Hukum Menghadiri Perayaan Maulid Nabi


Pertanyaan:

Bolehkah seseorang menghadiri perayaan yang bid’ah seperti perayaan maulid nabi, isro’ mi’roj, malam nishfu sya’ban, namun ia tidak meyakini bahwa perayaan-perayaan tadi disyari’atkan, ia cuma bertujuan menjelaskan kebenaran?

Jawaban:

Pertama, perayaan yang disebutkan dalam pertanyaan di atas adalah perayaan yang tidak boleh dirayakan bahkan perayaan yang bid’ah yang mungkar.

Kedua, jika memang kita bermaksud untuk menghadiri perayaan-perayaan tersebut dalam rangka menasehati dan mengingatkan bahwa perayaan tersebut termasuk bid’ah (perkara yang diada-adakan dalam agama), maka itu adalah suatu hal yang disyari’atkan, lebih-lebih lagi jika yakin memiliki argumen yang kuat dan yakin selamat dari fitnah. Namun jika menghadirinya tidak dalam rangka demikian, hanya bersenang-senang saja, maka seperti itu tidak dibolehkan karena termasuk dalam berserikat dengan mereka dalam hal yang mungkar dan malah menambah tersebar serta semakin meriahnya bid’ah mereka.

Wa billahit taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa aalihi wa shohbihi wa sallam

Fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ no. 6524, 3/38

Fatwa ini ditandatangani oleh:

Ketua: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz

Wakil Ketua: Syaikh ‘Abdur Rozaq ‘Afifi

Anggota: Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayan, Syaikh ‘Abdullah bin Qu’ud

Penerjemah: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.muslim.or.id

  • Abu ghazy

    Assalamualaikum ustadz,
    Kalau misalkan ikut nyumbang dana untuk kegiatan tersebut hukumnya bagaimana? soalnya sebelum mengadakan acara tsb suka ada penggalangan dana terlebih dahulu. ana takut kl nyumbang jg termasuk berserikat dlm hal bid’ah..tp ana jg gak mampu menolak…
    syukron,

    • http://www.muslim.or.id Yulian Purnama

      #Abu Ghazy
      Wa’alaikumussalam, hukumnya terlarang karena termasuk tolong-menolong dalam keburukan. Bicarakan baik-baik dengan pengurusnya dan sumbanglah untuk keperluan lain semisal untuk pembangunan masjid.

  • http://www.yahoo.com Fahrul

    Assalamu`alaikum
    Mereka anti perayaan Hari Valentine karena dianggap sebagai tasyabuh kepada orang kafir,mengapa mereka tak menolak bid`ah mungkar maulid Nabi ini padahal dua-duanya termasuk haram dan tasyabuh kepada orang kafir?! Atau jangan2 mereka menganggap hal tersebut tak apa2 karena mereka sendiri merayakan milad kelahirannya sendiri padahal itupun haram karena tasyabuh kepada orang kafir apalagi merayakan Maulid Nabi dan bila sudah dianggap ibadah atau bagian dari Islam sama saja mereka telah menuduh Rasulullah kurang dalam memberikan ajaran kepada umat. Astaghfirullah. Semoga kita bukan bagian dari para perusak agama. Aamiin

  • abdurrahman alwani

    assalamu’alaikum warahmatullahi wabarkatuh , kiranya dapat dirinci lagi masalah peringatan maulid apakah termasuk bid,ah dalam hal aqidah , atau mu’amalah ataukah didalamnya terdapat kemusyrikan .

    • http://www.muslim.or.id Yulian Purnama

      #abdurrahman alwani
      Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarkatuh, perayaan maulid diyakini oleh orang yang merayakannya sebagai ibadah. Maka minimal terjerumus dalam bid’ah dalam ibadah. Dan sebagian orang yang merayakan Maulid ada yang terjerumus dalam kemusyrikan, semisal meminta pertolongan kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam.

  • Pingback: Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah » Kumpulan Penjelasan Mengenai Perayaan Maulid Nabi

  • hambasahaya

    ass.maaf saya masih kurang faham mana yg disebut dgn bid’ah dan mana yang bukan?saya mohon penjelasannya!
    semoga ALLAH SWT menambah & memperkaya ilmu saudra dgn penjelasan yg diberikan kpd saya.amiin..

  • tya

    Assalamu’alaykum

    bagaimana kalau kita menghadiri acara maulid nabi tapi niat kita bukan ikut merayakannya hanya ingin mendengarkan ceramah agama yang disampaikan oleh pembicara dan niat untuk bersilahturahim dengan para tetangga karena bila tidak ada acara seperti ini jarang berkumpul atau bertemu

    syukron

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #tya
      Wa’alaikumussalam. Datang ke acara tersebut adalah salah satu sikap mendukung perayaan tersebut. Carilah kesempatan lain untuk bermuamalah dengan tetangga, jangan pada acara-acara yang dilarang oleh agama.

  • ade

    saya bingung kenapa dinegara yg komunitas islam tp jarang sekali yg melarang perbuatan bid’ah malah meramaikannya.dan siapa sebenarnya pelopor pertama yg menyerukan peringatan maulid nabi?.

  • muhamad syafik alkhirid

    luar biasa ts nya ini,
    maaf olehkah saya kenal dengan pengurusnya,
    maaf masalah bid’ah, apa pengertian bid’ah agi anda semua?
    yang saya tangkap adalah bidah mengada2 dikarenakan pada zaman nabi tidak ada,
    tolong jawab pertanyaan saya,
    berarti alquran juga bidah donk?

    email bisakan
    maaf sekali lagi jika perkataan saya salah

  • rifki

    Assalamualaikum…

    ane sudah kurang lebih 15 tahun ngerayain Isra’ Mi’raj dan Maulid Nabi.

    ane betul2 merasa terkejut setelah membaca artikel ini, yang tertulis bahwa Isra Mi’raj dan Maulid Nabi adalah Bid’ah.

    bagaimana anda bisa menasehati saya, supaya saya benar2 yakin kalau itu adalah Bid’ah??? apakah admin orang Muhammadiyah atau benar2 Ahlu Sunnah Wal Jama’ah Sunni atau Syiah???

    tolong hargai kami yang masih belum mengerti perkara Bid’ah atau tidak…

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #rifki
      Wa’alaikumussalam,
      Bagaimana agar anda yakin? Sebelumnya ada pertanyaan yang perlu di jawab: “Mengapa Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam, atau para sahabat Nabi tidak pernah mengadakan acara tersebut? Padahal jika ingin mereka bisa mengadakannya”
      Atau silakan simak penjelasan-penjelasan berikut:
      http://muslim.or.id/manhaj/kumpulan-penjelasan-mengenai-perayaan-maulid-nabi.html
      Semoga Allah melimpahkan taufik dan hidayah,

      Mengenai pertanyaan terakhir anda, saya sarankan tidak terjebak oleh label A atau B. Klaim dan pengakuan tanpa praktek tidaklah berarti.
      Muhammadiyyah artinya orang-orang yang mengikuti Nabi Muhammad, kita lihat prakteknya apakah benar-benar mengikuti Nabi Muhammad?
      Ahlussunnah Wal Jama’ah artinya orang-orang yang mengikuti sunnah Rasulullah dan bersama jama’ah kebenaran, kita lihat prakteknya benar-benar mengikuti sunnah Rasulullah?
      Kalau yang ada di web ini sesuai dengan sunnah, mudah-mudahan ini adalah web ahlussunnah. Nah, untuk mengetahui sudah sesuai sunnah atau belum silakan anda cek sendiri kitab-kitab hadits dan referensi-referensi yang kami sebutkan.

  • Maulid Nabi Muhammad

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Ana ingin bertanya Ustad, bagaimana dengan pernyataan “Shalahuddin al-Ayyubi” yg seperti ini:

    “Namun Shalahuddin menegaskan bahwa perayaan Maulid hanyalah semarak syiar Islam, bukan perayaan yang bersifat ritual, sehingga tidak dikategorikan sebagai bid’ah. Kebetulan Khlaifah An Nashir di Baghdad pun menyetujuinya.”

    (dikutip dari: Ringkasan Khotbah Jum’at 26 Februari 2010 di Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Jihad Surabaya.)

    Sebelumnya syukron atas jawabannya Ustad & kurang lebih-nya mohon maaf, Wassalamu’alaikum Wr. Wb. (kunjungi juga ya blog kami =)

  • ihsan

    bisa tolong jelaskan definisi BID’AH itu apa?

  • R. Dadan Darmawan

    Assalamualikum Warahmatullahi Wabarokatuh,

    Ustad Saya hadir inginmendengarkan tausiyahnya, Itu khan ilmu ustad,

    Wassalam

    R.Dadan Darmawan

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #R. Dadan Darmawan
      Wa’alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh
      Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata,
      كل العلوم سوى القرأن مشغلة الا الحديث وعلم الفقه والدين العلم ماكان فيه قال حدثنا وماسوى ذلك وساوس الشياطين
      Setiap ilmu selain Al Qur’an itu menyibukkan, kecuali ilmu hadits, ilmu fiqih serta semua ilmu agama. Ilmu itu adalah apa yang ada di dalamnya perkataan haddatsana, sedangkan yang selain itu adalah bisikan setan

      Nah, tidak ada satu hadits shahih, atau bahkan satu hadits dhaif pun yang menunjukkan disyariatkannya Maulid Nabi. Berarti acara ini tidak didasari ilmu. Karena ilmu itu Qur’an dan hadits. Kalau memang ustadz dan panitia acara maulid itu berilmu, mereka tidak akan mengadakannya.

  • abu

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    an bingung lama2 mikirin bid’ah..
    di salah satu group di FB ada pelarangan TV sbg syiar bid’ah terus banyak org2 salafi setuju tapi ko ya internet masih di gunakan apa internet bukan sarana bid’ah juga? apa bedanya? apalgi sekarang internet bisa di akses dimana2,,

    terus an mikir,, kl zikir berjamaah itu juga bid’ah semisal zikir akbar,, nah orang2 yang awam zikir gmn belajarnya? padahal kita tau orang Indonesia itu tertarik justru krn rame2, gmn dakwahnya kl gitu? mohon penjelasannya, an orang awam..

    jzk.

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #abu
      Agar tidak bingung, lebih bersemangatlah mempelajari Islam dengan benar, sesuai dengan dalil-dalil yang shahih. Perkataan seseorang atau perbuatannya bukanlah dalil walaupun ia mengaku salafi atau tidak mengaku salafi.
      Hukum Islam tidak mengikuti selera orang banyak. Walau orang banyak suka yang haram, hukumnya tidak berubah menjadi halal. Benar dan shahihnya dakwah lebih utama dan lebih penting ketimbang populer dan menariknya.

  • abdurrahman alwani

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarkatuh ,
    Ustadz , saya tinggal dilingkungan penggemar ” sholawatan ” dan sering diundang oleh para tetangga antuk acara-acara seperti tashmiyah ,syukuran ,sunatan , dll tapi setiap acaranya selalu dibumbui dengan pembacaan sholawat kamilah atau pembacaan kitab manakib ,di Mushalla kamipun selalu ramai dengan sholawatan atau burdahan, mohon tausiyah ustadz bagaimana saya bersikap agar tidak timbul fitnah jika saya tidak memenuhi undangan tersebut.

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #abdurrahman alwani
      Wa’alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh, jangan hadir pada acara tersebut namun hadirlah pada acara lain yang mubah serta berusaha memberikan kontribusi positif pada masyarakat dalam bentuk apapun.

  • jefry

    klo kita merayakn maulid di bilang bid’ah…tapi mengapa kita merayakan hari kemerdekaan repupblik inni kaga di bilang bid’ah……maulid kan merayakn hari kelahiran nabi muhammad masa kita bilang bid’ah…logikanya anak kita klo ulang tahun ajja kita rayain kenapa nabi kita ulang tahun kita bilang bid’ah

  • Salam

    Assalamu ‘alaikum..
    Dlm salah satu wasilah dakwah adalah dengan membuat Yayasan/lembaga, pertanyaanya apakah membuat Yayasan bukan bid’ah? karena pembuatan yayasan/lembaga diatur oleh UU yang dibuat oleh para ahlul bid’ah (negera berdemokrasi)?
    mohon pencerahan!
    wassalamu ‘alaikum.

  • Abdullah

    Assalamu’alaikum.

    Setau ana yg awam ini, perayaan maulid memang bid’ah,tp “bid’ah hasanah”. .
    Ini adalh pndapat para ‘Ulama Syafi’iyah, diantaranya Syaikh Jalaluddin Sayuthi.
    Apakh Beliau2 tersebut “ahlul bid’ah” ??
    Tolong dijawab.. Agar kami mnjdi saksi kelak dihari qiyamah.

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #Abdullah
      Wa’alaikumussalam. Pendapat ulama bukanlah dalil. Mereka tetap mendapat pahala karena ijtihad mereka yang keliru, namun kita tetap tidak boleh mengikuti ijtihad yang keliru. Mereka bukan ahlul bid’ah karena secara umum manhaj mereka adalah manhaj sunnah. Dan perlu digaris bawahi, Imam Asy Syafi’i sendiri tidak pernah merayakan Maulid Nabi.

  • ibnuyahya

    no komen

  • Anto

    HUKUM PERINGATAN MAULID NABI

    ASAL MULA MAULID NABI
    IBNU KATSIR menyebutkan dalam kitabnya Al-Bidayah wan Nihayah (11\172) bahwa Daulah Fathimiyyah ‘Ubaidiyyah nisbah kepada ‘Ubaidullah bin Maimun Alqadah Alyahudi yang memerintah Mesir dari tahun 357 H -567 H. Merekalah yang pertama-tama merayakan perayaan-perayaan yang banyak sekali diantaranya perayaan Maulid Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Keterangan ini ditulis juga oleh Al-Maqrizy dalam kitabnya Al-Mawa’idz wal I’tibaar (1\490), dan Syaikh Muhammad Bakhit Al-Muthi’i mufti Mesir dalam kitabnya Ahsanul Kalam fiima Yata’allaqu bissunnah wal Bid’ah minal Ahkam [halaman 44-45], dan Syaikh ‘Ali Mahfudz menyetujui mereka dalam kitabnya yang baik Al-Ibdaa’ fii Madhaarr Al-Ibtidaa’ [halaman 251] dan selain mereka masih banyak lagi. Jadi yang pertama-tama mensyariatkan perayaan ini mereka adalah orang-orang Zindiq (menampakkan keislaman untuk menyembunyikan kekafiran) Al-‘Ubaidiyyun dari Syi’ah Rafidhah keturunan Abdullah bin Saba Al-Yahudi.

    SEJARAH HITAM SYI’AH BANI FATHIMIYYAH
    Bani Fatimiyah (bukan disandarkan pada Fatimah putri Rasulullah dari Mesir, pernah mencuri Hajar Aswad di Ka’bah, tahun 1098 bersekongkol dengan pasukan salibis merebut rumah suci al-Aqsha. Kelompok Syi’ah bathiniyah ini menikam kaum muslimin dari belakang. Penggalan lain saat Mongol mengepung kerajaan Abbasiah di Baghdad, kembali orang Syi’ah berulah. Ibn al-Alqami as-Syi’i, yang sempat dipercaya menjadi menteri, berkhianat. Musuh dalam selimut ini memberi informasi rahasia negara kepada pasukan Tartar pimpinan Hulaghu Khan setelah sempat merumahkan pasukan kerajaan dari 100 ribu hingga tinggal 10 ribu. Baghdad jatuh pada 656H/1258 M. Terjadilah pembantaian selama tidak kurang dari 40 hari. IBNU KATSIR mencatat korban 800 ribu, sebagian menyebut angka 1 juta orang. Khalifah al-Musta’shim Billah terbunuh. Ia ditempatkan dalam kantong hingga meninggal karena ditendangi. Penggalan demonstrasi berdarah di masjid al-Haram Mekkah tahun 80-an pun didalangi orang-orang Syi’ah yang bersenjata.

    FATWA ULAMA TENTANG MAULID NABI
    Ibnu Hajar Al-Asqolani dan Imam As-Suyuthi memang memperbolehkan peringatan maulid nabi asal dengan beberapa syarat, tetapi mereka mengakui bahwa perbuatan tsb adalah bid’ah yg tidak berasal dari 3 generasi terbaik (Sahabat, Tabi’in, dan Tabiut Tabi’in). Berikut fatwa para ulama tentang maulid nabi.
    1. Ibnu Taymiyyah (guru Ibnu Katsir, Adz-Dzahabi, Ibnul Qayyim) dalam kitabnya “Iqtidlous Sirotul Mustaqim Mukholafata Ashabil Jahim” Hal: 295 tentang Maulid Nabawy: “Tidak pernah dilakukan oleh as salafus sholeh padahal dorongan untuk diadakannya perayaan ini sudah ada, dan tidak ada penghalangnya, sehingga seandainya perayaan ini sebuah kebaikan yang murni atau lebih besar, niscaya as salaf (ulama’ terdahulu) –semoga Allah meridloi mereka- akan lebih giat dalam melaksanakannya daripada kita, sebab mereka lebih dari kita dalam mencintai Rosulullah ? dan mengagungkannya, dan mereka lebih bersemangat dalam mendapatkan kebaikan. Dan sesungguhnya kesempurnaan rasa cinta dan pengagungan kepada beliau terletak pada sikap mengikuti dan mentaati perintahnya, dan menghidupkan sunnah-sunnahnya, baik yang lahir ataupun batin, serta menyebarkan ajarannya, dan berjuang dalam merealisasikan hal itu dengan hati, tangan dan lisan. Sungguh inilah jalannya para ulama’ terdahulu dari kalangan kaum muhajirin dan anshor yang selalu mengikuti mereka dalam kebaikan”. Dan silahkan baca pernyataan beliau dalam kitab “Al Fatawa Al Misriyah” 1/312.

    2. Imam Asy-Syatibi (ulama mazhab Maliki) ketika ditanya tentang hal ini. Beliau menjawab: “Adapun yang pertama yaitu mewasiatkan sepertiga harta untuk pelaksanaan maulid sebagaimana yang banyak dilakukan manusia ini adalah bid’ah yang diada-adakan, setiap bid’ah itu adalah sesat, bersepakat untuk melakukan bid’ah tidak boleh, dan wasiatnya tidak dilakukan, bahkan diwajibkan kepada qodhi untuk membatalkannya dan mengembalikan sepertiga harta tersebut kepada ahli waris supaya mereka bagi sesama mereka, semoga Allah menjauhkan para kaum fakir dari menuntut supaya dilaksanakannya wasiat seperti ini. (dikutib dari fatwa Asy-Syatibi, no: ( 203, 204 ).

    3. Asy-Syaukani dalam Kitabnya “Risalah fi Hukmil Maulid” menyalahkan Ibnu Hajar dan As-Suyuthi yg membolehkan maulid. Berikut beberapa kutipannya:
    Asy-Syaukani berkata: Saya tidak mendapatkan sampai sekarang dalil (argumentasi) di dalam Al Qur’an, Sunnah, Ijma’, Qiyas dan Istidlal yang menjelaskan landasan amalan maulid, bahkan kaum muslimin telah sepakat, bahwa perayaan maulid nabi tidak ada pada masa qurun yang terbaik (para shahabat, pent), juga orang yang datang sesudah mereka (para tabi’in) dan yang datang sesudah mereka (tabi’ tabi’in). Dan mereka juga sepakat bahwa yang pertama sekali melakukan maulid ini adalah Sulthan Al Muzhaffar abu Sa’id Kukburi, anak Zainuddin Ali bin Baktakin, pemilik kota Irbil dan yang membangun mesjid Al Muzhaffari di Safah Qaasiyyun, pada tahun tujuh ratusan, dan tidak seorangpun dari kaum muslimin yang tidak mengatakan bahwa maulid tersebut bukan bid’ah.
    Dan apabila telah tetap hal ini, jelaslah bagi yang memperhatikan (para pembaca bahwasanya orang yang membolehkan maulid tersebut setelah dia mengakuinya sebagai bid’ah dan setiap yang bid’ah itu adalah sesat, berdasarkan perkataan Rasulullah, tidaklah dia (yang membolehkan maulid) mengatakan kecuali apa yang bertentangan dengan syari’at yang suci ini, dan tidak ada tempat dia berpegang kecuali hanya taqlid kepada orang yang membagi bid’ah tersebut kepada beberapa macam, yang sama sekali tidak berlandasakan kepada ilmu.
    Kemudian juga Al-Imam Abdillah bin Al-Haaj dengan nama kitabnya : “Pintu masuk dalam mengamalkan maulid”, dan Imam Ahli Qiro-at Al-Jazary dengan nama kitabnya: “pengenalan terhadap maulid yang mulia”, dan juga Imam Al-Hafidz Ibnu Naashir dengan kitabnya: “Sumber utama dalam pelaksanaan Maulid sang pembawa petunjuk”, dan Imam Suyuthi dengan kitabnya : “Tujuan yang baik dalam melaksanakan maulid” , di antara mereka ada yang benar-benar tidak membolehkan, dan ada juga yang membolehkan dengan bersyarat kalau tidak dicampuri oleh hal-hal yang munkar, meskipun mereka mengakui bahwasanya itu merupakan perbuatan bid’ah, namun mereka tidak mampu untuk memberikan argumentasi yang kuat, adapun dalil mereka dengan hadits bahwasanya Nabi di kala sampai di Madinah beliau mendapati orang-orang yahudi berpuasa pada hari asyura, lalu beliau menanyakan sebabnya, hari tersebut adalah hari di mana Allah menyelamatkan Nabi Musa dan membinasakan Fir’aun, lalu kami berpuasa pada hari itu sebagai rasa syukur kepada Allah ta’ala sebagaimana yang dilakukan Ibnu Hajar, atau dengan hadits bahwasanya Rasulullah mengaqiqahkan dirinya sendiri setelah kenabian, sebagaimana yang dilakukan Suyuthi, ini merupakan suatu yang sangat aneh di mana itu terjadi karena keinginan untuk menegakkan bid’ah.

    4. Al Hafizh Abu Zur’ah Al ‘Iroqy ketika ditanya tentang orang yang melakukan maulit apakah dianjurkan atau makruh?, apakah ada dalil yang memerintahkannya?, atau pernahkah dilakukan oleh orang yang dicontoh perbuatannya?. Ia menjawab: “memberi makan orang yang lapar dianjurkan dalam setiap waktu, apa lagi bergembira atas munculnya cahaya kenabian pada bulan yang mulia ini, tapi tidak kita temukan seorang pun dari generasi salaf (para ulama yang terdahulu) yang melakukan hal demikian, sekali pun sekedar memberi makan orang yang kelaparan”. (“tasyniiful Azan” hal: 136)

    5. Fatwa Ibnu Hajar Al ‘Asqolany tentang hukum maulid yang dinukil oleh As- Suyuthi dalam kitabnya “Husnul maqsad fi ‘amalil maulid” di situ ia katakan: “asal perbuatan maulid adalah bid’ah tidak seorang pun dari generasi salafus sholeh yang melakukannya dalam tiga abad pertama”. (Al hawy lil fatawa hal: 1 / 196).

    6. Ibnul Hajj dalam kitab “Al Madkhal” hal: (2/ 15,16) ketika ia berbicara tentang maulid: “yang sangat mengherankan kenapa mereka bergembiraria untuk kelahiran nabi saw! sedangkan kematiannya bertepatan pada hari itu juga, dimana umat mendapat musibah yang amat besar, yang tidak bisa dibandingkan dengan musibah yang lainnya, yang layak hanya menangis, bersedih dan setiap orang menyendiri dengan dirinya, karena Rasulullah saw bersabda: “Hendaklah kaum muslimin itu teguh dalam segala musibah mereka, musibah yang sebenarnya adalah kematianku”.

    7. Syeikh Tajuddin Umar bin Ali Al Lakhmy Al Iskandary, yang lebih dikenal dengan Al Fakihaany dalam kitabnya “Al Maurid Fi Al Kalaam Ala Amali Al Maulid” berkata: “Sesungguhnya bulan kelahiran nabi Muhammad saw, bertepatan dengan bulan kematiannya, maka tidak lah bergembira lebih utama dari pada bersedih pada bulan tersebut”.

    8. Ungkapkan Syaikh Muhammad Abdussalam Khadhar al Qusyairy dalam kitabnya “as sunan wal mubtadi’aat al muta’alliqah bil azkar wash sholawaat” Hal: 138-139. Dalam fasal: membicarakan bulan Robi’ul awal dan bid’ah melakukan maulid pada waktu itu. “tidak boleh mengkhususkan bulan ini (Rabi’ul awal) dengan berbagai macam ibadah seperti sholat, zikir, sedekah, dll. Karena musim ini tidak termasuk hari besar Islam seperti hari jum’at dan hari lebaran yang telah ditetapkan oleh Rasulullah saw, bulan ini memang bulan kelahiran Nabi Muhammad saw, tapi juga merupakan bulan wafatnya nabi Muhammad saw, kenapa mereka berbahagia atas kelahirannya tapi tidak bersedih atas kematiannya?, menjadikan hari kelahirannya sebagai perayaan maulid adalah bid’ah yang mungkar dan sesat, tidak diterima oleh syara’ dan akal, kalau sekiranya ada kebaikan dalam melakukannya tentu tidak akan lalai dari melakukannya Abu bakar, Umar, Ustman dan Ali serta para sahabat yang lainnya, dan para tabi’iin serata para ulama yang hidup setelah mereka.

    9. Al Maliky dalam hasiyahnya terhadap kitab “Mukhtashor As Syikh Kholil AL Maliky” 7/168, dalam pembahasan Al Washiyah, beliau menyatakan: “Adapun berwasiat untuk perayaan al maulid as syariif, maka Al fakihany telah menyebutkan bahwa perayaan maulid adalah makruh hukumnya”.

    10. Abu Abdillah Muhammad Ulaisy dalam kitabnya “Fathu Al Aly Al Malik Fi Al Fatawa Ala Mazhab Al Imam Malik” 1/171 ketika ditanya tentang seorang lelaki yang memiliki seekor sapi yang sedang sakit, padahal dia sedang hamil, lalu orang itu berkata “ Kalau Allah menyembuhkan sapiku, maka wajib atasku untuk menyembelih anak yang di dalam perutnya ketika acara maulid Rosulillah, dan kemudian Allah menyembuhkan sapinya dan melahirkan anak betina, kemudian dia menunda penyembelihan sampai anak sapi tersebut besar dan hamil, apakah wajib atasnya untuk menyembelih sapi tersebut atau boleh menyembelih penggantinya atau dia tidak berkewajiban apa-apa ? Maka beliau menjawab pertanyaan ini dengan mengatakan : “Alhamdulillah, dan sholawat dan salam semoga terlimpahkan kepada sayidina Muhammad Rosulillah, dia tidak berkewajiban apa-apa, karena perayaan maulid Rosulillah tidaklah disunnahkan”.

  • ali

    subhanlloh saya terkesan dengan membaca pendapat para ulama tentang maulid nabi lalu bagaimana sikapterbaik (ahsanu amalan ) kita kepada keluarga,lingkungan para ahli bid’ah ???

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #ali
      Teruslah menuntut ilmu, amalkan ilmu, da’wahkan dengan hikmah dan bersabar dalam da’wah.

  • ria

    assalamualaikum wr. wb.

    saya dibesarkan di lingkungan keluarga yang sampai saat ini masih mengikuti acra2 tersebut dan berpartisipasi aktif saat perayaan maulid nabi dan acara2 bid’ah lain seperti tahlilan dan smacamnya.
    sebagai anak, saya pun diminta turut serta membantu kelangsungan acara tersebut, misalkan membantu membuat masakan untuk acr tersebut. namun dalam hati kecil saya, saya pun tidak sepaham dengan keluarga saya. ingin sekali saya menolak hal-hal tersebut. namun posisi saya sebagai anak menuntut saya untuk menurut atas apa yang diminta keluarga saya.
    saya masih belum berani untuk memberikan sedikit gambaran kepada keluarga saya bahwa hal bid’ah semacam itu dilarang agama. karena kyai2 di tempat saya tinggal masih sangat kuat menanamkan budaya tersebut.
    nah, saya ingin minta saran bagaimana harusnya sikap sya terhadap hal tersebut. saya dilema, antara dianggap anak tidak berbakti, atau dianggap mendukung praktek bid’ah semacam itu.

    mohon tausiyahnya ustadz.. maturnuwuunn..
    wassalamualaikum wr. wb.

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      @ Ria
      Wa’alaikumus salam wa rahmatullah wa barakatuh

      Nasehat kami:
      1. Dakwahi keluarga saudari dg perlahan2, bertahap dan penuh kelembutan
      2. Tunjukkan selalu akhlak mulia pada mereka sehingga mereka mau mengikuti dakwah kita
      3. Jangan lupa selalu doakan keluargamu dalam doa2mu, apalagi saat waktu mustajabnya doa.
      Semoga Allah senantiasa memberi hidayah demi hidayah.

  • Pingback: Kumpulan Penjelasan Mengenai Perayaan Maulid Nabi « blog pribadi thsumantri

  • ustadz bodo

    boleh anda bilang bid’ah tapi anda jangan menggunakan pasilitas jaman sekarang. anda jangan pakai motor, hanphone, komputer, kasur. semua lah..

    kalau anda bilang bid’ah tapi anda masih menggunakan pasilitas itu brarti anda adalah orang yang paling munafik di atas munafik, karena pasilitas itu tidak ada di jaman nabi.

    bid’ah adalah segala kegiatan dan fasilitas yang tidak di gunakan dan di anjurkan nabi Muhammad. kalau anda mengacu ke tersebut 100% kembalilah anda ke jaman jahiliyah..

    kalau anda sudah merasa pintar silahkan gunakan pikiran anda untuk menyampaikan sesuatu..jangan ikut-ikutan..agama islam adalah agama yang menggunakan akal bukan ikut-ikutan..mungkin anda pernah merayakan ULTAH anak anda kenapa merayakang ulang tahun Nabi besar yang sudah menjadikan anda mengenal Alloh anda bilang bid’ah sungguh anda adalah orang yang tidak tau berterimakasih.

    anda bukan rasul bukan juga bukan nabi. anda bisa mengenal Allah sekarang karena siapa?, apakah anda mendapat wahyu langsung dari Allah..tidak kan anda tau Allah karena Nabi Muhammad di teruskan ke sahabat2 selanjutnya ke tabi’in2, selanjutnya ke wali2 selanjutnya ke Ulama2 lalu sampailah pada anda..apakah anda tidak berfikir tentang itu dan tidak mau mengucapkan termakasih tentang jasa mereka .. sungguh anda adalah orang yang sombong

    Allah memberi akal manusia untuk di kembangkan bukan di bekukan dan semua itu adalah hasil ilmu yang di berikan Allah

    silahkan pikir apakah pemikiran anda benar apa saya yang benar..ustadz bodo

  • Pingback: Kumpulan Penjelasan Mengenai Perayaan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam « Dakwah Makassar

  • Aan

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Bagaimana kalau dalam Acara trsbt Mengundang ulama besar dan terkenal,dan tujuan kita tuk mencari ilmu apakah salah menghadirinya?

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #Aan
      Niat yang benar tapi di tempat yang salah atau cara yang salah, menjadi salah.

  • http://www.Facebook.com ibru ibrohim umar

    السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
    Saya mau bertanya apakah memakai sajadah termasuk bid’ah? Mohon penjelasan…apa saja kriteria parkara baru yang di kategorikan bid’Ăc♓ ,,, dalam ibadah. Terimakasih

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #ibru ibrohim umar
      Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh, jika sajadah hanya sebatas untuk alas maka bukan bid’ah, boleh-boleh saja. Namun jika diyakini sajadah itu membawa berkah, lebih afdhal, dapat pahala karena sajadah, maka menjadi keyakinan yang bid’ah.

  • afif

    Ustad, ane seorang pelajar yg diwajibkan menghadiri acara ini, dan saya sudah mwngetahui ttg hal ini. saya menghadiri tp dalam hati,saya mengingkarinya. Apakah hal tersebut dibolehkan? Karena jika tidak hadir akan dipermasalahkan oleh pihak sekolah
    . Jazakallahu

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #afif
      Bertaqwalah kepada Allah semampu anda.

  • muhammadsidik

    Assalamualaikum ustad, Ustad ane waktu diarab kok diundang maulidnya syaikh abdul wahab dan syaikh utsmain. itu juga haram ya ustad?

@muslimindo

    Message: Rate limit exceeded, Please check your Twitter Authentication Data or internet connection.