<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Pelajaran dari Palestina</title>
	<atom:link href="http://muslim.or.id/manhaj/pelajaran-dari-palestina.html/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muslim.or.id/manhaj/pelajaran-dari-palestina.html</link>
	<description>Muslim.or.id adalah pesantren online bagi siapa saja yang ingin mempelajari agama Islam berdasarkan pemahaman para salafus shalih</description>
	<lastBuildDate>Wed, 10 Mar 2010 02:33:00 +0700</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: ismael aga</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/pelajaran-dari-palestina.html/comment-page-2#comment-25997</link>
		<dc:creator>ismael aga</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Mar 2009 15:43:01 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=490#comment-25997</guid>
		<description>assalamualaikum
saya hanya orang awam dalam agama

ketika saya menyimak khotib di masjid agung Sumber, cirebon, khotib membicarakan tentang seseorang yang gagah berani di medan perang bersama pasukan rasulallah. dia dengan tanpa takut menghapi musuh-musuh islam dalam perang bahkan setiap langkah dia dapat memenggal kepala musuh.
sahabatpun bertanya pada rasulallah apakah dia masuk surga, rasulallah menjawab tidak.
karena pada saat-saat terakhir dalam perang tangannya terpotong oleh pedang musuh. karena dia merasa orang yang gagah berani dan malu kalau tangannya terpotong lalu dia mengarahkan unjung pedangnya kearah tubuhnya dan nafasnya pun  berhenti.
kemudian ada orang yang baru bersahadat pada waktu sebelum perang dan dia pun ikut berperang. karena dia tidak ahli dalam menggunakan pedang  maka terbunuhlah ia.
lalu setelah perang jasadnya pun di angkat oleh para sahabat dan rasul yang mulia tersenyum melihat jasad orang tersebut, dan rasulpun menguraikan kejadiannya sebelum dia ikut berperang.
subhanallah

sebenarnya hati ini sedih melihat dunia yang seperti sekarang ini. 
semoga Allah mematikan kita dalam keadaan islam.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>assalamualaikum<br />
saya hanya orang awam dalam agama</p>
<p>ketika saya menyimak khotib di masjid agung Sumber, cirebon, khotib membicarakan tentang seseorang yang gagah berani di medan perang bersama pasukan rasulallah. dia dengan tanpa takut menghapi musuh-musuh islam dalam perang bahkan setiap langkah dia dapat memenggal kepala musuh.<br />
sahabatpun bertanya pada rasulallah apakah dia masuk surga, rasulallah menjawab tidak.<br />
karena pada saat-saat terakhir dalam perang tangannya terpotong oleh pedang musuh. karena dia merasa orang yang gagah berani dan malu kalau tangannya terpotong lalu dia mengarahkan unjung pedangnya kearah tubuhnya dan nafasnya pun  berhenti.<br />
kemudian ada orang yang baru bersahadat pada waktu sebelum perang dan dia pun ikut berperang. karena dia tidak ahli dalam menggunakan pedang  maka terbunuhlah ia.<br />
lalu setelah perang jasadnya pun di angkat oleh para sahabat dan rasul yang mulia tersenyum melihat jasad orang tersebut, dan rasulpun menguraikan kejadiannya sebelum dia ikut berperang.<br />
subhanallah</p>
<p>sebenarnya hati ini sedih melihat dunia yang seperti sekarang ini.<br />
semoga Allah mematikan kita dalam keadaan islam.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: abu faisal</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/pelajaran-dari-palestina.html/comment-page-2#comment-24894</link>
		<dc:creator>abu faisal</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Feb 2009 07:34:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=490#comment-24894</guid>
		<description>Afwan,

Untuk akh arahadia, mengenai tanah yang suci, yang bani Israil disuruh masuk kedalamnya, yang ana tahu ada di 2:58 dan 5:21. Yang ana tahu, sebagaimana didalam tafsir Ibnu Katsir, bahwa yang dimaksud &quot;Tanah Suci&quot; hanyalah terbatas pada Baitul Maqdis (Jerusalem). Sebagaimana dikatakan  as As-Suddi, Ar-Rabi` bin Anas, Qatadah and Abu Muslim Al-Asfahani, dan lain2.  Maka dapat dipahami bahwa dalam terjemahan antum itu, kata-kata Palestina adalah tambahan dari antum sendiri, kecuali jika antum bisa memaparkan dalil ilmiyah, bahwa yang dimaksud &quot;Tanah Suci&quot; adalah Palestina secara keseluruhan.

Yang ana ketahui agama ini adalah bersifat pertengahan. Siapa yang menghiasinya dengan perangai keras, maka ini bukanlah akhlaq salaf. Demikian juga bersikap lunak, tanpa pandang bulu. Maka yang benar adalah - Insya Allah- melazimkan lemah-lembut dan tegas jika diperlukan secara syar&#039;i. Siapa yang tidak mengenal kelemah-lembutan Rasulullah? Tapi beliau tidak segan menyebut Khawarij anjing neraka. Siapa tidak mengenal kemuliaan akhlaq Imam Ahmad? Tapi beliau langsung berdiri, menyingsingkan lengan dan berkata zindiq, zindiq, zindiq, ketika sampai berita orang yang menolak hadits Nabi. Jadi masalahnya, bukanlah membahas apakah akhlaqul karimah itu harus lembut atau keras? Tapi bagaimanakah sikap yang cocok untuk HAMAS ini. Benarkah kita harus terus berhusnudzan terhadap mereka? Padahal mereka membantai da&#039;i-da&#039;i salafiyyin atas nama &quot;kemaslahatan&quot;? Atau barangkali kalimat pembantaian ini luput dari mata kita ketika membaca artikel diatas? Kenapa mudah sekali kita berhusnudzan terhadap orang-orang hizbiyyun, tapi sulit sekali berhusnudzan terhadap salafiyyun, bahkan para masyaikhnya sekalipun? Atau jangan-jangan hati kita yang ada penyakitnya. sehingga ketika kita mengucapkan su&#039;udzan atau husnudzan hati kita sebenarnya sudah memihak?

Maka -wallahu A&#039;lam- kita ambil saja dhahirnya, karena Allah tidaklah membebani kita kecuali sesuai kemampuan kita. Bahwa yang berfatwa ini adalah ahli ilmu, maka menerimanya adalah sesuai perintah Allah. Dan tidak boleh menolaknya kecuali kita memiliki hujjah yang nyata. Dan faktanya bahwa HAMAS, telah sampai dakwah kepada mereka, dan itu mereka sambut dengan membantai da&#039;i2 salafiyyin. Maka tidak boleh fakta-fakta dzahir ini, kita bantah atau abaikan dengan kata &quot;jangan-jangan....&quot;, &quot;Mungkin....&quot;, &quot;Barangkali....&quot;. Karena ini sama saja membantah hujjah/dalil dengan persangkaan semata. Maka tidak ada yang layak kecuali tahdzir atas mereka sebagai wujud dari nahyi munkar (tentunya disesuaikan situasi dan kondisi lawan bicara). Karena tidak ada setelah kebenaran melainkan kesesatan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Afwan,</p>
<p>Untuk akh arahadia, mengenai tanah yang suci, yang bani Israil disuruh masuk kedalamnya, yang ana tahu ada di 2:58 dan 5:21. Yang ana tahu, sebagaimana didalam tafsir Ibnu Katsir, bahwa yang dimaksud &#8220;Tanah Suci&#8221; hanyalah terbatas pada Baitul Maqdis (Jerusalem). Sebagaimana dikatakan  as As-Suddi, Ar-Rabi` bin Anas, Qatadah and Abu Muslim Al-Asfahani, dan lain2.  Maka dapat dipahami bahwa dalam terjemahan antum itu, kata-kata Palestina adalah tambahan dari antum sendiri, kecuali jika antum bisa memaparkan dalil ilmiyah, bahwa yang dimaksud &#8220;Tanah Suci&#8221; adalah Palestina secara keseluruhan.</p>
<p>Yang ana ketahui agama ini adalah bersifat pertengahan. Siapa yang menghiasinya dengan perangai keras, maka ini bukanlah akhlaq salaf. Demikian juga bersikap lunak, tanpa pandang bulu. Maka yang benar adalah &#8211; Insya Allah- melazimkan lemah-lembut dan tegas jika diperlukan secara syar&#8217;i. Siapa yang tidak mengenal kelemah-lembutan Rasulullah? Tapi beliau tidak segan menyebut Khawarij anjing neraka. Siapa tidak mengenal kemuliaan akhlaq Imam Ahmad? Tapi beliau langsung berdiri, menyingsingkan lengan dan berkata zindiq, zindiq, zindiq, ketika sampai berita orang yang menolak hadits Nabi. Jadi masalahnya, bukanlah membahas apakah akhlaqul karimah itu harus lembut atau keras? Tapi bagaimanakah sikap yang cocok untuk HAMAS ini. Benarkah kita harus terus berhusnudzan terhadap mereka? Padahal mereka membantai da&#8217;i-da&#8217;i salafiyyin atas nama &#8220;kemaslahatan&#8221;? Atau barangkali kalimat pembantaian ini luput dari mata kita ketika membaca artikel diatas? Kenapa mudah sekali kita berhusnudzan terhadap orang-orang hizbiyyun, tapi sulit sekali berhusnudzan terhadap salafiyyun, bahkan para masyaikhnya sekalipun? Atau jangan-jangan hati kita yang ada penyakitnya. sehingga ketika kita mengucapkan su&#8217;udzan atau husnudzan hati kita sebenarnya sudah memihak?</p>
<p>Maka -wallahu A&#8217;lam- kita ambil saja dhahirnya, karena Allah tidaklah membebani kita kecuali sesuai kemampuan kita. Bahwa yang berfatwa ini adalah ahli ilmu, maka menerimanya adalah sesuai perintah Allah. Dan tidak boleh menolaknya kecuali kita memiliki hujjah yang nyata. Dan faktanya bahwa HAMAS, telah sampai dakwah kepada mereka, dan itu mereka sambut dengan membantai da&#8217;i2 salafiyyin. Maka tidak boleh fakta-fakta dzahir ini, kita bantah atau abaikan dengan kata &#8220;jangan-jangan&#8230;.&#8221;, &#8220;Mungkin&#8230;.&#8221;, &#8220;Barangkali&#8230;.&#8221;. Karena ini sama saja membantah hujjah/dalil dengan persangkaan semata. Maka tidak ada yang layak kecuali tahdzir atas mereka sebagai wujud dari nahyi munkar (tentunya disesuaikan situasi dan kondisi lawan bicara). Karena tidak ada setelah kebenaran melainkan kesesatan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: rhosyied</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/pelajaran-dari-palestina.html/comment-page-2#comment-23304</link>
		<dc:creator>rhosyied</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 Jan 2009 05:59:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=490#comment-23304</guid>
		<description>@amin
justeru saya balik tanya,anda mengatakan &quot;...seperti kita ketahui karakter sebagian besar orang indonesia yg cenderung lebih “lunak” dibanding orang arab...&quot;

Darimana anda berkesimpulan spt itu? apakah sudah ada survey penelitian ttg perbedaan karakter org arab dengan indonesia, shg disimpulkan org kita lebih &#039;lunak&#039; dr org arab?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@amin<br />
justeru saya balik tanya,anda mengatakan &#8220;&#8230;seperti kita ketahui karakter sebagian besar orang indonesia yg cenderung lebih “lunak” dibanding orang arab&#8230;&#8221;</p>
<p>Darimana anda berkesimpulan spt itu? apakah sudah ada survey penelitian ttg perbedaan karakter org arab dengan indonesia, shg disimpulkan org kita lebih &#8216;lunak&#8217; dr org arab?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: amin</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/pelajaran-dari-palestina.html/comment-page-2#comment-23274</link>
		<dc:creator>amin</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 20 Jan 2009 06:46:50 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=490#comment-23274</guid>
		<description>maaf aku cuma pengen tanya, apakah pengambilan hukum suatu hal bisa sama sedangkan kondisinya berbeda?
misal begini pada zaman Rosululloh &amp; sahabat kan mayoritas kaum muslimin berada diatas sunnah (hanya sedikit sekali dari golongan orang2 yg sesat yg melakukan bid&#039;ah) sedangkan saat ini kondisi umat islam hampir sebagian besar berada dalam kebid&#039;ahan (dengan berbagai macam penyebab) dan seperti kita ketahui karakter sebagian besar orang indonesia yg cenderung lebih &quot;lunak&quot; dibanding orang arab. apa sikap menasehati dengan kasar bisa tetep dilakukan dengan kondisi kaum muslimin seperti tsb?
mohon penjelasannya, terimakasih.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>maaf aku cuma pengen tanya, apakah pengambilan hukum suatu hal bisa sama sedangkan kondisinya berbeda?<br />
misal begini pada zaman Rosululloh &amp; sahabat kan mayoritas kaum muslimin berada diatas sunnah (hanya sedikit sekali dari golongan orang2 yg sesat yg melakukan bid&#8217;ah) sedangkan saat ini kondisi umat islam hampir sebagian besar berada dalam kebid&#8217;ahan (dengan berbagai macam penyebab) dan seperti kita ketahui karakter sebagian besar orang indonesia yg cenderung lebih &#8220;lunak&#8221; dibanding orang arab. apa sikap menasehati dengan kasar bisa tetep dilakukan dengan kondisi kaum muslimin seperti tsb?<br />
mohon penjelasannya, terimakasih.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: abu ismail</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/pelajaran-dari-palestina.html/comment-page-2#comment-23241</link>
		<dc:creator>abu ismail</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 18 Jan 2009 17:37:59 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=490#comment-23241</guid>
		<description>salamualaikum
mari kita semua kembali kepada mazhab fiqh yang emapat hanafi,maliki,syafi&#039;i,hambali
insyaAllah kita ummat islam akan jaya kedepan, bukankah masa kejyaan islam yang dulu karna mereka masih bermazhab kepada mazhab yang empat ?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>salamualaikum<br />
mari kita semua kembali kepada mazhab fiqh yang emapat hanafi,maliki,syafi&#8217;i,hambali<br />
insyaAllah kita ummat islam akan jaya kedepan, bukankah masa kejyaan islam yang dulu karna mereka masih bermazhab kepada mazhab yang empat ?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: arahadia</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/pelajaran-dari-palestina.html/comment-page-2#comment-23154</link>
		<dc:creator>arahadia</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 17 Jan 2009 04:47:59 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=490#comment-23154</guid>
		<description>Cinta itu harus karena Allah demikian juga benci harus karena Allah, Ana yang jahil ini sangat yakin atas akhlaq yang mulia dari Rasulullah saw, seperti yakinnya ana bahwa yang si sampaikan beliau adalah wahyu.

Ana setuju untuk menghentikan diskusi ini, mudah mudahan ada manfaat untuk ana dan mohon maaf atas segala kesalahan, dan mudah2an ini semua untuk mencari ridlo Allah SWT dan Allah menghilangkan sifat Ghurur dari diri ana amin.

Wassalamu &#039;alaikum warahmatullah wabarakatuh</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Cinta itu harus karena Allah demikian juga benci harus karena Allah, Ana yang jahil ini sangat yakin atas akhlaq yang mulia dari Rasulullah saw, seperti yakinnya ana bahwa yang si sampaikan beliau adalah wahyu.</p>
<p>Ana setuju untuk menghentikan diskusi ini, mudah mudahan ada manfaat untuk ana dan mohon maaf atas segala kesalahan, dan mudah2an ini semua untuk mencari ridlo Allah SWT dan Allah menghilangkan sifat Ghurur dari diri ana amin.</p>
<p>Wassalamu &#8216;alaikum warahmatullah wabarakatuh</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: amir</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/pelajaran-dari-palestina.html/comment-page-2#comment-23123</link>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 17 Jan 2009 00:12:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=490#comment-23123</guid>
		<description>afwan, ana cukupkan komen ana di atas, karena isinya sudah makin jauh ttg isi artikel ttg Palestina, sebab ga akan selesai jika diteruskan..wallahu a&#039;lam...

ketahuilah, sikap keras dalam memperingati ahlul bid&#039;ah, tidak melazimkan kita bermuamalah dg buruk thd mereka...kita harus memperhatikan hak-hak sesama muslim juga, sebab mereka ttp lah muslimin.

afwan, klo ushlub ana keras dalam menyampaikan..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>afwan, ana cukupkan komen ana di atas, karena isinya sudah makin jauh ttg isi artikel ttg Palestina, sebab ga akan selesai jika diteruskan..wallahu a&#8217;lam&#8230;</p>
<p>ketahuilah, sikap keras dalam memperingati ahlul bid&#8217;ah, tidak melazimkan kita bermuamalah dg buruk thd mereka&#8230;kita harus memperhatikan hak-hak sesama muslim juga, sebab mereka ttp lah muslimin.</p>
<p>afwan, klo ushlub ana keras dalam menyampaikan..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: amir</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/pelajaran-dari-palestina.html/comment-page-2#comment-23120</link>
		<dc:creator>amir</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 16 Jan 2009 23:51:28 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=490#comment-23120</guid>
		<description>insya ALlah kita semua percaya dg apa yg disampekan ustadz tsb....
kita semua memang wajib mempelajari ttg ilmu2 yg lebih penting seperti aqidah, fikih khususnya dari ibadah yg fardhu &#039;ain bagi diri sendiri (seperti sholat, dll)...dan tidak menyibukkan hari2 kita dengan masalah tahdzir! 
akan tetapi, bukan berarti kita melupakan tahdzir/ memperingatkan umat dari kesesatan/kesalahan mereka (mubtadi&#039;, hibiyun, dll)..dan janganlah mengatakan bahwa tahdzir tidak pernah dilakukan oleh Salaf.
tidak ya ikhwah. mereka (pelaku kesesatan) ttp perlu dijelaskan ttg kesalahannya...dan umat harus tahu ttg kesesatan mereka, baik secara naql maupun aql..
 
ttg ahlul bid&#039;ah dg yahudi aw kuffar lainnya, jelas yahudi n kuffar adalah kafir...semua orang percaya akan hal tersebut...dan kita tidak mengkafirkan hizbiyun, mubtadi&#039;, krn mereka ttp sesama muslim...

buat mas arahadia, barokallahu fikum..ana senang dg komen2 antum sebelumnya, hal tesebut menunjukkan bahwa antum orang yg alim....
afwan tidak bermaksud menggurui antum, karena ana yakin antum lebih &#039;alim daripada ana...

mas, ana cuma ingin tanya ke antum, bukankah para ulama banyak yg menjelaskan ttg kejelekkan ahlul bid&#039;ah, termasuk mencela mereka juga..
hanya saja, di dalam bermuamalah dg muslim, ttp harus diperhatikan hak-hak mereka..

bukankah Tahdzir, cercaan, dan sikap keras terhadap ahlul bid’ah juga ditunjukkan oleh Rasulullah kepada mereka? 

pasti, Kita semua sepakat, bahwa Rasulullah  memiliki akhlaq yang termulia dan terbaik, sebagaimana direkomendasikan dengan tegas oleh Allah  di dalam firman-Nya:
و إنك لعلى خلق عظيم

“Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berakhlaq yang sangat tinggi.” [Al Qalam:4]

Kita semua sepakat bahwa Rasulullah adalah uswatun hasanah:

لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجوا الله و اليوم الآخر و ذكر الله كثيرا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi yang mengharap (rahmat) Allah dan (kemuliaan) hari akhir dan dia banyak menyebut Allah.” [Al Ahzab:21]

Maka merupakan akhlaq yang sangat mulia dan wajib kita teladani ketika Rasululah bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَق

“Hanyalah aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia.”


Begitu pula dalam mencela pelaku kebatilan, rasulullah pun pernah mencontohkannya, baik secara umum, maupun khusus.

tahdzir secara umum, seperti perkataan Rasulullah shallallahu &#039;alaihi wasallam yg  menegaskan kepada ‘Aisyah:
إِذَا رَأَيْتِ الَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ فَأُوْلَئِكَ الَّذِيْنَ سَمَّى اللهُ، فَاحْذَرُوْهُمْ

“Apabila kau melihat orang-orang yang sukanya mengikuti ayat-ayat yang mutasyabih, maka merekalah yang Allah sebutkan (pada ayat tersebut). Maka hati-hatilah dari mereka.” [Muttafaqun ‘alaih]

sednagkan secara khusus, beliau shallallahu a&#039;alihi wasallam dengan keras dan tegas pula mencela kaum khawarij contohnya, bahkan menggelari mereka sebagai Anjing-anjing jahannam.   Rasulullah  berbicara pedas dan keras tentang khawarij dengan mengatakan:

الخَوَارِجُ كِلاَبُ النَّار

Khawarij adalah anjing-anjing neraka. [HR. Ibnu Majah (172) dari ‘Abdurrahman bin Abi Aufa]

juga ttg nenek moyang khawarij:
.&quot;..akan keluar dari keturunan orang ini (Dzulkhuwaishirah) suatu kaum yang mereka itu ahli membaca Al Qur’an, namun bacaan tersebut tidaklah melewati tenggorokan mereka. Mereka melesat (keluar) dari (batas-batas) agama seperti melesatnya anak panah dari (sasaran) buruannya. Mereka membunuhi ahlul Islam dan membiarkan hidup (tidak mereka bunuh) ahlul Autsan (orang-orang kafir). Jika aku sempat mendapati mereka, akan aku bunuh mereka dengan cara pembunuhan terhadap kaum ‘Ad [HR. Al Bukhari 3344, Muslim 1064; Abu Dawud 4764]

   Rasulullah  juga bersabda tentang khawarij:

هُمْ شَرُّ الْخَلْقِ وَ الْخَلِيْقَةِ

Mereka adalah sejahat-jahat makhluk dan ciptaan. [HR. Muslim. No. 1067, dari Abu Dzarr]


apakah kita akan mengatakan bahwa Rasulullah, adalah orang yg tak beradab? tentunya tidak bukan? karena kita semua sepakat bahwa beliau pun adalah orang yg paling beradab di muka bumi ini...

jika kita mengatakan bahwa orang2 takfiri memiliki ciri2 pemahaman khawarij, dan dengannya (khawarij) dikatakan sebagai anjing-anjing neraka, apakah hal tersebut kasar? tidak beradab? tidak lembut?
mungkin ada sebagian orang yg mengatakan bahwa mengatakan khawarij adalah anjing neraka adalah keras, kasar...padahal hal tersebut adalah perkataan rasulullah thd mereka....

jd janganlah kita mengambil sebagian dan meninggalkan sebagian...
janganlah kita terlalu lembut dlm menyikapi ahlul bid&#039;ah, sehingga meninggalkan tahdzir thd mereka, karena mengedepankan sikap lembut Rasulullah serta meninggalkan (atau melupakan) bahwa Rasul pun pernah melakukan tahdzir dengan keras thd pelaku kesesatan.

jangan pula kita menyibukkan hari2 kita untuk berlaku keras/mencela terhadap mubtadi&#039; krn melihat hadits dan atsar ttg sikap keras beliau thd pelaku kesesatan, dan meninggalkan (atau melupakan) contoh bahwa rasulullah adalah orang yg sangat lembut..serta meninggalkan hal2 yg lebih penting yaitu mempelajari dan menjelaskan ttg aqidah shohihah, ibadah, dan ilmu dan amalan lain kepada umat.

ketahuilah, ada kalanya kita harus lembut dalam bermuamalah dg mereka (hizbiyun), adakalanya merekapun harus mendapatkan peringatan dg keras....

ketahuilah ya ikhwah, pernyataan keras ana thd hizbiyun pada kolom diskusi di muslim.or.id ini, bukanlah karena ana ingin membela diri ana/ krn celaan thd ana..wallahi sama skali tidak! 

wallahu a&#039;lam...

mohon koreksi n nasihat kalo ada yg salah dari ana. jazakumullahu khoiron.
inni uhibbukum fillah.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>insya ALlah kita semua percaya dg apa yg disampekan ustadz tsb&#8230;.<br />
kita semua memang wajib mempelajari ttg ilmu2 yg lebih penting seperti aqidah, fikih khususnya dari ibadah yg fardhu &#8216;ain bagi diri sendiri (seperti sholat, dll)&#8230;dan tidak menyibukkan hari2 kita dengan masalah tahdzir!<br />
akan tetapi, bukan berarti kita melupakan tahdzir/ memperingatkan umat dari kesesatan/kesalahan mereka (mubtadi&#8217;, hibiyun, dll)..dan janganlah mengatakan bahwa tahdzir tidak pernah dilakukan oleh Salaf.<br />
tidak ya ikhwah. mereka (pelaku kesesatan) ttp perlu dijelaskan ttg kesalahannya&#8230;dan umat harus tahu ttg kesesatan mereka, baik secara naql maupun aql..</p>
<p>ttg ahlul bid&#8217;ah dg yahudi aw kuffar lainnya, jelas yahudi n kuffar adalah kafir&#8230;semua orang percaya akan hal tersebut&#8230;dan kita tidak mengkafirkan hizbiyun, mubtadi&#8217;, krn mereka ttp sesama muslim&#8230;</p>
<p>buat mas arahadia, barokallahu fikum..ana senang dg komen2 antum sebelumnya, hal tesebut menunjukkan bahwa antum orang yg alim&#8230;.<br />
afwan tidak bermaksud menggurui antum, karena ana yakin antum lebih &#8216;alim daripada ana&#8230;</p>
<p>mas, ana cuma ingin tanya ke antum, bukankah para ulama banyak yg menjelaskan ttg kejelekkan ahlul bid&#8217;ah, termasuk mencela mereka juga..<br />
hanya saja, di dalam bermuamalah dg muslim, ttp harus diperhatikan hak-hak mereka..</p>
<p>bukankah Tahdzir, cercaan, dan sikap keras terhadap ahlul bid’ah juga ditunjukkan oleh Rasulullah kepada mereka? </p>
<p>pasti, Kita semua sepakat, bahwa Rasulullah  memiliki akhlaq yang termulia dan terbaik, sebagaimana direkomendasikan dengan tegas oleh Allah  di dalam firman-Nya:<br />
و إنك لعلى خلق عظيم</p>
<p>“Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berakhlaq yang sangat tinggi.” [Al Qalam:4]</p>
<p>Kita semua sepakat bahwa Rasulullah adalah uswatun hasanah:</p>
<p>لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجوا الله و اليوم الآخر و ذكر الله كثيرا</p>
<p>“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi yang mengharap (rahmat) Allah dan (kemuliaan) hari akhir dan dia banyak menyebut Allah.” [Al Ahzab:21]</p>
<p>Maka merupakan akhlaq yang sangat mulia dan wajib kita teladani ketika Rasululah bersabda:</p>
<p>إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَق</p>
<p>“Hanyalah aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia.”</p>
<p>Begitu pula dalam mencela pelaku kebatilan, rasulullah pun pernah mencontohkannya, baik secara umum, maupun khusus.</p>
<p>tahdzir secara umum, seperti perkataan Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam yg  menegaskan kepada ‘Aisyah:<br />
إِذَا رَأَيْتِ الَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ فَأُوْلَئِكَ الَّذِيْنَ سَمَّى اللهُ، فَاحْذَرُوْهُمْ</p>
<p>“Apabila kau melihat orang-orang yang sukanya mengikuti ayat-ayat yang mutasyabih, maka merekalah yang Allah sebutkan (pada ayat tersebut). Maka hati-hatilah dari mereka.” [Muttafaqun ‘alaih]</p>
<p>sednagkan secara khusus, beliau shallallahu a&#8217;alihi wasallam dengan keras dan tegas pula mencela kaum khawarij contohnya, bahkan menggelari mereka sebagai Anjing-anjing jahannam.   Rasulullah  berbicara pedas dan keras tentang khawarij dengan mengatakan:</p>
<p>الخَوَارِجُ كِلاَبُ النَّار</p>
<p>Khawarij adalah anjing-anjing neraka. [HR. Ibnu Majah (172) dari ‘Abdurrahman bin Abi Aufa]</p>
<p>juga ttg nenek moyang khawarij:<br />
.&#8221;..akan keluar dari keturunan orang ini (Dzulkhuwaishirah) suatu kaum yang mereka itu ahli membaca Al Qur’an, namun bacaan tersebut tidaklah melewati tenggorokan mereka. Mereka melesat (keluar) dari (batas-batas) agama seperti melesatnya anak panah dari (sasaran) buruannya. Mereka membunuhi ahlul Islam dan membiarkan hidup (tidak mereka bunuh) ahlul Autsan (orang-orang kafir). Jika aku sempat mendapati mereka, akan aku bunuh mereka dengan cara pembunuhan terhadap kaum ‘Ad [HR. Al Bukhari 3344, Muslim 1064; Abu Dawud 4764]</p>
<p>   Rasulullah  juga bersabda tentang khawarij:</p>
<p>هُمْ شَرُّ الْخَلْقِ وَ الْخَلِيْقَةِ</p>
<p>Mereka adalah sejahat-jahat makhluk dan ciptaan. [HR. Muslim. No. 1067, dari Abu Dzarr]</p>
<p>apakah kita akan mengatakan bahwa Rasulullah, adalah orang yg tak beradab? tentunya tidak bukan? karena kita semua sepakat bahwa beliau pun adalah orang yg paling beradab di muka bumi ini&#8230;</p>
<p>jika kita mengatakan bahwa orang2 takfiri memiliki ciri2 pemahaman khawarij, dan dengannya (khawarij) dikatakan sebagai anjing-anjing neraka, apakah hal tersebut kasar? tidak beradab? tidak lembut?<br />
mungkin ada sebagian orang yg mengatakan bahwa mengatakan khawarij adalah anjing neraka adalah keras, kasar&#8230;padahal hal tersebut adalah perkataan rasulullah thd mereka&#8230;.</p>
<p>jd janganlah kita mengambil sebagian dan meninggalkan sebagian&#8230;<br />
janganlah kita terlalu lembut dlm menyikapi ahlul bid&#8217;ah, sehingga meninggalkan tahdzir thd mereka, karena mengedepankan sikap lembut Rasulullah serta meninggalkan (atau melupakan) bahwa Rasul pun pernah melakukan tahdzir dengan keras thd pelaku kesesatan.</p>
<p>jangan pula kita menyibukkan hari2 kita untuk berlaku keras/mencela terhadap mubtadi&#8217; krn melihat hadits dan atsar ttg sikap keras beliau thd pelaku kesesatan, dan meninggalkan (atau melupakan) contoh bahwa rasulullah adalah orang yg sangat lembut..serta meninggalkan hal2 yg lebih penting yaitu mempelajari dan menjelaskan ttg aqidah shohihah, ibadah, dan ilmu dan amalan lain kepada umat.</p>
<p>ketahuilah, ada kalanya kita harus lembut dalam bermuamalah dg mereka (hizbiyun), adakalanya merekapun harus mendapatkan peringatan dg keras&#8230;.</p>
<p>ketahuilah ya ikhwah, pernyataan keras ana thd hizbiyun pada kolom diskusi di muslim.or.id ini, bukanlah karena ana ingin membela diri ana/ krn celaan thd ana..wallahi sama skali tidak! </p>
<p>wallahu a&#8217;lam&#8230;</p>
<p>mohon koreksi n nasihat kalo ada yg salah dari ana. jazakumullahu khoiron.<br />
inni uhibbukum fillah.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: amin</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/pelajaran-dari-palestina.html/comment-page-2#comment-22998</link>
		<dc:creator>amin</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 15 Jan 2009 09:45:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=490#comment-22998</guid>
		<description>alhamdulillah masih ada ikhwan salafy seperti arahadia, semoga cuplikan yg antum berikan bisa menjadi renungan buat kita semua...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>alhamdulillah masih ada ikhwan salafy seperti arahadia, semoga cuplikan yg antum berikan bisa menjadi renungan buat kita semua&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: arahadia</title>
		<link>http://muslim.or.id/manhaj/pelajaran-dari-palestina.html/comment-page-2#comment-22960</link>
		<dc:creator>arahadia</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 14 Jan 2009 23:58:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://muslim.or.id/?p=490#comment-22960</guid>
		<description>Amir,

Silahkan baca Cuplikan dari Bahtera Da&#039;wah salafiyyah di  lautan Indonesia, 
oleh Muhammad Arifin Badri, Lc, MA
(Alumni S-2 Universitas Islam Madinah, KSA)

.............
Berbicaralah kepada setiap manusia dengan masalah-masalah yang mampu mereka pahami, apakah kalian suka bila Allah dan Rasul- Nya didustakan. (Diriwayatkan oleh Imam Bukhori tanpa menyebutkan sanad, dan Imam Al Baihaqi dalam kitab Al Madkhal, dan Al Khathib Al Baghdady dalam kitab Al Jami&#039;, keduanya dengan menyebutkan sanadnya). 
Sebagai contoh nyata : Pada +/- 4 tahun silam, pada saat terjadi muqabalah (test seleksi mahasisiwa untuk belajar di Al Jami&#039;ah Al Islamiyyah), berkumpulah sekitar 50 orang thullabul ilmi di sebuah pesantren, lalu beberapa asatidzah termasuk saya sendiri menghubungi beberapa syekh yang sedang menjalankan test muqobalah tersebut, guna memohon agar sebagian mereka sudi mengunjungi pesantren tersebut diatas dan kemudian menguji ke 50 thullab tersebut. Alhamdulillah, salah seorang syekh yang ada kala itu bersedia memenuhi undangan kita, syekh tersebut bernama :&quot;Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Al `Aqiil&quot; (Penulis buku Manhaj dan Aqidah Imam Syafi&#039;iy yang diterbitkan oleh Pustaka Imam Syafi&#039;I), dan ketika beliau sudah tiba di pesantren yang dimaksud, maka beliau langsung mengetest / menguji ke-50 thullab, satu demi satu. Dan 
diantara pertanyaan yang beliau lontarkan kepada mereka :&quot;Sebutkan rukun-rukun sholat?&quot; 

Sangat memalukan, dari ke 50 orang tersebut, tidak satupun yang berhasil memberikan jawaban, walau hanya menyebutkan satu rukun saja. Bahkan ada salah satu dari mereka yang memeberanikan diri untuk menjawab, dan berkata :&quot;Diantara rukun sholat adalah berwudhu sebelumnya&quot;. 

Lalu syekh tersebut bertanya kepada salah seorang mereka : &quot;Siapakah yang lebih kafir, ahlul bid&#039;ah ataukah yahudi?&quot;, maka dengan sekonyong-konyong orang tersebut berkata : Ahlul bid&#039;ah lebih kafir dibanding yahudi. Tatkala syekh Muhammad bin Abdul Wahhab mendengar jawaban tersebut, beliau terbelalak, seakan tidak percaya melihat kenyataan yang sangat memalukan ini dan berkata: &quot;Apakah ini yang kalian pahami tentang manhaj salaf ?!, Siapakah yang mengajari kalian demikian ?!. 

Yang lebih parah dari itu semua, pada keesokan harinya, ada salah seorang ustadz yang berceramah dan berkata : &quot;Sesungguhnya Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Al `Aqiil telah dipengaruhi oleh orang-orang sururiyyin, sehingga bertanya kepada murid-murid kita dengan pertanyaan yang rumit&quot;. 

Apakah para pembaca percaya dengan komentar ustadz tersebut, apakah pertanyaan tentang rukun sholat rumit? Apakah tidak ada yang tahu bahwa yahudi jelas-jelas kafir, sedangkan ahlul bid&#039;ah banyak dari mereka tidak sampai kepada kekufuran ?!?!?! 
...................

Wallahu &#039;alam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Amir,</p>
<p>Silahkan baca Cuplikan dari Bahtera Da&#8217;wah salafiyyah di  lautan Indonesia,<br />
oleh Muhammad Arifin Badri, Lc, MA<br />
(Alumni S-2 Universitas Islam Madinah, KSA)</p>
<p>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.<br />
Berbicaralah kepada setiap manusia dengan masalah-masalah yang mampu mereka pahami, apakah kalian suka bila Allah dan Rasul- Nya didustakan. (Diriwayatkan oleh Imam Bukhori tanpa menyebutkan sanad, dan Imam Al Baihaqi dalam kitab Al Madkhal, dan Al Khathib Al Baghdady dalam kitab Al Jami&#8217;, keduanya dengan menyebutkan sanadnya).<br />
Sebagai contoh nyata : Pada +/- 4 tahun silam, pada saat terjadi muqabalah (test seleksi mahasisiwa untuk belajar di Al Jami&#8217;ah Al Islamiyyah), berkumpulah sekitar 50 orang thullabul ilmi di sebuah pesantren, lalu beberapa asatidzah termasuk saya sendiri menghubungi beberapa syekh yang sedang menjalankan test muqobalah tersebut, guna memohon agar sebagian mereka sudi mengunjungi pesantren tersebut diatas dan kemudian menguji ke 50 thullab tersebut. Alhamdulillah, salah seorang syekh yang ada kala itu bersedia memenuhi undangan kita, syekh tersebut bernama :&#8221;Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Al `Aqiil&#8221; (Penulis buku Manhaj dan Aqidah Imam Syafi&#8217;iy yang diterbitkan oleh Pustaka Imam Syafi&#8217;I), dan ketika beliau sudah tiba di pesantren yang dimaksud, maka beliau langsung mengetest / menguji ke-50 thullab, satu demi satu. Dan<br />
diantara pertanyaan yang beliau lontarkan kepada mereka :&#8221;Sebutkan rukun-rukun sholat?&#8221; </p>
<p>Sangat memalukan, dari ke 50 orang tersebut, tidak satupun yang berhasil memberikan jawaban, walau hanya menyebutkan satu rukun saja. Bahkan ada salah satu dari mereka yang memeberanikan diri untuk menjawab, dan berkata :&#8221;Diantara rukun sholat adalah berwudhu sebelumnya&#8221;. </p>
<p>Lalu syekh tersebut bertanya kepada salah seorang mereka : &#8220;Siapakah yang lebih kafir, ahlul bid&#8217;ah ataukah yahudi?&#8221;, maka dengan sekonyong-konyong orang tersebut berkata : Ahlul bid&#8217;ah lebih kafir dibanding yahudi. Tatkala syekh Muhammad bin Abdul Wahhab mendengar jawaban tersebut, beliau terbelalak, seakan tidak percaya melihat kenyataan yang sangat memalukan ini dan berkata: &#8220;Apakah ini yang kalian pahami tentang manhaj salaf ?!, Siapakah yang mengajari kalian demikian ?!. </p>
<p>Yang lebih parah dari itu semua, pada keesokan harinya, ada salah seorang ustadz yang berceramah dan berkata : &#8220;Sesungguhnya Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Al `Aqiil telah dipengaruhi oleh orang-orang sururiyyin, sehingga bertanya kepada murid-murid kita dengan pertanyaan yang rumit&#8221;. </p>
<p>Apakah para pembaca percaya dengan komentar ustadz tersebut, apakah pertanyaan tentang rukun sholat rumit? Apakah tidak ada yang tahu bahwa yahudi jelas-jelas kafir, sedangkan ahlul bid&#8217;ah banyak dari mereka tidak sampai kepada kekufuran ?!?!?!<br />
&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p>Wallahu &#8216;alam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
