6 Kerusakan Valentine’s Day


Alhamdulillahilladzi hamdan katsiron thoyyiban mubarokan fih kama yuhibbu robbuna wa yardho. Allahumma sholli ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Banyak kalangan pasti sudah mengenal hari valentine (bahasa Inggris: Valentine’s Day). Hari tersebut dirayakan sebagai suatu perwujudan cinta kasih seseorang. Perwujudan yang bukan hanya untuk sepasang muda-mudi yang sedang jatuh cinta. Namun, hari tersebut memiliki makna yang lebih luas lagi. Di antaranya kasih sayang antara sesama, pasangan suami-istri, orang tua-anak, kakak-adik dan lainnya. Sehingga valentine’s day biasa disebut pula dengan hari kasih sayang.


Cikal Bakal Hari Valentine

Sebenarnya ada banyak versi yang tersebar berkenaan dengan asal-usul Valentine’s Day. Namun, pada umumnya kebanyakan orang mengetahui tentang peristiwa sejarah yang dimulai ketika dahulu kala bangsa Romawi memperingati suatu hari besar setiap tanggal 15 Februari yang dinamakan Lupercalia. Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama–nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan dijadikan obyek hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.

Ketika agama Kristen Katolik menjadi agama negara di Roma, penguasa Romawi dan para tokoh agama katolik Roma mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I (The Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity). Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (The World Book Encyclopedia 1998).

Kaitan Hari Kasih Sayang dengan Valentine

The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak pernah ada penjelasan siapa “St. Valentine” yang dimaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda.

Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap dan memenjarakan St. Valentine karena menyatakan Tuhannya adalah Isa Al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. Orang-orang yang mendambakan doa St.Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.

Versi kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan daripada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St.Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M (The World Book Encyclopedia, 1998).

Versi lainnya menceritakan bahwa sore hari sebelum Santo Valentinus akan gugur sebagai martir (mati sebagai pahlawan karena memperjuangkan kepercayaan), ia menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya yang tertulis “Dari Valentinusmu”. (Sumber pembahasan di atas: http://id.wikipedia.org/ dan lain-lain)

Dari penjelasan di atas dapat kita tarik kesimpulan:

  1. Valentine’s Day berasal dari upacara keagamaan Romawi Kuno yang penuh dengan paganisme dan kesyirikan.
  2. Upacara Romawi Kuno di atas akhirnya dirubah menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day atas inisiatif Paus Gelasius I. Jadi acara valentine menjadi ritual agama Nashrani yang dirubah peringatannya menjadi tanggal 14 Februari, bertepatan dengan matinya St. Valentine.
  3. Hari valentine juga adalah hari penghormatan kepada tokoh nashrani yang dianggap sebagai pejuang dan pembela cinta.
  4. Pada perkembangannya di zaman modern saat ini, perayaan valentine disamarkan dengan dihiasi nama “hari kasih sayang”.

Sungguh ironis memang kondisi umat Islam saat ini. Sebagian orang mungkin sudah mengetahui kenyataan sejarah di atas. Seolah-olah mereka menutup mata dan menyatakan boleh-boleh saja merayakan hari valentine yang cikal bakal sebenarnya adalah ritual paganisme. Sudah sepatutnya kaum muslimin berpikir, tidak sepantasnya mereka merayakan hari tersebut setelah jelas-jelas nyata bahwa ritual valentine adalah ritual non muslim bahkan bermula dari ritual paganisme.

Selanjutnya kita akan melihat berbagai kerusakan yang ada di hari Valentine.

Kerusakan Pertama: Merayakan Valentine Berarti Meniru-niru Orang Kafir

Agama Islam telah melarang kita meniru-niru orang kafir (baca: tasyabbuh). Larangan ini terdapat dalam berbagai ayat, juga dapat ditemukan dalam beberapa sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hal ini juga merupakan kesepakatan para ulama (baca: ijma’). Inilah yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab beliau Iqtidho’ Ash Shiroth Al Mustaqim (Ta’liq: Dr. Nashir bin ‘Abdil Karim Al ‘Aql, terbitan Wizarotusy Syu’un Al Islamiyah).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar kita menyelisihi orang Yahudi dan Nashrani. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى لاَ يَصْبُغُونَ ، فَخَالِفُوهُمْ

“Sesungguhnya orang Yahudi dan Nashrani tidak mau merubah uban, maka selisihlah mereka.” (HR. Bukhari no. 3462 dan Muslim no. 2103) Hadits ini menunjukkan kepada kita agar menyelisihi orang Yahudi dan Nashrani secara umum dan di antara bentuk menyelisihi mereka adalah dalam masalah uban. (Iqtidho’, 1/185)

Dalam hadits lain, Rasulullah menjelaskan secara umum supaya kita tidak meniru-niru orang kafir. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ [hal. 1/269] mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaiman dalam Irwa’ul Gholil no. 1269). Telah jelas di muka bahwa hari Valentine adalah perayaan paganisme, lalu diadopsi menjadi ritual agama Nashrani. Merayakannya berarti telah meniru-niru mereka.

Kerusakan Kedua: Menghadiri Perayaan Orang Kafir Bukan Ciri Orang Beriman

Allah Ta’ala sendiri telah mencirikan sifat orang-orang beriman. Mereka adalah orang-orang yang tidak menghadiri ritual atau perayaan orang-orang musyrik dan ini berarti tidak boleh umat Islam merayakan perayaan agama lain semacam valentine. Semoga ayat berikut bisa menjadi renungan bagi kita semua.

Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا

“Dan orang-orang yang tidak menyaksikan perbuatan zur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al Furqon [25]: 72)

Ibnul Jauziy dalam Zaadul Maysir mengatakan bahwa ada 8 pendapat mengenai makna kalimat “tidak menyaksikan perbuatan zur”, pendapat yang ada ini tidaklah saling bertentangan karena pendapat-pendapat tersebut hanya menyampaikan macam-macam perbuatan zur. Di antara pendapat yang ada mengatakan bahwa “tidak menyaksikan perbuatan zur” adalah tidak menghadiri perayaan orang musyrik. Inilah yang dikatakan oleh Ar Robi’ bin Anas.

Jadi, ayat di atas adalah pujian untuk orang yang tidak menghadiri perayaan orang musyrik. Jika tidak menghadiri perayaan tersebut adalah suatu hal yang terpuji, maka ini berarti melakukan perayaan tersebut adalah perbuatan yang sangat tercela dan termasuk ‘aib (Lihat Iqtidho’, 1/483). Jadi, merayakan Valentine’s Day bukanlah ciri orang beriman karena jelas-jelas hari tersebut bukanlah hari raya umat Islam.

Kerusakan Ketiga: Mengagungkan Sang Pejuang Cinta Akan Berkumpul Bersamanya di Hari Kiamat Nanti

Jika orang mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka dia akan mendapatkan keutamaan berikut ini.

Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan bahwa seseorang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَتَّى السَّاعَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ

“Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

مَا أَعْدَدْتَ لَهَا

“Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?”

Orang tersebut menjawab,

مَا أَعْدَدْتُ لَهَا مِنْ كَثِيرِ صَلاَةٍ وَلاَ صَوْمٍ وَلاَ صَدَقَةٍ ، وَلَكِنِّى أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

“(Kalau begitu) engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain di Shohih Bukhari, Anas mengatakan,

فَمَا فَرِحْنَا بِشَىْءٍ فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – « أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ » . قَالَ أَنَسٌ فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّى إِيَّاهُمْ ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ

“Kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Anta ma’a man ahbabta (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai).”

Anas pun mengatakan,

فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّى إِيَّاهُمْ ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ

“Kalau begitu aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar. Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.”

Bandingkan, bagaimana jika yang dicintai dan diagungkan adalah seorang tokoh Nashrani yang dianggap sebagai pembela dan pejuang cinta di saat raja melarang menikahkan para pemuda. Valentine-lah sebagai pahlawan dan pejuang ketika itu. Lihatlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas: “Kalau begitu engkau bersama dengan orang yang engkau cintai”. Jika Anda seorang muslim, manakah yang Anda pilih, dikumpulkan bersama orang-orang sholeh ataukah bersama tokoh Nashrani yang jelas-jelas kafir?

Siapa yang mau dikumpulkan di hari kiamat bersama dengan orang-orang kafir[?] Semoga menjadi bahan renungan bagi Anda, wahai para pengagum Valentine!

Kerusakan Keempat: Ucapan Selamat Berakibat Terjerumus Dalam Kesyirikan dan Maksiat

“Valentine” sebenarnya berasal dari bahasa Latin yang berarti: “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. (Dari berbagai sumber)

Oleh karena itu disadari atau tidak, jika kita meminta orang menjadi “To be my valentine (Jadilah valentineku)”, berarti sama dengan kita meminta orang menjadi “Sang Maha Kuasa”. Jelas perbuatan ini merupakan kesyirikan yang besar, menyamakan makhluk dengan Sang Khalik, menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala.

Kami pun telah kemukakan di awal bahwa hari valentine jelas-jelas adalah perayaan nashrani, bahkan semula adalah ritual paganisme. Oleh karena itu, mengucapkan selamat hari kasih sayang atau ucapan selamat dalam hari raya orang kafir lainnya adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan kesepakatan para ulama (baca: ijma’ kaum muslimin), sebagaimana hal ini dikemukakan oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya Ahkamu Ahlidz Dzimmah (1/441, Asy Syamilah). Beliau rahimahullah mengatakan, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal atau selamat hari valentine, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya. Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya.”

Kerusakan Kelima: Hari Kasih Sayang Menjadi Hari Semangat Berzina

Perayaan Valentine’s Day di masa sekarang ini mengalami pergeseran. Kalau di masa Romawi, sangat terkait erat dengan dunia para dewa dan mitologi sesat, kemudian di masa Kristen dijadikan bagian dari simbol perayaan hari agama, maka di masa sekarang ini identik dengan pergaulan bebas muda-mudi. Mulai dari yang paling sederhana seperti pesta, kencan, bertukar hadiah hingga penghalalan praktek zina secara legal. Semua dengan mengatasnamakan semangat cinta kasih.

Dalam semangat hari Valentine itu, ada semacam kepercayaan bahwa melakukan maksiat dan larangan-larangan agama seperti berpacaran, bergandeng tangan, berpelukan, berciuman, bahkan hubungan seksual di luar nikah di kalangan sesama remaja itu menjadi boleh. Alasannya, semua itu adalah ungkapan rasa kasih sayang. Na’udzu billah min dzalik.

Padahal mendekati zina saja haram, apalagi melakukannya. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isro’ [17]: 32)

Dalam Tafsir Jalalain dikatakan bahwa larangan dalam ayat ini lebih keras daripada perkataan ‘Janganlah melakukannya’. Artinya bahwa jika kita mendekati zina saja tidak boleh, apalagi sampai melakukan zina, jelas-jelas lebih terlarang.

Kerusakan Keenam: Meniru Perbuatan Setan

Menjelang hari Valentine-lah berbagai ragam coklat, bunga, hadiah, kado dan souvenir laku keras. Berapa banyak duit yang dihambur-hamburkan ketika itu. Padahal sebenarnya harta tersebut masih bisa dibelanjakan untuk keperluan lain yang lebih bermanfaat atau malah bisa disedekahkan pada orang yang membutuhkan agar berbuah pahala. Namun, hawa nafsu berkehendak lain. Perbuatan setan lebih senang untuk diikuti daripada hal lainnya. Itulah pemborosan yang dilakukan ketika itu mungkin bisa bermilyar-milyar rupiah dihabiskan ketika itu oleh seluruh penduduk Indonesia, hanya demi merayakan hari Valentine. Tidakkah mereka memperhatikan firman Allah,

وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’ [17]: 26-27). Maksudnya adalah mereka menyerupai setan dalam hal ini. Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu pada jalan yang keliru.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim)

Penutup

Itulah sebagian kerusakan yang ada di hari valentine, mulai dari paganisme, kesyirikan, ritual Nashrani, perzinaan dan pemborosan. Sebenarnya, cinta dan kasih sayang yang diagung-agungkan di hari tersebut adalah sesuatu yang semu yang akan merusak akhlak dan norma-norma agama. Perlu diketahui pula bahwa Valentine’s Day bukan hanya diingkari oleh pemuka Islam melainkan juga oleh agama lainnya. Sebagaimana berita yang kami peroleh dari internet bahwa hari Valentine juga diingkari di India yang mayoritas penduduknya beragama Hindu. Alasannya, karena hari valentine dapat merusak tatanan nilai dan norma kehidupan bermasyarakat. Kami katakan: “Hanya orang yang tertutup hatinya dan mempertuhankan hawa nafsu saja yang enggan menerima kebenaran.”

Oleh karena itu, kami ingatkan agar kaum muslimin tidak ikut-ikutan merayakan hari Valentine, tidak boleh mengucapkan selamat hari Valentine, juga tidak boleh membantu menyemarakkan acara ini dengan jual beli, mengirim kartu, mencetak, dan mensponsori acara tersebut karena ini termasuk tolong menolong dalam dosa dan kemaksiatan. Ingatlah, Setiap orang haruslah takut pada kemurkaan Allah Ta’ala. Semoga tulisan ini dapat tersebar pada kaum muslimin yang lainnya yang belum mengetahui. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah kepada kita semua.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shollallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Panggang, Gunung Kidul, 12 Shofar 1430 H
Yang selalu mengharapkan ampunan dan rahmat Rabbnya

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id


Daftar RSS komentar

105 komentar

  1. Abu Salman says:

    Alhamdulillah, mudah-mudahan dengan adanya artikel ini. Kebanyakan pemuda dan pemudi islam akan semakin sadar dengan jati dirinya yaitu islam dan bukan pemuda yang hedonis dan metropolis.

  2. ibu dalia ahmed says:

    asalamualikum wr wb, luar biasah dawahnya maju trus allah makum…….. gazak allah kir

  3. aris says:

    assalamualaikum kang.
    semoga generasi muda kita kembali ke jalan yang benar. yaitu mengikuti sunnah.
    minta izin untuk ,
    ikut ngopy artikelnya buat blog ana yaa..?
    sukron.

  4. Abu Ja'far says:

    Hari raya valentine memang hari raya orang kafir nashrani, tapi banyak di antara kita terutama anak2 muda yang masih jahil terhadap hal tersebut sehingga mereka malah dengan bangga merayakannya, bahkan merasa rugi kalau tidak merayakannya dan inilah relita kaum muslimin sekarang dimana mereka jauh dari manhaj yang haq yaitu manhaj salaf. semoga Allah memberi hidayah pada mereka untuk kembali ke manhaj yang benar ini. Maju terus da’wah salafiyyah! laa tahzan innallaha ma’anaa!

  5. nia siti nuroniah says:

    assalamualaikum,..
    begitu banyak siswa/i di sekolah umum tidak mengetahui apa makna dari valentine itu sendiri. mereka hanya ikut-ikutan saja, atau merasa bahwa itu merupakan kesenangan belaka. mungkin hal itu karena kurangnya sosialisasi dari sekolah, atau guru agama Islam kurang mengupas hal-hal seperti itu.

  6. Andri says:

    Assalaumalaikum.
    Sangat bermanfaat tulisanmu bang Abduh,
    Minta izin untuk saya sebarkan ke saudara2 muslim lainnya.
    Jazakumullah Khairan Katsira.

  7. fitri says:

    minta izin ngopy ya. buat blog saya.
    thanks

  8. Patrick says:

    Saya beragama muslim,
    Orang tua saya mualaf karena memutuskan pindah agama sewaktu ingin menikahi ibu saya yang islam. Keluarga papa saya berlatarbelakang agama katolik, tapi rasanya mereka tidak melihat agama islam sepicik anda melihat agama katolik atau kristen.

    Ini sudah saya cermati sejak lama gejala ini di lingkungan sosial anda; walaupun ada teman2 islam saya ada juga yang toleransinya begitu tinggi terhadap agama lain, tapi sebagian besar menaruh perasangka yang negatif.

    Saya sebagai muslim, juga tidak suka melihat saudara muslim yang merasa dirinya sok benar dan sok yakin bahwa hanya orang islam yang masuk surga, dan agama lain tidak pantas masuk surga.

    Coba deh anda periksa diri anda masing-masing, apa anda-anda yang paling pantas masuk surga?

    Menurut saya, itu rahasia yang di atas. Kita masuk surga itu karena amal dan ibadah, terlepas dari agama apapun itu. Itu semua urusan yang diatas, bagaimana menimbang sholat kita, amal dan ibadah kita, setiap kata dan ucapan kita dan hati kita.

    Jadi aneh kalau kita mencap tradisi orang, valentine kah, natalkan itu sebagai sesuatu yang dimurkai Allah atau bagaimana, toh itu agama mereka.

    Saya sendiri tidak merayakan valentine, karena buat saya kasih sayang memang harusnya tiap hari, terlepas dari budaya mana itu berasal.

    Akan tetapi saya menghargai tradisi orang lain.

  9. didiet says:

    Assalamualaikum,
    Minta ijin tulisannya saya link ke blog saya.
    Terima kasih.

  10. Amat jauh dari ridho Allah jika kita membiarkan suasana Islam tertimpa kebiasaan valentine yang berfoya-foya ini. Bawalah keluarga untuk menikmati kasih sayang Allah dalam shalat berjamaah. dan pada Q.S.2:143 “……Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” Jadi kita sebagai umat Islam bukan menyambut hari kasih sayang 14 Februari saja, tetapi kita sehari-hari bergelut dengan Kash Sayang dari Allah: Shalat, dzikir dan berdoa.

  11. dwi andi priyono says:

    Assalamu’allikum…

    aq selamani tlh meng-copy artikel2 “muslim” tuk belajar& insyaalloh tuk sebarkan k,kluarga&saudara2q.mhon maaf y jika terlambat/blom minta ijin.

    Jazakumulloh

    Wassalamu’allaikum…

  12. ndar says:

    temen2 kita byk yg msh mengagungkan valentine, nah jadikan aja temen2 kita itu utk ladang kita berdakwah, myadarkan mereka bahwa valentine tu ga penting bgt, gitu,,,, valentine ga banget kale,,,,

  13. Aswad says:

    Akhi Patrick, semoga Allah memantapkan hati anda dan hati saya di jalan Islam

    Akhi, hanya Islam yang benar dan hanya pemeluk Islam yang masuk surga. Itu bukan pernyataan saya tapi pernyataan Yang Di Atas (yaitu Allah Ta’ala). Allah Ta’ala berfirman:
    وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
    Artinya: “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran: 85)
    Jika anda menafsirkan ‘Islam’ dengan pasrah kepada Tuhan berserah diri sehingga ndak perlu masuk agama Islam pun nda apa-apa. Sebagaimana penafsiran orang Liberal. Maka perhatikan penafsiran dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bahwa yang diperangi Islam adalah kekafiran, bukanlah ke-tidak-berserah-diri-an:
    ‏ ‏أمرت أن أقاتل الناس حتى ‏ ‏يشهدوا ‏ ‏أن لا إله إلا الله وأن ‏ ‏محمدا ‏ ‏رسول الله ويقيموا الصلاة ويؤتوا الزكاة
    Artinya: ”Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mau mengucapkan laa ilaaha illalloh (Tiada sesembahan yang haq kecuali Alloh), menegakkan sholat, dan membayar zakat” [HR. Bukhari-Muslim]

    Anda benar, bahwa soal masuk surga atau neraka hanya Yang Di Atas (yaitu Allah Ta’ala) yang tahu. Jika demikian, kita harus percaya pada firman dari Yang Di Atas, yang berbunyi:
    إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ
    Artinya: “Sesungguhnya orang-orang kafir dari ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) dan orang-orang musyrik (akan masuk) neraka jahannam. Mereka kekal di dalamnya. Mereka adalah seburuk-buruk makhluq.” (QS Al-Bayyinah: 6)

    Sekarang tinggal anda yang mau berserah diri atau tidak pada firman Allah Ta’ala?

  14. miftahuddin says:

    bismillah…sy rasa ini bukan ajang saling menghina. sudah jls bhw asal-muasalx lahirnya tradisi ini. qt sbg muslim hanya berpegang pd ajaran islam dan teladan rosul.

    qt juga dilarang menghina atau menghadik ummat lain

    di islam sangat banyak sekali sikap toleransi. namun, terkadang org2 yg diberi toleransi yg g tahu diri. dlm islam perayaan kasih-sayang tsb adl setiap hari..buktinya qt slalu ucapkan assalamu’alaikum wr wb…. valentine day apaan tuh? terlepas dari dy dari agama apa namun yg namanya zina adl perbuatan dosa yg teramat besar. saya hanya ingin meliaht masalah ini dari sudut pandang lain yaitu baik dan buruk dalam kehidupan klo secara syariat susah untuk ketemu

    sy adl muslim yg moderat dan sy selalu khawatir apakah sy masuk syurga / g cz itu adalah kehendak dan rahmat 4Wi

    wallahu’alam…smoga qt tetap menjadi warga indonesia yg cinta damai.

  15. Aswad says:

    Seorang Muslim WAJIB membenci kekufuran dan kesyirikan. Serta tidak meniru-niru kebiasaan orang kafir dan orang musyrik.
    Namun tentunya tidak berarti seorang muslim bersikap garang dan kejam terhadap orang kafir dalam setiap keadaan.
    Simak pembahasan hal ini di:
    http://kangaswad.info/islami/bagaimana-menyikapi-non-muslim

  16. amrul says:

    asalamualikum,, alhamdulillah artikelnya bagus, semoga pemuda dan pemudi kaum muslimin semakin sadar dan kembali kepada jlan yang lurus, ana minta izin artikelnya untuk dicopy ya.

  17. wong Dheso says:

    makanya pada ngaji tiap hari….

    biar tau ilmu agama..

    beragama kok pake perasaan

  18. sangpengamat says:

    duh wong dheso ternyata aktif juga yach di site ini…
    yach saya juga termasuk orang yang bodoh jadi belum bisa ngasih ayat atau hadis yang berkaitan dengan tema yang di tulis diatas maka saya belajar dari sumber yang satu ke sumber yang lain

    memang benar yang di tulis oleh penulis di atas
    saya juga setuju dengan pendapat tentang bahaya hari valentine yang sekarang ini banyak umat islam yang ikut-ikutan dalam merayakan hari valentine.

    mengenai pendapat kang patrik saya merasa sedih akan pandangan akang selama ini, mungkin akang melihat dari sebagian orang saja sehingga dapat berasumsi seperti diatas
    dengan tidak melihat secara menyeluruh
    menurut hemat saya umat islam juga diperkenankan untuk bersosialisasi dengan umat agama lain, hanya saja umat islam saat ini banyak yang ikut-ikutan dengan mengikuti suatu kebudayaan yang seharusnya tidak di perkenankan dalam ajaran islam, boleh dibilang umat islam sekarang ini banyak yang mengikuti kebudayaan lain tetapi kewajiban sebagai umat islam sendiri di lalaikan

    oleh karena itu. saya rasa bolehlah kita mengohormati yang “merayakannya” tetapi umat islam jangan sekali-kali ikut dalam kebudayaan tsb.

    mungkin pendapat saya salah atau kurang yach mohon untuk yang lebih paham dan mengerti mohon ditambahkan dan diluruskan

  19. Maulana Al-Musawa says:

    Assalamualaikum,wr,wb.
    Alhamdulillah..
    Semoga artikel ini menjadi wacana utama kaum muda-mudi muslim yg brkaitan dengan valentine day.
    Semoga allah menyadarkan mereka yg tersesat.
    Amin.

  20. mumet dewe says:

    sori agak menceng dikit, untuk perbandingan aja.
    weh…weh, mumet dewe nek ngene…
    sunan kalijaga tu salah besar menurutku…, dia mengadopsi wayang, jelas-jelas budaya hindu…, sejarahnya jelas….
    bahkan di situ masih ada dewa-dewa…., trus itu gimana…?
    kalau saya baca artikel yang di atas.., trus sunan kalijaga tu pakai pandangannya siapa ya….., jadi mumet…?
    bahkan wayang sudah di akui secara internasional.
    Trus satu lagi kenapa masjid-masjid, bahkan orang jawa
    membangun masjid meniru-niru bangunan hindu, yang filosofinya jelas-jelas hindu, tiga tingkatan pada atapnya…
    yang berarti tiga tataran dalam hidup…., menurut hindu yaitu kama dhatu, rupa dhatu, arupa ddatu
    kenapa….itu sampai sekarang setiap bangun masjid kok masih seperti itu, bahkan masjid agung yang cukup punya nama di semarang di bangun seperti itu……
    wah mbuh dadi mumet……, yang benar yang mana ni….
    kok itu ngak di protes atau disarankan yang gimana….????? gitu….
    mohon tanggapanya…penulis ni…..

1 2 3 ... 6

Berkomentar

* wajib diisi