radio muslim

Sikap Yang Islami Menghadapi Hari Ulang Tahun

Kategori: Manhaj

89 Komentar // 25 Juni 2010

Ada hari yang dirasa spesial bagi kebanyakan orang. Hari yang mengajak untuk melempar jauh ingatan ke belakang, ketika saat ia dilahirkan ke muka bumi, atau ketika masih dalam buaian dan saat-saat masih bermain dengan ceria menikmati masa kecil. Ketika hari itu datang, manusia pun kembali mengangkat jemarinya, untuk menghitung kembali tahun-tahun yang telah dilaluinya di dunia. Ya, hari itu disebut dengan hari ulang tahun.

Nah sekarang, pertanyaan yang hendak kita cari tahu jawabannya adalah: bagaimana sikap yang Islami menghadapi hari ulang tahun?

Jika hari ulang tahun dihadapi dengan melakukan perayaan, baik berupa acara pesta, atau makan besar, atau syukuran, dan semacamnya maka kita bagi dalam dua kemungkinan.

Kemungkinan pertama, perayaan tersebut dimaksudkan dalam rangka ibadah. Misalnya dimaksudkan sebagai ritualisasi rasa syukur, atau misalnya dengan acara tertentu yang di dalam ada doa-doa atau bacaan dzikir-dzikir tertentu. Atau juga dengan ritual seperti mandi kembang 7 rupa ataupun mandi dengan air biasa namun dengan keyakinan hal tersebut sebagai pembersih dosa-dosa yang telah lalu. Jika demikian maka perayaan ini masuk dalam pembicaraan masalah bid’ah. Karena syukur, doa, dzikir, istighfar (pembersihan dosa), adalah bentuk-bentuk ibadah dan ibadah tidak boleh dibuat-buat sendiri bentuk ritualnya karena merupakan hak paten Allah dan Rasul-Nya. Sehingga kemungkinan pertama ini merupakan bentuk yang dilarang dalam agama, karena Rasul kita Shallallahu’alaihi Wa sallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Orang yang melakukan ritual amal ibadah yang bukan berasal dari kami, maka amalnya tersebut tertolak” [HR. Bukhari-Muslim]

Perlu diketahui juga, bahwa orang yang membuat-buat ritual ibadah baru, bukan hanya tertolak amalannya, namun ia juga mendapat dosa, karena perbuatan tersebut dicela oleh Allah. Sebagaimana hadits,

أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ ، لَيُرْفَعَنَّ إِلَىَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لأُنَاوِلَهُمُ اخْتُلِجُوا دُونِى فَأَقُولُ أَىْ رَبِّ أَصْحَابِى . يَقُولُ لاَ تَدْرِى مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

Aku akan mendahului kalian di al haudh (telaga). Dinampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku.’ Lalu Allah berfirman, ‘Engkau sebenarnya tidak mengetahui bid’ah yang mereka buat sesudahmu.’ “ (HR. Bukhari no. 7049)

Kemungkinan kedua, perayaan ulang tahun ini dimaksudkan tidak dalam rangka ibadah, melainkan hanya tradisi, kebiasaan, adat atau mungkin sekedar have fun. Bila demikian, sebelumnya perlu diketahui bahwa dalam Islam, hari yang dirayakan secara berulang disebut Ied, misalnya Iedul Fitri, Iedul Adha, juga hari Jumat merupakan hari Ied dalam Islam. Dan perlu diketahui juga bahwa setiap kaum memiliki Ied masing-masing. Maka Islam pun memiliki Ied sendiri. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

إن لكل قوم عيدا وهذا عيدنا

Setiap kaum memiliki Ied, dan hari ini (Iedul Fitri) adalah Ied kita (kaum Muslimin)” [HR. Bukhari-Muslim]

Kemudian, Ied milik kaum muslimin telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya hanya ada 3 saja, yaitu Iedul Fitri, Iedul Adha, juga hari Jumat. Nah, jika kita mengadakan hari perayaan tahunan yang tidak termasuk dalam 3 macam tersebut, maka Ied milik kaum manakah yang kita rayakan tersebut? Yang pasti bukan milik kaum muslimin.
Padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wa sallam bersabda,

من تشبه بقوم فهو منهم

Orang yang meniru suatu kaum, ia seolah adalah bagian dari kaum tersebut” [HR. Abu Dawud, disahihkan oleh Ibnu Hibban]

Maka orang yang merayakan Ied yang selain Ied milik kaum Muslimin seolah ia bukan bagian dari kaum Muslimin. Namun hadits ini tentunya bukan berarti orang yang berbuat demikian pasti keluar dari statusnya sebagai Muslim, namun minimal mengurangi kadar keislaman pada dirinya. Karena seorang Muslim yang sejati, tentu ia akan menjauhi hal tersebut. Bahkan Allah Ta’ala menyebutkan ciri hamba Allah yang sejati (Ibaadurrahman) salah satunya,

والذين لا يشهدون الزور وإذا مروا باللغو مروا كراما

Yaitu orang yang tidak ikut menyaksikan Az Zuur dan bila melewatinya ia berjalan dengan wibawa” [QS. Al Furqan: 72]

Rabi’ bin Anas dan Mujahid menafsirkan Az Zuur pada ayat di atas adalah perayaan milik kaum musyrikin. Sedangkan Ikrimah menafsirkan Az Zuur dengan permainan-permainan yang dilakukan adakan di masa Jahiliyah.

Jika ada yang berkata “Ada masalah apa dengan perayaan kaum musyrikin? Toh tidak berbahaya jika kita mengikutinya”. Jawabnya, seorang muslim yang yakin bahwa hanya Allah lah sesembahan yang berhak disembah, sepatutnya ia membenci setiap penyembahan kepada selain Allah dan penganutnya. Salah satu yang wajib dibenci adalah kebiasaan dan tradisi mereka, ini tercakup dalam ayat,

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya” [QS. Al Mujadalah: 22]

Kemudian Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin -rahimahllah- menjelaskan : “Panjang umur bagi seseorang tidak selalu berbuah baik, kecuali kalau dihabiskan dalam menggapai keridhaan Allah dan ketaatanNya. Sebaik-baik orang adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya. Sementara orang yang paling buruk adalah manusia yang panjang umurnya dan buruk amalannya.

Karena itulah, sebagian ulama tidak menyukai do’a agar dikaruniakan umur panjang secara mutlak. Mereka kurang setuju dengan ungkapan : “Semoga Allah memanjangkan umurmu” kecuali dengan keterangan “Dalam ketaatanNya” atau “Dalam kebaikan” atau kalimat yang serupa. Alasannya umur panjang kadang kala tidak baik bagi yang bersangkutan, karena umur yang panjang jika disertai dengan amalan yang buruk -semoga Allah menjauhkan kita darinya- hanya akan membawa keburukan baginya, serta menambah siksaan dan malapetaka” [Dinukil dari terjemah Fatawa Manarul Islam 1/43, di almanhaj.or.id]

Jika demikian, sikap yang Islami dalam menghadapi hari ulang tahun adalah: tidak mengadakan perayaan khusus, biasa-biasa saja dan berwibawa dalam menghindari perayaan semacam itu. Mensyukuri nikmat Allah berupa kesehatan, kehidupan, usia yang panjang, sepatutnya dilakukan setiap saat bukan setiap tahun. Dan tidak perlu dilakukan dengan ritual atau acara khusus, Allah Maha Mengetahui yang nampak dan yang tersembunyi di dalam dada. Demikian juga refleksi diri, mengoreksi apa yang kurang dan apa yang perlu ditingkatkan dari diri kita selayaknya menjadi renungan harian setiap muslim, bukan renungan tahunan.
Wallahu’alam.

Sumber: http://www.almanhaj.or.id/content/1584/slash/0 dan http://www.saaid.net/Doat/alarbi/6.htm

Penulis: Yulian Purnama

Artikel www.muslim.or.id

==========

Silakan like FB fanspage Muslim.Or.Id dan follow twitter @muslimindo

==========

Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di muslim.or.id dengan menyertakan muslim.or.id sebagai sumber artikel
cara cepat mudah menghafal alquran

89 Komentar

  1. Misbah
    15 Jul 2011 [#]

    assalaamu’alaikum
    barokallahu fiik ustadz..
    ana mohon nasihatnya, terutama buat ana dan mungkin juga saudara2 yang lain mengenai MAKANAN DARI ACARA ULANG TAHUN DAN PERAYAAN BID’AH LAINNYA (mulid, nisfu sya’ban,rojaban dll) bolehkah kita terima +makan. atau terima di buang, atau bagaimana selayaknya? bagaimana sikap yang tepat terhadap makanan tersebut, kalo ga kita terima khawatir mengecewakan orang yg ulang tahun & kemungkinan jelek lainnya.
    syukron jazakallah khair..

  2. Yulian Purnama
    05 Agu 2011 [#]

    #Misbah
    wa’alaikumussalam. Makanannya halal. Namun menerimanya perlu menimbang banyak hal, misalnya jika makanan tersebut diterima lalu akan timbul gunjingan “maulidnya dibid’ahkan, berkatnya dimakan“, sebaiknya ditolak.

  3. Yulian Purnama
    08 Agu 2011 [#]

  4. Gilangmp
    09 Agu 2011 [#]

    makasih p ustad, jd tau sekarang

  5. esaindo
    18 Okt 2011 [#]

    ustadz, ana mau tanya, bagaimana sikap seseorang yang mendapatkan ucapan slmt ultah dari teman nya ? Diam atau gimana ? mohon bimbingannya ustadz. Jazaakallahu khoiron.

  6. Yulian Purnama
    03 Nov 2011 [#]

    #esaindo
    Ada baiknya menasehati temannya agar tidak merayakan ultah, atau diam saja.

  7. Arama
    08 Mar 2012 [#]

    1.Bagaimana kalau mengadakan syukuran dengan maksud bersyukur kepada Alloh karena masih dikarunia umur panjang tanpa ada bacaan2 do’a atau dzikir tertentu? Selain itu juga mempererat tali silaturahim dengan tetangga?
    2.Bagaimana juga jika seseorang memperoleh nikmat misalnya diterima kerja terus mengadakan acara syukuran sebagai ungkapan syukur kepada Alloh, apakah ini juga tidak diperbolehkan?

  8. Yulian Purnama
    12 Mar 2012 [#]

    #Arama
    1. Syukuran setiap tanggal kelahiran = merayakan ulang tahun
    2. Bersyukur kepada Allah dengan cara beramal shalih dan meninggalkan maksiat. Mengadakan syukuran ketika mendapat nikmat yang besar, dengan cara memberi makan tetangga atau orang-orang yang membutuhkan insya Allah tidak mengapa.

  9. amy
    11 Apr 2012 [#]

    aq hari sabtu akan ulang tahun,doa apa yang benar yang harus aq ucapkan?

  10. Yulian Purnama
    11 Apr 2012 [#]

    #amy
    Anggap saja seperti hari-hari biasa, tidak ada sikap khusus ataupun doa khusus.

  11. Abuhaikal
    29 Apr 2012 [#]

    Assalaamu’alaykum. Ustadz, ana dapat artikel lain mengenai hal senada, apakah hal tersebut dapat dijadikan sandaran pengetahuan pula? Syukron.

    http://hijrahdarisyirikdanbidah.blogspot.com/2010/06/ternyata-ulang-tahun-ada-dalam-injil.html

  12. Yulian Purnama
    29 Apr 2012 [#]

    #Abuhaikal
    Tentu itu jadi bukti bahwa acara ulang tahun adalah kebiasaan orang kafir

  13. tira
    01 Mei 2012 [#]

    Acara tahlilan saat ada kematian jg mrpkn bid’ah kan?

  14. intan hartati
    01 Mei 2012 [#]

    Assalamu’alaikum ustad, saya mau tanya mengucapkan selamat ulang tahun kan tidak diperbolehkan kalau hanya mendoakann seperti “semoga selalu dilindungi Allah SWT di dunia dan akhirat” dihari ulang tahun itu apakah boleh?

  15. Yulian Purnama
    06 Mei 2012 [#]

    #tira
    Iya benar, bahkan kumpul-kumpul dalam rangka memperingati kematian termasuk nihayah yang terlarang

  16. Yulian Purnama
    06 Mei 2012 [#]

    #intan hartati
    Wa’alaikumussalam, mendoakan sesama muslim itu bagus, namun mengkhususkannya di hari ulang tahun itu bentuk perayaan ulang tahun.

  17. intan hartati
    31 Mei 2012 [#]

    oh begitu terimakasih pak ustad hehe

  18. abu saffa
    04 Jun 2012 [#]

    Ulang tahun adalah kebiasaan orang Nasrani (kafir) diikuti,maulid adalah kebiasaan orang Nasrani (kelahiran yesus) diikuti ,isra mi’raj pun di rayakan dengan meriah padahal itu sama (kenaikan yesus),lonceng pemanggil ibadahnya pun diikuti (bedug) padahal Rasulullah memerintahkan kita BERBEDALAH DENGAN MEREKA (YAHUDI DAN NASRANI).Apa lagi yang mau diikuti ya ?

  19. inianti
    24 Jun 2012 [#]

    Assalamualaykum,
    Sekarang banyak kaum ibu muslim yang menjadi pengusaha kue, yang menerima pesanan kue ulang tahun. Sangat khusus utk perayaan ulang tahun karena dekorasi kuenya sangat special dan aneka rupa model. Sementara yang saya tahu ulang tahun beserta acara tiup lilin itu ada sejarahnya. Apakah profesi pengusaha atau sbg penghias kue pesanan ulang tahun ini dibolehkan dalam Islam? Terimakasih.

  20. Yulian Purnama
    03 Jul 2012 [#]

    #iniati
    Wa’alaikumussalam, solusinya mudah. Hanya terima pesanan kue selain kue ulang tahun.

  21. Tyo
    04 Jul 2012 [#]

    Assalamaualaikm..
    ustadz, klo mengadakan pengajian tiap bulan atau tiap mgu itu termasuk merayakan id tdk?

  22. Yulian Purnama
    04 Jul 2012 [#]

  23. Andriyatna
    23 Okt 2012 [#]

    Assalamualaikum Wr. Wb. Alhamdulilah menemukan artikel yang menarik. Pak Ustad, hari adalah hari kelahiran saya. Tadinya saya mau berdoa khusus soal kehidupan dan sebagai bentuk rasa syukur terhada ALLAH SWT atas nikmat sehat dan panjang. Tapi saya batalkan saja kali ya karna mungkin hal yang ingin saya lakukan itu termasuk perayaan ulang tahun takut jatuhnya dosa. Tapi saya selalu bersyukur atas apapun yang ada di hidup saya. Subhanalloh walhamdullilah maha besar ALLAH SWT. ALLAHU AKBAR.

  24. yusuf
    15 Nov 2012 [#]

    ibadah kan dibagi 2, ada khosoh (mahdoh) atau amah(goermahdoh) bukannya yang bid’ah itu hanya melebih-lebihkan perkara ibadah khosoh aja pa ustad,,karena kan mausia disuruh berinovasi oleh Allah untuk kemaslahatan dunianya? mohon di jawab

  25. Yulian Purnama
    15 Nov 2012 [#]

    #yusuf
    Perbuatan yang asalnya bukan ibadah menjadi bid’ah jika diyakini sebagai jalan untuk taqarrub kepada Allah. Misal memakai baju wol itu mubah, bukan ibadah. Tatkala ada yang meyakini bahwa dengan memakai baju wol itu akan mendapat pahala dan dicintai Allah, itu menjadi perbuatan yang bid’ah.

    Dalam Islam, masalah hari perayaan itu masalah agama. Sebagaimana Nabi melarang orang Madinah merayakan hari raya yang sudah jadi tradisi mereka, padahal isi hari raya itu hanya suka-ria.

    Selain itu, perayaan hari lahir itu kebiasaan orang kafir sejak dahulu. Sedangkan Nabi dan para sahabat serta para ulama Islam tidak ada yang melakukannya.

  26. Mustofa
    04 Des 2012 [#]

    Ust….katakan si fulan bernama Shepty. Dahulu ia prnah menolak menghadiri acara Ultah temennya karna ia mengetahui hukum dilarangnya hal tsb. dan beliau pun sdh menjelaskan kpda temannya alasan ktidak hadirannya tsb.
    setelah selang beberapa waktu setelah acara perayaan tsb dilakukan, temannya tsb memutuskan hubungan dirinya dgn Shepty krna kecewa dgn ketdk mau hadirnya Shepty dlm acaranya yg lalu.
    sngkt cerita ……kejadian kembali terulang dgn teman yg lainnya.
    .
    ada teman berikutnya yg mengundang Shepty pada acara yg serupa,,,dngn sangat memohon akan kehadirannya tsb. Shepty sdh berusaha menjelaskan dilarangnya perayaan tsbt kpd temannya yg kedua ini, namun temannya bersihkeras ttp akan melakukannya dan memohon2 agar Shepty brkenan menghadiri acaranya tsb.
    beliau adalah teman baik Shepty juga, dan Shepty tdk ingin hubungan antarmereka putus sbgimana dgn teman yg sebelumnya.

    bgmn Ustd,,,????
    sedangkan terputusnya hubungan antar muslim adalah dilarang,dan Shepty tdk menginginkannya. sedangkan teman2nya belum mampu menerima da’wah Shepty.
    Apakah Shepty dlm hal ini mndapat keringanan untuk tetap menghadiri acara tsb….????
    Karna demi terjaganya hubungannya dgn temannya, sementara Temannya sdh diberikannya penjelasan namun belum bisa menerima da’wah yg disampaikan.

    bagaimana Ust,,, apakah cukup mengingkari didalam hati, saat diri dlm kondisi seperti demikian….?????

    Contoh Kedua,,,, apabila ayah meninggal dunia dan keluarga besar ibu, saudara, bibi,paman,kakek, bude,dan tokoh agama setempat,dll ingin melakukan acara tahlilan hari ke-1,2,3,,,,7,,,,40,,,100,,dst.
    sedangkan saya, anak dari ayah hanya seorang diri yg sudah mengenal islam dgn benar, sdngkn saudara2 saya dan keluarga/family masih beragama islam tradisi ikut2tan tanpa tau ilmunya,,, sedangkan mereka belum bisa menerima da’wah yg saya sampaikan….
    saya tdk ingin dicap sbg anak durhaka oleh ibu dan Pakde saya yg beliau tokoh masyarakat/agama di t4 tggl saya.
    mereka bersikeras ingin mengadakannya, dan apabila saya tdk ikut,, wah…bisa dihapus dari hubungan keluarga besar.

    lingkungn t4 tinggal saya masih kental dgn khurofat,syirik dan bid’ah.
    mereka juga jauh dari sunnah dan ilmu agama yg benar. hanya beragama ikut-ikutan orangtuanya dahulu saja.
    ada ulama juga, mereka berda’wah hanya dgn pendapatnya, jauh dari dalil.

    Bagaimana ustd,,, apa yg harus saya lakukan APABILA SAYA DLM KONDISI DEMIKIAN……..????
    APAKAH cukup mengingkari dalam hati,, sampai da’wah trsbt perlahan -lahan diterima.

    bismillah saya mohon pencerahan dari Ustadz sblum hal itu terjadi.
    jazakallaahukhoiron katsiiro.

  27. Yulian Purnama
    04 Des 2012 [#]

    #Mustofa
    Tetap tidak datang dan berakhlak dengan baik dengan orang-orang yang belum paham dan bersabar dengan segala cibiran dan gangguan yang ada.

  28. Mustofa
    04 Des 2012 [#]

    Bagaimana hubungan dengan teman dan keluarga td ustadz abila terjadi persenjangan hubungan selamanya, tidak lagi mau berhubungan dgn qita ??

    bagaimn bila teman tdi tdk mau menjalin hubungan, melebihi batas 3 hari dgn qita, atau bahkan selama2nya.?

  29. Yulian Purnama
    05 Des 2012 [#]

    #Mustofa
    Jangan terlalu berandai-andai. Apakah ada orang yang tidak mau berhubungan (melakukan hajr) seumur hidup gara-gara tidak datang ulang tahun dan yasinan? Belum terbayang oleh saya. Padahal hidup itu tidak hanya yasinan dan ulang tahun saja, tiap hari kita berinteraksi dengan orang dalam berbagai aktifitas dan kesempatan.
    Andaikan itu terjadi pun, maka orang tersebut telah melakukan hajr yang haram dan ganjarannya antara dia dengan Allah.
    Andai itu terjadi pun, dan jika memang ia sudah dinasehati, maka pasti dia orang yang sangat fanatik parah terhadap acara ulang tahun dan yasinan, maka carilah teman bergaul yang lebih baik.

  30. anan
    11 Des 2012 [#]

    Assalamu’alaykum yaa Ustadz
    Bagaimana kalau masalah ini terjadi dengan Orang Tua kita sendiri?
    Orang Tua kami marah besar kepada kami karena tidak mengucap selamat ulang tahun.
    Bagaimana nasihat antum untuk kami yaa ustadz?
    jazakalloh

  31. Yulian Purnama
    14 Jan 2013 [#]

    #anan
    Wa’alaikumussalam, jelaskan kepada orang tua dengan baik dan lemah lembut. Tingkatkan bakti kepada mereka.

  32. lalan
    09 Mar 2013 [#]

    assalaamu’alaikum
    ustadz, bagaimana dengan peringatan hari ulang tahun gedung(sekolah, dsb)?

  33. Yulian Purnama
    10 Mar 2013 [#]

    #lalan
    wa’alaikumussalam, sama saja, tidak diperbolehkan.

  34. lalan
    12 Mar 2013 [#]

    kalau beralasan untuk ‘kebaikan’, seperti menghayati dan meneladani semangat membangun gedung itu, atau yang lain, seperti semangat perjuangan proklamasi, banyak orang menganggap hal itu untuk ‘kebaikan’ dan bermanfaat untuk masyarakat. apakah hal itu boleh seperti usbu’al murur(pekan lalu lintas) di arab saudi?

  35. Yulian Purnama
    12 Mar 2013 [#]

    #lalan
    Id ada 2 macam, [1] Id yang intinya adalah waktunya, acaranya bisa apa saja [2] Id yang intinya adalah acaranya, waktunya bisa apa saja.
    Id yang terlarang adalah jenis pertama, contohnya ulang tahun, apapun acaranya waktunya harus pada tanggal ulang tahunnya.
    Sedangkan Id jenis kedua hukumnya mubah, misalnya rapat rutin di kantor, piket kelas tiap jum’at pagi, tiap senin siang, pengajian tiap ahad pagi, termasuk juga di sini usbu’ al murur, dan usbu’-usbu’ yang lain.

  36. lalan
    13 Mar 2013 [#]

    oh begitu..
    syukron ustadz
    jazakallahukhoiron

  37. dany
    18 Apr 2013 [#]

    Assalamualaikum
    Kalau Hut Muhammadiyah, Hut NU, Hut Hut lainnya jg ga boleh ya?

  38. Yulian Purnama
    22 Apr 2013 [#]

    #dany
    Wa’alaikumussalam, tidak boleh.

  39. Ari
    27 Apr 2013 [#]

    Assalamu’alaikum ustadz…
    Terimakasih atas tauziyah nya,
    Apakah bisa untuk tauziyah2 di web site ini secara otomatis dapat ter up-date via email (id saya)?…kalau bisa saya mohon terus bimbingan nya melalui auto up date di email saya tersebut. Karna saya jarang ada waktu untuk browsing.
    Terimakasih.
    Wassalam.

Tinggalkan Komentar

Biojanna

Kembali ke Atas