Yasinan: Bid’ah yang Dianggap Sunnah

Kategori: Manhaj

203 Komentar // 24 Juli 2008

“Ayo pak kita yasinan di rumahnya pak RT!” Kegiatan yang sudah menjadi tradisi di masyarakat kita ini biasanya diisi dengan membaca surat Yasin secara bersama-sama. Mereka bermaksud mengirim pahala bacaan tersebut kepada si mayit untuk meringankan penderitaannya. Timbang-timbang, daripada berkumpul untuk bermain catur, kartu apalagi berjudi, kan lebih baik digunakan untuk membaca Al-Qur’an (khususnya surat Yasin). Memang sepintas jika dipertimbangkan menurut akal pernyataan itu benar namun kalau dicermati lagi ternyata ini merupakan kekeliruan.

Al-Qur’an untuk Orang Hidup

Al-Qur’an diturunkan Alloh Ta’ala kepada Nabi Muhammad shollallohu’alaihi wa sallam sebagai petunjuk, rahmat, cahaya, kabar gembira dan peringatan. Maka kewajiban orang-orang yang beriman untuk membacanya, merenungkannya, memahaminya, mengimaninya, mengamalkan dan berhukum dengannya. Hikmah ini tidak akan diperoleh seseorang yang sudah mati. Bahkan mendengar saja mereka tidak mampu. “Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang mati itu mendengar.” (Terjemah An-Naml: 80). Alloh Ta’ala juga berfirman di dalam surat Yasin tentang hikmah tersebut yang artinya, “Al Qur’an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan supaya dia memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup.” (Yasin: 69-70). Alloh berfirman yang artinya, “Sesungguhnya seseorang itu tidak akan menanggung dosa seseorang yang lain dan bahwasanya manusia tidak akan memperolehi ganjaran melainkan apa yang telah ia kerjakan.” (An-Najm: 38-39). Berkata Al-Hafizh Imam Ibnu Katsir rohimahulloh: “Melalui ayat yang mulia ini, Imam Syafi’i rohimahulloh dan para pengikutnya menetapkan bahwa pahala bacaan (Al-Qur’an) dan hadiah pahala tidak sampai kepada orang yang mati, karena bacaan tersebut bukan dari amal mereka dan bukan usaha mereka. Oleh karena itu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memerintahkan umatnya, mendesak mereka untuk melakukan perkara tersebut dan tidak pula menunjuk hal tersebut (menghadiahkan bacaan kepada orang yang mati) walaupun hanya dengan sebuah dalil pun.”

Adapun dalil-dalil yang menunjukkan keutamaan surat Yasin jika dibaca secara khusus tidak dapat dijadikan hujjah. Membaca surat Yasin pada malam tertentu, saat menjelang atau sesudah kematian seseorang tidak pernah dituntunkan oleh syari’at Islam. Bahkan seluruh hadits yang menyebutkan tentang keutamaan membaca Yasin tidak ada yang sahih sebagaimana ditegaskan oleh Al Imam Ad Daruquthni.

Islam telah menunjukkan hal yang dapat dilakukan oleh mereka yang telah ditinggal mati oleh teman, kerabat atau keluarganya yaitu dengan mendo’akannya agar segala dosa mereka diampuni dan ditempatkan di surga Alloh subhanahu wa ta’ala. Sedangkan jika yang meninggal adalah orang tua, maka termasuk amal yang tidak terputus dari orang tua adalah do’a anak yang sholih karena anak termasuk hasil usaha seseorang semasa di dunia.

Biar Sederhana yang Penting Ada Tuntunannya

Jadi, tidak perlu repot-repot mengadakan kenduri, yasinan dan perbuatan lainnya yang tidak ada tuntunannya dari Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam. Bahkan apabila dikaitkan dengan waktu malam Jum’at, maka ada larangan khusus dari Rosululloh shollalohu’alaihi wa sallam yakni seperti yang termaktub dalam sabdanya, “Dari Abu Hurairah, dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam: Janganlah kamu khususkan malam Jum’at untuk melakukan ibadah yang tidak dilakukan pada malam-malam yang lain.” (HR. Muslim). Bukankah lebih baik beribadah sedikit namun ada dalilnya dan istiqomah mengerjakannya dibanding banyak beribadah tapi sia-sia? Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang beramal yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka ia tertolak.” (HR. Muslim). Semoga Alloh subhanahu wa ta’ala melindungi kita semua dari hal-hal yang menjerumuskan kita ke dalam kebinasaan. Wallohu a’lam bishshowab.

***

Penulis: Muhammad Ikrar Yamin
Artikel www.muslim.or.id

buku saku

203 Komentar

  1. Muslim.Or.Id
    16 Feb 2010 [#]

    Berarti jika sy shalat shubuh 4 raka’at, juga tidak masalah dong! Kan gak ada dalil yang melarang? Apalagi makin banyak raka’at, makin banyak pahala! Iya kan.

  2. mohammadhafiz
    16 Feb 2010 [#]

    aslmkm..
    mane leh mcm too anda slap..
    setiap kebaikan yg anda lakukan sah slagi xbrcggah dgan syriat..
    dlm syariah telah ditetp kn solat subuh 2 rkaat xleh dtmbah lg..

  3. salafi
    16 Feb 2010 [#]

    Menurut Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah mengirim bacaan Al Quran adalah SAMPAI ..

    Tertulis dalam Majmu’ Fatawanya:
    وسئل عن قراءة أهل البيت : تصل إليه ؟ والتسبيح والتحميد، والتهليل والتكبير، إذا أهداه إلى الميت يصل إليه ثوابها أم لا ؟
    فأجاب :
    يصل إلى الميت قراءة أهله، وتسبيحهم، وتكبيرهم، وسائر ذكرهم لله تعالى، إذا أهدوه إلى الميت، وصل إليه . والله أعلم .
    وسئل : هل القراءة تصل إلى الميت من الولد أو لا على مذهب الشافعي ؟
    فأجاب :
    أما وصول ثواب العبادات البدنية كالقراءة، والصلاة، والصوم فمذهب أحمد، وأبي حنيفة، وطائفة من أصحاب مالك، والشافعي، إلى أنها تصل، وذهب أكثر أصحاب مالك، والشافعي، إلى أنها لا تصل . والله أعلم .

    Beliau ditanya tentang membaca Al Quran ang dilakukan keluarga; apakah sampai kepada mayit? Begiju juga tasbih, tahmid, takbir, jika dihadiahkan olehnya untuk mayit , sampaikah pahalanya kepadanya atau tidak?
    Beliau menjawab:
    “Pahala bacaan Al Quran keluarganya itu sampai kepada mayit, dan tasbih mereka, takbir, serta semua bentuk dzikir mereka kepada Allah Ta’ala jika dia hadiahkan kepada mayit, maka sampai kepadana. Wallahu A’lam”
    Beliau ditanya: menurut madzhab Syafi’I apakah pahala membaca Al Quran akan sampai kepada mayit dari anak atau tidak?
    Beliau menjawab:
    “Ada pun sampainya pahala ibadah-ibadah badaniah seperti membaca Al Quran, shalat, dan puasa, maka madzhab Ahmad, Abu Hanifah, segolongan sahabat Malik, Syafi’i, menatakan bahwa hal itu sampai pahalana. Sedangkan pendapat kebanyakan sahabat Malik, Syafi’I, mengatakan hal itu tidak sampai.” Wallahu A’lam
    (Majmu’ Fatawa, 34/324. Darul Maktabah Al Hayah)

  4. Muslim.Or.Id
    16 Feb 2010 [#]

    Mohon kalau menukil perkataan Syaikhul Islam jangan sepotong2. Coba Antum baca artikel di sini:
    http://rumaysho.com/belajar-islam/jalan-kebenaran/2753-beberapa-kekeliruan-seputar-mayit-dan-kubur.html

    Berikut nukilan lain di Majmu’ Fatawa:

    “Sedangkan jika ada yang mengatakan bahwa bermanfaat bagi si mayit ketika dia diperdengarkan Al Qur’an dan dia akan mendapatkan pahala jika mendengarnya, maka pemahaman seperti ini sungguh keliru. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah bersabda,

    إذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلَّا مِنْ ثَلَاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

    “Jika manusia itu mati, amalannya akan terputus kecuali melalui tiga perkara: [1] sedekah jariyah, [2] ilmu yang dimanfaatkan, atau [3] anak sholeh yang mendo’akan dirinya. ”

    Oleh karena itu, setelah kematian si mayit tidak akan mendapatkan pahala melalui bacaan Al Qur’an yang dia dengar dan amalan lainnya. Walaupun memang si mayit mendengar suara sandal orang lain dan juga mendengar salam orang yang mengucapkan salam padanya dan mendengar suara selainnya. Namun ingat, amalan orang lain (seperti amalan membaca Al Qur’an, pen) tidak akan berpengaruh padanya.

    Semoga Allah beri taufik.

  5. Muslim.Or.Id
    16 Feb 2010 [#]

    @ Mohammad hafiz
    Sama halnya pula, dalam syariat sesudah kematian tidak dituntunkan baca yasin.

  6. newbie
    14 Apr 2010 [#]

    kalo malem jumat kalo g salah yang pas mbaca surat Alkahfi y?
    Ane pernah denger dari ustad di daerah ane waktu kajian…
    manfaatnya, dengan bacaan tersebut, akan ada cahaya yang muncul dari bawah telapak kakinya sampai ke langit, yang akan membantu menerangi di hari akhir nanti…

    mohon koreksi kalo ad kesalahan…

  7. Abu Muhammad Naufal Zaki
    15 Apr 2010 [#]

    Dari Abu Sai’id Al-Khudry, Rasulullah Shallallahu
    ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Orang yang membaca surat
    Al-Kahfi pada hari Jum’at maka dia akan diterangi oleh
    cahaya antara dua Jum’at” (HR. An-Nasai, al-Baihaqi,
    dan Hakim, serta disahihkan oleh al-Albani dalam kitab
    As-shahihah”, 2651).
    Dalam riwayatnya yang lain:
    “Orang yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at,
    akan muncul cahaya dari bawah kakinya menjulang sampai
    ke langit yang meneranginya pada hari Kiamat, dan dia
    akan diampuni antara dua Jum’at” (HR. al-Hakim,
    al-Baihaqi, dan disahihkan oleh Arnauth, juga
    diriwayatkan oleh Ad-Darimy dalam musnadnya (mauquf)
    pada Abu Said dan para Rawinya seluruhnya terpercaya
    (tsiqaat), dan seperti ini tidak mungkin berasal dari
    pendapat mereka, jadi hukumnya adalah hukum “marfu’”.
    Dan ibnu Qayyim Rahimahullah mengatakan: Sa’id bin
    mansyur menyebutkannya dari perkataan Abu Sa’id
    al-khudry seperti itu juga (zaadul maad 1/378).
    Ad-darimy meriwayatkannya dengan lafadz,
    “Orang yang membaca surat kahfi pada malam Jum’at dia
    akan diliputi cahaya antara dia dan baitul ‘atiq.”
    {Disahihkan oleh syekh al-Albany dalam kitab “shahihul
    jami’ (6471)}.

  8. Ihind
    05 Mei 2010 [#]

    kalo apa yg kita kirimkan tidak sampai kepada mayit lantas mengapa ketika sholat jenazah pada raka’at yg keempat kita mendoakan si mayit..
    mohon beri penjelasannya dari kitab yg bisa dipercaya dan bukan merupakan kitab tejemahan karena kitab terjemahan itu tergantung siapa yg menerjemahkannya..

  9. Abduh Tuasikal
    06 Mei 2010 [#]

    @ Ihind
    Kalau do’a memang sampai pada mayit karena ada dalilnya. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,
    وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
    “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”.” (QS. Al Hasyr: 10) Ayat ini menunjukkan bahwa di antara bentuk kemanfaatan yang dapat diberikan oleh orang yang masih hidup kepada orang yang sudah meninggal dunia adalah do’a karena ayat ini mencakup umum, yaitu orang yang masih hidup ataupun yang sudah meninggal dunia.
    Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di mengatakan, “Do’a dalam ayat ini mencakup semua kaum mukminin, baik para sahabat yang terdahulu dan orang-orang sesudah mereka. Inilah yang menunjukkan keutamaan iman, yaitu setiap mukmin diharapkan dapat memberi manfaat satu dan lainnya dan dapat saling mendoakan.”
    Begitu pula sebagai dalil dalam hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
    دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ
    “Do’a seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah do’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendo’akan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan do’anya. Tatkala dia mendo’akan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: “Amin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi”.” (HR. Muslim) Do’a kepada saudara kita yang sudah meninggal dunia adalah di antara do’a kepada orang yang di kala ia tidak mengetahuinya.

    Sedangkan bacaan qur’an menurut madzhab syafi’i tidak akan sampai pada mayit karena memang tidak ada dasarnya dalam hal ini.

  10. abu muhammad naufal zaki
    06 Mei 2010 [#]

    Berikut Perkataan Ulama Madzhab Syafii
    (1)Imam Nawawi dlm Kitab Syarah Muslim berkata : Adapun bacaan Qur’an (yg pahalanya dikirimkan kpd mayit) mk yg mashur dalam mazhab syafii tidak sampai kpd si mayit….Dalil Imam Syafii : Firman Allah :Dan seorang tidak memperoleh selain dari usahanya sendiri, dan Sabda Nabi : jika meninggal anak adam maka terputuslah amalnya kecuali 3…. Dalam Takmilatul Majmu Syarah Muhazzab, beliau berkata :Adapun bacaan quran dan mengirimkan pahalanya untuk simayit dan mengganti shalat si mayit menurut Imam Syafii dan Jumhur Ulama adlah Tidak dapat sampai kepada yg dikirimi.
    (2) Al Haitami dlm Al Fatawa Al Kubra : “Mayit, Tidak boleh dibacakan apapun, berdasarkan keterangan mutlak para ulama bahwa bacaan tsb tidak dapat sampai kepada mayit sebab bacaan itu untuk pahala pembacanya saja dan pahala hasil amalan tidak dapat dipindahkan berdasarkan firman Allah : Dan manusia tidak memperoleh kecuali pahala dari hasil usaha sendiri.”
    (3) Al Haitami dlm Al Fatawa Al Kubra : “Mayit, Tidak boleh dibacakan apapun, berdasarkan keterangan mutlak para ulama bahwa bacaan tsb tidak dapat sampai kepada mayit sebab bacaan itu untuk pahala pembacanya saja dan pahala hasil amalan tidak dapat dipindahkan berdasarkan firman Allah : Dan manusia tidak memperoleh kecuali pahala dari hasil usaha sendiri.”
    (4)Imam Al Khazin dalam Tafsirnya : “Dan yg masyur dalam mazhab syafii bahwa bacaan qur’an (untuk orang mati) adalah tidak dapat sampai kepada mayit yg dikirm.”
    (5) Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat 39 surat An Najm : Sebagaimana dosa seseorang tidak dapat menimpa orang lain demikian pula tidak dapat memperoleh pahala orang lain melainkan dari hasil amalnya sendiri, dari ayat mulia ini, Imam Syafii dan ulama-ulama mengikuti kesimpulannya bahwa bacaan yg pahalanya dikirimkan kepada mayit adalah tidak dapat sampai krn bukan dari hasil usahanya. Oleh karena itu Rasul TIDAK PERNAH MENGANJURKAN (apalagi menyuruh) UMATNYA UNTUK MENGAMALKAN (mengirim pahala) dan TIDAK PERNAH MEMBERIKAN BIMBINGAN, BAIK DENGAN NASH/DALIL MAUPUN DENGAN ISYARAT, dan tidak ada seorang pun sahabat yg melakukannya, kalau toh amalan itu baik, tentu mereka (para sahabat) telah lebih dahulu mengerjakannya…”

  11. Ahsan
    07 Mei 2010 [#]

    Alhamdulillah….
    Terima kasih….
    Saya sdh dpt membedakan skrng antara M’bacakan Alqur’an bagi si mayat dgn M’doakan si mayat.
    Kalo M’bacakan Alqur’an tdk sampe kpd si mayit, sdngkan M’doakan akan sampai kpd si mayit.

    Jazakumullah khairan…

  12. Melinda
    11 Mei 2010 [#]

    terima kasih infonya,ternyata msh banyak yg belum mengetahui hal ini

  13. Abdurrazaq
    12 Mei 2010 [#]

    Barakallahu fik,semoga brmanfaat kpada kami

  14. sophy difanda
    21 Mei 2010 [#]

    Sepengetahuan saya membaca alquran itu juga mengandung doa, mohon koreksi jika salah.

  15. Abduh Tuasikal
    22 Mei 2010 [#]

    @ Sophy
    Namun jk tanpa tuntunan, ini yg masalah.

  16. Ida Julfarida
    09 Jun 2010 [#]

    Lalu do’a apa yg bisa sampai untuk orang yg sudah meninggal dunia? mohon penjelasannya.

  17. Abduh Tuasikal
    10 Jun 2010 [#]

    @ Ida:
    Do’a apa saja itu akan bermanfaat bagi si mayit, termasuk do’a ampunan padanya dan do’a diringankan dari siksa kubur. Silakan simak artikel berikut:
    http://rumaysho.com/belajar-islam/jalan-kebenaran/2751-amalan-amalan-yang-bermanfaat-bagi-mayit.html.

  18. lekrifai
    16 Jul 2010 [#]

    Astaghfirullah….. di akhir zaman kian banyak orang yg mencari kebenaran hanya mengandalkan akalnya semata. ibadah syariah seakan ilmu matematika yang pamer logika. Ya Allah bukalah hati mereka, berikan petunjuk pada mereka yang pintar bermain kata-kata dan menutup-nutupi kebenaran dengan menerjemahkan Ayat-ayatmu dengan dalil ilmiah saja. Terangilah jalan mereka dari jalan yg gelap menuju jalan kebenaran. Semoga saudaraku mendapat hidayahNya Amien…….

  19. Bagus
    08 Okt 2010 [#]

    Assalamu’alaikum
    mohon penjelasannya tentang pendapat ini,atau lbh tpatnya sebagian hujjah mereka yg mengatakan bhw pahala Al Qur’an sampai pd mayit.Shga sy bz yakin mana pndpat yg benar,sebab kebenaran hanya satu…..Pertama(1)bhwa mengHadiahkan pahala bc Al Qur’an sdh dikenal di masa sahabat,karena kaum Anshar seperti yg diriwayatkan ole asy-Sya’aby,bhw bila ada seorang yg wafat mereka berkumpul di kuburan dan membaca Al Qur’an
    (2)bhwa Ibnu Taimiyah brPndapat bhwa pahala itU smpai pd mayit sPrti brikut ini ” pahala bc Al Qur’an sampai kpd mayit.Ada hadits shahih yg d’trma scra ijma’ bhw mayit disiksa krna tngisan keluarganya.Dan jk mayit bs mNdpatkan siksa krn prbuatan orang lain,tentu Allah lbih memuliakan dia dngm menyampaikan pahala ibadah orang lain untuknya”.(kitab Al ‘Iddah Syarh al ‘Umdah)
    syukron

  20. Al Balaidhana
    11 Okt 2010 [#]

    Saya sependapat dg Mas Ahsan. Yang kita kirimkan bukan membaca yasinnya. Tetapi doanya. Jadi pahala membaca yasin untuk kita sendiri. Terus yang di khususkan tu mendapat doa dari kita. Selain itu tradisi Yasinan tu diambil dari segi silatuarahminya itu bagus karena bisa saling berkumpul membaca Al Qur’an. Dari pada berkumpul membaca kartu ?

  21. Al Balaidhana
    11 Okt 2010 [#]

    Menambahkan lagi. klo hanya berpatok doa itu tdk sampai kecuali dari anak yg sholeh itu tidak adil dong ? gmn klo si mayit itu gak punya anak, atau anaknya riddah mungkin, ataukah bahkan si mayit tidak menikah ? dia gak bkalan dpt kiriman doa dong ? Pie Jal ?

  22. Yulian Purnama
    12 Okt 2010 [#]

    #Al Balaidhana
    - Nabi dan para sahabat Nabi juga sangat ingin mendoakan keluarga mereka yang meninggal, tapi mereka tidak pernah Yasinan
    - Nabi dan para sahabat Nabi juga sangat ingin menambah pahala membaca Al Qur’an, tapi mereka tidak pernah Yasinan
    - Nabi dan para sahabat Nabi juga sangat ingin mempererat silaturahmi, tapi mereka tidak pernah Yasinan

    Sangkaan anda salah, siapapun boleh mendoakan sang jenazah, namun tidak harus bersama-sama dan hari tertentu. Silakan baca:
    http://rumaysho.com/belajar-islam/jalan-kebenaran/2751-amalan-amalan-yang-bermanfaat-bagi-mayit.html

  23. neyfa
    23 Okt 2010 [#]

    assalamu’alaikum,,,
    yah baiklah kalo masih banyak juga yang kritis masalah yasinan itu bid’ah dsb…tapi apakah membaca yasin itu (walau bersama2) tidak akan mendapat pahala??sedangkan hadisnya jelas, bahwa membaca الم saja dihitung 10 pahala tiap huruf yang dibaca.oleh karena itu qt lihat dari segi positifnya,,,menurut saya, dengan adanya sebutlah tradsisi ini selain menjadi wadah silaturrahmi juga menjadi “pembelajaran baca al-quran” bagi yang belum sempat atau belum bisa membacanya. namun bukan berati mengkhususkan membaca yasin hanya untuk di malam jum’at saja. bacalah semua surat2 alqurkan hari apa pun, kapanpun, memangnya alquran itu hanya yasin saja??ok lah semuanya bisa memberikan argumen tentang ini, namun jangan sampai hal ini menjadi pemecah belah antar umat islam. jangan sampai anggapan bid’ah atau pandangan negatif terhadap tradisi ini menjadi sensitif diantara umat islam indonesia. yang nantinya hanya akan membuat konflik intern dan melupakan tujuan dari islam itu sendiri. masih banyak yang harus ditangani oleh umat islam, apalagi ‘imej’ islam harus tetap dipertahankan dan dibuktikan bahwa islam itu rahmatan lil ‘alamin…bukan kekerasan lil ‘alamin.
    wallahu al muwaffiq wa al hadi ila sawa-is sabil…
    wassalamu’alaikum.

  24. Yulian Purnama
    23 Okt 2010 [#]

    #neyfa
    - Itulah ruginya melakukan bid’ah, seharusnya membaca Qur’an itu berpahala, namun karena tatacaranya bid’ah, sehingga tertolak. Inilah mengapa nasehat agar menjauhi bid’ah perlu digencarkan. Kalau tidak banyak umat muslim yang berada dalam kerugian.
    - Nabi dan para sahabat Nabi juga sangat ingin mendoakan keluarga mereka yang meninggal, tapi mereka tidak pernah Yasinan
    - Nabi dan para sahabat Nabi juga sangat ingin menambah pahala membaca Al Qur’an, tapi mereka tidak pernah Yasinan
    - Nabi dan para sahabat Nabi juga sangat ingin mempererat silaturahmi, tapi mereka tidak pernah Yasinan
    - Yang melarang bid’ah adalah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, lalu bagaimana mungkin dikatakan melarang bid’ah itu adalah kekerasan?
    - Islam dengan semua ajarannya, termasuk ajaran untuk melarang bid’ah, adalah rahmatan lil’alamin. Silakan simak:
    http://muslim.or.id/al-quran/islam-rahmatan-lil-alamin.html

  25. Al Balaidhana
    24 Okt 2010 [#]

    # Yulian : Dalam hadits riwayat Nasa’i bersumber dari Ma’qal bin Yasar al-Muzan mengatakan, Rasulullah SAW pernah bersabda:

    اقْرَؤُا يس عِنْدَ مَوْتَاكُمْ

    “Bacalah surat Yasin di samping saudaramu yang sedang sekarat.”

    Hadits ini juga berlaku bagi yang masih hidup untuk membacakan Yasin untuk yang sudah meninggal. Persis seperti sabda Rasulullah: Laqqinu mautakum La ilaha illallah (Tuntunlah orang mati dengan kalimat La ilaha illallah). Dan termasuk dalam hadits ini adalah bacaan Yasin di atas makam. (Demikian penjelasan dalam kitab Kasyifatus Syubhat, hlm. 263)

    Dalam hadits Ma’qal bin Yasar tersebut juga disebutkan bahwa:

    يس قَلْبُ القُرْآن لَا يَقْرَؤهَا رَجُلٌ يُرِيْدُ اللهَ وَالدَّارَ الآخِرَةَ إلَّا غَفَرَ لَهُ اقْرَءُوْهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ

    Surat Yasin adalah jantung Al-Qur’an. Siapa saja yang membacanya semata-mata karena Allah dan berharap kebahagiaan akhirat maka ia akan diampuni. Maka bacakanlah Yasin di samping saudaramu yang sedang sekarat.

    Diriwayatkan juga: jika seorang muslim dan muslimah dibacakan surat Yasin ketika mendekati ajal maka akan diturunkan 10 malaikat berkat dari huruf-huruf Yasin yang dibaca. Para malaikat itu berdiri berbaris di samping yang sakit, membacakan shalawat dan istighfar kepadanya dan ikut menyaksikan saat dimandikan dan mengantarkan ia ke makam. (Tafsir Yasin lil Hamamy, hlm. 2)

    Dalam kitab Audhaul Ma’ani Ahadits Riyadh as Shalihin disebutkan bahwa bacaan surat Yasin untuk yang sedang mendekati ajal akan menjadi bekal dia, seperti halnyaa ia membawa susu kental dalam perjalanan. Dan surat Yasin pada dasarnya dapat dibaca untuk seseorang setelah meninggal di rumah atau bahkan di makam. (Audhaul Ma’ani, hlm. 376)

    KH Munawwir Abdul Fattah
    Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta

  26. Yulian Purnama
    25 Okt 2010 [#]

    #Al Balaidhana
    Semoga Allah merahmati anda. Sekedar mengingatkan, bahwa di masa ini kita tidak cukup sekedar menyebutkan hadits dan nama kitabnya saja, karena sudah banyak tersebar hadits lemah dan palsu yang beredar di tengah kita. Jadi, kalau ada hadits di kitab Fulan, jangan dulu diyakini bahwa itu perkataan Nabi. Kita perlu mengecek derajat haditsnya, atau merujuk pada ulama ahli hadits seperti Ibnu Hajar Al Asqalani, Adz Dzahabi, At Tirmidzi, An Nawawi, As Shaghani, Al Mundziri, Asy Syaukani, Al Haitsami, dll.

    Dan hadits yang anda bawakan adalah hadits-hadits lemah, tidak boleh diyakini sebagai perkataan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Silakan simak:
    http://muslim.or.id/manhaj/derajat-hadits-fadhilah-surat-yasin.html

  27. chakoen
    25 Okt 2010 [#]

    Maaf saya masih awam…masih mencari kebenaran dan kejelasan mengenai Islam. Saya pernah di Saudi Arabia…selama itu saya belum pernah nemuin Yasinan…saya masih perlu belajar…and kalo bisa mohon bimbingannya….saya ndak mau terjebak dengan masalah Bid’ah…thanks…wassalam

  28. Yulian Purnama
    25 Okt 2010 [#]

    #chakoen
    Sepengetahuan kami, Yasinan memang hanya ada di Indonesia. Dari sini kita bisa tahu bahwa Yasinan bukan dari Islam.

  29. Al Balaidhana
    25 Okt 2010 [#]

    # Akhi/Mas Yulian : Fa insya Allah kita semua jg diberi petunjuk oleh Allah SWT. Intinya gni, setiap orang melakukan sesuatu punya dasar. Anta berkeyakinan spt itu, anta jg punya dasar kn ? Bgtu jg dengan saya, kita sama2 punya dasar. Jgn merasa kita ini paling benar. Tp ya alhamdulillah dg diskusi majlis ilmu ini ini saya jd tau, anta tdk spndpt tu krn apa dan bgtu jg sebaliknya saya tdk spndpt dg anda jg karena apa. Bukan bgtu Akhi/Mas Yulian ?

  30. Yulian Purnama
    26 Okt 2010 [#]

    #Al Balaidhana
    Semoga Allah merahmati anda. Sekedar memiliki dasar, atau sekedar memiliki dalil, bukan berarti ia telah berada di koridor yang benar. Sebut saja sekte aliran yang menurut anda paling sesat, pasti mereka memiliki dalil dan dasar. Orang yang mengaku Nabi setelah Rasulullah, memiliki dalil dan dasar. Orang yang mengatakan shalat itu tidak wajib, memiliki dalil dan dasar. Orang yang mengatakan Islam itu bukan agama paling benar, memiliki dalil dan dasar. Maka dalil dan dasar ini haruslah dalil yang shahih dan dasar yang kokoh. Tentang yasinan, tidak ada dalil shahih, tidak ada dasar yang kokoh, tidak ada ulama yang mengajarkan, bukan imam 4 madzhab bukan pula Imam Asy Syafi’i.

    Ketika anda menganggap orang yang anti-yasinan itu salah, sesungguhnya anda juga merasa benar. Untuk apa Allah Ta’ala menurunkan Al Qur’an dan Rasul-Nya jika orang yang mengamalkan keduanya ini tidak boleh meyakini keduanya adalah kebenaran?

    ‘Ala kulli haal, artikel ini dan dakwah sunnah pada umumnya, tidak memaksa anda untuk ini dan untuk itu. Dakwah itu hanya menyampaikan, jika anda terima, walhamdulillah, jika tidak pun tidak mengapa. Hidayah taufiq hanyalah milik Allah semata.

  31. Yulian Purnama
    26 Okt 2010 [#]

    #Bagus
    Wa’alaikumussalam. Mengenai pahala bacaan Qur’an, ulama berbeda pendapat, sebagian mengatakan pahalanya sampai, sebagian lagi tidak sampai. Namun tidak dengan tata cara dan waktu khusus sebagaimana Yasinan. Cukup membacanya masing-masing kapan saja dan dimana saja.
    Mengenai kumpul2 di kuburan untuk membacakan Al Qur’an, sebagian ulama membolehkan asalkan sebelum pemakaman. Adapun setelah pemakaman tidak ada satupun dalil.
    Lebih lengkapnya silakan simak:
    http://rumaysho.com/belajar-islam/jalan-kebenaran/2751-amalan-amalan-yang-bermanfaat-bagi-mayit.html
    http://rumaysho.com/belajar-islam/jalan-kebenaran/2753-beberapa-kekeliruan-seputar-mayit-dan-kubur.html

  32. marzuki_mail
    28 Okt 2010 [#]

    Ibn Taymiyyah pernah ditanya tentang bacaan Al-Qur’an untuk mayyit juga tasbih, tahlil, dan takbir jika dihadiahkan kepada mayyit, apakah sampai pahalanya atau tidak? Beliau menjawab sebagaimana tersebut dalam kitab beliau Majmu’ Fatawa jilid 24 hal. 324 : “sampai kepada mayyit bacaan Al-Qur’an dari keluarganya demikian tasbih, takbir serta seluruh dzikir mereka apabila mereka menghadiahkan pahalanya kepada mayyit akan sampai pula kepadanya”.

  33. Abduh Tuasikal
    28 Okt 2010 [#]

    @ Marzuki
    Beliau katakan sampai, namun beliau tdk menyariatkan adanya yasinan atau tahlilan sbgmn yg dipraktikan kaum muslimin di negeri kita. Moga2 bisa paham. Semoga Allah beri taufik.

  34. heru
    28 Okt 2010 [#]

    assalamu’alaikum.
    salam kenal, semoga kita selalu dalam rahmat, hidayah, dan akidah sunnah yang lurus.

  35. Denheru
    28 Okt 2010 [#]

    “Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang mati itu mendengar.” (Terjemah An-Nahl: 80)

    6. An Nahl
    80. Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan (membawa)nya di waktu kamu berjalan dan waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu onta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu).

    ArRuum
    52. Maka Sesungguhnya kamu tidak akan sanggup menjadikan orang-orang yang mati itu dapat mendengar, dan menjadikan orang-orang yang tuli dapat mendengar seruan, apabila mereka itu berpaling membelakang[1176].

  36. sulistyo
    29 Okt 2010 [#]

    assalamu’alaikum….
    saya masih awam tentang islam dan ingin belajar tentang islam. saya tertarik dengan pejelasan saudara yulian purnama tentang yasinan. jika benar yasinan itu tidak disyariatkan maka bagaimana kita menolak ajakan seseorang untuk yasinan. saya merupakan orang baru dilingkungan saya dan saya diajak untuk ikut yasinan setiap malam jumat.

  37. Yulian Purnama
    29 Okt 2010 [#]

    #sulistyo
    Wa’alaikumussalam. Hendaknya anda menolak untuk datang dengan cara yang baik. Saya kira, hak untuk tidak datang juga merupakan hak asasi yang semestinya dihormati warga. Namun imbangi ketidak-datangan itu dengan rutin shalat ke masjid, juga aktif dalam berbagai kegiatan di masyarakat agar ukhuwah tetap terjalin.

  38. abdullah
    02 Nov 2010 [#]

    assalamu’alaikum ustadz.
    menurut saya pembahasan tentang “yasinan”, tentu tdk terlepas bagaimana pemahaman seseorang tentang makna bid’ah dan amalan2 yg didasari dg hadist dhoif (yg bukan untuk menentukan hukum halal haram dan yg tdk bertentangan dgn hadist shohih )

    Jika pemahaman tentang makna bid’ah dan amalan2 yg didasari hadist dhoif berbeda, tentu pendapat tentang (salah satunya) “yasinan” ini pasti berbeda.

  39. Irwan
    04 Nov 2010 [#]

    Assalamualaikum,
    wahai saudaraku semuanya memang benar yang telah ustad terangkan di atas,yasinan hanya ada di indonesia,krn amalan orng yasinan pd hari tertentu pasti trtolak krn tidak ada dalil yg membolehkannya..
    Wahai saudaraku dalam urusan agama perhatikan baik2 jika ada perintah maka krjakan jika tdk ada perintah maka tinggalkan untk urusan dunia jika tidak ada larangan maka kerjakan jika ada larangan maka tinggalkan.

  40. Hanif
    09 Nov 2010 [#]

    assalamualaikum wr.wb…
    .saya setuju,bukanya lebih baik membaca semua surat dalam al-quran daripada hanya yasin terus…

  41. Ibnu Syakieb
    10 Nov 2010 [#]

    Alhamdulillah…semoga Allah membuka hijab yg menutupi hati kita, agar mudah menerima dan memberikan pemahaman yg benar tentang Ilmu-Nya…dan berlindung kepada Allah dari hati yg keras…Amiin

  42. yazid
    10 Nov 2010 [#]

    saya mau tanya tentang tuntunan istiqosyah. itu ada tuntunannya ngak?

  43. Yulian Purnama
    14 Nov 2010 [#]

    #Abdullah
    Wa’alaikumussalam. Anda benar. Oleh karena itu hendaknya orang memahami masalah bid’ah dan masalah hadits dhaif dengan pemahaman yang benar.

  44. imam hambali
    25 Nov 2010 [#]

    Para Pengasuh yang masih diRahmati Alloh,
    mohon untuk tidak menampilkan artikel yang memebawa-bawa masalah Bid’ah.Karena langkah kita selama ini banyak yang tidak sesuai/ tidak ada tuntunan dari Nabi SAW,coba anda renungkan lagi dan tela’ah satu per satu kegiatan anda.Kita patut bersyukur sampai detik ini kita bisa memeluk Islam karena jerih payah para Ulama’,kyai, dan para Wali Alloh yang menyebarkan Agama Islam ditengah masyarakat Atheis,dan kerajaan Hindu waktu itu.Para Wali cara berdakwah harus berbaur dengan adat istiadat waktu itu,dan itu berarti para Wali menyebarkan Islam sebagian dengan Bid’ah.Kalo gak gitu mungkin sampai hari ini kita menyembah pohon-pohon dan sesaji di depan rumah kita.trims atas kerjasamanya.”lana a’maluna walakum a’malukum”- tanggung jawab kami apa yang kami kerjakan & tanggung jawabmu apa yang kamu kerjakan.

  45. Yulian Purnama
    30 Nov 2010 [#]

    #Imam Hambali
    Semoga Allah membalas amal dan upaya para wali, kiai dan orang-orang yang menyebarkan Islam ke Indonesia. Maka, marilah kita lanjutkan perjuangan mereka yaitu: menyebarkan ajaran Islam. Dan salah satu ajaran Islam adalah mengingkari bid’ah.
    Ohya, Imam Ahmad bin Hambal atau Imam Hambali merupakan ulama ahlussunnah yang keras terhadap bid’ah.

  46. ligar
    05 Des 2010 [#]

    masalahnya ini sudah tradisi/kebiasaan, dan didukung oleh kyai2, ulama2 setempat… sy yg orang awam… jadi bingung dan kalau tidak hati2 dan arif menyikapinya, malah terkucil dan dianggap “aliran baru manalagi nih?”… itu yg mengucapkan kyai lho…

  47. Muhammad Guruh
    09 Des 2010 [#]

    #Imam Hambali
    Suatu keprihatinan jika web ISLAM tidak menampilkan artikel PENCERAHAN, …karena sebetulnya media dakwah Ahlussunnah Waljamaah tidak hanya melalui web ini melainkan juga radio yang pancarannya lebih luas di masyarakat. Lantas siapa yang akan saling menasihati? Apakah sesama muslim akan lebih TEGA mengucilkan saudaranya ketimbang orang NON muslim yang mati dikampungnya!, dikarenakan si muslim yang satu tidak ikut mendo’akan si muslim satunya melalui tahlilan/yasinan.
    Ya Allah, satukanlah hati-hati kami di atas manhaj-MU, dan jadikanlah kami orang-orang yang mencintai-MU dan mencintai orang-orang yang mencintai-MU, karena kami tahu bahwa seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya.

  48. Fahrul
    09 Des 2010 [#]

    Assalamu`alaikum
    @ Imam Hambali
    Kalau saat itu Para Wali Songo benar2 berdakwah sesuai keadaan seperti yang anda katakan(itu pun masih harus diperiksa lagi kebenarannya),maka saya katakan anggap saja itu hasil ijtihad mereka dan kini saatnya kita perbaiki kesalahan dakwah mereka. Saya ambil contoh dahulu Imam Hanifah banyak mengambil ijtihad berdasarkan qiyas dalam hal ibadah karena saat itu belum para tabi`in banyak menyebar peselosok pedalaman sehingga beliau belum mendapat semua hadits yang ada,maka saat sudah ada hadits shahih itulah mazhab kita. Sekian dari saya. Jazakallah.

  49. Ian
    18 Des 2010 [#]

    Sungguh banyak yg ilmu yg bisa didapatkan dari web ini.Semoga para pengurus selalu mendapat rahmat dan pertolongan ALLOH SWT
    Sedikit menambahkan ttg topik ini, saya pernah mengikuti pengajian dg narasumber seorang dai yang mantan pendeta Hindu (Bpk.H.Abdul Azis). Begitu detail beliau menjelaskan bukan hanya yasinan, tapi semua jenis ritual yg ada di masyarakat kita yg lazim disebut SELAMATAN, dan beliau tuangkan dalam satu buku yang berjudul Islam Menggugat Selamatan (insyaALLOH benar gitu judulnya,krn saya hadiahkan utk seorang Hindu). Selamatan disini seperti utk orang meninggal (3hari,7hari,100,1000,dst) lalu untuk bayi (tingkeban,pitonan,dll) mendirikan rumah,dan lain sebagainya.
    Dari sini saja jelas bahwa banyak ritual yg dianggap ibadah dlm masyarakat ternyata adalah dari agama Hindu (agama mayoritas pra-Islam).Sungguh tampak jelas seperti dalam adegan pembuka film SANG PENCERAH (KH.Ahmad Dahlan,pendiri Muhammadiyah). Dan sering saya dengar pembela ritual ini karena taqlid buta pada kyai dan ber hujjah dengan kisah para Walisongo. Mohon pengurus muslim.or.id membahas sejarah Walisongo ini dilain waktu (semoga diberi kesempatan ALLOH SWT.
    Selamat berjuang saudara seiman terkasih.. :)

  50. dino
    05 Jan 2011 [#]

    Orang-orang yg menganggap benar masalah yasinan/selamatan kematian seringkali menggunakan dalil ini :

    “Syaikh Isma’il Zain al-Yamani menulis sebagai berikut (kami kutib secara garis besar) : Dalam Sunan Imam Abu Dawud hadits no. 2894 dituliskan :

    حدثنا محمد بن العلاء أخبرنا ابن إدريس أخبرنا عاصم بن كليب عن أبيه عن رجل من الأنصار قال خرجنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في جنازة فرأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو على القبر يوصي الحافر أوسع من قبل رجليه أوسع من قبل رأسه فلما رجع استقبله داعي امرأة فجاء وجيء بالطعام فوضع يده ثم وضع القوم فأكلوا فنظر آباؤنا رسول الله صلى الله عليه وسلم يلوك لقمة في فمه ثم قال أجد لحم شاة أخذت بغير إذن أهلها فأرسلت المرأة قالت يا رسول الله إني أرسلت إلى البقيع يشتري لي شاة فلم أجد فأرسلت إلى جار لي قد اشترى شاة أن أرسل إلي بها بثمنها فلم يوجد فأرسلت إلى امرأته فأرسلت إلي بها فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم أطعميه الأسارى

    ‘Muhammad bin al-‘Ala’ menceritakan dari (Abdullah) bin Idris dari ‘Ashim bin Kulaib dari ayahnya (Kulaib) dari seorang laki-laki Anshar (shahabat), berkata: ‘Aku keluar bersama Rasulallah berta’ziyah ke salah satu jenazah. Selanjutnya aku melihat Rasulallah di atas kubur berpesan kepada penggali kubur (dengan berkata): ‘Lebarkanlah bagian arah kedua kaki dan lebarkan pula bagian arah kepala!’ Setelah Rasulallah hendak kembali pulang, tiba-tiba seseorang yang menjadi pesuruh wanita (istri mayit) menemui beliau, mengundangnya (untuk datang ke rumah wanita tersebut). Lalu Rasulallah pun datang dan diberi hidangan suguhan makanan. Kemudian Rasulallah pun mengambil makanan tersebut yang juga diikuti oleh para shahabat lain dan memakannya. Ayah-ayah kami melihat Rasulallah mengunyah sesuap makanan di mulut beliau, kemudian Rasulallah berkata: ’Aku merasa menemukan daging kambing yang diambil dengan tanpa izin pemiliknya?!’ Kemudian wanita itu berkata: ’Wahai Rasulallah, sesungguhnya aku telah menyuruh untuk membeli kambing di Baqi,[2] tapi tidak menemukannya, kemudian aku mengutus untuk membeli dari tetangga laki-laki kami dengan uang seharga (kambing tersebut) untuk dikirimkan kepada saya, tapi dia tidak ada dan kemudian saya mengutus untuk membeli dari istrinya dengan uang seharga kambing tersebut lalu oleh dia dikirimkan kepada saya.’ Rasulallah kemudian menjawab: ’Berikanlah makanan ini kepada para tawanan!’’

    Hadits Abu Dawud tersebut juga tercatat dalam Misykah al-Mashabih karya Mulla ‘Ali al-Qari bab mukjizat halaman 544 dan tercatat juga dalam as-Sunan al-Kubra serta Dala’il an-Nubuwwah, keduanya karya al-Baihaqi. ”

    Sebenarnya bagaimanakah kedudukan hadist tersebut? Mohon penjelasan. Trims.

Tinggalkan Komentar

Kembali ke Atas