Fathu Makkah: Pelajaran dari Penaklukan Kota Mekkah


Episode berikutnya dalam sejarah kemenangan kaum muslimin di bawah bimbingan kenabian yang terjadi di bulan Ramadhan adalah Fathu Makkah (penaklukan kota Mekkah). Peristiwa ini terjadi pada tahun delapan Hijriyah. Dengan peristiwa ini, Allah menyelamatkan kota Makkah dari belenggu kesyirikan dan kedhaliman, menjadi kota bernafaskan Islam, dengan ruh tauhid dan sunnah. Dengan peristiwa ini, Allah mengubah kota Makkah yang dulunya menjadi lambang kesombongan dan keangkuhan menjadi kota yang merupakan lambang keimanan dan kepasrahan kepada Allah ta’ala.

Sebab Terjadinya Fathu Makkah

Diawali dari perjanjian damai antara kaum muslimin Madinah dengan orang musyrikin Quraisy yang ditandatangani pada nota kesepakatan Shulh Hudaibiyah pada tahun 6 Hijriyah. Termasuk diantara nota perjanjian adalah siapa saja diizinkan untuk bergabung dengan salah satu kubu, baik kubu Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dan kaum muslimin Madinah atau kubu orang kafir Quraisy Makkah. Maka, bergabunglah suku Khuza’ah di kubu Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dan suku Bakr bergabung di kubu orang kafir Quraisy. Padahal, dulu di zaman Jahiliyah, terjadi pertumpahan darah antara dua suku ini dan saling bermusuhan. Dengan adanya perjanjian Hudaibiyah, masing-masing suku melakukan gencatan senjata. Namun, secara licik, Bani Bakr menggunakan kesempatan ini melakukan balas dendam kepada suku Khuza’ah. Bani Bakr melakukan serangan mendadak di malam hari pada Bani Khuza’ah ketika mereka sedang di mata air mereka. Secara diam-diam, orang kafir Quraisy mengirimkan bantuan personil dan senjata pada Bani Bakr. Akhirnya, datanglah beberapa orang diantara suku Khuza’ah menghadap Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam di Madinah. Mereka mengabarkan tentang pengkhianatan yang dilakukan oleh orang kafir Quraisy dan Bani Bakr.

Karena merasa bahwa dirinya telah melanggar perjanjian, orang kafir Quraisy pun mengutus Abu Sufyan ke Madinah untuk memperbarui isi perjanjian. Sesampainya di Madinah, dia memberikan penjelasan panjang lebar kepada Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, namun beliau tidak menanggapinya dan tidak memperdulikannya. Akhirnya Abu Sufyan menemui Abu Bakar dan Umar radliallahu ‘anhuma agar mereka memberikan bantuan untuk membujuk Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam. Namun usahanya ini gagal. Terakhir kalinya, dia menemui Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu agar memberikan pertolongan kepadanya di hadapan Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam. Untuk kesekian kalinya, Ali pun menolak permintaan Abu Sufyan. Dunia terasa sempit bagi Abu Sufyan, dia pun terus memelas agar diberi solusi. Kemudian, Ali memberikan saran, “Demi Allah, aku tidak mengetahui sedikit pun solusi yang bermanfaat bagimu. Akan tetapi, bukankah Engkau seorang pemimpin Bani Kinanah? Maka, bangkitlah dan mintalah sendiri perlindungan kepada orang-orang. Kemudian, kembalilah ke daerahmu.”

Abu Sufyan berkata,
“Apakah menurutmu ini akan bermanfaat bagiku?”

Ali menjawab,
“Demi Allah, aku sendiri tidak yakin, tetapi aku tidak memiliki solusi lain bagimu.”

Abu Sufyan kemudian berdiri di masjid dan berkata,
“Wahai manusia, aku telah diberi perlindungan oleh orang-orang!”
Lalu dia naik ontanya dan beranjak pergi.

Dengan adanya pengkhianatan ini, Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam memerintahkan para shahabat untuk menyiapkan senjata dan perlengkapan perang. Beliau mengajak semua shahabat untuk menyerang Makkah. Beliau barsabda, “Ya Allah, buatlah Quraisy tidak melihat dan tidak mendengar kabar hingga aku tiba di sana secara tiba-tiba.”

Dalam kisah ini ada pelajaran penting yang bisa dipetik, bahwa kaum muslimin dibolehkan untuk membatalkan perjanjian damai dengan orang kafir. Namun pembatalan perjanjian damai ini harus dilakukan seimbang. Artinya tidak boleh sepihak, tetapi masing-masing pihak tahu sama tahu. Allah berfirman,

وَإِمَّا تَخَافَنَّ مِنْ قَوْمٍ خِيَانَةً فَانْبِذْ إِلَيْهِمْ عَلَى سَوَاءٍ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْخَائِنِينَ

“Jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan sama-sama tahu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.” (Qs. Al Anfal: 58)

Kisah Hatib bin Abi Balta’ah radhiyallahu ‘anhu

Untuk menjaga misi kerahasiaan ini, Rasulullah mengutus satuan pasukan sebanyak 80 orang menuju perkampungan antara Dzu Khasyab dan Dzul Marwah pada awal bulan Ramadhan. Hal ini beliau lakukan agar ada anggapan bahwa beliau hendak menuju ke tempat tersebut. Sementara itu, ada seorang shahabat Muhajirin, Hatib bin Abi Balta’ah menulis surat untuk dikirimkan ke orang Quraisy. Isi suratnya mengabarkan akan keberangkatan Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam menuju Makkah untuk melakukan serangan mendadak. Surat ini beliau titipkan kepada seorang wanita dengan upah tertentu dan langsung disimpan di gelungannya. Namun, Allah Dzat Yang Maha Melihat mewahyukan kepada NabiNya tentang apa yang dilakukan Hatib. Beliau-pun mengutus Ali dan Al Miqdad untuk mengejar wanita yang membawa surat tersebut.

Setelah Ali berhasil menyusul wanita tersebut, beliau langsung meminta suratnya. Namun, wanita itu berbohong dan mengatakan bahwa dirinya tidak membawa surat apapun. Ali memeriksa hewan tunggangannya, namun tidak mendapatkan apa yang dicari. Ali radhiyallahu ‘anhu berkata,

“Aku bersumpah demi Allah, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam tidak bohong. Demi Allah, engkau keluarkan surat itu atau kami akan menelanjangimu.”

Setelah tahu kesungguhan Ali radhiyallahu ‘anhu, wanita itupun menyerahkan suratnya kepada Ali bin Abi Thalib.

Sesampainya di Madinah, Ali langsung menyerahkan surat tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam. Dalam surat tersebut tertulis nama Hatib bin Abi Balta’ah. Dengan bijak Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam menanyakan alasan Hatib. Hatib bin Abi Balta’ah pun menjawab:

“Jangan terburu menuduhku wahai Rasulullah. Demi Allah, aku orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya. Aku tidak murtad dan tidak mengubah agamaku. Dulu aku adalah anak angkat di tengah Quraisy. Aku bukanlah apa-apa bagi mereka. Di sana aku memiliki istri dan anak. Sementara tidak ada kerabatku yang bisa melindungi mereka. Sementara orang-orang yang bersama Anda memiliki kerabat yang bisa melindungi mereka. Oleh karena itu, aku ingin ada orang yang bisa melindungi kerabatku di sana.”

Dengan serta merta Umar bin Al Khattab menawarkan diri,

“Wahai Rasulullah, biarkan aku memenggal lehernya, karena dia telah mengkhianati Allah dan RasulNya serta bersikap munafik.”

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dengan bijak menjawab,
“Sesungguhnya Hatib pernah ikut perang Badar… (Allah berfirman tentang pasukan Badar): Berbuatlah sesuka kalian, karena kalian telah Saya ampuni.”

Umar pun kemudian menangis, sambil mengatakan, “Allah dan rasulNya lebih mengetahui.”

Demikianlah maksud hati Hatib. Beliau berharap dengan membocorkan rahasia tersebut bisa menarik simpati orang Quraisy terhadap dirinya, sehingga mereka merasa berhutang budi terhadap Hatib. Dengan keadaan ini, beliau berharap orang Quraisy mau melindungi anak dan istrinya di Makkah. Meskipun demikian, perbuatan ini dianggap sebagai bentuk penghianatan dan dianggap sebagai bentuk loyal terhadap orang kafir karena dunia. Tentang kisah shahabat Hatib radhiyallahu ‘anhu ini diabadikan oleh Allah dalam firmanNya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ أَنْ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan musuhKu dan musuhmu sebagai teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang, padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah….” (Qs. Al Mumtahanah: 1)

Satu pelajaran penting yang bisa kita ambil dari kisah Hatib bin Abi Balta’ah radhiyallahu ‘anhu adalah bahwa sesungguhnya orang yang memberikan loyalitas terhadap orang kafir sampai menyebabkan ancaman bahaya terhadap Islam, pelakunya tidaklah divonis kafir, selama loyalitas ini tidak menyebabkan kecintaan karena agamanya. Pada ayat di atas, Allah menyebut orang yang melakukan tindakan semacam ini dengan panggilan, “Hai orang-orang yang beriman……” Ini menunjukkan bahwa status mereka belum kafir.

Pasukan Islam Bergerak Menuju Makkah

Kemudian, beliau keluar Madinah bersama sepuluh ribu shahabat yang siap perang. Beliau memberi Abdullah bin Umi Maktum tugas untuk menggantikan posisi beliau di Madinah. Di tengah jalan, beliau bertemu dengan Abbas, paman beliau bersama keluarganya, yang bertujuan untuk berhijrah dan masuk Islam. Kemudian, di suatu tempat yang disebut Abwa’, beliau berjumpa dengan sepupunya, Ibnul Harits dan Abdullah bin Abi Umayah. Ketika masih kafir, dua orang ini termasuk diantara orang yang permusuhannya sangat keras terhadap Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam. Dengan kelembutannya, Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam menerima taubat mereka dan masuk Islam.

Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda tentang Ibnul Harits radhiyallahu ‘anhu, “Saya berharap dia bisa menjadi pengganti Hamzah -radhiyallahu ‘anhu-”.

Setelah beliau sampai di suatu tempat yang bernama Marra Dhahraan, dekat dengan Makkah, beliau memerintahkan pasukan untuk membuat obor sejumlah pasukan. Beliau juga mengangkat Umar radhiyallahu ‘anhu sebagai penjaga.

Malam itu, Abbas berangkat menuju Makkah dengan menaiki bighal (peranakan kuda dan keledai) milik Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam. Beliau mencari penduduk Makkah agar mereka keluar menemui Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dan meminta jaminan keamanan, sehingga tidak terjadi peperangan di negeri Makkah. Tiba-tiba Abbas mendengar suara Abu Sufyan dan Budail bin Zarqa’ yang sedang berbincang-bincang tentang api unggun yang besar tersebut.

“Ada apa dengan dirimu, wahai Abbas?” tanya Abu Sufyan

“Itu Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam di tengah-tengah orang. Demi Allah, amat buruklah orang-orang Quraisy. Demi Allah, jika beliau mengalahkanmu, beliau akan memenggal lehermu. Naiklah ke atas punggung bighal ini, agar aku dapat membawamu ke hadapan Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, lalu meminta jaminan keamanan kepada beliau!” jawab Abbas.

Maka, Abu Sufyan pun naik di belakangku. Kami pun menuju tempat Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam. Ketika melewati obornya Umar bin Khattab, dia pun melihat Abu Sufyan. Dia berkata,

“Wahai Abu Sufyan, musuh Allah, segala puji bagi Allah yang telah menundukkan dirimu tanpa suatu perjanjian-pun. Karena khawatir, Abbas mempercepat langkah bighalnya agar dapat mendahului Umar. Mereka pun langsung masuk ke tempat Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam.

Setelah itu, barulah Umar masuk sambil berkata, “Wahai Rasulullah, ini Abu Sufyan. Biarkan aku memenggal lehernya.”

Abbas pun mengatakan, “Wahai Rasulullah, aku telah melindunginya.”

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Kembalilah ke kemahmu wahai Abbas! Besok pagi, datanglah ke sini!”

Esok harinya, Abbas bersama Abu Sufyan menemui Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam. Beliau bersabda,”Celaka wahai Abu Sufyan, bukankah sudah tiba saatnya bagimu untuk mengetahui bahwa tiada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah?”

Abu Sufyan mengatakan,
“Demi ayah dan ibuku sebagai jaminanmu. Jauh-jauh hari aku sudah menduga, andaikan ada sesembahan selain Allah, tentu aku tidak membutuhkan sesuatu apa pun setelah ini.”

Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,”Celaka kamu wahai Abu Sufyan, bukankah sudah saatnya kamu mengakui bahwa aku adalah utusan Allah?”

Abu Sufyan menjawab,”Demi ayah dan ibuku sebagai jaminanmu, kalau mengenai masalah ini, di dalam hatiku masih ada sesuatu yang mengganjal hingga saat ini.”

Abbas menyela, “Celaka kau! Masuklah Islam! Bersaksilah laa ilaaha illa Allah, Muhammadur Rasulullah sebelum beliau memenggal lehermu!”

Akhirnya Abu Sufyan-pun masuk Islam dan memberikan kesaksian yang benar.

Tanggal 17 Ramadhan 8 H, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam meninggalkan Marra Dzahran menuju Makkah. Sebelum berangkat, beliau memerintahkan Abbas untuk mengajak Abu Sufyan menuju jalan tembus melewati gunung, berdiam di sana hingga semua pasukan Allah lewat di sana. Dengan begitu, Abu Sufyan bisa melihat semua pasukan kaum muslimin. Maka Abbas dan Abu Sufyan melewati beberapa kabilah yang ikut gabung bersama pasukan kaum muslimin. Masing-masing kabilah membawa bendera. Setiap kali melewati satu kabilah, Abu Sufyan selalu bertanya kepada Abbas, “Kabilah apa ini?” dan setiap kali dijawab oleh Abbas, Abu Sufyan senantiasa berkomentar, “Aku tidak ada urusan dengan bani Fulan.”

Setelah agak jauh dari pasukan, Abu Sufyan melihat segerombolan pasukan besar. Dia lantas bertanya, “Subhanallah, wahai Abbas, siapakah mereka ini?”

Abbas menjawab: “Itu adalah Rasulullah bersama muhajirin dan anshar.”

Abu Sufyan bergumam, “Tidak seorang-pun yang sanggup dan kuat menghadapi mereka.”

Abbas berkata: “Wahai Abu Sufyan, itu adalah Nubuwah.”

Bendera Anshar dipegang oleh Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu. Ketika melewati tempat Abbas dan Abu Sufyan, Sa’ad berkata,
“Hari ini adalah hari pembantaian. Hari dihalalkannya tanah al haram. Hari ini Allah menghinakan Quraisy.”

Ketika ketemu Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, perkataan Sa’ad ini disampaikan kepada Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam. Beliau pun menjawab,

“Sa’ad keliru, justru hari ini adalah hari diagungkannya Ka’bah dan dimuliakannya Quraisy oleh Allah.”

Kemudian, Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam memerintahkan agar bendera di tangan Sa’d diambil dan diserahkan kepada anaknya, Qois. Akan tetapi, ternyata bendera itu tetap di tangan Sa’d. Ada yang mengatakan bendera tersebut diserahkan ke Zubair dan ditancapkan di daerah Hajun.

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam melanjutkan perjalanan hingga memasuki Dzi Thuwa. Di sana Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam menundukkan kepalanya hingga ujung jenggot beliau yang mulia hampir menyentuh pelana. Hal ini sebagai bentuk tawadlu’ beliau kepada Sang Pengatur alam semesta. Di sini pula, beliau membagi pasukan. Khalid bin Walid ditempatkan di sayap kanan untuk memasuki Makkah dari dataran rendah dan menunggu kedatangan Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam di Shafa. Sementara Zubair bin Awwam memimpin pasukan sayap kiri, membawa bendera Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dan memasuki Makkah melalui dataran tingginya. Beliau perintahkan agar menancapkan bendera di daerah Hajun dan tidak meninggalkan tempat tersebut hingga beliau datang.

Kemudian, Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam memasuki kota Makkah dengan tetap menundukkan kepala sambil membaca firman Allah:

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا

“Sesungguhnya kami memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.” (Qs. Al Fath: 1)

Beliau mengumumkan kepada penduduk Makkah,
“Siapa yang masuk masjid maka dia aman, siapa yang masuk rumah Abu Sufyan maka dia aman, siapa yang masuk rumahnya dan menutup pintunya maka dia aman.”

Beliau terus berjalan hingga sampai di Masjidil Haram. Beliau thawaf dengan menunggang onta sambil membawa busur yang beliau gunakan untuk menggulingkan berhala-berhala di sekeliling Ka’bah yang beliau lewati. Saat itu, beliau membaca firman Allah:

جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

“Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (Qs. Al-Isra’: 81)

جَاءَ الْحَقُّ وَمَا يُبْدِئُ الْبَاطِلُ وَمَا يُعِيدُ

“Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi.” (Qs. Saba’: 49)

Kemudian, Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam memasuki Ka’bah. Beliau melihat ada gambar Ibrahim bersama Ismail yang sedang berbagi anak panah ramalan.

Beliau bersabda, “Semoga Allah membinasakan mereka. Demi Allah, sekali-pun Ibrahim tidak pernah mengundi dengan anak panah ini.”

Kemudian, beliau perintahkan untuk menghapus semua gambar yang ada di dalam Ka’bah. Kemudian, beliau shalat. Seusai shalat beliau mengitari dinding bagian dalam Ka’bah dan bertakbir di bagian pojok-pojok Ka’bah. Sementara orang-orang Quraisy berkerumun di dalam masjid, menunggu keputusan beliau shallallahu ‘alahi wa sallam.

Dengan memegangi pinggiran pintu Ka’bah, beliau bersabda:

“لا إِله إِلاَّ الله وحدَّه لا شريكَ له، لَهُ المُلْكُ وله الحمدُ وهو على كَلِّ شَيْءٍ قديرٌ، صَدَقَ وَعْدَه ونَصرَ عَبْدَه وهَزمَ الأحزابَ وحْدَه

“Wahai orang Quraisy, sesungguhnya Allah telah menghilangkan kesombongan jahiliyah dan pengagungan terhadap nenek moyang. Manusia dari Adam dan Adam dari tanah.”

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Wahai orang Quraisy, apa yang kalian bayangankan tentang apa yang akan aku lakukan terhadap kalian?”

Merekapun menjawab, “Yang baik-baik, sebagai saudara yang mulia, anak dari saudara yang mulia.”

Beliau bersabda,
“Aku sampaikan kepada kalian sebagaimana perkataan Yusuf kepada saudaranya: ‘Pada hari ini tidak ada cercaan atas kalian. Allah mengampuni kalian. Dia Maha penyayang.’ Pergilah kalian! Sesungguhnya kalian telah bebas!”

Pada hari kedua, Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam berkhutbah di hadapan manusia. Setelah membaca tahmid beliau bersabda,

“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan Makkah. Maka tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menumpahkan darah dan mematahkan batang pohon di sana. Jika ada orang yang beralasan dengan perang yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, maka jawablah: “Sesungguhnya Allah mengizinkan RasulNya shallallahu ‘alahi wa sallam dan tidak mengizinkan kalian. Allah hanya mengizinkan untukku beberapa saat di siang hari. Hari ini Keharaman Makkah telah kembali sebagaimana keharamannya sebelumnya. Maka hendaknya orang yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir.”

Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam diizinkan Allah untuk berperang di Makkah hanya pada hari penaklukan kota Makkah dari sejak terbit matahari hingga ashar. Beliau tinggal di Makkah selama sembilan hari dengan selalu mengqashar shalat dan tidak berpuasa Ramadhan di sisa hari bulan Ramadhan.

Sejak saat itulah, Makkah menjadi negeri Islam, sehingga tidak ada lagi hijrah dari Makkah menuju Madinah.

Demikianlah kemenangan yang sangat nyata bagi kaum muslimin. Telah sempurna pertolongan Allah. Suku-suku arab berbondong-bondong masuk Islam. Demikianlah karunia besar yang Allah berikan.

***

Penulis: Ammi Nur Baits
Artikel www.muslim.or.id

  • si miskin ilmu

    Jazakumullah khairan, alhamdulillah saya jadi tambah ngerti

  • manis

    mudah2an saya memahami dgn…

  • zulhelmi

    salam…..jazakAllah khair atas huraian sirah ini….
    banyak manfaat..

  • H Ridwan Husen

    trimakasih semuanya mudah2an bermampaat buat orang yang sedang belajar

  • risdiyanto

    alhamdulillah ya robbal ‘alamin. telah Kau ciptakan sepasang mata dan satu mulut bagi ku. Stlh membaca artikel yg lumayan pnjg ni,saya jd tmbh tau ttg sejarah islam. dan kebetulan ini sbg jawaban dr QS. Ar Ra’d ayat 31. yg disbtkan adanya penaklukan kota mekkah. terus trg saya blm bs memamahi ayat it. atau mgkn stlh comment ini ada yg mau menambahkan penjelasan ttg ayat diatas. terima ksh wassalamualaikum wr wb.

  • abu salma

    alhamdulillah ana jd tau tntg sjrh islam mudah2an ini brmanfaat

  • Abu Hanif Agusral Siregar al-BAtaki as-Sumbari

    artikel ini dapat menambah wawasanku.

  • Dicky Budi Prasetyo

    Alhamdullillah wa la haula wala quwata illa billah
    Maha suci Allah yang telah membawa kaum muslimin menemukan kemenangannya dan Insya Allah kisah ini menjadikan kita lebih tawadhu dan meningkatkan taqwa kita kita dihadapan Allah Ta’ala di yaumil qiyamah nanti.
    Jazakummulahu

    IKHWAN

  • afni

    akhamdulillah saya jadi lebih paham dengan masalah agama setelah membaca beberapa artikel muslim.

  • http://www.gmail.com Fahrul

    Sungguh luar biasa kisah shahih ini yang banyak mengandung manfaat yang dapat diambil.

  • Asha

    Mohon pembahasan detail tentang SEJARAH ISLAM dan KISAH-KISAH yang berhubungan dengan Rasululloh Shollallohu ‘Alayhi wa Sallam + para Shohabat diperbanyak.

    SANGAT PENTING, SANGAT ANA BUTUHKAN, SANGAT BERMANFAAT.

    JAZAAKUMULLOHU KHOYRON.

  • http://www.yahoo.com Abdullah

    Semoga maju terus umat Islam dg memperhatikan sejarah para nabi

  • Giri

    Jazakallah khoiron tadz. Sungguh kemenangann yang nyata..

  • Pingback: Fathu Makkah: Pelajaran dari Penaklukan Kota Mekkah | Masjid Al-Amin Korea

  • hafidz fauzi basyir

    jazakumullahu khoiron

  • http://Ulungbudicahyanto@gmail.com Ulungbudicahyanto

    Alhamdulillah… Smoga bermamfaat.

  • http://yahoo.com andika iqbal maulana

    ALLAHU AKBAR,. ALLAHUma Shalli alaa Muhammad wa alaa alii Muhammad Kamaa Shalaita alaa Ibrahim wa alaa alii Ibrahim InnaKA Hamidum Majid,. ALLAHUma Baarik alaa Muhammad wa alaa alii Muhammad Kamaa Shalaita alaa Ibrahim wa alaa alii Ibrahim InnaKA Hamidum Majid

  • abdulah

    assalamualaikum
    ada sebagian sodara kita tentang Kisah Hatib bin Abi Balta’ah radhiyallahu ‘anhu sebagai dalil yang mengatakan bahwa ketika penulis kitab dzikir almatsurat yang didalamnya terdapat bid’ah-bid’ah dikritik kemudian mereka yang membela penulis kitab tersebut(Hasan Al Banna)mengatakan :wajib bagi siapa aja yang mengkriritk penulis tersebut juga wajib menyebutkan kebaikan-kebaikan atau jasanya terhadap umat islam sebagai bentuk keadilan, gimana ustad cara menyikapinya, tolong dijawab…

  • Abu Muhammad Naufal Zaki

    Yang ana tahu. . ini dikenakan kpd ulama ahlus sunnah. . . adapun ahlu bid’ah tdk berlaku kaidah tsb. . . bisa juga di baca ttg Kaidah Muhazanah ini di majalah al furqon. . . bagus sekali isinya. . .
    KETIMPANGAN MANHAJ MUWAZANAH
    Dinukil dari majalah Al Furqon ed 8 th III Jumadil Awwal 1425H oleh Arif Fathul Ulum, setelah menjelaskan : Membantah ahli bid’ah & mengkritik (mengjahr)nya adalah salah satu dari pokok-pokok agama yg agung bhk jihad fi sabilillah yg paling utama, karena ahli bid’ah lebih berbahaya drpd orang kafir. Membantah ahli Bid’ah adalah salah satu pokok-pokok manhaj Salaf yg diterapkan oleh para Ulama Salaf (Nabi, Sahabat, Tabiin Taiut Tabiin, Imam Mazhab, dll).
    Namun baru-baru ini, muncul kelompok sururiyyah dan quthbiyyah yg menyebarkan keragu-raguan thd manhaj Salaf ini bahkan berusaha menggantinya dg manhaj mereka. Mereka mengkritik para imam ahli hadits. Mereka menamakan manhaj baru mereka : “Manhaj Muwazanah”, yaitu : manhaj yg mewajibkan siapapun yg mengkritik kesalahan seseorang, tulisan atau kelompok untuk menyebutkan kebaikan dan kejelekan secara bersamaan sebagai sikap yg adil menurut mereka.”
    Mereka sebut juga manhaj ini “manhaj al-adl wan inshaf, maka Para Ulama Salaf bangkit untuk menjelaskan kesesatan dan ketimpangan manhaj ini, salah satunya Ulama lautan Ilmu Muhadditsin : Syaikhuna Al Allamah Rabi bin Hadi al Madkhali, berjudul : Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah fi Naqdir Rijal wal Kutub wath thowaif, cetakan kedua tahun 1413 H
    .
    MANHAJ ISLAM DAN PARA IMAM DALAM MENGKRITIK PERKATAAN DAN PERSON (PRIBADI)
    A. Alloh Subhanahu Wa Ta’ala memuji orang-orang yg beriman tanpa menyebutkan kejelekannya dan mencela orang-orang kafir an munafiq tanpa menyebutkan kebaikannya.
    Banyak sekali ayat ttg hal ini (pahala bagi yg beriman) yg jelas-jelas menyelesihi Manhaj Muwazanah, padahal setiap bani adam takluput dari kesalahan. Maka hikmah dari hal ini = menyebut kebaikan tanpa menyebut kejelekan mereka adl untuk menggerakkan hati setiap manusia agar meneladani mereka.
    Di sisi lain , Alloh mencela kaum lafirin & munafiqin dalam ayatNya yg banyak tanpa menyebutkan kebaikan mereka sedikitpun, karena kekufuran dan kesesatan mereka telah merusak kebaikan-kebaikan mereka dan menjadikannya tidak bernilai sama sekali bagaikan debu beterbangan, “Dan Kami hadapi segala amal yg mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yg beterbangan (QS Al Furqan : 23)
    Demikian pula Alloh menceritakan ttg umat-umat terdahulu yg mendustakan para Rasul. Alloh sebutkan kekufuran mereka dan kebatilan mereka dan azab kehancuran mereka tanpa sedikitpun menyebutkan kebaikannya krn tujuan kisah ini sbg peringatan kpd umat-umat sesudahnya agar menjauhi perbuatan mereka.
    Lalu Alloh menyebut orang0orang Yahudi dan nashara dg sifat-sifat buruk pada mereka dan ancaman keras kpd mereka tanpa menyebutkan sedikitpun kebaikan mereka yg telah mereka hilangkan dg kekufuran dan pendustaan thd Rasululloh Shollollohu ‘alaihi wa sallam. Inilah manhaj Alloh Yang Maha Adil (maukah kaum muwazanah mengatakan Alloh tidak adil? Wa na’udzu billah)
    B.Peringatan Nabi Shollollohu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya dari Bahaya Ahli Bid’ah
    Nabi Shollollohu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan umatnya dari kejelekan Ahlul Bid’ah tanpa menyebutkan sedikitpun kebaikan mereka karena kebaikan mereka hilang nilainya karena kerusakan dan bahaya yg besar yg mereka timbulkan.
    Aisyah rodhiyallohu anha : Rasululloh Shollollohu ‘alaihi wa sallam membaca ayat : “Dia-lah yg menurunkan Al Kitab (Al-Qur’an) kpd kalian. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yg muhkamat, itulah pokok-pokok isi al Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang yg hatinya condong kepada kesesatan maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yg mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya. Padahal tidak ada yg tahu ta’wilnya kecuali Alloh. Dan orang-orang yg mendalam ilmunya berkata, “Kami beriman kpd ayat-ayat yg mutasyabihat, semua itu dari sisi Tuhan Kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yg berakal (QS Ali Imran : 7). Aisyah berkata, Rasululloh Shollollohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika Engkau melihat orang-orang ug mengikuti sebagian ayat-ayat yg mutasyabihat, mereka itulah yg disebut Alloh dalam kitabNya. MAKA AWASLAH DARI MEREKA.” (Muttafaq Alaih, shahih Bukhari 4547, Shahih Muslim 2665)
    Abu Hurairah radiyallohu anhu : Rasululloh Shollollohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan dating pada akhir umatku, orang-orang yg menyampaikan kepada kalian apa-apa yg tidak pernah kalian dengan dan tidak pernah didengar oleh bapak-bapak kalian, maka awaslah kalian dari mereka” (Shahih Muslim 1/12)…. Maksudnya ahli bid’ah.
    Padahal dimaklumi dalam diri ahli bid’ah ada kebaikan namun Rasululloh Shollollohu ‘alaihi wa sallam tidak menoleh sedikitpun kepada kebaikan mereka ahlu bid’ah dan tidak mnyebutkan sedikitpun dan beliau tidak katakana : ambillah manfaat dari kebaikan mereka dan sebutkanlah kebaikan mereka ketika mengkritiknya.”
    Lihatlah ketimpangan manhaj muwazanah ini yg memutar balikkan logika umat sehingga ada yg mengaku bermanhaj Salaf namun loyal dan membela ahli bid’ah dan mengkritik ahlus sunnah dg alas an keadilan. Wa inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’un.
    C. Sikap Para Sahabat dan Tabi’in Terhadap Ahli Bid’ah
    Ibnu Umar rodhiyallohu anhu berkata ttg kelompok Qodariyyah, “Jika engkau bertemu mereka, beritahukan bahwa Ibnu Umar berlepas diri dari mereka dan mereka berlepas diri dari Ibnu Umar (riwayat Shahih Muslim 1/140)
    Abu Qilabah, “Janganlah kalian duduk-duduk dg ahli ahwa (bid’ah) Karena aku khawatir mereka akan menjerumuskanmu ke dalam kesesatan mereka dan mengaburkan persepsi kalian terhadap mereka (Syarhus Sunnah, Imam Baghowi 1/227).
    Lihatlah 2 sikap tegas dari para sahabat dan tabiin dan para Imam Mazhab terhadap ahli bid’ah. Mereka memperingatkan umat dari kejelekan ahli bid’ah tanpa sedikitpun menyebutkan kebaikan mereka, sesuai pemahaman terhadap kaidah-kaidah Islam : “Menjauhkan mafsadah (kerusakan) didahulukan atas mendatangkan mashlahat”
    D. Nabi menyebutkan aib orang-orang tertentu tanpa menyebutkan kebaikan mereka sebagai nasehat.
    1.Aisyah meriwayatkan seorang laki-laki meminta izin bertemu Rasululloh. Saat melihat orang itu Rasul bersabda, “Dia adalah sejelek-jelek kerabat.” Ketika dia duduk, Nabi bermuka manis dan bersikap ramah. Ketika orang itu pergi, Aisyah bertanya ttg sikap Rasul tsb. Rasul bersabda, “Wahai Aisyah, kapan engkau melihatku berbuat keji? Sesungguhnya sejelek-jelek derajat manusia di sisi Alloh adalah orang ditinggalkan oleh manusia Karen atakut kepada kejelekannya.” (shahih Bukhari 6032)
    Imam al Qurthubi berkata hadits ini menunjukkan bolehnya ghibah thd mereka yg terang-terangan berbuat kefasikan, kemaksiatan atau semisalnya dari kecurangan dalam menghukumi dan seruan kepada kebid’ahan dan bolehnya bersikap mudarah (membujuk) thd mereka dan menjauhi bahaya kejelekan mereka selama tidak membawa kepada sikap menjilat dalam agama Alloh (Fathul Bari 10/452)
    2. Saat Fatimah bintu Qois selesai iddah dia dipinang Mu’awiyyah bin Abi Sufyan dan Abu Jahm mk Rasul berkata, “Adapun Abu Jahm maka dia laki-laki yg tidka pernah meletakkan tongkat dari pundaknya (ringan tangan) adapun Mu’awiyyah dia seorang yg miskin maka menikahlah dg Usamah bin Zaid” (Shahih Muslim 1480).
    Tak diragukan lagi bhw Mu’awiyyah dan Abu Jahm memiliki banyak keutamaan dan keunggulan (sebagai sahabat nabi) tetapi Nabi tidak menyebutkan kebaikannya sedikitpun karena yg diminta Fatimah adalah nasehat dan saran Nabi Shollollohu ‘alaihi wa sallam thd yg meminangnya itu.
    Maka para pencetus Manhaj Muwazanah, maka mereka mewajibkan menyebutkan kebaikan, yg akan membuat bingung orang yg meminta nasehat. Lihatlah manhaj yg menyelisihi manhaj Nabi ini.
    3. Hindun bintu Utbah pernah mengadu atas kejelekan yakni kepelitan suaminya Abu Sufyan maka Nabi mengatakan agar dia mengambil seperlu kebutuhan dirinya dan anak-anaknya.” (Muttafaq alaih Bukhari 3564, Muslim 1714)
    Al Hafidz Ibnu Hajar berkata, “Hadits ini menjelaskan bolehnya menyebutkan seorang dg sifat yg tidak disukainya dg tujuan meminta nasehat atau fatwa, mengadu dan semisalnya. Dan inilah ghibah yg diperbolehkan (Fathul Bari 9/509).. Lihatlah Nabi tidka mengingkari Hindun yg menyebutkan kejelekan suaminya tanpa sedikitpun menjelaskan kebaikannya yg sangat banyak…. Lihatlah lagi ketimpangan Manhaj Muwazanah yg menuduh ulama salaf tidak adil dan khianat. Akankah tuduhan ini mereka sematkan kepada Nabi dan Para Sahabat?
    E. Kritikan Para Imam Terhadap Ahli Bid’ah dan Para Perawi
    Banyak sekali kita dapatkan riwayat para Imam menkritik dg kritik yg keras dan tegas terhadap ahli bid’ah tanpa sedikitpun menyebutkan kebaikannya, yakni mewajibkan muwazanah sbgmn penganut faham ini. Mereka menulis kitab Jahr wa Ta’dil, kitab sunnah dan kitab pembelaan thd sunnah dan bantahannya terhadap ahli bid’ah, kitab-kitab ttg hadits palsu dan lemah & mereka sedikitpun tidak mewajibkan muwazanah dalam kitab-kitab mereka tsb. Khususnya dalam kitab Jahr (celaan) mereka.
    .
    SYUBHAT MANHAJ MUWAZANAH DAN BANTAHANNYA
    Mereka berdalil : “Di antara Ahli Kitab ada yg jika kamu mempercayakan kpdnya harta yg banyak, dikemballikan kepadamu dan di antara mereka jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikan padamu kecuali jika kamu selalu menagihnya” (QS Ali Imran : 75)… katanya ini bukti Alloh mendahulukan pujian pada mereka.
    Bantahannya : Syaikhuna Al Allamah Rabi bin Hadi membantahnya dg :
    1. Tidak ada satupun ulama yg menafsirkan demikian ayat ini sebagaimana yg dikehendaki manhaj ini sebagai dalil muwazanah. Suatu tafsir yg batil.
    2. Para Ulama ahli Tafsir menjelaskan bhw ayat ini sebagai peringatan kepada umat Islam atas kejelekan ahli kitab. Imam Qurthubi menafsirkan, “Alloh mengabarkan bahwa di antara ahli kitab ada yg amanat dan ada pula yg khianat, sedangkan orang yg beriman tidak bisa memilah-milah mereka (yakni tidak tahu mana yg khianat dan mana yg amanah) maka selayaknya (wajib) menjauhi mereka.”
    3. Dalam kitab dan sunnah banyak sekali celaan kepada Ahli Kitab yang tidak menyebutkan kebaikan dan kejelekan mereka sekaligus, seperti : “Dan janganlah kamu campur adukkan yg haq dg yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yg baik itu sedang kamu mengetahuinya (QS : 2 : 42) dan “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Alloh…dst (QS : At-Taubah 31)… maka dimanakah Manhaj Muwazanah dalam ayat ini?
    Maka sungguh, penetapan manhaj muwazanah yg bid’ah ini akan membuka pintu ahli kitab, komunis, rasionalis untuk menyerang umat Islam, mencela Alloh dan rasulNya dan apa yg ditulis para ulama dalam mengkritik kelompok-kelompok sesat dalam masalah Jahr wa Ta’dil. Inilah bukti kebathilan Manhaj Muwazanah (Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah fi Naqdir Rijal wal Kutub wath Thowaif hal.49-51)
    .
    FATWA PARA ULAMA TENTANG MANHAJ MUWAZANAH
    1. Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz rahimahullah
    Ada seorang bertanya kepada Syaikh Bin Baaz, “Ada orang yg mewajibkan muwazanah yakni jika engkau mengkritik seorang ahli bid’ah mala wajib atasmu untuk menyebutkan kebaikannya agar engkau tidak mengzhaliminya.”
    Jawab Samahatusy Syaikh, “Tidak! Hal itu tidak harus! Karena inilah jika engkau melihat kitab-kitab ahlus sunnah maka engkau akan mendapati apa yg dimaksud yaitu Tahdzir. Bacalah Kitab Bukhari Kholqu Af’alil Ibad dan Kitabul Adab dari Shahihnya, Kitab As-Sunnah oleh Abdullah bin Ahmad bin Hambal, Kitab Tauhid oleh Ibnu Khuzaimah, Bantahan Utsman bin Said ad-Darimi kepada Ahli Bid’ah…. Dll. Mereka tulis kitab-kitab ini sebagai peringatan kepada setiap muslim dari kebathilan ahli bid’ah dan bukan bertujuan memaparkan kebaikan-kebaikan mereka… maka yg dimaksud adalah peringatan kepada setiap muslim dari kebathilan mereka. Sedang kebaikan mereka tidak ada nilainya sama sekali bagi yang kafir dari mereka. Jika kebid’ahan mereka adalah bid’ah yg mengkafirkan pelakunya maka hapuslah kebaikannya. Dan jika bid’ahnya belum mengkafirkannya maka dia berada dalam bahaya, maka yg dimaksud adalah penjelasan kesalahan mereka untuk dihindari dan dijauhi.” (dari kaset Ta’lim Syaikh Abdul Aziz di Thoif 1413H, ditulis Syaikh Rabi di halaman 9)
    2. Syaikh Al-Allamah Shalih bin Fauzan al-Fauzan
    Seseorang bertanya kepada beliau setelah beliau ditanya tentang beberapa pertanyaan mengenai kelompok-kelompok Islam, “Baik ya Syaikh, apakah engkau memperingatkan manusia dari mereka tanpa menyebutkan kebaikan mereka atau engkau sebutkan kebaikan dan kejelekan mereka secara bersamaan?”
    Fadhilatusy Syaikh menjawab, “Jika engkau menyebut kebaikan mereka berarti engkau mengajak manusia kepada mereka. TIDAK! JANGAN ENGKAU SEBUT KEBAIKAN MEREKA! TETAPI SEBUTKAN KESALAHAN MEREKA SAJA KARENA TUGASMU BUKANLAH UNTUK MEMPELAJARI KEADAAN MEREKA DAN MENILAINYA..tetapi tugasmu adalah MENYEBUT KESALAHAN YG ADA PADA MEREKA AGAR MEREKA BERTAUBAT DARINYA DAN AGAR YG SELAIN MEREKA MENJAUHI KESALAHAN MEREKA. Demikian juga kesalahan yg ada pada mereka bis ajadi menghilangkan kebaikan mereka semuanya jika kesalahan itu berupa kekufuran atau kesyirikan. Bisa jadi mengalahkan kebaikan mereka. Dan bisa jadi itu adalah kebaikan menurut pandanganmu padahal sebenarnya bukanlah kebaikan di sisi Alloh.” (Ajwibah Mufidah ‘an As’ilatil Manahijil Jadidah hal.13-14)
    3. Syaikh Al Allamah Muhadditsin Muhammad Nashiruddin Al-Albani.
    Saat ditanya manhaj muwazanah, Syaikh Albani berkata : “INI ADALAH CARA-CARA AHLI BID’AH. Ketika seorang ahli Hadits menilai seorang rawi yg shalih atau alim atau faqih dengan perkataannya : ‘Fulan jelek hafalannya’ apakah dia juga mengatakan dia adalah seorang muslim atau seorang yg shalih atau seorang yg faqif atau seorang yg diambil dalam istinbath hukumnya? Allohu Akbar! Pada hakikatnya, kaidah yang terdahulu (yakni kaidah : setiap kebaikan adalah dlaam ittiba kepada Salaf) adalah kaidah yg sangat penting sekali yg mencakup cabang-cabang yang banyak khususnya paa zaman ini…. Dari mana mereka (pemilik manhaj muwazanah) mendapatkan dalil yg mengatakan jika seseorang hendak menjelaskan kesalahan seseorang muslim-jika dia adalah seorang da’I (ulama) atau bukan- maka wajib bagi dia melakukan ceramah yang menjelaskan kebaikan orang tadi dari awal sampai akhir. Allohu Akbar! Ini adalah sesuatu yang aneh. Demi Alloh, ini adalah sesuatu yang aneh…. (silsilatul Huda wan Nur kaset no. 850 sebagaimana dalam Nashrul Aziz oleh Syaikhuna Al-Allamah Rabi bin Hadi hal 96-97)
    .
    PENUTUP
    1. Apa yg didakwahkan dari wajibnya memakai manhaj muwazanah dalam mengkritik person, tulisan dan kelompok adalah Dakwah yg tidak ada dalilnya dari Kitab dan Sunnah dan Manhaj ini adalah Manhaj yg Gharib (asing) dan Bid’ah.
    2. Ulama Salaf (Para Sahabat, Tabiin, Tbiut Tabiin dan Imam Mazhab serta Ahli Hadiits) tidka pernah memakai manhaj muwazanah ini dalam hal mengkritik…
    3. Wajib memperingatkan umat dari bid’ah dan ahlinya dengan kesepakatan para Ulama dan kaum muslimin dan boleh bahkan wajib menyebutkan kebid’ahan merka dan menjauhkan manusia dari mereka.
    4. Para Ulama Salaf telah menulis kitab-kitab dalam Jahr wa Ta’dil dan kitab-kitab yg khusus dalam Jahr saja yg jumlahnya sangat banyak dan mereka tidak ada seorangpun yang mewajibkan atau mengsunnahkan muwazanah, bahkan mereka mewajibkan Jahr saja.
    5. Para Ulama telah menulis kitab-kitab tentang sunnah dan bantahan kepada bid’ah dan ahlinya tanpa memakai manhaj muwazanah.
    6. Manhaj Salagf dilandaskan atas mashlahat dan nasihat kepada umat.
    7. Manhaj Salaf adalah benteng yg teguh di dalam melindungi kaum muslimin dari bahaya dan maker ahli bid’ah
    8. Manhaj Muwazanah membuka pintu bagi ahli bid’ah untuk merusak aqidah kaum muslimin dan melancarkan berbagai fitnah/syubhat kepada kaum muslimin.
    9. Wajib bagi setiap muslim mewaspadai pemikiran ini agar tidak diragukan thd Islam dan Manhaj yg Haq yakni Manhajnya Nabi Shollollohu ‘alaihi wa sallam beserta para Sabahatnya dan mereka yg mengikuti mereka.
    Barakallahu laka…….
    (catt : contoh sederhana, jika kita ingin menjelaskan paham komunis kepada masyarakat agar menjauhinya maka kita akan jelaskan kesesatannya tanpa sedikitpun menjelaskan kebaikannya… dan lihatlah para pengkritik pemerintah, apakah pernah mereka memakai manhaj muwazanah saat berdemo?..lihatlah mereka yg bermanhaj ini menetang sendiri manhaj mereka… Allohu Akbar!)…

  • rinka

    wah!!!!!! cerita yang sangat menggugah jiwa

    memang islam sangat sarat dengan makna
    kita sebagai umat islam wajib mensyukuri ini semua ^_^

  • http://arofiqpkl.blogspot.com arofiqpkl

    terima kasih, semoga dapat bermanfaat dan dapat kita teladani kisak tersebut. amin

  • http://arofiqpkl.blogspot.com arofiqpkl

    alhamulillah

  • http://arofiqpkl.blogspot.com arofiqpkl

    alhamdulillah

  • iman

    assalamualaikum,,,,
    trimakasih kepada http://www.muslim.or.id yang selama ini tlah dan sering mengirim saya informasi tentang agama, mudah mudahan itu semua menjadi amal ibadah yang baik disisi allah SWT amien…

  • abid amrullah

    subhanalloh, maha suci allah, akhirnya yg bathil dapat di musnahkan

  • Pingback: Fathu Makkah: Pelajaran dari Penaklukan Kota Mekkah | aswacollection

  • http://mitragrosir.com Hafidz

    Maha besar Allah…

  • http://ahmadsyariffuddin@gmail.com m. syariffuddin

    alhamdullillah, saya jadi tambah faham peristiwa fathul makkah. allah memang selalu memenangkan yang benar dan melenyapkan yang batil. maha besar allah..

  • http://permalink no name

    alhaamdullillah

  • http://jalz-cassieast.blogspot.com/ jalz

    Keren ^_^ Islam Rohmatalilla’lamin

  • Pingback: Fathu Makkah: Pelajaran dari Penaklukan Kota Mekkah | PCPM Merden

  • http://umrohpromo.blogspot.com/ adi wardana wijaya

    saya suka sekali dengan postingan ini, mohon izin saya mengcopy, dan saya bagikan di blog saya.

  • Pingback: FATHU MAKKAH: PELAJARAN DARI PENAKLUKAN KOTA MEKKAH | محمد إنسان الحجري

  • http://www.muslim.co,id wandi

    syukron….

  • http://jannahchiiebhawhel jannah

    knapa yeah kaum kafir quraisy melanggar perjanjian hudaibiah

  • http://www.kpiasysyaamil.org Setiawan

    aslkm.
    Akh Ammi….ana kangen sama antum, berdiskusi dengan Aziz di Mushola teknik Nuklir/Teknik Fisika.
    salam dari saya, Setiawan,S.T. Alumni Teknik Fisika UGM Angk 2002. Dulu pernah sering ketemu sama2 di Mushola.
    bagus artikelnya, ana download ya…trims.
    Jazzakallah Khairul Jazza.
    wslkm.

@muslimindo