radio muslim

Sufi, Benarkah Itu Ajaran Nabi?

Kategori: Manhaj

99 Komentar // 1 Desember 2008

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi akhir zaman dan da’i yang menyeru kepada jalan Allah dengan ilmu dan keterangan.

Amma ba’du. Saudara-saudaraku sekalian kaum muslimin -semoga Allah semakin mempererat tali persaudaraan kita karena-Nya- perjalanan hidup kita di alam dunia merupakan sebuah proses perjuangan untuk menggapai keridhaan-Nya. Kita hidup bukan untuk berhura-hura atau memuaskan hawa nafsu tanpa kendali agama. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah (hanya) kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Saudara-saudaraku sekalian -semoga Allah menumbuhkan kecintaan yang dalam di dalam hati kita kepada al-Qur’an, as-Sunnah dan para sahabat radhiyallahu ta’ala ‘anhum- sebagaimana kita sadari bersama bahwa agama Islam adalah ajaran yang sempurna. Tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang yang tidak paham dan orang yang menyombongkan dirinya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian, Aku telah cukupkan nikmat-Ku atas kalian, dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian.” (QS. Al-Maa’idah: 3)

Saudara-saudaraku sekalian -semoga Allah mencurahkan hidayah dan taufik-Nya kepada kita untuk meniti jalan yang lurus dan tidak berpaling darinya- Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang menentang Rasul setelah petunjuk terang benderang baginya dan dia malah mengikuti selain jalan orang-orang yang beriman, maka Kami akan membiarkan dia terombang-ambing di dalam kesesatan yang dipilihnya, dan Kami akan memasukkan dirinya ke dalam neraka jahannam. Dan sungguh jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisaa’: 115)

Bagi kita ajaran atau Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri dari kehancuran dan mata air yang akan mengalirkan kesejukan iman. Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu mengisahkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan Sunnah/ajaranku dan ajaran para khalifah yang berpetunjuk lagi lurus sesudahku, berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham serta jauhilah perkara-perkara baru yang diada-adakan (dalam agama), sebab setiap yang diada-adakan itu adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah pasti sesat.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, Tirmidzi menilai hadits ini hasan)

Oleh karena itu sudah semestinya kita -sebagai orang yang mengaku beriman- untuk mengembalikan segala bentuk perselisihan kepada Hakim yang paling bijaksana yaitu Allah subhanahu wa ta’ala. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Kemudian apabila kalian berselisih dalam suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah (al-Qur’an) dan rasul (as-Sunnah), hal itu pasti lebih baik bagi kalian dan lebih bagus hasilnya, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.” (QS. An-Nisaa’: 59)

Mujahid dan para ulama salaf yang lainnya menafsirkan perintah kembali kepada Allah dan rasul yang terdapat dalam ayat ini dengan mengatakan yaitu kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Ini merupakan perintah dari Allah ‘azza wa jalla yang menunjukkan bahwa segala sesuatu yang diperselisihkan orang -dalam hal pokok agama maupun cabang-cabangnya- maka perselisihan itu harus diselesaikan dengan merujuk kepada Al-Kitab dan As-Sunnah. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah ta’ala (yang artinya), “Apa saja perkara yang kalian perselisihkan maka keputusannya dikembalikan kepada Allah.” (QS. Asy-Syura: 10). Maka apa pun yang telah diputuskan oleh Al-Kitab dan As-Sunnah serta didukung oleh dalil yang benar dari keduanya itulah kebenaran, “dan tiada lagi sesudah kebenaran melainkan kesesatan.” (lihat Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, jilid 2 hal. 250).

Di hadapan kita terdapat persoalan yang telah membuat lisan sebagian orang melontarkan tuduhan-tuduhan yang tak pantas kepada Ahlus Sunnah dan dakwahnya, bahkan saking getolnya memuja keyakinan sufi yang dianggapnya benar maka dia pun tidak segan melontarkan ucapan-ucapan aneh yang menunjukkan kerancuan aqidah yang tertancap di dalam dadanya.

Orang tersebut -semoga Allah menunjukinya- berkata, “Kita berasal dari Allah. Menyembah hanya untuk Allah, Hidup dan mati di dalam Allah. Karena kita bagian dari Allah.” Orang tersebut -semoga Allah menunjukinya- berkata, “Allah ada di mana-mana. Tapi bukan berarti ada di mana-mana. Seluruh dunia ini terjadi [karena] Campur tangan Allah. Karena Allah tidak tidur. Di dalam diri kita ada Tuhan, manusia sendiri yang membuat HIJAB ( batasan) kepada Allah.” Orang tersebut -semoga Allah menunjukinya- berkata, “Akan tetapi Dzat Tuhan dapat dijumpai dan menyatu dalam diri manusia. Karena sebegitu dekatnya…” Orang tersebut -semoga Allah menunjukinya- berkata, “Seluruh Imam Madzhab pada Akhirnya kembali kepada Sufi. Kecuali Wahabi…” ?!

Baiklah, memang pahit di lidah dan panas di telinga, namun terpaksa kalimat-kalimat ini kami sebutkan di sini demi menerangkan kebenaran dan membantah kebatilan, semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk bersatu di atas kebenaran, Allahul musta’aan.

Sebagai jalan untuk memecahkan persoalan ini maka akan saya kutip ucapan indah dari orang yang sama yang telah mengucapkan kalimat-kalimat di atas. Orang tersebut -semoga Allah menambahkan hidayah kepada-Nya- mengatakan dengan jujur dan tulus, “Maka sebaiknya kita tanya dulu kepada Orang yang lebih tahu daripada Kita, Karena di atas langit masih ada langit.” Alangkah bagus ucapannya sebab bersesuaian dengan sebuah firman Allah yang mulia (yang artinya), “Maka bertanyalah kepada ahli ilmu jika kalian tidak mengetahui suatu perkara, dengan dasar keterangan dan kitab-kitab…” (QS.An-Nahl: 43-44). Tentu saja tempat kita bertanya adalah para ulama yang mengikuti pemahaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Insya Allah ucapan dan keterangan mereka akan kami sebutkan untuk menenangkan hati dan pikiran kita.

Sebelum lebih jauh menanggapi hal ini, dengan memohon taufik dari-Nya maka kami perlu kemukakan beberapa hal di sini agar duduk perkaranya menjadi jelas dan tidak terjadi kesalahpahaman.

Saudaraku sekalian -semoga Allah mengokohkan kita di atas kebenaran, bukan di atas kebatilan- ajaran Sufi yang populer dan kata orang mengajarkan penyucian jiwa, pendekatan diri kepada Allah serta membuang jauh-jauh ketergantungan hati kepada dunia serta mengikatkan hati manusia hanya kepada Allah, kita telah akrab dengan istilah ini. Meskipun demikian, sebagai muslim yang baik tentunya kita tidak akan berbicara dan bersikap kecuali dengan landasan dalil dari Allah ta’ala. Allah berfirman (yang artinya), “Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, itu semua pasti dimintai pertanggung jawabannya.” (QS. Al-Israa’: 36)

Saudaraku sekalian, sesungguhnya perkara penyucian jiwa, melembutkan hati dan pendekatan diri kepada Allah serta melepaskan ketergantungan hati kepada dunia dan mengikatkan hati manusia kepada Rabbnya merupakan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa kita ragukan barang sedikit pun. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh Allah telah mengaruniakan nikmat bagi orang-orang yang beriman ketika mengutus rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan jiwa mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al Hikmah (As-Sunnah) padahal sebelumnya mereka dulu berada di dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali Imran: 164). Maka tugas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah membacakan dan menerangkan ayat-ayat Allah, menyucikan jiwa manusia dari berbagai kotoran dosa dan kesyirikan, dan mengajarkan Al-Kitab dan As-Sunnah kepada mereka.

Oleh karena itulah apabila kita membuka kitab-kitab hadits akan kita jumpai di sana sebuah bab khusus yang menyebutkan riwayat-riwayat hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengajarkan penyucian jiwa dan melembutkan hati. Contohnya di dalam Sahih Bukhari, Al-Bukhari rahimahullah menulis Kitab Ar-Riqaaq (hal-hal yang dapat melembutkan hati), di sana beliau membawakan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terkait dengan hal ini sebanyak seratus hadits lebih, yaitu hadits no. 6412-6593 (lihat Sahih Bukhari cet. Maktabah Al-Iman, halaman. 1306-1332)

Demikian juga murid Al-Bukhari yaitu Muslim rahimahullah membuat Kitab Ar-Riqaaq, Kitab At-Taubah, Kitab Shifatul Munafiqin wa ahkamuhum, Kitab Shifatul qiyamah wal jannah wan naar, dan lain sebagainya hingga Kitab Az-Zuhd wa raqaa’iq yang mencantumkan dua ratus hadits lebih tentang penyucian jiwa dan hal-hal yang terkait dengannya di dalam Sahihnya (lihat Sahih Muslim yang dicetak bersama Syarah Nawawi, hal. 5-259). Demikian pula di antara para ulama ada yang menyusun kitab khusus tentangnya seperti Adz-Dzahabi yang menulis kitab Al-Kaba’ir tentang dosa-dosa besar. An-Nawawi yang menulis Riyadhush Shalihin yang mencakup berbagai pembahasan tentang penempaan diri dan penyucian jiwa. Shifatu Shafwah dan Al-Latha’if karya Ibnul Jauzi. Bahkan banyak kitab hadits yang dinamakan dengan kitab Az-Zuhd, seperti Az-Zuhd karya Abu Hatim Ar-Razi, Az-Zuhd karya Abu Dawud, Az-Zuhd karya Imam Ahmad bin Hanbal, dan lain-lain, semoga Allah merahmati mereka semua. Bukankah dengan membaca ayat-ayat Al-Qur’an, kemudian riwayat-riwayat hadits sahih serta penjelasan ulama yang ada di dalam kitab-kitab tersebut kita dapat mempelajari bagaimanakah menyucikan jiwa, bagaimana mendekatkan diri kepada Allah dan bagaimana melepaskan ketergantungan hati kepada selain-Nya…

Inilah pelajaran-pelajaran akhlak dan penyucian jiwa yang disampaikan oleh para ulama kepada kita. Sehingga kalau yang dimaksud sufi adalah itu semua (penyucian jiwa dsb) maka akan kita katakan bahwa itulah yang diajarkan oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah alias manhaj salaf kepada umat manusia. Oleh sebab itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata mengenai salah satu sifat Ahlus Sunnah, “Mereka memerintahkan untuk sabar ketika tertimpa musibah, bersyukur ketika lapang, serta merasa ridha dengan ketetapan takdir yang terasa pahit. Mereka juga menyeru kepada kemuliaan akhlak dan amal-amal yang baik, mereka meyakini makna sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Orang beriman yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya.’…” (Aqidah Wasithiyah, hal. 87). Kalau ajaran menyucikan diri dan menggantungkan hati hanya kepada Allah -sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi dan para sahabat- disebut sufi maka saksikanlah bahwa saya adalah seorang sufi!

Namun, ketahuilah saudaraku -semoga Allah merahmatimu- kalau kita cermati lebih jauh ajaran sufi atau tasawuf dan berbagai macam tarekat yang dinisbatkan ke dalamnya beserta tetek bengek ajaran dan lontaran-lontaran aneh yang mereka angkat, niscaya akan teranglah bagi kita bahwa sebenarnya ajaran Sufi yang berkembang hingga hari ini -di dunia secara umum ataupun dinegeri kita secara khusus- telah banyak menyeleweng dari rambu-rambu Al-Kitab dan As-Sunnah. Sebagaimana pernah disinggung oleh Buya HAMKA rahimahullah di dalam pidatonya dalam acara penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar di Mesir pada tanggal 21 Januari 1958 -lima puluh tahun yang silam-, beliau mengatakan, “Daripada gambaran yang saya kemukakan selayang pandang itu, dapatlah kita memahamkan bagaimana sangat perlunya pembersihan aqidah daripada syirik dan bid’ah dan ajaran tasawuf yang salah, yang telah menimpa negeri kami sejak beberapa zaman, dan perlunya kepada kemerdekaan pikiran dan memperbaharui paham tentang ajaran Islam sejati.” (Sejarah Perkembangan Pemurnian Ajaran Islam di Indonesia, penerbit Tintamas Djakarta, hal. 6-7)

Inilah ucapan yang adil dan bijak dari orang besar seperti beliau. Berikut ini akan kami kutip penjelasan yang diberikan oleh Bapak Hartono Ahmad Jaiz -semoga Allah membalas kebaikannya- yang telah memaparkan mengenai sejarah ajaran sufi ini di dalam bukunya ‘Tasawuf Belitan Iblis’. Beliau mengatakan: “Abdur Rahman Abdul Khaliq, dalam bukunya Al-Fikrus Shufi fi Dhauil Kitab was Sunnah menegaskan, tidak diketahui secara tepat siapa yang pertama kali menjadi sufi di kalangan ummat Islam. Imam Syafi’i ketika memasuki kota Mesir mengatakan, “Kami tinggalkan kota Baghdad sementara di sana kaum zindiq (aliran yang menyeleweng, aliran yang tidak percaya kepada Tuhan, berasal dari Persia, orang yang menyelundup ke dalam Islam, berpura-pura –menurut Leksikon Islam, 2, hal 778) telah mengadakan sesuatu yang baru yang mereka namakan assama’ (nyanyian).

Kaum zindiq yang dimaksud Imam Syafi’i adalah orang-orang sufi. Dan assama’ yang dimaksudkan adalah nyanyian-nyanyian yang mereka dendangkan. Sebagaimana dimaklumi, Imam Syafi’i masuk Mesir tahun 199H. Perkataan Imam Syafi’i ini mengisyaratkan bahwa masalah nyanyian merupakan masalah baru. Sedangkan kaum zindiq tampaknya sudah dikenal sebelum itu. Alasannya, Imam Syafi’i sering berbicara tentang mereka, di antaranya beliau mengatakan: “Seandainya seseorang menjadi sufi pada pagi hari, maka siang sebelum zhuhur ia menjadi orang yang dungu.” Dia (Imam Syafi’i) juga pernah berkata: “Tidaklah seseorang menekuni tasawuf selama 40 hari, lalu akal­nya (masih bisa) kembali normal selamanya.” (Lihat Talbis Iblis, hal 371). Sekian nukilan kami dari Tasawuf Belitan Iblis.

Pembaca sekalian, dari keterangan di atas kita mengetahui bahwa Imam Syafi’i rahimahullah sendiri termasuk ulama yang mengecam kaum sufi dan ajaran tasawufnya yang menyimpang. Agar tidak terlalu berpanjang-lebar, maka baiklah untuk membuktikan penyimpangan mereka akan kita akan kutip kembali pendapat dan keyakinan mereka beserta komentar atas kerancuan yang ada di dalamnya, Allahlah pemberi petunjuk dan pertolongan kepada kita.

Pertama:

Orang tersebut -semoga Allah menunjukinya- berkata, “Kita berasal dari Allah. Menyembah hanya untuk Allah, Hidup dan mati di dalam Allah. Karena kita bagian dari Allah.”

Tanggapan:

Yang menjadi masalah di sini adalah ucapannya “(kita) Hidup dan mati di dalam Allah. Karena kita bagian dari Allah.” Apakah maksud dari ucapan ini? Apakah artinya manusia adalah bagian dari Allah sebagaimana makna yang bisa secara langsung ditangkap dari ucapannya ataukah yang lainnya? Kalau yang dimaksud adalah yang pertama, maka sangat jelas kebatilannya. Allah bukan hamba dan hamba bukan Allah. Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56). Ayat ini menunjukkan bahwa manusia adalah ciptaan Allah, alias hamba dan bukan tuhan atau bagian dari tuhan!

Kalau ada orang yang meyakini demikian -dirinya adalah Allah- maka dia telah kafir. Lantas kalau yang dimaksud adalah makna yang lain, kita akan bertanya apa maknanya? Kalau pun maksud yang mereka inginkan benar, maka kita katakan bahwa ucapan-ucapan semacam ini adalah ucapan yang tidak pada tempatnya bahkan bid’ah! Adakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan demikian? Adakah para sahabat, imam yang empat mengajarkan demikian? Bacalah kitab-kitab tafsir dan hadits… Wajarlah apabila Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Seandainya seseorang menjadi sufi pada pagi hari, maka siang sebelumz dhuhur ia menjadi orang yang dungu.” Cobalah kaum sufi itu berguru kepada Imam Syafi’i. Beliau rahimahullah mengatakan, “Aku beriman kepada Allah serta apa yang datang dari Allah sebagaimana yang diinginkan oleh Allah. Dan aku beriman kepada Rasulullah serta apa yang disampaikan oleh Rasulullah sebagaimana yang diinginkan oleh Rasulullah.” (lihat Lum’at Al-I’tiqad). Apakah Allah atau Rasul-Nya mengajarkan kepada kita bahwa kita adalah bagian dari-Nya? Kita hidup dan mati di dalam diri-Nya? Allah Maha suci dari ucapan mereka.

Kedua:

Orang tersebut -semoga Allah menunjukinya- berkata, “Allah ada di mana-mana. Tapi bukan berarti ada di mana-mana. Seluruh dunia ini terjadi [karena] Campur tangan Allah. Karena Allah tidak tidur. Di dalam diri kita ada Tuhan, manusia sendiri yang membuat HIJAB ( batasan) kepada Allah.”

Tanggapan:

Aneh bin ajaib! Menurutnya Allah di mana-mana tapi tidak ada di mana-mana. Di dalam diri kita -katanya- ada Tuhan… [?] Maha suci Allah… Ucapan semacam inilah yang membuat orang semakin bertambah dungu -sebagaimana disinggung oleh Imam Syafi’i di atas-, adakah orang berakal yang mengucapkan perkataan seperti ini, “Allah ada di mana-mana tapi tidak ada di mana-mana” Allahu akbar! Apakah ada anak kecil yang mengatakan, “Saya laki-laki tapi bukan laki-laki” [?]

Padahal Allah ta’ala sendiri berfirman tentang diri-Nya (yang artinya), “Ar-Rahman menetap tinggi di atas Arsy.” (QS. Thaha: 5). Bagaimanakah kita memahami ayat ini? Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Jalan yang selamat dalam hal ini adalah jalan ulama salaf yaitu memberlakukannya sebagaimana adanya di dalam Al-Kitab dan As-Sunnah tanpa membagaimanakan, tanpa menyelewengkan, tanpa menolak, dan tanpa menyerupakan.” (Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, jilid 5 hal. 202). Apakah ayat ini menunjukkan bahwa Allah membutuhkan Arsy sebagaimana sangkaan sebagian orang? Sama sekali tidak. Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullah di dalam kitab Aqidah Thahawiyahnya, yang menjadi rujukan ulama dari keempat madzhab mengatakan, “Dan Dia (Allah) tidak membutuhkan Arsy dan apa pun yang berada di bawahnya, Allah meliputi segala sesuatu dan Dia berada di atasnya…” (dinukil dari Syarah Ibnu Abil ‘Izz dengan tahqiq Al-Albani, hal. 280)

Dikisahkan bahwa Abu Hanifah rahimahullah pernah ditanya mengenai orang yang mengatakan, “Aku tidak mengetahui apakah Rabbku di atas langit atau di bumi.” Maka beliau menjawab bahwa orang yang mengucapkan itu telah kafir, sebab Allah telah berfirman (yang artinya), “Ar-Rahman menetap tinggi di atas Arsy.” (QS. Thaha: 5). Sedangkan Arsy-Nya berada di atas tujuh lapis langit-Nya.” Kemudian ditanyakan lagi kepadanya bagaimana kalau dia mengatakan, “Allah berada di atas Arsy, tapi aku tidak tahu apakah Arsy itu di atas langit atau di bumi.” Maka Abu Hanifah berkata, “Dia juga kafir. Sebab dia telah mengingkari Allah berada di atas langit. Barangsiapa yang mengingkari Allah berada di atas langit maka dia kafir.” (Syarh Ath-Thahawiyah, hal. 288). (Akan tetapi dalam prakteknya sekarang tentunya kita tidak begitu saja mengatakan kafir apabila bertemu orang yang berkata seperti di atas, karena untuk mengafirkan masih ada syarat-syarat lain yang harus dipenuhi -ed)

Ketiga:

Orang tersebut -semoga Allah menunjukinya- berkata, “Akan tetapi Dzat Tuhan dapat dijumpai dan menyatu dalam diri manusia. Karena sebegitu dekatnya…”

Tanggapan:

Subhanallah, tidak henti-hentinya kaum sufi ini berdusta dan mempermainkan kata-kata semaunya. Apakah Al-Qur’an dan As-Sunnah menyatakan bahwa Dzat Tuhan dapat dijumpai dan menyatu dalam diri manusia, karena sebegitu dekatnya? Sekali lagi inilah bukti bahwa orang-orang sufi telah meninggalkan ilmu dan terpedaya dengan akal mereka yang rusak. Untuk menanggapi ucapan semacam ini cukuplah kami kutip fakta sejarah yang dibawakan oleh penulis buku Tasawuf Belitan Iblis berikut ini:

“Jika kita meneliti gerakan sufisme sejak awal perkembangannya hingga kemunculan secara terang-terangan, kita akan mengetahui­ bahwa seluruh tokoh pemikiran sufi pada abad ketiga dan keempat Hijriyah berasal dari Parsi (kini namanya Iran, dulu pusat agama Majusi, kemusyrikan yang menyembah api, kemudian menjadi pusat Agama Syi’ah), tidak ada yang berasal dari Arab.

Sesungguhnya tasawuf mencapai puncaknya, dari segi aqidah dan hukum, pada akhir abad ketiga Hijriyah, yaitu tatakla Husain bin Manshur Al-Hallaj berani menyatakan keyakinannya di depan penguasa, yakni dia menyatakan bahwa Allah menyatu dengan dirinya, sehingga para ulama yang semasa dengannya menyatakan bahwa dia telah kafir dan harus dibunuh. Pada tahun 309H/ 922M ekskusi (hukuman bunuh) terhadap Husain bin Manshur Al-Hallaj dilaksanakan. Meskipun demikian, sufisme tetap menyebar di negeri Parsi, bahkan kemudian berkembang di Irak.” (Sekian nukilan kami)

Kalau mereka mengatakan bahwa Allah bisa menyatu dalam diri mereka, lantas buat apa mereka beribadah, lantas untuk apa mereka menyembah, kalau semua orang mengaku dirinya adalah Allah maka siapakah yang akan disembah? Maha suci Allah, ini adalah kedustaan yang sangat besar! Kemudian, kalau mereka maksudkan dengan ucapan-ucapan itu makna yang lain, maka akan kita katakan bahwa ucapan ini adalah bid’ah dan tidak dikenal oleh para ulama salaf. Kalau ucapan-ucapan semacam ini dibiarkan maka syariat Islam akan berantakan. Ketika ada seorang lelaki yang berkata kepada orang tua mempelai perempuan, “Saya terima nikahnya Fulanah binti Fulan.” Kemudian setelah itu dia akan berkata kepada si mertua “Saya terima nikahnya tapi tidak menerima nikahnya.” Lah, bagaimana ini? Sejak kapan orang-orang itu menjadi kehilangan akalnya? Rumah sakit jiwa lebih layak bagi orang-orang semacam itu daripada masjid.

Keempat:

Orang tersebut -semoga Allah menunjukinya- berkata, “Seluruh Imam Madzhab pada Akhirnya kembali kepada Sufi. Kecuali Wahabi..”

Tanggapan:

Saudaraku, kalau memang ajaran sufi dengan berbagai macam aliran tarekatnya adalah benar dan para imam madzhab mengikutinya apa alasan kami untuk tidak mengikuti kalian? Namun yang menjadi masalah adalah ajaran-ajaran sufi telah jelas terbukti penyimpangannya. Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Abu Hanifah, dan para ulama yang lain telah memaparkan kepada kita tentang kesesatan ajaran mereka. Al-Qur’an dan As-Sunnah bagi orang sufi sekedar kata-kata yang bisa dipermainkan ke sana kemari. Allah ta’ala mengatakan bahwa Allah itu esa (Qul Huwallahu Ahad). Sementara orang-orang sufi mengatakan Allah menyatu dalam diri hamba-hambaNya, padahal hamba Allah itu banyak. Allah mengatakan bahwa diri-Nya tinggi berada di atas Arsy-Nya, sementara orang-orang sufi mengatakan Allah di mana-mana tapi juga tidak di mana-mana. Allahul musta’an, kalau memang boleh mengatakan demikian maka kita juga akan mengatakan “Semua Imam Madzhab pada akhirnya kembali kepada Wahabi. Kecuali sufi.” Allahu yahdik.

Saudaraku, kami tidak bermaksud untuk mencaci maki siapa pun, kami hanya ingin saudara kami kembali ke jalan yang benar, itu saja. Syaikh Ihsan Ilahi Zahir -rahimahullah- dalam kitabnya: Tashawwuf Al-Mansya’ Walmashdar (Tasawuf, Asal Muasal dan Sumber-Sumbernya) [halaman 28] berkata: “Jika kita amati ajaran-ajaran tasawuf dari generasi pertama hingga akhir serta ungkapan-ungkapan yang bersumber dari mereka dan yang terdapat dalam kitab-kitab tasawuf yang dulu hingga kini, maka akan kita dapatkan bahwa di sana terdapat perbedaan yang sangat jauh antara tasawuf dengan ajaran-ajaran al-Quran dan as-Sunnah, begitu juga kita tidak akan mendapatkan landasan dan dasarnya dalam sirah (sejarah) Rasulullah serta para sahabatnya yang mulia yang merupakan makhluk-makhluk pilihan Allah. Bahkan sebaliknya kita dapatkan bahwa tasawuf diadopsi dari ajaran kependetaan kristen, kerahiban Hindu, ritual Yahudi dan kezuhudan Buda” (sebagaimana dikutip oleh Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan hafizhahullah -salah seorang ulama besar Saudi Arabia- dalam bukunya Hakikat Tasawuf [terjemah], hal. 20)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Orang yang meniti jalan kefakiran, tasawuf, zuhud dan ibadah; apabila dia tidak berjalan dengan bekal ilmu yang sesuai dengan syariat maka akibat tanpa bimbingan ilmu itulah yang membuatnya tersesat di jalan, dan dia akan lebih banyak merusak daripada memperbaiki. Sedangkan orang yang meniti jalan fikih, ilmu, pengkajian dan kalam; apabila dia tidak mengikuti aturan syariat dan tidak beramal dengan ilmunya, maka akibatnya akan menjerumuskan dia menjadi orang yang fajir (berdosa) dan tersesat di jalan. Inilah prinsip yang wajib dipegang oleh setiap muslim. Adapun sikap fanatik untuk membela suatu urusan apa saja tanpa landasan petunjuk dari Allah maka hal itu termasuk perbuatan kaum jahiliyah.” (Majmu’ Fatawa, juz 2 hal. 444. Asy-Syamilah)

Sebelum menutup tulisan ini, perlu kiranya kita ingat bersama dampak yang timbul akibat merebaknya ajaran sufi ini di masyarakat -khususnya di negeri kita ini- sebagaimana yang pernah kami saksikan sendiri bahkan kami dahulu termasuk di antara mereka -dengan taufik dari Allahlah kami meninggalkannya dan menemukan manhaj salaf yang mulia ini-, perhatikanlah dengan mata yang jernih dan pikiran yang tenang… bukankah tersebarnya pemujaan kubur-kubur wali dan orang-orang salih -yang notabene adalah syirik dan bid’ah- di negeri ini timbul karena dakwah dan ajaran sufi? Cermatilah wahai saudaraku yang cerdas… betapa ramainya kubur para wali dikunjungi dan dijadikan tempat untuk mencari berkah, berdoa, beristighotsah dan bertawassul dengan orang-orang yang sudah mati. Dimanakah gerangan itu terjadi?, apakah di pusat-pusat dakwah salafiyah -yang hakiki- ataukah di pusat-pusat dakwah salafiyah yang sebenarnya lebih layak untuk disebut sufi? Padahal, kita semua mestinya sudah mengerti bahwa dosa kesyirikan adalah dosa yang tidak diampuni. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan Dia akan mengampuni dosa di bawah tingkatan syirik itu bagi orang yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisaa’: 48)

Sebagaimana pula kebid’ahan bukan semakin menambah pelakunya dekat dengan Allah, namun justru semakin dekat dengan syaitan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal yang tidak ada tuntunannya dari kami maka tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim, ini salah satu lafazh Muslim). Simaklah keterangan Ibnu Hajar dan An-Nawawi berikut ini… semoga hati kita menjadi semakin mantap mengikuti kebenaran…. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hadits ini tergolong pokok ajaran Islam dan salah satu kaidahnya. Makna dari hadits ini adalah; barangsiapa yang mereka-reka sesuatu dalam urusan agama yang tidak didukung dengan dalil di antara dalil-dalil agama yang ada maka hal itu tidak diakui.” (Fath Al-Bari, 5/341, lihat juga keterangan serupa oleh An-Nawawi dalam Syarh Muslim, 6/295). An-Nawawi rahimahullah berkata, “Di dalamnya terkandung bantahan bagi segala bentuk perkara yang baru (dalam agama), sama saja apakah yang menciptakan itu adalah pelakunya atau ada orang lain yang lebih dulu membuatnya.” (Syarh Muslim, 6/295). Itulah ucapan yang adil dan bijak dari dua orang ulama besar penganut madzhab Syafi’i…

Sungguh bijak ucapan buya HAMKA rahimahullah yang mengatakan, “Daripada gambaran yang saya kemukakan selayang pandang itu, dapatlah kita memahamkan bagaimana sangat perlunya pembersihan aqidah dari syirik, bid’ah dan ajaran tasawuf yang salah, yang telah menimpa negeri kami sejak beberapa zaman, dan perlunya kepada kemerdekaan pikiran dan memperbaharui paham tentang ajaran Islam sejati.” (Sejarah Perkembangan Pemurnian Ajaran Islam di Indonesia, penerbit Tintamas Djakarta, hal. 6-7. Buku ini dapat didownload di perpustakaanislam.com).

Semoga Allah berkenan memberikan taufik kepada saudara-saudara kami yang meninggalkan jalan yang lurus agar mereka kembali menuju jalan yang lurus itu kembali. Alangkah senangnya hati kami jika saudara-saudara kami mendapatkan hidayah, sebagaimana kami juga meminta kepada-Nya dengan nama-namaNya yang terindah dan sifat-sifatNya yang maha tinggi untuk mewafatkan kita di atas jalan yang lurus itu dalam keadaan Allah meridhai kita dan mengampuni segala dosa dan kesalahan kita. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengabulkan doa.

Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

***

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id

==========

Silakan like FB fanspage Muslim.Or.Id dan follow twitter @muslimindo

==========

Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di muslim.or.id dengan menyertakan muslim.or.id sebagai sumber artikel
cara cepat mudah menghafal alquran

99 Komentar

  1. cikal
    26 Okt 2010 [#]

    saudaraku untuk mengetahui benar atau salah adalah haknya Allah lalu kalu anda merasa benar bukankah itu berarti anda mengambil haknya Allah dengan kata lain anda mengaku Allah lalu apa bedanya anda dengan penganut aliran sufi, saya beritau bedanya aliran sufi mengaku bahwa Allah beserta mereka oleh karena itu segala perbuatan mereka harus menampakan sifat Allah sedangkan anda memakai hak Allah. maaf kalau saya lancang marilah kita lihat surah alkafirun. segala perbuatan manusia baik buruknya hanya Allah yang tau dan hanya Dia yang akan memberikan ganjarannya.

  2. Abduh Tuasikal
    28 Okt 2010 [#]

    @ Cikal
    Mengetahui yang benar dan salah memang hak Allah. Namun bukankah dengan terangnya Allah telah jelaskan yang benar dan keliru baik dalam Qur’an dan melalui lisan nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas apa gunanya diutusnya seorang Rasul jk tdk dg tujuan demikian, untuk menjelaskan mana yg benar dan mana yg keliru. Kita tdk sembarang dalam menuduh ajaran ini keliru, ini semua kembali dan berpegang pada dalil.
    Hanya Allah yg beri taufik.

  3. Agus DC
    16 Nov 2010 [#]

    Semoga pencerahan ini menjadikan kita sebagai kaum muslim mendapatkan jalan yang lebih terang menuju jalan Allah SWT……….Amien

  4. abu nurul
    01 Des 2010 [#]

    izin copy mas …jazakallahu khair

  5. Musyarofah
    14 Jan 2011 [#]

    Assalamu’alaikum, wr.wb.
    Permisi,numpang masuk.Melihat kenyataan bahwa, searif dan sebijaksananya orang, pada saat mengomentari sesuatu yang tak sepaham, kebanyakan ada nada dan kata yang cenderung sinis. Macam ” ajaran dan segala tetek bengeknya” Membuat kami kaum awam menjadi lebih bingung.Mohon Kaum Cerdik Cendekia, lebih bijak Ya? agar kami bisa tenang. Tunjuki kepada kami kebenaran, kearifan karena Islam adalah agama yang Rohmatan lil’alamin.

  6. ojie
    25 Jan 2011 [#]

    jadi kesimpulannya islam sufi itu aliran sesat ya? Knp pemerintah ato para ulama tdk melarang ya?

  7. Yulian Purnama
    25 Jan 2011 [#]

    #ojie
    Tidak semua yang tidak dilarang pemerintah itu halal menurut agama.
    Tidak semua yang dilarang oleh pemerintah itu haram menurut agama.

  8. ojie
    26 Jan 2011 [#]

    Bukankah kalo dibiarkan akan semakin meluas yg akhirnya mendominasi?

  9. Yulian Purnama
    26 Jan 2011 [#]

    #ojie
    Tentu tidak boleh dibiarkan. Dan tidak boleh juga mengingkarinya dengan cara yang salah. Kita ingkari sesuai dengan kemampuan kita. Kalau mampunya sebatas menasehati dengan ilmiah dan penuh lemah lembut, menyebarkan ilmu syar’i yang shahih, maka itulah yang layak dilakukan.

  10. basri
    31 Jan 2011 [#]

    alhamdulilah
    2minggu yg lalu aku ditanya allah dimana basri.. aq bingung dan gak jwb takut salah,batinku allah itu dekat..
    Trus yg tanya aku kasih tau aku kalo allah itu ada dihati kita sendiri,jdi aq mengikuti omonganya dia..karna ia lebih tau..
    alhamdulilah dari baca ini aq dah tau skrng bahwa aku salah.. alhamdulilah..

  11. Emil zola
    03 Mar 2011 [#]

    Sufi itu mengkalaim dirinya paling dekat dgn Allah. Ada diantaranya yg tdk perlu sholat karna dia sdh menyatu dgn Allah.
    A’udzubillahi minzalik.

  12. Noorsyam
    14 Apr 2011 [#]

    Insan terbaik adalah yg : khairunnas anfa uhum linnas…itulah hakekat Insan kamil…

  13. Arie Adie
    14 Apr 2011 [#]

    Assalaamu alaikum wr wb.
    Alhamdulillah kiranya jemari saya dituntun oleh Allah untuk mencari blog ini. Saya juga salah satu pelaku ajaran kejawen, namun Allah melindungi saya dari kemusyrikan dngan tetap berpegang teguh pada syariat Islam, Insya Allah tetap menguatkan akidah.
    Memang benar apa yg dibahas di atas, bahwa sufisme dalam beragama ini terkadang menafikan syariat serta berlaku tidak adil pada Allah, karena menganggap diri kita `manunggal dng Allah`.
    Saya ikut mendalami itu, tapi justru sya menemukan bahwa, yg dimaksd dng manunggal itu sejatinya adalah `keikhlasan total kita kepada Allah untuk diatur melalui syariat Nya`.
    Tapi perkembangannya, orang jadi merasa suci, hingga kita tidk memerlukan syariat. Menurut saya ini pandangan yg keliru, karena syariat itu adalah pondasi kita mengenal diri sendiri,..menyadarkan kita akan posisi dan fungsi kita.
    Demikian semoga ini semua bermanfaat. Amiin YRA. TErimakasih atas tulisan ini, karena semakin menyadarkan saya. Namun saya akan tetap menempuh jalan ini dng tidak sama caranya dng Al Halaj atau Syeh siti jenar. Jazakallahu khiron katsiran. Wassalaamu alaikum wr wb.

  14. runi
    21 Apr 2011 [#]

    ass.wr.wb
    sdr arie adie, bisakah memberikan info ke saya dimana belajar spt yg anda maksud” keikhlasan total utk diatur melalui syariatnya” spt anda sebut diatas.tks
    wass.wr.wb

  15. toha kusrianto
    15 Jul 2011 [#]

    Alkhamdulillah,setelah saya baca artikel diatas saya mendapatkan masukan yang sangat berharga sebagai pondasi akidah dan ke Imanan saya,saya telah berniat untuk menimba ilmu kepada se orang ulama ahli sufi,dan artikel tersebut telah membuka wawasan saya tentang ajaran sufi,saya berlindung kepada Alloh dari godaan Syaiton yang terkutuk.

  16. abu kemal
    17 Jul 2011 [#]

    SUBHANALLOH

  17. jajang
    05 Agu 2011 [#]

    allahu akbar

  18. limo priyogodo
    06 Agu 2011 [#]

    assalamualaikum wr.wb
    sebelumnya saya mohon maaf…
    setelah membaca beberapa komentar,,saya cuma orang bodoh yg ingin tau kebenaran..
    apakah sebenarnya arti ISLAM tsb.?
    lalu islam yg mana yg paling benar,,semua mengaku bedasarkan al qur’an dan hadist sesuai dgn dalil.?
    dan d setiap sabda nabi pasti ditutup dgn (HR siapa lah),,kenapa tidak memakai (HR 4 sahabat nabi).?
    perbedaan adalah rahmat itu benar karena ALLAH memberikan manusia akal dan pikiran,.
    kembalikan semua pada ALLAH,,dan surah al kafirun : Lakum di nukum waliadin…

  19. Yulian Purnama
    06 Agu 2011 [#]

    #limo priyogodo
    * Makna agama Islam silakan simak:
    http://muslim.or.id/aqidah/agama-islam.html
    * Islam yang benar adalah yang sesuai dengan Qur’an, hadits dan pemahaman para sahabat Nabi
    http://muslim.or.id/manhaj/meneladani-sahabat-nabi-jalan-kebenaran.html
    * Jika sebuah hadits ditulis (HR Fulan), berarti Fulan ini adalah ulama muhaddits yang menulis hadits tersebut dengan sanadnya.
    * Perbedaan itu adzab bukan rahmat, Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk bersatu, bukan berbeda. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Berpegang teguhlah pada tali Allah dan jangan berpecah-belah” (QS. Al-Imran: 103)
    * Ayat dalam surat Al Kafirun itu ditujukan kepada orang kafir, bukan sesama muslim. Adapun sesama muslim, hendaknya saling menasehati. Silakan simak:
    http://kangaswad.wordpress.com/2011/06/06/jangan-campuri-urusanku/

  20. sujai ahmad
    07 Okt 2011 [#]

    alhamdulillaah… paparan tadi bisa menambah wawasan saya.agar tidak melenceng dari ajaran alquran dan hadits. subhanallaah.. trims,

  21. rina
    26 Nov 2011 [#]

    Allah maha pengasih lagi maha penyayang,,jika tasawuf, sufi ajaran yang sesat,,kenapa Allah membiarkannnya berkembang,,??saya temui ajaran tasawuf yang mengikuti ajaran nabi dan sesuai didalam Alquran,,bagaimana dengan hal yang demikian,,mohon penjelasan,,

  22. Yulian Purnama
    27 Nov 2011 [#]

    #rina
    Mengapa agama kristen dan agama yahudi berkembang pesat di dunia barat? Apakah itu jadi indikasi bahwa kedua agama tersbeut benar?

  23. sufi
    16 Des 2011 [#]

    agama mengajarkan tentang budi pekerti..Rasul pun memberikan contoh tentang budi pekerti yang baik. saya rasa itu yang terpenting dalam agama tentang budi pekerti. dengan budi pekerti yang baik secara langsung pasti akan melaksanakan syariat agama.

  24. nemo
    26 Jan 2012 [#]

    semoga ridhoNya senantiasa bersama qt

  25. Heryztia
    05 Feb 2012 [#]

    Izin Share Ya Mas di FACEBOOK PAGE SAYA

  26. imam
    02 Mar 2012 [#]

    Saya Mau nanya Apakah Penulis akan menhukumi Al Hallaj , Al ghozali Maupun Junaid Al Bghdadi sebagai Orang Musyrik ?………

  27. Yulian Purnama
    03 Mar 2012 [#]

    #imam
    Tidak

  28. w4hyu
    04 Mar 2012 [#]

    Ajarn sufi lebihmirip sistem kependetaan dalam ajaran budha atau hindu, dimana para penganutnya lebih mementingkan urusan akhirat dan menganggap urusan duniawi tidaklah penting, apakah Rasulullah mengajarkan sesuatu peribadatan yang seperti ini ? tentu tidak Rasullullah mengajarkan agar urusan duniawi dan ukhrowi berjalan seimbang. Tetapi tidak ada salahnya jika kita menganbil hal-hal positif dari ajaran sufi.

  29. tedyfajrin
    07 Apr 2012 [#]

    @ALL..
    asslmualikum..buat pra koment yg merasa pinter..ga usah sok pinter
    udah jelass di terngkn sufi itu ajaran menyesatkan,tolong fahami dengn teliti secerdas anda,sekemmampuan anda berfikir.,,klo anda merasa tidak terima dengn penjelsan itu,berarti anda adalah golongn orang2 sufii,,berarti anda lh orng yg telh mnerusak norma AJARN agama kami,yaitu agama islam agama yg ALLH RIDHOI…
    terima kasih perkenlkan KAMI DARI HAMBA ALLAH SWT. UMAT NABI MUHAMMAD SAW,BERPGNG TEGUH DALAM AJRN ALQURAN DAN SUNNAH..
    tolong kau jangn merusak ajran kami kepada org2 keturan kami..kami tiduk butuh AJRAN sufii.,kami tau persis ap itu suffi
    KAMI BERPEGNG TEGUH PADA ALQURAN HADIST DAN SUNNAH…..ALLAHHUAKBAR..

  30. hans
    07 Apr 2012 [#]

    “Aku (Muhammad SAW) tinggalkan 2 hal, n jika kmu berpegang teguh kepada ke2x maka km sekalian tidak akan tersesat selamax, ke2x adalah AlQuran dan As Sunnah (Hadits)”
    kembalikan semua hal trutama urusan agama kepada ke2x,, jika menyalahi keduax, dipastikan sesat/keliru ..
    walaupun yang diutarakan dengan kata2 indah,, cara2 yg seolah2 benar, penampilan yg meyakinkan namun menyalahi keduax,, g usah qta ikuti … n kwajiban qta mngingatkan mreka ..
    n smoga bersamaan dengan Hidayah Allah Ta’ala … amin

  31. Pejalankaki
    14 Mei 2012 [#]

    salam…

    Saat ini dini pagi, saya sadar dan sedang mendapati diri diantara hasil pemikiran yang saling membedakan antara lain. namun sepertinya lalai atas adanya kesamaan.

    trimakasih atas apa yang kalian suguhkan, seperti bekal tambahan, saya meneruskan perjalanan.

    wasalam…

  32. muslimah
    14 Mei 2012 [#]

    assalamu’alaykumwrwb, ustadz, Alhamdulillah saya menemukan halaman ini, sangat bermanfaat buat saya. syukron jazzakumulloh khoir..
    Btw, saya di luar negeri, punya teman-teman muallaf…then ketika makin dekat, saya jadi mengetahui mayoritas muslimah Eropa masuk Islam karena “pertama-nya” mengenal Islam dari pria muslim, jadi rata2 teman muslimah ini punya pacar, dan anehnya ‘pacarnya’ ini ada yang syiah dan ada pula yang sufi. Tak terelakkan dengan pertanyaan-pertanyaan mereka tentang sufi, maka saya cari di internet, dan bertemulah dengan artikel ini. Benar banyak kalimat yang sama (di artikel ini) yang mereka lontarkan, kalimat indah terselubung kata-kata sesat saat menganggap diri adalah makhluk tersuci, istilahnya “naik maqom” jadi ‘sekelas’ dengan malaikat, bidadari, githu lho ustadz…
    semoga Allah ta’ala senantiasa melimpahkan taufiq hidayah-Nya agar kita selalu berada dalam rambu Islam yang lurus, aamiin.

  33. syihabuddin aab
    06 Agu 2012 [#]

    sebenarnya kita memang harus mengejar akhirat nantinya juga duniawi akan mengikuti kita.

  34. Zaenal
    07 Agu 2012 [#]

    assalamu alaikum. mohon maaf bapak ustadz, sy cuma seorang pemuda yang baru belajar… tapi saya hanya ingin menyampaikan, bahwa kita sebagai ummat muslim tidak boleh saling mengkafirkan satu sama lain. sudahkah anda paham tentang ajaran sufi kemudian anda menyatakan kekafirannya? menurut saya ajaran sufi itu hanya berusaha mendalami apa yang di ajarkan dalam al-quran, karena alquran adalah kalamullah yang tidak maknanya sangat dalam. itulah gunanya Allah swt. menganugerahkan akal bagi manusia agar senantiasa berfikir…kita telah bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah sejak masih dalam kandungan…dan kita diwajibkan oleh Allah untuk mencari kebenaran melalui petunjuk Rasulnya… dan saya kira ajaran sufi jg tidak semuanya menyimpang…

  35. Yulian Purnama
    07 Agu 2012 [#]

    #Zaenal
    Wa’alaikumussalam, beberapa aqidah sufi itu memang termasuk kekufuran sebagaimana dijelaskan di atas, itu pun perkataan para ulama. Namun perlu dipahami perbedaan antara takfir mu’ayyan dengan takfir ghayru mu’ayyan. Takfir muayyan adalah mengkafirkan person atau individu tertentu, misal mengatakan “Fulan itu kafir“, ini bukan perkara yang terpuji jika dilakukan orang awam seperti kita.

    Adapun takfir ghayru mu’ayyan semisal yang ada di artikel “Kalau ada orang yang meyakini demikian -dirinya adalah Allah- maka dia telah kafir” ini bukan berarti setiap orang yang mengikuti tasawuf itu pasti kafir. Karena bisa jadi ia melakukan perbuatan kekufuran namun tidak kafir karena ada penghalangnya, misalnya ia melakukannya karena tidak tahu. Namun kalimat tersebut adalah kalimat yang benar, karena bagaimana mungkin mengaku sebagai Allah itu bukan perbuatan kekufuran?

    Lebih jelasnya silakan simak artikel2 berikut:
    http://muslim.or.id/manhaj/kasih-sayang-manhaj-salaf-3.html
    http://muslim.or.id/manhaj/fatwa-ulama-seputar-sikap-ekstrem-pengkafiran-dan-sebagian-ciri-ciri-khawarij-1.html
    http://muslim.or.id/manhaj/fatwa-ulama-seputar-sikap-ekstrem-pengkafiran-dan-sebagian-ciri-ciri-khawarij-2.html
    http://muslim.or.id/manhaj/fatwa-ulama-seputar-sikap-ekstrem-pengkafiran-dan-sebagian-ciri-ciri-khawarij-3.html
    http://muslim.or.id/manhaj/fatwa-ulama-seputar-sikap-ekstrem-pengkafiran-dan-sebagian-ciri-ciri-khawarij-4.html
    http://muslim.or.id/manhaj/fatwa-ulama-seputar-sikap-ekstrem-pengkafiran-dan-sebagian-ciri-ciri-khawarij-5.html

  36. ikhsan
    18 Sep 2012 [#]

    sepengetahuan saya Islam adalah Agama damai, ketakutan saya ketika perbedaan pendapat memecah persaudaraan kita sesama Muslim…
    saya berharap perbedaan pendapat tdk menjadikan bibit-bibit penyakit dalam hati menjadi benci kepada saudara-saudara kita yang berbeda pemahaman tentang islam….

  37. refi
    01 Okt 2012 [#]

    hanya allah lah yang maha benar.
    karna ddunia ini tempat duji manusia kmbali untuk kpdNYA dg keadaan suci.

  38. Burhan
    11 Nov 2012 [#]

    assalamualaikum

  39. Burhan
    11 Nov 2012 [#]

    rosullulloh saw bersabda.Islam akan terpecah menjadi bnyk golongan dan
    aku nenyakininya,aku berlindung kpd ALLAH swt semoga aku terlindung dr
    nafsuku utk terikuti agama Islam yg semakin jauh dariMU Amin.

  40. asep sudrajat
    05 Des 2012 [#]

    Sodaraku seiman,semoga Allah selalu memberi petunjuk kepada kita agar kita dapat melalui berbagai cobaan dan rongrongan kepada akidah kita,maka untuk menuntun kita kepada akidah yang syar’i dan insya Alloh sesuai tuntunan Alquran dan sunnah Nabi Muhammad SAW yang berdasarkan pemahaman Nabi dan para sahabatnya , sebagai referensi silahkan anda simak siaran radio Rodja Frekwensi 756 AM atau Rodja TV dengan antena Parabola,insya Aloh anda akan mendapatkan informasi yang tepat dan benar.Amin

  41. ABDUL FATAH
    08 Des 2012 [#]

    assalamualaikum, afwan, karena kejahilan dan tidak sabar manghadapi ujian, sekarang ana ada dalam lingkungan penganut faham sufi. baru saja masuk, ana bingung jika dilanjutkan takut akan semakin terjerumus karena kejahilan ana, tapi disisi lain ana bingung juga jika mau keluar dari asrama tersebut karena baru dua hari disana. apakah boleh kita melihat dulu kondisi dan ajaran orang sufi sekedar untuk menambah pengetahuan?
    jika tidak sebaiknya apa yang seharusnya ana lakukan?

  42. Muhammad Abduh Tuasikal
    12 Des 2012 [#]

    @ Abdul Fatah

    Wa’alaikumussalam. Saran kami, tinggalkan majelis sufi semacam itu. Ajaran mereka kebanyakan tidak ada tuntunan dan ada yang mengarah pada kesyirikan.

  43. Nuria
    13 Jan 2013 [#]

    Alhamdullilah,semoga dgn artikel ini saudara2 kita banyak yg sadar akan kesesatan sufi/tasawauf,di indonesia tercinta sejarah membuktikan ajaran manugaling kawulo lan gusti/menyatunya allah swt dan hambanya yg diajarkan syech siti jenar ditentang oleh para WALI SONGO,dengan hukuman pancung karna syech siti jenar sesat karna menggangap dirinya allah SWT,kalau semua muslim telah sampai tingkat maarifat/mengaku dirinya allah SWT tidak perlu lagi sholat&syariat,untuk apa nabi Muhamad SAW diutus

  44. endiss
    10 Feb 2013 [#]

    kita di dunia cuma perjalanan dan perjalanan itu penuh laka liku tp sejatinya semua kembali ke hadirat ALLAH swt.dan di alqur an kl cuma di baca teks nya di antara kaum muslimin pasti banyak perbedaan. kita harus mendalami nya kita hrs tau hadist yg komlit jgn separoh2 biar gak terjadi salah tapsir sadaraku baca lg dan pelajarilah alquran dan hadist dan kitab2 ulama tampa ulama kita tdk akan bisa memahami sesuatu yg di yakini. contoh salat contoh lg baca alquran dan sebagainya yang menyangkut ibadah kl kita cuma alquran dan hadis pasti byk yg salah jalan jd harus ada penfsiran ya penafsiran itu ya ulama ulama. seperti imam safii dan imam lainnya terima kasih

Tinggalkan Komentar

Biojanna

Kembali ke Atas