11 March 2009 | 19 komentar

Kategori: Manhaj

Ensiklopedia Maulid Nabi (2): Antara Cinta Rasul & Perayaan Maulid

Sebenarnya adakah kaitan antara cinta Rasul dan perayaan maulid, alias hari kelahiran beliau? Pertanyaan ini mungkin terdengar aneh bagi mereka yang kerap merayakannya. Bagaimana tidak, sedang disana dibacakan sejarah hidup beliau, diiringi dengan syair-syair pujian dalam bahasa Arab untuk beliau (yang dikenal dengan nama burdah), yang kesemuanya tak lain demi mengenang jasa beliau dan memupuk cinta kita kepadanya…?

Dalam sebuah muktamar negara-negara Islam sedunia, salah seorang dai kondang dari Saudi yang bernama Dr. Said bin Misfir Al Qahthani, berjumpa dengan seorang tokoh Islam (syaikh) dari negara tetangga. Melihat pakaiannya yang khas ala Saudi, Syaikh tadi memulai pembicaraan (Sebagaimana yang dituturkan sendiri oleh Dr. Said Al Qahthani ketika berkunjung ke kampus kami, Universitas Islam Madinah dan memberikan ceramah di sana.):

Syaikh: “Assalaamu ‘alaikum…”
Dr. Said: “Wa’alaikumussalaam warahmatullah wabaraatuh…”
Syaikh: “Nampaknya Anda dari Saudi ya?”
Dr. Said: “Ya, benar.”
Syaikh: “Oo, kalau begitu Anda termasuk mereka yang tidak cinta kepada Rasul…!”
(kaget bukan kepalang dengan ucapan Syaikh ini, ia berusaha menahan emosinya sembari bertanya):
Dr. Said: “Lho, mengapa bisa demikian?”
Syaikh: “Ya, sebab seluruh negara di dunia merayakan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali negara Anda; Saudi Arabia… ini bukti bahwa kalian orang-orang Saudi tidak mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Dr. Said: “Demi Allah… tidak ada satu hal pun yang menghalangi kami dari merayakan maulid Beliau, kecuali karena kecintaan kami kepadanya!”
Syaikh: “Bagaimana bisa begitu??”
Dr. Said: “Anda bersedia diajak diskusi…?”
Syaikh: “Ya, silakan saja..”
Dr. Said: “Menurut Anda, perayaan Maulid merupakan ibadah ataukah maksiat?”
Syaikh: “Ibadah tentunya!” (dengan nada yakin).
Dr. Said: “Baik… apakah ibadah ini diketahui oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, ataukah tidak?”
Syaikh: “Tentu beliau tahu akan hal ini!”
Dr. Said: “Jika beliau tahu akan hal ini, lantas beliau sembunyikan ataukah beliau ajarkan kepada umatnya?”
(…. Sejenak syaikh ini terdiam. Ia sadar bahwa jika ia mengatakan “ya”, maka pertanyaan berikutnya ialah: Mana dalilnya? Namun ia juga tidak mungkin mengatakan tidak, sebab konsekuensinya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih menyembunyikan sebagian ajaran Islam. Akhirnya dengan terpaksa ia menjawab )
Syaikh: “Iya… beliau ajarkan kepada umatnya…”
Dr. Said: “Bisakah Anda mendatangkan dalil atas hal ini?”
(Syaikh pun terdiam seribu bahasa… ia tahu bahwa tidak ada satu dalil pun yang bisa dijadikan pegangan dalam hal ini…)
Syaikh: “Maaf, tidak bisa…”
Dr. Said: “Kalau begitu ia bukan ibadah, tapi maksiat.”
Syaikh: “Oo tidak, ia bukan ibadah dan bukan juga maksiat, tapi bidáh hasanah.”
Dr. Said: “Bagaimana Anda bisa menyebutnya sebagai bid’ah hasanah, padahal Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa setiap bid’ah itu sesat??”

Setelah berdialog cukup lama, akhirnya syaikh tadi mengakui bahwa sikap sahabatnyalah yang benar, dan bahwa maulid Nabi yang selama ini dirayakan memang tidak berdasar kepada dalil yang shahih sama sekali.

Ini merupakan sepenggal dialog yang menggambarkan apa yang ada di benak sebagian kaum muslimin terhadap sikap sebagian kalangan yang enggan merayakan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dialog singkat di atas tentunya tidak mewakili sikap seluruh kaum muslimin terhadap mereka yang tidak mau ikut maulidan. Kami yakin bahwa di sana masih ada orang-orang yang berpikiran terbuka dan obyektif, yang siap diajak berdiskusi untuk mencapai kebenaran sesungguhnya tentang hal ini.

Namun demikian, ada juga kalangan yang bersikap sebaliknya. Menutup mata, telinga, dan fikiran mereka untuk mendengar argumentasi pihak lain. Karenanya kartu truf terakhir mereka ialah memvonis pihak lain sebagai ‘wahhabi’ yang selalu dicitrakan sebagai ’sekte Islam sempalan’, yang konon diisukan sebagai kelompok yang gampang membid’ahkan, mengkafirkan, mengingkari karomah para wali, dan sederet tuduhan lainnya.

Cara seperti ini bukanlah hal baru. Sejak dahulu pun mereka yang tidak senang kepada dakwah tauhid, selalu berusaha memberikan gelar-gelar buruk kepada para dainya. Tujuannya tak lain ialah agar masyarakat awam antipati terhadap mereka. Simaklah bagaimana Fir’aun dan kaumnya menggelari Musa dan Harun ‘alaihimassalam:

(57) Fir’aun mengatakan: “Adakah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami dengan sihirmu hai Musa? (58) Sungguh kami pasti mendatangkan pula kepadamu sihir semacam itu, maka buatlah suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak pula kamu di suatu tempat yang pertengahan (letaknya).” (59) Musa menjawab: “Waktu pertemuan itu ialah di hari raya dan hendaklah manusia dikumpulkan pada waktu dhuha.” (60) Maka Fir’aun meninggalkan (tempat itu), lalu mengatur tipu dayanya, kemudian dia datang. (61) Musa berkata kepada mereka: “Celakalah kamu, janganlah kamu mengadakan kedustaan terhadap Allah, hingga Dia membinasakanmu dengan siksa.” Dan sesungguhnya telah merugi orang yang mengada-adakan kedustaan. (62) Maka mereka berbantah-bantahan tentang urusan mereka di antara mereka, dan mereka merahasiakan percakapan (mereka). (63) Mereka berkata: “Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kalian dari negeri kalian dengan sihirnya, dan hendak melenyapkan kedudukan kalian yang utama…” (Qs. Thaha: 57 – 63)

Dalam ayat lain Allah berfirman:

“Sesungguhnya telah Kami utus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata, (24) kepada Fir’aun, Haman dan Qarun; maka mereka berkata: “Ia (Musa) adalah seorang ahli sihir yang pendusta.” (Qs. Ghafir: 23-24)

Simak pula bagaimana kaum Nabi Luth ‘alaihissalam hendak mengusir beliau dan para pengikutnya dengan tuduhan ‘orang-orang yang sok menyucikan diri’:

Maka tidak lain jawaban kaumnya melainkan mengatakan: “Usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu; karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang (mendakwakan dirinya) bersih.” (Qs. An Naml: 56)

Atau Nabi Shalih ‘alaihissalam yang dianggap sombong dan pembohong oleh kaumnya… Allah berfirman:

(23) Kaum Tsamudpun telah mendustakan ancaman-ancaman (itu). (24) Mereka berkata: “Bagaimana kita akan mengikuti saja seorang manusia (biasa) di antara kita? Sesungguhnya kalau begitu kita benar-benar berada dalam keadaan sesat dan gila”, (25) Apakah wahyu itu diturunkan kepadanya -yakni Nabi Shaleh ‘alaihissalam- di antara kita? Sebenarnya dia seorang yang amat pendusta lagi sombong.” (26) Kelak mereka akan tahu siapakah yang sebenarnya amat pendusta lagi sombong. (Qs. Al Qamar: 23 – 26)

Sampai junjungan kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tak luput dari julukan-julukan buruk kaumnya. Allah berfirman:

(1) Shaad, demi al-Qur’an yang mempunyai keagungan (2) Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit. (3) Betapa banyaknya ummat sebelum mereka yang telah kami binasakan, lau mereka meminta tolong padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk lari melepaskan diri. (4) Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata: “ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta.” (Qs. Shaad: 1 – 4)

Jadi, banyaknya tuduhan-tuduhan jelek terhadap suatu golongan, mestinya tidak menghalangi kita untuk bersikap adil dan obyektif terhadap mereka. Karena boleh jadi kebenaran justeru berpihak kepada mereka, dan dalam hal ini yang menjadi patokan adalah dalil-dalil dari Al Qur’an dan Hadits yang shahih.

Berangkat dari sini, penulis ingin mengajak para pembaca yang budiman untuk mendudukkan masalah perayaan maulid Nabi, benarkah ia merupakan bid’ah hasanah? Benarkah ia merupakan perwujudan cinta kepada Rasul yang dibenarkan? Apakah asal muasal perayaan ini? dan berbagai masalah lainnya seputar maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tentunya semua akan disajikan secara ilmiah dengan merujuk kepada Al Qur’an dan Sunnah, sesuai dengan pemahaman As Salafus shaleh.

***

Penulis: Ustadz Sufyan bin Fuad Baswedan, Lc. (Mahasiswa Pasca Sarjana, Fakultas Hadits & Dirosah Islamiyyah, Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia)
Artikel www.muslim.or.id

Catatan:
Lanjutan artikel Ensiklopedia Maulid Nabi ini insya Allah akan diposting pada website www.manhaj.or.id secara berseri.

Kirim Komentar




Mohon memberikan komentar yang sesuai dengan topik artikel. Komentar Anda akan kami review dahulu sebelum ditampilkan.

19 Komentar

  • Assalamu’alaikum wr wb.
    saya tetap akan mengikuti perayaan maulid nabi Muhammad SAW, Allah Maha adil dan Maha mengetahui apa yang terlintas dalam hati setiap makhluknya, tiada yang tersembunyi.Amalan-amalan lain Insya Allah saya ingin dan ingin terus belajar hingga ahkhir hayat, semoga Allah memberikan saya ilmu yang bermanfaat dunia dan akhirat. amin, tanpa harus berprasangka buruk pada hal apa yang saya tidak /belum tahu., mohon do’a para ustadz yang alim ulama (berilmu) dalam hal ini, agar Allah memberi Taupik dan Hidayah pada saya untuk dapat membaca qur’an besar, semesta alam. wasssalamu’alaikum wr.wb. (bagi saya yang kurang ilmu, Prof DR. Quraish Shibab, Prof DR. Masyuri Naim MA, Prof Nazarudin Umar MA (Dirjend Bimas Islam), Prof Dr. Ali Mustofa Yakup (Imam besar Masjid Istiq’lal) dan jamaah MASJID AGUNG SUNDA KELAPA JAKARTA, tempat kami berta’lim, menjadi pegangan saya dalam belajar mengenal kebesaran Allah dan Rasulnya Nabi Mulhammad SAW.) mohon ma’af atas segala khilaf dalam menyampaikan apa yang saya ungkapkan.

  • @faizah.
    Sy juga dulu penggemar berat acara maulidan, dengan diiringi nyanyian qosidah menjadikan suasana makin syahdu. Kini alhamdulillah sy tahu mana sunnah mana bid’ah. Disebabkan pertanyaan saya tidak terjawab oleh guru ngaji saya dulu, seputar knapa diperbolehkan bercampurbaurnya pria & wanita pada saat acara maulidan, padahal kita klo ngaji tempat wajib dipisah. Ke-2 nabi Muhammad tidak bisa menghidupkan ayam yang sudah mati, sedangkan syeikh Qodirjaelani qo bisa. Jadi kekasih Allah Muhammad apa Qodirjaelani? Kita kalo ngaji disuruh tartil, knapa pada saat malam jum’at tertentu, bp kyai menanyakan sudah berapakali yasin yang sudah dibaca? Dalam pencarian itulah kutemukan vcd abdul hakim bin amir abdat dari seorang sahabatku.
    Kawan do’akan aku tetap istiqomah dalam manhaj salaf.

  • @: faizah

    Antum yang mengaku mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, TAPI malah lebih menuruti hawa nafsunya..

    Antum memohon supaya diberikan ilmu yang bermanfaat, tapi setelah dapat (dikasih tahu) tetap saja ga berubah (ikut maulidan)..

    Ana jadi teringat sepenggal kalimat dari khutbatul hajat:
    “..barangsiapa yang Allah sesatkan maka tidak akan ada yang dapat memberinya petunjuk, dan barangsiapa yang Allah beri petinjuk maka tidak akan ada yang dapat menyesatkannya..”

    Mudahkanlah diri antum dalam menerima kebenaran, walaupun bertentangan dengan pendapat atau keinginan antum..

  • @: Faizah
    Alhamdulillah, antum dimudahkan Allah SWT memahami internet/email. semoga melalui TI, ini antum mendapat hidayah Allah SWT ke jalan yg lurus, jalannya ahlus sunnah wal jama’ah. bukalah dan bacalah terus artikel-2 dr Website ini, kmd renungkanlah dgn hati dan akalmu.
    Ingatlah perkataan Imam Malik:”Perkataan/pendapat/fatwa semua orang boleh diingkari, kecuali orang yang di dalam kubur ini.” (sambil menunjuk kubur Rasulullah SAW.)
    Jadi, perkataan/ceramah dari tokoh-2 agama yg antum sebut td tidak ada kewajiban mengikutinya bila tidak merujuk kpd dalil-2 dr al-Qur’an dan Hadits yang shahih. Tmsk amalan-2 yg sptnya ibadah, tp justru bid’ah dan maksiat.
    Smg Allah SWT memberi hidayah pd antum.

  • Buat ibu/bapak faizah

    Saya bisa mengerti kalau antum sulit menerima penjelasan diweb ini. Dan kalaupun antum lebih tsiqah kepada Prof. Dr. Ali Ya’qub, daripada ustadz2 disini sayapun bisa memahami. Ini sebuah logika yang wajar dikalangan umat Islam. Masa’ sarjana S1, lebih pinter dari pada Profesor. Dan semoga antum melakukan ini semata-mata mengamalkan ayat Allah “Bertanyalah kepada ahli ilmu jika engkau tidak mengetahui”, maka semoga Allah memaafkan antum, jika antum merasa dalam hal ini tidak mampu untuk beristidlal (mengambil hukum), sehingga bertaklid kepada Prof. Ali Ya’qub yang antum anggap ulama’.

    Hanya saja, ana sarankan antum janganlah terpaku kepada orang. Maka cobalah antum juga menimba ilmu dari para asatidz salafiyun, hal ini supaya antum tidak fanatik thd orang. Jangan hanya baca diweb, karena ada keberkahan tersendiri dari majelis ilmu. Niatkanlah untuk mencari ilmu. Mohonlah dengan tulus ikhlas kepada Allah agar selalu ditunjukkan jalan yang diridhaiNya. Tancapkan dalam hati antum, aku hanya ikut Allah dan RasulNya, bukan Ali Ya’qub, Abdul Hakim, Yazid Jawas, atau muslim.or.id, maka semoga Allah menunjuki antum.

    Akh, tidaklah begitu penting antum cinta Allah atau tidak, tapi yang terpenting apakah Allah mencintaimu atau tidak. Dan Allah telah menjelaskan Dia hanya mencintai mereka yang mengikuti RasulNya. Akhi, tahukah engkau anjing2 neraka? Mereka adalah orang khawarij, yang dahi2 mereka hitam karena banyak sujud kepada Allah, pipi2 mereka sampai ada bekas aliran air karena banyak menangis karena takut kepada Allah, mata mereka sayu karena banyak sholat malam, badan mereka lusuh dan kurus kering karena banyak shaum. Ana rasa antum sepakat dengan ana, kita tidaklah sesemangat mereka dalam beribadah, tapi itu tidak menghalangi Allah untuk menjadikan mereka anjing2 neraka.

    Dan terakhir, cobalah antum beli buku Prof. Dr. Ali Ya’qub yang mengkritisi syaikh Albani (ana tidak tahu judulnya), lalu beli juga buku “Syaikh Albani dihujat” karya Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar As-Sidawi. Semoga antum nantinya tahu, bagaimana sebenarnya seberapa jauh Prof. Dr. Ali Ya’qub memegangi amanah ilmiyah. Karena, kebiasaan orang yang menempuh manhaj selain para sahabat dan imam2 terpercaya, mereka seringkali tidak segan mengkhianati amanat ilmiyah demi mendukung pendapatnya.

    Dan hanya Allah-lah tempat meminta

  • untuk mba/mas faizah, tetap belajar sampai akhir hayat. mudah2an Allah menambahkan ilmu bagimu. Amin. Barakallah fii kum

  • assalamualaikum,
    damai sekali membaca komentar2 di web ini yang membela sunnah..penuh dengan kesabaran..semoga saya diberikan hidayah juga oleh Allah SWT seperti kalian..sekedar sharing..kmarin kantor saya mengadakan acara maulidan…lalu ustad yang memberi ceramah bilang walaupun ada sebagian orang yang menganggap maulid ini bid’ah..biarkanlah..jangan dijadikan sebagai perpecahan..karena keyakinan kita adalah maulid ini baik..kita yakini saja apa yang menurut kita benar…
    alhamduliilah perkataan ustadz tersebut malah membuka keingin tahuan teman saya yang belum tahu apa itu bid’ah..setelah saya kirimi artikel sejarah maulid dan alasan orang yang menganggap maulid itu bid’ah, mereka jadi tau alasannya..dan mudah2an diberikan hidayah oleh Allah SWT..

  • pengalaman ana yang berhubungan dengan maulid nabi
    pengalaman pertama, beberapa tahun yang lalu ana pernah menunggui warnet milik kakak ana, hari itu sekitar jam 10 pagi ada dua orang yang hendak merental komputer, sepertinya mereka hendak membuat suatu proposal yang sekilas ana lihat judulnya PANITIA PERAYAAN HARI BESAR ISLAM. Rupanya kedua pemuda tadi belum bisa menggunakan komputer dengan baik, karena sampai masuk waktu dzuhur, belum selesai, trus ana titipkan warnet pada keponakan ana, selang setengah jam ana kembali dari masjid, dan dua pemuda tadi belum selesai hingga tiba waktu ashar, seperti waktu dzuhur, kedua pemuda tedi melewatkan waktu sholat ashar begitu saja, sungguh ironi, yang katanya merayakan turunya perintah sholat(waktu itu bulan rajab yang berarti peringatan isra miraj) tapi sang panitia dengan seenaknya melewatka begitu saja waktu sholat tanpa rasa bersalah
    pengalaman kadua
    ini terjadi belum lama, beberapa minggu yang lalu. ketika ana hendak sholat ashar kemasjid, ana melihat banyak orang di masjid, ketika ana mendekat, Masya Allah, didalam sedang berkumpul banyak orang, wanita dan laki-laki bercampur baur didalam mesjid, bahkan yang lebih parah lagi banyak yang sambil merokok, didalam masjid? ternyata mereka sedang bermusyawarah dalam pembentukan panitia perayaan maulid Nabi, tapi ana berpikir positif, karena biasanya waktu sholat dzuhur dan ashar di masjid ini biasanya sepi jamaah, bahkan sering ana adzan sendiri, qomat sendiri, dan sholat sendiri, tapi, ketika rapat selesai dan adzan di kumandangkan, orang2 yang hadir pada rapat tersebut bubar dan meninggalkan masjid, padahal adzan sudah dikumandangkan, hanya sebagian kecil yang ikut berjamaah sholat ashar. inikah bentuk cinta kepada Nabi? inikah bentuk meneladani Rosulullah salallahualaihiwasallam? sungguh cinta yang aneh, padahal Rosulullah pernah mengancam orang2 yang tidak sholat berjamaah di masjid akan di bakar rumahnya, bahkan ketika ada seorang buta yang menginginkan keringana agar bisa sholat dirumah karena tidak ada yang memapahnya ke masjid, namun Rosulullah menolaknya.
    itulah pengalaman ana dan sebenarnya masih banyak pengalaman ana yang menurut ana sangat aneh bagi mereka yang merayakan maulid maupun isra miraj dan yang lainya yang katanya mencintai Rosul, tapi ingkar akan perintahnya

  • kepada siapa pun yang menganggap bid’ah perayaan maulid adalah perkara sepele…
    Assalaamu’alaikum warahmatullah wa barakaatuh…
    Terima kasih Anda menyempatkan diri untuk membaca komentar ini.
    Tahukah Anda bahwa Islam telah sempurna (al Maidah: 3)?
    Tahukah Anda bahwa salah satu sifat Rasulullah adalah Tabligh (al Maidah: 67).
    Tahukah Anda bahwa semua yang “BAIK” telah disampaikan oleh beliau, dan semua yang “BURUK” telah diperingatkan oleh
    beliau? (HR. Muslim no 4882).
    Sekarang bagaimana menurut Anda jika ada sesuatu yang Anda anggap baik, namun tidak disampaikan oleh Beliau?
    kemungkinannya hanya satu dari dua:
    1- Rasulullah masih menyembunyikan “Kebaikan” tersebut, berarti beliau “mengkhianati” amanat yang diembannya, atau
    2- Rasulullah tidak tahu kalau hal itu adalah “Kebaikan”, tapi andalah yang tahu…

    jadi, kalau Anda merasa bahwa perayaan maulid adalah suatu kebaikan, padahal Anda sadar bahwa Nabi saw dan para
    sahabat beliau tidak ada yang memerintahkan, atau menganjurkan, atau melaksanakan bahkan mengenal hal tersebut pun
    juga tidak, maka Anda telah menuduh Beliau sebagai orang yang menyembunyikan amanatnya.
    Atau Anda lebih tahu tentang mana yang baik dan mana yang tidak baik…

    Sadarlah, bahwa beragama itu ada aturan mainnya, bukan “semau gue”. sepak bola, tenis, basket dan permainan lain
    saja pake aturan main, lantas apakah Agama yang menjadi jalan keselamatan manusia tidak pake aturan main?

    standar untuk menilai ini baik atau buruk bukanlah perasaan, akal, atau pendapat pribadi. kalaulah demikian, maka
    percuma saja Al Qur’an diturunkan dan Para Rasul diutus… toh semua orang boleh berpendapat dalam agama…

    bayangkan jika Agama diatur menurut akal masing-masing, kiranya ada berapa juta thariqat yang akan muncul?
    Sungguh, akal dan perasaan kita sebagai manusia biasa yang hidup 1400 tahun setelah wafatnya Rasulullah, terlalu
    lemah untuk dijadikan standar benar-salah.

    janganlah kita bebani akal dan perasaan kita untuk bekerja di luar kemampuannya. ada hal-hal yang di luar jangkauan
    akal, bukan berarti tidak masuk akal, namun ia diluar kemampuan akal untuk mencernanya padahal ia sesuatu yang haq.
    di sanalah Iman bekerja…

    akal ada batasnya, sebagaimana panca indera kita juga terbatas. padahal akal kita mendapat informasi dari panca
    indera, baru kemudian mencerna informasi tadi hingga menjadi suatu pendapat atau teori, nah bila perangkat informasi
    yang serba terbatas tadi kita paksakan untuk menjadi standar benar dan salah, kira-kira bagaimana kesimpulan akhirnya?

    lihatlah bintang-bintang di langit ketika malam, tahukah Anda berapa jumlahnya? berapa ukuran masing-masing? berapa
    umurnya? dsb…?
    kalaulah yang Anda lihat dengan mata kepala Anda sendiri saja masih banyak yang tidak Anda ketahui, lantas bagaimana
    dengan segala keterbatasan Anda tadi Anda hendak menetapkan baik-buruknya sesuatu dalam agama?

    kesimpulannya, kebenaran mutlak adalah yang datang dari Allah dan Rasul-Nya… bukan yang datang dari akal atau
    perasaan manusia.

    wallaahu a’lam.

  • Masya Allah…. sebenarnya perkara tentang Maulid Nabi ini sudah sangat jelas sekali… hanya saja karena banyak para pelakunya adalah orang2 terpandang, orang2 besar, presiden, raja dll maka banyak yang tertipu… bahkan saya dulu juga tertipu, begitu semangat ketika menyelenggarakannya. Padahal… kita semua tahu Istri-istri Rasulullah, ahlul bait, para sahabat baliau ketika beliau masih hidup bahkan ketika sudah meninggalpun tidak ada satupun dari mereka yang memperingati kelahiran atau kematian beliau… padahal mereka jauh lebih besar kecintaannya dan pembelaannya kepada Beliau shalallohu’alaihi wasallam daripada kita saat ini… bahkan tidak bisa dibandingkan. Maka aneh… ada orang yang mengaku mencintai baliau… meneladani beliau… justru malah menyelesihi beliau dalam tindak tanduknya. Sungguh syubhat sangat samar… sungguh syahwat sangatlah besar kecuali bagi orang yang dikehendaki oleh Allah sehingga bisa terhindar dari keduanya…

  • assalamualaikum..
    Ya, benar perayaan Maulidnabi atau (Natal Nabi) sama2 mempunyai kesamaan akidah dari nashani dan yahudi, yang dihidupkan oleh banui ubaid yang mengaku keturunan fathimah dan Ali Ra. mereka ini para pendusta syiah dan antek2nya telah menyebar faham mereka dengan mengatasnamakan ahlul bait, contohnya gelar2 yang mereka pakai “Habib” atau “HAbaa’ib” santer terdengar merekalah golongan yang mulia dengan menghibur diri mereka sendiri atas ketidaktahuan mereka tentang sislsilah keturunan. hanya bermodalkan dari kakek atau dari alawiyyin yang aktanya meneliti sislsilah keturunan “HAbib”…. di Jambi itu udah terkenal santer habib. TAPI SAYANGNY.. setelah ana perhatikan mereka hanya mengambil ilmu dari orang tua, orang tua dari orang tuanya lag dst.. sampai nenek2 moyang. dan guru2 mereka banyak yang tamatan dari iran (negeri kufur Farsi Majusi). yang ana jadi pikiran sekarang BAGAIMANA MEREKA HANYA MENGAKU DAN BUKTI DENGAN SILSILAH SAJA BAHWA MEREKA KETURUNAN BENAR DARI RASUL SAW, SEDANGKAN SYIAH (LA QUR’AN SAJA MEREKA PALSUKAN ) APALAGI SILSISALAH. JADI HARAP BERHATI2 DENGAN MEREKA YANG BANYAK MENGAKU DAN BERGELAR DI UJUNG KALIMAT NAMANYA INISIAL AL… AL… AL.. tapi tidak semua mereka yang begitu kecuali yang dirahmati Allah swt. dan yang anenya satu lagi. akidah mereka yang perempuan bergelar syarifah tidak boleh menikah dengan orang yang bukan “habib” cowoknya mesti “habib” kkeyakinan mereka dapat memutuskan nasab. dan sebagai penolong Rasul menambah nasab murnilah katanya… bukankah di Al qur’an ada penjelasan ayat Al Hujurat 13. dan mereka takut jika terjadi hal demikian wanitanya dijauhkan bahkan sampai derajt tidak diakui ananya karena menikah dengan bukan “habib” AJARAN MANA PULA INI………!!!!!
    mOHON DITAMBAHKAN JIKA ADA PENJELASAN DARI ADMIN.
    BARAKALLAHUFIKUM…

  • Akhi…mana lanjutannya? kok di manhaj.or.id juga belum ada…….?? ana butuh banyak referensi untuk masalah ini. Barokallahufik

  • Saya anti MAULUD NABI, namun apa daya saya terjebak lingkungan yang pro MAULUD NABI..

    Argumen saya, kalo kita make MAULUD NABI apa BEDANYA kita dengan orang Kafir KRISTEN dengan NATAL ato PASKAHNYA…

    wallohu’alam….

  • ass. eh biar nt pda tau Nabi sering dtng brjumpa sma para wali allah, nah klo mmemang itu bid’ah pasti tentu dah di larang. yaudah skrg gini aj nt jgn pke HP, TV, KENDARAAN BERMOTOR, klo perang pke panah dan berkuda, jgn pke speaker, mo pergi haji jgn pke pesawat, jgn jalan di aspal, jgn pke listrik, jgn pke sikak gigi.

  • Mas Reza kayaknya belum paham tentang bid’ah deh. Silakan pahami baik-baik tulisan berikut. Baca dengan pikiran yang tenang dan jangan emosi. Semoga Allah beri taufik.

    http://muslim.or.id/manhaj/mengenal-seluk-beluk-bidah-3.html

  • @ Mas REZA,

    Mobil adalah bid’ah, pesawat terbang bid’ah, lampu listrik bid’ah, handphone bid’ah, komputer bid’ah, internet juga bid’ah, dan masih banyak yang lainnya yang merupakan bid’ah,

    Pernyataan di atas benar, jika ditinjau dari sisi bahasa, “Bid’ah ditinjau dari sisi “bahasa” bukan dari sisi “istilah/syar’i” sebab semuanya tidak ada di jaman Rasulullah, dan itu semua merupakan perkara dunia, bukan perkara agama,

    Adapun kalau bid’ah menurut “istilah/syar’i” berbeda dengan bid’ah secara bahasa, karena bid’ah menurut istilah/syar’i menyangkut perkara agama, yaitu melakukan amalan-amalan yang diserupakan dengan ibadah, mengharapkan pahala dari amalan tersebut, atau punya keyakinan bahwa dengan amalan tersebut bisa mendapatkan keridhaan dari Allah, mendapat kecintaan dari Rasulullah, atau dapat menyebabkan pelakunya masuk surga,

    Sebagai renungan bagi kita semua, dengan melaksanakan amalan yang benar-benar diajarkan oleh Rasulullah saja, kita tidak pernah tahu amalan manakah yang diterima pahalanya disisi Allah, kok sempat-sempatnya kita melakukan amalan bid’ah, yang sudah jelas pasti tidak akan pernah diterima disisi Allah, bahkan akan mendatangkan murka Allah, tidak akan mendapatkan air dari telaga Rasulullah,

    Belum lagi jika kita mengajarkan amalan bid’ah itu kepada yang lain, diamalkan, dan diikuti oleh orang yang kita ajarkan perbuatan bid’ah kita, sungguh ini merupakan dosa-dosa yang bertingkat-tingkat, akan terus bertambah dengan semakin banyak orang yang melakukan amalan bid’ah yang kita lakukan,…. tidak takutkah wahai kaum muslimin yang masih melakukan amalan bid’ah…… mudah-mudahan Allah memberi petunjuk kepada kaum muslimin yang masih belum mengerti tentang hakekat bid’ah ini…..

  • PENCETUS PERTAMA MAULID NABI

    Oleh : Ustadz Abdurrahman Thayyib Lc

    A. Sejarah Perayaan Maulid
    Diantara perayaan-perayaan bid’ah yang diadakan oleh kebanyakan kaum muslimin adalah perayaan maulid Nabi. Bahkan maulid Nabi ini merupakan induk dari maulid-maulid yang ada seperti maulid para wali, orang-orang sholeh, ulang tahun anak kecil dan orang tua. Maulid-maulid ini adalah perayaan yang telah di kenal oleh masyarakat sejak zaman dahulu. Dan perayaan ini bukan hanya ada pada masyarakat kaum muslimin saja tapi sudah di kenal sejak sebelum datangnya Islam. Dahulu Raja-Raja Mesir (yang bergelar Fir’aun) dan orang-orang Yunani mengadakan perayaan untuk Tuhan-Tuhan mereka,[1] 1. Al-Adab Al-Yunaani Al-Qodim…oleh DR Ali Abdul Wahid Al-Wafi hal. 131. demikian pula dengan agama-agama mereka yang lain.

    Lalu perayaan-perayaan ini di warisi oleh orang-orang Kristen, di antara perayaan-perayaan yang penting bagi mereka adalah perayaan hari kelahiran Isa al-Masih q, mereka menjadikannya hariaya dan hari libur serta bersenang-senang. Mereka menyalakan lilin-lilin, membuat makanan-makanan khusus serta mengadakan hal-hal yang diharamkan.

    Kemudian sebagian orang yang menisbatkan dirinya kepada agama Islam ini menjadikan hari kelahiran Nabi sebagai hari raya yang diperingati seperti orang-orang Kristen yang menjadikan hari kelahiran Isa al-Masih sebagai hariaya mereka. Maka orang-orang tersebut menyerupai orang-orang Kristen dalam perayaan dan peringatan maulid Nabi yang diadakan setiap tahun.
    Dari sinilah asal mula maulid Nabi sebagaimana yang dikatakan oleh as-Sakhawi : “Apabila orang-orang salib/kristen menjadikan hari kelahiran Nabi mereka sebagai hariaya maka orang Islam pun lebih dari itu” (at-Tibr al-Masbuuk Fii Dzaiissuluuk oleh as-Sakhawi)

    Inilah teks penyerupaan dengan orang-orang Kristen. Sesungguhnya perayaan maulid Nabi ini menyerupai orang-orang Kristen, padahal “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk kaum itu” (HR. Abu Daud, Ahmad dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Irwaul Gholil 5/109.) Dan inilah yang dikabarkan serta yang dikhawatirkan oleh Nabi: “Sesungguhnya kalian akan mengikuti jalan-jalan orang sebelum kalian sedikit demi sedikit sampai seandainya mereka masuk kelubang biawak kalian juga akan mengikuti mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    B. Siapa Orang Pertama Yang Mengadakan Maulid Nabi Dalam Sejarah Islam?
    Para Ulama yang mengingkari perayaan bid’ah ini telah sepakat, demikian juga dengan orang-orang yang mendukung acara bid’ah ini bahwa Nabi tidak pernah merayakan maulidnya dan juga tidak pernah menganjurkan atau memerintahkan hal ini. Para sahabat beliau, para tabi’in dan tabi’ut tabi’in yang merupakan orang-orang terbaik umat ini serta yang paling bersemangat mengikuti Sunnah Nabi mereka semuanya tidak pernah merayakan maulid. Tiga generasi umat Islam yang telah diekomendasi oleh Nabi berlalu dan tidak di temui pada saat-saat itu perayaan-perayaan maulid ini. Tapi ketika Daulah Fatimiyyah di Mesir berdiri pada akhir abad keempat muncullah perayaan atau peringatan maulid Nabi yang pertama dalam sejarah Islam,2 2. Al-A’yad wa atsaruha alal Muslimin oleh DR. Sulaiman bin Salim As-Suhaimi hal. 285-287. sebagaimana hal ini dikatakan oleh al-Migrizii 3 3. Dia adalah pendukung kelompok Ubeid Al-Qoddah (Ubeidyyin). Dia bernama Ahmad bin Ali bin abdul Qodir bin Muhammad bin Ibrahim al-Husaini al-Ubeidi. Lahir pada tahun 766 H. dalam kitabnya “Al-Mawa’idz wal i’tibar bidzikri al-Khuthoth wal Aatsar” : Dahulu para Kholifah/penguasa Fatimiyyin selalu mengadakan perayaan-perayaan setiap tahunnya, diantaranya adalah perayaan tahun baru, Asy-Syura, Maulid Nabi, Maulid Ali bin Abi Thalib a, Maulid Hasan dan Husein, Maulid Fatimah dll. (Al-Khuthoth 1/490)

    C. Kilas Balik Pelopor Pertama Maulid Nabi
    Pada tahun 317 H muncul di Maroko sebuah kelompok yang di kenal dengan Fatimiyyun (pengaku keturunan Fatimah binti Ali bin Abi Tholib) yang di pelopori oleh Abu Muhammad Ubeidullah bin Maimun al-Qoddah. Dia adalah seorang Yahudi yang berprofesi sebagai tukang wenter, dia pura-pura masuk ke dalam Islam lalu pergi ke Silmiyah negeri Maroko. Kemudian dia mengaku sebagai keturunan Fatimah binti Ali bin Abi Tholib dan hal ini pun di percaya dengan mudah oleh orang-orang di Maroko hingga dia memiliki kekuasaan.

    Ibnu Kholkhon4 4. Dia adalah Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim bin Kholkhon, pengikut madzhab Syafi’i. Dia dilahirkan tahun 608 H. Seorang ahli sastra Arab dan penyair. Beliau meninggal pada tahun 681 H dan disemayamkan di Damaskus (Pent). berkata tentang nasab Ubeidillah bin Maimun al-Qoddah : “Semua Ulama sepakat untuk mengingkari silsilah nasab keturunannya dan mereka semua mengatakan bahwa, semua yang menisbatkan dirinya kepada Fatimiyyun adalah pendusta. Sesungguhnya mereka itu berasal dari Yahudi dari Silmiyah negeri Syam dari keturunan al-Qoddah. Ubeidillah binasa pada tahun 322 H, tapi keturunannya yang bernama al-Mu’iz bisa berkuasa di Mesir dan kekuasan Ubeidiyyun atau Fatimiyyun ini bisa bertahan hingga 2 abad lamanya hingga mereka dibinasakan oleh Sholahuddin al-Ayubi pada tahun 546 H.” 5 5. Lihat Firoq Mu’ashiroh oleh DR Gholib Al-’Awajih 2/493-494.

    Perlu diketahui bahwa kelompok Bathiniyah ini memiliki beberapa nama / sekte. Diantaranya : Nushairiyah, Duruz, Qoromithoh (Ubeidiyyin/Fathimiyyin), Ibahiyah, Isma’iliyah dll.
    Perlu diketahui bahwa Maimun al-Qoddah ini adalah pendiri madzhab/aliran Bathiniyyah yang didirikan untuk menghancurkan Islam dari dalam. Aqidah mereka sudah keluar dari Islam bahkan mereka lebih sesat dan lebih berbahaya dari Yahudi dan Nasrani. Tidak ada yang bisa membuktikan akan hal ini kecuali sejarah mereka yang bengis dan kejam terhadap kaum muslimin, diantaranya : pada tahun 317 H ketika mereka telah sangat berkuasa dan bisa sampai ke Ka’bah mereka membunuh jama’ah haji yang sedang berthowaf pada hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah). Mereka jadikan Masjid Haram dan Ka’bah lautan darah di bawah kepemimpinan dedengkot mereka Abu Thohir al-Janaabi.

    Abu Thohir ketika pembantaian ini duduk di atas pintu Ka’bah menyaksikan pembunuhan terhadap kaum muslimin/jama’ah haji di Masjid Haram dan dibulan haram/suci. Dia mengatakan : “Akulah Allah, Akulah Allah, Akulah yang menciptakan dan Akulah yang membinasakan” -Mahasuci Allah dari apa yang ia katakan -. Tidak ada seorang yang thowaf dan bergantung di Kiswah Ka’bah melainkan mereka bunuh satu persatu.

    Setelah itu mereka buang jasad-jasad tersebut ke sumur zam-zam. Dan mereka cungkil pintu Ka’bah dan mereka sobek kiswah Ka’bah serta mereka ambil hajar aswad dengan paksa. Pemimpin mereka (Abu Thohir) ketika melakukan hal tersebut dia mengatakan : “Dimana itu burung (Ababil), mana itu batu-batu yang (di buat melempar Abrahah)???” Mereka menyimpan hajar aswad di Mesir selama 22 tahun.6 6. Lihat Bidayah wan Nihayah hal. 160-161 oleh Ibnu Katsir. Ini adalah gambaran singkat kekufuran Bathiniyyah

    D. Bagaimana Pendapat Ulama Tentang Kelompok Bathiniyyah (Fatimiyyun)???
    Imam Abdul Qohir al-Baghdady (meninggal tahun 429 H) v berkata : “Madzhab Bathiniyyah bukan dari Islam, tapi dia dari kelompok Majusi (penyembah api)7. 7. Al-Farqu bainal Firoq oleh al-Baghdady hal. 22 Beliau juga berkata : “Ketahuilah bahwa bahayanya Bathiniyyah ini terhadap kaum muslimin lebih besar dari pada bahayanya Yahudi, Nasrani, Majusi serta dari semua orang kafir bahkan lebih dahsyat dari bahayanya Dajjal yang akan muncul di akhir zaman.” 8 8. Ibid hal.282
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah v mengatakan : “Sesungguhnya Bathiniyyah itu orang yang paling fasik dan kafir. Barangsiapa yang mengira bahwa mereka itu orang yang beriman dan bertakwa serta membenarkan silsilah nasab mereka (pengakuan mereka dari keturunan ahli bait/Ali bin Abi Tholib,-pent) maka orang tersebut telah bersaksi tanpa ilmu. Allah berfirman :
    “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya” (QS. Al-Isra: 36)

    Dan Allah berfirman :
    “Kecuali orang yang bersaksi dengan kebenaran sedang dia mengetahui” (QS.Az-Zukhruf : 86)
    Para Ulama telah sepakat bahwa mereka adalah orang-orang zindik dan munafik. Mereka menampakkan ke-Islaman dan menyembunyikan kekufuran. Para Ulama juga sepakat bahwa pengakuan nasab mereka dari silsilah ahlul bait tidaklah benar. Para Ulama juga mengatakan bahwa mereka itu berasal dari keturunan Majusi dan Yahudi. Hal ini sudah tidak asing lagi bagi Ulama dari setiap madzhab baik Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah, maupun Hanabilah serta ahli hadits, ahli kalam, pakar nasab dll (Majmu Fatawa oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah 35/120-132)

    Kesimpulan :
    Jadi pelopor bid’ah maulid Nabi adalah kelompok Bathiniyyah 9 9. Ini pendapat yang kuat. Adapun yang mengatakan bahwa maulid tersebut dimulai tahun 604 H oleh Malik Mudoffar Abu Sa’id Kukburi maka ini tidak menafikan hal diatas karena awal maulid tahun 604 H ini di Mushil saja, adapun secara mutlak maka Bathiniyyahlah pencetus pertama Maulid Nabi didunia, khususnya di Mesir. (Lihat kitab “Al-Bida’ Al-Hauliyah” dan “Al-A’yad wa Atsaruha). yang mereka mempunyai cita-cita untuk merubah agama Islam ini dan memasukkan hal-hal yang bukan dari agama agar menjauhkan kaum muslimin dari agama yang benar ini. Menyibukkan manusia dari bid’ah (perayaan-perayaan bid’ah seperti maulid) adalah salah satu jalan yang mudah untuk mematikan Sunnah Nabi dan menjauhkan manusia dari syari’at Allah. 10 10 “Al-Bida’ Al-Hauliyah” Hal. 145, oleh Abdullah bin Abdul Aziz at-Tuwaijiry.

    Sumber: http://www.mahad.info
    Dinukil ulang dari: http://salafiyunpad.wordpress.com/2007/09/27/pencetus-pertama-maulid-nabi/#comment-5996

  • Saya sebagai umat muslim hanya tetap berpegang kepada sunah rassullah SAW dan Al Qur’an. Dan dalam masalah bid’ah saya merasa
    heran, karena banyak para ulama yang mengerti tentang sunnah dan Al Qur’an tetapi juga mempromosikan bid’ah hingga sa’at ini.
    Alangkah baiknya jika para ulama di negeri ini mengklaripikasi tentang bid’ah bersama-sama agar masyarakat muslim yang ada di Indonesia tidak ragu maupun bimbang slama ini. Karena sudah menjadi kewajiban kita untuk meluruskan jalan Allah. Janganlah kita takut karena alasan politis atau apapun, karena kita mencari
    kebenaran yang hakiki yaitu kebenaran ISLAM yang sejati. Amin

  • Jazakumullah khairan Ustadz atas ilmu yang diberikan, kami tunggu seri berikutnya.

Penerimaan Ponpes Bukhari 2010-2011
donasi dakwah

Iklan

muslim.or.id

Iklan

radioalhikmah Download Kajian Distributor Pulsa Elektrik Toko Muslim Pustaka Muslim Konsultasi Syariah

Doa dan Zikir

Bacaan ketika masuk rumah

بِسْمِ اللهِ وَلَجْنَا , وَبِسْمِ اللهِ خَرَجْنَا , وَعَلَى اللهِ رَبِّنَا تَوَكَّلْنَا , ثُمَّ لِيُسَلِّمْ عَلَى أَهْلِهِ

“Dengan nama Allah, kami masuk (ke rumah), dengan nama Allah, kami keluar (darinya) dan kepada Tuhan kami, kami bertawakkal”. Kemudian mengucapkan salam kepada keluarga-nya
— HR. Abu Dawud: 4/325, dan Al-‘Allamah Ibnu Baaz berpendapat, isnad hadits tersebut hasan dalam Tuhfatul Akhyar, no. 28. Dalam Kitab Shahih: “Apabila seseorang masuk rumahnya, lalu berdzikir kepada Allah ketika masuk rumah dan makan, syaitan berkat

Silakan menyebarkan artikel yang ada di muslim.or.id dengan harus menyertakan muslim.or.id sebagai sumber artikel. Muslim.or.id menerima bantuan penerjemahan artikel muslim.or.id ke dalam bahasa inggris. Silakan hubungi muslim.or.id@gmail.com. Info iklan silakan hubungi muslimadv@gmail.com

Kasyen theme originally design by cizkah powered by Wordpress