Donasi Semarak
Ramadhan 1433 H

Mengapa Harus Manhaj Salaf ?

Kategori: Manhaj

9 Komentar // 6 Agustus 2008

Pernahkah terbetik pertanyaan ketika kita membaca, “Tunjukilah kami jalan yang lurus” (QS. Al Fatihah : 6), bagaimana jalan yang lurus itu? Itulah jalan yang telah Allah jelaskan pada ayat berikutnya, “(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka …” Begitu pula dalam surat lain, “Dan barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul(-Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang telah dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: para nabi, para shiddiqqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya” (QS. An Nisaa’: 69)

Siapakah Salaf Itu?

Secara bahasa, salaf artinya pendahulu dan secara istilah yang dimaksud dengan salaf itu adalah Rasulullah dan para sahabatnya. Ini bukan klaim tanpa bukti, jika kita cermati ayat di atas, yang dimaksud dengan orang-orang yang telah dianugerahi nikmat oleh Allah tidak lain adalah Rasulullah dan para sahabatnya, generasi salaf. Nabi yang paling utama ialah Nabi Muhammad, imamnya shiddiqin ialah Abu Bakar, imamnya para syuhada’ ialah Hamzah bin ‘Abdil Muthalib, ‘Umar bin Al Khaththab, ‘Utsman bin ‘Affan dan ‘Ali bin Abi Thalib. Dan orang saleh yang paling saleh adalah seluruh sahabat Nabi. Merekalah salaf kita, yang jalan mereka (baca: manhaj) dalam beragama itulah yang seharusnya kita ikuti, baik dalam akidah, muamalah maupun dakwah.

Manhaj Salaf Adalah Jalan Kebenaran

Allah berfirman, “Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas petunjuk baginya. dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali” (QS. An Nisaa’: 115)

Ketika ayat ini diturunkan, orang-orang mu’min yang dimaksud adalah para sahabat Nabi. Bahkan Allah telah meridhai mereka dan orang-orang sesudahnya yang mengikuti mereka serta menjanjikan untuk mereka balasan yang besar. “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah, Allah telah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar” (QS. At Taubah: 100). Demikianlah, Salafiyyah adalah Islam itu sendiri yang murni dari pengaruh-pengaruh peradaban lama dan warisan berbagai kelompok sesat. Islam yang sesuai dengan pemahaman salaf telah banyak dipuji oleh nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah.

Manhaj Salaf Adalah Manhaj Ahlus Sunnah

Penamaan salaf bukanlah suatu hal yang bid’ah. Bahkan Rasulullah telah menegaskan saat beliau sakit mendekati wafatnya, di mana beliau bersabda kepada putrinya, Fathimah, “Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah, dan sesungguhnya aku adalah sebaik-baik salaf bagimu” (HR. Muslim). Para ulama ahlus sunnah dulu dan sekarang banyak menggunakan istilah salaf dalam ucapan dan kitab-kitab mereka. Seperti contohnya ketika mereka memerangi kebid’ahan, mereka mengatakan, “Dan setiap kebaikan itu dengan mengikuti kaum salaf, sedangkan semua keburukan berasal dari bid’ahnya kaum kholaf (belakangan)”. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata dalam Majmu’ fatawanya bahwa tidak ada aib bagi yang menampakkan madzhab salaf dan bernasab padanya, bahkan wajib menerimanya secara ijma’, karena madzhab salaf itulah kebenaran.

Kembali Kepada Manhaj Salaf, Solusi Problematika Umat

Sungguh, kehinaan dan ketertindasan umat ini akan tercabut dengan kembalinya umat pada agama Islam yang murni, yaitu dengan meniti manhaj salaf. Di tengah maraknya perpecahan umat ini di mana banyak dijumpai cara beragama yang berbeda-beda dan saling bertentangan, maka hanya ada satu jalan yang benar yaitu jalan yang sesuai dengan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah yang kemudian disebut dengan kembali kepada pemahaman yang benar, pemahamannya Rasulullah dan tiga generasi awal umat ini, para sahabatnya, para tabi’in, tabi’ tabi’in, serta para pengikut mereka yang setia dari kalangan para imam dan ulama. Tidak ada jalan lain untuk mencari kebenaran dan ishlah (perbaikan) yang hakiki melainkan harus kembali kepada pemahaman salaf. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Malik, “Tidak akan baik keadaan umat terakhir ini kecuali dengan apa yang menjadi baik dengannya generasi pertama.”

Wallahu a’lam.

***

Penulis: Abu Yazid Nurdin
Artikel www.muslim.or.id

buku saku

9 Komentar

  1. wong dheso
    07 Agu 2008 [#]

    wah kalau ingin jadi orang salaf saya belum sanggup karena ibadahnya Masya Allah ! kalau saya ingin jadi kaum Anshor saja

  2. agus
    11 Agu 2008 [#]

    assalamualaikum
    numpang sharing ya akhi semua. bagaimana jika semua fikrah ini diemban dan ditegakkan suatu negara yang besar, sehingga semua kebijakan yang ada dalam muamalah dan sebagainya dapan dilandaskan dan didasarkan dari 2 petunjuk hidup kita yang agung. dengan adanya negara yang mengemban, insya Allah kekuatan pengaruhnya juga akan terasa. semoga akan muncul negara islam pengemban dakwah dan pelaksana syariah..Allahuakbar…!!
    wassalamualaikum wr wb

  3. Eddy Waluyo
    27 Nov 2008 [#]

    Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.

    Ana & Istri lagi mempelajari manhaj salaf & mencari kebenaran dan ishlah (perbaikan) yang hakiki.

    Wasalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.

  4. y
    14 Jul 2009 [#]

    Tak ada bosannya kita membaca penjelasan2 tentang manhaj salaf , baik yang dalam bentuk penjelasan2 singkat maupun panjang lebar dan nyaris perfect.ini menambah sekaligus melengkapi dari yang selamah ini saya baca di AL-FURQON , AS-SUNNAH , maupun kaset2.setiap pertanyaan yang saya simpan dari saya kecil pelan2 terjawab semua.manhaj salaf bagi saya untuk sementara ini( atau sebaiknya saya bilang mudah2an selamahnya ) adalah cara mempelajari Islam yang paling mendekati ideal dan solutif. Meskipun pada prakteknya mungkin agak susah mencari figur (orang), komunitas , kelompok yang bisa merealisasikan sesempurnah sepersis konsep2 yang ada.

    Oia penjelasan2 ilmiah dengan dasar kitab ini , itu, bagi orang yang sama sekali gak faham kitab2 tersebut kadang jadi merasa jadi obyek yang kebingungan. apalagi di komen2 yang kadang ada bantahan2 yang membawa nama2 kitab ini itu kadang kok malah bikin kita yang awam jadi bingung ya ?jadi kalau ada yang membantah penjelasan2 yang ada dengan sebuah dasar dari kitab tertentu yang kita gak ngerti sama sekali itu akan cenderung membuat kita terombang-ambing .bisa2 malah memunculkan keraguan atas penjelasan yang sudah ada.

  5. ummudhiya
    09 Mei 2010 [#]

    ijin share

  6. Ade Suryaman
    25 Okt 2010 [#]

    numpang tanya.

    kalo Rosulluah Muhamad pernah mengajarkan untuk bermadhab ga ya?

  7. Yulian Purnama
    25 Okt 2010 [#]

  8. Hasanudin
    12 Apr 2011 [#]

    Terima kasih atas pencerahan tulisan antum. Smg mjd hasanah fi mizan hasanaatikum.

    Saya sangat setuju sekali bhw kita harus berpijak pada manhaj salaf yaitu manhaj Rasulullah, sahabat dan tabi’in. Karena Nabi sendiri memuji mereka dg sebaik-baik jaman, khoirul qurun.

    Pertanyaannya bgmn caranya kita tahu bhw kita sdh berada atau komitmen dg manhaj mereka. Sementara yg saya tahu mereka sangat komitmen dg manhajnya yaitu dg ilmu qowaid tafsir an-nushus (Al Quran dan Sunnah). Seperti membedakan nash yg qath’i, mujmal dst.Atau ketika nash al Quran bersifat ‘am, kita boleh mantakhsiskannya dg tafsiran kita berbeda dg yg bersifat muqayyad maka tdk ada ruang sedikit pun bagi kita. Kaidahnya yg populer: al-lafzhul al muthlaq yuhmalu ala ithlaqihi la yajuzu taqyiiduhu. Spt hadits diperintahkannya bershalawat atas baginda Rasulullah ketika adzan. Hadits itu lafalnya muthlaq nggak muqayyad. mengucapkan shalawatnya boleh dg suara keras, pelas atau keras sekali. Kita tdk boleh mengatakan bhw itu tdk ada haditsnya bershalawat dg suara keras dst. Hanya krn nash haditsnya bersifat muthlaq. Lalu, smg kita terhindar..kita dg mudah menyebut mereka yg melakukan shalawat tsb dg cara yg berbeda itu mjd bid’ah. Dan lebih tegas lagi bid’ah dholalah. syukron

  9. yanto
    28 Sep 2011 [#]

    ijin share akh..

Tinggalkan Komentar

Kembali ke Atas