Yasinan: Bid’ah yang Dianggap Sunnah


“Ayo pak kita yasinan di rumahnya pak RT!” Kegiatan yang sudah menjadi tradisi di masyarakat kita ini biasanya diisi dengan membaca surat Yasin secara bersama-sama. Mereka bermaksud mengirim pahala bacaan tersebut kepada si mayit untuk meringankan penderitaannya. Timbang-timbang, daripada berkumpul untuk bermain catur, kartu apalagi berjudi, kan lebih baik digunakan untuk membaca Al-Qur’an (khususnya surat Yasin). Memang sepintas jika dipertimbangkan menurut akal pernyataan itu benar namun kalau dicermati lagi ternyata ini merupakan kekeliruan.

Al-Qur’an untuk Orang Hidup

Al-Qur’an diturunkan Alloh Ta’ala kepada Nabi Muhammad shollallohu’alaihi wa sallam sebagai petunjuk, rahmat, cahaya, kabar gembira dan peringatan. Maka kewajiban orang-orang yang beriman untuk membacanya, merenungkannya, memahaminya, mengimaninya, mengamalkan dan berhukum dengannya. Hikmah ini tidak akan diperoleh seseorang yang sudah mati. Bahkan mendengar saja mereka tidak mampu. “Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang mati itu mendengar.” (Terjemah An-Naml: 80). Alloh Ta’ala juga berfirman di dalam surat Yasin tentang hikmah tersebut yang artinya, “Al Qur’an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan supaya dia memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup.” (Yasin: 69-70). Alloh berfirman yang artinya, “Sesungguhnya seseorang itu tidak akan menanggung dosa seseorang yang lain dan bahwasanya manusia tidak akan memperolehi ganjaran melainkan apa yang telah ia kerjakan.” (An-Najm: 38-39). Berkata Al-Hafizh Imam Ibnu Katsir rohimahulloh: “Melalui ayat yang mulia ini, Imam Syafi’i rohimahulloh dan para pengikutnya menetapkan bahwa pahala bacaan (Al-Qur’an) dan hadiah pahala tidak sampai kepada orang yang mati, karena bacaan tersebut bukan dari amal mereka dan bukan usaha mereka. Oleh karena itu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memerintahkan umatnya, mendesak mereka untuk melakukan perkara tersebut dan tidak pula menunjuk hal tersebut (menghadiahkan bacaan kepada orang yang mati) walaupun hanya dengan sebuah dalil pun.”

Adapun dalil-dalil yang menunjukkan keutamaan surat Yasin jika dibaca secara khusus tidak dapat dijadikan hujjah. Membaca surat Yasin pada malam tertentu, saat menjelang atau sesudah kematian seseorang tidak pernah dituntunkan oleh syari’at Islam. Bahkan seluruh hadits yang menyebutkan tentang keutamaan membaca Yasin tidak ada yang sahih sebagaimana ditegaskan oleh Al Imam Ad Daruquthni.

Islam telah menunjukkan hal yang dapat dilakukan oleh mereka yang telah ditinggal mati oleh teman, kerabat atau keluarganya yaitu dengan mendo’akannya agar segala dosa mereka diampuni dan ditempatkan di surga Alloh subhanahu wa ta’ala. Sedangkan jika yang meninggal adalah orang tua, maka termasuk amal yang tidak terputus dari orang tua adalah do’a anak yang sholih karena anak termasuk hasil usaha seseorang semasa di dunia.

Biar Sederhana yang Penting Ada Tuntunannya

Jadi, tidak perlu repot-repot mengadakan kenduri, yasinan dan perbuatan lainnya yang tidak ada tuntunannya dari Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam. Bahkan apabila dikaitkan dengan waktu malam Jum’at, maka ada larangan khusus dari Rosululloh shollalohu’alaihi wa sallam yakni seperti yang termaktub dalam sabdanya, “Dari Abu Hurairah, dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam: Janganlah kamu khususkan malam Jum’at untuk melakukan ibadah yang tidak dilakukan pada malam-malam yang lain.” (HR. Muslim). Bukankah lebih baik beribadah sedikit namun ada dalilnya dan istiqomah mengerjakannya dibanding banyak beribadah tapi sia-sia? Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang beramal yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka ia tertolak.” (HR. Muslim). Semoga Alloh subhanahu wa ta’ala melindungi kita semua dari hal-hal yang menjerumuskan kita ke dalam kebinasaan. Wallohu a’lam bishshowab.

***

Penulis: Muhammad Ikrar Yamin
Artikel www.muslim.or.id

  • Firman

    Yaallah persatukanlah umat ini.

    Mengapa anda melarang sesuatu yang bidah menurut anda Tapibaik untuk orang lain, apa sudah habis kemurtadan kekapiran dah hal-hal lain yang agama menetapkan haram tapi terang terangan ada dan banyak dimasiarakat.
    apa di sekeliling anda sudah tiada ada orang yang berjualan minuman keras, dan minum minuman keras.apa sekeliling anda sudah tida ada prostitusi,dan orang yang melakukan itu. apa di sekeliling anada sudah tidak ada kemurtadan. Apa dirumah anda tida ada telefisi yang penuh dengan kampanya sex bebas, kemurtadan dan hal-hal yang lebih nyata menyesatkan.
    Anggap tahlilan yang diisi dengan membaca yasin adalah da’wah.
    Dawah simayit untuk yang masih hiup, yang membacakan yasin akan berpikir mereka nanti akan mati sama seperti yang sedang dibacakan yasin, yang kurang sempurna ibadahnya akan memperbaiki dirimereka, yang tida pernah ibadah akan menjadi teguran yangnyata mereka akna terketuk hatinya dan merubah diri Jadi lebih baik.
    kenapa anda permasalahkan semut ditengah lautan, tapi gajah yangmerusak di depan mata anda hiraukan.
    jika suatu perkara dapat menimbulkan kebaikan, dan kemanpaatan kenapa harus dilarang.
    Jangan anda bicara tentabg dosa dan pahala, pahala dan dosa adalah urusan ALLah. yang kita cari adalah Kecintaan allah.
    Apa anda tidak malu mayit saja yang sudah tida bisa apa-apa masih bisa berdawah sedangkan anda yang diberikan allah ilmu malah menimbulkan keraguraguan.
    hilangkan hawa napsu bahwa aku adalah pintar.jangan hanya melihat dari kitap, selama itu tidak bertentangan dengan Rukun iman dan islam juga berman paat ( sarana saling mengingatkan) jangan di permasalahkan.
    sampai tidanya suatu perkara kepada allah, hanya allah yang tau, dan Man paat suatu perkara yang bersipat goib hanya allah yang tau.
    Terkadang suatu yng terlihat buruk adalah yang lebih baik.
    dan sesuatu yang terlihat baik dan indah adalah buruk.
    bukan kah dari pantat ayam yang menjijikan dapat keluar suatu yang sangat berman paat. yaitu telur ayam.
    dan coba kita pikir emas permata yang begitu indah dan banyak diingin kan manusia tapi talebih berharga dari sayapnyamuk menurut Allah.

    Apa yang sangat baik dari acara tahlilan ini adalah silaturahmi coba andalihat ditahlilan Tetangga dan tetangga saling berkumpul atas dasar ibadah kepada Allah.

  • Supriyadi

    As5 maf sy sblumya ingn menanykn kpada anda bidah itu apa.Klw sy brpndapt gaya anda dlm menuls artikel menyerng dn ingen mematikan yg namya yasinan.Pdhl ysinan itu dpt menyambng silaturahm antar sesama muslim.Dn mendatangi mengaji dn tahlil d tmpat si sohibul musibh dpt menghbrnya.Dn idkholul surur adalh anjuran nabi..

  • Ben

    Assalamu’alaikum….mengenai yasinan,dalil tentang keutamaan membaca surat yasin seluruhnya tidak ada yang shahih bahkan semuanya adalah dho’if,dan dalil yang dapat dipakai sebagai hujjah adalah dengan sanad minimal adalah “hasan”. dan yasinan yang merebak sekarang di masyarakat adalah karena ketidak mengertian mereka dan merupakan perkara yang diada2kan (Rasulullah Shallallahu ‘alihi wasallam dan Shahabat Radhiyallahu’anhum tidak pernah mencontohkan)… agama ini telah sempurna(al-maidah:3) dan apa2 yang diada2kan setelahnya adalah bid’ah dan bid’ah adalah tertolak..Rasulullah Shallallahu ‘alihi wasallam bersabda man ‘amila amalan laysa ‘alihi amrunaa fahuwa raddun:barang siapa melakukan amalan yang tidak ada perkara itu dariku maka “tertolak”…
    Apa yang kita anggap baik,belum tentu baik bagi Allah Subahanahuwata’ala Dan Rasulnya shallallhu ‘alihi wasallam..selain itu kita tidak perlu lagi susah2 membuat ibadah2 yang baru dalam agama ini karena agama ini telah “sempurna”….dan jika masih ada yang menganggap ada yang lebih baik bagi ummat ini daripada apa yang dicukupkan Allah dan RasulNya….sama saja dia mengatakan bahwa agama ini belum sempurna dan masih bisa ditambah dengan yang lebih baik..dengan kata lain dia menuduh rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam menyalahi risalah(bahwasannya Islam telah “sempurna”)….afwan klo ada yg salah dn ana butuh koreksi krna ana masih baru belajar….syukron

  • Abdullah

    Akal manusia terbatas, untuk hal2 dunia pun terkadang banyak yang kita tidak mengerti. Biasanya kita melakukan penelitian, riset dan semisalnya yang terkadang masih juga salah dalam mengambil hasil akhirnya. (Padahal terlihat dengan mata dan dapat kita rasakan).
    Apalagi untuk hal2 ukhrowi yang satu2nya jalan bagi kita untuk mengetahuinya adalah dari Allah sendiri (Al-Qur’an) dan Rasulnya (Al-Hadits). Sampingkan perasaan dan emosi karena apa yang kita anggap baik belum tentu baik dan sebaliknya apa yang kita anggap buruk belum tentu buruk. Cukuplah dengan apa yang diajarkan oleh Rasullullah kita mengamalkan sesuatu.
    Siapa hamba yang paling mengerti ttg Islam ini? Dialah Rasul, yang ternyata pernah juga salah dkarenakan terbatasnya akal pikiran. Seperti dalam peristiwa Perang Badar, ia (rasul) berpendapat sebaiknya tawanan perang badar ditebus (bukan dihukum mati) agar uang tebusannya dapat memperkuat basis di madinah (yang saat itu memang baru hijrah, belum kuat). Namun karena ini turun ayat dari surat At-Taubah, yang menyatakan bahwa tidak pantas bagimu y nabi untuk mengambil tebusan sebelum jelas bagimu kemenangan (maaf, mohon dibenarkan)
    Dapat kita lihat ternyata pikiran dan emosi dapat mengecoh. Untuk itu berpegang teguhlah pada apa yang udah ada beserta penjelasan ulama terdahulu (yang insy lebih mengerti) agar lebih aman. Jangan sampai kita bersusah-susah dalam beramal namun ternyata tertolak karena tidak pernah diajarkan.
    Jika sesuatu itu baik maka sudah pasti generasi terbaik (yaitu Generasi Rasul beserta sahabat) lah yang paling bersemangat mengerjakannya.

  • ya2n

    apakah sesuatu yang dianggap baik menurut pandangan manusia berarti baik di hadapan Alloh ? apalagi jika menyangkut perkara2 ibadah yang telah ditetapkan oleh syariat , maka untuk mengetahui suatu amalan tersebut baik atau buruk dibutuhkan dalil2 yang shahih tentangnya. So, jadikanlah selalu Alqur’an & Assunnah sebagai tolok ukur dalam beribadah, dan jangan lupa untuk senantiasa menuntut ilmu kepada alim ulama.

  • Na2nk

    Intinya adalah sesuatu yg dicontohkan Rasul dan para sahabat kita sgr kerjakan,

  • http://alislami.wordpress.com abu syakur

    Bismillah,
    Ana hanya ingin memberikan nasehat buat sesama salafi
    Mari kita berdakwah secara hikmah seperti Rosululloh
    Banyak saudara2 kita yang masih jahil akan ilmu
    Tetaplah bersabar dalam menyampaikan kebenaran dan hujjah
    Dengan ilmu yang shohih, lisan yang lembut dan mulia
    Serta buah amal sholih.
    Sehingga akan menjadi cahaya diatas redup dan gelapnya
    Umat islam di Indonesia
    Semoga Alloh Ta’ala memudahkan langkah kita.

  • ari

    Kalau semata-mata dengan alasan manfaat maka sesuatu dibolehkan, maka apa salahnya kalau kita menghalalkan khamr dan judi. Bukankah di dalam Al-Qur’an Allah menyatakan bahwa di dalam keduanya terdapat manaafi’ (berbagai kemanfaatan) bagi umat manusia. Tapi apakah itu artinya kita boleh menghalalkan keduanya? Tentu saja tidak! Karena Allah menyatakan wa itsmuhuma akbaru min naf’ihima (dosanya itu lebih besar daripada manfaatnya). Ini artinya semata-mata sesuatu mengandung manfaat bukanlah dalil bahwa sesuatu itu baik dalam ukuran agama. Lihatlah pekerjaan para dukun dan tukang santet… Bukankah pekerjaan mereka bermanfaat untuk menghidupi anak dan isteri? Lantas apakah dengan serta merta kita halalkan perdukunan dan persantetan dengan alasan hal itu bermanfaat? Allahul musta’aan. Tentu saja tidak wahai saudaraku… Oleh sebab itulah syariat Islam yang hanif ini tidak akan mengharamkan sesuatu melainkan karena 2 sebab :
    1. Hal itu mengandung kerusakan murni, atau
    2. Halitu memang ada manfaatnya, tetapi kerusakan atau bahayanya lebih dominan.
    Membaca Al-Qur’an memang baik, tapi kalau tidak dikerjakan mengikuti tuntunan Nabi justru akan menjadi bid’ah. Dan yang namanya bid’ah itu jelek dalam agama, meskipun oleh pelakunya dinilai baik. Lho, kan bermanfaat? Iya, bisa jadi. Tapi sebenarnya agama ini punya siapa to? Agama ini bukan ‘perusahaan’ punya kita yang bisa semau gue kita perlakukan. Agama ini punya Allah, dan yang menyampaikan Rasulullah. Iya, kan.. Lalu mengapa kita ‘ngotot’ membela sesuatu yang tidak ada tuntunannya? Terus, kalau memang ada tuntunannya coba mana dalilnya? Pasti yang dibawakan adalah dalil yang lemah atau yang bukan pada tempatnya. Nah, sudah jelas kan… Yang jelas-jelas sunnah saja sudah banyak ditinggalkan, ee buat apa malah merepotkan diri dengan hal-hal yang gak ada tuntunannya.
    Demikianlah yang bisa saya sampaikan, maaf kalau ada yang kurang berkenan. Semoga dengan ini kita bisa semakin meningkatkan ketakwaan dan keimanan kita kepada Allah. amien.

  • Dadang Zaelani

    Assl hai Muhammad Ikrar Yamin, nama anda bagus sekali, kalau anda mau mencoba, sampai tidaknya kita membaca surat yasin yang kita tujuhkan kepada orang tua kita yang telah meninggal atau kepada arwah muslimin dan muslimat, anda harus mati dulu baru anda percaya penilitian anda itu, maka saya sarankan kepada anda sebelum anda meninggal anda harus bertobat dan mencabut tulisan anda ini sekian dan terima kasih wassalam

  • fairuz

    a’kum wr br.

    ikhwani waakhwaati fillah

    Ana harap komentar komentar yang kita baca dan akan baca di mana di mana saja pun membuat kita berfikiran terbuka.Hangan kita mengikut hawa nafsu.Agama islam adalah agama yang haq.Adapun jika ada yang tidak setuju maka haruslah kita mebuat rujukan pada buku asal.Jangan megikut hati ataupun buah fikiran kita.Agama islam bukan agama nenek moyan kita.Agama ini milik Allah.jangan kita mengikut adat.tetapi ikut lah kepada sunnahNya.

    akhukum fil islam.

  • agus

    Ibadah yang dicontohkan Nabi saw saja masih banyak yang belum kita lakukan. Kenapa kita harus melakukan sesuatu yang tidak pernah kita dengar dari hadits manapun bahwa “Nabi saw berkumpul bersama sahabat2 untuk yasinan terus pulang bawa bingkisan makanan”.
    Kalau memang untuk silaturahmi kita bisa galakkan dengan sholat berjamaah yang hukumnya bahkan wajib dan ada contohnya dari Nabi saw. Kita bisa saling bertemu dan bersilaturahmi di masjid.
    Tapi justru yang terjadi di tempat kita, ketika Allah menyeru kita lewat muadzin-Nya untuk datang sholat berjamaah di masjid paling hanya 2 atau 3 orang yang datang, tapi begitu diseru untuk yasinan maka yang datang ratusan orang, apakah ini bukan ironi yang menghina Allah…seruan Allah yang jelas2 adalah pencipta kita dianggap tidak ada harganya, sedangkan seruan yasinan dianggap lebih berharga dari sholat jamaah.

  • Ari Wahyudi

    Memang betul kata para ulama, ‘Bid’ah itu lebih disukai iblis daripada maksiat, sebab maksiat masih mungkin diharapkan taubat. namun kalau bid’ah, sulit untuk diharap bertaubat pelakunya.’ Ibnu Mas’ud mengatakan, “Semua bid’ah pasti sesat, meskipun orang2 menilainya baik.” Marilah kita berpikir jernih, singikirkan fanatisme buta, renungkanlah dalil-dalil yang ada. Kalau Yasinan memang baik, lalu mengapa Nabi dan para sahabat tidak melakukannya? Apakah kita lebih paham agama daripada mereka? Renungkanlah!

  • brata N Wahyudi

    Assalamualaikum ,
    Alloh SWT sudah menetapkan Islam sebagai agama yang paling benar & paling sempurna untuk tuntunan hidup manusia dengan tatacara peribadatan yang sudah dicontohkan melalui hambanya yang sangat mulia , Muhammad Rosulullah SAW. Jadi marilah kita beribadah sesuai yang Rosulullah contohkan. Dari urusan yang paling kecil sampai paling besar Rosulullah sudah lakukan , dimana urusan itu melingkupi tatacara hidup kita sebagai manusia. Dan setiap perilaku peribadatan yang Rosulullah lakukan pasti disertai dalil-dalil yang shohih, kalau kita mencontoh Rosulullah tanpa harus mengurangi atau menambahkan sudah pasti kita dijamin masuk surga. Oleh karena itu lebih baik kita kaji terlebih dahulu dalil-dalilnya, itulah pentingnya kita menuntut ilmu, mengkaji ilmu supaya apa yang kita sampaikan ada landasan dalil / hadistnya. Marilah kita berargumentasi dengan dilandasi ilmu supaya kita tidak saling menghujat antar saudara sendiri. Supaya kita tidak terjebak dalam bid’ah & kesesatan. Mudah-mudahan Alloh SWT senantiasa memberikan hidayah-Nya kepada kita semua..amin.. untuk selalu bisa melakukan ibadah sesuai yang dicontohkan oleh Rosulullah SWT..amin..
    Wassalamu’alaikum..

  • Abu Ahmad

    Assalamu’alaikum

    ana ingin sedikit nambahi.

    Coba kita lihat ibadah-ibadah yang memang ada perintahnya seperti :

    1. Sholat, 2.Zakat, 3. Puasa dan 4. Haji

    itu saja kita dalam melaksanakannya harus sesuai tuntunan dan contoh Rasululloh.

    Jangan karena menurut akal kita, makin banyak sholat makin baik, lalu kita boleh sholat subuh 10 rokaat, atau karena ingin dapat banyak pahala dan ingin mendekatkan diri kepada Alloh, lalu kita ketika Pusa Ramadhon kita berpuasa tetapi tanpa Sahur dan tanpa berbuka selama satu bulan penuh (apa gak klenger itu orang). Begitu juga dalam melakukan ibadah-ibadah yg lainnya, kita senantiasa melihat Dalil (contoh dari Rosulullah).

    Kalau memang benar (seandainya saja) membaca surat Yasiin itu bisa menyelamatkan manusia kelak di alam kubur dan akherat, atau bisa memasukkan manusia ke syurga ! ngapain juga surat Yasiin itu tidak kita baca aja banyak-banyak selagi masih hidup, sehingga kelak ketika kita udah mati, gak perlu lagi repot-repot keluarganya ngumpulin orang-orang se RT dan menyediakan makan selama 3 harinya 7 harinya 40 harinya dan seterusnya hanya untuk membacakan surat Yasiin (apa cara-cara begini ini gak menunjukkan klo mereka yg suka Yasiinan itu adalah orang-orang yg malas membaca A-Quran ketika masih hidup), sehingga selama hidupnya meremehkan membaca dan mempelajari Al-Quran, karena sudah berprinsip, aaaah nanti aja … toh kalau udah mati bakalan di Yasiinin sama keluarga, jadi ngapain juga repot baca Al-Quran, kan dg Yasiinan cukup buat masuk Syurga. Mimpi kaliiii yeeee.

  • Abu Ahmad

    Itu orang-orang yg suka Kirim pahala dg bacaan Yasiin dan Al-Fatihah, emang sudah berapa banyak simpanan pahalanya (sok merasa dirinya bakalan masuk syurga pakai kirim-kirim pahala segala), buat nyelametin diri antum sendiri dari adzab kubur dan adzab neraka aja blom tentu bisa selamat, pakai kirim pahala buat orang lain.

    Sadarlah bahwa kita ini diajarkan untuk Mendo’akan kepada Orang tua dan Kaum Muslimin, bukan kirim pahala !!!

    Beda antar kirim pahala dg mendo’akan

    Kalau mendoakan itu, kalimatnya memohon kepada Alloh, sebagai contoh:

    Ya Alloh ampunilah dosa dan kesalahan kedua orang tuaku, terimalah amal ibadahnya, jauhkanlah dari siksa kubur dan dzab api neraka. (yg seperti ini Boleh, dan ada contohnya)

    Nah kalau baca Yasiin atau baca surat Al-Fatihah, kemudian antum menganggap bacaan antum berpahala (dari mana antum tahu bacaan antum ada pahalanya), kok bisa-bisanya antum memerintahkan Alloh agar Alloh menyampaikan pahalanya buat si Fulan atau Fulanah.

    Emangnya Alloh pesuruh antum ??? yg bisa antum atur semau antum sendiri.

    kalu bisa begitu, kenapa antum gak kirim dosa aja, antum bisa berbuat maksiat dan berbuat dosa, kemudian antum suruh Alloh agar dosa antum diberikan kepada si Fulan atau Fulanah.

  • banish

    golongan wahabi adalah orang2 yang tidak pernah diajarkan adat& budaya oleh orang tua/lingkungannya waktu kecil.Orang2 barat yang selalu kalian tuduh ingin menghancurkan/merongrong indonesia tidak pernah melecehkan budaya indonesia tapi malah menghargai budaya lokal.Kaum wahabi antek2 arab hobinya melecehkan&menganggap rendah adat&budaya bangsa sendiri,suatu penyakit menular dari tanah arab.sekarang yasinan,Peringatan 7hr,100hr kematian sanak keluarga.besuk sekatenan,ngaben dll.Makanya para pemikir&negarawan negri ini tidak akan setuju negara islam karena indonesia akan hancur,perang saudara.Musa dibantai,yesus disalib,muhammad dilempari batu&kotoran unta.hanya muhammad yg terbukti menang,yg lainnya modar!Hambali di cambuk&di penjara juga taimiyah padahal merekahidup di negara islam.Saya beritahu tentang perumpamaan sebuah budaya : Kalau ibumu jelek,trus orang lain menjelek-jelekkan mukanya yg jelek apa kamu gak marah?Orang bilang istrinya cantik gak masalah tapi kalo bilang istri orang jelek bisa kerok urusan.GOBLOK GAK TAU ADAT!!!Wahabi anjing arab!BELAJARLAH DARI PERANG PADRI.

  • abu syakur

    Bismillah
    Assalamualaikum
    Istabir duhai saudaraku, sesungguhnya dakwah akan lebih mudah diterima ketika kita memberikan contoh yang benar kepada saudara kita yang melakukan kesalahan, bukan dengan menyalahkan saja tanpa memberikan solusi. Karena pada hakekatnya masih banyak saudara kita yang memiliki fitrah yang bersih, tinggal bagaimana kita menjelaskan dan mengajak mereka belajar bersama.
    Buat saudara-saudara kita yang terjebak dalam ibadah-ibadah yang bid’ah mari kita ajak mereka agar kembali ke Sunnah dengan cara yang ihsan, jangan langsung kita hakimi sebelum kita ajarkan, kita cari tahu latar belakangnya sehingga kita tahu bagaimana menyikapinya. Ajaklah dengan amal-amal kita, misalnya kita ajak membaca kitab-kitab ulama tentang Yasinan dan Kitab para ulama yang begitu membenci kebid’ahan
    Salam ukhuwah

  • ari

    Maha Suci Allah. Saudaraku, sesungguhnya kita memiliki sebuah keyakinan yang kokoh dan menjadi kesepakatan kita sebagai kaum muslimin bahwa Rasulullah adalah satu-satunya panutan kita yang harus kita patuhi tuntunannya. Adapun adat istiadat memang ada tempatnya sendiri dalam syari’at Islam tidak dihilangkan sama sekali tapi juga tidak dibiarkan tanpa kendali. Setiap daerah memiliki adat itu sah-sah saja, akan tetapi apabila adat ini sudah merambah ke wilayah ubudiyah dan ranah agama/syari’at maka inilah yang patut diwaspadai. Tidakkah kita ingat bagaimana salah satu adat yang dimiliki oleh orang Arab jahiliyah yaitu memuliakan tamu kemudian setelah diutusnya Rasulullah adat ini justru termasuk dalam bingkai adab dan akhlak Islam yang luhur. Sebagaimana pula adat arab jahiliyah yang gemar menganggap sial dengan mengusir burung dan melihat arah terbangnya (tathayyur) setelah datagnya Islam maka adat ini diberangus karena bertentangan dengan nilai-nilai tauhid. Nah, kalau demikian ada adat yang masih bisa dibolehkan bahkan bisa dianjurkan. dan di sisi lain ada juga adat yang tidak boleh dilestarikan. sebab kita sepakat bahwa standar kebenaran bagi umat Islam adalah Al Qur’an dan As Sunnah, bukan akal atau perasaan dan adat istiadat. Sementara tidak akan bisa memahami Al Qur’an dan As Sunnah dengan benar kecuali dengan mengikuti cara pemahaman Nabi dann para sahabat.

  • Laksana

    Masya Alloh….tentu saja kita tidak maju-maju….sudah dikasih penjelasan dengan dali….

    Beginilah bantahan orang-orang yang mengikuti hawa nafsu… jauh dari dalil Al Qur’an dan Sunnah serta pemahaman para pendahulu……tidak lain bantahannya adalah caci maki…. Tidak ada beda dengan zaman Nabi-nabi dahulu

    “Dan apabila dikatakan kepada mereka ‘Marilah mengikuti apa-apa yang telah diturunkan Alloh dan mengkuti Rosul!’, mereka menjawab, ‘Cukuplah untuk kami apa-apa yang dilakukan oleh bapak-bapak kami!’. Apakah mereka akan tetap mengikuti juga meskipun bapak-bapak mereka itu tidak tahu apa-apa dan tidak mendapat petunjuk?” (Al Maa-idah 104)

    Bukankah dalil ADAT itu “Dari dulu ya memang begini” atau “Saya diajari bapak/mbah saya begini” tidak peduli apakah bapak/mbahnya pakai dalil atau tidak

    Saya jadi ingat sebuah syair oleh Mulla Umran yang dinukil oleh Syaikh Jamil Zainu dalam Minhaj Al Firqotun Najiyah :
    “Jika para pengikut Ahmad (Muhammad) disebut Wahabi
    maka aku umumkan bahwa diriku adalah Wahabi….”

    Perang Padri? Yaa akhi bukankah kaum adat bekerja sama dengan Penjajah Kafir Belanda??

    Wahai saudaraku kembalilah pada al haq….

  • http://www.yahoo.com anton

    hehe… orang adat yg g tau adat!!!!

  • sugani

    Kebanyakan orang malu kalau tidak hadir dalam undangan tahlilan, tetapi tidak malu kalau di undang untuk shalat lewat suara muadzin.
    Sehingga, yang ikut tahlilan begitu banyak, sebaliknya yang shalat jamaah begitu sedikit.
    Manusia lebih diutamakan, Allah dikemudiankan.

  • abdul kodir

    ass
    alhamdulilah semoga smuanya dapat hidayah dari Allah SWT. saya tidak mau menyalahkan dan juga membenarkan, karena itu semuanya datang dari ALLAH SWT. yang saya ingin mengajak kepada para penulis khususnya “Muhammad Ikrar Yamin” bahwa ISINYA sebenarnya BENAR, tetapi CARA PENYAMPAIANNYA KURANG BIJAK. Ya seharusnya yang Hak adalah Hak dan Batil adalah Batil, tetapi Semua ada tata cara untuk menyampaikannya. Saya sendiri kagum dengan Manhaj ini, dan ilmu-ilmunya menjadi Prinsip Saya dalam mengambil keputusan.di daerah saya juga ada Yasinan, dan saya ikut serta dengan NIAT untuk mengajak ke Hal yang benar. yang perlu disadari, kondisi perkampungan saya sebagai contohnya, itu dipengaruhi oleh adat-adat terdahulu . TETAPI, kita selaku orang yang sudah lebih tahu lebih dahulu, kita WAJIB ajak mereka dengan PERLAHAN-LAHAN untuk mengerjakan lebih baik dari itu serta dikesempatan tersebut juga kita punya kesempatan untuk mengenal permasalahan dari kondisi masyarakat “individu masing-masing”. saya juga turut sedih dengan kondisi seperti ini, tetapi bukankah kita berkesempatan untuk berjihad untuk mengajak dengan cara-cara benar. bukankah mereka juga saudara seiman juga. tidak adanya permusuhan diantara islam. INGAT ini akan menguntungkan dari pihak NASRANI dan YAHUDI. yang sebenar-benarnya terselimut diagenda mereka untuk memecah belah ajaran ISLAM, hal ini sebenarnya sudah ada sejak dahulu. sebagai contoh pada keKhalifahan MALIK JOHIR, ada juga ancaman dari pihak YAHUDI dan NASRANI melalui NAPOLEON BONAPARTE yang begitu KEJAM mencabut HUKUM-HUKUM ISLAM di berbagai wilayah Islam (baca sejarah islam), hal ini tidak bisa menyalahkan bahwa umat islam banyak yang melenceng dari ajarannya, sudah tugas kita untuk meluruskan kembali dengan tata cara yang bersahabat “jangan konfrontatif”.
    dan Alhamdulilah di perkampungan saya sudah ada kemajuan yaitu, kita ada komunikasi dengan orang yang tidak bisa saya temui pada shaf kita pada shalat 5 waktu.
    ini semua berkat ALLAH SWT, kita bisa BERSAMA-SAMA BELAJAR ke arah lebih baik dan sesuai tuntunan Rosulullah.
    mohon maaf jika ada kesalahan dalam kalimat saya.
    SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA
    wassalam

  • Abu Syakur

    BIsmillah
    Assalamualaikum
    Ana jadi teringat, kebetulan pernah kursus bahasa disuatu tempat. Pemiliknya seorang warga NU pemahamannya, sehingga setiap kamis malam jum’at diadakan acara Yasinan untuk seluruh penghuni wismanya baik ikhwan/akhwat. Wah…ana bingung nih,ana terlanjur ikut kursusnya dan itu acara wajib dari program kursusnya. Akhirnya ana datang juga, tapi pas pada baca surat Yasin ana baca surat lain,ngelanjutin bacaan Al Quran ana. Dan ga ikut dzikir-dzikir mereka. Mereka juga tahu kalau ana anti yasinan dan ga ikut acara mereka,cuman duduk bersama mereka.
    Nah menurut anan Yang penting tinggal bagaimana sikap kita menjaga ukhuwah bersama mereka tanpa ikut serta acara mereka,tetep berlaku sopan dan hikmah atau berahlakul karimah….Kalau bisa sih ga usah datang,jangan seperti ana…jelaskan saja kepada mereka secara baik dan sopan. Tunjukkan kepada mereka bahwa manhaj salafus sholeh itu terbaik dalam segala hal karena manhaj salaf ini merupakan manhaj Rosululloh dan para sahabatnya. Tegas dalam beramar ma’ruf nahi munkar,tentunya berdasarkan ilmu!!
    Ingatlah Rosululloh, yang harus dilempari batu,kotoran dan disebut orang gila dalam berdakwah…
    Atau para sahabat Nabi yang harus meninggalkan harta dan keluarga, bahkan Ummu Salamah harus mengorbankan anaknya hingga potong tangannya.
    Sedangkan kita????Belum apa-apanya bung
    Dakwah ini yang paling utama adalah butuh keridhoan Alloh Ta’ala. Bukan ridho manusia yang kita cari sehinnga banyak pengikutnya hingga mengorbankan sisi agama yang harus lebih diutamakan. Rosululloh sukses dalam berdakwah dikarenakan Ridho Alloh Ta’ala,yang utama jalan kita dalam berdakwah/manhaj!!Soal wasilah banyak,bisa lewat Blog,selebaran,sms dll.

  • herbono

    Rasululullah saw memberi petunjuk kepada kita bagaimana cara menyikapi tentang hal-hal yang meragukan. Makanan yang halal dan haram telah ada ketentuan dari Allah swt. Jika tidak termaktub secara eksplisit dalam ketentuan syar’i (syubhat – meragukan) maka seorang muslim diperintahkan untuk meninggalkannya (tidak melakukannya). Maka ia dikatakan telah menjaga agama dan kehormatannya. Demikian pula dengan yasinan atau tahlilan, jika meragukan karena tidak ada contoh dari Rasulullah, maka sebaiknya ditinggalkan. Mengenai pendapat ustadz2 yg membolehkan, mereka itukan tidak maksum. Mengapa tidak melaksanakan ibadah yg sudah pasti atau tidak dipertentangkan ulama?

  • Orang Awam

    Assalamualaikum

    Sudah lah saudara2, kita ini sebagai manusia memang terbagi menjadi golongan-golongan dan kelompok-kelompok, islam juga terpecah-pecah menjadi beberapa golongan. Seharusnya kita sebagai sesama muslim itu bersatu, dan menghormati satu dengan yang lain asal masih dalam petunjuk alquran dan alhadist bersatulah saudara-saudaraku. Biar yang ga suka yasinan ya monggo, yang suka yasinan ya monggo. YASIN itu kan salah satu surat juga dalam alquran, so what gituloh kalau kita baca bersama-sama di even apapun. Toh makna yasin juga indah. Bid’ah atau tidak itu allah swt yang memutuskan.

    Yang penting sekali lagi kita harus bersatu saudara-saudara. Tingkatkan mencari ilmu sebanyak-banyaknya, baik ilmu agama dan ilmu dunia(kususnya Technology). Supaya kita ga jadi orang yang ketinggalan dari umat-umat selain islam. masa kita terpecah belah gara-gara masalah beginian. berpikir postif, istigfar (maaf saya menggurui)

    Sayton itu dimana-mana, tidak ada manusia yang sempurna, orang memahami dan mengamalkan makna alquran dan hadist juga belum tentu masuk surga. Orang yang hati-hati dengan bid’ah juga belum tentu masuk surga. Istigfar, surga itu milik allah, bukan milik manusia.

    Jadi kita koreksi aja diri kita apa sudah benar kita. Jangan saling olok-olok dan ledek-ledekan. Kayak sudah pinter-pinter dan calon surga aja. Dibulan puasa kita tingkatkan amal ibadah kita. Dan juga jangan lupa terus belajar dan bekerja, majukan kaum muslim disektor-sektor ilmiah dan teknologi.

  • hamba Allah

    Dalam menafsirkan kalimat kita tdk boleh kaku, contoh Rasulullah Shallallahu ‘alihi wasallam bersabda man ‘amila amalan laysa ‘alihi amrunaa fahuwa raddun:barang siapa melakukan amalan yang tidak ada perkara itu dariku maka “tertolak”… Mari kita lihat dalam Ayat2 Al Quran di Surat:Ayat berikut. 33:56 disini Allah dan MalaikatNya bershalawat untuk nabi apa ini pernah diajarkan oleh Rasul sebanyak mungkin bershalawat tapi coba hayati ayat tersebut apa masih ragu kita terus banyak bershalawat untuk Rasul?
    Coba ini lagi ada beberapa Surat : Ayat tentang bertasbih baik itu burung, guruh, gunung, bumi dsb apa Rasul pernah mengajari ? tapi semua ini ada di Al Quran yang Hak dan Tdk diragukan lagi kebenarannya coba linat ini 13:13 17:44 24:41 34:10 33:56 dari surat: ayat tersebut diatas mengingatkan kita bahwa ibadah kepada Allah (yg bkn Wajib) itu banyak dan ngak perlu dibatasi kalau kita manusia ngak kepingin kalah dengan burung, gunung, guruh dan makhluk lainnya.

  • beeje

    afwan…
    suatu keyakinan memang sulit untuk di luruskan… dibengkokkan atau.. di ubah arahnya tanpa adanya Hidayah dari Alloh swt… jadi saudara ku Salafi mungkin cara yang lebih baik harus di latih agar yang kita sampaikan dapat diterima dengan baik oleh orang lain…
    dan untuk saudaraku muslim yang lain… ada baiknya kita coba kaji lagi tauladan Rosululloh saw… karena Alloh menurunkan beliau untuk kita dapat melihat Alquran secara implementasinya dalam hidup sehari2… bukankah kita semua mengakui kalau Rosululloh adalah Al qur an yang hidup.
    kalau kita semua mengakui itu… maka cukuplah buat kita Al quran sebagai Kitab nya dan Sunnah Rosul sebagai tauladan dan contohnya… Insya Alloh itu akan membawa kita mendapat Ridho Alloh Swt… amin
    seandainya ada saudaraku yang lain menganggap bahwa budaya, adat atau hal lain selain itu bisa membawa mereka untuk mendapat ridho Alloh Swt… biarlah ALLOH yang tahu…
    jadi tolong singkirkan silang pendapat ini menjadi ilmu yang bermanfaat buat kita semua beragama yang baik… afwan sebelumnya kalau ada kata yang menyinggung

  • Ali Rido

    Yasinan, biasanya dibaca tiap malam Jum’at. kalo bisa sieh tiap malam saja. ya tapi coba baca suroh lainnya juga.
    pembahasan disini mengenai lebih tepatnya tahlilan kali ya.
    Biasanya kalau ada salah seorang anggota keluarga yang meninggal, malamnya diadakan tahlilan sampai 3 hari, 7 hari. setelah itu diadakan lagi dihari ke-40 kematian atau hari ke-100. praktek seperti itu sudah ada turun temurun dimasyarakat kita. karena diawal dakwah para wali songo, ingin memperkenalkan islam perlahan-lahan agar mudah diterima oleh masyarakat. awal mula dicetuskannya prosesi tahlilan pertama kali adalah untuk memasukkan unsur2 keislaman didalam tradisi masyarakat animisme yang masih suka melakukan mantra2 dan kenduri setelah kematian seseorang. maka oleh para penyiar islam waktu itu, digantilah mantra dengan tahlil,tahmid, tasbih,dan do’a. dan kenduri menjadi “Berkat/besek”.
    Jaman sekarang sudah modern, masyarakat kita sudah pinter tidak mudah percaya dengan yang tahayul dan berbau mistis. Sejatinya praktek tahlilan pun tidak populer lagi.

  • Ali Rido

    Saya pernah baca hadits nabi bahwa ada tiga amalan yang tidak akan putus setelah kita mati :
    1. sodaqoh
    2. ilmu yang bermanfaat
    3. anak yang berbakti yang mendo’akan orang tuanya.
    kaitannya dengan tema ini adalah kiriman pahala untuk orang yang sudah meninggal sampai atau tidak.
    kalau kita perhatikan hadits diatas,seorang yang sudah meninggal tetap akan mendapatkan bunga pahala dari saldo amal kita yakni shodaqoh,ilmu,dan anak sholeh.
    Adapun transferan pahala dari orang lain selain anaknya, itu tidak akan sampai atau failed. lain halnya dengan do’a, do’a dari siapapun sesama mukmin yang mendo’akan seorang yang sudah meninggal, akan diijabah oleh Allah.
    bunga pahala ini pun sifatnya temporary sebatas sodaqoh itu dimanfaatkan ummat, sebatas ilmu itu dimanfaatkan, dan sebatas anak sholeh itu hidup.
    oleh sebab itu, agar kita dapat bunga pahala, banyak-banyaklah nabung dengan bersedekah, mengajarkan ilmu yang bermanfaat, dan atau mencetak anak-anak yang sholeh. sebab anak yang sholeh yang akan meneruskan perjuangan orang tuanya sesudah wafatnya.

  • http://www.muslim.or.id Muslim.or.id

    Ikhwah fillah, mungkin ikhwah pernah mendengar istilah Tashfiyah wa Tarbiyah?

    Tashfiyah adalah memurnikan ajaran Islam dari segala noda syirik, bid’ah, khurafat, gerakan-gerakan dan pemikiran-pemikiran yang merusak Islam.

    Semua ibadah dan tata caranya telah tuntas diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam ibadah tidak butuh penambahan dan kreasi-kreasi baru, karena semuanya sudah sempuna dan sudah lengkap.

    Tashfiyah adalah misi website ini, sehingga tidak ada toleransi untuk segala bentuk kesyirikan dan bid’ah walau dengan alasan apapun. Cukuplah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi teladan kita.

    Dan Tarbiyah adalah mendidik umat Islam untuk menjadi terbiasa mengamalkan ajaran-ajaran Islam yang murni tersebut.

    Jadi, Tashfiyah dulu, baru kemudian Tarbiyah. Jangan dibalik! karena jika penerapannya dibalik (Tarbiyah dulu, kemudian Tashfiyah), maka kenyataannya seperti yang kita lihat sekarang ini, yaitu sebagian besar kaum muslimin (terutama di Indonesia) menjadi terbiasa mengamalkan ajaran-ajaran Islam yang penuh balutan Syirik, Khurafat, dan Bid’ah, sehingga sangat sangat sulit untuk mengubahnya.

    Membaca komentar ikhwah yang pro Yasinan pada kolom ini, kami jadi teringat perkataan ulama bahwa “Bid’ah itu lebih disukai oleh Syaithan.” Bid’ah lebih disukai Syaithan, karena para pelaku bid’ah menganggap baik semua ibadah bid’ah yang mereka lakukan, dan mereka tidak merasa dan tidak mengakui bahwa mereka melenceng dari ajaran Islam yang murni, sehingga pelaku bid’ah lebih sulit untuk bertobat dan disadarkan dari kekeliruan mereka walaupun sudah dipaparkan berbagai dalil dari Al Quran dan Sunnah.

    Mudah-mudahan Allah memberikan kami semangat dan kekuatan untuk menyebarkan ajaran Islam yang masih murni sesuai dengan manhaj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami menyadari bahwa kami masih memiliki banyak kekeliruan dalam tata cara penyampaian melalui media dakwah online ini, dan itulah proses belajar kami dalam berdakwah.

    Kolom komentar untuk sementara kami tutup.

  • mubtada-khobar

    Memang kita juga tidak bisa menutup mata atas jasa para wali. Tapi itu kan jaman jahiliah, kita jangan jadi katak dalam tempurung dnk. Bwat apa Allah mengaruniakan akal kepada kita kalo bukan untuk berpikir? Hentikan bid’ah. Sebarkan yang haq.

  • Ali Rido

    Assalamu’alaikum wr.wb, ada beberapa pertanyaan yang ingin ana tanyakan. Apabila ada orang yang meninggal, sedang dia sewaktu hidupnya sudah bernadzar untuk melaksanakan haji, tetapi sampai akhir hayatnya dia belum melaksanakan nadzarnya. Apakah boleh seorang anaknya membayar nadzarnya tersebut dengan haji badal/pengganti?
    mohon pencerahannya. Terima Kasih.

  • abu_najwa

    assalamualaikum..

    kepada akhi banish:
    berikhtifarlah wahai akhi, sesungguhnya siapa sich yang ga tau adat? kalau dilihat dari komentar antum maka antumlah yang ga tau adat berkomunikasi dengan orang lain, dengan mengucapkan kata-kata yang kotor, bahkan lebih parah lagi antum masih sangat dan sangat jauh dari memahami al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih menurut pemahan para sahabat, tabi’in, dan ulama-ulama yang berpegang teguh dengan sunnah-sunnah nabi solallahualaiwasallam. kasihan deh lo akhi banish, sudah berapa tahun antum menjadi orang islam? apakah antum tahu apa itu “wahabi”? apakah antum pernah baca(pelajari) sejarah yang shahih tentang munculnya istilah “wahabi”? ya akhi belajar dulu dengan baik islam yang sempurna ini dan bisa di mulai dengan kitab tauhid dan seterusnya. semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah dan jalan yang terang dalam memahami dan mengamalkan agama Allah.

    “Jika para pengikut Ahmad (Muhammad) disebut Wahabi
    maka aku umumkan bahwa diriku adalah Wahabi….”

    wassalamualaikum..

  • nashar salim

    Ass. Wr. Wb.

    Mohon maaf, setelah saya baca berbagai komentar di atas, ternyata sebagian besar hanya ingin mengatlakan… bahwa ia yang paling benar, ia yang paling tahu, yang yasinan salah, itu bid’ah yang benar yang ngga ikutin tradisi… masih emosional …. gimana mau maju umat ini… kalo kita menanggapi suatu persoalahan selalu dengan emosi… cobalah diantara kita saling mengingatkan (menasehati) kebenaran dengan cara yang sabar dan penuh hikmah sebagaimana terdapat dlm surat Al-Ashr….. mohon maaf atas segala kekhilafan…

  • Soleh

    Akh Nashar Salim,

    Perlu diketahui oleh antum dan pembaca sekalian bahwa forum yang dibuka di website ini adalah untuk berdiskusi, menyampaikan kebenaran dan mencari kebenaran. Bagi pembaca muslim.or.id yang sudah memiliki ilmu maka hendaklah disampaikan jika memang dibutuhkan dalam wadah diskusi ini.
    Oleh karenanya, yang namanya kebenaran, maka harus kita sampaikan dan kita terima walaupun itu mungkin pahit bagi orang yang menyelisihinya.
    Demikianlah Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kepada kita untuk beramar ma’ruf dan bernahi munkar (menyuruh kepada perkara-perkara yang baik yang diperintahkan oleh agama dan berusaha mencegah kemungkaran). Allah ‘Azza wa Jalla berfirman yang artinya, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar.” (QS. Ali Imran [3] : 110).
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Agama itu adalah nasehat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
    Semoga bisa dipahami.

  • abu_najwa

    assalamualaikum..

    kepada saudara2 yang pro dengan yasinan, coba anda simak baik2 penjelasan dari saudara2 yang lain yang telah sedikit banyak memberikan penjelasan mengapa yasinan itu bid’ah, seperti yang sudah dijelaskan oleh saudara; Ben, Ari, Abu Ahmad dan yang lainnya diatas. berikut saya akan menambahkan sedikit penjelasan tentang bid’ah yang dihimpun dari beberapa sumber. mohon dipelajari dengan baik bagi saudara2 yang belum faham, semoga bermanfaat.

    BID’AH

    Pengertian Bid’ah

    Ibnu Hajar Al Asqalani ketika menjabarkan perkataan Imam Syafi’I tentang al-muhdatsah, beliau berkata:

    والمراد بها –أي المحدثات- ما أحدث وليس له أصل في الشرع، ويسمى في عرف الشرع بدعة. وما كان له أصل يدل عليه الشرع فليس ببدعة، فالبدعة في عرف الشرع مذمومة، بخلاف اللغة، فإن كل شيء أحدث لا على مثال يسمى بدعة، سواء كان محمودا أو مذموما
    “Dan yang dimaksud dengannya (Al Muhdatsah/perkara yang diada-adakan) ialah setiap perkara yang diada-adakan dan tidak ada dasarnya dalam syariat, dan dalam istilah syariat disebut BID’AH. Dan setiap perkara yang memiliki dasar dalam syariat, tidak disebut bid’ah. Dengan demikian bid’ah dalam pengertian syariat pasti tercela. Beda halnya dengan pengertian bahasa karena setiap hal yang diada-adakan tanpa ada contoh sebelumnya disebut bid’ah, baik hal itu terpuji atau tercela”. [Fathul Bari oleh Ibnu Hajar Al Asqalani 13/253, dan hendaknya dibaca pula penjelasan Imam Ibnu Rajab Al Hambali dalam kitabnya Jami’ Al Ulum wa Al Hikam, 267].
    Ringkasnya; bid’ah dalam pengertian syari’at adalah: segala sesuatu yang diada-adakan dalam agama yang belum pernah ada di zaman Nabi shollallahu’alaihiwasallam, dan tidak pula di zaman para sahabatnya, yang tidak bersumber dari syara’, baik dengan dalil yang tegas maupun dengan isyarat, dari Al Qur’an dan Sunnah Rasulllah shollallahu’alaihiwasallam. Sedangkan bid’ah dalam pengertian bahasa adalah: setiap hal yang diada-adakan tanpa ada contoh sebelumnya, baik hal itu terpuji atau tercela, misalnya: pesawat terbang, mobil, televisi dan yang lainnya.

    Para ulama telah memberikan beberapa definisi bidah. Definisi-definisi ini walaupun lafadl-lafadlnya berbeda-beda, menambah kesempurnaannya disamping memiliki kandungan makna yang sama. Termasuk definisi yang terpenting adalah:

    1. Definisi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiah berkata: “Bid’ah dalam agama adalah perkara wajib maupun sunnah yang tidak Allah dan rasu-Nya syariatkan. Adapun apa-apa yang Ia perintahkan baik perkara wajib maupun sunnah maka diketahui dengan dalil-dalil syariat, dan ia termasuk perkara agama yang Allah syariatkan meskipun masih diperslisihkan oleh para ulama. Apakah sudah dikerjakan pada zaman nabi ataupun belum dikerjakan.”

    2. Definisi Imam Syathibi
    Beliau berkata: “Satu jalan dalam agama yang diciptakan menyamai syariat yang diniatkan dengan menempuhnya bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah.”

    3. Definisi Ibnu Rajab
    Ibnu Rajab berkata: “Bidah adalah mengada-adakan suatu perkara yang tidak ada asalnya dalam syariat. Adapun yang memiliki bukti dari syariat maka bukan bid’ah walaupun bisa dikatakan bidah secara bahasa.”

    4. Definisi Imam Suyuthi
    Beliau berkata: “Bidah adalah sebuah ungkapan tentang perbuatan yang menentang syariat dengan suatu perselisihan atau suatu perbuatan yang menyebabkan menambah dan mengurangi ajaran syariat.

    Berikut adalah hadits-hadits yang menjelaskan tentang apabila orang membuat cara-cara baru dalam ibadah yang tidak ada dalam syariat:

    عن جابر بن عبد الله أن رسول الله قال: أما بعد فإن خير الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد وشر الأمور محدثاتها وكل بدعة ضلالة
    “Dari sahabat Jabir bin Abdillah rodhiallahu’anhu bahwasannya Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam bersabda: “Amma ba’du: sesungguhnya sebaik-baik perkataan ialah kitab Allah (Al Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk ialah petunjuk Nabi Muhammad shollallahu’alaihiwasallam, dan sejelek-jelek urusan ialah urusan yang diada-adakan, dan setiap bid’ah ialah sesat”. (Riwayat Muslim, 2/592, hadits no: 867).

    عن العرباض بن سارية قال: صلى بنا رسول الله ذات يوم ثم أقبل علينا فوعظنا موعظة بليغة ذرفت منها العيون ووجلت منها القلوب، فقال قائل: يا رسول الله كأن هذه موعظة مودع، فماذا تعهد إلينا؟ فقال: أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن عبدا حبشيا؛ فإنه من يعش منكم بعدي فسيرى اختلافا كثيرا، فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء المهديين الراشدين، تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة

    “Dari sahabat ‘Irbadh bin As Sariyyah rodhiallahu’anhu ia berkata: Pada suatu hari Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam shalat berjamaah bersama kami, kemudian beliau menghadap kepada kami, lalu beliau memberi kami nasehat dengan nasehat yang sangat mengesan, sehingga air mata berlinang, dan hati tergetar. Kemudian ada seorang sahabat yang berkata: Wahai Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasehat seorang yang hendak berpisah, maka apakah yang akan engkau wasiatkan (pesankan) kepada kami? Beliau menjawab: Aku berpesan kepada kalian agar senantiasa bertaqwa kepada Allah, dan senantiasa setia mendengar dan taat ( pada pemimpin/penguasa , walaupun ia adalah seorang budak ethiopia, karena barang siapa yang berumur panjang setelah aku wafat, niscaya ia akan menemui banyak perselisihan. Maka hendaknya kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafa’ Ar rasyidin yang telah mendapat petunjuk lagi bijak. Berpegang eratlah kalian dengannya, dan gigitlah dengan geraham kalian. Jauhilah oleh kalian urusan-urusan yang diada-adakan, karena setiap urusan yang diada-adakan ialah bid’ah, dan setiap bid’ah ialah sesat“. (Riwayat Ahmad 4/126, Abu Dawud, 4/200, hadits no: 4607, At Tirmizy 5/44, hadits no: 2676, Ibnu Majah 1/15, hadits no:42, Al Hakim 1/37, hadits no: 4, dll).

    Pada kedua hadits ini dan juga hadits-hadits lain yang serupa, ada dalil nyata dan jelas nan tegas bahwa setiap urusan yang diada-adakan ialah bid’ah, dan setiap bid’ah ialah sesat. Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam dalam hadits ini bersabda: كل بدعة ضلالة setiap bid’ah ialah sesat, dalam ilmu ushul fiqih, metode ungkapan ini dikatagorikan kedalam metode-metode yang menunjukkan akan keumuman, bahkan sebagian ulama’ menyatakan bahwa metode ini adalah metode paling kuat guna menunjukkan akan keumuman, dan tidak ada kata lain yang lebih kuat dalam menunjukkan akan keumuman dibanding kata ini كل. [Baca Al Mustasyfa oleh Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al Ghozali 3/220, dan Irsyadul Fuhul oleh Muhammad Ali As Syaukani 1/430-432].

    Dengan demikian dari kedua hadits ini, kita mendapatkan keyakinan bahwa setiap yang dinamakan bid’ah adalah sesat, demikianlah yang ditegaskan dan disabdakan oleh Nabi Muhammad shollallahu’alaihiwasallam. Sehingga tidak ada alasan bagi siapapun di kemudian hari untuk mengatakan, bahwa ada bid’ah yang hasanah atau baik. Keumuman hadits ini didukung oleh sabda Nabi shollallahu’alaihiwasallam dalam hadits lain:

    عن عائشة قالت: قال رسول الله: (من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد

    “Dari ‘Aisyah, ia berkata: Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam bersabda: “Barang siapa yang mengada-adakan dalam urusan kami (agama) ini sesuatu yang bukan bagian darinya (syariat), niscaya akan ditolak”. (Riwayat Bukhori 2/959, hadits no: 2550, dan Muslim 3/1343, hadits no: 1718).
    Sebagai seorang muslim yang bernar-benar beriman bahwa Nabi Muhammad shollallahu’alaihiwasallam adalah utusan Allah, dia akan senantiasa bersikap sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan:

    وما كان لمؤمن ولا مؤمنة إذا قضى الله ورسوله أمرا أن يكون لهم الخيرة من أمرهم ومن يعص الله ورسوله فقد ضل ضلالا مبينا.
    Artinya:
    “Dan tidaklah patut bagi seorang mukmin dan tidak pula bagi seorang mukminah bila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, untuk mengambil pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah ia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata”. (Al Ahzab 36).

    Ibnu Katsir berkata: “Ayat ini bersifat umum, sehingga mencakup segala urusan, yaitu bila Allah dan Rasul-Nya telah memutuskan suatu urusan dengan suatu keputusan, maka tidak dibenarkan bagi siapapun untuk menyelisihinya atau memutuskan atau berpendapat atau berkata lain”. [Tafsir Al Qur’an Al Azhim, oleh Ibnu Katsir 3/490].
    Layak dan beradabkah setelah Nabi shollallahu’alaihiwasallam bersabda bahwa setiap bid’ah ialah sesat, kemudian kita, atau yang lain mengatakan, bahwa ada bid’ah yang hasanah?

    Imam Syafi’i telah berkata:
    من استحسن فقد شرع

    “Barang siapa yang menganggap baik sesuatu (dalam agama), berarti ia telah membuat syari’at”. [Lihat Al Risalah oleh Imam As Syafi’i, 25, dan Al Mustasyfa oleh Al Ghozali 2/467].

    Sahabat Ibnu Umar rodhiallahu’anhu, beliau berkata:
    كل بدعة ضلالة وإن رآها الناس حسنة

    “Setiap bid’ah itu ialah sesat, walaupun orang-orang menganggapnya baik”. (Riwayat Al Lalaka’i, dalam kitabnya: Syarah Ushul I’itiqad Ahli As Sunnah 1/92).

    قال معاذ بن جبل: إن من ورائكم فتنا يكثر فيها المال ويفتح فيها القرآن حتى يأخذه المؤمن والمنافق والرجل والمرأة والصغير والكبير والعبد والحر، فيوشك قائل أن يقول: ما للناس لا يتبعوني وقد قرأت القرآن ما هم بمتبعي حتى أبتدع لهم غيره، فإياكم وما ابتدع فإن ما ابتدع ضلالة
    “Sahabat Mu’adz bin Jabal berkata: Sungguh setelah zaman kalian nanti, akan terjadi berbagai fitnah, harta benda akan melimpah, Al Qur’an akan banyak dibaca orang, hingga dihafal oleh orang mukmin, orang munafiq, laki, wanita, muda, tua, budak dan juga orang merdeka (non budak). Dan sebentar lagi akan ada orang yang berkata: “Mengapa orang-orang (masyarakat) enggan mengikutiku, padahal aku telah membaca Al Qur’an?! Sungguh mereka tidak akan mengikutiku, hingga aku mencetuskan (mengadakan) untuk mereka hal baru selain Al Qur’an. Jauhilah oleh kalian hal yang ia ada-adakan, karena yang ia ada-adakan itu adalah dhalalah (kesesatan)”. (Riwayat Abu Dawud 4/202, no: 4611).

    Ayyub As Sukhtiyani berkata:
    ما ازداد صاحب بدعة اجتهادا إلا ازدادا من الله بعدا
    “Tidaklah seorang pelaku bid’ah semakin rajin menjalankan bid’ahnya, melainkan ia akan semakin jauh dari Allah”. (Riwayat Abu Nu’aim Al Asbahani dalam kitabnya Hilyatul Auliya’ 3/9).

    Mu’adz bin Jabal ataupun Ayyub tidak membedakan antara bid’ah hasanah dengan bid’ah dhalalah, semuanya dikecam dan dikatakan sesat dan menjauhkan pelakunya dari Allah. Imam Malik bin Anas menjelaskan, alasan mengapa setiap bid’ah itu adalah sesat, beliau berkata:

    من أحدث في هذه الأمة اليوم شيئا لم يكن عليه سلفها فقد زعم أن رسول الله خان الرسالة لأن الله تعالى يقول: )حرمت عليكم الميتة والدم ولحم الخنزير وما أهل لغير لله به والمنخنقة والموقوذة والمتردية والنطيحة وما أكل السبع إلا ما ذكيتم وما ذبح على النصب وأن تستقسموا بالأزلام ذلكم فسق اليوم يئس الذين كفروا من دينكم فلا تخشوهم وخشون اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا فمن اضطر في مخمصة غير متجانف لإثم فإن الله غفور رحيم( (المائدة 3) فما لم يكن يومئذ دينا لا يكون اليوم دينا

    “Barang siapa pada zaman sekarang mengada-adakan pada ummat ini sesuatu yang tidak diajarkan oleh pendahulunya (Nabi shollallahu’alaihiwasallam dan sahabatnya), berarti ia telah beranggapan bahwa Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam telah mengkhianati kerasulannya, karena Allah Ta’ala berfirman: “Diharamkan bagimu bangkai, darah ………pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam menjadi agamamu. Maka barang siapa yang terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha penyayang” (Al Maidah: 3) sehingga segala yang tidak menjadi ajaran agama kala itu (zaman Nabi shollallahu’alaihiwasallam dan sahabatnya) maka hari ini juga tidak akan menjadi ajaran agama”. (Riwayat Ibnu Hazem dalam kitabnya Al Ihkam 6/225).

    Inilah hakikat bid’ah. Pada hakikatnya bid’ah adalah sanggahan terhadap kesempurnaan agama Islam yang telah ditetapkan Allah pada surat Al Maidah ayat 3, dan merupakan tuduhan terhadap Nabi shollallahu’alaihiwasallam yang mendapatkan amanat menyampaikan risalah ini telah berkhianat. Seorang yang melakukan bid’ah seakan-akan ia berkata: Bahwa agama Islam ini belum sempurna, sehingga perlu ditambahkan amalan saya ini, atau Nabi shollallahu’alaihiwasallam telah berkhianat, sehingga amalan baik yang saya amalkan tidak beliau ajarkan kepada umatnya. Na’uuzubillah min zalika.

    MARAJI:

    1) Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, Risalah Bid’ah, Jakarta, Pustaka ‘Abdullah, cetakan ke-4 Syafar 1425 H/ April 2004.

    2) Ustadz Abu Ihsan Al-Atsari, Bincang-Bincang Seputar Tahlilan, Yasinan dan Maulidan, Solo, At-Tibyan, cetakan ke-3, 2007.

    3) Makalah Ustadz Muhammad Arifin Badri, MA. Madinah, Saudi Arabia. 2005.

    4) Makalah Ustadz Syaikh Mudrik Ilyas. Malang. Maret 2002.

    mohon masukan dari saudara2 yang berilmu apabila ada kesalahan dalam tulisan diatas.

    wassalamualikum..

  • purwanie

    Assalamu’alaikum, terima kasih tlh memberikan ilmu yg anda ketahui , semoga menjadi amalan anda.
    tapi sebagai org awam saya msh bingung dengan kategori bid’ah, (nggak sesuai dgn ajaran Rosululloh saw), tapi bagaimana dengan adanya 4 madzab yg selama ini jadi acuan bagi umat muslim dlm menjalankan ajaran agama islam. bukankah itu munculnya setelah Rosul wafat dan bahkan kdg2 membuat sesama muslim yg berbeda madzab berselisih? apakah itu bukan termasuk bid’ah juga?mohon penjelasan bagi yg tahu . wassalam

  • KangIm

    Saya penah diminta ikut sholat janazah untuk mendoakan mayyit. Pada mulanya saya tidak tahu tata caranya, jadi saya manut saja pada apa yang dikerjakan imam. Kemudian saya mencari tahu kepada para ulama, baik dari kalangan NU maupun MUHAMMADIYAH tentang tata cara sholat mayyit yang benar yang dituntunkan Rasulullah. Semua memberikan penjelasan sama. Takbirnya 4 kali, ada bacaan fatihah dan bacaan sholawat. Jawaban ini tidak membikin saya menjadi lega, tapi malah membangkitkan rasa bingung. Kenapa ? Karena saya pernah mengikuti pengajian yang nara sumbernya dari MUHAMMADIYAH, bahwa amal apapun kecuali doa yang ditujukan kepada si Mayyit sia-sia dan tidak ada manfaatnya. Saya jadi bingung tentang pelaksanaan sholat mayyit ini. Kenapa mau mendoakan mayyit kok pakai sholat segala dan lagi di dalamnya ada bacaan fatihah dan sholawat. Saya kemudian mencari terjemahannya, ternyata juga tidak ada hubungannya dengan si Mayyit.
    Apakah ini tidak sia-sia ?
    Kalau sia-sia, lalu yang benar bagaimana ?
    Mohon penjelasan biar saya tidak salah dan tidak dikatakan bid’ah.

  • purwanie

    ass. kalau itu dilakukan dgn alasan da’wah apa itu juga dilarang (krn setahu saya(lagi)banyak non muslim yg tertarik krn memandang betapa toleransi muslim itu bagus dgn hal itu)
    “Rosululloh shollalohu’alaihi wa sallam yakni seperti yang termaktub dalam sabdanya, “Dari Abu Hurairah, dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam: Janganlah kamu khususkan malam Jum’at untuk melakukan ibadah yang tidak dilakukan pada malam-malam yang lain.” (HR. Muslim).”
    kalau dilakukan dlm mlm2 yg lain juga (nggak terikat waktu) apa nggak boleh? (kan dlm hadist itu yg nggak diperbolehkan adalh pengkultusan mlm jum’atnya, bukan pada perbuatannya)
    pedapat saya apakah salah? tolong jawabannya sekalian ama pertanyaan saya yg diatas.

  • http://www.yahoo.co.id Irfan Ari Pamungkas

    Wahai para penyampai da’wah, teruskan perjuangan Nabi Muhammad SAW, sampaikan da’wah dimana2, sadarkan orang2 yg belom tahu ttg islam Ahlussunnah wal Jamaah.
    Semoga ALLOH Subhanahuwata’ala memberikan hidayah kepada kaum musslimin.

  • newbie

    innalillahi wainna ilaihi roji’uun..

  • SUTISNA

    Ass. Ma’af mas, saya mau tanya, sebenarnya ada ga hadist yang menjelaskan tentang keharaman yasinan! Jika tidak ada hadistnya bagaimana kita bisa memponis bahwa yasinan itu bid’ah. Terus Seminar, workshop, pelatihan dan masih banyak yang baru yang tidak ada pada masa Rasulallah, apakah itu juga termasuk bid’ah? terimakasih. semoga mas bisa memberikan jawaban yang komprehensif. Wass.

  • http://www.muslim.or.id Muslim.or.id

    Mas Sutisna jika Anda tanya tentang ada tidak ayat atau hadits yang menjelaskan keharaman yasinan, atau dengan kata lain, ada tidak dalil yang melarang yasinan. Maka kami jawab, Anda mau tawaf keliling ka’bah dengan cara ngesot pun tidak ada dalil yang melarangnya, atau Anda mau zikir jama’ah sambil loncat-loncat trus head bang pun tidak ada dalil yang melarangnya secara langsung dan spesifik. Jadi, ketika ada seorang muslim dengan seenak perutnya melakukan ibadah dengan dalih “toh tidak ada ayat ato hadist yang melarangnya kok, toh yang penting kan niatnya baik, dst… dst….” maka apa jadinya agama ini?

    Para ulama membuat kaidah dalam permasalahan ini, yaitu “Setiap perkara ibadah hukumnya HARAM kecuali ada dalil/tuntunannya, dan setiap perkara adat/kebiasaan hukumnya mubah/boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.” Jadi, ketika Anda ingin melakukan suatu amalan yang Anda anggap itu bernilai ibadah (misal: yasinan), maka sebelumnya Anda harus tinjau dulu amalan yang Anda lakukan tersebut apakah ada dalil atau tuntunannya dalam agama? atau dengan kata lain apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, para salafus shaleh pernah melakukannya? Beda lagi dengan suatu adat/kebiasaan yang sifatnya perkara dunia maka boleh boleh saja Anda lakukan selama tidak ada dalil yang melarangnya. Kaidah “Setiap perkara ibadah hukumnya HARAM kecuali ada dalil/tuntunannya, dan setiap perkara adat/kebiasaan hukumnya mubah/boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.” kami kira cukup jelas dan mudah dimengerti, dan dalam penerapannya jangan sampai terbalik.

    Mas Sutisna, tak bosan-bosannya kami memaparkan bahwa pembahasan bid’ah berkaitan dengan perkara ibadah dalam agama, jadi tidak ada hubungannya dengan seminar, workshop, atau pelatihan! untuk lebih jelasnya tentang permasalahan bid’ah dapat Anda baca pada artikel di bawah ini:

    1. Pengertian Bid’ah
    2. Adakah Bid’ah Hasanah
    3. Berbagai Alasan Dalam Membela Bid’ah
    4. Dampak Buruk Bid’ah

    Silakan dibaca, disimak, dan diresapi. Jika ada poin yang tidak Anda mengerti, silakan ditanyakan. Semoga bermanfaat.

  • purwanie

    kepada muslim .or.id.kok yg pertanyaan saya nggak dijawab?

  • http://www.muslim.or.id satria

    #bt purwanie
    Sekali lagi, untuk pertanyaannya silakan baca dan pahami artikel tentang bid’ah pada link berikut:
    1. http://muslim.or.id/manhaj-salaf/mengenal-seluk-beluk-bidah-1.html
    2. http://muslim.or.id/manhaj-salaf/mengenal-seluk-beluk-bidah-2.html
    3. http://muslim.or.id/manhaj-salaf/mengenal-seluk-beluk-bidah-3.html
    4. http://muslim.or.id/manhaj-salaf/mengenal-seluk-beluk-bidah-4.html

    Kemudian masalah dakwah, caranya juga sudah dituntunkan oleh Rasulullah, jadi kalau perbuatan tersebut adalah bid’ah, janganlah kita berdakwah dengan perbuatan bid’ah.

    Pertanyaan lain insyaAllah bisa didapatkan jawabannya dalam link di atas.

    Semoga Allah memberikan kita kemudahan untuk mendapatkan kebenaran dan menetapi kebenaran tersebut. Amin.

  • http://www.muslim.or.id Muslim.or.id

    Buat ukhti Purwanie:
    Perbedaan dalam mazhab ‘hanyalah’ perbedaan dalam masalah fiqhiyah, itu pun tidak semuanya berbeda. Dan seorang muslim tidak dituntut harus menganut mazhab tertentu. Para imam mazhab pun, seperti Imam Syafi’i, dll menegaskan untuk mengambil pendapat beliau yang sesuai Sunnah dan meninggalkan pendapat beliau apabila tidak sesuai dengan sunnah. Mengikuti mazhab adalah dalam rangka memudahkan seorang muslim (apalagi orang yang masih awam seperti kita) untuk melaksanakan ibadah. Oleh karena itu kita diwanti-wanti oleh para ulama untuk tidak ta’ashub/fanatik dalam mazhab. Selama ini, konflik dan perselisihan terjadi karena adanya sikap fanatik mazhab.

    Toleransi perbedaan dibolehkan sebatas pada masalah fiqhiyah dan khilafiyah ijtihadiyah, dan bukan pada semua bidang agama. Dan jika pada pihak yang berbeda tersebut mendapatkan bahwa ada pendapat yang dekat pada kebenaran (Al Qur’an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya) maka dia wajib untuk tunduk dan menerima pendapat tersebut dan meninggalkan pendapatnya yang menyelisihi kebenaran. Satu hal lagi yang harus diingat, bahwa dalam masalah AQIDAH atau TAUHID, kita umat Islam memiliki satu aqidah yang sama, dan tidak ada perbedaan sedikitpun. Dan jika ada satu kelompok yang memiliki aqidah yang berbeda, dalam artian menyelisihi aqidah Islam yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka aqidah kelompok tersebut perlu ditilik ulang.

    Mengenai bid’ah, perlu kami jelaskan sedikit bahwa Islam yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini sudah sempurna. Semua permasalahan dalam agama sudah diajarkan semua oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik itu aqidah hingga masalah fiqh dan muamalah. Dan kita tinggal lagi mempraktekkannya. Jika kita mau ibadah, sudah banyak tersedia macam-macam ibadah yang sudah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan kata lain sudah seabreg-abreg, sehingga jika kita mau habiskan hidup kita hanya untuk ibadah maka niscaya ibadah yang sudah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah sangat banyak. Oleh karena itu, alangkahnya naif dan menyedihkan kita, ketika ada diantara saudara-saudara kita kaum muslimin yang merasa belum cukup puas dengan ibadah yang sudah ada, sehingga mereka mengkreasikan ibadah-ibadah baru yang tidak pernah sama sekali diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan yang tambah menyedihkan kita, ternyata saudara-saudara kita itu hanya taunya ibadah-ibadah baru hasil kreasi tersebut dan rutin mempraktekkannya, dan sebaliknya mereka lupa dan bahkan meninggalkan banyak ibadah yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Bid’ah dalam agama ini layaknya nila yang merusak kemurniannya. Sehingga bercampur baur antara yang haq dan yang bathil, dan sampai-sampai kaum muslimin tidak dapat lagi membedakannya, karena yang sunnah menjadi hilang dan dianggap bid’ah, dan yang bid’ah malah dianggap sunnah.

    Sekarang, bolehkan kita berdakwah dengan menggunakan ibadah bid’ah yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? insya Allah jawabannya sudah kita ketahui. Ada banyak metode dakwah yang sesuai sunnah, mengapa kita repot-repot bela-belain menggunakan sarana ibadah yang bid’ah?

    Penjelasan tentang bid’ah yang insya Allah bermanfaat dapat ukhti baca pada 4 link artikel yang kami berikan di atas. Mudah-mudahan bermanfaat.

  • ozami

    Assalaamu’alaikum..

    Untuk para pemikir yg tidak berfikir sehat..

    Para Sahabat Rasulullah (3 generasi terbaik umat Islam) sudah dijamin masuk surga (QS.at-Taubah;100) GA PAKE YASINAN, GA PAKE TAHLILAN, GA PAKE MAULIDAN, DZIKIR GA PAKE BIJI-BIJIAN TASBIH, DLL(bid’ah).. Mereka cuma mengikuti apa yang diajarkan oleh Rasulullah.. Itulah JALAN YANG LURUS! Jadi buat apa sih kita repot-repot membuat CARA-CARA BARU dalam beribadah. Ikutin yang pasti-pasti aja deh.

    Wallahu a’lam

  • zahra

    Assalamualaikum wr.wb

    terimakasih atas artikelnya.Dengan artikel ini pengetahuan saya jadi bertambah mengingat saya adalah orang yang sedang mencari kebenaran dan sedang dalam tahap perbaikan.
    Ada yang perlu saya tanyakan.dalam hal membaca surat Yasiin itu sebenarnya bid’ah atau yidak ada dalam tuntunan nabi namun telah dikatakan bahwa salah satu amal yang tidak terputus adalah doa anak yang sholeh.saya pernah menanyakan tentang yasiin kepada orang tua saya, bahwa doa yang dimaksud tersebut adalah dengan membaca surat yasin mengingat keutamaannya dalam membacanya.bagaimana dengan hal ini?
    syukron jz.

  • http://www.muslim.or.id Muslim.or.id

    Wa’alaikumussalam warohmatullah wabarokatuh
    Ukhti Zahra, hadits-hadits seputar keutamaan surat Yasin adalah hadits-hadits lemah dan palsu yang tidak boleh dijadikan dalil dalam beramal. Silakan membaca artikel tersebut pada link di bawah ini:

    Derajat Hadits Fadhilah Surat Yasin

    Do’a anak yang shaleh tidak harus dengan membaca surat Yasin. Ada banyak do’a yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan do’a yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam insya Allah lebih afdhol untuk kita praktekkan.

  • Naril

    Ana hanya orang awam………!!!

    Ana hanya bisa berpesan
    Khususnya kepada pengelola website MUSLIM
    Banyak ilmu yang ana dapatkan ketika ana membuka situs ini….
    Banyak perubahan yang dirasakan setelah mempelajari ilmunya…..
    Seringa an ajarkan ilmunya kepada masyarakat….
    Situs yang sering ana UPDATE setiap harinya…..

    Ana cuma pesan, permasalahan umat ini sangat kompleks !!!
    Kristenisasi merajalela, kesyirikan dimana-mana, kemiskinan, Maksiat yang dilegalkan,

    Tolong prioritaskan membahas tema-tema yang URGEN untuk umat ini dan hindari yang bisa memecah umat ini!!! Dengan berbagai keragaman dan pemahaman yang berbeda-beda……

    Semoga Allah memberikan kekuatan pada qta dan tetap istiqomah dijalan dakwah…….

  • al paluri

    assalamualaikum ..
    saya mau tanya, hukum memakan makanan yg di beri oleh tetanggga yg mengadakan acara yasinan atau acara bid’ah lainnya itu apa ? mohon di jelaskan dgn dalilnya . jazakumullah

  • al paluri

    afwan, koq pertanyaan saya nda di jawab ?

  • al paluri

    mas2 yg lebih berilmu, tolong solusi nya . suda lama saya terfitnah syubhat ini . jazakumullah

  • ari wahyudi

    hukum asalnya halal, namun apabila dengan memakannya memberikan dorongan bagi pelakunya untuk meneruskan kebid’ahannya maka sebaiknya dihindari -terutama apabila dia melihat kita- namun apabila tidak ada faktor2 yang mengarah kepada hal itu maka hukumnya tetap pada kehalalannya, wallahu a’lam.

  • Muh Abduh T

    @ al paluri

    Hukum asal makan makanan acara yasinan atau acara bid’ah adalah dibolehkan.

    Kalau anda tanyakan dalilnya, maka dalilnya adalah :

    karena TIDAK ADA DALIL YANG MELARANG DAN SEGALA SESUATU HUKUM ASALNYA ADALAH HALAL SAMPAI ADA DALIL YANG MENGHARAMKAN.

    Namun, jika memang kita dirasani tetangga kalau memakan makanan semacam itu; misalnya mereka malah omongin “Wah, orang ini gak mau ikut yasinan, tetapi kalau diberi makanan malah disantap habis”, jika memang timbul masalah seperti ini, maka sebaiknya tidak perlu dimakan.

    Jadi, kalau tidak ada masalah sebagaimana yang kami utarakan, maka hukum asal memakan makanan yasinan adalah HALAL karena tidak ada dalil yang menyatakan haram.

    Wallahu a’lam bish showab.

    Semoga kita dimudahkan oleh Allah untuk melakukan ketaatan kepada-Nya.

  • kudama

    Assalamualaikum wr.wb

    Menarik melihat komentar mengenai masalah ini, ada beberapa komentar yg terlihat masih mengandalkan emosional , mungkin karena ketersinggungan tulisan yang ada. Sejarah membuktikan pada hakikatnya perilaku Bid’ah memang telah dilakukan oleh umat umat nabi sepanjang masa, memang disitulah salah satu jalan iblis untuk menggelincirkan keturunan adam as untuk mengikuti iblis ke neraka. Jadi memang membutuhkan kesabaran untuk memberi pengertian kepada saudara kita mengenai masalah ini. Bukankan kita sebelumnya mungkin melakukan hal tersebut , dan karena hidaya Alllah kita mendapatkan petunjukNya, jadi bersabarlah dalam memberikan pengertian

  • alihamsyah

    Kita beribadah yang penting 1. Niat 2. Ikhlas karena Allah 3. sesuai tuntunan Rasulullah. Apa arti ibadah kita kalau kita cuma niat dan ikhlas tapi tidak sesuai tuntunan. Tidak ada artinya. Maka marilah saudara2 yang masih menganut agama nenek moyang/ taklid buta kita segera bertobat dan segera beribadah sesuai tuntunan. Bukannya Rasulullah pernah bersabda bahwa sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah sunnah Rasulullah. Dengan beribadah sesuai tuntungan semoga amal ibadah kita mendapat pahala dari Allah SWT. Amin.

  • teguh

    agama islam diturunkan ke dunia sudah sempurna. mengapa harus ditambah-tambahi ? dapat disimpulkan bahwa yang menambah-nambai adalah mengingkari ayat Al-Qur’an tentang kesempurnaan islam? kita tahu bahwa umat islam harus menyakini semua ayat yang ada di adalam Al-Quran tanpa terkecuali !

  • BANDHIL

    1) Ikuti terus diskusi ini, dengan niat mencari ilmu, ilmu yang dimaksud adalah yang mendekatkan kita kepadaNya. Bahagianya ummat Islam, acuannya jelas, lengkap, ada contoh KONgRIT, contohnya manusia juga, seperti kta.
    2) Manusia paling ‘enak’ itu Rasulullah, ketika cemberut terhadap ummatnya, langsung turun ayat ‘jangan cemberut’; ketika bingung ngadepi isu tentang istri tercinta, langsung turun ayat tentang sikap kita thd pembawa berita yg tidak benar; ketika ingin mendoakan Pamannya yang masih dikaruniai ‘tidak beriman’, langsung turun ayat tegoran bahwa tidak boleh mendoakan orang tdk beriman yang sudah mati, kalau orang itu masih hidup kita masih bisa mendoakan agar mendapat hidayah menuju ‘Islam’.
    3) untuk dapat seperti RasululLah kita harus hafal AlQur’an, bahkan dengan artinya, bahkan dengan ‘sejarah turunnya’, ‘kondisi dan maksud turunnya’, untuk itu kita harus belajar; hanya dengan itu kita bisa ‘menurunkan ayat’ dr hafalan kita setiap kita menghadapi persoalan hidup. Tetapi menghafal, mendalam seperti itu tidak mudah, sulit; makanya kita harus ngaji, sesering mungkin, ngajinyapun kepada ‘pemilik/pewaris ilmu’ yang selalu merujuk kepada AlQur’an dan Al Hadits. Luar biasanya lagi ada Web.site ini, begitu kita tidak tahu, dan ingin tahu kita dapat jawaban, dan menjadi tahu. Betul2 kalao kita ga tahu ya nanya kepada yang tahu, bukan setelah diberitahu kita memaksakan dengan ‘pokoke’, padahal agama ini Wahyu, datang dariNya, untuk menjauhkan semua dari ‘pikiran sendiri’, menjadi / menuju Jalan Lurus.
    4) Al Hadits itu adalah ‘catatan para penyaksi RasululLah’, kita bersyukur selalu ada ‘penyaksi RasululLah’, sejak perilaku di kamar tidur, di tengah malam, sampai di keramaian hidup bermasyarakat; semua itu syukurnya lagi ada yang menghafal, ada yang mencatat sehingga catatan itu sampai kepada kita, sehingga kita dapat ‘meniru RasululLah’ Sang Teladan Hidup! Sayangnya memang tidak ada satu orangpun yang selalu ada bersama RasululLah, sehingga tidak ada ‘satu catatan lengkap dari satu orang saja’, kalaupun ada orang itu, bisa jadi orang itu masihharus terjamin kejujurannya. Ada orang-orang yang mencari untung dengan ‘emngatakan bahwa ini datang dari Rasul’, padahal tidak, dia hanya ingin mencari untung saja. Padahal ancaman RasululLah luar biasa, barang siapa engatakan sesuatu datangnya dari aku, padahal aku tidak pernah mengatakannya/melakukannya/menyetujuinya maka berat hukuman bagi ‘pembawa berita palsu’ ini. Syukurnya adalah bahwa dalam hal Hadits itu Islam sangat ‘rapet’, kalau ada berita yang dikatakan datang dari Rasul, maka harus dapat dirunut siapa pembawa berita itu, siapa itu dapat berita dari siapa, siapa itu mendengar dari siapa, siapa itu memperoleh kabar dari siapa lagi ….. terussss begitu sampai jelas betul bahwa berita itu datang dari RasululLah; kalau tidak begitu maka kita ragukan bahwa itu ‘dari RasululLah’. dari urutan datangnya berita itu (perawian) bisa jadi sangat panjang daftarnya, jika salah satu orang dalam daftar itu diketahui sebagai pembohong, maka ‘berita itu’ yang maksudnya dibilang sebagai Hadits dapat dibatalkan, dan tidak diikuti orang, atau ‘palsu’; bahkan meski tidak ada pembohong, tetapi ada ‘pelupa’, itupun diragukan kesahihannya, diragukan keasliannya dari Rasulullah. Kebayanglah betapa banyak, jutaan ‘berita’, tetapi Islam mempunyai metodologi ‘penyarigan’ yang dahsyat tadi. Bersyukurlah kita yang ‘agak tidak pinter ini’ tinggal mempelajari ‘berita2 sahih’ melalui buku2 sahih, ustadz2 sahih, ustadz yang tidak hanya mengatakan pendapatnya, tetapi menunjukkan rujukannya; semakin seorang ustdaz ‘tidak punya pedapat’ selain ‘pendapat Rasul’ menurut saya adalah ustadz yang hebat, dia tidak menyertakan pendapatnya, kecuali pendapat yang hanya utk mengantarkan kami yang’ agak bodoh’ ini kepada ‘pendapat/berita sahih’ itu. Bukankah Rasul ketika ‘hendak berpendapat’ dengan mendoakan pamannya yang juga pejuang bagi beliau, itupun ‘ditegor’ oleh Allah; Rasulpun hanyalah pesuruh Allah, utusan Allah, seberapa cerdasnyapun beliau, beliau tidak ditugasi untuk mengkreasi ‘berita dari langit’ beliau ditugasi menyampaikannya kepada Ummat, dan menyempurnakan Akhlak Ummat, sedangkan Islam Sempurna dari ‘sananya’, dari Allah ‘Azza Wa Jalla.
    5) Yasinan. Membaca Yasin, tidaklah bid’ah, tidak dilarang; itu jelas. Menjadi bid’ah, ketika Yasin dibacakan oleh orang sekitar waktu orang lain sakaratul maut, selama 3 hari kematian, hari ke-7, hari ke-40, hari ke-100, hari ke seribu, hari ke-setahun, dua tahun, delapan tahun, delapan tahun kedua, delapan tahun ketiga, dst. Inilah yang bid’ah. Apalagi kalau membaca Yasin-nya ya hanya pada moment2 ini, wah. Kenapa Bid’ah, karena ‘kabar’ bahwa dalam keadaan2 tersebut harus dibacakan Yasin, itu ‘bukan kabar dari Rasul’, kabar dari orang tua, yang kalau dirunut tidak ada yang bisa menjelaskan asalnya dari mana. Banyak yang seperti itu, misalnya suro-nan, yang dianggap angker, yang kita ga boleh melakukan banyak sekali amalan, padahal itu bulan suci, satu diantara 4 bulan suci, bahkan amal baik kita dipahalai berlipat. Kalau kita ‘menelan saja berita tentang suro itu’ kita jadi ‘semakin jauh dari jalan RasululLah’.
    6) Saya berysukur bisa belajar dr situs ini, bahkan saya bisa belajar dari beliau2 yang bersikeras utk ‘melestarikan baca yasin diacara kematian’, dari beliau2 ini saya jadi waspada, jangan2 saya sering terlalu yakin dengan ‘ilmu cetek’ saya. Bertahun2 saya ikuti ‘perilaku umum orang-orang baik’, ternyata ‘tidak dari Rasul’ wah; dari mana tahunya kalau tidak dari Rasul? cari Hadits! Bagaimana tahu Hadits itu ‘benar?’ / Sahih, kita belajar! Dari mana belajar? antara lain dari situs ini. AlhamdlilLah,AlhamdulilLah, semoga kita semua dibukakan olehNya menuju hidayah yang sebenarnya. Aamiin. Untuk menuju hidayah itu, bukannya kita terus nekat saja, toh Allah akan ‘menghidayahi kita’, bukan! Kita diberi akal, kita gunakan; kalau ga cukup, belajar dari yang ‘ilmunya’ banyak, dan benar. Bismillahi.
    Mohon maaaf tulisan saya ngalir begitu saja. Ilmu saya sedikit; lebih sedikit lagi yang saya taati; moga2 diampuniNya; saya sedang belajar taat, sebagaimana wanita2 yang ‘menyaut’ (mengambil apa saja yang ada disekitarnya untuk menutup auratnya), ketika turun perintah ‘tutup aurat’; mereka tidak lagi bertanya, setiap yang datang dari Rasul, setiap itu adalah kebenaran, dan mereka langsung taat.
    BAHAGIANYA KITA, ANDAI KITA TETAP BISA CINTA DAN TAAT KEPADA RASUL BAHKAN KETIKA KITA HIDUP JAUH DARIWAKTU HIDUP RASUL.
    JANGAN KITA SOK PEDE, ‘KALAU SAJA SAYA HIDUP SEJAMAN DENGAN RASUL…’
    JANGAN2 PERILAKU KITA YANG TUKANG ‘MBANTAHAN’ INIPUN, BISA LEBIH ‘MBATAHAN’ LAGI TATKALA HIDUP SEZAMAN DG RASUL, KARENA WAKTU ITU RASUL ITU ‘ANEH’, TIDAK SENALAR DENGAN NALAR SESAT KITA YANG SAAT ITU JAHILIYAH.
    WIS!

  • Ansori

    Assalamualaikum

    wah udah seru semua nihh

  • Ansori

    Assalamualaikum

    Saya sebagai penengah saja dalam discusi yang bermanfaat ini, dan ternyata rekan rekan sudah banyak yang berselisih marilah kita berpegang teguh pada Alqur’an dan hadist yang di anjurkan oleh nabi, jadi kalou tidak di perintahkan dan di contohkan nabi Muhammad ya udah jangan di lakukan dan juga lebih2 tdk ada dlm alqur;an dan benar kata mas Ari agama ini milik allah dan di ajarkan oleh nabi bukan punya perusahan dan kebanyakan yng melakukan ibadah baru dia jarang sekali dan bahkan tidak pernah melakukan sunnah2 yng benar2 di contohkan oleh Nabi Muhammad. di kampung saya ada yasinan rutin setiap hari malam jum’at setelah sholat mag’rib di bacalah surat yasin dan do’a2 yang lain untuk megirim pahala pd si mayyit,sampai masuk sholat isha acara tersebut belum selesai, jadi acara tersebut sudah mengesampingkan sholat ishak yang benar2 di perintahkan oleh nabi untuk sholat tepat waktu dan lebih2 nabi menganjurkan untuk menunggu waktu sholat dan mementingkan yasinan yang tdk di perintahkan oleh nabi dn tdk ada dalilnya kalou pun ada ya dalil palsu

  • Ansori

    Assalamualaikum

    klo memang kirim pahala itu sampai ama orang yang udah is dead,klo gitu uenak orang yang kaya dong!! sebelum is dead dia nitip uang untuk keluarga untuk setiap malam jum’at undang sebnyak2 nya orang untuk kirim pahala dngan yasinan dan uenak yang is dead meskipun banyak dosa dia santai di alam kubur karena ada kiriman pahala setiap malam jum’at

  • sulisia

    Assalamu’alaikum
    saya pernah mendengar pendapat seperti ini: kita membaca surah Yasin/Yasinan untuk kita sendiri (dilakukan bersama-sama), kemudian setelahnya kita mendoakan orang yang telah meninggal dunia. apakah ini dapat dibenarkan???
    mohon penjelasannya karena saya sangat kebingungan dan berada dalam lingkungan seperti ini dan publik/lingkungan akan menghakimi saya apabila saya tidak melakukannya.
    Ya Allah berilah petunjuk dan kekuatan kepada hambaMu yang lemah ini…
    terimakasih kepada yang bisa memberi penjelasan kepada saya.

  • abu jihad

    Assalamu’alaikum wr. wb para pembaca
    saran pada mazhab tahlil dan yasinan…… mohon maaf sebelumnya….. kalian begitu tekun melaksanakan berjamaah dalam tahlil dan yasinan… tapi saya memperhatikan betul kalian tidak tekun shalat berjamaah lima waktu di masjid, manakah yang wajib menurut kalian berjamaah tahlil dan yasin yang tidak ada perintahnya…dan hanya di indonesia saja yang ada seperti itu…ataukan shalat lima waktu di masjid…. ayo jujur…. jangan jadi munafik…..berat hukumannya….Pasti anda tahu hadits tentang niat |Rasulullah akan membakar rumah-rumah yang penghuni laki-laki dewasanya tidak shalat 5 waktu berjamaah di masjid, namun niat itu diurungkan karena ada wanita, anak-anak dan orang yang sudah tua……dan saya mau tanya ada nggak dalil yang Rasulullah marah kalau ngak berjamaah tahlil dan yasinan akan dibakar…..tapi kalian begitu keras terhadap yang tidak tahlilan dan yasinan…dan kalian menuduh yang tidak tahlilan adalah kaum wahabi…..yatu kaum yang mengkafirkan orang….dan anda menganggap yang tidak tahlil juga sebagai kaum yang salah bahkan terjerumus pada kekafiran….berarti kalian juga mengkafirkan orang yang tidak tahlil dan yasinan….berarti siapa yang wahabi…..kalian kali…..mangkanya jangan menyalahkan….siapa yang bersalah dan berdosa telah jelas…..mintalah ampunan pada Allah…..insyaallah dikabulkan…..amin….tegakkan persatuan umat islam itu lebih penting…..apasarananya shalat lima waktu di masjid ok…..ok….sekali lagi ok….kalau nggak ok…..kasihan deh loooo…….

  • abu jihad

    nggak apa-apa di review…..tapi katakan yang pahit kalau itu benar…..katakan yang pahit walau harus mati …… agar manusia sadar……sudah telampau banyak ayat-ayat Allah dan Hadist |Rasulullah yang disembunyikan…….demi nafsu manusia…..kasihan orang awam……yang selalu di bohongi oleh pendahwah yang cinta dunia…..

  • Tommi

    Syukron, website ini memberikan pencerahan bahwa yasinan tidak ada tuntunannya sama sekali dari Rasulullah. Kalau sudah sampai berita yg shahih dari Rasulullah kepada kita, maka sikap yg lebih baik adalah “kami paham dan kami patuh!”. Buang jauh2 sikap taklid dan rendahkan hati untuk menerima kebenaran walaupun itu brarti meninggalkan tradisi yg sudah mendarah daging.

    Perlu kawan2 ingat, tradisi turun temurun itu blm tentu baik di hadapan ALLAH Ta’ala, tetapi bila kita mengikuti cara beragama yg sudah dicontohkan Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam, insya ALLAH inilah jalan kebenaran yg kita cari.

    Pesan saya, taklidlah pada Rasulullah. Jgn taklid pada tradisi dan pada perkataan kyai yg ga ada juntrungannya.

  • yudi

    yang namanya ibadah itu sesuai yang diajarkan dalam alquran dan tuntunan rosul,jangan ditambah-tambahi apalagi dilanggar…ditambah-tambahi seperti orang yang berenang di dalam lumpur, amalnya sia-sia.tahlilan itu merupakan tradisi yang tidak ada ajarannya dalam alquran,…saran saya hadiri tradisi tersebut dengan niatan mencari ridho Alloh (memelihara silaturahim,baca quran untuk kita sendiri) tapi jangan setiap hari…datang karena nggak ada tuntunannya….

  • amin

    ada yg tahu alasan kenapa pendapat ulama yg mengatakan sampainya pahala bacaan Al Quran termasuk pendapat yg lemah? klo bisa dari ulama2 salaf ya

  • Tommi

    Untuk mas amin, ini ada artikel untuk jawaban pertanyaannya, semoga bisa memberi petunjuk.
    http://www.almanhaj.or.id/content/2273/slash/0

    Wallahu waliyut taufiq

  • amin

    Terimakasih Pak/Mas Tommi,
    cuma yg aku cari bukan itu (klo yg spt diartikel itu itu sering baca), yg aku butuhkan dalil2 yg dipake oleh ulama2 yg berpendapat sampainya pahala bacaan Al Quran dan bantahan (alasan lemahnya) dari dalil tsb(dalil yg dipake oleh ulama2 yg berpendapat sampainya pahal Al Quran)?

  • abang

    HEran..

    Kok nggak Al Baqarah-an aja ya ? bukannya justru Setan akan lari dari rumah yg dibacakan surah Al Baqarah ?

    kenapa ?

    Karena… Yasinan itu udah ‘TERLANJUR’ dilakukan sedari mereka kecil, termasuk saya duluu waktu masih kecil. Makanya di bela mati2an. Coba dari kecil dulu di ajarinnya ‘AL Baqarahan’ , pasti saat sudah umur tua gini bela habis2 pula tuh ritual Al Baqarah-an.

    Kalau saya sih nyan tai aja. Dulu kebiasaan Yasinan krn belum mengilmui, setelah tahu derajat hadits2nya, tinggal Ruju’ aja kok Gengsi ?

  • masykur

    Mohon izin meng kopi dan menyebarkan

  • Alie Syafa’at

    assalamu’alaikum wr wb

    mohon penjelasan hadits nabi yang menjelaskan tentang di sunnahkannya membaca surat yasin pada orang yang meninggal,,LAQQINU MAUAAKUM YAASIIN,,,,,

    JAZAKUMULLAH KHOIRON KATSIR,,,wasalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu…

  • http://aljamaahnet.com/?id=Atun H.Ubaidilah Trisna

    Assalamualaikum ww.

    Alhamdulillah dengan membuka website ini ana makin kaya dengan ilmu akhirat. Semoga website ini juga menjadi rujukan/referensi bagi ikhwan dan akhwat dalam berdiskusi masalah agama yang benar.

    Jazakumullah khoir.

    H.Ubaidillah Trisna
    Waalaikumussalam ww.

  • Kardi Yasmudi

    Assalamu’alaikum,
    Memang tradisi yang sudah turun temurun sangat sulit untuk diberhentikan. Mereka mengira bahwa apa yang dilakukan itu dilakukan juga oleh para ulama-ulama, para kiai pendahulu. masa kalo ini salah mereka mengerjakan.

    Seolah-olah para kiai dan ulamam yang mengerjakan hal tersebut mereka semua sudah ma’sum.

    Alhamdulillah dengan makalah yang gamblang dengan dalil yang cukup jelas mudah-mudahan Allah memberi hidayah kepada kami dan pembaca pada umumnya, amin.

    Wassalamu’alaikum

    Kardi-Depok

  • Antonabu wahyu

    Assalamu alaikum,Alhamdulilah dan terima kasih dgn adanya websit ini sangat bermanfaat untuk ana dan keluarga,soalnya di linkungan ana tradisi yasinan masih banyak yg memakainya,bahkan bila ada yang meninggal bagi mereka yg mampu bahkan bikin tenda di kuburan mereka membaca alquran di atas pusara.

  • susilo

    assalamu’alaikum wr wb.

    Kami hanya ingin bertanya, seperti yang telah ditulis tentang bid’ah yang mana semua yang tidak dilakukan / dicontohkan oleh nabi yang kemudian kita lakukan adalah dikatakan bid’ah, bagaimana dengan jaman sekarang ini yaitu melakukan dahwah melalui tekhnologi semisal via internet,menggunakan HP dll yang berhubungan dengan tehknologi.
    Yang kami tanyakan adalah apakah yang kamisebutkan tersebut juga termasuk kategori Bid’ah ? mohon jawaban dan penjelasanya, Trmksh .

    Wasalamu’alaikum Wr. Wb

  • http://rohmawati.net Rohma

    Assalamu’alaikum..
    Ustadz saya mau tanya, tolong dijawab karena saya sedang bingung, terimakasih sebelumnya.

    Kalau kita datang ke acara Yasinan (acara rutin ibu-ibu di daerah saya, bantul-Jogja) BAGAIMANA HUKUMNYA? saya orang baru pindah rumah ke daerah sini, dan untuk bersosialisasi dengan tetangga saya ikutan acara rutin yasinan pada malam sabtu, acaranya baca yasinan, asmaul husnA dan memang ada doa untuk orang yang sudah meninggal.setelah itu kami diberi snack untuk dibawa pulang.

  • dahrun

    dakwah adalah perkara ibadah, teknologi adalah perkara duniawi. Hukum asal ibadah adalah haram kecuali jika ada tuntunannya dari Nabi kita, Muhammad Shallallahu alaihi wassalam. Hukum asal perkara duniawi adalah mubah (boleh) kecuali jika ada syari’at yg mengharamkannya.

    jadi, bisa ditarik kesimpulan, dakwah menggunakan teknologi spt internet adalah bukan bid’ah asalkan intisari dakwahnya sendiri tidak bertentangan dengan apa yg diajarkan oleh Rasulullah, internet hanyalah salah satu media yg dipakai untuk menyampaikan dan menyebarkan dakwah. Mengenai perkara duniawi, Rasulullah pernah bersabda, “Kalian lebih tahu mengenai perkara duniawi kalian.” (maaf saya lupa hadits riwayat siapa, yg jelas redaksinya spt yg saya sebutkan)

    Demikian, klo ada yg salah mohon dikoreksi. Hanya kepada Allah-lah kita memohon petunjuk.

  • Nur Sholihin

    Assalamu’alaikum…
    Saya mau tanya, apakah membaca spt Al-berjanji, Manaqib, Simtudduror itu juga termasuk BID’AH…? mohon jawaban dan penjelasannya…!
    Terima kasih.

  • http://www.yahoo.com rosi

    @nur solihin
    coba anda buka di youtube ceramah ust rasul dahri “KEBATILAN KEMUNGKARAN DALAM BERZANJI” akan jelas tentang isinya yang penuh dengan kesirikan

  • Ghozy

    Assalamu’alaikum,
    akhi wa ukhti rahimakumullah,
    ada yg bisa memberikan solusi apabila kita sudah terlanjur mengikuti ritual yasinan?
    Atau apa yang harus dilakukan terhadap masyarakat yang sudah terlanjur melakukannya?

    Tolong kalau bisa jawabannya dikirim ke email saya,

    jazakallah khairan…

  • heru

    Assalamualaikum,
    Jadi untuk mendoakan orang yang mati pakai doa apa ustad?

  • rudy ramadhanto

    alhamdulillah… di Indonesia masih banyak orang yang menjauhi bid’ah dan mengamalkan sunnah. insyaallah mendapat ganjarannya di akhirat kelak. amiiinnn….

  • dwi

    kalau zaman rasulullah orang yang keras kepala adalah orang kafir yang tidak mau menerima ajaran nabi Muhammad SAW, sekarang orang yang keras kepala adalah orang islam yang suka beribadah tidak sesuai tuntunan rasul, sudah diberitahu yang benar kadang marah…dan beribadah tidak sesuai tuntunan rasul….semoga Alloh Azza wa Jalla menyadarkan mereka…..saudaraku yang suka bid’ah….

  • Pramudito

    Asalamualaikum wr wb
    Bolehkah datang ke yasinan dengan niatan menghargai undangan tetangga karena mereka baik dengan kita, bila tetap diharamkan mohon masukan untuk mencari alasan yang baik dan tidak menyakitkan hati untuk ketidak hadiran kita.

    Terimakasih sebelumnya.

  • choirul Anam

    Kalau bacaan Al-Qur’an tidak sampai kepada yang mati, kenapa:
    1> Rasulullah menganjurkan umat Islam banyak bershalawat kepada beliau, meskipun beliau sudah meninggal? Bukankah shalawat adalah do’a? dan do’a itu ternyata sampai pada beliau?
    2> Kalau do’a kepada Nabi sampai, do’a kepada orang tua sampai, maka akal akan mengatakan bahwa doa’a kepada ahli kubur (siapapun) akan sampai juga. Masalahnya hanya, apakah Allah berkenan atau tidak untuk mengabulkan do’a nya
    3> Dengan demikian seorang manusia yang masih hidup memiliki adab yang baik, tidak hanya terbatas kepada yang masih hidup, tetapi juga yang sudah meninggal.
    4> Perlu diingat juga bahwa Rasulullah berdo’a pula di makam Bhaqi untuk para ahli kubur di sana…..

    • http://www.muslim.or.id Muslim.or.id

      @Choirul Anam: Pak, tolong Anda bedakan antara berdo’a dan bersholawat dengan membaca Al-Quran… :)

  • Syafrida

    memang sangat sulit memberi pengertian pada mereka yg sudah mendarah daging dengan yasinan. yg heran nya kita yg dianggab sesat padahal kita sudah tunjukkan haadist2 mengenai yasinan itu semua nya palsu atau lemah.masak sih semua bi’dah kirim2 bacaan alqur’an bid’ah inikan baik kan ada di alqur’an,itu kata mereka mereka tau itu tidak dikerjakan oleh ROSUL tapi mereka tetap ngotot dengan dalih itu kan baik ada dialqur’an,kalau memang itu bid’ah tapi bid’ah yg hasanah.Apa ada namanya bid’ah yg hasanah? Saya jadiheran.malah sekarang mereka lebih keras lagi membacanya sebelum dimulainya pengajian didahului dengan yasinan dan tahlilan kirim2 bacaan Alfateha untuk si fulan binti si fulan dengan sepeker yg gede.saya sangat sedih sekali melihat situassi ini apa yg harus saya lakukan. tolong saya

  • http://www.yahoo.com Luthful Khaliq

    Assalamu’alaikum,

    saya mau bertanya tentang masalah,
    1. apkah ada dzikir yang baik untuk bayi yang baru lahir?
    2. jelaskan tentang hukum maulid, isra’ m’iraj, dll yang dilakukan oleh kebanyakan umat islam sekarang??

  • saryadi

    Saya mau tanya nich
    1. Kalau kita takziah sebaiknya ngapain kalau tidak baca zikir ?
    2. Jika dengan asumsi setiap yang zikir itu mendoakan aja orang tuanya masing masing bagaimana ? apakah nggak boleh ?
    3. memang 3,7,40, 100 hari itu campuran antara ajaran hindu budha dan Islam, namun kenapa kita tidak pelan pelan memberikan pengertian ke mereka dengan dakwah yang lemah lembut, kesanya cara penyampainya bahwa itu bidah membuta mereka lari

  • Tommi

    @akhi saryadi,

    1. Berikut penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin mengenai apa yg seharusnya kita lakukan ketika bertakziyah :
    Ucapan takziyah yang paling baik adalah yang diucapkan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada salah seorang puteri beliau (Zainab –pent) ketika kematian anaknya (Umaimah binti Zainab). Puteri beliau tersebut mengutus seseorang untuk memanggil beliau agar menyaksikan anaknya yang tengah menghadapi kematian. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepada utusan itu:
    مُرْهَافَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ فَإِنَّ الِلَّهِ مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أَبْقَى وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمَّى
    “Anjurkanlah agar ia bersabar dan mengharap pahala dari Allah. Sesungguhnya bagi Allah jualah apa-apa yang telah diambil dan hanya kepunyaan-Nya sajalah apa-apa yang telah diberikan, dan segala sesuatu telah ditentukan ajalnya di sisi-Nya”.

    Sedangkan beberapa bentuk takziyah yang sering diucapkan masyarakat umum seperti: “Semoga Allah menambah besar pahalamu dan membalas kebaikan atas kesedihanmu serta mengampuni anggota keluarga yang wafat meninggalkanmu”, ini hanyalah ucapan takziyah yang dipilih oleh sebagian alim ulama saja. Yang terbaik dan utama adalah takziyah yang diucapkan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam. (Bimbingan penyelenggaraan jenazah, karya Abdurrahman bin Abdullah al-Ghaits, Pustaka at-Tibyan, Solo, November 2002)

    2. Tentunya boleh2 saja, hanya saja itu anda lakukan sendiri saja, tidak dengan berjamaah dan tidak dengan suara keras. Lihat QS Al-a’raaf ayat 55 dan 205, berdzikir dan berdoa idealnya adalah dengan suara rendah dan tidak berjamaah. Dan tentunya tidak dengan tahlilan.

    3. Itu berpulang pada antum, bagaimana antum menyampaikan hal ini kepada keluarga antum. Saran saya, jangan dulu katakan bid’ah, katakan yg terbaik adalah mengikuti contoh yg dibawa Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam. Berlemah lembutlah dalam memberitahu ke org lain sebab bisa jadi mereka belum tau klo acara 7 hr, 40 hr, 100 hr, 1000 hr itu adalah bid’ah munkar, bisa jadi mereka hanya mengikuti tradisi turun temurun alias tradisi orgtua. Syukur alhamdulillah klo mereka mau mengerti dan mengikuti antum. Klo mereka tetap keras kepala, itu bukan salah antum, yg penting antum udh menyampaikan dan dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar, bukan dalam rangka membid’ahkan, bukan dalam rangka salah mensalahkan. Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam bersabda, “Sampaikanlah dariku walau hanya 1 ayat.”

    Demikian yg bisa saya sampaikan, mohon maaf klo ada kata2 yg tak berkenan.
    Semoga Allah Azza wa Jalla menunjuki kita semua dengan kebenaran.

  • Murtadho

    Owh ya Mas/pak Tommi, saya mw tanya nich. saya prnh ngsh saran kpd tman saya. Tp dia membantah, alasan ktanya “kamu bisanya cuma intrnetan doank” pdhl sy sdh ngingetin, trus saya copy tntng hadistnya sja di website ini, dia brkta “ngajimu br sbrpa? Kq sudh sok tau.”
    Gmana solusi menghdpi spt itu Mas?

  • Dany hidayat

    Orang mati putus hubungan dgn duniawi, kecuali 3perkara 1.sodakoh jariah 2.ilmu yg bermampaat
    3.anak soleh yg mau mendoakan kedua orangtuanya .
    Dari hadis ini jelas skali bahwa doanya anaksoleh
    Masih ada hubungan dengan kedua orangtuanya yang sudah mati {anak soleh HIDUP orang tuanya MATI /amalan orang hidup dan orang mati nyambung}
    Sekarang boleh tida anak soleh mendoakan orangtuanya dan minta bantuan tetanga2 muslim untuk ikut mendoakan orangtuaanya yg sudah mati ?
    Biasanya seblum berdoa tetanggamuslim trsbut berbuat amal soleh membaca ayat alquran diantaranya suratyasin ,tasbih,ziqir dll. lalu berdoa bersama sesuai dngn tujuan anak soleh trsbut. apa ada yg salah dalam hal ini? atau yg bilang bid ah baru sampai disitu taunya , bicaralah sesuai propesinya, jangan bicara cangkul padahal dia tukang batu.

  • Abu Fida

    untuk pak Dany :
    Doa anak sholeh pada kedua orgtua, jelas akan sampai, tidak ada perbedaan mengenai itu. Yg jadi masalah adalah, si anak minta para tetangga untuk mendoakan orgtuanya lalu mengadakan acara yasinan, tahlilan dan membaca do’a bersama bahkan sampe 7harian, 40hari, 100hari, disinilah masalahnya pak, yasinan dan tahlilannya itu, kegiatan ini tidak ada tuntunannya dari Rasulullah dan para sahabat bahkan 7 hari, 40 hari dan 100 hari itu bid’ah munkar karena berasal dari ajaran agama lain. Pak Dany saudaraku, bila memang si anak ingin para tetangga ikut mendoakan orgtuanya, mintalah secara pribadi dan tidak dengan doa berjama’ah, tidak dengan yasinan, tidak dengan tahlilan.

    Lalu mengenai mengirim pahala bacaan al-qur’an untuk org yg telah meninggal. Ingatlah firman Allah, “Agar supaya Al-Qur’an itu menjadi peringatan bagi orang-orang yang hidup” [QS Yasin : 70]. Dan firman Allah, “Bahwa seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan bahwasanya manusia tidak akan memperoleh (kebaikan) kecuali apa yang telah ia usahakan” [An-Najm : 38-39].

    Dari dalil tersebut jelas bahwa Al Quran itu untuk orang yang masih hidup. Imam Syafi’i berkata, “Bahwa bacaan Qur’an tidak akan sampai hadiah pahalanya kepada orang yang telah mati, karena bacaan tersebut bukan dari amal dan usaha mereka (orang yang sudah mati tersebut)” (Manhaj Aqidah Imam Syafi’i, Pustaka Imam Syafi’i). Berkata pula al-hafidz Ibnu Katsir, “Tidak dinukil dari seorangpun shahabat bahwa mereka pernah mengirim bacaan Qur’an kepada orang-orang yang telah mati. Kalau sekiranya perbuatan itu baik tentulah para shahabat telah mendahului kita mengamalkannya (Laukana khairan lasabakuna ilaihi)”.

    Jadi, jelasnya ya pak Dany, dalam perkara ibadah kita tidak bisa menganggap baik (istihsan) karena berlaku suatu kaidah dalam ushul, “ibadah itu harus tauqifiyah (mengikuti petunjuk)”. Kalo dalam suatu ibadah tidak ada petunjuk yg shahih dari Rasul dan para sahabatnya -radhiyallahu ‘anhuma-, maka ibadah itu akan tertolak biarpun kita menganggapnya baik, jadi singkatnya akal tunduk pada dalil. Tukang batu pun boleh menyuarakan kebenaran (tidak sebatas cangkul) andaikan kebenaran itu berdasarkan landasan yg shahih yaitu Qur’an dan hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam.

    Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi kita petunjuk jalan diatas Islam yg haq.

  • tita oktarina

    maaf sebelumnya untuk sodara-sodaraku seiman,saya hanya manusia yg tidak tahu apa-apa,dengan pemikiran saya yg bodoh saya kadang suka bersuudzon tentang al qur’an dan hadist yg sekarang ,dari jaman Rosulluloh hingga sekarang,waktu dan jaman nya sangatlah jauh,dari tahun ke tahunnya alQur’an dan hadis dicetak dan disebarkan ke seluruh dunia tanpa kita tahu siapa yg mencetak dan menyebarkannya,yg saya tanyakan apakah qur’an dan hadis tersebut yg sampai ke tangan kita di jaman sekarang ini masih terjamin keabsahannya,keasliannya,apakah tidak ada kemungkinan kalo qur’an dan hadis tersebut dirubah atau dikurangi bahkan di tambahkan oleh orang-orang yg tidak bertanggung jawab,sebelumnya saya minta maaf bukan saya menyepelekan qur’an dan hadis,saya yakin kalo quran dan hadis yg datang dari ALLOH swt adalah benar adanya,dan satu-satunya penuntun umat manusia,tapi saya ragu dgn orang-orang jaman sekarang yg bisa melakukan apa saja untuk memecah belah agama Islam seperti saat ini,saya begitu bingung dengan pendapat2 yg bertentangan soal qur’an dan hadis,kenapa mereka bisa saling berbeda paham dan pendapat,padahal yg saya tahu Islam hanya satu,al qur’an pun satu dan sangat pasti kebenaranya,saya mohon petunjuk nya,dan tolong beri saya jawaban atas keraguan saya….

  • mono

    @tita oktarina
    dalam setiap kurun Allah akan membangkitkan para mujaddid(pembaharu) yang akan selalu memurnikan agama islam dari bid`ah2 dan Allah tidak akan menyatukan hati umat islam dalam kesesatan sehingga ijma`(kesepakatan) kam muslimin adalah maksum (terbebas dari kesalahan). begitu pula tentang al qur`an yang ada pada kita kaum muslimin bersepakat tentang keotentikannya. Adapun al qur`annya orang syiah kok beda karena orang syi`ah diluar kaum muslimin

  • miskin ilmu

    @ Tita Oktarina
    apa yang anti ragukan telah ada jawabannya dalam al Quran surah al Hijr ayat 9.

    إِنَّا نَحْنُ نزلْنَا الذِّكْروَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُون

    Allah TA’ala sendiri yang akan menjaga kemurnian al Quran baik ketika turun maupun setelahnya. Penjagaan dari segala sesuatu yang tidak layak bagi alquran baik berupa penyimpangan, penyelwengan, penambahan, pengurangan. ketika al Quran turun Allah Ta’ala menjaganya dari pencurian syaithan dan setelah turun Allah Ta’ala menitipkan al Quran ke dalam hati Rasulullah shalallahu’alaihiwasallam dan memeperkenankan di hati hati ummatnya, Allah Ta’ala menjaga lafadz-lafadz al Quran dari penyimpangan, penambahan, pengurangan dan menjaga maknan-maknanya tetap utuh. Tidaklah ada seorang muharrif(penyeleweng al Quran)kecuali Allah Ta’ala mendatangkan seorang yang menjelaskan kebenaran dengan terang.Lihat tafsir as sa’di

    seluruh kaum muslimin dari dulu hingga sekarang telah sepakat bahwa ayat-ayat alquran mutawatir sampai kepada kita, begitu juga hadits dalam shahih Bukhari dan Muslim keduannya meruapakan kitab tershahih kedua setelah al Quran. lantas masihkah kita meragukan keaslian al Quran padahal Allah Ta’ala sendiri yang menjamin keasliannya??

  • fahmi l habsyi

    subhanalloh antum adalah muslim yang diberi hidayah alloh terus berjuang akhi mudah – mudahan brmanfaat bagi muslim lainya..

  • yasin

    selama tidak ada dalil Al-Qur’an maupun Hadits yang mengharamkan sesuatu maka sesuatu itu adalah boleh dilakukan !

    • http://rumaysho.com Muslim.Or.Id

      Berarti jika sy shalat shubuh 4 raka’at, juga tidak masalah dong! Kan gak ada dalil yang melarang? Apalagi makin banyak raka’at, makin banyak pahala! Iya kan.

  • mohammadhafiz

    aslmkm..
    mane leh mcm too anda slap..
    setiap kebaikan yg anda lakukan sah slagi xbrcggah dgan syriat..
    dlm syariah telah ditetp kn solat subuh 2 rkaat xleh dtmbah lg..

    • http://rumaysho.com Muslim.Or.Id

      @ Mohammad hafiz
      Sama halnya pula, dalam syariat sesudah kematian tidak dituntunkan baca yasin.

  • salafi

    Menurut Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah mengirim bacaan Al Quran adalah SAMPAI ..

    Tertulis dalam Majmu’ Fatawanya:
    وسئل عن قراءة أهل البيت : تصل إليه ؟ والتسبيح والتحميد، والتهليل والتكبير، إذا أهداه إلى الميت يصل إليه ثوابها أم لا ؟
    فأجاب :
    يصل إلى الميت قراءة أهله، وتسبيحهم، وتكبيرهم، وسائر ذكرهم لله تعالى، إذا أهدوه إلى الميت، وصل إليه . والله أعلم .
    وسئل : هل القراءة تصل إلى الميت من الولد أو لا على مذهب الشافعي ؟
    فأجاب :
    أما وصول ثواب العبادات البدنية كالقراءة، والصلاة، والصوم فمذهب أحمد، وأبي حنيفة، وطائفة من أصحاب مالك، والشافعي، إلى أنها تصل، وذهب أكثر أصحاب مالك، والشافعي، إلى أنها لا تصل . والله أعلم .

    Beliau ditanya tentang membaca Al Quran ang dilakukan keluarga; apakah sampai kepada mayit? Begiju juga tasbih, tahmid, takbir, jika dihadiahkan olehnya untuk mayit , sampaikah pahalanya kepadanya atau tidak?
    Beliau menjawab:
    “Pahala bacaan Al Quran keluarganya itu sampai kepada mayit, dan tasbih mereka, takbir, serta semua bentuk dzikir mereka kepada Allah Ta’ala jika dia hadiahkan kepada mayit, maka sampai kepadana. Wallahu A’lam”
    Beliau ditanya: menurut madzhab Syafi’I apakah pahala membaca Al Quran akan sampai kepada mayit dari anak atau tidak?
    Beliau menjawab:
    “Ada pun sampainya pahala ibadah-ibadah badaniah seperti membaca Al Quran, shalat, dan puasa, maka madzhab Ahmad, Abu Hanifah, segolongan sahabat Malik, Syafi’i, menatakan bahwa hal itu sampai pahalana. Sedangkan pendapat kebanyakan sahabat Malik, Syafi’I, mengatakan hal itu tidak sampai.” Wallahu A’lam
    (Majmu’ Fatawa, 34/324. Darul Maktabah Al Hayah)

    • http://rumaysho.com Muslim.Or.Id

      Mohon kalau menukil perkataan Syaikhul Islam jangan sepotong2. Coba Antum baca artikel di sini:
      http://rumaysho.com/belajar-islam/jalan-kebenaran/2753-beberapa-kekeliruan-seputar-mayit-dan-kubur.html

      Berikut nukilan lain di Majmu’ Fatawa:

      “Sedangkan jika ada yang mengatakan bahwa bermanfaat bagi si mayit ketika dia diperdengarkan Al Qur’an dan dia akan mendapatkan pahala jika mendengarnya, maka pemahaman seperti ini sungguh keliru. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah bersabda,

      إذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلَّا مِنْ ثَلَاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

      “Jika manusia itu mati, amalannya akan terputus kecuali melalui tiga perkara: [1] sedekah jariyah, [2] ilmu yang dimanfaatkan, atau [3] anak sholeh yang mendo’akan dirinya. ”

      Oleh karena itu, setelah kematian si mayit tidak akan mendapatkan pahala melalui bacaan Al Qur’an yang dia dengar dan amalan lainnya. Walaupun memang si mayit mendengar suara sandal orang lain dan juga mendengar salam orang yang mengucapkan salam padanya dan mendengar suara selainnya. Namun ingat, amalan orang lain (seperti amalan membaca Al Qur’an, pen) tidak akan berpengaruh padanya.

      Semoga Allah beri taufik.

  • newbie

    kalo malem jumat kalo g salah yang pas mbaca surat Alkahfi y?
    Ane pernah denger dari ustad di daerah ane waktu kajian…
    manfaatnya, dengan bacaan tersebut, akan ada cahaya yang muncul dari bawah telapak kakinya sampai ke langit, yang akan membantu menerangi di hari akhir nanti…

    mohon koreksi kalo ad kesalahan…

  • Abu Muhammad Naufal Zaki

    Dari Abu Sai’id Al-Khudry, Rasulullah Shallallahu
    ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Orang yang membaca surat
    Al-Kahfi pada hari Jum’at maka dia akan diterangi oleh
    cahaya antara dua Jum’at” (HR. An-Nasai, al-Baihaqi,
    dan Hakim, serta disahihkan oleh al-Albani dalam kitab
    As-shahihah”, 2651).
    Dalam riwayatnya yang lain:
    “Orang yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at,
    akan muncul cahaya dari bawah kakinya menjulang sampai
    ke langit yang meneranginya pada hari Kiamat, dan dia
    akan diampuni antara dua Jum’at” (HR. al-Hakim,
    al-Baihaqi, dan disahihkan oleh Arnauth, juga
    diriwayatkan oleh Ad-Darimy dalam musnadnya (mauquf)
    pada Abu Said dan para Rawinya seluruhnya terpercaya
    (tsiqaat), dan seperti ini tidak mungkin berasal dari
    pendapat mereka, jadi hukumnya adalah hukum “marfu’”.
    Dan ibnu Qayyim Rahimahullah mengatakan: Sa’id bin
    mansyur menyebutkannya dari perkataan Abu Sa’id
    al-khudry seperti itu juga (zaadul maad 1/378).
    Ad-darimy meriwayatkannya dengan lafadz,
    “Orang yang membaca surat kahfi pada malam Jum’at dia
    akan diliputi cahaya antara dia dan baitul ‘atiq.”
    {Disahihkan oleh syekh al-Albany dalam kitab “shahihul
    jami’ (6471)}.

  • http://Ihind182.blogspot.com Ihind

    kalo apa yg kita kirimkan tidak sampai kepada mayit lantas mengapa ketika sholat jenazah pada raka’at yg keempat kita mendoakan si mayit..
    mohon beri penjelasannya dari kitab yg bisa dipercaya dan bukan merupakan kitab tejemahan karena kitab terjemahan itu tergantung siapa yg menerjemahkannya..

    • http://rumaysho.com Abduh Tuasikal

      @ Ihind
      Kalau do’a memang sampai pada mayit karena ada dalilnya. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,
      وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
      “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”.” (QS. Al Hasyr: 10) Ayat ini menunjukkan bahwa di antara bentuk kemanfaatan yang dapat diberikan oleh orang yang masih hidup kepada orang yang sudah meninggal dunia adalah do’a karena ayat ini mencakup umum, yaitu orang yang masih hidup ataupun yang sudah meninggal dunia.
      Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di mengatakan, “Do’a dalam ayat ini mencakup semua kaum mukminin, baik para sahabat yang terdahulu dan orang-orang sesudah mereka. Inilah yang menunjukkan keutamaan iman, yaitu setiap mukmin diharapkan dapat memberi manfaat satu dan lainnya dan dapat saling mendoakan.”
      Begitu pula sebagai dalil dalam hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
      دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ
      “Do’a seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah do’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendo’akan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan do’anya. Tatkala dia mendo’akan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: “Amin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi”.” (HR. Muslim) Do’a kepada saudara kita yang sudah meninggal dunia adalah di antara do’a kepada orang yang di kala ia tidak mengetahuinya.

      Sedangkan bacaan qur’an menurut madzhab syafi’i tidak akan sampai pada mayit karena memang tidak ada dasarnya dalam hal ini.

  • abu muhammad naufal zaki

    Berikut Perkataan Ulama Madzhab Syafii
    (1)Imam Nawawi dlm Kitab Syarah Muslim berkata : Adapun bacaan Qur’an (yg pahalanya dikirimkan kpd mayit) mk yg mashur dalam mazhab syafii tidak sampai kpd si mayit….Dalil Imam Syafii : Firman Allah :Dan seorang tidak memperoleh selain dari usahanya sendiri, dan Sabda Nabi : jika meninggal anak adam maka terputuslah amalnya kecuali 3…. Dalam Takmilatul Majmu Syarah Muhazzab, beliau berkata :Adapun bacaan quran dan mengirimkan pahalanya untuk simayit dan mengganti shalat si mayit menurut Imam Syafii dan Jumhur Ulama adlah Tidak dapat sampai kepada yg dikirimi.
    (2) Al Haitami dlm Al Fatawa Al Kubra : “Mayit, Tidak boleh dibacakan apapun, berdasarkan keterangan mutlak para ulama bahwa bacaan tsb tidak dapat sampai kepada mayit sebab bacaan itu untuk pahala pembacanya saja dan pahala hasil amalan tidak dapat dipindahkan berdasarkan firman Allah : Dan manusia tidak memperoleh kecuali pahala dari hasil usaha sendiri.”
    (3) Al Haitami dlm Al Fatawa Al Kubra : “Mayit, Tidak boleh dibacakan apapun, berdasarkan keterangan mutlak para ulama bahwa bacaan tsb tidak dapat sampai kepada mayit sebab bacaan itu untuk pahala pembacanya saja dan pahala hasil amalan tidak dapat dipindahkan berdasarkan firman Allah : Dan manusia tidak memperoleh kecuali pahala dari hasil usaha sendiri.”
    (4)Imam Al Khazin dalam Tafsirnya : “Dan yg masyur dalam mazhab syafii bahwa bacaan qur’an (untuk orang mati) adalah tidak dapat sampai kepada mayit yg dikirm.”
    (5) Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat 39 surat An Najm : Sebagaimana dosa seseorang tidak dapat menimpa orang lain demikian pula tidak dapat memperoleh pahala orang lain melainkan dari hasil amalnya sendiri, dari ayat mulia ini, Imam Syafii dan ulama-ulama mengikuti kesimpulannya bahwa bacaan yg pahalanya dikirimkan kepada mayit adalah tidak dapat sampai krn bukan dari hasil usahanya. Oleh karena itu Rasul TIDAK PERNAH MENGANJURKAN (apalagi menyuruh) UMATNYA UNTUK MENGAMALKAN (mengirim pahala) dan TIDAK PERNAH MEMBERIKAN BIMBINGAN, BAIK DENGAN NASH/DALIL MAUPUN DENGAN ISYARAT, dan tidak ada seorang pun sahabat yg melakukannya, kalau toh amalan itu baik, tentu mereka (para sahabat) telah lebih dahulu mengerjakannya…”

  • http://www.facebook.com/aksan.maharani Ahsan

    Alhamdulillah….
    Terima kasih….
    Saya sdh dpt membedakan skrng antara M’bacakan Alqur’an bagi si mayat dgn M’doakan si mayat.
    Kalo M’bacakan Alqur’an tdk sampe kpd si mayit, sdngkan M’doakan akan sampai kpd si mayit.

    Jazakumullah khairan…

  • http://www.mellbiruu.blogspot.com Melinda

    terima kasih infonya,ternyata msh banyak yg belum mengetahui hal ini

  • Abdurrazaq

    Barakallahu fik,semoga brmanfaat kpada kami

  • sophy difanda

    Sepengetahuan saya membaca alquran itu juga mengandung doa, mohon koreksi jika salah.

    • http://rumaysho.com Abduh Tuasikal

      @ Sophy
      Namun jk tanpa tuntunan, ini yg masalah.

  • Ida Julfarida

    Lalu do’a apa yg bisa sampai untuk orang yg sudah meninggal dunia? mohon penjelasannya.

  • lekrifai

    Astaghfirullah….. di akhir zaman kian banyak orang yg mencari kebenaran hanya mengandalkan akalnya semata. ibadah syariah seakan ilmu matematika yang pamer logika. Ya Allah bukalah hati mereka, berikan petunjuk pada mereka yang pintar bermain kata-kata dan menutup-nutupi kebenaran dengan menerjemahkan Ayat-ayatmu dengan dalil ilmiah saja. Terangilah jalan mereka dari jalan yg gelap menuju jalan kebenaran. Semoga saudaraku mendapat hidayahNya Amien…….

  • Bagus

    Assalamu’alaikum
    mohon penjelasannya tentang pendapat ini,atau lbh tpatnya sebagian hujjah mereka yg mengatakan bhw pahala Al Qur’an sampai pd mayit.Shga sy bz yakin mana pndpat yg benar,sebab kebenaran hanya satu…..Pertama(1)bhwa mengHadiahkan pahala bc Al Qur’an sdh dikenal di masa sahabat,karena kaum Anshar seperti yg diriwayatkan ole asy-Sya’aby,bhw bila ada seorang yg wafat mereka berkumpul di kuburan dan membaca Al Qur’an
    (2)bhwa Ibnu Taimiyah brPndapat bhwa pahala itU smpai pd mayit sPrti brikut ini ” pahala bc Al Qur’an sampai kpd mayit.Ada hadits shahih yg d’trma scra ijma’ bhw mayit disiksa krna tngisan keluarganya.Dan jk mayit bs mNdpatkan siksa krn prbuatan orang lain,tentu Allah lbih memuliakan dia dngm menyampaikan pahala ibadah orang lain untuknya”.(kitab Al ‘Iddah Syarh al ‘Umdah)
    syukron

  • Al Balaidhana

    Saya sependapat dg Mas Ahsan. Yang kita kirimkan bukan membaca yasinnya. Tetapi doanya. Jadi pahala membaca yasin untuk kita sendiri. Terus yang di khususkan tu mendapat doa dari kita. Selain itu tradisi Yasinan tu diambil dari segi silatuarahminya itu bagus karena bisa saling berkumpul membaca Al Qur’an. Dari pada berkumpul membaca kartu ?

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #Al Balaidhana
      - Nabi dan para sahabat Nabi juga sangat ingin mendoakan keluarga mereka yang meninggal, tapi mereka tidak pernah Yasinan
      - Nabi dan para sahabat Nabi juga sangat ingin menambah pahala membaca Al Qur’an, tapi mereka tidak pernah Yasinan
      - Nabi dan para sahabat Nabi juga sangat ingin mempererat silaturahmi, tapi mereka tidak pernah Yasinan

      Sangkaan anda salah, siapapun boleh mendoakan sang jenazah, namun tidak harus bersama-sama dan hari tertentu. Silakan baca:
      http://rumaysho.com/belajar-islam/jalan-kebenaran/2751-amalan-amalan-yang-bermanfaat-bagi-mayit.html

  • Al Balaidhana

    Menambahkan lagi. klo hanya berpatok doa itu tdk sampai kecuali dari anak yg sholeh itu tidak adil dong ? gmn klo si mayit itu gak punya anak, atau anaknya riddah mungkin, ataukah bahkan si mayit tidak menikah ? dia gak bkalan dpt kiriman doa dong ? Pie Jal ?

  • neyfa

    assalamu’alaikum,,,
    yah baiklah kalo masih banyak juga yang kritis masalah yasinan itu bid’ah dsb…tapi apakah membaca yasin itu (walau bersama2) tidak akan mendapat pahala??sedangkan hadisnya jelas, bahwa membaca الم saja dihitung 10 pahala tiap huruf yang dibaca.oleh karena itu qt lihat dari segi positifnya,,,menurut saya, dengan adanya sebutlah tradsisi ini selain menjadi wadah silaturrahmi juga menjadi “pembelajaran baca al-quran” bagi yang belum sempat atau belum bisa membacanya. namun bukan berati mengkhususkan membaca yasin hanya untuk di malam jum’at saja. bacalah semua surat2 alqurkan hari apa pun, kapanpun, memangnya alquran itu hanya yasin saja??ok lah semuanya bisa memberikan argumen tentang ini, namun jangan sampai hal ini menjadi pemecah belah antar umat islam. jangan sampai anggapan bid’ah atau pandangan negatif terhadap tradisi ini menjadi sensitif diantara umat islam indonesia. yang nantinya hanya akan membuat konflik intern dan melupakan tujuan dari islam itu sendiri. masih banyak yang harus ditangani oleh umat islam, apalagi ‘imej’ islam harus tetap dipertahankan dan dibuktikan bahwa islam itu rahmatan lil ‘alamin…bukan kekerasan lil ‘alamin.
    wallahu al muwaffiq wa al hadi ila sawa-is sabil…
    wassalamu’alaikum.

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #neyfa
      - Itulah ruginya melakukan bid’ah, seharusnya membaca Qur’an itu berpahala, namun karena tatacaranya bid’ah, sehingga tertolak. Inilah mengapa nasehat agar menjauhi bid’ah perlu digencarkan. Kalau tidak banyak umat muslim yang berada dalam kerugian.
      - Nabi dan para sahabat Nabi juga sangat ingin mendoakan keluarga mereka yang meninggal, tapi mereka tidak pernah Yasinan
      - Nabi dan para sahabat Nabi juga sangat ingin menambah pahala membaca Al Qur’an, tapi mereka tidak pernah Yasinan
      - Nabi dan para sahabat Nabi juga sangat ingin mempererat silaturahmi, tapi mereka tidak pernah Yasinan
      - Yang melarang bid’ah adalah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, lalu bagaimana mungkin dikatakan melarang bid’ah itu adalah kekerasan?
      - Islam dengan semua ajarannya, termasuk ajaran untuk melarang bid’ah, adalah rahmatan lil’alamin. Silakan simak:
      http://muslim.or.id/al-quran/islam-rahmatan-lil-alamin.html

  • Al Balaidhana

    # Yulian : Dalam hadits riwayat Nasa’i bersumber dari Ma’qal bin Yasar al-Muzan mengatakan, Rasulullah SAW pernah bersabda:

    اقْرَؤُا يس عِنْدَ مَوْتَاكُمْ

    “Bacalah surat Yasin di samping saudaramu yang sedang sekarat.”

    Hadits ini juga berlaku bagi yang masih hidup untuk membacakan Yasin untuk yang sudah meninggal. Persis seperti sabda Rasulullah: Laqqinu mautakum La ilaha illallah (Tuntunlah orang mati dengan kalimat La ilaha illallah). Dan termasuk dalam hadits ini adalah bacaan Yasin di atas makam. (Demikian penjelasan dalam kitab Kasyifatus Syubhat, hlm. 263)

    Dalam hadits Ma’qal bin Yasar tersebut juga disebutkan bahwa:

    يس قَلْبُ القُرْآن لَا يَقْرَؤهَا رَجُلٌ يُرِيْدُ اللهَ وَالدَّارَ الآخِرَةَ إلَّا غَفَرَ لَهُ اقْرَءُوْهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ

    Surat Yasin adalah jantung Al-Qur’an. Siapa saja yang membacanya semata-mata karena Allah dan berharap kebahagiaan akhirat maka ia akan diampuni. Maka bacakanlah Yasin di samping saudaramu yang sedang sekarat.

    Diriwayatkan juga: jika seorang muslim dan muslimah dibacakan surat Yasin ketika mendekati ajal maka akan diturunkan 10 malaikat berkat dari huruf-huruf Yasin yang dibaca. Para malaikat itu berdiri berbaris di samping yang sakit, membacakan shalawat dan istighfar kepadanya dan ikut menyaksikan saat dimandikan dan mengantarkan ia ke makam. (Tafsir Yasin lil Hamamy, hlm. 2)

    Dalam kitab Audhaul Ma’ani Ahadits Riyadh as Shalihin disebutkan bahwa bacaan surat Yasin untuk yang sedang mendekati ajal akan menjadi bekal dia, seperti halnyaa ia membawa susu kental dalam perjalanan. Dan surat Yasin pada dasarnya dapat dibaca untuk seseorang setelah meninggal di rumah atau bahkan di makam. (Audhaul Ma’ani, hlm. 376)

    KH Munawwir Abdul Fattah
    Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #Al Balaidhana
      Semoga Allah merahmati anda. Sekedar mengingatkan, bahwa di masa ini kita tidak cukup sekedar menyebutkan hadits dan nama kitabnya saja, karena sudah banyak tersebar hadits lemah dan palsu yang beredar di tengah kita. Jadi, kalau ada hadits di kitab Fulan, jangan dulu diyakini bahwa itu perkataan Nabi. Kita perlu mengecek derajat haditsnya, atau merujuk pada ulama ahli hadits seperti Ibnu Hajar Al Asqalani, Adz Dzahabi, At Tirmidzi, An Nawawi, As Shaghani, Al Mundziri, Asy Syaukani, Al Haitsami, dll.

      Dan hadits yang anda bawakan adalah hadits-hadits lemah, tidak boleh diyakini sebagai perkataan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Silakan simak:
      http://muslim.or.id/manhaj/derajat-hadits-fadhilah-surat-yasin.html

  • chakoen

    Maaf saya masih awam…masih mencari kebenaran dan kejelasan mengenai Islam. Saya pernah di Saudi Arabia…selama itu saya belum pernah nemuin Yasinan…saya masih perlu belajar…and kalo bisa mohon bimbingannya….saya ndak mau terjebak dengan masalah Bid’ah…thanks…wassalam

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #chakoen
      Sepengetahuan kami, Yasinan memang hanya ada di Indonesia. Dari sini kita bisa tahu bahwa Yasinan bukan dari Islam.

  • Al Balaidhana

    # Akhi/Mas Yulian : Fa insya Allah kita semua jg diberi petunjuk oleh Allah SWT. Intinya gni, setiap orang melakukan sesuatu punya dasar. Anta berkeyakinan spt itu, anta jg punya dasar kn ? Bgtu jg dengan saya, kita sama2 punya dasar. Jgn merasa kita ini paling benar. Tp ya alhamdulillah dg diskusi majlis ilmu ini ini saya jd tau, anta tdk spndpt tu krn apa dan bgtu jg sebaliknya saya tdk spndpt dg anda jg karena apa. Bukan bgtu Akhi/Mas Yulian ?

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #Al Balaidhana
      Semoga Allah merahmati anda. Sekedar memiliki dasar, atau sekedar memiliki dalil, bukan berarti ia telah berada di koridor yang benar. Sebut saja sekte aliran yang menurut anda paling sesat, pasti mereka memiliki dalil dan dasar. Orang yang mengaku Nabi setelah Rasulullah, memiliki dalil dan dasar. Orang yang mengatakan shalat itu tidak wajib, memiliki dalil dan dasar. Orang yang mengatakan Islam itu bukan agama paling benar, memiliki dalil dan dasar. Maka dalil dan dasar ini haruslah dalil yang shahih dan dasar yang kokoh. Tentang yasinan, tidak ada dalil shahih, tidak ada dasar yang kokoh, tidak ada ulama yang mengajarkan, bukan imam 4 madzhab bukan pula Imam Asy Syafi’i.

      Ketika anda menganggap orang yang anti-yasinan itu salah, sesungguhnya anda juga merasa benar. Untuk apa Allah Ta’ala menurunkan Al Qur’an dan Rasul-Nya jika orang yang mengamalkan keduanya ini tidak boleh meyakini keduanya adalah kebenaran?

      ‘Ala kulli haal, artikel ini dan dakwah sunnah pada umumnya, tidak memaksa anda untuk ini dan untuk itu. Dakwah itu hanya menyampaikan, jika anda terima, walhamdulillah, jika tidak pun tidak mengapa. Hidayah taufiq hanyalah milik Allah semata.

  • marzuki_mail

    Ibn Taymiyyah pernah ditanya tentang bacaan Al-Qur’an untuk mayyit juga tasbih, tahlil, dan takbir jika dihadiahkan kepada mayyit, apakah sampai pahalanya atau tidak? Beliau menjawab sebagaimana tersebut dalam kitab beliau Majmu’ Fatawa jilid 24 hal. 324 : “sampai kepada mayyit bacaan Al-Qur’an dari keluarganya demikian tasbih, takbir serta seluruh dzikir mereka apabila mereka menghadiahkan pahalanya kepada mayyit akan sampai pula kepadanya”.

    • http://rumaysho.com Abduh Tuasikal

      @ Marzuki
      Beliau katakan sampai, namun beliau tdk menyariatkan adanya yasinan atau tahlilan sbgmn yg dipraktikan kaum muslimin di negeri kita. Moga2 bisa paham. Semoga Allah beri taufik.

  • heru

    assalamu’alaikum.
    salam kenal, semoga kita selalu dalam rahmat, hidayah, dan akidah sunnah yang lurus.

  • Denheru

    “Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang mati itu mendengar.” (Terjemah An-Nahl: 80)

    6. An Nahl
    80. Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan (membawa)nya di waktu kamu berjalan dan waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu onta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu).

    ArRuum
    52. Maka Sesungguhnya kamu tidak akan sanggup menjadikan orang-orang yang mati itu dapat mendengar, dan menjadikan orang-orang yang tuli dapat mendengar seruan, apabila mereka itu berpaling membelakang[1176].

  • sulistyo

    assalamu’alaikum….
    saya masih awam tentang islam dan ingin belajar tentang islam. saya tertarik dengan pejelasan saudara yulian purnama tentang yasinan. jika benar yasinan itu tidak disyariatkan maka bagaimana kita menolak ajakan seseorang untuk yasinan. saya merupakan orang baru dilingkungan saya dan saya diajak untuk ikut yasinan setiap malam jumat.

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #sulistyo
      Wa’alaikumussalam. Hendaknya anda menolak untuk datang dengan cara yang baik. Saya kira, hak untuk tidak datang juga merupakan hak asasi yang semestinya dihormati warga. Namun imbangi ketidak-datangan itu dengan rutin shalat ke masjid, juga aktif dalam berbagai kegiatan di masyarakat agar ukhuwah tetap terjalin.

  • abdullah

    assalamu’alaikum ustadz.
    menurut saya pembahasan tentang “yasinan”, tentu tdk terlepas bagaimana pemahaman seseorang tentang makna bid’ah dan amalan2 yg didasari dg hadist dhoif (yg bukan untuk menentukan hukum halal haram dan yg tdk bertentangan dgn hadist shohih )

    Jika pemahaman tentang makna bid’ah dan amalan2 yg didasari hadist dhoif berbeda, tentu pendapat tentang (salah satunya) “yasinan” ini pasti berbeda.

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #Abdullah
      Wa’alaikumussalam. Anda benar. Oleh karena itu hendaknya orang memahami masalah bid’ah dan masalah hadits dhaif dengan pemahaman yang benar.

  • Irwan

    Assalamualaikum,
    wahai saudaraku semuanya memang benar yang telah ustad terangkan di atas,yasinan hanya ada di indonesia,krn amalan orng yasinan pd hari tertentu pasti trtolak krn tidak ada dalil yg membolehkannya..
    Wahai saudaraku dalam urusan agama perhatikan baik2 jika ada perintah maka krjakan jika tdk ada perintah maka tinggalkan untk urusan dunia jika tidak ada larangan maka kerjakan jika ada larangan maka tinggalkan.

  • Hanif

    assalamualaikum wr.wb…
    .saya setuju,bukanya lebih baik membaca semua surat dalam al-quran daripada hanya yasin terus…

  • Ibnu Syakieb

    Alhamdulillah…semoga Allah membuka hijab yg menutupi hati kita, agar mudah menerima dan memberikan pemahaman yg benar tentang Ilmu-Nya…dan berlindung kepada Allah dari hati yg keras…Amiin

  • yazid

    saya mau tanya tentang tuntunan istiqosyah. itu ada tuntunannya ngak?

  • imam hambali

    Para Pengasuh yang masih diRahmati Alloh,
    mohon untuk tidak menampilkan artikel yang memebawa-bawa masalah Bid’ah.Karena langkah kita selama ini banyak yang tidak sesuai/ tidak ada tuntunan dari Nabi SAW,coba anda renungkan lagi dan tela’ah satu per satu kegiatan anda.Kita patut bersyukur sampai detik ini kita bisa memeluk Islam karena jerih payah para Ulama’,kyai, dan para Wali Alloh yang menyebarkan Agama Islam ditengah masyarakat Atheis,dan kerajaan Hindu waktu itu.Para Wali cara berdakwah harus berbaur dengan adat istiadat waktu itu,dan itu berarti para Wali menyebarkan Islam sebagian dengan Bid’ah.Kalo gak gitu mungkin sampai hari ini kita menyembah pohon-pohon dan sesaji di depan rumah kita.trims atas kerjasamanya.”lana a’maluna walakum a’malukum”- tanggung jawab kami apa yang kami kerjakan & tanggung jawabmu apa yang kamu kerjakan.

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #Imam Hambali
      Semoga Allah membalas amal dan upaya para wali, kiai dan orang-orang yang menyebarkan Islam ke Indonesia. Maka, marilah kita lanjutkan perjuangan mereka yaitu: menyebarkan ajaran Islam. Dan salah satu ajaran Islam adalah mengingkari bid’ah.
      Ohya, Imam Ahmad bin Hambal atau Imam Hambali merupakan ulama ahlussunnah yang keras terhadap bid’ah.

  • ligar

    masalahnya ini sudah tradisi/kebiasaan, dan didukung oleh kyai2, ulama2 setempat… sy yg orang awam… jadi bingung dan kalau tidak hati2 dan arif menyikapinya, malah terkucil dan dianggap “aliran baru manalagi nih?”… itu yg mengucapkan kyai lho…

  • Muhammad Guruh

    #Imam Hambali
    Suatu keprihatinan jika web ISLAM tidak menampilkan artikel PENCERAHAN, …karena sebetulnya media dakwah Ahlussunnah Waljamaah tidak hanya melalui web ini melainkan juga radio yang pancarannya lebih luas di masyarakat. Lantas siapa yang akan saling menasihati? Apakah sesama muslim akan lebih TEGA mengucilkan saudaranya ketimbang orang NON muslim yang mati dikampungnya!, dikarenakan si muslim yang satu tidak ikut mendo’akan si muslim satunya melalui tahlilan/yasinan.
    Ya Allah, satukanlah hati-hati kami di atas manhaj-MU, dan jadikanlah kami orang-orang yang mencintai-MU dan mencintai orang-orang yang mencintai-MU, karena kami tahu bahwa seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya.

  • http://www.yahoo.com Fahrul

    Assalamu`alaikum
    @ Imam Hambali
    Kalau saat itu Para Wali Songo benar2 berdakwah sesuai keadaan seperti yang anda katakan(itu pun masih harus diperiksa lagi kebenarannya),maka saya katakan anggap saja itu hasil ijtihad mereka dan kini saatnya kita perbaiki kesalahan dakwah mereka. Saya ambil contoh dahulu Imam Hanifah banyak mengambil ijtihad berdasarkan qiyas dalam hal ibadah karena saat itu belum para tabi`in banyak menyebar peselosok pedalaman sehingga beliau belum mendapat semua hadits yang ada,maka saat sudah ada hadits shahih itulah mazhab kita. Sekian dari saya. Jazakallah.

  • http://iantiawan.wordpress.com Ian

    Sungguh banyak yg ilmu yg bisa didapatkan dari web ini.Semoga para pengurus selalu mendapat rahmat dan pertolongan ALLOH SWT
    Sedikit menambahkan ttg topik ini, saya pernah mengikuti pengajian dg narasumber seorang dai yang mantan pendeta Hindu (Bpk.H.Abdul Azis). Begitu detail beliau menjelaskan bukan hanya yasinan, tapi semua jenis ritual yg ada di masyarakat kita yg lazim disebut SELAMATAN, dan beliau tuangkan dalam satu buku yang berjudul Islam Menggugat Selamatan (insyaALLOH benar gitu judulnya,krn saya hadiahkan utk seorang Hindu). Selamatan disini seperti utk orang meninggal (3hari,7hari,100,1000,dst) lalu untuk bayi (tingkeban,pitonan,dll) mendirikan rumah,dan lain sebagainya.
    Dari sini saja jelas bahwa banyak ritual yg dianggap ibadah dlm masyarakat ternyata adalah dari agama Hindu (agama mayoritas pra-Islam).Sungguh tampak jelas seperti dalam adegan pembuka film SANG PENCERAH (KH.Ahmad Dahlan,pendiri Muhammadiyah). Dan sering saya dengar pembela ritual ini karena taqlid buta pada kyai dan ber hujjah dengan kisah para Walisongo. Mohon pengurus muslim.or.id membahas sejarah Walisongo ini dilain waktu (semoga diberi kesempatan ALLOH SWT.
    Selamat berjuang saudara seiman terkasih.. :)

  • dino

    Orang-orang yg menganggap benar masalah yasinan/selamatan kematian seringkali menggunakan dalil ini :

    “Syaikh Isma’il Zain al-Yamani menulis sebagai berikut (kami kutib secara garis besar) : Dalam Sunan Imam Abu Dawud hadits no. 2894 dituliskan :

    حدثنا محمد بن العلاء أخبرنا ابن إدريس أخبرنا عاصم بن كليب عن أبيه عن رجل من الأنصار قال خرجنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في جنازة فرأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو على القبر يوصي الحافر أوسع من قبل رجليه أوسع من قبل رأسه فلما رجع استقبله داعي امرأة فجاء وجيء بالطعام فوضع يده ثم وضع القوم فأكلوا فنظر آباؤنا رسول الله صلى الله عليه وسلم يلوك لقمة في فمه ثم قال أجد لحم شاة أخذت بغير إذن أهلها فأرسلت المرأة قالت يا رسول الله إني أرسلت إلى البقيع يشتري لي شاة فلم أجد فأرسلت إلى جار لي قد اشترى شاة أن أرسل إلي بها بثمنها فلم يوجد فأرسلت إلى امرأته فأرسلت إلي بها فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم أطعميه الأسارى

    ‘Muhammad bin al-‘Ala’ menceritakan dari (Abdullah) bin Idris dari ‘Ashim bin Kulaib dari ayahnya (Kulaib) dari seorang laki-laki Anshar (shahabat), berkata: ‘Aku keluar bersama Rasulallah berta’ziyah ke salah satu jenazah. Selanjutnya aku melihat Rasulallah di atas kubur berpesan kepada penggali kubur (dengan berkata): ‘Lebarkanlah bagian arah kedua kaki dan lebarkan pula bagian arah kepala!’ Setelah Rasulallah hendak kembali pulang, tiba-tiba seseorang yang menjadi pesuruh wanita (istri mayit) menemui beliau, mengundangnya (untuk datang ke rumah wanita tersebut). Lalu Rasulallah pun datang dan diberi hidangan suguhan makanan. Kemudian Rasulallah pun mengambil makanan tersebut yang juga diikuti oleh para shahabat lain dan memakannya. Ayah-ayah kami melihat Rasulallah mengunyah sesuap makanan di mulut beliau, kemudian Rasulallah berkata: ’Aku merasa menemukan daging kambing yang diambil dengan tanpa izin pemiliknya?!’ Kemudian wanita itu berkata: ’Wahai Rasulallah, sesungguhnya aku telah menyuruh untuk membeli kambing di Baqi,[2] tapi tidak menemukannya, kemudian aku mengutus untuk membeli dari tetangga laki-laki kami dengan uang seharga (kambing tersebut) untuk dikirimkan kepada saya, tapi dia tidak ada dan kemudian saya mengutus untuk membeli dari istrinya dengan uang seharga kambing tersebut lalu oleh dia dikirimkan kepada saya.’ Rasulallah kemudian menjawab: ’Berikanlah makanan ini kepada para tawanan!’’

    Hadits Abu Dawud tersebut juga tercatat dalam Misykah al-Mashabih karya Mulla ‘Ali al-Qari bab mukjizat halaman 544 dan tercatat juga dalam as-Sunan al-Kubra serta Dala’il an-Nubuwwah, keduanya karya al-Baihaqi. ”

    Sebenarnya bagaimanakah kedudukan hadist tersebut? Mohon penjelasan. Trims.

    • Muhammad Nur Ichwan

      @dino
      hadits tersebut shahih, dishahihkan oleh al albani dalam shahih abi dawud dan misykah al mashabih. namun, sangat tidak tepat menjadikan hadits tersebut untuk membenarkan praktek yasinan/selamatan kematian yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin karena tidak ada kesamaan sama sekali.
      dari hadits ini, paling minim kita dapat menarik kesimpulan bhw diperbolehkan keluarga mayit mengundang para pelayat untuk mencicip hidangan yang disediakan. hal ini tentunya sangat jauh berbeda dgn praktek yasinan/selamatan kematian yg dilakukan sebagian kaum muslimin pada hari ke-1 sampai ke-7, ke-40, ke-100, ke-1000 saat mayit meninggal.
      penentuan waktu tsb dan praktek yasinan yg dilakukan pada selamatan kematian justru tidak disebutkan dalam hadits di atas, kalau hal itu disyari’atkan tentu dlm hadits yang saudara bawakan akan diterangkan bahwa rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat yang diundang membaca surat yasin dan bertahlil bersama-sama sebagaimana yang dipraktekkan sebagian kaum muslimin yang mendukung praktek tersebut.
      waffaqaniyallahu wa iyyahum.

  • dino

    @Imam Hambali
    Mengatakan sesuatu hal yang benar memang berat, bahkan hampir pasti dimusuhi & ditentang banyak orang. Akan tetapi jika kita benar-benar mengakui diri kita ini mencintai Rosulullah mestinya tidak hanya shalawatan saja, tetapi juga mengikuti semua ajaran & contoh2 dari beliau dan memelihara hasil pekerjaan/dakwah beliau dgn mengatakan mana yg bid’ah & mana yg bukan. Juga tidak semestinya orang-orang yg menyuarakan kemurnian ajaran Rosulullah dicap dengan pemecah belah umat. Merekalah pelaku bid’ah & syirik yg seharusnya tobat.

  • Basar Purnomo

    Ass Wr Wb
    Apakah pengobatan dengan ruqyah itu diperbolehkan dalam ajaran agama Islam ?
    Karena saya pernah membaca artikel di internet, yang mengatakan bahwa Pengobatan Ruqyah bisa menurunkan kadar tawakal seorang muslim. Seseorang yang sakit, sebaiknya bersabar saja, diperbolahkan mencari pengobatan,asal jangan ruqyah.

    Setelah membaca tulisan artikel itu saya jadi bingung tentang ruqyah, Soalnya sakit pengin sekali berobat dengan ruwyah), sehubunan dengan sakit saya pasca strokem dimana j

    Teruima kasih dan Wass Wr Wb

  • ehud

    Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) memutuskan bahwa selamatan kematian setelah hari wafat, hari ketiga, ketujuh dll adalah : MAKRUH, RATAPAN TERLARANG, BID’AH TERCELA (BID’AH MADZMUMAH), OCEHAN ORANG-ORANG BODOH.
    Berikut apa yang tertulis pada keputusan itu :

    MUKTAMAR I NAHDLATUL ULAMA (NU)
    KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926
    TENTANG
    KELUARGA MAYIT MENYEDIAKAN MAKAN KEPADA PENTAKZIAH

    TANYA :
    Bagaimana hukumnya keluarga mayat menyediakan makanan untuk hidangan kepada mereka yang datang berta’ziah pada hari wafatnya atau hari-hari berikutnya, dengan maksud bersedekah untuk mayat tersebut? Apakah keluarga memperoleh pahala sedekah tersebut?

    JAWAB :
    Menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh itu hukumnya MAKRUH, apabila harus dengan cara berkumpul bersama-sama dan pada hari-hari tertentu, sedang hukum makruh tersebut tidak menghilangkan pahala itu.

    KETERANGAN :
    Dalam kitab I’anatut Thalibin Kitabul Janaiz:
    “MAKRUH hukumnya bagi keluarga mayit ikut duduk bersama orang-orang yang sengaja dihimpun untuk berta’ziyah dan membuatkan makanan bagi mereka, sesuai dengan hadits riwayat Ahmad dari Jarir bin Abdullah al Bajali yang berkata: ”kami menganggap berkumpul di (rumah keluarga) mayit dengan menyuguhi makanan pada mereka, setelah si mayit dikubur, itu sebagai bagian dari RATAPAN (YANG DILARANG).”

    Dalam kitab Al Fatawa Al Kubra disebutkan :
    “Beliau ditanya semoga Allah mengembalikan barokah-Nya kepada kita. Bagaimanakah tentang hewan yang disembelih dan dimasak kemudian dibawa di belakang mayit menuju kuburan untuk disedekahkan ke para penggali kubur saja, dan TENTANG YANG DILAKUKAN PADA HARI KETIGA KEMATIAN DALAM BENTUK PENYEDIAAN MAKANAN UNTUK PARA FAKIR DAN YANG LAIN, DAN DEMIKIAN HALNYA YANG DILAKUKAN PADA HARI KETUJUH, serta yang dilakukan pada genap sebulan dengan pemberian roti yang diedarkan ke rumah-rumah wanita yang menghadiri proses ta’ziyah jenazah.

    Mereka melakukan semua itu tujuannya hanya sekedar melaksanakan kebiasaan penduduk setempat sehingga bagi yang tidak mau melakukannya akan dibenci oleh mereka dan ia akan merasa diacuhkan. Kalau mereka melaksanakan adat tersebut dan bersedekah tidak bertujuaan (pahala) akhirat, maka bagaimana hukumnya, boleh atau tidak?

    Apakah harta yang telah ditasarufkan, atas keingnan ahli waris itu masih ikut dibagi/dihitung dalam pembagian tirkah/harta warisan, walau sebagian ahli waris yang lain tidak senang pentasarufan sebagaian tirkah bertujuan sebagai sedekah bagi si mayit selama satu bulan berjalan dari kematiannya. Sebab, tradisi demikian, menurut anggapan masyarakat harus dilaksanakan seperti “wajib”, bagaimana hukumnya.”

    Beliau menjawab bahwa semua yang dilakukan sebagaimana yang ditanyakan di atas termasuk BID’AH YANG TERCELA tetapi tidak sampai haram (alias makruh), kecuali (bisa haram) jika prosesi penghormatan pada mayit di rumah ahli warisnya itu bertujuan untuk “meratapi” atau memuji secara berlebihan (rastsa’).

    Dalam melakukan prosesi tersebut, ia harus bertujuan untuk menangkal “OCEHAN” ORANG-ORANG BODOH (yaitu orang-orang yang punya adat kebiasaan menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh, dst-penj.), agar mereka tidak menodai kehormatan dirinya, gara-gara ia tidak mau melakukan prosesi penghormatan di atas. Dengan sikap demikian, diharapkan ia mendapatkan pahala setara dengan realisasi perintah Nabi  terhadap seseorang yang batal (karena hadast) shalatnya untuk menutup hidungnya dengan tangan (seakan-akan hidungnya keluar darah). Ini demi untuk menjaga kehormatan dirinya, jika ia berbuat di luar kebiasaan masyarakat.

    Tirkah tidak boleh diambil / dikurangi seperti kasus di atas. Sebab tirkah yang belum dibagikan mutlak harus disterilkan jika terdapat ahli waris yang majrur ilahi. Walaupun ahli warisnya sudah pandai-pandai, tetapi sebagian dari mereka tidak rela (jika tirkah itu digunakan sebelum dibagi kepada ahli waris).

    SELESAI , KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926

    REFERENSI :

     Lihat : Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Hukum Islam, Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004 M), halaman 15-17), Pengantar: Rais ‘Am PBNU, DR.KH.MA Sahal Mahfudh, Penerbit Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Jawa Timur dan Khalista, cet.III, Pebruari 2007.
     Masalah Keagamaan Jilid 1 – Hasil Muktamar dan Munas Ulama Nahdlatul Ulama Kesatu/1926 s/d/ Ketigapuluh/2000, KH. A.Aziz Masyhuri, Penerbit PPRMI dan Qultum Media.

  • tri

    assalamu’alaikum
    memang perkara surat yasin di kalangan masyarakat masih di anggap sakral,yang beranggapan menbaca surat yasin ditempat orang mati dan di sertai ritual2 7hari,40hari dst.masih jadi keyakinan kuat,tapi masih aja ada ulama dan kiyai yang ikut memeriahkan?paling tidak ulama dan kiyai harus tau aturan dong!H.S.Riwayat muslim,kan juga dah jelas manusia meninggal hanya 3 perkara yang di bawa.

  • http://arkanprinting.wordpress.com Abu Arkan

    pak ustadz logikanya beginu kl ada orang sholat dia niat nyembah ka’bah, maka yang di larang solatnya apa cara solatnya, sama juga kl ada orang tahlil bacaan pahalanya untuk mayyit dengan disertai pesta besar, mana kira2 yang pak ustad larang, tahlilnya apa pesta besarnya, maka kl pak ustad melarang baca tahlilnya sama juga kl ada orang solat nyembah ka’bah pak ustad pasti bilang kamu tidak usah solat/jangan solat karna solatmu bid’ah, saya kira pemikiran pak ustad seperti itu sangat keliru ,yang bener adalah kamu tetap jalankan solat tapi niatmu yang keliru harus di betulin, sama juga tahlil itu bagus dan terusin tapi betulin caramu, apa sih susahnya ngomong begitu, jangan asal ngomong bid’ah lah, ini lah, apa nggk tau pak kl muslimin berkumpul harus di sertai bacaan ayat qur’an agar yang berkumpul di berkahi

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #Abu Arkan
      Berbeda pak. Shalat itu ada dalilnya, tahlilan tidak ada dalilnya.

  • tommi

    @abu arkan,

    Pak, kalimatnya saya betulkan sedikit ya…

    Bapak berkata :
    “sama juga tahlil itu bagus dan terusin tapi betulin caramu”

    Yg lebih baik bilang begini pak :
    “tahlil itu bagus dan terusin tapi betulin caramu yaitu dengan melakukannya sendiri saja dan tidak dengan tahlilan.”

    Jazakalloh khoir.

  • http://www.aslamisurya.wen.ru aslamisurya

    istgfrlah bgi yg brkomen slah(trtu2p htiny dg kbudayaan),melawan ap yg sudah dibenarkn dan dluruskn sesuai alqur’an dan hadist

  • hamba yg dhaif

    assalamu’alaykum…..
    mohon pencerahannya ustadz..
    di tempat saya ada kebiasaan org melakukan takziah pada hari ke 4 atau lebih (biasanya mengambil waktu setelah acara tahlilan) kpd klrga yg baru kena musibah (meninggal):
    - snack dan minuman mereka bawa sendiri (oleh jemaah takziah)
    - membawa penceramah, untuk memberi nasehat kpd ahli musibah, diakhiri do’a bersama dan kadang-kadang membaca shalawat bersama
    - setelah ceramah, snack dan minuman yg dibawa tadi dimakan bersama-sama di rumah duka itu
    - kadang-kadang ahli musibah juga menyediakan makanan / minuman lain
    - ahli musibah mau tak mau harus menyediakan piring atau gelas untuk tempat snack dan minuman yg dibawa oleh jemaah takziah
    yg jadi pertanyaan : bagaimana hukum asal kegiatan tersebut ? mohon pencerahannya dgn sedikit mendetail ustadz
    jazakumullah khairan kasira…..

  • heda

    Ass. mas Imam Hambali semoga hatimu dapat berfikir jernih tidak tertutup karena perbuatan Bid’ah anda, Kiyai, Ajengan apakah org yg telah dima’sum dari perbuatan salah dan dosa, mas imam agama bukan utk mencari jabatan supaya dihormati, dah jelas org yg membuat tatacara ibadah hukumnya bid’ah.

  • muha

    #Imam Hambali
    “Para Wali cara berdakwah harus berbaur dengan adat istiadat waktu itu,dan itu berarti para Wali menyebarkan Islam sebagian dengan Bid’ah”

    ya…sudahlah -dengan apa yang dikerjakan- cara berdakwah oleh para wali “kalo”-meski kita tidak yakin- mereka HARUS berbaur dengan adat istiadat “mungkin saja” para wali menyebarkan Islam sebagian dengan Bid’ah. Tanggungjawabnya juga ada pada para para wali dengan apa yang mereka kerjakan “bila” mereka menyebarkan Islam sebagian dengan Bid’ah.

    “Mungkin” juga para wali tidak memakai cara berdakwah dengan TIDAK HARUS berbaur dengan adat istiadat waktu itu,dan para Wali menyebarkan Islam tidak dengan cara2 Bid’ah. Karena para wali -”tentunya”- paham tentang mana hadit dhaif dan mana hadits shahih yang akan digunakan dalam beristimbath.

    Dan tanggung jawab apa yang kita kerjakan adalah meneruskan dakwah para wali dengan tidak memakai cara2 bid`ah apalagi berdakwah tidak harus berbaur dengan adat istiadat hindu, budha, konghucu, liberal dll. Tidak pula dengan cara memburamkan yang haq dengan kebatilan. Tentunya agar tidak terjadi lagi ketika masyarakat beribadah pada Allah SWT dengan sambil tetap melakukan menyembah pohon-pohon dan sesaji di depan rumah.

  • Abu Hafizh

    begitu ana sampaikan hal ini dalam sebuah pengajian, pengurusnya bilang bahwa untuk seterusnya ana tidak boleh lagi mengisi pengajian di tempat mereka.

  • Cancereza

    Bismillah

    Untuk admin Muslim.or.id
    teruslah menyampaikan risalah manhaj salaf ini, semoga Allah merahmati da’wah antum, jangan berkecil hati kepada orang2 yg gemar menghina dan menghujat da’wah ini. Demi ALLAH sekeras apapun hujatannya, mereka tidak akan membahayakan perjalanan da’wah ini. Tinggalkan debat kusir yang tidak perlu, karena hujjah kita adalah Al-Haq, sedangkan hujjah mereka adalah kejahilan mereka sendiri. Ya ALLAH, istiqomahkan kami di atas manhaj Salaf yang mulia dan selamat ini, amin.

  • ahmad rommaris

    pokoknya yang menurut hadits tidak ada
    ya tidak ada
    jangan berkreatif membuat dasar yang tidak ada dasar

  • artawi

    memmang ssh trkdg kt kasih tau mereka malah kt d anggap penghalang bg mereka dan bahkan kt d kucilkan,itulah resiko menegakan amal ma,ruf nahi mungkar semoga allah ttp enjaga ke imanan kt dan selalau istiqomah d dalam menyebRKAN KEBAIKAN AMIN””

  • Ikhwan abimanyu

    Assallamu’ allaikum wr wb.. Pak ustd kalau sholawat bidah gk. . . . Sdgkan tahlilan membaca sholawat. . . .

  • muhib

    allah melihat hambanya dengan ketakwaannya dalam segala perbeadaan, bukan hanya alimul lisan tapi jahilul qolbi,mari kita bersatu dalam bendera islam…..

  • fando

    Assalamualaikum ustadz,

    Saya juga sangat prihatin dengan banyaknya perbuatan bid’ah yang semakin meraja lela.
    Seperti yang banyak kita lihat di acara drama/sinetron TV.
    seperti sinetron Islam KTP, begitu banyak unsur bid’ah yang ada di dalam ceritanya dan Acara bersama ustadz yg dzikir berjamaah dsb.
    Apakah ada seperti tegoran atau nashat kepada acara2 tersebut dari ustadz?
    Semakin lama itu dibiarkan,semakin banyak orang2 awam yang akan mengiyakan dan mengikutinya.
    Wallaahu a’lam

    Terimakasih
    wassalamualaikum

  • surya indra kesuma

    pak ustad..yasinan itu ibadah yg sia sia atau sudah jatuh sesat? mohon petunjuk..maslahnya saya selalu sholat dibelakang mereka (makmum)klo sesat apakah saya harus tinggalkan jemaah sholat tersbut ?

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #surya indra kesuma
      Yasinan memang bid’ah, namun pelakunya tidak serta-merta sesat atau ahli bid’ah. Andaikan ada masjid lain yang imamnya lebih mendekati sunnah, itu lebih baik. Andaikan tidak ada, maka bermakmum dengan mereka tidak mengapa.

  • abdullah

    Sejujurnya ana ingin beribadah yang sesuai dengan ibadah Nabi Saw, para Sahabat, dan para Tabi’in. Namun hanya sedikit yang bisa ana lakukan dari meniru ibadah mereka. Yang sedikit itupun kadang mendapat kendala jika ana berada disuatu kaum yang melakukan ibadah yang tidak ada contohnya. Ana menginginkan suatu kaum yang beribadah meniru ibadah Nabi Saw, para Sahabat, dan para Tabi’in tanpa ada perubahan atau tambahan atau pengurangan. Rasanya mungkin bagaikan sorganya dunia. Kehidupan yang aman tenang dan nyaman. Saling menghormati dan menghargai. Karena sejujurnya ana terkadang merasa ga nyaman jika ada kaum yang gaduh dalam beribadah, yang ibadah tersebut biasanya tidak ada contohnya dari Nabi Saw, para Sahabat, dan para Tabi’in. Misalnya: Maulidan di panggung dengan pengras suara, atau ibadah lainnya yang pake pengeras suara yang biasanya ibadah tersebut tidak ada contohnya dari Nabi Saw, para Sahabat, dan para Tabi’in, Sedangkan yang ada contohnya biasanya tidak digembor-gemborkan atau tidak disyi’ar-syiarkan, misalnya: Tilawah Al-Qur’an dirumah atau dikantor atau diperjalanan, mampir sejenak ke masjid untuk sholat berjama’ah diawal waktu, berpenampilan yang islami yaitu, tidak isbal bagi laki-laki dan barjenggot, berjilbab besar bagi perempuan dan warna jilbab yang gelap. Adab makan dan minum, adab buang hajat, adab tidur barikut doanya, dan masih banyak lagi sunnah-sunnah yang ada contohnya dan perintahnya yang belum diamalkan semua. Hanya segelintir orang yang mengamalkan ini, sedangkan tidak ada contohnya, misalnya; maulidan dll sangat meriah… mengapa hal ini terjadi? seolah-olah amalan Nabi Saw, para Sahabat, dan para Tabi’in ini asing bahkan menjadi bahan omongan orang, yang orang tersebut mengatakan: “Disinikan bukan pesantren, jadi umum orang saja, jangan aneh, jangan lain sendiri”. Ini kenyataan ditempat yang kaumnya tidak terbiasa dengan sunnah yang dicontohkan Nabi Saw, para Sahabat, dan para Tabi’in. Laa Haula walala Quwwata illabillaah..

  • nada ghita

    assalamu’alaikum pak ustadz saya mau bertanya apakah shalat shubuh harus selalu ada qunut

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #nada ghinta
      Pendapat yang benar, shalat subuh itu tidak perlu qunut.

  • http://www.wahyu_cah_kiran.xtgem.com/ Muhamad Wahyu Hidayat

    Assalamu’alaikum Wr.Wb.
    Ustad, sebenarnya sdh lama saya membenci acara Yaasiinan dan Tahlilan. Dan saya sdh memperingatkan beberapa teman saya. Namun yang nurut hanya 1 orang. Yang lain tidak setuju dengan saya, bahkan ada yang muak dengan saya.
    PERTANYAAN:
    “Sebaiknya apakah saya harus menjauhi teman-teman yang menyimpang tadi atau tidak?”
    Sukron.
    Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #Muhammad Wahyu Hidayat
      Sebaiknya didakwahi dengan sabar dan lemah lembut.

  • neni three ana

    ‎​السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُُ
    Ustad, beberapa wkt yg lalu ibu kami meninggal dunia. Ad yg mengatakan setiap amal kbaikan yg kami lakukan (misal infaq) dll, bila diniatkan untuk ibu akan sampai pahalanya kepada beliau. Jadi tidak hanya do’a dr anak yg sholih yg sampai. Tp amalan sholih anak jg akan sampai kepada org tua bila itu diniatkan untuk blw. Betulkah itu ustad? Adakah hadits shohih yg berkaitan dg hal ini? Atas jawabannya saya ucapkan jazakallahu khairan..

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #neni three ana
      Bagi seorang anak, doa dan amal shalih insya Allah sampai kepada orang tuanya yang meninggal.

  • ahmad rommaris

    masyarakat islam khususnya NU tentu mengidamkan menjadi Ahlussunnahwaljamaah

    FAKTA:::mereka [NU] tak mau dikecam bidah terus menerus, karena mereka sudah terlanjur masuk..
    dan sulit untuk merentas

    namun mereka mungkin mau jika diajak untuk melaksanakan sunnah…

    pertannyaan::
    bagaimana cara mengajak mereka agar mau berpikir dan mengubah cara pikir mereka tentang bidah dan mau melaksanakan sunnah

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #ahmad rommanis
      Dengan ilmu, lalu amal, lalu dakwah, dan bersabar dalam dakwah.

  • sukamto

    JIKA YASINAN DAN TAHLILAN ADALAH SUATU KEBAIKAN, TENTU NABI DAN PARA SAHABAT SUDAH MENGAMALKANNYA.

  • jaka

    tidak mudah untuk merubah pandangan dimasyarakat tentang yasinan dan tahlilan

    • abu

      Masyarakat biasanya cuman ikut ikutan aja, yang ngeyel dan pinter berargumen biasanya kiyai nya.. ada rasa gengsi (masa saya bergelar kiyai bisa salah sih)

  • Asni

    afwan . ralat ya..
    seperti yang antum tuliskan di atas.
    “Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang mati itu mendengar.” (Terjemah An-Nahl: 80). coba diperiksa lagi itu bukan terjemahan dari QS. An -Nahl, tetapi QS. An-Naml : 80. Smoga kita lebih hati-hati

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      @ Asni
      Jazakumullah khoiron atas koreksiannya

  • zzzzz

    Nabi saw pernah mengatakan dalam khutbah-khutbahnya: Amma ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhamad, dan seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan, dan setiap yang diada-adakan adalah kesesatan ” (HR: Muslim, Ahmad, Ibnu Majah). Dan Imam Nasa’I meriwayatkan dengan lafadz yang artinya: ” Dan seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan dan setiap yang diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan adalah di neraka). Barang siapa yang ingin selamat, maka ia harus mengikuti sunnah dan menghindari setiap bid’ah. Rasulullah saw bersabda:
    عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي، تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور، فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة
    ” Hendaklah kalian mengikuti sunnahku dan sunnah para khulafa’urisyidin yang diberi petunjuk setelahku, pegang teguhlah ia, gigitlah dengan gigi geraham, hindarilah oleh kalian segala perkara yang diada-adakan, karena setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan ” (HR: Ahmad dan ashabussunan, dan disohihkan oleh Tirmizi, Hakim dan Dzahabi). Ibnu Mas’ud r.a. berkata: Ikutilah dan jangan mengada-ada, karena kalian telah dicukupi “, dan benar orang mengatakan: Sebaik-baik urusan adalah yang telah lalu di atas petunjuk, dan seburuk-buruk urusan adalah yang baru-baru yang diada-adakan.

  • gusti rahsellasna

    NAH MR ZZZZZ FAHAMNYA SAMA DENGAN ANA,…KEBANYAKAN ORANG SEKARANG INI IKUT IKUTAN,..

  • goswan

    ustad! saya mau tanya.. apabila seseorag mninggal dunia putus semua amalnya, kcuali tiga perkara, sodaqoh jariyah, ilmu yang manfa’at, doa anak yang sholih. kbtulan hingga saat mnikah blm punya anak, jikalau saya mati siapa nti yg menolong sy slain amalan2 pribadi? mgkn sj juta’an orng tua akan dislmtkn dr neraka oleh seorang anak? krn dia pnya anak yg sholih!
    ustad!tolong saran2nya!

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #goswan
      Doa orang yang hidup sampai kepada orang yang mati.

  • noe

    “Pendapat yang benar, shalat subuh itu tidak perlu qunut.”

    Imam Malik berpendapat bahwa qunut pada shalat shubuh itu hukumnya bid’ah tetapi Imam Asy-syafi’i berpendapat bahwa qunut pada shalat shubuh itu sunnah muakkadah karena beliau menemukan dalil-dalilnya.

    Pernah dengerin ceramah kalo Imam Malik domisilinya menetap dan tidak menemukan dalilnya sehingga wajar beliau berpendapat bahwa qunut pada shalat subuh bidah, sedangkan Imam Syafi’i berpindah-pindah/berkelana dan menemukan dalilnya sehingga beliau berpendapat bahwa qunut pada shalat subuh Sunnah muakkadah.

  • Thamrin

    Ass.Wr.Wb.
    Alhamdulillah dengan membaca komentar dan rujukan mengenai yasinan yang sudah membudaya di-masyarakat kita, kini menjadi jelas. Namun bagaimana bila ber-do’a, berzikir sambil membaca surat yasin yang sesuai adab berdo’a dan adab membaca qur’an yang sering saya saksikan yaitu : membaca “Yasin Fadilah” dimana dalam bacaan surat yasin tersebut berisi sholawat nabi, zikir & membaca do’a sampai tiga kali dan pada penutup berdo’a secara khusus. Mohon penjelasannya, Dzazakallahu Khairan.

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #Thamrin
      Amalan seperti tidak pernah diajarkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam

  • http://www.islam.syaikhul.com syaikhul islam

    surah an naml 80
    al imam asy syaukani dlm tafsirnya “fathul qadiir .. ttg ayat diatas “hal itu dikarenakan apabila ia mengetahui, bahwasanya keadaan mrk (kaum kafir) seperti halnya org mati dlm hal ketidak mampuan mengambil faedah dg pendengaran. atau seperti org yg tuli yg tdk dpt memdengar, memahami dan tdk dpt diberi petunjuk. yg itu menjadi satu sebab kuat dlm ketiadaan pelanggaran dgnya. Allah telah menyerupakan mrk (kaum kafir) dg org mati yg tdk mempunyai rasa dan akal. mereka juga diserupakan dg org tuli yg tdk dpt mendengarkan nasihat dan menjwab panggilan atau seruan kpd Allah.
    lihat juga tafsir ibnu katsir

  • rahmat cideres

    wahai saudaraku yg msh keras hatinya,mempertahankan kebiasaan dan budaya nenek moyang dulu.sudah masanya kembali ke sunnah rosul dan kitabulloh.tinggalkan sgl bid’ah dlm agama,tinggikan sunnah biar tak menyesal nanti……..

    • abu

      Saya sering liat orang orang bule yang masuk islam, kebanyakan dari mereka islam yang dipelajari masih murni karena mereka mempelajari agama berdasarkan alquran dan hadist, bahkan mereka merasa aneh apabila melihat umat islam lain yang beribadah agama yang nyeleneh.. (para mualaf itu bilang. Ini orang lagi pada ngapain yah? Kalo lagi ibadah dari mana asal usul nya kenapa gak ada di alquran dan hadis?) Orang bule ini Mereka masih merasa bodoh dalam agama jadi mereka sangat betul ingin tau dan ingin beribadah dengan betul, gak seperti kita yang islam nya keturunan, merasa sudah pinter sehingga kalo dinasehati malah gengsi mencari argumen mencari dalil dalil dan mencoba di sambung sambung sendiri.. otak atik gatuk,..

  • nasibah

    subhanauloh ustd….ana sangat setuju yang dijelaskan ustad…..
    afwan sebelumnya ustd,ana ingn bertanya bagaimana hukumnya jika qta sdh pham bahwa yasinan tidak ad dalil yang menjelskn, namun karena ketidk mampun ana untuk menolak maka ana tetap hadir namun ana tidak membacanya,tp selama orng2 yasinan ana hanya terus beristifar,krn jika ana ungkapkan sekarang apa yang ana pahami mudhorotnya lebih besar?
    kemudian bagaiman pendapt ustd ttg perkataan berikut:”kalau memeng yasinan itu bid’ah pasti semua tokoh agama diseluruh dunia akan melarangnya?
    jazakillah khoiron katsir

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      @ Nasibah

      Allah Ta’ala berfirman,
      وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا
      Dan orang-orang yang tidak melakukan perbuatan zuur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al Furqon: 72). Di antara makna perbuatan zuur adalah perbuatan maksiat.

      Ayat ini menunjukkan: Sifat hamba beriman juga tidak menghadiri perbuatan maksiat seperti majelis berisi dusta, pengkhianatan dan persaksian palsu, begitu pula yang dimaksud adalah menghadiri acara yasinan.

      Jika kita punya ilmu, jelaskan secara baik2 pada warga, moga mereka mendapatkan hidayah. Jika tidak mampu, lebih baik tidak menghadirinya.

  • Hadi S

    Pak Ustad! saya mau tanya..Gimana sebaiknya bila saya diundang yasinan dan tahlilan tetangga untuk memperingati 7 hari orang yang meninggal, datang dan ikut yasinan dan tahlilan atau sekedar datang aja ga ikut baca yasin dan tahlil? Kalau ga datang juga ga enak sudah di undang kok ga datang…

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #Hadi S
      Kalau anda datang, seharusnya anda merasa ‘engga enak’ kepada Allah, karena anda melanggar hukum Allah padahal sudah tahu.

  • ibnu sabil

    ya Allah, jadikan kami semua orang yang mempunyai rasa terimakasih kepada kekasihmu.. yang telah berjasa dengan lmu mereka, menyampaikan risalahmu kepada kami..
    tidak mungkin seseorang yang mmpunyai posisi auliya’ disisi Allah adalah org yang salah memberikan tuntunan dalam beribadah…

  • ucok eryanto

    Sampaikanlah walaupun hanya satu ayat….lalu bagaimana memperbaiki faham yg sudah mendarah daging dinegeri ini….Astagfirullah al’adzim….seakan memberikan kebaikan tapi sebenarnya hanyasia-sia karena hadist lemas dan palsu!!!

  • mc cholily

    Bagimana hukumnya memperingati hari ulang tahun/milad organisasi yang didalamnya diperingati dengan berbagai lomba,seminar dan tasyakuran? Apakah termasuk bid’ah? Apabila tidak bid’ah apa dasar hukumnya yang membolehkan?

  • http://imamasad.wordpress.com Mr. Kojan

    sadar dan tidak kita sedang diperbudak oleh akal fikiran dan nafsu
    terbukti jelas bahwa agama diturunkan untuk dipedomani dijadikan
    sandaran hidup bukan mencari hidup melalui otak atik ayat-hadits
    memang hidup di jaman ini berbeda dengan jaman para nabi dan rosul
    wahai kaum yang berfikir: ingatlah smua yang difatwakan para aulia
    jadikan pelajaran dan hikmah bagi kita semua.

  • yodjim

    Assalamu ‘alaikum wr wb.
    Mohon izin untuk menyalin artikel-artikel yang dimuat di situs muslim.or.id yang bagi kami bermanfaat menambah wawasan pengetahuan dan pemahaman guna lebih meyakini kebenaran kalam Allah Ta’aala dan sunnah Rasul Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam. Jazakallaahu khairan katsiira.

  • Pingback: Yasinan : Bid’ah Yang Dianggap Sunnah | SiteQuu

  • http://www.smsslide.net Sutrisno, S.Pd

    Allahumma Sholli Ala Muhammad.

    Lanjutkan Diskusinya.

  • Noor Akhmad Setiawan

    Assalaamu’alaikum

    Apakah hadis dengan terjemahan ini sudah dicek lafadz Arabnya?
    “Dari Abu Hurairah, dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam: Janganlah kamu khususkan malam Jum’at untuk melakukan ibadah yang tidak dilakukan pada malam-malam yang lain.” (HR. Muslim).

    Dari artikel ‘Yasinan: Bid’ah yang Dianggap Sunnah — Muslim.Or.Id’

    Sebab ada yang menuduh penulis sengaja mengubah arti dari hadis itu yang seharusnya larang shalat diubah menjadi ibadah. Saya sudah cek di Sahih Muslim memang lafadznya adalah larangan mengkhususkan qiyam (shalat malam) di malam Jum’at.

  • Pingback: PENYELEWENGAN HADIS OLEH SALAFI | Generasi Salafus Sholeh

  • arip broniss

    makasih pk atas ilmunya…!!

  • gusjan

    sy suka membaca sejarah apa saja, termasuk sejarah

    kehidupan Rosululloh SAW. Beliau memiliki 6 anak.

    Pertama laki2 bernama Qosim (meninggal sewaktu

    masih kecil), yang empat orang perempuan, termasuk

    Fatimah dan yg terakhir Ibramim (meninggal sewaktu

    masih kecil).
    Ketika Nabi masih hidup, putra-putri beliau yg

    meninggal tidak satupun di TAHLILI, kl di do’akan

    sudah pasti, karena mendo’akan orang tua,

    mendo’akan anak, mendo’akan sesama muslim amalan

    yg sangat mulia.

    Ketika NABI wafat, tdk satu sahabatpun yg TAHLILAN

    untuk NABI,
    padahal ABU BAKAR adalah mertua NABI,
    UMAR bin KHOTOB mertua NABI,
    UTSMAN bin AFFAN menantu NABI 2 kali malahan,
    ALI bin ABI THOLIB menantu NABI.
    Apakah para sahabat BODOH….,
    Apakah para sahabat menganggap NABI hewan….

    (menurut kalimat sdr sebelah)
    Apakah Utsman menantu yg durhaka.., mertua

    meninggal gk di TAHLIL kan…
    Apakah Ali bin Abi Tholib durhaka.., mertua

    meninggal gk di TAHLIL kan….
    Apakah mereka LUPA ada amalan yg sangat baik,

    yaitu TAHLIL an koq NABI wafat tdk di TAHLIL i..

    Saudaraku semua…, sesama MUSLIM…
    saya dulu suka TAHLIL an, tetapi sekarang tdk

    pernah sy lakukan. Tetapi sy tdk pernah mengatakan

    mereka yg tahlilan berati begini.. begitu dll.

    Para tetangga awalnya kaget, beberapa dr mereka

    berkata:” sak niki koq mboten nate ngrawuhi

    TAHLILAN Gus..”
    sy jawab dengan baik:”Kanjeng Nabi soho putro

    putrinipun sedo nggih mboten di TAHLILI, tapi di

    dongak ne, pas bar sholat, pas nganggur leyeh2,

    lan sakben wedal sak saget e…? Jenengan Tahlilan

    monggo…, sing penting ikhlas.., pun ngarep2

    daharan e…”
    mereka menjawab: “nggih Gus…”.

    sy pernah bincang-bincang dg kyai di kampung saya,

    sy tanya, apa sebenarnya hukum TAHLIL an..?
    Dia jawab Sunnah.., tdk wajib.
    sy tanya lagi, apakah sdh pernah disampaikan

    kepada msyarakat, bahwa TAHLILAN sunnah, tdk

    wajib…??
    dia jawab gk berani menyampaikan…, takut timbul

    masalah…
    setelah bincang2 lama, sy katakan.., Jenengan

    tetap TAHLIl an silahkan, tp cobak saja

    disampaikan hukum asli TAHLIL an…, sehingga

    nanti kita di akhirat tdk dianggap menyembunyikan

    ILMU, karena takut kehilangan anggota.., wibawa

    dll.

    Untuk para Kyai…, sy yg miskin ilmu ini,

    berharap besar pada Jenengan semua…., TAHLIL an

    silahkan kl menurut Jenengan itu baik, tp sholat

    santri harus dinomor satukan..
    sy sering kunjung2 ke MASJID yg ada pondoknya.

    tentu sebagai musafir saja, rata2 sholat jama’ah

    nya menyedihkan.
    shaf nya gk rapat, antar jama’ah berjauhan, dan

    Imam rata2 gk peduli.
    selama sy kunjung2 ke Masjid2 yg ada pondoknya,

    Imam datang langsung Takbir, gk peduli tentang

    shaf…

    Untuk saudara2 salafi…, jangan terlalu keras

    dalam berpendapat…
    dari kenyataan yg sy liat, saudara2 salfi memang

    lebih konsisten.., terutama dalam sholat.., wabil

    khusus sholat jama’ah…
    tapi bukan berati kita meremehkan yg lain.., kita

    do’akan saja yg baik…
    siapa tau Alloh SWT memahamkan sudara2 kita kepada

    sunnah shahihah dengan lantaran Do’a kita….

    demikian uneg2 saya, mohon maaf kl ada yg tdk

    berkenan…
    semoga Alloh membawa Ummat Islam ini kembali ke

    jaman kejayaan Islam di jaman Nabi…, jaman

    Sahabat.., Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in
    Amin ya Robbal Alamin

  • danyza pedro

    YANG PENTING HABLUMINANNAS TTP TERJAGA.
    JAGAN MENGKHUSUSKAN 1 SAJA YAITU HABLUMINALLAH

  • sardjito wiwoho

    Kalau yg kita contoh Nabi Muhammad, betul kata g u s j a n bahwa kanjeng Nabi tidak menyelenggarakan Tahlilan untuk keluarga maupun shahabatnya. Aku sekarang baru sadar , aku tobattt….

@muslimindo

    Message: Rate limit exceeded, Please check your Twitter Authentication Data or internet connection.