Pelajaran dari Palestina

Kategori: Manhaj

73 Komentar // 4 Januari 2009

Dengan menyebut nama Allah yang Maha pemurah lagi Maha penyayang

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Amma Ba’du

Sesungguhnya kejadian yang menimpa saudara-saudara kita sesama muslim di Gaza berupa pembunuhan, penghancuran, serta penjajahan atas mereka yang dilakukan oleh kaum Yahudi terlaknat, tentu dirasakan pedih dan sakit oleh setiap mukmin dan membuat hati mereka teriris.

Ya Allah, alangkah murah dan sepele darah kaum muslimin [di mata mereka].

Maha suci Allah, betapa menyakitkan gambaran mayat-mayat [orang-orang tak bersalah itu] di dalam hati orang-orang yang beriman. Alangkah banyak nyawa yang telah melayang, darah yang tertumpahkan, kaum wanita yang ternodai [kehormatannya], dan begitu banyak rumah-rumah yang dihancurkan.

Sesungguhnya kejahatan-kejahatan Yahudi di negeri Palestina yang terampas itu bukan perkara yang aneh dilakukan oleh orang-orang semacam mereka (baca: Yahudi). Lebih parah daripada itu, mereka adalah kaum yang berani mencela dan mengejek al-Bari (Allah) Yang Maha suci. Sebagaimana yang difirmankan oleh-Nya (yang artinya), “Orang-orang Yahudi berkata; ‘Tangan Allah terbelenggu’. Justru tangan-tangan mereka itulah yang terbelenggu dan mereka dilaknat akibat ucapan yang mereka lontarkan. Bahkan, kedua tangan Allah itu terbentang, Dia akan memberi bagaimanapun yang dia suka.” (QS. al-Maa’idah [5]: 64)

Mereka adalah para pembunuh nabi-nabi Allah. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Hal itu terjadi karena mereka senantiasa mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu terjadi akibat kedurhakaan mereka dan karena mereka selalu saja melampaui batas.” (QS. al-Baqarah [2]: 61)

Mereka adalah saudara kera-kera dan babi-babi yang berusaha untuk mengelabui Allah. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan tanyakanlah kepada Bani Israel tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik.” (QS. al-A’raaf [7]: 163)

Selaras dengan ikatan persaudaraan di atas keimanan, maka sudah semestinya setiap muslim memberikan bantuan sekuat kemampuannya dan memohon dengan sangat kepada Allah dengan doa yang diiringi rasa penuh harap kepada-Nya agar Allah berkenan segera menyingkirkan kesulitan dan musibah yang mencekam saudara-saudara kita [di sana]. Berkaitan dengan kejadian yang begitu memilukan ini, saya ingin mengingatkan kepada saudara-saudaraku kaum muslimin dengan beberapa pelajaran manhaj dari kejadian yang menimpa daerah Gaza Palestina:

Pelajaran Pertama

Sesungguhnya kejadian yang menyedihkan ini semakin menguatkan kebenaran berita yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala mengenai orang-orang kafir berupa permusuhan mereka yang sengit kepada kaum mukminin. Dan yang harus kita lakukan adalah memusuhi seluruh golongan orang kafir dari kalangan Yahudi, Nasrani, Majusi, dan lainnya, dikarenakan mereka adalah orang-orang kafir. Dan apabila mereka menyakiti dan memerangi kita, maka kebencian kita kepada mereka pun semakin memuncak. Hal ini tentu berbeda dengan apa yang dilontarkan oleh sebagian orang yang menganjurkan untuk tidak memberikan pertolongan yang mengatakan, “Sesungguhnya kita tidak akan memusuhi orang-orang kafir kecuali apabila mereka menyakiti dan memerangi kita.” Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah merasa puas/ridha kepada kalian sampai kalian mau mengikuti millah (ajaran agama) mereka.” (QS. al-Baqarah [2]: 120).

Ayat ini menunjukkan bahwa permusuhan mereka kepada kita akan terus berlangsung sampai kita ikut menjadi kafir seperti mereka. Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya) “Sungguh telah terdapat suri teladan yang baik pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, ketika mereka berkata kepada kaumnya; Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah. Kami mengingkari kalian dan telah tampak dengan jelas antara kami dengan kalian permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya, sampai kalian mau beriman kepada Allah semata.” (QS. al-Mumtahanah [60]: 4). Maka kita pun harus memusuhi dan membenci mereka untuk selama-lamanya dikarenakan mereka kafir, sampai mereka mau meninggalkan kekafiran mereka dan beriman kepada Allah semata. Jadi, permusuhan [kita] tidak hanya terbatas kepada orang yang memerangi kita di antara mereka, sebagaimana yang diserukan oleh sebagian da’i yang bersikap lembek [silakan dengar kajian berjudul 'Surat-surat kepada gerakan HAMAS' http://www.islamancient.com/lectures,item,346.html, yang disampaikan oleh Syaikh untuk menasihati mereka, pent]

Allah ta’ala menegaskan kewajiban permusuhan kita kepada mereka karena mereka adalah orang-orang kafir. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidak akan kamu temukan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir justru berkasih sayang dengan orang-orang yang memusuhi Allah dan rasul-Nya, meskipun orang-orang itu adalah ayah-ayah mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka, atau kerabat mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah ditetapkan Allah keimanan di dalam hati mereka.” (QS. al-Mujadilah [58]: 22)

Di antara konsekuensi hal itu adalah kita tidak boleh menyerupai ciri khas mereka, baik dalam hal pakaian atau yang lainnya. Dan ini sekaligus merupakan ajakan kepada para pemuda kita, agar mereka meninggalkan pakaian-pakaian olah raga yang padanya terdapat nama-nama pemain (olah raga) yang kafir itu. Bahkan ini juga ajakan kepada segenap kaum muslimin untuk merasa mulia dan bangga dengan keislaman mereka. Agar kaum muslimin memandang kepada orang-orang kafir dengan pandangan permusuhan dan kerendahan, maka tidak benar perkataan bahwa orang kafir itu juga saudara kita sebagaimana yang dilontarkan oleh sebagian da’i yang lembek. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya, mereka bersikap keras kepada orang-orang kafir, dan berkasih sayang dengan sesama mereka.” (QS. al-Fath [48]: 29). Allah juga berfirman (yang artinya), “Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum, Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, berlemah lembut dengan orang-orang mukmin dan keras kepada orang-orang kafir.” (QS. al-Maa’idah [5]: 54)

Salah satu perkara yang sangat-sangat mengherankan yaitu anda dapat melihat sebagian orang yang dinisbatkan (disandarkan) kepada kalangan para da’i ila Allah -namun itu adalah penisbatan yang dusta- mereka itu tidak mau mengafirkan Yahudi dan Nasrani. Maka sungguh dia telah mendustakan al-Qur’an yang jelas-jelas telah mengafirkan mereka, maka orang seperti itu kafir berdasarkan ijma’ ulama sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Ibnu Taimiyah dan Imam Abdul Aziz bin Baz rahimahumallah. Sebagai tambahan, guru kami Ibnu Baz menyebutkan bahwa tidak benar menamai orang-orang Nasrani dengan istilah Masihiyyin (pengikut Isa).

Pelajaran Kedua

Sesungguhnya tindakan melampaui batas yang berlangsung secara beruntun dan terus-menerus serta penghinaan atas nyawa kaum muslimin yang suci, [dirampasnya] harta dan kehormatan mereka yang bersih termasuk bencana dan musibah besar yang menimpa kita. Sungguh banyak kalangan aktivis di medan dakwah yang telah keliru dalam mendiagnosa penyakit ini. Dibangun di atasnya, mereka pun keliru dalam menempuh jalan penyembuhannya. Saya telah menerangkan hal itu di dalam mukadimah kitab saya ‘Muhimmat fi al-Jihad’ [http://www.islamancient.com/books,item,50.html].

Intisari dari penyakit ini adalah kemaksiatan kepada Allah. Dan yang paling besar di antaranya adalah meninggalkan tauhid dan sunnah serta tersebarnya syirik dan bid’ah di antara barisan kaum muslimin yang dinamakan dengan istilah tasawuf dan lainnnya. Dan keadaan ini semakin bertambah parah ketika muncul berbagai kelompok dakwah yang menelantarkan dakwah tauhid dan melalaikan peringatan agar menjauhi kesyirikan serta mengikis aqidah al-Bara’ (kebencian kepada musuh Islam) yang seharusnya tertuju kepada bid’ah dan para penyebarnya.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar) kamu berkata: ‘Dari mana datangnya (kekalahan) ini?’ Katakanlah: ‘Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri’. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali Imran [3]: 165). Allah juga berfirman (yang artinya), “Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan dikarenakan ulah tangan manusia, Allah ingin memberikan pelajaran dengan menimpakan sebagian akibat perbuatan mereka, semoga mereka mau kembali(ke jalan yang benar).” (QS. ar-Ruum [30]: 41). Maka kedua ayat tersebut dan ayat-ayat yang lainnya secara tegas menjelaskan bahwa semua musibah -di antaranya adalah berupa kelemahan dan dikuasai oleh orang-orang kafir- adalah akibat dari dosa-dosa yang kita perbuat.

Untuk mengatasi hal itu, maka obat dan penyembuhnya adalah dengan kembali kepada Allah, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah ta’ala (yang artinya), “Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan beramal salih, niscaya Allah akan menjadikan mereka benar-benar berkuasa di atas muka bumi ini, sebagaimana halnya Allah telah mengangkat orang-orang sebelum mereka menjadi pemimpin, Allah benar-benar akan meneguhkan untuk mereka agama mereka yang telah Allah ridhai bagi mereka, dan Allah akan menggantikan rasa takut yang mencekam mereka dengan keamanan; mereka senantiasa beribadah kepada-Ku dan tidak mempersekutukan-Ku sama sekali.” (QS. an-Nuur [24]: 55). Ini adalah janji dari Allah, sedangkan Allah tidak mungkin menyelisihi janji-Nya. “Itulah janji Allah, Allah tidak akan pernah menyelisihi janji-Nya. Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. ar-Ruum [30]: 6)

Termasuk kekeliruan yang sangat fatal dan dosa yang sangat buruk yaitu [usaha sebagian orang] untuk memberikan posisi bagi Syi’ah Rafidhah untuk berada di antara barisan Ahlus Sunnah; sehingga mereka dapat dengan leluasa menyebarkan ajaran kekafiran dan kesesatan mereka, dan pada akhirnya mereka pun membahayakan Ahlus Sunnah. Sungguh mengherankan! Bagaimana bisa dibenarkan bagi seorang da’i yang mengajak untuk ishlah (perbaikan) kok malah memberikan tempat bagi Rafidhah yang mengafirkan umat terbaik setelah Nabi-Nya yaitu para sahabat yang mulia seperti Abu Bakar, Umar, dan Utsman, mereka jugalah orang-orang yang berani menuduh ibunda kaum mukminin -sosok yang sangat dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan istri beliau- telah melakukan perzinaan, mereka (baca: Syi’ah) juga melampaui batas dalam mengangkat kedudukan para imam mereka sampai menduduki derajat sebagaimana halnya derajat Allah, sebagaimana sudah saya terangkan dalam bantahan untuk mereka dalam risalah al-Qaul al-Mubin li maa ‘alaihi ar-Rafidhah min ad-Din al-Masyin [http://www.islamancient.com/books,item,70.html].

Dahulu saya telah memberikan nasihat kepada organisasi HAMAS beserta pimpinan mereka -semoga Allah memberikan petunjuk kepada kami dan mereka- dan saya peringatkan mereka mengenai dampak [buruk] yang akan muncul akibat memberikan posisi bagi orang-orang Rafidhah di Palestina dan akibat buruk dari menyanjung mereka, sebagaimana telah kami sampaikan dalam sebuah pelajaran yang telah didokumentasikan dan disebarkan dengan judul ‘Rasa’il ila Hamas’, di antara tindakan mereka yang keliru itu adalah kunjungan Khalid Masy’al ke Iran dan meletakkan karangan bunga di atas kubur orang yang binasa yaitu al-Khumaini, dan pernyataannya bahwa Khumaini adalah bapak ruhani yang menjiwai dakwah mereka (HAMAS) di Palestina[?!].

Pelajaran Ketiga

Wajib bagi kaum muslimin untuk menyadari ukuran diri dan kekuatan mereka. Hendaknya mereka bisa membedakan antara kondisi lemah dan kondisi kuat, dan sudah seharusnya mereka pun mengetahui hukum-hukum yang menjadi konsekuensi atasnya. Hendaknya mereka menjadi orang yang bertindak realistis, bukan menjadi tukang khayal yang gemar berandai-andai. Maka tidak dibenarkan bagi siapapun mengharuskan kaum muslimin mengikuti keputusan-keputusan yang tidak cocok dengan kondisi mereka [sekarang ini] dan kelemahan mereka; yang itu semua dibangun di atas impian persatuan dan kesatupaduan mereka [yang belum terwujud]. Akan tetapi, yang harus dilakukan adalah hendaknya kaum muslimin bertindak sesuai dengan kondisi mereka saat ini, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih perdamaian ataupun peperangan dengan mempertimbangkan kemaslahatan, yaitu mempertimbangkan kekuatan dan kelemahan yang ada serta faktor-faktor lainnya. Tatkala beliau masih berada di Mekah, Allah belum mensyariatkan kepadanya jihad. Karena pada saat itu beliau sedang dalam kondisi yang lemah, sebagaimana yang telah dipaparkan oleh para pemimpin Islam, di antaranya Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Anda bisa menemukan keterangan mereka dengan jelas di dalam buku saya ‘Muhimmat fi al-Jihad’ dan dalam pelajaran yang berjudul ‘al-Jihad baina al-ghuluw wa al-Jafaa’ [http://www.islamancient.com/lectures,item,550.html]

Betapa sering seorang muslim harus merasakan sakit akibat melayangnya nyawa kaum muslimin yang lain disebabkan kobaran semangat yang tak terkendali oleh ilmu sehingga menimbulkan kezaliman orang-orang kafir kepada kaum muslimin yang lemah justru menjadi berlipat ganda, maka jadilah mereka sebagai korban sembelihan orang-orang kafir yang sangat gemar menganiaya, dan mereka [orang kafir] itu adalah orang-orang Yahudi. Dan jadilah kaum muslimin sebagai korban akibat tindakan yang salah dari sebagian kaum muslimin, dan mereka itu adalah para pemimpin HAMAS. Saya tidak mengerti sama sekali apa yang mendorong organisasi HAMAS untuk melakukan tindakan-tindakan perlawanan secara terang-terangan kepada orang-orang Yahudi kafir terlaknat itu, padahal mereka juga mengetahui bahwa kekuatan mereka sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kekuatan orang-orang Yahudi. Bahkan, tindakan mereka itu justru -pada ujungnya- mengakibatkan semakin kerasnya penyiksaan kaum Yahudi kepada orang-orang yang lemah di antara kaum muslimin di Gaza. Sementara para pemimpin HAMAS bisa saja selamat karena mereka bisa membuat perlindungan di sekelilingnya untuk menyelamatkan diri. Kemudian, yang lebih aneh lagi adalah tindakan HAMAS yang tetap bersikeras meneruskan perang, sampai-sampai orang yang melihat mengira bahwa mereka memiliki kekuatan dan kemampuan yang memadai untuk menghancurkan Yahudi. Maka hal itu tidak lain justru semakin menambah sakit dan luka [pada diri kaum muslimin] akibat terjadinya berbagai pembantaian berdarah yang sangat keji [yang dilakukan oleh Yahudi, pent].

Salah satu contoh tindakan yang membuat orang tertawa sekaligus menangis adalah pernyataan HAMAS yang mendalili perbuatan mereka itu -serangan kepada Yahudi secara terang-terangan- dengan alasan terpaksa karena mereka berada sedang dalam kondisi terkepung. Sehingga hal itu mendorong mereka untuk memilih meninggalkan bahaya yang timbul akibat kepungan musuh menuju suatu bahaya yang lebih berat dan lebih mengerikan, yaitu menggabungkan antara [bahaya] pengepungan dan terjadinya pembantaian berdarah. Memang benar, menetapnya Yahudi di bumi Palestina adalah kejahatan dan kezaliman yang tidak boleh diakui sama sekali. Mereka pun harus diusir dan dibuat angkat tangan [menyerah] agar tidak lagi menjajah al-Quds. Akan tetapi, kekeliruan ini tidak boleh disembuhkan dengan kekeliruan lain yang lebih fatal yaitu dengan menyebabkan tertumpahnya darah orang-orang yang tidak bersalah dalam jumlah yang sangat banyak.

Saya benar-benar mengajak kepada para pemimpin organisasi HAMAS untuk selalu bertakwa dan takut kepada Allah dan mengambil pelajaran dari para pendahulu mereka yaitu al-Ikhwan al-Muslimun (IM). Betapa banyak kerugian yang timbul akibat letupan semangat dan tindakan-tindakan membahayakan yang mereka perbuat sehingga menyebabkan melayangnya banyak nyawa sebagaimana yang dahulu mereka lakukan di daerah Hamat. Kejadian yang menimpa mereka ketika itu belum jauh berlalu dari ingatan kita. Hendaknya mereka takut kepada Allah demi terjaganya keselamatan kaum muslimin yang lemah di Gaza yang terdiri dari orang-orang tua yang sudah jompo, anak-anak yang masih menyusu. Lihatlah, sekarang darah itu sudah tertumpah, para wanita telah ternodai kehormatannya, demikian pula anak-anak telah menjadi yatim. Apa yang bisa kalian lakukan selain mengeluh dan mengadu. Lihatlah, apa yang bisa kalian harapkan dari Iran yang Syi’ah itu yang katanya siap memberikan bantuan kepada kalian kecuali sekedar melemparkan urusan [tanggung jawab] mereka kepada pihak lain dan menebarkan keragu-raguan kepada negara-negara Islam Sunni yang lainnya. Apa yang telah diperbuat oleh kaum Rafidhah (Syi’ah) di Irak berupa pembunuhan terhadap kaum Ahlus Sunnah dan menyerahkan urusan mereka kepada negara kafir Amerika merupakan bukti paling besar yang menunjukkan kekejian mereka, dan tidak mungkin kita berharap bantuan dari mereka untuk melawan kaum Yahudi dan Nasrani.

Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan di dalam bukunya ‘Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyah’ [3/377] berkata, “Banyak di antara mereka -Rafidhah/Syi’ah- justru menaruh rasa kasih sayang kepada orang-orang kafir dari dalam lubuk hatinya lebih daripada kecintaan mereka kepada kaum muslimin. Oleh sebab itulah ketika pasukan Turki keluar sedangkan orang-orang kafir datang dari arah timur kemudian membunuhi kaum muslimin dan menumpahkan darah mereka di negeri Khurasan, Irak, Syam, jazirah Arab, dan negeri yang lainnya, maka kaum Rafidhah justru memberikan bantuan kepada mereka (orang kafir) untuk membunuh kaum muslimin. Dan menteri Baghdad saat itu yang sudah ma’ruf (dikenal) yaitu Alqami dan orang-orang yang sepertinya, mereka itulah orang-orang yang paling besar perannya dalam memberikan bantuan kepada mereka untuk menghancurkan kaum muslimin. Demikian pula orang-orang Rafidhah yang dahulu tinggal di Syam, mereka itu adalah orang-orang yang paling besar perannya dalam membantu orang kafir untuk memerangi kaum muslimin. Begitu pula orang-orang Nasrani yang dahulu diperangi oleh kaum muslimin di Syam, ternyata kaum Rafidhah pun termasuk pembantu mereka yang sangat berjasa. Demikian pula tatkala Yahudi berhasil memiliki pemerintahan di Irak dan negeri yang lainnya, maka jadilah kaum Rafidhah sebagai pembantu mereka yang paling besar perannya. Mereka itu selalu memberikan loyalitasnya kepada orang-orang kafir dari kalangan orang-orang musyrik maupun Yahudi dan Nasrani. Mereka membantu orang-orang kafir itu dalam rangka memerangi kaum muslimin dan memusuhi mereka…” Selesai ucapan beliau.

Sekarang kalian, wahai HAMAS. Kalian telah membuka jalan untuk kaum Rafidhah guna merusak keyakinan-keyakinan Ahlus Sunnah dan mengubahnya menjadi [aqidah] Syi’ah. Dan sebaliknya, kalian justru melarang para da’i salafi [ikut serta memperbaiki kekeliruan kalian, pent]. Bahkan, sudah terbukti kalian berani melakukan pembunuhan kepada sebagian di antara mereka (da’i salafi) dengan mengatasnamakan kemaslahatan yang diada-adakan. Barangsiapa yang ingin mendapatkan tambahan bukti dan keterangan yang lebih lengkap silakan merujuk kepada pelajaran ‘Rasa’il ila Harakati Hamas’ [masih dalam bentuk ceramah audio, belum di transkrip, pent]. Saya memohon kepada Allah agar Dia mematikan kita sebagai syuhada’ di jalan-Nya dan menyejukkan hati kita dengan hancurnya Yahudi. Saya pun memohon kepada-Nya dengan segenap kekuatan yang dimiliki-Nya demi terjaganya darah saudara-saudara kami kaum muslimin di Gaza dan di semua tempat, dan semoga Allah memberikan hidayah kepada para pemimpin HAMAS untuk meniti jalan yang lurus.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Abdul Aziz bin Rays ar-Rays

Pengawas situs al-Islam al-’Atieq

http://www.islamancient.com

Permulaan tahun 1430 H

diterjemahkan dari:

Durus Manhajiyah Min Ahdats Ghazah al-Filisthiniyah

http://islamancient.com/mod_stand,item,26.html
***

Penerjemah: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id

buku saku

73 Komentar

  1. Abu 'Uzair
    12 Jan 2009 [#]

    untuk saudara2ku yg berkomentar,
    alangkah indahnya jika kita berkomentar dan memberi nasehat dengan kata2 yang lembut, tidak dengan kata2 yang kasar.

    kata2 yang kasar hanya akan membuat orang yang melakukan kesalahan semakin menjauh dari kebenaran.

    ingatlah akhi, saudara2 kita itu kebanyakan masih awwam…..

    jangan sampai mereka menjadi benci terhadap dakwah salaf hanya karena sikap kita yang tidak ahsan.

  2. amir
    12 Jan 2009 [#]

    barokallahu fikum…atas nasihatnya…

    afwan klo mungkin komentar ana terkesan “sangat kasar” dan cenderung bermudhorot bagi dakwah…mungkin bagi admin muslim.or.id bisa menghapus saja komen ana tsb, jika ada maslahatnya…

    na’am… ya Akhi semuanya…mungkin inilah sedikit kekurangan ana, tapi ana selalu berusaha tuk menghilangkannya, insya Allah, walo kadang muncul kembali tanpa disadari… karena emang sifat ana keras, ini bawaan atas kondisi yang menuntut ana menjadi seorang yang keras

    kadang ana pun terlalu terbawa dengan sedikit bayangan masa lalu, khususnya jika berkaitan tentang penindasan kaum kuffar kepada muslimin…bayang2 tersebut selau muncul di hati ana.. hingga saat ini, dan mungkin tidak akan pernah terlupakan bagi ana yg belum lama ngaji ini.

    jujur saja, ana ikut merasakan apa yang saudara2 kita di palestina rasakan tentang kondisi mereka saat ini ketika perang..

    karena ana pun pernah mengalaminya seperti yang mereka rasakan, walao tidak sedahsyat yang dirasakan muslim palestina…

    ana pernah merasakan gimana hidup di kondisi konflik/ perang, karena ana berasal dari POSO…
    pembantaian terhadap muslimin di Palestina, juga seperti yang kami rasakan saat saudara2 kami di poso dibantai oleh Salibis…betapa teririsnya hati ini…

    tentang penyebutan nama merk organisasi, karena menurut ana hal tersebut perlu dilakukan, untuk sedikt “menyentil” mereka..

    karena jujur saja, ana sangat kecewa dan membenci terhadap “organisasi” tersebut… ketika ana belum ngaji, apalagi saat ini setelah ngaji..

    salah satu sebabnya -selain karena jelas2 mereka bermanhaj yg menyimpang- karena, melihat ulah mereka yang hanya bisa KOAR-KOAR ttg kepedulian sesama muslim…dusta mereka…wahai kaum muslimin jangan tertipu dengan ucapan basi mereka yg peduli thd umat! dusta itu!!

    afwan saja, ana melihat dengan kepala mata sendiri dahulu saat perang Ambon n poso…apa yang (afwan nyebut merk) “PKS” lakukan selain hanya KOAR-KOAR???

    mereka tidak berbuat apa2, mereka tidak berjihad…klo pun berbuat sesuatu hanya utk cari simpatik masyarakat…inilah hizbiyyah…

    dahulu ana belum ngaji, ketika melihat PKS / jama’ah tarbiyah yg besemangat utk “peduli” thd umat Islam Palestina…selalu berseru agar kaum muslimin utk jihad-jihad bebaskan Palestina…waktu itu ana senang..

    akan tetapi, ketika terjadi perang POSO, kaum muslimin di bantai..apa yang mereka lakukan??? datangkah mereka utk berjihad??? wallahi tidak!!! kalo pun ada itu cuma segelintir orang…
    padahal ketika itu tidak ada yg menghalangi mereka utk berangkat berjihad di POSO dan Ambon…karena masih satu negara (beda halnya dg Palestina)…

    dan kini mungkin (afwan) semua yg ana pendam selama ini bisa sedikit tertumpahkan…
    ana heran, mengapa mereka malah mencela Salafiyun, saudi arabia, katanya salafi anti jihad, ga peduli umat…

    padahal yg ana tahu justru salafi lah yg pertama kali maju berperang!

    jujur ajah, sebenarnya kami muslimin POSO waktu itu sangat terharu dan sangat berterima kasih terhadap bantuan yg tidak ternilai dari saudara2 kami di Laskar Jihad terhadap muslimin Poso ketika berperang melawan kaum Kuffar!

    kaum muslimin bertambah semangat, dan walhamdulillah atas izin Allah- kaum kuffar makin terpukul…kaum kuffar sangat takut terhadap semangat juang muslimin, khususnya Salafiyun…

    jadi hal ini yg mungkin antum semua harus tahu, mengapa komen2 ana rasanya begitu pedas bagi sebagian pembaca…ana bertaubat kepada ALlah jika apa yg ana lakukan salah…
    ghofarollahu liy w lakum..

  3. Arahadia
    13 Jan 2009 [#]

    أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

  4. Abu Ali
    13 Jan 2009 [#]

    Akhi Amir semoga ALLAH mengampuni kita, saya juga mempunyai kesan dan mengalami hal yang antum rasakan walaupun ana tidak di situasi perang, tapi saya saat sendirian berdakwah, difitnah dengan kabar-kabar bohong, dan dilecehkan di belakang saya (tidak terang-terangan) oleh saudara-saudara yang notabene sesama muslim. Memang kadang-kadang kita berkata ruhama bainahum yang seharusnya hum adalah sesama muslim menjadi hum adalah sesama anggota jama’ah. Justru orang-orang awam dan orang-orang yang tidak pernah bersentuhan dengan gerakan dakwah yang membantu dan menolong saya dalam dakwah ini. Walhamdulillah. Tapi ingat tidak semua bisa merasakan yang antum rasakan sehingga apabila antum mengungkapkan secara vulgar justru mungkin mudharatnya lebih besar dari mashlahatnya (mungkin saya salah). Kejadian dibunuhnya Syaikh al-Mujahid Jamilurrahman as-Salafi -rahimahullah wa ja’alahullahu min asy-syuhada- di Kunar Afghanistan cukup menjadi pelajaran bagi kita semua. ALLAH a’lam.

  5. arif
    13 Jan 2009 [#]

    Bismillaah..

    Asy-Sya’bi rohimahullooh berkata :
    ‘ Diantara adab ulama, yaitu :
    - Apabila mereka berilmu, mereka akan mengamalknnya
    - Bila mereka beramal, merekalah yang paling sibuk diantara manusia
    - Bila manusia (yang lain) sibuk beramal, mereka akan menyembunyikan amalannya
    - Bila manusia (yang lain) menyembunyikan amalnya, mereka akan mencarinya
    - Bila manusia (yang lain) mencari, mereka akan menghindar karena khawatir dirinya akan terfitnah. “.

    Habib bin Syahid berkata kepada anaknya :
    “ Wahai anakku, bertemanlah dengan kalangan fuqoha dan ulama, serta beradablah dengan adab mereka, hal ini lebih aku sukai dari banyaknya hadts. Sebagian dari mereka berkata kepada anaknya :
    “ Wahai putraku, aku lebih menyukai engkau mempelajari satu bab tentang adab, daripada engkau mempelajari tujuh puluh bab diantara beberapa bab tentang ilmu “.

  6. Anshari Taslim
    13 Jan 2009 [#]

    Assalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh.
    Saya dapat mengerti perasaan dari saudara Arahadia dan bagaimana diskusi dgn Abu Ali dan Abu Faishal.
    Apa yg diutlis Syekh di atas memang tidak perlu ditanggapi secara berlebihan.
    HAMAS atau kelompok manapun yg sedang berjuang mempertaruhkan nyawa dan berada dalam kondisi sulit sangat rentan melakukan kealpaan baik disengaja maupun tidak.
    Hendaknya kita berhusnu zhann kepada mereka dgn tidak melupakan nasehat. Apa yg dilakukan syekh di atas dgn mengirim surat ke HAMAS dalam bentuk nasehat tentu baik sekali.
    Hanya saja tidak perlu berburuk sangka kepada setiap orang yang bersemangat untuk berjihad lalu divonis bahwa dia jahil, hanya karena tidak sesuai dgn pendapat Syekh Fulan dan Fulan, seolah kitalah yg berhak mengkavling ulama dan semua ulama yg tidak direkomendasikan berarti jahil atau ahli bid’ah.
    Saya yakin para masyayikh yang mulia tidak pernah melakukan itu. Syekh bin Baz sendiri adalah orang yang sangat santun, meski berbeda pendapat dengan Al-Qaradhawi beliau tidak pernah menghina atau menjelekkan Al-Qaradhawi dan lainnya.
    Biar bagaimanapun kenyataan membuktikan bahwa HAMAS adalah yang real berjuang di sana. Alangkah baiknya kalau ada kesempatan kita berdialog langsung dgn tokoh-tokoh mereka dan kalau memang mampu menjelaskan kesalahan mereka (kalau memang kesalahan itu tampak pada kita) sembari tetap memberikan dukungan, karena mereka ahlus sunnah, bukan syiah seperti HIzbullah, bukan pula sekuler seperti Fatah. wallahu ‘alam.

  7. arahadia
    13 Jan 2009 [#]

    Subhanallah……. akh Arif, betapa sejuk nasihat ulama, betapa semakin malu dihadpan Allah.

    إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق

    “Sesungguhnya aku diutus tidak lain hanyalah untuk
    menyempurnakan akhlaq yang mulia.”

    Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkata kepada
    Asyajj ‘Abdul Qais:

    إن فيك لخلقين يحبهما الله : الحلم والأناة

    “Sesungguhnya dalam dirimu ada dua sifat yang Allah sukai;
    sifat santun dan tidak tergesa-gesa”
    Ia berkata:

    ”Wahai Rasulullah, Apakah kedua akhlaq tersebut merupakan
    hasil usahaku, atau Allah-kah yang telah menetapkan keduany apadaku?”

    Beliau menjawab:

    بل جبلك الله عليهما

    Allahlah yang telah mengaruniakan keduanya padamu”.
    Kemudian ia berkata:

    الحمد لله الذي جبلني على خلقين يحبهما ورسوله

    Segala puji bagi Allah yang telah memberiku dua akhlaq yang
    dicintai oleh-Nya dan oleh Rasul-Nya”.

    Membalas perbuatan yang tidak baik dengan kebaikan, kelak permusuhan yang terjadi antara dia dengan saudaranya akan berubah menjadi sebuah persaudaraan, rasa cinta dan persahabatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba
    orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolaholah telah menjadi teman yang sangat setia.”(QS. Fushshilat:34)

    wallahu’alam

  8. arahadia
    13 Jan 2009 [#]

    Wa ‘alaikumussalaam warahmatullah wabarakatuh,

    Jazakumullah akh Anshari, alhamdulillah atas nasihatnya ternyata kita benar benar mendapat pelajaran dari palestina.

    Mudah mudahan ana bisa menjalankannya dengan baik.

  9. Abu Ali
    14 Jan 2009 [#]

    Sekedar tambahan informasi kepad al-Akah Anshari, pernyataan antum ” Biar bagaimanapun kenyataan membuktikan bahwa HAMAS adalah yang real berjuang di sana” perlu di tambahi bahwa tidak hanya HAMAS yang real berjuang di sana, tapi seluruh komponen rakyat palestina, jumlah HAMAS sangat sedikit akhi, banyak faksi di sana yang memang tidak berpolitik praktis sehingga gaungnya tidak terdengar di berita2 berbahasa indonesia, kalau kita sejenak mau membaca sumber-sumber berbahasa arab seperti Multaqa ahlul-hadith banyak ikhwah yang beraqidah salafi yang berada di garis depan, mereka tidak membawa nama selain Islam itu sendiri. Bahkan ada juga kelompok al-Qaida yang tidak sependapat dengan HAMAS dan selain kelompoknya, juga banyak faksi-faksi yang lain. Sumbangan kita dan doa kita bukan hanya untuk HAMAS saja tapi untuk seluruh muslim di Palestina baik mujahidin maupun non-mujahidin (wanita dan anak2 serta orang tua), tidak boleh kita menggunakan isu palestin ini untuk mengangkat kedudukan suatu kelompok dan merendahkan kelompok yang lain, tentu saja mujahidin yang beraqidah salaf lebih dekat ke kebenaran di banding yang lainnya entah dia berjihad di kelompok atau faksi apapun ALLAH a’lam.

  10. ari wahyudi
    14 Jan 2009 [#]

    Saya berpendapat mungkin sebaiknya komentar untuk artikel ini ditutup saja, kecuali ada informasi penting yang sangat berharga terkait dengan isi penjelasan Syaikh. Di sini saya juga ingin meralat terjemahan saya, di artikel tertulis Khalid Masy’al, tapi yang benar Khalid Misy’al, mohon maaf kepada pembaca sekalian. Semoga Allah menghancurkan kekuatan Yahudi dan mengembalikan kemuliaan umat Islam di atas manhaj yang haq. Matur nuwun, jazakumullahu khairan atas perhatian anda semua

  11. amir
    14 Jan 2009 [#]

    buat mas anshari taslim..

    Hasan al Bahsri berkata, “Tidak dianggap ghibah dalam membicarakan ahli bid’ah”. Dalam riwayat lain, “Tidak ada ghibah bagi ahli bid’ah dan orang fasik yang menampakkan kesesatan mereka.” (Syarh Ushul I’tiqad Ahli Sunnah 1/140).

    Fudhail bin Iyadh berkata,”Saya sangat berharap di antara aku dengan ahli bid’ah ada tembok penghalang dari besi. Saya makan bersama orang Yahudi dan Nashrani, lebih baik daripada makan bersama ahli bid’ah”. (Al Ibanah al Kubra, 2/467 dan Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah 1/131).

    Imam al Baghowi menukil riwayat bahwa para sahabat dan tab’in serta ulama sunnah telah berijma’ (bersepakat, red) dan sepakat untuk memusuhi ahli bid’ah dan memutuskan hubungan dengan mereka. (Syarh Ushul I’tiqad Ahli Sunnah, 2/638).

    juga Ibnu Shalah pun pernah berkata, ”Boleh menggunjing ahli bid’ah bahkan menyebutkan kesesatan mereka, baik di hadapan atau di belakang mereka, dengan syarat maksud utama adalah untuk menjelaskan kepada khalayak kebid’ahan mereka. Itulah yang telah dilakukan ulama salaf, baik ghibah tersebut untuk menjawab pertanyaan atau tidak”.

    itulah di antara perkataan ulama salaf ttg bolehnya menggunjing (ghibah) terhadap mubtadi’, hizbiyun. dan sejenis mereka…. dan kita harus ttp ikhlas mencari wajah-Nya dikala menggunjing kesalahan mereka…

    wallahu a’lam….

  12. arahadia
    15 Jan 2009 [#]

    Amir,

    Silahkan baca Cuplikan dari Bahtera Da’wah salafiyyah di lautan Indonesia,
    oleh Muhammad Arifin Badri, Lc, MA
    (Alumni S-2 Universitas Islam Madinah, KSA)

    ………….
    Berbicaralah kepada setiap manusia dengan masalah-masalah yang mampu mereka pahami, apakah kalian suka bila Allah dan Rasul- Nya didustakan. (Diriwayatkan oleh Imam Bukhori tanpa menyebutkan sanad, dan Imam Al Baihaqi dalam kitab Al Madkhal, dan Al Khathib Al Baghdady dalam kitab Al Jami’, keduanya dengan menyebutkan sanadnya).
    Sebagai contoh nyata : Pada +/- 4 tahun silam, pada saat terjadi muqabalah (test seleksi mahasisiwa untuk belajar di Al Jami’ah Al Islamiyyah), berkumpulah sekitar 50 orang thullabul ilmi di sebuah pesantren, lalu beberapa asatidzah termasuk saya sendiri menghubungi beberapa syekh yang sedang menjalankan test muqobalah tersebut, guna memohon agar sebagian mereka sudi mengunjungi pesantren tersebut diatas dan kemudian menguji ke 50 thullab tersebut. Alhamdulillah, salah seorang syekh yang ada kala itu bersedia memenuhi undangan kita, syekh tersebut bernama :”Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Al `Aqiil” (Penulis buku Manhaj dan Aqidah Imam Syafi’iy yang diterbitkan oleh Pustaka Imam Syafi’I), dan ketika beliau sudah tiba di pesantren yang dimaksud, maka beliau langsung mengetest / menguji ke-50 thullab, satu demi satu. Dan
    diantara pertanyaan yang beliau lontarkan kepada mereka :”Sebutkan rukun-rukun sholat?”

    Sangat memalukan, dari ke 50 orang tersebut, tidak satupun yang berhasil memberikan jawaban, walau hanya menyebutkan satu rukun saja. Bahkan ada salah satu dari mereka yang memeberanikan diri untuk menjawab, dan berkata :”Diantara rukun sholat adalah berwudhu sebelumnya”.

    Lalu syekh tersebut bertanya kepada salah seorang mereka : “Siapakah yang lebih kafir, ahlul bid’ah ataukah yahudi?”, maka dengan sekonyong-konyong orang tersebut berkata : Ahlul bid’ah lebih kafir dibanding yahudi. Tatkala syekh Muhammad bin Abdul Wahhab mendengar jawaban tersebut, beliau terbelalak, seakan tidak percaya melihat kenyataan yang sangat memalukan ini dan berkata: “Apakah ini yang kalian pahami tentang manhaj salaf ?!, Siapakah yang mengajari kalian demikian ?!.

    Yang lebih parah dari itu semua, pada keesokan harinya, ada salah seorang ustadz yang berceramah dan berkata : “Sesungguhnya Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Al `Aqiil telah dipengaruhi oleh orang-orang sururiyyin, sehingga bertanya kepada murid-murid kita dengan pertanyaan yang rumit”.

    Apakah para pembaca percaya dengan komentar ustadz tersebut, apakah pertanyaan tentang rukun sholat rumit? Apakah tidak ada yang tahu bahwa yahudi jelas-jelas kafir, sedangkan ahlul bid’ah banyak dari mereka tidak sampai kepada kekufuran ?!?!?!
    ……………….

    Wallahu ‘alam

  13. amin
    15 Jan 2009 [#]

    alhamdulillah masih ada ikhwan salafy seperti arahadia, semoga cuplikan yg antum berikan bisa menjadi renungan buat kita semua…

  14. amir
    17 Jan 2009 [#]

    insya ALlah kita semua percaya dg apa yg disampekan ustadz tsb….
    kita semua memang wajib mempelajari ttg ilmu2 yg lebih penting seperti aqidah, fikih khususnya dari ibadah yg fardhu ‘ain bagi diri sendiri (seperti sholat, dll)…dan tidak menyibukkan hari2 kita dengan masalah tahdzir!
    akan tetapi, bukan berarti kita melupakan tahdzir/ memperingatkan umat dari kesesatan/kesalahan mereka (mubtadi’, hibiyun, dll)..dan janganlah mengatakan bahwa tahdzir tidak pernah dilakukan oleh Salaf.
    tidak ya ikhwah. mereka (pelaku kesesatan) ttp perlu dijelaskan ttg kesalahannya…dan umat harus tahu ttg kesesatan mereka, baik secara naql maupun aql..

    ttg ahlul bid’ah dg yahudi aw kuffar lainnya, jelas yahudi n kuffar adalah kafir…semua orang percaya akan hal tersebut…dan kita tidak mengkafirkan hizbiyun, mubtadi’, krn mereka ttp sesama muslim…

    buat mas arahadia, barokallahu fikum..ana senang dg komen2 antum sebelumnya, hal tesebut menunjukkan bahwa antum orang yg alim….
    afwan tidak bermaksud menggurui antum, karena ana yakin antum lebih ‘alim daripada ana…

    mas, ana cuma ingin tanya ke antum, bukankah para ulama banyak yg menjelaskan ttg kejelekkan ahlul bid’ah, termasuk mencela mereka juga..
    hanya saja, di dalam bermuamalah dg muslim, ttp harus diperhatikan hak-hak mereka..

    bukankah Tahdzir, cercaan, dan sikap keras terhadap ahlul bid’ah juga ditunjukkan oleh Rasulullah kepada mereka?

    pasti, Kita semua sepakat, bahwa Rasulullah memiliki akhlaq yang termulia dan terbaik, sebagaimana direkomendasikan dengan tegas oleh Allah di dalam firman-Nya:
    و إنك لعلى خلق عظيم

    “Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berakhlaq yang sangat tinggi.” [Al Qalam:4]

    Kita semua sepakat bahwa Rasulullah adalah uswatun hasanah:

    لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجوا الله و اليوم الآخر و ذكر الله كثيرا

    “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi yang mengharap (rahmat) Allah dan (kemuliaan) hari akhir dan dia banyak menyebut Allah.” [Al Ahzab:21]

    Maka merupakan akhlaq yang sangat mulia dan wajib kita teladani ketika Rasululah bersabda:

    إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَق

    “Hanyalah aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia.”

    Begitu pula dalam mencela pelaku kebatilan, rasulullah pun pernah mencontohkannya, baik secara umum, maupun khusus.

    tahdzir secara umum, seperti perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yg menegaskan kepada ‘Aisyah:
    إِذَا رَأَيْتِ الَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ فَأُوْلَئِكَ الَّذِيْنَ سَمَّى اللهُ، فَاحْذَرُوْهُمْ

    “Apabila kau melihat orang-orang yang sukanya mengikuti ayat-ayat yang mutasyabih, maka merekalah yang Allah sebutkan (pada ayat tersebut). Maka hati-hatilah dari mereka.” [Muttafaqun ‘alaih]

    sednagkan secara khusus, beliau shallallahu a’alihi wasallam dengan keras dan tegas pula mencela kaum khawarij contohnya, bahkan menggelari mereka sebagai Anjing-anjing jahannam. Rasulullah berbicara pedas dan keras tentang khawarij dengan mengatakan:

    الخَوَارِجُ كِلاَبُ النَّار

    Khawarij adalah anjing-anjing neraka. [HR. Ibnu Majah (172) dari ‘Abdurrahman bin Abi Aufa]

    juga ttg nenek moyang khawarij:
    .”..akan keluar dari keturunan orang ini (Dzulkhuwaishirah) suatu kaum yang mereka itu ahli membaca Al Qur’an, namun bacaan tersebut tidaklah melewati tenggorokan mereka. Mereka melesat (keluar) dari (batas-batas) agama seperti melesatnya anak panah dari (sasaran) buruannya. Mereka membunuhi ahlul Islam dan membiarkan hidup (tidak mereka bunuh) ahlul Autsan (orang-orang kafir). Jika aku sempat mendapati mereka, akan aku bunuh mereka dengan cara pembunuhan terhadap kaum ‘Ad [HR. Al Bukhari 3344, Muslim 1064; Abu Dawud 4764]

    Rasulullah juga bersabda tentang khawarij:

    هُمْ شَرُّ الْخَلْقِ وَ الْخَلِيْقَةِ

    Mereka adalah sejahat-jahat makhluk dan ciptaan. [HR. Muslim. No. 1067, dari Abu Dzarr]

    apakah kita akan mengatakan bahwa Rasulullah, adalah orang yg tak beradab? tentunya tidak bukan? karena kita semua sepakat bahwa beliau pun adalah orang yg paling beradab di muka bumi ini…

    jika kita mengatakan bahwa orang2 takfiri memiliki ciri2 pemahaman khawarij, dan dengannya (khawarij) dikatakan sebagai anjing-anjing neraka, apakah hal tersebut kasar? tidak beradab? tidak lembut?
    mungkin ada sebagian orang yg mengatakan bahwa mengatakan khawarij adalah anjing neraka adalah keras, kasar…padahal hal tersebut adalah perkataan rasulullah thd mereka….

    jd janganlah kita mengambil sebagian dan meninggalkan sebagian…
    janganlah kita terlalu lembut dlm menyikapi ahlul bid’ah, sehingga meninggalkan tahdzir thd mereka, karena mengedepankan sikap lembut Rasulullah serta meninggalkan (atau melupakan) bahwa Rasul pun pernah melakukan tahdzir dengan keras thd pelaku kesesatan.

    jangan pula kita menyibukkan hari2 kita untuk berlaku keras/mencela terhadap mubtadi’ krn melihat hadits dan atsar ttg sikap keras beliau thd pelaku kesesatan, dan meninggalkan (atau melupakan) contoh bahwa rasulullah adalah orang yg sangat lembut..serta meninggalkan hal2 yg lebih penting yaitu mempelajari dan menjelaskan ttg aqidah shohihah, ibadah, dan ilmu dan amalan lain kepada umat.

    ketahuilah, ada kalanya kita harus lembut dalam bermuamalah dg mereka (hizbiyun), adakalanya merekapun harus mendapatkan peringatan dg keras….

    ketahuilah ya ikhwah, pernyataan keras ana thd hizbiyun pada kolom diskusi di muslim.or.id ini, bukanlah karena ana ingin membela diri ana/ krn celaan thd ana..wallahi sama skali tidak!

    wallahu a’lam…

    mohon koreksi n nasihat kalo ada yg salah dari ana. jazakumullahu khoiron.
    inni uhibbukum fillah.

  15. amir
    17 Jan 2009 [#]

    afwan, ana cukupkan komen ana di atas, karena isinya sudah makin jauh ttg isi artikel ttg Palestina, sebab ga akan selesai jika diteruskan..wallahu a’lam…

    ketahuilah, sikap keras dalam memperingati ahlul bid’ah, tidak melazimkan kita bermuamalah dg buruk thd mereka…kita harus memperhatikan hak-hak sesama muslim juga, sebab mereka ttp lah muslimin.

    afwan, klo ushlub ana keras dalam menyampaikan..

  16. arahadia
    17 Jan 2009 [#]

    Cinta itu harus karena Allah demikian juga benci harus karena Allah, Ana yang jahil ini sangat yakin atas akhlaq yang mulia dari Rasulullah saw, seperti yakinnya ana bahwa yang si sampaikan beliau adalah wahyu.

    Ana setuju untuk menghentikan diskusi ini, mudah mudahan ada manfaat untuk ana dan mohon maaf atas segala kesalahan, dan mudah2an ini semua untuk mencari ridlo Allah SWT dan Allah menghilangkan sifat Ghurur dari diri ana amin.

    Wassalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh

  17. abu ismail
    19 Jan 2009 [#]

    salamualaikum
    mari kita semua kembali kepada mazhab fiqh yang emapat hanafi,maliki,syafi’i,hambali
    insyaAllah kita ummat islam akan jaya kedepan, bukankah masa kejyaan islam yang dulu karna mereka masih bermazhab kepada mazhab yang empat ?

  18. amin
    20 Jan 2009 [#]

    maaf aku cuma pengen tanya, apakah pengambilan hukum suatu hal bisa sama sedangkan kondisinya berbeda?
    misal begini pada zaman Rosululloh & sahabat kan mayoritas kaum muslimin berada diatas sunnah (hanya sedikit sekali dari golongan orang2 yg sesat yg melakukan bid’ah) sedangkan saat ini kondisi umat islam hampir sebagian besar berada dalam kebid’ahan (dengan berbagai macam penyebab) dan seperti kita ketahui karakter sebagian besar orang indonesia yg cenderung lebih “lunak” dibanding orang arab. apa sikap menasehati dengan kasar bisa tetep dilakukan dengan kondisi kaum muslimin seperti tsb?
    mohon penjelasannya, terimakasih.

  19. rhosyied
    21 Jan 2009 [#]

    @amin
    justeru saya balik tanya,anda mengatakan “…seperti kita ketahui karakter sebagian besar orang indonesia yg cenderung lebih “lunak” dibanding orang arab…”

    Darimana anda berkesimpulan spt itu? apakah sudah ada survey penelitian ttg perbedaan karakter org arab dengan indonesia, shg disimpulkan org kita lebih ‘lunak’ dr org arab?

  20. abu faisal
    24 Feb 2009 [#]

    Afwan,

    Untuk akh arahadia, mengenai tanah yang suci, yang bani Israil disuruh masuk kedalamnya, yang ana tahu ada di 2:58 dan 5:21. Yang ana tahu, sebagaimana didalam tafsir Ibnu Katsir, bahwa yang dimaksud “Tanah Suci” hanyalah terbatas pada Baitul Maqdis (Jerusalem). Sebagaimana dikatakan as As-Suddi, Ar-Rabi` bin Anas, Qatadah and Abu Muslim Al-Asfahani, dan lain2. Maka dapat dipahami bahwa dalam terjemahan antum itu, kata-kata Palestina adalah tambahan dari antum sendiri, kecuali jika antum bisa memaparkan dalil ilmiyah, bahwa yang dimaksud “Tanah Suci” adalah Palestina secara keseluruhan.

    Yang ana ketahui agama ini adalah bersifat pertengahan. Siapa yang menghiasinya dengan perangai keras, maka ini bukanlah akhlaq salaf. Demikian juga bersikap lunak, tanpa pandang bulu. Maka yang benar adalah – Insya Allah- melazimkan lemah-lembut dan tegas jika diperlukan secara syar’i. Siapa yang tidak mengenal kelemah-lembutan Rasulullah? Tapi beliau tidak segan menyebut Khawarij anjing neraka. Siapa tidak mengenal kemuliaan akhlaq Imam Ahmad? Tapi beliau langsung berdiri, menyingsingkan lengan dan berkata zindiq, zindiq, zindiq, ketika sampai berita orang yang menolak hadits Nabi. Jadi masalahnya, bukanlah membahas apakah akhlaqul karimah itu harus lembut atau keras? Tapi bagaimanakah sikap yang cocok untuk HAMAS ini. Benarkah kita harus terus berhusnudzan terhadap mereka? Padahal mereka membantai da’i-da’i salafiyyin atas nama “kemaslahatan”? Atau barangkali kalimat pembantaian ini luput dari mata kita ketika membaca artikel diatas? Kenapa mudah sekali kita berhusnudzan terhadap orang-orang hizbiyyun, tapi sulit sekali berhusnudzan terhadap salafiyyun, bahkan para masyaikhnya sekalipun? Atau jangan-jangan hati kita yang ada penyakitnya. sehingga ketika kita mengucapkan su’udzan atau husnudzan hati kita sebenarnya sudah memihak?

    Maka -wallahu A’lam- kita ambil saja dhahirnya, karena Allah tidaklah membebani kita kecuali sesuai kemampuan kita. Bahwa yang berfatwa ini adalah ahli ilmu, maka menerimanya adalah sesuai perintah Allah. Dan tidak boleh menolaknya kecuali kita memiliki hujjah yang nyata. Dan faktanya bahwa HAMAS, telah sampai dakwah kepada mereka, dan itu mereka sambut dengan membantai da’i2 salafiyyin. Maka tidak boleh fakta-fakta dzahir ini, kita bantah atau abaikan dengan kata “jangan-jangan….”, “Mungkin….”, “Barangkali….”. Karena ini sama saja membantah hujjah/dalil dengan persangkaan semata. Maka tidak ada yang layak kecuali tahdzir atas mereka sebagai wujud dari nahyi munkar (tentunya disesuaikan situasi dan kondisi lawan bicara). Karena tidak ada setelah kebenaran melainkan kesesatan.

  21. ismael aga
    12 Mar 2009 [#]

    assalamualaikum
    saya hanya orang awam dalam agama

    ketika saya menyimak khotib di masjid agung Sumber, cirebon, khotib membicarakan tentang seseorang yang gagah berani di medan perang bersama pasukan rasulallah. dia dengan tanpa takut menghapi musuh-musuh islam dalam perang bahkan setiap langkah dia dapat memenggal kepala musuh.
    sahabatpun bertanya pada rasulallah apakah dia masuk surga, rasulallah menjawab tidak.
    karena pada saat-saat terakhir dalam perang tangannya terpotong oleh pedang musuh. karena dia merasa orang yang gagah berani dan malu kalau tangannya terpotong lalu dia mengarahkan unjung pedangnya kearah tubuhnya dan nafasnya pun berhenti.
    kemudian ada orang yang baru bersahadat pada waktu sebelum perang dan dia pun ikut berperang. karena dia tidak ahli dalam menggunakan pedang maka terbunuhlah ia.
    lalu setelah perang jasadnya pun di angkat oleh para sahabat dan rasul yang mulia tersenyum melihat jasad orang tersebut, dan rasulpun menguraikan kejadiannya sebelum dia ikut berperang.
    subhanallah

    sebenarnya hati ini sedih melihat dunia yang seperti sekarang ini.
    semoga Allah mematikan kita dalam keadaan islam.

  22. herman van houten
    07 Mei 2010 [#]

    Ya Allah hanya kepada engkau kamii memohon perlindungan…
    Hanya kepada engkau kamii berserahh…
    Ya Allah lindungilah saudara hamba di Palestina…
    Ya Allah, jikalau pun wafat, wafatkanlah dalam keadaan khusnul khotimah dan syahid… Amin…

Tinggalkan Komentar

Kembali ke Atas