Panduan Shalat Istikhoroh


Sesungguhnya manusia adalah makhluk yang lemah dan sangat butuh pada pertolongan Allah dalam setiap urusan-Nya. Yang mesti diyakini bahwa manusia tidak mengetahui perkara yang ghoib. Manusia tidak mengetahui manakah yang baik dan buruk pada kejadian pada masa akan datang. Oleh karena itu, di antara hikmah Allah Ta’ala kepada hamba-Nya, Dia mensyariatkan do’a supaya seorang hamba dapat bertawasul pada Rabbnya untuk dihilangkan kesulitan dan diperolehnya kebaikan.

Seorang muslim sangat yakin dan tidak ada keraguan sedikit pun bahwa yang mengatur segala urusan adalah Allah Ta’ala. Dialah yang menakdirkan dan menentukan segala sesuatu sesuai yang Dia kehendaki pada hamba-Nya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ (68) وَرَبُّكَ يَعْلَمُ مَا تُكِنُّ صُدُورُهُمْ وَمَا يُعْلِنُونَ (69) وَهُوَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ لَهُ الْحَمْدُ فِي الْأُولَى وَالْآَخِرَةِ وَلَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (70)

Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia). Dan Tuhanmu mengetahui apa yang disembunyikan (dalam) dada mereka dan apa yang mereka nyatakan. Dan Dialah Allah, tidak ada Rabb (yang berhak disembah) melainkan Dia, bagi-Nyalah segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagi-Nyalah segala penentuan dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (QS. Al Qashash: 68-70)

Al ‘Allamah Al Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Sebagian ulama menjelaskan: tidak sepantasnya bagi orang yang ingin menjalankan di antara urusan dunianya sampai ia meminta pada Allah pilihan dalam urusannya tersebut yaitu dengan melaksanakan shalat istikhoroh.[1]

Yang dimaksud istikhoroh adalah memohon kepada Allah manakah yang terbaik dari urusan yang mesti dipilih salah satunya.[2]

Dalil Disyariatkannya Shalat Istikhoroh

Dari Jabir bin ‘Abdillah, beliau berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يُعَلِّمُ أَصْحَابَهُ الاِسْتِخَارَةَ فِى الأُمُورِ كُلِّهَا ، كَمَا يُعَلِّمُ السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ يَقُولُ « إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ هَذَا الأَمْرَ – ثُمَّ تُسَمِّيهِ بِعَيْنِهِ – خَيْرًا لِى فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – قَالَ أَوْ فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – فَاقْدُرْهُ لِى ، وَيَسِّرْهُ لِى ، ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، اللَّهُمَّ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – أَوْ قَالَ فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – فَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِىَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ، ثُمَّ رَضِّنِى بِهِ »

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengajari para sahabatnya shalat istikhoroh dalam setiap urusan. Beliau mengajari shalat ini sebagaimana beliau mengajari surat dari Al Qur’an. Kemudian beliau bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua raka’at selain shalat fardhu, lalu hendaklah ia berdo’a: “Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma fa-in kunta ta’lamu hadzal amro (sebut nama urusan tersebut) khoiron lii fii ‘aajili amrii wa aajilih (aw fii diinii wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii) faqdur lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Allahumma in kunta ta’lamu annahu syarrun lii fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii (fii ‘aajili amri wa aajilih) fash-rifnii ‘anhu, waqdur liil khoiro haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bih

Ya Allah, sesungguhnya aku beristikhoroh pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak. Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghoib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut urusan tersebut) baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku (baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, takdirkanlah yang terbaik bagiku di mana pun itu sehingga aku pun ridho dengannya.”[3]

Faedah Mengenai Shalat Istikhoroh

Pertama: Hukum shalat istikhoroh adalah sunnah dan bukan wajib. Dalil dari hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ

Jika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua raka’at selain shalat fardhu

Begitu pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah didatangi seseorang, lalu ia bertanya mengenai Islam. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Shalat lima waktu sehari semalam.”  Lalu ia tanyakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

هَلْ عَلَىَّ غَيْرُهَا قَالَ « لاَ ، إِلاَّ أَنْ تَطَّوَّعَ »

“Apakah aku memiliki kewajiban shalat lainnya?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Tidak ada, kecuali jika engkau ingin menambah dengan shalat sunnah.”[4]

Kedua: Dari hadits di atas, shalat istikhoroh boleh dilakukan setelah shalat tahiyatul masjid, setelah shalat rawatib, setelah shalat tahajud, setelah shalat Dhuha dan shalat lainnya.[5] Bahkan jika shalat istikhoroh dilakukan dengan niat shalat sunnah rawatib atau shalat sunnah lainnya, lalu berdoa istikhoroh setelah itu, maka itu juga dibolehkan. Artinya di sini, dia mengerjakan shalat rawatib satu niat dengan shalat istikhoroh karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ

Jika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua raka’at selain shalat fardhu.” Di sini cuma dikatakan, yang penting lakukan shalat dua raka’at apa saja selain shalat wajib. [6]

Al ‘Iroqi mengatakan, “Jika ia bertekad melakukan suatu perkara sebelum ia menunaikan shalat rawatib atau shalat sunnah lainnya, lalu ia shalat tanpa niat shalat istikhoroh, lalu setelah shalat dua rakaat tersebut ia membaca doa istikhoroh, maka ini juga dibolehkan.”[7]

Ketiga: Istikhoroh hanya dilakukan untuk perkara-perkara yang mubah (hukum asalnya boleh), bukan pada perkara yang wajib dan sunnah, begitu pula bukan pada perkara makruh dan haram. Alasannya karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يُعَلِّمُ أَصْحَابَهُ الاِسْتِخَارَةَ فِى الأُمُورِ كُلِّهَا

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengajari para sahabatnya shalat istikhoroh dalam setiap urusan.” Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abi Jamroh bahwa yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah khusus walaupun lafazhnya umum.[8] Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud dengan hadits tersebut bahwa istikhoroh hanya khusus untuk perkara mubah atau dalam perkara sunnah (mustahab) jika ada dua perkara sunnah yang bertabrakan, lalu memilih manakah yang mesti didahulukan.”[9]

Contohnya, seseorang tidak perlu istikhoroh untuk melaksanakan shalat Zhuhur, shalat rawatib, puasa Ramadhan, puasa Senin Kamis, atau mungkin dia istikhoroh untuk minum sambil berdiri ataukah tidak, atau mungkin ia ingin istikhoroh untuk mencuri.  Semua contoh ini tidak perlu lewat jalan istikhoroh.

Begitu pula tidak perlu istikhoroh dalam perkara apakah dia harus menikah ataukah tidak. Karena asal menikah itu diperintahkan sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala,

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ

Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan.” (QS. An Nur: 32)

Begitu pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ

Wahai para pemuda, jika salah seorang di antara kalian telah mampu untuk memberi nafkah, maka menikahlah.[10] Namun dalam urusan memilih pasangan dan kapan tanggal nikah, maka ini bisa dilakukan dengan istikhoroh.

Sedangkan dalam perkara sunnah yang bertabrakan dalam satu waktu, maka boleh dilakukan istikhoroh. Misalnya seseorang ingin melakukan umroh yang sunnah, sedangkan ketika itu ia harus mengajarkan ilmu di negerinya. Maka pada saat ini, ia boleh istikhoroh.

Bahkan ada keterangan lain bahwa perkara wajib yang masih longgar waktu untuk menunaikannya, maka ini juga bisa dilakukan istikhoroh. Semacam jika seseorang ingin menunaikan haji dan hendak memilih di tahun manakah ia harus menunaikannya. Ini jika kita memilih pendapat bahwa menunaikan haji adalah wajib tarokhi (perkara wajib yang boleh diakhirkan).[11]

Keempat: Istikhoroh boleh dilakukan berulang kali jika kita ingin istikhoroh pada Allah dalam suatu perkara. Karena istikhoroh adalah do’a dan tentu saja boleh berulang kali. Ibnu Az Zubair sampai-sampai mengulang istikhorohnya tiga kali. Dalam shahih Muslim, Ibnu Az Zubair mengatakan,

إِنِّى مُسْتَخِيرٌ رَبِّى ثَلاَثًا ثُمَّ عَازِمٌ عَلَى أَمْرِى

“Aku melakukan istikhoroh pada Rabbku sebanyak tiga kali, kemudian aku pun bertekad menjalankan urusanku tersebut.”[12]

Kelima: Do’a shalat istikhoroh yang lebih tepat dibaca setelah shalat dan bukan di dalam shalat. Alasannya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ …

“Jika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua raka’at selain shalat fardhu, lalu hendaklah ia berdo’a: “Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika …[13]

Syaikh Musthofa Al ‘Adawi hafizhohullah mengatakan, “Aku tidak mengetahui dalil yang shahih yang menyatakan bahwa do’a istikhoroh dibaca ketika sujud atau setelah tasyahud (sebelum salam) kecuali landasannya adalah dalil yang sifatnya umum yang menyatakan bahwa ketika sujud dan tasyahud akhir adalah tempat terbaik untuk berdo’a. Akan tetapi, hadits ini sudah cukup sebagai dalil tegas bahwa do’a istikhoroh adalah setelah shalat. ”[14]

Keenam: Istikhoroh dilakukan bukan dalam kondisi ragu-ragu dalam satu perkara karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ

““Jika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua raka’at selain shalat fardhu”. Begitu pula isi do’a istikhoroh menunjukkan seperti ini. Oleh karena itu, jika ada beberapa pilihan, hendaklah dipilih, lalu lakukanlah istikhoroh. Setelah istikhoroh, lakukanlah sesuai yang dipilih tadi. Jika memang pilihan itu baik, maka pasti Allah mudahkan. Jika itu jelek, maka nanti akan dipersulit.[15]

Ketujuh: Sebagian ulama menganjurkan ketika raka’at pertama setelah Al Fatihah membaca surat Al Kafirun dan di rakaat kedua membaca surat Al Ikhlas. Sebenarnya hal semacam ini tidak ada landasannya. Jadi terserah membaca surat apa saja ketika itu, itu diperbolehkan.[16]

Kedelepan: Melihat dalam mimpi mengenai pilihannya bukanlah syarat dalam istikhoroh karena tidak ada dalil yang menunjukkan hal ini. Namun orang-0rang awam masih banyak yang memiliki pemahaman semacam ini. Yang tepat, istikhoroh tidak mesti menunggu mimpi. Yang jadi pilihan dan sudah jadi tekad untuk dilakukan, maka itulah yang dilakukan.[17] Terserah apa yang ia pilih tadi, mantap bagi hatinya atau pun tidak, maka itulah yang ia lakukan karena tidak dipersyaratkan dalam hadits bahwa ia harus mantap dalam hati.[18] Jika memang yang jadi pilihannya tadi dipersulit, maka berarti pilihan tersebut tidak baik untuknya. Namun jika memang pilihannya tadi adalah baik untuknya, pasti akan Allah mudahkan.

Tata Cara Istikhoroh

Pertama: Ketika ingin melakukan suatu urusan yang mesti dipilih salah satunya, maka terlebih dahulu ia pilih di antara pilihan-pilihan yang ada.

Kedua: Jika sudah bertekad melakukan pilihan tersebut, maka kerjakanlah shalat dua raka’at (terserah shalat sunnah apa saja sebagaimana dijelaskan di awal).

Ketiga: Setelah shalat dua raka’at, lalu berdo’a dengan do’a istikhoroh:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ هَذَا الأَمْرَ – ثُمَّ تُسَمِّيهِ بِعَيْنِهِ – خَيْرًا لِى فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – قَالَ أَوْ فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – فَاقْدُرْهُ لِى ، وَيَسِّرْهُ لِى ، ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، اللَّهُمَّ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – أَوْ قَالَ فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – فَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِىَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ، ثُمَّ رَضِّنِى بِهِ

Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma fa-in kunta ta’lamu hadzal amro (sebut nama urusan tersebut) khoiron lii fii ‘aajili amrii wa aajilih (aw fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii) faqdur lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Allahumma in kunta ta’lamu annahu syarrun lii fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii (fii ‘aajili amri wa aajilih) fash-rifnii ‘anhu, waqdur liil khoiro haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bih.

[Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku beristikhoroh pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak. Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghoib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut urusan tersebut) baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku (baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, takdirkanlah yang terbaik bagiku di mana pun itu sehingga aku pun ridho dengannya]

Keempat: Lakukanlah pilihan yang sudah dipilih di awal tadi, terserah ia merasa mantap atau pun tidak dan tanpa harus menunggu mimpi. Jika itu baik baginya, maka pasti Allah mudahkan. Jika itu jelek, maka pasti ia akan palingkan ia dari pilihan tersebut.

Demikian penjelasan kami mengenai panduan shalat istikhoroh. Semoga bermanfaat.

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Diselesaikan di Pangukan-Sleman, di sore hari menjelang Maghrib, 15 Rabi’ul Awwal 1431 H (01/03/2010)

***

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.muslim.or.id


[1] Al Jaami’ li Ahkamil Qur’an (Tafsir Al Qurthubi), Muhammad bin Ahmad Al Qurthubi, 13/306, Mawqi’ Ya’sub (sesuai cetakan).

[2] Lihat Fathul Baari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 11/184, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379.

[3] HR. Bukhari no. 7390, dari Jabir bin ‘Abdillah

[4] HR. Bukhari no. 2678 dan Muslim no. 11, dari Tholhah bin ‘Ubaidillah.

[5] Lihat Fiqhud Du’aa, Syaikh Musthofa Al ‘Adawi, hal. 167, Maktabah Makkah, cetakan pertama, tahun 1422 H.

[6] Faedah dari penjelasan Syaikh Abu Malik dalam Shahih Fiqh Sunnah, 1/426, Al Maktabah At Taufiqiyah. Begitu pula terdapat penjelasan yang sama dari Syaikh Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul dalam kitab beliau Bughyatul Mutathowwi’ fii Sholatit Tathowwu’ (soft file).

[7] Lihat Nailul Author, Asy Syaukani, 3/87, Irodatuth Thob’ah Al Muniroh.

[8] Lihat Fathul Baari, 11/184.

[9] Idem

[10] HR. Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 1400.

[11] Contoh-contoh ini kami peroleh dari Fiqhud Du’aa, hal. 167-168.

[12] HR. Muslim no. 1333

[13] Lihat Fiqhud Du’aa, hal. 168-169.

[14] Fiqhud Du’aa, hal. 169.

[15] Faedah dari penjelasan Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul dalam Buhyatul Mutathowwi’ (soft file).

[16] Lihat Fiqhud Du’aa, hal. 169.

[17] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/427.

[18] Lihat penjelasan Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul dalam Buhyatul Mutathowwi’ (soft file).

  • Talwinderjitkaur

    artikelnya bagus semoga aja saya bisa menjalanin sholat istikhoroh dengan baik,

  • Pingback: Panduan Sholat Istikhoroh

  • http://3mon541.wordpress.com emonshi

    assalamualikum , , ,
    artikelnya bagus dah mudah dimengerti semoga penulis mendapat balasan dari Alloh SWT
    amien

  • http://agusjay55.wordpress.com Agus

    Terima kasih atas ulasannya. Awalnya saya kira salat istikharah itu untuk memilih di antara beberapa pilihan (sesuai yang saya baca di beberapa tulisan panduan solat istikhoroh). Dari tulisan ini saya mengetahui bahwa salat istikhoroh tidak untuk meminta pilihan, hanya memmohon agar pilihan yang sudah kita putuskan dimudahkan oleh Allah jika baik bagi kita atau disulitkan oleh Allah jika tidak baik bagi kita. Jazakallah.

  • haryono

    saya seorang pemuda, dan saya sangat ingin menikah dgn seseorang yg saya pilih.
    Tp kami berdua sudah bertekad untuk berjuang,akan tetapi tidk di restui orang tua calon istri saya
    sampai pada akhirnya ayah calon istri saya meninggal dan berwasiat utk jangan sampe dia menikah dgn saya.
    Apakah tanpa istikharah pun itu sudah menunjukan kami tidak berjodoh??
    Dan kakak saya punya kisah yg sama, tp akhirnya mereka menikah dan skrg sudah mempunyai rumah dan dikaruniai 3orang putra/i.
    Apa yg harus saya lakukan?

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #haryono
      Kami sarankan agar anda mencari calon yang lain. Menikahlah dengan seorang wanita karena agamanya, bukan karena dia adalah dia. Bukan karena merasa telah melalui masa-masa bersama. Nikahilah wanita karena agamanya, ridha Allah pun insya Allah menyertai. Insya Allah, selain dia, masih banyak pula wanita muslimah yang kualitas agamanya baik.
      Memaksakan menikah dengannya, juga dapat memicu konflik keluarga, karena sangat dimungkinkan kerabat saudara dari ayahnya akan menjalankan wasiat tersebut.

  • ferialnec

    Terima kasih atas informasi yang diberikan melalui artikel diatas..
    semoga artikel ini berguna bagi saya dan khalayak umum…

  • http://bisa-edu.blogspot.com Arry A Ripa’i

    Terima kasih artikelnya…cukup bermanfaat…!!!

  • Pingback: Shalat Istikharah Ketika Ingin Memilih atau Telah Mantap dalam Pilihan? — Muslim.Or.Id – Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

  • http://anasept.blogspot.com hana

    assallamu’alaikum, ijin share ya
    jazakumullah khair…
    semoga ilmunya dapat bermanfaat bagi kita semua

  • Pingback: SHOLAT ISTIKHOROH « m3n4n's Blog

  • Pingback: PANDUAN SHOLAT ISTIKHOROH « m3n4n's Blog

  • Pingback: Panduan Shalat Istikharah - Aslami

  • Yubi Nabilla

    Artikelnya sangat membantu:) Thx

  • aditya

    assalamualikum….

    saya seorang pemuda yang masih berumur 22 tahun, pada saat ini saya dihadapkan pada dua pilihan dalam mencari rizki yaitu usaha atau kerja????yang menjadi pertanyaan mendasar adalah apakah saya harus istikhoroh utk hal tersebut?kedua orang tua saya menuntut saya untuk kerja, bukan membuka usaha, tapi kemauan hati saya adalah usaha…dan satu lagi pertanyaan saya ketika saya diharuskan untuk melakukan istikhoroh, bagaimana saya harus melihat tanda-tanda kebesaran ALLAH swt untuk mejawab dua pilihan tersebut???

    terimakasih…

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #aditya
      wa’alaikumussalam, ketika anda dimudahkan oleh Allah untuk menjalani salah satu pilihan, itulah tanda hasil dari istikharah.

  • Pingback: Sholat Istikharah | wakhost.co.cc

  • Pingback: Sholat Istikharah | wakhost.co.cc

  • Agus JUnaidi

    Thanx to the artikel, mmbuat saya lebih mntap utk menentukan pilihan

  • eky

    Assalamuallaikum Wr.Wb Pak Admin…
    Setelah membaca artikel diatas saya jadi ingin mengajukan pertanyaan…
    sholat istikharah itu kan boleh dilakukan kapan saja dimana saja benar begitu kan pak? boleh apa tidak kita membaca dengan kita tulis/cetak karena kita belum hafal do’a itu…untuk berulang kali dibaca hingga hafal..

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #eky
      wa’alaikumussalam, boleh

  • desi

    assalamualaikum, sy perempuan dan telah memiliki calon untuk sy menikah,tapi orang tua saya kurang setuju karena calon sy memiliki penyakit keturunan. Apa yg harus sy lakukan?terimakasih.salam

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      @ Desi

      Wa’alaikumussalam. Banyak do’a pada Allah minta yg terbaik.

  • nope

    bolehkah berdoa dng bhs Indonesia-nya (terjemahan)??

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      @ Nope:

      Boleh jika di luar shalat.

  • Moch. ahmad

    Assalamuallaikum Wr.Wb..

    saya mau bertanya pak,, saat ini saya mempunyai seorang kekasih, saya sudah 1 taun menjalani hubungan (pacaran) dan saya mempunyai niat baik untuk menikahinya, akan tetapi dalam 1 taun ini kami sering konflik atas dasar beda pendapat apapun, dan di sisi lain saya prihatin dengan kondisi keluarga dia(broken home) dan dia minta ingin segera saya u/ menikahinya membawa dia pergi,tetapi saya ragu u/ kejenjang pernikahan itu takut nantinya konflik rumah tangga yg berlebihan,,

    mohon tanggapanya,, terima kasih

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #Moch. Ahmad
      Pacaran adalah maksiat, hubungan yang tidak halal dalam Islam. Sebaiknya segera lamar atau putuskan hubungan.

  • Lombok

    Di Do’a itu, di mana ada potongan yg artinya jika Engkau mengetahui, sementara kita tahu sendiri bahwa Allah itu Maha tahu segalanya, terus maksud kalimat jika Engkau mengetahui itu bagaimana ya? afwan ana pingen tahu maknanya. Jazakallah khoeir

    • http://ustadzaris.com Aris Munandar

      #Lombok
      baca utuh kalimatnya supaya anda tidak salah paham.

  • fahmi kautsar

    Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.

    Ustadz, klo berdasarkan landasan [1] dari imam Qurthubi & [2] dari imam Ibnu Hajar Asqalani, shalat istikharah itu meminta pilihan yang terbaik kepada Allah SWT atas urusan yang hendak kita lakukan. Bukankah baiknya memang menunggu dulu isyarat dari Allah SWT mengenai urusan yang hendak kita kerjakan setelah kita mengerjakan shalat istikharah?

    Mohon penjelasannya ustadz. Terima kasih.

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      @ Fahmi

      Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh

      Sdh dijelaskan di atas bahwa tidak perlu menunggu isyarat dari Allah atau mimpi. Lakukan istikhoroh, lalu lakukan apa yg Anda yakini. Barakallahu fiikum.

  • Asep Budi

    Assalamu’alaikum…
    Bolehkah berdo’a di dalam hati ketika sujud atau setelah tasyahud akhir (hendak salam) dengan bahasa Indonesia?

    Syukron…

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama, S.Kom.

      #Asep Budi
      Wa’alaikumussalam, jika tidak bisa bahasa arab, boleh. Namun lebih utama doa-doa yang berasal dari Nabi.

  • Hurriyah Rahman

    terkait dgn pertanyaan mas haryono tadi.
    sy dijodohkan oleh orang tua.
    ortu si cowok meninggal dan kemudian berwasiat ke ortu sy agar sy menikah dgn anaknya. tetapi sy sendiri gak mau. ya walaupun sy gk tahu apakah dia yg terbaik untuk sy. alasan sy menolak jg ya karena sy memang ingin mendapatkan imam yang bisa membimbing sy, dan tentunya mengenal islam secara mendalam. jika sy menolak apakah itu kurang baik untuk sy karena tidak menuruti kata2 ortu. ataukah sy harus shalat istikhoroh.
    mohon penjelasannya.

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #Hurriyah Rahman
      Jika lelaki tersebut agamanya baik maka sebaiknya taati orang tua. Silakan shalat istikharah semoga Allah menunjukkan jalan keluar yang terbaik.

  • heru sukamto

    Alhamdulillah, artikel yang sangat bagus semoga bermanfat bagi siapa saja amin, terimakasih pada penulis

  • syahla

    terjemahan “jika Engkau mengetahui … ” apakah sudah tepat
    kata jika agak sedikit rancu buat saya, apakah penulis tidak salah menerjemahkan?,
    bisakah di setarakan dengan ” Engkau Yang Mengetahui .. perkara ini baik ” ?

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #syahla
      Maksudnya “jika menurut ilmu-Mu perkara ini memang baik maka….”

  • Asri

    Pada point keenam, dijelaskan bahwa istikharah dilakukan bukan dalam kondisi ragu-ragu dalam suatu perkara. Dengan kata lain, lakukanlah sesuai dengan apa yang sudah mantap menjadi pilihan kita. Jika memang pilihan itu baik, maka pasti Allah mudahkan. Jika itu jelek, maka nanti akan dipersulit. Bagaimana jika saya sudah merasa yakin dengan seorang lelaki yang akan menikahi saya, lalu saya pun menjalani istikharah dan melakukan pilihan untuk tetap menjalani hidup bersamanya dalam suatu pernikahan. Namun setelah menikah ternyata dia bukan pilihan yang baik bagi saya menurut Allah, apakah hubungan kami setelahnya akan dipersulit dengan adanya konflik yang memicu perceraian?

  • nisya

    Assalamu’alaikum warahmatullah
    Alhamdulillah, artikelnya sgt mbantu , smga bermanfaat. Sy ingin btanya, sy mpunyai tman kuliah seangkatan yg ingin melamar dan ia sdh dtv ke rmah 2x. Sy pernah mnolak sblumnya namun dia datang kembali dan ketika sy ingin menolak, ia tdk mnerimanya krna ia ingin agar sy yg menjadi istrinya. Sy pernah pacaran sm dia. Skrg sy dan dia sama2 sdh mengetahui ttg slam. Namun sy tetap tidak mau menerimanya karena sy tidak yakin apakah ia paham ttg islam dengan baik, dari pertanyaan yg pernah sy ajukan ketika ia dtng ke rumah. Sy sdh mantap untuk menolaknya tp sy takut dia tidak mau menerima keputusan sy sperti sebelumnya. Mohon sarannya. Syukran atas jawabannya

  • yunita

    Assalamu’alaikum
    Saat ini sy berada diantara 2 pilihan..
    ada 2 orang pria yg menyatakan ingin melamar saya, insyaallah keduanya baik agamanya.. tp sy masih bingung utk tetapkan pilih sy.
    Apa yg harus sy lakukan ustadz?
    Terima kasih sebelumnya atas arahan ustadz.

    • http://kangaswad.wordpress.com/ Yulian Purnama

      Wa’alaikumussalam, jika demikian, pilih yang lebih mapan dan lebih anda sukai dari segi fisik. Karena hal tersebut lebih melanggengkan kehidupan rumah tangga.

@muslimindo

    Message: Rate limit exceeded, Please check your Twitter Authentication Data or internet connection.