Apa Hukum Merayakan Maulid Nabi?

Kategori: Manhaj

111 Komentar // 7 March 2009

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah menjawab:

Pertama, malam kelahiran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak diketahui secara pasti kapan. Bahkan sebagian ulama masa kini menyimpulkan hasil penelitian mereka bahwa sesungguhnya malam kelahiran beliau adalah pada tanggal 9 Robi’ul Awwal dan bukan malam 12 Robi’ul Awwal. Oleh sebab itu maka menjadikan perayaan pada malam 12 Robi’ul Awwal tidak ada dasarnya dari sisi latar belakang historis.

Kedua, dari sisi tinjauan syariat maka merayakannya pun tidak ada dasarnya. Karena apabila hal itu memang termasuk bagian syariat Allah maka tentunya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya atau beliau sampaikan kepada umatnya. Dan jika beliau pernah melakukannya atau menyampaikannya maka mestinya ajaran itu terus terjaga, sebab Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Quran dan Kami lah yang menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9)

Sehingga tatkala ternyata sedikit pun dari kemungkinan tersebut tidak ada yang terbukti maka dapat dimengerti bahwasanya hal itu memang bukan bagian dari ajaran agama Allah. Sebab kita tidaklah diperbolehkan beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan cara-cara seperti itu. Apabila Allah ta’ala telah menetapkan jalan untuk menuju kepada-Nya melalui jalan tertentu yaitu ajaran yang dibawa oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam maka bagaimana mungkin kita diperbolehkan dalam status kita sebagai hamba yang biasa-biasa saja kemudian kita berani menggariskan suatu jalan sendiri menurut kemauan kita sendiri demi mengantarkan kita menuju Allah? Hal ini termasuk tindakan jahat dan pelecehan terhadap hak Allah ‘azza wa jalla tatkala kita berani membuat syariat di dalam agama-Nya dengan sesuatu ajaran yang bukan bagian darinya. Sebagaimana pula tindakan ini tergolong pendustaan terhadap firman Allah ‘azza wa jalla yang artinya,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي

“Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian dan Aku telah cukupkan nikmat-Ku kepada kalian.” (QS. Al-Maa’idah: 3)

Oleh sebab itu kami katakan bahwasanya apabila perayaan ini termasuk dari kesempurnaan agama maka pastilah dia ada dan diajarkan sebelum wafatnya Rasul ‘alaihish shalatu wa salam. Dan jika dia bukan bagian dari kesempurnaan agama ini maka tentunya dia bukan termasuk ajaran agama karena Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian.” Barang siapa yang mengklaim acara maulid ini termasuk kesempurnaan agama dan ternyata ia terjadi setelah wafatnya Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam maka sesungguhnya ucapannya itu mengandung pendustaan terhadap ayat yang mulia ini. Dan tidaklah diragukan lagi kalau orang-orang yang merayakan kelahiran Rasul ‘alaihis shalatu was salam hanya bermaksud mengagungkan Rasul ‘alaihis shalaatu was salaam. Mereka ingin menampakkan kecintaan kepada beliau serta memompa semangat agar tumbuh perasaan cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui diadakannya perayaan ini. Dan itu semua termasuk perkara ibadah. Kecintaan kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ibadah. Bahkan tidaklah sempurna keimanan seseorang hingga dia menjadikan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai orang yang lebih dicintainya daripada dirinya sendiri, anaknya, orang tuanya dan bahkan seluruh umat manusia. Demikian pula pengagungan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk perkara ibadah. Begitu pula membangkitkan perasaan cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga termasuk bagian dari agama karena di dalamnya terkandung kecenderungan kepada syariatnya. Apabila demikian maka merayakan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah serta untuk mengagungkan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah suatu bentuk ibadah. Dan apabila hal itu termasuk perkara ibadah maka sesungguhnya tidak diperbolehkan sampai kapan pun menciptakan ajaran baru yang tidak ada sumbernya dari agama Allah. Oleh sebab itu merayakan maulid Nabi adalah bid’ah dan diharamkan.

Kemudian kami juga pernah mendengar bahwa di dalam perayaan ini ada kemungkaran-kemungkaran yang parah dan tidak dilegalkan oleh syariat, tidak juga oleh indera maupun akal sehat. Mereka bernyanyi-nyanyi dengan mendendangkan qasidah-qasidah yang di dalamnya terdapat ungkapan yang berlebih-lebihan (ghuluw) terhadap Rasul ‘alaihish sholaatu was salaam sampai-sampai mereka mengangkat beliau lebih agung daripada Allah -wal ‘iyaadzu billaah-. Dan kami juga pernah mendengar kebodohan sebagian orang yang ikut serta merayakan maulid ini yang apabila si pembaca kisah Nabi sudah mencapai kata-kata “telah lahir Al-Mushthafa” maka mereka pun serentak berdiri dan mereka mengatakan bahwa sesungguhnya ruh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam hadir ketika itu maka kita berdiri demi mengagungkan ruh beliau. Ini adalah tindakan yang bodoh. Dan juga bukanlah termasuk tata krama yang baik berdiri ketika menyambut orang karena beliau tidak senang ada orang yang berdiri demi menyambutnya. Dan para sahabat beliau pun adalah orang-orang yang paling dalam cintanya kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam serta kaum yang lebih hebat dalam mengagungkan beliau daripada kita. Mereka itu tidaklah berdiri tatkala menyambut beliau karena mereka tahu beliau membenci hal itu sementara beliau dalam keadaan benar-benar hidup. Lantas bagaimanakah lagi dengan sesuatu yang hanya sekedar khayalan semacam ini?

Bid’ah ini -yaitu bid’ah Maulid- baru terjadi setelah berlalunya tiga kurun utama. Selain itu di dalamnya muncul berbagai kemungkaran ini yang merusak fondasi agama seseorang. Apalagi jika di dalam acara itu juga terjadi campur baur lelaki dan perempuan dan kemungkaran-kemungkaran lainnya. (Diterjemahkan Abu Muslih dari Fatawa Arkanil Islam, hal. 172-174).

***

Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
Penerjemah: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id

111 Komentar

  1. melinda
    24 Sep 2009 [Permalink]

    masyaalloh,, lewat tulisannya n koment2 dr ikhwah saya jd paham kenapa maulid tu dilarang .. komentnya bs saya pake u/ hujjah klo ada yg bantah maulid tu g pa2 .. jazakallah khairan katsiron..

  2. Arief Rusdi
    27 Sep 2009 [Permalink]

    Assalamualaikum, saya selalu sibuk mencari info di dunia maya tentang jalan menuju kaya, tiap hari search engine membantu saya, dan hasilnya tidak membuat hati puas tetapi hidup semakin haus dan kering saja. Hingga dengan ijin Allah SWT saya datang di alamat Anda ini. Alhamdulillah, saya telah menemukan kekayaan yang sebenarnya, kekayaan yang memuaskan. Insya Allah, Allah membuka jalan, terima kasih. Jazakumulloh Khoiron jaza.

  3. imam sayuti
    30 Jan 2010 [Permalink]

    assalamualaikum…..!!! Saudaraku terimakasih saya merasa dapat hidayah setelah membaca tulisan tersebut smoga kita dapat menegakan kembali syareat2 ALLAH’ mikum

  4. dhirgham
    13 Feb 2010 [Permalink]

    syukron atas infonya

  5. barlaman
    14 Feb 2010 [Permalink]

    Bismillaahirrahmaanirrahiim

    Alhamdulillah, mudah2an website ini bermanfaat bagi semua untuk pencerahan islam…

    Ikhwah wa akhowaah yg budiman

    Astaghfirullooh.. kenapa semua merasa benar.. kenapa semua merasa pintar.. Ingat..!!! Al haqqu min robbik (kebenaran hanya datang dari Tuhanmu). bukan dari interpretasi kita, pemahaman kita, imajinasi kita.

    Ramainya komen soal maulid, ada yg bilang bid’ah dan semua bid’ah neraka, ada yg bilang ghuluw, ada yg bilang wujud dari kecintaan pada rasul, ada yg bilang tasyabbuh etc..mengingatkan saya akan peristiwa Nabi Khidlir dan Nabi Musa alaihimassalaam. Semua yg dilakukan nabi Khidlir (balya bin malkan) dikoreksi dan diprotes oleh Nabi Musa (yg merasa benar). Lalu apa pesan Nabi Khidlir sebelum berpisah dg Nabi Musa?. Beliau Nabi Khidlir berpesan pada Nabi Musa:
    لا تعير الخاطئين بخطاياهم وابك على خطيئتك
    “Jangan kau cela/kau maki/kau hina orang2 yg salah (menurutmu) dengan kesalahan2nya, tapi tangisilah kesalahanmu sendiri”

    Sungguh bijak kata2 itu sampai ditulis pada tongkat nabi Musa.

    Jadi…..

    Biarlah yg merasa tdk perlu merayakan kelahiran nabi (krn dianggap bid’ah) tidak usah menyalahkan orang yg memperingati kelahiran nabi, toh mereka punya pendapat sendiri.
    Demikian juga sebaliknya, yg merayakan dan memperingati kelahiran nabi tidak usah mencela yg tidak merayakan. Semua belum tentu benar dan juga belum tentu salah. Tidak perlu diperdebatkan berkepanjangan sebagaimana hal-hal lain semisal dzikir jahr dan sirri, sholat ied dilapangan apa dimasjid, tarawih 8 rokaat atau 20 rokaat, dg berjama’ah atau sendiri2..dll, itu semua sdh menjadi perdebatan sejak lama.
    Jangan risau dengan perbedaan, Khilafu ummati rohmatun. Yg penting mari kita istibaq fil khoiroot..!!!

    Hal ini sdh di sinyalemenkan oleh rasulullaah melalui sabdanya:
    ستفترق أمتي على ثلاث وسبعين فرقة الخ

    Musuh kita yg sebenarnya dan harus dilawan adalah HAWA NAFSU KITA..!!!

    Wallaahu a’lam…

  6. Yogi Adisaputra
    18 Feb 2010 [Permalink]

    Assalamualaikum
    dalam artikel ini di tulis :
    1. Hasil penelitian ulama masakini menyimpulkan bahwa kelahiran Rasul Shallallahu ‘alaihi Wassalam terjadi pada malam 9 Rabiul awal bukan 12 Rabiul awal.
    2. Perayaan Maulid terjadi setelah berlalunya 3 kurun waktu utama.

    pertanyaan saya :
    1. Adakah riwayat atau history yang menjelaskan bahwa kelahiran Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam terjadi pada malam 9 Rabiul awal ?
    2. Yang dimaksud 3 kurun waktu utama itu apa ?

    saya sangat mengharapkan penjelasan dari pertanyaan itu karena keterbatasan pemahaman agama saya. Terima kasih.

  7. normala
    21 Feb 2010 [Permalink]

    iya, kesilapan kita hari ini menyambut maulidur rasul dgn cara yang salah.banyak hal -hal syariat tidak dijaga.baru2 ini saya mendengar ceramah maulid nabi.penceramah itu membicarakan sirah nabi.suaranya menggegar alam penuh semangat.diselangi dgn salawat.tapi ceramah beliau tak menjadikan saya rindu pada Nabi SAW. Saya pelik kerana sebelum ini jika saya ingat Muhammad saya akan rindu.airmata saya akan menitis.Terus saya merayu2 pd Tuhan mohon jumpa Nabi Muhammad dlm mimpi.Puas saya paksa diri saya merasakan kehadiran aura Nabi Muhammad.Bila penceramah kedua mengambil tempat barulah aura rindu itu datang. Saya bertanya pada Allah mengapa berlaku perasaan yang demikian.Iya mungkin penceramah hari ini kata2nya hebat sayang mungkin amalan sunnahnya sedikit.Dia tidak membawa sikap dan sifat nabi dlm ceramahnya. Nabi SAW suaranya lembut.bila bicara matanya tunduk.menyampaikan ilmu kerana sayangkan umat bukan setakat menyampaikan sahaja.

  8. anwar harum
    22 Feb 2010 [Permalink]

    Kalau kedudukan perayaan Maulid sudah sejelas itu, mengapa kita masih ngotot merayakannya?

  9. Edi Dj.
    24 Mar 2010 [Permalink]

    Yang aku saksikan peringatan maulid nabi pada umumnya hanya dijadikan kemasan yg didalamnya sarat dengan kepentingan, mis kepentingan politik, popularitas dsb. lebih parah lagi acara tsb bila diperhatikan banyak unsur syirik/riya sebab msh ada umat Islam mengadakan acr maulid dikuburan dan banyak dana umat yg diserap hanya semata-mata sampai diperut (konsumtif) sampai ratusan bahkan belasan juta, padahal disekitar kita banyak hal lain yang lbh penting, simiskin menunggu uluran tangan terabaikan begitu saja.

  10. hamba allah
    08 Apr 2010 [Permalink]

    @ barlaman

    Pak, yang menjadi tolok ukur ini benar, ini salah (dalam agama) itu apa? akal kita kah?

  11. mochrosi
    09 Apr 2010 [Permalink]

    @barlaman
    agama islam agama yang pasti benar. jadi dalam ajarannya tidak ada keraguan didalamnya. dalam masalah peringatan maulid ini tidak ada dasar sama sekali. yang ada hanyalah tasyabbuh belaka.yang anda bawakan hadist Khilafu ummati rohmatun itu hadis palsu coba anda buka you tube “Bahaya Hadith Dhoif Dan Maudhu 8″

  12. yuni
    09 Apr 2010 [Permalink]

    Assalamu’alaykum wr wb
    mencintai Rasulullah adalah dengan mengamalkan sunnah2 nya bukan dengan memperingati hari kelahirannya yg masih belum diyakini hari pasti kelahirannya. Hidupkanlah sunnah2 beliau didalam kehidupan kita, itulah cara kita mencintai rasullulah

  13. Adhi W
    09 Apr 2010 [Permalink]

    Ass..
    Menurut saya dengan munculnya artikel seperti ini adalah bukan menunjukkan, “Ini loh SAYA..” tapi memberikan gambaran untuk kita berlaku atau bertindak apakah sudah sesuai dengan yang di ajarkan kepada kita selama ini..? jika ada perbedaan itu sih wajar saja, tapi jika mempunyai dasarnya. Dengan begitu bagi yang baru belajar seperti saya ini dapat menilai dasar mana yang lebih dekat menurut Al-qur’an dan Hadist.
    mohon ma’af jika ada kata yang tidak berkenan.
    wass..

  14. hary
    24 Apr 2010 [Permalink]

    Assalamualaikum,
    Yang jelas adalah bahwa peringatan maulid dilakukan jauh sesudah zaman nabi saw, sahabat, tabiit/tabiin, alias tidak pernah dilakukan oleh beliau2 tersebut. Saya rasa semuanya menyetujui akan hal ini terutama bagi yang telah mengetahui sejarah awal mula peringatan maulid nabi saw. Kalau demikian dapat disimpulkan bahwa maulid nabi BUKAN suatu amalan yang bersumber dari Al Quran / As Sunah. Tetapi perayaan maulid saw hanya merupakan TRADISI dari segolongan orang mengaku muslim pada pada zaman tersebut dengan suatu niat / maksud tertentu. Kalau didasri suatu TRADISI maka hal itu dapat disimpulkan bukanlah sesuatu yang bersifat mu’amalah, dan sangat tidak bisa diberi suatu label hukum pada yang demikian sebaagi sesuatau amalan sunnah; apalagi wajib !.
    Iseng2 saya dan beberapa teman pernah menghitung kira2 berapa jumlah uang yang “menguap” untuk keperluan perayaan maulid nabi saw dan perayaan isra’ mi’raj di daerah jabodetabek saja.
    Diperkirakan terdapat 10.000 (sepuluh ribu) masjid di seputar jabodetabek yang merayakan maulid nabi saw + isra’ mi’raj setiap tahunnya. Dilihat dari meriahnya suasana setiap kali perayaan2 tersebut maka dimungkinkan menelan biaya lebih-kurang Rp. 5.000.000,- (Lima juta rph) / masjid untuk setiap perayaan = Rp. 10.000.000,- (sepuluh juta rph) / masjid per tahun. Untuk 10.000 masjid berarti diperlukan biaya sebesar Rp. 100.000.000.000,- (seratus milyar rph) / tahun sejabodetabek. Alangkah baiknya dana yang demikian besar (per tahun) dimanfaatkan untuk terwujudnya syiar agama dalam bentuk yang sesungguhnya seperti peningkatan pendidikan islam, pembangunan / pembinaan ekonomi ummat serta usaha2 lain yang lebih mencerahkan secara dunia dan akhirat. Dibanding dengan yang sifatnya perayaan tentu hal itu akan lebih bermanfaat, sedangkan yang bersifat perayaan2 hampir tiadanya rasanya yang membekas selain unsur kemeriahan semata.
    Demikian, wallahu’alam. Wassalam.

  15. nur
    01 May 2010 [Permalink]

    Untuk akhi Barlaman bukan kah kita seharusnya pegang siapa aja pendapatnya yang memiliki hujjah yang lebih kuat? kalau ternyata apa yang selama ini kita ikuti ternyata berlawanan dengan Alqur’an dan Sunnah kenapa tidak kita ambil yang lebih bisa kita pertanggung jawabkan khususnya di mata Alloh. Bukan ngotot untuk tetap mempertahankan saya benar dia salah tidak, tapi kita liat kita tanyakan pada orang yang lebih berkompeten apa ibadah kita sudah sesuai dgn tuntunan Sunnah atau tidak. Akan tetapi kalo sudah diberikan dalil yang kuat masih tetap melaksanakan acara tersebut itu mah terserah hati nurani kita sendiri bukan?
    Kita tidak mau seperti umat Yahudi yang selalu minta diberi tanda kepada nabi untuk ditunjukan bukti (Seperti kisah Nabi Musa atau Nabi Isa yang diminta untuk menunjukan kenabian mereka: minta menghidupkan burung atau orang mati) tapi tetap saja mereka tidak percaya malah ‘kebadegan’ mereka akan selalu begitu sampai akhir zaman seperti yang kisahnya bertebaran terekam dalam Alqur’an padahal sudah jelas keterangan di depan mata mereka. Jadi silahkan aja orang bicara begini begitu tapi yang ber-sunnah karena itu warisan dari Nabi kita yang Mulia. Dan orang harus tahu tentang ibadah yang benar agar kita ga cape2 beribadah tapi ga diterima. Jadi ketika ada orang yang bicara bahwa praktek ibadah ini sesuai/ tdak ya karena kita ingin ibadah kita diterima bukan pula merasa benar sendiri tapi ayo mana yang lebih bersunnah mari kita ikuti, siapapun yang bicara. Maaf bila ada kata2 yang tidak berkenan terima kasih.

  16. nur
    01 May 2010 [Permalink]

    Saya pernah punya pengalaman teman yang mengatakan bahwa dia ga pernah merayakan ulang tahun anaknya akan tetapi dia paling getol merayakan muludan. Dalam hati anaknya saja tidak dibolehkan untuk ulangtahunan apalagi itu diperlakukan untuk nabi kita yang mulia Satu lagi ya Muludan itu seperti Natalan bukan? bagi kita Islam itu adalah fashion untuk kita coba kita liat apabila kita melihat wanita dari kejauhan atau wanita yang tidak kita kenal dan dia tidak memakai kerudung (bukan bermaksud yang pakai kerudung itu suci, tidak sama sekali tp ciri fashion lah buat wanita Islam) ya paling tidak kita akan bertanya dia orang Islam atau bukan ya?, way of life juga,. Kita diperintahkan untuk selalu berbeda dengan orang kafir ketika mereka berkumis kita berjenggot, ketika mereka ibadahnya bernyanyi kita jangan bernyanyi apalagi di tempat suci seperti Mesjid, perempuan berpakaian ketat kita jangan pake seperti itu, dalam apapun gaya hidup kita tunjukan Islam beda dengan kafir. Terima kasih maaf saya juga ga terlalu mengerti ilmu agama tapi ingin sekali ibadah yang ber-sunnah, maaf lagi apabila ada yang tidak berkenan karena kebodohan saya tentang agama yang saya sesali sampai kapanpun, terimakasih banyak

  17. Musta'in
    26 May 2010 [Permalink]

    Allahumma Shalli ‘ala Sayyidina Wa Maulaana Muhammad

  18. ahdy
    27 May 2010 [Permalink]

    Imam Nawawi membolehkan Hadist Dho`if untuk fadhoilul a`mal, slama tdk terkait hukum halal haram maka harus hadist yg soheh, demikian.

  19. ahdy
    27 May 2010 [Permalink]

    salam ukhuwwah

  20. tommi
    27 May 2010 [Permalink]

    Sebagai catatan untuk ahdy, yg dibolehkan oleh para ulama yg membolehkan hadits dho’if untuk fadhoil amal adalah hadits yg kadar dho’ifnya tidak dho’if jiddan (dho’if sekali) dan kedho’ifannya telah dijelaskan oleh para ulama terlebih dahulu lalu tidak ada indikasi salah satu perawi tertuduh berdusta (kadzdzab). Coba antum simak buku ushul al hadits ulumuhu wa mustholahuhu karya Dr. Muhammad Ajjaj Al-Khatib, Beirut, Libanon, edisi terjemahan bahasa Indonesia terbitan Gaya Media Pratama.

    Kita punya Al Qur’an dan hadits2 shohih jauh lebih banyak daripada hadits2 dho’if. Untuk apalagi menengok yg dho’if klo kita bisa mendapat yg shohih?

    Salam ukhuwah,
    barokallahu fiikum.

  21. ahdy
    27 May 2010 [Permalink]

    betul sekali tp klo cuma modal kata2 kmbali ke qur`an atw hadist sj tnpa belajar dari pnejelasan para ulama yg sudah diakui dunia islam sejak dahulu gak mungkin kita paham, hafal qur`an sj tidak? Alhamdulillah kami selalu mengkaji dan mengkaji sehingga keislaman kita benar2 sesuai apa yg di inginkan Allah dn Rosulnya, mari kita pahami Qur`an wa `uluumuhu karna tdk semua ayat2 qur`an bisa kita pahami dengn belajar sndiri tanpa merujuk pada kitab2 tafsir yg sudah diakui, mhn maaf ya akhi Allahu yu`thikal `afiah

  22. tommi
    28 May 2010 [Permalink]

    Yap setuju…belajar memang tidak ada batasnya…penjelasan mengenai tafsir Qur’an dan juga hadits2 shohih telah jg banyak dibahas oleh para ulama baik itu yg salaf maupun khalaf. Tinggal berpulang pada kita untuk belajar dari penjelasan mereka. Tentu kita hormati pendapat mereka yg jg manusia biasa spt kita.

  23. yuli
    10 Jun 2010 [Permalink]

    Assalamualaikum…
    salam damai

  24. IBNU ABI ZAID
    05 Oct 2010 [Permalink]

    ana izin ngopi artikel ini bwat blog ana

  25. cahya vie qolbie
    12 Feb 2011 [Permalink]

    alkhamdulillah tambah ilmu..

  26. ajata
    13 Feb 2011 [Permalink]

    salam alaikum…
    bagi sy merayakan maulid nabi muhammad saw. sekilas memang tidak pernah diajarkan oleh rasulullah tp kita sebagai ummat islam yg benar2 cinta kepada allah dan rasulullah tdklah mengapa kita mengucapkan N mengimplementasikan kecintaan kita kepadanya dgn merayakan hal tersebut. kita juga jgn terlalu picik dlm berfikir bhwa perayaan itu tdk mesti kita lakukan dgn acara makan2 tp bisa jga dgn memperbanyak sholawat dll. adapun org yg merayakannya dgn acara makan2 mk bisa jadi niat mereka adl utk menyambung tali silaturrahmi dan melakukan sholawat bersama meskipun lewat hati yg tdk kita mendengarkannya…
    tp ingat… selama perayaan itu tdk dijadikan sbg syari’at mka sah2 sja utk dirayakan sbg kebanggaan kita memiliki nabi termulia di sisi allah..
    wassalam.

  27. wahid
    13 Feb 2011 [Permalink]

    … SALAFUSHSHALEH… berada diatas sunnah.

  28. Yulian Purnama
    13 Feb 2011 [Permalink]

  29. andian
    14 Feb 2011 [Permalink]

    ana ingatkan tugas kita menyampaikan bukan memaksakan sebab taupik dan hidayah milik Alloh barang siapa yg Alloh kehendaki kebaikan pada seseorang Alloh akan pahamkan tentang agama ini,bukan kah demikian sebab orang ta,asub bagaikan kerbau yg di cocok hidung..barokallohu fikum

  30. catur
    14 Feb 2011 [Permalink]

    assalamu’alaikum…….. saudaraku agama kita sama,kitab kita sama,nabi kita sama,tuhan kita satu.tidak ada perbedaan antara kita; ingat wasiat rasulullah saw sebelum ia wafat; kalian tidak akan sesat selama kita mengikuti sunnah rasul dan sunnah kulafaur rasyiddin yg diberi hidayah oleh Allah swt.

  31. aziiz
    14 Feb 2011 [Permalink]

    makasih , , jadi tambah ilmu, , mhon ijin utk di copy, makasih

  32. didin fitria
    15 Feb 2011 [Permalink]

    Sbnrnya ilmu yg tertulis diatas sangat ilmiah dan telah sampai pd qita kbenaran itu.tp kebanyakan mrka tetap melakuknya tanpa dasar,atau dg dalih kebersamaan spy mempersatukan umat islam.pola pikir yg demikian it sdh tertanam pd mns umumnya.bhkan mrka enggan belajar ilmu syariat krn lbh suka ikut2tan pemukanya sj.hingga sy berkeyakinan Cukuplah ALLOH yg mjd saksi qta telah memberi peringatn,dan mereka tetap memilih bergelimang dlm kebodohan

  33. Iphoel
    15 Feb 2011 [Permalink]

    Alhamdulillah, saya jadi paham hukum merayakan maulid Nabi dan maulid yang lain2nya. Mudah2an kita berdo’a bagi yang ngotot merayakan ULTAH mendapat hidayah dari Alloh Subhanahu wa ta’ala.

  34. Siti Fathimah
    15 Feb 2011 [Permalink]

    Assalamu’alaykum,,
    Mencintai Rasulullah adalah dengan menghidupkan sunnah-sunnahnya. mencontoh ibadahnya. bukan dengan membuat suatu perkara baru. ingat, …..bid’atun dholalah wakulla dholalatin finnar…Setiap bid’ah adalah sesat. dan kesesatan itu tempatnya dineraka..
    wallahu’alam jika salah. itu ilmu yg baru sy ketahui..

  35. dwi endah
    15 Feb 2011 [Permalink]

    skrg bnyk masyarakat yang merayakan muludan,yg berbagi bunga,hingga berebut mkanan yang konon mengandung berkah,bukankah itu udah msuk dlm kesyirikan,tp smw itu akan berlnjut tanp qt hentkan dr skrng krn liat aja dr anakx TK,sd mrka merayakan,STOP,beri pmhaman yang shohih pd calon penerus masa depan….

  36. sardjitowiwoho
    15 Feb 2011 [Permalink]

    …. nah kalau sudah tahu—. LAKSANAKAN

  37. sunoto hadi
    15 Feb 2011 [Permalink]

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Menurut para sesepuh didaerah kami peringatan maulid Nabi ini termasuk adat / kebiasaan yg katanya mereka akan puas bila sudah melaksanakan.
    Padahal kebanyakan mereka memaksakan diri sampai harus berhutang untuk mengadakan acara tsb. Sehingga kami yg muda-muda menyimpulkan bahwa para sesepuh itu sia-sia usahanya, karena bertentangan dg hukum syariat. semoga mereka sgr mendapatkan hidayahNya.

  38. Abdul Khalaq
    17 Feb 2011 [Permalink]

    Membaca kisah Nabi Yusuf dalam surat Yusuf itu berpahala, membaca kisah Nabi Yunus dalam surat Yunus itu berpahala, membaca kisah Ashabul kahfi (bukan Rosul) dalam surat al kahfi itu berpahala, kenapa membaca kisah Nabi Muhammad SAW dalam kitab maulid tidak boleh atau malah berdosa???

  39. Yulian Purnama
    18 Feb 2011 [Permalink]

    #Abdul Khalaq
    Kalau begitu kami sarankan anda membaca kisah Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam dalam Al Qur’an. Insya Allah berpahala.

  40. abdul gapur
    18 Feb 2011 [Permalink]

    Allah maha tahu, watawa shoubil haqqi watawa shoubishshobr…

  41. aji
    21 Feb 2011 [Permalink]

    tp ana pernah dengar, bid’ah itu ada bid’ah hasanah sama bid’ah dholalah, kalau merayakan maulid nabi ini termasuk bid’ah hasanah, jd merayakan maulid malah mendapat pahala karena di dalamnya kt bersalawat kpd nabi, dan sebagai luapan cinta kt kpd beliau.

  42. Yulian Purnama
    21 Feb 2011 [Permalink]

  43. untung
    10 Apr 2011 [Permalink]

    ass..
    alhamdulillah,ada penjelasan mengenai hukum maulid..
    saya kadang sedih dengan umat islam, suka akan seremonial..
    sehingga jika tidak melakukan maulid atau isra miraj maka dikatakan islamnya belum sempurna..
    setahu saya, segala jenis bid’ah y tetap tidak boleh..
    Kenapa tdk mendirikan sunah-sunah Nabi saja daripada perayaan yg tdk jelas hukumnya..
    Pemerintah jg memperkuat perayaan ini dengan dalih untuk mengingat Nabi dan mendirikan sunahnya..
    Jadi kita dsuruh pemerintah buat mengingat Nabi hanya 1 kali setahun saja ya..
    Ini kayanya seh program dari agama lain yg ingin melemahkan agama Islam..
    Sekarang mulai banyak pemurtadan untuk mengurangi dominasi islam..
    Tapi kenapa kita diam saja..atau memang tidak tahu..???
    Atau karena pluralisme dan keberagaman agama..
    Ya klo itu yg dipegang, tinggal tunggu saja kehancuran Islam di Indonesia..
    Wss..

  44. kenzu umami
    17 Apr 2011 [Permalink]

    syukron ..

  45. syamsudin
    24 Apr 2011 [Permalink]

    memang merayakan MAULID NABI itu ga d contohkan oleh Rasulullah,tapi kita sebagai umatnya masa kalo kita ulang tahun,anak kita istri kita,orang yang kita cintai dirayain ulangtahunnya,tapi kalo Nabi kita Muhammad yang ulang tahun,kita ga boleh ngarayain ulang tahunnya,to kita ngerayain g ngelakuin hal yang bertentangan dengan Agama Islam,pa G bid’ah kita ngerayain ulangtahun kita,anak istri kita,n orang yang kita cintai,to kita ngerayain maulid untuk mengenang siapa rasul kita dia lahir d mana dan kapan,dan mengenang perjalanan hidup Beliau yang membuat kita tau dan bersemangat buat mencontoh tauladan beliau yang sudah menyelamatkan kita dari jaman JAHILIAH

  46. Muhammad Nur Ichwan
    01 May 2011 [Permalink]

    @Bpk Syamsudin
    Penganalogian yang bapak lakukan pun keliru karena merayakan ulang tahun anak, suami, istri, ataupun orang-orang terdekat kita pun tidak dituntunkan dalam Islam, bahkan hal itu merupakan tindakan mengikuti kebiasaan orang kafir. Oleh karenanya, seorang muslim sepatutnya meninggalkan budaya perayaan ulang tahun.

  47. mulyadi syam
    24 May 2011 [Permalink]

    Alhamdulillah dah jelas mana yg boleh mana yg tidak.terima kasih…

  48. abu hafizh al aziz
    15 Jul 2011 [Permalink]

    alhamdulilah,bertambah ilmu

  49. Rona Abdillah Khumaidi
    28 Nov 2011 [Permalink]

    Assalamualaikum, mohon maaf sebelumnya atas keterbatasan ilmu agama yang saya miliki.
    menurut pandangan awam saya, hal-hal semacam ini sudah masuk dalam kategori khilafiyah (perbedaan pendapat) Ulama.
    Dalam kaca mata intelektual hal ini perlu terus dibahas, tapi kita tidak bisa terus terusan memperdebatkan ini. masih ada tugas yang berat bagi kita umat islam.Mari kita bersatu mengembangkan pendidikan, mengentaskan kemiskinan dan terus slalu menjaga agar umat islam tidak diremehkan.

  50. muhammadrusby
    20 Dec 2011 [Permalink]

    bismillah assalamu’alaikum….
    Saudara sekalian seandainya memang maulid nabi ini perlu dirayakan pastilah, para sahabat rasululloh yang duluan merayakannya karena cintanya yang begitu bsar kepada rasulullah SAw, dibandingkan dengan kita yg sudah sangat jauh dengan rasulullah kemudian dengan berani dan lancangnya menetapkan suatu syariat dalam agama yang tidak ada tuntunannya dari Al-qur’an maupun hadist,,,
    Barng siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan itu tertolak.”
    Dan barang siapa yang mengada-adakan suatu dalam urusan kami yang bukan daripadanya maka ia tertolak.”
    Kenapasih kita apabila datang suatu kebenaran kepada kita, tidak pernah langsung kita ikuti, malah mencari-cari alasan untuk meninggalkan kebenaran tersebut… Sebenarnya apa yng dipikirkan manusia sekarang…
    Wallohu’alam bissawaf….

Tinggalkan Komentar

Kembali ke Atas