6 August 2008 | 15 komentar
Kategori: Fiqh dan Muamalah
Puasa merupakan salah satu amalan yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa ta’ala yang mana Allah menjanjikan keutamaan dan manfaat yang besar bagi yang mengamalkannya,
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
قَالَ الله٠عَزَّ وَجَلّ: ÙƒÙلّ٠عَمَل٠ابْن٠آدَمَ لَه٠إلا الصÙيَامَ. ÙÙŽØ¥Ùنَّه٠لÙÙŠ وَأَنَا أَجْزÙÙŠ بÙÙ‡Ù. وَالصّÙيَام٠جÙنَّةٌ. ÙÙŽØ¥ÙØ°ÙŽØ§ كَانَ يَوْم٠صَوْم٠أَØÙŽØ¯ÙÙƒÙمْ Ùَلا يَرْÙÙØ«Ù’ وَلا يَصْخَبْ وَلا يَجْهَلْ. ÙÙŽØ¥Ùنْ شَاتَمَه٠أَØÙŽØ¯ÙŒ أَوْ Ù‚ÙŽØ§ØªÙŽÙ„ÙŽÙ‡ÙØŒ ÙَلْيَقÙلْ: Ø¥ÙنّÙÙŠ صَائÙÙ…ÙŒ – مَرَّتَيْن٠- وَالَّذÙÙŠ Ù†ÙŽÙÙ’Ø³Ù Ù…ÙØÙŽÙ…Ù‘ÙŽØ¯Ù Ø¨ÙيَدÙÙ‡Ù. لَخَلÙوْÙÙ Ùَم٠الصَّائÙم٠أَطْيَب٠عÙنْدَ الله٠يَوْمَ القÙيَامَة٠مÙنْ رÙيْØÙ Ø§Ù„Ù…ÙØ³Ù’Ùƒ. ÙˆÙŽÙ„ÙلصَّائÙÙ…Ù ÙَرْØÙŽØªÙŽØ§Ù†Ù ÙŠÙŽÙْرَØÙÙ‡Ùمَا: Ø¥ÙØ°ÙŽØ§ Ø£ÙŽÙْطَرَ ÙÙŽØ±ÙØÙŽ بÙÙÙØ·Ù’رÙÙ‡Ù. ÙˆÙŽØ¥ÙØ°ÙŽØ§ Ù„ÙŽÙ‚ÙÙŠÙŽ رَبَّه٠ÙÙŽØ±ÙØÙŽ Ø¨ÙØµÙŽÙˆÙ’Ù…ÙÙ‡Ù
“Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa, sesungguhnya ia untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya, puasa adalah perisai, maka apabila salah seorang dari kalian berpuasa maka janganlah ia berkata-kata keji, dan janganlah berteriak-teriak, dan janganlah berperilaku dengan perilakunya orang-orang jahil, apabila seseorang mencelanya atau menzaliminya maka hendaknya ia mengatakan: Sesungguhnya saya sedang berpuasa (dua kali), demi Yang diri Muhammad ada di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah pada hari kiamat dari wangi kesturi, dan bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan yang ia berbahagia dengan keduanya, yakni ketika ia berbuka ia berbahagia dengan buka puasanya dan ketika berjumpa dengan Rabbnya ia berbahagia dengan puasanya.” (HR Bukhari, Muslim dan yang lainnya)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
لا يَصÙوْم٠عَبْدٌ يَوْمًا ÙÙÙŠ سَبÙيْل٠الله. إلا بَاعَدَ Ø§Ù„Ù„Ù‡ÙØŒ Ø¨ÙØ°ÙŽÙ„ÙÙƒÙŽ Ø§Ù„ÙŠÙŽÙˆÙ’Ù…ÙØŒ وَجْهَه٠عَن٠النَار٠سَبْعÙيْنَ خَرÙÙŠÙ’ÙØ§Ù‹.
“Tidaklah seorang hamba berpuasa satu hari di jalan Allah kecuali Allah akan menjauhkan wajahnya dari api neraka (dengan puasa itu) sejauh 70 tahun jarak perjalanan.” (HR. Bukhari Muslim dan yang lainnya)
Sebagaimana jenis ibadah lainnya maka puasa haruslah didasari niat yang benar yakni beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata-mata serta dilaksanakan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
Secara Syar’i makna puasa adalah “menahan diri dari makan, minum dan jima’ serta segala sesuatu yang membatalkannya dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari dengan niat beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala” ,Â
Maka jika seseorang menahan diri dari makan dan minum tidak sebagaimana pengertian di atas atau menyelisihi dari apa yang menjadi tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka tentu saja ini merupakan hal yang menyimpang dari syariat, termasuk perbuatan yang sia-sia dan bahkan bisa jadi mendatangkan kemurkaan Allah subhanahu wa ta’ala,
Penyimpangan yang bisa terjadi diantaranya:
1. Berpuasa tidak dalam rangka beribadah kepada Allah
Semisal seseorang yang berpuasa karena hendak mendapatkan bantuan dari jin/syaitan berupa sihir atau yang lainnya, atau bernazar puasa kepada selain Allah, maka perbuatan ini termasuk kesyirikan yang besar karena memalingkan ibadah kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala. Adapun seseorang yang berpuasa semata-mata karena alasan kesehatan, walaupun hal ini boleh-boleh saja akan tetapi ia keluar dari pengertian puasa yang syar’i sehingga tidaklah ia termasuk orang yang mendapatkan keutamaan puasa sebagaimana yang dijanjikan Allah subhanahu wa ta’ala.
2. Menyelisihi tata cara Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, diantaranya:
Maka seyogyanya kaum muslimin menahan diri dari beribadah tanda dasar ilmu atau tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebuah hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ عَمÙÙ„ÙŽ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْه٠أَمْرÙنَا ÙÙŽÙ‡ÙÙˆÙŽ رَدٌّ
“Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami maka tertolak.” (HR. Muslim)
Maka berikut ini adalah beberapa jenis puasa yang dianjurkan di dalam Islam di luar puasa yang wajib (Puasa Ramadhan) berdasarkan dalil-dalil yang syar’i, semoga kita diberi kemudahan untuk mengamalkannya berdasarkan ilmu dan terhindar dari perkara-perkara yang menyelisihi syariat Allah subhanahu wa ta’ala sehingga kita dapat memperoleh berbagai keutamaan dari apa-apa yang dijanjikan Allah subhanahu wa ta’ala.
Puasa-puasa Sunnah yang Dituntunkan Dalam Islam
1. Puasa 6 hari pada bulan Syawwal
Dari Abu Ayyub Al-Anshory bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ. Ø«Ùمَّ Ø£ÙŽØªÙ’Ø¨ÙŽØ¹ÙŽÙ‡Ù Ø³ÙØªÙ‘ًا Ù…Ùنْ شَوَّال. كَانَ كَصÙيَام٠الدَّهْرÙ
“Barang siapa berpuasa Ramadhan, kemudian melanjutkan dengan berpuasa enam hari pada bulan Syawal, maka seperti ia berpuasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صÙيَام٠شَهْر٠رَمَضَانَ Ø¨Ø¹ÙŽØ´Ù’Ø±Ø©Ù Ø£ÙŽØ´Ù’Ù‡ÙØ±ÙØŒ وَصÙÙŠÙŽØ§Ù…Ù Ø³ÙØªÙ‘ÙŽØ©Ù Ø£ÙŽÙŠÙ‘ÙŽØ§Ù…Ù Ø¨ÙŽØ¹Ù’Ø¯ÙŽÙ‡Ù Ø¨ÙØ´ÙŽÙ‡Ù’رين، ÙَذَلÙÙƒÙŽ صÙيَام٠السَّنَةÙ
“Puasa pada bulan Ramadhan seperti berpuasa sepuluh bulan , dan puasa enam hari setelahnya seperti berpuasa selama dua bulan, maka yang demikian itu (jika dilakukan) seperti puasa setahun.” (Hadits shahih Riwayat Ahmad)
Catatan:
2. Puasa pada hari Arafah bagi yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صÙيَام Ùيَوْم٠عَرَÙَةَ أØÙ’ØªÙŽØ³ÙØ¨Ù عَلَى الله٠أَنْ ÙŠÙÙƒÙŽÙÙ‘ÙØ±ÙŽ Ø§Ù„Ø³Ù‘ÙŽÙ†ÙŽØ©ÙŽ الَّتÙÙŠ قَبْلَهÙ. وَالسَّنَةَ الّتÙÙŠ بَعْدَهÙ
“Puasa pada hari Arofah, aku berharap kepada Allah agar mengampuni dosa-dosa setahun yang telah lalu dan setahun yang akan datang.” (HR. Muslim)
Catatan:
3. Puasa pada hari Asyura’ (10 Muharrom) dan sehari sebelumnya
Dari Abu Qotadah bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَصÙيَام٠يَوْم٠عَاشÙورَاءَ، Ø£ÙŽØÙ’ØªÙŽØ³ÙØ¨Ù عَلَى الله٠أَنْ ÙŠÙÙƒÙŽÙÙ‘ÙØ±ÙŽ Ø§Ù„Ø³Ù‘ÙŽÙ†ÙŽØ©ÙŽ الَّتÙÙŠ قَبْلَهÙ
“Puasa pada hari ‘Asyuro’, aku berharap kepada Allah agar mengampuni dosa-dosa setahun yang telah lalu.” (HR. Muslim)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَئÙنْ بَقÙيْت٠إÙÙ„ÙŽÙ‰ قَابÙل٠لأَصÙوْمَنَّ Ø§Ù„ØªÙŽØ§Ø³ÙØ¹ÙŽ
“Sungguh jika aku masih hidup sampai tahun depan aku akan berpuasa pada hari yang kesembilan.” (HR. Muslim)
Catatan:
4. Memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata:
Ùَمَا رَأَيْت٠رَسÙوْلَ الله٠صَلَّى الله٠عَلَيْه٠وَسَلَّمَ Ø§ÙØ³Ù’تَكْمَلَ صÙيَامَ شَهْر٠إÙلا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتÙه٠أَكْثَرَ صÙيَامًا Ù…Ùنْه٠ÙÙÙŠ شَعْبَانَ.
“Saya tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan, dan tidaklah saya melihat beliau memperbanyak puasa dalam suatu bulan seperti banyaknya beliau berpuasa pada bulan sya’ban.” (HR. Bukhari)
Catatan:
5. Memperbanyak Puasa Pada Bulan Muharrom
Berdasarkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Ø£Ùْضَل٠الصّÙÙŠÙŽØ§Ù…ÙØŒ بَعْدَ رَمَضَانَ، Ø´ÙŽÙ‡Ù’Ø±Ù Ø§Ù„Ù„Ù‡Ù Ø§Ù„Ù’Ù…ÙØÙŽØ±Ù‘ÙŽÙ…Ù ÙˆÙŽ Ø£Ùْضَل٠الصَّلاة٠بَعْدَ الÙَرÙيْضَة٠صَلاة٠اللَيْلÙ
“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah yakni bulan Muharrom, dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.” (HR. Muslim)
6. Puasa Hari Senin dan Kamis
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ØªÙØ¹Ù’رَض٠الأَعْمَال٠يَوْمَ الاثْنَيْن٠وَالْخَمÙيْس٠ÙÙŽØ£ÙØÙØ¨Ù‘٠أَنْ ÙŠÙØ¹Ù’رَضَ عَمَلÙÙŠ وَأَنَا صَائÙÙ…ÙŒ
“Amal-amal ditampakkan pada hari senin dan kamis, maka aku suka jika ditampakkan amalku dan aku dalam keadaan berpuasa.” (Shahih, riwayat An-Nasa’i)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang puasa pada hari senin, beliau bersabda:
ذَاكَ يَوْمٌ ÙˆÙÙ„ÙØ¯Ù’ت٠ÙÙيْهÙ. وَيَوْمٌ Ø¨ÙØ¹Ùثْت٠(أَوْ أَنْزÙÙ„ÙŽ عَلَيَّ ÙÙيْهÙ)
“Ia adalah hari ketika aku dilahirkan dan hari ketika aku diutus (atau diturunkan (wahyu) kepadaku ).” (HR. Muslim)
7. Puasa 3 hari setiap bulan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata,
أوْصَانÙÙ‰ خَلÙيْلÙÙ‰ صَلَّى الله ÙØ¹ÙŽÙ„َيْه٠وَسَلَّمَ Ø¨ÙØ«ÙŽÙ„اثÙ: صÙيَام٠ثَلاثَة٠أَيَّام٠مÙنْ ÙƒÙÙ„Ù‘Ù Ø´ÙŽÙ‡Ù’Ø±ÙØŒ وَرَكْعَتَى Ø§Ù„Ø¶ÙØÙŽÙ‰ØŒ وَأَنْ أَوْترَ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ
“Kekasihku, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Mewasiatkan kepadaku tiga perkara: puasa tiga hari setiap bulan,  dua rakaat shalat dhuha, dan shalat witir sebelum tidur.” (HR. Bukhari Muslim)
Lebih dianjurkan untuk berpuasa pada hari baidh yakni tanggal 13, 14 dan 15 bulan Islam (Qomariyah). Berdasarkan perkataan salah seorang sahabat radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
أَمَرَنَا رَسÙوْل٠الله٠صَلَّى الله ÙØ¹ÙŽÙ„َيْه٠وَسَلَّمَ أَنْ نَصÙوْمَ Ù…ÙÙ†ÙŽ الشَّهْر ÙØ«ÙŽÙ„اثَةَ أَيَّام٠البَيْضÙ: ثَلاثَ عَشْرَةَ، ÙˆÙŽ أَرْبَعَ عَشْرَةَ ØŒ وَخَمْسَ عَشْرَةَ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk berpuasa pada tiga hari ‘baidh’: tanggal 13, 14 dan 15.” (Hadits Hasan, dikeluarkan oleh An-nasa’i dan yang lainnya)
8. Berpuasa Sehari dan Berbuka Sehari (Puasa Dawud ‘alaihis salam)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Ø£ØÙŽØ¨Ù‘٠الصّÙيَام٠إلى الله٠صÙÙŠÙŽØ§Ù…Ù Ø¯ÙŽØ§ÙˆÙØ¯ÙŽØŒ ÙˆÙŽØ£ØÙŽØ¨Ù‘٠الصَّلاة٠إÙÙ„ÙŽÙ‰ Ø§Ù„Ù„Ù‡Ù ØµÙŽÙ„Ø§Ø©Ù Ø¯ÙŽØ§ÙˆÙØ¯ÙŽ: كَانَ ÙŠÙŽÙ†ÙŽØ§Ù…Ù Ù†ÙØµÙ’ÙÙŽ الليل، ÙˆÙŽÙŠÙŽÙ‚Ùوم٠ثÙÙ„ÙØ«ÙŽÙ‡Ù ÙˆÙŽÙŠÙŽÙ†ÙŽØ§Ù…Ù Ø³ÙØ¯ÙØ³ÙŽÙ‡ÙØŒ وَكَانَ ÙŠÙÙÙ’Ø·ÙØ±Ù يَوْمًا وَيَصÙوْم٠يَوْمًا (متÙÙ‚ عليه)
“Puasa yang paling disukai Allah adalah puasa Nabi Dawud, dan shalat yang paling disukai Allah adalah Shalat Nabi Dawud, adalah beliau biasa tidur separuh malam, dan bangun pada sepertiganya, dan tidur pada seperenamnya, adalah beliau berbuka sehari dan berpuasa sehari.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Beberapa Hal yang Terkait Dengan Puasa Sunnah
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dia berkata:
دَخَلَ عَلَيَّ رَسÙوْل٠الله٠صَلَّى الله ÙØ¹ÙŽÙ„َيْه٠وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْم٠Ùَقَالَ:( هَلْ عÙنْدَكÙمْ شَيْءٌ ØŸ ) ÙÙŽÙ‚Ùلْنَا: لا. قَالَ: ( ÙÙŽØ¥ÙÙ†ÙÙ‰ Ø¥ÙØ°Ù‹Ø§ صَائÙÙ…ÙŒ ) ØŒ Ø«Ùمَّ أَتَانَا يَوْمًا آخَر. ÙÙŽÙ‚Ùلْنَا: يَا رَسÙوْلَ الله٠أÙهْدÙÙŠÙŽ لَنَا ØÙŽÙŠÙ’سٌ . Ùَقَالَ: ( Ø£ÙŽØ±ÙŠÙ†ÙŠÙ’Ù‡ÙØŒ Ùَلَقَدْ أَصْبَØÙ’ت٠صَائÙمًا ) ÙÙŽØ£ÙŽÙƒÙŽÙ„ÙŽ. (رواه مسلم)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu hari datang kepadaku kemudian berkata: “Apakah engkau memiliki sesuatu (dari makanan)?”, kemudian kami berkata: “tidak”, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kalau begitu saya berpuasa”, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang pada hari yang lain kemudian kami katakan: “Wahai Rasulullah sesungguhnya kami dihadiahi haisun (kurma yang dicampur minyak dan susu yang dihaluskan), maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bawalah kemari, sesungguhnya aku tadi berpuasa”, kemudian beliau memakannya (HR. Muslim)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لا تَصÙوْم٠الْمَرْأَة٠وَبَعْلÙهَا Ø´ÙŽØ§Ù‡ÙØ¯ÙŒ Ø¥Ùلا Ø¨ÙØ¥ÙذْنÙÙ‡Ù
“Janganlah seorang wanita berpuasa sedangkan suaminya menyaksikannya kecuali dengan seizinnya.” (HR. Bukhari Muslim)
Sumber:
Wallahu ‘alam
***
Penulis: Abu ‘Aisyah M. Taufik
Artikel www.muslim.or.id
Do’a di Malam Lailatul Qadar
— (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ [Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku].
Silakan menyebarkan artikel yang ada di muslim.or.id dengan harus menyertakan muslim.or.id sebagai sumber artikel. Muslim.or.id menerima bantuan penerjemahan artikel muslim.or.id ke dalam bahasa inggris. Silakan hubungi muslim.or.id@gmail.com. Info iklan silakan hubungi muslimadv@gmail.com
© 2005 - 2009 muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah












Assalaamualaikum wr wb
Afwan mau tanya,kalao puasa 3 hari sebulan,bolehkah saya memilih hari sesuka saya,misalnya hari rabu,kamis,jum’at?
Terimakasih
Ass wrwb..sy wanita yg blm bs memeluk islam di karenakan kondisi keadaan yg tdk memungkinkan.tp di bulan ramadhan kali ini sy berpuasa sbg mana mestinya kaum muslim.dan sy jg memiliki sbuah niat dlm puasa sy yg menyangkut usaha sy dlm memeluk islam.yg sy ingin tanyakan,apakah puasa sy di ridhoi allah dlm kondisi nom muslim?jk demikian mcm2 puasa apa sj yg dianjurkan kpd sy?thanks.wasalam
Buat Saudari kami Febri:
Wa’alaikumussalam warohmatullah wabarokatuh
Ukhti (saudari), untuk menjadi seorang muslim/muslimah, ukhti cukup mengucapkan syahadat:
Asy hadu al laa ilaa ha illallah wa asy hadu anna muhammadar rasuulullah
artinya:
Saya bersaksi bahwasanya tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan saya bersaksi bahwasanya nabi Muhammad adalah utusan Allah
Cukup ukhti ucapkan kalimah syahadat tersebut sendirian jika tidak memungkinkan ukhti ucapkan di hadapan ustadz. Insya Allah setelah ukhti mengucapkan syahadat tersebut, ukhti sudah menjadi seorang muslimah di hadapan Allah walaupun ukhti tidak mengumumkan keislaman ukhti kepada keluarga, kerabat, maupun orang lain.
Setelah ukhti memeluk Islam, insya Allah semua ibadah ukhti diterima di sisi Allah, karena muslimnya seseorang adalah syarat pertama sah dan diterimanya semua amalan.
Setelah ukhti memeluk Islam dengan mengucapkan syahadat tersebut, ukhti akan kembali bersih tanpa dosa. Semua dosa-dosa dan kesalahan ukhti di masa lalu akan diampuni oleh Allah, dan sebaliknya semua kebaikan ukhti di masa lalu tetap dicatat sebagai amal kebaikan. Semoga Allah menjagamu ukhti…
Berikut ada tambahan dari ustadz Abu Saad buat ukhti Febri:
Kepada saudari Febri semoga Allah melapangkan dadanya untuk segera memeluk agama Islam dan memuliakannya dengannya,waalaikum salam warahmatullah, ketahuilah wahai saudariku, agama Islam adalah agama yang mudah, karena agama ini agama yang sesuai dengan fitrah manusia, akal sehat dan pikiran yang jernih, tidak ada suatu kebaikan melainkan Islam memerintahkannya dan tidak ada suatu keburukanpun melainkan islam melarangnya, sehingga sangat memungkinkan bagi saudari untuk segera memeluknya,cukup dengan mengucapkan syahadah laa ilaaha illa Allah wa anna Muhamada rasulullah, kalau bisa di hadapan seseorang yang mampu menjelaskan tentang islam yang benar dan dengan benar, kalau tidak bisa, diucapkan sendiri dengan penuh keyakinan tentang makna dan konsekuensinya, dan memulai belajar islam dengan bertahap dari permulaan dan seterusnya.
Adapun tentang masalah keluarga, suami yang beragama masih kristen, ini memerlukan pertimbangan yang cukup matang dari banyak sisi, yang penting syahadah dulu kemudian mengerjakan perkara-perkara agama yang paling penting seperti sholat puasa dll, dan belajar, baik melalui buku-buku atau media yang lainnya, dan jangan lupa! berdoa kepada Allah untuk selalu membimbing ke jalan al-haq. Wallahu Muwaffiq.
Assalamualaikum…
afwan,ana ingin artikel khusus membahas tentang puasanya Nabi Daud as
jazakallah khair…
Assalamualaikum…
afwan, saya ingin menanyakan bagaimana hukum nya kalau kita puasa di hari kita lahir, misal nya saya lahir hari jum’at terus setelah puasa senin kamis di tambah dengan hari jum’at.
terimakasih atas jawabannya.
wassalam
assalamu’aliaikum
afwan ,ana mau tanya dalam melakukan puasa dawud apakah harus terus menerus,boleh ga kalau di lakukan tidak secara rutin atau dalam sebulan puasa bulan berikutnya tidak melakukan,
assalamu’alaikum
afwan tolong kirimin artikel tentang puasa dawud
terimakasih
wassalamu’alaikum
asskum…saya mau tanya,apa kalo pada puasa sunnah boleh melakukan 2 puasa?? misalnya pada hari senin ada puasa sunnah,bertepatan pada hari itu juga melakukan puasa syawal,dan juga menyaur hutang puasa pada bulan ramadhan,apa puasa seperti ini diblehkan dalam agama islam?
Trima kasih
Terimakasih atas artikelnya.
Saya mau tanya, bagaimana niat untuk puasa baidh?
saya setuju manhaj salaf diterapkan agar kita berislam secara kaffah dan jauh dari bencana
assalamualaikum afwan sebelumnya ana cuma mau tanya kenapa puasa 10 hari di bulan dzulhijah tidak ditampilkan itu juga puasa sunnah yang diajarkan rosullulloh.sukron wassalamualaikum
@ Rokhyatun
Tidak ditambahkan, bukan berarti tidak ada. Puasa sembilan hari awal dzulhijah memang dianjurkan. Silakan lihat pembasan lainnya di muslim.or.id:
http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/amalan-sholih-di-awal-dzulhijah-dan-puasa-arofah.html.
Assalamualaikum
ALhamdulilLah dalil_dalil di atas sangat bermanfaat buat saya…terimakasih
wassalamualaikum
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Sy suka tulisan ini krn sangat informatif dan ringkas shg mudah difahami. Apakah puasa tarwiyah yang tidak tercantum dalam tulisan ini ada dasar/dalilnya? Makasih.
Wassalam.