Mengenal Salaf dan Salafi

Kategori: Manhaj

118 Komentar // 23 June 2008

Para pembaca yang budiman -semoga Allah menunjuki kita kepada kebenaran-. Salaf dan salafi mungkin merupakan kata yang masih asing bagi sebagian orang atau kalau toh sudah dikenal namun masih banyak yang beranggapan bahwa istilah ini adalah sebutan bagi suatu kelompok baru dalam Islam. Lalu apa itu sebenarnya salaf? Dan apa itu salafi? Semoga tulisan berikut ini dapat memberikan jawabannya.

Pengertian Salaf

Salaf secara bahasa berarti orang yang terdahulu, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah yang artinya, “Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka lalu kami tenggelamkan mereka semuanya (di laut). Dan Kami jadikan mereka sebagai SALAF dan contoh bagi orang-orang yang kemudian.” (QS. Az Zukhruf: 55-56), yakni kami menjadikan mereka sebagai SALAF -yaitu orang yang terdahulu- agar orang-orang sesudah mereka dapat mengambil pelajaran dari mereka (salaf). Oleh karena itu, Fairuz Abadi dalam Al Qomus Al Muhith mengatakan, “Salaf juga berarti orang-orang yang mendahului kamu dari nenek moyang dan orang-orang yang memiliki hubungan kekerabatan denganmu.” (Lihat Al Manhajus Salaf ‘inda Syaikh al-Albani, ‘Amr Abdul Mun’im Salim dan Al Wajiz fii Aqidah Salafish Sholih, Abdullah bin Abdul Hamid Al Atsary)

Kata ‘Salaf’ Tidaklah Asing di Kalangan Ulama

Mungkin banyak orang saat ini yang merasa asing dengan kata salaf, namun kata ini tidaklah asing di kalangan ulama. Imam Bukhari -ahli hadits terkemuka- menuturkan, “Rasyid bin Sa’ad mengatakan, ‘Dulu para SALAF menyukai kuda jantan, karena kuda seperti itu lebih tangkas dan lebih kuat’.” Kemudian Ibnu Hajar menjelaskan dalam Fathul Bari bahwa salaf tersebut adalah para sahabat dan orang setelah mereka.

Imam Nawawi -ulama besar madzhab Syafi’i- mengatakan dalam kitab beliau Al Adzkar, “Sangat bagus sekali doa para SALAF sebagaimana dikatakan Al Auza’i rahimahullah Ta’ala, ‘Orang-orang keluar untuk melaksanakan shalat istisqo’ (minta hujan), kemudian berdirilah Bilal bin Sa’ad, dia memuji Allah …’.” Salaf yang dimaksudkan oleh Al Auza’i di sini adalah Bilal bin Sa’ad, dan Bilal adalah seorang tabi’in. (Lihat Al Manhajus Salaf ‘inda Syaikh al-Albani)

Siapakah Salaf?

Salaf menurut para ulama adalah sahabat, tabi’in (orang-orang yang mengikuti sahabat) dan tabi’ut tabi’in (orang-orang yang mengikuti tabi’in). Tiga generasi awal inilah yang disebut dengan salafush sholih (orang-orang terdahulu yang sholih). Merekalah tiga generasi utama dan terbaik dari umat ini, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi sesudahnya kemudian generasi sesudahnya lagi.” (HR. Ahmad, Ibnu Abi ‘Ashim, Bukhari dan Tirmidzi). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mempersaksikan ‘kebaikan’ tiga generasi awal umat ini yang menunjukkan akan keutamaan dan kemuliaan mereka, semangat mereka dalam melakukan kebaikan, luasnya ilmu mereka tentang syari’at Allah, semangat mereka berpegang teguh pada sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Lihat Al Wajiz fii Aqidah Salafish Sholih dan Mu’taqod Ahlis Sunnah wal Jama’ah, Dr. Muhammad Kholifah At Tamimi)

Wajib Mengikuti Jalan Salafush Sholih

Setelah kita mengetahui bahwa salaf adalah generasi terbaik umat ini, maka apakah kita wajib mengikuti jalan hidup salaf?

Allah telah meridhai secara mutlak para salaf dari kaum muhajirin dan anshor serta kepada orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100). Untuk mendapatkan keridhaan yang mutlak ini, tidak ada jalan lain kecuali dengan mengikuti salafush sholih.

Allah juga memberi ancaman bagi siapa yang mengikuti jalan selain orang mukmin. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa: 115). Yang dimaksudkan dengan orang-orang mukmin ketika ayat ini turun adalah para sahabat (para salaf). Barangsiapa yang menyelisihi jalan mereka akan terancam kesesatan dan jahannam. Oleh karena itu, mengikuti jalan salaf adalah wajib.

Menyandarkan Diri Pada Salafush Sholih

Setelah kita mengetahui bahwa mengikuti jalan hidup salafush sholih adalah wajib, maka bolehkan kita menyandarkan diri pada salaf sehingga disebut salafi (pengikut salaf)? Tidakkah ini termasuk golongan/kelompok baru dalam Islam?

Jawabannya kami ringkas sebagai berikut: [1] Istilah salaf bukanlah suatu yang asing di kalangan para ulama, [2] Keengganan untuk menyandarkan diri pada salaf berarti berlepas diri dari Islam yang benar yang dianut oleh salafush sholih, [3] Kenapa penyandaran kepada berbagai madzhab/paham dan pribadi tertentu seperti Syafi’i (pengikut Imam Syafi’i) dan Asy’ari (pengikut Abul Hasan Al Asy’ari) tidak dipersoalkan?! Padahal itu adalah penyandaran kepada orang yang tidak luput dari kesalahan dan dosa!! [4] Salafi adalah penyandaran kepada kema’shuman secara umum (keterbebasan dari kesalahan) sehingga memuliakan seseorang, [5] Penyandaran kepada salaf bertujuan untuk membedakan dengan kelompok lainnya yang semuanya mengaku bersandar pada Al Qur’an dan As Sunnah, namun tidak mau beragama (bermanhaj) seperti salafush sholih yaitu para sahabat dan pengikutnya. (Lihat Al Manhajus Salafi ‘inda Syaikh al-Albani).

Kesimpulannya sebagaimana dikatakan Syaikh Salim Al Hilali, “Penamaan salafi adalah bentuk penyandaran kepada salaf. Penyandaran seperti ini adalah penyandaran yang terpuji dan cara beragama (bermanhaj) yang tepat. Dan bukan penyandaran yang diada-adakan sebagai madzhab baru.” (Limadza Ikhtartu Al Manhaj As Salaf)

Solusi Perpecahan Umat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan solusi mengenai perpecahan umat Islam saat ini untuk berpegang teguh pada sunnah Nabi dan sunnah khulafa’ur rasyidin -yang merupakan salaf umat ini-. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Dan sesungguhnya orang yang hidup di antara kalian akan melihat perselisihan yang banyak, maka berpegang teguhlah kalian terhadap sunnahku dan sunnah khulafa’rosyidin yang mendapat petunjuk. Maka berpegang teguh dengannya dan gigitlah dengan gigi geraham.” (Hasan Shohih, HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Jalan Salaf Adalah Jalan yang Selamat

Orang yang mengikuti jalan hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya (salafush sholih) inilah yang selamat dari neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Yahudi telah terpecah menjadi 71 golongan; satu golongan masuk surga, 70 golongan masuk neraka. Nashrani terpecah menjadi 72 golongan; satu golongan masuk surga, 71 golongan masuk neraka. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, umatku akan terpecah menjadi 73 golongan; satu golongan masuk surga dan 72 golongan masuk neraka. Ada sahabat yang bertanya,’Wahai Rasulullah! Siapa mereka yang masuk surga itu?’ Beliau menjawab, ‘Mereka adalah Al-Jama’ah‘.” (HR. Ibnu Majah, Abu Daud, dishahihkan Syaikh Al Albani). Dalam riwayat lain para sahabat bertanya,’Siapakah mereka wahai Rasulullah?‘ Beliau menjawab,‘Orang yang mengikuti jalan hidupku dan para sahabatku.‘ (HR. Tirmidzi)

Sebagai nasihat terakhir, ‘Ingatlah, kata salafi -yaitu pengikut salafush sholih- bukanlah sekedar pengakuan (kleim) semata, tetapi harus dibuktikan dengan beraqidah, berakhlak, beragama (bermanhaj), dan beribadah sebagaimana yang dilakukan salafush sholih.’

Ya Allah, tunjukilah kami pada kebenaran dengan izin-Mu dari jalan-jalan yang menyimpang dan teguhkan kami di atasnya. Alhamdulillahillazi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

***

Disusun oleh: Muhammad Abduh Tuasikal
Muroja’ah: Ustadz Syamsuri (Pengajar Ma’had Jamilurrohman)
Artikel www.muslim.or.id

118 Komentar

  1. m.khairin nur
    09 May 2011 [Permalink]

    Alhamdulillah…!smoga blog ini menjdi sbb amal jariyah,ustad.amin….!

  2. khumaeni
    07 Jun 2011 [Permalink]

    sukron ya akhi, terus berjuang suburkan sunnah, kikis bi’ah. sampai tidak ada fitnah. dengan ahlaquk karimah. amin

  3. andi rachmi
    10 Jun 2011 [Permalink]

    apapun yg kalian bcarakan untuk merusak nama baik manhaj salaf.sy sdh berbagai kajian en taklim sy ikuti namun salaf,,,tetap yg terbaik diantara yg lain,..!! smoga Allah memberikan hidayah kepada kita semua,,aminn..

  4. Zakee Xeval
    24 Jun 2011 [Permalink]

    apakah itu pengertian atau maksud salaf yang sebenar-benar nya?

  5. Tony Miq Rona
    25 Jun 2011 [Permalink]

    Saya kagak habis pikir, beraninya orang yang mencela seorang syaeik besar seperti ” Albani “.
    Darahnya seorang ulama sunnah sangat beracun. Sadarlah wahai saudaraku.
    Petunjuk yang benar adalah AlQur`an dan hadistnya yang sahih.. yang pasti sesuai dengan pemahaman para sahabat rasulullah tentunya, bukan lewat pendapat ulama yang kuburiyun, bukan ulama pemuja khurafat, bid`ah.
    Sekiranya semua orang dari arah barat dan timur membenci dakwah sunnah ini, saya tidak peduli, dan saya akan selalu belajar dan beramal lewat dakwah SALAFI. Aaamiin.
    Ya Allah ampuni aku yang telah banyak melakukan perbuatan yang bid`ah dan khurafat.

  6. Yulian Purnama
    06 Jul 2011 [Permalink]

  7. farhan
    16 Jul 2011 [Permalink]

    dalam sejarah islam, kl tdk salah banyak terjadi perselisihan dan perang saudara pasca wafatnya rosulullah. Sahabat ustman, ali bin abi thalib, aisyah berkonflik dlm urusan politik. Bagaimana itu bs dijelaskan? Benarkah mrk maksum? Apakah manhaj mrk akan selalu sesuai sampe akhir jaman? Dunia berkembang cpt, apakah tafsir2 mrk akan selalu bs menjawabnya? Wallahu a’lam

  8. mustopa
    04 Aug 2011 [Permalink]

    semoga Allah selalu memberi petunjuk bagi kita semua. ya Allah buka mata hati kami untuk menerima kebenaran.

  9. Yulian Purnama
    08 Aug 2011 [Permalink]

    #farhan
    pribadi mereka masing-masing tidak ma’shum, namun manhaj mereka secara keseluruhan itu ma’shum. Ada sahabat yang tidak memahami suatu permasalahan, namun yang lain memahami. Ada yang berbuat kesalahan, sahabat yang lain mengingkari.

  10. Mahmud
    22 Sep 2011 [Permalink]

    Tidak akan berhenti permusuhan antara haq dan batil selama dunia ini ada.Masalahnya kita ada di mana kita sekarang? Berada pada yang haq atau yang bathil.Manusia yang normal akan berusaha sekuat tenaga untuk membela yang haq,namun iblis tidak akan tinggal diam akan membuat warna bitah seperti sunah bahkan khurofat,tahayul,pendapat ulama nilainya lebih utama di mata teman teman setan. Sadarlah hai saudaraku mumpung masih ada waktu

  11. ummu kultsum
    02 Oct 2011 [Permalink]

    yang haq sudah jelas, dan yang bathil juga sudah jelas, barangsiapa yang dirinya blm bisa melihat & merasakan betapa indahnya dakwah salaf, berarti dia blm tahu tentang ajaran Islam yang sesungguhnya. Sejauh ini, setelah mencoba ikut ta’lim di berbagai organisasi, tidak ada yang lebih baik daripada dakwah salaf. Kemenangan Islam tidak ditunjukkan dengan banyaknya pengikutnya, tetapi ditunjukkan dengan iman dan taqwa, serta manhaj yang lurus di hati pemeluknya. wallohu musta’an.

  12. Yanti Gustian Koto
    20 Oct 2011 [Permalink]

    Alhamdulillah, ana dapat pemahaman yg sangat berarti,sukron akh ats infonya.

  13. Ade Malsasa Akbar
    05 Jan 2012 [Permalink]

    Tiada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah.

  14. Yanyan
    05 Jan 2012 [Permalink]

    Rasulullah telah memberikan petunjuk tentang orang yang akan selamat kelak di akhirat, yaitu hanya satu golongan..orang berpegang teguh kepada Qur’an dan sunah rasulullah…Walohualam

  15. udhy wont
    27 Jan 2012 [Permalink]

    BELAJAR ISLAM YANG BENAR. Seorang muslim tidak akan melaksanakan agamanya dengan benar, kecuali dengan belajar Islam yang benar berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih

  16. karim
    06 Feb 2012 [Permalink]

    Pada ayat 56 bukankah bunyi terjemahannya adalah : Dan kami jadikan mereka sebagai pelajaran dan contoh bagi orang-orang yang kemudian. Artinya mereka (orang2 fasik)dijadikan sebagai pelajaran bagi orang2 yg kemudian ( ya kita2 ini), bukannya sebagai salaf. Mohon maaf apabila saya keliru.

  17. Yulian Purnama
    08 Feb 2012 [Permalink]

    #karim
    Di situ penulis ingin memberikan contoh kata salaf dalam Al Qur’an. Bunyi ayatnya:
    فَجَعَلْنَاهُمْ سَلَفًا وَمَثَلًا لِلْآخِرِينَ
    Faja’alnahum SALAFAN wa matsalan lil akhirin

    Salaf dalam ayat ini maknanya orang-orang yang terdahulu, agar orang-orang sesudah mereka dapat mengambil pelajaran.

Tinggalkan Komentar

Kembali ke Atas