Hadits-Hadits Seputar Iman

Khutbah Jum’at Syaikh Abdur Razzaq al-Badr -hafizhahullah-

Sesungguhnya segala puji adalah bagi Allah. Kita memuji, meminta pertolongan, memohon ampunan, dan bertaubat kepada-Nya. Kita pun berlindung kepada Allah dari keburukan hawa nafsu dan kejelekan amal-amal kita. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa yang disesatkan oleh-Nya maka tidak ada lagi yang dapat memberi petunjuk kepadanya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Aku bersaksi pula bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, semoga salawat (pujian) selalu terlimpah kepadanya, segenap pengikut dan para sahabatnya semua, demikian pula semoga keselamatan sebanyak-banyaknya senantiasa tercurah kepada mereka.

Amma ba’du, -wahai orang-orang yang beriman, wahai hamba-hamba Allah- bertakwalah kalian kepada Allah ta’ala, karena barang siapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan menjaga dirinya dan menunjukinya kepada kebaikan urusan agama dan dunianya. Kemudian, ketahuilah -semoga Allah merahmati kalian- sesungguhnya nikmat-nikmat dari Allah jalla wa ‘ala sangatlah banyak, tak terhingga bilangannya dan tak terbatasi ukurannya. Allah berfirman (yang artinya), “Apabila kalian berusaha untuk menghitung nikmat Allah niscaya kalian tidak akan mampu menghingganya.” (Qs. Ibrahim: 24). Sesungguhnya nikmat Allah jalla wa ‘ala yang paling mulia, kenikmatan-Nya yang paling agung, dan pemberian-Nya yang paling besar adalah kenikmatan iman. Itulah kenikmatan terbesar dan anugerah teragung dari Allah tabaraka wa ta’ala kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Allah jalla wa ‘ala berfirman (yang artinya), “Akan tetapi Allah itulah yang membuat iman terasa menyenangkan bagi kalian, membuatnya tampak indah di dalam hati kalian, dan yang membuat kalian benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan. Mereka itulah orang-orang yang lurus. Sebuah keutamaan dan kenikmatan yang datang dari Allah, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Qs. al-Hujurat: 7-8)

Wahai hamba-hamba Allah, iman merupakan sebab untuk meraih kebahagiaan dunia dan di akhirat. Dengan iman itulah, seorang akan bisa merasakan ketenangan dan ketenteraman, keteguhan hati dan ketenangan jiwa. Ketenteraman jiwa dan kebahagiaan manusia akan diperoleh dengannya. Demikian pula, kelezatan dunia dan akhirat akan tergapai dengannya. Allah berfirman (yang artinya), “Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik dari kalangan laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia adalah seorang mukmin, maka Kami akan memberikan kepadanya kehidupan yang baik, dan Kami akan membalas mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang mereka lakukan.” (Qs. an-Nahl: 97)

Dengan iman itulah -wahai hamba-hamba Allah- akan didapatkan surga beserta segala kenikmatan agung, anugerah yang besar, dan pemberian yang melimpah ruah yang ada di dalam surga. Dengan iman itulah -wahai hamba-hamba Allah- akan tercapai keselamatan dari neraka dan segala siksaan yang sangat keras dan hukuman yang sangat menyakitkan yang terdapat di dalamnya. Dengan iman itulah -wahai hamba-hamba Allah- orang-orang yang beriman akan bisa merasakan nikmatnya memandang wajah Rabb Yang Maha Mulia subhanahu wa ta’ala, sementara kenikmatan itulah kenikmatan teragung yang akan didapatkan oleh orang-orang yang beriman. Allah berfirman (yang artinya), “Pada hari itu, wajah-wajah berseri, mereka memandang kepada Rabbnya.” (Qs. al-Qiyamah: 22-23). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dengan mengarahkan pembicaraannya kepada kaum yang beriman, “Sesungguhnya kalian pasti akan melihat Rabb kalian pada hari kiamat nanti sebagaimana kalian melihat bulan pada saat malam purnama, kalian tidak perlu berdesak-desakan untuk bisa melihatnya.”

Kenikmatan iman, faedah, dan pengaruhnya kepada orang yang beriman tidak terhitung jumlah dan ukurannya. Bahkan seluruh kenikmatan dan kebaikan yang diperoleh di dunia maupun di akhirat, maka itu semua adalah buah dan hasil dari keimanan. Sementara seluruh kejelekan dan bencana yang tersingkirkan dari manusia di dunia maupun di akhirat, maka itu semua merupakan buah dan hasil yang dipetik dari pohon keimanan. Oleh sebab itu -wahai hamba-hamba Allah- wajib bagi setiap mukmin yang telah mendapatkan kenikmatan iman dan diberi petunjuk oleh-Nya untuk memeluk agama ini, sudah semestinya dia semakin berpegang teguh, menjaga serta memeliharanya. Hendaknya dia meminta kepada Rabb Yang Maha Pemurah jalla wa ‘ala agar meneguhkan dirinya di atasnya hingga kematian tiba. Allah berfirman (yang artinya), “Allah akan meneguhkan diri orang-orang yang beriman dengan ucapan yang kokoh di dalam kehidupan dunia dan di akhirat. Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan Allah melakukan apa pun yang dikehendaki-Nya.” (Qs. Ibrahim: 27)

Kemudian -wahai hamba-hamba Allah- sesungguhnya keimanan itulah pemberian yang paling mulia dan paling agung sebagaimana diterangkan di dalam Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka barang siapa yang ingin mempelajari hakikat iman hendaknya dia mendalami Kitabullah al-’Aziz dan hadits-hadits Rasul yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan merujuk kepada keterangan-keterangan yang terkandung di dalam al-Kitab dan as-Sunnah serta mengikuti penjabaran yang ada di bawah naungan keduanya itulah dia akan bisa mempelajari keimanan. Allah jalla wa ‘ala berfirman kepada Rasul-Nya yang mulia ‘alaihis sholatu was salam (yang artinya), “Demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh dari perintah Kami, sebelumnya kamu tidak mengetahui apa itu Kitab, dan apa pula iman, akan tetapi Kami menjadikannya sebagai cahaya yang Kami gunakan untuk menunjuki siapa saja yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Sesungguhnya kamu benar-benar menunjukkan kepada jalan yang lurus.” (Qs. as-Syura: 52). Dengan al-Kitab dan as-Sunnah serta penjabaran yang berada di bawah naungan keduanya itulah seorang mukmin akan bisa mempelajari keimanan dengan benar. Maka sungguh besar kebutuhan kita -wahai hamba-hamba Allah- untuk mempelajari iman dan menimba ajaran-ajarannya sebagaimana yang terkandung dalam hadits-hadits Rasul yang mulia ‘alaihis sholatu was salam dan senantiasa mengikuti bimbingan firman-firman Allah tabaraka wa ta’ala.

Saya ingin mengajak kalian -wahai saudara-saudaraku- untuk merenung barang sejenak mengenai perkara yang sangat penting yang semestinya kita perhatikan melalui beberapa hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menerangkan perihal iman. Di antara hadits-hadits tentang iman itu -wahai hamba-hamba Allah- adalah hadits yang tercantum di dalam kedua kitab Shahih (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, pent) dari Umar bin al-Khatthab radhiyallahu’anhu di dalam kisah kedatangan Jibril ‘alaihis salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di dalam hadits itu disebutkan bahwa Jibril berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Beritahukanlah kepadaku tentang iman.” Kemudian beliau menjawab, “Yaitu kamu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan kamu beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” Hadits yang agung ini menunjukkan bahwa iman itu memiliki pokok-pokok utama dan asas yang kokoh yaitu enam pokok keimanan; iman kepada Allah tabaraka wa ta’ala, kepada malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada para rasul-Nya, kepada hari akhir, dan kepada takdir yang baik dan yang buruk. Penjelasan mengenai pokok-pokok ini bisa ditemukan secara panjang lebar di dalam buku-buku aqidah.

Di antara hadits-hadits yang berbicara tentang iman -wahai hamba-hamba Allah- adalah hadits utusan Bani Abdu Qais yang tercantum di dalam dua kitab Sahih dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma yang menceritakan bahwa utusan dari Bani Abdu Qais datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka mengatakan, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya di antara daerah kami dengan daerah anda terdapat kabilah dari kalangan orang kafir Mudhar, sehingga itu membuat kami tidak bisa menemui anda kecuali hanya pada bulan haram, maka perintahkanlah kepada kami dengan pesan yang ringkas dan padat untuk kami kabarkan kepada orang-orang yang ada di belakang kami sehingga nantinya dengan itu kami bisa masuk ke dalam surga.” Maka Nabi ‘alaihis sholatu was salam bersabda, “Aku perintahkan kepada kalian untuk beriman kepada Allah.” Kemudian beliau bertanya kepada mereka, “Tahukah kalian, apa yang dimaksud dengan iman kepada Allah?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman kepada Allah itu adalah kamu bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah -sembari beliau menghitungnya satu dengan jarinya- dan mendirikan sholat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan hendaknya kalian menyerahkan seperlima dari hasil rampasan perang.”

Di dalam hadits ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menafsirkan iman dengan amal-amal lahir. Di dalam hadits Jibril beliau menafsirkan iman dengan keyakinan-keyakinan hati. Sedangkan, di dalam hadits utusan Abdu Qais ini beliau menafsirkan iman dengan amal-amal lahir. Ini menunjukkan bahwa kedua hadits tadi menggambarkan iman itu tersusun dari keimanan dan keyakinan yang benar yang tertanam di dalam hati, dan iman juga tersusun dari amal-amal anggota badan yang berupa amal-amal yang suci serta ketaatan yang akan bisa mendekatkan diri kepada Allah. Perkara terpenting di antara unsur keimanan yang tampak itu adalah mengucapkan dua buah kalimat syahadat, mendirikan sholat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah al-Haram. Maka, ketahuilah -wahai hamba-hamba Allah- bahwa sholat adalah bagian dari iman, puasa bagian dari iman, menunaikan zakat bagian iman, haji juga bagian dari iman, bahkan seluruh perkara tadi yang meliputi rukun Islam yang lima semuanya adalah bagian iman sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam dibangun di atas lima hal; syahadat la ilaha illallah wa anna Muhammadar Rasulullah, mendirikan sholat, menunaikan zakat, bepuasa Ramadhan, haji ke Baitullah al-Haram.”

Di antara keimanan yang wajib ada -wahai hamba-hamba Allah- adalah mencintai Rasul yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengedepankan kecintaan kepadanya di atas kecintaan kepada diri sendiri atau kecintaan kepada benda-benda berharga, demikian juga di atas kecintaan kepada orang tua, anak-anak, bahkan seluruh manusia. Hal itu sebagaimana tertera di dalam dua kitab sahih dari hadits Anas radhiyallahu’anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah beriman salah seorang dari kalian sampai aku lebih dicintainya daripada orang tua, anak-anaknya, dan seluruh umat manusia.” Di dalam Sahih Bukhari diceritakan bahwa Umar bin al-Khatthab radhiyallahu’anhu berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah sungguh anda lebih saya cintai daripada segala sesuatu kecuali diri saya sendiri.” Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak beriman salah seorang dari kalian sampai aku lebih dicintainya daripada dirinya sendiri.” Umar radhiyallahu’anhu pun mengatakan, “Demi Allah, sungguh anda sekarang lebih saya cintai daripada diri saya sendiri.” Kemudian beliau mengatakan, “Nah, sekarang baru benar wahai Umar.” Cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah sekedar ucapan yang dilontarkan dengan lisan, akan tetapi ia harus diwujudkan dengan ketaatan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam apa saja yang beliau perintahkan, senantiasa membenarkan apa yang beliau kabarkan, serta menahan diri dari segala hal yang beliau larang dan cegah, sebagaimana yang dijelaskan oleh Rabb Yang Maha Mulia di dalam firman-Nya tabaraka wa ta’ala (yang artinya), “Katakanlah: Jika kalian benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Ali Imran: 31)

Termasuk dalam keimanan yang wajib -wahai hamba-hamba Allah- yaitu anda mencintai kebaikan bagi saudaramu sesama mukmin sebagaimana apa yang anda sukai untuk dirimu. Maka perasaan dengki, hasad, dan dendam, itu semua merupakan perkara yang mengurangi keimanan. Sebaliknya, sudah seharusnya anda memakmurkan hati anda dengan perasaan mencintai kebaikan bagi saudara-saudaramu yang beriman. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sebagaimana tercantum di dalam dua kitab Sahih dan kitab hadits lainnya dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah beriman salah seorang dari kalian sampai dia mencintai bagi saudaranya apa yang dia cintai bagi dirinya.” Di dalam riwayat lain dengan tambahan, “Yaitu kebaikan.”

Termasuk dalam keimanan -wahai hamba-hamba Allah- adalah menjaga amanat. Terdapat riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “Tidak sempurna iman pada diri orang yang tidak amanah.” Amanah -wahai hamba-hamba Allah- meliputi penjagaan terhadap ajaran-ajaran agama dengan senantiasa taat kepada Rabbul ‘alamin dan menjalankan perintah-perintah-Nya tabaraka wa ta’ala serta menjauhkan diri dari larangan-larangan-Nya. Amanah itu juga mencakup hak sesama hamba Allah, yaitu dengan menjaga hak-hak sesama, menyampaikan barang-barang titipan, menjauhi pengkhianatan, meninggalkan penipuan, dan meninggalkan berbagai jenis mu’amalah tidak benar yang lain.

Termasuk dalam keimanan pula -wahai hamba-hamba Allah- adalah meninggalkan hal-hal yang diharamkan dan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan keji dan kemungkaran. Oleh sebab itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah berzina seorang pezina ketika dia berzina dalam keadaan imannya sempurna. Tidaklah mencuri seorang pencuri ketika dia mencuri dalam keadaan imannya sempurna. Tidaklah seorang meminum khamr dalam keadaan imannya sempurna ketika dia meminumnya. Tidaklah seorang merampas barang berharga sehingga membuat orang lain menyorotkan pandangan mata mereka kepadanya ketika dia melakukannya dalam keadaan imannya sempurna.” Hadits ini menunjukkan bahwa melarutkan diri dalam kemaksiatan-kemaksiatan ini dan melakukan dosa-dosa besar ini menyebabkan berkurangnya iman wajib. Sehingga tindakan meninggalkan zina, tidak meminum khamr, tidak merampas, tidak mencuri, itu semua merupakan bagian dari keimanan yang diwajibkan oleh Allah tabaraka wa ta’ala kepada hamba-hamba-Nya. Barangsiapa yang melakukan salah satu di antara perkara-perkara itu maka iman wajibnya telah berkurang sesuai dengan kadar dosa yang dia lakukan dan berbanding lurus dengan tingkat kemaksiatan yang dia kerjakan.

Termasuk di dalam keimanan pula -wahai hamba-hamba Allah- adalah bertaubat kepada Allah, inabah kepada Allah, dan kembali kepada Allah. Bahkan hal ini merupakan sesuatu yang dicintai oleh Allah jalla wa ‘ala untuk dilakukan oleh hamba-hamba-Nya. Allah membuka pintu taubat dan inabah untuk mereka. Dia lah Yang berfirman (yang artinya), “Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas kepada dirinya sendiri: Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua jenis dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. az-Zumar: 53)

Perkara wajib yang lainnya bagi kita -wahai hamba-hamba Allah- adalah hendaknya kita menjaga keimanan ini dengan sekuat-kuatnya dan kita pelihara ia dengan sebaik-baiknya. Itulah perhiasan sejati dan keindahan hakiki. Salah satu doa yang sering dipanjatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah, “Ya Allah, hiasilah kami dengan perhiasan keimanan dan jadikanlah kami orang-orang yang memberikan petunjuk dan senantiasa berjalan di atas petunjuk.”

Aku ucapkan sebagaimana apa yang kalian dengarkan, dan aku meminta ampunan kepada Allah untuk diriku sendiri dan juga untuk segenap kaum muslimin dari segala dosa. Mintalah ampunan kepada-Nya, niscaya Dia akan mengampuni kalian. Sesungguhnya Dia lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Segala puji bagi Allah, Yang begitu besar kebaikannya dan begitu luas karunianya, Yang Maha Pemurah lagi Maha Memberikan kenikmatan. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa as-habihi ajma’in wa sallama tasliman katsiran.

Amma ba’du, -wahai hamba-hamba Allah- bertakwalah kepada Allah ta’ala. Selanjutnya, di antara hadits-hadits agung lainnya yang menjelaskan tentang iman adalah hadits tentang cabang-cabang keimanan. Sebuah hadits yang sangat agung dan memiliki kedudukan yang sangat mulia, sebagaimana yang tercantum di dalam dua kitab Sahih dan selain keduanya dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Iman itu tujuh puluh lebih cabang, yang tertinggi adalah ucapan la ilaha illallah dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu merupakan cabang dari keimanan.” Hadits yang agung ini -wahai hamba-hamba Allah- menunjukkan bahwa iman itu ada yang berada di dalam hati, ada juga yang berada di lisan, dan ada pula yang berada di dalam perbuatan anggota badan. Iman yang tertinggi adalah ucapan la ilaha illallah, kalimat itu diucapkan dengan hati dalam bentuk keyakinan, dan diucapkan dengan lisan dalam bentuk lafaz dan perkataan yang disertai dengan ilmu terhadap artinya, pemahaman tentang kandungan hukumnya, serta merealisasikan maksud yang terkandung di dalamnya. Maka syahadat inilah bagian iman yang terpenting dan yang tertinggi kedudukannya.

Termasuk keimanan pula, menyingkirkan gangguan dari jalan. Sebuah amal yang dicintai Allah jalla wa ‘ala dan pelakunya akan mendapatkan pahala dengan balasan sebesar-besarnya, terlebih lagi apabila di dalam hati pelakunya terdapat perasaan mencintai kebaikan bagi saudara-saudaranya sesama orang yang beriman. Terdapat riwayat di dalam Kitab Sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Ada seorang lelaki yang melewati sebuah cabang pohon yang berduri -yang tergeletak di jalan, pent- lalu dia mengatakan, ‘Aku tidak akan membiarkan benda ini tergeletak di jalan kaum muslimin agar mereka tidak tersakiti olehnya.’ Lalu dia pun menyingkirkan benda itu dari jalan, maka Allah berterima kasih atas perbuatannya itu, kemudian Allah memasukkannya ke dalam surga.”

Termasuk keimanan pula, perbuatan-perbuatan yang ada di dalam hati. Salah satu jenis perbuatan (amal) yang paling agung di dalam hati itu adalah rasa malu. Rasa malu merupakan cabang keimanan. Rasa malu yang terbesar adalah rasa malu kepada Rabbul ‘alamin dan Pencipta seluruh makhluk ini, Dzat Yang selalu melihat kamu ketika kamu dalam keadaan berdiri, Dzat Yang sama sekali tidak tersembunyi dari-Nya suatu perkara pun di bumi maupun di langit. Rasa malu kepada Allah jalla wa ‘ala, yaitu dengan menjaga kepala dan apa yang terpikir di dalamnya, menjaga perut dan apa yang masuk ke dalamnya, serta dengan mengingat kematian dan masa tua. Perasaan malu yang akan menjadikan anda selalu menjaga ketaatan kepada Allah dan menjauhkan diri dari apa-apa yang dilarang Allah tabaraka wa ta’ala kepadamu. Nabi ‘alaihis sholatu was salam bersabda, “Sesungguhnya salah satu perkara yang diperoleh manusia dari ajaran kenabian yang pertama-tama adalah adalah; apabila kamu tidak punya rasa malu maka berbuatlah sesukamu.” Apabila rasa malu ini ada pada diri manusia maka kebaikan masih ada. Apabila rasa malu itu telah tidak ada maka kebaikan pun sirna. Kita berlindung kepada Allah darinya. Renungkanlah -wahai hamba-hamba Allah- hadits-hadits tentang iman yang diriwayatkan dari Rasul yang mulia ‘alaihis sholatu was salam, bersungguh-sungguhlah dalam memahaminya, menerapkan dan beramal dengannya.

Sesungguhnya aku memohon kepada Allah jalla wa ‘ala dengan nama-nama-Nya Yang Terindah dan sifat-sifat-Nya Yang Maha tinggi untuk mewujudkan iman itu di dalam diriku dan diri kalian, semoga Allah memperindah diri kami dan diri kalian dengan perhiasan iman. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Semoga Allah memperbaiki bagi kita agama kita, yang hal itu merupakan pokok penjaga urusan kita. Semoga Allah memperbaiki urusan dunia kita, yang dunia itu merupakan tempat penghidupan kita. Semoga Allah memperbaiki akhirat kita, yang ia merupakan tempat kembali kita. Semoga Allah menjadikan sisa hidup kita sebagai tambahan dalam segala kebaikan, dan menjadikan kematian sebagai peristirahatan bagi kita dari semua keburukan. Aku juga meminta kepada-Nya jalla wa ‘ala untuk meneguhkan kita di atas keimanan.

Ya Allah, kepada-Mu lah kami berserah diri, kepada-Mu lah kami beriman, kepada-Mu lah kami bertawakal, kepada-Mu lah kami bertaubat dan taat, dan karena pertolongan-Mu lah kami melawan musuh (agama). Kami berlindung dengan kemuliaan-Mu yang tidak ada sesembahan yang benar selain Engkau, janganlah Engkau sesatkan kami. Engkau Yang Maha Hidup dan tidak akan pernah mati, sedangkan jin dan manusia pasti mati. Sampaikanlah salawat -semoga Allah menjaga kalian- kepada imam seluruh manusia dan seorang da’i yang menyeru kepada iman, Muhammad bin Abdullah. Sebagaimana yang diperintahkan Allah kepada kalian di dalam Kitab-Nya, Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya mengucapkan salawat kepada Nabi, wahai orang-orang yang beriman sampaikanlah salawat kepadanya dan doakanlah baginya keselamatan yang sesungguhnya.” (Qs. al-Ahzab: 56). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Barang siapa yang bersalawat kepadaku sekali maka Allah akan bersalawat kepadanya sepuluh kali.”

Ya Allah, limpahkanlah pujian kepada Muhammad dan kepada pengikut Muhammad sebagaimana pujian yang Engkau limpahkan kepada Ibrahim dan para pengikut Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Berkahilah Muhammad dan para pengikut Muhammad sebagaimana keberkahan yang Engkau berikan kepada Ibrahim dan pengikut Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, ridailah khulafa’ur-rasyidin para imam yang berjalan di atas petunjuk, yaitu Abu Bakar as-Shiddiq, Umar al-Faruq, Utsman Dzu an-Nurain, dan ayah dari kedua keponakan Nabi yaitu Ali. Kemudian ridailah ya Allah, para sahabat seluruhnya, para tabi’in dan juga orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat tiba. Ridailah pula kami bersama dengan mereka, berkat anugerah, kemurahan, dan kebaikan dari-Mu, wahai Dzat Yang Paling mulia di antara sosok-sosok yang termulia.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin. Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin. Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin. Hinakanlah syirik dan orang-orang musyrik, hancurkanlah musuh-musuh agama ini dan jagalah keutuhan wilayah agama ini, wahai Rabb alam semesta. Ya Allah, curahkanlah keamanan bagi negeri kami. Ya Allah, perbaikilah para pemimpin kami dan pemegang urusan-urusan kami dan jadikanlah pemerintah yang menguasai kami sebagai orang-orang yang senantiasa takut kepada-Mu dan bertakwa kepada-Mu serta mencari keridaan-Mu, wahai Rabb alam semesta. Ya Allah, berikanlah taufik kepada pemimpin urusan kami kepada apa yang Engkau cintai dan Engkau ridai, bantulah dia dalam kebaikan dan ketakwaan dan luruskanlah dia di dalam ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan, wahai Dzat pemilik keagungan dan kemuliaan. Ya Allah, berikanlah taufik kepada segenap pemerintah kaum muslimin untuk melaksanakan Kitab-Mu dan mengikuti Sunah Nabi-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ya Allah, berikanlah kepada jiwa-jiwa kami ketakwaan dan sucikanlah ia, sesungguhnya Engkau adalah penguasa dan pemelihara atasnya. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu petunjuk dan ketakwaan, terjaganya kesucian, dan kecukupan.

Ya Allah, ampunilah seluruh dosa kami, yang kecil maupun yang besar, yang dulu maupun yang terakhir, yang tampak maupun yang tersembunyi. Ya Allah, ampunilah kami, ampunilah kedua orang tua kami, kaum muslimin dan muslimat, orang-orang mukmin lelaki dan perempuan, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal. Ya Allah, ampunilah dosa para pelaku dosa dari kalangan kaum muslimin dan terimalah taubat dari orang-orang yang bertaubat. Tetapkanlah kesehatan, kekuatan, dan keselamatan bagi keseluruhan kaum muslimin. Ya Allah, lepaskanlah kesedihan dari jiwa orang-orang yang dilanda duka di antara kaum muslimin. Bebaskanlah kesusahan orang-orang yang terlilit kesulitan, tunaikanlah hutang orang-orang yang terjerat hutang, sembuhkanlah orang-orang yang sakit di antara kami dan orang-orang sakit di kalangan kaum muslimin yang lain. Curahkanlah kasih sayang-Mu kepada orang-orang yang telah meninggal di antara kami dan kaum muslimin yang telah meninggal lainnya.

Ya Allah, damaikanlah persengketaan yang ada di antara kami, satukanlah hati-hati kami, tunjukilah kami jalan-jalan keselamatan, dan keluarkanlah kami dari berbagai kegelapan menuju cahaya. Berkahilah pendengaran dan penglihatan kami, makanan, harta, istri, dan anak keturunan kami. Jadikanlah kami senantiasa diberkahi di mana saja kami berada. Wahai Rabb kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan jagalah kami dari siksa neraka. Wahai hamba-hamba Allah, ingatlah kepada Allah niscaya Allah mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Nya atas nikmat-nikmat Nya niscaya Dia akan menambahkan nikmat kepada kalian. Dan sesungguhnya mengingat Allah itu adalah perkara yang terbesar. Allah Maha Mengetahui apa pun yang kalian kerjakan.

***

Penerjemah: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id

facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailfacebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail