Donasi Semarak
Ramadhan 1433 H

Tuntutlah Ilmu Sampai ke Negeri China

Kategori: Hadits

29 Komentar // 27 Mei 2009

Setiap orang pasti telah mengetahui perkataan ini.

اُطْلُبُوْا العِلْمَ وَلَوْ في الصِّينِ

“Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri China.”

Inilah yang dianggap oleh sebagian orang sebagai hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun perlu diingat bahwa setiap buah yang akan dipanen tidak semua bisa dimakan, ada yang sudah matang dan keadaannya baik, namun ada pula buah yang dalam keadaan busuk.

Begitu pula halnya dengan hadits. Tidak semua perkataan yang disebut hadits bisa kita katakan bahwa itu adalah perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Boleh jadi yang meriwayatkan hadits tersebut ada yang lemah hafalannya, sering keliru, bahkan mungkin sering berdusta sehingga membuat hadits tersebut tertolak atau tidak bisa digunakan. Itulah yang akan kita kaji pada kesempatan kali ini yaitu meneliti keabsahan hadits di atas sebagaimana penjelasan para ulama pakar hadits. Penjelasan yang akan kami nukil pada posting kali ini adalah penjelasan dari ulama besar Saudi Arabia dan termasuk pakar hadits, yaitu Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah. Beliau rahimahullah pernah menjabat sebagai Ketua Komisi Tetap Urusan Riset dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi. Semoga Allah memberi kemudahan dalam hal ini.

Penjelasan Derajat Hadits

Mayoritas ulama pakar hadits menilai bahwa hadits ini adalah hadits dho’if (lemah) dilihat dari banyak jalan.

Syaikh Isma’il bin Muhammad Al ‘Ajlawaniy rahimahullah telah membahas panjang lebar mengenai derajat hadits ini dalam kitabnya ‘Mengungkap kesamaran dan menghilangkan kerancuan terhadap hadits-hadits yang sudah terkenal dan dikatakan sebagai perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam‘ pada index huruf hamzah dan tho’. Dalam kitab beliau tersebut, beliau mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi, Al Khotib Al Baghdadi, Ibnu ‘Abdil Barr, Ad Dailamiy dan selainnya, dari Anas radhiyallahu ‘anhu. Lalu beliau menegaskan lemahnya (dho’ifnya) riwayat ini. Dinukil pula dari Ibnu Hibban –pemilik kitab Shohih-, beliau menyebutkan tentang batilnya hadits ini. Sebagaimana pula hal ini dinukil dari Ibnul Jauziy, beliau memasukkan hadits ini dalam Mawdhu’at (kumpulan hadits palsu).

Dinukil dari Al Mizziy bahwa hadits ini memiliki banyak jalan, sehingga bisa naik ke derajat hasan.

Adz Dzahabiy mengumpulkan riwayat hadits ini dari banyak jalan. Beliau mengatakan bahwa sebagian riwayat hadits ini ada yang lemah (wahiyah) dan sebagian lagi dinilai baik (sholih).

Dengan demikian semakin jelaslah bagi para penuntut ilmu mengenai status hadits ini. Mayoritas ulama menilai hadits ini sebagai hadits dho’if (lemah). Ibnu Hibban menilai hadits ini adalah hadits yang bathil. Sedangkan Ibnul Jauziy menilai bahwa hadits ini adalah hadits maudhu’ (palsu).

Adapun perkataan Al Mizziy yang mengatakan bahwa hadits ini bisa diangkat hingga derajat hasan karena dilihat dari banyak jalan, pendapat ini tidaklah bagus (kurang tepat). Alasannya, karena banyak jalur dari hadits ini dipenuhi oleh orang-orang pendusta, yang dituduh dusta, suka memalsukan hadits dan semacamnya. Sehingga hadits ini tidak mungkin bisa terangkat sampai derajat hasan.

Adapun Al Hafizh Adz Dzahabiy rahimahullah mengatakan bahwa sebagian jalan dari hadits ini ada yang sholih (dinilai baik). Maka kita terlebih dahulu melacak jalur yang dikatakan sholih ini sampai jelas status dari periwayat-periwayat dalam hadits ini. Namun dalam kasus semacam ini, penilaian negatif terhadap hadits ini (jarh) lebih didahulukan daripada penilaian positif (ta’dil) dan penilaian dho’if terhadap hadits lebih harus didahulukan daripada penilaian shohih sampai ada kejelasan shohihnya hadits ini dari sisi sanadnya. Dan syarat hadits dikatakan shohih adalah semua periwayat dalam hadits tersebut adalah adil (baik agamanya), dhobith (kuat hafalannya), sanadnya bersambung, tidak menyelisihi riwayat yang lebih kuat, dan tidak ada illah (cacat). Inilah syarat-syarat yang dijelaskan oleh para ulama dalam kitab-kitab Mustholah Hadits (memahami ilmu hadits).

Seandainya Hadits Ini Shohih

Seandainya hadits ini shohih, maka ini tidak menunjukkan kemuliaan negeri China dan juga tidak menunjukkan kemuliaan masyarakat China. Karena maksud dari ‘Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri China’ –seandainya hadits ini shohih- adalah cuma sekedar motivasi untuk menuntut ilmu agama walaupun sangat jauh tempatnya. Karena menuntut ilmu agama sangat urgen sekali. Kebaikan di dunia dan akhirat bisa diperoleh dengan mengilmui agama ini dan mengamalkannya.

Dan tidak dimaksudkan sama sekali dalam hadits ini mengenai keutamaan negeri China. Namun, karena negeri China adalah negeri yang sangat jauh sekali dari negeri Arab sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memisalkan dengan negeri tersebut. Tetapi perlu diingat sekali lagi, ini jika hadits tadi adalah hadits yang shohih. Penjelasan ini kami rasa sudah sangat jelas dan gamblang bagi yang betul-betul merenungkannya.

Wallahu waliyyut taufiq.

Sumber: Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 22/233-234, Asy Syamilah

Keterangan:

  1. Hadits shohih adalah hadist yang memenuhi syarat: semua periwayat dalam hadits tersebut adalah adil (baik agamanya), dhobith (kuat hafalannya), sanadnya bersambung, tidak menyelisihi riwayat yang lebih kuat, dan tidak ada illah (cacat).
  2. Hadits hasan adalah hadits yang memenuhi syarat shohih di atas, namun ada kekurangan dari sisi dhobith (kuatnya hafalan).
  3. Hadits dho’if (lemah) adalah hadits yang tidak memenuhi syarat shohih seperti sanadnya terputus, menyelisihi riwayat yang lebih kuat (lebih shohih) dan memiliki illah (cacat).

Pangukan, Sleman, 13 Muharram 1430 H

Yang selalu mengharapkan ampunan dan rahmat Rabbnya

***

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id

buku saku

29 Komentar

  1. Tommi
    27 Mei 2009 [#]

    Ini hadits yg sering saya dengar waktu saya masih SD dulu. Syukron skrg udh ada penjelasannya bahwa ternyata ini hadits dhoif bahkan bisa dibilang hadits bathil. Terima kasih artikelnya mas Abduh.

  2. Iyan
    28 Mei 2009 [#]

    Assalamikum,,
    Alhamdulillah dari pertama kali Iyan masuk situs ini,,Iyan banyak mendapat pengetahuan,,bahasannya mudah dimengerti,,jadi tidak bingung untuk Iyan yg usia remaja anak SMK,,terus tentang hadist Tuntut Ilmu sampai Negeri China Iyan bertanya-tanya,,kenapa harus Negeri China,,tapi sekarang udah tahu alasanya,,Syukron atas semuanya Artikelnya,,
    Wassalamikum

  3. Dwi
    31 Mei 2009 [#]

    Trm ksh tas pnjlasnya!!tlng lbih bnyak lg pnjlsn tntng hdits plsu,yg populer!maksih

  4. hamba Alloh
    04 Jun 2009 [#]

    bagaimana penjelasannya kalau menuntut ilmu pada orang yang ilmu masih sangat minim, dah menyampaikan dan mengajarkan

    karena banyak ihwan dijogja yang mengajarkan padahal ilmunya lebih minim banget dari orang yang diajar,

  5. uson
    15 Jun 2009 [#]

    saya setuju dengan komentar di atas. ini memberikan pencerahan pada kita sebagai cendekiawan muslim. yang memiliki dasar quran dan hadist. oleh karena itu saya sangat mengucapkan terimakasih atas wawasan yang diberikan. saran yang saya ingin sampaikan adalah coba dalam akhir komemntar atau keritikan di atas di lampirkan beberapa hadist mengenai menuntut ilmu. terimakasih

  6. Adi Prasetyo
    14 Jul 2009 [#]

    Assalamu’alikum

    afwan mohon izin untuk copy paste.

    syukron

  7. Naang
    25 Agu 2009 [#]

    Negara China sekarang banyak memalsukan produk-produk negara maju, banyak terjadi pemalsuan di china, …. apa ya Rasullullah menganjurkan untuk menuntut ilmu sampai ke negeri China.
    Apa yang datang dari Rasullullah adalah wahyu, artinya tidak hanya untuk saat itu melainkan sampai akhir zaman. Jelaslah ke dho’if an hadits tersebut

  8. nurul
    25 Agu 2009 [#]

    Dhoif ataupun tidak, tetap pilihan ada di tangan kita, padahal untuk menuntut ilmu tidak selamanya jauh itu lebih baik (misal ke cina. ataupun ke yang lainnya) karena kita pernah tahu juga ada kata-kata bijak yang menyatakan bahwa jika sesuatu itu baik (menurut siapa?), ambillah, dan jika sesuatu itu tidak baik walaupun dari sesuatu / seseorang yang menjadi contoh/figur yang diikuti ya jangan diambil. intinya pilihan ada di tangan kita agama islam saja mengisyaratkan seperti itu kan ?

  9. abu sufyan
    25 Agu 2009 [#]

    assalamualaykukum

    sdr nurul yg dirahmati Allah.

    Rasulullah salallahualaihiwasaalm pernah mengatakan dalam hadits shahih: “barangsiapa yang berdusta atas namaku siapkanlah tempat duduknya di neraka”.

    hadits dhoif (lemah) tidak bisa dijadikan sandaran/hujjah/argumentasi sehingga bisa dikatakan bahwa siapa yg mempercayai/meyakini hadits dhoif itu dari perkataan nabi salallahualaihiwasaalm , maka dia tergelincir kepada PERKATAAN DUSTA atas nama Rasulullah salallahualaihiwasaalm.

    jadi tidak setiap perkataan yg dinilai BAIK berasal dari nabi salallahualaihiwasaalm. Takutlah dengan ancaman tsb wahai saudaraku !!!

    Wallahua’lam

  10. dudie
    02 Okt 2009 [#]

    terlepas dari kuat atau lemahnya hadits ini, bagi saya hadits ini sungguh memotivasi orang untuk lebih bersemangat dalam menuntut ilmu

  11. aris
    07 Nov 2009 [#]

    moga moga aja ilmu dari china bermanfaat untuk ummat

  12. tia
    15 Nov 2009 [#]

    saya bingung.. kenapa dugaan hadist dhoif lebih diutamakan walaupun ada dugaan hadist tersebut hasan, karena ada jalan periwayatan yg baik. Menurut saya apa tidak sebaiknya mempelajari jalan yg dibilang baik itu terlebih dahulu, sebelum memfonis hadist tersebut dhoif bahkan palsu.

  13. Hamid
    20 Nov 2009 [#]

    Ass…Mnrut sy.. Kita ambil saja sisi baik dari ungkapan trsebt yaitu mnntut ilmu sgtlah pnting bgi slrh umat wlwpn smpai ke negri org. agar slmat ddunia dn d’akhirat.wass….

  14. Ari
    21 Des 2009 [#]

    Assalamualaikum wrwb Pak Abduh,
    Syaikh Isma’il bin Muhammad Al ‘Ajlawaniy rahimahullah telah membahas panjang lebar mengenai derajat hadits ini dalam kitabnya ‘Mengungkap kesamaran dan menghilangkan kerancuan terhadap hadits-hadits yang sudah terkenal dan dikatakan sebagai perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam‘ pada index huruf hamzah dan tho’. Dalam kitab beliau tersebut, beliau mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi, Al Khotib Al Baghdadi, Ibnu ‘Abdil Barr, Ad Dailamiy dan selainnya, dari Anas radhiyallahu ‘anhu. Lalu beliau menegaskan lemahnya (dho’ifnya) riwayat ini.
    Pak abduh, dalam artikel ini bapak tidak menyebutkan item-item yang melemahkan hadist tersebut? jika ada artikelnya tolong dikirimm ke email saya, terutama PDF “Mengungkap kesamaran dan menghilasngkan kerancuan terhadap hadist”, terima kasih. Wassalam.

  15. Faris Akbar
    25 Mei 2010 [#]

    Hadits ini menjadi landasan aq untuk melanjutkan kuliah fakultas sastra cina loh

  16. Aziz
    21 Jun 2010 [#]

    bismillah, untuk ikhwan akhwat fillah, Allah dan Rasul-Nya mestinya kita nomor satukan dari segalanya. karna ini merupakan konsekuensi syahadat kita. Jadi dalam segala hal dalam agama ini yang kita utamakan adalah keshahihan amal/ucapan tsb apakah betul dari Nabi atau bukan. Jadi pertimbangan baik atau buruk itu bukan perasaan tapi berdasarkan ilmu juga, itu dari Rasulullah atau bukan. Kalau dari Rasul pasti benar karna itu wahyu. kalau bukan dari Rasul ya nanti dulu. lebih parahnya lagi kalau bukan dari Rasul dikatakan dari Rasul itu namanya dusta atas nama Rasulullah, yang besar sekali ancaman sikssanya (neraka lho)

  17. abu anggoro
    29 Jun 2010 [#]

    Assalamu ‘alaykum

    mas Aziz saya suangat setuju pendapat antum
    gak usah pake ngeyel

    wassalam

  18. Rio
    01 Agu 2010 [#]

    bagus_ _ _ _ _bagus………….!!!!!!!

  19. darman
    14 Nov 2010 [#]

    ana mohon izin copy dan share kpd teman ana yg msh meyakini kebenaran/keshahihan hadits tsb.jazakallahukhairan

  20. Deli Ismaniar
    29 Des 2010 [#]

    assalamualaikum wr. wb.
    Bismilahirohmanirrohim….
    Saya ingin mengungkapkan pendapat saya… Gimana kalau kita mengambil sisi positifnya saja dari hadist tersebut… Menurut penafsiran saya mengenai tututlah ilmu sampai kenegeri cina tersebut bukan berarti nuntut ilmu agamanya yg kita tau mereka bukan beragama islam.. tapi tuntut ilmu disini adalah ilmu ekonomi. Coba kita perhatikan perekonomian didunia ini yang banyak dikuasai oleh Cina baik disektor industri, perbankan dll
    Jadi kita harus mempelajari ilmu mereka yang sukses menguasai perekonimian di Dunia.

  21. Aisy
    31 Jan 2011 [#]

    Assalam…

    saya akan berangkat ke negeri China itu dalam 20 hari lagi… So, mau di negeri kafir sekali pun, asalkan kita tetap ingat Allah dan mematuhi perintah-Nya dan juga tuntut semua ilmu yang baik2 di negeri China itu bukanlah suatu masalah.

    Karena Zaid bin Tsabit pun pernah belajar bahasa Ibrani (yahudi) di negeri yahudi itu sendiri, kan? Tetap semangat, I’m coming China…^_^ ALLAHU AKBAR..

  22. Yulian Purnama
    13 Feb 2011 [#]

    #Deli Ismaniar
    Wa’alaikumussalam. Sebelumnya anda perlu mengetahui bahwa hadits palsu itu bukanlah hadits. Hadits palsu adalah perkataan orang biasa entah siapa, lalu di klaim sebagai perkataan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Jadi, hadits palsu itu nilainya setara dengan perkataan anda dan perkataan saya.

  23. chu yong
    19 Feb 2011 [#]

    ……..tuntutlah ilmu sampai negri china.
    menurut logika memang sulit dipercaya bahwa itu adalah perkataan rasullullah SAW, namun jika kita mengkaji secara seksama mengapa rasul mengatakannya seperti itu, tentu memiliki arti tersendiri, jadi menurut saya meskipun mayoritas cina adalah buddha dan bukan muslim tetapi nggk bs disalahkan, karena memng cina adalah tempat beljar terbaik selain pendidikan agama.

  24. Yulian Purnama
    20 Feb 2011 [#]

    #cho yong
    Oleh karena itu jangan menilai hadits dengan logika, namun dengan ilmu hadits.

  25. Rummi
    02 Apr 2011 [#]

    Mohon maaf kalau saya menggunakan logika. Karena memang ilmu saya masih sebatas analisis logika :). Jelas dalam arti hadist tersebut tertulis “Tuntutlah ilmu walaupun sampai negeri Cina”.

    Hanya tertulis ilmu. Menurut saya kalau hanya tertulis kata “ilmu” maka artiannya menjadi luas. Bukan hanya ilmu agama. Kenapa?
    1. Bangsa China mengenal tulis menulis sekitar 4000 tahun sebelum masehi (maaf kalau salah). Jelas bahwa mereka memang pandai.
    2. ilmu pengobatan terbaik berkembang dari negeri China. Jauh sebelun ibnu sina (Avicenna). Salah satunya akupuntur yang terkenal hingga saat ini http://en.wikipedia.org/wiki/Acupuncture
    3. Perkembangan mesiu bermula dari Negeri China. Dahulu digunakan sebagai kembang api. yang hingga sekarang berkembang menjadi senjata. Jelas bahwa bangsa China menguasai Ilmu Kimia.

    Kenapa bukan Romawi, Yunani, Jepang, Inggris? Wallahualam. Saya tidak memiliki kepandaian yang cukup untuk menganalisis tersebut. Kebenaran Sejati Berada Ditangan Allah.
    NB: Pure, saya tidak memiliki darah Tionghoa.

  26. Yulian Purnama
    07 Apr 2011 [#]

    #Rummi
    - Hadits palsu tidak perlu repot-repot ditelaah maknanya, karena itu bukan perkataan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.
    - Setiap ada lafadz ‘ilmu’ dalam Al Qur’an dan Hadits maksudnya adalah ilmu agama.
    - Menganjurkan orang untuk belajar ilmu dunia ke Cina ini sangat beresiko. Karena mayoritas penduduk Cina adalah non-muslim dan seorang muslim berkewajiban untuk menjaga aqidahnya.

  27. ifoel
    28 Jun 2011 [#]

    nyimak gan, sebagian kita copy buat artikel kami……syukron pencerahannya

  28. Awdi Maula Farhan Zaydan
    16 Feb 2012 [#]

    Assalamualaikum….
    Bismillah. Saya Mengakui kemampuan saya mengenai ilmu agama memang sangat kurang . Namun bagi saya perdebatan tidak perlu dilakukan kalau kita tidak punya dasar yang kuat untuk itu.dan kita tidak perlu merndah dengan keterbatasan kita ,untuk itu kita sebagi umat islam punya anutan /ajaran /Imam yang dipercaya sebagai Madhab untuk menjalankan apa yang Rosul ajarkan .Kita memang dituntut untuk mencari Ilmu setinggi tingginya .Untuk Apa…..?
    Kita harus tau maksud dan tujuannya.Kalau semua itu kita peroleh hanya untungnya pada materi saya kira ilmu yang diperoleh cuman materi yang dia dapat.Namun Kita sebagi manusia gimana cara kita menyikapi persoalan,masalah tanpa didorong oleh Nur hati itu sendiri untuk mencari kebenaran yang hakiki.Kalau nafsu ikut andil kukira ini semua akan sia sia.
    yang penting kiat kita benar benar menjalankan apa yang dilarang dan apa yang diperintahkan menurut Ajaran Islan berdasarkan tuntunan Hadist dan Alqur!an.
    Namun kita tidak bisa diam begitu saja menerima hadist-hadist yang datang bahwasannya itu Dhoif Atau Shohih.Kita dituntut untuk tau mana yang Dhoif dan Shohih.pada dasarnya yang bisa memilah itu hanya Hati kita yang bersih dengan pertolongan Ke Esaan Allah semata, Yang Maha dari segala Dhat tanpa ada yang menyamai. Sebelumnya mohon maaf atas tulisan yang saya buat ini .
    Wassalam …..

Tinggalkan Komentar

Kembali ke Atas