7 March 2009 | 58 komentar

Kategori: Manhaj

Apa Hukum Merayakan Maulid Nabi?

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah menjawab:

Pertama, malam kelahiran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak diketahui secara pasti kapan. Bahkan sebagian ulama masa kini menyimpulkan hasil penelitian mereka bahwa sesungguhnya malam kelahiran beliau adalah pada tanggal 9 Robi’ul Awwal dan bukan malam 12 Robi’ul Awwal. Oleh sebab itu maka menjadikan perayaan pada malam 12 Robi’ul Awwal tidak ada dasarnya dari sisi latar belakang historis.

Kedua, dari sisi tinjauan syariat maka merayakannya pun tidak ada dasarnya. Karena apabila hal itu memang termasuk bagian syariat Allah maka tentunya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya atau beliau sampaikan kepada umatnya. Dan jika beliau pernah melakukannya atau menyampaikannya maka mestinya ajaran itu terus terjaga, sebab Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Quran dan Kami lah yang menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9)

Sehingga tatkala ternyata sedikit pun dari kemungkinan tersebut tidak ada yang terbukti maka dapat dimengerti bahwasanya hal itu memang bukan bagian dari ajaran agama Allah. Sebab kita tidaklah diperbolehkan beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan cara-cara seperti itu. Apabila Allah ta’ala telah menetapkan jalan untuk menuju kepada-Nya melalui jalan tertentu yaitu ajaran yang dibawa oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam maka bagaimana mungkin kita diperbolehkan dalam status kita sebagai hamba yang biasa-biasa saja kemudian kita berani menggariskan suatu jalan sendiri menurut kemauan kita sendiri demi mengantarkan kita menuju Allah? Hal ini termasuk tindakan jahat dan pelecehan terhadap hak Allah ‘azza wa jalla tatkala kita berani membuat syariat di dalam agama-Nya dengan sesuatu ajaran yang bukan bagian darinya. Sebagaimana pula tindakan ini tergolong pendustaan terhadap firman Allah ‘azza wa jalla yang artinya,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي

“Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian dan Aku telah cukupkan nikmat-Ku kepada kalian.” (QS. Al-Maa’idah: 3)

Oleh sebab itu kami katakan bahwasanya apabila perayaan ini termasuk dari kesempurnaan agama maka pastilah dia ada dan diajarkan sebelum wafatnya Rasul ‘alaihish shalatu wa salam. Dan jika dia bukan bagian dari kesempurnaan agama ini maka tentunya dia bukan termasuk ajaran agama karena Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian.” Barang siapa yang mengklaim acara maulid ini termasuk kesempurnaan agama dan ternyata ia terjadi setelah wafatnya Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam maka sesungguhnya ucapannya itu mengandung pendustaan terhadap ayat yang mulia ini. Dan tidaklah diragukan lagi kalau orang-orang yang merayakan kelahiran Rasul ‘alaihis shalatu was salam hanya bermaksud mengagungkan Rasul ‘alaihis shalaatu was salaam. Mereka ingin menampakkan kecintaan kepada beliau serta memompa semangat agar tumbuh perasaan cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui diadakannya perayaan ini. Dan itu semua termasuk perkara ibadah. Kecintaan kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ibadah. Bahkan tidaklah sempurna keimanan seseorang hingga dia menjadikan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai orang yang lebih dicintainya daripada dirinya sendiri, anaknya, orang tuanya dan bahkan seluruh umat manusia. Demikian pula pengagungan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk perkara ibadah. Begitu pula membangkitkan perasaan cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga termasuk bagian dari agama karena di dalamnya terkandung kecenderungan kepada syariatnya. Apabila demikian maka merayakan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah serta untuk mengagungkan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah suatu bentuk ibadah. Dan apabila hal itu termasuk perkara ibadah maka sesungguhnya tidak diperbolehkan sampai kapan pun menciptakan ajaran baru yang tidak ada sumbernya dari agama Allah. Oleh sebab itu merayakan maulid Nabi adalah bid’ah dan diharamkan.

Kemudian kami juga pernah mendengar bahwa di dalam perayaan ini ada kemungkaran-kemungkaran yang parah dan tidak dilegalkan oleh syariat, tidak juga oleh indera maupun akal sehat. Mereka bernyanyi-nyanyi dengan mendendangkan qasidah-qasidah yang di dalamnya terdapat ungkapan yang berlebih-lebihan (ghuluw) terhadap Rasul ‘alaihish sholaatu was salaam sampai-sampai mereka mengangkat beliau lebih agung daripada Allah -wal ‘iyaadzu billaah-. Dan kami juga pernah mendengar kebodohan sebagian orang yang ikut serta merayakan maulid ini yang apabila si pembaca kisah Nabi sudah mencapai kata-kata “telah lahir Al-Mushthafa” maka mereka pun serentak berdiri dan mereka mengatakan bahwa sesungguhnya ruh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam hadir ketika itu maka kita berdiri demi mengagungkan ruh beliau. Ini adalah tindakan yang bodoh. Dan juga bukanlah termasuk tata krama yang baik berdiri ketika menyambut orang karena beliau tidak senang ada orang yang berdiri demi menyambutnya. Dan para sahabat beliau pun adalah orang-orang yang paling dalam cintanya kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam serta kaum yang lebih hebat dalam mengagungkan beliau daripada kita. Mereka itu tidaklah berdiri tatkala menyambut beliau karena mereka tahu beliau membenci hal itu sementara beliau dalam keadaan benar-benar hidup. Lantas bagaimanakah lagi dengan sesuatu yang hanya sekedar khayalan semacam ini?

Bid’ah ini -yaitu bid’ah Maulid- baru terjadi setelah berlalunya tiga kurun utama. Selain itu di dalamnya muncul berbagai kemungkaran ini yang merusak fondasi agama seseorang. Apalagi jika di dalam acara itu juga terjadi campur baur lelaki dan perempuan dan kemungkaran-kemungkaran lainnya. (Diterjemahkan Abu Muslih dari Fatawa Arkanil Islam, hal. 172-174).

***

Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
Penerjemah: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id

Kirim Komentar




Mohon memberikan komentar yang sesuai dengan topik artikel. Komentar Anda akan kami review dahulu sebelum ditampilkan.

58 Komentar

  • masyaalloh,, lewat tulisannya n koment2 dr ikhwah saya jd paham kenapa maulid tu dilarang .. komentnya bs saya pake u/ hujjah klo ada yg bantah maulid tu g pa2 .. jazakallah khairan katsiron..

  • Assalamualaikum, saya selalu sibuk mencari info di dunia maya tentang jalan menuju kaya, tiap hari search engine membantu saya, dan hasilnya tidak membuat hati puas tetapi hidup semakin haus dan kering saja. Hingga dengan ijin Allah SWT saya datang di alamat Anda ini. Alhamdulillah, saya telah menemukan kekayaan yang sebenarnya, kekayaan yang memuaskan. Insya Allah, Allah membuka jalan, terima kasih. Jazakumulloh Khoiron jaza.

  • assalamualaikum…..!!! Saudaraku terimakasih saya merasa dapat hidayah setelah membaca tulisan tersebut smoga kita dapat menegakan kembali syareat2 ALLAH’ mikum

  • syukron atas infonya

  • Bismillaahirrahmaanirrahiim

    Alhamdulillah, mudah2an website ini bermanfaat bagi semua untuk pencerahan islam…

    Ikhwah wa akhowaah yg budiman

    Astaghfirullooh.. kenapa semua merasa benar.. kenapa semua merasa pintar.. Ingat..!!! Al haqqu min robbik (kebenaran hanya datang dari Tuhanmu). bukan dari interpretasi kita, pemahaman kita, imajinasi kita.

    Ramainya komen soal maulid, ada yg bilang bid’ah dan semua bid’ah neraka, ada yg bilang ghuluw, ada yg bilang wujud dari kecintaan pada rasul, ada yg bilang tasyabbuh etc..mengingatkan saya akan peristiwa Nabi Khidlir dan Nabi Musa alaihimassalaam. Semua yg dilakukan nabi Khidlir (balya bin malkan) dikoreksi dan diprotes oleh Nabi Musa (yg merasa benar). Lalu apa pesan Nabi Khidlir sebelum berpisah dg Nabi Musa?. Beliau Nabi Khidlir berpesan pada Nabi Musa:
    لا تعير الخاطئين بخطاياهم وابك على خطيئتك
    “Jangan kau cela/kau maki/kau hina orang2 yg salah (menurutmu) dengan kesalahan2nya, tapi tangisilah kesalahanmu sendiri”

    Sungguh bijak kata2 itu sampai ditulis pada tongkat nabi Musa.

    Jadi…..

    Biarlah yg merasa tdk perlu merayakan kelahiran nabi (krn dianggap bid’ah) tidak usah menyalahkan orang yg memperingati kelahiran nabi, toh mereka punya pendapat sendiri.
    Demikian juga sebaliknya, yg merayakan dan memperingati kelahiran nabi tidak usah mencela yg tidak merayakan. Semua belum tentu benar dan juga belum tentu salah. Tidak perlu diperdebatkan berkepanjangan sebagaimana hal-hal lain semisal dzikir jahr dan sirri, sholat ied dilapangan apa dimasjid, tarawih 8 rokaat atau 20 rokaat, dg berjama’ah atau sendiri2..dll, itu semua sdh menjadi perdebatan sejak lama.
    Jangan risau dengan perbedaan, Khilafu ummati rohmatun. Yg penting mari kita istibaq fil khoiroot..!!!

    Hal ini sdh di sinyalemenkan oleh rasulullaah melalui sabdanya:
    ستفترق أمتي على ثلاث وسبعين فرقة الخ

    Musuh kita yg sebenarnya dan harus dilawan adalah HAWA NAFSU KITA..!!!

    Wallaahu a’lam…

  • Assalamualaikum
    dalam artikel ini di tulis :
    1. Hasil penelitian ulama masakini menyimpulkan bahwa kelahiran Rasul Shallallahu ‘alaihi Wassalam terjadi pada malam 9 Rabiul awal bukan 12 Rabiul awal.
    2. Perayaan Maulid terjadi setelah berlalunya 3 kurun waktu utama.

    pertanyaan saya :
    1. Adakah riwayat atau history yang menjelaskan bahwa kelahiran Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam terjadi pada malam 9 Rabiul awal ?
    2. Yang dimaksud 3 kurun waktu utama itu apa ?

    saya sangat mengharapkan penjelasan dari pertanyaan itu karena keterbatasan pemahaman agama saya. Terima kasih.

  • iya, kesilapan kita hari ini menyambut maulidur rasul dgn cara yang salah.banyak hal -hal syariat tidak dijaga.baru2 ini saya mendengar ceramah maulid nabi.penceramah itu membicarakan sirah nabi.suaranya menggegar alam penuh semangat.diselangi dgn salawat.tapi ceramah beliau tak menjadikan saya rindu pada Nabi SAW. Saya pelik kerana sebelum ini jika saya ingat Muhammad saya akan rindu.airmata saya akan menitis.Terus saya merayu2 pd Tuhan mohon jumpa Nabi Muhammad dlm mimpi.Puas saya paksa diri saya merasakan kehadiran aura Nabi Muhammad.Bila penceramah kedua mengambil tempat barulah aura rindu itu datang. Saya bertanya pada Allah mengapa berlaku perasaan yang demikian.Iya mungkin penceramah hari ini kata2nya hebat sayang mungkin amalan sunnahnya sedikit.Dia tidak membawa sikap dan sifat nabi dlm ceramahnya. Nabi SAW suaranya lembut.bila bicara matanya tunduk.menyampaikan ilmu kerana sayangkan umat bukan setakat menyampaikan sahaja.

  • Kalau kedudukan perayaan Maulid sudah sejelas itu, mengapa kita masih ngotot merayakannya?

Penerimaan Ponpes Bukhari 2010-2011
donasi dakwah

Iklan

muslim.or.id

Iklan

radioalhikmah Download Kajian Distributor Pulsa Elektrik Toko Muslim Pustaka Muslim Konsultasi Syariah

Doa dan Zikir

Bacaan sholawat setelah tasyahud

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ , كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ , إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ , اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ , إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

“Ya Allah, berilah rahmat kepada Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung. Berilah berkah kepada Muhammad dan keluarganya (termasuk anak dan istri atau umatnya), sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung.”
— HR. Bukhari dalam Fathul Baari: 6/408.

Silakan menyebarkan artikel yang ada di muslim.or.id dengan harus menyertakan muslim.or.id sebagai sumber artikel. Muslim.or.id menerima bantuan penerjemahan artikel muslim.or.id ke dalam bahasa inggris. Silakan hubungi muslim.or.id@gmail.com. Info iklan silakan hubungi muslimadv@gmail.com

Kasyen theme originally design by cizkah powered by Wordpress