Tata Cara Shalat Malam dan Witir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Kategori: Fiqh dan Muamalah

124 Komentar // 26 May 2008

Tarawih merupakan bentuk jamak dari kata tarwihah. Secara bahasa berarti jalsah (duduk). Kemudian perbuatan duduk pada bulan Ramadhan setelah selesai shalat malam 4 rakaat disebut tarwihah; karena dengan duduk itu orang-orang bisa beristirahat setelah lama melaksanakan qiyam Ramadhan.

Menegakkan Shalat malam atau tahajud atau tarawih dan shalat witir di bulan Ramadhan merupakan amalan yang sunnah. Bahkan orang yang menegakkan malam Ramadhan dilandasi dengan keimanan dan mengharap pahala dari Allah akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu.

Sebagaimana dalam hadits shahih yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«مَنْ قاَمَ رَمَضَانَ إِيـْمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ »

“Siapapun yang menegakkan bulan Ramadhan dengan keimanan dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Muslim 1266)

Pada asalnya shalat sunnah malam hari dan siang hari adalah satu kali salam setiap dua rakaat. Berdasarkan keterangan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah shalat malam itu?” Beliau menjawab:

« مَثْنىَ مَثْنىَ فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ »

“Dua rakaat – dua rakaat. Apabila kamu khawatir mendapati subuh, maka hendaklah kamu shalat witir satu rakaat.” (HR. Bukhari)

Dalam hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu yang lain dikatakan:

« صَلاَةُ اللَّيْلِ وَ النَّهَارِ رَكْعَتَانِ رَكْعَتَانِ »

“Shalat malam hari dan siang hari itu dua rakaat – dua rakaat.” (HR Ibn Abi Syaibah) (At-Tamhiid, 5/251; Al-Hawadits, 140-143; Fathul Bari’ 4/250; Al-Muntaqo 4/49-51)

Maka jika ada dalil lain yang shahih yang menerangkan berbeda dengan tata cara yang asal (dasar) tersebut, maka kita mengikuti dalil yang shahih tersebut. Adapun jumlah rakaat shalat malam atau shalat tahajud atau shalat tarawih dan witir yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah lebih dari 11 atau 13 rakaat.

Shalat tarawih dianjurkan untuk dilakukan berjamaah di masjid karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melakukan hal yang sama walaupun hanya beberapa hari saja. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits dari Nu’man bin Basyir rahimahullah, ia berkata:

“Kami melaksanakan qiyamul lail bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam 23 Ramadhan sampai sepertiga malam. Kemudian kami shalat lagi bersama beliau pada malam 25 Ramadhan sampai separuh malam. Kemudian beliau memimpin lagi pada malam 27 Ramadhan sampai kami menyangka tidak akan sempat mendapati sahur.” (HR. Nasa’i, Ahmad, Al-Hakim, Shahih)

Beserta sebuah Hadits dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu dia berkata:

Kami puasa tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memimpin kami untuk melakukan shalat (tarawih) hingga Ramadhan tinggal tujuh hari lagi, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami kami shalat sampai lewat sepertiga malam. Kemudian beliau tidak keluar lagi pada malam ke enam (tinggal 6 hari lagi – pent). Dan pada malam ke lima (tinggal 5 hari – pent) beliau memimpin shalat lagi sampai lewat separuh malam. Lalu kami berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Seandainya engkau menambah lagi untuk kami sisa malam kita ini?’, maka beliau bersabda:

« مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتىَّ يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ »

“Barang siapa shalat tarawih bersama imam sampai selesai maka ditulis baginya shalat malam semalam suntuk.”

Kemudian beliau tidak memimpin shalat lagi hingga Ramadhan tinggal tiga hari. Maka beliau memimpin kami shalat pada malam ketiga. Beliau mengajak keluarga dan istrinya. Beliau mengimami sampai kami khawatir tidak mendapatkan falah. Saya (perowi) bertanya ‘apa itu falah?’ Dia (Abu Dzar) berkata ‘sahur’. (HR. Nasa’i, Tirmidzi, Ibn Majah, Abu Daud, Ahmad, Shahih)

Hadits itu secara gamblang dan tegas menjelaskan bahwa shalat berjamaah bersama imam dari awal sampai selesai itu sama dengan shalat sendirian semalam suntuk. Hadits tersebut juga sebagai dalil dianjurkannya shalat malam dengan berjamaah.

Bahkan diajurkan pula terhadap kaum perempuan untuk shalat tarawih secara berjamaah, hal ini sebagaimana yang diperintahkan oleh khalifah Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu yaitu beliau memilih Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu untuk menjadi imam untuk kaum lelaki dan memilih Sulaiman bin Abu Hatsmah radhiyallahu ‘anhu untuk menjadi imam bagi kaum wanita.

Tata Cara Shalat Malam

Perlu kita ketahui bahwa tata cara shalat malam atau tarawih dan shalat witir yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu ada beberapa macam. Dan tata cara tersebut sudah tercatat dalam buku-buku fikih dan hadits. Tata cara yang beragam tersebut semuanya pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum. Semua tata cara tersebut adalah hukumnya sunnah.

Maka sebagai perwujudan mencontoh dan mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka hendaklah kita terkadang melakukan cara ini dan terkadang melakukan cara itu, sehingga semua sunnah akan dihidupkan. Kalau kita hanya memilih salah satu saja berarti kita mengamalkan satu sunnah dan mematikan sunnah yang lainnya. Kita juga tidak perlu membuat-buat tata cara baru yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atau mengikuti tata cara yang tidak ada dalilnya.

Shalat tarawih sebanyak 13 rakaat dengan perincian sebagai berikut:

  1. Beliau membuka shalatnya dengan shalat 2 rakaat yang ringan.
  2. Kemudian shalat 2 rakaat dengan bacaan yang panjang.
  3. Kemudian shalat 2 rakaat dengan bacaan tiap rakaat yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya hingga rakaat ke-12.
  4. Kemudian shalat witir 1 rakaat.

    Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Zaid bin Kholid al-Juhani, beliau berkata: “Sesungguhnya aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat malam, maka beliau memulai dengan shalat 2 rakaat yang ringan, Kemudian beliau shalat 2 rakaat dengan bacaan yang panjang sekali, kemudian shalat 2 rakaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya, kemudian shalat 2 rakaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya, kemudian shalat 2 rakaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya, kemudian shalat 2 rakaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya, kemudian shalat witir 1 rakaat.” (HR. Muslim)

    Faedah, Hadits ini menjadi dalil bolehnya shalat iftitah 2 rakaat sebelum shalat tarawih.

    Shalat tarawih sebanyak 13 rakaat dengan perincian sebagai berikut:

    1. Melakukan shalat 8 rakaat dengan sekali salam setiap 2 rakaat.
    2. Kemudian melakukan shalat witir langsung 5 rakaat sekali salam.

      Hal ini berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan Aisyah, beliau berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan tidur malam, maka apabila beliau bangun dari tidur langsung bersiwak kemudian berwudhu. Setelah itu beliau shalat delapan rakaat dengan bersalam setiap 2 rakaat kemudian beliau melakukan shalat witir lima rakaat yang tidak melakukan salam kecuali pada rakaat yang kelima.”

      Shalat tarawih sebanyak 11 rakaat dengan perincian sebagai berikut:

      1. Melakukan shalat 10 rakaat dengan sekali salam setiap 2 rakaat.
      2. Kemudian melakukan shalat witir 1 rakaat.

        Berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan Aisyah, beliau berkata:

        كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلّ الله عليه و سلّم يُصَلىِّ فِيْمَا بَيْنَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلاَةِ الْعِشَاءِ – وَ هِيَ الَّتِي يَدْعُوْ النَّاسُ الْعَتَمَةَ – إِلىَ الْفَجْرِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُسَلَّمُ بَيْنَ كُلّ رَكْعَتَيْنِ وَيُوْتِرُ بِوَاحِدَةٍ

        “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat malam atau tarawih setelah shalat Isya’ – Manusia menyebutnya shalat Atamah – hingga fajar sebanyak 11 rakaat. Beliau melakukan salam setiap dua rakaat dan beliau berwitir satu rakaat.” (HR. Muslim)

        Shalat tarawih sebanyak 11 rakaat dengan perincian sebagai berikut:

        1. Melakukan shalat 8 rakaat dengan sekali salam setiap 4 rakaat.
        2. Kemudian shalat witir langsung 3 rakaat dengan sekali salam.

          Berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan dari Aisyah, beliau berkata:

          مَا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلّ الله عليه و سلّم يَزِيْدُ فِي رَمَضَانَ وَ لاَ فِي غَيْرِهِ إِحْدَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّى أَرْبَعًا، فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَ طُوْلَـهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَ طُوْلَـهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى ثَلاَثاً

          “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah bilangan pada bulan Ramadhan dan tidak pula pada bulan selain Ramadhan dari 11 Rakaat. Beliau shalat 4 rakaat sekali salam maka jangan ditanya tentang kebagusan dan panjangnya, kemudian shalat 4 rakaat lagi sekali salam maka jangan ditanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian shalat witir 3 rakaat.” (HR Muslim)

          Tambahan: Tidak ada duduk tahiyat awal pada shalat tarawih maupun shalat witir pada tata cara poin ini, karena tidak ada dalil yang menunjukkan hal tersebut. Bahkan ada larangan menyerupai shalat maghrib.

          Shalat tarawih sebanyak 11 rakaat dengan perincian sebagai berikut:

          1. Melakukan shalat langsung sembilan rakaat yaitu shalat langsung 8 rakaat, tidak duduk kecuali pada rakaat yang kedelapan tanpa salam kemudian berdiri 1 rakaat lagi kemudian salam.
          2. Kemudian shalat 2 rakaat dalam keadaan duduk.

            Berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan Aisyah, beliau berkata:

            كُناَّ نُعِدُّ لَهُ سِوَاكَهُ وَ طَهُوْرَهُ، فَيَـبْعَثُهُ اللهُ مَا شَاءَ أَنْ يَـبْعَثَهُ مِنَ الَّيْلِ، فَيَتَسَوَّكُ وَ يَتَوَضَأُ وَ يُصَلِى تِسْعَ رَكْعَةٍ لاَ يَـجْلِسُ فِيْهَا إِلاَّ فِي الثَّامِنَةِ فَيَذْكُرُ اللهَ وَ يَحْمَدُهُ وَ يَدْعُوْهُ، ثُمَّ يَنْهَضُ وَ لاَ يُسَلِّمُ ثُمَّ يَقُوْمُ فَيُصَلِّى التَّاسِعَةَ، ثُمَّ يَقْعُدُ فَيَذْكُرُ اللهَ وَ يَحْمَدُهُ وَ يَدْعُوْهُ ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيْمًا يُسْمِعْناَ ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ مَا يُسَلِمُ وَ هُوَ قَاعِدٌ (رواه مسلم)

            “Kami dahulu biasa menyiapkan siwak dan air wudhu untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, atas kehendak Allah beliau selalu bangun malam hari, lantas tatkala beliau bangun tidur langsung bersiwak kemudian berwudhu. Kemudian beliau melakukan shalat malam atau tarawih 9 rakaat yang beliau tidak duduk kecuali pada rakaat yang kedelapan lantas membaca pujian kepada Allah dan shalawat dan berdoa dan tidak salam, kemudian bangkit berdiri untuk rakaat yang kesembilan kemudian duduk tahiyat akhir dengan membaca dzikir, pujian kepada Allah, shalawat dan berdoa terus salam dengan suara yang didengar oleh kami. Kemudian beliau melakukan shalat lagi 2 rakaat dalam keadaan duduk.” (HR. Muslim 1233 marfu’, mutawatir)

            Faedah, Hadits ini merupakan dalil atas:

            1. Bolehnya shalat lagi setelah shalat witir.
            2. Terkadang Nabi shalat witir terlebih dahulu baru melaksanakan shalat genap.
            3. Bolehnya berdoa ketika duduk tasyahud awal.
            4. Bolehnya shalat malam dengan duduk meski tanpa uzur.

            Shalat tarawih sebanyak 9 rakaat dengan perincian sebagai berikut:

            1. Melakukan shalat dua rakaat dengan bacaan yang panjang baik dalam berdiri, ruku’ maupun sujud kemudian berbaring.
            2. Setelah bangun kemudian shalat 2 rakaat lagi dengan bacaan yang panjang baik ketika berdiri, ruku’ maupun sujud kemudian berbaring.
            3. Setelah bangun kemudian shalat 2 rakaat lagi dengan bacaan yang panjang baik ketika berdiri, ruku’ maupun sujud kemudian berbaring.
            4. Setelah bangun shalat witir 3 rakaat.

              Berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

              …ثُمَّ قَامَ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ فَأَطَالَ فِيْهْمَا الْقِيَامَ وَ الرُّكُوْعَ وَ السُّجُوْدَ ثُمَّ انْصَرَفَ فَنَامَ حَتَّى نَفَغَ ثُمَّ فَعَلَ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ سِتُّ رَكَعَاتٍ كُلُّ ذَلِكَ يَشْتاَكُ وَ يَتَوَضَأُ وَ يَقْرَأُ هَؤُلاَءِ الآيَاتِ ثُمَّ أَوْتَرَ بِثَلاَثٍ

              “…Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri melakukan shalat 2 rakaat maka beliau memanjangkan berdiri, rukuk dan sujudnya dalam 2 rakaat tersebut, kemudian setelah selesai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbaring sampai mendengkur. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulangi hal tersebut sampai 3 kali sehingga semuanya berjumlah 6 rakaat. Dan setiap kali hendak melakukan shalat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersiwak kemudian berwudhu terus membaca ayat (Inna fii kholqis samawati wal ardhi wakhtilafil laili… sampai akhir surat) kemudian berwitir 3 rakaat.” (HR. Muslim)

              Faedah, Hadits ini juga menjadi dalil kalau tidur membatalkan wudhu

              Shalat tarawih sebanyak 9 rakaat dengan perincian sebagai berikut:

              1. Melakukan shalat langsung 7 rakaat yaitu shalat langsung 6 rakaat, tidak duduk kecuali pada rakaat yang ke-6 tanpa salam kemudian berdiri 1 rakaat lagi kemudian salam. Maka sudah shalat 7 rakaat.
              2. Kemudian shalat 2 rakaat dalam keadaan duduk.

                Berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan Aisyah yang merupakan kelanjutan hadits no.5 beliau berkata: “Maka tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah tua dan mulai kurus maka beliau melakukan shalat malam atau tarawih 7 rakaat. Dan beliau melakukan shalat 2 rakaat yang terakhir sebagaimana yang beliau melakukannya pada tata cara yang pertama (dengan duduk). Sehingga jumlah seluruhnya 9 rakaat.” (HR. Muslim 1233)

                Disunnahkan pada shalat witir membaca surat “Sabbihisma…” pada rakaat yang pertama dan membaca surat al-Ikhlas pada rakaat yang kedua dan membaca surat al-Falaq atau an-Naas pada rakaat yang ketiga. Atau membaca surat “Sabbihisma…” pada rakaat yang pertama dan membaca surat al-Kafirun pada rakaat yang kedua dan membaca al-Ikhlas pada rakaat yang ketiga.

                Tata cara tersebut di atas semua benar. Boleh melakukan shalat malam atau tahajud atau tarawih dan witir dengan cara yang dia sukai, tetapi yang lebih afdhol adalah mengerjakan semua tata cara tersebut dengan berganti-ganti. Karena bila hanya memilih satu cara berarti menghidupkan satu sunnah tetapi mematikan sunnah yang lainnya. Bila melakukan semua tata cara tersebut dengan berganti-ganti berarti telah menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang banyak ditinggalkan oleh kaum Muslimin.

                Adapun pada zaman Khalifah Umar radhiyallahu ‘anhu Kaum muslimin melaksanakan shalat tarawih sebanyak 11 rakaat, 13 rakaat, 21 rakaat dan 23 rakaat. Kemudian 39 rakaat pada zaman khulafaur rosyidin setelah Umar radhiyallahu ‘anhu tetapi hal ini khusus di Madinah. Hal ini bukanlah bid’ah (sehingga sama sekali tidak bisa dijadikan dalil untuk adanya bid’ah hasanah) karena para sahabat memiliki dalil untuk melakukan hal ini (shalat tarawih lebih dari 13 rakaat). Dalil tersebut telah disebutkan di atas ketika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang shalat malam, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

                « مَثْنىَ مَثْنىَ فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ »

                “Dua rakaat – dua rakaat. Apabila kamu khawatir mendapati subuh, maka hendaklah kamu shalat witir satu rakaat.” (HR. Bukhari)

                Pada hadits tersebut jelas tidak disebutkan adanya batasan rakaat pada shalat malam baik di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan. Batasannya adalah datangnya waktu subuh maka diperintahkan untuk menutup shalat malam dengan witir.

                Para ulama berbeda sikap dalam menanggapi perbedaan jumlah rakaat tersebut. Jumhur ulama mendekati riwayat-riwayat tersebut dengan metode al-Jam’u bukan metode at-Tarjih (Metode tarjih adalah memilih dan memakai riwayat yang shahih serta meninggalkan riwayat yang lain atau dengan kata lain memilih satu pendapat dan meninggalkan pendapat yang lain. Hal ini dipakai oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam menyikapi perbedaan jumlah rakaat ini. Metode al-Jam’u adalah menggabungkan yaitu memakai semua riwayat tanpa meninggalkan dan memilih satu riwayat tertentu. Metode ini dipilih oleh jumhur ulama dalam permasalahan ini). Berikut ini beberapa komentar ulama yang menggunakan metode penggabungan (al-Jam’u) tentang perbedaan jumlah rakaat tersebut:

                • Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Ia boleh shalat 20 rakaat sebagaimana yang masyhur dalam mazhab Ahmad dan Syafi’i. Boleh shalat 36 rakaat sebagaimana yang ada dalam mazhab Malik. Boleh shalat 11 dan 13 rakaat. Semuanya baik, jadi banyak atau sedikitnya rakaat tergantung lamanya bacaan atau pendeknya.” (Majmu’ al-Fatawa 23/113)
                • Ath-Thartusi berkata: “Para sahabat kami (malikiyyah) menjawab dengan jawaban yang benar, yang bisa menyatukan semua riwayat. Mereka berkata mungkin Umar pertama kali memerintahkan kepada mereka 11 rakaat dengan bacaan yang amat panjang. Pada rakaat pertama imam membaca 200 ayat karena berdiri lama adalah yang terbaik dalam shalat. Tatkala masyarakat tidak kuat lagi menanggung hal itu maka Umar memerintahkan 23 rakaat demi meringankan lamanya bacaan. Dia menutupi kurangnya keutamaan dengan tambahan rakaat. Maka mereka membaca surat Al-Baqarah dalam 8 rakaat atau 12 rakaat.”
                • Imam Malik rahimahullah berkata: “Yang saya pilih untuk diri saya dalam qiyam Ramadhan adalah shalat yang diperintahkan Umar yaitu 11 rakaat itulah cara shalat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun 11 dekat dengan 13.
                • Syaikh Abdul ‘Aziz bin Bazz berkata: “Sebagian mereka mengira bahwa tarawih tidak boleh kurang dari 20 rakaat. Sebagian lain mengira bahwa tarawih tidak boleh lebih dari 11 atau 13 rakaat. Ini semua adalah persangkaan yang tidak pada tempatnya, BAHKAN SALAH. Bertentangan dengan hadits-hadits shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan bahwa shalat malam itu muwassa’ (leluasa, lentur, fleksibel). Tidak ada batasan tertentu yang kaku yang tidak boleh dilanggar.”

                Adapun kaum muslimin akhir jaman di saat ini khususnya di Indonesia adalah umat yang paling lemah. Kita shalat 11 rakaat (Paling sedikit) dengan bacaan yang pendek dan ada yang shalat 23 rakaat dengan bacaan pendek bahkan tanpa tu’maninah sama sekali!!!

                Doa Qunut dalam Shalat Witir

                Doa qunut nafilah yakni doa qunut dalam shalat witir termasuk amalan sunnah yang banyak kaum muslimin tidak mengetahuinya. Karena tidak mengetahuinya banyak kaum muslimin yang membid’ahkan imam yang membaca doa qunut witir. Kadang-kadang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memakai qunut dalam shalat witir dan terkadang tidak. Hal ini berdasarkan hadits:

                كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَقْنُتُ فِي رَكْعَةِ الْوِتْرِ

                “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang membaca qunut dalam shalat witir.” (HR. Ibnu Nashr dan Daraquthni dengan sanad shahih)

                يَجْعَلُهُ قَبْلَ الرُّكُوْعِ

                “Beliau membaca qunut itu sebelum ruku.” (HR. Ibnu Abi Syaibah, Abu Dawud dan An-Nasa’i dalam kitab Sunanul Qubro, Ahmad, Thobroni, Baihaqi dan Ibnu ‘Asakir dengan sanad shahih)

                Adapun doa qunut tersebut dilakukan setelah ruku’ atau boleh juga sebelum ruku’. Doa tersebut dibaca keras oleh imam dan diaminkan oleh para makmumnya. Dan boleh mengangkat tangan ketika membaca doa qunut tersebut.

                Di antara doa qunut witir yang disyariatkan adalah:

                « الَلَّهُمَّ اهْدِناَ فِيْمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِناَ فِيْمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّناَ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَباَرِكْ لَناَ فِيْماَ أَعْطَيْتَ، وَقِناَ شَرَّ ماَ قَضَيْتَ، فَإِنَّكَ تَقْضِى وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ، وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّناَ وَتَعَالَيْتَ، لاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ »

                Maraji’:

                1. Shohih Muslim
                2. Qiyaamur Ramadhan li Syaikh Al-Albanyrahimahullah
                3. Sifat Tarawih Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
                4. Sifat Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
                5. Majalah As-Sunnah Edisi 07/1424H/2003M
                6. Tata Cara Shalat Malam Nabi oleh Ustadz Arif Syarifuddin, Lc.

                  Timika, 3 Ramadhan 1428 H

                  ***

                  Penulis: R. Handanawirya (Alumni Ma’had Ilmi)
                  Muroja’ah: Ustadz Aris Munandar

                  124 Komentar

                  1. Pencari Ilmu
                    25 Aug 2010 [Permalink]

                    bismillah…
                    afwan akh, apakah ada tutunannya tentang pelaksanaan shalat lail yg dilakukan setelah shalat tarawih? karena yg ana dapati dr dalil2 maupun penjelasan ulama, tdk disebutkan adanya shalat lail yg dikerjakan setelah shalat tarawih. jadi ana hanya mencukupkan diri dg shalat tarawih saja, kemudian malamnya digunakan utk membaca Al-Qur’an atau lainnya yg bermanfaat.
                    barakallahu fiikum…

                  2. Abduh Tuasikal
                    26 Aug 2010 [Permalink]

                    @ Pencari Ilmu
                    Mencukupkan shalat malam dg shalat tarawih saja boleh, menambahnya juga boleh sebagaimana dijelaskan di sini: http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2683-setelah-shalat-witir-bolehkah-shalat-sunnah-lagi.html.

                  3. Yulian Purnama
                    28 Aug 2010 [Permalink]

                  4. Yulian Purnama
                    28 Aug 2010 [Permalink]

                  5. Abdul
                    01 Sep 2010 [Permalink]

                    Assalamu’alaikum wr.wb.

                    Ustadz,dalil tentang bacaan surat al-Qadr pada setiap rakaat terakhir(2 rakaat) pada shalat taraweh di 15 malam terakhir ada gg?

                    syukron & barokallahu fik…

                  6. Abduh Tuasikal
                    03 Sep 2010 [Permalink]

                    @ Abdul
                    Wa’alaikumus salam.
                    Itu amalan yg mengada-ada.

                  7. yudha
                    22 Oct 2010 [Permalink]

                    saya masih bingung dgn cara mengerjakan sholat tahajud.apakah dikerjakan 2 rakaat salam dan langsung berdoa atau 2 rakaat salam lgsg lanjut melaksanakan 2 rakaat berikutnya sampai 8 rakaat n 3 witir.terima kasih

                  8. Yulian Purnama
                    22 Oct 2010 [Permalink]

                    #yudha
                    Keduanya boleh.

                  9. by yudik priyambodo
                    31 Oct 2010 [Permalink]

                    klow sholat subuh gimana dg doa qunut,mhon saya dibri thu hadist yg mnjdidsarnya,trimakasih

                  10. Yulian Purnama
                    01 Nov 2010 [Permalink]

                  11. 'Muallaf'
                    06 Nov 2010 [Permalink]

                    Assalammu’alikum Wr. Wb
                    Yth. Ustadz
                    Saya Islam sejak kecil, tetapi karena kebodohan saya, selama ini saya tidak pernah mensyukuri nikmat itu, alhamdullillah… walaupun dengan pengetahuan yang sangat terbatas, sekarang saya mencoba untuk menjadi muslim yang sebenarnya, mohon ustadz berkenan mengirimkan hal-hal yang berkaitan dengan tata cara shalat yang benar, baik itu yang fardhu maupun sunat, selama ini saya mencoba untuk melakukannya, alhamdullillah, saya merasakan ketenangan luar biasa yang selama ini tidak pernah saya dapatkan, saya ingin belajar, tetapi terkadang saya masih merasa malu (mudah2an Allah SWT mengampuni saya) untuk belajar secara langsung, saya sangat berterima kasih jika ustadz mau membantu saya, dan mudah2an Allah membalas kebaikan ustadz, terima kasih, wassalammu’alaikum wr.wb

                  12. Yulian Purnama
                    26 Nov 2010 [Permalink]

                    #Muallaf
                    Wa’alaikumussalam. Silakan simak di http://www.sholat-kita.net/

                  13. Dinar
                    02 Dec 2010 [Permalink]

                    Assalamu’alaikum wr. wb.,

                    Bolehkan sholat Tahajjud berjamaah bersama suami sebagai imam dan anak 2 kami..? krn ada teman saya yg bilang klo sohlat tahajjud itu harus sendiri…terima kasih.

                    wasalam

                  14. herahadi
                    01 Jan 2011 [Permalink]

                    kalau tahajud itu wajib make witir atau tidak?
                    apa benar tahajud tidak boleh berjamaah?

                  15. Yulian Purnama
                    03 Jan 2011 [Permalink]

                    #herahadi
                    - Shalat witir hukumnya sunnah
                    - Tentang shalat tahajjud berjama’ah, silakan simak:
                    http://ustadzaris.com/hukum-shalat-tahajud-secara-berjamaah

                  16. han
                    06 Jan 2011 [Permalink]

                    ass..sebaiknya solat witir duluan apa solat tahajjud dan ditutup solat witir. tks

                  17. Abduh Tuasikal
                    07 Jan 2011 [Permalink]

                    @ Han
                    Wa’alaikumus salam.
                    Yang lebih baik adalah jadikan shalat witir sebagai penutup shalat malam jika memang mampu bangun di akhir malam. Silakan baca di sini: http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3031-panduan-shalat-witir.html

                  18. Yulian Purnama
                    17 Jan 2011 [Permalink]

                    #Dinar
                    Wa’alaikumussalam, silakan simak:
                    http://ustadzaris.com/hukum-shalat-tahajud-secara-berjamaah

                  19. Abdus Salam
                    29 Jan 2011 [Permalink]

                    apakah Rosululloh SAW mengamalkan sholat qobliyah Jum’at sebelum khutbah Jum’at?

                  20. azzam mrc
                    30 Jan 2011 [Permalink]

                    assalamu’alaikum wr. wb

                    afwan ustad…ana mau tanya ne…apakah hadis yg ustad jadikn dalil soal do’a qunut to di dalam buku karangan siapa dan hadist riwayat siapa…satau ana ga tuntunan do’a qunut dalam sholat… meskipn ada to adalah dalil yg dhoif…alias hadits lemah…jadi ana leh saran jika ingin memberikan suatu dalil tlong brikan secara lengkap agar kita bisa cermati…yg jadi masalahnya sekarang adalah do’a qunut to banyak perdebatan krn status hadits to adalah dhoif…boleh kita jadikan hadit dhoif to tuk…hanya sekedar pemahaman ja tapi jgn menganggap bahwa tu adalah sunnah…krn ga tuntunan do’a qunut to…ana tungggu jawaban ustad…1. karangan imam siapa 2. dalam kitab apa 3. perowinya siapa…
                    syukron katsir…
                    afmingkum
                    wassalam…

                  21. Yulian Purnama
                    09 Feb 2011 [Permalink]

                    #Abdus Salam
                    Beliau tidak pernah mengamalkan shalat yang diistilahkan shalat qabliyah jum’at tersebut.

                  22. andy
                    12 Feb 2011 [Permalink]

                    asalamualaikum wr wb
                    ustd,saya mau tanya tentang sholat iftitah yg mengiringi sholat tahajud,bagaimana lafal niatnya,syukron…

                  23. Yulian Purnama
                    16 Feb 2011 [Permalink]

                    #andy
                    Wa’alaikumussalam. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tidak pernah mengajarkan lafal niat untuk ibadah shalat apapun. Berkeinginan, beritikad, berkemauan dalam hati untuk shalat itulah niat. Islam itu mudah.

                  24. Ulfah Suryani
                    15 Mar 2011 [Permalink]

                    semoga bermanfaat….

                  25. Yulian Purnama
                    01 Apr 2011 [Permalink]

                    #azzam
                    Wa’alaikumussalam. Silakan dibaca kembali dengan lebih cermat.

                  26. Riskha
                    01 Apr 2011 [Permalink]

                    assalammu’alaikum wr.wb…

                    ustadz saya mau bertanya..
                    apakah boleh setelah shalat tahajud, dilanjutkan dengan shalat hajat lalu ditutup dengan witir??

                    bolehkah dalam 1 waktu kita melakukan shalat sunnah yang berbeda???
                    jika tidak boleh, adakah hadits yg shahih yg melarang/memperbolehkan????

                    satu lagi, apakah jika bulan ramadhan jika sudah melaksanakan shalat tarawih kita tidak boleh melaksanakan shalat tahajud???

                    mohon bantuannya ustadz,,
                    terima kasih,,
                    wassalam..

                  27. Abduh Tuasikal
                    06 Apr 2011 [Permalink]

                    wa’alaikumus salam.
                    @ Riskha
                    1. Mengenai shalat hajat di sini yg perlu diteliti keabsahan haditsnya.
                    2. boleh lakukan beberapa macam shalat sunnah yg berbeda dlm satu waktu, bhkn ada beberapa shalat sunnah yg niatnya bisa digabungkan dlm satu shalat.
                    3. boleh stelah tarawih laksanakan lagi shalat tahajud.

                  28. Junaidi
                    11 Apr 2011 [Permalink]

                    Semoga Di ridhoi ALLAH.

                  29. Aryasaga
                    12 Apr 2011 [Permalink]

                    Asslamu ‘Alaikum
                    Ustad Mau Bertanya:
                    1. Kata teman saya , jika ingin tahajud yg 8 rakaat (setiap 4 rakaat 1x salam) tdk usah ada tahiyat awalnya apa benar?
                    2. Bgaimana hukumnya jika krn bangun tidurnya telat (kira-2 30 menit lg masuk waktu sholat subuh), sholatnya tahajud hanya dapat 4 rakaat dan 3 witir?
                    Terima Kasih

                  30. Yulian Purnama
                    25 Apr 2011 [Permalink]

                    #Aryasaga
                    Wa’alaikumussalam,
                    1. Sudah dibahas dalam artikel, mohon dibaca kembali
                    2. Selama belum masuk waktu subuh maka masih bisa melakukan shalat tahajjud dan witir. Mengenai rakaatnya tidak ada batasan dan ketentuannya sebagaimana di artikel.

                  31. Aryasaga
                    27 Apr 2011 [Permalink]

                    Maaf, satu lagi:
                    Jika sholat tahajud berjamaah dgn isrti saya dgn 4 rakaat 1x salam dan juga ketika sholat tahajud sendirian , apakah bacaan Alfatiha dan Surah nya boleh dikeraskan pada setiap rakaatnya atau pada 2 rakaat awal saja atau tidak dikeraskan sama sekali?
                    Terima Kasih

                  32. Faisal Gultom
                    08 May 2011 [Permalink]

                    assalamu’alaikum…

                    ijin share beberapa notes ya akhi\ukhti..

                  33. Aulia
                    13 Jun 2011 [Permalink]

                    Assalamu’alaikum, wr, wb. Saya lebih cenderung bahwa hadist2 di atas untuk merujuk masalah shalat malam (tahajjud)saja bukan shalat tarawih. jika “Rasulullah shalat malam tidak lebih dari 11 rakaat” adalah juga termasuk sholat tarawih, berapa jumlah rakaat shalat tahajjud yang rasul kerjakan di bulan ramadhan? Jika dalam hitungan Rasul mengerjakan tarawih 8 rakaat dan witir 3 rakaat, bukankah itu berarti Rasul tidak mengerjakan tahajjud di bulan ramadhan? mohon penjelasannya ustadz.

                  34. farih abdurrahman
                    02 Jul 2011 [Permalink]

                    subhanallah,saya sangat bruntung bisa membaca ilmu-ilmu yg terdapat disini semoga ilmunya bisa bermanfaat bagi kita semua,dan semoga setiap hari makin banyak lagi ilmu2 yg lainnya oh ya dan semoga fatwa2 para ulama salaf makin banyak lagi.amien

                  35. farih abdurrahman
                    05 Jul 2011 [Permalink]

                    assalamu’alaikum ustadz afwan anna mau nanya masalah tentang sholat!!!kapankah seorang makmum dapat membaca surat al-fatihah ketika sedang sholat berjama’ah?
                    1.apakah mengikuti imam yg sedang membaca,dgn
                    dibaca didalam hati,atau
                    2.dibaca setelah imam selesai membaca al-fatihah
                    “padahal rasulullah pernah bersabda:tidak sah sholat seseorang jika tdk membaca al-fatihah”
                    mohon penjelasannya.jazakumullahukhoiron

                  36. Yulian Purnama
                    18 Jul 2011 [Permalink]

                    #Aulia
                    Wa’alaikumussalam, shalat tahajjud dan shalat tarawih keduanya termasuk shalat malam.

                  37. Yulian Purnama
                    18 Jul 2011 [Permalink]

                    #farih abdurrahman
                    wa’alaikumussalam, ada 2 cara:
                    1. Mengikuti bacaan imam. Ketika imam selesai membaca “alhamdulillahirabbil’alamin” baru anda membaca “alhamdulillahirabbil’alamin“, ketika imam selesai membaca “arrahmanirrahim” baru anda membaca “arrahmanirrahim“, dst.
                    2. Dibaca setelah imam selesai. Yaitu waktu antara setelah amin sampai sebelum ruku’.

                  38. Aris Munandar
                    19 Jul 2011 [Permalink]

                    #Aryasaga
                    Bacaan alfatihah dan surat ketika tahajud boleh dikeraskan, boleh juga tidak.

                  39. nilam
                    31 Jul 2011 [Permalink]

                    Mashallah, terima kasih atas artikelnya, sangat membantu saya terlebih untuk di share ke suami saya yg mualaf.

                  40. yudo
                    03 Aug 2011 [Permalink]

                    assalammualaikum, mohon maaf mohon penjelasannya mengenai:
                    Dalam hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu yang lain dikatakan:

                    « صَلاَةُ اللَّيْلِ وَ النَّهَارِ رَكْعَتَانِ رَكْعَتَانِ »

                    “Shalat malam hari dan siang hari itu dua rakaat – dua rakaat.” (HR Ibn Abi Syaibah) (At-Tamhiid, 5/251; Al-Hawadits, 140-143; Fathul Bari’ 4/250; Al-Muntaqo 4/49-51)

                    Maka jika ada dalil lain yang shahih yang menerangkan berbeda dengan tata cara yang asal (dasar) tersebut, maka kita mengikuti dalil yang shahih tersebut.
                    dan hadist :
                    hadits shahih yang diriwayatkan dari Aisyah, beliau berkata:

                    مَا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلّ الله عليه و سلّم يَزِيْدُ فِي رَمَضَانَ وَ لاَ فِي غَيْرِهِ إِحْدَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّى أَرْبَعًا، فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَ طُوْلَـهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَ طُوْلَـهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى ثَلاَثاً

                    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah bilangan pada bulan Ramadhan dan tidak pula pada bulan selain Ramadhan dari 11 Rakaat. Beliau shalat 4 rakaat sekali salam maka jangan ditanya tentang kebagusan dan panjangnya, kemudian shalat 4 rakaat lagi sekali salam maka jangan ditanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian shalat witir 3 rakaat.” (HR Muslim)
                    terima kasih sebelumnya, wasasalam

                  41. ulil amri
                    03 Aug 2011 [Permalink]

                    ustad apa yang dibaca setelah 2rakaat pertama sholat tarawih…… dan selanjutnya…????

                  42. reey
                    03 Aug 2011 [Permalink]

                    saya mau tanya.. bacaan shalat ketikamelakukan shalat sunnah itu apakah sama dengan bacaan shalat fardhu..?? maksudnya bacaan iftitah,. karena seringkali ketika shalat sunah berjamaah, seringkali saya mendapati imam saya seperti langsung membaca al-fatihah setelah takbiratul ikhram..
                    seperti tidak ada jeda..
                    selama ini saya tahunya tetap saya baca ketika saya shalat sunah..
                    terimakasih sebelumnya..

                  43. Yulian Purnama
                    04 Aug 2011 [Permalink]

                    #reey
                    Membaca doa iftitah hukumnya sunnah, tidak wajib

                  44. fahmy
                    05 Aug 2011 [Permalink]

                    Akhi..ana ijin download..syukron.

                  45. m naufal s
                    05 Aug 2011 [Permalink]

                    kalo solat teraweh di mesjid 8 rakaat, terus diterusin di rumah solat witir 3 rakaat boleh,’kan?

                    #makasihsebelumnya

                  46. Yulian Purnama
                    05 Aug 2011 [Permalink]

                    #m naufal s
                    Boleh, namun bila mengikuti imam sampai selesai akan mendapatkan pahala shalat semalam suntuk.

                  47. Mukti
                    06 Aug 2011 [Permalink]

                    maaf tanya ustadz, dikampung saya tarawih 23 raka’at tapi imamnya “ngebut” bacaanya jadi saya ga sampe selesai baca fatihahnya setiap rak’at trus ga bisa khusyu juga, jadi saya kadang memilih tarawih dirumah jama’ah sama istri dan anak tarawih 8 raka’at + 3 witir, lebih afdhol mana?

                  48. Yulian Purnama
                    08 Aug 2011 [Permalink]

                    #Mukti
                    Sebaiknya mencari masjid lain yang shalatnya bisa tuma’ninah.

                  49. Munawar
                    10 Aug 2011 [Permalink]

                    Assalamualaikum,
                    Di mesjid saya 23 rakaat (dengan witir), namun oleh pengurus diberi kesempatan bagi yang taraweh 8 rakaat untuk mengerjakan 3 rakaat witir terlebih dahulu dengan imam yang berbeda.
                    setelah selesai imam pertama melanjutkan taraweh (20 rakaat) dan witir dengan jamaah sisa. pertanyaan : apakah yg 8 rakaat taraweh + 3 rakaat witir dengan imam yang berbeda dengan tempat dan jamaah yang sama digolongkan dalam kategori mendapatkan pahala shalat semalam suntuk juga?

                  50. Yulian Purnama
                    11 Aug 2011 [Permalink]

                    #ulil amri
                    Tidak ada bacaan khusus, boleh diam saja atau berdzikir bebas masing-masing dengan suara lirih.

                  Tinggalkan Komentar

                  Kembali ke Atas