Lima Faedah Puasa Syawal


Alhamdulillah, kita saat ini telah berada di bulan Syawal. Kita juga sudah mengetahui ada amalan utama di bulan ini yaitu puasa enam hari di bulan Syawal. Apa saja faedah melaksanakan puasa tersebut? Itulah yang akan kami hadirkan ke tengah-tengah pembaca pada kesempatan kali ini. Semoga bermanfaat.


Faedah pertama: Puasa syawal akan menggenapkan ganjaran berpuasa setahun penuh.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.”[1]

Para ulama mengatakan bahwa berpuasa seperti setahun penuh asalnya karena setiap kebaikan semisal dengan sepuluh kebaikan yang semisal. Bulan Ramadhan (puasa sebulan penuh, -pen) sama dengan (berpuasa) selama sepuluh bulan (30 x 10 = 300 hari = 10 bulan) dan puasa enam hari di bulan Syawal sama dengan (berpuasa) selama dua bulan (6 x 10 = 60 hari = 2 bulan).[2] Jadi seolah-olah jika seseorang melaksanakan puasa Syawal dan sebelumnya berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan, maka dia seperti melaksanakan puasa setahun penuh. Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ (مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا

“Barangsiapa berpuasa enam hari setelah Idul Fitri, maka dia seperti berpuasa setahun penuh. [Barangsiapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh kebaikan semisal][3].”[4] Satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan semisal dan inilah balasan kebaikan yang paling minimal.[5] Inilah nikmat yang luar biasa yang Allah berikan pada umat Islam.

Cara melaksanakan puasa Syawal adalah:

  1. Puasanya dilakukan selama enam hari.
  2. Lebih utama dilaksanakan sehari setelah Idul Fithri, namun tidak mengapa jika diakhirkan asalkan masih di bulan Syawal.
  3. Lebih utama dilakukan secara berurutan namun tidak mengapa jika dilakukan tidak berurutan.
  4. Usahakan untuk menunaikan qodho’ puasa terlebih dahulu agar mendapatkan ganjaran puasa setahun penuh. Dan ingatlah puasa Syawal adalah puasa sunnah sedangkan qodho’ Ramadhan adalah wajib. Sudah semestinya ibadah wajib lebih didahulukan daripada yang sunnah.

Faedah kedua: Puasa syawal seperti halnya shalat sunnah rawatib yang dapat menutup kekurangan dan menyempurnakan ibadah wajib.

Yang dimaksudkan di sini bahwa puasa syawal akan menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang ada pada puasa wajib di bulan Ramadhan sebagaimana shalat sunnah rawatib yang menyempurnakan ibadah wajib. Amalan sunnah seperti puasa Syawal nantinya akan menyempurnakan puasa Ramadhan yang seringkali ada kekurangan di sana-sini. Inilah yang dialami setiap orang dalam puasa Ramadhan, pasti ada kekurangan yang mesti disempurnakan dengan amalan sunnah.[6]

Faedah ketiga: Melakukan puasa syawal merupakan tanda diterimanya amalan puasa Ramadhan.

Jika Allah subhanahu wa ta’ala menerima amalan seorang hamba, maka Dia akan menunjuki pada amalan sholih selanjutnya. Jika Allah menerima amalan puasa Ramadhan, maka Dia akan tunjuki untuk melakukan amalan sholih lainnya, di antaranya puasa enam hari di bulan Syawal.[7] Hal ini diambil dari perkataan sebagian salaf,

مِنْ ثَوَابِ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا، وَمِنْ جَزَاءِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا

“Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.”[8]

Ibnu Rajab menjelaskan hal di atas dengan perkataan salaf lainnya, “Balasan dari amalan kebaikan adalah amalan kebaikan selanjutnya. Barangsiapa melaksanakan kebaikan lalu dia melanjutkan dengan kebaikan lainnya, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama. Begitu pula barangsiapa yang melaksanakan kebaikan lalu malah dilanjutkan dengan amalan kejelekan, maka ini adalah tanda tertolaknya atau tidak diterimanya amalan kebaikan yang telah dilakukan.”[9]

Renungkanlah! Bagaimana lagi jika seseorang hanya rajin shalat di bulan Ramadhan (rajin shalat musiman), namun setelah Ramadhan shalat lima waktu begitu dilalaikan? Pantaskah amalan orang tersebut di bulan Ramadhan diterima?!

Al Lajnah Ad Da-imah Lil Buhuts ‘Ilmiyyah wal Ifta’ (komisi fatwa Saudi Arabia) mengatakan, “Adapun orang yang melakukan puasa Ramadhan dan mengerjakan shalat hanya di bulan Ramadhan saja, maka orang seperti ini berarti telah melecehkan agama Allah. (Sebagian salaf mengatakan), “Sejelek-jelek kaum adalah yang mengenal Allah (rajin ibadah, pen) hanya pada bulan Ramadhan saja.” Oleh karena itu, tidak sah puasa seseorang yang tidak melaksanakan shalat di luar bulan Ramadhan. Bahkan orang seperti ini (yang meninggalkan shalat) dinilai kafir dan telah melakukan kufur akbar, walaupun orang ini tidak menentang kewajiban shalat. Orang seperti ini tetap dianggap kafir menurut pendapat ulama yang paling kuat.”[10] Hanya Allah yang memberi taufik.

Faedah keempat: Melaksanakan puasa syawal adalah sebagai bentuk syukur pada Allah.

Nikmat apakah yang disyukuri? Yaitu nikmat ampunan dosa yang begitu banyak di bulan Ramadhan. Bukankah kita telah ketahui bahwa melalui amalan puasa dan shalat malam selama sebulan penuh adalah sebab datangnya ampunan Allah, begitu pula dengan amalan menghidupkan malam lailatul qadr di akhir-akhir bulan Ramadhan?!

Ibnu Rajab mengatakan, “Tidak ada nikmat yang lebih besar dari pengampunan dosa yang Allah anugerahkan.”[11] Sampai-sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun yang telah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan akan datang banyak melakukan shalat malam. Ini semua beliau lakukan dalam rangka bersyukur atas nikmat pengampunan dosa yang Allah berikan. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya oleh istri tercinta beliau yaitu ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengenai shalat malam yang banyak beliau lakukan, beliau pun mengatakan,

أَفَلاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا

“Tidakkah aku senang menjadi hamba yang bersyukur?”[12]

Begitu pula di antara bentuk syukur karena banyaknya ampunan di bulan Ramadhan, di penghujung Ramadhan (di hari Idul fithri), kita dianjurkan untuk banyak berdzikir dengan mengangungkan Allah melalu bacaan takbir “Allahu Akbar”. Ini juga di antara bentuk syukur sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu bertakwa pada Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 185)

Begitu pula para salaf seringkali melakukan puasa di siang hari setelah di waktu malam mereka diberi taufik oleh Allah untuk melaksanakan shalat tahajud.

Ingatlah bahwa rasa syukur haruslah diwujudkan setiap saat dan bukan hanya sekali saja ketika mendapatkan nikmat. Namun setelah mendapatkan satu nikmat, kita butuh pada bentuk syukur yang selanjutnya. Ada ba’it sya’ir yang cukup bagus: “Jika syukurku pada nikmat Allah adalah suatu nikmat, maka untuk nikmat tersebut diharuskan untuk bersyukur dengan nikmat yang semisalnya”.

Ibnu Rajab Al Hambali menjelaskan, “Setiap nikmat Allah berupa nikmat agama maupun nikmat dunia pada seorang hamba, semua itu patutlah disyukuri. Kemudian taufik untuk bersyukur tersebut juga adalah suatu nikmat yang juga patut disyukuri dengan bentuk syukur yang kedua. Kemudian taufik dari bentuk syukur yang kedua adalah suatu nikmat yang juga patut disyukuri dengan syukur lainnya. Jadi, rasa syukur akan ada terus sehingga seorang hamba merasa tidak mampu untuk mensyukuri setiap nikmat. Ingatlah, syukur yang sebenarnya adalah apabila seseorang mengetahui bahwa dirinya tidak mampu untuk bersyukur (secara sempurna).”[13]

Faedah kelima: Melaksanakan puasa syawal menandakan bahwa ibadahnya kontinu dan bukan musiman saja. [14]

Amalan yang seseorang lakukan di bulan Ramadhan tidaklah berhenti setelah Ramadhan itu berakhir. Amalan tersebut seharusnya berlangsung terus selama seorang hamba masih menarik nafas kehidupan.

Sebagian manusia begitu bergembira dengan berakhirnya bulan Ramadhan karena mereka merasa berat ketika berpuasa dan merasa bosan ketika menjalaninya. Siapa yang memiliki perasaan semacam ini, maka dia terlihat tidak akan bersegera melaksanakan puasa lagi setelah Ramadhan karena kepenatan yang ia alami. Jadi, apabila seseorang segera melaksanakan puasa setelah hari ‘ied, maka itu merupakan tanda bahwa ia begitu semangat untuk melaksanakan puasa, tidak merasa berat dan tidak ada rasa benci.

Ada sebagian orang yang hanya rajin ibadah dan shalat malam di bulan Ramadhan saja, lantas dikatakan kepada mereka,

بئس القوم لا يعرفون لله حقا إلا في شهر رمضان إن الصالح الذي يتعبد و يجتهد السنة كلها

“Sejelek-jelek orang adalah yang hanya rajin ibadah di bulan Ramadhan saja. Sesungguhnya orang yang sholih adalah orang yang rajin ibadah dan rajin shalat malam sepanjang tahun.” Ibadah bukan hanya di bulan Ramadhan, Rajab atau Sya’ban saja.

Asy Syibliy pernah ditanya, “Bulan manakah yang lebih utama, Rajab ataukah Sya’ban?” Beliau pun menjawab, “Jadilah Rabbaniyyin dan janganlah menjadi Sya’baniyyin.” Maksudnya adalah jadilah hamba Rabbaniy yang rajin ibadah di setiap bulan sepanjang tahun dan bukan hanya di bulan Sya’ban saja. Kami kami juga dapat mengatakan, “Jadilah Rabbaniyyin dan janganlah menjadi Romadhoniyyin.” Maksudnya, beribadahlah secara kontinu (ajeg) sepanjang tahun dan jangan hanya di bulan Ramadhan saja. Semoga Allah memberi taufik.

‘Alqomah pernah bertanya pada Ummul Mukminin ‘Aisyah mengenai amalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah beliau mengkhususkan hari-hari tertentu untuk beramal?” ‘Aisyah menjawab,

لاَ. كَانَ عَمَلُهُ دِيمَةً

“Beliau tidak mengkhususkan waktu tertentu untuk beramal. Amalan beliau adalah amalan yang kontinu (ajeg).”[15]

Amalan seorang mukmin barulah berakhir ketika ajal menjemput. Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah menjadikan ajal (waktu akhir) untuk amalan seorang mukmin selain kematian.” Lalu Al Hasan membaca firman Allah,

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al yaqin (yakni ajal).” (QS. Al Hijr: 99).[16] Ibnu ‘Abbas, Mujahid dan mayoritas ulama mengatakan bahwa “al yaqin” adalah kematian. Dinamakan demikian karena kematian itu sesuatu yang diyakini pasti terjadi. Az Zujaaj mengatakan bahwa makna ayat ini adalah sembahlah Allah selamanya. Ahli tafsir lainnya mengatakan, makna ayat tersebut adalah perintah untuk beribadah kepada Allah selamanya, sepanjang hidup.[17]

Sebagai penutup, perhatikanlah perkataan Ibnu Rajab berikut, “Barangsiapa melakukan dan menyelesaikan suatu ketaaatan, maka di antara tanda diterimanya amalan tersebut adalah dimudahkan untuk melakukan amalan ketaatan lainnya. Dan di antara tanda tertolaknya suatu amalan adalah melakukan kemaksiatan setelah melakukan amalan ketaatan. Jika seseorang melakukan ketaatan setelah sebelumnya melakukan kejelekan, maka kebaikan ini akan menghapuskan kejelekan tersebut. Yang sangat bagus adalah mengikutkan ketaatan setelah melakukan ketaatan sebelumnya. Sedangkan yang paling jelek adalah melakukan kejelekan setelah sebelumnya melakukan amalan ketaatan. Ingatlah bahwa satu dosa yang dilakukan setelah bertaubat lebih jelek dari 70 dosa yang dilakukan sebelum bertaubat. … Mintalah pada Allah agar diteguhkan dalam ketaatan hingga kematian menjemput. Dan mintalah perlindungan pada Allah dari hati yang terombang-ambing.”[18]

Semoga Allah senantiasa memberi taufik kepada kita untuk istiqomah dalam ketaatan hingga maut menjemput. Hanya Allah yang memberi taufik. Semoga Allah menerima amalan kita semua di bulan Ramadhan dan memudahkan kita untuk menyempurnakannya dengan melakukan puasa Syawal.

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Diselesaikan di Batu Merah, kota Ambon, 4 Syawal 1430 H

***

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id

Footnote:

[1] HR. Muslim no. 1164, dari Abu Ayyub Al Anshori
[2] Syarh Muslim, 4/186, Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah.
[3] QS. Al An’am ayat 160.
[4] HR. Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban, dari Tsauban –bekas budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1007.
[5] Lihat Fathul Qodir, Asy Syaukani, 3/6, Mawqi’ At Tafaasir, Asy Syamilah dan Taisir Al Karimir Rahman, ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, hal. 282, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, 1420 H.
[6] Lihat Latho-if Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 394, Daar Ibnu Katsir, cetakan kelima, 1420 H [Tahqiq: Yasin Muhammad As Sawaas] [7] -idem-
[8] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 8/417, Daar Thoyyibah, cetakan kedua, 1420 H [Tafsir Surat Al Lail] [9] Latho-if Al Ma’arif, hal. 394.
[10] Fatawa Al Lajnah Ad Da-imah Lil Buhuts Ilmiyyah wal Ifta’, pertanyaan ke-3, Fatawa no. 102, 10/139-141
[11] Latho-if Al Ma’arif, hal. 394.
[12] HR. Bukhari no. 4837 dan Muslim no. 2820.
[13] Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 394-395.
[14] Pembahasan berikut kami olah dari Latho-if Al Ma’arif, hal. 396-400
[15] HR. Bukhari no. 1987 dan Muslim no. 783
[16] Latho-if Al Ma’arif, hal. 398.
[17] Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, 4/79, Mawqi’ At Tafaasir, Asy Syamilah
[18] Latho-if Al Ma’arif, hal. 399.

  • fuad munir

    Semoga kita bisa mengamalkan keutamaan itu dalam kehidupan kita.Amin…………

  • Irma waty

    Bukankh puasa syawal dpt di kerjakan bersama-sama dgn qodho puasa ramadhan.. Hal it sy ketahui dr guru agama sy di kalimantan selatan ,tepatx di martapura

  • http://arissetyawanbii.blog.uns.ac.id arissetyawan05

    alhamdulillah, smg kita termasuk hamba Allah yang diberi kemudahan untuk melakukan syukur kepadaNya.

  • http://poet3q.blogspot.com Shidiq Nur Widayan

    Assalamu’alaikum wr. wb.

    Maaf sebelumnya saya ingin menanyakan tentang penggabungan niat antara membayar hutang puasa ramadan dengan niat puasa syawal. Apakah boleh dan mohon dalilnya. Sukron

    Wassalamu’alaikum wr. wb.

  • http://www.google.co.id H ridwan Husen

    Alhamdulillah adanya facebook kita bisa saling share. kita mampaatkan untuk berda.wah.

  • fulanah

    Bagaimana jika ketika ramadhan kemarin seorang ibu hamil tidak berpuasa selama beberapa hari, namun ia sudah membayar fidyah. Apakah puasa ramadhan yang diikuti puasa syawalnya sama dengan puasa setahun penuh?
    jazakumullah khair

  • muhammad ali

    masih banyak orang yang terpaksa puasa hanya dibulan Ramadhan karena hukumnya wajib, sedangkan puasa sunah syawal atau senin kamis masih banyak yang tidak mau melaksanakan, pada Allah Ajja wa jalla sudah mengkhabarkan balasan bagi orang yang berpuasa akan masuk syurga melalui pintu arrayyan. Kenapa masih banyak yang tidak mau menggapainya ? Wallahu alam bissawab.

  • http://sahabatasramaui.wordpress.com zyx

    minta izin copas di blog kami ya..

  • firman

    trima ksh bnyk artikelnya

  • http://reflexiroel.blogspot.com Iroel

    Minta izin copas ke blog ana yah…

  • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

    Irma waty Sep 25, 2009, 14:26
    Bukankh puasa syawal dpt di kerjakan bersama-sama dgn qodho puasa ramadhan.. Hal it sy ketahui dr guru agama sy di kalimantan selatan ,tepatx di martapura

    Shidiq Nur Widayan Sep 25, 2009, 23:18
    Assalamu’alaikum wr. wb.
    Maaf sebelumnya saya ingin menanyakan tentang penggabungan niat antara membayar hutang puasa ramadan dengan niat puasa syawal. Apakah boleh dan mohon dalilnya. Sukron
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    Untuk menjawab komentar di atas, kami nukilkan fatwa Al Lajnah Ad Da-imah Lil Buhuts wal Ifta’ mengenai bolehkah menggabungkan niat puasa wajib dengan puasa sunnah.

    Soal Ketiga dari Fatwa No. 6497
    هل يجوز صيام التطوع بنيتين: نية قضاء، ونية سنة
    Bolehkah melakukan puasa sunnah dengan dua niat sekaligus yaitu niat mengqodho’ puasa dan niat puasa sunnah? …

    Jawab:
    لا يجوز صيام التطوع بنيتين، نية القضاء ونية السنة،

    Tidak boleh melakukan puasa sunnah dengan dua niat sekaligus yaitu dengan niat qodho’ puasa dan niat puasa sunnah. ….

    Hanya Allah yang memberi taufik. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.
    Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts wal Ifta’
    Anggota: ‘Abdullah bin Qu’ud, ‘Abdullah bin Ghodyan
    Wakil Ketua: ‘Abdur Rozaq Afifi
    Ketua: ‘Abdullah bin Baz

  • achmad

    Afwan,
    Yang saya tahu, hal yang menjadi penutup kekurangan dan penyempurna shaum ramadhan adalah ZAKAT FITRAH. Hal ini sesuai dengan hadis yang diriwayatkan Ibnu Abbas, bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perkataan yang tidak berguna dan kotor, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Maka barangsiapa yang mengeluarkannya sebelum shalat (ied), ia menjadi zakat yang diterima dan barangsiapa yang mengeluarkannya setelah shalat (ied), ia menjadi sedekah biasa. (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dll dengan sanad sahih).
    Jadi saya kira, puasa syawal bukanlah penutup kekurangan dan penyempurna ibadah shaum ramadhan. (Faedah Kedua)
    Allahu a’lam….

  • husin salim bagis,st

    stlh membaca faedah ke tiga,yg ingin sy tanyakan apa semua amalan mis bln ramadhan kita diperintahkan untuk banyak sedekah(walaupun dg jml kecil) dan apabila stlh ramadhan kita kurang bersedekah(seperti ramadhan) apa itu berarti sedekah kita di bln ramadhan tdk diterima, dan satu lg apa benar ada keterangan hadist/riwayat bahwa amalan sunnah bulan ramadhan dibalas/mendapat pahala setara amalan wajib bulan lainnya,trim mohon balasan/komentarnya

  • figur

    dengan dakwah yang berdasarkan sunnah dan al-qur’an, muslim di dunia akan kuat.

  • sandy

    hari2 ap saja yang harus puasa syawal..atau terserah hari nya yang penting bulan syawal?

  • kusnandarnandroz

    bagaimn sikap kita thd amerika dan israel…yg jelas2,..telah menzalimi kita ..ayo bersatu uamat islam…palestina..iraq afganistan..apakah kita akan tunggu.giliran..

  • anisa

    wah moga kita ditunjukkan jalan kebenaran tersebut

  • Shidiq Nurt Widayan

    Terima kasih atas Jawabannya. Hal ini saya tanyakan karena di desa saya pun ada yang mengatakan jika boleh menggabung niat. Dasarnya adalah:
    ===========
    Di dalam kitab Al Asybah wan Nazhair oleh Jalaluddin Assayuti, persoalan ini diungkap secara panjang lebar, dan membagi kepada 4 masalah.

    Pertama, menggabung niat ibadah wajib dengan ibadah sunat, seperti menggabung niat shalat wajib dengan shalat sunat Tahiatul Masjid, maka hukumnya sah dan kedua-duanya berpahala. Demikian juga menggabungkan niat mandi janabah dan mandi sunat Jum’at, kedua-duanya berpahala. Selanjutnya, menggabungkan niat puasa qadha dan puasa sunat Arafah, atau puasa wajib lainnya seperti puasa Nazar, puasa Kafarat dengan puasa sunat lainnya, maka hukumnya sah dan boleh seperti yang difatwakan oleh Al Barizi.

    Dengan memperhatikan persoalan-persoalan di atas dan membandingkan dengan persoalan yang diangkat dalam tulisan ini yaitu menggabungkan niat puasa qadha dengan puasa sunat Syawal menurut hemat penulis tidak ada perbedaannya, yaitu menggabungkan niat puasa wajib (qadha) dengan puasa sunat, maka hukumnya disamakan dengan persoalan-persoalan di atas yaitu boleh dan sah kedua niat ibadah tersebut Insya Allah.
    ==========

    Cek di sini
    dan Di sini

    Sukron

  • Ady Hermawan

    Alhamdulillah

    Jazakaullah artikelnya , tak sebarin ke Facebook, smoga amal kita diterima amin

  • Helkaf Chaidir

    Semoga saya tetap istiqomah menjalankan amalan sunah…

  • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

    Untuk Shidiq Nurt Widayan
    Berikut tambahan fatwa

    Berikut adalah Fatwa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyyah wal Ifta’ (Komisi Tetap dalam Penelitian Ilmiah dan Fatwa, di Saudi Arabia), Pertanyaan Kedua dari Fatwa no. 11663.

    Soal:

    Puasa enam hari di bulan Syawwal adalah puasa sunnah (dianjurkan, bukan wajib). Apabila seorang wanita menunaikan puasa enam hari di bulan Syawwal, apakah sudah cukup baginya menunaikan puasa tersebut dan sudah dianggap telah menunaikan puasa qodho’ (utang puasa) selama enam hari karena tidak berpuasa di bulan Ramadhan? Ataukah dia harus berpuasa selama 12 hari, sebagiannya adalah puasa qodho’ dan sebagiannya lagi adalah puasa syawwal? Jazakumullahu khoiron.

    Jawab:

    Tidak boleh bagi orang yang memiliki utang qodho’ puasa di bulan Ramadhan cukup dengan menunaikan puasa enam hari di bulan Syawwal yang hukumnya sunnah. Namun hendaklah dia menunaikan puasa qodho’ tersebut lebih dahulu, lalu setelah itu dia menunaikan puasa enam hari di bulan Syawwal jika memang dia menginginkan mendapatkan keutamaan puasa tersebut dan ini dilakukan sebelum berakhirnya bulan Syawwal.

    Hanya Allah yang memberi taufik. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

    Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyyah wal Ifta’

    Anggota: ‘Abdullah bin Ghadyan
    Wakil Ketua: ‘Abdur Rozaq Afifi
    Ketua: ‘Abdul ‘Aziz bin Baz

    Sumber:
    http://www.alifta.net/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&PageID=72&PageNo=1&BookID=12

  • Rany

    Alhamdulillah,,,

    Semoga amalan itu kita jalankan, untuk mendapatkan ridho dr allah swt…
    amin ya allah amin….

  • arif hidayat

    ass. salam kenal ,

  • Masboim

    Afwan, ana mau tanya ada teman yang kasih tau bahwa adab minum sambil berdiri adalah boleh, berdasar hadits berikut :
    mulai kutipan :
    //

    makan&minum yg utama sambil duduk, tetapi sambil berdiri jg tdk d larang.berdasar hadist nabi,

    “Ali RA mendatangi pintu ar-
    Raghbah lalu minum sambil berdiri. Setelah itu beliau mengatakan,
    “Sesungguhnya banyak orang tidak suka minum sambil berdiri, padahal aku
    melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan sebagaimana
    yang baru saja aku lihat.” (HR. Bukhari no. 5615)”

    Untuk keterangan lebih jelasnya bisa di baca di Syarah Riyadhush sholihin, bab kebolehan makan dan minum sambil berdiri.

    http://id-id.facebook.com/people/Muhammad-Nur/1038574268

    // selesai kutipan.
    Mohon penjelasnnya ustadz!!! Syukron.

  • http://akutunggu.blogspot.com Belajar ngblog

    Terimakasih artikelnya.Saya juga lagi belajar islam lebih dalam

  • Pingback: Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah » Artikel Zakat Fitri, Lebaran Dan Puasa Syawwal

  • sri

    1. ustad bagaimana kalau puasa yang saya mesti qodo dirasa tidak akan mencukupi untuk saya bayar pada bulan syawal ini bila saya ingin melaksananakn puasa syawal. mana yang mesti saya dahulukan puasa qodo atau syawal terlebih dahulu? 2. pada tahun kemaren saya sedang hamil dan meninggalkan ibadah shaum selama 7 hari tapi saya dan saya belum mengqodonya karena saya tahun ini melahirkan dan menyusui walau saya sudah mengantinya dengan memberi fidyah tapi rasnya afdol bagaimana?

  • http://warungzaidan.wordpress.com Warung Herbal Zaidan

    Insya Allah.., amin…

  • Pingback: Lima Faedah Puasa Syawal | Official Website Organisasi Pasar Baru

  • Pingback: Lima Faedah Puasa Syawal « muslim yogyakarta

  • http://erniel'blog Ernie El A.

    Tanpa kita sadari ternyata banyak sekali manfaat dari puasa syawal .Dalam artikel ini telah dijelaskan mengenai faedah-faedah puasa syawal secara lengkap beserta dalil2.kita juga mengetahui ada amalan-amalan utama di bulan syawal yaitu puasa puasa enam hari di bulan syawal. artikel ini benar2 memberikan kita pengetahuan serta motivasi untuk melaksanakan puasa syawal. Semoga setelah membaca artikel ini kita bisa mengamalkan amalan2 di bulan syawal dan menjadi seseorang yang lebih baik lagi.
    Semoga Allah selalu memberikan taufik kepada kita semua,amien.

  • Pingback: Manfaat Puasa Di Bulan Syawal

@muslimindo