radio muslim

Yahudi Bukan Israel

Kategori: Manhaj

91 Komentar // 9 Mei 2008

Sungguh sangat memprihatinkan, banyak di antara kaum muslimin sering tidak sadar dan lepas kontrol ketika berbicara. Tidak hanya terjadi pada orang awam, bisa kita katakan juga terjadi pada sebagian besar pelajar atau bahkan mereka yang merasa memiliki banyak tsaqafah islamiyah.

Barangkali mereka lupa atau mungkin tidak tahu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لاَ يُلْقِى لَهَا بَالاً يَهْوِى بِهَا فِى جَهَنَّم

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya ada seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan murka Allah, diucapkan tanpa kontrol akan tetapi menjerumuskan dia ke neraka.” (HR. Al Bukhari 6478)

Al Hafidz Ibn Hajar berkata dalam Fathul Bari ketika menjelaskan hadis ini, yang dimaksud diucapkan tanpa kontrol adalah tidak direnungkan bahayanya, tidak dipikirkan akibatnya, dan tidak diperkirakan dampak yang ditimbulkan. Hal ini semisal dengan firman Allah ketika menyebutkan tentang tuduhan terhadap Aisyah:

وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْد اللَّه عَظِيم

“Mereka sangka itu perkara ringan, padahal itu perkara besar bagi Allah.” (QS. An-Nur: 15)

Oleh karena itu, pada artikel ini -dengan memohon pertolongan kepada Allah- penulis ingin mengingatkan satu hal terkait dengan ayat dan hadis di atas, yaitu sebuah ungkapan penamaan yang begitu mendarah daging di kalangan kaum muslimin, sekali lagi tidak hanya terjadi pada orang awam namun juga terjadi pada mereka yang mengaku paham terhadap tsaqafah islamiyah. Ungkapan yang kami maksud adalah penamaan YAHUDI dengan ISRAEL. Tulisan ini banyak kami turunkan dari sebuah risalah yang ditulis oleh Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali hafidzhahullah yang berjudul “Penamaan Negeri Yahudi yang Terkutuk dengan Israel”.

Tidak diragukan bahkan seolah telah menjadi kesepakatan dunia termasuk kaum muslimin bahwa negeri yahudi terlaknat yang menjajah Palestina bernama Israel. Bahkan mereka yang mengaku sangat membenci yahudi -sampai melakukan boikot produk-produk yang diduga menyumbangkan dana bagi yahudi- turut menamakan yahudi dengan israel. Akan tetapi sangat disayangkan tidak ada seorang pun yang mengingatkan bahaya besar penamaan ini.

Perlu diketahui dan dicamkan dalam benak hati setiap muslim bahwa ISRAIL adalah nama lain dari seorang Nabi yang mulia, keturunan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yaitu Nabi Ya’qub ‘alaihis salam. Allah ta’ala berfirman:

كُلُّ الطَّعَامِ كَانَ حِلًّا لِبَنِي إِسْرَائِيلَ إِلَّا مَا حَرَّمَ إِسْرَائِيلُ عَلَى نَفْسِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ تُنَزَّلَ التَّوْرَاةُ

“Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil melainkan makanan yang diharamkan oleh Israil untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan.” (QS. Ali Imran: 93)

Israil yang pada ayat di atas adalah nama lain dari Nabi Ya’qub ‘alaihis salam. Dan nama ini diakui sendiri oleh orang-orang yahudi, sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Ibn Abbas radhiallahu ‘anhu: “Sekelompok orang yahudi mendatangi Nabi untuk menanyakan empat hal yang hanya diketahui oleh seorang nabi. Pada salah satu jawabannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Apakah kalian mengakui bahwa Israil adalah Ya’qub?” Mereka menjawab: “Ya, betul.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ya Allah, saksikanlah.” (HR. Daud At-Thayalisy 2846)

Kata “Israil” merupakan susunan dua kata israa dan iil yang dalam bahasa arab artinya shafwatullah (kekasih Allah). Ada juga yang mengatakan israa dalam bahasa arab artinya ‘abdun (hamba), sedangkan iil artinya Allah, sehingga Israil dalam bahasa arab artinya ‘Abdullah (hamba Allah). (lihat Tafsir At Thabari dan Al Kasyaf ketika menjelaskan tafsir surat Al Baqarah ayat 40)

Telah diketahui bersama bahwa Nabi Ya’qub adalah seorang nabi yang memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah ta’ala. Allah banyak memujinya di berbagai ayat al Qur’an. Jika kita mengetahui hal ini, maka dengan alasan apa nama Israil yang mulia disematkan kepada orang-orang yahudi terlaknat. Terlebih lagi ketika umat islam menggunakan nama ini dalam konteks kalimat yang negatif, diucapkan dengan disertai perasaan kebencian yang memuncak; Biadab Israil… Israil bangsat… Keparat Israil… Atau dimuat di majalah-majalah dan media massa yang dinisbahkan pada islam, bahkan dijadikan sebagai Head Line News; Israil membantai kaum muslimin… Agresi militer Israil ke Palestina… Israil penjajah dunia…. Dan seterusnya… namun sekali lagi, yang sangat fatal adalah ketika hal ini diucapkan tidak ada pengingkaran atau bahkan tidak merasa bersalah.

Mungkin perlu kita renungkan, pernahkah orang yang mengucapkan kalimat-kalimat di atas merasa bahwa dirinya telah menghina Nabi Ya’qub ‘alaihis salam? pernahkah orang-orang yang menulis kalimat ini di majalah-majalah yang berlabel islam dan mengajak kaum muslimin untuk mengobarkan jihad, merasa bahwa dirinya telah membuat tuduhan dusta kepada Nabi Ya’qub ‘alaihis salam? mengapa mereka tidak membayangkan bahwasanya bisa jadi ungkapan-ungkapan salah kaprah ini akan mendatangkan murka Allah – wal ‘iyaadzu billaah – karena isinya adalah pelecehan dan tuduhan bohong kepada Nabi Ya’qub ‘alaihis salam. Mengapa tidak disadari bahwa Nabi Ya’qub ‘alaihis salam tidak ikut serta dalam perbuatan orang-orang yahudi dan bahkan beliau berlepas diri dari perbuatan mereka yang keparat. Pernahkah mereka berfikir, apakah Nabi Israil ‘alaihis salam ridha andaikan beliau masih hidup?!

Allah ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

“Orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al Ahzab: 58)

Allah menyatakan, menyakiti orang mukmin biasa laki-laki maupun wanita sementara yang disakiti tidak melakukan kesalahan dianggap sebagai perbuatan dosa, bagaimana lagi jika yang disakiti adalah seorang Nabi yang mulia, tentu bisa dipastikan dosanya lebih besar dari pada sekedar menyakiti orang mukmin biasa.

Satu hal yang perlu disadari oleh setiap muslim, penamaan negeri yahudi dengan Israil termasuk salah satu di antara sekian banyak konspirasi (makar) yahudi terhadap dunia. Mereka tutupi kehinaan nama asli mereka YAHUDI dengan nama Bapak mereka yang mulia Nabi Israil ‘alaihis salam. Karena bisa jadi mereka sadar bahwa nama YAHUDI telah disepakati jeleknya oleh seluruh dunia, mengingat Allah telah mencela nama ini dalam banyak ayat di Al-Qur’an.

Kita tidak mengingkari bahwa orang-orang yahudi merupakan keturunan Nabi Israil ‘alaihis salam, akan tetapi ini bukan berarti diperbolehkan menamakan yahudi dengan nama yang mulia ini. Bahkan yang berhak menyandang nama dan warisan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan para nabi yang lainnya adalah kaum muslimin dan bukan yahudi yang kafir. Allah ta’ala berfirman:

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Ali Imran: 67)

إن أولى الناس بإبراهيم للذين اتبعوه وهذا النبي والذين آمنوا والله ولي المؤمنين

“Sesungguhnya orang yang paling berhak terhadap Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini, beserta orang-orang yang beriman, dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 68)

Semoga Allah memberikan taufik kepada kita dan seluruh kaum muslimin untuk mengucapkan dan melakukan perbuatan yang dicintai dan di ridai oleh Allah ta’ala.

* * *

“Sedikitpun kami tidak berniat menghina Nabi Ya’qub ‘alaihis salam dalam penggunaan kalimat-kalimat ini sebaliknya, yang kami maksud adalah yahudi…”

Barangkali ini salah satu pertanyaan yang akan dilontarkan oleh sebagian kaum muslimin ketika menerima nasihat ini. Maka jawaban singkat yang mungkin bisa kita berikan: Justru inilah yang berbahaya, seseorang melakukan sesuatu yang salah namun dia tidak sadar kalau dirinya sedang melakukan kesalahan. Bisa jadi hal ini tercakup dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu di atas. Bukankah semua pelaku perbuatan bid’ah tidak berniat buruk ketika melakukan kebid’ahannya, namun justru inilah yang menyebabkan dosa perbuatan bid’ah tingkatannya lebih besar dari melakukan dosa besar.

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah di Mekkah, Orang-orang musyrikin Quraisy mengganti nama Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Mudzammam (manusia tercela) sebagai kebalikan dari nama asli Beliau Muhammad (manusia terpuji). Mereka gunakan nama Mudzammam ini untuk menghina dan melaknat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. misalnya mereka mengatakan; “terlaknat Mudzammam”, “terkutuk Mudzammam”, dan seterusnya. Dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak merasa dicela dan dilaknat, karena yang dicela dan dilaknat orang-orang kafir adalah “Mudzammam” bukan “Muhammad”, Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ألا تعجبون كيف يصرف الله عني شتم قريش ولعنهم يشتمون مذمماً ويلعنون مذمماً وأنا محمد

“Tidakkah kalian heran, bagaimana Allah mengalihkan dariku celaan dan laknat orang Quraisy kepadaku, mereka mencela dan melaknat Mudzammam sedangkan aku Muhammad.” (HR. Ahmad & Al Bukhari)

Meskipun maksud orang Quraisy adalah mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun karena yang digunakan bukan nama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam maka Beliau tidak menilai itu sebagai penghinaan untuknya. Dan ini dinilai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bentuk mengalihkan penghinaan terhadap dirinya. Oleh karena itu, bisa jadi orang-orang Yahudi tidak merasa terhina dan dijelek-jelekkan karena yang dicela bukan nama mereka namun nama Nabi Ya’qub ‘alaihis salam.

Di samping itu, Allah juga melarang seseorang mengucapkan sesuatu yang menjadi pemicu munculnya sesuatu yang haram. Allah melarang kaum muslimin untuk menghina sesembahan orang-orang musyrikin, karena akan menyebabkan mereka membalas penghinaan ini dengan menghina Allah ta’ala. Allah berfirman:

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa ilmu.” (QS. Al An’am: 108)

Allah ta’ala melarang kaum muslimin yang hukum asalnya boleh atau bahkan disyari’atkan – menghina sesembahan orang musyrik – karena bisa menjadi sebab orang musyrik menghina Allah subhanahu wa ta’ala. Dan kita yakin dengan seyakin-yakinnya, tidak mungkin para sahabat radhiyallahu ‘anhum yang menyaksikan turunnya ayat ini memiliki niatan sedikitpun untuk menghina Allah ta’ala. Maka bisa kita bayangkan, jika ucapan yang menjadi sebab celaan terhadap kebenaran secara tidak langsung saja dilarang, bagaimana lagi jika celaan itu keluar langsung dari mulut kaum muslimin meskipun mereka tidak berniat untuk menghina Nabi Israil ‘alaihis salam.

* * *

Cuma sebatas istilah, yang pentingkan esensinya… bahkan para ulama’ memiliki kaidah “Tidak perlu memperdebatkan istilah.”

Di atas telah dipaparkan bahwa menamakan negeri yahudi dengan Israil merupakan celaan terhadap Nabi Israil ‘alaihis salam, baik langsung maupun tidak langsung, baik diniatkan untuk mencela maupun tidak, semuanya dihitung mencela Nabi Israil ‘alaihis salam tanpa terkecuali. Dan kaum muslimin yang sejati selayaknya tidak meremehkan setiap perbuatan dosa atau perbuatan yang mengundang dosa. Karena dengan meremahkannya akan menyebabkan perbuatan yang mungkin nilainya kecil menjadi besar. Sebagaimana dijelaskan oleh sebagian ulama bahwa di antara salah satu penyebab dosa kecil menjadi dosa besar adalah ketika pelakunya meremehkan dosa kecil tersebut.

Bahkan kita telah memahami bahwa mencela, menghina, melakukan tuduhan dusta kepada seorang Nabi adalah dosa besar. Akankah hal ini kita anggap ini biasa?! Sekali lagi, akan sangat membahayakan bagi seseorang, ketika dia mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan murka Allah, sementara dia tidak sadar. Mereka sangka itu perkara ringan, padahal itu perkara besar bagi Allah. (QS. An-Nur: 15)

Untuk kaidah “Tidak perlu memperdebatkan istilah”, kita tidak mengingkari keabsahan kaidah ini mengingat ungkapan tersebut merupakan kaidah yang masyhur di kalangan para ulama’. Akan tetapi maksud kaidah ini tidaklah melegalkan penamaan Yahudi dengan Israel. Karena kaidah ini berlaku ketika makna istilah tersebut sudah diketahui tidak menyimpang, sebagaimana yang dipaparkan oleh Abu Hamid Al Ghazali dalam bukunya Al Mustashfaa fi Ilmil Ushul.

Istilah Israil untuk negeri yahudi telah menjadi konsensus (kesepakatan) dunia. Kita cuma ikut-ikutan…

Setiap kaum muslimin selayaknya berusaha menjaga syi’ar-syi’ar islam, misalnya dengan belajar bahasa arab (baik lisan maupun tulisan), menghafalkan Al Qur’an, dan termasuk dalam hal ini adalah membiasakan diri untuk menggunakan istilah-istilah yang Allah gunakan dalam Al Qur’an atau dalam hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selama istilah tersebut dapat dipahami orang lain.

Sebagai bentuk pemeliharaan terhadap syi’ar islam, para sahabat terutama Umar Ibn Al Khattab radhiyallahu ‘anhu sangat menekankan agar umat islam mempelajari bahasa arab. Beliau pernah mengatakan: “Pelajarilah bahasa arab, karena itu bagian dari agama kalian.” Beliau juga mengatakan: “Hati-hati kalian dengan bahasa selain bahasa arab.” Umar radhiyallahu ‘anhu membenci kaum muslimin membiasakan diri dengan berbicara selain bahasa arab tanpa ada kebutuhan, dan ini juga yang dipahami oleh para sahabat lainnya radhiyallahu ‘anhum. Mereka (para sahabat radhiyallahu ‘anhum) menganggap bahasa arab sebagai konsekuensi agama, sedangkan bahasa yang lainnya termasuk syi’ar kemunafikan. Karena itu, ketika para sahabat berhasil menaklukkan satu negeri tertentu, mereka segera mengajarkan bahasa arab kepada penduduknya meskipun penuh dengan kesulitan. (lihat Muqaddimah Iqtidla’ Shirathal Mustaqim, Syaikh Nashir al ‘Aql)

Dalam bahasa arab, waktu sepertiga malam yang awal dinamakan ‘atamah. Orang-orang arab badui di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki kebiasaan menamai shalat Isya’ dengan nama waktu pelaksanaan shalat isya’ yaitu ‘atamah. Kebiasaan ini kemudian diikuti oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum dengan menamakan shalat isya’ dengan shalat ‘atamah. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mereka melalui sabdanya:

لا يغلبنكم الأعراب على اسم صلاتكم فإنها العشاء إنما يدعونها العتمة لإعتامهم بالإبل لحلابها

“Janganlah kalian ikut-ikutan orang arab badui dalam menamai shalat kalian, sesungguhnya dia adalah shalat Isya’, sedangkan orang badui menamai shalat isya dengan ‘atamah karena mereka mengakhirkan memerah susu unta sampai waktu malam.” (HR. Ahmad, dinyatakan Syaikh Al Arnauth sanadnya sesuai dengan syarat Muslim)

Al Quthuby mengatakan: “Agar nama shalat isya’ tidak diganti dengan nama selain yang Allah berikan, dan ini adalah bimbingan untuk memilih istilah yang lebih utama bukan karena haram digunakan dan tidak pula menunjukkan bahwa penggunaan istilah ‘atamah tidak diperbolehkan, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menggunakan istilah ini dalam hadisnya…” (‘Umdatul Qori Syarh Shahih Al Bukhari karya Al ‘Aini)

Demikianlah yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat dalam menjaga syi’ar islam. Sampai menjaga istilah-istilah yang diberikan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal penggunaan istilah asing dalam penamaan shalat isya’ tidak sampai derajat haram, karena tidak mengandung makna yang buruk.

***

Lalu dengan apa kita menamai mereka?! Kita menamai mereka sebagaimana nama yang Allah berikan dalam Al-Qur’an, YAHUDI dan bukan ISRAEL. Dan sebagaimana disampaikan di atas, hendaknya setiap muslim membiasakan diri dalam menamakan sesuatu sesuai dengan yang Allah berikan. Hendaknya kita namakan orang-orang yang mengaku pengikut Nabi Isa ‘alahis salam dengan NASRANI bukan KRISTIANI, kita namakan hari MINGGU dengan AHAD bukan MINGGU, kita namakan shalat dengan SHALAT bukan SEMBAHYANG dan seterusnya selama itu bisa dipahami oleh orang yang diajak bicara, sebagai bentuk penghormatan kita terhadap syi’ar-syi’ar agama islam. Wallaahu waliyyut taufiiq…

***

Penulis: Ammi Nur Baits
Artikel www.muslim.or.id

==========

Silakan like FB fanspage Muslim.Or.Id dan follow twitter @muslimindo

==========

Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di muslim.or.id dengan menyertakan muslim.or.id sebagai sumber artikel
cara cepat mudah menghafal alquran

91 Komentar

  1. ratman boomen
    03 Jun 2010 [#]

    setuju. itulah kecerdikan yahudi memakai nama israel utk negara hasil jajahan mereka. saya sepakat itu memang ghozwul fikri….ktia harus banyak baca quran dan sejarah serta mengecek kebenaran koran….

    saya mengusulkam mari menyebut:

    - israil ganti dengan yahudi atau zionis
    - negara israil dengan negara palestina yang dijajah yahudi

  2. fris ilyas
    03 Jun 2010 [#]

    mulai skrg mari kita biasakan hanya menyebut kata yahudi laknatullah…

  3. sodikin ,S.Ag
    04 Jun 2010 [#]

    “Orang Yaudi dan Orang Nasrani tidak akan ridha selamya kepada umat Islam sehingga umat Islam mengikuti Idiologi mereka” (Q.S. Al-Baqarah 120)
    “Orang yang sangat memusuhi orang-orang yang beriman adalah Yahudi ,..(Q.S. Al-Maidah 86)

  4. Agus Wijanarko
    04 Jun 2010 [#]

    Bismillah…

    Melihat komentar-komentar di atas sungguh dapat kita bedakan antara orang-orang yang berkata dengan ilmu yang kokoh, dan orang-orang yang berkata dengan ilmu yang rapuh.

    Kelompok pertama berbicara dengan dalil yang jelas, yang kemudian berusaha memberi pemahamam kepada orang-orang yang belum mengetahui. Semoga Allah ta’ala memuliakan mereka atas usaha mereka yang mulia.

    Adapun, kelompok kedua berbicara dengan dalil yang tidak jelas, yang kemudian dapat menyesatkan dirinya sendiri dan bahkan orang lain yang tidak mengetahui.

    Jika yang dilakukan kelompok kedua ini memang karena ketidaktahuannya, semoga Allah mengampuni kesalahan dan menunjukkan kebenaran pada mereka.

    Terkait dengan penolakan sebagian saudara kita dengan penulisan artikel di atas. Sesungguhnya, merupakan suatu hal yang aneh. Penulis telah menguraikan tulisan ini dengan baik. Sungguh, tidak sulit untuk dipahami bagi mereka yang benar-benar menghendaki kebaikan. Karena tidaklah saya melihat tulisan di atas melainkan sebuah tulisan yang sarat dengan kebaikan dan faedah, dan semoga Allah ta’ala memberi balasan yang baik kepada penulis. Juga orang-orang yang telah memberi penjelasan tambahan/komentar atas tulisan di atas.

    Namun demikianlah kenyataannya, bahwa di akhir zaman ini, semakin hari semakin terangkatlah ilmu dari dada-dada kaum muslimin. Pada akhirnya, kita memohon kepada Allah ta’ala untuk melindungi kita dari fitnah akhir zaman ini. Semoga Allah memberi kemuliaan kepada kaum muslimin dan menghinakan musuh-musuh Islam. Wallahu ta’ala ‘alam.

  5. Richmond Ali
    05 Jun 2010 [#]

    @Yulian sodaraku

    Semoga Allah merahmati anda

    terima kasih sebelumnya atas informasinya, sangat bermanfaat buat saya. tetapi menurut yang saya ketahui. perbaikan itu untuk sesuatu yang bathil, dalam hal ini saya mencaci “negara” Israel. saya menambahkan negara agar maksud itu jelas, bahwa saya tidak berbicara tentang definisi nama Rasul diatas. tetapi dalam konteks pemerintahan (pengambil/penentu kebijakan).

    seperti analogi Kijang yang sodara kita jelaskan diatas.

    Kijang dan mobil Kijang, jelas beda

    sama seperti

    Israel dengan negara Israel, jelas beda kan?

    sekali lagi saya berbicara tentang subjek negara

    NEGARA.. negara israel, bukan nama rasul.

    dan saya yakin 100% Allah SWT tahu maksud saya.

    “Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, dan mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati.” (at-Taghaabun : 4)

    “Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati. Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Mahahalus lagi Maha Mengetahui.” (al-Mulk: 13-14)

    dan dalam hal niatan sodara memperbaiki yang salah, ada baiknya sodara memperhatikan kembali makna Yahudi yang menjadi alternatif penggantian kata negara israel.

    karena setau saya, ada juga kok orang Yahudi yang mengutuk agresi Zionis tersebut.

    satu hal lagi, sebaiknya diskusi seperti ini jangan menjadi alasan perpecahan hati kita, masih banyak hal-hal yang seharusnya menjadi fokus diskusi kita seperti “resolusi konflik” bukan tentang nama yang malah merendahkan kita (satu sama lain).

    terima kasih semuanya, mohon maaf atas keterbatasan pengetahuan saya. semoga Allah SWT merahmati Umat Islam :)

  6. Yulian Purnama
    05 Jun 2010 [#]

    #Richmond Ali
    Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberi anda keberkahan
    - Saya yakin penulis artikel, Al Akh Ammi Nur Baits, Syaikh Rabi’ Al Madkhali, dan saya sendiri sangat memahami maksud penggunaan kata ‘Israel’ yang oleh kebanyakan orang adalah bukan memaksudkan mencaci Nabi Ya’kub ‘Alaihissalam. Mohon baca kembali artikel di atas dengan pikiran dan hati yang jernih.
    - Karena kebanyakan mereka yang menggunakannya adalah orang awam, belum paham akan hal ini, tentu dimaafkan karena ketidak-pahamannya. Adapun artikel ini adalah bentuk nasehat.
    - Perlu kami garis bawahi dan perlu anda camkan, bahwa kita wajib membenci kaum Yahudi secara umum, baik yang Zionis maupun bukan. Karena kaum Yahudi telah dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu, sejak mereka belum ada niatan untuk merebut tanah Palestina. Mereka dibenci karena mempersekutukan Allah, membunuh Nabi-Nabi, dan mendustakan ajaran Islam.
    Mohon baca:
    http://muslim.or.id/manhaj/yahudi-islam-dalam-sejarah.html
    http://muslim.or.id/aqidah/ada-apa-antara-yahudi-dengan-kita.html

  7. H.Zailany Sjam Arizal
    05 Jun 2010 [#]

    Assalamulaikum, Wr.Wb.
    Subhanallah, Aku memohon ampun pada Mu Ya Allah.
    Ketika menyebut Israel sedikitpun tidak terbayangkan bahwa itu nama Nabi Allah. Yang terbayang adalah suatu wilayah di Timur Tengah
    tumpah darah rakyat Palestina yang dicaplok dan diduduki oleh kaum yahudi yang terkutuk yang kini menamakan wilayah itu dengan nama Negara Israel. Kedepan saya sarankan dengan menyebutnya Negara Yahudi terkutuk. Semoga Allah memberikan ampunan Nya. Amin. Wassalam.

  8. juni
    05 Jun 2010 [#]

    izin copy artikelnya.. Jazakallah khayr.

  9. agi
    06 Jun 2010 [#]

    @ :)

    Ya Allah, Ya muqallibal qulub…
    Ya Allah, Yang Maha Membolak-balikan hati…

    Tetapkanlah hati kami selalu berada di jalan yang Engkau ridhai.

    Berilah kami kelembutan hati dan kelapangan menerima taufik dan hidayah dari Engkau, Ya Allah.

    Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang Engkau selamatkan di dunia dan akhirat.

    ——————–
    Janganlah Engkau biarkan hati kami diombang-ambing kerancuan dan terombang-ambing dalam kemilau dunia.

    Jauhkanlah kami dari kerasnya hati dan sempitnya jiwa ini dari menerima taufik dan hidayah-Mu, Ya Allah.

    Janganlah masukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang Engkau murkai di dunia dan akhirat.

    Amin.

  10. dang
    10 Jun 2010 [#]

    assalamu’alaikum.

    Allah Subhanahu wa ta’ala menyebut nama Nabi Ya’kub dengan panggilan Israil. Nama Israil adalah sebuah nama yang disenangi Allah Subhanahu wa ta’ala.

    Mari kita bersihkan nama Israil karena nama itu adalah milik orang islam bukan milik orang yahudi.

    Firman Allah :
    ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakqub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani? Katakanlah: “Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih dzalim daripada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?” Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan.[2:140]

    Wallahu a’lam

  11. ina
    15 Jun 2010 [#]

    @agi: nice posting.. ijin copas y..

  12. Imam
    19 Jun 2010 [#]

    menurut pndapat antum,, kan dizaman ini sudah terjadi pergesaran makna dimana yahudi memberi nama negaranya dgn kata israel sndiri..
    begitu juga,, sesuatu kan dikembalikan ke niat..
    ane sepakat sih dgn tdk menyebut israel dgn kata2 kotor,, tpi ane ingin sharing mslh diatas…thanx

  13. Ibnu Fatih
    24 Jun 2010 [#]

    menurut sepengetahuan saya, zionis yahudi memang sengaja memberikan nama bangsa/negara saat ini “israel” supaya tidak ada yg mencelanya. trus apa yg harus kita ucapkan pada bangsa/negara tersebut?

  14. Yulian Purnama
    24 Jun 2010 [#]

    #Ibnu Fatih
    Cukup sebut “Yahudi”.

  15. M. Ichsan
    25 Jun 2010 [#]

    Syukron ibrahnyam kd tambah pemahaman bg saya, ijin copas ya, smoga bermanfaat ! Amien …

  16. Nano budiman
    11 Agu 2010 [#]

    yahudi sama negara israel itu sama kejamnya, didalam kitab mereka sudah disebutkan demikian:
    “Hanya orang-orang Yahudi yang manusia, sedangkan orang-orang non Yahudi bukanlah manusia, melainkan binatang.” (Kerithuth 6b hal.78, Jebhammoth 61a)

    “Orang-orang non-Yahudi diciptakan sebagai budak untuk melayani orang-orang Yahudi.” (Midrasch Talpioth 225)

    “Angka kelahiran orang-orang non-Yahudi harus ditekan sekecil mungkin.” (Zohar II, 4b)

    “Orang-orang non-Yahudi harus dijauhi, bahkan lebih daripada babi yang sakit.” (Orach Chaiim 57, 6a)

    “Tuhan (Yahweh) tidak pernah marah kepada orang-orang Yahudi, melainkan hanya (marah) kepada orang-orang non-Yahudi.” (Talmud IV/8/4a)

    “Orang-orang Yahudi harus selalu berusaha untuk menipudaya orang-orang non-Yahudi.” (Zohar I, 168a)

    “Setiap orang Yahudi boleh menggunakan kebohongan dan sumpah palsu untuk membawa seorang non-Yahudi kepada kejatuhan.” (Babha Kama 113a)

    “Orang Yahudi boleh mengeksploitasi kesalahan orang non-Yahudi dan menipunya.” (Talmud IV/1/113b)

    Inilah sebagian kecil dari ayat-ayat hitam Talmud. Inilah landasan ideologis kaum Zionis dalam hidupnya. Setiap hari Sabtu yang dianggap suci (Shabbath), mereka mendaras Talmud sepanjang hari dan mengkaji ayat-ayat di atas. Mereka menganggap Yahudi sebagai ras yang satu-satunya berhak disebut manusia. Sedangkan ras di luar Yahudi mereka anggap sebagai binatang, termasuk orang-orang liberalis yang malah melayani kepentingan kaum Zionis.

  17. Abu Muhammad Naufal Zaki
    18 Agu 2010 [#]

    Afwan…
    Dalam satu taklimnya, UStadz ABdul Hakim menyinggung masalah ini dan berkata yg maknanya, “ummat Islam melakukan kekeliruan ketika mereka para pendemo atau sejenisnya marah atas tidakan zionis dengan mengeluarkan kata-kata hinaan terhadap “Israil” mereka berkata Irail terlaknat, Israil kejam dll kalimat sejenisnya. . . mereka tdk sadar bhw kata “Israil” adalah kata yang hanya dinisbatkan kepada “Nabi Yaqub alaihi wa sallam”
    Orang-orang Yahudi menyukai jika mereka disebut sebagai Negara Israil dan kemudian ummat Islam terperdaya dengan ikut-ikutan menyebut demikian. .
    Sesungguhnya para pencela itu tidak sadar bhw langsung maupun tidak langsung mereka telah mencela salah seorang yang paling utama yakni Seorang Rasul Yaqub alaihi wa sallam. . krn saat mencela mereka jelas jelas menulis “ISRAIL LAKNATULLOH, ISRAEL BIADAP, ISRAEL KEJAM, ISRAEL PEMBUNUH..dst”
    Sedangkan Alloh telah menisbatkan Nama Israil hanya kepada Nabi Yaqub alaihi wa sallam. . .
    alangkah kelirunya mereka…..
    “Seharusnya mereka berkata : YAHUDI LAKNATULLOH (krn kalimat ini juga disebutkan Nabi ketika beliau berkata yg maknanya : Laknat Alloh atas (orang-orang) Yahudi dan Nasharani karena menjadikan kubur Nabi-Nabi mereka sebagai masjid”, Yahudi pembunuh (Krn Alloh menjelaskan bhw mereka pernah membunuh ratusan Nabi dalam satu hari kemudian siangnya mereka berdagang), dll. . . Jangan menyebutkan “Israil”. . . kalaupun mau maka dengan kata yg tdk dipisah yakni “NEGARA ISRAEL” atau ZIONIS ISRAEL” karena jika disatukan kata tsb maka merujuknya kepada negara yahudi sekarang ini yg mereka sebarkan dg nama negara Israel. . . adapun jika hanya Israel saja maka sadar atau tidak mereka telah mencela seorang Nabi dan Rosul yang mulia. . . sedangkan orang yg mencela Rasul (setelah sampai padanya hujjah) maka dihukumi dia kafir. . .
    Inilah yang ana fahami dari penjelasan Ustadz Abdul Hakim dan lainnya serta Fatwa Syaikh Rabi bin Hadi Hafidzhulloh Ta’ala :

    Keterangan:
    Hukum Menamai Negeri Yahudi dengan Israel

    Fadhilatul ‘Allamah Dr. Rabi’ bin Hadi bin ‘Umair Al-Madkhali menjelaskan:

    الحمد لله ، والصلاة والسلام على رسول الله ، وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه. أما بعد

    Di sana ada sebuah fenomena aneh yang tersebar di tengah-tengah kaum muslimin, yaitu penamaan negeri Yahudi -yang dimurkai- dengan nama Israel. Dan saya belum melihat seorang pun yang mengingkari fenomena yang berbahaya ini[1]. Sebuah fenomena yang menyinggung kemuliaan seorang rasul yang mulia, salah satu dari pemimpin para rasul, yaitu Ya’qub[2] ‘alaihish shalatu wassalam, yang dipuji oleh Allah bersama kedua ayahnya yang mulia, Ibrahim dan Ishaq di dalam kitab-Nya yang mulia dengan firman-Nya:

    وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُولِي الأَيْدِي وَالأَبْصَارِ . إِنَّا أَخْلَصْنَاهُم بِخَالِصَةٍ ذِكْرَى الدَّارِ . وَإِنَّهُمْ عِندَنَا لَمِنَ الْمُصْطَفَيْنَ الأَخْيَارِ.

    “Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang Tinggi. Sesungguhnya kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.” (Shad: 45-47)

    Inilah kedudukan seorang rasul yang mulia ini, maka bagaimana mungkin beliau dikaitkan dengan orang-orang yahudi dan orang yahudi dikaitkan dengan beliau!?

    Kebanyakan kaum muslimin menyebutkan negeri ini dalam konteks celaan, misalnya mengatakan ‘Israel berbuat demikian’, ‘Israel melakukan tindakan demikian dan demikian’, dan ‘Israel akan berbuat demikian’. Dan ini -menurut pandangan saya- adalah kemungkaran yang tidak boleh terjadi di tengah-tengah kaum muslimin, terlebih lagi jika menjadi sebuah fenomena yang telah tersebar di tengah-tengah mereka tanpa ada pengingkaran.

    Dari sinilah kami lontarkan pertanyaan ini dan sekaligus jawabannya. Kami katakan:

    ‘Bolehkah memberi nama negeri Yahudi -yang kafir lagi jahat- dengan Isra’il atau Negara Israel yang kemudian ketika mengarahkan kecaman dan celaan kepadanya, menyebutkan nama Israel!?

    Yang benar adalah hal itu tidak boleh, dan sungguh orang-orang Yahudi telah membuat makar yang sangat besar ketika menjadikan haknya sebagai hak yang sesuai syari’at di dalam mendirikan negara untuk menggulingkan negeri-negeri muslimin atas nama warisan Nabi Ibrahim, dan juga Nabi Isra’il. Mereka (Yahudi) juga telah membuat makar yang amat besar di dalam penamaan terhadap negerinya As-Suhaiwaniyyah dengan nama

    negara Israel, dan tipu daya mereka telah mengalahkan kaum muslimin -saya tidak mengatakan mengalahkan kalangan awam saja bahkan para cendikia pun juga-.

    Mereka menyebutkan negara Israel, bahkan (mencatut) nama Nabi Isra’il di dalam berita-berita, surat kabar-surat kabar, majalah-majalah, dan pembicaraan-pembicaraan mereka, baik dalam konteks murni berita maupun dalam konteks kecaman, celaan, dan bahkan laknat. Semua itu terjadi di tengah-tengah kaum muslimin, dan sangat memprihatinkan sekali kami tidak mendengar satu pengingkaran pun terhadapnya.

    Sungguh Allah subhanahu wata’ala telah mencela orang-orang Yahudi di dalam banyak ayat-ayat Al-Qur’an, melaknat mereka, dan memberitakan kepada kita kemurkaan-Nya atas mereka dengan menyebutkan nama Yahudi, dan nama orang-orang kafir dari Bani Isra’il, bukan atas nama Isra’il, seorang nabi yang mulia -Ya’qub-, putra seorang yang mulia -Ishaq Nabiyullah-, putra seorang yang mulia -Ibrahim Khalilullah ‘alaihimush shalatu wassalam.

    Orang-orang Yahudi tidak memiliki kaitan keagamaan dengan Nabiyullah Isra’il -Ya’qub ‘alaihis salam-, dan tidak juga dengan Ibrahim Khalilullah ‘alaihish shalatu wassalam, dan mereka juga tidak memiliki hak terhadap agama warisan kedua Nabi tersebut, akan tetapi (warisan agama keduanya) itu hanya khusus bagi kaum mukminin saja. Allah ta’ala berfirman:

    إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آمَنُواْ وَاللهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ.

    “Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah pelindung semua orang-orang yang beriman.” (Ali ‘Imran: 68)

    Dan Allah berfirman -dalam rangka membersihkan Khalil-Nya, Ibrahim dari agama Yahudi, Nashrani, dan musyrikin-:

    مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلاَ نَصْرَانِيًّا وَلَكِن كَانَ حَنِيفًا مُّسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ.

    “Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” (Ali ‘Imran: 67)

    Kaum muslimin tidaklah mengingkari bahwa Yahudi adalah anak cucu nabi Ibrahim dan Isra’il, akan tetapi mereka (muslimin) menetapkan bahwa Yahudi termasuk musuh-musuh Allah dan para Rasul-Nya, di antaranya: Muhammad, Ibrahim, dan Isra’il ‘alaihimush shalatu wassalam, dan mereka juga menetapkan bahwa tidak ada warisan antara para nabi dengan musuh-musuh mereka dari kalangan orang-orang kafir, baik Yahudi, Nashara, atau dari kalangan musyrikin arab dan selain mereka. Sesungguhnya orang yang paling dekat dengan Ibrahim dan seluruh para nabi adalah kaum muslimin yang beriman kepada mereka, mencintai dan memuliakan mereka, beriman dengan segala yang diturunkan kepada mereka berupa kitab-kitab dan shuhuf, dan kaum muslimin menganggap hal itu merupakan pokok agama mereka, mereka adalah para pewaris para nabi dan orang-orang yang paling dekat dengan mereka.

    Bumi Allah ini hanyalah diperuntukkan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman kepada-Nya, dan kepada para Rasul yang mulia. Allah ta’ala berfirman:

    وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِن بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ . إِنَّ فِي هَذَا لَبَلاغًا لِّقَوْمٍ عَابِدِينَ . وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ.

    “Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauhul Mahfuzh, bahwasanya bumi ini diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shalih. Sesungguhnya (apa yang disebutkan) dalam (Surat) ini, benar-benar menjadi peringatan bagi kaum yang beribadah (kepada Allah). Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Al-Anbiya’: 105-107)

    Musuh-musuh para nabi tidak memiliki warisan di muka bumi ini, -terlebih orang-orang Yahudi- di dunia ini, dan di akhirat bagi mereka siksa neraka yang kekal. Dan sangat mengherankan kondisi mayoritas kaum muslimin yang menerima klaim Yahudi bahwa mereka adalah pewaris negeri Palestina, dan mencari Haikal Sulaiman yang mereka (Yahudi) mengkufurinya dan menuduhnya dengan tuduhan yang keji. Mereka (orang-orang Yahudi) adalah paling keras permusuhannya terhadap Nabi Sulaiman dan selain beliau para nabi dari kalangan Bani Isra’il. Allah ta’ala berfirman:

    أَفَكُلَّمَا جَاءَكُمْ رَسُولٌ بِمَا لاَ تَهْوَى أَنفُسُكُمُ اسْتَكْبَرْتُمْ فَفَرِيقاً كَذَّبْتُمْ وَفَرِيقًا تَقْتُلُونَ.

    “Apakah setiap datang kepadamu seorang Rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong, maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?” (Al-Baqarah: 87)

    Bagaimana bisa sebagian kaum muslimin -minimalnya dengan perbuatan mereka- menerima klaim yang batil ini!? Dan bersamaan dengan itu mereka pun juga menamai negeri Yahuid dengan Isra’il, dan dengan nama Negara Israel!

    Dan -demi Allah- tidak pernah ada seharipun mereka lebih berhak atas kaum mukminin dalam warisan agama Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, para rasul, dan yang mengamalkan risalah mereka itulah wali-wali Allah, wali-wali para nabi dan para rasul-Nya.

    Hendaknya kaum muslimin mengembalikan jati diri mereka dalam akidah dan manhajnya dengan bersumber dari Kitabullah, sunnah Nabi mereka shallallahu ‘alaihi wasallam, dan prinsip beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, para shahabatnya, orang-orang yang mengikutinya dengan baik dari generasi terbaik tabi’in, para ulama yang senantiasa memberikan bimbingan dalam agama ini. Ini merupakan sebab terbesar datangnya pertolongan Allah kepada mereka dalam menghadapi musuh-musuhnya, dan sebab datangnya kejayaan bagi mereka, kebahagiaan, dan kemuliaan di dunia dan akhirat.

    Dan hendaknya kaum muslimin juga membersihkan tangan-tangan mereka dari jeratan hawa nafsu dan bid’ah, sikap fanatik terhadap kebatilan dan para pengusungnya, kemudian hendaknya mereka berusaha dengan sungguh-sungguh di dalam mempersiapkan perlengkapan berupa persenjataan dengan segala bentuknya, dan hal-hal yang mendukung itu semua berupa perhatian dan pelatihan terhadap pasukan, sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah ta’ala berfirman:

    وَأَعِدُّواْ لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ.

    “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu.” (Al-Anfal: 60)

    Dan kekuatan yang disebutkan di dalam ayat ini mencakup semua bentuk kekuatan yang bisa menggentarkan musuh dari berbagai bentuk persenjataan.

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    ( ألا إن القوة الرمي . ألا إن القوة الرمي . ألا إن القوة الرمي )

    “Ketahuilah bahwasanya kekuatan itu adalah lemparan, ketahuilah bahwasanya kekuatan itu adalah lemparan, ketahuilah bahwasanya kekuatan itu adalah lemparan.”

    Ar-Ramyu (lemparan) dalam hadits tersebut adalah termasuk di dalamnya segala bentuk senjata yang digunakan untuk melempar (menembak, menusuk, memukul, dsb), semua itu harus didapatkan, baik dengan membuatnya, atau dengan membelinya, atau dengan selain keduanya.

    Dan sungguh -sekali lagi- saya sangat terheran dengan adanya penetapan nama Nabi yang mulia lagi terhormat ini terhadap sebuah negeri yang jahat, umat yang dimurkai, dan umat yang sangat pendusta. Disebutkanlah negeri tersebut ketika membicarakan tentangnya, ketika menyebutkan berita tentangnya, atau ketika mencelanya dengan Isra’il dan atau Negara Israel. Seolah-olah bahasa Islam dan bahasa arab yang luas ini telah menjadi sempit bagi mereka, sehingga mereka tidak mendapatkan nama kecuali nama ini. Kemudian apakah mereka (muslimin) memikirkan hal ini? Apakah ini diridhai Allah atau Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam!? Dan apakah juga diridhai oleh nabiyullah Isra’il, atau bahkan sebaliknya, sesuatu yang menyakitkan hati beliau seandainya beliau hidup!?

    Tidakkah mereka tahu bahwa celaan dan cercaan yang mereka tujukan kepada Yahudi dengan menyebutkan nama beliau (Isra’il) akan bisa tertuju kepada beliau sendiri dalam keadaan mereka tidak menyadarinya!?

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    ألا تعجبون كيف يصرف الله عني شتم قريش ولعنهم !؟ يشتمون مذممًا ويلعنون مذممًا ، وأنا محمد.

    “Tidakkah kalian heran bagaimana Allah menghindarkan aku dari celaan dan laknat Quraisy!? Mereka mencela dan melaknat, sedangkan aku adalah Muhammad.” (HR. Ahmad, Al-Bukhari di dalam shahihnya no. 3533, dan An Nasa’i).

    Maka bagaimana kalian bisa memalingkan celaan, laknat, dan cercaan kalian terhadap musuh Allah kepada nama seorang nabi yang mulia di antara para nabi Allah dan rasul-Nya, serta makhluk pilihan-Nya!?

    Jika ada yang mengatakan bahwa yang semisal dengan penetapan ini ada juga di dalam Taurat!

    Maka kami katakan: sangat mungkin ini merupakan salah satu perubahan yang dilakukan Ahlul Kitab, sebagaimana yang Allah saksikan tentang mereka bahwa mereka telah mengubah Al-Kitab dengan tangan-tangan mereka sendiri kemudian mereka menyatakan: ini dari Allah. Bahkan di dalam Taurat yang sudah diubah-ubah pun juga terdapat tuduhan terhadap para nabi dengan kekufuran dan kekejian, maka bagaimana mungkin bisa bersandar dan berhujjah dengan kitab mereka yang demikian kondisinya!?

    Kita memohon kepada Allah agar memberikan taufiq-Nya kepada kaum muslimin semuanya untuk bisa menjalankan hal-hal yang dicintai dan diridhai-Nya, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan. Sesungguhnya Rabb kita Maha Mendengar do’a.

    Diterjemahkan dari: http://sahab.net/home/index.php?Site=News&Show=663
    [1] Permasalahan seperti ini pernah juga difatwakan oleh Asy-Syaikh Shalih bin Muhammad Al-Luhaidan (lihat http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=379). Sehingga Asy-Syaikh Rabi’ menyatakan ungkapan seperti ini ada kemungkinan beliau belum mengetahui adanya fatwa Asy-Syaikh Shalih Al-Luhaidan tersebut, atau mungkin juga beliau lebih dahulu dalam menyampaikan fatwa ini sebelum Asy-Syaikh Shalih Al-Luhaidan. Wallahu a’lam.

    [2] Isra’il adalah nama lain bagi nabiyullah Ya’qub ‘alaihissalam. Orang-orang Yahudi bermaksud menyandarkan nama negara mereka dengan nama beliau ‘alaihissalam ini. Dan kemudian nama ini lebih dikenal di kalangan masyarakat internasional dengan Israel, transliterasi bahasa dari Isra’il.
    .
    afwan

  18. abu imron
    27 Sep 2010 [#]

    izin copas

  19. Abu Syaihan
    03 Okt 2010 [#]

    sebenarnya yg dikutuk orang2 tersebut adalah kekejaman zionis Israel. banyak pula orang2 Yahudi yg tidak setuju dan menentang kekejaman tersebut. Yahudi secara akidah bertentangan dengan Islam, namun Israel dengan kekejamannya bertentangan dengan manusia. jadi kalo hanya berkaitan dengan nama, maka seharusnya Al-Qur’an juga tidak boleh melaknat Yahudi karena yahudi berasal dari kata Yehuda yg juga merupakan keturunan Israil yg mulia. jadi kalo mau dilihat dari objektifitas yg benar, maka memang pantas kalau Israel kita laknat karena kekejamannya kepada saudara kita bangsa Palestina (ingat, rakyat palestina tidak hanya beragama Islam) dari sisi kemanusiaan. jadi tulisan diatas terlihat salah faham dan terkesan melindungi Israel dari hinaan karena kekejamannya. ingat, yg kejam kepada palestina bukan Yahudinya, melainkan Zionist Israel karena banyak juga orang yahudi yg tidak setuju dengan kekejaman zionist Israel dari sisi kemanusiaan.

  20. Yulian Purnama
    05 Okt 2010 [#]

    #Abu Syaihan
    Allah dan Rasul-Nya melaknat Yahudi bukan hanya yang zionis.

  21. no_body
    29 Des 2010 [#]

    setahu saya zionis itu sebagiannya adalah orang atheis yang cuma mencari keuntungan dunia tanpa memeluk agama yahudi.
    jadi bagaimana jika dipanggil kuffar zionis?

  22. m. faiz
    30 Des 2010 [#]

    panggil mereka sebagaimana Allah di alquran memanggil mereka !!

  23. Arif
    04 Feb 2011 [#]

    Ingat saudara. Nama adalah istilah bagi orang awam. Bisa jadi nama dijadikan peubah atau variabel (tentu bagi orang awam). Tulisan Anda bagus karena memberikan pengetahuan. Tapi nama tidak terlalu penting untuk sekarang ini. Yang penting kita harus menjaga kekompakan Islam. Nama itu perkara kecil. Bukankah banyak umat manusia yang bernama “Muhammad” ? sekarang apakah pantas orang2 itu di beri nama “Muhammad”? Nah itu sebagai bukti saja. Nama tak terlalu penting. Yang penting itu adalah mengajak teman2 kita untuk solat, saling membantu sesama dan memberikan yang terbaik untuk bangsa. Islam itu simpel. Tapi ketahuilah, sekarang Islam memiliki daya rusak yang tinggi. Saya sebagai umat Islam menyesali itu. Banyak ormas2 dengan bendera Islam merusak infrastruktur, saling melukai, mencaci maki dll. Apakah itu Islam? We have to concern about that. Because we are one. Islam!

  24. oesman
    18 Feb 2011 [#]

    ustadz, apakah blh menamai anak kita dengan nama israel?

  25. Aris Munandar
    22 Apr 2011 [#]

    #oesman
    Boleh. Israil artinya adalah hamba Allah.

  26. didot
    23 Mei 2011 [#]

    apakah semua masyarakat yang tinggal d Israel adalah Yahudi?apakah mereka semua setuju dengan pertempuran itu?apakah yang tidak setuju (terhadap peperangan)tetap harus kita musuhi???kalo ya,bukankah secara tidak langsung kita menanamkan bibit permusuhan bagi yang cinta damai???

    maaf kalo ada salah kata,cuma ngeluarin pertanyaan yg ada dikepala^_^

  27. tedi wibowo
    20 Okt 2011 [#]

    Terima kasih atas bantuannya. Dengan membaca blog ini saya menjadi paham. Sekali lagi terima kasih.

  28. Dermawan Hambara K
    06 Feb 2012 [#]

    izin share mas.., jazakalloh..,

  29. fakhruddin fafa
    21 Mar 2012 [#]

    Terima kasih untuk sharing nya yang BENAR. Anda telah meluruskan pemahaman yang salah selama ini tentang Israel & Yahudi. semoga Allah SWT memberkahi anda sekeluarga

  30. Ibnu Yahya
    21 Mar 2012 [#]

    #

    dz, apakah blh menamai anak kita dengan nama israel?

    #

    Aris Munandar
    22 Apr 2011 [Permalink]

    #oesman
    Boleh. Israil artinya adalah hamba Allah.

    Ustadz, bolehkah kita memberi nama anak ala ibrani / bani israel, seperti Daniel (Eloah/Allah menghakimi), Natanael (pemberian ELoah/Allah), Zecharya (mengingat Yahweh/Eloah/Allah), Obediel (hamba Eloah, sama kyk di arab Abdullah), dsb?
    Apakah memberi nama demikian termasuk tasyabbuh, ustadz?

  31. Yulian Purnama
    09 Apr 2012 [#]

    #Ibnu Yahya
    Sebaiknya jangan

  32. Ben Yohanan
    07 Mei 2012 [#]

    Nama belakang (suku kata ke-3 nya) anak saya pakai nama Uriel (Ibrani; Uriel = Allah, Cahaya-ku), boleh ngga ustadz?

  33. Muhammad Abduh Tuasikal
    08 Mei 2012 [#]

    @ Ben
    Sptnya itu bukan nama Islam.

  34. Ben Yohanan
    08 Mei 2012 [#]

    syukron, ya ustadzaan..
    btw, itu ibnu yahya nick ane juga.. Ben Yohanan = Bin Yahya..

  35. Dedi sunardi
    19 Nov 2012 [#]

    Terimakasih atas nasihatnya….barokalloh.

    Namun bisakah di jelaskan lebih lanjut…

    “Satu hal yang perlu disadari oleh setiap muslim, penamaan negeri yahudi dengan Israil termasuk salah satu di antara sekian banyak konspirasi (makar) yahudi terhadap dunia. Mereka tutupi kehinaan nama asli mereka YAHUDI dengan nama Bapak mereka yang mulia Nabi Israil ‘alaihis salam. Karena bisa jadi mereka sadar bahwa nama YAHUDI telah disepakati jeleknya oleh seluruh dunia, mengingat Allah telah mencela nama ini dalam banyak ayat di Al-Qur’an.”

    Jadi penulis sendiri tahu bahwa asal mula penamaan Israel adalah dari Yahudi Sendiri, dan secara Hukum International Nama Negara Mereka adalah Israel.
    Tidak ada nama Negara Yahudi. karena yang dibicarakan adalah Negara jadi disebut ” Palestina dengan Israel ” dari sudut pandang ini apakah tetap hal ini kesalahan Fatal ?

    ” Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah di Mekkah, Orang-orang musyrikin Quraisy mengganti nama Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Mudzammam (manusia tercela) sebagai kebalikan dari nama asli Beliau Muhammad (manusia terpuji). Mereka gunakan nama Mudzammam ini untuk menghina dan melaknat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. misalnya mereka mengatakan; “terlaknat Mudzammam”, “terkutuk Mudzammam”, dan seterusnya. Dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak merasa dicela dan dilaknat, karena yang dicela dan dilaknat orang-orang kafir adalah “Mudzammam” bukan “Muhammad”, Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    ألا تعجبون كيف يصرف الله عني شتم قريش ولعنهم يشتمون مذمماً ويلعنون مذمماً وأنا محمد

    “Tidakkah kalian heran, bagaimana Allah mengalihkan dariku celaan dan laknat orang Quraisy kepadaku, mereka mencela dan melaknat Mudzammam sedangkan aku Muhammad.” (HR. Ahmad & Al Bukhari) ”

    Dalam hadits diatas yang menyebut Mudzammam adalah orang Quraisy, nabi tidak menyebut dirinya dengan nama ” itu ” jadi berbeda kasusnya dengan Yahudi yang meyebut dirinya sendiri dengan ” Israel “.

    apakah relevan menggunakan hadits ini untuk kasus ini ?…padahal kasusnya berbeda ?

    Kalau boleh ana berpendapat, janganlah menyalahkan dulu sesama muslim, karena dalam situasi “perang” hal ini adalah kemenangan bagi yahudi, mereka sukses dengan tujuan mereka memakai nama ” Israel ”

    Dari artikel Yahudi Bukan Israel — Muslim.Or.Id by null

  36. Amru
    20 Nov 2012 [#]

    Bukankah penulisan “Islam” seharusnya diawali dengan huruf kapital?
    dalam artikel ini secara konsisten ditulis menggunakan huruf kecil semua. Mungkin terlihat sepele, tetapi kalau dibiarkan, bukankah sama saja dengan menyebut Yahudi dengan “Israel”?

  37. Oktavia
    23 Nov 2012 [#]

    Assalamualaikum
    mbak.. mas.. pemilik website ini terima kasih ya atas infonya dan saya izin copas beberapa kalimat disini ya untuk saya taruh di blog saya.. saya juga mencantumkan link-nya kok, makasih :)

  38. daniel
    10 Feb 2013 [#]

    artikel yg sangat bagus dan menyadarkan kita. ijin copas ya!

Tinggalkan Komentar

Biojanna

Kembali ke Atas