Tata Cara Mandi Wajib


Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.

Tulisan kali ini adalah kelanjutan dari tulisan sebelumnya mengenai lima hal yang menyebabkan mandi wajib. Saat ini kami akan memaparkan serial kedua dari tiga serial secara keseluruhan tentang tata cara mandi wajib (al ghuslu). Semoga pembahasan kali ini bermanfaat.

Niat, Syarat Sahnya Mandi

Para ulama mengatakan bahwa di antara fungsi niat adalah untuk membedakan manakah yang menjadi kebiasaan dan manakah ibadah. Dalam hal mandi tentu saja mesti dibedakan dengan mandi biasa. Pembedanya adalah niat. Dalam hadits dari ‘Umar bin Al Khattab, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)

Rukun Mandi

Hakikat mandi adalah mengguyur seluruh badan dengan air, yaitu mengenai rambut dan kulit.

Inilah yang diterangkan dalam banyak hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antaranya adalah hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang menceritakan tata cara mandi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ثُمَّ يُفِيضُ الْمَاءَ عَلَى جَسَدِهِ كُلِّهِ

Kemudian beliau mengguyur air pada seluruh badannya.” (HR. An Nasa-i no. 247. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, “Penguatan makna dalam hadits ini menunjukkan bahwa ketika mandi beliau mengguyur air ke seluruh tubuh.”[1]

Dari Jubair bin Muth’im berkata, “Kami saling memperbincangkan tentang mandi janabah di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda,

أَمَّا أَنَا فَآخُذُ مِلْءَ كَفِّى ثَلاَثاً فَأَصُبُّ عَلَى رَأْسِى ثُمَّ أُفِيضُهُ بَعْدُ عَلَى سَائِرِ جَسَدِى

Saya mengambil dua telapak tangan, tiga kali lalu saya siramkan pada kepalaku, kemudian saya tuangkan setelahnya pada semua tubuhku.” (HR. Ahmad 4/81. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari Muslim)

Dalil yang menunjukkan bahwa hanya mengguyur seluruh badan dengan air itu merupakan rukun (fardhu) mandi dan bukan selainnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah. Ia mengatakan,

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى امْرَأَةٌ أَشُدُّ ضَفْرَ رَأْسِى فَأَنْقُضُهُ لِغُسْلِ الْجَنَابَةِ قَالَ « لاَ إِنَّمَا يَكْفِيكِ أَنْ تَحْثِى عَلَى رَأْسِكِ ثَلاَثَ حَثَيَاتٍ ثُمَّ تُفِيضِينَ عَلَيْكِ الْمَاءَ فَتَطْهُرِينَ ».

Saya berkata, wahai Rasulullah, aku seorang wanita yang mengepang rambut kepalaku, apakah aku harus membuka kepangku ketika mandi junub?” Beliau bersabda, “Jangan (kamu buka). Cukuplah kamu mengguyur air pada kepalamu tiga kali, kemudian guyurlah yang lainnya dengan air, maka kamu telah suci.” (HR. Muslim no. 330)

Dengan seseorang memenuhi rukun mandi ini, maka mandinya dianggap sah, asalkan disertai niat untuk mandi wajib (al ghuslu). Jadi seseorang yang mandi di pancuran atau shower dan air mengenai seluruh tubuhnya, maka mandinya sudah dianggap sah.

Adapun berkumur-kumur (madhmadhoh), memasukkan air dalam hidung (istinsyaq) dan menggosok-gosok badan (ad dalk) adalah perkara yang disunnahkan menurut mayoritas ulama.[2]

Tata Cara Mandi yang Sempurna

Berikut kita akan melihat tata cara mandi yang disunnahkan. Apabila hal ini dilakukan, maka akan membuat mandi tadi lebih sempurna. Yang menjadi dalil dari bahasan ini adalah dua dalil yaitu hadits dari ‘Aisyah dan hadits dari Maimunah.

Hadits pertama:

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الْجَنَابَةِ بَدَأَ فَغَسَلَ يَدَيْهِ ، ثُمَّ يَتَوَضَّأُ كَمَا يَتَوَضَّأُ لِلصَّلاَةِ ، ثُمَّ يُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِى الْمَاءِ ، فَيُخَلِّلُ بِهَا أُصُولَ شَعَرِهِ ثُمَّ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ ثَلاَثَ غُرَفٍ بِيَدَيْهِ ، ثُمَّ يُفِيضُ الْمَاءَ عَلَى جِلْدِهِ كُلِّهِ

Dari ‘Aisyah, isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi junub, beliau memulainya dengan mencuci kedua telapak tangannya. Kemudian beliau berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Lalu beliau memasukkan jari-jarinya ke dalam air, lalu menggosokkannya ke kulit kepalanya, kemudian menyiramkan air ke atas kepalanya dengan cidukan kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengalirkan air ke seluruh kulitnya.” (HR. Bukhari no. 248 dan Muslim no. 316)

Hadits kedua:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَتْ مَيْمُونَةُ وَضَعْتُ لِرَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – مَاءً يَغْتَسِلُ بِهِ ، فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ ، فَغَسَلَهُمَا مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا ، ثُمَّ أَفْرَغَ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ ، فَغَسَلَ مَذَاكِيرَهُ ، ثُمَّ دَلَكَ يَدَهُ بِالأَرْضِ ، ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ ثُمَّ غَسَلَ رَأْسَهُ ثَلاَثًا ، ثُمَّ أَفْرَغَ عَلَى جَسَدِهِ ، ثُمَّ تَنَحَّى مِنْ مَقَامِهِ فَغَسَلَ قَدَمَيْهِ

Dari Ibnu ‘Abbas berkata bahwa Maimunah mengatakan, “Aku pernah menyediakan air mandi untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau menuangkan air pada kedua tangannya dan mencuci keduanya dua kali-dua kali atau tiga kali. Lalu dengan tangan kanannya beliau menuangkan air pada telapak tangan kirinya, kemudian beliau mencuci kemaluannya. Setelah itu beliau menggosokkan tangannya ke tanah. Kemudian beliau berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung. Lalu beliau membasuh muka dan kedua tangannya. Kemudian beliau membasuh kepalanya tiga kali dan mengguyur seluruh badannya. Setelah itu beliau bergeser dari posisi semula lalu mencuci kedua telapak kakinya (di tempat yang berbeda).” (HR. Bukhari no. 265 dan Muslim no. 317)

Dari dua hadits di atas, kita dapat merinci tata cara mandi yang disunnahkan sebagai berikut.

Pertama: Mencuci tangan terlebih dahulu sebanyak tiga kali sebelum tangan tersebut dimasukkan dalam bejana atau sebelum mandi.

Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah mengatakan, “Boleh jadi tujuan untuk mencuci tangan terlebih dahulu di sini adalah untuk membersihkan tangan dari kotoran … Juga boleh jadi tujuannya adalah karena mandi tersebut dilakukan setelah bangun tidur.”[3]

Kedua: Membersihkan kemaluan dan kotoran yang ada dengan tangan kiri.

Ketiga: Mencuci tangan setelah membersihkan kemaluan dengan menggosokkan ke tanah atau dengan menggunakan sabun.

An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Disunnahkan bagi orang yang beristinja’ (membersihkan kotoran) dengan air, ketika selesai, hendaklah ia mencuci tangannya dengan debu atau semacam sabun, atau hendaklah ia menggosokkan tangannya ke tanah atau tembok untuk menghilangkan kotoran yang ada.”[4]

Keempat: Berwudhu dengan wudhu yang sempurna seperti ketika hendak shalat.

Asy Syaukani rahimahullah mengatakan, “Adapun mendahulukan mencuci anggota wudhu ketika mandi itu tidaklah wajib. Cukup dengan seseorang mengguyur badan ke seluruh badan tanpa didahului dengan berwudhu, maka itu sudah disebut mandi (al ghuslu).”[5]

Untuk kaki ketika berwudhu, kapankah dicuci?

Jika kita melihat dari hadits Maimunah di atas, dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau membasuh anggota wudhunya dulu sampai membasuh kepala, lalu mengguyur air ke seluruh tubuh, sedangkan kaki dicuci terakhir. Namun hadits ‘Aisyah menerangkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu secara sempurna (sampai mencuci kaki), setelah itu beliau mengguyur air ke seluruh tubuh.

Dari dua hadits tersebut, para ulama akhirnya berselisih pendapat kapankah kaki itu dicuci. Yang tepat tentang masalah ini, dua cara yang disebut dalam hadits ‘Aisyah dan Maimunah bisa sama-sama digunakan. Yaitu kita bisa saja mandi dengan berwudhu secara sempurna terlebih dahulu, setelah itu kita mengguyur air ke seluruh tubuh, sebagaimana disebutkan dalam riwayat ‘Aisyah. Atau boleh jadi kita gunakan cara mandi dengan mulai berkumur-kumur, memasukkan air dalam hidup, mencuci wajah, mencuci kedua tangan, mencuci kepala, lalu mengguyur air ke seluruh tubuh, kemudian kaki dicuci terakhir.

Syaikh Abu Malik hafizhohullah mengatakan, “Tata cara mandi (apakah dengan cara yang disebut dalam hadits ‘Aisyah dan Maimunah) itu sama-sama boleh digunakan, dalam masalah ini ada kelapangan.”[6]

Kelima: Mengguyur air pada kepala sebanyak tiga kali hingga sampai ke pangkal rambut.

Keenam: Memulai mencuci kepala bagian kanan, lalu kepala bagian kiri.

Ketujuh: Menyela-nyela rambut.

Dalam hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha disebutkan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الْجَنَابَةِ غَسَلَ يَدَيْهِ ، وَتَوَضَّأَ وُضُوءَهُ لِلصَّلاَةِ ثُمَّ اغْتَسَلَ ، ثُمَّ يُخَلِّلُ بِيَدِهِ شَعَرَهُ ، حَتَّى إِذَا ظَنَّ أَنْ قَدْ أَرْوَى بَشَرَتَهُ ، أَفَاضَ عَلَيْهِ الْمَاءَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ، ثُمَّ غَسَلَ سَائِرَ جَسَدِهِ

Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mandi junub, beliau mencuci tangannya dan berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Kemudian beliau mandi dengan menggosok-gosokkan tangannya ke rambut kepalanya hingga bila telah yakin merata mengenai dasar kulit kepalanya, beliau mengguyurkan air ke atasnya tiga kali. Lalu beliau membasuh badan lainnya.” (HR. Bukhari no. 272)

Juga ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,

كُنَّا إِذَا أَصَابَتْ إِحْدَانَا جَنَابَةٌ ، أَخَذَتْ بِيَدَيْهَا ثَلاَثًا فَوْقَ رَأْسِهَا ، ثُمَّ تَأْخُذُ بِيَدِهَا عَلَى شِقِّهَا الأَيْمَنِ ، وَبِيَدِهَا الأُخْرَى عَلَى شِقِّهَا الأَيْسَرِ

Jika salah seorang dari kami mengalami junub, maka ia mengambil air dengan kedua tangannya dan disiramkan ke atas kepala, lalu mengambil air dengan tangannya dan disiramkan ke bagian tubuh sebelah kanan, lalu kembali mengambil air dengan tangannya yang lain dan menyiramkannya ke bagian tubuh sebelah kiri.” (HR. Bukhari no. 277)

Kedelapan: Mengguyur air pada seluruh badan dimulai dari sisi yang kanan setelah itu yang kiri.

Dalilnya adalah hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِى تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِى شَأْنِهِ كُلِّهِ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mendahulukan yang kanan ketika memakai sendal, ketika bersisir, ketika bersuci dan dalam setiap perkara (yang baik-baik).”  (HR. Bukhari no. 168 dan Muslim no. 268)

Mengguyur air ke seluruh tubuh di sini cukup sekali saja sebagaimana zhohir (tekstual) hadits yang membicarakan tentang mandi. Inilah salah satu pendapat dari madzhab Imam Ahmad dan dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.[7]

Bagaimanakah Tata Cara Mandi pada Wanita?

Tata cara mandi junub pada wanita sama dengan tata cara mandi yang diterangkan di atas sebagaimana telah diterangkan dalam hadits Ummu Salamah, “Saya berkata, wahai Rasulullah, aku seorang wanita yang mengepang rambut kepalaku, apakah aku harus membuka kepangku ketika mandi junub?” Beliau bersabda, “Jangan (kamu buka). Cukuplah kamu mengguyur air pada kepalamu tiga kali, kemudian guyurlah yang lainnya dengan air, maka kamu telah suci.” (HR. Muslim no. 330)

Untuk mandi karena haidh dan nifas, tata caranya sama dengan mandi junub namun ditambahkan dengan beberapa hal berikut ini:

Pertama: Menggunakan sabun dan pembersih lainnya beserta air.

Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,

أَنَّ أَسْمَاءَ سَأَلَتِ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ غُسْلِ الْمَحِيضِ فَقَالَ « تَأْخُذُ إِحْدَاكُنَّ مَاءَهَا وَسِدْرَتَهَا فَتَطَهَّرُ فَتُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُهُ دَلْكًا شَدِيدًا حَتَّى تَبْلُغَ شُئُونَ رَأْسِهَا ثُمَّ تَصُبُّ عَلَيْهَا الْمَاءَ. ثُمَّ تَأْخُذُ فِرْصَةً مُمَسَّكَةً فَتَطَهَّرُ بِهَا ». فَقَالَتْ أَسْمَاءُ وَكَيْفَ تَطَهَّرُ بِهَا فَقَالَ « سُبْحَانَ اللَّهِ تَطَهَّرِينَ بِهَا ». فَقَالَتْ عَائِشَةُ كَأَنَّهَا تُخْفِى ذَلِكَ تَتَبَّعِينَ أَثَرَ الدَّمِ. وَسَأَلَتْهُ عَنْ غُسْلِ الْجَنَابَةِ فَقَالَ « تَأْخُذُ مَاءً فَتَطَهَّرُ فَتُحْسِنُ الطُّهُورَ – أَوْ تُبْلِغُ الطُّهُورَ – ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُهُ حَتَّى تَبْلُغَ شُئُونَ رَأْسِهَا ثُمَّ تُفِيضُ عَلَيْهَا الْمَاءَ »

Asma’ bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang mandi wanita haidh. Maka beliau bersabda, “Salah seorang dari kalian hendaklah mengambil air dan daun bidara, lalu engkau bersuci, lalu membaguskan bersucinya. Kemudian hendaklah engkau menyiramkan air pada kepalanya, lalu menggosok-gosoknya dengan keras hingga mencapai akar rambut kepalanya. Kemudian hendaklah engkau menyiramkan air pada kepalanya tadi. Kemudian engkau mengambil kapas bermisik, lalu bersuci dengannya. Lalu Asma’ berkata, “Bagaimana dia dikatakan suci dengannya?” Beliau bersabda, “Subhanallah, bersucilah kamu dengannya.” Lalu Aisyah berkata -seakan-akan dia menutupi hal tersebut-, “Kamu sapu bekas-bekas darah haidh yang ada (dengan kapas tadi)”. Dan dia bertanya kepada beliau tentang mandi junub, maka beliau bersabda, ‘Hendaklah kamu mengambil air lalu bersuci dengan sebaik-baiknya bersuci, atau bersangat-sangat dalam bersuci kemudian kamu siramkan air pada kepala, lalu memijatnya hingga mencapai dasar kepalanya, kemudian mencurahkan air padanya’.” (HR. Bukhari no. 314 dan Muslim no. 332)

Kedua: Melepas kepangan sehingga air sampai ke pangkal rambut.

Dalil hal ini adalah hadits yang telah lewat,

ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُهُ دَلْكًا شَدِيدًا حَتَّى تَبْلُغَ شُئُونَ رَأْسِهَا

Kemudian hendaklah kamu menyiramkan air pada kepalanya, lalu menggosok-gosoknya dengan keras hingga mencapai akar rambut kepalanya.” Dalil ini menunjukkan tidak cukup dengan hanya mengalirkan air seperti halnya mandi junub. Sedangkan mengenai mandi junub disebutkan,

ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُهُ حَتَّى تَبْلُغَ شُئُونَ رَأْسِهَا ثُمَّ تُفِيضُ عَلَيْهَا الْمَاءَ

Kemudian kamu siramkan air pada kepala, lalu memijatnya hingga mencapai dasar kepalanya, kemudian mengguyurkan air padanya.

Dalam mandi junub tidak disebutkan “menggosok-gosok dengan keras”. Hal ini menunjukkan bedanya mandi junub dan mandi karena haidh/nifas.

Ketiga: Ketika mandi sesuai masa haidh, seorang wanita disunnahkan membawa kapas atau potongan kain untuk mengusap tempat keluarnya darah guna menghilangkan sisa-sisanya. Selain itu, disunnahkan mengusap bekas darah pada kemaluan setelah mandi dengan minyak misk atau parfum lainnya. Hal ini dengan tujuan untuk menghilangkan bau yang tidak enak karena bekas darah haidh.

Perlukah Berwudhu Seusai Mandi?

Cukup kami bawakan dua riwayat tentang hal ini,

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ لاَ يَتَوَضَّأُ بَعْدَ الْغُسْلِ

Dari ‘Aisyah, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berwudhu setelah selesai mandi.” (HR. Tirmidzi no. 107, An Nasai no. 252, Ibnu Majah no. 579, Ahmad 6/68. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Sebuah riwayat dari Ibnu ‘Umar,

سُئِلَ عَنِ الْوُضُوءِ بَعْدَ الْغُسْلِ؟ فَقَالَ:وَأَيُّ وُضُوءٍ أَعَمُّ مِنَ الْغُسْلِ؟

Beliau ditanya mengenai wudhu setelah mandi. Lalu beliau menjawab, “Lantas wudhu yang mana lagi yang lebih besar dari mandi?” (HR. Ibnu Abi Syaibah secara marfu’ dan mauquf[8])

Abu Bakr Ibnul ‘Arobi  berkata, “Para ulama tidak berselisih pendapat bahwa wudhu telah masuk dalam mandi.” Ibnu Baththol juga telah menukil adanya ijma’ (kesepakatan ulama) dalam masalah ini.[9]

Penjelasan ini adalah sebagai alasan yang kuat bahwa jika seseorang sudah berniat untuk mandi wajib, lalu ia mengguyur seluruh badannya dengan air, maka setelah mandi ia tidak perlu berwudhu lagi, apalagi jika sebelum mandi ia sudah berwudhu.

Apakah Boleh Mengeringkan Badan dengan Handuk Setelah Mandi?

Di dalam hadits Maimunah disebutkan mengenai tata cara mandi, lalu diakhir hadits disebutkan,

فَنَاوَلْتُهُ ثَوْبًا فَلَمْ يَأْخُذْهُ ، فَانْطَلَقَ وَهْوَ يَنْفُضُ يَدَيْهِ

Lalu aku sodorkan kain (sebagai pengering) tetapi beliau tidak mengambilnya, lalu beliau pergi dengan mengeringkan air dari badannya dengan tangannya” (HR. Bukhari no. 276). Berdasarkan hadits ini, sebagian ulama memakruhkan mengeringkan badan setelah mandi. Namun yang tepat, hadits tersebut bukanlah pendukung pendapat tersebut dengan beberapa alasan:

  1. Perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika itu masih mengandung beberapa kemungkinan. Boleh jadi beliau tidak mengambil kain (handuk) tersebut karena alasan lainnya yang bukan maksud untuk memakruhkan mengeringkan badan ketika itu. Boleh jadi kain tersebut mungkin sobek atau beliau buru-buru saja karena ada urusan lainnya.
  2. Hadits  ini malah menunjukkan bahwa kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mengeringkan badan sehabis mandi. Seandainya bukan kebiasaan beliau, maka tentu saja beliau tidak dibawakan handuk ketika itu.
  3. Mengeringkan air dengan tangan menunjukkan bahwa mengeringkan air dengan kain bukanlah makruh karena keduanya sama-sama mengeringkan.

Kesimpulannya, mengeringkan air dengan kain (handuk) tidaklah mengapa.[10]

Demikian pembahasan kami seputar mandi wajib (al ghuslu). Tata cara di atas juga berlaku untuk mandi yang sunnah yang akan kami jelaskan pada tulisan selanjutnya (serial ketiga atau terakhir).

Semoga bermanfaat. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

Selesai susun di wisma MTI, 7 Jumadits Tsani 1431 H (20/05/2010)

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.muslim.or.id


[1] Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 1/361, Darul Ma’rifah, 1379.

[2] Penjelasannya silakan lihat di Shahih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu Malik, 1/173-174 dan 1/177-178, Al Maktabah At Taufiqiyah.

[3] Fathul Bari, 1/360.

[4] Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, 3/231, Dar Ihya’ At Turots Al ‘Arobi, 1392.

[5] Ad Daroril Mudhiyah Syarh Ad Duroril Bahiyyah, Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani, hal. 61, Darul ‘Aqidah, terbitan tahun 1425 H.

[6] Shahih Fiqh Sunnah, 1/175-176.

[7] Al Ikhtiyaarot Al Fiqhiyah li Syaikhil Islam Ibni Taimiyah, ‘Alauddin Abul Hasan ‘Ali bin Muhammad Al Ba’li Ad Dimasyqi Al Hambali, hal. 14, Mawqi’ Misykatul Islamiyah.

[8] Lihat Ad Daroril Mudhiyah, hal. 61

[9] Idem.

[10] Shahih Fiqh Sunnah, 1/181.

  • http://www.jogjawae.com hotel di yogyakarta

    alhamdulillah nambah ilmu..

    kalo dalam keadaan terdesak, apa bisa cukup rukunnya saja terpenuhi ? yg penting air merata ke seluruh tubuh ?

    • http://rumaysho.com Abduh Tuasikal

      @ Hotel.
      Iya boleh.

  • Sunarto

    Semoga dengan penjelasan tentang mandi wajib semakin menambah wawasan/ilmu dan iman.

  • Kusnani Azahri.Ch

    Alhamdulillah…bertambah lagi pengetahuan yg bermanfaat, terimakasih Pak M.A.Tuasikal & tim Muslim.or.id. Semoga Allah selalu melimpahkan kebaikan kepada kita semua, amin..

  • http://www.yahoo.com Fahrul

    Assalamu ‘alaikum
    Ustadz,ana mau tanya apakah para ulama yang memakruhkan mengeringkan badan itu maksud ana apakah makruh mencapai haram atau hanya sebaiknya ditinggalkan? Maaf ana bertanya seperti ini karena setahu ana makruh di kalangan ulama ada 2 macam yaitu terlarang atau sekedar/sebaiknya ditinggalkan.Jazakallah. Mohon segera dijawab.

    • http://rumaysho.com Abduh Tuasikal

      @ Fahrul
      Wa’alaikumus salam.
      Yg dimaksudkan di situ adl makruh, sebaiknya ditinggalkan.

  • http://www.yahoo.com Dwi

    Di dalam hadits Maimunah disebutkan mengenai tata cara mandi, lalu diakhir hadits disebutkan,

    فَنَاوَلْتُهُ ثَوْبًا فَلَمْ يَأْخُذْهُ ، فَانْطَلَقَ وَهْوَ يَنْفُضُ يَدَيْهِ

    “Lalu aku sodorkan kain (sebagai pengering) tetapi beliau tidak mengambilnya, lalu beliau pergi dengan mengeringkan air dari badannya dengan tangannya” (HR. Bukhari no. 276).

    Assalamu ‘alaikum
    Ustadz,ana mau tanya apa faedah dan manfaat dari hadits di atas seandainya hadits tsb bukan pendukung pendapat yang memakruhkan?
    Jazakallah

    • http://rumaysho.com Abduh Tuasikal

      @ Dwi
      Dr alasan yg kami uraikan insya Allah sudah ada faedah penjelasan di dalamnya.

  • http://www.yahoo.com Fahrul

    Assalamu ‘alaikum
    Menurut ana untuk mengeringkan badan setelah mandi wajib maupun lainnya dg handuk tidak apa2 karena di Indonesia kondisi iklim kita tak mengeringkan langsung badan seperti Madinah dan Mekkah apalagi badan bisa terkena jamur pada badan sehingga kondisi ini merupakan alasan tepat untuk mengeringkan langsung badan apalagi Rasulullah mengeringkan badan dg tangan.

  • mohamad bram wijaya

    Alhamdulillah sy dah baca,smg Allah senanti asa membimbing qta semua dlm kebaikan amin.

  • Dimas Buntarto

    selama ini ana kalo mandi wajib seperti mandi biasa… disiram dari ujung kepala sampai ujung kaki, terus keramas n pake sabun… tapi niatnya tetep niat mandi wajib…. apakah itu sah? syukron

    • http://rumaysho.com Abduh Tuasikal

      @ Dimas,
      Seperti yg dijelaskan di atas, itu sah. Namun sebaiknya dilengkapi dengan cara yg lebih sempurna di atas.

  • dams

    alkhamdulillah…sukron..ana jd lbh mengerti..

  • isnar

    jazakalloh atas infonya, insya Alloh lebih paham n bisa mengamalkan.

  • bahar

    Mau Izin Copas ya….

    Sukron

  • Pingback: Tata Cara Mandi Wajib « Muhibbul Islam

  • Dadan Trie

    Asslkm.
    ustad dalam tata cara mandi yg benar diatas, ketika wudhu apakah kita masih berpakaian ato tidak?
    terima kasih sebelumnya
    wassalam…

    • http://rumaysho.com Abduh Tuasikal

      @ Dadan
      Dalam masalah ini boleh berpakaian atau pun tidak ada kebebasan. Wallahu a’lam.

  • http://pcaksesoris.blogspot.com izul

    boleh ga kita potong rambut dulu sebelum melakukan mandi wajib?

    • http://rumaysho.com Abduh Tuasikal

      @ Izul
      Boleh, dalam hal ini ada kelapangan.

  • http://www.yahoo.com Fahrul Aprianto Prayudi

    ASSALAMU ‘ALAIKUM
    ANA MAU MEMBERI SARAN AGAR MUSLIM.OR.ID AGAR MENAMPILKAN TENTANG HUKUM PENYINGKATAN SALAM ATAU DZIKIR LAINNYA YANG BANYAK DILAKUKAN KAUM MUSLIMIN PADA UMUMNYA.

  • hairul

    Alhamdulillah semoga menjadi sedekah jariah bagi pembuat milis ini.
    ana mau nanya, kalo wudhu sebelum mandi dan tersentuh kemaluan apakah wudhu diulang lagi? jazakallah

  • http://www.yahoo.com Fahrul

    Assalamu’alaikum
    Ustadz,saya memiliki seorang teman yang selalu bermimpi basah dan(maaf) onani atau semacamnya serta malas mandi junub,pertanyaan saya apakah teman saya boleh mandi janabah cukup sekali saja karena dia sudan mau taubat? Dan apakah wudhu sebelum mandi janabat,haidh,jum’at,atau mandi sunnah lainnya seperti mandi hari raya itu wajib atau tidak? Dan bolehkah mandi hari raya(mandi sunnah lainnya),jum’at,atau haidh cukup dengan mengguyur badan saja tanpa berwudhu sebelum mandi?

    • http://rumaysho.com Abduh Tuasikal

      @ Fahrul
      Wa’alaikumus salam wa rahmatullah wa barakatuh.
      1. Dia cukup mandi sekali.
      2. Wudhu sebelum mandi janabat atau mandi lainnya, hukumnya sunnah, sebagai kesempurnaan mandi. Coba perhatikan pembahasan di atas.

  • http://www.yahoo.com Fahrul

    Jazakallah.

  • http://www.yahoo.com Fahrul

    Assalamu’alaikum
    Ada yang bilang berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung perkara wajib sebagaimana pendapat Syaikh Utsaimin alasannya merupakan wajah yang dalam bahasa arab meliputi dalam mulut dan rongga hidung,apakah hal tersebut benar atau tidak,mohon penjelasan ustadz. Jazakallah

    • http://rumaysho.com Abduh Tuasikal

      @ Fahrul
      Wa’alaikumus salam.
      Hal tsb benar menurut sebagian ulama.

  • http://www.borneo.web.id Bisnis Internet

    Alhamdulillah, terima kasih ya akhi atas tulisannya… sangat membantu saya dalam memahami syarat syah mandi wajib dengan lebih sempurna…

  • muhamad roijal

    asalamualaikum wr.wb
    ustadt afwan ana mau tanya..
    apakah ketika kita mengeluarkan mani disaat mimpi langsung disegerakan mandi
    atau boleh menunda?
    karena pada saat itu tepat hari jumat

    • http://rumaysho.com Abduh Tuasikal

      @ Muhammad
      Wa’alaikumus salam.
      Kalau mendekati waktu shalat dan laki2 wajib jama’ah di masjid, mandinya harus disegerakan.

  • http://cara-muhammad.com fino

    Jazakallah. Uraian yang sangat berguna bagi saya. Mohon izin untuk membagikannya dalam website saya, dan akan saya cantumkan url ini. Jazakumullah.

  • YOYO TARYONO

    SAYA UCAPKAN TERIMAKASIH KPD SMUA PIHAK YG ILMUNYA TLH SY COPY. JAZAKUMULLAH KHAIRON KATSIRON

  • sigit

    assalamualaikum ustadz
    saya pernah mendengar kalau mandi wajib juga disunahkan memasukkan air ke sebagian usus di dekat (maaf) lubang dubur.apakah hal tersebut benar ustadz?
    terima kasih.

    • http://rumaysho.com Abduh Tuasikal

      @ Sigit
      Wa’alaikumus salam
      Kami belum tahu tentang hal itu.

  • Pingback: Tata Cara Mandi Wajib « SMS/CALL: 081511542355 atau 087797670337 atau 08995720828 (WAHAI UMAT MANUSIA, PELUKLAH AGAMA ISLAM AGAR KALIAN SELAMAT DUNIA AKHERAT, SESUNGGUHNYA ISLAM ADALAH SATU-SATUNYA JALAN KESELAMATAN)

  • tri

    Assalamu ‘alaikum ustadz.
    Gimana kalo sebelum mandi wajib, orang yang junub lebih dulu mandi biasa dengan tujuan untuk membersihkan badannya dengan sabun dll.
    setelah itu barulah dia berwudhu dan mandi wajib.
    Apakah cara ini salah?

    • http://rumaysho.com Abduh Tuasikal

      @ Tri
      Wa’alaikumus salam wa rahmatullah wa barakatuh

      Cara seperti itu benar.

  • Ridho Amrullah

    Assalammu’alaikum,
    Assalammu’alaikum,
    Pak Ustadz,
    1. mengguyur badan dari sebelah kanan ke sebelah kiri itu katanya cukup sekali di situs itu ( http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/tata-cara-mandi-wajib.html) . Apakah boleh menggunakan sabun setelah di guyur untuk membersihkan badan, setelah itu diguyur lagi. Jadi, 2 kali diguyurnya bahkan bisa lebih untuk memastikan sabunnya masih menempel atau tidak di badan.
    2. Mencuci kaki adalah saat-saat terakhir mandi. Ketika mandi menggunakan sabun untuk membersihkan badan otomatis saya juga membersihkan kaki dengan sabun sambil menyelanya. Itu bagaimana ? Apakah boleh ?
    Syukron.

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #Ridho Amrullah
      Wa’alaikumussalam,
      1. Boleh
      2. Boleh

  • Ery Eryansyah

    Assallamu’alaikum Wr.Wb.,

    Mohon sedikit penjelasan ustadz, setelah mwngambil wudhu apakah wudhunya harus ditutup dengan do’a setelah wudhu atau langsung mandi wajib kemudian ditutup dengan do’a sesudah wudhu.

    Terima kasih

    Wassalam,
    Ery

    • http://rumaysho.com Abduh Tuasikal

      @ Wa’alaikumus salam
      Dilakukan sebagaimana wudhu.

  • syaiful

    ustadz maaf bertanya lgi mungkin pertanyaan saya pertama terlalu banyak.apakah mandi junub yang tidak disertai wudhu dan membersihkan hadas kecil yang ada dibadan terlebih dahulu itu sah?apakh mandi tapi saya lupa berkumur harus mandi lagi?bagaimana niat mandi junub dan dilakukan di dalam apa diluar kmar mandi

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #syaiful
      1. sah
      2. tidak harus
      3. niat tidak perlu dilafalkan

  • muhammad

    assalamu’alaikum,bagaimana jika seseorang lupa niat mandi junub kemudian setelah mandi(dan ia masih di dalam kamar mandi dan belum berhanduk) baru ingat kemudian ia berniat,apakah sah mandi wajibnya..?

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #muhammad
      wa’alaikumussalam, jika demikian cukup mengguyur lagi seluruh badan setelah berniat, maka menjadi sah.

  • http://www.facebook.com/salman.a.david david slaman al farizi

    As salamualaikum….. ana ijin share yaa yang ada di artikel muslim.or.id

  • abdul rofiq

    bagaimana jika mandi junub belum selesai(ditengah-tengah mandi)kencing apa memulai dari awal lagi, matur suwun

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #abdul rofiq
      Jika badan belum terguyur semua maka anda perlu mengulang lagi

  • Pingback: Tata Cara Mandi Wajib | Tabligh Online

  • ibnu

    Ustadz sebenarnya jika saat mandi junub keluar kencing atau kentut mandinya harus diulang atau tetap sah. Dan cukup wudhu jika akan sholat. Syukron Ustadz.

  • abdullah

    sama seperti Ibnu..

    kami pernah dapat jawaban bahwa kentut di tengah2 mandi junub tidak membatalkan, krn kentut adalah hadats kecil pembatal wudhu.

    nah, bagaimana dengan kencing ? bukankah kencing adalah najis dan menyebabkan hadats kecil yang membatalkan wudhu ? bukan hadatd besar yg membatalkan mandi junub ?

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #abdullah
      Semua pembatal wudhu adalah pembatal mandi besar

  • kholis

    Assalamu’alaikum wr.wb
    Ustadz, terkait jawaban ustadz bahwa “semua pembatal wudhu adalah pembatal mandi besar”, maka apakah dalam mandi besar juga tidak boleh menyentuh kemaluan dan dubur? Karena menyentuh keduanya adalah pembatal wudhu.

  • Pingback: Tata Cara Mandi Wajib « Tarbiyah

  • Fajar

    Asalamualaikum pak ustadz..

    Jika tidak mandi wajib hukumnya apa ya jika sudah berkali2 mimpi basah

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #Fajar
      Wa’alaikumussalam, jika karena tidak tahu mudah-mudahan dimaafkan oleh Allah.

  • Pingback: Tata Cara Mandi Wajib « Abu Abdillah Muhammad Farizqi

  • http://www.muhammad.com muhammad

    assalamu’alaikum
    ustadz bolehkah jika ana sedang mandi wajib ana tambahkan sampo dan sabun?
    maksud ana seperti ini waktu ana menyiram kepala, ana sekalian keramas dan ketika ana mengguyur badan ana sabunan.

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #muhammad
      Wa’alaikumussalam. boleh

  • nanda

    assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh

    pak ustad saya mau tanya:
    kalau setelah mandi wajib kita mendapati ternyata masih ada sisa sperma yang belum bersih di bagian tubuh kita padahal saat mandi sudah yakin terkena air semuanya perlukah mengulang mandi wajib nya?

    tolong penjelasannya ya pak ustad
    jazakallahukhoir

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #nanda
      Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh, tidak perlu.

  • alif

    assalamualaikum pak ustad niat mndi junub apa ? terimakasi

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #alif
      Tidak ada lafadz khusus, niat itu pekerjaan hati

  • Pingback: Tata Cara Mandi Wajib | Sekotak Kecil Kedamaian Di Hatimu

  • Abi

    sebelum mandi apakah perlu membaca basmalah seperti hendak wudhu?

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      @ Abi

      Disunnahkan, tidak wajib.

  • http://zulliang.blogspot.com rahmad

    Assalamu’alaikum wr.wb
    pak ustadz, apakah kalimat yang harus atau yang sering di baca rassul sebelum mandi junub?

    tolong beri contoh untuk saya dalami,

    terims,

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      @ Rahmad

      Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh.

      Tdk ada bacaan khusus, cukup niat dalam hati dan baca bismillah sebelumnya (sunnah hukumnya sebagaimana dalam wudhu).

  • dzolilie almuqtye

    bagaimana jika kita dalam keadaan junub dan di daerah kita kekurangan air,,, alias tidak ada air ???

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #dzolilie almuqtye
      Tayammum, sebagaimana firman Allah
      وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ
      “Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau berhubungan badan dengan perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan permukaan bumi yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu”. (QS. Al Maidah [5] : 6).

  • Aisyah

    Assalamualaikum ….
    Apa boleh tanya…?

  • Pingback: Tata Cara Mandi Wajib | dakwahmuslim.com

  • Yudha Nhara

    Assalamu’alaikum ijin untuk mengcopy artikel diatas untuk belajar,Jazakallohu khoiron

  • Yudha Nhara

    Assalamu’alaikum ijin untuk mengcopy artikel diatas untuk belajar Jazakallohu khoiron

  • Pingback: Mandi wajib serta tata cara pelaksanaannya | mymidwifery

  • fachri

    jadi intinya mandi junub boleh ya kaya mandi biasanya, cuman beda di niat aja ya..????

  • Pingback: Tata Cara Mandi Wajib | Islam Kepel

  • Pingback: Tj Wudhu Setelah Mandi Junub - BBG-Al Ilmu

  • rere

    bagaimana hukumnya kalau mandi wajib dalam keadaan beser? adakah syarat khusus?

  • Sanny Januardani

    Assalamu’alaikum,
    Saya ingin bertanya pada point “Perlukah berwudhu setelah mandi”. Apakah mandi yang dimaksud hanya berlaku untuk mandi junub ataukah juga berlaku untuk mandi biasa?
    Kemudian apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyiram kepalanya 3 kali terlebih dahulu ataukah menggosok2an tangannya ke rambut dengan air sampai ke kulit kepala terlebih dahulu?

    Jazakolloh khoiron.

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      Wa’alaikumussalam. Kalau mandi biasa, bukan mandi junub, berarti mandi tersebut tidak mengangkat hadats. Shg harus berwudhu lagi.

  • Pingback: Tata Cara Mandi Wajib | Al-Muntaqa

  • Pingback: Pelajaran Dasar Agama Islam | Muslim.Or.Id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

  • Pingback: Tata Cara Mandi Wajib | Radio RAY FM 95.1 MHz

@muslimindo

    Message: Rate limit exceeded, Please check your Twitter Authentication Data or internet connection.