Lailatul Qadar dan I’tikaf


Segala puji bagi Allah atas berbagai macam nikmat yang Allah berikan. Shalawat dan salam atas suri tauladan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada keluarganya dan para pengikutnya.

Bersemangatlah di Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadhan

Para pembaca -yang semoga dimudahkan Allah untuk melakukan ketaatan-. Perlu diketahui bahwa sepertiga terakhir bulan Ramadhan adalah saat-saat yang penuh dengan kebaikan dan keutamaan serta pahala yang melimpah. Di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan. Oleh karena itu suri tauladan kita -Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam- dahulu bersungguh-sungguh untuk menghidupkan sepuluh hari terakhir tersebut dengan berbagai amalan melebihi waktu-waktu lainnya.

Sebagaimana istri beliau -Ummul Mu’minin Aisyah radhiyallahu ‘anha- berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim)

Aisyah radhiyallahu ‘anha juga mengatakan,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’, pen), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Maka perhatikanlah apa yang dilakukan oleh suri tauladan kita! Lihatlah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah malah mengisi hari-hari terakir Ramadhan dengan berbelanja di pusat-pusat perbelanjaan untuk persiapan lebaran (hari raya). Yang beliau lakukan adalah bersungguh-sungguh dalam melakukan ibadah seperti shalat, membaca Al Qur’an, dzikir, sedekah dan lain sebagainya. Renungkanlah hal ini!

Keutamaan Lailatul Qadar

Saudaraku, pada sepertiga terakhir dari bulan yang penuh berkah ini terdapat malam Lailatul Qadar, suatu malam yang dimuliakan oleh Allah melebihi malam-malam lainnya. Di antara kemuliaan malam tersebut adalah Allah mensifatinya dengan malam yang penuh keberkahan. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ (3) فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi. dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS. Ad Dukhan [44]: 3-4)

Malam yang diberkahi dalam ayat ini adalah malam lailatul qadar sebagaimana ditafsirkan pada surat Al Qadar. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.” (QS. Al Qadar [97]: 1)

Keberkahan dan kemuliaan yang dimaksud disebutkan dalam ayat selanjutnya,

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadar [97] : 3-5)

Catatan: Perhatikanlah bahwa malam keberkahan tersebut adalah lailatul qadar. Dan Al Qur’an turun pada bulan Ramadhan sebagaimana firman Allah Ta’ala,

شَهْرُ رَمَضَانَ الذي أُنْزِلَ فِيهِ القرآن

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran.” (QS. Al Baqarah [2] : 185)

Maka sungguh sangat keliru yang beranggapan bahwasanya Al Qur’an itu turun pada pertengahan bulan Sya’ban atau pada 17 Ramadhan lalu diperingati dengan hari NUZULUL QUR’AN. Padahal Al Qur’an itu turun pada lailatul qadar. Dan lailatul qadar -sebagaimana pada penjelasan selanjutnya- terjadi pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Renungkanlah hal ini!

Kapan Malam Lailatul Qadar Terjadi ?

Lailatul Qadar itu terjadi pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)

Terjadinya lailatul qadar di malam-malam ganjil itu lebih memungkinkan daripada malam-malam genap, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)

Terjadinya lailatul qadar di tujuh malam terakhir bulan ramadhan itu lebih memungkinkan sebagaimana hadits dari Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ – يَعْنِى لَيْلَةَ الْقَدْرِ – فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلاَ يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِى

“Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir, namun jika ia ditimpa keletihan, maka janganlah ia dikalahkan pada tujuh malam yang tersisa.” (HR. Muslim)

Dan yang memilih pendapat bahwa lailatul qadar adalah malam kedua puluh tujuh sebagaimana ditegaskan oleh Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu. Namun pendapat yang paling kuat dari berbagai pendapat yang ada sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari bahwa lailatul qadar itu terjadi pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir dan waktunya berpindah-pindah dari tahun ke tahun. Mungkin pada tahun tertentu terjadi pada malam kedua puluh tujuh atau mungkin juga pada tahun yang berikutnya terjadi pada malam kedua puluh lima tergantung kehendak dan hikmah Allah Ta’ala. Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى تَاسِعَةٍ تَبْقَى ، فِى سَابِعَةٍ تَبْقَى ، فِى خَامِسَةٍ تَبْقَى

“Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan pada sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa.” (HR. Bukhari)

Catatan: Hikmah Allah menyembunyikan pengetahuan tentang terjadinya malam lailatul qadar di antaranya adalah agar terbedakan antara orang yang sungguh-sungguh untuk mencari malam tersebut dengan orang yang malas. Karena orang yang benar-benar ingin mendapatkan sesuatu tentu akan bersungguh-sungguh dalam mencarinya. Hal ini juga sebagai rahmat Allah agar hamba memperbanyak amalan pada hari-hari tersebut dengan demikian mereka akan semakin bertambah dekat dengan-Nya dan akan memperoleh pahala yang amat banyak. Semoga Allah memudahkan kita memperoleh malam yang penuh keberkahan ini. Amin Ya Sami’ad Da’awat.

Do’a di Malam Lailatul Qadar

Sangat dianjurkan untuk memperbanyak do’a pada lailatul qadar, lebih-lebih do’a yang dianjurkan oleh suri tauladan kita -Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagaimana terdapat dalam hadits dari Aisyah. Beliau radhiyallahu ‘anha berkata,

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ « قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى »

“Katakan padaku wahai Rasulullah, apa pendapatmu, jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang aku katakan di dalamnya?” Beliau menjawab, “Katakanlah: ‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni’ (artinya ‘Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku).” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani. Lihat Ash Shohihah)

Tanda Malam Lailatul Qadar

[1] Udara dan angin sekitar terasa tenang. Sebagaimana dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْلَةُ القَدَرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلَقَةٌ لَا حَارَةً وَلَا بَارِدَةً تُصْبِحُ الشَمْسُ صَبِيْحَتُهَا ضَعِيْفَةٌ حَمْرَاء

“Lailatul qadar adalah malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar lemah dan nampak kemerah-merahan.” (HR. Ath Thoyalisi. Haytsami mengatakan periwayatnya adalah tsiqoh/terpercaya)

[2] Malaikat menurunkan ketenangan sehingga manusia merasakan ketenangan tersebut dan merasakan kelezatan dalam beribadah, yang tidak didapatkan pada hari-hari yang lain.

[3] Manusia dapat melihat malam ini dalam mimpinya sebagaimana terjadi pada sebagian sahabat.

[4] Matahari akan terbit pada pagi harinya dalam keadaan jernih, tidak ada sinar. Dari Abi bin Ka’ab bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Shubuh hari dari malam lailatul qadar matahari terbit tanpa sinar, seolah-olah mirip bejana hingga matahari itu naik.” (HR. Muslim) (Lihat Shohih Fiqh Sunnah II/149-150)

I’tikaf dan Pensyari’atannya

Dalam sepuluh hari terakhir ini, kaum muslimin dianjurkan (disunnahkan) untuk melakukan i’tikaf. Sebagaimana Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf pada setiap Ramadhan selama 10 hari dan pada akhir hayat, beliau melakukan i’tikaf selama 20 hari. (HR. Bukhari)

Lalu apa yang dimaksud dengan i’tikaf? Dalam kitab Lisanul Arab, i’tikaf bermakna merutinkan (menjaga) sesuatu. Sehingga orang yang mengharuskan dirinya untuk berdiam di masjid dan mengerjakan ibadah di dalamya disebut mu’takifun atau ‘akifun. (Lihat Shohih Fiqh Sunnah II/150)

Dan paling utama adalah beri’tikaf pada hari terakhir di bulan Ramadhan. Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan sampai Allah ‘azza wa jalla mewafatkan beliau. (HR. Bukhari & Muslim)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah beri’tikaf di 10 hari terakhir dari bulan Syawal sebagai qadha’ karena tidak beri’tikaf di bulan Ramadhan. (HR. Bukhari & Muslim)

I’tikaf Harus di Masjid dan Boleh di Masjid Mana Saja

I’tikaf disyari’atkan dilaksanakan di masjid berdasarkan firman Allah Ta’ala,

وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

“(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid.” (QS. Al Baqarah [2]: 187)

Demikian juga dikarenakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu juga istri-istri beliau melakukannya di masjid, dan tidak pernah di rumah sama sekali.

Menurut mayoritas ulama, i’tikaf disyari’atkan di semua masjid karena keumuman firman Allah di atas (yang artinya) “Sedang kamu beri’tikaf dalam masjid”.

Adapun hadits marfu’ dari Hudzaifah yang mengatakan, “Tidak ada i’tikaf kecuali pada tiga masjid”, hadits ini masih dipersilisihkan apakah statusnya marfu’ atau mauquf. (Lihat Shohih Fiqh Sunnah II/151)

Wanita Juga Boleh Beri’tikaf

Dibolehkan bagi wanita untuk melakukan i’tikaf sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan istri tercinta beliau untuk beri’tikaf. (HR. Bukhari & Muslim)

Namun wanita boleh beri’tikaf di sini harus memenuhi 2 syarat: [1] Diizinkan oleh suami dan [2] Tidak menimbulkan fitnah (masalah bagi laki-laki). (Lihat Shohih Fiqh Sunnah II/151-152)

Waktu Minimal Lamanya I’tikaf

I’tikaf tidak disyaratkan dengan puasa. Karena Umar pernah berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ya Rasulullah, aku dulu pernah bernazar di masa jahiliyah untuk beri’tikaf semalam di Masjidil Haram?” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Tunaikan nadzarmu.” Kemudian Umar beri’tikaf semalam. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan jika beri’tikaf pada malam hari, tentu tidak puasa. Jadi puasa bukanlah syarat untuk i’tikaf. Maka dari hadits ini boleh bagi seseorang beri’tikaf hanya semalam, wallahu a’lam.

Yang Membatalkan I’tikaf

Beberapa hal yang membatalkan i’tikaf adalah: [1] Keluar dari masjid tanpa alasan syar’i atau tanpa ada kebutuhan yang mubah yang mendesak (misalnya untuk mencari makan, mandi junub, yang hanya bisa dilakukan di luar masjid), [2] Jima’ (bersetubuh) dengan istri berdasarkan Surat Al Baqarah: 187 di atas. (Lihat Shohih Fiqh Sunnah II/155-156)

Perbanyaklah dan sibukkanlah diri dengan melakukan ketaatan tatkala beri’tikaf seperti berdo’a, dzikir, dan membaca Al Qur’an. Semoga Allah memudahkan kita untuk mengisi hari-hari kita di bulan Ramadhan dengan amalan sholih yang ikhlas dan sesuai dengan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Sumber Rujukan:
  1. Shohih Fiqh Sunnah II
  2. Majalis Syahri Ramadhan
  3. Adwa’ul Bayan

***

Disusun oleh: Muhammad Abduh Tuasikal
Dimuroja’ah oleh: Ustadz Abu Sa’ad, M.A.
Artikel www.muslim.or.id

  • nea

    assalamu’alaikum,saya mau tanya apakah jika kita hanya ber i’tikaf selama satu atau dua jam saja,apakh sudah dihitung sebagai i’tikaf?

  • irwan

    Assalamu’alaikum, saya mau tanya bagaimanakah hitungan 10 malam terakhir malam lailatul kadar, apakah dihitung dari jumlah malam pertama kita melaksanakan sholat terawih atau dihitung dari jumlah hari/tgl kita berpuasa? mohon penjelasannya trimakasih.

  • http://www.muslim.or.id Muslim.or.id

    Buat saudara/i Nea:
    Lebih bagus adalah mengikuti penjelasan dlm tulisan di atas, yaitu waktu i’tikaf paling minimal adalah SEMALAM. jd bs dilakukn setelah shalat tarawh s.d shalat shubuh.

    Ralat:
    Yang kami maksudkan dengan sehabis shalat tarawih di sini kurang tepat. Setelah kami ruju lagi maka yang benar adalah pendapat Ibnu Hazm dalam Al Muhalla.Intinya beliau mengatakan bahwa jika memang seseorang mau i’tikaf semalam maka hendaknya dia berada di masjid mendekati matahari tenggelam hingga terbit fajar. Karena namanya satu malam adalah mulai dari tenggelamnya matahari hingga terbit fajar. Demikian ralat dari kami.

    Saudaramu yang mencintaimu karena Allah

    Muhammad Abduh Tuasikal

  • http://www.muslim.or.id Muslim.or.id

    Buat saudara IRWAN:
    Cara menghitungnya adalah dari tarawih kali pertama. Jadi kalo tarawih pertama tgl 31 agustus, berarti itu dihitung malam pertama ramadhan. Jadi misalnya tarawih sudah kita lakukan 21 kali maka itu berarti malam tersebut adalah malam ke 21 dan besok paginya adalah puasa ke 21.

    Semoga kita selalu diberi petunjuk, ketakwaan dan kecukupan.

    Saudaramu yang mencintaimu karena Allah

    Muhammad Abduh Tuasikal

  • abdullah

    Bismillah, afwan ana lg bingung. setelah ana menikah, ana rasakan amalan dan kenikmatan iman, ketaatan malah semakin berkurang ya..malah lebih baik ketika masih bujang. jazakumullahu khoir

  • Yusuf

    Bismillah,untuk saudaraku Abdulloh yang ana banggakan
    kadang sebagai seorang yang sudah berumah tangga amalan ibadah maqdhoh kita sangat berbeda dengan yketika kita bujang, namun bersyukurlah bahwa antum telah mempunyai separuh lebih dari kesempurnaan Islam yang antum cintai
    Wahai saudaraku amalan antum memeng berbeda, tapi yakinlah pahala antum tetap besar, betapa tidak, semula kita dosa menyentuh perempuan lha antum malah mendapat pahala
    semula kita dosa senyum kepada akhwat, kini antum panen pahala selama antum senyum kepada akhwat antum
    semula pahala kerja antum di hitung 1 nyawa lha sekarang dengan kerja yang sama saja antum malah dihitung minimal 2 nyawa
    kalau dulu daya fikir antum tentang dunia dan akherat masih idealis, sekarang antum di proses menjadi lebih kreatif dan bertanggung jawab dengan kehadiran si dia
    betapa antum tidak bersyukur ya Akhi…
    sama seperti batuan bumi, mereka di proses aleh panas yang sangat tinggi selama berjuta-juta tahun lamanya, nah antum tau menjadi apakah batuan itu yang tahan tempaan?
    ya antum benar…….BERLIAN saudara !
    Selamat !antum sekarang sedang di proses menjadi BERLIAN ISLAM !!!!
    Lahirkan dari rumah tangga antum para mujahid-mujahid kesatria sama seperti antum
    Cayoo ya Akhi….
    ana bangga kepada antum !

  • afis

    assalamualaikum,

    mohon dengan sangat saya ingin mengetahui do’a bersetubuh, tolong di kirimkam ke email saya,

    wassalam,

  • afis

    saya sangat membutuhkan jawaban nya, dalam waktu dekat ini teman dekat saya mau melangsungkan pernikahannya, mohon dengan sangat,

    wassalam.

  • lativa

    assalamu’alaikum,,
    saya mau tanya,,
    siapa sajakah yang boleh melakukan i’tikaf,,,
    apakah anak yang berumur sekitar 17 tahun juga boleh melakukan i’tikaf,,,
    mohon penjelasannya,,
    terimakasih,,

  • boe

    assalamualaikum. ust, jk sy ingin melakukan ihtikaf di 10 hr terakhir ramadhan, apkh sah jk sy memulai ihtikaf hanya setelah taraweh s/d subuh setiap harinya,sedangkan pagi s/d maghrib sy tdk berada d masjid karena kuliah,,,jk tdk sah amalan ap yg bs sy lakukan u/ mengisi 10 hr trakhir d bln ramadhan?apakh lailatul qadr hanya bs didapatkan jk qt berihtikaf d masjid?

  • Abdul Hakim

    Assalamualaikum wr. wb
    mau tanya…
    waktu iktikafnya itu mulai kapan dan jam berapa pastinya…
    karena saya melihat orang2 melakukanya pada pukul 00.00 atau jam 12 malam.
    terima kasih atas infonya.

  • Marully

    Ass. Wr. Wb.Trmksh info i’tikaf nya. Sy mau tanya waktu i”tikaf itu dari jam berapa smp jam brp. Trmksh. Wss.

  • Abu Ibrohim

    Afwan, mengenai hadits “tidak ada i’tikaf kecuali pada 3 masjid”, ana baca di kitab Sifat Shoum Nabi karya Syeikh Salim dan Syeikh Ali Hasan adalah hadits shohih. Namun dalam kitab tersebut tidak disebutkan takhrij. Hanya diberikan arahan bahwa takhrij-nya bisa dilihat dalam kitab Al Inshof fi Ahkamil I’tikaf karya Syeikh Ali Hasan. Mohon bantuan untuk mengeceknya karena ana tidak punya kitab tersebut. Demikian juga dalam Silsilah As Shahihah no 2787 oleh Syeikh Al Albani.

  • rakhmad abidin

    Assalaamu’alaikum warahmatullaah
    Afwan, saya mau bertanya beberapa hal :
    1. Bagaimana dengan i’tikafnya seorang istri dmn suaminya sedang keluar kota selama bulan Ramadhan dan suami mengijinkan istri untuk i’tikaf.
    2. Bagaimana dengan i’tikaf yg hanya dilakukan di malam hari karena di siang hari harus bekerja atau sebaliknya..
    Jazzakallah khoiran

  • Fuad Munir

    I’tikaf itu tdk terikat oleh waktu dan umur tapi syariat sangat menganjuran utk i’tikaf pd waktu yg istimewa yaitu malam 10 terakhir di bulan Ramadhan tuk meraih lailatul qodar.So, ukhti atau siapa sj bs i’tikaf kpn sj selama tdk ada udzur sort haid(respon utk marully dan latifa)

  • maryatul qibtiyah

    ass,,saya baru dengar akhir-akhir ini,apakah seorang perempuan boleh i’tikaf di rumah,seandainya khawatir menimbulkan fitnah?

  • http://www.facebook.com Hariyanto

    Assalamu’aikum wr.wb mohon diberikan penjelasan asbabbul nuzulnya surat Alqadar, soalnya ada yang berpendapat bahwa lailatul qadar itu hanya turun pada waktu alqur’an diturunkan saja itu benar atau tidak,karena katanya tak ada lagi wahyu turun setelah nabi muhammad saw wafat sampai sekarang, katanya lagi gak ada keterangan bahwa lailatul qadar itu turun setiap tahun, Allah hanya menjelaskan saja seperti yang tertera dalam surat Alqadar,mohon penjelasannya.Terimakasih.wassalamu’alaikum wr.wb

  • Pingback: Lailatul Qadar | Selamat datang:Ibhe Ananda (Blog)

  • Wahyu

    assalamu’alaikum wr.wb.
    Saya pernah mengikuti itikaf secara berjamaah acaranya di isi dengan tausiyah kemudian dilajutkan dengan shalat tasbih dan shalat tahajud, saya mau menanyakan bagaimanakah hukumnya itikaf secara berjamaah? apakah itu termasuk bid’ah? dan mohon penjelasannya ibadah apa saja yang di contohkan oleh Nabi SAW ketika beritikaf?

    Wassalam

  • Pingback: Kumpulan Artikel Ramadhan Di Muslim.Or.Id « Blog Abu Umamah™

  • arQam

    ada tidak doa, dan obat supaya lidah tidak kaku, dalam bicara???

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #Arqam
      Ada doa Nabi Musa ‘Alaihissalam:
      رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي
      Ya Allah, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, lepaskanlah ikatan di lidahku, agar mereka memahami perkataanku” (QS. Thaaha: 25-28)

  • Ahmad Suparmino

    Assalamu’alaikum wr wb…
    Alhamdulillahirobbil ‘alamin..
    Terimakasih informasi ini sangat bermanfaat untuk saya yg benar2 ingin melaksanakan i’tikaf ramadhan tahun ini… jazakumulloh khoirul jaza
    wassalam…

  • http://yusuf-istiqomah.blogspot.com Yusuf

    Assalamu’alaikum. Syukron untuk artikelnya, insya Allah ana akan I’tikaf

  • John Yuwono Ibrahim

    Assalamualaikum Wr.Wb.
    Terima kasih pencerahan mengenai i’tikaf ini.

  • ABU NUSHOIBAH JUM’AT

    Assalamu ‘alaikum wa rohmatullohi wa barokatuh. syukron artikelnya,ana ambil ya materinya.

  • Ahmad Fajar

    Koreksi Doa Lailatul Qadar

    Tertulis di artikel di atas :

    اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

    Setelah itu ada koreksi menjadi :

    اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

    tanpa lafadz : كَرِيمٌ

    http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2697-koreksi-doa-lailatul-qadar.html

  • Ponco Nugrah Wibowo

    Kalau 10 hari terakhir di bulan Ramadhan melakukan i’tikaf di malam hari (sore s/d pagi) sedangkan siang hari (pagi s/d sore) bekerja, apakah termasuk ritual i’tikaf? bukannya i’tikaf di bulan Ramadhan itu berdiam diri di masjid selama 10 hari penuh, sehingga orang yang bekerja tidak bisa i’tikaf karena bekerja.Mohon petunjuk dan kejelasannya.

  • Masdibyo

    Syukron Ustd. atas jerih payahnya menyusun materi yg menarik ini. Semoga tulisan ini bisa mjd amal jariyah. Afwan ane mohon ijin mengcopy ya… Syukron Sebelumnya.

  • HAMID AL BUKHORY

    apakah Rosulullah mengerjakan sholat sunnah di dalam itikaf ? kalau ya.., sholat sunnah apa ?

    • http://rumaysho.com Abduh Tuasikal

      @ Hamid
      Shalat sunnahnya bebas. Tdk ada shalat sunnah tertentu. Di malam hari tentunya, melakukan shalat isya’ dan dilanjutkan tarawih dan witir.

  • Dimas

    mas, saya masih rada bingung
    sebenarnya apa saja yang kita lakukan saat beri’tikaf
    apakah sekedar berdiam sambil niat beri’tikaf saja sudah cukup atau bagaimana?

    • http://rumaysho.com Abduh Tuasikal

      @ Dimas
      Lakukanlah shalat, doa, dzikir dan ibadah lainnya. Bukan hanya diam sj.

  • Robby Karman

    @pak ustadz : Asslm. Afwan pak Ustad, mengenai lailatul qadar, atau malam turunnya alquran, guru saya di pesantren bilang seperti ini. Bahwa Malam lailatul qadar itu yaitu pas turunnya alquran dari baitul ‘izzah ke langit dunya, yang itu tak ada seorang pun tau kapan terjadinya. Sedangkan yang 17 ramadhan ntu, pas Alquran pertamakali turun dari langit dunia ke dunia pada saat nabi Muhammad ada di Gua Hira. Jadi, 17 ramadhan itu memang pas turunnya alquran. Terlepas apakah harus diperingati atau tidak. Dan malam2 terakhir ramadhan juga ada lailatul qadar. Nah, tinggal pemahaman kita yang harus diluruskan.

    • http://rumaysho.com Abduh Tuasikal

      @ Robby
      Itu harus dibuktikan sejarahnya. Org yg katakan tgl 17 Ramadhan, belum pernah membuktikan keotentikan sejarahnya.

  • andi

    alhamdulilahirobilalamin

  • Pingback: Lailatul Qadar dan I’tikaf «

  • Pingback: ‘Itikaf | Madrasah Da'wah dan Islam

  • Pingback: ‘Itikaf « Madrasah Da’wah dan Islam

  • Pingback: Mari Sambut Ramadhan 1432 H | CIPTO

  • budi

    Mana yg lebih utama membaca alquran tulisan arab atau artinya dalam bahasa indonesia yg kita mengerti.

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #budi
      Yang terhitung sebagai ibadah dan berpahala adalah membaca arabnya.

  • Pingback: Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah » Kumpulan Artikel Ramadhan Di Muslim.Or.Id

  • http://setegar-batu-karang.blogspot.com ellis khairunnisa

    ustadz, untuk syarat itikaf untuk wanita, bagaimana dengan wanita yang belum menikah? syarat mendapat izin dari suami gugur dong ustad?
    mohon dijawab
    syukron

    • http://ustadzaris.com Aris Munandar

      #ellis khairunnisa
      harus dengan seizin orang tuanya.

  • hasonangan nasution

    Assalamu ‘alaikum. Peristiwa pertama kali turunnya Alquran yg diterima Nabi Muhammad di gua hira itu sesungguhnya terjadi pada tanggal berapa ya ustadz?(menurut penanggalan hijriyah dan masehi)

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #hasonangan nasution
      Wa’alaikumussalam, tidak ada pendapat yang kuat dalam masalah ini, dan para ulama pun tidak terlalu memberikan perhatian soal ini karena tidak ada ibadah yang berhubungan dengannya.

  • ummu Latifah

    Assalamualaykum,
    spt yg ditulis bhw sangat dianjurkan untuk memperbanyak do’a pada lailatul qadar. Apakah doa yang dimaksud adalah ini “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni’” . Jika benar, apakah spt kita ber dzikir (jd tidak terikat dgn sholat?).
    Atau hanya saat terasa datangnya lailatul qadar (insyaAllah, aamiin)?

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #ummu Latifah
      Doa tersebut sangat dianjurkan untuk di perbanyak, namun doa-doa yang lain pun dibolehkan. Membaca “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni’” bebas waktunya, namun lebih utama di malam hari.

  • iswatun

    syukron katsir u ilmunya ana berharap th ini mendapatkan malam lailatul qodar..

  • luthfiah faqih

    izinkan bertanya:
    bolehkan tidur dulu di rumah lalu i’tikaf dimulai setelah pukul 00.00, bagaimana kl tak kuasa menahan kantuk lalu tertidur di masjid ?, batalkah i’tikafnya ?

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #luthfiah faqih
      Boleh. Namun tidur tidak membatalkan i’tikaf.

  • daksa

    assalamulaikum ustadz,
    saya bertanya bolehkah memindahkan waktu sholat tarawih di masjid yang biasa kita lakukan selepas isya dipindahkan pada waktu dinihari sampai menjelang sahur?dengan harapan mendapatkan lailatul qodar? karena dibenak saya i’tikaf dilakukan di masjid dengan berdiam diri.
    mohon penjelasan ustadz jazakulloh khoir

    semoga Allah menjaga Ustadz dan ditetapkan di atas kebenaran

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #daksa
      wa’alaikumussalam. Jika memang warga dan jama’ah masjid sanggup datang ke masjid ketika itu, maka tidak masalah. Jika mereka tidak menyanggupi ada baiknya dikerjakan setelah isya. Jika orang yang beri’tikaf ingin shalat lagi nantinya pun dibolehkan.
      I’tikaf itu berdiam diri di masjid untuk melakukan berbagai aktifitas ibadah: membaca qur’an, berdzikir, shalat sunnah, dll

  • Pingback: Lailatul Qodar « irmadatbyn

  • Pingback: Kumpulan Artikel Zakat Fitri, Lebaran Dan Puasa Syawwal — Muslim.Or.Id

  • Pingback: Lailatul Qadar dan I’tikaf | Latarghria Jofania

  • Pingback: LAILATUL QADAR | Girosimanjuntak's Blog

  • Pingback: keutamaan Lailatul Qadar | Gurah Herbal

  • Sri Windawati

    Assalaamualaykum. ijin share ustadz….syukran..

  • Muhamad Abduh Ibnu Sani

    Ustad, Adakah dalil yang sharih bahwa Lalatul Qodar di dapatkan hanya dengan beritikaf di masjid ? apakah orang yang “menghidupkan” malam di 10 hari terakhir dilaksanakan dirumah akan bisa mendapatkan keutamaan Lalatul Qodar ? Apakah dalil keutamaan atau Fadhilah beritikaf dilihat dari hadits – hadits Nabi? Jazakallah sebelum dan sesudahnya. Muhamad Abduh Ibnu Sani

  • http://subconscious-therapy.com/hipnoterapi-surabaya Hipnoterapi surabaya

    berarti mulainya abis dari magrib juga ya, buka di mesjid

  • Pingback: Jalan Menuju Surga | may

@muslimindo

    Message: Rate limit exceeded, Please check your Twitter Authentication Data or internet connection.