Apa Hukum Merayakan Maulid Nabi?

Kategori: Manhaj

111 Komentar // 7 March 2009

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah menjawab:

Pertama, malam kelahiran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak diketahui secara pasti kapan. Bahkan sebagian ulama masa kini menyimpulkan hasil penelitian mereka bahwa sesungguhnya malam kelahiran beliau adalah pada tanggal 9 Robi’ul Awwal dan bukan malam 12 Robi’ul Awwal. Oleh sebab itu maka menjadikan perayaan pada malam 12 Robi’ul Awwal tidak ada dasarnya dari sisi latar belakang historis.

Kedua, dari sisi tinjauan syariat maka merayakannya pun tidak ada dasarnya. Karena apabila hal itu memang termasuk bagian syariat Allah maka tentunya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya atau beliau sampaikan kepada umatnya. Dan jika beliau pernah melakukannya atau menyampaikannya maka mestinya ajaran itu terus terjaga, sebab Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Quran dan Kami lah yang menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9)

Sehingga tatkala ternyata sedikit pun dari kemungkinan tersebut tidak ada yang terbukti maka dapat dimengerti bahwasanya hal itu memang bukan bagian dari ajaran agama Allah. Sebab kita tidaklah diperbolehkan beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan cara-cara seperti itu. Apabila Allah ta’ala telah menetapkan jalan untuk menuju kepada-Nya melalui jalan tertentu yaitu ajaran yang dibawa oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam maka bagaimana mungkin kita diperbolehkan dalam status kita sebagai hamba yang biasa-biasa saja kemudian kita berani menggariskan suatu jalan sendiri menurut kemauan kita sendiri demi mengantarkan kita menuju Allah? Hal ini termasuk tindakan jahat dan pelecehan terhadap hak Allah ‘azza wa jalla tatkala kita berani membuat syariat di dalam agama-Nya dengan sesuatu ajaran yang bukan bagian darinya. Sebagaimana pula tindakan ini tergolong pendustaan terhadap firman Allah ‘azza wa jalla yang artinya,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي

“Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian dan Aku telah cukupkan nikmat-Ku kepada kalian.” (QS. Al-Maa’idah: 3)

Oleh sebab itu kami katakan bahwasanya apabila perayaan ini termasuk dari kesempurnaan agama maka pastilah dia ada dan diajarkan sebelum wafatnya Rasul ‘alaihish shalatu wa salam. Dan jika dia bukan bagian dari kesempurnaan agama ini maka tentunya dia bukan termasuk ajaran agama karena Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian.” Barang siapa yang mengklaim acara maulid ini termasuk kesempurnaan agama dan ternyata ia terjadi setelah wafatnya Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam maka sesungguhnya ucapannya itu mengandung pendustaan terhadap ayat yang mulia ini. Dan tidaklah diragukan lagi kalau orang-orang yang merayakan kelahiran Rasul ‘alaihis shalatu was salam hanya bermaksud mengagungkan Rasul ‘alaihis shalaatu was salaam. Mereka ingin menampakkan kecintaan kepada beliau serta memompa semangat agar tumbuh perasaan cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui diadakannya perayaan ini. Dan itu semua termasuk perkara ibadah. Kecintaan kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ibadah. Bahkan tidaklah sempurna keimanan seseorang hingga dia menjadikan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai orang yang lebih dicintainya daripada dirinya sendiri, anaknya, orang tuanya dan bahkan seluruh umat manusia. Demikian pula pengagungan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk perkara ibadah. Begitu pula membangkitkan perasaan cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga termasuk bagian dari agama karena di dalamnya terkandung kecenderungan kepada syariatnya. Apabila demikian maka merayakan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah serta untuk mengagungkan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah suatu bentuk ibadah. Dan apabila hal itu termasuk perkara ibadah maka sesungguhnya tidak diperbolehkan sampai kapan pun menciptakan ajaran baru yang tidak ada sumbernya dari agama Allah. Oleh sebab itu merayakan maulid Nabi adalah bid’ah dan diharamkan.

Kemudian kami juga pernah mendengar bahwa di dalam perayaan ini ada kemungkaran-kemungkaran yang parah dan tidak dilegalkan oleh syariat, tidak juga oleh indera maupun akal sehat. Mereka bernyanyi-nyanyi dengan mendendangkan qasidah-qasidah yang di dalamnya terdapat ungkapan yang berlebih-lebihan (ghuluw) terhadap Rasul ‘alaihish sholaatu was salaam sampai-sampai mereka mengangkat beliau lebih agung daripada Allah -wal ‘iyaadzu billaah-. Dan kami juga pernah mendengar kebodohan sebagian orang yang ikut serta merayakan maulid ini yang apabila si pembaca kisah Nabi sudah mencapai kata-kata “telah lahir Al-Mushthafa” maka mereka pun serentak berdiri dan mereka mengatakan bahwa sesungguhnya ruh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam hadir ketika itu maka kita berdiri demi mengagungkan ruh beliau. Ini adalah tindakan yang bodoh. Dan juga bukanlah termasuk tata krama yang baik berdiri ketika menyambut orang karena beliau tidak senang ada orang yang berdiri demi menyambutnya. Dan para sahabat beliau pun adalah orang-orang yang paling dalam cintanya kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam serta kaum yang lebih hebat dalam mengagungkan beliau daripada kita. Mereka itu tidaklah berdiri tatkala menyambut beliau karena mereka tahu beliau membenci hal itu sementara beliau dalam keadaan benar-benar hidup. Lantas bagaimanakah lagi dengan sesuatu yang hanya sekedar khayalan semacam ini?

Bid’ah ini -yaitu bid’ah Maulid- baru terjadi setelah berlalunya tiga kurun utama. Selain itu di dalamnya muncul berbagai kemungkaran ini yang merusak fondasi agama seseorang. Apalagi jika di dalam acara itu juga terjadi campur baur lelaki dan perempuan dan kemungkaran-kemungkaran lainnya. (Diterjemahkan Abu Muslih dari Fatawa Arkanil Islam, hal. 172-174).

***

Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
Penerjemah: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id

111 Komentar

  1. Ansori
    07 Mar 2009 [Permalink]

    Assalamualaikum Pak ustad

    Terima kasih atas pencerahannya tentang hal maulid nabi ini dan mudah2 han akan memberi manfaat trhadap yang menyimaknya.Kenapa masih banyak saudara kita yang berani merayakannya padahal para sahabat,tabi’in,salafussholeh sangat hati2 dan takut karena nabi bersabda bahwa semua ibadah baru yang tidak ada tuntunannya dari nabi adalah BID”AH dan setiap BID”AH adalah DOLALAH (SESAT) para sahabat tidak merayakannya karena sabda nabi ini, kenapa masih banyak saudara kita yng berani dan menentang dgn hdist ini?? mungkin mereka latah (ikut-ikutan) dan merasa minder karena kelahiran yesus di rayakan

  2. afgan
    08 Mar 2009 [Permalink]

    syukron atas infonya

  3. Andrian
    09 Mar 2009 [Permalink]

    Seharusnya mereka yg merayakan maulid Nabi merefleksikan diri kepada apa dan mengapa yg membuat maulid itu diadakan. Mereka harus menjadi seperti tentaranya Solahudin Al Ayyubi yg ketika dibacakan sirah Nabi, maka gejolak semangat jihadnya kembali berkobar dan dapat kembali mengalahkan tentara salib serta merebut kembali yerusalem. Tapi sekarang ini, hanyalah perayaan belaka, diiringi syair2 dan tetabuhan yg mereka sedikitpun tak tahu artinya. Bagaimana mungkin ummat Muslim kembali menjadi ummat yg terbaik bila setelah maulidan dan yg semacammnya mereka tidak berubah dan meraih Izzah-nya.
    Semoga menjadi pelajaran bagi kita semua.

  4. ahmad
    09 Mar 2009 [Permalink]

    ikhwan, knapa di antara umat islam masih meributkan hal-hal yang tidak perlu, carilah persamaan bukan perbedaan. Jangan heran bila di antara umat islam banyak perbedaan, tapi buat apa hal itu dibesar-besarkan. masih banyak sesuatu yang harus kita kerjakan untuk membangun umat. kita tidak ingin kehabisan energi hanya untuk saling menyalahkan di antara kita. mereka yang merayakan punya alasan sendiri yang dapat memberikan kebaikan untuk diri mereka dan islam. mereka pun memahami bahwa tidak semua umat islam melakukan hal yang mereka lakukan, tapi mereka tidak mempermasalahkannya. karena mereka menyadari perdaan itu rahmat dari Allah SWT.

  5. Lukman singaraja Bali
    09 Mar 2009 [Permalink]

    Secara akal sederhana sebenarnya mudah dipahami bahwa menyangkut ibadah harus ada dasar baik dari Al Quran maupun Alhadits agar mendapat pahala dan redlo Allah dan tdk sia-sia. sering dalil yg digunakan dalam perayaan maulid adalah hadits doif diantaranya ialah hadits yang artinya : Barang siapa yang mengagungkan hari kelahiranku maka ia nanti bersamaku di syurga. tentu hadits ini sangat menggugah semangat adanya perayaan maulid tersebut karenanya perlu waktu bagi masyarakat untuk satu pemahaman secara bertahap sehingpa masyarakat awam menjadi lebih mengerti apalagi sudah menjadi tradisi kuat sejak lama

  6. wong dheso
    09 Mar 2009 [Permalink]

    akhi Ahmad

    Hadits : ” Perbedaan pendapat dari Ummatku adalah Rahmat “

    Hadits ini dho’if / lemah dalam sanadanya dan matannya. Yang tidak didapati dalam satu karya tulis Hadits pun , suatu yang demikian lafadznya. Dan yang masyhur adalah hadits : ” Perbedaan pendapat para shahabatku adalah Rahmat “, dan ini adalah yang disebutkan sebagian kalangan ahli ushul fiqh, seperti yang dilakukan oleh Ibnu Hajid dalam ” Mukhtashar ” beliau dalam ushul fiqh.

    Berkata As Subki : ” Hadits ini bukanlah hadits yang dikenali oleh Ahlul Hadits, dan belumlah saya jumpai hadits ini dengan sanad yang shohih, tidak juga yang lemah dan juga yang palsu “[1]

    Berkata abu Muhammad bin Hazm : ” Adaoun hadits tersebut adalah hadits yang batil dan kedustaan hasil ciptaan orang-orang fasiq ” [2]

    Berkata Al Qosimi dalam mengkritik hadits ini –baik itu sanadanya dan matannya- : ” Dan sebagian dari para Ahli Tafsir menyebutkan disini suatu yang diriwayatkan dari hadits : ” Perselisihan ummatku adalah suatu rahmat ” sementara ahdist ini tidaklah dikenali sanad yang shohih padanya. Diriwayatkan oleh Ath Thabrani dan Al Baihaqi dalam ” Al Madkhal ” dengan sanad yang lemah dari hadits Ibnu ‘Abbas secara marfu’.

    Berkata sebagian dari Ahli tahqiq –peneliti hadits – : Hadits ini menyelisihi nash-nash syara’ berupa ayat-ayat dan hadits-hadits, seperti firman Allah ta’ala ;

    { وَلاَ يَزَالُوْنَ مُخْتَلِفشيْن إِلاَّ مَنْ رَحٍمَ رَبُّكَ }

    ” Dan mereka akan selalu berselisih terkecuali yang telah mendapatkan rahmat dari Rabb-mu “ – Huud : 18 –

    Dan serupa dengannya sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam : ” Janganlah kalian berbeda pendapat yang akan menjadikan hati-hati kalian berbeda “[3]

    Dan selainnya dari sekian banyak hadsit yang pasti menunjukan bahwa persatuan lebih baik dibandingkan perselisihan”[4]

    Dan hadits yang diisyaratkan oleh Al Qosimiy, diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Al Madkhal[5] dan sanadanya sangat lemah, terdapat padanya tiga illat / penyakit ;

    Pertama : Sulaiman bin Abi Karimah, dilemahkan oleh Abu Hatim Ar razi

    Kedua : Juwaibir, seorang yang ditinggalkan haditsnya, seperti perkataan An Nasa’I dan Ad daraquthni. Dan ia telah meriwayatkan dari Adh Dhahhak beberapa hadits yang palsu, dan hadits ini termasuk yng ia riwayatkan dari Adh Dhahhak.

    Ketiga : Terputusnya sanad hadits ini antara Adh Dhahhak dan Ibnu ‘Abbas.

    Dan secara keseluruhan, tidak ada satu dalil pun dari Al Kitab dan As Sunnah yang menunjukkan bahwa perselisihan itu adalah suatu rahmat.

    Berkata Al ‘Allamah Muhammad Nashiruddin Al Albani –rahimahullah- : ” Dan dari kesemua pendapat menunjukkan bahwa perselisihan adalah hal yang tercela, maka yang wajib untuk berupaya berlepas diri dari perselisihan sesanggupnya. Dikarenakan perselisihan adalah salah satu dari sebab-sebab lemahnya ummat islam, sebagaimana firman Allah ta’ala ;

    { وَ لاَ تَنَازَعُوْا فَتَفْشَلُوْا وَ تَذْهَبَ رِيْحَكُمْ }

    ” Dan janganlah kalian berselisih sehingga kalian menjadi lemah dan hilang pertolongan bagi kalian “

    Dan bukanlah hal yang lapang bagiku terkecuali akan saya katakan : Jikalau seandainya perselisihan ummat –ku itu rahmat, apakah persatuan mereka itu adalah suatu adzab ?!

    Adapun ridho dengan setiap perselisihan dan menamakannya sebagai suatu rahmat, adalah menyelisihi ayat-ayat Al Qur’an yang mulia dan telah menjelaskan akan tercelanya perselisihan, tidak perkataan itu tidaklah memiliki sandaran melainkan hadits ini yang tidak ada sama sekali sandarannya dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam.”[6]

    [1] Faidhul Qadir 1 / 212

    [2] Al Ihkam 5 / 61

    [3] Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, dan telah disebutkan dalam Shohih Sunan Abu Daud No. 670 oleh Asy Syaikh Al Albani.

    [4] Mahasinut Ta’wil 4 / 928

    [5] Al Madkhal No. 152

    [6] As Silisilah Adh dho’ifah 1 / 77

    ( Judul Asli : Zajr Al Mutahawin Bidhorurah Qaidah Al Ma’dzarah wat Ta’awun. Penulis : Hamd bin Ibrahim Al ‘Utsman. Muroja’ah : Al ‘Allamah Asy Syaikh Sholeh bin Fauzan Al Fauzan. Rekomendasi : Al ‘Allamah Asy Syaikh ‘Abdul Muhsin Al ‘Abbad. Penerbit : Maktabah Al Ghuraba’ Al Atsariyah. Cetakan Pertama 1419 H / 1999 M. Penerjemah : Abu Zakariya Al Atsary. )

    (copas dari : http://kautsarku.wordpress.com/2008/07/07/tentang-hadits-perbedaan-pendapat-dari-ummatku-adalah-rahmat/ ) :Peace:

  7. wong dheso
    09 Mar 2009 [Permalink]

    tambahan nih…

    Kalau seandainya perbuatan itu baik dalam rangka mengagungkan Rasulullah dan mendekatkan diri kepada Allah, pastilah para shahabat yang paling mendahului melakukannya.

    Karena apa ? Krn orang yg paling berhak untuk rindu dan mengagungkan Rasulullah adalah orang2 yg pernah hidup dalam suka dan duka bersama Rasulullah. yaitu para Shahabat.

    Lantas, apakah Para Shahabat melakukan peringatan maulid Nabi ? apakah pula para Tabi’in kemudian Tabi’it tabi’in juga ? Bahkan Imam yg empat itu ?

    karena sesungguhnya yaa Akhi… para shahabat telah lulus dari madrasahnya Rasulullah. Generasi mereka adalah orang2 yg paling tahu kadar ‘porsi’ pengagungan terhadap Rasulullah. Tidak sangat melecehkan Beliau dan tidak pula Ghuluw (berlebih2an) dalam mengagungkan Rasulullah.

    Jadi Bila ada suatu amalan yang umat 15 abad kemudian mengklaim itu sebagai bentuk pengagungan tapi umat di generasi awal yg paling taat sekalipun malah tidak pernah melakukannya, maka dapat dipastikan dan berhati2lah bahwa amalan2 itu adalah Ghuluw.

    bisa jadi kita terkena perkataan Rasulullah berikut :

    “Hati-hatilah kalian dari ghuluw dalam agama, karena binasanya orang-orang yang sebelum kalian disebabkan karena ghuluw dalam agama.” (HR. Ahmad, An-Nasai, dan Ibnu Majah, hadits ini dishashihkan oleh Ibnu Taimiyyah dalam Iqtidla’ hal. 106 dan disepakati oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah 1283, dishahihkan pula oleh Syaikh Ali Hasan dalam Ilmu Ushulil Bida’ hal. 84)

    dan perkataan Allah terhadap Ahli kitab berikut :
    ….

    “Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah, kecuali yang Haq…” (An-Nisaa’: 171)

    Wahai Saudaraku, telah kita ketahui bahwa salah satu bentuk kesesatan yang dilakukan oleh kaum muslimin dalam beragama adalah sikap ghuluw, berlebih-lebihan dalam beragama, beramal, dan melampaui batas-batas yang telah ditetapkan oleh syari’at (Kitab dan Sunnah) sehingga disadari ataupun tidak pelakunya telah masuk ke dalam perkara yang dilarang dalam agama yaitu perkara bid’ah bahkan kesyirikan.

    mudah2an bisa jadi teguran bagi kita bersama

  8. fathul
    10 Mar 2009 [Permalink]

    Mudah2an bermanfaat bagi yang memahami…

  9. irul
    11 Mar 2009 [Permalink]

    hari senin wapres menghadiri maulid nabi di istiqlal, semalam presiden, wapres, menteri-menteri, duta besar, para ulama’ memperingati maulid di istana negara. Ummat Islam di seluruh penjuru Indonesia banyak yang memperingati maulid.
    dan kesimpulannya semuanya ahli bid’ah dan masuk neraka, atau barangkali surga mau dimonopoli kaum wahabi aja ya ?

  10. abu faisal
    11 Mar 2009 [Permalink]

    Buat mas irul,

    Allah berfirman:

    Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. (6:116)

    Rasulullah bersabda:

    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda.

    “Artinya : Sesungguhnya Islam dimulai dengan keterasingan dan akan kembali asing sebagaimana awalnya, maka beruntunglah orang-orang yang asing (Al-Ghuraba)” [Diriwayatkan oleh Muslim 2/175-176 -An-Nawawiy]

    Jadi, menurut Allah dan RasulNya, banyak tidak sama dengan benar mas. Dan dalam hadits shahih muslim, perbandingan ahli surga dan neraka itu 1:1000 lho.

    Setahu saya tidak ada diantara salafiyyun dari sahabat nabi sampai sekarang yang mengatakan orang berbuat bid’ah itu pasti ahli bid’ah. Dan ahli bid’ah itu pasti masuk neraka. Mungkin mas bisa menunjukkan siapa ulama/tokoh yg sampeyan istilahkan “wahabi” yang menyatakan seperti tuduhan sampeyan? Yang saya tahu, bahwa semua bid’ah itu sesat, dan setiap kesesatan itu adalah dosa. Dan setiap dosa itu hukumannya neraka. Adapun pelakunya, selama bid’ahnya tidak membuatnya keluar dari Islam nasibnya terserah Allah. Jika diampuni maka selamat, jika tidak ya masuk neraka. Tapi yang pasti, gak dapet pahala.

    Nah, web ini hanyalah menyampaikan ilmu. Jika tidak sependapat berilah bantahan yang ilmiyah. Adapun bagi mereka yang ngotot mati-matian mau maulidan, ya kita disini juga gak maksa kok. Mau maulidan semalam suntuk, atau seminggu penuh juga terserah. Karena kewajiban kita hanya menyampaikan ilmu. Jika anda mau ambil, maka itu kebaikan bagi anda dan kami, jika anda ngotot toh dosa anda bukan kami yang nanggung. Jika anda menganggap maulid bisa mengantarkan anda ke surga, tunjukkanlah dalil anda.

  11. mukhlis
    11 Mar 2009 [Permalink]

    @irul
    maksudnya wahabi itu apa?
    yang ngasi kesimpulan semuanya ahli bid’ah dan masuk neraka itu siapa? bukannya irul sendiri yang ngasi kesimpulan itu ya… (liat lagi tulisan irul deh..)

    yang namanya ahlu sunnah, ga’ memastikan seseorang masuk surga atau masuk neraka, kecuali yang sudah diberi tahu oleh Rasulullah.. kayak yang 10 sahabat itu, mereka udah dipastiin masuk surga, soalnya Rasul sendiri yang ngasih tahu…
    (cek buku aqidah Thahawiyah)

    sebagai sesama muslim, sudah kewajiban kita untuk saling menasihati toh (cek surat Al-Ashr)

    semoga kita semua diberi kemudahan untuk mendapatkan kebenaran dari Allah.. dan tidak mencari-cari pembenaran dari kesalahan kita..

  12. B Sant
    11 Mar 2009 [Permalink]

    bismillah..

    belum genap 1 tahun saya mengikuti manhaj salaf. Alangkah terkejutnya saya ketika membandingkan Syariat Islam yang haq (Al-Qur’an & Sunnah) dengan realita umat Islam saat ini.

    “Seakan-akan sudah terlambat” buat kita menyampaikan kepada saudara-saudara kita tentang bid’ahnya maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam..

    “Seakan-akan sudah terlambat” buat kita menyampaikan kepada saudara-saudara kita tentang haramnya musik…

    “Seakan-akan sudah terlambat” buat kita untuk mengajak saudari-saudari kita untuk kembali “ke rumah”…

    Dan masih banyak lagi…

    entahlah…

  13. Pa'e Thole
    11 Mar 2009 [Permalink]

    Mas Irul, semoga Allah menunjuki kita semua akan kebenaran. Kalo yang ingin kita cari adalah kebenaran, cobalah cari dengan nurani kita. Saya yakin kalo yang kita cari adalah kebenaran maka nurani kita menunjukkan kebenaran dengan menerima kebenaran itu sendiri dari manapun datangnya. Yang dikatakan suadara-saudara kita diatas adalah kebenaran yang berdasarkan dalil dan sesuai dengan logika kita. Janganlah mengukur kebenaran itu dengan banyaknya orang yang mengamalkan apalagi diukur dengan hawa nafsu. Sekali lagi semoga Allah memudahkan kita untuk menerima kebenaran.

  14. Kang Ismet
    12 Mar 2009 [Permalink]

    Assalamu’alaikum…
    Bagi saya, orang awam. Secara logika saja, andai Rosul memerintahakan umatnya untuk memperingati kelahirannya:
    “SUNGGUH ROSUL GILA HORMAT”, bagi saya memperingati kelahiran Beliau, karena rosul tidak pernah memerintah.
    Itulah Rosulullah… tidak ingin di hormati…
    Kok pada ngotot sih… , merasa ingin dihormati, merasa pendapat paling benar….mana akhlak Rosul…
    “Innama bu’its-tu li utammima makaarimal akhlak..”

  15. Kang Ismet
    12 Mar 2009 [Permalink]

    Tentang hadits bid’ah: (bukan tentang maulid saja)
    “Kullu bid’atin dholalah wa kullu dholalatin fin naar”
    Buat ikhwan, mungkin tahu “Kul Jam” dan “Kul Majmu”……

    Esensi bid’ah sendiri adalah perbuatan yang tidak ada pada zaman Rosul.
    dalam kitab “Jam’ul Jawam’i” dikatakan :
    “Al ‘aam jaarun ‘ala ‘umumihi, qoblal bahtsi an mukhossisihi”
    Keumuman itu berjalan, sebelum ada yang mengkhususkan.
    Jadi tidak semua bid’ah sesat, ada yang hasanah.

    Sebagai contoh tentang ke-umuman, seseorang berkata :
    “Semua yang ada di RSJ, orang gila” betul?
    Apakah dokter gila, tukang sapu gila, dll?
    satu contoh saja.

    Salam dari saya, orang yang awam.

  16. Abu Abdullah
    12 Mar 2009 [Permalink]

    @irul
    hari senin wapres menghadiri maulid nabi di istiqlal, semalam presiden, wapres, menteri-menteri, duta besar, para ulama’ memperingati maulid di istana negara. Ummat Islam di seluruh penjuru Indonesia banyak yang memperingati maulid.>.memang hal itu trjadi di indonesia,tapi pertanyaannya??apakahbila presiden dan wakil presiden mlakukan suatu hal,maka hal itu pasti benar menurut syariat Islam??kalopun banyak umat Islam di Indonesia mlksanakan hal trsbut,pakh brrti hal trsbut benar??
    suatu prbuatan dinilai benar ato salah berdasar Al Quran dan As Sunnah sesuai pemahamn generasi trbaik umat ini,jadi standard pathokannya adlh Al Quran dan As Sunnah
    prbuatan bid’ah itu jelek,tp blm tntu yg mlakukan prbuatan trsbut masuk neraka atopun surga.Prbuatan bid’ah itu bs mnjadi slh satu pnybab seseorang msk neraka
    wallahu a’lam
    drmn anda mndpt kesimpulan spt itu??

  17. Santo
    12 Mar 2009 [Permalink]

    @Kang Ismet

    “Barang siapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, niscaya tertolak.” (HR. Muslim).

    Lalu tentang Maulid Nabi, adakah tuntunannya dari Al-Qur’an?
    Adakah tuntunannya dari as-Sunnah, baik itu berupa ucapan atau perbuatan atau persetujuan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?

  18. Kang Aswad
    12 Mar 2009 [Permalink]

    Untuk Kang Ismet, baarakallahu fiikum

    Anda benar tentang kaidah bahwa keumuman itu berjalan selama tidak ada yang mengkhususkan. Dan yang mengkhususkannya adalah dalil. Namun masalahnya, dalam hal bid’ah dalam agama, tidak ada dalil yang mengkhususkannya. Maka semua bid’ah dalam agama itu buruk dan tercela, tidak ada yang hasanah. Jika anda tahu ada dalil yang mengkhususkan bid’ah sehingga tidak tercela, tolong bawakan dalil tersebut…

    Contoh yang anda bawakan tidak pas jika mau membahas hadits “Kullu bid’atin dholalah“. Perkataan:
    “Semua yang ada di RSJ, orang gila”
    Ini perkataan siapa? Apa yang dia maksud? Dan perkataan ini pun bisa benar dan bisa salah. Bisa diterima dan bisa diingkari. Jadi kalau kita mau menyanggah dengan mengatakan: “Pernyataan ini salah karena dokter dan tukang sapu tidak gila”, sah-sah saja.

    Sedangkan hadits:
    Kullu bid’atin dholalah
    Ini perkataan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam Ash Shadiqul Masduq, orang yang benar dan dibenarkan oleh Allah Ta’ala. Perkataannya wajib kita terima dan tidak boleh kita ingkari.

    Nah, ada baiknya anda menyimak beberapa artikel berikut:
    Pengertian Bid’ah
    Adakah Bid’ah Hasanah?
    Berbagai Alasan Dalam Membela Bid’ah
    Dampak Buruk Bid’ah

  19. abu aufa
    13 Mar 2009 [Permalink]

    @irul :
    Hampir sebagian besar ummat islam di indonesia menabung di bank dan mengambil bunga ribanya, apakah dgn begitu anda katakan mereka berada di pihak yg haq ? Sedangkan hanya sebagian kecil saudara mrk berusaha menasehati utk meninggalkan riba…

    Ancaman dosa riba jelas sekali dalam hadits ?
    Lalu apakah kita langsung katakan bhw mereka pasti masuk neraka ?

    Begitu juga dgn musik yg sdh melekat di dalam hati saudara2 kita, apakah anda ingin mengatakan mereka jg berada dlm haq?

    ya akhi masih banyak lagi hal yg bs menjadi contoh…

  20. sururi
    21 Mar 2009 [Permalink]

    berarti orang yang naik haji sekarang bid’ah donk?khan pada naek pesawat?ngak naek onta?

  21. bang jaung
    21 Mar 2009 [Permalink]

    ustad, lantas bagaimana dengan sholawat2 yang diucapkan saat perayaan maulid ? bukankah kita memang diperintahkan untuk bersholawat kapan saja dan dimana saja ? mhn pencerahannya, saya masih awam hal2 spt ini

  22. Muslim.or.id
    21 Mar 2009 [Permalink]

    Bang Jaung, dalam bershalawat pun kita harus ikut tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mengajarkan umatnya lafaz shalawat, dan lafaz-lafaz shalawat yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itulah yang kita amalkan sehari-hari. Sedangkan shalawat yang lazim dibacakan dalam perayaan maulid nabi (diantara adalah kitab barzanji) adalah lafaz bikinan manusia yang isinya ghuluw/berlebihan dalam memuji dan menyanjung beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

  23. Muslim.or.id
    21 Mar 2009 [Permalink]

    Buat akhi Sururi: Tidak bosan-bosannya kami memberi penjelasan… Pokok bahasan bid’ah adalah dalam permasalahan agama (ibadah & muamalah), jadi tidak seperti yang Anda bayangkan dan Anda tangkap. Jadi, tidak ada hubungannya dengan perkara duniawiyah yang hukum asalnya memang boleh boleh saja dilakukan. Silakan Anda pakai mobil, komputer, sepeda, internet, dll… selama Anda menggunakannya dalam koridor yang boleh secara syariat (dalam artian tidak menjadi wasilah/perantara untuk melalukan hal-hal yang haram) silakan saja Anda gunakan…

  24. Kang Aswad
    21 Mar 2009 [Permalink]

    Pak Sururi semoga Allah menjaga anda…

    Rasulullah atau para sahabatnya memang pernah berhaji memakai pesawat. Namun bagaimana mungkin bisa terjadi? Padahal pesawat belum ditemukan.

    Coba anda bandingkan dengan Maulid Nabi. Menurut anda apakah Rasulullah mampu membuat hajatan Maulid Nabi setiap tahunnya?

    Anda tentu menjawab: “Ya. Tentu beliau mampu”. Lalu mengapa beliau tidak melakukannya?

    Mungkin anda menjawab: “Karena beliau tidak gila hormat”. OK, lalu mengapa setelah beliau wafat, para sahabat beliau tidak ada yang merayana Maulid Nabi? Apakah para sahabat Rasulullah tidak mencintai beliau?

    Nah, selanjutnya mengenai bid’ah. Sudah banyak komentator di website ini yang salah paham tentang bid’ah. Sampai-sampai ada yang mengira piring, gelas, sendok termasuk bid’ah yang dilarang. Sungguh menggelikan. Maka, untuk Pak Sururi, agar tidak ikut salah paham, silakan baca beberapa artikel berikut ttg bid’ah:
    Mengenal Seluk Beluk Bid’ah
    Adakah Bid’ah Hasanah?

  25. Aswad
    22 Mar 2009 [Permalink]

    RALAT
    “Rasulullah atau para sahabatnya memang pernah berhaji memakai pesawat. ”
    seharusnya
    Rasulullah atau para sahabatnya memang tidak pernah berhaji memakai pesawat.

  26. Abu Zakia
    23 Mar 2009 [Permalink]

    Coba kita renungkan kondisi negara kita yang serba carut marut, ini salah satu sebabnya adalah karena umat Islam Indonesia sedang/masih banyak melakukan BID’AH dalam kehidupan beragamanya, bagaimana akan menjadi negeri yang BALDATUN TOYYIBATUN WA ROBBUN GHOFUUR kalau umat negerinya masih banyak yang menyimpang dari ajaran/syariat ALLAH SWT??? mari kita luruskan AQIDAH kita agar kita selamat dunia dan akhirat ………!!! kembali kepada AL-QUR’AN dan ASSUNNAH

  27. AbuNajwa
    24 Apr 2009 [Permalink]

    Buat: Kang Ismet

    Antum benar tentang kaidah “Keumuman itu berjalan, sebelum ada yang mengkhususkan.” Justru karena kaidah inilah maka tidak ada bid’ah hasanah karena sesuai dengan keumuman hadits ini bahwa setiap bid’ah adalah sesat, dan tidak ada dalil yang mengkhususkannya adanya bid’ah hasanah.

    Pada hadits “Kullu bid’atin dholalah wa kullu dholalatin fin naar” dan juga hadits-hadits lain yang serupa, ada dalil nyata dan jelas nan tegas bahwa setiap urusan yang diada-adakan ialah bid’ah, dan setiap bid’ah ialah sesat. Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam dalam hadits ini bersabda: كل بدعة ضلالة setiap bid’ah ialah sesat, dalam ilmu ushul fiqih, metode ungkapan ini dikatagorikan kedalam metode-metode yang menunjukkan akan keumuman, bahkan sebagian ulama’ menyatakan bahwa metode ini adalah metode paling kuat guna menunjukkan akan keumuman, dan tidak ada kata lain yang lebih kuat dalam menunjukkan akan keumuman dibanding kata ini كل. [Baca Al Mustasyfa oleh Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al Ghozali 3/220, dan Irsyadul Fuhul oleh Muhammad Ali As Syaukani 1/430-432].

    Dengan demikian dari hadits ini, kita mendapatkan keyakinan bahwa setiap yang dinamakan bid’ah adalah sesat, demikianlah yang ditegaskan dan disabdakan oleh Nabi Muhammad shollallahu’alaihiwasallam. Sehingga tidak ada alasan bagi siapapun di kemudian hari untuk mengatakan, bahwa ada bid’ah yang hasanah atau baik. Keumuman hadits ini didukung oleh sabda Nabi shollallahu’alaihiwasallam dalam hadits lain:

    “Dari ‘Aisyah, ia berkata: Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam bersabda: “Barang siapa yang mengada-adakan dalam urusan kami (agama) ini sesuatu yang bukan bagian darinya (syariat), niscaya akan ditolak”. (Riwayat Bukhori 2/959, hadits no: 2550, dan Muslim 3/1343, hadits no: 1718).

    Sebagai seorang muslim yang bernar-benar beriman bahwa Nabi Muhammad shollallahu’alaihiwasallam adalah utusan Allah, dia akan senantiasa bersikap sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan:

    “Dan tidaklah patut bagi seorang mukmin dan tidak pula bagi seorang mukminah bila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, untuk mengambil pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah ia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata”. (Al Ahzab 36).

    Ibnu Katsir berkata: “Ayat ini bersifat umum, sehingga mencakup segala urusan, yaitu bila Allah dan Rasul-Nya telah memutuskan suatu urusan dengan suatu keputusan, maka tidak dibenarkan bagi siapapun untuk menyelisihinya atau memutuskan atau berpendapat atau berkata lain”. [Tafsir Al Qur’an Al Azhim, oleh Ibnu Katsir 3/490].

    Layak dan beradabkah setelah Nabi shollallahu’alaihiwasallam bersabda bahwa setiap bid’ah ialah sesat, kemudian kita, atau yang lain mengatakan, bahwa ada bid’ah yang hasanah?

    Imam Syafi’i telah berkata:
    “Barang siapa yang menganggap baik sesuatu (dalam agama), berarti ia telah membuat syari’at”. [Lihat Al Risalah oleh Imam As Syafi’i, 25, dan Al Mustasyfa oleh Al Ghozali 2/467].

    Sahabat Ibnu Umar rodhiallahu’anhu, beliau berkata:

    “Setiap bid’ah itu ialah sesat, walaupun orang-orang menganggapnya baik”. (Riwayat Al Lalaka’i, dalam kitabnya: Syarah Ushul I’itiqad Ahli As Sunnah 1/92).

    Wallahualam
    Baarokallahufikum..

  28. abu yusuf
    25 Apr 2009 [Permalink]

    Bismillah…

    “Kullu bid’atin dhalallah…”
    semua bid’ah adalah sesat….apabila lafazh “kullu” masih bersifat umum maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam menjelaskannya pada hadits yang lain, seperti yang dijelaskan oleh akhi AbuNajwa :

    “Barang siapa yang mengada-adakan dalam urusan kami (agama) ini sesuatu yang bukan bagian darinya (syariat), niscaya akan ditolak”. (Riwayat Bukhori 2/959, hadits no: 2550, dan Muslim 3/1343, hadits no: 1718).

    Dan masih banyak hadits lain yang semakna dengan itu.

    Sebagai contoh tentang ke-umuman, seseorang berkata :
    “Semua yang ada di RSJ, orang gila” betul?
    Apakah dokter gila, tukang sapu gila, dll?

    Jawabannya : betul, tidak semua orang di RSJ gila, ada perkecualian, setelah kita meneliti kedalam RSJ, masuk kedalam ruangan2nya, maka kita akan menemukan tidak semuanya gila.

    Oleh karena itu setelah diteliti lebih dalam, semua kitab2 hadits dipelajari, semua atsar dibaca, kita akan menemukan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam menjelaskan tentang kategori bid’ah (hal baru) macam apa yang sesat.

    “Barang siapa yang mengada-adakan dalam urusan kami (agama) ini sesuatu yang bukan bagian darinya (syariat), niscaya akan ditolak”.

    Diterangkan dengan jelas bahwa setiap urusan baru dalam hal agama adalah sesat.
    Atau mungkin masih ada yang menganggapnya bersifat umum…??

    ana yakin Kang Ismet dan ikhwan yang lain pasti tahu hadits tentang para sahabat r.a. yang meminta pendapat beliau shallallahu ‘alaihi wasalam, (kalo tidak salah) masalah irigasi/pengairan…lalu beliau bersabda “untuk urusan dunia, kalian lebih mengetahui…”

    Firman Allah dalam QS. An Nisaa : 115
    “Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya,
    dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin (sabilul mukminin),
    Kami palingkan (sesatkan) ia, kemana ia berpaling (tersesat)..”

    Orang2 pertama yang masuk dalam keumuman ayat diatas (sabilul mukminin) adalah para sahabat r.a. , karena pada saat itu tidak ada orang2 mukmin selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam dan mereka.

    maka apabila para sahabat r.a. tidak pernah melakukan maulid (padahal mereka yang paling berhak dan melakukannya pada saat itu lebih utama karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam masih hidup), sudah seharusnya orang2 mutaakhirin mengikuti yang mereka lakukan.

    Wallohu ta’ala a’lam

  29. abu yusuf
    26 Apr 2009 [Permalink]

    Bismillah…

    Diriwayatkan dari Al-Bara’ bin Azib r.a. : Nabi Muhammad Saw. Pernah bersabda kepadaku, “kapan pun engkau hendak tidur berwhudu lah terlebih dahulu sebagaimana engkau hendak shalat, berbaringlah dengan menghadap ke arah kanan dan berdoalah :

    ‘Allahumma aslamtu wajhi ilaika, wa fawwadhtu amri ilaika, wa alja’tu zhahri ilaika raghbatan wa rahbatan ilaika. La malja’a wa laa manja minka illa ilaika. Allahumma amantu bikitabikal-ladzi anzalta wa Nabiyyikal arsalta’

    (ya Allah! Aku berserah diri kepada-Mu, mempercayakan seluruh urusan ku kepada-Mu aku bergantung kepada-Mu untuk memperoleh berkah-Mu dengan harapan dan ketakutanku kepada-Mu, tak ada tempat untuk perlindungan dan keamanan selain-Mu. Ya Allah! Aku percaya kepada kitab-Mu dan aku percaya kepada Nabi-Mu yang telah engkau utus)

    maka apabila malam itu engkau mati, kau akan mati dalam keimanan. Biarkanlah kata-kata tadi menjadi kata-katamu yang terakhir”

    aku mengulang doa itu di hadapan Nabi Muhammad Saw. Dan ketika sampai pada kalimat “Allahumma amantu bikitabikal ladzi anzalta” (ya Allah! aku percaya kepada kitab-Mu yang telah engkau turunkan) aku melanjutkan,”wa Rasulika (dan Rasul-Mu)”.
    Nabi Muhammad Saw. Bersabda,”bukan (‘wa Rasulika’, tetapi); wa nabiyyikal ladzi arsalta”(Nabi-Mu yang Engkau utus).
    (HR. BUKHARI)

    Rasulullah shallallhu ‘alaihi wasalam mengkoreksi ucapan Bara r.a., sebab dia merubah kata “Nabiyyika..” menjadi “Rasulika..”

    Padahal yang dilakukan al Bara r.a “Hanya” kesalahan di dalam pengucapan lafazh, tetapi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam tetap mengkoreksi Al Bara r.a., karena Beliau tidak mengajarkan seperti itu

    Lalu bagaimana dengan kondisi kebanyakan orang-orang mutaakhirin, yang merubah, menambah, menafikan ajaran yang telah Nabi – Shallallahu ‘alaihi wasalam- sampaikan.

    Semoga dapat menjadi pelajaran.

    Wallohu ta’ala a’lam

  30. arief murtadlo
    27 Apr 2009 [Permalink]

    maaf ustadz, jika begitu lantas bagaiman hukum ketika pada masa abu bakar beliau mengumpulkan naskah/membukukan al quran? padahal jelas-jelas rasulullah tidak pernah melakukannya. Ingatkah ustadz bagaimana argumen abu bakar yang pada awalnya juga tidak mau melakukan hal itu karena menganggap bahwa perbuatan itu adalah bid’ah. beliau berkata kepada umar kurang lebih seperti ini ; Demi Allah, aku tidak akan melakukan sesuatu yang Rasulullah tidak pernah melakukannya. Kemudian Umar menjawab : Demi Allah wahai Abu Bakar, jika engkau tidak mengumpulkan naskah-naskah alqur’an (yang pada waktu itu masih tersebar) maka alqur’an akan hilang bersama metinya para huffadz. Kemudian akhirnya Abu Bakar setuju untuk mengumpulkan naskah-naskah al qur’an.kemudian bagaimana hukum memberi titik dan harakat al qur’an sehingga seperti sekarang ini?bukankah al quran pada masa Nabi tidak ada titik dan harakatnya? tapi kenapa ustadz bahkan mau menikmati hasil proses bid’ah tersebut? Tapi memang nikmat bukan.. Alhamdulillah Ya Allah, andai waktu itu tidak ada proses bid’ah, niscaya saya tidak akn pernah bisa membaca alqur’an yang “gundul”..

  31. abduh
    27 Apr 2009 [Permalink]

    Mungkin Pak Arief belum paham saja tentang bid’ah.
    Silakan baca link berikut:
    http://muslim.or.id/manhaj-salaf/mengenal-seluk-beluk-bidah-3.html

  32. Sekar Pambayun
    13 Aug 2009 [Permalink]

    Assalaamu’alaikum ….

    Tolong jawaban yang jujur berdasarkan pengertian Bid’ah yang sesuai syar’i atas komentar sdr. Arief Murtadlo. Ditunggu jawabannya.

    Wassalam…

  33. ali
    21 Aug 2009 [Permalink]

    assalamualaykum
    bwt sdr. arief murtadlo dan sdr. sekar

    tentang mengumpulkan mushaf alquran dan memberi titik harokat pada ayat alquran yang saudara katakan bidah hasanah, maka siahkan anda baca sabda Rasulullah salallahualaihiwasallam:

    …setelah Rasulullah salallahualaihiwasallam menjelaskan banyaknya perselisihan setelah beliau wafat nanti, maka beliau menasehati para sahabatnya:…..WAJIB ATAS KALIAN BERPEGANG TEGUH KEPADA SUNNAHKU DAN SUNNAH “KHULAFAURRASYIDIIN” (KHALIFAH YANG MENDAPAT PETUNJUK), gigitlah dengan geraham kalian….dst.

    Para ulama mengatakan bahwa para khalifah yang mendapat petunjuk adalah Abu Bakar, Umar, Ustman dan ALi radhiallahuanhum.

    nah, dalil yg anda bawakan (mengumpulkan mushaf) terjadi pada zaman siapa? jwbnya: Abu Bakar.
    Memberi titik pada ayat alquran terjadi pada zaman siapa? jwbnya: ALi.

    mereka itu adalah para khalifah yang kita diperintah rasul untuk mengikuti SUNNAHNYA yakni sunnah para khalifah. jadi terbantahlah argumen anda dimana anda mengatakan bahwa hal tersebut bidah.

    Coba saudara ingat kembali dasar hukum islam itu ada 3: alquran, sunnah nabi salallahualaihiwasallam, dan IJMA’(kesepakatan) PARA SAHABAT !!! jadi apa-apa yang menjadi kesepakatan para sahabat bukanlah bidah.

  34. abu muhammad
    22 Aug 2009 [Permalink]

    @arief yang semoga dirahmati oleh Allah Ta’ala
    selain ijma’ sahabat mengumpulkan dan mengharokati alqur’an adalah salah satu contoh dari masholih mursalah..jadi kita harus bisa membedakan antara masholih mursalah dengan bid’ah..salah satu bedanya adalah jika masholih mursalah itu mempermudah dalam sesuatu urusan agama,sedangkan bid’ah malah membuat repot dan sulit.untuk lebih lengkapnya bisa dibaca di kitab al=i’thisom karya imam asy syatibi.nb: salah satu masholih mursalah adalah pelebaran tempat sa’i.

    jika kalaupun kita mau cermat, di dalam Q.S Al-baqarah ayat 2,nama lain alqur’an adalah al-kitab yang maknanya al-jam’u (mengumpulkan) dari lembaran2.

    barakallahu fiekum

  35. ismail
    24 Aug 2009 [Permalink]

    apa yang di ajarkan Rasulullah kita ambil, dan apa yang tidak diperintah kan atau tidak di ajarkan kita tinggalkan… selamat deh kita di dunia dan diakherat… kenyataan nya adalah maulid nabi di jadikan ladang bisnis dan pembodohan ummat oleh orang orang yg mengklaim diri mereka ket rasul

  36. Djoko Purwanto
    26 Aug 2009 [Permalink]

    Itulah Indonesia , negeri berpenduduk Islam mayoritas tapi penuh dengan ke”Islam-an Plus ” ……….. Bid’ah.

  37. aji
    27 Aug 2009 [Permalink]

    umat islam di indonesia sebenarnya haus akan syiar agama karena dianggap suatu solusi atas segala masalah yang datang silih berganti, sehingga ketika melihat sesuatu yang berbau “islami” maka akan segera menyambutnya, akan tetapi sangat disayangkan dengan sifat qt yang suka akan hal yang serba instant (termasuk saya), sehingga semua yg atas nama putih, sorban, ramai, kharismatik, jadi yang dilihat adalah wujudnya,penampilan (saya tidak menunjuk orang/gol/organisasi, tidak bermaksud mengurangi penampilan yang sesuai sunnah) seharusnya juga dilihat apakah yang disampaikan telah sesuai dengan petunjuk ALLAH SWT,Sunnah Rasuluulah SAW, ijma para Sahabat Ra.
    Sebenarnya qt sendiri yg menyusahkan diri dalam beribadah karena atas hadits sesungguhnya sesuatu itu tergantung niatnya (tolong koreksi jika saya salah) sehingga qt melaksanakan ibadah sesuka hati dan hawa nafsu, yang sebenarnya ibadah itu haram sampai ada dalil yang memerintahkan, qt sangat suka menganggap ibadah kurang padahal Rasulullah tidaklah menyembunyikan sesuatu jika itu baik bagi umatnya, kalau memang seperti itu maka terjebaklah qt kedalam dalil “yang penting kan niatnya” akan tetapi tidak pada tempat,waktu dan tata cara yang benar!!! bukan kah dalam ibadah qt juga wajib!!! mengikuti sunnah Rasulullah??!!!
    mudah-mudahan qt diberi kemudahan dan kelapangan hati dalam menerima petunjuk ALLAH dan mengikuti sunnah Rasulullah, amiin
    (tolong koreksi jika saya salah dan kurang dalam berpendapat)
    terima kasih

  38. ave
    30 Aug 2009 [Permalink]

    oo.. begitu,jadi maulid nabi bukanlah sesuatu yang diperbolehkan, berarti ada cara lain tindakan atau perbuatan untuk menunjukkan cinta kepada rasul, kalau bisa mohon dibahas masalah ini, bagai mana cara perbuatan atau tindakakn untuk menunjukkan sikap kita cinta kepada rasul, tetapi tidak menyalai al-qur’an dan sunnah……thanks.

  39. sanca
    03 Sep 2009 [Permalink]

    setuju!!!!

  40. agung
    05 Sep 2009 [Permalink]

    kebanyakan yang terjadi di masjid-masjid maupun mushola-mushola di desa-desa di indonesia masyarakatnya beranggapan bahwa memperingati maulid nabi dengan berbagai pementasan berupa membaca ayat suci al qur’an dan kemudian diterjemahkan dengan saritilawah, melantunkan nyanyian qasidah oleh kaum wanita, bahkan melakukan upacara ritual yang sama sekali tidak ada dalilnya dianggap suatu yang baik dan mendatangkan pahala dari Alloh SWT dan mendapatkan safa’at dari Rasullullah SAW, pun segala macam perayaan tersebut tidak mendapatkan respon apa-apa dari saudara kita yang memiliki pengetahuan lebih / ustadz di desa tersebut serta tidak ada keberanian untuk menyampaikan bahwa hal tersebut merupakan suatu budaya yang salah dan bid’ah…. MASYA ALLOH, dari generasi ke generasi kita telah membiarkan ini terus saja terjadi…. mohon maaf, mungkin benar bahwa memperingati maulid nabi SAW yang tidak ada dalilnya ini telah menjadi budaya Islami ala Negara Indonesia Yang Mayoritasnya adalah Muslim…subhanallahu wabihamdih,,,

  41. Rahadian
    09 Sep 2009 [Permalink]

    Assalamualaikum Pak Ustadz,

    Saya sangat setuju dengan pernyataan Pak Ali bahwa umat islam di indonesia sebenarnya haus akan syiar agama dan butuh ajaran yang tidak menyesatkan umat. Sekedar mau berbagi pengalaman nyata, di kampung saya (daerah Buaran – Bukit Sarua, Ciputat), hampir setiap tahun diadakan perayaan Maulid Nabi. Dalam peringatan maulid nabi ini berbagai pementasan dilakukan berupa membaca ayat suci al qur’an dan kemudian diterjemahkan dengan saritilawah, melantunkan nyanyian qasidah oleh kaum wanita. Beberapa kali saya mendengar pernyataan ustadz yang diundang bahwa inti dari perayaan ini adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, melantunkan puja-puji dan shalawat kepada Nabi SAW. Dan kalau tujuannya seperti itu, kenapa harus dilarang bahkan dianggap bid’ah?

    Maaf Pak Ustadz, mungkin keluar dari jalur, saya ada beberapa pertanyaan yang ingin saya sampaikan dan mudah-mudahan akan bermanfaat besar pada kehidupan saya, bila Pak Ustadz bisa menanggapinya.

    Begini, di lingkungan kita, ada sebuah keluarga yang memang sangat aktif dalam kegiataan keagamaan, baik pengajian dan kegiatan dakwah. Sang kepala keluarga adalah guru agama Islam dan sang ibu adalah seorang ibu rumah tangga, yang aktif dalam kegiatan pengajian dan sudah dianggap ustadzah oleh ibu-ibu pengajian. Namun di lingkungan kami, sudah bukan rahasia lagi kalau ada ketidakharmonisan antara keluarga ini dengan tetangga-tetangganya. Berbagai isu santer terdengar, perihal akar dari ketidakharmonisan ini. Penyalahgunaan dana masjid/mushola, sikap yang arrogan dan terlihat sombong (saat berpapasan dengan tetangga, jarang sekali menyapa) dan terkesan merasa sangat alim (tidak ingin bergaul dan sinis terhadap tetangga non-muslim). Dan pada saat-saat perayaan Maulid Nabi, Isra’ Miraj, keluarga ini juga yang merasa punya kewajiban dan andil besar dalam menyelenggarakannya. Kenapa saya sebutkan seperti itu, karena memang selain acaranya sendiri dilakukan di area rumah mereka (tidak di mesjid atau musholla), juga tidak melibatkan warga untuk ikut serta dalam penyelenggaraannya. Dan bila rekan-rekan ingin mengecek kebenaran perihal ini, silahkan berkunjung ke daerah kami.

    Bagaimana saya bersikap kepada keluarga ini, yang memang masih saya hormati sampai saat ini.

    Mohon bimbingan dan nasehat dari Pak Ustadz.

  42. Haru
    13 Sep 2009 [Permalink]

    Ass.
    Saya org awam yg lg haus2nya bljr ttg islam,saya bca ttg prdebatan ky gni mlh bikin jd pusing..
    Trus kesan’a islam itu jd repot y..
    Saya pelajarin al-quran dan tafsirannya ja blm abis,dan msh brjuang mengimplementasikannya dlm kehidupan sehari-hari..

  43. syahrial
    14 Sep 2009 [Permalink]

    mantap….mas Irul…..
    wahai ikhwan…..mari kita lihat dgn hati nurani kita,….
    jangan lah saling mengklaim ini-itu bid’ah atau apa lah

    Rosul kita yang memberi safa’at pada kita, di hari kiamat….dan kita tak pernah bertemu dgn beliau….tapi kita hrs percaya akan ajarannya, oleh krn itu kita harus mencintai beliau…. bgm cara mencintaiinya,,, ya kita lihat/baca biografinya lalu kita akan mengagumi beliau dan merayakan kelahirannya mrpkn ujud kita mencintai beliau (sama kan anak kandung kita, kalo ultah kita rayain)itu tanda kita cinta dan sayang…

    artinya knapa tidak nabi kita yg akan menolong/memberi safa’at ke kita, tidak kt cintai dgn tindakan : sprt maulid dan lain2nya

    lagi juga di jaman sekarang, yang notebene nya orang yang jarang sholawt….kan bisa jadi rajin sholat dgn acara maulid tsb….

    please lah …kita sbg umat sudah tidak bersatu, janganlah memperuncing perselisihan….. yang itu mencap ini, yang ini mencap itu….

    iSTIQOMAH LAH DALAM BERBUAT KEBAIKAN DAN AMAL SHOLEH

    dan Amal perbuatan itu yang menilai hanya ALLAH

    so…. PISSSSS

  44. Tommi
    15 Sep 2009 [Permalink]

    @mas syahrial

    “dan Amal perbuatan itu yang menilai hanya ALLAH”
    Setuju mas, tp sebelum kita melangkah dengan menyerahkan semua2nya pada Rabb kita, kita perlu tau syarat2 diterima dan diridhoinya suatu ibadah, pertama adalah dari niatnya ikhlas karena Allah, kedua adalah benar dan sesuai tuntunan syariat Nabi kita. Nah apakah syarat yg kedua ini sudah dipenuhi??? Manakah hujjah bahwa Rasulullah memerintahkan umatnya untuk merayakan hari ultahnya? Maaf mas, mencintai Rasul itu adalah masuk dalam perkara ibadah sedangkan kita tau bahwa perkara dasar masalah ibadah adalah haram kecuali ada dalil yg memerintahkannya.

    Kita sebagai umatnya wajib mencintai Rasul, tentunya sesuai dengan cara2 yg dicontohkan oleh para sahabat dan para salafus sholeh yaitu dengan mengikuti sunnahnya -Shallallahu alaihi wassalam- yg skrg telah bnyk ditinggalkan org, dan bukan dengan cara2 tasyabbuh org2 kafir spt merayakan kelahiran.

    Saya jadi ingin bertanya pd teman2 yg bersikeras merayakan maulid. Apakah teman2 mengharamkan umat Islam untuk mengucapkan selamat Natal (hari kelahiran yesus) pada org2 nasrani?. Kalau anda mengharamkan, mengapa anda sendiri merayakan maulid Nabi pdhl Nabi tidak pernah mencontohkan hal itu???

  45. M.Yunus
    18 Sep 2009 [Permalink]

    1. ustadz menganggap bid’ah pada perayaan maulid, mohon disertai dengan mattan haditsnya yg jelas-jelas melarangnya, bukan sekedar dasar interpretasi pribadi atau kelompok, maaf u/ dasar kami juga menjelaskan pada yang lain.
    2. terima kasih atas jawabannya, semoga Allah meridloi langkah dakwah kita, dimana kondisi masyarakatnya terus berubah.

  46. abang
    19 Sep 2009 [Permalink]

    @akh Syahrial

    mencintai Nabi dengan maulid ?

    Laukanaa Khairan Lasabaquuna Ilaihi : Seandainya perbuatan itu baik, maka mereka (para shahabat) telah lbh dahulu melakukannya.

    pegang prinsip di atas dlm memahami bid’ah.

    Para shahabat tidak mencintai nabi krn tidak ada perayaan maulid pada zaman mereka ?

    taruh lah, InsyaAllah, kalau antum masuk surga lalu bertemu para shahabat, maka tanyakan kpd mereka : ‘Kenapa dulu kalian tidak mengadakan maulid sbg bukti cinta kpd Rasulullah ?’ atau antum beri tahukan dalil2nya kpd para shahabat: ‘Ini loh dalil2nya. Umat di abad ke 15 Islam bisa mencermati dalil2 peringatan maulid, kok kalian nggak melakukannya ?’

    Kita katakan, (dgn kaidah di atas), kalau memang dalil2 tersebut adalah benar pemahamannya sebagai dasar pelaksanaan maulid, seharusnya para shahabat lbh tau akan tafsirnya dan segera mengamalkannya utk kebaikan dan rasa cinta kepada RAsulullah.

    Sebenarnya mudah utk memahami bid’ah. Cuman…. susah kalau udah terlanjur menjadi kebiasaan, kayak ada yg aneh aja kalau ditinggalkan. he he. semoga kita semua mendapat hidayah dari Allah

  47. Muhammad bin Shalih Al-Batawi
    19 Sep 2009 [Permalink]

    Barakallahu Lakum. Ayo lanjuttt…!!!

  48. mamat
    24 Sep 2009 [Permalink]

    Hadits yang jelas melarang Maulid itu apa ya Ustadz, tolong infonya.
    Terus saya belum mengerti Sebenarnya bid ah itu ada yang baik atau semua bid ah merupakan kejahatan kepada Alloh dan RosulNya.

    Lalu apakah Alloh membatasi manusia untuk Bersholawat kepada Rosululloh Muhammad Saw, supaya tidak berlebihan?

  49. mamat
    24 Sep 2009 [Permalink]

    Mau tanya Syeh Nashiruddin Al Albani dan Syeh Muhamad Shalih Al Utsaimin itu sebagai ulama, hidup dalam kurun/masa apa?
    Lalu Ibnu Taimiyah itu kenapa ada beberapa ulama yg melarang menggunakan fatwa beliau karena dianggap menyimpang.

    Terimakasih atas pencerahannya.

  50. Tommi
    24 Sep 2009 [Permalink]

    Untuk akhi mamat yg dirahmati Allah, semoga penjelasan saya berikut bisa antum mengerti.

    Secara nash, tidak ada hadits yg jelas melarang perayaan maulid, namun kita bisa berpatokan pada hadits Rasulullah berikut : “Barangsiapa meniru2 (tasyabbuh) suatu kaum maka ia termasuk bagian dari kaum itu,” (HR Ahmad dan Abu Daud, shahih). Sudah jelas bagi kita, perayaan maulid adalah bentuk perayaan ulang tahun biarpun itu dikemas dalam bentuk islami dan anda pun tentu mafhum, perayaan ultah adalah salah satu bentuk perayaan kaum kuffar dan bukan perayaan islami. Padahal Rasulullah telah jelas2 melarang kita untuk meniru2 kaum kuffar.

    Lalu jika ada yg belum bisa menerima dengan mengatakan, “ah hujjah antum kurang kuat, itu tidak mengindikasikan dilarangnya maulid”, saya boleh dong balik bertanya, manakah hujjah/dalil dari Nabi yg secara jelas beliau memerintahkan kita untuk merayakan hari kelahirannya??? Manakah atsar dari para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in bahwa mereka2 merayakan hari kelahiran Nabi Shallallahu alaihi wassalam dengan tujuan mencintai beliau, padahal kita semua tahu, mereka -radhiyallahu ‘anhuma- adalah yg paling tau bagaimana cara mencintai beliau, mereka adalah sosok2 yg menjadi panutan kita dalam mencintai Nabi dan mengamalkan sunnahnya. Maaf kawan, maulid adalah perkara ibadah, sedangkan perkara ibadah adalah harus tauqifiyah (mengikuti dalil), ibadah baru disyariatkan bila ada dalil/hujjah yg mendasarinya.

    Lalu tentang bid’ah, para ulama terbagi, ada yg berpendapat bahwa ada bid’ah hasanah, dan ada yg berpendapat bahwa semua bid’ah itu sesat (dholalah). Dalam hal ini, jgnlah kita bingung, cukup kita kembalikan pada hadits dari Rasulullah dan berpegangan dengannya, “…sebaik2 perkataan adalah Kitabullah, sebaik2 petunjuk adalah petunjuk Muhammad, setiap perkara baru yg diada2akan adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka,” (HR Muslim, shahih). Lihatlah dhohir haditsnya ya akhi, setiap bid’ah adalah sesat. Jadi, pendapat yg mengatakan ada bid’ah hasanah dengan sendirinya tertolak oleh hadits Rasulullah tersebut. Namun kita tidak boleh mencela pendapat org yg masih tetap mengatakan ada bid’ah hasanah krn setiap org punya pendapat sendiri2.

    Bersholawat kepada Rasulullah adalah perkara yg amat sangat ditekankan, Allah berfirman didalam surat Al Ahzab ayat 56 : “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

    Allah Azza wa Jalla dan para malaikatNya saja bersholawat untuk Nabi, apalagi kita sebagai umatnya. Sabda Rasulullah :
    1. “Barang-siapa yang membaca shalawat kepada-ku sekali, Allah akan memberikan balasan shalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim).
    2. “Orang yang bakhil adalah orang yang apabila aku disebut, dia tidak membaca shalawat kepadaku.” (HR. At-Tirmidzi, begitu juga imam hadist yang lain, lihat Shahihul Jami’ 3/25 dan Shahih At-Tirmidzi 3/177).

    Namun perlu kita ingat, tidak semua bacaan sholawat itu shahih, bahkan ada yg ghuluw, bathil dan mengandung khurafat contohnya sholawat nariyah, oleh karena itu, cukupkanlah diri kita pada sholawat yg diajarkan Nabi Shallallahu alaihi Wassalam pada para sahabat, yaitu bacaan sholawat yg setiap hari kita baca di setiap tasyahud sholat, “Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad,…dst hingga…innaka hamidum majiid.” Inilah bacaan sholawat yg shahih dari beliau.

    Kesimpulan : Allah Azza wa Jalla tidak membatasi kita bersholawat kepada Rasulullah, bahkan amat sangat dianjurkan kita bersholawat setiap hari, setiap kita mendengar nama beliau disebut atau setiap selesai sholat ketika akan berdo’a, dan tidak dengan merayakan maulid. Namun yg perlu kita batasi adalah kalimat sholawatnya, agar jgn sampai kita terjebak pada kalimat2 sholawat yg palsu dan bathil yg tidak bersumber dari beliau.

    Maaf, klo ada kata2 yg kurang berkenan. Hanya Allah-lah yg mampu memberi petunjuk. Semoga antum tambah bersemangat mencintai Rasulullah dengan cara2 yg sudah syar’i dan bukan dengan cara2 baru yg diada2kan.

1 2 3

Tinggalkan Komentar

Kembali ke Atas