Tuntunan Shalat Tarawih


Shalat tarawih adalah shalat yang hukumnya sunnah berdasarkan kesepakatan para ulama. Shalat tarawih merupakan shalat malam atau di luar Ramadhan disebut dengan shalat tahajud. Shalat malam merupakan ibadah yang utama di bulan Ramadhan untuk mendekatkan diri pada Allah Ta’ala. Ibnu Rajab rahimahullah dalam Lathoif Al Ma’arif berkata, “Ketahuilah bahwa seorang mukmin di bulan Ramadhan memiliki dua jihadun nafs (jihad pada jiwa) yaitu jihad di siang hari dengan puasa dan jihad di malam hari dengan shalat malam. Barangsiapa yang menggabungkan dua ibadah ini, maka ia akan mendapati pahala yang tak hingga.”

Keutamaan Shalat Tarawih

Pertama: Shalat tarawih mengampuni dosa yang telah lewat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759). Yang dimaksud qiyam Ramadhan adalah shalat tarawih sebagaimana yang dituturkan oleh Imam Nawawi (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6:39). Hadits ini memberitahukan bahwa shalat tarawih bisa menggugurkan dosa dengan syarat dilakukan karena iman yaitu membenarkan pahala yang dijanjikan oleh Allah dan mencari pahala dari Allah, bukan karena riya’ atau alasan lainnya (Lihat Fathul Bari, 4:251). Imam Nawawi menjelaskan, “Yang sudah ma’ruf di kalangan fuqoha bahwa pengampunan dosa yang dimaksudkan di sini adalah dosa kecil, bukan dosa besar. Dan mungkin saja dosa besar ikut terampuni jika seseorang benar-benar menjauhi dosa kecil.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6:40).

Lebih Semangat di Akhir Ramadhan

Selayaknya bagi setiap mukmin untuk terus semangat dalam beribahadah di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan lebih dari lainnya. Di sepuluh hari terakhir tersebut terdapat lailatul qadar. Allah Ta’ala berfirman,

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan” (QS. Al Qadar: 3). Telah terdapat keutamaan yang besar bagi orang yang menghidupkan malam tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa melaksanakan shalat pada lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terlihat lebih rajin di akhir Ramadhan lebih dari hari-hari lainnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim no. 1175)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi contoh dengan memperbanyak ibadahnya saat sepuluh hari terakhir Ramadhan. Untuk maksud tersebut beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai menjauhi istri-istri beliau dari berhubungan intim. Beliau pun tidak lupa mendorong keluarganya dengan membangunkan mereka untuk melakukan ketaatan pada malam sepuluh hari terakhir Ramadhan. ‘Aisyah mengatakan,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174). Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Disunnahkan untuk memperbanyak ibadah di akhir Ramadhan dan disunnahkan pula untuk menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 8:71)

Semangat Tarawih Berjama’ah

Sudah sepantasnya setiap muslim mendirikan shalat tarawih tersebut secara berjama’ah dan terus melaksanakannya hingga imam salam. Karena siapa saja yang shalat tarawih hingga imam selesai, ia akan mendapat pahala shalat semalam penuh. Padahal ia hanya sebentar saja mendirikan shalat di waktu malam. Sungguh inilah karunia besar dari Allah Ta’ala. Dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ

Barangsiapa yang shalat bersama imam hingga imam selesai, maka ia dicatat seperti melakukan shalat semalam penuh.” (HR. Tirmidzi no. 806, shahih menurut Syaikh Al Albani)

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Para ulama sepakat bahwa shalat tarawih itu sunnah. Namun mereka berselisih pendapat apakah shalat tarawih itu afdhol dilaksanakan sendirian atau berjama’ah di masjid. Imam Syafi’i dan mayoritas ulama Syafi’iyah, juga Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad dan sebagian ulama Malikiyah berpendapat bahwa yang afdhol adalah shalat tarawih dilakukan secara berjama’ah sebagaimana dilakukan oleh ‘Umar bin Al Khottob dan sahabat radhiyallahu ‘anhum. Kaum muslimin pun terus ikut melaksanakannya seperti itu.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6:39).

11 ataukah 23 Raka’at?

Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya shalat malam tidak memiliki batasan jumlah raka’at tertentu. Shalat malam adalah shalat nafilah (yang dianjurkan), termasuk amalan dan perbuatan baik. Siapa saja boleh mengerjakan sedikit raka’at. Siapa yang mau juga boleh mengerjakan dengan jumlah raka’at yang banyak.” (At Tamhid, 21/70). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai shalat malam, beliau menjawab,

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خَشِىَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً ، تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى

“Shalat malam itu dua raka’at-dua raka’at. Jika salah seorang di antara kalian takut masuk waktu shubuh, maka kerjakanlah satu raka’at. Dengan itu berarti kalian menutup shalat tadi dengan witir.” (HR. Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749). Padahal ini dalam konteks pertanyaan. Seandainya shalat malam itu ada batasannya, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menjelaskannya.

Al Baaji rahimahullah mengatakan, “Boleh jadi ‘Umar memerintahkan para sahabat untuk melaksanakan shalat malam sebanyak 11 raka’at. Namun beliau memerintahkan seperti ini di mana bacaan tiap raka’at begitu panjang, yaitu imam sampai membaca 200 ayat dalam satu raka’at. Karena bacaan yang panjang dalam shalat adalah shalat yang lebih afdhol. Ketika manusia semakin lemah, ‘Umar kemudian memerintahkan para sahabat untuk melaksanakan shalat sebanyak 23 raka’at, yaitu dengan raka’at yang ringan-ringan. Dari sini mereka bisa mendapat sebagian keutamaan dengan menambah jumlah raka’at.” (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 27/142)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Semua jumlah raka’at di atas (dengan 11, 23 raka’at atau lebih dari itu, -pen) boleh dilakukan. Melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan dengan berbagai macam cara tadi itu sangat bagus. Dan memang lebih utama adalah melaksanakan shalat malam sesuai dengan kondisi para jama’ah. Kalau jama’ah kemungkinan senang dengan raka’at-raka’at yang panjang, maka lebih bagus melakukan shalat malam dengan 10 raka’at ditambah dengan witir 3 raka’at, sebagaimana hal ini dipraktekkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri di bulan Ramdhan dan bulan lainnya. Dalam kondisi seperti itu, demikianlah yang terbaik. Namun apabila para jama’ah tidak mampu melaksanakan raka’at-raka’at yang panjang, maka melaksanakan shalat malam dengan 20 raka’at itulah yang lebih utama. Seperti inilah yang banyak dipraktekkan oleh banyak ulama. Shalat malam dengan 20 raka’at adalah jalan pertengahan antara jumlah raka’at shalat malam yang sepuluh dan yang empat puluh. Kalaupun seseorang melaksanakan shalat malam dengan 40 raka’at atau lebih, itu juga diperbolehkan dan tidak dikatakan makruh sedikit pun. Bahkan para ulama juga telah menegaskan dibolehkannya hal ini semisal Imam Ahmad dan ulama lainnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang menyangka bahwa shalat malam di bulan Ramadhan memiliki batasan bilangan tertentu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga tidak boleh lebih atau kurang dari 11 raka’at, maka sungguh dia telah keliru.” (Majmu’ Al Fatawa, 22/272)

Tuntunan Lain Shalat Tarawih

Shalat tarawih lebih afdhol dilakukan dua raka’at salam, dua raka’at salam. Dasarnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Shalat malam adalah dua raka’at dua raka’at.” (HR. Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749). Ulama besar Syafi’iyah, An Nawawi ketika menjelaskan hadits “shalat sunnah malam dan siang itu dua raka’at, dua raka’at”, beliau rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud hadits ini adalah bahwa yang lebih afdhol adalah mengerjakan shalat dengan setiap dua raka’at salam baik dalam shalat sunnah di malam atau siang hari. Di sini disunnahkan untuk salam setiap dua raka’at. Namun jika menggabungkan seluruh raka’at yang ada dengan sekali salam atau mengerjakan shalat sunnah dengan satu raka’at saja, maka itu dibolehkan menurut kami.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6:30)

Para ulama sepakat tentang disyariatkannya istirahat setiap melaksanakan shalat tarawih empat raka’at. Inilah yang sudah turun temurun dilakukan oleh para salaf. Namun tidak mengapa kalau tidak istirahat ketika itu. Dan juga tidak disyariatkan untuk membaca do’a tertentu ketika istirahat. (Lihat Al Inshof, 3/117)

Tidak ada riwayat mengenai bacaan surat tertentu dalam shalat tarawih yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, surat yang dibaca boleh berbeda-beda sesuai dengan keadaan. Imam dianjurkan membaca bacaan surat yang tidak sampai membuat jama’ah bubar meninggalkan shalat. Seandainya jama’ah senang dengan bacaan surat yang panjang-panjang, maka itu lebih baik. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1:420)

Menutup Shalat Malam dengan Witir

Shalat witir adalah shalat yang dilakukan dengan jumlah raka’at ganjil (1, 3, 5, 7 atau 9 raka’at). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرً

Jadikanlah akhir shalat malam kalian adalah shalat witir.” (HR. Bukhari no. 998 dan Muslim no. 751). Jika shalat witir dilakukan dengan tiga raka’at, maka dapat dilakukan dengan dua cara: (1) tiga raka’at, sekali salam [HR. Al Baihaqi], (2) mengerjakan dua raka’at terlebih dahulu kemudian salam, lalu ditambah satu raka’at kemudian salam [HR. Ahmad 6:83].

Dituntunkan pula ketika witir untuk membaca do’a qunut. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah ditanya, ” Apa hukum membaca do’a qunut setiap malam ketika (shalat sunnah) witir?” Jawaban beliau rahimahullah, “Tidak masalah mengenai hal ini. Do’a qunut (witir) adalah sesuatu yang disunnahkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun biasa membaca qunut tersebut. Beliau pun pernah mengajari (cucu beliau) Al Hasan beberapa kalimat qunut untuk shalat witir (Allahummahdiini fiiman hadait, wa’aafini fiiman ‘afait, watawallanii fiiman tawallait, wabaarik lii fiima a’thait, waqinii syarrama qadlait, fainnaka taqdhi walaa yuqdho ‘alaik, wainnahu laa yadzillu man waalait, tabaarakta rabbana wata’aalait, -pen) [HR. Abu Daud no. 1425, An Nasai no. 1745, At Tirmidzi no. 464, shahih kata Syaikh Al Albani]. Ini termasuk hal yang disunnahkan. Jika engkau merutinkan membacanya setiap malamnya, maka itu tidak mengapa. Begitu pula jika engkau meninggalkannya suatu waktu sehingga orang-orang tidak menyangkanya wajib, maka itu juga tidak mengapa. Jika imam meninggalkan membaca do’a qunut suatu waktu dengan tujuan untuk mengajarkan manusia bahwa hal ini tidak wajib, maka itu juga tidak mengapa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengajarkan do’a qunut pada cucunya Al Hasan, beliau tidak mengatakan padanya: “Bacalah do’a qunut tersebut pada sebagian waktu saja”. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa membaca qunut witir terus menerus adalah sesuatu yang dibolehkan. (Fatawa Nur ‘alad Darb, 2:1062)

Setelah witir dituntunkan membaca, “Subhaanal malikil qudduus”, sebanyak tiga kali dan mengeraskan suara pada bacaan ketiga (HR. An Nasai no. 1732 dan Ahmad 3/406, shahih menurut Syaikh Al Albani). Juga bisa membaca bacaan “Allahumma inni a’udzu bika bi ridhooka min sakhotik wa bi mu’afaatika min ‘uqubatik, wa a’udzu bika minka laa uh-shi tsanaa-an ‘alaik, anta kamaa atsnaita ‘ala nafsik” [Ya Allah, aku berlindung dengan keridhoan-Mu dari kemarahan-Mu, dan dengan keselamatan-Mu dari hukuman-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian dan sanjungan kepada-Mu, Engkau adalah sebagaimana yang Engkau sanjukan kepada diri-Mu sendiri] (HR. Abu Daud no. 1427, Tirmidzi no. 3566, An Nasai no. 1100 dan Ibnu Majah no. 1179, shahih kata Syaikh Al Albani)

Kekeliruan Seputar Shalat Tarawih

Berikut beberapa kekeliruan saat pelaksanaan shalat tarawih berjama’ah dan tidak ada dasarnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

1. Dzikir berjama’ah di antara sela-sela shalat tarawih. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz berkata, “Tidak diperbolehkan para jama’ah membaca dzikir secara berjama’ah. Akan tetapi yang tepat adalah setiap orang membaca dzikir sendiri-sendiri tanpa dikomandai oleh yang lain. Karena dzikir secara berjama’ah (bersama-sama) adalah sesuatu yang tidak ada tuntunannya dalam syari’at Islam yang suci ini”. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 11:190)

2. Melafazhkan niat selepas shalat tarawih. Imam Nawawi berkata, “Tidaklah sah puasa seseorang kecuali dengan niat. Letak niat adalah dalam hati, tidak disyaratkan untuk diucapkan dan pendapat ini tidak terdapat perselisihan di antara para ulama.” (Rowdhotuth Tholibin, 1:268).

3. Memanggil jama’ah dengan ‘ash sholaatul jaami’ah’. Tidak ada tuntunan untuk memanggil jama’ah dengan ucapan ‘ash sholaatul jaami’ah’. Ini termasuk perkara yang diada-adakan (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 27:140).

4. Mengkhususkan dzikir atau do’a tertentu antara sela-sela duduk shalat tarawih, apalagi dibaca secara berjama’ah. Karena ini jelas tidak ada tuntunannya (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 27:144).

Semoga Allah memberikan kita kekuatan dan keistiqomahan untuk menghidupkan malam-malam kita dengan shalat tarawih. Wallahu waliyyut taufiq.

Panggang-Gunung Kidul, 28 Sya’ban 1432 H (30/07/2011)

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.muslim.or.id

  • Rian

    saya ingin bertanya, kalau saya mengikuti sholat tarawih berjamaah, 8 rakaat + witir 3 rakaat, lalu dimalam harinya saya ingin sholat tahajud lagi, bagaimana hal ini? lalu berapa rakaat sebaiknya sholat tahajud yang saya lakukan?

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #Rian
      Tidak terlarang shalat sunnah lagi walaupun sudah shalat witir. Adapun jumlah raka’atnya tidak dibatasi.

  • Jon

    Berhubungan dengan penjelasan dalam artikel tersebut ana ada beberapa pertanyaan.

    1. Apakah ada sholat malam lain (sholat tahajud) di bulan Ramadhan setelah sholat witir bersama imam ?

    2. Bagaimana cara mengisi malam-malam di saat itikaf ?

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      @ Jon
      1. Menambah rakaat lagi dg shalat malam setelah tarawih, itu boleh. Karena shalat malam tidak ada batasan rakaatnya.
      2. Mengisi malam2 di saat itikaf silakan baca artikel itikaf di web ini.

  • waziruddin

    assalamu’alaikum.
    mas,saya mau tnya kalo kita ikut shlt tarawih jama’ah dgn kondisi imam seperti yg keliru dalam menjalankan sholat tarawih misal setelah sholat witir mengucap niat dan saat mau sholat mengucap “‘ash sholaatul jaami’ah’”..dgn hal tsb apa yg harus kita lakukan sebagai jama’ah??
    wassalam..mohon info ke email ya mas.

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #waziruddin
      wa’alaikumussalam. jika anda mampu, nasehatilah beliau di waktu2 senggang. Jika sekiranya belum mampu, doakan beliau mudah2an kelak memahami amalan yang benar sesuai sunnah.

  • hery

    Jika kita telah ikut sholat witir bersama imam, apakah setelah tahajjud kita tidak perlu witir lagi ??…

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #hery
      Ya benar. Karena Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
      لا وتران في ليلة
      Tidak boleh ada 2 witir dalam 1 malam” (HR. At Tirmidzi no.470, ia berkata: “Hasan gharib”)

  • zahrah

    jazakallahu khoir atas ilmux.
    afwan, ana ada pertanyaan. klu untuk akhwat, lebih baik sholat di mesjid atau di rumah sj?

  • ahmad

    bagaimana cara imam memberitahu Makmum (yang banyak/jauh di belakang) bahwa imam akan melaksanakan sholat Tarawih atau witir. Biasanya setelah habis sholat sunnat rowatib ba’da isya’ ada jeda waktu dengan mulainya sholat tarawih. Karena kebiasaan disini sepertinya sudah harus dikomando dan koor. Syukron ya ustadz

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #ahmad
      Ketika imam bertakbir itu sudah cukup menunjukkan bahwa shalat dimulai, selain itu para makmum berdiri juga indikasi bahwa shalat akan dimulai. Insya Allah mudah, tidak perlu membuat aturan baru.

  • Pungki

    Ask :
    “maka lebih bagus melakukan shalat malam dengan 10 raka’at ditambah dengan witir 3 raka’at”
    jadi bukan 11 rakaat ya ustadz, 13 rakaat ya ??

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #Pungki
      Yang lebih afdhal, 11 atau 13 rakaat.

  • http://arisnews.com ari

    trim atas infonya dengan membaca jadi pham

  • dzirin

    maaf mau tanya :
    sholat tarawih bagi kaum adam itu lebih bagus dikerjakan berjamah di masjid atau sendiri – sendiri di rumah?

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #dzirin
      Lebih afdhal berjama’ah di masjid, karena dijanjikan oleh Allah pahala shalat malam semalam suntuk.

  • shobirin

    Sip isinya dalam.

  • Fitrah

    Mantapz…..InsyaAllah semoga para Ustadz nya mendapatkan berkah dan rahmat dari Allah Ta’ala karena telah memberi Ilmu akhirat yang bermanfaat…Amiin

  • ibrahim

    Saya masih binggung mengenai waktu pelaksanaan solat tarawih ini, bukankah solat tarawih itu adalah = qiyamul lail = tahajud sehingga semestinya juga di lakukan pada 1/3 malem.

    mohon penjelasan beserta dalilnya. terimakasih.

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      @ Ibrahim

      Itulah bedanya shalat tarawih di bulan Ramadhan dan shalat malam di luar ramadhan.

  • Maulana

    Assalamu’alaykum … saya ingin menanyakan contoh kasus dalam sholat tarawih. Misalkan di tengah2 sholat, karena suatu alasan sehingga sholatnya batal. Setelah berwudhu’ lagi, ternyata tertinggal 1 rakaat, apa yg seharusnya dilakukan? bagaimana juga jika tertinggal sampai 1 salam? Jazakumullahu khairan.

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #Maulana
      Jika tertinggal 1 raka’at, tetap ikut bermakmum sebagai masbuk.
      Jika tertinggal 1 salam karena ada uzur, dan anda setelah itu ikut shalat sampai imam selesai, anda tetap mendapat pahala shalat semalam suntuk.
      Allahu’alam.

  • ibrahim

    knapa brbeda seperti itu??

    bukan kah mengenai waktu solat malam (tahajud) allah SWT sendiri telah menyatakan mengenai waktunya dalam qur’an-Nya..

    lagi pula jika melihat hadis rasul SAW dari aisyah RA yg dalam HR.Bukhari no.924 & Muslim no.761 dinyatakan:
    أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – خَرَجَ ذَاتَ لَيْلَةٍ مِنْ جَوْفِ اللَّيْ
    yang artinya:
    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam keluar di tengah malam untuk melaksanakan shalat di masjid…”

    hal ini sangat jelas bahwa waktu yang digunakan rasul SAW dalam melakukan shalat tarawih = shalat malam di dalam ramadhan ataupun di luar ramadhan sama seperti perintah allah SWT mengenai solat malam (tahajud).
    allahu ‘alam..
    jazakallah..

  • maulana

    Berarti kalau masbuk, ada kemungkinan shalat selanjutnya masbuk juga sampai akhir.

    Lalu untuk yg tertinggal 1 salam, menggantinya setelah selesai berjamaah.

    Apakah demikian yg dimaksud, mohon konfirmasi dan koreksinya jika ada kesalahan. Jazakumullahu khairan …

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #maulana
      Andai demikian yang terjadi pun tidak mengapa. Namun anda bisa menyelesaikan ketertinggalan sebelum imam selesai rakaat pertama pada shalat setelahnya. Misalnya dengan membaca surat2 pendek

  • afif

    sholat tarawih baik yang dilaksanakan 11 rokaat atau yang 23 rokaat,semuanya baik apabila dilksanakan dengan ihlas,khusus’ da konsisiten.yang terutama bgi kita yang munkin tingkat keimanannya masih rendah atau belum bisa meniru para ulama apalagi nabi kita Muhammad saw,alangkah baiknya kita berusaha dengan meningkatkan ibadah kita dengan memperbanyak amalan2 sholeh dengan niat lillahi ta’ala..tarawih 11 rokaat atau 23 rokaat baik semua yang penting ihlas,khusu’,konsisten apalagi 23 rokaat dengan ihlas,khusu’,konsisten itu lebih baik.yang tidak baik adalah yang tidak mengerjakan sholat tarawih!!!!silahkan posisikan diri kita pada sikap yang mana dengan mengukur kadar keimanan kita sudahkah kita minimal bisa meniri para ulama,sahabat sampai junjungan kita nabi Muhammad saw.

  • nasichin

    lihat di kitab ahli waljamaah sholat terawih itu dilakukan 20 rokaat. dan di tambah witir 3 roka’at
    masing2 2 kali salam
    yg petama 2 roka’at yg selanjut nya 1 rokaat

  • Willy

    Mohon diteliti lagi pendapat bahwa Umar Radhiallahu’anhu menyuruh org2 melakukan 23 raka’at.
    Ana mendapati dlm kitab QIYAMURRAMADHAN oleh Syaikh Albani Rahimahullah bahwa riwayat itu tidak shahih dari Umar radhiallahu’anhu sehingga tdk bs dijadikan hujjah dan amal dlm beribadah.
    Agar tdk mnjadi beban diakhirat kelak mohon sampaikan apadanya.

  • Sukran katsiran ilmunya

    Sukran semuanya

  • Pingback: Panduan Ibadah Ramadhan Lengkap (SHAHIH) | Sejukkan Hati Dengan ISLAM

  • eghi

    assalamualikum wr.wb.

    mas, mo nanya, apa sholat tarawih itu hrs jemaah, atw blh sndr di lkukan dirmh.
    makasih

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #eghi
      Wa’alaikumussalam, shalat tarawih di masjid sampai selesai pahalanya seperti shalat semalam suntuk.

  • faith

    bgmana klo sholat tarawih 8 raka’at berjama’ah ttp witir 3 raka’at nya sendiri dirumah. Apakah dpt pahala semalam suntuk? Krn redaksi yg sy lihat adl kita dpt pahalanya di ‘tarawih’ bkn witir.

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #faith
      Tidak dapat, karena dalam hadits disebutkan ‘man shalla ma’al imam hatta yansharif‘ (barangsiapa yang shalat bersama imam sampai selesai)

  • Pingback: Shalat Tarawih, FAQ « Pustaka Al-Atsar

  • Ibrahim

    tepatkah bila saya salat tarawih mengikuti imam (20 rakaat) kemudian duduk mendengar kultum, lalu ketika kultum selesai saya pulang dan menetapkan hati untuk melaksanakan rawatib selepas isya dan witir di rumah karena mengikut dalil “Dari Ibnu Umar radiyallahu ‘anhuma berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Lakukanlah di rumah-rumah kalian dari sholat-sholat dan jangan jadikan rumah kalian bagai kuburan”. (HR. Bukhori no. 1187, Muslim no. 777)”

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #Ibrahim
      Kurang tepat, karena shalat sampai imam selesai itu pahalanya seperti shalat semalam suntuk. Sepulang dari masjid, jika anda mau menambah, silakan.

  • Pingback: Kumpulan Artikel Ramadhan Di Muslim.Or.Id — Muslim.Or.Id

  • Ibrahim

    terima kasih atas jawabannya, semoga Allah SWT selalu menunjukkan kita jalan yang lurus

  • pujo

    assalamu’alaykum…izin copas ya akhi

  • hari

    adakah dalil sholat tahajud berjamaah diluar bulan ramadahan,
    afwan ya

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      @ Hari

      Shalat sunnah hukum asalnya sendiri, kecuali yg diperintahkan untuk berjamaah spt shalat tarawih.

  • Pingback: Tuntunan Shalat Tarawih - Flexmedia

  • john hariano

    Saya mau tanya, dzikir apa yang dibaca dalam duduk istirahat antara sholat berikutnya apakah kita membaca sholawat atau ada dzikir yang lain yang dituntun Nabi.Terima kasih.

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #john hariano
      Tidak ada bacaan khusus yang diajarkan Nabi, boleh diam saja, atau berdoa atau membaca dzikir apa saja. Namun tidak boleh mengkhususkan bacaan tertentu dan melafalkannya secara berjama’ah atau dengan tata cara khusus.

  • http://www.putrikarimunjawa.com anwar

    bagus kang…bermanfaat informasinya…..like.

  • Ilmansyah

    Assalamu’alaikum
    saya mau tnya ni, di tmpat saya stiap slsai 4 rokaat sholat tarwih ada do’a brsama. Bgaimana hukum nya? Mohon di jlaskan.

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #Ilmansyah
      Wa’alaikumussalam, termasuk perkara yang diada-adakan dalam agama

  • oni

    1) kl dikaitkan dgn hadis
    “Wahai umat manusia, shalatlah kalian di rumah kalian. Karena sebaik-baik shalat seseorang adalah shalat yang dilakukan di rumahnya, kecuali shalat wajib”. (HR. Bukhari 731, Muslim 781, dan lainnya).

    jika hds tsbt dikaitkan dgn salat terawih dan salat tahajud (di luar ramadhan) apa lbh baik sndiri dirumah atau di jamaah masjid?

    dan

    2) hadis “Barangsiapa yang shalat bersama imam hingga imam selesai, maka ia dicatat seperti melakukan shalat semalam penuh.” (HR. Tirmidzi)

    apakah hadis ini diperuntukkan salat wajib atau salat sunnah, dan jk diperuntukkan salat sunnah apakah tdk bertentangan dgn hadis pertama yg saya tanyakan?

    syukran ats penjelasnya..

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama, S.Kom.

      #Oni
      Hadits pertama umum untuk semua shalat sunnah, adapun hadits kedua khusus shalat malam di bulan Ramadhan. Hadits kedua ini panjang berbicara tentang bulan Ramadhan, itu hanya potongannya saja. Hadits pertama dikhususkan oleh hadits kedua. Sehingga semua shalat malam lebih utama di rumah kecuali shalat tarawih karena lebih utama di masjid.

@muslimindo

    Message: Rate limit exceeded, Please check your Twitter Authentication Data or internet connection.