Islam adalah agama yang ilmiah. Setiap amalan, keyakinan, atau ajaran yang disandarkan kepada Islam harus memiliki dasar dari Al Qur’an dan Hadits Nabi shallallahu’alaihi wa sallam yang otentik. Dengan ini, Islam tidak memberi celah kepada orang-orang yang beritikad buruk untuk menyusupkan pemikiran-pemikiran atau ajaran lain ke dalam ajaran Islam.
Karena pentingnya hal ini, tidak heran apabila Abdullah bin Mubarak rahimahullah mengatakan perkataan yang terkenal:
الإسناد من الدين، ولولا الإسناد؛ لقال من شاء ما شاء
“Sanad adalah bagian dari agama. Jika tidak ada sanad, maka orang akan berkata semaunya.” (Lihat dalam Muqaddimah Shahih Muslim, Juz I, halaman 12)
Dengan adanya sanad, suatu perkataan tentang ajaran Islam dapat ditelusuri asal-muasalnya.
Oleh karena itu, penting sekali bagi umat muslim untuk memilah hadits-hadits, antara yang shahih dan yang dhaif, agar diketahui amalan mana yang seharusnya diamalkan karena memang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam serta amalan mana yang tidak perlu dihiraukan karena tidak pernah diajarkan oleh beliau.
Berkaitan dengan bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, akan kami sampaikan beberapa hadits lemah dan palsu mengenai puasa yang banyak tersebar di masyarakat. Untuk memudahkan pembaca, kami tidak menjelaskan sisi kelemahan hadits, namun hanya akan menyebutkan kesimpulan para pakar hadits yang menelitinya. Pembaca yang ingin menelusuri sisi kelemahan hadits, dapat merujuk pada kitab para ulama yang bersangkutan.
Hadits 1
صوموا تصحوا
“Berpuasalah, kalian akan sehat.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di Ath Thibbun Nabawi sebagaimana dikatakan oleh Al Hafidz Al Iraqi di Takhrijul Ihya (3/108), oleh Ath Thabrani di Al Ausath (2/225), oleh Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil Fid Dhu’afa (3/227).
Hadits ini dhaif (lemah), sebagaimana dikatakan oleh Al Hafidz Al Iraqi di Takhrijul Ihya (3/108), juga Al Albani di Silsilah Adh Dha’ifah (253). Bahkan Ash Shaghani agak berlebihan mengatakan hadits ini maudhu (palsu) dalam Maudhu’at Ash Shaghani (51).
Keterangan: jika memang terdapat penelitian ilmiah dari para ahli medis bahwa puasa itu dapat menyehatkan tubuh, makna dari hadits dhaif ini benar, namun tetap tidak boleh dianggap sebagai sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.
Hadits 2
نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ ، وَصُمْتُهُ تَسْبِيْحٌ ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ
“Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, do’anya dikabulkan, dan amalannya pun akan dilipatgandakan pahalanya.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi di Syu’abul Iman (3/1437).
Hadits ini dhaif, sebagaimana dikatakan Al Hafidz Al Iraqi dalam Takhrijul Ihya (1/310). Al Albani juga mendhaifkan hadits ini dalam Silsilah Adh Dha’ifah (4696).
Terdapat juga riwayat yang lain:
الصائم في عبادة و إن كان راقدا على فراشه
“Orang yang berpuasa itu senantiasa dalam ibadah meskipun sedang tidur di atas ranjangnya.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Tammam (18/172). Hadits ini juga dhaif, sebagaimana dikatakan oleh Al Albani di Silsilah Adh Dhaifah (653).
Yang benar, tidur adalah perkara mubah (boleh) dan bukan ritual ibadah. Maka, sebagaimana perkara mubah yang lain, tidur dapat bernilai ibadah jika diniatkan sebagai sarana penunjang ibadah. Misalnya, seseorang tidur karena khawatir tergoda untuk berbuka sebelum waktunya, atau tidur untuk mengistirahatkan tubuh agar kuat dalam beribadah.
Sebaliknya, tidak setiap tidur orang berpuasa itu bernilai ibadah. Sebagai contoh, tidur karena malas, atau tidur karena kekenyangan setelah sahur. Keduanya, tentu tidak bernilai ibadah, bahkan bisa dinilai sebagai tidur yang tercela. Maka, hendaknya seseorang menjadikan bulan ramadhan sebagai kesempatan baik untuk memperbanyak amal kebaikan, bukan bermalas-malasan.
Hadits 3
يا أيها الناس قد أظلكم شهر عظيم ، شهر فيه ليلة خير من ألف شهر ، جعل الله صيامه فريضة ، و قيام ليله تطوعا ، و من تقرب فيه بخصلة من الخير كان كمن أدى فريضة فيما سواه ، و من أدى فريضة كان كمن أدى سبعين فريضة فيما سواه ، و هو شهر الصبر و الصبر ثوابه الجنة ، و شهر المواساة ، و شهر يزاد فيه رزق المؤمن ، و من فطر فيه صائما كان مغفرة لذنوبه ، و عتق رقبته من النار ، و كان له مثل أجره من غير أن ينتقص من أجره شيء قالوا : يا رسول الله ليس كلنا يجد ما يفطر الصائم ، قال : يعطي الله هذا الثواب من فطر صائما على مذقة لبن ، أو تمرة ، أو شربة من ماء ، و من أشبع صائما سقاه الله من الحوض شربة لايظمأ حتى يدخل الجنة ، و هو شهر أوله رحمة و وسطه مغفرة و آخره عتق من النار ،
“Wahai manusia, bulan yang agung telah mendatangi kalian. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari 1. 000 bulan. Allah menjadikan puasa pada siang harinya sebagai sebuah kewajiban, dan menghidupkan malamnya sebagai ibadah tathawwu’ (sunnah). Barangsiapa pada bulan itu mendekatkan diri (kepada Allah) dengan satu kebaikan, ia seolah-olah mengerjakan satu ibadah wajib pada bulan yang lain. Barangsiapa mengerjakan satu perbuatan wajib, ia seolah-olah mengerjakan 70 kebaikan di bulan yang lain. Ramadhan adalah bulan kesabaran, sedangkan kesabaran itu balasannya adalah surga. Ia (juga) bulan tolong-menolong. Di dalamnya rezki seorang mukmin ditambah. Barangsiapa pada bulan Ramadhan memberikan hidangan berbuka kepada seorang yang berpuasa, dosa-dosanya akan diampuni, diselamatkan dari api neraka dan memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tadi sedikitpun” Kemudian para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, tidak semua dari kita memiliki makanan untuk diberikan kepada orang yang berpuasa.” Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berkata, “Allah memberikan pahala tersebut kepada orang yang memberikan hidangan berbuka berupa sebutir kurma, atau satu teguk air atau sedikit susu. Ramadhan adalah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya maghfirah (ampunan) dan akhirnya pembebasan dari api neraka.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (1887), oleh Al Mahamili dalam Amaliyyah (293), Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil Fid Dhu’afa (6/512), Al Mundziri dalam Targhib Wat Tarhib (2/115)
Hadits ini didhaifkan oleh para pakar hadits seperti Al Mundziri dalam At Targhib Wat Tarhib (2/115), juga didhaifkan oleh Syaikh Ali Hasan Al Halabi di Sifatu Shaumin Nabiy (110), bahkan dikatakan oleh Abu Hatim Ar Razi dalam Al ‘Ilal (2/50) juga Al Albani dalam Silsilah Adh Dhaifah (871) bahwa hadits ini Munkar.
Yang benar, di seluruh waktu di bulan Ramadhan terdapat rahmah, seluruhnya terdapat ampunan Allah dan seluruhnya terdapat kesempatan bagi seorang mukmin untuk terbebas dari api neraka, tidak hanya sepertiganya. Salah satu dalil yang menunjukkan hal ini adalah:
من صام رمضان إيمانا واحتسابا ، غفر له ما تقدم من ذنبه
“Orang yang puasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari no.38, Muslim, no.760)
Dalam hadits ini, disebutkan bahwa ampunan Allah tidak dibatasi hanya pada pertengahan Ramadhan saja. Lebih jelas lagi pada hadits yang diriwayatkan oleh At Tirmidzi, Rasulullah bersabda:
إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ، وَمَرَدَةُ الجِنِّ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ، وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الجَنَّةِ، فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ، وَيُنَادِي مُنَادٍ: يَا بَاغِيَ الخَيْرِ أَقْبِلْ، وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ، وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ، وَذَلكَ كُلُّ لَيْلَةٍ
“Pada awal malam bulan Ramadhan, setan-setan dan jin-jin jahat dibelenggu, pintu neraka ditutup, tidak ada satu pintu pun yang dibuka. Pintu surga dibuka, tidak ada satu pintu pun yang ditutup. Kemudian Allah menyeru: ‘wahai penggemar kebaikan, rauplah sebanyak mungkin, wahai penggemar keburukan, tahanlah dirimu’. Allah pun memberikan pembebasan dari neraka bagi hamba-Nya. Dan itu terjadi setiap malam” (HR. Tirmidzi 682, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi)
Adapun mengenai apa yang diyakini oleh sebagian orang, bahwa setiap amalan sunnah kebaikan di bulan Ramadhan diganjar pahala sebagaimana amalan wajib, dan amalan wajib diganjar dengan 70 kali lipat pahala ibadah wajib diluar bulan Ramadhan, keyakinan ini tidaklah benar berdasarkan hadits yang lemah ini. Walaupun keyakinan ini tidak benar, sesungguhnya Allah ta’ala melipatgandakan pahala amalan kebaikan berlipat ganda banyaknya, terutama ibadah puasa di bulan Ramadhan.
Hadits 4
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أفطر قال : اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت فتقبل مني إنك أنت السميع العليم
“Biasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam ketika berbuka membaca doa: Allahumma laka shumtu wa ‘alaa rizqika afthartu fataqabbal minni, innaka antas samii’ul ‘aliim.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Sunan-nya (2358), Adz Dzahabi dalam Al Muhadzab (4/1616), Ibnu Katsir dalam Irsyadul Faqih (289/1), Ibnul Mulaqqin dalam Badrul Munir (5/710)
Ibnu Hajar Al Asqalani berkata di Al Futuhat Ar Rabbaniyyah (4/341) : “Hadits ini gharib, dan sanadnya lemah sekali”. Hadits ini juga didhaifkan oleh Asy Syaukani dalam Nailul Authar (4/301), juga oleh Al Albani di Dhaif Al Jami’ (4350). Dan doa dengan lafadz yang semisal, semua berkisar antara hadits lemah dan munkar.
Sedangkan doa berbuka puasa yang tersebar dimasyarakat dengan lafadz:
اللهم لك صمت و بك امنت و على رزقك افطرت برحمتك يا ارحم الراحمين
“Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, atas rezeki-Mu aku berbuka, aku memohon Rahmat-Mu wahai Dzat yang Maha Penyayang.”
Hadits ini tidak terdapat di kitab hadits manapun. Atau dengan kata lain, ini adalah hadits palsu. Sebagaimana dikatakan oleh Al Mulla Ali Al Qaari dalam kitab Mirqatul Mafatih Syarh Misykatul Mashabih: “Adapun doa yang tersebar di masyarakat dengan tambahan ‘wabika aamantu’ sama sekali tidak ada asalnya, walau secara makna memang benar.”
Yang benar, doa berbuka puasa yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam terdapat dalam hadits:
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أفطر قال ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله
“Biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika berbuka puasa membaca doa:
ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله
/Dzahabaz zhamaa-u wabtalatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insyaa Allah/
(‘Rasa haus telah hilang, kerongkongan telah basah, semoga pahala didapatkan. Insya Allah’)”
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud (2357), Ad Daruquthni (2/401), dan dihasankan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani di Hidayatur Ruwah, 2/232 juga oleh Al Albani di Shahih Sunan Abi Daud.
Hadits 5
من أفطر يوما من رمضان من غير رخصة لم يقضه وإن صام الدهر كله
“Orang yang sengaja tidak berpuasa pada suatu hari di bulan Ramadhan, padahal ia bukan orang yang diberi keringanan, ia tidak akan dapat mengganti puasanya meski berpuasa terus menerus.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari di Al’Ilal Al Kabir (116), oleh Abu Daud di Sunannya (2396), oleh Tirmidzi di Sunan-nya (723), Imam Ahmad di Al Mughni (4/367), Ad Daruquthni di Sunan-nya (2/441, 2/413), dan Al Baihaqi di Sunan-nya (4/228).
Hadits ini didhaifkan oleh Al Bukhari, Imam Ahmad, Ibnu Hazm di Al Muhalla (6/183), Al Baihaqi, Ibnu Abdil Barr dalam At Tamhid (7/173), juga oleh Al Albani di Dhaif At Tirmidzi (723), Dhaif Abi Daud (2396), Dhaif Al Jami’ (5462) dan Silsilah Adh Dha’ifah (4557). Namun, memang sebagian ulama ada yang menshahihkan hadits ini seperti Abu Hatim Ar Razi di Al Ilal (2/17), juga ada yang menghasankan seperti Ibnu Hajar Al Asqalani di Hidayatur Ruwah (2/329) dan Al Haitsami di Majma’ Az Zawaid (3/171). Oleh karena itu, ulama berbeda pendapat mengenai ada-tidaknya qadha bagi orang yang sengaja tidak berpuasa.
Yang benar -wal ‘ilmu ‘indallah- adalah penjelasan Lajnah Daimah Lil Buhuts Wal Ifta (Komisi Fatwa Saudi Arabia), yang menyatakan bahwa “Seseorang yang sengaja tidak berpuasa tanpa udzur syar’i,ia harus bertaubat kepada Allah dan mengganti puasa yang telah ditinggalkannya.” (Periksa: Fatawa Lajnah Daimah no. 16480, 9/191)
Hadits 6
لا تقولوا رمضان فإن رمضان اسم من أسماء الله تعالى ولكن قولوا شهر رمضان
“Jangan menyebut dengan ‘Ramadhan’ karena ia adalah salah satu nama Allah, namun sebutlah dengan ‘Bulan Ramadhan.’”
Hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Sunan-nya (4/201), Adz Dzaahabi dalam Mizanul I’tidal (4/247), Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil Fid Dhu’afa (8/313), Ibnu Katsir di Tafsir-nya (1/310).
Ibnul Jauzi dalam Al Maudhuat (2/545) mengatakan hadits ini palsu. Namun, yang benar adalah sebagaimana yang dikatakan oleh As Suyuthi dalam An Nukat ‘alal Maudhuat (41) bahwa “Hadits ini dhaif, bukan palsu”. Hadits ini juga didhaifkan oleh Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil Fid Dhu’afa (8/313), An Nawawi dalam Al Adzkar (475), oleh Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Baari (4/135) dan Al Albani dalam Silsilah Adh Dhaifah (6768).
Yang benar adalah boleh mengatakan ‘Ramadhan’ saja, sebagaimana pendapat jumhur ulama karena banyak hadits yang menyebutkan ‘Ramadhan’ tanpa ‘Syahru (bulan)’.
Hadits 7
أن شهر رمضان متعلق بين السماء والأرض لا يرفع إلا بزكاة الفطر
“Bulan Ramadhan bergantung di antara langit dan bumi. Tidak ada yang dapat mengangkatnya kecuali zakat fithri.”
Hadits ini disebutkan oleh Al Mundziri di At Targhib Wat Tarhib (2/157). Al Albani mendhaifkan hadits ini dalam Dhaif At Targhib (664), dan Silsilah Ahadits Dhaifah (43).
Yang benar, jika dari hadits ini terdapat orang yang meyakini bahwa puasa Ramadhan tidak diterima jika belum membayar zakat fithri, keyakinan ini salah, karena haditsnya dhaif. Zakat fithri bukanlah syarat sah puasa Ramadhan, namun jika seseorang meninggalkannya ia mendapat dosa tersendiri.
Hadits 8
رجب شهر الله ، وشعبان شهري ، ورمضان شهر أمتي
“Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Adz Dzahabi di Tartibul Maudhu’at (162, 183), Ibnu Asakir di Mu’jam Asy Syuyukh (1/186).
Hadits ini didhaifkan oleh di Asy Syaukani di Nailul Authar (4/334), dan Al Albani di Silsilah Adh Dhaifah (4400). Bahkan hadits ini dikatakan hadits palsu oleh banyak ulama seperti Adz Dzahabi di Tartibul Maudhu’at (162, 183), Ash Shaghani dalam Al Maudhu’at (72), Ibnul Qayyim dalam Al Manaarul Munif (76), Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Tabyinul Ujab (20).
Hadits 9
من فطر صائما على طعام وشراب من حلال صلت عليه الملائكة في ساعات شهر رمضان وصلى عليه جبرائيل ليلة القدر
“Barangsiapa memberi hidangan berbuka puasa dengan makanan dan minuman yang halal, para malaikat bershalawat kepadanya selama bulan Ramadhan dan Jibril bershalawat kepadanya di malam lailatul qadar.”
Hadist ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Al Majruhin (1/300), Al Baihaqi di Syu’abul Iman (3/1441), Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil Adh Dhuafa (3/318), Al Mundziri dalam At Targhib Wat Tarhib (1/152)
Hadits ini didhaifkan oleh Ibnul Jauzi di Al Maudhuat (2/555), As Sakhawi dalam Maqasidul Hasanah (495), Al Albani dalam Dhaif At Targhib (654)
Yang benar,orang yang memberikan hidangan berbuka puasa akan mendapatkan pahala puasa orang yang diberi hidangan tadi, berdasarkan hadits:
من فطر صائما كان له مثل أجره ، غير أنه لا ينقص من أجر الصائم شيئا
“Siapa saja yang memberikan hidangan berbuka puasa kepada orang lain yang berpuasa, ia akan mendapatkan pahala orang tersebut tanpa sedikitpun mengurangi pahalanya.” (HR. At Tirmidzi no 807, ia berkata: “Hasan shahih”)
Hadits 10
رجعنا من الجهاد الأصغر إلى الجهاد الأكبر . قالوا : وما الجهاد الأكبر ؟ قال : جهاد القلب
“Kita telah kembali dari jihad yang kecil menuju jihad yang besar.” Para sahabat bertanya: “Apakah jihad yang besar itu?” Beliau bersabda: “Jihadnya hati melawan hawa nafsu.”
Menurut Al Hafidz Al Iraqi dalam Takhrijul Ihya (2/6) hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Az Zuhd. Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Takhrijul Kasyaf (4/114) juga mengatakan hadits ini diriwayatkan oleh An Nasa’i dalam Al Kuna.
Hadits ini adalah hadits palsu. Sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam di Majmu Fatawa (11/197), juga oleh Al Mulla Ali Al Qari dalam Al Asrar Al Marfu’ah (211). Al Albani dalam Silsilah Adh Dhaifah (2460) mengatakan hadits ini Munkar.
Hadits ini sering dibawakan para khatib dan dikaitkan dengan Ramadhan, yaitu untuk mengatakan bahwa jihad melawan hawa nafsu di bulan Ramadhan lebih utama dari jihad berperang di jalan Allah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Hadits ini tidak ada asalnya. Tidak ada seorang pun ulama hadits yang berangapan seperti ini, baik dari perkataan maupun perbuatan Nabi. Selain itu jihad melawan orang kafir adalah amal yang paling mulia. Bahkan jihad yang tidak wajib pun merupakan amalan sunnah yang paling dianjurkan.” (Majmu’ Fatawa, 11/197). Artinya, makna dari hadits palsu ini pun tidak benar karena jihad berperang di jalan Allah adalah amalan yang paling mulia. Selain itu, orang yang terjun berperang di jalan Allah tentunya telah berhasil mengalahkan hawa nafsunya untuk meninggalkan dunia dan orang-orang yang ia sayangi.
Hadits 11
قال وائلة : لقيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم عيد فقلت : تقبل الله منا ومنك ، قال : نعم تقبل الله منا ومنك
“Wa’ilah berkata, “Aku bertemu dengan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pada hari Ied, lalu aku berkata: Taqabbalallahu minna wa minka.” Beliau bersabda: “Ya, Taqabbalallahu minna wa minka.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Al Majruhin (2/319), Al Baihaqi dalam Sunan-nya (3/319), Adz Dzahabi dalam Al Muhadzab (3/1246)
Hadits ini didhaifkan oleh Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil Fid Dhuafa (7/524), oleh Ibnu Qaisirani dalam Dzakiratul Huffadz (4/1950), oleh Al Albani dalam Silsilah Adh Dhaifah (5666).
Yang benar, ucapan ‘Taqabbalallahu Minna Wa Minka’ diucapkan sebagian sahabat berdasarkan sebuah riwayat:
كان أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا التقوا يوم العيد يقول بعضهم لبعض : تقبل الله منا ومنك
Artinya:
“Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya ketika saling berjumpa di hari Ied mereka mengucapkan: Taqabbalallahu Minna Wa Minka (Semoga Allah menerima amal ibadah saya dan amal ibadah Anda)”
Atsar ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Al Mughni (3/294), dishahihkan oleh Al Albani dalam Tamamul Minnah (354). Oleh karena itu, boleh mengamalkan ucapan ini, asalkan tidak diyakini sebagai hadits Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.
Hadits 12
خمس تفطر الصائم ، وتنقض الوضوء : الكذب ، والغيبة ، والنميمة ، والنظر بالشهوة ، واليمين الفاجرة
“Lima hal yang membatalkan puasa dan membatalkan wudhu: berbohong, ghibah, namimah, melihat lawan jenis dengan syahwat, dan bersumpah palsu.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Al Jauraqani di Al Abathil (1/351), oleh Ibnul Jauzi di Al Maudhu’at (1131)
Hadits ini adalah hadits palsu, sebagaimana dijelaskan Ibnul Jauzi di Al Maudhu’at (1131), Al Albani dalam Silsilah Adh Dhaifah (1708).
Yang benar, lima hal tersebut bukanlah pembatal puasa, namun pembatal pahala puasa. Sebagaimana hadits:
من لم يدع قول الزور والعمل به والجهل ، فليس لله حاجة أن يدع طعامه وشرابه
“Orang yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, serta mengganggu orang lain, maka Allah tidak butuh terhadap puasanya.” (HR. Bukhari, no.6057)
Demikian, semoga Allah memberi kita taufiq untuk senantiasa berpegang teguh pada ajaran Islam yang sahih. Mudah-mudahan Allah melimpahkan rahmat dan ampunannya kepada kita di bulan mulia ini. Semoga amal-ibadah di bulan suci ini kita berbuah pahala di sisi Rabbuna Jalla Sya’nuhu.
وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
***
Disusun oleh: Yulian Purnama
Muraja’ah: Ustadz Abu Ukkasyah Aris Munandar
Artikel www.muslim.or.id
==========
Silakan like FB fanspage Muslim.Or.Id dan follow twitter @muslimindo
==========




Yulian Purnama
29 Jul 2010 [#]
#Tukriyo
Anda bisa membeli kitab Silsilah Ahadits Adh Dha’ifah karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, sudah ada terjemahannya. Atau bisa juga buku “Hadits Lemah Dan Palsu yang Populer Di Indonesia” karya Ustadz Ahmad Sabiq.
Dadang Buhajar
31 Jul 2010 [#]
Assalamualaikum…
izin share dan menyebarkan, jazakumullah.
gunawan
31 Jul 2010 [#]
bagus
Muhammad Alfuraihani
01 Agu 2010 [#]
bismillah
ana izin share ya??
jazakallahuikhairan katsiran
yudhi
08 Agu 2010 [#]
ijin share ya…
Deni Hendrawan
09 Agu 2010 [#]
Izin share ustadz
Tyan
10 Agu 2010 [#]
izin share ustadz… syukron
Yudha.junaidi
12 Agu 2010 [#]
Mohon pencerahan Terkait hadits yg makna trjemahannya +/- sbb:
“Doa malaikat jibril, rasulullah mengaminkan: ya rabb, jangan terima puasa nya orang2 yang meninggalkan 3 perkara ini; 1) mohon maaf pada orang tua, 2)… 3)..”
Yg saya ketahui dari bbrp buku ceramah jum’at terbitan Sekitar tahun 80an, doa malaikat yg diamini rasulullah s.a.w ini terjadi selepas rasulullah s.a.w melaksanakan shalat ied.
Namun akhir2 ini (mulai tahun 2000an) hadits ini bnyk ditafsirkan seolah kejadiannya menjelang ramadhan.
Yulian Purnama
12 Agu 2010 [#]
#Yudha.junaidi
Silakan simak: http://muslim.or.id/ramadhan/bermaafan-sebelum-ramadhan.html
Abu Sayaf
17 Agu 2010 [#]
saya pernah mendengar hadist tentang 30 manfaat shalat terawih dari malam pertama hingga terakhir.
adakah hadist seperti itu ustadz?dan bagaimanakah derajat hadistnya.
mohon penjelasannya.
Yulian Purnama
17 Agu 2010 [#]
#Abu Sayaf
Hadits tersebut adalah hadits palsu yang tidak ada asalnya.
abu farros
19 Agu 2010 [#]
izin untuk dikopi dan ditempel di mading masjid kami, moga bermanfaat bagi ummat.
Rosa
23 Agu 2010 [#]
Assalamu’alaikum wr wb..
Hanya ingin menguatkan pertanyaan Bapak Slamet, tentang ada tidaknya dalil yang menyebutkan bahwa Ramadhan itu adalah bulan suci. Sebab seperti yg pernah saya ketahui dr seorang ustadz, bhw yg disebut bulan suci dlm Alqur’an itu ada 4, dan tidak termasuk Ramadhan. Mohon klarifikasi dgn dalil yg shahih (kalau ada). Jazakallahu khairan
Wassalam
kholis
23 Agu 2010 [#]
@Hadist 4
apakah dosa orang yang ketika berbuka puasa membaca doa seperti yang penulis koreksi?
اللهم لك صمت و بك امنت و على رزقك افطرت برحمتك يا ارحم الراحمي
Yulian Purnama
23 Agu 2010 [#]
#kholis
Jika:
- Orang yang membaca sudah tahu bahwa hadits tersebut dhaif
- Dibaca secara rutin atau secara khusus setiap berbuka puasa
Ia berdosa karena membuat ajaran baru dalam agama Islam yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam.
Irdham Apriadi
25 Agu 2010 [#]
Ustadz bagimana dengan hadits ini?
Dari Ali bin Abi Thalib berkata: “Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang keutamaan (shalat) Tarawih di bulan Ramadhan lalu beliau saw berkata:
Dosa-dosa orang yang beriman keluar darinya pada malam pertama seperti hari dilahirkan ibunya.
Di Malam Ke-2 : Dirinya diampuni juga (dosa) kedua orang tuannya jika keduanya beriman.
Di Malam Ke-3 : Malaikat memanggil dari bawah arsy ; mulailah beramal, semoga Allah mengampuni dosamu yang lalu.
Di Malam Ke-4 : Baginya pahala seperti pahala membaca Taurat, Injil, Zabur dan al Furqan (al Qur’an).
Di malam Ke-5 : Allah memberinya pahala seperti orang yang shalat di Masjidil Haram, Masjid Madinah dan Masjid Aqsha.
Di Malam Ke-6 : Allah memberinya pahala seperti orang yang melakukan thawaf mengelilingi baitul makmur dan bebatuan pun memohonkan ampunan baginya.
Di Malam Ke-7 : Seakan-akan dia bertemu Musa as dan kemenangannya atas firaun dan Haman.
Di Malam Ke-8 : Allah memberikan kepadanya seperti apa yang telah diberikan-Nya kepada Ibrahim as.
Di Malam Ke-9 : Seakan-akan dia beribadah kepada Allah seperti ibadahnya Nabi saw.
Di Malam Ke-10 : Allah memberikan rezeki kepadanya kebaikan dunia dan akhirat.
Di Malam Ke-11 : Dirinya keluar dari dunia seperti hari kelahirannya dari rahim ibunya.
Di Malam Ke-12 : Pada hari kiamat dirinya akan datang seperti bulan di malam purnama.
Di Malam Ke-13 : Pada hari kiamat dia akan datang dengan keamanan dari segala keburukan.
Di Malam Ke-14 : Malaikat datang untuk menyaksikannya shalat taraweh dan kelak Allah tidak akan menghisabnya pada hari kiamat.
Di Malam Ke-15 : Para malaikat dan para malaikat pembawa Arsy dan kursi bershalawat kepadanya.
Di Malam Ke-16 : Allah swt menetapkan baginya kebebasan dari api neraka dan dimasukan ke surga.
Di MalamKe-17 : Diberikan pahala seperti pahala para Nabi.
Di Malam Ke-18 : Para malaikat memanggil Wahai Abdullah,”Sesungguhnya Allah telah meredhoimu dan meredhoi kedua orang tuamu.’
Di Malam Ke-19 : Allah mengangkat derajatnya di surga Firdaus.
Di Malam Ke-20 : Dia diberikan pahala para syuhada dan orang-orang shaleh.
Di Malam Ke-21 : Allah membangunkan baginya sebuah rumah dari cahaya di surga.
Di Malam Ke-22 : Pada hari kiamat ia akan datang dengan rasa aman dari semua kesulitan dan kecemasan.
Di Malam Ke-23 : Allah membangun baginya sebuah kota di surga.
Di Malam Ke-24 : Dikatakan kepadanya,”Ada 24 doa yang dikabulkan.’
Di Malam Ke-25 : Allah mengangkat siksa kubur darinya.
Di Malam Ke-26 : Allah mengangkatnya seperti pahala 40 ulama.
Di Malam Ke-27 : Pada hari kiamat ia akan melintasi shirothul mustaqim bagai kilat yang menyambar.
Di Malam Ke-28 : Allah mengangkatnya 1000 derajat di surga.
Di Malam Ke-29 : Allah memberikan ganjaran baginya 1000 hujjah (argumentasi) yang dapat diterima.
Di Malam Ke-30 : Allah berfirman: Wahai hamba-Ku makanlah dari buah-buahan surga dan mandilah dari air salsabila.”
Yulian Purnama
25 Agu 2010 [#]
#Irdham Apriadi
Hadits ini sudah terkenal sebagai hadits yang tidak ada asalnya. Sehingga tidak boleh diyakini isinya.
Aris Munandar
29 Sep 2010 [#]
#Rosa
Wa’alaikumussalam. Jika yang dimaksud suci adalah mulia, maka benar. Ramadhan adalah bulan mulia, banyak pahala, dst.
helmi el-afkar
04 Des 2010 [#]
saya semakin bingung dengan hadist yang sejak kecilm saya pelajarai peda kenyaanya seperti ini jai saya harus beramal dengan hadis yang mana…
Yulian Purnama
16 Des 2010 [#]
#helmi el-afkar
Tentunya kita mesti bersyukur kepada Allah karena pengetahuan kita bertambah. Beramallah dengan hadits yang shahih, ketahuilah keshahihan hadits dengan mempelajarinya atau dengan bertanya kepada orang yang mengerti tentang hadits.
tantyo
16 Jul 2011 [#]
assalamualaikum ww,
terimakasih penjelasannya, persis seperti yang dijelaskan oleh guru kami; ustadz Ilham Tabrani, termasuk Nisfu Sya’ban.
apa yang kita pelajari ternyata banyak yang ikut2an apalagi hadits dhaif ini dipopulerkan oleh kiai-kiai demi entertainment. wallahu’alam
Nur Rochim
31 Jul 2011 [#]
Mohon izin untuk link di facebook saya. Sangat bermanfaat bagi kami. Sukron katsiran.
alfian Maulana
02 Agu 2011 [#]
Assalamualaikum…
saya izin mencopy, urain Hadits2 di atas…
jazakumullah…
Solihin
03 Agu 2011 [#]
اسلم عليكمورحمتالله وبركته numpang copas ya biar lebih banyak yang baca? جزكالله خيرن
horizonwatcher andre
04 Agu 2011 [#]
Izin memakai tulisannya dalam blog saya.
kailani
07 Agu 2011 [#]
assalaamualaikum…
pak ustadz, saya mau copy…
Hady
08 Agu 2011 [#]
Aslmlkm. jazakalloh, atas postingan ini. izin copas.
Abu Shiddiq
08 Agu 2011 [#]
Assalamu’alaikum warohmatulloh!
Saran kpd admin utk tulisan arab (Al-Quran & Al-Hadits) agar agak diperbesar sedikit & jg diberi harokat krn tdk smua pembaca paham..!
Abu Jihad
11 Agu 2011 [#]
Assalaamu’alaykum
Ana numpang copas ya, untuk share di FB/blog ana.
Jazakumulloh khoir
Wassalaamu’alaykum
Hidayatz
11 Agu 2011 [#]
Assalamualaikum,
Mohon ijin pa Ustadz untuk print out hadits2 diatas buat di share hard copy dan disebarkan bagi “bang napi” di dalam, terima kasih sebelumnya, ijin selesa
Ngabidin
11 Agu 2011 [#]
Assalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Mohon ijin untuk copy dan share artikel kajian ilmu yang ada di web: muslim.or.id ini,
Syukran,
Yassarallah/sahhalallah lanal khaira haitsuma kunna,
Jazaakallahu khayran.
awwam
22 Agu 2011 [#]
Budi says:
14 October 2009 at 6:07 pm
Namun, pendapat yang paling kuat, adalah tidak boleh menggunakan hadits dhaif dalam segala hal termasuk keutamaan amal.
======
Ust. Aswad Yth
Tertarik dengan respon Ustadz atas tulisan Akh Al-Fakir Illalloh
Boleh tau tulisan Ustadz tersebut rujukannya dari mana?…karena Imam Bukhari sendiri menggunakan Hadits Dha’if dalam kitab Adabul Mufrad…Beda halnya dengan Kitab Jami’us Shahih yang memang menurut penelitian beliau Shahih semuanya.
Ibnu Hajar Al-Haitsami rahmatullah ‘alaihi katakan: “Para ulama telah bersepakat mengenai bolehnya mengamalkan hadis dhaif dalam hal keutamaan-keutamaan amal, karena andaikan hadis tersebut ternyata benar keberadaannya (sahih), maka dengan mengamalkannya berarti hak-hak hadis tersebut telah terpenuhi. Kalaupun tidak demikian – terbukti dhaif — maka hal tersebut tidak akan menimbulkan pengaruh buruk apapun seperti menghalalkan atau mengharamkan sesuatu atau hilangnya hak orang lain”
Kemudian tulisan Ustadz dibawah ini:
Menyampaikan hadits dhaif atau palsu tidak berbeda dengan berbohong atas nama Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Dan perbuatan ini dosanya besar
===
Apakah Hadits Dhaif = Hadits Palsu, mohon penjelasannya?
Terimakasih
Wassalam
Kaya’nya pertanyaan ini belum ada yang menjawab
Yulian Purnama
22 Agu 2011 [#]
#awwam
Silakan baca komentar2 kami sebelumnya, sudah kami jawab. Jika masih ingin membaca lebih mendalam, silakan simak:
http://muslim.or.id/hadits/meninjau-penggunaan-hadits-dhoif-dalam-fadhilah-amal.html
http://muslim.or.id/hadits/hadits-dhoif-menjadi-sandaran-hukum.html
ngadiyo
30 Sep 2011 [#]
assalamualaikumw3…ijin nglink gan…terima kasih Jazakumulloh khoiron…
ikhwan
05 Jul 2012 [#]
Assalaamu’alaikum
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang
1.Sesungguhnya, Kami telah menurunkan (AL-Qur’an) pada malam qadar.
2.Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
3.Malam kemuliaan itu lebih aik dari seribu bulan.
4.Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Allah untuk mengatur semua urusan.
5.Sejateralah (malam itu) sampai terbit fajar.
eko putra
10 Jul 2012 [#]
mohon info buku tentang hadist hadist lemah,dan dimana saya bisa mendapatkannya.terima kasih
abu izat
12 Jul 2012 [#]
izin share ustaz
Tsurayya
14 Jul 2012 [#]
jazakumullah atas ilmu nya..
saran saja untuk tombol yg “kembali ke atas” bisa dihilangkan tdk ya atau di geser ke kiri atau kanan pojok bawah ,krn sangat mengganggu dlm mebaca artikelnya
Tami
17 Jul 2012 [#]
Izin copy admin…
Yulian Purnama
18 Jul 2012 [#]
#eko putra
Bisa dicari di http://toko-muslim.com/
ibnuhidayat
25 Jul 2012 [#]
bismillah,,
afwan..sy izin copy ust.
NurGhifari
25 Jul 2012 [#]
Assalamu’laikum Wr.Wb
untuk lebih jelasnya mohon dcantumkan juga mengapa dan karena apa hadis itu dikatan dloif,palsu.
mungkin karena ada sanad yg lemah dsb.agar kami – kami yang awam bisa mengetahui alasanya.
syukron.
ajiewicaksono
25 Jul 2012 [#]
gan sorry nih , bisa dijelakan secara detail gak kenapa.? hadist itu bisa dibilang palsud .? biar ente gak asbun, soalnya ini menyangkut agama gan .:D
Yulian Purnama
25 Jul 2012 [#]
#ajiewicaksono
Untuk menjelaskan semuanya secara detail sangatlah panjang-lebar. Silakan merujuk pada kitab-kitab yang kami sebutkan, di zaman ini kitab-kitab tersebut sangat mudah ditemukan bagi orang yang mau benar-benar belajar hadits. Untuk memahami alasannya pun anda harus berbekal bahasa arab, ilmu hadits, dan musthalah hadits.
Sebagaimana mengatakan sebuah hadits itu dhaif kita tidak boleh asbun, juga dalam menyampaikan hadits tidak boleh asbun. Seseorang tidak boleh menyampaikan hadits sebelum tahu shahih atau dhaif. Kalau shahih ia sampaikan haditsnya, kalau dhaif ia harus memberitahu bahwa haditsnya dhaif.
Istimroor
26 Jul 2012 [#]
izin copy paste ke blog saya.
muhammad ridwan
03 Agu 2012 [#]
asalamualaikum wr wb
maaf sebelumnya ust, ana mau bertanya tentang hadis yang lemah pada bagian no 1,
ada hadis ynag mengatakan begini
اغزوا تغنموا سافروا تستغنواصوموا تصحوا…
bagaiman menurut antum tentang hadist ini ust………..
uda pernah dengar apa b elum …?
Yulian Purnama
03 Agu 2012 [#]
#muhammad ridwan
wa’alaikumussalam warahmatullah,
hadits tersebut sangat dhaif. karena terdapat perawi-perawi yang matruuk juga muttaham bil kadzab.
muhammad syukri
08 Agu 2012 [#]
ijin copy ke blog saya.Jazakallah
arista
09 Agu 2012 [#]
Ijinkan menyebarkan pak ustad, makasih sebelumnya atas ilmunya
cinta2maret
02 Mar 2013 [#]
Syukron infonya akhi.