Mengenal Seluk Beluk BID’AH (4): Dampak Buruk BID’AH
[Bagian Keempat dari 4 Tulisan]
Sudah sepatutnya kita menjauhi berbagai macam bid’ah mengingat dampak buruk yang ditimbulkan. Berikut beberapa dampak buruk dari bid’ah.
[Pertama, amalan bid'ah tertolak]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)
Orang yang berbuat bid’ah inilah yang amalannya merugi. Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
“Katakanlah: Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al Kahfi [18] : 103-104)
[Kedua, pelaku bid'ah terhalangi untuk bertaubat selama dia terus menerus dalam bid'ahnya. Oleh karena itu, ditakutkan dia akan mengalami su'ul khotimah]
Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَ اللهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ عَنْ كُلِّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعْ بِدْعَتَهُ
“Allah betul-betul akan menghalangi setiap pelaku bid’ah untuk bertaubat sampai dia meninggalkan bid’ahnya.” (HR. Thabrani. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 54)
[Ketiga, pelaku bid'ah tidak akan minum dari telaga Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan tidak akan mendapatkan syafa'at beliau shallallahu 'alaihi wa sallam]
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ ، لَيُرْفَعَنَّ إِلَىَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لأُنَاوِلَهُمُ اخْتُلِجُوا دُونِى فَأَقُولُ أَىْ رَبِّ أَصْحَابِى . يَقُولُ لاَ تَدْرِى مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ
“Aku akan mendahului kalian di al haudh (telaga). Dinampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku.’ Lalu Allah berfirman, ‘Engkau sebenarnya tidak mengetahui bid’ah yang mereka buat sesudahmu.’ “ (HR. Bukhari no. 7049)
Dalam riwayat lain dikatakan,
إِنَّهُمْ مِنِّى . فَيُقَالُ إِنَّكَ لاَ تَدْرِى مَا بَدَّلُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِى
“(Wahai Rabbku), mereka betul-betul pengikutku. Lalu Allah berfirman, ‘Sebenarnya engkau tidak mengetahui bahwa mereka telah mengganti ajaranmu setelahmu.” Kemudian aku (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) mengatakan, “Celaka, celaka bagi orang yang telah mengganti ajaranku sesudahku.” (HR. Bukhari no. 7051)
Inilah do’a laknat untuk orang-orang yang mengganti ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berbuat bid’ah.
Ibnu Baththol mengatakan, “Demikianlah, seluruh perkara bid’ah yang diada-adakan dalam perkara agama tidak diridhoi oleh Allah karena hal ini telah menyelisihi jalan kaum muslimin yang berada di atas kebenaran (al haq). Seluruh pelaku bid’ah termasuk orang-orang yang mengganti ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang membuat-buat perkara baru dalam agama. Begitu pula orang yang berbuat zholim dan yang menyelisihi kebenaran, mereka semua telah membuat sesuatu yang baru dan telah mengganti dengan ajaran selain Islam. Oleh karena itu, mereka juga termasuk dalam hadits ini.” (Lihat Syarh Ibnu Baththol, 19/2, Asy Syamilah) -Semoga Allah menjauhkan kita dari berbagai perkara bid’ah dan menjadikan kita sebagai umatnya yang akan menikmati al haudh sehingga kita tidak akan merasakan dahaga yang menyengsarakan di hari kiamat, Amin Ya Mujibad Du’a-
[Keempat, pelaku bid'ah akan mendapatkan dosa jika amalan bid'ahnya diikuti orang lain]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ
“Barangsiapa melakukan suatu amalan kebaikan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya ganjaran semisal ganjaran orang yang mengikutinya dan sedikitpun tidak akan mengurangi ganjaran yang mereka peroleh. Sebaliknya, barangsiapa melakukan suatu amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikitpun.” (HR. Muslim no. 1017)
Wahai saudaraku, perhatikanlah hadits ini. Sungguh sangat merugi sekali orang yang melestarikan bid’ah dan tradisi-tradisi yang menyelisihi syari’at. Bukan hanya dosa dirinya yang akan dia tanggung, tetapi juga dosa orang yang mengikutinya. Padahal bid’ah itu paling mudah menyebar. Lalu bagaimana yang mengikutinya sampai ratusan bahkan ribuan orang? Berapa banyak dosa yang akan dia tanggung? Seharusnya kita melestarikan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kenapa harus melestarikan tradisi dan budaya yang menyelisihi syari’at? Jika melestarikan ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam -seperti mentalqinkan mayit menjelang kematiannya bukan dengan talqin setelah dimakamkan- kita akan mendapatkan ganjaran untuk diri kita dan juga dari orang lain yang mengikuti kita. Sedangkan jika kita menyebarkan dan melestarikan tradisi tahlilan, yasinan, maulidan, lalu diikuti oleh generasi setelah kita, apa yang akan kita dapat? Malah hanya dosa dari yang mengikuti kita yang kita peroleh.
Marilah Bersatu di Atas Kebenaran
Saudaraku, kami menyinggung masalah bid’ah ini bukanlah maksud kami untuk memecah belah kaum muslimin sebagaimana disangka oleh sebagian orang jika kami menyinggung masalah ini. Yang hanya kami inginkan adalah bagaimana umat ini bisa bersatu di atas kebenaran dan di atas ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang benar. Yang kami inginkan adalah agar saudara kami mengetahui kebenaran dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana yang kami ketahui. Kami tidak ingin saudara kami terjerumus dalam kesalahan sebagaimana tidak kami inginkan pada diri kami. Semoga maksud kami ini sama dengan perkataan Nabi Syu’aib,
إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ
“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS. Hud [11] : 88)
Inilah sedikit pembahasan mengenai bid’ah, kerancuan-kerancuan di dalamnya dan dampak buruk yang ditimbulkan. Semoga dengan tulisan yang singkat ini kita dapat semakin mengenalinya dengan baik. Hal ini bukan berarti dengan mengetahuinya kita harus melakukan bid’ah tersebut. Karena sebagaimana perkataan seorang penyair,
عَرَّفْتُ الشَّرَّ لاَ لِلشَّرِّ لَكِنْ لِتَوَقِّيْهِ …
وَمَنْ لاَ يَعْرِفُ الشَّرَّ مِنَ النَّاسِ يَقَعُ فِيْهِ
Aku mengenal kejelekan, bukan berarti ingin melakukannya, tetapi ingin menjauhinya
Karena barangsiapa tidak mengenal kejelekan, mungkin dia bisa terjatuh di dalamnya
Ya Hayyu, Ya Qoyyum. Wahai Zat yang Maha Hidup lagi Maha Kekal. Dengan rahmat-Mu, kami memohon kepada-Mu. Perbaikilah segala urusan kami dan janganlah Engkau sandarkan urusan tersebut pada diri kami, walaupun hanya sekejap mata. Amin Yaa Mujibbas Sa’ilin.
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kaum muslimin. Semoga Allah selalu memberikan ilmu yang bermanfaat, rizki yang thoyib, dan menjadikan amalan kita diterima di sisi-Nya. Innahu sami’un qoriibum mujibud da’awaat. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.
Selesai disusun di rumah tercinta, Desa Pangukan, Sleman
Saat Allah memberi nikmat hujan di siang hari, Kamis, 9 Syawal 1429 (bertepatan dengan 9 Oktober 2008)
***
Disusun oleh: Muhammad Abduh Tuasikal, S.T.
Dimuroja’ah oleh: Ustadz Aris Munandar
Artikel www.muslim.or.id














Kepada ikhwan sekalian yang semoga Allah selalu memberi taufik dan hidayah serta keistiqomahan di atas sunnah.
Dalam menilai ESQ bid’ah atau bukan, mohon dapat menyertakan argumen2 yang memuaskan, jangan hanya menyatakan ini bid’ah atau bukan dan cuma asal dalam komentar.
Hati-hatilah dan bertakwalah pada Allah, jagalah lisan dan perkataan kalian.
Alhamdulillah artikel ini sudah saya gunakan untuk dakwah di kantor…barakallufikum
Asslamualaikum.
Wah luar biasa pmbhsan nya.
Trnyata bid’ah mrpkn prbwtn yg dpt mmbrikan dampak yg buruk pd plakunya, mga ana bs lbih hati2 dg urusan yg 1 ini. Jzkallah khair.
ana izin ngopy ustad… mau ana sebarin ke teman-teman agar insya Allah selamat dunia akhirat… amiin…
Asslamualikum wr.wb.
masih bingung neh soal bidah
Numpang nanya bwt Master2 Ustad sekalian :
1.Apakah berdoa di kuburan termasuk bid’ah juga?
2.bolehkah tawassul nelalui orang yang sudah meninggal, meski itu Rassullulah?
@ Karim
Wa’alaikumus salam.
Keduanya bisa jadi bid’ah dan bisa jadi syirik, makanya perlu ada rincian.
Misalkany untuk berdoa di kuburan karena dianggap kuburan adl tempat paling afdhol untuk berdoa, maka itu bid’ah. Namun kalau meminta langsung pada penghuni kubur, maka itu syirik.
Sabda Nabi saw: Kamu lebih mengerti perkara duniamu.
Ushul fiqih: Hukum asal segala perkara dunia adalah Mubah selama tdk ada dalil yg merobahnya.
Ttg ESQ, Manajemen Qalbu dll itu tdk ada dalilnya, krn nya hukumnya kembali kpd hukum asalnya yaitu mubah.
askum
hai ikhwan sudahlah gasah buang waktu dan pikiran untuk urusan yg sudah jelas,gasah cari upya pembelaan/pembenaran untuk urusan yg sudah jelas.Rosululloh sudah jelas jelas memberi contoh yg jelas cara berkomunikasi dg ALLOH, tinggal ngikuti ajala……h
simpel to..?
waskum
Assalammualaikum, saya termasuk orang yang sangat minim pengetahuan agamanya, namun, ijinkanlah saya mengutarakan pendapat saya, apabila pendapat saya salah, mohon saya dikoreksi, ..
- Saya sepedapat tentang definisi bidah yang telah dikemukakan diatas, tetapi saya masih bingung, kenapa tahlilan, dzikir bersama, dikatakan bid’ah?.. Menurut saya tindakan bid’ah adalah, misalnya, sholat subuh 2 rakaat kita sholatnya 4 rakaat, itu mungkin bisa dibilang bid’ah, jadi menurut saya, yang Bid’ah itu kalau kita “meng-ada2kan” yang wajib, menambahkan atau menguranginya.. Sedangkan perbedaan tentang pelaksanaannya sepanjang tidak melanggar hukum yang wajib, menurut saya bukan termasuk dalam tindakan yang si ada2 kan.. Mohon saya dikoreksi, dan maaf saya memang bukan ahlinya dalam bidang ini.. Wassalammualaikum..
@ Ryan
Wa’alaikumus salam.
Kaedah yg bisa sedikit pembantu yg biasa disebutkan oleh para ulama: “Hukum asal ibadah itu haram.” Sehingga dari sini, ibadah tidak bisa diada-adakan seenaknya saja, harus dengan dalil. Semoga Allah beri pemahaman.
Assalamu`alaikum..
saya pernah denger dari kk saya, bahwa Rosulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda..:
semua makanan yang ada di dunia ini adalah halal kecuali yang aku haramkan dan semua ibadah di dunia ini adalah haram kecuali yang aku ajarkan..
benarkah itu..??terima kasih sblmnya…
Wassalamu`alaikum..
#nur alief
Wa’alaikumussalam, setahu kami itu bukan hadits, namun sebuah kaidah syar’iyyah yang berbunyi:
الأصل في العبادات الحظر, و في العادات الإباحة
“Hukum asal ibadah adalah terlarang, hukum asal ‘adah adalah boleh”
Silakan simak artikel: http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/ketika-agama-telah-mengharamkan.html
Berjuang menegakkan sunnah mengikis bid’ah memang sangat berat.saya mengalaminya sendiri, sm0ga Allah SWT selalu memberi kekuatan dan petunjuk pda kita smua
Assalamu’alaikum
Maaf saya ingin bertanya mengenai beberapa hal mengenai bid’ah
Maaf Sebelumnya saya ingin sharing, saya dibesarkan dalam lingkungan masyarakat yang sering melakukan bid’ah, bahkan keluarga saya sendiri seperti yang ustad jelaskan pada artikel diatas, namun alhamdulillah setelah saya kuliah saya mendapati teman yang dapat mengarahkan saya untuk menjauhi bid’ah dan kembali pada Al-Qur’an dan Sunnah.
1. Permasalahannya ketika saya mencoba menjelaskan mengenai bid’ah pada keluarga, malah saya dibilang ikut2 golongan tertentu (Maaf saya disebut golongan Muhammadiyah). Mohon saran ustad mengenai permasalahan ini.
2. Karena keluarga saya tetap melaksanakan bid’ah semisal tahlilan (Maaf karena ayah saya almarhum) maka saya bingung, saya takut ketika setiap bid’ah yang dilakukan oleh anak akan membebankan orang tua, namun disi lain saya tidak mau durhaka kepada ibu. Jadi saya datang tanpa melakukan apa2. Apakah yang saya lakukan ini salah?. Untuk meringankan beban ayah saya apa yang harus saya lakukan?
3. Permasalahan yang ketiga, saya ini sudah berkeluarga, alhamdulillah dikit demi sedikit saya bisa mengarahkan istri saya menjauhi bid’ah, namun keluarga istri saya tetap getol melakukan bid’ah. Menurut ustad apa yang harus saya lakukan?
Terima kasih atas sarannya.
Wassalamu’alaikum
#Tantra
Wa’alaikumussalam. Perhatikan nasehat dari Syaikhul Islam Muhammad At Tammimi Rahimahullah berikut ini:
يجب علينا تعلم أربع مسائل ، الأولى :العلم وهو معرفة الله ، ومعرفة نبيه ، ومعرفة دين الإسلام بالأدلة . الثانية : العمل به . الثالثة : الدعوة إليه . الرابعة : الصبر على الأذى فيه
“Wajib bagi kita untuk mengetahui 4 hal:
1. Belajar tentang Allah, tentang Nabi-Nya dan tentang Islam dengan dalil-dalilnya
2. Mengamalkan ilmu yang telah dipelajari
3. Mendakwahkan ilmu yang telah dipelajari
4. Bersabar jika mendapat gangguan dalam dakwah’”
Mohon direnungkan dengan baik…
Mengenai apa saja yang dapat bermanfaat bagi orang yang telah wafat, simak:
http://rumaysho.com/belajar-islam/jalan-kebenaran/2751-amalan-amalan-yang-bermanfaat-bagi-mayit.html
Ass.
Alhamdullilah keluarga besar saya organisasi islam tertentu yang amat mengharamkan bid’ah ini. semoga saja semua dapat melihat secara terbuka akan mana yang wajib, bid’ah, syirik, dsb.apabila
semoga Allah menyertai kita
Jazakallah khair.
wass.
assalam alaikum,
dear all,
masyarakat kita memang sensitif dengan isu bid’ah dan ketika mereka dibilangin itu bid’ah, mereka sering marah-marah dan tidak terima.
ana pikir kita memang perlu belajar dari hadist yg disampaikan ibunda Aisha r.a. yang redaksinya kurang lebih, “Seandainya ayat2 yang pertama kali diturunkan Allah adalah larangan berzina, maka orang2 akan terus berzina sampai kiamat, dan seandainya ayat yang pertama turun adalah larangan minum khomer, maka masyarakat akan terus minum khomer sampai kiamat. Ayat2 yang diturunkan Allah pertama kali adalah soal surga dan neraka sehingga orang2 waktu itu hatinya begitu melekat keimanannya sehingga ketika perintah larangan zina dan minum khomer turun, mereka mendengar dan mentaatinya.”
jadi mungkin perlu juga strategi berdakwah untuk jangan membid’ah-bid’ahkan, terutama thd mereka yang bergelimang dengan bid’ah dan imannya masih lemah. mungkin akan lebih baik jika membicarakan keutamaan dan kehidupan para sahabat dalam mengikuti memegang Quran dan Sunnah.
dulu ana juga hidup di lingkungan NU yg ahli……., tapi alhamdulillah sheikh ana selalu berdakwah soal kehidupan dan keutamaan para sahabat dan saya pun mendapat hidayah untuk meninggalkan praktik bidah.
wassalam alaikum
Alhamdulilah,, dpt ilmu,,