Ensiklopedia Maulid Nabi (2): Antara Cinta Rasul & Perayaan Maulid
Sebenarnya adakah kaitan antara cinta Rasul dan perayaan maulid, alias hari kelahiran beliau? Pertanyaan ini mungkin terdengar aneh bagi mereka yang kerap merayakannya. Bagaimana tidak, sedang disana dibacakan sejarah hidup beliau, diiringi dengan syair-syair pujian dalam bahasa Arab untuk beliau (yang dikenal dengan nama burdah), yang kesemuanya tak lain demi mengenang jasa beliau dan memupuk cinta kita kepadanya…?
Dalam sebuah muktamar negara-negara Islam sedunia, salah seorang dai kondang dari Saudi yang bernama Dr. Said bin Misfir Al Qahthani, berjumpa dengan seorang tokoh Islam (syaikh) dari negara tetangga. Melihat pakaiannya yang khas ala Saudi, Syaikh tadi memulai pembicaraan (Sebagaimana yang dituturkan sendiri oleh Dr. Said Al Qahthani ketika berkunjung ke kampus kami, Universitas Islam Madinah dan memberikan ceramah di sana.):
Syaikh: “Assalaamu ‘alaikum…”
Dr. Said: “Wa’alaikumussalaam warahmatullah wabaraatuh…”
Syaikh: “Nampaknya Anda dari Saudi ya?”
Dr. Said: “Ya, benar.”
Syaikh: “Oo, kalau begitu Anda termasuk mereka yang tidak cinta kepada Rasul…!”
(kaget bukan kepalang dengan ucapan Syaikh ini, ia berusaha menahan emosinya sembari bertanya):
Dr. Said: “Lho, mengapa bisa demikian?”
Syaikh: “Ya, sebab seluruh negara di dunia merayakan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali negara Anda; Saudi Arabia… ini bukti bahwa kalian orang-orang Saudi tidak mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Dr. Said: “Demi Allah… tidak ada satu hal pun yang menghalangi kami dari merayakan maulid Beliau, kecuali karena kecintaan kami kepadanya!”
Syaikh: “Bagaimana bisa begitu??”
Dr. Said: “Anda bersedia diajak diskusi…?”
Syaikh: “Ya, silakan saja..”
Dr. Said: “Menurut Anda, perayaan Maulid merupakan ibadah ataukah maksiat?”
Syaikh: “Ibadah tentunya!” (dengan nada yakin).
Dr. Said: “Baik… apakah ibadah ini diketahui oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, ataukah tidak?”
Syaikh: “Tentu beliau tahu akan hal ini!”
Dr. Said: “Jika beliau tahu akan hal ini, lantas beliau sembunyikan ataukah beliau ajarkan kepada umatnya?”
(…. Sejenak syaikh ini terdiam. Ia sadar bahwa jika ia mengatakan “ya”, maka pertanyaan berikutnya ialah: Mana dalilnya? Namun ia juga tidak mungkin mengatakan tidak, sebab konsekuensinya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih menyembunyikan sebagian ajaran Islam. Akhirnya dengan terpaksa ia menjawab )
Syaikh: “Iya… beliau ajarkan kepada umatnya…”
Dr. Said: “Bisakah Anda mendatangkan dalil atas hal ini?”
(Syaikh pun terdiam seribu bahasa… ia tahu bahwa tidak ada satu dalil pun yang bisa dijadikan pegangan dalam hal ini…)
Syaikh: “Maaf, tidak bisa…”
Dr. Said: “Kalau begitu ia bukan ibadah, tapi maksiat.”
Syaikh: “Oo tidak, ia bukan ibadah dan bukan juga maksiat, tapi bidáh hasanah.”
Dr. Said: “Bagaimana Anda bisa menyebutnya sebagai bid’ah hasanah, padahal Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa setiap bid’ah itu sesat??”
Setelah berdialog cukup lama, akhirnya syaikh tadi mengakui bahwa sikap sahabatnyalah yang benar, dan bahwa maulid Nabi yang selama ini dirayakan memang tidak berdasar kepada dalil yang shahih sama sekali.
Ini merupakan sepenggal dialog yang menggambarkan apa yang ada di benak sebagian kaum muslimin terhadap sikap sebagian kalangan yang enggan merayakan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dialog singkat di atas tentunya tidak mewakili sikap seluruh kaum muslimin terhadap mereka yang tidak mau ikut maulidan. Kami yakin bahwa di sana masih ada orang-orang yang berpikiran terbuka dan obyektif, yang siap diajak berdiskusi untuk mencapai kebenaran sesungguhnya tentang hal ini.
Namun demikian, ada juga kalangan yang bersikap sebaliknya. Menutup mata, telinga, dan fikiran mereka untuk mendengar argumentasi pihak lain. Karenanya kartu truf terakhir mereka ialah memvonis pihak lain sebagai ‘wahhabi’ yang selalu dicitrakan sebagai ’sekte Islam sempalan’, yang konon diisukan sebagai kelompok yang gampang membid’ahkan, mengkafirkan, mengingkari karomah para wali, dan sederet tuduhan lainnya.
Cara seperti ini bukanlah hal baru. Sejak dahulu pun mereka yang tidak senang kepada dakwah tauhid, selalu berusaha memberikan gelar-gelar buruk kepada para dainya. Tujuannya tak lain ialah agar masyarakat awam antipati terhadap mereka. Simaklah bagaimana Fir’aun dan kaumnya menggelari Musa dan Harun ‘alaihimassalam:
(57) Fir’aun mengatakan: “Adakah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami dengan sihirmu hai Musa? (58) Sungguh kami pasti mendatangkan pula kepadamu sihir semacam itu, maka buatlah suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak pula kamu di suatu tempat yang pertengahan (letaknya).” (59) Musa menjawab: “Waktu pertemuan itu ialah di hari raya dan hendaklah manusia dikumpulkan pada waktu dhuha.” (60) Maka Fir’aun meninggalkan (tempat itu), lalu mengatur tipu dayanya, kemudian dia datang. (61) Musa berkata kepada mereka: “Celakalah kamu, janganlah kamu mengadakan kedustaan terhadap Allah, hingga Dia membinasakanmu dengan siksa.” Dan sesungguhnya telah merugi orang yang mengada-adakan kedustaan. (62) Maka mereka berbantah-bantahan tentang urusan mereka di antara mereka, dan mereka merahasiakan percakapan (mereka). (63) Mereka berkata: “Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kalian dari negeri kalian dengan sihirnya, dan hendak melenyapkan kedudukan kalian yang utama…” (Qs. Thaha: 57 – 63)
Dalam ayat lain Allah berfirman:
“Sesungguhnya telah Kami utus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata, (24) kepada Fir’aun, Haman dan Qarun; maka mereka berkata: “Ia (Musa) adalah seorang ahli sihir yang pendusta.” (Qs. Ghafir: 23-24)
Simak pula bagaimana kaum Nabi Luth ‘alaihissalam hendak mengusir beliau dan para pengikutnya dengan tuduhan ‘orang-orang yang sok menyucikan diri’:
Maka tidak lain jawaban kaumnya melainkan mengatakan: “Usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu; karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang (mendakwakan dirinya) bersih.” (Qs. An Naml: 56)
Atau Nabi Shalih ‘alaihissalam yang dianggap sombong dan pembohong oleh kaumnya… Allah berfirman:
(23) Kaum Tsamudpun telah mendustakan ancaman-ancaman (itu). (24) Mereka berkata: “Bagaimana kita akan mengikuti saja seorang manusia (biasa) di antara kita? Sesungguhnya kalau begitu kita benar-benar berada dalam keadaan sesat dan gila”, (25) Apakah wahyu itu diturunkan kepadanya -yakni Nabi Shaleh ‘alaihissalam- di antara kita? Sebenarnya dia seorang yang amat pendusta lagi sombong.” (26) Kelak mereka akan tahu siapakah yang sebenarnya amat pendusta lagi sombong. (Qs. Al Qamar: 23 – 26)
Sampai junjungan kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tak luput dari julukan-julukan buruk kaumnya. Allah berfirman:
(1) Shaad, demi al-Qur’an yang mempunyai keagungan (2) Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit. (3) Betapa banyaknya ummat sebelum mereka yang telah kami binasakan, lau mereka meminta tolong padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk lari melepaskan diri. (4) Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata: “ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta.” (Qs. Shaad: 1 – 4)
Jadi, banyaknya tuduhan-tuduhan jelek terhadap suatu golongan, mestinya tidak menghalangi kita untuk bersikap adil dan obyektif terhadap mereka. Karena boleh jadi kebenaran justeru berpihak kepada mereka, dan dalam hal ini yang menjadi patokan adalah dalil-dalil dari Al Qur’an dan Hadits yang shahih.
Berangkat dari sini, penulis ingin mengajak para pembaca yang budiman untuk mendudukkan masalah perayaan maulid Nabi, benarkah ia merupakan bid’ah hasanah? Benarkah ia merupakan perwujudan cinta kepada Rasul yang dibenarkan? Apakah asal muasal perayaan ini? dan berbagai masalah lainnya seputar maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tentunya semua akan disajikan secara ilmiah dengan merujuk kepada Al Qur’an dan Sunnah, sesuai dengan pemahaman As Salafus shaleh.
***
Penulis: Ustadz Sufyan bin Fuad Baswedan, Lc. (Mahasiswa Pasca Sarjana, Fakultas Hadits & Dirosah Islamiyyah, Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia)
Artikel www.muslim.or.id
Catatan:
Lanjutan artikel Ensiklopedia Maulid Nabi ini insya Allah akan diposting pada website www.manhaj.or.id secara berseri.














Assalamualaikum wr. wb.
Sulit ketika manusia berpendapat sebagai hakim atas sepenggal pengetahauan yang dia tahu, sesungguhnya pengetahuan manusia tidak sampai seujung rambut dan jauh dari sempurna, yang kemudian dipertahankan sampai menjauhkan silaturahmi umat, sesungguhnya kerugian lebih besar daripada keuntungan bagi umat, yang wajib adalah membangun silaturahmi, bukan membesarkan perbedaan menjadi perpecahan, Allah SWT mengetahui semua yg ada dalam hati setiap manusia…
@ricki
apakah kajian itu harus menunggu setahun sekali/ menunggu muludan? kalau munurut akal sangat baik selali usulan antum tepi bagai mana menurut syar’i? muludan itu kan termasuk perbuatan ibadah. kalau bisa dibuatkan acara kajian seminggu ust salaf setempat, sebulan sekali mengundang ust yg terkenal seperti , ust yazid, ust abdul hakim, ust ainur rofik dll. semoga antum di rohati Allah
perlu di catat bahwa perayaan mauliad bukan ritual tapi syiar.
#pejuang
Semoga Allah merahmati anda. Istilah tidak mengubah hakikat sesuatu. Ritual ataupun bukan, orang yang mengadakan Maulid Nabi perayaan tersebut memberikan pahala, itulah ibadah. Sedangkan ibadah tidak boleh diada-adakan, harus berdasarkan dalil.
Taruhlah anda menganggap Maulid Nabi adalah sarana dakwah / syiar, itu bagi anda sebagai panitia, namun peserta yang datang ke acara tersebut apakah niatnya untuk berdakwah atau beribadah?
@ Pejuang
Syiar tetaplah harus sesuai syariat sebagaimana pula ada yg beranggapan larung laut untuk Nyi Roro Kidul dg dibacakan ayat2 suci adalah syiar… SUngguh ini tipu daya syaithon…
Andaikan ini syiar tentulah para sahabat lebih membutuhkannya krn yg dihadapi para sahabat lebih berat lagi, namun para sahabat tdk sedikitpun melakukannya padahal merekalah ujung tombak yg menyiarkan Islam….
Apakah antum pernah di dalam maulid mengatakan Tegakkan tauhid (padahal ini Syiar para Nabi dan Rasul), Jangan meminta di kubur Nabi? Jangan bertawassul atas nama Nabi? Jangan berziarah ke kubur2 yg dianggap wali utk mencari berkah, jangan berbuat bid’ah? (padahal Nabi setiap khutbah jum’at) menasehati sahabatnya atas bid’ah)?…. Jika itu syiar mk mana syiar di dalamnya yg menjelaskan kepada peserta agar membersihkan Tauhid??? Yang ada sebaliknya diisi dg kepercayaan akan datangnya ruh Nabi yg ini jelas suatu kesyirikan???? Inikah SYiar?
Sungguh para Syaithon pun memiliki syiar2nya spt musik, dll…
Jadi janganlah tertipu dg hal tsb krn ilmu para pengamal maulid tidak lepas dari barzanji dan barzanzi bukan Qolalohu Ta’ala bukan Qola Rosululloh shollolohu’alaihi wa sallam dan bukan Qolash Shohabah…. tp mereka syairnya adalah berkata habib, berkata fulan dan ini suatu yg bagus bukan bid’ah menurut mereka
Sesungguhnya syiar Islam banyak yang terbesar adalah Adzan untuk mengajak manusia (para lelaki) untuk berjamaah di Masjid??? Sholat Jamaah, Sholat Ied, dll…. mk perhatikanlah apakah setelah mereka mengatakan Maulid itu syiar mk mereka menyambut syiar terbesar ini???
Assalamu’alaikum
marilah kita tegakan kebenaran islam bersama dan marilah kita lanjutkan perjuangan para wali kita yaitu para syiar islam yang datang di negeri kita yang berbudaya hindu.memang tak semudah membalikan telapak tangan perjuangan para wali waktu itu di negeri hindu jika kita juga benar cinta kpd wali songo maka kita juga harus meneruskan perjuangan mereka dengan memurnikan ajaran islam dengan menjauhi segala bentuk larangan bentuk bid’ah ,syirik dan kemusyrikan lebih utama syiar islam berjamaah spt komen sdr kita abu muhammad naufal zaki
wassalam
Ane mau ikutan ne ustadz….Ane mau tanya…
antum menyabarkan ilmu agama lewat internet,
menurut antum ibadah bukan???
klu ibadah berarti antum melakukan ibadah yang bid’ah jg kan karena ga ada tuntunannya…
menurut ane ustadz…kita ga boleh mengganggu cara orang mendekatkan diri kepada Allah ataupun mengenal islam
sebagai contoh :
di turki ada istilah “tarian sufi” bagaimana ustadz menanggapi itu? menurut ane klu memng itu cara mereka untuk mendekatkan diri kepada Allah kita ga boleh usil,setiap orang punya cara dan budaya berbeda untuk mendekatkan diri pada-NYA, begitupun pada pelaku tarekat yang berzikir siang-malam, klu mmang itu cara mereka ya boleh2 saja..
bijaksana lah sedikit ustadz..klu antum ga setuju dengan keadaan maulid cukup antum bilang di majelis dan sama murid2 antum aja jangan di sebarluaskan kasihan umat jd bingung,karena semua yang dibuat oleh para ulama terdahulu seperti maulid,tahlil dsb pasti kuat alasannya dan berdasarkan Alquran dan hadist dan ujma ulama dan semua ada sebabnya dan dilakukan demi kepentingan umat bukan pribadi.
demikian terimakasih…
@ Donnie.
Coba pahami penjelasan berikut sebagaimana ada yg tanyakan perkataan serupa di web ini, dan kami beri jawaban yg sama sbg berikut.
Semoga bisa dibedakan antara ibadah mahdhoh dan ibadah ghoiru mahdhoh.
Ibadah mahdhoh adalah ibadah yg murni ibadah, jadi semata-mata tujuannya untuk cari pahala. Contohnya adalah shalat dan puasa.
Ibadah ghoiru mahdhoh adalah ibadah yang tidak murni ibadah. Satu sisi ibadah ini bisa bernilai ibadah jk diniatkan karena Allah dan bisa tidak bernilai ibadah jk hanya berniat untuk dunia. Contohnya adalah:
a. Bekerja untuk mencari nafkah
b. Tersenyum dengan orang lain
c. Tolong menolong sesama
d. Menafkahkan harta di jalan Allah
Para ulama menjelaskan bahwa ibadah mahdhoh jk dkerjakan tanpa tuntunan, jelas hal ini adalah amalan yg sia-sia. Seperti shalat yg dilakukan diniatkan pd malam jumat kliwon, ini jelas tdk ada tuntunan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Barangsiapa mlakukan suatu amalan tnpa tuntunan dr kami, mk amalan itu tertolak. ” (HR Muslim). Jd harus perlu dasar dlm ibadah jenis ini. Shgga ada kaedah dlm ibadah: “Hukum asal ibadah itu terlarang, sampai ada dalil yg menuntunkannya.”
Sedangkan ibadah ghoiru mahdhoh, ini baru jadi ibadah dan berpahala jk diniatkan untuk ibadah, spt cari nafkah untuk hidupi kluarga diniatkan krn Allah. Namun jk diniatkan hanya untuk cari kerja sj sbgmn kewajibn kepala keluarga, mk ini tdk bernilai pahala. Jadi amalan ini asalnya mubah. Jk diniatkan krn Allah baru bernilai pahala.
Namun perlu diperhatikan bahwa ibadah ghoitu mahdhoh ini jk dijadikan sebagai ibadah murni, mk bisa dinilai bid’ah spt dikhususkan dgn cara dan dikerjakan pd waktu tertentu.
Seperti contohnya: Ziarah kubur sebelum masuk ramadhan. Ziarah kubur asalnya boleh kapan saja. Namun jk dikhususkan pd waktu semacam ini, barulah dinilai bid’ah.
Begitu pula jabat tangan stelah shalat. Jabat tangannya asalnya boleh kapan saja, bhkn jabat tangan dpt menggugurkan dosa. Namun jk dikhususkan ketika selesai shalat, mk ini yg jadi masalah. Ulama besar syafi’iyah, Al Izz bin Abdis Salam mengatakan bahwa ini termasuk amalan tanpa tuntunan. Jd tdk bisa dikatakan mubah.
Begitu pula mengusap muka sesudah shalat. Mengusap muka boleh kapan saja. Namun masalahnya kenapa dikhususkan sesudah shalat. Yg benar, hadits yg membicarakan mengusap muka sesudah shalat adalah dhoif (lemah) sebagaimana dikatakan pr ulama peneliti hadits.
Semoga Allah beri kepahaman.
Silakan baca artikel2 berikut ini pula:
1. http://muslim.or.id/manhaj/mengenal-seluk-beluk-bidah-1.html
2. http://muslim.or.id/manhaj/mengenal-seluk-beluk-bidah-2.html
3. http://muslim.or.id/manhaj/mengenal-seluk-beluk-bidah-3.html
4. http://muslim.or.id/manhaj/mengenal-seluk-beluk-bidah-4.html
Mohon dibaca secara sempurna sebelum bertanya kembali. Semoga Allah beri taufik.