Untaian Mutiara Dalam Memahami Ayat Hukum (3)


Al Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah
(wafat tahun 751 H)

Dalam Madarijus Salikin (1/336), beliau berkata:

والصحيح: أن الحكم بغير ما أنزل الله يتناول الكفرين: الأصغر والأكبر بحسب حال الحاكم، فإنه إن اعتقد وجوب الحكم بما أنزل الله في هذه الواقعة، وعدل عنه عصياناً، مع اعترافه بأنه مستحق للعقوبة؛ فهذا كفر أصغر. وإن اعتقد أنه غير واجب، وأنه مُخيّر فيه، مع تيقُنه أنه حكم الله، فهذا كفر أكبر. إن جهله وأخطأه، فهذا مخطئ، له حكم المخطئين.

“Yang benar, perbuatan berhukum dengan selain yang Allah turunkan mencakup dua jenis kekufuran, yaitu kufur asghar dan kufur akbar tergantung kondisi yang ada pada seorang hakim. Apabila dia meyakini wajibnya untuk berhukum dengan yang Allah turunkan dalam suatu perkara, kemudian dia berpaling karena maksiat sedangkan dia mengetahui dan meyakini bahwa dia berhak untuk di azab atas perbuatannya tersebut, maka perbuatan ini termasuk kufur asghar. Apabila dia meyakini bahwa berhukum dengan yang Allah turunkan tidak wajib baginya dan dia bebas memilih serta meyakini bahwa yang demikian itu adalah hukum Allah maka perbuatan ini merupakan kufur akbar. Akan tetapi apabila dia tidak tahu hukum Allah dan salah dalam menghukumi, maka dia seorang yang mukhthi’ (berbuat salah dengan tidak sengaja -pent) dan berlaku untuknya ketentuan untuk orang yang salah tanpa disengaja.”

Beliau berkata dalam Ash Shalat wa Hukmu Taarikiha (hal. 72):

وههنا أصل آخر، وهو الكفر نوعان: كفر عمل. وكفر جحود وعناد. فكفر الجحود: أن يكفر بما علم أن الرسول جاء به من عند الله جحوداً وعناداً؛ من أسماء الرب، وصفاته، وأفعاله، وأحكامه. وهذا الكفر يضاد الإيمان من كل وجه.وأما كفر العمل: فينقسم إلى ما يضاد الإيمان، وإلى ما لا يضاده: فالسجود للصنم، والاستهانة بالمصحف، وقتل النبيِّ، وسبه؛ يضاد الإيمان. وأما الحكم بغير ما أنزل الله ، وترك الصلاة؛ فهو من الكفر العملي قطعاً”.

“Ada kaidah yang patut diperhatikan, yaitu kekufuran itu ada dua jenis, kufur amali dan kufur juhud wa inad. Yang dimaksud dengan kufur juhud adalah seseorang mengkufuri dan menentang ajaran rasul baik berupa nama-nama dan sifat-sifat-Nya, perbuatan-Nya dan hukum-hukum-Nya padahal dia mengetahui bahwa itu berasal dari sisi Allah, maka kekufuran jenis ini meniadakan iman secara keseluruhan. Adapun kufur amali dibagi dua, yaitu yang meniadakan iman dan yang tidak meniadakan iman. Sujud kepada berhala, meremehkan mushaf al-Qur’an, membunuh dan mencela para nabi merupakan kufur amali yang meniadakan iman. Adapun berhukum dengan selain hukum Allah, meninggalkan shalat maka ini jelas termasuk kufur amali yang boleh jadi meniadakan atau tidak meniadakan iman.”

Al Hafizh Ibnu Kasir
(wafat tahun 774)

Beliau rahimahullah berkata dalam Tafsirul Qur’anil Azhim (2/61) ketika menafsiri firman Allah ta’ala:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.”

لأنهم جحدوا حكم الله قصداً منهم وعناداً وعمداً، وقال ههنا: (فَأُوْلَـئِكَ هُم الظَّالِمُونَ) لأنهم لم ينصفوا المظلوم من الظالم في الأمر الذي أمر الله بالعدل والتسوية بين الجميع فيه، فخالفوا وظلموا وتعدوا”.

“(Mereka dikafirkan -pent) karena mereka menentang hukum Allah secara langsung dan sengaja.”

Dan Allah juga berfirman dalam surat yang sama:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.”

Mereka disebut dengan zalim karena mereka tidak berlaku adil terhadap orang-orang yang di zalimi dalam suatu perkara yang Allah telah perintahkan untuk berlaku adil di dalamnya -baik terhadap orang zalim maupun tidak-, malahan mereka menyelisihi perintah Allah tersebut, berbuat zalim dan melampaui batas.

Al Imam Asy Syathibi
(wafat tahun 790)

Beliau berkata dalam Al Muwafaqat (4/39):

“هذه الآية والآيتان بعدها نزلت في الكفار، ومن غيّر حكم الله من اليهود، وليس في أهل الإسلام منها شيء؛ لأن المسلم –وإن ارتكب كبيرة- لا يقال له: كافر”

“Ayat ini dan dua ayat sesudahnya diturunkan terhadap orang-orang kafir Yahudi yang telah merubah hukum-hukum Allah. Ayat ini sama sekali tidak boleh digunakan terhadap kaum muslimin (yakni untuk mengafirkan mereka -pent), karena seorang muslim yang mengerjakan dosa besar tidak disebut orang kafir.”

Al Imam Ibnu Abil ‘Izz Al Hanafi
(wafat tahun 791)

Beliau berkata dalam Syarah Aqidah Thahawiyah (hal. 323):

وهنا أمر يجب أن يتفطن له، وهو: أن الحكم بغير ما أنزل الله قد يكون كفراً ينقل عن الملة، وقد يكون معصية: كبيرة أو صغيرة، ويكون كفراً: أما مجازاً؛ وإما كفراً أصغر، على القولين المذكورين. وذلك بحسب حال الحاكم: فإنه إن اعتقد أن الحكم بما أنزل الله غير واجب، وأنه مخير فيه، أو استهان به مع تيقنه أنه حكم الله؛ فهذا أكبر. وإن اعتقد وجوب الحكم بما أنزل الله، وعلمه في هذه الواقعه، وعدل عنه مع اعترافه بأنه مستحق للعقوبة؛ فهذا عاص، ويسمى كافراً كفراً مجازيا، أو كفراً أصغر. وإن جهل حكم الله فيها مع بذل جهده واستفراغ وسعه في معرفة الحكم وأخطأه؛ فهذا مخطئ، له أجر على اجتهاده، وخطؤه مغفور.

“Di sini ada hal yang harus dipahami dengan benar, yaitu bahwa berhukum dengan selain hukum Allah terkadang merupakan kekufuran yang mengeluarkan dari Islam dan terkadang bisa berupa kemaksiatan baik besar maupun kecil. Dan juga terkadang bisa berbentuk kekufuran majazi (kiasan) yang disebut juga dengan kufur kecil. Ada dua pendapat dalam hal ini sebagaimana yang telah disebutkan. Dan kekufuran ini tergantung kondisi orang yang berhukum (memutuskan).

Apabila ia berkeyakinan bahwa berhukum kepada hukum Allah itu tidak wajib, ada alternatif lain atau dia meremehkannya padahal dia yakin itu adalah hukum Allah, maka hal itu merupakan kekufuran besar.

Namun apabila dia yakin kewajiban untuk berhukum kepada hukum Allah dan dalam konteks yang terjadi dia juga menyadari hal itu kemudian dia menyimpang dari hukum Allah sedang dia tahu dia berhak mendapatkan siksa maka orang ini bermaksiat. Dia disebut kafir secara kiasan saja atau disebut juga kufur kecil. Dan apabila dia tidak mengetahui hukum Allah dalam perkara itu setelah dia mengerahkan segala kemampuan untuk mengetahui hukumnya kemudian dalam memutuskan ternyata salah, maka ia adalah seorang mukhthi’ (bersalah tanpa disengaja -pent). Dia mendapat satu ganjaran atas ijtihadnya, sedangkan kesalahannya diampuni.”

Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani
(wafat tahun 852 H)

Beliau berkata dalam Fathul Baari (13/120):

“إن الآيات، وإن كان سببها أهل الكتاب، لكن عمومها يتناول غيرهم، لكن لما تقرر من قواعد الشريعة: أن مرتكب المعصية لا يسمى: كافراً، ولا يسمى – أيضاً – ظالماً؛ لأن الظلم قد فُسر بالشرك، بقيت الصفة الثالثة”؛ يعني الفسق.

“Sesungguhnya ayat-ayat ini (yakni ayat-ayat yang membicarakan tentang berhukum kepada selain hukum Allah yang terdapat dalam surat Al Maaidah -pent) walaupun sebab diturunkannya adalah karena perbuatan ahli kitab akan tetapi keumuman ayat-ayat tersebut juga mencakup selain mereka (termasuk kaum muslimin -pent). Namun tatkala terdapat kaidah syariat, yaitu pelaku maksiat tidak disebut kafir dan juga tidak disebut zalim, karena makna zalim adalah syirik, maka yang tersisa adalah sifat yang ketiga bagi orang Islam yang berhukum dengan hukum Allah yakni fasik.”

Al Allamah Abdul Lathif bin Abdirrahman Alus Syaikh
(wafat tahun 1293 H)

Beliau berkata dalam Minhajut Ta’sis (hal. 71):

وإنما يحرُم إذا كان المستند إلى الشريعة باطلة تخالف الكتاب والسنة، كأحكام اليونان والإفرنج والتتر، وقوانينهم التي مصدرها آراؤهم وأهوائهم، وكذلك البادية وعادتهم الجارية… فمن استحل الحكم بهذا في الدماء أو غيرها؛ فهو كافر، قال تعالى : ﴿ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ ﴾ … وهذه الآية ذكر فيها بعض المفسرين: أن الكفر المراد هنا: كفر دون الكفر الأكبر؛ لأنهم فهموا أنها تتناول من حكم بغير ما أنزل الله، وهو غير مستحل لذلك، لكنهم لا ينازعون في عمومها للمستحل، وأن كفره مخرج عن الملة”.

“Sesungguhnya yang haram adalah jika seseorang bersandar pada suatu aturan yang batil dan menyelisihi al-Qur’an dan as-Sunnah seperti undang-undang Yunani, Eropa, Tartar, dan undang-undang mereka yang bersumber dari pemikiran-pemikiran dan hawa nafsu mereka.

Maka barang siapa yang menganggap boleh untuk berhukum dengan undang-undang tersebut dalam permasalahan darah atau selainnya, maka dia seorang yang kafir (keluar dari agama -pent). Allah ta’ala berfirman:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.”

Sebagian ahli tafsir menjelaskan bahwa kekufuran yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah kekufuran yang bukan kekufuran akbar (yakni tidak mengeluarkan pelakunya dari agama -pent), karena mereka (yakni sebagian ahli tafsir) memahami bahwa ayat ini juga mencakup setiap orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah meskipun orang tersebut tidak menghalalkan perbuatannya tersebut (yakni tetap meyakini akan kewajiban untuk berhukum kepada hukum Allah tapi dia menyimpang dari hukum Allah karena mengikuti hawa nafsu -pent). Namun ahli tafsir tidak berselisih akan kekufuran orang yang menghalalkan perbuatan tersebut (yakni menghalalkan untuk tidak berhukum kepada hukum Allah -pent) dan bahwa kekufuran mereka itu mengeluarkan dari agama.”

Al Allamah Asy Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’dy
(wafat tahun 1307 H)

Beliau berkata dalam Taisirul Karimir Rahman (2/296-297):

فالحكم بغير ما أنزل الله من أعمال أهل الكفر، وقد يكون كفرً ينقل عن الملة، وذلك إذا اعتقد حله وجوازه، وقد يكون كبيرة من كبائر الذنوب، ومن أعمال الكفر قد استحق من فعله العذاب الشديد .. ﴿ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ ﴾ قال ابن عباس: كفر دون كفر، وظلم دون ظلم، وفسق دون فسق، فهو ظلم أكبر عند استحلاله، وعظيمة كبيرة عند فعله غير مستحل له”.

“Berhukum kepada selain hukum Allah merupakan amalan orang kafir. Terkadang perbuatan tersebut merupakan kekufuran yang dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam, yaitu apabila pelakunya meyakini kehalalan dan bolehnya hal tersebut. Dan terkadang hal itu merupakan dosa besar dan termasuk perbuatan kekufuran sehingga orang yang melakukannya mendapatkan siksa yang sangat pedih.

Allah ta’ala berfirman:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.”

Ibnu Abbas berkata: “Kekufuran yang tidak mengeluarkan pelakunya dari agama, kezaliman yang tidak mengeluarkan pelakunya dari agama, kefasikan yang tidak mengeluarkan pelakunya dari agama”. Maka perbuatan tersebut merupakan kezaliman akbar (yang dapat mengeluarkan pelakunya dari agama -pent) ketika pelakunya menghalalkan perbuatan tersebut, dan merupakan dosa besar (dan tidak mengeluarkan pelakunya dari agama -pent) ketika dia melakukannya tanpa menghalalkan hal tersebut.”

Al Allamah Shiddiq Hasan Khan
(wafat tahun 1307 H)

Beliau berkata dalam Ad Dinul Khalis (3/305):

“الآية الكريمة الشريفة تنادي عليهم بالكفر، وتتناول كل من لم يحكم بما أنزل الله، أللهم إلا أن يكون الإكراه لمهم عذراً في ذلك، أو يعتبر الاستخفاف أو الاستحلال؛ لأن هذه القيود إذا لم تعتبر فيهم، لا يكون أحد منهم ناجياً من الكفر والنار أبداً”.

“Ayat yang mulia ini mencakup mereka (yang berhukum dengan selain hukum Allah -pent) dengan kekufuran dan ayat ini juga mencakup setiap orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah, terkecuali mereka yang dipaksa, maka mereka memiliki udzur. Mereka dicap dengan kekufuran dengan syarat mereka melakukannya dengan penghalalan atas perbuatan mereka dan meremehkan hukum Allah, apabila syarat-syarat tersebut tidak diperhatikan (yakni sikap menghalalkan dan meremehkan -pent), maka tidak akan ada seorangpun yang akan dapat selamat sama sekali dari kekufuran dan neraka.”

Samahatusy Syaikh Al Allamah Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh
(wafat tahun 1389 H)

Beliau berkata dalam Majmu’ul Fatawa (1/80):

وكذلك تحقيق معنى محمد رسول الله: من تحكيم شريعته، والتقيد بها، ونبذ ما خالفها من القوانين والأوضاع وسائر الأشياء التي ما أنزل الله بها من سلطان، والتي من حكم بها يعني القوانين الوضعية أو حاكم إليها؛ معتقداً صحة ذلك وجوازه؛ فهو كافر الكفر الناقل عن الملة، فإن فعل ذلك بدون اعتقاد ذلك وجوازه؛ فهو كافر الكفر العملي الذي لا ينقل عن الملّة”.

“Dan demikian pula termasuk pemurnian makna syahadat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah rasul Allah, yaitu berhukum dengan syariat beliau, berpegang teguh dengannya dan mengesampingkan undang-undang yang menyelisihinya dan segala aturan yang tidak diturunkan oleh Allah.

Seseorang yang berhukum atau meminta hukum suatu perkara dengan undang-undang buatan manusia dengan meyakini bolehnya hal tersebut, maka dia telah kafir dan keluar dari agama. Namun apabila dia melakukannya tanpa meyakini bahwa hal tersebut halal dan boleh, maka dia melakukan kufur amali yang tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam.”

Al Allamah Asy Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithy
(wafat tahun 1393 H)

Beliau berkata dalam Adwa’ul Bayan (2/104):

واعلم: أن تحرير المقال في هذا البحث: أن الكفر والظلم والفسق، كل واحد منها أطلق في الشرع مراداً به المعصية تارة، والكفر المخرج من الملة أخرى: ﴿ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ ﴾ معارضاً للرسل، وإبطالاً لأحكام الله؛ فظلمه وفسقه وكفره كلها مخرج من الملة. ﴿ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ ﴾ معتقداً أنه مرتكب حراماً، فاعل قبيحاً، فكفره وظلمه وفسقه غير مخرج من الملة”

“Ketahuilah, bahwa kesimpulan dari pembahasan ini, bahwa penggunaan istilah kekufuran, kezaliman dan kefasikan dalam dalil-dalil syariat terkadang maksudnya adalah kemaksiatan dan terkadang yang dimaksud adalah sesuatu yang mengeluarkan dari Islam.

Maka barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah karena menentang para rasul dan membatalkan hukum Allah, maka kekufuran, kezaliman dan kefasikannya mengeluarkannya dari Islam. Dan barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah sedang dia meyakini bahwa dia telah melakukan keharaman dan melakukan kejelekan, maka kekufuran, kezaliman dan kefasikannya tidak mengeluarkan dia dari Islam.”

-bersambung insya Allah-

***

Penerjemah: Muhammad Nur Ichwan Muslim
Muroja’ah: Ustadz Aris Munandar
Artikel www.muslim.or.id

@muslimindo

    Message: Rate limit exceeded, Please check your Twitter Authentication Data or internet connection.