Hadits-Hadits Tentang Bid’ah


Banyak kaum muslimin yang masih meremehkan masalah bid’ah. Hal itu bisa jadi karena minimnya pengetahuan mereka tentang dalil-dalil syar’i. Padahal andaikan mereka mengetahui betapa banyak hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang membicarakan dan mencela bid’ah, mereka akan menyadari betapa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sangat sering membahasnya dan sangat mewanti-wanti umat beliau agar tidak terjerumus pada bid’ah. Jadi, lisan yang mencela bid’ah dan mewanti-wanti umat dari bid’ah adalah lisan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sendiri.

Hadits 1
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)

Hadits 2
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR. Muslim no. 1718)

Hadits 3
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap memulai khutbah biasanya beliau mengucapkan,

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan (HR. Muslim no. 867)

Dalam riwayat An Nasa’i,

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلا مُضِلَّ لَهُ ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلا هَادِيَ لَهُ ، إِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan yang disesatkan oleh Allah tidak ada yang bisa memberi petunjuk padanya. Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di neraka (HR. An Nasa’i no. 1578, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan An Nasa’i)

Hadits 4
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at kepada pemimpin walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Karena barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang pada sunnah-ku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan (HR. At Tirmidzi no. 2676. ia berkata: “hadits ini hasan shahih”)

Hadits 5
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَ اللهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ عَنْ كُلِّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعْ بِدْعَتَهُ

“Sungguh Allah menghalangi taubat dari setiap pelaku bid’ah sampai ia meninggalkan bid’ahnya”  (HR. Ath Thabrani dalam Al Ausath no.4334. Dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 54)

Hadits 6
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ ، لَيُرْفَعَنَّ إِلَىَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لأُنَاوِلَهُمُ اخْتُلِجُوا دُونِى فَأَقُولُ أَىْ رَبِّ أَصْحَابِى . يَقُولُ لاَ تَدْرِى مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

“Aku akan mendahului kalian di al haudh (telaga). Lalu ditampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku’. Allah berfirman, ‘Engkau tidak tahu (bid’ah) yang mereka ada-adakan sepeninggalmu’ “ (HR. Bukhari no. 6576, 7049).

Dalam riwayat lain dikatakan,

إِنَّهُمْ مِنِّى . فَيُقَالُ إِنَّكَ لاَ تَدْرِى مَا بَدَّلُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِى

“(Wahai Rabb), sungguh mereka bagian dari pengikutku. Lalu Allah berfirman, ‘Sungguh engkau tidak tahu bahwa sepeninggalmu mereka telah mengganti ajaranmu”. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Celaka, celaka bagi orang yang telah mengganti ajaranku sesudahku”(HR. Bukhari no. 7050).

Al’Aini ketika menjelaskan hadits ini beliau berkata: “Hadits-hadits yang menjelaskan orang-orang yang demikian yaitu yang dikenal oleh Nabi sebagai umatnya namun ada penghalang antara mereka dan Nabi, dikarenakan yang mereka ada-adakan setelah Nabi wafat. Ini menunjukkan setiap orang mengada-adakan suatu perkara dalam agama yang tidak diridhai Allah itu tidak termasuk jama’ah kaum muslimin. Seluruh ahlul bid’ah itu adalah orang-orang yang gemar mengganti (ajaran agama) dan mengada-ada, juga orang-orang zhalim dan ahli maksiat, mereka bertentangan dengan al haq. Orang-orang yang melakukan itu semua yaitu mengganti (ajaran agama) dan mengada-ada apa yang tidak ada ajarannya dalam Islam termasuk dalam bahasan hadits ini” (Umdatul Qari, 6/10)

Hadits 7
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

انَّهُ سَيَلِي أَمْرَكُمْ مِنْ بَعْدِي رِجَالٌ يُطْفِئُونَ السُّنَّةَ ، وَيُحْدِثُونَ بِدْعَةً ، وَيُؤَخِّرُونَ الصَّلَاةَ عَنْ مَوَاقِيتِهَا ” ، قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، كَيْفَ بِي إِذَا أَدْرَكْتُهُمْ ؟ قَالَ : ” لَيْسَ يَا ابْنَ أُمِّ عَبْدٍ طَاعَةٌ لِمَنْ عَصَى اللَّهَ ” ، قَالَهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

Sungguh diantara perkara yang akan datang pada kalian sepeninggalku nanti, yaitu akan ada orang (pemimpin) yang mematikan sunnah dan membuat bid’ah. Mereka juga mengakhirkan shalat dari waktu sebenarnya’. Ibnu Mas’ud lalu bertanya: ‘apa yang mesti kami perbuat jika kami menemui mereka?’. Nabi bersabda: ‘Wahai anak Adam, tidak ada ketaatan pada orang yang bermaksiat pada Allah’”. Beliau mengatakannya 3 kali. (HR. Ahmad no.3659, Ibnu Majah no.2860. Dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ahadits Shahihah, 2864)

Hadits 8
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّهُ مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِي قَدْ أُمِيتَتْ بَعْدِي فَإِنَّ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلَ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا ، وَمَنِ ابْتَدَعَ بِدْعَةَ ضَلَالَةٍ لَا يَرْضَاهَا اللَّهَ وَرَسُولَهُ كَانَ عَلَيْهِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أَوْزَارِ النَّاسِ شَيْئًا

“Barangsiapa yang sepeninggalku menghidupkan sebuah sunnah yang aku ajarkan, maka ia akan mendapatkan pahala semisal dengan pahala orang-orang yang melakukannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Barangsiapa yang membuat sebuah bid’ah dhalalah yang tidak diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan mendapatkan dosa semisal dengan dosa orang-orang yang melakukannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun” (HR. Tirmidzi no.2677, ia berkata: “Hadits ini hasan”)

Hadits 9
Hadits dari Hudzaifah Ibnul Yaman, ia berkata:

يا رسولَ اللهِ ! إنا كنا بشرٌ . فجاء اللهُ بخيرٍ . فنحن فيه . فهل من وراءِ هذا الخيرِ شرٌّ ؟ قال ( نعم ) قلتُ : هل من وراءِ ذلك الشرِّ خيرٌ ؟ قال ( نعم ) قلتُ : فهل من وراءِ ذلك الخيرِ شرٌّ ؟ قال ( نعم ) قلتُ : كيف ؟ قال ( يكون بعدي أئمةٌ لا يهتدون بهدايَ ، ولا يستنُّون بسُنَّتي . وسيقوم فيهم رجالٌ قلوبُهم قلوبُ الشياطينِ في جُثمانِ إنسٍ ) قال قلتُ : كيف أصنعُ ؟ يا رسولَ اللهِ ! إن أدركت ُذلك ؟ قال ( تسمعُ وتطيع للأميرِ . وإن ضَرَب ظهرَك . وأخذ مالَك . فاسمعْ وأطعْ )

Wahai Rasulullah, dulu kami orang biasa. Lalu Allah mendatangkan kami kebaikan (berupa Islam), dan kami sekarang berada dalam keislaman. Apakah setelah semua ini akan datang kejelekan? Nabi bersabda: ‘Ya’. Apakah setelah itu akan datang kebaikan? Nabi bersabda: ‘Ya’. Apakah setelah itu akan datang kejelekan? Nabi bersabda: ‘Ya’. Aku bertanya: ‘Apa itu?’. Nabi bersabda: ‘akan datang para pemimpin yang tidak berpegang pada petunjukku dan tidak berpegang pada sunnahku. Akan hidup diantara mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan namun berjasad manusia’. Aku bertanya: ‘Apa yang mesti kami perbuat wahai Rasulullah jika mendapati mereka?’. Nabi bersabda: ‘Tetaplah mendengar dan taat kepada penguasa, walau mereka memukul punggungmu atau mengambil hartamu, tetaplah mendengar dan taat’” (HR. Muslim no.1847)

Tidak berpegang pada sunnah Nabi dalam beragama artinya ia berpegang pada sunnah-sunnah yang berasal dari selain Allah dan Rasul-Nya, yang merupakan kebid’ahan.

Hadits 10
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَوَّلُ مَنْ يُغَيِّرُ سُنَّتِي رَجُلٌ مِنْ بَنِي أُمَيَّةَ

Orang yang akan pertama kali mengubah-ubah sunnahku berasal dari Bani Umayyah” (HR. Ibnu Abi Ashim dalam Al Awa’il, no.61, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 1749)

Dalam hadits ini Nabi mengabarkan bahwa akan ada orang yang mengubah-ubah sunnah beliau. Sunnah Nabi yang diubah-ubah ini adalah kebid’ahan.

Hadits 11
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

جَاءَ ثَلَاثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوتِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُونَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَلَمَّا أُخْبِرُوا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوهَا ، فَقَالُوا : وَأَيْنَ نَحْنُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ ؟ قَالَ أَحَدُهُمْ : أَمَّا أَنَا ، فَإِنِّي أُصَلِّي اللَّيْلَ أَبَدًا ، وَقَالَ آخَرُ : أَنَا أَصُومُ الدَّهْرَ وَلَا أُفْطِرُ ، وَقَالَ آخَرُ : أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلَا أَتَزَوَّجُ أَبَدًا ، فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهِمْ ، فَقَالَ : ” أَنْتُمُ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا ، أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

Ada tiga orang mendatangi rumah istri-istri Nabi shallallahu’alaihi wasallam dan bertanya tentang ibadah Nabi shallallahu’alaihi wasallam. ٍSetelah diberitakan kepada mereka, sepertinya mereka merasa hal itu masih sedikit bagi mereka. Mereka berkata, “Ibadah kita tak ada apa-apanya dibanding Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, bukankah beliau sudah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan juga yang akan datang?” Salah seorang dari mereka berkata, “Sungguh, aku akan shalat malam selama-lamanya” (tanpa tidur). Kemudian yang lain berkata, “Kalau aku, sungguh aku akan berpuasa Dahr (setahun penuh) dan aku tidak akan berbuka”. Dan yang lain lagi berkata, “Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selama-lamanya”. Kemudian datanglah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam kepada mereka seraya bertanya: “Kalian berkata begini dan begitu. Ada pun aku, demi Allah, adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian, dan juga paling bertakwa. Aku berpuasa dan juga berbuka, aku shalat dan juga tidur serta menikahi wanita. Barangsiapa yang benci sunnahku, maka bukanlah dari golonganku” (HR. Bukhari no.5063)

Dalam hadits di atas, ketiga orang tersebut berniat melakukan kebid’ahan, karena ketiganya tidak pernah diajarkan oleh Nabi. Yaitu puasa setahun penuh, shalat semalam suntuk setiap hari, kedua hal ini adalah bentuk ibadah yang bid’ah. Dan berkeyakinan bahwa dengan tidak menikah selamanya itu bisa mendatangkan pahala dan keutamaan adalah keyakinan yang bid’ah. Oleh karena itu Nabi bersabda “Barangsiapa yang benci sunnahku, maka bukanlah dari golonganku“.

Dan masih banyak lagi hadits-hadits yang membicarakan dan mencela bid’ah, namun apa yang kami nukilkan di atas sudah cukup mewakili betapa bahaya dan betapa pentingnya kita untuk waspada dari bid’ah.

Wallahu’alam.

Penulis: Yulian Purnama
Artikel Muslim.Or.Id

  • Ahmad Fauzi Sutedja

    Subhanallah, sungguh jelas dan lengkap penjabaran masalah Bid’ah lengkap dengan hadits-hadits nya. Tapi akan lebih bermanfaat lagi bila dijelaskan pula contoh-contoh perbuatan, sikap atau perkataan yang termasuk dalam masing-masing bid’ah tersebut.Syukron.

  • http://sainsglobal.com Yusron Adi Putrano

    sungguh bid’ah itu sesat dan tidak baik, untuk itu marilah kita meningkatkan iman, simak hadits tentang iman berikut http://shahih-hadits.blogspot.com dengan label iman.

  • http://Matahari Neocencen

    Ya kullu bid’atin dholalah

  • Yanuar

    “Kullu Bid’atin Dolalah, Wakulla Dholalatin finnar”
    Kullu bima’nah Ba’dhoh. (Bayanuhu fi kitabi Aidhohul mubham a’lal ilmil mantiq)
    Jadi seharusnya terjemah hadits tersebut : “Sebagian dari bid’ah itu sesat dan sebagian dari kesesatan itu tempatnya di neraka”
    jadi ada bid’ah yang tidak sesat……….
    hampir2 banyak orang awam yang terpedaya dengan hadts diatas…

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #Yanuar
      Jika demikian
      “Kullu Bid’atin Dolalah, Wakulla Dholalatin finnar”
      artinya
      sebagian bid’ah itu sesat dan sebagian kesesatan itu di neraka (dan sebagian kesesatan ada di surga)

  • Darwis

    Benar tuh Mas Yulian… Kalo pengertian “kullu” berarti sebagian, wah REPOT mas
    Jadi sy nggaak ikut pengertian yg itu (sebagian). Sederhana ajalah, jangan di pelintir.Karena dalam sabda yang lain Rosul juga menyebut : “Kullu”kum ra-in.Apakah bisa kita artikan : sebagian kalian adalah pemimpin ?????Tentu tidaklah. Jadi jangan repot-repot “kullu” artinya semua/seluruhnya.Ok???Maka seluruh yg bid’ah adalah SE$SAT,SAT,SAT,SAT.
    Wallhu A’lam.

  • firman

    # yanuar
    coba liat ali imran:185 “kullu nafsin zaikatul maut …”, apa bisa diartikan : sebagian yang bernyawa akan merasakan maut/mati. Jadi ane sependapat sama mas Darwis and Yulian.

    Wallhu A’lam

  • hery

    Assalamu alaikum, mau nanya..nih..
    Orang Indonesia ini kadang ada yang aneh juga yah, banyak mengerjakan bidah hasanah ya.. bisa dong di panggil ahli bidah. tapi kok mereka malah marah yah ? harusnya kan malah bangga, karena meyakini bid’ah yang mereka kerjakan itu adalah kebaikan. berarti ya ahli kebaikan gitu, tapi maunya dipanggil ahli sunnah, padahal kan secara tidak sadar sunnah yang harusnya dikerjakan itu mereka gantikan dengan bidah hasanah. berarti sunnah terlupakan dan tidak dikerjakan oleh mereka. jadi bukan ahli sunnah dong, ahli itu kan yang sering mengerjakan/pakar, seperti ahli komputer, ahli matematika dll, haduhh pusing yah..

    Setau saya hadist tentang bidah adalah sesat itu langsung sabda dari Rasulullah SAW, bukan sahabat atau ulama,

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap memulai khutbah biasanya beliau mengucapkan,

    أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

    “Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. Muslim no. 867)

    jadi menurut saya yang harus diikuti adalah Rasulullah SAW karena beliau maksum (terpelihara dari kesalahan). ya saya sih tidak mau menyelisihi Rasulullah SAW, karena takut pertanggungjawabannya nanti di akhirat. Maaf ya mas kalo ada salah2 kata, maklum lagi belajar, semoga kita semua mendapat hidayah dari Alloh subhanahu wata’ala. amin.

  • hery

    Ustadz, koment saya tentang bid’ah begini :
    menurutku Islam itu alurnya sangat jelas. (hehe soalnya saya programmer jadi kalo bikin sistem harus tau alur sistem yang baik dan jelas)
    Alloh menciptakan manusia dan menjadikannya khalifah di muka bumi, diberi petunjuk untuk menjalankannya dan dikumpulkan menjadi Alquran, dan mengutus Nabi dan Rasul untuk memberi contoh dalam menjalankan petunjuk2 tsb (sunnah) dan dikumpulkan dalam hadist2. Semua itu bernama Islam. Masih diperkuat lagi dengan referensi 3 generasi terbaik (perlu rujukan/ket) untuk diikuti (ahlussunah wal jamaah).
    Alquran tidak bisa dipalsukan tetapi hadist bisa.
    Islam adalah agama yang lurus. tetapi Rasulullah adalah manusia yang masa hidupnya sama seperti manusia biasa. Sedangkan Islam akan ada hingga akhir jaman. Artinya sistem dalam perjalanannya bisa terdistorsi (ditambahkan, dikurangi, di modif) (bisa karena musuh2 islam, kepentingan pribadi, golongan dll).
    Maka, untuk menjaganya, islam harus diberi batas2.
    -Alloh memberi batasan bahwa Islam telah sempurna. (perlu rujukan/ket)
    -Rasulullah SAW memberi batas setiap bid’ah adalah sesat. (perlu rujukan/ket)
    -(mungkin banyak batasan lain…)
    Dari dua batasan diatas saja kita sudah bisa melihat bahwa :
    -Alloh tidak setengah2 dalam menciptakan sesuatu, selalu sempurna.
    -Rasulullah itu adalah pemimpin yang sangat hebat, bisa melihat kedepan (sampai hari kiamat) dalam menjaga islam. sabda beliau itu sangat tegas dan jelas, karena beliau tau implikasinya jika terjadi. jadi kalau masih menyelisihi beliau, gimana dong?, apa sabdanya yang tidak jelas ? tidak kan. karena Rasulullah SAW maksum.
    -Jika semua itu dijalankan sesuai petunjuk, semua akan aman.
    -Menjadi debatable karena ada distorsi (tambahan/pengurangan/modif) dari yang ditetapkan Alloh dan Rasul-Nya. (coba kalau mengikuti pentunjuk, ngk perlu ada perang pemahaman).
    -sunnah bisa menjadi pemersatu ummat ini. tapi bid’ah bisa juga menjadi sebab perpecahan dan percerai-beraian umat Islam. karena yang namanya Islam adalah yang mengikuti Rasulullah SAW.
    -sunnah itu ada contohnya dari kita mulai bangun tidur, sampai mau tidur lagi, cara tidurpun ada sunnahnya, ke kamar kecil pun ada sunnahnya, kayaknya segala aspek kehidupan udah ada contoh/sunnahnya deh, harusnya sudah tidak ada ruang buat bid’ah, tapi kenapa ya ada bid’ah ? (perlu rujukan/ket)
    kalaupun ada bid’ah ya lebih baik mengerjakan sunnah. ada kepentingannya kali ya ..?
    -bid’ah jika dikerjakan terus menerus implikasinya kan bisa meredupkan sunnah, bahkan bisa melupakan, atau mematikan sunnah. (makanya Rasulullah tegas bersabda setiap bidah adalah sesat).
    Matinya sunnah artinya matinya contoh yang baik untuk mengerjakan petunjuk dari Alloh. (liat lagi koment pertama diatas). mau ikut andil mematikan sunnah ?

    -(mohon tambahin sendiri..hehe)

    mungkin masih banyak lagi yang ingin ditulis, maafkan jika ada salah2 kata, maklum masih belajar.

    Mudah2an kita selalu diberikan hidayah dan selalu terjaga dalam menjalankan islam yang lurus.

    Wallohualam bisawab.

  • http://muslim.or.id/hadits/hadits-hadits-tentang-bidah.html hasan
  • Ramlan

    Al-Imam Ahmad bin Hambal pernah mengatakan kepada ahli bid’ah:

    “Katakan kepada ahli bid’ah: ‘Keputusan antara kami dan kamu (ahli bid’ah) adalah yaumul janaiz (hari kematian)!

  • http://dhukha99.wordpress.com Ms Dhukha

    Izin copy paste untuk di share…

  • Pingback: Fatwa Ulama: Dosa Bid’ah Itu Bertingkat-Tingkat | Blog Pribadi Alamsyah Rizki Isroi

  • Pingback: Fatwa Ulama: Dosa Bid’ah Itu Bertingkat-Tingkat | Asy Syamil Blog

  • faisal fanani

    IZIN COPAS USTAD, DAN MOHON INFO APAKAH BOLEH SAYA PERBANYAK DENGAN FOTO COPY UNTUK DI BAGI-BAGI SECARA GRATIS KARENA MASIH BANYAKNYA UMAT ISLAM YANG MELAKUKAN BID’AH, MOHON JAWABAN USTAD

  • Pingback: Kesempurnaan Islam dan penjagaan Allah dari Syariat-syariat yang diada-adakan manusia mengatasnamakan agama | Volta Info Muslim

  • mulyani

    bagai mana kalao kita baca quran ,walaopun dosamu sepenuh gunung ALLAH ampuni kecuali sirik ,

    kalao bitah dolalah masuk neraka apa gah berlawanan dengan firman ALLAH YANG MAHA PENCIPTA

    • http://kangaswad.wordpress.com/ Yulian Purnama

      Nabi juga dalam haditsnya mengancam orang yang berdusta masuk neraka. Bukan berarti artinya kalau berdusta nanti pasti masuk neraka. Kalau ia taubat maka bisa jadi Allah ampuni.

      Demikian juga dosa bid’ah, kalau bertaubat dari bid’ah tentu Allah ampuni.

  • Ranoval Ab

    afwan, apa batasan2 bid’ah.
    karena yang disampaikan tadi sangat umum dan kurang didefinisikan.

@muslimindo