Pelajaran dari Palestina


Dengan menyebut nama Allah yang Maha pemurah lagi Maha penyayang

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Amma Ba’du

Sesungguhnya kejadian yang menimpa saudara-saudara kita sesama muslim di Gaza berupa pembunuhan, penghancuran, serta penjajahan atas mereka yang dilakukan oleh kaum Yahudi terlaknat, tentu dirasakan pedih dan sakit oleh setiap mukmin dan membuat hati mereka teriris.

Ya Allah, alangkah murah dan sepele darah kaum muslimin [di mata mereka].

Maha suci Allah, betapa menyakitkan gambaran mayat-mayat [orang-orang tak bersalah itu] di dalam hati orang-orang yang beriman. Alangkah banyak nyawa yang telah melayang, darah yang tertumpahkan, kaum wanita yang ternodai [kehormatannya], dan begitu banyak rumah-rumah yang dihancurkan.

Sesungguhnya kejahatan-kejahatan Yahudi di negeri Palestina yang terampas itu bukan perkara yang aneh dilakukan oleh orang-orang semacam mereka (baca: Yahudi). Lebih parah daripada itu, mereka adalah kaum yang berani mencela dan mengejek al-Bari (Allah) Yang Maha suci. Sebagaimana yang difirmankan oleh-Nya (yang artinya), “Orang-orang Yahudi berkata; ‘Tangan Allah terbelenggu’. Justru tangan-tangan mereka itulah yang terbelenggu dan mereka dilaknat akibat ucapan yang mereka lontarkan. Bahkan, kedua tangan Allah itu terbentang, Dia akan memberi bagaimanapun yang dia suka.” (QS. al-Maa’idah [5]: 64)

Mereka adalah para pembunuh nabi-nabi Allah. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Hal itu terjadi karena mereka senantiasa mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu terjadi akibat kedurhakaan mereka dan karena mereka selalu saja melampaui batas.” (QS. al-Baqarah [2]: 61)

Mereka adalah saudara kera-kera dan babi-babi yang berusaha untuk mengelabui Allah. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan tanyakanlah kepada Bani Israel tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik.” (QS. al-A’raaf [7]: 163)

Selaras dengan ikatan persaudaraan di atas keimanan, maka sudah semestinya setiap muslim memberikan bantuan sekuat kemampuannya dan memohon dengan sangat kepada Allah dengan doa yang diiringi rasa penuh harap kepada-Nya agar Allah berkenan segera menyingkirkan kesulitan dan musibah yang mencekam saudara-saudara kita [di sana]. Berkaitan dengan kejadian yang begitu memilukan ini, saya ingin mengingatkan kepada saudara-saudaraku kaum muslimin dengan beberapa pelajaran manhaj dari kejadian yang menimpa daerah Gaza Palestina:

Pelajaran Pertama

Sesungguhnya kejadian yang menyedihkan ini semakin menguatkan kebenaran berita yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala mengenai orang-orang kafir berupa permusuhan mereka yang sengit kepada kaum mukminin. Dan yang harus kita lakukan adalah memusuhi seluruh golongan orang kafir dari kalangan Yahudi, Nasrani, Majusi, dan lainnya, dikarenakan mereka adalah orang-orang kafir. Dan apabila mereka menyakiti dan memerangi kita, maka kebencian kita kepada mereka pun semakin memuncak. Hal ini tentu berbeda dengan apa yang dilontarkan oleh sebagian orang yang menganjurkan untuk tidak memberikan pertolongan yang mengatakan, “Sesungguhnya kita tidak akan memusuhi orang-orang kafir kecuali apabila mereka menyakiti dan memerangi kita.” Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah merasa puas/ridha kepada kalian sampai kalian mau mengikuti millah (ajaran agama) mereka.” (QS. al-Baqarah [2]: 120).

Ayat ini menunjukkan bahwa permusuhan mereka kepada kita akan terus berlangsung sampai kita ikut menjadi kafir seperti mereka. Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya) “Sungguh telah terdapat suri teladan yang baik pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, ketika mereka berkata kepada kaumnya; Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah. Kami mengingkari kalian dan telah tampak dengan jelas antara kami dengan kalian permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya, sampai kalian mau beriman kepada Allah semata.” (QS. al-Mumtahanah [60]: 4). Maka kita pun harus memusuhi dan membenci mereka untuk selama-lamanya dikarenakan mereka kafir, sampai mereka mau meninggalkan kekafiran mereka dan beriman kepada Allah semata. Jadi, permusuhan [kita] tidak hanya terbatas kepada orang yang memerangi kita di antara mereka, sebagaimana yang diserukan oleh sebagian da’i yang bersikap lembek [silakan dengar kajian berjudul 'Surat-surat kepada gerakan HAMAS' http://www.islamancient.com/lectures,item,346.html, yang disampaikan oleh Syaikh untuk menasihati mereka, pent]

Allah ta’ala menegaskan kewajiban permusuhan kita kepada mereka karena mereka adalah orang-orang kafir. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidak akan kamu temukan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir justru berkasih sayang dengan orang-orang yang memusuhi Allah dan rasul-Nya, meskipun orang-orang itu adalah ayah-ayah mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka, atau kerabat mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah ditetapkan Allah keimanan di dalam hati mereka.” (QS. al-Mujadilah [58]: 22)

Di antara konsekuensi hal itu adalah kita tidak boleh menyerupai ciri khas mereka, baik dalam hal pakaian atau yang lainnya. Dan ini sekaligus merupakan ajakan kepada para pemuda kita, agar mereka meninggalkan pakaian-pakaian olah raga yang padanya terdapat nama-nama pemain (olah raga) yang kafir itu. Bahkan ini juga ajakan kepada segenap kaum muslimin untuk merasa mulia dan bangga dengan keislaman mereka. Agar kaum muslimin memandang kepada orang-orang kafir dengan pandangan permusuhan dan kerendahan, maka tidak benar perkataan bahwa orang kafir itu juga saudara kita sebagaimana yang dilontarkan oleh sebagian da’i yang lembek. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya, mereka bersikap keras kepada orang-orang kafir, dan berkasih sayang dengan sesama mereka.” (QS. al-Fath [48]: 29). Allah juga berfirman (yang artinya), “Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum, Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, berlemah lembut dengan orang-orang mukmin dan keras kepada orang-orang kafir.” (QS. al-Maa’idah [5]: 54)

Salah satu perkara yang sangat-sangat mengherankan yaitu anda dapat melihat sebagian orang yang dinisbatkan (disandarkan) kepada kalangan para da’i ila Allah -namun itu adalah penisbatan yang dusta- mereka itu tidak mau mengafirkan Yahudi dan Nasrani. Maka sungguh dia telah mendustakan al-Qur’an yang jelas-jelas telah mengafirkan mereka, maka orang seperti itu kafir berdasarkan ijma’ ulama sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Ibnu Taimiyah dan Imam Abdul Aziz bin Baz rahimahumallah. Sebagai tambahan, guru kami Ibnu Baz menyebutkan bahwa tidak benar menamai orang-orang Nasrani dengan istilah Masihiyyin (pengikut Isa).

Pelajaran Kedua

Sesungguhnya tindakan melampaui batas yang berlangsung secara beruntun dan terus-menerus serta penghinaan atas nyawa kaum muslimin yang suci, [dirampasnya] harta dan kehormatan mereka yang bersih termasuk bencana dan musibah besar yang menimpa kita. Sungguh banyak kalangan aktivis di medan dakwah yang telah keliru dalam mendiagnosa penyakit ini. Dibangun di atasnya, mereka pun keliru dalam menempuh jalan penyembuhannya. Saya telah menerangkan hal itu di dalam mukadimah kitab saya ‘Muhimmat fi al-Jihad’ [http://www.islamancient.com/books,item,50.html].

Intisari dari penyakit ini adalah kemaksiatan kepada Allah. Dan yang paling besar di antaranya adalah meninggalkan tauhid dan sunnah serta tersebarnya syirik dan bid’ah di antara barisan kaum muslimin yang dinamakan dengan istilah tasawuf dan lainnnya. Dan keadaan ini semakin bertambah parah ketika muncul berbagai kelompok dakwah yang menelantarkan dakwah tauhid dan melalaikan peringatan agar menjauhi kesyirikan serta mengikis aqidah al-Bara’ (kebencian kepada musuh Islam) yang seharusnya tertuju kepada bid’ah dan para penyebarnya.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar) kamu berkata: ‘Dari mana datangnya (kekalahan) ini?’ Katakanlah: ‘Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri’. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali Imran [3]: 165). Allah juga berfirman (yang artinya), “Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan dikarenakan ulah tangan manusia, Allah ingin memberikan pelajaran dengan menimpakan sebagian akibat perbuatan mereka, semoga mereka mau kembali(ke jalan yang benar).” (QS. ar-Ruum [30]: 41). Maka kedua ayat tersebut dan ayat-ayat yang lainnya secara tegas menjelaskan bahwa semua musibah -di antaranya adalah berupa kelemahan dan dikuasai oleh orang-orang kafir- adalah akibat dari dosa-dosa yang kita perbuat.

Untuk mengatasi hal itu, maka obat dan penyembuhnya adalah dengan kembali kepada Allah, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah ta’ala (yang artinya), “Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan beramal salih, niscaya Allah akan menjadikan mereka benar-benar berkuasa di atas muka bumi ini, sebagaimana halnya Allah telah mengangkat orang-orang sebelum mereka menjadi pemimpin, Allah benar-benar akan meneguhkan untuk mereka agama mereka yang telah Allah ridhai bagi mereka, dan Allah akan menggantikan rasa takut yang mencekam mereka dengan keamanan; mereka senantiasa beribadah kepada-Ku dan tidak mempersekutukan-Ku sama sekali.” (QS. an-Nuur [24]: 55). Ini adalah janji dari Allah, sedangkan Allah tidak mungkin menyelisihi janji-Nya. “Itulah janji Allah, Allah tidak akan pernah menyelisihi janji-Nya. Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. ar-Ruum [30]: 6)

Termasuk kekeliruan yang sangat fatal dan dosa yang sangat buruk yaitu [usaha sebagian orang] untuk memberikan posisi bagi Syi’ah Rafidhah untuk berada di antara barisan Ahlus Sunnah; sehingga mereka dapat dengan leluasa menyebarkan ajaran kekafiran dan kesesatan mereka, dan pada akhirnya mereka pun membahayakan Ahlus Sunnah. Sungguh mengherankan! Bagaimana bisa dibenarkan bagi seorang da’i yang mengajak untuk ishlah (perbaikan) kok malah memberikan tempat bagi Rafidhah yang mengafirkan umat terbaik setelah Nabi-Nya yaitu para sahabat yang mulia seperti Abu Bakar, Umar, dan Utsman, mereka jugalah orang-orang yang berani menuduh ibunda kaum mukminin -sosok yang sangat dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan istri beliau- telah melakukan perzinaan, mereka (baca: Syi’ah) juga melampaui batas dalam mengangkat kedudukan para imam mereka sampai menduduki derajat sebagaimana halnya derajat Allah, sebagaimana sudah saya terangkan dalam bantahan untuk mereka dalam risalah al-Qaul al-Mubin li maa ‘alaihi ar-Rafidhah min ad-Din al-Masyin [http://www.islamancient.com/books,item,70.html].

Dahulu saya telah memberikan nasihat kepada organisasi HAMAS beserta pimpinan mereka -semoga Allah memberikan petunjuk kepada kami dan mereka- dan saya peringatkan mereka mengenai dampak [buruk] yang akan muncul akibat memberikan posisi bagi orang-orang Rafidhah di Palestina dan akibat buruk dari menyanjung mereka, sebagaimana telah kami sampaikan dalam sebuah pelajaran yang telah didokumentasikan dan disebarkan dengan judul ‘Rasa’il ila Hamas’, di antara tindakan mereka yang keliru itu adalah kunjungan Khalid Masy’al ke Iran dan meletakkan karangan bunga di atas kubur orang yang binasa yaitu al-Khumaini, dan pernyataannya bahwa Khumaini adalah bapak ruhani yang menjiwai dakwah mereka (HAMAS) di Palestina[?!].

Pelajaran Ketiga

Wajib bagi kaum muslimin untuk menyadari ukuran diri dan kekuatan mereka. Hendaknya mereka bisa membedakan antara kondisi lemah dan kondisi kuat, dan sudah seharusnya mereka pun mengetahui hukum-hukum yang menjadi konsekuensi atasnya. Hendaknya mereka menjadi orang yang bertindak realistis, bukan menjadi tukang khayal yang gemar berandai-andai. Maka tidak dibenarkan bagi siapapun mengharuskan kaum muslimin mengikuti keputusan-keputusan yang tidak cocok dengan kondisi mereka [sekarang ini] dan kelemahan mereka; yang itu semua dibangun di atas impian persatuan dan kesatupaduan mereka [yang belum terwujud]. Akan tetapi, yang harus dilakukan adalah hendaknya kaum muslimin bertindak sesuai dengan kondisi mereka saat ini, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih perdamaian ataupun peperangan dengan mempertimbangkan kemaslahatan, yaitu mempertimbangkan kekuatan dan kelemahan yang ada serta faktor-faktor lainnya. Tatkala beliau masih berada di Mekah, Allah belum mensyariatkan kepadanya jihad. Karena pada saat itu beliau sedang dalam kondisi yang lemah, sebagaimana yang telah dipaparkan oleh para pemimpin Islam, di antaranya Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Anda bisa menemukan keterangan mereka dengan jelas di dalam buku saya ‘Muhimmat fi al-Jihad’ dan dalam pelajaran yang berjudul ‘al-Jihad baina al-ghuluw wa al-Jafaa’ [http://www.islamancient.com/lectures,item,550.html]

Betapa sering seorang muslim harus merasakan sakit akibat melayangnya nyawa kaum muslimin yang lain disebabkan kobaran semangat yang tak terkendali oleh ilmu sehingga menimbulkan kezaliman orang-orang kafir kepada kaum muslimin yang lemah justru menjadi berlipat ganda, maka jadilah mereka sebagai korban sembelihan orang-orang kafir yang sangat gemar menganiaya, dan mereka [orang kafir] itu adalah orang-orang Yahudi. Dan jadilah kaum muslimin sebagai korban akibat tindakan yang salah dari sebagian kaum muslimin, dan mereka itu adalah para pemimpin HAMAS. Saya tidak mengerti sama sekali apa yang mendorong organisasi HAMAS untuk melakukan tindakan-tindakan perlawanan secara terang-terangan kepada orang-orang Yahudi kafir terlaknat itu, padahal mereka juga mengetahui bahwa kekuatan mereka sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kekuatan orang-orang Yahudi. Bahkan, tindakan mereka itu justru -pada ujungnya- mengakibatkan semakin kerasnya penyiksaan kaum Yahudi kepada orang-orang yang lemah di antara kaum muslimin di Gaza. Sementara para pemimpin HAMAS bisa saja selamat karena mereka bisa membuat perlindungan di sekelilingnya untuk menyelamatkan diri. Kemudian, yang lebih aneh lagi adalah tindakan HAMAS yang tetap bersikeras meneruskan perang, sampai-sampai orang yang melihat mengira bahwa mereka memiliki kekuatan dan kemampuan yang memadai untuk menghancurkan Yahudi. Maka hal itu tidak lain justru semakin menambah sakit dan luka [pada diri kaum muslimin] akibat terjadinya berbagai pembantaian berdarah yang sangat keji [yang dilakukan oleh Yahudi, pent].

Salah satu contoh tindakan yang membuat orang tertawa sekaligus menangis adalah pernyataan HAMAS yang mendalili perbuatan mereka itu -serangan kepada Yahudi secara terang-terangan- dengan alasan terpaksa karena mereka berada sedang dalam kondisi terkepung. Sehingga hal itu mendorong mereka untuk memilih meninggalkan bahaya yang timbul akibat kepungan musuh menuju suatu bahaya yang lebih berat dan lebih mengerikan, yaitu menggabungkan antara [bahaya] pengepungan dan terjadinya pembantaian berdarah. Memang benar, menetapnya Yahudi di bumi Palestina adalah kejahatan dan kezaliman yang tidak boleh diakui sama sekali. Mereka pun harus diusir dan dibuat angkat tangan [menyerah] agar tidak lagi menjajah al-Quds. Akan tetapi, kekeliruan ini tidak boleh disembuhkan dengan kekeliruan lain yang lebih fatal yaitu dengan menyebabkan tertumpahnya darah orang-orang yang tidak bersalah dalam jumlah yang sangat banyak.

Saya benar-benar mengajak kepada para pemimpin organisasi HAMAS untuk selalu bertakwa dan takut kepada Allah dan mengambil pelajaran dari para pendahulu mereka yaitu al-Ikhwan al-Muslimun (IM). Betapa banyak kerugian yang timbul akibat letupan semangat dan tindakan-tindakan membahayakan yang mereka perbuat sehingga menyebabkan melayangnya banyak nyawa sebagaimana yang dahulu mereka lakukan di daerah Hamat. Kejadian yang menimpa mereka ketika itu belum jauh berlalu dari ingatan kita. Hendaknya mereka takut kepada Allah demi terjaganya keselamatan kaum muslimin yang lemah di Gaza yang terdiri dari orang-orang tua yang sudah jompo, anak-anak yang masih menyusu. Lihatlah, sekarang darah itu sudah tertumpah, para wanita telah ternodai kehormatannya, demikian pula anak-anak telah menjadi yatim. Apa yang bisa kalian lakukan selain mengeluh dan mengadu. Lihatlah, apa yang bisa kalian harapkan dari Iran yang Syi’ah itu yang katanya siap memberikan bantuan kepada kalian kecuali sekedar melemparkan urusan [tanggung jawab] mereka kepada pihak lain dan menebarkan keragu-raguan kepada negara-negara Islam Sunni yang lainnya. Apa yang telah diperbuat oleh kaum Rafidhah (Syi’ah) di Irak berupa pembunuhan terhadap kaum Ahlus Sunnah dan menyerahkan urusan mereka kepada negara kafir Amerika merupakan bukti paling besar yang menunjukkan kekejian mereka, dan tidak mungkin kita berharap bantuan dari mereka untuk melawan kaum Yahudi dan Nasrani.

Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan di dalam bukunya ‘Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyah’ [3/377] berkata, “Banyak di antara mereka -Rafidhah/Syi’ah- justru menaruh rasa kasih sayang kepada orang-orang kafir dari dalam lubuk hatinya lebih daripada kecintaan mereka kepada kaum muslimin. Oleh sebab itulah ketika pasukan Turki keluar sedangkan orang-orang kafir datang dari arah timur kemudian membunuhi kaum muslimin dan menumpahkan darah mereka di negeri Khurasan, Irak, Syam, jazirah Arab, dan negeri yang lainnya, maka kaum Rafidhah justru memberikan bantuan kepada mereka (orang kafir) untuk membunuh kaum muslimin. Dan menteri Baghdad saat itu yang sudah ma’ruf (dikenal) yaitu Alqami dan orang-orang yang sepertinya, mereka itulah orang-orang yang paling besar perannya dalam memberikan bantuan kepada mereka untuk menghancurkan kaum muslimin. Demikian pula orang-orang Rafidhah yang dahulu tinggal di Syam, mereka itu adalah orang-orang yang paling besar perannya dalam membantu orang kafir untuk memerangi kaum muslimin. Begitu pula orang-orang Nasrani yang dahulu diperangi oleh kaum muslimin di Syam, ternyata kaum Rafidhah pun termasuk pembantu mereka yang sangat berjasa. Demikian pula tatkala Yahudi berhasil memiliki pemerintahan di Irak dan negeri yang lainnya, maka jadilah kaum Rafidhah sebagai pembantu mereka yang paling besar perannya. Mereka itu selalu memberikan loyalitasnya kepada orang-orang kafir dari kalangan orang-orang musyrik maupun Yahudi dan Nasrani. Mereka membantu orang-orang kafir itu dalam rangka memerangi kaum muslimin dan memusuhi mereka…” Selesai ucapan beliau.

Sekarang kalian, wahai HAMAS. Kalian telah membuka jalan untuk kaum Rafidhah guna merusak keyakinan-keyakinan Ahlus Sunnah dan mengubahnya menjadi [aqidah] Syi’ah. Dan sebaliknya, kalian justru melarang para da’i salafi [ikut serta memperbaiki kekeliruan kalian, pent]. Bahkan, sudah terbukti kalian berani melakukan pembunuhan kepada sebagian di antara mereka (da’i salafi) dengan mengatasnamakan kemaslahatan yang diada-adakan. Barangsiapa yang ingin mendapatkan tambahan bukti dan keterangan yang lebih lengkap silakan merujuk kepada pelajaran ‘Rasa’il ila Harakati Hamas’ [masih dalam bentuk ceramah audio, belum di transkrip, pent]. Saya memohon kepada Allah agar Dia mematikan kita sebagai syuhada’ di jalan-Nya dan menyejukkan hati kita dengan hancurnya Yahudi. Saya pun memohon kepada-Nya dengan segenap kekuatan yang dimiliki-Nya demi terjaganya darah saudara-saudara kami kaum muslimin di Gaza dan di semua tempat, dan semoga Allah memberikan hidayah kepada para pemimpin HAMAS untuk meniti jalan yang lurus.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Abdul Aziz bin Rays ar-Rays

Pengawas situs al-Islam al-’Atieq

http://www.islamancient.com

Permulaan tahun 1430 H

diterjemahkan dari:

Durus Manhajiyah Min Ahdats Ghazah al-Filisthiniyah

http://islamancient.com/mod_stand,item,26.html
***

Penerjemah: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id


Daftar RSS komentar

72 komentar

  1. ya2n says:

    Penyerangan roket oleh Hamas terhadap yahudi Laknatulloh di Palestina selama ini tidak menimbulkan kerugian yang berarti bagi mereka (yahudi),namun sebaliknya menjadi petaka bagi kaum muslimin !!! lihatlah bagaimana bangsa yahudi terlaknat justru semakin menjadi-jadi dalam serangannya yang sangat biadab yang mengakibatkan banyaknya korban jiwa dari kaum Muslimin!!!. Allahumma, ya Allah berikanlah pertolonganmu terhadap saudara-saudara kami kaum Muslimin di Palestina dan dinegeri lainnya yang kini sedang terzholimi, dan segerakanlah kebinasaan bagi musuh-musuh Islam, bangsa yahudi dan sekutu-sekutunya. Amiiin

  2. Abdurrohman says:

    Lalu apa yg hrs kita lakukan jika kita adl warga palestina?

  3. Muhammad Rafliansyah says:

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Saya sebagai Pribadi sangat setuju apa yang dikatakan Oleh saudara kita Abdul Aziz bin Rays ar-Rays bahwa seharusnya dalam melakukan tindakan seorang Muslim harus melihat Diri dan kekuatannya sehingga bisa memutuskan untuk kemaslahatan bersama Umat Muslim tidak untuk kepentingan sendiri ataupun organisasi sebagaimana yang kita lihat dalam kejadian Palestina, saya sangat sedih melihat wanita dan Anak- anak menjadi korban dari kekejian bangsa yahudi laknat.
    Semoga Allah Swt memberikan kekuatan dan Ridho bagi bangsa Palestina untuk dapat bertahan dan tempatkanlah para Wanita, Anak- Anak dan Pria yang menjadi Korban kebiadaban yahudi di sisi Allah Swt.
    Dan Hancur dan binasakanlah bangsa yahudi dan sekutunya dari bumi ini

    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

  4. abu_urwah says:

    Sampai detik ini yang nampak lebih mendekati kebenaran bagi saya adalah fatwa imam Al Albani -rahimahullah- agar penduduk Palestina untuk sementara mengungsi ke tempat yang lebih aman untuk sementara waktu kemudian menyusun kekuatan sampai dirasa mampu untuk mengusir yahudi dari bumi mereka. Wallahu a’lam!

  5. abu umar says:

    masalah palestina bukan hanya masalah kaum palestna saja, tapi merupakan tanggung jawab bersama kaum muslimin di seluruh dunia, oleh karena itu, usaha untuk “menghimpun kekuatan” sebagaimana yang diutarakan saudaraku abu urwah tidak cukup dibebankan kepada kaum palestin saja, tapi usaha bersama dari kaum muslimin. apakah kita sudah berkonsolidasi demi mneghimpun kekuatan itu? ato hanya ongkang2 kaki sambil nunggu keajaiban? hal itu terserah kaum muslimin saja. jika tidak ingin melihat pembantaian kaum muslimin di palestine maka saatnya seluruh kaum muslimin ikut campur tangan dengan cara yang mereka mampu tuk melakukannya. AllahuAkbar

  6. Andy says:

    Saya setuju dengan Akh Abu Urwah berkaitan dengan fatwa tersebut. Namun hijroh-nya kaum muslimin dari Palestina bukanlah hanya menyusun kekuatan melainkan selamatkan aqidah mereka yang telah rusak. Saya pernah menonton vidio yang ditayangkan oleh kaum hizbiyyun di masjid kantor tempat saya bekerja ba’da sholat Jum’at beberapa tahun yang lalu. Vidio tersebut menayangkan hasil kekejaman Yahudi laknatulloh, salah satunya bocah Palestina yang mengadu dengan nasibnya, keluarganya dan negerinya dengan bersya’ir yang setiap bait syairnya berkata (artinya) “Ya Matahari … “. Mengapa tidak “Ya Alloh … ” ?!?!?!? Sungguh ini adalah bukti kesyirikan. Bagaimana mungkin Alloh Ta’ala memberikan pertolongan kepada hamba-Nya yang berbuat syirik? Ditambah lagi di Palestina banyak berbagai macam firqoh dan hizb yang masing-masing berbangga dengan dirinya dan memiliki tujuan sendiri. Al-Wala wal Baro’ bukan atas dasar kepada Alloh Ta’ala. Semoga kaum muslimin di Palestina kembali kepada aqidah yang haq sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman Salafush Sholih.

  7. WHY says:

    Assalamu ‘alaikum..
    waah…nanti klo smua orang palestina meninggalkan negrinya untuk mengungsi, itu berarti yahudi laknatullah bs menguasai palestina? dan mereka brhasil menjajah palestina? trus jika dmkn saudara2 kita d palestina mjd banggsa yg terusir? seharusnyalah qta semua kaum muslimin di dunia bersatu padu untuk membantu saudara kita d palestina. yg terpenting bgmn tindakan kita selanjutnya, hrs difikirkan scr matang.wassalamu ‘alaikum..

  8. mbahjogo says:

    Warga Palestina adalah saudara muslim, semua orang sedunia tahu. Begitu ada penyerangan (pembantaian) oleh Israel, semua orang meributkan (menghujat) bangsa Israel.

    Berita / informasi hanya terfokus pada penyerangan (pembantaian) saja. tetapi aku sedikit sempatkah berfikir kenapa negara Israel berani menyerang Palestina secara membabibuta ??????

    Karena……ukhuwah islamiyah hanya sebagai slogan di tulisan dan ucapan saja.
    Hanya beda partai / kelompok, sesama islam berantem…….
    Hanya beda faham, sesama islam gencar menghujat…..
    Disinilah sumber kelemahan Islam yang sangat diketahui oleh Bangsa-bangsa kafir (wabilkhusu Israel).

    Jika setiap muslim hanya pandai menghujat dan berantem sesama muslim. Insya Allah, bisa terjadi Palestina – Palestina di dunia lain.

    Aku mencoba merenungkan dan berfikir tentang ayat-ayat Al Qur’an diatas. Masya Allah,
    Semua intinya adalah agar kita selalu menegakkan ukhuwah islamiyah (persatuan yang kokoh), karena ada sekelompok manusia yang tidak suka dan senang tehadapa Islam sampai hari kiamat.

    Wahai saudaraku,
    Kita bela dan dukung moral bangsa Palestina, tetapi setelah masalah Palestina selesai, jangan kita sesama muslim saling berantem dan menghujat.

    Ingat !,
    Kelemahan yang sangat besar di Palestina adalah berantem (perang) sesama islam (Kelompok FATAH ; HAMMAS ; HIZBULLAH).

    Andaikan Kelompok Islam di Palestina (HAMMAS;FATAH;HIZBULLAH) bersatu……………….?

    Andaikan Partai dan Organisasi Islam di Inodnesia BERSATU…….?

    Andaikan Semua umat Islam BERSATU…….? tanpa melihat bendera dan faham.

    Ya Allah, berilah kami ; kaum muslimin jiwa persatuan yang seperti Engkau berikan kepada kaum Muhajirin dan Anshor di jaman Rosulullah yang engkau rahmati.

    Salam,
    Ghofilin ukhuwah islamiyah

  9. Rangga_Abu_Ilyasa says:

    mbahjogo berkata:
    Ya Allah, berilah kami ; kaum muslimin jiwa persatuan yang seperti Engkau berikan kepada kaum Muhajirin dan Anshor di jaman Rosulullah yang engkau rahmati.

    Saya berkata:
    Amin. Kemudian

    “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaannya sendiri.” [Ar-Ra'd: 11]

    Jika kita kaum muslimin ingin bersatu, maka setiap dari kita harus kembali kepada benang merah yg akan mempersatukan kita, yaitu Al-Qur’an dan As-sunnah.

    Dan jika kita kaum muslimin ingin bersatu sebagaimana persatuannya Kaum Muhajirin dan Anshor dahulu, maka kita harus memahami & mengaplikasikan Al-Qur’an dan As-sunnah tsb berdasarkan pemaham dan pengaplikasian Kaum Muhajirin dan Anshor (para shahabat radhiallahu’anhuma ajmain).

    Wallahua’lam.

    Laknat Allah bagi yahudi dan nashrani.

  10. sufyan says:

    semoga Alloh menabahkan saudara2 qt disana dan saatnya qt kembali kpd Agama ALLOH. untuk melihat fatawa masyaikh silahkan kunjungi sofyanalatsari.blogspot.com

  11. abu muhammad says:

    Rahimakallah…

    to: @mbahjogo

    “Kelemahan yang sangat besar di Palestina adalah berantem (perang) sesama islam (Kelompok FATAH ; HAMMAS ; HIZBULLAH).”

    jawab:
    ya anda benar..salah satu kelemahan kaum muslimin adalah karena kaum muslimin berpecah belah..kaum muslimin saat ini terkotak kotak..masing-masing saling bangga apa yang ada pada kelompok mereka..
    hamas bangga akan kelompoknya…fatah bangga akan kelompoknya..dan hizbullah(syi’ah lebanon) pun bangga akan kelompoknya…dan begitulah semua kelompok2 yang ada..semua bangga akan diri mereka masing masing…

    2. “Andaikan Kelompok Islam di Palestina (HAMMAS;FATAH;HIZBULLAH) bersatu……………….?

    Andaikan Partai dan Organisasi Islam di Inodnesia BERSATU…….?

    Andaikan Semua umat Islam BERSATU…….? tanpa melihat bendera dan faham.”

    jawab:
    semoga Allah Ta’ala merahmatimu
    ana punya pertanyaan kepada antum..

    bagaimana cara hamas,fatah dan hizbullah bersatu?,bersatu di atas apa?..di atas aqidah yang berbeda beda?,..wallahi jika mereka tetap demikian,mereka tidak akan bersatu selama-lamanya, ada yang khawarij,ada yang syi’ah, ada yang sufiyah, ada yang ber aqidah tafwidh..
    bagaimana mungkin mereka bersatu?..dan ingat ya akhi..menyatukan hati berbeda dengan menyatukan badan..

    hati hanya bisa disatukan di atas aqidah yang shahih,manhaj yang benar,sebagaimana Aqidah dan manhaj Rosulullah salallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat ridwanullah ‘alaihim ajma’in…tidak ada jalan selain kembali kepada Al-qur’an dan sunnah Rosulullah salallahu ‘alaihi wa sallam sesuai dengan pemahaman para sahabat ridwanullah ‘alaihim ajma’in…

    maka mari kita satukan ukhuwah islamiyah dengan kita kembali kepada agama kita..kembali kepada cara beragama Rosulullah salallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat ridwanullah ‘alaihim ajma’in..kembali kepada pemahaman salafus shaleh..

    semoga Allah Ta’ala memberikan pertolongan NYA kepada kita semua dan juga penduduk palestina serta kaum muslimin lainnya..

    wallahul musta’an

  12. ibnu muhammad says:

    Palestina gak bisa lepas dari cengkraman Zionis Yahudi selama mereka masih didalam kubangan maksiat, aqidah yg amburadul, perpecahan diantara mereka menjadi beberapa faksi2 dsb.
    Dan juga Palestina tidak bisa lepas dari cengkraman Zionis Yahudi Laknatullah alaih hanya dengan teriak2 demonstrasi penggalangan masa dan demi kepentingan hizb-hizb yg ada.

    Palestina baru bisa merdeka dengan kembalinya kaum muslimin palestina ke agamanya yg haq.

  13. rhosyied says:

    komentar mbahjogo ckp menarik. Perpecahan kaum muslimin itu sudah ada di zaman Rasulullah, dan Rasulullah pun sudah mengingatkan akan fitnah perpecahan di tubuh kaum muslimin. Dan perlu diingat!! Rasulullah pun mencela, menghujat kelompok2 yg tidak berhaluan dengan kelompok yg berada di atas manhaj para sahabat. Jadi SALAH BESAR kalo kita menutup mata pada hari ini akan adanya perpecahan kaum muslimin, this is Sunnahtullah ya akhi!
    Maka tolong mbahjogo, jangan dijadikan alasan Jika ada muslim lain yg menghujat kelompok muslim lain-karena kebenaran- itu merusak barisan kaum muslimin, coba mbahjogo dan saya melihat bagmn celaan Rasulullah thd kaum khawarij, padahl mrk adlh kaum muslimin jg. Namun stlh itu apakah kita kemudian menuduh Rasulullah TIDAK menjaga ukhuwah Islamiyyah??? Permasalahannya, DEFINISI UKHUWAH ISLAMIYAH itulah yg perlu diluruskan
    Ingat, dalam keadaan apapun seorang muslim, tidak lebih penting baginya melainkan Aqidah yg lurus yg harus dia miliki. Maka, saya setuju dg artikel diatas yg melihat permasalahan di Palestina dg kacamata Al Quran was Sunnah, bukan hawa nafsu dan gembor2 mulut belaka. ALlahu akbar!!

  14. binauf says:

    Hendaknya jangan melaknati kepada Israel, sebab ini nama nabi yg mulia ya’ni Yakub atau dari keturunan Yakub, akan tetapi yang di bolehkan adalah Yahudi, adalah salah satu bentuk keculasan kaum Yahudi adalah mengambil nama Israel atas nama dirinya,…yahudi laknatullah alaihi,…saudaranya syiah
    rafidlhah.

  15. Dinda says:

    Al-Hujurat : 11. Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

    Hanya musuh ALLAH-lah yang tidak menginginkan ISLAM BERSATU. Hanya musuh ALLAH-lah yang meng-kafirkan sesama muslim. Padahal kriteria KAFIR dalam Al-Quran sudah sangat jelas.

    Wallahua’lam

  16. arif says:

    Bismillaahirrohmaanirrohiim,

    Yaa ikwah,,skr ini yang di butuhkan oleh saudara2 qt di gaza adalah ‘bukti nyata’ dari kepedulian kita-kita ini yang sering mengucapkan “innamal mu’miniina ikhwa”…dalam bentuk apapun yang sesuai dengan tuntunan syar’i…..bukan obrolan ,komentar atau ‘dalih2′ yang cenderung kepada ‘pembenaran’(ro’yu) bukan KEBENARAN (Al-Qur;an & As sunnah).
    Mengapa kt begitu mudah menghakimi saudara2 kt yg lain tentang pemahaman mereka dalam ad diin ini…

    Bisa jadi belum sampai kepada mereka pemahaman yang haq..
    Sudahkah kita menasihati mereka?
    Sudahkah kita menda’wahi mereka?
    Sudahkah kita memohon agar Allooh ta’ala memberikan hidayah kpd mereka?
    Bukankah kt jg pernah menjadi seorang yang awam dan lama dalam “kejahilan”?(mungkin skrpun masih)
    Apakah kita merasa diri-diri kita ini ‘lebih baik’ ?(jgn sampai kt tergelincir spt syaithon laknatullooh,na’udzubillaah)..
    Bisa jadi ‘besok atau lusa’ saudara2 kt itu jauh lebih baik dan lebih tinggi derajatnya disisi Allooh tabaaroka wata’ala.

    Yaa Rohmaan,,bimbing dan lembutkanlah hati kami ,jadikan kami2 ini hambaMu yang penyayang,, dan jadikan setiap perkataan dan perbuatan kami ada dalam petunjuk dan ridloMu…

    walloohualam bishowab

  17. abu faisal says:

    Allah berfirman:
    dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana (8:63)

    Yaa ikhwah, yang sangat mendambakan ukhuwah islamiyah. Jangankan hanya sekedar tulis sana-sini. Seandainya antum memiliki kekayaan sebanyak yang ada di bumi, dan antum gunakan semua kekayaan yang ada dibumi itu, tidak akan hati umat ini akan bersatu. Perhatikan ayat diatas ya ikhwan, dengan imanmu, bukan dengan logika sebab-akibat sempitmu atau hawa nafsumu. Katakanlah padaku:

    1. Apa menurutmu yang akan membuat Allah mau mempersatukan hati kita? Toleransi dalam perbedaan (tanpa dibahas)? Ataukah Saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran?

    2. Ataukah barangkali dengan seminar-seminar dan pendekatan antar kelompok, dengan berbagai kompromi? Ataukah dengan lantang meneriakkan marilah kita semua berpegang teguh kepada tali Allah dengan sebenar-benarnya?

    Sungguh sangat menyedihkan umat Islam saat ini. Mereka hanya memandang sebelah mata, ketika dikatakan solusi masalah umat ini adalah dengan taat kepada Allah. Mereka sudah kagum dengan akal2 mereka, dan taat kepada Allah, tidak masuk logika sebab-akibat mereka. Lihatlah buku-buku pergerakan (yang membahas membangkitkan kejayaan umat) yang banyak berserakan di toko-toko buku. Adakah yang kesimpulannya “jika kita melakukan yang Allah perintahkan ini, maka Allah akan memberikan begini dan begitu?”. Semua berkutat pada, kalau ekonomi … maka…, atau kalau umat islam menang pemilu maka…, kalau bersatu maka…., subhanallah, dimana posisi Allah? apakah hanya sekedar pemanis bibir saja? Wal iyyadzubillah. Padahal Allah memenangkan Rasul dan para sahabat pada perang Badar dengan segala kekurangan, dan sempat mengkocar-kacirkan mereka dalam segala kelebihan yang mereka miliki dalam perang Hunain. Adakah orang yang mengambil pelajaran? Sungguh tidak ada logika militer, ekonomi, politik dalam peristiwa itu. Yang ada hanya logika iman (kalau kami melakukan yang Allah perintahkan, maka Allah akan memberikan yang dijanjikanNya titik)

    Ana katakan: Sungguh telah masyhur dalam Al Qur’an dan hadits2 nabi yang mulia, bahwa Allah akan merendahkan umat ini, ketika mereka bermaksiat kepada Allah. Maka segala bentuk langkah nyata/kongkrit menuju kejayaan umat tidak lebih dari sekedar OMONG KOSONG, dan FATAMORGANA SEMU. Karena pada hakikatnya, mereka sedang berusaha melepaskan diri dari hukuman Allah (berupa kehinaan) dengan cara selain yang ditunjukkan oleh Al-Hakim (yaitu Allah). Mereka sedang memikirkan cara mendapatkan upah (yaitu kejayaan), tanpa harus mengerjakan tugas dari majikanNya (berupa ketaatan mutlaq kepada Allah)

    Maka ya ikhwah, tegakkanlah tauhid, tegakkan sunnah, perangi bid’ah. Dan jika telah tetap kaki umat ini diatasnya, baru kita ngomong langkah konkrit, karena baru pada saat itu, kita layak menuntut janji Allah menegakkan umat Islam dimuka bumi. Ibaratnya orang kerja, layaklah kita minta upah, ketika kita telah menyelesaikan pekerjaan.

    Adapun sebelum itu, yang bisa kita lakukan terhadap saudara kita tidaklah lebih dari sekedar meringankan beban, dan mengurangi dahaga. Dan hanya kepada Allahlah kita memohon ampunan dan pertolongan

    Wallahu A’lam

  18. aswad says:

    Kepada akhi arif semoga Allah senantiasa menjaga anda dalam kebaikan…

    Akhi, ‘bukti nyata’ apa yang antum maksudkan? Apakah nasehat bukanlah bukti nyata? Bagaimana dengan firman Allah:
    وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
    Artinya: “Saling menasehatilah dalam kebenaran dan saling menasehatilah kesabaran” [Al Ashr: 3]
    Apakah anda mengatakan ayat ini memerintahkan kepada hal yang tidak nyata, tidak konkret dan sia-sia saja? Sehingga orang-orang yang memberi nasehat disamakan dengan orang yang berpangku tangan?

    Apakah doa bukan bukti nyata? Apakah berdoa menurut antum adalah hal sia-sia? Atau menurut antum berdoa adalah tanda kelemahan dan ketidakmampuan? Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    Artinya: “Orang yang lemah adalah orang yang meninggalkan berdoa dan orang yang paling bakhil adalah orang yang bakhil terhadap salam“. [Al-Haitsami, Thabrani. Dishahihkan oleh Al Albani]

    Jadi, bukti nyata apa yang antum harapkan? Sehingga antum menuduh penulis artikel ini atau para ikhwah yang lain belum melakukan ‘hal yang nyata’!? Seolah-olah antum mengetahui semua apa yang mereka lakukan. Melakukan sesuatu ‘yang nyata’ tidak perlu diumumkan dan dipublikasikan bukan?
    [Karena ada sebagain kaum muslimin yang bila melakukan amalan-amalan kebaikan mereka mengumumkannya dan bahkan mereka membawa label-label berupa bendera, slogan-slogan, spanduk,dll untuk menekankan bahwa merekalah yang telah melakukan kebaikan itu. Untuk menarik simpati massa. Waallahu'musta'an]

    Ataukah ‘bukti nyata’ yang antum harapkan adalah turun ke jalan berdemonstrasi, memenuhi jalan membuat macet, berteriak-teriak mencela pemerintah yang juga dituduh tidak memberikan ‘bukti nyata’, bermain drama di jalanan sambil membawa patung-patung, para akhowat pun turun ke jalan sehingga para ikhwan bisa memandangi.

    Ataukah ‘bukti nyata’ bagi antum adalah dengan serta-merta mengharamkan makanan yang halal dengan dalih produsennya adalah orang kafir.

    Jika itu semua ‘bukti nyata’ yang antum harapkan, maka sungguh justru ini adalah ‘bukti nyata’ bahwa antum atau orang yang melakukannya tidak berjalan di atas ilmu sehingga banyak melanggar syariat Allah Ta’ala. Ya, mereka meneriakkan ‘Allahu Akbar’ sambil melanggar syariat Allah. Sama persis seperti HAMAS. Sehingga kerusakan yang mereka timbulkan lebih besar dari pada perbaikan yang diusahakan.

    Saya pun menyadari, bahwa seseorang yang melakukan kesalahan tidak serta-merta disalah-salahkan karena mungkin mereka jahil, sebagaimana kita pun masih jahil dan masih banyak harus menuntut ilmu. Orang jahil seperti saya ini mungkin kalau memberi nasehat akan dianggap sok pintar seperti tuduhan anda. Maka, apa solusinya? Nasehat dari orang yang tidak jahil, yaitu ulama. Dan walhamdulillah, artikel ini adalah bentuk nasehat dari seorang ulama, Syaikh Abdul ‘Aziz Ar Rays. Sebagaimana juga para ulama dari dahulu hingga sekarang sudah banyak yang menasehati para pemuda yang hanya berkobar semangat tanpa didasari ilmu semisal HAMAS. Namun entah mengapa nasehat hanya tinggal nasehat dan akhirnya kita melihat di Palestin ‘bukti nyata’ dari keengganan menerima nasehat ulama…

    Wallahu’alam..

  19. Arahadia says:

    Assalamu’alaikum wr wb,
    Apakah menumpuk harta dengan Bermewah mewah, keran dari emas, handle pintu dari emas, kursi dari emas, banyakin bikin rumah peristirahatan di USA, istana yg berkilauan, daripada report perang, repot2 ngungsi, mending ngitung fulus and bagi2 sedikit lebih baik dari pada yg berjihad di jalan Allah? bukankah Allah berfirman:

    An Nisaa’ 95: Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai ‘uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar,

  20. abu asiya says:

    assalammualaikum akhi……….

    salah satu perkataan salafuna soleh”tidaklah umat islam sekarang ini menjadi baik sebelum mengikuti apa2 yang menjadikan umat terdahulu(sahabat rasulullah radiallu anhu)menjadi baik”

    wassalammulaikum warohmatullah

1 2 3 4

Berkomentar

* wajib diisi