Ibnu Taimiyah, Ibnu Hajar, Shalahuddin Al Ayubi Pro Maulid Nabi?

Kategori: Manhaj

55 Komentar // 26 Februari 2010

Sebagian orang selalu mencari-cari dalil untuk membenarkan amalan tanpa tuntunan yang ia lakukan. Di antara cara yang dilakukan adalah menjadikan perkataan ulama Ahlus Sunnah sebagai argumen untuk mendukung bid’ah mereka. Inilah yang terjadi dalam perayaan Maulid Nabi. Di antara perkataan ulama Ahlus Sunnah yaitu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, disalahpahami oleh sebagian kalangan sehingga beliau pun disangka mendukung perayaan Maulid. Begitu pula ada perkataan lain dari Ibnu Hajar Al ‘Asqolani mengenai hal ini. Ibnu Hajar adalah di antara ulama yang memiliki ketergelinciran dalam masalah Maulid. Nantinya kami juga akan membahas syubhat (kerancuan) lainnya yang sengaja disuarakan oleh para simpatisan Maulid seperti pemutarbalikkan sejarah Maulid yang disangka dipelopori oleh Shalahuddin Al Ayubi. Semoga Allah memudahkan untuk mengungkap yang benar dan yang batil. Allahumma yassir wa a’in (Ya Allah, mudahkan dan tolonglah).

Kerancuan Pertama: Salah Paham dengan Perkataan Ibnu Taimiyah

Di salah satu website yang kami telusuri, ada perkataan Syaikhul Islam sebagai berikut, “Merayakan maulid dan menjadikannya sebagai kegiatan rutin dalam setahun sebagaimana yang telah dilakukan oleh sebagian orang, akan mendapatkan pahala yang besar sebab tujuannya baik dan mengagungkan Rasulullah SAW.

Perkataan beliau inilah yang menjadi dasar sebagian kalangan yang menyatakan bahwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mendukung Maulid. [1]

Kalimat selengkapnya terdapat dalam kitab Iqtidho’ Ash Shirothil Mustaqim sebagai berikut.

فتعظيم المولد واتخاذه موسما قد يفعله بعض الناس ويكون له فيه أجر عظيم لحسن قصده وتعيظمه لرسول الله صلى الله عليه وآله وسلم كما قدمته لك أنه يحسن من بعض الناس ما يستقبح من المؤمن المسدد ولهذا قيل للامام أحمد عن بعض الأمراء إنه أنفق على مصحف ألف دينار ونحو ذلك فقال دعه فهذا أفضل ما أنفق فيه الذهب أو كما قال  مع أن مذهبه أن زخرفة المصاحف مكروهة وقد تأول بعض الأصحاب أنه أنفقها في تجديد الورق والخط وليس مقصود أحمد هذا وإنما قصده أن هذا العمل فيه مصلحة وفيه أيضا مفسدة كره لأجلها فهؤلاء إن لم يفعلوا هذا وإلا اعتاضوا الفساد الذي لا صلاح فيه مثل أن ينفقها في كتاب من كتب الفجور ككتب الأسماء أوالأشعار أو حكمة فارس والروم

Adapun mengagungkan maulid dan menjadikannya acara tahunan, hal ini terkadang dilakukan oleh sebagian orang. Mereka pun bisa mendapatkan pahala yang besar karena tujuan baik dan pengagungannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang aku telah jelaskan sebelumnya bahwasanya hal itu dianggap baik oleh sebagian orang tetapi tidak dianggap baik oleh mukmin yang mendapat taufik.

Oleh karena itu, diceritakan kepada imam Ahmad mengenai beberapa pemimpin (umaro’) bahwasanya mereka menginfaqkan 1000 dinar untuk pencetakan Mushaf. Maka beliau berkata, “Biarkan mereka melakukan itu, itulah infaq terbaik yang dapat mereka lakukan dengan emas” atau sebagaimana yang Imam Ahmad katakan. Padahal menurut madzhab Imam Ahmad, makruh hukumnya memperindah mushaf. Namun sebagian pengikut Imam Ahmad menafsirkan maksud Imam Ahmad adalah beliau memakruhkan memperbaharui kertas dan khothnya. Namun sebenarnya maksud Imam Ahmad bukanlah seperti yang ditafsirkan ini. Imam Ahmad memaksudkan bahwa memperindah mushaf ini ada mashlahat (manfaat) di satu sisi dan ada pula mafsadatnya (bahayanya). Inilah yang beliau makruhkan.

Namun perlu diketahui bahwa jika mereka (para umara’) tidak melakukan hal  ini (yaitu memperindah mushaf), tentu mereka akan melakukan hal-hal lain yang tidak berfaedah. Misalnya para umara’ tersebut malah menyalurkan infaq mereka untuk mencetak buku-buku tidak bermoral: buku cerita yang hanya menghabiskan waktu, buku sya’ir (yang sia-sia belaka) dan buku filsafat dari Persia dan Romawi.[2] Demikian perkataan beliau rahimahullah.

Jika seseorang membaca teks di atas secara utuh, insya Allah dia tidak memiliki pemahaman yang keliru. Lihat baik-baik perkataan beliau di atas: ”Mereka pun bisa mendapatkan pahala yang besar karena tujuan baik dan pengagungannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang aku telah jelaskan sebelumnya bahwasanya hal itu dianggap baik oleh sebagian orang tetapi tidak dianggap baik oleh mukmin yang mendapat taufik”. Dari perkataan beliau ini menunjukkan bahwa perayaan Maulid tidak dianggap baik oleh orang-orang yang mendapat taufik. Jika ada yang menganggap amalan Maulid itu baik, maka dia adalah orang yang keliru. Maka ini menunjukkan bahwa Maulid bukanlah amalan yang baik.

Coba kita lihat kembali perkataan Syaikhul Islam lainnya dalam kitab yang sama (Iqtidho’ Ash Shirothil Mustaqim) agar kita tidak salah keliru dengan perkataan beliau di atas. Dalam beberapa lembaran sebelumnya, Syaikhul Islam mengatakan,

وكذلك ما يحدثه بعض الناس إما مضاهاة للنصارى في ميلاد عيسى عليه السلام وإما محبة للنبي صلى الله عليه و سلم وتعظيما له والله قد يثيبهم على هذه المحبة والاجتهاد لا على البدع من اتخاذ مولد النبي صلى الله عليه و سلم عيدا مع اختلاف الناس في مولده فإن هذا لم يفعله السلف مع قيام المقتضى له وعدم المانع منه ولو كان هذا خيرا محضا أو راجحا لكان السلف رضي الله عنهم أحق به منا فإنهم كانوا أشد محبة لرسول الله صلى الله عليه و سلم وتعظيما له منا وهم على الخير أحرص وإنما كمال محبته وتعظيمه في متابعته وطاعته واتباع أمره وإحياء سنته باطنا وظاهرا ونشر ما بعث به والجهاد على ذلك بالقلب واليد واللسان فإن هذه هي طريقة السابقين الأولين من المهاجرين والأنصار والذين اتبعوهم بإحسا

Begitu pula halnya dengan kebiasaan yang dilakukan oleh sebagian orang. Boleh jadi perbuatan mereka menyerupai tingkah laku Nashrani sebagaimana Nashrani pun memperingati kelahiran (milad) ‘Isa ‘alaihis salam. Boleh jadi maksud mereka adalah mencintai dan mengagungkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Boleh jadi Allah memberi ganjaran kepada mereka dikarenakan kecintaan dan kesungguhan mereka, dan bukan bid’ah maulid Nabi yang mereka ada-adakan sebagai perayaan. Padahal perlu diketahui bahwa para ulama telah berselisih pendapat mengenai tanggal kelahiran beliau. Apalagi merayakan maulid sama sekali tidak pernah dilakukan oleh para salaf (sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in). Padahal ada faktor pendorong (untuk memuliakan nabi) dan tidak ada faktor penghalang di kala itu. Seandainya merayakan maulid terdapat maslahat murni atau maslahat yang lebih besar, maka para salaf tentu lebih pantas melakukannya daripada kita. Karena sudah kita ketahui bahwa mereka adalah orang yang paling mencintai dan mengagungkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada kita. Mereka juga tentu lebih semangat dalam kebaikan dibandingkan kita. Dan perlu dipahami pula bahwa cinta dan pengagungan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sempurna adalah dengan ittiba’ (mengikuti)  dan mentaati beliau yaitu dengan mengikuti setiap perintah, menghidupkan ajaran beliau secara lahir dan batin, menyebarkan ajaran beliau dan berjuang (berjihad) untuk itu semua dengan hati, tangan dan lisan. Inilah jalan hidup para generasi utama dari umat ini, yaitu kalangan Muhajirin, Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.”[3]

Kami rasa sudah jelas jika kita memperhatikan penjelasan beliau yang kedua ini. Jelas sekali beliau menyatakan perayaan Maulid itu tidak ada salafnya (pendahulunya) artinya amalan yang tidak ada tuntunannya, bahkan merayakan Maulid sama halnya dengan Natal yang dirayakan oleh Nashrani. Lantas dengan penjelasan beliau ini apakah masih menuduh beliau rahimahullah mendukung maulid?!

Mohon jangan menukil perkataan beliau sebagian saja, cobalah pahami perkataan beliau secara utuh di halaman-halaman lainnya dalam kitab Iqtidho’. Simak baik-baik perkataan beliau di atas: “Boleh jadi Allah memberi ganjaran kepada mereka dikarenakan kecintaan dan kesungguhan mereka, dan bukan bid’ah maulid Nabi yang mereka ada-adakan sebagai perayaan.” Dari sini, beliau menggolongkan maulid sebagai bid’ah karena memang tidak pernah diadakan oleh para salaf dahulu (sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in). Namun perayaan ini dihidupkan dan diada-adakan oleh Dinasti ‘Ubaidiyyun[4]. Dan ingat, beliau katakan bahwa mudah-mudahan mereka mendapat pahala karena mengangungkan dan mencintai beliau, namun bukan pada acara bid’ah maulid yang mereka ada-adakan. Mohon pahami baik-baik perkataan beliau ini. Semoga Allah beri kepahaman.

Lebih tegas lagi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan mengenai Maulid Nabi dapat dilihat dalam Majmu’ Al Fatawa sebagai berikut.

وَأَمَّا اتِّخَاذُ مَوْسِمٍ غَيْرِ الْمَوَاسِمِ الشَّرْعِيَّةِ كَبَعْضِ لَيَالِي شَهْرِ رَبِيعٍ الْأَوَّلِ الَّتِي يُقَالُ : إنَّهَا لَيْلَةُ الْمَوْلِدِ أَوْ بَعْضِ لَيَالِيِ رَجَبٍ أَوْ ثَامِنَ عَشَرَ ذِي الْحِجَّةِ أَوْ أَوَّلِ جُمْعَةٍ مِنْ رَجَبٍ أَوْ ثَامِنِ شَوَّالٍ الَّذِي يُسَمِّيهِ الْجُهَّالُ عِيدَ الْأَبْرَارِ فَإِنَّهَا مِنْ الْبِدَعِ الَّتِي لَمْ يَسْتَحِبَّهَا السَّلَفُ وَلَمْ يَفْعَلُوهَا وَاَللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ .

“Adapun melaksanakan perayaan tertentu selain dari hari raya yang disyari’atkan (yaitu Idul Fithri dan Idul Adha) seperti perayaan pada sebagian malam dari bulan Rabi’ul Awwal (yang disebut dengan malam Maulid Nabi), perayaan pada sebagian malam Rojab, hari ke-8 Dzulhijjah, awal Jum’at dari bulan Rojab atau perayaan hari ke-8 Syawal -yang dinamakan orang yang sok pintar (alias bodoh) dengan ‘Idul Abror (lebaran ketupat)-; ini semua adalah bid’ah yang tidak dianjurkan oleh para salaf (sahabat yang merupakan generasi terbaik umat ini) dan mereka juga tidak pernah melaksanakannya. Wallahu subhanahu wa ta’ala a’lam.[5]

Renungkan perkataan beliau baik-baik. Apakah bisa dipahami dari perkataan terakhir ini bahwa beliau mendukung Maulid? Semoga Allah memberikan taufiknya kepada kita sekalian agar bisa membedakan mana yang benar dan mana yang keliru.

Kerancuan Kedua: Ibnu Hajar Al ‘Asqolani Membolehkan Maulid Nabi

Perkataan berikut kami nukil dari kitab Al Hawiy yang ditulis oleh Imam As Suyuthi.[6]

وقد سئل شيخ الإسلام حافظ العصر أبو الفضل بن حجر عن عمل المولد فأجاب بما نصه: أصل عمل المولد بدعة لم تنقل عن أحد من السلف الصالح من القرون الثلاثة ولكنها مع ذلك قد اشتملت على محاسن وضدها فمن تحرى في عملها المحاسن وتجنب ضدها كان بدعة حسنة وإلا فلا قال وقد ظهر لي تخريجها على أصل ثابت وهو ما ثبت في الصحيحين من أن النبي صلى الله عليه وسلم قدم المدينة فوجد اليهود يصومون يوم عاشوراء فسألهم فقالوا هو يوم أغرق الله فيه فرعون ونجى موسى فنحن نصومه شكرا لله تعالى فيستفاد منه فعل الشكر لله على ما من به في يوم معين من إسداء نعمة أو دفع نقمة ويعاد ذلك في نظير ذلك اليوم من كل سنة والشكر لله يحصل بأنواع العبادة كالسجود والصيام والصدقة والتلاوة وأي نعمة أعظم من النعمة ببروز هذا النبي نبي الرحمة في ذلك اليوم وعلى هذا فينبغي أن يتحرى اليوم بعينه حتى يطابق قصة موسى في يوم عاشوراء ومن لم يلاحظ ذلك لا يبالي بعمل المولد في أي يوم من الشهر بل توسع قوم فنقلوه إلى يوم من السنة وفيه ما فيه – فهذا ما يتعلق بأصل عمله، وأما ما يعمل فيه فينبغي أن يقتصر فيه على ما يفهم الشكر لله تعالى من نحو ما تقدم ذكره من التلاوة والإطعام والصدقة وإنشاد شيء من المدائح النبوية والزهدية المحركة للقلوب إلى فعل الخير والعمل للآخرة وأما ما يتبع ذلك من السماع واللهو وغير ذلك فينبغي أن يقال ما كان من ذلك مباحا بحيث يقتضي السرور بذلك اليوم لا بأس بإلحاقه به وما كان حراما أو مكروها فيمنع وكذا ما كان خلاف الأولى

Syaikhul Islam Hafizh di masa ini, Abul Fadhl Ibnu Hajar ditanya mengenai amalan Maulid, beliau pun menjawab dengan redaksi sebagai berikut:

“Asal  melakukan maulid adalah bid’ah, tidak diriwayatkan dari ulama salaf dalam tiga abad pertama, akan tetapi didalamnya terkandung kebaikan-kebaikan dan juga kesalahan-kesalahan. Barangsiapa melakukan kebaikan di dalamnya dan menjauhi kesalahan-kesalahan, maka ia telah melakukan buid’ah yang baik (bid’ah hasanah). Saya telah melihat landasan yang kuat dalam hadist sahih Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, beliau menemukan orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura, maka beliau bertanya kepada mereka, dan mereka menjawab, “Itu hari dimana Allah menenggelamkan Firaun, menyelamatkan Musa, kami berpuasa untuk mensyukuri itu semua.” Dari situ dapat diambil kesimpulan bahwa boleh melakukan syukur pada hari tertentu di situ terjadi nikmat yang besar atau terjadi penyelamatan dari mara bahaya, dan dilakukan itu tiap bertepatan pada hari itu. Syukur bisa dilakukan dengan berbagai macam ibadah, seperti sujud, puasa, sedekah, membaca al-Qur’an dll. Apa nikmat paling besar selain kehadiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di muka bumi ini. Maka sebaiknya merayakan maulid dengan melakukan syukur berupa membaca Qur’an, memberi makan fakir miskin, menceritakan keutamaan dan kebaikan Rasulullah yang bisa menggerakkan hati untuk berbuat baik dan amal sholih. Adapun yang dilakukan dengan mendengarkan musik dan memainkan alat musik, maka hukumnya dikembalikan kepada hukum pekerjaan itu. Kalau perkara yang dilakukan ketika itu mubah maka hukum merayakannya mubah, kalau itu haram maka hukumnya haram dan kalau itu kurang baik maka begitu seterusnya”.[7]

Sanggahan untuk kerancuan di atas:

Pertama: Yang harus dipahami dari setiap perkataan ulama bahwa mereka tidaklah ma’shum, artinya mereka tidaklah luput dari kesalahan dan ketergelinciran. Oleh karenanya, seharusnya yang jadi pegangan adalah dalil. Janganlah bersikap mengambil pendapat mereka yang ganjil berdasarkan selera dan hawa nafsu. Jika ketergelinciran dan kekeliruan mereka yang diambil, maka pasti kita pun akan menuai kejelekan.

Sulaiman At Taimi mengatakan,

لَوْ أَخَذْتَ بِرُخْصَةِ كُلِّ عَالِمٍ اِجْتَمَعَ فِيْكَ الشَّرُّ كُلُّهُ

Seandainya engkau mengambil setiap ketergelinciran ulama, maka pasti akan terkumpul padamu kejelekan.” Setelah mengemukakan perkataan ini, Ibnu ‘Abdil Barr mengatakan, ”Ini adalah ijma’ (kesepakatan) para ulama, saya tidak mengetahui adanya perselisihan dalam hal ini.”

Al Auza’i mengatakan,

مَنْ أَخَذَ بِنَوَادِرِ العُلَمَاءِ خَرَجَ مِنَ الإِسْلاَمِ

Barangsiapa yang mengambil pendapat yang ganjil dari para ulama, maka ia bisa jadi keluar dari Islam.” Asy Syatibi menyampaikan adanya ijma’ (kesepakatan para ulama) bahwa mencari-cari pendapat yang ganjil dari para ulama tanpa ada pegangan dalil syar’i adalah suatu kefasikan dan hal ini jelas tidak dibolehkan.[8]

Kedua: Ibnu Hajar rahimahullah telah mengatakan di atas: “Asal  melakukan maulid adalah bid’ah, tidak diriwayatkan dari ulama salaf dalam tiga abad pertama”, maka sebenarnya perkataan beliau ini sudah cukup untuk menyatakan tercelanya perayaan Maulid. Cukup sebagai sanggahannya,

لَوْ كَانَ خَيرْاً لَسَبَقُوْنَا إِلَيْهِ

Seandainya amalan tersebut (perayaan maulid) baik, tentu mereka (para sahabat dan tabi’in) sudah mendahului kita untuk melakukannya.”

Ketiga: Justru dalil  puasa Asyura di atas bisa berbalik pada orang yang pro Maulid. Jika puasa Asyura adalah dalil untuk memperingati Maulid, maka tentu para salaf dahulu akan menjadikannya sebagai dalil. Sudah dipastikan bahwa mereka telah berijma’ (bersepakat) tidak merayakan maulid karena tidak satu pun di antara generasi awal Islam yang merayakannya. Argumen yang dikemukakan oleh Ibnu Hajar rahimahullah sebenarnya telah menyelisihi ijma’ (kesepakatan) para ulama salaf dari sisi pemahaman dan pengamalan. Siapa saja yang menyelisihi ijma’ salaf, berarti ia telah keliru. Karena para salaf tidaklah mungkin bersatu melainkan dalam petunjuk.

Keempat: Menyimpulkan dibolehkannya perayaan Maulid dari puasa Asyura adalah pendalilan yang terlalu memberat-beratkan diri dan pendalilan semacam ini tertolak. Karena ingatlah bahwa Maulid adalah ibadah dan bukan amalan sosial sebagaimana kata sebagian orang. Buktinya adalah yang merayakan maulid ingin merealisasikan cinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun lewat jalan yang keliru. Dan juga setiap yang merayakannya pasti ingin cari pahala. Bagaimana mungkin ini dikatakan bukan ibadah?! Jika perayaan tersebut adalah ibadah, maka landasannya adalah dalil dan mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan hanya sangkaan baik semata. Jika masih mengklaim bahwa Maulid adalah bid’ah hasanah, maka cukup kami sanggah dengan perkataan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu,

وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ

Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya.”[9]

Ibnu ‘Umar mengatakan,

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً

Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.[10]

Kelima: Ingatlah bahwa mengenai puasa Asyura ada dorongan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melakukannya. Hal ini jauh berbeda dengan perayaan Maulid yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali tidak mendorong untuk melakukannya.[11]

Kerancuan Ketiga: Shalahuddin Al Ayubi Mempelopori Peringatan Maulid

Di negeri ini lebih terkenal kalau Shalahuddin Al Ayubi adalah pelopor Maulid Nabi dalam rangka menyemangati para pemuda.

Kami merasa aneh kenapa pejuang Sunnah yang anti Rafidhah (Syi’ah) malah diklaim sebagai pemrakarsa perayaan Maulid. Perlu diketahui bahwa Shalahuddin Al Ayubi adalah seorang raja dan panglima Islam. Beliau bahkan yang melenyapkan perayaan Maulid yang sebenarnya diprakarsai oleh Dinasti Fatimiyyun sebagaimana dinyatakan oleh banyak ahli sejarah. Berikut perkataan ahli sejarah mengenai Maulid Nabi.

Al Maqriziy, seorang pakar sejarah mengatakan, “Para khalifah Fatimiyyun memiliki banyak perayaan sepanjang tahun. Ada perayaan tahun baru, hari ‘Asyura, maulid (hari kelahiran) Nabi, maulid Ali bin Abi Thalib, maulid Hasan dan Husain, maulid Fatimah al Zahra, maulid khalifah yang sedang berkuasa, perayaan malam pertama bulan Rajab, perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Sya’ban, perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Ramadhan, perayaan malam penutup Ramadhan, perayaan ‘Idul Fithri, perayaan ‘Idul Adha, perayaan ‘Idul Ghadir, perayaan musim dingin dan musim panas, perayaan malam Al Kholij, hari Nauruz (Tahun Baru Persia), hari Al Ghottos, hari Milad (Natal), hari Al Khomisul ‘Adas (3 hari sebelum paskah), dan hari Rukubaat.”[12]

Asy Syaikh Bakhit Al Muti’iy, mufti negeri Mesir dalam kitabnya Ahsanul Kalam (hal. 44) mengatakan bahwa yang pertama kali mengadakan enam perayaan maulid yaitu: perayaan Maulid (hari kelahiran) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maulid ‘Ali, maulid Fatimah, maulid Al Hasan, maulid Al Husain –radhiyallahu ‘anhum- dan maulid khalifah yang berkuasa saat itu yaitu Al Mu’izh Lidinillah (keturunan ‘Ubaidillah dari dinasti Fatimiyyun) pada tahun 362 H.

Begitu pula Asy Syaikh ‘Ali Mahfuzh dalam kitabnya Al Ibda’ fi Madhoril Ibtida’ (hal. 251) dan Al Ustadz ‘Ali Fikriy dalam Al Muhadhorot Al Fikriyah (hal. 84) juga mengatakan bahwa yang mengadakan perayaan Maulid pertama kali adalah ‘Ubaidiyyun (Fatimiyyun).[13]

Lalu siapakah sebenarnya ‘Ubaidiyyun (Fatimiyyun)?

Al Qodhi Al Baqillaniy menulis kitab khusus untuk membantah Fatimiyyun yang beliau namakan “Kasyful Asror wa Hatkul Astar (Menyingkap rahasia dan mengoyak tirai)”. Dalam kitab tersebut, beliau membuka kedok Fatimiyyun dengan mengatakan, “Mereka adalah suatu kaum yang menampakkan pemahaman Rafidhah (Syi’ah) dan menyembunyikan kekufuran semata.”

Ahmad bin ‘Abdul Halim Al Haroni Ad Dimasqiy mengatakan, “Tidak disangsikan lagi, jika kita melihat pada sejarah kerajaan Fatimiyyun, kebanyakan dari raja (penguasa) mereka adalah orang-orang yang zholim, sering menerjang perkara yang haram, jauh dari melakukan perkara yang wajib, paling semangat dalam menampakkan bid’ah yang menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah, dan menjadi pendukung orang munafik dan ahli bid’ah. Perlu diketahui, para ulama telah sepakat bahwa Daulah Bani Umayyah, Bani Al ‘Abbas (‘Abbasiyah) lebih dekat pada ajaran Allah dan Rasul-Nya, lebih berilmu, lebih unggul dalam keimanan daripada Daulah Fatimiyyun. Dua daulah tadi lebih sedikit berbuat bid’ah dan maksiat daripada Daulah Fatimiyyun. Begitu pula khalifah kedua daulah tadi lebih utama daripada Daulah Fatimiyyun.”

Beliau rahimahullah juga mengatakan, “Bani Fatimiyyun adalah di antara manusia yang paling fasik (banyak bermaksiat) dan paling kufur.”[14]

Bani Fatimiyyun atau ‘Ubaidiyyun juga menyatakan bahwa mereka memiliki nasab (silsilah keturunan) sampai Fatimah. Ini hanyalah suatu kedustaan. Tidak ada satu pun ulama yang menyatakan demikian.

Ahmad bin ‘Abdul Halim juga mengatakan dalam halaman yang sama,  “Sudah diketahui bersama dan tidak bisa disangsikan lagi bahwa siapa yang menganggap mereka di atas keimanan dan ketakwaan atau menganggap mereka memiliki silsilah keturunan sampai Fatimah, sungguh ini adalah suatu anggapan tanpa dasar ilmu sama sekali. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (QS. Al Israa’: 36). Begitu juga Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali orang yang bersaksi pada kebenaran sedangkan mereka mengetahuinya.” (QS. Az Zukhruf: 86). Allah Ta’ala juga mengatakan saudara Yusuf (yang artinya), “Dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui.” (QS. Yusuf: 81). Perlu diketahui bahwa tidak ada satu pun ulama yang menyatakan benarnya silsilah keturunan mereka sampai pada Fatimah.”[15]

Begitu pula Ibnu Khallikan mengatakan, “Para ulama peneliti nasab mengingkari klaim mereka dalam nasab [yang katanya sampai pada Fatimah].”[16]

‘Abdullah At Tuwaijiriy mengatakan, “Al Qodhi Abu Bakr Al Baqillaniy dalam kitabnya ‘yang menyingkap rahasia dan mengoyak tirai Bani ‘Ubaidiyyun’, beliau menyebutkan bahwa Bani Fatimiyyun adalah keturunan Majusi. Cara beragama mereka lebih parah dari Yahudi dan Nashrani. Bahkan yang paling ekstrim di antara mereka mengklaim ‘Ali sebagai ilah (Tuhan yang disembah) atau ada sebagian mereka yang mengklaim ‘Ali memiliki kenabian. Sungguh Bani Fatimiyyun ini lebih kufur dari Yahudi dan Nashrani.

Al Qodhi Abu Ya’la dalam kitabnya Al Mu’tamad menjelaskan panjang lebar mengenai kemunafikan dan kekufuran Bani Fatimiyyun. Begitu pula Abu Hamid Al Ghozali membantah aqidah mereka dalam kitabnya Fadho-ihul Bathiniyyah (Mengungkap kesalahan aliran Batiniyyah).”[17]

Bagaimana mungkin Shalahuddin menghidupkan perayaan Maulid sedangkan beliau sendiri yang menumpas ‘Ubaidiyyun?! Ahmad bin ‘Abdul Halim Al Haroni rahimahullah mengatakan,

صَلَاحِ الدِّينِ الَّذِي فَتَحَ مِصْرَ ؛ فَأَزَالَ عَنْهَا دَعْوَةَ العبيديين مِنْ الْقَرَامِطَةِ الْبَاطِنِيَّةِ وَأَظْهَرَ فِيهَا شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ

Sholahuddin-lah yang menaklukkan Mesir. Beliau menghapus dakwah ‘Ubaidiyyun yang menganut aliran Qoromithoh Bathiniyyah (aliran yang jelas sesatnya, pen). Shalahuddin-lah yang menghidupkan syari’at Islam di kala itu.[18]

Dalam perkataan lainnya, Ahmad bin ‘Abdul Halim Al Haroni rahimahullah mengatakan,

فَتَحَهَا مُلُوكُ السُّنَّة مِثْلُ صَلَاحِ الدِّينِ وَظَهَرَتْ فِيهَا كَلِمَةُ السُّنَّةِ الْمُخَالِفَةُ لِلرَّافِضَةِ ثُمَّ صَارَ الْعِلْمُ وَالسُّنَّةُ يَكْثُرُ بِهَا وَيَظْهَرُ

“Negeri Mesir kemudian ditaklukkan oleh raja yang berpegang teguh dengan Sunnah yaitu Shalahuddin. Beliau yang menampakkan ajaran Nabi yang shahih di kala itu, berseberangan dengan ajaran Rafidhah (Syi’ah). Di masa beliau, akhirnya ilmu dan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam semakin terbesar luas.”[19][20]

Dari penjelasan ini, sangat mustahil jika kita katakan bahwa Shalahuddin Al Ayubi yang menjadi pelopor perayaan Maulid, padahal beliau sendiri yang menumpas ‘Ubaidiyyun. Sungguh, jika ada yang menyatakan bahwa Shalahuddin sebagai pelopor Maulid, maka ini sama saja memutar balikkan sejarah. Sejarah yang benar, Shalahuddin itu menumpas ‘Ubaidiyyun sebelum diadakan perang salib karena ‘Ubaidiyyun yang sebenarnya melemahkan kaum muslimin dengan maulid yang mereka ada-adakan. Namun inilah kenyataan sejarah yang direkayasa yang diputarbalik dan disebar di negeri ini. Hanya Allah yang beri taufik.

Kerancuan Keempat: Argumen Peringatan Maulid dengan Puasa Senin Kamis

Berikut adalah kerancuan lainnya dari kalangan pro Maulid. Mereka mengatakan, “Rasulullah SAW sendiri mensyukuri atas kelahirannya. Dalam sebuah hadits dinyatakan:

عَنْ أَبِيْ قَتَادَةَ الأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الْإِثْنَيْنِ فَقَالَ فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ . رواه مسلم

“Dari Abi Qotadah al-Anshori RA sesungguhnya Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai puasa hari senin. Rasulullah SAW menjawab: Pada hari itu aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku”. (H.R. Muslim, Abud Dawud, Tirmidzi, Nasa’I, Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Ibnu Abi Syaibah dan Baghawi).”[21]

Sanggahan terhadap syubhat di atas:

Pertama: Bagaimana mungkin dalil di atas menjadi pendukung untuk merayakan hari kelahiran beliau[?] Ini sungguh tidak tepat dalam berdalil. Lihatlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melaksanakan puasa pada tanggal kelahirannya yaitu tanggal 12 Rabiul Awwal, dan itu kalau benar pada tanggal tersebut beliau lahir. Karena dalam masalah tanggal kelahiran beliau masih terdapat perselisihan. Yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan adalah puasa pada hari Senin bukan pada 12 Rabiul Awwal[!] Seharusnya kalau mau mengenang hari kelahiran Nabi dengan dalil di atas, maka perayaan Maulid harus setiap pekan bukan setiap tahun.

Kedua: Ingatlah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan hanya menjadikan hari Senin untuk berpuasa namun juga hari kamis. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan,

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَتَحَرَّى صِيَامَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menaruh pilihan berpuasa pada hari senin dan kamis.[22] Sehingga hadits yang dikemukakan kalangan pro Maulid bukan menunjukkan bahwa beliau ingin memperingati hari kelahirannya.

Ketiga: Jika memperingati maulid adalah dalam rangka bersyukur kepada Allah atas kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka cara memperingatinya adalah dengan berpuasa sebagaimana yang beliau contohkan. Namun kami belum ketahui ada yang bersyukur dengan cara seperti ini. Yang ada bentuk syukurnya adalah dengan membaca shalawat tanpa tuntunan, bahkan ada pula yang memperingatinya dengan bermusik ria.[23]

Demikian pembahasan kami mengenai beberapa syubhat yang ada dari para simpatisan Maulid. Namun masih banyak syubhat dan kerancuan lainnya, moga-moga lain waktu bisa kami lengkapi insya Allah. Kerancuan dan jawaban lainnya bisa dilihat di artikel kami sebelumnya di sini. Intinya, syubhat yang dimunculkan tidak terlepas dari dua kemungkinan, yaitu boleh jadi dengan anggapan baik semata (tanpa dalil) dan boleh jadi dengan dalil namun salah dalam memahami.

Semoga apa yang kami sajikan ini bermanfaat bagi kaum muslimin sekalian. Cukuplah maksud kami ini sebagaimanan yang dikatakan oleh Nabi Syu’aib,

إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS. Huud: 88)

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Disempurnakan berkat pertolongan Allah di Pangukan-Sleman, Jum’at – 12 Rabi’ul Awwal 1431 H (26/02/2010)

***

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.muslim.or.id


[1] Syubhat ini dikemukakan di salah satu web pro Maulid Nabi. Silakan lihat link berikut >> http://www.pesantrenvirtual.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1150&Itemid=1 . Begitu pula Syubhat ini dilontarkan oleh pemilik blog Salafytobat di sini >> http://salafytobat.wordpress.com/2009/03/04/sunnah-maulid-nabi-allah-pun-merayakan-maulid-nabi-nabi/ .

[2] Lihat Iqtidho’ Ash Shirothil Mustaqim li Mukholafati Ash-haabil Jahiim, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Tahqiq & Ta’liq: Dr. Nashir ‘Abdul Karim Al ‘Aql, 2/126-127, Wizarotusy Syu’un Al Islamiyah, cetakan ketujuh, tahun 1419 H

[3] Lihat Iqtidho’ Ash Shirothil Mustaqim, 2/123-124.

[4] Coba lihat pembahasan tentang “Sejarah Kelam Maulid Nabi” di sini >> http://rumaysho.com/belajar-islam/jalan-kebenaran/2925-sejarah-kelam-maulid-nabi.html atau di sini >> http://muslim.or.id/manhaj/antara-cinta-nabi-dan-perayaan-maulid-nabi-2.html . Insya Allah akan kami singgung pula dalam penjelasan selanjutnya.

[5] Majmu’ Al Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,  25/298, Darul Wafa’,

[6] Lihat Al Hawi Lil Fatawa, As Suyuthi, 1/282, Asy Syamilah

[7] Syubhat ini disampaikan dari web pro Maulid Nabi di link berikut >> http://www.pesantrenvirtual.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1150&Itemid=1

[8] Lihat Kasyful Jaani, Muhammad At Tiijani, hal. 96, Asy Syamilah.

[9] HR. Ad Darimi. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayid.

[10] Lihat Al Ibanah Al Kubro li Ibni Baththoh, 1/219, Asy Syamilah

[11] Sanggahan ini kami olah dengan beberapa tambahan dari Al Bida’ Al Hawliyah, ‘Abdullah bin ‘Abdil ‘Aziz bin Ahmad At Tuwaijiri, hal. 159-161, Darul Fadhilah, cetakan pertama, tahun 1421 H.

[12] Al Mawa’izh wal I’tibar bi Dzikril Khutoti wal Atsar, 1/490. Dinukil dari Al Maulid, hal. 20 dan Al Bida’ Al Hawliyah, hal. 145-146

[13] Dinukil dari Al Maulid, hal. 20

[14] Majmu’ Al Fatawa, 35/127

[15] Idem.

[16] Wafayatul A’yan, 3/117-118

[17] Al Bida’ Al Hawliyah, 142-143

[18] Majmu’ Al Fatawa, 35/138

[19] Majmu’ Al Fatawa, 3/281.

[20] Untuk mengetahui selengkapnya mengenai Shalahuddin Al Ayubi apakah mendukung Maulid, silakan baca di buku “Benarkan Shalahudin Al Ayubi mengerjakan Maulid Nabi?”, yang ditulis oleh Al Ustadz Ibnu Saini bin Muhammad bin Musa, Maktabah Muawiyah bin Abi Sofyan.

[21] Syubhat ini dijadikan dalil bolehnya perayaan Maulid Nabi di web pada link berikut >> http://www.pesantrenvirtual.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1150&Itemid=1 .

[22] HR. An Nasai no. 2360 dan Ibnu Majah no. 1739. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahihul Jaami’ no. 4897.

[23] Lihat sanggahan dalam kitab Al Bida’ Al Hawliyah, hal. 176.

buku saku

55 Komentar

  1. abu hanifah alim
    26 Feb 2010 [#]

    idzin copy artikel buat diposting ulang di Blog, dalam rangka turut membantu menyebarkan dakwah,
    syukran, jazakumullahu khairan

  2. Ibn Yusof
    26 Feb 2010 [#]

    Jazakallahu khairan kasiro Ustaz kerana telah merungkai persoalan dalam fikiran saya tentang qaul Shaikhul Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah tersebut. Ternyata golongan yang mengambil pernyataan sekerat tanpa menilai konteks keseluruhannya telah melakukan jenayah ilmiah. Semoga Allah Subhanallahu Ta’ala memberi kita semua hidayahNya.

    Teruskan berkarya Ustaz.

    Wassalam.

    p/s:Tholibul ‘Ilm dari Malaysia :)

  3. Muhammad Nadhir
    26 Feb 2010 [#]

    Asslmkm saudaraku,

    Banyaknya penjelasan tentang maulid Nabi (pro dan Kontra) memang membuat banyak kaum muslim yang awam (termasuk saya) semakin bingung, tetapi setelah saya renungkan (sebatas kemampuan saya) dengan melihat fitra hati kecil saya, Insya Alloh saya mengimani peringatan/perayaan maulid Nabi dapat merusak Islam
    saya minta ma’af kepada Antum semua yang pro maulid
    ya Robbi, berilah tambahan Ilmu pada kami

    Wasslmkm Wr. Wb.

  4. Muslim.Or.Id
    26 Feb 2010 [#]

    Wa’alaikumus salam.
    Mas Muhammad Nadhir, kami doakan semoga Allah senantiasa memberi petunjuk dan keistiqomahan pada antum.

  5. agi
    26 Feb 2010 [#]

    Ya Allah, Ya Robbi…semaikanlah benih-benih penuntut ilmu salaf robbani di segala penjuru alam semesta-Mu ini. Dan tegarkanlah tumbuhnya dengan kokoh menghujam seluruh pori bagiannya. Hingga, Engkau jadikan para penuntut ilmu salaf robbani itu hujjah tegaknya kebenaran agama-Mu di hadapan seluruh makhluk, menggetarkan badan dan hati setiap pengikut hawa dan kebid’ahan, hingga terasa sempit dunia bagi mereka sampai tak ada pilihan bagi mereka melainkan hanya tobat nasuha. Amin Ya Robbi.

  6. ibnu iryani
    26 Feb 2010 [#]

  7. syukron mohammad
    26 Feb 2010 [#]

    Semoga orang2 yg masih ‘kekeh’ dgn pemahamannya yg salah itu diberi hidayah oleh Alloh. Bukan hnya pd perayaan maulid saja namun pd perayaan2 lainnya yg biasa mrk laksanakan spt; kalo mo nyunatin maulidan, kalo mo aqiqah maulidan (padahal khitan & aqiqah sunnah) namun dicampur dgn yg bid’ah, nas’alulloh wal ‘afiah. Barokallohu ya ust Muhammad Abduh

  8. Muhammad Nadir
    26 Feb 2010 [#]

    Bismillah,
    Subkhanalloh, sungguh baik do’a pengurus web ini. saya tahu istiqomah itu sangat sulit dan berat karena itu ya Robb dengan mengucap Amiin kabulkanlah do’a saudaraku ini dan berilah balasan padanya. ya Alloh ampuni dosaku karena dari sekian banyak ibadah yang dicontohkan Nabimu hanya sedikit yang dapat kukerjakan. ya Alloh ampuni dosa mereka yang berhariraya maulid yg merupakan sunnah abu lahab. ya Alloh yang bersemayam di Arsy cintailah yang mencintai Islam
    Alkhamdulillahi Rabbil alamin

  9. Fathanullah salafy
    27 Feb 2010 [#]

    Dalam fikiran ana yg awam dan bru blajar salaf, memang perayaan maulid kok hmpir sama merayakan natal yg katanya merayakan klahiran yesus, padahal sbnarx peringati munculx dewa matahari bangsa romawi. Jika para salaf tdak melakukanx mgapa kta hrus ngotot mw bgitu, duh ana jdi miris lhat byk yg melakukan kbaikan tetapi tertolak. Mohon lbih bnyak artikel sperti ini sbagai pembelajaran ntuk ana pribadi en kluarga serta saudara seiman

  10. abu faadhilah
    27 Feb 2010 [#]

    assalamu’alaikum, tulisan yg sangat bermanfaat, mohon izin untuk ana share di media lain, syukron.

  11. Abu abdurrahman
    27 Feb 2010 [#]

    mohon izin share.

  12. Fahrul
    27 Feb 2010 [#]

    Assalamu ‘alaikum
    Sesungguhnya orang yang merayakan maulid nabi telah tergelincir dalam perbuatan yang menyesatkan. Semoga Allah memberi mereka hidayah untuk kembali ke sunnah dan meninggalkan bid’ah ini.

  13. Abu Nabila
    27 Feb 2010 [#]

    Ya Ikhwan fillah, marilah kita BERSANDAR KEMBALI KPD AL QUR’AN DAN AS SUNNAH TITIK. apapun pendapat imam, ulama, habib dll tdk lah menjadi pokok bagi islam. Yg menjadi pokok adalah KETERANGAN YG DARI ALLAH DAN RASULULLAH yg tertera dlm qur’an dan hadits.

  14. Abu Nabila
    27 Feb 2010 [#]

    Sdgkan mengenai ijma, yg boleh diturut hanyalah ijma sahabat2 Nabi saw, seperti ttg taraweh berjamaah yg disangka bid’ah menurut bahasa padahal itu ijma sahabat. Ttg ijma ulama, imam Ahmad berkata: Barangsiapa mengaku ada ijma, maka org itu pendusta.

  15. m naffi'
    27 Feb 2010 [#]

    bagi saudara2 muslim yg sampai saat ini masih semangat dalam merayakan maulid nabi,mudah2an artikel ini bisa menjadi pembenaran terhadap hal yg salah yg selama ini masih banyak di agung2kan,sukron

  16. miskin ilmu
    27 Feb 2010 [#]

    jazakumullah khairan ulasan yang sangat bermanfaat bagi kami.

  17. Reza Alatas
    28 Feb 2010 [#]

    Ass. Saya menganggap dalil yang ustad berikan benar adanya.Tapi saya sebagai pencinta Rasullah Saaw. bila mana Perayaan Maulid itu dianggap bid’ah atau terlarang dan sesat atau juga musyrik dan ain sebagainya dengan ini saya menyatakan dengan penuh keyakinan : BIAR SAYA DIKUTUK ALLAH SAW. DAN PARA MALAIKATNYA DAN SELURUH MAHLUKNYA BIAR SAYANG YNG MANAGGUNG RESIKONYA DINERAKA NANTI, dan saya minta kepada Datuk sya yaitu BAGINDA NABI BESAR RASULLAH SAAW BIAR NANTI KELAK DIBUKAKAN SIRR’NYA (RAHASIA TENTANG MAULID. KARENA PARA DATUK SAYA IMAM-IMAM BESAR AL FAQIH AL MUQADDAM MUHAMMAD PUN TIDAK MELARANGNYA (SILAKAN ANDA CARI SIAPA AL FAQIH AL MUGADDAM MUHAMMAD ITU) DAN SAYA SANGAT PERCAYA 1000000000000000000000000% KEPADA BELIAU. SUKRON

  18. Muslim.Or.Id
    28 Feb 2010 [#]

    @ Reza Alatas

    Semoga Allah memberi taufik kepada Mas Reza. Semoga bisa merenungkan artikel berikut >>
    1. Jangan Hanya Taklid Buta >> http://muslim.or.id/manhaj/jangan-hanya-taklid-buta.html
    2. Bersabarlah >> http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/tips-bersabar-1-macam-macam-kesabaran.html

    Semoga Allah memberinya hidayah demi hidayah.

  19. miskin ilmu
    28 Feb 2010 [#]

    Akhuna Reza Alatas, semoga Allah merahamati dan memberikan taufik kepada mu..

    selayaknya bagi kita sebagai seorang hamba yang lemah untuk berdoa dan memohon kepada Allah Ta’ala agar dijauhkan dari laknatNya,dijauhkan dari siksa dan adzabNYa yang pedih,karena diri kita begitu tiada artinya jika dibandinngkan dengankerasnya adzab Allah…untuk itu saudaraku aku memohon kepada Allah Ta’ala agar Dia memaafkan ucapanmu dan tidak mengabulkan permohonanmu…

    sepantasnya bagi hamba yang lemah untuk senatiasa memohon dibimbing mengenal kebenaran, memohon petunjuk dan hidayah taufiqNya, memohon pertolonganNya memahami agama ini dengan benar berdasarkan pemahamna para salaf tanpa fanatik terhadap guru ataupun datuk..

    saudaraku, kebenaran itu terkadang begitu pahit,ketika kita baru sj mengetahui bahwa apa yang kita lakuakan selama ini ternyata perkara bid’ah bahkan apa yang menjadi rutinitas kita sehari2 ternyata termasuk perkara syirik, maka banyak2lah berdoa agar hati ini mudah dan menerima kebenaran, karena Allah lah Dzat Yang membolak balikkan hati seorang hamba kepada perkara yang Allah kehendaki.

    dan semoga kita termasuk hamba yang diteguhkan hati untuk menerima kebenaran dan istiqamah diatasnya hingga kematian tiba.

    Allahu yahdik

  20. Hasan anugerah
    01 Mar 2010 [#]

    Bagus…Bagus…Bagus

  21. Tommi
    01 Mar 2010 [#]

    Semoga nanti tidak ada yg berkomentar spt ini :
    “Memang siapa sih Muhammad Abduh Tuasikal? Apa dia punya sanad riwayat ijazah yg bersambung sampai Rasulullah? Kok berani2nya dia menyanggah perkataan Ibnu Hajar??? Memangnya Muhammad Abduh Tuasikal sudah hapal berapa hadits dibanding Ibnu Hajar???” He…he…he maaf saya cuma bergurau.

    Terima kasih artikelnya. Kedustaan terbukalah sudah, ternyata Sholahuddin -rahimahullah- tidak pernah mendukung maulid Nabi.

  22. arie
    04 Mar 2010 [#]

    terima kasih untuk penjelasannya,singkat tapi padat.
    sekitar tahun 2005an,saya mendapati perayaan maulid yg awalnya adalah biasa yaitu diisi dengan ceramah keagamaan. tapi di akhir acara saya merasa bimbang karena ada hal2 yg tdk patut dilakukan dimasjid malah diadakan (berdendang/nyanyi sambil berdiri dan menggerakan/menggoyangkan badan).sejak itu topik maulid nabi selalu menjadi perhatian (karena saya memiliki keragu-raguan akan hal ini). dan TERIMA KASIH SEKALI LAGI karena pembahasan muslim.or.id telah menjawab keragu-raguan saya tentang maulid nabi.

  23. sagit
    06 Mar 2010 [#]

    Wahai para pendukung Maulid Nabi Datangkan dalil atw amalan yang memerintahkan Memperingati maulid Nabi dari zamannya Nabi,Sahabat,Tabiin,Tabiut Tabiin.Dan Dari kitab Sirah tiga generasi tsb.Dijamin tidak ada.dan tidak pernah ada.Pahamilah!!!!!!!!!

  24. Abu Muhammad Naufal Zaki
    08 Mar 2010 [#]

    Ana mencintai Rosululloh dahulu dg maulid dan barzanji sejak SMP namun alhamdulillah ALloh beri hidayah utk mengetahui yg haq maka ana mencintai Rosululloh dengan mencukupi apa yg Alloh dan Rosul syariatkan kepada seluruh manusia. Sedikit tetapi di atas sunnah lebih baik (kata ustadz menjelaskan : bermanfaat dan berpahala)dari pada bersungguh-sungguh atau banyak tetapi bid’ah (kata Ustadz menjelaskan : krn sia-sia bhk berdosa jk dia telah tegak hujjah padanya. Bahkan dosa orang yg mengikutinya akan dibebankan pula kpd pengusungnya). Alangkah mudahnya Islam dan alangkah indahnya krn telah mencukupi dari apa-apa yg ROsululloh sampaikan dan diamalkan oleh para Sahabatnya.

  25. ade ilham
    11 Mar 2010 [#]

    assalamualaikum.

    syukran atas penjelasannya. ana izin copy, untuk posting di facebook.

  26. ikhwan
    25 Mar 2010 [#]

    Akh,,,,tolong jawab dan bangtah ucapan mereka dalam wesite salafytobat.wordpress.com.

  27. mochrosi
    11 Apr 2010 [#]

    @ikhwan
    assalamualaikum. wr.wb
    percuma ngisi komentar websid salafytobat meskipun kita berhujah dg alqur’an dan hadist pasti ditolak. sebab dia punya pedoman sendiri yang mana yang tak sesuai dengan hawa nafsunya semua dalil-dalil itu ditolak.

  28. zan
    14 Apr 2010 [#]

    kerugian mengadakan maulid apa ??????????????????

  29. Muslim.Or.Id
    14 Apr 2010 [#]

    @ Zan
    Kerugiannya besar sekali karena mengamalkan amalan tanpa tuntunan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Inilah kerugiannya.

  30. Anti wahabi
    30 Mei 2010 [#]

    Berarti kita umat islam gak boleh pakai handphone,sepeda motor,mobil dsb karena pada zaman rasul gak ada, ha ha dasar wahabi

  31. Abduh Tuasikal
    30 Mei 2010 [#]

    @ Anti Wahabi.
    Akhi fillah, apa tidak paham definisi bid’ah atau sengaja dukung acara bid’ah yg sudah mentradisi??
    Mohon bisa baca artikel berikut.
    http://muslim.or.id/manhaj/mengenal-seluk-beluk-bidah-1.html

    Semoga Allah beri taufik.

  32. ahdy
    30 Mei 2010 [#]

    BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
    Bahasa Alquran dan Hadits sangat luas cakupannyaa, orang awam seperti kita banyak yang tidak tahu hakikat makna sebuah ayat. Jika kita hanya tahu arti dhahir ayat lantas kita mencoba menamalkannya maka sering kali kita tersesat di dalam menjalankan syariat (itulah penyebab maraknya tumbuh aliran sesat di sekitar kita) kami contohkan seperti arti lafadz wara-a menurut kamus adalah ‘di belakang’, tetapi lafadz waro-a pada surat Alkahfi bermakna ‘di depan’. Lafadz kullu dalam kamus artinya semua namun pada hadits kullu bid’atin dhalalah bermakna sebagian, coba baca artikel kamipada Kolom Teriakan Pejuang berjudul Kullu Bid’atin Dhalalah anda bisa tahu lebih detail. Karena hanya berbekal bahasa Arab yang pas-pasan dan berslogan langsung kembali kepada Alquran dan Hadits, tidak mengikuti empat madzhab dan ijtihad para Ulama Ahlus sunnah wal Jamaah, maka kelompok Wahhabi sering salah di dalam memehami syariat Islam. Jadi sangat membahayakan aqidah.

  33. Abduh Tuasikal
    30 Mei 2010 [#]

    Semoga Allah selalu merahmati Akhi Ahdy,

    Kami sarankan untuk membaca artikel berikut sebelum berkomentar lagi:
    http://muslim.or.id/manhaj/mengenal-seluk-beluk-bidah-2.html.

    Dalam tulisan tersebut sdh disanggah pendapat yang menyatakan masih ada bid’ah hasanah. Tulisan tersebut justru memakai dasar dari ulama2 terkemuka semacam Imam Asy Syatibi, coba renungkan secara seksama.

    “Ingatlah semua perkataan boleh ditolak kecuali sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, dahulukanlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari ucapan lainnya. Jika nabi katakan tdk ada bid’ah hasanah, mengapa masih ngotot menyatakan ada bid’ah hasanah.”

    Imam Asy Syafi’i berkata,

    إذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَاضْرِبُوا بِقَوْلِي الْحَائِطَ وَإِذَا رَأَيْت الْحُجَّةَ مَوْضُوعَةً عَلَى الطَّرِيقِ فَهِيَ قَوْلِي

    “Jika terdapat hadits yang shahih, maka lemparlah pendapatku ke dinding. Jika engkau melihat hujjah diletakkan di atas jalan, maka itulah pendapatku.”

    Kami hanya berdoa semoga Allah beri taufik.

  34. Yulian Purnama
    30 Mei 2010 [#]

    #ahdy
    Semoga Allah merahmati anda. Sebaiknya jangan men-takwil kullu dengan ba’du, hanya untuk menghasilkan kesimpulan adanya bid’ah hasanah. Hanya mengingatkan bahwa men-takwil itu perkara yang bisa lebih besar dosanya dari syirik.

    Dari pada mencela kedangkalan ilmu orang lain, lebih baik anda mendatangkan bukti bahwa perayaan Maulid Nabi pernah diadakan oleh Imam Asy Syafi’i dan para Imam Mazhab yang lain, agar kami dapat beristifadah dengan nasehat anda.

  35. ahdy
    31 Mei 2010 [#]

    Umat islam di Indonesia harus merapatkan barisan (bukan waktu sholat aja tp jg diluar sholat)lebih `arif dan bijaksana dlm menyikapi suatu masalah, harus mempunyai jiwa ukhuwwah lapang dada dn santun tdk mudah terprovokasi oleh perbedaan pendapat ulama,dn tdk fanatiq pada ulama a b tugas kita sekarang hanyalah belajar dn banyak belajar dn mengajarkan orang lain dngn sabar,tawaddhu,dngn hikmah nasihat yg baik dn mengayomi seluruh manusia sebagaimana Nabi kita `Alaihissholatuwassalam.

  36. Yulian Purnama
    31 Mei 2010 [#]

    #ahdy
    Semoga Allah merahmati anda.
    Justru kami ingin mengajak anda agar anda dengan tulus meninggalkan fanatik buta terhadap pendapat ulama, apalagi pendapat ulama yang bertentangan dengan dalil sharih. Tanpa mengurangi rasa hormat kami kepada Al Allamah Jalaluddin As Suyuti rahimahullah yang berpendapat adanya bid’ah hasanah, pendapat beliau ini bertentangan dengan pendapat baginda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Oleh karena itu tidak kita anggap.
    Kita sepakat umat muslim harus bersatu merapatkan barisan, coba simak: http://muslim.or.id/manhaj/wahai-juru-dakwah-bersatulah.html
    namun bukan bersatu dalam menghidupkan hal yang bertentangan dengan Islam, seperti perkara bid’ah. Melainkan, marilah kita bersatu menghidupkan ajaran Islam yang shahih.
    Nasehat untuk menjauhi bid’ah adalah bentuk kasih sayang kepada sesama muslim. Sebagaimana orang yang memperingati saudaranya dari maksiat. Lembutkan hati anda untuk menerima nasehat…
    Mohon baca:
    http://muslim.or.id/manhaj/kasih-sayang-manhaj-salaf-1.html
    http://muslim.or.id/manhaj/kasih-sayang-manhaj-salaf-2.html
    http://muslim.or.id/manhaj/kasih-sayang-manhaj-salaf-3.html
    Mohon baca kembali artikel-artikel di web ini dengan hati dan pikiran yang jernih. Semoga Allah memberi taufik.

  37. abu muhammad naufal zaki
    31 Mei 2010 [#]

    # Anti Wahabi alias anti Sang Pemilik Nama Wahab (Salah satu dari nama2 Alloh)
    Salah satu senjata pamungkas orang yg tidak berhujjah adalah seperti antum. Ketika tidak bis amembawakan dalil mk dalil yg dipakai adalah masalah keduniaan yg Nabi katakan “Kalian lebih tahu urusan dunia kalian” dan bukan membawakan dalil “Barangsiapa yg melakukan suatu amal (dlm masalah agama) yg tidak ada contoh/perintah dari kami maka (amalan itu) tertolak.”
    Maka sungguh ini memperlihatkan kejahilan kalian dalam memahami ISlam ini…. mk sekalian saja katakan “Kalian makan nasi adalah bid’ah karena Nabi makan gandum atau kurma. . Kalian tinggal di Indonesia adalah bid’ah karena Nabi tingggal DI Makkah”.. bukan begitu Wahai pembenci AL Wahhab (Sang Maha Pemberi)?
    Inilah ciri khas utama hujjahnya ahlul AHwa. . ketika tidak bis amembedakan masalah dalam agama yg terlarang mengada-adakan sesuatu dan masalah keduniawian yg Nabi katakan kalian lebih mengetahui urusan (dunia) kalian. . .

  38. abu muhammad naufal zaki
    31 Mei 2010 [#]

    #Ahdy
    Tolong artikan kepada kami “Kullu Nafsin Dzaa-iqotul maut” apakah antum akan katakan “Kullu di sini bukan semua atau setiap akan tetapi sebagian?”
    Atau mungkin antum sudah lebih mengerti bhs Arab dibandingkan Nabi, para sahabat dan para ulama yg menyatakan bhw Kullu bid’atin adalah setiap yg artinya semua. . . maka berikan ana satu saja hadits yg Nabi tafsirkan bhw kullu bid’atin di sini maknanya bukan semua???? Misal, “Setiap bid’ah adalah sesat kecuali??????”
    Ana akan bawakan beberapa perkataan para ulama’
    (1) ‘Abdullah bin ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhu (Mufassirnya para sahabat) : “Sesungguhnya perkara-perkara yang paling dibenci oleh Allah adalah bid’ah-bid’ah.” (Dikeluarkan oleh Al-Baihaqiy dalam Al-Kubra 4/316).
    (2)Sufyan Ats-Tsauriy: “Bid’ah itu lebih disukai oleh Iblis daripada kemaksiatan, pelaku maksiat masih ingin bertaubat dari kemaksiatannya (masih diharapkan untuk bertaubat), sedangkan pelaku bid’ah tidak ada keinginan untuk bertaubat dari kebid’ahannya (sulit diharapkan untuk bertaubat).” (Dikeluarkan oleh Al-Laalikaa`iy 1/133 dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 7/26 dan Al-Baghawiy dalam Syarhussunnah 1/216)
    (3)Al-Imam Malik bin Anas: “Barangsiapa mengada-adakan di dalam Islam suatu kebid’ahan yang dia melihatnya sebagai suatu kebaikan maka sungguh ia telah menuduh bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhianati risalah, karena sesungguhnya Allah Ta’ala telah berfirman: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku dan telah Kuridhai Islam itu menjadi agama bagi kalian.” Maka apa-apa yang tidak menjadi agama pada hari itu, maka tidak menjadi agama pula pada hari ini.” (Al-I’tisham, Al-Imam Asy-Syathibiy 1/64). . . Imam Malik menjadikan ayat ini sbgmn bukti semua bid’ah adalah sesat atau antum lebih faham dalam masalah ini drpd imam malik?
    (4) Asy-Syaukaniy: “Maka, sungguh apabila Allah subhanahu wa ta’ala telah menyempurnakan agama-Nya sebelum mematikan Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, bagaimana dengan pendapat orang yang mengada-adakan setelah Allah subhanahu wa ta’ala menyempurnakan agama-Nya?! Seandainya sesuatu yang mereka ada-adakan termasuk dalam urusan agama menurut keyakinan mereka, berarti belum sempurna agama ini kecuali dengan pendapat mereka, ini berarti mereka telah menolak Al-Qur`an. Dan jika apa yang mereka ada-adakan bukan termasuk dari urusan agama, maka apa faedahnya menyibukkan diri dengan sesuatu yang bukan dari urusan agama??
    (5) Berkata Ibnu Rajab: “Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “(Kullu bid’atin dholaalah = semua bid’ah adalah sesat)” merupakan kata (qa’idah) yang menyeluruh dan tidak ada pengecualian sedikitpun (dengan mengatakan, “Ada Bid’ah Hasanah”, pent.) dan merupakan dasar yang agung dari dasar-dasar agama.” (Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlih hal.549) . . . dan berkata Ibnu Hajar: “Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “(Kullu bid’atin dholaalah = semua bid’ah adalah sesat)” merupakan qa’idah syar’iyyah yang menyeluruh baik lafazh maupun maknanya. Adapun lafazhnya, seolah-olah mengatakan: “Ini hukumnya bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat.” Maka, bid’ah tidak termasuk bagian dari syari’at, karena semua syari’at adalah petunjuk (bukan kesesatan, pent.), apabila telah tetap bahwa hukum yang disebut itu adalah bid’ah, maka berlakulah “semua bid’ah adalah sesat” baik secara lafazh maupun maknanya, dan inilah yang dimaksud. (Fathul Baary 13/254). . . atau mungkin antum lebih faqih dari kedua Imam ini?
    (6) Atau antum lebih faham dari Aisyah yg membawakan hadits : Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya): “Barangsiapa yang mengada-adakan (sesuatu yang baru) dalam urusan (agama) kami ini, apa-apa yang tidak ada darinya (tidak kami perintahkan, pent.) maka ia tertolak.” (HR. Al-Bukhariy no.2697 dan Muslim no.1718). Berkata Asy-Syaukaniy: “Hadits ini termasuk qa’idah-qa’idah agama, karena termuat di dalamnya banyak hukum yang tidak bisa dibatasi. Betapa jelas sumber dalil untuk membatalkan ahli fiqh yang berpendapat bahwa bid’ah itu terbagi menjadi beberapa bagian, dan penolakan mereka secara khusus tentang sebagian di dalamnya, sementara tidak ada pengkhususan (yang dapat diterima) baik dari dalil ‘aqli (logika) maupun naqli (dari Al-Qur`an & As-Sunnah, pent.). (Nailul Authaar 2/69)
    (7)atau mungkin antum lebih hebat pemahamannya dari sahabat Umar yg berkata Dari ‘Abdullah bin ‘Ukaim, bahwasanya ‘Umar rodhiyallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah perkataan Allah dan sesungguhnya sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan, ketahuilah sesungguhnya setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan ada di neraka.” (Dikeluarkan oleh Ibnu Wadhdhah dalam Al-Bida’ hal.13 dan Al-Laalikaa`iy hadits ke 100 (1/84)). . atau Ibnu Mas’ud yg berkata : Ittiba’lah (mengikutlah) dan janganlah kalian berbuat bid’ah, maka sungguh telah cukup bagi kalian dan semua bid’ah adalah sesat.” (Dikeluarkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-Ibanah hadits no.175 (1/327, 328) dan Al-Laalikaa`iy hadits no.104 (1/86))
    (8) Maka sangat cukuplah perkataan Abdullah bin ‘Umar rodhiyallahu ‘anhu: “Semua bid’ah adalah sesat, walaupun manusia memandangnya sebagai kebaikan.” (Dikeluarkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-Ibanah hadits no.205 (1/339) dan Al-Laalikaa`iy hadits no.126 (1/92))
    .
    Kalimat antum : Bahasa Alquran dan Hadits sangat luas cakupannya, orang awam seperti kita banyak yang tidak tahu hakikat makna sebuah ayat. Jika kita hanya tahu arti dhahir ayat lantas kita mencoba menamalkannya maka sering kali kita tersesat di dalam menjalankan syariat (itulah penyebab maraknya tumbuh aliran sesat di sekitar kita)
    bahkan yg terjadi : Tergelincirnya kebanyakan manusia adalah karena meninggalkan makna yg dhohir kemudian mentakwil-takwil mana sesuka nafsunya. Seolah AL Qur’an dan Hadits ini adalah sulit difahami oleh manusia. Dan seolah Alloh dan RosulNya tidak tahu akan kebutuhan manusia dan ummat ini. Para ulama semuanya berpegang kpd makna dhohir sampai ada penjelasan atau keterangan yg memaligkan makna tsb menjadi makna majasi umpamanya dan mereka menjelaskan kepada ummat tentang pemahamannya yg benar.
    .
    Kalimat antum bahwa Salaf yg antum katakan wahabi sbg manusia yg “tidak mengikuti empat madzhab dan ijtihad para Ulama Ahlus sunnah wal Jamaah…” bhk menjadi bumerang bagi kalian sendiri. . .
    Karena ternyata antum tidak mengikuti pendapatnya Imam Malik di atas juga perkataan Imam Syafii dalam kitabnya, Hilyatul Awliya’ pada halaman 107, yang artinya “Apabila engkau dapati ajaran dari Rasulullah shallallahu alaihi wa aalihi wasallam, maka ikutilah ajaran itu dan jangan kalian menoleh kepada pendapat seorangpun” dan perkataan beliau’ “Barangsiapa yang menganggap baik sesuatu (dalam agama, menurut pendapat/akalnya), sesungguhnya ia telah membuat syari’at (baru)” [Al-Mankhuul oleh Al-Ghazaliy hal. 374, Jam’ul-Jawaami’ oleh Al-Mahalliy 2/395, dan yang lainnya]. Juga perkataan beliau, “Sesungguhnya anggapan baik (al-istihsan) hanyalah menuruti selera hawa nafsu” [Ar-Risalah, hal. 507]. Serta perkataan para imam lainnya termasuk para sahabat.
    Jadi sebenarnya kalianlah yg keluar dari perkataan Imam Madzhab yg 4 dan para ulama ahlus sunnah…
    Maka takutlah dg sabda Nabi sholallohu ‘alaihi wa salam bersabda, “Barangsiapa mengada-adakan suatu perkara yang baru (bid’ah) atau mendukung pelaku bid’ah maka akan mendapatkan laknat Allah, para malaikat dan manusia semuanya.” (HR. Bukhori dan Muslim)

  39. ridho andika septian
    27 Okt 2010 [#]

    assalamualaikum.wr.wb
    ana cuma mau menambahkan,, maulid memang bid’ah,, tpi bid’ahnya bid’ah hasanah bkan bid’ah dholalah,, krna di dlm maulid kita di ajarin tuk cinta ma nabi saw,dpt ilmu para ulama yg cramah, ktemu mu’min jdi tmbah slaturahmi,buktinya skarang deh,, contoh kecil aja, SEMAKIN BANYAK ORG BILANG MAULID BID’AH MASA SEMAKIN BANYAK YG DTENG BUAT MULIAIN NABI SAW LWAT MAULIDAN,,, gk bkal rugi org yg cinta ma nabi gk bkal rugi org yg bersholawat ama nabi,, ana cma mnambahkan,,, mav bila ana kurang sopan dlm pnulisan,,,

  40. Abduh Tuasikal
    28 Okt 2010 [#]

    @ Ridho

    Wa’alaikumussalam. Apa dalilnya cinta nabi harus pakai Maulidan? Mana contohnya dari para sahabat pdhl mereka lebih cinta pd Nabi drpd saudara? Kami tunggu tanggapan baliknya.

  41. Cakra
    05 Nov 2010 [#]

    Bid’ah ya bid’ah,….

    tdk perlu diperdebatkan…
    knp ya,… zaman skarang banyak skali yg Ngeyel padahal penjelasan kan udah lengkap dg Dalil2 yg mendukung.

    Lagian,.. ngapain juga ngadain acara Maulid !!!!
    ikutin aja tuh sunnah2 Rasul SAW kalau emang Cinta ma Beliau.

  42. udin
    25 Des 2010 [#]

    Assalamu’alaikum…
    Akhirny keremu juga bantahan ttg shalahuddun al ayyubi sebagai pelopor maulid nabi..
    Sempat kesulitan juga nyarinya utk membantah orang yg pro maulid…
    Izin share ya…
    Jazakallahu khair…

  43. ummu unaisah
    03 Feb 2011 [#]

    ijin share ya..

    jazakallahu khair

  44. fredericomfort
    09 Sep 2011 [#]

    Saya adalah orang yang awam dalam islam dan semoga saya diberi petunjuk alloh untuk selalu didalam kebaikan. Dari perpustakaan-perpustakaan yang saya kunjungi untuk lebih detail dalam mendalami islam. Saya menghargai pendapat anda. Memang tidak semua orang bisa terlepas dari kesalahan. Namun saya lebih percaya pada ulama’ jaman dahulu seperti al atsqolani dari pada saya percaya kepada anda. Saya yakin ulama jaman dahulu lebih hafal banyak dan mengerti banyak hadist dari pada anda. IBADAH saya kira tidak cuma berpuasa. Bersedekah dan berbagi kebahagiaan juga ibadah. Kalau boleh saya tahu apakah anda tidak pernah merayakan ulang tahun anda dengan berbagi kepada yang tidak mampu? Oh ya, semua komentar disini kok tidak ada. Memang tidak ada komentar atau semua di moderasi. Sekali lagi saya berikan apresiasi kepada pendapat anda.

  45. Yulian Purnama
    18 Sep 2011 [#]

    #fredericomfort
    Pertama, yang lebih utama dari Ibnu Taimiyah, Ibnu Hajar dan Shalahuddin Al Ayubi adalah para sahabat Nabi. Mereka tidak ada yang merayakan maulid Nabi.
    Kedua, ulama 4 madzhab tidak ada yang merayakan Maulid Nabi

  46. Rinaldi Fajri
    20 Jan 2012 [#]

    Assalamu’alaikum
    sebelumnya ana sangat setuju dengan Sufyan Ats-Tsauriy: “Bid’ah itu lebih disukai oleh Iblis daripada kemaksiatan, pelaku maksiat masih ingin bertaubat dari kemaksiatannya (masih diharapkan untuk bertaubat), sedangkan pelaku bid’ah tidak ada keinginan untuk bertaubat dari kebid’ahannya (sulit diharapkan untuk bertaubat).”
    Buktinya,dari berbagai komentar di atas tuidak sedikit yang keukeuh dengan kabathilannya
    mohon izin sharee ya

  47. seno prabowo
    20 Jan 2012 [#]

    1.Rasulullah shollallahu ‘alahi wasallam bersabda:

    man amila amalan laisa alahi amrunaa fa huwa roddun

    “Barang siapa yang mengamalkan sesuatu amal, tdk ada pererintah kami utk mengamalkannya, maka amalan itu ditolak/tdk diterima.” HR.Ahmad dan Muslim.

    -coba saudara yg pro maulid bawakan dalil dan hujjah yg shohih ttg perintah rosulullah yg menyuruh merayakan maulid.

    2. Rasulullah shollallahu ‘alahi wasallam bersabda:

    خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

    “Sebaik-baik manusia ialah pada generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 3651, dan Muslim, no. 2533)

    Allah Ta’ala berfirman, yang artinya:

    Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah telah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya; dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar (QS. 9:100).

    -coba saudara yang pro maulid ketika telah menemukan dalil yang dianggap benar utk dijadikan dasar maulid nabi, bawakan riwayat bahwa para sahabat radhiyallahu anhuma dengan segala kelebihannya, memahami serta melakukan apa yg saudara lakukan.

    3. kalau saudara mengatakan bahwa makna setiap bid’ah adalah sesat adalah sebagian atau ada yg baik dan buruk. apakah saudara berani melakukan hal yang sama pada makna kata setiap yang memabukkan itu haram?

    4. seandainya jika hal maulid nabi itu baik, lantas kenapa para sahabat radhiyallahu anhuma tidak ada yang mengerjakan? kalau ada coba bawakan riwayatnya.

    5. ulama berkata:

    Lau kaana khoiron laa tsabuna ilaihi, afwan kalo lafazh nya salah. yang artinya: kalau seandainya itu baik (dalam urusan ibadah, pastilah mereka telah mendahului kita dalam mengerjakannya).

    kenapa sahabat yang allah puji dengan rodhiyallahu anhum tidak melakukannya sementara kita melakukannya? bukankah saudara yang menyetujuinya sepakat bahwa hal tersebut bidah hasanah? kalau andaikan memang itu bidah yang baik, lantas kenapa sahabat yang suka dan duka bersama rasulullah shollallahu ‘alahi wasallam tidak pernah mengamalkannya?

    apa arti generasi sekarang dengan sahabat? dengan saudara membolehkan utk membuat hal baru yg dianggap baik maka saudara dengan sendirinya islam itu belum sempurna. kalau saudara katakan sempurna kenapa saudara masih tambahhkan dengan perkara2 baru yang dianggap baik?-pusing deh jawabnya

    6. kalau saudara katakan saudara lebih percaya terhadap imam/ulama2 terdahulu dengan mengatakan mereka lebih alim, apakah dengan demikian saudara berani menentang hadits shohih dengan perkataan ulama yang dalam hal ini bisa saja meraka keliru?

    imam asy-syafi’i rahimahullahu ta’ala berkata:

    “Bila kalian mengetahui aku mengatakan suatu pendapat yang ternyata menyalahi hadits Nabi shollallahu ‘alahi wasallam yang shohih, ketauhilah bahwa hal itu berarti pendapatku tidak berguna.” -ibnu abi hatim dalam adabu asy-syafi’i hlm. 93, dll…

    imam ahmad bin hanbal rahimahullahu ta’ala berkata:

    “Pendapat Auza’i, Malik, dan Abu Hanifah adalah ra’yu (pikiran). bagi saya semua ra’yu sama saja, tetapi yang menjadi hujjah agama adalah yang ada pada atsar (hadits).” -ibnu abdul barr dlm al-jami’ (II/149)

    Allah Ta’ala berfirman, yang artinya:

    “Ucapan orang2 mukmin bila diseru kepada Allah dan RasulNya utk mencari hukum bagi persoalan mereka hanyalah: ‘Kami mendengar dan kami taat.’ Mereka itulah orang2 yang berbahagia. Barangsiapa yg taat kpd Allah dan RasulNya serta takut dan bertaqwa kpd Allah, mereka itulah orang2 yang jaya.” (An-Nur 24: 51-52)

    Jika menurut saudara menyalahi pendapat para imam, atau ulama2 terdahulu adalah sikap yang berarti menyalahkan para imam/ulama tersebut, tentulah mencela Rasulullah shollallahu ‘alahi wasallam lebih berat lagi thdp beliau.

    kalau saudara merasa bahwa diri saudara ingin memberikan penghormatan kepada para imam/ulama terdahulu, seharusnya saudara mengutamakan perkataan Rasulullah shollallahu ‘alahi wasallam dan mengamalkan apa yg sahabat amalkan beserta meninggalkan apa yg sahabat tdk amalkan. karena seperti contoh perkataan beberapa imam tersebut. wallahu alam bishowab.

    (afwan kalo ada kesalahan dalam tulisan tersebut, ana masih baru sekali dlm belajar manhaj yg haq, ana mencoba menulis semampu ana dengan menguti dari beberapa sumber buku. mohon dikoreksi kiranya ada kata2 yg salah atau bathil dari tulisan ana)

  48. hendoko
    22 Jan 2012 [#]

    saya baca dulu…..apapun Tulisan diatas Referensinya ….siap di jelajah..

  49. Abu Ja'far
    29 Jan 2012 [#]

    kalo ana melihat dari sisi sosial-kemasyarakatan, bahwa permasalahannya bukan kembali ke perbedaan PENDAPAT karena dalil2 sudah jelas dan hujjah2 sudah cukup tegak, tapi sudah menjurus ke arah PENDAPATAN, coba bayangkan kalo orang2 ramai tidak merayakan maulid lagi, mungkin tokoh2 pecinta dan pendukung maulid itu tidak akan mengepul dapurnya, karena bagi mereka kalo sudah masuk bulan Rabi’ul Awwal itu tandanya ‘musim panen’ sudah tiba, dan hanya modal bicara dan beretorika 1 jam atau malah kurang, mereka bisa menangguk untung ratusan ribu atau bahkan jutaan rupiah. Jadi ini adalah so’al mata pencaharian, coba bayangkan kalo seseorang kehilangan mata pencahariannya? he he he, Wallahu A’lam.

  50. bayu setiawan
    01 Feb 2012 [#]

    Asslamu’alaikum
    Barokallahufik

    ustadz, artikelnya tentang maulid bagus ana izin copas di http://www.assunnahmedia.com/

    Syukron.

Tinggalkan Komentar

Kembali ke Atas