Kritik Anjuran Adzan di Telinga Bayi


Alhamdulillah wash sholaatu was salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Kebanyakan buku atau kitab yang menjelaskan hal-hal yang mesti dilakukan ketika menyambut sang buah hati adalah amalan satu ini yaitu adzan dan iqomah di telinga bayi yang baru lahir. Bahkan bukan penulis-penulis kecil saja, ulama-ulama hebat pun menganjurkan hal ini sebagaimana yang akan kami paparkan. Namun, tentu saja dalam permasalahan ini yang jadi pegangan dalam beragama adalah bukan perkataan si A atau si B. Yang seharusnya yang jadi rujukan setiap muslim adalah Al Qur’an dan hadits yang shohih. Boleh kita berpegang dengan pendapat salah satu ulama, namun jika bertentangan dengan Al Qur’an atau menggunakan hadits yang lemah, maka pendapat mereka tidaklah layak kita ikuti. Itulah yang akan kami tinjau pada pembahasan kali ini. Apakah benar adzan atau iqomah pada bayi yang baru lahir disyari’atkan (disunnahkan)? Kami akan berusaha meninjau dari pendapat para Imam Madzhab, lalu kami akan tinjau dalil yang mereka gunakan. Agar tidak berpanjang lebar dalam muqodimah, silakan simak pembahasan berikut ini.

Pendapat Para Ulama Madzhab

Para ulama Hambali hanya menyebutkan permasalahan adzan di telinga bayi saja.

Para ulama Hanafiyah menukil perkataan Imam Asy Syafi’i dan mereka tidak menganggap mustahil perkataannya (maksudnya: tidak menolak perkataan Imam Asy Syafi’i yang menganjurkan adzan di telinga bayi, pen).

Imam Malik memiliki pendapat yang berbeda yaitu beliau membenci perbuatan ini, bahkan menggolongkannya sebagai perkara yang tidak ada tuntunannya.

Sebagian ulama Malikiyah menukil perkataan para ulama Syafi’iyah yang mengatakan bahwa tidak mengapa mengamalkan hal ini. (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 2/779, pada Bab Adzan, Wizarotul Awqof Kuwaitiyyah, Asy Syamilah)

Ulama lain yang menganjurkan hal ini adalah Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman dan Ibnul Qoyyim dalam Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud.

Inilah pendapat para ulama madzhab dan ulama lainnya. Intinya, ada perselisihan dalam masalah ini. Lalu manakah pendapat yang kuat?

Tentu saja kita harus kembalikan pada dalil yaitu perkataan Allah dan Rasul-Nya.

Itulah sikap seorang muslim yang benar. Dia selalu mengembalikan suatu perselisihan yang ada kepada Al Qur’an dan As Sunnah sebagaimana hal ini diperintahkan dalam firman Allah,

وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبِّي عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya kepada Allah. (Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah Tuhanku. Kepada-Nya lah aku bertawakkal dan kepada-Nyalah aku kembali.” (Qs. Asy-Syuura: 10)

Ahli tafsir terkemuka, Ibnu Katsir rahimahullah, mengatakan, “Maksudnya adalah (perkara) apa saja yang diperselisihkan dan ini mencakup segala macam perkara, maka putusannya (dikembalikan) pada Allah yang merupakan hakim dalam perselisihan ini. (Di mana perselisihan ini) diputuskan dengan kitab-Nya dan Sunnah (petunjuk) Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala pada ayat yang lain,

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya).” (Qs. An Nisa’ [4]: 59). Yang (memutuskan demikian) adalah Rabb kita yaitu hakim dalam segala perkara. Kepada-Nya lah kita bertawakkal dan kepada-Nya lah kita mengembalikan segala urusan. –Demikianlah perkataan beliau rahimahullah dengan sedikit perubahan redaksi-.

Dalil Para Ulama yang Menganjurkan

Hadits pertama:

Dari ‘Ubaidillah bin Abi Rofi’, dari ayahnya (Abu Rofi’), beliau berkata,

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ حِينَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلَاةِ

“Aku telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumandangkan adzan di telinga Al Hasan bin ‘Ali ketika Fathimah melahirkannya dengan adzan shalat.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi)

Hadits kedua:

Dari Al Husain bin ‘Ali, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ وُلِدَ لَهُ مَوْلُودٌ فَأَذَّنَ فِي أُذُنِهِ الْيُمْنَى وَأَقَامَ الصَّلَاةَ فِي أُذُنِهِ الْيُسْرَى لَمْ تَضُرَّهُ أُمُّ الصِّبْيَانِ

“Setiap bayi yang baru lahir, lalu diadzankan di telinga kanan dan dikumandangkan iqomah di telinga kiri, maka ummu shibyan tidak akan membahayakannya.” (Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam musnadnya dan Ibnu Sunny dalam Al Yaum wal Lailah). Ummu shibyan adalah jin (perempuan).

Hadits ketiga:

Dari Ibnu Abbas, beliau mengatakan,

أذن في أذن الحسن بن علي يوم ولد ، فأذن في أذنه اليمنى ، وأقام في أذنه اليسرى

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adzan di telinga al-Hasan bin ‘Ali pada hari beliau dilahirkan maka beliau adzan di telinga kanan dan iqamat di telinga kiri.” (Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman)

Untuk memutuskan apakah mengumandangkan adzan di telinga bayi termasuk anjuran atau tidak, kita harus menilai keshohihan hadits-hadits di atas terlebih dahulu.

Penilaian Pakar Hadits Mengenai Hadits-Hadits di Atas

Penilaian hadits pertama:

Para perowi hadits pertama ada enam,

مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ سُفْيَانَ قَالَ حَدَّثَنِى عَاصِمُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِى رَافِعٍ عَنْ أَبِيهِ

yaitu: Musaddad, Yahya, Sufyan, ‘Ashim bin ‘Ubaidillah, ‘Ubaidullah bin Abi Rofi’, dan Abu Rofi’.

Dalam hadits pertama ini, perowi yang jadi masalah adalah ‘Ashim bin Ubaidillah.

Ibnu Hajar menilai ‘Ashim dho’if (lemah). Begitu pula Adz Dzahabi mengatakan bahwa Ibnu Ma’in mengatakan ‘Ashim dho’if (lemah). Al Bukhari dan selainnya mengatakan bahwa ‘Ashim adalah munkarul hadits (sering membawa hadits munkar).

Dari sini nampak dari sisi sanad terdapat rawi yang lemah sehingga secara sanad, hadits ini sanadnya lemah.
Ringkasnya, hadits ini adalah hadits yang lemah (hadits dho’if).

Kemudian beberapa ulama menghasankan hadits ini seperti At-Tirmidzi. Beliau mengatakan bahwa hadits ini hasan. Kemungkinan beliau mengangkat hadits ini ke derajat hasan karena ada beberapa riwayat yang semakna yang mungkin bisa dijadikan penguat. Mari kita lihat hadits kedua dan ketiga.

Penilaian hadits kedua:

Para perowi hadits kedua ada lima,

حدثنا جبارة ، حدثنا يحيى بن العلاء ، عن مروان بن سالم ، عن طلحة بن عبيد الله ، عن حسين

yaitu: Jubaaroh, Yahya bin Al ‘Alaa’, Marwan bin Salim, Tholhah bin ‘Ubaidillah, dan Husain.

Jubaaroh dinilai oleh Ibnu Hajar dan Adz Dzahabi dho’if (lemah).

Yahya bin Al ‘Alaa’ dinilai oleh Ibnu Hajar orang yang dituduh dusta dan Adz Dzahabi menilainya matruk (hadits yang diriwayatkannya ditinggalkan).

Marwan bin Salim dinilai oleh Ibnu Hajar matruk (harus ditinggalkan), dituduh lembek dan juga dituduh dusta.

Syaikh Al Albani dalam Silsilah Adh Dho’ifah no. 321 menilai bahwa Yahya bin Al ‘Alaa’ dan Marwan bin Salim adalah dua orang yang sering memalsukan hadits.

Dari sini sudah dapat dilihat bahwa hadits kedua ini tidak dapat menguatkan hadits pertama karena syarat hadits penguat adalah cuma sekedar lemah saja, tidak boleh ada perowi yang dusta. Jadi, hadits kedua ini tidak bisa mengangkat derajat hadits pertama yang dho’if (lemah) menjadi hasan.

Penilaian hadits ketiga:

Para perowi hadits ketiga ada delapan,

وأخبرنا علي بن أحمد بن عبدان ، أخبرنا أحمد بن عبيد الصفار ، حدثنا محمد بن يونس ، حدثنا الحسن بن عمرو بن سيف السدوسي ، حدثنا القاسم بن مطيب ، عن منصور ابن صفية ، عن أبي معبد ، عن ابن عباس

yaitu: Ali bin Ahmad bin ‘Abdan, Ahmad bin ‘Ubaid Ash Shofar, Muhammad bin Yunus, Al Hasan bin Amru bin Saif As Sadusi, dan Qosim bin Muthoyyib, Manshur bin Shofiyah, Abu Ma’bad, dan Ibnu Abbas.

Al Baihaqi sendiri dalam Syu’abul Iman menilai hadits ini dho’if (lemah). Namun, apakah hadits ini bisa jadi penguat hadits pertama tadi? Kita harus melihat perowinya lagi.

Perowi yang menjadi masalah dalam hadits ini adalah Al Hasan bin Amru.

Al Hafidz berkata dalam Tahdzib At Tahdzib no. 538 mengatakan bahwa Bukhari berkata Al Hasan itu kadzdzab (pendusta) dan Ar Razi berkata Al Hasan itu matruk (harus ditinggalkan). Sehingga Al Hafidz berkesimpulan bahwa Al Hasan ini matruk (Taqrib At Tahdzib no. 1269).

Kalau ada satu perowi yang matruk (yang harus ditingalkan) maka tidak ada pengaruhnya kualitas perowi lainnya sehingga hadits ini tidak bisa dijadikan penguat bagi hadits pertama tadi.

Ringkasnya, hadits kedua dan ketiga adalah hadits maudhu’ (palsu) atau mendekati maudhu’.

Dari pembahasan di atas, terlihat bahwa hadits pertama tadi memang memiliki beberapa penguat, tetapi sayangnya penguat-penguat tersebut tidak bisa mengangkatnya dari dho’if (lemah) menjadi hasan. Maka pernyataan sebagian ulama yang mengatakan bahwa hadits ini hasan adalah suatu kekeliruan. Syaikh Al Albani juga pada awalnya menilai hadits tentang adzan di telinga bayi adalah hadits yang hasan. Namun, akhirnya beliau meralat pendapat beliau ini sebagaimana beliau katakan dalam Silsilah Adh Dho’ifah no. 321. Jadi kesimpulannya, hadits yang membicarakan tentang adzan di telinga bayi adalah hadits yang lemah sehingga tidak bisa diamalkan.

Seorang ahli hadits Mesir masa kini yaitu Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini hafizhohullah mengatakan, “Hadits yang menjelaskan adzan di telinga bayi adalah hadits yang lemah. Sedangkan suatu amalan secara sepakat tidak bisa ditetapkan dengan hadits lemah. Saya telah berusaha mencari dan membahas hadits ini, namun belum juga mendapatkan penguatnya (menjadi hasan).” (Al Insyirah fi Adabin Nikah, hal. 96, dinukil dari Hadiah Terindah untuk Si Buah Hati, Ustadz Abu Ubaidah, hal. 22-23)

Penutup

Dalam penutup kali ini, kami ingin menyampaikan bahwa memang dalam masalah adzan di telinga bayi terdapat khilaf (perselisihan pendapat). Sebagian ulama menyatakan dianjurkan dan sebagiannya lagi mengatakan bahwa amalan ini tidak ada tuntunannya. Dan setelah membahas penilaian hadits-hadits tentang dianjurkannya adzan di telinga bayi di atas terlihat bahwa semua hadits yang ada adalah hadits yang lemah bahkan maudhu’ (palsu). Kesimpulannya, hadits adzan di telinga bayi tidak bisa diamalkan sehingga amalan tersebut tidak dianjurkan.

Jika ada yang mengatakan, “Kami ikut pendapat ulama yang membolehkan amalan ini.” Cukup kami sanggah, “Ingatlah saudaraku, di antara pendapat-pendapat yang ada pasti hanya satu yang benar. Coba engkau memperhatikan perkataan para salaf berikut ini.

Ibnul Qosim mengatakan bahwa beliau mendengar Malik dan Al Laits berkata tentang masalah perbedaan pendapat di antara sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidaklah tepat perkataan orang-orang yang mengatakan bahwa khilaf (perbedaan pendapat) boleh-boleh saja (ada kelapangan). Tidaklah seperti anggapan mereka. Di antara pendapat-pendapat tadi pasti ada yang keliru dan ada benar.”

Begitu pula Asyhab mengatakan bahwa Imam Malik ditanya mengenai orang yang mengambil hadits dari seorang yang terpercaya dari sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau ditanya, “Apakah engkau menganggap boleh-boleh saja ada perbedaan pendapat (dalam masalah ijtihadiyah, pen)?”

Imam Malik lantas menjawab, “Tidak demikian. Demi Allah, yang diterima hanyalah pendapat yang benar. Pendapat yang benar hanyalah satu (dari berbagai pendapat ijtihad yang ada). Apakah mungkin ada dua pendapat yang saling bertentangan dikatakan semuanya benar [?] Tidak ada pendapat yang benar melainkan satu saja.” (Dinukil dari Shohih Fiqh Sunnah, 1/64)”

Demikian suadaraku, penjelasan mengenai adzan di telinga bayi. Semoga dengan penjelasan pada posting kali ini, kaum muslimin mengetahui kekeliruan yang telah berlangsung lama di tengah-tengah mereka dan semoga mereka merujuk pada kebenaran. Semoga tulisan ini dapat memperbaiki kondisi kaum muslimin saat ini.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Allahumman fa’ana bimaa ‘allamtana, wa ‘alimna maa yanfa’una wa zidnaa ‘ilmaa. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Keterangan:

  • Hadits shohih adalah hadist yang memenuhi syarat: semua periwayat dalam hadits tersebut adalah adil (baik agamanya), dhobith (kuat hafalannya), sanadnya bersambung, tidak menyelisihi riwayat yang lebih kuat, dan tidak ada illah (cacat).
  • Hadits hasan adalah hadits yang memenuhi syarat shohih di atas, namun ada kekurangan dari sisi dhobith (kuatnya hafalan).
  • Hadits dho’if (lemah) adalah hadits yang tidak memenuhi syarat shohih seperti sanadnya terputus, menyelisihi riwayat yang lebih kuat (lebih shohih) dan memiliki illah (cacat).
  • Hadits maudhu’ (palsu) adalah hadits yang salah satu perowinya dinilai kadzdzib (pendusta) yakni berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Hadits matruk (yang harus ditinggalkan) adalah hadits yang salah satu perowinya dituduh kadzib (berdusta).

***

Panggang, Gunung Kidul, 28 Muharram 1430 H

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id

  • prasetyo

    Assalamu’alaikum.
    Mohon izin copy paste artikelnya.

    Jazakumullah

  • Buntarto

    bagaimana jika perbuatan tersebut terlanjur dilakukan. cos saya baru saja tahu jika derajat hadistnya lemeh bahkan palsu? syukron

  • http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/kritik-anjuran-adzan-di-telinga-bayi.html wong dheso

    Kalau bisa dibahas juga masalah menanam ari-ari di sebelah kiri atau kanan pintu lalu di beri lampu karena pada saat masyarakat muslim masih melakukannya

  • Tatang Arianto

    Asslmualaikum mas Muh terima kasih atas ilmunya,dan semoga lebih banyak lagi yang memahami segi keilmuan dan pengembalian hukum seperti ini, karena banyak kita lihat orang yang berdebat hanya ingin mempertahankan pendapat tanpa tahu dasar hukumnya, jazakumullah…..semoga Islam semakin di pahami oleh lebih banyak lagi kaum muslim.

  • AbuNajwa

    jazakumullah khoiron ya ustadz.

  • Dicky Budi Prasetyo

    Assalammu’alaikum wr.wb
    Bila kita baca kesimpulan diatas memang selama ini kaum muslimin hampir 80% melaksanakannya dimana adzan ditelinga kanan dan iqomah ditelinga kiri karena menurut orang tua kita dulu kalimat yang pertama bayi dengar adalah kalimat tauhid tadi dan jika hal ini tidak merupakan keharusan dan hadistnya dhoif sangatlah kurang dipahami oleh masyarakat awam kita yang nota bene Islamnya hanya di KTP dan bagaimana cara meluruskannya dan memberitahukannya ?

    Mohon bagi Ustadz/ Ulama agar hadist ini agar disampaikan ke masyarakat Islam kita terima kasih dan
    Wassalammu’alaikum wr.wb.
    Ikhwan

  • http://Yahoo.co.id Shondy al-Dageny

    Izin copas u disebarkan,syukran.

  • Husein Prayogic

    Jazakumullah khoiran ya ustadz..

  • kacong

    Kalau sudah jelas begitu,mari tinggalkan perbuatan mengazani bayi kita,terimakasih pak ustad,jazakamullohul jaza,

  • amir
  • elmahdi

    lalu menurut ustad bagaimana?kalo kami di aceh kebanyakan ketika lahir bayi semua di azan ditelinga dan di iqamah bila bayi perempuan….apakah menurt ustad apa yang telah dilakukan orang aceh salah?karena begitulah yang dianjurkan ulama disini!,,,,mohon penjelasannya syukran

  • ummi azka

    assalamualaikum,terimakasih telah menulis artikel ini, semoga dapat meluruskan persolan yang selama ini telah diangggap benar.

  • http://masedi.net Street.Walker

    mudah2an berguna bisa jd bekal kelak,
    Syukron

  • azzam

    Jadi, bilamana bayi telah lahir, sebaiknya apa yg hrs dilakukan pertama kali orangtuanya, ya ustadz?

  • Wanto

    Assalamualaikum pak ustad,

    Artikel yang bagus, pak ustad bisa di jelasin lebih rinci tenatng orang2 yg bermasalah dari ketiga hadits di atas, kenapa orang tersebut di lemahkan atau di maudhu ( penyebab orang tersebut di masalahkan dalam perawian hadits ) saya yakin para muhaddits seperti bukhari dan yg lain mempunyai alasan yang kuat tidak sekedar melemahkan saja.

    Syukran wa jazakumullah

  • anne

    ooo bgitu ya,,semakin hari sy semakin bingung,,,,ya Alloh semoga dimudahkan dalam mengikuti kebenaran,,,trus gmn cr memberi tahu org,,ataukah ckp,mendiamkannya,,dmana sy pun kurang ilmu akn hal ini,,tdk mgkin menjelaskan dg cara asal2an,,trus apa sebaiknya yg sy lakukan jk keluarga sy atau saudara muslim yg lain ingin melakukannya(adzan ditelinga bayi)

  • nur

    assalamu’alaikum

    ana izin copas ya akhi, ternyata selama ini hadits yang ana baca hadits dhaif dan hadits maudhu..
    wah, tak boleh diamalin neh….

    Jazakumullah…

  • Sunaryo

    Assalamu’alaikumwarahmatulloh

    Ijin Copy ya tadz

    Jazakallah khair

  • http://azman-themath.blogspot.com salmon

    Sy bukannya ga mau ssuai topik.

    tp sy ga tau di bagian mana sy harus bertanya ttg pertanyaan sy tu.
    krn ga ada sy temukan forum tanya ustad.
    Trims

  • Eto

    Asslkm…
    Mohon ada jawaban atas pertanya’an saya, apa yang harus di kerjakan pada bayi yang masih dalam kandungan dan yang baru lahir? Saya kira ini hal penting untuk menyambung makalah di atas.
    Wassalam.

  • Tommi

    Assalamu’alaikum,

    Kepada teman-teman yg bertanya, lalu apa yang disunnahkan ketika menyambut bayi? Berikut adalah penjelasannya :

    1. Tahnik, yaitu mengunyah sesuatu (hingga halus) lalu memasukkannya ke mulut bayi. Hal ini dilakukan untuk melatihnya makan dan menguatkan tubuh. Dalilnya adalah :
    - Dari Abu Musa al-Asy’ari, Ia berkata, “terlahir seorang anak laki-lakiku, lalu aku membawanya ke hadapan Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. Beliau memberinya nama Ibrahim dan mentahniknya dengan kurma, dan beliau mendo’akan keberkahan baginya lalu memberikannya kembali kepadaku.” (Muttafaqun ‘alaih, HR Bukhari (5467) dan Muslim (2145)).
    - Dari Asma’ binti Abu Bakar bahwa ia mengandung Abdullah ibnu Zubair ketika masih di Mekkah. Asma’ menuturkan, “lantas aku keluar berhijrah padahal aku sudah hamper melahirkan. Akhirnya aku tiba di Madinah, lalu singgah di Quba’. Di Quba’ lah aku melahirkannya. Kemudian aku datangi Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam, lalu aku letakkan bayi itu di pangkuan beliau. Lantas beliau meminta kurma dan mengunyahnya. Kemudian beliau meludahkannya tepat di bibir bayi. Sehingga yang pertama kali masuk tenggorokan bayi adalah air liur Rasulullah. Kemudian beliau mendo’akan kebajikan dan keberkahan untuknya.” (Muttafaqun ‘alaih, HR Bukhari (5469) dan Muslim (2146)).
    Lalu pertanyaan mungkin timbul. Bagaimana bila tidak memperoleh kurma? Insya Allah, bisa diganti dengan madu, buah-buahan yang sesuai untuk bayi atau makanan lain yang mengandung vitamin. Karena yg disunnahkan disini adalah tahniknya. Mengenai jenis makanannya, bisa disesuaikan dengan daerah tempat tinggal. Wallahu a’lam

    2. Memberinya nama, yaitu nama yang baik-baik. Dari Anas bin Malik, “Aku membawa bayinya Abu Thalhah menemui Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam saat ia baru lahir. Ketika itu Nabi sedang melumuri ontanya dengan ter (sejenis cat). Lalu Nabi berkata, “apakah kamu membawa kurma?”. Lalu aku keluarkan beberapa kurma. Selanjutnya Nabi mengunyah kurma-kurma tersebut kemudian mengambilnya dari mulut beliau dan memasukkannya ke mulut bayi. Si bayipun menggerak-gerakkan lidahnya merasakan manisnya kurma. Kemudian Nabi menamainya Abdullah, beliau bersabda, “Makanan kesukaan kaum Anshar adalah kurma.” (Muttafaqun ‘alaih, HR Bukhari (5470) dan Muslim (2144)).

    3. Aqiqah. Dari Samurah bin Jundub, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam bersabda, “setiap bayi yang lahir tergadaikan dengan satu aqiqah yang disembelih untuk dirinya pada hari ketujuh (hari kelahirannya).” (HR Sunan Arba’ah (sunan yang empat) dan Imam Ahmad). Hukumnya adalah sunnah mu’akkad (sunnah yang amat ditekankan) menurut madzhab Malik, Syafi’I dan Ahmad serta pendapat jumhur ulama. Disukai melaksanakan aqiqah pada tujuh hari pertama kelahiran bayi, namun terdapat keringanan untuk melaksanakannya diluar hari-hari tersebut tergantung pada kemampuan.

    4. Menggundul rambut kepala bayi dan bersedekah dengan harga perak seberat rambutnya. Dalilnya adalah, dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam melakukan aqiqah untuk al-Hasan dengan satu ekor kambing, lalu beliau bersabda, “Wahai Fathimah, potonglah rambutnya dan bersedekahlah dengan perak seberat rambutnya.” Ali berkata, “lalu Fathimah menimbangnya dan beratnya satu dirham atau setengah dirham.” (Hadits hasan shohih, diriwayatkan Imam Malik dalam Al Muwaththa’, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi).
    Penjelasan dari hadits ini adalah, rambut bayi yang sudah dipotong lalu ditimbang. Umpamakan 1 gram perak = Rp. 5000,-. Lalu berat timbangan rambut bayi adalah 2 gram, jadi jumlah sedekahnya adalah Rp. 10.000,-

    Demikianlah keterangan yang bisa saya sampaikan mengenai sunnah Nabi dalam menyambut bayi. Sesungguhnya menghidupkan sunnah Nabi yang sudah jelas-jelas shohih adalah lebih utama dibanding kita meributkan dho’if/shohihnya suatu hadits yg masih dalam perdebatan oleh para ulama seperti dalam masalah adzan untuk bayi. Mohon maaf bila terdapat kesalahan, koreksinya amat sangat dibutuhkan. Wallahu a’lam.

    NB : Terima kasih kepada akhi Muhammad Abduh Tuasikal atas penjelasannya via YM. Semoga Allah Azza wa Jalla merahmati akhi Abduh dan keluarganya.

  • http://www.yahoo.com Fahrul

    Assalamu ‘alaikum
    Mohon bantuan kepada semua pihak untuk menjelaskan artikel ini karena ana agak kurang jelas seperti apakah maksud Imam Tarmidzi menghasankan hadits adzan bayi pertama dgn penguat hadits kedua dan ketiga atau masih ada hadits dhaifnya

  • http://www.yahoo.com Fahrul

    Maksud ana ada hadits lain lagi atau tidak

  • oliv

    alhamdulillah ketemu artikel ini,kebetulan kmrn salah satu teman sedang bingung dan berkata “siapa yg akan meng-andzani calon bayinya yg insya Allah diperkirakan akan lahir sebentar lg”,sesaat sebelum membaca artikel ini sy pikir mengumandangkan adzan ditelinga bayi adalah suatu perkara yg dianjurkan,ternyata saya keliru…

  • abu ahmad

    Assalamualaiukum, ijin mau kopy paste juga. Jazakaloh.

  • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

    lalu menurut ustad bagaimana?kalo kami di aceh kebanyakan ketika lahir bayi semua di azan ditelinga dan di iqamah bila bayi perempuan….apakah menurt ustad apa yang telah dilakukan orang aceh salah?karena begitulah yang dianjurkan ulama disini!,,,,mohon penjelasannya syukran

    ***
    Tanggapan: seharusnya yang dipertahankan dan dibela mati-matian adalah ajaran nabi yang shahih. Dan bukan tradisi yg terus diperjuangkan.
    Lihatlah bukan hanya kami yang mengatakan hal ini keliru, coba lihat lagi tulisan di atas. Imam Malik berpendapat bahwa amalan adzan di teling bayi adalah sesuatu yang tidak ada tuntunannya bahkan beliau membencinya.

    Untuk mengetahui amalan2 lain ketika bayi baru lahir, silakan baca di link muslim berikut:
    http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/kehadiran-sang-buah-hati.html

    Hanya Allah yang memberi taufik.

  • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

    @ Fahrul
    Assalamu ‘alaikum
    Mohon bantuan kepada semua pihak untuk menjelaskan artikel ini karena ana agak kurang jelas seperti apakah maksud Imam Tarmidzi menghasankan hadits adzan bayi pertama dgn penguat hadits kedua dan ketiga atau masih ada hadits dhaifnya

    ***
    Tanggapan:
    Wa’alaikumus salam

    At Tirmidzi mengira bahwa ada hadits lain yang menguat hadits pertama menjadi hasan. Ternyata dua hadits lainnya sama2 lemahnya. Sehingga yang tepat bukanlah hasan, namun hadits tersebut adalah hadits dho’if.

    Hanya Allah yang memberi taufik.

  • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

    @ Eto

    Silakan lihat artikel di link muslim berikut:
    http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/kehadiran-sang-buah-hati.html

    Silakan lihat pula komentar dari saudara tommi

    Hanya Allah yang memberi taufik.

  • Ircham Zamyl

    Assalamu’alaikum Ustadz…

    Ana izin copas y…Syukron

  • mansur amin

    Alhamdulillah,
    besar skali manfaat informasi ini, smoga ALLAH mengampuni kebodohan kita dalam beragama

  • fiek

    bismiLLah ,

    ust , ana ingin bertanya bagaimana sikap kita berkenaan dengan hadits dhoif (Lemah) ,
    sebeLumnya ana pernah bertanya dengan teman , beLiau menjawab adanya khilaf mengenai hadits dhoif ,
    1. syaikh albani dan murid-muridnya mengatakan TIDAK BOLEH sama sekaLi mengamaLkannya
    2. sedangkan uLama Lain mengatakan BOLEH diamaLkan , tapi tidak bisa dijadikan hujjah , dijadikan hujjah pun harus mengatakan itu hadits dhoif .
    . .
    ana sedikit bingung , pendapat mana yang harus ana ambiL ,
    sedangkan kita tidak boLeh mengambiL pendapat dari 1 uLama saja ( pendapat 4 imam mahzhab )

    sedangkan , dalam hal khiLaf (seperti yang ustad sampaikan) , banyak hadits yang mengatakan , ada pendapat yang benar dan ada pendapat yang salah .
    Jadi yang lebih roji’ pendapat mana ustad ?

    JazakaLLoh khoiron katsiron
    NB : ana hanya manusia biasa , mungkin banyak mengaLami kesaLahan daLam penyampaian , mohon dikoreksi uLang .

  • http://www.yahoo.com Fahrul

    Assalamu ‘alaikum
    Terima kasih atas penjelasannya ana baru mengerti,semoga Allah membalas kebaikan antum

  • komarudin

    JAzaaakalloh atas semuanya

  • hamba alloh

    assalamu’alaikum
    alhamdulillah akhirnya ada juga pembahasan tentang masalah ini

  • zoelfan azmir

    Assalamualaikum…
    Saat ini masih banyak ikhtilaf2 yang ada mengenai boleh dan tidaknya suatu syariat di kerjakan, namun kembali lagi bahwasanya adalah penting memandang nilai kebaikan dan keburukan yang ada dalam sebuah syariat, sehingga tidak menimbulkan perpecahan dalam islam itu sendiri…
    Bagi saya pribadi yang haram itu jelas, dan yang halal juga jelas, dan diantara keduanya adalah sesuatu yang diragukan namun juga tidak terlarang adanya…
    Pernahkah kita berfikir kenapa sholat 2 hari raya itu hukumnya sunnat muakad? kenapa tidak diwajibkan?…. bagi saya itulah kebesaran ALLAH SWT seandainya sholat 2 hari raya itu diwajibkan pastilah setiap tahunnya perperanganlah yang terjadi sesama umat islam karena perbedaan penetapan hari raya…
    SEMOGA MENJADI RENUNGAN KITA
    Wassalamualaikum…

  • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

    @ Fiek

    Semoga Allah senantiasa menjaga antum. Mengenai hadits dho’if, ada keterangan bagus dari Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin.

    Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin -rahimahullah- berkata, “Hadits maudhu’ –berdasarkan kesepakatan para ulama- tidak boleh disebut-sebut dan disebarluaskan di tengah-tengah manusia. Hadits maudhu’ tidak boleh digunakan baik dalam masalah at targhib (untuk memotivasi) atau at tarhib (untuk menakut-nakuti) dan tidak boleh digunakan untuk hal-hal lainnya. Hadits maudhu’ boleh disebutkan jika memang ingin dijelaskan status haditsnya yang maudhu’.”

    Adapun mengenai hadits dho’if, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin mengatakan, “Sedangkan hadits dho’if diperselisihkan oleh para ulama -rahimahumullah-. Ada yang membolehkan untuk disebarluaskan dan dinukil, namun mereka memberikan tiga syarat dalam masalah ini,

    [Syarat pertama] Hadits tersebut tidaklah terlalu dho’if (tidak terlalu lemah).

    [Syarat kedua] Hadits tersebut didukung oleh dalil lain yang shahih yang menjelaskan adanya pahala dan hukuman.

    [Syarat ketiga] Tidak boleh diyakini bahwa hadits tersebut dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadits tersebut haruslah disampaikan dengan lafazh tidak jazim (yaitu tidak tegas). Hadits tersebut hanya digunakan dalam masalah at targhib untuk memotivasi dan at tarhib untuk menakut-nakuti.”
    Yang dimaksudkan tidak boleh menggunakan lafazh jazim adalah tidak boleh menggunakan kata “qola Rasulullah” (رَسُوْل اللهِ قَالَ), yaitu Rasulullah bersabda. Namun kalau hadits dho’if tersebut ingin disebarluaskan maka harus menggunakan lafazh “ruwiya ‘an rosulillah” (ada yang meriwayatkan dari Rasulullah) atau lafazh “dzukiro ‘anhu” (ada yang menyebutkan dari Rasulullah), atau ”qiila”, atau semacam itu. Jadi intinya, tidaklah boleh menggunakan lafazh “Qola Rosulullah” (Rasulullah bersabda) tatkala menyebutkan hadits dho’if.
    Jika di masyarakat tidak bisa membedakan antara perkataan dzukira (ذُكِرَ), qiila (قِيْلَ), ruwiya (رُوِيَ) dan qoola (قَالَ), maka hadits dho’if tidak boleh disebarluaskan sama sekali. Karena ditakutkan masyarakat akan menyangka bahwa itu adalah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Faedah Ilmu dari Syarh Al ‘Aqidah Al Wasithiyyah, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, hal. 401-402, cetakan pertama, 1424 H.

    Faedah penting lainnya: Dari sini menunjukkan bahwa hadits dho’if tidak boleh digunakan untuk menentukan suatu amalan kecuali jika ada hadits shahih lain yang mendukungnya. Karena di sini hanya disebutkan boleh hadits dho’if untuk memotivasi beramal atau menakut-nakuti, bukan untuk menentukan dianjurkannya suatu amalan kecuali jika ada hadits dho’if yang mendukung hal ini. Perhatikanlah hal ini! Misalnya ada hadits dho’if mengenai amalan pada malam nishfu sya’ban. Kalau landasannya dari hadits dho’if tanpa pendukung dari hadits shahih, maka tidak boleh digunakan sama sekali sebagai landasan untuk beramal.

    Kesimpulannya: Jika tiga syarat di atas dipenuhi, silakan disebar. Adapun jika diamalkan, harus ada landasan dari hadits shohih lainnya. Namun teramat sulit, tiga syarat di atas dipenuhi untuk orang-orang saat ini, apalagi oleh orang awam.

  • Abu ‘Aisyah

    Ust, ijin copy mau ana paste diblog. Jazakallahu Khoiron

  • zoelfan azmir

    Assalamualaikum..
    sepengetahuan saya, selain Hadist nabi, kita juga berpedoman kepada Al-qur’an. oleh sebab itu dalam ilmu Usul Fiqih ada nasakh wal mansukh, sehingga ada kalanya hadist dibatalkan oleh hadist, hadist dibatalkan oleh Qur’an begitujuga sebaliknya
    Apa sudah dibahas sampai ke situ…??? agar tidak menjadi dilema dalam agama
    Wassalamualaikum…

  • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

    @ Zoelfan

    Semoga Allah selalu menjaga antum.
    Sekarang adakah dalil yang menaskh spt yg antum maksudkan?
    Sekali Mas Zoelfan, sebutkan kata ulama. Biar imbang. Penulis sudah panjang lebar sampaikan pendapat ulama, malah hanya dikomentarin pakai logika.
    Allahu yahdik.

  • andy odank

    Pak,

    Saya sering dengar katanya suara yang pertama kali di dengar bayi adalah suara adzan. Tolong dijelaskan akan hal ini. Kalo gak dikasih adzan, terus sang bayi dengar apa dunk.. Mohon pencerahannya..

    Trims,
    Andy

  • bisnis islami

    Assalamu’alaikum. ….

    jazakumullah khoiron ya ustadz.

  • Miftakul Huda

    Assalamu’alaikum Ustadz…

    Mohon izin paste copy Syukron, akan saya kirimkan ke saudara.

    Jazakumullah

  • zoelfan azmir

    karena di situs MUI hal tersebut di sunnahkan…
    saya orang awam jadi bingung…

  • Oemars

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Hadis lemah ataupun sahih hendaknya ditinjau dari segi manfaat dan mudarat apabila hadis itu dilaksanakan, yang sangat disayangkan penulis tidak menguraikan manfaat ataupun mudarat dari pelaksanaan hadis tersebut (yaitu azan ditelinga bayi yang baru lahir), APA SALAHNYA.????????????????

  • http://bossamin.blogspot.com amin husein

    Bagus, semoga keluarga kami ditetapkan di dalam jalan salaf

  • agus

    izin copy paste untuk disebarkan…

  • Fudhoil

    Assalamu’alaikum,

    Bagi ikhwan saudara2ku sekalian yg mempertanyakan apa salahnya mengamalkan hadits dhoif. Perlu saudaraku ketahui, bahwasanya yg disebut hadits dhoif itu adalah hadits yg dipermasalahkan sanad maupun matannya atau bisa dua2nya. Adapun bila matan yg dipermasalahkan biasanya matannya bertentangan dengan Qur’an atau hadits lainnya, namun bila sanad yg dipermasalahkan biasanya berhubungan dengan keadaan perawi, apakah perawi tersebut dho’if (lemah), majhul (tidak dikenal), pelaku bid’ah, suka memalsukan hadits atau bermasalah dengan daya ingat (bisa karena sudah tua)

    Bahwasanya memang sudah dikenal bahwa hadits2 dhoif sering dijadikan untuk fadhoil amal, bahkan imam Bukhari dalam adabul mufrad membawakan beberapa hadits dhoif, namun perlu dicatat, dhoif disini bukan dhoif jiddan (dhoif sekali) atau palsu namun hanya sekedar dhoif dan itupun harus ada hadits shohih sebelumnya. Jadi, hadits dhoifnya hanya untuk pendukung.

    Kembali pada permasalahan hadits adzan untuk bayi. Akhi, coba baca lagi artikel diatas dengan seksama, terutama pada bagian ini : “Jubaaroh dinilai oleh Ibnu Hajar dan Adz Dzahabi dho’if (lemah).

    Yahya bin Al ‘Alaa’ dinilai oleh Ibnu Hajar orang yang dituduh dusta dan Adz Dzahabi menilainya matruk (hadits yang diriwayatkannya ditinggalkan).

    Marwan bin Salim dinilai oleh Ibnu Hajar matruk (harus ditinggalkan), dituduh lembek dan juga dituduh dusta.

    Syaikh Al Albani dalam Silsilah Adh Dho’ifah no. 321 menilai bahwa Yahya bin Al ‘Alaa’ dan Marwan bin Salim adalah dua orang yang sering memalsukan hadits.”

    Akhi, klo udh ada indikasi dari ahli hadits yg meneliti riwayatnya bahwa ternyata ada rawi2 yg diketahui pendusta, maka hukumnya hadits itu palsu, bukan lagi lemah dan hadits palsu dilarang untuk dipakai bahkan untuk fadhoil amal sekalipun, karena apa? Bisa jadi hadits itu hanya karangan dari rawi pendusta tersebut, bukan berasal dari Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam namun diatasnamakan beliau padahal Rasulullah pernah mengancam pada siapapun yg suka berdusta atas dirinya, “Barangsiapa yg berdusta atas namaku, hendaknya menyiapkan tempatnya di neraka.”

    So, skrg masalahnya bukan : “apa salahnya mengamalkan hadits lemah?” Saya hanya ingin memberi saran, kerjakanlah sunnah2 yg sudah pasti shohih dan tinggalkanlah yg masih meragukan (masih jadi perdebatan para ulama). Merupakan akhlak yg baik dari seorg muslim bila ia mampu menjauhi yg meragukan dan mengamalkan yg sudah pasti. Wong yg shohih aja banyak banget kok akhi, buat apalagi kita masih menengok yg dhoif apalagi terindikasi palsu?

    Mohon maaf klo ada kata2 yg tidak enak. Hanya kepada Allah Ta’ala kita memohon taufiq dan petunjuk. Mohon untuk koreksinya bila ada yg salah.

    Wassalamu’alaikum

  • Robby

    Adzan dan iqamah adalah suatu perbuatan yg baik dan bertujuan
    utk mengajak umat manusia terutama umat Islam utk beribadah dan
    bukan hanya utk shalat saja. Jadi ketika bayi baru lahir dibaca
    kan adzan dan iqamah adalah utk mengajak insan yg baru datang
    kedunia utk diserukan dan diajak menjalankan ibadah.
    Firman: Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan suci ( Islam )
    orang tua nya lah yg menyebabkan anak menjadi Yahudi, Nasrani
    atau Majusi. Jadi walaupun mungkin perawi hadits itu lemah atau
    pendusta sekalipun kalau isi dan tujuan dari perbuatan yg disam
    paikan itu adalah baik adanya dan tidak bertentangan dengan Asma Allah swt dan dapat dipergunakan, maka akan tetap lebih baik utk
    digunakan. wassalam.

    • http://rumaysho.com Muslim.Or.Id

      @ Robby
      Cukup kami katakan sebagaimana perkataan Ibnu Mas’ud:
      وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ
      “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya.” (HR. Ad Darimi. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayid)

      Yang namanya amalan bukan hanya dgn niat baik agar diterima namun jg harus ada tuntunan dari Nabi ataukah tidak. Jadi niat baik semata2 belumlah cukup.
      Hanya Allah yang beri taufik.

  • lisa

    sukron atas informasinya ^^ aq bru tahu nich…

  • azra

    alhamdulillah, saya semakin yakin bahwa perbuatan tersebut tidak atas dasar yang kuat. Semoga Allah SWT memberikan hidayah-Nya kepada kita agar dapat mengamalkan sesuatu yang sudah jelas ada tuntunan dari Allah dan Rosul.

  • ma furonudin

    terima kasih atas jerih payah saudara yang telah menggali dasar – dasar hukum adzan pada anak yang baru lahir, namun jadi timbul pertanyaan 1. amalan apa yang baik untuk menghadapi baru lahir karena menurut sya sudah sangat baik disambut dengan adzan sebelum mendengar klimat – kalimat lain, 2. bagaimana hukumnya kalau tetap melaksanakan adzan pada anak yng bru lahir

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #ma furonudin
      1. Amalan yang dianjurkan berdasarkan dalil shahih adalah men-tahnik dan mendoakan kebaikan bagi si bayi
      2. Jika ia melakukannya karena tidak tahu, tidak berdosa. Jika yang melakukan sudah tahu bahwa hadits2 tentang hal ini lemah, ia berdosa karena berbuat bid’ah.
      Wallahu’alam.

  • rafika

    ana ingin bertanya, apa yg dimaksud dengan men-tahnik?, apa dalilnya?, sukron tuk jawabannya.

  • http://www.yahoo.com Fahrul

    Assalamu ‘alaikum
    Saya dahulu memiliki seorang kawan yang baru saja melahirkan,pada saat sang suami akan mengadzankan si bayi maka kawan saya sudah menegurnya agar tak mengadzan ke telinga bayi,tetapi sang suami tak mau menghiraukan dan tetap melaksanakan. Oleh karena itu, dia bertanya kepada saya apakah dia(kawan saya) ikut berdosa karena membiarkan suami tetap melakukannya? Mohon penjelasan dari Muslim.or.id

    • http://rumaysho.com Abduh Tuasikal

      @ Fahrul
      Wa’alaikumus salam.
      Jika si suami tadi belum dijelaskan sehingga tdk diberikan penjelasan scr tuntas, apalagi tdk diterangkan apa yg salah dr perbuatannya tadi, maka spt itu dimaafkan selama ia sudah mencari tahu ilmu ttg hal itu.

  • http://www.yahoo.com fahrul

    Apakah maksud ustadz si istri tak berdosa karena tak bisa mencegah suami mengadzankan ? Maaf ustadz saya tanyakan karena jawaban ustadz belum begitu jelas bagi saya. Jazakallah

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #fahrul
      Sang suami atau sang istri tidak berdosa jika melakukan hal tersebut karena belum tahu hukumnya.

  • iyan

    maaf nichhhh…kok selalu berbeda yachhh pendapatnya dengan
    Bapak. KH Muhyiddin Abdusshomad
    Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris), Ketua PCNU Jember

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #Iyan
      Berbeda itu biasa, yang penting kita selesaikan perbedaan dengan kembali kepada dalil Al Qur’an dan hadits yang shahih.

  • Abu Ja’far

    Assalamualaykum Warahamtullah,

    Ustadz, lalu doa apa yang shahih diucapkan atau ditujukan kepada bayi yg baru lahir ?
    Lalu apakah boleh jika kita mengamalkan ini(adzan) dgn maksud utk meruqyah bayi lahir, bukan bermaksud untuk mengamalkan hadits Dhaif ?

    Lalu mohon bimbingan untuk doa ini “u’iduzka bikalimaatillaahi tammaati min kulli syaithonin wa haammatin wa min kulli ‘ainin lammah” bagaimana kedudukannya ?

    Jazakumullahu Khayra !

  • Abu Ja’far

    Alhamdulillah,

    Telah jelas bagi ana dan tidak akan meng-adzankan di telinga bayi alasan apapun. Seluruh artikel rekomendasi dari ustadz telah ana simpan dan pelajari. Jazakallahu khair

  • http://radhiatanmardhiah.blogspot.com/ nafisah bt abdullah

    Amalan mengazankan bayi ketika lahir telah lama menjadi amalan sebahagian besar umat Islam. bolehkah kita menganggapnya sebagai bid’ah hasanah?

  • abu muhammad

    Assalamu’alaikum,bagaimana hukum mengenakan cincin yang BUKAN EMAS bagi laki-laki?apakah mencapai derajat sunnah ataukah sekedar mubah,karena ana baca di kitab2 siroh nabawiyah Rosululloh memiliki cincin.barokallohu fikum

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #abu muhammad
      Wa’alaikumussalam. Terdapat khilaf dalam masalah ini. Yang rajih, hukumnya hanya mubah, bukan sunnah. Kecuali jika ada kebutuhan, semisal sebagai ciri tanda pejabat atau penguasa, maka hukumnya sunnah. Sebagaimana difatwakan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah.

  • Arthur rasyid

    Alhamdulillah sekarang ane sdh jelas dgn keterangan di atas.tp untuk mnyampaikn ke pd orng lain aplg keluarga mungkin sangatlah sukar.jd akn Sy suruh sj mereka mmabca artikel ini.
    Trima ksh ya ustadz^^

  • iwal

    Assalamu’alaikum Ustadz… sy sangat setuju dengan pendapat anda… karena selama ini saya selalu mengatakan bahwa semua hadist yang menyatakan boleh azan ditelinga bayi itu adalah dhoif… tapi pendapat saya selalu di kesampingkan… Semoga Allah selalu memberikan kita petunjuk untuk menemukan kebenaran yang bersumber pada Alquran dan Sunnah… Amin…

  • tommi

    Assalamu’alaikum,

    Kepada kawan2 wa bil khusus akhi arthur rasyid yg ingin memberitahukan mengenai kedho’ifan hadits mengenai adzan di telinga bayi ini pada keluarganya, saran saya jgn cuma memberikan artikel ini pada mereka, tp hadirkanlah jg ustadz yg mengerti permasalahan hadits dan bermanhaj salafus sholeh agar dpt menjelaskan langsung. Karena dari pengalaman saya memberitahukan artikel ini pada istri dan keluarga, mereka susah menerima malah istri bilang, “kamu masih belajar mas, ga usah aneh2 dulu.”

    Setelah saya hadirkan ustadz yg bermanhaj salaf dari kantor saya untuk memberikan keterangan pd mereka mengenai hal ini, barulah mereka mengerti bahwa hadits adzan di telinga bayi adalah dho’if dan tidak perlu diamalkan. Jadi, untuk mendobrak tradisi keliru yg selama ini berjalan di masyarakat kita, diperlukan bantuan seorang yg berilmu untuk menjelaskan kekeliruan tersebut pd org2 terdekat lebih dulu dan agar menolak mafsadat yg mungkin menimpa diri kita jika kita terlalu ngotot menjelaskan seorang diri.

  • abu izzat

    Jazakallah ats penjelasan ust,mudah2an membuka hati yang jahil yg masih mencari2 dalil yg tidak semestinya utk melegitimasi perbuatan bid’ah.

  • http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/kritik-anjuran-adzan-di-telinga-bayi.html sabur

    Kalau di kasih Aqiqahan dari bayi yang sudah di adzani boleh ngak kita makan ?

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #sabur
      Kalau berbicara hukumnya, boleh saja dan halal untuk dimakan, karena tidak ada sebab yang bisa mengubah statusnya jadi haram.

  • Rano yuliansyah

    ustad, apakah usholli fardu dst..dlam sholat adalah perbuatan bid’ah?? karna niat dlm holat cukup dlm hati saja

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #Rano
      Ya, benar. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tidak pernah mengajarkan lafadz niat shalat.

  • syahraini sarban al-berawi

    Ada tiga faktor masyarakat awam salah menjalankan syariat islam yang telah sempurna ini (1) faktor keturunan..dianggap benar dan diikuti karena tradisi keturunan dari orangtua atau nenek moyangnya (2)faktor melihat kebanyakan orang….banyaknya umat yang melakukannya suatu ajaran sudah dianggapnya benart (3) faktor ikut-ikut/taklid buta…biasanya masyarakat awam akan mengikuti suatu ajaran jika hal tersebut diajarkan oleh mereka yang dianggapnya mumpuni masalah agama, padahal berbagai label/gelar keagamaan yang disandang seseorang tidak menjamin ibadah dan dahwahnya sesuai dengan manhaj salafi..

  • Pingback: Sabtu malam dan mensoal meng-adzan-i bayi .:. Dian Sigit Prastowo Pages - Meraih Syafaat dengan Ilmu yang Bermanfaat

  • bambang murdafa

    ust, sya mau tanya, APAKAH MENGADZANKAN MAYIT KTIKA BARU DIKUBURKAN ada dasar hukumnya? Sebab saya pernah mendengar perkataan seorang ustadz-bukan salafi- ketika taklim di masjid mengatakan bahwa BOLEHNYA MENGADZANKAN MAYIT KETIKA BARU DIKUBURKAN dengan alasan KETIKA ORANG BARU LAHIR SAJA DIADZANKAN sebagai tanda ucapan KULO NUWUN (sebgai ucapan SALAM)maka matinya juga HARUS DIADZANKAN SBG TANDA PAMITAN
    Terim kasih atas perkenan ust untuk menjawab pertny saya ini.

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      @ Bambang
      Itu bukan amalan yang dianjurkan.

  • taufik ismail

    assalamualikum , terimakasih buat informasi ilmunya
    maaf mau nanya
    bagaimana jika sebelum saya membacakan ayat al-qur’an atau Do’a, saya tetap memberikan adzan kepada bayi terlebih dahulu, dengan maksud saya ingin bayi saya nantinya menjadi ahli ibadah dan tidak lupa dengan sholat, karena menurut saya adzan adalah sangatlah baik,
    apakah tidak boleh juga? karena saya melakukan semua itu karena Alloh.SWT semata

    terimakasih mohon bimbingannya :)

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #taufik ismail
      wa’alaikumussalam, yang dicontohkan oleh Nabi adalah mentahnik dan mendoakan. Apa yang dicontohkan oleh Nabi tentu lebih baik.

  • andri WP

    Assalamu’alaikum,
    Ustadz, saya mohon doa2 yg sebaiknya saya bacakan kelak bayi saya lahir agar kelak dia jadi anak yg shaleh & berbakti pd orang tua & berguna bagi masyarakat? dan amalan2 apa saja yg bisa saya kerjakan dalam menyambut kelahiran anak saya nanti?
    terima kasih…

  • http://rumahbukuislami.com suroto

    artikelnya luar biasa, bisa untuk merawat bayi agar sesuai tuntunan islam.
    rumah buku

  • Sugeng W

    Setelah saya baca,merenungkan..Saya setuju dengan ustadz, jadi sia2 dech waktu mengkumandangkan adzan buat anak yang pertama. Akhir Juni ini doperkirakan anak kedua saya akan lahir ( Insya Allah perempuan ) Kalau boleh mohon dibantu untuk memberi masukan Nama apa yang bagus kepada anak saya yang kedua. Terima kasih

  • http://myhhrma.blogspot.com hhrma

    alhamdulillah ini mencerahkan, menghilangkan keraguan yang selama ini ada.

  • Pingback: Hadits Adzan di Telinga Bayi « أبوفقيه Amaz

  • http://www.sundawi.com fikri audah

    izin nyimak.. ilmunya sangat bermanfaat. :)

  • http://www.cybersufi.blogspot.com Nursalim

    Terima kasih,,,atas pencerahannya..ttg masalah Azan dan Iqamat kepada bayi yang baru lahir,,karena Insya Allah Anak saya lahir Akhir November 2012, semoga kita semua tetap dalam lindungan Allah SWT dan dijauhkan dari perbuatan bid’ah..amin..amin…Mohon doanya untuk bayiku,,semoga di berkahi Allah SWT,,,,

    Sekalian tanya,,,kalau tidak ada kurma untuk Men-tahnik,,boleh tidak menggunakan madu…?

    Jazakallah hu khairan

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      @ Nursalim
      Kalau tdk ada kurma bs diganti dg yg manis2

  • obied

    hanya sharing.
    1. Rowi Hadits apa pasti dikatakan dhoif jika yang mengdo’ifkan hanya satu orang.
    2. katanya dalam perselisihan harus dikembalikan ke Allah atau RasulNya. lah kenapa dalam hal ini yang diambil keputusan para Ulama’. misal Malik dan Al Laits. kenapa tidak kembali ke khilafu Ummati Rahmatun?
    3. Imam Syafi’i adalah madzhab yang saya ikuti.

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #obied
      1. Penilaian dhaifnya rawi dilihat dari status dhabt-nya. Jika terjadi perselisihan dalam penilaian, maka ditimbang dengan kaidah2 jarh wa ta’dil. Jadi bukan sembarang menang-menangan atau banyak-banyakan ulama. Jika yang dimaksud adalah hadits di atas, maka yang men-dhaifkan itu banyak. Silakan baca kembali.
      2. Allah dan Rasul-Nya memerintahkan untuk bertanya kepada ahlinya. Dan ahli dalam ilmu hadits tentunya para ulama hadits.
      3. Madzhab itu adalah kumpulan metode untuk mempelajari agama, bukan untuk fanatik buta.

  • irvan arifin

    assalamu’alaikum,
    tanya, ketika men-tahkik apakah harus pakai kurma ? ataukau ada penggantinya ?
    jazzakallahu khoiron

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      @ Irvan

      Wa’alaikumussalam. Paling afdhol dg kurma. Jika tdk ada maka dg yg manis2.

  • Abu Khaira

    Assalamu’alaikum ustadz, bolehkah mentahnik bayi baru lahir dengan sari kurma (kurma yang sudah dihaluskan dalam kemasan)?
    jazzakallahu khoiron.

    • http://ustadzaris.com Aris Munandar

      #Abu Khaira
      Wa’alaikumussalam. boleh.

  • http://almustamany.blogspot.com Azharul Fuad

    Assalamu’alaikum….
    Subhanallah…..
    Terimakasih atas pencerahannya. Semoga menjadi berkah hasanah untuk smua. Jazakumullah khoiron katsiron. Saya mohon doa’a dari ustadz, insya Allah bulan Mei ini putra pertama saya akan lahir.

  • http://almustamany.blogspot.com Azharul Fuad

    Ohya ustadz, tolong dipostingkan doa-doa Rasulullah ketika menyambut kelahiran bayi. Terimaksih sebelumnya.

  • richo dwi r

    asalamualaikum.
    saya mau tanya, lalu ketika si bayi sudah lahir, apa doa yang dibacakan saat itu juga?
    trimakasih.
    Wassalam.

    • http://rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

      @ Richo

      Wa’alaikumussalam. Membaca do’a keberkahan seperti “semoga Allah memberkahimu”.

  • Ummu Akmal

    Afwan, mengingat kapasitas ana yang tidak mampu meneliti lebih jauh atau bahkan bertanya langsung kepada narasumber, sudi kiranya ustadz menjelaskan mengapa atau kaidah apa yang diterapkan oleh Syaikh Bin Baz yang menjelaskan adanya kelonggaran dalam perihal adzan ini.
    http://binbaz.org.sa/mat/9646 via http://ustadzaris.com/hukum-adzan-di-telinga-bayi

    Jazakallaah khairan

  • Kaamilah

    #Ustadz Aris Munandar, afwan ustadz, apakah kaidah yang diterapkan oleh Syaikh Bin Baz yang membolehkan perihal ini (http://ustadzaris.com/hukum-adzan-di-telinga-bayi)? Jazakallaah khairan

  • aripin

    Lalu kalau bayi lahir dibiarkan saja? Mohon penjelasan’nya

    • http://kangaswad.wordpress.com Yulian Purnama

      #aripin
      Yang diajarkan Nabi: ditahnik dan didoakan kebaikan

@muslimindo

    Message: Rate limit exceeded, Please check your Twitter Authentication Data or internet connection.