Sufi, Benarkah Itu Ajaran Nabi?

Kategori: Manhaj

86 Komentar // 1 Desember 2008

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi akhir zaman dan da’i yang menyeru kepada jalan Allah dengan ilmu dan keterangan.

Amma ba’du. Saudara-saudaraku sekalian kaum muslimin -semoga Allah semakin mempererat tali persaudaraan kita karena-Nya- perjalanan hidup kita di alam dunia merupakan sebuah proses perjuangan untuk menggapai keridhaan-Nya. Kita hidup bukan untuk berhura-hura atau memuaskan hawa nafsu tanpa kendali agama. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah (hanya) kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Saudara-saudaraku sekalian -semoga Allah menumbuhkan kecintaan yang dalam di dalam hati kita kepada al-Qur’an, as-Sunnah dan para sahabat radhiyallahu ta’ala ‘anhum- sebagaimana kita sadari bersama bahwa agama Islam adalah ajaran yang sempurna. Tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang yang tidak paham dan orang yang menyombongkan dirinya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian, Aku telah cukupkan nikmat-Ku atas kalian, dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian.” (QS. Al-Maa’idah: 3)

Saudara-saudaraku sekalian -semoga Allah mencurahkan hidayah dan taufik-Nya kepada kita untuk meniti jalan yang lurus dan tidak berpaling darinya- Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang menentang Rasul setelah petunjuk terang benderang baginya dan dia malah mengikuti selain jalan orang-orang yang beriman, maka Kami akan membiarkan dia terombang-ambing di dalam kesesatan yang dipilihnya, dan Kami akan memasukkan dirinya ke dalam neraka jahannam. Dan sungguh jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisaa’: 115)

Bagi kita ajaran atau Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri dari kehancuran dan mata air yang akan mengalirkan kesejukan iman. Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu mengisahkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan Sunnah/ajaranku dan ajaran para khalifah yang berpetunjuk lagi lurus sesudahku, berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham serta jauhilah perkara-perkara baru yang diada-adakan (dalam agama), sebab setiap yang diada-adakan itu adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah pasti sesat.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, Tirmidzi menilai hadits ini hasan)

Oleh karena itu sudah semestinya kita -sebagai orang yang mengaku beriman- untuk mengembalikan segala bentuk perselisihan kepada Hakim yang paling bijaksana yaitu Allah subhanahu wa ta’ala. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Kemudian apabila kalian berselisih dalam suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah (al-Qur’an) dan rasul (as-Sunnah), hal itu pasti lebih baik bagi kalian dan lebih bagus hasilnya, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.” (QS. An-Nisaa’: 59)

Mujahid dan para ulama salaf yang lainnya menafsirkan perintah kembali kepada Allah dan rasul yang terdapat dalam ayat ini dengan mengatakan yaitu kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Ini merupakan perintah dari Allah ‘azza wa jalla yang menunjukkan bahwa segala sesuatu yang diperselisihkan orang -dalam hal pokok agama maupun cabang-cabangnya- maka perselisihan itu harus diselesaikan dengan merujuk kepada Al-Kitab dan As-Sunnah. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah ta’ala (yang artinya), “Apa saja perkara yang kalian perselisihkan maka keputusannya dikembalikan kepada Allah.” (QS. Asy-Syura: 10). Maka apa pun yang telah diputuskan oleh Al-Kitab dan As-Sunnah serta didukung oleh dalil yang benar dari keduanya itulah kebenaran, “dan tiada lagi sesudah kebenaran melainkan kesesatan.” (lihat Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, jilid 2 hal. 250).

Di hadapan kita terdapat persoalan yang telah membuat lisan sebagian orang melontarkan tuduhan-tuduhan yang tak pantas kepada Ahlus Sunnah dan dakwahnya, bahkan saking getolnya memuja keyakinan sufi yang dianggapnya benar maka dia pun tidak segan melontarkan ucapan-ucapan aneh yang menunjukkan kerancuan aqidah yang tertancap di dalam dadanya.

Orang tersebut -semoga Allah menunjukinya- berkata, “Kita berasal dari Allah. Menyembah hanya untuk Allah, Hidup dan mati di dalam Allah. Karena kita bagian dari Allah.” Orang tersebut -semoga Allah menunjukinya- berkata, “Allah ada di mana-mana. Tapi bukan berarti ada di mana-mana. Seluruh dunia ini terjadi [karena] Campur tangan Allah. Karena Allah tidak tidur. Di dalam diri kita ada Tuhan, manusia sendiri yang membuat HIJAB ( batasan) kepada Allah.” Orang tersebut -semoga Allah menunjukinya- berkata, “Akan tetapi Dzat Tuhan dapat dijumpai dan menyatu dalam diri manusia. Karena sebegitu dekatnya…” Orang tersebut -semoga Allah menunjukinya- berkata, “Seluruh Imam Madzhab pada Akhirnya kembali kepada Sufi. Kecuali Wahabi…” ?!

Baiklah, memang pahit di lidah dan panas di telinga, namun terpaksa kalimat-kalimat ini kami sebutkan di sini demi menerangkan kebenaran dan membantah kebatilan, semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk bersatu di atas kebenaran, Allahul musta’aan.

Sebagai jalan untuk memecahkan persoalan ini maka akan saya kutip ucapan indah dari orang yang sama yang telah mengucapkan kalimat-kalimat di atas. Orang tersebut -semoga Allah menambahkan hidayah kepada-Nya- mengatakan dengan jujur dan tulus, “Maka sebaiknya kita tanya dulu kepada Orang yang lebih tahu daripada Kita, Karena di atas langit masih ada langit.” Alangkah bagus ucapannya sebab bersesuaian dengan sebuah firman Allah yang mulia (yang artinya), “Maka bertanyalah kepada ahli ilmu jika kalian tidak mengetahui suatu perkara, dengan dasar keterangan dan kitab-kitab…” (QS.An-Nahl: 43-44). Tentu saja tempat kita bertanya adalah para ulama yang mengikuti pemahaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Insya Allah ucapan dan keterangan mereka akan kami sebutkan untuk menenangkan hati dan pikiran kita.

Sebelum lebih jauh menanggapi hal ini, dengan memohon taufik dari-Nya maka kami perlu kemukakan beberapa hal di sini agar duduk perkaranya menjadi jelas dan tidak terjadi kesalahpahaman.

Saudaraku sekalian -semoga Allah mengokohkan kita di atas kebenaran, bukan di atas kebatilan- ajaran Sufi yang populer dan kata orang mengajarkan penyucian jiwa, pendekatan diri kepada Allah serta membuang jauh-jauh ketergantungan hati kepada dunia serta mengikatkan hati manusia hanya kepada Allah, kita telah akrab dengan istilah ini. Meskipun demikian, sebagai muslim yang baik tentunya kita tidak akan berbicara dan bersikap kecuali dengan landasan dalil dari Allah ta’ala. Allah berfirman (yang artinya), “Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, itu semua pasti dimintai pertanggung jawabannya.” (QS. Al-Israa’: 36)

Saudaraku sekalian, sesungguhnya perkara penyucian jiwa, melembutkan hati dan pendekatan diri kepada Allah serta melepaskan ketergantungan hati kepada dunia dan mengikatkan hati manusia kepada Rabbnya merupakan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa kita ragukan barang sedikit pun. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh Allah telah mengaruniakan nikmat bagi orang-orang yang beriman ketika mengutus rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan jiwa mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al Hikmah (As-Sunnah) padahal sebelumnya mereka dulu berada di dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali Imran: 164). Maka tugas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah membacakan dan menerangkan ayat-ayat Allah, menyucikan jiwa manusia dari berbagai kotoran dosa dan kesyirikan, dan mengajarkan Al-Kitab dan As-Sunnah kepada mereka.

Oleh karena itulah apabila kita membuka kitab-kitab hadits akan kita jumpai di sana sebuah bab khusus yang menyebutkan riwayat-riwayat hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengajarkan penyucian jiwa dan melembutkan hati. Contohnya di dalam Sahih Bukhari, Al-Bukhari rahimahullah menulis Kitab Ar-Riqaaq (hal-hal yang dapat melembutkan hati), di sana beliau membawakan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terkait dengan hal ini sebanyak seratus hadits lebih, yaitu hadits no. 6412-6593 (lihat Sahih Bukhari cet. Maktabah Al-Iman, halaman. 1306-1332)

Demikian juga murid Al-Bukhari yaitu Muslim rahimahullah membuat Kitab Ar-Riqaaq, Kitab At-Taubah, Kitab Shifatul Munafiqin wa ahkamuhum, Kitab Shifatul qiyamah wal jannah wan naar, dan lain sebagainya hingga Kitab Az-Zuhd wa raqaa’iq yang mencantumkan dua ratus hadits lebih tentang penyucian jiwa dan hal-hal yang terkait dengannya di dalam Sahihnya (lihat Sahih Muslim yang dicetak bersama Syarah Nawawi, hal. 5-259). Demikian pula di antara para ulama ada yang menyusun kitab khusus tentangnya seperti Adz-Dzahabi yang menulis kitab Al-Kaba’ir tentang dosa-dosa besar. An-Nawawi yang menulis Riyadhush Shalihin yang mencakup berbagai pembahasan tentang penempaan diri dan penyucian jiwa. Shifatu Shafwah dan Al-Latha’if karya Ibnul Jauzi. Bahkan banyak kitab hadits yang dinamakan dengan kitab Az-Zuhd, seperti Az-Zuhd karya Abu Hatim Ar-Razi, Az-Zuhd karya Abu Dawud, Az-Zuhd karya Imam Ahmad bin Hanbal, dan lain-lain, semoga Allah merahmati mereka semua. Bukankah dengan membaca ayat-ayat Al-Qur’an, kemudian riwayat-riwayat hadits sahih serta penjelasan ulama yang ada di dalam kitab-kitab tersebut kita dapat mempelajari bagaimanakah menyucikan jiwa, bagaimana mendekatkan diri kepada Allah dan bagaimana melepaskan ketergantungan hati kepada selain-Nya…

Inilah pelajaran-pelajaran akhlak dan penyucian jiwa yang disampaikan oleh para ulama kepada kita. Sehingga kalau yang dimaksud sufi adalah itu semua (penyucian jiwa dsb) maka akan kita katakan bahwa itulah yang diajarkan oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah alias manhaj salaf kepada umat manusia. Oleh sebab itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata mengenai salah satu sifat Ahlus Sunnah, “Mereka memerintahkan untuk sabar ketika tertimpa musibah, bersyukur ketika lapang, serta merasa ridha dengan ketetapan takdir yang terasa pahit. Mereka juga menyeru kepada kemuliaan akhlak dan amal-amal yang baik, mereka meyakini makna sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Orang beriman yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya.’…” (Aqidah Wasithiyah, hal. 87). Kalau ajaran menyucikan diri dan menggantungkan hati hanya kepada Allah -sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi dan para sahabat- disebut sufi maka saksikanlah bahwa saya adalah seorang sufi!

Namun, ketahuilah saudaraku -semoga Allah merahmatimu- kalau kita cermati lebih jauh ajaran sufi atau tasawuf dan berbagai macam tarekat yang dinisbatkan ke dalamnya beserta tetek bengek ajaran dan lontaran-lontaran aneh yang mereka angkat, niscaya akan teranglah bagi kita bahwa sebenarnya ajaran Sufi yang berkembang hingga hari ini -di dunia secara umum ataupun dinegeri kita secara khusus- telah banyak menyeleweng dari rambu-rambu Al-Kitab dan As-Sunnah. Sebagaimana pernah disinggung oleh Buya HAMKA rahimahullah di dalam pidatonya dalam acara penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar di Mesir pada tanggal 21 Januari 1958 -lima puluh tahun yang silam-, beliau mengatakan, “Daripada gambaran yang saya kemukakan selayang pandang itu, dapatlah kita memahamkan bagaimana sangat perlunya pembersihan aqidah daripada syirik dan bid’ah dan ajaran tasawuf yang salah, yang telah menimpa negeri kami sejak beberapa zaman, dan perlunya kepada kemerdekaan pikiran dan memperbaharui paham tentang ajaran Islam sejati.” (Sejarah Perkembangan Pemurnian Ajaran Islam di Indonesia, penerbit Tintamas Djakarta, hal. 6-7)

Inilah ucapan yang adil dan bijak dari orang besar seperti beliau. Berikut ini akan kami kutip penjelasan yang diberikan oleh Bapak Hartono Ahmad Jaiz -semoga Allah membalas kebaikannya- yang telah memaparkan mengenai sejarah ajaran sufi ini di dalam bukunya ‘Tasawuf Belitan Iblis’. Beliau mengatakan: “Abdur Rahman Abdul Khaliq, dalam bukunya Al-Fikrus Shufi fi Dhauil Kitab was Sunnah menegaskan, tidak diketahui secara tepat siapa yang pertama kali menjadi sufi di kalangan ummat Islam. Imam Syafi’i ketika memasuki kota Mesir mengatakan, “Kami tinggalkan kota Baghdad sementara di sana kaum zindiq (aliran yang menyeleweng, aliran yang tidak percaya kepada Tuhan, berasal dari Persia, orang yang menyelundup ke dalam Islam, berpura-pura –menurut Leksikon Islam, 2, hal 778) telah mengadakan sesuatu yang baru yang mereka namakan assama’ (nyanyian).

Kaum zindiq yang dimaksud Imam Syafi’i adalah orang-orang sufi. Dan assama’ yang dimaksudkan adalah nyanyian-nyanyian yang mereka dendangkan. Sebagaimana dimaklumi, Imam Syafi’i masuk Mesir tahun 199H. Perkataan Imam Syafi’i ini mengisyaratkan bahwa masalah nyanyian merupakan masalah baru. Sedangkan kaum zindiq tampaknya sudah dikenal sebelum itu. Alasannya, Imam Syafi’i sering berbicara tentang mereka, di antaranya beliau mengatakan: “Seandainya seseorang menjadi sufi pada pagi hari, maka siang sebelum zhuhur ia menjadi orang yang dungu.” Dia (Imam Syafi’i) juga pernah berkata: “Tidaklah seseorang menekuni tasawuf selama 40 hari, lalu akal­nya (masih bisa) kembali normal selamanya.” (Lihat Talbis Iblis, hal 371). Sekian nukilan kami dari Tasawuf Belitan Iblis.

Pembaca sekalian, dari keterangan di atas kita mengetahui bahwa Imam Syafi’i rahimahullah sendiri termasuk ulama yang mengecam kaum sufi dan ajaran tasawufnya yang menyimpang. Agar tidak terlalu berpanjang-lebar, maka baiklah untuk membuktikan penyimpangan mereka akan kita akan kutip kembali pendapat dan keyakinan mereka beserta komentar atas kerancuan yang ada di dalamnya, Allahlah pemberi petunjuk dan pertolongan kepada kita.

Pertama:

Orang tersebut -semoga Allah menunjukinya- berkata, “Kita berasal dari Allah. Menyembah hanya untuk Allah, Hidup dan mati di dalam Allah. Karena kita bagian dari Allah.”

Tanggapan:

Yang menjadi masalah di sini adalah ucapannya “(kita) Hidup dan mati di dalam Allah. Karena kita bagian dari Allah.” Apakah maksud dari ucapan ini? Apakah artinya manusia adalah bagian dari Allah sebagaimana makna yang bisa secara langsung ditangkap dari ucapannya ataukah yang lainnya? Kalau yang dimaksud adalah yang pertama, maka sangat jelas kebatilannya. Allah bukan hamba dan hamba bukan Allah. Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56). Ayat ini menunjukkan bahwa manusia adalah ciptaan Allah, alias hamba dan bukan tuhan atau bagian dari tuhan!

Kalau ada orang yang meyakini demikian -dirinya adalah Allah- maka dia telah kafir. Lantas kalau yang dimaksud adalah makna yang lain, kita akan bertanya apa maknanya? Kalau pun maksud yang mereka inginkan benar, maka kita katakan bahwa ucapan-ucapan semacam ini adalah ucapan yang tidak pada tempatnya bahkan bid’ah! Adakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan demikian? Adakah para sahabat, imam yang empat mengajarkan demikian? Bacalah kitab-kitab tafsir dan hadits… Wajarlah apabila Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Seandainya seseorang menjadi sufi pada pagi hari, maka siang sebelumz dhuhur ia menjadi orang yang dungu.” Cobalah kaum sufi itu berguru kepada Imam Syafi’i. Beliau rahimahullah mengatakan, “Aku beriman kepada Allah serta apa yang datang dari Allah sebagaimana yang diinginkan oleh Allah. Dan aku beriman kepada Rasulullah serta apa yang disampaikan oleh Rasulullah sebagaimana yang diinginkan oleh Rasulullah.” (lihat Lum’at Al-I’tiqad). Apakah Allah atau Rasul-Nya mengajarkan kepada kita bahwa kita adalah bagian dari-Nya? Kita hidup dan mati di dalam diri-Nya? Allah Maha suci dari ucapan mereka.

Kedua:

Orang tersebut -semoga Allah menunjukinya- berkata, “Allah ada di mana-mana. Tapi bukan berarti ada di mana-mana. Seluruh dunia ini terjadi [karena] Campur tangan Allah. Karena Allah tidak tidur. Di dalam diri kita ada Tuhan, manusia sendiri yang membuat HIJAB ( batasan) kepada Allah.”

Tanggapan:

Aneh bin ajaib! Menurutnya Allah di mana-mana tapi tidak ada di mana-mana. Di dalam diri kita -katanya- ada Tuhan… [?] Maha suci Allah… Ucapan semacam inilah yang membuat orang semakin bertambah dungu -sebagaimana disinggung oleh Imam Syafi’i di atas-, adakah orang berakal yang mengucapkan perkataan seperti ini, “Allah ada di mana-mana tapi tidak ada di mana-mana” Allahu akbar! Apakah ada anak kecil yang mengatakan, “Saya laki-laki tapi bukan laki-laki” [?]

Padahal Allah ta’ala sendiri berfirman tentang diri-Nya (yang artinya), “Ar-Rahman menetap tinggi di atas Arsy.” (QS. Thaha: 5). Bagaimanakah kita memahami ayat ini? Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Jalan yang selamat dalam hal ini adalah jalan ulama salaf yaitu memberlakukannya sebagaimana adanya di dalam Al-Kitab dan As-Sunnah tanpa membagaimanakan, tanpa menyelewengkan, tanpa menolak, dan tanpa menyerupakan.” (Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, jilid 5 hal. 202). Apakah ayat ini menunjukkan bahwa Allah membutuhkan Arsy sebagaimana sangkaan sebagian orang? Sama sekali tidak. Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullah di dalam kitab Aqidah Thahawiyahnya, yang menjadi rujukan ulama dari keempat madzhab mengatakan, “Dan Dia (Allah) tidak membutuhkan Arsy dan apa pun yang berada di bawahnya, Allah meliputi segala sesuatu dan Dia berada di atasnya…” (dinukil dari Syarah Ibnu Abil ‘Izz dengan tahqiq Al-Albani, hal. 280)

Dikisahkan bahwa Abu Hanifah rahimahullah pernah ditanya mengenai orang yang mengatakan, “Aku tidak mengetahui apakah Rabbku di atas langit atau di bumi.” Maka beliau menjawab bahwa orang yang mengucapkan itu telah kafir, sebab Allah telah berfirman (yang artinya), “Ar-Rahman menetap tinggi di atas Arsy.” (QS. Thaha: 5). Sedangkan Arsy-Nya berada di atas tujuh lapis langit-Nya.” Kemudian ditanyakan lagi kepadanya bagaimana kalau dia mengatakan, “Allah berada di atas Arsy, tapi aku tidak tahu apakah Arsy itu di atas langit atau di bumi.” Maka Abu Hanifah berkata, “Dia juga kafir. Sebab dia telah mengingkari Allah berada di atas langit. Barangsiapa yang mengingkari Allah berada di atas langit maka dia kafir.” (Syarh Ath-Thahawiyah, hal. 288). (Akan tetapi dalam prakteknya sekarang tentunya kita tidak begitu saja mengatakan kafir apabila bertemu orang yang berkata seperti di atas, karena untuk mengafirkan masih ada syarat-syarat lain yang harus dipenuhi -ed)

Ketiga:

Orang tersebut -semoga Allah menunjukinya- berkata, “Akan tetapi Dzat Tuhan dapat dijumpai dan menyatu dalam diri manusia. Karena sebegitu dekatnya…”

Tanggapan:

Subhanallah, tidak henti-hentinya kaum sufi ini berdusta dan mempermainkan kata-kata semaunya. Apakah Al-Qur’an dan As-Sunnah menyatakan bahwa Dzat Tuhan dapat dijumpai dan menyatu dalam diri manusia, karena sebegitu dekatnya? Sekali lagi inilah bukti bahwa orang-orang sufi telah meninggalkan ilmu dan terpedaya dengan akal mereka yang rusak. Untuk menanggapi ucapan semacam ini cukuplah kami kutip fakta sejarah yang dibawakan oleh penulis buku Tasawuf Belitan Iblis berikut ini:

“Jika kita meneliti gerakan sufisme sejak awal perkembangannya hingga kemunculan secara terang-terangan, kita akan mengetahui­ bahwa seluruh tokoh pemikiran sufi pada abad ketiga dan keempat Hijriyah berasal dari Parsi (kini namanya Iran, dulu pusat agama Majusi, kemusyrikan yang menyembah api, kemudian menjadi pusat Agama Syi’ah), tidak ada yang berasal dari Arab.

Sesungguhnya tasawuf mencapai puncaknya, dari segi aqidah dan hukum, pada akhir abad ketiga Hijriyah, yaitu tatakla Husain bin Manshur Al-Hallaj berani menyatakan keyakinannya di depan penguasa, yakni dia menyatakan bahwa Allah menyatu dengan dirinya, sehingga para ulama yang semasa dengannya menyatakan bahwa dia telah kafir dan harus dibunuh. Pada tahun 309H/ 922M ekskusi (hukuman bunuh) terhadap Husain bin Manshur Al-Hallaj dilaksanakan. Meskipun demikian, sufisme tetap menyebar di negeri Parsi, bahkan kemudian berkembang di Irak.” (Sekian nukilan kami)

Kalau mereka mengatakan bahwa Allah bisa menyatu dalam diri mereka, lantas buat apa mereka beribadah, lantas untuk apa mereka menyembah, kalau semua orang mengaku dirinya adalah Allah maka siapakah yang akan disembah? Maha suci Allah, ini adalah kedustaan yang sangat besar! Kemudian, kalau mereka maksudkan dengan ucapan-ucapan itu makna yang lain, maka akan kita katakan bahwa ucapan ini adalah bid’ah dan tidak dikenal oleh para ulama salaf. Kalau ucapan-ucapan semacam ini dibiarkan maka syariat Islam akan berantakan. Ketika ada seorang lelaki yang berkata kepada orang tua mempelai perempuan, “Saya terima nikahnya Fulanah binti Fulan.” Kemudian setelah itu dia akan berkata kepada si mertua “Saya terima nikahnya tapi tidak menerima nikahnya.” Lah, bagaimana ini? Sejak kapan orang-orang itu menjadi kehilangan akalnya? Rumah sakit jiwa lebih layak bagi orang-orang semacam itu daripada masjid.

Keempat:

Orang tersebut -semoga Allah menunjukinya- berkata, “Seluruh Imam Madzhab pada Akhirnya kembali kepada Sufi. Kecuali Wahabi..”

Tanggapan:

Saudaraku, kalau memang ajaran sufi dengan berbagai macam aliran tarekatnya adalah benar dan para imam madzhab mengikutinya apa alasan kami untuk tidak mengikuti kalian? Namun yang menjadi masalah adalah ajaran-ajaran sufi telah jelas terbukti penyimpangannya. Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Abu Hanifah, dan para ulama yang lain telah memaparkan kepada kita tentang kesesatan ajaran mereka. Al-Qur’an dan As-Sunnah bagi orang sufi sekedar kata-kata yang bisa dipermainkan ke sana kemari. Allah ta’ala mengatakan bahwa Allah itu esa (Qul Huwallahu Ahad). Sementara orang-orang sufi mengatakan Allah menyatu dalam diri hamba-hambaNya, padahal hamba Allah itu banyak. Allah mengatakan bahwa diri-Nya tinggi berada di atas Arsy-Nya, sementara orang-orang sufi mengatakan Allah di mana-mana tapi juga tidak di mana-mana. Allahul musta’an, kalau memang boleh mengatakan demikian maka kita juga akan mengatakan “Semua Imam Madzhab pada akhirnya kembali kepada Wahabi. Kecuali sufi.” Allahu yahdik.

Saudaraku, kami tidak bermaksud untuk mencaci maki siapa pun, kami hanya ingin saudara kami kembali ke jalan yang benar, itu saja. Syaikh Ihsan Ilahi Zahir -rahimahullah- dalam kitabnya: Tashawwuf Al-Mansya’ Walmashdar (Tasawuf, Asal Muasal dan Sumber-Sumbernya) [halaman 28] berkata: “Jika kita amati ajaran-ajaran tasawuf dari generasi pertama hingga akhir serta ungkapan-ungkapan yang bersumber dari mereka dan yang terdapat dalam kitab-kitab tasawuf yang dulu hingga kini, maka akan kita dapatkan bahwa di sana terdapat perbedaan yang sangat jauh antara tasawuf dengan ajaran-ajaran al-Quran dan as-Sunnah, begitu juga kita tidak akan mendapatkan landasan dan dasarnya dalam sirah (sejarah) Rasulullah serta para sahabatnya yang mulia yang merupakan makhluk-makhluk pilihan Allah. Bahkan sebaliknya kita dapatkan bahwa tasawuf diadopsi dari ajaran kependetaan kristen, kerahiban Hindu, ritual Yahudi dan kezuhudan Buda” (sebagaimana dikutip oleh Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan hafizhahullah -salah seorang ulama besar Saudi Arabia- dalam bukunya Hakikat Tasawuf [terjemah], hal. 20)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Orang yang meniti jalan kefakiran, tasawuf, zuhud dan ibadah; apabila dia tidak berjalan dengan bekal ilmu yang sesuai dengan syariat maka akibat tanpa bimbingan ilmu itulah yang membuatnya tersesat di jalan, dan dia akan lebih banyak merusak daripada memperbaiki. Sedangkan orang yang meniti jalan fikih, ilmu, pengkajian dan kalam; apabila dia tidak mengikuti aturan syariat dan tidak beramal dengan ilmunya, maka akibatnya akan menjerumuskan dia menjadi orang yang fajir (berdosa) dan tersesat di jalan. Inilah prinsip yang wajib dipegang oleh setiap muslim. Adapun sikap fanatik untuk membela suatu urusan apa saja tanpa landasan petunjuk dari Allah maka hal itu termasuk perbuatan kaum jahiliyah.” (Majmu’ Fatawa, juz 2 hal. 444. Asy-Syamilah)

Sebelum menutup tulisan ini, perlu kiranya kita ingat bersama dampak yang timbul akibat merebaknya ajaran sufi ini di masyarakat -khususnya di negeri kita ini- sebagaimana yang pernah kami saksikan sendiri bahkan kami dahulu termasuk di antara mereka -dengan taufik dari Allahlah kami meninggalkannya dan menemukan manhaj salaf yang mulia ini-, perhatikanlah dengan mata yang jernih dan pikiran yang tenang… bukankah tersebarnya pemujaan kubur-kubur wali dan orang-orang salih -yang notabene adalah syirik dan bid’ah- di negeri ini timbul karena dakwah dan ajaran sufi? Cermatilah wahai saudaraku yang cerdas… betapa ramainya kubur para wali dikunjungi dan dijadikan tempat untuk mencari berkah, berdoa, beristighotsah dan bertawassul dengan orang-orang yang sudah mati. Dimanakah gerangan itu terjadi?, apakah di pusat-pusat dakwah salafiyah -yang hakiki- ataukah di pusat-pusat dakwah salafiyah yang sebenarnya lebih layak untuk disebut sufi? Padahal, kita semua mestinya sudah mengerti bahwa dosa kesyirikan adalah dosa yang tidak diampuni. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan Dia akan mengampuni dosa di bawah tingkatan syirik itu bagi orang yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisaa’: 48)

Sebagaimana pula kebid’ahan bukan semakin menambah pelakunya dekat dengan Allah, namun justru semakin dekat dengan syaitan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal yang tidak ada tuntunannya dari kami maka tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim, ini salah satu lafazh Muslim). Simaklah keterangan Ibnu Hajar dan An-Nawawi berikut ini… semoga hati kita menjadi semakin mantap mengikuti kebenaran…. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hadits ini tergolong pokok ajaran Islam dan salah satu kaidahnya. Makna dari hadits ini adalah; barangsiapa yang mereka-reka sesuatu dalam urusan agama yang tidak didukung dengan dalil di antara dalil-dalil agama yang ada maka hal itu tidak diakui.” (Fath Al-Bari, 5/341, lihat juga keterangan serupa oleh An-Nawawi dalam Syarh Muslim, 6/295). An-Nawawi rahimahullah berkata, “Di dalamnya terkandung bantahan bagi segala bentuk perkara yang baru (dalam agama), sama saja apakah yang menciptakan itu adalah pelakunya atau ada orang lain yang lebih dulu membuatnya.” (Syarh Muslim, 6/295). Itulah ucapan yang adil dan bijak dari dua orang ulama besar penganut madzhab Syafi’i…

Sungguh bijak ucapan buya HAMKA rahimahullah yang mengatakan, “Daripada gambaran yang saya kemukakan selayang pandang itu, dapatlah kita memahamkan bagaimana sangat perlunya pembersihan aqidah dari syirik, bid’ah dan ajaran tasawuf yang salah, yang telah menimpa negeri kami sejak beberapa zaman, dan perlunya kepada kemerdekaan pikiran dan memperbaharui paham tentang ajaran Islam sejati.” (Sejarah Perkembangan Pemurnian Ajaran Islam di Indonesia, penerbit Tintamas Djakarta, hal. 6-7. Buku ini dapat didownload di perpustakaanislam.com).

Semoga Allah berkenan memberikan taufik kepada saudara-saudara kami yang meninggalkan jalan yang lurus agar mereka kembali menuju jalan yang lurus itu kembali. Alangkah senangnya hati kami jika saudara-saudara kami mendapatkan hidayah, sebagaimana kami juga meminta kepada-Nya dengan nama-namaNya yang terindah dan sifat-sifatNya yang maha tinggi untuk mewafatkan kita di atas jalan yang lurus itu dalam keadaan Allah meridhai kita dan mengampuni segala dosa dan kesalahan kita. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengabulkan doa.

Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

***

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id

buku saku

86 Komentar

  1. B Santoso
    02 Des 2008 [#]

    To muslim.or.id

    Di salah satu paragraf (18) tertulis sbb:
    …”(Sejarah Perkembangan Pemurnian Ajaran Islam di Indonesia, penerbit Tintamas Djakarta, hal. 6-7. Buku ini dapat didownload di perpustakaanislam.com).”

    Setelah saya cek (perpustakaanislam.com) ternyata salah alamat, seharusnya perpustakaan-islam.com.

  2. arman
    02 Des 2008 [#]

    Di dalam artikel diatas penulis memberikan Tazkiyah kepada syaikh Abdur Rahman Abdul Khaliq, padahal menurut ulama-ulama ahlussunnnah bahwa beliau mempunyai pemikiran-2 yang menyelisihi manhaj ahlussunnah wal jamaah.

    Mohon penjelasan tentang masalah Syaikh Abdurrahman Abdul Khaliq apakah beliau termasuk jajaran ulama ahlussunnah?

  3. Muh Abduh T
    03 Des 2008 [#]

    Kami suatu saat pernah mendapat short message seperti ini :

    ceritakan apa yang dimaksud shalat dengan hati?apa itu shalat? pelajarilah tentang HAKEKAT agar hatimu dapat menembus irodah Allah. SUbhanallah …

    Itulah pesan singkat yang kami peroleh.
    Kami cuma bisa berkomentar : Akhi, bagaimana bisa shalat dengan khusyu kalau engkau pikirannya melayang2 sana-sini, masih mikir dagangan, masih pikir kerjaan di kantor, dll. Bagaimana engkau bisa khusyu’ namun apa yang engkau baca saja tidak engkau paham.
    Shalat khusyu’ bukanlah dari ajaran hakekat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali tidak pernah mengajarkan demikian. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya memerintahkan : Shollu kama roaytumuni usholli. (Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat)
    Nabi tidak katakan shalatlah sesuai dengan ajaran HAKEKAT. Manakah yang tepat untuk diikuti, ajaran Nabi ataukah hakekat?
    Tentu hati yang jernih akan mengatakan, “saya akan tetap ikut tuntunan Nabiku shallallahu ‘alaihi wa sallam”. Dan berdasarkan tuntunan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, agar shalat khusyu adalah dengan menghadirkan hati dan memahami apa yang dibaca. Bagaimana mungkin orang yang tidak paham surat yang dia baca, bisa dikatakan khusyu? Kata orang Arab, “Ini mustahil.”

    Buang jauh-jauh HAKEKAT yang engkau maksudkan. Jika yang engkau maksudkan adalah memahami dan mentadaburi Al Qur’an, maka kami terima. Namun jika yang engkau maksudkan adalah HAKEKAT ala sufi, maka kami akan tolak karena ajaran sufi tidak ada asalnya dari Nabi.

    Silakan kunjungi blog yang akan terus diupdate :
    http//:rumaysho.wordpress.com

  4. ari wahyudi
    04 Des 2008 [#]

    Saudaraku, kebenaran diterima dari siapa pun datangnya. Oleh karena itu kita dapati para ulama menukil ucapan sebagian tokoh harakah islamiyah dan sama sekali itu bukan bermaksud mentakzkiyah/merekomendasikan mereka atau pemikirannya. contohnya Syaikh Al-Albani rahimahullah sering menukil ucapan Hasan Al-Hudhaibi salah satu tokoh Ikhwanul Muslimin, “Tegakkanlah daulah Islam di hatimu, niscaya daulah itu akan tegak di negeri kalian.” Adapun Syaikh Abdurrahman Abdul Khaliq memang terdapat catatan atas sebagian tulisan beliau sebagaimana yang diberikan oleh Syaikh Bin Baz rahimahullah. Maka di sini kami sama sekali bukan bermaksud memberikan pujian bagi beliau, semoga Allah menunjukinya dan rujuk dari kesalahannya. Terima kasih atas perhatiannya.

  5. ramsyah said
    07 Des 2008 [#]

    Assalamu ‘alaikum,

    Hakikat orang shalat adalah jika orang tersebut mengerjakan shalat sebagaimana shalat yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika satu saja diantara rukun dan wajib sengaja ditinggal, maka hakikatnya dia tidak shalat.

    Ucapan menyimpang dari golongan sufi tersebut, karena tidak menyadari bahwa setan dan nafsunya telah memenangkan pergulatan yang menggiring tuannya menuju kesombongan.

    Jika seseorang merasa dirinya sangat dekat dengan tuhannya, maka yang dapat merasakannya hanya dirinya sendiri. Jika kedekatan tersebut terlepas dari lisannya, sesungguhnya itu adalah kesombongan.

    Seperti orang yang bersedekah kemudian lisannya mengatakan ‘saya ikhlas’, maka sesungguhnya ia menyombongkan diri dan ia tidak benar-benar ikhlas. Karena keikhlasan tersebut rahasia antara hatinya dengan Allah subhanahu wa ta’ala.

    Wassalamu ‘alaikum

  6. ichwan mustafa
    18 Des 2008 [#]

    semoga 4JJI selalu memberi hidayah dan petunjuk

  7. hamba Alloh
    02 Feb 2009 [#]

    Terima kasih Saudaraku….

    Semoga Alloh yang maha sempurna, senantiasa membimbing kita dalam dalam berfikir ,.. berniat,… berucap,… berprilaku,… dan mengampuni segala kehilafan kita semua,.. Amin Ya Robbal Alamin.

    ” Allohhumma inna nas’aluka salamatan fiddin….. ”

    “Allohumagfir lil muslimina wal muslimat, wal munina wal muminat, al ahya iminhum wal amwat Innaka ala kulli saiin kodir.. ”

    Mohon maaf lahir & Bathin

    Hamba Alloh.

  8. kAzAo
    05 Feb 2009 [#]

    Assalamualaikum…

    maaf kalo salah dalam penyampaian; saya pernah membaca ada terusan arti dari ayat suci alquran yang terusannya `allah meliputi mahluknya` mohon penjelasan nya tentang arti dari arti tersebut…?

    Makasih

  9. ikhwan
    09 Feb 2009 [#]

    rasulullah prnh bkata kpd para sahabat beliau : ” aku sangat bersedih “. dgn sgt tkejut para sahabat lgsg btanya apa yg mbuat baginda rasul bserdih. “kata rasulullah aku bersedih karena aku tdk bisa mengatakan semua yg ada dhatiku kepada kalian. tdk ada lg kata2, bahasa atau pun tulisan yg bisa d ungkapkan.

    nabi musa jg pernah berdoa “ya Rabb yg maha agung, lapangkan lah dada ku, sempurna & mudahkan urusan lidahku.

    Baginda Rasulullah & nabi musa mengetahui sesuatu tentang ALLAH SWT yg tdk bisa ungkapkan melalui kata2 atau pun tulisan. mereka mengetahui hal tsb karena hidayah Allah, adapun org2 atau sahabat nabi yg di beri rahmat & hidayah ALLAH sj yg bisa di kasih tahu oleh rasulullah tntg rahasia ALLAH swt tsb. klu hal ini di ungkapkan oleh rasulullah kpd khalayak umum maka org2 yg awam atau yg tdk mndapat hidayah tdk akan bs menerima & tdk akan bs mengerti.

    org2 sufi yg asli mereka mendapat hidayah dari Allah swt. hidayah tsb klu di ucapkan sgt susah, di tulis pun seperti’y g ada lg huruf yg bs menjelaskan tntg rahasia ALLAH swt. kata2 sufi yg kalian anggap salah, kadang2 terbalik & membingungkan. mereka ingin mengungkapkan tetapi hanya kata2 itulah yg bisa. hanya mereka yg bs mengerti. tsrh kalian mau menganggap mereka salah atau benar. sy rasa sedikit pun mereka tdk ada merugikan kalian atau pun org lain. malahan hati mereka selalu sabar & pemaaf.

    Tanggapan moderator muslim.or.id:
    Mas Ikhwan, cerita tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang Anda ceritakan pada komentar Anda ini, Anda dapatkan darimana? tolong sebutkan sumber cerita tersebut…

    Salah satu ciri khas para penganut sufi adalah suka menenggelamkan diri para romantisme kisah-kisah dusta yang tidak ada asal-usulnya dalam Islam.

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah, penyampai wahyu dari Allah Azza wa Jalla. Tentulah sebagai seorang rasul, beliau memiliki lisan yang fasih dalam menyampaikan setiap wahyu dari Allah kepada umatnya. Semuanya telah disampaikan kepada umatnya. Coba buka mushaf Anda pada surah Al-Maidah ayat 3:

    الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً

    ….Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam menjadi agama bagimu….

    Agama Islam ini adalah agama yang mudah. Siapapun dapat mempelajarinya dengan mudah. Siapapun dapat khusyu tenggelam dalam keindahan ajaran Islam tanpa harus menjadi penganut sufi terlebih dahulu.

    Mas Ikhwan, kembalilah kepada Islam sebagaimana Islamnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Tinggalkan segala angan-angan dan cerita dusta suufiyyah. Kembalilah ke dunia nyata….

  10. agus
    26 Feb 2009 [#]

    marilah kita beribadah yang benar yang sesuai dengan tutunan Rasulullah jangan terpengaruh ajaran sufi yang penuh angan2. Marilah kita berpegang teguh pada Kitabullah dan sunah Rasulullah niscaya kita akan selamat dunia akhirat.

  11. ridzuan
    05 Mar 2009 [#]

    perbezaan itu rahmat.

    mudah2 kita semua berada dijalan Nya yg benar. kerana di akhirat nanti, msg2 akan ditanggungjwbkan pd apa yg di dengar, dikata, dilihat.

    moga Allah menunjukkan kita semua jalan yang lurus.amin.

  12. Abu abdurrazaq mohammad sholeh
    06 Mar 2009 [#]

    mas ridzuan
    Perbedaan itu bukan rahmat, umat islam itu harus disatukan aqidah, ibadah, akhlak, bersatu diatas kebenaran, bersatu diatas sunnah yg shahih, bukan bersatu dengan berbagai warna aqidah, ibadah dan akhlak, hadist perbedaan adalah rahmat bukanlah hadist shahih, tidak bisa dipakai patokan …

  13. salim oemar
    06 Mar 2009 [#]

    untuk akhi Ridzuan,berhati2lah dengan perkataan “perbedaan itu rahmat”.itu perkataan yg hanya dikenal oleh org yg segolongan dgn J.I.L.kalau perbedaan itu rahmat,mengapa kita harus menentang ahmadiyah?mengapa kita harus sholat mengikuti RASULALLAH?buat apa ada da’wah2 salaf?justru da’wah2 itu ingin menghapus kan perbedaan2 menjadi persamaan,agar sama dgn ajaran original Islam.

  14. Dodo
    16 Mar 2009 [#]

    Mas Moderator ane minta penjelasan dong tentang Isra Mi’raj…
    sekaligus arti dari isra Mi’raj..

  15. sakti
    26 Mei 2009 [#]

    mohon maaf mas.saya mau tanya nih ..untuk segala keyakinan yang ada pada diri saya .siapa yang letakin yah(menurut saya …. ALLAh ).maksud tiada daya dan upaya kami kecuali ALLah apa yah mas?.apa saya salah kalo saya ikutin yang saya yakini?.siapa yang gerakin saya nulis ini padahal saya tiada kuasa apapun kecuali Allah(saya gak ngaku tuhan loh.saya hanya bingung).Siapa yang nentuin takdir(kalao anda percaya takdir) padahal kita berusaha dan akhirnya Takdir jua yang menentukan. siapa yang menggerakan hati kita..? apakah memang kita karena semua sudah di takdirkan termasuk apa yang ada dalam hati saya.apakah tujuan dalam Islam adalah Surga,karena klo surga rasanya seperti hal yang tak pantas ya mas,karena ibadah mengharap pahala kan seperti mengharap imbalan .sedangkan kita di suruh ikhlas.nah klo mengharap ridho Allah bukan kah dia yang mentakdirkan saya seberapa banyak amalan yang saya lakukan sepanjang hidup saya karena semua juga sudah takdir Allah(itu kalau saya masuk surga).Apakah saya Muktazilah mas.Saya Mohon ampun Pada Allah jika saya salah dan mohon maaf karena ilmu agama saya harus banyak belajar dan itu adalah apa yang muncul dari hati saya sendiri.sedikit dari banyak pertanyaan yang saya belum dapat jawabannya.terimakasih

  16. Aswad
    27 Mei 2009 [#]

    Saudara Sakti, semoga Allah menganugerahkan anda semangat yang lebih untuk mempelajari Islam yang benar…

    Anda tidak perlu bingung, karena pertanyaan anda sudah di jawab langsung oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika beliau bersabda:
    ما منكم من أحد إلاَّ وقد كتب مقعده من الجنة ومقعده من النار
    Setiap dari kalian sudah tertulis tempatnya nanti di surga atau di neraka
    Para sahabat yang mendengat itu kontan bertanya (sama seperti anda):
    يا رسول الله، أفلا نتكل
    “Wahai Rasulullah, lalu apakah kita pasrah saja?”
    Dalam riwayat lain:
    ففيم العمل يا رسول الله ؟
    “Wahai Rasulullah, lalu untuk apa kita beramal?”

    Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pun menjawab:
    اعملوا فكل ميسر لما خُلق له
    Kalian harus tetap beramal, karena setiap manusia akan dimudahkan jalannya untuk menuju apa yang telah ditetapkan baginya (surga atau menuju neraka)” [HR. Bukhari]

    Sehingga jelaslah, bahwa kita tetap diwajibkan untuk menempuh cara dan jalan yang benar dalam beragama, bukan pasrah pada isi hati kita dan apa yang kita yakini. Seperti metode beragamanya orang sufi.

    Untuk apa Allah menurunkan Al Qur’an dan mengutus para Rasul jika manusia hanya diminta mengikuti hatinya dalam beragama??

  17. Aswad
    28 Mei 2009 [#]

    Imam Abu Hanifah (Imam mazhab Hanafi) -rahimahullah- memiliki perkataan yang bagus dalam menjelaskan prinsip takdir yang benar:
    “Tidak ada hamba yang oleh takdir Allah dipaksa untuk beriman atau untuk kafir. Namun Allah menciptakan para hamba-Nya dengan memiliki pribadi masing-masing. Iman dan kufur adalah perbuatan hamba. Namun Allah Ta’ala MENGETAHUI (bukan memaksa) siapa saja yang kafir. Dan jika hamba yang kafir tersebut lalu beriman, Allah mencintainya dan sesungguhnya Allah sudah mengetahuinya (bahwa ia akan beriman) tanpa ada perubahan ilmu pada sisi Allah (dari tidak mengetahui menjadi mengetahui)” (Al Fiqhu Al Akbar, hal. 302)
    [Dinukil dari I'tiqad A-immatil Arba'ah, Muhammad Bin Abdirrahman Al Khumais]

  18. insan fakir
    06 Jul 2009 [#]

    apa yang di maksud dengan lafadz LAAILAHAILLALLOH dan LA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAHIL ‘ALIYYIL ‘ADZIM. mohon penjelasan mengapa rosululloh memerintahkan untuk di amalkan ummatnya. Dan kita di suruh untuk selalu ingat pada ALLOH di manapun kita berada. dan kenapa rosululloh berkhalwat di gua hira’ semoga ALLOH mengampuni kita semua.terima kasih

  19. widya fatwati cahyani
    24 Jul 2009 [#]

    Bismillah…

    subhanalloh…maha suci Alloh atas semua rahmat yang diberikan kepada kita semua…Allohu Yubarrik Fikum

    Alhamduliih dengan membaca artikel diatas semua kegundahan dan segala pertanyaan “on my brain” dapat terjawab…

    tentang ajaran tasawuf sendiri memang yang sekarang ini menggelora sudah memiliki banyak penyimpangan…misalnya saja…saya baca di artikel tentang “pandangan ulama terhadap ihya ulumudin”..dalam hal ini juga banyak terjadi kesalahan..yang mana telah diungkapakan oleh beberpa ulama misalnya: syaikh Nashiruddin ALbani, inbu taimiyah, ibnu qayyim , ibnu katsir,dll..

    sungguh penjabaran yang sangat bermanfaat…insyaAlloh akan saya sebarkan lewat facebook…

    Ma’annajah lakum wa fiina…
    Nahmaduhu ‘alaa KUlli Ni’mah…
    Allohu yubarrik fikum wa fiinaa…

  20. rifat haikal
    10 Sep 2009 [#]

    ‘ Semoga dengan adanya tulisan di atas dapat memberikan pencerahan
    Dan mendapatkan kebenaran yang hakiki amien,.

  21. Budiono
    14 Sep 2009 [#]

    saya pernah di anggap sesat oleh penganut Sufi hanya lantaran pemahaman saya (akhlusunnah) yg berbeda dengan mereka. Semoga Allah akan memberikan kekuatan kepada saya sehubungan dgn niat saya yang akan menyampaikan risalah ini kepada mereka . . amien

  22. Leo chandra
    21 Sep 2009 [#]

    Jd kesimpulannya apa sich?¡ Apakah seluruh ajaran sufisme tidak dibenarkan dalam islam menurut al kitab dan as shunnah.?!

  23. Arie
    25 Sep 2009 [#]

    Kalau memang ada sufi yang ajarannya mengikuti AlQur’an dan Sunnah sesuai pemahaman Rasulullah dan para shahabat, itulah sufi yang bener… itu juga kalau ada.

    Dan kalau pun ada, pastinya gak akan memakai nama sufi… tapi salafi.

    “Iblis lebih menyukai pelaku bid’ah daripada pelaku kemaksiatan.”

    Kenapa???

    Karena pelaku bid’ah dan ajaran2 baru lagi sesat tidak merasakan mereka berada di dalam kesesatan, hingga ajal menjumpai mereka dan mereka meninggalkan dunia fana ini dalam keadaan tetap berada dalam kesesatan.
    Bagaimana nanti di akhirat? Penyesalan kemudian tiada berguna.

    Bagaimana dengan pelaku kemaksiatan??

    Orang awam sekalipun sudah banyak yang mengerti apa itu perbuatan maksiat secara umum. Sehingga pelaku maksiat tahu bahwa mereka sedang berada dalam kesesatan.
    Orang yang tahu bahwa dirinya sedang sakit dan ingin sembuh akan mau berobat dan mudah menerima pengobatan.

    “Bertaubatlah para sufiyyin sebelum ajal tersisa di tenggorokan saat akan dicabut oleh Malakul Maut.”

    “Man yahdillahu falaa mudhillalah, wa man yudlil fala haadiyalah.”

    Allahul musta’an.

  24. Ir.marsaid.arsyad
    27 Des 2009 [#]

    aku akan sebarkan ajaran ini sebagai pegangan kita kaum muslimin.

  25. ruchiyat
    30 Des 2009 [#]

    Dear All (special 4 moderator muslim.or.id)
    Saya pernah mendengar atau mendapatkan kalimat MAN AROFA NAFSAHU FAQOD AROFA ROBBAHU ok, mohon penjelasan,

  26. wong bodo
    20 Jan 2010 [#]

    Mohon pencerahan kepada Sdr Aswad

    Benarkah setiap manusia itu sdh ditentukan nanti tempatnya di surga atau neraka? Klw sprti itu sy brpikir, betapa kejamnya Allah jika menciptakan manusia hanya untuk disiksa di neraka? Bukanlah Allah maha pengasih lg maha penyayang? Lantas bagaimana hubungannya dg ayat yg menyatakan Allah akan membalas kebaikan atau kejahatan setiap perbuatan manusia? Ada juga ayat lain yg menyatakan bahwa Allah tdk akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubahnya? Kok sprtinya menurut sy bertentangan sekali.

    Mohon pencerahannya

  27. ganesha
    29 Jan 2010 [#]

    perlu penjelasan tambahan lain , karena belum ukup untuk membuat suatu keyakinan penuh soalnya saya termasuk yang mendalami aliran sufi

  28. wahyudi
    29 Jan 2010 [#]

    menurutq sufi ajaran yang neko2 ribet di pikir piki cri2 kesibukan yang aneh dg dalih mendekatkan diri pd Rob

  29. Wiwied
    04 Feb 2010 [#]

    Trims.. Uztad, ats ilmuna..
    Smga dpt brmanfaat bgi qta smwa.
    Amin.

  30. hamba ALLOH
    16 Feb 2010 [#]

    marilah kita perbaiki diri kita,tentang ajaran sufi.untuk saat ini memang bergeser.karena tidak sesuai urutanya.dan suka keluar dari syariat.jgn lah terlalu membahas panjang lebar tentang sufi.lebih baik kita perbaiki diri kita masing2.apakah kita semua sudah bisa menjamin ibadah kita di terima.kt itu jauh dari mereka.kita tidak tau mksut mrk.

  31. Muslim.Or.Id
    16 Feb 2010 [#]

    @ Hamba Allah
    Intinya kembalilah pada Al Qur’an, As Sunnah dan pemahaman salaf. Itulah solusinya. Niscaya dengan mengikuti cara tadi kita akan mendapatkan kebaikan yang banyak,

    Semoga Allah senantiasa memberkahi antum.

  32. hamba-Nya jg
    25 Feb 2010 [#]

    asslm. mhn maaf klo ada kkliruan dlm menulis,blh brtnya apa ada hadist yg menyatakan bhw agama yahudi,nasrani,dan islam terbagi2? klo ada sy cm hamba-Nya yg tdk mengerti apa2 ingin beri masukan klo itu semua la haula wa la quwata illa billah,jd tdk ada daya&kekuatan atas izin Alloh maka apapun aliran islam terbagi tetaplah mereka adalah saudara kita juga,gimana klo kita kembali saja kpd “Al-Qur’an yg tdk dipungkiri kebenarannya dan As-Sunnah(hadist”yg sahih), bersyahadat yg benar” dan tidak menyebarluaskan kekurangan/kesalahan suatu aliran yg nantinya akan menimbulkan fitnah&aib,karena Alloh sajalah Al-Haqq (Yang Maha Benar)sedangkan kita hanyalah hamba-Nya yg tdk luput dr dosa,bahkan klo di liat memang hanya manusia sj yg selalu mencari kebenaran dirinya sendiri wallohualam.. astaghfirulloh…wassllm

  33. Al-fakir
    26 Feb 2010 [#]

    sufi adalah ajaran yang benar,, sareat torekot hakekat ma’rifat dan biasanya orang sufi itu orang ma’rifat NB klo tidak sependapat silahkan hub KH syeh muhamad yusuf cilcap,,ataw habib lutfi pekalongan,,atw KH subahan ma’mun PONpes Assalafiah luwungragi brebes Jateng

  34. Muslim.Or.Id
    26 Feb 2010 [#]

    @ Al Fakir
    Kok tanyakan pak Kyai?! Seharusnya jadikan Al Quran dan As Sunnah sebagai petunjuk. Jika sufi benar, buktikan dalam Al Quran dan As Sunnah.
    Kyai kok jadi patokan? Mungkin kalau pak Kyai shalat tiarap, kita pun demkian!

    Mohon bisa baca artikel menarik di web ini agar jangan hanya taklid buta pada kyai >> http://muslim.or.id/manhaj/jangan-hanya-taklid-buta.html

    Hanya Allah yang beri taufik.

  35. indra
    29 Mar 2010 [#]

    Ass.Wr.Wb.
    Kebenaran hanya milik ALLOH, kita sebagai hamba yang terbaik harus selalu mawas diri, istiqfar dan selalu bertaubat kepadaNYA. Tidak semua orang sufi ajarannya salah. jg demikian mungkin ada yang mengaku salaf tp ilmunya jg kurang sempurna. Jd kembalikan semua kpd ALLOH. Dan Pengadilan Akhiratlah nanti yg akan menjadi Hakim adil buat masalah ini. Mohon maaf apabila ada kekurangan.
    Wass. Wr. Wb

  36. achmadi
    19 Apr 2010 [#]

    assl,,,sy mau tanya tentang kalamullah,,,artinya,,Allah itu bersemayam di langit yag ke tujuh,,,mohon penjelasan rinci,,krn dia maha ghaib yang sll ada beserta kita

  37. Yulian Purnama
    19 Apr 2010 [#]

  38. athoillahimam
    25 Mei 2010 [#]

    lam kenal kami suka bergabung disini karna penuh pengetahuan dan ilmu

  39. tarmizi
    13 Jul 2010 [#]

    Assalamu alaikum Wr.Wb.
    Sufi atau apapun namanya itu tidak masalah, hanya sekedar penamaan saja, Guru Mursyid saya tidak mengajarkan ataupun menamakan ilmu dan amalan yang ia ajarkan adalah SUFI. hal terpenting apakah ILMU dan AMAL yang kita kerjakan membuat hati kita tenang, tenteram dan.
    Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkan kesabaranmu dan tetaplah bersiaga-siaga dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung (QS Ali Imran 200 – ayat tawajjuh)

  40. Yulian Purnama
    13 Jul 2010 [#]

    #tarmizi
    Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh,
    Semoga Allah merahmati anda. Anda benar, nama ‘SUFI’ tidak bermasalah, karena yang bermasalah adalah ajarannya. Mohon baca kembali artikel di atas dengan pikiran yang jernih dan tenang.
    Ajaran agama yang benar bukan sekedar yang membuat hati tenang dan tentram. Buktinya, penganut agama lain pun tenang dan tentram dengan agama mereka. Pendeta khusyuk dan tentram di gerejanya, bhiksu khusyuk dan tenram di kuilnya, dst. Lantas apakah itu menandakan agama mereka benar?
    Ajaran agama yang benar adalah yang berlandaskan dalil dari Al Qur’an dan hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Tenang dan tentam bukan tidak menunjukkan kebenaran, namun sebaliknya agama yang benar pasti akan memberikan ketentraman dan ketenangan.
    Semoga Allah memberi taufik.

  41. rahmad
    15 Jul 2010 [#]

    makrifatullah itu orang yang mengenal allah..kan..mbak,, ini ku mo nanya.. apa benar makrifatullah itu adalah salah satu asmaul husna yang di berikan pada satu wujud sebelum jasadnya ada di bumi ini.Tolong penjelasannya mbak

  42. Abu Muhammad Naufal Zaki
    16 Jul 2010 [#]

    @Tirmidzi
    Demikian pula dg nama AHMADIYYAH. . . tdk ada masalah krn nama itu mengandung pujian tetapi yg bermasalah adalah akidahnya, ajarannya. .
    Yang penting tidak sekedar ilmu dan amal. . tetapi yg penting adalah ilmu dan amal itu sesuai dengan petunjuk dan sunnah Nabi shollollohu’alaihi wa sallam. . ahsanul ‘amala yaikni yg benar sesuai sunnah dan ikhlas. . .

  43. Yulian Purnama
    17 Jul 2010 [#]

    #rahmad
    Ma’rifatullah = mengenal Allah. Bukan salah satu asmaul husna.

  44. Jum'at Ridwan
    30 Agu 2010 [#]

    Tegakkan Tauhd,hancurkan Syirik..!!
    Terakan Syari’at Alloh..!!
    Wujudkan Masyarakat slami..!!
    Hdukan Sunnah, Matikan Bd’ah..!!
    Tinggalkan Kemaksatan..!!

  45. Abu Nushoibah Jum'at
    30 Agu 2010 [#]

    Semoga Alloh ta’ala memudahkan kita untuk senantiasa mengikuti sunnah Rsululloh shollalloh ‘alahi wa sallam hingga ajal tiba,amin.

  46. kang gugum
    30 Agu 2010 [#]

    Semoga Alloh membuka mata hati kita untuk selalu menerima kebenaran yang hakiki…

  47. riski
    16 Sep 2010 [#]

    bagaimana cara mengenal allah..? dan bgmn cara sholat agar slalu khusyuk, supaya tidak terombang ambing dlm sholat kita..?

  48. Abduh Tuasikal
    19 Sep 2010 [#]

    @ Rizki
    Isilah hari2mu dg ilmu. Pelajarilah aqidah dan tauhid sesuai dg pemahaman salaful ummah, niscaya amalan2 lain akan ikut sempurna.

  49. mulyani
    12 Okt 2010 [#]

    saya setuju ulasan bapak terima kasih atas pencerahan nya

  50. Fathanullah Salafy
    13 Okt 2010 [#]

    ada lagi pemahaman kaum sufi tasawuf bahwa jika ingin mengenal Allah Taala harus lebih mengenal dirinya terlebih dahulu disertai 4 macam pendukung atau apalah namanya diantaranya adalah
    1. syariat, hakikat, tarekat, ma’rifatullah
    2. tanah, air, api, hati, Rahasia
    3. seperti kitab yang juga ada 4 yaitu zabbur, taurat, injil dan Alquran.
    4. seperti alam kita yg terbagi menjadi alam arwah atau alam rahim, kemudian dunia, alam barzakh terkhir akherat.

    jika orang awam yang jauh dari Sunnah RAsulullah Shallallahu alaihi wasallam pasti mengiyakan bahkan mengikutinya karena memang sesuai dengan pemikiran awam mereka. tetapi jika ditelusuri lebih jauh dan mendalam berdasarkan Alquran dan Sunnah yang Shahih maka akan banyak pertentanngan didalamnya. semoga Allah Taala memberikan keteguhan hati pada manhaj yang haq ini agar tidak kembali disesatkan oleh pemikiran semata.

Tinggalkan Komentar

Kembali ke Atas