“Ayo pak kita yasinan di rumahnya pak RT!” Kegiatan yang sudah menjadi tradisi di masyarakat kita ini biasanya diisi dengan membaca surat Yasin secara bersama-sama. Mereka bermaksud mengirim pahala bacaan tersebut kepada si mayit untuk meringankan penderitaannya. Timbang-timbang, daripada berkumpul untuk bermain catur, kartu apalagi berjudi, kan lebih baik digunakan untuk membaca Al-Qur’an (khususnya surat Yasin). Memang sepintas jika dipertimbangkan menurut akal pernyataan itu benar namun kalau dicermati lagi ternyata ini merupakan kekeliruan.
Al-Qur’an untuk Orang Hidup
Al-Qur’an diturunkan Alloh Ta’ala kepada Nabi Muhammad shollallohu’alaihi wa sallam sebagai petunjuk, rahmat, cahaya, kabar gembira dan peringatan. Maka kewajiban orang-orang yang beriman untuk membacanya, merenungkannya, memahaminya, mengimaninya, mengamalkan dan berhukum dengannya. Hikmah ini tidak akan diperoleh seseorang yang sudah mati. Bahkan mendengar saja mereka tidak mampu. “Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang mati itu mendengar.” (Terjemah An-Naml: 80). Alloh Ta’ala juga berfirman di dalam surat Yasin tentang hikmah tersebut yang artinya, “Al Qur’an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan supaya dia memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup.” (Yasin: 69-70). Alloh berfirman yang artinya, “Sesungguhnya seseorang itu tidak akan menanggung dosa seseorang yang lain dan bahwasanya manusia tidak akan memperolehi ganjaran melainkan apa yang telah ia kerjakan.” (An-Najm: 38-39). Berkata Al-Hafizh Imam Ibnu Katsir rohimahulloh: “Melalui ayat yang mulia ini, Imam Syafi’i rohimahulloh dan para pengikutnya menetapkan bahwa pahala bacaan (Al-Qur’an) dan hadiah pahala tidak sampai kepada orang yang mati, karena bacaan tersebut bukan dari amal mereka dan bukan usaha mereka. Oleh karena itu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memerintahkan umatnya, mendesak mereka untuk melakukan perkara tersebut dan tidak pula menunjuk hal tersebut (menghadiahkan bacaan kepada orang yang mati) walaupun hanya dengan sebuah dalil pun.”
Adapun dalil-dalil yang menunjukkan keutamaan surat Yasin jika dibaca secara khusus tidak dapat dijadikan hujjah. Membaca surat Yasin pada malam tertentu, saat menjelang atau sesudah kematian seseorang tidak pernah dituntunkan oleh syari’at Islam. Bahkan seluruh hadits yang menyebutkan tentang keutamaan membaca Yasin tidak ada yang sahih sebagaimana ditegaskan oleh Al Imam Ad Daruquthni.
Islam telah menunjukkan hal yang dapat dilakukan oleh mereka yang telah ditinggal mati oleh teman, kerabat atau keluarganya yaitu dengan mendo’akannya agar segala dosa mereka diampuni dan ditempatkan di surga Alloh subhanahu wa ta’ala. Sedangkan jika yang meninggal adalah orang tua, maka termasuk amal yang tidak terputus dari orang tua adalah do’a anak yang sholih karena anak termasuk hasil usaha seseorang semasa di dunia.
Biar Sederhana yang Penting Ada Tuntunannya
Jadi, tidak perlu repot-repot mengadakan kenduri, yasinan dan perbuatan lainnya yang tidak ada tuntunannya dari Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam. Bahkan apabila dikaitkan dengan waktu malam Jum’at, maka ada larangan khusus dari Rosululloh shollalohu’alaihi wa sallam yakni seperti yang termaktub dalam sabdanya, “Dari Abu Hurairah, dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam: Janganlah kamu khususkan malam Jum’at untuk melakukan ibadah yang tidak dilakukan pada malam-malam yang lain.” (HR. Muslim). Bukankah lebih baik beribadah sedikit namun ada dalilnya dan istiqomah mengerjakannya dibanding banyak beribadah tapi sia-sia? Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang beramal yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka ia tertolak.” (HR. Muslim). Semoga Alloh subhanahu wa ta’ala melindungi kita semua dari hal-hal yang menjerumuskan kita ke dalam kebinasaan. Wallohu a’lam bishshowab.
***
Penulis: Muhammad Ikrar Yamin
Artikel www.muslim.or.id

Firman
24 Jul 2008 [Permalink]
Yaallah persatukanlah umat ini.
Mengapa anda melarang sesuatu yang bidah menurut anda Tapibaik untuk orang lain, apa sudah habis kemurtadan kekapiran dah hal-hal lain yang agama menetapkan haram tapi terang terangan ada dan banyak dimasiarakat.
apa di sekeliling anda sudah tiada ada orang yang berjualan minuman keras, dan minum minuman keras.apa sekeliling anda sudah tida ada prostitusi,dan orang yang melakukan itu. apa di sekeliling anada sudah tidak ada kemurtadan. Apa dirumah anda tida ada telefisi yang penuh dengan kampanya sex bebas, kemurtadan dan hal-hal yang lebih nyata menyesatkan.
Anggap tahlilan yang diisi dengan membaca yasin adalah da’wah.
Dawah simayit untuk yang masih hiup, yang membacakan yasin akan berpikir mereka nanti akan mati sama seperti yang sedang dibacakan yasin, yang kurang sempurna ibadahnya akan memperbaiki dirimereka, yang tida pernah ibadah akan menjadi teguran yangnyata mereka akna terketuk hatinya dan merubah diri Jadi lebih baik.
kenapa anda permasalahkan semut ditengah lautan, tapi gajah yangmerusak di depan mata anda hiraukan.
jika suatu perkara dapat menimbulkan kebaikan, dan kemanpaatan kenapa harus dilarang.
Jangan anda bicara tentabg dosa dan pahala, pahala dan dosa adalah urusan ALLah. yang kita cari adalah Kecintaan allah.
Apa anda tidak malu mayit saja yang sudah tida bisa apa-apa masih bisa berdawah sedangkan anda yang diberikan allah ilmu malah menimbulkan keraguraguan.
hilangkan hawa napsu bahwa aku adalah pintar.jangan hanya melihat dari kitap, selama itu tidak bertentangan dengan Rukun iman dan islam juga berman paat ( sarana saling mengingatkan) jangan di permasalahkan.
sampai tidanya suatu perkara kepada allah, hanya allah yang tau, dan Man paat suatu perkara yang bersipat goib hanya allah yang tau.
Terkadang suatu yng terlihat buruk adalah yang lebih baik.
dan sesuatu yang terlihat baik dan indah adalah buruk.
bukan kah dari pantat ayam yang menjijikan dapat keluar suatu yang sangat berman paat. yaitu telur ayam.
dan coba kita pikir emas permata yang begitu indah dan banyak diingin kan manusia tapi talebih berharga dari sayapnyamuk menurut Allah.
Apa yang sangat baik dari acara tahlilan ini adalah silaturahmi coba andalihat ditahlilan Tetangga dan tetangga saling berkumpul atas dasar ibadah kepada Allah.
Supriyadi
25 Jul 2008 [Permalink]
As5 maf sy sblumya ingn menanykn kpada anda bidah itu apa.Klw sy brpndapt gaya anda dlm menuls artikel menyerng dn ingen mematikan yg namya yasinan.Pdhl ysinan itu dpt menyambng silaturahm antar sesama muslim.Dn mendatangi mengaji dn tahlil d tmpat si sohibul musibh dpt menghbrnya.Dn idkholul surur adalh anjuran nabi..
Ben
25 Jul 2008 [Permalink]
Assalamu’alaikum….mengenai yasinan,dalil tentang keutamaan membaca surat yasin seluruhnya tidak ada yang shahih bahkan semuanya adalah dho’if,dan dalil yang dapat dipakai sebagai hujjah adalah dengan sanad minimal adalah “hasan”. dan yasinan yang merebak sekarang di masyarakat adalah karena ketidak mengertian mereka dan merupakan perkara yang diada2kan (Rasulullah Shallallahu ‘alihi wasallam dan Shahabat Radhiyallahu’anhum tidak pernah mencontohkan)… agama ini telah sempurna(al-maidah:3) dan apa2 yang diada2kan setelahnya adalah bid’ah dan bid’ah adalah tertolak..Rasulullah Shallallahu ‘alihi wasallam bersabda man ‘amila amalan laysa ‘alihi amrunaa fahuwa raddun:barang siapa melakukan amalan yang tidak ada perkara itu dariku maka “tertolak”…
Apa yang kita anggap baik,belum tentu baik bagi Allah Subahanahuwata’ala Dan Rasulnya shallallhu ‘alihi wasallam..selain itu kita tidak perlu lagi susah2 membuat ibadah2 yang baru dalam agama ini karena agama ini telah “sempurna”….dan jika masih ada yang menganggap ada yang lebih baik bagi ummat ini daripada apa yang dicukupkan Allah dan RasulNya….sama saja dia mengatakan bahwa agama ini belum sempurna dan masih bisa ditambah dengan yang lebih baik..dengan kata lain dia menuduh rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam menyalahi risalah(bahwasannya Islam telah “sempurna”)….afwan klo ada yg salah dn ana butuh koreksi krna ana masih baru belajar….syukron
Abdullah
25 Jul 2008 [Permalink]
Akal manusia terbatas, untuk hal2 dunia pun terkadang banyak yang kita tidak mengerti. Biasanya kita melakukan penelitian, riset dan semisalnya yang terkadang masih juga salah dalam mengambil hasil akhirnya. (Padahal terlihat dengan mata dan dapat kita rasakan).
Apalagi untuk hal2 ukhrowi yang satu2nya jalan bagi kita untuk mengetahuinya adalah dari Allah sendiri (Al-Qur’an) dan Rasulnya (Al-Hadits). Sampingkan perasaan dan emosi karena apa yang kita anggap baik belum tentu baik dan sebaliknya apa yang kita anggap buruk belum tentu buruk. Cukuplah dengan apa yang diajarkan oleh Rasullullah kita mengamalkan sesuatu.
Siapa hamba yang paling mengerti ttg Islam ini? Dialah Rasul, yang ternyata pernah juga salah dkarenakan terbatasnya akal pikiran. Seperti dalam peristiwa Perang Badar, ia (rasul) berpendapat sebaiknya tawanan perang badar ditebus (bukan dihukum mati) agar uang tebusannya dapat memperkuat basis di madinah (yang saat itu memang baru hijrah, belum kuat). Namun karena ini turun ayat dari surat At-Taubah, yang menyatakan bahwa tidak pantas bagimu y nabi untuk mengambil tebusan sebelum jelas bagimu kemenangan (maaf, mohon dibenarkan)
Dapat kita lihat ternyata pikiran dan emosi dapat mengecoh. Untuk itu berpegang teguhlah pada apa yang udah ada beserta penjelasan ulama terdahulu (yang insy lebih mengerti) agar lebih aman. Jangan sampai kita bersusah-susah dalam beramal namun ternyata tertolak karena tidak pernah diajarkan.
Jika sesuatu itu baik maka sudah pasti generasi terbaik (yaitu Generasi Rasul beserta sahabat) lah yang paling bersemangat mengerjakannya.
ya2n
30 Jul 2008 [Permalink]
apakah sesuatu yang dianggap baik menurut pandangan manusia berarti baik di hadapan Alloh ? apalagi jika menyangkut perkara2 ibadah yang telah ditetapkan oleh syariat , maka untuk mengetahui suatu amalan tersebut baik atau buruk dibutuhkan dalil2 yang shahih tentangnya. So, jadikanlah selalu Alqur’an & Assunnah sebagai tolok ukur dalam beribadah, dan jangan lupa untuk senantiasa menuntut ilmu kepada alim ulama.
Na2nk
06 Aug 2008 [Permalink]
Intinya adalah sesuatu yg dicontohkan Rasul dan para sahabat kita sgr kerjakan,
abu syakur
10 Aug 2008 [Permalink]
Bismillah,
Ana hanya ingin memberikan nasehat buat sesama salafi
Mari kita berdakwah secara hikmah seperti Rosululloh
Banyak saudara2 kita yang masih jahil akan ilmu
Tetaplah bersabar dalam menyampaikan kebenaran dan hujjah
Dengan ilmu yang shohih, lisan yang lembut dan mulia
Serta buah amal sholih.
Sehingga akan menjadi cahaya diatas redup dan gelapnya
Umat islam di Indonesia
Semoga Alloh Ta’ala memudahkan langkah kita.
ari
11 Aug 2008 [Permalink]
Kalau semata-mata dengan alasan manfaat maka sesuatu dibolehkan, maka apa salahnya kalau kita menghalalkan khamr dan judi. Bukankah di dalam Al-Qur’an Allah menyatakan bahwa di dalam keduanya terdapat manaafi’ (berbagai kemanfaatan) bagi umat manusia. Tapi apakah itu artinya kita boleh menghalalkan keduanya? Tentu saja tidak! Karena Allah menyatakan wa itsmuhuma akbaru min naf’ihima (dosanya itu lebih besar daripada manfaatnya). Ini artinya semata-mata sesuatu mengandung manfaat bukanlah dalil bahwa sesuatu itu baik dalam ukuran agama. Lihatlah pekerjaan para dukun dan tukang santet… Bukankah pekerjaan mereka bermanfaat untuk menghidupi anak dan isteri? Lantas apakah dengan serta merta kita halalkan perdukunan dan persantetan dengan alasan hal itu bermanfaat? Allahul musta’aan. Tentu saja tidak wahai saudaraku… Oleh sebab itulah syariat Islam yang hanif ini tidak akan mengharamkan sesuatu melainkan karena 2 sebab :
1. Hal itu mengandung kerusakan murni, atau
2. Halitu memang ada manfaatnya, tetapi kerusakan atau bahayanya lebih dominan.
Membaca Al-Qur’an memang baik, tapi kalau tidak dikerjakan mengikuti tuntunan Nabi justru akan menjadi bid’ah. Dan yang namanya bid’ah itu jelek dalam agama, meskipun oleh pelakunya dinilai baik. Lho, kan bermanfaat? Iya, bisa jadi. Tapi sebenarnya agama ini punya siapa to? Agama ini bukan ‘perusahaan’ punya kita yang bisa semau gue kita perlakukan. Agama ini punya Allah, dan yang menyampaikan Rasulullah. Iya, kan.. Lalu mengapa kita ‘ngotot’ membela sesuatu yang tidak ada tuntunannya? Terus, kalau memang ada tuntunannya coba mana dalilnya? Pasti yang dibawakan adalah dalil yang lemah atau yang bukan pada tempatnya. Nah, sudah jelas kan… Yang jelas-jelas sunnah saja sudah banyak ditinggalkan, ee buat apa malah merepotkan diri dengan hal-hal yang gak ada tuntunannya.
Demikianlah yang bisa saya sampaikan, maaf kalau ada yang kurang berkenan. Semoga dengan ini kita bisa semakin meningkatkan ketakwaan dan keimanan kita kepada Allah. amien.
Dadang Zaelani
12 Aug 2008 [Permalink]
Assl hai Muhammad Ikrar Yamin, nama anda bagus sekali, kalau anda mau mencoba, sampai tidaknya kita membaca surat yasin yang kita tujuhkan kepada orang tua kita yang telah meninggal atau kepada arwah muslimin dan muslimat, anda harus mati dulu baru anda percaya penilitian anda itu, maka saya sarankan kepada anda sebelum anda meninggal anda harus bertobat dan mencabut tulisan anda ini sekian dan terima kasih wassalam
fairuz
15 Aug 2008 [Permalink]
a’kum wr br.
ikhwani waakhwaati fillah
Ana harap komentar komentar yang kita baca dan akan baca di mana di mana saja pun membuat kita berfikiran terbuka.Hangan kita mengikut hawa nafsu.Agama islam adalah agama yang haq.Adapun jika ada yang tidak setuju maka haruslah kita mebuat rujukan pada buku asal.Jangan megikut hati ataupun buah fikiran kita.Agama islam bukan agama nenek moyan kita.Agama ini milik Allah.jangan kita mengikut adat.tetapi ikut lah kepada sunnahNya.
akhukum fil islam.
agus
19 Aug 2008 [Permalink]
Ibadah yang dicontohkan Nabi saw saja masih banyak yang belum kita lakukan. Kenapa kita harus melakukan sesuatu yang tidak pernah kita dengar dari hadits manapun bahwa “Nabi saw berkumpul bersama sahabat2 untuk yasinan terus pulang bawa bingkisan makanan”.
Kalau memang untuk silaturahmi kita bisa galakkan dengan sholat berjamaah yang hukumnya bahkan wajib dan ada contohnya dari Nabi saw. Kita bisa saling bertemu dan bersilaturahmi di masjid.
Tapi justru yang terjadi di tempat kita, ketika Allah menyeru kita lewat muadzin-Nya untuk datang sholat berjamaah di masjid paling hanya 2 atau 3 orang yang datang, tapi begitu diseru untuk yasinan maka yang datang ratusan orang, apakah ini bukan ironi yang menghina Allah…seruan Allah yang jelas2 adalah pencipta kita dianggap tidak ada harganya, sedangkan seruan yasinan dianggap lebih berharga dari sholat jamaah.
Ari Wahyudi
19 Aug 2008 [Permalink]
Memang betul kata para ulama, ‘Bid’ah itu lebih disukai iblis daripada maksiat, sebab maksiat masih mungkin diharapkan taubat. namun kalau bid’ah, sulit untuk diharap bertaubat pelakunya.’ Ibnu Mas’ud mengatakan, “Semua bid’ah pasti sesat, meskipun orang2 menilainya baik.” Marilah kita berpikir jernih, singikirkan fanatisme buta, renungkanlah dalil-dalil yang ada. Kalau Yasinan memang baik, lalu mengapa Nabi dan para sahabat tidak melakukannya? Apakah kita lebih paham agama daripada mereka? Renungkanlah!
brata N Wahyudi
22 Aug 2008 [Permalink]
Assalamualaikum ,
Alloh SWT sudah menetapkan Islam sebagai agama yang paling benar & paling sempurna untuk tuntunan hidup manusia dengan tatacara peribadatan yang sudah dicontohkan melalui hambanya yang sangat mulia , Muhammad Rosulullah SAW. Jadi marilah kita beribadah sesuai yang Rosulullah contohkan. Dari urusan yang paling kecil sampai paling besar Rosulullah sudah lakukan , dimana urusan itu melingkupi tatacara hidup kita sebagai manusia. Dan setiap perilaku peribadatan yang Rosulullah lakukan pasti disertai dalil-dalil yang shohih, kalau kita mencontoh Rosulullah tanpa harus mengurangi atau menambahkan sudah pasti kita dijamin masuk surga. Oleh karena itu lebih baik kita kaji terlebih dahulu dalil-dalilnya, itulah pentingnya kita menuntut ilmu, mengkaji ilmu supaya apa yang kita sampaikan ada landasan dalil / hadistnya. Marilah kita berargumentasi dengan dilandasi ilmu supaya kita tidak saling menghujat antar saudara sendiri. Supaya kita tidak terjebak dalam bid’ah & kesesatan. Mudah-mudahan Alloh SWT senantiasa memberikan hidayah-Nya kepada kita semua..amin.. untuk selalu bisa melakukan ibadah sesuai yang dicontohkan oleh Rosulullah SWT..amin..
Wassalamu’alaikum..
Abu Ahmad
28 Aug 2008 [Permalink]
Assalamu’alaikum
ana ingin sedikit nambahi.
Coba kita lihat ibadah-ibadah yang memang ada perintahnya seperti :
1. Sholat, 2.Zakat, 3. Puasa dan 4. Haji
itu saja kita dalam melaksanakannya harus sesuai tuntunan dan contoh Rasululloh.
Jangan karena menurut akal kita, makin banyak sholat makin baik, lalu kita boleh sholat subuh 10 rokaat, atau karena ingin dapat banyak pahala dan ingin mendekatkan diri kepada Alloh, lalu kita ketika Pusa Ramadhon kita berpuasa tetapi tanpa Sahur dan tanpa berbuka selama satu bulan penuh (apa gak klenger itu orang). Begitu juga dalam melakukan ibadah-ibadah yg lainnya, kita senantiasa melihat Dalil (contoh dari Rosulullah).
Kalau memang benar (seandainya saja) membaca surat Yasiin itu bisa menyelamatkan manusia kelak di alam kubur dan akherat, atau bisa memasukkan manusia ke syurga ! ngapain juga surat Yasiin itu tidak kita baca aja banyak-banyak selagi masih hidup, sehingga kelak ketika kita udah mati, gak perlu lagi repot-repot keluarganya ngumpulin orang-orang se RT dan menyediakan makan selama 3 harinya 7 harinya 40 harinya dan seterusnya hanya untuk membacakan surat Yasiin (apa cara-cara begini ini gak menunjukkan klo mereka yg suka Yasiinan itu adalah orang-orang yg malas membaca A-Quran ketika masih hidup), sehingga selama hidupnya meremehkan membaca dan mempelajari Al-Quran, karena sudah berprinsip, aaaah nanti aja … toh kalau udah mati bakalan di Yasiinin sama keluarga, jadi ngapain juga repot baca Al-Quran, kan dg Yasiinan cukup buat masuk Syurga. Mimpi kaliiii yeeee.
Abu Ahmad
28 Aug 2008 [Permalink]
Itu orang-orang yg suka Kirim pahala dg bacaan Yasiin dan Al-Fatihah, emang sudah berapa banyak simpanan pahalanya (sok merasa dirinya bakalan masuk syurga pakai kirim-kirim pahala segala), buat nyelametin diri antum sendiri dari adzab kubur dan adzab neraka aja blom tentu bisa selamat, pakai kirim pahala buat orang lain.
Sadarlah bahwa kita ini diajarkan untuk Mendo’akan kepada Orang tua dan Kaum Muslimin, bukan kirim pahala !!!
Beda antar kirim pahala dg mendo’akan
Kalau mendoakan itu, kalimatnya memohon kepada Alloh, sebagai contoh:
Ya Alloh ampunilah dosa dan kesalahan kedua orang tuaku, terimalah amal ibadahnya, jauhkanlah dari siksa kubur dan dzab api neraka. (yg seperti ini Boleh, dan ada contohnya)
Nah kalau baca Yasiin atau baca surat Al-Fatihah, kemudian antum menganggap bacaan antum berpahala (dari mana antum tahu bacaan antum ada pahalanya), kok bisa-bisanya antum memerintahkan Alloh agar Alloh menyampaikan pahalanya buat si Fulan atau Fulanah.
Emangnya Alloh pesuruh antum ??? yg bisa antum atur semau antum sendiri.
kalu bisa begitu, kenapa antum gak kirim dosa aja, antum bisa berbuat maksiat dan berbuat dosa, kemudian antum suruh Alloh agar dosa antum diberikan kepada si Fulan atau Fulanah.
banish
29 Aug 2008 [Permalink]
golongan wahabi adalah orang2 yang tidak pernah diajarkan adat& budaya oleh orang tua/lingkungannya waktu kecil.Orang2 barat yang selalu kalian tuduh ingin menghancurkan/merongrong indonesia tidak pernah melecehkan budaya indonesia tapi malah menghargai budaya lokal.Kaum wahabi antek2 arab hobinya melecehkan&menganggap rendah adat&budaya bangsa sendiri,suatu penyakit menular dari tanah arab.sekarang yasinan,Peringatan 7hr,100hr kematian sanak keluarga.besuk sekatenan,ngaben dll.Makanya para pemikir&negarawan negri ini tidak akan setuju negara islam karena indonesia akan hancur,perang saudara.Musa dibantai,yesus disalib,muhammad dilempari batu&kotoran unta.hanya muhammad yg terbukti menang,yg lainnya modar!Hambali di cambuk&di penjara juga taimiyah padahal merekahidup di negara islam.Saya beritahu tentang perumpamaan sebuah budaya : Kalau ibumu jelek,trus orang lain menjelek-jelekkan mukanya yg jelek apa kamu gak marah?Orang bilang istrinya cantik gak masalah tapi kalo bilang istri orang jelek bisa kerok urusan.GOBLOK GAK TAU ADAT!!!Wahabi anjing arab!BELAJARLAH DARI PERANG PADRI.
abu syakur
29 Aug 2008 [Permalink]
Bismillah
Assalamualaikum
Istabir duhai saudaraku, sesungguhnya dakwah akan lebih mudah diterima ketika kita memberikan contoh yang benar kepada saudara kita yang melakukan kesalahan, bukan dengan menyalahkan saja tanpa memberikan solusi. Karena pada hakekatnya masih banyak saudara kita yang memiliki fitrah yang bersih, tinggal bagaimana kita menjelaskan dan mengajak mereka belajar bersama.
Buat saudara-saudara kita yang terjebak dalam ibadah-ibadah yang bid’ah mari kita ajak mereka agar kembali ke Sunnah dengan cara yang ihsan, jangan langsung kita hakimi sebelum kita ajarkan, kita cari tahu latar belakangnya sehingga kita tahu bagaimana menyikapinya. Ajaklah dengan amal-amal kita, misalnya kita ajak membaca kitab-kitab ulama tentang Yasinan dan Kitab para ulama yang begitu membenci kebid’ahan
Salam ukhuwah
ari
30 Aug 2008 [Permalink]
Maha Suci Allah. Saudaraku, sesungguhnya kita memiliki sebuah keyakinan yang kokoh dan menjadi kesepakatan kita sebagai kaum muslimin bahwa Rasulullah adalah satu-satunya panutan kita yang harus kita patuhi tuntunannya. Adapun adat istiadat memang ada tempatnya sendiri dalam syari’at Islam tidak dihilangkan sama sekali tapi juga tidak dibiarkan tanpa kendali. Setiap daerah memiliki adat itu sah-sah saja, akan tetapi apabila adat ini sudah merambah ke wilayah ubudiyah dan ranah agama/syari’at maka inilah yang patut diwaspadai. Tidakkah kita ingat bagaimana salah satu adat yang dimiliki oleh orang Arab jahiliyah yaitu memuliakan tamu kemudian setelah diutusnya Rasulullah adat ini justru termasuk dalam bingkai adab dan akhlak Islam yang luhur. Sebagaimana pula adat arab jahiliyah yang gemar menganggap sial dengan mengusir burung dan melihat arah terbangnya (tathayyur) setelah datagnya Islam maka adat ini diberangus karena bertentangan dengan nilai-nilai tauhid. Nah, kalau demikian ada adat yang masih bisa dibolehkan bahkan bisa dianjurkan. dan di sisi lain ada juga adat yang tidak boleh dilestarikan. sebab kita sepakat bahwa standar kebenaran bagi umat Islam adalah Al Qur’an dan As Sunnah, bukan akal atau perasaan dan adat istiadat. Sementara tidak akan bisa memahami Al Qur’an dan As Sunnah dengan benar kecuali dengan mengikuti cara pemahaman Nabi dann para sahabat.
Laksana
30 Aug 2008 [Permalink]
Masya Alloh….tentu saja kita tidak maju-maju….sudah dikasih penjelasan dengan dali….
Beginilah bantahan orang-orang yang mengikuti hawa nafsu… jauh dari dalil Al Qur’an dan Sunnah serta pemahaman para pendahulu……tidak lain bantahannya adalah caci maki…. Tidak ada beda dengan zaman Nabi-nabi dahulu
“Dan apabila dikatakan kepada mereka ‘Marilah mengikuti apa-apa yang telah diturunkan Alloh dan mengkuti Rosul!’, mereka menjawab, ‘Cukuplah untuk kami apa-apa yang dilakukan oleh bapak-bapak kami!’. Apakah mereka akan tetap mengikuti juga meskipun bapak-bapak mereka itu tidak tahu apa-apa dan tidak mendapat petunjuk?” (Al Maa-idah 104)
Bukankah dalil ADAT itu “Dari dulu ya memang begini” atau “Saya diajari bapak/mbah saya begini” tidak peduli apakah bapak/mbahnya pakai dalil atau tidak
Saya jadi ingat sebuah syair oleh Mulla Umran yang dinukil oleh Syaikh Jamil Zainu dalam Minhaj Al Firqotun Najiyah :
“Jika para pengikut Ahmad (Muhammad) disebut Wahabi
maka aku umumkan bahwa diriku adalah Wahabi….”
Perang Padri? Yaa akhi bukankah kaum adat bekerja sama dengan Penjajah Kafir Belanda??
Wahai saudaraku kembalilah pada al haq….
anton
31 Aug 2008 [Permalink]
hehe… orang adat yg g tau adat!!!!
sugani
01 Sep 2008 [Permalink]
Kebanyakan orang malu kalau tidak hadir dalam undangan tahlilan, tetapi tidak malu kalau di undang untuk shalat lewat suara muadzin.
Sehingga, yang ikut tahlilan begitu banyak, sebaliknya yang shalat jamaah begitu sedikit.
Manusia lebih diutamakan, Allah dikemudiankan.
abdul kodir
01 Sep 2008 [Permalink]
ass
alhamdulilah semoga smuanya dapat hidayah dari Allah SWT. saya tidak mau menyalahkan dan juga membenarkan, karena itu semuanya datang dari ALLAH SWT. yang saya ingin mengajak kepada para penulis khususnya “Muhammad Ikrar Yamin” bahwa ISINYA sebenarnya BENAR, tetapi CARA PENYAMPAIANNYA KURANG BIJAK. Ya seharusnya yang Hak adalah Hak dan Batil adalah Batil, tetapi Semua ada tata cara untuk menyampaikannya. Saya sendiri kagum dengan Manhaj ini, dan ilmu-ilmunya menjadi Prinsip Saya dalam mengambil keputusan.di daerah saya juga ada Yasinan, dan saya ikut serta dengan NIAT untuk mengajak ke Hal yang benar. yang perlu disadari, kondisi perkampungan saya sebagai contohnya, itu dipengaruhi oleh adat-adat terdahulu . TETAPI, kita selaku orang yang sudah lebih tahu lebih dahulu, kita WAJIB ajak mereka dengan PERLAHAN-LAHAN untuk mengerjakan lebih baik dari itu serta dikesempatan tersebut juga kita punya kesempatan untuk mengenal permasalahan dari kondisi masyarakat “individu masing-masing”. saya juga turut sedih dengan kondisi seperti ini, tetapi bukankah kita berkesempatan untuk berjihad untuk mengajak dengan cara-cara benar. bukankah mereka juga saudara seiman juga. tidak adanya permusuhan diantara islam. INGAT ini akan menguntungkan dari pihak NASRANI dan YAHUDI. yang sebenar-benarnya terselimut diagenda mereka untuk memecah belah ajaran ISLAM, hal ini sebenarnya sudah ada sejak dahulu. sebagai contoh pada keKhalifahan MALIK JOHIR, ada juga ancaman dari pihak YAHUDI dan NASRANI melalui NAPOLEON BONAPARTE yang begitu KEJAM mencabut HUKUM-HUKUM ISLAM di berbagai wilayah Islam (baca sejarah islam), hal ini tidak bisa menyalahkan bahwa umat islam banyak yang melenceng dari ajarannya, sudah tugas kita untuk meluruskan kembali dengan tata cara yang bersahabat “jangan konfrontatif”.
dan Alhamdulilah di perkampungan saya sudah ada kemajuan yaitu, kita ada komunikasi dengan orang yang tidak bisa saya temui pada shaf kita pada shalat 5 waktu.
ini semua berkat ALLAH SWT, kita bisa BERSAMA-SAMA BELAJAR ke arah lebih baik dan sesuai tuntunan Rosulullah.
mohon maaf jika ada kesalahan dalam kalimat saya.
SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA
wassalam
Abu Syakur
02 Sep 2008 [Permalink]
BIsmillah
Assalamualaikum
Ana jadi teringat, kebetulan pernah kursus bahasa disuatu tempat. Pemiliknya seorang warga NU pemahamannya, sehingga setiap kamis malam jum’at diadakan acara Yasinan untuk seluruh penghuni wismanya baik ikhwan/akhwat. Wah…ana bingung nih,ana terlanjur ikut kursusnya dan itu acara wajib dari program kursusnya. Akhirnya ana datang juga, tapi pas pada baca surat Yasin ana baca surat lain,ngelanjutin bacaan Al Quran ana. Dan ga ikut dzikir-dzikir mereka. Mereka juga tahu kalau ana anti yasinan dan ga ikut acara mereka,cuman duduk bersama mereka.
Nah menurut anan Yang penting tinggal bagaimana sikap kita menjaga ukhuwah bersama mereka tanpa ikut serta acara mereka,tetep berlaku sopan dan hikmah atau berahlakul karimah….Kalau bisa sih ga usah datang,jangan seperti ana…jelaskan saja kepada mereka secara baik dan sopan. Tunjukkan kepada mereka bahwa manhaj salafus sholeh itu terbaik dalam segala hal karena manhaj salaf ini merupakan manhaj Rosululloh dan para sahabatnya. Tegas dalam beramar ma’ruf nahi munkar,tentunya berdasarkan ilmu!!
Ingatlah Rosululloh, yang harus dilempari batu,kotoran dan disebut orang gila dalam berdakwah…
Atau para sahabat Nabi yang harus meninggalkan harta dan keluarga, bahkan Ummu Salamah harus mengorbankan anaknya hingga potong tangannya.
Sedangkan kita????Belum apa-apanya bung
Dakwah ini yang paling utama adalah butuh keridhoan Alloh Ta’ala. Bukan ridho manusia yang kita cari sehinnga banyak pengikutnya hingga mengorbankan sisi agama yang harus lebih diutamakan. Rosululloh sukses dalam berdakwah dikarenakan Ridho Alloh Ta’ala,yang utama jalan kita dalam berdakwah/manhaj!!Soal wasilah banyak,bisa lewat Blog,selebaran,sms dll.
herbono
04 Sep 2008 [Permalink]
Rasululullah saw memberi petunjuk kepada kita bagaimana cara menyikapi tentang hal-hal yang meragukan. Makanan yang halal dan haram telah ada ketentuan dari Allah swt. Jika tidak termaktub secara eksplisit dalam ketentuan syar’i (syubhat – meragukan) maka seorang muslim diperintahkan untuk meninggalkannya (tidak melakukannya). Maka ia dikatakan telah menjaga agama dan kehormatannya. Demikian pula dengan yasinan atau tahlilan, jika meragukan karena tidak ada contoh dari Rasulullah, maka sebaiknya ditinggalkan. Mengenai pendapat ustadz2 yg membolehkan, mereka itukan tidak maksum. Mengapa tidak melaksanakan ibadah yg sudah pasti atau tidak dipertentangkan ulama?
Orang Awam
07 Sep 2008 [Permalink]
Assalamualaikum
Sudah lah saudara2, kita ini sebagai manusia memang terbagi menjadi golongan-golongan dan kelompok-kelompok, islam juga terpecah-pecah menjadi beberapa golongan. Seharusnya kita sebagai sesama muslim itu bersatu, dan menghormati satu dengan yang lain asal masih dalam petunjuk alquran dan alhadist bersatulah saudara-saudaraku. Biar yang ga suka yasinan ya monggo, yang suka yasinan ya monggo. YASIN itu kan salah satu surat juga dalam alquran, so what gituloh kalau kita baca bersama-sama di even apapun. Toh makna yasin juga indah. Bid’ah atau tidak itu allah swt yang memutuskan.
Yang penting sekali lagi kita harus bersatu saudara-saudara. Tingkatkan mencari ilmu sebanyak-banyaknya, baik ilmu agama dan ilmu dunia(kususnya Technology). Supaya kita ga jadi orang yang ketinggalan dari umat-umat selain islam. masa kita terpecah belah gara-gara masalah beginian. berpikir postif, istigfar (maaf saya menggurui)
Sayton itu dimana-mana, tidak ada manusia yang sempurna, orang memahami dan mengamalkan makna alquran dan hadist juga belum tentu masuk surga. Orang yang hati-hati dengan bid’ah juga belum tentu masuk surga. Istigfar, surga itu milik allah, bukan milik manusia.
Jadi kita koreksi aja diri kita apa sudah benar kita. Jangan saling olok-olok dan ledek-ledekan. Kayak sudah pinter-pinter dan calon surga aja. Dibulan puasa kita tingkatkan amal ibadah kita. Dan juga jangan lupa terus belajar dan bekerja, majukan kaum muslim disektor-sektor ilmiah dan teknologi.
hamba Allah
08 Sep 2008 [Permalink]
Dalam menafsirkan kalimat kita tdk boleh kaku, contoh Rasulullah Shallallahu ‘alihi wasallam bersabda man ‘amila amalan laysa ‘alihi amrunaa fahuwa raddun:barang siapa melakukan amalan yang tidak ada perkara itu dariku maka “tertolak”… Mari kita lihat dalam Ayat2 Al Quran di Surat:Ayat berikut. 33:56 disini Allah dan MalaikatNya bershalawat untuk nabi apa ini pernah diajarkan oleh Rasul sebanyak mungkin bershalawat tapi coba hayati ayat tersebut apa masih ragu kita terus banyak bershalawat untuk Rasul?
Coba ini lagi ada beberapa Surat : Ayat tentang bertasbih baik itu burung, guruh, gunung, bumi dsb apa Rasul pernah mengajari ? tapi semua ini ada di Al Quran yang Hak dan Tdk diragukan lagi kebenarannya coba linat ini 13:13 17:44 24:41 34:10 33:56 dari surat: ayat tersebut diatas mengingatkan kita bahwa ibadah kepada Allah (yg bkn Wajib) itu banyak dan ngak perlu dibatasi kalau kita manusia ngak kepingin kalah dengan burung, gunung, guruh dan makhluk lainnya.
beeje
11 Sep 2008 [Permalink]
afwan…
suatu keyakinan memang sulit untuk di luruskan… dibengkokkan atau.. di ubah arahnya tanpa adanya Hidayah dari Alloh swt… jadi saudara ku Salafi mungkin cara yang lebih baik harus di latih agar yang kita sampaikan dapat diterima dengan baik oleh orang lain…
dan untuk saudaraku muslim yang lain… ada baiknya kita coba kaji lagi tauladan Rosululloh saw… karena Alloh menurunkan beliau untuk kita dapat melihat Alquran secara implementasinya dalam hidup sehari2… bukankah kita semua mengakui kalau Rosululloh adalah Al qur an yang hidup.
kalau kita semua mengakui itu… maka cukuplah buat kita Al quran sebagai Kitab nya dan Sunnah Rosul sebagai tauladan dan contohnya… Insya Alloh itu akan membawa kita mendapat Ridho Alloh Swt… amin
seandainya ada saudaraku yang lain menganggap bahwa budaya, adat atau hal lain selain itu bisa membawa mereka untuk mendapat ridho Alloh Swt… biarlah ALLOH yang tahu…
jadi tolong singkirkan silang pendapat ini menjadi ilmu yang bermanfaat buat kita semua beragama yang baik… afwan sebelumnya kalau ada kata yang menyinggung
Ali Rido
11 Sep 2008 [Permalink]
Yasinan, biasanya dibaca tiap malam Jum’at. kalo bisa sieh tiap malam saja. ya tapi coba baca suroh lainnya juga.
pembahasan disini mengenai lebih tepatnya tahlilan kali ya.
Biasanya kalau ada salah seorang anggota keluarga yang meninggal, malamnya diadakan tahlilan sampai 3 hari, 7 hari. setelah itu diadakan lagi dihari ke-40 kematian atau hari ke-100. praktek seperti itu sudah ada turun temurun dimasyarakat kita. karena diawal dakwah para wali songo, ingin memperkenalkan islam perlahan-lahan agar mudah diterima oleh masyarakat. awal mula dicetuskannya prosesi tahlilan pertama kali adalah untuk memasukkan unsur2 keislaman didalam tradisi masyarakat animisme yang masih suka melakukan mantra2 dan kenduri setelah kematian seseorang. maka oleh para penyiar islam waktu itu, digantilah mantra dengan tahlil,tahmid, tasbih,dan do’a. dan kenduri menjadi “Berkat/besek”.
Jaman sekarang sudah modern, masyarakat kita sudah pinter tidak mudah percaya dengan yang tahayul dan berbau mistis. Sejatinya praktek tahlilan pun tidak populer lagi.
Ali Rido
11 Sep 2008 [Permalink]
Saya pernah baca hadits nabi bahwa ada tiga amalan yang tidak akan putus setelah kita mati :
1. sodaqoh
2. ilmu yang bermanfaat
3. anak yang berbakti yang mendo’akan orang tuanya.
kaitannya dengan tema ini adalah kiriman pahala untuk orang yang sudah meninggal sampai atau tidak.
kalau kita perhatikan hadits diatas,seorang yang sudah meninggal tetap akan mendapatkan bunga pahala dari saldo amal kita yakni shodaqoh,ilmu,dan anak sholeh.
Adapun transferan pahala dari orang lain selain anaknya, itu tidak akan sampai atau failed. lain halnya dengan do’a, do’a dari siapapun sesama mukmin yang mendo’akan seorang yang sudah meninggal, akan diijabah oleh Allah.
bunga pahala ini pun sifatnya temporary sebatas sodaqoh itu dimanfaatkan ummat, sebatas ilmu itu dimanfaatkan, dan sebatas anak sholeh itu hidup.
oleh sebab itu, agar kita dapat bunga pahala, banyak-banyaklah nabung dengan bersedekah, mengajarkan ilmu yang bermanfaat, dan atau mencetak anak-anak yang sholeh. sebab anak yang sholeh yang akan meneruskan perjuangan orang tuanya sesudah wafatnya.
Muslim.or.id
14 Sep 2008 [Permalink]
Ikhwah fillah, mungkin ikhwah pernah mendengar istilah Tashfiyah wa Tarbiyah?
Tashfiyah adalah memurnikan ajaran Islam dari segala noda syirik, bid’ah, khurafat, gerakan-gerakan dan pemikiran-pemikiran yang merusak Islam.
Semua ibadah dan tata caranya telah tuntas diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam ibadah tidak butuh penambahan dan kreasi-kreasi baru, karena semuanya sudah sempuna dan sudah lengkap.
Tashfiyah adalah misi website ini, sehingga tidak ada toleransi untuk segala bentuk kesyirikan dan bid’ah walau dengan alasan apapun. Cukuplah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi teladan kita.
Dan Tarbiyah adalah mendidik umat Islam untuk menjadi terbiasa mengamalkan ajaran-ajaran Islam yang murni tersebut.
Jadi, Tashfiyah dulu, baru kemudian Tarbiyah. Jangan dibalik! karena jika penerapannya dibalik (Tarbiyah dulu, kemudian Tashfiyah), maka kenyataannya seperti yang kita lihat sekarang ini, yaitu sebagian besar kaum muslimin (terutama di Indonesia) menjadi terbiasa mengamalkan ajaran-ajaran Islam yang penuh balutan Syirik, Khurafat, dan Bid’ah, sehingga sangat sangat sulit untuk mengubahnya.
Membaca komentar ikhwah yang pro Yasinan pada kolom ini, kami jadi teringat perkataan ulama bahwa “Bid’ah itu lebih disukai oleh Syaithan.” Bid’ah lebih disukai Syaithan, karena para pelaku bid’ah menganggap baik semua ibadah bid’ah yang mereka lakukan, dan mereka tidak merasa dan tidak mengakui bahwa mereka melenceng dari ajaran Islam yang murni, sehingga pelaku bid’ah lebih sulit untuk bertobat dan disadarkan dari kekeliruan mereka walaupun sudah dipaparkan berbagai dalil dari Al Quran dan Sunnah.
Mudah-mudahan Allah memberikan kami semangat dan kekuatan untuk menyebarkan ajaran Islam yang masih murni sesuai dengan manhaj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami menyadari bahwa kami masih memiliki banyak kekeliruan dalam tata cara penyampaian melalui media dakwah online ini, dan itulah proses belajar kami dalam berdakwah.
Kolom komentar untuk sementara kami tutup.
mubtada-khobar
16 Sep 2008 [Permalink]
Memang kita juga tidak bisa menutup mata atas jasa para wali. Tapi itu kan jaman jahiliah, kita jangan jadi katak dalam tempurung dnk. Bwat apa Allah mengaruniakan akal kepada kita kalo bukan untuk berpikir? Hentikan bid’ah. Sebarkan yang haq.
Ali Rido
18 Sep 2008 [Permalink]
Assalamu’alaikum wr.wb, ada beberapa pertanyaan yang ingin ana tanyakan. Apabila ada orang yang meninggal, sedang dia sewaktu hidupnya sudah bernadzar untuk melaksanakan haji, tetapi sampai akhir hayatnya dia belum melaksanakan nadzarnya. Apakah boleh seorang anaknya membayar nadzarnya tersebut dengan haji badal/pengganti?
mohon pencerahannya. Terima Kasih.
abu_najwa
23 Sep 2008 [Permalink]
assalamualaikum..
kepada akhi banish:
berikhtifarlah wahai akhi, sesungguhnya siapa sich yang ga tau adat? kalau dilihat dari komentar antum maka antumlah yang ga tau adat berkomunikasi dengan orang lain, dengan mengucapkan kata-kata yang kotor, bahkan lebih parah lagi antum masih sangat dan sangat jauh dari memahami al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih menurut pemahan para sahabat, tabi’in, dan ulama-ulama yang berpegang teguh dengan sunnah-sunnah nabi solallahualaiwasallam. kasihan deh lo akhi banish, sudah berapa tahun antum menjadi orang islam? apakah antum tahu apa itu “wahabi”? apakah antum pernah baca(pelajari) sejarah yang shahih tentang munculnya istilah “wahabi”? ya akhi belajar dulu dengan baik islam yang sempurna ini dan bisa di mulai dengan kitab tauhid dan seterusnya. semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah dan jalan yang terang dalam memahami dan mengamalkan agama Allah.
“Jika para pengikut Ahmad (Muhammad) disebut Wahabi
maka aku umumkan bahwa diriku adalah Wahabi….”
wassalamualaikum..
nashar salim
24 Sep 2008 [Permalink]
Ass. Wr. Wb.
Mohon maaf, setelah saya baca berbagai komentar di atas, ternyata sebagian besar hanya ingin mengatlakan… bahwa ia yang paling benar, ia yang paling tahu, yang yasinan salah, itu bid’ah yang benar yang ngga ikutin tradisi… masih emosional …. gimana mau maju umat ini… kalo kita menanggapi suatu persoalahan selalu dengan emosi… cobalah diantara kita saling mengingatkan (menasehati) kebenaran dengan cara yang sabar dan penuh hikmah sebagaimana terdapat dlm surat Al-Ashr….. mohon maaf atas segala kekhilafan…
Soleh
24 Sep 2008 [Permalink]
Akh Nashar Salim,
Perlu diketahui oleh antum dan pembaca sekalian bahwa forum yang dibuka di website ini adalah untuk berdiskusi, menyampaikan kebenaran dan mencari kebenaran. Bagi pembaca muslim.or.id yang sudah memiliki ilmu maka hendaklah disampaikan jika memang dibutuhkan dalam wadah diskusi ini.
Oleh karenanya, yang namanya kebenaran, maka harus kita sampaikan dan kita terima walaupun itu mungkin pahit bagi orang yang menyelisihinya.
Demikianlah Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kepada kita untuk beramar ma’ruf dan bernahi munkar (menyuruh kepada perkara-perkara yang baik yang diperintahkan oleh agama dan berusaha mencegah kemungkaran). Allah ‘Azza wa Jalla berfirman yang artinya, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar.” (QS. Ali Imran [3] : 110).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Agama itu adalah nasehat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Semoga bisa dipahami.
abu_najwa
25 Sep 2008 [Permalink]
assalamualaikum..
kepada saudara2 yang pro dengan yasinan, coba anda simak baik2 penjelasan dari saudara2 yang lain yang telah sedikit banyak memberikan penjelasan mengapa yasinan itu bid’ah, seperti yang sudah dijelaskan oleh saudara; Ben, Ari, Abu Ahmad dan yang lainnya diatas. berikut saya akan menambahkan sedikit penjelasan tentang bid’ah yang dihimpun dari beberapa sumber. mohon dipelajari dengan baik bagi saudara2 yang belum faham, semoga bermanfaat.
BID’AH
Pengertian Bid’ah
Ibnu Hajar Al Asqalani ketika menjabarkan perkataan Imam Syafi’I tentang al-muhdatsah, beliau berkata:
والمراد بها –أي المحدثات- ما أحدث وليس له أصل في الشرع، ويسمى في عرف الشرع بدعة. وما كان له أصل يدل عليه الشرع فليس ببدعة، فالبدعة في عرف الشرع مذمومة، بخلاف اللغة، فإن كل شيء أحدث لا على مثال يسمى بدعة، سواء كان محمودا أو مذموما
“Dan yang dimaksud dengannya (Al Muhdatsah/perkara yang diada-adakan) ialah setiap perkara yang diada-adakan dan tidak ada dasarnya dalam syariat, dan dalam istilah syariat disebut BID’AH. Dan setiap perkara yang memiliki dasar dalam syariat, tidak disebut bid’ah. Dengan demikian bid’ah dalam pengertian syariat pasti tercela. Beda halnya dengan pengertian bahasa karena setiap hal yang diada-adakan tanpa ada contoh sebelumnya disebut bid’ah, baik hal itu terpuji atau tercela”. [Fathul Bari oleh Ibnu Hajar Al Asqalani 13/253, dan hendaknya dibaca pula penjelasan Imam Ibnu Rajab Al Hambali dalam kitabnya Jami’ Al Ulum wa Al Hikam, 267].
Ringkasnya; bid’ah dalam pengertian syari’at adalah: segala sesuatu yang diada-adakan dalam agama yang belum pernah ada di zaman Nabi shollallahu’alaihiwasallam, dan tidak pula di zaman para sahabatnya, yang tidak bersumber dari syara’, baik dengan dalil yang tegas maupun dengan isyarat, dari Al Qur’an dan Sunnah Rasulllah shollallahu’alaihiwasallam. Sedangkan bid’ah dalam pengertian bahasa adalah: setiap hal yang diada-adakan tanpa ada contoh sebelumnya, baik hal itu terpuji atau tercela, misalnya: pesawat terbang, mobil, televisi dan yang lainnya.
Para ulama telah memberikan beberapa definisi bidah. Definisi-definisi ini walaupun lafadl-lafadlnya berbeda-beda, menambah kesempurnaannya disamping memiliki kandungan makna yang sama. Termasuk definisi yang terpenting adalah:
1. Definisi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
Syaikhul Islam Ibnu Taimiah berkata: “Bid’ah dalam agama adalah perkara wajib maupun sunnah yang tidak Allah dan rasu-Nya syariatkan. Adapun apa-apa yang Ia perintahkan baik perkara wajib maupun sunnah maka diketahui dengan dalil-dalil syariat, dan ia termasuk perkara agama yang Allah syariatkan meskipun masih diperslisihkan oleh para ulama. Apakah sudah dikerjakan pada zaman nabi ataupun belum dikerjakan.”
2. Definisi Imam Syathibi
Beliau berkata: “Satu jalan dalam agama yang diciptakan menyamai syariat yang diniatkan dengan menempuhnya bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah.”
3. Definisi Ibnu Rajab
Ibnu Rajab berkata: “Bidah adalah mengada-adakan suatu perkara yang tidak ada asalnya dalam syariat. Adapun yang memiliki bukti dari syariat maka bukan bid’ah walaupun bisa dikatakan bidah secara bahasa.”
4. Definisi Imam Suyuthi
Beliau berkata: “Bidah adalah sebuah ungkapan tentang perbuatan yang menentang syariat dengan suatu perselisihan atau suatu perbuatan yang menyebabkan menambah dan mengurangi ajaran syariat.
Berikut adalah hadits-hadits yang menjelaskan tentang apabila orang membuat cara-cara baru dalam ibadah yang tidak ada dalam syariat:
عن جابر بن عبد الله أن رسول الله قال: أما بعد فإن خير الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد وشر الأمور محدثاتها وكل بدعة ضلالة
“Dari sahabat Jabir bin Abdillah rodhiallahu’anhu bahwasannya Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam bersabda: “Amma ba’du: sesungguhnya sebaik-baik perkataan ialah kitab Allah (Al Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk ialah petunjuk Nabi Muhammad shollallahu’alaihiwasallam, dan sejelek-jelek urusan ialah urusan yang diada-adakan, dan setiap bid’ah ialah sesat”. (Riwayat Muslim, 2/592, hadits no: 867).
عن العرباض بن سارية قال: صلى بنا رسول الله ذات يوم ثم أقبل علينا فوعظنا موعظة بليغة ذرفت منها العيون ووجلت منها القلوب، فقال قائل: يا رسول الله كأن هذه موعظة مودع، فماذا تعهد إلينا؟ فقال: أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن عبدا حبشيا؛ فإنه من يعش منكم بعدي فسيرى اختلافا كثيرا، فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء المهديين الراشدين، تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة
“Dari sahabat ‘Irbadh bin As Sariyyah rodhiallahu’anhu ia berkata: Pada suatu hari Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam shalat berjamaah bersama kami, kemudian beliau menghadap kepada kami, lalu beliau memberi kami nasehat dengan nasehat yang sangat mengesan, sehingga air mata berlinang, dan hati tergetar. Kemudian ada seorang sahabat yang berkata: Wahai Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasehat seorang yang hendak berpisah, maka apakah yang akan engkau wasiatkan (pesankan) kepada kami? Beliau menjawab: Aku berpesan kepada kalian agar senantiasa bertaqwa kepada Allah, dan senantiasa setia mendengar dan taat ( pada pemimpin/penguasa , walaupun ia adalah seorang budak ethiopia, karena barang siapa yang berumur panjang setelah aku wafat, niscaya ia akan menemui banyak perselisihan. Maka hendaknya kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafa’ Ar rasyidin yang telah mendapat petunjuk lagi bijak. Berpegang eratlah kalian dengannya, dan gigitlah dengan geraham kalian. Jauhilah oleh kalian urusan-urusan yang diada-adakan, karena setiap urusan yang diada-adakan ialah bid’ah, dan setiap bid’ah ialah sesat“. (Riwayat Ahmad 4/126, Abu Dawud, 4/200, hadits no: 4607, At Tirmizy 5/44, hadits no: 2676, Ibnu Majah 1/15, hadits no:42, Al Hakim 1/37, hadits no: 4, dll).
Pada kedua hadits ini dan juga hadits-hadits lain yang serupa, ada dalil nyata dan jelas nan tegas bahwa setiap urusan yang diada-adakan ialah bid’ah, dan setiap bid’ah ialah sesat. Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam dalam hadits ini bersabda: كل بدعة ضلالة setiap bid’ah ialah sesat, dalam ilmu ushul fiqih, metode ungkapan ini dikatagorikan kedalam metode-metode yang menunjukkan akan keumuman, bahkan sebagian ulama’ menyatakan bahwa metode ini adalah metode paling kuat guna menunjukkan akan keumuman, dan tidak ada kata lain yang lebih kuat dalam menunjukkan akan keumuman dibanding kata ini كل. [Baca Al Mustasyfa oleh Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al Ghozali 3/220, dan Irsyadul Fuhul oleh Muhammad Ali As Syaukani 1/430-432].
Dengan demikian dari kedua hadits ini, kita mendapatkan keyakinan bahwa setiap yang dinamakan bid’ah adalah sesat, demikianlah yang ditegaskan dan disabdakan oleh Nabi Muhammad shollallahu’alaihiwasallam. Sehingga tidak ada alasan bagi siapapun di kemudian hari untuk mengatakan, bahwa ada bid’ah yang hasanah atau baik. Keumuman hadits ini didukung oleh sabda Nabi shollallahu’alaihiwasallam dalam hadits lain:
عن عائشة قالت: قال رسول الله: (من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد
“Dari ‘Aisyah, ia berkata: Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam bersabda: “Barang siapa yang mengada-adakan dalam urusan kami (agama) ini sesuatu yang bukan bagian darinya (syariat), niscaya akan ditolak”. (Riwayat Bukhori 2/959, hadits no: 2550, dan Muslim 3/1343, hadits no: 1718).
Sebagai seorang muslim yang bernar-benar beriman bahwa Nabi Muhammad shollallahu’alaihiwasallam adalah utusan Allah, dia akan senantiasa bersikap sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan:
وما كان لمؤمن ولا مؤمنة إذا قضى الله ورسوله أمرا أن يكون لهم الخيرة من أمرهم ومن يعص الله ورسوله فقد ضل ضلالا مبينا.
Artinya:
“Dan tidaklah patut bagi seorang mukmin dan tidak pula bagi seorang mukminah bila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, untuk mengambil pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah ia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata”. (Al Ahzab 36).
Ibnu Katsir berkata: “Ayat ini bersifat umum, sehingga mencakup segala urusan, yaitu bila Allah dan Rasul-Nya telah memutuskan suatu urusan dengan suatu keputusan, maka tidak dibenarkan bagi siapapun untuk menyelisihinya atau memutuskan atau berpendapat atau berkata lain”. [Tafsir Al Qur’an Al Azhim, oleh Ibnu Katsir 3/490].
Layak dan beradabkah setelah Nabi shollallahu’alaihiwasallam bersabda bahwa setiap bid’ah ialah sesat, kemudian kita, atau yang lain mengatakan, bahwa ada bid’ah yang hasanah?
Imam Syafi’i telah berkata:
من استحسن فقد شرع
“Barang siapa yang menganggap baik sesuatu (dalam agama), berarti ia telah membuat syari’at”. [Lihat Al Risalah oleh Imam As Syafi’i, 25, dan Al Mustasyfa oleh Al Ghozali 2/467].
Sahabat Ibnu Umar rodhiallahu’anhu, beliau berkata:
كل بدعة ضلالة وإن رآها الناس حسنة
“Setiap bid’ah itu ialah sesat, walaupun orang-orang menganggapnya baik”. (Riwayat Al Lalaka’i, dalam kitabnya: Syarah Ushul I’itiqad Ahli As Sunnah 1/92).
قال معاذ بن جبل: إن من ورائكم فتنا يكثر فيها المال ويفتح فيها القرآن حتى يأخذه المؤمن والمنافق والرجل والمرأة والصغير والكبير والعبد والحر، فيوشك قائل أن يقول: ما للناس لا يتبعوني وقد قرأت القرآن ما هم بمتبعي حتى أبتدع لهم غيره، فإياكم وما ابتدع فإن ما ابتدع ضلالة
“Sahabat Mu’adz bin Jabal berkata: Sungguh setelah zaman kalian nanti, akan terjadi berbagai fitnah, harta benda akan melimpah, Al Qur’an akan banyak dibaca orang, hingga dihafal oleh orang mukmin, orang munafiq, laki, wanita, muda, tua, budak dan juga orang merdeka (non budak). Dan sebentar lagi akan ada orang yang berkata: “Mengapa orang-orang (masyarakat) enggan mengikutiku, padahal aku telah membaca Al Qur’an?! Sungguh mereka tidak akan mengikutiku, hingga aku mencetuskan (mengadakan) untuk mereka hal baru selain Al Qur’an. Jauhilah oleh kalian hal yang ia ada-adakan, karena yang ia ada-adakan itu adalah dhalalah (kesesatan)”. (Riwayat Abu Dawud 4/202, no: 4611).
Ayyub As Sukhtiyani berkata:
ما ازداد صاحب بدعة اجتهادا إلا ازدادا من الله بعدا
“Tidaklah seorang pelaku bid’ah semakin rajin menjalankan bid’ahnya, melainkan ia akan semakin jauh dari Allah”. (Riwayat Abu Nu’aim Al Asbahani dalam kitabnya Hilyatul Auliya’ 3/9).
Mu’adz bin Jabal ataupun Ayyub tidak membedakan antara bid’ah hasanah dengan bid’ah dhalalah, semuanya dikecam dan dikatakan sesat dan menjauhkan pelakunya dari Allah. Imam Malik bin Anas menjelaskan, alasan mengapa setiap bid’ah itu adalah sesat, beliau berkata:
من أحدث في هذه الأمة اليوم شيئا لم يكن عليه سلفها فقد زعم أن رسول الله خان الرسالة لأن الله تعالى يقول: )حرمت عليكم الميتة والدم ولحم الخنزير وما أهل لغير لله به والمنخنقة والموقوذة والمتردية والنطيحة وما أكل السبع إلا ما ذكيتم وما ذبح على النصب وأن تستقسموا بالأزلام ذلكم فسق اليوم يئس الذين كفروا من دينكم فلا تخشوهم وخشون اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا فمن اضطر في مخمصة غير متجانف لإثم فإن الله غفور رحيم( (المائدة 3) فما لم يكن يومئذ دينا لا يكون اليوم دينا
“Barang siapa pada zaman sekarang mengada-adakan pada ummat ini sesuatu yang tidak diajarkan oleh pendahulunya (Nabi shollallahu’alaihiwasallam dan sahabatnya), berarti ia telah beranggapan bahwa Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam telah mengkhianati kerasulannya, karena Allah Ta’ala berfirman: “Diharamkan bagimu bangkai, darah ………pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam menjadi agamamu. Maka barang siapa yang terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha penyayang” (Al Maidah: 3) sehingga segala yang tidak menjadi ajaran agama kala itu (zaman Nabi shollallahu’alaihiwasallam dan sahabatnya) maka hari ini juga tidak akan menjadi ajaran agama”. (Riwayat Ibnu Hazem dalam kitabnya Al Ihkam 6/225).
Inilah hakikat bid’ah. Pada hakikatnya bid’ah adalah sanggahan terhadap kesempurnaan agama Islam yang telah ditetapkan Allah pada surat Al Maidah ayat 3, dan merupakan tuduhan terhadap Nabi shollallahu’alaihiwasallam yang mendapatkan amanat menyampaikan risalah ini telah berkhianat. Seorang yang melakukan bid’ah seakan-akan ia berkata: Bahwa agama Islam ini belum sempurna, sehingga perlu ditambahkan amalan saya ini, atau Nabi shollallahu’alaihiwasallam telah berkhianat, sehingga amalan baik yang saya amalkan tidak beliau ajarkan kepada umatnya. Na’uuzubillah min zalika.
MARAJI:
1) Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, Risalah Bid’ah, Jakarta, Pustaka ‘Abdullah, cetakan ke-4 Syafar 1425 H/ April 2004.
2) Ustadz Abu Ihsan Al-Atsari, Bincang-Bincang Seputar Tahlilan, Yasinan dan Maulidan, Solo, At-Tibyan, cetakan ke-3, 2007.
3) Makalah Ustadz Muhammad Arifin Badri, MA. Madinah, Saudi Arabia. 2005.
4) Makalah Ustadz Syaikh Mudrik Ilyas. Malang. Maret 2002.
mohon masukan dari saudara2 yang berilmu apabila ada kesalahan dalam tulisan diatas.
wassalamualikum..
purwanie
11 Oct 2008 [Permalink]
Assalamu’alaikum, terima kasih tlh memberikan ilmu yg anda ketahui , semoga menjadi amalan anda.
tapi sebagai org awam saya msh bingung dengan kategori bid’ah, (nggak sesuai dgn ajaran Rosululloh saw), tapi bagaimana dengan adanya 4 madzab yg selama ini jadi acuan bagi umat muslim dlm menjalankan ajaran agama islam. bukankah itu munculnya setelah Rosul wafat dan bahkan kdg2 membuat sesama muslim yg berbeda madzab berselisih? apakah itu bukan termasuk bid’ah juga?mohon penjelasan bagi yg tahu . wassalam
KangIm
13 Oct 2008 [Permalink]
Saya penah diminta ikut sholat janazah untuk mendoakan mayyit. Pada mulanya saya tidak tahu tata caranya, jadi saya manut saja pada apa yang dikerjakan imam. Kemudian saya mencari tahu kepada para ulama, baik dari kalangan NU maupun MUHAMMADIYAH tentang tata cara sholat mayyit yang benar yang dituntunkan Rasulullah. Semua memberikan penjelasan sama. Takbirnya 4 kali, ada bacaan fatihah dan bacaan sholawat. Jawaban ini tidak membikin saya menjadi lega, tapi malah membangkitkan rasa bingung. Kenapa ? Karena saya pernah mengikuti pengajian yang nara sumbernya dari MUHAMMADIYAH, bahwa amal apapun kecuali doa yang ditujukan kepada si Mayyit sia-sia dan tidak ada manfaatnya. Saya jadi bingung tentang pelaksanaan sholat mayyit ini. Kenapa mau mendoakan mayyit kok pakai sholat segala dan lagi di dalamnya ada bacaan fatihah dan sholawat. Saya kemudian mencari terjemahannya, ternyata juga tidak ada hubungannya dengan si Mayyit.
Apakah ini tidak sia-sia ?
Kalau sia-sia, lalu yang benar bagaimana ?
Mohon penjelasan biar saya tidak salah dan tidak dikatakan bid’ah.
purwanie
17 Oct 2008 [Permalink]
ass. kalau itu dilakukan dgn alasan da’wah apa itu juga dilarang (krn setahu saya(lagi)banyak non muslim yg tertarik krn memandang betapa toleransi muslim itu bagus dgn hal itu)
“Rosululloh shollalohu’alaihi wa sallam yakni seperti yang termaktub dalam sabdanya, “Dari Abu Hurairah, dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam: Janganlah kamu khususkan malam Jum’at untuk melakukan ibadah yang tidak dilakukan pada malam-malam yang lain.” (HR. Muslim).”
kalau dilakukan dlm mlm2 yg lain juga (nggak terikat waktu) apa nggak boleh? (kan dlm hadist itu yg nggak diperbolehkan adalh pengkultusan mlm jum’atnya, bukan pada perbuatannya)
pedapat saya apakah salah? tolong jawabannya sekalian ama pertanyaan saya yg diatas.
Irfan Ari Pamungkas
17 Oct 2008 [Permalink]
Wahai para penyampai da’wah, teruskan perjuangan Nabi Muhammad SAW, sampaikan da’wah dimana2, sadarkan orang2 yg belom tahu ttg islam Ahlussunnah wal Jamaah.
Semoga ALLOH Subhanahuwata’ala memberikan hidayah kepada kaum musslimin.
newbie
22 Oct 2008 [Permalink]
innalillahi wainna ilaihi roji’uun..
SUTISNA
22 Oct 2008 [Permalink]
Ass. Ma’af mas, saya mau tanya, sebenarnya ada ga hadist yang menjelaskan tentang keharaman yasinan! Jika tidak ada hadistnya bagaimana kita bisa memponis bahwa yasinan itu bid’ah. Terus Seminar, workshop, pelatihan dan masih banyak yang baru yang tidak ada pada masa Rasulallah, apakah itu juga termasuk bid’ah? terimakasih. semoga mas bisa memberikan jawaban yang komprehensif. Wass.
Muslim.or.id
22 Oct 2008 [Permalink]
Mas Sutisna jika Anda tanya tentang ada tidak ayat atau hadits yang menjelaskan keharaman yasinan, atau dengan kata lain, ada tidak dalil yang melarang yasinan. Maka kami jawab, Anda mau tawaf keliling ka’bah dengan cara ngesot pun tidak ada dalil yang melarangnya, atau Anda mau zikir jama’ah sambil loncat-loncat trus head bang pun tidak ada dalil yang melarangnya secara langsung dan spesifik. Jadi, ketika ada seorang muslim dengan seenak perutnya melakukan ibadah dengan dalih “toh tidak ada ayat ato hadist yang melarangnya kok, toh yang penting kan niatnya baik, dst… dst….” maka apa jadinya agama ini?
Para ulama membuat kaidah dalam permasalahan ini, yaitu “Setiap perkara ibadah hukumnya HARAM kecuali ada dalil/tuntunannya, dan setiap perkara adat/kebiasaan hukumnya mubah/boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.” Jadi, ketika Anda ingin melakukan suatu amalan yang Anda anggap itu bernilai ibadah (misal: yasinan), maka sebelumnya Anda harus tinjau dulu amalan yang Anda lakukan tersebut apakah ada dalil atau tuntunannya dalam agama? atau dengan kata lain apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, para salafus shaleh pernah melakukannya? Beda lagi dengan suatu adat/kebiasaan yang sifatnya perkara dunia maka boleh boleh saja Anda lakukan selama tidak ada dalil yang melarangnya. Kaidah “Setiap perkara ibadah hukumnya HARAM kecuali ada dalil/tuntunannya, dan setiap perkara adat/kebiasaan hukumnya mubah/boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.” kami kira cukup jelas dan mudah dimengerti, dan dalam penerapannya jangan sampai terbalik.
Mas Sutisna, tak bosan-bosannya kami memaparkan bahwa pembahasan bid’ah berkaitan dengan perkara ibadah dalam agama, jadi tidak ada hubungannya dengan seminar, workshop, atau pelatihan! untuk lebih jelasnya tentang permasalahan bid’ah dapat Anda baca pada artikel di bawah ini:
1. Pengertian Bid’ah
2. Adakah Bid’ah Hasanah
3. Berbagai Alasan Dalam Membela Bid’ah
4. Dampak Buruk Bid’ah
Silakan dibaca, disimak, dan diresapi. Jika ada poin yang tidak Anda mengerti, silakan ditanyakan. Semoga bermanfaat.
purwanie
22 Oct 2008 [Permalink]
kepada muslim .or.id.kok yg pertanyaan saya nggak dijawab?
satria
23 Oct 2008 [Permalink]
#bt purwanie
Sekali lagi, untuk pertanyaannya silakan baca dan pahami artikel tentang bid’ah pada link berikut:
1. http://muslim.or.id/manhaj-salaf/mengenal-seluk-beluk-bidah-1.html
2. http://muslim.or.id/manhaj-salaf/mengenal-seluk-beluk-bidah-2.html
3. http://muslim.or.id/manhaj-salaf/mengenal-seluk-beluk-bidah-3.html
4. http://muslim.or.id/manhaj-salaf/mengenal-seluk-beluk-bidah-4.html
Kemudian masalah dakwah, caranya juga sudah dituntunkan oleh Rasulullah, jadi kalau perbuatan tersebut adalah bid’ah, janganlah kita berdakwah dengan perbuatan bid’ah.
Pertanyaan lain insyaAllah bisa didapatkan jawabannya dalam link di atas.
Semoga Allah memberikan kita kemudahan untuk mendapatkan kebenaran dan menetapi kebenaran tersebut. Amin.
Muslim.or.id
23 Oct 2008 [Permalink]
Buat ukhti Purwanie:
Perbedaan dalam mazhab ‘hanyalah’ perbedaan dalam masalah fiqhiyah, itu pun tidak semuanya berbeda. Dan seorang muslim tidak dituntut harus menganut mazhab tertentu. Para imam mazhab pun, seperti Imam Syafi’i, dll menegaskan untuk mengambil pendapat beliau yang sesuai Sunnah dan meninggalkan pendapat beliau apabila tidak sesuai dengan sunnah. Mengikuti mazhab adalah dalam rangka memudahkan seorang muslim (apalagi orang yang masih awam seperti kita) untuk melaksanakan ibadah. Oleh karena itu kita diwanti-wanti oleh para ulama untuk tidak ta’ashub/fanatik dalam mazhab. Selama ini, konflik dan perselisihan terjadi karena adanya sikap fanatik mazhab.
Toleransi perbedaan dibolehkan sebatas pada masalah fiqhiyah dan khilafiyah ijtihadiyah, dan bukan pada semua bidang agama. Dan jika pada pihak yang berbeda tersebut mendapatkan bahwa ada pendapat yang dekat pada kebenaran (Al Qur’an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya) maka dia wajib untuk tunduk dan menerima pendapat tersebut dan meninggalkan pendapatnya yang menyelisihi kebenaran. Satu hal lagi yang harus diingat, bahwa dalam masalah AQIDAH atau TAUHID, kita umat Islam memiliki satu aqidah yang sama, dan tidak ada perbedaan sedikitpun. Dan jika ada satu kelompok yang memiliki aqidah yang berbeda, dalam artian menyelisihi aqidah Islam yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka aqidah kelompok tersebut perlu ditilik ulang.
Mengenai bid’ah, perlu kami jelaskan sedikit bahwa Islam yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini sudah sempurna. Semua permasalahan dalam agama sudah diajarkan semua oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik itu aqidah hingga masalah fiqh dan muamalah. Dan kita tinggal lagi mempraktekkannya. Jika kita mau ibadah, sudah banyak tersedia macam-macam ibadah yang sudah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan kata lain sudah seabreg-abreg, sehingga jika kita mau habiskan hidup kita hanya untuk ibadah maka niscaya ibadah yang sudah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah sangat banyak. Oleh karena itu, alangkahnya naif dan menyedihkan kita, ketika ada diantara saudara-saudara kita kaum muslimin yang merasa belum cukup puas dengan ibadah yang sudah ada, sehingga mereka mengkreasikan ibadah-ibadah baru yang tidak pernah sama sekali diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan yang tambah menyedihkan kita, ternyata saudara-saudara kita itu hanya taunya ibadah-ibadah baru hasil kreasi tersebut dan rutin mempraktekkannya, dan sebaliknya mereka lupa dan bahkan meninggalkan banyak ibadah yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Bid’ah dalam agama ini layaknya nila yang merusak kemurniannya. Sehingga bercampur baur antara yang haq dan yang bathil, dan sampai-sampai kaum muslimin tidak dapat lagi membedakannya, karena yang sunnah menjadi hilang dan dianggap bid’ah, dan yang bid’ah malah dianggap sunnah.
Sekarang, bolehkan kita berdakwah dengan menggunakan ibadah bid’ah yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? insya Allah jawabannya sudah kita ketahui. Ada banyak metode dakwah yang sesuai sunnah, mengapa kita repot-repot bela-belain menggunakan sarana ibadah yang bid’ah?
Penjelasan tentang bid’ah yang insya Allah bermanfaat dapat ukhti baca pada 4 link artikel yang kami berikan di atas. Mudah-mudahan bermanfaat.
ozami
06 Nov 2008 [Permalink]
Assalaamu’alaikum..
Untuk para pemikir yg tidak berfikir sehat..
Para Sahabat Rasulullah (3 generasi terbaik umat Islam) sudah dijamin masuk surga (QS.at-Taubah;100) GA PAKE YASINAN, GA PAKE TAHLILAN, GA PAKE MAULIDAN, DZIKIR GA PAKE BIJI-BIJIAN TASBIH, DLL(bid’ah).. Mereka cuma mengikuti apa yang diajarkan oleh Rasulullah.. Itulah JALAN YANG LURUS! Jadi buat apa sih kita repot-repot membuat CARA-CARA BARU dalam beribadah. Ikutin yang pasti-pasti aja deh.
Wallahu a’lam
zahra
14 Nov 2008 [Permalink]
Assalamualaikum wr.wb
terimakasih atas artikelnya.Dengan artikel ini pengetahuan saya jadi bertambah mengingat saya adalah orang yang sedang mencari kebenaran dan sedang dalam tahap perbaikan.
Ada yang perlu saya tanyakan.dalam hal membaca surat Yasiin itu sebenarnya bid’ah atau yidak ada dalam tuntunan nabi namun telah dikatakan bahwa salah satu amal yang tidak terputus adalah doa anak yang sholeh.saya pernah menanyakan tentang yasiin kepada orang tua saya, bahwa doa yang dimaksud tersebut adalah dengan membaca surat yasin mengingat keutamaannya dalam membacanya.bagaimana dengan hal ini?
syukron jz.
Muslim.or.id
14 Nov 2008 [Permalink]
Wa’alaikumussalam warohmatullah wabarokatuh
Ukhti Zahra, hadits-hadits seputar keutamaan surat Yasin adalah hadits-hadits lemah dan palsu yang tidak boleh dijadikan dalil dalam beramal. Silakan membaca artikel tersebut pada link di bawah ini:
Derajat Hadits Fadhilah Surat Yasin
Do’a anak yang shaleh tidak harus dengan membaca surat Yasin. Ada banyak do’a yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan do’a yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam insya Allah lebih afdhol untuk kita praktekkan.
Naril
15 Nov 2008 [Permalink]
Ana hanya orang awam………!!!
Ana hanya bisa berpesan
Khususnya kepada pengelola website MUSLIM
Banyak ilmu yang ana dapatkan ketika ana membuka situs ini….
Banyak perubahan yang dirasakan setelah mempelajari ilmunya…..
Seringa an ajarkan ilmunya kepada masyarakat….
Situs yang sering ana UPDATE setiap harinya…..
Ana cuma pesan, permasalahan umat ini sangat kompleks !!!
Kristenisasi merajalela, kesyirikan dimana-mana, kemiskinan, Maksiat yang dilegalkan,
Tolong prioritaskan membahas tema-tema yang URGEN untuk umat ini dan hindari yang bisa memecah umat ini!!! Dengan berbagai keragaman dan pemahaman yang berbeda-beda……
Semoga Allah memberikan kekuatan pada qta dan tetap istiqomah dijalan dakwah…….