p>“<em>Nabi kalian telah mengajari kalian segala hal hingga masalah buang air besar? (Beliau menjawab: ) Benar. Beliau melarang kami menghadap kiblat ketika kencing atau buang hajat, bersuci dengan tangan kanan, bersuci dengan kurang dari tiga buah batu, dan bersuci dengan kotoran atau tulang</em>” (HR. Muslim, 262)</p>
<p>Orang-orang yang meremehkan larangan isbal, bagaimana lagi sikap mereka terhadap aturan-aturan Islam dalam buang hajat, dalam makan, dalam tidur, dalam memakai sandal, dan perkara lain yang nampaknya sepele?</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Syubhat 3: Larangan isbal hanya berlaku pada kain sarung</strong></span></p>
<p>Sebagian orang beranggapan larangan isbal hanya berlaku pada kain sarung saja, karena di dalam hadits hanya disebutkan من جر إزاره &#8216;<em>barangsiapa yang menjulurkan izaar (kain sarung) nya</em>&#8216;. Atau ada juga yang beranggapan bahwa larangan isbal hanya berlaku pada kain sarung, gamis dan imamah sebagaimana hadits:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">الإسبال في الإزار والقميص والعمامة من جر منها شيئا خيلاء لم ينظر الله إليه يوم القيامة</p>
<p>“<em>Isbal itu pada kain sarung, gamis dan imamah. Barangsiapa menjulurkannya sedikit saja karena sombong, tidak akan dipandang oleh Allah di hari kiamat</em>”</p>
<p>Sehingga mereka beranggapan bahwa isbal untuk pakaian lain, misalnya celana pantalon, itu bukan yang dimaksud oleh hadits-hadits larangan isbal.</p>
<p>Anggapan ini salah. Larangan isbal juga berlaku pada model pakaian zaman sekarang seperti celana panjang pantalon. Syaikh Ali Hasan Al Halabi membantah anggapan ini, beliau berkata, “Sebagian orang mengira bahwa hadits ini menunjukkan bahwa larangan isbal hanya pada tiga jenis pakaian: kain sarung (<em>izaar</em>), gamis dan imamah. Dan isbal pada celana pantalon tidak termasuk dalam larangan. Ini adalah klaim yang tertolak oleh hadist itu sendiri. Karena justru makna hadits ini adalah meniadakan anggapan bahwa larangan isbal itu hanya pada kain (<em>izaar</em>). Bahkan larangannya berlaku pada semua jenis pakaian, baik yang ada di zaman Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> (seperti gamis, imamah dan sirwal), atau pakaian pada masa yang lain, seperti celana pantalon di zaman kita”. Beliau lalu memaparkan alasannya, secara ringkas sebagai berikut:</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Alasan 1</span></p>
<p>Dalam <em>Lisaanul Arab</em> dijelaskan makna <em>izaar</em>:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">الإزار : كل من واراكَ وسَتَرَكَ . وتعني أيضا : الملحفة</p>
<p>“<em>Izaar</em> adalah apa saja yang menutupimu, termasuk juga selimut”</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Alasan 2</span></p>
<p>Dalam sebagian hadits digunakan lafadz <em>tsaub</em> (الثوب), sedangkan dalam <em>Lisaanul Arab </em>makna <em>tsaub</em>:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">الثوب : من ثَوَبَ ويعني: اللباس .</p>
<p>“Tsaub, dari tsawaba, artinya pakaian”</p>
<p>Sehingga <em>tsaub </em>ini mencakup seluruh jenis pakaian</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Alasan 3</span></p>
<p>Penjelasan para ulama:</p>
<p>Ibnu Hajar Al Asqalani menjelaskan:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">وَقَالَ الطَّبَرِيُّ : إِنَّمَا وَرَدَ الْخَبَر بِلَفْظِ الْإِزَار لِأَنَّ أَكْثَر النَّاس فِي عَهْده كَانُوا يَلْبَسُونَ الْإِزَار وَالْأَرْدِيَة ، فَلَمَّا لَبِسَ النَّاس الْقَمِيص وَالدَّرَارِيع كَانَ حُكْمهَا حُكْم الْإِزَار فِي النَّهْي . قَالَ اِبْن بَطَّال : هَذَا قِيَاس صَحِيح لَوْ لَمْ يَأْتِ النَّصّ بِالثَّوْبِ ، فَإِنَّهُ يَشْمَل جَمِيع ذَلِكَ ، وَفِي تَصْوِير جَرّ الْعِمَامَة نَظَر ، إِلَّا أَنْ يَكُون الْمُرَاد مَا جَرَتْ بِهِ عَادَة الْعَرَب مِنْ إِرْخَاء الْعَذْبَات ، فَمَهْمَا زَادَ عَلَى الْعَادَة فِي ذَلِكَ كَانَ مِنْ الْإِسْبَال</p>
<p>“At Thabari berkata, lafadz-lafadz hadits menggunakan kata izaar karena kebanyakan manusia di masa itu mereka memakai izaar [seperti pakaian bawahan untuk kain ihram] dan rida&#8217; [seperti pakaian atasan untuk kain ihram]. Ketika orang-orang mulai memakai gamis dan jubah, maka hukumnya sama seperti larangan pada sarung. Ibnu Bathal berkata, ini adalah qiyas atau analog yang tepat, andai  tidak ada nash yang menggunakan kata <em>tsaub</em>. Karena <em>tsaub</em> itu sudah mencakup semua jenis pakaian [sehingga kita tidak perlu berdalil dengan qiyas, ed]. Sedangkan adanya isbal pada imamah adalah suatu hal yang tidak bisa kita bayangkan kecuali dengan mengingat kebiasaan orang Arab yang menjulurkan ujung sorbannya. Sehingga pengertian isbal dalam hal ini adalah ujung sorban yang kelewat panjang melebihi umumnya panjang ujung sorban yang dibiasa dipakai di masyarakat setempat” (<em>Fathul Baari</em>, 16/331)</p>
<p>Penulis <em>Syarh Sunan Abi Daud</em> (9/126)  berkata:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">فِي هَذَا الْحَدِيث دَلَالَة عَلَى عَدَم اِخْتِصَاص الْإِسْبَال بِالْإِزَارِ بَلْ يَكُون فِي الْقَمِيص وَالْعِمَامَة كَمَا فِي الْحَدِيث .قَالَ اِبْن رَسْلَان : وَالطَّيْلَسَان وَالرِّدَاء وَالشَّمْلَة</p>
<p>“Hadits ini merupakan dalil bahwa isbal tidak khusus pada kain sarung saja, bahkan juga pada gamis dan imamah sebagaimana dalam hadits. Ibnu Ruslan berkata, juga pada <em>thailasan</em> [kain sorban yang disampirkan di pundak], rida&#8217; dan <em>syamlah</em> [kain yang dipakai untuk menutupi bagian atas badan dan dipakai dengan cara berkemul]”</p>
<p>Al&#8217;Aini dalam <em>&#8216;Umdatul Qari</em> (31/429) menuturkan:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">قوله من جر ثوبه يدخل فيه الإزار والرداء والقميص والسراويل والجبة والقباء وغير ذلك مما يسمى ثوبا بل ورد في الحديث دخول العمامة في ذلك …</p>
<p>“Perkataan Nabi &#8216;<em>barangsiapa menjulurkan pakaiannya</em>&#8216; ini mencakup kain sarung, rida&#8217;, gamis, sirwal, jubah, qubba&#8217;, dan jenis pakaian lain yang masih disebut sebagai pakaian. Bahkan terdapat riwayat yang memasukan imamah dalam hal ini”</p>
<p>Sumber: <a href="http://almenhaj.net/makal.php?linkid=7415">http://almenhaj.net/makal.php?linkid=7415</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Syubhat 4: Isbal khan cuma makruh! Jadi tidak mengapa setiap hari saya isbal</strong></span></p>
<p>Terlepas dari perselisihan para ulama tentang hukum isbal antara haram dan makruh, perkataan ini sejatinya menggambarkan betapa dangkalnya sifat <em>wara&#8217;</em> yang dimiliki. Karena seorang mu&#8217;min yang sejati adalah yang takut dan khawatir dirinya terjerumus dalam dosa sehingga ia meninggalkan hal-hal yang jelas haramnya, yang masih ragu halal-haramnya, atau yang mendekati tingkatan haram, inilah sikap wara&#8217;. Bukan sebaliknya, malah membiasakan diri dan terus-menerus melakukan hal yang mendekati keharaman atau yang makruh. Bukankah Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">الحَلاَلُ بَيِّنٌ، وَالحَرَامُ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا مُشَبَّهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى المُشَبَّهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ: كَرَاعٍ يَرْعَى حَوْلَ الحِمَى، يُوشِكُ أَنْ يُوَاقِعَهُ</p>
<p>“<em>Yang halal itu jelas, yang haram itu jelas. Diantaranya ada yang syubhat, yang tidak diketahui hukumnya oleh kebanyakan manusia. Barangsiapa menjauhi yang syubhat, ia telah menjaga kehormatan dan agamanya. Barangsiapa mendekati yang syubhat, sebagaimana pengembala di perbatasan. Hampir-hampir saja ia melewatinya</em>” (HR. Bukhari 52, Muslim 1599)</p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> juga bersabda:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي من ابْن آدم مجرى الدم</p>
<p>“<em>Sesungguhnya setan ikut mengalir dalam darah manusia</em>” (HR. Bukhari 7171, Muslim 2174)</p>
<p>Al Khathabi menjelaskan hadits ini:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ مِنَ الْعِلْمِ اسْتِحْبَابُ أَنْ يَحْذَرَ الإِنْسَانُ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ مِنَ الْمَكْرُوهِ مِمَّا تَجْرِي بِهِ الظُّنُونُ وَيَخْطُرُ بِالْقُلُوبِ وَأَنْ يَطْلُبَ السَّلامَةَ مِنَ النَّاسِ بِإِظْهَارِ الْبَرَاءَةِ مِنَ الرِّيَبِ</p>
<p>“Dalam hadits ini ada ilmu tentang dianjurkannya setiap manusia untuk menjauhi setiap hal yang makruh dan berbagai hal yang menyebabkan orang lain punya sangkaan dan praduga yang tidak tidak. Dan anjuran untuk mencari tindakan yang selamat dari prasangka yang tidak tidak dari orang lain dengan menampakkan perbuatan yang bebas dari hal hal yang mencurigakan” (<em>Talbis Iblis</em>, 1/33)</p>
<p>Lebih lagi, jika para da&#8217;i, aktifis dakwah, dan pengajar ilmu agama gemar membiasakan diri melakukan hal yang makruh. Padahal mereka panutan masyarakat dan orang yang dianggap baik agamanya. Sejatinya, semakin bagus keislaman seseorang, dia akan semakin <em>wara&#8217;</em>. Rasulullah <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">فَضْلُ الْعِلْمِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ فَضْلِ الْعِبَادَةِ، وَخَيْرُ دِينِكُمُ الْوَرَعُ</p>
<p>“<em>Keutamaan dalam ilmu lebih disukai daripada keutamaan dalam ibadah. Dan keislaman kalian yang paling baik adalah sifat wara&#8217;</em>” (HR. Al Hakim 314, Al Bazzar 2969, Ath Thabrani dalam Al Ausath 3960. Dishahihkan Al Albani dalam <em>Shahih At Targhib</em> 1740)</p>
<p>Umar bin Khattab <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> berkata:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">«إِنَّ الدِّينَ لَيْسَ بِالطَّنْطَنَةِ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ وَلَكِنَّ الدِّينَ الْوَرَعُ»</p>
<p>“<em>Agama Islam itu bukanlah sekedar dengungan di akhir malam, namun Islam itu adalah bersikap wara&#8217;</em>” (HR Ahmad dalam <em>Az Zuhd</em>, 664)</p>
<p>Para penuntut ilmu agama, ustadz, kyai, atau ulama yang paham agama secara mendalam, semestinya lebih wara&#8217; bukan <em>malah</em> asyik-masyuk mengamalkan yang makruh-makruh. Al Hasan Al Bashri berkata:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">«أَفْضَلُ الْعِلْمِ الْوَرَعُ وَالتَّوَكُّلُ»</p>
<p>“<em>Ilmu yang paling utama adalah wara&#8217; dan tawakal</em>” (HR. Ahmad dalam <em>Az Zuhd</em>, 1500)</p>
<p>Yahya bin Abi Katsir berkata:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 18px;">«الْعَالِمُ مَنْ خَشِيَ اللَّهَ , وَخَشْيَةُ اللَّهِ الْوَرَعُ»</p>
<p>“<em>Orang alim adalah orang yang takut kepada Allah. Takut kepada Allah itulah wara&#8217;</em>” (<em>Akhlaqul &#8216;Ulama</em>, 1/70)</p>
<p>Berangkat dari sikap wara&#8217; inilah maka para fuqaha yang berpendapat isbal itu makruh hendaknya tidak isbal kecuali ada kebutuhan, semisal karena hanya memiliki 1 pakaian, karena sakit atau karena ada udzur lain.</p>
<p>Demikian sedikit yang bisa kami paparkan. Semoga bermanfaat.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Penulis: <a href="http://kangaswad.wordpress.com">Yulian Purnama<br />
</a>Artikel <a href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
<div class="shr-publisher-8995"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Ffiqh-dan-muamalah%2Fsyubhat-seputar-larangan-isbal.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/syubhat-seputar-larangan-isbal.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Celana Membawa Sengsara</title>
		<link>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/celana-isbal.html</link>
		<comments>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/celana-isbal.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Dec 2008 15:16:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muh. Abduh Tuasikal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq dan Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh dan Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Isbal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=467</guid>
		<description><![CDATA[Saudaraku&#8230; semoga Allah merahmatimu. Tidak ada yang diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya kecuali kemaslahatan dan kebaikan umat ini. Semua perintah dalam agama pasti di dalamnya mengandung kebaikan untuk diri kita. Begitu pula segala macam larangan,<a class="more" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/celana-isbal.html">Baca lebih lanjut...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Saudaraku&#8230; semoga Allah merahmatimu. Tidak ada yang diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya kecuali kemaslahatan dan kebaikan umat ini. Semua perintah dalam agama pasti di dalamnya mengandung kebaikan untuk diri kita. Begitu pula segala macam larangan, tidak diragukan lagi di dalamnya banyak mengandung kemudhorotan bagi umat ini, baik disadari hikmahnya ataupun tidak. Oleh sebab itu Islam adalah agama yang sempurna. Karena segala sesuatu yang dapat menghantarkan makhluk kepada kebahagiaan dan segala hal yang dapat menjerumuskan makhluk ke dalam jurang kesengsaraan sudah dijelaskan dalam syari&#8217;at kita yang mulia ini dengan sejelas-jelasnya.</p>
<p><span id="more-467"></span></p>
<p>Ketahuilah wahai saudaraku&#8230; sesungguhnya ada celana yang dapat menjatuhkanmu ke lembah kesengsaraan (baca: neraka). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>&#8220;Apa saja yang di bawah mata kaki maka di neraka.&#8221;</em> (HR. Bukhari). Maksudnya bagian kaki yang terkena sarung/celana yang berada di bawah mata kaki, akan diazab di neraka, bukan sarung/celananya. Jadi, perbuatan menurunkan pakaian hingga menutupi mata kaki (baca: <a title="Celana Isbal" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/celana-isbal.html">isbal</a>) baik dilakukan dengan kesombongan ataupun tidak, maka pelakunya (<em>musbil</em>) akan diazab di neraka. Hanya saja bedanya jika dilakukan dengan kesombongan maka ini lebih parah dan lebih dahsyat lagi siksanya. Sebagaimana Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>&#8220;Ada tiga golongan yang Allah tidak berbicara dengan mereka pada hari kiamat, tidak memperhatikan mereka dan tidak mensucikan mereka (dari dosa) serta mendapatkan azab yang sangat pedih, yaitu pelaku isbal (musbil), pengungkit pemberian (mannan) dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu.&#8221;</em> (HR. Muslim, Abu Dawud, Turmudzi, Ibnu Majah, An Nasa&#8217;i)</p>
<p><strong>Pakaian Rasulullah Sampai Setengah Betis</strong></p>
<p>Allah berfirman, <em>&#8221; Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat.&#8221;</em> (Al Ahzab: 21). Saudaraku&#8230; apa yang menghalangimu untuk mengikuti dan mencontoh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Lihatlah pakaian beliau! Beliau orang yang paling bertaqwa, paling takut kepada Allah, paling tidak mungkin untuk sombong, paling rajin beribadah, paling mulia di sisi Allah, tetapi pakaian yang beliau kenakan tidak menutup mata kaki beliau. Bahkan celana beliau hanya sampai setengah betis. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>&#8220;Sarung seorang muslim hingga tengah betis dan tidak mengapa jika di antara tengah betis hingga mata kaki. Maka apa yang di bawah mata kaki, tempatnya di neraka. Barangsiapa yang menyeret sarungnya (sampai menyapu tanah-pen) karena sombong maka Allah tidak akan melihatnya.&#8221;</em> (HR. Abu Dawud, Malik, dan Ibnu Majah)  Bukankah Rasulullah adalah <em>qudwah</em>/teladan kita di segala aspek kehidupan?! Lalu mau dikemanakan hadits beliau, &#8220;<em>Barangsiapa yang meniru-niru gaya suatu golongan, maka ia termasuk bagian dari golongan tersebut.&#8221; ?!</em> Apakah kita tidak ingin bergabung dengan golongan beliau?</p>
<p><strong>Masalah Isbal Bukan Perkara <em>&#8216;Kulit&#8217;</em></strong></p>
<p>Lihatlah &#8216;Umar bin Khaththab ketika dalam kondisi yang sangat kritis (setelah ditikam perutnya hingga robek ususnya), masih menyempatkan diri untuk melarang kemungkaran yang satu ini (baca: isbal). Ini menunjukkan bahwa isbal bukan masalah sepele. Kalau benar isbal adalah masalah sepele, lalu apakah kita akan mengatakan masuk neraka adalah masalah sepele?</p>
<p>Wahai saudaraku&#8230; semoga Allah memberikan petunjuk kepada kita. Marilah kita mengenakan pakaian dengan menggunakan tuntunan agama. Jangan sampai pakaian yang kita pakai, celana yang kita kenakan justru menjadi bumerang bagi kita yang ujung-ujungnya menghantarkan kita sampai ke dalam neraka. <em>Wal &#8216;iyaadzu billah. Wallahu a&#8217;lam.</em></p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Abu Yazid Nurdin<br />
Artikel <a title="Celana Isbal" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/celana-isbal.html">www.muslim.or.id</a></p>
<div class="shr-publisher-467"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2Fakhlaq-dan-nasehat%2Fcelana-isbal.html'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/celana-isbal.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>47</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

