MUQADDIMAH
Kebanyakan kaum muslimin membiasakan membaca surat Yasin, baik pada malam Jum’at, ketika mengawali atau menutup majlis ta’lim, ketika ada atau setelah kematian dan pada acara-acara lain yang mereka anggap penting. Saking seringnya surat Yasin dijadikan bacaan di berbagai pertemuan dan kesempatan, sehingga mengesankan, Al-Qur’an itu hanyalah berisi surat Yasin saja. Dan kebanyakan orang membacanya memang karena tergiur oleh fadhilah atau keutamaan surat Yasin dari hadits-hadits yang banyak mereka dengar, atau menurut keterangan dari guru mereka.
Al-Qur’an yang di wahyukan Allah adalah terdiri dari 30 juz. Semua surat dari Al-Fatihah sampai An-Nas, jelas memiliki keutamaan yang setiap umat Islam wajib mengamalkannya. Oleh karena itu sangat dianjurkan agar umat Islam senantiasa membaca Al-Qur’an. Dan kalau sanggup hendaknya menghatamkan Al-Qur’an setiap pekan sekali, atau sepuluh hari sekali, atau dua puluh hari sekali atau khatam setiap bulan sekali. (Hadist Riwayat Bukhari, Muslim dan lainnya).
Sebelum melanjutkan pembahasan, yang perlu dicamkan dan diingat dari tulisan ini, adalah dengan membahas masalah ini bukan berarti penulis melarang atau mengharamkan membaca surat Yasin.
Sebagaimana surat-surat Al-Qur’an yang lain, surat Yasin juga harus kita baca. Akan tetapi di sini penulis hanya ingin menjelaskan kesalahan mereka yang menyandarkan tentang fadhilah dan keutamaan surat Yasin kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Selain itu, untuk menegaskan bahwa tidak ada tauladan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat Yasin setiap malam Jum’at, setiap memulai atau menutup majlis ilmu, ketika dan setelah kematian dan lain-lain.
Mudah-mudahan keterangan berikut ini tidak membuat patah semangat, tetapi malah memotivasi untuk membaca dan menghafalkan seluruh isi Al-Qur’an serta mengamalkannya.
KELEMAHAN HADITS-HADITS TENTANG FADHILAH SURAT YASIN
Kebanyakan umat Islam membaca surat Yasin karena -sebagaimana dikemukakan di atas- fadhilah dan ganjaran yang disediakan bagi orang yang membacanya. Tetapi, setelah penulis melakukan kajian dan penelitian tentang hadits-hadits yang menerangkan fadhilah surat Yasin, penulis dapati Semuanya Adalah Lemah.
Perlu ditegaskan di sini, jika telah tegak hujjah dan dalil maka kita tidak boleh berdusta atas nama Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebab ancamannya adalah Neraka. (Hadits Riwayat Bukhari, Muslim, Ahmad dan lainnya).
HADITS DHA’IF DAN MAUDHU’
Adapun hadits-hadits yang semuanya dha’if (lemah) dan atau maudhu’ (palsu) yang dijadikan dasar tentang fadhilah surat Yasin diantaranya adalah sebagai berikut :
Hadist 1
Artinya: “Siapa yang membaca surat Yasin dalam suatu malam, maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya dan siapa yang membaca surat Ad-Dukhan pada malam Jum’at maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya.” (Ibnul Jauzi, Al-Maudhu’at, 1/247).
Keterangan: Hadits ini Palsu.
Ibnul Jauzi mengatakan, hadits ini dari semua jalannya adalah batil, tidak ada asalnya. Imam Daruquthni berkata: Muhammad bin Zakaria yang ada dalam sanad hadits ini adalah tukang memalsukan hadits. (Periksa: Al-Maudhu’at, Ibnul Jauzi, I/246-247, Mizanul I’tidal III/549, Lisanul Mizan V/168, Al-Fawaidul Majmua’ah hal. 268 No. 944).
Hadits 2
Artinya: “Siapa yang membaca surat Yasin pada malam hari karena mencari keridhaan Allah, niscaya Allah mengampuni dosanya.”
Keterangan: Hadits ini Lemah.
Diriwayatkan oleh Thabrani dalam kitabnya Mu’jamul Ausath dan As-Shaghir dari Abu Hurairah, tetapi dalam sanadnya ada rawi Aghlab bin Tamim. Kata Imam Bukhari, ia munkarul hadits. Kata Ibnu Ma’in, ia tidak ada apa-apanya (tidak kuat). (Periksa: Mizanul I’tidal I:273-274 dan Lisanul Mizan I : 464-465).
Hadits 3
Artinya: “Siapa yang terus menerus membaca surat Yasin pada setiap malam, kemudian ia mati maka ia mati syahid.”
Keterangan: Hadits ini Palsu.
Hadits ini diriwayatkan oleh Thabrani dalam Mu’jam Shaghir dari Anas, tetapi dalam sanadnya ada Sa’id bin Musa Al-Azdy, ia seorang pendusta dan dituduh oleh Ibnu Hibban sering memalsukan hadits. (Periksa: Tuhfatudz Dzakirin, hal. 340, Mizanul I’tidal II : 159-160, Lisanul Mizan III : 44-45).
Hadits 4
Artinya: “Siapa yang membaca surat Yasin pada permulaan siang (pagi hari) maka akan diluluskan semua hajatnya.”
Keterangan: Hadits ini Lemah.
Ia diriwayatkan oleh Ad-Darimi dari jalur Al-Walid bin Syuja’. Atha’ bin Abi Rabah, pembawa hadits ini tidak pernah bertemu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab ia lahir sekitar tahun 24H dan wafat tahun 114H.
(Periksa: Sunan Ad-Darimi 2:457, Misykatul Mashabih, takhrij No. 2177, Mizanul I’tidal III:70 dan Taqribut Tahdzib II:22).
Hadits 5
Artinya: “Siapa yang membaca surat Yasin satu kali, seolah-olah ia membaca Al-Qur’an dua kali.” (Hadits Riwayat Baihaqi dalam Syu’abul Iman).
Keterangan: Hadits ini Palsu.
(Lihat Dha’if Jamiush Shaghir, No. 5801 oleh Syaikh Al-Albani).
Hadits 6
Artinya: “Siapa yang membaca surat Yasin satu kali, seolah-olah ia membaca Al-Qur’an sepuluh kali.” (Hadits Riwayat Baihaqi dalam Syu’abul Iman).
Keterangan: Hadits ini Palsu.
(Lihat Dha’if Jami’ush Shagir, No. 5798 oleh Syaikh Al-Albani).
Hadits 7
Artinya: “Sesungguhnya tiap-tiap sesuatu mempunyai hati dan hati (inti) Al-Qur’an itu ialah surat Yasin. Siapa yang membacanya maka Allah akan memberikan pahala bagi bacaannya itu seperti pahala membaca Al-Qur’an sepuluh kali.”
Keterangan: Hadits ini Palsu.
Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (No. 304 8) dan Ad-Darimi 2:456. Di dalamnya terdapat Muqatil bin Sulaiman. Ayah Ibnu Abi Hatim berkata: Aku mendapati hadits ini di awal kitab yang di susun oleh Muqatil bin Sulaiman. Dan ini adalah hadits batil, tidak ada asalnya. (Periksa: Silsilah Hadits Dha’if no. 169, hal. 202-203). Imam Waqi’ berkata: Ia adalah tukang dusta. Kata Imam Nasa’i: Muqatil bin Sulaiman sering dusta.
(Periksa: Mizanul I’tidal IV:173).
Hadits 8
Artinya: “Siapa yang membaca surat Yasin di pagi hari maka akan dimudahkan (untuknya) urusan hari itu sampai sore. Dan siapa yang membacanya di awal malam (sore hari) maka akan dimudahkan urusannya malam itu sampai pagi.”
Keterangan: Hadits ini Lemah.
Hadits ini diriwayatkan Ad-Darimi 2:457 dari jalur Amr bin Zararah. Dalam sanad hadits ini terdapat Syahr bin Hausyab. Kata Ibnu Hajar: Ia banyak memursalkan hadits dan banyak keliru. (Periksa: Taqrib I:355, Mizanul I’tidal II:283).
Hadits 9
Artinya: “Bacakanlah surat Yasin kepada orang yang akan mati di antara kamu.”
Keterangan: Hadits ini Lemah.
Diantara yang meriwayatkan hadits ini adalah Ibnu Abi Syaibah (4:74 cet. India), Abu Daud No. 3121. Hadits ini lemah karena Abu Utsman, di antara perawi hadits ini adalah seorang yang majhul (tidak diketahui), demikian pula dengan ayahnya. Hadits ini juga mudtharib (goncang sanadnya/tidak jelas).
Hadits 10
Artinya: “Tidak seorang pun akan mati, lalu dibacakan Yasin di sisinya (maksudnya sedang naza’) melainkan Allah akan memudahkan (kematian itu) atasnya.”
Keterangan: Hadits ini Palsu.
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitab Akhbaru Ashbahan I :188. Dalam sanad hadits ini terdapat Marwan bin Salim Al Jazari. Imam Ahmad dan Nasa’i berkata, ia tidak bisa dipercaya. Imam Bukhari, Muslim dan Abu Hatim berkata, ia munkarul hadits. Kata Abu ‘Arubah Al Harrani, ia sering memalsukan hadits. (Periksa: Mizanul I’tidal IV : 90-91).
PENJELASAN
Abdullah bin Mubarak berkata: Aku berat sangka bahwa orang-orang zindiq (yang pura-pura Islam) itulah yang telah membuat riwayat-riwayat itu (hadits-hadits tentang fadhilah surat-surat tertentu). Dan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata: Semua hadits yang mengatakan, barangsiapa membaca surat ini akan diberikan ganjaran begini dan begitu SEMUA HADITS TENTANG ITU ADALAH PALSU. Sesungguhnya orang-orang yang memalsukan hadits-hadits itu telah mengakuinya sendiri. Mereka berkata, tujuan kami membuat hadits-hadits palsu adalah agar manusia sibuk dengan (membaca surat-surat tertentu dari Al-Qur’an) dan menjauhkan mereka dari isi Al-Qur’an yang lain, juga kitab-kitab selain Al-Qur’an. (Periksa: Al-Manarul Munffish Shahih Wadh-Dha’if, hal. 113-115).
KESIMPULAN
Dengan demikian jelaslah bahwa hadit-hadits tentang fadhilah dan keutamaan surat Yasin, semuanya LEMAH dan PALSU. Oleh karena itu, hadits-hadits tersebut tidak dapat dijadikan hujjah untuk menyatakan keutamaan surat ini dan surat-surat yang lain, dan tidak bisa pula untuk menetapkan ganjaran atau penghapusan dosa bagi mereka yang membaca surat ini. Memang ada hadits-hadits shahih tentang keutamaan surat Al-Qur’an selain surat Yasin, tetapi tidak menyebut soal pahala. Wallahu A’lam.
***
Penyusun: Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Dipublikasikan kembali oleh www.muslim.or.id dari blog Abu Aufa


Supriyadi
25 Jul 2008 [#]
As5 wahai ikhwani nampaknya dkwah yang anda jalan kn salh.Knapa krna bhsn yg anda bhas dlm artikel ni tentang ubudiah dn ubudiah itu perorangan.Bknya skrang yagn kurang dari umat islam adalh persatuan dn kebersamaan bkan slng tuding dn memaki.Cntoh yasinan bidah.Kunut bidah.Isra mingraj bidah.Itu smua hanya menimbulkan perpechan padahal anda tahu hadis doif bleh d gunakan asal dalm ubudiah.Bkn penetapan hukum fiqh.Cba anda bka kembli ktb mustholahul hadis. Pabila hadis doif d kwatkn dngn hadst doif lainya apakah kedudukan hadst itu tetap doif.?Makasi
cici
25 Jul 2008 [#]
Saya termasuk orang yang awan agama.dan saya mengerti sedikit hukum tidak boleh dalam islam. saya bisa menerima tulisan yang diatas mengenai surat yasin. namun yang patut disayangkan, ada beberapa orang yang begitu frontal menolak pembacaan surat yasin untuk hal2 yang tersebut diatas. misal pembacaan untuk peringatan hari kematian. perlu kita ingat bersama bahwa masyarakat kita begitu majemuknya, dan tidak semua orang dianugerahi pikiran,iman dan kecerdasan yang luar biasa oleh Allah Swt.harus diingat ulang bahwa budaya selamatan tersebut muncul dari dakwah para wali yang mentransfer kebiasaan masyarakat kita dulu yang bepaham animisme dan dinamisme ke dalam nuansa keislaman.karna dakwah tersebut dakwah damai. dan kalau boleh berandai 2 ni…andaikan RAsullullah masih hidup sampe sekarang, dan hidupnya bukan di Arab tapi di Indonesia, mungkin Beliau juga bakal setuju dengan ide dan metode para wali .
wallahualam bi sawab
juntiah
25 Jul 2008 [#]
mugnya bagus….hehehhe…
priyo
25 Jul 2008 [#]
asslm…. whai saudaraku muslim…. brsatulah.. !
M Abduh T
26 Jul 2008 [#]
Saudaraku –yang kami sangat merindukanmu menuai sepercik cahaya kebenaran-
Ada beberapa point penting yang hendak kami sampaikan demi meluruskan beberapa tanggapan yang ada mengenai masalah bid’ah dan Yasinan
1. Saudaraku, Bid’ah itu layaknya seperti maksiat dan setiap bid’ah adalah tercela
Ingat Saudaraku karena dalam setiap hadits yang mencela bid’ah itu menyatakan bahwa setiap amalan bid’ah itu tertolak. Bagaimana mungkin sesuatu yang tertolak kok dilakukan lalu dikatakan bukan maksiat?! Bukankah Nabi bersabda, “‘sesungguhnya sejelek-jeleknya perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam agama)” (HR. Muslim no. 867)?! Dan bagaimana mungkin kita katakan bahwa ada bid’ah yang baik? Sedangkan dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dimaksudkan adalah umum karena menggunakan lafazh kullu (yang artinya ‘semua’). Jadi semua bid’ah adalah sesat dan tidak ada pengecualian.
Lalu bagaimana dengan perkataan Umar yang mengatakan ‘sebaik-baik bid’ah adalah ini’, bagaimana pula dengan pengumpulan Al Qur’an, kok dilakukan setelah Nabi hidup, bukankah ini berarti ada bid’ah yang baik?! Akhi, kami sarankan –karena kami juga merindukan engkau mendapatkan sepercik cahaya ilmu- untuk dapat membaca tulisan yang berjudul ‘Mengenal Bid’ah Lebih Dekat’. Mungkin dengan membaca tulisan tersebut, saudara mendapat taufik dari Allah. Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang mendapatkan petunjuk.
2. Akhi ibadah itu tidak cukup niat baik, tetapi harus ada dasarnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Seandainya boleh kita beribadah asal-asalan tanpa ada dasar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka bolehkah kita mengerjakan shalat shubuh 4 raka’at dengan dasar ‘Saya kan niatnya baik’, dengan banyak raka’at berarti kita akan banyak baca Qur’an dan akan lebih banyak memuji Allah? Apakah boleh semata-mata niat baik seperti ini?
Atau gampangnya lagi, apakah mungkin kita mengatakan ‘Saya mau shalat Zhuhur nanti malam saja (kalau sudah tengah malam) karena waktu malam akan lebih khusus, juga tidak banyak yang lihat’? Apakah mungkin kita mengatakan seperti ini dengan dasar niat yang baik semata?
Jawabannya insya Allah tidak. Maka demikian pula amalan ibadah yang lainnya, kita harus beribadah dengan dasar dalil.
3. Akhi kami membahas Yasinan bukan berarti kami ingin memecah belah umat Islam.
Yang kami inginkan –Ya Akhi- agar umat Islam ini bersatu di atas kebenaran, di atas ilmu, di atas petunjuk suri tauladan (panutan) kita. Kami tidak ingin Saudara kami yang lain terjerumus dalam kesalahan dan kekeliriuan dengan melakukan amalan yang tidak ada dasarnya. Justru itu, kami memperingatkan ini, karena kami ingin sekali agar Saudara kami yang lain mengetahui bahwa ini adalah kekeliruan sehingga dijauhi.
Perlu diketahui –Ya Akhi- bahwa bid’ah memiliki dampak buruk yang sangat berbahaya sehingga kami selalu memperingatkan hal ini, berbeda dengan orang-orang yang notabene cuma membela bid’ah. Saudara bisa membaca lebih jelas membaca dampak buruk bid’ah dalam tulisan di web ini yang berjudul ‘Mengenal Bid’ah Lebih Dekat’. Di antara dampak buruk bid’ah adalah :
[Pertama, amalan bid’ah tertolak]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)
[Kedua, pelaku bid’ah tidak akan minum dari telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak akan mendapatkan syafa’at beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam]
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku akan mendahului kalian di al haudh (telaga). Dinampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku.’ Lalu Allah berfirman, ‘Engkau sebenarnya tidak mengetahui, mereka itu telah berbuat bid’ah sesudahmu.’ ” (HR. Bukhari no. 7049)
Dalam riwayat lain dikatakan, “(Wahai Rabbku), mereka betul-betul pengikutku. Lalu Allah berfirman, ‘Sebenarnya engkau tidak mengetahui bahwa mereka telah mengganti ajaranmu setelahmu.” Kemudian aku (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) mengatakan, “Celaka, celaka bagi orang yang telah mengganti ajaranku sesudahku.” (HR. Bukhari no. 7051)
Inilah do’a laknat untuk orang-orang yang mengganti ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berbuat bid’ah.
Ibnu Baththol mengatakan, “Demikianlah, seluruh perkara bid’ah yang diada-adakan dalam perkara agama tidak diridhoi oleh Allah karena hal ini telah menyelisihi jalan kaum muslimin yang berada di atas kebenaran (al haq). Seluruh pelaku bid’ah termasuk orang-orang yang mengganti ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang membuat-buat perkara baru dalam agama. Begitu pula orang yang berbuat zholim dan yang menyelisihi kebenaran, mereka semua telah membuat sesuatu yang baru dan telah mengganti dengan ajaran selain Islam. Oleh karena itu, mereka juga termasuk dalam hadits ini.” (Lihat Syarh Ibnu Baththol, 19/2, Maktabah Syamilah) –Semoga Allah menjauhkan kita dari berbagai perkara bid’ah dan menjadikan kita sebagai umatnya yang akan menikmati al haudh sehingga kita tidak akan merasakan dahaga yang menyengsarakan di hari kiamat, Amin Ya Mujibad Du’a-
[Keempat, pelaku bid’ah akan mendapatkan dosa jika amalan bid’ahnya diikuti orang lain]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa melakukan suatu amalan kebaikan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya ganjaran semisal ganjaran orang yang mengikutinya dan sedikitpun tidak akan mengurangi ganjaran yang mereka peroleh. Sebaliknya, barangsiapa melakukan suatu amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikitpun.” (HR. Muslim no. 1017)
Akhi inilah, di antara bahaya bid’ah dan dampak buruknya. Jadi, kami memperingatkan hal ini bukan berarti untuk memecah belah umat. Namun, kami memperingatkan suatu perkara bid’ah karena kami sangat mencintai saudara kami yang lainnya dan kami ingin saudara kami mengetahui kebenaran seperti yang kami ketahui serta agar jangan sampai mereka membuat lagi ajaran-ajaran baru yang tidak ada tuntunan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengingat bahaya-bahaya bid’ah di atas. Kami sangat merindukan sekali bersama-bersama saudara kami –Seiman- di surga nanti. Oleh karena itu, kami merindukan mereka mengetahui ajaran yang benar.
4. Setelah dijelaskan bahwa semua hadits tentang fadhilah Surat Yasin adalah dho’if (lemah) dan palsu, apakah boleh kita beramal dengan hadits semacam itu.
Kalau mengenai hadits palsu, maka jelas tidak boleh digunakan sama sekali. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaknya dia mengambil tempat duduknya di neraka”. (HR. Bukhari & Muslim).
Namun, apakah hadits dho’if bisa digunakan dalam amalan. Mungkin lebih baik antum merujuk pada sebuah artikel yang berjudul ’ Hadits Dho’if menjadi Sandaran Hukum’. Dalam artikel tersebut disebutkan mengenai syarat-syarat beramal dengan hadits dho’if sebagaimana dikatakan oleh para ulama seperti Ibnu Hajar dan An Nawawi. Semoga dengan penjelasan dalam artikel tersebut, antum bisa semakin mendapatkan pencerahan.
5. Jika ada yang mengatakan, “Kalau memang hadits-hadits yang menjelaskan bid’ah adalah dho’if, tetapi kan bisa dikuatkan dengan hadits dho’if yang lain, apakah dalam hal ini masih tetap dho’if atau derajatnya bisa dinaikkan?”
Akhi setahu kami, jika hadits dho’if hendak dinaikkan derajatnya menjadi hasan –yaitu hasan ligoirihi (hasan dilihat dari jalur lain)- dengan memenuhi beberapa syarat :
Syarat pertama, diriwayatkan dari banyak jalur lain. Dan jalur lain itu semisal dengannya atau lebih kuat darinya (jadi tidak boleh lebih lemah dari hadits dho’if yang hendak dikuatkan)
Syarat kedua, hadits yang lemah tersebut (yang digunakan sebagai penguat), sebab kedho’ifannya adalah jeleknya hafalan, terputusnya sanad dan perowinya tidak jelas (jadi hadits dho’if tersebut bukanlah disebabkan karena kefasikan rowi atau kedustaannya). –Silakan lihat 2 syarat ini di Kitab ‘Taisir Mustholah Hadits, Dr. Muhammad Thohan, hal. 43, Darul Fikr-
Padahal jika kita lihat dalam pembahasan hadits tentang keutamaan surat Yasin di atas. Sebagian ada yang palsu. Ini jelas tidak bisa mengangkat hadits dho’if menjadi hasan, karena hadits palsu bukanlah perkataan Nabi dan hanya dibuat-buat (alias ‘perowinya sering berkata dusta’). Jadi tidak memenuhi kedua syarat di atas. Sehingga, hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan surat Yasin tetaplah dho’if (lemah), dan tidak bisa diangkat menjadi derajat hasan. Bahkan dalil-dalil lain adalah dalil-dalil yang palsu, maka ini justru melemahkan derajat hadits menjadi lebih lemah dan tidak mungkin mengangkatnya. Wallahu a’lam.
Demikianlah saudaraku, semoga engkau memahami. Sesungguhnya kami sangat merindukan kami mendapatkan sepercik cahaya hidayah karena ingin sekali bersamamu bergandengan tangan di surga kelak karena berada di atas petunjuk Nabi kita. Bukan berarti kami mengkritik atau memberi sanggahan ini karena rasa benci yang ada dalam hati ini. Bukan sama sekali, Ya Akhi. Kami hanya menginginkan engkau mendapatkan kebaikan sebagaimana yang kami peroleh. Sebagaimana perkataan Nabi Syu’aib ‘Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan.’ (QS. Huud [11] : 88)
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihat. Wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbih wa sallam.
aswad
28 Jul 2008 [#]
Semoga ummat muslim, baik yang setuju dengan yasinan, ataupun yang telah memahami kesalahan dalam yasinan, diberi petunjuk oleh Allah Ta’ala
Dan saya yakin, penulis artikel ini adalah orang yang faqir akan ampunan Allah, penulis artikel ini adalah orang sangat menginginkan jannah-Nya. Dan ia pun menginginkan saudara-saudaranya sesama muslim masuk ke dalam jannah, sebagaimana ia menginginkan dirinya masuk ke sana.
Jika dibaca dengan lapang hati dan pikiran jernih, maka renungkanlah, gaya bahasa di artikel ini adalah GAYA BAHASA MEMBERITAHU. bukan GAYA BAHASA MEMVONIS. Yang saya lihat di sini adalah nasehat bukan hujatan. Sebagaimana bila kita memiliki teman baik yang terjerumus dalam kesalahan, tentu kita tidak berdiam diri bukan? Karena rasa sayang dan kasihan padanya, maka kita menasehatinya bukan?
Ataukah manusia zaman ini sulit menerima nasehat?
Semoga kita tidak termasuk apa yang disabdakan Rasulullah:
“Kesombongan itu adalah meremehkan manusia dan menolak kebenaran” [HR. Muslim]
Sebagian orang berkata: ‘Urus saja diri sendiri tidak usah mengurus orang lain’. Masya Allah, ini bukanlah ajaran Islam. Egois, individualis, inginnya masuk surga sendiri, bukanlah ajaran Islam. Bahkan Islam itu agama nasehat. Peduli pada saudaranya. Rasulullah bersabda:
”Agama itu adalah nasehat.” Kami bertanya: ”Untuk siapa?” Sabda beliau: ”Untuk Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, para pemimpin umat Islam, dan bagi seluruh kaum muslimin.” [HR Muslim]
Dan saya yakin penulis artikel ini pun sangat meindukan persatuan ummat Islam yang indah itu. Namun persatuan bukan hanya bersatu jasad sedangkan cara beragama dibiarkan dalam kesalahan tanpa ada nasehat. Bahkan persatuan model ini adalah persatuan model yahudi:
“Permusuhan di antara mereka (Yahudi) sendiri sangat tajam. Kamu mengira mereka itu bersatu, tapi hati mereka terpecah-pecah. Itulah karena mereka kaum yang tidak mau berpikir” [Al-Hasyr: 14]
Kita semua berharap semoga Allah mempersatukan hati kaum muslimin, khususnya di Indonesia, dalam jalan yang benar di atas Al Qur’an dan As Sunnah.
abu muhammad
29 Jul 2008 [#]
Afwan, kenapa ya, sekarang jarang menulis teks arabnya, baik itu ayat atau hadist?
Cuma saran saja…lebih baik ditulis lengkap dengan teks arabnya…
arif
29 Jul 2008 [#]
Asssalamualaikum,
Saya sangat senang dengan jawaban yang ditulis M abduh T. Jawaban yang pas dan tepat untuk saudara-saudara kita yang masih terjebak dengan ibadah2 yang jauh dari tuntunan Rasulullah. Semoga mereka yang masih tersesat diberi cahaya kebenaran oleh Allah.
Ada sedikit pertanyaan nih mas, ada artikel di lain blog yang pembahassannya sama dengan ini (yasinan). Dalam blog tersebut mereka yang senang dengan acara yasinan menjawab sbb :
Diriwayatkan oleh Atsa’labiy, dari Abu Hurairah ra bahwa Rasul saw bersabda : Barangsiapa yg membaca surat Yasin di malam jumat maka ia dipaginya sudah diampuni ALLAH” (Tafsir AL Hafidh Al Imam Qurtubiy) dan kita memahami bahwa Ima Qurtubi adalah Imam Besar yg Tsigah fatwanya, dan dijadikan rujukan oleh Imam Ibn Hajar Al Asqal;aniy dan banyak hujjatul islam lainnya.
Yang saya ingin tanyakan hadist ini sahihkah atau juga dikatagorikan lemah?
saya butuh rujukan dan jawaban yang komplit untuk ini.
terimakasih sebelumya…. :)
agus
05 Agu 2008 [#]
Ya jawaban sdr M Abduh T semoga menjadi contoh dalam penulisan nasihat yang baik ke kaum muslimin, disampaikan dengan lemah lembut dan penuh dengan dalil yang kuat sehingga sulit bagi kita untuk menolaknya. Jazakallahu khoir..
Jaafar Dahlan
12 Agu 2008 [#]
Mayoritas Ulama NU memandang Yasinan bukan bid`ah Dhalalah, karena kata Kullu….bukan hakiki tapi majazi.
Sebagai orang awam yang tidak cukup ilmunya tentu harus minta bimbingan ulama dalam ibadahnya supaya benar,
Pertanyaan saya :
1-Kalo saya dianggap bid`ah karena ilmu sayapun enggak cukup itu sah-sah saja,TAPI Apakah menurut anda Ulama-ulama NU yang pro yasinan,yang pengetahuan agamanya tidak kalah sekolahnya dengan saudara M Abduh T itu Ahli Bid`ah ?
2-apakah anda pernah diskusi atau adu pendapat dengan mereka Ulama NUdi forum ?
3- Apakah Umar Ibnul khatab Ahli Bid`ah karena terawehnya berjamaah dan 23 rekaat ? Apahah Usman bin Affan Ahli bid`ah karena memerintahkan menulis Qur`an ?
Mohon penjelasan ?
abdulah
14 Agu 2008 [#]
Sedikit komentar untuk Jaafar Dahlan
1- Kalo melalui anda atau ulama-ulama dapat memberikan dalil2 yang sah dari Nabi Muhammad bahwa yasinan itu boleh (ada dalam riwayat/contoh para sahabat serta dari Nabi sendiri) maka saya katakan itu bukan bid’ah, namun perlu di telaah lagi riwayat itu apakah shohih datangnya dari orang2 tersebut. Sehingga apabila hanya mengikuti ulamanya saja tanpa tau dalil yang shihih maka berlindunglah kepada Allah, karena kita berbuat taashub kepada ulama secara berlebihan. Untuk menjawab apakah ahli bidah atau tidak saya kembalikan kepada anda, karena anda yang mengetahui keadaan ulama tersebut.
2. dan 3. Saya kurang ilmu sehingga saya serahkan kepada yang lebih faham tentangnya
Allahumma inni as-aluka ilman naafi’an
abimanyu
16 Agu 2008 [#]
apakah kita boleh menvonis bid’ah bagi yang yasinan.apakah surat yasin jelek ya akhii.kalo surat yasin itu jelek berikan dalilnya.bukankah surat yasin adalah jantungnya alquran.bukankah yang boleh memvonis bidah itu hanya nabi muhammad saw nanti di akherat.anda tak berhak mengatakan bidah ya akhii.anda gak lebih pinta dari imam nawawi al bantani
pamungkas
24 Agu 2008 [#]
Marilah belajar walapun terasa berat diawalnya untuk meyakini kebenaran,carilah dalil untuk setiap amal yang anda lakukan tahan emosimu saudaraku
Jaafar Dahlan
25 Agu 2008 [#]
Saya pikir tidak harus / wajib setiap amal harus ada dalil qothinya, Karena Nabipun tidak mencontohkan mengerjakan semua amalan mubah. Tugas nabi itu cukup menerangkan hal-hal pokok saja dan meninggalkan sebagian perkara sunnah, karena takut menyulitkan. Nabi menganggap cukup dengan menyampaikan nash-nash Al-Qur’an yang bersifat umum dan mencakup semua jenis perbuatan yang ada di dalamnya sejak Islam lahir hingga hari kiamat. Misalnya ayat-ayat berikut:
“Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya.” (Al-Baqarah [2]: 197)
Coba pikirkan :
Membangun madrasah itu perbuatan baik, coba cari dalilnya di Qur`an atau hadits, ada enggak ?
Belajar ilmu Nahwu itu penting untuk memahami kitabullah dan sunnah rasul, coba cari Ada enggak dalilnya di Qur`an.
jadi Pointnya Tidak semua perbuatan baik harus ada contoh dari rasullullah. yang penting perbuatan itu tidak keluar dari syariat islam. kalo Nabi harus mencontohkan semua, masa 23 tahun tidaklah cukup untuk mengerjakan contoh itu semua, malahan tugas pokok kerasulannya jadi terbengkalai.
Nabicukup memberi koridor. Bukan lantas segala amal baik yang tidak dicontohkan nabi otomatis tertolak amalannya. Nabi ingin umatnya kreatif, cerdas beramal baik, tapi tidak keluar syariat ( koridor agama ).
AP
26 Agu 2008 [#]
Bismillah,
Assalamualaikum
Ana yang jahil juga mau tanya…
1. Kenapa ada hadist yang isinya bahwa setiap amalan yang tanpa contohny tertolak yah??Sedangkan hadist tersebut Shohih. Berarti kita harus hati-hati dong ketika beramal?
Berarti, kalo dipikir-pikir ucapan nabi benar dong, bahwa di akhir jaman banyak umat ini yang beraamal tanpa contoh dari nabi, alias nyeleneh or membuat-buat amalan. Misalnya Yasinan, dzikir jama’ah dll.
2. Terus kenapa Ibnu Mas’ud marah ketika melihat sekelompok orang yang berdzikir berjamaah dengan menggunakan batu kerikil dengan dipimpin oleh salah satu orang dari kelompok dzikir jama’ah tersebut?
Tolong kepada tim muslim.or.id jelaskan hal2 yang baru yang dibolehkan oleh agama dan yang tidak boleh!!!
Ana tunggu, biar semua koment2 disini terjawab
ari
26 Agu 2008 [#]
Saya setuju dengan perkataan ‘yang penting perbuatan itu tidak keluar dari syariat Islam’. Dan yang lebih saya setujui lagi adalah sabda Nabi, “Barangsiapa yang mengada-adakan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami maka ia tertolak” (HR. Muslim). Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa bid’ah itu melanggar syariat Islam. Nah, yang menjadi persoalan adalah menilai suatu amal sebagai bid’ah atau bukan. Apakah itu hak setiap orang? Tentu saja yang berhak menyatakannya adalah orang yang berilmu. Nah, kalau kita perhatikan amalan imam yang empat : Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad, mereka tidak pernah melakukan Yasinan. Padahal kita tahu bahwa mereka sangat mengetahui keagungan kandungan surat Yasin. Sayangnya, banyak di antara masyarakat kita yang justru meninggalkan sunnah yaitu membaca surat Al-Kahfi setiap hari Jumat. Umar dan Usman jelas tidak membuat perkara bid’ah. Shalat tarawih berjama’ah bukan bid’ah karena Nabi pernah melakukannya. begitu juga adzan tambahan pada hari Jumat di jaman Usman bukan bid’ah karena beliau memiliki alasan yang kuat untuk itu dan alasan itu hampir tidak ditemukan lagi pada masa sekarang. Berbeda halnya dengan Yasinan, setahu saya Umar dan Usman tidak pernah melakukannya. Kalau kita konsisten mengikuti mereka sebaiknya tidak usah repot2 buat acara Yasinan. Lha wong yang jelas ada tuntunannya saja malah ditinggalkan, ee kok merepotkan diri dengan yang tidak ada tuntunannya. Allahu yahdiikum. Saya kira tidak ada di antara ulama NU yang merasa bahwa mereka adalah orang yang paling tahu tentang semua masalah agama. Memang sebaiknya kita mengikuti cara beragama para sahabat dan para imam yang empat; yaitu berpegang dengan Al Qur’an dan As Sunnah dengan benar, tidak menambah-nambahinya dengan tuntunan yang lain. Sunnah nabi itu sudah cukup bagi kita. Allahul musta’aan.
Jaafar Dahlan
02 Sep 2008 [#]
Saya tertarik pendapat “sunnah Nabi cukup bagi kita” Padahal kita tahu Nabi tidak mengerjakan semua amalan sunnah, karena takut nanti memberatkan, juga ada tugas pokoknya sebagai nabi yang harus dikerjakan yang lebih penting. Nabi cukup menerangkan hal-hal pokok saja dan meninggalkan sebagian perkara sunnah.
Kalo begitu Apa dasarnya hal berikut yang belum dicontohkan nabi? apakah Haram hukumnnya ?
1- membangun madrasah / pesantren , yang belum dicontohkan Nabi ?
2- belajar ilmu Nahwu,penting untuk memahami kitabullah dan sunnah rasul.
3- membuat rumah sakit ? belum ada contohnya
4- dan lain-lain perbuatan baik yang belum dicontohkan Nabi.
Nabi naik Onta, kita naik mobil.
Nabi pake siwak, kita pake sikat gigi + pepsodent.
Nabi tidur di pelepah korma, kita dikasur yang empuk.
kalo membuat madrasah itu bukan bid`ah, kenapa membaca surat yasin jadi bid`ah /sesat ?
kenapa kalo belajar ilmu nahwu tidak dilarang, tapi Yasinan dianggap bid`ah.
saya pikir Islam itu tidak kaku-kaku amat, yang penting tidak keluar dari koridor-syariat islam.
Ayat berikut bisa jadi koridor amal baik kita walau belum dicontohkan nabi :
Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya.” (Al-Baqarah [2]: 197)
Disini Nabi memberi peluang kreatif.jadi yasinan walau tidak ada contohnya, termasuk perbuatan baik, niscaya Allah mengetahuinya. Allah setuju, Nabi meng-amin-kan.
abu yasir
04 Sep 2008 [#]
main internet memang asyik, berdebat lama2 jd pintar, adu dalil memang nambah mantap ilmunya, tapi kalo saudara kita kalah ia akan malu dan jauh dg kt kalo kita menag kita jd sombong Allah tdk suka orang sombong.Kita perlu datang ke kalimantan masih bayak yg kenal islam. kita perlu dtg ke arab , korea,malaysia , honkong dsb bayak para TKI yg lupa msholat ga bisa ngaji bayak masjid kosong . masalah amal mari kita beramal sesuai ilmu kt sesuai keyakinan kita. masalah bidah tdk akan hilang hanya dg di bicarakan tapi perlu SUNNAH ROSUL diamalkan dan di dakwahkan. Bukankan kalo yg hak datang bathil akan hilang ? mri kita bersatu hidup rukun saling menhargai saling mencintai saling melihat kebaikan orang jangan lihat aib orang. kita ini pemain sinetron kayaknya, yg nonton orang yg blm islam apa kata mereka? Mari kt belajar dari para salafusholeh mereka di panang sejuk , ucapanya menambah ghirah islam, mereka jd asbab hidayah bg orang 2 non islam. maaf jazakumullah khoiron katsiro
Jaafar Dahlan
04 Sep 2008 [#]
Alhamdulillah, Saya setuju dengan pendapat saudara kita Abu yasir, akhirnya keluar juga pendapat ” masalah amal mari kita beramal sesuai ilmu kita sesuai keyakinan kita”. kata -kata inilah yang ditunggu-tunggu. Jadi bagi yang senang baca Yasin, yaaa… silakan jangan dikritik enggak ada dalilnya, apalagi dikatakan amalan Bid`ah, padahal Allah sudah menjelaskan ” Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya.” (Al-Baqarah [2]: 197)
Bagi yang punya keyakinannya lain yang Kontra Yasinan jangan menganggap yang Pro Yasinan amalannya tertolak.
TIDAK SEMUA AMALAN BAIK YANG TIDAK DICONTOHKAN NABI OTOMATIS TERTOLAK, BID`AH. SESAT DAN LAIN-LAIN.
Kecuali ada yang menambah-nambah rukun sholat,
Maghrib 3 rekaat jadi 4 rokaat…….Aaaah itu baru namanya bid`ah, enggak usah nunggu-nunggu hadits,fatwa, itu jelas sesat.
youcke
05 Sep 2008 [#]
Yaaaasiiiiiiiiiiiinan, kata teman saya berarti kegiatan melecehkan surat yaasiin, karena akhiran an dibelakang nama surat Yaasiin, artinya tidak serius! (intermezzo)
Berangkat dari sini saya ingin nimbrung dikit karena orang awam. ketika saya baru belajar islam, yang belum sampai menyentuh dalil-dalil yang berat , saya suka pergi ke tempat orang yang mengundang acara yaasiinan, jelas niat saya kesana tidak karena Allah, niat saya karena saya masih kecil ( remaja ) yang terbayang makanan, jadi berangkat keyasiinan karen cari makanan. seiring meningkatnya usia dan tanggung jawab saya ditengah masyarakat, saya pergi ke tempat yaaasiinan masih bukan karena Allah, tetapi karena pekewuh sama tetangga kalau tidak hadir.
Waktu terus berjalan, belajar terus saya lakukan, sampailah pada suatu pemahaman ternyata Islam adalah dalil.
kalau tidak salah ada kalimat yang artinya kurang lebih :” Semua ibadah adalah haram, kecuali yang di perintahkan ….” dalil ini saya pegang teguh untuk mencari bentuk tuntunan ibadah yang sedikit tapi Allah ridho, sehingga ketika kita ber-ibadah bisa jadi ikhlas.
Satu catatan penting, yang akhirnya menjadi titik balik dari perubahan pikir dan sikap saya beragama adalah kisah berikut ini:
Suatu hari saya membaca di perpustakaan suatu masjid Agung di kota saya, dan menemukan sebuah buku yang isinya menurut saya mampu merevolusi pemahaman saya tentang kegiatan yaasiinan, yaitu dari hobby yaasiinan menjadi tidak mau ke acara yaasiinan.
Perpustakaan masjid Agung di daerah tempat saya tinggal, ada sebuah buku tipis (manuscript) yang isinya tidak lebih dari 15 lembar, memuat diskusi antar Sunan kali jaga dan Sunan Ample, yang intinya, Sunan Ampel memperingatkan Sunan kalijaga sebagai orang pertama yang memprakarsai adanya Yaasiinan. adapun isi diskusi / dialog yang lebih tepat disebut tegortan kepada Sunan Kalijaga tersebut kurang lebih berisi dialog sebagai berikut :
“… wahai anakmas Sunan kalijaga apa yang anakmas lakukan (memimpin tahlilan komplit. pen) di rumah orang yang meninggal dunia dalam rangka memperingati selama 7 hari , hari ke 40 dst…. itu tidak dibenarkan agama………”
kemudian Sunan Kalijaga menjawab:
” Kanjeng Sunan Ampel, ananda tahu bahwa yang ananda lakukan adalah salah karena agama tidak mengajarkannya………., biarlah anak turun kita dan ummat yang kan datang yang meluruskannya…!
Demi Allah, saya pernah membaca tulisan dialog itu, dari sebuah buku koleksi masjid agung At-taqwa, yang tahun terbitnya sebelum indonesia merdeka dan merupakan tarjamah dan cuplikan dari sejarah/ babad kerajaan Demak Bintoro. Mengingat pesan Sunan Ample tersebut saya berusaha belajar agama dengan benar, mencari orang -orang yang tahu tentang agama dan ternyata memang Yaasiinan dalam rangka Tahlilan di rumah orang-orang yang meninggal dunia,yang dilarang oleh Sunan Ampel atau wali sembilan kecuali Sunan Kalijaga, ternyata juga dilarang oleh agama.
Itupun Sunan kalijaga berharap agar supaya ummat yang akan datang (anak cucunya) meluruskan ajarannya itu.
kenyataannya kita dayang ke yaasiinan bukan sebagai orang yang akan meluruskan tetapi malah ikut-ikut melestarikan. masyaallah!
Jaafar Dahlan
06 Sep 2008 [#]
itu khan tulisan, entah siapa yang merekam pembicaraan tersebut khan tidak jelas sanadnya, karena bukan hadits.
Tapi yang jelas :pegang dulu qur`an ,kalau dalil qur`an lebih kuat dari hadits dan “tulisan suan Ampel” tersebut kenapa pusing cari dalilnya. Allah memberi kebebasan umatnya untuk berbuat baik :
Yasinan adalah perbuatan baik,ada yang meragukan hal itu?
dalilnya :
” Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya.” (Al-Baqarah [2]: 197)
jadi kita pegang aja dalil yasinan dengan ayat tersebut, lebih kuat karena itu Qur`an yang kasih koridor.
penjelasannya :
1-Qur`an : ” Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya.” (Al-Baqarah [2]: 197)
2-Yasinan : Pekerjaan baik berupa kebaikan.
3-Hasilnya : Allah mengetahui—>tidak mensia-siakan
Jadi dalil yasinan adalah perbuatan berupa kebaikan, sesuai
AlBaqoroh:197. ini dalilnya kuat, ada dasarnya tidak keluar dari syariat Islam.
jadi sesuai pendapat saudara Abu yasir :
” masalah amal mari kita beramal sesuai ilmu kita sesuai keyakinan kita”
Yang yasinan yakin dasarnya (Al-Baqarah [2]: 197)
Yang tidak yakin dasarnya : kurang lebih :” Semua ibadah adalah haram, kecuali yang di perintahkan ….”
Jadi Monggo, silakan pilih….yang mana, enggak usah mengatakan Yasinan tidak ada dalilnya.
Beramallah sesuai keyakinan dalil yang dipegang.
mau yasinan …..monggo,ada dalilnya kok.
enggak yasinan…..ya silakan.
Yang pasti surat (Al-Baqarah [2]: 197), disitu Allah senang umatnya berbuat kebaikan.
Apa yasinan itu jelek , amalan buruk ya akhi ?
Wass…semoga Allah menyatukan hati umatnya tidak saling menjelekkan .
ari
06 Sep 2008 [#]
Membangun madrasah, belajar nahwu, membuat rumah sakit, dan semacamnya dalam istilah syari’at tidak disebut sebagai bid’ah, meskipun hal itu tidak ada di jaman Nabi. Sebab pengertian bid’ah adalah tata cara beribadah yang tidak ditegakkan di atas dalil dan pemahaman yang benar (lihat Al-I’tisham karya Asy Syathibi dan Ilmu Ushul Bida’ karya Syaikh Ali atau Al Bid’ah wa atsaruha as sayyi’ fil ummah karya Syaikh Salim). Oleh sebab itu bolehnya membuat rumah sakit bahkan termasuk perkara yang diajarkan karena Nabi memerintahkan umatnya untuk berobat dengan cara yang halal. Begitu pula membuat madrasah adalah perwujudan perintah Nabi untuk belajar ilmu. Memakai kendaraan bermotor juga bukan bid’ah karena hal itu bukan termasuk kategori ritual/tata cara ibadah, meskipun kita bisa menggunakan alat-alat tersebut untuk melakukan ibadah seperti untuk berangkat shalat tarawih dll. Sehingga di sini harus dibedakan antara bid’ah dengan mashalih mursalah. Bacalah kitab Ushul bida’ karya Syaikh Ali. Demikian juga ilmu Nahwu. Ilmu Nahwu bukan bid’ah, sebab dengan ilmu nahwu keutuhan dan keaslian bahasa Arab yang merupakan bahasa Al Kitab dan As Sunnah menjadi terjaga. Justru adanya ilmu ini akan menjaga syari’at bukan menambah-nambahi ajaran. Berbeda halnya dengan Yasinan, yaitu membaca surat Yasin bersama-sama untuk dikirimkan pahalanya kepada orang yang mati. Hal ini bukan menjaga syari’at bahkan menciptakan amalan baru yang tidak ada dalilnya. Kata para ulama hadits semua hadits yang menceritakan keutamaan surat Yasin adalah lemah. Padahal ibadah harus ditopang oleh dalil dan pemahaman yang benar. Setiap orang bisa saja membawakan dalil namun pemahamannya belum tentu benar. Ini bukan berarti membaca surat Yasin tidak utama. Membacanya utama berdasarkan hadits yang menyatakan bahwa membaca satu huruf ayat Al Qur’an itu pahalanya sepuluh kebaikan. Namun untuk menyatakan bahwa dianjurkan membaca surat Yasin dengan bersama-sama apalagi untuk dikirimkan pahalanya adalah sesuatu yang butuh dalil. Dan dalam hal ini pendapat yang benar adalah mengirimkan pahala untuk orang mati tidak bisa dilakukan berdasarkan mafhum ayat, “Dan seseorang tidak akan menanggung dosa orang lain.” Maka demikian pula seseorang tidak akan mendapatkan pahala dari amal orang lain. Inilah pendapat yang kuat. Sunnah Nabi memang sudah cukup. Imam Malik mengatakan, “As Sunnah adalah bahtera Nuh. Barangsiapa menaikinya akan selamat, dan barangsiapa yang tertinggal akan tenggelam.” Yang menjadi masalah sekarang adalah banyak orang yang memahami istilah Sunnah Nabi dengan pemahaman yang sempit. Padahal Sunnah Nabi maknanya sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Irbadh bin Sariyah adalah jalan hidup beliau yang mencakup keyakinan maupun perbuatan, baik yang hukumnya wajib atau sunnah, dan tentu saja perkara-perkara mubah yang menjadi perantara menuju Sunnah Nabi tidak bisa dikatakan sebagai bid’ah. Bacalah penjelasan tentang hal ini dalam kitab Fathul Qawiy Al Matin karya ahli hadits Madinah Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad -semoga Allah menjaganya-. Semoga anda mendapatkan petunjuk dan pencerahan. Wallahul muwaffiq. Selamat membaca dan merenungkan…
Orang Awam
07 Sep 2008 [#]
Assalamualaikum
Saudara youcke, kalau kasih comment itu harus ada bukti yang jelas, jangan-jangan anda bohong dan fitnah. Bisa saja saya bilang “Dimasjid Agung dekat rumah saya, ditemukan buku yang isinya script, disitu dituliskan bla bla bla.” Kalau beri komentar itu harus kuat bukti-buktinya.
Mohon maaf sebelumnya, soalnya kalau tidak kuat bukti-bukti, masalah seperti ini bisa mengakibatkan perang saudara. Memalukan sekali sesama umat muslim perang saudara. Bisa-bisa umat-umat agama lainnya membopong umat muslim yang tidak kuat iman dan memasukan kegolongan mereka, na’uzubilah.
Jangan menjelek-jelekan suatu golongan. Anda lihat dan koreksi diri anda dahulu. Sering-sering istigfar saudara-saudaraku. Islam itu indah, jangan lah saling mencela. Seharusnya kita bersatu. Demi kemajuan umat islam.
Coba anda berpikir, bagaimana anda dilahirkan di keluarga digolongan umat selain islam???. Apakah anda akan pindah keislam dan mengutuk orang tua anda. Kita hidup ini dalam kemajemukan. Saling menghormatilah. Jangan Riya dan Takabur. Sesungguhnya manusia tidak ada yang sempurnah kesempurnaan hanyalah allah swt.
kikis
08 Sep 2008 [#]
buat Saudara Jaafar Dahlan
Yasinan baik? Baik menurut Anda?
Dalil yang Anda gunakan itu terlalu umum dan tidak pas untuk diterapkan di kasus Yasinan.
Baca lagi koment dari Saudara Ari.
Saya mau tanya apakah Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wasalam dan para sahabatnya serta para tabi’n dari kalangan salafus shhalih pernah malakukan yasinan?
kalo pernah,mana dalilnya.
Ingat! kalo masalah ibadah itu harus ada dalil yang memerintahkannya. Jangan ditanyakan “emang ada dalil yang melarangnya?” Kan kita semua udah tau kalo segala macam bentuk ibadah itu asal mulanya haram KECUALI ada dalil yang memerintahkannya. Nah, sekarang kasus yasinan, adakah dalil yang memerintahkannya? Dalil yang benar2 sahih tentunya bukan dalil yang lemah bahkan palsu.
ahsan
08 Sep 2008 [#]
membaca yasin itu baik (ibadah),namun mengkhususkan,menentukan,menetapkan pd acara2 tertentu ini yg keliru alias BID’AH.
Jaafar Dahlan
09 Sep 2008 [#]
Ass… saudara Kikis, semoga dirahmati Allah.
Dalil dan keterangan dari saudara Ari sangat sangat baik argumennya. Semoga Allah meneguhkan agama dengan amal keyakinannya.
Khusus komentar buat saudara Kikis,
Kalau yasinan tidak kuat dari dalil hadits, kenapa Tuan tidak berusaha mencari landasan hukumnya dari qur`an ? tidak terburu-buru mengatakan Bid`ah /sesat, Apakah membaca Yasin / yasinan keluar dari syariat Islam ?
Dikatakan bahwa ayat Qur`an tsb. :
” Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya.” (Al-Baqarah [2]: 197)
terlalu umum dan tidak pas untuk dijadikan dalil,
Bagaimana bisa tuan mempersempit rahmat ,sementara Allah memperluasnya.
Coba kita sandingkan lagi ayat Qur`an diatas dengan hadits berikut :
“Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat-buat hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi).
Alangkah indahnya agama ini dalam bimbingan Nabi Saw,
Alangkah indahnya bimbingan Nabi saw yg tidak mencekik ummat ini.
Alangkah luasnya rahmat Allah untuk menambah-nambah kebaikan umatnya.
Yasinan… boleh jadi hal baru dalam agama,tidak diamalkan oleh Nabi, sahabat, maupun salafus salih. Tapi bukan lantas otomatis jadi amalan tertolak dan tercela.
Bukankah beliau Nabi saw sendiri malahan menganjurkan membuat hal baru yang baik dalam Islam ? maksudnya bila kalian mempunyai suatu pendapat atau gagasan baru yg membuat kebaikan atas islam maka perbuatlah.., alangkah indahnya bimbingan Nabi saw yg tidak mencekik ummat ini.
Bagaimana bisa Tuan mempersempit rahmat (berbuat kebaikan ) sementara Allah dan Rasul memperluasnya ?
Abu Syakur
10 Sep 2008 [#]
Bismillah,
Assalamualaikum
Tidak ada kebaikan dalam agama ini kecuali Rosululloh dan para sahabatnya telah melakukan mendahului kita. Suatu kaidah yang dipakai oleh para ulama adalah” Jikalau suatu perbuatan(ibadah) itu baik maka mereka(Rosululloh dan para Sahabatnya telah mendahului kita). Ini dijadikan kaidah oleh para ulama untuk membantah Ahlul Bid’ah seperti yasinan, tawaf di kuburan, peringatan2 kematian,dzikir berjamaah dsb.
Jikalau yasinan baik, begitu pula dengan dzikir berjamaah bukan?
Lantas kenapa ibnu mas’ud mengingkari dzikir berjamaah dengan suara keras dan memakai kerikil dengan bilangan tertentu yang dilakukan oleh sebagian kelompok sepeninggal Rosululloh?
Kita pasti mengetahui kemuliaan ibnu mas’ud?
Apakah kita merasa lebih pandai dari sahabat nabi?menciptakan suatu amalan ibadah yang tidak pernah dicontohkan oleh mereka?
Sedangkan yang dicontohkan saja banyak yang belum kita kerjakan.
Bagaimana sholat malam kita?Puasa sunnah kita?Sholat-sholat sunnah kita?Baca Al Quran kita sudah kah betul dan menghayati maknanya?
Buat saudara-saudaraku sesama muslim,sebaiknya dialog ini dihentikan, karena hanya akan menyakiti hati setiap kita. Mungkin saudaraku di muslim.or.id bisa menggunakan cara lain untuk menjelaskan kepada mereka-mereka yang belum diberikan pemahaman.
Wallohu a’lam bis showab.
Jaafar Dahlan
11 Sep 2008 [#]
Kita Tidak ada yang merasa lebih pandai dari ibnu Mas`ud, tapi yang jelas ia tidak maksum dan tidak lebih pandai dari Nabi. Nabi sudah mengeluarkan hadits :“Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat-buat hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi).
Jadi biarkanlah yang pro yasinan dengan keyakinan dalil dan pemahamannya . toh, ia punya dalil yang bisa dipertanggung jawabkan di hadapan Allah dan Rasul , kalo ternyata Allah dan Rasul butuh alasan nantinya.
Yang Kontra Yasinan silakan dengan pemahaman dan dalilnya.Toh Mereka juga nanti akan ditanya ( barangkali ) kenapa mereka yang kontra “mempersempit rahmat”sedang Allah dan rasul memperluasnya ( lihat hadits diatas )
Yang penting setiap amal ada dalilnya, tinggal masing-masing mau mengambil dalil yang mana.
Beres toh !!!! tidak ada yang saling hujad bid`ah,sesat dll.
Jadi sesuai pendapat saudara Abu yasir :
“masalah amal mari kita beramal sesuai ilmu kita sesuai keyakinan kita”
Dan yang penting masing-masing tidak usah merasa paling benar dan memaksakan pemahamannya.
Abdul Jabbar
11 Sep 2008 [#]
Mas Jaafar Dahlan, Ibnu Mas’ud memang tidak lebih pandai dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi jangan mas lupakan bahwa beliau adalah murid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mereguk langsung saripati ilmu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga apa yang dipraktekkan oleh Ibnu Mas’ud dalam pengingkaran terhadap bid’ah adalah berdasarkan ilmu yang didapat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kami ingin sedikit menyinggung hadits yang Mas Jaafar Dahlan bawakan, yang sedikit keliru mas artikan. Mas katakan, “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam Islam……..”
Pada lafazh hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim tersebut, mas mengartikan Sunnah Hasanah dengan membuat buat hal baru yang baik, suatu pengertian yang bertolak belakang :)
Baik, mari kita perhatikan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut:
Lafadznya:
Man Sanna fil Islam sunnatan hasanatan, falahu ajruha wa ajru man ‘amila biha ba’dahu min ghoiri ayyanqusho min ujuurihim syai’un wa man sanna fil islaam sunnatan saiyyiatan kaana ‘alaihi wizruha wa wizruman ‘amila biha min ba’dihi min qhoiri ayyanqusho min uuzaarihim syai’un.
Baik, sekarang artinya yang benar:
“Barang siapa yang menerapkan suatu amalan yang baik dalam Islam, maka untuknya pahala (dari amalannya tersebut) dan pahala untuk orang-orang yang melakukannya sesudahnya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan (sebaliknya), barangsiapa yang merintis suatu amalan jelek dalam Islam, maka untuknya dosa (dari amalannya tersebut) dan dosa bagi orang yang mengamalkannya sesudahnya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.”
Pada hadits tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan “man sanna” yaitu “barangsiapa yang menerapkan…” bukan kata “man ibtada’a” (barang siapa yang membuat buat) seperti yang mas Jaafar artikan.
Para ulama menyatakan bahwa SUNNAH HASANAN dapat berupa hal-hal berikut:
1. Pertamakali dalam beramal. Dan ini sesuai dengan asbabul wurud hadits di atas, yaitu tentang sahabat yang pertamakali bersedekah, dan kemudian diikuti oleh sahabat-sahabat yang lainnya secara beramai-ramai.
2. Menghidupkan Sunnah yang sudah dilalaikan banyak orang. Misal: memulai majelis dengan khutbatul haajah, memakai cadar, menggerak-gerakkan jari telunjuk pada tasyahud, memelihara jenggot dan memakai kain di atas mata kaki untuk laki-laki (2 sunnah yang hukumnya wajib).
3. Membuat sarana untuk berbuat kebajikan. Misal: mendirikan masjid, madrasah/pesantren, dll.
Kata kuncinya pada istilah “SUNNAH HASANAH” adalah “SUNNAH” yaitu amalan, dan setiap amalan dalam Islam semuanya harus berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada contohnya dan ada tuntunannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Mas Jaafar Dahlan mengartikan SUNNAH dengan membuat buat hal baru yang baik, maka itu artinya bukan SUNNAH mas, tapi Bid’ngah eh… BID’AH maksud saya. Jelas sekali bertolak belakang dengan maksud hadist yang mas sitir :), karena Bid’ah tidak sama artinya dengan Sunnah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa semua perkara baru yang dibuat-buat dalam agama (= bid’ah) maka semuanya jelek dan sesat (dholaalah) serta tertolak, tidak mendapat pahala, sia-sia dan bahkan diancam dengan neraka. Dan pada hadits di atas masuk ke dalam kategori yang ke-2, yaitu: “……..Dan (sebaliknya), barangsiapa yang merintis suatu amalan jelek dalam Islam, maka untuknya dosa (dari amalannya tersebut) dan dosa bagi orang yang mengamalkannya sesudahnya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” Jelas sekali bukan?
Dan sesuai dengan topik artikel, maka YASINAN masuk ke dalam kategori BID’AH, yaitu pada hadits di atas disebut dengan SUNNAH SAIYYI’AH yaitu amalan yang jelek. Kenapa disebut amalan? karena pelakunya merasa bahwa perbuatannya tersebut adalah suatu amalan ibadah.
Membaca Al Quran, jelas ada tuntunannya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan itu berarti merupakan salah satu SUNNAH. Akan tetapi SUNNAH membaca Al Quran tersebut tidak hanya terbatas hanya baca surat Yasin saja, sehingga terkesan surat Yasin lebih ampuh dibandingkan surat yang lainnya, seakan-akan isi Al Quran itu hanya surat Yasin. SEMUA ayat di dalam Al Quran, jika dibaca dan diamalkan maka akan bernilai pahala.
Kemudian, membaca Al Quran pun bisa dilakukan di setiap waktu dan tempat (walaupun ada beberapa pengecualian, misal: tidak boleh di WC, dll), tidak ada pengkhususan baca Al Quran HARUS malam tertentu (mis: malam Jumat).
Trus, membaca Al Quran bisa dilakukan sendiri-sendiri, dan tidak ada tuntunannya baca secara berjama’ah.
Jadi sudah jelas bukan kenapa Yasinan disebut bid’ah?
Jaafar Dahlan
12 Sep 2008 [#]
Mas Abdul Jabbar,
Yang saya perlu tanya kenapa cuma Ibnu Mas`ud yang melarang, sedangkan yang lain diam-tenang saja ? Apakah cuma kebetulan Beliau sendiri yang lewat disitu ? Adakah Dalil dari Beliau sudah pasti absolut ?
Apapun pendapat Mas tentang maksud hadits itu ,saya sangat hargai, tapi saya tetap dengan pengertian saya dengan pelajaran yang saya dapat.
Bagi saya penjelasan Mas Jabbar justru semakin enggak jelas, coba pake akal sedikit,
Yasinan….ya baca surat yasin khan, artinya baca suratnya Alqur`an khan
Masa… baca qur`an Bid`ah ?
Adakah di Qur`an menyatakan baca qur`an Bid`ah ?
Jangan gampang mengatakan ini bid`ah itu boleh, ini halal itu haram, ingat :
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung”
(QS Annahl :116 ).
Adakah dalil qath`inya di qur`an Yasinan Bid`ah ?
Terus apakah Allah main-main dengan maksudnya :
Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya.” (Al-Baqarah [2]: 197).
Allah meluaskan rahmatnya agar umatnya berbuat kebaikan yang penting tidak keluar koridor syariat, kenapa Tuan malahan mempersempitnya ?
Ayat inilah payung hukum kalau kita ingin berbuat suatu kebaikan ….baca surat yasin. Dan perlu diketahui yang yasinan itupun bukan tidak paham surat-surat lain, atau mengesampingkan surat lain. Mereka juga baca surat / ayat lain tanpa membeda-bedakan derajadnya. Dalam acara yasinan itupun diberi pelajaran Fiqh, tafsir,ilmu-ilmu agama yang lain . Adakah hal -hal tersebut salah , bid`ah ?
Tidak ada yang Yasinan itu ber-I`tiqad Bahwa qur`an itu isinya hanyalah Yasin semua. Jadi jangan mengada-ngada.
Jangan alergi dengan istilah yasinan, dengan Yasinan itu umat dituntun amar ma`ruf nahi munkar.
Terakhir,
Adakah kepastian yang tidak Yasinan masuk surga,
yang Yasinan masuk neraka ?
Note :
2. menggerak-gerakkan jari telunjuk pada tasyahud
—-> Adakah tuan menambah rukun sholat ? kemudian seberapa banyak gerakannya ?
-memelihara jenggot dan memakai kain di atas mata kaki untuk laki-laki (2 sunnah yang hukumnya wajib).
—> SUNNAH TAPI WAJIB , bagaimana penjelasannya ?
Bukankah yang Sunnah jelas Sunnah,
yang wajib jelas wajib ?
Fathoni arief
12 Sep 2008 [#]
mas jaafar dahlan yang dirahmati Allah…
Insya Allah, antum tidak akan berkomentar seperti diatas, jika antum benar-benar memahami maksud dari artikel tersebut.
akan lebih baik jika antum baca lagi dan pahami isinya (semoga Allah memberi pemahaman yang benar untuk antum).
Bisa juga antum baca kembali komentar2 dari mas ahsan, mas abdul jabbar, mas abu syakur, mas kikis, mas ari..
mari kita perdalam ilmu agama, bekal hidup didunia dan akhirat.
Abdul Jabbar
12 Sep 2008 [#]
Mas Jaafar Dahlan, iya bener mas bahwa yasinan itu baca surat yasin. Yang jadi permasalahan disini, kok cuma surat yasin yang menjadi tren? kan Al Quran itu tidak hanya surat Yasin, banyak surat yang lainnya. Silakan Mas Jaafar membaca Al Quran, tidak ada yang melarang kok. Yang menjadi masalah adalah ketika mas mengkhususkan dan mengistimewakan surat tertentu untuk dibaca, nah itu yang namanya Bid’ah, karena tidak ada tuntunannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apalagi mengkhususkan yasinan pada malam jum’at plus ditambah membacanya dengan berjama’ah lagi.
Sekarang, saya mau tanya…. kenapa yang mas khususkan hanya membaca surat yasin? padahal pada artikel di atas sudah dijelaskan bahwa derajat hadits tentang fadhilah surat yasin tidak ada yang benar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, semuanya berkisar pada hadits lemah atau palsu yang tidak boleh untuk diamalkan.
Begitu mas, saya sudah jelaskan…… tapi jika mas mau terus yasinan yaa silakan saja, yang jelas mas sudah tahu hukumnya.
Semua ibadah kita sudah ada tuntunannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, jadi tidak perlu dikreasikan dan ditambah-tambahkan mas.
####
Mengenai menggerak-gerakkan jari telunjuk pada tasyahud, ada sunnah/tuntunannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pembahasannya cukup panjang. Mungkin muslim.or.id mau membahasnya?
Trus, memeliharan jenggot dan memakai kain di atas mata kaki, jelas itu adalah Sunnah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan Sunnah tersebut hukumnya wajib.
Nah, perlu dibedakan disini, Sunnah dalam pengertian umum dan pengertian yang khusus dalam pembahasan fiqh.
Secara umum, Sunnah adalah segala hal yang disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan atau sifat (baik fisik/moral), ketetapan dan perjalanan Nabi baik sebelum atau sesudah menjadi Nabi. Nah, perintah Nabi untuk memelihara jenggot dan memakai kain di atas mata kaki masuk dalam pengertian Sunnah yang ini. Kenapa hukumnya lantas menjadi WAJIB? karena dia masuk pada pembahasan dalam ilmu fiqh. Sunnah dari Nabi untuk memelihara jenggot dan memakai kain di atas mata kaki datang dalam bentuk perintah yang tegas. Dalam ilmu fiqh, diterangkan bahwa perintah itu menunjukkan hukum wajib (al amru lil wujub), maka jadilah hukumnya wajib. Pembahasannya mengenai 2 topik ini cukup panjang. Mungkin muslim.or.id mau membahasnya?
Dan istilah SUNNAH juga lazim digunakan pada istilah ilmu fiqh, yaitu jika mengerjakan berpahala dan jika meninggalkan tidak berdosa. Lazim dikenal dengan istilah sunnat, mandub, atau mustahab. Jadi mas jangan salah paham tentang ini ya……
Untuk lebih jelasnya silakan baca artikel di muslimah.or.id yang judulnya: Memahami Kata Sunnah, dan sekalian mas baca artikel yang lain: Mengenal Kata Bid’ah
Jaafar Dahlan
12 Sep 2008 [#]
Mas Abdul Jabbar dan Mas Fathony, Ass…..wrwb.
Mungkin istilah yasinan dulu yang perlu diluruskan, agar tidak salah arti dan maksud.
Yasinan menurut pengertian saya adalah pada dasarnya majlis, sebutan nama bagi acara dzikir / doa bersama.Didalam majelis itu berkumpullah sejumlah orang untuk munajad kepada Allah dengan membaca kalimah-kalimah Toyyibah tahmid takbir tahlil tasbih asmaul husna selawat dan lainnya, juga membaca ayat-ayat suci Alqur`an termasuk surat yasin tidak dengan maksud meninggikan derajad surat ini atas surat-surat yang lain.Apalagi beri`tiqad seolah-olah yasin itu lah qur`an. yang yasinan juga enggak bodoh-bodoh amat dengan pengertian dangkal tersebut.Umat dibimbing untuk baca qur`an, bisa jadi dimulai dengan kecintaan awalnya sama surat yasin, mudah-mudahan terus keseluruh surat-surat lain, akhirnya jadilah umat itu mencintai qur`an sepenuhnya tanpa maksud meninggikan atau merendahkan surat yang lain.
Adalah realita masyarakat kita gemar yasin(an), jadi biarkan mereka dengan amalan itu ,ajak mereka ke surat lain terus dan seterusnya sampai mereka semua senang baca qur`an seluruhnya. Apakah tuan lebih senang mendebat mereka dengan dalil tuan sampe budek berdebat atau ayoo….kita sama-sama baca yasin bersama mereka terus ajak lagi ke surat lain ?
Tuan mempermasalahkan mengkhususkan malam jum`at + berjemaah ?
Apakah ada larangan di qur`an + hadits maudu` sekalipun yang melarang orang mengkhususkan menghidupkan malam jum`at + berjemaah ?
Adakah Tuan tau keutamaan mengingat Allah dalam berjemaah ?
ما جلس قوم مجلسا يذكرون الله فيه الا حفتهم الملاءكة وغشيتهم
الرحمة وذكر الله فيمن عنده رواه مسلم
“Tidak berkumpul suatu kaum ( ummat Islam ) pada suatu majlis yang disitu diisi dengan dzikir kepada Allah, melainkan para malaikat meliputinya dan menurunkan rahmat kepada mereka dan orang yang ikut di dalam majlis dzikir tersebut disebut disisi Allah “Hadits riwayat Imam Muslim
Saya senang yasinan senang seluruh isi Qur`an, dengan berdalilkan payung hukum ayat-ayat, hadits yang saya sampaikan sebelumnya.
Apakah tuan masih mendebat dalil qur`an + hadits yang akan saya pake pertanggung jawaban saya + pro yasinan kepada Allah dan rasul ?
Apakah tuan yakin amalan tuan ( Tolak yasinan ) paling benar dan pasti masuk Surga ?
Tuan juga yakin yang pro yasinan dalilnya pasti salah dan pasti masuk neraka ?
kami juga beramal bukan tidak dengan dalil dan hukum.
Jadi beramallah dengan dalil dan keyakinan Tuan, Yang pro yasinan beramallah dengan dalil yang saya sebutkan diatas.
Mudah2an kita tidak merasa pihak yang paling benar. Allah dan Rasul lah yang nanti memutuskan kebenaran amal kita masing-masing. wass…..wrwb
abimanyu
12 Sep 2008 [#]
muslim or.id.antum and gang bahas aja masalah ilmu tauhid(sultonul ulum) pasti dijamin tdk ada perdebatan.wong antum cs senenganya bahas masalah amaliah,fikih sampai kiamatpun akan ada khilafiah gak usah dibahas kuno.antum sdh tahu belm apa maknanya sahadat,pahaham blm wajib,mustahil,jaiz bagi alloh dan rosululloh saw.antum2 semua meyakini alloh duduk di atas kursi/arasy itu dalam aqoid ahlusunnah wal jamaah sdh batal. yasinan kok dibahas .emang ente lebih pintar dari ky said agil sirod.memeng antum seorang auliya,ustad bingung iya.
satria
12 Sep 2008 [#]
buat mas jaafar:
akan tetapi prakteknya tidak seperti itu kan? banyak pelaku “yasinan” mereka seakan2 mendahulukan surat yasin daripada lainnya, sehingga kalau malam jum’at yang dibaca surat yasin, kalau ada ini maka baca surat yasin, kalau ada itu yang di baca surat yasin dll, jdnya surat yang lain seperti terbaikan… maka betapa baiknya kalau mereka diingatkan… petunjuk terbaik adalah dengan mengikuti jalan Rasulullah dan para sahabat…
buat mas abimanyu:
kata siapa tidak ada perdebatan? la wong kalau kita mau menilik setiap permasalahan, ada saja ditemukan yang menyelisihinya, bahkan kalo dikatakan tauhid yang pertama kali harus diajarkan kepada umat islam, ternyata ada saja yang tidak menyetujuinya, katanya, “tauhid lagi, tauhid lagi…” !?
untuk masalah yasinan, cobalah lihat komentar M Abduh diatas, semoga bisa lebih menjelaskan…
Abdul Jabbar
13 Sep 2008 [#]
Mas Jaafar Dahlan, mudah-mudahan Allah memberikan petunjuk dan hidayah taufiq-Nya kepada kita semua. Kami sudah menjelaskan, akan tetapi rasa-rasanya sekarang agak sulit buat mas Jaafar pahami dan terima. Tidak apa-apa, semuanya berproses. Ingat, dalam pembahasan ini, KAMI TIDAK MEMVONIS bahwa tuan dan orang-orang yang sepaham dengan tuan pasti sesat dan masuk neraka. Mungkin saja ilmu belum sampai ke dalam hati tuan dan orang-orang yang sepaham dengan tuan…. baarokallahu fiikum….
Jaafar Dahlan
13 Sep 2008 [#]
Ass….wrwb buat Mas Satria dan mas Abdul Jabbar,
Amin….semoga do`anya Mas Jabbar dikabulkan Allah swt. dan kita selalu dalam petunjuknya.
Bukannya sulit buat saya atau yang lain menerima dalil Tuan atau yang lainnya.
Kamipun beramal dengan dalil bukannya sembarangan. Kebetulan dalil kami tidak sejalan dengan dalil Tuan. kami yasin(an) bukannya ikut paham sunan kalijogo seperti mas Youcke sinyalir, bukannya atas hawa nafsu.
Bukankah surat yasin itu suratnya Qur`an juga? Tuan cinta Rasullulah kamipun cinta,Tuan cinta sahabat kamipun cinta.
Tuan cinta Qur`an seutuhnya , kamipun tidak kurang .Tidak sedikitpun dihati kami mengingkari beliau beserta para sahabat. Kami beramal sesuai tuntunan Qur`an dan rasul juga dengan dalil-dalil yang pernah saya sebutkan itu. Apakah kami tidak boleh berbeda penafsiran dengan Tuan ? para sahabatpun berbeda pendapat Nabi tidak marah. para ulamapun baaannnyaaakkkk……berbeda pendapat , tapi mereka tetap akur . Imam-imam pun banyak beda pendapat. itu biasa.
Apakah mereka pernah memaksakan pendapat mereka ?
Mudah2an forum ini bisa memberi cakrawala ilmu bagi kita semua, bukannya jadi forum perpecahan umat Islam.
Bukankah diatas langit masih ada langit ?
Jadi sekali lagi beramallah sesuai dengan dalil dan pemahaman masing-masing, yang penting tidak keluar koridor syariat .
Jangan gara-gara yasin(an) Umat Islam jadi pecah,
jangan gara-gara Qunut umat jadi terbelah,
jangan gara-gara beda pendapat kita saling buang muka.
jangan gara-gara itu semua akhirnya Allah Murka kepada kita.
Wass…wrwb.Semoga Allah swt memberi taufik dan hidayah kepada kita semua dan menuntun kita dalam kebajikan.Selawat dan salam tertujukan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw, kekasih Allah yang mulia. Amin…
Muhammad Abduh Tuasikal
13 Sep 2008 [#]
Saudaraku –yang kami sangat merindukanmu menuai sepercik cahaya kebenaran-
Ada beberapa point penting yang hendak kami sampaikan demi meluruskan beberapa tanggapan yang ada mengenai masalah bid’ah dan Yasinan:
1. Saudaraku, Bid’ah itu layaknya seperti maksiat dan setiap bid’ah adalah tercela.
Ingat Saudaraku karena dalam setiap hadits yang mencela bid’ah itu menyatakan bahwa setiap amalan bid’ah itu tertolak. Bagaimana mungkin sesuatu yang tertolak kok dilakukan lalu dikatakan bukan maksiat?! Bukankah Nabi bersabda, “‘sesungguhnya sejelek-jeleknya perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam agama)” (HR. Muslim no. 867)?! Dan bagaimana mungkin kita katakan bahwa ada bid’ah yang baik? Sedangkan dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dimaksudkan adalah umum karena menggunakan lafazh kullu (yang artinya ‘semua’). Jadi semua bid’ah adalah sesat dan tidak ada pengecualian.
Lalu bagaimana dengan perkataan Umar yang mengatakan ‘sebaik-baik bid’ah adalah ini’, bagaimana pula dengan pengumpulan Al Qur’an, kok dilakukan setelah Nabi hidup, bukankah ini berarti ada bid’ah yang baik?! Akhi, kami sarankan –karena kami juga merindukan engkau mendapatkan sepercik cahaya ilmu- untuk dapat membaca tulisan yang berjudul ‘Mengenal Bid’ah Lebih Dekat’. Mungkin dengan membaca tulisan tersebut, saudara mendapat taufik dari Allah. Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang mendapatkan petunjuk.
2. Akhi ibadah itu tidak cukup niat baik, tetapi harus ada dasarnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Seandainya boleh kita beribadah asal-asalan tanpa ada dasar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka bolehkah kita mengerjakan shalat shubuh 4 raka’at dengan dasar ‘Saya kan niatnya baik’, dengan banyak raka’at berarti kita akan banyak baca Qur’an dan akan lebih banyak memuji Allah? Apakah boleh semata-mata niat baik seperti ini?
Atau gampangnya lagi, apakah mungkin kita mengatakan ‘Saya mau shalat Zhuhur nanti malam saja (kalau sudah tengah malam) karena waktu malam akan lebih khusus, juga tidak banyak yang lihat’? Apakah mungkin kita mengatakan seperti ini dengan dasar niat yang baik semata?
Jawabannya insya Allah tidak. Maka demikian pula amalan ibadah yang lainnya, kita harus beribadah dengan dasar dalil.
3. Akhi kami membahas Yasinan bukan berarti kami ingin memecah belah umat Islam.
Yang kami inginkan –Ya Akhi- agar umat Islam ini bersatu di atas kebenaran, di atas ilmu, di atas petunjuk suri tauladan (panutan) kita. Kami tidak ingin Saudara kami yang lain terjerumus dalam kesalahan dan kekeliriuan dengan melakukan amalan yang tidak ada dasarnya. Justru itu, kami memperingatkan ini, karena kami ingin sekali agar Saudara kami yang lain mengetahui bahwa ini adalah kekeliruan sehingga dijauhi.
Perlu diketahui –Ya Akhi- bahwa bid’ah memiliki dampak buruk yang sangat berbahaya sehingga kami selalu memperingatkan hal ini, berbeda dengan orang-orang yang notabene cuma membela bid’ah. Saudara bisa membaca lebih jelas membaca dampak buruk bid’ah dalam tulisan di web ini yang berjudul ‘Mengenal Bid’ah Lebih Dekat’. Di antara dampak buruk bid’ah adalah:
[Pertama, amalan bid'ah tertolak]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)
[Kedua, pelaku bid'ah tidak akan minum dari telaga Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan tidak akan mendapatkan syafa'at beliau shallallahu 'alaihi wa sallam]
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku akan mendahului kalian di al haudh (telaga). Dinampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku.’ Lalu Allah berfirman, ‘Engkau sebenarnya tidak mengetahui, mereka itu telah berbuat bid’ah sesudahmu.’ ” (HR. Bukhari no. 7049)
Dalam riwayat lain dikatakan, “(Wahai Rabbku), mereka betul-betul pengikutku. Lalu Allah berfirman, ‘Sebenarnya engkau tidak mengetahui bahwa mereka telah mengganti ajaranmu setelahmu.” Kemudian aku (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) mengatakan, “Celaka, celaka bagi orang yang telah mengganti ajaranku sesudahku.” (HR. Bukhari no. 7051)
Inilah do’a laknat untuk orang-orang yang mengganti ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berbuat bid’ah.
Ibnu Baththol mengatakan, “Demikianlah, seluruh perkara bid’ah yang diada-adakan dalam perkara agama tidak diridhoi oleh Allah karena hal ini telah menyelisihi jalan kaum muslimin yang berada di atas kebenaran (al haq). Seluruh pelaku bid’ah termasuk orang-orang yang mengganti ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang membuat-buat perkara baru dalam agama. Begitu pula orang yang berbuat zholim dan yang menyelisihi kebenaran, mereka semua telah membuat sesuatu yang baru dan telah mengganti dengan ajaran selain Islam. Oleh karena itu, mereka juga termasuk dalam hadits ini.” (Lihat Syarh Ibnu Baththol, 19/2, Maktabah Syamilah) –Semoga Allah menjauhkan kita dari berbagai perkara bid’ah dan menjadikan kita sebagai umatnya yang akan menikmati al haudh sehingga kita tidak akan merasakan dahaga yang menyengsarakan di hari kiamat, Amin Ya Mujibad Du’a-
[Keempat, pelaku bid'ah akan mendapatkan dosa jika amalan bid'ahnya diikuti orang lain]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa melakukan suatu amalan kebaikan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya ganjaran semisal ganjaran orang yang mengikutinya dan sedikitpun tidak akan mengurangi ganjaran yang mereka peroleh. Sebaliknya, barangsiapa melakukan suatu amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikitpun.” (HR. Muslim no. 1017)
Akhi inilah, di antara bahaya bid’ah dan dampak buruknya. Jadi, kami memperingatkan hal ini bukan berarti untuk memecah belah umat. Namun, kami memperingatkan suatu perkara bid’ah karena kami sangat mencintai saudara kami yang lainnya dan kami ingin saudara kami mengetahui kebenaran seperti yang kami ketahui serta agar jangan sampai mereka membuat lagi ajaran-ajaran baru yang tidak ada tuntunan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengingat bahaya-bahaya bid’ah di atas. Kami sangat merindukan sekali bersama-bersama saudara kami –Seiman- di surga nanti. Oleh karena itu, kami merindukan mereka mengetahui ajaran yang benar.
4. Setelah dijelaskan bahwa semua hadits tentang fadhilah Surat Yasin adalah dho’if (lemah) dan palsu, apakah boleh kita beramal dengan hadits semacam itu.
Kalau mengenai hadits palsu, maka jelas tidak boleh digunakan sama sekali. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaknya dia mengambil tempat duduknya di neraka”. (HR. Bukhari & Muslim)
Namun, apakah hadits dho’if bisa digunakan dalam amalan. Mungkin lebih baik antum merujuk pada sebuah artikel yang berjudul ‘ Hadits Dho’if menjadi Sandaran Hukum’. Dalam artikel tersebut disebutkan mengenai syarat-syarat beramal dengan hadits dho’if sebagaimana dikatakan oleh para ulama seperti Ibnu Hajar dan An Nawawi. Semoga dengan penjelasan dalam artikel tersebut, antum bisa semakin mendapatkan pencerahan.
5. Jika ada yang mengatakan, “Kalau memang hadits-hadits yang menjelaskan bid’ah adalah dho’if, tetapi kan bisa dikuatkan dengan hadits dho’if yang lain, apakah dalam hal ini masih tetap dho’if atau derajatnya bisa dinaikkan?”
Akhi setahu kami, jika hadits dho’if hendak dinaikkan derajatnya menjadi hasan –yaitu hasan ligoirihi (hasan dilihat dari jalur lain)- dengan memenuhi beberapa syarat:
Syarat pertama, diriwayatkan dari banyak jalur lain. Dan jalur lain itu semisal dengannya atau lebih kuat darinya (jadi tidak boleh lebih lemah dari hadits dho’if yang hendak dikuatkan)
Syarat kedua, hadits yang lemah tersebut (yang digunakan sebagai penguat), sebab kedho’ifannya adalah jeleknya hafalan, terputusnya sanad dan perowinya tidak jelas (jadi hadits dho’if tersebut bukanlah disebabkan karena kefasikan rowi atau kedustaannya). –Silakan lihat 2 syarat ini di Kitab ‘Taisir Mustholah Hadits, Dr. Muhammad Thohan, hal. 43, Darul Fikr-
Padahal jika kita lihat dalam pembahasan hadits tentang keutamaan surat Yasin di atas. Sebagian ada yang palsu. Ini jelas tidak bisa mengangkat hadits dho’if menjadi hasan, karena hadits palsu bukanlah perkataan Nabi dan hanya dibuat-buat (alias ‘perowinya sering berkata dusta’). Jadi tidak memenuhi kedua syarat di atas. Sehingga, hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan surat Yasin tetaplah dho’if (lemah), dan tidak bisa diangkat menjadi derajat hasan. Bahkan dalil-dalil lain adalah dalil-dalil yang palsu, maka ini justru melemahkan derajat hadits menjadi lebih lemah dan tidak mungkin mengangkatnya. Wallahu a’lam.
Demikianlah saudaraku, semoga engkau memahami. Sesungguhnya kami sangat merindukan kami mendapatkan sepercik cahaya hidayah karena ingin sekali bersamamu bergandengan tangan di surga kelak karena berada di atas petunjuk Nabi kita. Bukan berarti kami mengkritik atau memberi sanggahan ini karena rasa benci yang ada dalam hati ini. Bukan sama sekali, Ya Akhi. Kami hanya menginginkan engkau mendapatkan kebaikan sebagaimana yang kami peroleh. Sebagaimana perkataan Nabi Syu’aib ‘Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan.’ (QS. Huud [11] : 88)
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihat. Wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbih wa sallam.
ibnu sholeh
13 Sep 2008 [#]
saudara abimanyu…..
komentar antum menunjukkan mungkin antum belum membaca artikel2 tentang aqidah pada website ini. muslim.or.id tidak hanya berusaha meluruskan pemahaman tentang fikih saja atau muamalah saja, tetapi juga meluruskan masalah2 akidah dan tauhid. (sangat sesuai dengan slogannya: memurnikan aqidah menebarkan sunnah)
apakah ada sifat wajib, mustahil,dan jaiz bagi Allah? klo memang ada, tolong sebutkan dalilnya, dengan pemahaman para ulama salaf. bukan dengan akal atau hawa nafsu. agama ini milik Allah, yang Dia turunkan kepada nabinya alaihi shalaatu wa salam. menurut para ulama, Salah satu aqidah ahlusunnah wal jamaah adalah meyakini bahwa Allah bersemayam diatas ArsyNya sesuai dengan kemuliaan dan ketinggianNya, hal ini tidak boleh ditakwil. wallahu a’lam.
Jaafar Dahlan
13 Sep 2008 [#]
Ya akhi Tuan Muh.Abduh Tuasikal yang semoga dirahmati Allah.
Tulisan Tuan panjang, dalil Tuan kuat, Niat Tuan tidak kalah baiknya dengan kami ini yang senang baca Yasin.Kami mengumpulkan jamaah dengan niat amar ma`ruf nahi mungkar, Apakah kami munkar berjamaah berbuat kebaikan ya akhi ?
kami tidak meragukan niat baik Tuan.
Walau ada 1000 hadits doif tentang fadilah Yasin, apakah itu mengurangi kemulian surat Yasin suratnya Qur`an ya akhi ?
Adakah salah kita senang baca Yasin ya akhi dengan tidak mengurangi dan meninggikan derajad surat yang lain.
Barangkali kecintaan kami terhadap Qur`an diawali kecintaan kami kepada senang baca yasin, apakah salah ya akhi ? kami baca Yasin tidak dengan I`tiqad yang salah.
Bukankah Allah memperluas rahmat nya :
Dikatakan bahwa :” Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya.” (Al-Baqarah [2]: 197), Apakah kami salah menyandarkan ayat ini dalam pengamalan kami ya akhi ? Adakah Ayat + hadits maudhu sekalipun yang melarang kami baca Yasin +diwaktu waktu tertentu ya akhi ?
Mudah2an keyakinan dan kehati-hatian beramal Tuan bermanfaat bagi Tuan. Kamipun beramal menyandarkan dalil kepada Qur`an Al-Baqarah [2]: 197 dan hadits :
:“Barangsiapa membuat buat (menerapkan )hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat-buat hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi).
Apakah dalil kami pasti salah ya akhi ?
Bukankah lafazh kullu (yang artinya ’semua’) di hadits itu majazi bukannya hakiki ya akhi ?
Kita pasti beda pandangan , tapi kita tetap satu Iman.
Biarlah kami beramal dengan dalil kami, tuan beramal dengan Dalil tuan.
Mudah2an Allah meninggikan derajad Tuan, memberi petunjuk kepada kita semua, bahwa Allah itu luaass…..rahmatnya. Wass….wrwb
Muslim.or.id
14 Sep 2008 [#]
Ikhwah fillah, mungkin ikhwah pernah mendengar istilah Tashfiyah wa Tarbiyah?
Tashfiyah adalah memurnikan ajaran Islam dari segala noda syirik, bid’ah, khurafat, gerakan-gerakan dan pemikiran-pemikiran yang merusak Islam.
Semua ibadah dan tata caranya telah tuntas diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam ibadah tidak butuh penambahan dan kreasi-kreasi baru, karena semuanya sudah sempuna dan sudah lengkap.
Tashfiyah adalah misi website ini, sehingga tidak ada toleransi untuk segala bentuk kesyirikan dan bid’ah walau dengan alasan apapun. Cukuplah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi teladan kita.
Dan Tarbiyah adalah mendidik umat Islam untuk menjadi terbiasa mengamalkan ajaran-ajaran Islam yang murni tersebut.
Jadi, Tashfiyah dulu, baru kemudian Tarbiyah. Jangan dibalik! karena jika penerapannya dibalik (Tarbiyah dulu, kemudian Tashfiyah), maka kenyataannya seperti yang kita lihat sekarang ini, yaitu sebagian besar kaum muslimin (terutama di Indonesia) menjadi terbiasa mengamalkan ajaran-ajaran Islam yang penuh balutan Syirik, Khurafat, dan Bid’ah, sehingga sangat sangat sulit untuk mengubahnya.
Membaca komentar ikhwah yang pro Yasinan pada kolom ini, kami jadi teringat perkataan ulama bahwa “Bid’ah itu lebih disukai oleh Syaithan.” Bid’ah lebih disukai Syaithan, karena para pelaku bid’ah menganggap baik semua ibadah bid’ah yang mereka lakukan, dan mereka tidak merasa dan tidak mengakui bahwa mereka melenceng dari ajaran Islam yang murni, sehingga pelaku bid’ah lebih sulit untuk bertobat dan disadarkan dari kekeliruan mereka walaupun sudah dipaparkan berbagai dalil dari Al Quran dan Sunnah.
Mudah-mudahan Allah memberikan kami semangat dan kekuatan untuk menyebarkan ajaran Islam yang masih murni sesuai dengan manhaj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami menyadari bahwa kami masih memiliki banyak kekeliruan dalam tata cara penyampaian melalui media dakwah online ini, dan itulah proses belajar kami dalam berdakwah.
Kolom komentar untuk sementara kami tutup.
Iriansyah
11 Okt 2008 [#]
Ya akhi Tuan Jakfar Dahlan, nampaknya tuan sangat militan membela yasinan dengan hanya bersandarkan pada Al-baqarah (2) ; 197 dan hadits shahih Muslim hadits no.1017. Gawat kalau pemahaman dan keyakinan tuan seperti itu hancur lah Islam ini. Berarti kalau ada orang yang mengadakan pembacaan surat Al-Baqarah atau surat lain secara bersama-sama pada waktu dan keadaan tertentu yang dikhususkan menurut pemahaman dan keyakinan saudara itu boleh boleh saja berdasarkan ayat dan hadits yang tuan sandarkan tersebut. Kalau begini berarti Islam belum sempurna dan ini sangat berbahaya tuan. Hati-hati Tuan!!!.
aswad
12 Okt 2008 [#]
Akhi Ja’far Dahlan, semoga Allah merahmati anda…
Andaikan tidak ada hadits tentang fadhilah surat Yasin, maka ia tetap mulia karena ia adalah Kalamullah, sebagaimana surat yang lain juga. Namun mengapa sejak dahulu hingga sekarang hanya surat yasin saja yang dibaca dalam acara tersebut? Bukankah ini suatu tanda bahwa orang-orang yang melakukan hal ini memiliki i’tiqad bahwa surat yasin memiliki kekhususan dari pada surat lain?
Walhamdulillah, barakallahufiik jika seorang muslim berusaha mencintai Al Qur’an. Dan tidak masalah tentunya jika anda memulainya dengan banyak membaca surat yasin. Namun tidak perlu bersama-sama dan waktu tertentu bukan?
Dan pada realitanya, ternyata kebanyakan pelaku yasinan, tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa mereka melakukan hal tersebut untuk memulai mencintai Al Qur’an. Karena mereka mengkaitkan pembacaan yasin dengan hal-hal lain seperti peringatan kematian seseorang, dengan malam hari jum’at, dengan syukuran rumah baru, dengan acara ruwatan, dll
Allah Ta’ala berfirman, artinya: ”Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya” (Al-Baqarah [2]: 197). Syaikh As Sa’di berkata: “Huruf ‘min’ di sini berfungsi untuk menetapkan keumuman. Artinya semua kebaikan dan taqarrub dan ibadah termasuk dalam ayat ini” (Taisir Karimirrahman). Sedangkan sesuatu dikatakan baik, taqarrub yang diterima, atau ibadah jika sesuai dengan tuntunan syariat. Jika tidak sesuai syariat, maka bukanlah kebaikan. Jadi, ‘khoirin’ yang dibicarakan ayat ini adalah amal yang sesuai sunnah, dan yasinan tidak termasuk di dalamnya.
Akhi, hadits yang antum sebutkan benar, namun terjemahan yang antum tulis sangat dipaksakan dan diselewengkan. Teks hadits adalah sebagai berikut:
من سن سنة حسنة فله أجرها وأجر من عمل بها
Silakan pembaca budiman yang paham bahasa arab, amati dengan cermat. Artinya yang tepat adalah sebagai berikut:
“Barangsiapa menunjukkan sunnah yang baik, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya“.
Karena jelas dalam hadist disebutkan man sanna SUNNATAN HASANATAN. Bukan dengan ‘man sanna BID’ATAN HASANATAN’. Maka yang dimaksud hadits ini adalah barang siapa yang menunjukkan amalan yang sesuai sunnah, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya. Dan yasinan tidak termasuk dalam hadits ini.
Akhi, apakah ada lafadz dalil yang melarang sholat shubuh 3 rakaat? Tidak ada. Apakah menjadi boleh? Tidak juga. Karena sebagaimana kaidah ushul bahwa al ashlu fil ibadah al man’u hukum asal ibadah adalah haram, kecuali ada dalil yang memerintahkan. Jika demikian, konsekuensinya, dalam masalah ibadah jangan tanya ‘adakah dalil yang melarang?’ tapi tanyalah ‘adakah dalil yang memerintahkan?’
Akhi, kaidah ushul fiqh yang disepakati oleh para ulama yang berpendapat adanya majaz dalam dalil yaitu: al ashlu fi lafzhi al haqiqoh. Hukum asal teks lafadz dalil adalah HAKIKI. Syaikh Ibnu Utsaimin berkata: “Tidak boleh membawa makna lafadz ke dalam makna majaz kecuali terdapat dalil yang menghalanginya dipahami secara hakiki” (Ushul min ‘ilmil ushul hal.21). Maka lafadz kullu dalam hadits ‘kullu bid’atin dholalah’ adalah dipahami dengan makna hakiki, bahwa semua bid’ah adalah perbuatan menyimpang, karena tidak ada qorinah yang menghalangi makna hakikinya.
Jika anda membawakan dalil surat Al Ahqof ayat 25:
تدمر كل شئ بأمر ربها
“Artinya: Segala sesuatu dihancurkan atas perintah Tuhannya”
yang bercerita tentang kaum ‘Aad yang dihempaskan oleh angin dahsyat. Dan anda berkata ‘kullu’ di sini majazi karena ternyata tidak segala sesuatu yang hancur dihempas angin. Buktinya Nabi Hud ‘alaihissalam selamat?
JAWAB: Jika demikian anda tidak paham bahasa arab. Bukankah di ayat ini dikatakan ‘bi amri robbiha’ (atas perintah Tuhannya). Artinya, segala sesuatu yang diperintahkan oleh Allah untuk hancur maka hancurlah. Yang tidak diperintahkan untuk hancur maka tidak hancur. Sehingga ‘kullu’ di sini tetap dalam MAKNA HAKIKI.
Akhi, jika anda membawakan surat Anbiya ayat 35:
كل نفس ذاءقة الموت
ِArtinya: “Setiap ruh pasti akan mati”
Dan ternyata tidak semuanya mati, karena Allah azza wa jalla tidak mati, sehingga ‘kullu’ di sini majazi. Mungkin begitu anda mengira.
JAWAB: Dalam tafsir As Sa’di tentang ayat ini tertulis: “Ayat ini mencakup setiap ruh makhluq” (Taisir Karimirrahman). Dan tidak ada diantara nama atau sifat Allah, Ar Ruh atau An Nafsu. Maka ayat ini tidak termasuk di dalamnya Allah Ta’ala. Sehingga maknanya, segala ruh pasti akan mati. Maka ‘kullu’ di sini bermakna hakiki, bukan majazi.
Wallahu’alam.
Ari Wahyudi
12 Okt 2008 [#]
“Dan janganlah kamu mengucapkan apa2 yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya…” (QS. Al-Isra’ : 36)
“Katakanlah; jika kamu mencintai Allah ikutilah aku (Nabi)..” (QS. Ali Imran : 31).
“Maka apabila kalian berselisih tentang sesuatu kembalikanlah kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (As Sunnah)…” (QS. An Nisaa’ : 59).
“Maukah aku kabarkan kepada kalian orang-orang yang paling merugi amalnya, yaitu orang2 yang sia2 amal usahanya di dunia sementara dia mengira telah berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al Kahfi : 103-104).
Bid’ah (sesuatu yang baru secara bahasa) baik jika sesuai dengan Sunnah, sebaliknya jika bertentangan maka bid’ah (sesuatu yang baru) itu jelek. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa tidak ada bid’ah dalam syari’at, sebab bid’ah itu telah dihukumi semuanya sesat oleh Nabi. Padahal syariat itu semuanya berisi petunjuk, bukan kesesatan. Maka tidak ada bid’ah (dalam agama, bukan secara bahasa) yang baik. (bacalah Fath Al-Bari kitab Al I’tisham bil Kitab wa Sunnah, jilid 13). Oleh sebab itu Imam Malik mengatakan, “As Sunnah adalah behtera Nuh, orang yang menaikinya akan selamat dan orang yang tertinggal darinya pasti tenggelam!”.
Sunnah adalah segala sesuatu yang diajarkan oleh Nabi melalui ucapan, perbuatan, sikap meninggalkan, atau persetujuan. Inilah pengertian Sunnah menurut ushuliyin dan muhadditsin. Berdasarkan penelaahan terhadap Sunnah, tidak pernah kita temukan bahwa Nabi atau para sahabat atau imam yang empat mengajarkan Yasinan untuk orang mati dan semacamnya. Alangkah sombongnya kita, mereka-reka ibadah untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Padahal para ulama tidak ada yang menuntunkan kita untuk melakukannya. Baiklah, biarkanlah orang yang membela Yasinan menyebutkan siapakah ulama yang menganjurkan kita untuk Yasinan atau Tahlilan? Sebutkanlah nama-nama mereka, agar kita mengetahui bersama….
Jaafar Dahlan
13 Okt 2008 [#]
Untuk Akhi semua,
Tuan tuan punya Dalil, kamipun punya dalil , kenapa ribut ?
Apakah kami PASTI SALAH berdalil dengan surat Al-baqarah (2) ; 197 dan hadits shahih Muslim hadits no.1017.
Apakah hanya dalil tuan absolut pasti benar ? dalil kami pasti salah?
Tuan katakan kami ahli bid`ah ,secara tidak langsung mengatakan kami PASTI MASUK NERAKA.
APAKAH TUAN YAKIN AMALAN ( Dalil ) TUAN MENGANTAR TUAN KE SORGA ?
Tapi satu hal yang saya yakini dalam Islam , Allah itu Maha baik ( Toyyib ) dan maha luas rahmatnya, tidak mengekang umatnya berbuat baik ,yang penting Sesuai koridor syariat.
Besok-besok dengan pemahaman Tuan tidak akan ada lagi orang membangun madrasah , karena enggak ada contohnya. Tidak akan ada lagi orang belajar ilmu nahwu karena juga enggak ada contohnya
TIDAK SEMUA AMALAN BAIK YANG TIDAK DICONTOHKAN NABI OTOMATIS TERTOLAK, BID`AH. SESAT DAN LAIN-LAIN.
Kecuali ada yang menambah-nambah rukun sholat,
Maghrib 3 rekaat jadi 4 rokaat…….Aaaah itu baru namanya bid`ah, enggak usah nunggu-nunggu hadits,fatwa, itu jelas sesat.
APAKAH TUAN-TUAN TIDAK YAKIN ALLAH ITU BAIK DAN MAHA LUAS RAHMATNYA ?
SEKALI lagi TUNJUKKAN DALIL QUR`AN + Hadits maudhu sekalipun YANG MELARANG BACA SURAT YASIN.
Point terakhir :
jangan mempersempit rahmat , yang Allah dan Rasul sendiri telah memperluasnya.
Wass…..semoga Allah membuka pikiran Tuan-tuan sekalian, agar tidak mempersempit rahmat Allah dalam beramal sholeh.
M Abduh T
13 Okt 2008 [#]
Kepada saudaraku Jaafar Dahlan -yang kami merindukan engkau mendapatkan sepercik cahaya kebenaran- :
- Taruhlah memang ada bid’ah hasanah dan kami terima. Seperti shalat tarawih yang dilakukan Umar misalnya. Itu kita anggap bid’ah hasanah. Sekarang masalahnya haditsnya adalah umum bahwa ‘SEMUA BID’AH ADALAH SESAT’. Kalau memang perbuatan umar ini sebagai takhsis (pengkhususan) dari hadits tersebut, berarti amalan ibadah yang lain juga harus dikhususkan agar disebut bid’ah hasanah. Sekarang, adakah dalil yang mengkhususkan bahwa yasinan adalah amalan yang ada tuntunannya dari Nabi atau para sahabat. Kalau tidak ada dalil, maka kita kembalikan pada keumuman hadits bahwa SETIAP IBADAH YANG TIDAK ADA TUNTUNANNYA (ALIAS BID’AH) ADALAH SESAT.
- Akhi Jaafar Dahlan yang semoga selalu mendapatkan taufik Allah. Antum mengatakan bahwa lafazh kullu, ada yang bermakna hakiki dan majazi. Lalu dalam hadits ‘SETIAP BID’AH ADALAH SESAT’, kata kullu di situ bermakna majazi. Sekarang apa dalil yang mentakwil demikian, Ya Akhi?Syaikhul Islam telah menjelaskan dengan baik maksud kullu di hadits tersebut. Beliau mengatakan :Perlu diketahui bersama bahwa sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘sesungguhnya sejelek-jeleknya perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam agama,pen)’, ‘setiap bid’ah adalah sesat’, dan ‘setiap kesesatan adalah di neraka’ serta peringatan beliau terhadap perkara yang diada-adakan dalam agama, semua ini adalah dalil tegas dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka tidak boleh seorang pun menolak kandungan makna berbagai hadits yang mencela setiap bid’ah. Barangsiapa menentang kandungan makna hadits tersebut maka dia adalah orang yang hina. (Iqtidho’ Shirotil Mustaqim, 2/88, Ta’liq Dr. Nashir Abdul Karim Al ‘Aql)Tidak boleh bagi seorang pun menolak sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersifat umum yang menyatakan bahwa setiap bid’ah adalah sesat, lalu mengatakan ‘tidak semua bid’ah itu sesat’. (Iqtidho’ Shirotil Mustaqim, 2/93)Perlu antum sekalian pahami Akhi bahwa lafazh ‘kullu’ (artinya : semua) pada hadits,وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ“setiap bid’ah adalah sesat”, dan hadits semacamnya dalam bahasa Arab dikenal dengan lafazh umum.Asy Syatibhi mengatakan, “Para ulama memaknai hadits di atas sesuai dengan keumumannya, tidak boleh dibuat pengecualian sama sekali. Oleh karena itu, tidak ada dalam hadits tersebut yang menunjukkan ada bid’ah yang baik.” (Dinukil dari Ilmu Ushul Bida’, hal. 91, Darul Ar Royah)Sekarang mana dalil yang memalingkan bahwa lafazh kullu di sini bermakna majazi?Kalau antum berdalil dengan perkataan Umar ketika menghidupkan shalat tarawih secara berjama’ah ” ‘SEBAIK-BAIK BID’AH ADALAH INI’. Maka antum disanggah dengan perkataan Syaikhul Islam berikut.”Adapun shalat tarawih (yang dihidupkan kembali oleh Umar) maka dia bukanlah bid’ah secara syar’i. Bahkan shalat tarawih adalah sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dilihat dari perkataan dan perbuatan beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan shalat tarawih secara berjama’ah pada awal Ramadhan selama dua atau tiga malam. Beliau juga pernah shalat secara berjama’ah pada sepuluh hari terakhir selama beberapa kali. Jadi shalat tarawih bukanlah bid’ah secara syar’i. Sehingga yang dimaksudkan bid’ah dari perkataan Umar bahwa ‘sebaik-baik bid’ah adalah ini’ yaitu bid’ah secara bahasa dan bukan bid’ah secara syar’i. Bid’ah secara bahasa itu lebih umum (termasuk kebaikan dan kejelekan) karena mencakup segala yang ada contoh sebelumnya.”Anggap saja kita katakan bahwa perbuatan Umar adalah pengkhususan dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersifat umum yang menyatakan bahwa setiap bid’ah itu sesat. Jadi perbuatan Umar dengan mengerjakan shalat tarawih terus menerus adalah bid’ah yang baik (hasanah). Namun, ingat bahwa untuk menyatakan bahwa suatu amalan adalah bid’ah hasanah harus ada dalil lagi baik dari Al Qur’an, As Sunnah atau ijma’ kaum muslimin. Karena ingatlah –berdasarkan kaedah ushul fiqih- bahwa sesuatu yang tidak termasuk dalam pengkhususan dalil tetap kembali pada dalil yang bersifat umum.Misalnya mengenai acara selamatan kematian. Jika kita ingin memasukkan amalan ini dalam bid’ah hasanah maka harus ada dalil dari Al Qur’an, As Sunnah atau ijma’. Kalau tidak ada dalil yang menunjukkan benarnya amalan ini, maka dikembalikan ke keumuman dalil bahwa setiap perkara yang diada-adakan dalam masalah agama (baca : setiap bid’ah) adalah sesat dan tertolak.
- Baca Yasin kok Dilarang? Yasin juga kan Al Qur’an
Untuk menyanggah perkataan di atas, perlu sekali kita ketahui mengenai dua macam bid’ah yaitu bid’ah hakikiyah dan idhofiyah.
Bid’ah hakikiyah adalah setiap bid’ah yang tidak ada dasarnya sama sekali baik dari Al Qur’an, As Sunnah, ijma’ kaum muslimin, dan bukan pula dari penggalian hukum yang benar menurut para ulama baik secara global maupun terperinci. (Al I’tishom, 1/219)
Di antara contoh bid’ah hakikiyah adalah puasa mutih (dilakukan untuk mencari ilmu sakti), mendekatkan diri pada Allah dengan kerahiban (hidup membujang seperti para biarawati), dan mengharamkan yang Allah halalkan dalam rangka beribadah kepada Allah. Ini semua tidak ada contohnya dalam syari’at.
Bid’ah idhofiyah adalah setiap bid’ah yang memiliki 2 sisi yaitu [1] dari satu sisi memiliki dalil, maka dari sisi ini bukanlah bid’ah dan [2] di sisi lain tidak memiliki dalil maka ini sama dengan bid’ah hakikiyah. (Al I’tishom, 1/219)
Jadi bid’ah idhofiyah dilihat dari satu sisi adalah perkara yang disyari’atkan. Namun ditinjau dari sisi lain yaitu dilihat dari enam aspek adalah bid’ah. Enam aspek tersebut adalah waktu, tempat, tatacara (kaifiyah), sebab, jumlah, dan jenis.
Contohnya bid’ah idhofiyah adalah dzikir setelah shalat atau di berbagai waktu secara berjama’ah dengan satu suara. Dzikir adalah suatu yang masyru’ (disyari’atkan), namun pelaksanaannya dengan tatacara semacam ini tidak disyari’atkan dan termasuk bid’ah yang menyelisihi sunnah.
Contoh lainnya adalah puasa atau shalat malam hari nishfu Sya’ban (pertengahan bulan Sya’ban). Begitu pula shalat rogho’ib pada malam Jum’at pertama dari bulan Rajab. Kedua contoh ini termasuk bid’ah idhofiyah. Shalat dan puasa adalah ibadah yang disyari’atkan, namun terdapat bid’ah dari sisi pengkhususan zaman, tempat dan tatacara. Tidak ada dalil dari Al Kitab dan As Sunnah yang mengkhususkan ketiga hal tadi.
Begitu juga hal ini dalam acara yasinan dan tahlilan. Bacaan tahlil adalah bacaan yang disyari’atkan. Bahkan barangsiapa mengucapkan bacaan tahlil dengan memenuhi konsekuensinya maka dia akan masuk surga. Namun, yang dipermasalahkan adalah pengkhususan waktu, tatacara dan jenisnya. Perlu kita tanyakan manakah dalil yang mengkhususkan pembacaan tahlil pada hari ke-3, 7, dan 40 setelah kematian. Juga manakah dalil yang menunjukkan harus dibaca secara berjama’ah dengan satu suara. Mana pula dalil yang menunjukkan bahwa yang harus dibaca adalah bacaan laa ilaha illallah, bukan bacaan tasbih, tahmid atau takbir. Dalam acara yasinan juga demikian. Kenapa yang dikhususkan hanya surat Yasin, bukan surat Al Kahfi, As Sajdah atau yang lainnya? Apa memang yang teristimewa dalam Al Qur’an hanyalah surat Yasin bukan surat lainnya? Lalu apa dalil yang mengharuskan baca surat Yasin setelah kematian? Perlu diketahui bahwa kebanyakan dalil yang menyebutkan keutamaan (fadhilah) surat Yasin adalah dalil-dalil yang lemah bahkan sebagian palsu.
Jadi, yang kami permasalahkan adalah bukan puasa, shalat, bacaan Al Qur’an maupun bacaan dzikir yang ada. Akan tetapi, yang kami permasalahkan adalah pengkhususan waktu, tempat, tatacara, dan lain sebagainya. Manakah dalil yang menunjukkan hal ini?
Semoga sanggahan-sanggahan di atas dapat memuaskan saudara kami Jaafar Dahlan. Yang kami harapkan semoga engkau selalu mendapatkan taufik Allah. Kami hanya bermaksud mendatangkan perbaikan selama kami masih berkesanggupan. Tidak ada yang dapat memberi taufik kepada kita sekalian kecuali Allah. Semoga kita selalu mendapatkan rahmat dan taufik-Nya ke jalan yang lurus.
Dari saudara seiman dengan Jaafar Dahlan
yang selalu mengharapkan saudara kami ini mendapatkan taufik dan hidayah Allah serta istiqomah dalam agama ini
[Sebentar lagi tulisan kami yang membahas masalah bid'ah akan dipublikasikan di website ini. Semoga pembaca sekalian dapat membaca tulisan tersebut dan bisa mendapatkan pencerahan yang lebih baik.]
Jaafar Dahlan
14 Okt 2008 [#]
Ass…wrwb kepada saudaraku M Abduh T.
Kesantunan akhlak Tuan dalam menjelaskan hujjah patut dicontoh. Memang demikianlah seharusnya. Saya setuju dengan tuan dalam beberapa hal tapi juga tidak setuju dalam beberapa hal. Hujjah Tuan baik sekali, kami sangat menghargai dalil Tuan.
Kami ( saya ) baca Yasin, terus terang tidak menentukan waktu, kapanpun mau baca kami baca. Yasin itu sama derajadnya dengan surat -surat yang lain, i`tiqad kami (saya) mengatakan begitu.Tidak ada i`tiqad kami isi Qur`an seolah-olah Yasin.
Dari kronologis komentar yang ada menunjukkan adanya perbedaan Pengertian batasan Bid`ah dari saudara -saudara yang lain, ini jelas menunjukkan bahwa dikalangan yang berpaham “Yasinan bid`ah ” pun ada perbedaan pengertian batasannya. Para Ulamapun berbeda pendapat ketika mendefinikan bid`ah dan batasannya.Apalagi dengan paham yang menganggap”Boleh yasinan”. Jadi sudah realita bahwa perbedaan itu pasti ada.
Kami berpaham bolehnya Baca yasin pun dengan dalil surat Al-baqarah (2) ; 197 dan hadits shahih Muslim hadits no.1017. karena melihat adanya koridor yang diberikan Allah dan Rasul. Boleh jadi semua dalil keutamaan yasin haditsnya lemah, oke kami terima itu dengan senang. tapi apakah koridor yang diberikan Allah dan rasul juga lemah ya akhi ?
Dalam acara kematian baca yasin, itu tidak lebih dari kebiasaan saja , bukan dengan i`tiqad yang salah, bisa juga baca surat -surat lain tidak ada ketentuan baku,jamaahnya pun kalau diajak baca surat lain ikut aja enggak protes enggak demo harus yasin. sukur2 kalau bisa khatam qur`an. Bahkan di keluarga tertentu mereka baca qur`an sampai khatam.Pernah saya alami untuk datang ke acara yasinan di kalangan yang Fanatik Yasin, ternyata apa yang terjadi disana malah enggak baca Yasin kok , yang dibaca surat-surat yang lain.
Fenomena ini menunjukkan kalangan yang “Fanatik Yasin” pun enggak Fanatik kok biasa-biasa saja. Jadi pendapat saya adalah berlebihan dan buang energi mengkampanyekan Yasinan Bid`ah, kenyataannnya di masyarakat tidak seperti yang Tuan-tuan bayangkan.Baca yasin tidak lebih dari kebiasaan saja dan pilihan normal saja.
Masalah menentukan waktu, tempat, tata cara memang tidak ada dalilnya, tapi coba Tuan juga tunjukkan daliil yang melarangnya dari Qur`an atau hadis maudhu sekalipun.
Jadi sudah realita bahwa perbedaan pemahaman itu pasti ada dan sudah jadi Sunnatullah.Tuan merasa benar dengan dalil Tuan dan Kami (saya) sangat-sangat menghargai hujjah Tuan Abduh. Kamipun merasa benar dengan dalil yang kami pakai. Mudah2an ada saling menghargai hujjah dan pemahaman.
Semoga Allah merahmati hambanya yang selalu berusaha mendekat kepadaNYA.
Cara kami mungkin dengan membaca ayat- 2 Qur`an + surat yasin. Apakah juga salah ya akhi ?
Wass…..wrwb
Jaafar Dahlan
15 Okt 2008 [#]
Khusus pertanyaan buat saudara Ahwad yang pandai bahasa Arab.
Saya kutip Comment tuan :
Akhi, jika anda membawakan surat Anbiya ayat 35:
كل نفس ذاءقة الموت
ِArtinya: “Setiap ruh pasti akan mati”
Dan ternyata tidak semuanya mati, karena Allah azza wa jalla tidak mati, sehingga ‘kullu’ di sini majazi. Mungkin begitu anda mengira.
Komment dari saya :
Bisa bisanya anda mengganggap Allah itu RUH ? Rasa-rasanya tidak pantas anda mengaitkan ayat itu ke sifat Allah !!!
Iriansyah
15 Okt 2008 [#]
Ass.Wr.Wb. Alhamdulillah nampaknya pemahaman dan keyakinan Tuan Jaafar Dahlan mulai ada titik persamaanya khususnya masalah dianjurkannya pembacaan surat yasin dan surat al-qur,an lainnya dan dari sudut ini tidak ada perbedaanya . Namun yang menjadi problem menyangkut masalah pembacaan yasinan ini adalah mengenai tata cara, waktu dan tempat. Tuan Jaafar Dahlan bahkan mengakui memang tidak ada dalilnya mengenai tata cara, waktu dan tempat pembacaan yasinan ini. Selanjutnya Tuan minta tunjukkan dalil yang melarangnya. Padahal sepengetahuan saya tata cara pembacaan ayat al-qur,an ada seperti membacanya dengan tartil, bila dibacakan al-quran hendaklah kita diam dan simaklah , kemudian dalil yang melarangnya memang tidak ada karena yasinan tidak pernah dikerjakan baik pada zaman Rasulullah maupun sahabat. Bagaimana Allah atau Rasululah mau melarang yasinan gaya Jaafar Dahlan (Dibaca bersama-sama, dihususkan waktunya)kalau memang pekerjaan tersebut tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah maupun Sahabat. Dan perlu Tuan ketahui akibat dari seringnya masyarakat mengadakan yasinan, bukannya menambah ketekunan untuk membaca al-qur,an tapi sebaliknya hal ini dapat kita lihat bahwa orang senang mengumpul dan membeli buku yasin ketimbang Kitab suci Al-qur’an dan yang menjadi ironi sekali buku Yasin ada sementara kitab suci al-qur’an tidak ada. Mana mungkin membaca surat al qur’an lainnya sementara al-qur’an sendiri tidak ada. Ini realita dan fakta Tuan.
Jaafar Dahlan
16 Okt 2008 [#]
Buat Pa` Iriansyah,
Diantara persamaan tentu ada perbedaan. Perbedaan yang tidak bisa ketemu itulah bedanya antara 1 paham dengan paham lain.
Tuan mengatakan ada persamaan pemikiran Tuan dengan saya. Itu bukan menunjukkan bahwa saya baru mulai sama dengan Pemahaman Tuan. Pemahaman yang sama itu sudah ada sebelum Tuan Lahir ( barang kali ).Mungkin belum terungkap dalam diskusi.
Persamaan diantara kita sudah jelas.
Perbedaan diantara kita pun jelas.
Jadi biarlah perbedaan itu ada dan memang realita kehidupan.
Kami tetap dengan pemaham kami getol baca yasin berjemaah, walupun 1 suara keliatannya, tapi hakekatnya tetap masing-masing person yang mengerjakannnya dan tetap tartil tajwid, makhrojnya walaupun kelihatan cepat.
Bahkan ada yang tidak kedengeran suaranya.
Malahan saya paling sering duluan selesai. Tidak ada yang protes kenapa saya selesai duluan dan enggak protes kenapa enggak satu suara dengan lainnnya, karena memang enggak ada pemahaman berupa perjanjian harus mulai bareng selesai bareng dengan satu suara. Semua nafsi-nafsi. Kalaupun ada yang bareng, itu tidak lebih person itu ingin belajar dari yang lain dan mengikuti yang bacaan lebih benar dari dirinya. Karena masih ada waktu biasanya jemaah lainpun baca surat-surat lainnnya. Karena memang enggak ada di paham kami cuma Yasin yang istimewa. Baca yasin itu cuma kebiasaan dan pilihan normal saja tidak dengan I`tiqad seperti prasangka Tuan-tuan.
Jadi kesimpulannnya Buang waktu dan energi saja Tuan-tuan mengkampanyekan Yasinan Bid`ah. Kenyataan dilapangan normal-normal saja.
Jadi prasangka Tuan tuan sebenarnya jauh dari realita dilapangan.
Satu pertanyaan yang ingin saya tanyakan kepada Tuan-Tuan sejak awal diskusi ini.
*Kenapa Tuan-tuan sekalian sepertinya malu-malu mengatakan kami ini ( paham yasinan ) paham sesat dan termasuk ahli neraka ?
Masih banyak lapangan / dakwah lain yang perlu dilayani.
Irian , masuk misionaris
Kupang, NTT, Timor leste basis Nasrani.
kenapa energi Tuan-tuan tidak dioptimalkan kesana ?
masih banyak hal lain lebih penting sekedar daripada “mengislamkan orang islam” dengan Islamnya Tuan.
Semoga Allah meluaskan ampunannnya buat kita semua.
Wass..wrwb