“Ayo pak kita yasinan di rumahnya pak RT!” Kegiatan yang sudah menjadi tradisi di masyarakat kita ini biasanya diisi dengan membaca surat Yasin secara bersama-sama. Mereka bermaksud mengirim pahala bacaan tersebut kepada si mayit untuk meringankan penderitaannya. Timbang-timbang, daripada berkumpul untuk bermain catur, kartu apalagi berjudi, kan lebih baik digunakan untuk membaca Al-Qur’an (khususnya surat Yasin). Memang sepintas jika dipertimbangkan menurut akal pernyataan itu benar namun kalau dicermati lagi ternyata ini merupakan kekeliruan.
Al-Qur’an untuk Orang Hidup
Al-Qur’an diturunkan Alloh Ta’ala kepada Nabi Muhammad shollallohu’alaihi wa sallam sebagai petunjuk, rahmat, cahaya, kabar gembira dan peringatan. Maka kewajiban orang-orang yang beriman untuk membacanya, merenungkannya, memahaminya, mengimaninya, mengamalkan dan berhukum dengannya. Hikmah ini tidak akan diperoleh seseorang yang sudah mati. Bahkan mendengar saja mereka tidak mampu. “Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang mati itu mendengar.” (Terjemah An-Naml: 80). Alloh Ta’ala juga berfirman di dalam surat Yasin tentang hikmah tersebut yang artinya, “Al Qur’an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan supaya dia memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup.” (Yasin: 69-70). Alloh berfirman yang artinya, “Sesungguhnya seseorang itu tidak akan menanggung dosa seseorang yang lain dan bahwasanya manusia tidak akan memperolehi ganjaran melainkan apa yang telah ia kerjakan.” (An-Najm: 38-39). Berkata Al-Hafizh Imam Ibnu Katsir rohimahulloh: “Melalui ayat yang mulia ini, Imam Syafi’i rohimahulloh dan para pengikutnya menetapkan bahwa pahala bacaan (Al-Qur’an) dan hadiah pahala tidak sampai kepada orang yang mati, karena bacaan tersebut bukan dari amal mereka dan bukan usaha mereka. Oleh karena itu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memerintahkan umatnya, mendesak mereka untuk melakukan perkara tersebut dan tidak pula menunjuk hal tersebut (menghadiahkan bacaan kepada orang yang mati) walaupun hanya dengan sebuah dalil pun.”
Adapun dalil-dalil yang menunjukkan keutamaan surat Yasin jika dibaca secara khusus tidak dapat dijadikan hujjah. Membaca surat Yasin pada malam tertentu, saat menjelang atau sesudah kematian seseorang tidak pernah dituntunkan oleh syari’at Islam. Bahkan seluruh hadits yang menyebutkan tentang keutamaan membaca Yasin tidak ada yang sahih sebagaimana ditegaskan oleh Al Imam Ad Daruquthni.
Islam telah menunjukkan hal yang dapat dilakukan oleh mereka yang telah ditinggal mati oleh teman, kerabat atau keluarganya yaitu dengan mendo’akannya agar segala dosa mereka diampuni dan ditempatkan di surga Alloh subhanahu wa ta’ala. Sedangkan jika yang meninggal adalah orang tua, maka termasuk amal yang tidak terputus dari orang tua adalah do’a anak yang sholih karena anak termasuk hasil usaha seseorang semasa di dunia.
Biar Sederhana yang Penting Ada Tuntunannya
Jadi, tidak perlu repot-repot mengadakan kenduri, yasinan dan perbuatan lainnya yang tidak ada tuntunannya dari Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam. Bahkan apabila dikaitkan dengan waktu malam Jum’at, maka ada larangan khusus dari Rosululloh shollalohu’alaihi wa sallam yakni seperti yang termaktub dalam sabdanya, “Dari Abu Hurairah, dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam: Janganlah kamu khususkan malam Jum’at untuk melakukan ibadah yang tidak dilakukan pada malam-malam yang lain.” (HR. Muslim). Bukankah lebih baik beribadah sedikit namun ada dalilnya dan istiqomah mengerjakannya dibanding banyak beribadah tapi sia-sia? Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang beramal yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka ia tertolak.” (HR. Muslim). Semoga Alloh subhanahu wa ta’ala melindungi kita semua dari hal-hal yang menjerumuskan kita ke dalam kebinasaan. Wallohu a’lam bishshowab.
***
Penulis: Muhammad Ikrar Yamin
Artikel www.muslim.or.id

al paluri
17 Nov 2008 [Permalink]
assalamualaikum ..
saya mau tanya, hukum memakan makanan yg di beri oleh tetanggga yg mengadakan acara yasinan atau acara bid’ah lainnya itu apa ? mohon di jelaskan dgn dalilnya . jazakumullah
al paluri
23 Nov 2008 [Permalink]
afwan, koq pertanyaan saya nda di jawab ?
al paluri
30 Nov 2008 [Permalink]
mas2 yg lebih berilmu, tolong solusi nya . suda lama saya terfitnah syubhat ini . jazakumullah
ari wahyudi
30 Nov 2008 [Permalink]
hukum asalnya halal, namun apabila dengan memakannya memberikan dorongan bagi pelakunya untuk meneruskan kebid’ahannya maka sebaiknya dihindari -terutama apabila dia melihat kita- namun apabila tidak ada faktor2 yang mengarah kepada hal itu maka hukumnya tetap pada kehalalannya, wallahu a’lam.
Muh Abduh T
01 Dec 2008 [Permalink]
@ al paluri
Hukum asal makan makanan acara yasinan atau acara bid’ah adalah dibolehkan.
Kalau anda tanyakan dalilnya, maka dalilnya adalah :
Namun, jika memang kita dirasani tetangga kalau memakan makanan semacam itu; misalnya mereka malah omongin “Wah, orang ini gak mau ikut yasinan, tetapi kalau diberi makanan malah disantap habis”, jika memang timbul masalah seperti ini, maka sebaiknya tidak perlu dimakan.
Jadi, kalau tidak ada masalah sebagaimana yang kami utarakan, maka hukum asal memakan makanan yasinan adalah HALAL karena tidak ada dalil yang menyatakan haram.
Wallahu a’lam bish showab.
Semoga kita dimudahkan oleh Allah untuk melakukan ketaatan kepada-Nya.
kudama
30 Dec 2008 [Permalink]
Assalamualaikum wr.wb
Menarik melihat komentar mengenai masalah ini, ada beberapa komentar yg terlihat masih mengandalkan emosional , mungkin karena ketersinggungan tulisan yang ada. Sejarah membuktikan pada hakikatnya perilaku Bid’ah memang telah dilakukan oleh umat umat nabi sepanjang masa, memang disitulah salah satu jalan iblis untuk menggelincirkan keturunan adam as untuk mengikuti iblis ke neraka. Jadi memang membutuhkan kesabaran untuk memberi pengertian kepada saudara kita mengenai masalah ini. Bukankan kita sebelumnya mungkin melakukan hal tersebut , dan karena hidaya Alllah kita mendapatkan petunjukNya, jadi bersabarlah dalam memberikan pengertian
alihamsyah
23 Jan 2009 [Permalink]
Kita beribadah yang penting 1. Niat 2. Ikhlas karena Allah 3. sesuai tuntunan Rasulullah. Apa arti ibadah kita kalau kita cuma niat dan ikhlas tapi tidak sesuai tuntunan. Tidak ada artinya. Maka marilah saudara2 yang masih menganut agama nenek moyang/ taklid buta kita segera bertobat dan segera beribadah sesuai tuntunan. Bukannya Rasulullah pernah bersabda bahwa sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah sunnah Rasulullah. Dengan beribadah sesuai tuntungan semoga amal ibadah kita mendapat pahala dari Allah SWT. Amin.
teguh
24 Jan 2009 [Permalink]
agama islam diturunkan ke dunia sudah sempurna. mengapa harus ditambah-tambahi ? dapat disimpulkan bahwa yang menambah-nambai adalah mengingkari ayat Al-Qur’an tentang kesempurnaan islam? kita tahu bahwa umat islam harus menyakini semua ayat yang ada di adalam Al-Quran tanpa terkecuali !
BANDHIL
26 Jan 2009 [Permalink]
1) Ikuti terus diskusi ini, dengan niat mencari ilmu, ilmu yang dimaksud adalah yang mendekatkan kita kepadaNya. Bahagianya ummat Islam, acuannya jelas, lengkap, ada contoh KONgRIT, contohnya manusia juga, seperti kta.
2) Manusia paling ‘enak’ itu Rasulullah, ketika cemberut terhadap ummatnya, langsung turun ayat ‘jangan cemberut’; ketika bingung ngadepi isu tentang istri tercinta, langsung turun ayat tentang sikap kita thd pembawa berita yg tidak benar; ketika ingin mendoakan Pamannya yang masih dikaruniai ‘tidak beriman’, langsung turun ayat tegoran bahwa tidak boleh mendoakan orang tdk beriman yang sudah mati, kalau orang itu masih hidup kita masih bisa mendoakan agar mendapat hidayah menuju ‘Islam’.
3) untuk dapat seperti RasululLah kita harus hafal AlQur’an, bahkan dengan artinya, bahkan dengan ‘sejarah turunnya’, ‘kondisi dan maksud turunnya’, untuk itu kita harus belajar; hanya dengan itu kita bisa ‘menurunkan ayat’ dr hafalan kita setiap kita menghadapi persoalan hidup. Tetapi menghafal, mendalam seperti itu tidak mudah, sulit; makanya kita harus ngaji, sesering mungkin, ngajinyapun kepada ‘pemilik/pewaris ilmu’ yang selalu merujuk kepada AlQur’an dan Al Hadits. Luar biasanya lagi ada Web.site ini, begitu kita tidak tahu, dan ingin tahu kita dapat jawaban, dan menjadi tahu. Betul2 kalao kita ga tahu ya nanya kepada yang tahu, bukan setelah diberitahu kita memaksakan dengan ‘pokoke’, padahal agama ini Wahyu, datang dariNya, untuk menjauhkan semua dari ‘pikiran sendiri’, menjadi / menuju Jalan Lurus.
4) Al Hadits itu adalah ‘catatan para penyaksi RasululLah’, kita bersyukur selalu ada ‘penyaksi RasululLah’, sejak perilaku di kamar tidur, di tengah malam, sampai di keramaian hidup bermasyarakat; semua itu syukurnya lagi ada yang menghafal, ada yang mencatat sehingga catatan itu sampai kepada kita, sehingga kita dapat ‘meniru RasululLah’ Sang Teladan Hidup! Sayangnya memang tidak ada satu orangpun yang selalu ada bersama RasululLah, sehingga tidak ada ‘satu catatan lengkap dari satu orang saja’, kalaupun ada orang itu, bisa jadi orang itu masihharus terjamin kejujurannya. Ada orang-orang yang mencari untung dengan ‘emngatakan bahwa ini datang dari Rasul’, padahal tidak, dia hanya ingin mencari untung saja. Padahal ancaman RasululLah luar biasa, barang siapa engatakan sesuatu datangnya dari aku, padahal aku tidak pernah mengatakannya/melakukannya/menyetujuinya maka berat hukuman bagi ‘pembawa berita palsu’ ini. Syukurnya adalah bahwa dalam hal Hadits itu Islam sangat ‘rapet’, kalau ada berita yang dikatakan datang dari Rasul, maka harus dapat dirunut siapa pembawa berita itu, siapa itu dapat berita dari siapa, siapa itu mendengar dari siapa, siapa itu memperoleh kabar dari siapa lagi ….. terussss begitu sampai jelas betul bahwa berita itu datang dari RasululLah; kalau tidak begitu maka kita ragukan bahwa itu ‘dari RasululLah’. dari urutan datangnya berita itu (perawian) bisa jadi sangat panjang daftarnya, jika salah satu orang dalam daftar itu diketahui sebagai pembohong, maka ‘berita itu’ yang maksudnya dibilang sebagai Hadits dapat dibatalkan, dan tidak diikuti orang, atau ‘palsu’; bahkan meski tidak ada pembohong, tetapi ada ‘pelupa’, itupun diragukan kesahihannya, diragukan keasliannya dari Rasulullah. Kebayanglah betapa banyak, jutaan ‘berita’, tetapi Islam mempunyai metodologi ‘penyarigan’ yang dahsyat tadi. Bersyukurlah kita yang ‘agak tidak pinter ini’ tinggal mempelajari ‘berita2 sahih’ melalui buku2 sahih, ustadz2 sahih, ustadz yang tidak hanya mengatakan pendapatnya, tetapi menunjukkan rujukannya; semakin seorang ustdaz ‘tidak punya pedapat’ selain ‘pendapat Rasul’ menurut saya adalah ustadz yang hebat, dia tidak menyertakan pendapatnya, kecuali pendapat yang hanya utk mengantarkan kami yang’ agak bodoh’ ini kepada ‘pendapat/berita sahih’ itu. Bukankah Rasul ketika ‘hendak berpendapat’ dengan mendoakan pamannya yang juga pejuang bagi beliau, itupun ‘ditegor’ oleh Allah; Rasulpun hanyalah pesuruh Allah, utusan Allah, seberapa cerdasnyapun beliau, beliau tidak ditugasi untuk mengkreasi ‘berita dari langit’ beliau ditugasi menyampaikannya kepada Ummat, dan menyempurnakan Akhlak Ummat, sedangkan Islam Sempurna dari ‘sananya’, dari Allah ‘Azza Wa Jalla.
5) Yasinan. Membaca Yasin, tidaklah bid’ah, tidak dilarang; itu jelas. Menjadi bid’ah, ketika Yasin dibacakan oleh orang sekitar waktu orang lain sakaratul maut, selama 3 hari kematian, hari ke-7, hari ke-40, hari ke-100, hari ke seribu, hari ke-setahun, dua tahun, delapan tahun, delapan tahun kedua, delapan tahun ketiga, dst. Inilah yang bid’ah. Apalagi kalau membaca Yasin-nya ya hanya pada moment2 ini, wah. Kenapa Bid’ah, karena ‘kabar’ bahwa dalam keadaan2 tersebut harus dibacakan Yasin, itu ‘bukan kabar dari Rasul’, kabar dari orang tua, yang kalau dirunut tidak ada yang bisa menjelaskan asalnya dari mana. Banyak yang seperti itu, misalnya suro-nan, yang dianggap angker, yang kita ga boleh melakukan banyak sekali amalan, padahal itu bulan suci, satu diantara 4 bulan suci, bahkan amal baik kita dipahalai berlipat. Kalau kita ‘menelan saja berita tentang suro itu’ kita jadi ‘semakin jauh dari jalan RasululLah’.
6) Saya berysukur bisa belajar dr situs ini, bahkan saya bisa belajar dari beliau2 yang bersikeras utk ‘melestarikan baca yasin diacara kematian’, dari beliau2 ini saya jadi waspada, jangan2 saya sering terlalu yakin dengan ‘ilmu cetek’ saya. Bertahun2 saya ikuti ‘perilaku umum orang-orang baik’, ternyata ‘tidak dari Rasul’ wah; dari mana tahunya kalau tidak dari Rasul? cari Hadits! Bagaimana tahu Hadits itu ‘benar?’ / Sahih, kita belajar! Dari mana belajar? antara lain dari situs ini. AlhamdlilLah,AlhamdulilLah, semoga kita semua dibukakan olehNya menuju hidayah yang sebenarnya. Aamiin. Untuk menuju hidayah itu, bukannya kita terus nekat saja, toh Allah akan ‘menghidayahi kita’, bukan! Kita diberi akal, kita gunakan; kalau ga cukup, belajar dari yang ‘ilmunya’ banyak, dan benar. Bismillahi.
Mohon maaaf tulisan saya ngalir begitu saja. Ilmu saya sedikit; lebih sedikit lagi yang saya taati; moga2 diampuniNya; saya sedang belajar taat, sebagaimana wanita2 yang ‘menyaut’ (mengambil apa saja yang ada disekitarnya untuk menutup auratnya), ketika turun perintah ‘tutup aurat’; mereka tidak lagi bertanya, setiap yang datang dari Rasul, setiap itu adalah kebenaran, dan mereka langsung taat.
BAHAGIANYA KITA, ANDAI KITA TETAP BISA CINTA DAN TAAT KEPADA RASUL BAHKAN KETIKA KITA HIDUP JAUH DARIWAKTU HIDUP RASUL.
JANGAN KITA SOK PEDE, ‘KALAU SAJA SAYA HIDUP SEJAMAN DENGAN RASUL…’
JANGAN2 PERILAKU KITA YANG TUKANG ‘MBANTAHAN’ INIPUN, BISA LEBIH ‘MBATAHAN’ LAGI TATKALA HIDUP SEZAMAN DG RASUL, KARENA WAKTU ITU RASUL ITU ‘ANEH’, TIDAK SENALAR DENGAN NALAR SESAT KITA YANG SAAT ITU JAHILIYAH.
WIS!
Ansori
18 Feb 2009 [Permalink]
Assalamualaikum
wah udah seru semua nihh
Ansori
18 Feb 2009 [Permalink]
Assalamualaikum
Saya sebagai penengah saja dalam discusi yang bermanfaat ini, dan ternyata rekan rekan sudah banyak yang berselisih marilah kita berpegang teguh pada Alqur’an dan hadist yang di anjurkan oleh nabi, jadi kalou tidak di perintahkan dan di contohkan nabi Muhammad ya udah jangan di lakukan dan juga lebih2 tdk ada dlm alqur;an dan benar kata mas Ari agama ini milik allah dan di ajarkan oleh nabi bukan punya perusahan dan kebanyakan yng melakukan ibadah baru dia jarang sekali dan bahkan tidak pernah melakukan sunnah2 yng benar2 di contohkan oleh Nabi Muhammad. di kampung saya ada yasinan rutin setiap hari malam jum’at setelah sholat mag’rib di bacalah surat yasin dan do’a2 yang lain untuk megirim pahala pd si mayyit,sampai masuk sholat isha acara tersebut belum selesai, jadi acara tersebut sudah mengesampingkan sholat ishak yang benar2 di perintahkan oleh nabi untuk sholat tepat waktu dan lebih2 nabi menganjurkan untuk menunggu waktu sholat dan mementingkan yasinan yang tdk di perintahkan oleh nabi dn tdk ada dalilnya kalou pun ada ya dalil palsu
Ansori
19 Feb 2009 [Permalink]
Assalamualaikum
klo memang kirim pahala itu sampai ama orang yang udah is dead,klo gitu uenak orang yang kaya dong!! sebelum is dead dia nitip uang untuk keluarga untuk setiap malam jum’at undang sebnyak2 nya orang untuk kirim pahala dngan yasinan dan uenak yang is dead meskipun banyak dosa dia santai di alam kubur karena ada kiriman pahala setiap malam jum’at
sulisia
16 Apr 2009 [Permalink]
Assalamu’alaikum
saya pernah mendengar pendapat seperti ini: kita membaca surah Yasin/Yasinan untuk kita sendiri (dilakukan bersama-sama), kemudian setelahnya kita mendoakan orang yang telah meninggal dunia. apakah ini dapat dibenarkan???
mohon penjelasannya karena saya sangat kebingungan dan berada dalam lingkungan seperti ini dan publik/lingkungan akan menghakimi saya apabila saya tidak melakukannya.
Ya Allah berilah petunjuk dan kekuatan kepada hambaMu yang lemah ini…
terimakasih kepada yang bisa memberi penjelasan kepada saya.
abu jihad
20 May 2009 [Permalink]
Assalamu’alaikum wr. wb para pembaca
saran pada mazhab tahlil dan yasinan…… mohon maaf sebelumnya….. kalian begitu tekun melaksanakan berjamaah dalam tahlil dan yasinan… tapi saya memperhatikan betul kalian tidak tekun shalat berjamaah lima waktu di masjid, manakah yang wajib menurut kalian berjamaah tahlil dan yasin yang tidak ada perintahnya…dan hanya di indonesia saja yang ada seperti itu…ataukan shalat lima waktu di masjid…. ayo jujur…. jangan jadi munafik…..berat hukumannya….Pasti anda tahu hadits tentang niat |Rasulullah akan membakar rumah-rumah yang penghuni laki-laki dewasanya tidak shalat 5 waktu berjamaah di masjid, namun niat itu diurungkan karena ada wanita, anak-anak dan orang yang sudah tua……dan saya mau tanya ada nggak dalil yang Rasulullah marah kalau ngak berjamaah tahlil dan yasinan akan dibakar…..tapi kalian begitu keras terhadap yang tidak tahlilan dan yasinan…dan kalian menuduh yang tidak tahlilan adalah kaum wahabi…..yatu kaum yang mengkafirkan orang….dan anda menganggap yang tidak tahlil juga sebagai kaum yang salah bahkan terjerumus pada kekafiran….berarti kalian juga mengkafirkan orang yang tidak tahlil dan yasinan….berarti siapa yang wahabi…..kalian kali…..mangkanya jangan menyalahkan….siapa yang bersalah dan berdosa telah jelas…..mintalah ampunan pada Allah…..insyaallah dikabulkan…..amin….tegakkan persatuan umat islam itu lebih penting…..apasarananya shalat lima waktu di masjid ok…..ok….sekali lagi ok….kalau nggak ok…..kasihan deh loooo…….
abu jihad
20 May 2009 [Permalink]
nggak apa-apa di review…..tapi katakan yang pahit kalau itu benar…..katakan yang pahit walau harus mati …… agar manusia sadar……sudah telampau banyak ayat-ayat Allah dan Hadist |Rasulullah yang disembunyikan…….demi nafsu manusia…..kasihan orang awam……yang selalu di bohongi oleh pendahwah yang cinta dunia…..
Tommi
20 May 2009 [Permalink]
Syukron, website ini memberikan pencerahan bahwa yasinan tidak ada tuntunannya sama sekali dari Rasulullah. Kalau sudah sampai berita yg shahih dari Rasulullah kepada kita, maka sikap yg lebih baik adalah “kami paham dan kami patuh!”. Buang jauh2 sikap taklid dan rendahkan hati untuk menerima kebenaran walaupun itu brarti meninggalkan tradisi yg sudah mendarah daging.
Perlu kawan2 ingat, tradisi turun temurun itu blm tentu baik di hadapan ALLAH Ta’ala, tetapi bila kita mengikuti cara beragama yg sudah dicontohkan Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam, insya ALLAH inilah jalan kebenaran yg kita cari.
Pesan saya, taklidlah pada Rasulullah. Jgn taklid pada tradisi dan pada perkataan kyai yg ga ada juntrungannya.
yudi
30 May 2009 [Permalink]
yang namanya ibadah itu sesuai yang diajarkan dalam alquran dan tuntunan rosul,jangan ditambah-tambahi apalagi dilanggar…ditambah-tambahi seperti orang yang berenang di dalam lumpur, amalnya sia-sia.tahlilan itu merupakan tradisi yang tidak ada ajarannya dalam alquran,…saran saya hadiri tradisi tersebut dengan niatan mencari ridho Alloh (memelihara silaturahim,baca quran untuk kita sendiri) tapi jangan setiap hari…datang karena nggak ada tuntunannya….
amin
01 Jun 2009 [Permalink]
ada yg tahu alasan kenapa pendapat ulama yg mengatakan sampainya pahala bacaan Al Quran termasuk pendapat yg lemah? klo bisa dari ulama2 salaf ya
Tommi
01 Jun 2009 [Permalink]
Untuk mas amin, ini ada artikel untuk jawaban pertanyaannya, semoga bisa memberi petunjuk.
http://www.almanhaj.or.id/content/2273/slash/0
Wallahu waliyut taufiq
amin
02 Jun 2009 [Permalink]
Terimakasih Pak/Mas Tommi,
cuma yg aku cari bukan itu (klo yg spt diartikel itu itu sering baca), yg aku butuhkan dalil2 yg dipake oleh ulama2 yg berpendapat sampainya pahala bacaan Al Quran dan bantahan (alasan lemahnya) dari dalil tsb(dalil yg dipake oleh ulama2 yg berpendapat sampainya pahal Al Quran)?
abang
21 Jun 2009 [Permalink]
HEran..
Kok nggak Al Baqarah-an aja ya ? bukannya justru Setan akan lari dari rumah yg dibacakan surah Al Baqarah ?
kenapa ?
Karena… Yasinan itu udah ‘TERLANJUR’ dilakukan sedari mereka kecil, termasuk saya duluu waktu masih kecil. Makanya di bela mati2an. Coba dari kecil dulu di ajarinnya ‘AL Baqarahan’ , pasti saat sudah umur tua gini bela habis2 pula tuh ritual Al Baqarah-an.
Kalau saya sih nyan tai aja. Dulu kebiasaan Yasinan krn belum mengilmui, setelah tahu derajat hadits2nya, tinggal Ruju’ aja kok Gengsi ?
masykur
27 Jun 2009 [Permalink]
Mohon izin meng kopi dan menyebarkan
Alie Syafa'at
05 Jul 2009 [Permalink]
assalamu’alaikum wr wb
mohon penjelasan hadits nabi yang menjelaskan tentang di sunnahkannya membaca surat yasin pada orang yang meninggal,,LAQQINU MAUAAKUM YAASIIN,,,,,
JAZAKUMULLAH KHOIRON KATSIR,,,wasalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu…
H.Ubaidilah Trisna
15 Jul 2009 [Permalink]
Assalamualaikum ww.
Alhamdulillah dengan membuka website ini ana makin kaya dengan ilmu akhirat. Semoga website ini juga menjadi rujukan/referensi bagi ikhwan dan akhwat dalam berdiskusi masalah agama yang benar.
Jazakumullah khoir.
H.Ubaidillah Trisna
Waalaikumussalam ww.
Kardi Yasmudi
16 Jul 2009 [Permalink]
Assalamu’alaikum,
Memang tradisi yang sudah turun temurun sangat sulit untuk diberhentikan. Mereka mengira bahwa apa yang dilakukan itu dilakukan juga oleh para ulama-ulama, para kiai pendahulu. masa kalo ini salah mereka mengerjakan.
Seolah-olah para kiai dan ulamam yang mengerjakan hal tersebut mereka semua sudah ma’sum.
Alhamdulillah dengan makalah yang gamblang dengan dalil yang cukup jelas mudah-mudahan Allah memberi hidayah kepada kami dan pembaca pada umumnya, amin.
Wassalamu’alaikum
Kardi-Depok
Antonabu wahyu
23 Jul 2009 [Permalink]
Assalamu alaikum,Alhamdulilah dan terima kasih dgn adanya websit ini sangat bermanfaat untuk ana dan keluarga,soalnya di linkungan ana tradisi yasinan masih banyak yg memakainya,bahkan bila ada yang meninggal bagi mereka yg mampu bahkan bikin tenda di kuburan mereka membaca alquran di atas pusara.
susilo
23 Jul 2009 [Permalink]
assalamu’alaikum wr wb.
Kami hanya ingin bertanya, seperti yang telah ditulis tentang bid’ah yang mana semua yang tidak dilakukan / dicontohkan oleh nabi yang kemudian kita lakukan adalah dikatakan bid’ah, bagaimana dengan jaman sekarang ini yaitu melakukan dahwah melalui tekhnologi semisal via internet,menggunakan HP dll yang berhubungan dengan tehknologi.
Yang kami tanyakan adalah apakah yang kamisebutkan tersebut juga termasuk kategori Bid’ah ? mohon jawaban dan penjelasanya, Trmksh .
Wasalamu’alaikum Wr. Wb
Rohma
07 Aug 2009 [Permalink]
Assalamu’alaikum..
Ustadz saya mau tanya, tolong dijawab karena saya sedang bingung, terimakasih sebelumnya.
Kalau kita datang ke acara Yasinan (acara rutin ibu-ibu di daerah saya, bantul-Jogja) BAGAIMANA HUKUMNYA? saya orang baru pindah rumah ke daerah sini, dan untuk bersosialisasi dengan tetangga saya ikutan acara rutin yasinan pada malam sabtu, acaranya baca yasinan, asmaul husnA dan memang ada doa untuk orang yang sudah meninggal.setelah itu kami diberi snack untuk dibawa pulang.
dahrun
07 Aug 2009 [Permalink]
dakwah adalah perkara ibadah, teknologi adalah perkara duniawi. Hukum asal ibadah adalah haram kecuali jika ada tuntunannya dari Nabi kita, Muhammad Shallallahu alaihi wassalam. Hukum asal perkara duniawi adalah mubah (boleh) kecuali jika ada syari’at yg mengharamkannya.
jadi, bisa ditarik kesimpulan, dakwah menggunakan teknologi spt internet adalah bukan bid’ah asalkan intisari dakwahnya sendiri tidak bertentangan dengan apa yg diajarkan oleh Rasulullah, internet hanyalah salah satu media yg dipakai untuk menyampaikan dan menyebarkan dakwah. Mengenai perkara duniawi, Rasulullah pernah bersabda, “Kalian lebih tahu mengenai perkara duniawi kalian.” (maaf saya lupa hadits riwayat siapa, yg jelas redaksinya spt yg saya sebutkan)
Demikian, klo ada yg salah mohon dikoreksi. Hanya kepada Allah-lah kita memohon petunjuk.
Nur Sholihin
07 Sep 2009 [Permalink]
Assalamu’alaikum…
Saya mau tanya, apakah membaca spt Al-berjanji, Manaqib, Simtudduror itu juga termasuk BID’AH…? mohon jawaban dan penjelasannya…!
Terima kasih.
rosi
12 Oct 2009 [Permalink]
@nur solihin
coba anda buka di youtube ceramah ust rasul dahri “KEBATILAN KEMUNGKARAN DALAM BERZANJI” akan jelas tentang isinya yang penuh dengan kesirikan
Ghozy
14 Oct 2009 [Permalink]
Assalamu’alaikum,
akhi wa ukhti rahimakumullah,
ada yg bisa memberikan solusi apabila kita sudah terlanjur mengikuti ritual yasinan?
Atau apa yang harus dilakukan terhadap masyarakat yang sudah terlanjur melakukannya?
Tolong kalau bisa jawabannya dikirim ke email saya,
jazakallah khairan…
heru
16 Oct 2009 [Permalink]
Assalamualaikum,
Jadi untuk mendoakan orang yang mati pakai doa apa ustad?
rudy ramadhanto
17 Oct 2009 [Permalink]
alhamdulillah… di Indonesia masih banyak orang yang menjauhi bid’ah dan mengamalkan sunnah. insyaallah mendapat ganjarannya di akhirat kelak. amiiinnn….
dwi
26 Oct 2009 [Permalink]
kalau zaman rasulullah orang yang keras kepala adalah orang kafir yang tidak mau menerima ajaran nabi Muhammad SAW, sekarang orang yang keras kepala adalah orang islam yang suka beribadah tidak sesuai tuntunan rasul, sudah diberitahu yang benar kadang marah…dan beribadah tidak sesuai tuntunan rasul….semoga Alloh Azza wa Jalla menyadarkan mereka…..saudaraku yang suka bid’ah….
Pramudito
17 Nov 2009 [Permalink]
Asalamualaikum wr wb
Bolehkah datang ke yasinan dengan niatan menghargai undangan tetangga karena mereka baik dengan kita, bila tetap diharamkan mohon masukan untuk mencari alasan yang baik dan tidak menyakitkan hati untuk ketidak hadiran kita.
Terimakasih sebelumnya.
choirul Anam
28 Nov 2009 [Permalink]
Kalau bacaan Al-Qur’an tidak sampai kepada yang mati, kenapa:
1> Rasulullah menganjurkan umat Islam banyak bershalawat kepada beliau, meskipun beliau sudah meninggal? Bukankah shalawat adalah do’a? dan do’a itu ternyata sampai pada beliau?
2> Kalau do’a kepada Nabi sampai, do’a kepada orang tua sampai, maka akal akan mengatakan bahwa doa’a kepada ahli kubur (siapapun) akan sampai juga. Masalahnya hanya, apakah Allah berkenan atau tidak untuk mengabulkan do’a nya
3> Dengan demikian seorang manusia yang masih hidup memiliki adab yang baik, tidak hanya terbatas kepada yang masih hidup, tetapi juga yang sudah meninggal.
4> Perlu diingat juga bahwa Rasulullah berdo’a pula di makam Bhaqi untuk para ahli kubur di sana…..
Muslim.or.id
29 Nov 2009 [Permalink]
@Choirul Anam: Pak, tolong Anda bedakan antara berdo’a dan bersholawat dengan membaca Al-Quran… :)
Syafrida
29 Nov 2009 [Permalink]
memang sangat sulit memberi pengertian pada mereka yg sudah mendarah daging dengan yasinan. yg heran nya kita yg dianggab sesat padahal kita sudah tunjukkan haadist2 mengenai yasinan itu semua nya palsu atau lemah.masak sih semua bi’dah kirim2 bacaan alqur’an bid’ah inikan baik kan ada di alqur’an,itu kata mereka mereka tau itu tidak dikerjakan oleh ROSUL tapi mereka tetap ngotot dengan dalih itu kan baik ada dialqur’an,kalau memang itu bid’ah tapi bid’ah yg hasanah.Apa ada namanya bid’ah yg hasanah? Saya jadiheran.malah sekarang mereka lebih keras lagi membacanya sebelum dimulainya pengajian didahului dengan yasinan dan tahlilan kirim2 bacaan Alfateha untuk si fulan binti si fulan dengan sepeker yg gede.saya sangat sedih sekali melihat situassi ini apa yg harus saya lakukan. tolong saya
Luthful Khaliq
30 Nov 2009 [Permalink]
Assalamu’alaikum,
saya mau bertanya tentang masalah,
1. apkah ada dzikir yang baik untuk bayi yang baru lahir?
2. jelaskan tentang hukum maulid, isra’ m’iraj, dll yang dilakukan oleh kebanyakan umat islam sekarang??
saryadi
08 Dec 2009 [Permalink]
Saya mau tanya nich
1. Kalau kita takziah sebaiknya ngapain kalau tidak baca zikir ?
2. Jika dengan asumsi setiap yang zikir itu mendoakan aja orang tuanya masing masing bagaimana ? apakah nggak boleh ?
3. memang 3,7,40, 100 hari itu campuran antara ajaran hindu budha dan Islam, namun kenapa kita tidak pelan pelan memberikan pengertian ke mereka dengan dakwah yang lemah lembut, kesanya cara penyampainya bahwa itu bidah membuta mereka lari
Tommi
09 Dec 2009 [Permalink]
@akhi saryadi,
1. Berikut penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin mengenai apa yg seharusnya kita lakukan ketika bertakziyah :
Ucapan takziyah yang paling baik adalah yang diucapkan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada salah seorang puteri beliau (Zainab –pent) ketika kematian anaknya (Umaimah binti Zainab). Puteri beliau tersebut mengutus seseorang untuk memanggil beliau agar menyaksikan anaknya yang tengah menghadapi kematian. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepada utusan itu:
مُرْهَافَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ فَإِنَّ الِلَّهِ مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أَبْقَى وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمَّى
“Anjurkanlah agar ia bersabar dan mengharap pahala dari Allah. Sesungguhnya bagi Allah jualah apa-apa yang telah diambil dan hanya kepunyaan-Nya sajalah apa-apa yang telah diberikan, dan segala sesuatu telah ditentukan ajalnya di sisi-Nya”.
Sedangkan beberapa bentuk takziyah yang sering diucapkan masyarakat umum seperti: “Semoga Allah menambah besar pahalamu dan membalas kebaikan atas kesedihanmu serta mengampuni anggota keluarga yang wafat meninggalkanmu”, ini hanyalah ucapan takziyah yang dipilih oleh sebagian alim ulama saja. Yang terbaik dan utama adalah takziyah yang diucapkan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam. (Bimbingan penyelenggaraan jenazah, karya Abdurrahman bin Abdullah al-Ghaits, Pustaka at-Tibyan, Solo, November 2002)
2. Tentunya boleh2 saja, hanya saja itu anda lakukan sendiri saja, tidak dengan berjamaah dan tidak dengan suara keras. Lihat QS Al-a’raaf ayat 55 dan 205, berdzikir dan berdoa idealnya adalah dengan suara rendah dan tidak berjamaah. Dan tentunya tidak dengan tahlilan.
3. Itu berpulang pada antum, bagaimana antum menyampaikan hal ini kepada keluarga antum. Saran saya, jangan dulu katakan bid’ah, katakan yg terbaik adalah mengikuti contoh yg dibawa Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam. Berlemah lembutlah dalam memberitahu ke org lain sebab bisa jadi mereka belum tau klo acara 7 hr, 40 hr, 100 hr, 1000 hr itu adalah bid’ah munkar, bisa jadi mereka hanya mengikuti tradisi turun temurun alias tradisi orgtua. Syukur alhamdulillah klo mereka mau mengerti dan mengikuti antum. Klo mereka tetap keras kepala, itu bukan salah antum, yg penting antum udh menyampaikan dan dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar, bukan dalam rangka membid’ahkan, bukan dalam rangka salah mensalahkan. Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam bersabda, “Sampaikanlah dariku walau hanya 1 ayat.”
Demikian yg bisa saya sampaikan, mohon maaf klo ada kata2 yg tak berkenan.
Semoga Allah Azza wa Jalla menunjuki kita semua dengan kebenaran.
Murtadho
14 Dec 2009 [Permalink]
Owh ya Mas/pak Tommi, saya mw tanya nich. saya prnh ngsh saran kpd tman saya. Tp dia membantah, alasan ktanya “kamu bisanya cuma intrnetan doank” pdhl sy sdh ngingetin, trus saya copy tntng hadistnya sja di website ini, dia brkta “ngajimu br sbrpa? Kq sudh sok tau.”
Gmana solusi menghdpi spt itu Mas?
Dany hidayat
16 Dec 2009 [Permalink]
Orang mati putus hubungan dgn duniawi, kecuali 3perkara 1.sodakoh jariah 2.ilmu yg bermampaat
3.anak soleh yg mau mendoakan kedua orangtuanya .
Dari hadis ini jelas skali bahwa doanya anaksoleh
Masih ada hubungan dengan kedua orangtuanya yang sudah mati {anak soleh HIDUP orang tuanya MATI /amalan orang hidup dan orang mati nyambung}
Sekarang boleh tida anak soleh mendoakan orangtuanya dan minta bantuan tetanga2 muslim untuk ikut mendoakan orangtuaanya yg sudah mati ?
Biasanya seblum berdoa tetanggamuslim trsbut berbuat amal soleh membaca ayat alquran diantaranya suratyasin ,tasbih,ziqir dll. lalu berdoa bersama sesuai dngn tujuan anak soleh trsbut. apa ada yg salah dalam hal ini? atau yg bilang bid ah baru sampai disitu taunya , bicaralah sesuai propesinya, jangan bicara cangkul padahal dia tukang batu.
Abu Fida
16 Dec 2009 [Permalink]
untuk pak Dany :
Doa anak sholeh pada kedua orgtua, jelas akan sampai, tidak ada perbedaan mengenai itu. Yg jadi masalah adalah, si anak minta para tetangga untuk mendoakan orgtuanya lalu mengadakan acara yasinan, tahlilan dan membaca do’a bersama bahkan sampe 7harian, 40hari, 100hari, disinilah masalahnya pak, yasinan dan tahlilannya itu, kegiatan ini tidak ada tuntunannya dari Rasulullah dan para sahabat bahkan 7 hari, 40 hari dan 100 hari itu bid’ah munkar karena berasal dari ajaran agama lain. Pak Dany saudaraku, bila memang si anak ingin para tetangga ikut mendoakan orgtuanya, mintalah secara pribadi dan tidak dengan doa berjama’ah, tidak dengan yasinan, tidak dengan tahlilan.
Lalu mengenai mengirim pahala bacaan al-qur’an untuk org yg telah meninggal. Ingatlah firman Allah, “Agar supaya Al-Qur’an itu menjadi peringatan bagi orang-orang yang hidup” [QS Yasin : 70]. Dan firman Allah, “Bahwa seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan bahwasanya manusia tidak akan memperoleh (kebaikan) kecuali apa yang telah ia usahakan” [An-Najm : 38-39].
Dari dalil tersebut jelas bahwa Al Quran itu untuk orang yang masih hidup. Imam Syafi’i berkata, “Bahwa bacaan Qur’an tidak akan sampai hadiah pahalanya kepada orang yang telah mati, karena bacaan tersebut bukan dari amal dan usaha mereka (orang yang sudah mati tersebut)” (Manhaj Aqidah Imam Syafi’i, Pustaka Imam Syafi’i). Berkata pula al-hafidz Ibnu Katsir, “Tidak dinukil dari seorangpun shahabat bahwa mereka pernah mengirim bacaan Qur’an kepada orang-orang yang telah mati. Kalau sekiranya perbuatan itu baik tentulah para shahabat telah mendahului kita mengamalkannya (Laukana khairan lasabakuna ilaihi)”.
Jadi, jelasnya ya pak Dany, dalam perkara ibadah kita tidak bisa menganggap baik (istihsan) karena berlaku suatu kaidah dalam ushul, “ibadah itu harus tauqifiyah (mengikuti petunjuk)”. Kalo dalam suatu ibadah tidak ada petunjuk yg shahih dari Rasul dan para sahabatnya -radhiyallahu ‘anhuma-, maka ibadah itu akan tertolak biarpun kita menganggapnya baik, jadi singkatnya akal tunduk pada dalil. Tukang batu pun boleh menyuarakan kebenaran (tidak sebatas cangkul) andaikan kebenaran itu berdasarkan landasan yg shahih yaitu Qur’an dan hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi kita petunjuk jalan diatas Islam yg haq.
tita oktarina
25 Dec 2009 [Permalink]
maaf sebelumnya untuk sodara-sodaraku seiman,saya hanya manusia yg tidak tahu apa-apa,dengan pemikiran saya yg bodoh saya kadang suka bersuudzon tentang al qur’an dan hadist yg sekarang ,dari jaman Rosulluloh hingga sekarang,waktu dan jaman nya sangatlah jauh,dari tahun ke tahunnya alQur’an dan hadis dicetak dan disebarkan ke seluruh dunia tanpa kita tahu siapa yg mencetak dan menyebarkannya,yg saya tanyakan apakah qur’an dan hadis tersebut yg sampai ke tangan kita di jaman sekarang ini masih terjamin keabsahannya,keasliannya,apakah tidak ada kemungkinan kalo qur’an dan hadis tersebut dirubah atau dikurangi bahkan di tambahkan oleh orang-orang yg tidak bertanggung jawab,sebelumnya saya minta maaf bukan saya menyepelekan qur’an dan hadis,saya yakin kalo quran dan hadis yg datang dari ALLOH swt adalah benar adanya,dan satu-satunya penuntun umat manusia,tapi saya ragu dgn orang-orang jaman sekarang yg bisa melakukan apa saja untuk memecah belah agama Islam seperti saat ini,saya begitu bingung dengan pendapat2 yg bertentangan soal qur’an dan hadis,kenapa mereka bisa saling berbeda paham dan pendapat,padahal yg saya tahu Islam hanya satu,al qur’an pun satu dan sangat pasti kebenaranya,saya mohon petunjuk nya,dan tolong beri saya jawaban atas keraguan saya….
mono
26 Dec 2009 [Permalink]
@tita oktarina
dalam setiap kurun Allah akan membangkitkan para mujaddid(pembaharu) yang akan selalu memurnikan agama islam dari bid`ah2 dan Allah tidak akan menyatukan hati umat islam dalam kesesatan sehingga ijma`(kesepakatan) kam muslimin adalah maksum (terbebas dari kesalahan). begitu pula tentang al qur`an yang ada pada kita kaum muslimin bersepakat tentang keotentikannya. Adapun al qur`annya orang syiah kok beda karena orang syi`ah diluar kaum muslimin
miskin ilmu
29 Dec 2009 [Permalink]
@ Tita Oktarina
apa yang anti ragukan telah ada jawabannya dalam al Quran surah al Hijr ayat 9.
إِنَّا نَحْنُ نزلْنَا الذِّكْروَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُون
Allah TA’ala sendiri yang akan menjaga kemurnian al Quran baik ketika turun maupun setelahnya. Penjagaan dari segala sesuatu yang tidak layak bagi alquran baik berupa penyimpangan, penyelwengan, penambahan, pengurangan. ketika al Quran turun Allah Ta’ala menjaganya dari pencurian syaithan dan setelah turun Allah Ta’ala menitipkan al Quran ke dalam hati Rasulullah shalallahu’alaihiwasallam dan memeperkenankan di hati hati ummatnya, Allah Ta’ala menjaga lafadz-lafadz al Quran dari penyimpangan, penambahan, pengurangan dan menjaga maknan-maknanya tetap utuh. Tidaklah ada seorang muharrif(penyeleweng al Quran)kecuali Allah Ta’ala mendatangkan seorang yang menjelaskan kebenaran dengan terang.Lihat tafsir as sa’di
seluruh kaum muslimin dari dulu hingga sekarang telah sepakat bahwa ayat-ayat alquran mutawatir sampai kepada kita, begitu juga hadits dalam shahih Bukhari dan Muslim keduannya meruapakan kitab tershahih kedua setelah al Quran. lantas masihkah kita meragukan keaslian al Quran padahal Allah Ta’ala sendiri yang menjamin keasliannya??
fahmi l habsyi
03 Jan 2010 [Permalink]
subhanalloh antum adalah muslim yang diberi hidayah alloh terus berjuang akhi mudah – mudahan brmanfaat bagi muslim lainya..
yasin
16 Feb 2010 [Permalink]
selama tidak ada dalil Al-Qur’an maupun Hadits yang mengharamkan sesuatu maka sesuatu itu adalah boleh dilakukan !