Awas Hadits-Hadits Palsu!
Al-Qur’an dan as-Sunnah adalah dua sumber hukum Islam yang menjadi pegangan hidup umat Islam. Allah sendiri yang akan menjaga al-Qur’an dari pengubahan, penambahan atau pengurangan, walaupun hanya satu huruf atau satu harakat saja. Begitu pula dengan As Sunnah (al-Hadits) sebagai penjaga makna atau penjelas al-Qur’an juga akan terjaga. Maka tidak ada seorangpun di ujung dunia yang membuat-buat hadits dusta kecuali akan terkuak kepalsuannya.
Bagaimana Hadits Bisa Terjaga?
Hadits terjaga dengan adanya sanad hadits. Dengan sanad itulah para ulama ahli hadits bisa membedakan manakah hadits shahih, hadits dhaif (lemah) dan hadits maudhu’ (palsu). Sanad adalah susunan orang-orang yang meriwayatkan hadits. Para periwayat tersebut diperiksa satu persatu secara ketat tentang riwayat hidupnya, apakah ia seorang jujur ataukah pendusta, hafalannya kuat ataukah lemah dan pemeriksaan ketat lainnya. Jika seluruh rawi dalam sanad hadits lulus pemeriksaan maka hadits tersebut berstatus shahih yang wajib kita jadikan pegangan hidup. Dan dengan demikian tersingkaplah hadits-hadits palsu bikinan para pendusta yang sengaja membuatnya untuk merusak agama Islam. Hanya orang-orang jahil saja yang bisa tertipu oleh mereka.
Bagaimana Kita Menyikapi Hadits?
Sebagaimana kita bersikap ilmiah dalam perkara-perkara dunia maka kita juga harus bersikap ilmiahlah dalam perkara agama. Jangan mengambil sebuah hukum atau syariat yang bersumber dari hadits lemah apalagi hadits palsu. Atau ikut-ikutan menyebarkan hadits-hadits lemah dan palsu tanpa menjelaskan status hadits itu. Bahkan ada yang dengan mudahnya mengatakan: “Hadits shahih!” padahal hadits tersebut palsu. subhanallah!! Perbuatan seperti ini telah diancam dalam sebuah hadits yang mulia, “Barang siapa yang sengaja berdusta atas namaku maka hendaklah ia mengambil tempat tinggalnya di neraka.” (HR. Bukhari juz 1 dan Muslim juz 1). Hadits ini statusnya shahih dan mutawatir (diriwayatkan dari banyak jalan). Betapa banyak hadits lemah dan palsu yang beredar di kalangan umat Islam karena mereka tidak selektif dalam mendengar dan mengambil hadits, akibatnya adalah munculnya masalah dan penyimpangan dalam kehidupan bermasyarakat, beribadah, berakhlak dan berakidah.
Maraknya Hadits Dhoif dan Maudhu’
Di negeri kita ini banyak sekali hadits-hadits lemah dan palsu yang laris di telinga masyarakat. Di samping ketidaktahuan tentang ilmu hadits, banyaknya para da’i yang menggembor-gemborkan hadits-hadits tersebut memberikan andil dalam menyemarakkannya. Salah satu contohnya ialah hadits, “Carilah ilmu sekalipun ke negri Cina.” Hadits ini adalah hadits mungkar dan batil, tidak ada asal usulnya serta tidak ada jalan yang menguatkannya. Demikianlah para imam ahli hadits telah mengomentari hadits ini seperti Imam Bukhari, Al Uqaili, Abu Hatim, Yahya bin ma’in, Ibnu Hibban dan Ibnu Jauzi. Selain dari sisi sanad yang lemah, maka hadits inipun juga memiki cacat dalam maknanya. Sebab negeri maju ketika itu adalah romawi dan persi, bagaimana Rasulullah hendak memerintahkan sahabatnya untuk belajar ke negeri China yang bukan termasuk negeri adidaya? Dan bagaimana pula Rasulullah menyuruh sahabatnya belajar pergi ke negeri kafir yang jelas-jelas akan membahayakan akidahnya? Wallahul musta’an!
Hadits lain yang laris manis adalah hadits, “Perselisihan umatku adalah rahmat.” Hadits tersebut adalah hadits yang tidak ada asal usulnya dan tidak dikenal oleh ahli hadits, artinya mereka tidak pernah mendapati hadits ini baik dalam status shahih, dhaif ataukah maudhu’. Bahkan Imam Ibnu Hazm berkata, “Ini adalah perkataan yang paling rusak. Sebab jika perselisihan adalah rahmat, maka konsekuensinya persatuan adalah azab. Ini tidak mungkin dikatakan seorang muslim. Karena tidak akan berkumpul antara persatuan dan perselisihan serta antara rahmat dan azab.”
Contoh sebuah hadits palsu yang terkenal adalah hadits, “Barang siapa yang shalat seratus rakaat pada malam nishfu sya’ban dari bulan sya’ban, ia baca pada setiap rakaat sesudah Al-Fatihah: Qulhu 10X, maka tidak ada seorangpun yang shalat seperti itu melainkan Allah kabulkan semua hajat yang ia minta pada malam itu ….”. Hadits ini palsu (Lihat Al-Maudhu’at karya Imam Ibnul Jauzi) dan menjadi sumber bid’ah dalam peringatan malam nishfu sya’ban, memberatkan umat dengan sesuatu yang tidak pernah diajarkan Rasulullah. Dan beliau sendiri tidak pernah mengucapkan perkataan ini!
***
Penulis: Abu Ilyas R. Handanawirya
Artikel www.muslim.or.id














Assalamu’alaikum, tolong kalau bisa dibuatkan satu artikel khusus tentang hadits-hadits palsu apa saja yang beredar di masyarakat disertai pembahasannya, agar kita tidak terjebak melaksanakan amalan hadits yang ternyata palsu/dhoif. Terimakasih
untuk mengamalkan hadits yang shoheh ternyata sulit juga misalnya hadits yang membahas tentang sholat wajib secara berjamaah di masjid tepat waktu dan tidak pernah ketinggalan selama 40 hari di mana adzan di kumandangkan
Assalamualakium, Ana pernah dengar katanya hadis dhoif boleh digunakan untuk tujuan fadhilul amal maksudnya apa? di tempat ana kadang2 sering diadakan sholat tasbeh, apakah memang ada dalil dari Rasululloh, jazakallohhukhoiro.
Assalamu ‘alaikum, Mengapa didaerah yg seharusnya agamanya kuat malah ternyata byk masyarakatnya menggunakan hadits dho’if seperti diaceh,dan byk bertawassul dikuburan keramat/karomah katanya,apakah ini azab dari Allah ta’ala?
Assalaamu’alaikum, Ana yg awam ini ttg hadits, mohon dikirimkan tentang hadits palsu atau lemah mengenai puasa Rhamadlon.
Syukron
Assalamu’alaikum
Al-Qur’an dan as-Sunnah adalah dua sumber hukum Islam yang menjadi pegangan hidup umat Islam… klo gak salah ada hadistnya…. mohon bantuannya siapa periwayat hadist tsb… dan bagaimana uraian lengkap hadist tsb, terima kasih
ass.waah kaget juga saya, ternyata saya selama ini ikut bergelimang dlm hadist palsu.tapi ada tuliswan anda yg ingin sekali saya komentari.
“Di negeri kita ini banyak sekali hadits-hadits lemah dan palsu yang laris di telinga masyarakat. Di samping ketidaktahuan tentang ilmu hadits, banyaknya para da’i yang menggembor-gemborkan hadits-hadits tersebut memberikan andil dalam menyemarakkannya. Salah satu contohnya ialah hadits, “Carilah ilmu sekalipun ke negri Cina.” Hadits ini adalah hadits mungkar dan batil, tidak ada asal usulnya serta tidak ada jalan yang menguatkannya. Demikianlah para imam ahli hadits telah mengomentari hadits ini seperti Imam Bukhari, Al Uqaili, Abu Hatim, Yahya bin ma’in, Ibnu Hibban dan Ibnu Jauzi. Selain dari sisi sanad yang lemah, maka hadits inipun juga memiki cacat dalam maknanya. Sebab negeri maju ketika itu adalah romawi dan persi, bagaimana Rasulullah hendak memerintahkan sahabatnya untuk belajar ke negeri China yang bukan termasuk negeri adidaya? Dan bagaimana pula Rasulullah menyuruh sahabatnya belajar pergi ke negeri kafir yang jelas-jelas akan membahayakan akidahnya? Wallahul musta’an!”
dengan sedikit menafikan kelemahan sanadnya, isi dari hadist itu betul adanya (kita pandang dlm perspektif sejarah ilmu pengetahuan dunia)
(sepertinya) Alloh telah memberikan kelebihan dlm hal ilmu pengetahuan pada bangsa cina sama seperti Alloh memberikan kecerdasan pada bani isroil (yahudi) dlm hal2 yg sistematik (politig dlm artian luas).hal ini dibuktikan dgn adanya begitu byk penemuan yg dilakukan oleh org cina sebelum bangsa barat .
pertanyaan “kenapa Rosul menyuruh shohabat pergi belajar ke cina tapi tidak ke persia atau ke romawi yg merupakan negara adidaya?”
jawabannya “krn persia atau romawi hanya maju dibidang insfrastruktur saja bukan dibidang ilmu pengetahuan (penemuan2).
kita lihat betapa banyak penemuan yg telah dilakukan bangsa cina.mis,bubuk mesiu, sutra (banyak hadist Rosul saw yg menyebut benda ini),mutiara (bahkan mereka bisa menghasilkan mutiara dr sungai (bukan laut), dan kertaspun telah ditemukan bangsa cina dgn berbahan bubuk merang jaaaaauh sebelum bangsa mesir dgn papirusnya atau bangsa barat mencetak kertas.dan contoh ini hanya segelintir saja dari sekian banyak penemuan yg dilakukan oleh bangsa cina.
jadi, bila betul bahwa Rosul bersabda seperti itu, maka itu artinya Alloh telah memberikan pengetahuan kepada Rosululloh saw.
(disini saya hanya membahas isi hadist, bukan sanadnya). Wallohu’alam. Wassalam
Kepada saudaraku di website tercinta ini –semoga Allah senantiasa merahmati dan memberi taufik pada kalian -
Saudaraku, suatu hal yang pasti kita yang telah sepakati bersama yaitu setiap orang tidaklah boleh berbicara pada selain bidangnya. Misalnya seorang Sarjana Teknik tidaklah boleh dia lancang berbicara mengenai masalah penyakit dalam kedokteran. Begitu pula seorang dokter tidaklah boleh dia berbicara dalam bidang teknik yang bukan bidangnya. Insya Allah ini semua telah kita sepakati.
Begitu pula dalam bidang agama, saudaraku. Kalau memang kita bukan ahli dalam bidang agama ini hendaklah kita jangan coba-coba mengangkat suara. Mungkin boleh jadi yang kita katakan adalah perkataan yang kita tidak tahu ilmunya cuma atas ‘logika’ atau perkataan ‘menurut saya’. Seolah-olah kita lah yang pakar dalam agama ini, seolah-olah kita ada ulama atau bahkan pembaharu (mujaddid). Kami sangat terharu melihat keadaan kaum muslimin yang sudah melampaui batas seperti ini. Kenapa kalau tidak tahu, kita tidak diam saja? Bukankah diam itu lebih baik daripada berbicara tanpa ilmu? Orang yang berbicara dalam masalah kesehatan saja padahal bukan bidangnya bisa membawa kesengsaraan pada orang lain. Apalagi seseorang begitu mudah mengangkat suara dalam masalah agama.
Kalau memang sekedar bertanya dalam masalah agama tidaklah mengapa. Bahkan hal ini diperintahkan sebagaimana firman Allah,
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Bertanyalah kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An Nahl [16]: 43, Al Anbiya’ [21] : 7 ).
Namun, kalau sudah mulai berfatwa tentang agama, ini bukanlah perkara sepele, apalagi kita bukan ahlinya. Mungkin ilmu nahwu dan shorof saja belum tahu, apalagi membaca arab gundul, namun kok bermudah-mudahan dalam memfatwakan masalah agama padahal bukan bidangnya.
Mudah-mudahan kita teringat dengan firman Allah berikut yang menceritakan larangan berbicara tentang Allah dan agama ini tanpa ilmu. Semoga kita senantiasa mendapatkan taufik Allah dan rahmat-Nya.
[Pertama] Allah Ta’ala berfirman,
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al Isro’ [17] : 36)
[Kedua] Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
“Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al Baqarah [2] : 169)
[Ketiga] Firman Allah,
قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
“Katakanlah: “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui”.” (QS. Al A’raf [7] : 33)
Ada sebuah faedah berharga dari Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab beliau I’lamul Muwaqi’in, 1/38. Beliau rahimahullah mengatakan, “Allah telah mengharamkan ‘berkata tentang-Nya tanpa ilmu dalam fatwa dan keputusan’ sebagai keharaman yang paling besar bahkan hal ini dijadikan sebagai tingkatan haram yang paling tinggi. (Perhatikanlah) firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Katakanlah: “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui”.” (QS. Al A’raf [7] : 33)
Allah memulai dengan menyebutkan keharaman yang ringan yaitu perbuatan keji. Kemudian dilanjutkan lagi dengan keharaman yang lebih besar yaitu dosa dan kezholiman. Lalu yang ketiga disebutkan mengenai keharaman yang paling besar yaitu berbuat syirik kepada Allah. Kemudian yang keempat disebutkan keharaman yang lebih besar dari yang telah disebutkan yaitu berkata tentang Allah tanpa ilmu.“ -Semoga Allah melindungi kita dari perbuatan semacam ini-
Setelah kita mengetahui hal ini, maka hendaklah setiap pembaca yang hendak memberi komentar dalam website ini janganlah mengeluarkan fatwa tanpa ilmu begitu saja. Kalau memang kita cuma bertanya, tidaklah mengapa. Namun, kalau sudah mengatakan ‘menurut saya maksud hadits tersebut begini’. Kata ‘menurut saya’ seperti ini dalam perihal fatwa sebaiknya tidak dilakukan bagi yang bukan ahli dalam masalah agama. Kalau memang tidak tahu, maka silakan bawa perkataan ulama dalam masalah ini. Kalau tidak tahu lagi, maka diam adalah lebih baik. “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kami akan sedikit menyinggung masalah hadits ‘tuntutlah ilmu sampai ke negeri China’. Karena ada sebagian yang memberi komentar bahwa maksud hadits ini adalah demikian dan demikian. Berikut sedikit penjelasan dari kami.
[Pertama] Hadits tuntutlah ilmu sampai ke negeri China adalah hadits yang dho’if secara sanad (periwayatan hadits)
Syaikh Ibnu Baz dalam Majmu’ Fatawanya 26/241 sedikit menerangkan derajat hadits ini. Beliau rahimahullah mengatakan (kami ringkas), “Mayoritas ulama hadits menghukumi bahwa hadist ‘Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China’ adalah hadits dho’if (lemah) dilihat dari berbagai jalan.
Hadits ini telah dikeluarkan oleh Al Baihaqi, Al Khotib Al Bagdadi, Ibnu Abdil Bar, Ad Dailamiy, dll dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, lalu mereka menegaskan bahwa hadits ini lemah. Dinukil pula dari Al Hafizh Ibnu Hibban bahwa hadits ini bathil. Begitu pula dinukil dari Ibnul Jauziy, beliau memasukkannya dalam hadits-hadits palsu. Namun, Al Mazi menyatakan bahwa hadits ini memiliki banyak jalan sehingga bisa sampai derajat hasan. Adz Dzahabiy mengatakan bahwa sebagian jalan hadits ini bermasalah dan sebagiannya dinilai baik.”
Namun Syaikh Ibnu Baz memberi komentar terhadap penilaian baik dari Al Mazi di atas. Beliau rahimahullah mengatakan, “Perkataan Al Mazi tidaklah tepat dalam penilaian hadits ini. Karena kebanyakan jalur periwayatan dari hadits ini dipenuhi dengan pendusta, penuh dengan keraguan dan dituduh sering membuat hadits palsu, atau semacamnya. Maka tidak tepat mengangkat hadits ini ke derajat hasan.”
Lalu mengenai perkataan Adz Dzahabiy, beliau rahimahullah juga mengomentarinya. Beliau rahimahullah mengatakan, “Kalau memang, sebagian jalan dari hadits ini adalah baik, maka perlu lagi kita meneliti jalur-jalur tersebut sehingga jelaslah periwayat-periwayatnya. (Menurut kaedah ulama hadits), penilaian negatif terhadap hadits (al jarh) lebih didahulukan daripada penilaian positif (at ta’dil). Begitu pula penilain dhoif suatu hadits lebih didahulukan dari pada penilain shohih sampai kita temui bahwa sanad hadits tersebut adalah shohih.”
Lalu Syaikh Ibnu Baz mengatakan, “Seandainya hadits ini shohih, maka ini bukanlah menunjukkan keutamaan negeri China dan masyarakatnya. Karena maksud dari lafazh hadits ini (Tuntutlah Ilmu Sampai Ke Negeri China) adalah sebagai motivasi untuk menuntut ilmu walaupun ke tempat yang jauh sekalipun. Menuntut ilmu adalah perkara yang amat urgen dalam memperbaiki kehidupan dunia dan akhirat. Ini menurut yang menganggap bolehnya beramal dengan hadits ini. Dan (ingatlah) maksud hadits ini bukanlah menunjukkan keutamaan Negeri China.” (Inilah perkataan beliau yang kami sarikan)
[Kedua] Ingatlah bahwa setiap disebutkan kata ilmu dalam Al Qur’an atau Hadits, yang dimaksudkan dengan ilmu di sini adalah ILMU SYAR’I (dan BUKAN ilmu dunia). Perhatikanlah hal ini.
Sebagaimana kita perhatikan dalam ayat berikut.
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah dari para hamba hanyalah para ulama (orang yang berilmu)” (QS. Fathir [35] : 28)
Cobalah perhatikan ayat yang mulia ini. Apakah pantas ayat di atas diartikan dengan ‘orang yang memiliki ilmu dunia’. Kalau memang demikian, tentu para ahli biologi dari orang-orang kafir yang banyak mengetahui keajaiban penciptaan alam ini tentu akan menerima Islam. Tetapi kenyataannya tidak demikian. Mereka masih tetap mengingkari adanya pencipta, adanya Rabb, dan adanya sesembahan yang satu yaitu Allah. Padahal mereka telah memiliki ilmu tentang keajaiban alam ini dari ilmu biologi yang mereka geluti.
Maka setiap ILMU yang disebutkan dalam ayat Al Qur’an dan Hadits maka yang disebutkan adalah ilmu agama dan BUKAN ilmu dunia, ilmu politik, ilmu matematik, dan ilmu dunia lainnya.
Jika hadits menyebutkan ‘Menuntut Ilmu adalah Wajib Bagi Setiap Muslim’ (HR. Ibnu Majah dan Al Baihaqi. Dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih no. 218), maka yang dimaksudkan menuntut ilmu di sini adalah ilmu agama.
Kalau memang mau disebut ilmu dunia, maka setelah kata ilmu ditambahkan embel-embel, semacam ilmu biologi, ilmu fisika, dsb.
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah dalam Kitabul Ilmi mengatakan, “Yang ingin kami katakan, bahwa ilmu yang mendapat sanjungan adalah ilmu syar’i, yaitu ilmu bagaimana memahami Al Quran dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun ilmu selain ilmu syar’i, maka boleh jadi akan menjadi sarana untuk membantu mewujudkan kebaikan atau sarana membantu terwujudnya kejahatan. Oleh karena itu, hukum mempelajari ilmu selain ilmu syar’i adalah tergantung pemanfaatannya.”
Demikian nasehat dari kami kepada pembaca sekalian. Sesungguhnya agama ini adalah nasehat.
Ya Allah tambahkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat. Semoga dengan ilmu ini dapat menuntun kami menuju surga-Mu yang penuh dengan berbagai kenikmatan yang diinginkan setiap orang.
[Dari saudaramu yang mengharapkan kebaikan bagimu yang selalu berharap agar Allah mengumpulkan kita bersama para Nabi, para shidiqin dan orang sholih]
astaghfirulloh hal’adzim, berkali2 saya beristighfar atas tulisan saudara AnNashih atas tulisan saya (krn anda benar2 tidak memahami tulisan saya diatas/sama ketika anda menuduh saya telah tersesat di artikel poligami (cek lagi komentar saya disana).
khan sudah saya bilang saya hanya mengomentari isi hadist, bukan sanadnya.(kalo’ sanadnya bathil ya sudah saya juga akan mengikuti,baca sekali lagi kata2 saya diatas(apakah saya tersirat ingin memungkirinya?)
garis besar komentar saya diatas adalah:
kalau saja (kalau saja, baca sekali lagi ya!)Rosul saw pernah mengucapkan hal itu, maka Alloh telah memberi pengetahuan tentang hal itu pada Rosul(krn ternyata memang kiblat ilmu pengetahuan dunia itu adalah bangsa cina). teryata susah juga berkomentar kepada seseorang (yg telah diberi kebahagian oleh Alloh berupa hidayah yg melebihi orang lain). wassalam
buat saudara Annashih lagi sebagai tambahan dari saya. saya copi kata2 anda:
Maka setiap ILMU yang disebutkan dalam ayat Al Qur’an dan Hadits maka yang disebutkan adalah ilmu agama dan BUKAN ilmu dunia, ilmu politik, ilmu matematik, dan ilmu dunia lainnya.
Jika hadits menyebutkan ‘Menuntut Ilmu adalah Wajib Bagi Setiap Muslim’ (HR. Ibnu Majah dan Al Baihaqi. Dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih no. 218), maka yang dimaksudkan menuntut ilmu di sini adalah ilmu agama.
lhah bagaimana bisa lebih mempercayai Al Qur’an atau hadist ,jika kita nggak mempraktekkannya atau membuat penelitian (toh dlm Al Qur’an atau Hadist mengandung banyak ilmu pengetahuan selain ilmu agama)
mis, (jangan berpikiran jelek dulu, saya hanya mencontohkan lho) tentang siwak, ketika Rosul menyuruh umatnya memakai pohon siwak untuk membersihkan gigi (pemeliharaan gigi), tentu kita bertanya dlm hati “kenapa Rosul menyuruh begitu?”nah, akhirnya ditelitilah siwak ini dan ternyata perintah Rosul benar adanya, krn kandungan zat dlm siwak sangat bagus untuk kesehatan gigi.(dan itu tentunya akan sangat menambah keimanan kita).
mis, (lagi) bahwa bumi berputar mengelilingi matahari (seperti disebutkan dlm Al Qur’an)awalnya mrk berpendapat lain dan setelah diteliti ternyata Al Qur’an benar adanya. (nah semakin bertambah tuch iman kita, ya nggak?)jadi ilmu agama dan ilmu umum itu sangat berkaitan banget.
lha kalo’ urusan mereka tetap ingkar mah bukan urusan kita, itu berkaitan sama Alloh semata (hidayah).
sekali lagi……
SAYA BERBAIK SANGKA KEPADA ALLOH, BAHWA APA SAJA ATURAN YG TELAH DIBERIKAN ALLOH PADA MAHKLUKNYA SEMATA2 UNTUK KEBAIKAN. wassalam
kepada @ annashih (again)
saya minta maaf atas tuduhan saya, berkaitan dgn tulisan yang ini.
(krn anda benar2 tidak memahami tulisan saya diatas/sama ketika anda menuduh saya telah tersesat di artikel poligami (cek lagi komentar saya disana).
untuk tulisannya (penjabarannya) trima kasih (untuk pengetahuannya)
Ukhti Purwanie, kami redaksi sudah mengecek kembali komentar akhi Muhammad Abduh pada artikel Poligami Wahyu Ilahi yang Ditolak, dan ternyata kami tidak mendapatkan pernyataan tuduhan “sesat” dari akhi Muhammad Abduh kepada ukhti Purwanie seperti yang ukhti klaim.
Kami mohon kepada ikhwah semuanya agar berhati-hati terhadap klaim sesat, karena selama ini kami mendapatkan banyak dari ikhwah yang gerah ketika dikritisi dan lantas merasa dirinya sudah disesatkan (padahal sebenarnya tidak). Forum dalam website ini adalah forum diskusi santai tapi ilmiah. Jadi, kami mohon dalam mengajukan suatu pendapat juga berdasarkan dalil-dalil dan fakta ilmiah, baik itu bersumber dari Al Quran, Hadist, perkataan para sahabat, perkataan para ulama, dll.
Kepada ikhwah yang mencoba memaparkan suatu penjelasan kepada saudara-saudara kita, mohon untuk kembali mengoreksi pilihan kata dan kalimat yang ikhwah bawakan. Sedapat mungkin koreksi kembali komentar ikhwah sebelum diposting, untuk menghindari berbagai kesalahpahaman. Tetap semangatlah dan jangan patah dalam dakwah ya ikhwah! dan hanya kepada Allah lah kita meminta pertolongan.
@muslim.or.id…
iya saya memang ternyata telah salah menuduh(dan sayapun nggak menuduh saudara abduh menuduh saya sesat lho/koment saya diatas (dan ditempat lain) nggak ada hub.dg saudara abduh)
tapi saya akan minta maaf sekali lagi.
oh…ya …. boleh nggak sich kalo’ saya nggak mau berfanatik buta terhadap para ulama pada urusan yg berbau pengetahuan?(kalo’ masalah sanad sich harus) krn saya beranggapan bahwa para ulama memang ahli dlm masalah agama, tapi beliau2 (pada abad itu) khan pengetahuan mereka sangat sedikit dibandingkan Rosul saw apalagi Al Qur’an (yg berupa firman Alloh). mis. hal seperti ini:
http://www.harunyahya.com/indo/buku/keajaiban1.htm
para ulama pada abad itu khan nggak bisa menjelaskan (belum mengetahui)arti sebenarnya, walaupun beliau2 itu percaya banget kalau Al Qur’an itu benar adanya(dan kebenaran itu baru kita ketahui diabad (jaman) sekarang.
nah, kembali lagi pada isi hadist
“tuntutlah ilmu sampai ke negeri cina”
apakah salah kalau saya mengatakan bahwa isi hadist itu benar adanya (krn kita memang sekarang baru tahu (dilihat dari sejarah ilmu pengetahuan) bahwa banyak penemuan berawal dari sana (org cina sangat pintar). wassalam
Kepada ukhti purwanie -yang semoga dirahmati Allah dan selalu mendapatkan taufik-Nya-
Nasehat dari an nashih ini adalah umum bagi seluruh pembaca website ini, bukan pada ukhti saja.
Dan kami mohon (dengan sangat) dalam menafsirkan ayat atau hadits hendaklah merujuk pada perkataan ulama. Kadang ketika kita menafsirkan sesuatu (ayat atau hadits) bisa benar dan salah. Makanya agar lebih selamat, bawakanlah perkataan ulama yang pakar dalam masalah din (agama) sehingga kita tidak terpeleset (jatuh dalam kesalahan).
Ukhti -yang semoga engkau selalu mendapatkan taufik dan ramat Allah serta dimudahkan dalam berbagai urusan-, perhatikanlah fatwa Syaikh Ibnu Baz yang kami sampaikan.
“Seandainya hadits ini shohih, maka ini bukanlah menunjukkan keutamaan negeri China dan masyarakatnya. Karena maksud dari lafazh hadits ini (Tuntutlah Ilmu Sampai Ke Negeri China) adalah sebagai motivasi untuk menuntut ilmu walaupun ke tempat yang jauh sekalipun. Menuntut ilmu adalah perkara yang amat urgen dalam memperbaiki kehidupan dunia dan akhirat. Ini menurut yang menganggap bolehnya beramal dengan hadits ini. Dan (ingatlah) maksud hadits ini bukanlah menunjukkan keutamaan Negeri China.”
Maksud dari komentar kami di atas, ingin menunjukkan bahwa menurut Syaikh Ibnu Baz pada hadits (Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China) tidak mesti menunjukkan keutamaan negeri China. Itu yang kami maksudkan. Sekarang bisakah ukhti -yang semoga Allah selalu membimbingmu- menyebutkan perkataan satu orang ulama saja yang mendukung pendapat ukhti?
Lalu mengenai kata ilmu bahwa yang dimaksudkan adalah ilmu agama bukanlah ilmu dunia. Inilah pendapat para ulama berdasarkan berbagai dalil. Sebagaimana kami telah membawakan contoh ayat di atas dan perkataan Syaikh Ibnu Utsaimin. Kalau memang ada perkataan ulama yang mengatakan sebagaimana yang ukhti katakan, silakan sebutkan. Kalau kami sendiri tidak mampu menafsirkan ayat atau hadits sendiri, karena kami adalah orang bodoh, dangkal dalam masalah agama. Kami hanya bisa membawakan perkataan mereka (para ulama) agar kami tidak terjerumus dalam kesalahan, karena kita tahu bahwa merekalah yang paling memahami agama ini.
Lalu apakah pernyataan bahwa ilmu agama bisa dikuatkan dengan ilmu dunia? Semacam yang ukhti sebutkan,
“lhah bagaimana bisa lebih mempercayai Al Qur’an atau hadist ,jika kita nggak mempraktekkannya atau membuat penelitian (toh dlm Al Qur’an atau Hadist mengandung banyak ilmu pengetahuan selain ilmu agama)
mis, (jangan berpikiran jelek dulu, saya hanya mencontohkan lho) tentang siwak, ketika Rosul menyuruh umatnya memakai pohon siwak untuk membersihkan gigi (pemeliharaan gigi), tentu kita bertanya dlm hati “kenapa Rosul menyuruh begitu?”nah, akhirnya ditelitilah siwak ini dan ternyata perintah Rosul benar adanya, krn kandungan zat dlm siwak sangat bagus untuk kesehatan gigi.(dan itu tentunya akan sangat menambah keimanan kita).”
Memahami din (agama) ini dan melaksanakannya tidak mesti melakukan berbagai penelitian terlebih dahulu agar semakin yakin dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya (menambah keimanan). Memang yang dicontohkan ukhti sangatlah bagus, semisal siwak.
Namun, mengenai perkara lain tidaklah mesti demikian semacam shalat (mis) shalat shubuh kenapa kok harus 2 roka’at. Apakah ini juga mesti ada pembuktian ilmiah terlebih dahulu? Juga (mis) shalat dalam sehari kok yang diwajibkan hanya 5 waktu. Apakah ini juga mesti ada penelitian (dari sisi kesehatan, misalnya)? Tidak juga kan? Kita tahu semua bahwa shalat ini adalah perintah, lalu kita laksanakan tanpa mesti mengadakan penelitian kesehatan, dsb.
Aduhai, jika kita mau memperhatikan perkataan para ulama salaf dahulu sebagaimana yang disebutkan Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tadsirnya. Mereka mengatakan, “MINALLAH AR RISALAH, WA MINAR ROSULI AL BALAG, WA ‘ALAINA AT TASLIM” artinya “Risalah itu datang dari Allah, Rasul hanya menyampaikan wahyu tersebut pada kita, sedangkan bagi kita hanya menerima (manut saja).”
Jadi setiap kata ilmu dalam ayat atau hadits -hendaklah diketahui- bahwa yang dimaksudkan adalah ilmu agama dan bukanlah ilmu dunia. Ilmu agama inilah yang dipuji berdasarkan banyak dalil.
Perhatikanlah berbagai ayat atau hadits berikut. Lalu renungkanlah apakah memang yang dimaksudkan adalah orang yang paham ilmu dunia ataukah ilmu agama.
[Dalil Pertama]
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan dia, yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada ilah (sesembahan yang berhak disembah) melainkan dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS ‘Ali Imran: 18)
[Dalil Kedua]
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
”Barangsiapa yang menempuh jalan dan dia mencari ilmu di jalan itu, maka Allah mudahkan untuknya jalan menuju surga .” (HR Muslim no. 2699)
[Dalil Ketiga]
إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya, maka dia telah memperoleh keberuntungan yang banyak.” [HR Abu Dawud no. 3641 dan Tirmidzi no. 2682.(Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud dan Shohih wa Dho’if Sunan Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini shohih)]
[Dalil Keempat]
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS Fathir: 28)
Renungkanlah dalil-dalil di atas wahai saudariku. Apakah memang pantas dalil-dalil tersebut diartikan dengan ilmu dunia. Kami rasa jika orang yang memiliki logika dan cara berpikir yang cerdas akan menyimpulkan bahwa yang dimaksudkan adalah ORANG YANG PAHAM (MENGETAHUI) AGAMA dan bukan orang yang mengetahui ilmu dunia.
Ketahuilah pula bahwa ilmu selain ilmu agama hanya akan terpuji jika digunakan untuk membantu terwujudnya kebaikan.
Ilmu selain ilmu agama mengikuti kaidah, “hukum sarana adalah sebagaimana tujuannya.” Jika ilmu selain ilmu agama digunakan untuk kebaikan maka diperbolehkan mempelajarinya. Namun jika ilmu selain ilmu agama digunakan untuk kejahatan, maka diharamkan mempelajarinya.
Dan perhatikan sekali lagi perkataan Syaikh Ibnu Utsaimin berikut yang menunjukkan benarnya pendapat yang kami utarakan ini.
Beliau rahimahullah dalam Kitabul Ilmi mengatakan, “Yang ingin kami katakan, bahwa ilmu yang mendapat sanjungan adalah ilmu syar’i, yaitu ilmu bagaimana memahami Al Quran dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun ilmu selain ilmu syar’i, maka boleh jadi akan menjadi sarana untuk membantu mewujudkan kebaikan atau sarana membantu terwujudnya kejahatan. Oleh karena itu, hukum mempelajari ilmu selain ilmu syar’i adalah tergantung pemanfaatannya.”
Ukhti yang semoga selalu dirahmati oleh Allah, terakhir kami tegaskan bahwa kami tidak pernah menuduh atau mengatakan ukhti sesat. Lihatlah dalam komentar-komentar kami. Apakah ada kata-kata sesat yang kami sebutkan?
Kami menyampaikan nasehat ini bukan maksudnya untuk merendahkan orang lain atau menyatakan sesat. Tidak sama sekali, wahai ukhti.
Yang kami inginkan sebagaimana perkataan Nabi Syu’aib :
‘AKU TIDAK BERMAKSUD KECUALI (MENDATANGKAN) PERBAIKAN SELAMA AKU MASIH BERKESANGGUPAN.’ (QS. HUUD [11] : 88)
Itu saja yang kami inginkan, wahai ukhti.
Kami sangat merindukan sekali jika engkau dapat memahami agama ini dengan baik.
Kami juga bergembira jika engkau mendapatkan taufik Allah.
Kami juga ikut senang jika engkau mendapatkan hidayah Allah melalui perantaraan nasehat kami ini.
Kalau memang ada perkataan yang tidak berkenan, kami mohon maaf.
Terkahir, kami hanya bisa berdo’a pada Allah : Semoga kita dapat berkumpul di akhirat kelak bersama para Nabi, shidiqin, syuhada, dan orang-orang sholih. Ya Allah kabulkanlah do’a kami ini
Dari saudaramu yang selalu menginginkan kebaikan padamu
Kepada seluruh pembaca di website ini.
Hendaklah kita menyampaikan nasehat sebisa mungkin dengan bahasa yang santun, lembut dan halus yang membuat orang tertarik melihat komentar yang kita utarakan.
Janganlah sampai kita menyampaikan komentar yang membuat saudara kita merasa disesatkan atau dihinakan.
Dari beberapa kali kami menyampaikan komentar, kami rasakan sendiri bahwa menyampaikan nasehat dengan cara yang santun dan lembut lebih mudah diterima daripada dengan cara yang kasar dan egois.
Semoga kita tetap semangat dalam menasehati saudara kita dengan cara yang baik sehingga kita sama-sama bisa mendapatkan taufik Allah dan pencerahan dari komentar saudara kita
Adapun mungkin kami sendiri menyampaikan komentar dengan cara yang kasar dan penuh egois, pada kesempatan kali ini kami meminta maaf terhadap kesalahan-kesalahan kami tersebut.
[Sangat menabjubkan dengan nasehat kita bisa menjadi perantara bagi saudara kita mendapatkan taufik Allah]
kepada saudara annashih,
perbandingkan tulisan penulis artikel:
“Selain dari sisi sanad yang lemah, maka hadits inipun juga memiki cacat dalam maknanya. Sebab negeri maju ketika itu adalah romawi dan persi, bagaimana Rasulullah hendak memerintahkan sahabatnya untuk belajar ke negeri China yang bukan termasuk negeri adidaya? Dan bagaimana pula Rasulullah menyuruh sahabatnya belajar pergi ke negeri kafir yang jelas-jelas akan membahayakan akidahnya? Wallahul musta’an!”"
dengan komentar saya:
“pertanyaan “kenapa Rosul menyuruh shohabat pergi belajar ke cina tapi tidak ke persia atau ke romawi yg merupakan negara adidaya?”
jawabannya “krn persia atau romawi hanya maju dibidang insfrastruktur saja bukan dibidang ilmu pengetahuan (penemuan2).”(toh persia maupun romawi dan cina mempunyai akidah yg beda dgn shohabat rosul)
apakah oleh penulis dijelaskan seperti yg anda tulis:
perhatikanlah fatwa Syaikh Ibnu Baz yang kami sampaikan.
“Seandainya hadits ini shohih, maka ini bukanlah menunjukkan keutamaan negeri China dan masyarakatnya. Karena maksud dari lafazh hadits ini (Tuntutlah Ilmu Sampai Ke Negeri China) adalah sebagai motivasi untuk menuntut ilmu walaupun ke tempat yang jauh sekalipun. Menuntut ilmu adalah perkara yang amat urgen dalam memperbaiki kehidupan dunia dan akhirat. Ini menurut yang menganggap bolehnya beramal dengan hadits ini. Dan (ingatlah) maksud hadits ini bukanlah menunjukkan keutamaan Negeri China.”
“Memahami din (agama) ini dan melaksanakannya tidak mesti melakukan berbagai penelitian terlebih dahulu agar semakin yakin dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya (menambah keimanan). Memang yang dicontohkan ukhti sangatlah bagus, semisal siwak.
Namun, mengenai perkara lain tidaklah mesti demikian semacam shalat (mis) shalat shubuh kenapa kok harus 2 roka’at. Apakah ini juga mesti ada pembuktian ilmiah terlebih dahulu? Juga (mis) shalat dalam sehari kok yang diwajibkan hanya 5 waktu. Apakah ini juga mesti ada penelitian (dari sisi kesehatan, misalnya)? Tidak juga kan? Kita tahu semua bahwa shalat ini adalah perintah, lalu kita laksanakan tanpa mesti mengadakan penelitian kesehatan, dsb.”
tulisan anda diatas kok lucu sekali, sebagai seorang yg lebih paham ilmu agama dibanding saya tentunya lebih tahu dong mana ilmu agama yg butuh bukti empiris dan mana yg harus sendiko dawuh, mana yg perlu logika dan mana yg nggak (ada2 gajah) bukankah shohabat Ali ra melarang kita melogikakan agama (ketauhidan).
oh ya, sebenarnya ada buku yg membahas ttg rokaat sholat (seperti yg ada tanyakan diatas/alasan ilmiahnya), tapi saya lupa judulnya, krn sudah lama sekali (ketika saya masih kuliah). jangan hanya berkutat pada dalil, mulailah belajar tasawuf, hakekat. wassalam
Benar dan salah mempunyai ukurannya, dan ukuran yang dipakai dalam Islam adalah kitabulloh dan sunnaturrosul. Selama suatu pendapat mempunyai dalil dari keduanya maka pendapat itu dikatakan benar meskipun datang dari orang yang baru belajar kitab dan jika sebaliknya, yakni tak ada dalil bahkan bertentangan dengan keduanya maka pendapat itu dikatakan salah, tak peduli apakah dia ulama yang hafal ribuan kitab ataupun bukan.
Jika suatu hadits dinyatakan lemah, maka itu tak boleh dijadikan dalil hukum dan seharusnya tak usah diperdebatkan lagi karena meskipun isinya seolah benar, namun mengandung kebohongan. Seperti nasihat Nabi kepada sahabat mengenai ucapan dukun atau ahli sihir bahwa ucapan mereka itu mungkin benar namun disertai seratus kebohongan. Dan umat Islam dilarang mempercayai ucapan dukun atau paranormal atau ahli sihir karena adanya kebohongan itu. Demikian wallohu’alam.
kepada saudara Annashih (lagi), biar tambah mudeng dan ndak salah paham sama saya ttg komentar saya terhadap isi hadist
“tuntutlah ilmu sampai kenegeri cina”
jikalau rosul saw bener2 bilang seperti itu,berarti beliau mendapat pengetahuan dari Alloh (weruh sakdurunge winarah)krn ternyata kita baru tahu (dijaman2) sekarang ini kalau cina telah membuat banyak penemuan2(ilmu pegetahuan), lha kalau akhirnya para ulama menafsirkan bahwa yg dimaksud ilmu itu adalah ilmu agama (terkait dg ayat Al Qur’an) ya sudah, kita manut aja (emang kalau saya berfikiran seperti itu dilarang ya?/padahal saya ingin memotivasi diri semakin bangga pada Rosul(bahwa pengetahuan beliau ttg ilmu pengetahuanpun sangat luas sekali (cerdas)) wassalam.
Ukhti Purwanie, seperti kita ketahui bersama dan sudah maklum di kalangan ahli ilmu agama (terutama ahli ilmu hadits) bahwa hadits “Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina.” adalah hadits mungkar dan hadits palsu.
Apa artinya dinamakan hadits palsu? hadist palsu berarti hakekatnya bukanlah hadits, dan perkataan “Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina.” pun bukanlah perkataan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam akan tetapi ada oknum pembohong yang membikin-bikin hadits tersebut yang seolah-olah itu adalah hadits, padahal bukan, dan kemudian hadits palsu tersebut disebarkan di kalangan kaum muslimin. Dan sebelum adanya pemalsu hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah memperingatkan umatnya tentang akan adanya hadits palsu, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengancam pemalsu hadits dengan ancaman neraka.
Kita sama-sama sudah tahu bahwa hadits (dalam tanda kutip) “Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina.” adalah hadits palsu, maka pembahasan kita berhenti sampai disini, dan tidak berpanjang-panjang lebar lagi membahasnya, apalagi berandai-andai jika itu perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam… … dst, karena jelas sekali bahwa itu adalah perkataan seorang pembohong pemalsu hadits dan bukan perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
#buat purwanie
saudariku, perlu saya tambahkan, maksud saudara an nashih di atas adalah, “kalau sudah ada dalil maka tidak sepantasnya kita mendahulukan akal kita untuk mencari apa maknanya, manfaatnya apa dll…” Ketika seorang mukmin mendapatkan suatu perintah atau larangan dari Allah dan Rasul-Nya maka dia mengikutinya, tanpa bertanya terlebih dahulu, “apa sih tujuannya?”, “kenapa sih begini?”, “kenapa ga boleh begitu?”…
Kalau kita bisa memahami sebab dan manfaat dari perintah atau anjuran Allah dan Rasul-Nya, maka Alhamdulillah. Kalau kita diberi kemudahan untuk bisa memahami makna dari larangan Allah dan Rasul-Nya maka Alhamdulillah… Akan tetapi mengetahui manfaat dan dari menjalankan perintah dan menjauhi larangan janganlah dijadikan patokan awal, sehingga membuat kita bersusah payah mencari semua alasan dari menjalankan perintah dan menjauhi larangan.
Betapa luar biasanya iman Umar bin Khattab kepada Rasulullah, betapa yakinnya Umar bahwa beliau adalah utusan Allah, suatu ketika beliau melihat Rasulullah mencium sebuah batu, maka tanpa bertanya apa maksud beliau mencium batu tersebut, Umar pun ikut mencium batu tersebut, kemudian berkata:
“Sungguh aku mengetahui kalau kamu hanya sekedar batu, tidak memberikan manfaat, tidak juga menolak mudorot, jikalau bukan karena aku melihat Rasulullah menciummu maka aku tidak sudi menciummu.” Masya Allah, betapa jauhnya iman kita dengan iman beliau…
Adapun tentang tasawuf, para ulama telah banyak menjelaskan penyimpangan2 yang ditimbulkan oleh ajaran-ajaran pemikiran tersebut, silakan pelajari tulisan pada link berikut:
http://muslim.or.id/aqidah/hakikat-tasawuf-1.html
http://muslim.or.id/aqidah/hakikat-tasawuf-2.html
http://muslim.or.id/aqidah/hakikat-tasawuf-3.html
Diantara kesalahan tasawuf adalah meremehkan ilmu (dalil) dan merendahkan para ulama…
wallahu a’lam
Buat pembaca sekalian, tulisan ini tidak bermaksud menyinggung atau melecehkan siapapun, ini sebagai nasehat bagi diri saya pribadi dan bagi pembaca sekalian.