Donasi Semarak
Ramadhan 1433 H

Sikap Yang Islami Menghadapi Hari Ulang Tahun

Kategori: Manhaj

66 Komentar // 25 Juni 2010

Ada hari yang dirasa spesial bagi kebanyakan orang. Hari yang mengajak untuk melempar jauh ingatan ke belakang, ketika saat ia dilahirkan ke muka bumi, atau ketika masih dalam buaian dan saat-saat masih bermain dengan ceria menikmati masa kecil. Ketika hari itu datang, manusia pun kembali mengangkat jemarinya, untuk menghitung kembali tahun-tahun yang telah dilaluinya di dunia. Ya, hari itu disebut dengan hari ulang tahun.

Nah sekarang, pertanyaan yang hendak kita cari tahu jawabannya adalah: bagaimana sikap yang Islami menghadapi hari ulang tahun?

Jika hari ulang tahun dihadapi dengan melakukan perayaan, baik berupa acara pesta, atau makan besar, atau syukuran, dan semacamnya maka kita bagi dalam dua kemungkinan.

Kemungkinan pertama, perayaan tersebut dimaksudkan dalam rangka ibadah. Misalnya dimaksudkan sebagai ritualisasi rasa syukur, atau misalnya dengan acara tertentu yang di dalam ada doa-doa atau bacaan dzikir-dzikir tertentu. Atau juga dengan ritual seperti mandi kembang 7 rupa ataupun mandi dengan air biasa namun dengan keyakinan hal tersebut sebagai pembersih dosa-dosa yang telah lalu. Jika demikian maka perayaan ini masuk dalam pembicaraan masalah bid’ah. Karena syukur, doa, dzikir, istighfar (pembersihan dosa), adalah bentuk-bentuk ibadah dan ibadah tidak boleh dibuat-buat sendiri bentuk ritualnya karena merupakan hak paten Allah dan Rasul-Nya. Sehingga kemungkinan pertama ini merupakan bentuk yang dilarang dalam agama, karena Rasul kita Shallallahu’alaihi Wa sallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Orang yang melakukan ritual amal ibadah yang bukan berasal dari kami, maka amalnya tersebut tertolak” [HR. Bukhari-Muslim]

Perlu diketahui juga, bahwa orang yang membuat-buat ritual ibadah baru, bukan hanya tertolak amalannya, namun ia juga mendapat dosa, karena perbuatan tersebut dicela oleh Allah. Sebagaimana hadits,

أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ ، لَيُرْفَعَنَّ إِلَىَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لأُنَاوِلَهُمُ اخْتُلِجُوا دُونِى فَأَقُولُ أَىْ رَبِّ أَصْحَابِى . يَقُولُ لاَ تَدْرِى مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

Aku akan mendahului kalian di al haudh (telaga). Dinampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku.’ Lalu Allah berfirman, ‘Engkau sebenarnya tidak mengetahui bid’ah yang mereka buat sesudahmu.’ “ (HR. Bukhari no. 7049)

Kemungkinan kedua, perayaan ulang tahun ini dimaksudkan tidak dalam rangka ibadah, melainkan hanya tradisi, kebiasaan, adat atau mungkin sekedar have fun. Bila demikian, sebelumnya perlu diketahui bahwa dalam Islam, hari yang dirayakan secara berulang disebut Ied, misalnya Iedul Fitri, Iedul Adha, juga hari Jumat merupakan hari Ied dalam Islam. Dan perlu diketahui juga bahwa setiap kaum memiliki Ied masing-masing. Maka Islam pun memiliki Ied sendiri. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

إن لكل قوم عيدا وهذا عيدنا

Setiap kaum memiliki Ied, dan hari ini (Iedul Fitri) adalah Ied kita (kaum Muslimin)” [HR. Bukhari-Muslim]

Kemudian, Ied milik kaum muslimin telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya hanya ada 3 saja, yaitu Iedul Fitri, Iedul Adha, juga hari Jumat. Nah, jika kita mengadakan hari perayaan tahunan yang tidak termasuk dalam 3 macam tersebut, maka Ied milik kaum manakah yang kita rayakan tersebut? Yang pasti bukan milik kaum muslimin.
Padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wa sallam bersabda,

من تشبه بقوم فهو منهم

Orang yang meniru suatu kaum, ia seolah adalah bagian dari kaum tersebut” [HR. Abu Dawud, disahihkan oleh Ibnu Hibban]

Maka orang yang merayakan Ied yang selain Ied milik kaum Muslimin seolah ia bukan bagian dari kaum Muslimin. Namun hadits ini tentunya bukan berarti orang yang berbuat demikian pasti keluar dari statusnya sebagai Muslim, namun minimal mengurangi kadar keislaman pada dirinya. Karena seorang Muslim yang sejati, tentu ia akan menjauhi hal tersebut. Bahkan Allah Ta’ala menyebutkan ciri hamba Allah yang sejati (Ibaadurrahman) salah satunya,

والذين لا يشهدون الزور وإذا مروا باللغو مروا كراما

Yaitu orang yang tidak ikut menyaksikan Az Zuur dan bila melewatinya ia berjalan dengan wibawa” [QS. Al Furqan: 72]

Rabi’ bin Anas dan Mujahid menafsirkan Az Zuur pada ayat di atas adalah perayaan milik kaum musyrikin. Sedangkan Ikrimah menafsirkan Az Zuur dengan permainan-permainan yang dilakukan adakan di masa Jahiliyah.

Jika ada yang berkata “Ada masalah apa dengan perayaan kaum musyrikin? Toh tidak berbahaya jika kita mengikutinya”. Jawabnya, seorang muslim yang yakin bahwa hanya Allah lah sesembahan yang berhak disembah, sepatutnya ia membenci setiap penyembahan kepada selain Allah dan penganutnya. Salah satu yang wajib dibenci adalah kebiasaan dan tradisi mereka, ini tercakup dalam ayat,

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya” [QS. Al Mujadalah: 22]

Kemudian Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin -rahimahllah- menjelaskan : “Panjang umur bagi seseorang tidak selalu berbuah baik, kecuali kalau dihabiskan dalam menggapai keridhaan Allah dan ketaatanNya. Sebaik-baik orang adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya. Sementara orang yang paling buruk adalah manusia yang panjang umurnya dan buruk amalannya.

Karena itulah, sebagian ulama tidak menyukai do’a agar dikaruniakan umur panjang secara mutlak. Mereka kurang setuju dengan ungkapan : “Semoga Allah memanjangkan umurmu” kecuali dengan keterangan “Dalam ketaatanNya” atau “Dalam kebaikan” atau kalimat yang serupa. Alasannya umur panjang kadang kala tidak baik bagi yang bersangkutan, karena umur yang panjang jika disertai dengan amalan yang buruk -semoga Allah menjauhkan kita darinya- hanya akan membawa keburukan baginya, serta menambah siksaan dan malapetaka” [Dinukil dari terjemah Fatawa Manarul Islam 1/43, di almanhaj.or.id]

Jika demikian, sikap yang Islami dalam menghadapi hari ulang tahun adalah: tidak mengadakan perayaan khusus, biasa-biasa saja dan berwibawa dalam menghindari perayaan semacam itu. Mensyukuri nikmat Allah berupa kesehatan, kehidupan, usia yang panjang, sepatutnya dilakukan setiap saat bukan setiap tahun. Dan tidak perlu dilakukan dengan ritual atau acara khusus, Allah Maha Mengetahui yang nampak dan yang tersembunyi di dalam dada. Demikian juga refleksi diri, mengoreksi apa yang kurang dan apa yang perlu ditingkatkan dari diri kita selayaknya menjadi renungan harian setiap muslim, bukan renungan tahunan.
Wallahu’alam.

Sumber: http://www.almanhaj.or.id/content/1584/slash/0 dan http://www.saaid.net/Doat/alarbi/6.htm

Penulis: Yulian Purnama

Artikel www.muslim.or.id

buku saku

66 Komentar

  1. Misbah
    15 Jul 2011 [#]

    assalaamu’alaikum
    barokallahu fiik ustadz..
    ana mohon nasihatnya, terutama buat ana dan mungkin juga saudara2 yang lain mengenai MAKANAN DARI ACARA ULANG TAHUN DAN PERAYAAN BID’AH LAINNYA (mulid, nisfu sya’ban,rojaban dll) bolehkah kita terima +makan. atau terima di buang, atau bagaimana selayaknya? bagaimana sikap yang tepat terhadap makanan tersebut, kalo ga kita terima khawatir mengecewakan orang yg ulang tahun & kemungkinan jelek lainnya.
    syukron jazakallah khair..

  2. Yulian Purnama
    05 Agu 2011 [#]

    #Misbah
    wa’alaikumussalam. Makanannya halal. Namun menerimanya perlu menimbang banyak hal, misalnya jika makanan tersebut diterima lalu akan timbul gunjingan “maulidnya dibid’ahkan, berkatnya dimakan“, sebaiknya ditolak.

  3. Yulian Purnama
    08 Agu 2011 [#]

  4. Gilangmp
    09 Agu 2011 [#]

    makasih p ustad, jd tau sekarang

  5. esaindo
    18 Okt 2011 [#]

    ustadz, ana mau tanya, bagaimana sikap seseorang yang mendapatkan ucapan slmt ultah dari teman nya ? Diam atau gimana ? mohon bimbingannya ustadz. Jazaakallahu khoiron.

  6. Yulian Purnama
    03 Nov 2011 [#]

    #esaindo
    Ada baiknya menasehati temannya agar tidak merayakan ultah, atau diam saja.

  7. Arama
    08 Mar 2012 [#]

    1.Bagaimana kalau mengadakan syukuran dengan maksud bersyukur kepada Alloh karena masih dikarunia umur panjang tanpa ada bacaan2 do’a atau dzikir tertentu? Selain itu juga mempererat tali silaturahim dengan tetangga?
    2.Bagaimana juga jika seseorang memperoleh nikmat misalnya diterima kerja terus mengadakan acara syukuran sebagai ungkapan syukur kepada Alloh, apakah ini juga tidak diperbolehkan?

  8. Yulian Purnama
    12 Mar 2012 [#]

    #Arama
    1. Syukuran setiap tanggal kelahiran = merayakan ulang tahun
    2. Bersyukur kepada Allah dengan cara beramal shalih dan meninggalkan maksiat. Mengadakan syukuran ketika mendapat nikmat yang besar, dengan cara memberi makan tetangga atau orang-orang yang membutuhkan insya Allah tidak mengapa.

  9. amy
    11 Apr 2012 [#]

    aq hari sabtu akan ulang tahun,doa apa yang benar yang harus aq ucapkan?

  10. Yulian Purnama
    11 Apr 2012 [#]

    #amy
    Anggap saja seperti hari-hari biasa, tidak ada sikap khusus ataupun doa khusus.

  11. Abuhaikal
    29 Apr 2012 [#]

    Assalaamu’alaykum. Ustadz, ana dapat artikel lain mengenai hal senada, apakah hal tersebut dapat dijadikan sandaran pengetahuan pula? Syukron.

    http://hijrahdarisyirikdanbidah.blogspot.com/2010/06/ternyata-ulang-tahun-ada-dalam-injil.html

  12. Yulian Purnama
    29 Apr 2012 [#]

    #Abuhaikal
    Tentu itu jadi bukti bahwa acara ulang tahun adalah kebiasaan orang kafir

  13. tira
    01 Mei 2012 [#]

    Acara tahlilan saat ada kematian jg mrpkn bid’ah kan?

  14. intan hartati
    01 Mei 2012 [#]

    Assalamu’alaikum ustad, saya mau tanya mengucapkan selamat ulang tahun kan tidak diperbolehkan kalau hanya mendoakann seperti “semoga selalu dilindungi Allah SWT di dunia dan akhirat” dihari ulang tahun itu apakah boleh?

  15. Yulian Purnama
    06 Mei 2012 [#]

    #tira
    Iya benar, bahkan kumpul-kumpul dalam rangka memperingati kematian termasuk nihayah yang terlarang

  16. Yulian Purnama
    06 Mei 2012 [#]

    #intan hartati
    Wa’alaikumussalam, mendoakan sesama muslim itu bagus, namun mengkhususkannya di hari ulang tahun itu bentuk perayaan ulang tahun.

Tinggalkan Komentar

Kembali ke Atas