<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Fathu Makkah: Pelajaran dari Penaklukan Kota Mekkah</title>
	<atom:link href="http://muslim.or.id/sejarah-islam/fathu-makkah-pelajaran-dari-penaklukan-kota-mekkah.html/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muslim.or.id/sejarah-islam/fathu-makkah-pelajaran-dari-penaklukan-kota-mekkah.html</link>
	<description>Pesantren online agama Islam berdasarkan Qur&#039;an dan Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih</description>
	<lastBuildDate>Sun, 12 Feb 2012 06:03:43 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<item>
		<title>By: m. syariffuddin</title>
		<link>http://muslim.or.id/sejarah-islam/fathu-makkah-pelajaran-dari-penaklukan-kota-mekkah.html/comment-page-1#comment-84576</link>
		<dc:creator>m. syariffuddin</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 10 Feb 2012 00:25:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=1318#comment-84576</guid>
		<description>alhamdullillah, saya jadi tambah faham peristiwa fathul makkah. allah memang selalu memenangkan yang benar dan melenyapkan yang batil. maha besar allah..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>alhamdullillah, saya jadi tambah faham peristiwa fathul makkah. allah memang selalu memenangkan yang benar dan melenyapkan yang batil. maha besar allah..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Hafidz</title>
		<link>http://muslim.or.id/sejarah-islam/fathu-makkah-pelajaran-dari-penaklukan-kota-mekkah.html/comment-page-1#comment-78213</link>
		<dc:creator>Hafidz</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 11 Sep 2011 09:22:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=1318#comment-78213</guid>
		<description>Maha besar Allah...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Maha besar Allah&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Fathu Makkah: Pelajaran dari Penaklukan Kota Mekkah &#124; aswacollection</title>
		<link>http://muslim.or.id/sejarah-islam/fathu-makkah-pelajaran-dari-penaklukan-kota-mekkah.html/comment-page-1#comment-71153</link>
		<dc:creator>Fathu Makkah: Pelajaran dari Penaklukan Kota Mekkah &#124; aswacollection</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 May 2011 06:49:30 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=1318#comment-71153</guid>
		<description>[...] keliru, justru hari ini adalah hari diagungkannya Ka’bah dan dimuliakannya Quraisy oleh [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] keliru, justru hari ini adalah hari diagungkannya Ka’bah dan dimuliakannya Quraisy oleh [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: abid amrullah</title>
		<link>http://muslim.or.id/sejarah-islam/fathu-makkah-pelajaran-dari-penaklukan-kota-mekkah.html/comment-page-1#comment-70884</link>
		<dc:creator>abid amrullah</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 24 Apr 2011 14:58:28 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=1318#comment-70884</guid>
		<description>subhanalloh, maha suci allah, akhirnya yg bathil dapat di musnahkan</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>subhanalloh, maha suci allah, akhirnya yg bathil dapat di musnahkan</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: iman</title>
		<link>http://muslim.or.id/sejarah-islam/fathu-makkah-pelajaran-dari-penaklukan-kota-mekkah.html/comment-page-1#comment-70392</link>
		<dc:creator>iman</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 Apr 2011 11:56:39 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=1318#comment-70392</guid>
		<description>assalamualaikum,,,,
trimakasih kepada www.muslim.or.id yang selama ini tlah dan sering mengirim saya informasi tentang agama, mudah mudahan itu semua menjadi amal ibadah yang baik disisi allah SWT amien...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>assalamualaikum,,,,<br />
trimakasih kepada <a href="http://www.muslim.or.id" rel="nofollow">http://www.muslim.or.id</a> yang selama ini tlah dan sering mengirim saya informasi tentang agama, mudah mudahan itu semua menjadi amal ibadah yang baik disisi allah SWT amien&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: arofiqpkl</title>
		<link>http://muslim.or.id/sejarah-islam/fathu-makkah-pelajaran-dari-penaklukan-kota-mekkah.html/comment-page-1#comment-67532</link>
		<dc:creator>arofiqpkl</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 15 Feb 2011 03:44:33 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=1318#comment-67532</guid>
		<description>alhamdulillah</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>alhamdulillah</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: arofiqpkl</title>
		<link>http://muslim.or.id/sejarah-islam/fathu-makkah-pelajaran-dari-penaklukan-kota-mekkah.html/comment-page-1#comment-67530</link>
		<dc:creator>arofiqpkl</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 15 Feb 2011 03:43:49 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=1318#comment-67530</guid>
		<description>alhamulillah</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>alhamulillah</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: arofiqpkl</title>
		<link>http://muslim.or.id/sejarah-islam/fathu-makkah-pelajaran-dari-penaklukan-kota-mekkah.html/comment-page-1#comment-67526</link>
		<dc:creator>arofiqpkl</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 15 Feb 2011 03:39:48 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=1318#comment-67526</guid>
		<description>terima kasih, semoga dapat bermanfaat dan dapat kita teladani kisak tersebut. amin</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>terima kasih, semoga dapat bermanfaat dan dapat kita teladani kisak tersebut. amin</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: rinka</title>
		<link>http://muslim.or.id/sejarah-islam/fathu-makkah-pelajaran-dari-penaklukan-kota-mekkah.html/comment-page-1#comment-66720</link>
		<dc:creator>rinka</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 31 Jan 2011 07:21:46 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=1318#comment-66720</guid>
		<description>wah!!!!!! cerita yang sangat menggugah jiwa

memang islam sangat sarat dengan makna
kita sebagai umat islam wajib mensyukuri ini semua ^_^</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>wah!!!!!! cerita yang sangat menggugah jiwa</p>
<p>memang islam sangat sarat dengan makna<br />
kita sebagai umat islam wajib mensyukuri ini semua ^_^</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Abu Muhammad Naufal Zaki</title>
		<link>http://muslim.or.id/sejarah-islam/fathu-makkah-pelajaran-dari-penaklukan-kota-mekkah.html/comment-page-1#comment-61990</link>
		<dc:creator>Abu Muhammad Naufal Zaki</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 24 Oct 2010 03:23:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=1318#comment-61990</guid>
		<description>Yang ana tahu. . ini dikenakan kpd ulama ahlus sunnah. . . adapun ahlu bid&#039;ah tdk berlaku kaidah tsb. . . bisa juga di baca ttg Kaidah Muhazanah ini di majalah al furqon. . . bagus sekali isinya. . .
KETIMPANGAN MANHAJ MUWAZANAH
Dinukil dari majalah Al Furqon ed 8 th III Jumadil Awwal 1425H oleh Arif Fathul Ulum, setelah menjelaskan : Membantah ahli bid’ah &amp; mengkritik (mengjahr)nya adalah salah satu dari pokok-pokok agama yg agung bhk jihad fi sabilillah yg paling utama, karena ahli bid’ah lebih berbahaya drpd orang kafir. Membantah ahli Bid’ah adalah salah satu pokok-pokok manhaj Salaf yg diterapkan oleh para Ulama Salaf (Nabi, Sahabat, Tabiin Taiut Tabiin, Imam Mazhab, dll).
Namun baru-baru ini, muncul kelompok sururiyyah dan quthbiyyah yg menyebarkan keragu-raguan thd manhaj Salaf ini bahkan berusaha menggantinya dg manhaj mereka. Mereka mengkritik para imam ahli hadits. Mereka menamakan manhaj baru mereka : “Manhaj Muwazanah”, yaitu : manhaj yg mewajibkan siapapun yg mengkritik kesalahan seseorang, tulisan atau kelompok untuk menyebutkan kebaikan dan kejelekan secara bersamaan sebagai sikap yg adil menurut mereka.”
Mereka sebut juga manhaj ini “manhaj al-adl wan inshaf, maka Para Ulama Salaf bangkit untuk menjelaskan kesesatan dan ketimpangan manhaj ini, salah satunya Ulama lautan Ilmu Muhadditsin : Syaikhuna Al Allamah Rabi bin Hadi al Madkhali, berjudul : Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah fi Naqdir Rijal wal Kutub wath thowaif, cetakan kedua tahun 1413 H
.
MANHAJ ISLAM DAN PARA IMAM DALAM MENGKRITIK PERKATAAN DAN PERSON (PRIBADI)
A. Alloh Subhanahu Wa Ta’ala memuji orang-orang yg beriman tanpa menyebutkan kejelekannya dan mencela orang-orang kafir an munafiq tanpa menyebutkan kebaikannya.
Banyak sekali ayat ttg hal ini (pahala bagi yg beriman) yg jelas-jelas menyelesihi Manhaj Muwazanah, padahal setiap bani adam takluput dari kesalahan. Maka hikmah dari hal ini = menyebut kebaikan tanpa menyebut kejelekan mereka adl untuk menggerakkan hati setiap manusia agar meneladani mereka.
Di sisi lain , Alloh mencela kaum lafirin &amp; munafiqin dalam ayatNya yg banyak tanpa menyebutkan kebaikan mereka sedikitpun, karena kekufuran dan kesesatan mereka telah merusak kebaikan-kebaikan mereka dan menjadikannya tidak bernilai sama sekali bagaikan debu beterbangan, “Dan Kami hadapi segala amal yg mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yg beterbangan (QS Al Furqan : 23)
Demikian pula Alloh menceritakan ttg umat-umat terdahulu yg mendustakan para Rasul. Alloh sebutkan kekufuran mereka dan kebatilan mereka dan azab kehancuran mereka tanpa sedikitpun menyebutkan kebaikannya krn tujuan kisah ini sbg peringatan kpd umat-umat sesudahnya agar menjauhi perbuatan mereka.
Lalu Alloh menyebut orang0orang Yahudi dan nashara dg sifat-sifat buruk pada mereka dan ancaman keras kpd mereka tanpa menyebutkan sedikitpun kebaikan mereka yg telah mereka hilangkan dg kekufuran dan pendustaan thd Rasululloh Shollollohu ‘alaihi wa sallam. Inilah manhaj Alloh Yang Maha Adil (maukah kaum muwazanah mengatakan Alloh tidak adil? Wa na’udzu billah)
B.Peringatan Nabi Shollollohu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya dari Bahaya Ahli Bid’ah
Nabi Shollollohu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan umatnya dari kejelekan Ahlul Bid’ah tanpa menyebutkan sedikitpun kebaikan mereka karena kebaikan mereka hilang nilainya karena kerusakan dan bahaya yg besar yg mereka timbulkan.
Aisyah rodhiyallohu anha : Rasululloh Shollollohu ‘alaihi wa sallam membaca ayat : “Dia-lah yg menurunkan Al Kitab (Al-Qur’an) kpd kalian. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yg muhkamat, itulah pokok-pokok isi al Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang yg hatinya condong kepada kesesatan maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yg mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya. Padahal tidak ada yg tahu ta’wilnya kecuali Alloh. Dan orang-orang yg mendalam ilmunya berkata, “Kami beriman kpd ayat-ayat yg mutasyabihat, semua itu dari sisi Tuhan Kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yg berakal (QS Ali Imran : 7). Aisyah berkata, Rasululloh Shollollohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika Engkau melihat orang-orang ug mengikuti sebagian ayat-ayat yg mutasyabihat, mereka itulah yg disebut Alloh dalam kitabNya. MAKA AWASLAH DARI MEREKA.” (Muttafaq Alaih, shahih Bukhari 4547, Shahih Muslim 2665)
Abu Hurairah radiyallohu anhu : Rasululloh Shollollohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan dating pada akhir umatku, orang-orang yg menyampaikan kepada kalian apa-apa yg tidak pernah kalian dengan dan tidak pernah didengar oleh bapak-bapak kalian, maka awaslah kalian dari mereka” (Shahih Muslim 1/12)…. Maksudnya ahli bid’ah.
Padahal dimaklumi dalam diri ahli bid’ah ada kebaikan namun Rasululloh Shollollohu ‘alaihi wa sallam tidak menoleh sedikitpun kepada kebaikan mereka ahlu bid’ah dan tidak mnyebutkan sedikitpun dan beliau tidak katakana : ambillah manfaat dari kebaikan mereka dan sebutkanlah kebaikan mereka ketika mengkritiknya.”
Lihatlah ketimpangan manhaj muwazanah ini yg memutar balikkan logika umat sehingga ada yg mengaku bermanhaj Salaf namun loyal dan membela ahli bid’ah dan mengkritik ahlus sunnah dg alas an keadilan. Wa inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’un.
C. Sikap Para Sahabat dan Tabi’in Terhadap Ahli Bid’ah 
Ibnu Umar rodhiyallohu anhu berkata ttg kelompok Qodariyyah, “Jika engkau bertemu mereka, beritahukan bahwa Ibnu Umar berlepas diri dari mereka dan mereka berlepas diri dari Ibnu Umar (riwayat Shahih Muslim 1/140)
Abu Qilabah, “Janganlah kalian duduk-duduk dg ahli ahwa (bid’ah) Karena aku khawatir mereka akan menjerumuskanmu ke dalam kesesatan mereka dan mengaburkan persepsi kalian terhadap mereka (Syarhus Sunnah, Imam Baghowi 1/227).
Lihatlah 2 sikap tegas dari para sahabat dan tabiin dan para Imam Mazhab terhadap ahli bid’ah. Mereka memperingatkan umat dari kejelekan ahli bid’ah tanpa sedikitpun menyebutkan kebaikan mereka, sesuai pemahaman terhadap kaidah-kaidah Islam : “Menjauhkan mafsadah (kerusakan) didahulukan atas mendatangkan mashlahat”
D. Nabi menyebutkan aib orang-orang tertentu tanpa menyebutkan kebaikan mereka sebagai nasehat.
1.Aisyah meriwayatkan seorang laki-laki meminta izin bertemu Rasululloh. Saat melihat orang itu Rasul bersabda, “Dia adalah sejelek-jelek kerabat.” Ketika dia duduk, Nabi bermuka manis dan bersikap ramah. Ketika orang itu pergi, Aisyah bertanya ttg sikap Rasul tsb. Rasul bersabda, “Wahai Aisyah, kapan engkau melihatku berbuat keji? Sesungguhnya sejelek-jelek derajat manusia di sisi Alloh adalah orang ditinggalkan oleh manusia Karen atakut kepada kejelekannya.” (shahih Bukhari 6032)
Imam al Qurthubi berkata hadits ini menunjukkan bolehnya ghibah thd mereka yg terang-terangan berbuat kefasikan, kemaksiatan atau semisalnya dari kecurangan dalam menghukumi dan seruan kepada kebid’ahan dan bolehnya bersikap mudarah (membujuk) thd mereka dan menjauhi bahaya kejelekan mereka selama tidak membawa kepada sikap menjilat dalam agama Alloh (Fathul Bari 10/452)
2. Saat Fatimah bintu Qois selesai iddah dia dipinang Mu’awiyyah bin Abi Sufyan dan Abu Jahm mk Rasul berkata, “Adapun Abu Jahm maka dia laki-laki yg tidka pernah meletakkan tongkat dari pundaknya (ringan tangan) adapun Mu’awiyyah dia seorang yg miskin maka menikahlah dg Usamah bin Zaid” (Shahih Muslim 1480).
Tak diragukan lagi bhw Mu’awiyyah dan Abu Jahm memiliki banyak keutamaan dan keunggulan (sebagai sahabat nabi) tetapi Nabi tidak menyebutkan kebaikannya sedikitpun karena yg diminta Fatimah adalah nasehat dan saran Nabi Shollollohu ‘alaihi wa sallam thd yg meminangnya itu.
Maka para pencetus Manhaj Muwazanah, maka mereka mewajibkan menyebutkan kebaikan, yg akan membuat bingung orang yg meminta nasehat. Lihatlah manhaj yg menyelisihi manhaj Nabi ini.
3. Hindun bintu Utbah pernah mengadu atas kejelekan yakni kepelitan suaminya Abu Sufyan maka Nabi mengatakan agar dia mengambil seperlu kebutuhan dirinya dan anak-anaknya.” (Muttafaq alaih Bukhari 3564, Muslim 1714)
Al Hafidz Ibnu Hajar berkata, “Hadits ini menjelaskan bolehnya menyebutkan seorang dg sifat yg tidak disukainya dg tujuan meminta nasehat atau fatwa, mengadu dan semisalnya. Dan inilah ghibah yg diperbolehkan (Fathul Bari 9/509).. Lihatlah Nabi tidka mengingkari Hindun yg menyebutkan kejelekan suaminya tanpa sedikitpun menjelaskan kebaikannya yg sangat banyak…. Lihatlah lagi ketimpangan Manhaj Muwazanah yg menuduh ulama salaf tidak adil dan khianat. Akankah tuduhan ini mereka sematkan kepada Nabi dan Para Sahabat?
E. Kritikan Para Imam Terhadap Ahli Bid’ah dan Para Perawi
Banyak sekali kita dapatkan riwayat para Imam menkritik dg kritik yg keras dan tegas terhadap ahli bid’ah tanpa sedikitpun menyebutkan kebaikannya, yakni mewajibkan muwazanah sbgmn penganut faham ini. Mereka menulis kitab Jahr wa Ta’dil, kitab sunnah dan kitab pembelaan thd sunnah dan bantahannya terhadap ahli bid’ah, kitab-kitab ttg hadits palsu dan lemah &amp; mereka sedikitpun tidak mewajibkan muwazanah dalam kitab-kitab mereka tsb. Khususnya dalam kitab Jahr (celaan) mereka.
.
SYUBHAT MANHAJ MUWAZANAH DAN BANTAHANNYA
Mereka berdalil : “Di antara Ahli Kitab ada yg jika kamu mempercayakan kpdnya harta yg banyak, dikemballikan kepadamu dan di antara mereka jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikan padamu kecuali jika kamu selalu menagihnya” (QS Ali Imran : 75)… katanya ini bukti Alloh mendahulukan pujian pada mereka.
Bantahannya : Syaikhuna Al Allamah Rabi bin Hadi membantahnya dg :
1.	Tidak ada satupun ulama yg menafsirkan demikian ayat ini sebagaimana yg dikehendaki manhaj ini sebagai dalil muwazanah. Suatu tafsir yg batil.
2.	Para Ulama ahli Tafsir menjelaskan bhw ayat ini sebagai peringatan kepada umat Islam atas kejelekan ahli kitab. Imam Qurthubi menafsirkan, “Alloh mengabarkan bahwa di antara ahli kitab ada yg amanat dan ada pula yg khianat, sedangkan orang yg beriman tidak bisa memilah-milah mereka (yakni tidak tahu mana yg khianat dan mana yg amanah) maka selayaknya (wajib) menjauhi mereka.”
3.	Dalam kitab dan sunnah banyak sekali celaan kepada Ahli Kitab yang tidak menyebutkan kebaikan dan kejelekan mereka sekaligus, seperti : “Dan janganlah kamu campur adukkan yg haq dg yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yg baik itu sedang kamu mengetahuinya (QS : 2 : 42) dan “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Alloh…dst (QS : At-Taubah 31)… maka dimanakah Manhaj Muwazanah dalam ayat ini? 
Maka sungguh, penetapan manhaj muwazanah yg bid’ah ini akan membuka pintu ahli kitab, komunis, rasionalis untuk menyerang umat Islam, mencela Alloh dan rasulNya dan apa yg ditulis para ulama dalam mengkritik kelompok-kelompok sesat dalam masalah Jahr wa Ta’dil. Inilah bukti kebathilan Manhaj Muwazanah (Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah fi Naqdir Rijal wal Kutub wath Thowaif hal.49-51)
.
FATWA PARA ULAMA TENTANG MANHAJ MUWAZANAH
1. Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz rahimahullah
	Ada seorang bertanya kepada Syaikh Bin Baaz, “Ada orang yg mewajibkan muwazanah yakni jika engkau mengkritik seorang ahli bid’ah mala wajib atasmu untuk menyebutkan kebaikannya agar engkau tidak mengzhaliminya.”
	Jawab Samahatusy Syaikh, “Tidak! Hal itu tidak harus! Karena inilah jika engkau melihat kitab-kitab ahlus sunnah maka engkau akan mendapati apa yg dimaksud yaitu Tahdzir. Bacalah Kitab Bukhari Kholqu Af’alil Ibad dan Kitabul Adab dari Shahihnya, Kitab As-Sunnah oleh Abdullah bin Ahmad bin Hambal, Kitab Tauhid oleh Ibnu Khuzaimah, Bantahan Utsman bin Said ad-Darimi kepada Ahli Bid’ah…. Dll. Mereka tulis kitab-kitab ini sebagai peringatan kepada setiap muslim dari kebathilan ahli bid’ah dan bukan bertujuan memaparkan kebaikan-kebaikan mereka… maka yg dimaksud adalah peringatan kepada setiap muslim dari kebathilan mereka. Sedang kebaikan mereka tidak ada nilainya sama sekali bagi yang kafir dari mereka. Jika kebid’ahan mereka adalah bid’ah yg mengkafirkan pelakunya maka hapuslah kebaikannya. Dan jika bid’ahnya belum  mengkafirkannya maka dia berada dalam bahaya, maka yg dimaksud adalah penjelasan kesalahan mereka untuk dihindari dan dijauhi.” (dari kaset Ta’lim Syaikh Abdul Aziz di Thoif 1413H, ditulis Syaikh Rabi di halaman 9)
2. Syaikh Al-Allamah Shalih bin Fauzan al-Fauzan
	Seseorang bertanya kepada beliau setelah beliau ditanya tentang beberapa pertanyaan mengenai kelompok-kelompok Islam, “Baik ya Syaikh, apakah engkau memperingatkan manusia dari mereka tanpa menyebutkan kebaikan mereka atau engkau sebutkan kebaikan dan kejelekan mereka secara bersamaan?”
	Fadhilatusy Syaikh menjawab, “Jika engkau menyebut kebaikan mereka berarti engkau mengajak manusia kepada mereka. TIDAK! JANGAN ENGKAU SEBUT KEBAIKAN MEREKA! TETAPI SEBUTKAN KESALAHAN MEREKA SAJA KARENA TUGASMU BUKANLAH UNTUK MEMPELAJARI KEADAAN MEREKA DAN MENILAINYA..tetapi tugasmu adalah MENYEBUT KESALAHAN YG ADA PADA MEREKA AGAR MEREKA BERTAUBAT DARINYA DAN AGAR YG SELAIN MEREKA MENJAUHI KESALAHAN MEREKA. Demikian juga kesalahan yg ada pada mereka bis ajadi menghilangkan kebaikan mereka semuanya jika kesalahan itu berupa kekufuran atau kesyirikan. Bisa jadi mengalahkan kebaikan mereka. Dan bisa jadi itu adalah kebaikan menurut pandanganmu padahal sebenarnya bukanlah kebaikan di sisi Alloh.” (Ajwibah Mufidah ‘an As’ilatil Manahijil Jadidah hal.13-14)
3. Syaikh Al Allamah Muhadditsin Muhammad Nashiruddin Al-Albani.
	Saat ditanya manhaj muwazanah, Syaikh Albani berkata : “INI ADALAH CARA-CARA AHLI BID’AH. Ketika seorang ahli Hadits menilai seorang rawi yg shalih atau alim atau faqih dengan perkataannya : ‘Fulan jelek hafalannya’ apakah dia juga mengatakan dia adalah seorang muslim atau seorang yg shalih atau seorang yg faqif atau seorang yg diambil dalam istinbath hukumnya? Allohu Akbar! Pada hakikatnya, kaidah yang terdahulu (yakni kaidah : setiap kebaikan adalah dlaam ittiba kepada Salaf) adalah kaidah yg sangat penting sekali yg mencakup cabang-cabang yang banyak khususnya paa zaman ini…. Dari mana mereka (pemilik manhaj muwazanah) mendapatkan dalil yg mengatakan jika seseorang hendak menjelaskan kesalahan seseorang muslim-jika dia adalah seorang da’I (ulama) atau bukan- maka wajib bagi dia melakukan ceramah yang menjelaskan kebaikan orang tadi dari awal sampai akhir. Allohu Akbar! Ini adalah sesuatu yang aneh. Demi Alloh, ini adalah sesuatu yang aneh…. (silsilatul Huda wan Nur kaset no. 850 sebagaimana dalam Nashrul Aziz oleh Syaikhuna Al-Allamah Rabi bin Hadi hal 96-97)
.
PENUTUP
1. Apa yg didakwahkan dari wajibnya memakai manhaj muwazanah dalam mengkritik person, tulisan dan kelompok adalah Dakwah yg tidak ada dalilnya dari Kitab dan Sunnah dan Manhaj ini adalah Manhaj yg Gharib (asing) dan Bid’ah.
2. Ulama Salaf (Para Sahabat, Tabiin, Tbiut Tabiin dan Imam Mazhab serta Ahli Hadiits) tidka pernah memakai manhaj muwazanah ini dalam hal mengkritik…
3. Wajib memperingatkan umat dari bid’ah dan ahlinya dengan kesepakatan para Ulama dan kaum muslimin dan boleh bahkan wajib menyebutkan kebid’ahan merka dan menjauhkan manusia dari mereka.
4. Para Ulama Salaf telah menulis kitab-kitab dalam Jahr wa Ta’dil dan kitab-kitab yg khusus dalam Jahr saja yg jumlahnya sangat banyak dan mereka tidak ada seorangpun yang mewajibkan atau mengsunnahkan muwazanah, bahkan mereka mewajibkan Jahr saja.
5. Para Ulama telah menulis kitab-kitab tentang sunnah dan bantahan kepada bid’ah dan ahlinya tanpa memakai manhaj muwazanah.
6. Manhaj Salagf dilandaskan atas mashlahat dan nasihat kepada umat.
7. Manhaj Salaf adalah benteng yg teguh di dalam melindungi kaum muslimin dari bahaya dan maker ahli bid’ah
8. Manhaj Muwazanah membuka pintu bagi ahli bid’ah untuk merusak aqidah kaum muslimin dan melancarkan berbagai fitnah/syubhat kepada kaum muslimin.
9. Wajib bagi setiap muslim mewaspadai pemikiran ini agar tidak diragukan thd Islam dan Manhaj yg Haq yakni Manhajnya Nabi Shollollohu ‘alaihi wa sallam beserta para Sabahatnya dan mereka yg mengikuti mereka.
Barakallahu laka…….
(catt : contoh sederhana, jika kita ingin menjelaskan paham komunis kepada masyarakat agar menjauhinya maka kita akan jelaskan kesesatannya tanpa sedikitpun menjelaskan kebaikannya… dan lihatlah para pengkritik pemerintah, apakah pernah mereka memakai manhaj muwazanah saat berdemo?..lihatlah mereka yg bermanhaj ini menetang sendiri manhaj mereka… Allohu Akbar!)…</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Yang ana tahu. . ini dikenakan kpd ulama ahlus sunnah. . . adapun ahlu bid&#8217;ah tdk berlaku kaidah tsb. . . bisa juga di baca ttg Kaidah Muhazanah ini di majalah al furqon. . . bagus sekali isinya. . .<br />
KETIMPANGAN MANHAJ MUWAZANAH<br />
Dinukil dari majalah Al Furqon ed 8 th III Jumadil Awwal 1425H oleh Arif Fathul Ulum, setelah menjelaskan : Membantah ahli bid’ah &amp; mengkritik (mengjahr)nya adalah salah satu dari pokok-pokok agama yg agung bhk jihad fi sabilillah yg paling utama, karena ahli bid’ah lebih berbahaya drpd orang kafir. Membantah ahli Bid’ah adalah salah satu pokok-pokok manhaj Salaf yg diterapkan oleh para Ulama Salaf (Nabi, Sahabat, Tabiin Taiut Tabiin, Imam Mazhab, dll).<br />
Namun baru-baru ini, muncul kelompok sururiyyah dan quthbiyyah yg menyebarkan keragu-raguan thd manhaj Salaf ini bahkan berusaha menggantinya dg manhaj mereka. Mereka mengkritik para imam ahli hadits. Mereka menamakan manhaj baru mereka : “Manhaj Muwazanah”, yaitu : manhaj yg mewajibkan siapapun yg mengkritik kesalahan seseorang, tulisan atau kelompok untuk menyebutkan kebaikan dan kejelekan secara bersamaan sebagai sikap yg adil menurut mereka.”<br />
Mereka sebut juga manhaj ini “manhaj al-adl wan inshaf, maka Para Ulama Salaf bangkit untuk menjelaskan kesesatan dan ketimpangan manhaj ini, salah satunya Ulama lautan Ilmu Muhadditsin : Syaikhuna Al Allamah Rabi bin Hadi al Madkhali, berjudul : Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah fi Naqdir Rijal wal Kutub wath thowaif, cetakan kedua tahun 1413 H<br />
.<br />
MANHAJ ISLAM DAN PARA IMAM DALAM MENGKRITIK PERKATAAN DAN PERSON (PRIBADI)<br />
A. Alloh Subhanahu Wa Ta’ala memuji orang-orang yg beriman tanpa menyebutkan kejelekannya dan mencela orang-orang kafir an munafiq tanpa menyebutkan kebaikannya.<br />
Banyak sekali ayat ttg hal ini (pahala bagi yg beriman) yg jelas-jelas menyelesihi Manhaj Muwazanah, padahal setiap bani adam takluput dari kesalahan. Maka hikmah dari hal ini = menyebut kebaikan tanpa menyebut kejelekan mereka adl untuk menggerakkan hati setiap manusia agar meneladani mereka.<br />
Di sisi lain , Alloh mencela kaum lafirin &amp; munafiqin dalam ayatNya yg banyak tanpa menyebutkan kebaikan mereka sedikitpun, karena kekufuran dan kesesatan mereka telah merusak kebaikan-kebaikan mereka dan menjadikannya tidak bernilai sama sekali bagaikan debu beterbangan, “Dan Kami hadapi segala amal yg mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yg beterbangan (QS Al Furqan : 23)<br />
Demikian pula Alloh menceritakan ttg umat-umat terdahulu yg mendustakan para Rasul. Alloh sebutkan kekufuran mereka dan kebatilan mereka dan azab kehancuran mereka tanpa sedikitpun menyebutkan kebaikannya krn tujuan kisah ini sbg peringatan kpd umat-umat sesudahnya agar menjauhi perbuatan mereka.<br />
Lalu Alloh menyebut orang0orang Yahudi dan nashara dg sifat-sifat buruk pada mereka dan ancaman keras kpd mereka tanpa menyebutkan sedikitpun kebaikan mereka yg telah mereka hilangkan dg kekufuran dan pendustaan thd Rasululloh Shollollohu ‘alaihi wa sallam. Inilah manhaj Alloh Yang Maha Adil (maukah kaum muwazanah mengatakan Alloh tidak adil? Wa na’udzu billah)<br />
B.Peringatan Nabi Shollollohu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya dari Bahaya Ahli Bid’ah<br />
Nabi Shollollohu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan umatnya dari kejelekan Ahlul Bid’ah tanpa menyebutkan sedikitpun kebaikan mereka karena kebaikan mereka hilang nilainya karena kerusakan dan bahaya yg besar yg mereka timbulkan.<br />
Aisyah rodhiyallohu anha : Rasululloh Shollollohu ‘alaihi wa sallam membaca ayat : “Dia-lah yg menurunkan Al Kitab (Al-Qur’an) kpd kalian. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yg muhkamat, itulah pokok-pokok isi al Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang yg hatinya condong kepada kesesatan maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yg mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya. Padahal tidak ada yg tahu ta’wilnya kecuali Alloh. Dan orang-orang yg mendalam ilmunya berkata, “Kami beriman kpd ayat-ayat yg mutasyabihat, semua itu dari sisi Tuhan Kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yg berakal (QS Ali Imran : 7). Aisyah berkata, Rasululloh Shollollohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika Engkau melihat orang-orang ug mengikuti sebagian ayat-ayat yg mutasyabihat, mereka itulah yg disebut Alloh dalam kitabNya. MAKA AWASLAH DARI MEREKA.” (Muttafaq Alaih, shahih Bukhari 4547, Shahih Muslim 2665)<br />
Abu Hurairah radiyallohu anhu : Rasululloh Shollollohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan dating pada akhir umatku, orang-orang yg menyampaikan kepada kalian apa-apa yg tidak pernah kalian dengan dan tidak pernah didengar oleh bapak-bapak kalian, maka awaslah kalian dari mereka” (Shahih Muslim 1/12)…. Maksudnya ahli bid’ah.<br />
Padahal dimaklumi dalam diri ahli bid’ah ada kebaikan namun Rasululloh Shollollohu ‘alaihi wa sallam tidak menoleh sedikitpun kepada kebaikan mereka ahlu bid’ah dan tidak mnyebutkan sedikitpun dan beliau tidak katakana : ambillah manfaat dari kebaikan mereka dan sebutkanlah kebaikan mereka ketika mengkritiknya.”<br />
Lihatlah ketimpangan manhaj muwazanah ini yg memutar balikkan logika umat sehingga ada yg mengaku bermanhaj Salaf namun loyal dan membela ahli bid’ah dan mengkritik ahlus sunnah dg alas an keadilan. Wa inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’un.<br />
C. Sikap Para Sahabat dan Tabi’in Terhadap Ahli Bid’ah<br />
Ibnu Umar rodhiyallohu anhu berkata ttg kelompok Qodariyyah, “Jika engkau bertemu mereka, beritahukan bahwa Ibnu Umar berlepas diri dari mereka dan mereka berlepas diri dari Ibnu Umar (riwayat Shahih Muslim 1/140)<br />
Abu Qilabah, “Janganlah kalian duduk-duduk dg ahli ahwa (bid’ah) Karena aku khawatir mereka akan menjerumuskanmu ke dalam kesesatan mereka dan mengaburkan persepsi kalian terhadap mereka (Syarhus Sunnah, Imam Baghowi 1/227).<br />
Lihatlah 2 sikap tegas dari para sahabat dan tabiin dan para Imam Mazhab terhadap ahli bid’ah. Mereka memperingatkan umat dari kejelekan ahli bid’ah tanpa sedikitpun menyebutkan kebaikan mereka, sesuai pemahaman terhadap kaidah-kaidah Islam : “Menjauhkan mafsadah (kerusakan) didahulukan atas mendatangkan mashlahat”<br />
D. Nabi menyebutkan aib orang-orang tertentu tanpa menyebutkan kebaikan mereka sebagai nasehat.<br />
1.Aisyah meriwayatkan seorang laki-laki meminta izin bertemu Rasululloh. Saat melihat orang itu Rasul bersabda, “Dia adalah sejelek-jelek kerabat.” Ketika dia duduk, Nabi bermuka manis dan bersikap ramah. Ketika orang itu pergi, Aisyah bertanya ttg sikap Rasul tsb. Rasul bersabda, “Wahai Aisyah, kapan engkau melihatku berbuat keji? Sesungguhnya sejelek-jelek derajat manusia di sisi Alloh adalah orang ditinggalkan oleh manusia Karen atakut kepada kejelekannya.” (shahih Bukhari 6032)<br />
Imam al Qurthubi berkata hadits ini menunjukkan bolehnya ghibah thd mereka yg terang-terangan berbuat kefasikan, kemaksiatan atau semisalnya dari kecurangan dalam menghukumi dan seruan kepada kebid’ahan dan bolehnya bersikap mudarah (membujuk) thd mereka dan menjauhi bahaya kejelekan mereka selama tidak membawa kepada sikap menjilat dalam agama Alloh (Fathul Bari 10/452)<br />
2. Saat Fatimah bintu Qois selesai iddah dia dipinang Mu’awiyyah bin Abi Sufyan dan Abu Jahm mk Rasul berkata, “Adapun Abu Jahm maka dia laki-laki yg tidka pernah meletakkan tongkat dari pundaknya (ringan tangan) adapun Mu’awiyyah dia seorang yg miskin maka menikahlah dg Usamah bin Zaid” (Shahih Muslim 1480).<br />
Tak diragukan lagi bhw Mu’awiyyah dan Abu Jahm memiliki banyak keutamaan dan keunggulan (sebagai sahabat nabi) tetapi Nabi tidak menyebutkan kebaikannya sedikitpun karena yg diminta Fatimah adalah nasehat dan saran Nabi Shollollohu ‘alaihi wa sallam thd yg meminangnya itu.<br />
Maka para pencetus Manhaj Muwazanah, maka mereka mewajibkan menyebutkan kebaikan, yg akan membuat bingung orang yg meminta nasehat. Lihatlah manhaj yg menyelisihi manhaj Nabi ini.<br />
3. Hindun bintu Utbah pernah mengadu atas kejelekan yakni kepelitan suaminya Abu Sufyan maka Nabi mengatakan agar dia mengambil seperlu kebutuhan dirinya dan anak-anaknya.” (Muttafaq alaih Bukhari 3564, Muslim 1714)<br />
Al Hafidz Ibnu Hajar berkata, “Hadits ini menjelaskan bolehnya menyebutkan seorang dg sifat yg tidak disukainya dg tujuan meminta nasehat atau fatwa, mengadu dan semisalnya. Dan inilah ghibah yg diperbolehkan (Fathul Bari 9/509).. Lihatlah Nabi tidka mengingkari Hindun yg menyebutkan kejelekan suaminya tanpa sedikitpun menjelaskan kebaikannya yg sangat banyak…. Lihatlah lagi ketimpangan Manhaj Muwazanah yg menuduh ulama salaf tidak adil dan khianat. Akankah tuduhan ini mereka sematkan kepada Nabi dan Para Sahabat?<br />
E. Kritikan Para Imam Terhadap Ahli Bid’ah dan Para Perawi<br />
Banyak sekali kita dapatkan riwayat para Imam menkritik dg kritik yg keras dan tegas terhadap ahli bid’ah tanpa sedikitpun menyebutkan kebaikannya, yakni mewajibkan muwazanah sbgmn penganut faham ini. Mereka menulis kitab Jahr wa Ta’dil, kitab sunnah dan kitab pembelaan thd sunnah dan bantahannya terhadap ahli bid’ah, kitab-kitab ttg hadits palsu dan lemah &amp; mereka sedikitpun tidak mewajibkan muwazanah dalam kitab-kitab mereka tsb. Khususnya dalam kitab Jahr (celaan) mereka.<br />
.<br />
SYUBHAT MANHAJ MUWAZANAH DAN BANTAHANNYA<br />
Mereka berdalil : “Di antara Ahli Kitab ada yg jika kamu mempercayakan kpdnya harta yg banyak, dikemballikan kepadamu dan di antara mereka jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikan padamu kecuali jika kamu selalu menagihnya” (QS Ali Imran : 75)… katanya ini bukti Alloh mendahulukan pujian pada mereka.<br />
Bantahannya : Syaikhuna Al Allamah Rabi bin Hadi membantahnya dg :<br />
1.	Tidak ada satupun ulama yg menafsirkan demikian ayat ini sebagaimana yg dikehendaki manhaj ini sebagai dalil muwazanah. Suatu tafsir yg batil.<br />
2.	Para Ulama ahli Tafsir menjelaskan bhw ayat ini sebagai peringatan kepada umat Islam atas kejelekan ahli kitab. Imam Qurthubi menafsirkan, “Alloh mengabarkan bahwa di antara ahli kitab ada yg amanat dan ada pula yg khianat, sedangkan orang yg beriman tidak bisa memilah-milah mereka (yakni tidak tahu mana yg khianat dan mana yg amanah) maka selayaknya (wajib) menjauhi mereka.”<br />
3.	Dalam kitab dan sunnah banyak sekali celaan kepada Ahli Kitab yang tidak menyebutkan kebaikan dan kejelekan mereka sekaligus, seperti : “Dan janganlah kamu campur adukkan yg haq dg yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yg baik itu sedang kamu mengetahuinya (QS : 2 : 42) dan “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Alloh…dst (QS : At-Taubah 31)… maka dimanakah Manhaj Muwazanah dalam ayat ini?<br />
Maka sungguh, penetapan manhaj muwazanah yg bid’ah ini akan membuka pintu ahli kitab, komunis, rasionalis untuk menyerang umat Islam, mencela Alloh dan rasulNya dan apa yg ditulis para ulama dalam mengkritik kelompok-kelompok sesat dalam masalah Jahr wa Ta’dil. Inilah bukti kebathilan Manhaj Muwazanah (Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah fi Naqdir Rijal wal Kutub wath Thowaif hal.49-51)<br />
.<br />
FATWA PARA ULAMA TENTANG MANHAJ MUWAZANAH<br />
1. Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz rahimahullah<br />
	Ada seorang bertanya kepada Syaikh Bin Baaz, “Ada orang yg mewajibkan muwazanah yakni jika engkau mengkritik seorang ahli bid’ah mala wajib atasmu untuk menyebutkan kebaikannya agar engkau tidak mengzhaliminya.”<br />
	Jawab Samahatusy Syaikh, “Tidak! Hal itu tidak harus! Karena inilah jika engkau melihat kitab-kitab ahlus sunnah maka engkau akan mendapati apa yg dimaksud yaitu Tahdzir. Bacalah Kitab Bukhari Kholqu Af’alil Ibad dan Kitabul Adab dari Shahihnya, Kitab As-Sunnah oleh Abdullah bin Ahmad bin Hambal, Kitab Tauhid oleh Ibnu Khuzaimah, Bantahan Utsman bin Said ad-Darimi kepada Ahli Bid’ah…. Dll. Mereka tulis kitab-kitab ini sebagai peringatan kepada setiap muslim dari kebathilan ahli bid’ah dan bukan bertujuan memaparkan kebaikan-kebaikan mereka… maka yg dimaksud adalah peringatan kepada setiap muslim dari kebathilan mereka. Sedang kebaikan mereka tidak ada nilainya sama sekali bagi yang kafir dari mereka. Jika kebid’ahan mereka adalah bid’ah yg mengkafirkan pelakunya maka hapuslah kebaikannya. Dan jika bid’ahnya belum  mengkafirkannya maka dia berada dalam bahaya, maka yg dimaksud adalah penjelasan kesalahan mereka untuk dihindari dan dijauhi.” (dari kaset Ta’lim Syaikh Abdul Aziz di Thoif 1413H, ditulis Syaikh Rabi di halaman 9)<br />
2. Syaikh Al-Allamah Shalih bin Fauzan al-Fauzan<br />
	Seseorang bertanya kepada beliau setelah beliau ditanya tentang beberapa pertanyaan mengenai kelompok-kelompok Islam, “Baik ya Syaikh, apakah engkau memperingatkan manusia dari mereka tanpa menyebutkan kebaikan mereka atau engkau sebutkan kebaikan dan kejelekan mereka secara bersamaan?”<br />
	Fadhilatusy Syaikh menjawab, “Jika engkau menyebut kebaikan mereka berarti engkau mengajak manusia kepada mereka. TIDAK! JANGAN ENGKAU SEBUT KEBAIKAN MEREKA! TETAPI SEBUTKAN KESALAHAN MEREKA SAJA KARENA TUGASMU BUKANLAH UNTUK MEMPELAJARI KEADAAN MEREKA DAN MENILAINYA..tetapi tugasmu adalah MENYEBUT KESALAHAN YG ADA PADA MEREKA AGAR MEREKA BERTAUBAT DARINYA DAN AGAR YG SELAIN MEREKA MENJAUHI KESALAHAN MEREKA. Demikian juga kesalahan yg ada pada mereka bis ajadi menghilangkan kebaikan mereka semuanya jika kesalahan itu berupa kekufuran atau kesyirikan. Bisa jadi mengalahkan kebaikan mereka. Dan bisa jadi itu adalah kebaikan menurut pandanganmu padahal sebenarnya bukanlah kebaikan di sisi Alloh.” (Ajwibah Mufidah ‘an As’ilatil Manahijil Jadidah hal.13-14)<br />
3. Syaikh Al Allamah Muhadditsin Muhammad Nashiruddin Al-Albani.<br />
	Saat ditanya manhaj muwazanah, Syaikh Albani berkata : “INI ADALAH CARA-CARA AHLI BID’AH. Ketika seorang ahli Hadits menilai seorang rawi yg shalih atau alim atau faqih dengan perkataannya : ‘Fulan jelek hafalannya’ apakah dia juga mengatakan dia adalah seorang muslim atau seorang yg shalih atau seorang yg faqif atau seorang yg diambil dalam istinbath hukumnya? Allohu Akbar! Pada hakikatnya, kaidah yang terdahulu (yakni kaidah : setiap kebaikan adalah dlaam ittiba kepada Salaf) adalah kaidah yg sangat penting sekali yg mencakup cabang-cabang yang banyak khususnya paa zaman ini…. Dari mana mereka (pemilik manhaj muwazanah) mendapatkan dalil yg mengatakan jika seseorang hendak menjelaskan kesalahan seseorang muslim-jika dia adalah seorang da’I (ulama) atau bukan- maka wajib bagi dia melakukan ceramah yang menjelaskan kebaikan orang tadi dari awal sampai akhir. Allohu Akbar! Ini adalah sesuatu yang aneh. Demi Alloh, ini adalah sesuatu yang aneh…. (silsilatul Huda wan Nur kaset no. 850 sebagaimana dalam Nashrul Aziz oleh Syaikhuna Al-Allamah Rabi bin Hadi hal 96-97)<br />
.<br />
PENUTUP<br />
1. Apa yg didakwahkan dari wajibnya memakai manhaj muwazanah dalam mengkritik person, tulisan dan kelompok adalah Dakwah yg tidak ada dalilnya dari Kitab dan Sunnah dan Manhaj ini adalah Manhaj yg Gharib (asing) dan Bid’ah.<br />
2. Ulama Salaf (Para Sahabat, Tabiin, Tbiut Tabiin dan Imam Mazhab serta Ahli Hadiits) tidka pernah memakai manhaj muwazanah ini dalam hal mengkritik…<br />
3. Wajib memperingatkan umat dari bid’ah dan ahlinya dengan kesepakatan para Ulama dan kaum muslimin dan boleh bahkan wajib menyebutkan kebid’ahan merka dan menjauhkan manusia dari mereka.<br />
4. Para Ulama Salaf telah menulis kitab-kitab dalam Jahr wa Ta’dil dan kitab-kitab yg khusus dalam Jahr saja yg jumlahnya sangat banyak dan mereka tidak ada seorangpun yang mewajibkan atau mengsunnahkan muwazanah, bahkan mereka mewajibkan Jahr saja.<br />
5. Para Ulama telah menulis kitab-kitab tentang sunnah dan bantahan kepada bid’ah dan ahlinya tanpa memakai manhaj muwazanah.<br />
6. Manhaj Salagf dilandaskan atas mashlahat dan nasihat kepada umat.<br />
7. Manhaj Salaf adalah benteng yg teguh di dalam melindungi kaum muslimin dari bahaya dan maker ahli bid’ah<br />
8. Manhaj Muwazanah membuka pintu bagi ahli bid’ah untuk merusak aqidah kaum muslimin dan melancarkan berbagai fitnah/syubhat kepada kaum muslimin.<br />
9. Wajib bagi setiap muslim mewaspadai pemikiran ini agar tidak diragukan thd Islam dan Manhaj yg Haq yakni Manhajnya Nabi Shollollohu ‘alaihi wa sallam beserta para Sabahatnya dan mereka yg mengikuti mereka.<br />
Barakallahu laka…….<br />
(catt : contoh sederhana, jika kita ingin menjelaskan paham komunis kepada masyarakat agar menjauhinya maka kita akan jelaskan kesesatannya tanpa sedikitpun menjelaskan kebaikannya… dan lihatlah para pengkritik pemerintah, apakah pernah mereka memakai manhaj muwazanah saat berdemo?..lihatlah mereka yg bermanhaj ini menetang sendiri manhaj mereka… Allohu Akbar!)…</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

